MIA Park, Penutup Hari Pertama di Qatar

Area West Bay di kejauhan.

Aku meninggalkan kesibukan Dhow Harbour untuk menuju ke destinasi berikutnya.  Sepintas aku melewati deretan ferry jenis Catamaran yang bersandar di salah satu sisi dengan penjagaan ketat para security bertubuh besar. Yang kupahami sekilas adalah itulah pelayaran menuju Banana Islands Resort Doha yang terkenal itu. Mainan para wisatawan kaya raya yang harus menghambur tujuh setengah juta rupiah untuk sekedar menginap semalam saja di pulau buatan berbentuk pisang di Teluk Persia.

Aku terus menelusuri corniche promenade. Jalur terlarang untuk para pengendara sepeda yang membuat setiap turis dapat menikmati pemandangan corniche dengan sangat leluasa di lebarnya bentangan promenade.

Aku tiba di sebuah permulaan taman kota yang sangat luas. Terparkirnya Doha Hop On Hop Off Bus menunjukkan bahwa spot ini adalah salah satu tujuan utama wisata tour keliling kota itu. Tepat di sebelah shelter, terletaklah gerbang depan spot tersebut yang ditandai dengan sebuah kolam melingkar. Spot itu adalah Museum of Islamic Art.

Gerbang depan Museum of Islamic Art.

Secara bersamaan aku berada di sebuah taman luas bernama MIA Park. MIA adalah singkatan dari Museum of Islamic Art. Sesuai nama, sebelum mendatanginya, semua orang sudah bisa dipastikan faham bahwa taman ini terletak tepat di depan Museum of Islamic Art.

Permulaan taman di sisi selatan.

Taman seluas kurang lebih tiga puluh hektar ini mengorbit pada sebuah corniche berbentuk setengah lingkaran. Dan MIA Park ini mengelilinginya di sisi utara, timur dan selatan. Lima puluh persen dari seluruh taman adalah kawasan hijau sedangkan separuhnya lagi dimanfaatkan sebagai plaza, promenade, area parkir dan fasilitas umum lainnya.

Corniche setengah lingkaran dengan bukaan menuju ke laut di sebelah barat.
Free water station di sekitar corniche.

Taman ini sering menjadi venue resmi negara pada perayaan hari libur nasional, selain itu juga sering dipakai sebagai tempat berlangsungnya pertunjukan musik, kegiatan bazaar ataupun konser-konser regular lainnya. Taman juga menyediakan beberapa food & cafe truck untuk para pengunjung di beberapa titik. Sedangkan khusus di hari Selasa dan dimulai pada pukul 17:00, taman ini menjadi area publik khusus kaum Hawa yang biasanya dipimpin oleh personal trainer dalam latihan kardio dan senam kebugaran.

Lokasi untuk MIA Bazaar.
Dareen Sweets…..Cafe truck di area taman.

Di area timur taman tersedia plaza yang cukup panjang, dibatasi dengan pepohonan rindang di kedua sisi dan di tengahnya dibuat kolam sepanjang plaza. Menciptakan kondisi yang sejuk ketika panas menyengat kota. Sementara di sebelah plaza timur ini terdapat kids playgrounds yang sangat luas untuk ukuran sebuah taman.

Plaza timur MIA Park.

Menginjak taman di sisi utara, aku disuguhkan bentuk taman yang menyerupai bukit, menanjak dari sisi selatan dan menurun tajam menuju ke laut di sisi utaranya. Duduk di kemiringan dengan pemandangan area West Bay yang tampak terlihat lebih dekat di pandangan mata adalah sebuah kepuasan tersendiri. Untuk memanjakan para pengunjung dalam menikmati pemandangan sekumpulan pencakar langit itu, disediakan area coffee shop yang cukup luas di sisi utara taman ini.

MIA Park Coffee Shop.

Kembali ke arah semula menuju pulang, aku melewati promenade yang berbeda dari arah datang. Kini aku melewati promenade paling selatan yang berbatasan langsung dengan Al Corniche Street. Tampak pemandangan jalanan di sisi kiri dengan gedung-gedung berarsitektur modern. Tampak juga Qatar Museum Gallery dan area MIA Parking yang sangat luas.

QNB Head Office dan “The Fountain” yang terpisahkan oleh Al Corniche Street tepat di barat daya taman.

Dengan berakhirnya kunjunganku ke MIA Park ini maka eksplorasi hari pertamaku di Qatar telah usai. Aku akan memulai perjalanan hari keduaku esok hari.

Kemana ya enaknya?….Hihihi.

Dhow Boat dan Doha Corniche

Duh….Belum mandi tuh dari kemarin pagi.

Mengunjungi The Pearl Monument membuatku bahagia tak terkira, selain mendalami sejarah Qatar, mata dimanjakan dengan indahnya pemandangan Doha Corniche. Promenade sepanjang tujuh kilometer ini menampakkan lengkungan Teluk Doha yang dijejali gedung pencakar langit di ujungnya. Sementara sebaran traditional dhow boat wisata yang diam terjangkar di sepanjang teluk menjadi interior alam yang mengelokkan suasana.

