Selimut Putih Himalaya dari TG 319

Jalur terbang Thai Airways TG 0319 Bangkok-Kathmandu.

Selepas Subuhan, aku bergegas mencari keberadaan flight information board untuk memastikan apakah connecting flightku akan tepat waktu atau mungkin delay. Aku menemukannya di koridor utama transit hall.

Penerbangan sesuai jadwal….Nice.
Boarding pass yang telah kupegang sejak meninggalkan Soetta.

Sebagai penganut paham makan tepat waktu maka menjelang jam 6 pagi, aku sibuk berjibaku mencari makanan halal. Kini hanya halal yang akan menjadi syaratnya….Karena aku tak bisa memilih makanan harga kaki lima tentunya. Menjelajah lantai 3 Suvarnabhumi akhirnya aku hinggap di Silom Village.

Tak bisa menemukan logo “Halal”….Aku singgah di “Non-Pork” resto.
Menuku: fried rice chicken served with salted egg seharga Rp. 99.000

Sarapan pagi itu kututup dengan menyeruput secangkir teh hangat yang mampu mengusir angin dalam  tubuh setelah semalaman tidur kedinginan di koridor utama transit hall dan bersambung di mushola.

Lantas menujulah aku ke gate C10 untuk menunggu Thai Airways TG 319. Kali ini hanya perlu menaiki satu lantai lagi melalui escalator untuk mencapai gate.

Koridor menuju gate.
Itu dia barisan gate di Suvarnabhumi International Airport.

Sembari menunggu boarding time, lebih baik mengecharge handphone sebagai satu-satunya alat dokumentasi yang kubawa….Biasa, amatiran. Aku juga berusaha membaca kembali itinerary yang telah siap kugunakan untuk eksplorasi Kathmandu dan Pokhara.

Spot menarik di area departure hall.

Kebosananku akan lalu-lalang pesawat di runway Suvarnabhumi International Airport dipatahkan dengan kehadiran Thai Airways berjenis BOEING 777-200. Memperhatikan proses loading dengan seksama hingg tak terasa waktu boarding pun tiba tepat waktu.

Thai Airways TG 319 sedang mempersiapkan diri untuk segera terbang selama 3 jam 33 menit.

Memasuki kabin pesawat sekejap mata menjadi segar. Selain karena kecantikan para pramugari juga karena bangku pesawat yang memiliki seat cover penuh warna. Kabin pesawat terlihat bak permen warna-warni.

Kabin TG 0319.

Aku duduk disisi kanan kabin dan diapit 2 perempuan muda. Sebelah kanan berkebangsaan Tiongkok yang entah siapa namanya dan seorang gadis Jepang di sisi kiri yang kutahu namanya bermarga Kawaguchi….Sangat cantik dengan kuncir kudanya.

Duduk sembari sedikit menyesal karena kalah cepat memilih bangku pesawat pasca pemesanan tiket secara online. Hal ini mengakibatkan hilangnya kesempatan duduk di posisi istimewa bagi para photographer yaitu window seat. Karena penerbangan ini akan sangat dekat sekali dengan beberapa puncak pegunungan Himalaya yang akan memamerkan selimut saljunya.

Saat momen itu terjadi, hampir sebagian penumpang berdiri dan menoleh ke jendela sebelah kanan. Itu adalah posisi dimana aku duduk. Aku tak bisa mengambil gambar dengan baik dan lebih memilih untuk duduk tenang dan merekam sesi singkat penerbangan tepat di atas Himalaya itu dalam memori otakku. Masih terbanyang indah hingga tulisan ini terbit….Amazing flight.

Mulai mengisi immigration form yang diberikan oleh awak kabin.

Proses landing juga tak kalah memikat.  Pemandangan yang tersaji adalah deretan bangunan tempat tinggal penduduk Kathmandu yang didominasi bentuk kotak kecoklatan. Kini aku bersiap menginjakkan kaki di Tribhuvan International Airport yang telah menjadi gerbang wisata Nepal dalam beberapa dekade terakhir.

Avseq: “Hi, Sir. Please, directly stepping to airport building!”, Ujarnya melarangku mengambil foto selfie tepat di kaki Thai Airways.

Aku: “OK, Sir….I’m sorry”, menjawab dengan sedikit kesal….Hmmh.

Arrival hall yang tak terlalu mewah dan hanya dilengkapi dengan screening gate uzur membuatku tersenyum karena aku seakan berada di Indonesia era 80-an.

Mengajukan aplikasi Visa on Arrival dalam mesin penerbitan visa dan kemudian membayar Rp. 337.500 di sebuah konter yang dijaga oleh staff perempuan tua, akhirnya aku shah memasuki Nepal.

Ikuti petualanganku di Nepal yuk!

Cari tiket penerbangan dari Bangkok ke Kathmandu? Bisa beli kok melalui 12go Asia. Berikutnya linknya:  https://12go.asia/?z=3283832

12 Jam Menginap di Suvarnabhumi International Airport.

Melalui aerogbridge, aku segera menuju transit hall untuk menunggu connecting flight Thai Airways berikutnya. Waktu menunjukkan pukul 23:15. Aku berusaha menemukan lokasi information centre untuk menanyakan tempat ternyaman beristirahat di Suvarnabhumi International Airport.

Aku: “Hi, Ms. Where is better place for rest and getting food?, Transit hall or departure hall?”

Staff: “I think you will be better staying in transit hall. Departure hall is very crowded than you think. Many food stall are in transit hall, so don’t worry”.

Aku: “Oh, okay Ms. Thank you”.

Akhirnya, sarannya menuntunku untuk segera memasuki transit hall. Melewati konter pemeriksaan tiket dan passport dengan lancar, kemudian aku mengakhirinya melalui x-ray screening dengan cepat.

Memasuki transit hall.

