Merunut Shah Jahan, Menikmati Taj Mahal di Mehtab Bagh

Selepas penat mengurus pemerintahan Mughal, aku terbiasa menuju Taj Mahal untuk memantau progress pembangunannya. Kala sore menjelang, kuajak beberapa buruh Taj Mahal untuk menyeberangi sungai Yamuna dan kusambung dengan berteduh di sebuah tanah lapang untuk menikmati Taj Mahal yang berdiri megah tersiram oleh sinar senja merah jingga….Begitu indah, aku membayangkan itu. Membayangkan?….Ya, karena aku bukan Shah Jahan. Hanya dialah yang bisa melakukan aktivitas itu di masa lampau. Siapalah aku….Hahaha.

Taj Mahal tertangkap dari Mehtab Bagh

Aku tiba setelah 10 menit sebelumnya masih mengeksplore Itimad ud Daulah di Barat Laut Mehtab Bagh. Taman indah nan luas itu belum juga mencuri perhatianku, karena aku lebih tertarik dengan aksi seorang bapak setengah tua membolak-balik gorengannya sehingga menebarkan aroma harum penggugah selera. Pantaslah banyak orang bersedia mengantri untuk mencicipinya. Kurelakan Rp. 10.000 untuk menebus dan melahapnya, french fries panas beraroma samar kari menjadi menu cemilanku sebelum mamasuki Mehtab Bagh.

Beli tiket dulu lah sebelum masuk.

Aku segera menuju gerbang disertai membeli tiket seharga Rp. 40.000. Sontak terkagum dengan kondisi taman. Jalur yang tertata rapi itu diperindah dengan kolom bunga yang memanjang di tengahnya. Difasilitasi pula oleh bangku di beberapa spot. Bangku yang hampir semua terduduki oleh pasangan muda-mudi India yang sedang terjangkit asmara. Aku tak bisa menampiknya, karena memang taman itu sangatlah romantic, sesuai namanya. Kamu tahu kan arti kata Mehtab Bagh?….Mehtab Bagh memiliki makna yang sama dengan Moonlight Garden. Beuh….Gimana ga indehoy tuh.

Rapi banget kan?…

Ketika muda-mudi itu saling berpandang dalam ketertarikan masing-masing maku aku lebih tertarik menuju ke sebelah kanan taman karena dari kejauhan penampakan Taj Mahal itu begitu mempesona mata. Kini aku baru tahu, kenapa Shah Jahan sering meluangkan waktu sorenya untuk sekedar bersimpuh memandangi karyanya disini. Bahkan dia pernah berniat membuat Taj Mahal kembar berwarna hitam di Mehtab Bagh. Namun niat itu urung karena dia keburu menjadi tahanan rumah di Agra Fort pasca dikudeta anak laki-lakinya sendiri. Si anak khawatir terhadap keuangan kerajaan yang rawan dihabiskan ayahnya untuk merealisasikan niatnya itu.

Lihatlah fondasi itu….Cikal bakal Black Taj Mahal yang gagal.

Semua pengunjung pasti merasa aman ketika berada di taman, karena dua serdadu muda bersenjata lengkap berkeliling taman untuk mengamankan situasi.

Serdadu: “Where are you come from?”, seloroh beriring senyum.

Aku: “Indonesia, Sir”, timpal membalas senyum.

Serdadu: “How about Taj Mahal?. It’s good. Are you happy?”

Aku: “Yes, Sir. It’s beautiful. I Love it”, imbuhku.

Serdadu: “Enjoy

Aku: “Thanks Sir”.

Pepohonan nan rindang di taman.

Aku tak bisa benar-benar menuju ke tepian sungai Yamuna karena pengelola taman membatasi taman dengan kawat besi. Kulihat seorang turis Eropa terkesan professional ketika mengeluarkan DSLR berteropong panjang dan mengambil banyak sekali gambar Taj Mahal dari berbagai sisi yang dia suka tepat di depan pagar kawat itu. Aku hanya membayangkan jika suatu saat bisa memiliki kamera seperti itu dan berkeliling dunia mengambil gambar-gambar ciamik untuk kalian lihat. Alhamdulillah, Akhirnya 3 bulan kemudian aku memiliki kamera mirrorles Canon EOS M10. Tak sebaik miliknya, tetapi cukup bagiku yang berpenghasilan pas-pasan untuk menangkap gambar lebih baik….Hahaha #curcol

Pagar kawat itu menghalangiku sangat

Cukup rasanya meniru aksi Shah Jahan di Mehtab Bagh. Kini aku akan melihat Agra Fort, tempat Shah Jahan dipenjara….Kesian. #sedih

Itimad ud Daulah….Cetak Biru Taj Mahal milik Ghiyas Beg

Description: D:\BLUE PRINT\travelingpersecond\Baby Taj 01.JPG
Itimad ud Daulah

Taj Mahal boleh saja tersohor di muka bumi. Tetapi sesungguhnya dibalik kemasyhurannya, ada satu kreasi arsitektur yang telah disepakati dunia sebagai blueprintnya Taj Mahal. Prototype itu ada pada Itimad ud Daulah.

Sangat bersyukur, aku berkesempatan melongoknya siang itu. Bak kejutan membaca novel. Kali ini Bab Pendahuluan dimulai dengan sekonyong-konyong keluarnya barisan keledai yang mengangkut bata merah diiringi nyanyian sang pemilik. Takjub melihat para donkey “mengucap permisi” di depanku. Seumur hidup baru kali ini melihat satwa itu berjarak satu meter dihadapan. Sang pemilik hanya melempar senyum melihatku menganga tanpa berkedip mata sembari tangan menekan tombol record kamera HP.

Keledai dan pemiliknya

Merogoh kocek Rp. 38.000, aku merangsek masuk ke pelataran “Baby Taj” (panggilan kesayangan Itimad ud Daulah).

Dapatkan tiketnya di gerbang depan.

Jika Taj Mahal menjadi milik Mumtaz Mahal, maka Itimad ud Daulah menjadi milik Mirza Ghiyas Beg yang tak lain adalah kakek dari Mumtaz Mahal. Taj Mahal dibangun oleh suami Mumtaz Mahal, maka Itimad ud Daulah dibangun oleh Nur Jahan yang merupakan anak Ghiyas Beg.

