Mohammed Bin Jassim House: Merancang Kota Masa Depan

Sisi samping kiri Mohammed Bin Jassim House.

Staff Museum   :     “Hello, how many part of museums which you have visited, Sir?

AKu                       :     “Just two….Company House and Bin Jelmood House, Ms”.

Staff Museum   :     “Oh, you on right step. Now you are in Mohammed Bin Jassim House. It will tell you about old Msheireb and the modern one”.

Aku                        :     “Sounds pretty good”.

Staff Museum   :     “Is that your own camera? Are you professional?

Aku                        :     “Yes, my camera. I’m a travel blogger. Is it okay to bring inside?

Staff Museum   :     “Oh sure. Enjoy your visitation, Sir”.

—-****—-

Galeri ini didedikasikan untuk warga asli Msheireb. Koleksi di dalamnya menggambarkan kehidupan sehari-hari di Msheireb yang bisa dikenang oleh generasi muda Qatar dan juga para pekerja asing yang bekerja di negeri kaya minyak itu.

Tanah liat sebagai bahan konstruksi bangunan tempoe doeloe.

Pada masa awal peradaban Qatar, penduduk menggunakan gurun untuk beternak, tetapi lama kelamaan mereka membuat area khusus untuk perumahan. Sejarah dimulaiketika penduduk asal Al-Jassra mendirikan pemukiman di Msheireb. Konstruksi rumah mereka pada awalnya menggunakan batu dan tanah liat sebelum mengenal gypsum dan batu bata.

Sesi “Religious Events and Celebrations

Peralatan rumah makan masa lalu.

Pada masa awal Msheireb, penduduk sering merayakan hari raya keagamaan, seperti Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri. Festival diselenggarakan untuk memeriahkannya, restoran akan dibuka hingga lewat tengah malam dan rumah-rumah akan membuka pintunya.

Penduduk menggunakan drum untuk membangunkan masyarakat menjalankan sahur di pagi hari dan menggunakannya untuk bernyanyi musik religi di malam hari. Lalu, Idul Fitri ditetapkan dengan bulan sabit yang terlihat di Saudi Arabia. Saat itu Saudi Arabia belum memiliki siaran radio dan televeisi. Berita akan didapat warga Qatar dari Bahrain.

Saat Idul Fitri , warga akan menari Tanbora, Laywa, Fajery, dan Haban. Banyak sekali tarian tradisional kala itu.

Sesi  “Electricity

Papan nama jalan dan beberapa peralatan listrik pertengahan 1950-an.

Generator listrik pertama Doha di pasang di Company House pada akhir 1930-an. Lalu pada pertengahan 1950-an, pembangkit listrik dibangun di kota dan kabel listrik bawah tanah mulai dipasang. Jalur yang di lewati oleh kabel bawah tanah ini kemudian diberi nama Al-Kahraba Street (“Al-Kahraba” sendiri berarti “kelistrikan”). Kemudian Al-Kahraba Street ini ramai dengan pertokoan yang menjual alat-alat listrik.

Dikisahkan warga Doha rapi duduk di kursi ketika Emir mereka Sheikh Salman melakukan pemotongan pipa untuk meresmikan pembangkit listrik pertama mereka.

Al-Kahraba Street menjadi nadi kehidupan Qatar. Sepanjang siang dan malam selama bulan Ramadhan  jalan itu menjadi juaranya cahaya. Dan orang-orang dari Al-Rayyan sengaja datang hanya untuk melihat jalanan itu.

Dikisahkan oleh seorang warga bernama Hassan Rasheed bahwa televisi pertama yang dia beli berasal dari jalan Al-Kahraba bermerk “Andrea”, bentuknya seperti almari kecil, almari itu harus dibuka dahulu untuk melihat layarnya.

Sesi “Shopping and Eating

Papan nama toko dan usaha jasa lainnya, termasuk peralatan yang digunakan.

Antara tahun 1950-1990, Distrik Msheireb berkembang dan penuh sesak dengan bangunan komersial. Banyak usaha-usaha baru dan pertama kali muncul disana seperti hotel pertama, bank pertama, apotik pertama, kedai kopi pertama dan tempat menikmati minuman dingin pertama. Warga dapat membeli perlengkapan dan peralatan, televisi, kain sari dan sepatu di sini. Penjahit, tukang pangkas rambut, ahli optik, tukang daging, dokter, dokter gigi, kedai penjual ayam dan cafe-cafe sangat berkontribusi meramaikan Msheireb.

Salah satu warga mengatakan bahwa jalanan Msheireb sangat meriah, ada Al-Nasr Fountain, apotik milik Hussain Al-Kazim, toko-toko dan restoran-restoran Lebanon, perpusatakaan dan toko buku  Al-Tilmeethe yang dimiliki Abdullah Naima. Di pojok jalan ada penjahit khusus jas. Bank pertama di Doha adalah The Ottoman Bank dan landmark utama kala itu adalah The Bismillah Hotel.

Warga bernama Abdullatif Al-Nadaf berkata: “Jika kamu memerlukan sesuatu yang tidak ada di Doha maka kamu akan menemukannya di Al-Kahraba Street”.

Sesi “Schools, Healthcare and Security

Perlengkapan pembelajaran di sekolah dan peralatan medis.

Untuk memastikan anak-anak Qatar dapat berkontribusi dalam pengembangan industri perminyakan Qatar dan pertumbuhan ekonomi bangsa, pada September 1947 didirikan sekolah modern pertama bernama Al Islah Al Mohamadia. Sedangkan Bin Jelmood House dimanfaatkan sebagai kantor kepolisian Qatar pada tahun 1950an. Rumah sakit legendaris di Qatar adalah Rumaillah Hospotal yang dioperasikan sejak 1956, dibuka dengan 200 tempat tidur dengan layanan ambulan dan fasilitas rawat jalan.

Sesi “Msheireb Downtown Doha

Desain modern di MDD.

Selanjutnya dijelaskan sebuah sesi mengenai Msheireb Downtown Doha (MDD) sebagai Proyek Regenerasi Kota Berkelanjutan  di Kawasan Msheireb.

Dibawah kepemimpinan Yang Mulia Sheikha Moza binti Nasser, Msheireb Properties yang merupakan anak perusahaan Qatar Foundation membangun distrik perkotaan dimana para warga negara Qatar dan ekspatriat akan tinggal, bekerja, dan bermasyarakat.

Di dalam sesi MDD inilah kita akan belajar bagaimana patron, perencana, arsitek dan insinyur secara hati-hati menginterpretasikan lagi arsitektur asli Msheireb, konstruksi yang berkesinambungan dengan tradisi masyarakat, komersialisasi dan inovasi untuk menciptakan kawasan modern tetapi tetap berakar kuat pada sejarah dan menciptakan sense of place.

Old Msheireb sangat popular dengan aktivitas bisnis. Toko-toko dan restoran dibangun di sepanjang jalan utama.  Membuat distrik ini populer untuk tinggal dan untuk dikunjungi siapa saja. Sejak pertokoan dibuka pertama kali pada awal 1950-an, Doha memainkan peran penting,  tidak hanya untuk pertumbuhan ekonomi Qatar tetapi bahkan untuk ekonomi global. Doha saat ini menjadi tujuan bisnis yang menjanjikan dan destinasi wisata bagi para pelancong di seluruh dunia.  Dan Msheireb Downtown Doha akan memainkan peranan penting dalam mempertahankan keunggulan komersial kota.

Di ujung selatan Al-Kahraba Street telah menjadi distrik bisnis baru  dengan perkantoran, bank, restoran dan cafe.  Dan di dalam distrik bisnis ini, Doha Metro akan mengambil penumpang menuju West Bay dan Hamad International Airport.

Diperkirakan jika proyek pembangunan Msheireb Downtown Doha selesai, lebih dari 2.000 warga akan menempati wilayah seluas 31 Ha. Warga akan berbaur dengan ribuan pekerja, konsumen komersial dan para wisatawan.

Meskipun skala MDD sangat luas, MDD akan membangkitkan keintiman Old Msheireb. Jalur pejalan kaki akan terkoneksi langsung dengan Souq Waqif. Keseluruhan MDD akan terhubung dengan jaringan jalan bawah tanah dan parkir bawah tanah yang akan membuat area jalanan sangar ramah buat para pejalan kaki.

Tradisi inovasi MDD juga memberikan solusi dari tiga tantangan Old Msheireb yaitu kemacetan lalu lintas, pengelolaan sampah dan konservasi air. MDD akan memiliki 12.000 slot parkir bawah tanah yang akan menghapus kemacetan dan menciptakan lingkungan yang ramah untuk para pejalan kaki. Sistem pembuangan sampah yang canggih akan mendaur ulang sampah dari sumbernya dan akan dibuang melalui pipa bawah tanah. Sekitar enam juta liter air daur ulang akan digunakan sehari-hari untuk menyiram toilet, mengairi tanaman, dan akan menjadi pendingin bangunan-bangunan di MDD.

Koridor di Mohammed Bin Jassim House.

Inovasi yang sama akan memproduksi air panas dan listrik melalui ribuan sel tenaga surya yang dipasang di setiap atap bangunan.

