Air Asia D7 505 dari Seoul ke Kuala Lumpur

Jalur penerbangan D7 505 (sumber: flightaware.com)

Aku terduduk di salah satu bangku dekat gate 112 milik Satellite Concourse Building Incheon International Airport setelah beberapa menit lalu dipindahkan oleh shuttle train dari Terminal 1. Waktu boarding yang tinggal setengah jam lagi, membuatku tak bisa mengambil resiko untuk mengeksplorasi seisi bangunan terminal bandara itu.

Aku lebih memilih mengamati lalu lalang pesawat terbang. Sebagian dari mereka tampak fokus mendaratkan roda di runway bandara dan sebagian yang lain tampak mengantri hingga mendapatkan izin dari Air Traffic Controller (ATC) untuk mengudara. Kebiasaan seperti itu memang sering aku lakukan karena ketertarikan diriku akan pesawat dan industri penerbangan. Dari kebiasaan melakukan pengamatan tersebut, tak jarang aku menemukan nama-nama maskapai baru yang dikemudian hari aku biasa menyasarnya demi menikmati jasanya dalam berkeliling dunia.

Bagiku, hari itu terasa sangat spesial dalam sejarah perjalananku, karena Air Asia D7 505 akan menjadi perjalanan pertamaku menggunakan pesawat berbadan besar. Jika pada penerbangan-penerbangan sebelumnya aku selalu menunggangi pesawat berbadan kecil, sejenis Airbus A320 ataupun Boeing 737, tetapi kini aku akan menunggangi Airbus A330 dengan 9 kolom bangku….Sore itu begitu benar-benar menciptakan rasa penasaran dan ketidaksabaran.

Setengah jam kemudian, gate benar-benar dibuka. Aku mulai mengambil posisi di kolom antrian kanan.

Belanjaan duty free kasih ke mama saja, biar mama yang pegang”, seorang penumpang pria berseru pada putranya yang menenteng dua botol besar minuman berlakohol. Mendengar bahasa bangsa saat berada di negeri orang memang menjadi kado istimewa yang bisa membantu menaikkan mood untuk selalu merasa dekat dengan rumah. Kini di sebelah kiriku ada seorang WNI keturunan Tiongoa yang tampaknya juga sedang dalam perjalanan pulang.

Dari kota mana, pak?”, aku memberanikan diri bertanya.

Loh, masnya dari Indonesia juga? Saya dari Bekasi, mas.

“Oh, saya dari Jakarta Timur, Pak”.

“Oh, deket ya kita. Ngerjain bisnis apa, mas di Jakarta?”

“Saya kerja aja kok, Pak di Jakarta. Ndak ada bisnis”.

“Oh gitu ya, sendirian ya mas?”

“Iya Pak”

“Wah keren….keren…”

Percakapan kami tak berlangsung lama karena pertemuan itu harus berakhir ketika ground staff memerikasa tiket dan paspor kami. Setelahnya kami terpisah di lorong panjang aerobridge.

Di ujung aerobridge, aku disambut oleh pramugari berwajah Melayu di pintu pesawat lalu aku diarahkan untuk berbelok ke arah kabin depan. Sesuai dengan boarding pass aku mencari kursi bernomor 14K yang ternyata berposisi di window seat sisi kanan. Itulah tempat duduk yang harus kunikmati selama penerbangan panjang nanti.

Oh ya, nomor penerbanganku kali ini adalah D7 505. Mau tau makna kodenya?….

Jika QZ adalah kode penerbangan yang dioperasikan oleh Indonesia Air Asia dan AK adalah kode penerbangan untuk Air Asia Malaysia maka D7 adalah kode penerbangan milik Air Asia X khusus untuk penerbangan jarak jauh.

D7 505 sendiri adalah penerbangan berjarak 5.000 Kilometer dengan waktu tempuh 5 jam 50 menit. Penerbangan bermula dari Incheon International Airport, Korea Selatan dan akan berakhir di Kuala Lumpur International Airport 2, Malaysia.

Hmmhh…..Selama penerbangan….

Ternyata, window seat yang kutempati terasa tak nyaman karena lengkungan kabin pesawat membatasi kenyamananku selama penerbangan. Selama terbang di kelas ekonomi itu, aku hanya bisa mengisi waktu dengan membolak-balik majalah Travel 360 yang merupakan inflight magazine milik Air Asia. Ketika tatapku mulai lelah dalam membaca,  maka aku berlanjut  menghabiskan waktu dengan memejamkan mata. Beruntung almond kemasan yang kubeli di Namdaemun Market kemarin hari membuat penerbanganku sedikit tak membosankan.

Separuh penerbangan yang dalam kondisi terang  membuatku leluasa menikmati pemandangan Laut Kuning dan Laut China Timur, sedangkan selebihnya penerbangan berlanjut dalam gulita yang membuatku tak bisa berbuat banyak. Hingga akhirnya pesawat tiba di Kuala Lumpur sekitar pukul sepuluh malam.

Seusai penerbangan itu, aku masih harus melewati babak terakhir pejalananku menjelajah Asia Timur dengan bermalam selama 9 jam di Kuala Lumpur International Airport 2 sebelum esok hari kembali ke tanah air menggunakan connecting flight Air Asia AK 382.

