Integrasi Teknologi dalam Bisnis Sembako

Bisa mengeyam pendidikan hingga perguruan tinggi merupakan sebuah anugerah istimewa bagi saya dan dua saudara kandung lainnya. Keterbatasan penghasilan tunggal dari pekerjaan ayah, menempatkan biaya kuliah sebagai penyerap dengan porsi tertinggi penghasilan beliau. Lalu bagaimana keluarga saya bisa menutup biaya kebutuhan lainnya kala itu? Dengan usaha yang sederhana dan mengandalkan kedisiplinan serta ketekunan, ibu saya menjalankan bisnis sembako rumahan untuk menutup semua kekurangan biaya keluarga. Usaha itu dengan konsisten dijalankan dengan manajemen sederhana hingga kami bertiga selesai mengenyam bangku perguruan tinggi kala itu.

Masa lampau itu kemudian menggelitik hati saya dengan sebuah pertanyaan. Bagaimana kondisi sesungguhnya bisnis sembako di masa sekarang?

Sepemahaman saya, bahwa saat ini bukan hanya ibu rumah tangga saja yang mengincar kegemilangan bisnis sembako. Bahkan kalangan muda milenial dan para pengusaha muda juga mulai melirik bisnis ini. Mereka berbondong-bondong menginvestasikan dananya dengan membuka toko-toko sembako.

Tetapi sebelum bicara lebih jauh, perlu disepakati bersama bahwa usaha retail merupakan mata rantai terakhir dalam distribusi kebutuhan rumah tangga, termasuk sembako didalamnya. Bisnis eceran ini memiliki peranan krusial dalam memfasilitasi aktivitas pribadi atau masyarakat dalam belanja kebutuhan sehari-hari. Di luar konteks pandemi, kita semua pantas bersyukur bahwa daya beli masyarakat Indonesia terus meningkat dan kekuatan demografi Indonesia telah mendorong jenis usaha retail menjadi entitas ekonomi yang memiliki peran penting dalam menyumbang Produk Domestik Bruto (PDB) dan menyediakan lapangan kerja yang bisa membantu mengatasi angka pengangguran.

Kondisi lain yang cukup menggembirakan adalah kaum muda milenial yang tertarik pada bisnis ini datang dengan ilmu manajemen usaha yang memadai untuk merubah tradisi-tradisi usaha konvensional dalam bisnis sembako. Mereka mulai berinisiatif membentuk toko-toko sembako modern.

Toko sembako (sumber: https://superapp.id/)

Untuk bertahan dan meningkatkan daya saing dalam ekonomi modern, toko sembako memang dituntut untuk bertransformasi cepat dengan merubah pola dan gaya bisnis retailnya. Sedangkan dilihat dari sudut lain, mengatasnamakan gengsi dalam berbelanja, saat ini pelanggan sangat concern terhadap estetika, design dan kehigienisan toko demi menciptakan pengalaman berbelanja yang nyaman dan berkelas.

Berbelanja di toko sembako yang berpenampilan rapi, berpencahayaan terang dan mengutamakan kebersihan adalah bagian dari perilaku konsumen saat ini. Niscaya, dengan rendahnya kualitas beberapa parameter di atas, bisa menjadikan pamor toko sembako menjadi terancam oleh kemunculan berbagai brand minimarket yang menjamur di banyak tempat.

Tetapi para pemilik toko sembako sebenarnya tidak perlu khawatir, sepanjang mereka menerapkan strategi yang tepat tentu bisnisnya akan memiliki kesempatan berkembang dengan baik.

Perubahan mindset memang mutlak diperlukan. Selama ini pemilik toko sembako umumnya memiliki mindset tradisional. Jika tidak segera dirubah, tak khayal mindset itu akan menjadi batu sandungan pertama dalam melawan hegemoni minimarket-minimarket penuh branding. Pemilik toko sembako hendaknya bermindset modern, berpenampilan menarik, mau belajar manajemen toko, pandai membangun kepercayaan pelanggan untuk menaikkan branding dan menjalankan strategi pemasaran dengan baik.

Bisnis sembako adalah usaha yang menggiurkan, selain tidak membutuhkan modal yang banyak juga cepat mendatangkan keuntungan. Pada level toko sembako sederhana, jika dihitung secara rata-rata maka bisnis sembako ini hanya membutuhkan modal tak lebih dari 10 juta. Adapun alokasi umum yang biasa diterapkan adalah 50% untuk penyediaan perlengkapan toko dan 50% sisanya digunakan penyediaan barang dagangan.

Dalam menjalankan bisnis sembako, pemasukan di awal usaha sangat diperlukan untuk menghidupkan cashflow yang akan memutar bisnis sembako di fase awal. Oleh karenanya penyediaan barang dagangan harus didominasi oleh barang-barang yang paling cepat laku di pasaran. Berdasarkan data dari superapp.id,  ada tujuh jenis barang yang paling cepat laku di pasaran, yaitu beras, minyak goreng, gula dan garam, perlengkapan mandi, pembalut dan pampers, mie instant dan telur, serta obat-obatan. Karena beberapa jenis sembako adalah barang yang memiliki masa kadaluarsa yang relatif cepat, hendaknya toko sembako menggunakan metode First In First Out dalam mengatur perputaran barang dagangan di tokonya.

Dengan bergulirnya cashflow, maka toko bisa mulai mendapatkan keuntungan. Keuntungan ini tentu bisa digunakan untuk keperluan pengembangan toko supaya kapasitasnya lebih besar lagi.

Manajemen stock berbasis teknologi

Selain menjual barang secara langsung di toko melalui transakti tatap muka, maka untuk memenuhi gaya hidup modern, hendaknya toko sembako juga mengkombinasikan mekanisme transaksinya dengan opsi belanja secara online. Tentu konteks belanja online ini semakin kuat di masa pandemi, kondisi yang terjadi menuntut toko sembako untuk menyediakan akses belanja super mudah kepada para pelanggannya. Konsep berjualan secara online secara tidak langsung juga akan mendekatkan toko kepada pelanggan melalui teknologi.

Selain mekanisme transaksi, salah satu prinsip sederhana dalam bisnis sembako yang harus dipegang teguh adalah jangan membiarkan sebuah produk yang biasa dijual mengalami kekosongan stock. Sekali saja pelanggan mendapatkan pengalaman gagal beli karena masalah stock, maka akan terbentuk sebuah persepsi mendasar bahwa toko sembako yang ditujunya bukanlah toko yang komplit. Persepsi ini biasanya akan menyebar cepat dari mulut ke mulut dan akan merugikan kelangsungan usaha toko sembako.

Selain itu, toko sembako juga harus selalu dijaga selama jam buka. Untuk toko sembako besar dengan banyak karyawan, tentunya hal ini tidak akan menjadi masalah. Tetapi untuk toko sembako kecil yang biasanya si pemilik merangkap sebagai karyawan toko maka hal ini menjadi tantangan tersendiri. Karena keterbatasan tenaga dan waktu, terkadang pemilik meninggalkan sejenak tokonya untuk mengerjakan aktivitas lain. Jangan sampai kondisi seperti ini membuat pelanggan yang datang untuk berbelanja, akan tetapi mereka harus kembali dengan tangan kosong karena toko tidak ada penjaga. Hal ini secara tidak langsung akan mempengaruhi psikologi pelanggan bahwa berbelanja di toko sembako kecil membuatnya tak terlayani dengan baik.

Masalah lain yang sering dialami toko sembako seperti ini adalah saat akan melakukan kulakan. Karena si pemilik tidak memiliki karyawan, maka mau tidak mau dia harus menutup tokonya untuk sementara ketikan akan berkulakan barang dagangan. Kulakan dalam konsep lama adalah sesuatu yang membutuhkan waktu khusus. Bayangkan saja jika dalam satu minggu Anda harus melakukan sekali kulakan karena luasan toko yang tidak begitu besar, maka waktu Anda untuk berjualan akan berkurang sebanyak empat hari dalam sebulan. Jika rerata omset bulanan Anda berkisar 10 juta maka Anda akan kehilangan omset 1,3 juta dalam sebulan atau 15,6 juta dalam setahun. Nah, bukankah itu angka yang sangat lumayan besar?

Meninggalkan cara-cara tradisional memberikan arti bahawa pemilik toko sembako seharusnya berfikir bagaimana memanfaatkan teknologi untuk membantu melancarkan bisnisnya. Selain itu, pemilik juga harus terbiasa membangun kolaborasi yang saling menguntungkan dengan pihak supplier yang berkompeten untuk membantu aktivitasnya berkulakan.

Solusi Tepat Aplikasi Super

Siapakah pihak ketiga yang tepat untuk diajak bekerjasama dalam hal ini?

Perlu diketahui, saat ini terdapat entitas business support yang menyediakan jasa pengadaan barang sembako secara online dengan harga grosir. Hal ini akan memudahkan pemilik toko sembako untuk melakukan kegiatan kulakan tanpa harus meninggalkan  toko. Sangat efektif dan efisien tentunya. Entitas business support ini bernama Aplikasi Super. Cukup memesan barang dagangan melalui Aplikasi Super, maka pesanan yang anda butuhkan akan tiba tepat di depan toko tepat waktu. Wah, enak ya….

Apakah Aplikasi Super sebatas membantu kebutuhan kulakan saja bagi toko-toko sembako?

Banyak pemilik toko sembako yang hanya berfokus untuk menjual barang dagangan di tokonya saja. Padahal jika mau berfikir lebih luas, para pemilik toko sembako ini bisa juga mensupply warung-warung kecil di sekitarnya untuk mendapatkan penghasilan tambahan.

Melalui program Super Agen dalam Aplikasi Super, toko sembako yang tak terlalu luas pun bisa menjadi supplier toko-toko lain tanpa perlu dipusingkan dalam menyetok barang dagangan karena Aplikasi Super akan menyediakan barang sehari setelah pemesanan.

Program Super Agen sendiri memberikan banyak peluang bagi pengusaha toko sembako dengan harga grosir yang murah dan bersaing, pengiriman super cepat, bonus tambahan dari pencapaian target transaksi hingga berangkat umrah ke tanah suci.

Apa yang menjadi pembeda dari Aplikasi Super?

Salah satu tahapan penting yang akan menentukan keberhasilan toko sembako adalah penyediaan barang dagangan dengan margin terbaik. Perhitungan margin  merupakan tahapan penting dalam bisnis apapun dan dimanapun. Oleh karenanya, tahap penting dalam bisnis toko sembako adalah mendapatkan barang dagangan dengan harga terbaik. Dan kabar gembiranya adalah, Aplikasi Super selalu memberikan kemudahan toko kelontong untuk mendapatkan update harga setiap hari dan tentunya margin harga yang sangat menguntungkan.

Selain harga yang bersaing, Aplikasi Super juga menyediakan produk dagangan yang lengkap, pemrosesan pesanan yang cepat, bebas biaya pengiriman dan kemudahan membayar dengan Cash On Delivery.

Selain program untuk pemilik toko sembako, Aplikasi Super juga meluncurkan beberapa program yang diperuntukkan bagi rumah tangga. Program yang diperuntukkan bagi kedua jenis kebutuhan ini, salah satunya adalah program Flash Sale Super Bohay. Program Super Bohay biasanya menerapkan diskon yang sangat menarik bagi toko dan rumah tangga. Beberapa contoh dari program Super Bohay ini adalah belanja serba goceng dan kulakan super murah.

