Citilink QG 145 dari Semarang (SMG) ke Jakarta (HLP)

<—-Kisah Sebelumnya

Rute penerbangan Citilink QG 145. Sumber: https://flightaware.com/

Titan mentraktirku makan siang sebelum tiba di hotel. Seporsi nasi pecel di dekat SMAN 1 Semarang. Kemudian dia juga membekaliku Bandeng Presto khas Semarang untuk dibawa pulang ke Jakarta. Wah, baik sekali teman saya yang satu ini.

Sebelum benar-benar check-out, Titan yang penasaran tentang bagaimana caraku memilih penginapan murah, ikut bersamaku ke ruangan dormitory. Diperhatikannya lekat-lekat ruangan dormitory beserta kapsul-kapsul tidurnya. “Hebat kamu Don, bisa tidur di kapsul seperti ini”, ungkapnya sambil tersenyum. “Di luar negeri aku juga melakukan hal yang sama, Titan. Itu mengapa aku bisa traveling dengan biaya yang murah”, jawabku sambil berbisik.

Toyota Calya berwarna orange metallic, menjemputku di Sleep & Sleep Capsule. Serentak aku berpamitan dengan Titan untuk meninggalkan Semarang. Terimakasih Titan.

Pukul 15:25 aku sudah tiba di bandara. Tanpa basa-basi dan eksplorasi, aku bergegas menuju ke konter check-in. Aku hanya berjarak empat puluh lima menit dari boarding time. Konter yang tak terlalu ramai membuatku bisa menyelesaikan proses check-in hanya dalam lima belas menit dan akhirnya boarding pass sudah digenggaman….Aman.

Aku terus fokus menuju ke waiting room dengan cepat. Kini aku hanya berjarak tiga puluh menit menuju penerbangan pulang. Dan tepat lima belas menit sebelum boarding, aku sudah mencapai waiting room dan duduk terengah. Tak lama menikmati keelokan ruangan tunggu itu, panggilan dari ground staff untuk bersiap terbang pun menggema. Aku kini bersiap di Gate 3A untuk memasuki kabin pesawat.

Tiket menuju Jakarta.
Interior kabin Citilink QG 145. Terduduk di bangku bernomor 10A.

Kini aku sudah duduk di bangku yang sesuai dengan nomornya di boarding pass. Aku bersiap menuju Halim Perdanakusuma International Airport yang berjarak 394 Km dari Ahmad Yani International Airport. Aku akan mengudara bersama selongsong terbang Airbus A320 dengan ketinggian maksimal 26.000 kaki, dengan kecepatan 520 mph dan waktu tempuh 53 menit.

Selama proses boarding, aku terus menikmati keindahan terminal penumpang baru milik Ahmad Yani International Airport dari jendela pesawat. Tampak pesawat hilir mudik datang dan pergi di sisi kiri pesawat yang kunaiki. Langit tampak mendung, pertanda aku harus siap mengalami sedikit guncangan sesaat setelah take-off nanti.

Waktu yang dinanti tiba, pesawat sudah bersiap di landas pacu dan menunggu izin untuk menggeber mesin jetnya menuju udara. Aku hanya sibuk membaca inflight magazine Linkers milik maskapai Citilink. Perlahan pesawat mulai melaju dan menampilan keseluruhan bentuk bandara dari ujung ke ujung. Cantik nian Ahmad Yani International Airport.

Pesawat ATR milik Wings Air.
Air Asia tujuan manakah itu?.
Bangunan terminal beserta ATC Ahmad Yani International Airport saat take-off.

Sebelum menembus gumpalan awan tebal diatas, penerbangan ini sempat secara cepat menampilkan keindahan pantai utara Semarang. Perpaduan awan gelap dengan sinar matahari berwarna oranye yang menembus sela-sela awan dipadu dengan birunya laut dengan rayapan-rayapan kapal di sekitar pelabuhan…Hmmhh, Semarang yang sangat otentik.

Getaran mulai terasa ketika pesawat ingin menstabilkan ketinggian terbangnya. Tetapi setelahnya langit kembali bersih dan menampakkan keindahan dari ketinggian. Sore itu aku tak mau memejamkan mata dan melewatkan pertunjukan langit yang menakjubkan itu.

Pesisir utara Semarang….Wouww aduhai.
Matahari versi langit dan Matahari versi laut….Indah bukan?.
Pilot sangat mahir menghindari kumpulan awan….Penerbangan yang mulus.

Penerbangan yang benar-benar terasa sangat singkat. Citilink mulai merendahkan diri diatas langit ibukota. Mempertontokan daratan Bekasi yang sangat padat. Beberapa ikon kota tampak jelas terlihat dari atas. Stadion Patriot Candrabhaga yang pernah kusambangi saat pertandingan Piala Presiden antara Bali United dan Semen Padang FC hanya demi melihat sosok Irfan Bachdim lebih dekat.

Sedangkan pemandangan lain adalah jalur LRT yang sedang dibangun di sepanjang ruas tol Cikampek, terlihat sangat elok. Itulah jalur yang kulewati hampir setiap hari sepanjang profesiku menjadi tenaga penjual di Ibukota.

Stadion Patriot Chandrabhaga tampak dari ketinggian.
Konstruksi jalur LRT yang sedang dalam proses pengerjaan.

Citilink QG 145 mendarat di Halim Perdanakusuma International Airport dengan sangat mulus. Seperti biasa penumpang akan turun dan berjalan kali di area apron menuju ke bangunan utama terminal. Aku bergegas menuju conveyor belt untuk mengambil bagasi dan kemudian pulang menggunakan ojek onlie menuju rumah.

Menuruni pesawat di area apron.
Beberapa pemunpang menunggu kehadiran Apron Free Shuttle Bus. Aku lebih memilih berjalan kaki saja.

Pernerbangan indah kesekian kali bersama Citilink. Terimakasih Citilink.

Alternatif untuk tiket pesawat dari Semarang ke Jakarta bisa dicari di 12Go atau link berikut: https://12go.asia/?z=3283832

TAMAT

Reschedule Kuwait Airways after Kuwait Tourist Visa Failed

Exactly thirty days before my backpacking departure to Middle East Region, I started to get busy in hunting all visas needed, it were tourist visas to visiting Kochi, Dubai, Oman, Bahrain, Kuwait and Qatar.

Among the six visas, I had a bitter experience when I finally failed to get a Kuwait Tourist Visa. This caused me to must satisfy to just enjoying Kuwait by transit, but of course it was better than nothing.

At the end of November, all information about Kuwait Tourist Visa which I got through internet (google, youtube and facebook) I recorded in detail. Until I phoned those contact numbers one by one. The best information which I have was that I could enter Kuwait by Visa on Arrival (VoA).