Pintu sebelum masuk ke makam
Ini dia makan Mirza Ghiyas Beg dan istrinya

Menulusuri bagian demi bagian, nalarku mengkonfirmasi bahwa Itimad ud Daulah adalah bentuk mini Taj Mahal. Tak sama persis tetapi arsitektur, desain interior dan eksterior mendekati mirip. Masih sama, mengandalkan marmer putih sebagai tampilan utama.

Interior Itimad ud Daulah
Bagus kan….

Cuaca yang mulai menghangat membuatku terduduk nyaman sembari menikmati keindahan mausoleum itu. Kali ini, pandanganku sedikit terinterupsi dengan kedatangan seorang turis cantik berambut pirang panjang. Bukan parasnya yang menggodaku, tetapi kekagumanku pada effortnya mendatangi Itimad ud Daulah dalam kondisi bertongkat kruk dan balutan gips yang menandakan ada cedera parah di kaki kanannya. Susah payah dia berusaha duduk di pelataran sembari mengarahkan DSLRnya kesana kemari. Diselingi sesekali membaca Lonely Planet yang dikeluarkan dari backpack kecilnya. Sayang,  aku tak memberanikan diri untuk menyapa. Kecantikannya membuatku tak berkutik….Backpacker pengecut kamu, Don!.

Bab Penutup eksplorasi Itimad ud Daulah dimulai dengan melangkah ke gerbang di sisi kanan. Aku sungguh terpesona akan hamparan sungai yang luas nan mulai mengering. Aku tentu tahu itu sungai Yamuna yang oleh umat Hindu India dianggap sebagai Dewi Yamuna, yaitu Dewi yang dipercaya bisa membebaskan mereka dari siksa kematian apabila  bersuci dengan airnya.

Gerbang yang berbatasan langsung dengan sungai Yamuna
Sungai Yamuna

Begitulah…Sungai Yamuna menjadi penutup sesi eksplorasiku di Itimad ud Daulah. Penasaran dalam menantikan berbagai kejutan atas keindahan arsitektur Agra di lokasi lain yang akan kukunjungi hingga sore menjelang.

Melangkah keluar, aku mulai membuka peta dan menggerakkan niat untuk mengunjungi Mehtab Bagh, sebuah taman mempesona yang merupakan titik terbaik untuk menikmati keindahan Taj Mahal.

Yuk kutunjukkan tempatnya dimana!

Gagal Total Bertamu di Taj Mahal

Gebu semangat menyongsong Taj Mahal yang tak lebih tinggi dari nyali remeh temeh dalam menaklukkan dinginnya setiap tetes air yang keluar dari shower goStops Agra telah mempermalukan diriku sendiri di sebuah Sabtu pagi.

Jarum di angka 7 persis, taxi yang kami sewa harian melalui sharing cost tiba dan si pengemudi telah menunggu di lobby hostel sembari mendekapkan erat kedua tangannya sebagai pertanda bahwa dia telah diterpa kedinginan yang menusuk di luar sana.

Mau tahu harga sewa taxi putihnya?….Boleh….Rp. 240.000 yang dibagi empat orang. So, Rp. 60.000 harus kurelakan untuk naik diatas rodanya.

Bersikat gigi tanpa mandi, aku menghampiri dan mengajaknya bercakap sembari menunggu 3 turis lain turun. “No need long time to reach Taj Mahal, brother”, tutur pertamanya sembari menggeleng-geleng kepala ala India menjadi pembuka percakapan pagi itu. “Nice”, timpalku sembari sibuk membenahi winter jacket dan shall yang melingkar di leher.

Sepuluh menit selanjutnya, asap knalpotnya mulai mengakuisisi kabut tebal di sepanjang Agra-Bah Road. Benar saja katanya, 15 menit kemudian dia meminta kami turun dan menunjuk sebuah bajaj seharga Rp. 40.000 untuk melanjutkan perjalanan menuju Taj Majal Eastern Gate. Tak menjadi masalah dengan harga karena bajaj itu akhirnya kami tunggangi berempat….Dasar turis tak beradab….Hahaha.

Jam 07:30, para turis telah mengantri berburu tiket seharga Rp. 98.000
Tiketku digenggaman

Bodoh sangat!…..Rasa ingin tahu yang membabi buta telah menutup logikaku pagi itu. Tak pernah berfikir jernih sedari berangkat meninggalkan hostel bahwa badai kabut tebal kota Agra akan menutup pelataran Taj Mahal secara sempurna….Ah, aku berdiri lama menghela nafas panjang kesal di gerbang masuk Taj Mahal. Tak mampu melihat apapun 10 meter didepan. Hanya kabut tebal yang membuatku perlahan membeku.

Tak ada pilihan, suka tak suka, aku harus mulai menjelajah Taj Mahal dengan jaminan pasti bahwa aku tak akan pernah menikmati kemolekannya secara sempurna.

Aku mulai menaiki tangga perlahan memasuki gerbang pertama situs termasyhur itu. Gerbang pertama ini bernama Jilau Khana.

Area sekitar Jilau Khana atau sering disebut forecourt. Bahasa Jawanya “halaman depan”.

Yang terjadi sungguh di luar nalar. Belum juga selesai menikmati merah batanya Jilau Khana, langkah kaki otomatisku tak terbendung mendekat ke bangunan utama. Taj Mahal bak magnet bagi siapa saja yang berkunjung.

Jalan penghubung antara Jilau Khana dan gerbang utama

Sebelum tiba di bangunan utama….Sekitar 100 meter kemudian, aku mencapai gerbang utama nan agung.

Namanya Darwaza-i-rauza atau sering disebut Great Gate

Mulai terdengar keluhan para bule itu sembari menyalahkan sang kabut.”I can’t take a picture!”, keluhnya kepada sesama temannya. Kecut tersenyum dengan sunggingan sebelah bibir, aku tak memperdulikan kekecewaan yang sama.

Lihatlah ukiran di bagian dalam Darwaza-i-rauza itu!

Lalu dimana bangunan utama Taj Mahal yang selalu diburu para traveler dunia?

Yup….350 meter di utara Darwaza-i-rauza adalah letak Taj Mahal, makam dua sejoli yang melegenda. Shah Jahan sang raja dan Mumtaz Mahal sang permaisuri keturunan Persia yang konon cantik luar biasa.

Tak berlama waktu, aku segera memasang penutup sepatu untuk kemudian bersiap memasuki Taj Mahal

shoe cover akan diberikan saat membeli tiket.

