Destinasi Wisata di Pusat Kota Ipoh, Malaysia

Ipoh….Ibu Kota negara  bagian Pahang ini terletak 200 km di sebelah utara Kuala Lumpur. Kota berjuluk Kota Bugenvil ini memang tak seramai Penang atau bahkan Kuala Lumpur, tetapi percaya padaku bahwa kota ini akan memberikan sisi eksotisme berbeda karena letak kota ini yang dibentengi gugusan perbukitan yang cantik.

Waktu menunjukkan pukul 16:17. Jadi setelah check-in dan menyimpan backpack di dormitory milik Abby by the River Hotel, Aku memutuskan menghabiskan hari pertamaku di Ipoh dengan mengunjungi pusat kotanya.

Abby by the River Hotel tempatku menginap selama di Ipoh

Abby by the River Hotel cukup baik dalam menyediakan informasi wisata dengan adanya spot khusus di pojok lobby yang menyediakan banyak leaflet pariwisata Ipoh. Setelah 15 menit membaca informasi, Kusimpulkan bahwa hal yang menjual di pusat kota Ipoh ini adalah landmark Old Town yang tentu adalah peninggalan kolonial Inggris abad 19.

Tak berfikir lama, Aku segera keluar hotel untuk menuju pusat kota. Menyusuri Jalan Sultan Iskandar yang merupakan jalan protokol di Ipoh, sekejap suasana hiruk pikuk dalam otakku lenyap tanpa bekas. Jangan samakan dengan Jakarta, karena kota ini  berbeda dengan metropolis ibu kota. Kamu akan merasa menjadi pemilik kota ini karena ketenangannnya.


Kinta River membelah indah Jalan Sultan Iskandar

1. Hugh Low Bridge.

Jembatan ini dibangun untuk menyambungkan Jalan Sultan Iskandar yang melintasi Kinta River.

Gerimis membuatku lebih sejuk menikmati sungai Kinta dari jembatan ini

Berhenti sejenak diatas jembatan, Aku mengamati aktivitas beberapa warga kota Ipoh yang asyik memancing di beberapa spot Kinta River

2. Ipoh River Front Park

Begitu menyeberangi Kinta River, Aku langsung disuguhi taman kota nan luas. Terkenal dengan nama Ipoh River Front Park.

Taman kota yang cukup luas ini memiliki kolam, air mancur dan kedai-kedai makanan didalamnya. Menjadi tempat yang nyaman untuk refreshing.

250 m menyusuri Jalan Sultan Iskandar, Aku berbelok ke kanan menyusuri pertokoan di Jalan Bijeh Timah.

Menemui sepasang turis Eropa dan sekeluarga turis Malaysia membuatku merasa tak sendiri di kota ini. Perut laparku semakin menjadi ketika berada diujung jalan ini karena jajaran tenda makanan ini:



Inilah satu dari tiga tenda street food yang kutemui sore itu

Tak mau kehilangan banyak waktu untuk sekedar nongkrong, kuputuskan untuk lebih memilih mengunyah biskuit yang kubeli di Penang Sentral siang tadi sambil terus berjalan menyusuri keindahan Ipoh.

3. Ipoh Mural Art

Nah, berbelok ke kiri di ujung jalan, Aku menemukan beberapa lukisan mural layaknya mural-mural terkenal di Penang.

Kamu harus jeli dan sabar dalam mencari lukisan mural ini karena beberapa letaknya tersembunyi. Sore itu Aku bak bermain petak umpet dengan Kota Ipoh untuk menemukan sisi keindahannya.

4. Gedung HSBC Bank

Surya dikala senja saat itu membuat setiap pemandangan yang kulihat menjadi sangat istimewa. Begitu pula dengan Gedung HSBC ini. Bangunan tahun 1931 ini adalah bagian dari Ipoh Heritage Trail

5. Padang Ipoh

Lapangan ini dalam sejarahnya digunakan sebagai tempat para pejabat kerajaan Ipoh melakukan upaca penghormatan terhadap Kerajaan Jepang pada masanya.

Disinilah akhirnya Aku bisa menemukan para warga kota Ipoh melakukan aktivitas. Dari anak-anak muda yang bermain sepak bola hingga keluarga-keluarga kecil yang membawa anaknya untuk sekedar bermain dan makan bersama di lapangan ini.

