1,5 Jam Menyusuri Tomok

Sepertinya Aku terlihat keren menyusuri Tomok dengan backpack ukuran 45 liter di punggung….hehehe, seperti bule-bule backpacker padaumumnya….# GaKreatifNih.

Penjaja souvenir tak lelah menawariku sepanjang perjalanan menuyusuri Tomok.  ” Bang kalau ga beli gapapa deh Aku ikhlas asalkan abang nikahin Aku”, ujarnya…..#pokjidat.

Keluar area pelabuhan dan menyeberang jalan utama Tomok, kembali melewati lorong souvenir sampai aku menemukan panggung pertunjukan Si Gale-Gale. Kursi pertunjukan yang kosong mengantarkanku untuk bertanya pada seorang Ibu. Katanya kalau mau nonton harus membayar 80 ribu per pertunjukan, perorangan atau rombongan.

Jalan Utama di Tomok

Kuputuskan pergi sampai akhirnya aku menemukan Desa Wisata Tomok Parsaoran. Perkampungan kecil dengan rumah adat yang rapi.

Melanjutkan perjalanan, Aku sampai di Pemakaman Raja Sidabutar. Disambut oleh seorang Bapak penjaga makam di gerbang. Dia menaruh kain ulos di pundak kananku lalu mempersilahkan masuk. Area makam yang terawat dan bersih ini diperuntukkan untuk keluarga Raja Sidabutar. Kunjunganku tidak dikenakan biaya dan hanya perlu mengisi kontak sumbangan kebersihan saja.

Keluar area makam dari pintu yang berbeda, mengarahkanku pada jalan menuju Museum Batak Tomok. Sebuah rumah adat Batak yang sekejap mirip rumah adat Toraja.

Para turis Korea yang sibuk berfoto di depan museum  tak memungkinkanku untuk meng-capture area depan museum. Kuputuskan masuk ke dalam dahulu. Dengan membayar 5 ribu, Aku leluasa menikmati setiap benda  adat Batak tradisional dengan penjelasan fungsinya dalam kehidupan budaya mereka.

Di dalam museum disediakan toko souvenir benda-benda duplikat dari barang-barang yang ada di museum.

Aku mulai meninggalkan museum pada jam 16:05.

Pucuk dicinta ulam tiba….dalam langkahku keluar Tomok, Aku melihat Si Gale-Gale sedang beraksi karena ada rombongan pebisnis Jakarta yang memborongnya. Menyelinap masuk, Aku sukses nimbrung di bangku belakang. Pertunjukan diiringi lagu Batak dan dipimpin seorang MC. Ada seorang dibelakang layar yang memainkan Si Gale-Gale.

MC meminta beberapa orang untuk menari di depan bersama. Para pebisnis itu saling tunjuk hingga ada 4 orang maju ke depan. “Ayo satu lagi maju !”, seru MC. Akhirnya ada satu orang berlari maju ke depan, para pebisnis itu sepertinya heran tak kenal siapa dia.

Semua anggota dalam rombongan itu bengong, ada penyusup masuk dan mengambil alih panggung mereka..hahaha.

Tapi akhirnya mereka membolehkanku dan mulai bertepuk tangan, Menarilah diriku dengan senangnya. Di akhir pertunjukkan aku menyalami mereka dan berterimakasih karena bisa gratis bergabung dalam pertunjukan yang mereka borong. Mereka pun semua tersenyum dengan senang hati. Penutup yang indah untuk wisata Tomok kali ini.

Trip di Tomok kuakhiri dengan makan siang yang sangat terlambat. .

Setelahnya Aku diantar pemilik rumah makan menuju Bagus Bay Homestay di daerah Tuk-Tuk dengan cukup membayar 20 ribu

Di homestay inilah aku kembali bertemu Eloise yang sepertinya baru tiba dari Medan….Lalu apa yang kita rencanakan?

50 Menit Melintas Toba

“Bang, tolong diisi”, senyum ferry crew menyodorkan lembar manifest yg telah terlanjur lembab karena paparan gerimis sepanjang hari. Nama, alamat asal dan umur yang harus kutulis. Mengingatkanku pada tenggelamnya KM Sinar Bangun di daerah Simanando-Toba 4 bulan sebelum aku mengisi manifest itu.

Satu jam Aku menunggu semenjak ketibaanku di Tigaraja Port  hingga manifest itu datang. Kupilih berlabuh di Tomok Port walau aku akan bermalam di sekitar Tuk Tuk Port.

Masuk di deck lantai 1, Si Nenek menyapaku dengan dagangan kacang rebus berasapnya, cocok untuk dinginnya angin kala itu.

Deck lantai 2 adalah spot pilihanku supaya kameraku bisa tampil selama 50 menit perjalanan….Sengaja duduk dekat rak baju pelampung…..hihihi, mudah-mudahan Aku tak harus “loncat “.

