Jembatan Limpapeh, Jirek dan Cubudak Bungkuak

Burung trulek menutup kunjunganku di Fort de Kock.

Masih ada waktu”….Batin terus memaksa langkah.

Tiket TMSBK digenggaman, lalu di ujung Fort de Kock aku meyaksikan keramaian di bukit sebelah. Sementara fikiran terus membayangkan eloknya Ngarai Sianok, sedangkan segantung jembatan ikonik menyambutku di depan pandangan.

Aku tak bisa mengelak pesonanya…..

Enam Atap Gonjong di pusat, empat utas baja raksasa menahan deck bridge sepanjang 90 meter. Menghubungkan gagahnya dua bukit yang cukup tenar di Bukittinggi yaitu Bukit Jirek dan Bukit Cubudak Bungkuak dengan lebar pijakan 3 meter.

Adalah Jembatan Limpapeh yang nampak perkasa mengangkangi Jalan Ahmad Yani. Telah berjasa selama 28 tahun dalam menghubungkan Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan dengan kawasan benteng Fort De Kock.

Jembatan Limpapeh sendiri adalah penyambut pertama kedatanganku di Bukittinggi sehari sebelumnya. 

Limpapeh” sendiri berarti “Tiang Tengah”. Keunikan jembatan ini adalah selain berada di tengah struktur, pier kembarnya juga membatasi kedua sisi Jalan Ahmad Yani sehingga membentuk sebuah gate penyambut tamu kota di jalan protokolnya.

Jembatan Limpapeh dengan enam gonjong dua lapis.

Sedangkan pada kunjungan keduaku di malam hari pertama, aksara “Jembatan Limpapeh” yang bersinar merah menyala terhiasi dengan siraman cahaya ungu di kedua pilar kembarnya. Benar-benar menjadi pintu kota yang sangat indah di pandang mata.

Di malam hari, Jembatan Limpapeh menjadi penyedap aktivitas kuliner di daerah yang terkenal dengan nama Kampung Cino.

Seperti Janjang yang tersebar di banyak sudut kota, penghubung cantik ini juga merupakan manifestasi integrasi fasilitas kota. Adalah wisata Fort de Kock dan wisata Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan (TMSBK) yang menjadi obyek terekspose dari alasan pembangunan jembatan ini. Memudahkan para turis untuk berwisata di kota berjuluk Parijs van Sumatra ini.

Atap gonjong dengan motif batik bunga.

Demi menjaga keamanan dan merawat usia pakai jembatan, pengelola wisata hanya memperbolehkan maksimal 200 pengunjung yang bisa secara bersamaan berada di atas jembatan ini dan setiap pengunjung hanya boleh berfoto diatas jembatan selama maksimal 3 menit saja. Hayu….Taat aturan ya kalau berwisata kesini….Hehehe.

Gunung Marapi berselimut kabut dipandang dari atas jembatan.

Akhirnya aku berkesempatan menikmati pemandangan kota mungil yang pernah menjadi ibu kota Indonesia ini dari ketinggian. Bukan gedung pencakar langit yang tampak dalam pandangan, melainkan hamparan rumah warga, kios-kios perniagaan yang memanjang mengikuti lekuk demi lekuk Jalan Ahmad Yani serta dominasi pepohonan hijau yang diandalkan sebagai area resapan kota.

Gunung Sirabungan terlihat dari jembatan.

Menjadi sensasi tersendiri ketika berada di atas jembatan dalam kondisi yang terus bergoyang sebagai ciri khas sebuah jembatan gantung. Menjadi sebuah kepuasaan tersendiri ketika menikmati pesona kota Bukittinggi dari jembatan yang menjadi ikon unggulan kota setelah keberadaan ikon pertama mereka yaitu Jam Gadang.

Jadi….Kamu harus ke sini ya jika berwisata ke Bukittinggi.

Wrong Seat in Pokhara-Kathmandu Tourist Bus

Mr. Tirtha still accompanied me to speak, we leaned back in his tiny taxi while observing the bustle around Tourist Bus Park. Several hawkers took turn getting on and off in all small sized-buses offering their wares.

A while later, Mr. Tirtha widely spread his arms and we lightly hugged as a substitute for saying “thank you and see you later”. I entered a bus on half an hour before departure. It would be better because Mr. Tirtha could immediately continue work with his taxi.

The conductor showed me a seat where I should sit. At second row behind driver which was limited by a glass screen. Now situation became tense, when an Indian spouse argued with the conductor. They felt were aggrieved because a ticket agent in Kathmandu had promised them to giving them a front seat. The conductor casually snapped back, “This is Pokhara, Not Kathmandu”. Instantly situation was silence. I just realized, that spouse wanted my seat…. Hahaha, even though I was asked to exchange, I didn’t refuse either. Seriously.

Three European tourists in the front seat near driver had fun playing cards the whole way.

Three and a half hours after departure on 7 am, bus stopped for breakfast break for 20 minutes after an hour earlier, bus had once done 15 minutes of toilet break. Hotel’s breakfast which Mr. Raj prepared on the last morning seemed quite effective for me to didn’t spend any consumption budget this time. Come on!, let me showed you how the restaurant which I stopped at:

Buffet eating!
That was the cost.
The hat which used by the cashier was called as Dhaka Topi.
Yups, I still full….Just drank a coffee.

I felt hungry at lunch break on 1:30 p.m., enjoying a thali (Indian wide plate) of food which I picked up from buffet table for 400 Rupee and drink a free-orange juice which was given to all passengers since our  departure in Pokhara.

For free….
I got on the white one.

My watch pointed to 15:34 hours. The last toilet break was the most memorable part. Taking the time to explore area around the rest area. I moved towards a side of road and enjoyed panoramic view of valley and ravine below.

Most trucks in Nepal are Tata Motor.

Impressed with situation on a side of road, I entered a small alley and saw a glimpse of local residents activities who living on a side of road. Observing a banner which stucked in a concrete wall, I tried to slightly open an outer skin of Nepal’s politics.

Nepal is a parliamentary republic which has four main political parties. The Communist Party of Nepal (CPN) became the winning party in Nepal which placed two important figures, namely Khadga Prasad Sharma Oli as Prime Minister and Bidhya Devi Bhandari as President of the country.

That’s the symbol of CPN.

Back in bus seat, this time, my journey encountered a terrible traffic jam when it descended the last hill nearing Kathmandu border. Looked like a traffic jam in Cianjur on the weekend (Cianjur is tourist destination near my home).

The bus arrived in Kanti Path Road on 17:08 hours. Excessive fatigue persuaded me to immediately looked for Shangrila Boutique Hotel in Thamel area. I walked through many narrow alleys and asking to local people to find the location. Only walking for 20 minutes, I finally found the hotel.

I handed over 2.300 Rupee as the rate of staying per night. This time, I would spend 2 nights in Kathmandu to enjoy the city.

Ginseng dari Namdaemun Market

Namdaemun Market, Seoul.

Beberapa saat setelah seruputan kopi terakhir di cangkir kertasku, bus biru langit bernomor 402 itu tiba. Tak langsung menuju platform halte. Ternyata sang sopir turun dan berburu kopi di G-25 minimarket, tempatku mendapatkan kopi hitam beberapa saat sebelumnya.

Aku sudah berdiri di depan bus ketika dia mendekat sembari memegang kopi panasnya.”*&^%$#@!()<>”, entah apa yang dia ucapkan sembari menunjuk cangkir kopinya. Tetapi aku paham maksudnya, “Tunggu dulu ya bang, saya minum kopi sebentar”. Aku tersenyum mengangguk dan dia mengacungkan jempol kanannya untukku.

Aku bersandar di bagian depan bus sembari menunggunya menghabiskan kopi di balik kemudi. Beberapa saat kemudian, bunyi gesekan pintu bagian depan terdengar. Menunjukkan bahwa pintu bus telah dibuka dan aku dipersilahkan masuk. Tentu lebih enak duduk di dalam bus yang lebih hangat ketimbang berdingin ria di luaran sana.

Beberapa saat setelah aku terduduk di bangku tengah, bus pun merapat ke platform halte. Menaikkan penumpang yang sudah menunggu sedari tadi.

Segenap penumpang telah menempati tempat duduknya masing-masing ketika bus perlahan mulai menuruni Gunung Namsan dan memperlihatkan keindahan Seoul dari balik jendela kaca. Kota metropolitan yang tampak dinaungi selaput kabut di bawah sana. Aku membelalakkan mata tanpa henti untuk menatapnya dari ketinggian.

