Ikan Bakar Cianjur dan Semarang Old Town

I left school children crowd from East Java who enjoying their religious tour in Grand Mosque of Central Java courtyard. Those teenager looked very happy running around courtyard, neatly lined up and taking pictures with the impressive worship site as the background, some even rolled at will in courtyard.

Black Honda Jazz (Jazz is a brand of Honda in Indonesia) picked me up based on online taxi application. After driver confirmed the destination and I said yes, that black hatchback hurtled towards Tanjung Emas.

That place is beautiful. Mr Donny has to go around there!“, driver explained ins and outs of Old Town in detail like a tourist ambassador for Atlas City.

Wow, that’s great, Sir“, I said, hoping to make him proud.

It’s been renovated on a large scale with cost of over USD 11 million, Sir. Perfect for hanging out and hunting for photos“, he continued to explain.

Hatchback which I was riding finally gently stopped in the parking slot.

The trip with cost of USD 0,75 towards here.
Get ready for dinner together.

Didn’t feel long in driving, I arrived. I have to prepare in advance, before all guests arrived. Tonight I will treat all company important colleagues at Ikan Bakar Cianjur Restaurant. Entering the former colonial-era courthouse, a waiter quickly caught my intention by directing me to a seat which was sufficient to accommodate number of guests who were counted.

The restaurant room which followed original function of the building….Many rooms, each room was filled by rows of teak dining tables or teak-framed glass tables. Meanwhile, typical Betawi chairs were neatly lined up, while square windows were soaring to ceiling with trellises which have frame in mini square shape. You could see room decoration in the form of a souvenir cupboard which made from teak wood and rooms were cooled by several large fans.

Order a stool in advance.
Not enough a row, but two rows of table were ordered.

As a result, dinner was finished at the same time as a credit card swipe in value about USD 150. I lightly drew the credit card because everything would be reimbursed to my office.

Saying goodbye, colleagues came back to rest and would continue training on next day. Meanwhile, I still had time to go further around Old Town. It wouldn’t be entirely explored, because 31 acres took all day to explore it.

Thank you Tumenggung Trunojoyo….

Because of your rebellion to Mataram Kingdom, Semarang City became a coastal city which exporting sugar and spices to Europe in the 19th century. Bringing Renaissance architecture to Semarang, vintage, stained glass, unique roof shape, basement, large windows and doors. And I was stepping foot in it …. Now I’m enjoying the Old Town complex under dim moonlight.

I started to enter Letjen Suprapto Street. The appearance of an old church with twin tower and with a large wall clock on each tower and a large red brick dome roof, made this building architecture was similar with a combination of two types of worship place, i.e a mosque and a church. The church which is more than 250 years old was now called Gereja Protestan Indonesia Barat Immanuel. The original name of the church itself was Nederlandsch Indische Kerk.

Blenduk Church, Semarang Old Town Landscape.
Blenduk Church, Semarang Old Town Landscape.

While across street from Blenduk Church, lied Jiwasraya building, which was Letter-L shape, 104 years old, and was splashed with alternating red-green-blue light spectrum. It was ex-Nederlandsch Indische Level Sverzeking De Lifrente Maatschaapij (NILLMI), arguably as the main Dutch insurance business in past time. Also functioned as City Hall during Dutch colonialism era.

A 3-stories building with a dome at its elbows.

Meanwhile, to east of Blenduk church, right at an intersection, lied a Bar and Bistro which have a name of Spiegel. A two-story rectangular building with a door in one corner. This classic building date from the end of 19th century (125 years). In Spanish Colonial style, a former building of Winkel Maatschappij H Spiegel company showed a business struggle of Mr. H. Spiegel who initially only worked as a company manager, then became the owner of company which he led.

The company itself was founded by Mr. Addler.

The last part which I visited was Srigunting Park. A garden with four large trees at each end of the garden and hanging decorative lights along its branches. Making the situation was so romantic for young couples who were in love, or for small families with their children or also for single people who wanted to find their soul mate.

Good place to spend a weekend.

Time to go back to the hotel and rest in preparation for the second day training tomorrow ……

Zzzzzzzz……….

Mohammed Bin Jassim House: Merancang Kota Masa Depan

Sisi samping kiri Mohammed Bin Jassim House.

Staff Museum   :     “Hello, how many part of museums which you have visited, Sir?

AKu                       :     “Just two….Company House and Bin Jelmood House, Ms”.

Staff Museum   :     “Oh, you on right step. Now you are in Mohammed Bin Jassim House. It will tell you about old Msheireb and the modern one”.

Aku                        :     “Sounds pretty good”.

Staff Museum   :     “Is that your own camera? Are you professional?

Aku                        :     “Yes, my camera. I’m a travel blogger. Is it okay to bring inside?

Staff Museum   :     “Oh sure. Enjoy your visitation, Sir”.

—-****—-

Galeri ini didedikasikan untuk warga asli Msheireb. Koleksi di dalamnya menggambarkan kehidupan sehari-hari di Msheireb yang bisa dikenang oleh generasi muda Qatar dan juga para pekerja asing yang bekerja di negeri kaya minyak itu.

Tanah liat sebagai bahan konstruksi bangunan tempoe doeloe.

Pada masa awal peradaban Qatar, penduduk menggunakan gurun untuk beternak, tetapi lama kelamaan mereka membuat area khusus untuk perumahan. Sejarah dimulaiketika penduduk asal Al-Jassra mendirikan pemukiman di Msheireb. Konstruksi rumah mereka pada awalnya menggunakan batu dan tanah liat sebelum mengenal gypsum dan batu bata.

Sesi “Religious Events and Celebrations

Peralatan rumah makan masa lalu.

Pada masa awal Msheireb, penduduk sering merayakan hari raya keagamaan, seperti Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri. Festival diselenggarakan untuk memeriahkannya, restoran akan dibuka hingga lewat tengah malam dan rumah-rumah akan membuka pintunya.

Penduduk menggunakan drum untuk membangunkan masyarakat menjalankan sahur di pagi hari dan menggunakannya untuk bernyanyi musik religi di malam hari. Lalu, Idul Fitri ditetapkan dengan bulan sabit yang terlihat di Saudi Arabia. Saat itu Saudi Arabia belum memiliki siaran radio dan televeisi. Berita akan didapat warga Qatar dari Bahrain.

Saat Idul Fitri , warga akan menari Tanbora, Laywa, Fajery, dan Haban. Banyak sekali tarian tradisional kala itu.

Sesi  “Electricity

Papan nama jalan dan beberapa peralatan listrik pertengahan 1950-an.

Generator listrik pertama Doha di pasang di Company House pada akhir 1930-an. Lalu pada pertengahan 1950-an, pembangkit listrik dibangun di kota dan kabel listrik bawah tanah mulai dipasang. Jalur yang di lewati oleh kabel bawah tanah ini kemudian diberi nama Al-Kahraba Street (“Al-Kahraba” sendiri berarti “kelistrikan”). Kemudian Al-Kahraba Street ini ramai dengan pertokoan yang menjual alat-alat listrik.

Dikisahkan warga Doha rapi duduk di kursi ketika Emir mereka Sheikh Salman melakukan pemotongan pipa untuk meresmikan pembangkit listrik pertama mereka.

Al-Kahraba Street menjadi nadi kehidupan Qatar. Sepanjang siang dan malam selama bulan Ramadhan  jalan itu menjadi juaranya cahaya. Dan orang-orang dari Al-Rayyan sengaja datang hanya untuk melihat jalanan itu.

Dikisahkan oleh seorang warga bernama Hassan Rasheed bahwa televisi pertama yang dia beli berasal dari jalan Al-Kahraba bermerk “Andrea”, bentuknya seperti almari kecil, almari itu harus dibuka dahulu untuk melihat layarnya.

Sesi “Shopping and Eating

Papan nama toko dan usaha jasa lainnya, termasuk peralatan yang digunakan.

Antara tahun 1950-1990, Distrik Msheireb berkembang dan penuh sesak dengan bangunan komersial. Banyak usaha-usaha baru dan pertama kali muncul disana seperti hotel pertama, bank pertama, apotik pertama, kedai kopi pertama dan tempat menikmati minuman dingin pertama. Warga dapat membeli perlengkapan dan peralatan, televisi, kain sari dan sepatu di sini. Penjahit, tukang pangkas rambut, ahli optik, tukang daging, dokter, dokter gigi, kedai penjual ayam dan cafe-cafe sangat berkontribusi meramaikan Msheireb.

Salah satu warga mengatakan bahwa jalanan Msheireb sangat meriah, ada Al-Nasr Fountain, apotik milik Hussain Al-Kazim, toko-toko dan restoran-restoran Lebanon, perpusatakaan dan toko buku  Al-Tilmeethe yang dimiliki Abdullah Naima. Di pojok jalan ada penjahit khusus jas. Bank pertama di Doha adalah The Ottoman Bank dan landmark utama kala itu adalah The Bismillah Hotel.

