Wisata Dragon-Tiger Pagodas, Kaohsiung.

Perjalanku kembali dari Fo Guang Shan berakhir di Kaohsiung Main Station. Disambut dengan gerimis kecil yang mulai turun.

Detikku mulai dihitung mundur 2 jam dari saat itu karena destinasi berikutnya akan ditutup tepat pukul 5 sore.

Kukeluarkan KPP Taiwan Pass yang kudapatkan di Kaohsiung International Airport MRT Station sehari sebelumnya. Aku segera bergerak menuju Ecological District Station.

KPP Pass adalah kartu pass berbasis cloud yg digunakan didaerah Kaohsiung, Pingtung, Penghu (Tiga kota utama di Taiwan)

Menemukan halte dan menunggu bus bernomor R35A datang, untuk mendapatkan akses menuju Lotus Lake menjadi tahapan berikutnya. Kulambaikan tangan ketika bus itu berjalan lumayan kencang di Bo’ai 3rd Road menuju kearahku. Mungkin si sopir mengira di halte tak ada penumpang. Menepi dengan gesit akhirnya bus berhenti sedikit melewatiku.

Ternyata sopir itu perempuan, menanyakan tujuanku dalam bahasa Taiwan membuatku menjadi speechless.

Aku: “Dragon-Tiger Pagodas, Mam”

Doi: geleng-geleng kepala sambil angkat tangah tanda nyerah ga ngerti sama mata tepejam.

Aku: “hahahaha…….”

Doi : sedikit sebel ketika Aku ketawa.

Aku : “Wait….wait”

Kukeluarkan smartphone ku, kucari gambar Pagoda yang kumaksud dan kutunjukkan ke Doi.

Doi : “Sedikit teriak girang…..ya…ya..ya…sambil ngacungin jempol.

Setelah membayar TWD 15 (Rp. 6.000) dan memasukkan ke Fare Box aku berdiri di belakang.

Hanya perlu waktu 10 menit untuk sampai di Lotus Lake dan pagoda kembar itu terlihat dengan jelasnya.

Kaohsiung bear seperti yang ada dalam gambar KKP Taiwan Pass ku

Panda adalah hewan ikonik di Taiwan, jadi Kamu akan sering menemui profilnya di tempat-tempat umum. Aku menemukannya di pagoda ini.

Jika Kamu mau membeli kenang-kenangan masuklah ke bangunan itu:

Visitor Souvenir Center

Memasuki Pagoda terlihat sangat jelas si Naga dan Si Harimau:

Katanya Aku harus masuk dari mulut Naga dan keluar dari mulut Harimau….biar lucky.

Pagoda tujuh lantai berwarna kuning dan berpilar merah ini memang memancarkan aura kekhusyukan tersendiri di tengah luasnya Lotus Lake.

Lotus Lake sejauh mata memandang.

Diseberang depan Pagoda berdiri megah Istana Tzu Chi

Jam 16:45 Aku meninggalkan Lotus Lake untuk mencari makan malam di Kaisyuan Night Market.

Disinilah kebingungan dimulai, Aku tak tahu harus naik bus nomor berapa dan menuju kemana. Zaman itu Aku keliling hanya bermodalkan peta dan kompas, paling anti menggunakan google maps. Apalagi kalau tidak untuk berhemat. Jadi selama tak mendapatkan WiFi, maka keberadaanku di sebuah negara tak akan terdeteksi…..Keren kan kaya agen CIA.

Jika sudah bingung begitu, Aku biasanya akan sembarang naik bus kota….kemanapun. Lalu akan berhenti di dekat spot-spot besar yang sudah kupelajari sebelum berangkat ke negara itu. Nah kebetulan Aku naik bus secara acak sore itu dan menemukan Kaohsiung Arena (stadion sepakbola terbesar di Kaohsiung). Aku pun berhenti di halte terdekat dan entah waktu itu memang gratis atau sopir tak tahu, Aku tak pernah menempelkan kartu pass apapun di otomatic fare machine.

Nah didekat stadium ini terdapat Stasiun MRT Kaohsiung Arena.

Dari stasiun inilah akhirnya Aku berhasil menemukan Kaisyuan Night Market.

Seru-seru gila ini mah….

Bus from Amanjaya Terminal to Medan Kidd Terminal, Ipoh, Malaysia

Finding information about tourist attractions in Ipoh through internet is very much and easy.

