Bus dari KLIA2 ke Penang

Tiket ketengan menuju ke Dhaka, Bangladesh mengharuskanku transit ke Kuala Lumpur. Plisssss deh….yang bener aja, Aku harus menginjakkan kaki di Kuala Lumpur untuk ke 12 kali.

Hebat euy si Donny….

Hebat apaan, Guwe bosennnnn….

Aku harus cepat memutar otak untuk menjadikan perjalanan kali ini berkesan.

Fine….Akhirnya Kuputuskan meninggalkan Kuala Lumpur dan memilih mengunjungi Penang dengan cara  memperpanjang waktu transitku.

Hingga 2017, Aku tak pernah kesampaian mengunjungi Penang. Sementara jadwal klayapanku sudah jauh meninggalkan Asia Tenggara. Jadi kupaksakan diri untuk mampir ke Penang sebelum menghabisi Asia Selatan.

Lalu….Bagaimana mencapai Penang dari KLIA2 (Kuala Lumpur International Airport Terminal 2)?

Kukasih pilihan deh,

Alternatif 1. Naik ETS (Electric Train Service)

Biaya yang akan dikeluarkan jika naik ETS:

  1. Aerobus KLIA2-KL Sentral = Rp. 40.000
  2. ETS Stasiun KL Sentral-Stasiun Butterworth = Rp. 286.000
  3. Ferry dari Pangkalan Sultan Abdul Halim Ferry Terminal di Penang Sentral menuju Pangkalan Raja Tun Uda Ferry Terminal di Pulau Penang = Rp. 4.000

Tarif keseluruhan = Rp. 330.000

Alternatif 2. Naik Bus

Biaya yang akan dikeluarkan jika naik bus:

  1. Direct bus dari KLIA2-Penang Sentral = Rp. 190.000
  2. Ferry dari Pangkalan Sultan Abdul Halim Ferry Terminal di Penang Sentral menuju Pangkalan Raja Tun Uda Ferry Terminal di Pulau Penang = Rp. 4.000

Tarif keseluruhan = Rp. 194.000

Sudah tahu kan Aku memilih naik apa?….

—-****—-

Malam hari pukul 22:05, Air Asia QZ 206 mendaratkanku di KLIA2. Artinya sudah jelas kan….moloooorrrr lageeeee di bandara….hahaha.

Selepas mengecap passport di konter imigrasi, Aku segera menuju ke Transportation Hub di lantai 1 Gateway@klia2 mall. Dan selanjutnya Aku duduk manis di ujung NZ Curry House untuk menyantap nasi lemak dan teh O seharga Rp. 23.000 sebagai makan malamku….makan malam kok tengah malam….parraaahhhh.

Tengah malam makan beginian….
Menu yang sama kuulang dipagi hari kemudian sebelum berangkat ke Penang.

Dan untuk mengamankan satu tiket menuju Penang. Di tengah malam itu pula, Aku membeli tiket bus StarMart Express dengan tujuan akhir Penang Sentral seharga Rp. 190.000.

Tengah malam pun konter sangat ramai….Awas kehabisan tiket!….Coba deh beli di 12Go
Tujuan akhir masih tertera terminal Butterworth. Sebelum Penang Sentral selesai dibangun, memang bus berhenti di terminal itu.

Yessss….

Makan sudah….

Tiket sudah….

Menjadikan malam itu nyenyak beristirahat di surau (mushola) Departure Hall lantai 3 KLIA2.

—-****—-

Dan perjalanan menuju Penang pun dimulai. Pagi itu tepat pukul 06:00, Aku menaiki StarMart Express di Door1-platform A01 sesuai tiket.

StarMart Express sedang merapat di platform.
Aku duduk di seat nomor 22.

Karena ini perjalanan panjang maka kubekali diriku dengan membeli sebotol air mineral dan snack ringan seharga  Rp. 15.500.

Menyusuri jalanan North-South Expressway, Starmart Express berjalan dengan santai. Dan 3 jam 45 menit kemudian, Aku tiba di Terminal Amanjaya, Kota Ipoh. Ipoh sendiri adalah Ibu Kota Negara Bagian Perak.

Bus menurunkan dan menaikkan sejumlah penumpang di Terminal Amanjaya.
Suasana jalan ketika meninggalkan Kota Ipoh.

Pukul 11:00, Bus merangsek ke jalan Taiping dan akhirnya berhenti di Terminal Kuala Kangsar. Penumpang melakukan toilet break selama 10 menit.  

Terminal Kuala Kangsar terletak tepat di jalan Persiaran Bendahara, kota Bandar Baru, Distrik Kuala Kangsar, Negara Bagian Perak.

Pada jam 11:55, bus berhenti di kantor StarMart Express Taiping di Jalan Kampung Dew, daerah Simpang. Ini adalah tujuan akhir Bus StarMart Express dari KLIA 2. Dan untuk melanjutkan perjalanan menuju Penang,  penumpang akan dipindah ke bus StarMart Express yang lain atau bus yang bekerjasama dengan StarMart Express.

StarMart Express @Taiping Head Quarter terletak di Distrik Laut, Matang dan Selama, Negara Bagian Perak.

Dan kali ini, Aku dipindahkan ke Bus Eagle yang bekerjasama dengan StarMart Express.

Bus “Hijau” ini dimiliki oleh perusahaan Eagel Coach SDN.BHD.

Tak menjadi masalah buatku untuk dipindahkan ke bus lain yang penting sampai tujuan. Tapi tak tahu dengan penumpang yang lain, apakah mereka biasa juga atau mungkin ada yang sewot…..hahaha.

OK lanjut yaaaa….

Jam 12:30, Bus tiba di Terminal Bas Express Kamunting Raya untuk melakukan toilet break kembali selama 10 menit.

Terminal ini terletak di kota Kamunting, Distrik Laut, Matang dan Selama, Negara Bagian Perak.

10 menit kemudian bus perlahan meninggalkan Kota Kamunting dan mempertontonkan keindahan alam dengan melalui jalan yang meliak-liuk menembus perbukitan .

Cakep banget dah alam Negara Bagian Perak.

Terlelap dengan pulas karena jam tidur yang kurang pada malam sebelumnya di KLIA2 hingga akhirnya tak terasa bus mulai memasuki platform Penang Sentral pada pukul 13:54.

Rasa ingin tahu yang tinggi membuatku tak terasa capek menaiki bus selama 7 jam 54 menit untuk mencapai destinasi impian….”Penang”

Aku diturunkan di platform ini ketika tiba di Penang Sentral.

So guys,…..Siapa sih yang ga mau melihat Kota Tua George Town yang menjadi Situs Warisan Budaya UNESCO ?