Ada tujuh langkah yang membuat bangunan-bangunan di MDD menjadi khas:

  1. Berkesinambungannya masa lalu, masa sekarang dan masa depan melalui motif desain kota yang abadi.
  2. Kehamonisan dan keberagaman melalui bahasa arsitektur yang diterima semua kalangan.
  3. Pengaturan bangunan informal yang mencerminkan pemandangan kota Msheireb yang orisinil
  4. Lingkungan tempat tinggal yang menyediakan privasi, keamanan, area indoor dan outdoor, semangat kekeluargaan dan kepedulian masyarakat.
  5. Membuat kehidupan jalanan yang bersemangat dan mampu membuat nyaman pejalan kaki dan menyediakan menyediakan ruang-ruang teduh.
  6. Kenyamanan maksimum dengan konsumsi energi minimum melalui teknologi tradisional dan modern dengan memanfaatkan energi dan melestarikan sumber daya alam.
  7. Kelestarian desain Qatar melalui bahasa arsitektur baru yang terhubung dengan desain masa lalu.

Desain dan layout bangunan-bangunan lama Msheireb sangat menghargai lingkungan dengan meminimalisir efek matahari, memaksimalkan ventilasi dan menggunakan material lokal. Praktek-praktek tradisional ini tetap diimplementasikan pada pengembangan MDD. Desain dan layout MDD dibuat dengan memanfaatkan naungan matahari  dan tiupan angin pantai. Material konstruksi diambil dari sumber-sumber lokal. Energi terbarukan memanfaatkan panel-panel surya di atap bangunan. Air bersih akan terselamatkan dengan penggunaan yang efisien di setiap keran dan shower. Sedangkan air daur ulang akan dimanfaatkan untuk irigasi dan keperluan lainnya.

MDD akan mengurangi ketergantungan masyarakat pada kendaraan. Sebagai contoh, distrik ini akan bersahabat untuk para pejalan kaki, akan mudah, aman dan nyaman ketika berjalan dari dari satu tempat ke tempat lain dalam naungan pepohonan dan diselingi taman. Distrik akan menyediakan rute buat pesepeda dan bus. Doha Metro akan menghubungkan Msheireb dengan wilayah lain. Daur ulang sampah yang tersentralisasi  akan menghilangkan kebutuhan akan truk-truk sampah yang memasuki kota.

Bin Jelmood House: Kisah Perbudakan yang Menyayat Hati

Bagian kedua dari Msheireb Museum adalah Bin Jelmood House.

Siapakah sosok Bin Jelmood?….Dia adalah pedagang budak terkenal di Doha pada masa perbudakan masih berlangsung. Dia sering dikenal dengan sebutan “The Rock”, merujuk pada pendirian dan kekerasan hatinya kala itu.

Eh, edisi ini lebih serius dari edisi Company House, ya temans….Bersiaplah membaca lebih khusyu’.

Yuk, kita mulai masuk!….Panas di luar, tauk.

Di awal penjelajahan Bin Jelmood House, aku memasuki sebuah ruang audio visual yang menceritakan masa perdagangan budak dari Afrika ke Eropa.

Bentuk rumah Doha zaman dahulu, halaman berada di tengahnya.
Dikisahkan…Eropa di Abad Pertengahan dimana perbudakan didukung oleh sistem sosial yang disebut dengan SERFDOM.

Kala itu, para budak dipakaikan aksesoris khusus berupa gelang bernama Manilla dan fakta yang telah menjadi sejarah bahwa satu diantara empat warga Athena akan menjadi budak dan dipekerjakan di ladang zaitun. Di belahan dunia lain, Syria, terdapat kontrak perbudakan antara pembeli dan penjual budak.

Sesi “The Indian Ocean World”.

Peradaban di Afrika dan Asia khususnya India, Timur Tengah, dan Sriwijaya (Indonesia) berkembang melalui Samudera Hindia.

Dalam sejarah maritim Samudera Hindia, barang dan budak diperdagangkan antara negara-negara di Afrika dan wilayah Teluk. Sementara antara India dan Asia Timur, barang dan budak diperjualbelikan melalui Jalur Sutra (jalur ini memiliki dua rute, darat dan laut). Salah satu gambar di museum memperlihatkan ekspor oxen (lembu) dari Madagaskar ke Mauritius.

Kejadian di belahan timur dunia juga digambarkan dalam foto hitam putih, yaitu tentang kegiatan Hindia Belanda pada ekspor rempah-rempah di Pelabuhan Jakarta pada tahun 1682, sementara di India, kapal-kapal dagang membawa opium dari Calcutta menuju Tiongkok

Sesi “Slavery in The Indian Ocean World

Kisah para budak yang melegenda ada di sini.

Perbudakan sangat marak dilakukan pada masa sebelum Islam, dimana budak dari Mesir, Mediterania Timur dan Afrika dijual ke Mekah dan Baghdad yang merupakan pasar utama budak di Timur Tengah. Salah satu kisahnya adalah tentang budak terkenal bernama Antarah bin Shaddad Al-Absi yang dilahirkan oleh budak Ethiopia dengan bapak seorang pemimpin Bani Abas. Kemudian kisah Abdullah Ibn Abi Quhafa (Abu Bakar Ash-Shidiq) yang menjadi figur penting dalam sejarah pembebasan budak, salah satu budak terkenal yang dibebaskan olehnya adalah Bilal bin Rabah Al-Habashi. Lalu Islam turun di Timur Tengah dan melarang adanya perbudakan antar sesama manusia.

Beberapa metode perbudakan di sekitar Samudera Hindia adalah melalui perang, hukuman atas kejahatan, invasi, penculikan, penjualan anggota keluarga dan jeratan hutang.

Sesi “Slaves’Status in The Indian Ocean World

Di kalangan kelas atas, perbudakan menunjukkan level pengaruh dan kesejahteraan sang tuan.

Di masa Kekaisaran Abassid (Abasiyah), dibentuklah Pasukan Mamluk (Mamluk Army) yang dibentuk dari kalangan budak Balkan, Kaukasus dan Eropa. Pasukan ini sangat terkenal semasa kekuasaan Dinasti Ayyubid di Mesir pada Abad ke-12. Terdapat juga Pasukan Janissaries yang dibentuk oleh Kekaisaran Utsmaniyah di Turki yang beranggotakan pemuda dari keluarga kristiani yang dilatih dengan kaidah agama dan militer.

Pada pertengahan Abad ke-19, perkebunan cengkeh sangat berkembang di Afrika Timur. Hal ini berdampak dengan diperbudaknya 1,6 juta orang disana. Di bagian ini, museum menampilkan sebuah pedang milik budak Zanzibar pada masa itu.

Dikisahkan juga seorang Tippu Ti (Hamed bin Muhammed Al-Murjebi), pemilik tujuh perkebunan cengkeh dan 10.000 budak. Pengusaha dari Swahili-Zanzibari Ivory ini menangkap dan menjual budak atas perintah Raja Leopold dari Belgia yang merupakan pemegang otoritas di Kongo.

Cerita menyayat hati lainnya adalah tentang Raja Persia, Bahram Gur yang menginjak budak perempuan kesayangannya yang bernama Azada dari atas kuda, hanya karena dia tidak menghargai kemampuan berburunya. Pada zaman dahulu budak hanya akan terjamin hidupnya jika dia dintegrasikan menjadi bagian dari keluarga sang majikan, hal ini bisa dilakukan jika si budak mampu berkomunikasi dengan bahasa tuannya serta mau memeluk agama tuannya.

Lima Ruangan yang Mendeskripsikan Perbudakan di Qatar.

Ilustrasi aktivitas budak di Bin Jelmood House tempo dulu.

Di awal Abad ke-20, penduduk Qatar hanya berjumlah 27.000 jiwa dan faktanya adalah satu dari enam warganya adalah seorang budak. Kepemilikan budak merupakan jaminan bagi para pebisnis ekspor mutiara dan juga para importir, supaya barang mereka tetap aman dalam perjalan gurun yang keras dan pelayaran laut yang berbahaya.

Qatar masih sepi ya kala itu.

Pada tahun 1868, Sheikh Mohammed bin Thani menandatangani perjanjian perlindungan dari Pemerintah Inggris. Sementara pada tahun 1872, Kekaisaran Utsmaniyah membentuk garnisun militer di Doha hingga akhir Perang Dunia I. Setelah kepergian mereka pada tahun 1916, Inggris mulai menanamkan pengaruh di Qatar melalui pangkalan mereka di Bahrain.

Pada Abad ke-18, Qatar terdampak positif dalam perkembangan ekonomi global. Terutama karena meningkatnya permintaan dunia akan mutiara. Untuk meningkatkan hasil tangkap mutiara inilah terjadilah perbudakan pekerja pada industri tangkap mutiara di Qatar.

Di awal Abad ke-19, sebanyak 2.000-3.000 budak dikirim ke Timur Tengah khususnya Oman untuk diperdagangkan.

