Mwasalat Bus Line 4: Mejemput Keindahan Mutrah

<—-Kisah Sebelumnya

Dengat perut kenyang aku meninggalkan kedai makan khas Bangladesh yang letaknya tak jauh dari OYO 117 Majestic Hotel, tempatku menginap.

Aku kembali tiba di perempatan yang terbentuk oleh persilangan Al Baladiya Street dan Al Fursan Sreet. Di Al Fursan Street, aku terus mempercepat langkah untuk segera tiba di Ruwi Mwasalat Bus Station.

Berjalan sejauh dua setengah kilometer selama tiga puluh menit, akhirnya aku tiba di terminal.

Misiku selanjutnya adalah mencari keberadaan bus yang akan berangkat menuju Mutrah. Dari brosur pariwisata Oman yang kudapatkan dari Muscat International Airport pada malam sebelumnya, aku cukup mendapatkan informasi bahwa untuk menggapai Mutrah maka aku harus menaiki Mwasalat Bus Line 4.

Kusapukan pandangan ke seluruh sudut terminal demi menemukan bus itu. Pada akhirnya aku mendapatkannya di platform bagian tengah. Oleh karena sebagian kursi bus telah terisi penumpang, maka aku memutuskan untuk segera menaikinya.

Membayar dengan uang koin sebesar 200 Baisa, maka aku segera mendudukkan diri di kursi tengah. Tak lebih dari sepuluh menit kemudian, bus itu perlahan berjalan meninggalkan terminal.

Bus meninggalkan daerah Ruwi menuju utara melalui daerah Darsait untuk kemudian merubah arah menuju timur demi menggapai tepian Teluk Oman. Menyisir Mina Street, bus berjalan di sepanjang kaki perbukitan berbatu.

Tak berapa lama jalanan lengang di sepanjang Mina Street berubah menjadi jalanan penuh keramaian di sepanjang Al Bahri Road yang arusnya berbelok di tepan pantai Teluk Oman.

Pemandangan berganti dengan berjajarnya kapal-kapal pesiar mewah di sepanjang Sultan Qaboos Port yang menjadi pelabuhan kargo dan penumpang utama di Kota Muscat. Rombongan turis asal Eropa juga tampak memenuhi jalanan di sepanjang pantai.

Bus terus menyisir Al Bahri Road, kali ini bus bergerak menuju selatan mengikuti kontur pantai. Al Bahri Road sendiri adalah jalan raya dengan dua ruas, ada dua jalur di setiap ruasnya, dan antar ruas dipisahkan dengan taman memanjang dimana bunga-bunga di tanam dengan metode drip irrigation.

Mwasalat Bus Line 4.
Interior bus.
Area di dekat Sultan Al Qaboos Port.
Pelabuhan penumpang Al Qaboos Port.
Aku turun di The National Museum Oman.

Selain keberadaan taman yang menghiasi sepanjang jalan, keindahan Al Bahri Road menjadi sempurna dengan keberadaan perbukitan batu nan menawan di sisi baratnya dan hamparan pantai yang membiru di sisi timurnya. Pemandangan yang bahkan membuatku tak rela barang sekedip mata untuk menikmatinya.

Tetapi aku yang berada di dalam bus juga harus bersegera menetapkan tempat untuk berhenti, karena semakin jauh mengikuti arus bus maka aku akan semakin jauh menyisir ulang jalanan itu sebagai metode utamaku untuk mengekplorasi keindahan daerah Mutrah.

Dalam waktu menunggu untuk mengambil keputusan itu, tetiba melintas penampakan indah warna-warni di Al Alam Palace yang merupakan istana Kesultanan Oman.

“Ya….Di sinilah aku harus turun”, aku memutuskan.

Tak lama kemudian, bus berhenti di Al Alam Palace Bus Stop untuk menurunkan beberapa penumpangnya. Akhirnya kuputuskan untuk ikut turun Bersama para penumpang itu.

Kini aku berada di daerah Kalbuh yang berjarak sepuluh kilometer jauhnya dari titik semula aku berangkat, yaitu Ruwi-Mwasalat Bus Stop. Perlu waktu hampir setengah jam untuk menempuh perjalanan ini.

Kini saatnya berjalan kaki demi mengeksplorasi keindahan daerah Mutrah.