Ayolah datang kemari….ngeteng aja sepertiku, dijamin murah meriah.

Tiket bus KLIA2-Penang bias Kamu dapatkan juga di e-commerce perjalanan 12Go

Wallpaper dan Realita

HAHAHAHA….Ternyata wujud kartunku kek gitu….ilernya itu loh gak nguatin.

Sebuah ruang tunggu di Chhatrapati Shivaji International Airport yang menjadi gerbang wisata Mumbai sengaja kupilih menjadi background dalam wallpaper ini.

Kenapa Chhatrapati Shivaji ?

Keterpesonaan terhadap modernnya bandara ini membuatku jatuh cinta dan terus mengaguminya. Bukannya Kansai International Airport modern juga?….Narita International Airport gimana?….Lalu Incheon International Airport kamu anggap apa, Don?.

Yup ketiga bandara itu sangat OK….tapi kan ketiganya dimiliki negara dengan ekonomi super maju. Lumrah lah….

Kutanya balik deh. Gimana rasanya ketika kamu menemukan sebuah bandara modern di tengah ruwetnya isi kota di sebuah negeri yang ekonominya belum sebaik Jepang dan Korea?.

Tak tergambarkan rasanya, brur….

Lalu, kenapa memilih bandara sebagai background dalam wallpaper ini?

Sederhana lah….Bandara internasional adalah muka dari sebuah negeri. Dia menginterpretasikan ragam budaya dan tingkat peradaban sebuah negara.

Kembali ke wallpaper yuks….

Berikut filosofi dari wallpaper diatas:

Peta dan Kompas…. Bak seorang polisi yang kemana-mana bersenjatakan pistol di pinggang, maka saya juga punya senjata serupa yang selalu kubawa ketika klayapan yaitu peta dan kompas. Kecakapan menggunakan kedua piranti traveling itu akan meningkatkan kepercayaan diri secara signifikan ketika berjalan di negeri orang dan tentu akan membuatmu menjadi lebih unik dibanding klayaper yang lain.

Botol Minuman….Botol minuman adalah barang penting dalam melakukan penghematan. Mengisinya di water station bandara….di tempat umum….di hotel….atau memindahkan seisi teko restoran ke dalamnya adalah kebiasaan gila yang konsisten kulakukan.

Mangkanye ketika sedang jalan barang sama Ane….jangan suudzan, Ane kaga jelalatan liatin cewek cantik kok,….tapi cari free water station demi berhemat.

Kamera…. “Si mirrorles hitam” itu adalah Canon EOS M10 yang kubeli pada 2018. Jadi foto-foto yang kupublish pada era 2011-2017 adalah hasil jepretan kamera HP biasa, kupastikan artikel-artikel berbahan pengalaman sebelum 2018 akan menampilkan foto-foto beresolusi ala kadarnya….Ga papa ya, yang penting bisa memberikan Kalian informasi sebelum memulai perjalanan.

Tidur….Tidur di bandara adalah cara terbaik dan teraman untuk menyelamatkan budget. Paling tidak menghemat biaya hotel 1 malam. Gilee guweh….total sudah meniduri 10 bandara di kawasan Asia….untung kagak hamil tuh bandara….hihihi.

Lembar Itinerary….Aku adalah orang yang detail dengan itinerary. Selain cermat dalam penyusunan, Aku juga disiplin membawanya selama klayapan. Menjadi sindiran dan ketawaan banyak orang ketika lalu lalang membawa map berisi lembaran kertas itinerary, print out tiket pesawat, lembar konfirmasi pemesanan hotel dan peta jalur transportasi umum. Buat orang lain, ini terkesan ribet. Tetapi hal inilah yang membuatku nyaman ketika bersolo traveling. Persiapan dokumen yang lengkap identik dengan self confidence tauk.

Backpack…. Ya begitulah kondisiku jika berada di bandara. Backpack tak pernah lepas dari badan. Karena semua perbekalanku ada didalamnya. And no more backpack. Oleh karenanya sejauh apapun pergi, Aku tak pernah membeli bagasi pesawat.

Soooo….Semoga wallpaper ini bisa mendeskripsikan perilakuku selama klayapan…..

Bandara mana lagi ya yang akan Aku kunjungi dalam waktu dekat?. Bagaimana kalau Sultan Mahmud International Airport?. Kayaknya OK deh….Mau ikut?

Scoot Air TR457 dari Kuala Lumpur ke Singapura (KUL-SIN)

SCOOT AIR….maskapai Low Cost Carrier (LCC) milik Negeri Singa yang kepemilikan sahamnya dikuasai oleh Singapore Airlines.

Lintasan terbang Scoot Air TR457. Sumber dari https://flightaware.com

Scoot sendiri masuk list ke-22 dari seluruh maskapai yang pernah kunaiki. Melalui nomor penerbangan TR457 dengan rute regular Kuala Lumpur (KUL) ke Singapura (SIN), Aku pertama kali menggunakan jasa Scoot Air  tertanggal 31 Maret 2018. Kali ini Aku menaiki pesawat berjenis Airbus A320 dengan kapasitas 168 penumpang.

Walaupun sebenarnya Aku pernah menggunakan Maskapai  Tiger Mandala pada 26 November 2013 saat menuju ke Bangkok dan Tiger Air pada 11 Januari 2015 saat kembali dari Vietnam. Kini kedua maskapai tersebut sudah merger ke dalam Maskapai Scoot Air.

Tuh kan sudah merger, masih ada identitas Tiger Air di badan pesawat Scoot Air TR457

Ketidakjelasan terminal asal keberangkatan (apakah dari KLIA terminal 1 atau KLIA terminal 2) membuatku sedikit gelisah karena biasanya Departure List baru keluar 2 jam sebelum penerbangan. Dan tentu perlu waktu untuk berpindah dari KLIA2 ke KLIA.

Untuk penerbangan internasional, Aku selalu memulai perjalanan menuju bandara 4 jam sebelum waktu penerbangan. Jadi Aku meninggalkan Westree Hotel pada pukul 05:30 dan bergegas menuju ke Skybus/Aerobus Shelter yang terletak di KL Sentral. Karena jaraknya cuma 40 m, Aku hanya perlu berjalan kaki selama 3 menit menuju shelter.

Security hotel keturunan India tajam memerhatikanku di pintu lobby bagian dalam….Lha iya, Aku berdiri lama ditengah pintu….clingak-clinguk kiri kanan kaya ayam mau nyebrang….Saking sepinya, Aku harus memastikan tak ada yang mencurigakan di sepanjang jalan yang akan kulewati menuju KL Sentral.

Yesss….Sepi, ndak ada orang….Kabuuurrrrrr. Bak atlit jalan cepat, Aku mulai menjauhi hostel. Aku tiba saat bus siap berangkat.