Aku akan bermalam selama  12 jam hingga pernerbangan Thai Airways TG 0319 menuju Kathmandu. Setiba di transit hall, aku segera mencari spot terbaik untuk memejamkan mata. Situasi yang masih ramai, tak memungkinkan bagiku menemukan deretan bangku kosong untuk selonjoran.

Akhirnya, menghabiskan waktu sekitar 1,5 jam untuk mengeksplore seluruh transit hall.

Tengah malam mulai berlalu, perlahan airport mulai kehilangan para pengunjungnya. Deretan bangku-bangku biru memanjang itupun nampak mulai kosong. Beberapa cleaning service terlihat mulai menyeka bangku-bangku itu dengan pewangi dan sterilizer. Mereka sepertinya tahu gelagatku untuk segera meniduri bangku-bangku yang tampak seperti springbed dalam penglihatanku.

Akhirnya menenukan bangku kosong.

Sungguh terlelap berbantal backpack hingga menjelang fajar. Perlahan suara geretan koper para penumpang penerbangan pagi mulai menginterupsi “mimpi Nepal”ku. Aku terbangun tetapi masih tak kuasa menahan kantuk. Kuputuskan untuk mencari mushola dan berharap bisa melanjutkan mimpi.

Electric Information Board
Ruangan mushola yang kosong dan menggoda.

Waktu subuh di Bangkok adalah jam 05:20. Sembari menunggunya tiba, dengan sigap aku mengambil spot tidur di ujung belakang mushola. Tetapi kali ini, aku harus meringkuk disebabkan dinginnya ruangan karena AC besar mushola.

Beberapa jam setelahnya, derap langkah para jama’ah  mulai sering terdengar memasuki ruangan. Waktu Subuh kian menjelang. Sudah tak lelap lagi, bersiaplah diriku mengerjakan Subuh berjama’ah.

Bahagia rasanya, bisa shalat bersama kaum muslim Bangkok pekerja Suvarnabhumi. Aku berbaur dengan security, staff imigrasi hingga para polisi bandara. Sehabis shalat aku sedikit bercakap dengan salah satu staff imigrasi. Satu yang kutangkap adalah kaum muslim Bangkok berjumlah sekitar 10% dari total penduduk Ibukota. Persentase itu berkisar di angka 800-900 ribu.

Subuh telah berlalu,  saatnya bersih-bersih di toilet lalu mencari sedikit kudapan untuk sarapan sebelum TG 0319 take off pada pukul 10:30 menuju ibukota Nepal.

Sarapan yukkkk…!

TG 436: Mewah Mengudara Menuju Bangkok

Jalur penerbangan TG 436

Akhirnya aku mengulang perjalanan menuju Negeri Gajah Putih setelah eksplorasi terakhir pada 2013. Empat tahun lamanya, aku menunggu kesempatan itu. Jika 2013, aku terbang bersama Air Asia menuju Don Mueang International Airport maka kali ini aku sangat mujur karena bisa menangkap promo murah meriah yang dikeluarkan oleh Thai Airways pada April 2017.

Menunggu selama 8 bulan sebelum benar-benar terbang adalah sesuatu yang sangat tak mengenakkan. Bukan karena Bangkok nya, tapi hanya karena hasrat mencicipi pesawat premium berbadan lebar. Setahun sebelum, aku pernah menaiki jenis pesawat yang sama milik Air Asia ketika pulang dari Incheon.

—-****—-

Selepas Jum’atan, aku menyempurnakan packing untuk perjalanan selama  11 hari yang tentu akan membuat penasaran. Tepat jam 3 sore, aku bergegas memanggul backpack menaiki angkot menuju Terminal Kampung Rambutan. Angkot yang begitu lama tiba, membuatku terhukum dengan menaiki bus DAMRI satu jadwal keberangkatan lebih lambat.

Jam 16:00, DAMRI meluncur tetapi tak berselang lama kondisi jalan tol menjadi stuck. DAMRI sungguh lama tak bergerak. Terusut sudah terdapat perbaikan jalan di sebuah terowongan dikombinasi dengan insiden truk terguling 400 meter setelahnya. Padahal penerbanganku terjadwal jam 19:05. Itu berarti aku harus siap pada jam 17:55 sebelum benar-benar boarding….Mepeeetttt.

Beruntung sirine Highway Patrol mulai terdengar merangsek ke depan. Signifikan, 15 menit kemudian DAMRI melaju mulus menuju Terminal 2 Soetta.

Thai Airways akhirnya menjadi maskapai ke-18 yang kunaiki.

Beruntung Soetta melompong dan hanya perlu 5 menit untuk proses check-in kemudian boarding pass ungu putih tergenggam. Semua pos pemeriksaan x-ray kulewati dengan sangat cepat karena hanya satu backpack 45L saja yang perlu di screening.

Mulai boarding.

Aku memasuki Airbus A330-300 melalui jalur kabin sebelah kanan untuk menemukan bangku bernomor 52K. Kali ini akan menjadi sangat lega karena aku duduk di bangku kolom tiga sendirian. Ndeso….Baru kali ini naik pesawat dengan layar LCD didepan mata….Pencat-pencet sesuka hati.

Jakarta-Bangkok yang berjarak darat sejauh 3.000 km di tempuh dalam waktu 3 jam 35 menit dengan kecepatan rata-rata 475 knot ( 880 km/jam). Bisa dibayangkan betapa kencangnya.

Moslem meal yang disajikan setelah brown rice cracker dan apple juice di berikan.

Selama penerbangan, pramugari cantik berwajah khas Thailand memang sungguh memikat sejauh mata memandang. Untung saya hanya backpacker kere…..Andai aku businessman kelas atas…..Pasti aku akan lamar dia….Hihihi.

Pertama kali landing di runway Suvarnabhumi International Airport.

