Taksi dari Ahmad Yani International Airport ke Pusat Kota

Perdebatan pilihan itu selesai dengan cepat oleh otoritasku sendiri. “Tak usah taat dalam seni backpacker, Donny. Ini tugas kantor, manfaatkan saja fasilitasnya, naiklah taksi!”, batinku tegas mengalahkan beberapa opsi bodoh yang kadang sporadis muncul dalam sikap dan pilihan.

Dasar, si anak pengiritan”, candaan para kolega kepadaku, begitulah brand yang tersemat. Bagaimana tidak, setiap keluar bandara aku selalu berfikir otomatis bahwa biaya naik bus itu cuma seperempat biaya naik taksi. Jadi aku selalu rela berlama-lama menunggu kedatangan kotak raksasa beroda empat atau enam itu.

Konter Taxi Service di Ahmad Yani International Airport.

Sudah lewat Maghrib….

Telepon terus berdering dari kolegaku yang sedang melakukan sesi rehearsel training di kawasan Bukit Semarang Baru (BSB). Tanpa ragu aku mengangkat smartphone, ternyata dia hanya ingin mengabarkan bahwa aku lebih baik langsung menuju penginapan saja, karena rehearsel akan paripurna dalam lima belas menit lagi.

Lima menit mengantri untuk mendapatkan tiket taxi service seharga Rp. 50.000, aku segera di arahkan menuju sebuah taksi. Seorang pengemudi paruh baya nan sederhana berlari kecil menjemputku. “Assalamu’alaikum, mas. Mandap pundi?”, tanyanya penuh senyum sembari membantu mengangkat kardus di pundak kiri dan dua buah roll up banner ditentengnya di tangan kanan.

Jasa taksi bandara ini dikelola oleh Primkopad (Primer Koperasi Taksi Angkatan Darat) S-16.

Seperti biasa, backpack kesayanganku tetap tak pernah lepas dariku, bersamaku masuk dari pintu depan. Kubaca papan ID Card yang tertempel di dashboard.

Pak Ari, asli mriki pak?”, aku membuka pembicaraan sembari memasang safety belt untuk kemudian meluncur bersama ke hotel.

Wah mboten mas, aku asli pekalongan. Njenengan saking pundi niki wau?”, jawabnya sembari pelan menginjak pedal gas keluar dari area bandara.

Saking Ibu kota pak. Sampun dangu nyambut damel wonten Semarang pak, pripun rame nggih? “, dialog mengalir lancar menghangatkan suasana.

Nembe tigang tahun mas Donny. Sakderengipun, wonten Jakarta, gandeng anak sampun sami mentas, nggih pun, pindah nyambut damel mriki mawon. Caket ngomah”, ucapnya sambil terus ceria mengendalikan taksi putih meninggalkan daerah Tambakharjo.

Tugas kantor nopo pripun niki mas Donny? “, tanyanya menyidik.

Nggih pak, manawi mboten tugas kantor biasanipun pados bus pak. Bandara niki wonten bus ten pusat kuto pak? “, tanyaku mencari referensi.

Oh wonten mas Donny. Wonten BRT (Bus Rapid Transit) Trans Semarang. Mirah kok mas, namung Rp. 3.500, mas”, ungkapnya menjelaskan.

Aku dan Pak Ari.
Jalan Puri Anjasmoro pukul 17:24 WIB.

Lama sekali aku tak merasakan nikmatnya menggunakan jasa taksi bandara. Sehingga waktu 20 menit itu kumanfaatkan sungguh untuk menikmati business trip kali ini….Terimakasih ya kantorku tercinta atas kesempatan ini.

Perlahan taksi berbelok ke kanan, mulai merapat ke Jalan Arteri Yos Sudarso, menuju ke selatan. Aku berpindah dari jalan berpembatas beton yang Nampak masih baru , menuju ke jalan dua jalur di masing-masing ruas, berpembatas setinggi trotoar dan pepohonan rindang di setiap sisi kiri ruasnya.

Dalam dua puluh menit, dengan jarak tempuh enam kilometer aku tiba di The Azana Hotel Airport. Selembar alat tukar bergambar Soekarno dan Hatta kuserahkan kepada pak Ari. Sengaja kulebihkan ongkos perjalanan dan berbagi rezeqi kepadananya….Sadar diri, kalau sedang backpackeran, aku jarang melebihkan ongkos….Hahahaha.

Aku akan menginap dua malam di hotel ini.

Mari kita lihat dalam empat hari kedepan, Semarang punya apa saja….

Tukang Foto Dadakan di Terengganu Drawbridge

Mataku semakin berat, imbas terlalu lama duduk di bawah sebuah pohon, tentu masih di dalam kompleks Padang Maziah. Sesekali nada bising klakson kendaraan memberikan nadi pada taman istana yang sepi itu. Tetapi, nalarku masih saja mengatakan “tidak”, ketika niatan hati membujuknya untuk segera beranjak menuju tepian pantai.

Apa boleh buat, mataku lebih memilih melanjutkan kantuknya, “Siapa juga yang mau menjadi gosong karena siraman panas matahari”, nalarku bersikukuh untuk bertahan beberapa saat lagi dalam kesejukan dan keindahan Padang Maziah. Karenanya, aku semakin mantab saja menyandarkan badan ke sebuah dinding beton yang berfungsi sebagai pot raksasa dalam taman istana itu. Baru kali ini aku bisa duduk bersantai ria di sebuah taman di negeri seberang.

Jeda kerjapan mata semakin rapat ketika matahari perlahan tergelencir ke barat. Hampir setengah tiga sore, akhirnya kuputuskan untuk bangkit dan melangkah lagi.

Aku kembali menyusuri jalanan empat lajur dua arah menuju barat. Di depan sana tampak gapura besar kota. Melalui sisi kiri, perlahan tapi pasti aku semakin mendekatinya. Gapura kota nan gagah, mengangkangi Jalan Sultan Zainal Abidin yang melajur di bawahnya.

Daulat Tuanku – Allah Peliharakan – Sultan dan Sultanah Terengganu”, begitulah kalimat tiga baris yang terpampang di atasnya. “Islami banget Terengganu ini”, aku membatin pelan sembari berdiri mematung memandangi kalimat itu dari bawahnya.

Selepas gapura, hanya tampak deretan ruko empat lantai memanjang menyejajari jalanan di sisi kanan, sedangkan di sisi kiri diakuisisi oleh area hijau menghampar bertajuk Dataran Shahbandar. Adalah kompleks taman komunitas yang dipadu dengan gathering & events venue yang biasanya akan ramai di momen-momen penting seperti ramadhan, tahun baru dan hari-hari libur nasional.

Dataran Shahbandar sendiri mencakup area sepuluh hektar dengan tiga bagian utama, yaitu taman, plaza dan dermaga. Secara kasat mata aku bisa memperkirakan bahwa luasan taman mendominasi hingga 60% dari keseluruhan area. Sedangkan plaza yang digunakan untuk area tenda, car boot sale atau food truck mengambil porsi 30%, sedangkan sisanya difungsikan sebagai Shahbandar Jetty yaitu dermaga kayu yang digunakan untuk terminal transportasi menuju Pulau Redang yang berjarak 40 kilometer ke arah lepas pantai.

