Dhow Boat dan Doha Corniche

Duh….Belum mandi tuh dari kemarin pagi.

Mengunjungi The Pearl Monument membuatku bahagia tak terkira, selain mendalami sejarah Qatar, mata dimanjakan dengan indahnya pemandangan Doha Corniche. Promenade sepanjang tujuh kilometer ini menampakkan lengkungan Teluk Doha yang dijejali gedung pencakar langit di ujungnya. Sementara sebaran traditional dhow boat wisata yang diam terjangkar di sepanjang teluk menjadi interior alam yang mengelokkan suasana.

Matahari sudang mulai langsir, angin laut menambahkan sejuk di sepanjang promenade. Jalur pejalan kaki di tepian Doha Bay itu tampak rapi nan asri. Pinggiran pantai dibatasi beton halus dan rata setinggi pinggul orang dewasa mengikuti lekuk pantai. Sementara promenade dilapisi paving block berkualitas baik dan berbatasan dengan Al Corniche Street disematkan taman memanjang dengan bentangan rumput hijau dan bunga warna-warna yang dihidupkan dengan teknik hidroponik. Jadi, kalau kamu berkunjung ke kawasan Timur Tengah, pemandangan selang-selang hidroponik yang ditanam di permukaan tanah untuk menumbuhkan bunga-bunga cantik adalah hal yang biasa.

Tepat di depan arah pantai The Pearl Monument, terdapat jorokan daratan buatan yang digunakan untuk bersandar ratusan Dhow Boat. oleh karenanya tempat ini dikenal dengan nama Dhow Harbour. Pelabuhan yang menjorok ke arah laut sepanjang setengah kilometer ini memiliki area utama pelabuhan seluas empat hektar.

Permukaan utama pelabuhan ini masih berwujud tanah berpasir putih sedangkang di keempat sisinya tersedia jalur beraspal yang memungkinkan kendaraan memasuki area pelabuhan.  Bagian berpasir inilah yang dimanfaatkan untuk docking beberapa perahu untuk dilakukan perbaikan.

Tampak di sepanjang tanggul berbatu pelabuhan, dimanfaatkan oleh warga untuk menyalurkan hobby memancing mereka. Sementara aku hanya duduk manis di tanggunl dan lekat memandangi area West Bay yang tampak indah dari kejauhan.

Di lain sisi, sedari tadi aku diikuti oleh seorang berwajah Asia Selatan, dengan gamis putih dan surban merah. Tingkahnya yang lucu dan terus menirukan aktivitasku, membuatku tak merasa takut tapi justru merasa geli. Kuputuskan mendekatinya dan berbincang. Namanya Safwan dan baru tiga bulan meninggalkan Dhaka untuk bekerja di Doha. Dia sepertinya tak tahu kalau aku seorang turis, sehingga dia merasa memiliki teman senasib yang bekerja di Doha….Hahaha, jadi menurutmu, dia mengiraku bekerja di bidang apa ya di Doha?….Wkwkwk.

Percakapan kami berakhir dengan saling mengambilkan foto berlatar West Bay Area….Sampai jumpa lagi Safwan.

Di sisi kanan Dhow Harbour, tampak bangunan ikonik yang dibuat seolah mengapung di permukaan air. Bangunan itulah yang dikenal dengan Museum of Islamic Art. Perlu merogoh kocek sebesar Rp. 200.000 untuk memasuki bangunan indah itu dan mengenal sejarah islam di Qatar pada masa lalu.

Masih di sisi kanan tepat di pangkal pelabuhan, aku bisa menikmati dengan detail keindahan Dhow Boat yang rapi terparkir di perairan tenang tak berombak. Perahu kayu berwarna cokelat dengan dek bertingkat yang biasa digunakan sebagai perahu wisata dalam mengarungi indahnya pantai Doha.

Jadi pastikan Anda mengunjungi Doha Corniche ketika berada di Qatar.

Tempatnya keren banget lho….

The Rest of Japan in Panorama Park

Middle-aged woman driver picked me up at “Gulai Itiak Lado Mudo Ngarai” restaurant.

Me: “Mrs, I had canceled my order because it was too long, but I also haven’t managed to order another motorcycle taxi, Mrs

She: “In my application, it haven’t canceled. I was stuck in traffic because a car broke down on top. Come on, just go up, Sir. It’s hard to get signal here, you won’t easy to get a motorcycle taxi again, Sir.

