Savory and Soft Serabi Notosuman

Enjoying local culinary delights is always an interesting thing for travelers. This type of culinary is a special attraction because it reflects culinary treasures of region in question. This time I would taste one more typical Solo culinary after I’ve tasted five of them.

That morning, I decided to leave Alun-Alun Kidul (South Square of Surakarta Hadiningrat Palace) early because the sun had shone on that open area. After taking shelter for a while under Waringin Kurung Sakembaran*1, I immediately ordered an online taxi service to Jayengan area.

Shortly after executing the order, a black Toyota Avanza came to pick me up. Taxi driver was very easy to recognize me after I had given my characteristics in detail starting from the color of my clothes, bag and shoes which I was wearing. I opened the front left door and buried myself in the seat.

Serabi*2 Notosuman, Sir!”, I confirmed the destination.

“Ok, Sir”.

The online taxi drove to east, tracing morning streets of Solo City. It was a national holiday, Islamic New Year, and streets were deserted. I arrived in ten minutes and entered parking area. The first glance was a large green nameboard with words “Serabi Notosuman”, this was the famous Solo City snack. I should try it or at least bought it as a souvenir.

Parking area.
Production area.

In a corner, six production employees were busy working on making serabi. Those employees deftly handled more than a hundred mini serabi pans, carried large basin of dough from the kitchen, greased each pan with oil using a round brush, poured the dough with a distinctive hand shake to form a thin layer over the puddle of dough, then covering the pan for three minutes to produce a cooked serabi. Hot serabi were started to be lifted one by one using a small taper and then were cooled on top of tampah*3, then were wrapped in banana leaves to be ready to sell to buyers. Indeed, the serabi which sold in this outlet were fresh serabi because they were directly taken from the stove.

I entered the inner room, it turned out that this outlet didn’t only provide serabi. But it also provided some other traditional culinaries such as intip, jenang, lanting, jipang*4 and others.

Selling room.

Serabi Notosuman itself was almost a century old, had a distinctive and savory taste of coconut milk. That morning, I chose to order two kinds of serabi, plain serabi and chocolate ones at a price of IDR. 2,000 per piece to bring as a souvenir.

Located on Mohammad Yamin Street, this outlet operated from 06:00 to 17:00. This culinary based on rice flour and coconut milk had two outlets with different owners, namely Serabi Notosuman Ny. Handayani, which was characterized by its orange color packaging and Serabi Notosuman Ny. Lidia with green color packaging.

So, take your time to stop by at Serabi Notosuman when traveling to Solo.

Note:

Waringin Kurung Sakembaran*1: The twin banyan tree is full of magic in the middle of royal’ south square

Serabi*2, one of the most common snacks in the market when visiting Java

tampah*3 is tray which is made from woven bamboo

intip, jenang, lanting, jipang*4 are typical Javanese snacks

Agosto Inn: Mencari Penginapan Dadakan

<—-Kisah Sebelumnya

Sebentar lagi pukul dua siang, kondisi awan semakin tebal di atas sana, aku pun telah merangsek turun dari kuil utama Batu Caves, menuruni 272 anak tangga dan kemudian bergegas menuju Stasiun Batu Caves.

Sesampai di stasiun aku langsung membeli tiket Kereta Komuter KTM Laluan Seremban seharga 2 Ringgit (Rp. 6.800) demi menuju KL Sentral. Sepanjang perjalanan pulang-pergi, aku tak tahu kenapa jalur ini selalu sunyi. Gerbong kereta yang masih tampak bersih dan baru, stasiun-stasiun yang dilewati pun masih terlihat bagus.  

Menempuh jalur kereta sejauh 16 kilometer, aku tiba di Lantai 1 KL Sentral’s Transit Concourse hanya dalam waktu setengah jam. Aku segera menaiki escalator menuju KL Sentral’s Main Concourse untuk berburu token menuju Stasiun Pasar Seni, kali ini aku harus menaiki LRT Laluan Kelana Jaya. Perlu mengeluarkan ongkos sebesar 1,3 Ringgit (Rp. 4.500) untuk mendapatkan akses menaiki LRT itu. Inilah pertama kalinya bagiku menggunakan ticket vending machine di Negeri Jiran itu. Tetapi kali ini tak butuh banyak waktu untuk memahaminya.

Geblek….Sandal….

Mendapatkan tiket berwujud token berwarna biru, aku segera melewati automatic fare collection gate menuju lantai dua untuk menaiki LRT Kelana Jaya. Hanya perlu menunggu tiga menit hingga kereta itu tiba lalu aku segera melompat ke dalam gerbongnya.

Tak berjeda satu stasiun pun untuk menuju Stasiun Pasar Seni. Aku tiba dalam sepuluh menit sejak memasuki LRT empat gerbong itu. Stasiun Pasar Seni yang berwujud stasiun layang itu menampilkan pemandangan kawasan Central Market beserta  aliran Sungai Kelang yang mengalir deras karena hujan. Rupanya sungai-sungai di Kuala Lumpur juga belum sepenuhnya lepas dari masalah sampah, terlihat beberapa sampah hanyut dibawa arus sungai itu.

Hujan lebat membuatku harus berdiam beberapa saat di platform Stasiun Pasar Seni. Tak ada pilihan karena aku tak memiliki payung ataupun jas hujan. Aku baru tiba di Kuala Lumpur pagi tadi sebelum memutuskan mengeksplorasi Batu Caves terlebih dahulu sebelum memasuki pusat kota. Kini aku memiliki satu tujuan ketika memasuki daerah Pasar Seni….Yups, mencari penginapan.

Kala itu aku masihlah backpacker amatiran yang tak berhasil menyiapkan satu penginapan sebelum berangkat. Beruntung aku tak ditanya perihal hotel oleh petugas imigrasi, mengingat inilah pertama kalinya aku mengunjungi Kuala Lumpur. Tadi pagi, petugas imigrasi KLIA2 hanya menanyakan tiket kepulangan yang tentu sudah kusiapkan jauh hari.