Aku berjalan santai melewati jalur pedestrian di tengah taman yang rimbun untuk menggapai area plaza. Plaza yang luas tetapi sepi itu berhiaskan signboad berbunyi “Bandaraya Warisan Pesisir Air”. Esok lusa tempat ini pasti akan dipenuhi lautan manusia demi merayakan pergantian tahun. Sedangkan pada saat yang bersamaan, aku akan berada di Kuala Lumpur.

Taman @ Dataran Shahbandar.
Plaza @ Dataran Shahbandar.

Sedangkan focal point dari perayaan tahun baru esok lusa berada pada selarik jembatan ikonik yang berada di sisi kanan kompleks Dataran Shahbandar. Adalah Terengganu Drawbridge yang telah menjadi gerbang laut Kuala Terengganu. Jembatan angkat ini membentang sempurna menghubungkan Kampung Seberang Takir di utara jembatan dan Kampung Ladang Padang Cicar di selatannya.

Inilah jembatan angkat pertama di Malaysia, bahkan di Asia Tenggara yang baru berusia 2 tahun. Jadi aku masih sempat menikmati wajah gresnya sore itu. Dengan panjang lebih dari 600 meter, jembatan itu gagah memagari Kuala Terengganu dari luasnya Laut China Selatan.

Dan perlu kamu ketahui bahwa kesemua kompleks Terengganu Drawbridge, Dataran Shahbandar dan Pasar Kedai Payang ini diikat dalam satu kawasan pengelolaan berjuluk Pesisir Payang.

Kini aku sudah berada di tepian pantai dan berusaha mengambil potret terbaik dari Terengganu Drawbridge. Di lain sisi, kerap sekali warga lokal berdatangan untuk mengabadikan diri di berbagai spot Pesisir Payang. Bahkan aku sesekali memurahkan hati menjadi juru foto dadakan untuk beberapa keluarga yang ingin mengabadikan seluruh anggotanya dalam satu gambar. Tentu, aku merasa senang karena bisa berkenalan dengan banyak keluarga yang sangat ramah dan bahkan tak ragu mengajakku bercakap ria untuk beberapa saat setelah mereka mengetahui bahwa aku berasal dari Indonesia. Tentunya, logat bicaraku mudah sekali ditebak oleh mereka. Dalam percakapan itu, beberapa diantara mereka memberikan banyak referensi perihal tempat wisata yang harus dikunjungi di Kuala Terengganu.

Boleh dikata bahwa soreku kala itu habis kugunakan untuk bercengkerama dengan warga lokal. Di bagian akhir sesi, aku memutuskan untuk menyegerakan diri mendekati Terengganu Drawbridge dan alhasil aku berhasil menikmati keindahan arsitektur itu dari jarak seratus meter.

Terengganu Drawbridge.

Di sekitar viewpoint Terengganu Drawbridge, tampak lima pemuda Malaysia keturunan India sangat sibuk. Aku pun memberanikan diri mendekati mereka.

Hi, saya bisa bantu fotokan, supaya semua bisa masuk dalam satu foto”, aku menawarkan diri dengan senyuman kecil.

Boleh lah….Trimakasēh. Sebentar sayè atur dulu setelan kamerē nih”, seorang dari mereka mendekatiku dan sibuk mengatur settingan kamera, sesekali dia mengintip jembatan ikonik itu dari lubang kameranya. “Sudēh siap”, dia menyerahkannya padaku.

Untuk beberapa saat aku mengatur posisi mereka, menukar posisi yang berpostur pendek dengan yang lebih tinggi, menyuruh ke kanan dan kekiri, serta meminta beberapa gaya. Beberapa foto kuperlihatkan pada si empunya kamera hingga dia menyatakan cukup.

Daaaan sebagai upahnya….Mereka ganti memotoku….Siap-siap, cekrekkkk…..taraaaaaaaa……..

aku tuh….wkwkwk.

Citilink QG 144 dari Jakarta (HLP) ke Semarang (SRG)

Rute penerbangan QG 144 (sumber: https://flightaware.com/).

Yeaaaa….Aku mendapatkan business trip akhir pekan. Seperti biasa, aku selalu mensiasati tugas kantor untuk tetap bisa menyalurkan hobby andalan….Yes, eksplorasi. Tugas pelatihan Jum’at dan Sabtu, akan kusambung dengan extend hingga Ahad dalam perjalanan gratisan ini.

SEMARANG….

Itulah kota tujuanku kali ini. Halim Perdanakusuma International Airport menjadi titik tolak dan Ahmad Yani International Airport menjadi titik mendaratku.

Bos : “Don, saya belum dapat orang untuk menghandle training di Semarang. Kamu bisa ga ya, kalau akhir pekan ini pergi ke Semarang?. Mendadak sih Don, sorry sebelumnya”.

Aku: “Hhmmhh (pura-pura mikir), boleh lah pak (sok jual mahal, padahal mau bingiiitttzzzz)

Bos: “Kamu berangkat Kamis sore, pulang Sabtu sore, nanti biar tiket diurus orang Marketing Support”.

Aku: “Siap, Pak”.

Setelah pembicaraan selesai, secepat kilat kutelpon staff Marketing Support yang dimaksud.  Aku minta kepulanganku di extend hingga Ahad sore. “Biar akomodasi hari Ahad aku yang tanggung, tapi tiket pulang tetap kantor yang bayar”, seruku padanya yang disusul dengan konfirmasi “OK, Pak Donny”.

Wah senangnya hatiku….Jalan-jalan lageeeeee.

Pagi itu, aku masih bekerja seperti biasa hingga tengah hari. Setelah menaruh beat pop hitam kesayangan di rumah, aku berangkat menuju Halim. Tak jauh, hanya 25 menit dari landmark tempat tinggalku, Terminal Bus Kampung Rambutan.

Aku tiba di bandara sangat mepet dengan boarding time, membuatku berfokus pada memotong panjangnya antrian di konter check-in. Entah mengapa, para calon penumpang yang mengantri di depanku selalu memanggil teman-temannya ketika sudah berada di depan konter, membuat jengkel karena banyak penumpang yang mengantri dibelakangku bisa otomatis menyodok antrian….Parah.

Aku mendapatkan tiket tepat sepuluh menit sebelum boarding time. Itulah….Aku tak lagi berfikir mendokumentasikan setiap sesi di Halim Perdanakusuma

Alhamdulillah, selamat dari keterlambatan.

Aku memasuki gate 6 dengan nafas cepat karena khawatir tertinggal penerbangan. Tak sempat mendinginkan keringat, panggilan penerbangan itu tiba. Tanpa sempat duduk, aku segera bersiap diri menuju Semarang sore itu.

Waiting room Halim Perdanakusuma International Airport.
Mengantri boarding di gate 6.

Citilink menjadi daftar maskapai ke-12 dari 28 maskapai yang pernah kunaiki. Bangga bisa menikmati penerbangan maskapai berwarna korporat hijau itu. Warna yang melambangkan tiga makna yaitu young-fun-dynamic. Inilah anak dari maskapai kenamaan Garuda Indonesia. Dan yang lebih membanggakan adalah terpilihnya Citilink dalam daftar The 20 Best Budget Airline for 2019 versi Skytrax.

Pemandangan keren, ya. Hanya perlu berjalan kaki dari gate 6 menuju ke pesawat.
Wooow….tepat di kaki pesawat.
Lihat ACnya, hingga berkabut begitu….Dingiiiiin.

Seharusnya aku duduk di bangku 23A, persis di window seat.

