7 Destinasi Wisata di Pokhara

Mengunjungi Nepal identik dengan mengunjungi Himalaya. Dan seluruh pelancong tahu bahwa gerbang Himalaya itu ada di Pokhara. Sudah lama kota berjuluk “Permata Himalaya” ini membuka diri untuk mempertontonkan keelokannya ke penjuru dunia.

Hal inilah yang menempatkan Pokhara menjadi top list dalam kunjunganku di kawasan Asia Selatan. Bukan Kathmandu, tapi kota terbesar kedua Nepal yang terletak di barat laut lembah Pokhara inilah yang membuatku bergegas sejenak meninggalkan ibukota Nepal walaupun baru sehari tiba.

Berikut tujuh destinasi wisata yang kukunjungi di Pokhara:

1 Sarangkot.

Menjadi titik pandang terdekat untuk menikmati pegunungan Himalaya menempatkan Sarangkot sebagai gtempat istimewa untuk dikunjungi para pelancong yang tak memiliki banyak waktu untuk mendaki pegunungan tersohor itu.

Datanglah di awal pagi  dan duduklah di viewpoint mendahului fajar. Nikmati gradasi warna yang menyiram lapisan es di puncak Machhapuchhare. Niscaya warna keemasannya akan membuatmu terpesona.

2. Bindhya Basini Temple

Menuruni Sarangkot berlatar Phewa Lake yang ikonik, aku segera menuju ke sebuah kuil Hindu tempat pemujaan Dewi Bindabasini yang terletak 7 km di sebelah timur Sarangkot. Tepat jam 08:14 kuil sudah begitu ramai dengan lalu lalang pelawat dan juga jemaat yang datang untuk bersembahyang.

Letak kuil yang berada di sebuah bukit membuatku dengan leluasa memandangi rapatnya perumahan penduduk yang berlatar pegunungan Himalaya yang membiru dengan warna putih di puncaknya.

3. Old Bazaar/Purana Bazaar

Kini aku bergerak 2 km ke arah selatan menuruni jalanan menuju sebuah tempat perniagaan yang sudah ada sejak abad ke-18. Pasar dengan dominasi arsitekur Newar bermotif bata merah dengan belahan jalur yang hanya cukup bagi dua kendaraan yang saling berpapasan.

Pukul 09:15…Masih terlalu pagi buat masyarakat Pokhara untuk berdagang. Sejauh mata memandang, memoriku dimanjakan dengan pemandangan jalanan pasar yang dihapit oleh bangunan klasik di kiri- kanan kemudia di ujung jalan sana dibendung dengan wajah Himalaya yang keelokannya abadi.

Saking lengangnya pasar, menikmati Jalebi di tengah jalanan pasar pun tak ada yang mengganggu.

4. International Mountain Museum

Sekembali dari hotel untuk menyantap sarapan. Kemudian, aku melanjutkan bertamu ke sebuah museum yang didedikasikan bagi para pendaki Himalaya yang tak pernah lagi turun dengan selamat.

Dengan membayar Rp. 55.000, aku disuguhi galeri yang menampilkan sederet foto puncak bersalju di seantero dunia disusul dengan kekhasan berbagai etnis penghuni Nepal, kemudian ditutup dengan beberapa kisah heroik para pendaki Himalaya.

5. Tashi Ling Tibetan Village.

Bagi yang belum sempat mengunjugi Tibet, maka rasakan nuansanya dengan mengunjungi para Tibetan di Tashi Ling. Perkampungan ini ditinggali oleh pengungsi Tibet yang bermigrasi karena intrik politik.

Mereka menyambung hidup dengan cara berdagang di tempat tinggalnya yang baru. Banyak para pelancong yang berbelanja souvenir di tempat ini. Aku sendiri menyempatkan menyantap makan siang dengan menu semangkuk mie seharga Rp. 20.000 di salah satu kedai makan milik mereka.

6. Gupteshwor Mahadev Cave.

Berjarak selemparan batu dari Tashi Ling, goa yang terletak persis di tepian jalan Siddhartha Rajmarg ini berbiaya masuk Rp. 14.000. Melingkar menuruni tangga dengan bangunan utama berwarna merah, aku sampai pada mulut goa. Berlanjut menyusuri liukan lorong-lorong sempit nan lembab yang berujung pada ruangan utama gua dengan pemandangan derasnya air terjun yang terintip dari guratan celah memanjang di salah satu sisi….Indah sekali.

7. World Peace Pagoda

Menjelang sore, aku tiba di destinasi terakhirku. Dengan nama lain Shanti Stupa, pagoda putih bersih ini harus ditanjaki dengan susah payah di Bukit Anadu. Sebuag situs peribadatan peninggalan jepang perlambang perdamaian yang menjunjung kesunyian. Tak diperkenankan berisik sedikitpun adalah norma yang harus ditaati selama berkunjung.

Hiasan alam berupa Pegunungan Himalaya beralas Phewa Lake dalam satu sisi pandang menjadi semakin sempurna dengan penampakan kota Pokhara bak maket terlihat dari atas.

Jadi, jika kamu berkunjung ke Pokhara pastikan mengunjungi tempat-tempat keren ini ya.

Breaking a Record with SJ 010

Yessss….Finally I flew to Medan via that route.

Was SJ 010, Sriwijaya Air’s morning flight using BOEING 737-900ER which took me to “Kota Melayu Deli” (other name of Medan). Amazing journey which was actually unplanned. It is different from my habits when traveling abroad with making detail itinerary since a year before the trip is executed.

