7 Jam Transit di Bandaranaike International Airport

Tiba di Colombo.
Koridor menuju transfer hall.

Hampir pukul setengah dua siang ketika roda-roda raksasa SriLankan Airlines UL 166 menyentuh landas pacu. Sedangkan di dalam kabin, aku terduduk sangat tenang di kursi bernomor 50G tepat di sisi kanan kolom tengah yang merupakan exit row sisi tengah kabin.

Tak ada yang perlu dikhawatirkan, Donny. Bukankah dirimu telah menaklukkan bandar udara ini tahun lalu?”, begitulah tutur hati menenangkan debar dada.

—-****—-

Setahun sebelumnya….

Tepatnya awal Januari 2019, sekitar pukul setengah lima pagi, aku tiba usai melakukan penerbangan dini hari selama dua setengah jam dari Chhatrapati Shivaji International Airport di Mumbai dengan menumpang Jet Airways dengan nomor penerbangan 9W 256.

Disusul empat hari setelahnya, aku menyambangi kembali bandara ini ketika hendak melanjutkan perjalanan menuju Maldives. Kala itu aku dihantarkan oleh SriLankan Airlines UL 0109.

Masih tentang Sri Lanka,

Buat apa sih kamu ke Sri Lanka, Donny?”, begitulah pertanyaan tertrending di telinga bahkan enam bulan sebelum hari keberangkatan.

Pertanyaan yang hanya kujawab dengan senyum….Wkwkwkwk. Aku fikir pertanyaan ini tak perlu dijawab dengan serius karena setiap orang memiliki persepsi yang berbeda-beda terhadap opsi bertraveling. Lebih baik berbagi rencana daripada berdebat….Iya, kan….Hahaha.

—-****—

Menuruni Airbus A330-300 melalui aerobridge aku diarahkan menuju koridor kedatangan. Tatapku jeli mencari koridor lain menuju transfer hall. Tentu aku enggan meninggalkan bandara walaupun sebetulnya bisa-bisa saja. Masuk kota Colombo untuk pejalan Indonesia tak gratis ya kala itu? Harus menyisihkan uang sebesar 25 Dollar Amerika untuk menebus eVisa negara “Permata Samudera Hindia” itu.

Tapi dengar-dengar, sekarang pejalan Indonesia bisa mendapatkan free visa untuk berlibur ke sana selama 30 hari. Wah….Hal yang menarik nih.

Kembali ke pencarian transfer hall….

Masih fokus mencari markah menuju transfer hall. Bahkan sebelum menemukan markah tersebut, aku telah memutuskan untuk tinggal di bandara dan menikmati suasanya selama kurang lebih tujuh jam ke depan.

Setelah sepuluh menit melangkah, akhirnya aku berhasil memasuki transfer hall. Tentu untuk memasukinya aku harus melewati pemeriksaan tiket connecting flight dan dilanjutkan dengan pemeriksaan melalui screening gate yang dijaga ketat petugas.

Nah untuk bandara ini, transfer hall secara umum akan berfungsi juga sebagai departure hall bagi penumpang yang akan melakukan direct flight.

Pertama kali memasuki ruangan, interior yang paling mencolok dan mudah terekam dalam ingatan dari transfer hall bandara ini adalah sculpture Buddha yang berada di ruang utama hall. Tahun sebelumnya aku tak berani mengambil foto patung tersebut karena takut berbuat kesalahan dengan melanggar beberapa larangan penting dalam hal adab berfoto di patung Buddha itu.

Tetapi setelah membaca dan memperhatikan aturan dengan detail, terutama aturan tidak boleh berfoto membelakangi Buddha, maka aku berhasil menangkap gambar Buddha itu.

Satu hal lagi yang kuingat adalah berasa kurang nyamannya diriku ketika berada di bandara ini karena kebiasaan beberapa petugas cleaning service yang sering meminta uang kepada pengunjung seusai menggunakan toilet. Aku sendiri mengindahkan sikap mereka di pintu toilet. Walaupun mereka tidak memaksa tetapi tetap saja menjadikan sebuah ketidaknyamanan tersendiri.

Nah, pengen tahu ndak apa yang kudapatkan….

Yuk kita intip, ada apa saja di transfer hall Bandaranaike International Airport:

Patung Buddha di ruang utama.
Duty free zone.
Serendib Lounge, lounge eksekutif milik SriLankan Airlines. Tau kan makna “serendib”? ….Yups, “tempat tinggal pulau singa”.
Departure hall terlihat dari lantai atas.
Ruang tunggu dengan pemandangan apron. Spot terbaik versiku nih.

Usai mengeksplor seisi transfer hall, kuputuskan untuk menghabiskan waktu dalam menikmati aktivitas loading-unloading SriLankan Airlines dari ruang tunggu sembari mengisi ulang daya baterai segenap peralatan elektronik yang kubawa demi bersiap-siap mengeksplore Dubai esok paginya.

Beruntung aku masih memiliki bekal beberapa potong jajanan khas India yang kuperoleh dari menukarkan semua uang koin tersisaku di sebuah kedai makanan di Kochi sebelum aku menuju Colombo.

Karwa Bus No. 727….To Nuaija District from Hamad International Airport

That morning, my desire to went to downtown was so rushed. I couldn’t wait to get a closer look at Doha. But my rush was stopped for a moment, I continued to calculate in detail fo transportation budget which I needed for five days in Qatar. So that I didn’t leave too much of remaining balance in Karwa Smartcard later.

Short breakfast with bread at airport bus terminal.

My calculation decided to top up the balance for about 30 Riyal for entire trip, majority of trip would use city bus. This amount didn’t include Karwa Smartcard price for about 10 Riyal.

Ticketing Vending Machine.
Karwa Smartcard is the only access to enjoy Karwa Bus services.

Avsec: “Hi, No No No….Sir, Sorry, you can’t capture the building”, the South Asian looking officer approached and stopped me when pointing my camera at a side of Hamad International Airport from the airport bus platform.

Me: “Oh, I’m sorry sir….I don’t capture the photo yet, I’m sorry”, I immediately put my Canon EOS M10 into a folding bag.

Avsec: “Nice….Nice”, smiling while shaking his head. “Where will you go?

Me: “I’m waiting for bus no. 727 to Nuaija. Do you know, When it will come?

Avsec: “Oh, you better ask to Karwa Officer….Him (he pointed to a fat officer who was busy with his clipboard)”.

I went to him and asked the status of Karwa Bus No. 727, then he asked me to wait about ten minutes.

Just in time, the bus arrived.

Nervous, my first time in using Qatar city bus. If Dubai, Bahrain and Oman prefer red color for their city buses, Qatar had decided to use green color for it.

I was the first passenger on bus which had just been parked. A few minutes later, one by one, Hamad International Airport workers entered the same bus.

Preparing fo heading to Nuaija District.
A side of Hamad International Airport.

During trip, Karwa Bus slowly and leisurely ran while crossing city’s streets. Like other modes of public transportation in civilized cities, it ensured that every passenger felt safe.