Seorang Ibu: “Mas, bangkunya tuker ya. Saya pusing kalau tidak dekat jendela”.

Aku: “ Oh silahkan Ibu, tidak apa-apa”, hmmmh perlahan kumasukkan Canon EOS M10 ku, tak ada gunanya kupegang, aku tak bakalan bisa meng-capture indahnya bumi dari bangku bernomor 23C.

Duduk di aisle seat.
Linkers….Inflight magazine milik Citilink.

Perjalanan menempuh jarak 400 km ini ditempuh dalam waktu 50 menit. Jadi ini adalah penerbangan singkat yang sangat tanggung untuk dibuat tidur. Lebih baik, aku menyusun itinerary dadakan dari beberapa referensi yang kudapat serta menyusun anggaran perjalanan.

Sore itu perjalanan sungguh berat karena sepanjang pantai utara Jawa penuh dengan awan yang membuat penerbangan penuh turbulensi. Kufikir semua penumpang terdiam karena memikirkan hal yang sama….Hahaha. Sementara seorang pramugara terus berpegangan pada bagasi kabin untuk menahannya terlempar karena turbulensi. Senang tapi menegangkan. Aku sendiri selalu berserah diri kepada Yang Maha Kuasa ketika melakukan penerbangan.

Begitu leganya, ketika suara lembut pramugari mengarahkan segenap penumpang untuk bersiap mendarat. Memasuki kota Semarang, cuaca berubah cerah dan pesawat mulai langsir dengan lembut dan akhirnya….Touchdown Semarang.

Oh itu, bentuk bangunan baru Ahmad Yani International Airport.
Terimakasih Citilink.

Pelatihan yang ditugaskan oleh kantor masih berlangsung esok hari dan rehearsel pelatihan sudah diwakilkan oleh rekanku yang datang dari kantor cabang Surabaya sejak pagi tadi. Dia memilih menggunakan kereta dari Surabaya menuju Semarang. Jadi, aku tak perlu terburu waktu menuju ke hotel setelah mendarat.

Seperti biasa, aku akan mengeksplore gerbang wisata Kota Semarang ini…..Yes, Ahmad Yani International Airport.

Kuy lah….

Pesan Sponsor di Istana Maziah

Buatku, mengunjungi sebuah negara akan menjadi sempurna rasanya jika mampu mengunjungi istana presiden atau rajanya. Entah kenapa istana presiden atau raja atau sultan menjadi ikon tersendiri dari sebuah negara. Oleh karenanya, jika memungkinkan aku akan berusaha sekuat tenaga untuk menyambangi bangunan istimewa ini. Sudah banyak istana negara di luar sana yang kukunjungi. Istana Nurul Iman (Bandar Seri Begawan), Grand Palace (Bangkok), Istana Malacanang (Manila), Istana Negara (Kuala Lumpur), Istana Gyeongbok (Seoul), Ōsaka-jō (Osaka), Mulee-aage Palace (Maldives) dan Istana Al Alam Royal Palace (Muscat) adalah beberapa contohnya.

Begitupun dengan perjalananku ke Kuala Terengganu kali ini, aku berhasil menyempatkan diri untuk berkunjung ke istana Kesultanan Terengganu…..Ulala, akhirnya aku menambah koleksi istana lagi

Tak tanggung-tanggung, aku mengunjunginya di hari pertama, tentu karena aku takut terlewat kan……

—-****—-

Tepat setengah satu, udara masih saja menyengat, membakar kulit muka yang seinchi pun tak pernah kulindungi. Aku meninggalkan gazebo yang mulai dipenuhi warga lokal untuk menghindari panas surya. Membuat mood ku untuk menikmati pesona Sungai Terengganu tak khusyu’ lagi.

Aku beranjak pergi….

Kuputuskan menuntaskan bagian lengkungan ke arah barat dari Jalan Sultan Zainal Abidin yang beralaskan beton dengan motif pavling block. Zainal Abidin sendiri diambil dari nama Sultan Terengganu yang sedang berkuasa saat ini.

Aku tahu bahwa di sekitar Pasar Kedai Payang terdapat sebuah destinasi wisata yang terletak tepat di atas bukit.

Terkenal dengan sebutan Bukit Puteri yang menjadi titik pantau Kesultanan Terengganu terhadap serangan musuh dari arah lautan. Sedangkan nama Puteri sendiri diambil dari mitos yang konon mengisahkan tinggalnya seorang putri di atas bukit dan suka membantu masyarakat sekitar.

Tuh dia….Bukit Puteri yang sedang di renovasi.

Pintu menuju Bukit Puteri dimana ya, Cik? “, tanyaku pada seorang penjual baju di bawah bukit.

Tertutup, Abang, sedang menjalani pengubahsuaian”, jawabnya lembut sambil menyisipkan senyuman manis…..Duhhhh.

Hmmhhh, mau bagaimana lagi….tak tercoretlah Bukit Puteri dari bucket list Terengganuku.

Masih dibawah sengatan surya yang semakin menjadi, aku bergegas menjauhi kaki Bukit Puteri untuk melanjutkan eksplorasi.

Karena sesungguhnya Bukit Puteri adalah bagian dari pertahanan Kesultanan Terengganu di tahun 1800-an, maka keberadaan istana kesultanan pasti tak bakal jauh dari bukit itu. Benar saja, dua ratus meter kemudian aku menemukan gerbang istana….Istana Maziah namanya.

Tanpa ragu, aku memasuk gerbang empat pilar kembar dengan lambang kesultanan di tengahnya. Lambang itu berwarna keemasan, berpuncakkan mahkota perlambang kedaulatan, di tengahnya tersemat keris pedang bersilang penanda senjata khas kesultanan, diapit dua kitab utama yaitu hukum kesultanan dan Al Qur’an serta belitan selampai sebagai penanda kebesaran kesultanan.

Suasana sunyi di depan kesultanan membuatku leluasa menikmati istana Kesultanan Terengganu dari taman luarnya. Taman berjuluk Padang Maziah itu lebih dari cukup bagiku untuk mendapatkan suaka dari ancaman surya.

Sedikit memakan waktu lama untuk bisa menikmati istana ini karena aku harus disibukkan dengan beberapa pesan sponsor. Yupz, sponsor yang tentunya sedikit banyak turut meringankan biaya perjalanan kali ini. Bergelut dengan tripod mini, membuatku tampak sibuk di depan gerbang istana. Berharap tak ada penjaga yang mengusirku ketika melakukan “aktivitas bisnis” itu.

Setengah jam kemudian, aku baru benar-benar bisa menikmati keindahan bangunan istana dari Padang Maziah. Mengambil tempat duduk di bawah naungan pohon-pohon besar yang tumbuh di sekitar taman, aku menghabiskan waktu tengah hariku di tempat istimewa itu.

Gerbang Istana Maziah.
Halo RICH….
Ntuh istananya….
Padang Maziah.
Adem, kan……

Beberapa pasangan muda-mudi tampak keluar masuk area taman hanya untuk mengabadikan diri di tempat-tempat ikonik di sekitar istana. Membuatku merasa tak sendirian. Aku memang sengaja berlama-lama di Padang Maziah demi menunggu matahari tergelincir dari titik tertingginya, berhubung tujuanku berikutnya adalah tempat terbuka yang letaknya persis di pantai utara Malaysia.

