Al Wadi Al Kabeer Park: Kuda sebagai Pusat Perhatian

<—-Kisah Sebelumnya

Tubuhku remuk redam, hampir dari dua hari sebelumnya aku menghabiskan waktu di jalanan dan perjalanan. Otomatis fatigue segenap otot membuatku cepat terlelap dan akhirnya lambat terbangun di pagi itu. Beruntung aku masih bisa menyempatkan diri untuk menjalankan Shalat Subuh, walaupun setelahnya aku kembali terlelap di kasur empuk OYO 117 Majestic Hotel.

Pukul sepuluh pagi aku terbangun kembali dari tidur lelap….

Kemudian, aku pun berlama-lama menikmati siraman air panas di shower kamar mandi, membiarkan otot-otot betisku mendapatkan relaksasi karena aku baru akan mendapatkan kamar hotel kembali di keesokan malam ketika aku memasuki Kota Manama, Bahrain.

Setelah sadar bahwa aku berada di bawah shower lebih dari setengah jam, maka aku pun segera menyudahi mandi pagi dan mulai bersiap diri untuk melakukan eksplorasi di waktu tersisa. Aku mulai mengemasi semua barang dan perlengkapan ke dalam backpack biruku, untuk kemudian mulai meninggalkan kamar hotel.

Can me put my backpack here?. I will take it on 5 pm”, aku meminta tolong kepada resepsionis pria yang sehari sebelumnya menerima kedatanganku.

Sure, you can put your backpack”, dia pun menerima backpackku dan menaruhnya di salah satu titik ruang resepsionis.

Aku pun mulai pergi meninggalkan hotel. Kali ini tujuan pertamaku adalah mencari sarapan. Tentu aku menuju kedai khas Bangladesh yang telah menjadi langgananku semenjak tiba di Muscat. Kedai itu hanya berjarak seratus meter dari hotel, sehingga dengan cepat aku mencapainya.

Pagi itu aku mencicipi menu baru, tidak lagi nasi seperti hari-hari sebelumnya, kini aku mencicipi dua potong Chappatti yang dibanderol seharga 100 Baisa.

Tak perlu waktu lama untuk bersarapan. Aku pun segera beranjak menuju selatan, menelusuri jalanan di sisi kanan hotel tempatku menginap. Maka dalam jarak tempuh setengah kilometer, maka aku mulai merapat di An Nuzhah Street.

An Nuzhah Street adalah jalan raya yang memiliki lebar tak kurang dari lima puluh meter, sedangkan di bagian tengahnya tampak membentang wadi (jalur air yang biasanya hanya dilewati air pada musim penghujan). Wadi itu telah di beton memanjang menyesuaikan kontur jalan.

Aku terus melangkah ke selatan hingga kemudian berhenti di sebuah gerbang besar berwarna cokelat.

“Muntazah Al Wadii Al Kabiir”, aksara Arab itu dengan jelas kubaca.

Taman Al Wadi Al Kabiir”, aku bergumam mengartikan aksara itu.

Seketika aku sangat berniat memasukinya.

Membaca dua belas larangan utama ketika beraktivitas di dalam taman, aku mencoba mengingat beberapa aturan taman yang jarang kutemukan di taman-taman lain, beberapa peraturan yang tertera di papan berbahan besi itu adalah larangan menghisap shisha, membawa sepeda dan kendaraan, memetik bunga, dan melakukan aktivitas barbeque.

Begitu memasukinya, aku mencoba mengamati taman dari ujung ke ujung, membayangkan bentuk aslinya. Sekilas taman itu berbentuk heksagon, seperti layang-layang dan memiliki luasan berkisar empat hektar.

An Nuzhah Street.
Layout taman.
Taman yang artistik.
Kids Playground.
Mau naik kuda?

Taman itu tampak indah karena tepat berada di kaki perbukitan berbatu. Nuansa komersial juga tampak menyelimuti taman, karena di beberapa titik strategisnya, terpasang beberapa papan iklan yang menjadi bagian bisnis dari JCDecaux.

JCDecaux sendiri adalah perusahaan periklanan multinasional terbesar di dunia yang berbasis di Neauilly-sur-Seine, Prancis.

Taman ini terasa istimewa dengan keberadaan kedai kopi di pusatnya dan tersedianya kids playground di sisi lainnya. Sementara itu, pohon palem tetap menjadi vegetasi utama di dalamnya seperti kekhasan taman-taman di seluruh negara di Kawasan Timur Tengah.