Tiba pada pukul 22:35 menyebabkan aku tak punya opsi lain. Tak mungkin keluar bandara dan beranjak menuju kota. Jika ada waktu pun, saya mungkin juga enggan. Karena bukan Bangkok tujuanku….Tapi, NEPAL.

Yess….Nepal akan menjadi negara ke-11 yang kukunjungi.

Mau tahu kan kisahku berikutnya ke “Negeri Seribu Kuil”

Ikutin kisahku selama disana ya.

Cari tiket penerbangan dari Jakarta ke Bangkok melalui 12go Asia. Berikutnya linknya:  https://12go.asia/?z=3283832

10 Destinasi Medan: Sebentar yang Merindukan.

Aku tak pernah memberi kesempatan sedikitpun terhadap otak untuk berfikir panjang. Menunggang ojek online, aku mengucap sayonara pada Terminal Amplas yang sepertinya tak rela ditinggal pengunjung yang sudi meluangkan waktu untuk mengenalnya.

15 menit kemudian, aku sudah hinggap di destinasi utama kota Medan. Tak lain lagi dialah:

1. Istana Maimun

Istana yang namanya bermakna “Berkah” ini telah berjasa selama hampir 130 tahun merepresentasikan agungnya Kesultanan Deli. Dibangunnya istana ini sekaligus sebagai penanda berpindahnya ibukota kerajaan dari Labuhan ke Medan.

Kuning adalah warna khas Melayu yang melambangkan kebijaksanaan.

Menebus tiket masuk bernilai Rp. 5.000, aku menjelajah setiap sudut istana dan terus mengagumi setiap detail perpaduan arsitektur India, Timur Tengah dan Eropa. Lima hektar area istana membuat siapa saja leluasa menikmati keindahan istana dari berbagai sisi pandang.

Destinasi berikutnya hanya berjeda 2 menit dengan berjalan kaki, yaitu:

2. Masjid Raya Al Mashun

Terletak di barat istana, bangunan suci bersegi delapan ini berdiri megah tak bergeming melintas masa. Karya fenomelal milik Sultan Ma’mun Al Rasyid Perkasa Alam ini menyiratkan bahwa beliau lebih mengutamakan keagungan masjid dibanding istana tempat tinggalnya.

Marmernya didatangkan langsung dari Italia

Tepat waktu Dzuhur, aku menyempatkan diri berbaur dengan masyarakat Medan untuk mencicipi sejuknya hawa masjid tua berusia 110 tahun tersebut. Kemegahan masjid merupakan penanda kemakmuran Kesultanan Deli di masanya.

Jangan beranjak dulu dari area sekitar istana dan masjid karena masih ada satu tempat lagi yang diyakini sebagai peninggalan Kesultanan Deli, yaitu:

3. Taman Sri Deli

Melangkah 100 meter ke utara masjid, aku telah hadir di pusat taman.  Untuk meresapi nilai sejarahnya, aku mencoba membayangkan menjadi putra Sultan yang sedang bersantai di sore hari kemudian membasuh badan di kolam trapesium yang terletak di tengah taman.

Taman yang mampu meredam panas kota.

Taman ini menjadi penutup eksplorasi mengenang kejayaan Melayu dibawah pimpinan Sri Paduka Tuanku Sultan (gelar Sultan Deli).

4. Menara Air Tirtanadi

Terus berjalan mengambil arah utara, dalam 800 meter aku menemukan tandon air raksasa milik PDAM Tirtanadi Provinsi Sumatera Utara. Penampung air raksasa ini telah lama menjadi wisata landmark kota.

Jangan lihat wajah tuanya tapi lihat perannya.

Siapa sangka toren belang merah putih ini adalah buatan Belanda  di permulaan abad 20. Sesuai makna nama Sansekertanya, Tirtanadi memiliki peranan vital dalam mensuplai kebutuhan air bersih warga kota sejak pertama kali dibangun hingga kini.

Tahu kan arti kata Tirtanadi?….Yups, Tirta berarti air dan Nadi bermakna kehidupan.

5. Museum Uang Sumatera

Ayo melangkah lagi !….Tanggung nih.

Sekitar 300 meter di barat Tirtanadi Tower, aku menemukan koleksi berbagai rupa uang dari berbagai zaman dalam sebuah museum yang pendiriannya diinisiasi oleh seorang kolektor uang bernama Saparudin Barus.

Bahkan uang dari zaman Kesultanan Deli pun masih tersimpan dengan baik

Museum ini tidak bertiket masuk. Hanya saja mereka akan memberikan souvenir berupa 2 uang koin dengan lubang ditengah dan dihargai Rp. 10.000.

6. Tjong A Fie Mansion

Kali ini, aku singgah di destinasi penting lain kota Medan. Ini adalah rumah saudagar kaya raya keturunan Tiongkok yang mempunyai peran besar dalam pembangunan kota. Sang dermawan ini bernama Tjong A Fie. Dan yang tersisa selain dari kebesaran namanya adalah rumah tempat tinggal beliau.

Setiap ruang dalam rumah Tjong A Fie memiliki fungsi khusus yang membuatku terkagum.

Aku rela membayar tiket masuk seharga Rp. 35.000. Tetapi nilai itu terbayar lunas begitu memahami cerita tempoe doeloe yang membahas setiap sisi rumah dan menapak tilas kiprah Tjong A Fie dalam membesarkan bisnis dan membangun Medan.

7. Kampung Madras

Tak ada alasan shahih yang bisa kujelaskan mengapa aku harus mengunjugi Kampung Madras. Satu alasan sederhana saja, itu adalah efek domino karena aku menginap di Dazhong Backpacker’s Hostel yang berada di pusat Kampung Madras.

Berbaur dengan warga keturunan India!

Madras diambil dari nama sebuah daerah di India Selatan yang merupakan asal nenek moyang warga Medan keturunan India Tamil.