Conversation via Whatsapp with Kuwait Visa agency.

Calling several phone numbers which I got on internet, every ring which I sent was unanswered. So to immediately made sure, I rushed to Kuningan area in early December to directly ask at Kuwaiti Embassy.

It was quite difficult to find its location, because the address which was displayed by Google was never correct. I had to get lost in an unnamed embassy office in Patra Kuningan I Avenue . A large building which was guarded by a group of men in military helmets and armed with long barrels. The brake screech of my motorbike right in front of the entrance made them suddenly alert and raised their weapons to their chests.

Me: “Sir, is it the Kuwaiti Embassy, ​​is it?

Guard: “No sir, this is the Australian Embassy”.

Me: “How come google maps directs me here, sir?”.

Guard: “That’s wrong, Sir, a lot of people stray here like you“.

Me: “Do you know where the location is?”.

Guard: “Oh, I don’t know, Sir“.

Finally they lowered the position of weapon after knowing my aim. It’s just that I admits that I was impolite, asking something on a motorbike and right in front of the gate…. Hahahaha.

Address from other sources also led me to stray on Denpasar Raya Avenue. I didn’t know what office it was, fortunately its guard was able to give me clear direction to the Kuwait Embassy. Until finally I arrived at the Kuwait Embassy office on Mega Kuningan Barat III Avenue.

Pretty simple Kuwaiti Embassy office.

There were no visitors and only two security guarded it. They directed me to sit on a small terrace in left corner of the embassy. Until they called the staff who handled Visa application.

Finally my hope of exploring Kuwait were dashed after the beautiful embassy staff gave an explanation through a narrow slit in the visa counter.

For Indonesian citizens, Kuwait does not issue tourist visas, Sir. We only handle Working Visas and Diplomatic Visas. To be able to travel there, you have to get a Calling Visa from your friends or family in Kuwait,” She said.

Knowing my intention was gone then there wasn’t other way. I had to expedite the Kuwait-Doha departure ticket which I got since mid-April. After counting, rescheduling was more cheaper than buying a Bahrain-Doha direct flight ticket.

So from Bahrain, I was going to Doha with a transit in Kuwait.

Kuwait-Doha ticket.

I immediately contacted Kuwait Airways via Whatsapp in the first weekend of December.

Conversation with Kuwait Airways Customer Service.   
After fixed reschedule the flight, they gave me a payment link via email.
Link was two hours old. I needed to quickly make a payment via credit card.

In addition to rescheduling flights, of course I had to cancel hotel reservations on Booking.com.

Vera House & Hotel for 14.4 Kuwait Dollar per night.

This means, in the middle of my trip later, I wouldl visit Doha longer. From the previous plan, i.e three visiting days became five visiting days. And my exploration to Kuwait was only limited to transit. But this transit period had provided an unforgettable experience.

What kind of experience?….Hahaha, just read on next story!

Gagal dan Berhasil: Kisah Berburu eVisa India

<—-Kisah Sebelumnya

Yang pernah aku rasakan, mengajukan permohonan eVisa itu lebih mudah dan peluang diterimanya lebih besar dibandingkan dengan pengajuan Visa Reguler. Cukup melampirkan dokumen-dokumen yang disyaratkan dan membayar di payment gate maka eVisa akan terbit menyesuaikan rencana waktu kedatangan di negara tersebut.

Setidaknya aku pernah membuat eVisa Taiwan, Sri Lanka, Uni Emirates Arab, Bahrain dan Oman. Kesemuanya berjalan dengan sangat lancar dan eVisa mudah sekali kudapatkan.

Nah, kali ini aku akan sedikit barbagi cerita ketika aku tiga kali membuat eVisa India.

eVisa India adalah eVisa kedua yang pernah kukejar setelah eVisa pertama yang pernah kuurus, yaitu eVisa Taiwan.

Kala itu….Akhir 2017….

Tantangan mental yang begitu berat seusai mendapatkan tiket penerbangan Jet Airways menuju ibukota India, membuat usahaku berburu eVisa India tak begitu bergairah. Mendapatkan eVisa India memang sangat mudah. Aku hanya perlu melengkapi data pada e-form dan melampirkan dokumen berupa foto diri dan scan lembar biodata passport  yang diminta oleh laman resmi eVisa India. Kemudian hanya perlu menunggu beberapa waktu maka eVisa akan terbit. Tetapi ketidakbergairahan mengurus eVisa itu terletak pada perasaan was-was untuk berkunjung ke Negeri Gandhi itu.

Masa berlaku eVisa untuk memasuki India yan pendek yaitu berkisar dalam empat bulan, membuatku harus mengajukan eVisa ini dekat dengan tanggal keberangkatan.

Aku sendiri mengajukan permohonan eVisa ini pada dua puluh hari sebelum keberangkatan dan eVisa disetujui sehari setelah pengajuan setelah membayar 50 dollar Amerika di payment gate.

Alamat pengajuannya adalah sebagai berikut: https://indianvisaonline.gov.in/visa/

Ini menjadi kisah pertamaku berburu eVisa India.

Email yang kudapat setelah submit data.
Keesokan harinya pengajuan eVisa sudah berstatus GRANTED.
Lihatlah!….Titik masuk mana saja di India yang bisa menggunakan eVisa ini.
Melacak status eVisa pada laman pengajuan.
Fotoku ganteng ga sih?….Wadidaw.

Pengalaman Kedua

Sedangkan pengalaman berikutnya dalam pengajuan eVisa India terjadi pada 8 November 2018.

Saat itu eVisa India telah digratiskan oleh pemerintah India pada 18 Juni 2018. Ide itu sendiri disampaikan oleh Nerendra Modi saat pertemuan Diaspora India di Jakarta.

Kemanakah tujuanku kala itu?….

Mumbai….Yups, aku berencana keluar dari Chhatrapati Shivaji International Airport menuju ke tengah kota saat transit 13 jam lebih. Kala itu Jet Airways akan membawaku dari Dhaka menuju Colombo dan transit di Mumbai.

Mungkin karena perubahan kebijakan dari eVisa berbayar menuju eVisa gratis maka ada pergantian alamat pada laman eVisa India. Pengajuan eVisa sendiri, aku submit tepat dua bulan sebelum keberangkatan.

Karena URL Web yang aku masukkan salah maka keputusan diterima atau tidaknya pengajuan eVisa tidak pernah sampai di emailku.

URL yang aku tuju kala itu adalah https://indianvisaonline.gov.in/visa/

Apakah aku kemudian berencana mengajukan ulang?

