Intipan Hypothermia di Taj Express Menuju New Delhi

Buseet….Dikejar pengemis cilik yang tak terima karena cuma kukasih sebungkus beng-beng coklat yang kubawa dari Jakarta sejak seminggu lalu. “No….I need money”, katanya sembari terus mengintili aku dari belakang. Bahkan ketika aku membongkar isi backpack untuk mengontrol apakah ada benda-benda mencurigakan masuk setelah seharian kutaruh tas itu di bagasi taxi, si bocah tetap berdiri sembari mengoceh tak henti-henti di depanku yang sedang berjongkok di pojok stasiun untuk merapikan kembali backpack yang sudah acak-acakan. “Hi Boy….I don’t have much money….Sorry”, Aku menjarakkan mukaku hanya sejengkal dari mukanya. Dia hanya meliuk-liukkan leher sambil memperlihatakan gigi kelincinya.

Tepat jam 17:00, aku melewati metal detector stasiun Agra Cantt dengan mulus walau polisi berkumis melintir itu terus memandangku aneh. Selangkah kemudian aku menuju platform dan mencari informasi keberangkatan Taj Express 12279 di LCD board sederhana. Tertera suhu di angka 12 derajat….”Mulai mendingin”, batinku….”Delay”, otakku merekam informasi. Padahal seharusnya aku sudah meninggalkan kota Agra pada jam 18:40.

Tiket kelas CC (Chair Car) yang harga tiketnya hanya Rp. 51.000 tentu tak berakses menuju station lounge yang menawarkan udara hangat dan makanan enak didalamnya. Menyedihkan, aku tercecer bersama penumpang kasta bawah di sepanjang platform yang semakin dingin mengikuti putaran jarum jam stasiun Agra Cantt.

Lalu lalang kereta yang terus menjajikan harapan….Tak kunjung tiba.

Semakin lama berdiam duduk maka jari-jari tanganku mulai kebas. Sial….Aku salah perbekalan, jaketku kurang tebal. Terkadang toilet menjadi tempat hinggap sementara untuk menolak beku. Tapi itu tak bisa lama, toilet berbayar itu menebar bau pesing kemana-mana.

Suhu sudah dibawah 10 derajat memasuki jam 10 malam….Siaga

Aku tak mampu menyembunyikan panik ketika suhu menyentuh 7 derajat. Kaos kakiku tembus dan perlahan membasah membuatku seperti merendam kaki di air es. Sedangkan t-shirt rangkap 3 dibawah jaket tak mampu menangkap panas tubuh….Aku mulai merinding ringan di tengah malam.

Lihatlah pemuda India itu!….Ingin rasanya merampas paksa selimutnya.

Perlawanan menggunakan secangkir kecil chai (teh tarik) dan setangkup burger asongan tak bertahan lama. Akhirnya aku hanya terus bergerak untuk mengatasi dingin.

Taj Express baru merapat sekitar pukul 1:30 dinihari. Gembira bukan kepalang aku memasuki gerbong, tapi harapanku sirna ketika tak merasakan perubahan suhu ketika 5 menit duduk di bangkunya. Pantesan….Ternyata ada celah kecil di semua jendela gerbong yang memasukkan udara dingin kedalam. Walah….alamat.

Bahkan bangku sekotor itu tak membuatku jijik karena fokusku hanya melawan dingin.

Lebih menjengkelkan lagi, kereta ini benar-benar tak bergerak hampir 40 menit setelah tiba. Kini kondisi di dalam gerbong menjadi tak ada bedanya dengan kondisi di platform. Sementara penumpang lokal sudah tertidur bertutup rapat selimut, sementara aku masih sibuk melawan udara yang semakin mengancam. Aku mulai kefikiran tentang hypothermia. Benih kepanikan mulai tumbuh di otakku.

Gerbong yang tak bisa menyelamatkanku dari kedinginan.

Aku sudah tak peduli lagi walau kereta terus melaju mendekati New Delhi secara perlahan. Aku benar-benar terduduk meringkuk terengah-engah. Kukunyah burger tersisa untuk membantu menghasilkan panas tubuh sehingga memperpanjang asaku menaklukkan dingin.

Semakin masinis menaikkan kecepatan kereta maka aku semakin tak bisa bergerak. Aku seperti tak punya harapan, meringkuk kaku memeluk backpack sepanjang perjalanan. Hanya do’a senjata terakhir yang kumiliki. Di suhu 3 derajat Celcius dan entah telapak kaki bisa basah, telapak tangan  mengkerut pucat dan bibir menggeretak, aku seperti susah sekali menghirup nafas.

3 jam 10 menit aku benar-benar bak patung hingga akhirnya sekonyong-konyong aku sanggup melompat dari bangku dan memastikan apa yang kulihat di seberang jendela. Ya….Itu kereta  Metro Delhi….Aku sampai. Oh, Belum….masih setengah jam lagi baru benar-benar tiba. Setengah jam terakhir yang membuatku bisa tersenyum tipis untuk segera memasuki stasiun Hazrat Nizamuddin di kota New Delhi.

Selamat tinggal Agra dan selamat datang New Delhi

Terimakasih Tuhan.

Kharisma Merah Bata Agra Fort

Get off here and walk straight there. I will wait here for maximum 2 hours”, ucap pengemudi taxi sewa harian setelah meludahkan kunyahan sirih keluar jendela. Bekas ludahan sirih terlihat merata di area parkir kendaraan memang….Menyedihkan.

Loker penjualan tiket
Lumayan juga harganya….Rp. 98.000.

Tak menyiakan waktu, Aku segera menyelinap ke antrian pengunjung untuk membeli tiket masuk. Tak lama….Tak lebih dari 10 menit, tiket sudah digenggaman.

Aku tenggelam dalam keangkuhan julangan Benteng Merah. Benteng kota itu sungguh tinggi seakan mengawasi setiap gerik langkah orang yang mendekatinya. Kota Mughal seolah menjadi kota teraman di dunia dengan ketebalan dinding yang melingkarnya

Yuk mulai masuk….
Amar Singh Gate dihadapan.
Dinding benteng di sekitar main entrance

Layaknya benteng pertahanan, aku harus menyeberang kanal melalui sebuah jembatan yang menghubungkan jalanan utama kota Agra dan gerbang benteng itu sendiri. Memasukinya, setiap jalur kota di sisi dalam benteng harus dilalui dalam hapitan dinding yang perlahan berubah dari menyeramkan menjadi menyamankan.