Menunggu beberapa saat, hujan tak kundung reda, masih menyisakan gerimis lembut. Kiranya aku tak boleh kehilangan banyak waktu hanya untuk menunggu hujan reda. Kupaksakan diri menembus gerimis, menyusuri Jalan Sultan, melewati lokasi proyek pembuatan jalur MRT di sisi kanan dan berbelok ke kiri untuk menyisir Jalan Tun HS Lee untuk mencari penginapan. Setelah beberapa waktu mencari, aku tertarik pada logo Trip Advisor yang terpajang di sebuah pintu kaca penginapan kecil. Agosto Inn namanya. Maka, aku tak ragu memasukinya.

Halo, Pak. Apakah Anda masih memiliki satu kamar untuk dua malam?”, aku bertanya dalam Bahasa Indonesia yang seharusnya dia faham.

Can you speak English, Please?”, resepsionis sekaligus pemilik penginapan itu ternyata tak bisa berbahasa Melayu.

Oh, sorry. Do you still have a room for two nights?”, aku menjelaskan pertanyaan yang sama.

Oh, of course. But I don’t have a bed in the dorm. Would you like to use a single room?”.

Can I see the room?”.

Oh, sure….Follow me, Sir!”, dia beranjak dari meja resepsionis dan memimpin langkah menuju lantai atas.

Aku mengikutinya menuju ke ujung koridor untuk melihat kamar terakhir yang dimaksud. Kemudian bersambung menunjukkan kamar mandi bersama di ujung yang berlawanan.

Hallo, Sir”, seorang staff yang sedang membersihkan kamar mandi bersama menyapaku. Nanti aku akan mengenalnya sebagai sosok asal Bangladesh yang ramah.

Hi…”, aku membalas senyumnya.

Aku tak akan berfikir panjang dan memutuskan mengambil kamar itu. Hari sudah sore, tak ada waktu lagi untuk mencari penginapan. Aku harus segera menuju KLCC untuk mengunjungi menara kembar kenamaan Negeri Jiran.

Yes, Sir….I’ll take your last room….How much?”, aku mengambil keputusan.

Sixty Ringgit, Sir (Rp. 208.000) for two nights….Come on follow me, I’ll give you the room key”.

Kamar single milik Agosto Inn.

Transaksi itu selesai di meja resepsionis. Aku bernafas lega, karena telah menemukan penginapan untuk dua malam ke depan.

Saatnya berburu destinasi.

Dōtonbori Canal: Hitung Mundur Tahun Baru yang Gagal

Hi Sir, have fun and enjoy the New Year’s Eve”, resepsionis ramah berkacamata itu berhasil menebak niatku ketika hendak meninggalkan lobby Hotel Kaga.

Hi, you know that….Hahaha….You too, Sir. See you”, aku berseloroh ringan.

See you, Sir”, resepsionis itu masih saja melempar senyum.

Aku mulai melangkah di jalanan dengan suhu sekitar mendekati nol derajat Celcius. Muka terasa beku demi mengikuti ayunan langkah menuju Stasiun Dobutsuen-mae. Untuk ketiga kalinya aku melewati Saka-suji Avenue.

Malam ini akan banyak orang mabuk di jalanan”, batinku mengingatkan logika untuk terus berhati-hati walaupun Jepang tergolong negara yang aman.

Enjoy Eco Cardku masih ampuh hingga malam itu untuk menelusuri lorong-lorong bawah tanah Kota Osaka. Kini aku sudah melaju bersama gerbong Osaka Metro Midosuji Line menuju Stasiun Namba. Aku sengaja menaruh Dōtonbori Canal sebagai destinasi terakhirku di Kota Osaka dan aku dengan cerdik menempatkannya di saat perayaan malam tahun baru.

Pasti disana bakal meriah”, batinku girang.

Gerbong kereta yang kunaiki tampak penuh. Sebagian diantaranya bukanlah wajah-wajah Jepang. Pasti mereka adalah para pelancong yang berniat sama denganku, menikmati malam pergantian tahun. Perjalananku menuju Stasiun Namba berlangsung sangat cepat karena dari Stasiun Dobutsuen-mae tak berselang satu stasiun pun menujunya. Aku tiba dalam sepuluh menit.

Keluar dari gerbang Stasiun Namba, aku berjalan kaki menelusuri Mido-suji Avenue. Terus mengarah ke utara. Perkiraanku hanya butuh waktu sepuluh menit untuk mencapai Dōtonbori Canal. Tetapi sudah dua puluh menit aku tak kunjung sampai.

Wah….Pasti aku nyasar”, mukaku mulai kecut.

Aku memberanikan diri bertanya kepada seorang polisi lalu lintas yang tampak sedang berjaga di salah satu sisi trotoar.

Sir, do you know where is this place?”, aku membuka gawai dan menunjukkan sebuah papan neon Glico bergambar lelaki berlari yang terkenal itu.

Dia tersenyum ramah dan mengangguk-angguk sambil berseloroh bersemangat “Oh…Thele….Thele”.

Thank you very much, Sir”, aku melambaikan tangan sembari melangkah meninggalkannya.

You ale welcome”, polisi itu kembali memperhatikan sekitar.

Sepuluh menit menelusuri balik jalur yang telah kutempuh tadi, aku melihat beberapa rombongan turis Eropa menuju ke salah satu arah. Aku yakin itulah tempat yang kutuju. Aku mengekor rombongan turis itu. Benar adanya, mereka juga menuju Dōtonbori Canal.

Aku di Dōtonbori Canal.
Papan neon Glico bergambar lelaki berlari.
Tengara terkenal di Osaka.

Dōtonbori Canal pukul sepuluh malam telah meriah. Badan kanal dipenuhi para turis, sementara restoran dan bar tampak penuh. Turis berduit tentu lebih memilih menunggu malam pergantian tahun dari restoran dan bar yang menawarkan udara hangat. Tetapi aku memutuskan menunggunya di tepian kanal, berkeliling kesana kemari, berusaha menikmati suasana walaupun terdistraksi dengan udara beku Osaka.

Satu jam berlalu ketika aku menyusuri setiap sisi di tepian kanal, kemudian aku berdiri mengambil tempat di bawah jembatan, bermaksud menemukan udara hangat . Tapi percuma, udara sudah turun di bawah nol derajat Celcius. Ketika aku tak sanggup menghadapi udara beku itu, aku bergegas menuju ke kedai penjual Takoyaki. Aku sengaja mengantri , menunggu pesanan, dan memakannya berlama-lama di depan kedai itu untuk mendapatkan paparan hawa hangat yang tersembur dari tungku kedai.

