Muttrah Fish Market: Tengara Baru di Sepanjang Corniche

<—-Kisah Sebelumnya

Sebuah bangunan kecil nan unik menarik perhatianku ketika berada di lantai teratas beranda utara Muttrah Souq. Bangunan itu berada di sisi timur pasar. Maka tanpa berpikir panjang, aku pun menuruni tangga dan melangkahkan kaki menujunya.

Hanya perlu bergerak sejauh seratus meter, maka aku pun tiba di depan bangunan mungil itu.

“Omani Heritage Gallery….”, aku membaca sebuah signboard yang terpajang di bagian depan bangunan.

Tanpa pikir panjang aku pun memasukinya….

Di ruangan bagian dalam aku meliat etalase yang memajang dan menjual kerajinan tangan dan buah tangan khas Oman. Beberapa turis asal Eropa tampak khusyu’ menawar beberapa produk asli masyarakat Muttrah itu.

Berdasar informasi yang kudapatkan, outlet ini memang didirikan untuk memfasilitasi para pengrajin lokal dalam memasarkan karyanya. Kerena berfungsi sebagai fasilitator maka Omani Heritage Gallery menyerahkan semua keuntungan penjualannya kepada para pengrajin. Salah satu hasil kerajinan yang kulihat di salah satu etalasenya adalah Frankincense Essential Oil yang merupakan minyak olahan khas Timur Tengah.

Untuk beberapa saat, aku bisa menikmati karya-karya otentik tersebut, untuk kemudian aku pun keluar dari ruangan dan berniat untuk melanjutkan eksplorasi.

Aku kembali berjalan menuju ke arah barat. Tujuanku adalah ujung barat Al Bahri Road.

Aku akan mengakhiri petualanganku di titik itu”, aku telah memutuskan.

Kali ini aku berjalan mengikuti kontur depan pertokoan yang kebanyakan menjual kain-kain sutra. Beberapa diantaranya menjual perhiasan yang terbuat dari perak. Beberapa saat kemudian berganti melintasi Masjid Nabawi-Muttrah yang didesain dengan warna dominan biru.

Dalam setengah kilometer akhirnya aku benar-benar tiba di ujung barat Al Bahri Road yang ditengarai dengan keberadaan Al Saidia School.

Al Saidia School yang berada di Muttrah merupakan sekolah cabang ketiga yang sudah berusia 63 tahun. Sedangkan Al Saidia School sendiri adalah sekolah pertama yang berdiri di Negara Oman pada masa modern. Keberadaan sekolah berusia tua di sini menunjukkan bahwa area Muttrah telah lama memegang peranan penting dalam perkembangan Kesultanan Oman.

Dari titik itulah aku melihat dengan jelas bangunan besar modern dan futuristik, letaknya tepat di sisi seberang Al Saidia School sedikit ke barat.

Aku pun bergegas mendekatinya….

Begitu tiba tepat di hadapan bangunan raksasa itu, aku membaca signboard di depannya.

Mutrah Market For Fish, Fruits & Vegetables….Oh, pasar ikan”, aku bergumam pelan.

Pasar ikan itu berwarna putih dengan atap yang dibuat bergelombang bak permukaan lautan. Area parkir yang luas tampak dipenuhi oleh mobil-mobil warga yang terparkir dengan rapi. Sementara di bagian belakang pasar adalah Sultan Qaboos Port yang berdampingan dengan dermaga beton yang menyandarkan perahu-perahu mungil nelayan.

Sore itu pasar tak begitu ramai, mungkin aku tidak datang di puncak keramaiannya. Biasaya pasar ikan memang ramai pada dini hari hingga menjelang fajar. Tetapi toh aku masih bisa menemukan beberapa pedagang yang menjajakan ikan di lapak-lapaknya.

Omani Heritage Gallery.
Pertokoan di sisi selatan Al Bahri Road.
Al Saidia School.
Muttrah Fish Market.
Dermaga nelayan di belakang Muttrah Fish Market.

Muttrah Fish Market adalah tengara baru di tepian pantai, tepatnya di salah satu titik dari corniche yang ramai. Pasar ini diproyeksikan Kesultanan Oman sebagai pusat industri perikanan Oman yang terus berkembang dengan pesat.

Hal ini tentu sangat selaras dengan semangat Muttrah yang telah melegenda dengan sejarah panjangnya sebagai pusat perdagangan komersial, pelabuhan, dan tradisi perikanan.

Dengan mencapai titik ini, sudah dipastikan petualangan pada hari perdanaku di Oman telah usai.

Sampai jumpa di area lain pada keesokan hari…..

Impromptu Photographer in Terengganu Drawbridge

<—-Previous Story

My eyes were getting heavy, the impact of sitting under a tree for too long, of course still in the Padang Maziah complex. Now and then the sound of car horns gave a pulse to the deserted palace garden. However, my reason still said “no”, when the heart’s intention persuaded it to immediately go to the beach.

What could I do, my eyes preferred to continue their sleep, “Who wants to be hit by the hot sun”, my reason was determined to stay for more moments in the coolness and beauty of Padang Maziah. Because of that, I was more and more confident leaning against a concrete wall that has functioned as a giant pot in that palace park. This was the first time I could sit and relax in a park out of my country.

The blink of my eyes grew tighter as the sun slowly slipped to the west. Almost half past three in the afternoon, I finally decided to get up and walked again.

I headed back down a four-lane and two-ways road heading west. Ahead there was a large city gate. Through the left side of the road, slowly but surely I was getting closer to it. The gallant city gate, straddling Sultan Zainal Abidin Street.

