Bukchon Hanok Village: Destinasi Pertama di Seoul

<—-Kisah Sebelumnya

Kamsahanida……”, ujarku keras terlontar teruntuk petugas kasir perempuan CU Minimarket di pojok sana. Aku telah rampung menyantap nasi putih kemasan dan cup noodle yang membuat bibirku terasa membara saking pedasnya.

Cheonmanneyo….”, kasir cantik putih itu melempar senyum sembari melambai tangan ketika aku sudah berada di depan pintu kaca hendak menjangkau handlenya.

Keluar dari minimarket, aku melangkah cepat menuju gerbang Stasiun Hongik University yang tak jauh lagi, tepat di sebelah kiri tikungan di depan sana.

Menuruni escalator super panjang menukik menuju bawah tanah, aku mulai membuka denah cetakanku sendiri, lalu menunjuk sebuah titik tujuan. “Aku harus menuju Stasiun Anguk”, batinku berseru sembari melipat denah dan memasukkan ke saku belakang.

Kini aku berada di batas platform. Menjelang siang, suasana stasiun bawah tanah lengang. Tetiba, pertunjukan romansa jalanan di ujung platform sana memudarkan rasa antusiasku dalam menunggu kedatangan Seoul Metro. Sepasang sejoli tampak berpeluk pinggang sembari bertatap mesra. Sesekali sang pria cuek menyosor gadis di depannya….”Buseeet….”, seloroh iriku keluar juga. Pertunjukan seperti itu memang tak membuatku heran karena sudah kerap kujumpai di moda transportasi yang sama milik Negeri Singa atau Kota Shenzen. “Anggap saja sebagai bonus perjalanan…”, batinku tersenyum kecut.

Pelukan mesra mereka terlepas beberapa saat setelah derap suara Seoul Metro terdengar dari lorong kanan. Seoul Metro mendecit lembut dan berhenti di hadapan, mereka mengakhiri romansa dan penonton tunggalnya pun ikut menaiki kereta.  

Seoul Metro Line 2 merangsek meninggalkan Distrik Seodaemun menuju timur. aku akan berwisata ke Distrik Jongno yang berjarak delapan stasiun dan harus berpindah ke Seoul Metro Line 3 di Stasiun Euljiro 3(sam)-ga serta membutuhkan waktu tempuh sekitar 30 menit.

Sesuai perkiraan waktu, kini aku sudah berdiri di depan pintu Seoul Metro ketika announcer sound mengatkan bahwa kereta akan segera merapat ke Stasiun Anguk. Setelah berhenti sempurna, aku melompat meninggalkan gerbong yang sedari menaikinya, tak ada kejadian berkesan lain setelah romansa setengah jam lalu.

Keluar dari Stasiun Anguk, aku dihadapkan pada Yulgok-ro Avenue. Percaya diri mengambil langkah ke kiri mengantarkanku pada sebuah simpang lima yang ramai dengan gerai fashion, kuliner dan kosmestik. Sepertinya aku salah jalan.

Aku berdiri terpaku di sebelah tugu Enso yang berlokasi tepat di salah satu sisi simpang lima tersebut. Enso sendiri adalah kuas kaligrafi tradisional asli Korea Selatan. Mengamati perilaku masyarakat lokal yang sibuk berbelanja. Sementara beberapa kelompok turis asal Eropa tampak sedang bercakap-cakap di gerai Tourist Information yang terletak di samping tugu. Sepertinya aku harus ke gerai itu dan menanyakan arah destinasi yang kutuju. Akhirnya aku melangkah menujunya.

Aku: “Hello, Ms. Can me know which way thet I need to choose toward Bukchon Hanok Village?

Dia: “Hi, Sir. You can go straight there and then turn left in crossroad. You will arrive in Bukchon Hanok Village with walking about 600 meter”.

Aku: “Very clear, thank you, Ms

Dia: “You are welcome. And this tourism map is for you”, dia tersenyum  sembari menyerahkan selembar denah pariwisata Seoul untukku.

Aku pun segera melangkah menuju utara. Sedikit santai sembari menikmati keramaian jalanan Bukchon-ro, akhirnya aku tiba di Bukchon Hanok Village dalam 20 menit. Perkampungan budaya ini berlokasi di sebelah barat jalan utama.

Notre Dame Education Center di Bukchon Hanok Village.

Diluar dugaa, ini berbeda dengan Gamcheon Culture Village di Busan yang kukunjungi beberapa hari lalu. Bukchon Hanok Village menampilkan deretan Hanok (rumah tradisional Korea Selatan) yang tersusun rapi memanjang mengikuti kontur jalan setapak. Kayu-kayu yang menjadi bagian dari bangunan Hanok tampak terawat mengkilap, Gang-gang yang hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki nampak rapih dan bersih. Inilah perumahan bangsawan era Dinasti Joseon yang berusia lebih dari enam abad dan menjadi kebanggaan Distrik Jongno.

Sesuai dengan julukannya sebagai “Kampung Utara”, maka desa ini memang terletak di sebelah utara dari dua ikon utama kota Seoul yaitu Sungai Cheonggye dan Distrik Jongno.

Selain berfungsi sebagai pelestarian Hanok, desa ini juga berfungsu sebagai pusat kebudayaan, penginapan tradisional, restoran dan tempat minum teh bersama.

Menyusuri bagian dalam perkampungan, beberapa turis perempuan tampak anggun mengenakan Hanbok (baju khas Korea Selatan) demi menyusuri perkampungan budaya ini dengan lebih khusyu’.

Sebuah keindahan yang tersimpan di daerah Gahoe ini akhirnya berhasil kudatangi juga. Sebuah kesan klasik, ketenangan, kesunyian, sarat makna dan keagungan budaya sangat kental kurasakan dalam kunjungan ini.

Peeking a Devi’s Fall at Gupteshwor Mahadev Cave

<—-Previous Story

Horn sound made me see to left when I just walked out of a noodle food stall in Tashiling. Yes, that shrill sound came from Mr. Tirtha’s taxi which I never knew since when it had been parked under a tree right out of Tashiling area.

