KL Tower: NKRI Harga Mati

<—-Kisah Sebelumnya

Sarapan di emperan toko….yeeeileh.

Selasa….Usai Subuh….

Mata masih kuyu…Badan serasa lemas.

Semalaman tidurku terinterupsi oleh dengkuran seorang penginap yang terlelap pulas di sebelah kanan ranjang. Tak hanya diriku, aku pun bisa merasakan protes dari seorang penginap yang tidur persis dibawah bunk bed. Berkali-kali aku bisa merasakan, dia menghantam dasar bunk bed yang kutiduri. Mungkin dia merasakan hal yang sama. Kesal….Karena tak bisa tidur dengan nyenyak.

Merasa tak enak badan, kuputuskan saja untuk mengguyur tubuh di bawah shower air hangat di kamar mandi bersama. Guyuran air hangat setidaknya bisa merelaksasi setiap inchi tubuh yang pagi itu sedang tak seratus persen segar.

Pagi itu juga, aku harus mengepack kembali semua perlengkapan ke dalam backpack untuk kemudian harus menitipkannya ke meja resepsionis. Waktu menginapku purna tengah hari nanti dan saat itu pula, aku memastikan diri masih berada di pusat kota.

Usai mandi dan merapikan backpack, menujulah aku ke resepsionis untuk check-out, mengembalikan kunci locker dan mengambil uang deposit. Beruntung, staff resepsionis dari Mesir itu sudah berada di meja kerjanya sehingga memudahkanku untuk menyegerakan proses karena aku harus mengejar pemberangkatan Go KL City Bus sepagi mungkin.

Backpack telah tersimpan rapi dan aku bergegas menuruni anak tangga untuk keluar dari penginapan. Sesampai di luar, aku segera mencari tempat duduk di teras pertokoan yang masih tutup untuk bersarapan. Sarapan kali ini masih saja sama dengan menu dinner semalam….Yups, serbuk oat masih bisa diandalkan. Jujur saja, aku sudah kehabisan Ringgit pagi itu, hanya ada Ringgit tersisa untuk menaiki airport bus sore nanti dan makan malam sekedarnya di KLIA2.

Dari sini bisa diambil kesimpulan bahwa aku akan berkeliling kota tanpa keluar biaya sedikitpun bahkan seringgit sekalipun….Ya, tak akan pernah kukeluarkan.

Beruntung sekali, jalanan masih sepi. Keadaan itu tentu mengurangi beban malu ketika harus menyesap sendok demi sendok bubuk oat yang basah oleh guyuran air mineral.

Alhamdulillah sarapan usai….Petualanganpun dimulai.

Aku melangkah menuju ke Pasar Seni Bus Hub untuk mencari keberadaan Go KL City Bus Purple Line. Bus gratis jalur ungu itulah yang akan mengantarkan ke kompleks KL Tower.

KL Tower adalah menara pemancar telekomunikasi , menara penyiaran, wisata kuliner ketinggian dan wisata sudut pandang kota dari atas.

Dari kejauhan, aku melihat jelas bahwa bus itu sudah berada di posisi. Jadi begitu tiba di platform, aku langsung saja menaikinya dari pintu depan. Baru sedikit penumpang yang sudah menduduki bangku. Hal inilah yang membuatku harus menunggu sekitar sepuluh menit….Setidaknya untuk mengisi bangku-bangku kosong dengan penumpang yang perlahan berdatangan.

Pukul delapan pagi, Go KL City Bus Purple Line akhirnya berangkat jua….

Dalam duduk aku berfikiran bahwa KL Tower adalah bangunan yang tinggi, jadi aku merasa santai saja. Tentunya aku hanya perlu berhenti di halte manapun di dekat banguan KL Tower yang akan tampak dari kejauhan saking tingginya.

Go KL City Bus perlahan menyisir Jalan Sultan demi meninggalkan daerah Pasar Seni. Begitu tiba di sepanjang Jalan Raja Chulan, KL Tower sudah terlihat jelas dari kaca bus. Hanya saja aku perlu memastikan kapan harus turun di halte terdekat. Beberapa kali Go KL City Bus berhenti di halte pemberhentiannya, tetapi aku tetap saja bebal tak kunjung turun. Aku masih berharap bahwa bus akan berhenti di halte yang lebih dekat dari KL Tower.

Itu dia bus dengan layanan percuma*1)
Interiornya bagus dan bersih tentunya.

Terjadilah pengecualian, bukannya tambah mendekat, Go KL City Bus semakin lama semakin menjauhi KL Tower. “Ahhhh, sial….aku sudah kebablasan dan bus bukannya melambat tetapi semakin kencang”, aku bersandar lemas di kaca bus. Akibat kebodohan itu, aku hanya pasrah mengikuti kemana Go KL City Bus pergi. Aku memutuskan kembali ke Pasar Seni dan mengulang lagi perjalanan dari nol….Parah.

Dalam perjalanan 40 menit, akhirnya Go KL City Bus tiba kembali di Pasar Seni.

Konyol….”, aku mengutuk diriku sendiri.

Kini aku turun dari Go KL City Bus dan berpindah ke bus terdepan yang sudah siap berangkat. Beruntungnya diriku,  Go KL City Bus langsung berangkat ketika beberapa detik sebelumnya aku melangkah masuk.

Kini aku memasang sikap waspada ketika duduk di salah satu bangku. Aku akan memutuskan untuk langsung turun saja ketika melihat KL Tower bisa dijangkau dengan berjalan kaki.

Pucuk dicinta ulam pun tiba….

Bus berhenti di sebuah halte dan aku pun melompat turun dari pintu tengah.

THE WELD….”, aku membaca signboard pada  sebuah gedung pencakar langit yang berdiri tepat dibelakang halte tempatku turun.

Kini aku berada di Jalan Raja Chulan dan THE WELD sendiri adalah kompleks perkantoran 26 lantai yang berada 800 meter di timur KL Tower.

Dari THE WELD, aku memotong Jalan P. Ramlee untuk kemudian dalam lima puluh langkah masuk ke sebuah jalan yang lebih kecil, bernama Jalan Puncak. Inilah jalan utama untuk menuju KL Tower yang dibangun di tempat yang lebih tinggi.

Terengah-engah selama seperempat jam, akhirnya tiba juga di pelataran KL Tower. Sebetulnya pada tahun 2014 silam, aku berkesempatan melintas di menara ini ketika menjajal KL Hop On Hop Off untuk berkeliling kota. Hanya saja, kala itu aku hanya turun kurang dari lima menit untuk melihatnya. Ini semua karena KL Hop On Hop Off terburu-buru untuk menjelajah kota.

THE WELD….Selain perkantoran, ada pasar swalayan modernnya juga loh.
Meniti Jalan Puncak.

Kali ini aku akan sedikit lebih lama dalam menikmati pesona menara komunikasi yang berusia tak kurang dari seperempat abad itu. Bagaimana tidak bahagia, ketika akhirnya aku berkesempatan menikmati keindahan menara yang ketinggiannya masuk ke dalam jajaran sepuluh menara tertinggi di dunia.

Keunikan yang pertama kali bisa dilihat adalah atap bangunan dasar yang menggunakan deretan pola meruncing, pikiranku lalu merujuk pada runcingan-runcingan atap Sydney Opera House. Sedangkan pada bagian ujung atas antara tiang dan antena terdapat bangunan membulat yang merupakan pusat dari kegiatan broadcasting, telekomunikasi,  restoran, observation deck dan sky deck.

Sepengetahuanku untuk menikmati observation deck, pengunjung harus mengeluarkan biaya sebesar 49 Ringgit….Sedangkan harga wisata sky deck mencapai 99 Ringgit….Woouuooww.

Aku melangkah menuju entrance gate KL Tower untuk melihat aktivitas di sana dari dekat. Tentu aku tak akan naik ke atas untuk berwisata, terlalu mahal untuk pengunjung sepertiku yang hanya sekedar singgah saja di Kuala Lumpur.

Tak begitu ramai, sedari tadi hanya beberapa turis Eropa yang memutuskan untuk membeli tiket dan naik ke atas menara, sementara aku hanya mengamati sisa-sisa kegiatan kompetisi pemrograman yang diselenggarakan kemarin lusa. Kompetisi itu bertajuk HR Hackathon.

Bergeser ke kanan menara, ada atraksi lain ternyata. Di sisi itu berdirilah konter penjualan tiket untuk berkunjung ke KL Tower Mini Zoo (KLTMZ). Papan informasi yang ada mengatakan bahwa KLTMZ menyimpan tak kurang dari lima puluh spesies asli dan eksotis. Dan untuk melihat spesies-spesies unik itu maka pengunjung perlu merogoh kocek hingga 30 Ringgit.

