Menembus Pagi Mejemput Fajar di Sarangkot, Nepal

SARANGKOT….adalah nama sebuah desa berketinggian 1.400 mdpl di Distrik Kaski, Zona Gandaki. Terletak tepat di kota Phokara yang merupakan pusat turisme di Nepal menjadikan Sarangkot sebagai salah satu destinasi favorit. Kenapa demikian?….Karena Sarangkot adalah viewpoint terbaik untuk mengamati Pegunungan Himalaya.

Delapan puncak Himalaya yang bisa dilihat dari desa ini mendorongku menaruh nama desa ini dalam itineraryku.

Hari pertama tahun 2018….Happy New Year, Donny!

Sarangkot seakan dekat di pelupuk mata. Taxi sewa harian seharga 1.100 Rupee sudah kupesan di Phokara Lodge Hotel tempatku menginap. Kabar baiknya Aku akan membayarnya secara patungan dengan 3 turis lain.

Haripun masih gelap ketika Mr. Raj si pengurus hotel membangunkanku, “driver sudah siap di bawah”, sahutnya. Hanya bersikat gigi dan membasuh muka, Aku segera menuruni tangga hotel untuk bertemu sang driver.

Keramahannya tersirat dari setiap senyum yang terlempar di hadapanku. Aksen Inggrisnya yang menakjubkan menunjukkan bahwa Dia juga seorang pemandu yang baik untuk setiap tamunya. Menurutnya, kemampuan berbahasa Inggris menjadi sebuah kewajiban mengingat pariwisata adalah jantung perekonomian Nepal.

Pagi-pagi buta Aku memulai lawatan ke Sarangkot. Perjalanan sejauh 12 km ini porsi besar jalurnya akan melewati jalan Phokara-Baglung.

Aku menjadi orang yang beruntung, karena sejak malam langit terlihat cerah. Artinya Aku akan melihat indahnya Himalaya tanpa halangan awan.

Memasuki  gerbang Sarangkot, kendaraan diberhentikan dan Aku harus mengeluarkan 50 rupee untuk ditukar dengan entrance ticket. Total hanya perlu 30 menit untuk tiba tepat di pelataran parkir Sarangkot.

Entrance ticket

Menaiki puluhan anak tangga, tersadar bahwa Aku berada di ketinggian. Tetapi gulitanya pagi, membuatku susah melihat pemandangan di bawah.

Sekejap kemudian, Aku tiba di luasnya pelataran. Sepertinya ini adalah titik pandang Himalaya yang dimaksud. Sudah lumayan banyak turis yang duduk di bibir bukit menunggu datangnya fajar. Beberapa photographer professional terlihat sibuk mempersiapkan kamera dan peralatan lainnya.

Suhu 4o Celcius  terkalahkan dengan bayangan pesona Himalaya yang memenuhi  alam imajinasiku.

Waktu seolah berjalan lama ketika Kita menantikan sesuatu yang dicinta….begitupun Surya di Sarangkot….seakan menggodaku dengan menunda-nunda kemunculannya untuk menghangatkan Himalaya.

Pucuk di cinta ulam pun tiba

Dia mulai menunjukkan batang hidungnya  

Tinggal pilih aja…hidung matahari atau hidung si charming itu….
Penduduk desa itu pasti bahagia, setiap hari melihat indahnya Himalaya.
Lihatlah puncak Machhapuchhare yang lancip itu….

Ketika sinar surya menerpa lapisan es di puncak Himalaya, maka warna keemasan akan memancar dan itu membuat mataku susah berkedip. Takut kemewahan itu sirna begitu saja…….Hadeuh….Bahasamu Don.

Pagi yang sudah tersibak, Aku baru bisa melihat bentuk pelataran sesungguhnya. Ini dia:

Pelataran untuk menikmati indahnya Himalaya
Yang ga puas dan kurang tinggi….boleh naik ke atap di kiri pelataran
Atau atap di kanan pelataran.

Segeralah berpindah ke sisi pelataran lain. Kamu akan melihat pemandangan penutup, yaitu Phewa Lake yang secara geografis terletak  di sebelah selatan desa Sarangkot.