Nempel-nempel kompor mencari kehangatan.

Hampir setengah jam aku memanfaatkan situasi itu untuk memanipulasi suhu dingin. Hingga akhirnya aku mengusir diri karena antrian pembeli mulai ramai. Aku kembali ke kanal setengah jam sebelum hitung mundur tahun baru.

Ketika berjibaku kembali melawan dingin pada sebuah sisi kanal, aku mendengar sayup bahasa dan logat yang sangat kukenal.

Ngenteni kene wae cah, ra sah adoh adoh”, seloroh itu samar terdengar.

Aku menoleh ke belakang, empat pria dan dua diantaranya berambut gondrong sedang duduk di sisi kanal, memegang sebotol besar minuman beralkohol. Itu memang cara efektif melawan dingin. Aku jadi teringat dengan minuman beralkohol yang kumiliki karena salah beli di Narita International Airpot sehari lalu. Tapi aku belum menyerah, aku tak akan menenggaknya.

Aku terus menahan dingin yang semakin menjadi. Kedua tanganku mulai kebas. Tapi aku berusaha tetap tenang. Hingga akhirnya lima menit sebelum countdown tiba. Para turis mulai tumpah ruah ke sepanjang sisi kanal, restoran dan bar ditinggalkan. Semua berharap akan ada pertunjukan kembang api yang elegan. Hingga saatnya tiba, hitungan itu benar-benar dimulai.

Tennnn….Nineeee….Eightttt….”, hitungan semakin kencang

Threeee…..Twoooo….Oneeee…..Happyyyy Newwww Yeearrrr”, tapi semua sontak terdiam dalam tiga detik.

Suasana Dotonbori Canal tetap lengang, tak ada yang istimewa. Hingga lima belas menit kemudian tetap sama, lengang.

Ah, gagal total”, aku mulai kesal.

Turis lain pun mulai mengeluh.  Tak akan ada pertunjukan kembang api. Hingga akhirnya sepuluh pemuda Jepang berinisiatif mengakuisisi suasana dengan menaiki pagar jembatan. Mereka melepas pakaian dan menyisakan celana dalam dalam kondisi suhu yang sangat dingin.  Kemudian salah satu mereka mulai berteriak.

Threeee….Twoooo….Oneeee”, sambil melompat meliuk bak atlet lompat indah dengan kepala menghujam ke air terlebih dahulu.

Byurrrr….

Kemudian tingkah yang sama mulai dilakukan oleh temannya yang sudah bersiap dan berdiri di atas pagar jembatan. Berhitung dalam tiga hitungan mundur, meluncurlah dia ke dalam air. Dan pertunjukan itu terhenti hingga orang ke sepuluh. Setidaknya apa yang mereka lakukan bisa mengobati rasa kecewa seluruh pengunjung Dōtonbori Canal.

Pertunjukan loncat indah telah usai.

Menjelang pukul satu dini hari. Udara yang awalnya terasa lebih hangat karena kerumunan ratusan pengunjung akhirnya lindap. Suhu mendingin kembali dengan cepat karena para pengunjung mulai meninggalkan Dōtonbori Canal. Aku mulai pergi dari tempat itu menuju Stasiun Namba.

Beberapa menit kemudian, Osaka Metro mengantarkanku kembali ke Stasiun Dobutsuen-mae. Beruntung sekali Enjoy Eco Cardku (One Day Pass) masih berlaku walau sudah melewati batas masa pakai yaitu pukul 00:00. Mungkin ini menjadi bonus dari Osaka Metro untuk perayaan tahun baru.

Sampai Stasiun Dobutsuen-mae, lalu aku meninggalkannya dengan langkah cepat. Saka-suji Avenue sudah lengang, bahkan perjalananku diwarnai dengan insiden pengemudi mabuk yang menghentikan mobilnya di tengah jalanan hingga beberapa orang berusaha mendorongnya ke tepian. Di sebuah persimpangan aku berbelok bersamaan dengan selorohan “Helloooo….Happyyyy Newwww Yearrrr, Sirrrr”, orang itu mengendarai sepeda dengan tangan kanan menggenggam sebotol minuman beralkohol.

Happy New Year, Sir”, aku membalasnya untuk menunjukkan keramahan.

Hingga akhirnya langkahku tiba di Hotel Kaga. Aku merasa lega karena aku pulang dengan selamat tanpa kurang satu apapun. Resepsionis itu masih saja setia dengan tugasnya, menunggui mejanya dengan disiplin.

Are you happy, Sir?….Good luck for you in the new year”, dia tersenyum menyambutku.

Sure, Sir…I hope so for you”, aku membalasnya. “It’s time to sleep”.

Yeaa….Heve a good sleep, Sir

Aku meninggalkannya menuju ke lift, lift itu mengantarkanku hingga ke lantai tiga. Aku gontai melangkah menuju kamar. Memasuki kamar, melepas sepatu boots, menarik kasur lipat, dan tanpa mandi, aku langsung menghempaskan badan dan dengan cepat aku terlelap.

Sementara botol minuman beralkohol yang telah tertenggak satu teguk secara tak sengaja dua hari lalu itu berdiri anggun di meja kecil kamar. Yess, aku tak menyentuhnya saat malam tahun baru. Artinya, petualangan botol minuman beralkohol itu tamat dini hari itu. Karena menjelang siang nanti aku akan pergi meninggalkan Osaka dan menuju Busan.

Korea Selatan, Aku datang!

Dari Hotel Sri Indrayani Petualangan Bermula

Aku masih saja tak bergeming dengan tawaran para sopir taksi, sementara para penumpang Bus INTRA yang lain lebih memilih menggunakan jasa taksi menuju tujuan akhirnya di Pekanbaru.

Beberapa waktu kemudian, dari seberang jalan, pengemudi ojek online melambaikan tangan kepadaku. Tentu dia tahu, aku memakai jaket biru dengan backpack berwarna sama. Aku telah mengirimkan deskripsi itu kepadanya lewat pesan dalam aplikasi.

Asli sini, Bang?”, tanyaku di jok belakang,

Bukan, aku asal Padang, Bang. Mas asli Jawa ya? Suaranya medok banget”, jawabnya balik bertanya

Aku mbiyen kuliah ning Jogja, mas. Sampeyan Jowone ngendi?”, belum juga kujawab, sudah bertanya lagi.