Matahari sudang mulai langsir, angin laut menambahkan sejuk di sepanjang promenade. Jalur pejalan kaki di tepian Doha Bay itu tampak rapi nan asri. Pinggiran pantai dibatasi beton halus dan rata setinggi pinggul orang dewasa mengikuti lekuk pantai. Sementara promenade dilapisi paving block berkualitas baik dan berbatasan dengan Al Corniche Street disematkan taman memanjang dengan bentangan rumput hijau dan bunga warna-warna yang dihidupkan dengan teknik hidroponik. Jadi, kalau kamu berkunjung ke kawasan Timur Tengah, pemandangan selang-selang hidroponik yang ditanam di permukaan tanah untuk menumbuhkan bunga-bunga cantik adalah hal yang biasa.

Tepat di depan arah pantai The Pearl Monument, terdapat jorokan daratan buatan yang digunakan untuk bersandar ratusan Dhow Boat. oleh karenanya tempat ini dikenal dengan nama Dhow Harbour. Pelabuhan yang menjorok ke arah laut sepanjang setengah kilometer ini memiliki area utama pelabuhan seluas empat hektar.

Permukaan utama pelabuhan ini masih berwujud tanah berpasir putih sedangkang di keempat sisinya tersedia jalur beraspal yang memungkinkan kendaraan memasuki area pelabuhan.  Bagian berpasir inilah yang dimanfaatkan untuk docking beberapa perahu untuk dilakukan perbaikan.

Tampak di sepanjang tanggul berbatu pelabuhan, dimanfaatkan oleh warga untuk menyalurkan hobby memancing mereka. Sementara aku hanya duduk manis di tanggunl dan lekat memandangi area West Bay yang tampak indah dari kejauhan.

Di lain sisi, sedari tadi aku diikuti oleh seorang berwajah Asia Selatan, dengan gamis putih dan surban merah. Tingkahnya yang lucu dan terus menirukan aktivitasku, membuatku tak merasa takut tapi justru merasa geli. Kuputuskan mendekatinya dan berbincang. Namanya Safwan dan baru tiga bulan meninggalkan Dhaka untuk bekerja di Doha. Dia sepertinya tak tahu kalau aku seorang turis, sehingga dia merasa memiliki teman senasib yang bekerja di Doha….Hahaha, jadi menurutmu, dia mengiraku bekerja di bidang apa ya di Doha?….Wkwkwk.

Percakapan kami berakhir dengan saling mengambilkan foto berlatar West Bay Area….Sampai jumpa lagi Safwan.

Di sisi kanan Dhow Harbour, tampak bangunan ikonik yang dibuat seolah mengapung di permukaan air. Bangunan itulah yang dikenal dengan Museum of Islamic Art. Perlu merogoh kocek sebesar Rp. 200.000 untuk memasuki bangunan indah itu dan mengenal sejarah islam di Qatar pada masa lalu.

Masih di sisi kanan tepat di pangkal pelabuhan, aku bisa menikmati dengan detail keindahan Dhow Boat yang rapi terparkir di perairan tenang tak berombak. Perahu kayu berwarna cokelat dengan dek bertingkat yang biasa digunakan sebagai perahu wisata dalam mengarungi indahnya pantai Doha.

Jadi pastikan Anda mengunjungi Doha Corniche ketika berada di Qatar.

Tempatnya keren banget lho….

The Pearl Monument Sebelum Emas Hitam

Pedestrial tunnel itu dimulai dari sebuah lift dalam ruangan berkaca di utara Souq Waqif, tepat di depan Al Jomrok Boutique Hotel yang memiliki logo jangkar hitam, maklum kini aku berada di pesisir timur Qatar. Meluncur ke bawah tanah dalam satu sentuhan tombol, aku melangkah di bawah permukaan dua jalan utama yaitu Abdullah Bin Jassim Street dan Al Corniche Street. Kunikmati langkah demi langkah di terowongan bawah tanah dalam siraman pendingin ruangan yang menyejukkan badan.

Lorong itu bak koridor mall, berhiaskan dekorasi lampu-lampu artistik, berdindingkan Digital LED Wall dan berlantaikan marmer mewah dominan cokelat. Yang kuingat, aku melewati sebuah stand minimalis dengan logo huruf Q milik Qatar Charity, badan amal non-pemerintah terkemuka di negara teluk.

Aku berlanjut ke sebuah ruangan berbeda, berpemandangan pilar-pilar besar diantara slot-slot parkir kendaraan roda empat. Inilah area parkir bertingkat bawah tanah dengan kapasitas 2.000 kendaraan. Maklum lagi, kini aku sedang berada di pusat ekonomi Qatar.

Lurus terus menuju Doha Corniche.
Seumur hidup baru kali ini, melihat underground crossing memiliki parkiran bertingkat….Hmmh.

Di ujung tunnel, aku mulai menanjak landai, berputar-putar searah jarum jam. Kini aku menapaki area baru. Pedestrian panjang di tepi pantai, beralaskan paving block, berpagar beton di sisi pantai dan bertaman hidroponik berpadu dengan pepohonan palem rendah di sisi jalan raya. Inilah Corniche Promenade yang terkenal di Doha.

Tunggu, kawan….

Aku tak akan membahas Doha Corniche dahulu pada kalian….

Aku akan menuju sebuah monumen berbentuk kerang mutiara raksasa berjuluk ”The Pearl Monument”. Aku berkewajiban mengunjungi landmark ini.

Kurasa tak hanya traveler, bahkan seluruh warga negara Qatar hendaknya wajib mengunjungi The Pearl Monument. Melalui monumen ini, semua khalayak harus tahu bahwa sebelum tahun 1939 yaitu era sebelum ditemukannya “emas hitam”di perut bumi mereka, Qatar adalah negara miskin yang pendapatannya bergantung pada hasil tangkap kerang mutiara di Teluk Persia.