Berpindah lagi menuju arah depan menara. Tersedia KL Tower F1 Zone yang menyediakan simulator Formula One untuk umum. Pengunjung bisa merasakan sensai mengendarai jet darat itu dengan membayar sebesar 20 Ringgit untuk enam menit mengemudi di simulator. Dinding KL Tower F1 Zone ini berwarna merah menyala, menyeleraskan diri dengan warna salah satu tim balap terkemuka di ajang balapan premier Formula One. Hanya saja, saat aku mengunjungi KL Tower, KL Tower F1 Zone itu masih tutup. Mungkin aku tiba terlalu pagi.

Oh ya, KL Tower F1 Zone ini juga dilengkapi dengan Formula One Cafe & Mart loh….

Tetapi baru sejenak melihat seisi cafe & minimarket dari luar ruangan, aku melihat kedatangan KL Hop On Hop Off warna putih dengan deck atas sebagian yang terbuka. Sontak aku berlari menujunya, sudah enam tahun lamanya aku tak pernah bersua dari dekat dengan bus wisata itu. Ternyata di pelataran menara terdapat shelter KL Hop On Hop Off. Pantas saja bus wisata itu berhenti untuk menurunkan para wisatawan.

Entrance gate KL Tower.
Ticketing Counter KL Tower Mini Zoo.
KL Tower F1 Zone.
Di spot inilah rombongan Surabayan itu aku foto.
Wisatawan asing sering meyebutnya dengan KL Forest Eco Park.

Tak lama berhenti, hanya menurunkan  5 wisatawan, bus itu tancap gas kembali. Tetapi tak lama kemudian, ada sebuah logat yang tak asing di telinga ketika kelima wisatawan wanita itu saling bercakap usai menuruni bus. “Itu logat Surabaya….”, aku menyimpulkan. Aku memutuskan diri untuk menyapa dan bercakap sejenak. Sudah empat hari lamanya aku tak bersua dengan orang Indonesia, tak ada salahnya untuk berbincang sejenak. Atas peristiwa itu, aku tahu bahwa kelimanya adalah Tenaga Kerja Wanita yang sedang berwisata ke Kuala Lumpur. Dari percakapan kami pula, aku tahu bahwa mereka sedang bekerja di Penang.

Seperti biasa, orang Indonesia selalu memiliki ciri yang khas. Mereka akhirnya memintaku untuk mengambil foto dengan latar KL Tower.

Aku? ….Ya tentulah aku meminta juga untuk dipotret….Kan aku orang asli Indonesia….NKRI harga mati.

Aku sendiri sudah berada di ujung kunjungan ke KL Tower. Untuk menutup kunjungan singkat ini, aku memasuki setengah area depan dari Taman Eko Rimba KL. Dahulu taman ini dikenal dengan sebutan Hutan Simpan Bukit Nanas, yang merupakan salah satu cagar hutan permanen tertua di Malaysia. Untuk memasuki cagar hutan ini pengunjung harus rela merogoh kocek sebesar 40 Ringgit.

Usai sudah petualanganku di KL Tower.

Saatnya pergi meninggalkannya.

Keterangan kata:

percuma*1) = =Gratis.

Sleep & Sleep Capsule: Penginapan Murah di Semarang

<—-Kisah Sebelumnya

Selamat pagi….Fajar terakhir di The Azana Hotel Airport.

Sesuai jadwal business trip ini, aku seharusnya pulang ke ibukota sore nanti. Sudah barang tentu, jam 12 siang ini, aku harus melakukan check-out dari The Azana Hotel Airport. Karena pelatihan baru akan selesai pukul 14:00, maka sebelum aku berangkat ke kawasan Bukit Semarang Baru untuk mengawal jalannya pelatihan, aku segera menyerahkan kunci hotel sembari menitipkan semua barang-barang di reception desk.

Pelatihan hari kedua ini berjalan sangat lancar dan selesai tepat waktu. Semua peserta pelatihan pun satu persatu undur diri untuk kembali ke kotanya masing-masing. Aku pun segera kembali ke The Azana Hotel Airport, untuk mengambil barang yang tertitip.

Kamu tentu sudah tahu kelakuanku…Yups, aku sengaja memperpanjang masa kunjungku di Kota Atlas dengan biayaku sendiri. Kini aku bersiap berperilaku kembali layaknya seorang backpacker. Aku akan berpindah menuju sebuah hostel seharga Rp. 40.000 per malam. Dan karena Pak Muchlis yang masih akan kembali pada pukul 19:00 nanti, akhirnya mengikuti kemana kakiku melangkah.

Menumpang taksi online, aku menuju ke Sleep & Sleep Capsule di daerah Dadapsari. Pengemudi taksi online yang kutunggangi rupanya tahu perihal hotel kapsul murah itu, mampu membaca tujuanku tiba di Semarang, sehingga percakapanku dengannya pun otomatis menghangat di ranah backpacking.

Aku diturunkan di bilangan Jalan Imam Bonjol tepat di halaman Universitas AKI. Tak sulit menemukan Sleep & Sleep Capsule, karena tulisan namanya tertera sangat besar di tembok pembatas universitas itu. Lorong kecil berkanopi itu mengarahkanku menuju sebuah pintu seukuran gang yang langsung berhadapan dengan meja resepsionis.

Lorong masuk.
Reception desk.

Telah terbayarnya biaya hotel melalui Agoda, staff reception perempuan itu hanya meminta KTPku saja untuk mencocokkan data. Walaupun minimalis, hotel ini tampak didesain sangat rapi dan modern dengan mengambil konsep aktivitas di sebuah bandara. Interior dinding lobby itu didesain bak sisi jendela sebuah pesawat lengkap dengan kursi pesawatnya. Sedangkan alur lalu lintas tamu di area lobby dibatasi dengan desain lantai bak aspal bandara. Segenap lobby didominasi dengan warna kuning, coklat, putih dan abu-abu…..Ciamik banget.

Lobby.
Ruang bersama.
Ruang bersama.

Sedangkan setiap tamu akan mendapatkan sebuah loker yang diletakkan di ruang terpisah dengan kamar tidur. Aku perhatikan banyak tamu yang menaruh laptop dan beberapa berkas tugas sebuah institusi pendidikan di loker itu, aku kemudian menyimpulkan bahwa mereka adalah para mahasiswa yang sedang berkuliah. Entahlah, apakah mereka lebih memilih hotel jenis kapsul ini untuk tinggal atau memang mereka hanya sesekali menginap saja karena ada tugas lembur di kampus. Hal itu  mungkin saja karena memang hotel ini berlokasi bersebelahan dengan Universitas AKI.

Koridor loker.

Aku pun segera menaruh backpack di ruang kapsulku, bunk bed tingkat paling atas. Aku segera menaruh peralatan traveling di folding bag untuk kubawa ke destinasi berikutnya sore itu. Terus terang, aku baru kali ini tidur di sebuah ruangan kapsul. Biasanya aku memilih sebuah dormitory reguler.

Memang beda tipis antara kapsul dan dormitory. Kapsul berpembatas sedangkan dormitory cenderung lebih terasa lega karena tak berpembatas papan.

Karena jumlah kapsul dalam ruangan ini adalah 42 buah, tak hayal lagi ruangan kapsul ini sangat berisik ketika waktu tidur menjelang. Sudah dipastikan diantara 42 orang ini adalah para pengorok ulung yang mengganggu nyenyaknya malam. Keriuhan akan kembali terjadi di pagi hari karena disaat itulah orang saling berembut untuk mandi. Mereka tampak mengejar urusannya masing-masing sepagi mungkin. Begitu juga aku.

Kamar.
Pindah peraduan.

Sedangkan toilet berada di ujung ruangan kapsul. Wastafel, urinoir dan shower berada pada ruangan yang saling terpisah. Walaupun dipakai untuk 42 tamu dalam satu ruangan, kamar mandi itu tetap tampak bersih dan wangi. Sepertinya para tamu ini sudah berpengalaman tinggal di sini, mungkin para mahasiswa itu sudah berlangganan menginap di hotel kapsul ini.

Kamar mandi.
Kamar mandi.

Nah, Hayo siapa yang mau tinggal di hotel jenis kapsul sepertiku?……

Lima di Petaling Street

<—-Kisah Sebelumnya

Salah satu sisi Jalan Leboh Pasar Besar.

Pada langkah pertama sekeluar dari area Central Market, terjadilah pengkhianatan niat. Langkahku tetap saja tak terima menuju ke penginapan.

Hampir menginjak pukul sembilan malam….

