The Story of Buddha’s Death at Watugong Pagoda

The moped was lauched with all its might by Titan heading south of the city. 15 kilometers away, 30 minutes in length. He said that I would be brought to the highest pagoda in Indonesia, in Pudakpayung area. Almost 12:00 hours, Titan and I arrived there, right on the edge of Perintis Kemerdekaan Street. Entering the gate, I just realized that it was a Buddhist monastery or worship complex, named Vihara Buddhagaya Watugong.

I passed a building with a roof shape which was similar to roof top at Grand Palace, Bangkok. If Grand Palace has a golden roof, this building will be brick red. This building is called Dhammasala Vihara. I started exploring it from top floor which was used as a multipurpose hall then entered its room in downstairs.

Dhammasala Vihara.
The first floor of Dhammasala Vihara is a praying room, decorated with a golden Buddha statue.

Leaving Dhammasala Vihara, I slowly approached second main section of monastery. This was what Titan meant earlier. The seven-story pagoda was with its nicknamed as Avalokitesvara Pagoda. Avalokitesvara itself comes from Sanskrit word “Avalokita” which means to hear down and “Isvara” which means sound. Meanwhile, Avalokitesvara in Chinese language is called by two words, namely “Kwan Im”. Meanwhile “Kwan Im” itself is a manifestation of compassion from Buddha.

Therefore, this temple is also known as Goddess Kwan Im Pagoda. Some people call it as Metakaruna Pagoda or Love Pagoda because of its existence to honor Kwan Sie Im Po Sat figure, Goddess of Love.

Sidharta Gautama statue under Bodhi Tree, a 65 year old Bodhi Tree.
Avalokitesvara Pagoda rises 45 meters in high.
Me dan Titan.
The 5 meter high statue of Goddess Kwan Im is located inside Avalokitesvara Pagoda.

Having finished walking around Avalokitesvara Pagoda which was guarded by God statues which arranged around each side on ground floor, I started exploring its courtyard and garden. There were twin gazebos with two layers of roofs which were used by visitors to sit and rest because they were tired after exploring vast monastery area.

Meanwhile, on other side of its courtyard was Sleeping Buddha Statue (Buddha Parinibbana), which reminded me when visiting Pha That Luang in Vientiane exactly five months before my visitation to this monastery. Next to Sleeping Buddha Statue, lined Ariya Atthangika Magga Monument, which represented eightfold main path as a practice for attaining highest happiness (Nibbana).

Gazebo around pagoda.
Buddha Parinibbana which describes passing of Buddha between two Sala Trees.

I slowly started to leave Buddhagaya Vihara. 7 meters tall Ashoka Monument was also visible. A monument made from solid stone and had lion head. A meaning which is contained in this lion head is that no matter how wild a lion is, when we know its character, it will be easy to conquer.

And at the end, I passed Sanchi Gate and Watugong Monument. This gate is a replica of a gate in front of Sanchi Stupa at India. The gate was built as a symbol of respect when entering temple building.

Meanwhile, Watugong Monument was built to show origin of area name, i.e “Watugong”. The name was taken from an original natural stone in the form of a gong (Javanese musical instrument).

Almost finished in visiting.
Ashoka Monument to commemorate King Ashoka from India who obey in practicing Buddhism.
Watugong Monument and Sanchi Gate.

My visitation in Semarang had really ended. Titan would take me to Sleep & Sleep Capsule to pick up my backpack and supplies. After that I would go to Ahmad Yani International Airport and returned to Jakarta.

Thank you Semarang.

Berburu Souvenir di Metro Point, Manila

Aku masih menikmati nostalgia dengan menikmati seporsi Busog Meal Tuna Omelette di salah satu gerai 7-Eleven di sisi Epifanio de los Santos Avenue, nasi kemasan yang menjadi makanan sehari-hariku saat menjelah Manila empat tahun silam. Murah, hanya Rp. 9.000 sudah bisa menikmati makan siang di tengah hiruk pikuk Manila.

Sewaktu kemudian, aku mulai menaiki jembatan penyeberangan terdekat. Arus manusia begitu cepat melewati jembatan penyeberangan itu, sebagian besarnya tak luput memperhatikanku yang lebih memilih diam di pertengahan jembatan dan memandangi kemacetan dari salah satu pagarnya.

Siang itu aku membatalkan diri mengunjungi Manila Baywalk, aku tak berani mengambil resiko terjebak kemacetan dan tertinggal pesawat untuk kembali ke Jakarta. Sejam ke depan aku hanya akan berkutat di sekitaran Stasiun LTR EDSA saja dan segera kembali ke NAIA.

Perjalanan empat tahun lalu tak berbuah souvenir, kala itu Manila menjadi pijakan pertama sebelum menuju ke Hong Kong, Macau dan Shenzen. Dimana-mana, orang akan mencari souvenir di bagian akhir. Kali ini Manila adalah bagian akhir dari petualangan, maka kuputuskan untuk mencarinya.

Busog Meal Tuna Omelette kesayangan.
Jembatan penyeberangan menuju Stasiun LRT EDSA.
Menikmati kemacetan di Manila.
Penampakan Metro Point dari jembatan penyeberangan.

Kini pandanganku tertuju pada sebuah pusat perbelanjaan yang tepat bersebelahan dan terkoneksi langsung dengan Stasiun LRT EDSA. Aku sedikit berhenti mengamati stasiun itu, teringat ketika aku di geledah sebelum memasuki stasiun itu empat tahun silam karena aku terlalu asyik memotret setiap sisinya sehingga menimbulkan kecurigaan para security . Manila memang sedikit ketat dalam hal keamanan di setiap akses penting publiknya.