“Sovereign My Sultan – Hope God Keep Terengganu’s Sultan and Sultanate”, was the three-line sentence plastered above it. “Terengganu is Islamic,” I quietly thought as I stood still looking at that sentence from below.

After the gate, only a row of four-story shophouses could be seen which be built parallel to the road on its right side, while on the left side was acquired an expansive green area titled Dataran Shahbandar. It was a community park complex combined with gathering & events venues which will usually be crowded at important moments such as Ramadan, New Year, and national holidays.

Dataran Shahbandar itself covers an area of ​​ten hectares with three main sections, namely parks, plazas, and piers. From the naked eye, I could estimate that the park dominated up to 60% of the total area. Meanwhile, the plaza used for tent areas, car boot sales, or food trucks took up 30% of its portion, while the remaining area was used as the Shahbandar Jetty, which was a wooden pier used for the transportation terminal to Redang Island, which was 40 kilometers offshore.

I leisurely walked through a pedestrian path in the middle of a lush park to reach the plaza area. The spacious but quiet plaza was decorated with a signboard that reads “Bandaraya Warisan Pesisir Air”. The day after tomorrow this place would be filled with local citizens to celebrate New Year Countdown. Meanwhile, at the same time, I would be in Kuala Lumpur.

Park @ Dataran Shahbandar.
Plaza @ Dataran Shahbandar.

Meanwhile, the focal point of the New Year’s celebration the day after tomorrow would be on iconic bridges on the right side of the Dataran Shahbandar complex. It was the Terengganu Drawbridge that had become the sea gate of Kuala Terengganu. That lift bridge perfectly stretched connecting Seberang Takir Village on the north of the bridge and Ladang Padang Cicar Village on the south.

This was the first lift bridge in Malaysia, even in Southeast Asia which was only 2 years old. So I still had time to enjoy its new face that afternoon. With a length of more than 600 meters, the bridge proudly fenced off Kuala Terengganu from the vastness of the South China Sea.

And you needed to know that all of the Terengganu Drawbridge complexes, Dataran Shahbandar, and Kedai Payang Market were tied together in a management area nicknamed Pesisir Payang.

Now I was at the beach and trying to take the best picture of Terengganu Drawbridge. On the other hand, residents often came to capture themselves in various Pesisir Payang spots. I even occasionally volunteered to be an impromptu photographer for several families who wanted to capture all of their members in a picture. Of course, I was happy because I got to know so many very friendly families, and didn’t even hesitate to talk to me for a while after they found out that I was from Indonesia. Of course, my accent was easy for them to guess. In that conversation, some of them gave many references to tourist attractions that must be visited in Kuala Terengganu.

It could be said that I spent my afternoon hanging out with residents. At the end of the session, I decided to rush toward the Terengganu Drawbridge and as a result, I managed to enjoy that architectural beauty from a hundred meters away.

Terengganu Drawbridge.

Around the Terengganu Drawbridge viewpoint, five young Malaysians of Indian descent were very busy. I dared to approach them.

“Hi, I can help you to take a photo, so everyone can fit in a photo”, I offered myself with a small smile.

“It’s okay….Thanks. In a moment, let me adjust the lens setting firstly”, one of them approached me and was busy adjusting the camera settings, occasionally he peeked at the iconic bridge from his camera hole. “It’s ready”, he handed it to me.

For a while, I adjusted their positions, swapped short positions for taller ones, ordered left and right, and asked for some styles. I showed some photos to the owner of the camera until he said enough.

And as a reward….They turned to take my photo….Get ready, check it out…..Snap-Snap……..

I was….Wow

Muttrah Souq: Al Dhalam yang Mengesankan

<—-Kisah Sebelumnya

Menjelang pukul setengah tiga sore, aku memutuskan untuk meninggalkan benteng.

Aku belum juga sampai di bagian akhir Muttrah. Aku harus bergegas sebelum gelap menggantikan terang”, gumamku ketika menuruni anak-anak tangga Muttrah Fort.

Beberapa saat kemudian, tibalah aku di gerbang Muttrah Souq yang berada tepat di sisi utara Muttrah High Street.

Kali ini aku tidak kembali ke jalanan utama area Muttrah, yaitu Al Bahri Road. Melainkan aku memutuskan untuk melintasi jalan belakang demi menuju ujung barat Muttrah.

Muttrat High Street adalah jalanan kecil yang terletak di belakang deretan bangunan perkantoran serta barisan pertokoan yang menjejali sisi selatan Al Bahri Road.

Tapi entah kenapa, menjelang pukul tiga sore, pertokoan di sekitaran Muttrah High Road menutup pintunya. Tetapi mobil-mobil pribadi tampak padat berjejer di area-area parkir gedung dan pertokoan. Untuk sementara aku menghiraukan keanehan itu.

Aku terus saja melangkahkan kaki, aku paham bahwa jika meneruskan langkah menuju barat maka aku akan tiba di pasar tradisional terkenal, Muttrah Souq nama tempat perdagangan itu.

Benar adanya….Dalam jarak setengah kilometer, aku akhirnya tiba di pintu selatan Muttrah Souq. Sebelum memasuki bagian dalam pasar, aku mencoba untuk diam dan berdiri sejenak mengawasi sekitar. Mengumpulkan beberapa informasi dari segenap papan-papan pengumuman yang berada di area parkir.

Dari sebuah papan pengumuman lebar berwarna merah, aku akhirnya paham bahwa waktu kerja normal di kawasan pasar adalah dari pukul 08:00 – 13:30 dan dilanjutkan pada pukul 16:00 – 22:00, sedangkan pukul 13:30 -16:00 adalah waktu jeda yang digunakan untuk beristirahat.