Tidak….Karena secara bersamaan terjadi perubahan penerbangan Jet Airways dari Dhaka menuju Mumbai. Perubahan jadwal penerbangan itu ternyata tak memungkinkanku untuk keluar dari bandara, apalagi menuju ke tengah kota. Karena perubahan jadwal penerbangan itu selain memperpendek masa transit jugan membuat 80% waktu transitku jatuh saat malam hari. Oleh karenanya, tak mungkin bagiku untuk mengeksplorasi Mumbai di malam hari….Terlalu riskan.

Akhirnya kuputuskan, aku tak akan meneruskan lagi kelanjutan pengajuan eVisa ini karena pada dasarnya aku tak memerlukannya lagi.

Tetapi rasa penasaranku yang berkepanjangan, akhirnya aku mencoba mencari alamat laman pengajuan eVisa India yang benar. Dan aku pun menemukannya, berikut URL yang dimaksud: https://indianvisaonline.gov.in/eVisa/

Walaupun laman ini salah, tetapi tampilan e-form ternyata sama persis dengan e-form pada laman yang benar.
Laman pengecekan status pengajuan eVisa pun juga sama.

Pengalaman Ketiga

Pengajuan ketiga eVisa India adalah ketika aku berniat melakukan eksplorasi Kawasan Timur Tengah dan memutuskan mengambil pintu masuk di Dubai dari Kochi.

Pemutusan titik melompat menuju Kawasan Timur Tengah dari Kochi ini tentu berhubungan erat dengan kondisi budget yang kumiliki. Kondisi itu diperkuat dengan tersedianya penerbangan murah Srilankan Airlines dari Kochi menuju Dubai dengan transit sementara waktu di Colombo. Tentu, aku memilih melompat dari Kochi juga didasari oleh keinginan diri yang kuat untuk kembali bernostalgia dengan budaya India yang kaya.

Kesempatan berikutnya terjadi pada akhir 2019 lalu. Aku megajukan eVisa India untuk mengeksplorasi Kochi.

Aplikasi ini kuproses dengan dua kali mengunjungi laman eVisa India.

Pada 4 Desember aku melakukan pengisian e-form  secara partial karena kesibukan pekerjaan. Pengisian e-form sebagian pada siang hari harus kulengkapai pada kesorean harinya hingga akhirnya pada jam empat sore aku berhasil menyubmit pengajuan eVisa tersebut.

Inilah keuntungan pengajuan eVisa India dimana kita bisa mengisi e-form dalam beberapa waktu (tidak sekali isi). Biasanya pada kesempatan mengisi e-form pertama kita akan diberikan No Application ID yang merupakan akses masuk ke data pengajuan kita jika kita ingin melakukan editing atau melengkapi data.

Pada kesempatan ketiga membuat eVisa India ini, aku menyubmit permohonan eVisa pada 4 Desember 2019 dan eVisa mendapatkan status GRANTED pada 8 Desember 2019.

Kiriman email bahwa pengisian pengisian partial pengajuan eVisaku tersimpan.
Pemberitahuan bahwa e-form pengajuan eVisaku berhasil dan menunggu di proses.
Wah senangnya….GRANTED.

Nah, gampang kan bikin eVisa India….

Yukz, jika pandemi usai, kita jalan-jalan ke India.

Kisah Wafatnya Buddha di Pagoda Watugong

<—-Kisah Sebelumnya

Motor bebek itu digeber sekuat tenaga oleh Titan menuju ke selatan kota. 15 kilometer jauhnya, 30 menit lamanya. Katanya aku akan diajak menuju pagoda tertinggi di Indonesia, di daerah Pudakpayung. Hampir jam 12:00, aku dan Titan tiba disana, tepat di tepian Jalan Perintis Kemerdekaan. Memasuki gerbang, baru kusadari bahwa tempat itu adalah sebuah vihara atau kompleks peribadatan umat Buddha, bernama Vihara Buddhagaya Watugong.

Aku melewati sebuah bangunan dengan bentuk atap yang mirip dengan pucuk-pucuk atap di Grand Palace, Bangkok. Jika Grand Palace beratapkan warna emas maka bangunan yang ini berwarnakan merah bata. Bangunan ini bernama Vihara Dhammasala. Aku mulai mengeksplorasinya dari lantai atas yang digunakan sebagai aula serbaguna baru kemudian memasuki ruangan di lantai bawah.

Vihara Dhammasala.
Lantai pertama Vihara Dhammasala untuk ruang peribadatan, berhiaskan patung Buddha berwarna emas.

Meninggalkan Vihara Dhammasala, aku perlahan mendekati bagian utama kedua di vihara ini. Inilah yang dimaksud oleh Titan sedari tadi. Pagoda tujuh tingkat berjuluk Pagoda Avalokitesvara. Avalokitesvara sendiri berasal dari kata dalam bahasa Sansekerta “Avalokita” yang berarti mendengar ke bawah dan “Isvara” yang bermakna suara. Sedangkan Avalokitesvara dalam bahasa Tiongkok disebut dengan dengan dua kata yaitu “Kwan Im”. Sedangkan “Kwan Im” sendiri adalah perwujudan welas asih dari Buddha.

Oleh karenanya Vihara ini juga dikenal dengan nama Pagoda Dewi Kwan Im. Beberapa khalayak menyebutnya Pagoda Metakaruna atau Pagoda Cinta Kasih karena keberadaannya untuk menghormati figur Kwan Sie Im Po Sat, Sang Dewi Cinta Kasih.

Patung Sidharta Gautama dibawah Pohon Bodhi pohon bodhi berusia 65 tahun.
Pagoda Avalokitesvara menjulang setinggi 45 meter.
Aku dan Titan.
Patung Dewi Kwan Im setinggi 5 meter terletak di dalam pagoda Avalokitesvara.

Selesai mengeliling pagoda Avalokitesvara yang dijaga oleh patung Dewa-Dewi yang diatur mengelilingi setiap sisi di lantai dasar, aku mulai mengeksplorasi bagian pelataran dan taman. Tampak gazebo kembar dengan dua lapis atap yang digunakan oleh para pengunjung untuk duduk dan beristirahat karena kelelahan mengelelingi area vihara yang sangat luas.

Sementara di sisi pelataran lain terdapat Patung Sleeping Buddha (Buddha Parinibbana), mengingatkanku ketika mengunjungi Pha That Luang di Vientiane tepat lima bulan sebelum kunjunganku ke vihara ini. Di sebelah Patung Buddha Tidur, berbaris Tugu Ariya Atthangika Magga yang melambangkan jalan utama berunsur delapan sebagai latihan untuk meraih kebahagiaan tertinggi (Nibbana).

Gazebo di sekitar pagoda.
Buddha Parinibbana yang menggambarkan wafatnya Sang Buddha di antara dua Pohon Sala.