Dengan 12 Ringgit aku tiba di KLIA2 pada pukul 6:30. Setiba di KLIA2, Aku segera menuju information centre untuk menanyakan dimana terminal TR457 akan lepas landas. Pagi-pagi Aku sudah ngrepotin Si mbak India petugas information centre, karena Departure Board belum menampilkan informasi tentang TR457 maka Dia harus menarik keyboard dan mencarikan info untukku….Hadeuhhh, sudah manis….baik pulak si teteh….eh, si mbak.

Buseeettt….mataku melotot sambil mengunyah nasi lemak telur ceplok di pojokan NZ Curry House….kek kambing yang sedang memamah biak. Pertanda Aku tak bisa membohongi otak bahwa perutku belum siap bersarapan.

Ya memang tak ada pilihan lain, lebih baik sarapan di kedai makan India dengan harga paling murah sebelum menuju ke lantai 3 untuk proses check-in, proses imigrasi dan keberangkatan.

Departure Board di Departure Hall
Information Centre di Departure Hall
Departure Hall Area
Konter check-in Z2-Z3 untuk Scoot Air TR457
Setelah melewati konter imigrasi, Aku menuju ke ruang tunggu di gate L3.

Aku memasuki ruang tunggu pada pukul 08:05. Dalam kejenuhan menunggu, datang kepadaku wajah Vietnamese dan bertanya:

Vietnamese: “Hi, Can you explain to me about my cigarette (sambil menunjukkan sebungkus rokok yang sudah terhisap dua puntung). Can me bring it when entering Singapore?”

Aku : “Do you bring another one  or just this opened pack?. If you just bring it, you can savely entering Singapore.”

Vietnamese: “No, I just bring it. So it’s savely. Thanks you.”

Aku: “You are welcome”.

Ruang Tunggu di depan Gate L3
Setelah menunggu selama 20 menit, akhirnya boarding process dimulai.
Mana 14D….manaaaaa?

Scoot Air identik dengan warna kuning. Pesona pramugari-pramugara muda keturunan Tiongkok semakin segar ketika penampilan mereka terlihat berbalut t-shirt dan syall serba kuning.

Terbang diatas selat Malaka
Langit sungguh cerah, nikmat banget terbang tanpa turbulensi.

Setelah mengudara selama 1 jam 15 menit, Aku mendarat di Terminal 2 Changi International Airport. Berusaha secepat mungkin meninggalkan Changi untuk menuju ke Greendili Backpackers Hostel di bilangan Race Course Road dan selanjutnya siap mengeksplorasi Singapore untuk ke-7 kalinya.

Cari peta MRT sebelum masuk konter imigrasi Changi International Airport.
Catch the MRT ! Menuju pusat kota

Makan siang dulu yuk ke Mustafa Centre sebelum walking-walking.

Sebagai alternatif, tiket pesawat, kereta dan bus dari Kuala Lumpur ke Singapura bisa dipesan melaui e-commerce perjalanan 12go Asia

Traveling….Ketika Hobi Berubah Menjadi Passion

Merubah paradigma

Workaholic sudah menjadi karakter tak terpisahkan dari pribadiku selama ini. Pada awalnya “rumah-kantor-rumah” adalah rumus aktivitas yang selalu kujalani setiap harinya. Rumus itu sangat ampuh untuk menghantarku pada kemapanan dengan kepemilikan materials goods seperti rumah, kendaraan dan beberapa investasi.

Kian lama tak bisa dihindari, akhirnya badai kebosanan pun melanda. Bertahun-tahun Aku merasa ada sesuatu yang kurang dalam pencapaianku. Tentu bukan masalah materi, tetapi Aku tak pernah mampu memantikkan api abadi di dasar semangatku.

Lalu hal baru itu tiba….

Singapura menjadi pemantik pertama api semangat dalam kehidupanku. Bermula dari perjalanan kesana bersama 18 orang rekan kerja enam tahun lalu, akhirnya Aku membawa pulang satu buah kesan. Bukan kesan tentang modernnya Singapura, tetapi kesan tentang kesegaran fikiran dan perubahan cara pandang dalam alokasi pendapatan. Ternyata investasi tidak selalu masalah goods, tetapi investasi pengalaman harus mempunyai porsi yang tidak kalah penting.

Singapura merubah paradigma.

Perjalanan rutin.

Perubahan paradigma membuatku memiliki perilaku baru di tengah kesibukan pekerjaan di Ibu Kota. Aku mulai mengalokasikan dana perjalanan sebagai salah satu bentuk investasi. Setiap 10-15% dari pendapatan, Aku gunakan untuk melakukan perjalanan baik ke dalam negeri ataupun ke luar negeri.

Di awal tahun, Aku selalu menyusun agenda traveling dalam satu tahun kalender. Padatnya pekerjaan membuatku harus pintar memanajemen cuti dan memanfaatkan hari libur nasional untuk menentukan kapan saat yang tepat untuk melakukan perjalanan.

Pada kesimpulannya, pengalaman traveling yang telah kujalani selama enam tahun membuatku memiliki tiga kategori traveling dengan jadwal sangat padat, yaitu:

  1. Traveling panjang berdurasi 14-16 hari di liburan akhir tahun.
  2. Traveling pendek berdurasi 3-4 hari di liburan long weekend.
  3. Traveling cepat berdurasi 1-2 hari di liburan extend.
  4. Traveling bonus. Ini adalah bonus apabila pekerjaan mencapai prestasi tertentu.
Berkunjung ke Danau Toba saat liburan akhir tahun.
Pantai Marina Semarang saat liburan long weekend.
Singapore of Java Cruise di Cilacap ketika liburan extend
Trip bonus ke Belitung.

Padatnya jadwal traveling juga berperan besar dalam merubah sifat dasarku menjadi lebih ekstrovert dan easy going. Aku sadar bahwa ada atau tidak adanya partner dalam travelingku, Aku harus tetap menjalankan setiap rencana perjalananku. Oleh karenanya, Aku membutuhkan dua sifat diatas untuk selalu konsisten menjalankan setiap rencanaku.

Memanajemen perjalanan

Apa yang akan Kamu lakukan sebagai pegawai kantoran ketika waktu pekerjaanmu sepadat rencana perjalananmu?

Dimasa-masa awal travelingku dengan penghasilan pas-pasan, demi berhemat budget maka Aku berinisiatif mengatur sendiri semua rencana perjalananku. Keterbatasan waktu menuntutku mahir dalam penguasaan digital.

Bagaimanakah caraku melakukannya?

Begini teman-teman….