At 3:58 am, I have arrived Terminal 2 Soetta.

Starting from a taunting every morning in my beloved office, who is always me as victim. “Achh….you don’t love our country and always go abroad. Our country is beautiful, why do you have to go abroad?“. Even though they who spoke it also rarely went on picnics everywhere….Hahaha.

Upon arrival at airport, I went straight to check-in counter.

This trip was also obsessed because of another tickling event. Starting from planning to go with marketing friends to Toba Lake, which is always planned at the end of every year. Even three years have passed or arguably until I have explored more than ten nations, it was never realized.

Install your own cabin baggage tag, Donny!

Yes, such it, sometimes friends have passion just on their lips. So if I don’t do the action by myself, I will never go to outside of Jakarta.

Preparing to passed x-ray security screening at gate F.

The end of October is time when I get an additional 5 days leave. This is a benefit which I got since I was become a supervisor in my office. Somehow, the discussion about Toba Lake at Thursday morning briefing made me curious to open a ticket search site.

05:46 am….Let’s boarding!

Following my fingers which kept dancing on keypad, I was anesthetized because I suddenly had ended the payment gate session on website and then bringing a Cengkareng-Kualanamu e-ticket for USD 40.8. Damn, travel maniac….I had to get ready for next 18 days to explore Sumatra island.

The dashing of Sriwijaya Air SJ 010.

Now I would be the first marketer in my office who would see beauty of Toba Lake. No need to plan a lot, didn’t need to say much….Just go whatever you want, Donny!

Not only in highway….Wanted to fly through Soetta runway also had to queue.

I hope that after returning from Sumatra expedition, my friends wouldn’t say that I don’t love my own country.

At 6:41 am I floated above Jakarta.
And having breakfast with Sriwijaya Air menu.

And you need to know, this trip started from Medan and would end in Padang. After returning home, I would be dubbed as a crazy traveler for the first time by all friends in office….Wow.

Why did Sriwijaya Air always make strange noises like rickety while flying.

I didn’t deliberately land in Silangit because my strong desire felt exploration of North Sumatra mainland to see its nature and mingled with unique local people from the various stories which I heard.

The view outside was able to forget strange noises in the cabin.
Flight with zero turbulence.
The sparkling Malacca straits is doused by dawn.
The awesome North Sumatra coastline.

My furthest exploration on Sumatra island so far only reached the edge of Martapura city, South Sumatra. But that wasn’t in traveling, but only to fulfill my duty when I was a freshwater fish sales many years ago.

I was arrived….Come on down!
That’s the main building of Kualanamu International Airport.

There was one interesting comment on my social media when I just landed in Kualanamu. “Bro Donny, He always work hard and travel harder“….Looked like I have to accept that jargon from my friend.

Waiting for apron shuttle bus.
The bus was coming.

Just like a dream, finally being able to visit North Sumatra. One thing that was never thought of before. It must be like that to explore the beauty of Indonesia. No need to think a long, just go….If lost, it won’t far from home….Hahaha.

Exploring Medan started from this door….Let’s go!

You can see its video here: https://youtu.be/3Bwjm3VULPc

By the way, you can search for flight ticket from Jakarta to Medan in 12go Asia. Try to search the route here: https://12go.asia/?z=3283832

Berganti Tahun di Tepian Phewa Lake

Mengakhiri transaksi dan menggenggam tiket bus Pokhara-Kathmandu, aku berniat cepat menuju penginapan. Jarum jam serasa bergerak cepat dan gelap perlahan pasti menyelimuti kota, hingga kemudian aku menyatakan setuju pada sopir taksi untuk mengantarkanku ke New Pokhara Lodge.

Taksi putih mungil lincah membelah patahan-patahan gang kecil. Sekali dia tampak kebingungan hingga memaksanya turun dan bertanya kepada sosok muda yang sedang terlena pada secangkir kopi dan sebungkus sigaret. Kemudian tunjukan tangan sang pemuda membuat si sopir mengangguk faham.

—-****—-

Aku terduduk dan mengamati pecahan uang kertas berbagai bangsa yang tersusun rapi  menjadi galeri lobby. Salah satunya adalah pecahan bergambar Tuanku Imam Bonjol.

Lobby New Pokhara Lodge

Selang beberapa waktu, muncul pria setengah baya yang tampak telah melambat gerakannya tetapi berusaha untuk tetap tersenyum. Selanjutnya aku mengenalnya sebagai Mr. Raj, penanggung jawab hotel yang sangat baik dalam memberikan pelayanan untuk para tamunya di New Pokhara Lodge.

Aku ditempatkan di lantai dua di hotel berbentuk letter-U, berlantai tiga dan berwarna oranye itu. Ruang inap yang kutebus dengan harga sebesar Rp.108.000 kini menjadi basecampku selama berkelana di Pokhara.

—-****—-

Mr. Raj menasehatiku singkat,  “Don’t worry about your security in New Year Celebration!. Don’t drink too much and back soon!….Enjoy your night and Happy New Year”.

Suasana Lakeside Road.

Berjalan kaki sejauh 650 meter menuju tepian Phewa Lake , aku menelusuri jalur kecil yang hanya bisa dilalui kendaraan roda dua. Hanya dua menit hingga tiba di keramaian Lakeside Road. Tampak panggung yang tak lebih baik dari panggung Kelurahan Ciracas telah disiapkan di tepian danau.