Payment was made by tapping Karwa Smartcard on tap machine which located next to driver. You need to know that steering wheel in Qatar is placed in left side. While there, I entered and got off a bus always from front door. Of course, before getting off from bus, I had to check remaining Karwa Smartcard balance on the same tap machine.

Riding bus for thirty minutes, my eyes continued to stare at all the prints of city’s architecture which was passed, as well as various activities of local people who were observed.

Dropped off at Nuaija intersection.

As soon as I got off from bus, the wind hardly blew against me, carrying soft particles of sand with it. “Is this the taste of desert wind? “, my heart mumbled for a moment. My naked eyes had to be sacrificed to repeatedly hit by soft sand. I couldn’t longer look for my rayban glasses which I didn’t know where I put it in my backpack. The temperature of twelve degrees Celsius forced me to immediately reach Casper Hotel, where I would stay.

Al Emadi Hospital which I passed on the outskirts of D Ring Road.
Fresh flowers grown with hydroponic techniques.

After walking for a kilometer and a half and in twenty minutes, I finally arrived at a hotel Which appeared to be the result of turning a residential complex into a simple inn.

Casper Hotel.

Later I would tell to you how comfortable that simple dormitory is….?

26 Tourist Attractions in Doha, Qatar

Maybe, a person who was influencing me to go to Qatar was Valentino Rossi. Yes….The living legend of premium iron horse racing had indirectly influenced me to visit Losail International Circuit through television screen for a long time. During the years of watching MotoGP that too, the intention to visiting Qatar began to disturb my sleep at night.

That dream had became a beautiful reality when for five days I was able to explore Qatar in early 2020. Now is the time for me to tell you about its beauty. Here are a few of the memories which I got in the country which rich in “black gold”:

1. Hamad International Airport

It can be said that Hamad International Airport (HIA) is a perfector to Qatar’s tourism gateway. Since seven years ago, HIA had succeeded in replacing the role of Doha International Airport. You need to know that naming of this airport is taken from the name of Emir of Qatar, Hamad bin Khalifa Al Thani.

That sunny morning, I agreed with the splendor of this airport which was located on the shores of Persian Gulf. This is the airport which holds an asset of “Yellow Bear” worth 6.7 million US Dollar…Wowww.

2. Karwa Bus

As a person who adhered to backpacker ethic codes, I was only faced with two choices to get to downtown…..Train or bus?. That time, bus was my first choice.

Haven’t seen and boarded it yet, I already imagined that I would ride a modern-looking city bus when I left the airport.

Doha city buses are known as Karwa Buses and require a KARWA Smart Card to ride them. All Doha city buses are operated by the state transport company “Mowasalat”. The average one-way fare is also very affordable, which is around 2.5 Qatari Riyal.

3. Al Ghanim Bus Station

After checking in at Casper Hotel and putting all my equipments down, I started exploring Doha. The first place which I traced was Al Ghanim Bus Station as final destination for Karwa Bus number 12 which picked me up from hotel.

Located in Municipality Ad Dawhah, Al Ghanim Bus Station is an important landmark. This bus terminal certainly covers most of Karwa Bus routes in Qatar. Al Ghanim Bus Station takes on the role of a central terminal in Qatar as well as being the headquarters of Mowasalat. If you intend to explore Qatar tourism by bus, surely you will often visit this terminal.

4. Abdul Aziz Nasser Theater

This is a performance space for multidisciplinary arts which supports local and international artists. Located in Doha downtown with a capacity of almost a thousand seats. Even to facilitate the implementation of large events, this theater is directly connected to Al Mirqab Hotel which is located right on its west side.

5. Al Fanar Mosque

I visited this mosque after exploring Al Ghanim Bus Station. The location is only a kilometer in north of terminal. Al Fanar is a Qatar Islamic Cultural Center better known as Al Sheikh Abdullah Bin Zaid Al-Mahmood Islamic Cultural Center. Apart from introducing Qatari culture through Islam, the Fanar Cultural Center also organizes social and educational activities.

6. Souq Faleh

Souq Faleh and Al Fanar Masque are only separated by Al Tarbiya Street. It’s one of many old markets in Doha. If you are an Abaya lover, then this market is right place to hunt it, because the price which is offered is relatively cheaper than other markets.

7. Domes Mosque

While I was busy in visiting Souq Faleh, suddenly I heared the call to Dzuhur prayer. It seemed that I should end my exploration for a moment and heading to an old mosque in southeast. This mosque with many domes and pillars still proudly stands in the middle of modern city. The Dzuhur prayer was filled with worshipers who came from all over. And it was my first congregational prayer in Doha.

8. City Souq

Adjacent to Al Fanar Mosque in east, right at a corner of the intersection of Al Tarbiya Street and Al Bareed Street, is a modern shopping mall with a seven-story which then looks to dwarf the Central Municipal Center building in opposite. I entered it just to hunt for a fridge magnet and then took some photos of situation inside.

Known as City Souq, this mall provides clothes, garments, shoes, perfumes, children’s toys, stationery, blankets and abayas. Practice haggling before shopping at this place !.

9. Souq Waqif

More than two centuries old, doesn’t make Souq Waqif change its architectural form. Being the only ancient traditional market in all of Qatar.

Waqif means standing. Because during pioneering period, not a single stall was built. This was due to overflow of sea water from Doha coast which inundated market. Even at the beginning, buyers would come by boat or ride camels to get around inundation and sellers would stand around all day offering their goods.

10. The Pearl Monument

Leaving Souq Waqif for a moment for me to revisit on next day, I targeted The Pearl Monument at across of Al Corniche Street which provided underground crossing facility under it. I think, not only travelers, even all Qatari citizens should be obliged to visit this monument which in the form of gaping pearl shells. Through this monument, all visitors should know that prior to 1939, era before oil discovery in their earth belly, Qatar was a poor country whose income which was depended on catching pearl shells in Persian Gulf.

11. Corniche Promenade

Visiting The Pearl Monument made me happy beyond measure, in addition to exploring Qatar history, my eyes were spoiled by beautiful view of Doha Corniche. The seven-kilometer long promenade reveals the arch of Doha Bay which was crammed with skyscrapers at the end. Meanwhile, distribution of traditional dhow boats which are quietly anchored along the bay becomes a natural interior which makes situation more charming.

12. Museum of Islamic Art

Right at the eastern end of Doha Corniche, there is building which is erected like floating on the shores of sea. It’s the Museum of Islamic Art which exhibits the richness of Islamic culture from three continents which is more than 1,400 years old. This is Qatar’s flagship museum which is founded by the sister of their Emir, H. E Sheikha Al Mayassa bint Hamad bin Khalifa Al Thani. The existence of this museum has ordained Qatar as the cultural capital of Middle East region.

13. MIA Park

MIA in this park name stands for Museum of Islamic Art. As name implies, before visiting it, everyone can be sure to understand that this park is located right in front of Museum of Islamic Art. The park is often be the official state venue for national holiday celebrations, besides that, this park is often used as a venue for musical performances, bazaar activities or other regular concerts. Meanwhile, specifically on Tuesdays and starting at 17:00 hours, this park becomes a special public area for women who are usually led by personal trainers in cardio and fitness training.