Kurasa Qatar cukup tahu diri karena tak melupakan akar perekonomian mereka di laut. Sebuah pertaruhan jiwa rakyatnya yang harus menemukan sebuah kerang bermutiara dari sepuluh ribu diantaranya. Bagaimana tidak, metode toll diving adalah metode penyelaman sederhana yang tak aman dari serangan hiu, barakuda dan ular laut. Itu juga hanyalah pencaharian musiman antara Juni hingga September dengan pelayaran lebih dari dua bulan di tengah Teluk Persia.

Ahaiiiiii…….Thanks to “RICH”

Monumen ini terletak tepat di situs penyelaman mutiara, di Jalan Corniche sebelum memasuki Dhow Harbour. Inilah bentuk penghormatan sang Emir terhadap sejarah mutiara Qatar. Sebuah monumen yang dibangun dengan latar belakang area West Bay yang dihiasi sekumpulan gedung pencakar langit ikonik di negeri itu.

Demikianlah sedikit kisah tentang kunjunganku di monumen cantik itu. Mari kutunjukkan bagaimana indahnya Doha Corniche….

Souq Waqif….Terbesar dan Tertua.

Melewari gate bernomor  empat, aku kembali keluar di jalanan pasca menjelajah dalaman City Souq. Kantor dua lantai milik badan independen Qatar menjadi bangunan pertama yang kulewati. Tampak lima bendera Qatar berukuran besar mempergagah markas Central Municipal Council.

Aku menikung ke kiri begitu berpapasan dengan Abdullah Bin Jassim Street. Dua ratus meter kemudian, aku melewati bangunan berlantai empat yang menjadi pusat pengembangan Islam di Qatar yaitu Sheikh Abdullah Bin Zaid Al Mahmood Islamic Cultural Center. Tampak sebuah sepeda ontel hitam tersandar pada tiang rambu di depannya. Klasik, macam suasana di Eropa saja.

Lalu mulai tampak pelataran luas nan panas dari kejauhan, letaknya tepat di pojok barat daya perempatan besar yang terbentuk dari persilangan Banks Street dan Abdullah Bin Jassim Street. Deretan tujuh bangku panjang tiga warna terduduki tiga pria setengah baya yang tampak menikmati suasana.

Minggu siang kala itu, Souq Waqif yang kudatangi dari gerbang timur masih tampak sepi. Aku menyusuri koridor demi koridor pasar. Berlantai andesit gelap, berdinding tak mulus dengan warna krem dan dibagian atas diletakkan kayu-kayu utuh memanjang sebagai penyangga struktur atapnya yang sengaja dibuat rata.

Pelataran sisi timur Souq Waqif.

Kulewati kios-kios dengan barang dagangan yang masih tertutup, aku sendiri tak menahu tentang jenis barang dagangan tersembunyi itu. Kusingkap sedikit ujung kain penutup dan kutemukan jawabnya….Itu rempah-rempah.

Ketika sampai di area pasar yang sedikit menjorok ke tengah, aku menemukan sebuah blok yang menjual satwa, pakan yang sudah dipacking dalam plastik besar ukuran seragam, beserta kandangnya. Area berjualan satwa ini sudah tak lagi beratap, langit nan panaslah yang tampak tepat di atas kepala.

Terimakasih “RICH” yang menjadi partner dalam perjalanan kali ini.
Blok untuk berjualan satwa seperti burung dan kelinci.

Sementara beberapa orang tua pemilik kedai sederhana tengah sibuk mempersiapkan lapaknya yang telah dilengkapi lemari-lemari pendingin dengan merk minuman ternama. Aku masih belum bisa membayangkan bagaimana rupa kedai ini ketika ramai. Aku hanya menebaknya sebagai kedai kaum menengah.

Masih sepi….Mereka bersiap diri.

Tergelincirnya matahari mengurungkan niatku untuk menelusuri seisi pasar. Eksplorasi bagian timur sudah kuselesaikan. Bagian barat?….Sudahlah, besok masih ada waktu. Aku mendadak menciptkan sebuah opsi perjalanan sendiri. Meninggalkan Souq Waqif segera dan ingin bersantai di Doha Corniche hingga sore. The Pearl Monument adalah tujuan berikutnya.

—-****—-

Inilah satu-satunya pasar tradisional kuno terbesar di seluruh Qatar. Al Souq menjadi distrik yang beruntung atas kepemilikan pasar ini. Berdiri pada akhir abad ke-18 di tepian Wadi Msheireb. Wadi sendiri merujuk pada jalur sungai kering yang hanya terisi air saat hujan lebat saja. Pengalaman menggelikan terkait Wadi adalah ketika mengunjungi negeri tetangga Qatar yaitu Bahrain. Saking keringnya, wadi di sana biasa digunakan warga untuk bermain cricket….Lucu kan.

Tiga hari berlalu, membuatku kembali merindukan Souq Waqif.

Rabu pagi, aku akhirnya tak kuasa membendung rindu itu. Aku kini memasukinya dari sisi barat yang tampak lebih elegan karena sisi ini memang berbatasan dengan Msheireb Downtown Doha (MDD), sebuah kota subtitutor Distrik Mushayrib yang pengembangannya direncanakan detail.

Pelataran sisi barat.

