Beit Al Qur’an: Sebuah Alternatif Datang….

<—-Kisah Sebelumnya

Lewat jam dua siang….

Aku sedikit menyeret kaki ke arah selatan, tentu karena rasa capek yang mulai menggelayut. Tak terasa aku sudah mengitari kota setengah dengan arah putaran berlawanan arah jarum jam, berhasil menyisir sisi barat hingga utara.

Saatnya bergerak ke sisi timur”, aku berujar dalam hati dengan sedikit rasa was-was jikalau matahari mendahului terbenam sebelum aku tiba di penginapan.

Aku kembali menyeberangi jalan bebas hambatan King Faisal Highway untuk menggapai Palace Avenue, sebuah jalan protokol yang membelah sisi timur ibukota Manama dari arah utara ke selatan.

Tiba di sebuah perempatan besar dengan tengara Ras Rumman Mosque, aku mengubah haluan menuju timur melalui Shaikh Hammad Causeway, sebuah jalan protokol selebar tak kurang dari 25 meter yang memiliki enam ruas dengan dua arah.

Shaikh Hamad Causeway telah kutetapkan sebagai akses berjalan kaki menuju museum modern penyimpan koleksi Al Qur’an langka, kaligrafi dan berbagai artefak Islam, Beit Al Qur’an adalah nama tempat tersebut.

Hampir dua kilometer menyeret langkah, akhirnya aku tiba.

Tapi……

Sepi……

Tak ada siapapun di terasnya. Aku yang tak mudah menyerah mencoba mengintip ke dalam ruangan gedung lewat pintu kaca. Aku melihat ada dua orang bercakap di dalam.

Lama tak mendapatkan perhatian, aku memutuskan menunggu hingga mereka keluar. Kuhabiskan beberapa saat waktuku di teras museum dengan membaca beberapa warta yang terhampar di papan informasi.

Tetapi dua orang di dalam tak kunjung keluar…..

Aku memutuskan untuk mendekati pintu kaca itu kembali. Mengetuknya, sesekali melambaikan kedua tangan lebar-lebar untuk mendapatkan perhatian kedua orang itu yang sedang asyik bercakap di dalam gedung.

Akhirnya…..

Satu di antara mereka menoleh ke arahku. Aku menjadi sumringah karena dia mulai melangkah menujuku. Aku pun bersiap menemuinya.

Tiba juga di Beit Al-Qur’an.
Kok Sepi…..
Aku pun meninggalkannya.

Can I help you, Sir?”, dia bertanya penuh senyum

Sir, can I go inside the museum to have a look around?”, aku mengajukan pertanyaan.

Oh God, I’m sorry, the museum is closed today. We are closed on Friday”, dia tampak sedih melihat keberadaanku.

Where are you come from?”, dia melanjutkan bertanya.

Very very far country, Sir….Indonesia”, aku menjelaskan sembari berharap.

You can come tomorrow”, dia membesarkan hatiku

Tommorow I will visit a destination outside Manama City, Sir”, aku memastikan.

Do you want to know about the history of Islam in Bahrain?”, dia sepertinya akan memberikan sebuah alternatif.

Sure, Sir”, aku antusias.

You can go to Al Fateh Grand Mosque, where an imam stands guard and explains about the Islamic history of our country. I think it’s a worthy substitute for this museum”, di menepuk-nepuk pundak kananku.

It’s an interesting idea for sure. Alright, I’ll go there now. Thank you for your suggestion, Sir”, aku akhirnya berpamitan dan melangkah pergi

The Avenues: Larangan Memotret yang Terlanggar…

<—-Kisah Sebelumnya

Usai sudah menikmati pesona Teluk Bahrain, aku pun meninggalkan The Avenues Park.

Untuk kemudian tatapan mata kulemparkan ke arah timur, ke sebuah bangunan melengkung memanjang persis di tepian Teluk Bahrain.

Aku menyusuri jalur utama The Avenues Park yang terkoneksi menuju bangunan modern itu. Jarak bangunan itu dari pusat taman berkisar setengah kilometer, cukup membuatku berkeringat untuk tiba persis di depan pintu masuknya.

Grand Avenue Gate”, aku membaca sebuah signboard berwarna merah tepat di dua outlet busana kenamaan, yaitu H&M dan Vitoria’s Secret.

Tanpa ragu aku memasuki pusat perbelanjaan berjuluk “The Avenues” itu. Begitu tiba di koridor utama maka aku mulai mengarahkan Canon EOS M10 ke beberapa titik ikonik.

Cekrek….Cekrek….Cekrek……, aku dengan santai mengabadikan sudut-sudut menarik di dalam ruangan.

Halo, Sir….Excuse me”, suara itu berasal dari balik punggung dan dalam sekejap aku menoleh ke belakang.

Yes, Sir….“, aku membalas sapaan pemuda berwajah khas Arab itu.

Sir, I’m sorry, You can’t take pictures in this shopping mall”, dia menjelaskan ramah sembari menunjuk ke arah kamera mirrorless yang kupegang.