Aroma kuliner kaki lima ditengah riuhnya rombongan muda mudi Nepal menjadi paduan sempurna di dinginnya Pokhara. Suhu 8o C perlahan mengintimidasi  lambung. Dan rasanya tak sanggup jika harus makan dan duduk berlama-lama di trotoar, suhu dingin malam telah membuat tangan dan mukaku yang tak berpelindung menjadi kaku. Pada akhirnya, langkah kaki mengantarkanku memasuki AM/PM Organic Cafe. Secangkir Masala tea beserta vegetarian fried race menjadi penghangat tubuh menjelang tengah malam yang sedang ditunggu manusia sejagat.

Menunggu pesanan datang.

Makanan yang sudah habis tak bersisa, cangkir teh yang telah mengering dan pelayan yang terus memperhatikan, membuatku tak enak hati. Firasatku mengatakan untuk segera keluar dari cafe karena tentu si empunya berharap meja yang kini kutempati bisa segera dijualnya ke pengunjung lain.

Kini aku berusaha menyelinap ke kerumunan untuk menghindari hembusan angin dingin dari arah danau. Perawakan dan gurat muka yang mirip Nepali membuatku terlihat seperti penduduk lokal yang semuanya berdiri mengelilingi panggung.

Artis lokal silih berganti memberikan performance terbaiknya, anak-anak usia sekolah dasar tak mau kalah dengan tariannya, kesemuanya dipandu oleh MC berperawakan ideal, berambut klimis tanpa kumis dan berparas layak aktor Bollywood.

Panggung sekecil itu ditengah banyaknya penonton.

Malam itu, warga Pokhara serasa menjadi manusia paling bahagia di dunia sedangkan aku merasa kembali ke era 1986 dimana aku masih menjadi siswa kelas satu SD di Semarang kala itu.

Aku tak yakin akan ada riuh gempita pesta kembang api. Keyakinan itu membuatku perlahan mengundurkan diri dari kerumunan. Berjalan pelan dan terngiang petuah Mr. Raj yang memperingatkanku akan kemungkinan yang bisa terjadi karena memang banyak pemuda yang terlalu banyak minum di jalanan.

Belum juga menikung menuju sebuah gang, kerumunan mulai keras berhitung mundur bersambung luncuran kembang api ke udara dan meledak tepat di pusat Phewa Lake. Momen yang kutunggu hingga hampir diputus-asakan oleh dingin. Aku berbalik badan dan menikmati suasana itu. Danau yang semula gelap dan tampak hitam saja, kini airnya memantulkan spektrum cahaya kembang api yang bergantian meledak di atasnya.

Kekaguman yang bahkan tak kudapatkan pada momen yang sama setahun lalu di Osaka. Keindahan yang membuatku lupa mengabadikan momen itu sendiri. Tapi tak apa lah, otakku masih merekamnya dengan baik hingga kini.

Malam yang sempurna.

Hypothermia Danger at Taj Express towards New Delhi

I was chased by a little beggar who didn’t satisfy because I only gave him a chocolate which I brought from Jakarta since a week ago. “No….I need money,” he said while he continued to follow me from behind. Even when I unpacked my backpack to control whether any suspicious objects which enter in it after I have put it in taxi baggage for a full day, he still stood while endlessly raving in front of me who squatted in station corner to tidy up my backpack. “Hi kid….I don’t have much money … Sorry”, I brought my face closer for about an inch from his face. He was smile while showing his rabbit teeth.

At exactly 17:00 hours, I smoothly passed a metal detector of Agra Cantt station, although a mustachioed police continuosly watched me. A step later, I headed to platform and looked for Taj Express 12279 departure information on a simple LCD board. Temperature is listed at 12 degrees….”Starts to cool”, I thought….”Delay”, my brain recorded a information. Even though I should leave Agra on 18:40 hours.

Ticket class CC (Chair Car) which its price was only USD 3.8 certainly didn’t have access to station lounge which offers warm air and good food in it. Sadly, I was scattered with ecomomic passengers along Agra Cantt station’s platform which grew colder.

Trains passed over and over again that continuously promising a hope….But it wasn’t immediately arrived.

The longer I seated, my fingers began to get numb. Damn….I brought wrong clothes, my jacket wasn’t thick enough. Sometimes toilet became a temporary place to refuse freezing. But it couldn’t be long, the paid toilet spread urine smell to everywhere.

The temperature was below 10 Celsius degrees when entering on 10 pm….”an alert” for me.

I was unable to hide panic when temperature touched 7 Celsius degrees. My socks which were penetrated cold and slowly getting wet made me feel like I’m soaking feet in ice water. While a double t-shirt under my jacket was unable to capture body heat….I started to lightly shiver in the middle of night.

Look at that Indian boy!….I wanted to take away his blanket.

Resistance used a small cup of chai (a pulled tea) and a small burger didn’t last long. Finally I just kept moving to overcome the cold.

Taj Express approached the station around 1:30 hours in the morning. I was absurdly excited to enter the coach, but my hope vanished when I didn’t feel a change in temperature after 5 minutes sat on the coach. No wonder…Apparently, there were small gaps in all train windows which put cold air into….Oooops.

Even that dirty bench didn’t disgust me because my focus was only against the cold.

Even more annoying, the train was completely motionless almost 40 minutes after arriving. Now, condition at coach inside wasn’t different from condition at station’s platform. While local passengers had fallen asleep and tightly closed with their blankets, while I was still busy to fight against to the increasingly threatening air. I began to think about hypothermia. Panic began to grow in my brain.

The coach which couldn’t save me from being cold.