Central Market boleh saja mulai pudar kharismanya ditelan gulita, tetapi tidak dengan Petaling Street. Disana keramaian baru saja dimulai”, aku mulai memaksa niat untuk berubah haluan, walaupun sesungguhnya badan telah remuk redam akibat perjalanan hampir sembilan jam dari Kuala Terengganu pagi hingga sore tadi.

Aku melangkah ke utara demi melahap habis ruas Jalan Hang Kasturi hingga memotong Jalan Leboh Pasar Besar pada sebuah pertigaan. Pertigaan itu dimarkahi dengan keberadaan bangunan UOB dan Pacific Express Hotel.  Suasana masih ramai saja di sepanjang jalan itu. Sehingga aku semakin asyik dan merasa aman ketika melangkah ke timur hingga menemui sebuah perempatan yang dimarkahi oleh Bangunan Maybank. Perempatan itu sesungguhnya mempertemukan empat jalan, yaitu Jalan Yap Ah Loy dari timur, Jalan Tun H S Lee dari arah utara, Jalan Leboh Pasar Besar dari arah barat dan Jalan Petaling dari arah selatan.

Jalan Yap Ah Loy….Siapa sih Yap Ah Loy?

Ya, Yap Ah Loy inilah tokoh Tionghoa yang pertama kali memakmurkan daerah Pasar Seni dengan membangun sebuah pabrik tapioka. Kemakmuran yang ditimbulkan akibat aktivitas bisnisnya telah membantu banyak dalam mengembangkan Chinatown di daerah Pasar Seni.

OK, mari kita lanjutkan perjalanan ringan ini….

Karena ingin mengunjungi Petaling Street maka dari perempatan tadi, aku harus melangkah menuju selatan. Jalan yang kuambil ini sudah termasuk dari bagian Jalan Petaling. Inilah jalan populer di daerah Chinatown yang membentang dari utara ke selatan sepanjang hampir 800 meter. Tetapi Petaling Street yang kumaksud dalam judul artikel ini adalah sebagian dari ruasnya yang menyediakan lapak-lapak perniagaan beratap pelindung dengan panjang 300 meter.

Tetapi, selain memanfaatakan Jalan Petaling, bazaar jalanan ini juga melebar ke timur dan barat memanfaatkan sisi Jalan Hang Lekir yang tak memiliki atap pelindung.

Tepat jam sembilan malam…..

Aku tiba di depan gerbang Petaling Street. Perempatan luas beralaskan susuan pavling block yang rapi itu aku seberangi untuk memasuki kawasan awal Petaling Street. Begitu melewati gerbang, hal yang paling mudah diingat adalah deretan lampion yang digantung di langit-langit. Selain itu, jalanan beralaskan beton dengan motif paving block dan tiang serta rangka atap berbahankan baja sempurna mengangkangi jalan menjadi hal yang bisa ditangkap memori dengan cepat ketika melintasnya.  

Perbedaan mendasar dari jalur di area perniagaan ini adalah….Jalur di sepanjang Jalan Petaling didominasi oleh kios-kios penjual cendera mata, aneka pakaian, tas, sepatu, dompet, aksesoris dan pernak pernik lain berbau Malaysia. Sedangkan Jalur di sepanjang Jalan Hang Lekir dengan mudah kita bisa menemukan kedai-kedai makanan yang didominasi oleh chinese food dan berbagai street food lain seperti kacang kenari panggang, buah-buahan, minuman dan lain-lain. Sebagai gambaran, untuk jenis-jenis minuman dari susu kedelai hingga jus buah dibanderol dengan harga 1,8 – 6 Ringgit saja….Murah kan?

Gerbang Petaling Street di hadapan. Tentu kamu pengen tahu kan gimana suasana di dalamnya?
Fokus ke deretan lampion itu deh!
Transaksi di kedai cinderamata.
Suasana di pojok timur Jalan Hang Lekir.
Memanggang kacang kenari (chestnut bean)….Orang lokal menyebutnya buah berangan.
Pedagang buah di Jalan Hang Lekir.
Mau coba durian Malaysia….Masih di Jalan Hang Lekir.
Cobain juice juga boleh kok….Stay tune di Jalan Hang Lekir.
Restoran-restoran di kawasan Petaling Street (juga di bagian Jalan Hang Lekir)
BABIIIIII…ehhh….Aduhh…Upss.

Tetapi harga cendera mata yang sangat murah dan bisa ditawar tentu mengindikasikan bahwa produk-produk tersebut adalah barang bajakan. Oleh karenanya, kita perlu jeli untuk menawarnya sebelum memutuskan untuk membeli.

Petaling Street memang menjadi tempat perniagaan idola di Kuala Lumpur. Selain itu, Petaling Street juga menggambarkan sebuah eksistensi atas usaha pelestarian budaya Tionghia di Kuala Lumpur.

Pada kunjungan ke Petaling Street yang kelima kali ini, aku hanya menjelajahnya dalam waktu kurang dari setengah jam saja.

Tepat pukul setengah sepuluh….

Aku memutuskan untuk kembali ke penginapan karena mata sudah mulai mengantuk dan badan sudah terasa lusuh.

Baiklah, lebih baik aku menyegerakan diri untuk beristirahat.

Kisah Selanjutnya—->

Mengulang Lagi Kasturi Walk di Central Market

<—-Kisah Sebelumnya

Usai menyesap serbuk oat, aku beranjak pergi dari tepian Jalan Tun Sambanthan. Menyeberanginya untuk mencapai pelataran Central Market.

Di pelatarannya, aku berdiri mematung, menatap segenap bangunan pasar yang gemerlap dengan pelita. Inilah salah satu landmark di Kuala Lumpur yang telah berusia lebih dari 130 tahun.

Hhmmhhh….Central Market, harus bertindak bagaimana di kunjungan keempat kali ini?”, aku membatin.

“Ohh…Lebih baik membedah hingga ke setiap sudutnya malam ini”, aku memutuskan.

Dari depan halaman Central Market aku bergeser ke sisi timur bangunan. Adalah Kasturi Walk, jalur sepanjang 75 meter yang dipenuhi kedai perniagaan pakaian, buah-buahan, makanan lokal (kacang putih Ipoh salah satunya), mainan anak-anak, kerajinan tangan dan souvenir lainnya.

Kasturi Walk adalah bagian Central Market yang tersemat keunikan karena sepanjang jalurnya ternaungi atap dimana pada pangkal atap disematkan desain layang-layang khas Malaysia. Kasturi Walk sendiri, hanya mengambil sedikit bagian dari Jalan Hang Kasturi yang membentang sepanjang hampir setengah kilometer.

Kasturi Walk.
Kios-kios di Kasturi Walk.
Kios minuman di Kasturi Walk.
Kios minuman dan makanan khas Malaysia di Kasturi Walk.
Cafe di Kasturi Walk.

Perlu diketahui, jika Central Market adalah raja pasar basah masa lalu maka Jalan Hang Kasturi terkenal sebagai pasar keringnya.

Aku sungguh terlena menikmati keramaian di sepanjang jalur itu walaupun tak ada satupun item yang terbeli. Tak lain, karena niatku hanya untuk menyempurnakan eksplorasi Central Market.

Purna menjelejah hingga ke tiap ujung Kasturi Walk, aku segera masuk ke dalam bangunan Central Market. Aku pernah pula memasukinya pada 2014 silam ketika berbelanja t-shirt dan gantungan kunci teruntuk beberapa kolega di Jakarta. Tapi kini, aku hanya akan melintasnya sudut demi sudut, lantai demi lantai, kemudian mengetahui isinya lebih mendalam.

Memasuki melalui pintu timur, aku dihadapkan pada deretan kios yang terbelah selasar panjang. Deretan kios itu menawarkan pernak-pernik souvenir, kilauan batu permata, dry fruits, berbagai macam aroma terapi, batik, alat-alat komunikasi dan dagangan lainnya.

Berada di pusat ruangan, papan ucapan selamat datang dalam berbagai bahasa bangsa tergantung di langit-langit pasar demi menyambut segenap pengunjung.  Sedangkan tempat favorit para pengunjung di lantai satu adalah outlet kenamaan….Old Town White Coffee.

Aku menaiki tangga menuju lantai dua usai menuntaskan eksplorasi di lantai pertama. Tampak di lantai dua, tersedia pojok-pojok promosi pariwisata dan budaya Negeri Jiran. Inilah keunggulan penting dari Central Market, selain menjadi pusat perbelanjaan juga berfungsi sebagai muka pariwisata dan budaya Malaysia.

