Bus “SEJAHTERA” from Medan to Toba Lake, North Sumatra

I would tell my journey by Bus “SEJAHTERA” from Medan City to Toba Lake. The distance was 170 km and bus fare was IDR 40,000 (USD 2,85). The special thing wasn’t on got into the bus but in curiosity along the trip to immediately met the largest volcanic lake in the world.

dhazong

Yes that is the Dazhong Backpacker’s Hostel lobby….Bored.… became a first guest who woke up on early morning, but my plan failed to catched the first departure Bus “SEJAHTERA” on 6 am. One hour pacing, I made noisy sound with a hope that hostel owner would get up. Starting by pushed bell many times at reception desk or got in and out the door so the “WELCOME” sound sensor rang. Crazy activity aimed to got back my deposit money in hostel.

6:10am He woke up.…but, I didn’t immediately get GORIDE (online base transportation in Indonesia) because of a weak signal, I decided to got close to center of Little India area, precisely at Shri Mariamman Temple. Around 6:34am GORIDE picked me up. Didn’t breakfast yet I immediately went up, I would definitely arrive at Amplas Terminal 5 minutes before bus departed. It was true that GORIDE hadn’t entered yet into terminal. The bus looked out from terminal, I rushed down from GORIDE and waiting for bus to approached me.

Here, I got a photo of Amplas Terminal on a day before when I arrived from Kualanamu Airport:

amplas

10 minutes into bus, drizzle turned into heavy rain. This economy bus often stopped for raising passengers before entering into highway. Rain requires all windows to be closed. It was the challenge.… how to set my breath so didn’t inhale much smoke along the way. With closed windows and many passengers smoked, when they finished one cigarette then they would smoke other ones.…crazy.

When starving, no one food hawker came into bus. I was only occasionally chatting on Facebook Massanger with “The Beauty” Eloise who kept asking how I was going to Toba Lake, She was an Australian solo traveler who met me at dormitory in Medan City. She would go to Toba Lake in the day by copying what I did. Also, She asked where I got a guesthouse in Toba Lake for IDR 60,000 (USD 4,3)… Later I would tell to you how finally we were both riding a motorcycle on exploring Samosir island.

bus sejahtera

Noisy sound of worn wipers together with Batak songs accompanied me to enjoyed view of streets, villages, and oil palm plantations.

At 11:25 my eyes were stunned on appearance of wide waters after bus descended a ridge somewhere. Yesss … it was Toba Lake … It was cool.

Driver’s change to bus return trip to Medan was did before arriving at Tigaraja Ferry Port. I almost went too far from drop point because bus conductor didn’t tell me where the bus was, I just monitored “Your Position” on Google Maps. It looked like I stayed away from Tigaraja Port. I decided to get off from bus and walked in a drizzle to port.

Didn’t want to lost the moment of photo hunting along Tigaraja Port then I bought umbrella for IDR 50,000 (USD 3,5) in the market around the port.

tigaraja

Several corners of Tigaraja Port

Toba Lake … I came!

Melongok Percikan Syurgawi di Samosir.

Mengatur kecepatan dan meliuk-liuk menghindari kerikil jalanan Samosir menjadi pelajaran yang harus kukuasai dengan cepat.  Jika tak lulus, niscaya kerikil itu akan menghempaskanku di jalanan.

Dua insiden senggolan mobil mewarnai hariku di sana. Fokusku tak pada insidennya, tetapi pada kelucuan mereka beradu mulut di tengah jalanan yang membuat jalanan mengular panjang karena mereka menomorduakan untuk meminggirkan mobil.

Apalagi yang kudapat,….

Para kerbau yang menyeberang mandiri di jalanan, lalu lalang sang babi hitam yang lebih besar dari seekor kambing  atau si anjing yang menjadikan aspal sebagai kasurnya adalah pemandangan berharga yang tak kusua di ibu kota.