Warga bernama Abdullatif Al-Nadaf berkata: “Jika kamu memerlukan sesuatu yang tidak ada di Doha maka kamu akan menemukannya di Al-Kahraba Street”.

Sesi “Schools, Healthcare and Security

Perlengkapan pembelajaran di sekolah dan peralatan medis.

Untuk memastikan anak-anak Qatar dapat berkontribusi dalam pengembangan industri perminyakan Qatar dan pertumbuhan ekonomi bangsa, pada September 1947 didirikan sekolah modern pertama bernama Al Islah Al Mohamadia. Sedangkan Bin Jelmood House dimanfaatkan sebagai kantor kepolisian Qatar pada tahun 1950an. Rumah sakit legendaris di Qatar adalah Rumaillah Hospotal yang dioperasikan sejak 1956, dibuka dengan 200 tempat tidur dengan layanan ambulan dan fasilitas rawat jalan.

Sesi “Msheireb Downtown Doha

Desain modern di MDD.

Selanjutnya dijelaskan sebuah sesi mengenai Msheireb Downtown Doha (MDD) sebagai Proyek Regenerasi Kota Berkelanjutan  di Kawasan Msheireb.

Dibawah kepemimpinan Yang Mulia Sheikha Moza binti Nasser, Msheireb Properties yang merupakan anak perusahaan Qatar Foundation membangun distrik perkotaan dimana para warga negara Qatar dan ekspatriat akan tinggal, bekerja, dan bermasyarakat.

Di dalam sesi MDD inilah kita akan belajar bagaimana patron, perencana, arsitek dan insinyur secara hati-hati menginterpretasikan lagi arsitektur asli Msheireb, konstruksi yang berkesinambungan dengan tradisi masyarakat, komersialisasi dan inovasi untuk menciptakan kawasan modern tetapi tetap berakar kuat pada sejarah dan menciptakan sense of place.

Old Msheireb sangat popular dengan aktivitas bisnis. Toko-toko dan restoran dibangun di sepanjang jalan utama.  Membuat distrik ini populer untuk tinggal dan untuk dikunjungi siapa saja. Sejak pertokoan dibuka pertama kali pada awal 1950-an, Doha memainkan peran penting,  tidak hanya untuk pertumbuhan ekonomi Qatar tetapi bahkan untuk ekonomi global. Doha saat ini menjadi tujuan bisnis yang menjanjikan dan destinasi wisata bagi para pelancong di seluruh dunia.  Dan Msheireb Downtown Doha akan memainkan peranan penting dalam mempertahankan keunggulan komersial kota.

Di ujung selatan Al-Kahraba Street telah menjadi distrik bisnis baru  dengan perkantoran, bank, restoran dan cafe.  Dan di dalam distrik bisnis ini, Doha Metro akan mengambil penumpang menuju West Bay dan Hamad International Airport.

Diperkirakan jika proyek pembangunan Msheireb Downtown Doha selesai, lebih dari 2.000 warga akan menempati wilayah seluas 31 Ha. Warga akan berbaur dengan ribuan pekerja, konsumen komersial dan para wisatawan.

Meskipun skala MDD sangat luas, MDD akan membangkitkan keintiman Old Msheireb. Jalur pejalan kaki akan terkoneksi langsung dengan Souq Waqif. Keseluruhan MDD akan terhubung dengan jaringan jalan bawah tanah dan parkir bawah tanah yang akan membuat area jalanan sangar ramah buat para pejalan kaki.

Tradisi inovasi MDD juga memberikan solusi dari tiga tantangan Old Msheireb yaitu kemacetan lalu lintas, pengelolaan sampah dan konservasi air. MDD akan memiliki 12.000 slot parkir bawah tanah yang akan menghapus kemacetan dan menciptakan lingkungan yang ramah untuk para pejalan kaki. Sistem pembuangan sampah yang canggih akan mendaur ulang sampah dari sumbernya dan akan dibuang melalui pipa bawah tanah. Sekitar enam juta liter air daur ulang akan digunakan sehari-hari untuk menyiram toilet, mengairi tanaman, dan akan menjadi pendingin bangunan-bangunan di MDD.

Koridor di Mohammed Bin Jassim House.

Inovasi yang sama akan memproduksi air panas dan listrik melalui ribuan sel tenaga surya yang dipasang di setiap atap bangunan.

Ada tujuh langkah yang membuat bangunan-bangunan di MDD menjadi khas:

  1. Berkesinambungannya masa lalu, masa sekarang dan masa depan melalui motif desain kota yang abadi.
  2. Kehamonisan dan keberagaman melalui bahasa arsitektur yang diterima semua kalangan.
  3. Pengaturan bangunan informal yang mencerminkan pemandangan kota Msheireb yang orisinil
  4. Lingkungan tempat tinggal yang menyediakan privasi, keamanan, area indoor dan outdoor, semangat kekeluargaan dan kepedulian masyarakat.
  5. Membuat kehidupan jalanan yang bersemangat dan mampu membuat nyaman pejalan kaki dan menyediakan menyediakan ruang-ruang teduh.
  6. Kenyamanan maksimum dengan konsumsi energi minimum melalui teknologi tradisional dan modern dengan memanfaatkan energi dan melestarikan sumber daya alam.
  7. Kelestarian desain Qatar melalui bahasa arsitektur baru yang terhubung dengan desain masa lalu.

Desain dan layout bangunan-bangunan lama Msheireb sangat menghargai lingkungan dengan meminimalisir efek matahari, memaksimalkan ventilasi dan menggunakan material lokal. Praktek-praktek tradisional ini tetap diimplementasikan pada pengembangan MDD. Desain dan layout MDD dibuat dengan memanfaatkan naungan matahari  dan tiupan angin pantai. Material konstruksi diambil dari sumber-sumber lokal. Energi terbarukan memanfaatkan panel-panel surya di atap bangunan. Air bersih akan terselamatkan dengan penggunaan yang efisien di setiap keran dan shower. Sedangkan air daur ulang akan dimanfaatkan untuk irigasi dan keperluan lainnya.

MDD akan mengurangi ketergantungan masyarakat pada kendaraan. Sebagai contoh, distrik ini akan bersahabat untuk para pejalan kaki, akan mudah, aman dan nyaman ketika berjalan dari dari satu tempat ke tempat lain dalam naungan pepohonan dan diselingi taman. Distrik akan menyediakan rute buat pesepeda dan bus. Doha Metro akan menghubungkan Msheireb dengan wilayah lain. Daur ulang sampah yang tersentralisasi  akan menghilangkan kebutuhan akan truk-truk sampah yang memasuki kota.

Roman Aura at Grand Mosque of Central Java

Leaving Sam Poo Kong Temple, my gaze ransacked canteen area. Trying to find Mr. Muchlis as soon as possible. I had to bring him to Grand Mosque of Central Java, not only to perform prayer, but also to fulfill religious tourism that afternoon after just finishing around the temple.

I found him in a corner, he looked delicious in smoking a cigarette. Smoking while taking turns with splashing his throat with mango juice….Hahaha.

Come on sir, come with me again!“, I loudly shouted from a distance.

Oh, where are we going?“, He exclaimed, putting out his cigarette fire.

Let’s prayer“, I briefly said as I stepped towards temple exit gate.

Regular taxi which was also online taxi came to pick us. Now I faced with a half-aged driver who was already proud with his human mistakes. He said, he once asked for more fees from a pair of Dutch tourists just because he had a reason that Dutch had colonized his country. Then that two tourists didn’t accept it. The driver stopped the taxi in front of police office, he explained his reason for asking for more fare. Then the policeman explained to that tourists in a more elegant way. Amazingly, That tourists somehow wanted to pay more to the driver….Funny, strange and magical….Hahaha.

Once, he didn’t want to accept a fare change Chinese tourist. He said that he had a pride to not to be pitied….This story was even more miraculous, I wanted to laugh out loud

Never mind…. I was lazy to argue….I hoped that this white taxi ran faster and arrived soon….And finally, this online taxi arrived right at the destination courtyard.

Yup…. Great Mosque of Central Java… Call it as MAJT.

The courtyard was deserted, car park but full of motorbikes, shining lamp in combination with gurgling of fountains along pond in the middle of sidewalk. At the end of courtyard, there was a gate with twenty-five pillars, in roman style, with a typical Middle Eastern calligraphy which was circling on top.…Roman taste was clearly embedded in the courtyard.

Roman aura at the start of my visitation.
How?.…Cool, right ?.

The right side of mosque was dominated by Al Husna Tower as high as 62 meters, embodied in 19 floors. If you want, go up as you like, at above, binoculars are waiting you to enjoying the beauty of Atlas City from altitude, then enjoy a cup of coffee at an 18th floor cafe which can turn in a full circle….Wow.

Al Husna Tower.

While the left side of mosque was acquired by a giant green drum which put under 3 layer roof pavilion. A Gift of students from Al Falah Boarding School in Banyumas for MAJT.

How does that giant drum sound?