Usai mengunjungi pojok budaya, setidaknya aku memahami bahwa Central Market rutin menyelenggarakan Cultural Dance yang dihelat di outdoor stage (pelataran Central Market). Dari pojok budaya itu, aku juga mendapat informasi bahwa di daerah Serawak, Malaysia memiliki bagian dari etnis Dayak yang bernama Laki Iban.  Di pojok itu diperkenalkan pula pakaian khas mereka yang berjuluk Kelambi dan  Sirat.

Selebihnya lantai dua tampak ramai dengan keberadaan Central Market Food Court. Medan selera*1) itu dihuni oleh berbagai macam kedai. Selain aneka sup khas Malaysia dan masakan khas dari Penang atau Ipoh, tak ketinggalan pula cita rasa khas Thailand. Sedangkan Kopitiam akan memfasilitasi penikmati kopi dengan cara lain.

Sebagai gambaran, harga makanan di Central Market Food Court pun bervariasi dan bisa mengakomodasi pengunjung dengan berbagai ketebalan dompet. Bermula dari 1,9 Ringgit untuk harga sepotong Telur Mata hingga 24,9 Ringgit untuk menebus seporsi Grilled Lamb Chop.

Selain medan selera,  sebagian lantai dua juga dimeriahkan oleh deretan kedai pakaian, batik menjadi idola di lantai ini. Aku melanjutkan langkah dengan menikmati pola-pola khas batik Malaysia.

Central Market Lantai 1.
Central Market Lantai 1.
Central Market Lantai 1 (foto diambil dari Lantai 2).
Central Market Lantai 2.
Kedai-kedai makanan di Central Market Food Court Lantai 2.
Kedai-kedai makanan di Central Market Food Court Lantai 2.
Kios batik di Central Market Lantai 2.
Kios pakaian di Central Market Lantai 2.

Akhirnya genap satu jam aku berkeliling dan mengamati aktivitas pengunjung di Central Market hingga sentra perbelanjaan itu mulai sepi karena tertelan malam. Aku pun perlahan mulai menuruni anak tangga untuk tiba di lantai bawah dan bersiap pulang menuju penginapan.

Aku harus berbasuh dan beristirahat karena esok hari aku akan menelusuri beberapa spot wisata di Kuala Lumpur hingga tengah hari.

Thank you Central Market.

Keterangan:

Medan selera *1) = food court

Kisah Sebelumnya—->

Ikan Bakar Cianjur dan Kota Lama Semarang

<—-Kisah Sebelumnya

Kutinggalkan kerumunan anak-anak sekolahan asal Jawa Timur yang asik berwisata religi di halaman Masjid Agung Jawa Tengah. Anak belasan tahun itu terlihat sangat girang berlarian di halaman, berbaris rapi dan berfoto berlatar tempat ibadah yang mengesankan itu, bahkan beberapa berguling sesuka hati di pelataran.

Honda Jazz hitam menjemputku atas perintah aplikasi GOJEK. Setelah mengkonfirmasi tujuan dan aku mengiyakan, hatchback hitam itu meluncur menuju Tanjung Emas.

Tempat itu sekarang sudah keren lho mas, mas Donny harus keliling di sana!”, Dia menjelaskan seluk beluk dengan detail bak duta wisata Kota Atlas.

Wah, boleh juga tuh mas”, ucapku berharap membuatnya bangga.

Sudah direnovasi besar-besaran mas, habis lebih dari 150 Miliar loh mas, cocok buat nongkrong dan hunting foto mas”, dia terus mejelaskan.

Hatchback yang kutunggangi akhirnya berhenti dengan lembut di slot parkir.

Perjalanan seharga Rp. 10.000 menuju ke sini.
Bersiap makan malam bersama.

Tak terasa lama berkendara, aku tiba. Aku harus bersiap lebih dahulu, sebelum tamu-tamu datang. Malam ini aku akan mentraktir semua kolega penting perusahaan di Restoran Ikan Bakar Cianjur. Memasuki bekas gedung pengadilan zaman kolonial ini, dengan cepat para juru saji menangkap niatku dengan mengarahkan ke tempat duduk yang cukup menampung jumlah tamu yang kucacah.

Ruang restoran yang mengikuti fungsi awal bangunan, penuh ruang, setiap ruang dipenuhi deretan meja makan berbahan jati atau meja kaca berangka jati. Sementara kursi-kursi khas betawi berderet rapi, sementara jendela-jendela persegi menjulang ke langit-langit dengan tralis berkerangka susunan bujur sangkar mini. Tampak hiasan ruangan berupa almari-almari souvenir berbahan kayu jati dan berpendingin beberapa kipas angina besar.

Memesan bangku terlebih dahulu.
Tak cukup sederet, tapi dua deret bangku yang dipesan.

Walhasil, dinner itu selesai bersamaan dengan gesekan credit card senilai hampir dua juta.Ringan kugesekkan kartu hutang itu karena semuanya akan direimburs ke kantor.

Berpamitan, para kolega undur diri untuk beristirahat dan melanjutkan training esok hari. Sementara, aku masih punya waktu untuk melangkah lebih jauh di sekitaran Kota Lama. Tak akan seluruhnya terjelajah, karena 31 Ha butuh waktu seharian untuk mengeksplornya.

Terimakasih Tumenggung Trunojoyo….

Berkat pemberontakanmu ke Mataram, Kota Semarang menjadi kota pesisir pengekspor gula dan rempah ke Eropa pada Abad ke-19. Dibawanya arsitektur Renaisans ke Semarang, vintage, kaca-kaca berwarna, bentuk atap unik, ruang bawah tanah, jendela besar dan juga pintunya. Dan menjejakkan kaki di dalamnya….Kini aku sedang menikmati kompleks Kota Lama di bawah temaram pelita bulan.

Aku mulai memasuki Jalan Letjen Suprapto. Penampakan gereja tua bermenara kembar dengan jam dinding besar di setiap menara lalu beratapkan kubah besar berwarna merah bata, menjadikan arsitektur bangunan ini seperti perpaduan dua jenis tempat ibadah yaitu masjid dan gereja. Gereja berumur lebih dari 250 tahun kini bernama Gereja Protestan Indonesia Barat Immanuel. Nama asli dari gereja itu sendiri adalah  Nederlandsch Indische Kerk.

Gereja Blenduk, Lanskap Kota Lama Semarang.
Gereja Blenduk, Lanskap Kota Lama Semarang.

Sementara berseberangan jalan dengan Gereja Blenduk, terletaklah gedung Jiwasraya, berbentuk Letter-L, berusia 104 tahun, dan disiram dengan spektrum cahaya merah-hijau-biru secara bergantian. Adalah ex-Nederlandsch Indische Level Sverzeking De Lifrente Maatschaapij (NILLMI), boleh dibilang sebagai bisnis asuransi utama Belanda tempoe doeloe. Pernah juga berfungsi sebgai Balaikota pada zaman Kolonialisme Belanda.

Bangunan 3 lantai dengan kubah di sikunya.

Sementara di sebelah timur gereja Blenduk, tepat di sebuah perempatan, terletaklah sebuah Bar dan Bistro berjuluk Spiegel. Bangunan persegi panjang dua lantai dengan pintu di salah satu sudutnya. Gedung klasik ini berasal dari akhir Abad ke-19 ini (125 tahun). Begaya Spanish Colonial, gedung bekas perusahaan Winkel Maatschappij H Spiegel ini menunjukkan sebuah perjuangan bisnis Tuan H. Spiegel yang awalnya hanya bekerja sebagai seorang manajer perusahaan, kemudian menjadi pemilik perusahaan yang dipimpinnya itu.

Perusahaan ini sendiri didirikan oleh Tuan Addler.

Bagian terakhir yang kukunjungi adalah Taman Srigunting. Taman dengan empat pohon besar di setiap ujung taman dan bergelantungan lampu hias di sepanjang rantingnya. Membuat suasana begitu romantis bagi para pasangan muda yang sedang kasmaran, atau para keluarga kecil dengan putra-putri mungilnya atau juga buat para kaum jomblo yang ingin mencari jodohnya.

Tempat yang baik untuk menghabiskan weekend.

Saatnya pulang ke hotel dan beristirahat untuk persiapan pelatihan hari kedua esok hari……

Zzzzzzzz……….

Kisah Selanjutnya—->

Menyesap Bubuk Oat di The Bed Station

<—-Kisah Sebelumnya

Aku lapar sekali sore itu….

Aku bergegas menuruni escalator demi escalator untuk menuju lantai 3 Terminal Bersepadu Selatan dan langsung memutuskan keluar melalui jembatan penghubung menuju Stasiun Bandar Tasik Selatan.