Kisah Selanjutnya—->

Mwasalat Bus No. 1B: Menuju Ruwi di Pagi Perdana

<—-Kisah Sebelumnya

Aku yang tertidur ayam tetiba terperanjat bangun ketika suara berisik alat pel lantai yang digunakan oleh seorang cleaning service terdengar jelas dari bawah bangku tempatku tertidur. Aku membuka mata dan langsung melihat penunjuk waktu digital di sebuah layar FIDS yang terpampang di pojok ruangan.

Masih saja pukul empat pagi ketika aku melihatnya.

Sorry if what I do had disturbed your sleep”, cleaning service berperawakan Asia Selatan itu dengan sopannya membungkuk di depanku.

Oh….No matter, brother”, aku memanggilnya demikian karena raut mukanya yang masih terlihat muda.

Are you working here?

Nop….I’m just backpacking

I’m from Indonesia….Where are you come from brother?”,

I’m from Blochistan….I had worked here since a year ago but the salary isn’t good here”, dia mulai bercerita tentang keadaannya bekerja di Muscat.

Dari percakapan lanjutan setelah itu, aku sungguh merasa bersyukur karena bisa bekerja di negara sendiri dan sedikit sisa dari pendapatanku bisa kugunakan untuk menjelajah dunia.

Setelah percakapan singkat itu, aku tak lagi bisa tidur. Aku hanya berkali-kali membuka itinerary dan brosur-brosur pariwisata yang kuambil saat pertama kali tiba di bandara. Aku berusaha memahami informasi dari setiap obyek wisata yang akan kukunjungi beberapa saat di depan.

Tak terasa waktu Shalat Subuh pun akhirnya tiba….

Aku tergopoh naik ke lantai atas untuk mencari keberadaan mushola. Dan aku mendapatkannya dengan mudah dan akhirnya bisa menjalankan ibadah dengan pandangan mata bergelayutan karena menahan kantuk.

Sementara itu bekal makanan yang kubeli dari Dubai telah habis kusantap sebagai makan malam. Aku yang kelaparan terpaksa harus menahan protes perut hingga menemukan sarapan di tengah kota nanti.

Usai menjalankan ibadah Shalat Subuh, aku mempersiapkan diri untuk bertolak ke pusat kota. Tujuanku kali ini adalah Daerah Ruwi yang berjarak tak kurang dari 30 kilometer di barat bandar udara. Sebuah kamar milik OYO 117 Majestic Hotel yang kupesan berada di daerah tersebut.

Tak membuang waktu…..

Aku bergegas menuju Level 0 bandara untuk mencari keberadaan bus umum bernomor 1B demi menuju ke Ruwi-Mwasalat Bus Station. Mwasalat sendiri adalah penyedia jasa transportasi publik di Muscat.

Just wait here….The bus will come in five minutes….I will show you the bus next”, begitulah ucap seorang lelaki berperawakan kurus tinggi yang mengatur pemberangkatan setiap bus Mwasalat di bandara.

Menunggu kedatangan Mwasalat Bus No. 1B di Muscat International Airport.
Salah satu mushola di Muscat International Airport.
Interior Mwasalat Bus No. 1B.
Melalui kawasan Al Azaiba South.
Melintas sekejap di daerah Al Khuwayr South.
Akhirnya tiba di Ruwi-Mwasalat Bus Station.

Bus itu benar-benar datang tepat lima menit seperti apa yang diucapkannya…..

Aku menaiki Mwasalat Bus bernomor 1B melalui pintu depan dan menyerahkan ongkos senilai 1 Rial ke pengemudi berbadan tambun yang mengenakan gamis putih. Setelah pengemudi itu memberikan karcis maka aku mengambil tempat duduk di bagian tengah. Dalam kondisi yang masih setengah gelap, aku telah bersiap.

Porsi besar perjalanan ini ditempuh melalui jalan tol utama kota Muscat yaitu Sultan Qaboos Street. Semakin jauh meninggalkan bandara menuju timur maka semburat fajar mulai melunturkan gelap yang sedari awal perjalanan masih angkuh berkuasa.

Dalam setengah jam, Mwasalat Bus bernomor 1B yang kunaiki telah merapat di Ruwi-Mwasalat Bus Station.

Kini aku bersiap menggeber langkah menuju selatan untuk menggapai penginapan.

Kisah Selanjutnya—->

Arrival Hall Muscat International Airport

<—-Kisah Sebelumnya

Aku melangkah keluar dari kabin Swiss Air LX 242, menapak kembali di aerobridge dan berhenti sejenak di pertengahannya. Aku tertegun sejenak memperhatikan aktivitas tersisa di apron Muscat International Airport.  Tengah malam itu aku hanya melihat sebuah pesawat milik Salam Air yang berwarna dominan putih dengan kelir hijau sedang berhenti terparkir di salah satu sisi apron.

