Cerita Hajar Aswad di Balik Arsitektur Masjid Raya Sumatera Barat

Perjalananku sejenak terlempar dari jalur waktu. Aku, pejalan tunggal yang harus mengalah dengan kepentingan segenap penumpang Maestro Travel yang tergesa mengejar penerbangannya masing-masing. Kunikmati saja penghamburan waktu satu jam untuk berdiam diri di dalam travel demi menghantar mereka ke Minangkabau International Airport dan setelahnya baru menuju ke tengah kota Padang.

Pengemudi: “Mau di drop dimana, Uda?”.

Aku: “Turunkan saya di Masjid Raya Sumatera Barat saja, Da!

Aku lebih memilih turun di destinasi yang kutuju daripada harus mengikuti alur mereka yang akan mengambil penumpang di kantornya. Hemat dan efektif tentunya.

Diturunkan di Jalan Khatib Sulaiman, tepat di halte Masjid Raya Sumbar , aku dihadapkan langsung ke arah masjid termegah di Sumatera Barat itu. Dengan cepat aku memasuki areanya melalui Taman Melayu Sumatera Barat yang juga merupakan bagian dari pelataran “Masjid Seribu Pintu Angin” itu.

Sedang dalam renovasi, tak memungkinkan untuk masuk….Sedih.

Di taman, aku hanya berdua saja dengan seorang laki-laki berumur asal Makassar yang juga sengaja mampir demi melongok masjid tanpa kubah tersebut. Jarak berdiri yang terlalu dekat membuatnya susah memasukkan seluruh wujud masjid ke dalam kotak selfienya. Melihatku yang sedang sibuk mengabadikan gambar, dia tampak memberanikan diri mendekat. Sudah tertebak, aku pasti diminta mengambil gambar dirinya bersama sang masjid….Hahaha.

Aku berhasil memerintahnya sesuka hati untuk mendapatkan gambar terbaik….Terakhir kita berselfie berdua di tab lebarnya itu. Sampai jumpa Opa Upe, semoga perjalanan pulangmu ke Makassar menyenangkan.

Adalah arsitek brilian yang berhasil menggandakan makna atap pengganti kubah. Secara fisik terlihat, itu adalah atap gonjong yang terdiri dari empat puncuk yang diletakkan di setiap sisi. Tetapi sesungguhnya bentuk itu menyimpan makna sejarah. Itulah bentuk bentangan kain yang digunakan pemimpin empat kabilah suku Quraisy untuk memindahkan batu Hajar Aswad  di Ka’bah.

Jalur menuju lantai atas secara langsung.

Jujur, aku sendiri tak pernah mengira bentuk masjidnya semegah dan seunik itu. Aku tak pernah melihat bentuknya melalui selancar internet atau mencari tahu terlebih dahulu sebelum mengunjunginya. Jadi bisa kamu bayangkan bagaimana terpananya diriku ketika berdiri tepat di hadapan bangunan religi ikonik itu.

Sanggung menampung dua puluh ribu jama’ah.

Menempati area seluas empat hektar, Masjid Raya Sumatera Barat selain sebagai tempat ibadah terbesar juga telah menjadi landmark kota, destinasi wisata religi, bahkan memiliki fungsi cadangan sebagai penanggulangan bencana yaitu sebagai shelter evakuasi apabila terjadi tsunami….Maklum, Padang pernah dihantui tsunami akibat gempa besar pada tahun 2009….Beruntung tsunami itu tidak benar-benar datang.  

Impresi luar biasa pertama yang kudapatkan ketika mampir sejenak di kota Padang.

Beautiful Padang……

Air Asia D7 505 dari Seoul ke Kuala Lumpur

Jalur penerbangan D7 505 (sumber: flightaware.com)

Aku terduduk di salah satu bangku dekat gate 112 milik Satellite Concourse Building Incheon International Airport setelah beberapa menit lalu dipindahkan oleh shuttle train dari Terminal 1. Waktu boarding yang tinggal setengah jam lagi, membuatku tak bisa mengambil resiko untuk mengeksplorasi seisi bangunan terminal bandara itu.

Aku lebih memilih mengamati lalu lalang pesawat terbang. Sebagian dari mereka tampak fokus mendaratkan roda di runway bandara dan sebagian yang lain tampak mengantri hingga mendapatkan izin dari Air Traffic Controller (ATC) untuk mengudara. Kebiasaan seperti itu memang sering aku lakukan karena ketertarikan diriku akan pesawat dan industri penerbangan. Dari kebiasaan melakukan pengamatan tersebut, tak jarang aku menemukan nama-nama maskapai baru yang dikemudian hari aku biasa menyasarnya demi menikmati jasanya dalam berkeliling dunia.

Bagiku, hari itu terasa sangat spesial dalam sejarah perjalananku, karena Air Asia D7 505 akan menjadi perjalanan pertamaku menggunakan pesawat berbadan besar. Jika pada penerbangan-penerbangan sebelumnya aku selalu menunggangi pesawat berbadan kecil, sejenis Airbus A320 ataupun Boeing 737, tetapi kini aku akan menunggangi Airbus A330 dengan 9 kolom bangku….Sore itu begitu benar-benar menciptakan rasa penasaran dan ketidaksabaran.

Setengah jam kemudian, gate benar-benar dibuka. Aku mulai mengambil posisi di kolom antrian kanan.

Belanjaan duty free kasih ke mama saja, biar mama yang pegang”, seorang penumpang pria berseru pada putranya yang menenteng dua botol besar minuman berlakohol. Mendengar bahasa bangsa saat berada di negeri orang memang menjadi kado istimewa yang bisa membantu menaikkan mood untuk selalu merasa dekat dengan rumah. Kini di sebelah kiriku ada seorang WNI keturunan Tiongoa yang tampaknya juga sedang dalam perjalanan pulang.

Dari kota mana, pak?”, aku memberanikan diri bertanya.

Loh, masnya dari Indonesia juga? Saya dari Bekasi, mas.

“Oh, saya dari Jakarta Timur, Pak”.

“Oh, deket ya kita. Ngerjain bisnis apa, mas di Jakarta?”

“Saya kerja aja kok, Pak di Jakarta. Ndak ada bisnis”.

“Oh gitu ya, sendirian ya mas?”

“Iya Pak”

“Wah keren….keren…”

Percakapan kami tak berlangsung lama karena pertemuan itu harus berakhir ketika ground staff memerikasa tiket dan paspor kami. Setelahnya kami terpisah di lorong panjang aerobridge.

