Al Ittihad Park: Rindang Diatas Tanah Reklamasi

Aku tiba di Al Ittihad Park Station tepat pukul setengah empat sore. Udara masih panas tetapi surya sudah tak seterik beberapa jam sebelumnya. Menuruni gerbong monorail di Lantai 2, aku kemudian turun ke Lantai 1 untuk keluar dari barisan ticket collection gate dan kemudian turun lagi menuju Ground Floor untuk tiba di Al Ittihad Park.

Interior taman pertama yang dominan terlihat di Al Ittihad Park ketika turun dari stasiun monorail adalah jogging track sintetis berwarna merah. Menurut penanda jarak yang kudapatkan di sepanjang jogging track tersebut, maka aku dapat mengetahui bahwa panjang lintasan jogging track itu adalah dua setengah kilometer. Jeda-jeda penanda jarak itu tertampil jelas di jalur lintasan. Secara desain, tampak bahwa jogging track itu melingkari taman.

Interior berikutnya yang bisa kuingat adalah deretan rapi pepohonan besar yang tumbuh subur dan rindang di kiri-kanan jogging track. Tanaman yang paling mudah dikenali adalah pohon kurma yang merupakan tanaman khas Jazirah Arab. Tapi setidaknya terdapat tak kurang dari enam puluh spesies tumbuhan asli Uni Emirat Arab yang ditanam di Al Ittihad Park.

Jogging track didesain mengelilingi taman 360 derajat penuh.
Pohon-pohon yang rindang.

Karena taman ini dibangun diatas tanah reklamasi berpasir maka seperti yang dilakukan pada negara-negara Arab pada umumnya, bahwa taman ini dilengkapi dengan uluran panjang selang air yang berfungsi untuk menjaga tanaman tetap survive di teriknya cuaca gurun. Papan-papan nama tanaman tampak terpampang di sepanjang taman disertai dengan penjelan detail mengenai tanaman tersebut.

Sedangkan tepat di bawah jalur The Palm Monorail, dibuatlah sungai artificial dengan lapisan plastik hitam di dasarnya. Bunyi gemercik air yang mengalir di sepanjang sungai artificial membuat suasana di sekitar taman terasa lebih tenang di tengah gaduhnya kota megapolitan Dubai.

Sedangkan peralatan olah raga tersebar merata di sekitar taman sebagai alat bantu pengunjung untuk melakukan akivitas kebugaran ringan di sepanjang taman.

Terhipnotis dengan rindangnya Al Ittihad Park, maka aku terus melangkah menuju sebelah barat taman. Sepanjang kaki melangkah, aku menyaksikan keberadaan sebaran tiang lampu taman, dari yang mungil hingga berukuran panjang, semuanya tetap mengikuti kaidah futuristik.

Al Ittihad Park sendiri diresmikan penggunaannya sekitar satu dekade silam. Sengaja dibangun demi memperingati perayaan Hari Nasional Uni Emirat Arab ke-41.

Apakah kamu mengetahui arti dari kata “Al Ittihad” ?….Al Ittihad artinya adalah “Persatuan”.

The Palm Monorail.
Sungai artificial.

Selain untuk memperingati Hari Nasional negara, Al Ittihad Park dibangun dengan tujuan untuk menyediakan fasilitas bersantai bagi penduduk yang tinggal di kawasan Palm Jumeirah. Selain itu, Al Ittihad Park sekaligus berperan sebagai lokasi wisata alam bagi para turis yang berminat untuk memahami secara lebih mendalam mengenai serba-serbi tanaman yang jenisnya sangat beragam di Uni Emirat Arab.

Buat kamu yang memiliki hobby nongkrong di taman sambil mencicipi kuliner atau berbelanja maka Al Ittihad Park menyediakan banyak cafe dan restoran yang terletak memanjang di sisi selatan taman. Tampak beberapa brand ternama terpampang di sepanjang taman, seperti Starbucks dan Baskin Robbins. Sementara brand-brand non-kuliner lain juga tampak mencolok seperti Organic Foods & Cafe, UAE Exchange, Marina Pharmacy, Topsretch Gym, sebuah kantor polisi dan Playgroup. Kesemua outlet itu terkonsentrasi pada Golden Mile Building yang memiliki sebelas lantai.

Sedangkan untuk menjaga kebersihan dan kerapihan taman, maka tempat sampah di atur sedemikian rupa sehingga mudah sekali di temukan. Atap-atap berbahan kain juga disediakan di beberapa titik yang berfungsi sebagai perlindungan dari teriknya sang surya bagi anak-anak yang sedang bermain.

Sementara itu, fasilitas pamungkas yang disediakan pengelola Palm Jumeirah demi memudahkan warga dalam mengunjungi Al Ittihad Park adalah tempat parkir umum yang cukup luas untuk kendaraan roda empat.

Aktivitas warga beserta keluarganya.
Fasilitas olah raga.
Kedai Starbucks di salah satu titik Golden Mile Building.

Kiranya Al Ittihad Park telah meninggalkan kesan mendalam dalam petualanganku di Dubai.

The Palm Monorail: Teknologi dari Chiyoda

Palm Jumeirah Monorail Footbridge.
Interior dari Palm Jumeirah Monorail Footbridge.
Tampak Arjaan Rotana Hotel (gedung dengan ujung setengah lingkaran) di sisi selatan King Salman Bin Abdulaziz Al Saud Street.
Burj Al Arab tampak di sisi utara King Salman Bin Abdulaziz Al Saud Street

Aku keluar dari Palm Jumeirah Station hampir pukul tiga sore. Usai menaiki Dubai Tram, aku melangkah ke utara menuju Palm Jumeirah Monorail Footbridge. Jembatan pejalan kaki itu mengangkangi jalur Dubai Tram dan King Salman Bin Abdulaziz Al Saud Street, lalu terhubung dengan gedung parkir milik Palm Jumeira Gateway Towers, sebuah gedung apartemen kelas atas di Distrik Al Sufouh.

Lepas menyusuri Palm Jumeirah Monorail Footbridge, aku dihadapkan pada gedung parkir apartemen lantai 3 yang terintegrasi dengan The Palm Gateway Station yang merupakan stasiun pertama dari The Palm Monorail.

Hanya ada lima stasiun yang dilewati oleh The Palm Monorail, keempat stasiun yang lain adalah Al Ittihad Park Station, Nakheel Mall Station, The Points Station dan Atlantis Aquaventure Station. Jalur monorail ini membentang dari timur ke barat sepanjang lima kilometer. Dikembangkan oleh Hitachi Monorail yang merupakan perusahaan pengembangan monorail yang bermarkas di Chiyoda, Jepang.

Kembali ke Palm Jumeira Gateway Towers dengan 14 lantai yang menyediakan lantai ketiganya untuk diintegrasikan dengan jalur monorail dan Dubai Tram sekaligus. Melalui lorong-lorong gedung parkir apartemen akhirnya aku tiba juga di The Palm Gateway Station.

Aku tak terburu-buru membeli tiket melainkan berusaha mencerna semua papan informasi yang berada di seantero bangunan stasiun. Tiba pada papan informasi tarif, aku menangkap informasi bahwa The Palm Monorail hanya menyediakan tarif gratis menuju Nakheel Mall, mungkin pengelola Palm Jumeirah mempunyai maksud supaya para pengunjung mau berbelanja di Nakheel Mall.

Tapi karena tujuanku adalah menelusuri Kawasan Palm Jumeirah, oleh karenanya aku memilih untuk menuju ke Al Ittihad Park Station. Tarif untuk menuju ke sana adalah 15 Dirham pulang pergi (round trip).

Maka usai membeli tiket di konter, aku segera menuju platform melalu ticket collection gate yang dijaga oleh petugas.

Gedung parkir milik Palm Jumeira Gateway Towers.
Berburu tiket The Palm Monorail.
Platform milik The Palm Gateway Station.

Selang beberapa waktu, monorail itu tiba. Aku menaiki salah satu dari tiga gerbong monorail. Aku menganggapnya di gerbong depan karena kaca di depanku meluncur menuju stasiun paling ujung. Bangku monorail itu cukup mewakilkan kemewahan The Palm Monorail karena terbuat dari sofa lembut. Sedangkan jalur monorail itu berjajar bersisian dengan jalur kendaraan roda empat di sisi utaranya.

Hanya perlu waktu lima menit menggunakan monorail untuk menempuh jarak tak lebih dari dua kilometer. Akhirnya aku turun di Al Ittihad Park Station.

Interior The Palm Monorail.
Jalur kendaraan roda empat menuju kawasan Palm Jumeirah.
Tiba di Al Ittihad Park Station.

Rasa penasaran yang teramat sangat, membuatku segera melangkah keluar dari pintu stasiun….Dan sebuah taman nan luas menyambut kehadiranku.

Al Ittihad Park….

Menjajal Dubai Tram: Memahami Rute

Aku meninggalkan Burj Khalifa setelah hampir satu jam berada di halaman depannya. Terik surya masih saja menyengat, tiupan angin yang menghembuskan udara kering terus menghantam badan yang semakin basah dengan peluh.

Aku mempercepat langkah atas kondisi itu….