Meanwhile, mosque courtyard was decorated with six giant hydraulic umbrellas which liked same umbrella in Al Masjid an Nabawi at Medina. This great mosque looked endless spacious, it was said that its area reached 10 hectares. Making this mosque as pride of Sambirejo people. A beautiful mosque whose dome had a diameter of 20 meters which was combined “Limas Roof” as Javanese typical architecture.

Look at the full shape….Waooww.

Not really caring about the crowds in yard, I hurried towards downstairs, did ablution, then prayed in upstairs. Praying with the accompaniment of an ustadz’s sermon to recitation congregation.

Mosque interior.
Hanging lamp in the middle of mosque room.

I linger a little by following this spiritual sermon. A habit which I always repeated when visiting famous mosques. No needed to worry because my time to treat my colleagues was still later. I could catch up with an online taxi in just 15 minutes.

The giant Qur’an by Mr. Hayatuddin, a calligraphy writer from University of Science and Qur’an, Wonosobo.

After the sermon, I began to leave this 14-year-old building, said goodbye to this Islamic center after a religious tour in it, and praying that MAJT would become a prosperous religious education center.

You needed to know that this mosque has other functions, i.e as a library, auditorium, lodging, marriage ceremony room and museum of Islamic development.

Bin Jelmood House: Kisah Perbudakan yang Menyayat Hati

Bagian kedua dari Msheireb Museum adalah Bin Jelmood House.

Siapakah sosok Bin Jelmood?….Dia adalah pedagang budak terkenal di Doha pada masa perbudakan masih berlangsung. Dia sering dikenal dengan sebutan “The Rock”, merujuk pada pendirian dan kekerasan hatinya kala itu.

Eh, edisi ini lebih serius dari edisi Company House, ya temans….Bersiaplah membaca lebih khusyu’.

Yuk, kita mulai masuk!….Panas di luar, tauk.

Di awal penjelajahan Bin Jelmood House, aku memasuki sebuah ruang audio visual yang menceritakan masa perdagangan budak dari Afrika ke Eropa.

Bentuk rumah Doha zaman dahulu, halaman berada di tengahnya.
Dikisahkan…Eropa di Abad Pertengahan dimana perbudakan didukung oleh sistem sosial yang disebut dengan SERFDOM.

Kala itu, para budak dipakaikan aksesoris khusus berupa gelang bernama Manilla dan fakta yang telah menjadi sejarah bahwa satu diantara empat warga Athena akan menjadi budak dan dipekerjakan di ladang zaitun. Di belahan dunia lain, Syria, terdapat kontrak perbudakan antara pembeli dan penjual budak.

Sesi “The Indian Ocean World”.

Peradaban di Afrika dan Asia khususnya India, Timur Tengah, dan Sriwijaya (Indonesia) berkembang melalui Samudera Hindia.

Dalam sejarah maritim Samudera Hindia, barang dan budak diperdagangkan antara negara-negara di Afrika dan wilayah Teluk. Sementara antara India dan Asia Timur, barang dan budak diperjualbelikan melalui Jalur Sutra (jalur ini memiliki dua rute, darat dan laut). Salah satu gambar di museum memperlihatkan ekspor oxen (lembu) dari Madagaskar ke Mauritius.

Kejadian di belahan timur dunia juga digambarkan dalam foto hitam putih, yaitu tentang kegiatan Hindia Belanda pada ekspor rempah-rempah di Pelabuhan Jakarta pada tahun 1682, sementara di India, kapal-kapal dagang membawa opium dari Calcutta menuju Tiongkok

Sesi “Slavery in The Indian Ocean World

Kisah para budak yang melegenda ada di sini.

Perbudakan sangat marak dilakukan pada masa sebelum Islam, dimana budak dari Mesir, Mediterania Timur dan Afrika dijual ke Mekah dan Baghdad yang merupakan pasar utama budak di Timur Tengah. Salah satu kisahnya adalah tentang budak terkenal bernama Antarah bin Shaddad Al-Absi yang dilahirkan oleh budak Ethiopia dengan bapak seorang pemimpin Bani Abas. Kemudian kisah Abdullah Ibn Abi Quhafa (Abu Bakar Ash-Shidiq) yang menjadi figur penting dalam sejarah pembebasan budak, salah satu budak terkenal yang dibebaskan olehnya adalah Bilal bin Rabah Al-Habashi. Lalu Islam turun di Timur Tengah dan melarang adanya perbudakan antar sesama manusia.

Beberapa metode perbudakan di sekitar Samudera Hindia adalah melalui perang, hukuman atas kejahatan, invasi, penculikan, penjualan anggota keluarga dan jeratan hutang.

Sesi “Slaves’Status in The Indian Ocean World

Di kalangan kelas atas, perbudakan menunjukkan level pengaruh dan kesejahteraan sang tuan.

Di masa Kekaisaran Abassid (Abasiyah), dibentuklah Pasukan Mamluk (Mamluk Army) yang dibentuk dari kalangan budak Balkan, Kaukasus dan Eropa. Pasukan ini sangat terkenal semasa kekuasaan Dinasti Ayyubid di Mesir pada Abad ke-12. Terdapat juga Pasukan Janissaries yang dibentuk oleh Kekaisaran Utsmaniyah di Turki yang beranggotakan pemuda dari keluarga kristiani yang dilatih dengan kaidah agama dan militer.

Pada pertengahan Abad ke-19, perkebunan cengkeh sangat berkembang di Afrika Timur. Hal ini berdampak dengan diperbudaknya 1,6 juta orang disana. Di bagian ini, museum menampilkan sebuah pedang milik budak Zanzibar pada masa itu.

Dikisahkan juga seorang Tippu Ti (Hamed bin Muhammed Al-Murjebi), pemilik tujuh perkebunan cengkeh dan 10.000 budak. Pengusaha dari Swahili-Zanzibari Ivory ini menangkap dan menjual budak atas perintah Raja Leopold dari Belgia yang merupakan pemegang otoritas di Kongo.

Cerita menyayat hati lainnya adalah tentang Raja Persia, Bahram Gur yang menginjak budak perempuan kesayangannya yang bernama Azada dari atas kuda, hanya karena dia tidak menghargai kemampuan berburunya. Pada zaman dahulu budak hanya akan terjamin hidupnya jika dia dintegrasikan menjadi bagian dari keluarga sang majikan, hal ini bisa dilakukan jika si budak mampu berkomunikasi dengan bahasa tuannya serta mau memeluk agama tuannya.

Lima Ruangan yang Mendeskripsikan Perbudakan di Qatar.

Ilustrasi aktivitas budak di Bin Jelmood House tempo dulu.

Di awal Abad ke-20, penduduk Qatar hanya berjumlah 27.000 jiwa dan faktanya adalah satu dari enam warganya adalah seorang budak. Kepemilikan budak merupakan jaminan bagi para pebisnis ekspor mutiara dan juga para importir, supaya barang mereka tetap aman dalam perjalan gurun yang keras dan pelayaran laut yang berbahaya.

Qatar masih sepi ya kala itu.

Pada tahun 1868, Sheikh Mohammed bin Thani menandatangani perjanjian perlindungan dari Pemerintah Inggris. Sementara pada tahun 1872, Kekaisaran Utsmaniyah membentuk garnisun militer di Doha hingga akhir Perang Dunia I. Setelah kepergian mereka pada tahun 1916, Inggris mulai menanamkan pengaruh di Qatar melalui pangkalan mereka di Bahrain.

Pada Abad ke-18, Qatar terdampak positif dalam perkembangan ekonomi global. Terutama karena meningkatnya permintaan dunia akan mutiara. Untuk meningkatkan hasil tangkap mutiara inilah terjadilah perbudakan pekerja pada industri tangkap mutiara di Qatar.

Di awal Abad ke-19, sebanyak 2.000-3.000 budak dikirim ke Timur Tengah khususnya Oman untuk diperdagangkan.

Sedangkan pada akhir Abad ke-19, budak yang dipekerjakan di Qatar, diambil dari Afrika Timur dan Laut Merah, ribuan lagi didatangkan dari Zanzibar, para budak itu dibawa dengan Dhow Boat menyeberangi Samudera Hindia menuju Qatar. Pada awal Abad ke-20, karena terjadi penentangan perbudakan di Afrika Timur maka budak mulai diambil dari Baluchistan.

Populasi budak di Qatar terus dijaga para tuannya dengan cara menikahkan sesama budak yang tentu akan melahirkan anak sebagai budak juga.

Efek dari peningkatan penangkapan budak di Afrika ternyata mengganggu komunitas umum di wilayah tersebut. Hal inilah yang menyebabkan peperangan tiada henti di Afrika.

Pada masa penangkapan budak, budak akan dirantai dan berjalan dari Mozambik, Kongo, Malawi dan Zambia sejauh 1.000 mil menuju pantai Kilwa di Tanzania, terkadang sebelum sampai di pantai, mereka akan terbunuh oleh para perampok, kemudian budak yang selamat maka selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan akan berlayar untuk dijual ke Timur Tengah dan Yaman.

Ilustrasi penculikan budak di Afrika.