I think we don’t need to go to Devi’s Fall because its water discharge is low now. So you can see the beauty of Devi’s Fall from a cave”, said Mr. Tirtha while turning steering wheel to left and entered Shital Path Street. I just agreed with that information.

Devi’s Fall often had been nicknamed as David’s Fall since decades ago when a Swiss drowned in current at this waterfall.

OK …. We are arriving“, joked Mr. Tirtha while snapping her fingers when he had just turned right following Siddhartha Rajmag’s Street flow.

I started to enter the gate of Gupteshwor Mahadev Cave, which at its top stood the dashing Lord Shiva holding his trident in cross-legged position. Through it, then walking in tarpaulin-covered entrance route with a row of souvenir stalls on either side. Then I was greeted by the presence of Lord Vishnu statue which sleeping next to the main building.

Description: D:BC ReportsFoto and VideoGo Abroad15. NepalIMG_20180101_165707863_HDR.jpg
Main balcony.

It was time to head to a concrete balcony to bought a ticket for 100 Rupee. Before descending the stairs to cave mouth, for a moment I paid attention to details of staircase walls which were regularly spaced displaying Gods carvings which might implicitly feature a certain stories.

Stairs to cave mouth.

Temperature difference had begun to be felt on first foothold at cave mouth. Now I was ready to explore the longest cave in Nepal.

Cow Shed“, I was stunned to see a cow shed with blue iron fence. I asked a local person who was talking in front of it. He briefly said that this cow protected Lord Shiva. I nodded as if I understood.

Going down the stairs through right side of cage I felt my breath getting heavier. The damp dark cramped space made it so. Then I saw a bright light again at a temple which dedicated to glorifying Lord Shiva.

Description: D:BC ReportsFoto and VideoGo Abroad15. NepalIMG_20180101_170114903_HDR.jpg
Oh, Donny …. You stoled a pictures …. It was “No Camera” area…. Bad habit.

It was said that this cave was found in 16th century with cave mouth closed by grass. Local people named this cave as Bhalu Dulo. When found, there were already carvings of several Hindu Gods such as Mahadev, Parvati, Nageshwor and Saraswati.

Now stairs to cave bottom were getting sharper and slippery. Water continued to drip from stalactites which were spread evenly on cave roof. The lack of lighting made my downward journey very slow.

Be careful, ok…..

Finally, the appearance of cave bottom was amazing. A very large room was in basement. Then on a side appeared a natural gap which was the only hole to enjoy the beauty of Devi’s Fall.

Description: D:BC ReportsFoto and VideoGo Abroad15. NepalIMG_20180101_170803449_HDR.jpg
That was Devi’s Fall…. Wasn’t that cool ?.

Check out the situation of Gupteshwor Mahadev Cave here:

https://www.youtube.com/watch?v=7p0Yjhocidg

God’s extraordinary work of nature….

Lelap Sejenak  di Kimchee Guesthouse Sinchon

<—-Kisah Sebelumnya

Pukul setengah sembilan pagi, aku sudah merapat di Stasiun Hongik University, menyusuri koridor panjang stasiun dan menaiki escalator panjang an tinggi menuju permukaan tanah. Tata arsitektur stasiun menyambutku dengan taman berhiaskan bunga-bunga indah dipadu dengan bebrapa sculpture ikonik.

Aku mulai menelusuri gang utama menuju Sinchon-ro Avenue di utara stasiun. Yang kutahu, guesthouse yang kupesan berada di dalam gang di seberang jalan sana. Aku melintas pada zebra cross tunggal yang ada pada ruas jalan dihadapan. Seoul Bus Rapid Transit dominan biru langit kelir putih, dengan AC outdoor compartment  memanjang di bagian atap melengkapi body panjangnya tampak berlalu lalang mengambil warga lokal yang mulai beraktivitas meghargai fajar.

Aku memutuskan untuk tak bertanya  kepada siapapun perilah letak guesthouse tempatku menginap, aku yakin di tengah Ibu Kota yang super sibuk, akan sangat langka bagi siapapun untuk mengetahui letak sebuah guesthouse kecil jauh di dalam gang antah berantah.

Aku mengambil peta dan dengan cepat memahami gang sebelah mana yang harus kumasuki. Aku mulai memasuki  Gang Sinchon –ro 3-gil dan berbelok ke kanan pada pertigaan pertama. Sesuai dugaan, aku akan mudah menemukannya.

Memasuki pintunya yang tak terkunci, aku menemukan meja resepsionis yang gelap dan kosong, lorong tangga, dapur dan ruang makan sama temaramnya. Tamu-tamu guesthouse rupanya masih tampak malas dalam selimutnya masing-masing, seakan enggan berjibaku dengan dinginnya hawa di luaran sana.

Tak ada pilihan, aku memasuki shared lounge yang sama temaramnya, mengambil tempat duduk, menaruh backpack dan menangkupkan muka dalam sedekapan tangan untuk turut terlelap dengan kondisi terduduk. Setidaknya shared lounge itu tak sedingin ruangan Seoul Express Bus Terminal dini hari tadi.

Lelapan pulasku terbangunkan oleh suara berisik seseorang yang tampak merapikan ruang resepsionis. Rupanya aku telah terlelap selama satu jam lamanya. Lelaki muda Korea itu tampak melihat kearahku tanpa ekpresi. Aku mengucek mata untuk membuat muka segera segar. Beranjak dari bangku dan segera menujunya.

Aku ; “Hello, I’m Donny from Indonesia. I had booked a room in this guesthouse. This is my booking confirmation”.

Dia: “Let me see”, dia seksama membaca detail lembaran itu. “I think you will get your room on 1 pm, so I’m sorry”, aku terkagum dengan aksen British pengucapan englishnya.

Aku: ‘Oh, It’s OK. I know that. I just want to put my backpack here and I will go to sightseeing the city”.

Dia: “Yeaa, It will be better. Just put your backpack there”, dia menunjuk sebuah pojok ruangan yang penuh tumpukan backpack.

Aku: “Ok, thanks, Sir”.

Usai sukses menaruh backpack yang mulai membuat punggungku terasa berat. Aku segera meninggalkan guesthouse. Aku harus mencari sarapan sebelum menuju ke destinasi pertamaku di Seoul. Semenjak bercakap dengan Mr. In Chul Park di Seoul Metro tadi pagi, aku mulai menahan rasa lapar yang menyerang lambung.