Sedangkan pada akhir Abad ke-19, budak yang dipekerjakan di Qatar, diambil dari Afrika Timur dan Laut Merah, ribuan lagi didatangkan dari Zanzibar, para budak itu dibawa dengan Dhow Boat menyeberangi Samudera Hindia menuju Qatar. Pada awal Abad ke-20, karena terjadi penentangan perbudakan di Afrika Timur maka budak mulai diambil dari Baluchistan.

Populasi budak di Qatar terus dijaga para tuannya dengan cara menikahkan sesama budak yang tentu akan melahirkan anak sebagai budak juga.

Efek dari peningkatan penangkapan budak di Afrika ternyata mengganggu komunitas umum di wilayah tersebut. Hal inilah yang menyebabkan peperangan tiada henti di Afrika.

Pada masa penangkapan budak, budak akan dirantai dan berjalan dari Mozambik, Kongo, Malawi dan Zambia sejauh 1.000 mil menuju pantai Kilwa di Tanzania, terkadang sebelum sampai di pantai, mereka akan terbunuh oleh para perampok, kemudian budak yang selamat maka selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan akan berlayar untuk dijual ke Timur Tengah dan Yaman.

Ilustrasi penculikan budak di Afrika.

Di pasar budak Zanzibar, budak wanita akan dikenakan pakaian bagus dan perhiasan supaya harga jualnya mahal. Pembeli biasanya akan mengecek kesehatan fisik dan kecantikan sebelum membelinya. Bahkan budak akan diberikan nama baru  seperti Faida (keuntungan), Baraka (berkat) dan Mubaroka (diberkati). Sebagai gambaran secara nominal, pada tahun 1926, seorang budak penyelam laki-laki berusia 24 tahun di Qatar bisa dibeli dengan harga 1.210 Rupee.

Budak di Doha dan Al Wakra, beberapa diantaranya hidup serumah bersama tuannya, memakan makanan yang sama dan memakai pakaian yang sama. Sebagian dari mereka tinggal terpisah di sebelah rumah yang disediakan sang majikan.

Dalam keseharian, budak perempuan akan bekerja menyiapkan makanan dan mengasuh anak-anak. Sedangkan para budak laki-laki setelah musim berburu kerang mutiara usai, akan bekerja mencari kayu bakar, memecah batu, mengangkut air, dan menjadi penjaga keamanan para pejabat kota.

Kemudian terjadilah akulturasi sosial, budak yang awalnya adalah mayoritas non-muslim menerima kehadiran Islam dalam kehidupannya, lalu mereka memeluknya. Begitu pula anak-anak budak secara otomatis akan menjadi muslim karena agama orang tuanya.

Ilustrasi budak dengan pekerjaan sehari-harinya.

Tetapi budaya asal mereka tetap melekat dan tak bisa ditinggalkan begitu saja. Para budak asal Afrika Barat, Ethiopia, Sudan, Somalia, Mesir, Tunisia dan Maroko sering mengadakan Ritual Zar pada saat tuannya sudah tertidur di malam hari. Ritual Zar ini dianggap bisa memberikan ruh dan semangat untuk mendapatkan kesehatan fisik dan mental.

Seiring berjalannya waktu, ternyata permintaan budak meningkat di seantero Qatar ketika industri mutiara menjadi booming dan dibutuhkan oleh dunia.

Pada prakteknya, budak penyelam mutiara akan bekerja dari fajar hingga tenggelamnya matahari. Keranjang kecil akan dikalungkan di leher untuk menyimpan 8-10 oyster yang diambilnya dari dasar laut. Mereka akan menyelam dengan rataan waktu 90 menit dan bisa melakukan penyelaman hingga 50 kali per hari.

Budak penyelam mutiara.

Tahun berganti tahun, ketidakjelasan ekonomi Qatar menyebabkan pengurangan jumlah penduduk dari 27.000 jiwa menjadi 16.000 jiwa dan hanya 4.000 jiwa diantaranya yang masih tertarik bekerja di industri mutiara. Para budak mulai dikirim ke ladang minyak untuk bekerja dan upahnya akan dibagi bersama tuannya.

Sesi “The Richness of Diversity

Keberagaman di Qatar saat ini.

Perpindahan budak selama ratusan tahun di Qatar berkontribusi atas terbentuknya budaya Qatar dalam hal kuliner, musik dan bahasa. Masyarakat Qatar kemudian mengenal Indian Biryani, Levantine Mansaf, Spanish Paella, dan Balaleet. Budaya lain yang berkembang diantaranya adalah bermain Mancala dan menghias tubuh dengan Qatari Henna.

Qatar telah lama menjadi titik pertemuan dari perpindahan manusia yang membawa budayanya masing-masing karena terletak di persimpangan jalur perdagangan Samudera Hindia. Bahkan banyak orang yang awalnya hanya singgah akhirnya menetap di Qatar.

Sesi “Knowing Our Ancestors

Dari studi fosil dan arkeologi, diketahui bahwa nenek moyang bangsa Qatar berasal Afrika.

Diselipkan di sesi ini adalah perihal DNA dan pewarisannya, anatomi yang diajarkan oleh Avicenna, genom manusia dan pembacaan susunan DNA yang bisa membantu manusia untuk mengobati sejumlah penyakit tertentu berdasarkan informasi tersebut.

Bahwa gen juga mempengaruhi tipe darah, rambut dan warna mata. Di beberapa studi mengatakan bahwa gen akan menjadikan manusia menjadikan super taster (mengecap sesuatu lebih pahit dari orang normal) dan non-taster (tidak peka rasa).

Kembali ke masalah perbudakan…..

Di akhir Abad ke-19, Inggris mulai memprakarsai pengurangan angka perbudakan di Timur Tengah. Mereka sering meyelamatkan kapal budak dan dibawa ke wilayah teritori Inggris.`Hal ini dikarenakan, sejak akhir Abad ke-18, masyarakat Eropa Barat melalui parlemennya melemparkan opini penghapusan perbudakan.

Masa-masa awal perjuangan menghapus perbudakan.

Ada momen yang tepat ketika terjadi penandatangan kesepakatan perlindungan Qatar oleh Inggris pada 3 November 1916. Hal ini dimanfaatkan Inggris untuk meminta Sheikh Abdullah Bin Jassim Al-Thani untuk menghentikan praktek perbudakan di Qatar sebagai syarat. Tetapi warga Qatar menolak penghapusan ini.

Keberhasilan penghapusan perbudakan baru efektif diterima saat Qatar berhasil mengekspor minyaknya ke luar negeri. Dengan keuntungan penjualan minyak, pemerintah Qatar bisa membayar uang kompensasi kepada para pemilik budak untuk membebaskan budaknya masing-masing. Dan akhirnya, pada April 1952, praktek perbudakan secara resmi dilarang di seluruh Qatar.

Setelah pelarangan itu, banyak budak yang diberi kewarganegaraan Qatar oleh Sang Emir dan banyak diantara mereka diterima bekerja dengan gaji penuh di perusahaan minyak Qatar.            

Sesi “Qatar, a Pioneer in Personalized Healthcare

Pencapaian bidang kesehatan di Qatar

Qatar adalah negara yang berkomitmen terhadap penelitian genetik dan menjadi negara pioneer dalam personalized medicine, yaitu suatu manajemen penanganan pasien di dunia kedokteran berdasarkan informasi genotype pasien, sehingga bisa dilakukan evaluasi untuk mengetahui penanganan yang cocok untuk jenis penyakit yang diidap.

Qatar membuat kemajuan dengan mendirikan Qatar Biobank yaitu tempat menyimpan informasi kesehatan dan sampel biologis dari warga negaranya. Biobank ini sangat membantu dalam Qatar Genome Programme yang diluncurkan oleh pemerintah. Program ini didanai oleh Qatar Foudation melalui Qatar National Research Fund dan juga didanai oleh Menteri Kesehatan.

Qatar juga menjadi tempat didirikannya pusat-pusat penelitian seperti Qatar Biomedical Research Institute di Hamad bin Khalifa University, Qatar University Biomedical Researc Center dan Weill Cornell Medicine.

Qatar juga memiliki National Diabetes Center, National Premarital Screening and Counselling Programme, serta Qatar Newborn Screening Programme.

Sesi “Modern Slavery

Contoh Modern Slavery.

Perlu kamu ketahui bahwa sekitar 27 juta manusia telah menjadi korban perbudakan modern di seluruh dunia. Perbudakan jenis ini diakibatkan oleh maraknya human trafficking.

Beberapa fakta mengejutkan diantaranya adalah:

  1. 2,5 juta orang adalah tenaga kerja paksa, termasuk eksploitasi sexual.
  2. Human trafficking adalah kejahatan internasional paling banyak memberi keuntungan uang, bersama narkoba dan arms trafficking (perdagangan senjata).
  3. Keuntungan dari human trafficking per tahun mencapai 31,6 milyar Dolar Amerika.
  4. Mayoritas korban human trafficking berusia 18-24 tahun.
  5. 1,2 juta anak-anak diperdagangkan tiap tahun.
  6. Dari 190 negara di dunia, 161 negara memiliki peran dalam perdagangan manusia ini. Baik sebagai sumber, tujuan atau sebagai negara transit.