Ah rezeqi memang tak kemana, tak pernah menyangka aku bisa menjelajah hingga panturanya Malaysia….Tak pernah terfikirkan sebelumnya.

Hmmhh….Ngemeng-ngemeng, duduk di taman yang sejuk seperti itu membuat mataku menjadi berat demi menahan kantuk……#butuhsandarannih….Pohon mana pohon.

Tertambat di Pasar Kedai Payang

I’m not from India, I’m from Iran”, begitulah ucapan gemulai pejalan pria tetangga bunk bed menjawab pertanyaanku.

Do you know where is a middle eastern salon near here?. I think I need a salon for relaxation”, dia tetiba memberikan pertanyaan kepada resepsionis sekaligus si empunya hotel.

Aku tertawa dalam hati menemukan adegan “lucu”pagi itu, percakapan ringan sebelum aku beranjak melakukan eksplorasi Kuala Terengganu untuk pertama kali semenjak tiba.

Aku bergegas menuruni tangga untuk keluar dari The Space Inn, menyusuri Jalan Engku Pengiran Anom 2, menuju utara, mengulang kembali jalur awal ketika menuju penginapan. Tentu aku kembali merunut Jalan Air Jernih, berjumpa lagi perempatan dimana Politektik Kuala Terengganu menjadi tengara selain Menara PMINT serta menapaki ulang Jalan Masjid Abidin hingga tiba kembali di sisi timur Hentian Bas Majlis Bandaraya Kuala Terengganu.

Sisi timur Hentian Bas Majlis Bandaraya Kuala Terengganu.
Deretan konter tiket penjualan Bus Antar Negara Bagian.
Nah ini dia….Pohon aja “dibajuin”……(gambar akhirnya menyusul tampil karena permintaan teh Uchi…..Hahahaha).

Hanya saja, dua ratus meter sebelum tiba di terminal bus itu, aku terpesona dengan seni yarn bomb-ing yang menyematkan rajutan warna-warni benang pada deretan pohon di salah satu sisi trotoar Jalan Masjid Abidin, tepat di sisi barat PB Square. Membuat suasana kota menjadi lebih hidup.

Setiba di terminal bus, aku langsung berjibaku mencari tiket Bus Antar Negara Bagian untuk pergi menuju Kuala Lumpur esok lusa.

Yang lebih murah lagi ada lagi, Pak Cik?”, selorohku pada seorang penjaga konter tiket Bus Arwana.

Manè adè ….Cukup 43 Ringgit sahajè lah….ini paling murah”.

Okelah, saya ambil satu, Pak Cik….Buat tanggal 31”.

Beberapa menit lalu, aku telah mengamankan satu tiket menuju Kuala Lumpur, kini aku sedikit lebih tenang untuk mulai menjelajah destinasi pertama.

Yupsz, aku mau ke pasar rakyatnya Kuala Terengganu.

Pasar rakyat ini jauhnya hanya satu kilometer dari Hentian Bas Majlis Bandaraya Kuala Terengganu, jadi kuputuskan untuk berjalan kaki saja. Aku perlahan menikmati keramaian di sekitar Jalan Kampung Daik, di bawah naungan koridor beratap di sepanjang trotoarnya, sungguh jalur yang nyaman untuk berjalan kaki. Langkahku pun harus berbelok tepat di depan kantor Balai Bomba dan Penyelamat Jalan Kota yang warnanya identik dengan kantor-kantor pemadam kebakaran di Jakarta, merah menyala.

Kini aku merasa enggan untuk terus mengayunkah langkah gegara panas menyengatnya surya pada jalur di depanku yang sudah tak berpelindung. Akhirnya, aku memutuskan rehat sejenak di ujung koridor beratap, duduk di bangku beton, menunggu naungan awan melintas menutupi sengatan surya.

Kantor pemadam kebakaran Kuala Terengganu.

Beberapa saat menunggu sambil menikmati lalu lalang warga lokal, awan itu pun hadir, kini jalanan tak menyengat lagi, aku segera mengayunkan langkah cepat menyusuri ruas Jalan Sultan Zainal Abidin. Akhirnya, dua ratus meter di depan, aku tiba di Pasar Kedai Payang yang mulai ramai.

Pasar Kedai Payang memang tampak memamerkan keciamikan, konon bangunan berusia dua tahun itu berfungsi menggantikan bangunan lama yang sudah purna tugas.

Deretan tenda beratapkan kain putih tampak memanjang menyejajari muka pasar, memisahkan area parkir dengan area perniagaan. Tenda-tenda besar itu menunjukkan bahwa luasnya bagian dalam pasar tak cukup untuk memfasilitasi ramainya perniagaan di pusat kota Kuala Terengganu itu.

Kini aku sudah memasuki bagian dalam pasar yang sangat ramai, sekat-sekat kios bermotifkan bata merah masih tampak baru, gang-gang tampak penuh dengan lalu lalang para pengunjung. Beberapa badut dan penjual perlengkapan hewan peliharaan tampak menjejal di beberapa pojok kios penjualan songket, batik, kerajinan tangan dan jajanan khas Terengganu. Sementara di area belakang, nampak disediakan area khusus untuk deretan kios kuliner dengan menu andalan Nasi Dagang, Laksa, Nasi Minyak dan beberapa makanan khas lainnya.

Pasar Kedai Payang tampak belakang.
Bagian depan pasar.
Suasana dalam pasar.
Deretan kios pakaian.
Kios-kios kuliner di belakang pasar.
Yuk, nikmati dulu keindahan Sungai Terengganu!.

Aku terus saja meneruskan langkah hingga sampai di halaman belakang. Rupanya pasar ini tepat terletak di pinggiran Sungai Terengganu yang sangat bersih. Tampak Bot Penambang berhilir mudik memobilisasi warga Terengganu dari satu titik tepian ke tepian lain. Bot Penambang yang diandalkan sebagai taksi air kota tampak mengoriginalkan suasana Terengganu pagi itu.

Keindahan hamparan Sungai Terengganu akhirnya mulai membuatku jatuh cinta pada kota ini dan berhasil menjinakkanku untuk sekedar berlama-lama menikmati tiupan sepoi-sepoi angin semilir di sebuah gazebo beton yang merupakan bagian dari fasilitas umum milik Pasar Kedai Payang.

Ga usah buru-buru, Donny….Duduk dan nikmatilah”.

Terkesan pada The Space Inn

Berpetualang ke Negeri Jiran adalah hal mudah nan menyenangkan. Selain kuliner yang familiar dengan lidah Indonesia, wisata mereka juga jamak menyediakan penginapan super murah yang memberikan kemungkinan bagi siapapun untuk menjelajah negeri itu.

Pagi itu, baru saja aku melompat turun dari myBAS yang telah membawaku dari Bandar Udara Sultan Mahmud, kini aku sudah saja membalikkan badan kembali ketika baru saja menjauh ke utara meninggalkan Hentian Bas Majlis Bandaraya Kuala Terengganu. Sejenak  kusempatkan menatap dari kejauhan, menikmati lagi kesederhanaan terminal bus andalan “Negeri Keropok Lekor” itu.   

Sebentar kemudian aku menuju Kedai Alat Telekomunikasi WIN DOTCOM, kedai teramai di ruas Jalan Syed Hussein demi berburu SIM Card lokal dan layanan internet yang akan kugunakan selama empat hari berpetualang di Malaysia.