Menyeberang kembali Sinchon-ro Avenue aku memasuki gang menuju Stasiun Hongik University. Di dalam gang aku perlahan melangkah demi menemukan sebuah minimarket. Yups….Akhirnya aku menemukan sebuah CU minimarket.

Menelusuri rak berisi makanan, aku menemukan cup noodle dan kemasan nasi putih, tanpa ragu aku memungutnya dan membawanya ke kasir. Seperti minimarket di Busan, CU minimarket Seoul juga menyediakan pojok makan, lengkap dengan microwave dan air panas. Pelanggan dituntut untuk bisa mengoperasikan peralatan pemanas itu dan melayani dirinya sendiri untuk menyantap makanan yang dibelinya.

Aku yang sungguh kelaparan, menyantap cup noodle dan nasi kemasan itu dengan cepatnya. Untuk kemudian segera bergegas menuju destinasi wisata pertama.

Kisah Selanjutnya—->

A Bowl of Noodle in Tashiling Tibetan Refugee Camp

<—-Previous Story

I already understood before Mr. Tirtha told me that my next destination was Tashiling, A Tibetan refugee settlement in Pokhara. Nepal itself provided access to this migration because since ancient times, Tibet and Nepal have had close close relations in economy, diplomacy and culture. They have repeatedly signed various cooperation agreements in their history as two mutually sovereign nations.

Departing from International Mountain Museum, my taxi drove towards east and it was about 3.5 km in distance. This time Mr. Tirtha who changed to interrupt the trip, he stopped at a pharmacy to buy a some drugs. He steadfastly said that his father had a liver problem which required him to set aside his income from driving a taxi for his father’s treatment.

Namaska“, he shouted at his friends on the street. He explained a little to me that Namaska ​​was a greeting similar to “Namaste“.

Then, he emphasized that tourism was like a gold for his country. So many people in his age struggled to have a small car and fuctioned as a taxi. And English was the key for them to attract tourists …. “Sorry Mr Tirtha, if in Jakarta, I prefer to be a salesman with a commission” …..Hahaha, he broadly laughed.

15 minutes later, the taxi exited from Siddhartha Rajmarg main road. Stop on a dirt road. “Welcome to Tashiling“, said Mr. Tirtha.

Description: D:BC ReportsFoto and VideoGo Abroad15. NepalIMG_20180101_155437418_HDR.jpg
The view of Tashiling from dropping point.

My steps were immediately drawn to a row of souvenir stalls. Yesss…. That was where Tibetan people earn money to survive in their refugee camps. On the way home, Mr. Tirtha regretted Tibetan migration because China has paid more attention to Tibet welfare now.

A man who was so friendly explained some various meanings of  merchandises.

Entering this 56 year old village, I could get a peek at a little Tibetan culture. The way they dress and worship was an easy thing to grasp during this brief visitation. The hospitality of the tiny residents with brown skin and slanted eyes became something unforgettable. According to a confession from one of them, there were about 700 Tibetan refugees in this village. Even in the early days of their migration, there were about 2,000 residents.

Tashiling itself was only one of 12 refugee camps across Nepal. It was well known since Dalai Lama resistance, many Tibetans migrated to Nepal on 1959-1961.

Satisfied in seeing Tashiling’s face, I took time to sit at their small restaurant. I ordered a bowl of noodles for lunch. Simple menu for 150 Rupee which made me ready to continue the journey to next destination.

Description: D:BC ReportsFoto and VideoGo Abroad15. NepalIMG_20180101_162806742_HDR.jpg
It was delicious….Was there pork oil in?….Hahaha.

Come on, go to next destination….

Next Story—->

Menjajal Seoul Metro: Menuju Stasiun Hongik University

<—-Kisah Sebelumnya

Aku berusaha menyejajari Mr. Park yang tampak gesit untuk kecepatan langkah seusianya. Menunggui Seoul Metro di satu sisi platform, kami bercakap ringan saja. Aku bercerita tentang perjalananku menyusuri Asia Timur kepadanya. Kuselipkan beberapa kisah petualangan di Tokyo, Osaka dan Busan beberapa hari lalu. Mr. Park tampak cukup terkesima mendengarkan alur kisah yang kusampaikan seringkas mungkin.

Sedangkan Mr. Park, In Chul Park nama lengkapnya….Menceritakan aktivitas sehari-harinya yang berprofesi sebagai seorang Dokter Spesialis Obsetri dan Ginekologi (Obgyn) di Myongji Hospital  di Distrik Deokyang.

My job is to help the baby to be born”, begitulah dia menyampaikan perihal aktivitas kesehariannya.

Seoul Metro tiba….

Berada di Line 6, kami berdua memasuki gerbong tengah. Seluruh gerbong tampak sepi pagi itu. Para pekerja belum banyak yang memulai aktivitasnya. Kami berdua terduduk di bangku tengah dan melanjutkan percakapan ke topik-topik ringan berikutnya, mulai dari keluarga kecilnya hingga sedikit menyampaikan serba-serbi Kota Seoul, aku kebanjiran informasi berharga pagi itu. Aku lebih banyak berperan sebagai pendengar yang baik dalam percakapan kami berdua.

Dua puluh menit menjadi perjalanan bersama yang berharga bersama Mr. Park. Aku berpamitan lebih dahulu, karena aku harus turun di Stasiun Euljiro 3 (sam)-ga untuk berpindah ke Seoul Metro Line 2. Sementara Mr. Park masih melanjutkan perjalanan sejauh 14 stasiun lagi menuju Stasiun Hwajeong.

Turun di platform Stasiun Euljiro 3 (sam)-ga, aku mulai mencari koridor terusan menuju Stasiun Hongik University. Melihatku kebingungan mencari koridor itu, seorang lelaki tambun menghampiriku.

Dia: “Hello, Where will you go?”, dia mulai menyapa dengan pertanyaan.

Aku: “Hongik University Station, Sir. Which corridor should I choose?

Dia: “Wait….