Dua perempuan cantik dan tiga pemuda yang lebih ganteng dariku mondar-mandir, naik turun deck berselfie dan berfoto ria, Aku hanya memandanginya dengan kupasan kacang yang kukunyah satu demi satu melawan dingin.

Yang kutunggu adalah lagu daerah Batak, malahan Mas Ariel NOAH yang menyanyi sepanjang perjalanan. Maklum Si Kapten dan crewnya anak anak muda.

Okay whatever….Saatnya beraksi.

Berpindah ke kiri kanan deck mataku terkagum dengan perbukitan dengan awan tipis dipuncaknya….Luar biasa lukisan Tuhan….Mataku mulai berlinang (eh, yang ini bohong).

Di atas deck pula salah satu crew menarik ongkos10 ribu per penumpang….Sekitar jam 15:02 Ferry merapat ke pelabuhan, Aku bergegas turun. Tetapi crew menahanku, ternyata itu bukan Pelabuhan Tomok yang dituju. Pelabuhan tersebut ternyata milik Hotel Lopo Inn….Mungkin mereka yang turun akan menginap dihotel itu.

Hanya 5 menit menurunkan penumpang, ferry kembali bertolak menuju Tomok Port. Dan dalam 3 menit ferry merapat ke pelabuhan Tomok.

Aku sengaja berburu foto disekitarnya ketika semua orang dengan cepat meninggalkan pelabuhan itu. Prinsipku “belum tentu Tuhan akan mengantarkanku kesini kembali”, jadi akan kumanfaatkan setiap momen dalam petualanganku.

Meninggalkan sisi terluar pelabuhan aku mulai masuk ke area wisata Tomok. Pemandangan pertama yang kulewati adalah lorong panjang stand souvenir yang memanjakan mata. Tapi sepertinya itu tak akan mempengaruhi backpacker macam Aku. Backpacker yang tak pernah membeli bagasi pesawat untuk space oleh-oleh dan hanya bermodalkan backpack yg sdh terisi penuh oleh perlengkapan perjalanan.

Sepertinya strategiku tepat untuk berangkat pagi dari Medan dan menuju Tomok terdahulu. Sekarang waktu ditanganku, masih ada 3 jam untuk menghabisi venue Tomok sebelum istirahat ke Bagus Bay Homestay di daerah Tuk Tuk.

Kemanakah harus berburu venue ?

Medan ke Toba dengan Sejahtera

Maksudku tuh, naik bus PO Sejahtera dari Medan ke Danau Toba. Jarak 170 km hanya ditempuh dengan 40 ribu. Istimewanya bukan pada naik busnya tapi terletak pada rasa penasaran sepanjang perjalanan untuk segera bertemu danau vulkanik terbesar di dunia.

dhazong

Ya itu adalah lobby Dazhong Backpacker’s Hostel…Bete…menjadi penginap yang bangun terpagi, tetapi rencanaku gagal untuk menangkap Bus PO Sejahtera pemberangkatan pertama jam 6 pagi. Satu jam mondar-mandir membuat kegaduhan supaya owner bangun. Mulai dari pencat-pencet lonceng di resepsionis, hingga keluar masuk pintu supaya sensor suara “WELCOME” berbunyi. Kegilaan yang bertujuan demi deposit sebesar 50 ribu.

06:10 doi terbangun….lama tak mendapatkan GORIDE karena lemah sinyal, Kuputuskan mendekat ke pusat Little India, tepatnya di Shri Mariamman Temple. Sekitar 06:34 GORIDE menjemputku. Tanpa sarapan dan tak sempet berbekal Aku segera naik, pasti akan tiba di Terminal Amplas 5 menit sebelum bus kedua berangkat. Benar adanya GORIDE belum masuk terminal terlihat bus keluar, Aku bergegas turun menunggu bus mendekatiku.

Nih, foto Terminal Amplas kudapat sehari sebelumnya ketika tiba dari Kualanamu Airport:

amplas

10 menit masuk ke bus, gerimis berubah menjadi hujan lebat. Bus ekonomi ini sering berhenti menaikkan penumpang sebelum masuk tol. Hujan mengharuskan semua jendela ditutup. Asiknya disini nih….bagaimana mengatur nafas supaya tak terlalu banyak menghisap asap rokok sepanjang perjalanan. Karena dengan jendela tertutup, banyak penumpang merokok tanpa henti, habis sepuntung akan diisapnya puntung yang lain….asik kan.

