Survey Dadakan di Taman Pelangi

Selepas menelusuri Pasar Jongke, aku sejenak berdiri di atas sebuah jembatan penghubung dua sisi Jalan Dr. Rajiman yang terpisahkan oleh Kali Solo. Kuperhatikan lekat-lekat sungai selebar sepuluh meter itu yang airnya tampak mengering berwarna kecoklatan.

Sore hampir menyentuh pukul lima, dari salah satu sisi jembatan itu, aku menunggu kedatangan taksi online yang kupesan.

Tak lama, lima menit kemudian taksi online itu tiba. Aku bergegas menaikinya di bangku depan, bersebelahan dengan pengemudi.

GALABO ya, Mas!”, aku mengonfirmasi tujuan.

Wah, GALABO jam segini belum siap, Mas. Para pedagang masih menyiapkan makanan yang akan dijualnya”, pengemudi muda itu memberikan informasi penting.

Waduh….Mas, saya sebetulnya sedang survey tempat wisata untuk sebuah acara penting kantor saya. Mas ada rekomendasi tempat yang bisa dikunjungi buat para peserta acara itu nanti?”.

Bagaimana kalau saya antar ke Taman Pelangi?”

 “Oke lah Mas, daripada saya menunggui GALABO yang belum buka”.

Okay, kita meluncur kesana ya, Mas!”.

Tak terasa, taksi online yang kutunggangi sudah meninggalkan daerah Laweyan. Perlahan tapi pasti merangsek ke arah timur melewati Jalan Abdul Rahman Saleh, berlanjut ke Jalan Monginsidi dan sedikit berjalan kencang di ruas Jalan Kolonel Sutarto.

Setelah berjibaku di macetnya jalanan Solo maka aku tiba di Taman Pelangi pada pukul 18:41.Secara keseluruhan aku telah berpindah sejauh sepuluh kilometer dalam waktu tiga puluh menit.

Gerbang Taman Pelangi Jurug yang merupakan bagian dari Taman Satwa Taru Jurug.
Area parkir.

Taksi online berhenti di salah satu slot parkir di halaman depan yang luas. Aku segera turun dan menuju ke loket penjualan tiket masuk.

Masih buka, Mbak?”

Baru saja buka jam 17:00 tadi, Mas. Kita tutup jam 23:00”.

Berapa harga tiket masuknya, Mbak?

Dua puluh lima ribu, Mas”.

 “Oh, baik. Saya beli satu tiket ya, Mbak”.

Baik, Mas”.

Aku segera memasuki taman setelah memiliki tiket dalam genggaman. Memasuki area taman, aku langsung faham bahwa ini adalah wisata malam yang menggoda setiap pengunjungnya dengan permainan cahaya di setiap sisi dan sudut taman. Taman berusia tiga tahun ini penuh dengan cahaya.

Hanya saja aku datang terlalu awal, pukul enam sore di kota Solo belum mampu menggelapkan langit. Permainan lampu itu keindahannya belum terlihat sempurna karena langit masih saja terang benderang. Menurut penjaga loket, waktu terbaik untuk berkunjung di taman ini adalah diatas pukul delapan malam.

Tetapi itu semua tak masalah bagiku, karena aku datang ke tempat ini hanyalah untuk melakukan survey lokasi wisata untuk kandidat destinasi Marketing Conference.

Area parking.
Bersiap memasuki Taman Pelangi Jurug.

Tak sampai setengah jam berkeliling taman, aku mulai melangkah keluar meningglkan taman. Kemudian aku mulai berfikir mengambil kesimpulan. Sepertinya Taman Pelangi ini tidak akan kujadikan destinasi bagi para peserta Marketing Conference karena jenis wisata yang ditawarkan taman ini tidak cocok dengan konsep acaraku. Tapi setidaknya aku memperkaya opsi destinasi yang bisa menjadi masukan untuk panitia Marketing Conference.

Aku segera memesan taksi online kembali karena pukul tujuh malam nanti, aku harus sudah berada di GALABO. GALABO adalah wisata kuliner malam di daerah Kedung Lumbu.

Aku akan menikmati makan malam di tempat itu.

Puro Mangkunegaran: Simbol Perlawanan Atas Kesewenangan

Puro Mangkunageran.

Cerah sekali sore itu. Sudah lewat pukul lima tetapi langit masih saja bercahaya. Aku masih duduk pada sebuah kursi di sisi dalam gerbang depan Pasar Triwindu dan menikmati sajian gratis Jenang Suro.  Solo memang sedang menyambut Tahun Baru Islam yang akan datang esok hari, sehingga Paguyuban Pedangang Pasar Triwindu secara sukarela membagikan makanan khas itu ke seluruh pengunjung.

Pasar Triwindu sendiri, pada masa lalunya berjuluk Pasar Windujenar. Sebuah pasar barang seni dan barang antik yang dibangun oleh Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara VII untuk memperingati dua puluh empat tahun masa pemerintahannya. Oleh karenanya pasar ini terletak tak jauh dari istana.

Oleh karena sejarah itulah, kunjungan ke Pasar Trwindu tak akan pernah sempurna jika tak mengunjungi istana raja sang pembuat pasar itu. Bahkan setelah perjalanan surveyku ini selesai, aku menempatkan Pura Mangkunegaran dan Pasar Triwindu sebagai paket destinasi yang sangat dianjurkan untuk dikunjungi oleh selurh peserta Marketing Conference.

Tak lama setelah selesai menyantap Jenang  Suro yang bertabur Sambal Tumpang khas jawa, aku pun meninggalkan Pasar Triwindu, melewati pelataran depannya yang luas dan kembali menatap bangunan pasar yang sangat khas dan klasik sebelum berucap sampai jumpa lagi.