Aku mengamini….Terutama ketika mendengar sebuah jargon bahwa Souq Waqid adalah rumah bagi banyak restoran dan shisha lounges. Siang itu, aku memasuki sisi barat dengan sambutan deretan restoran bergaya Eropa di sepanjang koridor terbuka.

Restoran.

Sisi inilah yang menjadi tempat bagi warga Qatar dan para turis untuk sekedar nongkrong, menikmati kopi dan menghisap sisha. Konon akan ramai di Kamis malam. Seperti kebiasaan di kawasan Timur Tengah, yang menjadikan malam Jum’at sebagai permulaan weekend mereka untuk menyambut libur di keesokan hari.

Souq Waqif tak pernah merubah bentuk  arsitektur khas Qatarnya.

Waqif berarti berdiri. Karena pada masa perintisan pasar, tidak ada satupun kios yang dibangun. Hal ini disebabkan karena meluapnya air laut dari pantai Doha yang menggenangi pasar. Bahkan diawal berdirinya, masyarakat Arab Badui yang nomaden dan penduduk setempat bertemu dan bertransaksi di tempat ini. Para pembeli akan datang menggunakan perahu atau menaiki onta untuk mensiasati genangan tersebut dan penjual akan berdiri sepanjang hari untuk menawarkan dagangannya.

Duh cantiknya Souq Waqif.

Semakin memasuki area tengah, atmosfer pasar menjadi sangat ramai. Kini aku menemukan area penjual souvenir. Jam tangan, fridge magnet, gantungan kunci, dompet serta souvenir jenis lain ramai dipasarkan di area ini.

Koridor souvenir.

Kemudian keluar pasar melalui sisi selatan, aku menemukan area berjualan dallah, tabung shisha beragam bentuk dan ukuran seta berbagai jenis handicrafts

Area handicrafts.

Perkembangan ekonomi negara Qatar yang sangat melejit semenjak menemukan minyak bumi berimbas positif pada kondisi pasar ini. Pada tahun 2006. Emir Qatar, Sheikh Hamad bin Khalifa Al Thani merenovasi besar-besaran Souq Waqif sebagai pusat ekonomi dan pariwisata dunia. Konon sang Emir mendatangkan  kayu dan bambu yang diimpor dari beberapa negara Asia untuk kegiatan renovasi besar ini.

Nah, tunggu apa lagi….Yuk ke Qatar….Hihihi.

Seporsi Chicken Fry Menjelang City Souq di Doha.

Selamat tinggal Domes Mosque, masjid penuh sejarah di kawasan Old Doha.

Meninggalkan Old Doha Mosque.

Aku mengucapkan “wadaa’aan” dari pintu belakangnya di tepian Al Jabr Street. Menapaki gang sempit yang dibatasi tembok halus di sisi kiri dan tembok kasar di sisi kanan. Kini, saatnya menemukan sebuah kedai makan untuk mengerem protes perut yang kian menjadi.

Yes…Aku menemukannya dengan cepat. Tak ada waktu lagi untuk membandingkan dengan yang lebih baik. Antara lapar atau khawatir tersunatnya waktu eksplorasi, akhirnya kuputuskan untuk masuk dan duduk. Jelas kusadari, ini adalah kedai makan India, terlihat jelas dari komposisi food display, juga tampang penjualnya.

Karak one, rice one and chicken fry one”, ucapku menumpahkan segenap hafalan di kepala. Itulah makanan favoritku semenjak memasuki Dubai delapan hari sebelumnya. Orang India memang begitu, setiap meminta satu chicken fry maka mereka akan memberikan dua potong ayam goreng kering beraroma kari. Oleh karenanya, ketika di Bahrain, aku memintanya setengah supaya mereka hanya menyajikan sepotong ayam saja.

Ternyata tak berlaku di Doha,  mereka tidak mengenal istilah setengah porsi. Diambilnya sepasang paha diiringi senyum, tampak dia melihat aneh permintaanku. Mungkin porsi makan orang India memang banyak, jadi begitulah aturan makannya.

Menu pesanan sedang disiapkan penjual.
Rp. 44.000, seporsi untuk dua kali makan….
Jadikan dua bagian sebelum disantap, satu bagian untuk dinner….Hahaha.

Perut yang penuh terisi membuatku siap menuju Souq Waqif, pasar tertua di seluruh Qatar. Ini akan menjadi pengalaman yang mengesankan tentunya. Hanya saja, belum juga sampai di Souq Waqif, aku terpesona dengan keberadaan julangan tujuh lantai sebuah pusat perbelanjaan.

City Souq”, mulut batinku membaca signboard besar di tengah bangunan. “Oh, ini sepertinya mall modern di kawasan Old Doha”, aku membatin. Tak ada salahnya masuk walau hanya sedasa menit saja.

Mall seluas setengah hektar.

Masuk melalui pintu bernomor satu dari empat pintu yang tersedia, aku langsung dihadapkan pada kios-kios penjual tas, sepatu, pakaian, kain, aksesoris abaya dan parfum. Aku sendiri tak pernah tahu kategori harganya….mahal atau murah?, karena aku hanya memiliki satu transaksi yaitu saat membeli sebuah fridge magnet seharga Rp 48.000 di pusat perbelanjaan ini.

Toko tas dan sepatu.
Toko parfum dan kacamata.
Toko baju dan celana.
Toko perlengkapan jahit.

Tak lama berkeliling di dalam City Souq, dalam sekejap aku sudah beranjak pergi melalui pintu bernomor empat.