I didn’t care anymore even though train continued to slowly approach New Delhi. I really huddled panting. I chewed a last burger to generate body heat so that it extended my effort to conquering cold.

The more machinist increased train speed, the more I couldn’t move. I looked like having no hope, huddled and rigidly hugging backpack all the way. Only prayer as the last weapon which I have. At 3 Celsius degrees and all feet got wet, palm puckered and lips cracked, I felt like having a hard breathing.

3 hours 10 minutes, I really looked like a statue until finally I was able to jump from the seat and made sure about what I saw across window. Yes….That was Metro Delhi train…. I arrived. Oh, not yet…. it was still half an hour before actually arriving. The last half an hour that made me able to faintly smile before entered Hazrat Nizamuddin station in New Delhi.

Goodbye Agra and welcome to New Delhi.

Thank you God.

Tourist Bus dari Kathmandu ke Pokhara

Antrian bus di Kanti Path Road.

Cukup dengan Rp. 40.000 untuk menunggang taksi selama 10 menit dari Thamel ke Kanti Path Road. Jika tak takut tersasar, kamu juga boleh menempuhnya selama 20-25 menit dengan berjalan kaki.

Imajinasiku mengatakan bahwa bus yang sedang kukejar ini akan standby di sebuah kantor travel agent. Tetapi kenyataannya jauh diluar perandaian. Semua bus dari berbagai travel agent berbaris menyemut di sepanjang Kanti Path Road.

48 menit menjelang keberangkatan, kusempatkan bersarapan ringan karena ini adalah perjalanan panjang yang aku sendiri tak tahu bagaimana manajemen waktu perjalanannya.

BG’s Coffee Shop yang sudah buka di sisi Kanti Path Road.
Bisa juga sarapan di trotoar, gaes….Duh, anak sholeh bantu bapaknya jualan.

Tiket sendiri sudah kupesan via email dari Jakarta seharga Rp. 92.000, hanya saja pembayaran dilakukan di lokasi keberangkatan. Transaksi aneh yang kujumpai pertama kali di luar negeri. Kini masalahnya hanya satu, aku harus dioper ke bus lain karena menurut si penjual tiket, bus yang kupesan sudah fullseat (sepertinya ini memang strategi mereka, menjaring penumpang via email terlebih dahulu dan perihal akan ditempatkan di bus yang mana, itu urusan belakangan….Hahaha, cerdas).

Hebatnya lagi, Aku hanya diberikan selembar tiket lalu diminta untuk mencari bus secara mandiri di sepanjang Kanti Path Road berdasar plat nomor yang tertera di tiket. Penuh percaya diri kuiyakan perintah itu. Hanya saja, baru saja berjalan 5 menit mencarinya, aku mulai kewalahan….Ya puyeng lah!….Numerik Nepal kan berbeda dengan numerik latin!.

Parah….Kini setengah jam menuju keberangkatan mulai dihitung mundur. Tak berbekal akses komunikasi apapun, aku kembali lagi ke titik awal pencarian untuk bertanya kepada si penjual tiket yang nampaknya merangkap jabatan sebagai koordinator bus. Kelimpungan dibuatnya karena aku tak menemukan batang hidungnya. Kutunjukkan tiketku kepada beberapa orang di sekitar, mereka hanya manyahut “wait!….wait!”. Berusaha menyamarkan kepanikan dengan 15 menit tersisa menuju waktu keberangkatan, mataku lekat mengawasi satu persatu kerumunan orang untuk menemukan orang yang kucari. Yes, aku mengenali warna hijau penutup kepalanya dan kalungan handphone poliponik di lehernya. Kuhampiri dan memintanya menolongku menemukan armada yang termaksud dalam tiket….Beuh, dia hanya berucap singkat “Looking for the light green bus….Row number three from the front”. Melihatnya sibuk dan tak mungkin menemaniku mencari, aku segera berlari menuju barisan terdepan.

Akhirnya armada hijau muda bertolak tepat pukul 7. Berbekal seliter free-mineral water, aku terduduk di kursi paling belakang bersama mahasiswa asal Korea yang kemudian akan bercakap akrab sepanjang 8,5 jam perjalanan menuju Phokara.

Interior bus.

Sepanjang perjalanan, bus akan berhenti empat kali.

Dua kali untuk toilet break selama 15 menit yaitu break stop ke-1 pada jam 9:30 dan break stop ke-4 pada jam 14:30.

Selain toilet break, bus juga akan 2 kali berhenti untuk makan masing-masing berdurasi 20 menit. Break stop ke-2 untuk sarapan pada jam 10:30 dan break stop ke-3 untuk makan siang pada jam 13:30. Aku sedikit memperhatikan meja kasir rumah makan, terlihat bahwa sedikit banyaknya makanan yang diambil, penumpang secara merata membayar Rp. 53.000.

Duh imoetnya….
Harus cepat kalau ga mau ditinggal bus.
Bahkan aku tak sempat menguyahnya…..Masuk mulut langsung telan.

Selama perjalanan pula, aku sungguh terpesona ketika tersuguh pemandangan dari sisi kanan. Dedaunan yang memutih karena tertutup tebalnya debu jalanan, papan-papan iklan raksasa yang terpanjang di tengah pesawahan, jembatan-jembatan gantung penghubung antar bukit, kegiatan rafting di sepanjang sungai dan ramainya wisata Chandragiri Cable Car. Bahkan aku bisa dibuat tersenyum dengan tingkah warga yang berjemur di tengah hawa dingin 9°C sembari bermain karambol atau beberapa dari mereka mengelilingi api yang dinyalakan di pelataran rumah.

