Keanekaragaman Hayati: Mengukur Ketahanan Global terhadap Pandemi

Pada akhir Februari 2020 atau tepatnya dua bulan setelah pandemi COVID-19 di deklarasikan, Pemerintah Tiongkok bergerak cepat dengan menganulir kebijakannya yang sudah berusia 20 tahun. Kini pemerintah Tiongkok melarang masyarakatnya menangkarkan satwa liar untuk keperluan bisnis atau pemenuhan kebutuhan pangan.

Pada awalnya, kebijakan memperbolehkan penangkaran satwa liar dibuat dengan tujuan mengentaskan masyarakat Tiongkok dari jerat kemiskinan. Dengan disahkannya kebijakan itu, maka rakyat Tiongkok mulai gencar menangkarkan tikus bambu, babi hutan, ular, kelelawar, musang, kucing hutan, katak dan rusa sika. Mereka menangkarkannya hingga satwa-satwa liar tersebut siap untuk dikonsumsi. Dan pada akhirnya, satwa-satwa liar itu akan memasuki rantai distribusi pangan melalui pasar-pasar hewan di seantero Tiongkok.

Bagaimana bisa masyarakat Tiongkok memilki budaya mengonsumsi satwa liar seperti itu?

Menilik jauh ke belakang bahwa sejarah deforestasi di Tiongkok memang terjadi sangat cepat. Bahkan deforestasi telah dimulai sejak era dinasti dahulu kala. Lalu proses itu berlanjut hingga era modern, deforestasi dilakukan dengan dalih memenuhi kebutuhan lahan industri, lahan pertanian dan lahan pemukiman. Dalam kasus ini, deforestasi akhirnya mengebiri fungsi hutan sebagai sumber pangan. Dan pada akhirnya, gundulnya hutan berakibat pada berkurangnya ketersediaan pangan.

Di sisi lain, pembangunan yang tidak merata di Tiongkok juga berperan dalam menciptakan kesenjangan sosial. Di tengah melajunya ekonomi negeri itu, ternyata kemiskinan masih melanda di beberapa daerah seperti Xinjiang, Gansu, Guizhou, Tibet dan Yunnan. Kehilangan sumber pangan dan masih adanya kemiskinan inilah yang kemudian menyebabkan masyarakat Tiongkok membudidayakan satwa liar dan mengonsumsinya untuk memenuhi kebutuhan pangan.

Padahal satwa liar memiliki hierarkinya masing-masing di dalam rantai makanan. Dengan mengonsumsi satwa-satwa liar tersebut berarti manusia telah mengintervensi hierarki pada rantai makanan. Intervensi tersebut adalah hal yang sangat berbahaya karena akan menciptakan ketidakseimbangan pada rantai makanan di alam. Ketidakseimbangan inilah yang kemudian mengakibatkan dampak negatif.

Salah satu bentuk intervensi pada siklus rantai makanan melalui penangkaran tikus bambu di daerah Qingyuan, Provinsi Guangdong, Tiongkok (sumber: theguardian.com).

Ekosistem yang diintervensi tentu akan memberikan reaksi dalam bentuk respon balik pada lingkungan. Salah satu respon balik tersebut adalah bencana alam seperti tanah longsor, kebakaran hutan dan banjir. Dan respon balik dalam rantai makanan yang terintervensi adalah terjadinya wabah penyakit yang bisa meluas dalam bentuk pandemi. Pandemi COVID-19 adalah salah satu contoh respon balik atas intervensi tersebut.

Sangat jelas bahwa Pandemi COVID-19 bukanlah rekayasa laboratorium. Setelah menajamkan alur logika dengan analisa sebab akibat seperti di atas, dengan mudah dapat difahami bahwa pandemi COVID-19 tidak bisa dilepaskan dari perilaku negatif manusia terhadap lingkungan.

Seperti diketahui bahwa virus SARS-CoV-2 (Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2) sebagai penyebab COVID-19 (Corona Virus Disease 2019) adalah virus yang secara genetis sangat identik dengan genetik pada kelelawar dan ular. Perpindahan SARS-CoV-2 ke dalam tubuh manusia bisa terjadi melalui mekanisme rantai makanan dimana manusia secara langsung mengonsumsi kedua jenis satwa liar pembawa SARS-CoV-2 tersebut.

Kembali kepada aturan dasar yang berlaku pada alur rantai makanan, maka seharusnya manusia harus kembali pada hierarki tertinggi untuk menjaga keseimbangan ekosistem. Manusia harus mencari sumber pangan baru dengan cara lain tanpa harus mengintervensi rantai makanan. Semakin panjang sebuah rantai makanan yang ada dalam ekositem maka semakin besar pula ketersediaan pangan di dalam ekosistem tersebut.

Dan akhirnya menjadi sebuah tantangan global, karena ekosistem hanya akan sanggup menyediakan pangan secara alami apabila keanekaragaman hayati kembali dimurnikan seperti sediakala. Oleh karenanya, ketika manusia menghancurkan keanekaragaman hayati dengan menebang hutan dan membangun lebih banyak infrastruktur, maka saat itulah risiko terjadinya wabah penyakit akan selalu mengancam kehidupan manusia.

Zoonosis dan Kerusakan Alam

Semua kalangan tentu faham bahwa deforestasi selain merusak keanekaragaman hayati, juga akan menaikkan suhu bumi. Kemudian peningkatan suhu tersebut akan berimbas pada terbentuknya iklim yang lebih kering bahkan ekstrim.

Contoh nyatanya, fakta menunjukkan bahwa pembukaan hutan di Asia Tenggara yang kemudian digantikan dengan perkebunan kelapa sawit telah menghasilkan 0,8%  dari total emisi gas rumah kaca di seluruh dunia. Dampak alamiah dari konversi lahan seperti itu adalah kematian pohon dan mudah terbakarnya hutan karena kondisi iklim menjadi lebih panas. Fenomena inilah yang kemudian kita sebut dengan istilah pengurangan berkelanjutan.

Pembukaan hutan untuk perkebunan kelapa sawit di Kalimantan (sumber: saveourborneo.org).

Apakah cukup sampai disitu kita akan merasakan dampaknya?

Kabar kurang baiknya bahwa dengan kenaikan suhu bumi dan tergerusnya kualitas alam secara berkesinambungan membuat manusia akan terus terancam oleh bencana alam yang kedatangannya bersifat sporadis dan tidak dapat diprediksi. Ancaman berikutnya adalah munculnya potensi penyakit zoonosis yang berpeluang menciptakan pandemi dalam skala global.

Penyakit zoonosis adalah penyakit yang disebabkan oleh kuman yang menyebar antara hewan dan manusia dan kuman ini dapat disebarkan melalui rantai makanan. Penyakit zoonosis bisa muncul dalam bentuk serangan bakteri, virus, jamur, parasit, dan patogen nonkonvensional lain. Ada lebih dari 250 organisme zoonosis. Secara distribusi, 40 jenis organisme zoonosis ini ditularkan oleh anjing dan kucing,  sedangkan organisme zoonosis lainnya ditularkan oleh burung, reptil, hewan ternak dan satwa liar.

Pada akhirnya, untuk menjaga supaya keanekaragaman hayati tetap lestari, tentu saja diperlukan edukasi yang setara dan merata kepada seluruh masyarakat dunia. Karena menjaga bumi harus menjadi norma bersama demi terhindarnya manusia dari berbagi dampak negatif yang merugikan.

Resistensi Global terhadap Pandemi

Menurut laporan yang diterbitkan oleh Intergovernmental Platform on Biodiversity and Ecosystem Services (IPBES) pada akhir Oktober 2020, bisa diketahui bahwa dua pertiga penyakit pandemi adalah penyakit zoonosis. Dan menurut studi ilmiah, mencegah penyebaran penyakit dari satwa liar biayanya 100 kali lebih murah daripada mencoba meresponnya setelah kejadian.

Beberapa penyakit zoonosis yang muncul pada interaksi hewan dan manusia. Jalur penularannya melalui kontak langsung dalam perdagangan satwa liar dan hewan peliharaan serta mengonsumsi daging hewan tersebut (sumber: frontiersin.org).

Secara internasional, rencana dan aksi untuk mencegah serta memerangi pandemi telah menjadi perhatian bersama. Pencegahan pandemi memang harus serempak dikerjakan oleh semua negara. Pencegahan pandemi tidak bisa dilakukan oleh negara maju saja karena sekali saja sebuah negara mengalami pandemi maka pandemi tersebut akan cepat menyebar secara cepat karena mobilitas dunia yang sangat tinggi sebagai dampak positif dari perkembangan ekonomi dan teknologi.