Gerbang kedua dengan dinding 21 meter menjulang menjadikanku bak kurcaci.
Eksterior sekitar gerbang

UNESCO World Heritage Site yang berusia 4,5 abad ini adalah tempat tinggal seluruh anggota keluarga kerajaan Mughal. Benteng Merah otomatis berhenti berfungsi ketika ibukota kerajaan Mughal berpindah ke Delhi. Agra Fort sendiri terprakarsa dibangun karena terjadinya beberapa kali peperangan antar beberapa kerajaan yang ada di sekitar Hindustan hingga daerah Afghan.

Lalu….Kelicikanku mulai menguasai diri ketika intuisi “gratisan” menuntunku untuk mengekori langkah seorang tour guide yang sedang membawa turis-turis asal Tiongkok. Setiap penjelasan yang keluar dari bibirnya coba kucermati dan pahami. Beberapa turis mengernyitkan dahi ketika aku ketahuan sedang menguping, mereka sadar bahwa aku adalah penyusup dalam kelompoknya.

Yuk mari….Dengarkan dengan teliti!….

Satu hiburan yang menarik adalah ketika aku disodori sejumput bubuk kuning oleh seorang bapak tua. Aku bingung kenapa?. Ternyata beberapa detik kemudian tupai-tupai kecil naik ke tanganku dan memakan bubuk itu. Baru kulihat ada tupai super jinak seperti itu.

Tupai jinak di sekitaran benteng mendekat ke pengunjung.
Mengintip kondisi sekitar dari atas benteng
Taj Mahal samar terpantau dari Agra Fort.

Kemudian langkah mengantarku memasuki bangunan putih berjuluk Khas Mahal yang merupakan istana pribadi sang raja. Bangunan ini terbuat dari marmer dengan lukisan-lukisan indah di dalamnya.

Interior Khas Mahal
Air mancur di depan Khas Mahal

Tak jauh dari Khas Mahal, terlihat bangunan dua lantai berwarna putih dengan taman luas di depan pekarangannya. Bagian ini diberi nama Anguri Bagh.

Anguri Baghh berarti “The Grape Garden” yang merupakan taman pribadi milik anggota kerajaan perempuan.

Anguri Bagh
Golden Pavilion di sekitar Anguri Bagh
Bangunan di sekitar Anguri Bagh yang sedang di renovasi

Dan bagian terakhir yang kukunjungi adalah Jahangiri Mahal (sering disebut juga Jahangiri Palace). Inilah jantungnya Agra Fort. Istana megah yang diperuntukkan sebagai tempat tinggal istri raja.

Duh….Cakepnya….Siapa sih itu?

Singkat kata dan singkat langkah kemudian….Aku buru-buru ke stasiun Agra Cantt. Ditunggu kereta menuju New Delhi.

Merunut Shah Jahan, Menikmati Taj Mahal di Mehtab Bagh

Selepas penat mengurus pemerintahan Mughal, aku terbiasa menuju Taj Mahal untuk memantau progress pembangunannya. Kala sore menjelang, kuajak beberapa buruh Taj Mahal untuk menyeberangi sungai Yamuna dan kusambung dengan berteduh di sebuah tanah lapang untuk menikmati Taj Mahal yang berdiri megah tersiram oleh sinar senja merah jingga….Begitu indah, aku membayangkan itu. Membayangkan?….Ya, karena aku bukan Shah Jahan. Hanya dialah yang bisa melakukan aktivitas itu di masa lampau. Siapalah aku….Hahaha.

Taj Mahal tertangkap dari Mehtab Bagh

Aku tiba setelah 10 menit sebelumnya masih mengeksplore Itimad ud Daulah di Barat Laut Mehtab Bagh. Taman indah nan luas itu belum juga mencuri perhatianku, karena aku lebih tertarik dengan aksi seorang bapak setengah tua membolak-balik gorengannya sehingga menebarkan aroma harum penggugah selera. Pantaslah banyak orang bersedia mengantri untuk mencicipinya. Kurelakan Rp. 10.000 untuk menebus dan melahapnya, french fries panas beraroma samar kari menjadi menu cemilanku sebelum mamasuki Mehtab Bagh.

Beli tiket dulu lah sebelum masuk.

Aku segera menuju gerbang disertai membeli tiket seharga Rp. 40.000. Sontak terkagum dengan kondisi taman. Jalur yang tertata rapi itu diperindah dengan kolom bunga yang memanjang di tengahnya. Difasilitasi pula oleh bangku di beberapa spot. Bangku yang hampir semua terduduki oleh pasangan muda-mudi India yang sedang terjangkit asmara. Aku tak bisa menampiknya, karena memang taman itu sangatlah romantic, sesuai namanya. Kamu tahu kan arti kata Mehtab Bagh?….Mehtab Bagh memiliki makna yang sama dengan Moonlight Garden. Beuh….Gimana ga indehoy tuh.

Rapi banget kan?…

Ketika muda-mudi itu saling berpandang dalam ketertarikan masing-masing maku aku lebih tertarik menuju ke sebelah kanan taman karena dari kejauhan penampakan Taj Mahal itu begitu mempesona mata. Kini aku baru tahu, kenapa Shah Jahan sering meluangkan waktu sorenya untuk sekedar bersimpuh memandangi karyanya disini. Bahkan dia pernah berniat membuat Taj Mahal kembar berwarna hitam di Mehtab Bagh. Namun niat itu urung karena dia keburu menjadi tahanan rumah di Agra Fort pasca dikudeta anak laki-lakinya sendiri. Si anak khawatir terhadap keuangan kerajaan yang rawan dihabiskan ayahnya untuk merealisasikan niatnya itu.

Lihatlah fondasi itu!….Cikal Bakal Black Taj Mahal yang gagal.

Semua pengunjung pasti merasa aman ketika berada di taman, karena dua serdadu muda bersenjata lengkap berkeliling taman untuk mengamankan situasi.

Serdadu: “Where are you come from?”, seloroh beriring senyum.

Aku: “Indonesia, Sir”, timpal membalas senyum.

Serdadu: “How about Taj Mahal?. It’s good. Are you happy?”

Aku: “Yes, Sir. It’s beautiful. I Love it”, imbuhku.

Serdadu: “Enjoy

Aku: “Thanks Sir”.

Pepohonan nan rindang di taman.
Sisi lain taman.

