Keindahan Arsitektur Gotik di Santa Cruz Cathedral Basilica

Menghindari jalanan yang sama saat menuju Saint Francis Church, aku merubah haluan. Kupilih menapaki Ridsdale Road yang di sepanjang kanannya tertampil Parade Ground yang memainkan peran sebagai bumi perkemahan bagi warga Fort Kochi, sangat lapang dengan rumput nan menghijau.

Hanya dalam dua blok, aku mengikuti arus di tikungan untuk bergabung dengan pejalan kaki lain di Quiros Street yang di ujung selatannya dibatasi oleh taman bermain dengan dua pohon besar nan rindang saling berdampingan. Kedua pohon tua itu seakan membentuk sebuah gerbang besar sebagai pintu masuk taman. Taman tersebut berjuluk Santa Cruz Ground….Mirip dengan nama destinasi yang akan menjadi tujuan langkahku berikutnya.

Aku menikmati rindangnya taman dengan berjalan menyejajarinya di sebelah utara melalui Santa Cruz Road. Sepertinya taman itu sering digunakan untuk bermain kriket, tampak jelas dari markah-markah yang tertera di dalam taman.

Panjang taman bermain itu tak lebih dari dua ratus meter. Berjalan beberapa waktu, akhirnya aku tiba di ujungnya yang terpotong oleh KB Jacob Road. Dan jika ditarik garis lurus ke utara, maka KB Jacob Road ini akan menemukanku dengan Kochi Airport Bus Terminal, tempatku turun beberapa jam lalu saat tiba pertama kalinya di Kochi.

Artinya apa?….

Artinya, sejak jam sebelas siang tadi aku sudah melakukan perjalanan kaki dengan jalur melingkar mengelilingi Fort Kochi.

Apakah aku merasa capek?….Tidak, justru aku semakin bersemangat.

Di depan sana, berkisar pada jarak seratus meter, destinasi berikutnya yang kutuju telah menunggu. Menyisir KB Jacob Road aku melangkah cepat menujunya.

Sewaktu kemudian, aku telah berada di gereja kedua yang kukunjungi selama di Fort Kochi. Gereja ini bernama Santa Cruz Cathedral Basilica. Setibanya, aku diam terpaku mengamati dari sebuah titik di halaman gereja ketika semua turis sibuk keluar masuk bangunan gereja tersebut.

Tak tampak yang spesial memang apabila gereja ini hanya dipandang dari luar. Oleh karenanya aku mencoba mencari tahu apakah ada yang terlihat istimewa di dalam bangunan sana. Sebelum memasuki pintu gereja aku mencoba membaca dengan seksama peraturan yang harus ditaati. Peraturan itu tertulis pada sebuah batu prasasti berukuran kecil,

Gereja ini adalah tempat peribadatan dan bukanlah sebuah museum. Waktu kunjungan adalah pukul 09:00 – 13:00 & 14:30 – 17:30 (Senin sampai Sabtu). Khusus hari Minggu karena ada aktivitas ibadah maka gereja bisa dikunjungi pada pukul 10:30 – 13:00. Pada Jum’at minggu pertama setiap bulannya akan diselenggarakan adorasi sehingga pengunjung tidak diizinkan masuk. Selama di dalam gereja dilarang menggunakan telepon genggam

Begitulah aturan yang tertera dan aku cukup maklum memahaminya. Hanya saja, aku tiba di gereja ini pada hari Kamis sekitar pukul setengah dua siang, Seharusnya gereja ini sudah ditutup untuk wisatawan, tetapi aku sungguh bersyukur karena wisatawan masih diizinkan masuk….Oh, beruntungnya kamu, Donny.

Memasuki pintu, apa yang menjadi ekspektasiku atas gereja Katedral ini sungguh menjadi kenyataan.

Gereja Katedral dengan dua menara.
Waow….Indah bukan?
Lihat patung-patung sakral itu !
Luar biasa….
St. Mary’s Canossian Convent…Sebuah biara di sisi kiri gereja.
Sebuah paviliun yang merupakan bangunan memorial di sisi kanan gerja.

Interior luhur yang mengadopsi seni Gotik khas Romawi menjadikan gereja ini tersemat nilai seni yang tinggi. Sementara di setiap tiang bangunan, terpajang patung-patung yang menggambarkan tokoh-tokoh yang ada di dalam Alkitab. Konon yang membuat interior gereja ini adalah seniman asal Italia yang bernama Fra Antonio Moscheni. Tetapi beliau meninggal tepat empat hari sebelum gereja ditasbihkan, yaitu pada tahun 1905. Inilah tahun dimana gereja katedral telah selesai dibangun ulang setelah terakhir kali runtuh oleh pasukan Inggris. Sedangkan gereja ini mendapatkan status Basilika pada tahun 1984 melalui dekrit khusus Paus Yohanes Paulus II.

Santa Cruz Cathedral Basilika adalah satu dari dua gereja yang selamat dari penghancuran seluruh gereja Katolik pada zaman kolonialisme Belanda di era 1660-an. Oleh Belanda, bangunan gereja ini dijadikan gudang senjata dan kemudian hancur oleh tentara Inggris yang merebut Kochi dari tangan Belanda.

Nah, begitulah kisah kunjunganku di Santa Cruz Cathedral Basilica.

Cukup menarik, bukan?

Berjumpa Petualang Ulung di Saint Francis Church

Di jalur keluar Princess Street aku telah memutuskan untuk mengambil arah kanan demi melanjutkan eksplorasi.

Walau panas sudah tak semenyengat beberapa jam sebelumnya, tetapi tetap saja paparan surya tanpa jeda membuat badan bekeringat dan kulit samar terbakar. Namun hal tersebut tak membuatku berjalan terburu. Rasa ingin tahu sekitar mengalahkan segalanya.

Di sebuah sudut, bangunan klasik berwarna putih yang difungsikan sebagai Tourist Information Centre tampak dijejali wisatawan asing yang mungkin sedang berburu informasi mengenai Fort Kochi, sebagian besar dari mereka adalah turis asal Eropa.

Aku sendiri enggan untuk singgah di bangunan itu, lalu lebih memilih menapaki Bastian Street sisi timur. Identik dengan Princess Street, jalanan yang kulalui ini masih didominasi oleh bangunan-bangunan seperti hotel, cafe dan restoran, toko buku dan souvenir serta toko seni dan kerajinan tangan. Hanya satu yang membedakan, arus wisatawan tak lagi sepadat di Princess Street.

Tiba diujung jalan, bangunan besar yang berfungsi sebagai kantor India Post menyambutku. Tentu bukan bangunan itu yang menjadi tujuan eksplorasi berikutnya, melainkan sebuah bangunan peribadatan yang terletak persis di seberang timurnya.

Enggan memutar jalan, aku memasuki sebuah lapangan rumput dan kemudian menyusuri pagar tembok bangunan peribadatan sisi selatan hingga benar-benar sampai di gerbang depannya.

Inilah Saint Francis CSI Church, salah satu gereja Eropa tertua di India. CSI sendiri merupakan inisial dari Church of South India yang merupakan perkumpulan gereja protestan di India.

Sebelum memasuki bangunan gereja, aku tertegun pada sebuah prasasti dua bahasa yang menjelaskan detail tentang Saint Francis Church.

Bahwa Saint Francis Church adalah landmark utama di Fort Kochi yang dibangun pada abad ke-16. Sejarah yang dimiliki gereja ini sangat merepresentasikan sepak terjang kolonial dalam menanamkan pengaruh kekuatan Eropa di India, yang dimulai dari abad ke-15 hingga abad ke-20

Tulisan lainnya adalah:

Unni Rama Koil I, sang penguasa Kochi memberikan izin kepada Kapten Cabral asal Portugis untuk membangun sebuah benteng dan gereja di muara sungai

Masih di depan gereja….

Aku mengamati sebuah tugu berprasasti dengan ketinggian dua setengah meter yang didirikan tepat di pusat halaman. Tak mau menginjak rumput halaman, maka aku urung membaca prasasti kecil itu.

Kini saatnya masuk ke dalam gereja….

Memasuki pintu, aku dihadapkan pada deretan kursi tunggu memanjang saling berhadapan di sisi kiri kanan. Seorang petugas tampak memberikan penjelasan pelan bahwa setiap pengunjung harus melepas sepatunya sebelum masuk, melarang pengunjung mengambil video dan meminta pengunjung untuk mematikan telepon genggam.

Sebagai pengunjung yang baik tentu aku menghormati aturan itu. Karena toh aku hanyalah seorang penikmat perjalanan, tak perlu banyak komplain. Nikmati saja aturannya…..