Aku berjalan perlahan menyusuri  trotoar di sepanjang Jalan Diponegoro, menuju ke utara sejauh tiga ratus lima puluh meter untuk mengunjungi Pura Mangkunegaran. Menginjakkan kaki di ujung pertigaan, maka aku telah sampai di seberang gerbang istana kenamaan itu. Padatnya arus lalu lintas membuatku sedikit berjibaku menyeberangi Jalan Ronggowarsito yang menerapkan sistem satu arah dan melingkari kompleks istana tersebut.

Sementara di salah satu sudut pertigaan menyuguhkan pemandangan penuh keramaian para pengunjung sebuah hotel berpadu restoran berjuluk Omah Sinten Heritage.Setelah kuselidik, nantinya aku baru tahu bahwa restoran itu memang menjadi salah satu tempat favorit bagi kaum muda hingga pegawai kantoran untuk berhangout ria menyambut hari libur nasional esok hari.

Berhasil menyeberangi Jalan Ronggowarsito, aku bergegas menuju pintu gerbang istana melewati jalur setapak sepanjang seratus lima puluh meter dengan pelataran sangat luas di kiri-kanannya. Sebelum benar-benar tiba di gerbang, sebuah bangunan Museum Puro Mangkunegaran meyambutku di sisi kiri gerbang. Museum itu tampak sepi dan tanpa penjaga, membuatku tak bisa memastikan apakah museum tersebut masih menerima tamu untuk berkunjung atau tidak.

Museum Puro Mangkunegaran.
Gerbang istana.

Begitu pula dengan gerbang tinggi istana, pagar besi itu pun tertutup rapat tanpa penjaga. Jelas menandakan bahwa istana tak menerima tamu sore itu. Istana memang ditutup untuk pengunjung tepat pukul lima sore.

Aku hanya bisa menikmati keanggunan istana dari kejauhan dan menatap sekelilingnya dengan kagum. Tapi aku tak pernah kecewa, aku sudah sangat bersyukur bisa mengunjunginya. Inilah istana yang menjadi simbol kekuasaan Kota Solo tempoe doeloe.

Puro Mangkunegaran juga menjadi lambang perlawanan seorang bangsawan atas kekuasaaan VOC dan kesewenangan lokal yang diterapkan Pakubuwono II sebagai pemimpin tertinggi Kasunanan Surakarta. Sebuah perlawanan sengit yang membuahkan kemenangan gilang-gemilang dari seorang Raden Mas Said kala itu.

Petulanganku di Puro Mangkunegaran harus segera diusaikan karena aku tak bisa berbuat apapun di depan gerbang raksasa itu. Aku memutuskan undur diri dan menuju ke destinasi berikutnya yang sudah tertuang dalam daftar panjang surveyku.

Mari kita pergi dari sini !

Puro Mangkunegaran: Simbol Perlawanan terhadap Kesewenangan

Puro Mangkunageran.

Cerah sekali sore itu. Sudah lewat pukul lima tetapi langit masih saja bercahaya. Aku masih duduk pada sebuah kursi di sisi dalam gerbang depan Pasar Triwindu dan menikmati sajian gratis Jenang Suro*1.  Solo memang sedang menyambut Tahun Baru Islam yang akan datang esok hari, sehingga Paguyuban Pedangang Pasar Triwindu secara sukarela membagikan makanan khas itu ke seluruh pengunjung.

Pasar Triwindu sendiri, pada masa lalunya berjuluk Pasar Windujenar. Sebuah pasar barang seni dan barang antik yang dibangun oleh Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara VII untuk memperingati dua puluh empat tahun masa pemerintahannya. Oleh karenanya pasar ini terletak tak jauh dari istana.

Oleh karena sejarah itulah, kunjungan ke Pasar Trwindu tak akan pernah sempurna jika tak mengunjungi istana raja sang pembuat pasar itu. Bahkan setelah perjalanan surveyku ini selesai, aku menempatkan Pura Mangkunegaran dan Pasar Triwindu sebagai paket destinasi yang sangat dianjurkan untuk dikunjungi oleh selurh peserta Marketing Conference.

Tak lama setelah selesai menyantap Jenang  Suro yang bertabur sambal tumpang khas jawa, aku pun meninggalkan Pasar Triwindu, melewati pelataran depannya yang luas dan kembali menatap bangunan pasar yang sangat khas dan klasik sebelum berucap sampai jumpa lagi.

Aku berjalan perlahan menyusuri  trotoar di sepanjang Jalan Diponegoro, menuju ke utara sejauh tiga ratus lima puluh meter untuk mengunjungi Pura Mangkunegaran. Menginjakkan kaki di ujung pertigaan, maka aku telah sampai di seberang gerbang istana kenamaan itu. Padatnya arus lalu lintas membuatku sedikit berjibaku menyeberangi Jalan Ronggowarsito yang menerapkan sistem satu arah dan melingkari kompleks istana tersebut.

Sementara di salah satu sudut pertigaan menyuguhkan pemandangan penuh keramaian para pengunjung sebuah hotel berpadu restoran berjuluk Omah Sinten Heritage.Setelah kuselidik, nantinya aku baru tahu bahwa restoran itu memang menjadi salah satu tempat favorit bagi kaum muda hingga pegawai kantoran untuk berhangout ria menyambut hari libur nasional esok hari.

Berhasil menyeberangi Jalan Ronggowarsito, aku bergegas menuju pintu gerbang istana melewati jalur setapak sepanjang seratus lima puluh meter dengan pelataran sangat luas di kiri-kanannya. Sebelum benar-benar tiba di gerbang, sebuah bangunan Museum Puro Mangkunegaran meyambutku di sisi kiri gerbang. Museum itu tampak sepi dan tanpa penjaga, membuatku tak bisa memastikan apakah museum tersebut masih menerima tamu untuk berkunjung atau tidak.