Di pasar budak Zanzibar, budak wanita akan dikenakan pakaian bagus dan perhiasan supaya harga jualnya mahal. Pembeli biasanya akan mengecek kesehatan fisik dan kecantikan sebelum membelinya. Bahkan budak akan diberikan nama baru  seperti Faida (keuntungan), Baraka (berkat) dan Mubaroka (diberkati). Sebagai gambaran secara nominal, pada tahun 1926, seorang budak penyelam laki-laki berusia 24 tahun di Qatar bisa dibeli dengan harga 1.210 Rupee.

Budak di Doha dan Al Wakra, beberapa diantaranya hidup serumah bersama tuannya, memakan makanan yang sama dan memakai pakaian yang sama. Sebagian dari mereka tinggal terpisah di sebelah rumah yang disediakan sang majikan.

Dalam keseharian, budak perempuan akan bekerja menyiapkan makanan dan mengasuh anak-anak. Sedangkan para budak laki-laki setelah musim berburu kerang mutiara usai, akan bekerja mencari kayu bakar, memecah batu, mengangkut air, dan menjadi penjaga keamanan para pejabat kota.

Kemudian terjadilah akulturasi sosial, budak yang awalnya adalah mayoritas non-muslim menerima kehadiran Islam dalam kehidupannya, lalu mereka memeluknya. Begitu pula anak-anak budak secara otomatis akan menjadi muslim karena agama orang tuanya.

Ilustrasi budak dengan pekerjaan sehari-harinya.

Tetapi budaya asal mereka tetap melekat dan tak bisa ditinggalkan begitu saja. Para budak asal Afrika Barat, Ethiopia, Sudan, Somalia, Mesir, Tunisia dan Maroko sering mengadakan Ritual Zar pada saat tuannya sudah tertidur di malam hari. Ritual Zar ini dianggap bisa memberikan ruh dan semangat untuk mendapatkan kesehatan fisik dan mental.

Seiring berjalannya waktu, ternyata permintaan budak meningkat di seantero Qatar ketika industri mutiara menjadi booming dan dibutuhkan oleh dunia.

Pada prakteknya, budak penyelam mutiara akan bekerja dari fajar hingga tenggelamnya matahari. Keranjang kecil akan dikalungkan di leher untuk menyimpan 8-10 oyster yang diambilnya dari dasar laut. Mereka akan menyelam dengan rataan waktu 90 menit dan bisa melakukan penyelaman hingga 50 kali per hari.

Budak penyelam mutiara.

Tahun berganti tahun, ketidakjelasan ekonomi Qatar menyebabkan pengurangan jumlah penduduk dari 27.000 jiwa menjadi 16.000 jiwa dan hanya 4.000 jiwa diantaranya yang masih tertarik bekerja di industri mutiara. Para budak mulai dikirim ke ladang minyak untuk bekerja dan upahnya akan dibagi bersama tuannya.

Sesi “The Richness of Diversity

Keberagaman di Qatar saat ini.

Perpindahan budak selama ratusan tahun di Qatar berkontribusi atas terbentuknya budaya Qatar dalam hal kuliner, musik dan bahasa. Masyarakat Qatar kemudian mengenal Indian Biryani, Levantine Mansaf, Spanish Paella, dan Balaleet. Budaya lain yang berkembang diantaranya adalah bermain Mancala dan menghias tubuh dengan Qatari Henna.

Qatar telah lama menjadi titik pertemuan dari perpindahan manusia yang membawa budayanya masing-masing karena terletak di persimpangan jalur perdagangan Samudera Hindia. Bahkan banyak orang yang awalnya hanya singgah akhirnya menetap di Qatar.

Sesi “Knowing Our Ancestors

Dari studi fosil dan arkeologi, diketahui bahwa nenek moyang bangsa Qatar berasal Afrika.

Diselipkan di sesi ini adalah perihal DNA dan pewarisannya, anatomi yang diajarkan oleh Avicenna, genom manusia dan pembacaan susunan DNA yang bisa membantu manusia untuk mengobati sejumlah penyakit tertentu berdasarkan informasi tersebut.

Bahwa gen juga mempengaruhi tipe darah, rambut dan warna mata. Di beberapa studi mengatakan bahwa gen akan menjadikan manusia menjadikan super taster (mengecap sesuatu lebih pahit dari orang normal) dan non-taster (tidak peka rasa).

Kembali ke masalah perbudakan…..

Di akhir Abad ke-19, Inggris mulai memprakarsai pengurangan angka perbudakan di Timur Tengah. Mereka sering meyelamatkan kapal budak dan dibawa ke wilayah teritori Inggris.`Hal ini dikarenakan, sejak akhir Abad ke-18, masyarakat Eropa Barat melalui parlemennya melemparkan opini penghapusan perbudakan.

Masa-masa awal perjuangan menghapus perbudakan.

Ada momen yang tepat ketika terjadi penandatangan kesepakatan perlindungan Qatar oleh Inggris pada 3 November 1916. Hal ini dimanfaatkan Inggris untuk meminta Sheikh Abdullah Bin Jassim Al-Thani untuk menghentikan praktek perbudakan di Qatar sebagai syarat. Tetapi warga Qatar menolak penghapusan ini.

Keberhasilan penghapusan perbudakan baru efektif diterima saat Qatar berhasil mengekspor minyaknya ke luar negeri. Dengan keuntungan penjualan minyak, pemerintah Qatar bisa membayar uang kompensasi kepada para pemilik budak untuk membebaskan budaknya masing-masing. Dan akhirnya, pada April 1952, praktek perbudakan secara resmi dilarang di seluruh Qatar.

Setelah pelarangan itu, banyak budak yang diberi kewarganegaraan Qatar oleh Sang Emir dan banyak diantara mereka diterima bekerja dengan gaji penuh di perusahaan minyak Qatar.            

Sesi “Qatar, a Pioneer in Personalized Healthcare

Pencapaian bidang kesehatan di Qatar

Qatar adalah negara yang berkomitmen terhadap penelitian genetik dan menjadi negara pioneer dalam personalized medicine, yaitu suatu manajemen penanganan pasien di dunia kedokteran berdasarkan informasi genotype pasien, sehingga bisa dilakukan evaluasi untuk mengetahui penanganan yang cocok untuk jenis penyakit yang diidap.

Qatar membuat kemajuan dengan mendirikan Qatar Biobank yaitu tempat menyimpan informasi kesehatan dan sampel biologis dari warga negaranya. Biobank ini sangat membantu dalam Qatar Genome Programme yang diluncurkan oleh pemerintah. Program ini didanai oleh Qatar Foudation melalui Qatar National Research Fund dan juga didanai oleh Menteri Kesehatan.

Qatar juga menjadi tempat didirikannya pusat-pusat penelitian seperti Qatar Biomedical Research Institute di Hamad bin Khalifa University, Qatar University Biomedical Researc Center dan Weill Cornell Medicine.

Qatar juga memiliki National Diabetes Center, National Premarital Screening and Counselling Programme, serta Qatar Newborn Screening Programme.

Sesi “Modern Slavery

Contoh Modern Slavery.

Perlu kamu ketahui bahwa sekitar 27 juta manusia telah menjadi korban perbudakan modern di seluruh dunia. Perbudakan jenis ini diakibatkan oleh maraknya human trafficking.

Beberapa fakta mengejutkan diantaranya adalah:

  1. 2,5 juta orang adalah tenaga kerja paksa, termasuk eksploitasi sexual.
  2. Human trafficking adalah kejahatan internasional paling banyak memberi keuntungan uang, bersama narkoba dan arms trafficking (perdagangan senjata).
  3. Keuntungan dari human trafficking per tahun mencapai 31,6 milyar Dolar Amerika.
  4. Mayoritas korban human trafficking berusia 18-24 tahun.
  5. 1,2 juta anak-anak diperdagangkan tiap tahun.
  6. Dari 190 negara di dunia, 161 negara memiliki peran dalam perdagangan manusia ini. Baik sebagai sumber, tujuan atau sebagai negara transit.

Krisis politik dan kemanusiaan sering menempatkan golongan rentan (wanita dan anak-anak) dari wilayah-wilayah kurang berkembang pada resiko human trafficking (perdagangan manusia).

Banyak anak-anak pada era 1990-an dipekerjakan di pabrik-pabrik, kapal-kapal ikan, pertambangan, lahan pertanian dan wanita-wanita di bawah umur dipekerjakan di industri sexual. Mereka bekerja melebihi waktu normal, terkadang tanpa upah, hanya hidup dengan makanan seadanya dan tempat tinggal seadanya.

Sesi “Organizations

Perjuangan Qatar menghapus perbudakan di era modern.

Kemudian banyak bermunculan organisasi di dunia yang bergerak untuk mengakhiri human trafficking, mereka melakukan pertemuan dengan pemerintah di negara-negara yang masih terdapat praktik perbudakan modern, mereka bertemu para agensi tenaga kerja di seluruh dunia untuk bersama-sama melawan praktek perbudakan modern.