Tetapi mendadak sebelum melangkah masuk, aku teringat sesuatu ketika berada di teras gereja. Dinding teras tampak dipenuhi oleh lembaran-lembaran batu prasasti yang pernah aku lihat di Museum Wayang di Kota Tua Jakarta….Sangat mirip.

Pagar gereja….Tebel beud, kan?
Saint Francis Church tampak depan.
Teras gereja.
Nah, stone inscription kek gini mirip-mirip obyek yang sama di Museum Wayang, gaes.

Nah….

Kejutan paling penting dalam eksplorasi ini ternyata kutemukan di dalam gereja….

Tanpa kusadari, langkah kakiku dalam menikmati interior gereja terhenti pada sebuah makam di sisi kanan ruangan. Setelah kubaca beberapa batu prasasti di sekitar makam, aku baru sadar bahwa itulah makam Sang Petualang ulung asal Portugis, yaitu Vasco da Gama sang penemu jalur laut dari Eropa ke India.

Aku juga tak akan pernah memahami jika tak mengunjungi makam ini. Diceritakan bahwa Vasco da Gama meninggal di Kochi karena terkena malaria pada tahun 1524, tepatnya pada pelayaran ketiganya ke India. Untuk kemudian jenasahnya dikebumikan di Saint Francis Church ini.

Tetapi kan Vasco da Gama adalah tokoh ternama di Portugal….Tentunya kisah kepahlawanannya mendapat tempat tersendiri di mata rakyat Portugis. Oleh karenanya, empat belas tahun setelah meninggal, jenazahnya dipindahkan ke Lisbon, ibukota Portugis.

Bagian dalam gereja.
Bertemu sang petualang sejati….Makam Vasco da Gama.
Bagian samping gereja.

Sungguh perjalanan yang menghadirkan kejutan….

Itulah kenapa aku mencintai petualangan.

Berburu Sewa Kereta Jaladara hingga Taman Balekambang

Menaiki kereta peninggalan Belanda adalah salah agenda penting dalam Marketing Conference pada bulan Oktober nanti. Oleh karenanya, hari pertama surveyku ke Solo menempatkan Kereta Wisata Jaladara sebagai prioritas pertama. Dan pihak yang bisa dikulik informasinya perihal penyewaan kereta wisata ini adalah Dinas Perhubungan Kota Solo.

Maka setelah menikmati sendok terakhir Es Dawet Telasih, aku meninggalkan Pasar Gede menuju Jalan Menteri Supeno. Tujuanku adalah menemui petugas yang mengurusi perizinan sewa Kereta Wisata Jaladara dan menanyakan perihal mekanisme dan biayanya.

Kantor Dinas Perhubungan Kota Solo.

Tak lama menunggu, taksi online menjemputku dan mengantarku kesana. Tak jauh, hanya berjarak empat kilometer di sebelah barat Pasar Gede, dalam 15 menit aku tiba. Saat tiba di Dinas Perhubungan Kota Solo suasana sudah sangat ramai, mungkin sejak pagi tadi, kendaraan angkut sudah mengantri untuk melakukan KIR kendaraan. Hanya itulah surat sakti kendaraan angkut untuk berburu Rupiah di tanah air.

Aku diarahkan oleh satpam yang bertugas menuju sebuah bangunan kecil yang difungsikan sebagai kantor untuk menemui Pak Sandi yang merupakan petugas Jaladara. Hanya saja Pak Sandi ternyata sedang ada rapat antar instansi dan tidak berada di tempat. Akhirnya aku hanya mendapatkan sedikit penjelasan perihal Kereta Wisata Jaladara dari petugas yang berjaga. Informasi itu diantaranya adalah harga sewanya Rp. 3.500.000 per 3 jam, jika ingin menambahkan tour guide, kesenian musik dan kuliner pasar di dalam kereta maka perlu menambah dana sekitar Rp. 2.100.000. Dan informasi terakhir adalah Dinas Perhubungan juga menawarkanku jasa Bus Tingkat Werkudara yang bisa digunakan untuk berkeliling wisata kota Solo.

Menyimpan informasi dan sembari menunggu petugas itu, aku memutuskan berkunjung ke sebuah taman kota di dekat kantor Dinas Perhubungan Kota Solo, hanya berjarak 600 meter, jadi bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Taman kota itu adalah Taman Balekambang, sebuah taman kesenian terpadu seluas 10 Ha dan terletak di daerah Manahan. Taman Balekambang merupakan salah satu venue untuk pemetasan seni di Kota Solo, selain itu taman ini juga berfungsi sebagai taman edukasi, taman botani dan taman rekreasi. Setiap bulan sering diadakan pementasan seni di kawasan ini. Sendratari dan Ketoprak adalah pertunjukan yang sering di gelar disana.

Gerbang Taman Balekambang.
Area utama Taman Balekambang.
Informasi tentang pertunjukan seni yang akan tampil.
Ruang Laktasi untuk pengunjung.

Aroma seni taman ini mulai terasa ketika memasuki gerbang, Pintu gerbang yang tinggi dengan eksterior ukiran berkonsep gunungan begitu sarat seni. Sementara beberapa papan tulis bertuliskan jadwal pementasan seni di Bale Kambang terpampang di sekitar taman. Memudahkan pengunjung untuk mendapatkan informasi.

Sementara deretan shipping container di letakkan di salah satu sisi taman dan berfungsi untuk fasilitas pengunjung seperti Ruang Laktasi dan Ruang Medis. Menjadikan taman ini begitu manusiawi untuk menjadi sebuah tempat pertunjukan seni seutuhnya.

Jika diklasifikasikan, bagian timur taman difungsikan sebagai tempat aktivitas outbond dan pembibitan tanaman.Sementara di pusat taman diletakkan gedung kesenian dan taman utama dengan open stage untuk pertunjukan di ruang terbuka. Sementara bagian barat didominasi oleh keberadaan danau dan kolam renang untuk dinikmati oleh para pengunjung.

Pagi itu, tidak banyak yang bisa kulakukan di taman itu karena memang sedang tidak ada acara kesenian sama sekali. Jadi setelah puas berkeliling maka kuputuskan untuk kembali segera ke Dinas Perhubungan untuk menemui Pak Sandi yang mungkin saja sudah kembali dari rapat.

Menduga Hingar Bingar Princess Street

Setelah beberapa waktu duduk bersantai di Nehru Park for Children, aku keluar dari area taman tepat di gerbang pojok selatan yang tepat menghadap Jawahar Park.

Cukup sudah….Tak perlu mengunjungi taman sebelah, waktuku tak lagi cukup”, aku membatin ketika berdiri tepat di sebuah perempatan.

Berdiri tegak, mataku lekat memandang ke ruas jalan di utara, selarik jalur dengan deret bangunan berketinggian rendah dan model klasik berdiri di kedua sisinya.

“Princess Street…”, begitulah aku membaca sebuah papan nama jalan berwarna hijau yang di beberapa permukaannya telah diakuisisi karat. Sementara itu, slogan promosi pariwisata Negara Bagian Kerala tersemat pada sebuah papan putih di bawahnya. “God’s Own Country”, begitulah aku membacanya.

Aku sudah bersiap untuk menyusuri jalan legendaris itu….

Langkahku menyusuri Princess Street bermula dari sebuah toko di sisi kiri jalan yang menjual berbagai karya seni dan kerajinan tangan. Toko itu bernama Little India dan berdampingan dengan toko Royal Heritage yang menjual produk yang sama. Sedangkan di seberangnya, sebuah penginapan dengan nama The Travellers Inn tampak klasik bersebelahan dengan Chariot Beach Restaurant.

Sejauh mataku memandang, jalan selebar lima meter itu, bahunya langsung berbatasan dengan bangunan-bangunan tempoe doeloe yang didirikan mengikuti kontur jalanan di kedua sisi. Terik yang sudah tak semenyengat beberapa waktu lalu masih saja terasa sebagai konsekuensi dari tiadanya pepohonan yang menaungi jalanan, kecuali sebuah pohon yang berdiri kokoh tepat di depan Fort Kochi Hotel.

Princess Street merupakan pusat dari area Fort Kochi Heritage di selatan India. Bangunan-bangunan klasik bergaya Eropa tersebut pada masa sekarang telah dialihfungsikan sebagai homestay, toko alat kesenian, bookstore, restoran atau agen perjalanan wisata.  