Aku hanya melewati gerbang stasiun itu dan beringsut masuk menuju melalui connector ke arah Metro Point. Pusat perbelanjaan yang tak cukup besar, tak lebih bagus dari Grha Cijantung. Yang kuingat hanya terdiri dari lima lantai. Di lantai kedua tersedia deretan toko yang lebih rapi daripada konter-konter yang berada di lantai bawah. Lantai bawah adalah lantai yang paling memungkinkan bagiku untuk mencari souvenir. Aku tak bisa mengeksplorasi lantai teratas, karena tampak terdapat gerai besar yang dijaga oleh security. Mungkin lantai ketiga digunakan untuk bisnis yang lebih privat dan menyasar kalangan tertentu.

Praktis aku hanya berkeliling di lantai bawah dan mencari beberapa souvenir, fridge magnet dan gantungan kunci yang akan kubagikan untuk teman-temanku di Jakarta.

Suasana pertokan di Metro Point.
Time Zone.
Bagian ujung lantai tampak sepi.

Tak membutuhkan waktu lama untuk menghabiskan setiap sisi lantai dasar. Perdagangan di lantai dasar ini lebih mirip dengan aktivitas yang sama di Pasar Baru, Jakarta. Berisik dan padat. Setelah menemukan beberapa souvenir yang kucari akhirnya kuputuskan untuk keluar dari pusat perbelanjaan itu dan bersiap untuk menuju NAIA kembali dan terbang ke Jakarta.

Crowdednya kios di lantai dasar.
Lantai dasar.

Kufikir waktuku di Manila kali ini telah menjadi transit nostalgia walau hanya berlangsung selama tiga  jam saja di tengah kesibukan kota itu.

Eating Mangut at Kampung Pelangi

Kampung Pelangi Kalisari (Kalisari Rainbow Village) is three kilometers at south of Sleep & Sleep Capsule, which was a place to stay during my extended period in Semarang. At ten o’clock in the morning, I had driven through Imam Bonjol Street then continued to Pemuda Street, riding an online motorcycle taxi, I wanted to finish my curiosity about the beauty of a tourist village. By visiting “Kampung Pelangi Kalisari“, I don’t have to insist on going to Malang to enjoy the same beauty in “Kampung Jodipan” and “Kampung Tridi“, “Kali Code” in Yogyakarta or “Kampung Teluk Seribu” in Balikpapan.

Last night, I also contacted an old friend who life in Semarang, his name is Titan. It so happened that he took the time to meet up. We agreed to meet in Kampung Pelangi. He would take me around Semarang on his motorbike. Just see in next article, where I would be brought by him.

Arriving at destination, I took time to look for breakfast in a stall complex which was located along the contour of Semarang River which separated Dr. Sutomo Street with houses in Kampung Pelangi. I ate Rice with Mangut (processed smoked stingray, typical from Pati City) very heartily.

A row of stalls at Kampung Pelangi Kalisari front gate.
Pati’s typical “Mangut” cuisine.

I started to enter Kampung Pelangi through a small arch patterned bridge. On this bridge, existence of Flower Market and Kasmaran Park had been informed to tourists through a signpost. Meanwhile, Semarang River looked neat with presence of colorful painted river wall, complete with sidewalk right on river side.

I started to enter Kampung Wonosari (the real name of Kampung Pelangi) through a sloping alley with colored pavling blocks, decorated with colorful umbrellas which provided shade from the sun, rows of flower pots made every aisle looked beautiful and information boards were placed at consistent distance. At some points of climb, a break point was provided in the form of a concrete seat, allowing some climbers who were tired to rest temporarily.

The bridge before entering Kampung Pelangi.
Semarang river.
Pedestrian path.
Information board with location map.

When I reached at hill top, precisely below at a giant signboard “Kampung Pelangi“, there was a burial complex called “Taman Bahagia Wirawati Catur Panca“. This public cemetery was history of Kampung Pelangi origin. It was said, initially, Kampung Pelangi area was designated as a public burial area. But then some residents came and established settlements around this cemetery until it became crowded today.

I didn’t know where the end of road, some tourists got off their vehicles in a parking area. Meanwhile, some residents were lightly chatting at a coffee shop, showing me where the best vantage point to see the city from a height. Show the hands of coffee connoisseurs, located in an open attic belonging to a resident, which when I climbed it made my gaze was brightened by city view without any obstacles.

“Taman Bahagia” cemetery.
Kampung Pelangi” giant signboard

When I was enjoying a nice view of city without sun’s rays, came to the same attic, Mr. Asep from Bogor City. Similarly, he was also currently extending in Semarang after his out-of-town assignment as a Civil Servant. Suddenly I got a traveling companion and a warm conversation was inevitable. I admired him as a person who was young at heart, had same habits as me, it turned out that his hobby was traveling by taking advantage from every moment of his duty at out of town.

Titan finally called me using his smartphone. He was waiting at front gate, where I first entered Kampung Pelangi an hour ago. Immediately, I finished our conversation that was having fun. The surprise was, Mr. Asep preferred to come down with me and continued our conversation while we descended from Kampung Pelangi.

Towards the highest attic in Kampung Pelangi.
Amazing view from top of Kampung Pelangi.
Come on, Donny!. I can take your photo, for your travel memories!” Pak Asep volunteered.

I was at bottom of Kampung Pelangi. Saying goodbye to Mr. Asep, my gaze began to sweep across sides to find Titan. “Over here, Donny!“, Titan called me. Oh, he was sitting at a coffee shop. Meeting with my second old friend in Semarang after last night I also met Ezra.

I left Kampung Pelangi in back seat of Titan’s motorbike. I was ready to go to next destination.

Transportasi Umum dari NAIA ke Pusat Kota Manila

Seperti pada kunjungan pertamaku di Manila pada 2016 silam, kali ini kunjungan transitku akan menuju tempat pertama yang sama, Stasiun LRT EDSA.