Aku tak bisa benar-benar menuju ke tepian sungai Yamuna karena pengelola taman membatasi taman dengan kawat besi. Kulihat seorang turis Eropa terkesan professional ketika mengeluarkan DSLR berteropong panjang dan mengambil banyak sekali gambar Taj Mahal dari berbagai sisi yang dia suka tepat di depan pagar kawat itu. Aku hanya membayangkan jika suatu saat bisa memiliki kamera seperti itu dan berkeliling dunia mengambil gambar-gambar ciamik untuk kalian lihat. Alhamdulillah, Akhirnya 3 bulan kemudian aku memiliki kamera mirrorles Canon EOS M10. Tak sebaik miliknya, tetapi cukup bagiku yang berpenghasilan pas-pasan untuk menangkap gambar lebih baik….Hahaha #curcol

Cukup rasanya meniru aksi Shah Jahan di Mehtab Bagh. Kini aku akan melihat Agra Fort, tempat Shah Jahan dipenjara….Kesian. #sedih

Itimad ud Daulah….Cetak Biru Taj Mahal milik Ghiyas Beg

Description: D:\BLUE PRINT\travelingpersecond\Baby Taj 01.JPG
Itimad ud Daulah

Taj Mahal boleh saja tersohor di muka bumi. Tetapi sesungguhnya dibalik kemasyhurannya, ada satu kreasi arsitektur yang telah disepakati dunia sebagai blueprintnya Taj Mahal. Prototype itu ada pada Itimad ud Daulah.

Sangat bersyukur, aku berkesempatan melongoknya siang itu. Bak kejutan membaca novel. Kali ini Bab Pendahuluan dimulai dengan sekonyong-konyong keluarnya barisan keledai yang mengangkut bata merah diiringi nyanyian sang pemilik. Takjub melihat para donkey “mengucap permisi” di depanku. Seumur hidup baru kali ini melihat satwa itu berjarak satu meter dihadapan. Sang pemilik hanya melempar senyum melihatku menganga tanpa berkedip mata sembari tangan menekan tombol record kamera HP.

Keledai dan pemiliknya

Merogoh kocek Rp. 38.000, aku merangsek masuk ke pelataran “Baby Taj” (panggilan kesayangan Itimad ud Daulah).

Dapatkan tiketnya di gerbang depan.

Jika Taj Mahal menjadi milik Mumtaz Mahal, maka Itimad ud Daulah menjadi milik Mirza Ghiyas Beg yang tak lain adalah kakek dari Mumtaz Mahal. Taj Mahal dibangun oleh suami Mumtaz Mahal, maka Itimad ud Daulah dibangun oleh Nur Jahan yang merupakan anak Ghiyas Beg.

Pintu sebelum masuk ke makam
Ini dia makan Mirza Ghiyas Beg dan istrinya

Menulusuri bagian demi bagian, nalarku mengkonfirmasi bahwa Itimad ud Daulah adalah bentuk mini Taj Mahal. Tak sama persis tetapi arsitektur, desain interior dan eksterior mendekati mirip. Masih sama, mengandalkan marmer putih sebagai tampilan utama.

Interior Itimad ud Daulah
Bagus kan….

Cuaca yang mulai menghangat membuatku terduduk nyaman sembari menikmati keindahan mausoleum itu. Kali ini, pandanganku sedikit terinterupsi dengan kedatangan seorang turis cantik berambut pirang panjang. Bukan parasnya yang menggodaku, tetapi kekagumanku pada effortnya mendatangi Itimad ud Daulah dalam kondisi bertongkat kruk dan balutan gips yang menandakan ada cedera parah di kaki kanannya. Susah payah dia berusaha duduk di pelataran sembari mengarahkan DSLRnya kesana kemari. Diselingi sesekali membaca Lonely Planet yang dikeluarkan dari backpack kecilnya. Sayang,  aku tak memberanikan diri untuk menyapa. Kecantikannya membuatku tak berkutik….Backpacker pengecut kamu, Don!.

Bab Penutup eksplorasi Itimad ud Daulah dimulai dengan melangkah ke gerbang di sisi kanan. Aku sungguh terpesona akan hamparan sungai yang luas nan mulai mengering. Aku tentu tahu itu sungai Yamuna yang oleh umat Hindu India dianggap sebagai Dewi Yamuna, yaitu Dewi yang dipercaya bisa membebaskan mereka dari siksa kematian apabila  bersuci dengan airnya.

Gerbang yang berbatasan langsung dengan sungai Yamuna
Sungai Yamuna

Begitulah…Sungai Yamuna menjadi penutup sesi eksplorasiku di Itimad ud Daulah. Penasaran dalam menantikan berbagai kejutan atas keindahan arsitektur Agra di lokasi lain yang akan kukunjungi hingga sore menjelang.

Melangkah keluar, aku mulai membuka peta dan menggerakkan niat untuk mengunjungi Mehtab Bagh, sebuah taman mempesona yang merupakan titik terbaik untuk menikmati keindahan Taj Mahal.

Yuk kutunjukkan tempatnya dimana!

Gagal Total Bertamu di Taj Mahal

Gebu semangat menyongsong Taj Mahal yang tak lebih tinggi dari nyali remeh temeh dalam menaklukkan dinginnya setiap tetes air yang keluar dari shower goStops Agra telah mempermalukan diriku sendiri di sebuah Sabtu pagi.

Jarum di angka 7 persis, taxi yang kami sewa harian melalui sharing cost tiba dan si pengemudi telah menunggu di lobby hostel sembari mendekapkan erat kedua tangannya sebagai pertanda bahwa dia telah diterpa kedinginan yang menusuk di luar sana.

Mau tahu harga sewa taxi putihnya?….Boleh….Rp. 240.000 yang dibagi empat orang. So, Rp. 60.000 harus kurelakan untuk naik diatas rodanya.

Bersikat gigi tanpa mandi, aku menghampiri dan mengajaknya bercakap sembari menunggu 3 turis lain turun. “No need long time to reach Taj Mahal, brother”, tutur pertamanya sembari menggeleng-geleng kepala ala India menjadi pembuka percakapan pagi itu. “Nice”, timpalku sembari sibuk membenahi winter jacket dan shall yang melingkar di leher.

Sepuluh menit selanjutnya, asap knalpotnya mulai mengakuisisi kabut tebal di sepanjang Agra-Bah Road. Benar saja katanya, 15 menit kemudian dia meminta kami turun dan menunjuk sebuah bajaj seharga Rp. 40.000 untuk melanjutkan perjalanan menuju Taj Majal Eastern Gate. Tak menjadi masalah dengan harga karena bajaj itu akhirnya kami tunggangi berempat….Dasar turis tak beradab….Hahaha.

Jam 07:30, para turis telah mengantri berburu tiket seharga Rp. 98.000
Tiketku digenggaman

Bodoh sangat!…..Rasa ingin tahu yang membabi buta telah menutup logikaku pagi itu. Tak pernah berfikir jernih sedari berangkat meninggalkan hostel bahwa badai kabut tebal kota Agra akan menutup pelataran Taj Mahal secara sempurna….Ah, aku berdiri lama menghela nafas panjang kesal di gerbang masuk Taj Mahal. Tak mampu melihat apapun 10 meter didepan. Hanya kabut tebal yang membuatku perlahan membeku.

