Supadio International Airport: Pertama dan Kesembilan

<—-Kisah Sebelumnya

ARRIVAL HALL

Menjadi bandar udara pertama yang akan kukunjungi di Pulau Kalimantan, Supadio International Airport tentu akan segera mengantarkanku ke beragam destinasi wisata Kalimantan Barat yang menarik untuk ditelusuri.

Pukul sepuluh lebih sekian menit, Lion Air JT 712 berhasil merapat di apron. Alhamdulillah penerbangan berlangsung dengan sangat lancar tanpa kurang satu apapun.

Aku pun bergegas menarik backpack 45L dari bagasi begitu lampu tanda sabuk pengaman dipadamkan. Aku bersemangat untuk segera meninggalkan kabin dan menghirup udara Borneo.

Tak menunggu lama, pintu kabin bagian depan pun dibuka dan aku yang berada di kursi buncit tetap saja harus keluar paling akhir walau menjadi yang pertama bersiap keluar.

Seperti biasa….

Aku menghentikan langkah di pertengahan aerobridge, menepi di salah satu sisinya dan melakukan pengamatan di sekitar apron. Melihat proses unloading di sisi kanan dan melihat muka bandar udara di sisi kirinya.

Berarti ini yang kesembilan…Emmhhh….Yups benar sembilan”, aku kembali mengingat dan kemudian mantab menyebutkan nomor itu dalam batin….Yupz, ini bandara di tanah air kesembilan yang pernah aku singgahi.

Walaupun berfungsi sebagai akses utama menuju Pontianak, sesungguhnya bandar udara ini berlokasi di Kab. Kubu Raya.
Ternyata sudah menjalani renovasi empat tahun lalu.

Selepas aerobridge, aku mulai menyusuri koridor kedatangan. Tampak nyata bahwa bandara itu baru saja mendapatkan sentuhan renovasi. Segenap interiornya tersemat sentuhan-sentuhan modern.

Nuwun semu, Mas…., suara itu datang dari sebelah kiri. Membuatku tersadar bahwa aku telah menghalangi koridor.

Oh, ngapunten, Mas….”, aku refleks menjawab. “Loh, Mase nJawine pundi?….Katah nggeh tiyang nJawi wonten mriki?”, aku meneruskannya dengan pertanyaan lain sembari menyejajari langkahnya.

“Kulo saking Malang….Njih lumayan katah, Mas….Nopo Mase nembe jalan-jalan tho?”, dia mengimbangi percakapan.

“Njih, Mas….Namung backpackeran niki”, aku menjawab sekenanya. “Mase, mesti anak kuliahan niki”, aku melihat penampilannya yang seperti seorang pelajar.

“Njih, Mas…Leres. Mase bade tindak pundi tho?”,dia terus berjalan , menggendong backpack dan menenteng tas di setiap tangannya.

“Singkawang, Mas”, aku menjelaskan sembari mengotak-atik settingan Canon EOSku.

“Oalah…Kota Amoy….Mantab….Ngatos-atos nggih mas”, dia tampak mulai terburu waktu.

“Njih, Mas”, aku melambaikan tangan kepadanya.

Percakapan itu berakhir tepat di pertengahan escalator menuju arrival hall. Melompat di ujung escalator, aku kembali merasa ngeri. Begitu penuhnya balai kedatangan dengan para penumpang yang sedang mengantri menulis sesuatu pada lembaran.

“Itu apa, Bang?”, tanyaku pada salah satu dari mereka yang sudah selesai mengisi.

“Ini manual eHAC, Bang”

“Oh, Okay”, aku sudah mengisi eHAC (electronic-Health Alert Card) semalam di Aplikasi PeduliLindungi sehingga hanya memerlukan sedikit arahan dari petugas.

Setelah menemui seorang aviation security, dia menjelaskan bahwa aku hanya perlu men-scan barcode eHAC ku di ujung antrian tanpa perlu mengisi form manual.

Arrival hall.
Tempat pengambilan bagasi.
Sisi luar bandara yang namanya diambil dari nama seorang pilot yang gugur pada kecelakaan pesawat terbang di Bandung.