Hingga tak terasa, bus sudah melaju kencang di jalanan kota yang datar. Menampilkan kesibukan jalanan kota Seoul. Dua puluh menit kemudian aku diturunkan di Toegye-ro Avenue tepat di depan Gate 5 Namdaemun Market.

Dilihat dari seberang jalan saja, aura pasar tradisional berusia 75 tahun itu sungguh menggoda. Ramainya lapak pedangang di atas lantai pasar yang sangat bersih dihiasi dengan kepulan asap yang mengisyaratkan bahwa kuliner tradisional akan mudah ditemukan di dalamnya. Konon ada 9.000 lapak di dalam pasar ini.

Aku mulai menapaki bibir pasar, mengamati sepintas lalu perniagaan rempah di antara warga lokal. Ginseng yang terkenal di negeri itu sungguh menggoda ketika dipamerkan di setiap hamparan lapak pedagang. Dan entahlah, bagaimana bisa dalam sekejap, akhirnya aku berhasil memiliki sebuah kemasan ginseng dari sebuah lapak…..Wah, gaswat.  

Yuhuu…Aku beli ginseng, dong….Wkwkwk.
Duh, ga ada logo halalnya euy…..Tapi terlanjur dibeli….Udahlah di cemil aza.

Tak cukup sampai di situ. Kini mataku tertarik dengan pajangan souvenir di salah satu sisi gang. Aku mendekat dan secara otomatis mulai menawar beberapa gantungan kunci yang lucu dan unik. Oh Tuhan, perniagaan itu berakhir dengan terbelinya selusin gantungan kunci yang rencananya akan kuberikan ke beberapa teman kantor sepulang dari Seoul nanti.

Wah, setan pasar itu memang benar-benar ada. Kini aku mendadak menawar beberapa snack almond yang dalam fikiranku, akan kucemil esok selama perjalanan panjang di pesawat menuju Jakarta.

Cukup lama berkeliling pasar, membuat perutku lapar. Ditambah dengan paparan asap kuliner yang menyeruap di gang-gang pasar. Sudahlah, aku memutuskan untuk memasuki sebuah kedai yang diempui seorang perempuan tua yang masih terpancar sisa-sisa aura kecantikannya, berpakaian rapi bersih dan penuh senyum.

Dia hanya tersenyum terus melihatku yang terduduk di meja makan. “Dangsin-eun eodieseo oneunga?”, dia terus menanyaiku yang tak faham bagaimana menjawabnya. Hingga seorang pemuda dengan tertawa kecil berbicara kepadaku. “She said, where are you come from?”.

Oh, just say to her, I am from Indonesia….Jakarta….ya, Jakarta”, aku menjawabnya sembari tertawa ringan. “Hoooo. Indunesiaaaa….ya ya ya”, perempuan tua itu mengangguk sembari terus melempar senyum. Dia mendekatiku dan memberikan selembar menu.

Tak perlu waktu lama, aku segera menunjuk sebuah menu. Bukannya aku faham apa wujud menu itu. Aku hanya melihat di kolom kanan menu bahwa itulah harga makanan paling murah yang bisa kutemukan. “Hoooo, sundubu-jjigae …OK”, perempuan tua itu mengacungkan jempol dan pergi mempersiapkan menu.

Setelah menunggu beberapa saat. Makanan itu pun di sajikan ke atas meja. Mau tahu bentuk makanannya:

Tuh….Hahahaha, itu yang dibayar cuma nasi ama tahunya duankk…Sisanya menu pembuka gratisan.

Perjalananku di Namdaemun Market akhirnya berakhir di kedai makan sederhana itu.  Kini aku sudah keluar pasar dari gate semula masuk dan bersiap meninggalkan pasar seluas empat hektar itu.

Fort de Kock dan Perang Padri

Aku masih memandangi Rumah Kelahiran Bung Hatta itu dari trotoar Jalan Soekarno Hatta, Bukan tak rela meninggalkannya, tetapi aku terus berfikir bagaimana sebuah tim kerja membangun replika rumah itu dengan persisnya karena rumah aslinya sudahlah runtuh pada 1962 silam.

Melangkah kembali menuju arah semula datang, aku berbelok ke Jalan Pemuda setelah melewati Banto Trade Centre. Kaki ini masih kuat ketika dihadapkan pada jalan yang panjang meliuk, rela ku menyusurinya karena mata dimanjakan dengan bentangan sawah nan hijau dan arsitektur khas atap gonjong yang menghiasi bangunan-bangunan resmi milik pemerintah.

Atap gonjong di SDN 14 ATTS (Aur Tajungkang Tengah Sawah).
Taman Monumen BDB, simbol perlawanan rakyat menentang kolonialisme Belanda pada 15 Juni 1908.
Atap gonjong di RSUD Dr. Achmad Mochtar.

Sepertinya perjalananku akan memutar dan semakin mendaki, kakiku sudah tak sanggup lagi setelah lima hari sebelumnya selalu mengandalkannya untuk bereksplorasi di tanah Sumatera.

Sudah saatnya memanggil transportasi online untuk mencapai gerbang depan Fort De Kock. Tak sampai lima menit menunggangnya, aku menanjaki Bukit Jirek dan tiba di gerbang depan benteng.

Wekom in Fort De Kock”…..

Gerbang benteng.

Melewati gerbang, rumah makan Family Benteng Indah adalah penyambut pertama, lalu diteruskan oleh konter penjualan tiket. Walau aku mengunjungi Fort de Kock, namun wisata yang tertulis di dalam tiket adalah Taman Marga Satwa dan Budaya Kinantan dengan harga tertera Rp. 15.000.

Konter penjualan tiket.

Setelah melewati titik pemeriksaan tiket, kios pedagang makanan berderet di sisi kanan. Lalu sebuah kandang merpati endemik China jenis Junai Mas diletakkan di ujungnya. Setelahnya, aku baru bisa melihat bentuk asli benteng itu.

Itu dia wujud benteng mungil Fort de Kock.

Benteng Fort De Kock didirikan oleh Kapten Bauer sebagai kubah pertahanan Pemerintah Hindia Belanda dalam menghadapi perlawanan rakyat dalam Perang Padri yang dipimpin oleh Tuanku Imam Bonjol. Perang ini sendiri meletus di seperempat pertama Abad ke-19. Ketika itu Boan Hendrick Markus de Kock menjadi komandan Der Troepen sekaligus Wakil Gubernur Jenderal Pemerintah Hindia Belanda. Dari sinilah nama “Fort de Kock” berasal.

Meriam kuno tahun 1800-an di empat sudut benteng.

Bangunan utama benteng yang tak lebih dari 400 meter persegi ini terlihat kecil tapi sangat kuat secara fisik dan strategi. Secara bentuk fisik, banteng ini memiliki ketebalan dinding yang bagus dan secara strategis, benteng ini tangguh karena terletak tepat di puncak bukit, memudahkan siapapun mengamati gerak-gerik musuh di sekitar.

Lihat bagaimana tebalnya dinding benteng.
Lantai dua atau atap banteng.

Aku mencoba terus membayangkan bagaimana hebatnya sepak terjang Tuanku Imam Bonjol dalam memimpin kaum Padri melawan Kolonialisme Belanda. Hingga Belanda harus membangun benteng ini untuk mengamankan kekuasaannya dari rongrongan pemimpin karismatik itu.

Taman dilihat dari atas banteng.

Namsan Tower Tanpa Gembok Cinta

Sepulang dari Banpo Bridge di Distrik Seocho, aku langsung bergegas tidur demi menyiapkan diri untuk petualangan esok hari. Esok adalah kesempatanku terakhir kali untuk menikmati Seoul karena lusa hari aku harus bertolak ke tanah air.

Huhuhu….Sedih

—-****—-

Sinar matahari pagi menyeruak melewati jendela di tembok miring kamar. Jarum jam telah melewati angka delapan. Usai shalat subuh tadi, aku kembali menyelinap di balik selimut, menolak dinginnya udara pagi yang mampu menembus kaca jendela.

Sadar diri kesiangan, aku melompat dari bunk bed, menyambar toiletries bag dan microfiber towel warna oranye, lalu membasahi badan dengan guyuran hangat shower Kimchee Guesthouse Sinchon. Penghuni lain masih terlelap melanjutkan mimpinya masing-masing, dengkuran-dengkuran ringan sayup terdengar dari koridor penginapan. Beruntunglah aku, inilah kesempatan untuk berlama-lama di shared bathroom. Sebetulnya kebiasaanku berlama-lama di kamar mandi saat bertraveling selalu menyimpan sebuah alasan. Bahwa siraman air hangat yang konsisten menghantam otot betis adalah terapi penghilang lelah terefektif. Tak perlu mencari jasa tukang pijat untuk membuat badan kembali segar.