Tak ada pilihan, suka tak suka, aku harus mulai menjelajah Taj Mahal dengan jaminan pasti bahwa aku tak akan pernah menikmati kemolekannya secara sempurna.

Aku mulai menaiki tangga perlahan memasuki gerbang pertama situs termasyhur itu. Gerbang pertama ini bernama Jilau Khana.

Area sekitar Jilau Khana atau sering disebut forecourt. Bahasa Jawanya “halaman depan”.

Yang terjadi sungguh di luar nalar. Belum juga selesai menikmati merah batanya Jilau Khana, langkah kaki otomatisku tak terbendung mendekat ke bangunan utama. Taj Mahal bak magnet bagi siapa saja yang berkunjung.

Jalan penghubung antara Jilau Khana dan gerbang utama

Sebelum tiba di bangunan utama….Sekitar 100 meter kemudian, aku mencapai gerbang utama nan agung.

Namanya Darwaza-i-rauza atau sering disebut Great Gate

Mulai terdengar keluhan para bule itu sembari menyalahkan sang kabut.”I can’t take a picture!”, keluhnya kepada sesama temannya. Kecut tersenyum dengan sunggingan sebelah bibir, aku tak memperdulikan kekecewaan yang sama.

Lihatlah ukiran di bagian dalam Darwaza-i-rauza itu!

Lalu dimana bangunan utama Taj Mahal yang selalu diburu para traveler dunia?

Yup….350 meter di utara Darwaza-i-rauza adalah letak Taj Mahal, makam dua sejoli yang melegenda. Shah Jahan sang raja dan Mumtaz Mahal sang permaisuri keturunan Persia yang konon cantik luar biasa.

Tak berlama waktu, aku segera memasang penutup sepatu untuk kemudian bersiap memasuki Taj Mahal

shoe cover akan diberikan saat membeli tiket.

Layaknya masjid, Taj Mahal dilengkapi dengan empat minaret di setiap sisinya. Kebesaran kerajaan Mughal tercermin dari setiap jengkal Taj Mahal yang tersusun dari marmer putih yang didatangkan khusus dari Rajashtan dan batu safir yang dikirim dari Sri Lanka.

Minaret setinggi 40 meter dengan dinding silinder.

Hal menggelitik lain ketika mengunjungi Taj Mahal adalah dikala setiap pengunjung berjalan teratur mengikuti alur yang sudah dibuat petugas untuk menikmati setiap sisi ruang utama Taj Mahal dimana makam Mumtaz Mahal berada. Tiga polisi bersenjata lengkap mengawasi setiap pengunjung dengan cermat. Terkadang mereka berseloroh ke beberapa turis untuk segera melangkah karena keasyikan mengambil photo dan membuat alur jalan menjadi macet.

Dinding Taj Mahal
Jendela Taj Mahal
Indahnya seni kaligrafi  Taj Mahal
Lumayan lah….Daripada tidak sama sekali

Begitulah adanya, Taj Mahal yang berusia 372 tahun ini memang mempesona. Tak khayal, 4 juta wisatawan tertarik mengunjunginya setiap tahun.

Selesai menikmati Taj Mahal, maka aku segeran undur diri dan kembali ke eastern gate menuju taxi yang menungguku.

Aku kembali ke timur….Kamu mau kembali lewat mana?

Jhelum Express dari New Delhi ke Agra

Saatnya mengeksekusi tiket.

Nomor 11078 yang merupakan nomor keberangkatanku hanya muncul sekali saja di display board. Setelahnya lama tak muncul kembali, aku terduduk di platform dan terus mengamati display board itu….Hilang sudah!

Penantian tak ada akhir di platfom 4.

Aku: “Sir, can you give me some information?. My train number 11078 is never appear again in that display board. Even though my train will depart on 10:15 am.”.

Si Tampan: “If your train number disappears from the screen. That means your train is getting delay. “Haze storms” which routinely occur every year indeed often make many trains delay for hours.”

Aku kembali menuju konter dan menanyakan tentang masalah ini. Mereka hanya meminta maaf dan membenarkan bahwa kereta delay. Dia memperkirakan kereta akan berangkat jam 16:00….Busyeettt.

Untuk mengusir kejenuhan yang tak berujung, aku bertolak menuju Khan Market. Daripada bengong lebih baik aku mengoleksi satu destinasi wisata di New Delhi untuk kubagikan bersama kalian tentangnya….Nanti ya, pasti akan kutulis.

Salah satu sudut Khan Market, New Delhi.

—-****—-

Pukul 14:00….Memastikan kembali setiap ikatan dan kuncian di backpack, aku segera menuju New Delhi Railway Station untuk menaiki Jhelum Express yang akan segera datang menjemputku.

Penasaran yang luar biasa untuk segera berbaur dengan masyarakat India dalam satu gerbong kelas ekonomi, membuatku menjadi orang paling tidak sabar di dunia sore itu.

Potret kesenjangan di Ibukota India.

Lokomotif merah kusam itu berteriak melengking mendekatiku seraya meringis menggigit rel untuk berhenti tepat di platform 4

Belum juga lokomotif itu menghentikan setiap gerbongnya dengan sempurna, para penumpang berlari….berjejal memasuki gerbong. Aku hanya tersenyum dan terpana dengan keunikan warga India. Sementara mereka berdesakan masuk, aku masih sibuk memahami penomoran gerbong karena ada gerbong bernomor 10 dan 10A. Dasar iseng nih orang yang punya ide menomori demikian. Setelah bolak-balik ke depan dan ke belakang, akhirnya aku menemukan gerbongnya….Yups, gerbong S3 kursi no 41 Low Berth (bangku bawah).

Benar adanya, keruwetan yang kubayangkan sejak awal membeli tiket terjadi. Gerbong itu sangat berjubel dan membuatnya terasa sempit.

Bangku teralokasi tiga penumpang saling berhadapan ditambah satu bangku lipat panjang diatas kepalaku yang digunakan sebagai sleeper seat (Upper Berth)….Ah, aku semakin mencintai kondisi ini. Kejadian yang menakjubkan.

Hello Sir, Excuse me”, seorang laki-laki muda melewat didepanku sambil menggandeng istrinya lalu duduk berhadapan denganku. Senyum tanpa dosanya membuat bibirku pun melakukan hal yang sama. Bagaimana tidak, di depanku sekarang telah duduk 4 penumpang dengan kursi yang hanya bertuliskan tiga nomor saja….Hahaha.