Aku perlahan mulai meninggalkan Vihara Buddhagaya. Tampak pula kegagahan Tugu Ashoka setiinggi 7 meter. Sebuah tugu yang terbuat dari batu utuh dan diujungnya berkepala singa. Makna yang terkandung dari bentuk singa ini adalah sebuas apapun singa, ketika kita tahu karakternya maka akan mudah ditaklukkan.

Dan di bagian akhir aku melewati Gerbang Sanchi dan Monumen Watugong. Gerbang ini merupakan replika dari gapura yang berada di depan Stupa Sanchi, India. Gerbang yang dibangun sebagai simbol penghormatan saat masuk bangunan vihara.

Sedangkan Monumen Watugong dibangun untuk menunjukkan asal mula nama area “Watugong”. Nama yang diambil dari sebuah batu alam asli berbentuk gong.

Hampir selesai berkunjung.
Tugu Ashoka untuk mengenang Raja Ashoka dari India yang taat menganut ajaran Buddha.
Monumen Watugong dan Gerbang Sanchi.

Kunjunganku di Semarang telah benar-benar usai. Titan akan mengantarkanku menuju Sleep & Sleep Capsule untuk mengambil backpack dan perlengkapan. Setelahnya aku akan menuju Ahmad Yani International Airport dan kembali ke Jakarta.

Terimakasih Semarang.

Kisah Selanjutnya—->

Menyantap Mangut di Kampung Pelangi

<—-Kisah Sebelumya

Kampung Pelangi Kalisari berada tiga kilometer di selatan Sleep & Sleep Capsule yang menjadi tempat menginap pada masa extendku di Semarang. Jam sepuluh pagi, aku sudah merangsek melalui Jalan Imam Bonjol lalu bersambung ke Jalan Pemuda, menaiki ojek online, aku ingin menuntaskan rasa penasaran mengenai keindahan kampung wisata itu. Dengan mengunjungi Kampung Pelangi Kalisari ini, aku tak perlu bersikeras menuju Malang untuk menikmati keindahan yang sama di Kampung Jodipan dan Kampung Tridi, Kali Code di Yogyakarta atau Kampung Teluk Seribu di Balikpapan.

Semalam aku juga sudah menghubungi teman lama yang tinggal di Semarang, namanya Titan. Kebetulan dia meluangkan waktu untuk bertemu. Kita sepakat untuk bertemu di Kampung Pelangi saja. Dia akan mengajakku berkeliling Semarang menggunakan motornya. Lihat saja dalam tulisan selanjutnya, kemana aku akan diajak olehnya.

Tiba di tujuan, aku menyempatkan diri mencari sarapan di kompleks kios yang terletak memanjang mengikuti kontur Sungai Semarang yang memisahkan Jalan Dr. Sutomo dengan rumah-rumah di Kampung Pelangi. Aku menyantap Nasi Mangut (olahan ikan pari asap khas Pati) dengan sangat lahap.

Deretan kios di gerbang depan Kampung Pelangi Kalisari.
Masakan “Mangut” khas Pati.

Aku mulai memasuki Kampung Pelangi melewati sebuah jembatan kecil bermotif lengkung. Di Jembatan ini eksitensi Pasar Bunga dan Taman Kasmaran sudah diinformasikan kepada para wisatawan melalui sebuah papan penunjuk arah. Sedangkan Sungai Semarang tampak rapi dengan keberadaan turap bercat warna-warni, lengkap dengan trotoar tepat di sisi permukaan air sungai.

Aku mulai memasuki Kampung Wonosari (nama asli Kampung Pelangi) ini melalui sebuah gang landai beralaskan pavling block bercat warna-warni, berhiaskan payung penuh warna  yang menjadi peneduh dari terpaan sinar matahari, deretan pot-pot bunga membuat setiap gang menjadi asri serta papan informasi diletakkan pada jarak yang konsisten. Di beberapa titik tanjakan disediakan titik jeda berupa tempat duduk terbuat dari beton, memungkinkan beberapa penanjak yang kelelahan bisa beristirahat sementara.

Tangga sebelum memasuki Kampung Pelangi.
Sungai Semarang.
Jalur pejalan kaki.
Papan informasi beserta peta lokasi.

Ketika mencapai perbukitan paling atas, tepat di bawah papan nama raksasa “Kampung Pelangi”, terdapat kompleks pemakaman bernama “Taman Bahagia Wirawati Catur Panca”. Pemakaman umum inilah yang menjadi sejarah asal-usul Kampung Pelangi. Dikisahkan, awalnya area Kampung Pelangi ini diperuntukkan sebagi area pemakaman umum. Namun kemudian beberapa warga datang dan mendirikan pemukiman di sekitar pemakaman ini hingga menjadi ramai hingga saat ini.

Entah darimana ujung jalannya, tampak beberapa wisatawan turun dari kendaraannya di sebuah area parkir. Sementara beberapa warga yang sedang berbincang ringan di sebuah warung kopi, menunjukkan kepadaku letak titik pandang terbaik untuk melihat kota dari ketinggian. Tunjukan tangan para penikmat kopi itu berujung pada sebuah loteng terbuka milik warga yang ketika kunaiki membuat tatapanku dilenakan oleh pemandangan kota tanpa penghalang sama sekali.

Pemakaman “Taman Bahagia”.
Papan nama raksasa “Kampung Pelangi”.

Ketika sedang menikmati pemandangan kota yang apik tanpa sengatan sinar matahari, datanglah di loteng yang sama Pak Asep asal Bogor. Sama, beliau juga sedang extend di Semarang pasca tugas luar kotanya sebagai seorang Pegawai Negeri Sipil. Mendadak aku mendapatkan teman traveling dan percakapan hangat menjadi tak terelakkan. Aku mengaguminya sebagai orang yang berjiwa muda, memiliki kebiasaan yang sama denganku ternyata, hobby jalan-jalan dengan memanfaatkan setiap momen tugas ke luar kota.

Titan akhirnya memanggilku menggunakan smartphonenya. Dia menunggu di gerbang depan, tempat awalku memasuki Kampung Pelangi satu jam yang lalu. Segera, aku undur diri percakapan yang sedang seru-serunya itu. Tak kusangka, pak Asep lebih memilih turun bersamaku dan melanjutkan obrolan sembari kami berdua menuruni Kampung Pelangi.

Menuju sebuah loteng tertinggi di Kampung Pelangi.
Pemandangan manakjubkan dari atas Kampung Pelangi.
Sini mas Donny saya fotokan, buat kenang-kenangan!”, pak Asep menawarkan diri.