Entah kenapa, Stasiun LRT EDSA selalu menjadi tempat pertama yang kutunjuk ketika memperhatikan peta transportasi kota itu. Seakan tempat itulah yang paling mudah dicapai dari Ninoy Aquino International Airport (NAIA). Kemudian dari stasiun tersebut, aku bisa menuju kemanapun sesuka hati menjelajah Manila.

EDSA adalah singkatan dari Epifanio de los Santos Avenue, nama jalan yang melintas di bawah stasiun LRT itu. Sedangkan Epifano de los Santos adalah nama sejarawan dan jurnalis terkenal Filipina.

Baiklah…Mari menuju Stasiun LRT EDSA dan mengenalnya lebih dekat.

Di luar bangunan terminal, security berseragam putih dengan high-powered firearms (senjata api bertenaga tinggi) memanggilku. Mereka rupanya memperhatikan aku yang sedang ragu memilih arah. Seingatku untuk menunggang Jeepney ke pusat kota, aku harus berbelok ke kiri dari exit gate terminal seperti saat kunjunganku ke Manila 2016 silam. Atau mungkin dulu turun di terminal yang berbeda kali ya?.

Security      :     “Hello Sir, come here, please!”, ucapnya dengan mimik tegas dan galak.

Aku              :     “Yes Sir”, perlahan aku mendekat, daripada menimbulkan masalah yang lebih besar.

Security      :     “Show your passport to me!”, dia menatapku tajam.

Aku              :     “This”, kuserahkan dengan tegas dan berani juga.

Security      :     “Where do you going in Manila?”, jawabnya sambil menyerahkan paspotku

Aku              :     “Can you show me, Where should I stop a bus or a  jeepney to Manila Baywalk?”.

Security      :     “It will better if you go to EDSA station, then you can go to Manila Baywalk from there”, dia menujuk ke sebuah jalan di kanan bangunan terminal.

Aku              :     “Thanks Sir

Security      :     “In Manila, if you don’t know Tagalog language, It will be better if you ask to the bus driver about their destination

Aku                    :  “Oh Okay I see”.

Aku keluar dari bangunan Terminal 1 NAIA.
Di halte kecil inilah aku menunggu bus kota menuju Stasiun LRT EDSA.

Aku terus memperhatikan setiap bus kota yang lewat, aku terus mencari tulisan EDSA di setiap kaca depan bus. Lima belas menit tak kunjung menemukannya, kuberanikan diri mulai bertanya pada setiap bus yang berhenti mengambil penumpang.

Aku                 :     “EDSA Station,Sir?”.

Kondektur    :     “No No No”,

Tanya jawab yang terulang-ulang terus hingga beberapa bus kota tak mempedulikanku karena aku bukanlah penumpangnya. Hingga akhirnya, merapatlah bus berwarnna krem kombinasi biru bertuliskan papan nama tujuan Boni, Ortigas, Cubao dan terakhir EDSA yang digantung berjajar ke bawah di kaca depannya. Tampaknya itu nama-nama stasiun LRT/MRT yang dilewati oleh bus itu.

Aku                 :     “EDSA ?”

Kondektur    :     “Come in!”

Aku memasuki bus itu dan duduk di bangku tengah sisi kanan. Di dashboard atas tertulis jelas Jayross Lucky Seven, nama perusahaan otobus itu. Bus kota yang lumayan nyaman, ber-AC dan LCD TV di bagian depan. Tak lama setelah duduk, seperti bus-bus umumnya di Indonesia, kondektur itu menghampiriku dan menarik ongkos perjalanan sebesar Rp. 9.000.

Akhirnya ketemu juga bus menuju Stasiun LRT EDSA.
Duduk dan bersiap menikmati jalanan kota Manila.

Ah, aku akan melewatkan untuk naik Jeepney kali ini. “Tak apalah, aku kan naik Jeepney ke NAIA saat pulang nanti”, batin memenangkanku. Tapi entah kenapa, tiba-tiba aku beranjak dari bangku ketika kondektur itu berteriak “EDSA….EDSA….EDSA”. Aku menangkap informasi bahwa aku telah sampai dan aku harus turun, kondektur itu tentu tak hafal satu per satu tujuan penumpangnya, sehingga membiarkanku melenggang turun dari pintu depan.

Bus itu pergi meninggalkanku. Tak tampak pertanda keberadaan jalur LRT yang terhafal jelas bentuknya di memori kepalaku dari kunjungan pertamaku dulu. “Ini belum sampai”, batinku tersenyum kecut, hingga sebuah Jeepney datang mendekat. “EDSA?” teriakku pada sopirnya. “Come on!”, jawabnya singkat. Aku naik dari pintu belakang. Entah aku masih di bilangan ke berapa dari Epifanio de los Santos Avenue. Akhirnya kesampaian lagi menaiki moda transportasi terpopuler di kalangan rakyat Filipina itu. Kini aku membayar lebih murah karena memang jaraknya sudah dekat dengan tujuan, hanya Rp. 3.000. Lima menit kemudian aku tiba di Stasiun LRT EDSA.

Naik Jeepney lagi.
Interior Jeepney, mirip angkot kan?.
Tempat Jeepney berhenti dan berangkat.

Aku hanya takjub dengan kesibukan aktivitas masyarakat Manila siang itu. Mirip jalanan di sekitaran Pasar Senen, Jakarta. Lama aku berdiri di sebuah lapak terbuka penjual buah-buahan segar. Memperhatikan kemacetan, lalu lalang Jeepney yang diperebutkan masyarakat kelas menengah ke bawah serta hilir mudik LRT Line 1 di atas kepalaku.

Ah waktu transit indah dan singkat yang kumiliki dan kunikmati……

Ini dia Stasiun LRT EDSA….Gimana bentuknya? Elok atau biasakah?