Sembari kereta berjalan, aku mendengar sayup-sayup gertakan yang entah itu marah atau memang begitu adanya. Kondektur tambun berkumis melintir itu mengecek satu persatu tiket tamunya. Satu penumpang di seberang kursiku dimarahinya habis-habisan gegara tak mampu menunjukkan tiket, si penumpang lalu menunjukkan sebuah kartu terlaminating dari dalam dompetnya. Dan entah itu apa, mampu mengusir kondektur tambun itu dengan efektif dari hadapannya….Damn.

Bapak pekerja kantoran di kiri depanku mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Bak film-film India, adat itu masih dijunjungnya. Rantang panjang bertumpuk empat berbahan stainless beraroma kari diangkatnya tinggi-tinggi. Andai dia tahu muka hatiku, pasti dia tersenyum melihatnya terbahak….Omaigat, ini mah India yang orisinil. Seolah menjadi menjadi pemicu ledakan, penumpang lain dikiri kananku pun melakukan hal yang sama.

Kemurahan hati itu terpancar seiring dengan tutur mereka menawarkan diri untuk makan bersama sebagai satu keluarga di dalam kereta. Kuterima? Tidak….Aku juga mengeluarkan setangkup burger lokal seharga Rp. 10.000 yang terbeli di platform stasiun sore tadi. Mari kita makan bersama….

Si Bapak dipinggir jendela menjadi orang tersibuk sepanjang perjalanan karena harus terus menutup jendela kayu yang kait penguncinya sudah usang. Setiap sekian menit jandela itu akan tertarik ke atas dan memasukkan udara super dingin ke dalam gerbong.

Mungkin kondisi itulah yang dimanfaatkan oleh penjual chai untuk berfokus di gerbongku demi menghabiskan dagangannya. “Chai”, nama lain dari teh tarik yang melegenda di Dhaka, terfavorit di India dan menyebar ke Malaysia. Girang hatinya, tumpukan gelas kertas yang digenggamnya semakin memendek. Dia akan pulang dengan keuntungan berlipat kali ini.

Kelucuan penjual mainan anak-anak membuat seisi kereta tak henti-hentinya terbahak. Dia melempar spiderman karetnya kesana kemari sesuka hati. Hebatnya, si spiderman itu bisa menempel dengan sempurna….Hahaha. Hiburan untuk melupakan masalah kehidupan seharian yang sudah mereka hadapi.

Guys….Kapan terakhir kali kereta kita masih ada penjual segala macam di dalam gerbong?….Hahaha….Aku saja sudah lupa saking lamanya aturan itu diketatkan.

Kereta yang berhenti….Menurunkan….Menaikkan penumpang….Lalu melaju kembali dan terus mengulangnya di setiap stasiun baru membuatku sadar bahwa tak pernah ada pengumuman kereta berhenti di stasiun mana?.

Aku: “How long will the train run to its last destination?”

Dia: “Jhelum Express will stop in Pune on 6 am tomorrow morning

Aku: “Thanks Sir”, Aku tersenyum pahit penuh kekhawatiran.

Kini musuhku satu….Informasi, ketiadaan paket data di gawaiku semakin memperkuat musuh bebuyutanku malam itu. Aku harus banyak bertanya untuk mengalahkannya.

Aku: “Where will you stop, Sir?”

Dia: “At Mathura Junction Station

Aku: “Do you know Agra Cantt Station?

Dia: “Sure, 2 stops after my station

Aku: “Oh, nice”, Aku lega….Begitu dia turun, aku tinggal hitung 2x berhenti. Itu Agra Cantt

Dia: “Are you from China?

Aku: “No, I’m Indonesian”. Mana ada tampang China gelap kayak gue.

Dia: “What for do you go to Agra?”

Aku: “Taj Mahal, Sir

Dia: “Oh, very happy to hear Indonesian goes to Taj Mahal

Aku: “Taj Mahal….My dream to visiting it

Dia: “Nice”. Menyalamiku dengan kebahagiaan tak tersembunyikan.

Itulah percakapan 10 menit sebelum dia turun di Mathura Junction Station. Setelahnya aku akan menyusul turun di dua perhentian berikutnya yaitu Agra Cantt Station.

Salah satu sisi Agra Cantt Station.

Aku akhirnya tiba di kota Agra pada pukul 20:30.

Saatnya menuju hotel…..Makan malam tyuss bobok.

SCAM….Sesuatu yang Nyata di India

Staff Hotel: “Go to New Delhi Railway Station platform 1 floor 1!”, jawaban singkat tertutur dari bibir si cantiq yang masih terlihat sibuk menerima para penginap dari berbagai bangsa.

Aku: “Thank you, honey Ms”.

Oh ya, mencari dormitory terdekat dari stasiun MRT (Mass Rapid Transit) memang kebiasaan yang telah bersifat di diriku.

Aku mulai membuka pintu goStops Delhi Hostel dan melintas beberapa warga yang kurang beruntung. Terenyuh ketika sinar surya satu-satunya yang bisa membantu menghangatkan mereka yang masih pulas meringkuk diatas kasur busa bekas yang entah mereka dapat dari mana.

300 meter kemudian aku tiba Delhi Gate Metro Station. Melewati X-ray gate setiap memasuki stasiun MRT di New Delhi menjadikanku merasa aman selama melaju di jalurnya.

Yuk kita lihat dalaman ttasiun subway di New Delhi…Ini adalah Indira Gandhi Airport Metro Station saat pertama kali aku tiba di India

Menyusuri Delhi Metro Violet Line dan kemudian bertransfer ke Yellow Line di Kashmere Gate Metro Station, maka di stasiun ketiga aku tiba di New Delhi Metro Station.

Tiba di tujuan akhir, aku harus berpindah antar dua moda kereta yang tak terintegrasi. Meninggalkan New Delhi Metro Station yang begitu bersih terawat menuju New Delhi Railway Station yang lebih dari sekedar kotor. Jaraknya antar keduanya hanya sekitar 450 meter.

Berjalan 6 menit, aku tiba di depan New Delhi Railway Station

Dari tangga penghubung antar platform, kuperhatikan petugas Indian Railways itu menyemprotkan air di atas jalur kereta. Kupikir mereka begitu disiplin mengurangi laju debu di udara, ternyata beberapa waktu kemudian aku tahu bahwa mereka sedang membersihkan jalur kereta api dari kotoran manusia….#unique.

Upss….Kejadian itu tiba:

Scammer: “Where will you go, Sir?”

Aku: “Agra.

Scammer: “Let me help you to get the ticket.”

Aku: “Oh thanks. Based information from my hotel that ticket counter is on platform 1 floor 1.”