Contoh program lainnya dari Aplikasi Super adalah Super Center yang bertujuan memajukan agen, pedagang, dan toko kelontong melalui 3P: Pelatihan, Pendapatan tambahan, dan Promosi.

Dari berbagai kemudahan dan keuntungan yang ditawarkan oleh Aplikasi Super, maka tunggu apalagi?

Mari berbisnis sembako dan segera install Aplikasi Super di handphonemu dan dapatkan akses bisnis sembako yang mudah dan menguntungkan.

Menunggu Pagi di Seoul Express Bus Terminal

<—-Kisah Sebelumnya

Temperatur anjlok….Sudah dibawah titik beku.

Jam dinding bulat putih di arrival hall memamerkan jarumnya yang mulai merapat ke angka pertama dalam putarannya.

Arrival Gate Seoul Express Bus Terminal.

Kembali ke sepuluh menit sebelumnya, ketika aku bergegas melipat jemuran t-shirt dan kaos kaki dari jok ketika bus putih berkelir merah itu merapat di Seoul Express Bus Terminal.

Selamat Datang Seoul….Engkau akan menjadi kota terakhir dalam petualangan awal tahun itu.

Seturun dari bus, setiap penumpang bergegas menuju bangunan terminal demi menghinda hawa dingin kota. Sejenak arrival hall berubah ramai, beberapa toko penjaja makanan ringan dan kopi yang masih buka menjadi serbuan sebagian penumpang. Sementara sebagian yang lain memilih angkat kaki dari terminal, mengandalkan taksi untuk melanjutkan perjalanan ke titik akhir masing-masing.

Mencari tempat untuk tidur.

Aku berdiri terdiam, mengawasi lokasi sekitar, mencari tempat bermalam yang nyaman. Aku sudah faham bahwa MRT akan mulai beroperasi pagi nanti, sekitaran setengah enam. Jadi aku tak perlu berepot-repot memaksa diri menuju bangunan stasiun.

Tuah keberuntungan itu datang, dipojok kiri sana terlihat dua kolom bangku panjang, masing-masing besekat tiga tanpa sandaran dengan besi pembatas antar sekat. Membuatnya tak mungkin menjadi tempat tidur darurat dini hari itu. Kutaruh backpack di pojok bangku dan aku mulai duduk menghabiskan sisa malam.

Menunggu benar-benar sepi untuk mengakuisisi bangku.

Seiring bergulirnya jarum jam, para penumpang yang sedari tadi menikmati kopi panas dan makanan ringan mulai hengkang, menyisakan sepi. Beruntung toko-toko itu tak menutup diri walau si empunya pasti tertidur di lantai sambil menunggui dagangannya. Setidaknya aku tak merasa sendiri.

Bangungan terminal ini sungguh manusiawi. Bersih, terang dan aman walaupun aku tetap mengeluhkannya karena tetap saja tak kuasa menahan hawa beku dari luar sana. Hawa itu masuk menembus jendela-jendela kaca, membuatku tak sanggup memejamkan mata sama sekali.

Di tengah kesenyapan, aku beranjak bangkit, mencoba mendekati kios-kios makanan itu. Mengamati beberapa kaleng minuman yang mungkin bisa menemaniku malam itu. Aku sedang khusyu’ memilihnya ketika tiba-tiba sekerumun penumpang berjejal memasuki bangunan terminal. Sebuah armada bus antar kota tampak menyalakan lampu hazard sembari memuntahkan seluruh muatannya.

Nona Cantik: “Hello, how do I get to downtown?

Aku: “If you want to go there now, you have to take a taxi, Ms. MRT isn’t operating yet now”, buseet, guwe yang orang asing aja lebih tahu.

Nona Cantik: “Oh. Is’n operating yet?”, aroma nafasnya tercium wangi Soju.

Aku: “Yes absolutely, you can go by taxi or waiting here until morning”, berharap dia bisa menemaniku di terminal

Nona Cantik: “Oke..Oke”, dia tampak menuju ke sisi dinding terminal….”Oppaaaa…….@#$%^&*!?><”. Ah dia malah menelpon kekasihnya. Musnah sudah harapan.

Aku kembali ke jajaran minuman kaleng, mengambil salah satunya dan menebusnya dengan 800 Won.

Minum kopi manis dulu lah…..

Dalam sekejap, bangunan terminal kembali sepi. Aku terduduk lagi di bangku. Kali ini seorang sopir bus antar kota sudah duduk di barisan bangku sebelah, bersandar pada tembok dan tidur dengan lelapnya.

Sedangkan aku yang sangat terganggu dengan hawa beku, berusaha terus bergerak hingga pagi. Beruntung aku menyempatkan tidur dalam bus selama dua setengah jam dalam perjalanan malam tadi.

Ayolah Seoul, segeralah datang matahari pagi!….

Kisah Selanjutnya—->

Haedong Yonggungsa Temple: Tak Pernah Sampai….

<—-Kisah Sebelumnya

Belum genap langkahku mencapai Stasiun Toseong, nada perut mengirim pertanda. “Oh iya, aku belum makan siang”, respon cepat dalam fikirku. Terakhir aku menyantap snack jalanan Bungeoppang dua jam lalu di jalan yang sama dengan tempat berdiriku sekarang, Kkachigogae-ro Avenue.

Menuju Haedong Yonggungsa Temple perlu waktu yang tak sebentar. Aku berhenti sejenak di satu sisi trotoar. Perlahan menyapukan pandangan ke deretan ruko di sepanjang jangkauan mata. Di seberang jauh jalan, aku melihat rumah makan yang tak begitu besar, beberapa warga lokal keluar dari rumah makan mungil itu dengan membawa kantong plastik berisi makanan. Cepat memutuskan, “lebih baik aku makan disana saja, waktuku tak banyak”. Sewaktu kemudian aku sudah terduduk di salah satu bangku rumah makan mungil itu.

Annyeonghasimnika”…….

Good afternoon, Sir. This is the menu. Enjoy your time here

Thank you sir, give me time to choose the menu!”.

Pemuda berpotongan khas poni Korea itu tersenyum mengangguk dan kembali sibuk menyiapkan makanan untuk beberapa pelanggan yang masih mengantri di pintu. Sedangkan aku mulai sibuk memilih makanan yang akan kusantap di daftar menu. Filter pertamaku tentulah harga, mengingat amunisi yang makin menipis pada hari keduaku di Korea.

Hello, Sir”, aku memanggil pemuda itu setelah memilih menu termurah.

Yes, Sir”, dia berkesiap menuju mejaku.

This, Sir

Oh, Kimbap….OK…OK. Oh ya, Where are you come from, Sir”, Dia memahami cepat pesananku sembari membuka topik pembicaraan lain.

“Indonesia, Sir”

Wooow, Indonesia. I ever worked there for 3 years. Selamat siang, Pak

Aku tertawa tak terbendung melihatnya melafalkan bahasa tanah air beta….Hahaha.

Tidak makan babi?”, dia kembali berkelakar.

Tidak…Tidak…..Hahahaha. Bahasa Indonesia Anda bagus”, aku merasa bahagia, seolah sedang berada di negeri sendiri.

Moslem ya?

“Yups. Saya senang bisa mendengar bahasa Indonesia di Busan, Pak”

Ya….Ya….Ya….. Saya bisa sedikit Bahasa Indonesia. Tunggu ya, saya buatkan Kimbap. Hanya 10 menit, Tunggu!

“Ok Pak”

Dia sibuk meramu Kimbap pesananku dengan tekun dan tepat sepuluh menit kemudian, Kimbap itu diangkatnya dan dibawa menujuku. Kini Kimbap telah siap kusantap. Tetapi aku menyantapnya dengan mimik datar. Damn…Aku kangen Nasi Padang.

Kenyangkah anda jika makan siang dengan porsi segitu?

Membayar setelah menyantapnya, aku berbincang sebentar hingga akhirnya tahu dia adalah pemilik rumah makan mungil ini.

—-****——

Aku terduduk tak kenyang dalam gerbong Humetro Line 1 (Orange Line), kemudian berpindah di Humetro Line 2 (Green Line) di Stasiun Seomyeon. Selanjutnya aku menuju ke Stasiun Haeundae demi melanjutkan petualangan.

Destinasi yang membuatku pucat pasi….Entahlah, apakah waktunya akan cukup hingga aku mengejar keberangkatan bus menuju Seoul pada jam setengah sembilan malam nanti. Atau apakah aku akan tertinggal oleh bus itu.

Kekhawatiranku yang berlangsung di sepanjang lorong bawah tanah Busan terhenti ketika voice announcer mengabarkan bahwa Humetro akan segera merapat di Stasiun Haeundae. Bersamaan dengan itu maka keputusanku menuju destinasi terakhir telah bulat…..Aku akan mengunjunginya. Dengan cepat aku bergegas menuju station gate di permukaan, sesampainya di atas, aku melangkah gesit menuju sebuah halte bus yang berlokasi tak jauh dari station gate. Nama halte bus itu sama dengan nama stasiun di sebelahnya, yaitu Halte Bus Haeundae, terletak di tepian Haeun-daero Avenue

Kuperhatikan dengan seksama angka-angka yang merupakan identitas beberapa bus kota yang melewati halte itu. Yes….Ada angka 181 terselip diantaranya, itulah nomor bus yang kusasar. Kuperhatikan lekat-lekat muka setiap bus yang akan berhenti di halte itu. Aku tangkas mencari keberadaan letak angka di bagian depan bus. Cukup lama, bus bernomor lain melewatiku di halte itu hingga datang bus keenam dengan angka yang kucari sedari tadi. Kini aku bersiap diri menyambut bus tersebut yang dari kejauhan mulai menyalakan lampu sein sebagai penanda bahwa bus itu akan mengambil penumpangnya di Halte Haeundae.

Bus berdecit lembut di hadapan, aku segera melompat masuk melalui pintu depan, memasukkan ongkos sebesar 1.200 Won (Rp. 15.000) pada fare box di sebelah sopir sembari menunjukkan sebuah gambar kepadanya. “Haedong Yonggungsa Temple, Sir. Please drop me here…!.”.

Hoohhh….hoooohh”, selorohnya kuanggap bahwa dia telah faham.

Seluruh bangku yang telah penuh, membuatku berdiri sendirian dibawa laju bus kota itu. Wajah-wajah lokal yang heran menatapku sepanjang perjalanan, tentu karena aku berbeda warna kulit dari mereka.

Sementara di dalam bus, tak ada petunjuk apapun yang bisa membantu memantau dimana keberadaanku di setiap saat. Aku mencoba menenangkan diri diluar fakta bahwa kepanikan kecil mulai mengganggu konsentrasi. Tiga puluh menit berlalu, sudah tak terhitung bus itu berhenti menaik turunkan penumpang, tetapi pak sopir tampak terus fokus mengemudikan busnya.