Dipadu dengan bangunan sekolah yang tepat berada di bawah perbukitan Toba menjadikanku tak habis fikir, kenapa tak dari dulu Aku menikmati keindahan ini….bukannya liat “rumah sendiri” malah suka nyambangi “rumah orang”….#malingdonkguweh

“I love this island”, Doi bergumam….Ya iya lah say, Kamu kan di belakang bisa lihat sana-sini dengan leluasa disbanding Aku yang harus banyak melihat aspal. Go Pronya selalu on untuk mendokumentasikan Samosir dan dibawanya ke Aussie….but it’s OK, Aku masih punya memori di otak yang cukup untuk menyimpannya….#alasanbokektakbisabeligopro

Pelebaran jalan menjadikan beberapa bagian menjadi jalur lambat dan tumpahan tanah basah menjadikannya licin. Belum lagi banyaknya serangga kecil yang bisa menerjang mata telanjang, selalu pakailah kaca mata atau helm berkaca jika disana.

Jangan pernah mencari POM Bensin, Aku gagal menemukannya. Lebih baik isi penuh di warung bensin eceran begitu Kau melihatnya, sebelum Kau masuk ke area perbukitan yang minim warung.

Perjalanan 2 liter pertalite Kumulai untuk bersua dengan “Sang Efrata”, air terjun mungil di Kecamatan Harian. Keluar dari jalan utama melewati jalan berbatu perkampungan menjadikanku pengunjung pertama di tempat itu, jangankan pengunjung, penjaga tiket pun belum datang. Mayan lah…free venue. Kusembunyikan motor sewaan di balik kantor pengelola, karena akan kutinggal beberapa saat menuju air terjun dibalik bukit kecil.

Meninggalkannya, aku segera menuju ke waterfall terdekat yaitu “Sang Naisogop”. Menuju ke utara Aku memacu sepeda motor dengan leluasa karena jalanan begitu bagus walau meliuk tajam menaiki dan menuruni bukit. Sejauh mata memandang Kamu akan takjub dengan keindahan Toba dari atas.

Air terjun Naisogop ini letaknya berada diatas perbukitan. Pengemudi motor harus sedikit mahir dalam menanjak. Motor harus diletakkan jauh dari lokasi jadi harap dikunci ganda untuk keamanan.

Meninggalkan Naisogop, satu yang selalu kuingat adalah keramahan para warga dibawah air terjun. Setiap Kami lewat selalu ditawari kopi untuk sejenak beristirahat.

Aku memacu motor sewaanku menuju Aek Rangat, Pemandian tersohor di Samosir, Bau belerang mulai menusuk ketika roda motor mendekati area. Melewati papan nama Aek Rangat, Aku tak kunjung menemui sumbernya, malah Aku terlewat dari lokasi karena tak jelasnya letak sumber.

Penjelasan seorang ibu penjaga pos akhirnya menuntunku. Aku mulai curiga ketika perbukitan gundul putih itu tak ada aktivitas. Benar saja ketika mendekat, cekungan besar itu kering dan hanya ada hamparan pipa PVC yang kusut tersusun. Rupanya semenjak 2 tahun lalu, air hangat itu dialirkan kekolam-kolam milik warga untuk menjadikannya bisnis rumahan.

Niatku untuk mandi di kolam umum alami pun pupus dan tak lagi berniat mandi air panas dikolam milik warga walaupun hanya dihargai 10ribu sekali berendam. Menurut pemilik kolam, sebetulnya bisnis utamanya tak terletak pada kolamnya tetapi pada restonya. Tamu makan di resto lalu lanjut mandi di kolam.

Berniat hendak pulang, ditengah perjalanan hatiku tertelisik dengan wisata Pantai Pasir Putih Parbaba. “Do yu want to see Parbaba Beach?”. Doi bingung masa iya ada pantai di danau…..Ahai, menikung sebentar, ini lah yang kulihat gaes:

Aku mencoba menikmati pantainya walaupun sedikit cemburu karena doi sibuk meladeni foto dengan para pemuda bak artis…..#asemtenanwooiudahwooi.

Akhirnya waktu jua yang akhirnya memisahkan Kami, sore itu Aku harus mengejar Bus INTRA ku di Pematang Siantar yang kubooking sehari sebelumnya lewat telpon dan akan barangkat pukul 19:00. Kembali ke homestay dan meninggalkan Doi disana untuk berpisah dan kelak akan bersatu kembali….#ngarepdotcom.