But via googling, I have never found a sure way towards Ipoh downtown from their main land-gate i.e Amanjaya Bus Terminal … that’s the point. That’s why, I feel the need to write this article and hopefully backpackers like me out there can find this article later on Google.

But I know that the hotel where I stay is located about 1 km east from a small bus terminal called Medan Kidd Bus Terminal, then I can walk from iterminal to Abby by the River Hotel for 15 minutes.

Finding a taxi is certainly very easy, just need to whistle a little then taxi will come to you. Because taxi isn’t in my backpacker dictionary, without adequate information, I had to found the city bus until I got it.

Worries was surely in me….worried about scams or worry if I couldn’t arrive on time at the hotel… but the show must go on … this is the thrilled if You do solo-traveling with minimal information .

“Perak Transit” bus which departed from Penang Sentral dropped me off on first floor of the Amanjaya Bus Terminal.

I immediately entered the intercity bus arrival hall. The seat lines which passengers waited for their bus became first view that I saw there.

I deliberately allocated about 30 minutes to explore the whole of Amanjaya Terminal.

Of course, I had to found information about city bus towards Ipoh downtown. Luckily I found the Amanjaya Bus Terminal information center on 1st floor, precisely in terminal lobby.

According to a female officer at this information center, city bus to Medan Kidd Terminal was located on 2nd floor and numbered T30a.

Didn’t want to long waiting because I was worried about being late, I immediately used escalator to get the closest bus departure time.

And finally I found the bus shelter

And this is a bus route from Amanjaya Terminal to several destinations in Ipoh:

Whereas this is schedule of Bus No T30a from Amanjaya Terminal to Medan Kidd Terminal:

My trip to downtown began by getting in MyBas T30a

Paid for USD 0,9 when entering front door, I was greeted with familiar smile by Indian driver.

There is something different about this MyBas service. When I am using buses in Kuala Lumpur and Penang (Rapid KL and Rapid Penang), if you pay more than fare, the change money willn’t be refunded. But when I use MyBas, which is operated by Perak Transit, I pay 5 Malaysian Ringgit (USD 1,3) then driver gives me the change money about 1.5 Malaysian Ringgi (USD 0,4)…. Fair and Good.

Indian songs accompanied my journey that afternoon. The bus briefly stopped to refuel near to Terminal Amanjaya.

During the trip I diligently paid attention to a Chinese female solo-traveler descent who always pay attention to her google maps. Surely he also has lacks information like me.…hehehe.

Here are some views during my trip to downtown:

In 40 minutes, MyBas finally arrived at Medan Kidd Terminal

I didn’t wait long at Medan Kidd terminal because I had to immediately go to Hotel for check in then get around the city.

I noticed again this female solo-traveler who looked confuse at terminal. I took a time to ask where was he going, but She said that She would go to downtown by a taxi. I offered myself to walk together but it seems like She didn’t believe.…haha. A look like me really seems suspicious….wkwkwk. Well the important thing is that I have tried to offer kindness.

I decided to immediately walk along Ipoh’s pedestrian walkway.

Walk down this road to Abby by the River Hotel

I had to stop several times because of light rain pouring down Ipoh at that time. And finally in 30 minutes I arrived at Abby by the River Hotel.

Checked-in, paid, put my backpack in the room … then I explored around downtown until evening. Finally I can cross out one destination in my bucket list.

Jet Airways 9W 256 dari Mumbai ke Colombo (BOM-CMB)

Penerbangan ke-3 sekaligus penerbangan terakhir bersama Jet Airways ini sengaja kudahulukan untuk ditulis. Mengenang setiap penerbangan Jet Airways yang sangat berjasa dalam menuntaskan penjelajahanku di kawasan Asia Selatan.

Penerbangan dini hari (jam 02:05) yang bertolak dari Chhatrapati Shivaji International Airport di Mumbai membuatku kekurangan waktu tidur dari mulai check-in hingga landing (jam 04:35).

Memasuki airport, Aku segera mencari pray room untuk bersembahyang. Memasuki mushala, Aku disapa oleh seorang Bapak yang mengenakan kain ihram bersama sekelompok rombongan yang sedang shalat bersama. Senyum keramahannya menyambutku seusai berwudhu.

Dia: “Assalamu’alaikum, hi brother, where are you come from?”

Saya: “Hi Sir….from Indonesia”. Sembari kulempar senyum.