Benar saja, aku melewati tahap akhir pemeriksaan dengan mudah. Setelahnya, aku hanya melintas saja di area coveyor belt karena memang tak memiliki bagasi yang harus diambil. Aku hanya membawa backpack yang sebetulnya over muatan. Bobot tas seberat hampir sepuluh kilogram bisa lolos masuk ke kabin dari pemeriksaan di konter check-in di Soekarno Hatta International Airport. Tapi toh tetap tak masalah apabila itu ketahuan karena Lion Air JT 712 menyediakan kuota bagasi seberat dua puluh kilo untuk setiap penumpangnya.

“Aku harus segera bertolak ke Singkawang”, aku mulai berfikir. “Aku harus berburu pemberangkatan DAMRI terdekat”.

Menghindari kebingungan, aku bertanya kepada seorang aviation security perihal keberadaan bus DAMRI menuju ke Singkawang. Tetapi jawaban petugas itu membuatku hilang harapan. Bagaimana tidak, bus DAMRI ke Singkawang saat itu hanya berangkat sekali saja pada pukul tujuh pagi dan akan kembali dari Singkawang menuju Pontianak pada pukul lima sorenya. Hal itu disebabkan karena kebijakan PPKM beberapa minggu sebelumnya sehingga Pontianak mengalami sepi pengunjung.

Artinya aku harus mencari transportasi lain menuju ke Singkawang….

Dan aku sudah cukup faham, bahwa tak ada pilihan lain, aku harus menunggang taksi menuju ke Singkawang jika tak ingin kemalaman.

—-****—-

DEPARTURE HALL

Aku hanya memiliki masa lima hari untuk melanglang Kalimantan Barat. Jadi aku memutuskan untuk memfokuskan eksplorasi di dua kota saja, yaitu Singkawang dan Pontianak. Karena keberangkatanku menuju Pontianak jatuh di hari Kamis maka pada hari Seninnya aku harus kembali ke ibu kota.

Perjalananku menuju ibu kota dimulai dari G-Hotel yang terletak di pusat kota. Kali ini aku tak perlu memesan ojek online, karena Bang Hendra akan menjemputku di lobby hotel dan mengantarkanku ke bandara.

Bang Hendra sendiri adalah kakak kandung dari teman karibku di kantor yang asli Pontianak. Aku baru berkenalan dengan Bang Hendra sehari sebelum kepulanganku. Kemarin aku dijemputnya di Masjid Raya Mujahidin untuk diantarkan ke Pondok Pengkang di daerah Siantan. Begitu beruntungnya aku memiliki banyak teman yang baik hati.

Sebelum jam satu siang, Bang Hendra telah menurunkanku di drop-off zone Supadio International Airport. Kali ini aku akan turut serta dalam penerbangan Lion Air JT 715 yang berencana take-off pada pukul tiga sore.

Usai mengambil beberapa potret bandara  dari beberapa posisi terbaik, aku memutuskan segera masuk ke departure hall dengan memperlihatkan e-ticket dan identitas diri kepada petugas aviation security yang berjaga di pintu masuk.

Sama ketika berangkat dari Soekarno Hatta International Airport, kali ini aku tak perlu mengantri di meja verifikasi layak terbang. Oleh petugas aviation security, aku diminta lansung menuju konter check-in karena telah memiliki hasil PCR di aplikasi PeduliLindungi.

Tetapi sayang, konter check-in masih dalam tahap persiapan sehingga aku harus menunggu seperempat jam lamanya hingga konter tersebut benar-benar dibuka. Dan entah kenapa, departure hall dipenuhi oleh banyak tentara yang akan melakukan penerbangan.

Kak, semalam saya gagal check-in online. Apakah saya bisa diberikan window seat di bagian belakang kabin”, pintaku pada ground staff wanita yang bertugas setelah konter dibuka.

Dia hanya tersenyum mengangguk sebagai pengganti jawaban lisan. Atas kebaikannya, aku diberikan bangku bernomor 33F, selisih satu bangku dengan bangku saat aku berangkat dari Jakarta lima hari lalu.