Qatari House for Lodging and Human Care adalah salah satu dari sekian banyak organisasi yang melindungi para korban human trafficking. Organisasi ini memberikan pelayanan kesehatan, konsultasi psikiater, bantuan hukum, rehabilitasi, serta kursus memasak dan menjahit.

Qatar adalah pendana pertama dan terbesar untuk UN Global Action Plan to Combat Human Trafficking. Qatar juga mendanai The Arab Initiative for Capacity Building in Combating Human Trafficking  yang merupakan kolaborasi antara UNODC dan Arab League.

Akhirnya….

Tak terasa aku sudah berada di akhir sesi di Bin Jelmood House ini. Aku menyempatkan diri memasuki toilet, mengambil gambar selasar dan halaman, kemudian mengucapkan terimakasih kepada segenap staff di reception desk ketika hendak meninggalkan museum.

Selasar di Bin Jelmood House.
Halaman Bin Jelmood House.

Hmmhh…..Museum yang hebat.

Helmsman Service at Sam Poo Kong Temple

Semarang deserves to thank to Helmsman Ong Keng Hong for gotting a serious illness. Because of his illness, he had to anchor and chose to be left by expedition group at Simongan Hill. Admiral Zheng He was still generous in sending several soldiers to accompany and care for his Helmsman in Semarang. Then at one time, around the XV century, Ong Keng Hong was the figure who spread Islam and founded Gedung Batu Cave which was the forerunner to establishment of Sam Poo Kong Temple in the modern era….Oh yes, it was said that Ong Keng Hong controlled a giant ship along 130 m in wide and 55 m in wide with 9 masts. Accompanied by 299 other ships on a grand expedition.

That afternoon, clock showed 3:30 p.m., a sign that my duty to guard the training was complete. After packing every essential equipment for re-used on second day training tomorrow, I didn’t directly go to hotel, but intended to explore Bongsari area.

The training closing moment….Couldn’t wait to get started the exploration.

Because tonight I had to entertain important colleagues for dinner together, the training host was kind enough to take Mr. Muchlis and me to the destination which I meant. Soon, I arrived at Sam Poo Kong Temple. Sitting for a moment in parking lot at temple north gate, my heart kept pounding, what history was inside?

Redeemed a ticket of USD 2, I started to enter it.

Temple north gate.

It seemed that this pagoda was indeed very ready to become a tourist attraction, various directional signs were very complete and placed in several strategic positions, some of the best points for taking photos had also been marked in detail.

Donny, I’m sitting here, yes. I want to drink ice and smoked. I’m very tired. You can go around by yourself, yes!”, Said Mr. Muchlis, grimacing while massaging his calf. He was more interested in orange juice and sitting in rest area.

Rest Area.

I combed from north side, past a joglo (typical roof shape is Central Java) pavilion where its space part was used by traders to trade souvenirs, while right in front of it is a health post with a yellow wall. Meanwhile, in very large temple courtyard, there were two statues of a golden lion which carrying a globe and a lion cub as well as two white statues of Yin and Yang guardians.

Joglo pavilion.
Health post.
Yin (moon) and Yang (sun) guardians.

I started to walking into temple parts one by one. I entered a temple with thirty-six pillars and two stacks of roof. At its front was guarded by two golden lions and eight deities. This is worship temple of Thao Tee Kong (God of Earth) to asking for blessings and life safety.

Earth God Temple.

Next to the south side, lied the Helmsman Temple. Of course, this temple was dedicated to Ong Keng Hong, the helmsman who spread Islam in Semarang. Smaller in size, this temple was built with sixteen pillars, two of which were brown, with dragon carve and located right at the entrance. Guarded by a green lion statue and two gods in the courtyard.

Helmsman Temple.

I arrived at the main building in a prayer complex for the Tridharma (Taoism, Buddhism, and Confucianism). It was Sam Poo Kong Temple which firmly stood with ninety pillars and had a three-tiered roof.

I managed to enter this temple. But I made a big mistake by photographing worship area which was forbidden. Temple staff scolded me. I was sorry, Sir, I didn’t see a camera image with red cross near the center pole.

Behind this main temple were ten reliefs which tell important events during Admiral Zheng He’s expedition, or we was more familiar to called him as Admiral Cheng Ho. Some people call him as San Poo Tay Djien.

Among the stories, Admiral Zheng He was rewarded with several giraffes by King Hulumosi from Iran, crushing Iskandar’s rebellion in Samudra Pasai Kingdom, one hundred and seventy of his soldiers died in overcoming a civil war between Wikramawardhana (King of West Java) and Wirabumi (King of East Java), crushing five thousands of pirates who led by Chen Zhu Yi in Palembang, overcoming the conflict between Malacca (Malaysia) and Siam (Thailand), early departure story of expedition which he led from Liu Jia Gang, escorting Princess Han Li Bao to be married to Malaysia King (Sultan Mansyur Syah), until save the missing China ambassador in Indonesia… Wow, those were cool of this Admiral’s story.

Reliefs behind the main temple. The stories were told in three languages, i.e. English, Indonesian and Chinese.
12 meters tall bronze statue of Admiral Zheng He and Sam Poo Kong Temple.
South gate behind the Admiral Zheng He statue.

It was getting darker, colorful lights began to be lit. I have arrived at the end of this temple exploration. I took the time to sit in a building which served as a performance venue, where in rows of steps stood soldier statues who Admiral Zheng He brought.

Stage for show.
Admiral Cheng Ho’s warrior statues.

For visitors who wanted to take pictures with wearing costumes which using in Admiral Zheng He era, they could rent it at costume photo rental shop.

Costume Photo.

That was my visit story at Sam Poo Kong Temple, a full of history temple and telling about entire crew under Admiral Zheng He command.

Company House: Awal Mula Kejayaan Ekonomi Qatar

Kompleks Msheireb Downtown Doha.

Ternyata tak hanya aku, semua turis dibuat kebingungan untuk menemukan pintu masuk. Kata itulah yang diucapkan seorang staff pria yang keluar memanggilku dan mengarahkanku memasuki museum.

Welcome to Msheireb Museum, you should know that this museum consists of four parts. They are Company House which you are currently visiting. In west of this building is Bin Jelmood House, while in east there is Radwani House. Another one, across that street (pointing at Bin Jalmood Street), is Mohammed Bin Jassim House. To make it easier for understanding all stories inside the museum, please install Msheireb Museums application. You can be guided by this application. Please write your identity in guest book, and welcome to Msheireb Museums“, hafalannya tersampaikan dengan lancar.

Yes, Sir. Thank you, Sir. Where are you come from, Sir?”, singkat aku menjawab dan bertanya.

Bangladesh”, jawabnya dengan penuh senyum.

Yes, belajar dimulai…..

Jika kamu ingin mengetahui perihal….

Bagaimana ekonomi Qatar bangkit dari keterpurukan……dan bagaimana perjuangan mereka menemukan minyak bumi……

Disinilah tempatnya.

—-****—-

Jadi di episode akhir petualanganku di Qatar, isi tulisan ini akan sangat serius. Tak ada majas….Tak ada sastra….Tak ada puisi….yuk, balik ke bangku sekolahan.

The history is begin……

Pertama kali, di pintu masuk museum terdapat logo perusahaan minyak terkenal yang menunjukkan bahwa pendirian dan pembiayaan museum ini disponsori oleh Qatar Shell.

Setelah melewati reception desk dijelaskan dalam sebuah tulisan bahwa bangunan ini adalah rumah dari Hussain Al-Naama, manager Doha Port, dibangun pada tahun 1920, lalu di sewa oleh Anglo-Persian Oil Company (Perusahaan Inggris pemegang kontrak eksklusif untuk eksplorasi minyak di Qatar) pada tahun 1935 dan digunakan sebagai kantor pusatnya selama  dua dekade. Alkisah, pencarian dan eksplorasi minyak Qatar dimulai dari rumah ini.

Inilah truk yang digunakan untuk mengangkut pekerja ke ladang minyak di sebelah barat Qatar.

Diceritakan para pekerja ini akan pulang dalam satu bulan untuk mengambil gaji, lalu diizinkan pulang ke rumah mereka dalam sehari saja untuk bertemu keluarga, setelah itu mereka harus kembali ke ladang minyak kembali untuk bekerja. Museum ini didedikasikan untuk para pioneer tersebut yang memaknai endurance, pengorbanan dan komitmen untuk membangun Qatar….#airmatamulaimeleleh

Perjalanan industri minyak Qatar disusun dengan bekas pipa-pipa minyak.

Kembali ke tahun 1920-an, saat itu Qatar adalah negara yang bergantung pada perdagangan, perikanan dan hasil tangkap mutiara. Dan negara ini sudah diambang kehancuran ekonomi karena Perang Dunia Pertama, Great Depression 1929 dan semenjak mutiara bisa dibudidayakan di Jepang.

Original banget ya pipanya….Aku terpesona.

Perlu kamu ketahui bahwa penangkapan mutiara adalah pekerjaan penuh resiko. Pada tahun 1929, pernah terjadi badai yang menenggelamkan 80% kapal di Kuwait, Bahrain, Saudi Arabia, Oman dan Qatar. Badai ini menewaskan lima ribu jiwa.