Museum Puro Mangkunegaran.
Gerbang istana.

Begitu pula dengan gerbang tinggi istana, pagar besi itu pun tertutup rapat tanpa penjaga. Jelas menandakan bahwa istana tak menerima tamu sore itu. Istana memang ditutup untuk pengunjung tepat pukul lima sore.

Aku hanya bisa menikmati keanggunan istana dari kejauhan dan menatap sekelilingnya dengan kagum. Tapi aku tak pernah kecewa, aku sudah sangat bersyukur bisa mengunjunginya. Inilah istana yang menjadi simbol kekuasaan Kota Solo tempoe doeloe.

Puro Mangkunegaran juga menjadi lambang perlawanan seorang bangsawan atas kekuasaaan VOC dan kesewenangan lokal yang diterapkan Pakubuwono II sebagai pemimpin tertinggi Kasunanan Surakarta. Sebuah perlawanan sengit yang membuahkan kemenangan gilang-gemilang dari seorang Raden Mas Said kala itu.

Petulanganku di Puro Mangkunegaran harus segera diusaikan karena aku tak bisa berbuat apapun di depan gerbang raksasa itu. Aku memutuskan undur diri dan menuju ke destinasi berikutnya yang sudah tertuang dalam daftar panjang surveyku.

Mari kita pergi dari sini !

Menikmati Jenang Suro di Pasar Triwindu

Patung Loro Blonyo yang menyimbolkan Dewi Sri dan Raden Sardono yang mendatangkan kemakmuran.

Pagi tadi aku telah menyambangi keramaian Pasar Gede Hardjonagoro. Dan sore ini, aku akan berkunjung ke sebuah pasar lagi. Pasar memang menjadi daya tarik tersendiri ketika berkunjung ke Kota Solo. Ada sisi keunikan dan kekhasan tersendiri di setiap pasar yang terletak di beberapa penjuru kota itu…..

Aku terperanjat dan melompat dari salah satu twin bed milik Amaris Hotel Sriwedari ketika Rahadian membangunkan tidur yang tak pernah kusengaja. Terlelap dengan pulas selama satu jam, membuat mataku begitu cerah lepas dari kekusutan yang menimpa selama menjalani survey lokasi di Kota Batik.

Sudah jam setengah lima sore, aku dan Rahadian bergegas menuruni lift dan menaiki taksi online yang sudah menunggu kami sejak lima menit lalu di area luar lobby. Walau sebetulnya lokasi yang kutuju tak jauh dari hotel, berkisar satu kilometer, tetapi aku tak akan pernah mengambil resiko kegagalan untuk menyambangi destinasi ini.

Keluar dari hotel, menyusuri Jalan Honggowongsi, bersambung ke Jalan Moh. Yamin dan kemudian menikung di ruas Jalan Gatoto Subroto. Berlanjut memotong jalan protokol kota, taksi online kemudian berhenti di salah satu sisi Jalan Diponegoro….Sampai.

Kini aku sudah menginjak halaman Pasar Triwindu dan tekun memandangi arsitektur pasar itu dari sebelah Patung Loro Blonyo yang patah tangan kanannya. Tampak ornamen wayang menghiasi sisi atap pasar. Dapat kubaca dengan sangat jelas “Selamat Datang di Pasar Triwindu, Pusat Penjualan Barang Antik dan Klitikan”.

Dahulu bernama Pasar Windujenar.
Halaman Pasar Triwindu.
Kios di bagian luar pasar.

Sebelum benar-benar memasukinya pun, sudah bisa terlihat sebuah baju zirah milik prajurit Keraton Solo terpajang gagah di salah satu lapak. Arca-arca berukuran kecil dibariskan rapi di atas lantai. Maka aku tak sabar memasukinya segera.

Kuputuskan mulai menjelajah dalaman pasar hingga menemukan banyak koleksi topeng pewayangan, piring lebar berbahan keramik khas Negeri Tiran Bambu, lampu-lampu gantung antik, bahkan almari berbahan jati tua dijadikan etalase untuk mendisplay setiap barang yang diperjualbelikan. Menjadikan suasanan di pasar terasa magis dan membuat berdiri bulu kuduk.

Aku sempat membelikan beberapa koleksi arca mini sebagai pesanan dari teman sekantor yang juga penggila barang-barang unik. Selebihnya aku hanya menikmati benda-benda penuh seni itu di sepanjang koridor pasar. Pantas saja jika kolektor luar negeri banyak berburu barang antik di sini.

Aku kembali berputar sebelum akhirnya menemukan sebuah keramaian kecil di sekitar pintu pasar. Tampak empat perempuan setengah baya sibuk membuka lapak makanan dan memasang spanduk bertuliskan “Jenang Suro”. Suro adalah pengganti nama Bulan Muharram di Kota Solo. Jadi bisa dipastikan, aktivitas ini ada kaitannya dengan Tahun Baru Islam. Aku mencoba mendekat dan seorang dari mereka melambaikan tangan penuh senyum.

Bagian dalam pasar.
Bagian dalam pasar.

Sini, Mas!”, ucapnya.

Wah ada apa, Bu. Kok ramai?”.

Ini Jenang Suro, mas. Cuma-Cuma. Untuk memperingati tanggal satu Suro”, jelasnya. Benar firasatku, peringatan Satu Muharam.

Mari, Mas dimakan, ini buatan para ibu-ibu pedagang di sini, lho. Pasti enak”.

Jenang Suro gratis.
Hmmh….Super enak.

Sore itu aku menikmati bubur panas, bertabur “sambel tumpang” berpadu dengan lembutnya kacang tolo, kikil kulit, potongan omelet dan tahu dalam siraman rempah yang sedap. Bahkan aku menghabiskan dua pincuk kertas saking nikmatnya.