Akhirnya aku memberanikan diri menghampirinya dan menanyakan kembali perihal gambar kuil yang kutunjukkan sedari awal perjalanan. “Sir, is this temple still far?”, aku bertanya singkat. Lalu bagaimanakah reaksi dia?….Ruarrrr Biasaaahhhh.

Hooohhhh….Hooohhhh”, sembari melambai-lambaikan tangan pertanda tidak tahu. Entah tak tahu tempatnya atau tak tahu bercakap English. “ Ah alamat, pantesan aku dicuekin sedari tadi”. Kini tak ada pilihan, aku harus turun dari bus walaupun aku tak tahu sedang berada dimana. “Sir. Drop me here now!”. Dan perlahan, bus mulai melambat menuju ke sebuah halte kecil di depan sana.

Firasat sedari awal perjalanan itu jelas, aku kini benar-benar tersesat di sebuah tempat nan sepi. Sementara waktu sudah lewat dari jam setengah lima sore. Aku akan berusaha mencari informasi apakah Haedong Yonggungsa Temple masih layak untuk ditempuh dengan berjalan kaki.

Sepuluh menit dalam kebingunan dan kepanikan dalam sebuah halte, akhirnya tampak seorang lelaki muda sedang berjogging mendekat ke arahku. Kuberanikan diri untuk menghentikannya dan menanyakan tempat tujuan itu kepadanya.

It’s about 10 kilometers from here, you get off from the bus but it’s too far from that place

Ok thanks, Sir

Itu berarti aku tak bisa berjalan kaki dan juga tak mungkin menunggu bus menuju kesana….Akan terlalu lama dan menghabiskan banyak waktu. Kuputuskan untuk membatalkan segera dan bersiap menuju tengah kota kembali. Lebih baik aku mengamankan jadwal keberangkatan bus menuju Seoul. Jika aku terlambat maka aku harus bersiap dengan kompensasi menambah biaya akomodasi untuk menginap semalam lebih lama di Busan.

Dengan rasa penuh panik, sebal dan kecewa….Ditambah sedikit takut karena berada di tempat yang sangat sepi di tepian Gijang-daero Avenue, akhirnya aku menunggu kembali kedatangan bus bernomor 181.

I’m so sorry…. Haedong Yonggungsa Temple….Bak kasih yang tak sampai.

Kisah Selanjutnya—->

ESG, Kelestarian Sumber Daya dan Pemerataan Ekonomi

Hampir setahun lalu, pengajuan kasus perdata pencemaran lingkungan yang dilakukan Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan berakhir pada kewajiban dua perusahaan tekstil, yaitu PT Kamarga Kurnia Textile Industri (KKTI)  dan PT How Are You Indonesia (HAYI) untuk membayar denda tak kurang dari 16 Milyar Rupiah atas kesalahannya yang mencemari lingkungan di daerah Aliran Sungai Citarum. Akan tetapi kasus tersebut belumlah seberapa karena Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sedang memproses lebih dari 780 kasus lingkungan hidup dan kehutanan yang melibatkan banyak korporasi.

Permasalah lingkungan di kota besar yang diakibatkan oleh lemahnya empati lingkungan korporasi memiliki kemungkinan besar untuk dikaitkan dalam permasalahan hukum mengingat stakeholder lingkungan di wilayah perkotaan sangatlah banyak dan beragam.

Lalu bagaimana jika kerusakan lingkungan seperti diatas terjadi di wilayah terpencil yang jarang terpapar media?. Atau paling tidak, belum banyak stakeholder yang memiliki kepentingan dengan lingkungan di wilayah tersebut.

Sebagai contoh, kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh aktivitas PT Rimba Matoa Lestari di Distrik Bonggo Timur, Kabupaten Sarmi, Papua. Kerusakan lingkungan tersebut berupa erosi dan pencemaran air yang mengakibatkan berbagai jenis kepiting, bia, dan ikan di muara Kali Poroway mati.  

Belum lagi tentang masalah keterlibatan masyarakat sekitar dalam dinamika ekonomi yang digulirkan korporasi. Atau mungkin perihal keadilan remunerasi atas lapisan karyawan mayoritas di level operasional korporasi. Di wilayah terpencil, terkadang isu kesetaraan ekonomi dalam masyarakat menjadi tidak terpantau dengan baik.

Lebih menyedihkan lagi apabila beberapa sebuah standar kelayakan lingkungan dapat diperoleh dengan mudah oleh korporasi lewat “jalan belakang” tanpa melalui mekanisme yang kredibel.

Inilah mengapa isu pelestarian lingkungan dan keadilan sosial menjadi perhatian yang harus diperhatikan oleh sebuah korporasi sebagai bagian dari etika penanaman modal. Sikap dan pemahaman bahwa keuntungan korporasi harus berjalan berdampingan dengan pelestarian lingkungan, kesejahteraan masyarakat dan keadilan internal korporasi harus dibangun dengan inisiatif korporasi tanpa harus menunggu pengawasan pihak eksternal.

Oleh karenanya diperlukan sebuah buffer system yang bisa mencegah timbulnya permasalahan seperti di atas sejak dini. Ada sebuah standar yang memiliki peran penting untuk menciptakan bisnis yang bertanggung jawab terhadap lingkungan. Bahkan peran pentingnya juga mencakup  tanggung jawab terhadap sosial dan hukum. Standar yang telah giat diterapkan sejak tahun 1960-an ini dikenal dengan nama ESG.

Menurut Khofifah Noviarianti, creative media intern CESGS (Center for Environmental, Social, & Governance Studies), ESG merupakan sebuah standar perusahaan dalam praktik investasinya yang terdiri dari tiga konsep atau kriteria: Environmental (Lingkungan), Social (Sosial), dan Governance (Tata Kelola Perusahaan). Dengan kata lain, perusahaan yang menerapkan prinsip ESG dalam praktik bisnis dan investasinya akan turut mengintegrasikan dan mengimplementasikan kebijakan perusahaannya sehingga selaras dengan keberlangsungan tiga elemen tersebut.

CESGS (Center for Environmental, Social, & Governance Studies) sendiri merupakan lembaga nirlaba yang didirikan di Indonesia dengan tujuan untuk mendukung penelitian akademis, membangun eksekutif yang berpikiran berkelanjutan, dan sebagai solusi terdepan untuk rekomendasi kebijakan yang muncul dalam masalah lingkungan, sosial dan tata kelola. Penelitian CESGS dilakukan oleh akademisi dan ahli dalam hal ESG sehingga membuahkan hasil penelitian ilmiah yang bereputasi baik, analisis yang solid, dan rekomendasi sistematis. Selain melakukan penelitian dalam hal ESG, CESGS juga berpengalaman dalam menyelenggarakan pelatihan eksekutif, dan menerbitkan literatur akademis tentang ESG.

Aspek ESG (Diadaptasi dari artikel Dr. Antonius Alijoyo, ERMCP, CERG, Dewan Perkumpulan Praktisi Governansi Indonesia (PaGI))

ESG adalah standar yang mencakup aspek lingkungan, sosial dan tata kelola yang harus diperhatikan sebuah korporasi untuk  menerapkan investasi yang beretika, bertanggung jawab dan berkelanjutan (sutainable invensting). Investasi berkelanjutan akan menghindarkan korporasi untuk menghindari bisnis senjata, alkohol, pornografi, perjudian dan bisnis lain yang membahayakan. Selain itu, dengan konsep sustainable investing berarti korporasi akan memperhatikan keterlibatan masyarakat dan mengelola sumber daya manusia sesuai prinsip Hak Asasi Manusia.

ECG yang Kuat Mempercepat Pemerataan Ekonomi.

Menimbang aspek sosial dalam ESG, visi korporasi tentang pengembangan tingkat ekonomi stakeholder dan cara pandang korporasi terhadap karyawan sebagai bagian penting dalam pencapaian kemajuan korporasi tentu dapat dikembangkan.

Aspek sosial dari ESG akan mengarahkan korporasi untuk menghindari eksploitasi karyawan demi keuntungan semata. Perusahaan hendaknya memiliki visi untuk meningkatkan kesejahteraan karyawan dalam skup internal dan meningkatkan kesejahteraan sosial dalam skup eksternal.

Korporasi yang memegang teguh aspek ESG tentu akan berkontribusi dalam mengarahkan pembangunan lingkungan di sekitarnya menjadi wilayah terdampak ekonomi dengan meningkatkan kualitas hidup, sarana-prasarana dan sistem sosial kemasyarakatan yang lebih baik.

Pengembangan sumber daya manusia di wilayah terpencil menjadi satu dari sekian banyak kunci penting dalam peningkatan kompetensi kawasan. Meningkatnya kualitas kompetensi dan taraf hidup sumber daya manusia di wilayah terpencil tentu akan membantu negara dalam mempercepat pemerataan ekonomi nasional.

ESG Menjaga Kelestarian Sumber Daya Alam dan Lingkungan.

Wilayah terpencil yang jauh dari pemantauan media dan komunitas independen lainnya menjadi wilayah yang rawan terdampak kerusakan sumber daya alam. Tanpa standar tertentu yang dijalankan korparasi akan mengancam tergerusnya sumber daya alam. Selain wilayah yang terancam tidak bisa merasakan manfaat positif dari pemanfaatan sumber daya alam yang dimiliki, juga akan mengancam generasi masa depan yang rawan tidak terwarisi sumber daya alam tersebut.

Sumber daya alam yang seharusnya menjadi  kekuatan utama untuk mengembangkan wilayah akan menjadi tak berguna bila dieksploitasi oleh korporasi yang memanfaatkannya untuk kepentingan kapitalisme semata. Padahal di era ekonomi otonom, salah satu cara meninggal ketertinggalan taraf ekonomi dan taraf kehidupan wilayah terpencil sangat tergantung pada optimalisasi sumber daya alam sekitarnya.

Begitu pula dengan limbah yang dihasilkan korporasi, hendaknya limbah senantiasa diolah sehingga bisa dilepaskan kembali ke lingkungan dalam bentuk material ramah lingkungan ataupun dikonversi dalam bentuk lain. Sebagai contoh, perkebunan kelapa sawit selama ini memiliki kontribusi dalam pembentukan gas rumah kaca sebagai akibat dari Palm Oil Mill Effluent (POME) atau limbah cair kelapa sawit. Sebetulnya jika diolah dengan serius maka POME bisa diolah lebih lanjut menjadi listrik yang bisa dimanfaatkan oleh warga sekitar. Namun sangat disayangkan, dari sekitar 800 pabrik kelapa sawit di Indonesia hanya 5% diantaranya yang memiliki fasilitas pengolahan limbah cair sawit menjadi biogas.

Pembangkit Listrik Tenaga Biogas (PLTBg) bermetode methane capture yang bisa memasok 1.000 rumah warga untuk sebuah industri minyak sawit dengan kapastitas produksi 45 ton per jam (sumber: http://www.forda-mof.org).

ECG Menjaga Keberlangsungan Usaha dalam Jangka Panjang.

Pemanfaatan sumber daya alam yang bertanggung jawab, peningkatan sumber daya manusaia yang berkesinambungan di wilayah serta penjagaan tata kelola internal menjadikan kunci utama korporasi mendapat kepercayaan serta dukungan penuh dari masyarakat sekitar demi keberlangsungan kegiatan korporasi dalam jangka panjang.