Scammer: “Oh, yes. But It’s Friday. So, the counter is closed. You can get the ticket at left side of this station.

Aku: “Oh, OK.

Entah “Bego” atau “Dungu”, aku mengikuti semua petunjuknya. Pemuda tampan itu tak menyertai langkahku, sehingga tak ada kecurigaan sedikitpun di otakku. Hebatnya, ada seorang di gerbang stasiun yang kesannya menunjukkan dimana lokasi konter penjualan tiket tersebut. Jelas sekali mengarahkanku ke sebuah kantor di ujung jalan sebelah kiri.

Oh, ini kantor agen travel, bukan kantor Indian Railways”, batinku. Aku batal menaiki anak tangga berikutnya dan berbalik meninggalkan kantor mereka. Walau salah satu dari mereka terus mengejarku, aku bersikukuh halus dengan menyampaikan akan menunda keberangkatan ke Agra hingga esok hari saja, sehingga mampu meredam emosinya yang terlihat mulai meninggi.

Huftt….Selamett. Scam kedua yang menimpaku setelah terakhir menghampiriku di Bangkok di akhir 2013.

—-****—-

Kelegaan yang terasa berlipat karena selain mampu menemukan kantor penjualan tiket milik International Tourist Bureau di platform 1 lantai 1, Aku juga mendapat bonus berlindung dalam kantor itu dari dinginnya terpaan udara New Delhi yang membuatku serasa beku.

Kantor yang sederhana itu dipercantik dengan layanan konsultasi petugas penjualan tiket kepada setiap turis dengan sangat baiknya. Jadi kamu harus bersabar menunggu nomor antrianmu dipanggil petugas karena satu pembeli bisa berkonsultasi 10-15 menit, beberapa bahkan lebih. Tak menjadi masalah bagiku, semakin lama semakin baik karena aku tak perlu kedinginan diluar sana.

Tiket Jhelum Express seharga Rp. 40.000 sudah di tangan.

Yuk ke Agra….Bersih-bersih Taj Mahal….Yuhuuu.

Lima Destinasi Wisata Agra dalam 10 Jam.

PARAHHHHH…..

Badai kabut di utara India telah merampas waktuku lebih dari 6 jam.  Tetapi kejengkelan telak terkalahkan dengan keripuhanku sendiri melawan super dinginnya udara Negeri Nehru itu.

Petaka kabut di India

Jhelum Express menepi di Agra pada 20:30. Pengen denger ceritaku menjajal kereta ekonomi mereka….nanti saja lah….MENGERIKAN !!!.

Tak ada yang bisa kuperbuat malam itu. Suhu yang hampir menyentuh nol derajat Celcius, bahkan udara dengan cepat mendinginkan sajian mie goreng pinggir jalan yang kubeli. Bumbu India yang terkenal menyengat itu bahkan tak mampu kurasakan karena beku mulai menghantam lidah.

Aku bak seorang pengecut yang bersembunyi di balik selimut GoStops Hostel sambil menunggu aliran listrik memenuhi segenap “teman elektronikku”.

Staff Hotel: “You must be grateful to be an Indonesian. You can easily go everywhere. Not like me, getting a passport is very difficult. Our government protect their citizen from getting difficult life at out of our country. I had waited for two years to get a passport, I hope I will get this year. I want go around the world like you

Aku: “Don’t worry, you will get it, my friend. You will go to my country also sometimes.  One thing that should made you proud with India. Your currency is more stronger than my currency…..Aaannnnddddd, Your country have great histories and cultures in the world.

Itu sedikit percakapan serius sebelum aku memasuki kamar, dan percakapan yang sedikit intelektual setelah sebelumnya aku hanya berbicara dengan penumpang kereta yang duduk di depanku dan sopir taxi yang mentransferku dari Stasiun Agra Cantt ke hotel.

—-****—-

OKAY….Kukuruyukkkkk….#perasaanganemuayam.

Automatically, Aku hanya memiliki 10 jam berharga untuk mengeksplorasi Agra dimulai dari jam 7 pagi. Kali ini aku tak akan membenarkan diriku untuk menggunakan transportasi umum….Terlalu mepet….Beruntungnya, aku melakukan sharing cost bersama teman-teman backpacker sekamar untuk jasa taxi yang bersedia di carter hingga sore hari. Karena sore hari, aku akan menuju New Delhi. Aku hanya perlu mengeluarkan Rp. 60.000 untuk biaya transportasiku seharian.

1. Taj Mahal

Tak berani menyentuh air untuk membasuh badan, aku tergopoh memasuki taxi yang sudah siap di depan hostel. Pagi itu….Kabut sangat tebal bahkan matahari pagi tak mampu menyibaknya.

Yes, akhirnya….Aku menuju destinasi idaman turis seluruh dunia….Taj Mahal

Taxi bergerak ke utara menyusuri Agra-Bah Road. Tak jauh, hanya 3.5 km yang tertempuh dalam 15 menit. Taxi berhenti di tepi jalanan, aku hanya ingat dengan papan nama “Malik Tour & Travel” sebagai penanda.

Jasa bajaj seharga Rp. 40.000 menjadi penghubung berikutnya menuju Taj Mahal West Gate Ticket Office. Kulepas Rp. 98.000 untuk mendapatkan tiket masuknya.

Setiap jengkal di Taj Mahal selalu menggoreskan kesan, satu-satunya benda yang sangat mengganggu para wisatawan adalah kabut yang membuat mereka seakan kesal tak bisa mengabadikan dirinya bersama bangunan sangat bersejarah itu.

Taj Mahal tertangkap dari Mehtab Bagh.

Wisata andalan Negara Bagian Uttar Pradesh itu memang sungguh mengesankan. Makam yang didedikasikan untuk Mumtaz Mahal (istri dari kaisar Shah Jahan) sanggup menarik 8 juta wisatawan dari seluruh dunia setiap tahunnya. Salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO yang harus kamu kunjungi jika memasuki tanah Mahabharata itu.       

2. Itimad ud Daulah Tomb

Dua jam meresapi dan menikmati keindahan Taj Mahal yang hampir keseluruhannya berbalut marmer putih mematri doktrin di otakku bahwa dunia itu sungguh indah.

Yuk, balik ke hostel untuk berbasuh dan menyantap sajian free-breakfast sederhana yang disajikan hostel. Aku sendiri langsung berkemas check-out dan menaruh backpack di bagasi taxi. Selepas menengok Agra Fort nanti, aku akan langsung bertolak ke New Delhi.