Setiba di depan deretan ticketing vending machine, aku segera mencari tiket menuju Stasiun Pasar Seni yang akan kutempuh menggunakan dua laluan kereta yang terintegrasi, yaitu LRT Laluan Seremban dan LRT Laluan Kelana Jaya. Aku memasukkan 3,5 Ringgit ke dalam mesin untuk mendapatkan sebuah token biru menuju Pasar Seni yang letaknya berjarak sepuluh kilometer di utara.

Tak perlu lama menunggu, LRT Laluan Seremban tiba dan aku memasuki gerbong tengah. Sore itu kereta penuh, aku harus berdiri hingga kereta tiba di KL Sentral.

Perlu kamu ketahui bahwa Pasar Seni adalah sebuah area yang letaknya hanya dua kilometer di utara KL Sentral. Dari KL Sentral, aku bergegas turun dan menuju platform LRT Laluan Kelana Jaya untuk mencapai Stasiun Pasar Seni.

Hampir jam tujuh aku tiba di Pasar Seni…..

Area Pasar Seni terlihat dari stasiun.
Automatic fare collection gates Stasiun Pasar Seni.

Aku sejenak menepi di pojok platform stasiun untuk mengamati keramaian area Pasar Seni dari atas. Sudah tiga kali aku menjelajah area itu semenjak 2014, berarti ini kali keempat aku tiba di tempat yang sama. Bosan?….Tentu saja tidak, selalu ada hal-hal baru dan menarik yang bisa kutemukan di tempat yang sama sekalipun.

Menjelang gelap, aku mulai menuruni tangga Stasiun Pasar Seni dan mulai menelusuri Jalan Hang Kasturi untuk menggapai penginapan, yaitu The Bed Station. Penginapan yang kupilih cukup dekat jaraknya dari Stasiun Pasar Seni, hanya perlu berjalan kaki sejauh 200 meter saja.

Menemukan lokasi penginapan, aku bergegas masuk pada pintu yang tak berpenjaga dan tak terkunci, hanya lorong berupa tangga menuju ke atas, yang menghubungkan ke beberapa lantai.

Meja resepsionis yang kucari ternyata terletak di lantai kedua. Aku memasuki ruangan itu yang suasananya masih kosong dan senyap. Untuk kemudian memutuskan mengambil satu tempat duduk di depan meja resepsionis demi menunggu staff hotel tiba.

Akhirnya lima belas menit kemudian, staff pria itu tiba.

Hallooo….”, dia menyapa ramah.

Hi….I want to check-in”, aku beranjak dari tempat duduk dan merapat ke meja resepsionis lalu menyerahkan lembar konfirmasi pemesanan online beserta paspor.

Let me see!….Your name is in our system. Ok, 22 Ringgit for room and 20 Ringgit fo deposit”, dia mulai menutup transaksi.

Why don’t several hotels in some cities require a deposit?”, aku sedikit tergelitik

I don’t know about that. I’m originally from Egypt, so I don’t know more…”, dia menjelaskan tetap dengan senyumnya.

Just take a bunk bed in your room….All the choices are up to you”, dia menyerahkan kunci locker kepadaku.

Usai menyelesaikan transaksi, aku menuju ke lantai 3 melalui tangga untuk memasuki kamar. Kamar itu penuh, 20 bunk bed di ruangan hanya menyisakan satu bunk bed di dekat pintu.

Oh, ini tempat tidurku”, aku tersenyum mengernyitkan dahi.

Ruangan itu kosong, para penginapnya mungkin sedang berpetualang di tengah kota. Nanti malam, menjelang tidur, aku baru tahu bahwa tamu itu seluruhnya adalah sekumpulan rombongan dari kota lain di Malaysia, karena mereka saling bercakap menggunakan bahasa Melayu. Aku menebaknya sebagai sekelompok siswa yang sedang melakukan study tour karena salah satu dari mereka dipanggil dengan sebutan Cikgu.

Aku berkeliling lantai 3 untuk mencari shared-kitchen tetapi tidak pernah menemukannya. Hanya ada kamar mandi bersama di salah satu sisi tangga dan lobby bersama yang berupa deretan kursi dengan meja gantung memanjang yang biasa digunakan penginap untuk bekerja menggunakan laptop. Hanya tersedia satu sofa panjang di shared lobby ini.

Waduh, berarti aku harus makan di luar”, aku segera memutuskan pergi dari lantai 3.

Pintu masuk The Bed Station.
Tangga tunggal penghubung antar lantai penginapan.
Meja resepsionis yang sepi.
Shared lobby.
Dormitory di The Bed Station.

Sudah pukul delapan malam….

Malam itu aku hanya akan mengeksplorasi secara lengkap segenap isi Central Market. Walau sudah tiga kali mengunjunginya, tapi belum sekalipun aku menjelajahnya secara detail. Jadi malam itu aku akan menuntaskan niat itu.

Aku kembali turun ke Jalan Hang Kasturi menuju utara. Hingga tiba di sebuah pertigaan besar.

Aku harus makan malam segera, sebelum melangkah lebih jauh”, aku memutuskan duduk di salah satu bangku beton di tepi Jalan Tun Sambanthan.

Aku dengan percaya diri membuka kemasan serbuk oat, menuangkannya di foldable lunchbox, mengguyurnya dengan air mineral, lalu memulai makan malam yang sangat sederhana itu dengan lahapnya. Aku sengaja duduk di tepi jalan itu karena di sisi atas, LRT Laluan Kelana Jaya hilir mudik melintasi jalanan dengan indahnya.

LRT Laluan Kelana Jaya melintas di atas Jalan Tun Sambanthan.
Makan malan dulu lah…..

Tak usah terburu waktu, Donny!

Nikmati makan malammu!.

Kisah Selanjutnya—->

Menjelajah Terminal Bersepadu Selatan

<—-Kisah Sebelumnya

Menjelang maghrib aku tiba di Terminal Bersepadu Selatan pasca mengarungi perjalanan delapan setengah jam dari Kuala Terengganu menggunakan jasa Bus Arwana. Inilah terminal raksasa di selatan kota yang menggantikan peran Terminal Bus Puduraya yang terletak di tengah kota.

Malam itu, aku akan menginap di The Bed Station di daerah Pasar Seni, tapi aku tak perlu terburu waktu karena satu  bunk bed di penginapan itu sudah kuamankan melalui e-commerce penginapan ternama pada enam hari sebelum aku pergi meninggalkan rumah.

Ini bukan pertama kalinya aku menjejakkan langkah di Terminal Bersepadu Selatan. Pada Maret 2018, aku menyinggahinya untuk pertama kali ketika kembali dari Melaka. Sedangkan kunjungan kedua terjadi sembilan bulan kemudian ketika aku kembali dari Ipoh.

Tapi pada dua kunjungan terakhir, aku memang terburu waktu. Jadi kala itu pula, aku tak pernah ada niatan untuk mengenal sungguh-sungguh hub transportasi terbesar di Semenanjung Malaysia itu.

Tapi sore menjelang malam itu, alih-alih langsung melanjutkan perjalanan

Niatku kini berkembang….

Akhirnya menjelang malam itu, aku memutuskan untuk mengeksplore Terminal Bersepadu Selatan yang merupakan hub terintegrasi seluas 2 hektar bertinggikan enam lantai kebanggaan Negeri Jiran.­­

Sore itu, bus Arwana menurunkan setiap penumpangnya di balai ketibaan (arrival hall) lantai 2, tepatnya di sisi barat terminal. Begitu menuruni bus, aku dihadapkan pada lima escalator berjajar yang akan membawa setiap penumpang naik ke lantai 3. Kenapa demikian?….Karena di lantai 3 inilah letak titik konektivitas TBS dengan jalur transportasi umum lainnya.

Sementara penumpang yang memilih melanjutkan pulang menuju rumahnya masing-masing menggunakan kendaraan pribadi, tentunya kendaraan mereka sudah terparkir manis di lantai 4  hingga 6.

Memasuki pintu main lobby bangunan TBS lantai 3, aku langsung dihadapkan pada sebuah arrival lobby di sisi kanan pintu yang dipenuhi dengan barisan kursi. Sementara di depan arrival lobby juga terdapat TBS executive lounge bagi para penumpang berduit tentunya.

Sedangkan beberapa stand promosi perbankan tampak mengakuisisi beberapa sudut selasar, salah satu brand bank tersebut adalah PTPTN (Perbadanan Tabung Pendidikan Nasional) . LED Panduan & Informasi juga tak ketinggalan tertampil berisikan directory tentang lantai 1-6.