Hubungan timbal balik yang saling menguntungkan ini menjadi harapan wilayah terpencil untuk memiliki perencanaan pengembangan jangka panjang sebagai dampak otomatis dari adanya perputaran ekonomi dalam skala besar di jalankan oleh korporasi.

Efek domino lain dari perputaran roda ekonomi dalam wilayah, bisa mendorong tumbuhnya unit usaha pendukung lain berbasis UMKM (Usaha Mikro, Kecil dan Menengah) dalam wilayah. Bahkan dalam skala lebih besar bisa mendorong tumbuhnya usaha komplemen yang secara bersamaan akan menciptakan kawasan industri yang bisa menggerakkan ekonomi kawasan secara lebih luas.

Kita dapat mengambil contoh dalam kawasan perkebunan besar dimana tata kelola (governance) yang baik memungkinkan perkebunan besar membina terbentuknya perkebunan plasma yang dapat meningkatkan perekonomian masyarakat di sekitar perkebunan. Tata kelola yang baik ternyata membantu meningkatkan aspek sosial (Social) dalam operasional perkebunan besar. Hal ini menunjukkan bahwa ketiga aspek dalam ESG(Environment, Social and Governance) saling berhubungan, peningkatan salah satu aspek akan mendorong meningkatnya aspek yang lain.

Kita bisa melihat bahwa ESG memiliki dampak positif ke berbagai segi secara simultan dan berkesinambungan. Oleh karena itu, pengukuran dan pengawasan ESG harus menjadi perhatian para investor, masyarakat dan pemerintah, karena di konsep usaha berkelanjutan saat ini,  komponen itulah yang bisa diperhatikan oleh stakeholder untuk menentukan apakah sebuah korporasi menjadi tempat yang layak untuk menempatkan investasinya. Korporasi yang tidak memperhatikan aspek ESG tentu akan tergeser oleh korporasi yang memiliki komitmen kuat dalam melaksanakan dan mengembangkan ESG dengan konsiten. Karena di masa depan, hanya korporasi yang memperhatikan aspek lingkungan, sosial dan tata kelola dalam menjalankan aktivitas operasionalnyalah yang akan menarik minat investor dalam menanamkan modalnya.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh CFA Institute pada tahun 2015 menyimpulkan bahwa 73% investor mempertimbangkan aspek lingkungan, sosial dan tata kelola dalam melakukan investasi. Sedangkan 27% investor tidak mempertimbangkan aspek ESG dalam keputusan investasi mereka. Ini menunjukkan sudah banyak kepedulian para investor terhadap upaya menciptakan bisnis berkesinambungan dan berkelanjutan. Penanaman modal beretika harus terus dikembangkan di Indonesia untuk menciptakan atmosfer bisnis seperti ini.

Beberapa lembaga secara independen melakukan pemeringkatan penerapan aspek lingkungan, sosial dan tata kelola pada korporasi yang bergerak di bidang bisnis tertentu. Contohnya adalah lembaga independen asal Inggris bernama SPOTT (Sustainability Policy Transparency Toolkit) yang melakukan pemeringkatan kinerja aspek ESG pada perusahaan yang bergerak di bidang kehutanan, kelapa sawit, dan karet alam. Lembaga independen seperti inilah yang perlu dikembangkan di berbagai bidang bisnis untuk memberikan masukan bagi para investor dan stakeholder lain yang berkepentingan menanamkam modalnya sehingga mereka tidak salah memilih korporasi tempat mereka menanam modal.

Bahkan pasar saham pun mulai terpapar dengan tren investasi tematis bermuatan ESG. Bertambah banyaknya investor yang memiliki prinsip yang sejalan dengan wawasan ESG maka menjadi katalisator bagi pertumbuhan emiten-emiten berwawasan lingkungan, sosial dan tata kelola. Fakta ini diperkuat oleh sebuah survey yang diselenggarakan oleh Schroders yang menyatakan bahwa saat ini 52% millennial ingin memilih berinvestasi dalam sustainable investing. Fakta ini seharusnya membuat korporasi bergerak lebih cepat menyambutnya karena sustainable investing (investasi berkelanjutan) akan semakin tumbuh, jika korporasi tidak serius menggarap investasi jenis ini maka bisa dipastikan mereka akan kesulitan mendapatkan dana investasi di masa depan.

Selain faktor pemahaman investor, aspek ESG juga telah menjadi perhatian utama masyarakat, pemerintah dan konsumen terkait dengan kemungkinan-kemungkinan yang diakibatkan oleh aktivitas korporasi secara lebih luas. ESG telah menjadi isu penting yang secara langsung akan mempengaruhi kebijakan korporasi menuju investasi bersih dan positif.

Korporasi yang tidak bisa mengendalikan ESG dengan cakap bisa berdampak langsung terhadap kesehatan masyarakat, ekonomi, kerusakan ekosistem serta berdampak pada wilayah luas dalam waktu lama. Dan pada level krusial, bisa berpotensi menimbulkan konflik sosial. Korporasi yang demikian tentu tidak akan mampu bertahan di masa depan.

Jadi mari kita secara global hendaknya mulai peduli pada aspek ESG (Environment, Social and Governance) demi turut aktif mengawasinya demi kebaikan bersama.

Informasi lebih lanjut:

Instagram: @cesgstudies

Twitter: @CESGStudies

#LombaBlogCESGS

#RisetTanpaRibet

Referensi:

  1. https://www.cesgs.or.id/
  2. https://indikator.indikaenergy.co.id/
  3. https://amp-kontan-co-id.cdn.ampproject.org/
  4. http://governansi.org/
  5. https://www.mongabay.co.id/
  6. https://www.ft.com/
  7. https://kabaralam.com/
  8. Analisa Pengaruh Kinerja Environmental, Social, dan Governance (ESG) terhadap Abnormal Return. Oleh Saddek Syafrullah. 2017.
  9. https://m-bisnis-com.cdn.ampproject.org/
  10. https://www.dbs.com/
  11. https://www.schroders.com/

Keseimbangan Siklus Material, Syarat Lestari Sumber Daya Kawasan

Menjalani passion sebagai seorang backpacker memang memudahkan saya untuk mempelajari hal-hal baru, salah satunya adalah budaya hidup bersih. Ketika saya mengunjungi kota maju seperti Tokyo, atau misalnya berkunjung ke kota sekaligus negara yang lebih dekat saja, yaitu Singapura maka impresi pertama yang saya dapatkan adalah kebersihan kota tersebut beserta regulasi terkait yang diterapkan di ruang publiknya. Perilaku masyarakat dalam hal kebersihan di negara tersebut bahkan telah mengilhami saya untuk menduplikasinya, seperti membuang sampah pada tempatnya hingga perilaku terpuji lainnya seperti menyimpan bungkus makanan di tas hingga menemukan tempat sampah untuk membuangnya. Bahkan saya tak pernah ragu memasukkan botol minuman yang tergeletak di sebuah trotoar dan memasukkannya ke dalam tong sampah terdekat.

Tetapi pertanyaannya adalah apabila sebagian besar masyarakat memiliki kebiasaan baik tersebut apakah permasalahan sampah kota akan usai secara otomatis?

Setelah banyak membaca, saya baru mengetahui bahwa budaya baik tersebut belumlah cukup untuk menjamin terbentuknya keseimbangan lingkungan kota terkait dengan sampah yang dihasilkannya. Hal ini terkait dengan sebuah fakta bahwa sebagian besar kota di dunia masih mengandalkan insinerasi (pembakaran) untuk melenyapkan sampah di tahap akhir pengelolaan.

Dalam konteks kedua kota besar di atas, Singapura membakar sampahnya di Tuas Incineration Plant yang berlokasi di ujung barat kota, sedangkan Tokyo membakarnya di Toshima Incineration Plant yang berlokasi di utara kota. Memang, persepsi mendasar bagi khalayak adalah setelah pembakaran akhir maka masalah sampah di kotanya telah usai. Tetapi sejatinya tidaklah demikian, justru insinerasi adalah permulaan dari masalah baru yang lebih serius.  

Pasti Anda akan menebak dengan mudah bahwa pembakaran tersebut akan menghasilkan emisi karbon. Baiklah, sebelum mengetahui lebih mendalam, saya akan memulai pembahasan dari sudut pandang yang berbeda.

Konsep Zero Waste Cities (ZWC)

Mari kita berbicara kembali tentang sampah kota. Untuk memudahkan penulisan, saya akan mengganti kata “kota” dengan istilah lain, yaitu “kawasan”.

Saya yakin bahwa mayoritas khalayak belum memiliki pengertian yang mendalam tentang konsep kawasan maju. Kawasan maju masih didefinisikan secara sempit sebagai kawasan yang memiliki teknologi unggul, transportasi massal terbaik, gedung pencakar langit yang futuristik dan lingkungan kawasan yang terlihat bersih secara kasat mata.

Padahal kita harus melihat secara kompleks apabila ingin membahas tentang kawasan maju. Hal utama yang harus diperhatikan adalah lingkungan, karena pada hakikatnya, kawasan itu sendiri sangat tergantung terhadap lingkungan yang baik dan mendukung untuk terus bertumbuh menjadi kawasan maju dan modern. Oleh karenanya, visi pembangunan kawasan tanpa pemahaman konsep kelestarian lingkungan akan beresiko menciptakan kawasan yang tidak seimbang.

Konsep kawasan yang berwawasan lingkungan inilah yang kemudian melahirkan konsep Zero Waste Cities yang mulai dijalankan pada beberapa kawasan di dunia. Zero Waste Cities adalah program kota bebas sampah (zero waste) yang menitikberatkan pada model pengelolaan sampah berwawasan lingkungan, prinsip berkelanjutan, berkeadilan bagi masyarakat dan terdesentralisasi di kawasan pemukiman.

Berdasarkan pengertian tersebut maka Zero Waste Cities memberikan gambaran yang ideal bahwa kawasan masa depan adalah kawasan yang berpedoman pada kelestarian lingkungan, mengembalikan proses produksi ke dalam konsep urban farming (pertanian kota), mengkonversi sampah organik menjadi pupuk untuk kawasan, memandang sampah lainnya sebagai bagian dari sumber daya dan menjadikan warganya sebagai produsen energi di kawasan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa selain mengembangkan infrastruktur, kawasan tersebut juga harus mengembangkan attitude (sikap) warganya.

Kita semua memahami bahwa semakin berkembang sebuah kawasan maka tingkat konsumsi warganya juga semakin tinggi. Hal inilah yang menyebabkan penciptaan sampah secara masif. Dan uniknya, tidak pernah ada strategi tunggal dalam menyelesaikan masalah sampah karena setiap kawasan memiliki budaya, sumber daya dan lingkungan yang berbeda-beda.

TPA dan Siklus Material

Pada akhirnya, sampah yang tidak terkelola dengan baik maka secara langsung akan mencemari kawasan, memberikan tekanan pada kualitas air, kualitas tanah, menimbulkan bau tidak sedap yang akan mengganggu kualitas udara serta merusak estetika kawasan. Sampah juga mempengaruhi kualitas kesehatan kawasan karena keberadaan sampah bisa memicu terjadinya penyakit dan sekelompok warga yang sering terpapar penyakit pada akhirnya akan mengurangi tingkat produktifitas kawasan.

