Chinese Fishing Nets: Anco ala Fort Kochi

<—-Kisah Sebelumnya

Penantian panjang untuk hadir di pesisir Fort Kochi lunas sudah. Dalam satu lompatan menuruni KURTC Bus warna oranye membuatku benar-benar berdiri di kota yang dibangun di atas hutan bakau itu. Sejenak aku berdiri mematung menilik sekitar, beradaptasi cepat dengan riuhnya pelancong di destinasi tersohor di Negara Bagian Kerala itu.

Mulai beranjak dari sebuah sudut KB Jacob Road, kini aku menyejajari Kochi Corporation Zonal Office, sebuah kantor pemerintah yang bertugas mengelola Kota Fort Kochi yang berkepadatan tujuh ratus ribu jiwa.

Hari itu masih Kamis….Entah kenapa?….Saat tengah hari, kantor pemerintah dua lantai berdinding warna krem itu gerbang depannya tertutup rapat. Berhasil membuatku berpaling muka dan kembali menatap lurus bentangan KB Jacob Road yang tegak lurus dengan garis pantai.

Siang itu aku tak akan merunut sebuah agenda terstruktur. Tanpa itinerary, akan kubiarkan kakiku melangkah sesukanya menikmati pesona Fort Kochi.

Baru saja melangkah….Bak tak serasa di kawasan pantai, itu karena jalanan Fort Kochi menyajikan suasana rindang dengan hiasan pokok-pokok tua yang menaungi sepanjangnya. Bahkan pavling block dipilih sebagai alas jalanan yang tersusun dengan sangat rapi.

Ditambah dengan keramaian para pelancong lokal dan mancanegara membuatku merasa tak begitu kesepian walau berada jauh dari rumah. Toh banyak bule yang tampak berjalan sendirian layaknya solo traveler sepertiku.

Baru menginjakkan kaki beberapa langkah di jalanan Fort Kochi, hatiku terkagum karena aku seperti dibawa ke masa lampau disaat menyaksikan model bus-bus lokal yang mengetem berburu penumpang di sepanjang sisi jalan. Bus-bus itu seakan didatangkan dari masa lalu….Jadoel, tapi justru membuat suasanan kota menjadi lebih klasik.

Kochi Corporation Zonal Office di pertemuan River Road dan KB Jacob Road.
Suasana River Road.

Menuju destinasi pertama, aku memutuskan menepi ke bibir pantai. Dari foto-foto wisata Fort Kochi yang sering kutemukan di laman mesin pencari, chinese fishing nets selalu menjadi yang tersering muncul di laman itu. Kini, aku ingin mencari keberadaannya, jika beruntung aku akan melihat dari dekat aktifitas para nelayan India di sekitarnya.

Bibir pantai tak lagi jauh, hanya tiga puluh meter saja menyejajari River Road yang sedang kulintasi. Aku segera keluar dari arus jalanan dan memutuskan segera merapat ke sana. Dalam sekian langkah aku tiba di tepian pantai dan sejauh mata memandang hamparan biru Pantai Malabar cukup memanjakan mata.

Pemandangan cantik itu dibubuhi dengan rutinitas para nelayan di sepanjang pantai. Sekelompok nelayan tampak bersantai menikmati kopi di sebuah kedai, sekelompok yang lain tampak sekedar berteduh dan berlindung dari panasnya surya serta beberapa yang lain tampak sibuk mendaratkan perahu dan membongkar muatan hasil melautnya untuk kemudian muatan itu dipindahkan ke tong pendingin.

Pemandangan lain di tepian pantai adalah kesibukan beberapa kelompok kecil nelayan yang menangkap ikan menggunakan chinese fishing nets…Nelayan kita menyebut alat ini sebagai anco atau tangkul. Karena diinstalasi di bibir pantai, maka hasil tangkapan dari pengoperasian alat tangkap itu kebanyakan berupa ikan berukuran kecil.

Berbincang-bincang bersama nelayan India itu yukks!
Nah, ikannya datang….Mari kita lihat sebesar apa ikannya?.
Mereka sedang bongkaran juga.
Wujud Tangkul atau Anco ala India.

Ikan-ikan segar dan besar hasil melaut tampak langsung diangkut menggunakan kendaraan-kendaraan pick up untuk dibawa keluar dari area pantai. Sedangkan beberapa ikan berukuran sedang dan kecil tampak langsung di jual di lapak-lapak ikan di sepanjang pantai.

Berbaur dengan masyarakat lokal memang menjadi sebuah aktivitas favorit. Bahkan terkadang sedikit senyuman yang terlempar dari wajah mereka membuatku seakan tetap dekat dengan rumah. Hal itulah yang menjadikanku betah duduk berlama-lama bersama mereka dan enggan beranjak dari bibir pantai.

Fort Kochi memang menggambarkan geliat ekonomi yang tinggi, di sembarang tempat tampak berjubal pelancong.

Di perairan, kapal-kapal wisata hilir mudik di sepanjang pantai membawa beragam turis multi-bangsa.  Kapal-kapal wisata itu tentunya menawarkan jasa sea cruise di sepanjang pantai untuk menikmati keeksotikan Fort Kochi.

Sedangkan di daratan, tak sedikit pula bus pariwisata yang terparkir di sepanjang jalanan Fort Kochi. Seakan Fort Kochi telah terdaulat sebagai kota wisata di Negara Bagian Kerala.

Tourist Boat….Tur dengan perahu berkeliling pantai barat Kerala, mungkin sampai Vembanad Lake jugakah?.
Bus pariwisata charteran di selatan India.

Genap sudah, satu jam aku menaruh diri di bibir pantai dan puas menikmati aktivitas para nelayan lokal.

Aku harus segera beranjak….

Yuk ikutin langkah kakiku lagi….Tempat selanjutnya ga jauh kok dari pantai.

Terminal 2D Soetta: Mengembalikan Insting yang Lama Pudar

Semenjak terakhir pulang dari Qatar di permulaan 2020, boleh dikata, aku tak pernah lagi berpetualang dalam jarak yang jauh. Terhitung selama hampir dua tahun, aku hanya mengunjungi destinasi yang lokasinya berdekatan dengan ibukota, sebut saja Ujung Genteng, Gunung Pancar, Curug Leuwi Hejo, Dataran Tinggi Dieng, Anyer dan Puncak.

Tapi kini hati tetiba berujung galau ketika cuti lima hari disetujui oleh pimpinan tempatku bekerja. Ditambah dua hari weekend menjadikan liburanku genap satu pekan.

Ketika esok hari hitungan cuti bermula, pikiranku pergi membayang ke segala tempat. Adalah Bali, Lombok dan Labuan Bajo yang ada di pikiran pagi itu.

Tapi aku harus segera melakukan sesuatu sebelum berpikir lebih jauh.

Di hari pertama cuti, aku memutuskan untuk berangkat menuju sebuah rumah sakit kenamaan di bilangan Cibubur yang terkoneksi dengan Program PeduliLindungi untuk melakukan PCR dengan hasil keluar sameday. Aku telah menetapkan niat, apabila hasil PCR negatif maka aku akan memberanikan diri untuk terbang.

Ya, kemanapun….Yang penting naik pesawat”, niat di hati terdalam.

Aku telah merindukan sebuah petualangan panjang. Tentu petualangan yang jauh dari rumah. Aku sudah bersiap diri melakukan perjalanan dengan protokol pandemi.

Aku bersemangat datang ke rumah sakit dan tiba pada pukul setengah sembilan. Menunggang Beat Pop hitam kesayangan, aku tiba di depan para perawat yang bersiap mengambil sample PCR (Polymerase Chain Reaction) dengan mekanisme drive thru.

Sehari sebelumnya, aku telah melakukan pendaftaran online senilai Rp. 275.000. Inilah pertama kalinya aku menjalankan tes PCR. Tes yang membuatku bersin-bersin hebat bukan kepalang.

Selepas tes, aku pulang dan berdebar menunggu hasil. Dan pada akhirnya, hati diselimuti rasa bahagia ketika aku mendapatkan kabar lewat WhatsApp pada pukul lima sore bahwa PCRku menunjukkan hasil negatif dan hasil itu juga tercantum otomatis di aplikasi PeduliLindungi.

Sempurnanya hasil PCR mengantarkanku menuju tahap berikutnya yaitu berburu tiket.

Aku terjun berselancar di aplikasi e-commerce perjalanan terkenal di Indonesia. Akan tetapi, hasil perselancaran itu akhirnya mengubur dalam-dalam niatku yang sangat berhasrat melawat ke Labuan Bajo ataupun Lombok. Harga tiket pesawat yang terlalu melangitlah yang membuatnya demikian. Alternatif lain menuju Bali pun akhirnya berpotensi menjadi perjalanan tanggung karena sesungguhnya aku pernah menginjakkan kaki di Pulau Dewata.