Selebihnya kios-kios terkait perjalanan seperti kedai peralatan telekomunikasi (DiGi salah satunya) dan minimarket (POINT dan 7-Eleven tampak di selasar) melengkapi keramaian selasar lantai 3.

Sisi barat terminal dimana platform ketibaan berada.
Platform ketibaan tampak dari lantai 3.
Arrival Lobby lantai 3.
Dua sisi gerbang pelepasan (departure gate).
Escalator menuju departure hall di lantai 2.
LED informasi pelepasan dan ketibaan.
Konter-konter penjualan tiket dilihat dari lantai 4.

Sebelum menuju ke pusat selasar, terdapat gerbang balai pelepasan yang dibagi dalam dua departure gate. Dua gerbang itulah yang akan mengantarkan penumpang menuju dua bagian departure hal l,  yaitu departure hall dengan platform 1-13 dan platform 14-16. Sedangkan tepat di sisi selatan departure lobby  terdapat pintu keluar menuju jembatan penghubung yang akan mengantarkan penumpang menuju jalur kereta komuter, LRT  Laluan Seremban dan kereta bandara (KLIA Transit). Selain kereta, tentu penumpang juga akan diarahkan untuk bisa menggunakan bus kota dan airport bus.

Berjalan hingga berada tepat di tengah ruangan lantai 3, terdapat dua papan LED raksasa untuk menampilkan jadwal berlepas (departure) dan ketibaan (arrival). Sedangkan di bawah dua LED tersebut, delapan belas  konter penjualan tampak berjajar mengakuisisi hampir separuh sisi selasar. Dan tepat di ujung awal konter penjualan tiket, tersedia enam mesin yang menjadi bagian dari pojok self service ticketing system. Dan akhirnya tepat di paling ujung selasar, disempurnakan dengan keberadaan pusat informasi untuk memfasilitasi kebutuhan informasi para penumpang.

Dari lift di ujung timur selasar, aku mulai naik ke lantai 4. Selasar lantai 4 ini di dominasi oleh food court, shopping centre dan tersedia juga transit hotel, serta akses menuju lokasi parkir. Dari lantai 4, aku menelusuri jalur tangga menuju lantai 5. Tak ada selasar lagi di lantai 5, melainkan semua lantai gedung didominasi medan kereta (parking area). Begitu pula lantai 6, juga digunakan untuk fungsi yang sama.

Setengah jam sudah aku puas mengeksplorasi seisi Terminal Bersepadu Selatan. Kini sudah saatnya bagiku untuk menuju ke The Bed Station. Aku harus segera merapat ke tengah kota sebelum kemalaman.

Selasar lantai 4 di terminal berusia 10 tahun itu tampak rapi.
Food court area lantai 4.
Area parkir di lantai 5.
Jembatan penghubung menuju stasiun Bandar Tasik Selatan.
Pemandangan dari jembatan penghubung ke arah timur.
Nah itu stasiun keretanya.

Akhirnya aku bergegas turun menggunakan escalator menuju lantai 3 rtuntuk meniti jembatan penghubung menuju ke LRT Laluan Seremban.

Kisah Selanjutnya—->

Bus Arwana dari Kuantan ke Kuala Lumpur

<—-Kisah Sebelumnya

Seperti adegan-adegan fiksi yang terjadi di terminal-terminal pemberangkatan, kali ini aku terharu ketika menyaksikan seorang perempuan muda beransel memeluk erat ibunya sembari menenteng travel bag besar. Dugaan termungkin adalah anak itu akan pergi jauh dari orang tuanya di Kuantan dan akan menuntut ilmu di ibu kota.

Naiknya perempuan muda itu melalui pintu depan Bus Arwana menjadi penanda bahwa perjalanan panjang harus segera dimulai lagi. Lima belas menit berhenti, waktu telah berhasil menyuguhkan berbagai aktivitas warga lokal yang unik di sepanjang platform Terminal Sentral Kuantan.

Bus perlahan keluar meninggalkan terminal terbesar di sepanjang pantai timur Malaysia itu, membelah Jalan Pintasan Kuantan yang menjadi jalan utama kota. Berbagai fasilitas publik dengan mudah tertangkap mata yang tak pernah mau tertidur demi menikmati pemandangan di sepanjang perjalanan.

Setengah jam lamanya bus menelusuri setiap sudut kota hingga akhirnya tiba di gerbang Distrik Gambang yang berada di sebelah barat Kota Kuantan. Distrik ini terkenal dengan aset alamnya, yaitu Hutan Lipur Pandan yang merupakan cagar alam besar yang menjadi milik bersama dua daerah, yaitu Kota Kuantan dan Distrik Gambang.

Lebuhraya Pantai Timur yang kulalui membelah sisi selatan cagar alam itu. Pemandangan hijau sangat mendominasi sisi kiri-kanan lebuh, mampu membuat mata menjadi sejuk dalam menikmati perjalanan panjang menuju Kuala Lumpur.

Beberapa waktu kemudian, pemandangan cagar alam berubah menjadi kemunculan beberapa perkebunan kelapa sawit yang mudah sekali ditemukan di Distrik Maran. Maran memang terkenal sebagai penghasil minyak sawit di Malaysia, oleh karenanya, mataku mudah sekali menemukan hamparan perkebunan sawit di sepanjang jalan.

Kejutan lain adalah, semenjak terakhir melintas Sungai Kuantan di permulaan perjalanan dari Terminal Sentral Kuantan, kini aku dihadapkan kembali di kaca jendela, hamparan Sungai Pahang yang konon di beberapa bagian memiliki lebar lebih dari 500 meter. Kini aku tiba di Distrik Temerloh yang kotanya dikembangkan di pinggiran Sungai Pahang. Yang hanya perlu kamu tahu adalah, bahwa Kota Temerloh telah diproyeksikan pemerintah untuk menjadi ibu kota masa depan Negara Bagian Pahang untuk menggantikan Kota Kuantan.

Perjalanan lanjutan dimulai jam 2 siang. Akan menempuh jarak tak kurang dari 250 Km.
Stadium Hoki Indera Mahkota di Jalan Pintasan Kuantan, Kota Kuantan.
Tepian Lebuhraya Pantai Timur yang didominasi perkebunan kelapa sawit di Distrik Maran.
Sungai Pahang di Distrik Temerloh.

Dua jam lamanya, pesona alam adalah aset yang dipamerkan oleh Lebuhraya Pantai Timur, maka kini pemukiman penduduk mulai tampak ketika bus melintasi jalanan baru, yaitu Lebuhraya Kuala Lumpur-Karak. Kota yang kulalui kali ini merupakan bagian dari Distrik Bentong, distrik yang terkenal sebagai area peristirahatan untuk perjalan rute panjang Kuantan-Kuala Lumpur dan sebaliknya. Oleh karenanya, selain perkampungan, rest area banyak di temukan di distrik ini.

Tiga jam sudah perjalanan berlalu….

Kini nuansa kota mulai kentara. Dimulai dengan menelusuri Genting Sempah Tunnel. Inilah terowongan legendaris, karena tunnel ini menjadi terowongan jalan tol pertama di Malaysia. Bisa dikatakan terowongan ini adalah landmark utama sekaligus menjadi pembatas antara dua negara bagian, yaitu Negara Bagian Pahang dan Negara Bagian Selangor….Yeaaaay, aku kini sudah memasuki Distrik Gombak di Selangor.

Usai sebentar menikmati pemandangan Distrik Gombak, kini aku tiba di Kuala Lumpur. Kabar baiknya adalah, beberapa kali berkunjung ke Kuala Lumpur, baru kali ini aku sangat leluasa menikmati jalanan di utara kota. Pinggiran utara itu menujukkan kemakmuran dengan kesibukan pemerintah membangun fasilitas-fasilitas umum. Aku menikmati kesibukan, kemacetan dan hiruk pikuk kota hingga tak tersadar setengah jam berlalu untuk membuatkan tiba di Terminal Bersepadu Selatan di selatan kota.

Pemandangan di sekitar Kampung Cinta Manis, Kota Karak.
Rest area di Kampung Bukit Tinggi Betung, Distrik Bentong.
Genting Sempah Tunnel sepanjang 900 meter mengantarkanku memasuki perkotaan di Distrik Gombak.
Melawati Mall di Jalan Lingkaran Tengah, Kuala Lumpur.
Proyek di Jalan Lingkaran Tengah 2, Kuala Lumpur.
Hampir jam 6 sore aku tiba di Kuala Lumpur.

Aku tiba….

Lalu apalagi yang harus kulakukan?