Debu….Lihatlah !
Sawah pun menjadi lahan komersil.
Punya tetangga ga tuh?….

Perlahan bus menaiki, menuruni dan mengelilingi pegunungan dengan jurang di sebelah kanan. Aku tak terlalu khawatir karena bus berjalan pelan. Satu hal yang kemudian membuatku tersadar bahwa kebanyakan mobil, truk dan bus di Nepal berasal dari pabrikan Tata Motor, India.

Lihatlah truk di area pertambangan di sepanjang Kathmandu-Pokhara.

Kupikir moda bertuliskan Tourist Bus ini tak akan mengambil penumpang di jalanan, ternyata dua kali kondektur ciliknya menaikkan penumpang, hanya saja tak sampai ada yang berdiri.

Perjalanan sempat terhenti karena terjadi kebocoran roda pada 15 menit sebelum mencapai Pokhara. Kondektur belasan tahun itu pontang-panting untuk mengganti roda, beruntung 3 sopir taksi datang membantu. Dalam kondisi seperti ini, aku masih sempat saja bertransaksi di sebuah pasar tumpah untuk mendapatkan sekantong jeruk seharga Rp. 13.000. Tetapi perbaikan yang terlalu lama dan tak kunjung usai, akhirnya aku dioper ke bus lain.

Taksi jadoel tapi ekslusif.

Di Pokhara, bus akan berhenti di Tourist Bus Park dengan pemandangan pegunungan Himalaya di belakangnya…..cuannteeekkkkk luar biasa.

Tak mengindahkan serbuan para sopir taksi, aku bergegas menuju sebuah kantor travel agent tak jauh dari tempatku turun. Yup…Aku berinisiatif untuk langsung memesan tiket balik menuju Kathmandu karena nantinya aku akan terbang ke New Delhi melalui Tribhuvan International Airport. Travel agent ini menawarkan tiga jenis harga tiket yang berkisar dari dari Rp. 80.000 hingga Rp. 105.000 tergantung dari kualitas bus. Tak ambil pikir panjang, aku memilih harga termurah.

Tourist Bus Park.

Yuk Explore Pokhara!

Lihat video terkait artikel ini disini: https://youtu.be/sSDNtAYx0tQ

Red Brick Charisma of Agra Fort

Get off here and walk straight there. I will wait here for maximum 2 hours“, said full-day rent taxi driver after spitting betel nut out of taxi window. Betel spittle traces evenly looked in car parking area…. Pathetic.

Ticket sales counter.
Pretty good price….USD 7.3

Not wasting time, I immediately sneaked into the visitors queue to buy a ticket. Shortly….Not more than 10 minutes, a ticket was already got.

I sank into Red Fort grandeur. This city fortress is really high as if watching every step of people who approaching it. Mughal City seems to be the safest city in the world with a thick wall.

Let’s entering it….
Amar Singh Gate in front.
Its walls around main entrance.

Like other fortress, I must cross a canal through a bridge which connects main street and fort gate itself. Entering it, every lane in fortress inner side must be traversed between high walls which slowly changed from creepy to comfortable.

The second gate with 21 meters high wall loomed and I was be like a dwarf.
Exterior around the gate.

This 4.5-century old UNESCO World Heritage Site is home to all members of Mughal royal family. Red Fort automatically stopped functioning when the capital of Mughal kingdom moved to Delhi. Agra Fort itself was initiated to be built because of several wars between several kingdoms around Hindustan until Afghan area.

Then….My cunning began to acquire myself when “free fare” intuition led me to follow a tour guide steps who was carrying Chinese tourists. Every explanation which came out of his lips tried to understand by me. Some tourists frowned when I was caught eavesdropping, they realized that I was an intruder in their group.

Let’s carefully listen!….

One interesting amusement was when I was offered a pinch of yellow powder by an old man. I’m confused with it. It turned out that a few seconds later little squirrels got into my hands and ate this powder. I just saw a super tame squirrel like that.

Benign squirrels around the fort approached to visitors.
Peeking conditions around from top of fortress.
Taj Mahal was faintly monitored from Agra Fort.

Then steps led me into a white building nicknamed as Khas Mahal which was the king’s private palace. This building is made from marble with beautiful paintings in it.

Khas Mahal interior.
A fountain in front of Khas Mahal.

Not far from Khas Mahal, you can see a white two-story building with a large garden in front of its yard. This section is named Anguri Bagh.

Anguri Baghh means “The Grape Garden” which is a private garden belonging to female members of kingdom..

Anguri Bagh
Golden Pavilion around Anguri Bagh.
Buildings around Anguri Bagh were being renovated.

And the last part which I visited was Jahangiri Mahal (often also called Jahangiri Palace). This is the heart of Agra Fort. A magnificent palace intended as a residence of king’s wife.

Ouch….The handsome man…. Who is he?

Check the video in this link: https://youtu.be/fTQTuLa7bBE

Short words and short steps later….I rushed to Agra Cantt station. Awaited a train to New Delhi.

Manis Pedas Asam Panipuri di Swayambhunath Stupa.

Destinasi pertama di Nepal.

Resepsionis: “Mr. Donny Suryanto from Indonesia?”, menyapaku ketika merapat ke mejanya.

Aku: “How do you know me?”.

Resepsionis: “Yes Sir, we are waiting for you. Our last room which we have. And you have kept it via Booking.com.

Aku: “yeaa wright….Hahaha, excellent.”, bersamaan menandatangani berkas beriring senyum.