14. Doha Hop On Hop Off Bus

For those of you who don’t want to bother exploring Doha. Qatar Tourism provides Hop On-Hop Off Sightseeing Tour. So you just sit down from the top of this bus and will be delivered to several tourist destinations in Doha. This bus spans thirty minutes in operation. Passing through Qatar’s main tourist destinations, namely Souq Waqif, Katara Cultural Village, The Pearl Qatar and the Museum of Islamic Art. To pamper travelers, this bus also stops at Marriott Hotel, Sharq Village and Spa, Sheraton and Hilton Hotel.

15. West Bay

Day Two….The air was very windy and cold of course. Boarding Karwa Bus number 12 and continuing with number 64, I headed for West Bay. The skyscraper complex seemed to be waving at me when I looked at it from the other side of Doha Corniche yesterday afternoon.

Now I was right in the middle of this business area on east coast of Doha. An area that covers three districts at once, namely Al Qassar, Al Dafna and West Bay Lagoon. Finally up close, I could enjoy the Burj Doha, the most iconic building in Qatar.

16. City Center Doha

Tracing every inch in Wes Bay streets, I came to one of the oldest shopping malls in Qatar. City Center Doha which is located in the business center but is targeted to serve customers from the middle economy class. Located right in the middle of West Bay area, this shopping mall is directly connected to three luxury hotels, namely Shangri La Hotel, Rotana Hotel and Merweb Hotel.

17. Doha Metro

For the first time I ride Doha Metro. Qatar’s newest mass transportation system which has been in operation since last year. The three-line MRT (Red Line, Green Line and Gold Line) owned by Hamad Group is ordained as the fastest driverless train in the world with a cruising speed of 100 km/hour.

This time, I enjoyed its luxurious facilities from DECC Station (Doha Exhibition & Convention Center) in Wet Bay to Katara Station which is the access to visit Katara Cultural Village.

18. Katara Cultural Village

Doha Metro dropped me off at Katara station. It only took a half kilometer walk to reach Katara Cultural Village, a cultural center in Qatar. Located on east coast between West Bay and The Pearl, this cultural village dates back ten years.

Katara itself was the name for Qatar before 18th century. The word “Catara” in the first century AD was pinned to naming Qatar Peninsula which is located in south of Persian Gulf.

19. Aspire Park

My third day of exploration in Qatar I started a little bit late. Waiting for the sun to rise, because I would play in an open area, namely Aspire Park. The name of this park is taken from the name of an area, namely Aspire Zone which is the well-known name of Doha Sports City in Baaya District.

Karwa Bus number 301 dropped me off at Villaggio Shelter Bus at exactly 11:44 am. I walked to the park which is located in the west of Qatar. Aspire Park is a beautiful and spacious park which is equipped with a playground, fountains, several coffee shops and even the only artificial lake in Qatar.

20. The Torch Doha

Still in Aspire Zone Complex, stepping a little to east, I was right under a 300 meter high hotel. Often referred to as Aspire Tower, although its official name is The Torch Doha.

The work of an architectural consultant from France, this building is currently the tallest building in Doha. This 36-floors hotel has contributed to Qatar as a focal point for the 15th Asian Games.

21. Khalifa International Stadium

Khalifa International Stadium is right next to The Torch Doha. Often called by the name National Stadium. Like their magnificent airport, this football arena also bears name of the Emir of Qatar Hamad bin Khalifa Al Thani. This is the official home of Qatar national football team with forty thousand seating capacity.

Owned by Qatar Football Association, this stadium was the witness where Australia was overthrown by “the blue samurai squad” with Tadanari Lee’s only goal in the 2011 AFC Asian Cup final.

22. Villaggio Mall

My visit to Doha Sports City, ended by entering Villaggio Mall. This mall in the outskirts of Al Waab Street was developed by Gondolania Entertainment, therefore the concept of gondola tourism in Venice was adopted in this one-story shopping center.

Designed in it’s 150 meter long indoor canal complete with gondola boat, reminds me when I visited The Venetian in Macau 4 years ago.

The main retailer at Villaggio Mall is Carrefour, but this shopping center also accommodates 200 stores selling well-known brands from America, England, Italy and Germany. Come on, those who like shopping, please stop by here!

23. Al Koot Fort

The fourth day, I intend to explore the MDD (Mshreib Downtown Doha) area, which is a replacement city for Mushayrib District whose its development is planned in detail.

But before entering MDD area, I took time to stop at the 93-year-old Al Koot Fort. It was the services of fourth Emir of Qatar, Sheikh Abdullah bin Jassim Al Thani who built this fort with the aim of protecting Souq Waqif from notorious band of thieves at that time.

After stopping at Al Koot Fort or Doha Fort, then I stepped into the MDD area. Let’s see what’s in MDD?

24. Msheireb Museum

The main tourist spot which I visited in Mshreib Downtown Doha was Msheireb Museum which was developed by Msheireb Properties (Qatar National Real Estate Developer). I diligently traced four historic heritage homes which make up the main part of Msheireb Museum. Namely Bin Jelmood House which reveals the history of slave trade in that country, Company House which reveals the story of pioneers of Qatar’s oil industry workers, Mohammed Bin Jassim House which is a house built by son of the founder of Qatar, Sheikh Mohammed bin Jassim Al Thani and Radwani House which is a duplication of original Qatari house model.

If you go to Qatar, you have to come here…. Free ticket anyway.

25. Msheireb Tram

Riding the Msheireb Tram is an easy way to experience the beauty of MDD. This mass transportation was launched by Msheireb Properties with a two kilometer long loop track and is able to connect every spot on MDD in just eighteen minutes.

You have to feel the comfort of an American-made electric tram that uses a filtering glass panel which is said to be able to prevent sunlight from entering the tram cabin by up to 90%.

26. Doha Free Metrolink

Before leaving Qatar, on the last day I tried to try out Doha Metrolink which is a feeder bus network to connect anyone with Doha Metro Station within a radius of two to five kilometers.

There is no charge for using this feeder bus service. The Qatari government provides forty-two Doha Free Metrolink lines that operate from six in the morning to eleven at night.

If you want to travel cheaply in Qatar, look for a hotel which is passed by this bus route. Especially if the hotel is a bit far from the downtown, it will definitely save your pocket more…. Hihihi.

Hopefully this COVID-19 pandemic will end soon and you can immediately travel to Qatar….Amen.

Hamad International Airport….The Best in Middle East

On exactly 5:16 am, a white apron shuttle bus belonging to Qatar Aviation Services (QAS) completed its task of transporting all Kuwait Airways flight KU 621 passengers. Qatar Aviation Services itself is the main company which focuses in ground handling at Hamad International Airport (HIA) .

Go to immigration counter.

From arrival time, it would take thirty minutes to complete the immigration process, then crossing exit gate and enjoyed fresh situation of Arrivals Meet and Greet Hall.