Sayangnya terdapat sebuah kesenjangan dalam penanganan pandemi. Negara maju bisa saja membuat berbagai macam pencegahan pandemi karena mereka memiliki kecukupan dana. Negara maju seakan mempunyai banyak pilhan.

Lalu bagaimana dengan negara dunia ketiga yang kekurangan dana?.

Sebetulnya negara miskin atau negara berkembang masih bisa turut berpartisipasi dalam pencegahan pandemi dengan cara yang sangat sederhana, yaitu melalui penjagaan kelestarian alam di negaranya. Alam selalu terkait dengan bioma, apabila bioma di dalam alam terjaga maka keseimbangan lingkungan akan tercipta. Dengan lingkungan yang seimbang maka peluang terjadinya bencana alam dan pandemi akan semakin kecil.

Jadi, sebetulnya apa kata kuncinya?

Bahkan dari semua pemaparan diatas, seharusnya kita sudah bisa menarik benang merah antara deforestasi, rantai makanan, bencana alam dan pandemi. Satu kesimpulan yang bisa menghubungkan keempatnya adalah keanekaragaman hayati atau biodiversitas.

Keanekaragaman hayati adalah tameng pertama dan utama bagi kita untuk mengendalikan bencana dan pandemi.

Keanekaragaman Hayati dan Generasi Penerus

Dalam Earth Summit Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun 1992, ditetapkan bahwa keanekaragaman hayati memiliki makna sebagai variabilitas makhluk hidup, baik yang hidup darat maupun laut, serta variabilitas makhluk hidup di dalam spesies, antar spesies, dan ekosistem.

Keanekaragam hayati di Indonesia (sumber: antaranews.com).

Secara umum, keanekaragaman hayati memiliki manfaat lingkungan, sosial, dan ekonomi yang dibutuhkan oleh kita semua. Secara lingkungan maka keanekaragaman hayati bermanfaat untuk menjaga keseimbangan ekosistem dan mengurangi polusi. Secara sosial, keanekaragaman hayati akan bermanfaat dalam membantu dunia penelitian dan menyajikan nilai budaya. Sedangkan secara ekonomi, keanekaragaman hayati bermanfaat untuk menjamin ketahanan pangan dan kesejahteraan. Dengan alasan tersebut, sudah sepantasnya jika kita harus segera menyusun rencana-rencana besar dalam pelestarian lingkungan.

Jika kita memberikan intervensi positif bagi keanekaragaman hayati maka ekosistem yang merupakan wujud dari keanekaragaman hayati juga akan memberikan respon balik yang positif. Ekosistem yang baik akan memberikan kesejahteraan serta keberlangsungan mata pencaharian serta ekonomi yang kita jalankan.

Bisnis juga memiliki hubungan erat dengan kestabilan ekosistem. Seperti kita ketahui, hutan menyediakan kayu melalui cara pemanenan yang benar, tanah beserta mikroorganisme di dalamnya membantu menyimpan dan memurnikan air, hutan dan lautan adalah penyerap gas rumah kaca yang membantu mengurangi perubahan iklim secara drastis. Jika kestabilan ekosistem tersebut terkondisikan dengan baik, pada akhirnya akan berimbas pada kelangsungan semua bisnis yang ada di bumi. Manusia dengan bisnisnya sangat membutuhkan kestabilan ekonomi yang bisa dihadirkan dengan penciptaan keanekaragaman hayati yang baik.

Dimanapun kita hidup, baik di negara berkembang ataupun negara maju, di kota ataupun di desa, sangat bergantung pada alam dengan keunikan keanekaragaman hayatinya. Dengan menjaga dan merawat keanekaragaman hayati berarti kita akan membuat perbaikan untuk masa depan. Karena bumi ini akan diwariskan untuk generasi mendatang dalam keadaan yang lebih baik supaya mereka memiliki kualitas hidup yang lebih baik dan sejahtera.  Dengan berfikir begitu maka kita akan tersadar untuk melakukan gerakan serentak demi masa depan yang berkelanjutan.

Melindungi Diri Sebaik Melindungi Alam.

Kembali pada ketidakpastian, bahwa kejadian luar biasa seperti pandemi COVID-19 yang saat ini terjadi, akan bisa terulang dengan pandemi jenis lain yang tentunya selalu menjadi ancaman tersendiri bagi kita di masa depan. Belum lagi bencana yang susah diprediksi datangnya juga sering mengakibatkan kerugian fisik dalam masyarakat.

Jika berbagai bangsa gencar melakukan pencegahan pandemi dan bencana secara baik dan terencana, maka kita sebagai satuan terkecil atas semua perencanaan itu, juga memerlukan penjagaan diri yang maksmal. Karena sesungguhnya, kitalah yang akan menjalankan semua rencana tersebut.

Untuk melindungi  diri maka salah satu caranya adalah dengan melengkapai diri menggunakan asuransi. Bagaimana kita akan menjaga bangsa jika diri kita sendiri tidak dijaga.

Pertanyaan pentingnya adalah penyedia asuransi umum (Asuransi Umum adalah Asuransi yang memberikan ganti rugi kepada Tertanggung atas kerusakan atau kerugian harta benda) manakah yang paling cocok  setelah kita membahas semua konsep di atas?

Adalah Asuransi Umum MSIG (Mitsui Sumitomo Insurance Group) yang sudah berpengalaman dalam menjaga masa depan masyarakat atas segala ketidakpastian yang selalu ada dalam kehidupan. MSIG telah menjadi entitas asuransi terkemuka yang mapan dengan perspektif jangka panjang serta telah menyediakan solusi asuransi selama lebih dari 100 tahun. MSIG bertujuan untuk menawarkan solusi asuransi yang efektif , efisien dan mudah dipahami serta disampaikan dengan layanan tulus dan aktif.

MSIG beserta program asuransinya.

Selain menjaga kesehatan dengan disiplin tinggi, kita juga harus membekali proteksi terhadap tempat tinggal kita dengan baik. Jangan sampai tempat tinggal kita yang menjadi titik awal untuk berkarya dan berkontribusi dalam masyarakat dan lingkungan lenyap dalam sekejap karena bencana yang tak pernah terduga kedatangannya.

Oleh karena itu, kita perlu melengkapi tempat tinggal kita dengan perlindungan asuransi untuk mengantisipasi kerugian fisik yang bisa terjadi kapan saja. Dengan begitu kita tidak perlu mengulangi perjuangan hidup dari titik nol kembali saat ancaman kerugian itu datang.

Nah, untuk memperoleh perlindungan tempat tinggal dari kemungkinan bencana. MSIG telah meluncurkan sebuah program perlindungan unggulan yang bisa menjadi solusi terbaik. Adalah MSIG Home Shield Insurance (MSHS) yang memberikan perlindungan menyeluruh untuk rumah dan anggota keluarga.

Jaminan perlindungan dari MSIG Home Shield Insurance (MSHS)

Mengapa Kita Harus Memilih Asuransi MSIG?

Inilah kabar yang sangat membahagiakan buat kita,

Dengan menggunakan asuransi MSIG berarti kita akan membantu menyelamatkan keanekaragaman hayati. MSIG mengajak kita melihat arti lebih dalam segala hal karena MSIG Indonesia bekerjasama dengan Conversation International Asia-Pacific (CIAP) untuk memperbaiki keanekaragaman hayati di beberapa negara seperti Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam dan Hong Kong.

Dengan mempercayakan asuransi kepada MSIG berarti kita ikut berkontribusi pada program konservasi keanekaragaman hayati pada 9.500 hektar hutan dan 72.000 hektar lautan yang dapat mengurangi emisi karbon hingga 4,7 juta ton.

Rehabilitasi Hutan Suaka Margasatwa Paliyan, Yogyakarta oleh MSIG

MSIG bersama kita akan berkontribusi pada restorasi hutan melalui Green Wall Project di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango yang akan memastikan ketersediaan air tawar bagi 30 juta orang yang tinggal di kota-kota sekitarnya, termasuk Jakarta. Serta perlindungan The Bird’s Head Seascape (BHS) sebagai episentrum global keanekaragaman hayati laut dan berperan penting bagi lebih dari 350.000 orang di Papua.

