Menembus Rinai: Suria KLCC, Petronas Twin Tower dan Petrosains

<—-Kisah Sebelumnya

Usai menurunkan backpack di kamar, aku menuruni anak tangga Agosto Inn untuk melanjutkan eksplorasi.

Hi, Sir. Where are you going this afternoon?”, tanya resepsionis sekaligus si empunya penginapan.

Petronas Twin Tower, Sir

Oh, you better take LRT to get there. Don’t take bus because Kuala Lumpur is surely to get stuck this afternoon”, nasehatnya cukup membantuku.

Di luar fakta itu, sedari tadi aku telah memutuskan akan menggunakan Light Rail Transit. Karena sejatinya aku belum mengetahui bahwa ada layanan gratis Go KL City Bus yang jalurnya terintegrasi menuju kesana. Maklum, itulah kali pertama aku menjejak ibu kota Malaysia.

Aku menyusuri jalanan Tun H S Lee ke arah selatan kemudian berbelok ke kanan di perempatan berlanjut ke Jalan Sultan menuju Stasiun Pasar Seni. Jalanan masih basah dan menyisakan beberapa genangan tipis disana-sini. Memaksaku sedikit berhati-hati demi menghindari cipratan air dari hempasan laju kendaraan yang berlalu-lalang. Sore itu adalah jam pulang kantor, menjadikan jalanan semakin padat saja.

Agosto Inn termasuk penginapan yang murah nan strategis, jaraknya tak lebih dari dua ratus meter dari Stasiun Pasar Seni, hanya diperlukan lima menit berjalan kaki menujunya. Setiba di stasiun, aku membeli token seharga 1,5 Ringgit di ticketing vending machine untuk kemudian bergegas menuju platform di lantai atas. Stasiun Pasar Seni adalah jenis stasiun layang dan berselang tiga stasiun dengan Stasiun KLCC (Kuala Lumpur City Centre) dimana Petronas Twin Tower berdiri.

tren tiba dalam 3 minit’….‘tren 3 koc’…‘koc ke Gombak’….begitulah tulisan yang terpampang bergantian di layar LCD pada platformku berdiri. Aku begitu antusias, mengingat Jakarta belumlah memiliki MRT dan LRT kala itu.

LRT Laluan Kelana Jaya berwarna putih dengan kelir biru-merah tiba. Aku memasuki gerbong tengah, berdiri berdesakan dengan para pekerja kantoran yang hendak menuju rumah masing-masing. Desingan laju LRT memamerkan bentangan bangunan beton, taman-taman kota dan jalanan di bawah dengan beberapa pelita jalan yang mulai menyala otomatis. Menjadikan panorama sore terlihat elok.

Lima belas menit kemudian, aku tiba di Stasiun KLCC. Stasiun KLCC sendiri adalah stasiun LRT yang terintegrasi dengan pusat perbelanjaan terbaik di Kuala Lumpur, yaitu Suria KLCC. Jadi untuk menuju Petronas Twin Tower, penumpang akan diarahkan melalui bagian dalam pusat perbelanjaan. Strategi yang jamak diterapkan untuk menaikkan pendapatan kawasan.

Aku terus melangkah ke lantai atas melalui escalator demi menemukan pintu keluar menuju Petronas Twin Tower. Sepemahamanku, aku harus keluar di pintu mall di sisi Jalan Ampang. Jadi sepanjang pusat perbelanjaan, aku hanya menengara kata “Petronas Twin Tower”atau “Ampang”. Alhasil, kutemukan sebuah papan petunjuk menuju Jalan Ampang….Yes, aku berhasil keluar dari mall di jalur yang tepat.

Dari Jalan Ampang, keperkasanaan menara kembar mulai terpamerkan, menjulang setengah badan ke puncak. Aku terus mendekatinya, menyeberang Jalan Ampang dan tiba di pelataran utama Suria KLCC. Kusegerakan melangkah menuju sisi depan menara. Tepat di depannya, hiasan memanjang air mancur memperindah suasana.

This was my first time there….Petronas Twin Tower.

Mengunjungi sesuatu yang fenomenal untuk kali pertama memang mendatangkan impresi. Girang, syukur, takjub memenuhi isi hati sore itu. Hingga rinai lembut tak mampu mengusirku, untuk beberapa saat, hanya aku dan sedikit turis yang mau bertahan. Sebagian besar diantaranya telah angkat kaki.