Beberapa menit kemudian, aku sudah memasuki Dubai Mall/Burj Khalifa Station yang menawarkan suhu dingin di dalamnya. Aku memasuki lift demi menuju platform, untuk kemudian bertemu dengan seorang pria muda berperawakan India.

Semenjak lift naik ke atas maka terjadilah percakapan ringan di dalamnya. Sebut saja namanya Ahmed, seorang pegawai kantoran yang sedang menuju ke kantor. Dia telah bekerja sebagai seorang professional di Dubai sejak tiga tahun silam.

“It’s very interesting to visiting many countries like what you do, Donny”, begitulah dia tertarik dengan segenap pengalaman yang kuceritakan dalam waktu singkat kepadanya.

“Sometimes, I will do like what you do, Surely”, Ahmed menambahkan.

Percakapan kami akhirnya terputus dengan hadirnya Dubai Metro berwarna biru langit. Aku menaiki gerbong tengah sedangkan Ahmed tercecer di gerbong lain. Kondisi penumpang yang penuh sesak, memaksaku berdiri hingga di tujuan akhir.

Melintasi jalur merah (red line) Dubai Metro yang merupakan jalur layang dari arah utara menuju selatan sejauh hampir 20 km maka dalam tiga puluh menit aku tiba di DAMAC Properties Station. DAMAC Properties sendiri adalah perusahaan pengembangan properti yang cukup terkenal di Dubai.

Dubai Metro Red Line (Menuju DAMAC Properties Station).
Penampakan Burj Al Arab dari dalam Dubai Metro.
Nah, itu dia DAMAC Properties Station….Yukz, turun.

Perjalanan pendek bertarif 5 Dirham itu berhasil menurunkanku di DAMAC Properties Station, aku diarahkan menuju koridor skywalk yang gagah mengangkangi Sheikh Zayed Toll Road. Jalan tol itu sendiri memiliki enam jalur di setiap ruasnya.

Di tengah skywalk, aku mencoba mengamati sekitar dan mencoba memahami rute transportasi massal di tempatku berdiri. Tampak di depan arahku melangkah adalah ujung skywalk dengan gerbang DAMAC Properties Station yang berlokasi di utara jalan tol. Sedangkan jalur tram tampak terlihat tepat di sisi utara Sheikh Zayed Toll Road. Itu artinya jalur Dubai Tram berada di pertengahan DAMAC Properties Station Gate sisi utara dan selatan.

Sejenak aku menikmati lalu lalang tram dari koridor skywalk, tampak tram dengan tujuh gerbong pendek melintas anggun di lintasan.

Jalur Dubai Tram sendiri terletak di Distrik Al Sufouh. Memiliki lintasan sepanjang hampir 15 kilometer. Telah melayani rute lebih dari delapan tahun, menggolongkan tram ini sebagai moda transportasi baru di Dubai. Jalur tram ini membentang dari Al Sufouh Station di utara menuju Jumeirah Beach Residence 2 Station di selatan. Serta memiliki koneksi ke moda transportasi lainnya yaitu Palm Jumeirah Monorail di Palm Jumeirah Station.

Skywalk menuju jalur Dubai Tram.
Sheikh Zayed Road Toll Road tampak dari skywalk.
Itu tuh Dubai Tram lagi lewat.

Karena stasiun Dubai Tram yang terkoneksi dengan DAMAC Properties Station tempatku turun dari Dubai Metro adalah Dubai Marina Station, maka aku akan menuju tujuan berikutnya dari stasiun tram tersebut.

Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, tram itu tiba dan aku menaikinya di gerbong tengah. Mengambil posisi berdiri aku menaiki tram tersebut dengan penuh rasa kagum. “Kapan ya Jakarta punya tram bagus kek gini?”, aku membatin dan berharap.

Meluncur bersama penumpang lainnya, aku melintasi Marina Towers Station, Mina Seyahi Station dan Media City Station sebelum akhirnya tiba di stasiun tujuan, yaitu Palm Jumeirah Station. Biaya perjalanan menggunakan tram ini sangatlah terjangkau, hanya 3 Dirham saja.

Aku bergeas turun ketika tram itu berhenti dan bersiap untuk melangkah di koridor penghubung antara jalur Dubai Tram dan jalur Palm Jumeirah Monorail.

Dubai Marina Station, titik awalku menaiki Dubai Tram.
Begini wujud Dubai Tram dari jarak dekat.
Yukz, naik Dubai Tram…
Aku turun di Palm Jumeirah Station.

Aku bersiap mencicipi moda transportasi massal ke empat di Dubai, yaitu Palm Jumeirah Monorail.

Losing a wallet at Nakano Station

Some meshiya around Yadoya Guesthouse … remain of hunting dinner last night.

Mattress at Yadoya Guesthouse’s bunk bed also seemed to like an ice beam, even when early hours have already gone. That morning, I deliberately slowed myself to wake up, I looked like a coward who hid behind the thickness of dormitory blanket. I revenged for my eyes, after almost forty hours didn’t so perfectly closed. The last felt asleep was the day before yesterday, in Taiwan, precisely.

At ten in the morning I just really woke up, due to whispering sound of two lovebirds behind a blanket on other bunk bed which made me uncomfortable. They sleep with intimate and ignoring around. I decided to watering my body under the shower. This time I managed to find the heating button so there wasn’t need to take a shower of super cold water again liked last night.

Afterwards, I was neatly packed all my travel equipments into 45 litre backpack and I prepared to check-out. That afternoon I would fly to Osaka with Peach Aviation. While the remaining time, I would spend to visiting a temple in the middle of city.

I went down in the lobby and poured warm water from a dispenser. Apparently Janessa was preparing it from early morning.

“Good morning, Donny. How were your days in Tokyo? “

“I’m frozen in this town, Janessa. But all are well “.

“Are you going to Osaka tonight? You visited Tokyo very quick “

“My holidays aren’t much, Janessa”

“I hope you will enjoy Osaka, Donny”

“Thanks Janessa. Nice to meet you “.

I said goodbye to Janessa and turned the body to left Yadoya Guesthouse. My steps were automatically head to a FamilyMart in north of Dormitory. I have to have breakfast before heading to the temple.

See you again Yadoya Guesthouse.
Still abled to swallow onigiri. Breakfast for 298 Yen.
North yard of Nakano Station.

I brought Onigiri on a circular bench near northern gate of Nakano Station. Not alone, many local residents had breakfast with me on the bench. Some young men stood in courtyard to enjoying hot coffee. I sat under warmth of morning sun and was accompanied by a group of busy pigeons.

Breakfast was over, it was time to leave … …

Today I won’t buy Tokunai Pass again because I would just spend time in Meiji Jingū. Afterwards, I would go to Narita International Airport.

I was a little troubled to queue in ticketing vending machine, with a backpack on my back. And a map, gloves and a compass in my left hand then I took out my wallet with right hand. While continuing to step forward to front of queue.

Until my turn to pressed various buttons at Ticketing Vending Machine. Not so difficult, because I had conquered that machine hassle on yesterday afternoon at Tokyo Station. I exchanged 170 Yen for a one way ticket to Harajuku Station located in Shibuya district.

As soon as I got a ticket, I resigned from the queue, inserting a map and compass in its place,  put on gloves again then went to the platform. I continued to entering automatic fare collection gates and following the instructions to Chūō Line train towards Harajuku Station.

Once finished stepping on top stairs …

“Helloooo …..helloooo” …

I looked back. A middle-aged man was waving and asked me to wait for him. So until above …

“This …”, he smiled and handed over a wallet to me.

Gosh, why can my wallet fall?

“Arigatou Gozaimasu …”, I said many times while bowing half of him. And the good man smiled.

“Ohayōgozaimasu …Titterashai”, he bowing and went back down the stairs.

I saw my wallet’s contents for a moment after he left, none of them were reduced. Oh, God … you just keep sending good people to me.

I couldn’t imagine if my wallet was really disappeared. I would definitely walk towards Indonesia’s embassy and asked to be deportation from Japan.

Thank you for a middle-aged man who was kind and thank you God, my adventure was still continuing.

Kota Bandung: Impian Besar Menuju Zero Waste Cities

Halo travelers….

Kali ini saya akan mengajak Anda semua menuju Kota Bandung. Saya yakin bahwa segenap traveler baik yang pernah dan belum mendapat kesempatan berwisata ke sana pastinya telah mengenal Kota Bandung.

Dari segi pariwisata, Kota Bandung memang menawarkan banyak destinasi yang menarik untuk dikunjungi oleh traveler manapun.

Destinasi eklektik di sepanjang Jalan Braga, Gedung Sate yang tersohor, Gedung Asia Afrika yang melegenda atau wisata berkeliling kota menggunakan bus Bandros (Bandung Tour on Bus) adalah sedikit dari sekian banyak atraksi wisata yang bisa disambangi.

Tetapi kali ini, saya akan membahas satu hal penting dibalik indahnya pariwisata Kota Bandung. Travelers…Ketika berwisata di tengah Kota Bandung, tentu saja mata kita akan dimanjakan dengan panorama dan kebersihan kota yang akan menambah kenyamanan kita berwisata.