Princess Street juga menjadi jalan yang dibangun pertama kali di area ini. Siang itu, aku mencium bau harum dari tempat pembuatan kue di sepanjang jalan. Dan konon, pada malam hari, turis dan penduduk lokal akan merayakan kehadiran malam dengan dinner, dansa dan pesta dibawah meriahnya siraman lampu warna-warni.

Inilah jalur legenda sepanjang hampir tiga ratus meter yang berpangkal dari River Road di utara dan berakhir di Peter Celli Street di selatan yang ditandai dengan keberadaan cafe kenamaan, yaitu Loafers Corner Cafe

Kupelankan langkah ketika berada tepat di pertengahan ruas….

Harusnya aku tiba di sini saat malam, pasti tempat ini akan menjadi tempat menarik untuk melepas lelah setelah berkeliling Fort Kochi seharian….Hmmhhh”, aku terus bergumam menyayangkan keadaan.

Toko seni dan kerajinan tangan.
Fort Kochi Hotel (kanan berwarna kuning).

Hampir pukul satu siang….

Genangan tipis air tampak menggenangi beberapa titik jalanan, aku rasa itu hanyalah air yang digunakan untuk menyiram jalanan demi mengurangi debu dan hawa panas tengah hari tadi. Satu dua kendaraan roda empat tampak berpapasan melintasi jalan dan beberapa unit bajaj tampak terparkir di sembarang titik di tepian jalan.

Sementara spanduk-spanduk promosi pertunjukan tarian klasik India tampak menempel di beberapa tiang listrik yang tegak berdiri di sepanjang sisi jalan. Aku sudah faham bahwa pertunjukan tari di Fort Kochi biasanya diselenggarakan saat malam tiba, di sekitaran pukul delapan.

Biasanya Fort Kochi akan menyuguhkan beberapa pertunjukan kesenian tari lokal, seperti Mohiniyattom, Kuchuppudi dan Bharathanatyam. Satu lagi, selain hiruk pikuk Princess Street, aku juga akan melewatkan pertunjukan seni itu tentunya. Malam nanti, aku pastinya akan berada di penginapan yang jaraknya lebih dari lima puluh kilometer dari Fort Kochi. Aku harus lebih mengutamakan penerbangan menuju Dubai di keesokan paginya. Setahuku, pertunjukan tarian lokal itu akan di selenggarakan di Kerala Kathakali Centre yang lokasinya berada di belakang Basilica Church.

Tak terasa perjalanan menyusuri Princess Street telah mengantarkanku untuk tiba di ujung selatan jalan. Aku kini berdiri di depan Loafers Corner Cafe yang merupakan cafe kenamaan yang tak pernah sepi pengunjung.

Ga ngafe, Don? …..”, hati kecilku berbisik.

Ya kagak, lah….Wkwkwkwk”, hati kecilku pulalah yang menjawab pertanyaannya sendiri.

Beberapa cafe dan restoran di sepanjang Princess Street).
Silahkan kalau mau cari novel !….Biar ndak kesepian.

Kini aku sudah berada di sebuah perempatan jalan dan harus memutuskan kembali, kemanakah selanjutnya kaki akan melangkah?

Sentuhan Portugis di Sepanjang Nehru Park for Children

<—-Kisah Sebelumnya

Yang harus kuindahkan adalah rasa hati yang sesungguhnya belum puas dalam menyaksikan kesibukan para nelayan lokal yang larut dengan kesibukannya mengurusi hasil tangkapan.

Surya sudah mulai tergelincir dari titik tertingginya, perlahan kehilangan daya sengat, tunduk oleh senja yang mulai menguasai hari.

Sedangkan aku dengan berat hati, bangkit dari tempat duduk di bawah tenda yang didirikan beberapa depa dari bibir pantai. Sewaktu kemudian aku sudah menggabungkan diri dalam arus River Road yang semakin ramai. Arus pelancong sepertinya merujuk pada persiapan atraksi alam yang tak lain adalah tenggelamnya surya di ufuk barat, itu semua akan terjadi dalam beberapa jam ke depan. Langit yang cerah tampaknya akan menyokong penuh atraksi alam itu nanti sore.

Tak hanya para pelancong, lengsernya surya dari tahta tertinggi dipadukan dengan teduhnya pesisir Fort Kochi juga membuat sekumpulan gagak hinggap di tanah dan turut serta menikmati suasana. Satwa hitam itu tampak larut dalam kegembiraan dengan menyibukkan diri mengais santapan dari sisa-sisa makanan yang terjatuh dari genggaman para pelancong, satu dua diantaranya tampak sibuk mengumpulkan guguran akar gantung yang kuduga akan digunakan untuk membuat sarang dan sebagian sisanya hanya sibuk berkicau mensyukuri sejuknya sore.

Untuk kemudian aku tertegun pada sebuah prasasti di sebuah sisi jalan. Aku mengangguk-angguk membaca goresan demi goresan yang tertoreh di sebidang prasasti tersebut. Sementara pelancong lain turut merapat mengikuti tindak tandukku. Tentu mereka pun ingin memahami informasi penting yang tertera di prasasti. Anggap saja, pada akhirnya aku dan para pelancong memahaminya dengan cukup baik

Kamu sendiri faham ga dengan prasasti seperti ini?…..Hahaha.

Mari kita secara paksa menyimpulkan bahwa prasasti tersebut adalah tanda pengesahan sebidang taman yang ada di depanku. Di dalam sana, warga lokal tampak menikmati sejuknya taman dengan bersandar di bangku-bangku yang tersedia, sebagian yang lain tampak duduk di bangku-bangku beton yang tersebar di beberapa titik..

Taman kota……Kenapa aku suka menghadirkan diri di landskap jenis itu?.

Gaes…..Untuk mengetahui atmosfer kehidupan kelas menengah ke bawah, maka menilik taman kota di wilayah yang bersangkutan bisa menjadi langkah terefektif selain mengunjungi pasar tradisionalnya. Oleh karenanya, taman kota adalah jenis destinasi yang tak bisa lepas dari sasaran singgahku dimanapun aku melakukan eksplorasi.

Masuk ke dalamnya, di segenap titik, sculpture ikan tampak mendominasi arsitektur taman yang menurut pengamatanku memiliki luasan tak kurang dari dua hektar.

Ikan?…..

Tentu bisa ditarik kesimpulan…..Ikan menjadi perlambang mata pencaharian utama masyarakat Fort Kochi yang menghuni di sepanjang garis Pantai Malabar.

Tuanya pepohonan yang menaungi seluruh taman dari sengatan surya mungkin bisa menggambarkan seberapa tua usia taman. Dan entah bagaimana meriahnya taman di gelap malam karena keberadaan tiang-tiang lampu di segenap penjuru.

Sesuai konsepnya yang diperuntukkan bagi anak-anak, sudah barang tentu wahana permainan anak-anak diinstalasi masif di sepanjang luasan taman. Prosotan, kursi putar dan ayunan menjadi wahana standar yang disediakan .

Gerbang taman sisi utara.
Patung ikan begituan banyak banget….Itu si anak pipis sembarangan kok ga di denda ya?….Wkwkwk.
Lihat warga lokal itu !
Anak-anak belum pada hadir….Mungkin sebentar lagi.
Nah, main kursi putar.
Posko Green Cochin Mission.
Bangunan khas Portugis yang ada sejak tahun 1800-an.
Duh pengen bingitz gua naikin tuh sepeda….Capek tahu jalan kaki muluk.

Mengambil duduk di salah satu bangku, aku dengan santainya menikmati keotentikan deretan bangunan bersejarah khas Portugis di seberang selatan. Bangunan-bangunan klasik itu berdiri anggun di sepanjang Tower Road meskipun telah beralih fungsi menjadi penginapan-penginapan bintang empat. Gaya klasik bangunan-bangunan Portugis itu seakan membawaku memasuki masa di abad ke-19. Sebut saja Koder House  yang dominan merah dan Old Harbour Hotel dominan putih yang merepresentasikan  sentuhan Eropa di pesisir Fort Kochi.

Sementara di sisi barat bagian dalam tampak keberadaan sebuah posko berwujud tenda besar dengan tajuk Green Cochin Mission. Inilah program yang digalakkan pemerintah kota sebagai gerakan utama untuk membebaskan Kochi dari bencana sampah kota. Ternyata tak hanya di tanah air, di India sama saja, sampah menjadi sebuah permasalahan pelik yang tak pernah tuntas terselesaikan.

Sementara di sisi utara, River Road tampak lebih ramai dengan kedai-kedai souvenir dan jajanan lokal. Lalu di timur taman adalah permulaan dari ruas jalan yang melegenda….Princess Street.