Mencicipi Nasi Goreng Campur di Incheon International Airport

Pukul 12:15 aku tiba di Pulau Yeongjong, sebuah pulau di pantai barat Korea Selatan dimana Incheon International Airport dibangun dengan gagahnya.

Aku melangkah gontai keluar gerbong Seoul Metro Line I, seakan tak rela meninggalkan Seoul yang baru saja kunikmati sedari lima hari lalu. Tapi toh, aku tetap sadar diri akan amunisi yang tak digdaya lagi. Tanpa kartu kredit maupun debit aku tak akan bisa kemanapun dengan Won tersisa. Bahkan beberapa lembar Won yang terselip di dompet keritingku mungkin hanya cukup untuk membeli sarapan sekedarnya di bandara nanti.

Keluar dari Airport Station, tatapku awas mencari Flight Information Display System (FIDS) untuk melacak check-in desk yang harus kutuju. Tentunya sangat mudah menemukan informasi penerbangan di bandara terbesar nan canggih kebanggaan Korea Selatan itu. Petunjuk mengarahkanku untuk menuju Check-in Desk D sebagai konter untuk menukarkan e-ticket dengan boarding pass menuju Kuala Lumpur.

Berderap langkah, aku harus menuju ke Lantai 3 untuk mencari keberadaan Check-in Desk D dimana penerbangan Air Asia D7 505 akan dibuka. Mungkin karena kurang fokus membaca informasi yang terpampang pada FIDS maka aku tiba di depan check-in desk yang masih sunyi. “Hoo iyaaa, status penerbangannya belum open”, aku membatin sambil tersenyum membodohkan kekurangtelitianku. “Lebih baik aku cari sarapan dulu”, ungkapan diri yang salah lagi karena sejatinya aku tiba di bandara sudah tengah hari.

Aku bergegas menuju Basement 1 Level untuk mencari sarapan sekaligus makan siang. Dengan Won tersisa akhirnya aku mendapatkan seporsi stir fried rice yang menjadi menu termewahku selama berkelana di Korea Selatan….Njirrr. Sedangkan urusan minum, aku tetap mengandalkan keberadaan free water station….Yuhuuu.

Aku sengaja mengulur waktu saat menikmati makanan di salah satu bangku food court. Toh aku bisa melihat dengan leluasa status penerbanganku dari FIDS ukuran medium yang terpampang di salah satu sisi.

Hampir satu jam aku menguasai bangku itu, bersantai melahap seporsi sedang stir fried rice, menghisap paparan aroma sedap yang menyeruak di setiap sudut ruangan, menikmati keriuhan para pejalan dari berbagai bangsa dalam berburu kuliner dan senantiasa menaruh kewaspadaan mata pada layar FIDS yang terus menggusur larik-larik informasi penerbangan ke atas halaman.

Aku terkesiap saat lamat melihat nomor penerbangan Air Asia D7 505 menampakkan diri di barisan bawah FIDS. Usai mendekat memastikan, akhirnya aku meninggalkan bangku dan kembali menuju ke lantai 3 demi menuju ke Check-in Desk D.

Check-in Desk D.

Mengingat ini adalah return-ticket yang menuju titik awal perjalanan maka petugas wanita di konter check-in tak terlalu banyak bertanya hal rumit. Begitu pula dengan petugas pria di konter imigrasi, dia pun tak perlu waktu lama untuk membubuhkan departure stamp di paspor hijau milikku. Proses ini tentu tak serumit kisahku ketika memasuki Korea Selatan melalui konter imigrasi Gimhae International Airport di kota Busan.

Selepas area imigrasi, aku fikir akan mudah menemukan gate dimana pesawat Air Asia yang akan kutunggangi melakukan loading. Ternyata tak demikian. Untuk menemukan gate 112, aku harus menuju ke Satellite Concourse Building yang hanya bisa ditempuh dengan shuttle train milik Incheon International Airport melalui jalur bawah tanah.

Mengikuti signboard yang ada, aku diarahkan menuju platform shuttle train yang akan membawa segenap penumpang menuju Satellite Concourse Building di sebelah barat Terminal 1. Satellite Concourse Building sendiri adalah bangunan membujur di tengah-tengah Terminal 1 dan 2 Incheon International Airport. Memiliki 30 gate, 6 lounges dan berjarak hampir 1 km dari Terminal 1.

Shuttle train dua gerbong tanpa tempat duduk itu selama tujuh menit menjelajah jalur ganda kereta bawah tanah di Incheon International Airport untuk kemudian memindahkanku ke Satellite Concourse Building. Sesampai di bangunan itu, tentu tak sulit lagi bagiku untuk menemukan Gate 112, yaitu gerbang dimana aku akan diterbangkan menuju Kuala Lumpur International Airport untuk transit selama sembilan jam sebelum menuju tanah air.

Madira at Hanuman Dhoka Durbar Square

Early morning….No doubt, I exchanged 1.000 Rupee with a pink-white ticket as an access to enjoying the history of Hanuman Dhoka Durbar Square.

Walking on andesite-covered Layaku Marg Street which looking gray color and the thin dust which thrown by the cleaning staff’s broomsticks, I was ready to entering ancient Nepal are which was still in the form of a kingdom.