Without long thinking, I rushed to sit in back seat and refused to use a raincoat which offered by her because I was sure soft drizzle wouldn’t make me wet.

Opposing the direction which I came and turned right when it was at top of Binuang Street which was cut off by an intersection, then I traced the same street name to the name of a city park which I was going to.

She just dropped me in front of park entrance which was very crowded. I tucked USD 0.5 on her motorcycle dashboard as a tip even though she persistently tried to refused. Salute to her.

Not as much time as other visitors, made me walked in a hurry to ticket sales counter which is protected by a roof with three shoots of “gonjong“, then gave USD 1.2 to get entry access.

Japanese Tunnel was the first site which I looked for when I entered park area. I was so curious about the shape of this longest defense tunnel in Asia. Not hard to find, statue of two Japanese soldiers who stand in opposite directions is a marker of its existence.

A statue of two Japanese soldiers.

A tour group appeared and closes gate of Japanese Tunnel because of focusing in hearing a direction from their tour guide. There is also a floor plan which illustrates path in this defensive tunnel.

Entrance of Japanese Tunnel.

While at right of entrance, park main area is dominated by ceramic floors which form a performances podium with one of its sides being a view point of Sianok Canyon and Singgalang Mountain.

Pay again if you take a photo in this view point.

In some spots, there are garden canopies with four shoots of “gonjong”. Bukittinggi topographic contours with hilly-valleys appear to be described by this park shape. One side of park appears to be higher than the other side, many stairs are provided, making it easier for visitors to access each side of park.

Main area.
Podium.

While on left side, there is a flat area which is used for children playground with a single pillar as centre. Also visible a small glass-walled musalla is on a side of children playground.

children playground.
Small hall dan musalla.

This is Panorama Park which closed my journey in Bukittinggi. I will come back to this city if I had a chance. I will return to enjoy delights of this town’s Kapau Rice.

It was time to pack up and heading to Padang City.

What’s in Padang? Come with me!

The Pearl Monument Sebelum Emas Hitam

Pedestrial tunnel itu dimulai dari sebuah lift dalam ruangan berkaca di utara Souq Waqif, tepat di depan Al Jomrok Boutique Hotel yang memiliki logo jangkar hitam, maklum kini aku berada di pesisir timur Qatar. Meluncur ke bawah tanah dalam satu sentuhan tombol, aku melangkah di bawah permukaan dua jalan utama yaitu Abdullah Bin Jassim Street dan Al Corniche Street. Kunikmati langkah demi langkah di terowongan bawah tanah dalam siraman pendingin ruangan yang menyejukkan badan.

Lorong itu bak koridor mall, berhiaskan dekorasi lampu-lampu artistik, berdindingkan Digital LED Wall dan berlantaikan marmer mewah dominan cokelat. Yang kuingat, aku melewati sebuah stand minimalis dengan logo huruf Q milik Qatar Charity, badan amal non-pemerintah terkemuka di negara teluk.

Aku berlanjut ke sebuah ruangan berbeda, berpemandangan pilar-pilar besar diantara slot-slot parkir kendaraan roda empat. Inilah area parkir bertingkat bawah tanah dengan kapasitas 2.000 kendaraan. Maklum lagi, kini aku sedang berada di pusat ekonomi Qatar.

Lurus terus menuju Doha Corniche.
Seumur hidup baru kali ini, melihat underground crossing memiliki parkiran bertingkat….Hmmh.

Di ujung tunnel, aku mulai menanjak landai, berputar-putar searah jarum jam. Kini aku menapaki area baru. Pedestrian panjang di tepi pantai, beralaskan paving block, berpagar beton di sisi pantai dan bertaman hidroponik berpadu dengan pepohonan palem rendah di sisi jalan raya. Inilah Corniche Promenade yang terkenal di Doha.

Tunggu, kawan….

Aku tak akan membahas Doha Corniche dahulu pada kalian….

Aku akan menuju sebuah monumen berbentuk kerang mutiara raksasa berjuluk ”The Pearl Monument”. Aku berkewajiban mengunjungi landmark ini.

Kurasa tak hanya traveler, bahkan seluruh warga negara Qatar hendaknya wajib mengunjungi The Pearl Monument. Melalui monumen ini, semua khalayak harus tahu bahwa sebelum tahun 1939 yaitu era sebelum ditemukannya “emas hitam”di perut bumi mereka, Qatar adalah negara miskin yang pendapatannya bergantung pada hasil tangkap kerang mutiara di Teluk Persia.