Baggage conveyor belts.

Arrivals Meet and Greet Hall

Bottom view.
Top view.

Hunting for information about Qatar tourism at information desk, I was silent watching a display in neon box. The pattern which shows that HIA has obtained Airport Carbon Accreditation Level 3. This shows that the airport is able to respond to climate change through energy optimization programs and is successful in collaborating with stakeholders in managing third party emissions.

Information desk.

The time that was too early morning was able to put me to sleep in a chair covered in brown leather and located under a date palm tree which towered over the room.

Waiting chair….

An hour and a half later, I was shocked. The sun peeked at hall and airport visitors were already busy passing by. I stepped to airport’s east wing to wash and prepared to leave the airport.

Toilet.
Very clean.

Two water bottles which had dried up since last night were now filled. I left front area of toilet which was decorated with a herd of long-horned deer scattered on a side of the hall. Shiny chocolate like a fighter deer.

Free water station.
Contemporary Dutch art, “8 oryxes” represents a herd of deer typical of the Arabian Peninsula.

In the airport’s west wing, I hunted for money changers. A little tricky to find it, a little bit to right from main hall. 144 US Dollars changed to 479 Qatari Riyals, then 70 Riyals were left to buy a 2.5 GB SIM Card with a validity period of 30 days.

Travelex Qatar Money Changer.
Oredoo booth.

Aku menemukan lagi karya seni kontemporer setelah menukar Dollar. Karya tanpa nama sebagai bentuk penghormatan kepada para pekerja pembangun HIA. TaI found another piece of contemporary art after exchanging Dollars. An anonymous work as a form of respect for HIA construction workers. It looked like their signature was etched on that work of art.

Italian taste art.

Still on west wing, finished in equipping myself with drinking water, SIM Card and some Riyal money sheets, it was time to go to downtown using airport bus number 727. To riding it, I needed a KARWA Smart Card which could be purchased at automatic ticketing machine in waiting room of airport bus terminal.

Waiting room of airport bus terminal.

Departure Hall

If four days earlier I went to downtown using the airport bus, then when I left Doha, I used Doha Metro to HIA. Just wanted to feel the difference. From Casper Hotel, I took a Free Doha Metrolink Shuttle Service. A brown colored pink bus dropped me off at Oqba Ibn Nafie Station. Gliding with Doha Metro, one station later, I arrived at Hamad International Airport T1 Station.

Airport station interior.

Before passing through airport car park, the HIA Mosque tower became the best view on skybridge route which connected Doha Metro Station and Terminal 1. Then,travelator helped me to relieve my tired calf muscles after five days of exploring hot streets of Doha.

HIA Mosque tower.
Terminal 1 parking lot.
Travelator to Terminal 1.

Now I was sitting in check-in counter zone waiting for Philippines Airlines flight number to appear on one of 12 LCD screens on wall. Like waiting for a lottery number, I was happy when the number actually appeared. I rushed to check-in counter PR 685 which seemed quiet.

Seventh line check-in counter.

Hi, please queue, Sir!” warning from a ground staff who automatically braked my steps. He pointed to a queue of Filipinos starting from an airport pole. They all laughed at me and lowered my face in shame.

Check-in counter.

After stamping my passport, I went down stairs and found an old dream. It was obvious how cute the Lamp Bear was sitting helplessly stuck to a black lamppost. Every passerby scrambled to immortalize themself with the ill-fated bear. A Bangladeshi finally helped immortalize myself with the bear.

Duty free zone with a Lamp Bear mascot in the middle.
Yihaa….

I started looking for gate D3, a gate from which I flew to Manila. Took an escalator and rode skytrain to concourse D. Within 2 minutes, the skytrain dropped me off at a new hall with many forks leading to all gates at councourses D and E. The junction was marked by contemporary art titled “Cosmos” in the center.

Going to gate D3.
HIA skytrain.
Contemporary French art called “Cosmos” which symbolizes the world’s traveling culture.

Finally I arrived at waiting room at gate D3 and waited for Philippines Airlines to arrive to pick me up.

Gate D3.

How about Hamad International Airport, how magnificent is it?

One Thousand and Five Hundred Dollars in Qatar Immigration

<—-Previous Story

Peeking Departure Hall.

I was still standing still holding the iron fence on a side of the Arrival Hall Hamad International Airport. Separated by a glass partition, I still stared to the bronze statue nicknamed “Lamp Bear” which is the pride of the best airport in the Middle East region. While other passengers moved very fast with their respective travel trolleys. The yellow bear statue rised as high as seven meters and made every traveler who crosses it like a swarm of ants which busy with their own desires.

Soon I would pass through the immigration counter to adding stamp collection on my e-passport. Reading some stories of several homeland travelers who weren’t a bit rejected, I was already prepared with a lot of questions at the counter later. Understandably, I came to a country with the highest per capita income in the entire world. Meanwhile, my income from a salesman profession in Indonesia’s capital city was only a fingernail compared to the income of this country citizens.

“Don’t worry, Donny. You have prepared well”, I thought to calming down myself. Flashback to a month before departure, when I spoke with a female staff on duty at the front office of Qatar Embassy in Jakarta via telephone. “Entering Qatar doesn’t need a visa, Sir. The important thing is to bring 1,500 US dollars, plane ticket to leaving Qatar and booking confirmation from the hotel where you’ll be staying”, he briefly explained at the time.

Now I was in front of the immigration counter and directed by an officerto queue in a line which was still closed with a tape barrier. There was no immigration officers at the counter yet. Five minutes later the immigration officer came and entering into immigration box. Adding another five minutes to prepare computer, camera and some other supporting equipment. After that, the first traveler in queue came forward. She was told to move her position to take her beautiful face in a photo. Over and over….I got suspicious, maybe he collected those photos for himself…..Hahahaha #joked.

It was my turn in third queue to be called, I had prepared my passport, booking confirmation from Casper Hotel, Philippines Airlines e-ticket, and credit card. Less than 1,500 US dollars, as I recall, I only brought it with the remaining limit of 500 US dollars. If it was rejected…. Well, I would stay for four nights at the airport and would wait for my return schedule…. Crazy gamble.

The last documents in front of the immigration counter.

A handsome officer with a thin beard in a white robe and turban caught my e-passport which almost fell on the counter. He had been flipping through that international identity for a long time. One by one, he looked at my track record. As far as I remembered, my green passport was already filled until page 32.

“Which countries did you go to before coming here?”, he asked, intently looking at me. “I went to Malaysia, India, Dubai, Oman, Kuwait and Bahrain since 29 December, Sir”, I replied, slightly shaking with anxiety. He was still watching me, even before he asked again, I was a little proactive and tried my best to save the situation “This is my return ticket and this is my hotel booking confirmation, Sir”. He just slightly frowned as he said “Oh, No need … No need”. Ah finally, so easy, not as I feared.

Free Visa with one month old.

Welcome Qatar!, my mind cheered with joy.

It was time to exploring Hamad International Airport before going to downtown. Come on….!