Selain itu, problematika sampah kawasan yang dibiarkan semakin akut akan menciptakan biaya ekonomi tambahan yang tidak sedikit untuk menyelesaikannya. Dan perlu digarisbawahi bahwa  penyelesaian sampah yang efektif dan efisien tidak bisa mengandalkan Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Seberapa mampu TPA dengan luasan terbatas bisa menampung sampah dari berbagai kawasan yang jumlahnya cenderung bertambah setiap harinya?.

Pada sisi lain, kita memahami bahwa mayoritas TPA yang masih mengandalkan insinerasi dalam penyelesaian akhir dari siklus sampah kawasan. Insinerasi inilah yang akhirnya menambah beban lapisan ozon untuk menahan emisi karbon. Selain itu, insinerasi juga akan menghasilkan zat berbahaya yang bernama dioksin. Dan menurut World Health Organization (WHO), dioksin dalam jangka panjang bisa merusak beberapa sistem dalam tubuh manusia seperti sistem kekebalan tubuh, sistem saraf, sistem endokrin dan sistem reproduksi. Bahkan dioksin jenis tetrachlorodibenzo-para-dioxin (TCDD) bisa memicu terjadinya kanker.

Derivat masalah berikutnya dari insinerasi di TPA adalah lenyapnya berbagai material penting dari kawasan. Kita tentu mengetahui bahwa ketersediaan beberapa jenis material yang dihilangkan tersebut sangatlah terbatas di perut bumi. Jika material itu hilang dari siklusnya maka generasi kita di masa mendatang tidak akan bisa menikmatinya lagi.

Siklus material pada konsep Zero Waste Cities (diadaptasi dari Girardet, 1992, 1999).

Siklus material bisa diasumsikan sebagai salah satu bentuk metabolisme kawasan. Banyak sekali kawasan yang sudah dianggap bersih sekalipun, ternyata masih terjebak dalam konsep metabolisme linear dimana material yang dikonsumsi kawasan hanya akan berakhir dalam bentuk lain yaitu limbah cair, sampah padat dan emisi karbon. Inilah bentuk kawasan konsumtif yang berpotensi menghabiskan sumber daya alam.

Kelemahan inilah yang ingin diperbaiki dalam konsep Zero Waste Cities dimana setiap kawasan akan diarahkan untuk menjalankan konsep metabolisme sirkuler dimana setiap material tidak akan dibiarkan berhenti menjadi sampah, melainkan akan dikonversikan ke dalam bentuk baru di dalam kawasan. Jika konversi material tidak memungkinkan, maka material tersebut akan di daur ulang dan dimasukkan kembali ke dalam kawasan sebagai input untuk menghindari terjadinya eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan.

Konsep ini bertujuan mengalihkan arus sampah menuju TPA dengan cara mengurangi jumlahnya melalui proses pemilahan sampah, pengomposan dan selebihnya dioptimalkan di depot daur ulang. Pemilahan sampah dilakukan pada awal proses yaitu di rumah tangga, minimarket, kawasan perkantoran dan kawasan industri

Pemilahan Sampah dan Pengomposan

Di Indonesia sendiri, tentu kita mengetahui bahwa hingga saat ini belum ada peraturan resmi yang melarang proses insinerasi. Oleh karenanya, sebagai generasi yang peduli terhadap lingkungan maka sejak dini kita harus mempelopori pengurangan fungsi insinerator dengan cara mengurangi sampah dari sumbernya, sehingga secara kuantitas, sampah yang masuk ke TPA akan berkurang. Fokus memperbaiki tata kelola sampah kawasan bisa dilakukan dengan hal yang paling sederhana yaitu mengembalikan sampah organik ke bumi dalam bentuk hara melalui proses pengomposan.

Lalu, seberapa efektifkah strategi pemilahan sampah ini?

Menurut data per 21 September 2020 dari Yayasan Pengembangan Biosains dan Bioteknologi (YPBB), sang pionir program Zero Waste Cities di Indonesia, pemilahan sampah pada dua Rukun Warga di Kelurahan Melong, Kota Cimahi berhasil mengurangi sampah hingga 38% dari seluruh sampah yang diciptakan oleh kawasan.

Pemilahan sampah di Kelurahan Lebak Gede, Kota Bandung (dokumentasi YPBB).

Beranalogi dari data tersebut, sebagai warga Jakarta maka saya akhirnya menghitung. Jika semua kawasan di Jakarta menerapkan pemilahan sampah seperti yang dicontohkan oleh YPBB maka setidaknya ada sekitar 2,5 ton sampah organik setiap harinya yang dapat dikonversikan menjadi kompos yang kemudian bisa digunakan untuk menyuburkan ruang terbuka hijau milik kawasan serta lahan-lahan pribadi milik warga. Efektif dan efisien bukan?

Memang kita belum bisa mengharapkan bahwa konsep Zero Waste Cities bisa diterapkan secara serentak di setiap kawasan karena setiap kawasan belum tentu memiliki kesiapan sumber daya. Tetapi idealnya, di setiap kabupaten atau kota hendaknya memiliki kawasan percontohan yang bisa dijadikan sebagai pilot project sekaligus sebagai media riset terhadap konsep Zero Waste Cities itu sendiri. Hasil riset ini tentu akan menghasilkan data valid yang bisa digunakan untuk mempengaruhi kawasan lain dalam menerapkan program yang sama. Bahkan di tingkat pemerintahan, data ini akan berperan penting dalam pengambilan sebuah kebijakan atau regulasi terkait pengelolaan sampah kawasan.

Kawasan yang sudah memulai konsep Zero Waste Cities harus terus dipertahankan dan ditingkatkan kualitas penerapannya. Tetapi bagi siapapun yang memiliki cita-cita untuk membentuk kawasan Zero Waste Cities namun belum mendapat dukungan banyak pihak, maka yang bersangkutan bisa memberikan contoh mandiri sebagai agen penggerak untuk memulai pemisahan sampah di rumahnya dan tetangga sekitarnya. Perlu diketahui bahwa pengomposan bisa dikerjakan secara mandiri dengan menggunakan metode takakura dan lubang resapan biopori. Sedangkan metode pengomposan sampah organik dalam jumlah besar bisa dilakukan dengan lubang kompos, bata terawang dan biodigester.

Bata terawang di Kelurahan Cihargeulis, Kota Bandung (dokumentasi YPBB).
Biodigester di Kelurahan Sukaluyu, Kota Bandung (dokumentasi YPBB).

Dalam jangka pendek, konsep Zero Waste Cities ini bisa dirasakan secara langsung oleh warga dalam kawasan dengan mendapatkan kompos yang bisa digunakan untuk berkebun. Kegiatan berkebun tentunya bisa meningkatkan ketahanan pangan kawasan terutama di masa-masa sulit pandemi COVID-19 ini. Kawasan akan mendapatkan keuntungan dengan terciptanya lingkungan yang bersih dan sehat serta estetika kawasan yang indah.

Dalam jangka panjang, tentu pemerintah juga akan terbantu dengan berkurangnya beban TPA. Dan pada akhirnya, kita akan berperan aktif dalam menjaga kelestarian sumber daya yang ada di bumi dengan cara mengembalikan kembali material pada siklusnya.

Penerapan Zero Waste Cities di Indonesia

Sebagai teladan bagi kawasan lain, kita bisa melihat apa yang dilakukan oleh YPBB. Bermula dengan inspirasi yang dilakukan oleh Mother Earth Foundation di Filipina, YPBB telah menjalankan program Zero Waste Cities di beberapa kawasan yaitu Kelurahan Coblong, Cibeunying Kaler dan Babakan Sari (Kota Bandung), Kecamatan Soreang (Kabupaten Bandung) dan Kelurahan Melong di Kota Cimahi. Sejak tahun 2017, YBB telah mempelopori konsep pemilahan sampah di kawasan percontohan tersebut.

Bahkan pada awal tahun 2021, YPBB bersama dengan Ecological Observation and Wetlands Conservation (Ecoton) juga merintis penerapan Zero Waste Cities di kawasan lain yaitu di Kampung Siba, Kelurahan Sidokumpul, Kabupaten Gresik. Bahkan jauh sebelumnya YPBB berkerjasama dengan Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Bali telah menerapkan konsep yang sama di Desa Kesiman Kertalangu, Denpasar.

Sedangkan di kawasan terdekat, Kabupaten Karawang dan Kabupaten Purwakarta juga bersiap diri untuk membuat pilot project untuk konsep Zero Waste Cities. Bahkan YPBB memiliki harapan besar bahwa dalam dua tahun kedepan akan terdapat setidaknya sepuluh kawasan baru yang menerapkan konsep Zero Waste Cities.

Tentu bergandengan tangan dengan dengan pemerintah adalah cara efektif untuk menerapkan konsep Zero Waste Cities ini. Sebagai contohnya, kesesuaian konsep antara Zero Waste Cities yang diterapkan oleh YPBB dengan program Barengras (Bareng-bareng Kurangi Sampah) di Kota Cimahi dan program Kang Pisman (Kurangi Pisahkan Manfaatkan) di Kota Bandung menjadikan pelaksanaan Zero Waste Cities semakin mudah dan semakin terbantu.

Dukungan regulasi dari pemerintah juga diperlukan untuk memperkuat pelaksanaan program Zero Waste Cities. Seperti yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Cimahi dengan mengeluarkan Peraturan Daerah Kota Cimahi No. 6 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Pengelolaan Sampah untuk memastikan program pemilahan sampah dari sumber tetap berjalan. Selain itu Dinas Lingkungan Hidup Kota Cimahi juga menurunkan Tim Patih (Patroli Kebersihan) untuk melakukan edukasi dan monitoring dalam penerapan program pemilahan sampah. Sebagai informasi juga, saat ini DPRD Kabupaten Gresik telah menyusun Rencana Peraturan Daerah (Ranperda) tentang pengurangan kantong plastik.

Sinergi yang baik ini tentutnya bertujuan untuk menghasilkan output terbaik dan maksimal dalam pelaksanaan konsep Zero Waste Cities sehingga output tersebut bisa dijadikan bahan untuk evalusai dan pengembangan pelaksanaan Zero Waste Cities yang lebih baik di masa mendatang.

Akhirnya, mari kita bersama-sama secara sadar untuk menjaga lingkungan, mewartakan dan melaksanakan konsep Zero Waste Cities ini di kawasan tempat tinggal kita demi tercapainya kelestarian sumber daya alam yang ada di bumi.

Dapatkan informasi tentang Zero Waste Citiesjuga di:

Instagram: @ypbbbandung

Twitter: @ypbbbdg

#ZeroWasteCities 

#KompetisiBlogZWC

#KompakPilahSampah

Sumber penulisan:

  1. http://ypbbblog.blogspot.com/

2. A.U. Zaman, S. Lehmann / City, Culture and Society 2 (2011) 177–187

3. A.U. Zaman, S. Lehmann / Journal of Cleaner Production 50 (2013) 123e132

4. http://statistik.jakarta.go.id/

5. https://surabaya.tribunnews.com/

6.https://humas.bandung.go.id/

7. https://thejakartapostimages.com/

8. https://www.no-burn.org/

9. https://beritabaik.id/

10. https://progresnews.id/

Menembus Rinai: Suria KLCC, Petronas Twin Tower dan Petrosains

<—-Kisah Sebelumnya

Usai menurunkan backpack di kamar, aku menuruni anak tangga Agosto Inn untuk melanjutkan eksplorasi.