6. Ipoh Tourist Information Centre

Terletak sangat tersembunyi di sebuah ujung jalan buntu (Jalan Bandar), Aku bersikukuh mendatanginya untuk mendapatkan informasinya sebanyak mungkin untuk mengeksplore Ipoh keesokan harinya.

7. Ipoh Town Hall

Bangunan tahun 1916 ini pada awalnya adalah kantor administrasi utama kota Ipoh. Namun saat ini sudah digunakan untuk function space seperti untuk weddings dan event-event umum.

8. Cenotaph War Memorial

Digunakan untuk memperingatai mereka yang gugur dan terluka dalam perang negara dan diresmikan penggunaannya pada tahun 1927.

9. Kantor Kepolisian Negara Bagian Perak

Ini adalah Markas dari Royal Malaysia Police Daerah Perak. Aku sebetulnya tidak berani mengambil foto kantor kepolisian ini. Tapi karena kebiasaan jeprat-jepret akhirnya secepat kilat kuabadikan bangunan ini.

10. Masjid Sultan Idris Shah II

Langkah kakiku sore itu kututup dengan bersembahyang maghrib di Masjid Negeri Perak ini. Keramahan warga Ipoh sangat terasa ketika Aku menunaikan ibadah. Senyuman hangat yang mengiringi jabat tangan sesama jamaah membuatku serasa berada di negeri sendiri.

Malaysia memang telah menjadi rumah kedua bagiku karena kemiripan budayanya.

Tiba saatnya untuk meninggalkan pusat kota dan mendekat ke hotel karena suasana sudah sangat sepi.


Beranikah kamu jalan sendirian di sepinya malam kota Ipoh….asik-asik sedap lho…cobain deh

Sepinya kota membuatku sedikit struggling dalam mencari makan malam. Walau akhirnya Aku menemukan semangkuk Mee Kari seharga Rp. 14.000 di Kedai Mee Daud Mat Jasak yang terletak di Jalan Dato Onn Jaafar di daerah Kampung Jawa.

Selepas kenyang, Aku segera memutuskan kembali ke hotel untuk mandi air hangat dan beristirahat. Bersiap untuk eksplore Ipoh esok hari.


Inilah kamar seharga Rp. 70.000/malam tempatku beristirahat

Bus dari Penang ke Ipoh, Malaysia

Begitu tiba di Penang Sentral dari perjalanan darat 7 jam 32 menit dari Kuala Lumpur International Airport Terminal 2 (KLIA 2) menggunakan bus Star Mart Express, Aku bergegas menuju Stasiun Butterworth untuk berburu tiket Electric Train Service (ETS) menuju Ipoh untuk keberangkatan lusa hari setelah kedatanganku di Penang.

Hasrat hati untuk mencicipi jasa kereta listrik jenis ETS ini sirna karena tiket ternyata sudah sold out.

Fine….“Naik bus lagi”, hatiku bergumam.

Akhirnya Aku kembali ke Penang Sentral Lantai 2 untuk mencari tiket bus. Sedikit was-was, karena kalau sampai tiket bus habis maka rencanaku untuk menginjakkan kaki di Ipoh untuk pertama kalinya bisa gagal.

Jika gagal mendapatkan tiket bus ke Ipoh maka Plan B ku adalah memperpanjang waktu kunjunganku di Penang kemudian kembali lagi ke Kuala Lumpur untuk mengejar penerbangan Malindo Air ke Dhaka, Bangladesh.

Yes….Aku mendapatkan tiketnya.

Yang perlu Kamu ketahui bahwa Penang Sentral menyediakan dua cara untuk membeli tiket bus dari Penang ke Ipoh.

Pertama, Kamu bisa langsung membelinya di Bus Ticketing Counter di lantai 2. Berikut ini adalah suasana konternya:

Kedua, kalau Kamu mengaku sebagai generasi milenial maka seharusnya Kamu akan membeli tiket bus di Self Ticketing KiosK. Terletak di lantai 2 juga, berikut ini guys mesinnya:

Aku memilih Bus Perak Transit sebagai armada pengantarku ke kota Ipoh. Tarif bus seharga Rp. 70.000 cukup membantu membuatku berhemat di awal perjalanan panjangku.