Layaknya masjid, Taj Mahal dilengkapi dengan empat minaret di setiap sisinya. Kebesaran kerajaan Mughal tercermin dari setiap jengkal Taj Mahal yang tersusun dari marmer putih yang didatangkan khusus dari Rajashtan dan batu safir yang dikirim dari Sri Lanka.

Minaret setinggi 40 meter dengan dinding silinder.

Hal menggelitik lain ketika mengunjungi Taj Mahal adalah dikala setiap pengunjung berjalan teratur mengikuti alur yang sudah dibuat petugas untuk menikmati setiap sisi ruang utama Taj Mahal dimana makam Mumtaz Mahal berada. Tiga polisi bersenjata lengkap mengawasi setiap pengunjung dengan cermat. Terkadang mereka berseloroh ke beberapa turis untuk segera melangkah karena keasyikan mengambil photo dan membuat alur jalan menjadi macet.

Dinding Taj Mahal
Jendela Taj Mahal
Indahnya seni kaligrafi  Taj Mahal
Lumayan lah….Daripada tidak sama sekali

Begitulah adanya, Taj Mahal yang berusia 372 tahun ini memang mempesona. Tak khayal, 4 juta wisatawan tertarik mengunjunginya setiap tahun.

Selesai menikmati Taj Mahal, maka aku segeran undur diri dan kembali ke eastern gate menuju taxi yang menungguku.

Aku kembali ke timur….Kamu mau kembali lewat mana?

Bus from KLIA2 to KL Sentral

KLIA2 is the most popular airport terminal for travelers to visit to Malaysia. So, if you are one of them, your chances to landing on KLIA2 (Terminal 2) will be higher than landing on KLIA (Terminal 1). This is because LCC (Low Cost Carrier) aircraft such as Air Asia and Scoot Air will land on KLIA2.

Of course, you will go to Kuala Lumpur downtown after landing. There are three choices of transportation modes which can be used, namely taxi, KLIA Express train and airport bus. Now, back to the opportunity, then the most chance which will be used by travelers is using airport bus because this transportation mode is the cheapest one. Here’s the comparison:

KLIA2 to KL Sentral.

1. Using taxi = USD 22.8

2. Using KLIA Express train = USD 14.2

3. Using airport bus = USD 3.1 (the most cheapest)

Therefore, I need to write my journey story when using airport bus from KLIA2 to Kuala Lumpur downtown, which passengers will be dropped off at KL Sentral.

Long time before, I had also written about my trip using Airport Coach from KLIA to KL Sentral. You can see it in the following link:

Bus from KLIA to KL Sentral, Malaysia

Now, I will write my trip from KLIA2 to KL Sentral. Here’s the story:

On exactly 9:15 hours, I passed KLIA2 immigration counter. Early morning flight didn’t provide me an opportunity even if only just eating an omlet like my usual day at home. This made my stomach was very hungry after arriving at KLIA2.

A moment later, I sat at HomeTown Hainan Coffee on 2nd floor of Gateway @ KLIA2 mall. Eating 2 half-cooked eggs for USD 1.5 made my stomach which continued to rebel slightly calm .

Its cool name is Omega Half Boiled Eggs….Hahaha.

Three restaurant waitresses were closely watching me when I pulled out many sheets of 1 Malaysian Ringgit. Yes, I asked for 50 sheets to DolarAsia money changer at Melawai Street, South Jakarta when exchanging money. Hahaha….Swear, I was really embarrassing five years ago.

Heading to 1st floor which is location of KLIA2 Transportation Hub. Then I hurried to Aerobus ticket sales counter.

Use that elevator!
Those are taxi and bus ticket sales counter at KLIA2.

At that time, Aerobus ticket fare (on 2014) was USD 1.2. But last time when I went to KLIA2 again in April 2019, this bus fare was already at USD 2.6.

Ticket fare have double increased after 5 years.

I waited for Aerobus Express at platform no A05 on 15 minutes before departure time. Positively thing of this bus is its time accuracy. Besides Aerobus Express, another bus company which operating on this route is Aerosky Ventures or better known as Skybus.

Aerobus which came on platform no A05.

Only needed to show ticket which I had bought then bus staff would tore driver copy part of ticket. Every time I take a bus in Malaysia, for some reason I really like to taking a back seat. Sitting in the back might be more free for me to observe around.

Entering aerobus….sat at back.

Aerobus would run to KL Sentral via MEX (Maju Expressway) Toll Road. 50 minutes trip that I spent for watching situation of Selangor state streets.

Approaching the end of trip, bus slowly entered to Stesen Sentral road to stop at KL Sentral.

Do you know KL Sentral, right? It stands for Kuala Lumpur Sentral which is main train station in Kuala Lumpur and the largest train station in Southeast Asia. Located in Brickfields area and integrated with shopping centres, hotels, offices and condos.

Bus shelter with KL Sentral to KLIA/KLIA2 route is located in KL Sentral Basement. Here is the shelter:

Aerobus/Skybus Shelter at KL Sentral.
Aerobus and Skybus which were taking passengers at KL Sentral.

From Basement, I only needed to go up by escalator to 1st floor to reached gate which headed to commuter and LRT platform.

I was already at gate and getting ready for Batu Caves.

For some transportation modes from KLIA2 to KL Sentral, you can get the ticket at 12Go Asia or at following link: https://12go.asia/?z=3283832

Jhelum Express dari New Delhi ke Agra

Saatnya mengeksekusi tiket.

Nomor 11078 yang merupakan nomor keberangkatanku hanya muncul sekali saja di display board. Setelahnya lama tak muncul kembali, aku terduduk di platform dan terus mengamati display board itu….Hilang sudah!

Penantian tak ada akhir di platfom 4.

Aku: “Sir, can you give me some information?. My train number 11078 is never appear again in that display board. Even though my train will depart on 10:15 am.”.

Si Tampan: “If your train number disappears from the screen. That means your train is getting delay. “Haze storms” which routinely occur every year indeed often make many trains delay for hours.”

Aku kembali menuju konter dan menanyakan tentang masalah ini. Mereka hanya meminta maaf dan membenarkan bahwa kereta delay. Dia memperkirakan kereta akan berangkat jam 16:00….Busyeettt.