Berada 4.5 km di utara Taj Mahal, situs ini menawarkan ketenangan dan kenyamanan. Tak seperti Taj Mahal yang bising pengunjung. Mirip tapi tak sebesar Taj Mahal menjadikannya dikenal sebagai “Bayi Taj”.

Adalah bangunan yang mengilhami gaya arsitektur Taj Mahal.

Jika Taj Mahal didedikasikan untuk Mumtaz Mahal, maka pembangunan Itimad ud Daulah didedikasikan untuk kakek dari Mumtaz Mahal yang bernama Mirza Ghiyas Beg.

Aku ndak mau bercerita banyak….Datang sendiri aja ya….Yuhuuuuu !!!!

3. Yamuna River

Satu jam bergulir dengan cepatnya. Niatanku untuk segera bergegas menuju destinasi berikutnya kandas. Aku tertegun dengan penampakan sungai kering nan menghampar begitu luas, seakan memamerkan kegagahan kepada semua yang makhluk melihat, melintasi atau bahkan hidup daripadanya.

Terletak di sebelah barat Itimad ud Daulah……Beuh,

Man….Itu Sungai Yamuna….Seumur-umur, aku baru melihat sungai seluas itu.

Didaulat umat Hindu sebagai Dewi Yamuna.

Sungai yang bersumber dari gletser Yamunotri di  Negara Bagian Uttarakhand ini terlihat surut dan terpapar berbagai bentuk limbah seperti plastik dan limbah cair yang mudah diterka dari baunya.

4. Mehtab Bagh

Dua kilometer berikutnya di selatan…..

Menjilat, menyesap dan menelan pelan french fries jalanan berbumbu garam beraroma kari menjadi aktivitas tak pentingku berikutnya….Sisihkan beberapa Rp. 10.000-an untuk mencoba beberapa kuliner ringan jalanan di India !. Kujamin kamu akan terkesan.

Gaes, aku sudah di sisi sebuah taman nan lebar dan romantis….Mehtab Bagh namanya.

Mehtab Bagh” sendiri memiliki makna yang tak jauh dari sepasang kata dalam Bahasa Inggris “Moonlight Garden”….tuh, gimana ga romantis coba?.

Konon…. Shah Jahan akan membangun Black Taj Mahal di taman ini. Tapi tak pernah kesampaian.

Sering menjadi persinggahan sang Raja untuk menikmati keindahan Taj Mahal yang berada di seberangnya dan hanya terpisahkan oleh Sungai Yamuna.

Harga tiket masuk sebesar Rp. 40.000 tidaklah seberapa dibandingkan dengan keindahan taman yang bisa kamu nikmati dengan aman. Aman?….Ya taman ini dijaga dua tentara bersenjata lengkap yang selalu berkeliling taman.

5. Agra Fort

Masala Tea = 90 Rupee ….ini mah Rp. 17.000

Egg Fried Rice = 150 Rupee….yah sekitar Rp. 29.000.

Itulah menu makan siangku di “The Master Chef” Restaurant di bilangan Fatehabad Road sebelum menuju destinasi terakhirku di Agra….#sedih.

Terletak 2.5 km di barat laut Taj Mahal, Agra Fort juga menjadi Situs Warisan Dunia yang sangat menonjol dengan warna merahnya.

Kota berdinding ala Agra Fort….Menakjubkan.

Kamu harus membayar Rp. 98.000 untuk membayangkan secara langsung para kaisar Mughal tinggal di Agra Fort ini.

Berkeliling sepuasnya di dalam Agra Fort sebelum berpisah dengan kota Agra. Aku menelusuri satu demi satu bagian didalam banteng kota ini.

Memasuki Diwan-i-Am bak rakyat Mughal yang sedang berkeluh kesah, atau memasuki Diwan-i-Khas bak tamu penting kerajaan yang sedang dijamu sang raja.

Merasakan kemewahan Jahangiri Mahal yang merupakan istana khusus untuk istri raja, lalu terduduk merelaksasi diri di Anguri Bagh yang pada masanya digunakan oleh para wanita anggota kerajaan sebagai taman kerajaan.

Dan sebagai seorang muslim, aku juga merasa wajib menapaki Moti Masjid didalam Agra Fort sebagai tempat peribadatan segenap anggota kerajaan.

—-****—-

Waktu singkat yang mengenalkanku pada kota kuno di utara India. Kota yang arsitekturnya mempengaruhi banyak kreasi bangunan di seluruh dunia.

Pastikan kamu mengunjunginya lebih lama dariku karena nilai sejarah kota ini begitu tinggi dan tak bisa dinikmati dalam sekejap saja.

Passing a Morning and Getting a Sunrise in Sarangkot, Nepal

SARANGKOT …. is name of a village with an altitude of 1,400 meters above sea level in Kaski District, Gandaki Zone. Located in Phokara which is a centre of tourism in Nepal, it makes Sarangkot as one of favorite destinations. Why ?….Because Sarangkot is the best viewpoint for observing Himalayan Mountains.

Eight Himalayan peaks which can be seen from this village pushed me to put this village name in my itinerary.

First day in 2018….Happy New Year, Donny!

Sarangkot as if close in my eyelids. I ordered a daily rental taxi for USD 10,1 at Phokara Lodge Hotel where I was staying. The good news was I would pay it jointly with 3 other tourists.

It was still dark when Mr. Raj -the hotel staff- woke me up, “the driver is ready at downstairs,” He said. Brushing my teeth and washing my face only, I immediately descended hotel stairs to meet the driver.

Driver’s hospitality was implied from every smile which was thrown in front of me. His amazing English accent shows that he is also a good guide for every guests. According to him, ability to speak English is a must because tourism is heart of Nepal’s economy.

On early morning I started my trip to Sarangkot. A trip as far as 12 km, its large portion of route would pass through Phokara-Baglung road.

I became a lucky person because the sky was clear since yesterday night. It means that I will see beauty of Himalayas without cloud obstructions.

Entering Sarangkot gate, Bus was stopped and I paid for USD 0,5 to buy a entrance ticket. It only took 30 minutes to arrive in Sarangkot parking lot.

Entrance ticket

Climbing dozens of stair, I was aware that I was at a height. But it was very early morning, making it hard for me to saw the view below me.

A moment later, I arrived in spacious courtyard. This is the viewpoint which I mean. There were already a lot of tourist who sitting on edge of hill and waiting for sunrise. Some professional photographers look busy in preparing cameras and other equipments.

Temperature was 4o Celsius. It was defeated by a shadow of Himalayan charms which filled my imaginative realm.

Time was seem to be going on for a long when we were waiting for a thing which is loved.…Sun in Sarangkot also….as if tease me by delaying its appearance to warm the Himalayas.

The sun was came….

It began to shows its bright ray.