Jangan liat orangnya…liat aja danaunya…fokus!…fokus!.

Setelah berdiam diatas selama 2,5 jam. Kuputuskan untuk turun kembali. Pemandangan desa yang tak tampak ketika Aku berangkat, akhirnya terlihat dengan jelas dan indah ketika Aku perlahan meninggalkan puncak Sarangkot.

Perumahan warga dari atas.
Menuruni puluhan anak tangga

Sebetulnya jika tak mau repot berangkat pagi-pagi dari kota Phokara, Kamu bisa menginap di sekitar Sarangkot dan datang sehari sebelumnya. Di Sarangkot terdapat beberapa penginapan yang menyediakan kamar untuk turis yang akan menikmati Himalaya.

Salah satu penginapan disana.
Restoran pun banyak

Menuruni punggung bukit selama 15 menit, akhirnya Aku tiba kembali di pelataran parkir.

Mobil pengunjung di tempat parkir.

Menemui driver taxi yang menemaniku, kemudian Aku di ajaknya menuju Purana Bazaar untuk melihat aktivitas perniagaan di pasar yang terkenal di Phokara.

Visiting Dragon-Tiger Pagodas, Kaohsiung.

My trip when going back from Fo Guang Shan ended at Kaohsiung Main Station and was greeted by little drizzle which began to fall.

My time began to be counted down during 2 hours from that time because the next destination would close precisely at 5 pm.

I took my KPP Taiwan Pass out. I got it at Kaohsiung International Airport MRT Station a day before. I immediately moved towards Ecological District Station.

KPP Pass is a cloud-based pass card which used in three regions i.e Kaohsiung, Pingtung, Penghu (three major cities in southern Taiwan)

Finding a bus shelter and waiting for bus no. R35A to get access towards Lotus Lake would be my next step. I waved my hand when bus was fastly running at Bo’ai 3rd Road towards me. Maybe the driver thought that there wasn’t passenger at bus shelter. Nimbly stepping aside, finally bus stopped in front of me.

Apparently the driver was a woman, asking me about where is my destination in Taiwan language made me speechless.

I: “Dragon-Tiger Pagodas, Mam”

Driver: shake her head, her eyes were closed and raised her hand as surrender sign that she didn’t understand my words.

I: “Hahahaha …….”

Driver: looked like a little annoyed when I laugh.

I: “Wait … wait”. I took my smartphone out, I looked for the pagoda image which I meant and I showed it to her.

Driver: “A little shouted excitedly….yeah….yeah….while thumbing up.

After paying USD 0,5 by entering my coin into the fare box, I stood behind.

It took 10 minutes only to arrive at Lotus Lake and finally the twin pagodas were clearly visible.

Kaohsiung bear doll like its image in my KPP Taiwan Pass

Panda is an iconic animal in Taiwan, so you will often meet its profile in public places. I found it at this pagoda also.

If you want buy souvenirs, enter that building!

Visitor Souvenir Center

Entering pagodas area, clearly seen the Dragon statue and the Tiger one:

According to the myth, I must enter from dragon mouth and come out from tiger mouth….And I would luck.

This seven-story pagodas with yellow floors and red pillars emit a solemn aura in the middle of Lotus Lake.

Lotus Lake as far as eye can see.

Opposite in front of Pagodas stand the magnificent Tzu Chi Palace

I left Lotus Lake on 16:45 to looking for dinner at Kaisyuan Night Market.

My confusion was started here, I didn’t know which bus number must I take and where I must go. At that time, I just used map and compass when traveling there, I didn’t use Google Maps just for save my budget because I didn’t need to buy internet quota. So as long as I don’t get WiFi, then my presence in a country willn’t be detected … It’s cool, I am like CIA agent….Hahaha

If I am confused, I will randomly take a city bus….wherever. Then I will stop near famous spots which I’ve learned before visiting that country. Finally, I randomly took a bus that afternoon. And in confusion, I finally saw Kaohsiung Arena (the biggest soccer stadium in Kaohsiung). I stopped at its nearest bus stop. Either it was free or driver didn’t know, I never tap my KPP pass on automatic fare machine.