Hi, Sir. Where are you going this afternoon?”, tanya resepsionis sekaligus si empunya penginapan.

Petronas Twin Tower, Sir

Oh, you better take LRT to get there. Don’t take bus because Kuala Lumpur is surely to get stuck this afternoon”, nasehatnya cukup membantuku.

Di luar fakta itu, sedari tadi aku telah memutuskan akan menggunakan Light Rail Transit. Karena sejatinya aku belum mengetahui bahwa ada layanan gratis Go KL City Bus yang jalurnya terintegrasi menuju kesana. Maklum, itulah kali pertama aku menjejak ibu kota Malaysia.

Aku menyusuri jalanan Tun H S Lee ke arah selatan kemudian berbelok ke kanan di perempatan berlanjut ke Jalan Sultan menuju Stasiun Pasar Seni. Jalanan masih basah dan menyisakan beberapa genangan tipis disana-sini. Memaksaku sedikit berhati-hati demi menghindari cipratan air dari hempasan laju kendaraan yang berlalu-lalang. Sore itu adalah jam pulang kantor, menjadikan jalanan semakin padat saja.

Agosto Inn termasuk penginapan yang murah nan strategis, jaraknya tak lebih dari dua ratus meter dari Stasiun Pasar Seni, hanya diperlukan lima menit berjalan kaki menujunya. Setiba di stasiun, aku membeli token seharga 1,5 Ringgit di ticketing vending machine untuk kemudian bergegas menuju platform di lantai atas. Stasiun Pasar Seni adalah jenis stasiun layang dan berselang tiga stasiun dengan Stasiun KLCC (Kuala Lumpur City Centre) dimana Petronas Twin Tower berdiri.

tren tiba dalam 3 minit’….‘tren 3 koc’…‘koc ke Gombak’….begitulah tulisan yang terpampang bergantian di layar LCD pada platformku berdiri. Aku begitu antusias, mengingat Jakarta belumlah memiliki MRT dan LRT kala itu.

LRT Laluan Kelana Jaya berwarna putih dengan kelir biru-merah tiba. Aku memasuki gerbong tengah, berdiri berdesakan dengan para pekerja kantoran yang hendak menuju rumah masing-masing. Desingan laju LRT memamerkan bentangan bangunan beton, taman-taman kota dan jalanan di bawah dengan beberapa pelita jalan yang mulai menyala otomatis. Menjadikan panorama sore terlihat elok.

Lima belas menit kemudian, aku tiba di Stasiun KLCC. Stasiun KLCC sendiri adalah stasiun LRT yang terintegrasi dengan pusat perbelanjaan terbaik di Kuala Lumpur, yaitu Suria KLCC. Jadi untuk menuju Petronas Twin Tower, penumpang akan diarahkan melalui bagian dalam pusat perbelanjaan. Strategi yang jamak diterapkan untuk menaikkan pendapatan kawasan.

Aku terus melangkah ke lantai atas melalui escalator demi menemukan pintu keluar menuju Petronas Twin Tower. Sepemahamanku, aku harus keluar di pintu mall di sisi Jalan Ampang. Jadi sepanjang pusat perbelanjaan, aku hanya menengara kata “Petronas Twin Tower”atau “Ampang”. Alhasil, kutemukan sebuah papan petunjuk menuju Jalan Ampang….Yes, aku berhasil keluar dari mall di jalur yang tepat.

Dari Jalan Ampang, keperkasanaan menara kembar mulai terpamerkan, menjulang setengah badan ke puncak. Aku terus mendekatinya, menyeberang Jalan Ampang dan tiba di pelataran utama Suria KLCC. Kusegerakan melangkah menuju sisi depan menara. Tepat di depannya, hiasan memanjang air mancur memperindah suasana.

This was my first time there….Petronas Twin Tower.

Mengunjungi sesuatu yang fenomenal untuk kali pertama memang mendatangkan impresi. Girang, syukur, takjub memenuhi isi hati sore itu. Hingga rinai lembut tak mampu mengusirku, untuk beberapa saat, hanya aku dan sedikit turis yang mau bertahan. Sebagian besar diantaranya telah angkat kaki.

Beberapa lama kemudian rinai berganti hujan, ketika aku tertegun pada fotografer profesional yang terus membidik menara tertinggi kesebelas sejagat itu menggunakan kamera berlensa panjang dengan plastic protector. Kini hujan memaksaku segera beranjak, pelataran menara kembar menyisakan lengang.

Memasuki kembali Suria KLCC melalui pintu berbeda, aku berniat menuju lantai empat, mencari keberadaan Petrosains, si peraga teknologi industi perminyakan Malaysia. Tak sulit menemukannya, begitu tiba di lantai empat, logo Petrosains menyambut dan mengarahkanku ke ruang utama. Hanya saja sore itu sudah hampir pukul enam, Petrosains telah tutup sejak dua jam lalu. Aku hanya memandangi seisi Petrosains dari bagian luar dinding kaca, kemudian bergegas pergi meninggalkannya untuk kembali menuju hotel.

Pintu utama Suria KLCC.
Jam operasional dan harga tiket masuk Petrosains.

Dari Stasiun KLCC, aku menumpang kembali LRT Laluan Kelana Jaya menuju Stasiun Pasar Seni. Dari sana, aku berniat mengakhiri petualangan hari pertama di Kuala Lumpur dengan menikmati makan malam. Aku menemukan kedai kecil penjaja makanan India di pinggiran Jalan Tun H S Lee.

Kerja di sini?, sapa si empunya kedai sembari menyiapkan makanan

Tidak, Pak. Saya hanya melawat”,

Dari mana kamu datang?

Indonesia

“Oh , Indonesia….Jakarta, Surabaya, Bandung?”, sambil tersenyum menyebutkan nama-nama kota itu.

Jakarta, Pak

“Ok, sudah siap. Sila makan”, dia mulai menyodorkan seporsi Biryani dengan ayam dan dua butir telur rebus.

Mari makan!

Buseettt, seginikah porsi makan orang India”, aku membatin. Kiranya aku memakai jurus lain, aku membungkus sebagian dari menu itu untuk makan malam sesi dua nanti malam….Gile emang.

Seporsi Biryani menjadi penutup yang sempurna malam itu.

Kisah Selanjutnya—->

Agosto Inn: Mencari Penginapan Dadakan

<—-Kisah Sebelumnya

Sebentar lagi pukul dua siang, kondisi awan semakin tebal di atas sana, aku pun telah merangsek turun dari kuil utama Batu Caves, menuruni 272 anak tangga dan kemudian bergegas menuju Stasiun Batu Caves.

Sesampai di stasiun aku langsung membeli tiket Kereta Komuter KTM Laluan Seremban seharga 2 Ringgit (Rp. 6.800) demi menuju KL Sentral. Sepanjang perjalanan pulang-pergi, aku tak tahu kenapa jalur ini selalu sunyi. Gerbong kereta yang masih tampak bersih dan baru, stasiun-stasiun yang dilewati pun masih terlihat bagus.  

Menempuh jalur kereta sejauh 16 kilometer, aku tiba di Lantai 1 KL Sentral’s Transit Concourse hanya dalam waktu setengah jam. Aku segera menaiki escalator menuju KL Sentral’s Main Concourse untuk berburu token menuju Stasiun Pasar Seni, kali ini aku harus menaiki LRT Laluan Kelana Jaya. Perlu mengeluarkan ongkos sebesar 1,3 Ringgit (Rp. 4.500) untuk mendapatkan akses menaiki LRT itu. Inilah pertama kalinya bagiku menggunakan ticket vending machine di Negeri Jiran itu. Tetapi kali ini tak butuh banyak waktu untuk memahaminya.

Geblek….Sandal….

Mendapatkan tiket berwujud token berwarna biru, aku segera melewati automatic fare collection gate menuju lantai dua untuk menaiki LRT Kelana Jaya. Hanya perlu menunggu tiga menit hingga kereta itu tiba lalu aku segera melompat ke dalam gerbongnya.

Tak berjeda satu stasiun pun untuk menuju Stasiun Pasar Seni. Aku tiba dalam sepuluh menit sejak memasuki LRT empat gerbong itu. Stasiun Pasar Seni yang berwujud stasiun layang itu menampilkan pemandangan kawasan Central Market beserta  aliran Sungai Kelang yang mengalir deras karena hujan. Rupanya sungai-sungai di Kuala Lumpur juga belum sepenuhnya lepas dari masalah sampah, terlihat beberapa sampah hanyut dibawa arus sungai itu.

Hujan lebat membuatku harus berdiam beberapa saat di platform Stasiun Pasar Seni. Tak ada pilihan karena aku tak memiliki payung ataupun jas hujan. Aku baru tiba di Kuala Lumpur pagi tadi sebelum memutuskan mengeksplorasi Batu Caves terlebih dahulu sebelum memasuki pusat kota. Kini aku memiliki satu tujuan ketika memasuki daerah Pasar Seni….Yups, mencari penginapan.

Kala itu aku masihlah backpacker amatiran yang tak berhasil menyiapkan satu penginapan sebelum berangkat. Beruntung aku tak ditanya perihal hotel oleh petugas imigrasi, mengingat inilah pertama kalinya aku mengunjungi Kuala Lumpur. Tadi pagi, petugas imigrasi KLIA2 hanya menanyakan tiket kepulangan yang tentu sudah kusiapkan jauh hari.

Menunggu beberapa saat, hujan tak kundung reda, masih menyisakan gerimis lembut. Kiranya aku tak boleh kehilangan banyak waktu hanya untuk menunggu hujan reda. Kupaksakan diri menembus gerimis, menyusuri Jalan Sultan, melewati lokasi proyek pembuatan jalur MRT di sisi kanan dan berbelok ke kiri untuk menyisir Jalan Tun HS Lee untuk mencari penginapan. Setelah beberapa waktu mencari, aku tertarik pada logo Trip Advisor yang terpajang di sebuah pintu kaca penginapan kecil. Agosto Inn namanya. Maka, aku tak ragu memasukinya.

Halo, Pak. Apakah Anda masih memiliki satu kamar untuk dua malam?”, aku bertanya dalam Bahasa Indonesia yang seharusnya dia faham.

Can you speak English, Please?”, resepsionis sekaligus pemilik penginapan itu ternyata tak bisa berbahasa Melayu.

Oh, sorry. Do you still have a room for two nights?”, aku menjelaskan pertanyaan yang sama.

Oh, of course. But I don’t have a bed in the dorm. Would you like to use a single room?”.

Can I see the room?”.

Oh, sure….Follow me, Sir!”, dia beranjak dari meja resepsionis dan memimpin langkah menuju lantai atas.

Aku mengikutinya menuju ke ujung koridor untuk melihat kamar terakhir yang dimaksud. Kemudian bersambung menunjukkan kamar mandi bersama di ujung yang berlawanan.