Oh, Okay….I’m sorry, Sir”, aku bergegas memasukkan kamera ke dalam folding bag.

Thank you very much, Sir for your attention”, dia berpamitan pergi.

Maka sedari itu, aku melanjutkan langkah kaki, tetap mengelilingi pusat perbelanjaan, tapi aku hanya bisa menikmati dengan mata telanjang saja.

Tetapi keisenganku berkata lain….

Posisiku sudah jauh dari tempat awal diperingatkan oleh staff pusat perbelanjaan beberapa waktu sebelumya.

Kenapa aku tidak mengambil gambar dari gawai pintar saja?”, aku tiba-tiba memiliki ide nyeleneh.

Maka tanpa berpikir panjang lagi, aku mengeluarkan gawai pintar dan tanpa ragu aku mengambil beberapa gambar sembari melangkahkan kaki ke segenap penjuru pusat perbelanjaan itu.

Aku sungguh mengagumi tata letak dan bentuk arsitekturnya. Tampak di beberapa pertemuan koridor, atap dari pusat perbelanjaan itu dibuat dari kaca transparan sehingga sinar matahari mampu menerangi bagian dalam pusat perbelanjaan dengan maksimal. Bahkan beberapa atap dibuat dengan bentuk kubah sebagai identitas budaya Islam yang dimiliki oleh negara-negara di kawasan Timur Tengah.

The Avenues tampak depan.
Koridor bagian dalam The Avenues.
Area parkir The Avenues.
Sisi luar The Avenues di tepian Teluk Bahrain.
Water taxi terpakir di dekat pintu masuk bagian dalam The Avenues.

Usai menjelajah bagian dalam ruangan, maka aku bergegas menuju pintu yang langsung terhubung dengan tepian Teluk Bahrain.

Bagian inilah yang merupakan bagian paling menarik tentunya.

Tampak jelas di hadapan, pemandangan indah Teluk Bahrain yang dipadukan dengan begitu dekatnya kompleks Bahrain Bay di bagian seberang teluk.

Tampak di tepian teluk, menjulur panjang dermaga yang menyandarkan beberapa taksi air, transportasi umum yang menghantarkan para pengunjung The Avenues dari beberapa tempat di kawasan ibukota.

The Avenues memang ditujukan Kerajaan Bahrain untuk menjadi pusat destinasi wisatawan yang mengunjungi negeri itu. Oleh karenanya pusat perbelanjaan itu tampak dibangun dengan sangat serius dan intens. Konon, bentangan pusat perbelanjaan yang memanjang sejauh 1,5 kilometer di tepian teluk itu mampu 130 outlet ternama di seluruh dunia dan hampir separuh area bangunan digunakan sebagai restoran dan cafe.

Benar-benar pusat perbelanjaan yang mengagumkan.

Kisah Selanjutnya—->

The Avenues Park: Hujan Datang Lagi….

<—-Kisah Sebelumnya

Terlalu lama aku terbengong, antusias menikmati desain unik Bahrain World Trade Center. Tingginya yang menjulang hampir 250 meter dengan 50 lantai tersusun di dalamnya.

Bangunan berusia 14 tahun yang mengandalkan perpaduan arsitektur ala British dan Denmark itu berdiri gagah bak idola di Manama Center District, area bisnis di ibukota Bahrain. Pantas keanggunannya membuatku terpaku ketika berada di kaki-kaki raksasanya.

Sementara matahari yang terselip diantara sebaran awan sudah mulai tergelincir. Menunjukkan bahwa sore mulai mengakusisi hari.

“Aku harus bergegas”, aku membatin, mengingat aku telah berniat untuk mengeksplorai pusat kota dengan berjalan kaki hingga malam tiba.

Aku menatap sekitar, menentukan tempat lain yang hendak kusinggahi. Menghadap ke utara, mencari sela pandang diantara pepohonan yang berjajar di tepian King Faisal Highway, aku melihat hamparan air laut.

Tak salah lagi….Itu Teluk Bahrain”, aku sumringah.

Mengamati hamparan lurus King Faisal Highway, mataku awas mencari tempat untuk menyeberang dengan aman. Bersyukur aku menemukan sebuah perempatan besar dengan lampu lalu lintas yang sedang menghadang laju segenap kendaraan dari laju kencangnya di King Faisal Highway.

Aku harus melewati perempatan itu untuk tiba di seberang dengan aman”, aku memutuskan

Tanpa pikir panjang, aku segera menujunya, menunggu lampu-lampu lalu lintas berukuran besar itu menghadang laju kendaraan, lalu menyeberangi kedua ruasnya yang memiliki lebar tak kurang dari 75 meter.

Berada di tepian utara King Faisal Highway, aku mencoba mencari sela untuk bisa masuk ke trotoar demi mengamankan diri dari laju kencang kendaraan.

Tiba di trotoar, aku disambut dengan kehadiran kembali gerimis yang sejatinya telah menghilang satu jam lalu. Semakin lama semakin intens dan membuatku berlari-lari kecil mencari tempat berlindung.