8. Waroenk Nenek

Selesai bertemu teman dekat di Medan, gelapnya hari membujuk untuk kembali ke hotel.  Tetapi badai lapar yang tak terbendung , membuatku terpaksa mencari makan malam sebelum aku benar-benar sampai di hotel.

Destinasi bonus.

Hinggaplah langkah di sebuah rumah makan bermoto “Semua Ada”  di bilangan Jalan Patimura. Seporsi pecel lele yang disuguhkan oleh dara-dara cantik berhijab menjadi hadiah terindah malam itu.

9. Merdeka Walk

Segarnya badan setelah makan malam membuatku urung kembali ke hotel. Aku menambah kembali koleksi dengan mengunjungi pusat kuliner dan hiburan kota yang biasa dipanggil eMWe.

Gerimis mulai turun ketika aku tiba.

Dibuat pada 2005 dan mampu menampung 700 pengunjung dalam satu waktu menjadikan tempat ini sebagai destinasi favorit saat weekend tiba. Terutama buat anak-anak muda yang ingin melepas penat setelah berkerja padat sepanjang minggu

10. Pendopo Kota Medan

Masih satu area dengan Merdeka Walk yang menempati salah satu sisi Lapangan Merdeka. Pendopo ini akan menjadi pusat alun-alun kota Medan di masa depan pasca revitalisasi yang sedang dirancang oleh pemerintah kota.

Jam 21:00 pun pendopi masih kedatangan pengunjung.

Ketersediaan taman di sekitar pendopo menjadikan tempat ini ramai akan berbagai aktivitas dari sekedar berkumpul bersama keluarga, berolah raga ataupun aktivitas beberapa komunitas muda Medan.

Itulah kunjungan kilat di Medan yang membuatku rindu untuk kembali.

National Mosque….Malaysia’s Independence Symbol

Blue Hop on Hop Off bus little bit squeak in braking when entering a bend that leads this tourist bus into a worship building which is full of charisma. “Nash(ә)n(ә)l mäsk”…. My mouth spelled a black marble with gold alphabet.

Thought fast….Get off or not at all.

Ladies and gentlemen, who want to visit the mosque, please get off here. Have a good visit”, beautiful tour guide smiled while holding her microphones.

Not listed in my itinerary, It didn’t make me turn and I chose it to be a bonus destination on my last day before returning to Jakarta.

It was the first Prime Minister who gave it a name as National Mosque

Tunku Abdul Rahman Putra Al-Haj is a nobleman who played an important role in its construction until naming this mosque. The initiator of the construction of National Mosque as an expression of gratitude for Malaysia’s independence from British colonialism without spilling out Malaysian blood.

I slowly entered main building after performing ablution to fulfill Asr pray. A room under a great dome auspices and high-quality soft carpet. I almost didn’t want to move from its comfort which trapping me.

The dome has 18 star-shaped ornaments.

Eighteen ornaments which alternately pronunciation of Allah and Muhammad symbolize 13 states in Malaysia’s constitutional monarchy and 5 pillars of Islam as foundation of Islamic religion which is embraced by more than 60% of Malaysians.

The extent of building….Indeed, it can’t be doubted if some statements state that National Mosque can hold up to 15,000 worshipers at a time. Incredibly, that’s half capacity of Patriot Stadium in Bekasi (a stadium near my home).

At front door before main worship room, you will find a white tower which stands in one corner of a pool which makes this mosque more elegant.

National Mosque tower is 73 meters in high.

Also pay attention when you enter this mosque. Then at far left, there is a building which is separated by a short corridor from mosque’s main building. Its white roof is in the shape of seven stars and below it, there are tombs of country’s great heroes. One of the famous heroes who buried here is Tun Abdul Razak. Bugis descendant who played an important role behind Malaysian independence.

Here are tombs of Malaysian moslem heroes.

National Mosque itself was inaugurated and opened to public about 8 years after Malaysia’s independence day. Do you know, when was Malaysia independent?…Yup, 1957.

Its inaugurating coincide with a year in which Malaysia and Singapore constitutionally separated..

Had become the largest mosque in Malaysia before this title was seized by Blue Mosque in Shah Alam area.

National Mosque is architecturally connected to Old Railway Station building through an underground passageway. The train station itself is located adjacent to Malayan Railway Administration Building which is currently used as headquarters of KTM (Keretapi Tanah Melayu).

A building at my behind is Malayan Railway Administration Building.

Going to KL….Let’s stop by at National Mosque!

DAMRI Kualanamu: Mengejar Amplas yang Semakin Menua

Bahkan seminggu sebelum terbang, pilihan telah kutetapkan. Bukan “Si cepat dari Woojin”, apalagi “si burung biru”yang biasa berlalu lalang di Kualanamu. Pilihanku tetap pada transportasi ala rakyat yang bersahabat dengan kantong. Tak lain lagi, itu DAMRI.

Terduduk kantuk di ruang tunggu stasiun kereta bandara lalu mengamati para eksekutif menggeret kopernya, berkejaran dengan waktu keberangkatan kereta. Atau sebaliknya, langkah cepat para penumpang necis yang baru saja keluar dari kereta untuk mengejar waktu penerbangan mereka masing-masing. Aku menjadi manusia tersantai pagi itu di Kualanamu. Ya iya lah…Aku kan lagi ngelayap, bukan sedang dalam perjalanan dinas.

Mereka yang pada sibuk

15 menit mengamati lalu lalang “Si Biru Langit”, Aku keluar stasiun dengan memanggul backpack biru cetakan Tiongkok yang kudapat lewat salah satu e-commerce ternama setahun lalu.

Senyum Sersan Kepala menyambut sembari membantu menyeberangkanku melewati jalur mobil untuk kemudian aku mengarahkan langkah menuju platform airport bus.