Aku asli Solo, Bang. Orang sini baik-baik kan, Bang?”, aku mulai penasaran.

Warga Pekanbaru kebanyakan perantau Padang, Bang. Tenang, abang kemana aja aman”, ucapnya menenangkan.

Dari artikel yang kubaca setelahnya, memang benar 40% warga kota Pekanbaru adalah para perantau asli Minang. Memang hebat orang Minang ini dalam urusan merantau.

Belum juga pukul 10 pagi, aku tiba.

Hotel bintang tiga yang kupesan melalui Airy Rooms tepat sembilan hari sebelum kedatanganku di Pekanbaru ini hanya berharga Rp. 81.000 per malamnya. Murah, kan?

Aku sengaja memilih tinggal di daerah Senapelan hanya untuk menapak tilas kejayaan Kesultanan Siak Sri Indrapura. Melihat aktivitas perekonomian warga kota, mengingat nama Pekanbaru berasal dari kata Pekan Baharu yaitu sebuah pasar yang dirintis oleh Raja Muda Tengku Muhammad Ali, Sultan Siak ke-5. Boleh dikatakan bahwa daerah Senapelan adalah cikal bakal terbentuknya Kota Pekanbaru yang terlahir sebagai dampak positif berkembangnya ekonomi Kesultanan.

Halaman depan hotel yang berada di tepian Jalan Sam Ratulangi.

Merasa datang terlalu pagi, aku mencoba peruntungan di depan meja resepsionis. Barangkali mereka bisa memasukkanku lebih cepat untuk beristirahat di kamar.

Kamar belum siap, Bang. Abang tunggu aja ya di lobby sampai jam 1”, ungkap pemuda berseragam rapi yang bertugas.

Oh baik, bang. Saya titip backpack saja ya. Saya lebih baik keliling kota dulu, nanti balik lagi pas sudah bisa check-in”, ujarku membalas.

“Oh, boleh bang. Taruh sini saja”, Dia meminta backpack untuk ditaruhnya dibelakang meja.

Bang, ada colokan listrik buat ngecharge HP?”, permintaanku kepadanya

Oh colokan ada di restoran di sebelah kanan lobby. Masuk aja, Bang!”, telunjukknya mengarah pada sebuah pintu.

Meluruskan pinggang sebentar di lobby, aku masih saja menatap bentuk ruang resepsionis yang autentik, kuning emas mendominasi. Tiga atap dengan tiga selembayung di ujungnya. berbentuk tangan menengadah perlambang hubungan erat antara makhluk hidup dan Sang Pencipta.

Selain selembayung, motif layaknya songket khas melayu sangat mempercantik ruangan.

Selepas daya kameraku terisi maka untuk memanfaatkan waktu sembari menunggu waktu check-in, aku mulai menelusuri beberapa jejak Kesultanan Siak yang terepresentasi jelas di sepanjang Sungai Siak, Rumah Singgah Tuan Kadi dan Masjid Raya Nur Alam.

Memasuki twin bed room pada pukul 2 siang.
Kamar hotel yang murah namun mewah bagiku.

Hotel Sri Indrayani awalnya adalah mess yang disewa oleh sebuah maskapai penerbangan untuk para air crewnya sejak 1971. Seiring berkembangnya Pekanbaru, wisma ini menyempurnakan diri dengan bertransformasi menjadi hotel syariah terkemuka di Pekanbaru pada masa perkembangan kota. Letaknya yang berseberangan jalan dengan Kawasan Pecinan juga membuat perkembangan hotel ini berlangsung sangat cepat pada masanya.

Akhirnya menemukan air hangat setelah 38 jam tak mandi.
Taman di belakang hotel berbatasan dengan Jalan Bangka.

Dari hotel Sri Indrayani inilah petualangan mengeksplore Pekanbaru bermula. Saatnya berkeliling kota mengenal Ibukota Provinsi Riau ini.

Soaking “Kebo Bule” in “Alun-Alun Kidul”

<—-Previous Story

My success in enjoying Tahok made my morning worthwhile because I could enjoy again one of many typical Solo City’s culinary. My third day in Batik City continued. The limit was this afternoon when I have to leave Solo City to return to capital city.

Now I was standing back in front of Gede Hardjonagoro Traditional Market’s gate, waiting for an online taxi to came and picked me up. Not long after, a white Toyota Agya stopped its speed right in front of market gate. I walked towards it and the driver seemed to understand that I was the passenger who he would pick up.

Alun-Alun Kidul, Sir“, I confirmed the destination.

It’s quiet in the morning. You should have come there at night, Sir, it will definitely be festive”, online taxi driver provided information.

What festivy is on the night, Sir?

Usually, families will play with their children to try various game rides, and young people will hangout around to enjoying culinary delights, Sir“, he lightly said.

Oh, I see….but I just went there for a survey, Sir, just a moment. The main event is still two months away”.

I see, Sir. It’s okay

Ten minutes later, I arrived at Alun-Alun Kidul (South Square), in Gajahan area. Dropped off at east side of square. My attention was immediately fixed on two large banyan trees in the middle of square. The square still looked very quiet that morning.

OOOngng… .aa… .kkk ……… OOOngng… .aa… .kkk”.

Ah, that’s a buffalo sound“, I thought.

I quickly turned around to voice origin, a little further behind me.

Kebo Bule“, I was shocked.

Kyai Slamet” Buffaloes was othet their nickname.

Five buffalos were seen in an iron cage. That was “Kebo Bule” (“Albino Buffalo”) which was usually paraded at “Malam Satu Suro” (“1st Muharram”) celebration parade around Solo City. It was a routine event which held by Surakarta Hadiningrat Palace to welcoming the arrival of Islamic New Year 1 Muharram.

Illustration of “Malam Satu Suro” celebration (Source: SINDOnews).

I knew that “Kebo Bule” parade had been done overnight when I fell asleep at Amaris Hotel Sriwedari. Even though I had invited Rahadian to watch the celebration. But our bodies were just too tired after doing some survey for fourteen hours yesterday. So we chose to sleep and enjoy hotel facilities.