Exploration Stuck in Pahlawan Street Fountain

After dinner at Ayam Pak Supar Semarang food stall, Ezra said goodbye to go home. He said, it took thirty minutes to reach his home. While, the night showed on 22:30 hours. Our conversation material had also ran out. He offered to take me back to Sleep & Sleep Capsule. Thinking troublesome, I subtly refuse it. Finally I just asked to be dropped off at a place where was still busy on his way to home, so I wouldn’t troublesome him.

I quickly took a ride on his blue manual motorcycle. A few moments later, the motorbike started to slow down and he lowered me on a side of sidewalk which was wide enough, full of young people who sitting together at several points, interspersed with roving coffee sellers along the sidewalk.

Here, Donny, the busiest place on my way to go home. Do you want to get off here? ”Ezra said after stopping his motorbike.

OK, just here. I’ll have a coffee first before going back to hotel, Ezra”, I assured him so he could go home. Then I sat on a concrete dividing, then ordered a glass of instant coffee. How does it feel, if you are an original coffee connoisseur, and then you have to hang out with drinking instant coffee… .Hahaha. Never mind, the important thing was I could enjoy the night.

Semarang Telkomsel office in Mugassari area.
A side of Pahlawan Street.

Having not finished yet drinking coffee in a glass and enjoying youth people activities in front of Semarang Telkomsel Office, one or two drops of water began to fall from the sky. A sign that the city would soon be pouring by rain.

I looked around for shelter in case it really rained. I saw in north, there was a stage where several people seemed to be crowded around it. Without thinking I immediately rushed there.

It was true, drops of sky water had risen to next level be a gentle drizzle. It took time to order a taxi online, before getting soaked, I better took shelter. I quickly climbed the stage to save myself from heavy rain.

It turned out that this stage would be used to welcome Governor of Central Java in a Healthy Walk event to commemorate the Anniversary of KORPRI (Indonesian Civil Servants Corps). Finally, rain poured down very hard, even though I was on roofed stage, still some parts of my body was wet because rainwater was swept away by strong winds in all directions.

Even 45 minutes I waited for the rain without being able to fulfill my initial intention to explore along this protocol road. The main street in Semarang which was very famous for routine Car Free Day agenda. I only got bonus for enjoying color show at a fountain at an intersection between Pahlawan Street and Imam Bardjo SH Street.

Celebration stage.
Roundabout at Pahlawan Street.
Fountain at Pahlawan Street.
Fountain at Pahlawan Street.

By midnight, Pahlawan Street was helpless in the rain. All sides were deserted. Finally I decided to immediately return to hotel for rest. This was my last night in Semarang before returning to Jakarta on tomorrow afternoon. But I still have time to explore Semarang until noon on next day.

Salah Tanggal di Ninoy Aquino International Airport

Melayani 47 juta penumpang setiap tahun.

Philippine Airlines bernomor terbang PR 685 mendarat dengan mulus di salah satu runway Ninoy Aquino International Airport (NAIA). Pesawat berbadan besar itu dengan gagahnya melakukan taxiing menuju apron di Terminal 1. Seharusnya pesawat ini mendarat di Terminal 2, karena sedang proses renovasi maka terminal pun dialihkan. Terminal 1 sendiri adalah mainhub dari maskapai Cebu Pacific, sedangkan mainhub Philippine Airlines berada di Terminal 2.

Ini bukan pendaratan pertamaku di Philippines karena aku telah menjajah negeri itu empat tahun silam. Kini aku kembali mendarat di NAIA, bukan untuk berkunjung tetapi hanya untuk transit saja sebelum benar-benar tiba di Jakarta. Bukan Donny namanya kalau transit hanya digunakan untuk berdiam diri di bandara….Yes, aku akan menuju pusat kota dalam rentang waktu 7 jam masa transit.

Pemberian nama Ninoy Aquino International Airport sendiri didedikasikan untul Almarhum Ninoy Aquino Jr yang terbunuh di Terminal 1 selepas pulang dari pengasingannya di Amerika Serikat pada tahun 1983.

Aroma perayaan natal masih terasa @conveyor belt.
Tourist Information Center.
Arrival Hall.

PR 685 perlahan melewati hanggar milik Lufthansa Technik Philippines, Inc. yang merupakan perusahaan jasa maintenance pesawat di bandara itu, berpapasan dengan deretan maskapai kuning “Cebu Pacific” yang merupakan Low Cost Carrier (LCC) kebanggaan Negeri Duterte, melalui Terminal 2 Domestic Departure dan akhirnya berhenti di Terminal 1.

Staff cantik Philippine Airlines membawa papan kecil bertulis “transfer” dan berdiri di tengah koridor untuk mengumpulkan para penumpang yang akan meneruskan penerbangan ke destinasi berikutnya. Mereka akan dibawa oleh Airport Shuttle Transfer Service menuju ke Terminal 2. Aku yang menyatakan hendak menuju ke pusat kota semasa transit diberikan secarik kertas yang harus diisi dan akan dilampirkan bersama tiket menuju Jakarta untuk diserahkan ke konter imigrasi.

Staff Imigrasi : “Where will you go in transit time?”.

Aku : “Manila Baywalk, Sir

Staff Imigrasi : “What for?

Aku : “Just sightseeing, Sir”.

Percakapan singkat di konter imigrasi yang meloloskanku dengan stempel imigrasi Philippines di paspor hijauku. Aku harus bertanya kepada petugas Aviation Security demi menemukan lokasi penitipan bagasi untuk menaruh backpack supaya membuat langkahku menjadi lebih ringan menuju pusat kota. Aku menyerahkan Rp. 60.000 kepada petugas Baggage Assistance Counter dan dia menaruh backpackku pada sebuah rak.

Berburu Peso di money changer.
Baggage Assistance Counter.
Rak-rak penyimpanan bagasi milik Orbit Air Systems (Perusahaan ground handling di NAIA).