Di dalam kedai, aku ditawarkan berbagai jenis SIM Card oleh si empunya toko yang berketurunan Tionghoa. Sedangkan seorang gadis muda berjilbab hitam berwajah otentik Melayu dengan sabar menjelaskan ketidakfahamanku atas penjelasan cepat si empunya toko. Di akhir perniagaan itu, aku mendapatkan SIM Card dengan kuota 2 GB seharga 25 Ringgit. Harga yang sangat terjangkau, paling tidak aku telah dijamin oleh Hotlink selama 10 hari untuk memiliki akses berselencar di dunia maya.

Kini aku mulai menuju selatan, memasuki jalanan di dalam blok, melintasi Menara Kembar PB (Paya Bunga) Square, milik Perbadanan Memajukan Iktisad Negeri Terengganu (PMINT) yang menjadi Pusat Transformasi Bandar Terengganu atau khalayak lebih mengenalnya dengan nama UTC (The Urban Transformation Centre). Suasana mulai bergairah pagi itu, aktivitas rutin warga Terengganu baru saja dimulai.

Paya Bunga Square di pagi hari.
Perempatan di Masjid Jalan Abidin.
Menara PMINT di sisi perempatan.

Melihat arsitektur Menara Kembar PB Square, aku mulai faham bahwa ukiran khas Kuala Terengganu selalu diejawantahkan ke setiap bangunan kota. Apik dan elegan.

Meninggalkan Menara Kembar PB Square, aku kini mengarah ke selatan melalui Jalan Masjid Abidin hingga tiba di sebuah perempatan besar berhiaskan Slogan Sign Board Visit Beautiful Terengganu”. Menara PMINT yang difungsikan sebagai Majlis Bandaraya Kuala Terengganu tampak kokoh menempati salah satu pojok perempatan dan memamerkan slogan utama kota “Bandaraya Warisan Pesisir Air”.

Selesai menunggu pergiliran warna hijau traffic light, aku menyeberangi perempatan, melanjutkan menuju ke selatan. Memasuki Jalan Air Jernih, seratus meter di depan, aku berbelok ke kanan pada sebuah pertigaan. Letak The Space Inn tak jauh dari pertigaan itu. Penginapan yang kupilih itu adalah sebuah dormitory yang memanfaatkan kompleks ruko di sepanjang Jalan Engku Pengiran Anom 2.

Langkahku akhirnya sampai di depan pintu penginapan, tetapi aku diselimuti kebingungan karena pintu bertralisnya terkunci rapat. Untuk beberapa saat aku hanya terdiam berdiri di depan pintu penginapan tanpa satu ide apapun. Bahkan trotoar di sekitar tampak sepi, tak memungkinkan bagiku untuk bertanya kepada siapapun. Beruntung, selang sepuluh menit kemudian, ada seorang tamu penginapan menuruni tangga dan hendak keluar dari penginapan. Momen inilah yang kemudian kumanfaatkan untuk menyelinap masuk.

Aku menaiki tangga dan akhirnya tiba di meja resepsionis lantai 2 yang dijaga oleh si empunya penginapan, laki-laki setengah baya keturunan Tionghoa. Dia menyapaku ramah dan tentu menanyakan bagaimana aku bisa masuk karena tak memiliki access card. Aku menceritakan “teknik curang”ku dan dia terbahak mendengarnya.

Walhasil dia memberikanku access card untuk keluar masuk hotel setelah menyerahkan paspor untuk discan dan biaya menginap senilai 41 Ringgit per malam. Ihwal administrasi telah rampung, aku pun naik ke lantai 3 demi mencari bunk bed sesuai dengan nomornya yang tertera pada bagian belakang access card.

The Space Inn.
Ruang resepsionis.
Tempat tidurku.

Melepas sepatu di bagian depan luar, aku mulai memasuki kamar sepi dengan sejuk pendingin ruangan. Tidak semua bunk bed terisi sehingga memungkinkan bagiku untuk berpindah menempati kasur yang kusuka, bersebelahan sekat dengan pejalan asal Iran dan Jepang.

Tuan Okamoto

Pejalan asal Negeri Matahari Terbit itu berprofesi sebagai guru Bahasa Inggris di ibu kota, Okamoto namanya. Aku berkenalan dengannya ketika dia sibuk mengotak-atik gembok kecil yang disangkutkan pada locker handle penginapan.

There’s no key in my locker, did you get that padlock from the reception desk?”, aku memberanikan diri bertanya.

Oh, of course not. I bought it by myself”, dia menjawab penuh senyum.

Oh, Okay. I’ll better put my backpack on the bunk bed”, aku menimpali dengan mengernyitkan dahi.

Dari percakapan itulah, kami berdua berkenalan dan menjadi teman karib di penginapan.

Akhirnya sudah menjadi kebiasaan, saat pagi dan menjelang malam tiba, sebelum dan sesudah berpetualang, selalu saja Tuan Okamoto menjadi yang pertama menyapaku di meja shared-khitchen. Membuatku tak kuasa menolak ajakannya untuk sekedar berbincang ihwal apa saja sembari menyeruput kopi bersama. Racikan kopi tubruk buatan Tuan Okamoto selalu saja bercitarasa spesial. Entah kopi jenis apa yang dibawanya dari Tokyo.

Dapur bersama.
Tuan Okamoto yang Bahasa Inggrisnya jago….Tetapi tetap saja English aksen Jepang.

Pertemanan dengannya membuatku lebih mengenal budaya Jepang dan beberapa lokasi menarik di Jepang yang disarankannya untuk kukunjungi, Okinawa salah satunya. Dia pun merasa terhormat karena aku pernah mengunjungi negerinya tiga tahun silam. Begitupun aku, merasa terhormat karena dia sudah berpetualang hingga Aceh hanya demi menikmati kopi asli dari daerah di ujung barat Indonesia itu.

Mencuci

Keunggulan penginapan mungil ini adalah tersedianya sebuah ruang yang menghubungkan share-bathroom dan ruang tidur. Di ruangan kecil itulah, pengelola penginapan menyediakan hanger dan kipas angin. Selama menginap, kuperhatikan tak ada satupun pengunjung yang memanfaatkan ruangan penghubung itu.

Kecuali aku yang dengan santainya menggunakan ruangan ini untuk menjemur t-shirt yang setiap sore kucuci di shared-bathroom. Mencuci bukanlah hal yang rumit bagiku ketika berkenala, cukup mengucek t-shirt, celana panjang dan kaos kaki menggunakan sabun mandi, kemudian membilasnya di bawah kran, memerasnya kuat-kuat kemudian menggantungnya dengan hanger di ruang penghubung, tunggu saja esok pagi sampai kering..Beres kan?. Itulah mengapa lima potong t-shirt cukup untuk menemani perjalanan panjangku yang bahkan bisa berlangsung selama tiga minggu.

T-shirtku tuh lagi dijemur.
Kamar mandi bersama.

Air Kran

Adalah buah dari percakapan ringan dengan staff The Space Inn yang bertugas siang itu, akhirnya aku mendapatkan informasi bahwa air kran di Kuala Terengganu sangat aman untuk dikonsumsi secara langsung. Bahkan dia memperagakan di depanku bagaimana dia menadahkan gelas di bawah kran dapur, mengalirkan air kran dan kemudian menenggaknya dengan santai. “Tentulah aman….Lihat sajè, tiap hari sayè minum air nih”, selorohnya ringan sambil tersenyum tipis.