Krisis politik dan kemanusiaan sering menempatkan golongan rentan (wanita dan anak-anak) dari wilayah-wilayah kurang berkembang pada resiko human trafficking (perdagangan manusia).

Banyak anak-anak pada era 1990-an dipekerjakan di pabrik-pabrik, kapal-kapal ikan, pertambangan, lahan pertanian dan wanita-wanita di bawah umur dipekerjakan di industri sexual. Mereka bekerja melebihi waktu normal, terkadang tanpa upah, hanya hidup dengan makanan seadanya dan tempat tinggal seadanya.

Sesi “Organizations

Perjuangan Qatar menghapus perbudakan di era modern.

Kemudian banyak bermunculan organisasi di dunia yang bergerak untuk mengakhiri human trafficking, mereka melakukan pertemuan dengan pemerintah di negara-negara yang masih terdapat praktik perbudakan modern, mereka bertemu para agensi tenaga kerja di seluruh dunia untuk bersama-sama melawan praktek perbudakan modern.

Qatari House for Lodging and Human Care adalah salah satu dari sekian banyak organisasi yang melindungi para korban human trafficking. Organisasi ini memberikan pelayanan kesehatan, konsultasi psikiater, bantuan hukum, rehabilitasi, serta kursus memasak dan menjahit.

Qatar adalah pendana pertama dan terbesar untuk UN Global Action Plan to Combat Human Trafficking. Qatar juga mendanai The Arab Initiative for Capacity Building in Combating Human Trafficking  yang merupakan kolaborasi antara UNODC dan Arab League.

Akhirnya….

Tak terasa aku sudah berada di akhir sesi di Bin Jelmood House ini. Aku menyempatkan diri memasuki toilet, mengambil gambar selasar dan halaman, kemudian mengucapkan terimakasih kepada segenap staff di reception desk ketika hendak meninggalkan museum.

Selasar di Bin Jelmood House.
Halaman Bin Jelmood House.

Hmmhh…..Museum yang hebat.

Company House: Awal Mula Kejayaan Ekonomi Qatar

Kompleks Msheireb Downtown Doha.

Ternyata tak hanya aku, semua turis dibuat kebingungan untuk menemukan pintu masuk. Kata itulah yang diucapkan seorang staff pria yang keluar memanggilku dan mengarahkanku memasuki museum.

Welcome to Msheireb Museum, you should know that this museum consists of four parts. They are Company House which you are currently visiting. In west of this building is Bin Jelmood House, while in east there is Radwani House. Another one, across that street (pointing at Bin Jalmood Street), is Mohammed Bin Jassim House. To make it easier for understanding all stories inside the museum, please install Msheireb Museums application. You can be guided by this application. Please write your identity in guest book, and welcome to Msheireb Museums“, hafalannya tersampaikan dengan lancar.

Yes, Sir. Thank you, Sir. Where are you come from, Sir?”, singkat aku menjawab dan bertanya.

Bangladesh”, jawabnya dengan penuh senyum.

Yes, belajar dimulai…..

Jika kamu ingin mengetahui perihal….

Bagaimana ekonomi Qatar bangkit dari keterpurukan……dan bagaimana perjuangan mereka menemukan minyak bumi……

Disinilah tempatnya.

—-****—-

Jadi di episode akhir petualanganku di Qatar, isi tulisan ini akan sangat serius. Tak ada majas….Tak ada sastra….Tak ada puisi….yuk, balik ke bangku sekolahan.

The history is begin……

Pertama kali, di pintu masuk museum terdapat logo perusahaan minyak terkenal yang menunjukkan bahwa pendirian dan pembiayaan museum ini disponsori oleh Qatar Shell.

Setelah melewati reception desk dijelaskan dalam sebuah tulisan bahwa bangunan ini adalah rumah dari Hussain Al-Naama, manager Doha Port, dibangun pada tahun 1920, lalu di sewa oleh Anglo-Persian Oil Company (Perusahaan Inggris pemegang kontrak eksklusif untuk eksplorasi minyak di Qatar) pada tahun 1935 dan digunakan sebagai kantor pusatnya selama  dua dekade. Alkisah, pencarian dan eksplorasi minyak Qatar dimulai dari rumah ini.

Inilah truk yang digunakan untuk mengangkut pekerja ke ladang minyak di sebelah barat Qatar.

Diceritakan para pekerja ini akan pulang dalam satu bulan untuk mengambil gaji, lalu diizinkan pulang ke rumah mereka dalam sehari saja untuk bertemu keluarga, setelah itu mereka harus kembali ke ladang minyak kembali untuk bekerja. Museum ini didedikasikan untuk para pioneer tersebut yang memaknai endurance, pengorbanan dan komitmen untuk membangun Qatar….#airmatamulaimeleleh

Perjalanan industri minyak Qatar disusun dengan bekas pipa-pipa minyak.

Kembali ke tahun 1920-an, saat itu Qatar adalah negara yang bergantung pada perdagangan, perikanan dan hasil tangkap mutiara. Dan negara ini sudah diambang kehancuran ekonomi karena Perang Dunia Pertama, Great Depression 1929 dan semenjak mutiara bisa dibudidayakan di Jepang.

Original banget ya pipanya….Aku terpesona.

Perlu kamu ketahui bahwa penangkapan mutiara adalah pekerjaan penuh resiko. Pada tahun 1929, pernah terjadi badai yang menenggelamkan 80% kapal di Kuwait, Bahrain, Saudi Arabia, Oman dan Qatar. Badai ini menewaskan lima ribu jiwa.

Masuk ke tahun 1940-an, terjadi Perang Dunia Kedua, usaha eksplorasi minyak Qatar sempat terhenti. Hal ini membuat seluruh warga Qatar kembali tidak memiliki harapan, karenanya mereka telah berfikir untuk kembali melaut mencari mutiara.

Beruntung pada tahun 1946, setahun setelah selesainya Perang Dunia Kedua, Inggris kembali ke Qatar untuk melanjutkan eksplorasi. Saat mereka tiba, kapan tanker tidak bisa  berlabuh di Perairan Zikrit karena dangkal. Maka dibuatlah terminal ekspor baru di Umm Said, selatan Doha. Lalu berlanjut dengan dibangunnya pipa-pipa minyak dari Umm Said ke Dukhan. Usaha yang tak kenal menyerah, pada akhirnya membuat Qatar berhasil melakukan ekspor minyak bumi pertamanya pada 31 Desember 1949. Dalam perkembangan selanjutnya, produksi minyak di Qatar meningkat tajam dari yang semula dibawah 50.000 Barrel/hari pada tahun 1949 menjadi lebih dari 2.000.000 Barrel/hari pada tahun 2010….Wah keren yaaaa.

Babak penting berikutnya, Qatar mendapatkan kemerdekaan dari Inggris pada 3 September 1971. Tiga tahun setelahnya dibentuklah Qatar General Petroleum Company. Dan pada tahun 1977, Qatar General Petroleum Company dan Shell Qatar Ltd. dinasionalisasi menjadi Qatar Petroleum, sehingga sejak saat itu minyak dan gas bumi di kuasai negara seutuhnya.

Qatar memang negara yang beruntung. Tak lama setelah kemerdekaan, ditemukan ladang Liquid Natural Gass (LNG) di utara wilayahnya. Untuk mengeksplorenya, didirikanlah Perusahaan Gas Qatar pada tahun 1984 dan ekspor LNG pertama mereka terjadi pada tahun 1996 ke Jepang.

Video room….Melihat pengabdian para pionerr dalam membangun minyak negara hingga Qatar mengalami kemajuan ekonomi yang pesat.
Generator listrik Biston dari Inggris….Inilah generator listrik pertama di Qatar.

Di ruangan belakang Company House, disediakan sebuah ruangan bartajuk “Open Storage” yang menampilkan beberapa peralatan para pekerja perusahaan minyak di awal-awal beroperasinya. Tampak raket tenis, stick hoki, bola rugby, radio, velg kendaraan, rantang makanan, mesin ketik, buah nanas kemasan dengan merk “Marvel” dan sofdrink bermerk “Namlite”.

Mesin ketik klasik merk “ROYAL”.
Buah nanas kemasan dengan merk “Marvel

Di ruang paling belakang didesain ruang bertajuk “The Courtyard: Life as a Worker”, di dalamnya dibangun beberapa sculpture putih yang memvisualisasikan para Qataris sedang bekerja di perusahaan minyak Inggris.

Ilustrasi para pekerja minyak kala itu.

Berjalan ke arah pintu keluar, tertampil sebuah ruang “Interview” dimana tim Msheireb Museum mewawancara para pioneer asli Qatar untuk mengumpulkan informasi yang berguna sebagai referensi, bahan penelitian dan bahan pameran di museum ini.

Sofa di ruangan wawancara.
Nah ini, referensi full dalam bahasa Arab….Hahaha.

Terdapat juga juga booth “Share Your Story” yang menampilkan testimoni para anggota keluarga pioneer perihal kerja keras dan kehidupan mereka semasa menjadi karyawan perusahaan minyak itu.