Kurasa Qatar cukup tahu diri karena tak melupakan akar perekonomian mereka di laut. Sebuah pertaruhan jiwa rakyatnya yang harus menemukan sebuah kerang bermutiara dari sepuluh ribu diantaranya. Bagaimana tidak, metode toll diving adalah metode penyelaman sederhana yang tak aman dari serangan hiu, barakuda dan ular laut. Itu juga hanyalah pencaharian musiman antara Juni hingga September dengan pelayaran lebih dari dua bulan di tengah Teluk Persia.

Ahaiiiiii…….Thanks to “RICH”

Monumen ini terletak tepat di situs penyelaman mutiara, di Jalan Corniche sebelum memasuki Dhow Harbour. Inilah bentuk penghormatan sang Emir terhadap sejarah mutiara Qatar. Sebuah monumen yang dibangun dengan latar belakang area West Bay yang dihiasi sekumpulan gedung pencakar langit ikonik di negeri itu.

Demikianlah sedikit kisah tentang kunjunganku di monumen cantik itu. Mari kutunjukkan bagaimana indahnya Doha Corniche….

Sianok Canyon, Perfect Natural Fracture

Bet with rain, I left Kinantan Zoo. I think it would be very disadvantage to just let go of Bukittinggi’s natural fracture charm. Going through same path as I entered Fort de Kock, Limpapeh Bridge and TMSBK, now I was standing again at front gate of that square fort.

A young age man came with a smile approaching me. He was an online motorcycle taxi that I was waiting to take me for next destination. On fast journey, he said “Brother, your signal will be bad at valley , if you want to be picked up after finishing your visitation, I’m ready to take“. Because my habit that doesn’t want to be rushed in enjoy something, especially about the beauty of nature, I refuse it subtle.

Dr. Abdul Rivai Street had finished to be passed until the end. That is the road name to remember a “Bumiputera (local people)” who had fought against Dutch colonialism through journalism realm. Next, the road started to sharply swoop when I turned to the right.

One kilometer swoop down trip presented a breathtaking view of valleys on either side of Binuang Street. Janjang Koto Gadang like a Great Wall of China miniature looked in a flash of eyes. I didn’t have time to visit it because I had to bet with travel services schedule to Padang.

Welcome to Kenagarian Sianok Anam Suku“, written at top of a gate which is located precisely in middle of bridge which connecting two valley sides which is cut off by Batang Sianok River. On right pillar told that I was in Sub-Districts IV Koto, while the left one told that I was in Agam Districts.

The shallow Batang Sianok River.

The twenty meter wide river never seemed to be angry with spilling flood. My estimation is very reasonable with existence of semi-permanent and even permanent buildings in river banks. And somehow, sandy soil deposits in the middle of river were delivered from some where by river currents.

The other side of Batang Sianok River.

I can’t imagine how two sides of cliff that were originally fused then shifted in opposite direction to form a perfectly perpendicular fracture and created an elongated valley which was then invaded by water to form a natural river.

And…. Heavy rain was really falling…..

Made me to escape from canyon and looked for a shelter. “Gulai Itiak Lado Mudo Ngarai” restaurant terrace became a comfortable place to shelter even though I was closely watched by its owner. Finally I dared myself to ask permission for temporarily took shelter .

It was true, I really didn’t get a phone signal to call a online motorcycle taxi when it started to rain. I tried to find a higher place and then get two signal cell bars. I struggled to order an online motorcycle taxi that was repeatedly rejected. Until finally, on fifth call I was picked up by a middle-aged woman with her scooter matic and delivered me to my last destination in Bukittinggi.

Sianok canyon was captured from Panorama Park.
Sianok Canyon view with Singgalang Mountain background… Isn’t it beautiful?

Souq Waqif….Terbesar dan Tertua.

Melewari gate bernomor  empat, aku kembali keluar di jalanan pasca menjelajah dalaman City Souq. Kantor dua lantai milik badan independen Qatar menjadi bangunan pertama yang kulewati. Tampak lima bendera Qatar berukuran besar mempergagah markas Central Municipal Council.

Aku menikung ke kiri begitu berpapasan dengan Abdullah Bin Jassim Street. Dua ratus meter kemudian, aku melewati bangunan berlantai empat yang menjadi pusat pengembangan Islam di Qatar yaitu Sheikh Abdullah Bin Zaid Al Mahmood Islamic Cultural Center. Tampak sebuah sepeda ontel hitam tersandar pada tiang rambu di depannya. Klasik, macam suasana di Eropa saja.