Dana dari kita ketika menggunakan asuransi MSIG juga akan digunakan untuk mendukung program perlindungan berang-berang liar dan ekosistem bakau di Malaysia, konservasi lingkungan pesisir laut di Singapura, restorasi hutan dan penelitian botani untuk mendukung konservasi keanekaragaman hayati di Hong Kong, membantu mengurangi perburuan ilegal dengan memantau kawasan lindung dan satwa liar di Thailand serta penyelamatan, penangkaran, rehabilitasi, pelepasan spesies terancam dan memerangi ancaman terhadap populasi satwa liar yang disebabkan oleh hilangnya habitat, perburuan yang tidak berkelanjutan, dan perdagangan satwa liar ilegal di Vietnam.

Dari penjelasan itu semua, menjaga diri menggunakan asuransi MSIG ternyata secara tidak langsung akan membuat kita turut berkontribusi dalam gerakan aktif menjaga keanekaragaman hayati di seantero Asia Pasifik. Ayo utamakan perlindungan keluargamu dengan asuransi MSIG. Mari kita bersama-sama menjaga diri, keluarga, lingkungan dan dunia.

Keanekaragaman hayati adalah asuransi alam untuk keselamatan bumi dan segala aktivitas yang berjalan di dalamnya.

Kalau bukan kita yang peduli akan nasib lingkungan, lalu siapa lagi?

Sumber penulisan:

  1. https://www.msig.co.id/
  2. http://www.dialektika.net
  3. https://insanpelajar.com/
  4. https://www.kompas.id/
  5. https://www.merdeka.com/
  6. https://www.theguardian.com/
  7. https://theconversation.com/
  8. https://iopscience.iop.org/
  9. https://www.frontiersin.org/
  10. https://www.antaranews.com/
  11. https://id.wikipedia.org/
  12. https://www.foodsafetynews.com/
  13. https://www.petmd.com/
  14. https://chinaenv.colgate.edu/
  15. https://jagad.id/
  16. https://unicef.cn/
  17. https://saveourborneo.org/

Menentang Pajak Kolonial Versi Tugu Pahlawan Tak Dikenal

Hanya ada Noah yang mendengkur tergelepar karena efek residual dari mabuk semalam di De Kock Cafe lantai 1. Aku berusaha tetap senyap untuk berguyur di shower ujung kamar. Bahkan hingga aku telah siap berkelana pun, dengkurnya tak berubah nada sama sekali.

Cafe bawah tetap terbuka lebar tanpa penjaga saat aku meninggalkan penginapan dengan kondisi setengah gelap, sepi dan dingin yang masih menusuk.

Menyusuri jalanan yang sama ketika petang kemarin berburu pesona Jam Gadang, hanya saja, kali ini hanya aku seorang diri yang terlihat sangat tergesa dalam sunyinya pagi.

Bank Nagari dan Novotel kembali kusalip begitu saja tanpa ekspresi, aku sudah melihatnya sore kemarin. Begitupun, kulewati Jam Gadang tanpa impresi. Sama, mungkin karena aku telah merenggut pesonanya sehari lalu. Aku hanya berfikir untuk segera mendaratkan langkah di sebuah taman kota.

Bank Nagari Cabang Bukittinggi.

Namun, sebelum memasuki taman, aku sedikit tertarik dengan pesona bangunan besar berwarna kuning emas. Adalah Balai Sidang Bung Hatta yang menjadi Convention Center andalan di Kota Bukittinggi.

Balai Sidang Bung Hatta.

Pukul 07:10, aku mulai memasuki taman itu, berada menjorok di bawah permukaan Jalan Istana yang ada di baratnya. Sedangkan gedung tinggi abu-abu milik Bank BNI Bukittinggi membatasi pandangan mata di timurnya.

Foto diambil dari sisi selatan.

Focal point dari taman terletak pada tugu hitam artistik di lingkaran tengahnya. Itulah Tugu Pahlawan Tak Dikenal yang didesain oleh seniman pahat asal Kota Padang Panjang, Hoerijah Adam. Nama Hoerijah Adam sendiri kemudian diabadikan menjadi nama Bengkel Bari di Taman Ismail Marzuki paska kecelakaan pesawat Merpati Nusantara jenis Vickers Viscount yang ditungganginya di Samudra Hindia.

Tugu ini dibangun untuk mengenang perlawanan para pahlawan yang tak bisa dikenali secara pasti dalam menentang Kolonialisme Belanda pada tanggal 5 Juni 1905. Perlawanan itu sendiri terjadi karena penolakan penerapan pajak pendapatan sebesar 2% untuk kaum pribumi atas segala bentuk usaha perdagangan yang dilakukan.

Tugu berbentuk lingkar ular naga.

Peletakan batu pertama dilakukan oleh Jenderal Abdul Haris Nasution pada 15 Juni 1963 yang kala itu menjabat sebagai Kepala Staff ABRI. Dan dua tahun kemudian tugu ini diresmikan.

Pada satu sisi monumen, diletakkan kutipan lantang seorang sastrawan terkenal yang juga merupakan Pahlawan Nasional Indonesia, tak lain adalah Muhammad Yamin:

Mati Luhur Tak Berkubur

Memutuskan Jiwa Meninggalkan Nama

Menjadi Awan Di Angkasa

Menjadi Buih Di Lautan

Semerbak Harumnya Di Udara

Ternyata, Bukittinggi menyimpan banyak sejarah perjuangan bangsa yang baru kuketahui setelah mengunjunginya.

Asyik ya….Jalan-jalan sembari mengenal sejarah bangsa.

Exploring along The Clearness of Citumang River

<—-Previous Story

After paying an entrance ticket of IDR 19,000 and a car park fee of IDR. 10,000, I started heading upstream of Citumang River without hiring the services of personal life guard. I would independently go down the river. Of course, it would feel more comfortable and relaxed.

Renting a life jacket was certainly the best alternative to keep myself safe when exploring the river alone. Life jacket was also the best anticipation for newcomer who of course didn’t really understand the variations in river depth.

At upstream of the river, I approached a young man who seemed to be in charge of caring for life jacket rental. I handed over IDR 20,000 to rent a life jacket and then got ready to go down into river.

Just on the edge, I was already amazed by the clarity of its water. The river body was still very green with large plants, the spread of giant river stones at several points along river flow gave an impression that Citumang River was like a river of the past. Meanwhile, in upstream of the river, there was a cave which echoed the gurgling flow of water flow which calmed the situation.

The clarity of its water made this river reflected beautiful gradations of moss green and sky blue. A gradation painted by nature to perfection. Combined with the cool air and quiet situation, it made my heart felt peaceful. Only natural sounds could be heard at the location. Make anyone forget for a moment the hustle and bustle of a big city.

On the other side, a children’s pool appeared to be built to facilitate family tourism. And it appeared in several places written prohibitions on using soap to preventing river pollution.

Not waiting for long, I started to go down. Along Citumang River which its bottom was paved with mossy stones. The cold water made my body fresh. Daring myself to swam in a deep part, I finally reached cave mouth. The dark situation in the cave made me only dare to enter it not far from its mouth. A little worried about the unexpected in there, considering that I was alone in the river.

A thirty minutes later, other visitors started arriving and river situation was a little busier. To avoid excessive crowds, I immediately did body rafting down the river downstream. It flew with river current which cut through giant boulders along the river.

At a distance of 300 meters from starting point, I began to stop exploration. Chose to step aside and got ready to ending my adventure in Citumang River.

If I wanted to go downstream, I would actually be rewarded with a view of a waterfall which looked like a furnace. The furnace form was often called Tumang by local people. Therefore this river was named as Citumang River.

It was nine o’clock  in the morning. I began to hurry to clean myself and get ready to leave Citumang River. I was ready to go to next destination in Pangandaran, namely Batu Hiu Beach.

Bukchon Hanok Village: Destinasi Pertama di Seoul

<—-Kisah Sebelumnya

Kamsahanida……”, ujarku keras terlontar teruntuk petugas kasir perempuan CU Minimarket di pojok sana. Aku telah rampung menyantap nasi putih kemasan dan cup noodle yang membuat bibirku terasa membara saking pedasnya.

Cheonmanneyo….”, kasir cantik putih itu melempar senyum sembari melambai tangan ketika aku sudah berada di depan pintu kaca hendak menjangkau handlenya.

Keluar dari minimarket, aku melangkah cepat menuju gerbang Stasiun Hongik University yang tak jauh lagi, tepat di sebelah kiri tikungan di depan sana.