Jika bus, kereta api dan ferry adalah jenis transportasi dengan harga tiket yang cenderung stabil, maka pesawat adalah jenis transportasi dengan berlimpah tiket promo. Tak hayal lagi, Aku adalah peselancar dunia maya yang gigih berburu tiket-tiket murah. Dan sudah pasti, Aku hafal semua maskapai Low Cost Carrier (LCC) di seantero Asia. Untuk memastikan harga tiket terbaik, Aku selalu mempersiapkan tiket satu tahun sebelum tanggal keberangkatan. Mengunjungi website maskapai LCC dan memantau setiap promo di beberapa Online Travel Agent (OTA) dalam dan luar negeri menjadi kebiasaanku di akhir pekan. Hanya perlu satu senjata supaya Aku bisa cepat mengeksekusi setiap peluang tiket murah yang ada. Senjata itu adalah credit card. Tak perlu khawatir memiliki credit card asal Kamu taat dalam pengelolaan pendapatan. Melalui proses pencarian tiket seperti inilah, Aku akhirnya berkesempatan mencicipi 24 jenis maskapai berbeda sepanjang masa travelingku.

Menggunakan maskapai Citilink saat trip ke Solo.
Air Asia berjasa sekali dalam membantu petualanganku berkeliling Asia.
Maskapai Nok Air asal Thailand ketika liburan ke Phuket.
Bahkan Jet Airways sempat membawaku hingga ke India.

Lalu bagaimana dengan penginapan?.

Saat ini Aku sudah menjadi mencapai level tertentu pada keanggotaan sebuah e-commerce perjalanan terbesar di dunia. Pada level ini, Aku selalu mendapatkan penawaran terbaik ketika mencari penginapan secara online. Selain murah, Aku juga selalu memperhatikan fleksibilitas dalam proses pembatalan pesanan beberapa hari sebelum hari-H menginap, hal ini penting untuk membuka kesempatan mendapatkan penginapan terbaik hingga hari-H kedatangan. Sebagai informasi bahwa 80% pilihanku jatuh pada dormitory. Selain harganya yang murah, dormitory memberiku peluang untuk memperluas jaringan antara sesama turis lain dari berbagai daerah di Indonesia dan bahkan dunia.

Dormitory milik Sleep & Sleep Guesthouse di Semarang seharga Rp.40.000 per malam.

Saatnya Aku bicara masalah rencana perjalanan (itinerary). Penghematan budget selain bisa dilakukan pada pembelian tiket dan hotel, juga bisa dilakukan dengan membuat (itinerary) secara mandiri. Jika Kamu seorang fresh graduate dan memasuki masa-masa awal bekerja, kerajinan membuat itinerary bisa menyelamatkan budgetmu ketika Kamu suka melakukan perjalanan wisata. Aku sendiri secara mandiri selalu menetapkan agenda apa yang akan Kukerjakaan saat traveling, berapa biaya yang akan dikeluarkan pada setiap agenda dan bagaimana mencapai tempat dimana agenda akan dijalankan. Untuk bisa menyusun itinerary yang baik tentu Aku sering melakukan browsing tentang destinasi yang akan Kutuju. Aku biasanya akan membaca cerita perjalanan orang lain atau mencari info di situs resmi destinasi wisata atau lembaga pariwisata terkait (baik pemerintah atau swasta).

Contoh penggalan itinerary yang Kubuat secara mandiri.

Tapi seiring perkembangan dunia pariwisata, ada beberapa destinasi wisata yang justru akan lebih hemat apabila dikunjungi melalui jasa open trip. Model wisata seperti ini pada intinya adalah mengunjungi tempat wisata secara bersama-sama dalam satu kelompok sehingga bisa menekan jumlah biaya daripada perjalanan itu dilakukan sendirian. Aku pun tercatat beberapa kali menggunakan jasa open trip untuk mengunjungi beberapa destinasi yang Kutargetkan.

Ikut open trip saat berwisata ke Pulau Pahawang di Lampung.

Atmosfer petualangan

Masa persiapan dan masa menunggu setiap agenda perjalanan yang kubuat akan membentuk sebuah atmosfer petualangan yang terus berkesinambungan. Dan hal itu sungguh menyenangkan dan menimbulkan efek positif. Aku menjadi sosok yang rajin menabung untuk kebutuhan perjalananku. Aku juga menjadi orang yang selalu bersemangat dalam bekerja untuk menjamin pendapatanku.

Tentu banyak cibiran ketika Aku memulai program perjalanan. Banyak orang yang menganggap perjalananku hanya menghamburkan uang belaka karena menurut mereka refreshing itu tak perlu bepergian jauh dan menghabiskan uang.

Memang bagi mereka yang tidak faham bagaimana mengatur perjalanan, traveling adalah sesuatu yang mahal. Tapi tidak denganku, konsistensi menjalankan program traveling selama 6 tahun terakhir telah mengantarkanku untuk menginjakkan kaki di 20 negara di Asia dan 10 propinsi di Indonesia.

Setelah mendengar ceritaku, apakah Kamu tertarik melakukan perjalanan?

Hobby menjadi passion

Keberhasilan mengunjungi destinasi wisata dan kesan yang didapatkan selama berwisata membuatku selalu bersemangat dalam membuat perjalanan di tahun berikutnya. Rutinitas ini seakan menjadi candu bagiku. Akan ada sesuatu yang terasa kurang ketika dalam tiga bulan tidak melakukan traveling.

Kecanduan traveling ini kemudian menimbulkan dampak lain. Dampak ini menjadi hal yang sangat serius bagiku, karena di kemudian hari, Aku menjadi seseorang yang “berambisi” dalam hal traveling. Ya benar, Aku sudah berada pada level dimana Aku terbiasa menetapkan target jumlah destinasi wisata yang akan Kukunjungi dalam kurun waktu tertentu.

Keberhasilan mencapai jumlah target pribadi yang ditetapkan setiap tahun akhirnya menciptakan passion. Dan akhirnya Aku sudah menjadikan traveling sebagai passion dalam hidup.

Passion menciptakan kepedulian

Ada sebuah masa ketika Aku mengalami deadlock ketika berada di tempat wisata. Deadlock ini terjadi karena kurangnya informasi yang kudapatkan melalui browsing di dunia maya. Contoh deadlock yang kumaksudkan adalah seperti saat tidak memiliki informasi yang cukup tentang transportasi apa yang seharusnya Kugunakan untuk menuju pusat kota Ipoh dari terminal Amanjaya di Malaysia.

Bus T30a yang akhirnya Kutemukan di tengah kebingungan saat menuju ke pusat kota Ipoh.