Tuh doi ngumpet di samping “si merah”

Berbelok ke ujung kanan pintu keluar bandara maka konter penjualan tiket DAMRI sangat mudah terlihat dan ditemukan. Terbaca dengan jelas “Amplas, Siantar atau Binjai”, sebagai beberapa tujuan transportasi umum keluar Kualanamu. Sudah kupelajari dengan baik dan tertuang jelas di itinerary, Amplas adalah tolakanku berikutnya.

Menebus selembar tiket seharga Rp. 15.000 saja, aku kini berakses untuk mencicipi transportasi milik pemerintah yang sudah terlanjur melegenda di hati masyarakat.

Murah bingit.

Abang lihat papan petunjuk daerah tujuan aja ya, bang! Disana bang”, seloroh petugas tiket berseragam sembari telunjuk dan matanya menuju ke arah yang sama.

Ok, bang”, aku menjawab singkat.

DAMRI medium berpenumpang 24 yang tak kunjung penuh.

Memasuki pintu tunggalnya aku duduk tepat disebelah pintu, tak sampai semenit aku sudah di bangku belakang, bahkan sejurus kemudian sudah di bangku tengah. AC ventilator itu sudah tak berpenutup, kaca bagian belakang itu sudah sangat kusam sehingga kameraku pun kehilangan kejernihannya, di tengah pun sama reclining seat tak berfungsi selayaknya. Aku selalu memaklumi dengan kondisi ini, ini DAMRI kannnn.

AC super dingin yang membuatku menggigil sepanjang perjalanan.

 “Mana tiket Kau?”, sapa kondektur dengan kerasnya yang membuatku terperanjat. Kalau di Kampung Rambutan itu seperti hentakan preman.

Ah, ini mah Medan ternyata”, batinku yang akhirnya membuatku bersikap wajar dan tak perlu kaget.

Amplas, Bang”, kusodorkan tiket kepadanya. Ternyata dibalik wajah garang sang kondektur ada senyum tipis terlepas otomatis di bibirnya. Aku mulai jatuh cinta dengan Medan.

Melaju menjauhi Kualanamu

Aku sangat sibuk berpindah di bangku manapun demi menciptakan jepretan terbaik (walau akhirnya gagal….Hahaha), karena DAMRI ini hanya mengangkut 5 penumpang. Aku tahu pak sopir terus mengawasiku lewat kaca spion. Demi membuatnya wajar, aku mengacungkan jempol kepadanya dan uniknya dia juga mengacungkan jempolnya tinggi-tinggi. Semua penumpang tertawa melihatku….Kacau.

Suasana gang sebuah perkampungan

Kebun yang luas milik warga

Tak berasa DAMRI pun sudah melaju di jalan tol Medan-Kualanamu-Tebing Tinggi dengan cepatnya.

Bersiap masuk jalur cepat.

Tiga puluh menit DAMRI merangsek ke barat hingga akhirnya tiba di Terminal Terpadu Amplas yang sangat tersohor di Medan itu. Terminal yang tak sesangar seperti yang kubayangkan. Tak seorangpun menggangguku ketika selama 20 menit mengekplore seisi terminal itu.

Terminal Amplas yang telah berusia 29 tahun

Bahkan aku sempatkan bercakap dengan petugas Dishub perihal cara menuju Toba dari terminal ini. Juga bercakap dengan seorang kondektur bus PO Sejahtera untuk menanyakan keberangkatan pertama armadanya menuju danau vulkanik terbesar di dunia itu.

Warung biru tempat aku bercakap dengan warga lokal.

Senang mendengar kabar bahwa Terminal Amplas akan direvitalisasi oleh Mister Menteri dan akan menjadi terminal yang terintegrasi dengan mall dan hotel. Keren yaaaa.

Yuk, jangan lama-lama di terminal. Mari kutunjukkan Medan seperti apa.

Panggil ojek online! Explore Medan!

Genting Highlands….Tourist Gem on Titiwangsa Mountain Summit.

Inexperienced to sleep in a room with a Central AC made me didn’t really sleep because of cold. The advantage which I got was keeping myself from welcoming the dawn which was slowly present. At 5:30am, I started bathing in shared bathroom.

Who’s taking a shower?

That were all because of me. Agosto Inn staff were stunned and rushed to prepare a breakfast menu which was actually quite simple at dining table. Forgive me if it made you nervous, miss….Hahaha.

Pouring tea pot, baking white bread, stirring oatmeal and slicing sunkist oranges in a relaxed manner before Srilankans sat at the same table.

Me: “Hai….Hello….Are you from India?”. My first question to them.

Srilankan: “No, We are from Colombo”.

Me: “Oh, Srilanka”.

Srilankan: “Yeaa….Great, you know that”. Broadly smiling and inviting to shaking hands.

Me: “I hope I can go to your exotic country

Srilankan: “Yes….You must go there

You know, how long did I need to realize that hope?….Yup, 5 years later I was present in Colombo. A derfect dream.

45 minutes later, I already rode LRT Kelana Jaya to KL Sentral. I would catch first departure of Go Genting Express Bus at 08:00 hours.

My failure to got a ticket on my first day in Kuala Lumpur wasn’t repeated after a ticket was held before first departure time.

My ticket which including Genting Skyway fare.

Very happy when roar of “The Maroon Red” began to be heard at a corner towards KL Sentral Bus Station which is located on basement floor.

15 minutes before departure. Go Genting Express Bus get ready on its platform.

Bus seats which was full made the driver immediately work in his seat by stepping on gas pedal and then leave KL Sentral in a matter of minutes.

Damn….The first sight was a Chinese descent child who had to pee in front of my eyes. His urine entered perfectly into empty mineral water bottle which held by his mum which is pretty….Hhmmhh. She kept the bottle in a small trunk in front of her chair….I hope you weren’t wrong to take a bottle when you drink, Mam.