Dan kunjungan di Al Wadi Al Kabeer Park kuakhiri dengan dengan menikmati pemandangan unik dengan keberadaan seekor kuda yang rupanya menjadi properti taman. Rupanya kuda tersebut menjadi daya tarik bagi penduduk lokal untuk mengunjungi taman tersebut.

Baru kali ini aku melihat taman ada kudanya….Wkwkwkwk.

Muttrah ke Ruwi: Mubadzir Air di OYO 117 Majestic Hotel

<—-Kisah Sebelumnya

Aku berkejaran dengan gelap demi tiba di halte bus Fish Market yang terletak di tepian Harat A’Shamal Street. Bersyukur sekali, aku tiba di halte tepat bersamaan dengan merapatnya Mwasalat Bus Line 4 yang berwarna dominan merah.

Aku segera melompat dari pintu depan ketika bus tersebut berhenti mendecit di depan halte. Membayar dengan 200 Baisa kepada pengemudi, aku pun menduduki bangku tengah. Tak berselang lama Mwasalat Bus itu melaju dengan anggun di Al Mina Street menuju Ruwi-Mwasalat Bus Station.

Aku sampai dalam lima belas menit….

Tiba di terminal utama Ruwi tidak berarti perjalananku usai. Melainkan aku harus menyambung langkah sejauh dua kilometer demi tiba di OYO 117 Majestic Hotel yang terletak di daerah Al Wadi Al Kabir.

Bak atlit jalan cepat, aku melahap blok demi blok daerah Al Humriyyah dan dalam waktu tiga puluh menit aku telah berjarak seratus meter dari penginapan.

Belum juga tiba di penginapan….

Tetiba perutku berbunyi. “Oh, iya….Sudah waktunya makan malam”, aku yang terlupa akhirnya membatin.

Tanpa pikir panjang, aku segera berbalik arah demi menyambangi kantin langganan yang sudah terlewat beberapa puluh meter di belakang.

Sore itu aku pun menyantap setengah porsi chicken fry khas Bangladesh beserta sepiring nasi dan menebusnya dengan 700 Baisa.

Aku menyantap menuku dengan cepat untuk kemudian kembali bergegas menuju penginapan.

Hatiku terasa lega ketika tiba di depan penginapan, setidaknya aku bisa mendahului datangnya malam demi mengamankan diri di penginapan.

Melangkahlah aku di lobby penginapan…..

“Hello, sir…. How is your day…. Is it fun?”,, sapa resepsionis pria yang menerima kedatanganku pada pagi sebelumnya.

Hi, Sir….Wonderful, I had explored the beauty of Muttrah all day”, aku melambaikan tangan kepadanya

Have a good rest, Sir”, dia terseyum ramah kepadaku.

“Thanks….”, aku pun meninggalkannya demi menuju lift yang akan mengantarkanku menuju lantai 3.

Beberapa saat kemudian, aku pun tiba di depan pintu kamar.

Aku sudah tak sabar untuk menghempaskan tubuhku di kasur dengan segera, mengingat sedari malam sebelumnya, aku tak bisa memejamkan mata dengan sempurna karena harus menempuh perjalanan udara dari Dubai. Ingin rasanya untuk membalas dendam kekurangan tidurku.

Aku pun membuka pintu dengan santainya, tak ada siapapun di lorong kamar sore menjelang malam itu. Aku segera memasuki kamar, mengunci pintu dan bersiap untuk melompat ke kasur.

Tetapi….

Tolakan kakiku terhenti seketika ketika aku mendengar bunyi samar gemerecik air.

“Itu dari kamar mandi”, aku diam berkonsentrasi mendengarkan.

Halte Bus Fish Market\.
Chicken Fry khas Bangladesh.
Ini dia, warung makan langgananku selama du Muscat.
Kamarku lega banget kan?

Aku pun segera menuju ke kamar mandi.

“Astaga……”, aku menepok jidat, memaki diri sendiri melihat apa yang terjadi di wastafel.

Kran itu mengucurkan air dengan pelannya.

Hmmh…..Sudah berapa banyak air yang kubuang sia-sia sedari meninggalkan kamar pagi tadi?”, aku merasa berdosa karenanya.

Parah kamu Donny…..”, aku terus memaki diri.

Selepas kejadian itu, aku pun segera membersihkan diri dan kemudian berisitirahat demi memulihkan kesegaran badan untuk berpetualang di keesokan harinya.