Usai mandi dan berpakaian musim dingin dengan lengkap,  aku turun ke lantai satu dan memilih duduk sejenak di shared-lobby. Bergabung dengan beberapa turis yang rajin, merekalah yang sudah terlebih dahulu bangun dan menyantap sarapan yang sudah mereka siapkan di kulkas penginapan. Beberapa turis cantik “Negeri Beruang Merah” dan sekelompok traveler “Negeri Matador” tampak khusyu’dengan sarapan pagi buatan mereka masing-masing.

Aku? ….Yups, aku hanya sedikit sibuk membuka peta dan mencoba membuat pola visitasi hari itu. Begitu mereka usai bersarapan dan mulai meninggalkan ruangan, maka aku pun ikut meninggalkan penginapan. Entah mereka mau kemana tetapi aku telah memantapkan diri menuju “Menara Cinta”, apalagi kalau bukan Namsan Tower, julangan pemancar televisi setinggi 237 meter dan telah berusia 52 tahun.

Sebelum memasuki Stasiun Hongik University, aku melaksanakan ritual pagi, yaitu sarapan dengan rumus menu yang itu-itu saja, cup noodle dan nasi putih kemasan, bosan tapi tak ada pilihan.

Mampu ga kamu, empat hari makan beginian melulu?….Saran terbaik, jangan nggembel ke Korea kek guweh.

Mengulang-ulang kebiasaan untuk melawan kebosanan, aku berteriak “Kamsahamnida” kepada kasir sebelum keluar dari 7-Eleven. Biasanya aku selalu menunggu sang kasir melambaikan tangan sebelum keluar dari pintu minimarket. Mendapatkan lambaian tangan yang kumaksud, akhirnya aku benar-benar keluar dari minimarket dan berderap menuju platform Seoul Metro Line 2.

Beberapa detik setelah Seoul Metro singgah di platform,aku melompat masuk. Nuansa pagi yang sepi membuat barisan gerbong Seoul Metro tampak lengang. Ular besi itu mulai menelusuri lorong-lorong bawah tanah. Stasiun demi stasiun kulewati dengan cepat hingga akhirnya aku turun di Stasiun Euljiro sam (3)-ga untuk berpindah menuju Seoul Metro Line 3. Kini sasaran terakhirku adalah Stasiun Chungmuro.

Memerlukan waktu hampir tiga puluh menit untuk tiba di Stasiun Chungmuro. Di tujuan akhir itu, aku keluar dari gate, lalu bergegas mencari halte yang akan dilewati oleh bus bernomor dua untuk menuju Namsan  Tower.

Belum juga lima menit menunggu, bus itu tiba. Aku mengambil tempat duduk di tengah dan dalam sekejap larut mengikuti erangan mesin bus kala menanjaki jalanan berjarak sekitar dua kilometer dari Stasiun Chungmuro.

Perlahan tapi pasti, bus itu sampai juga di pelataran Namsan Tower. Bus berhenti pada sebuah halte nan panjang untuk berbagi dengan bus bernomor lain.

Jarak Namsan Tower dan halte bus yang berkisar 600 meter harus ditempuh dengan ayunan langkah. Akhirnya aku harus rela terengah-engah menanjaki jalur sisa menuju Namsan Tower. Di pertengahan langkah, engahan itu ternyata tak sempat kurasakan karena aku justru sering berhenti dan terpesona melihati pemandangan di bawah sana yang memamerkan keindahan Seoul dari ketinggian Gunung Namsan. Bisa dibayangkan jika malam tiba….Betapa indahnya.

Di depan Namsan Tower atau N Seoul Tower nama resminya.

Menaiki Namsan Tower memang identik dengan percintaan pasangan kekasih. Di atas tower, pasangan kekasih akan membeli sebuah gembok, lalu menamai gembok itu dengan nama mereka berdua yang kemudian dibubuhi tanda hati berwarna merah. Kemudian pasangan tersebut akan menguncikan gemboknya pada sebuah etalase panjang yang memajang beragam gembok cinta dari beberapa kurun waktu.

Yah….Aku nulis apa dong kalau beli gembok?

Duh….Siapa saja tuh yang jatoh cinta?

Namsan Tower selain menyajikan lansekap aerial kota Seoul, juga menawarkan beberapa resto kenamaan yang mungkin akan terasa murah bagi mereka yang dimabuk asmara, kalau buat saya ya ndak ada bedanya, tetap aja restoran adalah barang mahal.

Kunjungan di Namsan Tower memang terasa hambar jika dilakukan sendirian. Itulah alasan mengapa aku tak berlama-lama di atas. Aku memutuskan turun dan memilih menyeruput kopi buatan G-25 minimarket di seberang halte.

Memasuki minimarket, menyeduh secangkir kopi panas, lalu menyeruputnya perlahan. Tetapi aku terus diliputi rasa penasaran di setiap seruputan. Aku terus mengamati lalu lalang bus dengan nomor yang berbeda-beda, bukan bus no.2  saja seperti yang kutunggangi tadi.

Apa mungkin aku bisa mencari bus yang bisa langsung menuju Namdaemun Market  dari sini tanpa harus kembali ke Stasiun Chungmuro”, batinku kritis penuh rasa ingin tahu.

Kuputuskan menyeruput kopi hitam sambil berjalan menuju halte panjang di seberang minimarket. Aku begitu khusyu’ menyisir satu demi satu papan rute yang tertempel di halte. “Yes…I get it”, aku berseru riang ketika menemukan bus bernomor 402 yang secara langsung dapat membawaku menuju Namdaemun Market dari Namsan Tower.

Jadi aku hanya perlu menunggu bus saja sembari menghabiskan kopi………

Makan Malam di Tepian Banpo Bridge

Banpo Bridge yang gagah mengangkangi Han River.

Untung aku tak tenggelam dalam pulasnya tidur siang di Kimchee Guesthouse Sinchon. Lewat sedikit dari jam lima sore aku terbangun. Segera membongkar isi backpack, aku mencari toiletries bag dan microfiber towel untuk keperluan mandi pertamaku sejak 35 jam yang lalu.

Aku sengaja berlama-lama mengguyur diri dengan air hangat walaupun aku tahu ada seorang penghuni penginapan yang beberapa kali mengetuk pintu sebagai tanda memintaku untuk mempercepat mandi….Jahat banget guwe, kannn.

Usai mencuci kaos kaki, aku pun keluar dari kamar mandi dan melempar senyum pada seorang tamu perempuan asal Tiongkok yang menunggu sedari tadi. Tentu saja senyum hangatku itu berbalas cemberutan bibir darinya. “Maaf neng, abang dah lama kagak mandi, hampura nyakkk…..” .

Usai berganti baju dan mengenakan semua perlengkapan musim dingin, aku bersiap melanglang Seoul lagi hingga malam nanti.

Aku masih ingat dengan kata teman-teman sekantor yang memintaku untuk mengunjungi sebuah jembatan yang sering dijadikan latar dalam drama-drama Korea terkenal. Walaupun aku mengindahkannya ketika berangkat, tetapi entah kenapa sore itu aku berkeinginan kuat untuk mengunjunginya juga. Kata teman-temanku, jika malam tiba, di Banpo Bridge sering ada air mancur pelangi, perpaduan antara air mancur dengan permainan cahaya di kedua sisi jembatan. “Oke lah….ndak ada salahnya aku kesana walau bukan penggemar drama Korea”, aku akhirnya sudah memutuskan tujuan.

Dari Stasiun Hongik University, kini aku akan menuju ke Stasiun Seoul Express Bus Terminal, tempat pertama kali aku menginjakkan kaki di Seoul. Kenyang nanggung dari sepotong Kimbab yang kusantap di Stasiun Hongik University siang tadi sirna sudah. Kini perut mulai berdangdut ria merayakan kesewotanku menahan lapar. Tetapi karena kekhawatiran terjebak malam di Banpo Bridge aku memutuskan untuk menunda keinginan makan malam itu.

Aku segera melangkah menuju Stasiun Hongik University, menjemput kedatangan Seoul Metro Line 2 dan menuju ke destinasi yang kusasar. Saking fahamnya jalur Seoul Metro karena sedari pagi terus-menerus memelototi peta jalurnya, menjadikanku aware jika aku harus transit dahulu di Stasiun Euljiro 3 (sam)-ga dan harus pindah tumpangan di Seoul Metro Line 3.