Diapun tampak kebingungan dan berinisiatif mencegat seorang petugas Seoul Metro yang sedang melangkah di sebuah koridor. Mereka berdua tampak bercakap dan petugas Seoul Metro itu tampak menunjuk-nunjuk sisi lain bangunan stasiun.

Dia: “You must steps over there!”, lelaki tambun nan baik itu menunjukkanku sebuah arah setelah beberapa menit lalu bertanya kepasa petugas Seoul Metro.

Aku: “Thank you very much, Sir. You are a kind man”, aku sungguh merasa terbantu atas pertolongannya.

Pantas saja susah ditemukan, koridor itu ada di bagian ujung bangunan stasiun dengan bukaan koridor yang tak terlalu besar. Menelusuri koridor, membuatku sampai pada sebuah platform. Kini aku sudah berada di platform yang benar dengan kode warna hijau di setiap petunjuk.

Lima menit kemudian Seoul Metro tiba, aku segera mengalir di lorong-lorong bawah tanah Kota Seoul bersamanya. Seoul Line 2 tampak ramai dengan para mahasiswa. Mimik-mimik muda berpendidikan tampak berjejal di gerbong. Tak mendapatkan tempat duduk, membuatku harus berdiri di sepanjang 20 menit perjalanan lanjutan.

Akhirnya aku tiba di Stasiun Hongik University…..

Saatnya menuju ke Kimchee Guesthouse Sinchon

Kisah Berikutnya—->

Integrasi Teknologi dalam Bisnis Sembako

Bisa mengeyam pendidikan hingga perguruan tinggi merupakan sebuah anugerah istimewa bagi saya dan dua saudara kandung lainnya. Keterbatasan penghasilan tunggal dari pekerjaan ayah, menempatkan biaya kuliah sebagai penyerap dengan porsi tertinggi penghasilan beliau. Lalu bagaimana keluarga saya bisa menutup biaya kebutuhan lainnya kala itu? Dengan usaha yang sederhana dan mengandalkan kedisiplinan serta ketekunan, ibu saya menjalankan bisnis sembako rumahan untuk menutup semua kekurangan biaya keluarga. Usaha itu dengan konsisten dijalankan dengan manajemen sederhana hingga kami bertiga selesai mengenyam bangku perguruan tinggi kala itu.

Masa lampau itu kemudian menggelitik hati saya dengan sebuah pertanyaan. Bagaimana kondisi sesungguhnya bisnis sembako di masa sekarang?

Sepemahaman saya, bahwa saat ini bukan hanya ibu rumah tangga saja yang mengincar kegemilangan bisnis sembako. Bahkan kalangan muda milenial dan para pengusaha muda juga mulai melirik bisnis ini. Mereka berbondong-bondong menginvestasikan dananya dengan membuka toko-toko sembako.

Tetapi sebelum bicara lebih jauh, perlu disepakati bersama bahwa usaha retail merupakan mata rantai terakhir dalam distribusi kebutuhan rumah tangga, termasuk sembako didalamnya. Bisnis eceran ini memiliki peranan krusial dalam memfasilitasi aktivitas pribadi atau masyarakat dalam belanja kebutuhan sehari-hari. Di luar konteks pandemi, kita semua pantas bersyukur bahwa daya beli masyarakat Indonesia terus meningkat dan kekuatan demografi Indonesia telah mendorong jenis usaha retail menjadi entitas ekonomi yang memiliki peran penting dalam menyumbang Produk Domestik Bruto (PDB) dan menyediakan lapangan kerja yang bisa membantu mengatasi angka pengangguran.

Kondisi lain yang cukup menggembirakan adalah kaum muda milenial yang tertarik pada bisnis ini datang dengan ilmu manajemen usaha yang memadai untuk merubah tradisi-tradisi usaha konvensional dalam bisnis sembako. Mereka mulai berinisiatif membentuk toko-toko sembako modern.

Toko sembako (sumber: https://superapp.id/)

Untuk bertahan dan meningkatkan daya saing dalam ekonomi modern, toko sembako memang dituntut untuk bertransformasi cepat dengan merubah pola dan gaya bisnis retailnya. Sedangkan dilihat dari sudut lain, mengatasnamakan gengsi dalam berbelanja, saat ini pelanggan sangat concern terhadap estetika, design dan kehigienisan toko demi menciptakan pengalaman berbelanja yang nyaman dan berkelas.

Berbelanja di toko sembako yang berpenampilan rapi, berpencahayaan terang dan mengutamakan kebersihan adalah bagian dari perilaku konsumen saat ini. Niscaya, dengan rendahnya kualitas beberapa parameter di atas, bisa menjadikan pamor toko sembako menjadi terancam oleh kemunculan berbagai brand minimarket yang menjamur di banyak tempat.

Tetapi para pemilik toko sembako sebenarnya tidak perlu khawatir, sepanjang mereka menerapkan strategi yang tepat tentu bisnisnya akan memiliki kesempatan berkembang dengan baik.

Perubahan mindset memang mutlak diperlukan. Selama ini pemilik toko sembako umumnya memiliki mindset tradisional. Jika tidak segera dirubah, tak khayal mindset itu akan menjadi batu sandungan pertama dalam melawan hegemoni minimarket-minimarket penuh branding. Pemilik toko sembako hendaknya bermindset modern, berpenampilan menarik, mau belajar manajemen toko, pandai membangun kepercayaan pelanggan untuk menaikkan branding dan menjalankan strategi pemasaran dengan baik.

Bisnis sembako adalah usaha yang menggiurkan, selain tidak membutuhkan modal yang banyak juga cepat mendatangkan keuntungan. Pada level toko sembako sederhana, jika dihitung secara rata-rata maka bisnis sembako ini hanya membutuhkan modal tak lebih dari 10 juta. Adapun alokasi umum yang biasa diterapkan adalah 50% untuk penyediaan perlengkapan toko dan 50% sisanya digunakan penyediaan barang dagangan.