Di ujung aerobridge, aku disambut oleh pramugari berwajah Melayu di pintu pesawat lalu aku diarahkan untuk berbelok ke arah kabin depan. Sesuai dengan boarding pass aku mencari kursi bernomor 14K yang ternyata berposisi di window seat sisi kanan. Itulah tempat duduk yang harus kunikmati selama penerbangan panjang nanti.

Oh ya, nomor penerbanganku kali ini adalah D7 505. Mau tau makna kodenya?….

Jika QZ adalah kode penerbangan yang dioperasikan oleh Indonesia Air Asia dan AK adalah kode penerbangan untuk Air Asia Malaysia maka D7 adalah kode penerbangan milik Air Asia X khusus untuk penerbangan jarak jauh.

D7 505 sendiri adalah penerbangan berjarak 5.000 Kilometer dengan waktu tempuh 5 jam 50 menit. Penerbangan bermula dari Incheon International Airport, Korea Selatan dan akan berakhir di Kuala Lumpur International Airport 2, Malaysia.

Hmmhh…..Selama penerbangan….

Ternyata, window seat yang kutempati terasa tak nyaman karena lengkungan kabin pesawat membatasi kenyamananku selama penerbangan. Selama terbang di kelas ekonomi itu, aku hanya bisa mengisi waktu dengan membolak-balik majalah Travel 360 yang merupakan inflight magazine milik Air Asia. Ketika tatapku mulai lelah dalam membaca,  maka aku berlanjut  menghabiskan waktu dengan memejamkan mata. Beruntung almond kemasan yang kubeli di Namdaemun Market kemarin hari membuat penerbanganku sedikit tak membosankan.

Separuh penerbangan yang dalam kondisi terang  membuatku leluasa menikmati pemandangan Laut Kuning dan Laut China Timur, sedangkan selebihnya penerbangan berlanjut dalam gulita yang membuatku tak bisa berbuat banyak. Hingga akhirnya pesawat tiba di Kuala Lumpur sekitar pukul sepuluh malam.

Seusai penerbangan itu, aku masih harus melewati babak terakhir pejalananku menjelajah Asia Timur dengan bermalam selama 9 jam di Kuala Lumpur International Airport 2 sebelum esok hari kembali ke tanah air menggunakan connecting flight Air Asia AK 382.

Mencicipi Nasi Goreng Campur di Incheon International Airport

Pukul 12:15 aku tiba di Pulau Yeongjong, sebuah pulau di pantai barat Korea Selatan dimana Incheon International Airport dibangun dengan gagahnya.

Aku melangkah gontai keluar gerbong Seoul Metro Line I, seakan tak rela meninggalkan Seoul yang baru saja kunikmati sedari lima hari lalu. Tapi toh, aku tetap sadar diri akan amunisi yang tak digdaya lagi. Tanpa kartu kredit maupun debit aku tak akan bisa kemanapun dengan Won tersisa. Bahkan beberapa lembar Won yang terselip di dompet keritingku mungkin hanya cukup untuk membeli sarapan sekedarnya di bandara nanti.

Keluar dari Airport Station, tatapku awas mencari Flight Information Display System (FIDS) untuk melacak check-in desk yang harus kutuju. Tentunya sangat mudah menemukan informasi penerbangan di bandara terbesar nan canggih kebanggaan Korea Selatan itu. Petunjuk mengarahkanku untuk menuju Check-in Desk D sebagai konter untuk menukarkan e-ticket dengan boarding pass menuju Kuala Lumpur.

Berderap langkah, aku harus menuju ke Lantai 3 untuk mencari keberadaan Check-in Desk D dimana penerbangan Air Asia D7 505 akan dibuka. Mungkin karena kurang fokus membaca informasi yang terpampang pada FIDS maka aku tiba di depan check-in desk yang masih sunyi. “Hoo iyaaa, status penerbangannya belum open”, aku membatin sambil tersenyum membodohkan kekurangtelitianku. “Lebih baik aku cari sarapan dulu”, ungkapan diri yang salah lagi karena sejatinya aku tiba di bandara sudah tengah hari.

Aku bergegas menuju Basement 1 Level untuk mencari sarapan sekaligus makan siang. Dengan Won tersisa akhirnya aku mendapatkan seporsi stir fried rice yang menjadi menu termewahku selama berkelana di Korea Selatan….Njirrr. Sedangkan urusan minum, aku tetap mengandalkan keberadaan free water station….Yuhuuu.

Aku sengaja mengulur waktu saat menikmati makanan di salah satu bangku food court. Toh aku bisa melihat dengan leluasa status penerbanganku dari FIDS ukuran medium yang terpampang di salah satu sisi.

Hampir satu jam aku menguasai bangku itu, bersantai melahap seporsi sedang stir fried rice, menghisap paparan aroma sedap yang menyeruak di setiap sudut ruangan, menikmati keriuhan para pejalan dari berbagai bangsa dalam berburu kuliner dan senantiasa menaruh kewaspadaan mata pada layar FIDS yang terus menggusur larik-larik informasi penerbangan ke atas halaman.

Aku terkesiap saat lamat melihat nomor penerbangan Air Asia D7 505 menampakkan diri di barisan bawah FIDS. Usai mendekat memastikan, akhirnya aku meninggalkan bangku dan kembali menuju ke lantai 3 demi menuju ke Check-in Desk D.

Check-in Desk D.

Mengingat ini adalah return-ticket yang menuju titik awal perjalanan maka petugas wanita di konter check-in tak terlalu banyak bertanya hal rumit. Begitu pula dengan petugas pria di konter imigrasi, dia pun tak perlu waktu lama untuk membubuhkan departure stamp di paspor hijau milikku. Proses ini tentu tak serumit kisahku ketika memasuki Korea Selatan melalui konter imigrasi Gimhae International Airport di kota Busan.

Selepas area imigrasi, aku fikir akan mudah menemukan gate dimana pesawat Air Asia yang akan kutunggangi melakukan loading. Ternyata tak demikian. Untuk menemukan gate 112, aku harus menuju ke Satellite Concourse Building yang hanya bisa ditempuh dengan shuttle train milik Incheon International Airport melalui jalur bawah tanah.

Mengikuti signboard yang ada, aku diarahkan menuju platform shuttle train yang akan membawa segenap penumpang menuju Satellite Concourse Building di sebelah barat Terminal 1. Satellite Concourse Building sendiri adalah bangunan membujur di tengah-tengah Terminal 1 dan 2 Incheon International Airport. Memiliki 30 gate, 6 lounges dan berjarak hampir 1 km dari Terminal 1.