Pintuku keluar dari City Souq.

City Souq sendiri berada tepat di salah sudut perempatan dengan batas timur adalah Al Bareed Street, selatan adalah Al Tarbiya Street, utara adalah Central Municipal Council dan ditutup oleh Al Fanar Mosque di sebelah barat.

Central Municipal Council, entitas independent yang bertujuan melayani negara dan rakyat Qatar.

Tersimpulkan sudah bahwa pusat perbelanjaan unggulan di Old Doha ini tak semegah dari tempat sejenisnya di Jakarta. Jadi berbelanja di Jakarta tentu sudah lebih dari cukup, tak perlu belanja ke negeri seberang (ah, itu mah buat elo Donny yang ndak berduit. Kalau punya duit, ya pasti lo belanja ke Paris, Donny….hahaha).

Yuk lah, jangan menunggu lama, kita merapat ke Souq Waqif, jangan mampir-mampir lagi ya, Donny….Wkwkwk.

Empat Puluh Empat Kubah Domes Mosque

Kumandang suara adzan sayup memanggilku ketika sedang berkeliling Souq Faleh. Itulah saat yang kutunggu. Imajinasiku shalat berjama’ah dengan Qataris untuk pertama kali akan segera terwujud. Karena alasan itulah, aku bergegas menuruni tangga menuju lantai satu dan segera meninggalkan pusat perbelanjaan sederhana itu. Selamat tinggal Souq Faleh !

Foto terakhir sebelum meninggalkan pusat penjualan Abaya tersebut.

Terletak 200 meter di tenggara, tak membuatku khawatir tersalip Iqomah. Aku perlahan tapi pasti menapaki Al Ahmed Street, sebuah jalan satu jalur dua arah dengan lajur parking lot di utara.

Lima menit kemudian aku tiba. Tak ada papan nama apapun kecuali papan coklat muda berlogo petir bertajuk KAHRAMAA….Ah, itu pasti PLNnya Qatar. Sangat mudah ditebak.

Gerbang depan.

Bangunan masjid tua itu sekilas lebih mirip sebuah benteng daripada tempat peribadatan. Sulit membedakan apakah berwarna coklat meluntur putih atau putih terkotori plak berwarna coklat. Tetapi kombinasi itu memberikan nuansa klasik dan berumur.

Aku perlahan menaiki anak tangga berukuran pendek di depan pintu masuk dan sesaat kemudian disambut dengan halaman masjid yang di luar dugaanku, tak berlapis keramik mewah, tapi dibiarkan otentik berlapis pasir gurun berwarna putih.

Pelataran berpasir.

Bangunan utama masjid ada di kanan pintu masuk sedangkan minaret tunggal berada di kirinya yang berkombinasi dengan sebuah ruangan yang entah berfungsi sebagai apa. Bangunan utama sendiri memiliki empat puluh empat kubah dengan susunan sebelas kolom dan empat baris.

Minaret tunggal Domes Mosque beserta sebuah ruangan.

Aku terus mencari keberadaan tempat berwudhu, aku mecari di setiap sisi  pelataran utama dan tak pernah menemukannya. Aku mencoba menunggu kedatangan jama’ah lain dan mengikutinya, karena aku yakin tempat pertama yang akan dicarinya adalah tempat berwudhu. Ternyata ruang wudhu ada di bagian barat bangunan, tersembunyi di belakang. Sedangkan di pojok depan kiri pelataran, terletak rumah imam masjid.

Ruang berwudhu.
Al Imam House.

Kini aku memasuki bagian utama masjid untuk bershalat Dzuhur, sepanjang sisi masuk bangunan utama terbuat dari kaca bening sehingga membuat seisi masjid terlihat dari pelataran. Masjid yang dipercaya berasal dari abad pertengahan ini ditopang oleh 60 tiang raksasa. Hal ini menunjukkan kekokohan Domes Mosque.

Tiang-tiang utama.

Jika dilihat dari atas, Domes Mosque memiliki bentuk Letter-L dengan luas sekitar satu setengah hektar. Dibangun di atas kawasan Old Doha dengan batas Al Ahmad Street di bagian utara, Al Jabr Street di sisi timur, sedangkan sisi barat dan selatan berbatasan langsung dengan Stasiun Doha Metro Souq Waqif.

Ruangan dalam sendiri tertata cukup rapi dengan karpet hijau dengan siraman Air Conditioner. Domes Mosque juga menyiratkan kekuatan Qatar dengan penghiasan mata tombak di setiap kubahnya.

Setelah shalat berjama’ah selesai, akhirnya aku keluar dari pintu belakang di sisi Al Jabr Street.

Kemudian, aku sedikit berjuang keras dengan berjalan kaki untuk menemukan rumah makan murah tetapi layak dijadikan sebagai tempat makan siang.

Aku menemukan sebuah restoran kecil khas India, mirip dengan warteg di Indonesia. Kupesan seporsi nasi dan chicken fry ala India.

Restoran atau kedai ya?

Souq Faleh….Salah Satu yang Tertua di Qatar

Matahari sedang giat menanjaki puncaknya, udara mulai menghangat, mengikis rasa dingin pelan-pelan dari telapak tangan dan guratan muka.

Aku meninggalkan Al Ghanim Bus Station…..

Hello, Filippino”, tiga Qataris petugas Mowasalat menyapaku di gerbang luar terminal.