Saat kelaparan tak ada pedagang asongan satu pun masuk, Aku hanya sesekali Facebook Massangeran dengan “Si Cantik” Eloise yang terus menanyakan bagaimana caraku menuju Toba, Australian solo traveler yang berkenalan denganku di dormitory. Doi akan menuju Toba kesiangan harinya dengan mengcopy paste apa yang kulakukan. Bahkan doi menanyakan dimana aku mendapatkan guesthouse di Toba seharga 60 ribu….Nanti Aku akan ceritakan bagaimana akhirnya kita berdua boncengan naik motor membedah Samosir.

bus sejahtera

Suara berisik wiper usang bus beriringan dengan lagu-lagu khas Batak mengiringiku menikmati suasana jalanan, perkampungan, dan kebun-kebun sawit.

Jam 11:25 mataku tertegun pada kemunculan perairan yang luas setelah bus menuruni punggung bukit di suatu tempat. Yesss….itu Toba Lake….Keren habis.

Pergantian sopir untuk kembali ke Medan dilakukan sebelum tiba di pelabuhan penyeberangan Tigaraja. Aku hampir kebablasan karena kondektur tidak memberitahukan bus sudah dimana, Aku hanya memantau “Your Position” di Google Maps. Terlihat Aku sedikit menjauhi Pelabuhan Tigaraja. Kuputuskan turun dan berjalan kaki dalam gerimis menuju pelabuhan.

Tak mau kehilangan momen berburu foto sepanjang pelabuhan Tigaraja kurelakan 50 ribu membeli payung di pasar sekitar pelabuhan. 

tigaraja

Beberapa sudut Pelabuhan Tigaraja

Toba….I come !

 

 

Handerson Wave Bridge, Singapura

2015, Aku gagal mengunjungi “penghubung fenomenal” ini. Waktu transit yang terlalu singkat ketika menuju Kamboja membuatku harus menunggu waktu lebih lama lagi untuk menyambanginya.

2017, kebetulan Aku menyambangi Johor Bahru, Malaysia. Itulah saat yang tepat untuk mengunjungi Si Fenomenal ini karena jaraknya hanya “selemperan batu” dari Johor Bahru. Dan benar, niat itu terwujud apa adanya.

Setelah setengah hari berjalan kaki membedah Sentosa Island dan mendapat free bonus Sentosa Express Monorail, dengan rasa penasaran Aku segera menuju shuttle bus di depan Vivo City Mall.

Naik bus di Singapura itu hanya perlu tenang dan tidak perlu tanya ribut sana-sini karena papan rute dan tarif di setiap shelter bus Singapura bisa dipelajari dengan cepat. Kita hanya perlu mencari tujuan, jika sudah ketemu lalu lihat nomor busnya, perhatikan berapa kode jarak tujuan kita dan kemudian cocokkan kode jarak dengan tarif bus di papan informasi tarif. Hitunglah berapa shelter yang akan terlewati!.

Setelah bus datang naiklah dari pintu depan, bayar tunai atau tempelkan pass card, jangan meleng untuk menghitung shelter bus yang dilewati karena  jika bus tidak menurunkan atau mengambil penumpang beberapa shelter akan dilewati, pencet tombol di tiang untuk turun di shelter depan, kemudian turunlah dari pintu belakang dan tempelkan kembali pass card sebelum turun.

Bus No 145 tiba setelah 10 menit menunggu, bebekal two day pass seharga SGD 16 Aku naik.

IMG_20170708_140714

Tapi ini bukan bus yang kunaiki ya….

Padahal Aku sudah jelaskan cara naik bus dengan detail, tapi Aku gagal kala itu…hahaha. Aku turun lebih cepat satu shelter yang akhirnya harus berjalan kaki menuju shelter berikutnya sejauh 400m.

Beberapa meter sebelum sampai shelter, Handerson Wave Bridge setinggi 36 meter terpampang gagah melintang sepanjang 274 meter diatasku. WOOWW, AKu berhenti sejenak untuk menikmati keindahan arsitektur Inggris ini.

IMG_20170708_143820

tinggi kan….

Yang kutahu, Handerson Wave Bridge adalah pedestrian tertinggi di Singapura yang dibangun untuk menghubungkan Mount Faber Hill dan Telok Blangah Hill.

Memiliki 7 lengkungan naik turun disalah satu sisi deck membuat jembatan ini terlihat artisitik. Setiap lengkungan keatas akan membentuk kanopi yang ruang dibawahnya bisa dibuat untuk sekedar duduk, berpose atau kegiatan membaca buku seperti yang dilakukan kebanyakan anak muda disana.

IMG_20170708_144604

tuh aktivitas diatas jembatan

Hanya saja ada beberapa peringatan di jembatan ini. Diantaranya jangan melintas diatas jembatan ketika hujan atau kita akan tersambar petir, jika naik sepeda harap turun dan dorong dan tidak boleh bermain skateboard.

handerson wvae sign

awas petiiiirrrr !!!

Ketika berada diatas bagi yang takut ketingggian akan diuji nyalinya karena badan jembatan akan sedikit bergoyang-goyang diterpa angin.