The temple to worship “Goddess of Science” I passed passed and then I met a crowd of people who were busy burning incense, sowing flowers and then putting their palms together on their chests facing a black six-armed statue which was believed to be the embodiment of Lord Shiva the Destroyer.

Saraswati Temple.

Meanwhile, the incense traders in Indorapur Mandir courtyard made this area very crowded if was compared to other areas in Kathmandu Durbar Square. In harmony with a busyness of hundreds of pigeons were eating their breakfast which was given by travelers who have come first in this area.

Kaal Bhairav ​​with golden crown as embodiment of Lord Shiva.

Roof layers of all temples look the same and took me to Majapahit fiction atmosphere likely in Indonesian cinema. The atmosphere of Hindu Knights which was very thick that morning, was able to throw me for a moment from a world which was fanatical with technology.

Corn kernels were sold to pigeons.

The Royal Palace of Malla which was later used by Shah Dynasty was an important icon in Kathmandu Durbar Square. Because the statue of Lord Hanuman was guarded at front gate, this UNESCO World Heritage Site was known as Hanuman Dhoka Durbar Square. Some people call it as Basantapur Durbar Khsetra because this palace was located in Basantapur area.

That was the gate.

After gate, the spacious palace courtyard welcame. Known as Nasal Chowk. Nasal means dance, referring to Lord Shiva who danced Tandava Nataraja when destroying the obsolete universe. This plaza-like courtyard was surrounded by palace buildings on all four sides.

White building on west side of palace.

Meanwhile on south side of courtyard was a sign of a project funded by Ministry of Commerce of People’s Republic of China to renovated the palace which was badly damaged after a tectonic earthquake which was resulted from the collision of the Indian and Eurasian plates in the Himalayas in 2015.

The Nine-story Basantapur Tower which has collapsed.
The room in which there was a statue of Lord Shiva who was dancing.
Sun Dial, the timepiece before clock invention.

Then, on north side, there was the architectural form of Newar with striking green windows. Nicknamed as Sisha Baithak which its functions as a work audience room. On the lower floor of this building, there were rows of king photos. And two palace guards were seen pacing with their rifles around this building.

From left were King Rana Bahadur Shah (third King of Nepal) and his son King Girbanayuddha Bikram Shah (fourth King-pictured at right)
With Guard Police at Sisha Baithak before leaving the palace.

I left the palace while throwing my thanks and goodbye to Guard Police. Suddenly his friend who had just arrived said to him in Nepali, I guess it reads “Where is he from?”, because the policeman who I took the photo with said simply “Indonesia”.

One tip when you are in Kathmandu Durbar Square area is to try to understand one by one buildings which you pass, because every building there has an amazing function and historical value.

Again I found a unique building. A temple which studded with Shwet Bhairav ​​which was believed to be the most powerful embodiment of Lord Shiva. Hidden in wooden curtains and waiting for the Indrajatra Festival to fully reveal itself to the people of Newar. When the festival arrived, Madira (alcohol) will be emitted from his mouth as a form of blessing for humans.

Shwet Bhairav.

It was noon….The sun was now starting to penetrate every gap in the square, warming my body which had been exposed to the cold since morning. It was time to move on to next destination.

Next I would show you the beauty of a goddess in Hindu and Buddhist mythology in Nepal.

Yups….Follow me!

Indra Chowk before Kathmandu Durbar Square

Got ready for breakfast….

Unusually, a slightly luxurious breakfast had been prepared on the top floor of Shangrila Boutique Hotel. Fried rice sprinkled with diced buffalo meat, two slices of sausage and a sheet of beef eye egg. Two layers of toast with a sheet of cheese were also prepared. Then they closed with a cup of hot black coffee.

A full stomach and I was ready to enter the past Nepalese glory that will be implied in every inch of area in Kathmandu Durbar Square, one of three famous Durbar Square in Nepal. “Durbar” itself means “palace”. So actually Durbar Square is a palace square in general.

Walking in Amrit Marg, the warm morning sun eased my steps when I must defeat 9 degrees Celcius air which was still reluctant to move up. While coughing had inhabited my throat since a day ago due to dust which continued to be uncontrollably inhaled. “It’s okay, tomorrow I fly to New Delhi, surely air will be cleaner there,” I thought to calm myself. This belief kept Ambroxol tablets which I brought from Jakarta still intact.

Now I was starting to enter a number of narrow intricate turns. Andesite-floor streets lined with a row of sun-blocking shophouses and spreading of irregular signboards. Even in Jyatha Marg, it was decorated by the very tangled knotted strands of electric cables.

Nepalese electric officer must be adept at dealing with electrical damage.
Gemitir flower trader on the edge of Chandraman Singh Marg.

It was time to step out at last intersection before entering the famous Indra Chowk area. It was 10 a.m. but shops along Chandraman Singh Marg were still closed. Meanwhile, motorbikes which were passing could be counted in a matter of fingers.

Pedicabs which started their services.
Tasting boiled peanuts.

A few steps, the area which I headed for was in front of my eyes, intersection of five streets with very high activity. The rumble of morning trading which stunned me to observe it from a intersection side. This was Indra Chowk, an area which for centuries had been a famous trading center in Kathmandu district. Anyone who wanted to hunt for Nepalese clothes, souvenirs or tasting local food then just came here!

Pedicab base at Indra Chowk.