Kejadian seperti itulah yang kemudian membuatku tergerak membuat catatan perjalanan untuk dibagikan kepada sesama wisatawan lain. Akhirnya Aku memutuskan untuk membuat blog yang berisi pengalaman perjalananku. Aku berharap melalui blog ini, Aku bisa melengkapi beberapa missing information di dunia traveling sehingga wisatawan lain akan terbantu dalam hal informasi pra-perjalanan ketika melakukan traveling ke destinasi yang pernah Aku kunjungi.

Blogging akan menjadi aktivitas rutinku berikutnya untuk mendokumentasikan perjalanan wisata sekaligus membagi cerita-cerita menarik untuk anak-anak muda lain yang mempunyai passion yang sama sepertiku.

Akhir kata, jadilah anak muda yang kaya pengalaman dan berani bereksplorasi !

Yuk traveling, teman-teman!

Bus from Amanjaya Terminal to Medan Kidd Terminal, Ipoh, Malaysia

Finding information about tourist attractions in Ipoh through internet is very much and easy.

But via googling, I have never found a sure way towards Ipoh downtown from their main land-gate i.e Amanjaya Bus Terminal … that’s the point. That’s why, I feel the need to write this article and hopefully backpackers like me out there can find this article later on Google.

But I know that the hotel where I stay is located about 1 km east from a small bus terminal called Medan Kidd Bus Terminal, then I can walk from iterminal to Abby by the River Hotel for 15 minutes.

Finding a taxi is certainly very easy, just need to whistle a little then taxi will come to you. Because taxi isn’t in my backpacker dictionary, without adequate information, I had to found the city bus until I got it.

Worries was surely in me….worried about scams or worry if I couldn’t arrive on time at the hotel… but the show must go on … this is the thrilled if You do solo-traveling with minimal information .

“Perak Transit” bus which departed from Penang Sentral dropped me off on first floor of the Amanjaya Bus Terminal.

I immediately entered the intercity bus arrival hall. The seat lines which passengers waited for their bus became first view that I saw there.

I deliberately allocated about 30 minutes to explore the whole of Amanjaya Terminal.

Of course, I had to found information about city bus towards Ipoh downtown. Luckily I found the Amanjaya Bus Terminal information center on 1st floor, precisely in terminal lobby.

According to a female officer at this information center, city bus to Medan Kidd Terminal was located on 2nd floor and numbered T30a.

Didn’t want to long waiting because I was worried about being late, I immediately used escalator to get the closest bus departure time.

And finally I found the bus shelter

And this is a bus route from Amanjaya Terminal to several destinations in Ipoh:

Whereas this is schedule of Bus No T30a from Amanjaya Terminal to Medan Kidd Terminal:

My trip to downtown began by getting in MyBas T30a

Paid for USD 0,9 when entering front door, I was greeted with familiar smile by Indian driver.

There is something different about this MyBas service. When I am using buses in Kuala Lumpur and Penang (Rapid KL and Rapid Penang), if you pay more than fare, the change money willn’t be refunded. But when I use MyBas, which is operated by Perak Transit, I pay 5 Malaysian Ringgit (USD 1,3) then driver gives me the change money about 1.5 Malaysian Ringgi (USD 0,4)…. Fair and Good.

Indian songs accompanied my journey that afternoon. The bus briefly stopped to refuel near to Terminal Amanjaya.

During the trip I diligently paid attention to a Chinese female solo-traveler descent who always pay attention to her google maps. Surely he also has lacks information like me.…hehehe.

Here are some views during my trip to downtown:

In 40 minutes, MyBas finally arrived at Medan Kidd Terminal

I didn’t wait long at Medan Kidd terminal because I had to immediately go to Hotel for check in then get around the city.

I noticed again this female solo-traveler who looked confuse at terminal. I took a time to ask where was he going, but She said that She would go to downtown by a taxi. I offered myself to walk together but it seems like She didn’t believe.…haha. A look like me really seems suspicious….wkwkwk. Well the important thing is that I have tried to offer kindness.

I decided to immediately walk along Ipoh’s pedestrian walkway.

Walk down this road to Abby by the River Hotel

I had to stop several times because of light rain pouring down Ipoh at that time. And finally in 30 minutes I arrived at Abby by the River Hotel.

Checked-in, paid, put my backpack in the room … then I explored around downtown until evening. Finally I can cross out one destination in my bucket list.

Tourist Attraction in Ipoh, Malaysia

Ipoh….Capital City of Perak State is located 200 km north of Kuala Lumpur. The city that have a nicknamed as Bougenville City isn’t as busy as Penang or even Kuala Lumpur, but believes in me that this city will give a different side of exoticism because the location of this city is fortified with beautiful hills.

The time was 16:17. So after checking in and putting my backpack at Abby by the River Hotel, I decided to spend my first day in Ipoh by visiting the downtown.

Abby by the River Hotel where I stayed during visiting Ipoh

Abby by the River Hotel is quite good in providing tourism information with a special spot in the lobby corner which provides many Ipoh tourism leaflets. After 15 minutes of reading the information, I concluded that the selling point in the downtown is an Old Town landmark which is a relic of British colonialism on 19th century.

Didn’t need long time to thinking, I immediately left the hotel to go to downtown. Along Sultan Iskandar street which is the protocol street in Ipoh, immediately the frenzied in my mind was vanished without traces. Don’t compare Ipoh with Jakarta (capital city of Indonesia), because this city is different than metropolis like Jakarta. You will feel as the owner of this city because of its silence.

Kinta River splits beautifully on Sultan Iskandar street

1. Hugh Low Bridge.

This bridge was built to connect Sultan Iskandar street which crosses Kinta River.

Drizzle makes me colder to enjoy Kinta river from this bridge

Stopping for a moment on the bridge, I observed activities of some Ipoh residents who were fishing in several spots of Kinta River

2. Ipoh River Front Park

When I crossed Kinta River, I was immediately found a vast city park. It is famous park which has a name as Ipoh River Front Park.

This vast city park has a pool, a fountain and food stalls inside. Being a comfortable place for refreshing.

250 m walked down along Sultan Iskandar street, then I turned right and continued walking along shopping complex on Bijeh Timah street.

Meeting European tourist spouse and Malaysian tourist family didn’t made me feel alone in this city. My hunger became more and more at the end of this street because of this line of food stalls:

This is one of three street food stalls that I met that afternoon

Didn’t want to lose a lot of time for just eat here, I prefer decided to chew my biscuits which I bought on Penang Sentral that afternoon while continuing to walk down the beauty of Ipoh.

3. Ipoh Mural Art

Then….turned left at the end of Bijeh Timah street, I found some mural paintings like the famous ones in Penang.

You must be observant and patient in looking for these mural because some of their locations are hidden. That afternoon I played hide and seek with Ipoh City to find its beauty.