There is Kaohsiung Arena MRT Station near it.

From this station, I finally managed to find Kaisyuan Night Market.

It was a little crazy adventure, bro …

Menginapi Ketinggian….Pesona Baiyoke Sky Hotel, Bangkok

Kalau ditanya, berapa kali pernah ngelayap ke Negerinya Bhumibol Adulyadej?….udeh 3x, bang…..Pertanyaan mudah level pertama.

Lalu kalau ditanya, Apa yang paling berkesan ketika mengunjungi Negeri Gajah itu?…...tom yam atau ladyboynya, bang….jawaban mudah pertanyaan level kedua.

OKAY….sebelum masuk question berikutnya

Kamu semua tahu lah, apa enaknya “ngelayap edan” ke negeri orang versi travelingpersecond.com….kacamata biasa aja menjawabnya ”nothing fine“.

Tapi, kali ini Aku sedikit sombong. Karena Aku ternyata menyimpan satu kisah perjalanan borju ke Negeri yang ladyboy nya sangat aduhai itu.

Begini….Apa yang akan Kamu lakukan jika dikasih uang 10 juta dan Kamu diminta menghabiskan uang sejumlah itu selama 3 hari 2 malam di negerinya si super cantik Baifern Pimchanok?…Nah ini nih pertanyaan level ketiga.

Gile lu Don….Uang segitu aja banyak. Pan banyak orang bawa uang segitu buat jalan-jalan disono. Wadaw….Aku norak banget sih. Tapi swearrrrr….segitu buat Aku sangatlah buanyakkkkk.

Uang segitu akan menjadi berkesan tentunya, jika bisa digunakan untuk menginap di hotel mahal di Bangkok.

Yes, Aku nginep di Baiyoke Sky Hotel.

Baiyoke Sky Hotel memiliki tingggi 309 meter dan menjadi hotel tertinggi ke-7 di dunia. Tak hayal jika Kamu perlu mengeluarkan kocek sebesar 1,5 juta per malam apabila mau bermalam dimari.

Hotel yang terletak di Khet Ratchathewi (Khet artinya distrik), Propinsi Bangkok. Ratchathewi sendiri berasal dari nama seorang permaisuri yaitu Phra Nangchao Sukumalmarsri Phra Ratchathewi.

Nah Selain memiliki Victory Monument sebagai landmark, Ratchathewi juga memiliki landmark terkenal yaitu Baiyoke Sky Hotel yang kali ini sedang Kubahas.

Hotel ini terletak di area terkenal….namanya, Pratu Nam. Di sana juga ada destinasi terkenal lainnya yaitu Pratu Nam Market. Kamu harus mengunjungi pasar tersebut jika ke Bangkok.

Hotel ini sendiri memiliki 2 tower utama. Tower I memiliki tinggi 151 meter dan digunakan untuk Baiyoke Suite Hotel. Sedangkan Tower II bertinggi 309 meter, digunakan untuk Baiyoke Sky Hotel

Aku membayar Rp 125.000 (THB 250) ke pengemudi airport taxi setelah Dia mentransferku dari Don Mueang International Airport ke Baiyoke Sky Hotel.

Sebelum memasuki pintu hotel, Kuperhatikan kesibukan aktivitas perdagangan di commercial shops yang terletak di lantai terbawah Baiyoke Sky Hotel.

Mulai memasuki pintu bawah hotel, antrian begitu panjang di depan lift. Aku pun berdiri di ekor antrian.

Oh Donny……Dasar ndeso. Doorman itu menghampiriku, rupanya Dia tahu aku baru saja mengambil  antrian di belakang.

Dia: “Excuse me, Sir….Do you want to stay in or just go to observation deck?”

Aku: “I want to stay sir

Dia:”Oh Okay, Sir….This queue is for observation deck only. You can use that lift to go to lobby”

Aku: “Oh thank you sir”. Baca petunjuk dong Don….Ndeso (Hatiku bergumam). Aku pun mulai berpindah ke lift sebelah yang sepi antrian.

Lift itu pun mengantarkanku ke Lobby.