Masuk ke tahun 1940-an, terjadi Perang Dunia Kedua, usaha eksplorasi minyak Qatar sempat terhenti. Hal ini membuat seluruh warga Qatar kembali tidak memiliki harapan, karenanya mereka telah berfikir untuk kembali melaut mencari mutiara.

Beruntung pada tahun 1946, setahun setelah selesainya Perang Dunia Kedua, Inggris kembali ke Qatar untuk melanjutkan eksplorasi. Saat mereka tiba, kapan tanker tidak bisa  berlabuh di Perairan Zikrit karena dangkal. Maka dibuatlah terminal ekspor baru di Umm Said, selatan Doha. Lalu berlanjut dengan dibangunnya pipa-pipa minyak dari Umm Said ke Dukhan. Usaha yang tak kenal menyerah, pada akhirnya membuat Qatar berhasil melakukan ekspor minyak bumi pertamanya pada 31 Desember 1949. Dalam perkembangan selanjutnya, produksi minyak di Qatar meningkat tajam dari yang semula dibawah 50.000 Barrel/hari pada tahun 1949 menjadi lebih dari 2.000.000 Barrel/hari pada tahun 2010….Wah keren yaaaa.

Babak penting berikutnya, Qatar mendapatkan kemerdekaan dari Inggris pada 3 September 1971. Tiga tahun setelahnya dibentuklah Qatar General Petroleum Company. Dan pada tahun 1977, Qatar General Petroleum Company dan Shell Qatar Ltd. dinasionalisasi menjadi Qatar Petroleum, sehingga sejak saat itu minyak dan gas bumi di kuasai negara seutuhnya.

Qatar memang negara yang beruntung. Tak lama setelah kemerdekaan, ditemukan ladang Liquid Natural Gass (LNG) di utara wilayahnya. Untuk mengeksplorenya, didirikanlah Perusahaan Gas Qatar pada tahun 1984 dan ekspor LNG pertama mereka terjadi pada tahun 1996 ke Jepang.

Video room….Melihat pengabdian para pionerr dalam membangun minyak negara hingga Qatar mengalami kemajuan ekonomi yang pesat.
Generator listrik Biston dari Inggris….Inilah generator listrik pertama di Qatar.

Di ruangan belakang Company House, disediakan sebuah ruangan bartajuk “Open Storage” yang menampilkan beberapa peralatan para pekerja perusahaan minyak di awal-awal beroperasinya. Tampak raket tenis, stick hoki, bola rugby, radio, velg kendaraan, rantang makanan, mesin ketik, buah nanas kemasan dengan merk “Marvel” dan sofdrink bermerk “Namlite”.

Mesin ketik klasik merk “ROYAL”.
Buah nanas kemasan dengan merk “Marvel

Di ruang paling belakang didesain ruang bertajuk “The Courtyard: Life as a Worker”, di dalamnya dibangun beberapa sculpture putih yang memvisualisasikan para Qataris sedang bekerja di perusahaan minyak Inggris.

Ilustrasi para pekerja minyak kala itu.

Berjalan ke arah pintu keluar, tertampil sebuah ruang “Interview” dimana tim Msheireb Museum mewawancara para pioneer asli Qatar untuk mengumpulkan informasi yang berguna sebagai referensi, bahan penelitian dan bahan pameran di museum ini.

Sofa di ruangan wawancara.
Nah ini, referensi full dalam bahasa Arab….Hahaha.

Terdapat juga juga booth “Share Your Story” yang menampilkan testimoni para anggota keluarga pioneer perihal kerja keras dan kehidupan mereka semasa menjadi karyawan perusahaan minyak itu.

Dalam ruangan yang sama terdapat juga booth “Contemporary Voices”. Layar tiga sisi ini mendeskripsikan kisah-kisah para pioneer dalam sebuah film dokumenter.

Duduk dan dengarkan kisah yang terucap dari keluarga para pioneer….Mengharukan.
Atau tontonlah film dokumenter para pioneer itu sendiri….Merinding menontonnya.

Dan di bagian akhir museum ditampilkan beberapa profil pioneer pekerja minyak dalam ruang “Pioneers’ Stories”. Dikisahkan Muhammad bin Muhammad Muftah yang bekerja sebagai penerima telepon dan pengemudi, Jasim bin Qroun sebagai rigger (Juru Ikat), Bu Abbas yang bertugas mengendarai truk standard internasional untuk membawa para geologist, Thamir Muftah yang bertanggung menangani urusan listrik, Jassim bin Muhammad Jaber Al-Naameh yang bertugas menangani generator, Ibrahim bin Saleh Bu Matar Al-Muhannadi yang bertugas sebagai houseboy, dan terakhir adalah Mansour bin Khalil Al-Hajiri yang menjadi karyawan pertama di perusahaan minyak dan bertugas sebagai guide (pemandu), karena beliau orang yang sangat memahami seluruh wilayah Qatar dan mampu menemukan tempat yang dicari dalam gelap atau kabut sekalipun.

Kubaca pelan setiap kisah kepahlawanan mereka.
Mr. Mohammed bin Hamad Al-Hitmi, pemadam kebakaran di Qatar Petroleum Production Authority.

Selesai menjelajah Company House, aku keluar dari dari pintu belakang. Kusempatkan singgah di Empirecof, sebuah coffee shop mungil yang terletak di pelataran museum ini.

Yuk nge-latte dulu….

Selesai berkopi ria, aku menyempatkan diri memakan bekal makan siangku di halaman Company House. Di taman ini disediakan free water station yang bisa dimanfaatkan untuk minum secara gratis….Wah mantab Qatar.

Where is the museum gate, Sir?”, pertanyaan turis yang sering diutarakan padaku saat istirahat di taman.

Kunjunganku di Company House telah benar-benar usai, saatnya aku pergi menuju bagian Msheireb Museum yang lain.

Yukkk ikut aku lagiii……..

Kampung Laut’s Kampung Batik

Shortly after entering room number 523 at The Azana Hotel Airport, I rushed into bathroom, then came out with wearing casual clothes. From his face, I knew that Mr. Muchlis was starving. Because of this, he has been snacking on packaged peanuts which he brought from the rehearsal place.

Come on sir, let’s go, looking for dinner!“, I said while preparing Canon EOS M10.

Where are we going to have dinner, Donny?“, He also seemed to didn’t have choice.

Do you want to go to Kampung Laut or not? Let’s eat seafood!”, I asked him. Secretly, I’ve found this restaurant through browsing since leaving the airport this afternoon.

Is it far, Donny?“, He asked. Maybe he was reluctant because as far as I know his passion is not far from climbing mountains, doing city exploration made him was grabbed by laziness.

No sir, it’s only six kilometers, at most a quarter of an hour, sir, let’s go! Before too late.“, I said.

I agree, Donny. I will order a online taxi”, Let’s go.

Soon, a black Honda Jazz picked up us at the lobby, we drove to Tawangsari area. I understand that this was same route when I left Ahmad Yani International Airport to The Azana Hotel Airport. We passed Yos Sudarso Street then turned left and following Puri Anjasmoro Street towards the airport. It was just that we will stop about two kilometers before actually arriving at the airport.

We arrived at Kampung Laut Restaurant.

Together with Mr. Muchlis in Kampung Laut.

Once arrived at our destination, I forgot to be hungry. Sight of whole restaurant made my exploration desire relapse. I asked Mr. Muchlis to find a seat, I briefly looked at the menu at a table, then I asked him to order white rice, sweet and sour squid and young coconut ice for my dishes.

I’ll walk around for a while, Sir, let me know where we will sit!“, I hurriedly asked.

I’ll sit in the middle, there Donny, I’ll wait!“, He pointed to a small table in open space on west side of main hut.

Yes Sir“, I closed our quick conversation.

I left him to explore some spots in restaurant which is designed to float on artificial lake. I started to enter the first part which was eight main huts, four on left and the rest on right. Elongated tables with dozens of chairs were arranged under huts, as a sign that that huts are used to serve large numbers of visitors. It seemed that Mr. Muchlis was right to chose a small table in outer court.

A row of huts with a pond in front of it.
Long dining table in the hut….Perfect for eating together with all office-mate.

Meanwhile, at western end, there is a long platform leading to a “Kampung Laut” nameboard which is designed to be a spot to take pictures for visitors after eating. The concept which attracts young people to visit here.

The best photo spot in Kampung Laut.

Not long after, I immediately joined with Mr. Muchlis for dinner after he sent a short message “Foods are ready, Donny. Come here!“.

Come on, dinner….

Outdoor dining table.
Our menu: water spinach, squids, fishes, coconut ice and avocado juice….It was simple menu… .Hahahaha.

After eating, I talked about rehearsal this afternoon which Mr. Muchlis did without my help. Were there anything missing?, what can be prepared again before tomorrow’s training?. “All were done, Donny, you don’t need to worry. The important thing is tomorrow we come half an hour before the event start, Okay! “, He concisely and convincingly said .