Just choose!.…the nose of the sun or the nose of that charming girl.…
That villagers must be happy, seeing beauty of Himalayas every day.
Look at that Machhapuchhare peak…!

When the sun’s rays hit ice glazes at Himalayas top, golden color would shine and it made my eyes hard to blink. Fear if that luxury view just vanished….Oh my Goddess

The dawn was ended, I could see a real view of that courtyard. This is it:

A courtyard to enjoying beauty of Himalayas.
If you are still unsatisfied and want to see in more height….You can go up to roof in left of courtyard.
Or at top roof in right of courtyard.

Immediately moving to other side of courtyard !. You will see a closing view, namely Phewa Lake which is geographically located in south of Sarangkot village.

Don’t look at the person !….just look at the lake !….focus!….focus!

After staying above for 2.5 hours. I decided to go down. The village view which wasn’t visible when I departed, finally seen clearly and beautifully when I slowly left Sarangkot peak.

Citizens’ housing from above.
Downing dozens of stairs.

Actually, if you don’t want to bother going there in very early morning from Phokara, you can stay around Sarangkot and come in a day before. There are several inns which provide rooms for tourists who will enjoy Himalayas in Sarangkot.

One of inns there.
Many restaurants too

After downing hill for 15 minutes, I finally arrived back in parking lot..

Visitor’s cars in parking lot.

After met again with our taxi driver, then I visited Purana Bazaar to see trading activities in that Phokara’s famous market.

Menembus Pagi Mejemput Fajar di Sarangkot, Nepal

SARANGKOT….adalah nama sebuah desa berketinggian 1.400 mdpl di Distrik Kaski, Zona Gandaki. Terletak tepat di kota Phokara yang merupakan pusat turisme di Nepal menjadikan Sarangkot sebagai salah satu destinasi favorit. Kenapa demikian?….Karena Sarangkot adalah viewpoint terbaik untuk mengamati Pegunungan Himalaya.

Delapan puncak Himalaya yang bisa dilihat dari desa ini mendorongku menaruh nama desa ini dalam itineraryku.

Hari pertama tahun 2018….Happy New Year, Donny!

Sarangkot seakan dekat di pelupuk mata. Taxi sewa harian seharga 1.100 Rupee sudah kupesan di Phokara Lodge Hotel tempatku menginap. Kabar baiknya Aku akan membayarnya secara patungan dengan 3 turis lain.

Haripun masih gelap ketika Mr. Raj si pengurus hotel membangunkanku, “driver sudah siap di bawah”, sahutnya. Hanya bersikat gigi dan membasuh muka, Aku segera menuruni tangga hotel untuk bertemu sang driver.

Keramahannya tersirat dari setiap senyum yang terlempar di hadapanku. Aksen Inggrisnya yang menakjubkan menunjukkan bahwa Dia juga seorang pemandu yang baik untuk setiap tamunya. Menurutnya, kemampuan berbahasa Inggris menjadi sebuah kewajiban mengingat pariwisata adalah jantung perekonomian Nepal.

Pagi-pagi buta Aku memulai lawatan ke Sarangkot. Perjalanan sejauh 12 km ini porsi besar jalurnya akan melewati jalan Phokara-Baglung.

Aku menjadi orang yang beruntung, karena sejak malam langit terlihat cerah. Artinya Aku akan melihat indahnya Himalaya tanpa halangan awan.

Memasuki  gerbang Sarangkot, kendaraan diberhentikan dan Aku harus mengeluarkan 50 rupee untuk ditukar dengan entrance ticket. Total hanya perlu 30 menit untuk tiba tepat di pelataran parkir Sarangkot.

Entrance ticket

Menaiki puluhan anak tangga, tersadar bahwa Aku berada di ketinggian. Tetapi gulitanya pagi, membuatku susah melihat pemandangan di bawah.

Sekejap kemudian, Aku tiba di luasnya pelataran. Sepertinya ini adalah titik pandang Himalaya yang dimaksud. Sudah lumayan banyak turis yang duduk di bibir bukit menunggu datangnya fajar. Beberapa photographer professional terlihat sibuk mempersiapkan kamera dan peralatan lainnya.

Suhu 4o Celcius  terkalahkan dengan bayangan pesona Himalaya yang memenuhi  alam imajinasiku.

Waktu seolah berjalan lama ketika Kita menantikan sesuatu yang dicinta….begitupun Surya di Sarangkot….seakan menggodaku dengan menunda-nunda kemunculannya untuk menghangatkan Himalaya.

Pucuk di cinta ulam pun tiba

Dia mulai menunjukkan batang hidungnya  

Tinggal pilih aja…hidung matahari atau hidung si charming itu….
Penduduk desa itu pasti bahagia, setiap hari melihat indahnya Himalaya.
Lihatlah puncak Machhapuchhare yang lancip itu….

Ketika sinar surya menerpa lapisan es di puncak Himalaya, maka warna keemasan akan memancar dan itu membuat mataku susah berkedip. Takut kemewahan itu sirna begitu saja…….Hadeuh….Bahasamu Don.

Pagi yang sudah tersibak, Aku baru bisa melihat bentuk pelataran sesungguhnya. Ini dia:

Pelataran untuk menikmati indahnya Himalaya
Yang ga puas dan kurang tinggi….boleh naik ke atap di kiri pelataran
Atau atap di kanan pelataran.

Segeralah berpindah ke sisi pelataran lain. Kamu akan melihat pemandangan penutup, yaitu Phewa Lake yang secara geografis terletak  di sebelah selatan desa Sarangkot.

Jangan liat orangnya…liat aja danaunya…fokus!…fokus!.

Setelah berdiam diatas selama 2,5 jam. Kuputuskan untuk turun kembali. Pemandangan desa yang tak tampak ketika Aku berangkat, akhirnya terlihat dengan jelas dan indah ketika Aku perlahan meninggalkan puncak Sarangkot.

Perumahan warga dari atas.
Menuruni puluhan anak tangga

Sebetulnya jika tak mau repot berangkat pagi-pagi dari kota Phokara, Kamu bisa menginap di sekitar Sarangkot dan datang sehari sebelumnya. Di Sarangkot terdapat beberapa penginapan yang menyediakan kamar untuk turis yang akan menikmati Himalaya.

Salah satu penginapan disana.
Restoran pun banyak

Menuruni punggung bukit selama 15 menit, akhirnya Aku tiba kembali di pelataran parkir.

Mobil pengunjung di tempat parkir.

Menemui driver taxi yang menemaniku, kemudian Aku di ajaknya menuju Purana Bazaar untuk melihat aktivitas perniagaan di pasar yang terkenal di Phokara.