Sebetulnya jembatan ini akan cantik terlihat di malam hari mulai jam 19:00 karena cahaya lampu warna-warni akan menghiasinya.

So jangan lupa mampir kesini ya gaes kalau ke Singapura.

Tuas Checkpoint Vs Woodlands Checkpoint, Singapura

Tak dipungkiri hatiku mulai berdebar ketika “Wanita Melayu” itu menutup pasporku. “Follow our staff to Office”, yup random checking. Kebiasaanku ketika memasuki imigrasi Singapura adalah selalu memilih jalur antrian yang dihandle oleh petugas keturunan Melayu. Aku merasa nyaman saja. Tetapi kali ini faktanya berbeda….hehehe

Memasuki jalur khusus, Aku diarahkan ke lantai 2 Imigrasi Woodlands. Aku harus berdiri di luar ruangan karena penuhnya pemeriksaan hingga lelaki keturunan India itu memberikan isyarat untuk masuk kedalam tapi tetap berdiri.

Waktu itu Aku sengaja memasuki Johor Bahru melalui Imigrasi Tuas dan meninggalkannya melalui Imigrasi Woodlands. Dengan begitu Aku bisa merasakan perbedaan kedua pos imigrasi itu.

Peta Tuas dan Woodlands

Sebetulnya Aku tidak setakut yang dibayangkan karena Aku pernah mengalami hal yang lebih parah di Imigrasi Busan (Lihat tulisanku: Ketatnya Imigrasi Busan). Opsir perempuan hanya menanyaiku : tiket pesawat pulang, menginap dimana, kerja dimana, jalan sama siapa, dan kerja dimana (untuk hal ini aku sengaja siapkan business card dan KTP). Setelah itu Aku diminta menunggu dan dipanggil kembali oleh opsir lain yang lebih muda, Dia hanya menanyakan bawa uang berapa. Karena uang yang kubawa difikirnya cukup barulah aku dipanggil ke opsir lain untuk pengambilan sidik jari dan stempel paspor.

Paspor kemudian diletakkan di rak paspor kecil, ternyata 5 menit kemudian ada polisi muda datang dan hanya mengambil 10 paspor saja dari rak itu lalu menyebut nama-nama pemilik paspor, Aku salah satunya. Dibawalah Aku bersama 9 turis lain menuju lift. Ternyata lift memang hanya cukup untuk 10 orang, aku baru ngeh kenapa polisi muda itu Cuma panggil 10 nama.

Selepas turun dari lift Aku segera menunggu bus Causeway link 2 (CW2) untuk memasuki Singapura. Bus CW2 yang membawaku masuk Woodlands Immigration dari Johor Baru tentu sudah ngacir duluan karena ga mungkin menunggu Aku diperiksa. Tapi Aku tak perlu khawatir karena bebas naik CW2 manapun untuk menuju tujuan akhir di Queen Street, Bugis.

IMG_20170708_081815
“Si Zanky” sumringah memasuki Singapura

Melihat kedua perbatasan, terlihat bahwa perbatasan Tuas sedikit lebih longgar dan tidak crowded. Ketika Aku melintas keluar menuju Johor Bahru sehari sebelumnya terlihat jelas banyak orang memasuki Singapore dengan cepat tanpa antrian. Pun menurut driver bus JPO2 (jurusan Mall of Medini-Johor Premium Outlet), kalau mau mudah dan cepat memasuki Singapore disarankan melalui Tuas Checkpoint.

suasana tuas checkpoint

Suasana Tuas Checkpoint

Buat Kamu yang berniat mencoba kedua checkpoint itu maka bersiaplah memperkaya pengalaman traveling Kamu dan nikmati saja setiap proses yang akan terjadi. Apabila mendapat random checking maka hadapi dengan tenang dan tentu Kamu akan semakin mahir menghadapi setiap masalah ketika berada di negeri orang.

 

 

Macao and Shenzen Story Continued….

I saw Shekou Port Station’s gate at the front. It wasn’t clearly visible because it was directly heading to underground.

My Friend “The Fat” suddenly stopped my step to down the escalator after he called me to waited for him to bought something. Somehow the transaction happened, I only saw the Moslem trader gave code  an index finger and I saw “The Fat”  was carrying a hundred yuan. Ohhh … I thought he just buy a hundred Yuan.

OK … I just waited. Another trader came to helped him cutted the peanut and cashew nut cake then putted it on a small scales…. “a kilo”, I thought.

#patforehead …. “What is this, Don?”, “The Fat” felt sad and wanted me paid a half …. I asked him to paid all….it was no funny. “The Fat” often made unnecessary problems”.

Business Hotel 1

Apparently he must pay 400 Yuan for it….Crazy. Drama on Shekou Port toilet had continued to “the most expensive cake in the world” drama. A kilo of cake for IDR 800,000

OK….What was the next drama?