Tiga hari di Kuala Terengganu, bahkan aku tak mengeluarkan seringgit pun untuk berbelanja air minum. Harga air minum ukuran 1,5 liter di Kuala Terengganu berkisar 3 Ringgit, jika kamu berada tiga hari saja di kota itu, berarti kamu harus menganggarkan 18 Ringgit hanya untuk berbelanja air minum.

Bagaimana?….Bermanfaat kan air kran Kuala Terengganu?

Jadi, kalau kamu pergi ke Kuala Terengganu, mau nginep dimana???….

Lion Air JT 257 dari Padang (PDG) ke Jakarta (CGK)

Ini bukan pertama kali bagiku menaiki Lion Air, pernah kunaiki maskapai ini pada rute Solo-Jakarta, Jakarta-Surabaya, Jakarta-Singapura, atau sebaliknya. Hanya saja, ini adalah kali pertama pengalamanku menjajal Boeing 737 MAX 8, jenis pesawat fenomenal, yang sedang “grounded “ semenjak kecelakaan ganda, satu di Indonesia dan kedua di Ethiopia, dengan penyebab yang sama.

Aku akhirnya berhasil mengeksplore Minangkabau International Airport dalam gerimis, tapi nanti saja kusampaikan. Aku masih menyimpan sebuah petualangan repetisi ke Padang pada sebuah business trip di awal tahun 2020. Jadi harap bersabar jika ingin mengintip keotentikan Minangkabau International Airport dari blog ala kadar ini.

Drop Zone di Departure Hall Minangkabau International Airport.

Aku diturunkan tepat di depan lobby keberangkatan oleh DAMRI berukuran tiga perempat, tetapi setelahnya, aku tak segera memasuki check-in area. Aku lebih memilih mengambil beberapa gambar ketika hujan sedang merubah fasenya menjadi gerimis lembut. Kulakukan hingga beberapa gambar menjejal di kartu memori Canon EOS M10ku.

Mari segera masuk area check-in!

Penerbangan lokal yang hanya mensyaratkan tampilan booking confirmation di layar telepon pintar serta kartu identitas biru langit bernama sama, memudahkan penumpang memasuki check-in area.

Harus kusediakan kesabaran karena selepas meninggalkan konter check-in, aku akan menunggu Si “Singa Merah” datang lebih lama….Delay, gaesss!. Aku memang telah bersiap dengan kondisi itu. Bukan perkara waktu, tapi perkara terjangkaunya harga tiket maskapai ini yang menjadi prioritasku.

Setelah menaiki escalator menuju Departure Gate, aku duduk sebentar di commercial hall yang berlokasi di sebelah screening gate. Membereskan setiap perlengkapan agar sedikit rapi dan nyaman ketika memasuki kabin pesawat nanti. Sementara backpack 45L milikku memilih berdiam di lambung pesawat demi menyelamatkan payung bermotif pelangi seharga Rp. 50.000 yang kubeli di Pelabuhan Tiga Raja lima hari lalu.

Kejutan tiba, saat menuju musholla untuk menunaikan ibadah shalat maghrib, aku bersua kembali dengan Boris, Tukang Pos dari Slovakia.

Aku        :     “Hi, Boris….What happen to your flight?

Boris      :     ”Hi, Donny, It’s crazy…..Very long delay with Citilink

Aku tak lama bercakap karena Boris sudah mulai memasuki antrian menuju gate, dia terbang ke Surabaya, lalu akan melanjutkan perjalanan ke Malang begitu mendarat. Stasiun Gubeng menjadi pilihannya untuk bertolak dari Kota Pahlawan. Informasi itu kudapat ketika berbincang di jok belakang Maestro Travel lima jam silam. Yang kuamati, botol air mineral pemberianku masih utuh terselip di sebelah kiri backpacknya….Hahaha, entah bagaimana air itu lolos dari screening gate.

Setelah menunggu lama, akhirnya penerbangan JT 257 mulai memanggil penumpangnya. Aku mulai mengantri dan bersiap melakukan perjalanan menuju Soekarno Hatta International Airport dengan penerbangan seharga Rp. 563.000. Tiket ini sendiri kubeli 11 hari sebelum keberangkatan.

Melalui aerobridge, aku memasuki badan pesawat,  sebetulnya aku baru mengetahui bahwa selongsong terbang ini berjenis Boeing 737 MAX 8 setelah salah satu awak pemegang microphone menginformasikannya ketika peragaan standard keselamatan penumpang sedang dilakukan.

Selain gres, kesan pertama yang kudapat setelah duduk di salah satu window seat jenis pesawat ini adalah kelegaan dan tampilan futuristiknya. Pesawat sudah berada pada posisi terbaiknya untuk menyalakan mesin jet, pilot menunggu konfirmasi untuk segera mengudara. Beberapa menit kemudian aku benar-benar meninggalkan Padang.

Malam yang sedikit mendung membuat pesawat sedikit terguncang menubruki awan-awan rendah di langit Minang. Yang kusaksikan kemudian adalah sekuel-sekuel pertunjukan pelita bumi yang dipaksa bejeda oleh awan-awan hitam tipis sebagai bintang iklannya. Indah dan mempesonaku sebagai pengantar tidur. Detik-detik selanjutnya hanyalah

Gelap….

Geelaaap……..

Geeelaaap…………

Aku tidur berselimut rasa capek yang luar biasa setelah enam hari berkeliling tanah Sumatera. Sepertinya aku genap tidur selama 1 jam 45 menit, ekuivalen dengan waktu tempuh penerbangan itu. Terpejam sejauh 700 km lebih bersama halusnya performa pesawat milik maskapai swasta terbesar di tanah air ini.

Aku tiba di Cengkareng lewat tengah malam.
Maskapai yang telah genap mengudara selama 20 tahun.
Soekarno Hatta International Airport (CGK) adalah mainhub dari Lion Air.

Aku tiba dalam kantuk, lalu tergopoh menyetop kehadiran Bus DAMRI menuju Terminal Kampung Rambutan. Aku tiba di rumah dalam hantaran ojek pangkalan dan mensyukuri nikmat Allah atas kesempatan eksplorasi yang dianugerahkan yang menjadi bab kesekian dalam cerita perjalanan hidupku.

Saatnya menutup cerita perjalanan ke tanah Sumatera. Dan beralih ke perjalanan berikutnya.

Kemana ya????

Yes, SEMARANG…….

myBAS dari Sultan Mahmud Airport ke Pusat Kota Kuala Terengganu

Serupa dengan pengalaman ketika berkunjung ke Ipoh setahun sebelumnya. Di beberapa kota di Malaysia, mencari keberadaan bus menuju Pusat Bandar dari gerbang masuk kota menjadi sesuatu yang langka di dunia maya, sangat susah ditemukan. Konsekuensinya adalah, aku harus berjibaku mencarinya on the spot ketika tiba di tujuan. Ketenangan dan kekuatan mental sungguh diuji untuk menemukan bus umum itu.

Mengeksplorasi seisi Sultan Mahmud Airport, aku menyempatkan diri untuk bertanya kepada seorang petugas cleaning service yang sedang mendorong janitor trolleynya. Melalui percakapan sederhana, dia memberitahukan bahwa ada layanan bus menuju Pusat Bandar setiap satu jam. myBAS, nama bus itu dan kendaraan umum tersebut akan menurunkan penumpang di lantai atas bandara.