Aku melihat tempat berteduh, tanpa pikir panjang, aku bergegas menujunya. Sesampainya di tempat itu, aku membersihkan rambutku yang basah dari air gerimis dan menepuk-nepuk beberapa bagian t-shirtku yan basah, hingga akhirnya aku tersadar bahwa aku telah berada di sebuah taman kota….Taman pantai tepatnya.

The Avenues Park”, aku membaca sebuah papan nama tepat di tengah taman.

Taman yang menarik”, aku antusias.

Memperhatikan luasannya, taman itu memiliki luasan tak kurang dari 8 hektar, menghiasi salah satu tepian Teluk Bahrain yang menyediakan pantai utama bagi warga ibukota.

Berteduh sekedarnya.
Kids Play Area.
The Avenues Park.
Bahrain Financial Harbour di sisi barat taman.
Four Seasons Hotel Bahrain Bay

Tampak satu pojoknya ditempati oleh keberadaan Kids Play Area yang tentunya sepi karena hujan, beberapa waktu sebelumnya, terdapat seorang ibu dan anaknya yang bermain di tempat itu tetapi terburu meninggalkannya karena mencari tempat berlindung dari gerimis yang telah berubah menjadi hujan ringan.

Mudah-mudahan hujan ini tak akan lama”, aku berharap karena tak mau terjebak di tempat itu hingga sore genap tiba secara sempurna.

Tak ada yang bisa aku lakukan kecuali hanya menunggu hujan ringan itu berhenti. Aku mencoba menikmati The Avenues Park itu dari tempat berteduh, tapi tetap tak menghilangkan aura cantiknya.

Beruntung lima belas menit kemudian hujan berhenti……

Saatnya melangkah di pusat taman dan menikmati pemandangannya di arah pantai. Tampak di seberang pantai membentang area Bahrain Bay yang dihiasi oleh bangunan-bangunan pencakar langit yang ikonik.

Sungguh pemandangan indah yang kutemukan tepat ketika matahari mulai tergelincir.

Kisah Selanjutnya—->

Lambaian Tangan di Manama Center District

<—-Kisah Sebelumnya

Hujan usai, gerimis pun tak bersisa. Jalanan masih basah, tapi di beberapa ruas sudah tampak mengering karena dilewati lalu lalang kendaraan.

Aku menengok ke sekitar usai berpaling dari kokohnya Bab Al Bahrain, sebuah pintu gerbang kerajaan di masa lalu.

Ternyata sisi timur lebih menarik minat hati. Aku menatap lekat-lekat arah itu. Tinggi rendah bentukan pencakar langit menjadi latar pandang hingga di ujung sana. Namun bangunan NBB Tower dengan lengkungan hijau dan kelir emas tampak mendominasi karena tepat berada di depan mata, tak jauh dari pandangan.

Jalan itu adalah jalan protokol dengan nama Government Avenue, jalanan selebar tiga puluh meter dengan dua arah arus.

Melangkah di pangkal ruas, aku tepat berada di seberang Amakin Building, gedung bertingkat seluas setengah hektar milik Bahrain Car Parks Company. Sementara Canon EOS M10 yang menjadi teman tunggalku dalam berpetualang mengarah kesana kemari mengikuti indahnya panorama kota.

“Haloooo…..Haiiiiii…..Halooooo”, aku tetiba mendengar suara itu dari atas.

Dua pemuda tampak berada di lantai teratas gedung parkir, melambaikan tangan dengan batang rokok di selipan tangan mereka masing-masing.

Mungkin mereka para driver yang menunggu tuannya”, aku membatin

Sontak aku mengarahkan kamera ke arah mereka dan mengabadikan lambaian tangan mereka.

Hoolaaaaaa….” Aku melambaikan tanganku

Mereka tersenyum dan mengacungkan jempol.

Sebuah intermezo yang menyenangkan tentunya.

Government Avenue.
NBB Tower (kiri).
BKK Main Branch (tengah).
Persilangan Palace Avenue dan Government Avenue.

Aku melanjutkan langkah, semakin ke timur. Menyusuri Government Avenue hingga tiba di perempatan jalan yang dipotong oleh Isa Al Kabeer Avenue yang tak kalah lebar membentang dari utara ke selatan. Tampak BBK Main Branch berdiri megah di salah satu sisinya.

Tapi bukan gedung itu yang kemudian mencuri segenap perhatianku.

Gedung kembar dengan triple skybridge di tengahnya, berpadu warna biru dan hijau, bertengger megah dari kejauhan.

Aku bergegas melangkah ke utara untuk mendekatinya, Aku terpaksa harus menghabiskan ruas Isa Al Kabeer di sisi terutara hingga tiba tepat di sisi selatan King Faisal Highway, ruasan panjang jalan tol yang apabila ditelusuri terus ke barat maka akan melintasi Teluk Bahrain dan akhirnya akan tiba di Khobar, salah satu distrik di wilayah negara Saudi Arabia.

Kembali di salah satu sisi selatan King Faisal Highway dimana aku berdiri. Tampak jelas bangunan teranggun di Distrik Manama Center, apalagi kalau bukan Bahrain World Trade Center yang lancip menjulang ke arah langit….Sangat indah.