Reception hall yang bernuansa klasik

Selesai proses check-in dan mendapatkan access card. Aku segera menuju keatas untuk rehat sejenak. Ada tiga koridor lift di lantai tempat resepsionis berada. Koridor pertama digunakan untuk menuju pintu keluar hotel di lantai terbawah. Koridor kedua dan ketiga digunakan khusus untuk tamu menuju kamarnya dan menuju  beberapa tempat menarik di hotel, seperti  Baiyoke Floating Market, Bangkok Sky, Observation Deck, Stella Palace, Bangkok Balcony, Crystal Grill dan Roof Top Bar.

Menelusuri koridor mencari keberadaan kamar.

Aku mulai memasuki kamarku……

Untuk urusan makan, Aku tak perlu mengunyah sepasang toast seperti biasanya. Karena ini bukan dormitory bung….Ayeee

Makan sepuasnya lah biar buncit dah….

Selain itu, Kamu juga bisa merasakan makan dalam balutan konsep floating market. Maksudnya, tidak ada air ya gaes di lantai ke-75 dimana floating market berada. Hanya saja buffetnya berwujud perahu dan ada pedagang di setiap perahunya

Namanya juga Second-Tallest Hotel di Bangkok, akan sangat rugi jika Kamu tak menikmati pemandangan Bangkok dari 360-degree revolving viewpoint di ujung Tower II.

Pemandangan seharga Rp. 200.000 untuk umum, Kali ini Aku bisa menikmatinya secara gratis sebagai tamu penginap.

Malam pertama, Aku kemalaman dan 360-degree revolving viewpoint di lantai ke-84 Baiyoke Sky Tower sudah berhenti berputar. Aku tak bertahan lama di revolving roof deck dan kuputuskan untuk turun. Aku hanya mendapatkan ini:

heran, si Peter Parker kuat banget. Dah 3 hari kek gitu di lantai 83

Terpampang juga foto para juara tiap tahun dari Baiyoke Run Up International (lomba lari menaiki tangga menuju puncak Baiyoke Sky Tower).

Aku baru bisa mendapatkan view kota Bangkok 360o di malam kedua. Putaran 360-degree revolving viewpoint membuatku terpana melihat keindahan Bangkok di malam hari.

Berburu foto di 360-degree revolving viewpoint

Baiyoke Sky Hotel juga menyediakan museum mini untuk mendisplay beberapa arca dan artefak Buddha.

Kuliner Terdekat

Tepat diseberang hotel, Kamu akan menjumpai Indra Square Shopping Mall. Buka dari jam 10 pagi hingga jam 9 malam, seperti kebanyakan shopping mall pada umumnya, Kamu dengan mudah akan menemukan banyak pakaian, aksesoris, souvenir, sepatu dan tas yang dijual melalui proses tawar- menawar. Banyak trader keturunan India mengadu nasib disini.

Kembali ke kuliner, Kamu bisa menemukan Indra Food Square di lantai paling atas.

Mau Belanja di Jalanan?

Sepanjang jalan didepan Baiyoke Sky Hotel menghadirkan night market yang menarik para tamu hotel untuk mengunjunginya. Cobain duren Bangkok tepat disebelah kiri depan hotel deh….maknyussss.

Ternyata nginep mewah itu enak ya bro…..Ahirrr

Jet Airways 9W 256 from Mumbai to Colombo (BOM-CMB)

My third-flight and also my last flight with Jet Airways were deliberately priority to be written. Remembering every Jet Airways flights that are very important in completing my exploration in South Asia region.

Early morning flight (2:05 p.m.) which was departed from Chhatrapati Shivaji International Airport in Mumbai made me lack of sleep time since checked-in until landing (04: 35).

Entering airport, I immediately sought a pray room. Entering prayer room, I was greeted by a man who was wearing an ihram cloth (Ihram cloth is specific cloth for hajj or umrah in Mecca) among a group of umrah tour which were praying together. His hospitality smile welcomed me after ablutions.

He : “Assalamu’alaikum, hi brother, where are you come from?

Me: “Hi sir …. from Indonesia“. I threw a smile to him.

He: “I’m from Bangadesh, I think you are from Malaysia“. He smiled again.