Shuttle train dua gerbong tanpa tempat duduk itu selama tujuh menit menjelajah jalur ganda kereta bawah tanah di Incheon International Airport untuk kemudian memindahkanku ke Satellite Concourse Building. Sesampai di bangunan itu, tentu tak sulit lagi bagiku untuk menemukan Gate 112, yaitu gerbang dimana aku akan diterbangkan menuju Kuala Lumpur International Airport untuk transit selama sembilan jam sebelum menuju tanah air.

Maestro Travel dari Bukittinggi ke Padang.

Begitu mudahnya memesan jasa travel dan bus di Sumatera. Angkat telepon, sebut tujuan, sampaikan jam keberangkatan lalu tanyakan jam berapa mesti bersiap diri di kantor travel atau bus !….Tak perlu bayar di muka….Maka kamu akan tiba di tujuan jika tak telat datang.

Bus INTRA dari Pematang Siantar ke Pekanbaru….

Travel Annanta dari Pekanbaru ke Bukittinggi….

Kini prosedur mudah itu terulang untuk Maestro Travel dari Bukittinggi ke Padang….

—-****—-

Hari terakhir di Bukittinggi atau jika dihitung dari awal keluar rumah adalah hari keenamku di tanah Sumatera, aku mengisahkan perjalananku bersama Maestro Travel ketika mulai menelfon staff front office perempuan pada jam delapan pagi di hari keberangkatan.

Nanti duduk di bangku paling belakang dan datang setengah jam sebelum keberangkatan ya, Uda. Siapkan ongkosnya Rp. 40.000 saja !”, ucapnya singkat.

—-****—-

Aku tergopoh menuju De Kock Hotel setelah kunjungan terakhirku di Taman Panorama. Tak sempat mandi lagi, fikirku hanya satu, malam nanti aku akan tiba di Jakarta dan akan berendam air hangat di ember rumah saja….Sepuasnya….Hahaha.

Vixion hitam menjemputku di teras hotel kemudian melaju kencang menembus kepadatan Jalan Sudirman menuju kantor Maestro Travel yang berjarak tiga kilometer. Dalam lima belas menit aku tiba. Memasuki kantor, aku disambut wanita muda berjilbab, kuserahkan ongkos lalu kugenggam selembar tiket menuju ke Padang,

Masih tersisa 20 menit sebelum travel tiba. Menurut petugas front office itu, mobil masih berkeliling menjemput penumpang di rumahnya masing-masing. Kuputuskan saja untuk menyambangi sebuah warung nasi di sekitaran kantor dan memesan seporsi pecel ayam dan segelas air putih. Kali ini aku sangat cepat menyantapnya, seperti ular menelan seekor landak…ehhh.

Aku tiba kembali di kantor travel dalam kondisi mobil sudah siap dan semua penumpang tampak melihat ke arah kedatanganku. Rupanya aku ditunggu semua penumpang, semoga mereka tak kesal.

Kursi tengah dan sebelah sopir diduduki oleh sepaket keluarga kecil. Suami-istri, putrinya yang mungil dan ibu mertua sang suami. Sementara aku duduk di belakang bersama seorang bule Slowakia bernama Boris. Seorang tukang pos muda, berkepala plontos, berbadan kurus dan hobi mencari kesunyian.

Di jok belakang kami bercakap sepanjang perjalanan. Cerita dimulai dengan kesan perjalanannya di Kazakhstan dimana tak ada seorangpun yang mengganggunya ketika dia naik gunung sendirian. Kemudian berlanjut pada sifatnya yang akan merasakan pening ketika bekerja di kantoran, oleh karenanya dia memilih menjadi tukang pos saja di Slowakia.

Why is this car passing a small road like this? Can we arrive at the airport on time?”, ketusnya kepadaku.

I think that driver is trying to get through the faster road, Boris …. Hahaha”, celetukku kepadanya.

If he fails, It’s not funny….Not funny”, dia terserang panik. Memang jadwal terbangnya hanya berselisih satu jam dari waktu estimasi tiba yang dituturkan google maps dalam smartphoneku.

Kucoba mengalihkan perhatian dengan terus bercakap. Entah aku memulai dari mana hingga aku bisa membicarakan Titik 0 km Indonesia di Sabang, Kawah Ijen, Probolinggo, e-commerce Lazada hingga iPhone bekas yang menurutnya murah jika dibeli di Indonesia. Satu lagi, kami membahas perihal penerbangan langsung dari Manado ke Manila. Hingga si kepala keluarga yang duduk di sebelah sopir ikut berbincang dan menjelaskan bahwa penerbangan itu tidak ada.

Aku melewati air terjun di tepian jalan, aku tahu itu Air Terjun Lembah Anai. Artinya aku sudah berjarak empat puluh kilometer dari kota Padang. Boris memintaku untuk menghentikan sopir dan mengizinkannya untuk berbelanja air mineral, mahal katanya jika harus membelinya di bandara. Kufikir tak perlu berhenti, aku punya persediaan air mineral kemasan yang banyak. Hasil mengumpulkannya dari Hotel Sri Indrayani di Pekanbaru, Travel Annanta dan De Kock Hotel di Bukittinggi. Kuberikan dua botol kepadanya. “I really appreciate you, Donny….very much appreciate”, katanya sembari menepuk-nepuk lenganku.

Itulah kata perpisahanku dengannya, dia harus turun di Minangkabau International Airport dan menuju ke Malang. Sepaket keluarga itu akan pergi ke Bandung.  Sementara aku akan menuju pusat kota Padang untuk mengekplorasinya selama empat jam, mengingat aku akan pulang ke Jakarta pada pukul delapan malam.

Madira at Hanuman Dhoka Durbar Square

Early morning….No doubt, I exchanged 1.000 Rupee with a pink-white ticket as an access to enjoying the history of Hanuman Dhoka Durbar Square.

Walking on andesite-covered Layaku Marg Street which looking gray color and the thin dust which thrown by the cleaning staff’s broomsticks, I was ready to entering ancient Nepal are which was still in the form of a kingdom.

The temple to worship “Goddess of Science” I passed passed and then I met a crowd of people who were busy burning incense, sowing flowers and then putting their palms together on their chests facing a black six-armed statue which was believed to be the embodiment of Lord Shiva the Destroyer.

Saraswati Temple.