Semua kesan yang kudapat, akhirnya membuatku memutuskan bahwa Pasar Triwindu ini layak untuk dijadikan salah satu destinasi pada acara Marketing Conference nanti.

Terlelap di Amaris Hotel Sriwedari

<—-Kisah Sebelumnya

Aku masih berada empat kilometer dari batas barat Kota Solo. Udara tak sepanas tengah hari tadi, kini waktu sudah menunjukkan pukul 14:15 dan aku baru saja selesai mengeksplorasi Museum Pabrik Gula De’ Tjolomadoe. Seporsi rawon dan es susu coklat yang kusantap di dalam museum setidaknya membuatku lebih tenang dan jernih memikirkan tahapan survey berikutnya.

Tapi sudah enam jam sejak aku meninggalkan pelataran Grand Amira Hotel by Azana di daerah Pasar Kliwon tadi pagi. Aku memutuskan untuk segera mengurus proses check-in di Amaris Hotel Sriwedari. Itu berarti, aku harus menuju ke tengah Kota Solo kembali.  Aku memutuskan untuk menempuhnya dengan taksi online.

Tak lama aku memesannya. Hingga taksi online yang kunaiki pun mulai merangsek menuju pusat kota. Setelah menempuh jarak sejauh dua belas kilometer, akhirnya aku tiba di depan Amaris Hotel Sriwedari dalam waktu tiga puluh menit.

Rahadian di meja resepsionis.
Lobby.
Pemandangan dari kamar hotel.

Rahadian segera mengurus proses check-in di meja resepsionis dan aku memilih menikmati segelas orange juce  sebagai fasilitas welcome drink hotel bintang dua itu. Kami segera memasuki kamar dan memutuskan untuk mendinginkan tubuh di bawah siraman shower.

Aku kembali membuka itinerary yang sudah kususun di Jakarta. Aku menghela nafas panjang, karena masih banyak agenda tersisa untuk dijalani.  Tapi sebelum menuju ke tempat berikutnya, aku memutuskan meluangkan waktu sejenak untuk mencatat hal-hal penting yang telah kudapatkan sedari pagi. Aku mulai mencatat hal-hal penting perihal Es Dawet Telasih, Pasar Gede Hardjonagoro, Kereta Wisata Jaladara, Taman Balekambang, Swiss-Belinn Saripetojo dan De’ Tjolomadoe. Catatan itu akan menjadi sebuah laporan survey yang dibutuhkan Seksi Acara Marketing Conference untuk menentukan bentuk konferensi secara lebih mendetail.

Berbagi tugas dengan Rahadian dalam menyusun laporan tersebut, membuat kami lebih cepat dalam menyelesaikannya.  Genap satu jam untuk membuat ulasan detail tentang enam destinasi itu dan laporan itu sempurna terselesaikan setelah kukirimkan via email kepada Bapak Dedi Damhudi yang menjadi Ketua Seksi Acara yang tentu masih berada di Jakarta.

Restoran hotel.
Sarapan di keesokan hari.
Hari ketiga di Solo.

Merasa kelelahan semenjak dua puluh dua jam dari waktu kedatanganku di Kota Solo, aku tertidur di samping laptop yang masih menyala. Sepertinya Rahadian membiarkanku yang pulas tertidur hingga beberapa saat kemudian dia mulai membangunkanku.

Pak Donny….Bangun!. Ayo kita survey lagi. Masih banyak tempat yang harus kita kunjungi!”, ucapnya ringan sembari tersenyum ringan.

Aku sudah berapa lama tertidur, Rahadian?“, sergahku gelagapan.

Satu jam, pak”.

Astaga, sudah sore. Ayo kita berangkat!”, aku melompat dari tempat tidur.

Hampir pukul lima….Aku memutuskan berkemas untuk menuju ke destinasi berikutnya. Aku akan menuju ke timur sejauh dua blok. Destinasi ini berada di daerah Keprabon dan hanya berjarak satu kilometer dari hotel tempatku menginap.  

Mari kutunjukkan tempat itu!.

Merancang Makan Malam di De’ Tjolomadoe

<—-Kisah Sebelumnya

Aku berpamitan kepada Pak Bekti, marketing staff Swiss-belinn Saripetojo Hotel yang telah mendampingiku menggenapkan survey ruangan-ruangan penting hotel untuk keperluan Marketing Conference perusahaanku.

Tetapi ketika hendak meninggalkan lobby. Seseorang yang bernama Treavy, vokalis Artcoustic Band menelpon Rahadian yang berada di sebelahku.

Vokalis Artcoustic Band ngajak meeting di sini pak”, Rahadian berkata pelan.

Ya boleh lah, kita meeting di lobby hotel saja”, aku memutuskan.

Akhirnya aku dan Rahadian memutuskan menunggunya di lobby hotel. Kami hanya ingin bernegosiasi ringan perihal biaya menyewa Artcoustic Band untuk durasi manggung 2 jam di gala dinner Marketing Conference nanti.

Lima belas menit kemudian, Treavy tiba. Dan kami langsung bernegosiasi cepat dan menemukan kata sepakat tak kurang dari 30 menit. Kami membahas perihal daya sound system yang dibutuhkan, biaya manggung, jenis alat musik yang akan dibawa dan durasi tampil. Pembicaraan serasa cepat karena memang kami dikejar waktu untuk melakukan banyak survey hari itu.

Selepas Treavy berpamitan, maka kami pun segera menaiki taksi online yang telah menunggu di area parkir sejak 5 menit lalu.

De’Tjolomadoe, mas?”, ucapn singkat pengemudi ketika aku telah terduduk di sebelahnya.

Berapa lama, pak?”