Dia: “I’m from Bangadesh, I think you are from Malaysia”. Dia kembali tersenyum

Saya: “Yeaa….Malaysian and Indonesia are looking same”. Kujabat tangannya

Dia: “Where will you go?

Saya: “I will go to Colombo…Oh ya three days ago, I visit your country

Dia: Tiba-tiba memelukku….”Really, How about my country? nice?

Saya: “Yeaa, exotic country….very original….I will come again next time”.

Dia: Kembali senyum dan menepuk-nepuk pundakku.

Aku juga menemukan beberapa orang India bersembahyang di beberapa selasar airport.

Makan malam waktu itu bermenu “beberapa gorengan jalanan asli India yang kudapat dari recehan rupee terakhir pasca menjelajah Mumbai”

Trik yang selalu kulakukan saat traveling adalah menukar kembali kelebihan uang lokal dengan USD sebelum meninggalkan negara yang kukunjungi lalu membelanjakan uang receh yang tak bisa ditukar dengan seporsi menu untuk waktu makan selanjutnya. Bahkan terkadang makanan itu akan kumakan di negara selanjutnya….Gokil bued….Ngirit minta ampun.

2 jam waktu tunggu tersisa kumanfaatkan untuk mengisi daya semua alat elektronikku yang lowbatt setelah kugunakan dalam menjelajah Mumbai.

Panggilan informasi bandara yang tidak sama sekali berlogat Indian English membuat Aku merasa berada di bandara-bandara Eropa (Ngaco….padahal belum pernah menginjakkan kaki di Eropa). Iya keren lho….panggilan informasi di airport ini beraksen native english.

Seneng banget melihat pesawatku merapat ke gate 85D, pertanda Aku akan segera menginjakkan kaki di Colombo.

Pesawatku baru sampai dan sedang proses unloading

1 jam kemudian boarding process pun dimulai…..

melalui aviobridge akhirnya Aku menangkap penerbangan ketigaku bersama Jet Airways.

Online check-in yang kulakukan 24 jam sebelum penerbangan membuatku leluasa memilih window seat. Posisi ini yang memang selalu kuincar setiap terbang untuk bisa mendokumentasikan setiap momen selama pernerbangan berlangsung.

boarding process sebelum Aku benar-benar terlelap tidur.

Mencoba menahan mata dengan mambaca “Jet Wings” berharap para awak kabin segera membagikan in-fligt meal.

inilah infligt magazine nya Jet Airways.

Bahkan hingga Aku terlelap menu itu tak pernah datang. Ternyata memang tak ada makanan dalam penerbangan kali ini. Atau entah Aku melewatkannya. Karena Aku benar-benar terlelap sangat nyenyak. Akibat kurang tidur selama eksplorasi Mumbai.

Dibangunkan oleh pramugari untuk segera menegakkan tempat duduk, menandakan Aku akan segera mendarat di Colombo.

Dengan cekatan Aku segera men-setting Canon EOS M10 ku dan menyalakannya. Aku akan menangkap beberapa view kota disaat pesawat bersiap touch down di Bandaranaike International Airport.

Aku tertegun dengan deretan cahaya lampu yang terpola lurus dan rapi. Tak salah lagi itu pasti pantai yang akan menjadi destinasiku di Colombo.

View sepanjang pantai Galle Face yang sangat terkenal itu.

10 menit kemudian Jet Airways benar-benar mendarat di Colombo. Aduh…ga sabar untuk segera turun.

Bandaranaike International Airport terlihat dari jendela pesawat.

Kedatanganku pada pukul 04:35 dini hari, membuatku harus menunggu hingga pagi untuk menangkap airport bus pertama yang akan menuju pusat kota Colombo.

Jet Airways sedang unloading process di Bandaranaike International Airport

Subha udesenak!Pearl of the Indian Ocean“….sambutlah diriku dengan ramah ya….hehehe.

Tourist Attraction in Ipoh, Malaysia

Ipoh….Capital City of Perak State is located 200 km north of Kuala Lumpur. The city that have a nicknamed as Bougenville City isn’t as busy as Penang or even Kuala Lumpur, but believes in me that this city will give a different side of exoticism because the location of this city is fortified with beautiful hills.

The time was 16:17. So after checking in and putting my backpack at Abby by the River Hotel, I decided to spend my first day in Ipoh by visiting the downtown.