Menuruni escalator super panjang menukik menuju bawah tanah, aku mulai membuka denah cetakanku sendiri, lalu menunjuk sebuah titik tujuan. “Aku harus menuju Stasiun Anguk”, batinku berseru sembari melipat denah dan memasukkan ke saku belakang.

Kini aku berada di batas platform. Menjelang siang, suasana stasiun bawah tanah lengang. Tetiba, pertunjukan romansa jalanan di ujung platform sana memudarkan rasa antusiasku dalam menunggu kedatangan Seoul Metro. Sepasang sejoli tampak berpeluk pinggang sembari bertatap mesra. Sesekali sang pria cuek menyosor gadis di depannya….”Buseeet….”, seloroh iriku keluar juga. Pertunjukan seperti itu memang tak membuatku heran karena sudah kerap kujumpai di moda transportasi yang sama milik Negeri Singa atau Kota Shenzen. “Anggap saja sebagai bonus perjalanan…”, batinku tersenyum kecut.

Pelukan mesra mereka terlepas beberapa saat setelah derap suara Seoul Metro terdengar dari lorong kanan. Seoul Metro mendecit lembut dan berhenti di hadapan, mereka mengakhiri romansa dan penonton tunggalnya pun ikut menaiki kereta.  

Seoul Metro Line 2 merangsek meninggalkan Distrik Seodaemun menuju timur. aku akan berwisata ke Distrik Jongno yang berjarak delapan stasiun dan harus berpindah ke Seoul Metro Line 3 di Stasiun Euljiro 3(sam)-ga serta membutuhkan waktu tempuh sekitar 30 menit.

Sesuai perkiraan waktu, kini aku sudah berdiri di depan pintu Seoul Metro ketika announcer sound mengatkan bahwa kereta akan segera merapat ke Stasiun Anguk. Setelah berhenti sempurna, aku melompat meninggalkan gerbong yang sedari menaikinya, tak ada kejadian berkesan lain setelah romansa setengah jam lalu.

Keluar dari Stasiun Anguk, aku dihadapkan pada Yulgok-ro Avenue. Percaya diri mengambil langkah ke kiri mengantarkanku pada sebuah simpang lima yang ramai dengan gerai fashion, kuliner dan kosmestik. Sepertinya aku salah jalan.

Aku berdiri terpaku di sebelah tugu Enso yang berlokasi tepat di salah satu sisi simpang lima tersebut. Enso sendiri adalah kuas kaligrafi tradisional asli Korea Selatan. Mengamati perilaku masyarakat lokal yang sibuk berbelanja. Sementara beberapa kelompok turis asal Eropa tampak sedang bercakap-cakap di gerai Tourist Information yang terletak di samping tugu. Sepertinya aku harus ke gerai itu dan menanyakan arah destinasi yang kutuju. Akhirnya aku melangkah menujunya.

Aku: “Hello, Ms. Can me know which way thet I need to choose toward Bukchon Hanok Village?

Dia: “Hi, Sir. You can go straight there and then turn left in crossroad. You will arrive in Bukchon Hanok Village with walking about 600 meter”.

Aku: “Very clear, thank you, Ms

Dia: “You are welcome. And this tourism map is for you”, dia tersenyum  sembari menyerahkan selembar denah pariwisata Seoul untukku.

Aku pun segera melangkah menuju utara. Sedikit santai sembari menikmati keramaian jalanan Bukchon-ro, akhirnya aku tiba di Bukchon Hanok Village dalam 20 menit. Perkampungan budaya ini berlokasi di sebelah barat jalan utama.

Notre Dame Education Center di Bukchon Hanok Village.

Diluar dugaa, ini berbeda dengan Gamcheon Culture Village di Busan yang kukunjungi beberapa hari lalu. Bukchon Hanok Village menampilkan deretan Hanok (rumah tradisional Korea Selatan) yang tersusun rapi memanjang mengikuti kontur jalan setapak. Kayu-kayu yang menjadi bagian dari bangunan Hanok tampak terawat mengkilap, Gang-gang yang hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki nampak rapih dan bersih. Inilah perumahan bangsawan era Dinasti Joseon yang berusia lebih dari enam abad dan menjadi kebanggaan Distrik Jongno.

Sesuai dengan julukannya sebagai “Kampung Utara”, maka desa ini memang terletak di sebelah utara dari dua ikon utama kota Seoul yaitu Sungai Cheonggye dan Distrik Jongno.

Selain berfungsi sebagai pelestarian Hanok, desa ini juga berfungsu sebagai pusat kebudayaan, penginapan tradisional, restoran dan tempat minum teh bersama.

Menyusuri bagian dalam perkampungan, beberapa turis perempuan tampak anggun mengenakan Hanbok (baju khas Korea Selatan) demi menyusuri perkampungan budaya ini dengan lebih khusyu’.

Sebuah keindahan yang tersimpan di daerah Gahoe ini akhirnya berhasil kudatangi juga. Sebuah kesan klasik, ketenangan, kesunyian, sarat makna dan keagungan budaya sangat kental kurasakan dalam kunjungan ini.

Peeking a Devi’s Fall at Gupteshwor Mahadev Cave

<—-Previous Story

Horn sound made me see to left when I just walked out of a noodle food stall in Tashiling. Yes, that shrill sound came from Mr. Tirtha’s taxi which I never knew since when it had been parked under a tree right out of Tashiling area.

I think we don’t need to go to Devi’s Fall because its water discharge is low now. So you can see the beauty of Devi’s Fall from a cave”, said Mr. Tirtha while turning steering wheel to left and entered Shital Path Street. I just agreed with that information.

Devi’s Fall often had been nicknamed as David’s Fall since decades ago when a Swiss drowned in current at this waterfall.

OK …. We are arriving“, joked Mr. Tirtha while snapping her fingers when he had just turned right following Siddhartha Rajmag’s Street flow.

I started to enter the gate of Gupteshwor Mahadev Cave, which at its top stood the dashing Lord Shiva holding his trident in cross-legged position. Through it, then walking in tarpaulin-covered entrance route with a row of souvenir stalls on either side. Then I was greeted by the presence of Lord Vishnu statue which sleeping next to the main building.

Description: D:BC ReportsFoto and VideoGo Abroad15. NepalIMG_20180101_165707863_HDR.jpg
Main balcony.

It was time to head to a concrete balcony to bought a ticket for 100 Rupee. Before descending the stairs to cave mouth, for a moment I paid attention to details of staircase walls which were regularly spaced displaying Gods carvings which might implicitly feature a certain stories.

Stairs to cave mouth.

Temperature difference had begun to be felt on first foothold at cave mouth. Now I was ready to explore the longest cave in Nepal.

Cow Shed“, I was stunned to see a cow shed with blue iron fence. I asked a local person who was talking in front of it. He briefly said that this cow protected Lord Shiva. I nodded as if I understood.

Going down the stairs through right side of cage I felt my breath getting heavier. The damp dark cramped space made it so. Then I saw a bright light again at a temple which dedicated to glorifying Lord Shiva.

Description: D:BC ReportsFoto and VideoGo Abroad15. NepalIMG_20180101_170114903_HDR.jpg
Oh, Donny …. You stoled a pictures …. It was “No Camera” area…. Bad habit.

It was said that this cave was found in 16th century with cave mouth closed by grass. Local people named this cave as Bhalu Dulo. When found, there were already carvings of several Hindu Gods such as Mahadev, Parvati, Nageshwor and Saraswati.

Now stairs to cave bottom were getting sharper and slippery. Water continued to drip from stalactites which were spread evenly on cave roof. The lack of lighting made my downward journey very slow.

Be careful, ok…..

Finally, the appearance of cave bottom was amazing. A very large room was in basement. Then on a side appeared a natural gap which was the only hole to enjoy the beauty of Devi’s Fall.

Description: D:BC ReportsFoto and VideoGo Abroad15. NepalIMG_20180101_170803449_HDR.jpg
That was Devi’s Fall…. Wasn’t that cool ?.

Check out the situation of Gupteshwor Mahadev Cave here:

https://www.youtube.com/watch?v=7p0Yjhocidg

God’s extraordinary work of nature….

Mengaji Ala Bacpacker di Masjid Raya Bukittinggi

Seketika aku tersadar bahwa aku belum menunaikan kewajiban Shalat Maghrib. Sementara waktu sudah menunjukkan pukul  19:10 dan suara shalawatan telah menghilang sejak tadi. Lalu waktu memaksaku untuk segera beranjak dari pelataran Plaza Bukittinggi.