4. HSBC Bank Building

The sun at the dusk on that time made every scene that I saw was very special. also this HSBC Bank Building. The building that built on 1931 is part of Ipoh Heritage Trail

5. Padang Ipoh

Historically, This field was used as a place for the royal officials of Ipoh to honor the Kingdom of Japan during its time.

Here, I finally found residents of Ipoh who doing their activities. From teenagers who play soccer until small families who bring their children to just play and eat together in this field.

6. Ipoh Tourist Information Centre

Hiddenly located at the end of a dead-end street (Bandar street), I insisted on visiting it to get as much information as possible to explore Ipoh next day.

7. Ipoh Town Hall

This building which built on 1916 was originally main administrative office of Ipoh. But now, it’s been used for space functions such as weddings and general events.

8. Cenotaph War Memorial

Used to commemorate them who were killed and injured in the state war and its use was inaugurated in 1927.

9. Perak State’s Police Headquarters

This is Headquarters of Perak Royal Malaysia Police. I actually didn’t dare to take photo of this building. But, because my camera shooting habbit was over finally I captured this building as fast as possible.

10. Sultan Idris Shah II Mosque

I closed my steps that afternoon by praying maghrib at Perak State’s mosque. The resident friendliness was felt when I pray. Warm smile that accompanied their handshake made me feel like I was in my own country.

Malaysia has indeed became my second home because of its cultural resemblance.

It was time to leave downtown and got close to hotel because the situation is very quiet on that night.

Do you dare to walk alone in silence night of Ipoh ?.…pounding but easy-cool.… try it !

The silence of Ipoh made me a little struggling in finding dinner. Although I finally found a bowl of Curry Noodle for USD 1 at Daud Mat Jasak Noodle Stall where was located on Dato Onn Jaafar street in “Kampung Jawa” area.

After satisfied, I immediately decided to back into hotel to take a warm bath and rest. Get ready to explore Ipoh tomorrow.

This is a room for USD 5/ night where I rest

Bus from Penang to Ipoh, Malaysia

Arriving at Penang Sentral (integrated building of bus terminal, train station and ferry terminal in Penang) after a 7 hours 32 minutes journey from Kuala Lumpur International Airport Terminal 2 (KLIA 2) by “Star Mart Express” bus, I rushed towards Butterworth Train Station for buy a Electric Train Service (ETS) ticket to Ipoh for departure on 2 days after my arrival in Penang.

My desire to try ETS train service disappeared because tickets were already sold out.

Fine.…”trip by bus again”, my heart murmured.

Finally I returned to Penang Sentral Level 2 to find a bus ticket. A little worry, because if the bus tickets sold out, my plan to set foot in Ipoh for first time could fail.

If I failed to get a bus ticket to Ipoh then I would apply plan B i.e extended my visit in Penang and then returned to Kuala Lumpur to catch my Malindo Air flight to Dhaka, Bangladesh.

Yes….I got the ticket.

All you need to know that Penang Sentral provides two ways to buy bus tickets from Penang to Ipoh.

First, you can directly buy it at Bus Ticketing Counter on 2nd floor. Here is situation of counter:

Second, if you want more faster, you can buy it at Kiosk Self Ticketing. Located on 2nd floor too, this is it….the Kiosk machine:

I chose “Perak Transit” bus as my transportation towards Ipoh city. Bus fares about USD 5,20 was enough to save my budget in the beginning of my long journey.

In the day after tomorrow, after explored Penang for two days, finally my trip to Ipoh began. One hour before departure time, passengers permitted to entering Penang Sentral bus platform that located in 1st floor. I sat near Gate 3 according to the ticket and waiting for the bus to arrived.

After waiting for 16 minutes, finally “Perak Transit” bus arrived and standby on platform B09

Bus departed on time on 2 pm.

140 km trip to Ipoh needed time about 1 hour 49 minutes. Passing through pretty impressive views.

I repeated this views twice, because my trip from KLIA 2 to Penang on two days earlier also passed through same roads.

The bus took one toilet break on this trip at a place where I couldn’t detect where it was.

On 3:49 am finally the bus arrived at Amanjaya Bus Terminal. This is the intercity bus terminal in Ipoh.

Entering Amanjaya Terminal, I was very impatient to immediately head towards Medan Kidd Bus Terminal that located in downtown. Medan Kidd Bus Terminal is one of many accesses to entering Ipoh.

Ipoh, which I’ve only heard through backpacker stories and articles in internet, finally I was allowed to set foot in this city after travel for eight years as a backpacker.

What excitement did I get during my journey in Ipoh?

Patient and wait for my next article, guys.…

Oh, yes. Here’s another alternative to buying online ticket from Penang to Ipoh, which is in 12go Asia at following link: https://12go.asia/?z=3283832

Bus dari Terminal Amanjaya ke Terminal Medan Kidd, Ipoh, Malaysia

Mencari informasi tentang destinasi wisata di kota Ipoh melalui dunia maya sangatlah banyak dan mudah.

Tetapi via googling, Aku tak pernah menemukan cara pasti untuk memasuki kota Ipoh dari gerbang darat utama mereka yaitu Terminal Bus Amanjaya….itu intinya. Itu kenapa Aku merasa perlu menulis artikel ini dan mudah-mudahan para backpacker sepertiku diluar sana bisa menemukan tulisan ini kelak di google.

Tapi yang jelas hotel tempatku menginap terletak 1 km di sebelah timur sebuah terminal bus kecil bernama Terminal Bus Medan Kidd lalu Aku bisa berjalan dari terminal bus ini ke Abby by the River Hotel selama 15 menit.

Mencari taxi tentu sangatlah mudah, hanya perlu sedikit bersiul maka Taxi akan menghampirimu. Karena taxi tak ada dalam kamus backpackerku maka tanpa informasi memadai aku harus mencari bus kota ini sampai dapat.

Kekhawatiran dalam diriku pasti ada saja….mulai dari khawatir terjadi scam atau khawatir tidak sampai hotel tepat waktu….tapi apa boleh buat…inilah serunya solo traveling minim informasi.

Bus Perak Transit yang berangkat dari Penang Sentral menurunkanku di lantai pertama Terminal Bus Amanjaya.

Aku langsung memasuki arrival hall bus antarkota.  Jajaran bangku tempat penumpang menunggu menjadi pemandangan pertama yang kulihat disini.

Aku sengaja mengalokasikan waktu sekitar 30 menit untuk mengeksplore seisi Terminal Amanjaya.

Tentu Aku harus mencari informasi tentang bus ke tengah kota Ipoh. Beruntung Aku menemukan pusat informasi Terminal Bus Amanjaya di lantai 1 tepatnya di lobby terminal.

Menurut petugas wanita di pusat informasi ini, Bus menuju Terminal Medan Kidd terletak di lantai 2 dan bernomor T30a.