Dalam menjalankan bisnis sembako, pemasukan di awal usaha sangat diperlukan untuk menghidupkan cashflow yang akan memutar bisnis sembako di fase awal. Oleh karenanya penyediaan barang dagangan harus didominasi oleh barang-barang yang paling cepat laku di pasaran. Berdasarkan data dari superapp.id,  ada tujuh jenis barang yang paling cepat laku di pasaran, yaitu beras, minyak goreng, gula dan garam, perlengkapan mandi, pembalut dan pampers, mie instant dan telur, serta obat-obatan. Karena beberapa jenis sembako adalah barang yang memiliki masa kadaluarsa yang relatif cepat, hendaknya toko sembako menggunakan metode First In First Out dalam mengatur perputaran barang dagangan di tokonya.

Dengan bergulirnya cashflow, maka toko bisa mulai mendapatkan keuntungan. Keuntungan ini tentu bisa digunakan untuk keperluan pengembangan toko supaya kapasitasnya lebih besar lagi.

Manajemen stock berbasis teknologi

Selain menjual barang secara langsung di toko melalui transakti tatap muka, maka untuk memenuhi gaya hidup modern, hendaknya toko sembako juga mengkombinasikan mekanisme transaksinya dengan opsi belanja secara online. Tentu konteks belanja online ini semakin kuat di masa pandemi, kondisi yang terjadi menuntut toko sembako untuk menyediakan akses belanja super mudah kepada para pelanggannya. Konsep berjualan secara online secara tidak langsung juga akan mendekatkan toko kepada pelanggan melalui teknologi.

Selain mekanisme transaksi, salah satu prinsip sederhana dalam bisnis sembako yang harus dipegang teguh adalah jangan membiarkan sebuah produk yang biasa dijual mengalami kekosongan stock. Sekali saja pelanggan mendapatkan pengalaman gagal beli karena masalah stock, maka akan terbentuk sebuah persepsi mendasar bahwa toko sembako yang ditujunya bukanlah toko yang komplit. Persepsi ini biasanya akan menyebar cepat dari mulut ke mulut dan akan merugikan kelangsungan usaha toko sembako.

Selain itu, toko sembako juga harus selalu dijaga selama jam buka. Untuk toko sembako besar dengan banyak karyawan, tentunya hal ini tidak akan menjadi masalah. Tetapi untuk toko sembako kecil yang biasanya si pemilik merangkap sebagai karyawan toko maka hal ini menjadi tantangan tersendiri. Karena keterbatasan tenaga dan waktu, terkadang pemilik meninggalkan sejenak tokonya untuk mengerjakan aktivitas lain. Jangan sampai kondisi seperti ini membuat pelanggan yang datang untuk berbelanja, akan tetapi mereka harus kembali dengan tangan kosong karena toko tidak ada penjaga. Hal ini secara tidak langsung akan mempengaruhi psikologi pelanggan bahwa berbelanja di toko sembako kecil membuatnya tak terlayani dengan baik.

Masalah lain yang sering dialami toko sembako seperti ini adalah saat akan melakukan kulakan. Karena si pemilik tidak memiliki karyawan, maka mau tidak mau dia harus menutup tokonya untuk sementara ketikan akan berkulakan barang dagangan. Kulakan dalam konsep lama adalah sesuatu yang membutuhkan waktu khusus. Bayangkan saja jika dalam satu minggu Anda harus melakukan sekali kulakan karena luasan toko yang tidak begitu besar, maka waktu Anda untuk berjualan akan berkurang sebanyak empat hari dalam sebulan. Jika rerata omset bulanan Anda berkisar 10 juta maka Anda akan kehilangan omset 1,3 juta dalam sebulan atau 15,6 juta dalam setahun. Nah, bukankah itu angka yang sangat lumayan besar?

Meninggalkan cara-cara tradisional memberikan arti bahawa pemilik toko sembako seharusnya berfikir bagaimana memanfaatkan teknologi untuk membantu melancarkan bisnisnya. Selain itu, pemilik juga harus terbiasa membangun kolaborasi yang saling menguntungkan dengan pihak supplier yang berkompeten untuk membantu aktivitasnya berkulakan.

Solusi Tepat Aplikasi Super

Siapakah pihak ketiga yang tepat untuk diajak bekerjasama dalam hal ini?

Perlu diketahui, saat ini terdapat entitas business support yang menyediakan jasa pengadaan barang sembako secara online dengan harga grosir. Hal ini akan memudahkan pemilik toko sembako untuk melakukan kegiatan kulakan tanpa harus meninggalkan  toko. Sangat efektif dan efisien tentunya. Entitas business support ini bernama Aplikasi Super. Cukup memesan barang dagangan melalui Aplikasi Super, maka pesanan yang anda butuhkan akan tiba tepat di depan toko tepat waktu. Wah, enak ya….

Apakah Aplikasi Super sebatas membantu kebutuhan kulakan saja bagi toko-toko sembako?

Banyak pemilik toko sembako yang hanya berfokus untuk menjual barang dagangan di tokonya saja. Padahal jika mau berfikir lebih luas, para pemilik toko sembako ini bisa juga mensupply warung-warung kecil di sekitarnya untuk mendapatkan penghasilan tambahan.

Melalui program Super Agen dalam Aplikasi Super, toko sembako yang tak terlalu luas pun bisa menjadi supplier toko-toko lain tanpa perlu dipusingkan dalam menyetok barang dagangan karena Aplikasi Super akan menyediakan barang sehari setelah pemesanan.

Program Super Agen sendiri memberikan banyak peluang bagi pengusaha toko sembako dengan harga grosir yang murah dan bersaing, pengiriman super cepat, bonus tambahan dari pencapaian target transaksi hingga berangkat umrah ke tanah suci.

Apa yang menjadi pembeda dari Aplikasi Super?

Salah satu tahapan penting yang akan menentukan keberhasilan toko sembako adalah penyediaan barang dagangan dengan margin terbaik. Perhitungan margin  merupakan tahapan penting dalam bisnis apapun dan dimanapun. Oleh karenanya, tahap penting dalam bisnis toko sembako adalah mendapatkan barang dagangan dengan harga terbaik. Dan kabar gembiranya adalah, Aplikasi Super selalu memberikan kemudahan toko kelontong untuk mendapatkan update harga setiap hari dan tentunya margin harga yang sangat menguntungkan.