Melewari exit gate, aku menuju ke sebuah konter milik PLTD Enterprise yang menawarkan free SIM Card dengan brand “Smart 5G” untuk para traveler. Paket data yang mereka tawarkan kutolak dengan halus karena aku hanya membutuhkan layanan GPS saja dari prepaid SIM Card itu.

Departure

Setelah selesai dalam jelajah singkat kota, aku diturunkan sopir bus kota di Terminal 1. Menghemat waktu, aku menuju ke tempat penitipan bagasi dan mengambil backpack. Lalu menuju ruang tunggu Airport Shuttle Transfer Service untuk berpindah ke Terminal 2, terminal dimana aku akan terbang menuju Jakarta.

Terminal 2 sendiri selesai dibangun pada tahun 1998 dan dijuluki Terminal Centennial karena penyelesaiannya bertepatan dengan peringatan seratus tahun deklarasi kemerdekaan Philippines dari penjajahan Spanyol. Terminal ini awalnya dirancang oleh Aéroports de Paris.

Di depan Terminal 2, aku diturunkan. Banyak titik lokasi tertutup oleh papan proyek, menunjukkan bahwa terminal ini sedang direnovasi. Peso tersisa yang gagal tertukar di money changer Terminal 1 dengan alasan uang yang kutukar adalah adalah pecahan kecil, akhirnya bisa kutukarkan di sebuah money changer di luar bangunan Terminal 2. Kini Peso sudah berubah menjadi Dolar Amerika.

Sedikit insiden terjadi di konter imigrasi, seorang petugas imigrasi keturunan Spanyol sedikit bingung dan bertanya kepada staf imigrasi lainnya. Ternyata tanggal yang yang terstempel di pasporku saat memasuki Manila tadi pagi adalah masih tanggal esok hari.

Arah ke Airport Shuttle Transfer Service Terminal 1.
Airport Shuttle Transfer Service @Terminal 1.
Drop off zone Terminal 2.

Staff Imigrasi     :     “When do you entering Manila? “.

Aku                        :     “Last morning, Sir”.

Staff Imigrasi     :     “Why don’t you check  the date?

Aku                        :     “What’s wrong, Sir”.

Staff Imigrasi     :     “The date in your free visa is tomorrow”.

Aku                        :     “Oh I’m sorry, I don’t aware about it

Staff Imigrasi     :     “Can you show you arrival and departure boarding pass?

Aku                        :     “These are, Sir

Staff Imigrasi     :     “Okay, It’s no problem. You can go”.

Akhirnya aku diizinkan keluar Manila dan bersiap pulang ke tanah air. Aku merasa sangat tenang, karena telah tiba tiga jam sebelum boarding time. Tapi berjam-jam duduk di ruang tunggu, aku tak segera menenukan nomor penerbanganku PR 535 di layar informasi LCD. Aku memberanikan diri memasuki Mabuhay Lounge untuk menanyakan jadwal resmi penerbanganganku kepada staf Philippine Airlines yang bertugas di lounge reception. Dia mengatakan bahwa penerbangan mengalamai delay yang belum bisa diinformasikan hingga kapan, tetapi aku ditunjukkan nomor gate dimana aku harus menunggu yaitu Gate 11.

Baru sebentar aku duduk di Gate 11, terdengarlah pengumuman bahwa penerbangan ditunda hingga pukul 23:00 dikarenakan gangguan lalu lintas penerbangan sebagai dampak meletusnya gunung Taal di daerah Tagaytay.

Check-in counter.
Departure Hall.
Laptop station.
Mabuhay Lounge.
Waiting room di depan Gate 11.

Tepat pukul 23:00, aku mulai boarding dan meninggalkan banyak kesan di Ninoy Aquino International Airport.  Terimakasih NAIA, sampai jumpa lagi.

Two Backpackers in Lawang Sewu

Lawang Sewu means a thousand doors.

It’s said that the haunted of this 116-year-old building is second famous in Asia after Tat Tak School in Hong Kong. Quiet, thick walls and neglected. But that was in the past, now this 429-door building is transformed into a leading tourism icon in Semarang City with all its artistic and historical values.

—-****—-

My third night in Semarang became a backpacker reunion event where two of them met in Brunei Darussalam in April 2015, Ezra and I were that two backpackers. I purposely sent him a short message a day before my departure to Semarang. I invited him to meet in his hometown to share stories of each other’s adventures over past five years.

One of corridors inside Lawang Sewu.
One of corridors at Lawang Sewu terrace.

After returning from Marina Beach, I immediately parted ways with Mr. Muchlis. He had to go back to Gresik firstly, using Argo Bromo Anggrek train. I headed to Baiturrahman Grand Mosque at Simpang Lima as a meeting point with Ezra. I quickly arrived there at 19:30 hours. some minutes waiting, Ezra arrived and we both performed Isha prayer together..

He told a lot about his job as a lecturer which allowed him to attend a conference in United States and then his backpacker instinct drove him to Canada. He had also visited Israel and Russia. Wow, crazy, even I’m far behind from all his experiences. As for me, that night told that at end year after meet with him, I would go to Penang, Ipoh, Dhaka, Mumbai, Colombo and Maldives.

Stairs to Lawang Sewu top floor.
Watching Lawang Sewu historical videos with local residents.
Photos of Lawang Sewu renovation activities.

Riding a blue motorbike, I was taken by him to go to Lawang Sewu on Pemuda Street. On the way there, Ezra explained a little stories that the building which we were going to was the former office of Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) during Dutch colonial era. When Dutch surrendered to Japan in 1942, this building became the most violent prison during Japanese occupation. After Indonesia gained independence, this building became the office of Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia (DKARI) or now known as PT Kereta Api Indonesia.

After arriving at our destination, Ezra deftly went to ticket counter to buying an entrance ticket. This time, he paid all ticket fees to entering Lawang Sewu. Because this tourist spot would close at 21:00 hours, so We only had thirty minutes to explore this tourist spot.