Untuk mengusir kejenuhan yang tak berujung, aku bertolak menuju Khan Market. Daripada bengong lebih baik aku mengoleksi satu destinasi wisata di New Delhi untuk kubagikan bersama kalian tentangnya….Nanti ya, pasti akan kutulis.

Salah satu sudut Khan Market, New Delhi.

—-****—-

Pukul 14:00….Memastikan kembali setiap ikatan dan kuncian di backpack, aku segera menuju New Delhi Railway Station untuk menaiki Jhelum Express yang akan segera datang menjemputku.

Penasaran yang luar biasa untuk segera berbaur dengan masyarakat India dalam satu gerbong kelas ekonomi, membuatku menjadi orang paling tidak sabar di dunia sore itu.

Potret kesenjangan di Ibukota India.

Lokomotif merah kusam itu berteriak melengking mendekatiku seraya meringis menggigit rel untuk berhenti tepat di platform 4

Belum juga lokomotif itu menghentikan setiap gerbongnya dengan sempurna, para penumpang berlari….berjejal memasuki gerbong. Aku hanya tersenyum dan terpana dengan keunikan warga India. Sementara mereka berdesakan masuk, aku masih sibuk memahami penomoran gerbong karena ada gerbong bernomor 10 dan 10A. Dasar iseng nih orang yang punya ide menomori demikian. Setelah bolak-balik ke depan dan ke belakang, akhirnya aku menemukan gerbongnya….Yups, gerbong S3 kursi no 41 Low Berth (bangku bawah).

Benar adanya, keruwetan yang kubayangkan sejak awal membeli tiket terjadi. Gerbong itu sangat berjubel dan membuatnya terasa sempit.

Bangku teralokasi tiga penumpang saling berhadapan ditambah satu bangku lipat panjang diatas kepalaku yang digunakan sebagai sleeper seat (Upper Berth)….Ah, aku semakin mencintai kondisi ini. Kejadian yang menakjubkan.

Hello Sir, Excuse me”, seorang laki-laki muda melewat didepanku sambil menggandeng istrinya lalu duduk berhadapan denganku. Senyum tanpa dosanya membuat bibirku pun melakukan hal yang sama. Bagaimana tidak, di depanku sekarang telah duduk 4 penumpang dengan kursi yang hanya bertuliskan tiga nomor saja….Hahaha.

Sembari kereta berjalan, aku mendengar sayup-sayup gertakan yang entah itu marah atau memang begitu adanya. Kondektur tambun berkumis melintir itu mengecek satu persatu tiket tamunya. Satu penumpang di seberang kursiku dimarahinya habis-habisan gegara tak mampu menunjukkan tiket, si penumpang lalu menunjukkan sebuah kartu terlaminating dari dalam dompetnya. Dan entah itu apa, mampu mengusir kondektur tambun itu dengan efektif dari hadapannya….Damn.

Bapak pekerja kantoran di kiri depanku mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Bak film-film India, adat itu masih dijunjungnya. Rantang panjang bertumpuk empat berbahan stainless beraroma kari diangkatnya tinggi-tinggi. Andai dia tahu muka hatiku, pasti dia tersenyum melihatnya terbahak….Omaigat, ini mah India yang orisinil. Seolah menjadi menjadi pemicu ledakan, penumpang lain dikiri kananku pun melakukan hal yang sama.

Kemurahan hati itu terpancar seiring dengan tutur mereka menawarkan diri untuk makan bersama sebagai satu keluarga di dalam kereta. Kuterima? Tidak….Aku juga mengeluarkan setangkup burger lokal seharga Rp. 10.000 yang terbeli di platform stasiun sore tadi. Mari kita makan bersama….

Si Bapak dipinggir jendela menjadi orang tersibuk sepanjang perjalanan karena harus terus menutup jendela kayu yang kait penguncinya sudah usang. Setiap sekian menit jandela itu akan tertarik ke atas dan memasukkan udara super dingin ke dalam gerbong.

Mungkin kondisi itulah yang dimanfaatkan oleh penjual chai untuk berfokus di gerbongku demi menghabiskan dagangannya. “Chai”, nama lain dari teh tarik yang melegenda di Dhaka, terfavorit di India dan menyebar ke Malaysia. Girang hatinya, tumpukan gelas kertas yang digenggamnya semakin memendek. Dia akan pulang dengan keuntungan berlipat kali ini.

Kelucuan penjual mainan anak-anak membuat seisi kereta tak henti-hentinya terbahak. Dia melempar spiderman karetnya kesana kemari sesuka hati. Hebatnya, si spiderman itu bisa menempel dengan sempurna….Hahaha. Hiburan untuk melupakan masalah kehidupan seharian yang sudah mereka hadapi.

Guys….Kapan terakhir kali kereta kita masih ada penjual segala macam di dalam gerbong?….Hahaha….Aku saja sudah lupa saking lamanya aturan itu diketatkan.

Kereta yang berhenti….Menurunkan….Menaikkan penumpang….Lalu melaju kembali dan terus mengulangnya di setiap stasiun baru membuatku sadar bahwa tak pernah ada pengumuman kereta berhenti di stasiun mana?.

Aku: “How long will the train run to its last destination?”

Dia: “Jhelum Express will stop in Pune on 6 am tomorrow morning

Aku: “Thanks Sir”, Aku tersenyum pahit penuh kekhawatiran.

Kini musuhku satu….Informasi, ketiadaan paket data di gawaiku semakin memperkuat musuh bebuyutanku malam itu. Aku harus banyak bertanya untuk mengalahkannya.

Aku: “Where will you stop, Sir?”

Dia: “At Mathura Junction Station

Aku: “Do you know Agra Cantt Station?

Dia: “Sure, 2 stops after my station

Aku: “Oh, nice”, Aku lega….Begitu dia turun, aku tinggal hitung 2x berhenti. Itu Agra Cantt

Dia: “Are you from China?

Aku: “No, I’m Indonesian”. Mana ada tampang China gelap kayak gue.

Dia: “What for do you go to Agra?”

Aku: “Taj Mahal, Sir

Dia: “Oh, very happy to hear Indonesian goes to Taj Mahal

Aku: “Taj Mahal….My dream to visiting it

Dia: “Nice”. Menyalamiku dengan kebahagiaan tak tersembunyikan.

Itulah percakapan 10 menit sebelum dia turun di Mathura Junction Station. Setelahnya aku akan menyusul turun di dua perhentian berikutnya yaitu Agra Cantt Station.