Bye Bye Samosir, Bye Bye Toba

Exploring Tomok for 1,5 hour

I looked very cool when exploring Tomok (an area in Toba Lake, Indonesia) with a 45-litre backpack on the back … hahaha, looked like a usual backpacker… # i’mnotcreativeinstyle

Souvenir sellers didn’t get tired of offering me along my way when exploring Tomok. “Dear, if you don’t buy, it’s OK. But just marry me, please”, She said and joked … #tapforehead.

Exited from port area and crossed Tomok main road, I through the souvenir corridor again until I found a performance stage of Si Gale-Gale (a historic wooden puppet in Samosir Island). The empty stage finally led me to asked to a woman. She said that if I wanted to watched Si Gale-Gale performance, I had to pay IDR 80,000 per performance, It can pay by individual or group.

Tomok main road

I decided to left until I finally found Tomok Parsaoran Tourism Village. Small village with neat traditional houses

I didn’t know, were it accupying ?….So quiet

Continuing my steps, I arrived at King Sidabutar’s Cemetery and welcomed by a old tomb guardian at gate. He put a Ulos (North-Sumatra traditional cloth. He put it on my right shoulder then he let me in. This well-maintained and clean cemetary area are for the family of King Sidabutar. My visit was free of charge and only needed to gave unspecified money to cemetery maintenance donation box.

Nice sculpture…

Exiting cemetery area from a different door, the way directed me to Tomok Batak Museum. A Batak traditional house that instantly resembles a Toraja traditional house.

Korean tourists who were busy taking pictures in front of museum didn’t allow me to captured museum front area. I decided to went inside first. By paying IDR 5,000, I was free to enjoyed every Batak traditional object with an explanation of its function in their cultural life.

There was a souvenir shop inside the museum and the souvenir are museum object duplicates.

I was leaving the museum at 4:05 p.m.

Yes, I got a bonus …. in my step got out from Tomok, I saw Si Gale-Gale in action because there was a group of Jakarta businessmen who paid the action. Slinked in, I was successful sat in the backseat. A show accompanied by a Batak music and led by an MC. There was a person behind the screen who played “Si Gale-Gale”.

The MC asked several people to dance in front together. All businessmen pointed to each other until there were 4 people coming forward. “one more forward, please!”, MC exclaimed. Finally one person ran forward, the businessman seemed surprised that they didn’t know who he was.

All men in the group were dumbfounded, there was intruder entering and taking over their stage … hahaha.

But finally they let me and began to applaused, I danced with pleasure. At the end of the show I greeted them and thanked to them for could join in their show for free. They smiled happily. The most beautiful closing for my  Tomok adventure.

I was finished my Tomok exploration with a very late lunch.

After that, I was escorted by restaurant owner to Bagus Bay Homestay in Tuk-Tuk area by simply paying IDR 20,000.

At this homestay I met Eloise again who just arrived from Medan … Then what were we planning?

1,5 Jam Menyusuri Tomok

Sepertinya Aku terlihat keren menyusuri Tomok dengan backpack ukuran 45 liter di punggung….hehehe, seperti bule-bule backpacker padaumumnya….# GaKreatifNih.

Penjaja souvenir tak lelah menawariku sepanjang perjalanan menuyusuri Tomok.  ” Bang kalau ga beli gapapa deh Aku ikhlas asalkan abang nikahin Aku”, ujarnya…..#pokjidat.

Keluar area pelabuhan dan menyeberang jalan utama Tomok, kembali melewati lorong souvenir sampai aku menemukan panggung pertunjukan Si Gale-Gale. Kursi pertunjukan yang kosong mengantarkanku untuk bertanya pada seorang Ibu. Katanya kalau mau nonton harus membayar 80 ribu per pertunjukan, perorangan atau rombongan.

Jalan Utama di Tomok

Kuputuskan pergi sampai akhirnya aku menemukan Desa Wisata Tomok Parsaoran. Perkampungan kecil dengan rumah adat yang rapi.