Me: “Yeaa….Malaysian and Indonesia are looking same”. I shaked his hand

He: “Where will you go?

Me: “I will go to Colombo…Oh ya three days ago, I visit your country

He: Suddenly hugging me … ” Really, How about my country? nice?

Me: “Yeaa, exotic country….very original….I will come again next time”.

He: smile again and patted my shoulder.

I also found some Indians praying at some airport corridors.

Dinner at that night were some authentic Indian street fried foods which I got from the last rupee after exploring Mumbai”

A thing that I always do when traveling is to exchange my last local moneys into USD before leaving a country which I visited and then spending last coins which can’t be exchanged to buy a menu for next meal. In fact, sometimes I will eat it in next country.

Last 2 hours waiting time was used to charge all my electronic devices which low battery after I use it in exploring Mumbai.

Airport information calls which don’t use Indian-English accent at all make me feeling like at European airports (It’s still dream….I’ve never set foot in Europe). Yeah cool.…all information calls at this airport is accented with native english .

It was really nice to see my plane leaned on gate 85D, a sign that I would set foot in Colombo soon.

My plane just arrived and was unloading

1 hour later boarding process started.…

through aviobridge I finally caught my third flight with Jet Airways.

Online checking-in that I did 24 hours before flight made me free to choose a window seat. This position is always my choose at every flight to easy documenting every moment during flight.

boarding process before I really fell asleep.

Trying to still awake by reading “Jet Wings”, I hoped cabin crews would immediately distribute in-fligt meal.

this is Jet Airways’ inflight magazine.

Even when I fell asleep, inflight meal never came. Apparently, there wasn’t food on this flight. Or whether I missed it. Because I really fell asleep very hard. Because less sleep during Mumbai exploration.

I was awakened by flight attendants to immediately establish my seat, signaling that I would land in Colombo soon.

I deftly set up my Canon EOS M10 and turned it on. I would catch some city view when plane prepared to touch down at Bandaranaike International Airport.

I was stunned by a row of lights that were patterned straight and neat. There wasn’t doubt that it must be a beach that would ll be my destination in Colombo.

View along the famous Galle Face beach.

10 minutes later, Jet Airways actually landed in Colombo. Hmmmh… couldn’t wait to get down soon.

Bandaranaike International Airport could be seen from plane’s window.

My arrival was at 4:35 a.m., I had to wait until morning to catch first airport bus which would go to downtown.

Jet Airways was in unloading process at Bandaranaike International Airport

Subha udesenak!Pearl of the Indian Ocean“….kindly welcomed me, please….hehehe.

Tiga Viewpoint di Phuket

Tulisan pertamaku tentang Thailand tak akan kuambil dari Bangkok yang menjadi Ibukotanya. Tapi Aku akan membuatmu penasaran dengan menghadirkan Phuket.

Membayangkan keindahan Phuket sejak 2013, Aku baru benar-benar bisa melihat keindahan itu dengan mata telanjang pada 2019. Enam tahun lamanya Aku hanya bisa melihat Phuket dari sebuah foto yang kutempel di meja kerjaku. Banyak alasan tentunya kenapa harus selama itu. Mulai dari waktu, kesibukan dan tentunya dompet….hihihi, kayaknya masalahku yang terakhir itu deh.

OK, by the way….

PHUKET….merupakan sebuah propinsi ber-area pulau di sebelah selatan Bangkok. Jika diukur, panjangnya sepanjang Jakarta-Cikampek dan lebarnya hanya sepanjang Jakarta Timur ke Jakarta Barat.

Phuket memang terkenal dengan wisata pantainya. Tapi jangan salah, 70% wilayahnya adalah perbukitan. Artinya, Kamu bisa melihat keindahan kota dan pantainya dari atas.

Atas dasar itulah, sebelum menikmati segenap pantai di Phuket, Aku melakukan satu hal yang jarang dilakukan turis lainnya….Yes, Aku mulai menanjaki perbukitan itu untuk melakukan “Phuket helicopter view”.