Bahrain World Trade Center.
Triple skybridge yang mengagumkan.
Anggun kan?….

Akhirnya aku terhenti di bawahnya, terpukau cukup lama dan terlarut dalam menikmati rupa indah arsitekturnya….

Untuk beberapa waktu, aku malas beranjak daripadanya….

Biarkan aku menikmati sejenak keelokannya.

Kisah Selanjutnya—->

Foto Lama di Bab Al Bahrain

<—-Kisah Sebelumnya

Aku menuruni Lantai 2 Souq Bab Al Bahrain: The Mall melalui escalator sisi selatan, untuk kemudian keluar melalui sisi timur Naseef Restaurant, kontan bau harum dari beragam menu yang dihidangkan di meja-meja makannya  menusuk hidungku dan bahkan mencemari seluruh isi ruangan Lantai 1, membuat ruangan Lantai 1 mengharum, lalu secara otomatis membangkitkan rasa lapar dalam perut sebeum aku benar-benar keluar dari pusat perbelanjaan itu.

Sudah lewat dari jam sebelas siang”, aku membatin, “Pantas perutku mulai keroncongan”.

Tetapi aku berjuang melupakan rasa lapar itu. Aku memilih untuk lebih cepat berada di jalanan kembali.

Menapaklah kaki di salah satu ruas Bab Al Bahrain Avenue. Jalan yang kulewati itu berada di antara bangunan mall di sisi barat dan deret pertokan sisi timur yang menawarkan sembarang jenis kebutuhan  kepada para pengunjung.

Akhirnya aku merelakan diri untuk mengulang kembali perjalanan di salah satu koridor Souq Bab Al Bahrain. Karena langkah itu hanya langkah ulangan di Souq Bab Al Bahrain sejam lalu, maka aku tak begitu memperhatikan barang-barang dagangan di sepanjang pasar tua tersebut.

Aku terus berfokus melangkah menuju utara….

Hingga akhirnya aku tiba di sebuah gerbang kota nan besar, megah, juga elegan. Aku lantas mendekat tepat di bawah gerbang. Mencoba untuk mencari berbagai informasi yang bisa menjelaskan “gerbang apakah itu?

Ternyata gerbang besar dua lantai itu minim sekali memberikanku informasi. Aku hanya melihat sebuah angka tahun dalam Bahasa Latin dan sebuang angka tahun dalam Bahasa Arab yang membuatku paham bahwa gerbang kota itu telah berusia 73 tahun.

Memiliki struktur bangunan dengan luasan tak kurang dari seribu meter persegi, gerbang kota itu terletak persis berada di tepian Government Avenue. Gagah bersemat lambang negara berlapiskan emas tepat di sisi tengah atas gerbang.

Bab Al Bahrain sendiri secara geografis terletak di tepian pantai utara Bahrain, benar-benar tepat di kawasan pusat bisnis Kota Manama. Gerbang inilah yang mewakili pintu masuk kejayaan kerajaan di masa lalu.

Bab Al Bahrain Avenue.
Bab Al Bahrain sisi dalam.
Bab Al Bahrain sisi luar.
Me!
Goverment Avenue di sekitar Bab Al Bahrain.

Gerbang kota itu sungguh menjadi pusat perhatian setiap  wisatawan yang melintas di sekitarnya. Aku yang merasa kesulitan untuk mengambil swafoto berlatarkan gagahnya gerbang itu akhirnya menyerah. Aku memutuskan menunggu pelancong lain yang datang demi mengambil foto untuk kemudian meminta bantuannya untuk mengambilkanku foto diri. Strategi itu akhirnya berhasil setelah seorang wisatawan wanita berkebangsaan Belanda sudi memfoto diriku di depan gerbang kota tersebut.

Seusainya, aku berusaha menaiki salah satu tangga menuju ke Lantai 2. Aku berusaha menemukan informasi lain yang mungkin masih tersembunyi dan belum kuketahui.

Benar saja, di Lantai 2 aku menemukan sebuah foto terpajang di salah satu sisi dinding. Tampak sebuah foto lama yang memperlihatkan seorang polisi sedang mengatur lalu lintas di Isa Al Kabeer Avenue. Sebuah foto yang menandai akhir eksplorasiku di Bab Al Bahrain.

Aku mulai melangkah pergi menuju ke utara yang tampak jelas bahwa sebuah jalan besar akan menghadang langkah…..Ya, itu adalah bentangan King Faisal Highway…..

Kisah Selanjutnya—->

Souq Bab Al Bahrain: The Mall

<—-Kisah Sebelumnya

Butir-butir gerimis masih sesekali jatuh dari langit. Aku membiarkan rambut yang semakin membasah ketika kebanyakan warga lokal menutup kepalanya dengan apa saja atau bahkan beberapa diantaranya membentangkan payung di gang-gang sempit di wilayah Al Hadrami.

Menyusuri beberapa blok melalui jalan yang basah maka dengan sendirinya aku tiba di sebuah pasar tua, mungkin salah satu tempat perniagaan yang melegenda di Manama.