Melanjutkan perjalanan, Aku sampai di Pemakaman Raja Sidabutar. Disambut oleh seorang Bapak penjaga makam di gerbang. Dia menaruh kain ulos di pundak kananku lalu mempersilahkan masuk. Area makam yang terawat dan bersih ini diperuntukkan untuk keluarga Raja Sidabutar. Kunjunganku tidak dikenakan biaya dan hanya perlu mengisi kontak sumbangan kebersihan saja.

Keluar area makam dari pintu yang berbeda, mengarahkanku pada jalan menuju Museum Batak Tomok. Sebuah rumah adat Batak yang sekejap mirip rumah adat Toraja.

Para turis Korea yang sibuk berfoto di depan museum  tak memungkinkanku untuk meng-capture area depan museum. Kuputuskan masuk ke dalam dahulu. Dengan membayar 5 ribu, Aku leluasa menikmati setiap benda  adat Batak tradisional dengan penjelasan fungsinya dalam kehidupan budaya mereka.

Di dalam museum disediakan toko souvenir benda-benda duplikat dari barang-barang yang ada di museum.

Aku mulai meninggalkan museum pada jam 16:05.

Pucuk dicinta ulam tiba….dalam langkahku keluar Tomok, Aku melihat Si Gale-Gale sedang beraksi karena ada rombongan pebisnis Jakarta yang memborongnya. Menyelinap masuk, Aku sukses nimbrung di bangku belakang. Pertunjukan diiringi lagu Batak dan dipimpin seorang MC. Ada seorang dibelakang layar yang memainkan Si Gale-Gale.

MC meminta beberapa orang untuk menari di depan bersama. Para pebisnis itu saling tunjuk hingga ada 4 orang maju ke depan. “Ayo satu lagi maju !”, seru MC. Akhirnya ada satu orang berlari maju ke depan, para pebisnis itu sepertinya heran tak kenal siapa dia.

Semua anggota dalam rombongan itu bengong, ada penyusup masuk dan mengambil alih panggung mereka..hahaha.

Tapi akhirnya mereka membolehkanku dan mulai bertepuk tangan, Menarilah diriku dengan senangnya. Di akhir pertunjukkan aku menyalami mereka dan berterimakasih karena bisa gratis bergabung dalam pertunjukan yang mereka borong. Mereka pun semua tersenyum dengan senang hati. Penutup yang indah untuk wisata Tomok kali ini.

Trip di Tomok kuakhiri dengan makan siang yang sangat terlambat. .

Setelahnya Aku diantar pemilik rumah makan menuju Bagus Bay Homestay di daerah Tuk-Tuk dengan cukup membayar 20 ribu

Di homestay inilah aku kembali bertemu Eloise yang sepertinya baru tiba dari Medan….Lalu apa yang kita rencanakan?

50 Menit Melintas Toba

“Bang, tolong diisi”, senyum ferry crew menyodorkan lembar manifest yg telah terlanjur lembab karena paparan gerimis sepanjang hari. Nama, alamat asal dan umur yang harus kutulis. Mengingatkanku pada tenggelamnya KM Sinar Bangun di daerah Simanando-Toba 4 bulan sebelum aku mengisi manifest itu.

Satu jam Aku menunggu semenjak ketibaanku di Tigaraja Port  hingga manifest itu datang. Kupilih berlabuh di Tomok Port walau aku akan bermalam di sekitar Tuk Tuk Port.

Masuk di deck lantai 1, Si Nenek menyapaku dengan dagangan kacang rebus berasapnya, cocok untuk dinginnya angin kala itu.

Deck lantai 2 adalah spot pilihanku supaya kameraku bisa tampil selama 50 menit perjalanan….Sengaja duduk dekat rak baju pelampung…..hihihi, mudah-mudahan Aku tak harus “loncat “.

Dua perempuan cantik dan tiga pemuda yang lebih ganteng dariku mondar-mandir, naik turun deck berselfie dan berfoto ria, Aku hanya memandanginya dengan kupasan kacang yang kukunyah satu demi satu melawan dingin.