Siang itu, maskapai Nok Air mendaratkanku di Phuket Internatonal Airport. Disambungkan dengan airport bus, Aku benar-benar diturunkan tepat di pusat kota. Selepas check-in di Fulfill Phuket Hostel dan lunch di sekitarnya, Aku segera bergegas menggeber sepeda motor sewaan ke sebuah bukit di barat laut hotel.

1.Khao Rang Viewpoint.

Khao Rang atau Rang Hill adalah sebuah viewpoint yang terletak di utara Phuket. Menurut petugas yang kutanyai, Khao Rang biasa dikunjungi penduduk Phuket di malam hari selepas penat bekerja atau di weekend untuk merayakan libur setelah 5 hari sibuk bekerja.

Kebetulan sekali Aku hadir disini pada Minggu siang, jadi sangat mudah menemukan warga Phuket yang hilir mudik.

Hanya perlu waktu sekitar 10 menit dari Fulfill Phuket Hostel untuk benar-benar masuk ke Khao Rang melalui gerbang selatan (ada dua gerbang untuk menuju Khao Rang, satu di selatan dan satu lagi di utara).

Memarkirkan motor dengan terburu-buru karena ketidaksabaranku melihat bagaimana wajah Phuket, Aku tak memperdulikan banyak pasangan muda-mudi yang terlihat duduk bermesraan di setiap sudut Khao Rang.

Aku segera melihat sekitar untuk menentukan dari titik mana akan melihat Phuket. Yes…..itu viewpoint yang kucari:

Sebuah bangunan gaya eropa terpampang di ujung Khao Rang.

Wadaaawww…..tata kota Phuket yang dibatasi dengan garis pantai dan tersekat-sekat dengan perbukitan kecil disetiap sisi pandang membuatku tertegun lama dan mengalahkan panasnya sengatan matahari siang itu.

Ciamik ga?….Kok diem
Ciaaaaa mikkkkk gaaaaa?……Kok cuma diliat bentar doing sih…..
Ciaaaamiiikkkkkkk kaaaannnnnnnn????????……………….komen donk

Jika mau lebih lama di Khao Rang, Kamu bisa menikmati Phuket sambil menyantap kuliner khas Negara Gajah Putih di Tunk Ka Cafe. Kalau ga mau masuk cafe karena mahal, Kamu cukup menikmati jajanan ringan atau air kelapa di beberapa stand makanan diluar restoran itu.

Lalu Aku?…..Kagak beli apa-apa…..Aku lebih memilih kabur ke viewpoint berikutnya.

2. Phuket’s Big Buddha

Keluar dari area parker Khao Rang, Aku mengarahkan sepeda motorku ke arah barat daya. Aku bersama motorku akan menjelajah sejauh 20 km untuk menuju patung Big Buddha.

Melewati panasnya jalanan Phuket, Aku menyempatkan mampir di sebuah pasar tradisional di tengah perjalanan. Menyibak seisi pasar untuk melihat orang-orang lokal berniaga, perlahan Aku mendengar sayup-sayup bahasa Sunda diantara riuh rendahnya nada pasar.

“Aku harus menemukan orang ini”, batinku. Kudekati suara itu hingga menemukan dua anak muda asal Sukabumi yang sedang menjalani pertukaran pelajar yang menjadi program sebuah SMK Pariwisata di daerahnya. Dia ditugaskan di sebuah resort di Phuket dan saat itu sedang berbelanja atas perintah sang kepala koki.

Meninggalkan pasar, Aku kembali meneruskan perjalanan mendaki bukit yang meliuk-liuk menuju puncak.

Kuperhatikan para turis asal China bersukaria menaiki ATV menuju ke tempat yang sama, bahkan beberapa bule terlihat menuju puncak bukit dengan ber-jogging dan beberapa berjalan kaki….gile, itu kan jauh banget.

Boleh dikatakan ini “combo venue”. Karena selain mendapatkan viewpoint yang lebih tinggi, Kamu juga akan sekaligus menikmati keindahan dan kesakralan patung ini.

Tibalah Aku di Big Buddha

Terletak di puncak Bukit Nakkerd, patung setinggi 45 meter ini dibangun pada 2004.