As far as 42 km, my eyes enjoyed Karak Expressway views together with Go Genting Express speed. An hour later, the bus slowly approached at Lower Genting Skyway Station precisely at Basement Level 4 (B4). I immediately moved to Genting Skyway Complex level T1 to boarding the cable car.

30 minutes hanging to Genting Highlands Station.
On 9:20 hours, I arrived at Genting Highlands Station which is integrated with First World Plaza. It is located at level 4.

Actually, my expectations to visiting Genting Highlands were just curious, there wasn’t intention to staying there at all because of my limited time to explore. As a result, I only allocated 2 hours to explore First World Plaza.

Because I arrived at First World Plaza on 4th floor, I was doing reverse exploration. Starting from 4th floor and ending on 1st floor. You need to know that what I currently visited was a 4 storey modern mall building.

Nice….The first thing that I did was stop by at a local food and beverage retail store which is very famous in Malaysia, Heng Heng Local Delights on 4th floor. Even though I didn’t know how to bring it home later because of my small backpacks and I am a person who anti-buying baggage planes.

Conventional trip….Still thinking of buying souvenirs….Hahaha

After shopping, I got around myself at Ripley’s Believe It or Not! Adventureland and visiting Jurassic Research Center and taking time to play on PlayTime! Video Games Park which is part of Ripley’s Believe It or Not! Odditorium

After visiting First World Indoor Theme Park on 4th floor, I returned to 2nd floor to visit Snow World.

Do you want to play snow?

I also took time to see Genting Casino which is really greedy because it occupies 2 floors at the same time at First World Plaza. It uses Level 1 and Level 2 for gambling business.

Thin difference: look to lose in gambling or can’t afford to gambling?.

After exploring entire floor of First World Plaza, I decided to return to KL Sentral for exploring Bukit Bintang, which is also a retail and fashion center in Kuala Lumpur.

Preparing return to downtown.

Massive development by 21st Century Fox has turned Genting Highlands into an Asian and even world tourist gem.

For those who haven’t visited yet, please go a few hours to go there.

Bukan Silangit, Tapi Kualanamu

KNO adalah kode untuk Kualanamu International Airport yang ditetapkan oleh IATA. Seperti CGK untuk Soetta, KUL untuk KLIA dan SIN untuk Changi.

Dulu, kalau memikirkan Medan (sebelum aku benar-benar mengunjunginya) maka tempat pertama yang kubayangkan adalah Danau Toba….Parah, padahal Danau Toba berada di Kabupaten Simalungun, sedangkan Kota Medan berada 190 km di utara Danau.

Persepsi kembali berubah saat digalakkannya era optimalisasi bandar udara di seluruh negeri. Ketika mendengar kata “Medan” maka yang terbayang secara otomatis adalah Kualanamu. Bagaimana tidak, Kualanamu telah mencatatkan rekor sebagai pelopor penggunaan kereta bandara menuju ke pusat kota.

1. Arrival Hall

Area conveyor belt.

Sriwijaya Air SJ 010 dengan tiket kelewat irit berjasa mendaratkanku di Kualanamu International Airport (KNIA). Seperti biasa, eksplorasi bandara menjadi keharusan bagiku. Kuputuskan menginvestasikan satu jam pertama di Sumatera Utara untuk menjelajah setiap sisi Kualanamu.

Main Arrival Hall.

Suhu kota Medan baru beranjak di level 28o Celcius, jadi belum sepanas yang kubayangkan. Karenanya aku berasa santai ketika sedikit berlama-lama di parking lot pesawat sembari menunggu apron shuttle bus menjemputku tepat di kaki pesawat.

Replika Istana Maimun, ikon pariwisata Medan.

Memasuki bandara yang memiliki arti nama “Tempat Bertemu” tersebut, suasana menjadi riuh karena banyak penumpang berlarian bahkan rela mengantri untuk berfoto dengan Pak Jokowi  yang sedang mengayuh sepeda atau untuk sekedar mengabadikan diri di spot signboard kuning KNO.

2. Departure Hall

Itu dia area check-in.

Pasca menjelajah Arrrival Hall dan memahami selusin arah menuju beberapa fasilitas bandara, aku menyempatkan naik ke lantai 2 untuk melongok Departure Hall.  Ini menjadi keharusan karena sadar bahwa aku akan pulang ke Jakarta dari Minangkabau International Airport di Padang Pariaman.

Mereka yang sibuk untuk meninggalkan Medan.

Hanya kondisi ruang tunggu pesawat yang tak tertangkap kamera karena aku tak bertiket untuk memasukinya. Eksplorasi di Departure Hall akhirnya harus diakhiri di sini.

Pintu departure setelah Anda melakukan check-in.

3. Fasilitas Lain

Menuruni  lantai 2 melalui escalator, aku kembali berada di Arrival Hall untuk melihat fasilitas lain yang tersedia.

Para turis harus kesini jika hendak mencari informasi tentang pariwisata Sumatera Utara.

Aku cukup lama bercakap dengan “Si Jilbab Cantik” yang bertugas di Tourist Information Center. Paras ayunya membuatku betah bertutur dan lancar mengeluarkan pertanyaan sebanyak mungkin hanya untuk bisa mengagumi beningnya lebih lama….Huuu, dasar kutu kupret kamu, Donny!…Hahaha.

Information Center di Arrival Hall.

Meninggalkan Arrival Hall dengan menggenggam banyak brosur sebagai buah percakapanku dengan si doi. Dipadu dengan itinerary yang kususun, fokus eksplorasi Provinsi Sumatera Utara kali ini ada di Medan, Danau Toba dan Pematang Siantar. Karena aku akan melewati ketiga tempat itu.