Tiga puluh menit mas. Jaraknya lumayan….Sepuluh kilometer, mas”, jawabnya sambil tersenyum ceria.

Aku faham bahwa bangunan pabrik gula bersejarah ini terletak di luar kota Solo, tepatnya di Kabupaten Karanganyar. Taksi online warna hitam yang kunaiki merangsek menuju ke barat. Pantulan sinar surya ke aspal jalanan menjadikan hawa kota semakin panas. Matahari bertengger di atas kepala, pukul 12:00 siang tepatnya.

Arus jalanan sedikit memadat, dan taksi online menjadi tersendat di beberapa titik. Sedikit luput dari estimasi waktu, aku tiba di gerbang depan De’Tjolomadoe.

Halaman depan De’ Tjolomadoe.
Pintu masuk.

Bangunan exs-pabrik gula itu terlihat gagah dari pelataran, dinding tebalnya menyiarkan kekokohan, Julangan ketinggiannya mengagumkan dan satu cerobong asap di tengah membuatnya klasik. Semakin elegn dengan cat warna krem cerah yang masih tampak baru. Maklum, setelah renovasi panjang,  bangunan ini baru diresmikan pemakaiannya enam bulan sebelum kedatanganku

Aku mulai mengantri di gerbang depan. Setiba giliranku memasuki pintu, petugas keamanan menyodorkan kepadaku sebuah pena.

Masih promo gratis kok mas, diisi saja buku tamunya ya!”, dia memerintah dengan sopan.

Baik, Pak”. Jawabku sembari membalas senyum.

Aku memasuki hall terdepan yang bartajuk Stasiun Gilingan. Stasiun Gilingan ini tampaknya berperan sebagai area utama Museum Pabrik Gula ini. Mesin-mesin raksasa tampil di dalamnya. Sedangkan dinding sisi kanan memberikan informasi perihal event-event yang diselenggarakan di De’Tolomadoe seperti konser David Foster & Friends, kunjungan Bapak Jokowi Widodo (Presiden Republik Indonesia), Habibie Festival dan acara lainnya. Foto-foto De’Tjolomadoe sebelum dan sesudah revitalisasi pun ditampilkan dengan runut.

Pintu Stasiun Gilingan.
Mesin-mesin raksasa di dalamnya.
Informasi event.
Stasiun Karbonatasi.
Etalase kerajinan tangan.

Aku mulai melangkah lebih dalam. Memasuki bagian bertajuk Stasiun Karbonatasi dengan bertampilan mesin-mesin berukuran lebih kecil, dipadukan dengan etalase kerajinan tangan. Etalase yang membuatku kagum adalah etalase batik karya Solomadoe dan Omah Camera.

Berbelok di sudut bangunan , aku menemukan ruangan ketiga yaitu Stasiun Penguapan. Tampak tabung-tabung raksasa tertampil sempurna diatas kaki-kaki baja. Keberadaan pot-pot bunga dan toko-toko seni membuat ruangan ini lebih hidup.

Aku semakin merasa tak sabaran untuk melihat suasana di bagian Food and Beverage, karena aku memiliki sebuah konsep acara unik untuk Marketing Conference nanti. Aku berencana mengadakan makan malam pada hari pertama konferensi di Museum Pabrik Gula ini dengan catatan restoran yang tersedia bisa memenuhi kuota peserta sebanyak 76 orang.

Tibalah aku di bagian yang kutuju, yaitu Stasiun Ketelan. Restoran itu bernama Street Food Festival. Aku langsung menemui manajer operasional dan menceritakan detail maksudku berkunjung. Dengan berbagai skema dan strategi akhirnya dia memutuskan bisa mengakomodasi rencana itu. Dia bersedia menambah bangku dan peralatan makan untuk hari-H nanti. Dia juga tak segan memberikan diskon menarik untukku.

Stasiun Penguapan.
Pintu Stasiun Ketelan..
Stasiun Ketelan.
Tjolo Koffie.
Street Food Festival.
Sampai jumpa De’ Tjolomadoe.

Genap satu jam setengah aku mengeksplorasi De’Tjolomadoe dan memastikan settingan salah satu acara penting di tempat itu. Saatnya menuju Amaris Hotel Sriwedari untuk melakukan proses check-in dan menaruh beberapa barang supaya langkahku tak semakin berat.

Kisah Selanjutnya—->

Food Testing di Swiss Belinn Saripetojo Hotel Solo

<—-Kisah Sebelumnya

Hi Donny, jadikan Marketing Conference kita menjadi sangat hebat dan bermakna. Saya sudah memesan hotel yang sangat bagus dan strategis untuk acara kita. Kamu harus mensurveynya dan mendesain acara kita sesuai fasilitas dari hotel yang saya pesan”.

Itulah ucapan singkat dari CEO seminggu sebelum aku melakukan survey ke Solo. Kalimat yang menyimpan harapan dan tentu menjadi beban tersendiri bagiku sebagai Ketua Pelaksana Marketing Conference.

Yang kutahu, hotel ini terletak di daerah Laweyan dan tepat berseberangan dengan Stasiun Purwosari yang merupakan stasiun kereta api tertua kedua di Solo. Dan survey hari pertamaku, memasukkan agenda mengunjungi hotel ini dalam itinerary.

Masih pagi….Waktu menunjukkan pukul 08:38 WIB dan aku sudah menggenggam beberapa informasi memadai tentang penyewaan Kereta Wisata Jaladara untuk keperluan Marketing Conference nanti. Kini aku sudah berada di depan halaman Dinas Perhubungan Kota Solo untuk menunggu jemputan taksi online.

Tak lama taksi itu pun datang dan aku bergegas naik. Rahadian duduk di jok belakang sisi kanan dan aku mengobrol dengan pengemudi di jok depan. Rahadian terus berusaha menghubungi divisi marketing dari hotel yang kita tuju. Pak Bekti namanya. Sepertinya Rahadian sedikit kesal karena tak kunjung berhasil menghubunginya.