—-****—-

Malam itu juga, aku mulai mempacking segenap perlengkapan hingga larut malam. Tak lupa, aku mempersiapkan obat-obatan beserta vitamin dengan lebih serius. Bahkan aku memutuskan membawa tablet antivirus sebagai antisipasi jika terjadi hal-hal diluar perkiraan di daerah tujuan.

Online check-in penerbangan pun baru kuselesaikan lewat tengah malam. Mendapatkan posisi duduk di window seat membuatku bersemangat dalam mengisi eHAC (electronic-Health Alert Card). Kuberharap suksesnya online check-in dan terbitnya eHAC akan membuat proses menuju boarding menjadi lebih cepat di keesokan harinya.

Usai memastikan segenap tahap persiapan tuntas, aku memutuskan tidur.

Akan tetapi, aku hanya bisa tertidur ayam tanpa kenyenyakan hingga setengah empat pagi….Seperti biasa, kekhawatiran tertinggal penerbangan menjadi penyebabnya.

Kuputuskan bangun lebih cepat dan melakukan shalat tahajud demi  memohon kepada Sang Kuasa atas keselamatan selama berpetualang. Seusainya, aku segera berbasuh dengan air hangat, bersarapan sekedarnya dan bergegas berburu ojek online untuk mengantarkanku menuju shelter DAMRI Terminal Kampung Rambutan.

Lewat sedikit dari setengah lima pagi, aku tiba di sana. Setelah menyiapkan sebotol air mineral dari sebuah kedai, aku bergegas naik. Bus berangkat tepat pukul lima dan setiap sisi deret bangku hanya boleh diisi oleh satu penumpang. Inilah yang membuat tarifnya melonjak dua kali lipat….Menjadi Rp. 85.000.

Akhirnya naik DAMRI bandara lagi.
Tiba di Terminal 2D Domestik.

Bus melaju cepat membelah jalanan kosong di jalan bebas hambatan. Satu jam kemudian, aku terbangun ketika bus perlahan merapat di Terminal 3-Ultimate. Dengan cekatan aku merogoh lembaran e-ticket dari backpack untuk memastikan terminal tujuan.

Terminal 2D Domestik…”, aku yakin membatin.

Akhirnya aku tiba….

Melompat turun di drop-off zone. Kini aku melangkah ke dalam bangunan bandara. Tentu aku merasakan atmosfer yang berbeda ketika memasukinya. Kondisi bandara sudah tak seperti dulu lagi ketika masa bepergian masih menjadi hal yang tidak berbahaya serta tanpa prosedur kesehatan yang ketat.

Begitu memasuki departure hall, Aku langsung dihadapkan pada antrian panjang calon penumpang yang berburu konfirmasi layak terbang pada sebuah layar LCD. Melihat panjangnya antrian, aku memberanikan diri untuk bertanya pada seorang petugas yang berjaga.

Pak, saya sudah memiliki hasil PCR negatif di dalam aplikasi….Apakah saya bisa mengindahkan antrian itu?”, aku menunjukkan barcode di aplikasi PeduliLindungi.

Terbang jam berapa, pak?”, dia mengangguk-angguk melihat barcode yang kutunjukkan.

Jam delapan, pak

Oh, silahkan bapak langsung saja menuju konter check-in, nanti tunjukkan hasil tes dalam aplikasi ya, pak!

“Baik, pak”

Aku melangkah mantap menuju screening gate pertama dan bisa melewatinya dengan mudah.

Kini aku bergegas menuju konter check-in. Begitu tiba di area konter, aku tetiba merinding karena keramaian calon penumpang yang rapat tak berjarak.

Aku berhenti sejenak dan mengamati dari kejauhan. Aku mencoba mengembalikan insting backpacker yang sudah lama tak terasah. Sepuluh menit aku hanya berdiri menatap ruangan penuh manusia itu. Aku terus mencoba berfikir.

“Seingatku, selalu ada antrian pendek yang disitu berjajar calon penumpang tanpa bagasi”, aku terus berfikir keras.

Pak, ada antrian konter tanpa bagasi?”, aku memberanikan diri bertanya pada seorang ground staff yang kebetulan melintas.

Oh, di ujung sana pak, konter nomor 46”, dia mengarahkan telunjuknya ke sebuah arah.

Terimakasih pak

Aku bergegas menujunya dan benar saja, aku hanya menemukan antrian lima calon penumpang di depan konter itu. Akhirnya, aku tak perlu mengantri lama dan berhasil menjauhi kerumunan.

Usai mengantongi boarding pass. Aku menuju ke Gate D1 dengan melewati screening gate kedua yang tentunya pemeriksaan berjalan lebih ketat. Aku berhasil melewatinya dengan mudah dan akhirnya bisa duduk di waiting room Gate D1 tepat satu jam sebelum boarding.

Lihat antrian panjang nan rapat itu!
Konter check-in tanpa bagasi. Lebih pendek dan cepat.
Menuju gate.
Gate areas setelah screening gate.
Di depan sana adalah waiting room Gate D1.
Pemandangan apron dari Gate D1.

Kini aku bersiap terbang menuju provinsi ke-12 di dalam petualanganku menaklukkan tanah air.

PONTIANAK….Ya aku bersiap mendarat di Kota Khatulistiwa tersebut.

Kisah Selanjutnya—->

Kesempatan Kedua ke India: Air Asia AK 39 dari Kuala Lumpur (KUL) ke Kochi (COK)

<—-Kisah Sebelumnya

Jalur penerbangan Air Asia AK 39 (sumber: flightaware).

Berangkat ke India selalu saja menyematkan debar di sebuah sisi hati. Provokasi informasi tak bertanggungjawab terkadang sukses membuat gentar nyali. Hembusan kabar mulai dari faktor keamanan, kehigienisan kuliner, variasi scam, serta printilan mencekam lainnya mulai menggelayuti pikiran sore itu.

Oleh karenanya sebelum bertolak ke India, selama lima hari aku memanaskan nyali di Kuala Terengganu dan Kuala Lumpur, berharap keluar dari Negeri Jiran bisa menyandang nyali yang gagah berani. Tetapi sore itu seolah-olah aku tetap saja mulai membangun keberanian dari awal lagi.

Dalam kelanjutan petualangan ini, India akan menjadi pintu pendahuluan menuju destinasi utama, yaitu Timur Tengah. Kenapa demikian?….Alasannya hanya satu bahwa India selalu saja mengiming-imingi tiket murah menuju kota wisata utama di Jazirah Arab, yaitu Dubai. Selain tiket, India juga menyediakan variasi titik tolak untuk melompat ke kota itu.

Sedangkan bagi sejarah petualanganku, setelah New Delhi dan Agra dua tahun sebelumnya, kali ini aku memilih titik tolak lain, yaitu Kochi, sebuah destinasi wisata eksotis di barat daya India.

—-****—-

Aku menikmati sekali tekstur lembut nasi putih di Quizinn by RASA setelah 24 jam lamanya tak mencicip makanan idola itu. Nasi putih kali ini sekaligus merepresentasikan Ringgit terakhir yang kumiliki, mulai esok hari aku sudah menggunakan Rupee.

Lima menit sebelum check-in desk Air Asia Ak 39 dibuka, aku usai menyuap nasi putih dengan potongan telur kandar terakhir.

Seperti yang kuungkapkan di atas, alih-alih bersemangat, justru dadaku berdegup kencang…”Oh India, berdamailah dengan petualanganku kali ini”, aku menenangkan hati.

Bangkit dari tempat duduk di sebuah pojok food court di lantai 2M, aku memanggul backpack biru kesayangan. Melangkah ke atas menuju Departure Hall di lantai 3.

Ternyata antrian sudah panjang….”, kepercayaan diriku untuk tiba sebagai pengantri perdana runtuh.

Liuk antrian yang didominasi warga India menahanku di antrian buncit. Toh aku tetap tenang, waktu masih panjang menuju penerbangan, masih empat jam lagi. Aku mulai mengeluarkan zipper bag untuk menyiapkan dokumen, yaitu passport­, booking confirmation hotel di India, tiket menuju dan keluar India serta lembaran free e-Visa India.

Adè Visa kah?, petugas konter check-in bertanya tegas padaku.

Ini Cik”, aku menyerahkan segenap dokumen yang telah kusiapkan.

Indonesiè ke Indiè betulkèh cukup e-Visa, Pak Cik?. Petugas wanita itu  bertanya kepada kolega seniornya.

Petugas senior itu mengonfirmasi dan petugas perempuan itu akhirnya mencetak boarding pass untukku.

Tahap pertama usai, aku bergegas menuju Gerbang Pelepasan Antar Bangsa yang dijaga ketat sejumlah Aviation Security. Di antrian depan, tampak tak sedikit calon penumpang yang tertahan masuk karena terlalu berlebih membawa cabin baggage. Selain Aviation Security tampak beberapa  ground staff maskapai Air Asia mengawasi ketat para penumpang yang curang dengan membawa cabin baggage berlebih.