Meanwhile, the incense traders in Indorapur Mandir courtyard made this area very crowded if was compared to other areas in Kathmandu Durbar Square. In harmony with a busyness of hundreds of pigeons were eating their breakfast which was given by travelers who have come first in this area.

Kaal Bhairav ​​with golden crown as embodiment of Lord Shiva.

Roof layers of all temples look the same and took me to Majapahit fiction atmosphere likely in Indonesian cinema. The atmosphere of Hindu Knights which was very thick that morning, was able to throw me for a moment from a world which was fanatical with technology.

Corn kernels were sold to pigeons.

The Royal Palace of Malla which was later used by Shah Dynasty was an important icon in Kathmandu Durbar Square. Because the statue of Lord Hanuman was guarded at front gate, this UNESCO World Heritage Site was known as Hanuman Dhoka Durbar Square. Some people call it as Basantapur Durbar Khsetra because this palace was located in Basantapur area.

That was the gate.

After gate, the spacious palace courtyard welcame. Known as Nasal Chowk. Nasal means dance, referring to Lord Shiva who danced Tandava Nataraja when destroying the obsolete universe. This plaza-like courtyard was surrounded by palace buildings on all four sides.

White building on west side of palace.

Meanwhile on south side of courtyard was a sign of a project funded by Ministry of Commerce of People’s Republic of China to renovated the palace which was badly damaged after a tectonic earthquake which was resulted from the collision of the Indian and Eurasian plates in the Himalayas in 2015.

The Nine-story Basantapur Tower which has collapsed.
The room in which there was a statue of Lord Shiva who was dancing.
Sun Dial, the timepiece before clock invention.

Then, on north side, there was the architectural form of Newar with striking green windows. Nicknamed as Sisha Baithak which its functions as a work audience room. On the lower floor of this building, there were rows of king photos. And two palace guards were seen pacing with their rifles around this building.

From left were King Rana Bahadur Shah (third King of Nepal) and his son King Girbanayuddha Bikram Shah (fourth King-pictured at right)
With Guard Police at Sisha Baithak before leaving the palace.

I left the palace while throwing my thanks and goodbye to Guard Police. Suddenly his friend who had just arrived said to him in Nepali, I guess it reads “Where is he from?”, because the policeman who I took the photo with said simply “Indonesia”.

One tip when you are in Kathmandu Durbar Square area is to try to understand one by one buildings which you pass, because every building there has an amazing function and historical value.

Again I found a unique building. A temple which studded with Shwet Bhairav ​​which was believed to be the most powerful embodiment of Lord Shiva. Hidden in wooden curtains and waiting for the Indrajatra Festival to fully reveal itself to the people of Newar. When the festival arrived, Madira (alcohol) will be emitted from his mouth as a form of blessing for humans.

Shwet Bhairav.

It was noon….The sun was now starting to penetrate every gap in the square, warming my body which had been exposed to the cold since morning. It was time to move on to next destination.

Next I would show you the beauty of a goddess in Hindu and Buddhist mythology in Nepal.

Yups….Follow me!

Sisa Jepang di Taman Panorama

Pengemudi wanita paruh baya itu menjemputku di  Rumah Makan “Gulai Itiak Lado Mudo Ngarai”.

Aku: “Ibu, tadi sudah saya cancel karena terlalu lama, tapi saya juga belum berhasil memesan ojek yang lain sih, bu

Ibu Ojek: “Di aplikasi saya belum ter-cancel, uda. Saya terjebak kemacetan karena ada mobil mogok di tanjakan atas. Ayo, naik aja, Uda. Disini susah signal, nanti malah ga dapat ojek lagi, lho”.

Tanpa fikir panjang, aku bergegas duduk di jok belakang dan menolak menggunakan jas hujan yang disodorkan si ibu karena kuyakin gerimis lembut itu tak akan membuatku kuyup.

Melawan arah datang dan berbelok ke kanan ketika berada di puncak Jalan Binuang yang terpotong oleh sebuah perempatan, kemudian aku menelusuri nama jalan yang sama dengan nama taman kota yang sedang kutuju.

Si ibu tepat menurunkanku di depan pintu masuk taman yang sangat ramai pengunjung. Kuselipkan selembar lima ribuan di dashboard motornya sebagai uang tip walau dia menolak dengan gigihnya. Salut dengan ibu ini.

Waktu yang tak sebanyak pengunjung lain, membuatku berjalan terburu menuju konter penjualan tiket masuk yang terlindungi oleh atap dengan tiga pucuk gonjong, lalu menukarkan uang Rp. 15.000 untuk mendapatkan akses masuk.

Lobang Jepang adalah situs pertama yang kucari begitu memasuki area taman. Aku begitu penasaran dengan bentuk lubang pertahanan terpanjang di Asia itu. Tak susah menemukannya, patung dua serdadu Jepang yang berdiri berlawanan arah menjadi penanda keberadaannya.

Patung dua serdadu Jepang.

Tampak sebuah rombongan wisata menutup mulut Lobang Jepang karena khusyu’ mendengar pengarahan dari seorang pria pemandu wisata. Tampak pula sebuah denah yang menggambarkan jalur di dalam lobang pertahanan itu.

Pintu masuk Lobang Jepang.

Sementara di sebelah kanan pintu masuk tampak area utama taman yang didominasi oleh lantai keramik yang membentuk sebuah podium pertunjukan dengan salah satu sisi berupa titik pandang Ngarai Sianok dan Gunung Singgalang.

Bayar lagi ya kalau ambil foto di view point ini.

Di beberapa spot tampak disediakan kanopi taman dengan empat pucuk gonjong. Kontur topografi Bukittinggi yang berbukit lembah tampak digambarkan oleh bentuk taman ini. Satu sisi taman tampak berada lebih tinggi dari sisi yang lain, tak hayal banyak disediakan tangga untuk mempermudah pengunjung untuk mengakses setiap sisi taman

Area utama.
Podium.

Sementara di sisi kiri, tersedia ruang datar yang difungsikan untuk taman bermain anak dengan pusat sebuah pilar tunggal. Tampak pula sebuah musholla mungil berdinding kaca berada tepat di sisi area bermain anak.

Area bermain anak.
Aula dan musholla.

Inilah Taman Panorama yang menjadi penutup kunjunganku di Bukittinggi. Sekiranya aku akan datang kembali ke kota ini jika ada kesempatan. Aku akan kembali untuk menikmati nikmatnya Nasi Kapau kota ini.

Saatnya berkemas dan menuju ke Kota Padang.