Yang kutunggu adalah lagu daerah Batak, malahan Mas Ariel NOAH yang menyanyi sepanjang perjalanan. Maklum Si Kapten dan crewnya anak anak muda.

Okay whatever….Saatnya beraksi.

Berpindah ke kiri kanan deck mataku terkagum dengan perbukitan dengan awan tipis dipuncaknya….Luar biasa lukisan Tuhan….Mataku mulai berlinang (eh, yang ini bohong).

Di atas deck pula salah satu crew menarik ongkos10 ribu per penumpang….Sekitar jam 15:02 Ferry merapat ke pelabuhan, Aku bergegas turun. Tetapi crew menahanku, ternyata itu bukan Pelabuhan Tomok yang dituju. Pelabuhan tersebut ternyata milik Hotel Lopo Inn….Mungkin mereka yang turun akan menginap dihotel itu.

Hanya 5 menit menurunkan penumpang, ferry kembali bertolak menuju Tomok Port. Dan dalam 3 menit ferry merapat ke pelabuhan Tomok.

Aku sengaja berburu foto disekitarnya ketika semua orang dengan cepat meninggalkan pelabuhan itu. Prinsipku “belum tentu Tuhan akan mengantarkanku kesini kembali”, jadi akan kumanfaatkan setiap momen dalam petualanganku.

Meninggalkan sisi terluar pelabuhan aku mulai masuk ke area wisata Tomok. Pemandangan pertama yang kulewati adalah lorong panjang stand souvenir yang memanjakan mata. Tapi sepertinya itu tak akan mempengaruhi backpacker macam Aku. Backpacker yang tak pernah membeli bagasi pesawat untuk space oleh-oleh dan hanya bermodalkan backpack yg sdh terisi penuh oleh perlengkapan perjalanan.

Sepertinya strategiku tepat untuk berangkat pagi dari Medan dan menuju Tomok terdahulu. Sekarang waktu ditanganku, masih ada 3 jam untuk menghabisi venue Tomok sebelum istirahat ke Bagus Bay Homestay di daerah Tuk Tuk.

Kemanakah harus berburu venue ?

Bus “SEJAHTERA” dari Medan ke Danau Toba

Maksudku tuh, naik bus PO Sejahtera dari Medan ke Danau Toba. Jarak 170 km hanya ditempuh dengan 40 ribu. Istimewanya bukan pada naik busnya tapi terletak pada rasa penasaran sepanjang perjalanan untuk segera bertemu danau vulkanik terbesar di dunia.

dhazong

Ya itu adalah lobby Dazhong Backpacker’s Hostel…Bete…menjadi penginap yang bangun terpagi, tetapi rencanaku gagal untuk menangkap Bus PO Sejahtera pemberangkatan pertama jam 6 pagi. Satu jam mondar-mandir membuat kegaduhan supaya owner bangun. Mulai dari pencat-pencet lonceng di resepsionis, hingga keluar masuk pintu supaya sensor suara “WELCOME” berbunyi. Kegilaan yang bertujuan demi deposit sebesar 50 ribu.

06:10 doi terbangun….lama tak mendapatkan GORIDE karena lemah sinyal, Kuputuskan mendekat ke pusat Little India, tepatnya di Shri Mariamman Temple. Sekitar 06:34 GORIDE menjemputku. Tanpa sarapan dan tak sempet berbekal Aku segera naik, pasti akan tiba di Terminal Amplas 5 menit sebelum bus kedua berangkat. Benar adanya GORIDE belum masuk terminal terlihat bus keluar, Aku bergegas turun menunggu bus mendekatiku.

Nih, foto Terminal Amplas kudapat sehari sebelumnya ketika tiba dari Kualanamu Airport:

amplas

10 menit masuk ke bus, gerimis berubah menjadi hujan lebat. Bus ekonomi ini sering berhenti menaikkan penumpang sebelum masuk tol. Hujan mengharuskan semua jendela ditutup. Asiknya disini nih….bagaimana mengatur nafas supaya tak terlalu banyak menghisap asap rokok sepanjang perjalanan. Karena dengan jendela tertutup, banyak penumpang merokok tanpa henti, habis sepuntung akan diisapnya puntung yang lain….asik kan.