The yard inside Lawang Sewu building.
The other side of inner yard.
The elegance of European architecture in the shower of night lights.

But that short time didn’t made me rush, I was more concerned with discussing and telling stories about each other’s experiences. It was as if Lawang Sewu was only be the background for our conversation that night. I spent most of time for sitting in building terrace. Continued to talk and explained each our plan. I also hoped that two of us can backpack abroad together next time.

At exactly 21:00 hours, Ezra and I were forced to leave Lawang Sewu because its operating hours had ended. We moved to another crowd just across Lawang Sewu. Yups, Tugu Muda area was still full of visitors. Even some communities such as reptile lovers who came here to exhibit collections such as snakes, Cuvier’s Dwarf Caiman (mini crocodiles), iguanas and several other types of reptiles in the crowd. Some clowns also enlivened situation. That time became a night which full of impressions about Semarang.

My reunion with Ezra that night was closed by having dinner together at a restaurant with a chicken menu….Ayam Pak Supar Semarang. An impressive night that brings together two old friends with the same passion.

I and Ezra at Tugu Muda.

Philippine Airlines PR 685 dari Doha (DOH) ke Manila (MNL)

Jalur penerbangan PR 685 (sumber: https://www.radarbox.com).

Jika ingin merasakan sensasi menunggang airline komersial pertama di Asia maka naiklah Philippine Airlines, maka secara otomatis kamu akan tertasbih telah menaiki maskapai tertua di Benua Asia. Dan Philippine Airlines menjadi maskapai ke-28 yang kunaiki sepanjang perjalananku menjadi seorang backpacker.

Dimulai dengan insiden kecil  yang cukup membuat malu. Sore itu area depan konter check-in tampak melompong, kontan setelah nomor pernerbangan PR 685 berstatus “open”, aku melenggang kangkung menelusuri liukan alur yang dibentuk oleh boarder tape.

Dan tiba-tiba terdengar suara lantang….

Hi, please queue, Sir!” tegur ground staff yang otomatis mengerem langkahku. Dia menunjuk antrian penumpang asal Philippines yang bermula dari sebuah tiang bangunan. Mereka semua menertawakanku dan menyungkurkan mukaku dalam rasa malu. Berusaha tersenyum tetapi tetap saja tak bisa menyembunyikan kecut muka, aku melewati para penumpang itu yang hampir sepanjang antrian tertawa memandangiku. Hingga akhirnya, aku sudah berdiri di antrian, jauh di belakang.

Check-in counter.
Tiket ke-11 dalam petualangan akhir tahunku.

Meninggalkan area check-in dan menyelesaikan urusan di konter imigrasi, langkahku tertahan sekejap.

Asal mana pak?“, sapaku pada dua lelaki paruh baya yang sedari tadi memegangi paspor hijau bergambar garuda. “Loh, ada orang Indonesia nih, cak“, tegas seorang darinya kepada teman sebelahnya. Aku hanya tersenyum untuk menghangatkan suasana.

Naik Qatar Airways juga ya mas?“, pertanyaan yang mungkin berharap kita bertiga bisa terbang sepesawat. “Saya mampir Manila dulu pak, naik Philippine Airlines, tujuan akhir saya Jakarta. Bapak berdua mau kemana? “, tanyaku singkat sebelum berpisah. Kedua lelaki itu tampak berbenah memasukkan setiap berkas imigrasi, paspor dan tiketnya ke dalam tas. “Kami dari Surabaya, mas“, senyumnya hangatnya membuatku merasa tak jauh dari rumah.

Menurut tuturnya, kedua lelaki itu sedang ada tugas dari perusahaannya di Doha. Sedangkan aku menjawab dengan percaya diri bahwa aku baru saja selesai backpackeran sendirian di Timur Tengah. “Wah hebat si mas, keliling sendirian“, ucapan penutupnya sebelum kami berpisah menuju gate masing-masing.

Kemudian aku menuruni escalator dan melewati duty free zone di sekitar maskot “Lamp Bear”. Berlanjut lagi dengan menaiki escalator untuk menaiki skytrain menuju concourse D. Menemukan gate yang kumaksud, maka terduduklah aku sembari mengunyah paratha tersisa untuk makan malam sambil menunggu Philippine Airlines tiba menjemput.

Tepat pukul 20:45, aku mulai boarding melalui aerobridge. Aku memasuki pesawat dari koridor kabin sebelah kiri. Begitu terduduk di window seat berbilangan 39K, impian kemegahan kabin yang sedari semula saat membeli tiket akhirnya sirna.  Ternyata pesawat ini tak dilengkapi LCD screen di setiap bangkunya. Terbayang sudah, penerbangan panjang sejauh 7.277 Km ini pasti akan membosankan.

Airbus 330-300.
Sayap yang memamerkan kegagahan.
Mulai mencari tempat duduk.
Nah ini dia, tempat dudukku selama 9 jam 35 menit.

Aku duduk bersebelahan dengan wanita tambun di sisi kiri sedangkan di ujung baris terduduk lelaki paruh baya berpostur sebaliknya, jangkung dan kurus. Sembilan puluh persen penumpang tentu berkebangsaan Philippines. Karena ini pesawat negara mereka.

Aku terus memperhatikan pramugari berpotongan rambut bob, berlipstik ungu dan berpostur semampai. Siapa yang meragukan kecantikan para pinay, Philippines memang penghasil para wanita cantik di dunia….Hahaha.

Setelah mendemokan prosedur keselamatan terbang, pramugari dan pramugara itu membagikan amenities berupa selimut, handuk, sikat dan pasta gigi. Aku mulai membaca beberapa prosedur keamanan pesawat Airbus ini. Membaca infight magazinenya dan bersiap untuk santap malam kedua kali setelah take-off.