Lusa hari berikutnya, setelah merasa cukup menjelajah Penang selama dua hari, akhirnya perjalananku ke Ipoh dimulai.  Satu jam sebelum jadwal keberangkatan, penumpang baru boleh masuk ke Terminal Bus Penang Sentral yang terletak di lantai 1. Aku langsung menuju Gate 3 sesuai dengan yang tertera di tiket untuk menunggu bus datang.

Setelah menunggu selama 16 menit, akhirnya Bus Perak Transit tiba dan standby di platform B09

Bus berangkat tepat waktu pada 14:00.

Perjalanan ke Ipoh sejauh 140 km ini ditempuh dalam waktu 1 jam 49 menit.  Melewati pemandangan yang cukup mengesankan.

Aku mengulang pemandangan ini dua kali, karena dalam perjalananku dari KLIA 2 ke Penang dua hari sebelumnya juga melewati jalanan yang sama.

Bus menyempatkan sekali toilet break dalam perjalanan ini pada suatu tempat yang aku tak sempat mendeteksi dimana letaknya.

Pada pukul 15:49 akhirnya bus merapat ke Terminal Bus Amanjaya. Inilah terminal bus antar kota di Ipoh.

Memasuki Terminal Amanjaya, Aku sangat tidak sabar untuk segera menuju ke Terminal Bus Medan Kidd yang terletak di tengah kota Ipoh. Terminal Bus Medan Kidd adalah salah satu akses untuk masuk ke kota Ipoh.    

Ipoh yang selama ini hanya kudengar lewat cerita para backpacker dan tulisan di dunia maya, akhirnya aku diizinkan menginjakkan kaki di kota itu setelah berkelana selama delapan tahun menjadi seorang backpacker.

Keseruan apa yang kudapatkan selama singgah di Ipoh?

Sabar menunggu tulisanku berikutnya ya guys….

Bagus Bay Homestay, Toba Lake

I jumped into homestay room through the window after a receptionist was unable to opened the door. I successfully entered into room and just by “one-clicked”, the door opened.

Choosing a hotel is about style. But for me, a dormitory is still as first priority. Keeping the budget for continuing a dream…. is traveling… #bigdreamer

After stayed in a same dormitory in Medan, I met Eloise again in Toba Lake. I showed my dance with Si Gale-Gale doll to her. She laughed when saw my dance as amateur. She told a lot about her trip to Toba Lake from Medan, He felt uncomfortable when seeing many men smoked on the bus while there were children in it.

Fatigue made me fell asleep until 8pm. Luckily, the homestay had hot water in the shared bathroom. Towards the lobby & restaurant, I enjoyed the night by seeing a live accoustic and drank a bottle of coca cola.

I looked at Eloise in the corner and talked to the staff while pointing at the map. I thought she was preparing for her trip tomorrow. I saw a long-haired American who always added his beer bottle. I never thought he would be my room mate at a dormitory in Bukittinggi 2 days later. In Bukittinggi, I knew him well as Noah, a Californian mining engineer.

Knowing my presence, Eloise approached and sat in front of me, asking for my plan tomorrow and how to executed it. I explained in as much detail as possible and it seemed like She was interested and at the end of the conversation he decided to joined with me to rented a motorbike and explored Samosir Island together.

A vegan and doesn’t consume an alcohol. Naturally he slept faster that night.

The homestay staff suggestion drove me to a house that located at opposite the homestay to rented a motorbike for USD 4 for my trip tomorrow. I was served with hot tea and talked with the owner for several minutes after she knew that my house location in Jakarta was very near with her daughter house. Evidently her daughter lived in Jakarta too.

Morning Samosir……                                                                                               

All guests haven’t woken up, I’ve been sight seeing the morning busyness in Toba Lake. Students joked on their trip to school, many people jogged in the morning, some residents feed their pets and young people cleaned up the bars after last night parties.

I found the highest street in Tuk Tuk area to seeing the sunrise freely. Majority edges of lake which had became hotel areas required me to enjoyed the sunrise in my own way.

I also took the time to using the homestay facilities. circling the volleyball field and sat in the garden.

Just ate dried onde-onde (Indonesian originl food) that I bought yesterday made a free breakfast that morning.