Menyusuri Jalan Cinduo Mato, aku sudah tak menemukan keramaian seperti yang kubayangkan. Sebagian besar ruko di kiri-kanan jalan sudah mulai menutup pintu. Hanya beberapa yang bertahan karena masih harus melayani pelalu-lalang tersisa di jalanan.

Aku tiba di Masjid Raya Bukittinggi. Bangunan delapan jendela lengkung di lantai kedua. Tepat terletak di sisi jalan dan ditandai dengan satu buah menara berpendar kehijauan di salah satu sudut depannya.

Halaman depan Masjid Raya Bukittinggi.

Memasuki area teras, satu hal yang menarik perhatian adalah disediakannya tempat duduk beton untuk kaum perempuan di sisi kiri, sedangkan para pria diletakkan di sayap kanan. Pemisahan dimulai semenjak memasuki teras.

Tempat duduk kaum hawa dibalik pagar beton.

Aku menunaikan kewajiban Shalat Maghrib di gelaran karpet merah, sedangkan jamaáh lain tengah khusyu’ mendengarkan tausiyah pemuka agama yang berkhutbah dari sebelah mimbar. Kutenangkan fikiran, duduk bersimpuh dan menyirami kerasnya hati dengan nasehat-nasehat surgawi, sesuatu yang jarang lagi kuikuti.

Ceramah sang ustadz yang kuikuti hingga tuntas.

Aku keluar bersama jama’ah, Kaum Adam dan Hawa teratur keluar pada jalurnya. Pasangan suami-istri satu persatu meninggalkan masjid dengan berbonceng motor, beberapanya menaiki sepeda kayuh. Sementara para pemuda tampak memasuki gang-gang sempit menuju peraduannya masing-masing.

Ujung jalan Canduo Mato berangsur sepi. Rona terang deretan ruko mulai ditinggalkan pengunjung. Beberapa empu toko masih bersabar menunggu pembeli tersisa yang akan datang.

Berburu keramaian, aku memintas di Jalan Minangkabau lalu memasuki Jalan Ahmad Yani. Aku benar-benar menemukannya. Parking lot di sepanjang halaman pertokoan masih berjejal kendaraan roda empat, membuatku semakin bersemangat untuk menunda pulang ke penginapan.

Jalan Ahmad Yani di ujung selatan.

Aku terus melangkah melewati sebuah pertigaan yang dipotong Jalan Ahmad Karim dari kiri selatan. Berlanjut menemukan warung-warung tenda yang berjajar memanjang di salah satu sisi jalan dengan pemandangan Jembatan Limpapeh yang menyala penuh rona.

Deretan kuliner kaki lama di sepanjang Jalan Ahmad Yani.
Ahhhh….Sate Padang ajalah yang cuma Rp. 15.000.

Aroma sate yang semenit lalu tuntas terkunyah pengecap dengan sekejap mengusir kantuk yang menggelayuti kelopak mata sejak sesi nasehat surgawi sang ustadz di Masjid Raya Bukittinggi.

Berlanjut dengan menggusur bangku bakso ke penyeduh kopi keliling, waktuku perlahan terhempas bersamaan dengan semakin sirnanya lalu lalang kuda-kuda besi berplat BA.

Derajat suhu malam itu cepat sekali berkurang, aku yang tak berjaket sungguh merasakan dinginnya udara Bukittinggi, memaksaku segera undur diri dan melangkah pelan menuju penginapan. Esok hari aku akan terjaga lebih dini dan berkeliing kota sedari pagi.

Memasuki lantai satu penginapan, Noah, Si Insinyur Amerika itu melambaikan tangan kanannya dan menyapaku dengan senyum lebar. Sebotol beer besar ada di tangan kirinya. “I will sleep early”, ucapku kepadanya. Dia menaikkan jempol kanannya sambil berucap pendek “See you tomorrow”.

Good night Bukittinggi.

Marketer, Blogger dan Perangkat Idaman

Bagi saya, traveler dan marketer adalah dua hal berbeda yang saling melengkapi. Traveling telah menjadi passion saya dalam sepuluh tahun terakhir. Sedangkan marketing adalah bidang pekerjaan yang menjadi pilihan saya untuk mengaktualisasi diri secara sosial.

Secara fungsi, dua hal ini juga saling melengkapi, Pekerjaan marketing adalah jaminan utama bagi saya untuk bisa menjalani passion sebagai traveler. Mengingat marketing adalah pekerjaan yang menghasilkan insentif tambahan di luar penghasilan pokok. Sedangkan traveling adalah passion yang menjadi saluran utama dalam memanfaatkan insentif tambahan yang saya peroleh melalui profesi sebagai marketer.

Dan dalam tulisan kali ini, saya akan membahas berbagai resolusi pribadi di tahun 2021 terkait dengan profesi saya sebagai seorang marketer dan traveler.

Tentu menjadi impian bagi marketer manapun untuk selalu meningkatkan citra diri dan kecakapan profesi. Apalagi untuk marketer yang sudah memiliki posisi penting dalam divisinya seperti supervisor, head of segment atau head of division.

Selain meningkatkan kecakapan keilmuan dan pengalaman, seorang marketer harus dituntut untuk mampu menggunakan peralatan penunjang profesi dengan baik. Bahkan pada level penguasaan alat penunjang yang baik, maka seorang marketer harus bisa menentukan alat penunjang manakah yang paling tepat.

Sebagai marketer sekaligus leader, waktu saya sangat padat digunakan untuk mengurus customer, membina tim, melakukan presentasi penting, berurusan dengan pihak ketiga untuk menuntaskan pelayanan purna jual dan menjalankan berbagai meeting penting dengan jajaran leader untuk menentukan strategi yang tepat setiap saat.

Oleh karena itu, saya membutuh perangkat yang convertible dan mampu menjalankan fungsi sebagai asisten pribadi. Setelah menimbang-nimbang, sepertinya perangkat yang tepat untuk menjalankan fungsi itu adalah ASUS ZenBook Flip S (UX371). Saya memilih perangkat ini dengan sebuah alasan yang kuat. Yaitu beberapa fitur yang membuat perangkat ini memiliki keunggulan di kelasnya dan setelah saya eksplorasi, keunggulan itu sangat tepat untuk mewujudkan impian besar saya di tahun 2021.

Menjadi Trainer

Selain menjadi seorang marketer yang baik, impian saya pada tahap yang lebih tinggi adalah menjadi trainer professional di bidang yang saya geluti. Saya ingin sekali berbagi kesuksesan dengan banyak orang.  

Untuk menantang diri menjadi seorang trainer, hendaknya saya harus menyerap banyak sekali materi dengan baik dan cepat. Sedangkan cara terbaik untuk menyerap dan memahami materi adalah dengan melatih kemampuan mengkonversi materi ke dalam sebuah peta konsep.

Kebiasaan konvensional saya yang terbiasa mencatat dengan detail setiap materi pada lembaran buku harus segera dikurangi. Hal tersebut menyebabkan ketidakefektifan dalam memahami materi karena saya akan kehilangan fokus untuk menangkap pesan dari trainer secara langsung.

Demi menjalankan kebiasaan baru untuk membuat peta konsep dan meninggalkan mencatat secara manual, maka ASUS ZenBook Flip S (UX371) bisa digunakan sebagai pengganti buku catatan yang berpenampilan ringkas, mudah dibawa kemananpun dan memiliki kemampuan simpan yang baik.

ASUS ZenBook Flip S (UX371) dengan Stylus Pen 4096 Pressure Level.

ASUS ZenBook Flip S (UX371) bisa merepresentikan ketiga kebutuhan ini. Kombinasi layar sentuh dan dukungan Stylus Pen dengan 4096 Pressure Level (Pressure Sensitivity) membuat saya menjadi lebih imajinatif dalam membuat peta konsep melalui coretan di atas layar. Sensitivitas tekanan ini sangat membantu saya dalam membuat variasi ketebalan coretan menggunakan Stylus Pen di layar. Dan asyiknya adalah masing-masing tingkat ketebalan coretan bisa dibentuk hanya dengan memberikan permainan tekanan yang berbeda pada permukaan layar.