Aku memasuki kamar Hotel Holiday House seharga Rp. 130.000. Berencana singgah semalam di Kathmandu. Dan di keesokan pagi, aku berangkat menuju Pokhara untuk menikmati Himalaya.

Sempitnya waktu memaksaku untuk bergegas cepat. Mengurungkan niat berbasuh dan segera mengambil folding bag untuk kemudian kuisi dengan barang-barang penting, lalu menuju Swayambhunath Stupa.

Kini aku menyusuri jalanan sempit Thamel dengan hisapan debu yang  tak terelakkan di setiap langkah. Bau khas debu tersamar dengan bau wangi menyengat dupa yang perlahan memendek terlahap bara kecil di beberapa kios penjual pashmina.

Kuhampiri pengemudi yang sedang mengelap taksi mungilnya dari debu, kemudian memulai transaksi menuju Swayambhunath Stupa yang 3 km jauhnya dari tempatku menginap. Aku sengaja mengurungkan niat untuk menempuhnya dengan berjalan kaki karena khawatir hari kian sore.

Deretan stupa di Swayambhunath.

Rp. 50.000 adalah kata sepakatku dengannya. Selama perjalanan, irama pop Nepal yang aku sendiri tak pernah faham maknanya membuat kepalaku mengangguk-angguk mengikuti alunannya. Sesekali si driver merangkap si pemilik taxi menatapku penuh senyum dan akhirnya kita mengangguk-angguk bersama.

Si pengemudi taxi menyarankanku untuk turun di gerbang atas kuil saja. Perlu waktu lama katanya jika aku harus menapak dari gerbang bawah. Setelah mengiyakan sarannya, perlahan taxi mungil itu melaju melingkar mengikuti kontur bukit Swayambhu dan menurunkan tepat di gerbang depan.

Menjelajah di sela-sela stupa.

Penjaga gerbang: “Where are you come from?.”

Aku: “Indonesia, Sir

Penjaga gerbang: “Oh, I know….I know….Jokowi”.

Aku: “Hahaha great….You know that.

Penjaga gerbang: “He is very famous here”, ucapnya sembari merobek tiket masukku seharga Rp. 25.000.

Stupa utama Swayambhunath.
Lihat mata Buddha yang tajam itu !

Benar adanya, sesuai julukannya “Monkey Temple” maka area di sekitar stupa ini banyak dijumpai monyet yang riuh menyambut kedatangan pelawat di pelataran depan. Melintasi kolam perdamaian penuh koin yang dilempar oleh para pelawat. Konon mereka percaya do’anya akan terkabul jika melemparkan koin tersebut. Aku terus berlanjut menapaki tangga menuju tempat peribadatan utama di puncak bukit.

Putarlah maka do’amu akan terkabul.

Para jemaat bergantian datang dan memutar prayer wheels satu persatu….tentu mereka berharap Buddha mengabulkan permintaannya.

Di sekeliling stupa para penjual souvenir menawarkan barang dagangannya kepada para pelawat. Souvenir berbahan logam yang kusam terpapar debu tak menyurutkan niat para pelawat untuk membeli dan memilikinya.

Banyak titipan nih….

Melewati setiap alur di sekitar stupa, anjing sebagai satwa penjaga tampak lulut dan sebagian diantaranya tertidur pulas di sembarang tempat. Sementara ribuan bendera do’a warna-warni berjajar rapi pada sebuah tali yang berpusat pada stupa dan terbentang ke berbagai penjuru.

Menggemaskan.

Sementara di tepian lain, tersuguh sunset yang menyiram kota dengan spektrum kuning emas kemerahan. Perpaduan nuansa religi dan keindahan alam yang sangat memanjakan mata.

Kek Bandung dilihat dari Bukit Bintang kan?.

Keluar di gerbang yang sama, aku meluangkan waktu untuk menuruni jalanan, melihat aktivitas pedagang kaki lima. Langkahku terhenti pada kesibukan sepasang suami istri penjual panipuri. Lalu aku menebusnya seporsi dengan harga Rp. 12.000 dam mulai menikmati jajanan kaki lima Nepal untuk pertama kalinya. Rasa pedas bercampur asam manis dengan aroma kuat kari membuatku sedikit lambat menelan setiap potong panipuri yang kubeli. Pada akhirnya sejoli penjual itu menertawakanku ketika mengunyah jajanan itu sambil melotot.

Wajib menyicipi jajanan kaki lima.

Selepas menikmati jajanan ala rakyat Asia Selatan yang terkenal tersebut, aku menghentikan sebuah taxi yang baru saja menurunkan penumpang. Saatnya menuju penginapan, mandi dan bersiap diri menikmati dinner di malam pertamaku di Nepal.

Bye Swayambhunath….Bersiap menuju Pokhara esok hari.

Tracing Shah Jahan, Enjoying Taj Mahal at Mehtab Bagh

After tired in taking care of Mughal government, I usually head to Taj Mahal to monitor progress of its construction. In afternoon, I invited some Taj Mahal workers to cross Yamuna river and I continued to take shelter under trees in a field to enjoy Taj Mahal which stood majestically doused by orange-red sunset….So beautiful, I imagined it. Imagine?….Yes, because I’m not Shah Jahan. Only he who can do that activity in the past. Who am I ?….Haha.

Taj Mahal was captured from Mehtab Bagh.