Sudahlah, kita tanyakan saja nanti di tempat”, gumamku ringan.

Baik Pak”, jawabnya singkat  lalu tatapannya menghambur ke luar jendela taksi untuk menikmati atmosfer Kota Solo.

Taksi online bergerak ke arah barat daya, sekitar tiga kilometer.  Dan dalam 15 menit tiba di depan lobby hotel. Swiss-Belinn Saripetojo Solo , nama hotel itu. Terletak di sisi selatan jalan protokol, yaitu Jalan Slamet Riyadi, tepat di seberang Tugu Tabanas Purwosari.

Lobby dan reception desk.
Escalalator menuju Robinson Department Store.
Toilet dekat reception desk.

CEO kami memang baik hati. Ia memesan hotel bintang tiga yang terintegrasi dengan pusat perbelanjaan kota, yaitu Robinson Department Store. Namun siapa sangka hotel ini merupakan bekas bangunan pabrik es dari zaman penjajahan Belanda pada tahun 1919.

Begitu turun dari taksi online, kami langsung menuju meja resepsionis dan menanyakan dimana Pak Bekti yang bertugas di bagian pemasaran. Ternyata dia sedang rapat dan kami harus menunggu hingga lima belas menit.

Beberapa lama menunggu, Pak Bekti datang dan sesaat kemudian kami diajak berkeliling ke semua ruangan yang akan ada kaitannya dengan acara Marketing Conference kami. Mulai dari ruang pertemuan kemudian berlanjut ke barelo (bar, restoran, lounge), kolam renang, pusat kebugaran serta spa dan ruang pijat, semua ditampilkan satu per satu.

Koridor menuju ballroom.
Lounge di depan Keraton Balroom.
Keraton Ballroom.
Keraton Ballroom.

Waktu survey terbesar, kami alokasikan untuk melihat Keraton Ballroom, karena lokasi inilah yang akan menjadi tempat utama berlangsungnya acara. Kami harus detail memperhatikan  ballroom layout untuk mendesain bentuk acara terbaik yang bisa dilakukan.

Sedangkan fasilitas kedua yang menjadi tujuan kami adalah barelo. Tempat ini akan kami rencanakan menjadi lokasi gala dinner dengan suguhan grup band lokal, yaitu Artcoustic Band. Kami juga diizinkan melakukan food testing untuk menentukan menu terbaik yang akan kami pilih untuk disajikan saat acara nanti.

Lounge di depan Barelo.
Barelo.
Outdoor Barelo.
Outdoor Barelo.

Hanya sayang, aku tak bisa melihat kamar hotel karena pagi itu kamar masih penuh oleh tamu. Akhirnya survey terakhir kami lakukan untuk melihat kolam renang, fitness centre serta ruangan spa and massage.

Kolam renang.
Fitness Centre.
Spa and massage room.

Kami fikir survey kali ini sudah cukup dan saatnya menuju ke tempat berikutnya.

Kisah Selanjutnya—->

Berburu Sewa Kereta Jaladara hingga Taman Balekambang

<—-Kisah Sebelumnya

Menaiki kereta peninggalan Belanda adalah salah agenda penting dalam Marketing Conference pada bulan Oktober nanti. Oleh karenanya, hari pertama surveyku ke Solo menempatkan Kereta Wisata Jaladara sebagai prioritas pertama. Dan pihak yang bisa dikulik informasinya perihal penyewaan kereta wisata ini adalah Dinas Perhubungan Kota Solo.

Maka setelah menikmati sendok terakhir Es Dawet Telasih, aku meninggalkan Pasar Gede menuju Jalan Menteri Supeno. Tujuanku adalah menemui petugas yang mengurusi perizinan sewa Kereta Wisata Jaladara dan menanyakan perihal mekanisme dan biayanya.

Kantor Dinas Perhubungan Kota Solo.

Tak lama menunggu, taksi online menjemputku dan mengantarku kesana. Tak jauh, hanya berjarak empat kilometer di sebelah barat Pasar Gede, dalam 15 menit aku tiba. Saat tiba di Dinas Perhubungan Kota Solo suasana sudah sangat ramai, mungkin sejak pagi tadi, kendaraan angkut sudah mengantri untuk melakukan KIR kendaraan. Hanya itulah surat sakti kendaraan angkut untuk berburu Rupiah di tanah air.

Aku diarahkan oleh satpam yang bertugas menuju sebuah bangunan kecil yang difungsikan sebagai kantor untuk menemui Pak Sandi yang merupakan petugas Jaladara. Hanya saja Pak Sandi ternyata sedang ada rapat antar instansi dan tidak berada di tempat. Akhirnya aku hanya mendapatkan sedikit penjelasan perihal Kereta Wisata Jaladara dari petugas yang berjaga. Informasi itu diantaranya adalah harga sewanya Rp. 3.500.000 per 3 jam, jika ingin menambahkan tour guide, kesenian musik dan kuliner pasar di dalam kereta maka perlu menambah dana sekitar Rp. 2.100.000. Dan informasi terakhir adalah Dinas Perhubungan juga menawarkanku jasa Bus Tingkat Werkudara yang bisa digunakan untuk berkeliling wisata kota Solo.

Menyimpan informasi dan sembari menunggu petugas itu, aku memutuskan berkunjung ke sebuah taman kota di dekat kantor Dinas Perhubungan Kota Solo, hanya berjarak 600 meter, jadi bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Taman kota itu adalah Taman Balekambang, sebuah taman kesenian terpadu seluas 10 Ha dan terletak di daerah Manahan. Taman Balekambang merupakan salah satu venue untuk pemetasan seni di Kota Solo, selain itu taman ini juga berfungsi sebagai taman edukasi, taman botani dan taman rekreasi. Setiap bulan sering diadakan pementasan seni di kawasan ini. Sendratari dan Ketoprak adalah pertunjukan yang sering di gelar disana.