Padahal kita semua sebagai traveler belum tentu mengetahui bagaimana hakikatnya perjuangan kota dalam menampilkan sisi terbersih dan terindahnya bagi para wisatawan. Oleh karenanya, saya akan mengajak Anda untuk melihat lebih dalam dibalik kebersihan yang tertampil di kulit luar pariwisata Kota Bandung. Bahwa sesungguhnya ada perjuangan ekstra gigih dalam pengelolaan sampah untuk menjadikan Kota Bandung sebagai kota yang memiliki budaya yang baik terkait sampah.

Nah, beruntung sekali bagi saya karena telah diundang dalam sesi studi kasus “Menjajaki Transisi: Perjalanan Bandung Menuju Zero Waste Cities”. Acara ini berlangsung berkat Prakarsa dari YPBB (Yaksa Pelestari Bumi Berkelanjutan), Forum BJBS (Bandung Juara Bebas Sampah) dan DLH (Dinas Lingkungan Hidup) Kota Bandung.

Yuk, kita simak bersama hal-hal apa saja yang saya dapatkan dalam studi kasus tersebut.

Moderator dan ketiga narasumber.

Teman-teman traveler,

Pengelolaan sampah selalu saja menjadi momok bagi banyak perkotaan di negara ini bahkan di dunia. Tak sendikit kota yang babak belur menangani kesehatan masyarakat dan lingkungannya karena ketidakberhasilan menangani sampah yang dihasilkan oleh aktivitas kota itu sendiri.

Lalu bagaimana Kota Bandung bergerak dalam program pengelolaan sampah.

Kawasan Bebas Sampah (KBS)

Berdasarkan alur cerita yang disampaikan oleh Ratna Ayu Wulandari yang merupakan perwakilan dari YPBB, pada tahun 2015, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung menginisiasi program Kawasan Bebas Sampah (KBS) dimana pengelolaan sampah dilakukan di sumber yaitu di tingkat Rukun Warga (RW). Inisiasi ini kemudian diperkuat oleh aksi YPBB pada tahun 2017 melalui program pendampingan di level kelurahan, yaitu Kelurahan Sukaluyu dan Kelurahan Neglasari.

YPBB kemudian mengintensifkan perannya dengan membangun kelurahan model dalam pelaksanaan Rencana Teknis Pengelolaan Sampah (RTPS) yang minim intervensi pada tahun 2020, yaitu Kelurahan Cihargeulis dan Sukamiskin. Tidak berhenti disitu, YPBB pun melanjutkan aksinya dengan memberikan asistensi transisi TPS Terjadwal.

Bahkan proses advokasi YPBB dan BJBS menjadikan kolaborasi apik dalam memberikan input kepada pemerintah tentang Kawasan Bebas Sampah (KBS) di 30 kecamatan. Pada saat ini keseluruhan 30 kecamataan di Kota Bandung adalah cikal bakal Kawasan Bebas Sampah (KBS). Dari 151 kelurahan, 94 kelurahan diantaranya memiliki cikal bakal KBS. Kemudian dari 1.858 RW, sekitar 180 RW diantaranya melakukan upaya pengelolaan dengan konsep program KBS. Pencapaian ini tentu memerlukan dorongan dan peranan pemerintah secara kontinyu dan akan sempurna apabila terdapat kolaborasi dengan berbagai pihak non-pemerintah.

Di tahap selanjutnya, atas input YPBB dan Non-Govermental Organization lainnya maka implementasi Kawasan Bebas Sampah (KBS) berkembang dari sekedar pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan sampah menjadi program penguatan pengelolaan sampah itu sendiri, contohnya adalah pengelolaan sampah dari sampah tercampur menjadi sampah terpilah.

Dari pemilahan sampah ini maka produk olahan sampah bisa dimanfaatkan masyarakat dan pihak yang membutuhkan. Sampah terpilah tentu bisa dimasukkan ke sarana pengolahan, bank sampah dan pengembang biodigester. Dengan pengurangan jumlah sampah ini maka bisa diterapkan Tempat Pembuangan Sementara (TPS) Terjadwal. Sehingga sampah yang mengalir ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) adalah benar-benar sampah residu.

Tentu hal ini akan mengurangi tipping fee yang lebih besar ketika Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Kota Bandung akan berpindah dari TPS Regional Sarimukti ke TPA Legok Nangka. Oleh karenanya Kawasan Bebas Sampah yang sukses menjalankan program pengelolaan sampah harus terus direplikasi di Kawasan Bebas Sampah yang baru.

Untuk kesuksesan pengembangan Kawasan Bebas Sampah maka penggunakan icon campaign KBS, yaitu Kang Pisman harus terus diinternalisasikan dalam budaya pengelolaan sampah di masyarakat Kota Bandung”, tegas Ria Ismaria sebagai perwakilan dari Forum BJBS di acara tersebut.

Eh….Teman-teman traveler tahu kan “Kang Pisman”?…. Kang Pisman adalah singkatan dari “Kurangi, Pisahkan, Manfaatkan”. Nah, Kang Pisman ini adalah program kampanye pengentasan masalah sampah yang dimiliki pemerintah Kota Bandung.

Lalu bagaimana peran YPBB dalam mendukung keberhasilan Kawasan Bebas Sampah ini?…..Nah, YPBB selama ini berperan dalam mengembangkan konsep Kawasan Bebas Sampah melalui program Zero Waste Citiesnya.

Pelaksanaan Kawasan Bebas Sampah

YPBB selalu konsisten dengan konsep pengelolaan sampah dimana metode kumpul, angkut, buang yang sudah lama membudaya di masyarakat harus dirubah ke arah pelaksanaan metode pengurangan sampah di sumbernya dengan memilah, mengurangi dan mendaur ulang. Bekerjasama dengan pemerintah Kota Bandung maka YPBB konsiten dalam menerapkan konsep metabolisme sirkuler. Dalam konsep ini sampah selalu dianggap sebagai materi yang bisa didaur ulang dan diusahakan memiliki life time yang panjang.

Perlu diketahui bahwa beban sampah Kota Bandung adalah sebesar 1.324 ton per hari. Oleh karena itulah diperlukan strategi efektif untuk mengurangi jumlah tersebut. Beban tersebut tentu hanya bisa dikurangi dengan cara penanganan sampah lebih banyak di sumber sehingga akan mengurangi beban di bagian hilir.

YPBB pun fokus dalam pengembangan model sampah terpilah. Konsisten dalam melakukan edukasi masyarakat dari rumah ke rumah, edukasi petugas sampah dan edukasi keluarga. Edukasi ini kemudian didukung dengan penguatan infrastuktur dan master plan di tingkat kelurahan. Kemudian usaha yang dilakukan YPBB ini telah membantu pemerintah dalam menciptakan 181 Kawasan Bebas Sampah di Kota Bandung hingga saat ini.

Ini semua dilakukan oleh YPBB demi membantu visi pemerintah dari dilaksanakannya Rencana Induk Pengelolaan Sampah yaitu terciptanya banyak Kawasan Bebas Sampah (KBS) di seluruh penjuru Kota Bandung.

Adapun prinsip Program Kawasan Bebas Sampah (KBS) diantaranya adalah desentralisasi dengan mendekatkan pengelolaan sampah ke sumber, perubahan sistem tercampur menjadi terpilah, mengurangi penimbulan sampah, kebiasaan memilah-mengolah-memanfaatkan hasil, penegakan aturan, dan mendasarkan partisipasi dari bawah.

Kefektifan Program Kawasan Bebas Sampah

Dalam sesi ini disampaikan bahwa pengembangan model Kawasan Bebas Sampah memang sudah maksimal dilakukan oleh pemerintah tetapi dampak yang diberikan ternyata masih belum signifikan

Pemerintah sedang giat-giatnya dalam inovasi sarana prasarana, biaya operasional, sumber daya manusia untuk melakukan edukasi dan pengangkutan serta pengolahan sampah. Akan tetapi, walaupun dukungan pemerintah dilakukan secara kontinyu, ternyata dukungan tersebut masih berfokus  pada aspek operasional dan berdurasi pendek.

Intervensi akan membawa dampak kurang bagus. Selalu terdapat ketergantungan pada insentif, penokohan, dan tenaga pendamping yg diterjunkan DLH Kota Bandung di lapangan. Hal ini akan menimbulkan pemborosan sumber daya.

Maka pertanyaan baru akan muncul,”Seberapa lama warga terus tergantung pada edukasi dan pendampingan?”, Hal inilah yang harus segera dibenahi, ungkap Ratna Ayu Wulandari sebagai perwakilan dari YPBB.

Sesi itu mencontohkan Kelurahan Cihargeulis yang dalam menjalankan pengelolaan sampah masih terdapat intervensi pada prosesnya. Tetapi diantara sekian banyak Kawasan Bebas Sampah di Kota Bandung, tetap saja ada yang berhasil berjalan secara mandiri. Sukamiskin menjadi model Kawasan Bebas yang telah melakukan pengelolaan sampah secara mandiri baik dalam operasioanal dan inisiatif.