Untukku?…..Itu mudah saja, aku melewati gate tanpa pemeriksaan. Dengan pemeriksaan pun aku akan tetap lolos, karena keseluruhan beban backpack sudah kutimbang sebelum menuju check-in desk….Enteng, hanya 6,5 kilogram.

Kemana arah menuju gate L14?”, aku bertanya pada diriku sendiri.

Aku terus menelusuri koridor-koridor panjang hingga kemudian menuruni sebuah escalator yang di ujung bawahnya sudah menghadang beberapa kolom screening gate.

Seperti biasa, aku selalu melepas sepatu ketika melewati screening gate, itu semua karena aku akan merasa malas jika harus kembali mengulang screening process ketika sepatuku membunyikan pintu screening.

Aku lolos dengan mudah….

Kini aku hanya perlu meneruskan langkah melalui koridor tersisa demi mencapai gate L14.

Yuks berburu boarding pass.
Alhamdulillah….
Salah satu koridor di International Departure Hall KLIA2.
Itu dia petunjuk menuju gate pelepasan Air Asia AK 39.

Sedikit lewat dari jam tujuh malam, aku tiba di gate yang dimaksud.

Hhmmmhhhh….Satu setengah jam lagi menuju boarding”, aku menduduki sebuah kursi di luar waiting room yang masih tertutup rapat.

Aku memutuskan untuk melakukan shalat jamak qashar dan memenuhi botol minuman di free water station. Selebihnya aku hanya duduk menunggu hingga pintu waiting room dibuka satu jam sebelum penerbangan.

Beruntung selama menunggu, kebosananku redam oleh tingkah lucu seorang balita cilik India yang tingkahnya sangat menggemaskan.

—-****—-

Menunggu di ruang tunggu, aku kembali tertegun dengan sebuah rombongan besar jama’ah Hindu. Dari seragam serba hitam yang dipakai, aku bisa mengidentifikasi jama’ah itu berasal dari Kuil Sabarimala Ayyappa yang terletak di Negara Bagian Kerala, India.

Kekhasan dari jama’ah Hindu India tersebut adalah tidak menggunakan alas kaki. Beberapa pemeluk Hindu di India memang percaya bahwa tidak menggunakan alas kaki adalah bentuk penghormatan kepada para Dewa.

Berbaju dan ber-Lungi*1) hitam juga menjadi penampilan religius rombongan tersebut. Mau tak mau aku harus duduk berbaur di ruang tunggu bersama rombongan itu.

Sementara pemandangan di jendela kaca adalah terparkir sempurnanya pesawat Airbus A320 Twin Jet dominan putih dengan kelir kombinasi biru-merah dan bertuliskan jargon promosi pariwisata “Sarawak More to Discover”.

Menunggu dengan penuh kesabaran usai sudah….

Panggilan boarding untuk penerbangan Air Asia AK 39 memenuhi langit-langit bandara.

Aku segera bangkit serta mempersiapkan passport dan boarding pass demi melewati pemeriksaan akhir calon penumpang sebelum memasuki kabin. Ahhh….Aku sudah tak sabar.

Jam setengah sembilan aku mulai boarding…..

Di dalam waiting room Gate L14.
Itu dia AK 39.
Menelusuri aerobridge menuju kabin pesawat.
Maskapai langganan dan idaman.
Suasana kabin saat berburu kursi.
Lihatlah warga-warga India itu…..Kamu pengen ga sih ke India?

Memasuki kabin pesawat berbadan kecil itu, aku mencari bangku bernomor 11E. Dalam penerbangan selama 3 jam 40 menit ke depan, aku akan duduk di kolom tengah, membuatku tak leluasa untuk menangkap potret indah bumi.

Ketika proses boarding usai,  di barisku hanya ada aku dan salah seorang dari rombongan jama’ah Hindu itu. Oleh karenanya, aku memutuskan pindah ke aisle seat untuk mendapatkan kelegaan dalam perjalanan udara sejauh 3.000 km tersebut.

—-****—-

Begitu terkejutnya aku, ketika membuka lembaran Travel 360 inflight magazine, aku menemukan potret diri sosok travel influencer yang rasanya tak asing di mataku. Aku sangat familiar dengan nama marganya….Groves.

Sudah kupastikan itu adalah saudara bule cantik asal Aussie yang kukenal  setahun sebelumya di Samosir, Eloise Groves. Dia pernah bercerita di bawah air terjun Naisogop bahwa dirinya memiliki saudara laki-laki bernama Jackson Groves yang merupakan seorang travel influencer. Melihat kesamaan raut muka atas sosok yang ada di dalam inflight magazine yang sedang kubaca dengan sosok yang sering muncul di dalam laman Facebook milik Eloise, aku yakin 100% itu adalah saudaranya.

Dan benar, nantinya aku akan mendapat konfirmasi dari Eloise bahwa itu benar saudara kandungnya setelah mengirimkan pesan singkat melau aplikasi facebook messenger ketika aku tiba di India.

Mencoba memejamkan mata usai membolak-balik Travel 360, aku berusaha tidur. Tetapi sesungguhnya aku tak benar-benar terpejam. Begitulah aku, tak pernah sempurna terlelap setiap duduk di selongsong terbang.

Itu dia si Jackson Groves di inflight magazine milik Air Asia.
Tiba di Terminal 3 Cochin International Airport.
Jelajah bandara yukkk !

Akhirnya waktu yang ditunggu tiba juga….

Pukul satu dini hari, Air Asia AK 39 mendarat di Cochin International Airport, sebuah bandara megah di Negara Bagian Kerala di sebelah barat daya India.

Alhamdulillah….

Kini aku semakin jauh saja dari rumah.

Kochi yang berjarak darat hampir 9.000 km dari Jakarta.

Yuk kita eksplore….Ada apa saja di Kochi?

Untuk mendapatkan tiket penerbangan dari Kuala Lumpur ke Kochi, Anda bisa mencarinya di 12go Asia dengan link sebagai berikut:  https://12go.asia/?z=3283832

Keterangan kata:

Lungi*1) = Sepotong kain panjang yang dililitkan di pinggang dan merupakan pakaian khas India

Kisah Selanjutnya—->

Menuju KLIA2 dari KL Sentral

<—-Kisah Sebelumnya

Akan sedikit lebih lama menempuh jalur gratis menuju penginapan dibandingkan menunggangi LRT Laluan Kelana Jaya. Tetapi demi menebus ketiadaan Ringgit, aku memutuskan untuk mengeteng saja dan memanfaatkan jasa Go KL City Bus.

Bergegas meninggalkan KLCC Park, aku melangkah menuju halte bus KLCC yang terletak tepat di depan Suria KLCC. Tiba di bawah naungan halte, deretan armada “Perkhidmatan Bas Percuma*1)” jalur hijau  telah menunggu para penumpangnya.

Aku menunggangnya untuk menggapai titik pertukaran antar jalur, yaitu halte bus Pavilion. Dari situlah aku akan menangkap Go KL City Bus jalur ungu demi menggapai Pasar Seni Bus Hub, halte bus terdekat dari penginapanku, yaitu The Bed Station.

—-****—-

Mengendap-endap curang, aku menaiki tangga The Bed Station dengan penuh harap tak terpergok resepsionis ketika melintas di depan pintunya. Itu karena aku sudah men-check out masa inapku tadi pagi, tetapi kali ini, aku memaksakan diri untuk mandi di kamar mandi bersama lantai 3.

Aku sukses melewati ruang resepsionis di lantai 2, sekelebat kulihat staff resepsionis itu sedang sibuk melayani tamu-tamu penginapan yang tampak berdatangan, memang aku tiba ketika masa-masa check-in telah dibuka.

Bergerak cepat, aku segera mandi untuk meluruhkan segenap keringat setelah sedari pagi tadi berkeliling kota.

Begitu selesai berbasuh, aku segera turun ke meja reception untuk mengambil backpack yang telah kuititipkan sedari pagi.

Penuhnya antrian di meja resepsionis membuatku tak terlihat ketika baru turun dari lantai atas yang sebetulnya sudah bukan menjadi hak bagiku untuk menaikinya lagi, apalagi untuk beraktivitas apapun di lantai itu….Dasar, Donny.

—-****—-

Berhasil mendapatkan backpack, aku bergegas melangkah menuju Stasiun LRT Pasar Seni yang berjarak hanya 200 meter dari penginapan.

Begitu tiba, aku bergegas menuju automatic vending machine untuk bertukar 1,3 Ringgit dengan token bulat berwarna biru. Token itulah yang akan menggaransiku untuk bisa berpindah menuju KL Sentral.

LRT Laluan Kelana Jaya bergerbong empat tiba menjemputku di platform lantai dua, untuk kemudian aku larut dalam putaran roda kereta menuju KL Sentral yang jaraknya tak berselang satu stasiun pun.