Aku sudah berada di bagian terbawah Kampung Pelangi. Berpamitan dengan Pak Asep, pandanganku mulai menyapu setiap sisi untuk menemukan Titan. “Sebelah sini, Don”, Titan memanggilku. Oh itu dia sedang duduk mengopi di sebuah warung. Pertemuan dengan teman lama kedua di Semarang setelah malam tadi aku juga bertemu dengan Ezra.

Kutinggalkan Kampung Pelangi di jok belakang motor si Titan. Aku bersiap menuju destinasi berikutnya.

Kisah Selanjutnya—->

Philippines Airlines PR 535 dari Manila (MNL) ke Jakarta (CGK)

<—-Kisah Sebelumnya

Di depan Gate 11 menunggu terbang.
Philippine Airlines PR 535 tiba.
Yuk, masuk!

Mbak, maaf saya duduk di No. 38K”, sapaku pada seorang wanita muda yang tampak lelah menyandarkan kepalanya di jendela.

Maaf boleh tukar saja ndak?”, mulai tertebak dia orang Jawa karena cengkok medoknya.

Maaf, mbak. Lebih baik duduk sesuai dengan bangku. Biar sesuai dengan manifest. Takut terjadi apa-apa selama terbang, saya kebetulan ada perlu untuk ambil beberapa gambar dari window seat”, ucapku pelan. Walau aku faham bahwa pesawat ini tak bakal penuh seutuhnya.

Sedikit manyun, si mbak keluar dari deretan bangku dan membiarkanku mengakuisisi bangku dan dia masih cemberut saja di aisle seat.

Duh, manyun aja manis, apalagi senyum”, batin menyeru, aku mulai kumat.

Tertekuk raut muka setiap penumpang, mungkin karena tertundanya penerbangan hingga lima jam lamanya. Kufikir kompensasi pecel lele atau sepotong roti itu hanya terjadi di Indonesia. Ternyata sogokan sepotong meat burger atas keterlambatan itu terjadi pula di Manila….Aku tersenyum kecut, karena telah hilang nafsu makan. Bagaimana tidak, baru juga naik pesawat pukul dua belas malam, terkirimlah pesan singkat dari atasan untuk hadir di acara peresmian bangunan baru milik kantor pukul sembilan pagi nanti….Bukankah seharusnya aku menikmati masa-masa jetlag dahulu setelah 21 hari tak menginjak tanah air.

Yess, kudapatkan hak atas bangkuku.
Area apron NAIA tampak dari jendela.
Kesibukan di sekitar apron.

Padahal aku sudah merasa sumringah dengan datang tepat waktu di Ninoy Aquino International Airport pada pukul 15:30 untuk menyambut penerbangan Philippine Airlines PR 535 pada pukul sembilan malam. Kejadian salah tanggal di passport dan hilangnya nomor penerbangan pada layar LCD sudah kumaklumi. Tapi begitu senewennya diriku ketika terdengar info bahwa aku baru akan terbang di tengah malam akibat dampak muntahan abu gunung Taal di daerah Tagatay yang meletus.

Besarnya dampak letusan ini kuketahui setelah tiga minggu kepulanganku di tanah air. Seorang klienku berkebangsaan Philippina, terbang tepat di atas udara bersama Cebu Pacific ketika letusan itu terjadi. Pesawat “Kuning Putih Biru” rasanya terhisap ke bawah lalu menukik ke atas dengan aba-aba yang tak jelas dari kapten penerbangan.  Baru setelah mendarat, kapten Cebu Pacific itu meminta maaf atas insiden di udara karena adanya letusan gunung tersebut.

Malam itu aku sangat lelah, setelah mengambil gambar seperlunya, aku otomatis tertidur. Kelelahan yang teramat sangat dan kerinduan akan makanan rumah menjadikan penerbangan itu menjadi penerbangan paling nyaman semenjak aku meninggalkan rumah 3 minggu sebelumnya.

Berada di langit Manila.
Selamat tinggal Manila, sampai jumpa lagi Philippina!.
Tahu arti Mabuhay? ….”Hidup atau umur panjang atau long life
FPML (Fruit Platter Meal)….Yuk makan malam sebelum tidur.

Penerbangan sejauh 2.800 km dengan kecepatan rerata 700 km per jam ini berlangsung selama 3 jam 55 menit. Malam itu aku menutup jendela rapat-rapat dan berharap ketika mataku terbuka nanti, aku sudah berada di Jakarta.

Tak ada cerita spesial yang kudapat dari penerbangan ini. Hanya saja malam itu aku merasa sangat lega karena selama pengembaraanku ke Malaysia, India dan kawasan Timur Tengah berlangsung dengan sangat lancar sekali tanpa kendala sedikitpun. Perjalanan ini semakin menambah keberanian dan ketenanganku untuk mimpi menyambut Russia, Uzbekistan, Kazakhtan, Turkmenistan dan negara tetangganya di masa-masa selanjutnya.

Namun siapa yang tahu, aku pun tak tahu bahwa pandemi itu akan datang, bahkan sudah terjadi di negara asalnya ketika aku sedang berada di Dubai. Sebuah mimpi yang sudah pasti tertunda entah kapan.

Pesisir Ancol menjelang pagi hari.
Bersiap mendarat.
Touchdown dengan mulusnya.

Lalu kenapa Philippine Airlines? Bukankah itu maskapai mahal untukmu, Donny?.

Aku pun tak pernah bermimpi menunggang flag carrier itu, mungkin Tuhan yang menganugerahkanku dengan memperlihatkan tiket paling murah dalam pencarianku di sebuah aplikasi reservasi tiket.  Suatu kebetulan yang membuatku bahagia. Inilah pesawat berbadan lebar kesepuluh yang kunaiki setelah

Air Asia Korea ke Kuala Lumpur…

Thai Airways Jakarta Bangkok, Bangkok-Kathmandu, New Delhi-Bangkok dan Bangkok-Jakarta….

Srilankan Airlines Mumbai-Colombo, Kochi-Colombo, Colombo-Dubai ….dan

Swiss Air Dubai-Muscat.

Terimakasih Tuhan sudah mendaratkanku dengan selamat.
Oh, Kampung Rambutan….I love you.

Alternatif untuk mencari tiket pesawat dari Manila ke Jakarta bisa dicari di 12Go atau link berikut: https://12go.asia/?z=3283832

TAMAT

Writing Inspiration from Tribhuvan International Airport

<—-Previous Story

Time was so fast. Yesterday afternoon I was still exploring Basantapur area. But now it was four in the morning. I had just soaked myself under a warm shower of Shangrila Butique Hotel. After making sure that nothing was left behind, I immediately went to reception desk to check-out and a step later I was down on the streets of Thamel. Dark, empty and full of worries.