Hi, Sir”, jawabku singkat sambil membatin “Alhamdulillah aku dikaruniai muka ajaib yang cocok dengan muka berbagai bangsa Asia”. Membuatku seperti bunglon yang pandai menyesuaikan diri.

Al Ashat Street tak lagi menyemburkan debu, kini kumpulan partikel halus itu menyerpihi setiap sudut jalanan. Berdebunya jalanan Qatar, tak bisa dijustifikasi “kotor”, justru itulah yang menjadi identitas negara-negara teluk yang bisa dinikmati para wisatawan.

Setiap bangunan bertingkat di sisi kiri kanan jalan seragam berwarna coklat pasir, sama seperti Kuwait, yang beberapa hari sebelumnya kulihat dari udara.

Kini aku sudah di tepi Banks Street, jalan utama tiga jalur di setiap sisi arahnya dan dipisahkan dengan pagar kawat stainless dengan berbagai bunga hidroponik aneka warna di dasar pagar. Jalan utama ini lancar mengalir tanpa kemacetan.

Aku sedikit was-was menyeberang di Ali Bin Abdullah Street karena arus kendaraan begitu cepat dan tentu bukan datang dari arah kanan seperti layaknya arus di Indonesia. Aku tak pernah menyeberang sebelum genap menoleh ke kedua sisi, trauma pada kisah masa lalu yang hanya sekian inchi saja hampir tersambar kuda besi di Phnom Penh dan Bandar Seri Begawan.

Di ujung blok kedua, tepatnya di jalur kecil Al Tarbiya Street aku menikung ke kanan untuk menemukan Al Fanar Mosque, bangunan ibadah yang terintegrasi dengan Abdullah Bin Zaid Al Mahmood Islamic Cultural Center.

Al Fanar Mosque….Bangunan ikonik berminaret spiral dan berjendela biru langit.

Bukan itu yang menjadi topik bahasan kali ini. Tapi pada bangunan persegi dua lantai yang penuh dengan signboard di lantai dasarnya. Inilah salah satu pusat perbelanjaan tertua di Qatar. Tersohor di era 1970-an, Souq Faleh masih menjadi minat tersendiri bagi warga Qatar untuk berbelanja. Mungkin Souq Faleh memiliki masa jaya yang bersamaan dengan Sarinah Thamrin Plaza di Jakarta.

Souq Faleh dari kejauhan.

Inilah perpaduan pasar tradisional dan mall modern. Bentuknya yang mungil dan eksisnya kegiatan tawar-menawar adalah ciri khas tradisional sedangkan bangunan besar mall adalah sisi modernnya.

Secara umum, pusat perbelanjaan ini menyediakan kios-kios penjual Abaya (pakaian wanita khas Timur Tengah), parfum berkualitas baik, telepon genggam, arloji, perhiasan emas dan perak, alat tulis kantor dan mainan anak-anak.

Yuk kita intip beberapa spot di Souq Faleh:

Kios sprei dan kaftan asal Pakistan.
Kios penjual mainan anak-anak dan tas.
Kios penjual kain-kain bermotif tradisional khas Timur Tengah.

Secara konektivitas, Souq Faleh bisa dicapai siapapun dengan mudah, karena terletak di dekat Al Ghanim Bus Station dan Stasiun MRT Souq Waqif.  Taka da salahnya untuk mampir disini karena letak strategisnya yang diapit oleh Souq Waqif dan Doha Corniche.

Kunjungan yang tak lama di Souq Faleh ini tertutup sempurna oleh lantunan suara adzan yang bersumber dari Domes Mosque. Masjid tua yang berjarak 100 meter di timur Souq Faleh.

Yuk Shalat Dzuhur dulu !

Doha Old Mosque….Orang memanggilnya Domes Mosque.

Al Ghanim Bus Station, Terminal Sentral Kebanggaan Qatar

Seperti yang kukisahkan di awal, jika kamu membedah seisi Qatar menggunakan Karwa Bus maka secara otomatis kamu akan berhilir mudik di sebuah terminal sentral di kota Doha yaitu Al Ghanim Bus Station.

Aku sendiri yang adalah backpacker penggila bus kota dan selama di Qatar tercatat selama tujuh kali dalam lima hari, aku menyambangi terminal bus yang menjadi kantor pusat Mowasalat (perusahaan transportasi negara Qatar).

Tak cukup besar, secara ukuran, Al Ghanim Bus Station masih kalah luas dengan Terminal Tirtonadi di Solo atau Terminal Kampung Rambutan di Jakarta Timur. Bayangkan saja, terminal ini layaknya terminal bus di kota-kota kecil pulau Jawa….Terminal Tidar di Magelang misalnya….Ya, segitulah perkiraanku.

Aku sekejap memaklumi, tak butuh terminal yang besar untuk melayani wilayah negara Qatar yang hanya dua kali luas Pulau Bali.

Menunggang Karwa Bus No. 12, perjalanan perdana menuju Al Ghanim  Bus Station.

Siang itu, panas surya beradu kuat dengan rendahnya suhu udara yang bertiup di Semenanjung Qatar. Pasir-pasir halus penuh kesumat memanfaatkan arus angin untuk menghajar mukaku tanpa ampun. Tapi kini aku telah memakai rayban yang membuatku melangkah gagah nan penuh gaya di jalanan Doha.