Salah satu sisi Agra Cantt Station.

Aku akhirnya tiba di kota Agra pada pukul 20:30.

Saatnya menuju hotel…..Makan malam tyuss bobok.

Anyer, KLIA2 Arrival Hall and Malaysian Immigration

Hi Guys….This is a classic story when I start my passion as a backpacker.

Starting from this article, then I will pour my old adventures in dissecting neighboring country….Yesss, Malaysia.

Malaysia is the closest country which is often used as the easiest and most economical place to start a passion as a backpacker. In addition to offering cheap living costs and close to my country (Indonesia), Malaysia is also known for being friendly with its transportation system. So, Malaysia can train you to become a beginner level backpacker.

Malaysia itself became third country which I visited after Singapore and Thailand in the early phases of my journey to become a backpacker.

—-****—-

Office outing in Anyer just held on first night. My anxiety worsened when employee award event didn’t ended yet. 23:00 hours was almost over, as a new employee, I ventured myself to ask for permission to early go home to Jakarta…..I didn’t packing yet, guys.

Permission was finally approved without an easy steps. Not thinking long, I hurriedly and deeply stepped my car’s pedals. I was speeding in Jakarta-Serang toll road in early morning which began to dew.

—-****—-

Imperfectly parking “The Silver” in garage, I rushed and jumped into my room to pack all my supplies into a 25-liter backpack.

My time wasn’t enough anymore to catch DAMRI bus on “Kampung Rambutan bus terminal to SHIA” route, making me to pushed again “The Silver” pedals towards Soekarno-Hatta International Airport (SHIA). It made me had to spend USD 18.8 for paying parking fee at airport for 4 days-3 nights.

—-****—-

Jakarta-Kuala Lumpur return ticket which costs USD 44.8 which I got through Air Asia promo program since 8 months before departured were finally saved from lateness threat which haunted me since first minute of returning from Anyer.

I couldn’t wait to fly to Melayu Land soon after “The Red Airline” was seen landing on Terminal 3, Soekarno-Hatta International Airport runway.

The old Terminal 3 (when Terminal 3 Ultimate wasn’t built yet).

Not waiting long, me and other passengers were picked up by Air Asia airport coach to location of plane parking lot.

QZ 202 which would fly at 6:25 hours with travel time of 1 hour 50 minutes.

At that time, it was my second flight with Air Asia (in 2014). Whereas my first flight with Air Asia took Jakarta-Bangkok regular route in 2013.

—-****—-

Yuhuuuu….First landing in Mahathir Muhammad’s land.

My landing on KLIA2 (Kuala Lumpur International Airport Terminal 2) runway was greeted with flight attendant voice in Malay language. First time I directly heard Malay language. Amazed.

My heart beated fast because it was my first time for solo traveling. “Ouch, how is it?….Crazy, I abroad alone….How? if do somethings happen to me?“. I muttered when I set foot in aerobridge.

KLIA2 which operated in 2014, replaced LCCT (Low Cost Carrier Terminal) function.
Building condition was still new.

Learning to be a beginner backpacker made me always carry around drink bottle to be refilled….very long time ago.

Water station which made me glad….Free water
Female toilet, nursing room and disabled toilet in arrival hall.
Departure flight information at KLIA2 is also available in arrival hall corridor.

In fact, I felt that I wasn’t ready to go to immigration counter because of extreme fear. Scary stories very disturbed me i.e strictness of Malaysian immigration officers for first time new comer. And the bad news was….This was my first time entering Malaysia.

Come on….Enter the immigration counter….No matter about what would happen.

Being behind the yellow line of immigration queues made my heart beated fast….Because I would enter a slot at immigration counter soon. My appearance which didn’t support….My jacket which had faded in its color because I often weared it and used for go around Jakarta as a salesman, non-original mountain sandals which weren’t so bonafide and small backpack which wasn’t convincing.

Immigration staff: “Where are you going?“, I was little afraid.

Me: “Just sightseeing in Kuala Lumpur, Sir“.

Immigration Staff: “Where are your destinations?

Me: “Batu Caves, Petronas Twin Tower, Bukit Bintang and Genting, Sir“.

Immigration Staff: “Can you show your return ticket?

Me: Put down my backpack, opened it and looked for it, “This is my Air Asia return ticket on November 18, 2014 at 09:50 hours“.

Immigration Staff: “How about your hotel reservation?

Me: “I haven’t booked a hotel, Sir” I began to strain.

Immigration Staff: “How come, there isn’t hotel reservation, where do you want to stay?“, His face was very fierce.

Me: “I got this reference hotel, Sir (while showing a hotel name card which I got from my boss who often travel to Kuala Lumpur)”. But actually I will not stay at that hotel.

Immigration Staff: “In next journey, you must have a hotel reservation, this time I was allow you to enter“. I was still looking nervous while he wrote my return date under free visa stamp on my passport. A sign that he suspected me.

But on my next visitation, every immigration officer who I passed never wrote my return date on passport. I have been able to freely enter in all around Malaysia until now.

Look at my appearance, really suspicious as a tourist.

Continue to follow my story about Malaysia in following articles.

SCAM….Sesuatu yang Nyata di India

Staff Hotel: “Go to New Delhi Railway Station platform 1 floor 1!”, jawaban singkat tertutur dari bibir si cantiq yang masih terlihat sibuk menerima para penginap dari berbagai bangsa.

Aku: “Thank you, honey Ms”.

Oh ya, mencari dormitory terdekat dari stasiun MRT (Mass Rapid Transit) memang kebiasaan yang telah bersifat di diriku.

Aku mulai membuka pintu goStops Delhi Hostel dan melintas beberapa warga yang kurang beruntung. Terenyuh ketika sinar surya satu-satunya yang bisa membantu menghangatkan mereka yang masih pulas meringkuk diatas kasur busa bekas yang entah mereka dapat dari mana.

300 meter kemudian aku tiba Delhi Gate Metro Station. Melewati X-ray gate setiap memasuki stasiun MRT di New Delhi menjadikanku merasa aman selama melaju di jalurnya.

Yuk kita lihat dalaman ttasiun subway di New Delhi…Ini adalah Indira Gandhi Airport Metro Station saat pertama kali aku tiba di India

Menyusuri Delhi Metro Violet Line dan kemudian bertransfer ke Yellow Line di Kashmere Gate Metro Station, maka di stasiun ketiga aku tiba di New Delhi Metro Station.