Abby by the River Hotel where I stayed during visiting Ipoh

Abby by the River Hotel is quite good in providing tourism information with a special spot in the lobby corner which provides many Ipoh tourism leaflets. After 15 minutes of reading the information, I concluded that the selling point in the downtown is an Old Town landmark which is a relic of British colonialism on 19th century.

Didn’t need long time to thinking, I immediately left the hotel to go to downtown. Along Sultan Iskandar street which is the protocol street in Ipoh, immediately the frenzied in my mind was vanished without traces. Don’t compare Ipoh with Jakarta (capital city of Indonesia), because this city is different than metropolis like Jakarta. You will feel as the owner of this city because of its silence.

Kinta River splits beautifully on Sultan Iskandar street

1. Hugh Low Bridge.

This bridge was built to connect Sultan Iskandar street which crosses Kinta River.

Drizzle makes me colder to enjoy Kinta river from this bridge

Stopping for a moment on the bridge, I observed activities of some Ipoh residents who were fishing in several spots of Kinta River

2. Ipoh River Front Park

When I crossed Kinta River, I was immediately found a vast city park. It is famous park which has a name as Ipoh River Front Park.

This vast city park has a pool, a fountain and food stalls inside. Being a comfortable place for refreshing.

250 m walked down along Sultan Iskandar street, then I turned right and continued walking along shopping complex on Bijeh Timah street.

Meeting European tourist spouse and Malaysian tourist family didn’t made me feel alone in this city. My hunger became more and more at the end of this street because of this line of food stalls:

This is one of three street food stalls that I met that afternoon

Didn’t want to lose a lot of time for just eat here, I prefer decided to chew my biscuits which I bought on Penang Sentral that afternoon while continuing to walk down the beauty of Ipoh.

3. Ipoh Mural Art

Then….turned left at the end of Bijeh Timah street, I found some mural paintings like the famous ones in Penang.

You must be observant and patient in looking for these mural because some of their locations are hidden. That afternoon I played hide and seek with Ipoh City to find its beauty.

4. HSBC Bank Building

The sun at the dusk on that time made every scene that I saw was very special. also this HSBC Bank Building. The building that built on 1931 is part of Ipoh Heritage Trail

5. Padang Ipoh

Historically, This field was used as a place for the royal officials of Ipoh to honor the Kingdom of Japan during its time.

Here, I finally found residents of Ipoh who doing their activities. From teenagers who play soccer until small families who bring their children to just play and eat together in this field.

6. Ipoh Tourist Information Centre

Hiddenly located at the end of a dead-end street (Bandar street), I insisted on visiting it to get as much information as possible to explore Ipoh next day.

7. Ipoh Town Hall

This building which built on 1916 was originally main administrative office of Ipoh. But now, it’s been used for space functions such as weddings and general events.

8. Cenotaph War Memorial

Used to commemorate them who were killed and injured in the state war and its use was inaugurated in 1927.

9. Perak State’s Police Headquarters

This is Headquarters of Perak Royal Malaysia Police. I actually didn’t dare to take photo of this building. But, because my camera shooting habbit was over finally I captured this building as fast as possible.

10. Sultan Idris Shah II Mosque

I closed my steps that afternoon by praying maghrib at Perak State’s mosque. The resident friendliness was felt when I pray. Warm smile that accompanied their handshake made me feel like I was in my own country.

Malaysia has indeed became my second home because of its cultural resemblance.

It was time to leave downtown and got close to hotel because the situation is very quiet on that night.

Do you dare to walk alone in silence night of Ipoh ?.…pounding but easy-cool.… try it !

The silence of Ipoh made me a little struggling in finding dinner. Although I finally found a bowl of Curry Noodle for USD 1 at Daud Mat Jasak Noodle Stall where was located on Dato Onn Jaafar street in “Kampung Jawa” area.

After satisfied, I immediately decided to back into hotel to take a warm bath and rest. Get ready to explore Ipoh tomorrow.

This is a room for USD 5/ night where I rest

Bus INTRA dari Pematang Siantar ke Pekanbaru

Perjalanan meninggalkan Danau Toba menggunakan taxi (di Jakarta mungkin disebutnya omprengan…menggunakan mobil Avanza untuk mengangkut penumpang) seharga Rp. 40.000 dengan waktu tempuh 1 jam 50 menit akhirnya mengantarkanku untuk mengoleksi kota baru…..yes, Pematang Siantar. Kota yang tak pernah terpikirkan untuk ku kunjungi.