Before closing our dinner at Kampung Laut Restaurant, we stood in front of a small stage and enjoyed several songs which sung by a beautiful singer. Wow, if there were a lot of time, I would definitely sing with her. But seemed, She was singing a few requested songs from restaurant guests.

What was the best song if I had a duet with her?… .”Yellow” or “Tiwas Tresno”.

At exactly 21:30 hours, we withdrew and immediately headed to hotel to rest. Mr. Muchlis swiftly brought in an online taxi with Wuling Confero brand. This was first time for me to feel sensation of riding a China car.
Hmmhhh….It was quite relieved. “This uses a Chevrolet engine, for your information, Sir“, said the driver, proud to his car. Woow….When I hear a “Chevrolet” word, the first image which comes to my mind is the yellow “Bumblebee”.

Eittt I forgot, before actually leaving the restaurant, for you who wanted to shop for “Batik (Javanese clothes)“, there was a “Kampung Batik” outlet that sells Semarang typical batik.

For Batik fans…. Please stop by.

Time for sleeping and got a sweet dream, my friend …….

Pakistani White Pulao dan Al Kort Fort

Aku meninggalkan Doha Sports City menjelang maghrib. Keluar dari Villaggio Mall, menuju Stasiun Al Aziziyah yang hanya berjarak 100 meter dari pintu nomor empat shopping mall kenamaan itu.

Di pintu masuk stasiun…..terjadilah insiden tipis antar pengelana….

Hello, do you want go with metro?”, ucap pemuda ikal, berkulit putih dan berwajah khas Arab tetapi lebih pendek sedikit dariku.

Yes, brother”, ucapku singkat.

Use this ticket!, I will go back with bus, You can use it”, dia menyodorkan tiketnya kepadaku.

Oh, No, thanks. I will buy a single journey ticket at downstair”, kutolak halus karena salah duga, kukira dia menjual tiket kepadaku. Aku tahu itu Standard Day Pass ticket seharga Rp. 16.000

Brother, just take it. I don’t need more because I will use bus”, Dia tampak bergegas dan menyelipkan tiket itu ke tangan kananku.

Ya ampun….Ternyata dia memberikan dengan cuma-cuma. “Thank you very much, brother”, ucapku singkat.

I’m Donny from Indonesia, what is your name, brother?”, tanyaku sebelum berpisah.

Said from Algeria….”, senyumnya sembari membenarkan tas punggung hijaunya lalu bergegas meninggalkanku.

Thank you, Said”, aku mulai menuruni escalator menuju platform Doha Metro.

Mengejar MRT yang sudah mengambil ancang-ancang, diperintahkanlah aku oleh petugas berkebangsaan Philippines untuk memasuki metro melalui gerbong kelas Goldclub yang mewah lalu berpindah ke gerbong kelas Standard di belakangnya. Wahhhh…..gerbang Goldclub itu menawarkan tempat duduk tunggal mewah bak business seat pesawat terbang, kursi bersandaran lengan yang terpisah satu sama lain dalam baris memanjang berhadapan. Terduduk di gerbong standard, aku dibawa menyusuri jalur Gold Line menuju Stasiun Souq Waqif yang lokasinya cukup berdekatan dengan Al Ghanim Bus Station. Aku akan menaiki Karwa Bus langganan bernomor 12 menuju penginapan.

Aku masih mengingat pesan salah satu staff hotel asal Islamabad bahwa malam ini mereka mengajakku memasak bersama dan menyantap masakan khas negeri mereka yaitu Pakistani White Pulao-hidangan nasi yang dicampur dengan cacahan wortel, sayur dan kacang-kacangan-.

Seusai mandi, benar adanya, mereka ke kamar membajakku dan digelandang e dapur untuk bergabung bersama para chef dadakan Casper Hotel.

Pakistani White Pulao…..Nyammm.

—-****—-

Fajar ke empat yang kurasakan di Qatar. Aku sedikit bermalas-malasan karena kelelahan dan kejenuhan menjadi musuh baru. Menjelang pukul sepuluh pagi, aku mulai berangkat menuju Al Ghanim Bus Station. Awalnya berencana menuju ke Museum Islamic of Art. Eh, tetapi….Begitu tiba di terminal, aku berfikir ulang. Dompetku mengkhianati niat, dituntunnya aku mencari destinasi gratisan untuk menghemat amunisi yang mulai menipis.

Mencoba berselancar maya dengan duduk santai di terminal, akhirnya aku tahu harus melangkah kemana. Msheireb….Ya, Msheireb!

Ada Msheireb Museum yang dibuka gratis untuk wisatawan disana. Aku berfikir lanjut….Setelah mengunjungi museum itu, aku bisa berkeliling di area Msheireb Downtown Doha untuk melihat konsep kota terencana itu.

Perlu kamu tahu….MDD (Msheireb Downtown Doha) adalah sebuah kota pengganti Distrik Mushayrib yang pengembangannya direncanakan sangat detail.

Aku menjelajah sepanjang Ali Bin Abdullah Street, melewati Gold Souq -bangunan sepuluh jendela kaca lengkung sentra jual beli emas-, melintas kantor kas Qatar National Bank (QNB) Souq Waqif kemudian belok kanan di sebuah perempatan.

Gold Souq.

Sebelum benar-benar tiba di Msheireb Museum, langkahku tertahan di bawah sebuah bangunan ikonik, yang dari bentuknya aku sendiri faham bahwa itu adalah bangunan pertahanan atau benteng. Sewaktu kemudian, aku mengenalnya sebagai Al Kort Fort.

Dikenal juga sebagai Doha Fort, bangunan berusia 140 tahun ini dibangun pada masa Kesultanan Utsmaniyah sebagai kantor kepolisian. Tiga puluh lima tahun dihitung dari masa berdirinya, benteng ini berubah fungsi menjadi penjara di masa akhir kekuasaan Kesultanan Utsmaniyah. 

Lalu sejarah kembali berubah ketika Sheikh Abdullah bin Jassim Al Thani, Emir ketiga Qatar, membangun kembali benteng ini seiring melonjaknya angka kejahatan di sekitar Souq Waqif. Konon, muncul sekelompok pencuri terkenal yang merajalela di area pasar. Nah benteng inilah menjadi pusat keamanan Souq Waqif pada masa rawan itu.

Sesuai ciri khas benteng gurun pasir, bangunan ini berbentuk persegi dengan satu menara persegi panjang di salah satu sudut dan tiga menara bundar di ketiga sudut lainnya.

Sayang , benteng ini masih dalam proses renovasi sehingga aku tidak bisa masuk ke dalamnya. Tapi tnetu tak mengapa, karena aku bisa lekas berkunjung ke Msheireb Museum.

Mau tau ga Msheireb Museum kayak apa?….Panjang lho kisah yang tersampaikan di dalamnya….Siap-siap membaca penuh kesabaran ya!.

Exploring Ahmad Yani International Airport

I started this free business trip, very suddenly and equipped myself sufficiently. The most important thing was, my lovely tool wasn’t left behind….None other than black Canon EOS M10. Apart from supplies, an itinerary was never arranged before leaving. In the next four days, I will be an explorer who played as I pleases.

When Citilink started to take-off and leaving Halim Perdanakusuma International Airport, I never thought anything about Ahmad Yani International Airport. My memory is still the same about it. Simple, not big, a waiting room which is directly face to face with plane muzzle when it’s parking. Those are memory sheets which neatly arranged in my brain cabinet. However, several years ago, Ahmad Yani International Airport was playing a role in taking off for the first flight in my life.

Oh apparently…..

It’s different, it’s amazing“, I muttered when I peeked through plane window when Citilink QG 144 was taxiing towards the apron.

It’s true, Ahmad Yani International Airport which have IATA code “SRG“, has transformed itself into a super elegant airport. I was dropped off in parking lot, next to Lion Air plane. Stepping under giant wing, main terminal building looked like a stretch of glass windows which showing off large pillars inside. Solar light appeared to perfectly penetrate the entire room in glass building.

Let’s entering the terminal building.

Asphalt on airport vehicle lane still looked very black and smooth, a sign that this route was recently operated. Road markings which stuck to asphalt were still perfectly white. The terminal wall was still a light beige.

A. Arrival

I entered arrival hall corridor towards baggage claim area. The floor was still shiny and reflected the lights in a regular pattern, glass room on left was still under construction status, while corridor right side had several toilets, lifts and a prayer room in operation. Several shelves containing shoe flower pots were beautify room corners.

Corridor towards baggage claim area.
Baggage claim area.

Some baggage service counters of several airlines still appeared to be closed, maybe the airlines concerned weren’t operating yet at this terminal.

After going through baggage claim area, a row of information provider counters have been prepared, such as Tourist Information Center, BP3TKI, money changers and TRAC car rental companies. Meanwhile, between main building and road for in and out of the airport are separated by a stretch of water. Yes, I was currently in a floating terminal which covering 7 hectares area which was built on a swamp.