Kurang lebih memerlukan waktu setengah jam untuk sampai di Stasiun Seoul Express Bus Terminal. Keluar dari gate 8-1 di stasiun itu, aku berjalan kaki menuju Banpo Hangang Park, sisi terbaik untuk menikmati indahnya Banpo Bridge.  

Perlu waktu 20 menit untuk bisa untuk bisa tiba di taman yang berada di tepian Han River. Memasuki taman yang mulai gelap dengan minim penerangan sebetulnya sedikit menciutkan nyali. Beruntung ada serombongan keluarga Korea yang memasuki taman dan menuju tempat yang sama. Dengan pura-pura menunjukkan ketenangan aku menguntitnya dari belakang….Hahaha, dasar pengecut kamu, Donny.

Rombongan yang sibuk berjalan sembari menyiapkan beberapa kamera itu membuatku yakin bahwa mereka akan menuju Banpo Bridge view point. Benar adanya, saya dan rombongan keluarga lokal itu akhirnya tiba di tepian sungai secara bersamaan.

Yeaaa…..nyampai juga.

Penampakan Banpo Bridge dengan gemerlap lampu memang tampak indah mengangkangi Han River. Aku sangat antusias duduk di tepian sungai demi menunggu momen pertunjukan air mancur pelangi itu dimulai. Detik demi detik, menit demi menit, bahkan aku sudah merelakan diri digulung suhu dingin kota, pertunjukan itu tak kunjung hadir.

Alhasil, dengan berakhirnya kunjungan keluarga lokal itu karena kekecewaan yang sama, membuatku terpaksa ikut undur diri dari tempat itu. “Masa iya, aku harus sendirian di tepian sungai yang sepi dan gelap begini….”, geramku sambil menahan lapar yang sedari tadi sungguh mengacaukan konsentrasiku.

Berjalan meninggalkan keelokan Banpo Bridge, aku sungguh beruntung bisa melihat keberadaan gerai mungil 7-Eleven di sisi lain taman.  Cahaya lampu dari dalamnya mengisyaratkan bahwa gerai itu masih buka. Lantas tak berfikir panjang, aku mempercepat langkah mendekatinya. “Enak nih, cup noodles disantap dengan nasi….”, semangatku hadir sembari mengingat cara makan sederhana yang selalu kupraktikkan selama berkunjung ke Korea Selatan.

Aku berseru girang berhasil mendapatkannya. Kegirangan itu semakin bertambah karena gerai 7-Eleven itu menyediakan tenda di sisi luarnya untuk menyantap makanan yang dibeli dari gerai. Unik, tenda itu dihangatkan dengan sebuah kipas angin yang baling-balingnya dibuat dari filamen pemanas.

Tuh……..

Tidur Siang di Kimchee Guesthouse Busan

Lupa ambil foto pas nginep….Hihihi.

Aku masih saja bediri termangu di utara alun-alun untuk menikmati kegagahan Gwanghwamun Gate , gerbang enam abad milik Istana Gyeongbok. Alun-alun Gwanghwamun dengan dasar batuan andesit serta paduan hijaunya rumput taman tampak mulai dipenuhi oleh arus kunjungan para pelancong.

Selain patung Admiral Yi Sunshin, patung emas Raja Sejong yang Agung-sang raja keempat Dinasti Joseon adalah tujuan penting para pelancong. Mereka terlalu terpesona dengan patung-patung itu ketika aku lebih memilih memperhatikan kesibukan Kedutaan Besar Amerika Serikat di tepian Sejong-daero Avenue yang bersebelahan dengan National Museum of Korean Contemporary History.

Tak terasa waktu telah bergulir lewat dari tengah hari, sisa kantuk usai bermalam di Seoul Express Bus Terminal membuatku tak mampu menyembunyikan rasa kantuk di pelupuk mata. Badan yang belum terguyur air semenjak 30 jam yang lalu juga membuat tubuh tak merasa nyaman.

Lebih baik pulang ke penginapan saja”, begitu seru batin menggugurkan semangatku untuk melanjutkan eksplorasi. “Sial….Aku menyerah kali ini”, dengan bersungut-sungut kesal, aku memasuki gerbang Stasiun Gwanghwamun.

Selamat tingga Distrik Jongno”, lirih batinku ketika melompat masuk ke gerbong Seoul Metro Line 5. Tanpa memperhatikan keriuhan di dalam gerbong, aku segera mengarah ke tempat duduk kosong di dekat sambungan. Tanpa basa-basi aku segera memejamkan mata saking kantuknya.

Aku kini menuju ke Stasiun Hongik University dengan sekali transit di Stasiun Chungjeongno karena untuk menuju Kimchee Guesthoouse Sinchon di Distrik Seodaemun aku harus menunggang Seoul Metro Line 2.

24 menit kemudian aku tiba di tujuan. Sebelum benar-benar meninggalkan Stasiun Hongik University, aku menyempatkan diri menuju T-Money card vending machine di pojok koridor untuk mengisi T-Moneyku yang hampir kehabisan saldo. Kali ini aku memenuhi kartu perjalanan kota Seoul itu dengan 10.000 Won, angka yang lebih dari cukup hingga akhir petualanganku di Seoul.

Hilir mudikku di Stasiun Hongik berakhir di sebuah G-25 minimarket untuk sekedar makan siang seadanya. Sepotong Kimbab kemasan berhasil kudapatkan dengan harga 1.300 Won saja. Kenyang atau tidak, hanya itu jatah makan siang yang harus kuterima.

Usai menyantapnya di meja minimarket, aku segera menaiki escalator yang menjulang menuju permukaan, melewati gang Sinchon-ro 2-gil, menyeberangi Sinchon-ro Avenue, lalu bergegas menuju penginapan.

Hooohh….You, Donny. Welcome, your room is ready”, begitu sosok resepsionis yang sama sejak pagi tadi menyambut kedatanganku.

Hi, Sir….Thank you. I think I should go to bed soon….Hahaha”, aku menjawabnya ringan sambil merengkung backpack biru yang sedari pagi kutaruh di pojok ruangan depan.

Oh yeah, you look tired

Yes, I spent my last night at Seoul Express Bus Terminal”, aku mengiyakan.

Usai resepsionis itu me-scan passport yang kuberikan, kunci kamar pun diberikan. Tak menunggu lama, aku segera naik ke lantai atas, memasuki kamar, melepas winter jacket dan sepatu, kemudian segera melompat ke bunk bed untuk memulaskan diri hingga sore nanti.

Wahai Diriku, Bumiku, Hutanku dan Masa Depan

Hutan Taman Nasional Gunung Palung/TNGP (sumber:https://id.wikipedia.org/).

Wajahmu kini wahai bumi…..

Walau aku tak memiliki banyak kuasa dalam misi penyelamatanmu, setidaknya aku selalu berusaha meringankan bebanmu. Hasrat yang tak bisa kusembunyikan bahwa aku ingin selalu membalas jasa atas apa yang telah engkau sampaikan kepada setiap penghunimu.

Bahan pangan yang kautumbuhkan dari tanahmu senantiasa kumanfaatkan dengan penuh dedikasi demi terciptanya gaya konsumsi sederhana. Berharap bahwa segenap bahan pangan itu menjadi manfaat merata bagi seluruh penghunimu.  

Bukankah menjadi bijaksana jika kelebihannya bahan pangan itu bisa disampaikan kepada penghunimu yang tak mampu?.

Bukankah menjadi lebih adil jika kelebihannya bisa disampaikan kepada makhluk hidup lain yang juga membutuhkannya.

Bukankah menjadi sempurna jika kelebihan akhirnya kami kembalikan ke tanahmu dalam bentuk bahan penyubur atau kompos.

Apa saja yang menjadi seterumu, secara bersamaan juga akan menjadi seteruku. Coba saja kausebutkan wahai bumi. Apakah itu plastik, karbon dioksida, metana ataupun pestisida?. Tentu aku berharap hanya menggunakannya pada batas-batas yang kauterima.

Apa saja yang menjadi sekutumu, secara bersamaan juga akan menjadi sekutuku. Coba saja kausebutkan wahai bumi. Apakah itu reboisasi, transportasi massal, pemilahan sampah atau pupuk organik? Tentu aku melakukan dan menggunakannya demi panjangnya umurmu.

Harapan demi harapan bahwa penderitaanmu terhentikan dari tangan tak bertanggung jawab yang lebih dari sekedar memanfaatkan, tetapi justru mengeksploitasi kandungan berharga yang kau miliki. Semuanya adalah ketamakan yang telah terbungkus rapi sebagai upaya mencari kesejahteraan.