Akhirnya aku mulai memasuki gerbang pasar….

Kesan pertama yang menyelimuti bilik pengalamanku adalah gelapnya suasana di dalam pasar. Cahaya lampu yang tak begitu benderang menjadi satu-satunya sumber cahaya yang membantu para pedaganng dan pembeli dalam bertransaksi.

Ciri khas Muttrah Souq yang gelap ini untuk kemudian menjadikan pasar tersebut memiliki julukan lokal Al Dhalam. Hal ini dikarenakan cahaya matahari yang tidak bisa masuk ke dalam pasar karena rapatnya kios-kios di dalamnya. Al Dhalam sendiri berarti kegelapan.

Suasana di dalam Muttrah Souq sendiri tampak begitu ramai ketika aku tiba, padahal aku tiba saat jeda istirahat pasar. Tak sedikit para wisatawan yang berburu souvenir di pasar tersebut. Bukhoor (minyak wangi), peralatan yang terbuat dari perak, barang-barang antik, pakaian tradisional ataupun rempah-rempah menjadi barang dagangan pavorit yang diperjual belikan di dalam pasar

Barang-barang antik yang mengkilap.
Turis-turis Eropa sedang berburu souvenir.
Tetap saja ramai walau sedang jeda istirahat.
Lampu-lampu gantung yang indah.
Kompas-kompas besar nan antik.
Suasana di sekitar gerbang utara Muttrah Souq.

Menurut catatan sejarah, area Muttrah sejak dulu memang sangat cocok menjadi pelabuhan alami yang kemudian otomatis membuat Muttrah bertransformasi menjadi kawasan perdagangan. Aktivitas perdagangan itu untuk kemudian membutuhkan keberadaan sebuah pasar sebagai pusatnya, oleh karena itulah Muttrah Souq didirikan oleh Kesultanan Oman.

Usaha kesultanan dalam menjaga otentiknya Muttrah Souq menjadikan pasar tradisional tersebut tetap menampilkan kekhasan budaya Oman yang kental didalamnya. Memiliki keunggulan dalam kelengkapan barang yang diperdagangkan menjadikan Muttrah Souq sebagai salah satu tujuan wisata terpopuler di Oman. Bahkan mayoritas wisatawan menjadikan Muttrah Souq sebagai lokasi terbaik untuk berburu souvenir.

Kunjunganku ke Muttrah Souq sendiri hanya berlangsung tak lebih dari satu jam, selain tak ada niatan untuk mencari souvenir apapun, waktu juga sudah mendekati pukul empat sore dan aku masih memiliki satu tujuan terakhir di ujung barat area Muttrah pada hari pertamaku di Oman.

Yuk ikut aku…..

Kisah Selanjutnya—->

Muttrah Fort: Temuan Terindah di Hari Perdana

<—-Kisah Sebelumnya

Aku masih terduduk….Masih terpesona….Masih mematung di salah satu bangku beton Muttrah Corniche. Aku bersiap-siap menyiapkan kata-kata untuk mengutuk diri jika siang itu tidak lagi berhasil menginjakkan kaki di gagahnya Muttrah Fort yang berada di puncak bukit yang berada tepat di hadapanku….Tepat di sisi seberang Al Bahri Road yang sedari tadi kutapaki.

Kalimat-kalimat kutukan itu kupersiapkan untuk diri sendiri karena sedari pagi megeksplorasi area Muttrah dan sudah melintasi Al Jalali Fort, Al Mirani Fort dan Rawia Fort, tetapi keberuntungan tak berpihak untukku dikarenakan tutupnya ketiga obyek sejarah Kesultanan Oman tersebut.

Jangan sampai kamu gagal, Donny….Mau kau kemanakan reputasimu?”, aku memberi peringatan tegas untuk diriku sendiri.

Tatapku menjadi lebih awas karenanya….

Tak ada jalan langsung dari sisi Al Bahri Road untuk menanjak menuju banteng. Aku memperhatikan sekitar, mencari keberadaan gang untuk mencoba melihat sisi belakang bukit.

“Itu dia….”, aku mulai menebak-nebak. Ada dua gang tak terlalu besar di sisi barat dan timur bukit. Mempertimbangkan jarak terdekat dengan kedua gang itu, aku memutuskan mengambil gang sisi barat.

Gang yang hanya cukup untuk berpapasan dua mobil itu mengantarkanku untuk tiba di Muttrah High Street yang membentang di belakang bukit. Melangkah seratus meter kemudian akhirnya aku menemukan jawaban. Gerbang menuju Muttrah Fort ternyata tepat berada di belakang bukit.

Kalimat-kalimat kutukan itu runtuh sudah….

Gerbang itu terbuka lebar, pertanda benteng megah tersebut terbuka untuk wisatawan….

Jalur pendakian itu berada tepat di area parkir benteng. Aku mulai menapaki satu anak tangga hingga ke anak tangga berikutnya. Sementara bendera Kesultanan Oman berukuran besar gagah berkibar di ujung teratas benteng, membuatku semakin tak sabar untuk tiba di atas.

Tapi aku yang terengah-engah harus beberapa kali berhenti demi mengambil nafas yang sering kali hampir habis.

Karena ketinggian benteng yang membahayakan, beberapa tanda peringatan keamanan ditampilkan dalam lima bahasa internasional, yaitu Arab, Inggris, Jepang, Jerman dan Perancis.