Selain harga yang bersaing, Aplikasi Super juga menyediakan produk dagangan yang lengkap, pemrosesan pesanan yang cepat, bebas biaya pengiriman dan kemudahan membayar dengan Cash On Delivery.

Selain program untuk pemilik toko sembako, Aplikasi Super juga meluncurkan beberapa program yang diperuntukkan bagi rumah tangga. Program yang diperuntukkan bagi kedua jenis kebutuhan ini, salah satunya adalah program Flash Sale Super Bohay. Program Super Bohay biasanya menerapkan diskon yang sangat menarik bagi toko dan rumah tangga. Beberapa contoh dari program Super Bohay ini adalah belanja serba goceng dan kulakan super murah.

Contoh program lainnya dari Aplikasi Super adalah Super Center yang bertujuan memajukan agen, pedagang, dan toko kelontong melalui 3P: Pelatihan, Pendapatan tambahan, dan Promosi.

Dari berbagai kemudahan dan keuntungan yang ditawarkan oleh Aplikasi Super, maka tunggu apalagi?

Mari berbisnis sembako dan segera install Aplikasi Super di handphonemu dan dapatkan akses bisnis sembako yang mudah dan menguntungkan.

Sadness at International Mountain Museum

<—-Previous Story

Mr. Raj nicely prepared a special dish for me. Two bull’s-eye eggs served together with a banana, two layers of toast covered with mango jam and a cup of hot Nepalese tea. While Mr. Tirtha seemed to say goodbye and went home to enjoy his breakfast which made by his wife in his own home and then he would come back to pick me up and go around Pokhara until afternoon.

Precisely on 11 o’clock, he came. Then we were joking for a moment in lobby while waiting for another trio backpackers to appear. One thing that I kept from our conversation last morning that I had to try a Nepalese typical culinary called Nepali Thali.

Yups, time to explored….

This 3 km trip to southeast was only interrupted once when Mr. Tirtha stopped and waiting for me to exchange dollars at a small money changer at Phewa Lake edge.

Description: D:BC ReportsFoto and VideoGo Abroad15. NepalIMG_20180101_151846723_HDR.jpg
15 minutes later, I arrived.

I started to enter a courtyard with a sandy ground base. Dust spread in all directions when cars passed by. Then at a ticket counter in the form of a small stone-patterned building, I got an entrance ticket for 450 Rupee.

Description: D:BC ReportsFoto and VideoGo Abroad15. NepalIMG_20180101_152021714_HDR.jpg
Taking the queue….

It was necessary to pass a special pedestrian path to reach museum’s main building. The path was lined by a row of towering trees but not so shady.

Description: D:BC ReportsFoto and VideoGo Abroad15. NepalIMG_20180101_152013349_HDR.jpg
Let’s walked.

Arriving at front courtyard, a small monument welcomed me. A monument dedicated to Himalayan climbers who never descended again because they had their souls resided in a blanket of Himalayan snow.

Description: D:BC ReportsFoto and VideoGo Abroad15. NepalIMG_20180101_140118842_HDR.jpg
They were called mountaineers.
Description: D:BC ReportsFoto and VideoGo Abroad15. NepalIMG_20180101_140412276_HDR.jpg
The Museum.

Stepping stairs to reached museum front gate, then I was greeted by a simple x-ray gate. In early hallways, museum displayed photographs of world’s iceberg peaks. Also displayed the typical clothes of countries concerned.

Slovenia with several icebergs, namely Triglav (2,864 m asl), Stol (2,236 m asl), Prisojnik (2,547 m asl) and Porezen (1,630 m asl) along with Gorenjska clothes.

Entering next corridor, the museum introduced ethnic diversity throughout Nepal. The tribe name and its distinctive clothes were nicely displayed. It should be noted that this country, which covering no more than 8% of the land area of ​​the Republic of Indonesia, had 126 ethnicities in it.

Description: D:BC ReportsFoto and VideoGo Abroad15. NepalIMG_20180101_144106128_HDR.jpg
Etnis Thakali darEthnic Thakali from Mustang District, Zona Dhaulagiri.

Entering central hall, museum displayed names of Himalayas peaks. The Himalayas alone provide 18 main peaks which challenge hikers from all over the world to climb them.

Description: D:BC ReportsFoto and VideoGo Abroad15. NepalIMG_20180101_144414344_HDR.jpg
Makalu peaks (8,464 m asl) and Lhotse (8,516 m asl).

Finally, at the end, the museum presented heroic stories of the Himalayas conquest by first-class climbers. In this section also described a number of tragedies which they have experienced with their various climbing missions. Very touching and heart wrenching.

Visitation in this museum was ended by walking along second floor towards museum exit gate. Here was a destinations in Pokhara which were eye-opening about Nepal and the Himalayas.

Please stop by if you visit Pokhara.

Next Story—->

Berburu T-Money bersama Mr. Park

<—-Kisah Sebelumnya

Gosok Gigi….

Itulah problema utama pagi itu. Tak ada tempat layak  untuk menunaikannya. Berbeda dengan bandara yang umumnya memiliki toilet kelas hotel berbintang. Ini terminal bus, man!

Tak sempat berfikir untuk sarapan, aku segera bangkit, memanggul kembali backpack biruku, melanjutkan identitas sebagai seorang backpacker. Kini aku akan menuju ke tengah kota.

Berada di Seoul Express Bus Terminal berarti aku berada di ujung selatan kota, tertahan semalaman di Distrik Seocho demi menunggu kereta pertama beroperasi. Aku bergegas menuju Stasiun Express Bus Terminal….Yupz, stasiun itulah yang terintegrasi dengan terminal dimana aku bermalam.

Sementara residu udara beku masih terasa lekat di kulit ari begitu setengah langkahku terjulur keluar dari gerbang terminal. “Gilaaa….”, batinku yang membatin. Kusegerakan langkah dengan menaikkan tempo kaki menuju gerbang stasiun.

Damn….”, gerbang itu masih terhalang oleh standing barrier.

Belum boleh masuk….”, batinku membuat kesimpulan.

Tergopohlah diri kembali menuju terminal. Kuputuskan menunggu hingga genap satu jam, melebihi setengah jam dari rit pertama kereta beroperasi.