Andai kau masih seperti dahulu wahai bumi,

Di masa-masa indah alammu saat mengiringi masa kecilku yang bahagia,

Sebidang tanah perkampungan yang membesarkanku, hijau dengan kehadiran sebuah hutan kecil dan persawahan nan menghijau sepanjang tahun. Aliran jernih air yang menerobos di sela-sela tanaman padi yang menguning, mengirimkan mina yang bisa menambah kualitas periuk warga.

Hutan yang menyediakan bahan pangan alternatif di masa-masa paceklik. Hutan yang mendinginkan kampung dari teriknya sang surya. Hutan yang menghiasi pagi dengan embun dan kabut yang menyegarkan di setiap permulaan hari.

Hingga kemudian, pengrusakan-pengrusakan itu menjamahmu di mana-mana,

Hamparan hutanmu mulai merana oleh kikisan hegemoni ekonomi. Pokok-pokok kayu yang telah lama berjasa menyelamatkan iklim dunia, kini tak dianggap lagi kedudukannya. Pokok-pokok itu dirobohkan demi nilai ekonomis berbagai jenis sawit untuk mengejar keuntungan sesaat.

Sedangkan di lain belahan, lahan-lahan hutanmu  mulai dikebiri oleh beton-beton angkuh industri ataupun hamparan panas permukiman para penghunimu sendiri.

Air sungai yang dahulu jernih, kini menghitam karena limpasan bahan pencemar. Kontur sungai yang dahulu mengirimkan rezeqi, kini berganti menjadi pengirim musibah. Air bah diluapkan sebagai simbol murka pada penghunimu.

Akankah masa depan masih ada, wahai bumi?

Wahai bumi, sediakanlah generasi  masa depan kami dengan hutan-hutan terbaik. Biarlah mereka belajar tentang alam dari hutanmu, menikmati sebagian pangan, sandang dan papan daripadanya, berekreasi dengan ilmu pengetahuan dari hutanmu dan didiklah supaya mereka menjadi penggiat yang senantiasa membela kelestarianmu.

Hutan, Laut dan Sungaimu

Wahai bumi….

Jika engkau diibaratkan sebuah tubuh maka hutan akan menjadi paru-parumu, laut menjadi jantungmu dan sungai tentu menjadi nadimu. Bersama ketiganya, engkau bisa terus menyertai kehidupan. Tak ada cara lain bagimu kecuali setiap penghunimu harus senantiasa peduli dalam menjaga hutan, laut dan sungai sebaik mungkin.

Terkhusus bumi Indonesia, ketika luasan hutanmu menjadi nomor kesembilan di dunia, lautanmu memiliki garis pantai terpanjang kedua dunia dan sungaimu memiliki panjang hampir seratus ribu kilometer, seharusnya ketiga aset bumi milik bangsa ini membuatnya digdaya sebagai pelopor penyelamatan bumi. Menjadi panutan bagi bangsa lain dalam menjaga alam seharusnya menjadi visi penghuni bangsa ini.

Wahai bumi….

Selain hutanmu, mengapa sungai dan lautmu harus kami pelihara sebagai satu kesatuan?

Kami faham bahwa nenek moyang kami lahir dari rahim maritim bumi Indonesia. Kami juga mengerti bahwa makna maritim yang kau sematkan dalam bangsa kami sesungguhnya adalah perpaduan keunggulan atas sungai dan muaranya, yaitu lautan.

Engkau telah menjadikan sungai-sungai bangsa ini sebagai tempat lahirnya peradaban besar. Kerajaan-kerajaan maritim lahir dan tumbuh pada masa keemasan sungai-sungai bangsa Indonesia. Sungai yang kau titipkan pada bangsa ini  telah menjadi hulu dan muasal adat istiadat serta kearifan bangsa kami.

Mungkinkah segenap penghuni bumi Indonesia ini lupa bahwa Kerajaan Sriwijaya dilahirkan di tepian Sungai Kampar yang subur. Batavia berkembang pesat berkat daya dukung Sungai Ciliwung dan kesultanaan paling besar yang dimiliki bumi Indonesia saat ini lahir dari rahim Sungai Mataram, apalagi kalau bukan Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.

Tapi kini sungguh ironis, sungai-sungai besar yang kautitipkan di bumi Indonesia sedang merana.

Kini, sungai bukan lagi menjadi sumber peradaban, melainkan menjadi sumber eksploitasi. Air dan arusnya dipaksa menjadi bagian dari hegemoni industri. Lebih miris lagi, sungai-sungaimu telah menjadi tempat sampah terbesar saat ini.

Sedangkan laut yang kauberikan, menderita kerusakan akibat pukat harimau yang dibentangkan, bahan-bahan peledak yang dinyalakan di atas terumbu karang dan berbagai macam racun sianida yang disebarkan hingga mengganggu keseimbangan ekosistemnya.

Hutanmu pun bernasib setara,

Fungsi hutan telah terkebiri secara perlahan sehinga mengalami gangguan saat menjalankan tugasnya sebagai penyangga utama keanekaragaman hayati bumi Indonesia. Hutan juga mulai terganggu tugasnya sebagai peredam jahatnya gas rumah kaca yang membahayakan bumi

Laju deforestasi di bumi Indonesia bahkan mencapai dua juta hektar per tahun, kini angka itu sudah melebihi batas lazim 1,3 juta hektar per tahun.

Kami sadar diri jika kemudian, hamparan sawit dan gundulnya hutan membuatmu memberikan respon atas masifnya intervensi tangan penghunimu dalam wujud kritisnya iklim dan juga bencana.

Semua perilaku tak bertanggung jawab itu telah membuatmu kian panas wahai bumi,

Penggundulan hutan-hutanmu tentu membuatmu tak sanggup lagi melindungi tameng alam milikmu di angkasa sana. Lapisan Ozon yang berperan penting untuk melindungimu dalam menyerap radiasi ultraviolet sang surya yang berbahaya kini lebih dari sekedar mengkhawatirkan.

Hingga aku mendengar kabar buruk bahwa rusaknya lapisan ozonmu telah menyebabkan gunung es Larsen S runtuh di Antartika. Kini gunus es seluas dua kali Pulau Bali itu telah menyatakan pensiun dari tugasnya mendinginkan bumi tanpa pengganti yang setara.

Masa Depan yang Diharapkan

Wahai bumi….

Generasi kami saat ini akhirnya harus mengemban kewajiban penting untuk mengintegrasikan hutan, sungai dan lautan sebagai kesatuan aset yang harus dikelola secara berkelanjutan. Hanya dengan sikap itulah yang mampu menjamin bahwa ketiganya masih bisa dinikmati oleh para penerus bumi Indonesia. Kami faham bahwa inilah bentuk keadilan dimana penerus kami di masa depan akan memiliki modal yang setara dengan generasi sebelumnya untuk membesarkan bumi Indonesia.

Dengan semua itu, akhirnya aku sebagai bagian dari generasi saat ini, bisa menaruh harapan bahwa dengan membaiknya hutanmu maka hal itu akan menjadi salah satu kekuatan pembangkit ekonomi bumi Indonesia selama 50 tahun ke depan.

Hutan yang kau titipkan untuk bangsa ini, hanya melalui program pembangunan berkelanjutan maka di masa depan akan menjadi sumber devisa favorit mengalahkan gas dan minyak bumi.

Begitupun dengan hutan bakau yang kau berikan, biarlah memberikan derivat terbaik bagi perikanan tangkap bumi Indonesia. Bumi Indonesia telah lama memiliki hasil perikanan tangkap terbaik ketiga di dunia, kelak akan menjadi yang pertama. Semoga hasil perikanan tangkap yang lebih dari 20 triliun itu akan dikembalikan untukmu dalam bentuk perbaikan area pesisir.

Demi kesemuanya itu maka hutanmu yang kini mengalami deforestasi harus segera kembali dijadikan hamparan hijau paru-paru dunia yang sehat. Budaya adopsi pohon harus dihidupkan di bumi Indonesia karena tidak ada ada kata terlambat untuk itu semua.

Generasi muda harus dibudayakan mencintaimu semenjak pendidikan dasarnya. Mereka harus dibudayakan gemar menanam pohon dimulai dari setiap rumahnya. Gerakan adopsi bibit pohon harus dibiasakan sedari awal sehingga mereka akan mencintai pohon dalam ruang lingkup kecil. Dengan begitu di saat dewasa mereka akan mencintai hutan dalam pemahaman yang lebih luas.

Reboisasi pohon durian oleh tim ASRI (sumber: https://alamsehatlestari.org/).