Ada apa saja di Padang?….Yuk ikut aku.

Indra Chowk before Kathmandu Durbar Square

Got ready for breakfast….

Unusually, a slightly luxurious breakfast had been prepared on the top floor of Shangrila Boutique Hotel. Fried rice sprinkled with diced buffalo meat, two slices of sausage and a sheet of beef eye egg. Two layers of toast with a sheet of cheese were also prepared. Then they closed with a cup of hot black coffee.

A full stomach and I was ready to enter the past Nepalese glory that will be implied in every inch of area in Kathmandu Durbar Square, one of three famous Durbar Square in Nepal. “Durbar” itself means “palace”. So actually Durbar Square is a palace square in general.

Walking in Amrit Marg, the warm morning sun eased my steps when I must defeat 9 degrees Celcius air which was still reluctant to move up. While coughing had inhabited my throat since a day ago due to dust which continued to be uncontrollably inhaled. “It’s okay, tomorrow I fly to New Delhi, surely air will be cleaner there,” I thought to calm myself. This belief kept Ambroxol tablets which I brought from Jakarta still intact.

Now I was starting to enter a number of narrow intricate turns. Andesite-floor streets lined with a row of sun-blocking shophouses and spreading of irregular signboards. Even in Jyatha Marg, it was decorated by the very tangled knotted strands of electric cables.

Nepalese electric officer must be adept at dealing with electrical damage.
Gemitir flower trader on the edge of Chandraman Singh Marg.

It was time to step out at last intersection before entering the famous Indra Chowk area. It was 10 a.m. but shops along Chandraman Singh Marg were still closed. Meanwhile, motorbikes which were passing could be counted in a matter of fingers.

Pedicabs which started their services.
Tasting boiled peanuts.

A few steps, the area which I headed for was in front of my eyes, intersection of five streets with very high activity. The rumble of morning trading which stunned me to observe it from a intersection side. This was Indra Chowk, an area which for centuries had been a famous trading center in Kathmandu district. Anyone who wanted to hunt for Nepalese clothes, souvenirs or tasting local food then just came here!

Pedicab base at Indra Chowk.

Entering intersection area from north side via Chandraman Singh Marg, I could see other four roads which made up the intersection, namely Siddhidas Marg (from Northeast), Watu Marg, Sukra Path, and Siddhidas Marg (from Southwest). All five lead to a broad circle with an iconic view of Aakash Bhairav ​​temple.

Aakash Bhairav yang bersejara The historic Aakash Bhairav ​​became Nepal’s first king’s palace.

Stepping back, away from the noise of Indra Chowk while holding Dhaka Topi which I bought from a shophouse, a less crowded street greeted me again.

Siddhidas Marg.

On this street, there was an interesting spot. Public knew it as Makhan Tole. A famous art spot in Kathmandu. There were many fine arts works here and of course many travelers chase them.

Makhan Tole Gate.

From Makhan Tole, it only took 5 minutes walking to Kathmandu Durbar Square.

Finally I arrived.

Let’s explore what were in Kathmandu Durbar Square …….

Ngarai Sianok, Patahan Alam yang Sempurna

Bertaruh dengan hujan, kutinggalkan Kinantan Zoo. Kufikir akan sangat merugi untuk melepas begitu saja pesona patahan alam yang dimiliki Kota Bukittinggi itu. Undur diri melalui alur yang sama sedari memasuki Fort de Kock, Jembatan Limpapeh dan TMSBK, kini aku sudah berdiri lagi di gerbang terdepan benteng persegi itu.

Anak muda usia datang dengan senyum menghampiriku. Dialah ojek online yang kunanti untuk mengantarkanku ke tujuan berikutnya. Dalam perjalanan cepat itu, dia berujar “Uda, di bawah signal akan jelek, jika mau di jemput pulang setelah selesai berkunjung, saya siap ambil”. Karena sifatku yang tak mau diburu-buru untuk menikmati sesuatu, apalagi tentang keindahan alam maka aku menolaknya halus.

Jalan Dr. Abdul Rivai sudah selesai kulewati hingga ujung. Itulah nama jalan untuk mengenang seorang Bumiputera yang pernah berjuang melawan kolonialisme Belanda melalui ranah jurnalistik. Selanjutnya jalanan mulai menukik tajam ketika haluan berubah ke kanan.

Perjalanan menukik sejauh satu kilometer itu tersuguhkan pemandangan lembah yang sungguh mempesona di kiri-kanan Jalan Binuang. Janjang Koto Gadang bak miniatur Tembok Besar China tampak dalam sekelebat mata. Aku tak punya waktu lagi untuk melongoknya karena harus bertaruh dengan jadwal jasa travel menuju ke Kota Padang.

Selamat Datang di Kenagarian Sianok Anam Suku”, tertulis di bagian atas sebuah gapura tepat di tengah jembatan penghubung dua sisi lembah yang terpotong oleh Sungai Batang Sianok. Di tiang kanan memberitahu bahwa aku sedang berada di Kecamatan IV Koto, sedangkan tiang sebelah kiri memberitahu bahwa aku berada di Kabupaten Agam.

Sungai Batang Sianok yang dangkal.

Sungai selebar dua puluh meter itu sepertinya tak pernah murka meluapkan air. Perkiraanku itu sangat beralasan dengan keberadaan bangunan semi-permanen bahkan permanen di tepian sungai. Dan entah, endapan tanah berpasir di tengah sungai itu dihantarkan dari mana oleh arus sungai.

Sisi lain Sungai Batang Sianok.

Tak bisa kubayangkan bagaimana dua sisi tebing yang awalnya menyatu itu kemudian bergeser berlawanan arah membentuk patahan tegak lurus sempurna dan menciptakan lembah memanjang yang kemudian diinvasi oleh air untuk membentuk sebuah sungai alami.

Dan….Hujan lebat pun sungguh turun…..

Membuatku terbirit meninggalkan ngarai dan mencari tempat berteduh.  Teras “Rumah Makan Gulai Itiak Lado Mudo Ngarai” menjadi tempat nyaman untuk berteduh walau aku terus diawasi oleh pemiliknya lekat-lekat. Akhirnya kuberanikan diri meminta izin untuk berteduh sementara.

Benar adanya, aku benar-benar tak mendapatkan signal untuk memanggil ojek online ketika hujan mulai mereda. Aku berusaha mencari pijakan yang lebih tinggi untuk kemudian mendapat dua bar signal cell. Susah payah kupesan ojek online yang berkali-kali tertolak. Hingga akhirnya, pada panggilan kelima aku dijemput oleh seorang ibu paruh baya dengan scooter maticnya dan mengantarkan ke destinasi terakhirku di Bukittinggi.