Perjalanan Bandung Menuju Zero Waste Cities

Menurut Deti Yulianti sebagai perwakilan dari DLH Kota Bandung bahwa pada tahun 2017 hingga sekarang, jumlah sampah yang dikirim ke TPA masih berkisar 80% dari total timbulan sampah. Hal inilah yang mendasari YPBB untuk memberikan reminder kepada pemerintah untuk melakukan shifting segera ketika program Kawasan Bebas Sampah, inisiatif relawan dan Dinas Lingkungan Hidup masih  bergerak secara sporadis dalam pengelolaan sampah. Upaya-upaya tersebut masih belum maksimal dan masih mengandalkan participatory base.

Kemudian muncul faktor pengaruh luar yaitu Perpres JAKSTRADA (Kebijakan Strategi Daerah)  yang memberikan pekerjaan rumah bagi Kota Bandung untuk mendorong pengurangan sampah hingga 30% dan menurunkan penanganan sampah hingga 70%. Secara kalkulasi, Kota Bandung harus bisa mendorong pengurangan sampah lebih dari 34% karena TPA akan segera berpindah.

Pada tahun 2020 dilakukan ujicoba pengelolaan sampah non-participatory base, pada waktu itu disiapkan tenaga sampah terpilah, tenaga pendamping dan sarana prasarana. Pendampingan dilakukan selama satu tahun di dua kelurahan. Ternyata kinerja ketaatan mencapai 60%, sampah menurun hingga 40%. Jika hal ini bisa diterapkan di 51 kelurahan di Kota Bandung maka target 30% pengelolaan sampah akan terlampaui.

Pada tahun 2021, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung memiliki peran ganda sebagai regulator dan operator. Beban DLH juga semakin besar untuk operasional penyelenggaraan pengelolaan sampah. Dan pada tahun 2012, dorongan peningkatan pengelolaan sampah semakin besar. Terdapat gap target ketercapaian pengelolaan sampah hingga 12% dari capaian existing. Sehingga kekurangan itu harus dikejar.

Tentunya, inovasi harus cepat dilakukan karena TPA Legok Nangka hanya memberikan kuota sampah 800-1.025 ton per hari untuk Kota Bandung. Padahal Kota Bandung apabila perilaku masyarakatnya tidak berubah maka akan menghasilkan sampah sekitar 1.750 ton per hari. Itu artinya Kota Bandung harus bisa mengurangi sampah sebesar 750 ton per harinya.

Sedangkan pada saat ini pengurangan sampah Kota Bandung hanya berkisar 150 ton per hari. Tentu angka itu akan berfluktuatif tergantung dari partisipasi sektor informal dan masyarakat. Kota Bandung harus meningkatkan akses rumah tangga terhadap sitem pemilahan sampah yang terintegtasi dari sumber sampai TPA

YPBB selalu mendukung pemerintah Kota Bandung untuk mengembangkan model Kawasan Bebas Sampah dengan perbaikan tata kelola pengelolaan sampah secara menyeluruh yang meliputi aspek regulasi dan masyarakat. Titik berat pemerintahan harus diletakkan pada distribusi wewenang sampai tingkat kelurahan untuk memilah sampah hingga penegakan aturan dan sanksi. Tentu YPBB siap untuk memberikan saran dan rekomendasi terbaik sehingga pengelolaan sampah bisa dilakukan lebih optimal di masa depan.

Semoga impian Kota Bandung untuk menjadi Zero Waste Cities di masa depan bisa terwujud dan memberikan teladan bagi kota-kota lain di Indonesia dan dunia tentang bagaimana seharusnya sinergi berbagai pihak dalam sebuah kota bisa menangani sampah yang ditimbulkannya.

#zerowastecities

#konferensipersZeroWaste

@ypbbbandung

Kebobolan Kartu Kredit dari Departure Hall Cochin International Airport

<—-Kisah Sebelumnya

Masih saja gelap ketika aku meninggalkan kedai makanan dan menyeberangi Airport Road demi menggapai Terminal 3 Cochin International Airport.

Pagi itu pesawatku akan terbang meninggalkan Kochi menuju Colombo. Penerbangan yang kuambil adalah connecting flight Srilankan Airlines menuju destinasi akhir, yaitu Dubai.

Menelusuri beberapa jalur mobil di halaman bandara nan luas, aku merasa aman saja karena keberadaan para polisi bandara yang berkeliling mengamankan situasi.

Dalam dua puluh menit aku tiba tepat di halaman depan Terminal 3.

Menyeberangi drop-off zone, maka secara otomatis aku berada di departure hall bagian luar. Aku berusaha mencari keberadaan Flight Information Display System (FIDS) di selasar keberangkatan. Dengan mudah aku menemukannya dan kemudian mulai memperhatikan larik-larik informasi yang terpampang di layar tersebut.

Tetapi beberapa menit menunggui fragmen demi fragmen tampilan, nomor penerbanganku tak kunjung muncul. Sementara kursi-kursi di selasar keberangkatan perlahan mulai dipenuhi oleh para calon penumpang yang datang.

Apa oleh buat, aku yang penuh inisiatif, bergegas mendekati pintu masuk menuju departure hall bagian dalam.

Please, show your ticket and passport, Sir !”, seorang serdadu bersenjata laras panjang menahanku di pintu hall.

Oh okay……This is, Sir”, aku memberikan passport dan e-ticket cetak.

Dalam beberapa waktu kami berdua terdiam. Aku menunggu sang serdadu memeriksa dokumen yang kuberikan, sedangkan dia dengan khusyu’ membolak-balik halaman passportku serta mengamati lekat-lekat e-ticket cetak yang kuberikan.

This flight isn’t ready yet to check-in, Sir. Please wait for thirty minutes outside”, dia mengembalikan segenap dokumen yang tadi kuberikan sembari menunjuk deret bangku yang sebetulnya telah penuh oleh calon penumpang lain yang menunggu penerbangan mereka masing-masing.

Aku segera meninggalkan serdadu itu karena antrian memasuki departure gate mulai mengular. Bersyukur tersisa satu bangku kosong yang baru saja ditinggalkan oleh seorang calon penumpang dan membuatku nyaman menunggu hingga proses check-in penerbanganku dibuka.

Selama menunggu aku tertegun dalam mengamati aktivitas para penumpang India yang sibuk mempersiapkan bagasinya di luggage wrapping service. Timbul pertanyaan dalam hati: “apakah penanganan bagasi di India bermasalah?”.

Di percobaan yang kedua, serdadu itu mengizinkanku untuk memasuki departure hall karena check-in counter untuk penerbanganku telah berstatus OPEN. Melewati penjagaan para serdadu, selanjutnya aku pun diperiksa dengan sangat ketat di screening gate. Di India memang selalu begitu, bahkan setiap memasuki stasiun MRT di New Delhi, aku harus menjalani pemeriksaan ketat di screening gate stasiun. Mungkin aksi-aksi radikal masih menjadi perhatian penting di sana.

Aku tiba di check-in counter…..

Setelah menunggu beberapa proses check-in penumpang yang mengantri di depanku selesai, maka kemudian menjadi giliranku untuk menghadap ke check-in desk. Seperti biasa, aku bergegas menyerahkan passport, e-ticket dan hotel booking confirmation.

“Where is your destination?”, petugas wanita nan manis melontarkan pertanyaan standar.

“Dubai, Ms”.

“Do you have Unitd Arab Emirates Visa”, dia kembali menanyakan satu dokumen penting tersisa.

“Sure. Ms”, aku memberikan eVisa kepadanya.

Setelah beberapa waktu mengamati eVisa yang kuberikan, dia memanggil temannya. Kini petugas check-in desk laki-laki datang menghampiri meja. Mereka berdua tampak berdiskusi sambil menunjuk-nunjuk eVisa yang kuberikan. Hal ini tentu membuatku tegang, aku berfikir cepat: “Mungkin ada yang salah dengan dokumenku”.

Selepas berdiskusi, tampak petugas pria bersiap diri berbicara padaku dengan mimik serius.

“What do you go to Dubai for?”, dia melontarkan pertanyaan pertama

“Just tourism, Sir”

“Is this your first time go to Dubai?”, pertanyaan kedua terlontarkan.

“Yes, Sir”

“Why don’t you use direct flight from Jakarta to Dubai”, pertanyaan ketiga terucap.

“So expensive Sir if I take a direct flight from Jakarta. Outside of that, I went to Malaysia and India before arrive in Dubai because I’m a travel blogger and I need to take some content”, aku menjawab jelas dan jujur.

“Can I see you vlog?”

Not vlog, Sir…but it’s blog”, aku menegaskan

“Yeaa…whatever of that”

“This is, Sir. I had exkplored some region like South East Asia, East Asia, South Asia”

“Oh, nice…So it’s your time to explore Middle East area?”

“Exactly, Sir….for that I’m here now”

“Okay…I”ll give you two tickets for this connecting flight ?”

“Thank you very much, Sir”

“….Welcome….”

Beberapa waktu kemudian dia memberikan dua lembar tiket Srilankan Airlines. Satu tiket untuk penerbangan Kochi-Colombo dan satu lagi untuk penerbangan Colombo-Dubai.

“Oh yeeaa, don’t forget to take picture with nice spot behind this counter ! …There are many elephant sculpture there….And don’t forget to write it in your blog, Okay….hahahah ! ”, untuk pertama kalinya dia menampakan senyum dan berkelakar akrab di depanku.