Dalam ruangan yang sama terdapat juga booth “Contemporary Voices”. Layar tiga sisi ini mendeskripsikan kisah-kisah para pioneer dalam sebuah film dokumenter.

Duduk dan dengarkan kisah yang terucap dari keluarga para pioneer….Mengharukan.
Atau tontonlah film dokumenter para pioneer itu sendiri….Merinding menontonnya.

Dan di bagian akhir museum ditampilkan beberapa profil pioneer pekerja minyak dalam ruang “Pioneers’ Stories”. Dikisahkan Muhammad bin Muhammad Muftah yang bekerja sebagai penerima telepon dan pengemudi, Jasim bin Qroun sebagai rigger (Juru Ikat), Bu Abbas yang bertugas mengendarai truk standard internasional untuk membawa para geologist, Thamir Muftah yang bertanggung menangani urusan listrik, Jassim bin Muhammad Jaber Al-Naameh yang bertugas menangani generator, Ibrahim bin Saleh Bu Matar Al-Muhannadi yang bertugas sebagai houseboy, dan terakhir adalah Mansour bin Khalil Al-Hajiri yang menjadi karyawan pertama di perusahaan minyak dan bertugas sebagai guide (pemandu), karena beliau orang yang sangat memahami seluruh wilayah Qatar dan mampu menemukan tempat yang dicari dalam gelap atau kabut sekalipun.

Kubaca pelan setiap kisah kepahlawanan mereka.
Mr. Mohammed bin Hamad Al-Hitmi, pemadam kebakaran di Qatar Petroleum Production Authority.

Selesai menjelajah Company House, aku keluar dari dari pintu belakang. Kusempatkan singgah di Empirecof, sebuah coffee shop mungil yang terletak di pelataran museum ini.

Yuk nge-latte dulu….

Selesai berkopi ria, aku menyempatkan diri memakan bekal makan siangku di halaman Company House. Di taman ini disediakan free water station yang bisa dimanfaatkan untuk minum secara gratis….Wah mantab Qatar.

Where is the museum gate, Sir?”, pertanyaan turis yang sering diutarakan padaku saat istirahat di taman.

Kunjunganku di Company House telah benar-benar usai, saatnya aku pergi menuju bagian Msheireb Museum yang lain.

Yukkk ikut aku lagiii……..

Pakistani White Pulao dan Al Kort Fort

Aku meninggalkan Doha Sports City menjelang maghrib. Keluar dari Villaggio Mall, menuju Stasiun Al Aziziyah yang hanya berjarak 100 meter dari pintu nomor empat shopping mall kenamaan itu.

Di pintu masuk stasiun…..terjadilah insiden tipis antar pengelana….

Hello, do you want go with metro?”, ucap pemuda ikal, berkulit putih dan berwajah khas Arab tetapi lebih pendek sedikit dariku.

Yes, brother”, ucapku singkat.

Use this ticket!, I will go back with bus, You can use it”, dia menyodorkan tiketnya kepadaku.

Oh, No, thanks. I will buy a single journey ticket at downstair”, kutolak halus karena salah duga, kukira dia menjual tiket kepadaku. Aku tahu itu Standard Day Pass ticket seharga Rp. 16.000

Brother, just take it. I don’t need more because I will use bus”, Dia tampak bergegas dan menyelipkan tiket itu ke tangan kananku.

Ya ampun….Ternyata dia memberikan dengan cuma-cuma. “Thank you very much, brother”, ucapku singkat.

I’m Donny from Indonesia, what is your name, brother?”, tanyaku sebelum berpisah.

Said from Algeria….”, senyumnya sembari membenarkan tas punggung hijaunya lalu bergegas meninggalkanku.

Thank you, Said”, aku mulai menuruni escalator menuju platform Doha Metro.

Mengejar MRT yang sudah mengambil ancang-ancang, diperintahkanlah aku oleh petugas berkebangsaan Philippines untuk memasuki metro melalui gerbong kelas Goldclub yang mewah lalu berpindah ke gerbong kelas Standard di belakangnya. Wahhhh…..gerbang Goldclub itu menawarkan tempat duduk tunggal mewah bak business seat pesawat terbang, kursi bersandaran lengan yang terpisah satu sama lain dalam baris memanjang berhadapan. Terduduk di gerbong standard, aku dibawa menyusuri jalur Gold Line menuju Stasiun Souq Waqif yang lokasinya cukup berdekatan dengan Al Ghanim Bus Station. Aku akan menaiki Karwa Bus langganan bernomor 12 menuju penginapan.

Aku masih mengingat pesan salah satu staff hotel asal Islamabad bahwa malam ini mereka mengajakku memasak bersama dan menyantap masakan khas negeri mereka yaitu Pakistani White Pulao-hidangan nasi yang dicampur dengan cacahan wortel, sayur dan kacang-kacangan-.

Seusai mandi, benar adanya, mereka ke kamar membajakku dan digelandang e dapur untuk bergabung bersama para chef dadakan Casper Hotel.

Pakistani White Pulao…..Nyammm.

—-****—-

Fajar ke empat yang kurasakan di Qatar. Aku sedikit bermalas-malasan karena kelelahan dan kejenuhan menjadi musuh baru. Menjelang pukul sepuluh pagi, aku mulai berangkat menuju Al Ghanim Bus Station. Awalnya berencana menuju ke Museum Islamic of Art. Eh, tetapi….Begitu tiba di terminal, aku berfikir ulang. Dompetku mengkhianati niat, dituntunnya aku mencari destinasi gratisan untuk menghemat amunisi yang mulai menipis.

Mencoba berselancar maya dengan duduk santai di terminal, akhirnya aku tahu harus melangkah kemana. Msheireb….Ya, Msheireb!

Ada Msheireb Museum yang dibuka gratis untuk wisatawan disana. Aku berfikir lanjut….Setelah mengunjungi museum itu, aku bisa berkeliling di area Msheireb Downtown Doha untuk melihat konsep kota terencana itu.

Perlu kamu tahu….MDD (Msheireb Downtown Doha) adalah sebuah kota pengganti Distrik Mushayrib yang pengembangannya direncanakan sangat detail.

Aku menjelajah sepanjang Ali Bin Abdullah Street, melewati Gold Souq -bangunan sepuluh jendela kaca lengkung sentra jual beli emas-, melintas kantor kas Qatar National Bank (QNB) Souq Waqif kemudian belok kanan di sebuah perempatan.

Gold Souq.

Sebelum benar-benar tiba di Msheireb Museum, langkahku tertahan di bawah sebuah bangunan ikonik, yang dari bentuknya aku sendiri faham bahwa itu adalah bangunan pertahanan atau benteng. Sewaktu kemudian, aku mengenalnya sebagai Al Kort Fort.

Dikenal juga sebagai Doha Fort, bangunan berusia 140 tahun ini dibangun pada masa Kesultanan Utsmaniyah sebagai kantor kepolisian. Tiga puluh lima tahun dihitung dari masa berdirinya, benteng ini berubah fungsi menjadi penjara di masa akhir kekuasaan Kesultanan Utsmaniyah. 

Lalu sejarah kembali berubah ketika Sheikh Abdullah bin Jassim Al Thani, Emir ketiga Qatar, membangun kembali benteng ini seiring melonjaknya angka kejahatan di sekitar Souq Waqif. Konon, muncul sekelompok pencuri terkenal yang merajalela di area pasar. Nah benteng inilah menjadi pusat keamanan Souq Waqif pada masa rawan itu.

Sesuai ciri khas benteng gurun pasir, bangunan ini berbentuk persegi dengan satu menara persegi panjang di salah satu sudut dan tiga menara bundar di ketiga sudut lainnya.

Sayang , benteng ini masih dalam proses renovasi sehingga aku tidak bisa masuk ke dalamnya. Tapi tnetu tak mengapa, karena aku bisa lekas berkunjung ke Msheireb Museum.

Mau tau ga Msheireb Museum kayak apa?….Panjang lho kisah yang tersampaikan di dalamnya….Siap-siap membaca penuh kesabaran ya!.

Gondolania milik Villaggio Mall

Sudah pukul 14:00, masih ada sedikit waktu sebelum angin sore pembawa hawa dingin hadir. Aku sengaja menaruh destinasi ini sebagai penutup wisata hari ketiga di Qatar. Tampak luar, tak ada yang mencolok, tak ada yang istimewa, itu hanya bangunan biasa yang dibuka untuk umum sejak 2006 silam. Hanya saja, nameboard besar bertajuk Gondolania Theme Park di gerbangnya mampu menilaskan gambaran di kepala tentang konsep wisata apa yang ditawarkan di dalamnya.

Aku kembali memutar pita rekaman perjalanan, mulai kubongkar memori tiga tahun silam, kala dimana untuk pertama kalinya, aku terpesona pada wujud gondola yang terlihat dengan mata telanjang di The Venetian, shopping mall sekaligus kasino kenamaan di kawasan Asia Timur, Macau tepatnya.