Ngarai Sianok tertangkap dari Taman Panorama.
Pemandangan Ngarai Sianok berlatar Gunung Singgalang….Cantik bukan?

9 Gagasan Mengurangi Sampah Makanan Kota

Pada tahun 2050 dibutuhkan 60% pasokan pangan lebih banyak akibat meningkatnya jumlah populasi global yang diikuti oleh perubahan pola konsumsi masyarakat dunia (Climate Change, Agriculture and Food Security).

Akan tetapi terdapat fakta kontradiktif lainnya dimana sepertiga dari jumlah pangan yang dikonsumsi dunia terbuang setiap tahunnya. Persentase ini setara dengan 1,3 miliar ton makanan. Jika dikonversi maka angka ini setara dengan 3,3 miliar ton karbon (FAO). Angka sebesar itu menunjukkan bahwa emisi gas rumah kaca yang dihasilkan sisa pangan dunia hampir mendekati emisi yang dihasilkan negara Amerika dan Tiongkok.

Seandainya dunia berhemat makanan dan tidak membuangnya maka kebutuhan dunia akan pangan di tahun 2050 bisa ditekan di angka 1,3 miliar ton saja atau naik 30% dari kebutuhan saat ini.


Lalu bagaimana dengan kondisi food waste di Indonesia?

Jumlah sampah makanan harian di beberapa kota di Indonesia.

Dari data di atas terlihat bahwa persentase makanan yang dibuang di beberapa kota melebihi rerata 50%. Dua diantara banyak penyebabnya adalah budaya dan gaya hidup. Budaya ningrat Jawa misalnya yang tabu menghabiskan makanan di piring ketika makan.  Selain itu, gaya konsumsi berlebihan akibat meningkatnya ekonomi masyarakat juga menguatkan fakta di atas.

Ide-ide besar harus diterapkan untuk mengurangi laju terbentuknya sampah makanan. Berikut ini adalah sembilan dari sekian banyak strategi yang bisa diterapkan untuk mengurangi sampah makanan pada sebuah kota:

Distribusi bahan dan limbah pangan yang ideal pada sebuah kota.
  1. Quality Control di Level Produsen

Letak lahan pertanian yang berada di luar kota menjadi tantangan sendiri dalam menentukan standar kualitas bahan pangan yang akan dikirim ke kota saat masa panen tiba. Padahal kualitas bahan pangan yang memasuki pasar tradisional dan industri makanan sangat menentukan dalam pengurangan sampah makanan.

Bahan pangan dengan kualitas di bawah standar akan menempatkannya pada prioritas terakhir dalam penyerapan bahan pangan oleh konsumen. Jika jumlah bahan pangan kategori ini terlalu banyak, tentu akan berpeluang menjadi limbah pangan yang merugikan kota.

Oleh karena itu diperlukan quality control di level produsen. Salah satu caranya dengan membentuk petani mitra kota yang di edukasi untuk memproduksi dan mengirimkan bahan pangan dengan kualitas terbaik sehingga dapat diserap pasar secara maksimal.

2. Digitalisasi Pasar Tradisional

Sistem perbelanjaan di pasar tradisional mendorong konsumen untuk berbelanja sesuai dengan kebutuhan. Boleh dikatakan, pasar tradisional tidak pernah memberikan promo yang dapat menjebak konsumen pada pembelian bahan pangan yang sebenarnya tidak dibutuhkan.

Sistem perbelanjaan seperti itu, selain bisa mengatur jumlah pasokan pada rantai distibusi pangan, juga mencerminkan kondisi sesungguhnya atas permintaan bahan pangan untuk menghindari pasokan berlebih dan akhirnya pembentukan sampah makanan bisa ditekan. Manfaat akhir dari konsep ini adalah terdistribusi meratanya kebutuhan bahan pangan di seluruh daerah sehingga akan tercipta efisiensi pemanfaataan bahan pangan.

Oleh karena itu, untuk membuat konsumen lebih memilih berbelanja di pasar tradisional dibandingkan di pasar modern maka ada dua pekerjaan rumah bagi pasar tradisional yang harus diselesaikan, yaitu:

Pertama, menjaga kemampuan bersaing secara harga dengan pasar modern. Satu hal yang perlu dicatat bahwa gencarnya promosi di pasar modern akan menciptakan resiko lebih besar dalam penciptaan sampah makanan.

Kedua, mendigitalisasi pasar tradisional sehingga setiap konsumen bisa menghubungkan kebutuhan dapurnya secara online dengan persediaan bahan pangan di pasar tradisional. Hal ini akan mendorong konsumen berbelanja sesuai kebutuhan.

3. Mengintegrasikan Teknologi dalam Produksi, Distribusi dan Konsumsi Bahan Pangan

Di era indusri 4.0, pengintegrasian teknologi menjadi hal penting dalam produksi, distribusi dan konsumsi produk pangan. Teknologi dapat mengoptimalkan efisiensi penggunaan bahan pangan yang pada akhirnya akan mengurangi terbentuknya limbah pangan.

Pada tahapan produksi, untuk mengurangi beredarnya produk cacat produksi, industri makanan bisa menggunakan artificial inteliigence untuk melacak produk yang secara kemasan terlihat bagus tetapi sesungguhnya kandungannya berada di bawah standar kualitas konsumsi.

Pada tahapan distribusi, artificial intelligence juga bisa membantu outlet makanan untuk menganalisa pola konsumsi konsumen sehingga outlet tersebut bisa mengetahui kapan permintaan suatu produk akan tinggi dan kapan permintaan akan turun sehingga manajeman persediaan bisa diatur dengan baik. Artificial Intelligence juga bisa membantu outlet pemasaran untuk menentukan penurunan harga pada produk makanan yang hampir kadaluarsa.

Pada tahapan konsumsi, konsumen sebagai pengguna akhir bisa dibantu dengan penerapan teknologi untuk memperbaiki pola konsumsi. Konsumen perlu dibantu dengan sebuah aplikasi yang bisa melakukan analisa konsumsi sepanjang tahun sehingga teknologi tersebut bisa membantu konsumen dalam memanajemen persediaan bahan pangan. Sehingga diharapkan konsumen tidak akan membeli bahan pangan yang tidak diperlukan.