Situs sejarah ini telah di restorasi menggunakan metode dan material tradisional yang sesuai dengan desain asli benteng. Demi keamanan, harap berhati-hati ketika melintasi permukaan yang tidak rata. Ketika berada di tepian benteng harap berdiri di besi pembatas dan memanfaatkan pegangan tangan dalam mendaki anak tangga”….Demikian kira-kira peringatan tersebut.

Menaklukkan 207 anak tangga akhirnya aku tiba tepat di bagian teratas benteng. Akhirnya aku menaklukkan ketinggian Muttrah Fort. Melihat luasan benteng yang begitu lebar, menunjukkan bahwa Muttrah Fort menjadi salah satu pertahanan utama Kesultanan Oman di masa lalu.

Muttrah Corniche dari atas.
Perumahan di belakang benteng,
Sultan Qaboos Port.
Difotoin turis Selandia Baru….Wkwkwk.
Meriam asli benteng.
Dinding benteng,

Benteng itu berlokasi di punggung bukit yang menghadap ke dua sisi, yaitu kota dan pantai Muttrah dimana menara beserta bangunan utama bentengnya menempati posisi ideal untuk melindungi kota Muttrah dari serangan musuh yang berasal dari lautan dan daratan sekitar. Benteng ini dibangun pada awal Abad ke-16, kemudian Portugis menambahkan dua menara dan dinding penahan. Pada akhir Abad ke-18, Dinasti Al Busaidi mengembangkan lagi Muttrah Fort dengan menggandakan menara dan dinding benteng. Baru pada tahun 1980, Ministry of Heritage Kesultanan Oman memugarnya hingga berbentuk seperti saat ini.

Siang itu menjadi titik kulminasiku dalam menungunjungi Muttrah. Lukisan alam yang terpampang dari atas benteng menjadikan temuan paling indah yang kudapati di hari perdana mengunjungi Oman.

Aku pun yakin bahwa kamu mengagumi pemandangan itu….Amazing view.

Kisah Selanjutnya—->

Muttrah Corniche: Promenade yang Cantik nan Mempesona

<—-Kisah Sebelumnya

Semakin matahari mendekati titik puncaknya, maka ketenanganku dalam menjelajah Muscat pun mendapatkan titik tertingginya. Demikian adanya setelah aku duduk tenang dan menikmati hamparan biru Teluk Oman dari ujuang Riyam Park yang berada di sebuah puncak bukit.

Pada tingkat kepercayaan diri tertinggi tersebut, kuputuskan untuk segera menuruni bukit dan meninggalkan taman….Aku melanjutkan petualangan, semakin jauh ke barat tentunya.

Langkahku kini tepat berada di pusar Muttrah Corniche.

Mutrah Corniche sendiri adalah jalur pejalan kaki (promenade) yang membentang sepanjang tiga kilometer di tepi selatan Teluk Oman. Promenade ini dibatasi oleh Muttrah Fish Market di ujung baratnya dan Kalboos Park di sisi timurnya. Di sepanjang jalur tepi pantai ini diletakkan resoran, cafe, pertokoan, hotel, pasar-pasar tradisional berusia tua dan situs-situs peninggalan sejarah lainnya.

Aku mengunjungi Muttrah Corniche pada siang hari, padahal keanggunan Muttrah Corniche biasanya akan terekspose di malam hari dengan pendaran multi-cahaya yang mempesona.

Berjalan dan menikmati promenade yang bersih dan cantik mampu melupakan diriku akan keberadaan matahari yang dengan konsisten menyengat area Muttrah. Itu karena aku terlanjur jatuh hati pada panorama yang ada di hadapan. Pemandangan lautan dan pegunungan berkolaborasi dalam menjadikan Muttrah Corniche sebagai promenade yang cantik nan mempesona.

Pengalaman termegah yang aku temui pertama kali di Muttrah Corniche adalah ketika menatap megahnya Costa Diadema, sebuah kapal pesiar asal Genoa yang mampu mengangkut lima ribu wisatawan. Kapal wisata seharga 11 Triliun Rupiah itu mengapung megah di salah satu sisi Passenger Cruise Terminal milik Sultan Qaboos Port. Sepengamatanku, kapal itu memiliki tiga belas lantai, tinggi menjulang bak gedung bertingkat.

Sedangkan di sepanjang area corniche, diletakkan papan-papan informasi yang menampilkan kekayaan budaya Kesultanan Oman.

Pada salah satu sisi aku menemukan informasi tentang “Baat Ancient Cemeteries”, sebuah pemakaman kuno di Oman . Diinformasikan bahwa pemakaman itu adalah kekayaan Nekropolis milik Oman yang berasal dari millennium ke-3 Sebelum Masehi. Nekroplolis mengacu pada sebuah tugu yang Bersatu dengan pemakaman dimana jasad manusia yang dimakamkan diletakkan di atas tanah.

Sementara papan informasi lain menampilkan tentang foto kekayaan fashion Oman. Adalah Dishdasha yang dikenakan oleh seorang pemuda yang tampak gagah memegang rifle dengan latar belakang pintu berukir khas Oman.

Satu karya seni terakhir yang bisa kutemukan di sepanjang corniche adalah sculpture ikonik berwujud sepasang gold fish yang menghiasi area promenade.

Sepeda kebo milik sapa tuh?…..Wkwkwk.
Kapal pesiar Costa Diadema tampak dari kejauhan.
Suasana asri Muttrah Corniche.
Lautan Teluk Oman berpadu dengan Al Hajar Mountain.
Bagaimana caranya supaya bisa ke benteng kuno di atas bukit itu?