Lalu mulai tampak pelataran luas nan panas dari kejauhan, letaknya tepat di pojok barat daya perempatan besar yang terbentuk dari persilangan Banks Street dan Abdullah Bin Jassim Street. Deretan tujuh bangku panjang tiga warna terduduki tiga pria setengah baya yang tampak menikmati suasana.

Minggu siang kala itu, Souq Waqif yang kudatangi dari gerbang timur masih tampak sepi. Aku menyusuri koridor demi koridor pasar. Berlantai andesit gelap, berdinding tak mulus dengan warna krem dan dibagian atas diletakkan kayu-kayu utuh memanjang sebagai penyangga struktur atapnya yang sengaja dibuat rata.

Pelataran sisi timur Souq Waqif.

Kulewati kios-kios dengan barang dagangan yang masih tertutup, aku sendiri tak menahu tentang jenis barang dagangan tersembunyi itu. Kusingkap sedikit ujung kain penutup dan kutemukan jawabnya….Itu rempah-rempah.

Ketika sampai di area pasar yang sedikit menjorok ke tengah, aku menemukan sebuah blok yang menjual satwa, pakan yang sudah dipacking dalam plastik besar ukuran seragam, beserta kandangnya. Area berjualan satwa ini sudah tak lagi beratap, langit nan panaslah yang tampak tepat di atas kepala.

Terimakasih “RICH” yang menjadi partner dalam perjalanan kali ini.
Blok untuk berjualan satwa seperti burung dan kelinci.

Sementara beberapa orang tua pemilik kedai sederhana tengah sibuk mempersiapkan lapaknya yang telah dilengkapi lemari-lemari pendingin dengan merk minuman ternama. Aku masih belum bisa membayangkan bagaimana rupa kedai ini ketika ramai. Aku hanya menebaknya sebagai kedai kaum menengah.

Masih sepi….Mereka bersiap diri.

Tergelincirnya matahari mengurungkan niatku untuk menelusuri seisi pasar. Eksplorasi bagian timur sudah kuselesaikan. Bagian barat?….Sudahlah, besok masih ada waktu. Aku mendadak menciptkan sebuah opsi perjalanan sendiri. Meninggalkan Souq Waqif segera dan ingin bersantai di Doha Corniche hingga sore. The Pearl Monument adalah tujuan berikutnya.

—-****—-

Inilah satu-satunya pasar tradisional kuno terbesar di seluruh Qatar. Al Souq menjadi distrik yang beruntung atas kepemilikan pasar ini. Berdiri pada akhir abad ke-18 di tepian Wadi Msheireb. Wadi sendiri merujuk pada jalur sungai kering yang hanya terisi air saat hujan lebat saja. Pengalaman menggelikan terkait Wadi adalah ketika mengunjungi negeri tetangga Qatar yaitu Bahrain. Saking keringnya, wadi di sana biasa digunakan warga untuk bermain cricket….Lucu kan.

Tiga hari berlalu, membuatku kembali merindukan Souq Waqif.

Rabu pagi, aku akhirnya tak kuasa membendung rindu itu. Aku kini memasukinya dari sisi barat yang tampak lebih elegan karena sisi ini memang berbatasan dengan Msheireb Downtown Doha (MDD), sebuah kota subtitutor Distrik Mushayrib yang pengembangannya direncanakan detail.

Pelataran sisi barat.

Aku mengamini….Terutama ketika mendengar sebuah jargon bahwa Souq Waqid adalah rumah bagi banyak restoran dan shisha lounges. Siang itu, aku memasuki sisi barat dengan sambutan deretan restoran bergaya Eropa di sepanjang koridor terbuka.

Restoran.

Sisi inilah yang menjadi tempat bagi warga Qatar dan para turis untuk sekedar nongkrong, menikmati kopi dan menghisap sisha. Konon akan ramai di Kamis malam. Seperti kebiasaan di kawasan Timur Tengah, yang menjadikan malam Jum’at sebagai permulaan weekend mereka untuk menyambut libur di keesokan hari.

Souq Waqif tak pernah merubah bentuk  arsitektur khas Qatarnya.