Kisah Selanjutnya—->

Mwasalat Bus Line 4: Mejemput Keindahan Mutrah

<—-Kisah Sebelumnya

Dengat perut kenyang aku meninggalkan kedai makan khas Bangladesh yang letaknya tak jauh dari OYO 117 Majestic Hotel, tempatku menginap.

Aku kembali tiba di perempatan yang terbentuk oleh persilangan Al Baladiya Street dan Al Fursan Sreet. Di Al Fursan Street, aku terus mempercepat langkah untuk segera tiba di Ruwi Mwasalat Bus Station.

Berjalan sejauh dua setengah kilometer selama tiga puluh menit, akhirnya aku tiba di terminal.

Misiku selanjutnya adalah mencari keberadaan bus yang akan berangkat menuju Mutrah. Dari brosur pariwisata Oman yang kudapatkan dari Muscat International Airport pada malam sebelumnya, aku cukup mendapatkan informasi bahwa untuk menggapai Mutrah maka aku harus menaiki Mwasalat Bus Line 4.

Kusapukan pandangan ke seluruh sudut terminal demi menemukan bus itu. Pada akhirnya aku mendapatkannya di platform bagian tengah. Oleh karena sebagian kursi bus telah terisi penumpang, maka aku memutuskan untuk segera menaikinya.

Membayar dengan uang koin sebesar 200 Baisa, maka aku segera mendudukkan diri di kursi tengah. Tak lebih dari sepuluh menit kemudian, bus itu perlahan berjalan meninggalkan terminal.

Bus meninggalkan daerah Ruwi menuju utara melalui daerah Darsait untuk kemudian merubah arah menuju timur demi menggapai tepian Teluk Oman. Menyisir Mina Street, bus berjalan di sepanjang kaki perbukitan berbatu.

Tak berapa lama jalanan lengang di sepanjang Mina Street berubah menjadi jalanan penuh keramaian di sepanjang Al Bahri Road yang arusnya berbelok di tepan pantai Teluk Oman.

Pemandangan berganti dengan berjajarnya kapal-kapal pesiar mewah di sepanjang Sultan Qaboos Port yang menjadi pelabuhan kargo dan penumpang utama di Kota Muscat. Rombongan turis asal Eropa juga tampak memenuhi jalanan di sepanjang pantai.

Bus terus menyisir Al Bahri Road, kali ini bus bergerak menuju selatan mengikuti kontur pantai. Al Bahri Road sendiri adalah jalan raya dengan dua ruas, ada dua jalur di setiap ruasnya, dan antar ruas dipisahkan dengan taman memanjang dimana bunga-bunga di tanam dengan metode drip irrigation.

Mwasalat Bus Line 4.
Interior bus.
Area di dekat Sultan Al Qaboos Port.
Pelabuhan penumpang Al Qaboos Port.
Aku turun di The National Museum Oman.

Selain keberadaan taman yang menghiasi sepanjang jalan, keindahan Al Bahri Road menjadi sempurna dengan keberadaan perbukitan batu nan menawan di sisi baratnya dan hamparan pantai yang membiru di sisi timurnya. Pemandangan yang bahkan membuatku tak rela barang sekedip mata untuk menikmatinya.

Tetapi aku yang berada di dalam bus juga harus bersegera menetapkan tempat untuk berhenti, karena semakin jauh mengikuti arus bus maka aku akan semakin jauh menyisir ulang jalanan itu sebagai metode utamaku untuk mengekplorasi keindahan daerah Mutrah.

Dalam waktu menunggu untuk mengambil keputusan itu, tetiba melintas penampakan indah warna-warni di Al Alam Palace yang merupakan istana Kesultanan Oman.

“Ya….Di sinilah aku harus turun”, aku memutuskan.

Tak lama kemudian, bus berhenti di Al Alam Palace Bus Stop untuk menurunkan beberapa penumpangnya. Akhirnya kuputuskan untuk ikut turun Bersama para penumpang itu.

Kini aku berada di daerah Kalbuh yang berjarak sepuluh kilometer jauhnya dari titik semula aku berangkat, yaitu Ruwi-Mwasalat Bus Stop. Perlu waktu hampir setengah jam untuk menempuh perjalanan ini.

Kini saatnya berjalan kaki demi mengeksplorasi keindahan daerah Mutrah.