Saat kelaparan tak ada pedagang asongan satu pun masuk, Aku hanya sesekali Facebook Massangeran dengan “Si Cantik” Eloise yang terus menanyakan bagaimana caraku menuju Toba, Australian solo traveler yang berkenalan denganku di dormitory. Doi akan menuju Toba kesiangan harinya dengan mengcopy paste apa yang kulakukan. Bahkan doi menanyakan dimana aku mendapatkan guesthouse di Toba seharga 60 ribu….Nanti Aku akan ceritakan bagaimana akhirnya kita berdua boncengan naik motor membedah Samosir.

bus sejahtera

Suara berisik wiper usang bus beriringan dengan lagu-lagu khas Batak mengiringiku menikmati suasana jalanan, perkampungan, dan kebun-kebun sawit.

Jam 11:25 mataku tertegun pada kemunculan perairan yang luas setelah bus menuruni punggung bukit di suatu tempat. Yesss….itu Toba Lake….Keren habis.

Pergantian sopir untuk kembali ke Medan dilakukan sebelum tiba di pelabuhan penyeberangan Tigaraja. Aku hampir kebablasan karena kondektur tidak memberitahukan bus sudah dimana, Aku hanya memantau “Your Position” di Google Maps. Terlihat Aku sedikit menjauhi Pelabuhan Tigaraja. Kuputuskan turun dan berjalan kaki dalam gerimis menuju pelabuhan.

Tak mau kehilangan momen berburu foto sepanjang pelabuhan Tigaraja kurelakan 50 ribu membeli payung di pasar sekitar pelabuhan. 

tigaraja

Beberapa sudut Pelabuhan Tigaraja

Toba….I come !

Cilacap Main Square, Indonesia

In Indonesia, Main Square (Indonesian Language name it as “Alun-Alun”) is always identically with downtown and government offices. And will usually be a landmark for the region concerned.

Similarly with Cilacap Main Square. I will dissect what’s in this main square.

Come at night to captures the beauty of Cilacap Main Square.

1. Fisherman Monument 

This monument shows the statue of a fisherman couple who are raising wijayakusuma flower. precisely located in front of the Main Square courtyard. At night, the fountain under it will emits various colors rotately so we can enjoy the blend of its beauty from Main Square courtyard.

Air Mancur

This monument is located on the protocol street i.e Jenderal Sudirman Street and becomes the center of 3 way intersection. When saturday night arrives, the traffic flow along this monument will be closed and will become a night tourist spot for foreigners aand Cilacap townspeople.

2. Jami’ Mosque Darussalam 

The interesting thing from this jami mosque is its minaret. Like in the fountain of Fishermen Monument, the mosque minaret also emits very harmonious colors with Fisherman Monument ones.

Located to the west of Main Square and flanked by 2 main roads i.e Jenderal Sudirman Street and Masjid Street.

Masjid Jamie

The lower chamber of the minaret is a radio station i.e 107.2 Radio Da’wah Daarussalaam FM Cilacap.

3. Cilacap Regent Office

Whereever Main Square location then that is where the government office is located. Located to the north of Main Square, the Regent’s Office has large gates and yard before actually entering the main office building.

Kantor Bupati

3. Cilacap Penitentiary

Located on Mataram 1 Street, this building is a Penitentiary Class IIB  with maximum capacity of 500 prisoners.

Lapas Cilacap

At night, the Penitentiary is very quiet and strangely horrified when I lingered in front of it.

4. Cilacap Judiciary

I was overlooked to captured this object because I thought there wasn’t more buildings in Main Square after captured Penitentiary. The building itself is flanked by Jenderal Sudirman Street and Mataram 1 Street, precisely at right front of Main Square.

5. The Park Fountain

Located opposite Jenderal Sudirman Street, in front of the Main Square courtyard. This fountain is located inside a park behind the CILACAP BERCAHAYA lighting board.

Air Mancur Warna

The color change in the fountain makes the park look very beautiful.

Well …. If you go to Cilacap, visit Main Square for culinary tour and enjoy the light party around it.