Waqif berarti berdiri. Karena pada masa perintisan pasar, tidak ada satupun kios yang dibangun. Hal ini disebabkan karena meluapnya air laut dari pantai Doha yang menggenangi pasar. Bahkan diawal berdirinya, masyarakat Arab Badui yang nomaden dan penduduk setempat bertemu dan bertransaksi di tempat ini. Para pembeli akan datang menggunakan perahu atau menaiki onta untuk mensiasati genangan tersebut dan penjual akan berdiri sepanjang hari untuk menawarkan dagangannya.

Duh cantiknya Souq Waqif.

Semakin memasuki area tengah, atmosfer pasar menjadi sangat ramai. Kini aku menemukan area penjual souvenir. Jam tangan, fridge magnet, gantungan kunci, dompet serta souvenir jenis lain ramai dipasarkan di area ini.

Koridor souvenir.

Kemudian keluar pasar melalui sisi selatan, aku menemukan area berjualan dallah, tabung shisha beragam bentuk dan ukuran seta berbagai jenis handicrafts

Area handicrafts.

Perkembangan ekonomi negara Qatar yang sangat melejit semenjak menemukan minyak bumi berimbas positif pada kondisi pasar ini. Pada tahun 2006. Emir Qatar, Sheikh Hamad bin Khalifa Al Thani merenovasi besar-besaran Souq Waqif sebagai pusat ekonomi dan pariwisata dunia. Konon sang Emir mendatangkan  kayu dan bambu yang diimpor dari beberapa negara Asia untuk kegiatan renovasi besar ini.

Nah, tunggu apa lagi….Yuk ke Qatar….Hihihi.

Culture and Education Lane in Kinantan Wildlife and Cultural Park

My steps at eastern end of Limpapeh Bridge became unstoppable. On Cubadak Bungkuak Hill, I followed paving block lane with yellow diagonal pattern and most of green fences on either side. And then mingle with visitor crowds who are enjoying display of cute animals.

A row of beautiful aves welcomed my first step when entering the zoo which was more than a century old. Producing beautiful sounds in circle of an iron cage was a way for them to entertain visitors.

Kuau bird from Taiwan.
Two beautiful peacocks.

While rodentia were present on other side. Threat of their thorns had to be held back by a half-body concrete wall in combination with an iron fence above it. They stayed in an artificial tree with holes on several sides.

Cute hedgehogs were getting ready for breakfast.

Proving itself as the most complete zoo in Sumatra, a herd of primates welcomed visitors in middle of area. Some long-tailed monkeys didn’t seem to care about visitor arrival because of their busy eating favorite fruit.

Incurious….

Before entering the most striking spot, there was an elephant with albino-trunk complete with two long tusks which getting around a giant cage to warm its body in morning sun.

Precisely on right of elephant cage, there is a Minangkabau traditional building with three peaks of “gonjong” on both sides and perfected with a main “gonjong” on the porch. roofed with palm fiber, walled with carved wood and have stage floors. Nearly fifty meters long and about twenty meters wide, this Baanjuang Traditional House looks dashing in the center of Kinantan Zoo.

85-year-old cultural preserve.

Continuing through to east, a white-walled and green roof musalla appears to mediate the location between Baanjuang Traditional House in the centre and Zoological Museum at the eastern end.

Small musalla.

The Zoological Museum itself is green with a Sumatran tiger statue on its roof. To its right, the goldfish-shaped building functions as an aquarium show. The museum which was established in conjunction with a similar museum at Bogor in 1894, has a collection of two thousand species which are preserved and exhibited.

Zoological Museum.

Kinantan Zoo which is officially named Kinantan Wildlife and Culture Park (TMSBK) has had several famous names such as Strompark, Puti Bungsu Park, Bukittinggi Zoo and Fort de Kocksche Dieren Park. Founded by Storm Gravenande, a Dutchman who had served as Assistant Resident of Agam.

Not only all animals which I mentioned above, TMSBK has several other animals such as spotted deer, camels, tigers, orangutans, gibbons, binturung, crocodiles, snakes and many more. It need more time to visit it, so we can enjoy the presence of animals in this zoo.

Please visit here if you are in Bukittinggi.

Seporsi Chicken Fry Menjelang City Souq di Doha.

Selamat tinggal Domes Mosque, masjid penuh sejarah di kawasan Old Doha.

Meninggalkan Old Doha Mosque.