It seemed that that buffaloes was rested in Alun-Alun Kidul after last night parade, “Kandang Mahesa” is their cage’s name. Very lucky, I could see that buffaloes up close even I could touch their head.

For a long time I watched “Kebo Bule” behavior with several people who deliberately stopped from their vehicle to take a brief look at that sacred buffalo.

In the end, I decided to walk towards the middle of square to feel a magical nuance when I passed that two twin banyan trees. I thought that magical power of that banyan tree was just a myth, but I also didn’t blame it when many people believed in magical power of that trees. People’s beliefs were different each other and couldn’t be enforced.

Waringin Kurung Sakembaran” (the name of that twin banyan tree) which have magical powers in the eyes of Solo City’s people.

Not felt, the sun began to rise and its heat began to pierce into the square. I have to get away from here.

Thai Airways TG 319 from Bangkok (BKK) to Kathmandu (KTM): White Blanket of Himalaya

Thai Airways TG 0319 flight route: Bangkok-Kathmandu.

After Fajr, I rushed to find flight information board to make sure my connecting flight would be on time or maybe it would be delayed. I found it in main transit hall corridor.

My flights was on schedule….Nice.
The boarding pass which I’ve held since leaving Soekarno Hatta International Airport.

As a follower of eating on time, by 06:00 hours, I was busy to looking for halal food. Now only halal which would be the my requirement….Because I couldn’t choose a menu with street food price, of course. Exploring 3rd floor of Suvarnabhumi, I finally stopped at Silom Village.

Couldn’t find a “Halal” logo….Finally, I stopped at a “Non-Pork” restaurant.
My menu: fried rice chicken served with salted egg for THB 220 (USD 7.34)

I closed breakfast that morning by sipping a cup of warm tea which was able to expel the wind in my body after a night of cold sleep in the main corridor of transit hall and continued at prayer room.

Then I headed to gate C10 to wait for Thai Airways TG 319. This time I only needed to step one more floor via escalator to reach the gate.

Corrido into gate.
Those were gates at Suvarnabhumi International Airport.

While waiting for boarding time, it was better to charge my smartphone as the only documentation tool which I carried….As usual, I was the amateur backpacker. I also tried to reread an itinerary which I was ready to use for my exploration in Kathmandu and Pokhara.

Interesting spot in departure hall area.

My boredom in seeing planes in Suvarnabhumi International Airport runway was broken by presence of Thai Airways, BOEING 777-200 type. Paid close attention to loading process so that I didn’t feel boarding time arrived on time.

Thai Airways TG 319 was preparing to immediately fly for 3 hours 33 minutes.

Entering aircraft cabin and in a blink my eyes became fresh. Apart from the beauty of flight attendants, also because airplane seats have colorful seat covers. Plane cabin looked like colorful candy.

TG 0319 cabin.

I sat at right side of cabin and flanked by two young girls. On the right, a Chinese girl who I didn’t know what her name was and a Japanese girl on the left whose her surnamed was Kawaguchi….Very beautiful with her ponytail.

I sat down while feeling a little sorry for being unable to quickly choose an airplane seat after online ordering ticket. This caused my opportunity loss to sit in a ideal position for photographers, i.e window seat. Because this flight would be very close to some of peaks of Himalayas which would show off their snow blankets.

When that moment happened, almost half of passengers stood up and faced to right window. It was the position where I sit. I couldn’t take pictures very well and prefered to still sit and recorded brief flight sessions right over Himalayas in my brain memory. It was still beautiful memorized, until this article was published….Amazing flight.

Started to filling out an immigration form which was given by a cabin crew.

The landing process was equally attractive. The view presented residential building of Kathmandu residents which were dominated by brownish square shape. Now I was ready to set foot in Tribhuvan International Airport which had become a gateway to Nepal for the last few decades.

Aviation security: “Hi, Sir. Please, directly stepping to airport building!”, He said, forbidding me to take a selfie image under Thai Airways.

Me: “OK, Sir….I’m sorry“, I answered with a little annoyed….Hmmh.

The arrival hall which wasn’t too luxurious and was only equipped with an old screening gate, made me smile because I felt like on Indonesia’s 80s era.

Then I submitted a Visa on Arrival application at visa issuing machine and then paid for USD 25 at a counter which was guarded by elderly female staff, I finally entered Nepal.

Let’s following my adventure in Nepal!

Are you looking for a flight ticket from Bangkok to Kathmandu? You can buy it through 12go Asia. This is the link:  https://12go.asia/?z=3283832

Channel No 63 Hotel Kaga

<—-Kisah Sebelumya

Malam nanti adalah malam tahun baru. Ini pertama kalinya aku akan menikmati pergantian tahun di luar negeri, Osaka tepatnya. Tak pelak aku telah meniatkan untuk menikmati bagaimana meriahnya malam Osaka saat New Year’s Eve Countdown.

Tapi ini baru pukul 17:00 ketika aku menyudahi menu makan siang yang sangat terlambat.  Aku meninggalkan restoran rumahan yang berdiri pada sebuah gang di Amerikamura, setelah menikmati sajian chicken ramennya.

Kini aku punya satu niatan yang harus kutunaikan….Yupz, TIDUR.

Aku tak bisa menyembunyikan lunglai badan setelah semalaman hanya tertidur di Kansai International Airport selama empat jam. Aku sendiri tak mau menghadiri hitung mundur Tahun Baru dalam keadaan tak segar nanti malam.

Sampai jumpa Amerikamura”,  batinku berseloroh ketika menapak keluar dari sebuah gang dan mulai menyisir Mido-suji Avenue menuju Stasiun Shinsaibashi. Hampir setengah enam sore ketika aku mulai menaiki gerbong Osaka Metro menuju Stasiun Dobutsuen-mae melalui Midosuji Line.

Dari Stasiun Dobutsuen-mae, aku melanjutkan dengan berjalan kaki menyusuri Saka-suji Avenue untuk mencapai penginapan. Aku perlahan memasuki daerah Haginochaya dan tak lama kemudian tiba di Hotel Kaga.

Hello, Mr. Donny. So afternoon you arrive”, resepsionis laki-laki berkacamata itu menyapaku ringan lalu berdiri dari kursinya dan sigap mengambil backpack biruku.

Yes, Sir. Osaka is very interesting, so I will regret it if I come back to hotel too early”, aku menangkap backpack yang dia sodorkan.