Mendapatkan boarding pass jauh dari boarding time tentu membuatku lega. Aku menyempatkan Dzuhur di sebuah mushola di lantai pertama bandara. Kali ini aku ditunjuk sebagai imam oleh beberapa petugas aviation security yang akan menunaikan Dzuhur juga di saat yang sama.

Bangunan bandara dengan tiga identitas etnis, yaitu Dayak, Melayu dan Tionghoa.
Drop-off zone.
Bagian luar departure hall.
Check-in desk.
Mushola lantai satu.

Usai shalat, aku segera menaiki escalator demi menuju lantai 2. Setibanya di atas, salah satu sisi selasar dimanfaatkan untuk memajang foto-foto sejarah masa lalu yang terkait dengan Bandar Udara Supadio. Dari deretan foto itu aku tahu bahwa Bandar Udara Supadio memiliki nama lama Airport Sungai Durian. Tertampil pula potret Soekarno yang sedang mengunjungi bandara tersebut di suatu masa.

Sisi lain lantai dua juga dipenuhi oleh executive lounge, souvenir outlet, coffee shop, minimarket dan restoran.

Kini aku tiba di hamparan bangku tunggu yang langsung berhadapan dengan gate. Mataku menyapu sekitar demi mencari keberadaan minimarket untuk mencari sesuatu sebagai pengganti makan siang. Maklum, aku hanya bersarapan dengan dua potong Pengkang yang kubawa dari Siantan tadi malam. Pantas saja, siang itu aku cepat sekali merasakan lapar.

Demi menjaga protokol kesehatan dengan menghindari makan di tempat umum, akhirnya aku memutuskan untuk menyantap roti dan beberapa keping biskuit saja. Aku membelinya di sebuah minimarket dan menyantapnya di kursi tunggu yang lengang sembari menunggu boarding time tiba.

Foto-foto sejarah.
Commercial zone lantai 2.
Ruang tunggu sebelum gate.

Hingga akhirnya, tepat pukul setengah tiga sore, panggilan untuk boarding tiba. Kini saatnya bersiap diri untuk mengikuti penerbangan menuju Jakarta.

Lion Air JT 712: Jakarta (CGK) ke Pontianak (PNK)

<—-Kisah Sebelumnya

Jalur penerbangan Lion Air JT 712 (sumber: flightaware).

Terakhir menunggang “Maskapai Singa Merah” adalah sewaktu pulang dari Tanah Minang di akhir 2018. Kala itu, sangat bersyukurnya diriku karena sempat mencicip kehebatan Boeing 737 Max 8, generasi Boeing yang pernah menjadi andalan banyak maskapai dunia sebelum akhirnya dipensiun massalkan.

Menjelang pukul delapan, seorang ground staff wanita berparas cantik dengan pakaian Cheongsam bermotifkan batik memasuki ruang tunggu di Gate D1 sembari bertutur lantang,

JT 712 tujuan Pontianak dipersilahkan boarding, persiapkan boarding pass dan identitas diri ya Bapak-Ibu“, di langkah terakhir dia membuka pintu yang mengarah ke aerobridge.

Aku bergegas menyusulnya dan menjadi pengantri terdepan. Usai menyobek boarding passku, ground staff cantik itu mengarahkanku menuju aerobridge. Menyempatkan diri menangkap beberapa aktivitas apron dengan Canon EOS, akhirnya tiba jua diriku di pintu masuk kabin.

Aku cukup faham bahwa kini diriku sedang menaiki selongsong terbang berjenis Boeing 737-800NG (Next- Generation). Boeing jenis ini sendiri adalah pesawat yang didesain sebelum keluarnya Boeing 737 MAX. Dilihat dari kondisinya, pesawat masih tampak baru, hal itu berhasil membubuhkan rasa nyaman sebelum memulai penerbangan.

Mulai memasuki kabin, aku bergegas menuju ke bagian ekor untuk mencari keberadaan bangku bernomor 32F. Aku menemukannya tepat di baris ketiga dari belakang, tepat di jendela sisi kanan. Duduk di bagian belakang setidaknya terasa lebih aman karena deret bangku didepanku serta paling belakang tampak tak berpenumpang. Hanya ada tiga pramugari muda duduk tepat di belakangku. Dugaanku, pramugari yang duduk di tengah adalah cabin crew senior karena sepanjang penerbangan dia memberikan materi training yang harus diserap oleh pramugari junior di kiri kanannya.