Sedangkah tepat di pertengahan corniche, di sisi selatan Al Bahri Road membentang tinggi Al Hajar Mountain yang dipuncaknya terbangun sempurna sebuah benteng pertahanan masa lalu Kesultanan Oman, yaitu Muttrah Fort.

Aku lama tertegun memandangi benteng itu dengan mendudukkan diri di sebuah bangku beton di salah satu sisi corniche, mencoba mencari cara untuk mengunjungi benteng yang berada di salah satu puncak bukit itu….

Ya….Aku penasaran dan aku harus bisa naik ke benteng megah itu bagaimanapun caranya.

Kisah Selanjutnya—->

Riyam Park….”Biar Kunikmati Sejenak Taman Ini”

<—-Kisah Sebelumnya

Hampir satu jam lamanya waktu telah berlalu, aku memutuskan untuk segera mengusaikan diri dalam bermain air laut di tepian pantai yang lokasinya berada tepat di teras depan Kalboos Park.

Mengenakan kembali sepatu yang kutinggalkan pada tempat kering di salah satu sisi pantai, aku bersay hello kepada keluarga kecil asal Roma yang sedari tadi menemani diriku di pinggiran pantai.

Langkah eksplorasiku berlanjut semakin jauh menuju barat. Kali ini aku tak mengambil sisi selatan Al Bahri Road, melainkan melangkah di sepanjang corniche. Maklum, kali ini jalan utama di area Mutrah itu tepat bersisian dengan pantai. Hanya saja pantai di sepanjang Teluk Oman itu telah mengalami reklamasi, “Mungkin untuk menghindari abrasi jalanan utama”, aku menebak-nebak saja. Tampak tetrapod disebar di sepanjang pantai untuk menghindari sruktur jalanan dari hantaman keras ombak pantai.

Mataku terus menatap satu obyek yang sedari kunjungan di Kalboos Park pada beberapa waktu lalu telah merenggut perhatianku. Tak lain lagi, obyek itu adalah Riyam Censer yang gagah berdiri di puncak bukit berbatu.

Riyam Censer sendiri adalah struktur bangunan yang digunakan sebagai tempat pembakaran sehingga akan menimbulkan efek cahaya yang indah di malam hari. Riyam Censer ini sengaja dibangun sang Sultan untuk memperingati Hari Nasional ke-20 Negara Oman.

Satu kilometer jauhnya aku terengah hingga akhirnya bisa berdiri tepat di bawahnya. Bangunan pembentuk cahaya saat malam itu sempurna berbentuk layaknya cawan, berbahankan marmer putih susu, di bagian atas cawan ditutup dengan sebuah bentukan mahkota dengan ukiran-ukiran indah di permukaannya.

Lama aku tertegun melihat rupa arsitekur itu pada jarak tak lebih dari lima puluh meter. Karena memang tempat itu tak terbuka untuk umum.

Tentu itu tak mengecewakanku, karena di belakang tempatku berdiri tersuguhkan sebuah luasan taman yang cukup indah dengan pemandangan laut lepas di salah satu sisinya.

Memiliki luasan tak kurang dari sepuluh hektar menjadikan taman ini sebagai ruang terbuka hijau terbesar di area Mutrah. Jika Kalboos Park berada di hamparan kaki perbukitan yang dibatasi perairan pantai, maka Riyam Park berada di puncak perbukitan yang tepiannya berwujud tebing yang berbatasan langsung dengan jalanan utama di kawasan Mutrah, Al Bahri Road.

Bahkan taman ini pada masa dahulu pernah tersohor sebagai jalur pendakian antara dua area utama, yaitu Mutrah dan Muscat. Karena letaknya yang berada di ketinggian maka Riyam Park bisa dikatakan sebagai salah satu tempat terbaik untuk melihat area Mutrah dari ketinggian, juga menjadi titik paling tepat untuk menikmati sunset.

Taman yang landmarknyaberwujud Riyam Censer ini memiliki fauna utama penghuni yang berupa sekawanan burung gagak.

Riyam Censer.
Gazebonya aja segede gituh….
Sudah berlokasi di puncak bukit….Tapi masih berada di bawah bukit yang lain….keren ya?
Playground zone.
Kontur taman yang bertingkat-tingkat….Mengagumkan.
Duduk di sini damai banget rasanya….

Lalu apa pentingnya taman ini dalam sejarah perjalanan Kesultanan Oman?

Ternyata taman ini pernah menjadi tempat bagi sejarah ditandatanganinya perjanjian damai antara Kesultanan Oman dan Portugis pada pertengahan Abad ke-17.

Taman ini sepertinya sengaja diciptakan untuk bisa dikunjung oleh penduduk segala umur. Tampak di salah satu sisi tersedia playground zone yang bisa membuat anak-anak senang berkunjung ke Riyam Park. Restoran dan coffee shop milik Maher Enterprises tampak berdiri di sisi yang lain.

Sementara di banyak hamparan rumput, sprinkler bertugas otomatis dalam menyirami setiap jengkal taman. Sebuah kolam buatan pun tampak semakin mempercantik taman. Dan karena berada di puncak perbukitan, taman ini terkesan menjadi taman bertingkat karena ketinggian permukaan tanah yang berbeda-beda.

Untuk sejenak aku bisa duduk dan menikmati keindahan pantai dari ketinggian bersama dengan beberapa warga lokal yang sudah tiba.

Biarkan aku sejenak menikmati taman ini ya, gaes…..

Kisah Selanjutnya—->

Kalboos Park: “Don’t Worry, He is a Swimmer”

<—-Kisah Sebelumnya

Landmark berikutnya yang kutemukan setelah singgah beberapa saat di Muscat Gate Museum adalah Kalboos Park.