PC modern juga dilengkapi dengan pena digital yang memiliki banyak manfaat. Sentuhan khas tercipta saat Anda membuat sketsa atau coretan pada dokumen dengan pena digital. Penelitian juga menemukan adanya peningkatan kinerja hingga 38% pada pelajar ketika mereka menggunakan pena digital untuk mengerjakan soal-soal sains. Tidak semua ide berupa kalimat, kini saatnya untuk tuangkan inspirasi segera dalam sketsa atau coretan pena digital di PC modern.

Slim dan Sophisticated.

Sedangkan fungsi keringkasan perangkat bisa diwujudkan dengan sifatnya yang konvertibel dan ringan. Dari namanya sudah jelas menunjukkan karakter dari ASUS ZenBook Flip S (UX371). Istilah Flip merujuk pada sifat laptop yang konvertibel, karena perangkat ini bisa dipakai dalam bentuk tablet ataupun laptop. Sedangkan huruf S pada nama laptop merujuk pada kata Slim (tipis) dan Sophisticated (ringan). Perangkat ini mengedepankan flexible performance  (daya kerja yang fleksibel) dan luxurious design (desain yang berkelas).

Tentu semakin bisa dipastikan bahwa laptop ini sangat mudah untuk dibawa kemanapun. Dengan panjang 30,5 cm, lebar 21,1 cm serta ketebalan 1,39cm, membuat laptop ini berpenampilan super tipis untuk jenis laptop konvertibel.

Sedangkan fungsi penyimpanan yang baik tercermin dari dilengkapinya laptop ini dengan 1 TB SSD (Solid State Drive) M.2 NVMe PCIe. NVMe (Non-Volatile Memory Express) merupakan terobosan baru di bidang penyimpanan data yang memungkinkan SSD dihubungkan melalui PCI Express (PCIe). Sedangkan, (PCIe) merupakan bus interface yang biasanya digunakan untuk menghubungkan graphic card, network card, atau peripheral komputer berkecepatan tinggi lainnya. Teknologi PCIe memungkinkan laptop ini mentransfer data dengan kecepatan hingga 32G per detik sehingga SSD diharapkan akan mencapai kecepatan maksimum.

Selain itu, penggunaan 1TB SSD M.2 NVMe PCle membuatnya mungkin untuk menyimpan data saat supply energi dimatikan, mampu menyimpan data dalam waktu lama (bahkan hingga 200 tahun), tidak memerlukan fragmentasi yang menguras banyak waktu, lebih tahan terhadap benturan dan panas yang berlebihan, tidak berisik, lebih awet  serta menghemat konsumsi daya.

Komputer masa kini memiliki tampilan berbeda karena mereka memang berbeda. Dengan solid-state drive (SSD) dan teknologi terkini, Anda mendapatkan kecepatan, keamanan, ketahanan, dan desain yang cantik. Kami telah melakukan jajak pendapat, dan hasilnya, orang-orang lebih senang saat bepergian dengan PC modern.

Efektif dan Efisien dalam Closing

Sebagai seorang marketer, tentu saya ingin memiliki kemampuan melakukan closing yang baik untuk meningkatkan produktifitas. Beberapa kemampuan pendukung perlu ditingkatkan untuk memperbaiki closing skill, salah satunya adalah presentation skill.  

Presentation Skill yang baik, tidak hanya mengandalkan penguasaan konten produk. Tetapi ada faktor lain yang harus ditingkatkan secara bersamaan seperti gesture, penguasaan audien dan elegansi. Dan untuk meyematkan kesan elegan pada diri saya, tentu membutuhkan usaha lebih.

Jawaban itu ada pada ASUS ZenBook Flip S (UX371), perangkat ini akan menambahkan kesan elegan pada momen presentasi penting. Desain All New pada laptop ini telah menciptakan tampilan premium. Menyuguhkan tampilan diamond cut yang mewah dan elegan di berbagai sudut pandang. Sedangkan pilihan warna jade black membuatnya terkesan formal. Sedangkan garis warna tembaga atau red copper yang mengelilingi body laptop mengesankan rasa eksklusif pada perangkat ini.

Spesifikasi lengkap ASUS ZenBook Flip S (UX371).

Selain elegansi, ASUS ZenBook Flip S (UX371) juga memungkinkan saya melakukan presentasi tatap muka dengan baik. Tipe presentasi yang sering mendemokan produk ke customer penting tentu akan terbantu dengan output audio yang baik. Dua speaker stereo dengan Harman/Kardon Certified akan membantu memperkuat nilai presentasi. Kedua speaker yang terletak di bagian bawah kanan dan kiri laptop akan membuat audio bisa didengar audien ketika presentasi harus dilakukan di atas meja. Kerennya lagi, audio ini akan disupport dengan aplikasi DTS Audio Processing untuk mengatur komposisi audio dan equalizer.

ASUS ZenBook Flip S (UX371) yang dilengkapi dengan Intel EVO Platform akan menjamin bahwa laptop ini sangat responsif dan bersifat instat wake atau bangun dari mode sleep dalam waktu kurang dari satu detik. Kenapa saya memerlukan fitur instant wake ini?. Karena di dalam dunia marketing, sering sekali saya hanya disediakan waktu terbatas untuk bertemu dengan customer penting saking sibuknya mereka. Padahal mereka adalah seorang pengambil keputusan. Hal yang paling menyebalkan adalah ketika bertemu dengan customer seperti ini tetapi laptop saya sering terlalu lama dalam melakukan booting dan loading, sehingga sering membuat mood sang customer menjadi turun dan saya menjadi kehilangan banyak waktu. Padahal mereka sering sekali, hanya menyediakan waktu 10 menit untuk bertemu.

Menerapkan hukum Pareto, tentu saya juga akan sering memaksimalkan jumlah kunjungan ke customer potensial untuk mendapatkan peluang closing lebih banyak. Untuk itu, saya membutuhkan desain ergonomis dari laptop yang saya miliki. Menemui minimal 5 customer dalam sehari membutuhkan kenyamanan dengan mengurangi beban di punggung karena beratnya laptop. Dengan berat ASUS ZenBook Flip S (UX371) yang hanya 1,19 Kg ditambah berat charger yang hanya 215 gram akan mengurangi beban punggung karena total beban yang saya bawa hanya berkisar 1,4 Kg.

Responsif terhadap Atasan dan Klien

Sering sekali respon menjadi masalah dalam dunia yang saya geluti. Respon yang lambat dalam pengiriman dokumen untuk customer karena terbentur koneksi internet. Masalah konektivitas ini terkadang  juga menyebabkan informasi dari divisi lain yang terlambat masuk. Hal ini membuat saya sering ketinggalan informasi penting untuk beberapa saat dan tentu membuat efektifitas pekerjaan menjadi terganggu. Bahkan kabar kurang baiknya, beberapa peluang penting sering terlewatkan begitu saja karena masalah ini. Menjadikan saya tidak bisa mengclosing peluang dengan baik.

Melakukan meeting di beberapa gedung dengan tembok tebal atau pertemuan di lantai bawah yang membuat saya susah menjangkau Wi-Fi adalah salah satu masalah yang sering saya alami. Peluang bagus sering hilang karena hal tersebut.

ASUS ZenBook Flip S (UX371) yang telah dilengkap dengan Wi-Fi 6 akhirnya akan membantu saya menyelesaikan masalah ini dengan tuntas. Wi-Fi 6 yang memungkinkan perangkat ini bisa mengakses Wi-Fi dengan halangan tembok tebal sekalipun. Sehingga akan menghilangkan kekhawatiran saya terhadap kondisi beberapa tempat yang tidak menguntungkan. ASUS ZenBook Flip S (UX371) akan membuat saya mempunyai koneksi kuat dimanapun.

Mengembangkan Passion Sebagai Traveler Sekaligus Travel Blogger

Saya sudah menjalani passion sebagai traveler sejak 10 tahun lalu, sementara passion menulis sudah berjalan selama 3 tahun. Traveler dan travel blogger adalah sepasang passion yang menyenangkan dan sedang saya kembangkan.

Pada level yang mapan, saya mempunyai impian bisa menulis dimanapun saya berada, baik di dalam dan di luar negeri saat traveling. Menulis pada momen yang baru saja terjadi adalah sesuatu yang segar dan menyenangkan.

Concentric circle ornament( tepat di pusat lingkaran logo ASUS) memberi kesan menenangkan, ornamen ini dikenal dengan nama ZEN.