Dalam 15 menit,  aku tiba di KL Sentral….

Menuruni escalator aku tiba di lantai satu dan tanpa berfikir panjang segera bergegas menuju basement level. Aku punya satu keuntungan bahwa segenap denah KL Sentral telah kuhafal di luar kepala, setidaknya sudah tujuh kali aku menyambangi transportation hub kenamaan Negeri Jiran tersebut. Hal itulah yang membuatku dengan mudah menggapai konter penjualan tiket Aerobus.

Aerobus adalah transportasi dari KL Sentral ke Kuala Lumpur International Airport Terminal 2 (KLIA2) yang menawarkan perjalan murah jika dibandingkan menggunakan taksi, kereta KLIA Transit ataupun KLIA Ekspres.

Aku menyerahkan 12 Ringgit untuk mendapatkan selembar tiket menuju bandara.

—-****—-

Seperempat jam lewat dari pukul empat sore….

Setelah menempuh perjalanan 45 menit, aku tiba di lantai 1 Kuala Lumpur International Airport Terminal 2. Aku diturunkan di salah satu platform di transportation hub di Gateway@klia2..

Walaupun penerbanganku akan berlangsung pukul sembilan malam, hal itu tak menyurutkan langkahku untuk segera menuju lantai 3 untuk melihat informasi penerbangan lebih detail. Seperti biasa, aku selalu detail dan strict perihal jadwal terbang, setidaknya sore itu aku harus mengetahui di check-in desk nomor berapa aku akan menukar e-ticket dengan boarding pass serta di gate berapa pesawatku akan di lepas.

Senyum tipis tak bisa kusembunyikan dari bibir ketika aku berhasil mendapatkan informasi itu di LCD raksasa lantai 3.

Jam 17:20, ternyata….”, aku membatin ketika mengetahui kapan check-in desk akan dibuka.

Aku memutuskan untuk melakukan shalat jamak takhir di surau lantai 2 dan tentu berencana mencari makan malam setelahnya.

Tak seperti biasanya ketika aku mencari makan di KLIA2. Sore itu restoran langganan yang menyajikan makanan murah khas India sedang tutup. Adalah NZ Curry House yang lokasinya tertutp oleh papan-papan renovasi..

Tapi aku tak ambil pusing….

Pada 2015, aku pernah makan di sebuah food court yang berlokasi di lantai 2M. Aku sedikit lupa posisi food court itu. Tapi aku berniat mencarinya hingga ketemu. Ada restoran ala padang yang menawarkan makanan murah di food court tersebut.

Itu dia….”, aku bersorak dalam hati ketika melihat food court itu dari kejauhan.

Quizinn by RASA….”, aku melafal nama medan selera*2) tersebut.

Restoran Padang Kota Group….”, yupzzz aku melihat restoran yang kucari.

Kiranya tak bisa berlama-lama, aku menuju restoran ala padang itu kemudian mencari menu sesuai dengan kondisi dompet. Inilah saat dimana Ringgitku akan habis.

Lima belas menit sebelum check-in akhirnya aku bisa menikmati seporsi nasi seharga 5,9 Ringgit. Inilah nasi yang kumakan setelah terakhir aku memakannya kemarin siang.

Lantai 2 Gateway@klia2.
Pemandangan dari Gateway@klia2 Lantai 2M.
Beberapa restoran di Gateway@klia2.
Nah, itu dia Quizinn by RASA food court.
Menuku malam itu: Nasi putih, telur rebus kandar dan sayuran.

Mengambil sebuah tempat duduk, aku menikmati makan malam itu dengan khusyu’ untuk kemudian bersiap diri melakukan penerbangan lagi.

Apakah aku akan pulang?….

Tidak….Justru petualangan sesungguhnya baru akan dimulai.

Aku akan terbang menuju sebuah kota di selatan India….KOCHI.

Kisah Selanjutnya—->

Keterangan kata:

Perkhidmatan Bas Percuma*1 = Layanan Bus Gratis

Medan Selera*1) = food court.

KLCC Park: Terwujud di Akhir

<—-Kisah Sebelumnya

Matahari berada pada puncak kekuasaannya ketika aku memutuskan undur diri dari pelataran Petronas Twin Tower. Aku sendiri tak bisa menyembunyikan senyum kecut di ujung bibir dan merasa menjadi pejalan yang tak faham prioritas hanya karena membesuk Menara Kembar tepat di tengah hari.

Aku mencoba berdamai dengan diri sendiri dan berniat menebus kesalahan itu dengan menghadirkan sebuah destinasi anyar dalam sejarah petualangan. Bukan tempat yang prestisius, tetapi bisa saja menjadi penebus kesalahan prioritas itu. Di sisi lain, tempat ini bisa menjadi spot yang tepat untuk meredam angkuhnya surya.

Kulangkahkan kaki menuju timur. Sembari mencoba sekuat hati demi menolak godaan megahnya gerbang Suria KLCC, si surga belanja di pusat kota Kuala Lumpur. Bagaimana tidak, deret panjang kendaraan roda empat berkelas rela mengantri di depannya sedangkan arus pengunjung tak henti-hentinya mengalir keluar-masuk di pusat perbelanjaan kelas atas tersebut.

Setibanya di jalan dua ruas tepat pada sisi timur Suria KLCC, aku melanjutkan langkah menuju selatan. Aku tetap berusaha menyembunyikan diri dari sengatan surya di bawah pohon-pohon palem yang berjajar rapi di tengah trotoar….yupzz, trotoar tunggal yang membelah sempurna jalan menjadi dua jalur.

Perlahan, di ujung jalan sana mulai tampak rimbunnya pokok-pokok besar yang menghampar memberikan suasana kontras kota. Seakan aku menuju ke sebuah oasis di tengah rimba beton kota.

Dari jauh pun aku sudah mampu merasakan segarnya udara yang terhembus dari area hijau itu. Otomatis sukses membuat diriku mempercepat langkah menujunya. Usai melintas di atas pangkal underpass, aku menemukan gerbang area hijau tersebut.

Inilah Kuala Lumpur City Centre Park….Khalayak mengenalnya singkat sebagai KLCC Park.

Aku memasuki taman dari jalur masuk yang berada pada sisi kiri bangunan Pejabat Taman KLCC (KLCC Park Office). Memasuki kawasan taman, aku mengambil tempat duduk di kawasan rehat yang berbentuk gazebo tepat di sisi timur Simfoni Lake. Bangku-bangku kayu berkaki beton tampak tersebar di seluruh penjuru taman, diletakkan di bawah naungan pokok-pokok besar yang identitasnya tertampil dalam barcode pada kertas berwarna kuning dan tertempel di setiap batangnya.

Mungkin disinilah bagian taman terfavorit karena para pengunjung bisa menatap intens air mancur bepola dengan latar belakang Petronas Twin Tower yang dipangkali oleh bangunan rendah memanjang Suria KLCC. Seolah aku tak sudi untuk meninggalkan posisi duduk cepat-cepat.

Taman kota dengan sentuhan arsitektur ala Brasil mulai tertelusur lebih dalam ketika aku mulai bangkit dari tempat duduk. Melangkah menulusuri jogging track, aku memutuskan tidak mengambil jalur jembatan yang menghubungkan Tasik Simfoni dan Kolam Kanak-Kanak.

Aku lebih memilih jogging track sisi utara demi mendekatkan diri ke KLCC Park Children’s Pool. Keramaian dan kesejukan yang tertampil pada Kolam Kanak-Kanak itu menahan kuasaku untuk berpaling. Alih-alih pergi, aku pun tak sadar telah bersandar di salah satu bangku tepian kolam.

Aktor utama pada kolam berkedalaman sedikit di atas mata kaki tersebut adalah sculpture paus putih melompat yang terdramatisasi dengan bantuan air mancur di bagian ekor. Sedangkan sculpture dua ekor lumba-lumba ikut melompat di sisinya. Ditambah dinding-dinding kolam yang terhias dengan air terjun buatan sangat mengundang minat anak-anak untuk membasahkan diri di bawahnya.

Sebuah konsep sempurna, ketika Kolam Kanak-Kanak itu disandingkan dengan Taman Permainan Kanak-Kanak di timurnya. Hal ini memungkinkan anak-anak bisa memilih salah satunya atau bahkan bermain di keduanya secara bergantian. Seperti Taman Permainan Kanak-Kanak pada umumnya, bagian ini dipenuhi dengan ayunan, jungkat-jungkit dan wahana up-down stairs dengan lantai taman permainan berlapiskan Ethylene Prophylene Diene Konomer yang menciptakan sensasi ubin lembut dan  aman bagi anak-anak.

Untuk akhirnya….

Petualanganku di taman itu berakhir pada sebuah hamparan rumput yang dilingkari sempurna oleh jogging track.