Entering intersection area from north side via Chandraman Singh Marg, I could see other four roads which made up the intersection, namely Siddhidas Marg (from Northeast), Watu Marg, Sukra Path, and Siddhidas Marg (from Southwest). All five lead to a broad circle with an iconic view of Aakash Bhairav ​​temple.

Aakash Bhairav yang bersejara The historic Aakash Bhairav ​​became Nepal’s first king’s palace.

Stepping back, away from the noise of Indra Chowk while holding Dhaka Topi which I bought from a shophouse, a less crowded street greeted me again.

Siddhidas Marg.

On this street, there was an interesting spot. Public knew it as Makhan Tole. A famous art spot in Kathmandu. There were many fine arts works here and of course many travelers chase them.

Makhan Tole Gate.

From Makhan Tole, it only took 5 minutes walking to Kathmandu Durbar Square.

Finally I arrived.

Let’s explore what were in Kathmandu Durbar Square …….

Seoul Metro dari Pusat Kota ke Incheon International Airport

Suasana di dalam Seoul Metro menuju Incheon International Airport.

Usai shalat Subuh, mataku tak lagi terpejam. Sudah menjadi sifatku yang selalu saja terjaga ketika dihadapkan pada sebuah jadwal penerbangan. Sementara di pojok dormitory, backpack biruku yang berkapasitas 45 liter sudah terpacking rapi sejak semalam, sepulang dari Distrik Gangnam tepatnya. Malam tadi, aku memang memutuskan melakukan packing seusai mandi.

Sekitar pukul setengah tujuh pagi, ditengah nada-nada dengkuran ringan para penghuni Kimchee Guesthouse Sinchon, aku perlahan berjingkat-jingkat menuju shared-bathroom untuk mengguyur diri dibawah shower air hangat. Sehingga, satu jam kemudian aku telah rapi dan terduduk di shared lobby lantai bawah untuk sekedar bersosialisasi.

Di sebuah kursi, perlahan aku menenggak air mineral sisa semalam sembari membuka peta Seoul Metro. Aku harus mencari rute terbaik menuju Incheon International Airport Terminal 1 siang nanti.

Sekitar lima belas menit kemudian, datanglah gadis berjilbab biru dengan wajah cantik khas Melayu duduk di hadapan. Dari penampilannya dia sedang bersiap diri untuk melakukan eksplorasi.

Dari Malaysie kah?”, pertanyaan itu sudah pasti tertuju untukku.

Aku mendongak dan menjawab, “Jakarta, Indonesia”.

Oh, Indonesia. Sudah berape lame di Seoul, Abang?

Tiga hari. Saya Donny, boleh tahu nama kamu?”, jawabku singkat.

Mariya, saya dari Kuala Terengganu”.

Sepagi ini sudah bersiap, mau pergi kemana, Mariya? “, aku terus saja bertanya penuh rasa penasaran.

Oh, saya nak melawat ke Itaewon, tengok sekejap Seoul Central Mosque. Abang mau kemane?

Saya siang ini akan pulang, besok singgah di KL dulu”.

Orang Indonesia dapat free visakah ke Korea, Abang?

Oh, tidak Mariya. Saya harus membayar senilai 150 Ringgit untuk mendapatkan visa Korea. Kalau orang Malaysia bagaimana?

Orang Malaysia free visa ke Korea, Abang”.

Mariya adalah seorang solo-traveler asal negeri jiran yang berbekal dengan rasa percaya diri yang tinggi. Dia bahkan bercerita tentang perjalanannya berkeliling Asia sendirian tanpa menunjukkan sedikitpun rasa takut. Satu jam aku terlibat percakapan yang sangat menarik dengannya.

Mariya sendiri sangat tertarik dengan beberapa kota di Indonesia yang ingin dia kunjungi di waktu mendatang. Dia banyak bertanya perihal Bandung, Malang, Labuan Bajo dan Ambon. Mengimbangi rasa antusiasnya, maka aku tertarik mencari informasi darinya tentang beberapa kota di Malaysia yang hendak pula kukunjungi seperi Kuching, Ipoh, Penang, Kuantan dan Kuala Terengganu.

Percakapan kami berakhir ketika Mariya berpamitan untuk pergi ke Itaewon. Usai percakapan itu, aku pun menuju ke kamar dan bersiap diri untuk check-out.

Pukul setengah sepuluh, aku mulai memanggul backpack, menuju resepsionis untuk menyerahkan kunci loker dan mengambil uang deposit. Kemudian aku melangkah mantap meninggalkan Kimchee Guesthouse Sinchon menuju Stasiun Hongik University.

Seperti pagi-pagi biasanya di Seoul, aku mampir sejenak di CU minimarket yang letaknya tak jauh dari stasiun untuk bersarapan. Usai bersarapan, aku segera berburu gerbong Seoul Metro Line 2 menuju Stasiun Sindorim yang keberadaannya hanya berselang 4 stasiun saja dari Stasiun Hongik University.

Dari Stasiun Sindorim aku berpindah menggunakan Seoul Metro Line 1 menuju Stasiun Bupyeong. Berdiri di bagian tengah dekat pintu gerbong, aku menikmati laju Seoul Metro melewati sebelas stasiun sebelum tiba.