Gerbang Taman Balekambang.
Area utama Taman Balekambang.
Informasi tentang pertunjukan seni yang akan tampil.
Ruang Laktasi untuk pengunjung.

Aroma seni taman ini mulai terasa ketika memasuki gerbang, Pintu gerbang yang tinggi dengan eksterior ukiran berkonsep gunungan begitu sarat seni. Sementara beberapa papan tulis bertuliskan jadwal pementasan seni di Bale Kambang terpampang di sekitar taman. Memudahkan pengunjung untuk mendapatkan informasi.

Sementara deretan shipping container di letakkan di salah satu sisi taman dan berfungsi untuk fasilitas pengunjung seperti Ruang Laktasi dan Ruang Medis. Menjadikan taman ini begitu manusiawi untuk menjadi sebuah tempat pertunjukan seni seutuhnya.

Jika diklasifikasikan, bagian timur taman difungsikan sebagai tempat aktivitas outbond dan pembibitan tanaman.Sementara di pusat taman diletakkan gedung kesenian dan taman utama dengan open stage untuk pertunjukan di ruang terbuka. Sementara bagian barat didominasi oleh keberadaan danau dan kolam renang untuk dinikmati oleh para pengunjung.

Pagi itu, tidak banyak yang bisa kulakukan di taman itu karena memang sedang tidak ada acara kesenian sama sekali. Jadi setelah puas berkeliling maka kuputuskan untuk kembali segera ke Dinas Perhubungan untuk menemui Pak Sandi yang mungkin saja sudah kembali dari rapat.

Kisah Selanjutnya—->

Dawet Telasih dan Pasar Gede Hardjonagoro

<—-Kisah Sebelumnya

Pintu utara Pasar Gede Hardjonagoro.

Walau Rahadian baru tiba di Solo saat pagi buta dan sempat menumpang mandi serta sarapan, maka sesuai jadwal, aku tetap melakukan check-out dari Grand Amira Hotel by Azana. Waktu sudah menunjukkan pukul 8:30 WIB saat kami keluar ke pelataran hotel.

Aku segera memesan taksi online dan meluncur  menuju daerah Sudiroprajan untuk melakukan survey kuliner pertama. Kuliner istimewa yang kusasar adalah Es Dawet Telasih, yaitu dawet berkomposisi ketan hitam, jenang sunsum, tape ketan, biji telasih, gula cair, santan dan es batu.

Aku diturunkan di pintu utara Pasar Gede Hardjonagoro tepat di sebelah Tugu Jam Pasar Gede. Bangunan tua dari pasar peninggalan Belanda ini memang mengagumkan. Perpaduan arsitektur Jawa-Kolonial tersirat jelas dari penampakan dinding bergaya Kolonial dan atap bergaya Jawa. Berdinding tebal, langit-langit ruangan yang tinggi dan jendela memanjang ke atas.

Saat aku tiba, area pelataran sudah terasa sibuk pagi itu. Arus pengunjung yang keluar masuk pasar untuk berbelanja, para pedagang yang berbondong untuk memasukkan barang dagangan ke dalam pasar, riuh rendah teriakan tukang becak yang mencari penumpang serta kesibukan para pedagang kuliner ringan di area luar pasar membuat suasana pasar terbesar di kota Solo itu menjadi sangat hidup.

Suasana di luar Pasar Gede Hardjonagoro.
Suasana di luar Pasar Gede Hardjonagoro.
Tugu Jam Pasar Gede.
Suasana dalam Pasar Gede Hardjonagoro.
Suasana dalam Pasar Gede Hardjonagoro.
Suasana dalam Pasar Gede Hardjonagoro.

Aku bergegas memasuki area dalam pasar untuk mencari keberadaan Kedai Es Dawet Telasih Bu Dermi yang konon sangat terkenal di seantero Solo. Bagaimana tidak, konon racikan resep Es Dawet Telasih Bu Dermi sudah berusia 90 tahun dan tidak berubah sama sekali sejak pertama dibuat. Bahkan Es Dawet Telasih ini telah menjadi langganan Bapak Joko Widodo (Presiden Republik Indonesia) saat pulang ke Solo.

Menyibak gang-gang sempit di tengah pasar membuatku hanyut dalam rasa perniagaan masyarakat Solo. Dan akhirnya keadaan kurang menguntungkan menimpaku. Ketika tiba di depan Kedai Es Dawet Telasih Bu Dermi, kedai itu masih tutup dan lengang. Aku mencoba bertanya kepada beberapa pedagang di dalam pasar perihal kapan kedai itu akan dibuka.

Mengke jam sedoso, mas”, begitu mereka menjawab.

Oalah, aku terlalu pagi melakukan survey dawet ini.

Dugi jam kalih biasanipun sampun telas, Mas”, mereka menambahkan informasi ketika aku terduduk di salah satu bangku kedai kosong itu.

Bagaimanapun caranya, aku harus menemukan dan merasakan Es Dawet Telasih untuk menguji rasanya, karena para peserta Marketing Conference nantinya akan diarahkan ke Pasar Gede Hardjonagoro untuk mencicipi kuliner itu.

Aku mencoba menelusuri gang-gang lain dalam pasar, hingga menemukan Kedai Es Dawet Telasih Ibu Hj. Sipon. Tanpa fikir panjang aku segera memesan seporsi dengan harga Rp. 8.000. Begitu pelan kunikmati, memang Es Dawet Telasih ini sangat spesial rasanya, perpaduan gurih, manis, tekstur lembut dan sejuk menjadi satu kesatuan yang menggugah selera. Akhirnya kuputuskan, Es Dawet Telasih menjadi destinasi kuliner pertama untuk Marketing Conference nanti.