Yuk, kita telusuri Princess Street….Ada apakah gerangan?

Dawet Telasih dan Pasar Gede Hardjonagoro

<—-Kisah Sebelumnya

Pintu utara Pasar Gede Hardjonagoro.

Walau Rahadian baru tiba di Solo saat pagi buta dan sempat menumpang mandi serta sarapan, maka sesuai jadwal, aku tetap melakukan check-out dari Grand Amira Hotel by Azana. Waktu sudah menunjukkan pukul 8:30 WIB saat kami keluar ke pelataran hotel.

Aku segera memesan taksi online dan meluncur  menuju daerah Sudiroprajan untuk melakukan survey kuliner pertama. Kuliner istimewa yang kusasar adalah Es Dawet Telasih, yaitu dawet berkomposisi ketan hitam, jenang sunsum, tape ketan, biji telasih, gula cair, santan dan es batu.

Aku diturunkan di pintu utara Pasar Gede Hardjonagoro tepat di sebelah Tugu Jam Pasar Gede. Bangunan tua dari pasar peninggalan Belanda ini memang mengagumkan. Perpaduan arsitektur Jawa-Kolonial tersirat jelas dari penampakan dinding bergaya Kolonial dan atap bergaya Jawa. Berdinding tebal, langit-langit ruangan yang tinggi dan jendela memanjang ke atas.

Saat aku tiba, area pelataran sudah terasa sibuk pagi itu. Arus pengunjung yang keluar masuk pasar untuk berbelanja, para pedagang yang berbondong untuk memasukkan barang dagangan ke dalam pasar, riuh rendah teriakan tukang becak yang mencari penumpang serta kesibukan para pedagang kuliner ringan di area luar pasar membuat suasana pasar terbesar di kota Solo itu menjadi sangat hidup.

Suasana di luar Pasar Gede Hardjonagoro.
Suasana di luar Pasar Gede Hardjonagoro.
Tugu Jam Pasar Gede.
Suasana dalam Pasar Gede Hardjonagoro.
Suasana dalam Pasar Gede Hardjonagoro.
Suasana dalam Pasar Gede Hardjonagoro.

Aku bergegas memasuki area dalam pasar untuk mencari keberadaan Kedai Es Dawet Telasih Bu Dermi yang konon sangat terkenal di seantero Solo. Bagaimana tidak, konon racikan resep Es Dawet Telasih Bu Dermi sudah berusia 90 tahun dan tidak berubah sama sekali sejak pertama dibuat. Bahkan Es Dawet Telasih ini telah menjadi langganan Bapak Joko Widodo (Presiden Republik Indonesia) saat pulang ke Solo.

Menyibak gang-gang sempit di tengah pasar membuatku hanyut dalam rasa perniagaan masyarakat Solo. Dan akhirnya keadaan kurang menguntungkan menimpaku. Ketika tiba di depan Kedai Es Dawet Telasih Bu Dermi, kedai itu masih tutup dan lengang. Aku mencoba bertanya kepada beberapa pedagang di dalam pasar perihal kapan kedai itu akan dibuka.

Mengke jam sedoso, mas”, begitu mereka menjawab.

Oalah, aku terlalu pagi melakukan survey dawet ini.

Dugi jam kalih biasanipun sampun telas, Mas”, mereka menambahkan informasi ketika aku terduduk di salah satu bangku kedai kosong itu.

Bagaimanapun caranya, aku harus menemukan dan merasakan Es Dawet Telasih untuk menguji rasanya, karena para peserta Marketing Conference nantinya akan diarahkan ke Pasar Gede Hardjonagoro untuk mencicipi kuliner itu.

Aku mencoba menelusuri gang-gang lain dalam pasar, hingga menemukan Kedai Es Dawet Telasih Ibu Hj. Sipon. Tanpa fikir panjang aku segera memesan seporsi dengan harga Rp. 8.000. Begitu pelan kunikmati, memang Es Dawet Telasih ini sangat spesial rasanya, perpaduan gurih, manis, tekstur lembut dan sejuk menjadi satu kesatuan yang menggugah selera. Akhirnya kuputuskan, Es Dawet Telasih menjadi destinasi kuliner pertama untuk Marketing Conference nanti.

Salah satu kedai Es Dawet Telasih.
Ibu Hj. Sipon.
Es Dawet Telasih.

Setelah menikmati Es Dawet Telasih, aku dan Rahadian bergegas menuju ke Dinas Perhubungan Kota Solo untuk mencarter Kereta Wisata Jaladara.

Tunggu Aku Swarnadwipa!Transportasi Umum dari Jakarta ke Bandar Lampung

Malam tadi aku baru saja merapat ke ibu kota pasca menunaikan momen sakral umat muslim….Yupz, mudik Ied Mubarak.

Usai berbasuh dengan air hangat demi mengendorkan otot betis setelah delapan belas jam tanpa henti menginjak pedal, aku tak lekas jua memejamkan mata. Sisa cuti yang masih lima hari tetiba membuatku insomnia.

Apa kata jagat jika aku hanya berdiam di rumah selama itu?.

”Tidak bisa dibenarkan”, hatiku mulai berontak. Aku terus berfikir keras menenangkan rasa.

Malam itu, aku jadi terngiang lagi celoteh lama kantor, sewaktu rekan marketing berencana melawat ke Pahawang, tetapi tetap saja belum terealisasi hingga kini. Begitulah segenap rencana para rekan, pernah pula berencana mengeksplor Danau Toba sejak bertahun-tahun lalu tetapi hingga kini tak pernah terealisasi, bak sebuah kutukan. Beruntung aku memecahkan kutukan itu dengan nekat melawat sendirian ke Samosir pada 2018 silam.

Mungkin aku harus melakukannya sekali lagi”, aku tersenyum sinis….Oh, Donny yang jahat.

Saatnya untuk kedua kali, aku merenggut mimpi rekan-rekanku lagi. Menjelang pergantian hari, aku mengambil keputusan bulat untuk melawat ke Pahawang yang terletak di Provinsi Lampung.

Kapan, Don?…”aku mengajukan pertanyaan ke diriku sendiri.

Besok pagi….Ya, besok pagi”, aku menjawab pertanyaanku sendiri.

—-****—-

Aku kesiangan….

Subuh masih berhasil kutunaikan beberapa menit lewat dari jam enam pagi….Shalat Subuh macam apa itu….Huh, dasar Donny!

Ini akibat aku tak bersiap packing malam tadi. Kini dengan tergesa, aku menyambar beberapa perlengkapan dan peralatan standar untuk melakukan perjalanan pendek lima hari. Tiga helai t-shirt dan dua helai celana panjang adalah perlengkapan terprioritas yang pertama kusambar.

Tepat jam lima, aku sudah meninggalkan rumah demi menangkap angkutan kota  menuju jalan raya utama yang dilalui bus umum menuju Merak. Seperempat jam sebelum pukul tujuh, bus berkelir putih tampak lamat hadir dari kejauhan.  Kuperhatikan dengan seksama, kata “Merak” di bagian atas kaca depan bus otomatis membuatku merapat ke trotoar dan segera bersiap diri untuk menaikinya.

Benar saja, kondektur itu menongolkan muka dari pintu depan begitu aku menghentikan bus dari kejauhan. Aku melompat masuk melalui pintu depan ketika bus masih melaju perlahan. Duduk di bangku tengah, senyumku lebar mengembang, merasa bahagia karena petualangan di masa cutiku masih jauh dari usai.

Menyerahkan Rp. 38.000 sebagai ongkos, aku bersiap diri untuk melaju menuju Pelabuhan Merak yang berjarak seratus dua puluh kilometer. Telah beberapa kali menempuh perjalanan melalui Jalan Tol Jakarta-Merak menutup keinginan hati untuk menikmati perjalanan yang berdurasi tak kurang dari tiga jam itu….Aku memilih terlelap, meredam ulang segenap otot yang fatigue dari kesibukan mudik dan kurangnya tidur malam.

Menjelang pukul sepuluh, bus perlahan merapat ke Pelabuhan Merak. Sebetulnya aku tak asing dengan pelabuhan tersebut. Waktu kuliah dulu, aku pernah menjajal pelabuhan ini menuju Lampung demi mengikuti rapat kerja sebuah organisasi kemahasiswaan. Sedangkan lawatan yang kedua, aku kembali melewati Bandar Lampung saat memasarkan ikan air tawar menuju Martapura.

Akhirnya tiba di Pelabuhan Merak.

Patuh pada peraturan tak tertulis kaum backpacker, aku mengindahkan koridor terminal kapal kelas eksekutif. Dengan mantap, aku melintas di sepanjang koridor pejalan kaki menju terminal kapal kelas reguler.