“Oh Okay, with my pleasure, Sir….I love this airport”, aku mencoba menjawab seakrab mungkin dan dia hanya tersenyum menggeleng-gelengkan kepalanya saja.

Sebenarnya, aku sudah mengetahui keberadaan ikon bandara itu, hanya saja aku hampir terlupa untuk menyambanginya karena interogasi beberapa waktu lalu yang membuatkan sejenak berkurang ingatan. Beruntung check-in desk staff laki-laki itu memberitahuku sehingga aku tidak kehilangan momen mengabadikan ikon itu.

Menuju departure gate.
Drop-off zone.
Check-in zone.
Patung-patung gajah yang menjadi ikon Cochin International Airport.

Selepas keluar dari check-in area, aku segera mengurus departure stamp di konter imigrasi. Tahapan keluar dari sebuah negara selalu saja berproses cepat, aku berhasil melaluinya dengan mudah untuk kemudian mengikuti petunjuk di sepanjang koridor untuk tiba di waiting room di sepanjang gate pemberangkatan.

Ruang tunggu Cochin International Airport memang terlihat unik, antar ruangan gate di desain tidak bersekat sehingga menjadikan ruang tunggu dengan sembilan gate itu tampak lega. Kursi-kursi tunggal berukuran lebar dengan dudukan busa pun disediakan di sepanjang gate.

Kuputuskan untuk mengambil salah satu bangku untuk duduk menunggu boarding time yang masih dua jam lagi. Kemudian aku berusaha untuk mengakses WiFi bandara untuk mencari beberapa informasi penting mengenai pariwisata Dubai.

Baru saja berhasil mengakses WiFi, aku menerima sebuah notifikasi dari WordPress untuk segera memperpanjang penggunaan domain blog perjalanan yang saya miliki karena beberapa hari ke depan masa berlakunya akan habis.

Aku berfikir, daripada mengambil resiko kehilangan domain di saat sedang melakukan perjalanan, maka aku memutuskan memperpanjang domain tersebut saat itu juga.

Ternyata menghilangkan resiko kehilangan domain tersebut, membuatku mendapatkan resiko lain tanpa kusadari. Kesalahan utama yang kulakukan dengan melakukan pembayaran menggunakan kartu kredit menggunakan akses WiFi bandara ternyata memunculkan resiko baru, yaitu kemungkinan pembajakan data oleh para hacker atas kartu kreditku.

Dan benar apa adanya nanti bahwa beberapa bulan setelah aku pulang dari petualangan menjelajah kawasan Timur Tengah, kartu kreditku kebobolan. Beruntung eksekusi pembayaran yang dilakukan si hacker dinyatakan gagal sehingga proses tagihan ke salah satu bank swasta kenamaan di Jakarta otomatis dibatalkan….Hmmh, ada-ada saja.

Waktu menunggu yang terlalu lama, membuatku gatal untuk kembali melakukan eksplorasi. Kuputuskan untuk kembali berkeliling ke seluruh departure gate hingga naik ke lantai dua yang secara mayoritas digunakan sebagai duty free zone.

Gate.
Duty free zone.
Food court area.
Saatnya terbang menuju Colombo.

Di tengah waktu berkeliling hall, aku sejenak merapat ke salah satu pojok dimana Fligt Information Display System (FDIS) dan beberapa Advertisement LCD diinstalasi. Aku sejenak tertegun membaca informasi pada salah satu layar LCD. Aku membaca informasi itu dalam hati:

“Cochin International Airport…The recipients of United Nation’s Highest Environmental Honor, The Champion of the earth-2018”

Wahhhh….Keren ya bandara ini.

Hanya karena departure gates yang tak terlalu luas membuatku tak membutuhkan banyak waktu untuk mengeksplorasinya. AKhirnya kuputuskan untuk kembali menunggu saja hingga boarding timeku tiba.

Kisah Selanjutnya—->

Pohon Kelapa dari Kochi Metro

<—-Kisah Sebelumnya

Menunggang ulang ferry menuju daratan utama Fort Kochi, tatap mata berkali-kali tertuju pada penunjuk waktu digital di gawai….maklum aku tak lagi mengenakan jam tangan dalam beberapa kurun waktu terakhir.

Lepas dari antrian yang mengular, aku mendapatkan tiket untuk berlayar jarak pendek menuju dermaga di seberang perairan yang berjarak tak lebih dari satu kilometer.

Selepas ferry berlabuh di dermaga, alih-alih segera menuju ke Kochi Airport Bus Terminal, aku malah berbelok berlawanan arah menuju timur, menapaki Calvathy Road untuk melongok sejenak dermaga lainnya yang dimiliki Fort Kochi. Aku masih saja oportunis untuk menuju ke pulau lain….Aku ingin ke Wellington Island.  

Aku menyisir jalanan di belakang rombongan pelancong lokal yang kesemuanya adalah gadis belia India, dengan pakaian sari yang khas India, kesemuanya berambut panjang terkepang dan terkuncir serta berkulit gelap tapi tetap saja manis. Sesekali mereka menengok ke arahku, merasa sadar sedang kukuntit dari belakang. Aku merasa cuek saja, sengaja aku berbuat demikian untuk menghindari scam yang mungkin saja muncul. Setidaknya berjalan di belakang rombongan gadis India itu mampu membuatku merasa tak berjalan seorang diri.

Dalam jarak delapan ratus meter, tiba juga diriku di dermaga yang dimaksud. Tak seperti dermaga yang menuju Vypeen Island, dermaga menuju Wellington Island tampak lebih tertata rapi. Ada bangunan dermaga yang menjadi pusat aktivitas para penumpang.

Aku kembali melihat waktu yang tetampil di gawai pintar, hanya ada waktu tersisa empat puluh lima menit jika ingin berangkat menuju Wellington Island.

Aku terduduk membisu di salah satu bangku pelabuhan, berfikir keras berkali-kali. Tetapi tetap saja, realita mengatakan bahwa waktuku tak akan pernah cukup. Artinya, tak ada yang bisa diperbuat lagi, aku harus bergegas pulang ke penginapan dan menutup eksplorasi.

Alhasil, melangkahlah aku menuju Kochi Airport Bus Terminal. Dalam lima belas menit, aku pun tiba. Dan tak terduga, aku bertemu kembali dengan sopir dan kondektur yang sama seperti saat aku berangkat menuju Fort Kochi dari bandara pagi tadi.

Sontak kondektur perempuan setengah baya itu tersenyum dan menunjukkan jari ke arahku ketika aku melompat naik dari pintu depan, rupanya dia masih mengenali raut mukaku. Aku membalas senyumnya dan sebelum duduk aku bertitip pesan penting kepadanya, “Drop me off at Vyttila Station, Mam !”.

Oooooh…Vyttila Station….Oke, don’t worry”, dia menjawab dengan aksen dan gaya khas….Menggeleng-gelengkan kepalanya.

Usai memastikan kondektur perempuan itu memahami pesanku, aku segera mengambil tempat duduk dan lagi-lagi waktuku harus terbuang karena menunggu bus dipenuhi oleh penumpang.

Usai semua bangku terisi oleh penumpang, maka bus mulai bertolak menuju Aerotropolis Nedumbassery.

—-****—-

Aku diturunkan di sebuah perempatan besar dengan kesibukan proyek flyover di atasnya. Perjalanan sejauh dua puluh kilometer kubayar dengan ongkos sebesar 40 Rupee.

Berdiri di perempatan, aku mengawasi sekitar, feeling telah mengarahkanku untuk melangkah ke barat demi menemukan Stasiun Vittyla. Maka dengan penuh kepercayaan diri kulangkahkan kaki menujunya.

Menyisir trotoar panjang di tepian Sahodaran Ayyappan Road nan ramai kendaraan, aku terus mengawasi sekitar. Tetapi….Semakin jauh melangkah, aku tak kunjung melihat keberadaa stasiun MRT yang kucari.

Dan pada akhirnya, kuputuskan bertanya saja kepada seorang penjahit yang sedang khusyu’ bekerja di kiosnya.

Dia mengernyitkan dahi begitu faham aku tersasar. Menghentikan pekerjaannya, dia keluar dari kios dan berjalan menuju trotoar sambil memintaku mengikutinya. Dia menunjuk arah timur dan dengan jelas memintaku untuk menyeberangi perempatan di bawah proyek flyover dan melangkah lurus setelah menyeberangi perempatan tersebut.

Mengucapkan terimakasih, aku melangkah ke arah semula.

Sesampai di perempatan, aku bertanya kepada seorang opsir polisi yang kebetulan sedang bertugas mengurai kemacetan. Dia menunjukkan arah dimana untuk sampai ke seberang jalan, aku harus melintasi area bawah jalan layang yang dipenuhi oleh para pekerja proyek.

Aku berhasil tiba di seberang jalan, maka selanjutnya aku kembali melangkah meneruskan jarak tersisa untuk menemukan Stasiun Vyttila.

Alhamdulillah…Aku akhirnya menemukannya….

Penuh kegirangan, aku segera memasuki bangunan stasiun dan langsung berburu tiket. Menggunakan lift, dari Ground Level aku menuju ke Concourse Level. Di lantai itulah dengan mudah aku menemukan konter penjualan tiket. Kali ini aku hanya akan membeli single journey ticket untuk menuju Stasiun Aluva.