Precisely at 7 o’clock, I took a rented motorbike. The new motorbike without license plate made me a little worried if met police there. Motorbike owner assured me, “if you were checked by police, just said that the motorbike belonged to your homestay, the police would know that you was a tourist, and moreover you was riding a motorcycle together with Australian girl” …. So I didn’t need worry.

Let’s go explored Samosir.

Jet Airways 9W275 dari Dhaka ke Mumbai (DAC-BOM)

Jet Airways adalah airlines ke-19 yang pernah kunaiki selama menjadi backpacker. Maskapai biru kuning ini adalah maskapai terbesar kedua India dan sebagian kepemilikannya dipegang oleh Etihad Airways dari Uni Emirates Arab (UEA). Dan penerbangan Jet Airways ini adalah kali kedua Aku menggunakannya. Penerbangan perdanaku bersama Jet Airways adalah saat terbang dari Kathmandu, Nepal ke New Delhi, India pada 4 Januari 2018.

Jet Airways 9W275 ini adalah penerbangan terjadwal Rabu, 2 Januari 2019. Ticket Kuissued 7 bulan sebelumnya, tepatnya pada 26 Mei 2018. 

MUMBAI….adalah daya tarik yang membiusku untuk rela menyinggahinya sebelum menuju Colombo, Sri Lanka. Aku selama ini tak pernah percaya akan berita “miring” tentang India….Buatku, tanah Mahabharata ini memiliki sisi eksotisme tersendiri yang selalu tak terlupa. Eksotisme yang bisa diukir di hati dan mencemar otak ketika meninggalkan negeri ini.

Kembali ke penerbangan Jet Airways,

Setelah melewati konter imigrasi Shahjalal International Airport, Dhaka-Bangladesh, Aku hanya perlu melewati sebuah hall kecil tempat para penumpang menunggu sebelum masuk ke Gate.

menuju gate 11

Sebelum masuk ruang tunggu, Aku dihadang oleh X-ray checking di depan gate:

mengular

Nah ini uniknya Jet Airways, setelah melewati x-ray checking, cabin baggage penumpang masih harus dibuka dan diperiksa kembali. Terasa sangat ketat. Mengingatkanku akan pemeriksaan cabin baggage di depan pintu pesawat Jet Airways saat meninggalkan Kathmandu menuju New Delhi pada Januari 2018 silam…..lucu ajah….hihihi

ituh tuh….meja pemeriksaan cabin baggage

setelah lolos pemeriksaan cabin baggage maka penumpang baru bisa duduk manis di ruang tunggu gate 11:


Unik banget kelakuan para penumpang India dan Bangladesh…

Setelah 20 menit menunggu, akhirnya Aku mulai boarding.

Ngintip bagian depan pesawat….menjadi ritualku sebelum terbang.

Boarding melalui aviobridge dan mencari tempat dudukku di bangku nomor 37F….mayan deket jendela.

inilah penampakan interior Jet Airways Boeing 737-900 ER

Mau lihat penampakanku yang tak mandi sejak 24 jam sebelum terbang. Nih…hahahaha bau:

Penerbangan ini berlangsung selama 3 jam 25 menit. Selama penerbangan, Aku disuguhi Non Vegetarian Meal. Aku ditawari pramugara veg or non veg di pesawat karena lupa memilih makanan saat issued tiket.  Setelah kubuka isinya nasi beserta ayam kari khas India….maknyus.

Paras pramugari pramugara muda nan elok khas India menjadi pemandangan yang membumbui penerbanganku kali ini.

cantik ga?

Di awal penerbangan meninggalkan Dhaka, pemandangan diluar jendela pesawat terkesan biasa.  Aku hanya khusyu’ membaca JetWings yang merupakan inflight magazinenya Jet Airways.

Tetapi memulai masuk ke 2,5 jam penerbangan, Aku disuguhkan pemandangan indah nan memikat mata

pegunungan berbatu …dekeeet bingit….seram tapi indah.

         entah itu sungai apa….mengular dan mengkilat indah

Satu jam kemudian pesawat sudah berada di atas kota Mumbai.

Kota Mumbai dari atas

rumah penduduk yang berjubel

Ahirnya setelah 3,5 jam Aku mendarat di Chhatrapati Shivaji International Airport, Mumbai. Oh iya…Bandara ini adalah main hubnya Jet Airways gaes….