Berbekal informasi penting itu, aku memutuskan segera naik ke Departure Hall untuk memburunya. Tetapi beribu sayang, baru saja aku keluar dari gerbang depan Departure Hall, bus itu sudah mengepulkan asap tipis, menggerungkan mesin dan meninggalkan bandara.

Well, satu jam lagi”, aku mengeluh ringan.

Momen menunggu yang sebetulnya membosankan itu, kumanfaatkan untuk menikmati suasana sekitar bandara dari lantai atas. Selepasnya, aku terduduk mengampar di ujung teras Departure Hall demi menunggu kedatangan myBAS.

Mengisi waktu menunggu, aku memutuskan mencatat semua pengeluaran yang sudah kubelanjakan semenjak meninggalkan rumah kemarin siang. Lalu lalang kendaraan pribadi yang menurunkan calon penumpang penerbangan benar-benar kuhiraukan, hingga aku sadar bahwa sedari tadi banyak orang memperhatikan keberadaanku ketika berlalu lalang. Mungkin terasa sedikit aneh, ada seorang yang duduk di tepi teras menunggu bus. Aku sendiri sedikit heran, kenapa tak disediakan tempat duduk di teras luas itu. Tentu tak mungkin, aku harus berdiri selama satu jam menunggu bus itu datang. Hal ini mirip dengan pengalamanku di Manila ketika ditegur petugas MRT ketika aku duduk di lantai menunggu MRT datang.

Tepat satu jam, suara mesin yang sediki menggerung menyeruak dari ujung kanan Departure Hall, perlahan bus bandara itu merangkak naik ke lantai atas. Aku segera berdiri dan melambaikan tangan sebagai tanda aku akan menggunakan jasanya. Bus itu perlahan melambat dan berhenti tepat di depanku.

Melaju bersama myBAS menuju Pusat Bandar.

Aku melompat naik dari pintu depan bus berukururan sedang dengan kapasitas 34 bangku itu. Memberikan kepada sopir ongkos sebesar 1,8 Ringgit dan duduk di bangku belakang. Penumpang didominasi oleh para wanita dan aku sungguh kagum bahwa semuanya mengenakan jilbab. “Kental nian nuansa Islam di Terengganu”, aku membatin pelan.

Tak ada satupun penumpang yang turun dari bus itu. “Ah, mungkin orang Terengganu lebih suka menggunakan mobil pribadi untuk pergi ke bandara, tapi apa peduliku, yang penting aku bisa ke Pusat Bandar dengan biaya murah”, aku menyimpulkan dalam hati.

Dalam duduk aku menikmati dialek lokal yang dilontarkan antar penumpang, dialek Melayu yang selalu saja kurindukan ketika aku sudah berada di rumah nanti. Aku masih berada di aisle seat ketika myBAS pertama kali berjalan meninggalkan bandara, aku harus menunggu beberapa penumpang turun untuk bisa menikmati pemandangan Kuala Terengganu dari tempat duduk di sisi kaca.

Waktu yang kunantikan tiba ketika setelah beberapa menit, bus menurunkan penumpang dan menyisakan beberapa bangku kosong di sisi kaca, aku mengambil bangku paling kiri di bagian tengah dan mulai mengikuti laju bus yang memamerkan pemandangan orisinil Kuala Terengganu.

Pada suatu waktu, pemandangan Sungai Terengganu dan penampakan pusat kota di ujung jauh sana sangat menarik perhatianku. Sementara barisan kapal penumpang dan Boat Penambang tampak hilir mudik di hamparan sungai nan luas itu, menunjukkan kekuatan ekonomi Kuala Terengganu didukung dari perairan.

Tampak di kejauhan: Felda Residence Kuala Terengganu, Terengganu Drawbridge, UTC Terengganu dan Wisma Darul Iman.
Suasana di Jalan Masjid Abidin.
Suasana Jalan Air Jernih. 1,5 kilometer dari Hentian Bas Majlis Bandaraya Kuala Terengganu
Aku sampai.
myBAS di Hentian Bas Majlis Bandaraya Kuala Terengganu.

Pemandangan berikutnya yang tertampil adalah beberapa bangunan pemerintahan satu lantai yang menempati beberapa sisi jalan menuju pusat kota. Bus terus mengikuti markah jalan yang membimbing menuju Pusat Bandar, sementara markah  lain menunjuk arah ke Muzium Negeri Terengganu. Jalan besar menuju Kuantan pun tak lupa diberikan petunjuk arah, itulah jalan keluarku menuju Kuala Lumpur esok lusa.

Tak terasa, lima belas menit sudah berlalu, myBAS yang kutunggangi mulai merapat ke Pusat Bandar. Sepuluh kilometer sudah aku terpapar spoiler wisata Kuala Terengganu yang membuatku kian penasaran.  

Turun dari myBAS mungil itu aku segera melangkahkan kaki menuju The Space Inn tempatku menginap.

Petualanganku di Kuala Terengganu pun dimulai…..

Sejenak Mengintip Bandar Udara Sultan Mahmud, Kuala Terengganu

<—-Kisah Sebelumnya

Dalam pencarian di dunia maya sebelum keberangkatan ke Kuala Terengganu, aku tak pernah menemukan sematan kata International pada namanya. Aku hanya terus menduga bahwa bandara yang akan kutuju ini hanyalah bandara domestik yang hanya melayani penerbangan dalam negeri.

Ternyata aku hanyalah sedikit benar, tetapi tetap saja salah besar pada ujungnya. Karena bandara ini juga menyediakan penerbangan internasional, walaupun hanya untuk keperluan haji dan umrah, yaitu penerbangan langsung menuju King Abdulaziz International Airport di Jeddah.

Kini aku melayang di atas Distrik Kuala Nerus. Sungai Terengganu nampak lamat ketika Malaysia Airlines MH 1326 perlahan menurunkan segenap flap di kedua sayap besinya. Lembaran-lembaran besi itu perlahan mendorong pesawat ke bawah menuju landas pacu tunggal milik Sultan Mahmud Airport.

Meluncur di atas landas pacu, aku disuguhkan pemandangan bangunan mungil berwarna kekuningan berdiri anggun memamerkan corak khas. Ukiran-ukiran indah pada lisplang dan ornamen kayu di sepanjang dinding bandara seakan membawaku ke pintu gerbang era kesultanan tempoe doeloe. Sedangkan atap-atap bertingkat pada pojok-pojok bandara menambah kewibawaan dan kesan klasik.

Arrival Hall

Pesawat paripurna sudah menyelesaikan tugasnya dan berhenti lembut di atas apron beralaskan beton kokoh tak berpelapis. Juluran aerobridge menyambut dan memberikan jalan untukku dan penumpang lain untuk menikmati keindahan bagian dalam bandara.

Malaysia Airlines 1326 di apron.
Koridor menuju arrival hall.

Kuning….menjadi warna keagungan Melayu yang konsisten dipamerkan. Papan kayu setinggi pinggang yang melapisi dinding membuatku serasa tak jauh dari rumah. Sementara permainan pola ubin tiga warna membuat suasana sepanjang lorong kedatangan lebih hidup.