I continued down the street and hoping to found a taxi soon, while from behind in the dark I heard footsteps of several people accompanied by Nepalese chants that made my heart beat faster. I dared to look back, five young men quickly walked after me. I couldn’t seem to walk any faster because my backpack was weighing me down on my back. I seemed resigned if something happened when they actually caught up with me.

Plakk“, the hand of one of them tightly patted my right shoulder. “Oh, God“, I quickly thought responded.

Good morning, Brothers. Are you happy in Nepal?”, he said while accompanying my steps which were already slowing down in fear.

Hi….Yeaaa, nice country”, I said louder than usual just to show courage.

Good….Be careful, bro”, he quickly passed me while the other four friends looked at me with a light smile and simultaneously said “Hi”.

Oh, God thank you for still sending good people to greet me in the dark of the morning.

Arriving at an intersection, there were rows of taxis queuing up to transport passengers. The leading taxi flashed a flash of light at me and I raised my hand in response that I would use his services.

Airport, sir….How much?”, I curtly asked.

Seven hundreds Rupees“, he answered as he grabbed my backpack which closed my intention to bid.

Ok“, there was no other answer I can come up with.

The taxi was speeding fast without a barrier in Pashupati Road which of course was still quiet. Less than 20 minutes, the taxi arrived to Tribhuvan International Airport.

At half past six in the morning, the airport was still closed and quiet.

There wasn’t much I could do, I just waited at the airport police desk which looked empty while still staring at the international gate and hoping that its door would open soon because it was very cold outside.

Slowly the passengers arrived.

Do you Indonesian, brother?“, the joke came from behind. I looked left and right, there was no one beside me. The voice was clearly asking me. I looked back and saw a woman in her 30s smiling at me.

 “Hi Mam, how do you know I’m from Indonesia?“, I replied smiling back.

That’s it, Sir“, she pointed to one of my backpack pockets which wasn’t completely closed and slightly revealed the red and white flag which I had worn four days ago at Sarangkot.

As a result we talked to each other while waiting for the gate to open. It turned out that she was a graduate of a well-known university in Indonesia and a senior worker at an oil exploration company in Bangladesh. After traveling to Nepal, she would return to his hometown via New Delhi.

On the plane with me to New Delhi, she continued to fly with Singapore Airlines which transiting Singapore. Meanwhile I would explore New Delhi and Agra first.

The gate had been opened, I immediately went to check-in counter. The process took a little longer, I overheard the whispers between them and said the word “internet connection“. No wonder my online check-in process failed last night.

First time flying with Jet Airways.

Then in another row of immigration counters, I saw her having a warm conversation with the immigration officer. Her english was very fluent. Shee briefly explained to me in the waiting room that immigration officers in Asia tend to be more flexible than officers in Europe and America. Of course I believed that.

Waiting Room in Tribhuvan International Airport.
She treated me to a cup of chiya until the plane arrived.

I could say, she who disn’t want to be named was a person who inspired me to write and share every travel experience which I did so that I could support every traveler with information. She herself was never able to write because she was very busy, even though she had extraordinary stories. One was when she was able to survive a desert storm which hit her in Kuwait.

Jet Airways flying 9W 0263 was ready. I came out of the waiting room to apron. There was one uniqueness that I have never experienced before, namely when there was an inspection of each passenger’s cabin baggage in the extension area right in front of the plane door. Hilarious and fun experience.

OK, it was time to fly.

See you later Nepal. Welcome India.

Goodbye Basantapur

<—-Previous Story

Stepping away from Kumari Ghar, I was still thinking. When Kumari retires later, how does she live in society after only leaving Kumari Ghar once a year for a dozen years, how does she work until which man who is lucky to marry her…. Hmmhh.

My steps arrived at a wide plaza. Elongated white buildings with European architecture flanking the wide courtyard on the left and right, while in the middle, souvenir traders place their stalls.

Basantapur Dabali is a must-visit historical landmark.

Playing a role as the heart of Kathmandu, Basantapur had indeed been a meeting place for people from all over for politics and trading since Nepal was still a kingdom. Therefore Basantapur is always crowded until now.

For you as millennials, Basantapur provides many modern cafes to just hang out. Himalayan tea is also easy to find in this area. You can feel the deliciousness of Chiya (tea mixed with milk) in the cold air of Kathmandu.

Hunting for Himalayan Tea at one of the stalls.

Freak Street was a lane which looks quite busy with the existence of this iconic plaza. The charm of Basantapur Dabali hypnotized anyone to last a long time enjoying it. But the sun had slipped far, it was time for me to leave Basantapur to return to Thamel.

Sinha Swan Khala, a fairly busy religious institution in Freak Street.

Enjoying Kathmandu can’t be done by taking a taxi, make sure you keep going and enjoy the authentic Newar culture and architecture which is in every side of the city.

Now I was back in the streets of Layaku Marg. “Layaku” is another word for “Durbar Square”, while “Durbar Square” itself means “Palace Square”. It is true as it is, this Layaku Marg divides Basantapur and places the Royal Palace of Malla on its a side.

Layaku Marg towards Bishal Bazaar area.

Bishal Bazaar or Vishal Bazaar is a very famous shopping area in Kathmandu. Characterized by the existence of an old mall and Chinese Market. Bishal Bazaar may be the right place for fans of jewelry knick-knacks.

The Basantapur and Bishal Bazaar areas are bordered by the Sukra Path that begins with the Juddha Statue, a statue at the crossroads in honor of Nepal’s King Juddha Shamsher Jang Bahadur Rana who played a major role in rebuilding his country from the severe damage caused by the Nepal earthquake in 1934.

Juddha Statue.
One side of the Sukra Path.

Before actually completing the trip to Thamel, I tried to enjoy the busy activities of local residents by entering a restaurant in the Sukra Path number

Vegetable Chow Mien for 150 Rupee.

That afternoon was my last evening in enjoying Kathmandu because the next day I would fly using Jet Airways 9W 0263 to the capital of India. Maybe tonight I won’t wander around much because I have to get ready to leave for Tribhuvan International Airport in the dark of the morning.

I arrived in Thamel and immediately checked-in online for my flight, tonight I’m only going out for a while to enjoy dinner.

Wow… Look that beautiful woman in the shampoo commercial.

Next Story—->

Eksplorasi Tertahan di Air Mancur Jalan Pahlawan

<—-Kisah Sebelumnya

Selepas makan malam di warung makan Ayam Pak Supar Semarang, Ezra berpamitan untuk undur diri. Dia berujar membutuhkan waktu tiga puluh menit untuk sampai di rumahnya. Sementara malam sudah menunjukkan pukul 22:30. Bahan percakapan kami juga sudah habis. Dia menawari untuk mengantarku balik ke Sleep & Sleep Capsule. Berfikir merepotkan, aku menolaknya halus. Akhirnya aku hanya meminta diturunkan di sebuah tempat yang masih ramai di arah pulangnya, dengan begitu aku tak akan merepotkannya.