After the incident, I immediately rushed to the platform for going to Fumin Station. I would put my backpack in Shenzen FOMO Hostel.

business hotel2

Situation in Shenzhen Metro

Arriving at Fumin Station, I confidently walked along Jintian Road, I only needed to read a simple map. Turn right from exit gate, passed 2-junction then turn left at third-junction.

I couldn’t wait to checked-in in the tent room on rooftop Shenzen FOMO Hostel. Couldn’t wait for the night to enjoyed sky in Shenzhen by sleeping in a tent.

The final destination of a map that I brought was an apartment which was guarded by a fat security who only could speak Chinese language. I showed him the booking form … then he tried to explained as much as possible with sign language while speaking chinese language … yes, I still failed to understood … haha.

Then, a senior high school girl came, the security guard called her and told her to talked to me….Finally, he could speak english….”shutdown … shutdown”…. the security guard crossed his arms on his chest….owhh….the hotel was closed….closed because of bankrupt….OK, third drama had happened … the last one was really shocking.

I tried still relax before do next plan….finally, I stopped by at Mc Donald’s for lunch. Shelter bus was the best place to take a break whenever fatigued to brought a backpack on my back.

IMG-20160108-WA0078

Statue of Philosopher Zhuangzi in front of MC Donald’s

After lunch, I decided to went to Dongmen “backpacker area in Shenzhen” to looked for impromptu cheap hotel there.business hotel5Shopping complex situation in Dongmen

Arriving at Laojie Station “The Boss” looked for Local Sim Card. He wanted to called “Anggi” in Jakarta to booked a dormitory for us. While waiting for “The Boss”, I tried to sat on stairs in front of the shop. I approached a local girl who sat for waited someone.

“Do you know a hostel for backpackers near here?” … he took out his handphone from his bag….I thought she was understood.

But….evidently She gave me a English-Chinese translator application in her phone. Hahahahah ….So We finally talked via handphone. Every english question that I typed, she would read it in the Chinese column….so funny.

The conversation gave a conclusion for me to went to the end of a junction and there was a cheap hotel that had triple rooms.

Finally we stranded at Xin Chao Business Hotel. Only 300 Yuan for 3 person was required to enjoyed this business class hotel. It was OK for forgetting the sadness of 3 dramas all day in Shenzen.

business hotel3

Situation in front and in the room of Xin Chao Business Hotel

business hotel4

This is unique … Basement was marked with number -1 in elevator, a free snack was Sumedang (Indonesia) product….and unusual for me as Indonesian…hotel provided condoms in a desk….haha

At that night, I went to the fountain and light show on a cruise ship which was changed to a hotel and restaurant….and there was a fourth drama there.

Drama that always challenged me to travel anywhere …

 

Macao and Shenzen Story

Oversleep….

“The Boss” hadn’t yet came from upstairs, even though we made appointment at 8 am to checked out and met at Villa Ka Meng lobby.

Huft… … evidently he didn’t wake up yet, my message didn’t read by him. I realized it because I bring him to enjoy Macao by walk all day a day before.

That means … my exploration time in Shenzhen would be reduced. I think Okay… how come later.
Too far….

I should focus on running text on dashboard. I was hesitant to pressed a button on bus pole as a signal for the driver to stopped the bus at Taipa Ferry Terminal.

I thought bus would stop at every shelter…. but it wasn’t. So…. I got off at the next stop and continued by walk to ferry terminal.
Scolded….

There wasn’t sign along avenue….I was sorry Sir & gentlemen, I stepped on new sidewalk that you made … it wasn’t ready to be stepped on.

Because of it….I understood when you shouted hard while lifting a shovel.

I just tried to apologized on my way … after leaving the area about 100 meters, I looked back … Curious if my steps before would make problem on pedestrian walk way.

Grateful, they seemed normal as a sign that it hadn’t significant problem.

I arrived at ferry terminal around 9:10 and this was the situation:

Macao Sekhou 1

Took a queue immediately and observed surrounding activities. It wasn’t busy yet as I imagined. Queuing behind Korean families who were busy their gadgets, I finally got a ferry ticket 19 minutes later.

Macao Sekhou 3

Queued for 20 minutes to got into ferry through that blue door. The officer gave me a name tag at that blue door and another officer would take back at the ferry entrance.

Macao Sekhou 2

During sail, a beautiful crew walked around to give a cup of mineral water. I tried to be patient to anchor in Shenzhen … Curious how is Shenzen ?

My attention was focused on three young women on front left. During sailing, they were busy to polished their face with cosmetics. And indeed after arrived, they liked artist who be cynosure.

Arriving at She Kou Ferry Terminal, I filled an arrival form in an open corridor between ferry and immigration counter.