Aku mengucapkan “wadaa’aan” dari pintu belakangnya di tepian Al Jabr Street. Menapaki gang sempit yang dibatasi tembok halus di sisi kiri dan tembok kasar di sisi kanan. Kini, saatnya menemukan sebuah kedai makan untuk mengerem protes perut yang kian menjadi.

Yes…Aku menemukannya dengan cepat. Tak ada waktu lagi untuk membandingkan dengan yang lebih baik. Antara lapar atau khawatir tersunatnya waktu eksplorasi, akhirnya kuputuskan untuk masuk dan duduk. Jelas kusadari, ini adalah kedai makan India, terlihat jelas dari komposisi food display, juga tampang penjualnya.

Karak one, rice one and chicken fry one”, ucapku menumpahkan segenap hafalan di kepala. Itulah makanan favoritku semenjak memasuki Dubai delapan hari sebelumnya. Orang India memang begitu, setiap meminta satu chicken fry maka mereka akan memberikan dua potong ayam goreng kering beraroma kari. Oleh karenanya, ketika di Bahrain, aku memintanya setengah supaya mereka hanya menyajikan sepotong ayam saja.

Ternyata tak berlaku di Doha,  mereka tidak mengenal istilah setengah porsi. Diambilnya sepasang paha diiringi senyum, tampak dia melihat aneh permintaanku. Mungkin porsi makan orang India memang banyak, jadi begitulah aturan makannya.

Menu pesanan sedang disiapkan penjual.
Rp. 44.000, seporsi untuk dua kali makan….
Jadikan dua bagian sebelum disantap, satu bagian untuk dinner….Hahaha.

Perut yang penuh terisi membuatku siap menuju Souq Waqif, pasar tertua di seluruh Qatar. Ini akan menjadi pengalaman yang mengesankan tentunya. Hanya saja, belum juga sampai di Souq Waqif, aku terpesona dengan keberadaan julangan tujuh lantai sebuah pusat perbelanjaan.

City Souq”, mulut batinku membaca signboard besar di tengah bangunan. “Oh, ini sepertinya mall modern di kawasan Old Doha”, aku membatin. Tak ada salahnya masuk walau hanya sedasa menit saja.

Mall seluas setengah hektar.

Masuk melalui pintu bernomor satu dari empat pintu yang tersedia, aku langsung dihadapkan pada kios-kios penjual tas, sepatu, pakaian, kain, aksesoris abaya dan parfum. Aku sendiri tak pernah tahu kategori harganya….mahal atau murah?, karena aku hanya memiliki satu transaksi yaitu saat membeli sebuah fridge magnet seharga Rp 48.000 di pusat perbelanjaan ini.

Toko tas dan sepatu.
Toko parfum dan kacamata.
Toko baju dan celana.
Toko perlengkapan jahit.

Tak lama berkeliling di dalam City Souq, dalam sekejap aku sudah beranjak pergi melalui pintu bernomor empat.

Pintuku keluar dari City Souq.

City Souq sendiri berada tepat di salah sudut perempatan dengan batas timur adalah Al Bareed Street, selatan adalah Al Tarbiya Street, utara adalah Central Municipal Council dan ditutup oleh Al Fanar Mosque di sebelah barat.

Central Municipal Council, entitas independent yang bertujuan melayani negara dan rakyat Qatar.

Tersimpulkan sudah bahwa pusat perbelanjaan unggulan di Old Doha ini tak semegah dari tempat sejenisnya di Jakarta. Jadi berbelanja di Jakarta tentu sudah lebih dari cukup, tak perlu belanja ke negeri seberang (ah, itu mah buat elo Donny yang ndak berduit. Kalau punya duit, ya pasti lo belanja ke Paris, Donny….hahaha).

Yuk lah, jangan menunggu lama, kita merapat ke Souq Waqif, jangan mampir-mampir lagi ya, Donny….Wkwkwk.

Limpapeh Bridge, Jirek and Cubudak Bungkuak

Trulek bird closed my visitation at Fort de Kock.

There’s still time“….Inner continued to force steps.

TMSBK ticket was grasped, then at the end of Fort de Kock I saw a crowd on next hill. While the mind continued to imagine an exquisite Sianok canyon, while a iconic suspension bridge welcomed me at front.

I couldn’t dodge its charm…..

Six Gonjong Roofs in the center, four giant steel strands hold bridge deck along 90 meters. Connecting two strong hills which are quite popular in Bukittinggi, namely Jirek Hill and Cubudak Bungkuak Hill with 3 meters footing width.