Beberapa lama kemudian rinai berganti hujan, ketika aku tertegun pada fotografer profesional yang terus membidik menara tertinggi kesebelas sejagat itu menggunakan kamera berlensa panjang dengan plastic protector. Kini hujan memaksaku segera beranjak, pelataran menara kembar menyisakan lengang.

Memasuki kembali Suria KLCC melalui pintu berbeda, aku berniat menuju lantai empat, mencari keberadaan Petrosains, si peraga teknologi industi perminyakan Malaysia. Tak sulit menemukannya, begitu tiba di lantai empat, logo Petrosains menyambut dan mengarahkanku ke ruang utama. Hanya saja sore itu sudah hampir pukul enam, Petrosains telah tutup sejak dua jam lalu. Aku hanya memandangi seisi Petrosains dari bagian luar dinding kaca, kemudian bergegas pergi meninggalkannya untuk kembali menuju hotel.

Pintu utama Suria KLCC.
Jam operasional dan harga tiket masuk Petrosains.

Dari Stasiun KLCC, aku menumpang kembali LRT Laluan Kelana Jaya menuju Stasiun Pasar Seni. Dari sana, aku berniat mengakhiri petualangan hari pertama di Kuala Lumpur dengan menikmati makan malam. Aku menemukan kedai kecil penjaja makanan India di pinggiran Jalan Tun H S Lee.

Kerja di sini?, sapa si empunya kedai sembari menyiapkan makanan

Tidak, Pak. Saya hanya melawat”,

Dari mana kamu datang?

Indonesia

“Oh , Indonesia….Jakarta, Surabaya, Bandung?”, sambil tersenyum menyebutkan nama-nama kota itu.

Jakarta, Pak

“Ok, sudah siap. Sila makan”, dia mulai menyodorkan seporsi Biryani dengan ayam dan dua butir telur rebus.

Mari makan!

Buseettt, seginikah porsi makan orang India”, aku membatin. Kiranya aku memakai jurus lain, aku membungkus sebagian dari menu itu untuk makan malam sesi dua nanti malam….Gile emang.

Seporsi Biryani menjadi penutup yang sempurna malam itu.

Kisah Selanjutnya—->

Agosto Inn: Mencari Penginapan Dadakan

<—-Kisah Sebelumnya

Sebentar lagi pukul dua siang, kondisi awan semakin tebal di atas sana, aku pun telah merangsek turun dari kuil utama Batu Caves, menuruni 272 anak tangga dan kemudian bergegas menuju Stasiun Batu Caves.

Sesampai di stasiun aku langsung membeli tiket Kereta Komuter KTM Laluan Seremban seharga 2 Ringgit (Rp. 6.800) demi menuju KL Sentral. Sepanjang perjalanan pulang-pergi, aku tak tahu kenapa jalur ini selalu sunyi. Gerbong kereta yang masih tampak bersih dan baru, stasiun-stasiun yang dilewati pun masih terlihat bagus.  

Menempuh jalur kereta sejauh 16 kilometer, aku tiba di Lantai 1 KL Sentral’s Transit Concourse hanya dalam waktu setengah jam. Aku segera menaiki escalator menuju KL Sentral’s Main Concourse untuk berburu token menuju Stasiun Pasar Seni, kali ini aku harus menaiki LRT Laluan Kelana Jaya. Perlu mengeluarkan ongkos sebesar 1,3 Ringgit (Rp. 4.500) untuk mendapatkan akses menaiki LRT itu. Inilah pertama kalinya bagiku menggunakan ticket vending machine di Negeri Jiran itu. Tetapi kali ini tak butuh banyak waktu untuk memahaminya.

Geblek….Sandal….

Mendapatkan tiket berwujud token berwarna biru, aku segera melewati automatic fare collection gate menuju lantai dua untuk menaiki LRT Kelana Jaya. Hanya perlu menunggu tiga menit hingga kereta itu tiba lalu aku segera melompat ke dalam gerbongnya.

Tak berjeda satu stasiun pun untuk menuju Stasiun Pasar Seni. Aku tiba dalam sepuluh menit sejak memasuki LRT empat gerbong itu. Stasiun Pasar Seni yang berwujud stasiun layang itu menampilkan pemandangan kawasan Central Market beserta  aliran Sungai Kelang yang mengalir deras karena hujan. Rupanya sungai-sungai di Kuala Lumpur juga belum sepenuhnya lepas dari masalah sampah, terlihat beberapa sampah hanyut dibawa arus sungai itu.