Sejauh mata memandang, ternyata sepanjang jalan menuju koridor belumlah berubah, deretan warung makan dan jajanan rapat mengisi salah satu sisinya.

Di ujung  jalan adalah muka koridor, lorong beratap itu telah disterilkan dari kegiatan komersial. Tampak di beberapa titik terdapat informasi yang menjelaskan bahwa setiap penumpang harus segera menyiapkan identitas dan saldo uang elektronik.

Rupanya,prosedur ticketing  sudah berubah”, aku membatin. Dahulu pembelian tiket bisa dilakukan menggunakan uang tunai secara langsung di konter.

Sepuluh menit melangkah dari titik drop-off bus, aku tiba di loket penjualan. Keberadaan loket khusus pembelian online menunjukkan bahwa tiket kapal menuju Lampung bisa dibeli secara online.

Aku yang tak berbekal pengetahuan apapun, memutuskan untuk mengambil sebuah antrian di loket pembelian tiket reguler.

Pengurus pelabuhan menyediakan delapan loket untuk mengurai kepadatan penumpang. Aku sendiri mengantri di loket B untuk mendapatkan tiket menyeberang Selat Sunda seharga Rp. 15.000. Karena tak menyiapkan uang elektronik aku terlebih dahulu harus membeli sebuah kartu uang elektronik keluaran salah satu bank milik pemerintah.

Menggenggam selembar tiket pemberangkatan, aku bergegas menuju ke kapal untuk mengejar pemberangkatan tercepat. Kini aku menelusuri koridor dalam bangunan pelabuhan. Memperhatikan seisi interior, tampak nyata bahwa Pelabuhan Merak telah mengalami reformasi pelayanan yang menakjubkan.

Tampak posko medik dikelola lebih professional dan fasilitas umum disediakan dengan cukup baik, keberadaan charging station adalah salah satunya. Automatic fare collection gate juga sudah disediakan layaknya gerbang-gerbang yang sama di stasiun-stasiun MRT ibu kota.

Ketergesaan membuatku tak sempat menyicip ruang tunggu berpendingin yang nyaman, sementara pengumuman untuk memasuki kapal yang disampaikan oleh operator melalui pengeras suara terus memenuhi langit-langit ruangan. Aku harus segera memasuki kapal yang sudah bersandar.

Keluar dari area ruang tunggu, aku kembali melewati koridor terbuka dengan kanopi, melewati pemeriksaan tiket terakhir sebelum akhirnya memasuki kapal.

Kapal Roll-on Roll-off (Ro-Ro) putih bernama PORTLINK V tampak membuka lambungnya untuk memasukkan berbagai jenis kendaraan. Sedangkan para penumpang diarahkan melalui sebuah jembatan menuju main deck sisi kanan.

Usai menyeberang, aku tak memilih duduk di ruang utama yang sejuk berpendingin dengan deret kursi yang empuk nan lebar. Aku ingin membaur saja bersama penumpang yang duduk mengampar di selasar demi menikmati panorama yang siap tersaji dalam perjalanan menuju Pelabuhan Bakauheni.

Tepat pukul sebelas, PORTLINK V mengangkat sauh dan memulai pelayaran. Saatnya untuk terjaga dan menangkap keindahan lautan di sejauh mata memandang. Benar adanya, gugusan pulau sepanjang pelayaran membuat indah perjalanan.

Sepanjang perjalanan aku bercakap dengan keluarga kecil yang hendak pulang kampung menikmati libur Iedul Fitri. Sang suami yang asli Bandung dan istrinya asli Lampung berdarah Jawa tampak sabar menjaga kedua anaknya di geladak. Kelucuan sepasang anak itu tentu menjadi penghibur selama perjalanan.

Yuk disiplin mengantri.
Tahu gitu bawa begituan dari rumah….Buanyak di rumah mah.
Ruang tunggu Pelabuhan Merak.
Bersiap berlayar.
Keren juga ya ruang penumpangnya.
Mobilpun turun menyeberang.
Tuutttt….tuutttt…..ayuk berlayar.
Salah satu pulau yang tampak selama pelayaran.

Kondisiku masih saja segar setelah menempuh perjalanan laut selama satu jam empat puluh lima menit. Merapat di pelabuhan Bakauheni, PORTLINK V yang kunaiki harus berbagi sisi labuh dengan KMP Batumandi bersandar dengan megahnya.

Saatnya PORTLINK V melepas sauh dan mengantarkan penumpangnya menuju koridor terbuka berkanopi biru, memanjang, mengarah ke bangunan utama Pelabuhan Bakauheni.

Lalu apa yang kulakukan setiba di pelabuhan itu?

Ya, makan siang lah….Aku kelaparan….Wkwkwk

Memasuki bangunan pelabuhan, aku mencari keberadaan warung makan yang bisa mengusir kelaparan yang kini sungguh kurasa. Aku menemukan sebuah warung dengan menu masakan Padang lalu menebus seporsi nasi rendang seharga dua puluh lima ribu rupiah.

Secara interior dan eksterior, Pelabuhan Bakauheni tak kalah keren jika dibandingkan dengan Pelabuhan Merak, setiap sisinya sudah mendapat sentuhan modernisasi. Aku sungguh menikmati masa tiga puluh menit di bangunan pelabuhan sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan darat menuju Bandar Lampung.

Di halaman pelabuhan, telah mengantri deretan bus berukuran kecil yang menjemput calon penumpangnya. Teriakan para kondektur itu begitu memekakkan telinga, kencang dan lugas. Seorang dari mereka tampaknya tahu gelagatku yang sedang menyapukan mata pada deretan bus itu untuk mencari bus jurusan Rajabasa.

Aku tak menghindari kedatangan salah satu kondektur bus. Memberikan informasi bahwa ongkos menuju Rajabasa adalah Rp. 35.000 maka tanpa pikir panjang, aku segera memasuki bus yang ditunjuknya, bus kuning berukuran kecil dengan identitas PO. Nusantara.

Kini aku bersiap melakukan perjalanan panjang kembali dengan jarak sejauh hampir seratus kilometer.  Dalam waktu normal, jarak sejauh itu seharusnya bisa ditempuh dalam waktu satu setengah jam  melalui Jalan Tol Kayu Agung-Bakauheni.

Akan tetapi di tengah perjalanan, bus Nusantara memilih keluar dari jalur bebas hambatan melalui gerbang tol Sidomulyo. Perlahan bus merapat dan melaju menyejajari garis pantai di daerah Tarahan. Selanjutnya bus konsiten menyisir Jalan lintas Sumatera. Ini berarti, enam puluh persen perjalanan ditempuh melalui jalur reguler non tol.

Perjalanan non-tol inilah yang kemudian menghadirkan pemandangan pantai yang menarik. Sebut saja Pantai Pasir Putih Lampung yang ramai pengunjung.

Aku terus menikmati perjalanan darat tersebut hingga tiba di Terminal Rajabasa dalam total waktu tempuh tiga setengah jam.

Alhamdulillah, merapat juga di Pelabuhan Bakauheni.
Koridor penumpang di pelabuhan Bakauheni.
Nah ntuh dia….Bus menuju Terminal Rajabasa.
Jam lima sore tiba di Terminal Rajabasa.
Dipandang-pandang….Dilihat-lihat…..Tjakep juga ye si Rajabasa nih.

Awalnya aku begitu gelisah ketika akan menginjakkan kaki di terminal bus kenamaan itu. Sejarah premanisme pernah melekat di Terminal Rajabasa. Tetapi begitu tiba, kegelisahan itu pun ternyata enggan unjuk gigi. Aku menemukan kenyamanan dan keamanan selama berjalan di setiap sisi terminal.

Nah, kenyamanan dan keamanan kayak gini nih yang bikin gue demen….Mantabz, Bandar Lampung.

Hari sudah sore….Sebentar lagi gelap….Yuks, kita ke hotel aja!

Kisah Selanjutnya—->

Supadio International Airport: Pertama dan Kesembilan

<—-Kisah Sebelumnya

ARRIVAL HALL

Menjadi bandar udara pertama yang akan kukunjungi di Pulau Kalimantan, Supadio International Airport tentu akan segera mengantarkanku ke beragam destinasi wisata Kalimantan Barat yang menarik untuk ditelusuri.

Pukul sepuluh lebih sekian menit, Lion Air JT 712 berhasil merapat di apron. Alhamdulillah penerbangan berlangsung dengan sangat lancar tanpa kurang satu apapun.