Pajangan rapi warna-warni lampu kaca khas Turki dan lembaran-lembaran karpet sutra rajut asli Kashmir hingga karpet tenun khas Iran terhampar di lapak-lapak tradisional pasar tua itu, kondisi itu tentu memberikan paparan seni di setiap tatapan mata pengunjung. Sedangkan aroma rempah-rempah membuat para pengunjung merasa betah berada di pasar tua itu.

Sementara itu, identitas Bahrain tertampil jelas di sepanjang pasar dengan bentangan panjang bendera-bendera kecil Bahrain yang tergantung di bentangan tali kenur yang memenuhi langit-langit gang.

Aku tertegun di beberapa kios demi mengamati beberapa aktivitas perniagaan. Selanjutnya, untuk membunuh rasa penasaran maka aku memutuskan untuk mengelilingi segenap sudut pasar….Mengasyikan.

Usai memutar 360 derajat, maka tibalah diriku di sebuah bangunan memanjang yang berada tepat di sisi selatan pasar tua itu

Souq Bab Al Bahrain: The Mall”, begitulah aku membaca nama bangunan itu.

Ternyata Souq Bab Al Bahrain memiliki wujud mall nya“, aku membatin.

Tanpa pikir panjang aku pun bergegas melangkahkan kaki demi melihat bagian dalamnya.

Memasuki pintu masuk mall, aku disambut dengan keramaian sebuah restoran yang keberadaannya menempati hampir sebagian besar ruangan lantai 1. Naseef Restaurant adalah nama tempat makan itu. Tampak sebaran foto Karak Tea Wajabati di segenap pojok restoran, menunjukkan bahwa minuman itu menjadi salah satu menu pavorit restoran. Es krim Safron juga tampak tersaji di meja-meja makan yang diduduki pengunjung restoran.

Sebuah keputusan strategis si pemilik restoran untuk membuka restoran di mall ini, tentunya para pengunjung Souq Bab Al Bahrain akan mampir menikmati menu lezatnya usai lelah berkeliling pasar demi berbelanja“, aku tersenyum memikirkan pernyataanku sendiri.

Selebihnya, sisa ruangan mall lantai 1 tampak diakuisisi oleh toko perhiasan, toko parfum dan beberapa jenis toko lain. Beberapa toko besar di lantai 1 itu bertajuk Munawar Jewellery dan Asgharali Perfume.

Souq Bab Al Bahrain.
Lampu kaca khas Turki.
Toko souvenir.
Lantai 1 Souq Bab Al Bahrain: Mall.
Naseef Restaurant.
Lantai 2 Souq Bab Al Bahrain: The Mall.


Tak berdaya dengan keberadaanku sendiri di lantai 1 karena tak mampu membeli apapun, aku bergegas meninggalkan lantai itu melalui escalator.

Escalator membawaku menuju ke lantai 2. Lantai atas mall itu lebih didominasi dengan deretan outlet yang menjual pakaian khas Timur Tengah, karpet dengan corak khas Arab, furniture dengan design khas, serta barang-barang antik yang mengkilat penampakannya.

Luasan mall yang tak seberapa, membuatku bisa dengan cepat menyusuri segenap sisi mall tersebut.

Oleh karenanya, tanpa berlama-lama, maka aku memutuskan untuk turun dan melanjutkan petualangan…..

Kisah Selanjutnya—->

Al Hadrami Avenue: Jalanan Membasah dan Pakaian pun Melembab

<—-Kisah Sebelumya

Melenggang dan melintas di depan Masjid Al Khawaja, aku mempercepat langkah karena gerimis mulai jatuh dengan intens, rintikannya menyertai setiap langkah kaki yang kuayunkan di sepanjang Bab Al Bahrain Avenue.

Aku terus melirik ke setiap sudut, mensimulasi jika hujan benar-benar tumpah. Mataku awas menatap setiap emperan pertokoan yang memungkinkan bagiku untuk berteduh ketika itu terjadi.

Benar saja, tak berselang lama usai berpikir demikan.

Byurrrr……

Hujan tumpah dari langit dengan derasnya. Aku yang sudah mengantisipasi kemungkinan tersebut dengan cepat merapat ke sebuah halaman toko baju yang berdinding kaca di bagian depannya. Aku hanya sesekali berusaha menghindari tampias air hujan yang terbang terbawa angin dan menimpa segenap pakaianku.

Setengah jam lamanya aku menunggu di emperan toko itu, sesekali para penjaga toko melihat keberadaanku dari dalam ruangan. Tapi aku menghiraukan saja tatapan aneh mereka.

Hujan akhirnya berhenti….

Bajuku menjadi lembab seusainya, aku berusaha berdamai dengan keadaan itu. Aku pun melanjutkan langkah di tengah jalanan yang basah.

Dari kejauhan dua opsir polisi mengamati kedatanganku. Keduanya tampak gagah berperawakan Arab, berseragam biru muda dan menenteng senapan laras panjang di lengannya.