Sudah lewat tengah hari…

Aku harus makan siang sebelum pulang ke penginapan dan pada akhirnya nanti akan berlabuh di bandara demi menentukan langkah selanjutnya.

Dari kemarin sore, Ringgitku habis dan hanya cukup untuk anggaran naik bus ke bandara dan makan malam di dalamnya nanti…..Jadi kuputuskan makan dari bekal seadanya, apalagi kalau bukan menu yang sama dengan dinner semalam dan sarapan tadi pagi….Yaitu serbuk oat yang hanya perlu disiram dengan air mineral. Lingkaran jogging track dengan hamparan rumput di tengahnya menjadi latar makan siangku hari itu.

KLCC Park Tasik Simfoni (Lake Symphony Fountain) di sisi barat.
Jogging track dan jembatan penghubung Tasik Simfoni dan Kolam Kanak-Kanak.
Suasana taman yang sejuk dan dingin.
KLCC Park Children’s Pool tepat di tengah taman.
KLCC Children Playground.
KLCC Children Playground.
Spot yang kutemukan untuk makan siang.

KLCC Park, taman kota seluas satu hektar….

Adalah sebuah tempat sederhana yang ingin kusasar sejak 2014, tetapi berkali-kali megunjungi ataupun sekedar singgah di Negeri Jiran, berkali-kali pula aku gagal mengunjunginya, tentu kendala besarnya adalah waktu yang susah sekali tersedia saat setiap kali berkunjung ke Kuala Lumpur.

Inilah penebusan terbaikku dengan keberhasilan menyinggahinya siang itu. Sengajanya aku merangsek membelah kemacetan menuju Kuala Lumpur City Centre ternyata tidak kuletakkan pada Si Menara Kembar, tetapi pada tujuan utamaku hari itu….KLCC Park.

Aku keluar dari taman dengan perasaan bahagia…Saatnya pulang ke penginapan, beberes dan pergi ke bandara.

Kisah Selanjutnya—->

Dua Puluh Menit di Petronas Twin Tower

<—-Kisah Sebelumnya

Setengah dua belas….

Aku berdiri di tepian Jalan Bukit Bintang demi menunggu kehadiran Go KL City Bus Green Line. Kali ini aku berniat mengunjungi kembali Petronas Twin Tower. Ini akan menjadi kunjungan yang kelima di menara kembar kenamaan tersebut.

Ga bosan apa, Donny?”, pertanyaan yang mungkin saja muncul.

Bukan perkara bosan atau tidak, aku harus memenuhi sebuah pesan sponsor di spot terkenal itu”, mungkin itulah yang akan menjadi jawabanku.

Go KL City Bus secara fisik memiliki warna yang sama di setiap jalurnya. Oleh karenanya aku selalu waspada jika bus tersebut mulai tampak lamat di kejauhan. Aku harus segera menangkap informasi jalur yang tertera pada layar LCD yang dipasang tepat di kaca depan bagian atas. Sudah dua kali Go KL City Bus yang datang berasal dari jalur lain, maklum halte bus Pavilion adalah pemberhentian yang dilewati oleh tiga jalur Go KL City Bus, yaitu Purple Line, Blue Line dan Green Line.

Setelah sepuluh menit menunggu, tampak jelas di ujung jalan sana, satu unit Go KL City Bus yang berusaha mendekati halte dengan menembus kemacetan. Aku hanya berharap itu adalah bus jalur hijau. Semakin mendekat, tulisan di layar LCD jelas terlihat, itu memang Go KL City Bus Green Line. Maka bersiaplah diriku untuk menaikinya.

Aku menaikinya dari pintu depan begitu bus selesai menurunkan sebagian penumpang. Banyaknya penumpang yang masuk, membuatku tak kebagian tempat duduk dan harus berdiri di bagian tengah.

Dari kawasan Bukit Bimtang, bus bergerak menuju Kawasan Kuala Lumpur City Centre (KLCC). Tetapi sebelum sampai di tujuan, bus memutar dahulu dari sisi selatan untuk kemudian berbelok arah melewati sisi utara. Aku tiba tepat di halte bus KLCC yang berada di tepian Jalan Ampang.

Aku turun dari pintu tengah….

Pemandangan yang langsung tertampak adalah keberadaan kaki-kaki raksasa Petronas Twin Tower yang terasa begitu dekat. Tak berlama-lama, aku bergegas melangkah ke pelataran gedung kembar raksasa itu.

Tibalah diriku di halte bus KLCC.
Jalur pejalan kaki yang rindang di depan Petronas Twin Tower.
Petronas Twin Tower dari sisi lain.

Teriknya matahari telah memaksaku untuk mencari tempat yang terlindung oleh pepohonan. Aku menemukan tempat itu di jalur pejalan kaki sisi kanan menara. Dari sisi itu pula aku mulai menuntaskan pesan-pesan sponsor, yaitu sponsor yang setidaknya ikut membantu biaya perjalananku kali ini.

Mengunjungi gedung kembar 88 lantai itu selalu saja mengundang decak kagum, bagaimana tidak, enam tahun lamanya gedung kembar ini pernah menasbihkan diri sebagai bangunan tertinggi di dunia. Setidaknya hal tersebut telah membanggakan Negeri Jiran dalam percaturan ekonomi dunia.

Menara kembar yang dimiliki oleh perusahaan property raksasa, yaitu KLCC Property Holdings tampak kehijauan jika diamati dengan seksama. Ciri khas lain yang mudah diingat adalah keberadaan sky bridge yang menghubungkan kedua menara di lantai 41 dan 42.

Kali ini, singgah di menara kembar ini berlangsung dengan cepat, tak lebih dari dua puluh menit. Oleh karenanya aku berusaha menikmatinya dengan memperhatikan pemandangan di sekitar area menara. Yuk kita lihat, ada spot apa saja di sekitar Petronas Twin Tower. Ini dia:

Public Bank tepat berseberangan di depan Petronas Twin Tower.
Dari kanan ke kiri: Gedung Bank Simpanan Nasional (BSN), Menara TA One (perkantoran 37 lantai) dan Menara Prestige (perkantoran 40 lantai).
Tropicana The Residences (apartemen dengan harga sewa 2.500 Ringgit per bulan).
Entrance gate milik Suria KLCC.

Sekiranya petualanganku di Petronas Twin Tower telah usai dengan tersampaikannya pesan sponsor. Aku tak akan duduk lebih lama di pelataran menara kembar tersebut.

Kini aku melangkah menuju hamparan Ruang Terbuka Hijau yang berlokasi tepat di tengah hiruk pikuk aktivitas bisnis yang berlangsung di Kuala Lumpur City Centre.

Yukkkzzz…..

Kisah Selanjutnya—->

Terjebak Barongsai di Bukit Bintang

<—-Kisah Sebelumnya

Lewat seperempat dari pukul sepuluh….

Kuputuskan meninggalkan pelataran KL Tower. Kakiku melangkah mengikuti kontur jalanan yang meliak-liuk menuruni bukit. Seperempat jam kemudian aku sudah berada di pangkal selatan Jalan Puncak, tepat berpotongan dengan Jalan P. Ramlee.

Berdiri di sebuah trotoar, aku masih berfikir, “Apakah baiknya menuju ke halte bus THE WELD untuk menuju Bukit Bintang?”.

Tetapi baru saja kaki melangkah, sebuah Go KL City Bus Blue Line melintas cepat di depanku untuk kemudian berhenti seratus meter di utara demi menaik turunkan penumpang. Aku cepat memutuskan, “Tak ada salahnya berkeliling kota menggunakan jalur biru, dengan begitu aku bisa menjelajah sisi utara kota sebelum tiba di Bukit Bintang

Melangkahlah kakiku menuju halte bus itu dan dalam lima menit aku sampai. Inilah halte bus Menara Hap Seng, salah satu halte yang menjadi pemberhentian Go KL City Bus Blue Line. Sedangkan Menara Hap Seng sendiri adalah sebuah gedung perkantoran 22 lantai yang terletak persis di seberang halte.

Halte bus Menara Hap Seng dengan sponsor MSIG (brand asuransi kenamaan asal Jepang).
Interior Go KL City Bus Blue Line.

Tak lama kemudian, bus tiba dan aku menaikinya dari pintu depan. Aku sudah bersiap menjelajah utara kota menggunakan bus gratisan ini. Atas jasa bus tersebut, akhirnya aku berkesempatan menjelajah jalanan di daerah Bukit Nanas dan Dang Wangi untuk kemudian tiba di Terminal Transit Antar Bandar (IUTT) Terminal Jalan Tun Razak.

Ini adalah Terminal Hub untuk Go KL City Bus Blue Line yang terletak di daerah Titiwangsa. Bus yang kunaiki rupanya harus beristirahat sejenak dan aku diarahkan pengemudi untuk berpindah ke bus depan yang sudah siap berangkat untuk menyusuri rute Blue Line.