4. Mendorong Fungsi Bank Makanan dan Bisnis Daur Ulang Makanan

Mayoritas sampah makanan berasal dari oulet makanan. Banyak outlet makanan yang kurang sadar terhadap lingkungan dengan membuang makanan kadaluarsanya ke tong sampah. Padahal outlet tersebut dapat menyalurkan makanan tersebut ke bank makanan sehingga bisa dimanfaatkan oleh kalangan yang lebih membutuhkan.

Sebetulnya pemerintah bisa membuat peraturan resmi yang memungkinkan setiap makanan hampir kedalauarsa diserahkan ke bank makanan. Dan operasional bank makanan selain dijalankan oleh penggiat lingkungan ataupun pihak swasta, juga bisa juga dioperasikan oleh pemerintah.

5. Menggalakkan Urban Farming dan Pengomposan

Budidaya tanaman bumbu dapur (cabai, jahe, bawang merah, pandan, daun salam dan lain-lain) dan sayuran bisa membantu mengurangi terbentuknya sampah bahan pangan. Dengan menanam berarti kita bisa memetik hasilnya sesuai dengan kebutuhan tanpa adanya resiko membusuknya bahan pangan di dapur.

Pertanian dalam pengertian luas juga mencakup kegiatan beternak. Sebetulnya lahan seluas apapun di sekitar rumah bisa digunakan untuk kegiatan beternak. Beternak selain menyediakan pasokan protein hewani  dalam jumlah yang terkontrol,  juga bisa menjadi saluran untuk memanfaatkan bahan makanan yang tidak bisa digunakan sebagai pakan ternak.

Sedangkan pengomposan adalah langkah terakhir dalam membuang sampah makanan di level rumah tangga atau bisnis lainnya. Pada tahap ini, sampah makanan yang dibuang adalah makanan yang sudah tidak bisa dimanfaatkan sama sekali. Kemudian kompos yang dihasilkan bisa dimanfaatkan untuk urban farming sehingga masyarakat tidak perlu membeli pupuk anorganik yang dampak jangka panjangnya kurang baik bagi lingkungan.

6. Membentuk Generasi Muda yang Peduli terhadap Sampah Makanan

Untuk membentuk generasi yang peduli tentang sampah makanan diperlukan pendidikan mengenai hal tersebut sejak usia dini. Melatih untuk memilah sampah contohnya, seseorang yang sedari kecil terbiasa memilah sampah maka di saat dewasa akan selalu berusaha menghindari terbentuknya sampah organik secara berlebih.

Selain itu, untuk mencegah terbentuknya sampah makanan yang diakibatkan oleh gaya hidup milenial yang lebih suka makan di luar rumah maka sangat dianjurkan untuk membawa tempat makan sendiri. Sehingga apabila terdapat kelebihan makanan, mereka tidak akan malu memasukkannya ke dalam tempat makanannya untuk dibawa pulang.

7. Menerapkan Peraturan Resmi pada Rantai Distibusi Makanan

Semakin bertumbuhnya ekonomi sebuah kota maka laju urbanisasi akan semakin cepat. Pertumbuhan jumlah penduduk tentu harus diimbangi dengan ketersediaan pangan yang baik. Kondisi tersebut akan mendorong bertumbuhnya outlet makanan. Jika masyarakat kota memiliki pola konsumsi yang kurang baik tentu akan berpotensi menghasilkan sampah makanan berlebih. Ditambah lagi dengan sampah makanan yang ditimbulkan oleh aktivitas adat, banyak sekali hajatan dan pesta dalam masyarakat yang berpotensi membentuk sampah makanan.

Demi ketersediaan pangan di masa depan, diperlukan sebuah peraturan resmi  untuk menyelamatkan sampah makanan tersebut supaya tidak terbuang percuma di tempat sampah. Peraturan ini bisa mengatur setiap outlet makanan dan event-event besar untuk memiliki rekanan yang bergerak di bidang pengelolaan sisa bahan pangan.

Melalui rekanan tersebut maka sisa bahan pangan bisa disortir. Sisa bahan pangan yang layak  dikonsumsi bisa dijual kembali dengan harga murah kepada masyarakat kurang mampu, sedangkan sisa bahan pangan yang tidak layak konsumsi bisa disalurkan ke peternakan atau pembangkit listrik tenaga biogas untuk dikonversi menjadi bentuk yang lebih bermanfaat.

8. Mendorong Pertumbuhan Bisnis Pengelolaan Limbah Makanan

Untuk menjalankan strategi diatas tentunya pemerintah kota harus mendorong iklim bisnis yang baik bagi tumbuhnya usaha pengelolaan limbah makanan. Keberadaan bisnis daur ulang ini sangat krusial untuk merubah sisa makanan menjadi produk lain yang bisa dimasukkan kembali pada rantai distribusi makanan.

Pertumbuhan bisnis tersebut, selain mengurangi terbentuknya sampah makanan juga akan menyediakan bahan pangan murah yang akan membantu pemerataan konsumsi masyarakat.

Pemerintah bisa memberikan keringanan pajak usaha di awal perintisan sehingga akan membantu pengembangan bisnis tersebut. Apabila bisnis sektor ini berjalan dengan baik tentu pemerintah akan memetik hasil manisnya di masa depan melalui perpajakan dan minimnya sampah makanan dalam kota.

9. Membangun Pusat Listrik Tenaga Biogas

Dalam zero waste concept sebuah kota tidak boleh menyisakan sedikitpun sisa makanan menjadi sampah yang sia-sia. Setelah melalui proses sortasi dan daur ulang, selanjutnya sisa makanan yang tidak termanfaatkan bisa dikonversi menjadi bentuk lain yang berguna bagi kehidupan kota.

Salah satu cara terbaik adalah dengan membangun instalasi Pusat Listrik Tenaga Biogas (PLTBg). Sebagaimana kita ketahui bahwa sampah organik adalah sumber utama terbentuknya gas metana yang merupakan salah satu gas rumah kaca yang berbahaya bagi lingkungan. Oleh karena itu limbah makanan yang tidak bisa dimanfaatkan bisa dibawa ke instalasi PLTBg sehingga gas metana yang dihasilkan bisa dikonversi menjadi listrik yang kemudian bisa disalurkan kembali untuk kepentingan produksi ataupun aktiviftas lain warga kota.