Akhirnya Aku menginjakkan kaki di India…..Mau lihat Mumbai ga gaes?….

50 Minutes Sailing on Toba Lake, North Sumatra

“Sir, please fill it,” a ferry crew smiled and gave me a manifest sheet which had already been humid because of drizzle exposure all day. I must write my name, address and age in it. This process reminded me to the sinking of a ferry “Sinar Bangun” in Simanando area (an area on Toba lake) 4 months before I filled the manifest.

I waited for one hour since my arrival at Tigaraja Port until the manifest came. I chose to docked at Tomok Port even though I will spend the night around Tuk Tuk Port.

Entering 1st floor deck of ferry, a granny greeted me and offered me to bought her smoky boiled peanuts, it suitable for cold weather that time.

The 2nd floor deck was my spot choice to caught some pictures using my camera for 50 minutes sailing.…I deliberately sat near shelf of life jackets… hihihi, hopefully I didn’t have to “jumped”.

Two beautiful women and three young men who more handsome than me walked up and down the deck for got selfie and took pictures, I just saw them and ate my hot peanuts. I chewed it one by one to against cold weather.

I was waiting for Batak (a original ethnic in north Sumatra) song, but instead NOAH song (a famous modern band group in Indonesia) sang throughout the trip. It was understandably because a captain and crew were young.

Okay whatever …. It was time to acted.

Moving to the left and right of 2nd floor ferry deck, my eyes were amazed by hills with thin clouds on top.… Incredible paintings of God … My eyes began to cried.

On deck, the crew took USD 0,7 per passenger as fare… Around 3:02 pm, ferry arrived at a port, I hurried down. But a crew detained me, apparently it wasn’t the intended Tomok Port. The port belongs to Lopo Inn Hotel … Maybe they who got off would stay in this hotel.

Only 5 minutes for dropped all passengers at Lopo Inn Port then ferry departed for Tomok Port. And within 3 minutes, ferry approached Tomok port.

I directly hunted photos around it when everyone quickly left the port. I murmured, “Maybe, God willn’t deliver me here twice”, so I would maximized every moment in my adventure.

Leaving the outer side of port I began to entering tourist area of Tomok. The first view that I passed was a long aisle of souvenir stalls. It spoiled my eyes. But it won’t affect backpacker like me who have never bought airplane baggage for souvenir space and only brought backpack that was fully loaded by travel equipment.

My strategy was right to left Medan early morning and firstly headed to Tomok in Toba lake. Time was mine now, there were 3 hours to visit some attractions in Tomok before checked in to Bagus Bay Homestay in Tuk Tuk area.

Where did I have to visited attractions?

20 Destinasi Wisata di Pulau Male’, Maldives

Premium Link Ferry perlahan merapat ke pulau Male’ setelah berlayar 18 menit dari pulau Hulhumale. Hari itu Aku berniat berkeliling seharian di Hulhumale, Male’ dan Villingili.

Menginjakkan kaki di halaman depan Male’ Ferry Terminal, Aku berusaha tenang dan menyapu pandangan ke sekitar. Akhirnya satu papan petunjuk menyita perhatianku.

Petunjuk inilah yang mengajariku bagaimana mengeksplore Male’ dengan ber-JALAN KAKI. Dan akhirnya petualanganku dimulai dari sini:

Suasana jalanan Boduthakurufaanu Magu

Langkahku perlahan menuju ke jalan Medhuziyaarai Magu. Ada banyak spot foto menarik di jalan ini:

  1. People Majlis

Peoples Majlis ini adalah tempat para anggota DPR nya Maldives berkantor.

Kemudian berjalan lurus ke barat Kamu akan menemui bangunan ini:

2. Medhu Ziyaaraiy Shrine

Ini adalah makam Abdul Barakat Yoosuf Al Barbary asal Maroko yang mempunyai peranan penting dalam penyebaran Islam di Maldives.

Kemudian, disebelah makam ini adalah rumah dinas presiden Maldives. Nama bangunan ini adalah:

3. Mulee-aage Palace

Rumah berusia 100 tahun ini awalnya ada tempat tinggal putra mahkota kerajaan Maldives sebelum negara ini berubah bentuk menjadi negara republik.