Aku pun turun dan berpindah ke Go KL City Bus Blue Line terdepan yang sudah standby dengan melangsamkan mesin dan memenuhi setiap bangku dengan penumpang. Beruntung masih tersedia bangku untukku. Tak lama setelah aku naik, bus pun perlahan berjalan meninggalkan IUTT Terminal Jalan Tun Razak.

Kini bus menuju selatan menyusuri jalanan di daerah Kampung Baru dan setelahnya bus mulai memasuki daerah yang kutuju, yaitu kawasan Bukit Bintang. Aku sudah familiar dengan jalanan di kawasan ini karena ini adalah kali keempat aku berada di pusat perbelanjaan dan hiburan terkenal di Kuala Lumpur tersebut.

Sesuai dugaan, bus perlahan mulai tersendat di kemacetan. Sementara aku mulai bergeser ke bangku dekat pintu. Aku akan turun di halte bus Pavilion. Pavilion sendiri adalah pusat perbelanjaan yang terintegrasi dengan gedung perkantoran, apartemen dan hotel. Konsisten merangsek di kemacetan, Go KL City Bus pun akhirnya tiba di tempat yang kutuju.

Aku menuruninya dan bergegas menyeberangi Jalan Bukit Bintang untuk kemudian tiba di pelataran Pavilion.

Ada sesuatu yang sangat berbeda, jika biasanya pelataran ini diramaikan oleh lalu lalang para pengunjung mall, kini keramaian itu berubah menjadi sebuah panggung pertunjukan barongsai. Rupanya saat itu sedang berlangsung event World Dragon & Lion Dance Extravaganza. Tak tanggung-tanggung, acara itu ternyata dihadiri oleh YB Tuan Haji Khalid Bin Abdul Samad, Sang Minister of Federal Territories Negeri Jiran….Rupanya pertunjukan itu adalah acara besar dan aku bersyukur secara tak sengaja bisa menikmati pertunjukan tersebut.

Hari itu, pelataran Pavilion dimerahkan dengan warna khas etnis Tionghoa yang juga menjadi warna khas dari barongsai. Banyak anggota kelompok pertunjukan sibuk di sekitar Pavilion demi mempersiapkan diri untuk tampil di panggung.

Anak itu kuat sekali berdiri berlama-lama pada sebuah tiang.
Kemeriahan penonton yang berbaur dengan para penampil.
Para penampil cilik.
Melihat pertunjukan lewat lensa kamera.

Sementara itu irama tabuhan gendang yang sedang dimainkan salah satu kelompok membuat adrenalin siapapun akan naik jika mendengarnya. Aku yang sedari tadi merasa penasaran, tak kunjung bisa merangsek ke bagian depan. Area depan sudah dipenuhi para penonton yang pastinya sudah tiba sedari awal.

Aku yang tak bisa menyaksikan pertunjukan dengan mata kepala secara langsung hanya bisa mengangkat kamera tinggi-tinggi dan merekam pertunjukan itu, sehingga nantinya aku bisa menikmati ulang pertunjukan tersebut dari layar kamera.

Lewat setengah jam aku berusaha menikmati pertunjukan. Sementara udara semakin menaikkan suhunya, waktu merambat pelan menuju pukul dua belas.

Tak tahan dengan sengatan matahari, aku pun memutuskan undur diri dan kembali melangkah menuju halte bus Pavilion.

Aku pergi……

Kisah Selanjutnya—->

KL Tower: NKRI Harga Mati

<—-Kisah Sebelumnya

Sarapan di emperan toko….yeeeileh.

Selasa….Usai Subuh….

Mata masih kuyu…Badan serasa lemas.

Semalaman tidurku terinterupsi oleh dengkuran seorang penginap yang terlelap pulas di sebelah kanan ranjang. Tak hanya diriku, aku pun bisa merasakan protes dari seorang penginap yang tidur persis dibawah bunk bed. Berkali-kali aku bisa merasakan, dia menghantam dasar bunk bed yang kutiduri. Mungkin dia merasakan hal yang sama. Kesal….Karena tak bisa tidur dengan nyenyak.

Merasa tak enak badan, kuputuskan saja untuk mengguyur tubuh di bawah shower air hangat di kamar mandi bersama. Guyuran air hangat setidaknya bisa merelaksasi setiap inchi tubuh yang pagi itu sedang tak seratus persen segar.

Pagi itu juga, aku harus mengepack kembali semua perlengkapan ke dalam backpack untuk kemudian harus menitipkannya ke meja resepsionis. Waktu menginapku purna tengah hari nanti dan saat itu pula, aku memastikan diri masih berada di pusat kota.

Usai mandi dan merapikan backpack, menujulah aku ke resepsionis untuk check-out, mengembalikan kunci locker dan mengambil uang deposit. Beruntung, staff resepsionis dari Mesir itu sudah berada di meja kerjanya sehingga memudahkanku untuk menyegerakan proses karena aku harus mengejar pemberangkatan Go KL City Bus sepagi mungkin.

Backpack telah tersimpan rapi dan aku bergegas menuruni anak tangga untuk keluar dari penginapan. Sesampai di luar, aku segera mencari tempat duduk di teras pertokoan yang masih tutup untuk bersarapan. Sarapan kali ini masih saja sama dengan menu dinner semalam….Yups, serbuk oat masih bisa diandalkan. Jujur saja, aku sudah kehabisan Ringgit pagi itu, hanya ada Ringgit tersisa untuk menaiki airport bus sore nanti dan makan malam sekedarnya di KLIA2.

Dari sini bisa diambil kesimpulan bahwa aku akan berkeliling kota tanpa keluar biaya sedikitpun bahkan seringgit sekalipun….Ya, tak akan pernah kukeluarkan.

Beruntung sekali, jalanan masih sepi. Keadaan itu tentu mengurangi beban malu ketika harus menyesap sendok demi sendok bubuk oat yang basah oleh guyuran air mineral.

Alhamdulillah sarapan usai….Petualanganpun dimulai.

Aku melangkah menuju ke Pasar Seni Bus Hub untuk mencari keberadaan Go KL City Bus Purple Line. Bus gratis jalur ungu itulah yang akan mengantarkan ke kompleks KL Tower.

KL Tower adalah menara pemancar telekomunikasi , menara penyiaran, wisata kuliner ketinggian dan wisata sudut pandang kota dari atas.

Dari kejauhan, aku melihat jelas bahwa bus itu sudah berada di posisi. Jadi begitu tiba di platform, aku langsung saja menaikinya dari pintu depan. Baru sedikit penumpang yang sudah menduduki bangku. Hal inilah yang membuatku harus menunggu sekitar sepuluh menit….Setidaknya untuk mengisi bangku-bangku kosong dengan penumpang yang perlahan berdatangan.

Pukul delapan pagi, Go KL City Bus Purple Line akhirnya berangkat jua….

Dalam duduk aku berfikiran bahwa KL Tower adalah bangunan yang tinggi, jadi aku merasa santai saja. Tentunya aku hanya perlu berhenti di halte manapun di dekat banguan KL Tower yang akan tampak dari kejauhan saking tingginya.

Go KL City Bus perlahan menyisir Jalan Sultan demi meninggalkan daerah Pasar Seni. Begitu tiba di sepanjang Jalan Raja Chulan, KL Tower sudah terlihat jelas dari kaca bus. Hanya saja aku perlu memastikan kapan harus turun di halte terdekat. Beberapa kali Go KL City Bus berhenti di halte pemberhentiannya, tetapi aku tetap saja bebal tak kunjung turun. Aku masih berharap bahwa bus akan berhenti di halte yang lebih dekat dari KL Tower.

Itu dia bus dengan layanan percuma*1)
Interiornya bagus dan bersih tentunya.

Terjadilah pengecualian, bukannya tambah mendekat, Go KL City Bus semakin lama semakin menjauhi KL Tower. “Ahhhh, sial….aku sudah kebablasan dan bus bukannya melambat tetapi semakin kencang”, aku bersandar lemas di kaca bus. Akibat kebodohan itu, aku hanya pasrah mengikuti kemana Go KL City Bus pergi. Aku memutuskan kembali ke Pasar Seni dan mengulang lagi perjalanan dari nol….Parah.

Dalam perjalanan 40 menit, akhirnya Go KL City Bus tiba kembali di Pasar Seni.

Konyol….”, aku mengutuk diriku sendiri.

Kini aku turun dari Go KL City Bus dan berpindah ke bus terdepan yang sudah siap berangkat. Beruntungnya diriku,  Go KL City Bus langsung berangkat ketika beberapa detik sebelumnya aku melangkah masuk.

Kini aku memasang sikap waspada ketika duduk di salah satu bangku. Aku akan memutuskan untuk langsung turun saja ketika melihat KL Tower bisa dijangkau dengan berjalan kaki.