Semoga kejayaan hutan di bumi Indonesia akan kembali seperti masa lalunya. Produk-produk non-komersil yang melimpah seperti buah-buahan, umbi-umbian, madu, tumbuhan obat-obatan dan berbagai hewan layak konsumsi akan menjadi sumber kesejahteraan masyarakat. Sedang produk-produk komersil layaknya rotan-rotanan, damar dan berbagai bentuk getah-getahan akan meningkatkan kemakmuran bangsa Indonesia.

Aku sangat berharap bahwa semua pihak sudi dalam memegang teguh pembangunan hutan berkelanjutan dalam setiap aktivitas bisnis dan ekonominya, sehingga hutan bumi Indonesia akan tetap lestari sepanjang masa dan menjadi modal utama untuk memajukan bangsa di setiap zaman.

Seperti Apa yang ASRI Lakukan.

Wahai bumi….

Seharusnya pelestarianmu ini harus dimulai dari sebuah pertanyaan sederhana:

“Jika masyarakat dunia ingin berterima kasih kepada Anda karena melestarikan hutan, apa wujud terima kasih yang Anda butuhkan?”

Seperti apa yang didedikasikan Tim Alam Sehat Lestari (ASRI), hendaknya kita semua duduk bersama dengan setiap lapisan masyarakat bahwa hanya dengan memenuhi kebutuhan utamanya saja maka segenap masyarakat tidak akan merusak setiap jengkal hutanmu.

Bahwa hanya dengan terbentuknya masyarakat yang sehat dan sejahtera maka jaminan kelestarianmu akan terjaga, untuk kemudian langkah ini akan menginspirasi dunia.

Mungkin kita harus lebih mendengarkan ide-ide baik dari masyarakat karena kita seharusnya percaya bahwa mereka sebenarnya memiliki solusi tersendiri tanpa merusak keberadaanmu, wahai bumi.

Demi terciptanya visi mulia itu maka nilai dan prinsip dari Tim Alam Sehat Lestari (ASRI ) dalam menjaga bumi Indonesia ini bisa kita adopsi, yaitu:

1. BERMARTABAT : Pelayanan yang menjunjung tinggi martabat manusia dengan empati 

2. KESETARAAN : Pelayanan tanpa memandang suku, agama, gender, status ekonomi dan sosial, orientasi seksual dan sebagainya.

3. HARMONI : Keterkaitan kesehatan manusia dan lingkungan

4. KEKELUARGAAN : Kerja sama tim yang dapat berkolaborasi dengan pihak internal maupun eksternal dengan koordinasi aktif, ramah, dan sopan santun

5. BERINTEGRITAS : Jujur, disiplin, akuntabel, melayani dengan sepenuh hati dan bertanggungjawab

6. KETELADANAN : Pelayanan ASRI menjadi inspirasi menjadi perubahan menuju dunia yang sehat dan harmoni

7. MENDENGAR : Mendengar dengan cara radikal dan menghargai pendapat masyarakat

Akhirnya hanya kesadaran diriku sendiri, kefahaman masyarakat akan pentingnya kelestarian bumi dan dukungan penuh para pemimpin bumi Indonesia akan menjadikan bumi Indonesia tetap sehat dan lestari. Sehingga masa depan generasi kita bisa diletakkan pada bumi yang kaya.

#AlamSehatLestari

#ASRI #AdopsiBibit

#AdopsiPohon

#LombaASRI

#KompetisiBlogASRI

Sumber penulisan:

  1. https://alamsehatlestari.org/
  2. https://m.h6.com/
  3. https://infopublik.id/
  4. https://m.antaranews.com/
  5. https://bali.tribunnews.com/
  6. https://travel.tribunnews.com/
  7. https://ppid.menlhk.go.id/
  8. https://amp-kompas-com.cdn.ampproject.org/
  9. https://www.tnbukitduabelas.id/
  10. https://www.biotifor.or.id/
  11. https://ugm.ac.id/
  12. https://m.liputan6.com/
  13. https://id.wikipedia.org/
  14. https://pixabay.com/

Sepeda Ontel ala Pavilion Museum Rumah Kelahiran Bung Hatta

Perpaduan kuning, biru dan oranye itu sedikit ternoda dengan kelupasan cat dinding Banto Trade Centre. Tetapi bukan itu fokusnya, jabat tangan Ramlan Nurmatias dan Joko Widodo lah yang dari tadi membuatku terpana. Sepertinya Walikota dan orang nomor satu negeri ini telah sepakat perihal peletakan batu pertama proyek revitalisasi Pasar Ateh….Syukurlah, Bukittinggi sedang giat membangun rupanya.

Sementara itu, pelataran Banto Trade Centre menjadi area niagawan sayur mayur untuk menjajakan dagangan diatas gerobak dan motornya. Lalu jauh di depan sana, masih di bilangan Jalan Soekarno Hatta, plakat emas “Adipura Kencana” dijunjung oleh tiang tunggal berwarna putih. Menunjukkan bahwa kota ini diakui kebersihan oleh seantero negeri.

Sekitar dua kilometer sajalah, avku tiba di sebuah mulut gang. “Gg Komp Sabar” begitulah aksara dalam plat nama berwarna hijau yang ditegakkan berdempat dengan tiang hitam berukuran lebih besar dengan aksara putih tebal “Museum Rumah Kelahiran Bung Hatta Proklamator RI, Jl. Soekarno Hatta No. 37 Bukittinggi

Sebelas tahun Bung Hatta tinggal di rumah ini.

Adalah duplikasi arsitektur rumah aslinya yang apabila masih berdiri akan berusia 160 tahun. Sayang rumah itu telah runtuh di era 60-an, tetapi atas gagasan Ketua Yayasan Pendidikan Bung Hatta, dibangun ulanglah rumah itu.

Dibangun mengikuti lekuk aslinya, sesuai yang tergambar di memoir dan berbagai dokumentasi milik keluarga. Secara umum rumah ini juga dapat menggambarkan situasi dan kehidupan masyarakat masa lalu dan khususnya keluarga besar Bung Hatta.

Bangunan Utama

Rumah khas Bukittingi ini terdiri atas bangunan utama, pavilion, lumbung padi, dapur, kandang kuda, dan kolam ikan.

Bangunan utama sendiri terdiri dari dua lantai dan berada di bagian terdepan area rumah. Bangunan utama berfungsi untuk menerima tamu, ruang makan keluarga dan kamar tidur ibu, paman, dan kakek Bung Hatta.

Berikut sekilas pandang bilik-bilik pada kedua lantai bangunan utama:

Lantai 1.

Foto keluarga Bung Hatta.
Meja pertemuan keluarga.
Sumur.
Meja makan keluarga.

Lantai 2.

Kamar orang tua Bung Hatta, di ruangan inilah Bung Hatta dilahirkan.
Meja makan tamu.

Pavilion

Di belakang bangunan utama, dibangunlah sebuah pavilion. Bangunan tembok putih itu digunakan untuk ruang dapur, kamar tidur Bung Hatta, kamar mandi, kandang kuda dan ruang bendi. Dari ruangan kamar itulah, Bung Hatta memulai pendidikannya di Europese Lageree School (ELS) Bukittinggi. Di dalam kamar itu pula tersimpan sepeda ontel yang disebut sering dipakai Bung Hatta sehari-hari diberikan orang tuanya sejak usia 8 tahun.

Kamar Bung Hatta di dekat lumbung padi. Disebut sebagai Ruang Bujang.

Dia tinggal bersama sang kakek, Syech Adurrachman yang dikenal pula sebagai Syech Batuhampar. Sang kakek sendiri berprofesi sebagai kontraktor pos partikelir itu.

Di akhir kunjungan aku penasaran dengan profil Ma’ Etek Ayub sebagai sosok yang banyak membantu Bung Hatta dalam melanjutkan sekolah, pekerjaan beliau adalah Praktek “Dagang Waktu”. Kebingungan akan jenis pekerjaan tersebut, kuberanikan bertanya kepada seorang wanita tua yang bekerja merawat keseluruhan rumah itu.

Dapur.
Kandang kuda.
Bugi atau bendi sebagai kendaraan Bung Hatta kala sekolah.

Lumbung Padi

Selayaknya rumah-rumah zaman dahulu, saat bangsa ini masih mengalami kesulitan ekonomi. Lumbung padi adalah satu upaya untuk memastikan keterjaminan pangan keluarga.

Lumbung gedek penyimpan padi.

Usai tuntas menempuh pendidikan dasar, Bung Hatta melanjutkan pendidikan menengahnya di Meer Uitgebred Lager Onderwijs (MULO) atau sekolah menengah di kota Padang.