Is Limpapeh Bridge which looked mighty straddling on Ahmad Yani Street. It had played a role for about 28 years in connecting Kinantan Wildlife and Cultural Park (TMSBK) with Fort de Kock fortress area.

Limpapeh Bridge itself was the first greeter for my arrival in Bukittinggi a day before.

Limpapeh” itself means “Centre Pillar“. The uniqueness of this bridge is besides in structure centre, its twin pillars also limit both sides of Ahmad Yani Street so that it form a welcome gate for city guests on its protocol road.

Limpapeh Bridge with two layers of six Gonjong roofs.

Whereas on my second visitation on my first night, alphabets board “Limpapeh Bridge” which glowed bright red was decorated with a splash of purple light on both of its twin pillars. Really become city gate which is very beautiful in eyes view.

In evening, Limpapeh Bridge is culinary activities condiment in an area known as Kampung Cino.

Like Janjang which is spread in many city corners, this beautiful link is also a integration manifestation of city facilities. That are a Fort de Kock tourism and Wildlife Cultural Park Kinantan (TMSBK) tourism which are be exposed objects from construction reason of this bridge. It makes easy for tourists to exploring in the city with its nicknamed Parijs van Sumatra.

Gonjong roof with floral batik motifs.

In order to maintain security and maintain bridge’s age of use, venue management only allows a maximum of 200 visitors who can simultaneously be on this bridge and each visitor can only take pictures on the bridge for a maximum of 3 minutes. Okay….Let’s obey the rules if you visit it !….Hehehe.

Marapi Mountain which is shrouded in fog looked from the bridge.

Finally I had an opportunity to enjoy views of this tiny city which had ever been Indonesia capital from a height. Not skyscrapers which appeared in view, but an expanse of citizen’s houses, commercial shops which extend along Ahmad Yani Street curves and green trees dominance which are relied upon as a water catchment area of the city.

Sirabungan Mountain was seen from the bridge.

Being a sensation when you are on the bridge in a condition which alway sway as a main characteristic of suspension bridge. Being a satisfaction when enjoying the charm of Bukittinggi from the bridge which became a city’s flagship icon after its first icon, i.e Gadang Clock Tower.

So….You have to come here if you travel to Bukittinggi.

Empat Puluh Empat Kubah Domes Mosque

Kumandang suara adzan sayup memanggilku ketika sedang berkeliling Souq Faleh. Itulah saat yang kutunggu. Imajinasiku shalat berjama’ah dengan Qataris untuk pertama kali akan segera terwujud. Karena alasan itulah, aku bergegas menuruni tangga menuju lantai satu dan segera meninggalkan pusat perbelanjaan sederhana itu. Selamat tinggal Souq Faleh !

Foto terakhir sebelum meninggalkan pusat penjualan Abaya tersebut.

Terletak 200 meter di tenggara, tak membuatku khawatir tersalip Iqomah. Aku perlahan tapi pasti menapaki Al Ahmed Street, sebuah jalan satu jalur dua arah dengan lajur parking lot di utara.

Lima menit kemudian aku tiba. Tak ada papan nama apapun kecuali papan coklat muda berlogo petir bertajuk KAHRAMAA….Ah, itu pasti PLNnya Qatar. Sangat mudah ditebak.

Gerbang depan.

Bangunan masjid tua itu sekilas lebih mirip sebuah benteng daripada tempat peribadatan. Sulit membedakan apakah berwarna coklat meluntur putih atau putih terkotori plak berwarna coklat. Tetapi kombinasi itu memberikan nuansa klasik dan berumur.

Aku perlahan menaiki anak tangga berukuran pendek di depan pintu masuk dan sesaat kemudian disambut dengan halaman masjid yang di luar dugaanku, tak berlapis keramik mewah, tapi dibiarkan otentik berlapis pasir gurun berwarna putih.

Pelataran berpasir.

Bangunan utama masjid ada di kanan pintu masuk sedangkan minaret tunggal berada di kirinya yang berkombinasi dengan sebuah ruangan yang entah berfungsi sebagai apa. Bangunan utama sendiri memiliki empat puluh empat kubah dengan susunan sebelas kolom dan empat baris.

Minaret tunggal Domes Mosque beserta sebuah ruangan.