Survey Dadakan di Taman Pelangi

Selepas menelusuri Pasar Jongke, aku sejenak berdiri di atas sebuah jembatan penghubung dua sisi Jalan Dr. Rajiman yang terpisahkan oleh Kali Solo. Kuperhatikan lekat-lekat sungai selebar sepuluh meter itu yang airnya tampak mengering berwarna kecoklatan.

Sore hampir menyentuh pukul lima, dari salah satu sisi jembatan itu, aku menunggu kedatangan taksi online yang kupesan.

Tak lama, lima menit kemudian taksi online itu tiba. Aku bergegas menaikinya di bangku depan, bersebelahan dengan pengemudi.

GALABO ya, Mas!”, aku mengonfirmasi tujuan.

Wah, GALABO jam segini belum siap, Mas. Para pedagang masih menyiapkan makanan yang akan dijualnya”, pengemudi muda itu memberikan informasi penting.

Waduh….Mas, saya sebetulnya sedang survey tempat wisata untuk sebuah acara penting kantor saya. Mas ada rekomendasi tempat yang bisa dikunjungi buat para peserta acara itu nanti?”.

Bagaimana kalau saya antar ke Taman Pelangi?”

 “Oke lah Mas, daripada saya menunggui GALABO yang belum buka”.

Okay, kita meluncur kesana ya, Mas!”.

Tak terasa, taksi online yang kutunggangi sudah meninggalkan daerah Laweyan. Perlahan tapi pasti merangsek ke arah timur melewati Jalan Abdul Rahman Saleh, berlanjut ke Jalan Monginsidi dan sedikit berjalan kencang di ruas Jalan Kolonel Sutarto.

Setelah berjibaku di macetnya jalanan Solo maka aku tiba di Taman Pelangi pada pukul 18:41.Secara keseluruhan aku telah berpindah sejauh sepuluh kilometer dalam waktu tiga puluh menit.

Gerbang Taman Pelangi Jurug yang merupakan bagian dari Taman Satwa Taru Jurug.
Area parkir.

Taksi online berhenti di salah satu slot parkir di halaman depan yang luas. Aku segera turun dan menuju ke loket penjualan tiket masuk.

Masih buka, Mbak?”

Baru saja buka jam 17:00 tadi, Mas. Kita tutup jam 23:00”.

Berapa harga tiket masuknya, Mbak?

Dua puluh lima ribu, Mas”.

 “Oh, baik. Saya beli satu tiket ya, Mbak”.

Baik, Mas”.

Aku segera memasuki taman setelah memiliki tiket dalam genggaman. Memasuki area taman, aku langsung faham bahwa ini adalah wisata malam yang menggoda setiap pengunjungnya dengan permainan cahaya di setiap sisi dan sudut taman. Taman berusia tiga tahun ini penuh dengan cahaya.

Hanya saja aku datang terlalu awal, pukul enam sore di kota Solo belum mampu menggelapkan langit. Permainan lampu itu keindahannya belum terlihat sempurna karena langit masih saja terang benderang. Menurut penjaga loket, waktu terbaik untuk berkunjung di taman ini adalah diatas pukul delapan malam.

Tetapi itu semua tak masalah bagiku, karena aku datang ke tempat ini hanyalah untuk melakukan survey lokasi wisata untuk kandidat destinasi Marketing Conference.

Area parking.
Bersiap memasuki Taman Pelangi Jurug.

Tak sampai setengah jam berkeliling taman, aku mulai melangkah keluar meningglkan taman. Kemudian aku mulai berfikir mengambil kesimpulan. Sepertinya Taman Pelangi ini tidak akan kujadikan destinasi bagi para peserta Marketing Conference karena jenis wisata yang ditawarkan taman ini tidak cocok dengan konsep acaraku. Tapi setidaknya aku memperkaya opsi destinasi yang bisa menjadi masukan untuk panitia Marketing Conference.

Aku segera memesan taksi online kembali karena pukul tujuh malam nanti, aku harus sudah berada di GALABO. GALABO adalah wisata kuliner malam di daerah Kedung Lumbu.

Aku akan menikmati makan malam di tempat itu.

Puro Mangkunegaran: Simbol Perlawanan Atas Kesewenangan

Puro Mangkunageran.

Cerah sekali sore itu. Sudah lewat pukul lima tetapi langit masih saja bercahaya. Aku masih duduk pada sebuah kursi di sisi dalam gerbang depan Pasar Triwindu dan menikmati sajian gratis Jenang Suro.  Solo memang sedang menyambut Tahun Baru Islam yang akan datang esok hari, sehingga Paguyuban Pedangang Pasar Triwindu secara sukarela membagikan makanan khas itu ke seluruh pengunjung.

Pasar Triwindu sendiri, pada masa lalunya berjuluk Pasar Windujenar. Sebuah pasar barang seni dan barang antik yang dibangun oleh Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara VII untuk memperingati dua puluh empat tahun masa pemerintahannya. Oleh karenanya pasar ini terletak tak jauh dari istana.

Oleh karena sejarah itulah, kunjungan ke Pasar Trwindu tak akan pernah sempurna jika tak mengunjungi istana raja sang pembuat pasar itu. Bahkan setelah perjalanan surveyku ini selesai, aku menempatkan Pura Mangkunegaran dan Pasar Triwindu sebagai paket destinasi yang sangat dianjurkan untuk dikunjungi oleh selurh peserta Marketing Conference.

Tak lama setelah selesai menyantap Jenang  Suro yang bertabur Sambal Tumpang khas jawa, aku pun meninggalkan Pasar Triwindu, melewati pelataran depannya yang luas dan kembali menatap bangunan pasar yang sangat khas dan klasik sebelum berucap sampai jumpa lagi.

Aku berjalan perlahan menyusuri  trotoar di sepanjang Jalan Diponegoro, menuju ke utara sejauh tiga ratus lima puluh meter untuk mengunjungi Pura Mangkunegaran. Menginjakkan kaki di ujung pertigaan, maka aku telah sampai di seberang gerbang istana kenamaan itu. Padatnya arus lalu lintas membuatku sedikit berjibaku menyeberangi Jalan Ronggowarsito yang menerapkan sistem satu arah dan melingkari kompleks istana tersebut.

Sementara di salah satu sudut pertigaan menyuguhkan pemandangan penuh keramaian para pengunjung sebuah hotel berpadu restoran berjuluk Omah Sinten Heritage.Setelah kuselidik, nantinya aku baru tahu bahwa restoran itu memang menjadi salah satu tempat favorit bagi kaum muda hingga pegawai kantoran untuk berhangout ria menyambut hari libur nasional esok hari.

Berhasil menyeberangi Jalan Ronggowarsito, aku bergegas menuju pintu gerbang istana melewati jalur setapak sepanjang seratus lima puluh meter dengan pelataran sangat luas di kiri-kanannya. Sebelum benar-benar tiba di gerbang, sebuah bangunan Museum Puro Mangkunegaran meyambutku di sisi kiri gerbang. Museum itu tampak sepi dan tanpa penjaga, membuatku tak bisa memastikan apakah museum tersebut masih menerima tamu untuk berkunjung atau tidak.