Yupss….Kunjungan di Doha Sports City sore itu memang kuakhiri dengan mengunjungi Villaggio Mall. Mall di pinggiran Al Waab Street (terletak antara Hyatt Plaza dan Sports City ) ini dikembangkan oleh Gondolania Entertainment, oleh karenanya, konsep wisata gondola di kota Venice diadopsi di pusat perbelanjaan terkenal ini.

Didesain di dalamnya canal indoor sepanjang 150 meter lengkap dengan gondolanya. Retailer utama di Villaggio Mall adalah Carrefour, akan tetapi pusat perbelanjaan ini juga mengakomodasi 200 toko yang menjual brand-brand ternama asal Amerika, Inggris, Italia dan Jerman.

Yuk, yang hobby belanja, silahkan mampir di mari !

Aku memulainya dari gate 4.

Rupanya kata “I LOVE  (LOVE dilambangkan dengan hati)” yang tersohor dalam promosi pariwisata setiap bangsa menjangkit juga di Qatar. Nameboard itu menyapaku di sebuah hall tepat di sebelah pintu masuk. Merah putih, begitulah dominasi warnanya, serasi dengan warna bendera Qatar. Merah bergerigi putih, atau putih bergeriri merah, entahlah?

Sana kalau mau foto!….Tak fotoin sinih!.
Hall utama tepat dibawah kubah.

Meningglkan kemewahan hall utama, aku mulai menyusuri koridor mall berfantasikan langit biru artifisial di bagian atap, sedangkan tiang hitam berujungkan tiga lampu klasik diletakkan dalam jarak yang konsisten. Cafe dan toko berjajar rapi di kiri dan kanan…..Mc Donalds, KFC, Pinkberry, Ocean Basket, Doughnuts & Coffee, Dunias, PF. Clarks, Applebees dan Ognam adalah beberapa gerai kuliner yang bisa cepat kutemukan ketika melangkah.

Koridor Villaggio Mall.
Koridor Villaggio Mall.

Kuikuti saja alur yang didesain pengelola mall, hingga akhirnya kupergoki ruangan bertajuk GONDOLANIA, sebuah Funfair Theme Park andalan pusat perbelanjaan itu. Kamu bisa bermain Bungee Trampoline, Ferris Wheel, Viking, Catterpillar, Drop Tower, Roller Coaster, Chipmunks Rides, Carousel, Arcade Games, Ping Pong Toss, Ride on Robot, Dino Land, Toy Crain, Deal or No Deal Dance Reco, Basketball Games, Bump Car, Dragon Punch King of Hammer, Lazy River, juga bisa berbelanja mainan di Toys4me serta bisa bergila ria di Gondolania Ice Rink.

Gondolania Theme Park.

Meninggalkan theme park , aku masih terus dibuat penasaran untuk menemukan apa yang kucari sedari tadi…..Akhirnya, Gondola ala Venice tampak terdayung di pandangan jauh. Kanal panjang bercabang membelah ruang raksasa shopping mall itu. Beberapa turis tampak mengantri untuk menaiki gondola dengan pendayung berkebangsaan Philippines.

Kanal untuk wisata gondola.
Aku dan gondola.

Menjenguk sejenak Villaggio Mall, telah membunuh rasa penasaranku untuk melihat duplikasi wisata Gondola Venice untuk kedua kalinya.  Tak perlu lama, hanya tiga puluh menit saja untuk menjelajah.

Hmmhh, aduh….Aku teringat pada janjiku memenuhi undangan para staff hotel tempatku menginap. Aku bergegas pulang, sore itu aku akan memasak makanan khas Pakistan bersama mereka. Kufikir agenda itu  akan membuatku merasa lebih relax setelah tujuh belas hari berkelana meninggalkan rumah.

Area parkir Villaggio Mall.

Langkah cepat menuju Stasiun Al Aziziyah dihadang oleh seorang pemuda yang lebih pendek dariku. Aku tersentak kaget….Ada apa ini:

Said: “Hello, do you want go with metro?

Aku: “Yes, Brother”.

Said:”Use this ticket, I will go back with bus, So you can use it”.

Aku: “Oh, thank you”.

Bodoh jika aku menolaknya. Sebelum dia pergi, aku sempat bertanya untuk mendapatkan informasi tentang tempat asalnya….Algeria, Afrika Utara….”My name is Said”, ujarnya setelah aku menyebutkan nama kepadanya.

Kugenggam tiket darinya….”Oh ini, One Day Pass. Dia seharian naik MRT rupanya. Pintar si Said, daripada dibuang percuma, dia hibahkan kepadaku….Hehehe” batinku memahami alasan Said memberikan tiketnya padaku. Pertemuan tak terduga yang melimpahkan rezeqi. Kini aku akan pulang tanpa biaya.

Stasiun Al Aziziyah.

Singkat kisah, kunaiki Doha Metro Gold Line, berhenti di Stasiun Souq Waqif lalu bersambung dengan Karwa Bus No. 12 menuju penginapan.

Saatnya memasak……

Sports Zone Bagian dari Aspire Zone

Meninggalkan Aspire Park di sebelah utara, aku bersiap memasuki sports complex yang membentang di bagian utara hingga ke barat dari Aspire Zone. Cukup luas, sports complex ini didominasi oleh lapangan bola, baik lapangan untuk latihan ataupun lapangan laga resmi.

Private Field No Access”, papan berwarna merah jambu diletakkan di sisi lapangan dan tampak terlihat jelas oleh siapapun yang melewati jalan itu.

Satu dari sepuluh lapangan latihan di kawasan ini.

Menyelinap melalui sisi Aspire Park Childrens Playground, aku leluasa berdiri di sisi lapangan tempat tim nasional sepakbola Qatar berlatih.

Di timur lapangan latihan terdapat Sport Accelerator Building yang merupakan pelopor yang menyatukan bisnis olahraga-olahraga utama di Qatar dalam satu naungan atap. Gedung berkelir selang-seling biru putih ini tampak gagah dengan The Torch Doha menjulang tepat di belakangnya

Sport Accelerator.

Dari sini, aku berpindah ke jalan di sebelah utara. Sejajar dengan jalan tempatku keluar dari Aspire Park. Salah satu sisi jalan langsung menyuguhkan bangunan modern bertajuk Aspire Academy, sebuah sekolah atlet yang cukup terkenal di Qatar dan telah berusia 16 tahun. Semua tampak biru dengan dinding kaca yang lebar dan lengkungan atap yang futuristik. Aku mulai memasuki kawasan Aspire Academy, sebuah sekolah atlet

Football Performance Center milik Aspire Academy.
Football Performance Center milik Aspire Academy.

Aspire Academy dilengkapi dengan Aspire Dome, gedung serbaguna terbesar di Qatar. Sebuah arena yang mampu menyelenggarakan tiga belas cabang olahraga berbeda dalam satu waktu. Dome ini bisa dikondisikan untuk dipakai dalam berbagai cuaca. Di dalamnya juga terdapat lapangan sepak bola ruangan tertutup.

Aspire Dome.

Landmark utama Aspire Zone ada di sebelah tenggara, yaitu Khalifa International Stadium. Sering dipanggil dengan nama National Stadium. Seperti bandara megah negara mereka, gelanggang sepakbola ini juga mencatut nama Emir Qatar, Khalifa bin Hamad Al Thani. Inilah kandang resmi tim nasional sepakbola Qatar dengan empat puluh ribu kapasitas tempat duduk.

Di empui oleh Qatar Football Association, stadion ini adalah saksi dimana Australia dijungkalkan oleh pasukan samurai biru dengan gol tunggal Tadanari Lee pada perhelatan final AFC Asian Cup 2011.

Khalifa International Stadium.
Aku dan Khalifa International Stadium.

Masih di Aspire Zone, melangkah sedikit ke barat stadion, aku lalu berada tepat di bawah sebuah hotel setinggi 300 meter. Sering disebut dengan panggilan Aspire Tower, walaupun nama resminya adalah The Torch Doha.

Adalah buah karya konsultan arsitektur dari Perancis, inilah bangunan yang saat ini masih menjadi yang tertinggi di Doha. Hotel tiga puluh enam lantai ini telah menyumbang jasanya untuk Qatar sebagai focal point pada perhelatan Asian Games ke-15.

The Torch Doha.

Dan tepat di tenggara The Torch Doha terletaklah Aspire Mosque yang biasa digunakan untuk beribadah oleh para pengunjung.

Aspire Mosque.

Masjid itulah titik akhir perjalananku di Sports Zone. Bagaimana, keren kan Aspire Zone?

Yuk kita masuk ke Villaggio Mall….Deket banget kok, jalan kaki sedikit lagi.

Berlatih Tendangan Pinalti di Aspire Park

Indomie seharga Rp. 6.000 yang kubeli di Abdulla Ali Bumatar minimarket semalam, akhirnya menemani santap pagiku di pantry Casper Hotel. Aku masih enggan keluar hotel, walau jarum jam telah jatuh di angka delapan, tak lain karena udara dingin yang berhasil mematahkan semangatku.

Tepat pukul sepuluh pagi, aku mulai memaksakan langkah dan kemudian menunggu Karwa Bus bernomor 12 menuju Qubaa Street, untuk kemudian bersambung dengan Karwa Bus bernomor 301 menuju Doha Sports City yang memiliki luas tak kurang dari 250 hektar. Area ini lebih dikenal dengan sebutan Aspire Zone.