Menekan Biaya Logistik dalam Pembangunan Ekonomi

Armada dalam bisnis logistik (sumber: https://ljrlogistics.com/)

Data dari Kementerian Perindustrian mengungkapkan bahwa sistem logistik di Indonesia masih tertinggal dari Malaysia, Vietnam, Thailand, dan Singapura. Angka persentase biaya logistik pengiriman barang terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) di Indonesia mencapai 24%, masih lebih tinggi dibandingkan dengan Malaysia (13%), Vietnam (20%), Thailand (15%), dan Singapura (8%). Data ini tentu harus ditanggapi dengan serius karena angka tersebut akan menjadi pertimbangan investor yang akan berinvestasi di Indonesia.

Biaya logistik yang tinggi ini kemudian membuat peringkat Logistic Performance Index (LPI) Indonesia menjadi rendah, yaitu di posisi 46 di dunia, juga masih kalah dari Malaysia (41), Vietnam (39), Thailand (32), dan Singapura (7). LPI merupakan indeks pembanding sistem logistik secara global yang dibuat oleh Bank Dunia. Indeks ini berguna untuk mengidentifikasi tantangan dan peluang logistik serta perdagangan suatu negara.

Pemeringkatan LPI didasarkan pada enam aspek yaitu, efisiensi customs & border management clearance, kualitas infrastruktur perdagangan dan transportasi, kemudahan pengaturan pengiriman internasional, kompetensi dan kualitas jasa logistik, kemampuan melakukan tracking & tracing, dan frekuensi pengiriman tepat waktu.

Khusus aspek infrastruktur perdagangan dan transportasi, pemerintah saat ini menerapkan dua strategi utama untuk mengurangi biaya logistik. Pertama, pemerintah sedang mengebut pembangunan infrastruktur di berbagai daerah untuk mempercepat konektivitas barang dan jasa. Kedua, pemerintah juga berupaya keras untuk memperbaiki jaringan distribusi.

Saat ini pembangunan infrastruktur difokuskan pada tiga hal, yaitu infrastruktur pelayanan dasar, infrastruktur ekonomi dan infrastruktur perkotaan. Sedangkan pembangunan infrastruktur ekonomi sendiri berfokus pada pembangunan sarana dan prasarana pendukung kegiatan ekonomi. Demi mengejar semua ketertinggalan tersebut maka pemerintah banyak membangun fasilitas pada bidang transportasi.

Dengan hadirnya infrastruktur pendukung yang ideal tentu akan memudahkan aliran arus barang dari dan ke dalam negeri. Selain itu, infrastruktur pendukung juga akan menjadi daya tarik tersendiri bagi investor untuk menanamkan modal di Indonesia.

Infrastuktur adalah faktor non ekonomi yang sangat mendukung dan mempengaruhi jalannya roda pembangunan. Sedangkan infrastruktur sendiri merujuk pada sistem fisik yang menyediakan jalan, transportasi, telekomunikasi, bangunan gedung dan fasilitas publik lainnya.

Infrastruktur berperan dalam rantai logistik sebagai media penyaluran hasil produksi. Infrastruktur merupakan pilar yang menentukan kelancaran arus barang, jasa, manusia, uang dan informasi dari satu kawasan ke kawasan lainnya. Apabila kualitas infrastruktur jalan di suatu daerah buruk tentu akan mengakibatkan kenaikan biaya transportasi sehingga menurunkan daya saing produk dari daerah tersebut dibanding produk daerah yang lain.

Sebagai contoh, mahalnya biaya transportasi ditambah dengan panjangnya rantai distribusi daging sapi lokal dari timur Indonesia ke sentra pemasaran di pulau Jawa telah melambungkan harga komoditi tersebut ke titik yang terlalu mahal untuk bersaing dengan daging sapi impor. Di lain kasus, mengimpor buah jeruk dari Tiongkok ke Pulau Jawa ternyata lebih murah dibandingkan dengan mengirimkan jeruk Pontianak dari Kalimantan. Hal ini menyimpulkan bahwa buruknya kulitas infrastruktur di suatu daerah membuat biaya transportasi menjadi lebih tinggi dibandingkan dengan daerah lain yang memiliki infrastruktur jalan yang baik.

Ongkos pengangkutan merupakan salah satu unsur biaya produksi untuk menjamin sampainya ketersediaan barang yang diperjualbelikan di pasar. Oleh karena itu, adanya ongkos angkutan yang murah akan membuat biaya produksi dan harga jual yang lebih rendah pula. Dengan harga jual yang rendah maka akan memberikan dampak positif seperti bertambahnya kemampuan daya saing dari industri yang bersangkutan dalam menghasilkan dan memasarkan hasil produksinya, bertambahnya radius pelayanan pasar atas hasil produksi sebuah industri sehingga akan menambah luas dan jangkauan pasar.

Pertumbuhan aktivitas ekspedisi Indonesia yang sangat tinggi dalam satu dekade terakhir membuat optimalisasi angkutan barang menjadi sesuatu yang harus diprioritaskan. Beberapa langkah yang bisa dilakukan adalah membangun jaringan moda transportasi yang terintegrasi antara angkutan jalan, laut, udara, kereta api dan dry-port. Selain itu juga perlu dibangun terminal terpadu dan fasilitas pelayanan alihmoda untuk perpindahan barang secara cepat.  

Di tengah populernya moda angkutan jalan raya sebagai pilihan utama dalam sistem logistik nasional, pemerintah saat ini juga berusaha meningkatkan daya kompetitif moda angkutan kapal laut dan kereta api sebagai pilihan alternatif dalam rantai pengangkutan logisitik. Walaupun saat ini para pelaku dunia usaha masih menganggap bahwa tarif kedua moda angkutan tersebut tetap lebih mahal dibandingkan dengan moda angkutan truk.

Bahkan untuk menarik dunia usaha menggunakan moda angkutan kapal laut dan kereta api, pemerintah didorong oleh banyak kalangan untuk memberikan insentif kepada kedua moda angkutan tersebut supaya struktur biaya logistik menjadi lebih murah daripada truk dengan tidak mengabaikan kualitas layanannya.

Dari semua usaha yang dilakukan pemerintah tersebut menunjukkan bahwa untuk membentuk sistem logistik nasional yang baik maka rantai distribusi logistik harus bisa dieksekusi melalui berbagai moda angkutan secara bersamaan, yaitu darat, laut dan udara.

Logistik dalam Perspektif Perusahaan

Dalam era persaingan bisnis yang semakin kompetitif, kecepatan waktu dan ketepatan dalam memenuhi permintaan pelanggan menjadi prioritas utama yang harus dipenuhi oleh para pelaku usaha. Keputusan dan tindakan yang tepat dalam memilih jalur pendistribusian barang akan membuka peluang yang besar bagi perkembangan setiap lini bisnis.

Pengiriman barang yang cepat, aman dan dengan harga yang terjangkau adalah kebutuhan setiap bisnis saat ini. Tak terkecuali untuk para pelaku usaha khususnya di bidang distributor.

Secara sederhana dapat dikatakan bahwa kinerja sebuah perusahaan bisa digambarkan dari rantai logistiknya. Tidak sedikit perusahaan besar mengalami keterpurukan karena manajemen persediaan logistik dan pemasaran produknya tidak didukung oleh manajemen logistik yang mumpuni. Dari fakta ini dapat disimpulkan bahwa manajemen logistik adalah hal yang sangat krusial dalam aktivitas sebuah perusahaan.

Oleh karena itu peran sektor logistik menjadi sangat penting untuk menjawab tantangan tersebut. Sektor logistik tentu memainkan peranan penting dalam kelancaran arus barang dalam kegiatan ekonomi.

Sektor logistics Indonesia yang kini dipenuhi dengan jasa logistik telah membuat setiap pelaku usaha lebih selektif dalam menentukan partner yang dapat diandalkan untuk menangani aktivitas logistik dan distribusinya. Bukan hanya dari sisi seberapa kompetitif besaran biaya yang dapat ditekan, namun juga dari sisi seberapa baik kualitas pelayanan dan fasilitas yang dapat diterima.

Para pelaku usaha tentu memiliki concern yang tinggi dalam memilih jasa transportasi dan logistik karena banyaknya proses yang harus dilewati dalam aktivitas pengiriman logistik. Proses yang panjang dan memerlukan kehati-hatian itu dimulai dari penerimaan, penyimpanan, sortasi, pengepakan, pengukuran, penimbangan, penyelesaian dokumen, penerbitan dokumen angkutan, perhitungan biaya angkutan, klaim asuransi atas pengiriman barang, serta penyelesaian tagihan dan biaya lainnya yang berkenaan dengan proses pengiriman logistik tersebut hingga diterima oleh pelanggan.