Mencontoh Apa yang Dilakukan Bandung Food Smart City

Bandung Food Smart City merupakan program kolaborasi antara Rikolto Veco, Fisip UNPAR, dan Pemerintah Kota Bandung yang bertujuan untuk mewujudkan Kota Bandung sebagai kota cerdas pangan untuk mengurangi terjadinya food waste. Sedangkan misi Bandung Food Smart City adalah menjadikan dunia sebagai tempat yang lebih baik bagi semua orang dengan mengurangi limbah makanan.

Untuk mewujudkan misi tersebut maka Bandung Food Smart City selalu mengampanyekan tiga hal dalam konsumsi makanan, yaitu:

AMBIL

Biasakan untuk mengambil makanan yang secukupnya dan tidak berlebih

MAKAN

Makanan yang sudah diambil segeralah dimakan

HABISKAN

Biasakan untuk selalu menghabiskan makanan yang sudah diambil

#foodwaste

#bandungfoodsmartcity

#ambilmakanhabiskan 

Sumber Penulisan:

  1. https://www.kompasiana.com/
  2. https://lokadata.id/
  3. https://www.amritaenviro.com/
  4. https://www.idntimes.com/

Seoul Metro dari Pusat Kota ke Incheon International Airport

Suasana di dalam Seoul Metro menuju Incheon International Airport.

Usai shalat Subuh, mataku tak lagi terpejam. Sudah menjadi sifatku yang selalu saja terjaga ketika dihadapkan pada sebuah jadwal penerbangan. Sementara di pojok dormitory, backpack biruku yang berkapasitas 45 liter sudah terpacking rapi sejak semalam, sepulang dari Distrik Gangnam tepatnya. Malam tadi, aku memang memutuskan melakukan packing seusai mandi.

Sekitar pukul setengah tujuh pagi, ditengah nada-nada dengkuran ringan para penghuni Kimchee Guesthouse Sinchon, aku perlahan berjingkat-jingkat menuju shared-bathroom untuk mengguyur diri dibawah shower air hangat. Sehingga, satu jam kemudian aku telah rapi dan terduduk di shared lobby lantai bawah untuk sekedar bersosialisasi.

Di sebuah kursi, perlahan aku menenggak air mineral sisa semalam sembari membuka peta Seoul Metro. Aku harus mencari rute terbaik menuju Incheon International Airport Terminal 1 siang nanti.

Sekitar lima belas menit kemudian, datanglah gadis berjilbab biru dengan wajah cantik khas Melayu duduk di hadapan. Dari penampilannya dia sedang bersiap diri untuk melakukan eksplorasi.

Dari Malaysie kah?”, pertanyaan itu sudah pasti tertuju untukku.

Aku mendongak dan menjawab, “Jakarta, Indonesia”.

Oh, Indonesia. Sudah berape lame di Seoul, Abang?

Tiga hari. Saya Donny, boleh tahu nama kamu?”, jawabku singkat.

Mariya, saya dari Kuala Terengganu”.

Sepagi ini sudah bersiap, mau pergi kemana, Mariya? “, aku terus saja bertanya penuh rasa penasaran.

Oh, saya nak melawat ke Itaewon, tengok sekejap Seoul Central Mosque. Abang mau kemane?

Saya siang ini akan pulang, besok singgah di KL dulu”.

Orang Indonesia dapat free visakah ke Korea, Abang?

Oh, tidak Mariya. Saya harus membayar senilai 150 Ringgit untuk mendapatkan visa Korea. Kalau orang Malaysia bagaimana?

Orang Malaysia free visa ke Korea, Abang”.

Mariya adalah seorang solo-traveler asal negeri jiran yang berbekal dengan rasa percaya diri yang tinggi. Dia bahkan bercerita tentang perjalanannya berkeliling Asia sendirian tanpa menunjukkan sedikitpun rasa takut. Satu jam aku terlibat percakapan yang sangat menarik dengannya.

Mariya sendiri sangat tertarik dengan beberapa kota di Indonesia yang ingin dia kunjungi di waktu mendatang. Dia banyak bertanya perihal Bandung, Malang, Labuan Bajo dan Ambon. Mengimbangi rasa antusiasnya, maka aku tertarik mencari informasi darinya tentang beberapa kota di Malaysia yang hendak pula kukunjungi seperi Kuching, Ipoh, Penang, Kuantan dan Kuala Terengganu.

Percakapan kami berakhir ketika Mariya berpamitan untuk pergi ke Itaewon. Usai percakapan itu, aku pun menuju ke kamar dan bersiap diri untuk check-out.

Pukul setengah sepuluh, aku mulai memanggul backpack, menuju resepsionis untuk menyerahkan kunci loker dan mengambil uang deposit. Kemudian aku melangkah mantap meninggalkan Kimchee Guesthouse Sinchon menuju Stasiun Hongik University.

Seperti pagi-pagi biasanya di Seoul, aku mampir sejenak di CU minimarket yang letaknya tak jauh dari stasiun untuk bersarapan. Usai bersarapan, aku segera berburu gerbong Seoul Metro Line 2 menuju Stasiun Sindorim yang keberadaannya hanya berselang 4 stasiun saja dari Stasiun Hongik University.

Dari Stasiun Sindorim aku berpindah menggunakan Seoul Metro Line 1 menuju Stasiun Bupyeong. Berdiri di bagian tengah dekat pintu gerbong, aku menikmati laju Seoul Metro melewati sebelas stasiun sebelum tiba.

Dari Stasiun Bupyeong aku masih harus berpindah keSeoul Metro Line I menuju  tujuan akhir yaitu Stasiun Incheon International Airport Terminal 1 yang berselang lima belas stasiun ke depan.

Melintas jembatan di atas laut.
Pemandangan Laut Kuning.

Secara keseluruhan perjalanan, dalam waktu satu setengah jam, aku tiba di Stasiun Incheon International Airport Terminal 1 yang bejarak 60 kilometer dari pusat kota. Aku tiba di bandara beberapa menit sebelum tengah hari.  Kini aku menunggu  penerbangan Air Asia D7 505 dari Seoul menuju Kuala Lumpur yang akan mengudara pada pukul 15:55 nanti.

Sebetulnya aku masih sangat berminat untuk menikmati pusat kota Incheon sebelum menuju bandara. Tetapi karena sadar diri bahwa uang di dompet hanyalah berupa beberapa lembaran tersisa, maka daripada bermain resiko dan rawan ketinggalan pesawat, aku akhirnya lebih memilih untuk menghabiskan waktu berjam-jam untuk berada di bandara saja. Yang terpenting perjalanan pulangku ke tanah air aman dan lancar.