Thanks 12Go.
Selamat tinggal Hamad International Airport.
Selimut untuk setiap penumpang.
Mabuhay….Inflight magazine milik Philippine Airlines.

Sir, I have ordered the menu. My menu should  a Jain Meal, not Seafood Meal, Sir”, tanyaku pada seorang pramugara. “Dinner menu must be ordered 3 hours before flight, Have you order it?”, jawabnya sedikit tegas. Daripada menimbulkan keributan yang tak mengenakkan, aku mengalah saja. Begitulah aku, selalu menghindari gesekan dan cenderung mengalah pada setiap perselisihan….Hebat ya guwe, mulia banget….Hahaha.

Menu makan malam: nasi dan ikan laut.
Ternyata Jean Meal pesananku keluar di pagi hari bersama kopi…Oalah, ndeso tenan.
Indah sekali bukan, rentangan garis-garis emas bentukan pelita bumi Doha?. Lihat perairan Teluk Persia itu!.

Setelah semua penumpang selesai dengan dinnernya masing-masing, awak kabin mulai meminta setiap penumpang yang duduk di window seat untuk menutup jendela. Ah, aku tak mendengarkan perintah, malahan memperhatikan wajah ayu pramugari yang kukagumi sedari tadi. Aku baru tersadar akan perintah ketika pramugari itu tersenyum terus dan menunjuk jendelaku sembari menaik turunkan telunjuknya sebagai isyarat bagiku untuk segera menutupnya….”Iya mbak, aku ngerti kok, cuma sedang terpesona denganmu saja”, batinku menjawab senyumannya. Kejadian itu membuat penumpang di sebelahku tertawa….Kacau kan guwe?.

Malam itu penerbanganku sangat mulus tanpa turbulensi. Pilot menginformasikan bahwa aku sedang melaju di dalam selongsong terbang dengan kecepatan 800 Km per jam. Luar biasa. Malam itu aku tak tidur nyenyak, terus gelisah menunggu tiba di Manila. Entah sampai dimana, pramugari itu kembali berkeliling di koridor kabin dan meminta setiap penumpang di window seat untuk membuka kembali jendelanya.

Inilah drama alam yang baru pertama kali ku alami. Aku menutup jendela dalam gulita dan tiba-tiba membukanya dalam kondisi terang benderang. Bak permianan sulap di angkasa, matahari sepertinya lebih cepat muncul dari waktu normalnya.

Selamat pagi….Entah aku berada dimana?.
Gunung yang menyembul di kerumunan awan….Menakjubkan.

Antrian di setiap toilet begitu panjang. Dengan gagapnya, aku pun mulai mengantri. Aku harus bergosok gigi dan menyeka  muka dengan air hangat sebelum mendarat.  Inilah kegiatan sikat gigi di pesawat terbang untuk pertama kalinya dalam hidupku.

Tak lama setelah duduk kembali, pilot memberitahukan bahwa flag carrier milik Philippines ini akan segera mendarat di mainhubnya, yaitu Ninoy Aquino International Airport (NAIA). Maskapai berlogo dua layar biru dan merah yang melambangkan bendera kebesaran negara dan sunburst kuning delapan sinar ini akan mendarat di Terminal 1 sesuai rencana.

Bersiap mendarat di Manila.

Pesawat mendarat dengan mulusnya di runway dan kemudian taxiing dengan menampilkan pemandangan cepat tentang hiruk pikuknya suasana bandara. Aku pantas berterimakasih pada jasa maskapain berusia 79 tahun ini.

Rindu Cebu Pacific….Teringat menunggangnya empat tahun silam.
Thank you Philippine Airlines “The Heart of the Filipino”.

Saatnya transit dan menjelajah Manila dalam waktu singkat.

Yuksss…..Berkelana lagi!

Alternatif untuk tiket pesawat dari Doha ke Manila bisa dicari di 12Go atau link berikut: https://12go.asia/?z=3283832

Sky Show at Semarang Marina Beach

In the afternoon, on my third day in Semarang, I finally created an opportunity to watch an earth show which was often sought by sky color enthusiasts….Yups, sunset.

I quickly drove from Sleep & Sleep Capsule in Dadapsari area after putting all my equipments and backpack. Using an online taxi i.e orange maroon Calya (Cayla is a brand of Toyota in Indonesai), Mr. Muchlis and I headed for Marina Beach in Tawangsari area. A young driver continued to show off his rearview mirror which was modified into a reverse camera and a road recording camera….Even though it was only a camera made in China, the price was USD 30….Hahaha.

Driving for about six kilometers in fifteen minutes, I arrived at Marina Beach gate. Passing a post and paying an entrance ticket for about USD 0.4, I was dropped off in right at beach parking area. One problem was cellphone signal didn’t get caught in beach area. “Wahhh, bad news, when I will get back, I have to quite walk far outside beach area to order an online motorcycle taxi“, I thought.

Origin direction into the beach.
Beach parking area.

It was already 17:30 hours, but the beach still stung. The sun still showed its might in that open area. To reduce the heat, I sat on a bench under a tree while enjoying coconut ice directly from its shell. Let the sun still shined and I would start to enjoy it when it started to down.

It still stings.

The sun which had started to fall, prompted me to get up and stepped on concrete embankment area as well as pedestrian area which was still reinforced by giant rocks in shoreline. Making this beach could no longer show its natural beauty.

Young people were seen sitting on giant stones, dating, taking selfies, or contemplating their fate in the midst of the characteristic wave ripples. Meanwhile, little childrens run along concrete pedestrian.

Big rocks as waves breaker.

Another sights were firmly planted fishing charts along coast, while offshore, an island-like land decorated with neatly parked fast boats, was West Marina Beach area.