Sementara itu seorang wanita muda berseragam Dinas Perhubungan dominan putih tegap berdiri mengawasi tindak tanduk segenap penumpang selama boarding. Mungkinkah petugas wanita itu sedang memantau penerapan protokol kesehatan di dalam kabin.

Senangnya bisa terbang lagi.
Kapan lagi ya aku naik Air Asia?.
Bedanya cuma di masker dan kacamata photochromic neutral itu.

Genap setengah jam menyempurnakan boarding, pesawat mulai beranjak dari apron dan bersiap diri untuk lepas landas. Awak kabin dengan sigap mulai memperagakan prosedur kesalamatan penerbangan seiring dengan pesawat yang sedang taxiing.

Pesawat terus begerak menuju salah satu ujung runway untuk kemudian berbalik haluan 180 derajat demi menghadap ke panjangnya landas pacu. Begitu petugas di ATC merilis izin mengudara, maka pesawat mulai memacu kecepatan di atas landasan untuk kemudian melakukan airborne di ujung landasan yang lain.

Di atas udara, penerbangan kali ini harus menembus dominasi awan-awan putih. Tetapi walaupun demikian, beberapa pemandangan terlihat indah ketika pesawat mengudara tepat di atas Pulau Belitung, destinasi wisata andalan tanah air yang pernah kukunjungi pada akhir 2016 silam.  Selain Pulau Belitung, pesawat juga melintas di atas Pulau Serutu dan Pulau Karimata.

Hanya saja, di tengah perjalanan pesawat sedikit mengalami turbulensi ketika melintas di daerah bersih awan, mungkin karena terpaan kencang udara menyebabkannya demikian.

Cengkareng dari atas.
Cruise phase.

Menempuh jarak udara lebih dari tujuh ratus kilometer, pesawat twin jet ini mengudara dengan perkiraan kecepatan enam ratus kilometer per jam.

Satu lagi pemandangan fantastis tertampil sesaat sebelum pesawat mendaratkan roda di Supadio International Airport, yaitu terpampang lebarnya Sugai Kapuas dengan kepadatan rumah-rumah penduduk di kedua badan sungai. Bahkan sebelum pemandangan spektakuler itu tiba, pemandangan Sungai Kakap dan Sungai Pinang juga turut menambahkan pesona Pontianak ketika dilihat dari udara.

Wing flap di kedua sayap pesawat kini mulai diturunkan sebagai persiapaan pendaratan, tampak dengan jelas smoke trail yang menyembur dari ujung sayap sebagai kamlufase pendinginan udara sekitar karena bertumbukan dengan panasnya gas buang pesawat.

Dan ketika pesawat menyentuh ujung landasan, begitu terpesonanya mataku melihat gagahnya antrian pesawat tempur jenis Hawk 109/209 milik Skuadron 1/Elang Khatulistiwa. Sebuah pesona penerbangan yang mengagumkan sepanjang satu jam lima belas menit.

Mulai masuk pulau Kalimantan.
Sungai Pinang dan Sungai Kakap di selatan Sungai Kapuas.
Nah itu aktornya….Sungai Kapuas, man!
Lihat fenomena smoke condensation di sayap pesawat itu….Keren ya?
Hawk 109/209 yang selalu siap menjaga udara Nusantara.
Modernnya Supadio International Airport.
Yuk, kita lihat sisi dalam bandaranya seperti apa!

Kamu mau dong terbang ke Pontianak?

Nih sebagai alternatif, tiket pesawat dari Jakarta ke Pontianak bisa dicari di 12Go atau link berikut: https://12go.asia/?z=3283832

Kisah Selanjutnya—->

Terminal 2D Soetta: Mengembalikan Insting yang Lama Pudar

Semenjak terakhir pulang dari Qatar di permulaan 2020, boleh dikata, aku tak pernah lagi berpetualang dalam jarak yang jauh. Terhitung selama hampir dua tahun, aku hanya mengunjungi destinasi yang lokasinya berdekatan dengan ibukota, sebut saja Ujung Genteng, Gunung Pancar, Curug Leuwi Hejo, Dataran Tinggi Dieng, Anyer dan Puncak.