Hallo, Sir”, seorang staff yang sedang membersihkan kamar mandi bersama menyapaku. Nanti aku akan mengenalnya sebagai sosok asal Bangladesh yang ramah.

Hi…”, aku membalas senyumnya.

Aku tak akan berfikir panjang dan memutuskan mengambil kamar itu. Hari sudah sore, tak ada waktu lagi untuk mencari penginapan. Aku harus segera menuju KLCC untuk mengunjungi menara kembar kenamaan Negeri Jiran.

Yes, Sir….I’ll take your last room….How much?”, aku mengambil keputusan.

Sixty Ringgit, Sir (Rp. 208.000) for two nights….Come on follow me, I’ll give you the room key”.

Kamar single milik Agosto Inn.

Transaksi itu selesai di meja resepsionis. Aku bernafas lega, karena telah menemukan penginapan untuk dua malam ke depan.

Saatnya berburu destinasi.

Dōtonbori Canal: Hitung Mundur Tahun Baru yang Gagal

<—-Kisah Sebelumnya

Hi Sir, have fun and enjoy the New Year’s Eve”, resepsionis ramah berkacamata itu berhasil menebak niatku ketika hendak meninggalkan lobby Hotel Kaga.

Hi, you know that….Hahaha….You too, Sir. See you”, aku berseloroh ringan.

See you, Sir”, resepsionis itu masih saja melempar senyum.

Aku mulai melangkah di jalanan dengan suhu sekitar mendekati nol derajat Celcius. Muka terasa beku demi mengikuti ayunan langkah menuju Stasiun Dobutsuen-mae. Untuk ketiga kalinya aku melewati Saka-suji Avenue.

Malam ini akan banyak orang mabuk di jalanan”, batinku mengingatkan logika untuk terus berhati-hati walaupun Jepang tergolong negara yang aman.

Enjoy Eco Cardku masih ampuh hingga malam itu untuk menelusuri lorong-lorong bawah tanah Kota Osaka. Kini aku sudah melaju bersama gerbong Osaka Metro Midosuji Line menuju Stasiun Namba. Aku sengaja menaruh Dōtonbori Canal sebagai destinasi terakhirku di Kota Osaka dan aku dengan cerdik menempatkannya di saat perayaan malam tahun baru.

Pasti disana bakal meriah”, batinku girang.

Gerbong kereta yang kunaiki tampak penuh. Sebagian diantaranya bukanlah wajah-wajah Jepang. Pasti mereka adalah para pelancong yang berniat sama denganku, menikmati malam pergantian tahun. Perjalananku menuju Stasiun Namba berlangsung sangat cepat karena dari Stasiun Dobutsuen-mae tak berselang satu stasiun pun menujunya. Aku tiba dalam sepuluh menit.

Keluar dari gerbang Stasiun Namba, aku berjalan kaki menelusuri Mido-suji Avenue. Terus mengarah ke utara. Perkiraanku hanya butuh waktu sepuluh menit untuk mencapai Dōtonbori Canal. Tetapi sudah dua puluh menit aku tak kunjung sampai.

Wah….Pasti aku nyasar”, mukaku mulai kecut.

Aku memberanikan diri bertanya kepada seorang polisi lalu lintas yang tampak sedang berjaga di salah satu sisi trotoar.

Sir, do you know where is this place?”, aku membuka gawai dan menunjukkan sebuah papan neon Glico bergambar lelaki berlari yang terkenal itu.

Dia tersenyum ramah dan mengangguk-angguk sambil berseloroh bersemangat “Oh…Thele….Thele”.

Thank you very much, Sir”, aku melambaikan tangan sembari melangkah meninggalkannya.

You ale welcome”, polisi itu kembali memperhatikan sekitar.

Sepuluh menit menelusuri balik jalur yang telah kutempuh tadi, aku melihat beberapa rombongan turis Eropa menuju ke salah satu arah. Aku yakin itulah tempat yang kutuju. Aku mengekor rombongan turis itu. Benar adanya, mereka juga menuju Dōtonbori Canal.

Aku di Dōtonbori Canal.
Papan neon Glico bergambar lelaki berlari.
Tengara terkenal di Osaka.

Dōtonbori Canal pukul sepuluh malam telah meriah. Badan kanal dipenuhi para turis, sementara restoran dan bar tampak penuh. Turis berduit tentu lebih memilih menunggu malam pergantian tahun dari restoran dan bar yang menawarkan udara hangat. Tetapi aku memutuskan menunggunya di tepian kanal, berkeliling kesana kemari, berusaha menikmati suasana walaupun terdistraksi dengan udara beku Osaka.

Satu jam berlalu ketika aku menyusuri setiap sisi di tepian kanal, kemudian aku berdiri mengambil tempat di bawah jembatan, bermaksud menemukan udara hangat . Tapi percuma, udara sudah turun di bawah nol derajat Celcius. Ketika aku tak sanggup menghadapi udara beku itu, aku bergegas menuju ke kedai penjual Takoyaki. Aku sengaja mengantri , menunggu pesanan, dan memakannya berlama-lama di depan kedai itu untuk mendapatkan paparan hawa hangat yang tersembur dari tungku kedai.

Nempel-nempel kompor mencari kehangatan.

Hampir setengah jam aku memanfaatkan situasi itu untuk memanipulasi suhu dingin. Hingga akhirnya aku mengusir diri karena antrian pembeli mulai ramai. Aku kembali ke kanal setengah jam sebelum hitung mundur tahun baru.

Ketika berjibaku kembali melawan dingin pada sebuah sisi kanal, aku mendengar sayup bahasa dan logat yang sangat kukenal.

Ngenteni kene wae cah, ra sah adoh adoh”, seloroh itu samar terdengar.

Aku menoleh ke belakang, empat pria dan dua diantaranya berambut gondrong sedang duduk di sisi kanal, memegang sebotol besar minuman beralkohol. Itu memang cara efektif melawan dingin. Aku jadi teringat dengan minuman beralkohol yang kumiliki karena salah beli di Narita International Airpot sehari lalu. Tapi aku belum menyerah, aku tak akan menenggaknya.

Aku terus menahan dingin yang semakin menjadi. Kedua tanganku mulai kebas. Tapi aku berusaha tetap tenang. Hingga akhirnya lima menit sebelum countdown tiba. Para turis mulai tumpah ruah ke sepanjang sisi kanal, restoran dan bar ditinggalkan. Semua berharap akan ada pertunjukan kembang api yang elegan. Hingga saatnya tiba, hitungan itu benar-benar dimulai.

Tennnn….Nineeee….Eightttt….”, hitungan semakin kencang

Threeee…..Twoooo….Oneeee…..Happyyyy Newwww Yeearrrr”, tapi semua sontak terdiam dalam tiga detik.

Suasana Dotonbori Canal tetap lengang, tak ada yang istimewa. Hingga lima belas menit kemudian tetap sama, lengang.

Ah, gagal total”, aku mulai kesal.

Turis lain pun mulai mengeluh.  Tak akan ada pertunjukan kembang api. Hingga akhirnya sepuluh pemuda Jepang berinisiatif mengakuisisi suasana dengan menaiki pagar jembatan. Mereka melepas pakaian dan menyisakan celana dalam dalam kondisi suhu yang sangat dingin.  Kemudian salah satu mereka mulai berteriak.

Threeee….Twoooo….Oneeee”, sambil melompat meliuk bak atlet lompat indah dengan kepala menghujam ke air terlebih dahulu.

Byurrrr….

Kemudian tingkah yang sama mulai dilakukan oleh temannya yang sudah bersiap dan berdiri di atas pagar jembatan. Berhitung dalam tiga hitungan mundur, meluncurlah dia ke dalam air. Dan pertunjukan itu terhenti hingga orang ke sepuluh. Setidaknya apa yang mereka lakukan bisa mengobati rasa kecewa seluruh pengunjung Dōtonbori Canal.

Pertunjukan loncat indah telah usai.

Menjelang pukul satu dini hari. Udara yang awalnya terasa lebih hangat karena kerumunan ratusan pengunjung akhirnya lindap. Suhu mendingin kembali dengan cepat karena para pengunjung mulai meninggalkan Dōtonbori Canal. Aku mulai pergi dari tempat itu menuju Stasiun Namba.

Beberapa menit kemudian, Osaka Metro mengantarkanku kembali ke Stasiun Dobutsuen-mae. Beruntung sekali Enjoy Eco Cardku (One Day Pass) masih berlaku walau sudah melewati batas masa pakai yaitu pukul 00:00. Mungkin ini menjadi bonus dari Osaka Metro untuk perayaan tahun baru.

Sampai Stasiun Dobutsuen-mae, lalu aku meninggalkannya dengan langkah cepat. Saka-suji Avenue sudah lengang, bahkan perjalananku diwarnai dengan insiden pengemudi mabuk yang menghentikan mobilnya di tengah jalanan hingga beberapa orang berusaha mendorongnya ke tepian. Di sebuah persimpangan aku berbelok bersamaan dengan selorohan “Helloooo….Happyyyy Newwww Yearrrr, Sirrrr”, orang itu mengendarai sepeda dengan tangan kanan menggenggam sebotol minuman beralkohol.

Happy New Year, Sir”, aku membalasnya untuk menunjukkan keramahan.

Hingga akhirnya langkahku tiba di Hotel Kaga. Aku merasa lega karena aku pulang dengan selamat tanpa kurang satu apapun. Resepsionis itu masih saja setia dengan tugasnya, menunggui mejanya dengan disiplin.

Are you happy, Sir?….Good luck for you in the new year”, dia tersenyum menyambutku.

Sure, Sir…I hope so for you”, aku membalasnya. “It’s time to sleep”.

Yeaa….Heve a good sleep, Sir

Aku meninggalkannya menuju ke lift, lift itu mengantarkanku hingga ke lantai tiga. Aku gontai melangkah menuju kamar. Memasuki kamar, melepas sepatu boots, menarik kasur lipat, dan tanpa mandi, aku langsung menghempaskan badan dan dengan cepat aku terlelap.

Sementara botol minuman beralkohol yang telah tertenggak satu teguk secara tak sengaja dua hari lalu itu berdiri anggun di meja kecil kamar. Yess, aku tak menyentuhnya saat malam tahun baru. Artinya, petualangan botol minuman beralkohol itu tamat dini hari itu. Karena menjelang siang nanti aku akan pergi meninggalkan Osaka dan menuju Busan.

Korea Selatan, Aku datang!

Channel No 63 Hotel Kaga

<—-Kisah Sebelumya

Malam nanti adalah malam tahun baru. Ini pertama kalinya aku akan menikmati pergantian tahun di luar negeri, Osaka tepatnya. Tak pelak aku telah meniatkan untuk menikmati bagaimana meriahnya malam Osaka saat New Year’s Eve Countdown.

Tapi ini baru pukul 17:00 ketika aku menyudahi menu makan siang yang sangat terlambat.  Aku meninggalkan restoran rumahan yang berdiri pada sebuah gang di Amerikamura, setelah menikmati sajian chicken ramennya.

Kini aku punya satu niatan yang harus kutunaikan….Yupz, TIDUR.