Kisah Selanjutnya—->

OYO 117 Majestic Hotel: Terlengkapi dengan Kedai Langganan

<—-Kisah Sebelumnya

Aku telah tiba….

Berdiri di hadapan hotel berlantai tujuh. Memastikan sejenak nama hotel yang tertera di name board besarnya, maka aku memasuki pintu lobby setelah mengetahui bahwa aku berada di hotel yang tepat.

“It’s no matter, Sir….I will give your room now”, resepsionis pria berkebangsaan Bangladesh menurut perkiraanku telah berbaik hati memberikan kunci kamar lebih cepat walaupun waktu check-in ku masih enam jam lagi.

Padahal tadinya aku hanya berniat untuk menitipkan backpack saja sebelum melakukan eksplorasi di daerah Mutrah.

Mengucapkan terimakasih maka aku segera meluncur di dalam lift menuju lantai empat untuk mencari kamar bernomor 409. Aku menemukannya dengan mudah. Menaruh backpack,  membersihkan muka dan menggosok gigi sejenak, maka untuk kemudian aku siap untuk melakukan eksplorasi.

Aku meninggalkan kamar dengan satu hal yang tak kusadari. Kecerobohan itu adalah tidak menutup kran wastafel dengan sempurna, sehingga air di kamarku terbuang percuma hingga sore hari karena kucuran kecil yang tak kusadari….Dasar tidak disiplin kamu, Donny.

OYO 117 Majestic Hotel tampak muka.
Meja resepsionis.
Lobby.
Kamar seharga 11 Rial.

Pikiran utamaku ketika meninggalkan hotel hanya satu, yaitu bersarapan. Aku yang telah menandai sebuah kedai makan khas Asia Selatan, menjadikanku lebih mudah untuk menujunya. Kedai itu hanya berjarak dua ratus meter dari hotel.

Kedai itu berada di lantai terbawah sebuah gedung, berukuran kecil dan hanya menempati sisi pojok bawah gedung. Aku memasukinya dengan penuh rasa lapar dan sang pemilik yang berusia setengah baya serta berbadan tambun tersenyum menyapaku.

“Come….”, ujarnya singkat.

Usai membalas senyumnya, aku pun duduk di pojok kedai dan menatap deretan menu yang dipajang di salah satu sisi dinding kedai.

“Sir, give me white rice with chicken fry, also a cup of milk tea”, aku mulai memesan hidangan yang kupilih

“Ok, Sir….Wait for a minute”, pemilik kedai itu pun beranjak pergi menuju dapur.

Sembari menunggu, aku memperhatikan keramaian kedai oleh wajah-wajah Asia Selatan yang khusyu’ menyantap makanannya masing-masing. Mereka adalah sebagian dari sekian banyak para pekerja kasar yang menghidupkan sektor informal perekonomian Kota Muscat.

Tak sampai lima menit, hidanganku telah tiba….

Pemilik kedai itu menaruh hidangan yang kupesan. Kini tersaji sepiring penuh nasi putih, dua potong paha ayam goreng dengan aroma kari berukuran besar dan satu cangkir kertas milk tea.

“Where are you come from?”, tanyanya singkat kepadaku.

“Indonesia….And you, Sir?”, aku melemparkan tanya balik.

Bangladesh….We all here from Bangladesh”, dia tersenyum sembari menunjuk ke semua pengunjung kedainya. Sontak semua pengunjung tertawa mendengar percakapan singkat kami.

Wowww….Wonderful”, aku ikut tertawa menyambut kemeriahan di kedai makan itu.

Kedai makan khas Bangladesh yang menjadi kedai langganan.
Para pekerja asal Bangladesh.
Yuk makan…!

Sebelum pemilik kedai itu meninggalkan mejaku, aku memintanya untuk mengambil sepotong paha ayam goreng dari hidangan yang dia sajikan.

I can’t eat to much, Sir….Look this my small body !”, aku menunjukkan jari telunjuk ke diri sendiri sembari tersenyum.

Keramahan sang pemilik kedai beserta segenap langganannya yang bersahaja telah membuat tempat makan itu menjadi kedai langgananku selama mengeksplorasi Muscat.

Kisah Selanjutnya—->

Menuju OYO 117 Majestic Hotel: Jalan Tenang nan Menentramkan

<—-Kisah Sebelumnya

Pukul setengah tujuh pagi aku sudah menginjakkan kaki di daerah Ruwi setelah dihantarkan oleh Mwasalat Bus bernomor 1B dari Muscat International Airport.