Bermula dari Casper Hotel, aku membelah kota di dalam kotak besi berjalan sejauh lima kilometer dan tiba dalam setengah jam di Al Ghanim Bus Station. Tak mahal, hanya Rp. 10.000 saja untuk diserahkan ke tap machine Karwa Bus.

Al Ashat Street tepat di depan terminal.
Mungil, rapi dan minim polusi.
Tak ada yang berteriak mencari penumpang….Very silent.

Fasilitas

Tiba di terminal, aku tak terburu meninggalkannya begitu saja. Kubiarkan waktuku sedikit terbuang hanya dengan berduduk manis di sebuah kursi tunggu berbahan kayu bercat putih. Mengamati wajah Qataris yang mayoritas adalah pegawai pemerintahan, wajah Filipino yang bekerja di sektor formal atau wajah Asia Selatan yang entah dari Nepal, India, Bangladesh atau Sri Lanka yang tampak bekerja di sektor non-formal. Kesemuanya berlalu lalang dengan kesibukannya masing-masing,  bergerak seirama dalam menggerakkan ekonomi Qatar.

Kursi tunggu terminal….Bagi yang kuat menahan dingin silahkan berlama-lama disini.
Yang tak kuat dingin, bolehlah membeli Karak (teh tarik) di kantin pojok itu.

Terminal ini melayani hampir seluruh rute bus, yang keluar atau menuju Doha. Setiap rute berjeda keberangkatan 20-30 menit. Terminal beroperasi dari jam 4 pagi hingga tengah malam.

Toilet ada di ujung barat depan, berstruktur container box dan harus menaiki beberapa anak tangga. Terminal juga menyiapkan ruang tertutup yang cukup efektif untuk menghangatkan badan sembari menunggu keberangkatan bus.

Ruang tunggu tertutup terminal.

Sementara beberapa Ticketing Vending Machine disediakan di sebelah ruang tunggu tertutup, sehingga setiap pengguna jasa Karwa Bus dapat leluasa mengisi ulang Karwa Smartcardnya disini.

Di beberapa tiang terminal tercantum dengan jelas setiap peta rute Karwa Bus, sehingga sangat membantu penumpang yang belum memahami keseluruhan wilayah Qatar dalam menemukan jalur bus yang tepat ke setiap tujuan yang disasarnya.

Rute Karwa Bus No. 11.

Itulah profil singkat dari Al Ghanim Bus Station yang terletak di Municipality Ad Dawhah. Tertarik berkunjung?

Rute langganan untuk pulang menuju Casper Hotel.

Berhemat di Casper Hotel, Qatar

Semakin ke barat, nyatanya biaya backpackeran semakin tinggi. Harga hotel dan tiket pesawat tak bisa tertolak kemahalannya. Perlu kejelian dalam berburu tiket dan hotel murah.

Hal inilah yang kemudian membuatku mengalah untuk tinggal di penginapan yang jauh dari pusat kota, demi mendapatkan harga yang sesuai dengan budget. Tentu walaupun tinggal di penginapan pinggiran, perihal konektivitas tetap harus diperhatikan.

Nah, untuk eksplorasiku di Qatar kali ini, aku memilih Casper Hotel untuk menjadi basecamp selama empat malam. Aku memesannya dua bulan sebelum keberangkatan melalui Booking.com dengan harga Rp. 199.500 per malam. Boleh dibilang, inilah hotel termurah dengan akses transportasi yang cukup baik dari sekian banyak penginapan yang telah kujelajahi di berbagai e-commerce penyedia penginapan.

Gerbang depan Casper Hotel yang merupakan sebuah perumahan.

Kesamaan bentuk rumah dalam cluster ini membuatku tersasar ke Q Hotel. Petugas resepsionis agak sedikit judes ketika menunjukkanku letak Casper Hotel yang berdampingan dengan hotel mereka. Mungkin karena aku lebih memilih kompetitornya.

Hotel tanpa papan nama.

Aku diterima oleh resepsionis jangkung asal Islamabad dan diminta menunggu sekitar setengah jam hingga kamar siap.

Meja respsionis sederhana.
Lobby.
Dorm yang kutempati (tengah).

Aku ditempatkan sekamar dengan professional Pakistan yang bekerja di perusahaan penghancuran kapal, turis India dan pemuda Dubai yang sedang bersemangat mencari pekerjaan di Amerika Latin.

Aku sengaja memilih hotel ini karena mereka menyediakan pantry bersama. Biaya hidup di Qatar terkenal mahal, opsi terbaikku adalah membeli bahan makanan lalu memasaknya mandiri.

Tempatku memasak.
Staff pengelola hotel (dua berdiri) dan teman sekamar (duduk).

Konektivitas

Walaupun jauh dari kota, hotel ini memiliki akses transportasi yang baik. Hal ini tentu membantuku untuk berhemat. Casper Hotel memiliki akses Free Doha Metrolink Shuttle Service menuju stasiun Oqba Ibn Nafie. Selain itu, Karwa Bus No. 12 memiliki shelter dekat gerbang hotel menuju Al Ghanim Bus Station.

Shelter bus di Al Nadi Street, selalu kugunakan saat pulang menuju hotel.
Karwa Bus No. 12, suatu sore menuju ke hotel dari Al Ghanim Bus Station.

Shopping Area.

Tiga ratus meter di selatan hotel terdapat Zone Center Nuija AL Hilal yaitu kompleks pertokoan yang menyediakan minimarket (Abdulla Ali Bumatar minimarket), coffee shop dan shopping centre. Tempat inilah yang menjadi tempatku berbelanja kebutuhan pokok selama tinggal di Qatar.