Tiket bus Kuantan ke Kuala Lumpur (Kuala Terengganu ke Kuala Lumpur) bisa Kamu dapatkan juga di e-commerce perjalanan di 12go Asia dengan link sebagai berikut:  https://12go.asia/?z=3283832

Kisah Selanjutnya—->

Bus Arwana dari Kuala Terengganu ke Kuantan

<—-Kisah Sebelumnya

Aku terhuyung menyambar sembarang pegangan ketika terbangun mendadak dari tidur dan langsung menuju kamar mandi bersama ketika nyawa belum sepenuhnya terkumpul. Itu gegara aku menatap jarum jam dinding bertengger di angka setengah delapan.

Kacau”, aku mengutuk bangunku yang sudah terlalu siang. Ba’da Subuh tadi, aku memang sengaja menarik kembali selimut dan menutupi badan yang kedinginan. Beruntung, semalam aku sudah mengepack semua perbekalan.

Aku mandi dengan cepat, toh seluruh badan masih terasa bersih setelah terakhir mandi jam sepuluh malam tadi. Aku memakai kembali t-shirt yang semalam kupakai untuk tidur dan mengenakan celana jeans yang telah kusiapkan dari semalam.

Seusainya, aku menggemblok backpack di punggung dan menuju shared-kitchen untuk menyeduh serbuk oat dengan air panas dari dispenser. Sungguh menu sarapan yang menjemukan, tetapi masih saja kurepetisi semenjak tiga hari keluar dari rumah.

Sembari menyesap serbuk oat basah suap demi suap, aku mulai khawatir karena meja resepsionis itu masih gelap dan kosong.

Aduh, jam berapa staff akan siap?. bisa kesiangan nih mengejar bus”, aku membatin dan berharap, seusai sarapan nanti, staff akan datang sehingga aku bisa menyerahkan kunci dan mengambil uang deposit.

Ternyata hingga sarapan usai pun, ruangan masih saja lengang. Aku yang semakin was-was hanya bisa pasrah menunggu di lobby. Beruntung, lima belas menit kemudian, owner penginapan muncul dan langsung tersenyum ke arahku.

Nak check-out….maaf lamē menunggu”, dia memulai percakapan sembari menyalakan lampu ruangan dan menuju belakang meja. Sedikitnya tamu penginapan membuatnya tak perlu menanyakan identitas dan nomor kamarku karena dia pasti mudah menghafalnya. Tak butuh waktu lama untuk mengambil amplop bernomor kamarku dan berisikan uang deposit 30 Ringgit lalu memberikannya untukku.

Terimakasih, Pak Cik”, aku menerima uangnya dan menyerahkan kuncinya.

Sampe jumpē….Hati-hati”, dia melambaikan tangan ketika aku mulai menuruni tangga untuk meninggalkan penginapan.

Di luar penginapan….Untuk kelima kalinya, aku sempurna mengkhatamkan jalur menuju Hentian Bas Majlis Bandaraya Kuala Terengganu. Kini aku berjalan sangat cepat dan hanya berfokus untuk segera sampai di terminal. Lebih baik aku menunggu jauh dari jam keberangkatan bus daripada ketinggalan.

Hampir setengah sembilan ketika aku tiba tepat di depan konter tempatku membeli tiket kemarin.

Tunggu sahajē di platform 1, nanti bus nak datang”, begitu jawaban abang penjaga konter ketika aku bertanya dimana harus menunggu.

Whatever,  satu jam ke depan aku akan menunggu di sini saja”, aku membatin ketika mengakuisisi tempat duduk beton di sebelah platform 1.

Tetapi menunggu sesuatu di negeri orang selalu saja menarik. Mengamati aktivitas warga lokal di setiap sisi terminal membuatku berada jauh dari rasa bosan.

Hingga akhirnya aku terperanjat ketika sebuah bus warna merah maroon berkombinasi kuning muncul dari gerbang belakang terminal.

Arwana Group”, dengan jelas aku bisa membacanya dari kejauhan.

Ini dia bus yang sedang aku tunggu. Bus itu tiba lima belas menit sebelum keberangkatan. Bus berhenti tepat di platform 1 dan aku bergegas mendekatinya hingga seorang berwajah Arab menghentikan langkahku.

Kuala Lumpur….this?, pertanyaan singkat darinya terlempar untukku.

Yes….This bus goes to Kuala Lumpur”, aku menjawabnya singkat.

Where are you come from?”, aku menambahkan.

Yemen….

Is Yemen Okay now?”, setahuku negeri itu sedang dilanda perang saudara.

Yeaa…better

Aku melompat masuk dari pintu depan dan mencari tempat duduk nomor 13. Aku memilih bangku tunggal pada bus yang memiliki formasi bangku 2-1 tersebut.

Tepat pukul setengah sepuluh bus pun memulai perjalanan panjang menuju Kuala Lumpur…..

Perjalanan seharga 43 Ringgit itu akan ditempuh dalam waktu 5 jam dan menempuh jarak tak kurang dari 450 km.

Bus mulai meninggalkan kota dengan menyisir Laluan Persekutuan 3, inilah rute darat utama di pantai timur Malaysia yang membentang sepanjang lebih dari 700 km, bermula dari Kelantan di utara dan berakhir di Johor Bahru di selatan. Aku sangat bersyukur karena diberi kesempatan oleh Tuhan untuk menyisir lebuh*1) tepi pantai dengan pemandangan paling indah di seantero Malaysia. Pemandangan paling menakjubkan dalam perjalanan ini adalah dimana aku bisa melintasi lebuh yang hanya berjarak 50 meter saja dari bibir pantai. Nanti akan kuperlihatkan keindahan lebuh ini.

Di awal perjalanan, aku masih ingat dengan pemandangan Kuala Terengganu yang tersaji hingga Kampung Kuala Ibai, karena aku telah melintasnya saat mengunjungi Masjid Tengku Tengah Zaharah tempoe hari. Tetapi setelah melintasi Sungai Ibai, aku benar-benar melewati daerah dengan pemandangan yang tak pernah kulihat sebelumnya. Alih-alih tertidur, justru pemandangan itu sukses membuatku terjaga sepanjang perjalanan.

Dalam setengah jam, bus mulai keluar dari Distrik Kuala Terengganu dan memasuki Distrik Marang yang bergerbangkan Pantai Pandak. Tiga kilometer jauhnya, bus melintas di garis Pantai Rusila yang menjadi salah satu pemandangan terindah di distrik itu. Hingga akhirnya bus beristirahat sebentar di Hentian Bas Marang. Bus harus menjemput beberapa penumpangnya di terminal kecil tersebut.

Pemandangan usai jeda sejenak di terminal bus Kota Marang, mungkin menjadi pertunjukan utama perjalanan ini. Pemandangan tepi pantai yang indah terhampar sepanjang 50 kilometer yang dimulai dari Pantai Peranginan Kelutut hingga Pantai Batu Pelanduk di permulaan Distrik Kuala Dungun.

Busku telah tiba.
Saatnya memulai perjalanan panjang.
Pantai Peranginan Kelulut.
Salah satu sungai di Distrik Marang.
Hutan Lipur Rantau Abang di Laluan Persekutuan 3, Distrik Marang.
Jembatan Pulau Serai di atas Sungai Dungun, Jalan Kuala Terengganu, Distrik Kuala Dungun.

Dua jam perjalanan, bus kini telah purna melintas landmark utama Distrik Kuala Dungun, apalagi kalau bukan Sungai Dungun yang memiliki lebar tak kurang dari 300 meter.

Dengan cepat bus mulai memasuki Kota Paka. Kota ini adalah rumah bagi pembangkit listrik terbesar di Malaysia yang dijalankan oleh perusahaan listrik nasional, yaitu Tenaga Nasional. Tak heran hamparan luas stasiun tenaga listrik berada di kota ini.

Lebih dari sepuluh kilometer menyejajari liukan Sungai Paka hingga akhirnya bus keluar dari Kota Paka dan memasuki kota baru, yaitu Kota Kerteh.

Kerteh adalah kota minyak karena memiliki potensi minyak bumi yang tersimpan di dasar Laut Cina Selatan. Kota Kerteh menjadi salah satu tempat terpenting di negara bagian Terengganu karena penduduknya yang padat disertai dengan fasilitas publik yang lengkap.

Menulusuri Kota Kerteh membuatku faham bahwa Petronas, si perusahaan minyak raksasa Negeri Jiran itu menempatkan banyak fasilitas pentingnya di kota ini. Kilang-kilang minyak, pipa-pipa gas, pabrik-pabrik kimia dan kompleks perumahan Petronas mendominasi penampakan di sepanjang Jalan Kemaman-Dungun.