Dari Stasiun Bupyeong aku masih harus berpindah keSeoul Metro Line I menuju  tujuan akhir yaitu Stasiun Incheon International Airport Terminal 1 yang berselang lima belas stasiun ke depan.

Melintas jembatan di atas laut.
Pemandangan Laut Kuning.

Secara keseluruhan perjalanan, dalam waktu satu setengah jam, aku tiba di Stasiun Incheon International Airport Terminal 1 yang bejarak 60 kilometer dari pusat kota. Aku tiba di bandara beberapa menit sebelum tengah hari.  Kini aku menunggu  penerbangan Air Asia D7 505 dari Seoul menuju Kuala Lumpur yang akan mengudara pada pukul 15:55 nanti.

Sebetulnya aku masih sangat berminat untuk menikmati pusat kota Incheon sebelum menuju bandara. Tetapi karena sadar diri bahwa uang di dompet hanyalah berupa beberapa lembaran tersisa, maka daripada bermain resiko dan rawan ketinggalan pesawat, aku akhirnya lebih memilih untuk menghabiskan waktu berjam-jam untuk berada di bandara saja. Yang terpenting perjalanan pulangku ke tanah air aman dan lancar.

Kemewahan Distrik Gangnam

Tepian Gangnam-daero Avenue.

Aku melangkah meninggalkan pelataran Istana Gyeongbok beberapa saat menjelang sang surya tenggelam di barat kota. Sore menjelang malam itu, aku melangkah lebih santai menuju Stasiun Gyeongbokgung yang hanya berjarak 300 meter dari istana. “Toh, eksplorasiku sudah usai”, batinku menenangkan diri di tengah suhu udara yang mulai menurun lebih dingin.

Di dalam stasiun, aku terus terusik dalam kegalauan antara langsung menuju penginapan atau sekali lagi mendatangi sebuah destinasi. “Ini malam terakhirku, masa iya harus kuhabiskan waktu di dalam kamar penginapan?”, batinku terus membela diri.

Aku yang tadinya tak sabar menunggu kedatangan Seoul Metro Line 3 di sisi platform, kini lebih memilih terduduk khusyu’ membuka lembaran peta kota demi mencari sebuah destinasi tambahan untuk menghabiskan malam.

Desingan ular besi itu terdengar nyaring di kelokan depan. Aku dengan penuh senyum bersiap diri di jalur antrian untuk memasuki gerbong. “Ya, aku tahu harus menuju kemana”, keputusan itu muncul jua.

—-****—-

Oh, ya….Kamu kenal Park Jae-sang kan?

Itu loh…penulis lagu asal Korea Selatan yang lebih dikenal dengan nama panggunnya PSY. Tokoh utama dalam video musik “Gangnam Style” yang mendunia pada tahun  2012.

Ya, kali ini aku ingin mengunjungi tempat kelahirannya, yaitu Distrik Gangnam. Distrik Gangnam adalah distrik mewah di Korea Selatan, tempat tinggal para jutawan, politikus dan artis papan atas.

—-****—-

Aku faham bahwa di luar sana suasana sudah berganti dengan gelap walaupun cahaya terang menaungi gerbong Seoul Metro yang merayap menyusuri jalur bawah tanah Seoul. Distrik Gangnam masih berjarak sepuluh kilometer ketika aku beberapa saat lalu terduduk di ujung gerbong.

Satu demi satu stasiun tersisir dengan cepat dan menuntunkun untuk turun di Stasiun Seoul National University of Education. Dari stasiun tersebut aku berpindah ke Seoul Metro Line 2 menuju ke Stasiun Gangnam.

Di dalam gerbong Seoul Metro Line 2 inilah aku bertemu dengan lima sekawan asal California yang baru saja mendarat dari Tokyo siang tadi. Bahkan kelima sekawan itu sudah menjelajah Taipe sebelum mencapai Tokyo.

Kisah mereka yang hamir mirip dengan perjalananku yang sebelum sampai Seoul juga menembus Kaohsiung (Taiwan), Tokyo dan Osaka (Jepang) serta Busan (Korea Selatan) membuat perkenalan dan perbincangan kami menjadi akrab.

Aku hanya mengingat satu nama diantara mereka hingga saat ini yaitu Brendan. Brendan memang lebih cenderung supel dan tampak menjadi juru bicara dari kelompok perjalanan mereka. Yang jelas Brendan adalah orang yang tidak suka dengan alkohol, aku tahu dari perkataannya yang tak mau menyentuh Soju ketika temannya yang lain justru menikmatinya semenjak tiba di Seoul.

Aku tiba di Stasiun Gangnam dalam 10 menit semenjak perpindahan jalur Seoul Metro. Menelusuri koridor panjang dalam Stasiun Gangnam, mengarahkanku untuk keluar ke permukaan tanah tepat di tepian Gangnam-daero Avenue yang berhiaskan name box besar “Gangnam Square”dan panggung “Gangnam Style Horse Dance” yang sangat ramai dikunjungi turis.

Dari perempatan besar itu aku mulai memasuki gang demi gang di Gangnam untuk mengupas kehidupan malam di distrik itu. Keramaian gang-gang di Distrik Gangnam membuatku merasa aman-aman saja walaupun di depan langkahku sana tampak dua orang lelaki dan seorang perempuan yang berjalan berangkulan karena mabuk berat sambil meracau tak keruan. Pertunjukan itu hanya membuat jalanan semakin riuh dengan ketawaan karena tingkah ketiganya yang sangat lucu.