Aku berusaha bersikap normal di bawah tatapan keduanya, hingga kemudian langkahku benar-benar mendekatinya. Demi mencairkan suasana, aku menganggukkan kepala kepadanya sembari melempar senyuman.

Bersyukurnya diriku, mereka menanggapinya dengan senyuman pula, menjadikan langkahku tak lagi canggung ketika mulai memasuki area baru….Al Hadrami.

Al Hadrami adalah sebuah nama blok yang tentunya ditengarai dengan keberadaan Al Hadrami Avenue.

Sebelum tiba di jalan iru, aku menyusuri ruas terakhir Bab Al Bahrain Avenue yang memiliki lebar kurang lebih enam meter dengan bangunan pertokoan nan rapat di kiri dan kanannya. Sepengamatanku, pertokoan itu menjajakan berbagai model sepatu dan beragam tekstil berikut jasa jahitnya.

Bab Al Bahrain Avenue.
Al Hadrami Avenue.
Road 475.
Road 435.

Dari ruas itu, kemudian aku mengambil arah ke sebelah timur demi menggapai Al Hadrami Avenue.

Aku mulai menelusuri jalanan basah yang lebih sempit dari ruas jalan sebelumnya. Tetapi setidaknya Al Hadrami Avenue tampak lebih ramah karena keramaian para pengunjung yang melintas di tengah-tengah hapitan pertokoan nan padat. Kali ini pertokoan di sekitar jalanan berubah bentuk dagangan. Aku dengan mudah menemukan toko mainan anak-anak, toko peralatan rumah tangga, money changer dengan brand Travelex, toko emas dan berlian serta beberapa toko lain yang tampaknya dimiliki oleh warga keturuan Bangladesh.

Aku mulai memasuki percabangan-percabangan dari Al Hadrami Avenue. Kuperhatikan dengan seksama, jalan-jalan itu dinamai dengan tiga angka di setiap percabangannya.

Masuklah aku di ruas Road 475….

Jalanan itu tampak indah, pada langit-langit gang tak jarang ditemukan bentangan rapat bendera-bendera Bahrain berukuran kecil yang berjajar membentang di sepanjang tali yang dilintangkan antar sudut gang.

Aku begitu menikmati suasana sejuk setelah hujan mengguyur area Al Hadrami. Hingga tak terasa langkah kakiku akhirnya mengantarkan diri di salah satu pasar tertua di Manama….Pasar itu bernama Souq Bab Al Bahrain.

Ada apa saja di dalamnya, ya?….

Kisah Selanjutnya—->

Khalaf House: Tampilan Rumah Masa Lalu Manama

<—-Kisah Sebelumnya

Keluar dari Bahrain Gold Souq aku kembali turun di jalanan Manama. Aku kembali berada di salah satu ruas Shaikh Abdulla Avenue.

Tetiba langkahku terhenti, tatapanku terkesiap pada sebuah signboard yang membangkitkan rasa ingin tahu dalam diri. Signboard itu menunjuk pada sebuah venue sejarah yang bisa menghantarkan pelancong menuju kenangan Manama masa lampau. “Memory of Manama”, begitu bunyi signboard terebut.

Tanpa pikir panjang aku mengikuti arah dari signboard tersebut. Kini aku berubah haluan ke selatan, menjauhi tujuan awalku yaitu Bab Al Bahrain. Aku masuk ke ruas Ammar bin Yasser Avenue. Nama Ammar bin Yasser pada jalan ini merujuk pada seorang sahabat Nabi Muhammad pada masa awal penyebaran Islam di Makkah.

Tekun berjalan hingga lima blok jauhnya, aku menemukan “Memory of Manama” yang dimaksud. Venue itu adalah sebuah rumah tradisional yang bernama Khalaf House. Rumah tersebut memiliki bentuk yang klasik dibandingkan dengan bangunan-bangunan lain di sekitarnya.

Di masa lalu, Khalaf House adalah milik seorang pedagang mutiara bernama Muhammad Salman Khalaf yang pada masanya berperan besar dalam mengembangkan perekonomian Bahrain.

Rumah ini telah berusia 101 tahun. Merupakan landmark budaya yang dimiliki Bahrain setelah keluarga Khalaf menyerahkan rumah tersebut kepada pemerintah Bahrain.

Dari informasi yang kudapat dari papan pengumuman sekitar, Khalaf House memiliki jam operasional dari Sabtu hingga Kamis dan menerima pengunjung dari pukul 8 pagi hingga pukul 7 sore.

Saat ini rumah tersebut menjadi kantor cabang dari Shaikh Ebrahim Bin Mohammed Al Khalifa Centre for Culture & Research. Shaikh Ebrahim Bin Mohammed Al Khalifa sendiri adalah putra dari Raja Bahrain keempat. Peperangan yang menyisakan duka di keluarganya membuatnya tak memilih politik sebagai jalan hidup, melainkan menjadi ilmuwan dan sastrawan sebagai pilihan hidupnya.

Tapi beribu sayang, venue wisata itu tertutup rapat pagi itu. Sedang ada proyek renovasi di dalamnya sehingga kondisi tersebut tak mengizinkan bagi turis untuk masuk ke dalamnya. Dari salah satu sisi rumah, aku berdiri dan memandang lekat-lekat rupa arsitektur tersebut.