Pucuk dicinta ulam pun tiba….

Bus berhenti di sebuah halte dan aku pun melompat turun dari pintu tengah.

THE WELD….”, aku membaca signboard pada  sebuah gedung pencakar langit yang berdiri tepat dibelakang halte tempatku turun.

Kini aku berada di Jalan Raja Chulan dan THE WELD sendiri adalah kompleks perkantoran 26 lantai yang berada 800 meter di timur KL Tower.

Dari THE WELD, aku memotong Jalan P. Ramlee untuk kemudian dalam lima puluh langkah masuk ke sebuah jalan yang lebih kecil, bernama Jalan Puncak. Inilah jalan utama untuk menuju KL Tower yang dibangun di tempat yang lebih tinggi.

Terengah-engah selama seperempat jam, akhirnya tiba juga di pelataran KL Tower. Sebetulnya pada tahun 2014 silam, aku berkesempatan melintas di menara ini ketika menjajal KL Hop On Hop Off untuk berkeliling kota. Hanya saja, kala itu aku hanya turun kurang dari lima menit untuk melihatnya. Ini semua karena KL Hop On Hop Off terburu-buru untuk menjelajah kota.

THE WELD….Selain perkantoran, ada pasar swalayan modernnya juga loh.
Meniti Jalan Puncak.

Kali ini aku akan sedikit lebih lama dalam menikmati pesona menara komunikasi yang berusia tak kurang dari seperempat abad itu. Bagaimana tidak bahagia, ketika akhirnya aku berkesempatan menikmati keindahan menara yang ketinggiannya masuk ke dalam jajaran sepuluh menara tertinggi di dunia.

Keunikan yang pertama kali bisa dilihat adalah atap bangunan dasar yang menggunakan deretan pola meruncing, pikiranku lalu merujuk pada runcingan-runcingan atap Sydney Opera House. Sedangkan pada bagian ujung atas antara tiang dan antena terdapat bangunan membulat yang merupakan pusat dari kegiatan broadcasting, telekomunikasi,  restoran, observation deck dan sky deck.

Sepengetahuanku untuk menikmati observation deck, pengunjung harus mengeluarkan biaya sebesar 49 Ringgit….Sedangkan harga wisata sky deck mencapai 99 Ringgit….Woouuooww.

Aku melangkah menuju entrance gate KL Tower untuk melihat aktivitas di sana dari dekat. Tentu aku tak akan naik ke atas untuk berwisata, terlalu mahal untuk pengunjung sepertiku yang hanya sekedar singgah saja di Kuala Lumpur.

Tak begitu ramai, sedari tadi hanya beberapa turis Eropa yang memutuskan untuk membeli tiket dan naik ke atas menara, sementara aku hanya mengamati sisa-sisa kegiatan kompetisi pemrograman yang diselenggarakan kemarin lusa. Kompetisi itu bertajuk HR Hackathon.

Bergeser ke kanan menara, ada atraksi lain ternyata. Di sisi itu berdirilah konter penjualan tiket untuk berkunjung ke KL Tower Mini Zoo (KLTMZ). Papan informasi yang ada mengatakan bahwa KLTMZ menyimpan tak kurang dari lima puluh spesies asli dan eksotis. Dan untuk melihat spesies-spesies unik itu maka pengunjung perlu merogoh kocek hingga 30 Ringgit.

Berpindah lagi menuju arah depan menara. Tersedia KL Tower F1 Zone yang menyediakan simulator Formula One untuk umum. Pengunjung bisa merasakan sensai mengendarai jet darat itu dengan membayar sebesar 20 Ringgit untuk enam menit mengemudi di simulator. Dinding KL Tower F1 Zone ini berwarna merah menyala, menyeleraskan diri dengan warna salah satu tim balap terkemuka di ajang balapan premier Formula One. Hanya saja, saat aku mengunjungi KL Tower, KL Tower F1 Zone itu masih tutup. Mungkin aku tiba terlalu pagi.

Oh ya, KL Tower F1 Zone ini juga dilengkapi dengan Formula One Cafe & Mart loh….

Tetapi baru sejenak melihat seisi cafe & minimarket dari luar ruangan, aku melihat kedatangan KL Hop On Hop Off warna putih dengan deck atas sebagian yang terbuka. Sontak aku berlari menujunya, sudah enam tahun lamanya aku tak pernah bersua dari dekat dengan bus wisata itu. Ternyata di pelataran menara terdapat shelter KL Hop On Hop Off. Pantas saja bus wisata itu berhenti untuk menurunkan para wisatawan.

Entrance gate KL Tower.
Ticketing Counter KL Tower Mini Zoo.
KL Tower F1 Zone.
Di spot inilah rombongan Surabayan itu aku foto.
Wisatawan asing sering meyebutnya dengan KL Forest Eco Park.

Tak lama berhenti, hanya menurunkan  5 wisatawan, bus itu tancap gas kembali. Tetapi tak lama kemudian, ada sebuah logat yang tak asing di telinga ketika kelima wisatawan wanita itu saling bercakap usai menuruni bus. “Itu logat Surabaya….”, aku menyimpulkan. Aku memutuskan diri untuk menyapa dan bercakap sejenak. Sudah empat hari lamanya aku tak bersua dengan orang Indonesia, tak ada salahnya untuk berbincang sejenak. Atas peristiwa itu, aku tahu bahwa kelimanya adalah Tenaga Kerja Wanita yang sedang berwisata ke Kuala Lumpur. Dari percakapan kami pula, aku tahu bahwa mereka sedang bekerja di Penang.

Seperti biasa, orang Indonesia selalu memiliki ciri yang khas. Mereka akhirnya memintaku untuk mengambil foto dengan latar KL Tower.

Aku? ….Ya tentulah aku meminta juga untuk dipotret….Kan aku orang asli Indonesia….NKRI harga mati.

Aku sendiri sudah berada di ujung kunjungan ke KL Tower. Untuk menutup kunjungan singkat ini, aku memasuki setengah area depan dari Taman Eko Rimba KL. Dahulu taman ini dikenal dengan sebutan Hutan Simpan Bukit Nanas, yang merupakan salah satu cagar hutan permanen tertua di Malaysia. Untuk memasuki cagar hutan ini pengunjung harus rela merogoh kocek sebesar 40 Ringgit.

Usai sudah petualanganku di KL Tower.

Saatnya pergi meninggalkannya.

Kisah Selanjutnya—->

Keterangan kata:

percuma*1) = =Gratis.

Lima di Petaling Street

<—-Kisah Sebelumnya

Salah satu sisi Jalan Leboh Pasar Besar.

Pada langkah pertama sekeluar dari area Central Market, terjadilah pengkhianatan niat. Langkahku tetap saja tak terima menuju ke penginapan.

Hampir menginjak pukul sembilan malam….

Central Market boleh saja mulai pudar kharismanya ditelan gulita, tetapi tidak dengan Petaling Street. Disana keramaian baru saja dimulai”, aku mulai memaksa niat untuk berubah haluan, walaupun sesungguhnya badan telah remuk redam akibat perjalanan hampir sembilan jam dari Kuala Terengganu pagi hingga sore tadi.

Aku melangkah ke utara demi melahap habis ruas Jalan Hang Kasturi hingga memotong Jalan Leboh Pasar Besar pada sebuah pertigaan. Pertigaan itu dimarkahi dengan keberadaan bangunan UOB dan Pacific Express Hotel.  Suasana masih ramai saja di sepanjang jalan itu. Sehingga aku semakin asyik dan merasa aman ketika melangkah ke timur hingga menemui sebuah perempatan yang dimarkahi oleh Bangunan Maybank. Perempatan itu sesungguhnya mempertemukan empat jalan, yaitu Jalan Yap Ah Loy dari timur, Jalan Tun H S Lee dari arah utara, Jalan Leboh Pasar Besar dari arah barat dan Jalan Petaling dari arah selatan.

Jalan Yap Ah Loy….Siapa sih Yap Ah Loy?

Ya, Yap Ah Loy inilah tokoh Tionghoa yang pertama kali memakmurkan daerah Pasar Seni dengan membangun sebuah pabrik tapioka. Kemakmuran yang ditimbulkan akibat aktivitas bisnisnya telah membantu banyak dalam mengembangkan Chinatown di daerah Pasar Seni.

OK, mari kita lanjutkan perjalanan ringan ini….

Karena ingin mengunjungi Petaling Street maka dari perempatan tadi, aku harus melangkah menuju selatan. Jalan yang kuambil ini sudah termasuk dari bagian Jalan Petaling. Inilah jalan populer di daerah Chinatown yang membentang dari utara ke selatan sepanjang hampir 800 meter. Tetapi Petaling Street yang kumaksud dalam judul artikel ini adalah sebagian dari ruasnya yang menyediakan lapak-lapak perniagaan beratap pelindung dengan panjang 300 meter.