Salah satu kedai Es Dawet Telasih.
Ibu Hj. Sipon.
Es Dawet Telasih.

Setelah menikmati Es Dawet Telasih, aku dan Rahadian bergegas menuju ke Dinas Perhubungan Kota Solo untuk mencarter Kereta Wisata Jaladara.

Kisah Selanjutnya—->

Survey Solo Bermula dari Grand Amira Hotel by Azana

<—-Kisah Sebelumnya

Hampir tengah malam….

Percakapan berbumbu secangkir latte tambahan dengan Pak Arman di lobby Solo Paragon Hotel & Residences masih saja hangat. Sedangkan Rihsan, anak keduanya yang berumur delapan tahun sudah terlelap di salah satu sisi sofa. Aku yakin jika tak menyudahi, pasti kongkow ini akan berakhir saat fajar. Maka akulah yang bertanggung jawab menutup percakapan ini.

Baiklah Pak Arman, sudah saatnya saya undur diri dan beristirahat di hotel”, kuucapkan sesopan mungkin setelah meneguk sisa latteku.

Oh, udah hampir tengah malam ya?. Oh iya, Pak Donny menginap dimana?”.

Di Grand Amira Hotel, Pak Arman”.

Oh, baiklah. Hati-hati pak di jalan. Sampai jumpa lagi kapan-kapan”.

Jalanan sudah sepi. Untuk mengurangi resiko keamanan, kuputuskan untuk memesan taksi online saja. Tak lama aku dijemputnya. Lalu, taksi melaju melalui Jalan Honggowongso menuju ke daerah Pasar Kliwon. Dalam perjalanan, aku mencoba melacak keberadaan Rahadian dalam perjalanannya dari Bandung menuju Solo. Tapi panggilanku tak berjawab, pesanku tak berbalas,mungkin dia pulas di kereta.

Solo aman ngga pak, kalau malam-malam gini naik ojek motor?” tanyaku kepada sopir untuk membuka pembicaraan.

Aman, Insyaallah mas. Disini ojek online jalan 24 jam. Ga usah khawatir”.

Wah berarti besok malam saya bisa begadang di kota nih pak….Hahahaha

Kulineran malam saja mas Donny. Solo jagonya kuliner. Di sini kuliner ada waktunya masing-masing. Ada kuliner pagi, ada juga yang buka siang, nah malam begini juga ada yang mulai buka mas”, jelasnya singkat.

Wah unik ya Solo. Pedagang kuliner seperti punya slot waktu jualan masing-masing. Kaya kesepakatan saja….hahaha” aku mulai mengagumi keunikan kota ini.

Sang sopir taksi memang tak pernah tahu bahwa tujuanku ke Solo ini untuk melakukan survey kuliner terbaik yang akan dijadikan destinasi pada acara Marketing Conference perusahaanku. Besok pagi aku akan mulai mecicipi setiap hidangan kuliner ternama Kota Batik bersama Rahadian.

Dalam 15 menit, aku tiba di pelataran Grand Amira Hotel by Azana. Hotel modern minimalis yang telah dipesan oleh kantorku. Bagiku hotel seharga 335.000 per malam ini menjadi hotel mewah karena aku terbiasa memanfaatkan dormitory ketika melakukan backpacking. Langkahku di lobby disambut dengan senyum manis resepsionis yang tampak bergegas berdiri ketika melihat kedatanganku.

Datangnya malam sekali, Bapak Donny”, sapanya singkat.

Oh iya mbak. Saya harus ketemu teman lama dahulu di daerah Mangkubumen. Keasyikan ngobrol mbak”, sambil kuserahkan booking confirmation letter dan KTP kepadanya.

Oh begitu, tapi Bapak ga perlu khawatir, resepsionis kita melayani 24 jam, Bapak”. Senyumnya terlihat aduhai sembari memberikan kunci kamar dan kwitansi bayar.

Setelahnya aku bergegas menaiki kamar dengan lift di sebelah kanan belakang meja resepsionis.

—-****—-

Tok…Tok….Tok”, bunyi itu sepertinya sudah berlangsung dari beberapa menit yang lalu.

Astagaaaa……

Aku tertidur pulas dan kesiangan.

Tok…Tok…Tok, Pak Donny buka, Pak. Ini Rahadian”, suara itu lirih terdengar dari luar.

Pasti sejak pagi gelap tadi, Rahadian sudah tiba di hotel. Dugaanku, dia pasti menuggu lama di lobby. Kulihat di gawai pintarku banyak sekali panggilan tak terjawab darinya. Pesan whatsapp pun tak terbaca. 

Kubuka pintu itu dan muka Rahadian tampak bercanda seolah menggerutu. “Gimana sih pak, kalau guwe  kagak naik ke kamar, pasti lo bangunnya tengah hari nih. Parah Pak Donny”.

Sorry, Rahadian. Semalam aku ketemu teman lama di Solo Paragon. Jadi kemalaman pulang….Hahaha. Sana kamu mandi duluan, kita segera sarapan dan melakukan survey”, selorohku sambil mengucek-ucek mata dan melompat kembali ke tempat tidur.

Pagi ini aku akan check-out dan berpindah ke Amaris Hotel di daerah Sriwedari. Aku dan Rahadian sengaja membawa backpack kecil dan ringan, sehingga setelah check-out kami bisa leluasa bergerak tanpa harus menaruh sesuatu di Amaris Hotel terlebih dahulu.

Mau ikut survey kulinerku? ….hahaha.

Yukksss….

Kisah Sebelumnya—>