Untuk menjaga mood yang baik dalam menulis maka ASUS ZenBook Flip S (UX371) adalah teman paling ideal. Desain layarnya  yang 360o Ergo Lift Hinge membuat menulis menjadi nyaman. Desain ini membuat bagian belakang laptop sedikit terangkat jika layar dibuka dalam bentuk laptop. Mekanisme ini tentu akan meningkatkan kenyamanan saat mengetik. Secara pemeliharan perangkat, maka posisi ini akan meningkatkan sirkulasi udara pada laptop.

Memiliki TUV Rheinland Eye-Care Certified Display, menjadikan laptop ini aman untuk mata. Cahaya birunya yang rendah membuat nyaman untuk menulis dalam jangka panjang. Ditambah lagi dengan keberadaan panel OLED (Organic Light Emitting Diode) yang akan menampilkan tampilan keren di layar.

Dari semua yang menjadi resolusi saya di tahun 2021. Sepertinya semuanya akan terwujud apabila saya segera memiliki ASUS ZenBook Flip S (UX371) ini. Karena kesempatan tidak akan datang dua kali dan waktu tidak dapat diulang kembali.

Artikel ini diikutsertakan dalam ASUS ZenBook Flip S (UX371) Blog Writing Competition bersama deddyhuang.com

 #ZenBookFlipSxDH

Enjoying Sunrise at Pangandaran East Coast

<—-Previous Story

With the e- “Nyiur Resort Hotel” Reservation at my hand, I felt relieved and even more enthusiastic about enjoying a sunrise which would be coming in an hour. I decided to close my eyes for a moment after eight hours earlier struggled to drive “The Silver” from the Capital City. I purposely set my smartphone alarm to avoid falling asleep too much and worrying about losing the earth show which was about to come.

The alarm literally woke up me who were about to miss. I immediately headed for shoreline and headed to bamboo pier bridge which jutting out towards sea. Then sat down in the shade of hut at the end of pier bridge. Meanwhile view at the east began to appear a red tinge ready to open the dawn show.

The show at Pangandaran East Coast began…..

A dazzling dawn was displayed on a natural screen on eastern horizon. Visitors began to busy arranging their respective cameras. Tripods began to acquire every corner of hut. Cameras with various brands started to light up to capture that beautiful moment. Meanwhile I only entrusted my naked eyes to capture that special moment.

As usual, special show of sunrise is a brief moment and requires serenity to enjoy its beauty. The orange tinge vanished as I walked towards the west side of beach to enjoying morning activities of local fishermen who started landing outrigger boats which loaded with fish from the sea last night. That was the modesty of local fishermen who earn a fortune in the ocean with perseverance and patience.

When the sun moved higher, Pangandaran West Coast was more desolate, the air starts to raise its temperature, my gaze which was fixed far to the horizon stopped. I jumped off an empty outrigger ship which I sit on, grabbing the rudder of “The Silver” again. “Can’t check-in yet …“, I lightly muttered when I reopened a Pangandaran tourism map. “As long as it’s still morning, I will be better to take a far destination….“, I began to measure map scale and my finger pointed at a destination. “Yes, Citumang River ….“, I lightly thought. I came to Pangandaran Beach without a plan. This was an incidental journey in my adventure history.

Now “The Silver” was advancing to Parigi area on north side of Pangandaran Beach. Getting farther on, “The Silver” started crossing green rice fields with young rices. The road wasn’t wide but more than enough to cars for passing each other, a village road was also comfort enough for four wheels to pass.

Driving for about 25 kilometers, in 30 minutes I arrived at a special parking lot for Citumang River tourism spot. A tour officer came to me and started handing me tour ticket and parking ticket after I confirmed that enjoying the beauty of Citumang River was the purpose of my arrival.

A tour guide as well as a life guard also came over. He offered assistance services to navigate Citumang River from upstream to downstream. But I decided to just do it by myself. Enjoying nature alone was the best way to absorb all its beauty values.

Next Story—->

Profesionalitas dan Fleksibilitas dalam Merintis Bisnis Online

Sejak internet masif digunakan masyarakat pada awal tahun 2000-an, dalam dua dekade kemudian lahirlah sederet pengusaha online muda Indonesia. Bahkan mereka menuai kesuksesan dengan merintis bisnisnya dari nol. Anda boleh membaca beberapa kisah tokoh muda tersebut untuk mendapatkan afirmasi. Sebut saja Rico Huang, Aulia Halimatussadiah, Cynthia Tenggara, Al Fatih Timur dan banyak lagi yang lainnya.

Akhir-akhir ini, bisnis online kembali menjadi perbincangan hangat. Bisnis online tumbuh menjamur seiring dengan kejadian luar biasa yang menimpa dunia, yaitu pandemi COVID-19. Ketika para pekerja berjibaku untuk mempertahankan pekerjaannya yang rawan terdampak Pemutusan Hubungan Kerja, ternyata di sisi lain, banyak kalangan yang lebih memilih menjalankan bisnis online untuk bertahan hidup. Dan ternyata, tak sedikit diantaranya yang mampu meraih kesuksesan dalam bisnis yang mereka geluti.

Bahkan ketika pandemi nanti usai, diprediksi bisnis online tetap akan bertumbuh untuk memenuhi gaya hidup konsumen urban yaitu one stop shopping melalui online. Kesibukan masyarakat urban mendorong semuanya terjadi demikian. Hal ini mendorong sebuah dengan fakta bahwa pertumbuhan bisnis online di Indonesia mencapai angka 17% per tahun.

Kunci utama yang membuat bisnis online mengalami kemajuan pesat adalah terhubungnya produsen, distributor dan konsumen dengan internet. Internet tidak hanya menjadi kebutuhan perkantoran tetapi juga memiliki peran besar dalam kegiatan berbelanja harian masyarakat. Dengan internet, kegiatan berbelanja secara online bisa dilakukan dengan mudah.

Bisnis online memang banyak dijalankan orang untuk menambah penghasilan. Biasanya mereka melakukannya sebagai usaha sampingan sembari tetap menjalankan pekerjaan utamanya. Tentu hal ini sah-sah saja. Tetapi tidak sedikit juga di antara mereka yang akhirnya lebih memilih menjalankan bisnis onlinenya secara totalitas. Bisnis online bukan lagi dimanfaatkan seseorang untuk mencari penghasilan tambahan, melainkan mulai digeluti sebagai mata pencaharian utama. Kini bisnis online telah menjadi peluang besar.

Lalu bagaimana seseorang bisa sukses menjalankan bisnis onlinenya?.

Untuk mendapatkan kesuksesan dalam bisnis online, kita hendaknya mencontoh dari apa yang sudah dilakukan oleh para pebisnis diatas. Dari kisahnya, mayoritas dari mereka memulai bisnisnya dengan sesuatu yang terkait dengan hobby atau passion. Pengusaha yang sudah tahu apa passionnya, biasanya akan memiliki mimpi besar untuk mencapai passion pada level tertingginya. Usaha yang dilakukan dengan dasar hobby akan menjamin bahwa pebisnis menjalankan bsinisnya dengan fokus dan penuh kebahagiaan, akan terhindar dari rasa putus asa, terjamin akan menjalankannya dengan penuh kesabaran dan rela memulainya sendirian pada awal-awal pelaksanaan bisnis.

Dengan mengurusnya sendiri di awal usaha, tentu tidak akan ada banyak fixed cost yang harus dikeluarkan, contohnya adalah gaji karyawan. Pemilik bisnis hanya perlu berfokus pada pengadaan barang, biaya operasional, dan biaya administrasi.

Baru kemudian, setelah bisnis onlinenya berkembang dan memiliki cashflow yang memadai, maka pengusaha online mulai bisa melakukan perekrutan karyawan untuk memperbesar skala bisnis. Tentu strategi ini akan mengalami pengecualian ketika pengusaha online memiliki investor di tahap awal.

Sesuai dengan konteks online, maka pengusaha harus menguasai banyak linimasa pada beberapa media sosial atau platform berbasis web. Karena keduanya adalah media utama dalam pengembangan bisnis ini.

Dan walaupun bisnis online berbeda dengan bisnis kantoran, tetap saja di dalam aktivitasnya, pengusaha online akan terhubung dengan klien atau pelanggan, dengan para pengusaha lain,  dengan supplier atau dengan pihak lainnya melalui aktifitas offline.