Dengan cepat aku dibonceng dengan sepeda motor manual warna birunya. Beberapa saat kemudian, sepeda motor mulai melambat dan dia menurunkanku di sisi trotoar yang cukup lebar, penuh dengan muda-mudi yang duduk berkumpul di beberapa titik, diselingi para penjual kopi keliling di sepanjang trotoar.

Di sini nih Don, tempat teramai di arah pulangku. Gimana, mau turun di sini saja?”, ujar Ezra setelah menghentikan sepeda motornya.

OK, di sini saja. Saya ngopi dulu aja sebelum balik ke hotel, Zra”, aku meyakinkannya supaya dia bisa segera pulang. Lalu duduklah aku di sebuah beton pembatas taman, lalu memesan segelas kopi instan. Bagaimana rasanya, jika seorang penikmat kopi original, harus nongkrong dengan meminum kopi instan….Hahaha. tak apalah, yang penting aku bisa menikmati malam.

Kantor Telkomsel Semarang di daerah Mugassari.
Sebuah sisi Jalan Pahlawan.

Belum juga menghabiskan kopi dalam gelas dan sedang asyik-asyiknya menikmati aktivitas muda-mudi di depan Kantor Telkomsel Semarang, satu dua tetes air mulai jatuh dari langit. Pertanda bahwa kota akan segera tertumpah hujan.

Aku memandang sekitar untuk mencari tempat berteduh jika hujan benar-benar turun. Aku melihat di utara ada sebuah panggung yang beberapa orang tampak ramai berkumpul di dekatnya. Tanpa pikir panjang aku segera bergegas kesana.

Benar adanya, tetesan air langit telah naik tingkat menjadi gerimis lembut. Butuh waktu untuk memesan taksi online, sebelum basah kuyup lebih baik aku berteduh. Dengan cepat aku menaiki panggung itu untuk menyelamatkan diri dari hujan deras.

Ternyata panggung ini akan digunakan untuk menyambut Gubernur Jawa Tengah dalam acara Jalan Sehat dalam rangka memperingati HUT KORPRI ke-47. Akhirnya, hujan tertumpah sangat deras, walaupun berada di panggung beratap, tetap saja sebagian tubuhku basah karena air hujan itu disapu oleh angin kencang ke segala arah.

Genap 45 menit aku menunggu hujan tanpa bisa menunaikan niat awal untuk melakukan ekplorasi di sepanjang jalan protokol itu. Jalan utama di Semarang yang sangat terkenal dengan agenda Car Free Day kota itu. Aku hanya mendapatkan bonus menikmati pertunjukan warna pada sebuah air mancur di perempatan antara Jalan Pahlawan dan Jalan Imam Bardjo SH.

Panggung perayaan.
Bundaran di Jalan Pahlawan.
Air mancur di Jalan Pahlawan.
Air mancur di Jalan Pahlawan.

Menjelang tengah malam, Jalan Pahlawan sudah tak berdaya di hajar hujan. Segenap sisi menjadi sepi. Akhirnya aku memutuskan untuk segera balik ke hotel untuk merehatkan diri. Inilah malam terakhirku di Semarang sebelum besok sore kembali ke Jakarta. Tetapi aku masih ada waktu eksplorasi hingga tengah hari di esok hari.

Kesempatan Kedua ke India: Air Asia AK 39 dari Kuala Lumpur (KUL) ke Kochi (COK)

<—-Kisah Sebelumnya

Jalur penerbangan Air Asia AK 39 (sumber: flightaware).

Berangkat ke India selalu saja menyematkan debar di sebuah sisi hati. Provokasi informasi tak bertanggungjawab terkadang sukses membuat gentar nyali. Hembusan kabar mulai dari faktor keamanan, kehigienisan kuliner, variasi scam, serta printilan mencekam lainnya mulai menggelayuti pikiran sore itu.

Oleh karenanya sebelum bertolak ke India, selama lima hari aku memanaskan nyali di Kuala Terengganu dan Kuala Lumpur, berharap keluar dari Negeri Jiran bisa menyandang nyali yang gagah berani. Tetapi sore itu seolah-olah aku tetap saja mulai membangun keberanian dari awal lagi.

Dalam kelanjutan petualangan ini, India akan menjadi pintu pendahuluan menuju destinasi utama, yaitu Timur Tengah. Kenapa demikian?….Alasannya hanya satu bahwa India selalu saja mengiming-imingi tiket murah menuju kota wisata utama di Jazirah Arab, yaitu Dubai. Selain tiket, India juga menyediakan variasi titik tolak untuk melompat ke kota itu.

Sedangkan bagi sejarah petualanganku, setelah New Delhi dan Agra dua tahun sebelumnya, kali ini aku memilih titik tolak lain, yaitu Kochi, sebuah destinasi wisata eksotis di barat daya India.

—-****—-

Aku menikmati sekali tekstur lembut nasi putih di Quizinn by RASA setelah 24 jam lamanya tak mencicip makanan idola itu. Nasi putih kali ini sekaligus merepresentasikan Ringgit terakhir yang kumiliki, mulai esok hari aku sudah menggunakan Rupee.

Lima menit sebelum check-in desk Air Asia Ak 39 dibuka, aku usai menyuap nasi putih dengan potongan telur kandar terakhir.

Seperti yang kuungkapkan di atas, alih-alih bersemangat, justru dadaku berdegup kencang…”Oh India, berdamailah dengan petualanganku kali ini”, aku menenangkan hati.

Bangkit dari tempat duduk di sebuah pojok food court di lantai 2M, aku memanggul backpack biru kesayangan. Melangkah ke atas menuju Departure Hall di lantai 3.

Ternyata antrian sudah panjang….”, kepercayaan diriku untuk tiba sebagai pengantri perdana runtuh.

Liuk antrian yang didominasi warga India menahanku di antrian buncit. Toh aku tetap tenang, waktu masih panjang menuju penerbangan, masih empat jam lagi. Aku mulai mengeluarkan zipper bag untuk menyiapkan dokumen, yaitu passport­, booking confirmation hotel di India, tiket menuju dan keluar India serta lembaran free e-Visa India.

Adè Visa kah?, petugas konter check-in bertanya tegas padaku.

Ini Cik”, aku menyerahkan segenap dokumen yang telah kusiapkan.

Indonesiè ke Indiè betulkèh cukup e-Visa, Pak Cik?. Petugas wanita itu  bertanya kepada kolega seniornya.