Taxi menurunkanku di daerah Parluasan, daerah yang konon terkenal sebagai produsen preman di Indonesia. Ngeri-ngeri sedap, tapi buatku ini adalah pengalaman mental yang luar biasa.

Si sopir mengantarkanku tepat di seberang kantor bus INTRA di bilangan jalan Sisingamangaraja. Satu armada INTRA yang sedang terparkir untuk menaikkan penumpang memudahkanku untuk memastikan bahwa Aku tak salah tujuan.

nih kantor INTRA

Bergegaslah kaki menuju loket penjualan tiket untuk membayar pesanan tanpa notifikasi lewat telpon sehari sebelumnya. Khawatir pesananku tak tercatat dan bisa-bisa Aku melewatkan Pekanbaru di keesokan harinya.

Belilah tiket disini….lebih baik pesan minimal sehari sebelumya

Bersyukur namaku ada disana dan kuserahkan Rp. 235.000 untuk bertukar dengan selembar tiket menuju Pekanbaru…..Yes, welcome Pekanbaru.

Duduk di ruang tunggu, tatapku terus tertuju pada jam tangan dan halaman kantor bus INTRA….Tak pernah melihat kapan Dia tiba, dari ujung halaman sebelah kanan Dia berteriak memanggilku. Senangnya hati, bertemu teman lama.

Namanya Andy Erwin, Kita bertemu diatas bus Hop On Hop Off di Kuala Lumpur pada 2013 lalu. Semenjak itu Kita berteman dan tak kusangka Aku bisa mampir ke rumahnya kali ini….kejutan kesekian dalam perjalananku.

Ruang tunggu di kantor bus INTRA Parluasan

Menunggu empat jam bukanlah hal yang menyenangkan, alangkah baiknya Aku berkeliling kota. Kebetulan ada Bang Erwin yang dengan motornya siap mengantarkanku berkeliling. Aku tak akan membahas apa yang kudapatkan selama 4 jam di kota itu, lebih baik kuceritakan di artikel lain saja.

Sekembali berpetualang di kota yang terkenal dengan “bentor veteran perang”nya ini, Aku kembali ke pool bus INTRA untuk segera berangkat menuju Pekanbaru. Thanks bang Erwin atas 4 jam waktunya mengantarkanku mengenal sejenak Pematang Siantar.

Perlahan aku mulai menaiki Bus INTRA. Sudah tertanam di mindsetku bahwa Aku harus bersiap naik roller coaster darat ini semalaman. Banyak info yang kudapatkan di dunia maya bahwa kotak berjalan ini akan melaju kencang membelah jalanan menuju Riau. Memang begitu adanya para sopir di Sumatera sangat terkenal dengan adrenalinnya yang tinggi dalam mengemudikan kendaraan. Nanti juga akan kuceritakan bagaimana ketika Aku tak bisa tidur ketika menaiki travel ANNANTA dari Pekanbaru ke Bukittinggi yang sama gilanya dalam hal kecepatan.

Kursi empuk itulah yang akan kududuki selama 14 jam untuk menempuh jarak sejauh 600 km menuju Pekanbaru.

Kubilang Bus ini sangat nyaman, senyaman bus-bus Jakarta-Solo yang sering kunaiki ketika mudik ke kampung halaman…..Nah Kamu baru tahu kan asalku dari Solo…..Solo coret…melipir dikit….SRAGENtina.

Akan menjadi perfect apabila stop kontak yang ada dibawah kakiku itu berfungsi karena Aku bisa saja menulis atau sekedar mencharge kameraku yang sudah sekarat baterainya. Ternyata stop kontak di semua bangku memang tidaklah berfungsi.

Tentu Aku tak bisa menikmati pemandangan malam di luar sana karena kondisi benar-benar gulita. Aku hanya bisa menikmati kecepatan bus melahap setiap kendaraan didepannya untuk didahului. Luar biasa si Sopir ini.

Keesokan harinya baru Aku bisa melihat gambaran sesungguhnya dari potret pinggiran Lintas Sumetera.


Kebun-kebun milik warga

Atau geliat ekonomi yang terlihat dari penampakan ruko-ruko ini.

Hanya 1 atau 2 kemacetan yang kutemui sepanjang perjalanan karena sedang ada renovasi jalan, jadi kendaraan harus bergantian dengan sisi yang lain untuk melewati separuh badan jalan.