Museum Puro Mangkunegaran.
Gerbang istana.

Begitu pula dengan gerbang tinggi istana, pagar besi itu pun tertutup rapat tanpa penjaga. Jelas menandakan bahwa istana tak menerima tamu sore itu. Istana memang ditutup untuk pengunjung tepat pukul lima sore.

Aku hanya bisa menikmati keanggunan istana dari kejauhan dan menatap sekelilingnya dengan kagum. Tapi aku tak pernah kecewa, aku sudah sangat bersyukur bisa mengunjunginya. Inilah istana yang menjadi simbol kekuasaan Kota Solo tempoe doeloe.

Puro Mangkunegaran juga menjadi lambang perlawanan seorang bangsawan atas kekuasaaan VOC dan kesewenangan lokal yang diterapkan Pakubuwono II sebagai pemimpin tertinggi Kasunanan Surakarta. Sebuah perlawanan sengit yang membuahkan kemenangan gilang-gemilang dari seorang Raden Mas Said kala itu.

Petulanganku di Puro Mangkunegaran harus segera diusaikan karena aku tak bisa berbuat apapun di depan gerbang raksasa itu. Aku memutuskan undur diri dan menuju ke destinasi berikutnya yang sudah tertuang dalam daftar panjang surveyku.

Mari kita pergi dari sini !

SriLankan Airlines UL 166 dari Kochi (COK) ke Colombo (CMB): Mampir Lagi

Rute penerbangan SriLankan Airlines UL 166 (sumber: flightaware)

Lewat beberapa menit dari pukul sembilan pagi, aku mulai memasuki kabin pesawat Airbus berjenis A330-300 dari gate 4. Penerbanganku baru saja dipindahkan oleh otoritas bandara dari gate 1 yang awalnya direncanakan.

Di pintu pesawat aku disapa oleh barisan pramugari berbusana sari warna hijau dengan motif bulu merak yang merupakan seragam khas awak kabin Srilankan Airlines, flight carrier milik “Negara Permata Samudera Hindia”.

Begitu memasuki kabin, aku segera menelusuri cabin aisle untuk mencari keberadaan bangku bernomor 50G. Ternyata aku menemukannya di deretan bangku kolom tengah yang sejejar dengan emergency exit. Hal ini tentu menjadi sebuah keuntungan tersendiri karena aku akan mendapatkan ruang duduk yang cukup lega untuk menyelonjorkan kaki. Hanya satu kekurangannya, yaitu aku tidak akan mendapatkan fasilitas LCD screen untuk menonton film sepanjang penerbangan….Impas berarti….Hihihi.

Penerbangan ini akan menempuh jarak tak kurang dari lima ratus kilometer dengan waktu tempuh berkisar satu jam. Penerbangan ini sendiri akan menuju mainhub dari SriLankan Airlines yaitu Bandaranaike International Airport yang terletak di kota Colombo, ibu kota Sri Lanka.

Penerbangan ini adalah penerbangan keduaku bersama SriLankan Airlines dimana penerbangan pertama pernah kulakukan bersamanya ketika melakukan perjalanan udara dari Colombo (CMB) ke Male (MLE) pada awal tahun 2019 menggunakan penerbangan bernomor UL 103.

Pagi itu, entah kenapa ketika pesawat sedang berproses taxiing dan take-off, aku mendengar suara berisik di bagian bawah pesawat, suara yang tak seperti biasanya membuatku sedikit khawatir. Tetapi yang namanya penerbangan, tak bisa yang banyak dilakukan, ketika sudah mengudara makan langkah terbaik adalah berdo’a dan menyerahkan segalanya kepada Allah.

Dan Alhamdulillah penerbangan kali ini ternyata berjalan dengan sangat mulus dan lancar.

—-****—-

Aku sendiri mendapatkan tiket penerbangan ini di kantor perwakilan SriLankan Airlines yang berlokasi di bilangan Jalan HR Said, tepatnya di Menara Kuningan. Aku terpaksa berburu tiket ke menara tersebut disebabkan tak kunjung berhassilnya aku ketika mengeksekusi proses terakhir pemesanan online di payment gate pada laman SriLankan Airlines. Mau tidak mau, untuk segera mengamankan tiket murah tersebut, aku harus rela memburunya di kantor perwakilan SriLankan Airlines. Harga tiketnya sendiri aku tebus dengan harga Rp. 1.300.000 untuk dua kali penerbangan, yaitu penerbangan dari Kochi ke Colombo lalu dilanjutkan dengan penerbangan dari Colombo ke Dubai.

Seorang ticketing staff keturunan Arab pun sempat heran kenapa aku membeli connecting flight dari Kochi ke Dubai. Dia bahkan mengingatkanku bahwa resiko refund atas pembatalan tidak bisa dilakukan karena penerbangan ini bukan berasal dari Jakarta.

Aku hanya menegaskan bahwa aku bersiap atas resiko apapun jika gagal terbang karena memang aku terbiasa mengambil resiko demikian untuk sebuah tiket murah.

Akhirnya di akhir pembicaraan malah aku yang banyak bercerita kepadanya tentang berbagai fragmen cerita petualanganku yang menurutnya seru untuk didengarkan.

—-****—-

Hanya ada sebuah kejadian lucu dari penerbangan ini yang masih teringat hingga kiki. Yaitu ketika seorang bocah perempuan nan lucu berparas Asia Selatan tiba-tiba berlari menuju pintu darurat pesawat yang sedang mengudara dan berusaha meraih handle pintu itu. Mungkin dia tertarik dengan warnanya yang menyala. Beruntung si mbak pramugari dengan sigap menangkap dan memeluk anak itu lalu menyerahka ke mama papanya yang duduk tepat di belakangku.

Boarding time.
Yuk mencari bangku!.
Di sinilah tempatku duduk.
Uhhhh….Leganya….
Pintu darurat di sisi kananku.
Cruising phase saat mengudara.
Alhamdulillah, akhirnya mendarat juga di Colombo.

Di dalam pesawat aku sendiri tidak merasa nervous sama sekali, juga sama sekali tak risau memikirkan bagaimana nanti mendarat di Bandaranaike International Airport. Semua perasaan itu bisa dengan mudah aku kuasai karena aku sendiri sudah pernah tidur di bandara tersebut seusai mendarat dari Mumbai pada awal tahun 2019. Pada waktu itu, aku berkesempatan mengeksplorasi Sri Lanka.

Menjelang tengah hari, sang pilot memberikan pengumuman untuk bersiap melakukan pendaratan di Colombo. Serentak setiap awak kabin mulai melakukan inspeksi supaya semua penumpang bersiap diri sesuai dengan prosedur pendaratan. Setelah semua dirasa aman, maka pesawat mulai menurunkan elevasi dan menyentuh runway Bandaranaike International Airport.

Aku sampai di Colombo, dan telah melakukan setengah perjalanan menuju Dubai.