Kalboos Park itu sendiri memiliki luasan tak kurang dari tiga hektar. Lokasinya memanfaatkan keberadaan kaki bukit berbatu dan langsung menghadap pantai di sisi baratnya. Memiliki bentuk memanjang dari utara ke selatan mengikuti kontur pantai. Tepat ditengahnya difasilitasi dengan panggung teater setengah lingkaran yang tepat menghadap ke Teluk Oman. Jika ditarik ditarik garis lurus  dari area teater, maka di kejauhan tampak jelas keberadaan landmark penting lain milik Oman, yaitu Riyam Censer. Riyam Censer merupakan sebuah monumen di puncak bukit berbatu, terbuat dari marmer putih dan memiliki ketinggian sekitar dua puluh lima meter. Berfungsi seperti tempat pembakaran dupa.

Di beberapa titik taman juga tersedia umbrella shade yang memungkinkan pengunjung untuk berteduh menghindari panasnya matahari. Keberadaan lampu-lampu taman mengisyaratkan bahwa taman tepi pantai itu bisa dikunjungi warga saat malam tiba.

Di dominasi dengan porsi corniche daripada lahan hijau, telah menjadikan taman ini sebagai satu spot terbaik di Oman untuk menikmati keindahan sunset. Tetap saja tanaman palem berukuran besar menjadi vegetasi yang tak pernah ditinggalkan dari setiap landmark yang ada di tanah Oman.

Sementara di punggung bukit tampak berdiri sebuah benteng kecil sisa peninggalan sejarah masa lalu yang membuat sepanjang taman terpercik oleh aura sejarah.

Kembali pada langkahku kembali…..

Aku yang sedari sebelumnya berjalan di bawah teriknya surya untuk menikmati Bait Al Zubair, Bait Muzna dan Muscat Museum Gate, maka rasa hauslah yang menyiksaku ketika memasuki Kalboos Park.

Kusempatkan diriku untuk mengunjungi sebuah kios kecil yang menjual makanan dan minuman kemasan. Aku menebus satu botol air mineral dengan 200 Baisa. Untuk kemudian, aku duduk menikmati taman di bawah salah satu umbrella shade dan menikmati biru mengkilatnya pantai yang memantulkan terpaan matahari.

Satu keunikan dari pantai ini adalah keberadaan burung camar yang jumlahnya tidak sedikit dan berlalu lalang di sekitar taman. Dan ketika aku baru saja terduduk, baru kusadari ada seekor camar yang datang mendekatiku.

Oh kasihan, camar ini sedang mengalamai cedera kaki”, aku membatin sembari menghampiri camar itu dan menaruhnya di tempat yang teduh.

Meninggalkan Muscat Gate Museum.
Gerbang Kalboos Park.
Pantai berbentuk memanjang mengikuti kontur pantai.
Theater.
Burung camar yang dominan di sepanjang pantai.
Yuk masuk air bentar!

Usai menikmati beberapa tegukan air mineral yang kubeli, aku menyempatkan diri untuk mengeksplorasi segenap isi taman dari ujung utaranya hingga selatan. Beberapa turis tampak mulai berdatangan untuk menikmati taman mungil tepi pantai tersebut.

Aku yang tak puas hanya berada di atas taman, berusaha untuk mencari akses jalan menuju ke pantai yang berada di bawah permukaan taman. Begitu gembiranya ketika aku menemukan akses kecil itu di sisi selatan.

Tanpa ragu aku pun menuruni akses jalan itu untuk tiba di tepian pantai. Kulepaskan segera alas kaki dan mulai turun menuju air.

Tak kusangka apa yang kulakukan, ternyata diperhatikan oleh sebuah keluarga muda dengan satu anak laki-laki.

Kontan. mereka bertiga mengikuti caraku dan bergabung di sisi pantai. Setelah bercakap-cakap sebentar, aku pun mengetahui bahwa keluarga kecil itu datang dari Roma.

Satu hal yang masih terkesan lagi adalah sang suami asal Roma itu nekat melepas baju dan celananya hingga menyisakan celana dalam saja dan kemudian berenang menjauhi pantai.

“Don’t worry….He is swimmer”, ungkap istrinya dengan santai ketika aku memintanya untuk berhati-hati berenang tanpa pelampung di pantai yang asing bagi pendatang.

Kisah Selanjutnya—->

Muscat Gate Museum….Pertahanan Kota Tua Muscat yang Menawan

<—-Kisah Sebelumnya

Khatam menghubungkan potongan-potongan sejarah yang ditampilkan dengan apik di Bait Al Zubair, serta meresapi glamournya karya seni kontemporer di Bait Muzna, maka aku segera memastikan diri untuk bersiap menuju ke landmark lain yang akan tersaji di sepanjang kawasan Mutrah.

Menjauhi area Kalbuh, aku melangkah melalui rindangnya dan suburnya jalur hijau di selatan trotoar menuju barat. Jalur hijau itu dinaungi pohon-pohon palem berukuran besar. Sementara di tengahnya disediakan jalur pejalan kaki dengan dasar pavling block bewarna cerah.

Rindangnya jalur itu secara otomatis membuat langkahku melambat, hal itu mungkin dikarenakan oleh keenggananku untuk terpapar menyengatnya surya lebih lama. Sayangnya, jalur hijau itu hanya membentang sejauh dua ratus meter. Sebagai konsekuensi, aku harus kembali melangkah melawan teriknya surya. Toh, tetap saja aku menerima itu dengan suka cita. Itulah resiko menjadi seorang backpacker dengan anggaran terbatas. Tak perlu iri dengan mereka-mereka yang berwisata dengan diantar oleh shuttle bus yang mewah dan nyaman.