To watched sunset with a perfect viewpoint, I moved closer to beach part which facing west. There were rows of angler who remained focused with their fishing rods along reclaimed pedestrian, which on this side was covered with paving blocks which made shoreline looked more artsy. Meanwhile, beverage and food stall were busy serving their customers who occupy benche rows and got ready to enjoy nature show. In southern part, Marina Convention Center looked dashing blue, giving impression that Marina Beach had been exposed to technology and modernization.

This was the best spot to enjoy the dusk.

I started to take a tripod, aimed my smartphone towards the sun which began to clearly round and slowly turned into orange color. Youth people from north of coast began to move to take up their best position on west of coast. Meanwhile Mr. Muchlis looked more relax, sitting and enjoying a portion of “lontong” (rice roll). Meanwhile, I just sat cross-legged right on beach side, next to my smartphone camera which was working to capture that special moment.

Extraordinary show.
He started hiding.
Welcome evening.…

Doha Metro Red Line dari Doha ke Hamad International Airport

Penerbanganku masih sore nanti. Jam 19:00 tepatnya. Jadi aku akan bersantai dahulu hingga masa inapku di Casper Hotel habis tepat di tengah hari. Sedari Shalat Subuh, aku kembali menggulung badan dengan selimut dormitory, nyaman sekali memejamkan mata dalam hangat selimut di tengah bekunya pagi. Hingga alarm iri dan meneriakiku….Sudah pukul sembilan. Aku harus bangun, sarapan dan bersiap diri.

Selepas mandi kulipat jemuran yang masih lembab, sudah pasti akan kutempatkan di kantong plastik tersendiri di backpackku nanti. Kupisahkan dengan baik setiap peralatan yang sudah terbongkar sejak lima hari lalu. Toiletries, t-shirt, kamera, tripod, snack dan celana panjang kupacking pada kantong plastik masing-masing.

Berlanjut kemudian dengan mengunyah paratha buatan GRANDMA Bakery and Sweets beserta dua lembar telur mata sapi karya tanganku sendiri.

Tepat 12:30, aku undur diri…..

Aku berpelukan dan berjabat tangan dengan tiga sahabat sekaligus keluarga baruku asal Pakistan yang bekerja mengurusi penginapan itu. Seusai mengucap salam, aku pulang.

Terimakasih kawan.

Seperti biasa aku berdiri di shelter bus tepat di sebelah kiri gerbang penginapan.

“Saatnya mencoba Free Doha Metrolink Shuttle Services, kebetulan Karwa Smart Cardku memang sudah menipis saldonya”, batinku beride. Tapi bus Metrolink itu tak pernah berhenti ketika aku stop. Saat menyetop bus ketiga, sopir Metrolink itu menunjuk sebuah tiang di ujung sana. Dia menunjuk dirinya lalu menunjukku lalu menunjuk tiang itu. Aku cepat memaknai isyarat itu: “Larilah kesana, aku menunggumu!”. Aku spontan berlari, ketika bus mendahuliku dan berhenti di tiang itu.

Good morning, friend. You must stop this Metrolink in its shelter, Okay!. Tommorow if you want to use it, you must wait at this pole”, ucapnya sembari menginjak Metrolink itu cepat-cepat.

Oh Okay, Sir”, ucapku memahami, dia tak tahu rupanya bahwa aku akan pulang dan esok hari sudah tak berada lagi di Doha.

Where will this metrolink stop?”, tanyaku pada pengemudi berkebangsaan Nigeria itu.

It will stop in Oqba Ibn Nafie Station, It’s free, if you want back to home just wait this bus in Oqba Ibn Nafie Station again, okay!”, jawabnya detail, rupanya dia tahu aku pengelana pencari gratisan….Hahaha.

Sepuluh menit kemudian, aku tiba di Stasiun Oqba Ibn Nafie…..

Aku sudah tak punya receh dan aku juga tahu bahwa ticketing vending machine itu tak menerima pecahan besar. Aku langsung menuju customer service yang diduduki oleh para staf berkebangsaan Philippines. Aku bermaksud menukarkan uang, beruntung mereka menyediakan uang pecahan kecil. Aku rela menukarkan Riyal menjadi pecahan kecil yang tentu akan berpengaruh terhadap nilai tukarnya ke Dolar Amerika di bandara nanti, semakin kecil pecahan tentu harganya akan semakin murah. Tapi tak apalah, tak ada opsi lain.

Aku mulai menaiki Doha Metro Red Line menuju Stasiun Hamad International Airport T1. Menempuh jarak 10 Km, tak berselang dengan satu stasiun pun, aku tiba dalam dua puluh menit.

Tiba di platform Stasiun Hamad International Airport T1.
Lihat interiornya….Keren kan?
Artistik banget.

Stasiun Hamad International Aiport T1 adalah sebuah shelter transportasi yang terhubung dengan Hamad International Airport oleh sebuah jembatan penyeberangan mewah. Jembatan penyeberangan bernaung atap dan berpendingin ini berdindingkan kaca dan berfasilitaskan travelator. Mengangkangi jalur-jalur utama kendaraan di sekitaran Hamad International Airport. Juga melewati venue ikonik sepeti HIA Mosque dengan minaretnya yang aduhai.

Jalur kendaraan yang dilewati oleh jembatan penyeberangan.
HIA Mosque minaret.

Sempat keluar sejenak dari connector itu, aku dilewatkan pada lahan parkir bandara yang cukup luas, kemudian aku dimasukkan lagi ke dalam sebuah connector menuju bangunan utama terminal.

Parking slot bandara.
Travelator di jembatan penghubung.

Berjalan selama sepuluh menit akhirnya aku tiba di Departure Gate. Masih jam 14:05, aku masih perlu menunggu sekitar dua setengah jam hingga konter check-in dibuka. Aku langsung menuju check-in area untuk mencari tempat tunggu yang nyaman dan sekaligus beristirahat.

Di depan Departure Hall.
Check-in area.
Menunggu PR 685 menuju Manila.

Tau kan Philippine Airlines?……