4. Hukuru Miskiyy (Friday Mosque).

Persis didepan Mulee-aage, Kamu bisa mengunjungi Hukuru Miskiyy.

Masjid tertua di Maldives dan paling memiliki nilai seni di Maldives.  Menjadi salah satu warisan dunia UNESCO, masjid ini menggunakan kekayaan alam Maldives sebagai bahan pembangunnya yaitu batu karang….keren ya.

Aku sempatkan untuk shalat Dzhuha di sini dan berbincang dengan seorang marbot masjid ini.

5. Velaanaage

Dari Hukuru Miskiyy berjalanlah ke arah pantai utara maka kamu akan melewati bangunan modern ini:

Menyandang predikat sebagai gedung tertinggi di Maldives. Digunakan sebagai kantor administrasi pemerintahan Maldives dengan konsep layanan satu pintu.

6. President’s Office.

Kembali menyisir pantai utara Male’ ke arah Barat, spot berikutnya yang akan ditemui adalah gedung dimana Presiden Maladewa bekerja setiap harinya.

7. Izzudheen Faalan

Ini adalah dermaga laut kepresidenan. Dibuka pada tahun 2015 dan dinamai dengan nama tokoh yang berjasa dalam mempertahankan kemerdekaan Maladewa.

8. Jumhooree Maidhaan

Orang-orang mengenalnya dengan sebutan Republic Square. Semacam alun-alun besar tempat aktifitas warga Maladewa. Selain melihat bendera raksasa Maladewa, Kamu juga akan menemui sekawanan merpati yang memenuhi sebagian alun-alun….tentu Kamu bisa memberinya makan.

Di salah satu ujung alun-alun ini akan ditemukan air mancur besar yang sepertinya akan menjadi pertunjukan yang indah di malam hari karena disertai dengan alunan musik.

9. Male’ Islamic Centre

Dari alun-alun ini bergeraklah ke arah selatan dan kunjungilah pusat pengembangan Islam di Maladewa. Islamic Centre ini ditandai dengan berdiri megahnya masjid Al-Sulthan Muhammad Thakurufaanu Al-Auzam.

10. The November 3rd Memorial.

Berjalan ke sebelah kanan masjid, Aku menemukan  sebuah monumen untuk mengenang  atas gugurnya 19 jiwa akibat serangan teroris pada tanggal 3 November 1988.  Kesembilan belas korban ini terdiri dari 8 militer dan 11 warga sipil.

11. Sultan Park.

Tepat di depan The November 3rd Memorial adalah Sultan Park. Taman ini sepertinya adalah taman terbaik di Male’. Berbayar untuk turis dan free untuk warga Maladewa.

Adapun jam operasional taman adalah Minggu (16:00-23:00), Senin-Kamis (09:00-23:00) dan weekends atau public holidays (06:00-24:00).

12. National Museum.

Selepas berkeliling Sultan Park, Aku memutuskan untuk mengunjungi National Museum di dekat taman ini. Bangunan Museum adalah pemberian dari Pemerintah China untuk Maladewa. Selama berada di Maladewa, Aku memang melihat banyak sekali proyek-proyek besar Negara Maladewa yang dikerjakan oleh Pemerintah China.

13. Theemuge

Lelah berkeliling museum, Beristirahat di bawah pohon besar di depan National Museum adalah pilihan terbaik. Aku bisa menikmati lalu lalang warga Maladewa pada pertigaan di depan museum.

Meninggalkan museum, Aku menuju ke jalanan Orchid Magu untuk menemukan Theemuge. Theemuge digunakan sebagai tempat berkantornya Mahkamah Agung Maladewa.

14. Local Market

Kembali ke arah pantai utara Male’ di utara Theemuge, Kamu bisa mengunjungi Local Market. Sangat menyenangkan memasuki Local Market dan melihat aktivitas perniagaan masyarakat Maladewa.

15. STO Building

Ini adalah kantor pusat STO (State Trading Organization) 8 lantai yang dibangun di daerah Maafanu. Perusahaan yang 80% kepemilikan sahamnya dikuasai pemerintah Maladewa ini  bergerak di berbagai bidang bisnis seperti elektronik, kesehatan dan supermarket

16. Rasfannu

Diujung barat pulau Male’, Kamu akan disuguhi pantai buatan Rasfannu. Pantai yang pada sore hari sering digunakan warga Maladewa (bahkan para turis) untuk relaksasi diri setelah seharian beraktifitas.