Berjalanlah ke ujung plaza patung raksasa itu, inilah yang akan Kamu dapatkan:

guys…itu penampakan Ao Chalong Bay yang eksotik….seeksotik Jennifer Garner (upsss….ketauan deh idola guwe).

Big Buddha menjadi trip penutup dari segenap pendakianku pada Minggu itu.

Aku harus bersabar untuk mendaki lagi dikeesokan hari.

3. Kao Khad View Point

Hari berikutnya….

Aku akan lebih lama duduk di Kao Khad, jadi kuputuskan memasuki Family Mart di seberang hotel untuk menyiapkan beberapa kacang kemasan dan soft drink untuk menikmati keindahan Phuket.

Menuju selatan, Aku kembali turun ke jalanan Phuket. Kali ini Aku akan menempuh jarak 8 km.  Melewati kemacetan di beberapa titik jalan yang sedang direnovasi hingga proyek pembuatan underpass, Aku menikmati wajah-wajah lokal yang sedang bergerak menuju ke tempat mencari nafkahnya masing-masing.

Viewpoint yang tak begitu tinggi memudahkan motorku untuk berjalan lebih kencang dan mencapai tujuan hanya dalam 12 menit.

Ini dia, Kao Khad viewpoint:

Dilihat darimanapun, seisi pulau itu sungguh memanjakan mata
Kao Khad beach….yuhuiiii

So…..setelah melihat sedikit pemandangan yang kuberikan….Maukah Kamu ke Phuket?

Visiting Fo Guang Shan Monastery, Kaohsiung

That morning 8:27 am, I was getting ready to deeply explore Kaohsiung. A sliver of toast, a banana and a cup of tea became a free breakfast which provided by the hostel that morning.


felt like at home

Apparently, That Vietnamese and Indo-American backpackers were still asleep in Paper Plane Hostel’s clean and soft beds. They certainly enjoyed traveling in their ways which were different from mine. They looked more relax than me who is always agile everywhere for chasing time. My minimum budget that required me to visit many destinations in shorter vacation time.

Yes, I only slept in this cool hostel for a night because in next morning I would check out and leave my backpack at reception. I would take back it after completing my visitation on my last day in Kaohsiung.

MRT slowly moved away from Houyi Station and drove me to Kaohsiung Main Station.

My eyes were immediately aware from an existence of bus terminal near this MRT station.

Yess … I was indeed hunting for a bus towards the largest Buddhist monastery in Taiwan i.e Fo Guang Shan.

What is Fo Guang Shan? …..

Based on a reference which I got, It was an order in Buddhism that was very well-known in its efforts to modernize Buddhism in China. Because this order is very technologically literate … That’s about it.

In several minutes, I din’t see yet a bus number 8010 or 8011 which came into terminal, finally I asked someone who I thought he was a bus timer.

Bus station near Kaohsing Main Station

Maybe, because of often ask by tourists, it doesn’t take long time for him to understand my question. And I was asked to wait for the bus at end side of terminal.

Finally, The bus arrived.…got in it from front door, I asked driver whether the bus was really heading there. After saying “yes”, I immediately paid for about USD 2 and he gave me a ticket.

The journey began:


The joy of that day began with a pinky interior.

35 km journey with 45 minutes travel time was unable to make my eyes closed against my preoccupation on observing charms of Kaohsiung streets. Observing local people’s activities and passing various landmarks made me stunned along the way.


The front yard before entering monastery

I finally arrived …

There is no charge for entering this Buddhist monastery. Through front lobby, I found several shops which sell jewelry and souvenirs and several coffee shops (one of them is Starbuck) also.

I wasn’t interested in this area because I didn’t carry an adequate budget….Immediately come out and I found an incredible view:

Size of monastery plaza is very wide and became a camera’s target by anyone who visited this place.

Get close to Buddha statue! … surely you will be more impressed:

Under Buddha statue is location of Buddhist Museum and there are several prayer rooms for visitors.

I was also welcome to entering worship room to just see how worship procession do.

1.5 hours was a very valuable time because I could visit this place.

I closed my hunger by eating a serving of dinsum. I got it from a canteen which located in parking lot in front of monastery.