Pintu keluar bangunan utama bandara.

4. Akses Kereta Api Bandara

Yuhuii….Aku menjadi girang karena sekejap lagi akan melihat secara langsung “Si Biru Langit” yang sudah terlanjur tersohor ke seantero negeri sebagai kereta bandara pertama di Indonesia.

Lihat sign board itu. Gampang kok menemukannya.

Kereta buatan Korea Selatan ini menjual tiketnya seharga Rp. 100.000 untuk sekali jalan dari stasiun bandara menuju pusat kota atau sebaliknya.

Gerbang menuju stasiun kereta bandara.
Ticketing counter and information desk.
Automatic Ticket Vending Machine.

Tapi beribu sayang dan maaf ya, gaes….Aku tak bisa memperlihatkan interior kereta, karena aku tak jadi menaikinya. Harganya terlalu mahal untukku. Ada moda transportasi lain yang lebih terjangkau dengan dompet.

Tuh kereta bandaranya….

5. Akses Airport Bus

Yes, aku memilih menggunakan bus DAMRI menuju pusat kota. Harganya yang hanya Rp. 15.000 sungguh menjadikannya sebagai pilihan utama dan pertama yang sekonyong-konyong muncul dalam naluri. Lumayan toh, sisa Rp. 85.000 bias buat empat kali makan….Jadi pengiritan dimulai dari DAMRI bandara….Hahaha.

Yuk beli tiket DAMRI lalu menuju pusat kota.

Puas rasanya setelah berhasil mengoleksi kembali satu bandara milik bangsa dan akan tersimpan dalam sejarah kelayapanku.

Thank you Kualanamu….Welcome Medan.

KL Sentral….Awesome Transit Oriented Building

I don’t know how many times I’ve said KL Sentral as far as publishing this 221 traveling articles. I remember, I have five times traced this phenomenal building. Five years also, various sides and interesting moments which I stole from Kl Sentral languishing in external hard disk which neatly wrapped in a desk drawer in my bedroom….Room which continually give me many inspiration in conquering beauty of the earth.

It’s not fair, if its greatness isn’t shared with you. Because I’m sure that you will visit it someday….Or maybe, you have visited it but you don’t understand yet its details.

Operating 18 years ago, KL Sentral has played an important role in Malaysian tourism. KL Sentral meritorious in being the link between Malaysia’s first gate (i.e Kuala Lumpur International Airport) and important tourism spots in city center…. Fast, effective and efficient. Maybe that’s what will be pursued by Manggarai Central Station in 2021 (It’s a station central in Jakarta).

Gives you a basic view of KL Sentral. Here’s my best photo at KL Sentral level 1:

KL Sentral level 1 which seen from Nu Sentral mall on level 2.
KL Sentral level 1 was seen from Kelana Jaya Line platform on level 2.

KL Sentral Bus Station

Before exploring level 1, I will invite you to look at KL Sentral basement level. Why?….Because 100% of my arrivals to KL Sentral use the cheapest transportation mode….Yups, Skybus, Aerobus and Airport Coach which its tickets are only worth USD 3.1.

After passing through Stesen Sentral Street, bus will enter basement level and stop at shelter which sells Aerobus/Skybus/Airport Coach/Resort World Genting Bus tickets. While, behind escalator (is used to go up to level 1), you will find Rapid KL Free Bus shelter which is used by tourists towards Batu Caves.

Left is Airport Coach ticket counter to KLIA and right is Skybus/Aerobus ticket counter towards KLIA2
Airport Coach towards KLIA (Terminal 1)
Skybus towards KLIA2 (Terminal 2)
Bus towards Genting Highlands.
Direction sign to Rapid KL Free Bus to Batu Caves.

Twice, I went down to KL Sentral basement level and immediately left KL Sentral towards Westree Hotel (2018) and M&M Hotel (2019) through this corridor:

The corridor at Basement level leads to Tun Sambanthan Street.
This is appearance of Tun Sambanthan Street.

Nu Sentral Mall

If you want to continue your trip using KTM ETS (Kereta Tanah Melayu-Electric Train Service), Kelana Jaya Line LRT, Seremban Line commuter KTM, Monorail, airport train (KLIA Ekspres and KLIA Transit) you have to go up to level 1 KL Sentral using escalator near Skybus/Aerobus ticket counter.

Or….you can also go up to level 1 as access to go to Nu Sentral mall on level 2….Let’s look at Nu Sentral mall.

Connector escalator between several train gates on 1st floor to Nu Sentral mall which is on level2
Nu Sentral mall situation.
Nu Sentral mall situation.

Finished shopping at Nu Sentral mall, then look for pedestrian bridge to Tun Sambanthan Street. The pedestrian bridge is directly connected to Nu Sentral mall.

Direction sign towards Tun Sambanthan Street.
This is the pedestrian bridge which I mean.

Transportation Area

Before going back down to level 1, you should see where the monorail station is. The floor plan shows that KL Sentral monorail station is a separate building from KL Sentral itself. But not to worry because there is a connection bridge from KL Sentral to monorail station.

Yuhuuu….It was in front of monorail station gate.
Here it is, the monorail….On its way towards Titiwangsa Park.

Come on!….We explore 1st floor. This floor is allocated as access to various modes of train transportation.

Starting from commuter train. There are two commuter train lines in KL Sentral namely KTM Laluan Seremban and KTM Laluan Pelabuhan Klang.

Preparing to take KTM Komuter Laluan Seremban to Batu Caves.
That’s KTM Commuter platform in basement.

Besides KTM Commuter, the most popular transportation mode to city center in Kuala Lumpur is LRT (Light Rail Transit). LRT Laluan Kelana Jaya was the one which was lucky because it was the only chosen LRT which visited KL Sentral.