Karwa Bus No 301.

Satu jam perjalanan, mengantarkanku sampai di tujuan. Aku diturunkan di sebuah halte bus di Al Furousiya Street. Tak akan lama lagi, aku akan merasakan kesejukan Aspire Park yang menjadi bagian dari Aspire Zone.

Dari Al Furousiya Street aku berbelok ke kanan dan memasuki Al Waab Street. Satu kilometer kemudian aku berbelok ke kiri untuk menapaki Aspire Park Road. Nah, Aspire Park ini berada di sisi kiri jalan ini. Sementara di sebelah kanan jalan terletaklah sebuah pusat perbelanjaan modern terkenal di Qatar karena terdapat wisata gondola ala Venice di dalamnya, pusat perbelanjaan ini dinamakan Villaggio Mall.

Aspire Park Road.
Yang punya anak, hayu ukur tinggi badannya disini !.

Terletak di Distrik Baaya di Selatan Qatar, Aspire Park ini memiliki running trail yang sangat panjang dan nyaman, beberapa bagian dari running trail ini bahkan menampilkan sensasi memantul ketika diinjak. Penunjuk jarak tempuh juga ditampilkan di beberapa titik di running trail.

Aspire Park running trail.
Penanda jarak.

Aku memulai eksplorasi dari bagian selatan taman yang menampilkan kontur berbukit. Tujuanku adalah melihat seisi taman dari ketinggian, tentu akan tampak lebih indah. Tepat di kaki bukit dibangun fasilitas skateboard track sedangkan di bagian puncak bukit di beri fasilitas delapan exercise bike. Dari atas tampak terlihat begitu luas dan indah suasana Aspire Park.

Skateboard track.
Aspire Park dilihat dari atas bukit.
Exercise bike di selatan taman.

Menuruni bukit kecil menuju ke arah utara, aku kembali ke dataran rendah dan memasuki area taman secara keseluruhan. Tampak pepohonan berbatang besar, naungan beratapkan payung raksasa berbahan kain juga tampak dimana-mana, memberikan opsi lain untuk berteduh selain di bawah pepohonan.

Teduh kan…..
Umbrella shade.

Sementara aktivitas warga tampak mulai ramai menjelang tengah hari. Beberapa anak tampak bermain tendangan penalti. Atmosfer sepak bola Qatar memang tak kalah kental dari sepakbola tanah air kita. Maklum Qatar adalah pemenang Piala Asia 2009 silam setelah menundukkan juara bertahan Jepang.

Pesepak bola Qatar masa depan.

Semantara para pengunjung tak perlu khawatir jika ingin sekedar bersantai, menikmati hari di taman dengan secangkir kopi atau snack lainnya. Beberapa kedai tersebar di area sand trail. Gharissa Ice cream, Ard Canaan Restaurant, Mobsto Coffee Truck dan satu kedai terkenal Coffeeshop Company siap memanjakan pengunjung.

Coffeeshop Company.

Berlatarkan Aspire Tower atau yang lebih dikenal dengan sebutan The Torch Doha setinggi 300 meter, menjadikan Aspire Park sebagai taman yang artistik. Diambil dari segala penjuru tetap saja elok, tak hayal, banyakl orang yang mengunjungi taman ini.

Aku sampai pada sebuah tampilan danau buatan dengan paduan jembatan yang melintas di tengahnya. Tampak ujung penyembur air mancur menuju ke arah jembatan dari kedua sisi, jika air mancur ini dinyalakan pasti akan menjadi tudung artistik yang melintas di atas kepala pengunjung yang melewati jembatan itu.

Aspire Lake.
Sekawanan angsa di Aspire Lake.

Sementara di sisi Aspire Lake tampak patung kuda yang tengah menarik gerobak bermuatan. Inilah karya Sarah Lucas Perceval pada tahun 2006 yang menjadi spot ikonik untuk berfoto para pengunjung.

Shire Horse by Sarah Lucas Perceval.

Kemudian di sisi barat danau terdapat area playground untuk anak-anak. Area ini cukup luas dan menyediakan beragam permainan. Membuat anak-anak betah berlama-lama di taman, juga menjadikan taman ini menjadi tempat favorit untuk tempat berkunjung bagi para keluarga untuk menghabiskan weekend atau hari libur mereka.

Aspire Park playground.

Sementara di sebuah bagian taman, sedang dibangun sebuah kolam besar dengan podium di sisinya. Saya tak tahu apa yang sedang dibuat dalam proyek ini. Tampak area ini masih tertutup dan tidak bisa dikunjungi karena kegiatan pembangunan sedang dilakukan secara masif.

Beberapa saat kemudian, di utara taman aku sudah berdiri dan bersiap mengakhiri kunjungan. Kini aku bersiap memasuku Sports Zone yang tampak di dominasi oleh keberadaan Khalifa International Stadium.

Yuk kita lihat ada apa saja di Sports Zone ini !.

Bersiap masuk ke Sports Zone.

Memasak Menu ala Backpacker di Qatar

Selain mengunjungi tempat-tempat wisata gratisan, memasak adalah hal lazim yang dilakukan para backpacker untuk mengerem pengeluaran di hari-hari perjalanannya. Karena mereka juga harus pandai menciptakan dana cadangan untuk mengantisipasi jika terjadi biaya tak terduga. Begitu pula dengan hari-hariku di Qatar, memasak sudah menjadi rutinitas setiap pagi dan malam mengingat biaya hidup di Qatar tidaklah murah.

Sore itu, bermula pada perjalanan pulang dari Katara Cultural Village menggunakan Doha Metro. Aku menuju Stasiun Souq Waqif dan bertolak dari Stasiun Katara melalui kombinasi Red Line dan bersambung dengan Gold Line di Stasiun Msheireb. Ini adalah perjalanan keduaku menggunakan Doha Metro.

Platform di Stasiun Katara.
Ini tanda toilet, musholla dan child care room…Lucu ya.
Doha Metro Red Line.

Dari Stasiun Souq Waqif aku menyambung perjalanan dengan Karwa Bus No. 12 dari Al Ghanim Bus Station untuk menuju Casper Hotel, tempatku menginap selama di Qatar. Ini adalah perjalananku ke-9 menggunakan Karwa Bus. Perjalanan pulang sore itu membutuhkan waktu dua jam hingga tiba di penginapan. Sebelum tiba, aku sempat berbelanja terlebih dahulu di Abdulla Ali Bumatar minimarket yang terletak di dekat hotel untuk membeli kebutuhan logistik hingga hari terakhirku di Qatar nanti.

Bukan hotel, lebih tepatnya ini adalah penginapan.

Setelah selesai membersihkan diri, aku segera menunaikan shalat maghrib berjama’ah di musholla dekat penginapan. Memasuki waktu bersantai, aku bergegas menuju pantry untuk melakukan kegiatan rutin malam hari….Yes, memasak.

Yuk masuk pantry!

Bahan pangan utama yang mejadi santapanku setiap hari adalah roti Paratha khas Kerala buatan GRANDMA Bakery and Sweets, cukup murah, tiga lembar parata kubeli dengan harga Rp. 8.000. Tiga lembar parata sudah lebih dari cukup untuk membuatku merasa kenyang.

Sedangkan untuk lauknya aku memilih membeli sarden kemasan termurah yang dipajang di minimarket. Kuberikan Rp. 12.000 untuk mendapatkan satu kaleng kemasan berisi tiga potongan sedang ikan sarden. Karena ini sarden termurah, tentu akan berpengaruh pada rasa, rasanya plain, kawan….Hmmhh. Itu tampak seperti ikan sarden yang dituang ke dalam minyak sawit saja…..Hahahaha.

Roti Paratha.
Memanaskan sarden kemasan.

Ketika berpergian, kemewahan makanan bukanlah menjadi concernku sejauh ini. Yang terpenting adalah bagaimana tetap mengupayakan makan tiga kali sehari dengan harga terjangkau tetapi layak nutrisi. Jadi bisa dipastikan aku akan jarang sekali bersantap di restoran kecuali jika yang kujalani adalah business trip…..Ya, iya lah, business trip kan dibayarin kantor. Hahahaha.

Lalu, bagaimana dengan menuku di keesokan harinya, sebelum memulai eksplorasi hari keempat di Qatar. Mau tahu?…..

Ini dia:

Sarapan yang sangat sederhana, kan?
Bonuss…..

Nah itulah satu dari sekian banyak caraku untuk berhemat selama menjelajah Qatar. Jangan ditiru….Itu sangat menyiksa….Hahaha.

Yuk lah, kita jalan lageee…..

Apartemen Burung di Katara Cultural Village

Sekitar jam 14:00, di teriknya cuaca Qatar aku mulai melangkah keluar dari Stasiun Katara. Sepertinya ini akan menjadi penghujung destinasi di hari keduaku di negeri yang pernah berjuluk “Catara” sebelum Abad XVIII. Ini akan menjadi eksplorasi panjang karena aku akan mengelilingi area pusat budaya di Doha yang memiliki luas tak kurang dari 35 hektar ini. Area ini adalah hasil kreasi dari Ministry of Culture, Arts and Heritage, Qatar.