Hatiku terasa girang sekali siang itu

Puro Mangkunegaran: Simbol Perlawanan terhadap Kesewenangan

Puro Mangkunageran.

Cerah sekali sore itu. Sudah lewat pukul lima tetapi langit masih saja bercahaya. Aku masih duduk pada sebuah kursi di sisi dalam gerbang depan Pasar Triwindu dan menikmati sajian gratis Jenang Suro*1.  Solo memang sedang menyambut Tahun Baru Islam yang akan datang esok hari, sehingga Paguyuban Pedangang Pasar Triwindu secara sukarela membagikan makanan khas itu ke seluruh pengunjung.

Pasar Triwindu sendiri, pada masa lalunya berjuluk Pasar Windujenar. Sebuah pasar barang seni dan barang antik yang dibangun oleh Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegara VII untuk memperingati dua puluh empat tahun masa pemerintahannya. Oleh karenanya pasar ini terletak tak jauh dari istana.

Oleh karena sejarah itulah, kunjungan ke Pasar Trwindu tak akan pernah sempurna jika tak mengunjungi istana raja sang pembuat pasar itu. Bahkan setelah perjalanan surveyku ini selesai, aku menempatkan Pura Mangkunegaran dan Pasar Triwindu sebagai paket destinasi yang sangat dianjurkan untuk dikunjungi oleh selurh peserta Marketing Conference.

Tak lama setelah selesai menyantap Jenang  Suro yang bertabur sambal tumpang khas jawa, aku pun meninggalkan Pasar Triwindu, melewati pelataran depannya yang luas dan kembali menatap bangunan pasar yang sangat khas dan klasik sebelum berucap sampai jumpa lagi.

Aku berjalan perlahan menyusuri  trotoar di sepanjang Jalan Diponegoro, menuju ke utara sejauh tiga ratus lima puluh meter untuk mengunjungi Pura Mangkunegaran. Menginjakkan kaki di ujung pertigaan, maka aku telah sampai di seberang gerbang istana kenamaan itu. Padatnya arus lalu lintas membuatku sedikit berjibaku menyeberangi Jalan Ronggowarsito yang menerapkan sistem satu arah dan melingkari kompleks istana tersebut.

Sementara di salah satu sudut pertigaan menyuguhkan pemandangan penuh keramaian para pengunjung sebuah hotel berpadu restoran berjuluk Omah Sinten Heritage.Setelah kuselidik, nantinya aku baru tahu bahwa restoran itu memang menjadi salah satu tempat favorit bagi kaum muda hingga pegawai kantoran untuk berhangout ria menyambut hari libur nasional esok hari.

Berhasil menyeberangi Jalan Ronggowarsito, aku bergegas menuju pintu gerbang istana melewati jalur setapak sepanjang seratus lima puluh meter dengan pelataran sangat luas di kiri-kanannya. Sebelum benar-benar tiba di gerbang, sebuah bangunan Museum Puro Mangkunegaran meyambutku di sisi kiri gerbang. Museum itu tampak sepi dan tanpa penjaga, membuatku tak bisa memastikan apakah museum tersebut masih menerima tamu untuk berkunjung atau tidak.

Museum Puro Mangkunegaran.
Gerbang istana.

Begitu pula dengan gerbang tinggi istana, pagar besi itu pun tertutup rapat tanpa penjaga. Jelas menandakan bahwa istana tak menerima tamu sore itu. Istana memang ditutup untuk pengunjung tepat pukul lima sore.

Aku hanya bisa menikmati keanggunan istana dari kejauhan dan menatap sekelilingnya dengan kagum. Tapi aku tak pernah kecewa, aku sudah sangat bersyukur bisa mengunjunginya. Inilah istana yang menjadi simbol kekuasaan Kota Solo tempoe doeloe.

Puro Mangkunegaran juga menjadi lambang perlawanan seorang bangsawan atas kekuasaaan VOC dan kesewenangan lokal yang diterapkan Pakubuwono II sebagai pemimpin tertinggi Kasunanan Surakarta. Sebuah perlawanan sengit yang membuahkan kemenangan gilang-gemilang dari seorang Raden Mas Said kala itu.

Petulanganku di Puro Mangkunegaran harus segera diusaikan karena aku tak bisa berbuat apapun di depan gerbang raksasa itu. Aku memutuskan undur diri dan menuju ke destinasi berikutnya yang sudah tertuang dalam daftar panjang surveyku.

Mari kita pergi dari sini !

Kebobolan Kartu Kredit dari Departure Hall Cochin International Airport

<—-Kisah Sebelumnya

Masih saja gelap ketika aku meninggalkan kedai makanan dan menyeberangi Airport Road demi menggapai Terminal 3 Cochin International Airport.

Pagi itu pesawatku akan terbang meninggalkan Kochi menuju Colombo. Penerbangan yang kuambil adalah connecting flight Srilankan Airlines menuju destinasi akhir, yaitu Dubai.

Menelusuri beberapa jalur mobil di halaman bandara nan luas, aku merasa aman saja karena keberadaan para polisi bandara yang berkeliling mengamankan situasi.

Dalam dua puluh menit aku tiba tepat di halaman depan Terminal 3.

Menyeberangi drop-off zone, maka secara otomatis aku berada di departure hall bagian luar. Aku berusaha mencari keberadaan Flight Information Display System (FIDS) di selasar keberangkatan. Dengan mudah aku menemukannya dan kemudian mulai memperhatikan larik-larik informasi yang terpampang di layar tersebut.

Tetapi beberapa menit menunggui fragmen demi fragmen tampilan, nomor penerbanganku tak kunjung muncul. Sementara kursi-kursi di selasar keberangkatan perlahan mulai dipenuhi oleh para calon penumpang yang datang.

Apa oleh buat, aku yang penuh inisiatif, bergegas mendekati pintu masuk menuju departure hall bagian dalam.

Please, show your ticket and passport, Sir !”, seorang serdadu bersenjata laras panjang menahanku di pintu hall.

Oh okay……This is, Sir”, aku memberikan passport dan e-ticket cetak.

Dalam beberapa waktu kami berdua terdiam. Aku menunggu sang serdadu memeriksa dokumen yang kuberikan, sedangkan dia dengan khusyu’ membolak-balik halaman passportku serta mengamati lekat-lekat e-ticket cetak yang kuberikan.

This flight isn’t ready yet to check-in, Sir. Please wait for thirty minutes outside”, dia mengembalikan segenap dokumen yang tadi kuberikan sembari menunjuk deret bangku yang sebetulnya telah penuh oleh calon penumpang lain yang menunggu penerbangan mereka masing-masing.

Aku segera meninggalkan serdadu itu karena antrian memasuki departure gate mulai mengular. Bersyukur tersisa satu bangku kosong yang baru saja ditinggalkan oleh seorang calon penumpang dan membuatku nyaman menunggu hingga proses check-in penerbanganku dibuka.