I arrived after 10 minutes earlier still exploring Itimad ud Daulah in Northwest Mehtab Bagh. The beautiful and spacious garden hadn’t stolen yet my attention, because I was more interested in old man action who flipping through his fried food so that it gave off aroma of arouse my appetite. No wonder, many people were willing to queue to taste it. I paid for USD 0.75 to redeem and devour it, hot french fries with a faint aroma of curry became my snack menu before entering Mehtab Bagh.

Buying a ticket first before entering.

I immediately headed to gate and buying a ticket for USD 3. Suddenly amazed by park condition. Neatly arranged pathway is embellished with an elongated flower column in the middle. Also facilitated by benches in several spots. All benches were almost all occupied by many Indian young couple who were infected by romance. I couldn’t dismiss it, because the park was very romantic, as its name mean. You know the meaning of “Mehtab Bagh”words?….Mehtab Bagh has same meaning as Moonlight Garden….Wouw..

Really neat right?….

When many young people looked at each other’s interests, I was more interested in going to right of park. Because from distance, appearance of Taj Mahal was so eye-catching. Now I just found out, why Shah Jahan often spends his afternoon to just look at his project here. He even intended to make a black twin Taj Mahal in Mehtab Bagh. But his intention was canceled because he was caught and be a house arrest at Agra Fort after coup by his own son. His son was worried about their kingdom finances which his father was prone to spend it for realizing his intention to build black Taj mahal.

Look at that foundation!….Forerunner of Black Taj Mahal which failed.

All visitors exactly feel safe when in park, because two young armed soldiers patrolled around park to secure its situation.

Soldier: “Where are you come from?”, asked with smile.

Me: “Indonesia, Sir”, answered with simle too.

Soldier: “How about Taj Mahal?. It’s good. Are you happy?”

Me: “Yes, Sir. It’s beautiful. I Love it”, answered.

Soldier: “Enjoy

Me: “Thanks Sir”.

Shady trees in the park.
Other side of park.

I couldn’t really head to Yamuna river bank because It was restricted with iron wires. I saw an european tourist look professional when taking out long binocular DSLR and capturing lots of Taj Mahal pictures from various sides which he liked, right in front of wire fence. I just imagined that one day I could have a camera like that and travel around the world then taking great pictures for you to see. By the way, finally 3 months later I had a Canon EOS M10 mirrorles camera. Not as good as his, but enough for me who have small salary to capture better pictures….Hahaha.

It was enough to imitate Shah Jahan actions at Mehtab Bagh. Now I would see Agra Fort where Shah Jahan is imprisoned….Sad ending.

Transportasi Lawas dari Tribhuvan International ke Thamel

Faktur pembuatan Visa on Arrival Nepal

Thai Airways TG 319 terparkir sempurna di parking lot Tribhuvan International Airport tepat pada pukul 14:08. Tak ada juluran aerobridge menyambut, satu persatu pelawat menuruni tangga di kedua sisi pintu pesawat.

Aveseq: “Hi, Sir….Please, directly stepping to airport building!”, sembari melangkah mendekat dengan menggenggam handy talky dan tangannya jelas menunjuk mukaku….Sangar dengan tubuh tegap gelap dan kumis tebalnya.

Nota pre-paid taxi Tribhuvan-Thamel.

Aku: “OK Sir….I’m sorry”, tanpa pikir panjang kumasukkan Motorola E4 hitam ke kantong kanan celana coklat Emba yang kukenakan.

Akhirnya aku gagal memasukkan gambar wajah beserta Thai Airways TG 319 dalam satu frame karenanya. Lalu aku mulai menyelip dalam iringan penumpang yang menyemut memasuki terminal.

Duh….musiknya jossss.

Kedua tanganku erat menggenggam shoulder harnesses backpack dan muka mendongak menoleh ke kanan-kiri memperhatikan dengan lekat interior Tribhuvan yang sekejap berasa melintas dalam ruangan sebuah kuil. Tembok bermotif bata merah coklat dengan beberapa hiasan ukir tersebar di setiap sudut ruangan. Kemudian aku disambut dengan sederet mesin aplikasi Visa on Arrival di sisi kiri. Tanpa perintah apapun, aku faham dan segera mengambil antrian di mesin sebelah tengah.

Dalam antrian, aku tergelitik dengan tingkah laku seorang anak yang sedang melakukan input data visa untuk ibunya yang berpostur pendek. Diperintahnya si Ibu untuk mendekat.

Suasana Ring Road menuju Thamel.

Cekrek 01….Jidatnya saja yang terfoto….Gagal.

Kemudian disuruhnya si Ibu untuk berjinjit.

Cekrek 02….Fotonya 100% muka….Gagal deui ahhh.

Sedetik kemudian si Ibu sambil menatapku penuh senyum, berdiri di atas kardus kecil yang beberapa waktu lalu masih ditentengnya.

Cekrek 03….Yeaaaa….Berhasil.

Mirip jalanan di India ya?

Aku segera menuju konter pembayaran setelah berhasil mencetak form aplikasi VoA. Tak perlu lama mengantri, aku mendapatkan visaku setelah menyerahkan Rp. 337.500 kepada staff perempuan bertubuh tambun berkain sari biru dan berumur setengah baya. “Oh, Indonesia. Welcome to Nepal and enjoy your trip.”, sapanya mengakhiri transaksi imigrasi kami.