Menuruni bus, aku tetiba terperangah….

Bagaimana tidak, terminal bus berukuran kecil itu tampak indah karena dikelilingi oleh bukit berbatu yang membentang dengan warna coklat kemerahan di segenap pandangan. “Ini sungguh pesona yang luar biasa”, batinku berujar sesaat.

Usai mengabadikan beberapa sudut terminal dalam jepretan Canon EOS M10 kesayangan, maka tatapanku berpindah ke arah selatan.

Jalanan masih sepi, sementara OYO 117 Majestic Hotel yang kupesan tersembunyi di sebuah sisi jalan yang berjarak dua setengah kilometer jauhnya. Aku memesan salah satu kamarnya seharga 11 Rial per malam tepat sebulan sebelum keberangkatan.

Untuk beberapa saat aku menatap bentangan lurus panjang Al Fursan Street yang sangat lengang. Jalan itu lurus bersisian dengan Alkbir Wadi yang kering kerontang, menampakkan tanah permukaannya yang pecah merekah dimana-mana karena konsitensi terpaan panas surya dalam beberapa bulan musim kering.

Wadi sendiri adalah sebutan untuk hamparan sungai yang kering karena pada umumnya sungai tersebut hanya mengalirkan air saat musim penghujan tiba.

“Tak ada waktu lagi…..”, aku meyakinkan diri untuk mantab saja melangkah memasuki Al Fursan Street.

Aku melangkah cepat sembari terus memperhatikan posisiku terhadap hotel di aplikasi peta pada gawai pintar yang terus kugenggam selama melangkah. Semaikin jauh menelusuri Al Fursan Street, bukan perasaan gentar yang kudapatkan, justru rasa tenang nan damai yang menyelimuti setiap langkah demi langkah. Aku merasa berada di jalanan paling aman yang membuatku berani melambatkan langkah demi menikmati suasana pagi yang sejuk hingga kemudian langkahku terhenti di sebuah perempatan.

Aku berdiam di sisi barat persimpangan dua jalan itu. Aku mencoba mencari papan petunjuk untuk memahami nama jalan pemotong Al Fursan Street yang sedari sebelumnya aku lewati.

“Al Baladiya Street….Oh itu nama jalannya”, aku mendapatkan papan nama jalan dengan cepat.

Aku memutuskan untuk menyeberangi perempatan itu, karena letak hotel yang sedang kucari berada di sisi timur Alkbir Wadi. Aku pun menyeberangi jembatan yang gagah mengangkangi wadi yang memiliki lebar tak kurang dari lima puluh meter.

Aku memasuki daerah Al Walja.
Suasana AL Fursan Street yang tenang dan menentramkan.
Perempatan jalan yang dibentuk oleh Al Fursan Street dan Al Baladiya Street.
Alkbir Wadi yang kering kerontang.
Ruas jalan terakhir menuju ke OYO 117 Majestic Hotel.

Kini langkahku berpindah di jalan yang menyejajari Alkbir Wadi di sisi timurnya. Sepanjang jalan itu, tampak ruko-ruko lima lantai yang masih tertutup rapat di sisi kiriku melangkah. Sedangkan di sisi kanan lebih didominasi oleh keberadaan truk-truk besar yang bagian depannya ditundukkan sebagai pertanda bahwa mesin-mesin pengangkut itu sedang mendapatkan reparasi.

Tampak wajah-wajah khas Asia Selatan mendominasi kegiatan reparasi itu, nantinya aku akan mengetahui bahwa mayoritas mereka berasal dari Bangladesh.

Semakin mendekati hotel, suasana jalanan mulai ramai. Nadi kehidupan ekonomi Kota Muscat tampak sedang menggeliat dari bangun malamya.

Sebelum benar-benar tiba di hotel, aku mulai memfokuskan pandangan untuk mencari keberadaan kedai makan di sekitar aku melangkah. Naluriku mengatakan bahwa di daerah tersebut pasti ada kedai makan murah khas Bangladesh yang memfasilitasi kebutuhan perut para pekerja Bangladesh yang sibuk bekerja di sekitarnya.

Benar saja, di sebuah gang dan sedikit tersembunyi aku melihat sebuah kedai makan mungil.

Baiklah….Di situlah aku akan menikmati sarapan pertamaku di Oman”, bibirku tersenyum tipis ketika mengambil keputusan.