Menyempatkan makan malam dengan sepotong Kimbap dan minuman berenergi.
sebuah gang di Distrik Gangnam.

Sementara di kiri-kanan gang, warga lokal berbaur dengan para pendatang untuk menikmati suasana bar dengan aroma wangi alkohol yang samar tercium dari trotoar. Selain itu sebagian lainnya lebih memilih membuat suasana lebih santai dengan menikmati hidangan restoran sembari bercakap-cakap menghabiskan suasana malam yang mulai dingin mencekat.

Malam terakhirku di Seoul memang terpuaskan ketika melintasi gang-gang di Gangnam dari ujung ke ujung. Tetapi waktulah yang akhirnya membatasi kunjunganku, sudah hampir jam sebelas malam. Aku memutuskan untuk segera kembalui ke Stasiun Gangnam dan kembali ke Kimchee Guesthouse Sinchon.

Aku harus bersiap diri untuk kembali ke tanah air besok pagi.

Bollywood Dance in Thamel

I was put in the first floor room to the right of Shangrila Boutiqe Hotel’s reception desk. Putting my 45 litre backpack and took my boots off, after some time, I let the warm water splash my tired body after almost half a day of hard journey in a road trip leaving Pokhara.

Not wanting to be trapped in boredom at my room, I started stepping red carpeted stairs to hotel’s roof. At above, a young man who standing at cash counter greeted and offered me a special restaurant menu. There wasn’t special menu which I ordered, I would just spend the evening with a cup of hot tea and enjoying the charm of Thamel area from above.

Shangrila Boutique Hotel restaurant.

Until my adventure desires teased. It felt like a loss if I didn’t move closer to the road and directly enjoying the atmosphere. Thamel was really special. Imagine, the streets were dedicated every night especially for their country’s guests. Each end of the road was guarded by police who wouldn’t allow motorized vehicles to passing through. Thamel was always crowded with travelers to spend the Kathmandu’s night.

I started out on the street.
Evening before dark.

Still dusty….I walked along the streets lined with pashmina outlets, souvenirs, restaurants, money changers, hotels or tourism agency offices on either side of it. Tips for you….If you aren’t interesting in buying pashmina, then don’t try to bid it, the seller will ask you to transact in their outlet and they are the best negotiators and I make sure that you will go out from their stall with carrying one of their wares.

Wallet’s teasers.
Typical colorful flags like on their shrine.

I had a little trouble in finding dinner menu because I purposely avoided a restaurant menu. I struggled to find a food stall for dinner. Exiting and entering some alleys until finally I found it, really far into the alley. Luckily, this food stall provided momo. To completing this Nepalese typical food, I ordered a small glass of honey lemon mixed with ginger slices which made me feel warm.

Nepalese momo.

Back on the street after almost an hour sitting at the food stall. Passing a different road, I stopped at an intersection and turned to the right. A crowd with music kicking off Chaksibari Marg. After approaching it, it turned out that a group of dancers were practicing Bollywood dance. It was also fun to directly see the dance.

They practiced for a film.

Getting colder, I left the crowd and headed straight for the hotel. But because of a tourist area, some bar waitress stopped my steps. Now a young man spoke to me and offering me to spend a warm evening at a bar. “You can enjoy our band performance“, he said. I who have never entered a bar in my life, starting to be tempted, “Okay, there’s nothing wrong to try“, I thought.

As a result, I started walking on the steps of Sisha Bar & Restaurant. It was true, a local band with 4 millennial youth members with 1 female vocalist was singing local pops which made me excited to sit down and enjoying the show. Until I drank two large portions of hot lemon with honey for enjoying the band show.

Beautiful and unforgettable evening in Thamel

Mengunjungi Istana Gyeongbok

Aku meninggalkan Distrik Jung menggunakan Seoul Metro Line 4 menuju Stasiun Hongik University yang berjarak sepuluh kilometer. Aku harus menaruh tentengan plastik di Kimchee Guesthouse Sinchon. Melakukan eksplorasi dengan menenteng plastik hitam hanya akan membuat wajahku semakin kampungan saja.

Keindahan Istana Gyeongbok (sumber: http://www.agoda.com)

Dalam tiga puluh menit aku tiba.

Tanpa sempat duduk sejenak, aku langsung saja meninggalkan kembali penginapan. Kali ini aku akan menuju ke istana terbesar di Korea.

—***—

Kini aku dibawa Seoul Metro Line 2. Kembali berdiri karena gerbong penuh dengan penumpang, mengharuskan tangan kananku merengkuh hand strap di atas supaya tidak terjatuh karena kereta sering melakukan pengereman di setiap stasiun yang disinggahi.

Hanya saja, situasi menjadi aneh. Seorang gadis berbisik-bisik dengan teman di sebelahnya dan sesekali melihat ke arahku. Aku memang tak menatapnya tetapi setidaknya aku bisa meliriknya samar. “Duh, ada yang memperhatikanku”, aku membatin.

Aku sesekali melirik gadis itu yang terus tertawa pelan. Ketawaan itu membuatku melakukan instropeksi. “Apakah ada yang salah denganku?“. Aku mencoba memperhatikan diri sendiri, tetapi tetap saja tak segera menemukan kejanggalan itu.