Selama menunggu aku tertegun dalam mengamati aktivitas para penumpang India yang sibuk mempersiapkan bagasinya di luggage wrapping service. Timbul pertanyaan dalam hati: “apakah penanganan bagasi di India bermasalah?”.

Di percobaan yang kedua, serdadu itu mengizinkanku untuk memasuki departure hall karena check-in counter untuk penerbanganku telah berstatus OPEN. Melewati penjagaan para serdadu, selanjutnya aku pun diperiksa dengan sangat ketat di screening gate. Di India memang selalu begitu, bahkan setiap memasuki stasiun MRT di New Delhi, aku harus menjalani pemeriksaan ketat di screening gate stasiun. Mungkin aksi-aksi radikal masih menjadi perhatian penting di sana.

Aku tiba di check-in counter…..

Setelah menunggu beberapa proses check-in penumpang yang mengantri di depanku selesai, maka kemudian menjadi giliranku untuk menghadap ke check-in desk. Seperti biasa, aku bergegas menyerahkan passport, e-ticket dan hotel booking confirmation.

“Where is your destination?”, petugas wanita nan manis melontarkan pertanyaan standar.

“Dubai, Ms”.

“Do you have Unitd Arab Emirates Visa”, dia kembali menanyakan satu dokumen penting tersisa.

“Sure. Ms”, aku memberikan eVisa kepadanya.

Setelah beberapa waktu mengamati eVisa yang kuberikan, dia memanggil temannya. Kini petugas check-in desk laki-laki datang menghampiri meja. Mereka berdua tampak berdiskusi sambil menunjuk-nunjuk eVisa yang kuberikan. Hal ini tentu membuatku tegang, aku berfikir cepat: “Mungkin ada yang salah dengan dokumenku”.

Selepas berdiskusi, tampak petugas pria bersiap diri berbicara padaku dengan mimik serius.

“What do you go to Dubai for?”, dia melontarkan pertanyaan pertama

“Just tourism, Sir”

“Is this your first time go to Dubai?”, pertanyaan kedua terlontarkan.

“Yes, Sir”

“Why don’t you use direct flight from Jakarta to Dubai”, pertanyaan ketiga terucap.

“So expensive Sir if I take a direct flight from Jakarta. Outside of that, I went to Malaysia and India before arrive in Dubai because I’m a travel blogger and I need to take some content”, aku menjawab jelas dan jujur.

“Can I see you vlog?”

Not vlog, Sir…but it’s blog”, aku menegaskan

“Yeaa…whatever of that”

“This is, Sir. I had exkplored some region like South East Asia, East Asia, South Asia”

“Oh, nice…So it’s your time to explore Middle East area?”

“Exactly, Sir….for that I’m here now”

“Okay…I”ll give you two tickets for this connecting flight ?”

“Thank you very much, Sir”

“….Welcome….”

Beberapa waktu kemudian dia memberikan dua lembar tiket Srilankan Airlines. Satu tiket untuk penerbangan Kochi-Colombo dan satu lagi untuk penerbangan Colombo-Dubai.

“Oh yeeaa, don’t forget to take picture with nice spot behind this counter ! …There are many elephant sculpture there….And don’t forget to write it in your blog, Okay….hahahah ! ”, untuk pertama kalinya dia menampakan senyum dan berkelakar akrab di depanku.

“Oh Okay, with my pleasure, Sir….I love this airport”, aku mencoba menjawab seakrab mungkin dan dia hanya tersenyum menggeleng-gelengkan kepalanya saja.

Sebenarnya, aku sudah mengetahui keberadaan ikon bandara itu, hanya saja aku hampir terlupa untuk menyambanginya karena interogasi beberapa waktu lalu yang membuatkan sejenak berkurang ingatan. Beruntung check-in desk staff laki-laki itu memberitahuku sehingga aku tidak kehilangan momen mengabadikan ikon itu.

Menuju departure gate.
Drop-off zone.
Check-in zone.
Patung-patung gajah yang menjadi ikon Cochin International Airport.

Selepas keluar dari check-in area, aku segera mengurus departure stamp di konter imigrasi. Tahapan keluar dari sebuah negara selalu saja berproses cepat, aku berhasil melaluinya dengan mudah untuk kemudian mengikuti petunjuk di sepanjang koridor untuk tiba di waiting room di sepanjang gate pemberangkatan.

Ruang tunggu Cochin International Airport memang terlihat unik, antar ruangan gate di desain tidak bersekat sehingga menjadikan ruang tunggu dengan sembilan gate itu tampak lega. Kursi-kursi tunggal berukuran lebar dengan dudukan busa pun disediakan di sepanjang gate.

Kuputuskan untuk mengambil salah satu bangku untuk duduk menunggu boarding time yang masih dua jam lagi. Kemudian aku berusaha untuk mengakses WiFi bandara untuk mencari beberapa informasi penting mengenai pariwisata Dubai.

Baru saja berhasil mengakses WiFi, aku menerima sebuah notifikasi dari WordPress untuk segera memperpanjang penggunaan domain blog perjalanan yang saya miliki karena beberapa hari ke depan masa berlakunya akan habis.

Aku berfikir, daripada mengambil resiko kehilangan domain di saat sedang melakukan perjalanan, maka aku memutuskan memperpanjang domain tersebut saat itu juga.

Ternyata menghilangkan resiko kehilangan domain tersebut, membuatku mendapatkan resiko lain tanpa kusadari. Kesalahan utama yang kulakukan dengan melakukan pembayaran menggunakan kartu kredit menggunakan akses WiFi bandara ternyata memunculkan resiko baru, yaitu kemungkinan pembajakan data oleh para hacker atas kartu kreditku.

Dan benar apa adanya nanti bahwa beberapa bulan setelah aku pulang dari petualangan menjelajah kawasan Timur Tengah, kartu kreditku kebobolan. Beruntung eksekusi pembayaran yang dilakukan si hacker dinyatakan gagal sehingga proses tagihan ke salah satu bank swasta kenamaan di Jakarta otomatis dibatalkan….Hmmh, ada-ada saja.

Waktu menunggu yang terlalu lama, membuatku gatal untuk kembali melakukan eksplorasi. Kuputuskan untuk kembali berkeliling ke seluruh departure gate hingga naik ke lantai dua yang secara mayoritas digunakan sebagai duty free zone.

Gate.
Duty free zone.
Food court area.
Saatnya terbang menuju Colombo.

Di tengah waktu berkeliling hall, aku sejenak merapat ke salah satu pojok dimana Fligt Information Display System (FDIS) dan beberapa Advertisement LCD diinstalasi. Aku sejenak tertegun membaca informasi pada salah satu layar LCD. Aku membaca informasi itu dalam hati:

“Cochin International Airport…The recipients of United Nation’s Highest Environmental Honor, The Champion of the earth-2018”

Wahhhh….Keren ya bandara ini.

Hanya karena departure gates yang tak terlalu luas membuatku tak membutuhkan banyak waktu untuk mengeksplorasinya. AKhirnya kuputuskan untuk kembali menunggu saja hingga boarding timeku tiba.