Melangkah menuju Dewan Ketibaan Domestik, nuansa pariwisata Malaysia tampak nyata dalam iklan-iklan dinding di seantero ruangan. Gambar-gambar yang sudah familiar dibenakku, diperlihatkan dengan indahnya, Bot Penambang legendaris yang telah berlayar selama 90 tahun, Batu Burok Beach dengan keindahan pasir putihnya serta Traditional Trishaw yang menawarkan kindahan tur kota semakin membuatku tak sabaran saja berada untuk merapat ke tengah kota.

Jargon-jargon pariwisata Malaysia pun menimbulkan euforia yang selalu menumbuhkan rinduku pada Malaysia. “Cuti-Cuti Malaysia” menjadi jargon wisata domestik, “Malaysia Truly Asia” yang menjadi marketing campaign Kementrian Pariwisata dan “Beautiful Terengganu” yang menjadi slogan pariwisata terakhir milik Negara Bagian Terengganu, tampak ramai memenuhi lorong-lorong kedatangan.

Aku tiba di Dewan Ketibaan Domestik usai menuruni escalator, di lantai bawah aku menemukan konter pariwisata tak berpenjaga yang membuatku leluasa mengambil brosur-brosur pariwisata Kuala Terengganu.

Seperti bandara pada umumnya, tentu Balai Ketibaan ini di dominasi oleh konter-konter persewaan mobil, konter tiket taksi, toko souvenir dan restoran. Di lantai ini juga disediakan Area ATM dan Ticketing Counter. Tampak konter tiket milik Malaysia Airlines, Air Asia dan Firefly berada di sana.

Sementara area tempat duduk umum memanfaatkan ruang kosong di sekeliling tiang-tiang bandara dengan keberadaan tempat duduk tanpa sandaran.

Arrival Hall.
Jalur kendaraan di depan arrival hall.
Sultan Mahmud Airport yang begitu indah.

Naitku untuk mengeksplorasi bandara yang namanya diambil dari nama Sultan Terengganu ke-16 ini membuatku tak terburu-buru untuk meninggalkannya. Kini aku telah melangkah keluar dari bangunan bandara untuk melihat keindahan muka bandara yang dibangun untuk menggantikan bangunan bandara lama tiga belas tahun silam.

Menyeberangi  jalur yang dipenuhi taksi bandara, aku mulai menelusuri koridor dengan atap khas Terengganu membelah lahan parkir yang luas. Akhirnya di ujung koridor aku bisa leluasa menikmati keindahan bandara ini.

Departure Hall

Untuk menyempurnakan kunjungan, aku melangkah menuju Departure Hall di lantai atas. Toh, esok lusa aku tak akan mengunjungi bandara ini lagi demi menuju kembali ke Kuala Lumpur. Aku lebih memilih menaiki Bus Antar Negara Bagian yang tentu menawarkan tiket lebih murah. Aku akan langsung membelinya setiba di pusat kota nanti.

Menggunakan escalator, aku tiba di lantai atas. Tentu aku hanya menemukan sederetan konter check-in dan screening-gate yang tak mungkin ditembus. Aku lebih memilih berjalan keluar dari Departure Hall dan menikmati suasana bandara dari Drop-off Zone lantai atas. Setiba di luar, aku menemukan meriam-meriam kuno yang ditata apik menjadi penghias muka Departure Hall.

Drop-off zone lantai atas inilah yang nantinya menjadi tempatku menunggu selama hampir 45 menit untuk sekedar bisa menikmati jasa bus bandara menuju pusat kota.

Lapangan parkir dilihat dari Departure Hall.
Jalur kendaraan di depan Departure Hall.

Petualangan di Bandar Udara Sultan Mahmud pun rampung.

Bus DAMRI dari Kota Padang ke Minangkabau International Airport

Kusantap dengan lahap otentiknya cita rasa tambusuolahan usus sapi dengan telur, tahu dan bumbu di dalamnya– sebagai santap malam terakhir dalam seminggu petualanganku di tanah Sumatera. Sedikit insiden kuliner mengganggu di pertengahan kunyahan. Benda kenyal itu kufikir menjadi kesatuan dari menu tambusu….Oh, ternyata…..Itu karet gelang.

Pemilik restoran : “Sepertinya Uda nih orang jauh?

Aku                              :     “Dari Jakarta, Da

Pemilik restoran     :     “Kerja Da di Padang

Aku                              :     “Oh, ndak Da. Saya sedang jalan-jalan saja

Pemilik restoran     :     “Ohh…Habis darimana saja, Da?

Aku                              :     “Beberapa hari lalu saya keliling Medan, Toba, Siantar, Pekanbaru dan Bukittinggi, Da. Padang yang terakhir, ini saya mau terbang ke Jakarta

Pemilik Restoran    :     “Wah, mantab nih, Uda. Totalitas jalan-jalannya

Percakapan ringan itu terhenti dengan datangnya Calya hitam yang akan mengantarkanku ke pool Bus DAMRI di Jalan Hasanuddin. Dalam hujan lebat, akhirnya aku membasahi jok depan taksi online itu. Beruntungnya si pemilik sangat ramah dan tak menghiraukannya, walaupun kendaraannya adalah mobil baru yang masih menebar kuat aroma pabrik.

Jalan Hasanuddin.

Tak seperti yang kubayangkan, ternyata kemegahan pool bus DAMRI dalam mindsetku hanya diwujudkan oleh ruangan tenda terbuka yang tak lebih baik dari shelter bus kota pada umumnya.

Pool Bus DAMRI Bandara.

Aku menunggu kedatangan Bus DAMRI yang akan memindahkanku dari pusat kota Padang menuju ke Minangkabau International Airport yang jaraknya sekitar 25 kilometer dan memerlukan waktu tempuh sekitar 40 menit. Itu semua bisa ditebus dengan harga Rp. 23.500.

Sembari menunggu kedatangan bus DAMRI, aku terus mengamati permainan sepak bola ala kampung oleh anak-anak belasan tahun yang berhambur memenuhi lapangan Imam Bonjol Square untuk berpesta hujan sembari memainkan si kulit bundar.

Imam Bonjol Square.

Kondektur Bus DAMRI tiba-tiba memanggilku, “Da, ayo segera naik, kita akan berangkat!”. Aku bahkan tak menyadari bahwa bus DAMRI itu telah merapat sedari tadi.

Itu dia Bus DAMRI Bandara.

Kondisi koridor bus DAMRI yang basah menunjukkan bahwa Minangkabau International Airport pun tak luput dari guyuran hujan. Ini memberi sinyal bahwa aku tak akan leluasa mencari bahan untuk menulis konten tentang Minangkabau International Airport. Wah….Alamat, aku bisa terlewat satu konten penting.

Sepi penumpang.

AC bus DAMRI yang sangat dingin membuatku menggigil karena T-shirtku sendiri sudah terlalu lembab. Sedikitnya penumpang sore itu, membuatku tak malu untuk memutuskan untuk berganti t-shirt di atas bus. Duduk di bangku terbelakang dan tak ada yang memperhatikanku ketika bertelanjang dada….Hahaha.

Mungkin karena hujan deras, sehingga banyak orang yang enggan berada di jalanan dan lebih memilih menunda sementara hajat mereka masing-masing. Karenanyalah jalanan tampak lengang dan membuatku cepat tiba di Minangkabau International Airport.

Minangkabau International Airport.

Saatnya pulang ke Jakarta menunggang Boeing 737 MAX 8 milik maskapai “Singa Merah”.