Satu jam yang kumanfaatkan dengan membuka kembali lembaran peta dasa jalur Seoul Metro. Jumlah jalur yang satu lebih banyak dari jalur MRT-LRT milik Negeri Singa. Kapankah Jakarta akan mengejarnya?

Genap enam puluh menit menanti, kini aku merepetisi jejak menuju gerbang Stasiun Express Bus Terminal. Standing barrier itu telah sirna, penanda bahwa stasiun telah membuka diri bagi setiap tamunya.

Memasuki bangunan stasiun, pohon-pohon natal masih saja menyambut walau ini sudah hari ketiga bulan Januari, patung Santa Claus dengan sembilan rusa kutub kesayangannya menyapa dan tepat di pojokan sana security berbadan tambun dengan kelebihan bentuk perut melempar senyum. Dengan sigap dia menyambar topi dan Tongkat-T putihnya lalu berlari kecil menujuku. Sepertinya dia faham bahwa aku bukanlah penduduk Negeri Ginseng, oleh karenanya, dia berniat membantu. Walaupun sebetulnya, aku lebih tertantang menemukan untuk platform dengan caraku sendiri. But, It’s OK, lah.

Security tambun: “Hellooo, where wil you go?

Aku: “Hongik University Station, Sir”.

Security tambun: “Oh, OK. Where are you come from?

Aku: “Indonesia

Security tambun: “Hmmh, Malaysia?

Aku: “No Sir. Indonesia. A country at south of Malaysia”.

Security tambun: “Oh really, follow me!…follow me!”

Aku pun menguntitnya dari belakang

This way”, dia menunjuk sebuah lorong menuju salah satu platform”.

Thank you, Sir”, aku menutup percakapan sebelum dia kembali menempati posnya.

Menyusuri lorong hingga ujung, aku mulai mencari keberadaan ticket vending machine. Mesin itu ada di salah satu sisi. Lorong masih sepi, memungkinkanku untuk mengeksplorasi layar mesin itu. Tekun menjelajah layar, tak ada satu kata pun yang bisa menuntunku untuk mendapatkan One Day Pass.

Aku memunculkan sebuah inisiatif untuk menghadap ke petugas stasiun. Ruangan itu jelas ada di samping sana. Dua orang staff berseragam tampak memulai hari di meja kerjanya. Aku terlanjur mengetuk pintu kaca dan tatapan mereka serempak menuju ke arahku lalu diiringi lambaian salah satu diantara mereka sebagai tengara bahwa mereka mempersilahkan aku untuk masuk menghadapnya.

Aku: “Good morning, Sir?

Staff: “Yes, Can I help you?

Aku: “Does Seoul Metro sell One Day Pass for passenger?

Staff: “No No No, you must buy a regular card

Aku: “What is that?

Merasa kerepotan berbahasa Inggris, dia beranjak dari bangku dan menuju pintu. Dia melambaikan tangan kepadaku untuk mengikutinya. “there!”, dia menunjuk kepada sebuah kotak mesin.

Merasa peluang untuk mendapatkan One Day Pass menipis, aku pun menyerah dan menutup percakapan. “Oh, OK

Langkah kakiku cepat menuju kotak mesin itu. Merasa penasaran dengan apa yang bisa dijual oleh benda penuh teknologi itu. Aku berhenti sejenak, mengamati lekat penampakannya. Belum juga aku memencet apapun maka berdirilah di sampingku seorang lelaki, umurnya 40-an tetapi masih terlihat segar bugar, murah senyum dan tampak berpendidikan.

Dia: “Helloo…..Can I help you? Where are you come from?

Aku: “Hi, Indonesia Sir. Yeaa, I looking for the One Day Pass in this machine, Sir”.

Dia: “Oh, there isn’t One Day Pass in Seoul Metro. You must buy T-Money for your journey using Metro

Aku: “Oh, ya

Dia: “OK, I will help you to get it”. Dia mulai mendekat ke layar, kemudian gesit memencet-mencet tombol hingga tiba pada menu akhir ekseskusi. “You need to insert 3.000 Won to this machine!

Aku: “Oh , Ok, I see”….aku memasukkannya dan dia mulai memencet tombol eksekusi terakhir.

T-Money itu keluar dari mesin dengan packingan rapi  berwarna putih. Lelaki itu mengambilnya dan menyerahkan kepadaku.

Kemasan T-Money.
Ini dia wujud T-Money.

So now, you can explore Seoul by this. Come on we go to platform. Where is your destination?”, dia mulai megajakku melangkah

Hongik University Station, Sir”, aku mencoba mengimbangi kecepatan langkahnya.

Oh, do you study there?”.

Oh, No Sir, I am just traveling now. What is your name, Sir?

In Chul Park. Call me Park”, dia mengulurkan tangan

Donny, Sir”, aku menjabat tangannya.

Kini aku memiliki teman berbincang selama perjalanan menuju Kimchee Guesthouse Sinchon.

Thank you very much Mr. Park….

Menunggu Pagi di Seoul Express Bus Terminal

<—-Kisah Sebelumnya

Temperatur anjlok….Sudah dibawah titik beku.

Jam dinding bulat putih di arrival hall memamerkan jarumnya yang mulai merapat ke angka pertama dalam putarannya.

Arrival Gate Seoul Express Bus Terminal.

Kembali ke sepuluh menit sebelumnya, ketika aku bergegas melipat jemuran t-shirt dan kaos kaki dari jok ketika bus putih berkelir merah itu merapat di Seoul Express Bus Terminal.

Selamat Datang Seoul….Engkau akan menjadi kota terakhir dalam petualangan awal tahun itu.

Seturun dari bus, setiap penumpang bergegas menuju bangunan terminal demi menghinda hawa dingin kota. Sejenak arrival hall berubah ramai, beberapa toko penjaja makanan ringan dan kopi yang masih buka menjadi serbuan sebagian penumpang. Sementara sebagian yang lain memilih angkat kaki dari terminal, mengandalkan taksi untuk melanjutkan perjalanan ke titik akhir masing-masing.

Mencari tempat untuk tidur.