Tetapi, selain memanfaatakan Jalan Petaling, bazaar jalanan ini juga melebar ke timur dan barat memanfaatkan sisi Jalan Hang Lekir yang tak memiliki atap pelindung.

Tepat jam sembilan malam…..

Aku tiba di depan gerbang Petaling Street. Perempatan luas beralaskan susuan pavling block yang rapi itu aku seberangi untuk memasuki kawasan awal Petaling Street. Begitu melewati gerbang, hal yang paling mudah diingat adalah deretan lampion yang digantung di langit-langit. Selain itu, jalanan beralaskan beton dengan motif paving block dan tiang serta rangka atap berbahankan baja sempurna mengangkangi jalan menjadi hal yang bisa ditangkap memori dengan cepat ketika melintasnya.  

Perbedaan mendasar dari jalur di area perniagaan ini adalah….Jalur di sepanjang Jalan Petaling didominasi oleh kios-kios penjual cendera mata, aneka pakaian, tas, sepatu, dompet, aksesoris dan pernak pernik lain berbau Malaysia. Sedangkan Jalur di sepanjang Jalan Hang Lekir dengan mudah kita bisa menemukan kedai-kedai makanan yang didominasi oleh chinese food dan berbagai street food lain seperti kacang kenari panggang, buah-buahan, minuman dan lain-lain. Sebagai gambaran, untuk jenis-jenis minuman dari susu kedelai hingga jus buah dibanderol dengan harga 1,8 – 6 Ringgit saja….Murah kan?

Gerbang Petaling Street di hadapan. Tentu kamu pengen tahu kan gimana suasana di dalamnya?
Fokus ke deretan lampion itu deh!
Transaksi di kedai cinderamata.
Suasana di pojok timur Jalan Hang Lekir.
Memanggang kacang kenari (chestnut bean)….Orang lokal menyebutnya buah berangan.
Pedagang buah di Jalan Hang Lekir.
Mau coba durian Malaysia….Masih di Jalan Hang Lekir.
Cobain juice juga boleh kok….Stay tune di Jalan Hang Lekir.
Restoran-restoran di kawasan Petaling Street (juga di bagian Jalan Hang Lekir)
BABIIIIII…ehhh….Aduhh…Upss.

Tetapi harga cendera mata yang sangat murah dan bisa ditawar tentu mengindikasikan bahwa produk-produk tersebut adalah barang bajakan. Oleh karenanya, kita perlu jeli untuk menawarnya sebelum memutuskan untuk membeli.

Petaling Street memang menjadi tempat perniagaan idola di Kuala Lumpur. Selain itu, Petaling Street juga menggambarkan sebuah eksistensi atas usaha pelestarian budaya Tionghia di Kuala Lumpur.

Pada kunjungan ke Petaling Street yang kelima kali ini, aku hanya menjelajahnya dalam waktu kurang dari setengah jam saja.

Tepat pukul setengah sepuluh….

Aku memutuskan untuk kembali ke penginapan karena mata sudah mulai mengantuk dan badan sudah terasa lusuh.

Baiklah, lebih baik aku menyegerakan diri untuk beristirahat.

Kisah Selanjutnya—->

Mengulang Lagi Kasturi Walk di Central Market

<—-Kisah Sebelumnya

Usai menyesap serbuk oat, aku beranjak pergi dari tepian Jalan Tun Sambanthan. Menyeberanginya untuk mencapai pelataran Central Market.

Di pelatarannya, aku berdiri mematung, menatap segenap bangunan pasar yang gemerlap dengan pelita. Inilah salah satu landmark di Kuala Lumpur yang telah berusia lebih dari 130 tahun.

Hhmmhhh….Central Market, harus bertindak bagaimana di kunjungan keempat kali ini?”, aku membatin.

“Ohh…Lebih baik membedah hingga ke setiap sudutnya malam ini”, aku memutuskan.

Dari depan halaman Central Market aku bergeser ke sisi timur bangunan. Adalah Kasturi Walk, jalur sepanjang 75 meter yang dipenuhi kedai perniagaan pakaian, buah-buahan, makanan lokal (kacang putih Ipoh salah satunya), mainan anak-anak, kerajinan tangan dan souvenir lainnya.

Kasturi Walk adalah bagian Central Market yang tersemat keunikan karena sepanjang jalurnya ternaungi atap dimana pada pangkal atap disematkan desain layang-layang khas Malaysia. Kasturi Walk sendiri, hanya mengambil sedikit bagian dari Jalan Hang Kasturi yang membentang sepanjang hampir setengah kilometer.

Kasturi Walk.
Kios-kios di Kasturi Walk.
Kios minuman di Kasturi Walk.
Kios minuman dan makanan khas Malaysia di Kasturi Walk.
Cafe di Kasturi Walk.

Perlu diketahui, jika Central Market adalah raja pasar basah masa lalu maka Jalan Hang Kasturi terkenal sebagai pasar keringnya.

Aku sungguh terlena menikmati keramaian di sepanjang jalur itu walaupun tak ada satupun item yang terbeli. Tak lain, karena niatku hanya untuk menyempurnakan eksplorasi Central Market.

Purna menjelejah hingga ke tiap ujung Kasturi Walk, aku segera masuk ke dalam bangunan Central Market. Aku pernah pula memasukinya pada 2014 silam ketika berbelanja t-shirt dan gantungan kunci teruntuk beberapa kolega di Jakarta. Tapi kini, aku hanya akan melintasnya sudut demi sudut, lantai demi lantai, kemudian mengetahui isinya lebih mendalam.

Memasuki melalui pintu timur, aku dihadapkan pada deretan kios yang terbelah selasar panjang. Deretan kios itu menawarkan pernak-pernik souvenir, kilauan batu permata, dry fruits, berbagai macam aroma terapi, batik, alat-alat komunikasi dan dagangan lainnya.

Berada di pusat ruangan, papan ucapan selamat datang dalam berbagai bahasa bangsa tergantung di langit-langit pasar demi menyambut segenap pengunjung.  Sedangkan tempat favorit para pengunjung di lantai satu adalah outlet kenamaan….Old Town White Coffee.

Aku menaiki tangga menuju lantai dua usai menuntaskan eksplorasi di lantai pertama. Tampak di lantai dua, tersedia pojok-pojok promosi pariwisata dan budaya Negeri Jiran. Inilah keunggulan penting dari Central Market, selain menjadi pusat perbelanjaan juga berfungsi sebagai muka pariwisata dan budaya Malaysia.

Usai mengunjungi pojok budaya, setidaknya aku memahami bahwa Central Market rutin menyelenggarakan Cultural Dance yang dihelat di outdoor stage (pelataran Central Market). Dari pojok budaya itu, aku juga mendapat informasi bahwa di daerah Serawak, Malaysia memiliki bagian dari etnis Dayak yang bernama Laki Iban.  Di pojok itu diperkenalkan pula pakaian khas mereka yang berjuluk Kelambi dan  Sirat.

Selebihnya lantai dua tampak ramai dengan keberadaan Central Market Food Court. Medan selera*1) itu dihuni oleh berbagai macam kedai. Selain aneka sup khas Malaysia dan masakan khas dari Penang atau Ipoh, tak ketinggalan pula cita rasa khas Thailand. Sedangkan Kopitiam akan memfasilitasi penikmati kopi dengan cara lain.

Sebagai gambaran, harga makanan di Central Market Food Court pun bervariasi dan bisa mengakomodasi pengunjung dengan berbagai ketebalan dompet. Bermula dari 1,9 Ringgit untuk harga sepotong Telur Mata hingga 24,9 Ringgit untuk menebus seporsi Grilled Lamb Chop.

Selain medan selera,  sebagian lantai dua juga dimeriahkan oleh deretan kedai pakaian, batik menjadi idola di lantai ini. Aku melanjutkan langkah dengan menikmati pola-pola khas batik Malaysia.

Central Market Lantai 1.
Central Market Lantai 1.
Central Market Lantai 1 (foto diambil dari Lantai 2).
Central Market Lantai 2.
Kedai-kedai makanan di Central Market Food Court Lantai 2.
Kedai-kedai makanan di Central Market Food Court Lantai 2.
Kios batik di Central Market Lantai 2.
Kios pakaian di Central Market Lantai 2.

Akhirnya genap satu jam aku berkeliling dan mengamati aktivitas pengunjung di Central Market hingga sentra perbelanjaan itu mulai sepi karena tertelan malam. Aku pun perlahan mulai menuruni anak tangga untuk tiba di lantai bawah dan bersiap pulang menuju penginapan.

Aku harus berbasuh dan beristirahat karena esok hari aku akan menelusuri beberapa spot wisata di Kuala Lumpur hingga tengah hari.

Thank you Central Market.

Keterangan:

Medan selera *1) = food court

Kisah Sebelumnya—->