Let’s rides LRT to city center!
Ticketing vending machines….Where to buy LRT tokens (tickets).
Automatic gates menuju platform LRT Kelana Jaya di level 2.
Finally caught a picture of LRT Laluan Kelana Jaya at Pasar Seni Station.

Besides Skybus/Aerobus and Airport Coach, Malaysia tourism also presents KLIA Transit and KLIA Express which are premium trains to Kuala Lumpur International Airport. Premium is certainly synonymous with expensive prices but certainly guarantees a comfort.

KLIA Transit ticket counter and its automatic gate
See, KLIA Transit!…Cool right?.
Of course….Super comfortable.

Eatery

Regarding food….As the biggest transit hub in Malaysia, KL Sentral certainly provides many eateries.

At level, there are several food and beverage shops such as La Cucur Express, Panettone (vegetarian food), Meals Station, I Love Yoo !, Chatime, Swiss Oven, Secret Recipe, Starbucks, Burger King, Ayam Penyet Express and many more.

Eat “Penang White Curry Bowl” at Panettone (2018).

Outside KL Sentral (around Tun Sambanthan Street), there are also some reasonably-priced food stalls with topnotch taste. I visited it because I often stayed around KL Sentral.

ABC Bistro Cafe….My hangout place around KL Sentral.

Nearest Cheap Hotels

Tun Sambanthan Street is an important road in Brickfields area. This area provides restaurants, shops and residences. Brickfields also provides many hotels from five-star hotels to budget-friendly hotels.

Westree Hotel during my Malaysia-Singapore trip on 2018
Hotel M&M while visiting an international event on 2019

So….Visit KL Sentral well and just enjoy its facilities.

Batu Caves….India Trace in North of Kuala Lumpur

A. KLIA2 to Batu Caves Route

Step 01. KLIA2-KL Sentral

Heading to 1st floor which is location of KLIA2 Transportation Hub, I rushed to Skybus sales counter. Rates of USD 2.6 was enough to move me from KLIA2 to KL Sentral which is located in center of Kuala Lumpur city. I spent 50 minutes traveling to see situation of Selangor state’s streets.

Step 02. KL Sentral-Batu Caves

Trip in year 2014

From KL Sentral, I headed to KTM Komuter Laluan Seremban ticket counter to reach Batu Caves. At that time, commuter tickets couldn’t be obtained at automatic fare machines like LRT tickets in Kuala Lumpur. So I had to go to ticket counter to manually buy it. Its price is quite cheap, only USD 0.5 for one way. Distance from KL Sentral to Batu Caves is 13 km with 45 minutes travel time.

Trip in year 2018

Check out my second and most recent trip to Batu Caves at this link: New Route to Batu Caves, Malaysia

B. About Batu Caves

Corridor between commuter station to Batu Caves.

Taking a light step through exit gate at Batu Caves Station and gathering curiosity which is increasingly rising when I moved in a roofed pedestrian corridor. The corridor which its end is right entrance of Batu Caves.

I looked small under it.

Entering from right side, the 15 meter high statue of Lord Hanuman welcomed. Its green body added sacredness of “Wanara” King. It was undeniable because indeed many long-tailed monkeys present around temple which is located next to statue.

A monkey which is eyeing my camera….
Temple was quite crowded with visitors.
Incense were burned in front of temple.

Ramayana Cave Suyambu Lingam on left side of green temple solemnity presents Ramayana epic through several character statues which imply a storyline. Set aside USD 1.3 to just enjoy its majesty.

Ramayana Cave gate.

The sun sting didn’t deter my enthusiasm and spirit for being present in front of Venkatachalapathi Temple which was built above 19 stairs. This temple praises Lord Vishnu incarnation who is carrying out his duties as a “destroyer of sin”. Do you know Lord Vishnu who rides Garuda (the king of all birds) and armed with chakra?

Take your shoes off before climbing stairs!

To ensure tourists don’t miss any part of Batu Caves, they prepares a sign with 17 different directions.

That is….

Understanding Hindu history through beauty of art is what Cave Villa wants to show. USD 3.9 is a pretty expensive value to explore this cave.

Buy ticket there.

Lord Shiva who be illustrated as Nataraja “the Lord of Tandavam” (the name of a religious dance in Hinduism) and Lord Murugan who were essentially born as 6 babies, were eventually transformed into a single powerful figure of Lord Murugan, are two stories which is explained in this cave.

Standing on Batu Caves main part i.e a large courtyard which is full of pigeons which always loves to beg for food from tourists.

That are pigeon…. benign but in fact are not.
The worship building on Batu Caves courtyard was being renovated.

Visiting statue of the highest Hindu God in the world, His mother is Parwati Lord and his father is Lord Shiva. Lord Murugan is his name …. Armed with a sacred scepter and his majesty is represented on his soaring as high as 43 meters.

Gold color makes it very prominent in anyone’s eyelids.

Prepare your calves to steps on 272 stairs to main temple which hides on a 400 million-year-old limestone hill.

Dress modestly…Try not to wear shorts.

Humid air and cold temperature like a fridge make this cave as a special place in the middle of stinging area around hill.

Combination of lighting and layout of God statues makes it sacred.

Before leaving this site, you can visit Gheeta’s Souvenir Shop on left front of courtyard.

Souvenir shop.
Parking lot.

If you don’t want to buy souvenirs, you can buy indian foods and snacks which are sold in front right of courtyard.

Indian snacks with Indian aroma.

Couldn’t buy souvenirs because I didn’t have plane luggage….Then I just enjoy lunch or drink coconut water in canteens around Batu Caves.

Twice visited….Twice also lunch here.
Nasi lemak in Indian taste….Hahaha.
Coconut water with ice was drank in middle of sun sting.….Beuh.

Of course, you know Batu Caves, because of its popularity … But try to explore about values which can be obtained from this site.

So….Batu Caves….Let’s go there!.