I think I should sleep to prepare myself for New Year’s Eve tonight”

Yes, that’s a great idea, Sir”.

Aku meminta izin untuk segera memasuki kamar setelah dia memberikan kunci. Aku sudah membayar biaya penginapan tadi pagi saat menitipkan backpack. Kuayunkan langkah dengan cepat mengejar lift yang pintunya sudah terbuka karena ada orang yang menggunakannya, kemudian meluncur ke lantai tiga. Begitu tiba di kamar, aku segera menggantung winter jacket, melepas sepatu boots, menurunkan backpack, menarik kasur lipat dan menghempaskan tubuh ke atas kasur.

Kamar tunggal yang kupesan sebulan sebelum keberangkatan.
Kamar seharga 1.800 Yen (Rp. 256.000) per malam.

Zzzzz……..Zzzzz…..Zzzzz….Dengan cepat aku terlelap saking lelah badan dan mengantuknya mata.

Lewat sedikit dari jam setengah sembilan malam ketika aku otomatis terbangun. Seperti itulah aku, jika ada niatan bangun pada jam tertentu maka tanpa menyalakan alarm pun maka aku akan terbangun dengan sendirinya pada jam yang dimaksud. Jarang sekali meleset, mungkin ini sisa kebiasaanku di waktu kecil ketika sering bangun jauh sebelum shubuh untuk belajar. #sokdisiplin

Aku masih merasa malas untuk beranjak dari kasur dan terus ternyamankan dengan hangat ruang kamar. Terus membayangkan begitu tak nyamannya jika bepergian di luar sana yang suhunya hampir menginjak nol derajat Celcius. Kusambar remote TV di sampingku, aku baru sadar kalau sebelum tidur tadi aku telah menyalakan TV. Praktis TV lah yang menontonku di saat tidur, bukan aku yang menontonnya.

Mau nonton acara TV Jepang….Waspadalah….Waspadalah!

Tentu aku tak tahu apa yang diperbincangkan pada setiap acara Televisi Jepang. Yang kutahu itu hanya reality show tentang percintaan, kuis berhadiah atau menebak-nebak beberapa kasus dan kejadian dalam acara berita malam. Aku terus menjelajah lebih jauh hingga ke channel bernomor di atas 40. Beberapa  acara olahraga serta flora dan fauna mulai hadir. Kini channel menginjak angka 60. Aku terus menjelajah….

61….62….

Tiba-tiba aku terperanjat ketika memasuki CHANNEL NO. 63. Bagaimana tidak, itu adalah channel film dewasa tanpa sensor. Wuannnjiiirrrr, apalagi ini…..Aku mencoba untuk melewatkannya saja, berpindah ke channel berikutnya. Belum juga lama berpindah, entah kenapa tangan ini selalu penasaran memencet pintas ke CHANNEL NO. 63, lalu mencoba melawan berpindah ke channel lain lagi. Geblek….Kemudian berpindah lagi ke CHANNEL NO. 63…..Pertempuran “Hitam-Putih” tampak sengit di benakku. Hingga akhirnya tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul sembilan.

Sudah saatnya aku pergi ke perayaan Tahun Baru bersama warga Osaka dan turis lainnya di luar sana. Aku telah membaca pengumuman di banyak stasiun siang tadi bahwa jam operasional Osaka Metro akan diperpanjang hingga lewat dini hari. Itu berita yang menggembirakan dan membuatku tak perlu membobol kantong untuk mencari taksi saat pulang nanti.

Kupakai kembali sepatu boots dan kukenakan kedua jaketku untuk melawan dingin. Masih ingat ketika aku tak sengaja menenggak alkohol di Narita International Airport?. Yups, minuman beralkohol itu masih ada dan hanya berkurang satu tenggakan saja kala itu. Aku memasukkan ke kantong winter jacket dan kufungsikan sebagai langkah antisipasi. Aku harus bersiap apabila suhu diluar nanti menjadi terlalu ekstrim di tengah malam….WHO KNOWS?….Tapi mudah-mudahan saja aku tak perlu menenggaknya lagi hingga petualangan di Osaka berakhir.

Ginger Scent in a Bowl of Tahok

<—-Previous Story

I have finished exploring Surakarta Hadiningrat Palace and its square, Klewer Market and Great Mosque of Surakarta Palace. I started down southern point of Jenderal Sudirman Street heading north. This was administrative area of ​​Solo City, I felt impressed when I passed Surakarta City Hall which was very majestic with its Joglo*1 roof.

Surakarta City Hall.

Sidewalk in front of city hall seemed to be made wider without a fence, this was because the office where mayor worked also acted as a people’s house who was ready to accept their complaints. The city hall was still quiet that morning, it hadn’t yet touched nine o’clock.

Arriving at a T-junction, classic appearance of Pasar Gede Clock Tower really captivated my eyes. The tower, which was neither high nor low, still showed the spurs of Dutch colonialism. This was Sudiroprajan area with its main icon, i.e Gede Hardjonagoro Traditional Market.

Gede Hardjonagoro Traditional Market.

I started to go to Gede Hardjonagoro Traditional Market. My goal was only one….TAHOK.

I didn’t even know what this traditional Solo culinary looked like, even the location and shape of its stall, I never imagined it. My step was getting closer to market building which looked silent when I looked at it from front gate.

But I was still on other side of street when I noticed a long queue which started at a food cart. I still didn’t know what the culinary which sell in food cart. After approaching and reading small banner which was hanging on its roof, I just found out, it turned out that a culinary which I had been looking for was right in front of my eyes. This was Mr Citro’s Tahok.

Me: “Sir, what are the ingredients?

Mr. Citro: “This is made from beancurd and ginger water, Sir“.

Me: “Rahadian, do you want to try or not ?. I want to try ”, I offered to Rahadian, who had been hesitating.

Rahadian: “No, sir. I don’t really like ginger. Sir Donny can eat it, I’ll just wait ”.

Me: “What?. You come for far way to Solo and how come you don’t try its culinary. It’s strange ”, Rahadian just smiled and took a bench in the corner of sidewalk.

I started to queue, some customers prefered to take away their orders. It show that they were loyal customers of this culinary. Not long in queueing, it was my turn to get a bowl of Tahok. The seller seemed to start to lightly scooping the beancurd and put it in the bowl many times until it was full, then poured ginger water until it drowned all beancurd.