Tapi kini hati tetiba berujung galau ketika cuti lima hari disetujui oleh pimpinan tempatku bekerja. Ditambah dua hari weekend menjadikan liburanku genap satu pekan.

Ketika esok hari hitungan cuti bermula, pikiranku pergi membayang ke segala tempat. Adalah Bali, Lombok dan Labuan Bajo yang ada di pikiran pagi itu.

Tapi aku harus segera melakukan sesuatu sebelum berpikir lebih jauh.

Di hari pertama cuti, aku memutuskan untuk berangkat menuju sebuah rumah sakit kenamaan di bilangan Cibubur yang terkoneksi dengan Program PeduliLindungi untuk melakukan PCR dengan hasil keluar sameday. Aku telah menetapkan niat, apabila hasil PCR negatif maka aku akan memberanikan diri untuk terbang.

Ya, kemanapun….Yang penting naik pesawat”, niat di hati terdalam.

Aku telah merindukan sebuah petualangan panjang. Tentu petualangan yang jauh dari rumah. Aku sudah bersiap diri melakukan perjalanan dengan protokol pandemi.

Aku bersemangat datang ke rumah sakit dan tiba pada pukul setengah sembilan. Menunggang Beat Pop hitam kesayangan, aku tiba di depan para perawat yang bersiap mengambil sample PCR (Polymerase Chain Reaction) dengan mekanisme drive thru.

Sehari sebelumnya, aku telah melakukan pendaftaran online senilai Rp. 275.000. Inilah pertama kalinya aku menjalankan tes PCR. Tes yang membuatku bersin-bersin hebat bukan kepalang.

Selepas tes, aku pulang dan berdebar menunggu hasil. Dan pada akhirnya, hati diselimuti rasa bahagia ketika aku mendapatkan kabar lewat WhatsApp pada pukul lima sore bahwa PCRku menunjukkan hasil negatif dan hasil itu juga tercantum otomatis di aplikasi PeduliLindungi.

Sempurnanya hasil PCR mengantarkanku menuju tahap berikutnya yaitu berburu tiket.

Aku terjun berselancar di aplikasi e-commerce perjalanan terkenal di Indonesia. Akan tetapi, hasil perselancaran itu akhirnya mengubur dalam-dalam niatku yang sangat berhasrat melawat ke Labuan Bajo ataupun Lombok. Harga tiket pesawat yang terlalu melangitlah yang membuatnya demikian. Alternatif lain menuju Bali pun akhirnya berpotensi menjadi perjalanan tanggung karena sesungguhnya aku pernah menginjakkan kaki di Pulau Dewata.

—-****—-

Malam itu juga, aku mulai mempacking segenap perlengkapan hingga larut malam. Tak lupa, aku mempersiapkan obat-obatan beserta vitamin dengan lebih serius. Bahkan aku memutuskan membawa tablet antivirus sebagai antisipasi jika terjadi hal-hal diluar perkiraan di daerah tujuan.

Online check-in penerbangan pun baru kuselesaikan lewat tengah malam. Mendapatkan posisi duduk di window seat membuatku bersemangat dalam mengisi eHAC (electronic-Health Alert Card). Kuberharap suksesnya online check-in dan terbitnya eHAC akan membuat proses menuju boarding menjadi lebih cepat di keesokan harinya.

Usai memastikan segenap tahap persiapan tuntas, aku memutuskan tidur.

Akan tetapi, aku hanya bisa tertidur ayam tanpa kenyenyakan hingga setengah empat pagi….Seperti biasa, kekhawatiran tertinggal penerbangan menjadi penyebabnya.

Kuputuskan bangun lebih cepat dan melakukan shalat tahajud demi  memohon kepada Sang Kuasa atas keselamatan selama berpetualang. Seusainya, aku segera berbasuh dengan air hangat, bersarapan sekedarnya dan bergegas berburu ojek online untuk mengantarkanku menuju shelter DAMRI Terminal Kampung Rambutan.