Aku pun bergegas menarik backpack 45L dari bagasi begitu lampu tanda sabuk pengaman dipadamkan. Aku bersemangat untuk segera meninggalkan kabin dan menghirup udara Borneo.

Tak menunggu lama, pintu kabin bagian depan pun dibuka dan aku yang berada di kursi buncit tetap saja harus keluar paling akhir walau menjadi yang pertama bersiap keluar.

Seperti biasa….

Aku menghentikan langkah di pertengahan aerobridge, menepi di salah satu sisinya dan melakukan pengamatan di sekitar apron. Melihat proses unloading di sisi kanan dan melihat muka bandar udara di sisi kirinya.

Berarti ini yang kesembilan…Emmhhh….Yups benar sembilan”, aku kembali mengingat dan kemudian mantab menyebutkan nomor itu dalam batin….Yupz, ini bandara di tanah air kesembilan yang pernah aku singgahi.

Walaupun berfungsi sebagai akses utama menuju Pontianak, sesungguhnya bandar udara ini berlokasi di Kab. Kubu Raya.
Ternyata sudah menjalani renovasi empat tahun lalu.

Selepas aerobridge, aku mulai menyusuri koridor kedatangan. Tampak nyata bahwa bandara itu baru saja mendapatkan sentuhan renovasi. Segenap interiornya tersemat sentuhan-sentuhan modern.

Nuwun semu, Mas…., suara itu datang dari sebelah kiri. Membuatku tersadar bahwa aku telah menghalangi koridor.

Oh, ngapunten, Mas….”, aku refleks menjawab. “Loh, Mase nJawine pundi?….Katah nggeh tiyang nJawi wonten mriki?”, aku meneruskannya dengan pertanyaan lain sembari menyejajari langkahnya.

“Kulo saking Malang….Njih lumayan katah, Mas….Nopo Mase nembe jalan-jalan tho?”, dia mengimbangi percakapan.

“Njih, Mas….Namung backpackeran niki”, aku menjawab sekenanya. “Mase, mesti anak kuliahan niki”, aku melihat penampilannya yang seperti seorang pelajar.

“Njih, Mas…Leres. Mase bade tindak pundi tho?”,dia terus berjalan , menggendong backpack dan menenteng tas di setiap tangannya.

“Singkawang, Mas”, aku menjelaskan sembari mengotak-atik settingan Canon EOSku.

“Oalah…Kota Amoy….Mantab….Ngatos-atos nggih mas”, dia tampak mulai terburu waktu.

“Njih, Mas”, aku melambaikan tangan kepadanya.

Percakapan itu berakhir tepat di pertengahan escalator menuju arrival hall. Melompat di ujung escalator, aku kembali merasa ngeri. Begitu penuhnya balai kedatangan dengan para penumpang yang sedang mengantri menulis sesuatu pada lembaran.

“Itu apa, Bang?”, tanyaku pada salah satu dari mereka yang sudah selesai mengisi.

“Ini manual eHAC, Bang”

“Oh, Okay”, aku sudah mengisi eHAC (electronic-Health Alert Card) semalam di Aplikasi PeduliLindungi sehingga hanya memerlukan sedikit arahan dari petugas.

Setelah menemui seorang aviation security, dia menjelaskan bahwa aku hanya perlu men-scan barcode eHAC ku di ujung antrian tanpa perlu mengisi form manual.

Arrival hall.
Tempat pengambilan bagasi.
Sisi luar bandara yang namanya diambil dari nama seorang pilot yang gugur pada kecelakaan pesawat terbang di Bandung.

Benar saja, aku melewati tahap akhir pemeriksaan dengan mudah. Setelahnya, aku hanya melintas saja di area coveyor belt karena memang tak memiliki bagasi yang harus diambil. Aku hanya membawa backpack yang sebetulnya over muatan. Bobot tas seberat hampir sepuluh kilogram bisa lolos masuk ke kabin dari pemeriksaan di konter check-in di Soekarno Hatta International Airport. Tapi toh tetap tak masalah apabila itu ketahuan karena Lion Air JT 712 menyediakan kuota bagasi seberat dua puluh kilo untuk setiap penumpangnya.

“Aku harus segera bertolak ke Singkawang”, aku mulai berfikir. “Aku harus berburu pemberangkatan DAMRI terdekat”.

Menghindari kebingungan, aku bertanya kepada seorang aviation security perihal keberadaan bus DAMRI menuju ke Singkawang. Tetapi jawaban petugas itu membuatku hilang harapan. Bagaimana tidak, bus DAMRI ke Singkawang saat itu hanya berangkat sekali saja pada pukul tujuh pagi dan akan kembali dari Singkawang menuju Pontianak pada pukul lima sorenya. Hal itu disebabkan karena kebijakan PPKM beberapa minggu sebelumnya sehingga Pontianak mengalami sepi pengunjung.

Artinya aku harus mencari transportasi lain menuju ke Singkawang….

Dan aku sudah cukup faham, bahwa tak ada pilihan lain, aku harus menunggang taksi menuju ke Singkawang jika tak ingin kemalaman.

—-****—-

DEPARTURE HALL

Aku hanya memiliki masa lima hari untuk melanglang Kalimantan Barat. Jadi aku memutuskan untuk memfokuskan eksplorasi di dua kota saja, yaitu Singkawang dan Pontianak. Karena keberangkatanku menuju Pontianak jatuh di hari Kamis maka pada hari Seninnya aku harus kembali ke ibu kota.

Perjalananku menuju ibu kota dimulai dari G-Hotel yang terletak di pusat kota. Kali ini aku tak perlu memesan ojek online, karena Bang Hendra akan menjemputku di lobby hotel dan mengantarkanku ke bandara.

Bang Hendra sendiri adalah kakak kandung dari teman karibku di kantor yang asli Pontianak. Aku baru berkenalan dengan Bang Hendra sehari sebelum kepulanganku. Kemarin aku dijemputnya di Masjid Raya Mujahidin untuk diantarkan ke Pondok Pengkang di daerah Siantan. Begitu beruntungnya aku memiliki banyak teman yang baik hati.

Sebelum jam satu siang, Bang Hendra telah menurunkanku di drop-off zone Supadio International Airport. Kali ini aku akan turut serta dalam penerbangan Lion Air JT 715 yang berencana take-off pada pukul tiga sore.

Usai mengambil beberapa potret bandara  dari beberapa posisi terbaik, aku memutuskan segera masuk ke departure hall dengan memperlihatkan e-ticket dan identitas diri kepada petugas aviation security yang berjaga di pintu masuk.

Sama ketika berangkat dari Soekarno Hatta International Airport, kali ini aku tak perlu mengantri di meja verifikasi layak terbang. Oleh petugas aviation security, aku diminta lansung menuju konter check-in karena telah memiliki hasil PCR di aplikasi PeduliLindungi.

Tetapi sayang, konter check-in masih dalam tahap persiapan sehingga aku harus menunggu seperempat jam lamanya hingga konter tersebut benar-benar dibuka. Dan entah kenapa, departure hall dipenuhi oleh banyak tentara yang akan melakukan penerbangan.

Kak, semalam saya gagal check-in online. Apakah saya bisa diberikan window seat di bagian belakang kabin”, pintaku pada ground staff wanita yang bertugas setelah konter dibuka.

Dia hanya tersenyum mengangguk sebagai pengganti jawaban lisan. Atas kebaikannya, aku diberikan bangku bernomor 33F, selisih satu bangku dengan bangku saat aku berangkat dari Jakarta lima hari lalu.

Mendapatkan boarding pass jauh dari boarding time tentu membuatku lega. Aku menyempatkan Dzuhur di sebuah mushola di lantai pertama bandara. Kali ini aku ditunjuk sebagai imam oleh beberapa petugas aviation security yang akan menunaikan Dzuhur juga di saat yang sama.

Bangunan bandara dengan tiga identitas etnis, yaitu Dayak, Melayu dan Tionghoa.
Drop-off zone.
Bagian luar departure hall.
Check-in desk.
Mushola lantai satu.

Usai shalat, aku segera menaiki escalator demi menuju lantai 2. Setibanya di atas, salah satu sisi selasar dimanfaatkan untuk memajang foto-foto sejarah masa lalu yang terkait dengan Bandar Udara Supadio. Dari deretan foto itu aku tahu bahwa Bandar Udara Supadio memiliki nama lama Airport Sungai Durian. Tertampil pula potret Soekarno yang sedang mengunjungi bandara tersebut di suatu masa.

Sisi lain lantai dua juga dipenuhi oleh executive lounge, souvenir outlet, coffee shop, minimarket dan restoran.