17. Indira Gandhi Memorial Hospital (IGMH)

Ini adalah rumah sakit pemberian pemerintah India untuk pemerintah Maladewa. Jadi statusnya tentu menjadi rumah sakit negara.

18. Dhiraagu Building

Dhiraagu adalah provider telekomunikasi terkemuka di Maladewa. Aku sempat menggunakan 4GB kuota internet operator ini seharga USD 15 selama berada di Maldives….Thanks Dhiraagu.

19. Tsunami Monument

Monumen ini didirikan untuk memperingati musibah Tsunami pada tahun 2004. Tsunami yang terjadi bersamaan dengan Tsunami Aceh di Indonesia

20. Sinamale Bridge

Jembatan persahabatan China-Maldives ini menghubungkan pulau Male’dan Hulhule. Hulhule adalah pulau dimana Velana International Airport berlokasi. Jembatan berbayar sejauh 2 km ini dibuka pada tahun 2018 lalu.

So gaes, Monggo berkeliling Pulau Male’…..Dijamin ga rugi kok

Bus “SEJAHTERA” from Medan to Toba Lake, North Sumatra

I would tell my journey by Bus “SEJAHTERA” from Medan City to Toba Lake. The distance was 170 km and bus fare was IDR 40,000 (USD 2,85). The special thing wasn’t on got into the bus but in curiosity along the trip to immediately met the largest volcanic lake in the world.

dhazong

Yes that is the Dazhong Backpacker’s Hostel lobby….Bored.… became a first guest who woke up on early morning, but my plan failed to catched the first departure Bus “SEJAHTERA” on 6 am. One hour pacing, I made noisy sound with a hope that hostel owner would get up. Starting by pushed bell many times at reception desk or got in and out the door so the “WELCOME” sound sensor rang. Crazy activity aimed to got back my deposit money in hostel.

6:10am He woke up.…but, I didn’t immediately get GORIDE (online base transportation in Indonesia) because of a weak signal, I decided to got close to center of Little India area, precisely at Shri Mariamman Temple. Around 6:34am GORIDE picked me up. Didn’t breakfast yet I immediately went up, I would definitely arrive at Amplas Terminal 5 minutes before bus departed. It was true that GORIDE hadn’t entered yet into terminal. The bus looked out from terminal, I rushed down from GORIDE and waiting for bus to approached me.

Here, I got a photo of Amplas Terminal on a day before when I arrived from Kualanamu Airport:

amplas

10 minutes into bus, drizzle turned into heavy rain. This economy bus often stopped for raising passengers before entering into highway. Rain requires all windows to be closed. It was the challenge.… how to set my breath so didn’t inhale much smoke along the way. With closed windows and many passengers smoked, when they finished one cigarette then they would smoke other ones.…crazy.

When starving, no one food hawker came into bus. I was only occasionally chatting on Facebook Massanger with “The Beauty” Eloise who kept asking how I was going to Toba Lake, She was an Australian solo traveler who met me at dormitory in Medan City. She would go to Toba Lake in the day by copying what I did. Also, She asked where I got a guesthouse in Toba Lake for IDR 60,000 (USD 4,3)… Later I would tell to you how finally we were both riding a motorcycle on exploring Samosir island.

bus sejahtera

Noisy sound of worn wipers together with Batak songs accompanied me to enjoyed view of streets, villages, and oil palm plantations.

At 11:25 my eyes were stunned on appearance of wide waters after bus descended a ridge somewhere. Yesss … it was Toba Lake … It was cool.

Driver’s change to bus return trip to Medan was did before arriving at Tigaraja Ferry Port. I almost went too far from drop point because bus conductor didn’t tell me where the bus was, I just monitored “Your Position” on Google Maps. It looked like I stayed away from Tigaraja Port. I decided to get off from bus and walked in a drizzle to port.

Didn’t want to lost the moment of photo hunting along Tigaraja Port then I bought umbrella for IDR 50,000 (USD 3,5) in the market around the port.

tigaraja

Several corners of Tigaraja Port

Toba Lake … I came!