Tiba di tujuan akhir, aku harus berpindah antar dua moda kereta yang tak terintegrasi. Meninggalkan New Delhi Metro Station yang begitu bersih terawat menuju New Delhi Railway Station yang lebih dari sekedar kotor. Jaraknya antar keduanya hanya sekitar 450 meter.

Berjalan 6 menit, aku tiba di depan New Delhi Railway Station

Dari tangga penghubung antar platform, kuperhatikan petugas Indian Railways itu menyemprotkan air di atas jalur kereta. Kupikir mereka begitu disiplin mengurangi laju debu di udara, ternyata beberapa waktu kemudian aku tahu bahwa mereka sedang membersihkan jalur kereta api dari kotoran manusia….#unique.

Upss….Kejadian itu tiba:

Scammer: “Where will you go, Sir?”

Aku: “Agra.

Scammer: “Let me help you to get the ticket.”

Aku: “Oh thanks. Based information from my hotel that ticket counter is on platform 1 floor 1.”

Scammer: “Oh, yes. But It’s Friday. So, the counter is closed. You can get the ticket at left side of this station.

Aku: “Oh, OK.

Entah “Bego” atau “Dungu”, aku mengikuti semua petunjuknya. Pemuda tampan itu tak menyertai langkahku, sehingga tak ada kecurigaan sedikitpun di otakku. Hebatnya, ada seorang di gerbang stasiun yang kesannya menunjukkan dimana lokasi konter penjualan tiket tersebut. Jelas sekali mengarahkanku ke sebuah kantor di ujung jalan sebelah kiri.

Oh, ini kantor agen travel, bukan kantor Indian Railways”, batinku. Aku batal menaiki anak tangga berikutnya dan berbalik meninggalkan kantor mereka. Walau salah satu dari mereka terus mengejarku, aku bersikukuh halus dengan menyampaikan akan menunda keberangkatan ke Agra hingga esok hari saja, sehingga mampu meredam emosinya yang terlihat mulai meninggi.

Huftt….Selamett. Scam kedua yang menimpaku setelah terakhir menghampiriku di Bangkok di akhir 2013.

—-****—-

Kelegaan yang terasa berlipat karena selain mampu menemukan kantor penjualan tiket milik International Tourist Bureau di platform 1 lantai 1, Aku juga mendapat bonus berlindung dalam kantor itu dari dinginnya terpaan udara New Delhi yang membuatku serasa beku.

Kantor yang sederhana itu dipercantik dengan layanan konsultasi petugas penjualan tiket kepada setiap turis dengan sangat baiknya. Jadi kamu harus bersabar menunggu nomor antrianmu dipanggil petugas karena satu pembeli bisa berkonsultasi 10-15 menit, beberapa bahkan lebih. Tak menjadi masalah bagiku, semakin lama semakin baik karena aku tak perlu kedinginan diluar sana.

Tiket Jhelum Express seharga Rp. 40.000 sudah di tangan.

Yuk ke Agra….Bersih-bersih Taj Mahal….Yuhuuu.

The Venetian….Culinary, Picnic and Gambling.

Gambling and Casino are two things which are very identical with Macao. So if you go to Macao and don’t see their casino, it won’t leave an impression..

It’s easy.…

Do you want to gamble? Who knows, you will return from Macao then become wealthy.

Or….

Just want to see how is gambling at casino?…Yup, no one forbids.

One thing when you travel to Macao….Decide immediately! Which casino will you visit. Because there are many casinos there.

For me, because I was just curious about real casino, I decided to visit The Venetian.

Why does The Venetian?

Yes, I will close my exploration by having dinner there, then see gondola to feel Venice sensation and finally I will close my exploration by seeing gambling at casino….The Venetian can fulfill all three. So I chose it.

Christmas atmosphere at The Venetian.

—-****—-

This time I easily got bus, just turned left from Macao Tower front yard then I got a bus stop (Torre Stop / Tunel Rodoviarios) and I waited for city bus no. MT4.

By paying bus fare for about USD 0.5, I arrived at The Venetian in 15 minutes.

I saw a blue bus passing by in front of The Venetian’s lobby. I understood that I would ride it later after exploring The Venetian. Yes, it’s The Venetian’s free bus to take tourists from Outer Harbor Ferry Terminal.

Admiring classic style of The Venetian’s building when I started stepping into building. Hunger which had attacked since leaving Macao Tower made me immediately move to 5th floor when I entered The Venetian.

Surrounding food court, I tried to find the cheapest menu for my dinner. Made sure with surrounding twice before I spent USD 6.8 for a portion of fried rice and USD 1.5 for a half liter of mineral water….So expensive.

Not finished eating it because a portion is so large, then I looked for existence of gondolas in Venice’s gondolas style to ending my curiosity which appeared since watching them on a television show several months before my departure to Macao.

This is an artificial river at The Venetian for gondola tours.

You only need to spend USD 16.6 to enjoy this tour.

I was so absorbed in enjoying beauty of The Venetian, passing around every corridor which provided branded products.

Shops at The Venetian.
Shops too.

A step later I was right in front of casino entrance. My main target destination that I finally visited in my tour closing session in Macao.

Entering casino at The Venetian is quite easy, just need to show your passport to security officer at front gate so you will easily enter.

Like being in an old Hong Kong movie, I searched every side of casino to see how did people gamble at casino. At each table, there was always a dealer who always offered me to gamble. Of course, I would never do it. I just smiled to respond their request to gamble.

Very special ending. Finally I could directly see casino in Macao. The darkening of day was required me to leave The Venetian.

As I stated above, I wouldn’t miss another session i.e riding free shuttle bus which was provided by major hotels in Macao. This time I boarded The Venetian’s free blue shuttle bus. I headed to Outer Harbor Ferry Terminal using this shuttle bus.

From Outer Harbor Ferry Terminal, I continued on my way back to hotel using bus no 10A like I did when I first arrived in Macao. With a tariff of USD 0.4, I arrived back at Villa Ka Meng Hotel to rest and continued my trip tomorrow to Shenzhen using fast ferry.

Bye The Venetian….Bye Macao.

Lima Destinasi Wisata Agra dalam 10 Jam.

PARAHHHHH…..