Keluar dari jalur hijau tersebut, tatapku dihadapkan oleh sebuah gerbang raksasa yang mengangkangi Al Bahri Road yang mengalirkan arus kendaraan di bawahnya.

Gerbang itu berwarna coklat muda, panjangnya lebih dari lima puluh meter dari ujung utara ke ujung selatannya. Sebelah utaranya dihiasi dengan pemandangan laut dan di selatannya disuguhkan pemandangan perbukitan berbatu yang menawan. Sementara di sepanjang trotoar menujunya disuguhkan tanaman bunga dominan merah yang dihidupkan dengan teknik drip irrigation.

Aku semakin dekat dengan gerbang agung yang menjadi salah satu landmark menarik di kawasan Mutrah.

Aku pun tepat berada di bawahnya sewaktu kemudian.

Aku tertegun pada ukiran-ukiran batu yang tersemat di sepanjang dinding lorongnya, lampu-lampu dengan desain unik terpajang di bagian atas lorong dalam interval teratur dan lekukan-lekukan berukir di langit-langit lorong tak kalah mempesona.

Ruangan memanjang di bagian atas gerbang dimanfaatkan sebagai museum. Koleksi-koleksi sejarah Oman dari zaman Neolitik hingga era modern disuguhkan dengan apik. Ruangan tersebut memamerkan sejarah mata air Muscat, sumur-sumur kuno, terowongan bawah tanah, pasar, rumah khas, pelabuhan masa lalu dan bangunan-bangunan pertahanan tempo dulu.

Jalur hijau di tepian Al Bahri Road.
Muscat Gate Museum dari kejauhan.
Ini dia gerbangnya.
Sematan berukir di dinding terowongan.
Ukiran di sisi lainnya.
Bunga yang hidup dari drip irrigation.

Dahulunya, bangunan ini dimanfaatkan sebagai pertahanan anti perampok yang berbahaya dan berpotensi menembus batas kota. Dibangun di atas singkapan gunung berbatu yang merupakan batas kota tua Muscat. Tetapi batas itu telah dihapuskan semenjak kebangkitan Kesutanan Oman modern.

Tentu keberadaan museum di atas gerbang ini bisa menjadi pelajaran bagi generasi muda Oman dalam menghargai warisan kota kuno mereka.Tentu tempat ini juga bermanfaat bagi para pendatang dan wisatawan yang mengunjungi Oman untuk memahami sejarah Oman dengan lebih baik dan jelas.

Di buka untuk umum dari hari Minngu hingga Kamis, mulai dari pukul delapan pagi hingga pukul dua siang. Jaraknya yang hanya berjarak setengah kilometer dari Bait Al Zubair dan hanya membutuhkan waktu sekitar sepuluh menit dengan berjalan kaki, bisa menjadikannya sebagai destinasi wisata yang layak untuk dikunjungi.

Sponsored Message in Maziah Palace

<—-Previous Story

For me, visiting a country would be perfect if I were able to visit the palace of its president or king. I don’t know why the president palace or king or sultan has become a separate icon of a country. Therefore, if possible I will try my best to visit this special building. I have visited many state palaces during my journeys. Nurul Iman Palace (Bandar Seri Begawan), Grand Palace (Bangkok), Malacanang Palace (Manila), Istana Negara (Kuala Lumpur), Gyeongbok Palace (Seoul), Ōsaka-jō (Osaka), Mulee-aage Palace (Maldives) and Al Alam Royal Palace (Muscat) are some examples.

Likewise with my trip to Kuala Terengganu this time, I managed to take the time to visit the palace of Terengganu Sultanate…..Ulala, I finally added another palace collection

Unmitigated, I visited it on the first day, of course because I was afraid of missing it……

—-****—-

Exactly one-thirty on afternoon, the air was still stinging, burning the skin on my face that I had never protected. I left the gazebo which was starting to fill with locals to escape the hot sun. Makes my mood to enjoy the charm of Terengganu River no longer solemn.

I went away….

I decided to finish the curve to the west from Sultan Zainal Abidin Street which was made of concrete with a pavling block motif. Zainal Abidin himself is taken from the Sultan name of Terengganu who is currently in power.

I know that around Kedai Payang Market there is a tourist destination located right on top of a hill.

Known as the Bukit Putri which became the monitoring point of Terengganu Sultanate against enemy attacks from the ocean. While the name Puteri itself is taken from a myth that is said to tell the story of a princess living on a hill and likes to help the surrounding community.

That’s it….Bukit Putri which is being renovated.

“Where is the gate to Putri Hill, Ms? “, I asked a clothes seller at the bottom of hill.

“Closed, Sir, undergoing renovation”, she softly answered while inserting a sweet smile….. God.

Hmmhhh, how can….Finally, Bukit Puteri wasn’t crossed off from my Terengganu bucket list.

Still under the scorching sun, I rushed away from the foot of Bukit Puteri to continue my exploration.

Because actually Bukit Puteri was part of the defense of Terengganu Sultanate in the 1800s, so the existence of imperial palace wouldn’t be far from the hill. Sure enough, two hundred meters later I found the palace gate….Maziah Palace was its name.

Without hesitation, I entered the gate of four twin pillars with the imperial coat of arms in its center. The symbol is golden in color, culminated in a crown symbolizing sovereignty, in the middle is a kris crossed sword that marks the typical weapon of the sultanate, flanked by two main books, namely the sultan’s law and the Qur’an as well as the entanglement of shawl as a marker of the greatness of the sultanate.