Tak mau menunggu lama karena khawatir kesorean, Aku segera naik menggunakan escalator untuk mendapatkan waktu keberangkatan bus terdekat.

Dan akhirnya shelter bus itu ketemu juga:

Dan inilah rute bus dari Terminal Amanjaya menuju berbagai tempat tujuan di Ipoh:

Sedangkan ini adalah jadwal Bus No T30a dari Terminal Amanjaya menuju Terminal Medan Kidd:

Perjalananku menuju ke pusat kota Ipoh pun dimulai dengan menaiki MyBas T30a:

Membayar Rp. 12.250 (3,5 Ringgit) ketika memasuki pintu depan, Aku disambut dengan senyum akrab sang sopir keturunan India.

Ada yang berbeda dengan pelayanan MyBas ini. Ketika menggunakan bus di Kuala Lumpur dan Penang (Rapid KL dan Rapid Penang), jika Kita membayar  lebih besar dari tarif maka uang kelebihannya tak akan dikembalikan. Tetapi ketika naik MyBas yang dioperasikan oleh Perak Transit ini, Aku membayar dengan uang 5 ringgit dan si sopir memberikan kembalian 1,5 Ringgit kepadaku….Fair and Good.

Lantunan lagu-lagu India mengiringi perjalananku siang itu. Bus sempat berhenti sejenak untuk mengisi bahan bakar di sebelah Terminal Amanjaya.

Selama perjalanan Aku tekun memperhatikan seorang solo traveler wanita keturunan China yang terus memperhatikan google maps nya. Pasti dia juga minim informasi sepertiku….hehehe.

Beginilah beberapa pemandangan selama perjalananku menuju pusat kota

Dalam 40 menit akhirnya MyBas merapat ke Terminal Medan Kidd

Aku tak menunggu lama di terminal Medan Kidd karena Aku harus segera menuju ke Hotel untuk check in dan berkeliling kota.

Kuperhatikan lagi si solo traveler wanita itu yang terlihat bingung di terminal. Kusempatkan bertanya mau kemana dirinya, tetapi dia bilang akan ke tengah kota menggunakan taxi. Aku sempat menawarkan diri untuk berjalan kaki bersama tetapi sepertinya dia tak percaya….hahaha. Tampang gembel sepertiku memang sepertinya mencurigakan….wkwkwk. Well yang penting aku sudah berusaha menawarkan kebaikan…..#gombaladamaunyaguweh

Kuputuskan untuk segera berjalan kaki menyusuri trotoar kota Ipoh

Menyusuri jalanan ini menuju ke Abby by the River Hotel

Aku harus berhenti beberapa kali karena hujan ringan mengguyur Ipoh kala itu. Dan akhirnya dalam 30 menit Aku tiba di Abby by the River Hotel.

Check-in, bayar, taruh backpack di kamar….lalu ngelayap keliling kota sampai malam. Akhirnya Aku bisa mencoret satu destinasi dalam bucket list ku.

Destinasi Wisata di Pusat Kota Ipoh, Malaysia

Ipoh….Ibu Kota negara  bagian Pahang ini terletak 200 km di sebelah utara Kuala Lumpur. Kota berjuluk Kota Bugenvil ini memang tak seramai Penang atau bahkan Kuala Lumpur, tetapi percaya padaku bahwa kota ini akan memberikan sisi eksotisme berbeda karena letak kota ini yang dibentengi gugusan perbukitan yang cantik.

Waktu menunjukkan pukul 16:17. Jadi setelah check-in dan menyimpan backpack di dormitory milik Abby by the River Hotel, Aku memutuskan menghabiskan hari pertamaku di Ipoh dengan mengunjungi pusat kotanya.

Abby by the River Hotel tempatku menginap selama di Ipoh

Abby by the River Hotel cukup baik dalam menyediakan informasi wisata dengan adanya spot khusus di pojok lobby yang menyediakan banyak leaflet pariwisata Ipoh. Setelah 15 menit membaca informasi, Kusimpulkan bahwa hal yang menjual di pusat kota Ipoh ini adalah landmark Old Town yang tentu adalah peninggalan kolonial Inggris abad 19.

Tak berfikir lama, Aku segera keluar hotel untuk menuju pusat kota. Menyusuri Jalan Sultan Iskandar yang merupakan jalan protokol di Ipoh, sekejap suasana hiruk pikuk dalam otakku lenyap tanpa bekas. Jangan samakan dengan Jakarta, karena kota ini  berbeda dengan metropolis ibu kota. Kamu akan merasa menjadi pemilik kota ini karena ketenangannnya.


Kinta River membelah indah Jalan Sultan Iskandar

1. Hugh Low Bridge.

Jembatan ini dibangun untuk menyambungkan Jalan Sultan Iskandar yang melintasi Kinta River.

Gerimis membuatku lebih sejuk menikmati sungai Kinta dari jembatan ini

Berhenti sejenak diatas jembatan, Aku mengamati aktivitas beberapa warga kota Ipoh yang asyik memancing di beberapa spot Kinta River

2. Ipoh River Front Park

Begitu menyeberangi Kinta River, Aku langsung disuguhi taman kota nan luas. Terkenal dengan nama Ipoh River Front Park.

Taman kota yang cukup luas ini memiliki kolam, air mancur dan kedai-kedai makanan didalamnya. Menjadi tempat yang nyaman untuk refreshing.

250 m menyusuri Jalan Sultan Iskandar, Aku berbelok ke kanan menyusuri pertokoan di Jalan Bijeh Timah.

Menemui sepasang turis Eropa dan sekeluarga turis Malaysia membuatku merasa tak sendiri di kota ini. Perut laparku semakin menjadi ketika berada diujung jalan ini karena jajaran tenda makanan ini:



Inilah satu dari tiga tenda street food yang kutemui sore itu

Tak mau kehilangan banyak waktu untuk sekedar nongkrong, kuputuskan untuk lebih memilih mengunyah biskuit yang kubeli di Penang Sentral siang tadi sambil terus berjalan menyusuri keindahan Ipoh.

3. Ipoh Mural Art

Nah, berbelok ke kiri di ujung jalan, Aku menemukan beberapa lukisan mural layaknya mural-mural terkenal di Penang.

Kamu harus jeli dan sabar dalam mencari lukisan mural ini karena beberapa letaknya tersembunyi. Sore itu Aku bak bermain petak umpet dengan Kota Ipoh untuk menemukan sisi keindahannya.

4. Gedung HSBC Bank

Surya dikala senja saat itu membuat setiap pemandangan yang kulihat menjadi sangat istimewa. Begitu pula dengan Gedung HSBC ini. Bangunan tahun 1931 ini adalah bagian dari Ipoh Heritage Trail

5. Padang Ipoh

Lapangan ini dalam sejarahnya digunakan sebagai tempat para pejabat kerajaan Ipoh melakukan upaca penghormatan terhadap Kerajaan Jepang pada masanya.