Memasuki Kota Pekanbaru, Bus mulai melambat karena lalu lintas perkotaan tentu akan lebih padat.

Bukan sebuah terminal seperti yang Aku bayangkan dimana Aku akan diturunkan. Melainkan hanya sebuah bangunan non-permanen inilah yang menjadi tujuan akhir si INTRA:


Sebuah rumah makan dengan sederet toilet bersih.

Selesai bersih-bersih dan keluar bangunan itu, Aku diserbu para pengojek atau taxi-er untuk menuju ke pusat kota. Tapi untuk menghindari mahalnya harga, Aku lebih memilih menggunakan jasa transpotasi online untuk menuju ke Hotel.

Kutaruh backpack-ku dan mulai kueksplore “Kota Madani” itu.

Liebster Award

Thank you to Alessia, a lovely and skillfull blogger from Italia who nominee me Liebster Award, It is the fifth award on my blogging journey.

Dear readers, you can know Alessia more closely by reading her blog in this link:

https://piattoranocchio.com/

through her blog, you will always feel hungry because of her greatness of cooking food. In each of her articles, you will also find her life philosophy. A blend of life philosophy and great food recipes will amaze you in every part of her blog.

The Liebster Award is an award that exists only on the internet and is given to bloggers by other bloggers. The earliest case of the award goes as far back as 2011. Liebster in German means sweetest, kindest, nicest, dearest, beloved, lovely, kind, pleasant, valued, cute, endearing, and welcome.

Rules for The Liebster Award:

  1. Thank the person who nominated you, and post a link to their blog on your blog. Try to include a little promotion for the person who nominated you.
  2. Display the award on your blog.
  3. List these rules in your post.
  4. Provide 10 random facts about yourself.
  5. Answer all question from person who nominated you
  6. Nominate 5 – 11 blogs that you feel deserve the award.
  7. Select 11 questions for the individuals/blogs you nominated.
  8. Inform the people/blogs that you selected of their nomination for the Liebster award and provide a link for them to your post

Ten things about me:

  1. I like to sell goods and services
  2. I am a soldier son
  3. My traveling hobby started in 2011
  4. I am a hard worker
  5. I am a detail person
  6. I am a marine science graduate
  7. I am good at finding friends
  8. I am a good walker when traveling
  9. I don’t like to work indoors
  10. I like indie musics

My Answer to Alessia questions:

  1. If you have to be turned into an animal, what will you do and why?

I want to be an eagle, because I want to travel the world with my own wings.

 2) Is there something in your life that you will never separate?

I willn’t separate with my vision. Helping poor people to achieve their dreams in education and welfare

 3) In virtual world (internet), everyone who you know never really seen. What feelings do you rely on to give them confidence and friendship?

I believe that every human have a good side. They also need friends to share and know about different cultures in each country. So friendship in virtual (internet) will be very important.

4) What are you really rich in?

I am rich in exploring experience and I am also a person who is rich in patience and tenacity

 5) What is the first thing that you pack when starting a trip?

Camera, It is very reliable for me to recount every my trip to others

6) If you go abroad for a long time, what’s the first thing that you hide in home?

laptop or computer. All my data in laptop/computer is very important for my survival in career and life.

7) What do you like if you can live 1000 years or if you be a “Highlander?”

I will have much time to travel around the world and help more poor people

 8) Do you always make plans and do it by yourself?

I am a good planner. Only with a good plan, all goals in my life will be achieved

9) When you open the door with your key in the night, what is the first thing that comes to your mind?

Is there anything that I haven’t done all day?

10) Do you believe to something superior whatever your religion?

Yes, I believe that God is the regulator of everything

The Nominee for Liebster Award are:

http://www.tripbytrip.org/

http://www.veronicaiovino.com/

http://www.robinioblog.wordpress.com/

http://littlewhitepearls.com/

http://www.josephkravis.com/

http://www.sengonleave.wordpress.com/

http://ninanoer.wordpress.com/

http://www.backpikir.com/

http://doritesinedorite.com/

http://jenarilk.wordpress.com/

http://dsphotographyda.com/

My Questions to all nominee:

  1. What tourist attraction do you like in your country?
  2. What education level that makes many special memories in your life (Elementary School, Secondary School or College)? Why?
  3. What do you often think before going to bed every night?
  4. If you are one of “Avenger”, which character do you want to be? Why?
  5. What do you like most in your life?
  6. If you have a lot of money, what will you buy for the first time?
  7. Which country do you most dream to visit? Why?
  8. What important thing do you want to give to your spouse that you haven’t been able to give it to her/him at this time?
  9. What will you do first when you become a president?
  10. What social activities do you often do?
  11. If you are allowed to choose again, what profession do you choose?