Lewat sedikit dari setengah lima pagi, aku tiba di sana. Setelah menyiapkan sebotol air mineral dari sebuah kedai, aku bergegas naik. Bus berangkat tepat pukul lima dan setiap sisi deret bangku hanya boleh diisi oleh satu penumpang. Inilah yang membuat tarifnya melonjak dua kali lipat….Menjadi Rp. 85.000.

Akhirnya naik DAMRI bandara lagi.
Tiba di Terminal 2D Domestik.

Bus melaju cepat membelah jalanan kosong di jalan bebas hambatan. Satu jam kemudian, aku terbangun ketika bus perlahan merapat di Terminal 3-Ultimate. Dengan cekatan aku merogoh lembaran e-ticket dari backpack untuk memastikan terminal tujuan.

Terminal 2D Domestik…”, aku yakin membatin.

Akhirnya aku tiba….

Melompat turun di drop-off zone. Kini aku melangkah ke dalam bangunan bandara. Tentu aku merasakan atmosfer yang berbeda ketika memasukinya. Kondisi bandara sudah tak seperti dulu lagi ketika masa bepergian masih menjadi hal yang tidak berbahaya serta tanpa prosedur kesehatan yang ketat.

Begitu memasuki departure hall, Aku langsung dihadapkan pada antrian panjang calon penumpang yang berburu konfirmasi layak terbang pada sebuah layar LCD. Melihat panjangnya antrian, aku memberanikan diri untuk bertanya pada seorang petugas yang berjaga.

Pak, saya sudah memiliki hasil PCR negatif di dalam aplikasi….Apakah saya bisa mengindahkan antrian itu?”, aku menunjukkan barcode di aplikasi PeduliLindungi.

Terbang jam berapa, pak?”, dia mengangguk-angguk melihat barcode yang kutunjukkan.

Jam delapan, pak

Oh, silahkan bapak langsung saja menuju konter check-in, nanti tunjukkan hasil tes dalam aplikasi ya, pak!

“Baik, pak”

Aku melangkah mantap menuju screening gate pertama dan bisa melewatinya dengan mudah.

Kini aku bergegas menuju konter check-in. Begitu tiba di area konter, aku tetiba merinding karena keramaian calon penumpang yang rapat tak berjarak.

Aku berhenti sejenak dan mengamati dari kejauhan. Aku mencoba mengembalikan insting backpacker yang sudah lama tak terasah. Sepuluh menit aku hanya berdiri menatap ruangan penuh manusia itu. Aku terus mencoba berfikir.

“Seingatku, selalu ada antrian pendek yang disitu berjajar calon penumpang tanpa bagasi”, aku terus berfikir keras.

Pak, ada antrian konter tanpa bagasi?”, aku memberanikan diri bertanya pada seorang ground staff yang kebetulan melintas.

Oh, di ujung sana pak, konter nomor 46”, dia mengarahkan telunjuknya ke sebuah arah.

Terimakasih pak

Aku bergegas menujunya dan benar saja, aku hanya menemukan antrian lima calon penumpang di depan konter itu. Akhirnya, aku tak perlu mengantri lama dan berhasil menjauhi kerumunan.

Usai mengantongi boarding pass. Aku menuju ke Gate D1 dengan melewati screening gate kedua yang tentunya pemeriksaan berjalan lebih ketat. Aku berhasil melewatinya dengan mudah dan akhirnya bisa duduk di waiting room Gate D1 tepat satu jam sebelum boarding.

Lihat antrian panjang nan rapat itu!
Konter check-in tanpa bagasi. Lebih pendek dan cepat.
Menuju gate.
Gate areas setelah screening gate.
Di depan sana adalah waiting room Gate D1.
Pemandangan apron dari Gate D1.

Kini aku bersiap terbang menuju provinsi ke-12 di dalam petualanganku menaklukkan tanah air.

PONTIANAK….Ya aku bersiap mendarat di Kota Khatulistiwa tersebut.

Kisah Selanjutnya—->