Kini aku semakin dekat dengan pintu exit di arrival hall. Sebelum benar-benar keluar, aku melangkah pelan sekali untuk membaca segenap informasi di seluruh selasar. Sekejap aku cepat merapat ke papan informasi yang menampilkan harga transportasi menuju ke beberapa area di Kathmandu. Akhirnya lega mendapati tulisan “Thamel” yang menjadi tujuanku berikutnya. Hanya berharga Rp. 87.000 untuuk menaiki sebuah minivan merah kusam yang mampu menampung 4 penumpang dan bangku baris terakhir dilepas dan dirubah sebagai bagasi.

Debunya ruarrrr biasa.

Penjual tiket: “Where will you go?”, menanyaiku sambil memegang segepok nota transaksi berwarna merah.

Aku: “Thamel, Sir”.

Penjual tiket: “Do you want private booking or shared booking?“.

Aku: “Is there someone who ready for join with me?”.

Penjual tiket: “Come!….Come!”, menyuruhku untuk mengikutinya keluar pintu bandara.

Perlombaan para jasa wisata di area Thamel.

Sesaat kemudian, akhirnya aku memasuki sebuah mobil lawas mirip Suzuki carry keluaran tahun 80-an. Mobil itu melaju pelan meninggalkan Tribhuvan lalu menyusuri jalanan penuh debu. Ya, hanya debu yang kuingat pertama kali ketika harus bercerita mengenai “Negeri Seribu Kuil” ini.

Di sebuah perempatan, mobil berhenti dan memasukkan laki-laki berpakaian necis ala film Bollywood dan beraksen english luar biasa. Menawarkan segala rupa paket wisata, mulai dari hiking, rafting, trekking dan cannoing. Sudah menjadi rahasia umum bahwa warga Nepal berlomba-lomba mengais rezeqi dari keunggulan pariwisata mereka yang tersohor berkat keindahan pegunungan Himalaya.  Aku berujar kepadanya bahwa semua paket wisata yang akan kujalani selama di negerinya sudah kubeli dari Jakarta via online. Padahal nyatanya tak pernah ada paket wisata apapun yang kusiapkan. Aku lebih memilih melangkah menyusuri kata hati dan kaki saja dalam eksplorasi Kathmadu dan Pokhara.

Hotel Holiday House seharga Rp. 130.000.

Melewati jalur Ring Road, aku terus tertegun dengan pemandangan jalanan yang sepintas mirip Indonesia tempoe doeloe. Thamel yang hanya berjarak 6 km dari Tribhuvan akhirnya tertempuh dalam 25 menit.

Kini aku memasuki area turis terkenal di Kathmandu. Diturunkan di sebuah gang dan driver taxi menunjukkanku ke arah mana harus melangkah menuju penginapan yang telah kupesan.

Welcome Thamel !

Itimad ud Daulah….Taj Mahal Blueprint

Description: D:BLUE PRINTtravelingpersecondBaby Taj 01.JPG
Itimad ud Daulah

Taj Mahal is may be an famous heritage on earth. But actually behind its fame, there is an architectural creation which the world has agreed that It is a Taj Mahal’s blueprint. This prototype is in Itimad ud Daulah.

Very grateful, I had an opportunity to visit it on that afternoon. Like a surprise when reading a novel. This time, The Preliminary Chapter began with a suddenly appearing of donkey rows carrying red bricks which was accompanied by the owner’s song. Amazed to see donkeys which were saying “excuse me” in front of me. This is my first time in seeing this animal about a meter in front. The owner just smiled to me when he saw me gaping without blinking eyes while pressing record button of my mobile phone.

Donkeys and its owner.

Spending USD 2.8, I entered into “Baby Taj” yard. (“Baby Taj” is a favorite call for Itimad ud Daulah).

Get the ticket at front gate.

If Taj Mahal belongs to Mumtaz Mahal, then Itimad ud Daulah belongs to Mirza Ghiyas Beg who is none other than Mumtaz Mahal’s grandfather . Taj Mahal was built by Mumtaz Mahal’s husband, then Itimad ud Daulah was built by Nur Jahan who was Ghiyas Beg’s son.

A door before entering the tomb.
Here it is the grave of Mirza Ghiyas Beg and his wife.

Tracking it part by part, my mind confirmed that Itimad ud Daulah was a mini form of Taj Mahal. Not exactly same but its architecture, interior and exterior design are close to similar. Still the same, It is relying on white marble as main display.

Itimad ud Daulah interior.
It’s good, is not….

The weather began to warm, making me comfortably sat while enjoying the beauty of this mausoleum. This time, my gaze was slightly interrupted by the arrival of a beautiful tourist with long blond hair. It wasn’t her face which teased me, but my admiration for her effort to came to Itimad ud Daulah in her condition with crutches and casts that indicated there was a severe injury in her right leg. She struggled to sit on the ground while directing her DSLR to and fro. Occasionally interspersed by reading Lonely Planet which was issued from her small backpack. Unfortunately, I didn’t dare to say hello. Her beauty makes me stunned….Damn, I was a coward backpacker.

Closing Chapter of Itimad ud Daulah’s exploration began with stepping to a gate on right side. I was really fascinated by the vast expanse of a river which began to dry up. I certainly knew that it is Yamuna river which is considered by Indian Hindus to be Goddess Yamuna, the Goddess who is believed to be able to free them from death torments when purifying themself with its water.

The gate is directly adjacent to Yamuna river.
Yamuna river.

So….Yamuna River was my exploration closing session in Itimad ud Daulah. Curious in waiting for various surprises for the beauty of Agra architecture in other locations which I will visit until late afternoon.

Stepping out, I began to open my map and stirred my intention to visit Mehtab Bagh, a charming park which was the best point to enjoy the beauty of Taj Mahal.

Let me show you where it is!