Badai kabut di utara India telah merampas waktuku lebih dari 6 jam.  Tetapi kejengkelan telak terkalahkan dengan keripuhanku sendiri melawan super dinginnya udara Negeri Nehru itu.

Petaka kabut di India

Jhelum Express menepi di Agra pada 20:30. Pengen denger ceritaku menjajal kereta ekonomi mereka….nanti saja lah….MENGERIKAN !!!.

Tak ada yang bisa kuperbuat malam itu. Suhu yang hampir menyentuh nol derajat Celcius, bahkan udara dengan cepat mendinginkan sajian mie goreng pinggir jalan yang kubeli. Bumbu India yang terkenal menyengat itu bahkan tak mampu kurasakan karena beku mulai menghantam lidah.

Aku bak seorang pengecut yang bersembunyi di balik selimut GoStops Hostel sambil menunggu aliran listrik memenuhi segenap “teman elektronikku”.

Staff Hotel: “You must be grateful to be an Indonesian. You can easily go everywhere. Not like me, getting a passport is very difficult. Our government protect their citizen from getting difficult life at out of our country. I had waited for two years to get a passport, I hope I will get this year. I want go around the world like you

Aku: “Don’t worry, you will get it, my friend. You will go to my country also sometimes.  One thing that should made you proud with India. Your currency is more stronger than my currency…..Aaannnnddddd, Your country have great histories and cultures in the world.

Itu sedikit percakapan serius sebelum aku memasuki kamar, dan percakapan yang sedikit intelektual setelah sebelumnya aku hanya berbicara dengan penumpang kereta yang duduk di depanku dan sopir taxi yang mentransferku dari Stasiun Agra Cantt ke hotel.

—-****—-

OKAY….Kukuruyukkkkk….#perasaanganemuayam.

Automatically, Aku hanya memiliki 10 jam berharga untuk mengeksplorasi Agra dimulai dari jam 7 pagi. Kali ini aku tak akan membenarkan diriku untuk menggunakan transportasi umum….Terlalu mepet….Beruntungnya, aku melakukan sharing cost bersama teman-teman backpacker sekamar untuk jasa taxi yang bersedia di carter hingga sore hari. Karena sore hari, aku akan menuju New Delhi. Aku hanya perlu mengeluarkan Rp. 60.000 untuk biaya transportasiku seharian.

1. Taj Mahal

Tak berani menyentuh air untuk membasuh badan, aku tergopoh memasuki taxi yang sudah siap di depan hostel. Pagi itu….Kabut sangat tebal bahkan matahari pagi tak mampu menyibaknya.

Yes, akhirnya….Aku menuju destinasi idaman turis seluruh dunia….Taj Mahal

Taxi bergerak ke utara menyusuri Agra-Bah Road. Tak jauh, hanya 3.5 km yang tertempuh dalam 15 menit. Taxi berhenti di tepi jalanan, aku hanya ingat dengan papan nama “Malik Tour & Travel” sebagai penanda.

Jasa bajaj seharga Rp. 40.000 menjadi penghubung berikutnya menuju Taj Mahal West Gate Ticket Office. Kulepas Rp. 98.000 untuk mendapatkan tiket masuknya.

Setiap jengkal di Taj Mahal selalu menggoreskan kesan, satu-satunya benda yang sangat mengganggu para wisatawan adalah kabut yang membuat mereka seakan kesal tak bisa mengabadikan dirinya bersama bangunan sangat bersejarah itu.

Taj Mahal tertangkap dari Mehtab Bagh.

Wisata andalan Negara Bagian Uttar Pradesh itu memang sungguh mengesankan. Makam yang didedikasikan untuk Mumtaz Mahal (istri dari kaisar Shah Jahan) sanggup menarik 8 juta wisatawan dari seluruh dunia setiap tahunnya. Salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO yang harus kamu kunjungi jika memasuki tanah Mahabharata itu.       

2. Itimad ud Daulah Tomb

Dua jam meresapi dan menikmati keindahan Taj Mahal yang hampir keseluruhannya berbalut marmer putih mematri doktrin di otakku bahwa dunia itu sungguh indah.

Yuk, balik ke hostel untuk berbasuh dan menyantap sajian free-breakfast sederhana yang disajikan hostel. Aku sendiri langsung berkemas check-out dan menaruh backpack di bagasi taxi. Selepas menengok Agra Fort nanti, aku akan langsung bertolak ke New Delhi.

Berada 4.5 km di utara Taj Mahal, situs ini menawarkan ketenangan dan kenyamanan. Tak seperti Taj Mahal yang bising pengunjung. Mirip tapi tak sebesar Taj Mahal menjadikannya dikenal sebagai “Bayi Taj”.

Adalah bangunan yang mengilhami gaya arsitektur Taj Mahal.

Jika Taj Mahal didedikasikan untuk Mumtaz Mahal, maka pembangunan Itimad ud Daulah didedikasikan untuk kakek dari Mumtaz Mahal yang bernama Mirza Ghiyas Beg.

Aku ndak mau bercerita banyak….Datang sendiri aja ya….Yuhuuuuu !!!!

3. Yamuna River

Satu jam bergulir dengan cepatnya. Niatanku untuk segera bergegas menuju destinasi berikutnya kandas. Aku tertegun dengan penampakan sungai kering nan menghampar begitu luas, seakan memamerkan kegagahan kepada semua yang makhluk melihat, melintasi atau bahkan hidup daripadanya.

Terletak di sebelah barat Itimad ud Daulah……Beuh,

Man….Itu Sungai Yamuna….Seumur-umur, aku baru melihat sungai seluas itu.

Didaulat umat Hindu sebagai Dewi Yamuna.

Sungai yang bersumber dari gletser Yamunotri di  Negara Bagian Uttarakhand ini terlihat surut dan terpapar berbagai bentuk limbah seperti plastik dan limbah cair yang mudah diterka dari baunya.

4. Mehtab Bagh

Dua kilometer berikutnya di selatan…..

Menjilat, menyesap dan menelan pelan french fries jalanan berbumbu garam beraroma kari menjadi aktivitas tak pentingku berikutnya….Sisihkan beberapa Rp. 10.000-an untuk mencoba beberapa kuliner ringan jalanan di India !. Kujamin kamu akan terkesan.

Gaes, aku sudah di sisi sebuah taman nan lebar dan romantis….Mehtab Bagh namanya.