Dengan membayar 60 Rupee aku mendapatkan tiket yang dimaksud dan segera menuju ke platform.

Menunggu MRT di Kerala menjadikanku teringat ketika menjelajah beberapa stasiun MRT di New Delhi di awal tahun 2018. Saat itu aku melihat bahwa standar keamanan di MRT New Delhi dilakukan dengan sangat ketat oleh Central Industrial Security Force (CISF) yang merupakan pasukan polisi bersenjata yang bekerja di bawah Parlemen India. Di bawah pengawasan mereka, jangan harap bisa mengambil foto dengan mudah di MRT New Delhi.

Mengingat pengalaman tersebut, aku tak memberanikan diri memotret situasi stasiun dengan terang-terangan.

MRT yang kutunggu pun tiba….Perlahan merapat di sepanjang sisi platform, tanpa ragu aku segera menaikinya dan di dalam gerbong aku memilih berdiri saja di dekat pintu. Tujuanku adalah menikmati keindahan Kerala, mengingat MRT ini melintas di jalur rel layang sehingga sepanjang perjalanan akan memamerkan pemandangan kota yang indah dari ketinggian.

Perempatan dimana aku diturunkan.
Stasiun Vyttila.
Konter penjualan tiket Kochi Metro.
Inilah Mass Rapid Transportation ke-11 dari 13 MRT di luar negeri yang pernah kunaiki.
Suasana ketika pertama kali memasuki gerbong.
Penampakan kereta-kereta reguler India.
Stasiun Aluva.

Sejauh mata memandang, banyak sekali kutemukan pohon kelapa yang bertebaran di sudut-sudut kota. Memang ….Mengapa negara bagian ini disebut dengan “Kerala”.

 Ya “Kerala” memiliki makna “Tanah Kelapa”, maka sudah tepat jika dinamakan demikian, karena aku dengan mudah menemukan pohon kelapa hingga ke tengah kota.

Di sepanjang perjalanan, tak sedikit penumpang tampak heran memperhatikanku yang terlalu sering mengambil gambar lewat jendela kereta. Mereka pastinya faham bahwa aku adalah pelancong asing yang sedang mengabadikan kota. Untuk menetralkan suasana, aku berusaha melemparkan senyum ramah kepada beberapa penumpang yang tampak sesekali memperhatikan keberadaanku.

Semakin menjauhi Stasiun Vyttila, suasana gerbong semakin penuh, tampak kebanyakan dari mereka adalah karyawan yang sedang dalam perjalanan pulang dari kantor mereka masing-masing. Sungguh waktu yang tepat bagiku untuk mencicip transportasi kebanggan warga Kerala sore itu karena aku menaikinya tepat pada jam-jam sibuk masyarakat lokal dalam menggunakan MRT.

Tak terasa, Kochi Metro semakin mendekat ke Stasiun Aluva yang merupakan stasiun paling ujung dari rute reguler Metro Kochi. Aku pun bersiap turun…. 

Aku masih berjarak lima belas kilometer dari penginapan, jadi aku masih harus melanjutkan perjalanan menuju Aerotropolis Nedumbassery menggunkan airport bus.

Begitu Kochi Metro menghentikan segenap rodanya, aku segera menuruni lantai atas stasiun untuk menuju jalan raya demi mencegat airport bus yang akan melewati Stasiun Aluva.

Terimakasih Kochi Metro yang sudah memberikan pengalaman berharga dalam perjalananku di Kerala…

Kisah Selanjutmya—->

Chinese Fishing Nets: Anco ala Fort Kochi

<—-Kisah Sebelumnya

Penantian panjang untuk hadir di pesisir Fort Kochi lunas sudah. Dalam satu lompatan menuruni KURTC Bus warna oranye membuatku benar-benar berdiri di kota yang dibangun di atas hutan bakau itu. Sejenak aku berdiri mematung menilik sekitar, beradaptasi cepat dengan riuhnya pelancong di destinasi tersohor di Negara Bagian Kerala itu.

Mulai beranjak dari sebuah sudut KB Jacob Road, kini aku menyejajari Kochi Corporation Zonal Office, sebuah kantor pemerintah yang bertugas mengelola Kota Fort Kochi yang berkepadatan tujuh ratus ribu jiwa.

Hari itu masih Kamis….Entah kenapa?….Saat tengah hari, kantor pemerintah dua lantai berdinding warna krem itu gerbang depannya tertutup rapat. Berhasil membuatku berpaling muka dan kembali menatap lurus bentangan KB Jacob Road yang tegak lurus dengan garis pantai.

Siang itu aku tak akan merunut sebuah agenda terstruktur. Tanpa itinerary, akan kubiarkan kakiku melangkah sesukanya menikmati pesona Fort Kochi.

Baru saja melangkah….Bak tak serasa di kawasan pantai, itu karena jalanan Fort Kochi menyajikan suasana rindang dengan hiasan pokok-pokok tua yang menaungi sepanjangnya. Bahkan pavling block dipilih sebagai alas jalanan yang tersusun dengan sangat rapi.

Ditambah dengan keramaian para pelancong lokal dan mancanegara membuatku merasa tak begitu kesepian walau berada jauh dari rumah. Toh banyak bule yang tampak berjalan sendirian layaknya solo traveler sepertiku.

Baru menginjakkan kaki beberapa langkah di jalanan Fort Kochi, hatiku terkagum karena aku seperti dibawa ke masa lampau disaat menyaksikan model bus-bus lokal yang mengetem berburu penumpang di sepanjang sisi jalan. Bus-bus itu seakan didatangkan dari masa lalu….Jadoel, tapi justru membuat suasanan kota menjadi lebih klasik.

Kochi Corporation Zonal Office di pertemuan River Road dan KB Jacob Road.
Suasana River Road.

Menuju destinasi pertama, aku memutuskan menepi ke bibir pantai. Dari foto-foto wisata Fort Kochi yang sering kutemukan di laman mesin pencari, chinese fishing nets selalu menjadi yang tersering muncul di laman itu. Kini, aku ingin mencari keberadaannya, jika beruntung aku akan melihat dari dekat aktifitas para nelayan India di sekitarnya.

Bibir pantai tak lagi jauh, hanya tiga puluh meter saja menyejajari River Road yang sedang kulintasi. Aku segera keluar dari arus jalanan dan memutuskan segera merapat ke sana. Dalam sekian langkah aku tiba di tepian pantai dan sejauh mata memandang hamparan biru Pantai Malabar cukup memanjakan mata.

Pemandangan cantik itu dibubuhi dengan rutinitas para nelayan di sepanjang pantai. Sekelompok nelayan tampak bersantai menikmati kopi di sebuah kedai, sekelompok yang lain tampak sekedar berteduh dan berlindung dari panasnya surya serta beberapa yang lain tampak sibuk mendaratkan perahu dan membongkar muatan hasil melautnya untuk kemudian muatan itu dipindahkan ke tong pendingin.

Pemandangan lain di tepian pantai adalah kesibukan beberapa kelompok kecil nelayan yang menangkap ikan menggunakan chinese fishing nets…Nelayan kita menyebut alat ini sebagai anco atau tangkul. Karena diinstalasi di bibir pantai, maka hasil tangkapan dari pengoperasian alat tangkap itu kebanyakan berupa ikan berukuran kecil.

Berbincang-bincang bersama nelayan India itu yukks!
Nah, ikannya datang….Mari kita lihat sebesar apa ikannya?.
Mereka sedang bongkaran juga.
Wujud Tangkul atau Anco ala India.

Ikan-ikan segar dan besar hasil melaut tampak langsung diangkut menggunakan kendaraan-kendaraan pick up untuk dibawa keluar dari area pantai. Sedangkan beberapa ikan berukuran sedang dan kecil tampak langsung di jual di lapak-lapak ikan di sepanjang pantai.

Berbaur dengan masyarakat lokal memang menjadi sebuah aktivitas favorit. Bahkan terkadang sedikit senyuman yang terlempar dari wajah mereka membuatku seakan tetap dekat dengan rumah. Hal itulah yang menjadikanku betah duduk berlama-lama bersama mereka dan enggan beranjak dari bibir pantai.

Fort Kochi memang menggambarkan geliat ekonomi yang tinggi, di sembarang tempat tampak berjubal pelancong.

Di perairan, kapal-kapal wisata hilir mudik di sepanjang pantai membawa beragam turis multi-bangsa.  Kapal-kapal wisata itu tentunya menawarkan jasa sea cruise di sepanjang pantai untuk menikmati keeksotikan Fort Kochi.

Sedangkan di daratan, tak sedikit pula bus pariwisata yang terparkir di sepanjang jalanan Fort Kochi. Seakan Fort Kochi telah terdaulat sebagai kota wisata di Negara Bagian Kerala.

Tourist Boat….Tur dengan perahu berkeliling pantai barat Kerala, mungkin sampai Vembanad Lake jugakah?.
Bus pariwisata charteran di selatan India.

Genap sudah, satu jam aku menaruh diri di bibir pantai dan puas menikmati aktivitas para nelayan lokal.