9 degrees Celsius weather was pierced my bones … Ocean waves made me difficult to filled a form while sailing.

“Helooo … Do you have a visa?” a slim officer called me.

Oops … Just me who haven’t entered yet to immigration counter… the counter has empty…..better I ran to counter and complete a form in front of her.

Macao Sekhou 4

Finished … She was kind and helpfull… smiling when he asked to me.
Dying for a pee….

Looked around for a toilet at Immigration office. Finally I saw it at the corner.

A while after I entered in toilet … It has been changed to HORROR. “A little cursing in the heart” when I found faeces didn’t flush in the closet …. I thought it didn’t hard for just push the button.

So I canceled to pie there….

I left the room and looked for Shenzhen Metro station. Because I actually confused to found it. So I approached young officer. I spoke English and he just stared at me. Yess … He finally failed to understand.

For effective communicate with him… I opened my handphone … show their train picture. Finally, his hand immediately pointed to an underground gate at the end of She Kou Ferry Terminal courtyard.

Okay, Let’s went to Hotel, bro….Oh I was sorry, my mind was hostel.

Were we finding the hostel later?

NO NO NO … the Shenzen Fomo Hostel that I booked was already closed…
How was I looking for an impromptu cheap hostel? … I will tell it later … hihihi

Tan Son Nhat, Viet Jet and Noi Bai

I’ll tell you about 8 hours of exploring Ho Chi Minh sometime. City with 4 million motorcycles and hot weather, also keeps many histories of Vietcong soldiers battle with their underground tunnels.

But for a moment I will tell you how my heart was pounding before flying with Viet Jet. Why?

Yes … At that time, Viet Jet became famous because often demonstrate flight safety procedure by flight attendant in bikini (unusual thing for Indonesian like me). But evidently when I waited for it after all passengers on board, the show didn’t happen that night … Passengers were disappointed …hahaha

Several hours before…..

Came back from Cu Chi Tunnel … At 6:27 a.m, I started to bargain a taxi to Tan Son Nhat Airport … For your information, Vietnam’s taxis prefer to price bargaining  than using a taximeter. Therefore, if you don’t want to over budget when you travel there, You must dare to bargain for taxi price there.

Finally, I got deal for 30,000 Vietnam Dong (VND), Taxi drove me and friends to airport in 25 minutes. We were dropped off in front of departure hall.

Tan Son Nhat Entrance Gate

Departure gate

I arrived in18:48 and my boarding time was 22:00. It was better to got out from airport for looked for cheap dinner outside.

I crossed the Truong Son Road quickly because the “red sign” on traffic light was briefly lit. I thought everything was OK, but actually my friend “The Fat” was defending his sling bag form 2 motorized pickpockets about 15 metres behind me … I knew that his sling bag contained a passport and VND. Luckily two pickpockets gave up and released the bag.

Restaurant near Tan Son Nhat

Restaurant owner

Back to airport and waiting for checked-in. I saw some passengers was arguing loudly with ground staff … either of missed or delayed ….

Departure Hall Tan Son Nhat

Departure Hall and crowded passengers in front of me.

After checked-in, I stepped to ticket inspection section. Local passengers showed ticket and ID card while tourists show ticket and passport. The inspector closely looked my face when matching my face to my photo in passport. Worried … but just relax, most importantly I followed the procedure.

Entering Gate 16, I waited for Viet Jet plane arrived. Nothing to did, I just idly counted local passengers and observed Vietnamese behavior. Even my friends talked about beautiful Vietnamese who was sitting in front of us…She seemed to understood what we talked about until She smiled at us …

Anggi and Boarding Gate

Anggi in Gate..sstt…She is still single !!!

Backpack and Ticket

Travel around Singapore, Cambodia and Vietnam with such small bags

Exactly I started to boarding at 22:00. I saw some unusual behavior. Rear passenger legs appear between my seats, some of them still using WhatsApp when air crew gave order to turn off all electronic device, and also some legs got up on the seat when take-off … Funny

I thought the pilot was europeans like I saw on airline website but actually they were both local pilots.

Grateful, my 2 hour flight was smooth without turbulence and landed well at Noi Bai

 

Viet Jet at Noi Bai

Drizzle and felt cold when got off the plane

I chose night flight so I could sleep at Noi Bai International Airport until morning … I could save lodging budget. My experience of sleeping there, I will tell you later … The fact, Noi Bai was the best protection that night from outside temperature about 8 degrees Celsius.

Thanks Viet Jet and Noi Bai …

 

Drama di Shenzen Berlanjut….

Pintu masuk Shekou Port Station terlihat didepan padangan. Pantas tak terlihat kentara karena gate langsung menuju ke bawah tanah.