Produsen elektronik, farmasi, apparel, food and beverages, kosmetik dan otomotif adalah beberapa pelaku usaha yang membutuhkan jasa pengiriman barang dan logistik dalam frekuensi yang cukup tinggi untuk memasarkan produknya.

Sukses Bersama PT. Lestari Jaya Raya

Terkait dengan jasa pengiriman barang dan logistik maka terdapat entitas jasa logistics terpercaya pasti aman dan efisien dan bisa dijadikan rujukan untuk bekerjasama. Entitas itu bernama PT. LESTARI JAYA RAYA yang sudah menjalankan bisnis distribusi sejak tahun 1998. Perusahaan ini berkedudukan di Makassar, Sulawesi Selatan. Pada mulanya area pelayanan pengiriman pertama adalah wilayah timur Indonesia yang mencakup daerah Sulawesi, Maluku dan Papua. Tetapi kini LJR sudah memperluas wilayahnya ke berbagai daerah di Indonesia. Walaupun bermula dari timur Indonesia kini LJR Logistics telah menjadi pelaku penting binis ekspedisi Jabodetabek.

Mengapa harus LJR Logistics?

PT. Lestari Jaya Raya bisa menjadi prioritas utama untuk dijadikan partner yang bisa mensupport rangkaian aktivitas logistik dan distribusi karena memiliki jaringan yang luas dan selalu berkomitmen untuk memberikan pelayanan terpadu dan unggul. LJR Logistics berkomitmen untuk memberikan jasa pengiriman lebih cepat karena jangkauan wilayah operasi yang luas serta armada pengirimannya menggunakan tiga akses utama yaitu darat, laut dan udara. Pelayanan yang diberikan LJR Logistics bersifat lengkap, cepat dan responsif sehingga memudahkan setiap pelaku usaha dalam mengirim bahan baku atau produknya.

PT Lestari Jaya Raya bahkan terus berupaya untuk meningkatkan performa melalui pembaharuan teknologi yang terintegrasi sesuai tuntutan di era Industri 4.0. LJR Logistics bahkan mengembangkan  aplikasi Android yang dapat mengakses informasi seputar biaya pengiriman, posisi atau status barang dalam proses pengiriman hingga riwayat pengiriman yang telah diproses. Aplikasi ini juga memungkinkan setiap pelanggannya terhubung dengan website yang dirancang khusus sebagai bank data untuk mengontrol, menyimpan dan menyediakan informasi dari setiap aktivitas pengiriman barang yang dilakukan.

Aplikasi Android yang dimiliki oleh LJR Logistics

Dalam hal ini, LJR Logistics juga melengkapi setiap armadanya dengan sistem GPS yang modern sehingga keamanan dan pengontrolannya bisa dijalankan secara maksimal. Hal ini tentu menjadi salah satu dasar kepercayaan dari para mitra bisnis LJR Logistics dalam mendistribusikan produk mereka.

Berikut adalah beberapa keuntungan yang bisa didapatkan ketika menggunakan jasa LJR Logistics:

1. Garansi 100%

Ini yang membedakan LJR Logistics dengan layanan kargo lainnya. LJR Logistics memberikan jaminan ganti rugi hingga 100% apabila ada kerusakan atau kehilangan barang yang bukan termasuk  force mejaure.

2. Harga yang terjangkau

LJR Logistics selalu memberikan pelayanan yang profesional dengan harga yang kompetitif untuk kenyamanan setiap mitranya.

3. Door to Door Service

Setiap mitra LJR Logistics tidak perlu mengkhawatirkan berapapun jumlah kargonya karena LJR Logistics menyediakan layanan penjemputan barang dan pengantaran hingga ke titik alamat tujuan.

4. Cakupan luas

Jangkauan pengiriman LJR Logistics sangat luas hingga ke seluruh pelosok Indonesia.

5. Aman dan terpercaya

LJR Logistics akan memberikan prioritas utama atas barang-barang yang dipercayakan. Proses packing di LJR Logistics dilakukan dengan sangat profesional dan memenuhi standard.

6. Tracking melalui handphone

Dimanapun mitra LJR Logistic berada dipastikan bisa mengecek status pengiriman barang melalui website atau aplikasi Android yang bisa didownload di play store (LJR Logistics).

7. Professional Customer Supportif

Pelayanan yang unggul adalah prioritas utama bagi LJR Logistics. Didukung oleh tim Customer Support yang handal, dedikatif dan profesional, LJR Logistics siap melayani mitranya setiap saat dengan standarisasi pelayanan yang ramah, cepat dan tanggap.

Pergudangan: Kunci Kesuksesan Distribusi

Gudang memegang peranan penting dalam meminimalkan biaya pengiriman. Untuk mengoptimalkan pengiriman sebuah produk maka setiap perusahaan memerlukan gudang sebagai pusat distribusi. Pusat distribusi yang strategis akan memungkinkan perusahaan menyimpan produknya untuk sementara waktu. Kemudian perusahaan akan mengirimkan produknya ke pelanggan pada waktu yang tepat dengan jumlah pengiriman yang optimal.

Atau sebaliknya, gudang juga berfungsi sebagai tempat untuk memecah barang yang datang dalam jumlah besar dari perusahaan pengirim untuk kemudian akan dikirimkan oleh jasa logistik dalam beberapa pengiriman kecil untuk mengefisienkan biaya pengiriman.

Keberadaan gudang juga memungkinkan sebuah jasa logistik membantu kliennya untuk mengombinasikan beberapa produk yang akan dikirim ke pelanggan. Hal ini dikarenakan sebuah perusahaan memproduksi beberapa komponen produk di pabrik yang berbeda-beda.

Kebutuhan gudang dalam aktivitas logistik semakin meningkat pesat seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan geliat pembangunan yang semakin merata di seluruh wilayah Indonesia. Pergudangan memainkan peranan penting dalam memenangkan persaingan dalam dunia usaha yang semakin ketat. Oleh karenanya kebutuhan akan gudang menjadi sebuah hal yang krusial dalam sebuah perusahaan.

Terlebih untuk wilayah Jabodetabek yang memiliki dinamika ekonomi yang tinggi setiap tahunnya. Dinamika inilah yang kemudian menumbuhkan 180.000 meter persegi gudang baru di tahun 2019. Bahkan diprediksi hingga akhir 2021, perekonomian di Jabodetabek akan membutuhkan 800.000 meter persegi gudang baru.

Merespon kebutuhan mendasar tersebut, maka LJR Logistics selain berfokus pada jasa ekspedisi juga juga menyediakan jasa sewa gudang Jabodetabek untuk mentupi kebutuhan pergudangan di kawasan Jabodetabek.

Gudang LJR Logistics (Sumber: https://ljrlogistics.com/)

Layanan pergudangan dari LJR Logistics ditujukan untuk membantu dalam meningkatkan kecepatan, efisiensi dan fleksibilitas yang lebih baik dalam rantai logistik pelanggannya. Dengan luas gudang lebih dari 4.000 meter persegi, memungkinkan LJR Logistics untuk membantu pelanggannya dalam mengkoordinasikan rantai distribusi produk. Manajemen pergudangan yang baik akan membantu setiap pelanggannya untuk mengatur kapan barang harus disimpan dan kapan saat yang tepat untuk dikirim. Tentu hal ini akan membantu setiap pelanggan untuk mengefisienkan biaya pengiriman.

Pengalaman yang baik dari LJR Logistics talah membuatnya konsisten dalam mengembangkan segala bentuk jasa dalam rantai distribusi logistik di Indonesia. Saat ini LJR Logistics memiliki enam layanan utama, yaitu air freight service, sea freight service, land freight service, packing and moving, warehousing dan special handlings shipment.

Jadi, apakah Anda memiliki kebutuhan pengiriman barang dan logistics?…..Berdasarkan data dan pengalaman LJR Logistics lah jawabannya.

#LJRLOGISTICS

#LOGISTIKJAKARTA

#EKSPEDISIMURAH

#WAREHOUSEJAKARTA

#PERGUDANGANJAKARTA

Sumber:

  1. https://ljrlogistics.com/
  2. http://sironline.id/
  3. https://ekonomi.bisnis.com/
  4. https://journal.itltrisakti.ac.id/
  5. https://supplychainindonesia.com/
  6. Jurnal Manajemen Transportasi & Logistik – Vol. 04 No. 01, Maret 2017 (Wahyu Wibowo, Irwan Chairuddin)
  7. https://ekonomi.bisnis.com/
  8. https://media.neliti.com/
  9. https://finance.detik.com/