Petugas senior itu mengonfirmasi dan petugas perempuan itu akhirnya mencetak boarding pass untukku.

Tahap pertama usai, aku bergegas menuju Gerbang Pelepasan Antar Bangsa yang dijaga ketat sejumlah Aviation Security. Di antrian depan, tampak tak sedikit calon penumpang yang tertahan masuk karena terlalu berlebih membawa cabin baggage. Selain Aviation Security tampak beberapa  ground staff maskapai Air Asia mengawasi ketat para penumpang yang curang dengan membawa cabin baggage berlebih.

Untukku?…..Itu mudah saja, aku melewati gate tanpa pemeriksaan. Dengan pemeriksaan pun aku akan tetap lolos, karena keseluruhan beban backpack sudah kutimbang sebelum menuju check-in desk….Enteng, hanya 6,5 kilogram.

Kemana arah menuju gate L14?”, aku bertanya pada diriku sendiri.

Aku terus menelusuri koridor-koridor panjang hingga kemudian menuruni sebuah escalator yang di ujung bawahnya sudah menghadang beberapa kolom screening gate.

Seperti biasa, aku selalu melepas sepatu ketika melewati screening gate, itu semua karena aku akan merasa malas jika harus kembali mengulang screening process ketika sepatuku membunyikan pintu screening.

Aku lolos dengan mudah….

Kini aku hanya perlu meneruskan langkah melalui koridor tersisa demi mencapai gate L14.

Yuks berburu boarding pass.
Alhamdulillah….
Salah satu koridor di International Departure Hall KLIA2.
Itu dia petunjuk menuju gate pelepasan Air Asia AK 39.

Sedikit lewat dari jam tujuh malam, aku tiba di gate yang dimaksud.

Hhmmmhhhh….Satu setengah jam lagi menuju boarding”, aku menduduki sebuah kursi di luar waiting room yang masih tertutup rapat.

Aku memutuskan untuk melakukan shalat jamak qashar dan memenuhi botol minuman di free water station. Selebihnya aku hanya duduk menunggu hingga pintu waiting room dibuka satu jam sebelum penerbangan.

Beruntung selama menunggu, kebosananku redam oleh tingkah lucu seorang balita cilik India yang tingkahnya sangat menggemaskan.

—-****—-

Menunggu di ruang tunggu, aku kembali tertegun dengan sebuah rombongan besar jama’ah Hindu. Dari seragam serba hitam yang dipakai, aku bisa mengidentifikasi jama’ah itu berasal dari Kuil Sabarimala Ayyappa yang terletak di Negara Bagian Kerala, India.

Kekhasan dari jama’ah Hindu India tersebut adalah tidak menggunakan alas kaki. Beberapa pemeluk Hindu di India memang percaya bahwa tidak menggunakan alas kaki adalah bentuk penghormatan kepada para Dewa.

Berbaju dan ber-Lungi*1) hitam juga menjadi penampilan religius rombongan tersebut. Mau tak mau aku harus duduk berbaur di ruang tunggu bersama rombongan itu.

Sementara pemandangan di jendela kaca adalah terparkir sempurnanya pesawat Airbus A320 Twin Jet dominan putih dengan kelir kombinasi biru-merah dan bertuliskan jargon promosi pariwisata “Sarawak More to Discover”.

Menunggu dengan penuh kesabaran usai sudah….

Panggilan boarding untuk penerbangan Air Asia AK 39 memenuhi langit-langit bandara.

Aku segera bangkit serta mempersiapkan passport dan boarding pass demi melewati pemeriksaan akhir calon penumpang sebelum memasuki kabin. Ahhh….Aku sudah tak sabar.

Jam setengah sembilan aku mulai boarding…..

Di dalam waiting room Gate L14.
Itu dia AK 39.
Menelusuri aerobridge menuju kabin pesawat.
Maskapai langganan dan idaman.
Suasana kabin saat berburu kursi.
Lihatlah warga-warga India itu…..Kamu pengen ga sih ke India?

Memasuki kabin pesawat berbadan kecil itu, aku mencari bangku bernomor 11E. Dalam penerbangan selama 3 jam 40 menit ke depan, aku akan duduk di kolom tengah, membuatku tak leluasa untuk menangkap potret indah bumi.

Ketika proses boarding usai,  di barisku hanya ada aku dan salah seorang dari rombongan jama’ah Hindu itu. Oleh karenanya, aku memutuskan pindah ke aisle seat untuk mendapatkan kelegaan dalam perjalanan udara sejauh 3.000 km tersebut.

—-****—-

Begitu terkejutnya aku, ketika membuka lembaran Travel 360 inflight magazine, aku menemukan potret diri sosok travel influencer yang rasanya tak asing di mataku. Aku sangat familiar dengan nama marganya….Groves.

Sudah kupastikan itu adalah saudara bule cantik asal Aussie yang kukenal  setahun sebelumya di Samosir, Eloise Groves. Dia pernah bercerita di bawah air terjun Naisogop bahwa dirinya memiliki saudara laki-laki bernama Jackson Groves yang merupakan seorang travel influencer. Melihat kesamaan raut muka atas sosok yang ada di dalam inflight magazine yang sedang kubaca dengan sosok yang sering muncul di dalam laman Facebook milik Eloise, aku yakin 100% itu adalah saudaranya.

Dan benar, nantinya aku akan mendapat konfirmasi dari Eloise bahwa itu benar saudara kandungnya setelah mengirimkan pesan singkat melau aplikasi facebook messenger ketika aku tiba di India.

Mencoba memejamkan mata usai membolak-balik Travel 360, aku berusaha tidur. Tetapi sesungguhnya aku tak benar-benar terpejam. Begitulah aku, tak pernah sempurna terlelap setiap duduk di selongsong terbang.

Itu dia si Jackson Groves di inflight magazine milik Air Asia.
Tiba di Terminal 3 Cochin International Airport.
Jelajah bandara yukkk !

Akhirnya waktu yang ditunggu tiba juga….

Pukul satu dini hari, Air Asia AK 39 mendarat di Cochin International Airport, sebuah bandara megah di Negara Bagian Kerala di sebelah barat daya India.

Alhamdulillah….

Kini aku semakin jauh saja dari rumah.

Kochi yang berjarak darat hampir 9.000 km dari Jakarta.

Yuk kita eksplore….Ada apa saja di Kochi?

Untuk mendapatkan tiket penerbangan dari Kuala Lumpur ke Kochi, Anda bisa mencarinya di 12go Asia dengan link sebagai berikut:  https://12go.asia/?z=3283832

Keterangan kata:

Lungi*1) = Sepotong kain panjang yang dililitkan di pinggang dan merupakan pakaian khas India

Kisah Selanjutnya—->