Tahok food cart.
Tahok.

This was the fifth Solo City’s typical culinary which I enjoyed after Dawet Telasih Ice, Jenang Suro, Soto Kwali and Wedang Ronde which I ate a day ago. Combination of subtle texture and warmth of ginger made it perfect to ete in that morning which still blowed remains of last night’s cold wind .

I finished this culinary experience by handing over IDR 7,000 (USD 0.5) and started to leaving the food cart. Now I was heading to Gede Hardjonagoro Traditional Market inside for second time since yesterday. I was still curious about Bu Dermi’s Dawet Telasih Ice which I didn’t find a day ago because it wasn’t open yet. I did have time to drink Ibu Hj. Sipon’s Dawet Telasih Ice as the replacement.

But my curiosity still paid off with no luck. Stall which I was looking for had not opened yet, even the market was still deserted and not many traders were present. My desire was delayed again.

Gede Hardjonagoro Traditional Market inside.

Later I would taste this Bu Dermi Dawet Telasih Ice two months since my arrival that day.

Note:

Joglo*1 is a type of traditional vernacular house of the Javanese people

Next Story—->

7 Destinasi Wisata Pekanbaru

Memasuki Pekanbaru, semua penumpang Bus INTRA diturunkan di sebuah bangunan warung non-permanen berbahan kayu warna hijau. Memasuki bagian belakang warung makan, deretan panjang kamar mandi sederhana memudahkanku untuk berbasuh muka dan besiap diri untuk mengeksplorasi “Kota Madani”.

Memasuki jalanan kota untuk pertama kalinya diatas jok ojek online, aku mulai menyimpan rasa penasaran tentang apa saja yang bisa kukunjungi di kota. Hingga akhirnya aku tiba di lobby Hotel Sri Indrayani lebih cepat dari jadwal check-in. Setelah mengisi daya kamera dan smartphone hingga beberapa cell bar di restoran hotel, aku segera mengayun langkah ke beberapa spot terdekat.

  1. RTH Tunjuk Ajar Integritas

Tak jauh, setengah kilometer di barat laut hotel ada sebuah taman yang cukup terkenal di Pekanbaru. Adalah Ruang Terbuka Hijau Tunjuk Ajar Integritas yang menjadi play ground favorit bagi warga kota yang pembangunannya didedikasikan untuk program perlawanan korupsi dalam pemerintahan daerah.

Tugu Integritas dalam taman.

Belum juga tengah hari, udara panas mulai terasa. Memaksaku untuk berteduh di tepian taman. Masih sepi pengunjung, mengingat aku tak berkunjung saat weekend.

2. Sungai Siak

Melanjutkan langkah, aku turun ke Jalan Wakaf sebelum akhirnya dituntun oleh seorang polantas untuk berbelok ke kanan melewati Jalan Jembatan Siak I dan mencapai tepian Sungai Siak.

Mengunjungi Sungai Siak dan membayangkan kejayaan serta kemakmuran Kesultanan Siak Sri Indrapura yang pernah berdiri di tepian sungai adalah hal yang menarik minatku untuk menjadikannya sebagai salah satu destinasi kali ini

Panorama dari Jembatan Siak I

3. Rumah Singgah Tuan Kadi

Masih berkelana di sepanjang sungai, kini aku menuju ke Jembatan Siak II. Khalayak menyebutnya sebagai Jembatan Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah, diambil dari nama Sultan ke-5 Kesultanan Siak.

Tertegun memandangi bangunan di bawah jembatan, rumah asli sejak era keemasan Kesultanan Siak.  Situs pariwisata ini dikenal dengan nama Rumah Singgah Tuan Kadi. Kadi atau Qadhi sendiri adalah gelar tersohor pada masa kesultanan. Pemilik awal rumah ini adalah Qadhi Haji Zakaria bin Haji Abdul Muthalib yang pernah menjabat sebagai Ketua Kerapatan Syariah Kesultanan Siak.

Pernah menjadi tempat singgah Sultan Syarif Kasim II, Sultan Siak ke-12.

4. Masjid Raya Nur Alam

Matahari mulai tergelincir dari posisi tertingginya, artinya aku sudah bisa memasuki kamar Hotel Sri Indrayani. Mengambil arah tenggara, aku berniat mampir untuk bershalat Dzuhur di Masjid Raya Nur Alam sebelum tiba di penginapan.

Masjid tertua di Pekanbaru.

Masjid peninggalan Kesultanan Siak Sri Indrapura ini masih berdiri kokoh dengan kubah kuningnya sebagai simbol kebesaran Melayu. Rasa-rasanya, rakyat Pekanbaru pantas berterimakasih kepada Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah, Sultan Siak keempat yang mendirikan masjid megah ini.

5. Masjid Agung An-Nur

Panas kota mulai mereda apalagi aku sudah selesai berbasuh badan di hotel. Selesai menyantap makan siang maka aku melanjutkan eksplorasi. Setelah mengunjungi masjid tertua, kini aku menuju ke masjid termegah di Provinsi Riau.

Kelelahan telah berjalan hampir 4 km, aku memilih menggunakan ojek online saja menuju Masjid Agung An-Nur, dua kilomoter ke tenggara.

Taj Mahalnya Indonesia.

Masjid Agung An-Nur sendiri telah menjadi icon religi Provinsi Riau sejak tahun pertama dibangun, yaitu tahun 1963. Pastikan kamu tak terlewat mengunjunginya jika berada di Pekanbaru.

6. RTH Putri Kaca Mayang

Berikutnya, aku bergegas menuju ke pusat kota. Pilihanku berikutnya adalah Ruang Terbuka Hijau (RTH) Putri Kaca Mayang. Terletak di sebuah sisi jalan protokol kota Pekanbaru, taman ini terlihat lebih rapi dari taman pertama yang ku kunjungi.

Nama taman diambil dari nama seorang putri dalam dongeng yang melegenda di masyarakat.

Waktu yang sudah menggelincir ke arah sore, satu persatu warga terlihat mendatangi taman untuk sekedar melepas penat atau mengajak anak-anak untuk menghabiskan waktu dengan bermain di sekitar taman.