The quiet atmosphere in front of the sultanate made me free to enjoy the palace of Terengganu Sultanate from its outer garden. The garden nicknamed Padang Maziah was more than enough for me to get asylum from the threat of the sun.

It took a little while to be able to enjoy this palace because I had to be busy with some sponsorship messages. Yupz, the sponsors which certainly helped reduce the cost of my trip. Struggling with a mini tripod, made me look busy in front of palace gate. Hope no guards kicked me out while doing that “business activity”.

Half an hour later, I could really enjoy the beauty of the palace building from Padang Maziah. Taking a seat in the shade of large trees growing around the garden, I spent my midday in that special place.

Maziah Palace Gate.
Halo RICH….
That was the palace….
Padang Maziah.
Shady……

Several young couples looked in and out of the garden area just to capture themselves in iconic places around the palace. Made me feel not alone. I deliberately lingered in Padang Maziah to wait for the sun to slip from its highest point, because my next destination was an open area which was located right in the north coast of Malaysia.

Ah sustenance wasn’t going anywhere, I never thought I could explore the coast of Malaysia…. Never thought about it before.

Next Story—->

Moored at Kedai Payang Market

<—-Previous Story

“I’m not from India, I’m from Iran”, the bunk bed neighbor’s traveler answered my question.

“Do you know where is a middle eastern salon near here?. I think I need a salon for relaxation”, he suddenly asked the receptionist and hotel owner.

I inwardly laughed at that “funny” scene that morning, a light conversation before I set out to explore Kuala Terengganu for the first time since arriving.

I rushed down the stairs to get out of The Space Inn, along Engku Pengiran Anom 2 Street, heading north, repeating the original way when heading to the inn. Of course, I went back to Air Jernih Street, met again at the intersection where Politectic Kuala Terengganu became a landmark besides PMINT Tower and retraced Masjid Abidin Street until I arrived back in east side of Hentian Bas Majlis Bandaraya Kuala Terengganu.

The east side of Hentian Bas Majlis Bandaraya Kuala Terengganu.
Rows of Interstate Bus ticket counters.
So here it was…. The tree just got “dressed up”……

It was just that, two hundred meters before arriving at bus terminal, I was fascinated by the art of yarn bombing which pinned colorful knitted threads to a row of trees in a side of Masjid Abidin Street’ sidewalk, right on the west side of PB Square. Make the city atmosphere more lively.

Arriving at bus terminal, I immediately struggled to find an Interstate Bus ticket to go to Kuala Lumpur the day after tomorrow.

“There are even cheaper ones, Sir?”, I joked at an Arowana Bus ticket counter staff.

“Nothing…. It’s only 43 Ringgit, Sir…. this is the cheapest”.

“Okay, I’ll take one, Sir …. For the date of 31st”.

A few minutes ago, I had secured a ticket to Kuala Lumpur, now I was a little calmer to start exploring my first destination.

Yupsz, I was going to Kuala Terengganu’s market.

That market is only a kilometer from Hentian Bas Majlis Bandaraya Kuala Terengganu, so I decided to just walk. I slowly enjoyed the crowds around Kampung Daik Street, under the shade of roofed corridor along sidewalk, what a comfortable way to walk. My steps also had to turn right in front of Balai Bomba dan Penyelamat Jalan Kota’s Office, which were identical in color to the fire brigade offices in Jakarta (my hometown), bright red.

Now I felt reluctant to continue swinging steps due to the scorching heat of sun in the path in front of me that wasn’t longer covered. Finally, I decided to take a break at the end of covered corridor, sitting in a concrete bench, waiting for the cloud to cover the sun.

Kuala Terengganu fire department.

A few moments of waiting while enjoying the passing of local residents, the cloud was present, now the street didn’t sting anymore, I immediately took a quick step down Sultan Zainal Abidin Street. Finally, two hundred meters ahead, I arrived at Kedai Payang Market which was starting to get busy.

The Kedai Payang Market dis seem to show off its beauty, it was said that the two-year-old building functions to replace the old building that had retired.

Rows of tents with white cloth roofs stretched across market’s face, separating the parking area from commercial area. The large tents showed that  market’s interior area wasn’t enough to facilitate the bustling commerce in downtown Kuala Terengganu.

Now I’ve entered market inside which was very crowded, the stalls with red brick motifs still looked new, the alleys seemed full of visitors passing by. Several clowns and pet equipment sellers were seen cramming into several corners of stalls selling songket, batik, handicrafts and traditional snacks from Terengganu. While in the back area, it appeared that a special area was provided for a row of culinary stalls with a mainstay menu of Nasi Dagang, Laksa, Nasi Lemak and several other specialties.

Kedai Payang Market back view.
The market front.
Market atmosphere.
Rows of clothing stalls.
Culinary stalls behind the market.
Come on, first enjoy the beauty of Terengganu River!

I just kept going until I reached its backyard. Apparently that market is right on the outskirts of very clean Terengganu River. Bot Penambang (Passenger Boats) could be seen moving back and forth to mobilize Terengganu residents from a bank to another. The Bot Penambang (Passenger Boat), which is relied upon as the city’s water taxi, seems to have originalized the atmosphere of Terengganu that morning.

The beauty of the expanse of Terengganu River finally started to make me fall in love with that city and managed to tame me to just linger for a while enjoying the gentle breeze in a concrete gazebo which is part of public facilities belonging to Pasar Kedai Payang.

“Don’t be in a hurry, Donny….Sit down and enjoy”.

Next Story—->