Demi segera bersarapan, maka aku mempercepat langkah menuju hotel yang jaraknya tinggal beberapa meter lagi di depan.

Kisah Selanjutnya—->

Mwasalat Bus No. 1B: Menuju Ruwi di Pagi Perdana

<—-Kisah Sebelumnya

Aku yang tertidur ayam tetiba terperanjat bangun ketika suara berisik alat pel lantai yang digunakan oleh seorang cleaning service terdengar jelas dari bawah bangku tempatku tertidur. Aku membuka mata dan langsung melihat penunjuk waktu digital di sebuah layar FIDS yang terpampang di pojok ruangan.

Masih saja pukul empat pagi ketika aku melihatnya.

Sorry if what I do had disturbed your sleep”, cleaning service berperawakan Asia Selatan itu dengan sopannya membungkuk di depanku.

Oh….No matter, brother”, aku memanggilnya demikian karena raut mukanya yang masih terlihat muda.

Are you working here?

Nop….I’m just backpacking

I’m from Indonesia….Where are you come from brother?”,

I’m from Blochistan….I had worked here since a year ago but the salary isn’t good here”, dia mulai bercerita tentang keadaannya bekerja di Muscat.

Dari percakapan lanjutan setelah itu, aku sungguh merasa bersyukur karena bisa bekerja di negara sendiri dan sedikit sisa dari pendapatanku bisa kugunakan untuk menjelajah dunia.

Setelah percakapan singkat itu, aku tak lagi bisa tidur. Aku hanya berkali-kali membuka itinerary dan brosur-brosur pariwisata yang kuambil saat pertama kali tiba di bandara. Aku berusaha memahami informasi dari setiap obyek wisata yang akan kukunjungi beberapa saat di depan.

Tak terasa waktu Shalat Subuh pun akhirnya tiba….

Aku tergopoh naik ke lantai atas untuk mencari keberadaan mushola. Dan aku mendapatkannya dengan mudah dan akhirnya bisa menjalankan ibadah dengan pandangan mata bergelayutan karena menahan kantuk.

Sementara itu bekal makanan yang kubeli dari Dubai telah habis kusantap sebagai makan malam. Aku yang kelaparan terpaksa harus menahan protes perut hingga menemukan sarapan di tengah kota nanti.

Usai menjalankan ibadah Shalat Subuh, aku mempersiapkan diri untuk bertolak ke pusat kota. Tujuanku kali ini adalah Daerah Ruwi yang berjarak tak kurang dari 30 kilometer di barat bandar udara. Sebuah kamar milik OYO 117 Majestic Hotel yang kupesan berada di daerah tersebut.

Tak membuang waktu…..

Aku bergegas menuju Level 0 bandara untuk mencari keberadaan bus umum bernomor 1B demi menuju ke Ruwi-Mwasalat Bus Station. Mwasalat sendiri adalah penyedia jasa transportasi publik di Muscat.

Just wait here….The bus will come in five minutes….I will show you the bus next”, begitulah ucap seorang lelaki berperawakan kurus tinggi yang mengatur pemberangkatan setiap bus Mwasalat di bandara.

Menunggu kedatangan Mwasalat Bus No. 1B di Muscat International Airport.
Salah satu mushola di Muscat International Airport.
Interior Mwasalat Bus No. 1B.
Melalui kawasan Al Azaiba South.
Melintas sekejap di daerah Al Khuwayr South.
Akhirnya tiba di Ruwi-Mwasalat Bus Station.

Bus itu benar-benar datang tepat lima menit seperti apa yang diucapkannya…..

Aku menaiki Mwasalat Bus bernomor 1B melalui pintu depan dan menyerahkan ongkos senilai 1 Rial ke pengemudi berbadan tambun yang mengenakan gamis putih. Setelah pengemudi itu memberikan karcis maka aku mengambil tempat duduk di bagian tengah. Dalam kondisi yang masih setengah gelap, aku telah bersiap.

Porsi besar perjalanan ini ditempuh melalui jalan tol utama kota Muscat yaitu Sultan Qaboos Street. Semakin jauh meninggalkan bandara menuju timur maka semburat fajar mulai melunturkan gelap yang sedari awal perjalanan masih angkuh berkuasa.

Dalam setengah jam, Mwasalat Bus bernomor 1B yang kunaiki telah merapat di Ruwi-Mwasalat Bus Station.

Kini aku bersiap menggeber langkah menuju selatan untuk menggapai penginapan.

Kisah Selanjutnya—->