Rumah dengan ketebalan dinding yang tertampil di pandangan menunjukkan bahwa rumah asli masyarakat Manama ini dimiliki oleh seorang yang kaya. Pintu-pintu berukir khas dan deretan jendela kayu berkualitas semakin mengamini pradugaku itu.

Sekilas rumah itu tampak eksklusif dengan serambi menjorok ke arah jalan di lantai keduanya. Bisa kubayangkan betapa prestisiusnya jika aku bisa menikmati senja di serambi itu sembari menyeruput secangkir kopi.

Khalaf House.
Serambi lantai 2.
Tampak belakang.
Zanjeel Al Haj Abbas.
Al Khawaja Mosque (kiri).

Tak mendapatkan banyak pemandangan lagi di sisi rumah itu, aku pergi. Aku melanjutkan perjalanan.

Untuk kemudian, aku melintasi bangunan bartajuk Zanjeel Al Haj Abbas, sebuah bangunan religius dengan tujuh bendera perkumpulan berwarna merah hitam berkibar ringan di deretan tiang di salah satu sisi bangunan. Entah bangunan untuk apakah itu?, aku tak paham.

Aku lalu bergerak ke arah barat untuk meninggalkannya, tujuanku adalah Bab Al Bahrain Avenue sisi selatan demi menuju landmark terkemuka Manama, apalagi kalau bukan Bab Al Bahrain.

Dalam beberapa menit, aku tiba di Masjid Al Khawaja, sebuah tempat ibadah dengan warna dominan ungu. Tempat ibadah yang menjadi penanda bahwa aku telah tiba di jalanan utama yang kutuju.

Kisah Selanjutnya—->

Satu Jam di Bahrain Gold Souq

<—-Kisah Sebelumnya

Menjelang pukul sembilan malam, aku memutuskan pulang ke penginapan setelah puas mengeksplorasi Andalus Garden. Kunjungan di taman kota itu menjadi pengalaman eksplorasi perdanaku di Bahrain. Sesuatu yang mengesankan karena aku baru tiba pada sore hari, tepatnya dua jam sebelum mengunjungi taman kota tersebut.

Melangkahkan kaki di sepanjang Shaikh Isa Avenue menuju utara, dalam jarak kurang lebih tiga ratus meter, aku tiba di Plaza Hotel tempatku menginap.

Aku memutuskan untuk secepatnya berbasuh di bawah air shower hangat, lalu beranjak tidur lebih cepat.

Aku harus segera memulihkan stamina, masih ada petualangan panjang di beberapa hari ke depan”, aku membatin.

Dengan cepatnya aku terlelap di atas ranjang. Itu semua karena Lelah badan usai menempuh perjalanan panjang dari Muscat sejak pagi hari hingga tiba di Manama pada kesorean harinya. Aku melewati malam perdanaku di Manama dengan terlelap sempurna.

—-****—-

Pagi telah tiba…..

Aku terbangun tepat di saat kumandang adzan Subuh lirih terdengar dari balik jendela. Usai melaksanakan shalat, aku tak lagi tidur. Aku menyempatkan untuk mengisi daya baterai segenap peralatan elektronikku mulai dari baterai kamera, smartphone dan power bank.

Menyelesaikan berbasuh, maka aku pun bersiap melakukan eksplorasi di hari keduaku di Manama. Aku memulainya dengan bersarapan di kedai makan kecil khas India yang sejak malam sebelumnya telah kuputuskan menjadi kedai makan langgananku selama di Manama. Hal itu tentu karena harga menunya yang bersahabat dengan kantongku sebagai seorang backpacker.

Sarapan telah usai, untuk kemudian aku memutuskan menuju pusat kota. Kali ini aku menetapkan Bab Al Bahrain sebagai destinasi berikutnya yang akan kukunjungi.

Jaraknya yang tak jauh dari hotel, membuatku untuk memutuskan berjalan kaki saja menujunya.

Paling tidak aku membutuhkan waktu 30 menit berjalan kaki untuk tiba di tujuan”, aku bergumam.

Bergeraklah aku menuju utara melalui Shaikh Isa Avenue. Jalanan pagi itu masih lengang, sesekali titik air hujan jatuh dari langit, menandakan langit Bahrain berpeluang menumpahkan air hujan kapanpun sesukanya.

Tiba di Shaikh Abdulla Avenue, aku memutuskan menuju barat. Konsistensi langkah, akhirnya mengantarkanku untuk tiba di sebuah perempatan dimana Bab Al Bahrain Avenue berada.

Tetiba pandanganku tertuju pada sebuah bangunan unik di perempatan tersebut. Banyak pengunjung berlalu lalang dari pintu utama di lantai pertamanya.

Bahrain Gold Souq”, aku melihat sebuah nameboard yang terpampang di sisi atas gerbang utama bangunan itu.

Oh, pasar emas”, aku menyimpulkan.