Kini aku tiba di hamparan bangku tunggu yang langsung berhadapan dengan gate. Mataku menyapu sekitar demi mencari keberadaan minimarket untuk mencari sesuatu sebagai pengganti makan siang. Maklum, aku hanya bersarapan dengan dua potong Pengkang yang kubawa dari Siantan tadi malam. Pantas saja, siang itu aku cepat sekali merasakan lapar.

Demi menjaga protokol kesehatan dengan menghindari makan di tempat umum, akhirnya aku memutuskan untuk menyantap roti dan beberapa keping biskuit saja. Aku membelinya di sebuah minimarket dan menyantapnya di kursi tunggu yang lengang sembari menunggu boarding time tiba.

Foto-foto sejarah.
Commercial zone lantai 2.
Ruang tunggu sebelum gate.

Hingga akhirnya, tepat pukul setengah tiga sore, panggilan untuk boarding tiba. Kini saatnya bersiap diri untuk mengikuti penerbangan menuju Jakarta.

Chinese Fishing Nets: Anco ala Fort Kochi

<—-Kisah Sebelumnya

Penantian panjang untuk hadir di pesisir Fort Kochi lunas sudah. Dalam satu lompatan menuruni KURTC Bus warna oranye membuatku benar-benar berdiri di kota yang dibangun di atas hutan bakau itu. Sejenak aku berdiri mematung menilik sekitar, beradaptasi cepat dengan riuhnya pelancong di destinasi tersohor di Negara Bagian Kerala itu.

Mulai beranjak dari sebuah sudut KB Jacob Road, kini aku menyejajari Kochi Corporation Zonal Office, sebuah kantor pemerintah yang bertugas mengelola Kota Fort Kochi yang berkepadatan tujuh ratus ribu jiwa.

Hari itu masih Kamis….Entah kenapa?….Saat tengah hari, kantor pemerintah dua lantai berdinding warna krem itu gerbang depannya tertutup rapat. Berhasil membuatku berpaling muka dan kembali menatap lurus bentangan KB Jacob Road yang tegak lurus dengan garis pantai.

Siang itu aku tak akan merunut sebuah agenda terstruktur. Tanpa itinerary, akan kubiarkan kakiku melangkah sesukanya menikmati pesona Fort Kochi.

Baru saja melangkah….Bak tak serasa di kawasan pantai, itu karena jalanan Fort Kochi menyajikan suasana rindang dengan hiasan pokok-pokok tua yang menaungi sepanjangnya. Bahkan pavling block dipilih sebagai alas jalanan yang tersusun dengan sangat rapi.

Ditambah dengan keramaian para pelancong lokal dan mancanegara membuatku merasa tak begitu kesepian walau berada jauh dari rumah. Toh banyak bule yang tampak berjalan sendirian layaknya solo traveler sepertiku.

Baru menginjakkan kaki beberapa langkah di jalanan Fort Kochi, hatiku terkagum karena aku seperti dibawa ke masa lampau disaat menyaksikan model bus-bus lokal yang mengetem berburu penumpang di sepanjang sisi jalan. Bus-bus itu seakan didatangkan dari masa lalu….Jadoel, tapi justru membuat suasanan kota menjadi lebih klasik.

Kochi Corporation Zonal Office di pertemuan River Road dan KB Jacob Road.
Suasana River Road.

Menuju destinasi pertama, aku memutuskan menepi ke bibir pantai. Dari foto-foto wisata Fort Kochi yang sering kutemukan di laman mesin pencari, chinese fishing nets selalu menjadi yang tersering muncul di laman itu. Kini, aku ingin mencari keberadaannya, jika beruntung aku akan melihat dari dekat aktifitas para nelayan India di sekitarnya.

Bibir pantai tak lagi jauh, hanya tiga puluh meter saja menyejajari River Road yang sedang kulintasi. Aku segera keluar dari arus jalanan dan memutuskan segera merapat ke sana. Dalam sekian langkah aku tiba di tepian pantai dan sejauh mata memandang hamparan biru Pantai Malabar cukup memanjakan mata.

Pemandangan cantik itu dibubuhi dengan rutinitas para nelayan di sepanjang pantai. Sekelompok nelayan tampak bersantai menikmati kopi di sebuah kedai, sekelompok yang lain tampak sekedar berteduh dan berlindung dari panasnya surya serta beberapa yang lain tampak sibuk mendaratkan perahu dan membongkar muatan hasil melautnya untuk kemudian muatan itu dipindahkan ke tong pendingin.

Pemandangan lain di tepian pantai adalah kesibukan beberapa kelompok kecil nelayan yang menangkap ikan menggunakan chinese fishing nets…Nelayan kita menyebut alat ini sebagai anco atau tangkul. Karena diinstalasi di bibir pantai, maka hasil tangkapan dari pengoperasian alat tangkap itu kebanyakan berupa ikan berukuran kecil.

Berbincang-bincang bersama nelayan India itu yukks!
Nah, ikannya datang….Mari kita lihat sebesar apa ikannya?.
Mereka sedang bongkaran juga.
Wujud Tangkul atau Anco ala India.

Ikan-ikan segar dan besar hasil melaut tampak langsung diangkut menggunakan kendaraan-kendaraan pick up untuk dibawa keluar dari area pantai. Sedangkan beberapa ikan berukuran sedang dan kecil tampak langsung di jual di lapak-lapak ikan di sepanjang pantai.

Berbaur dengan masyarakat lokal memang menjadi sebuah aktivitas favorit. Bahkan terkadang sedikit senyuman yang terlempar dari wajah mereka membuatku seakan tetap dekat dengan rumah. Hal itulah yang menjadikanku betah duduk berlama-lama bersama mereka dan enggan beranjak dari bibir pantai.

Fort Kochi memang menggambarkan geliat ekonomi yang tinggi, di sembarang tempat tampak berjubal pelancong.

Di perairan, kapal-kapal wisata hilir mudik di sepanjang pantai membawa beragam turis multi-bangsa.  Kapal-kapal wisata itu tentunya menawarkan jasa sea cruise di sepanjang pantai untuk menikmati keeksotikan Fort Kochi.

Sedangkan di daratan, tak sedikit pula bus pariwisata yang terparkir di sepanjang jalanan Fort Kochi. Seakan Fort Kochi telah terdaulat sebagai kota wisata di Negara Bagian Kerala.

Tourist Boat….Tur dengan perahu berkeliling pantai barat Kerala, mungkin sampai Vembanad Lake jugakah?.
Bus pariwisata charteran di selatan India.

Genap sudah, satu jam aku menaruh diri di bibir pantai dan puas menikmati aktivitas para nelayan lokal.

Aku harus segera beranjak….

Yuk ikutin langkah kakiku lagi….Tempat selanjutnya ga jauh kok dari pantai.

Nonton Bola di Way Kambas

<—-Kisah Sebelumnya

Seporsi soto mie seharga tiga belas ribu rupiah yang terlahap di sebuah kedai di sekitar arena atraksi menjadi penawar lapar setelah menempuh perjalanan sejauh sembilan puluh kilometer dari Bandar Lampung menggunakan sepeda motor sewaan. Genap tiga jam lamanya perjalanan itu, mengendapkan segenap rekam alam di salah satu ruang memori kepalaku.

Beberapa menit lalu aku serasa kembali pulang, akibat percakapan berbahasa Jawa dengan seorang petugas parkir di area parkir motor Way Kambas.

Pépétké kiwo aé mas”, celetuk petugas parkir bercelana pendek dan bertelanjang dada itu.

Sontak aku mesam-mesem menahan tawa.

Nggih pak sekedap, kulo pépétké mriku”, jawabku singkat.

Walah, ini mah kayak piknik ke Sragen aja”, batinku masih saja meyakinkan diri bahwa aku sedang berada di ujung selatan Swarnadwipa.

Membayar parkir sebesar lima ribu rupiah, aku meninggalkan area parkir dan mata mulai menyapu segenap sisi jalan untuk berburu informasi mengenai wisata Way Kambas yang sudah ada di hadapan. Sungguh tak kusangka, tempat wisata yang dahulu selalu kuhafal di buku pelajaran saja.

Tentu aku memilih menuju ke sisi jalan yang lebih ramai. Melewati sebuah aula dan mushola, langkah cepat membawaku menuju ke sebuah playground yang dipenuhi oleh para pengunjung. Di sebuah titik, tampak antrian tak teratur, memanjang dari bilik triplek bercat hijau. Hal tersebut memunculkan rasa penasaran dan berhasil menarik minatku untuk mendekat.