Tea Center tempatku meminum Karak (teh tarik).

Tempat Ibadah.

Seratus meter di timur Zone Center Nuija AL Hilal terdapat sebuah musholla mungil yang menjadi tempat ibadah bagi warga sekitar kompleks. Musholla ini menjadi tempat ibadah lima waktuku selama di Doha.

Shalat Maghrib.

Sport Center.

Buat kamu yang ingin berolahraga rutin selama berwisata ke Doha, hotel ini sangat dekat dengan Hamad bin Khalifa Stadium yang bisa dikunjungi untuk menonton Al Ahli SC  di Qatar Stars League atau hanya sekedar berbaur dengan aktivitas warga yang berolahraga di dalamnya.

Berbagi kandang dengan Al Sailiya SC.

Yuk, kita menuju ke pusat kota Doha!.

Karwa Bus No. 727….Menuju Distrik Nuaija dari Hamad International Airport

Pagi itu hasratku menuju pusat kota begitu terburu. Aku sudah tak sabar untuk melihat Doha lebih dekat. Tetapi keterburuanku tertahan sejenak, aku terus menghitung dengan detail budget transportasi yang kubutuhkan selama lima hari di Qatar. Supaya aku tak begitu banyak meninggalkan sisa saldo sia-sia di Karwa Smartcard nanti.

Sarapan sejenak dengan roti tawar kupas di airport bus terminal.

Perhitunganku memutuskan untuk menyuntikkan dana sebesar Rp. 118.000 untuk seluruh perjalanan yang mayoritas akan menggunakan bus kota. Besaran itu belum termasuk harga kartu Karwa Smartcard sebesar Rp. 39.000.

Ticketing Vending Machine.
Karwa Smartcard adalah satu-satunya akses untuk menikmati jasa Karwa Bus.

Avsec: “Hi, No No No….Sir, Sorry, you can’t capture the building”, petugas berwajah Asia Selatan mendekat dan melarangku ketika mengarahkan kamera ke salah satu sisi Hamad International Airport dari platform airport bus.

Aku: “Oh, I’m sorry Sir….I don’t capture yet, I’m sorry”, aku segera memasukkan Canon EOS M10 ke folding bag.

Avsec: “Nice….Nice”, tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. “Where will you go?

Aku: “I’m waiting for bus no. 727 to Nuaija. Do you know, When it will come?

Avsec: “Oh, you better ask to Karwa Officer….Him (dia menunjuk ke petugas tambun yang sibuk dengan clip boardnya)”.

Aku beranjak menujunya dan menanyakan status Karwa Bus No 727, lalu dia memintaku untuk menunggu sekitar sepuluh menit.

Tepat waktu, bus itu tiba.

Nervous, pertama kalinya aku menaiki bus kota Qatar. Jika Dubai, Bahrain dan Oman lebih memilih warna merah untuk bus kotanya, maka Qatar memutuskan menggunakan warna hijau untuk itu.

Akulah penumpang pertama pada bus yang baru saja terparkir itu. Beberapa menit kemudian, satu persatu pekerja Hamad International Airport memasuki bus yang sama.

Bersiap menuju Distrik Nuaija.

Walau aku dilarang mengabadikan salah satu sisi bandara oleh aviation security tadi….Namun pada akhirnya, aku tetap mencuri gambarnya dari dalam bus….Dasar backpacker ngeyel….Hahaha.

Cekrek….Itulah bangunan bandara yang kuincar sejak tadi.

Selama menaikinya, Karwa Bus berjalan pelan nan santai saat membelah jalanan kota. Layaknya moda transportasi umum di kota-kota beradab lainnya yang memastikan setiap penumpang merasa aman.

Pembayaran dilakukan dengan men-tap Karwa Smartcard di tap machine sebelah sopir. Perlu kamu ketahui bahwa kemudi kendaraan di Qatar ditempatkan di sisi kiri. Sedangkan selama di sana, aku memasuki dan menuruni bus selalu dari pintu depan. Tentu sebelum menuruni bus, aku wajib mengecek saldo Karwa Smartcard yang tersisa di tap machine yang sama.

Menunggang bus selama tiga puluh menit, mataku terus lekat memandangi segala cetak arsitektur kota yang terlalui, juga dengan beragam aktivitas warga yang teramati.

Diturunkan di Nuaija intersection.

Begitu turun dari bus, angin meniup tubuhku dengan kencangnya, membawa partikel-partikel lembut pasir bersamanya. “Inikah rasa angin gurun? “, hati bergumam seketika. Mata telanjangku terpaksa terkorbankan untuk berkali-kali diterjang pasir-pasir lembut itu. Aku tak sanggup lagi mencari kacamata rayban yang entah kutaruh di sebelah mana dalam backpack. Suhu dua belas derajat celcius memaksaku untuk segera mencapai Casper Hotel, tempatku menginap.

Al Emadi Hospital yang kulewati di pinggiran D Ring Road.
Bunga segar yang tumbuh dengan teknik hidroponik.

Setelah berjalan sejauh satu setengah kilometer dan dalam waktu dua puluh menit, akhirnya aku tiba di hotel yang tampak sebagai hasil menyulap kompleks perumahan menjadi sebuah penginapan sederhana.

Casper Hotel.

Nanti kuceritakan bagaimana nyamannya dormitory sederhana itu….