Menuju ke arah timur selepas keluar dari stasiun, satu bangunan ikonik yang kujumpai adalah sebuah kado merah raksasa dipadu dengan ruangan berbentuk hijau bulat layaknya pipa raksana dalam permainan anak-anak. Itulah Katara Cultural Village Children’s Mall yang terletak tepat di halaman awal Katara Plaza.

Bangunan berbentuk kado ini adalah icon dari Katara Cultural Village Children’s Mall.

Kini, aku bersiap memasuki area utama plaza dengan hamparan halaman luas beralas andesit dan dikelilingi oleh bangunan-bangunan klasik mirip arsitektur abad pertengahan. Di beberapa titik plaza diletakkan area coffee shop, persisnya tepat di depan Katara Hall. Beberapa stand tampak dimiliki oleh Craves, Talabat, Vulcan, EXIT55 dan Scary Burger.

Katara Plaza.
Katara Plaza.

Katara Cultural Village memiliki area berbentuk segitiga yang menghadap ke pantai. Terletak di pantai Timur Qatar, dibatasi oleh Shakespeare Street di utara, Al Moasses Street di Selatan, Lusail Expressway di sebelah Barat dan Katara Beach di sebelah Timur. Sementara pusat area ini terletak pada sebuah amphiheater terbuka menghadap ke Al Yazwa Public Beach atau khalayak lebih mengenalnya dengan nama Katara Beach.

Amphitheater sebagai Katara Multi Purpose Hall.
Al Yazwa Public Beach.

Sebelum menuju ke pusat area itu, aku menyusuri bagian selatan dari amphitheater. Lalu memasuki sebuah blok bertajuk Virtual Art Center yang bagian atas halamannya terlindung oleh delapan bentang kain yang efektif meredam panasnya udara kota. Tampak juga seni kotemporer di pajang di beberapa spot di blok ini.

Halaman Visual Art Center.
Karya seni kontemporer.
Replika kaftan yang biasa dikenakan oleh Sultan Suleyman Kanuni dari Kekaisaran Ottoman.
Setiap karya seni yang dipajang disediakan penjelasan mengenainya.

Di halaman ini disedikan Katara Club Car (boogie car) yang merupakan free service untuk para pengunjung di Katara Cultural Village. Karena aku ingin benar-benar menikmati suasana maka kuputuskan untuk tetap berjalan kaki saja.

Kini aku tiba di bangunan paling selatan dari area budaya ini, yaitu Katara Mosque, khalayak memanggilnya dengan Friday Mosque. Sebuah masjid indah dominan biru dengan satu menara di salah satu sisi. Kusempatkan untuk beribadah Ashar di masjid ini sebelum aku lebih jauh melangkah melakukan eksplorasi. Tampak beberapa turis non-muslim diizinkan masuk tetapi tetap diwajibkan menggunakan celana panjang untuk laki-laki dan kerudung untuk perempuan.

Katara Mosque.
Interior Katara Mosque.

Sementara disebelah masjid terdapat sepasang menara yang difungsikan sebagai tempat tinggal para merpati di area itu. Ini adalah spot paling ikonik yang sering diburu oleh para turis karena setiap mencari laman Katara yang muncul selalu gambar bangunan itu. Hebat…..Merpati aja dibikinin apartemen…..Bayar kagak tuh?…..Hahaha.

Me in Bird Towers.

Kemudian kulewati beberapa spot seperti Youth Hobbies Center, Katara Art Studios hingga aku mencapai sisi pantai setelah melewati Saffron Lounge Indian Restaurant dengan exterior berupa kunci hitam besar yang diletakkan di halaman tepat di tengah kursi dan meja makan restoran tersebut.

Saffron Lounge.

Di akhir kunjunganku, aku menyempatkan duduk di amphitheatre yang sedang dilakukan rehearsel untuk acara The 4th Cultural Diversity Festival yang menurut informasi akan dihadiri oleh 14 negara peserta.

Sisi luar amphitheatre.

Itulah kilas balik kunjunganku di Katara Cultural Village. Saatnya pulang ke hotel dan beristirahat untuk eksplorasi hari ketiga di keesokan hari.

Istirahat dulu, gaesssss…….

Menjajal Doha Metro Red Line dari DECC ke Katara

Menjajal Mass Rapid Transport (MRT) di negara yang memilikinya telah menjadi tradisi dalam setiap perjalananku, walaupun transportasi pilihan pertamaku adalah bus kota. Sebelum mencoba Doha Metro, aku sendiri sudah pernah mencicipi MRT di Singapura, Thailand, Malaysia, Philippines, Hong Kong, Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, India, Uni Emirates Arab dan tentu MRT Jakarta sebagai moda transportasi massal kebanggaan Jakarta.

Keluar dari pusat perbelanjaan modern City Center Doha di area West Bay, aku kembali menelusuri jalur keberangkatan ketika menuju shopping mall tersebut, kembali mengukur jalanan Omar Street menuju Stasiun DECC. DECC boleh dikata sebagai Jakarta Convention Centernya Qatar. Karena terletak persis di sebelah gedung DECC inilah maka pemberhentian Doha Metro ini bernama serupa dengan venue itu.

Eksterior bangunan stasiun DECC sendiri lebih tampak seperti pintu masjid daripada bangunan stasiun. Masih mengandalkan lengkungan ala Persia dengan bukaan yang lebar dengan warna otentik, coklat padang pasir.

Bangunan Stasiun DECC.

Inilah rapid transit system kebanggan Qatar yang salah satu tujuannya adalah untuk menyambut gelaran Piala Dunia 2022. Jalur Doha Metro yang pertama kali dioperasikan pada tahun 2019 adalah jalur merah yang sedang kusasar ini.

Memasuki bangunan stasiun, semuanya mengkilap, bersih dan nampak baru. Aku memilih jalur tangga untuk turun ke bawah tanah dan mencari keberadaan automatic ticketing vending machine, walaupun pengelola Doha Metro menyediakan lift untuk mempermudah akses.

Kita cobain jalur tangganya dahulu.
Saatnya berburu tiket.
Automatic ticketing vending machine.

Doha Metro sendiri  memiliki tiga jalur yaitu red line, green line dan gold line dengan rataan panjang 76 Km dan keseluruhan memiliki 37 stasiun. Harga tiket sebetulnya hampir setara dengan harga tiket Karwa Bus yaitu berkisar Rp. 8.000 untuk sekali perjalanan tunggal (single journey) dan Rp. 16.000 untuk satu hari penuh perjalanan (day pass). Satu kelebihan dalam sistem Doha Metro adalah keberadaan free feeder bus yang mengkoneksikan stasiun dengan hotel tempat kita menginap atau tempat lain yang tak terjangkau oleh jalur Doha Metro. Bus pengumpan ini dikenal dengan nama Free Doha Metrolink Shuttle Services.

Ini dia peta jalurnya.
Standard single journey, tiket jenis ini bisa dipakai untuk dua moda transportasi yaitu Doha Metro dan Mshreib Tram.

Begitu tiba di platform, beberapa petugas Doha Metro berkebangsaan Philippines berusaha dengan ramah menanyakan tujuan akhirku dan mengarahkan untuk menunggu di platform yang tepat, walaupun sebetulnya aku sudah terbiasa mencari sendiri keberadaan platform berdasarkan petunjuk yang ada.

Platform Doha Metro.

Kereta milik Doha Metro ini adalah kereta termodern yang memiliki kecepatan jelajah sekitar 100 Km/jam dan dinobatkan menjadi  kereta tanpa pengemudi tercepat di dunia. Secara kepemilikan, 51% saham Doha Metro dimiliki oleh Hamad Group, 49 % saham dimiliki oleh perusahaan transportasi umum milik negara Perancis

Lihat route boardnya!
Sepi….Sumpah….

Dalam 15 menit aku dihantarkan sejauh 5 Km oleh kereta ini hingga Stasiun Katara. Sepinya penumpang Doha Metro membuat perjalananku nyaris tanpa interaksi, aku tak bisa merasakan hiruk pikuk warga Qatar dalam keseharian mereka.

Turun di platform Stasiun Katara.

Turun dari Doha Metro, kini aku akan menuju ke permukaan tanah dengan menggunakan lift yang disediakan.

Nah, sekarang baru cobain lifnya.

Mirip seperti kondisi bangunan stasiun DECC, Stasiun Katara juga tampak gres. Sepinya lalu lintas warga kota yang menggunakan jasa Doha Metro menjadikan bangunan stasiun tampak kosong dan memamerkan kelegaannya kepadaku. Sementara para pegawai Doha Metro berwajah Asia Tenggara itu menghias di setiap stasiun.

Itu dia automatic fare collection gatesnya.
Keluar dari bangunan Stasiun Katara.

Aku sudah tiba di Katara Cultural Village dan siap untuk melakukan eksplorasi. Yuk kita lihat seperti apa pusat budaya Qatar ini !.

Eksterior Stasiun Katara.