“Si Gendut” tiba-tiba menghentikan langkahku menuruni escalator setelah berseru kecil untuk menunggunya membeli sesuatu. Entah bagaimana transaksi tadi terjadi, aku hanya melihat pedagang muslim itu memberi kode satu jari telunjuk dan kulihat “Si Gendut” membawa selembar seratus Yuan. Ohhh…..Hanya beli seratus Yuan.

OK lah…..kutunggu aja. Pedagang lain datang membantu si Bapak memotong kue kacang dan metenya kemudian menaruhnya di timbangan tangan kecil….”sekilo”, aku membatin.

#tepokjidatgelenggeleng….”Gimana ini, Don?”, Si Gendut terasa sedih dan memelas minta sumbangan ke guweh…..Kuminta dia bayar aja….terlanjurrrrr, rada sebel juga nih “Si Gendut kadang bikin masalah yang tak perlu”.

Business Hotel 1

Ternyata dia harus merelakan 400 Yuannya demi sekilo kue begituan…..hadeuh. Setelah drama di toilet Shekou Port…berlanjut ke drama kue termahal didunia. Masa iya kue sekilo harganya Rp. 800.000

OK….ayo drama lagi yang akan datang.

Pasca kejadian itu, Saya bergegas menuju ke platform untuk segera menuju Fumin Station demi menaruh backpack di Shenzen FOMO Hostel.

business hotel2

Suasana didalam Shenzen Metro

Sampai di Fumin Station, Aku menyusuri Jintian Road penuh percaya diri karena aku hanya perlu membaca peta sederhana. Lurus ke kanan stasiun, lewati 2 pertigaan lalu belok kiri.

Aku ga sabar segera check-in di kamar tenda di rooftopnya  Shenzen FOMO Hostel. Ga sabar menuju malam untuk menikmati langit di Shenzen dengan tidur di dalam tenda.

Spot tujuan dari peta yang kubawa ternyata mengantarkanku pada gerbang apartemen yang dijaga satu security tambun yang hanya bisa berbahasa mandarin. Kutunjukkan booking form….lalu dia berusaha menjelaskan sekuat tenaga dengan bahasa isyarat sambal bibirnya berbicara mandarin…..yesss, aku tetap gagal faham…..hadeuh.

Datanglah gadis SMA mau masuk gerbang apartemen, si satpam memanggilnya dan suruh ngomong ama guweh…..”shutdown…shutdown” (siapa yang nyalain komputer yaks)….si satpam menyilangkan tangannya di dada…..owh….hotelnya closed…..closed bubar yaaa bukan tutup jam kerja. OK drama ketiga terjadi….yang terakhir ini menohok banget.

Tenangkan diri dulu sebelum bertindak selanjutnya…..mampirlah diriku di Mc Donald’s untuk lunch siang itu. Halte bus menjadi tempat terbaik untuk rehat setiap kali kelelahan membawa backpack yang semakin berat di punggung.

IMG-20160108-WA0078

Patung Filsuf Zhuangzi di depan MC Donald’s

Setelah lunch, kuputuskan untuk pergi ke Dongmen “area backpacker di Shenzen” untuk mencari hotel dadakan yang murah tentunya.

 

business hotel5Suasana pertokoan di Dongmen

Setiba di Laojie Station “Si Boss” gatel juga untuk cari Local Sim Card supaya bisa minta bantuan “Si Anggi” di Jakarta cariin dormitory buat kita. Sembari nunggu “Si Boss” beli Sim Card dan telpon sana sini, Aku coba duduk di tangga depan pertokoan. Kudekati cewek lokal yang entah duduk nunggu siapa.

Do you know a hostel for backpacker near here?“…..dia keluarkan handphone dari tasnya…..Asyik keknya ngerti nih cewek….Dapat hotel kita.

Lahhh…..ternyata dia sodorin aplikasi English-Mandarin Translator. Hahahahah….Jadi kita berdua akhirnya ngobrol via handphone. Setiap pertanyaan kuketik di kolom english dan dia akan membacanya di kolom mandarin….Lucu euyyy.

Perbincangan itu membuahkan petunjuk bagiku untuk pergi ke ujung pertigaan dan ada hotel murah yang punya kamar triple.

Akhirnya terdamparlah kita di Xin Chao Business Hotel. Hanya perlu patungan 100 Yuan per orang untuk menikmati hotel kelas business ini. OK lah…..untuk melupakan kesedihan 3 drama yang kulalui seharian di kota itu.

business hotel3

Suasana di depan dan dalam kamar Xin Chao Business Hotel

business hotel4

Nah ini unik….basement ditandai dengan nomor -1 di lift, free snack hotel adalah produk Sumedang dan heboh…..disediain kondom cuy…wkwkwk

Malam itu juga aku pergi menuju pertunjukan air mancur dan cahaya di sebuah kapal pesiar yang dirubah menjadi tempat makan…..dan ada drama keempat disitu.