By the way, it was on 13:15 hrs.… I still had a lot of time … Where was my next destination?

Busan International Film Festival Square…Asal Muasal BIFF

Jika….

Negara Paman Sam memiliki Sundance Film Festival

Negeri Pecahan Es mempunyai Toronto Film Festival

Atau Negara Kota Mode tersohor dengan Cannes Film Festivalnya

Maka Negeri Ginseng juga memiliki hal yang sama….Busan International Film Festival.

Diselenggarakan di sekitar akhir tahun yaitu September atau Oktober, BIFF selalu memperkenalkan sutradara-sutradara pendatang baru Asia dengan karya pertamanya. Festival yang dibuka pertama kali pada 23 tahun lalu, kini telah berpindah tempat ke Centum City di daerah Haeundae-gu.

Kali ini Aku tak menuju ke new homebase nya  BIFF, tetapi Aku akan menyusuri sebuah daerah yang menjadi cikal bakal BIFF yaitu Nampo-dong. Kemudian, untuk menapak tilas asal muasal BIFF maka Aku menuju ke BIFF Square.

Perjalanan dimulai dari stasiun terdekat dari Kimchee Busan Guesthouse  yaitu stasiun MRT Beomnaegol menggunakan MRT Line 1 (Orange Line). Setelah melawati 8 stasiun, Aku turun di stasiun MRT Jagalchi. Satu destinasi lain yang bisa dikunjungi di dekat stasiun ini adalah Jagalchi Market (menjual beragam seafood) yang buka dari jam 5 pagi hingga 10 malam.

Keluar dari exit gate, Aku sudah disambut oleh pedangang street food  tepat di pintu keluar stasiun. Karena udara dingin menusuk tulang, asap yang keluar dari pembakaran tungku itu membuat para penumpang MRT rela berhenti sejenak untuk sekedar memakan makanan hangat yang dijual pembeli itu.

Aku sedikit mengalamai disorientasi kali ini, bingung mencari jalan BIFF Square, karena semua jalan terlihat ramai. Akhirnya kuberanikan diri untuk menghampiri pak polisi yang sedang berjaga di pos polisi lalu lintas. Dengan sabar, Dia menjelaskan arah kepadaku sembari menunjukkan telunjuknya ke kiri dan ke kanan dengan bahasa Korea…..Walau tak mengerti bahasa Korea, Aku rasa cukup mudah memahami penjelasannya.

Jalan BIFF membelah tempat itu sepanjang 150 m. Dan ketika Aku mengunjunginya di malam hari, sangat mudah menemui tenda-tenda street food. Tenda-tenda berbentuk rumah-rumah mini ini mungkin bertujuan melindungi si pembeli dari dinginnya udara Busan di malam hari. Tersusun berjajar di tengah jalan, menjadikan Jalan BIFF menjadi pasar kuliner dimalam hari.

Mengkol sedikit ke jalan Gwangbok-ro

Aku hanya sedikit mencoba memakan sate seafood di salah satu tenda, lalu Ku lanjutkan untuk mencari makan malam yang lebih sedikit nendang.

Karena begitu susah menemukan makanan berat yang sesuai dengan selera, akhirnya hinggaplah Aku di sebuah warung makan mungil di deretan pertokoan sekitar Jalan BIFF. ”Ahangeya” nama tempat itu. Aku lebih memilih makan beef rice bowl seharga 4.000 Won (Rp. 48.000).

Selain tenda-tenda makan, Aku juga menemukan banyak penjual pernak pernik souvenir, t-shirt dan beberapa peralatan elektronik. Tapi perhatianku tak tertuju pada itu, Aku lebih memilih untuk mencari jaket musim dingin di sebuah konter penjualan Uniqlo di bilangan BIFF Square.

buat ganti jaket…masak iya jalan 12 hari hanya bawa 1 jaket
seharga Rp. 480.000

Hawa dingin membuatku tak kuasa menahan bekunya tubuh….Aku tak bisa berlama-lama disini, dan kuputuskan untuk balik ke guesthouse karena esok hari Aku akan berjalan panjang dan menanjak untuk berkunjung ke Gamcheon Culture Village.

So…..bobok yuk !