7. Jalan Jenderal Sudirman.

Seperti nama jalan yang sama di Jakarta, Jalan Jenderal Sudirman di Pekanbaru juga memainkan peran sebagai jalan protokol di kota Pekanbaru.

Sebagai jalan utama tentu banyak hal yang bisa dinikmati di sepanjangnya. lebarnya ruas jalan dengan sibuknya lalu lalang kendaraan dihiasi oleh arsitektur bangunan-bangunan mentereng di kedua sisinya menjadikan Jalan Jenderal Sudirman menjadi spot fotografi yang layak dikunjungi.

Perpustakaan Soeman HS, Menara Lancang Kuning, Kantor Gubernur Riau dan Menara Dang Merdu adalah arsitektur yang tampak mencolok dan berbeda dari bangunan-bangunan lain di sepanjang Jalan Jenderal Sudirman.

Jalan berhiaskan asmaul husna di sepanjang tepinya.

Yuk, berlibur ke Pekanbaru.

Uang Koin di Amerikamura

<—-Kisah Sebelumnya

Dari Stasiun Namba aku menaiki Osaka Metro di arus Midosuji Line, tak berselang satu stasiun pun, aku turun di Stasiun Shinsaibashi. Kemudian mulai mengambil langkah ke selatan menelusuri Mido-suji Avenue. Mido-suji Avenue sendiri berupa jalanan empat ruas yang diapit oleh jalur lambat di kiri-kanannya. Jalur lambat dan jalur cepatnya dibatasi oleh jajaran pepohonan rindang yang tertata rapi mengikuti kontur jalan.

Dalam tiga ratus meter ke depan, aku akan sampai di Amerikamura. Jaraknya yang cukup dekat dari Namba Parks membuatku tertarik untuk sekalian menyambangi tempat itu.

Amerikamura atau khalayak sana menyebutnya Amemura adalah perkampungan yang didesain ala Amerika sepanjang sembilan blok dan terletak persis di sisi timur Mido-suji Avenue, di Distrik Kota Chūō-ku tepatnya. Sebelah selatan perkampungan ini dibatasi oleh Dōtonbori Canal, sebelah utara dibatasi oleh Nagahori-dori Avenue sedangkan sebelah timur dibatasi oleh jalur Osaka Metro Yotsubashi Line. Amerikamura menempati lahan tak kurang dari enam belas hektar. Luas bukan?

Di depan New American Plaza.

Mengadopsi lifestyle bangsa Amerika, maka daerah ini sangat kental dengan brand Paman Sam. Memasuki sebuah gang, langkahku disambut oleh gerai Starbucks lalu gerai McDonald’s meyusul setelahnya. Toko-toko fashion dengan logo Levi’s, Ralph Lauren, Calvin Klein dan brand ternama lainnya sangat mudah ditemukan.

Gang di kawasan Amerikamura memiliki lebar tak lebih dari lima meter. Jalurnya yang sempit membuat arusnya dibuat satu arah. Tiang lampu jalan didesain bak karakter hidup yang ceking dan tinggi. Seni mural juga mudah ditemukan di setiap sisi Amerikamura. Sepanjang tepi trotoar dipasang bollard untuk melindungi pejalan kaki. Sedangkan persewaan sepeda bertebaran di berbagai titik.

Sepanjang kaki melangkah, Amerikamura memang didesain sebagai tempat berbelanja.  Toko fashion berjajar sangat rapat menjejali setiap sisi jalan berpadu dengan bar, minimarket, restoran dan tentunya penginapan.

Hampir satu jam berkeliling ke setiap sudut Amerikamura, aku mulai merasa lapar. Aroma menggoda makanan khas Asia Timur konsisten mencemari jalanan. Aku memutuskan untuk mulai mencari tempat makan. Beruntungnya, kebanyakan restoran di Amerikamura menampilkan harga menu andalannya di depan pintu. Jadi setiap pengunjung bisa memilih makanan yang sesuai dengan minatnya. Kalau aku, bukan perihal menu, aku menilik setiap menu yang terpampang hanya untuk melihat berapa harga terendahnya. Lama sekali mencari restoran untuk mendapatkan harga yang bersahabat dengan kantong.

Langkahku akhirnya terhenti pada sebuah restoran rumahan yang menawarkan menu hemat. Restoran ini dikelola oleh si empunya rumah dibantu oleh anak laki-lakinya yang tampak masih bersekolah dasar.

Aku duduk di bangku pojok berselang satu meja dengan perempuan kantoran berusia muda yang tampak bersemangat menyantap sajian mie di depannya. Aku memesan chicken ramen dan seperti biasa untuk minum, aku mengandalkan air putih yang disediakan dalam teko di setiap meja restoran. Dalam duduk, aku memperhatikan kelincahan anak itu dalam mengantarkan pesanan setelah bapaknya selesai mengolah menunya.

Tak lama setelah memesan, chicken ramenku pun datang. Aku menyantapnya sambil membunyikan serutupan mie di mangkok, tentu aku ingin menghormati dan menunjukkan bahwa chicken ramen si empunya restoran begitu nikmat. Chicken ramen itu habis tak kurang dari lima belas menit.

Nyammm….

Kini aku menampilkan kekonyolan berikutnya. Aku sengaja  membayar dengan uang koin. Karena  aku memang memiliki banyak uang koin yang terkumpul sedari petualanganku di Tokyo. Ketika si anak memberikan bill di nampan kecil, aku menumpahkan koin senilai 600 Yen (Rp. 81.000) di nampan itu. Si anak terlihat kerepotan dan gugup menghitungnya. Aku hanya tersenyum geli melihatnya ketika dia harus mengulang-ulang dalam menghitung koin itu. Perempuan kantoran di sebelah bangku pun tampak tertawa menutup mulut dengan tangannya.

Merasa menyerah menghitungnya, si anak melarikan nampan itu ke meja kasir dan menyerahkan kepada bapaknya untuk menghitung. Setelah selesai menghitung, si Bapak menuliskan sesuatu pada kertas bill dan si anak kembali menujuku. Oh, si Bapak menuliskan bahwa aku membayar kurang 12 Yen. Aku menggenapi kekurangan itu dan si anak tersenyum lebar menatapku. Aku membalas senyumnya dan mulai berkemas untuk meninggalkan restoran.

Kisah Selanjutnya—->