Aku mulai melangkah melewati koridor demi koridor arrival hall. Sepanjang koridor menawarkan interior yang memikat mata. Setiap sisi travelator disulap menjadi taman bebatuan dengan padanan warna-warni pelita yang menarik mata.

Sementara bangku-bangku diletakkan di setiap sisi ruangan dengan desain futuristik. Hingga dalam beberapa saat kemudian, tibalah aku di area konter imigrasi.

Memasuki antrian yang jalurnya dibentuk oleh tape barrier, aku tak melepas antusias. Memasuki sebuah negara dengan e-Visa approval yang didapat dari tanah air adalah sesuatu hal yang  membuat hati menjadi tenang. Biasaya approval e-Visa ini adalah jaminan terampuh untuk bisa melewati konter imigrasi dengan mudah.

“Halo, Sir, Can I see your e-Visa?”, seorang petugas jangkung berkemeja putih dengan celana bahan hitam menghentikan langkahku.

“Oh, wait. Sir”, aku berhenti dan mulai menurunkan backpack untuk mengambil dokumen.

Aku pun mulai sibuk mengaduk-aduk backpack demi menemukan berkas itu.

Oh yes…I had seen your document. You can go to the counter”, petugas itu tetiba memberikanku akses setelah dia sekilas melihat lembaran e-Visa di zipper file berbahan transparan yang kukeluarkan.

“Oh, Okay Sir….I’m ready for that”, aku menyatakan telah siap menghadap ke petugas imigrasi.

Tanpa kekhawatiran sedikitpun aku pun melangkah menuju konter imigrasi.

“Assalamu’alaikum, Sir”, aku berinisiatif mengucapkan salam ke petugas imigrasi berkumis tipis.

“ ‘alaikumussalam”, dia tak melihatku sedikitpun dan hanya berfokus pada passport, e-Visa, hotel booking confirmation dan e-ticket Air Arabia untuk meninggalkan Muscat yang beberapa detik lalu kusodorkan.

Do you visit Dubai before arrive here?”.

Absolutely, yes, Sir”.

Okay….Clear, welcome to Muscat”, petugas imigrasi itu memberikan kembali segenap berkas yang kuberikan.

Aku bisa melewati petugas konter imigrasi itu dengan sangat mudah.

Yuhuuuuuuu…….

WELCOME MUSCAT…………………………….

Waktu yang masih berkutat di dini hari membuatku memutuskan untuk menginap saja di bandara. Usai mengambil keputusan tersebut, langkah pertama yang kulakukan adalah mencari Sim Card untuk kebutuhan pemetaan destinasi ketika memasuki kota Muscat pada pagi harinya. Aku akhirnya memilih membeli Sim Card milik Renna Mobile.

Koridor nan indah menuju Arrival Hall.
Conveyor Belt Area.
Arrival Hall lantai 2.
Arrival Hall lantai 3.
Drop off zone.
Public bus service area.
Halaman Muscat International Airport saat dini hari.
Halaman Muscat International Airport saat dini hari.

Tak lupa, aku berburu berbagai brosur pariwisata khusus kota Muscat di Tourism Information Center. Beberapa brosur tentang destinasi wisata yang memungkinkan untuk kukunjungi tak lepas dari incaran. Sedangkan menukar Dolar Amerika ke Rial di Travelex Currency Exchange untuk kebutuhan petualangan menjadi tahapan terakhir yang kulakukan di Muscat International Airport.

Lepas melakukan berbagai aktivitas dasar yang biasa kulalukan ketika tiba di sebuah negara baru tersebut, maka aku menyempatkan diri untuk melangkah keluar bangunan terminal untuk melihat penampakan asli arsitektur bandara dari pelataran depannya.

Dan sungguh….

Muscat International Airport terlihat begitu mempesona di malam hari dengan siraman lampu-lampu taman yang menghantam batang-batang pohon palem yang merupakan vegetasi utama yang dipajang halaman bandara.

Tetapi aku harus segera mengakhiri eksplorasi bandara megah tersebut untuk segera mencari tempat terbaik untuk memejamkan mata. Akhirnya aku mengambil salah satu bangku di lantai dua arrival hall untuk beristirahat barang sejenak.