Hampir setengah jam, aku disuguhkan kesibukan bisnis perminyakan Kota Kerteh, hingga akhirnya bus tiba di daerah paling selatan dari negara bagian Terengganu, yaitu Distrik Kemaman. Inilah daerah perbatasan antara Negara Bagian Terengganu dan Negara Bagian Pahang.

Memasuki Kemaman, bus secara langsung membelah kota Chukai yang menjadi ibu kota Distrik Kemaman. Taman-taman kota terhampar di pojok-pojok kota, kemacetan mulai terasa, sedangkan Sungai Kemaman tampak membentang luas sebagai penghias utama Kota Chukai.

Politeknik Sultan Mizan Zainal Abidin di Jalan Paka, Kota Paka.
Sungai Paka tampak dari Jalan Kemaman-Dungun.
Stesen Janaelektrik Sultan Ismail, Kota Paka.
Kilang minyak milik Petronas di Jalan Kemaman-Dungun, Kota Kerteh.
Jembatan Kertih, di atas Sungai Kertih, Jalan Kemaman-Dungun, Kota Kerteh.
Taman Persiaran Chukai di Jalan Sulaimani, tepat di tepian Sungai Kemaman, Kota Chukai.
Jambatan Geliga di atas Sungai Kemaman, Jalan Kuantan-Kemaman, Distrik Kemaman.
Hentian Bas Ekpres Kemaman di Distrik Kemaman.

Di selatan Kota Chukai, bus berhenti untuk kedua kali. Kali ini bus mengambil dua penumpangnya di Hentian Bas Ekpres Kemaman. Purna mengangkut penumpangnya, bus melanjutkan perjalanan untuk keluar dari batas Negara Bagian Terengganu sisi selatan dan memulai petualangannya di Negara Bagian Pahang.

Masih satu jam lagi untuk tiba di Terminal Sentral Kuantan, terminal bus utama di Negara Bagian Pahang. Sedangkan waktu sudah menunjukkan jam satu siang. Aku yakin semua penumpang sedang merasakan hal yang sama ….Lapar.

Pucuk dicinta ulam tiba, seperempat jam usai memasuki Negara Bagian Pahang akhirnya bus menentukan persinggahan makan siangnya.  Adalah D’Cherating Cafe yang mengambil nama sesuai dengan daerah dimana rumah makan itu berdiri yaitu di Kampung Cherating.

Di sinilah, pengemudi membiarkan penumpangnya untuk menikmati makan siang selama setengah jam untuk kemudian melanjutkan perjalanan sisa menuju Terminal Sentral Kuantan. Di akhir perjalanan itu, pengemudi berfokus di belakang kemudi untuk menyelesaikan 40 kilometer terakhir menuju ke terminal bus terbesar di pantai timur Malaysia.

Perjalanan tahap pertamaku usai sudah….

Usai jeda di Terminal Sentral Kuantan, aku akan melanjutkan perjalanan menuju tujuan akhir yaitu Terminal Bersepadu Selatan di Kuala Lumpur.

Rumah Makan D’Cherating, Negara Bagian Pahang.
Terminal Sentral Kuantan di Jalan Pintasan Kuantan, Negara Bagian Pahang.

Tiket bus Kuala Terenganu ke Kuantan (Kuala Terengganu ke Kuala Lumpur) bisa Kamu dapatkan juga di e-commerce perjalanan di 12go Asia dengan link sebagai berikut:  https://12go.asia/?z=3283832

Keterangan kata:

lebuh*1) = Jalan

Kisah Selanjutnya—->

Aura Romawi di Masjid Agung Jawa Tengah

<—-Kisah Sebelumnya

Membelakangi Klenteng Sam Poo Kong, pandanganku mengobrak-abrik area kantin. Berusaha menemukan Pak Muchlis sesegera mungkin. Aku harus menyeretnya ke Masjid Agung Jawa Tengah, bukan hanya untuk melakukan shalat jamak, tapi juga menggenapkan wisata religi sore itu setelah baru saja selesai mengitari klenteng.

Kutemukan dia di sebuah pojok, dia terlihat nikmat menghisap asap tembakau. Klepas-klepus tanpa dosa sembari bergilir mengguyur kerongkongannya dengan jus mangga….Hahaha.

Ayo pak, ikut aku lagi!”, seruku kencang dari kejauhan.

Loh, nyang endi?”, serunya sambil mematikan api tembakaunya

Shalat”, kataku singkat sambil melangkah membelakanginya menuju pintu keluar klenteng.

Taksi pangkalan merangkap taksi online datang menjemput. Kini aku dihadapkan pada seorang pengemudi setengah tua yang terlanjur bangga dengan kekhilafan-kekhilafan manusiawinya. Katanya, dia pernah meminta ongkos lebih pada sepasang bule Belanda hanya karena punya alasan bahwa Belanda pernah menjajah bangsanya. Lantas kedua bule itu tak terima, dihentikannya taksi di depan sebuah kepolisian sektor, si sopir menjelaskan alasannya meminta ongkos lebih. Lantas polisi itu menjelaskan ke bule dengan cara yang lebih elegan, si bule pun entah kenapa mau membayarnya lebih…..Lucu, aneh bin ajaib.

Pernah juga dia tak mau menerima kembalian ongkos dari seorang Tionghoa, katanya dia punya harga diri untuk tak dikasihani….Cerita ini lebih ajaib lagi, pengen aku koprol salto saat mendengarnya.

Sudahlah….Aku lagi malas berdebat….Aku bertelepati dengan sedan putih itu untuk segera berlari lebih kencang dan segera sampai….Sedan antar jemput online itu tiba tepat di pelataran tujuan.

Yup….Masjid Agung Jawa Tengah…Sebut aja MAJT.

Pelataran itu lengang, parkir mobil tetapi penuh parkir motor, bercahaya syahdu dipadu gemericik air mancur di sepanjang kolam di tengah jalur trotoar. Di akhir pelataran, tersaji gerbang berpilar dua puluh lima, bergaya romawi, dengan kaligrafi khas Timur Tengah melingkar di lis atasnya…Selera Romawi tersemat jelas di halaman itu.

Aura Romawi di awal kunjungan.
Gimana?….Keren kan?.

Sisi kanan masjid didominasi Al Husna Tower setinggi 99 meter, diejawantahkan dalam 19 lantai. Kalau kamu mau, naiklah sesukamu, diatas menanti teropong pandang (lantai 19) yang mengiming-imingi kecantikan Kota Atlas versi ketinggian, lalu nikmatilah secangkir kopi di sebuah kafe lantai 18 (Kafe Muslim) yang bisa berputar satu lingkaran penuh….Wahhh.

Al Husna Tower.

Sedangkan sisi kiri masjid terakuisisi oleh bedug hijau raksasa berumahkan paviliun 3 lapis atap. Persembahan segenap santri dari Pesantren Al Falah Banyumas untuk MAJT.

Bedug raksasa itu bunyinya gimana ya?.

Sementara, pelataran masjid dihiasi oleh enam payung hidrolik raksaka yang layaknya paying yang sama di Masjid Nabawi, Madinah. Masjid agung ini tampak lega tak berujung, konon luasnya mencapai 10 hektar. Menjadikan masjid ini sebagai kebanggaan masyarakat Sambirejo. Masjid cantik yang kubahnya bergaris tengah 20 meter yang memuncaki atap limas khas arsitektur Jawa.

Lihat bentuk utuhnya…..Beuhh.

Tak begitu memperdulikan keramaian di halaman, aku bergegas turun ke lantai bawah, bersuci, lalu melakukan shalat jamak di lantai atas.  Shalat dengan iringan khutbah seorang ustadz kepada jama’ah pengajian.

Interior masjid.
Lampu gantung di tengah ruangan masjid.

Aku sedikit berlama waktu dengan mengikuti siraman ruhani ini. Sebuah kebiasaan yang selalu kuulang-ulang ketika mengunjungi masjid-masjid ternama. Tak perlu khawatir karena waktuku mentraktir para kolega masih nanti. Bisa kukejar dengan taksi online dalam 15 menit saja.

Al Qur’an raksasa karya H. Hayatuddin, penulis kaligrafi dari Universitas Sains dan Ilmu Al-Qur’an, Wonosobo.

Selesai khutbah, aku mulai meninggalkan bangunan berusia 14 tahun itu, mengucap selamat tinggal pada pusat syiar islam itu setelah berwisata religi di dalamnya, serta mendoakan semoga MAJT menjadi pusat pendidikan agama yang makmur.

Perlu kamu ketahui bahwa masjid ini memiliki fungsi lain yaitu sebagai perpustakaan, auditorium, penginapan, ruang akad nikah dan museum perkembangan Islam.

Kisah Selanjutnya—->