The exit area is under a canopy corridor and framed by whitewashed steel beams. This corridor connects arrival hall and commercial zone of airport. The existence of a pool, umbrella shade with chairs under it and a garden planted with medium tall trees with a patterned distribution make exit area appearance is very neat. Here is where the pick-up await their guests arrival or relatives who have just landed.

Exit gate.
Park area.

Once past exit gate, there was a photospot area with background of President Joko Widodo who is riding his onthel bicycle. Followed by existence of toilets, nursery rooms, money changers, prayer rooms and ATM areas.

Musalla after exit gate.
Corridor with a line of ATMs from several banks.

Airport digital clock screen showed 17:09 hours, when I entered commercial zone. Two predominantly green customer service desks appear parallel to exit gate. Meanwhile, black and red waiting benches circle every main pillars in terminal building and several of them line up in several empty walls. Several photo spots are located in building corners, while departure and arrival flight information LCD are in the middle zone so that it is easily accessible to all passengers and visitors.

Customer service counters.

Commercial zone area was already occupied by several well-known brands such as X-Side Eat, A&W, Kukomart, Bank BNI, Eaten Kopi Tiam and other brands.

Exiting commercial zone building, I was greeted by a double corridor separated by a four-wheeled vehicle lane. This is taxi zone and drop and pickup zone. This corridor looks neat with round poles and spandex roofs. Meanwhile, under the shade, waiting chairs are arranged along corridor. I myself chose taxi transportation mode to downtown, considering that this was a business trip which all costs were paid by office where I work.

B. Departure

Three days later, I returned to this airport to return to capital city. Online taxi dropped me off at same place where I left the airport when I arrived on the first day. I set foot in drop and pickup zone then rushed to find check-in area inside of terminal building.

Arrived in drop and pickup zone.

Entering commercial zone, I just continued through it, many prospective passengers seemed to be relaxing in this area, either in public area or eating food at several coffee shops. As soon as I left commercial zone, I entered a transparent roofed area with steel pillars with two LCD check-in information screens, while on right side there was a wooden deck with number of palm pots on it, while the other part was a pool which soaked terminal piles, it was giving a impression that this is a floating passenger terminal …. Very cool.

Garden and pool on right side of departure hall.

At the end of garden and pond, I entered a building which served as a check-in area. As in garden outside, this check-in area looks tall and wide. Thirty check-in counters stretches on a hall side. Meanwhile, “Total Baggage Solution” counter is ready to help each passenger for wrapping their luggage to secure it during loading & unloading process in plane hull.

Check-in area.

I rushed to waiting room after getting my boarding pass, passing through a narrow corridor which in its left side is glass window which facing a garden and the right side is covered by plywood of a functional space project. At the end of corridor, facing iPORT shop, I turned left into commercial zone. Several clothing stores such as POLO or coffee shops like Starbucks are in this area.

Commercal zone in departure hall.

I started to enter waiting room which have green waiting chairs, carpeted in gray patterns, equipped with a prayer room, executive lounge, smoking area, toilet, charging area, LCD TV and free internet counter. In some spots, a photospot was provided.

Waiting room.
One of photo spots in waiting room.

And finally, that afternoon I left Ahmad Yani International Airport through gate 2A. That was short story of my exploration in an airport which Semarang residents were proud of it.

Let’s visit Atlas City and enjoy its beauty!.

Gondolania milik Villaggio Mall

Sudah pukul 14:00, masih ada sedikit waktu sebelum angin sore pembawa hawa dingin hadir. Aku sengaja menaruh destinasi ini sebagai penutup wisata hari ketiga di Qatar. Tampak luar, tak ada yang mencolok, tak ada yang istimewa, itu hanya bangunan biasa yang dibuka untuk umum sejak 2006 silam. Hanya saja, nameboard besar bertajuk Gondolania Theme Park di gerbangnya mampu menilaskan gambaran di kepala tentang konsep wisata apa yang ditawarkan di dalamnya.

Aku kembali memutar pita rekaman perjalanan, mulai kubongkar memori tiga tahun silam, kala dimana untuk pertama kalinya, aku terpesona pada wujud gondola yang terlihat dengan mata telanjang di The Venetian, shopping mall sekaligus kasino kenamaan di kawasan Asia Timur, Macau tepatnya.

Yupss….Kunjungan di Doha Sports City sore itu memang kuakhiri dengan mengunjungi Villaggio Mall. Mall di pinggiran Al Waab Street (terletak antara Hyatt Plaza dan Sports City ) ini dikembangkan oleh Gondolania Entertainment, oleh karenanya, konsep wisata gondola di kota Venice diadopsi di pusat perbelanjaan terkenal ini.

Didesain di dalamnya canal indoor sepanjang 150 meter lengkap dengan gondolanya. Retailer utama di Villaggio Mall adalah Carrefour, akan tetapi pusat perbelanjaan ini juga mengakomodasi 200 toko yang menjual brand-brand ternama asal Amerika, Inggris, Italia dan Jerman.

Yuk, yang hobby belanja, silahkan mampir di mari !

Aku memulainya dari gate 4.

Rupanya kata “I LOVE  (LOVE dilambangkan dengan hati)” yang tersohor dalam promosi pariwisata setiap bangsa menjangkit juga di Qatar. Nameboard itu menyapaku di sebuah hall tepat di sebelah pintu masuk. Merah putih, begitulah dominasi warnanya, serasi dengan warna bendera Qatar. Merah bergerigi putih, atau putih bergeriri merah, entahlah?

Sana kalau mau foto!….Tak fotoin sinih!.
Hall utama tepat dibawah kubah.

Meningglkan kemewahan hall utama, aku mulai menyusuri koridor mall berfantasikan langit biru artifisial di bagian atap, sedangkan tiang hitam berujungkan tiga lampu klasik diletakkan dalam jarak yang konsisten. Cafe dan toko berjajar rapi di kiri dan kanan…..Mc Donalds, KFC, Pinkberry, Ocean Basket, Doughnuts & Coffee, Dunias, PF. Clarks, Applebees dan Ognam adalah beberapa gerai kuliner yang bisa cepat kutemukan ketika melangkah.

Koridor Villaggio Mall.
Koridor Villaggio Mall.

Kuikuti saja alur yang didesain pengelola mall, hingga akhirnya kupergoki ruangan bertajuk GONDOLANIA, sebuah Funfair Theme Park andalan pusat perbelanjaan itu. Kamu bisa bermain Bungee Trampoline, Ferris Wheel, Viking, Catterpillar, Drop Tower, Roller Coaster, Chipmunks Rides, Carousel, Arcade Games, Ping Pong Toss, Ride on Robot, Dino Land, Toy Crain, Deal or No Deal Dance Reco, Basketball Games, Bump Car, Dragon Punch King of Hammer, Lazy River, juga bisa berbelanja mainan di Toys4me serta bisa bergila ria di Gondolania Ice Rink.

Gondolania Theme Park.

Meninggalkan theme park , aku masih terus dibuat penasaran untuk menemukan apa yang kucari sedari tadi…..Akhirnya, Gondola ala Venice tampak terdayung di pandangan jauh. Kanal panjang bercabang membelah ruang raksasa shopping mall itu. Beberapa turis tampak mengantri untuk menaiki gondola dengan pendayung berkebangsaan Philippines.

Kanal untuk wisata gondola.
Aku dan gondola.

Menjenguk sejenak Villaggio Mall, telah membunuh rasa penasaranku untuk melihat duplikasi wisata Gondola Venice untuk kedua kalinya.  Tak perlu lama, hanya tiga puluh menit saja untuk menjelajah.

Hmmhh, aduh….Aku teringat pada janjiku memenuhi undangan para staff hotel tempatku menginap. Aku bergegas pulang, sore itu aku akan memasak makanan khas Pakistan bersama mereka. Kufikir agenda itu  akan membuatku merasa lebih relax setelah tujuh belas hari berkelana meninggalkan rumah.

Area parkir Villaggio Mall.

Langkah cepat menuju Stasiun Al Aziziyah dihadang oleh seorang pemuda yang lebih pendek dariku. Aku tersentak kaget….Ada apa ini:

Said: “Hello, do you want go with metro?

Aku: “Yes, Brother”.

Said:”Use this ticket, I will go back with bus, So you can use it”.

Aku: “Oh, thank you”.

Bodoh jika aku menolaknya. Sebelum dia pergi, aku sempat bertanya untuk mendapatkan informasi tentang tempat asalnya….Algeria, Afrika Utara….”My name is Said”, ujarnya setelah aku menyebutkan nama kepadanya.

Kugenggam tiket darinya….”Oh ini, One Day Pass. Dia seharian naik MRT rupanya. Pintar si Said, daripada dibuang percuma, dia hibahkan kepadaku….Hehehe” batinku memahami alasan Said memberikan tiketnya padaku. Pertemuan tak terduga yang melimpahkan rezeqi. Kini aku akan pulang tanpa biaya.

Stasiun Al Aziziyah.

Singkat kisah, kunaiki Doha Metro Gold Line, berhenti di Stasiun Souq Waqif lalu bersambung dengan Karwa Bus No. 12 menuju penginapan.

Saatnya memasak……