Disinilah akhirnya Aku bisa menemukan para warga kota Ipoh melakukan aktivitas. Dari anak-anak muda yang bermain sepak bola hingga keluarga-keluarga kecil yang membawa anaknya untuk sekedar bermain dan makan bersama di lapangan ini.

6. Ipoh Tourist Information Centre

Terletak sangat tersembunyi di sebuah ujung jalan buntu (Jalan Bandar), Aku bersikukuh mendatanginya untuk mendapatkan informasinya sebanyak mungkin untuk mengeksplore Ipoh keesokan harinya.

7. Ipoh Town Hall

Bangunan tahun 1916 ini pada awalnya adalah kantor administrasi utama kota Ipoh. Namun saat ini sudah digunakan untuk function space seperti untuk weddings dan event-event umum.

8. Cenotaph War Memorial

Digunakan untuk memperingatai mereka yang gugur dan terluka dalam perang negara dan diresmikan penggunaannya pada tahun 1927.

9. Kantor Kepolisian Negara Bagian Perak

Ini adalah Markas dari Royal Malaysia Police Daerah Perak. Aku sebetulnya tidak berani mengambil foto kantor kepolisian ini. Tapi karena kebiasaan jeprat-jepret akhirnya secepat kilat kuabadikan bangunan ini.

10. Masjid Sultan Idris Shah II

Langkah kakiku sore itu kututup dengan bersembahyang maghrib di Masjid Negeri Perak ini. Keramahan warga Ipoh sangat terasa ketika Aku menunaikan ibadah. Senyuman hangat yang mengiringi jabat tangan sesama jamaah membuatku serasa berada di negeri sendiri.

Malaysia memang telah menjadi rumah kedua bagiku karena kemiripan budayanya.

Tiba saatnya untuk meninggalkan pusat kota dan mendekat ke hotel karena suasana sudah sangat sepi.


Beranikah kamu jalan sendirian di sepinya malam kota Ipoh….asik-asik sedap lho…cobain deh

Sepinya kota membuatku sedikit struggling dalam mencari makan malam. Walau akhirnya Aku menemukan semangkuk Mee Kari seharga Rp. 14.000 di Kedai Mee Daud Mat Jasak yang terletak di Jalan Dato Onn Jaafar di daerah Kampung Jawa.

Selepas kenyang, Aku segera memutuskan kembali ke hotel untuk mandi air hangat dan beristirahat. Bersiap untuk eksplore Ipoh esok hari.


Inilah kamar seharga Rp. 70.000/malam tempatku beristirahat

Bus dari Penang ke Ipoh, Malaysia

Begitu tiba di Penang Sentral dari perjalanan darat 7 jam 32 menit dari Kuala Lumpur International Airport Terminal 2 (KLIA 2) menggunakan bus Star Mart Express, Aku bergegas menuju Stasiun Butterworth untuk berburu tiket Electric Train Service (ETS) menuju Ipoh untuk keberangkatan lusa hari setelah kedatanganku di Penang.

Hasrat hati untuk mencicipi jasa kereta listrik jenis ETS ini sirna karena tiket ternyata sudah sold out.

Fine….“Naik bus lagi”, hatiku bergumam.

Akhirnya Aku kembali ke Penang Sentral Lantai 2 untuk mencari tiket bus. Sedikit was-was, karena kalau sampai tiket bus habis maka rencanaku untuk menginjakkan kaki di Ipoh untuk pertama kalinya bisa gagal.

Jika gagal mendapatkan tiket bus ke Ipoh maka Plan B ku adalah memperpanjang waktu kunjunganku di Penang kemudian kembali lagi ke Kuala Lumpur untuk mengejar penerbangan Malindo Air ke Dhaka, Bangladesh.

Yes….Aku mendapatkan tiketnya.

Yang perlu Kamu ketahui bahwa Penang Sentral menyediakan dua cara untuk membeli tiket bus dari Penang ke Ipoh.

Pertama, Kamu bisa langsung membelinya di Bus Ticketing Counter di lantai 2. Berikut ini adalah suasana konternya:

Kedua, kalau Kamu mengaku sebagai generasi milenial maka seharusnya Kamu akan membeli tiket bus di Self Ticketing KiosK. Terletak di lantai 2 juga, berikut ini guys mesinnya:

Aku memilih Bus Perak Transit sebagai armada pengantarku ke kota Ipoh. Tarif bus seharga Rp. 70.000 cukup membantu membuatku berhemat di awal perjalanan panjangku.

Lusa hari berikutnya, setelah merasa cukup menjelajah Penang selama dua hari, akhirnya perjalananku ke Ipoh dimulai.  Satu jam sebelum jadwal keberangkatan, penumpang baru boleh masuk ke Terminal Bus Penang Sentral yang terletak di lantai 1. Aku langsung menuju Gate 3 sesuai dengan yang tertera di tiket untuk menunggu bus datang.

Setelah menunggu selama 16 menit, akhirnya Bus Perak Transit tiba dan standby di platform B09

Bus berangkat tepat waktu pada 14:00.

Perjalanan ke Ipoh sejauh 140 km ini ditempuh dalam waktu 1 jam 49 menit.  Melewati pemandangan yang cukup mengesankan.

Aku mengulang pemandangan ini dua kali, karena dalam perjalananku dari KLIA 2 ke Penang dua hari sebelumnya juga melewati jalanan yang sama.

Bus menyempatkan sekali toilet break dalam perjalanan ini pada suatu tempat yang aku tak sempat mendeteksi dimana letaknya.

Pada pukul 15:49 akhirnya bus merapat ke Terminal Bus Amanjaya. Inilah terminal bus antar kota di Ipoh.

Memasuki Terminal Amanjaya, Aku sangat tidak sabar untuk segera menuju ke Terminal Bus Medan Kidd yang terletak di tengah kota Ipoh. Terminal Bus Medan Kidd adalah salah satu akses untuk masuk ke kota Ipoh.    

Ipoh yang selama ini hanya kudengar lewat cerita para backpacker dan tulisan di dunia maya, akhirnya aku diizinkan menginjakkan kaki di kota itu setelah berkelana selama delapan tahun menjadi seorang backpacker.

Keseruan apa yang kudapatkan selama singgah di Ipoh?

Sabar menunggu tulisanku berikutnya ya guys….

Oh ya. Berikut alternatif lain untuk membeli tiket online dari Penang ke Ipoh, yaitu melalui 12go Asia di link berikut: https://12go.asia/?z=3283832