Aku harus segera beranjak….

Yuk ikutin langkah kakiku lagi….Tempat selanjutnya ga jauh kok dari pantai.

Kisah Selanjutnya—->

Terminal 2D Soetta: Mengembalikan Insting yang Lama Pudar

Semenjak terakhir pulang dari Qatar di permulaan 2020, boleh dikata, aku tak pernah lagi berpetualang dalam jarak yang jauh. Terhitung selama hampir dua tahun, aku hanya mengunjungi destinasi yang lokasinya berdekatan dengan ibukota, sebut saja Ujung Genteng, Gunung Pancar, Curug Leuwi Hejo, Dataran Tinggi Dieng, Anyer dan Puncak.

Tapi kini hati tetiba berujung galau ketika cuti lima hari disetujui oleh pimpinan tempatku bekerja. Ditambah dua hari weekend menjadikan liburanku genap satu pekan.

Ketika esok hari hitungan cuti bermula, pikiranku pergi membayang ke segala tempat. Adalah Bali, Lombok dan Labuan Bajo yang ada di pikiran pagi itu.

Tapi aku harus segera melakukan sesuatu sebelum berpikir lebih jauh.

Di hari pertama cuti, aku memutuskan untuk berangkat menuju sebuah rumah sakit kenamaan di bilangan Cibubur yang terkoneksi dengan Program PeduliLindungi untuk melakukan PCR dengan hasil keluar sameday. Aku telah menetapkan niat, apabila hasil PCR negatif maka aku akan memberanikan diri untuk terbang.

Ya, kemanapun….Yang penting naik pesawat”, niat di hati terdalam.

Aku telah merindukan sebuah petualangan panjang. Tentu petualangan yang jauh dari rumah. Aku sudah bersiap diri melakukan perjalanan dengan protokol pandemi.

Aku bersemangat datang ke rumah sakit dan tiba pada pukul setengah sembilan. Menunggang Beat Pop hitam kesayangan, aku tiba di depan para perawat yang bersiap mengambil sample PCR (Polymerase Chain Reaction) dengan mekanisme drive thru.

Sehari sebelumnya, aku telah melakukan pendaftaran online senilai Rp. 275.000. Inilah pertama kalinya aku menjalankan tes PCR. Tes yang membuatku bersin-bersin hebat bukan kepalang.

Selepas tes, aku pulang dan berdebar menunggu hasil. Dan pada akhirnya, hati diselimuti rasa bahagia ketika aku mendapatkan kabar lewat WhatsApp pada pukul lima sore bahwa PCRku menunjukkan hasil negatif dan hasil itu juga tercantum otomatis di aplikasi PeduliLindungi.

Sempurnanya hasil PCR mengantarkanku menuju tahap berikutnya yaitu berburu tiket.

Aku terjun berselancar di aplikasi e-commerce perjalanan terkenal di Indonesia. Akan tetapi, hasil perselancaran itu akhirnya mengubur dalam-dalam niatku yang sangat berhasrat melawat ke Labuan Bajo ataupun Lombok. Harga tiket pesawat yang terlalu melangitlah yang membuatnya demikian. Alternatif lain menuju Bali pun akhirnya berpotensi menjadi perjalanan tanggung karena sesungguhnya aku pernah menginjakkan kaki di Pulau Dewata.

—-****—-

Malam itu juga, aku mulai mempacking segenap perlengkapan hingga larut malam. Tak lupa, aku mempersiapkan obat-obatan beserta vitamin dengan lebih serius. Bahkan aku memutuskan membawa tablet antivirus sebagai antisipasi jika terjadi hal-hal diluar perkiraan di daerah tujuan.

Online check-in penerbangan pun baru kuselesaikan lewat tengah malam. Mendapatkan posisi duduk di window seat membuatku bersemangat dalam mengisi eHAC (electronic-Health Alert Card). Kuberharap suksesnya online check-in dan terbitnya eHAC akan membuat proses menuju boarding menjadi lebih cepat di keesokan harinya.

Usai memastikan segenap tahap persiapan tuntas, aku memutuskan tidur.

Akan tetapi, aku hanya bisa tertidur ayam tanpa kenyenyakan hingga setengah empat pagi….Seperti biasa, kekhawatiran tertinggal penerbangan menjadi penyebabnya.

Kuputuskan bangun lebih cepat dan melakukan shalat tahajud demi  memohon kepada Sang Kuasa atas keselamatan selama berpetualang. Seusainya, aku segera berbasuh dengan air hangat, bersarapan sekedarnya dan bergegas berburu ojek online untuk mengantarkanku menuju shelter DAMRI Terminal Kampung Rambutan.

Lewat sedikit dari setengah lima pagi, aku tiba di sana. Setelah menyiapkan sebotol air mineral dari sebuah kedai, aku bergegas naik. Bus berangkat tepat pukul lima dan setiap sisi deret bangku hanya boleh diisi oleh satu penumpang. Inilah yang membuat tarifnya melonjak dua kali lipat….Menjadi Rp. 85.000.

Akhirnya naik DAMRI bandara lagi.
Tiba di Terminal 2D Domestik.

Bus melaju cepat membelah jalanan kosong di jalan bebas hambatan. Satu jam kemudian, aku terbangun ketika bus perlahan merapat di Terminal 3-Ultimate. Dengan cekatan aku merogoh lembaran e-ticket dari backpack untuk memastikan terminal tujuan.

Terminal 2D Domestik…”, aku yakin membatin.

Akhirnya aku tiba….

Melompat turun di drop-off zone. Kini aku melangkah ke dalam bangunan bandara. Tentu aku merasakan atmosfer yang berbeda ketika memasukinya. Kondisi bandara sudah tak seperti dulu lagi ketika masa bepergian masih menjadi hal yang tidak berbahaya serta tanpa prosedur kesehatan yang ketat.

Begitu memasuki departure hall, Aku langsung dihadapkan pada antrian panjang calon penumpang yang berburu konfirmasi layak terbang pada sebuah layar LCD. Melihat panjangnya antrian, aku memberanikan diri untuk bertanya pada seorang petugas yang berjaga.

Pak, saya sudah memiliki hasil PCR negatif di dalam aplikasi….Apakah saya bisa mengindahkan antrian itu?”, aku menunjukkan barcode di aplikasi PeduliLindungi.

Terbang jam berapa, pak?”, dia mengangguk-angguk melihat barcode yang kutunjukkan.

Jam delapan, pak

Oh, silahkan bapak langsung saja menuju konter check-in, nanti tunjukkan hasil tes dalam aplikasi ya, pak!

“Baik, pak”

Aku melangkah mantap menuju screening gate pertama dan bisa melewatinya dengan mudah.

Kini aku bergegas menuju konter check-in. Begitu tiba di area konter, aku tetiba merinding karena keramaian calon penumpang yang rapat tak berjarak.

Aku berhenti sejenak dan mengamati dari kejauhan. Aku mencoba mengembalikan insting backpacker yang sudah lama tak terasah. Sepuluh menit aku hanya berdiri menatap ruangan penuh manusia itu. Aku terus mencoba berfikir.

“Seingatku, selalu ada antrian pendek yang disitu berjajar calon penumpang tanpa bagasi”, aku terus berfikir keras.

Pak, ada antrian konter tanpa bagasi?”, aku memberanikan diri bertanya pada seorang ground staff yang kebetulan melintas.

Oh, di ujung sana pak, konter nomor 46”, dia mengarahkan telunjuknya ke sebuah arah.

Terimakasih pak

Aku bergegas menujunya dan benar saja, aku hanya menemukan antrian lima calon penumpang di depan konter itu. Akhirnya, aku tak perlu mengantri lama dan berhasil menjauhi kerumunan.

Usai mengantongi boarding pass. Aku menuju ke Gate D1 dengan melewati screening gate kedua yang tentunya pemeriksaan berjalan lebih ketat. Aku berhasil melewatinya dengan mudah dan akhirnya bisa duduk di waiting room Gate D1 tepat satu jam sebelum boarding.

Lihat antrian panjang nan rapat itu!
Konter check-in tanpa bagasi. Lebih pendek dan cepat.
Menuju gate.
Gate areas setelah screening gate.
Di depan sana adalah waiting room Gate D1.
Pemandangan apron dari Gate D1.

Kini aku bersiap terbang menuju provinsi ke-12 di dalam petualanganku menaklukkan tanah air.

PONTIANAK….Ya aku bersiap mendarat di Kota Khatulistiwa tersebut.

Kisah Selanjutnya—->

Kesempatan Kedua ke India: Air Asia AK 39 dari Kuala Lumpur (KUL) ke Kochi (COK)

<—-Kisah Sebelumnya

Jalur penerbangan Air Asia AK 39 (sumber: flightaware).

Berangkat ke India selalu saja menyematkan debar di sebuah sisi hati. Provokasi informasi tak bertanggungjawab terkadang sukses membuat gentar nyali. Hembusan kabar mulai dari faktor keamanan, kehigienisan kuliner, variasi scam, serta printilan mencekam lainnya mulai menggelayuti pikiran sore itu.