Hingga akhirnya, aku terjungkal dalam rasa malu ketika menemukan sumber masalah itu. Ternyata terdapat jahitan benang besar di pangkal tangan sebelah kanan. “Aduh, kenapa pula aku tak memeriksa jaket bekas ini ketika membelinya di Pasar Baru”, Aku perlahan menurunkan tangan kanan, lalu memeriksa pangkal tangan sebelah kiri. Mengetahui jahitannya dalam kondisi bagus maka aku bergantian memegang hand strap dengan tangan kiri. Perlahan aku menoleh ke kedua gadis itu dan mengangguk penuh malu. Ternyata kedua gadis itu merespon dengan cara yang sama.

Damn, sepanjang sepuluh hari perjalanan, aku baru tahu bahwa di pangkal tangan kanan winter jacket bekasku terdapat jahitan besar penutup sobekan”, aku menggerutu sambil menggelengkan kepala.

Kejadian itu menyematkan rasa malu hingga aku turun di Stasiun Euljiro 3(sam)-ga untuk berpindah ke Seoul Metro Line 3. Kini aku kembali mengikuti laju Seoul Metro ke Stasiun Gyeongbokgung di utara kota. Kali ini aku terduduk hingga tiba di stasiun itu.

Untuk menggapai Istana Gyeongbok, hanya diperlukan berjalan kaki sejauh tiga ratus meter dari Stasiun Gyeongbokgung. Memasuki pelataran gerbang Istana Gyeongbok, banyak turis yang mengenakan pakaian hanbok. Pakaian itu memang efektif menciptakan aura bangsawan bagi siapapun yang mengenakannya.

Sementara itu, di setiap sudut pelataran dijaga ketat oleh aparat kepolisian setempat. Tampak jelas Istana Gyeongbok ditutup sore itu, tak ada seorang turis pun yang diperbolehkan masuk. Entah sedang ada momen apakah sore itu?. Praktis aku hanya bisa menikmati kunjungan dengan memasuki National Palace Museum of Korea yang terletak di pelataran yang sama dengan Istana Gyeongbok.

National Palace Museum of Korea (sumber: http://www.theseoulguide.com)

Mengunjunginya cuma-cuma, aku dituntut memahami kisah dan seluk beluk Istana Gyeongbok dari berbagai peninggalan yang dipamerkan di museum. Museum berusia 113 tahun tersebut tampak bersih dan terawat. Walaupun aku tak faham sepenuhnya, setidaknya aku bisa menikmati benda-benda bersejarah seperti beberapa helai pakaian adat, catatan kuno, stempel dan beberapa lukisan era Dinasti Joseon.

Dengan selesainya eksplorasi di tempat penyimpan sejarah Korea Selatan yang berjuluk Deoksugung Museum tersebut maka petualanganku sore itu hanya menyisakan satu destinasi lagi….Distrik Gangnam.

Menyerah di Myeong-dong

Salah satu sisi di Myeongdong 8-gil.

Tak seperti sebelumnya, kini aku begitu ripuh mencari bus dari Namdaemun Market demi menuju destinasi berikutnya, Myeong-dong.

Mencari segenap papan rute di halte sekitaran Namdaemun Market, tetap saja aku tak menemukan petunjuk apapun. Terpaan angin dingin akhirnya menggiringku ke bawah tanah. Yup, aku kini berderap di koridor Stasiun Hoehyeon, mencari platform demi menuju ke Stasiun Myeong-dong. Dengan mudah aku mendapatkannya. Di pinggiran platform, wajahku terus menghadap ke kiri untuk menjemput penampakan Seoul Metro Line 4.

Cahaya yang semakin benderang perlahan mendekati platform, pertanda si ular besi siap merapat. Dalam sekejap aku sudah berdesakan berdiri memegangi tiang gerbong supaya tak terterjang arus penumpang. Tak lama setelah semua penumpang terangkut, Seoul Metro mulai merayap meninggalkan platform.

Tak berselang stasiun manapun, aku kemudian turun di Stasiun Myeong-dong, meninggalkan para penumpang yang tetap berjubal di dalam gerbong. Aku tak sabar menjauhi gerbong ketika turun karena ingin segera melihat wujud keramaian Myeong-dong, pusat perbelanjaan kosmetik populer di Seoul. Tentu bukan untuk membeli lipstik, masker ataupun pemutih wajah, melainkan hanya ingin melihat aura-aura cantik pemudi Negeri Ginseng itu….Duh, keceplosan.

Keluar dari Stasiun Myeong-dong aku terus saja menggerutu, “Kenapa hari ini suhu lebih dingin dari biasanya”. Gloves yang kupakai tak mampu membendung dingin yang meresap hingga lapisan kulit terluar. Alhasil, aku berjalan menikmati Myeong-dong dengan sesekali menggeretakkan gigi karena tak mampu menahan dingin lebih lama.

Benar adanya, para pemudi nan langsing, tinggi dengan wajah putih aduhai menjejali setiap gang di Myeong-dong. Toko-toko kosmetik tampak dipenuhi para pembeli. Sedangkan beberapa pedagang kuliner lokal mulai sibuk menyiapkan lapak di banyak titik. Myeong-dong yang bagiku sudah tampak ramai, rupanya belum juga mencapai titik puncak keramaiannya. Mungkin malam nanti akan menjadi titik kulminasinya.