Aku tak bisa menyembunyikan lunglai badan setelah semalaman hanya tertidur di Kansai International Airport selama empat jam. Aku sendiri tak mau menghadiri hitung mundur Tahun Baru dalam keadaan tak segar nanti malam.

Sampai jumpa Amerikamura”,  batinku berseloroh ketika menapak keluar dari sebuah gang dan mulai menyisir Mido-suji Avenue menuju Stasiun Shinsaibashi. Hampir setengah enam sore ketika aku mulai menaiki gerbong Osaka Metro menuju Stasiun Dobutsuen-mae melalui Midosuji Line.

Dari Stasiun Dobutsuen-mae, aku melanjutkan dengan berjalan kaki menyusuri Saka-suji Avenue untuk mencapai penginapan. Aku perlahan memasuki daerah Haginochaya dan tak lama kemudian tiba di Hotel Kaga.

Hello, Mr. Donny. So afternoon you arrive”, resepsionis laki-laki berkacamata itu menyapaku ringan lalu berdiri dari kursinya dan sigap mengambil backpack biruku.

Yes, Sir. Osaka is very interesting, so I will regret it if I come back to hotel too early”, aku menangkap backpack yang dia sodorkan.

I think I should sleep to prepare myself for New Year’s Eve tonight”

Yes, that’s a great idea, Sir”.

Aku meminta izin untuk segera memasuki kamar setelah dia memberikan kunci. Aku sudah membayar biaya penginapan tadi pagi saat menitipkan backpack. Kuayunkan langkah dengan cepat mengejar lift yang pintunya sudah terbuka karena ada orang yang menggunakannya, kemudian meluncur ke lantai tiga. Begitu tiba di kamar, aku segera menggantung winter jacket, melepas sepatu boots, menurunkan backpack, menarik kasur lipat dan menghempaskan tubuh ke atas kasur.

Kamar tunggal yang kupesan sebulan sebelum keberangkatan.
Kamar seharga 1.800 Yen (Rp. 256.000) per malam.

Zzzzz……..Zzzzz…..Zzzzz….Dengan cepat aku terlelap saking lelah badan dan mengantuknya mata.

Lewat sedikit dari jam setengah sembilan malam ketika aku otomatis terbangun. Seperti itulah aku, jika ada niatan bangun pada jam tertentu maka tanpa menyalakan alarm pun maka aku akan terbangun dengan sendirinya pada jam yang dimaksud. Jarang sekali meleset, mungkin ini sisa kebiasaanku di waktu kecil ketika sering bangun jauh sebelum shubuh untuk belajar. #sokdisiplin

Aku masih merasa malas untuk beranjak dari kasur dan terus ternyamankan dengan hangat ruang kamar. Terus membayangkan begitu tak nyamannya jika bepergian di luar sana yang suhunya hampir menginjak nol derajat Celcius. Kusambar remote TV di sampingku, aku baru sadar kalau sebelum tidur tadi aku telah menyalakan TV. Praktis TV lah yang menontonku di saat tidur, bukan aku yang menontonnya.

Mau nonton acara TV Jepang….Waspadalah….Waspadalah!

Tentu aku tak tahu apa yang diperbincangkan pada setiap acara Televisi Jepang. Yang kutahu itu hanya reality show tentang percintaan, kuis berhadiah atau menebak-nebak beberapa kasus dan kejadian dalam acara berita malam. Aku terus menjelajah lebih jauh hingga ke channel bernomor di atas 40. Beberapa  acara olahraga serta flora dan fauna mulai hadir. Kini channel menginjak angka 60. Aku terus menjelajah….

61….62….

Tiba-tiba aku terperanjat ketika memasuki CHANNEL NO. 63. Bagaimana tidak, itu adalah channel film dewasa tanpa sensor. Wuannnjiiirrrr, apalagi ini…..Aku mencoba untuk melewatkannya saja, berpindah ke channel berikutnya. Belum juga lama berpindah, entah kenapa tangan ini selalu penasaran memencet pintas ke CHANNEL NO. 63, lalu mencoba melawan berpindah ke channel lain lagi. Geblek….Kemudian berpindah lagi ke CHANNEL NO. 63…..Pertempuran “Hitam-Putih” tampak sengit di benakku. Hingga akhirnya tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul sembilan.

Sudah saatnya aku pergi ke perayaan Tahun Baru bersama warga Osaka dan turis lainnya di luar sana. Aku telah membaca pengumuman di banyak stasiun siang tadi bahwa jam operasional Osaka Metro akan diperpanjang hingga lewat dini hari. Itu berita yang menggembirakan dan membuatku tak perlu membobol kantong untuk mencari taksi saat pulang nanti.

Kupakai kembali sepatu boots dan kukenakan kedua jaketku untuk melawan dingin. Masih ingat ketika aku tak sengaja menenggak alkohol di Narita International Airport?. Yups, minuman beralkohol itu masih ada dan hanya berkurang satu tenggakan saja kala itu. Aku memasukkan ke kantong winter jacket dan kufungsikan sebagai langkah antisipasi. Aku harus bersiap apabila suhu diluar nanti menjadi terlalu ekstrim di tengah malam….WHO KNOWS?….Tapi mudah-mudahan saja aku tak perlu menenggaknya lagi hingga petualangan di Osaka berakhir.

Kisah Selanjutnya—->

7 Destinasi Wisata Pekanbaru

<—-Kisah Sebelumnya

Memasuki Pekanbaru, semua penumpang Bus INTRA diturunkan di sebuah bangunan warung non-permanen berbahan kayu warna hijau. Memasuki bagian belakang warung makan, deretan panjang kamar mandi sederhana memudahkanku untuk berbasuh muka dan besiap diri untuk mengeksplorasi “Kota Madani”.

Memasuki jalanan kota untuk pertama kalinya diatas jok ojek online, aku mulai menyimpan rasa penasaran tentang apa saja yang bisa kukunjungi di kota. Hingga akhirnya aku tiba di lobby Hotel Sri Indrayani lebih cepat dari jadwal check-in. Setelah mengisi daya kamera dan smartphone hingga beberapa cell bar di restoran hotel, aku segera mengayun langkah ke beberapa spot terdekat.

  1. RTH Tunjuk Ajar Integritas

Tak jauh, setengah kilometer di barat laut hotel ada sebuah taman yang cukup terkenal di Pekanbaru. Adalah Ruang Terbuka Hijau Tunjuk Ajar Integritas yang menjadi play ground favorit bagi warga kota yang pembangunannya didedikasikan untuk program perlawanan korupsi dalam pemerintahan daerah.

Tugu Integritas dalam taman.

Belum juga tengah hari, udara panas mulai terasa. Memaksaku untuk berteduh di tepian taman. Masih sepi pengunjung, mengingat aku tak berkunjung saat weekend.

2. Sungai Siak

Melanjutkan langkah, aku turun ke Jalan Wakaf sebelum akhirnya dituntun oleh seorang polantas untuk berbelok ke kanan melewati Jalan Jembatan Siak I dan mencapai tepian Sungai Siak.

Mengunjungi Sungai Siak dan membayangkan kejayaan serta kemakmuran Kesultanan Siak Sri Indrapura yang pernah berdiri di tepian sungai adalah hal yang menarik minatku untuk menjadikannya sebagai salah satu destinasi kali ini

Panorama dari Jembatan Siak I

3. Rumah Singgah Tuan Kadi

Masih berkelana di sepanjang sungai, kini aku menuju ke Jembatan Siak II. Khalayak menyebutnya sebagai Jembatan Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah, diambil dari nama Sultan ke-5 Kesultanan Siak.

Tertegun memandangi bangunan di bawah jembatan, rumah asli sejak era keemasan Kesultanan Siak.  Situs pariwisata ini dikenal dengan nama Rumah Singgah Tuan Kadi. Kadi atau Qadhi sendiri adalah gelar tersohor pada masa kesultanan. Pemilik awal rumah ini adalah Qadhi Haji Zakaria bin Haji Abdul Muthalib yang pernah menjabat sebagai Ketua Kerapatan Syariah Kesultanan Siak.

Pernah menjadi tempat singgah Sultan Syarif Kasim II, Sultan Siak ke-12.

4. Masjid Raya Nur Alam

Matahari mulai tergelincir dari posisi tertingginya, artinya aku sudah bisa memasuki kamar Hotel Sri Indrayani. Mengambil arah tenggara, aku berniat mampir untuk bershalat Dzuhur di Masjid Raya Nur Alam sebelum tiba di penginapan.

Masjid tertua di Pekanbaru.

Masjid peninggalan Kesultanan Siak Sri Indrapura ini masih berdiri kokoh dengan kubah kuningnya sebagai simbol kebesaran Melayu. Rasa-rasanya, rakyat Pekanbaru pantas berterimakasih kepada Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah, Sultan Siak keempat yang mendirikan masjid megah ini.

5. Masjid Agung An-Nur

Panas kota mulai mereda apalagi aku sudah selesai berbasuh badan di hotel. Selesai menyantap makan siang maka aku melanjutkan eksplorasi. Setelah mengunjungi masjid tertua, kini aku menuju ke masjid termegah di Provinsi Riau.

Kelelahan telah berjalan hampir 4 km, aku memilih menggunakan ojek online saja menuju Masjid Agung An-Nur, dua kilomoter ke tenggara.

Taj Mahalnya Indonesia.

Masjid Agung An-Nur sendiri telah menjadi icon religi Provinsi Riau sejak tahun pertama dibangun, yaitu tahun 1963. Pastikan kamu tak terlewat mengunjunginya jika berada di Pekanbaru.

6. RTH Putri Kaca Mayang

Berikutnya, aku bergegas menuju ke pusat kota. Pilihanku berikutnya adalah Ruang Terbuka Hijau (RTH) Putri Kaca Mayang. Terletak di sebuah sisi jalan protokol kota Pekanbaru, taman ini terlihat lebih rapi dari taman pertama yang ku kunjungi.

Nama taman diambil dari nama seorang putri dalam dongeng yang melegenda di masyarakat.

Waktu yang sudah menggelincir ke arah sore, satu persatu warga terlihat mendatangi taman untuk sekedar melepas penat atau mengajak anak-anak untuk menghabiskan waktu dengan bermain di sekitar taman.

7. Jalan Jenderal Sudirman.

Seperti nama jalan yang sama di Jakarta, Jalan Jenderal Sudirman di Pekanbaru juga memainkan peran sebagai jalan protokol di kota Pekanbaru.

Sebagai jalan utama tentu banyak hal yang bisa dinikmati di sepanjangnya. lebarnya ruas jalan dengan sibuknya lalu lalang kendaraan dihiasi oleh arsitektur bangunan-bangunan mentereng di kedua sisinya menjadikan Jalan Jenderal Sudirman menjadi spot fotografi yang layak dikunjungi.

Perpustakaan Soeman HS, Menara Lancang Kuning, Kantor Gubernur Riau dan Menara Dang Merdu adalah arsitektur yang tampak mencolok dan berbeda dari bangunan-bangunan lain di sepanjang Jalan Jenderal Sudirman.

Jalan berhiaskan asmaul husna di sepanjang tepinya.

Yuk, berlibur ke Pekanbaru.

Kisah Selanjutnya—->