Mengunjungi Biara Fo Guang Shan, Kaohsiung

Tepat pukul 8:27 pagi itu, Aku sudah bersiap diri untuk mengekplore Kaohsiung lebih dalam. Sekerat toast, sebuah pisang dan teh manis hangat menjadi sarapan gratis yang disediakan hostel pagi itu.


serasa seperti di rumah

Rupanya Vietnamese dan Indo-American backpacker itu masih terlelap di bersih dan empuknya kasur Paper Plane Hostel. Mereka tentu menikmati jalan-jalan dengan cara yang berbeda denganku. Terlihat mereka lebih santai daripada Aku yang selalu lincah kesana kemari berkejaran dengan waktu. Kondisiku dompetku lah yang mengharuskanku untuk mengunjungi berbagai destinasi dalam waktu liburan yang lebih pendek.

Ya, Aku hanya semalam meniduri hostel keren ini karena pagi harinya Aku akan check-out dan menitipkan backpack di resepsionis. Aku akan mengambilnya setelah menyelesaikan misi di hari terakhirku.

MRT perlahan menjauh dari Houyi Station dan menghantarkanku ke Kaohsiung Main Station.

Mataku segera menyadari akan keberadaan terminal bus di dekat stasiun ini.

Yess….Aku memang sedang berburu bus menuju ke biara Buddha terbesar di Taiwan yaitu Fo Guang Shan.

Apa sih Fo Guang Shan?…..

Referensi yang kudapatkan adalah sebuah ordo dalam Buddhisme yang sangat terkenal dalam upayanya memodernisasi Buddhisme di Tiongkok. Oleh karena ordo ini sangat melek teknologi….Begitulah kira-kira.

Celingukan tak pernah menemui bus bernomor 8010 atau 8011, akhirnya Aku bertanya pada seorang yang kufikir dia adalah seorang bus timer.

terminal bus di dekat Kaohsing Main Station

Mungkin karena sering ditanya turis, tak butuh waktu lama baginya untuk memahami pertanyaanku. Dan Aku diminta menunggu bus di ujung terminal.

Bus datang juga akhirnya….menaikinya dari pintu depan Aku menanyakan ke sang sopir apakah benar bus menuju ke sana. Setelah mengiyakan maka Aku segera membayar TWD 80 (sekitar Rp. 30.000) dan dia menukarnya dengan sebuah tiket.

Perjalanan pun dimulai:


keceriaan hari itu dimulai dengan pinky interior.

Perjalanan 35 km dengan 45 menit waktu tempuh tak mampu membuat mataku terpejam melawan keasyikanku mengamati pesona jalanan Kaohsiung. Mengamati aktivitas masyarakat dan melewati berbagai landmark membuatku tertegun sepanjang perjalanan.


bagian paling depan sebelum masuk

Akhirnya Aku tiba….

Tak dipungut biaya untuk memasuki biara Buddha ini. Melewati lobby depan, Aku menemukan beberapa pertokoan yang menjual perhiasan dan  souvenir serta beberapa coffee shop (Starbuck salah satunya).

Aku tak tertarik dengan area ini karena memang tak membawa budget yang memadai…Segera keluar dan Aku menemukan pemandangan yang luar biasa:

Ukuran plaza biara yang sangat luas dan menjadi sasaran kamera siapapun yang mengunjungi tempat ini.

Mendekatlah ke patung Buddha itu ! ….pasti Kamu akan lebih terkesan:

Dibawah patung Buddha itulah terletak Museum Buddha dan terdapat beberapa ruang peribadatan untuk para pengunjung.

Aku pun sempat dipersilahkan memasuki ruangan peribadatan untuk sekedar melihat bagaimana prosesi peribadatan kaum Buddha disana.

1,5 jam menjadi waktu yang sangat berharga karena bisa berkunjung ke tempat ini.

Aku menutup kelaparanku dengan menyantap seporsi dinsum. Aku mendapatkannya dari sebuah kantin yang terletak di parkiran kendaraan  yang terletak di bagian paling depan biara.

Btw, masih jam 13:15…..masih ada waktu banyak nih….Kemana ya enaknya?.