Mehtab Bagh” sendiri memiliki makna yang tak jauh dari sepasang kata dalam Bahasa Inggris “Moonlight Garden”….tuh, gimana ga romantis coba?.

Konon…. Shah Jahan akan membangun Black Taj Mahal di taman ini. Tapi tak pernah kesampaian.

Sering menjadi persinggahan sang Raja untuk menikmati keindahan Taj Mahal yang berada di seberangnya dan hanya terpisahkan oleh Sungai Yamuna.

Harga tiket masuk sebesar Rp. 40.000 tidaklah seberapa dibandingkan dengan keindahan taman yang bisa kamu nikmati dengan aman. Aman?….Ya taman ini dijaga dua tentara bersenjata lengkap yang selalu berkeliling taman.

5. Agra Fort

Masala Tea = 90 Rupee ….ini mah Rp. 17.000

Egg Fried Rice = 150 Rupee….yah sekitar Rp. 29.000.

Itulah menu makan siangku di “The Master Chef” Restaurant di bilangan Fatehabad Road sebelum menuju destinasi terakhirku di Agra….#sedih.

Terletak 2.5 km di barat laut Taj Mahal, Agra Fort juga menjadi Situs Warisan Dunia yang sangat menonjol dengan warna merahnya.

Kota berdinding ala Agra Fort….Menakjubkan.

Kamu harus membayar Rp. 98.000 untuk membayangkan secara langsung para kaisar Mughal tinggal di Agra Fort ini.

Berkeliling sepuasnya di dalam Agra Fort sebelum berpisah dengan kota Agra. Aku menelusuri satu demi satu bagian didalam banteng kota ini.

Memasuki Diwan-i-Am bak rakyat Mughal yang sedang berkeluh kesah, atau memasuki Diwan-i-Khas bak tamu penting kerajaan yang sedang dijamu sang raja.

Merasakan kemewahan Jahangiri Mahal yang merupakan istana khusus untuk istri raja, lalu terduduk merelaksasi diri di Anguri Bagh yang pada masanya digunakan oleh para wanita anggota kerajaan sebagai taman kerajaan.

Dan sebagai seorang muslim, aku juga merasa wajib menapaki Moti Masjid didalam Agra Fort sebagai tempat peribadatan segenap anggota kerajaan.

—-****—-

Waktu singkat yang mengenalkanku pada kota kuno di utara India. Kota yang arsitekturnya mempengaruhi banyak kreasi bangunan di seluruh dunia.

Pastikan kamu mengunjunginya lebih lama dariku karena nilai sejarah kota ini begitu tinggi dan tak bisa dinikmati dalam sekejap saja.

Masjid Negara….Simbol Kemerdekaan Malaysia

Hop On Hop Off berkelir biru sedikit berdecit saat mengerem ketika memasuki tikungan yang menggiring kendaraan wisata ini merapat ke sebuah bangunan peribadatan yang penuh kharisma. “Nash(ә)n(ә)l mäsk”….Mulutku mengeja marmer hitam bernama emas itu.

Berfikir cepat….Turun atau tidak sama sekali.

Tuan-tuan dan puan-puan, yang hendak melawat masjid, sila turun disini. Selamat melawat”, tour guide cantik itu tersenyum sembari memegang microphonenya sejak tadi.

Tak tercantum dalam itineraryku, tak membuatku berpaling dan aku memilihnya menjadi destinasi bonus di hari terakhir sebelum pulang ke Jakarta.

Perdana Menteri pertamalah yang memberikannya nama Masjid Negara.

Tunku Abdul Rahman Putra Al-Haj adalah bangsawan yang berperan penting dalam pembangunan hingga penamaan masjid ini. Penggagas dibangunnya Masjid Negara sebagai perwujudan rasa syukur atas kemerdekaan Malaysia dari kolonialisme Inggris tanpa harus bertumpah darah.

Perlahan aku memasuki bangunan utama setelah berwudhu untuk menunaikan kewajiban Ashar. Sebuah ruangan dibawah naungan kubah agung dan beralaskan karpet lembut berkualitas tinggi. Hampir saja aku tak sudi beranjak dari kenyamanan yang memerangkap diri.

Kubah memiliki 18 ornamen berbentuk bintang.

Delapan belas ornamen yang bergantian lafal Allah dan Muhammad itu melambangkan 13 negara bagian dalam pemerintahan monarki konstitusional Malaysia dan 5 rukun islam sebagai pondasi agama islam yang dianut lebih dari 60% warga Malaysia.

Luasnya bangunan….Memang tak bisa diragukan jika beberapa statement menyatakan bahwa Masjid Negara manpu menampung hingga 15.000 jama’ah dalam satu waktu. Luar biasa, itu kan setengah dari kapasitas Stadion Patriot Bekasi.

Dibagian pintu depan sebelum ruang peribadatan utama, kamu akan menemukan menara putih yang berdiri di salah satu sudut kolam air yang membuat masjid ini semakin gagah.

Menara Masjid Negara setinggi 73 meter.

Perhatikan juga ketika kamu memasuki masjid, maka di ujung sebelah kiri terdapat bangunan yang hanya terpisahkan koridor pendek dari bangunan utama masjid. Atap putihnya berbentuk bintang tujuh dan dibawahnya bersemayam beberapa pahlawan besar negara. Salah satu pahlawan terkenal yang dimakamkan disini adalah Tun Abdul Razak. Keturunan Bugis yang berperan penting dibalik kemerdekaan Malaysia.

Berikut wujud makan pahlawan-pahlawan pemimpin muslim Malaysia.

Masjid Negara sendiri diresmikan dan dibuka untuk umum sekitar 8 tahun setelah tanggal kemerdekaannya. Kamu tahu kan, kapan Malaysia merdeka?….Yup, 1957.

Diresmikan bertepatan dengan tahun dimana Malaysia dan Singapura berpisah secara konstitusi.

Sempat menjadi masjid terbesar di Malaysia sebelum predikat itu direbut oleh Masjid Biru di daerah Shah Alam.

Masjid Negara secara arsitektur terkoneksi dengan bangunan Old Railway Station melalui lorong bawah tanah. Stasiun kereta ini sendiri terletak berdekatan dengan Malayan Railway Administration Building yang saat ini digunakan sebagai kantor pusat KTM (Keretapi Tanah Melayu).

Bangunan dibelakang itu adalah Malayan Railway Administration Building.

Ke KL….ya mampir lah ke Masjid Negara !