Drama yang selalu membuatkan tertantang untuk berkelana kemanapun……

 

Asik di Macau dan “Dongeng” di Shenzen

Kesiangaaaaaan….

“Si Boss” belum juga turun dari lantai atas , padahal janjian jam 8 pagi buat check out dan ketemu di lobby Villa Ka Meng.

Hufftt……bahkan ternyata doi belum bangun, WA ku “checklist satu”. Kumaklumi karena kemarin ku ajak muter gila jalan kaki.

Artinya…..waktu eksplorasiku di Shenzen berkurang. Okee lahh….bagaimana nanti aja.

Kebablasaaaaaan….

Harusnya aku fokus pada running text di atas dashboard. Aku ragu memencet tombol di tiang sebagai isyarat buat pak sopir memberhentikan bus di Taipa Ferry Terminal.

Kufikir berhenti di setiap halte….lah kok malah bablaaaasss. Yo wes….Aku turun di halte berikutnya lanjut jalan kaki ke terminal ferry.

Diomeliiiiiin….

Ga ada tanda sama sekali…..Maap ya Bapak-Bapak sekalian, aku menginjak trotoar baru karya kalian….ternyata belum siap diinjak.

Hadeuuuh….Pantesan kalian teriak kenceng sambil angkat sekop.

Aku hanya berusaha minta maaf dengan caraku…..setelah 100 meter meninggalkan area itu, aku diem-diem tengok ke belakang….penasaran apakah injakanku menjadi masalah. Bersyukur  mereka sepertinya membiarkan….pertanda tak ada masalah berarti.

Aku tiba di terminal ferry sekitar jam 9:10 dan begini suasanya

Macao Sekhou 1

 

Segera mengambil antrian dan mengamati aktivitas sekitar. Ternyata belum sibuk seperti yang aku bayangkan. Mengantri di belakang keluarga Korea yang “autis” dengan gadget masing-masing, akhirnya aku mendapatkan tiket ferry 19 menit setelahnya.

Macao Sekhou 3

Perlu mengantri 20 menit untuk masuk ferry melewati pintu biru itu. Petugas mengalungiku name tag yang akan diambil kembali oleh petugas lain di pintu masuk ferry.

 

Macao Sekhou 2

Selama berlayar petugas cantik itu berkeliling memberikan secangkir air mineral. Aku berusaha bersabar untuk berlabuh di Shenzen…..Kepo nih “Kayak apa sih Shenzeeeennn???

Perhatianku tertuju pada tiga perempuan muda di kiri depan. Selama berlayar terlihat asyik memoles wajahnya dengan kosmestik. Dan memang beberapa saat setelah tiba mereka bak artis yang menjadi pusat perhatian….alamaaakkkk

CIMG2189

Tiba di She Kou Ferry Terminal, aku mengisi arrival form di koridor terbuka antara tempat bersandar ferry dan konter imigrasi Tiongkok.

Udara 9 derajat kelamaan menusuk tulang….Ini gegara ferry ajrug-ajrugan dan membuatku susah mengisi form.

Helooo….Do you have a visa?” “Si Langsing” memanggilku.

Waduh….Tinggal Kita yang belum masuk ke imigrasi…konter udah kosong melompong …..daripada dikira “pekerja illegal yang sedang membuat konspirasi“…mending lari kecil ke konter dan melengkapi kolom isian di depan “Si Langsing”.

Macao Sekhou 4

Beresssss….ternyata doi baik banget….senyam-senyum ketika bertanya…kirain judes…..hihihi.

Kebelet Pipiiiiiiss….

Celingukan cari toilet di kantor Imigrasi. Yesss….Dapet.

Wee laa dalah….Sumringah berubah jadi HOROR. Aku benar-benar membuktikan “dongeng” tentang joroknya warga Tiongkok Daratan.  “Sedikit mengumpat dalam hati” ketika menemukan kotoran mereka tak disiram mengonggok di kloset….padahal apa susahnya tinggal pencet tombol.

Ga jadiiiii Pipiiiiisssss……tar simpen ajjjjjjjaaaaaa…..

Aku keluar ruangan dan mencari dimana Shenzen Metro berada. Karena bingung aku menghampiri pemuda kantoran. cas cis cus Aku ngomong English….doi malah bengong menatapku. Yess…akhirnya doi gagal paham.

Gini aja deh…..buka HP….tunjukin gambar train mereka. Nahhhh kan enak…..langsung tangannya nunjuk ke sebuah lubah bawah tanah di ujung pelataran She Kou Ferry Terminal.

Ke Hotel Kita bro……..eh Hostel dink

Apa iya kita menemukan tuh Hostel nantinya?

Kagak mas Bro….Shenzen Fomo Hostel yang ku booking udah bubarrrr….

Bagaimana kisahku mencari hostel murah dadakan?…..nanti aja ya kuceritain….hihihi