Kisah Selanjutnya—->

Swiss Air LX 242 dari Dubai (DXB) ke Muscat (MCT)

<—-Kisah Sebelumnya

Aku tak sabar menunggu kedatangan kereta. Beruntung kereta datang dengan cepat. Menaiki salah satu gerbongnya, meluncurlah aku di jalur panjang kereta dan tiba dalam beberapa menit di bangunan lain milik Dubai International Airport….Yupz, Concourse D.

Concourse D sendiri adalah bangunan di tengah-tengah area bandara yang difungsikan sebagai gerbang pelepasan. Bangunan itu dikoneksikan dengan bangunan Terminal 1 melalui rel yang diletakkan di atas tiang-tiang pancang jalur kereta.

Xu kembali datang menghampiriku ketika aku menduduki bangku di sebelah gate D 15. Ternyata Xu tak sendiri, dia memiliki satu teman lain yang kini diperkenalkan kepadaku.

Donny, this is Lin, my friend“, dia menunjuk ke temannya.

Hi, Lin….I’m Donny“, aku balik memperkenalkan diri.

Selanjutnya kami bertiga menghabiskan waktu untuk berbincang ringan di ruangan Concourse.

Sesekali Lin terlihat iseng menyembunyikan paspor milik Xu yang karena kecerobohannya ditinggalkannya di bangku ketika dia beranjak ke toilet. Lin memberikan kode dengan menaruh telunjuknya di hidung ketika aku mengetahui keisengannya itu. Sontak Xu dihantui kepanikan sekembalinya dari toilet mencari keberadaan paspornya. Aku sungguh menahan tawa atas keisengan itu. Nantinya Xu benar-benar menjitak jidat Lin atas kejahilannya itu. Kami bertiga pun tergelak ketawa berkepanjangan.

Panggilan boarding terdengar di langit-langit bandara. Aku telah siap sejak beberapa waktu sebelumnya. Aku mengucapkan sampai jumpa di Muscat kepada mereka karena kami bertiga akan duduk terpisah di dalam kabin.

Aku duduk di kabin tengah, di window seat sisi kiri, duduk dengan satu penumpang berkenegaraan Oman di sisi terkanan. Sedangkan bangku tengah dibiarkan kosong selama penerbangan.

Saat yang benar-benar kutunggu adalah masa airborne pesawat yang akan berlangsung cepat. Aku hanya ingin melihat keindahan Burj Khalifa dari langit malam Dubai. Entah bagaimana perwujudan indahnya ketika dilihat dari atas.

Food court di Cocourse D – Dubai International Airport.
Airbus A 330-300 milik Swiss Air.
Business Class.
Economy Class.
Hayo….Yang mana Burj Khalifa?….
Nonton Jason Bourne yang diperankan Matt Damon.
Kota Muscat tampak dari ketinggian saat pesawat hendak mendarat.
Salam Air (LCC dari Oman) tampak terparkir di Muscat International Airport.

Penerbangan malam itu berlangsung dalam kondisi kurang baik. Berkali-kali maskapai kebanggaan Swiss itu bergetar hebat menembus gumpalan-gumpalan awan di langit Timur Tengah. Membuat beberapa kali awak kabin mengurungkan diri untuk memberikan gelas-gelas minuman kepada penumpang.

Aku langsung teringat dengan beberapa artikel yang pernah kubaca mengenai awak kabin Swiss Air yang kebanyakan berusia tak muda lagi. Benar adanya, aku membuktikan dengan pengalamanku sendiri. Pramugara-pramugari Swiss Air LX 242 yang kutunggangi memiliki awak kabin yang usianya sudah diatas 40 tahun seperkiraanku.

Malam itu, aku hanya meminta disuguhkan segelas apple juice dan melakukan penerbangan singkat selama 1 jam 15 menit saja. Jarak antara Dubai-Muscat yang hanya tak lebih dari 500 kilometerlah yang membuatnya demikian.

Aku tiba di Muscat International Airport tengah malam dan memutuskan untuk berada di bandara saja hingga pagi menjelang.

Oh, ya…..Aku belum bercerita bagaimana Burj Khalifa dilihat dari langit malam Dubai?

Luar biasa ….Itu indah sekali, kawan……

Alternatif lain untuk mencari tiket pesawat dari Dubai ke Muscat bisa didapatkan di 12Go atau link berikut: https://12go.asia/?z=3283832

Kisah Selanjutnya—->