Karena area ini adalah pusat perbelanjaan kosmetik, maka tak menarik minatku untuk memasuki outlet kosmetik yang berjajar di sepanjang Myeongdong 8-gil. Aku hanya berdiri di tepian koridor pertokoan Myeong-dong, asyik menikmati lalu lalang muda-mudi Seoul dan kesibukan para pedagang kuliner yang sibuk menyiapkan dagangannya. Sementara itu beberapa outlet kosmetik kenamaan seperti Holika Holika, Aritaum, Missha dan The Saem tampak kebanjiran pengunjung.

Kesibukan di Myeong-dong

Dengan hanya berdiri terpaku begitu saja, menjadikanku sebagai  sasaran empuk udara dingin yang berhembus di Myeong-dong. Benar adanya, aku hanya bisa menahan hawa dingin itu dalam setengah jam saja. Selebihnya aku mulai menggigil tak terkendali.

Aku menyerah….

Aku mulai beranjak dan dengan terpaksa memasuki salah satu outlet, seingatku outlet itu bernama innisfree. Karena kebanyakan tamunya adalah kaum hawa, aku hanya berpura-pura mencari oleh-oleh kosmetik supaya bisa dengan leluasa masuk ke dalam outlet. Tentu aku tak akan membeli apapun di outlet tersebut. Aku hanya berkeliling sembari memperhatikan dengan seksama berbagai macam kosmetik yang dijual di outlet tersebut.

Demi tak menimbulkan kecurigaan, lima belas menit kemudian aku memutuskan keluar dari oulet. Kini aku berlanjut menyusuri kembali koridor-koridor di Myeng-dong sembari perlahan menjauhi pusat kosmetik itu untuk menuju ke stasiun.

Saatnya meninggalkan Myeong-dong.

Yup, kali ini aku berniat kembali dahulu ke hotel, menaruh belanjaan yang kubeli dari Namdaemun Market beberapa saat sebelum mengunjungi Myeong-dong. Untuk kemudian aku akan melanjutkan eksplorasi lagi  ke Istana Gyeongbok.

Wrong Seat in Pokhara-Kathmandu Tourist Bus

Mr. Tirtha still accompanied me to speak, we leaned back in his tiny taxi while observing the bustle around Tourist Bus Park. Several hawkers took turn getting on and off in all small sized-buses offering their wares.

A while later, Mr. Tirtha widely spread his arms and we lightly hugged as a substitute for saying “thank you and see you later”. I entered a bus on half an hour before departure. It would be better because Mr. Tirtha could immediately continue work with his taxi.

The conductor showed me a seat where I should sit. At second row behind driver which was limited by a glass screen. Now situation became tense, when an Indian spouse argued with the conductor. They felt were aggrieved because a ticket agent in Kathmandu had promised them to giving them a front seat. The conductor casually snapped back, “This is Pokhara, Not Kathmandu”. Instantly situation was silence. I just realized, that spouse wanted my seat…. Hahaha, even though I was asked to exchange, I didn’t refuse either. Seriously.

Three European tourists in the front seat near driver had fun playing cards the whole way.

Three and a half hours after departure on 7 am, bus stopped for breakfast break for 20 minutes after an hour earlier, bus had once done 15 minutes of toilet break. Hotel’s breakfast which Mr. Raj prepared on the last morning seemed quite effective for me to didn’t spend any consumption budget this time. Come on!, let me showed you how the restaurant which I stopped at:

Buffet eating!
That was the cost.
The hat which used by the cashier was called as Dhaka Topi.
Yups, I still full….Just drank a coffee.

I felt hungry at lunch break on 1:30 p.m., enjoying a thali (Indian wide plate) of food which I picked up from buffet table for 400 Rupee and drink a free-orange juice which was given to all passengers since our  departure in Pokhara.

For free….
I got on the white one.

My watch pointed to 15:34 hours. The last toilet break was the most memorable part. Taking the time to explore area around the rest area. I moved towards a side of road and enjoyed panoramic view of valley and ravine below.

Most trucks in Nepal are Tata Motor.

Impressed with situation on a side of road, I entered a small alley and saw a glimpse of local residents activities who living on a side of road. Observing a banner which stucked in a concrete wall, I tried to slightly open an outer skin of Nepal’s politics.

Nepal is a parliamentary republic which has four main political parties. The Communist Party of Nepal (CPN) became the winning party in Nepal which placed two important figures, namely Khadga Prasad Sharma Oli as Prime Minister and Bidhya Devi Bhandari as President of the country.

That’s the symbol of CPN.

Back in bus seat, this time, my journey encountered a terrible traffic jam when it descended the last hill nearing Kathmandu border. Looked like a traffic jam in Cianjur on the weekend (Cianjur is tourist destination near my home).

The bus arrived in Kanti Path Road on 17:08 hours. Excessive fatigue persuaded me to immediately looked for Shangrila Boutique Hotel in Thamel area. I walked through many narrow alleys and asking to local people to find the location. Only walking for 20 minutes, I finally found the hotel.

I handed over 2.300 Rupee as the rate of staying per night. This time, I would spend 2 nights in Kathmandu to enjoy the city.