Aku terus mencari keberadaan tempat berwudhu, aku mecari di setiap sisi  pelataran utama dan tak pernah menemukannya. Aku mencoba menunggu kedatangan jama’ah lain dan mengikutinya, karena aku yakin tempat pertama yang akan dicarinya adalah tempat berwudhu. Ternyata ruang wudhu ada di bagian barat bangunan, tersembunyi di belakang. Sedangkan di pojok depan kiri pelataran, terletak rumah imam masjid.

Ruang berwudhu.
Al Imam House.

Kini aku memasuki bagian utama masjid untuk bershalat Dzuhur, sepanjang sisi masuk bangunan utama terbuat dari kaca bening sehingga membuat seisi masjid terlihat dari pelataran. Masjid yang dipercaya berasal dari abad pertengahan ini ditopang oleh 60 tiang raksasa. Hal ini menunjukkan kekokohan Domes Mosque.

Tiang-tiang utama.

Jika dilihat dari atas, Domes Mosque memiliki bentuk Letter-L dengan luas sekitar satu setengah hektar. Dibangun di atas kawasan Old Doha dengan batas Al Ahmad Street di bagian utara, Al Jabr Street di sisi timur, sedangkan sisi barat dan selatan berbatasan langsung dengan Stasiun Doha Metro Souq Waqif.

Ruangan dalam sendiri tertata cukup rapi dengan karpet hijau dengan siraman Air Conditioner. Domes Mosque juga menyiratkan kekuatan Qatar dengan penghiasan mata tombak di setiap kubahnya.

Setelah shalat berjama’ah selesai, akhirnya aku keluar dari pintu belakang di sisi Al Jabr Street.

Kemudian, aku sedikit berjuang keras dengan berjalan kaki untuk menemukan rumah makan murah tetapi layak dijadikan sebagai tempat makan siang.

Aku menemukan sebuah restoran kecil khas India, mirip dengan warteg di Indonesia. Kupesan seporsi nasi dan chicken fry ala India.

Restoran atau kedai ya?

Fort de Kock and Padri War

I was still staring at Bung Hatta Birth House from sidewalk of Soekarno Hatta Street, not willing to leave it, but I kept thinking about how a work team built a replica of that house precisely because the original house had collapsed in 1962 ago.

Stepping back towards the direction which I originally came, I turned onto Pemuda Street after passing through Banto Trade Center. My legs were still strong when faced with a swerving long road, I was willing to follow it because my eyes were spoiled with a stretch of green rice fields and typical “Gonjong” roof architecture which adorns official government buildings.

“Gonjong” roof in State Primary School 14 ATTS (Aur Tajungkang Tengah Sawah).
BDB Monument Park, a symbol of people resistance against Dutch colonialism on 15 June 1908.
“Gonjong” roof in Regional Public Hospital Dr. Achmad Mochtar.

Looked like my trip would rotate and increasingly climb, my legs were no longer able after five days before always rely on it to explore Sumatra Island.

It was time to called online transportation to reach Fort de Kock front gate. In less than five minutes of riding it, I climbed Jirek Hill and arrived at fort front gate.

Wekom in Fort De Kock”…..

Fort gate.

Past the gate, “Family Benteng Indah” restaurant was the first greeter, then forwarded by ticket sales counter. Even though, I visited Fort de Kock, the venue which was written on ticket was Wildlife Cultural Park Kinantan with its price listed about USD 1.1.

Ticket sales counter.

After passing ticket check point, food stalls stood in line on right side. Then a cage of an endemic Chinese pigeon type “Junai Mas” was placed at its end. After that, I could see original shape of the fort.

There it is the form of a small fortress “Fort de Kock”.

Fort Fort Kock was established by Captain Bauer as dome of Dutch East Indies Government in facing of people resistance in Padri War which was led by Tuanku Imam Bonjol. This war itself erupted in first quarter of 19th Century. At that time, Boan Hendrick Markus de Kock was the commander of Der Troepen and Deputy Governor General of Dutch East Indies Government. This is where the name “Fort de Kock” originated.

An ancient cannon from year 1800s at four corners of the fort.

The main building of the fort which is no more than 400 square meters looks small but is very strong physically and strategically. In physical form, this fort has a good wall thickness. And strategically, the fort is tough because it is located right at hill top, making it easy for anyone to observe all movements of enemy around.

See how thick the fort walls are.
Second floor or fort roof.

I tried to continue to imagine how great Tuanku Imam Bonjol actions in leading Padri people against Dutch Colonialism. Until Netherlands had to build this fort to secure its power from threat of this charismatic leader.

Park is seen from above fort.