Bab Al Bahrain Avenue.
Bahrain Gold Souq tampak depan.
Lantai Ground tampak dari Lantai 1.
Etalase toko emas di dalamnya.
Cari berlian juga ada kok….

Pasar emas itu bernama Bahrain Gold Souq. Aku akhirnya masuk ke dalamnya juga. Ketika berada di salah satu escalator, aku bisa mengamati bahwa BahrainGold Souq memiliki tiga lantai. Deretan bendera Bahrain tampak menjadi penghias langit-langit pasar.

Beberapa kios emas di setiap lantai tampak memamerkan koleksi yang membuat etalase toko menjadi kelihatan elegan. Sedangkan sebuah tempat penukaran uang berada di sis barat pasar. Adalah Travelex yang menjadi tempat penukaran uang ternama di pasar emas tersebut.

Sayangnya bangunan seluas 300 meter persegi itu tidak memiliki tempat parkir, sehingga mengurangi nilai strategis dari pasar emas tersebut. Tentu pengunjung akan sedikit kerepotan jika ingin berbelanja emas karena akan berjibaku untuk memarkir kendaraannya.

Aku hanya meluangkan waktu tak lebih dari satu jam untuk menikmati perniagaan di pasar emas tersebut, untuk kemudian aku bersiap melanjutkan perjalanan ke Bab Al Bahrain.

Kisah Selanjutnya—->

Andalus Garden Menyambut Malam Perdana

<—-Kisah Sebelumnya

Usai menikmati santap malam di sebuah kedai makan kecil yang menjual makanan khas India, alih-alih pulang ke penginapan, aku justru melangkahkan kaki untuk mengeksplorasi area di sekitar Distrik Qudaibiya.

Dalam gelap aku melangkah ke selatan, blok demi blok aku lewati dengan sedikit perasaan was-was, mengingat suasana di jalanan tampak sepi.

Kecepatan langkah membuatku tak terasa bahwa sudah empat blok jauhnya aku berjalan, selanjutnya tibalah aku di sebuah pertigaan. Tanpa berpikir panjang aku berbelok ke arah timur dan mulai menapaki Khalid bin Waleed Avenue.

Khalid bin Waleed Avenue tampak lebih ramai dari jalanan sebelumnya. Mulai tampak kehadiran kendaraan pribadi yang berlalu-lalang di sepanjang jalan. Beberapa warga lokal juga tampak berjalan di sepanjang trotoar. Kondisi demikian yang membuat kekhawatiranku sirna seketika.

Melangkah dengan nyaman, aku berganti arah ke selatan setelah melahap trotoar sepanjang 200 meter. Al Ma’arif Avenue menjadi ruas baru yang kususuri. Sama seperti Khalid bin Waleed Avenue, Al Ma’arif Avenue tampak hidup malam itu. Membuatku kian bersemangat melangkah demi menemukan keramaian warga lokal.

Jalanan menuju Andalus Garden.
Jogging track.
Koridor tempat duduk pengunjung.
Area teater.
Bermain futsal.
Area parkir.

Tiga puluh menit sudah aku mengayunkan langkah semenjak keluar dari hotel hingga akhirnyab aku tiba di ujung timur sebuah taman kota nan luas dan penuh cahaya. Keramain warga lokal tercermin sebagai nadi kehidupan kota yang masih berdenyut malam itu. Andalus Garden adalah nama taman kota tersebut.

Ini dia yang kucari dari tadi”, aku bergumam girang.

Dalam sesaat, aku mulai memasuki taman.Mataku awas menatap sekitar. Dari panjang dan lebar yang kuamati, taman tersebut memiliki luasan tak kurang dari 3 hektar. Sedangkan secara tata letak, Andalus Garden diapit oleh tiga jalan besar yaitu Shaikh Isa Avenue di barat, Shaikh Daij Avenue di utara, dan Salmaniya Avenue di selatan.

Cahaya tampak menerangi setiap penjuru taman, jogging track selebar tiga meter menjadi fasilitas dasar taman. Sementara itu tempat duduk beton berkanopi disusun berjejer membentuk sebuah koridor dan mengindikasikan bahwa taman tampak ramah terhadap pengunjung.

Beberapa gazebo beton dibangun di beberapa sudut taman, dan area teater melingkar menjadi focal point dengan tempat duduk yang di desain ala dinding monumen. Malam itu area teater digunakan warga sebagai arena permainan bulu tangkis.

Dan yang menjadi pusat keramaian taman adalah sebidang lapangan futsal berpagar yang tampak dipenuhi para pemuda untuk bermain sepak bola di dalamnya.

Untuk beberapa saat aku bisa menikmati keberadaan ruang terbuka hijau tersebut dari sebuah tempat duduk. Aku merasakan sambutan hangat dari kota Manama di malam perdana kehadiranku. Tentu aku tak perlu khawatir jika aku pulang sedikit larut karena taman ini hanya berjarak tak lebih dari setengah kilometer dari penginapan yang kudiami.

Pulang menuju penginapan.

Selamat malam Manama !

Selamat malam Bahrain !

Kisah Selanjutnya—->