Aku berdiri terdiam, mengawasi lokasi sekitar, mencari tempat bermalam yang nyaman. Aku sudah faham bahwa MRT akan mulai beroperasi pagi nanti, sekitaran setengah enam. Jadi aku tak perlu berepot-repot memaksa diri menuju bangunan stasiun.

Tuah keberuntungan itu datang, dipojok kiri sana terlihat dua kolom bangku panjang, masing-masing besekat tiga tanpa sandaran dengan besi pembatas antar sekat. Membuatnya tak mungkin menjadi tempat tidur darurat dini hari itu. Kutaruh backpack di pojok bangku dan aku mulai duduk menghabiskan sisa malam.

Menunggu benar-benar sepi untuk mengakuisisi bangku.

Seiring bergulirnya jarum jam, para penumpang yang sedari tadi menikmati kopi panas dan makanan ringan mulai hengkang, menyisakan sepi. Beruntung toko-toko itu tak menutup diri walau si empunya pasti tertidur di lantai sambil menunggui dagangannya. Setidaknya aku tak merasa sendiri.

Bangungan terminal ini sungguh manusiawi. Bersih, terang dan aman walaupun aku tetap mengeluhkannya karena tetap saja tak kuasa menahan hawa beku dari luar sana. Hawa itu masuk menembus jendela-jendela kaca, membuatku tak sanggup memejamkan mata sama sekali.

Di tengah kesenyapan, aku beranjak bangkit, mencoba mendekati kios-kios makanan itu. Mengamati beberapa kaleng minuman yang mungkin bisa menemaniku malam itu. Aku sedang khusyu’ memilihnya ketika tiba-tiba sekerumun penumpang berjejal memasuki bangunan terminal. Sebuah armada bus antar kota tampak menyalakan lampu hazard sembari memuntahkan seluruh muatannya.

Nona Cantik: “Hello, how do I get to downtown?

Aku: “If you want to go there now, you have to take a taxi, Ms. MRT isn’t operating yet now”, buseet, guwe yang orang asing aja lebih tahu.

Nona Cantik: “Oh. Is’n operating yet?”, aroma nafasnya tercium wangi Soju.

Aku: “Yes absolutely, you can go by taxi or waiting here until morning”, berharap dia bisa menemaniku di terminal

Nona Cantik: “Oke..Oke”, dia tampak menuju ke sisi dinding terminal….”Oppaaaa…….@#$%^&*!?><”. Ah dia malah menelpon kekasihnya. Musnah sudah harapan.

Aku kembali ke jajaran minuman kaleng, mengambil salah satunya dan menebusnya dengan 800 Won.

Minum kopi manis dulu lah…..

Dalam sekejap, bangunan terminal kembali sepi. Aku terduduk lagi di bangku. Kali ini seorang sopir bus antar kota sudah duduk di barisan bangku sebelah, bersandar pada tembok dan tidur dengan lelapnya.

Sedangkan aku yang sangat terganggu dengan hawa beku, berusaha terus bergerak hingga pagi. Beruntung aku menyempatkan tidur dalam bus selama dua setengah jam dalam perjalanan malam tadi.

Ayolah Seoul, segeralah datang matahari pagi!….

Kisah Selanjutnya—->

Jalebi from Purano Bazaar

<—-Previous Story

It was still quite early in the morning when I started leaving Bindhyabasini Temple. Back in riding Mr. Tirtha’s daily rental taxi, I along with a trio of backpackers from hotel started down Pokhara-Baglung Street heading south. Mr. Tirtha planned to take me to an old market which was more than 250 years old. He said, this old market was called Purano Bazaar, but public often called it as Old Bazaar.

The road leads to Old Bazaar.

It was true that said by Mr. Tirtha that this temple and market are close to each other. Only 1.5 km away with 5 minutes of travel time. Quickly arrived, Mr. Tirtha dropped me off on a side of market and he threw his index finger in a corner as a sign that I should meet him there when my Purano Bazaar exploration was over. He wanted to enjoy situation in his own way. All I knew was that he hadn’t been exposed to coffee aroma since early morning.

Description: D:BC ReportsFoto and VideoGo Abroad15. NepalIMG_20180101_100636468_HDR.jpg
Starting to explore the market.

My stomach which started to feel hungry, automatically led me down market corridor to find street food as a breakfast. Before long, white smoke which rising from three furnaces caught my attention.

“Namaste”, said old merchant who was busy frying. Before answering, my heart laughed when it was the first time in my life to see Jalebi’s appearance. Yes, it is a kind of typical Indian street snacks which I got to know when Saroo and Guddu couldn’t afford to taste it because their money from stealing coal in a mining wagon was only enough to pay for a few bags of milk for their poor family in Ganesh Talai. A touching scene in a film which titled “Lion”. Since then I have been determined to taste Jalebi in India, although I was tasting faster in Nepal.

That old merchant who was initially stunned watching me when I spoke English to buy his food suddenly laughed and raised his hand while frowning. Then a young man in blue jacket who was enjoying his meal got up from his chair and with his fluent English helped that old man served me….Great.

Come on….It were sweet jalebi.

Going back down to market corridor, while munching on snacks, I enjoyed the classic Newar architecture which were shown by many old buildings. Each building always featured visual strength of red bricks which were integrated with distinctive carvings on building wood.

One of the buildings.

It was said that Newars originating from Bhaktapur in far east of Pokhara were skilled traders. Short story, King Kaski invited him to trade in Pokhara in 1752. And at that time Pokhara had also developed trading activities with Tibet as well. My mind agreed, because there was a Tibetan village in Pokhara….I would visit it later.

Description: D:BC ReportsFoto and VideoGo Abroad15. NepalIMG_20180101_100503369_HDR.jpg
Are my shoes cool?….#showingoff.

Market beauty could be felt because there were still no activity that morning. Himalayas sight was still an idol just down the road. Two bonus destinations which were well presented by Mr. Tirtha, a tall, thin Nepalese, has brown skin typical of South Asia but has slanted eyes like a Chinese.

Description: D:BC ReportsFoto and VideoGo Abroad15. NepalIMG_20180101_100620328_HDR.jpg
Nice view, right?

Come on, let’s have breakfast at hotel …

Check out the Purano Bazaar situation here: https://youtu.be/wVmGgYnTs-M

Next Story—->