Oleh karenanya sebelum bertolak ke India, selama lima hari aku memanaskan nyali di Kuala Terengganu dan Kuala Lumpur, berharap keluar dari Negeri Jiran bisa menyandang nyali yang gagah berani. Tetapi sore itu seolah-olah aku tetap saja mulai membangun keberanian dari awal lagi.

Dalam kelanjutan petualangan ini, India akan menjadi pintu pendahuluan menuju destinasi utama, yaitu Timur Tengah. Kenapa demikian?….Alasannya hanya satu bahwa India selalu saja mengiming-imingi tiket murah menuju kota wisata utama di Jazirah Arab, yaitu Dubai. Selain tiket, India juga menyediakan variasi titik tolak untuk melompat ke kota itu.

Sedangkan bagi sejarah petualanganku, setelah New Delhi dan Agra dua tahun sebelumnya, kali ini aku memilih titik tolak lain, yaitu Kochi, sebuah destinasi wisata eksotis di barat daya India.

—-****—-

Aku menikmati sekali tekstur lembut nasi putih di Quizinn by RASA setelah 24 jam lamanya tak mencicip makanan idola itu. Nasi putih kali ini sekaligus merepresentasikan Ringgit terakhir yang kumiliki, mulai esok hari aku sudah menggunakan Rupee.

Lima menit sebelum check-in desk Air Asia Ak 39 dibuka, aku usai menyuap nasi putih dengan potongan telur kandar terakhir.

Seperti yang kuungkapkan di atas, alih-alih bersemangat, justru dadaku berdegup kencang…”Oh India, berdamailah dengan petualanganku kali ini”, aku menenangkan hati.

Bangkit dari tempat duduk di sebuah pojok food court di lantai 2M, aku memanggul backpack biru kesayangan. Melangkah ke atas menuju Departure Hall di lantai 3.

Ternyata antrian sudah panjang….”, kepercayaan diriku untuk tiba sebagai pengantri perdana runtuh.

Liuk antrian yang didominasi warga India menahanku di antrian buncit. Toh aku tetap tenang, waktu masih panjang menuju penerbangan, masih empat jam lagi. Aku mulai mengeluarkan zipper bag untuk menyiapkan dokumen, yaitu passport­, booking confirmation hotel di India, tiket menuju dan keluar India serta lembaran free e-Visa India.

Adè Visa kah?, petugas konter check-in bertanya tegas padaku.

Ini Cik”, aku menyerahkan segenap dokumen yang telah kusiapkan.

Indonesiè ke Indiè betulkèh cukup e-Visa, Pak Cik?. Petugas wanita itu  bertanya kepada kolega seniornya.

Petugas senior itu mengonfirmasi dan petugas perempuan itu akhirnya mencetak boarding pass untukku.

Tahap pertama usai, aku bergegas menuju Gerbang Pelepasan Antar Bangsa yang dijaga ketat sejumlah Aviation Security. Di antrian depan, tampak tak sedikit calon penumpang yang tertahan masuk karena terlalu berlebih membawa cabin baggage. Selain Aviation Security tampak beberapa  ground staff maskapai Air Asia mengawasi ketat para penumpang yang curang dengan membawa cabin baggage berlebih.

Untukku?…..Itu mudah saja, aku melewati gate tanpa pemeriksaan. Dengan pemeriksaan pun aku akan tetap lolos, karena keseluruhan beban backpack sudah kutimbang sebelum menuju check-in desk….Enteng, hanya 6,5 kilogram.

Kemana arah menuju gate L14?”, aku bertanya pada diriku sendiri.

Aku terus menelusuri koridor-koridor panjang hingga kemudian menuruni sebuah escalator yang di ujung bawahnya sudah menghadang beberapa kolom screening gate.

Seperti biasa, aku selalu melepas sepatu ketika melewati screening gate, itu semua karena aku akan merasa malas jika harus kembali mengulang screening process ketika sepatuku membunyikan pintu screening.

Aku lolos dengan mudah….

Kini aku hanya perlu meneruskan langkah melalui koridor tersisa demi mencapai gate L14.

Yuks berburu boarding pass.
Alhamdulillah….
Salah satu koridor di International Departure Hall KLIA2.
Itu dia petunjuk menuju gate pelepasan Air Asia AK 39.

Sedikit lewat dari jam tujuh malam, aku tiba di gate yang dimaksud.

Hhmmmhhhh….Satu setengah jam lagi menuju boarding”, aku menduduki sebuah kursi di luar waiting room yang masih tertutup rapat.

Aku memutuskan untuk melakukan shalat jamak qashar dan memenuhi botol minuman di free water station. Selebihnya aku hanya duduk menunggu hingga pintu waiting room dibuka satu jam sebelum penerbangan.

Beruntung selama menunggu, kebosananku redam oleh tingkah lucu seorang balita cilik India yang tingkahnya sangat menggemaskan.

—-****—-

Menunggu di ruang tunggu, aku kembali tertegun dengan sebuah rombongan besar jama’ah Hindu. Dari seragam serba hitam yang dipakai, aku bisa mengidentifikasi jama’ah itu berasal dari Kuil Sabarimala Ayyappa yang terletak di Negara Bagian Kerala, India.

Kekhasan dari jama’ah Hindu India tersebut adalah tidak menggunakan alas kaki. Beberapa pemeluk Hindu di India memang percaya bahwa tidak menggunakan alas kaki adalah bentuk penghormatan kepada para Dewa.

Berbaju dan ber-Lungi*1) hitam juga menjadi penampilan religius rombongan tersebut. Mau tak mau aku harus duduk berbaur di ruang tunggu bersama rombongan itu.

Sementara pemandangan di jendela kaca adalah terparkir sempurnanya pesawat Airbus A320 Twin Jet dominan putih dengan kelir kombinasi biru-merah dan bertuliskan jargon promosi pariwisata “Sarawak More to Discover”.

Menunggu dengan penuh kesabaran usai sudah….

Panggilan boarding untuk penerbangan Air Asia AK 39 memenuhi langit-langit bandara.

Aku segera bangkit serta mempersiapkan passport dan boarding pass demi melewati pemeriksaan akhir calon penumpang sebelum memasuki kabin. Ahhh….Aku sudah tak sabar.

Jam setengah sembilan aku mulai boarding…..

Di dalam waiting room Gate L14.
Itu dia AK 39.
Menelusuri aerobridge menuju kabin pesawat.
Maskapai langganan dan idaman.
Suasana kabin saat berburu kursi.
Lihatlah warga-warga India itu…..Kamu pengen ga sih ke India?

Memasuki kabin pesawat berbadan kecil itu, aku mencari bangku bernomor 11E. Dalam penerbangan selama 3 jam 40 menit ke depan, aku akan duduk di kolom tengah, membuatku tak leluasa untuk menangkap potret indah bumi.

Ketika proses boarding usai,  di barisku hanya ada aku dan salah seorang dari rombongan jama’ah Hindu itu. Oleh karenanya, aku memutuskan pindah ke aisle seat untuk mendapatkan kelegaan dalam perjalanan udara sejauh 3.000 km tersebut.

—-****—-

Begitu terkejutnya aku, ketika membuka lembaran Travel 360 inflight magazine, aku menemukan potret diri sosok travel influencer yang rasanya tak asing di mataku. Aku sangat familiar dengan nama marganya….Groves.

Sudah kupastikan itu adalah saudara bule cantik asal Aussie yang kukenal  setahun sebelumya di Samosir, Eloise Groves. Dia pernah bercerita di bawah air terjun Naisogop bahwa dirinya memiliki saudara laki-laki bernama Jackson Groves yang merupakan seorang travel influencer. Melihat kesamaan raut muka atas sosok yang ada di dalam inflight magazine yang sedang kubaca dengan sosok yang sering muncul di dalam laman Facebook milik Eloise, aku yakin 100% itu adalah saudaranya.

Dan benar, nantinya aku akan mendapat konfirmasi dari Eloise bahwa itu benar saudara kandungnya setelah mengirimkan pesan singkat melau aplikasi facebook messenger ketika aku tiba di India.

Mencoba memejamkan mata usai membolak-balik Travel 360, aku berusaha tidur. Tetapi sesungguhnya aku tak benar-benar terpejam. Begitulah aku, tak pernah sempurna terlelap setiap duduk di selongsong terbang.

Itu dia si Jackson Groves di inflight magazine milik Air Asia.
Tiba di Terminal 3 Cochin International Airport.
Jelajah bandara yukkk !

Akhirnya waktu yang ditunggu tiba juga….

Pukul satu dini hari, Air Asia AK 39 mendarat di Cochin International Airport, sebuah bandara megah di Negara Bagian Kerala di sebelah barat daya India.

Alhamdulillah….

Kini aku semakin jauh saja dari rumah.

Kochi yang berjarak darat hampir 9.000 km dari Jakarta.

Yuk kita eksplore….Ada apa saja di Kochi?

Untuk mendapatkan tiket penerbangan dari Kuala Lumpur ke Kochi, Anda bisa mencarinya di 12go Asia dengan link sebagai berikut:  https://12go.asia/?z=3283832

Keterangan kata:

Lungi*1) = Sepotong kain panjang yang dililitkan di pinggang dan merupakan pakaian khas India

Kisah Selanjutnya—->