Standar Operasional Prosedur Tunggang Gajah. Jam operasional 09:00-12:00 dan 14:00-16:00. Umur maksimal 58 tahun. Dilarang memberikan makan dan minum pada gajah. Tiket Rp. 20.000”, begitulah informasi yang berhasil kutangkap dari deretan kalimat di depan bilik.

Selama masa libur Idul Fitri tidak melayani Jungle Track dan Safari Gajah”, Oh, kedua atraksi itu berarti tak bisa kunikmati. Tetapi tak menjadi soal, masih banyak atraksi lain yang bisa kunikmati di Pusat Konservai Gajah, Taman Nasional Way Kambas.

Meninggalkan bilik persegi mini itu, aku kini berdiri mengamati di salah satu sisi tangga yang digunakan untuk menaiki gajah. Para pengunjung yang sudah membeli tiket tampak mengantri di sisi tangga yang lain demi menunggu giliran menunggang gajah yang tentu akan ditemani oleh seorang mahout1*) untuk menjamin keamanan.

Dua ekor gajah yang berkeliling taman tentulah menjadi actor utamanya siang itu. Segenap pandang tertuju padanya. Tampak diatas punggungnya seorang ayah waspada menjaga ketiga anaknya yang bersamaan menunggang gajah yang sama. Sementara kedua gajah itu tampak nyaman saja melakukan tugasnya sembari menguyah rumput jenis “gajahan” tiada bosan.

Sementara anak-anak lain yang tak mendapat kesempatan menunggang gajah lebih memilih berkhusyu’ria menikmati berbagai wahana permainan sederhana di playground, seperti prosotan yang berpangkalkan patung bledhug*2), ayunan dan titian gantung rendah.

Khusus anak-anak umur 6-12 tahun”, begitu bunyi papan kayu yang menggantung di sebuah pokok*3). Mewarnai lukisan berbayar dan para pedagang balon tampak menguasau beberapa titik playground.

Area parkir. Kanan: parkir mobil. Kiri: parkir sepeda motor.
Menunggang gajah di sekitar playground.
Playgroundnya lucu ya….Wkwkwk.

Sementara itu, di setiap sisi playground yang berbatasan dengan jalan, tampak diakuisisi oleh kedai-kedai street food dengan harga jajanan yang terjangkau.  Sepotong es krim saja hanya dijual seharga lima ribu di area ini. Membuatku tergugah mencicipnya sepotong demi meredakan gerah badan yang beberapa waktu lalu berkendara cukup lama menembus panas surya dari Bandar Lampung.

Tetapi, setelah mengetahui bahwa jadwal atraksi gajah masih cukup lama, membuatku memutuskan untuk berkeliling ke spot lain di Way Kambas. Aku menuju ke timur playground, melintas Kantor Pusat Latihan Gajah dan gedung Visitor Centre, hingga sampai di dua kolam besar, yaitu Kolam Minum Gajah di utara jalan dan Kolam Mandi Gajah di selatannya. Sementara di sekitar kolam ditempatkan rumah-rumah para mahout dan terdapat bangunan besar yang lebih menonjol dari bangunan lain yaitu Mahout House.

Aku memilih duduk di bawah gazebo demi melihat gajah-gajah yang dilepas di hamparan luas padang rumput di sebelah timur Kolam Mandi Gajah. Tampak tujuh gajah berjalan bebas di sana….tetap sambil menguyah rumput jenis gajahan yang tampaknya sengaja di taruh di beberapa titik oleh para mahout. Aku hanya berfikir bahwa gajah-gajah itu tidak boleh dibiarkan lapar, daripada terjadi masalah yang lebih serius.

Sewaktu kemudian, seorang mahout turun dari bilik pantau di tengah padang rumput dan mendekati seekor gajah. Gajah itu berukuran paling besar dari yang lainnya. Entah bicara apa dengan si gajah, mahout itu bisa naik ke punggungnya. Perlahan dia mengarahkan gajah itu untuk minum di sebuah bak beton berukuran panjang, lalu si gajah perlahan menuruni kolam mandi dan sang mahout mulai melakukan pertunjukan memandikan gajah. Si gajah berendam dengan santainya dihadapan para pengunjung yang perlahan-lahan memenuhi sisi-sisi kolam.

Wah, beruntungnya diriku bisa menyaksikan pertunjukan itu walau sebetulnya ini hanya keberuntungan yang tak terduga”, hatiku girang.

Pertunjukan mandi gajah ini beralangsung kilat, tak lebih dari seperempat jam. Lalu, entah dibawa kmanakah si gajah itu oleh mahoutnya.

Kantor Pusat Latihan Gajah.
Visitor Centre.
Mahout House.
Gajah di alam bebas.
Pertunjukan memandikan gajah.

Sudahlah…Aku menyempatkan berdzuhur di mushola untuk kemudian bersiap diri untuk menonton acara pemungkas…Yups,  Atraksi Gajah.

Saatnya  dengan mata kepala sendiri,melihat bagaimana keseruan sekawanan gajah menendang bola”, Hahaha….Hatiku tertawa terpingkal.

Buset, jauh-jauh ke Lampung hanya buat nonton gajah nendang bola”, gilee emang aku nih.

—-****—-

Soto mie bening itu menjadi makanan ternikmat yang kudapat  di “sarang gajah”. Tetap saja….Asal Jawa, si ibu penjualnya. Baru saja melintas di depan kedai, dia menyapa,

Pinarak, Mas. Sotonipun eco lho, Mas…..”, Walah……

Kini….Aku telah membayar  menu itu, kemudian bergegas menuju loket penjualan tiket. Membeli tiket seharga dua puluh ribu rupiah dan membayarnya melalui lubang kusen jendela bagian bawah, aku mendapatkan selembar tiket. Menjadi pembeli pertama membuatku leluasa memilih tempat duduk di tribun tunggal. Kuputuskan duduk di bagian tengah tribun demi bisa melihat pemandangan keseluruhan arena dengan leluasa.

Yuk atraksi sudah dimulai….

Empat ekor gajah ber-mahout yang saling bergandengan (belalai seekor gajah melilit ekor gajah lain di depannya), tampak memasuki arena setelah dipanggil pemandu atraksi yang berdiri memegang mikrofon di salah satu pojok arena. Seingatku gajah termuda bernama Pangeran .

Diajak berkeliling arena, keempatnya memberikan salam hormat kepada penonton dan para gajah membuka atraksi dengan upacara bendera dimana salah satu ekor gajah berukuran paling kecil berperan sebagai pengibar bendera….Wkwkwk, gokil.

Empat gajah terlatih itu kemudian melakukan atraksi pertama dengan berdiri di atas sebuah tiang beton pendek. Wah….Hebat juga….Gajah segede itu bisa muat berdiri di tonjolan beton yang sempit. Dan atraksi utama gajah di beton itu tentunya adalah duduk berkursikan kursi beton,

Gajah-gajah lucu ini juga bisa duduk berjegang di arena, belajar menghitung, berdiri dengan dua kaki, bermain holahop, serta mengangkat sang mahout dengan belailainya.

Wah jian….Pangeran ki ra nggatekke”, celetuk pemandu atraksi ketika Pangeran salah menjawab sebuah operasi pengurangan. Membuatku terpingkal tak kepalang.

Hal lain yang menggemaskan adalah kelucuan gajah ini menerima saweran  penonton usai bergoyang diiringi musik dangdut. Lembaran dua dan lima ribuan diterima dengan belalainya dan diberikannya kepada sang mahout.

Atraksi ini diakhiri dengan pertunjukan idaman yaitu gajah bermain sepak bola. Akhirnya impian masa kecilku terpenuhi….Alhamdulillah.

Aku dan penonton lain di tribun bersiap menikmati atraksi.
Tuh kan….Kek brand sarung nyang ituh.
Gajah juga bisa begituan rupanya. Ga cuma anjing ajah….Huhuhu.
Yuk, saatnya menerima saweran.

Genap satu jam pertunjukan itu berlangsung, waktu sudah menunjukkan pukul dua siang. Aku memutuskan untuk segera meninggalkan Pusat Konservasi Gajah, Taman Nasional Way Kambas demi menuju Bandar Lampung.

Aku khawatir kesorean di jalan karena harus berkendara motor….

Terimakasih para gajah yang sudah menghiburku.

Sehat-sehat selalu ya, Jah….

———-

Keterangan kata:

Mahout1*) = Pelatih sekaligus pawang  gajah.

Bledhug*2) = Anak gajah.

Pokok*3) = Pohon.