Untuk mencapai kesuksesan, bisnis online harus memperhatikan hubungan interpersonal yang tinggi karena pada dasarnya bisnis ini berbasis pada kepercayaan. Sebagai contoh pada toko online, untuk meningkatkan kualitas hubungan ini, toko online harus konsisten meningkatkan pengiriman tepat waktu, melakukan packaging yang baik, menerapkan promo menarik pada momen yang tepat, aktivitas administratif yang cepat, mudah dihubungi pelanggan, dan mengembangkan aktivitas lain yang mendukung pengembangan toko online tersebut.

Dalam aktivitas korespendesi misalnya, pemilik bisnis online jenis apapun harus cepat dalam merespon pesanan pelanggan, mencetak berkas pengiriman dengan baik dan profesional, mencetak kartu ucapan untuk pelanggan setia pada momen-momen penting. Sedangkan dalam hal administratif, walaupun bisnis yang dijalankan bersifat online, pelaku bisnis online harus tetap berdisiplin dalam mengcopy invoie atau memindai dokumen-dokumen penting lain untuk keperluan dokumentasi.

Oleh karenanya, setiap bisnis online membutuhkan perangkat pendukung yang fleksibel. Kenapa harus fleksibel?. Sebuah bisnis online di tahap awal pengembangan, menghendaki pemiliknya untuk bergerak cepat dan dinamis. Mobilitas yang tinggi menemui supplier, investor, klien atau pihak ketiga lainnya harus diimbangi dengan kecepatan yang baik dalam menyelesaikan kegiatan administratif dan pemasaran lainnya. Karena tuntuan ini, hendaknya perangkat yang dimaksud harus bisa digunakan atau bahkan bisa dibawa kemana saja. Selain itu, perangkat ini harus bisa memindahkan fungsi kantor sebagai pusat administrasi ke dalam rumah. Tentu perangkat standard yang saya maksud dalam hal ini adalah laptop dan printer.

Dan khusus untuk printer, dari sekian banyak varian yang beredar di pasaran. Ada sebuah varian printer yang bisa memenuhi beberapa kebutuhan diatas. Adalah Printer HP DeskJet Ink Advantage 2337 All-in-One yang bisa mendukung beberapa kegiatan utama bisnis online, sepertifungsi administratif, fungsi pemasaran dan fungsi korespondensi.

Medukung fungsi administratif, Printer HP DeskJet Ink Advantage 2337 All-in-One memiliki tiga fungsi utama yaitu mencetak (print), menyalin (copy) dan memindai (scan). Ketiga fungsi yang tersemat dalam perangkat ini telah membuat printer ini menjadi pilihan tepat para perintis bisnis online. Ditambah lagi dengan harganya yang terjangkau, menjadikan printer ini sangat ramah guna bagi para perintis bisnis.

Printer ini juga memiliki sifat fleksibilitas karena bisa dibawa kemanapun saking ringannya. Dengan beratnya yang hanya 3,42 kilogram, membuat printer HP DeskJet Ink Advantage 2337 All-in-One tidak membutuhkan banyak ruang di kendaraan atau di meja kerja rumah. Hal ini tentu sesuai dengan visi pembuatan printer ini yaitu “Perfect for Home”.

Secara kualitas, printer ini mampu menghasilkan cetakan teks yang sangat jelas dan gambar yang hidup. Tentu hal ini bisa memfasilitasi setiap pebisnis online yang mengharuskan mencetak kartu ucapan, foto produk ataupun promo sekalipun. Bahkan untuk mencetak dokumen dalam jumlah banyak, printer ini memiliki print speed up hingga 7.5 ppm (black) dan 5.5 ppm (colour).

Aksesibilitas printer ini juga sangat baik karena bisa terhubung langsung dengan smartphone melalui Aplikasi HP Smart yang memungkinkan siapapun mencetak langsung dokumen dari smartphone. Sedangkan koneksi dengan komputer difasilitasi dengan 1 Hi-Speed USB 2.0 yang ringkas dan sederhana.

Inilah printer multifungsi yang didistribusikan secara resmi oleh Era Supplies Indonesia untuk membantu mensukseskan para pebisnis.

Akhirnya bisnis online yang dirintis harus tetap dijalankan secara smart dan professional. Selamat berbisnis!

Lelap Sejenak  di Kimchee Guesthouse Sinchon

<—-Kisah Sebelumnya

Pukul setengah sembilan pagi, aku sudah merapat di Stasiun Hongik University, menyusuri koridor panjang stasiun dan menaiki escalator panjang an tinggi menuju permukaan tanah. Tata arsitektur stasiun menyambutku dengan taman berhiaskan bunga-bunga indah dipadu dengan bebrapa sculpture ikonik.

Aku mulai menelusuri gang utama menuju Sinchon-ro Avenue di utara stasiun. Yang kutahu, guesthouse yang kupesan berada di dalam gang di seberang jalan sana. Aku melintas pada zebra cross tunggal yang ada pada ruas jalan dihadapan. Seoul Bus Rapid Transit dominan biru langit kelir putih, dengan AC outdoor compartment  memanjang di bagian atap melengkapi body panjangnya tampak berlalu lalang mengambil warga lokal yang mulai beraktivitas meghargai fajar.

Aku memutuskan untuk tak bertanya  kepada siapapun perilah letak guesthouse tempatku menginap, aku yakin di tengah Ibu Kota yang super sibuk, akan sangat langka bagi siapapun untuk mengetahui letak sebuah guesthouse kecil jauh di dalam gang antah berantah.

Aku mengambil peta dan dengan cepat memahami gang sebelah mana yang harus kumasuki. Aku mulai memasuki  Gang Sinchon –ro 3-gil dan berbelok ke kanan pada pertigaan pertama. Sesuai dugaan, aku akan mudah menemukannya.

Memasuki pintunya yang tak terkunci, aku menemukan meja resepsionis yang gelap dan kosong, lorong tangga, dapur dan ruang makan sama temaramnya. Tamu-tamu guesthouse rupanya masih tampak malas dalam selimutnya masing-masing, seakan enggan berjibaku dengan dinginnya hawa di luaran sana.

Tak ada pilihan, aku memasuki shared lounge yang sama temaramnya, mengambil tempat duduk, menaruh backpack dan menangkupkan muka dalam sedekapan tangan untuk turut terlelap dengan kondisi terduduk. Setidaknya shared lounge itu tak sedingin ruangan Seoul Express Bus Terminal dini hari tadi.

Lelapan pulasku terbangunkan oleh suara berisik seseorang yang tampak merapikan ruang resepsionis. Rupanya aku telah terlelap selama satu jam lamanya. Lelaki muda Korea itu tampak melihat kearahku tanpa ekpresi. Aku mengucek mata untuk membuat muka segera segar. Beranjak dari bangku dan segera menujunya.

Aku ; “Hello, I’m Donny from Indonesia. I had booked a room in this guesthouse. This is my booking confirmation”.

Dia: “Let me see”, dia seksama membaca detail lembaran itu. “I think you will get your room on 1 pm, so I’m sorry”, aku terkagum dengan aksen British pengucapan englishnya.

Aku: ‘Oh, It’s OK. I know that. I just want to put my backpack here and I will go to sightseeing the city”.

Dia: “Yeaa, It will be better. Just put your backpack there”, dia menunjuk sebuah pojok ruangan yang penuh tumpukan backpack.

Aku: “Ok, thanks, Sir”.

Usai sukses menaruh backpack yang mulai membuat punggungku terasa berat. Aku segera meninggalkan guesthouse. Aku harus mencari sarapan sebelum menuju ke destinasi pertamaku di Seoul. Semenjak bercakap dengan Mr. In Chul Park di Seoul Metro tadi pagi, aku mulai menahan rasa lapar yang menyerang lambung.

Menyeberang kembali Sinchon-ro Avenue aku memasuki gang menuju Stasiun Hongik University. Di dalam gang aku perlahan melangkah demi menemukan sebuah minimarket. Yups….Akhirnya aku menemukan sebuah CU minimarket.

Menelusuri rak berisi makanan, aku menemukan cup noodle dan kemasan nasi putih, tanpa ragu aku memungutnya dan membawanya ke kasir. Seperti minimarket di Busan, CU minimarket Seoul juga menyediakan pojok makan, lengkap dengan microwave dan air panas. Pelanggan dituntut untuk bisa mengoperasikan peralatan pemanas itu dan melayani dirinya sendiri untuk menyantap makanan yang dibelinya.

Aku yang sungguh kelaparan, menyantap cup noodle dan nasi kemasan itu dengan cepatnya. Untuk kemudian segera bergegas menuju destinasi wisata pertama.

Kisah Selanjutnya—->