Hujan lebat membuatku harus berdiam beberapa saat di platform Stasiun Pasar Seni. Tak ada pilihan karena aku tak memiliki payung ataupun jas hujan. Aku baru tiba di Kuala Lumpur pagi tadi sebelum memutuskan mengeksplorasi Batu Caves terlebih dahulu sebelum memasuki pusat kota. Kini aku memiliki satu tujuan ketika memasuki daerah Pasar Seni….Yups, mencari penginapan.

Kala itu aku masihlah backpacker amatiran yang tak berhasil menyiapkan satu penginapan sebelum berangkat. Beruntung aku tak ditanya perihal hotel oleh petugas imigrasi, mengingat inilah pertama kalinya aku mengunjungi Kuala Lumpur. Tadi pagi, petugas imigrasi KLIA2 hanya menanyakan tiket kepulangan yang tentu sudah kusiapkan jauh hari.

Menunggu beberapa saat, hujan tak kundung reda, masih menyisakan gerimis lembut. Kiranya aku tak boleh kehilangan banyak waktu hanya untuk menunggu hujan reda. Kupaksakan diri menembus gerimis, menyusuri Jalan Sultan, melewati lokasi proyek pembuatan jalur MRT di sisi kanan dan berbelok ke kiri untuk menyisir Jalan Tun HS Lee untuk mencari penginapan. Setelah beberapa waktu mencari, aku tertarik pada logo Trip Advisor yang terpajang di sebuah pintu kaca penginapan kecil. Agosto Inn namanya. Maka, aku tak ragu memasukinya.

Halo, Pak. Apakah Anda masih memiliki satu kamar untuk dua malam?”, aku bertanya dalam Bahasa Indonesia yang seharusnya dia faham.

Can you speak English, Please?”, resepsionis sekaligus pemilik penginapan itu ternyata tak bisa berbahasa Melayu.

Oh, sorry. Do you still have a room for two nights?”, aku menjelaskan pertanyaan yang sama.

Oh, of course. But I don’t have a bed in the dorm. Would you like to use a single room?”.

Can I see the room?”.

Oh, sure….Follow me, Sir!”, dia beranjak dari meja resepsionis dan memimpin langkah menuju lantai atas.

Aku mengikutinya menuju ke ujung koridor untuk melihat kamar terakhir yang dimaksud. Kemudian bersambung menunjukkan kamar mandi bersama di ujung yang berlawanan.

Hallo, Sir”, seorang staff yang sedang membersihkan kamar mandi bersama menyapaku. Nanti aku akan mengenalnya sebagai sosok asal Bangladesh yang ramah.

Hi…”, aku membalas senyumnya.

Aku tak akan berfikir panjang dan memutuskan mengambil kamar itu. Hari sudah sore, tak ada waktu lagi untuk mencari penginapan. Aku harus segera menuju KLCC untuk mengunjungi menara kembar kenamaan Negeri Jiran.

Yes, Sir….I’ll take your last room….How much?”, aku mengambil keputusan.

Sixty Ringgit, Sir (Rp. 208.000) for two nights….Come on follow me, I’ll give you the room key”.

Kamar single milik Agosto Inn.

Transaksi itu selesai di meja resepsionis. Aku bernafas lega, karena telah menemukan penginapan untuk dua malam ke depan.

Saatnya berburu destinasi.

Thai Airways TG 319 from Bangkok (BKK) to Kathmandu (KTM): White Blanket of Himalaya

<—-Previous Story

Thai Airways TG 0319 flight route: Bangkok-Kathmandu.

After Fajr, I rushed to find flight information board to make sure my connecting flight would be on time or maybe it would be delayed. I found it in main transit hall corridor.

My flights was on schedule….Nice.
The boarding pass which I’ve held since leaving Soekarno Hatta International Airport.

As a follower of eating on time, by 06:00 hours, I was busy to looking for halal food. Now only halal which would be the my requirement….Because I couldn’t choose a menu with street food price, of course. Exploring 3rd floor of Suvarnabhumi, I finally stopped at Silom Village.

Couldn’t find a “Halal” logo….Finally, I stopped at a “Non-Pork” restaurant.
My menu: fried rice chicken served with salted egg for THB 220 (USD 7.34)

I closed breakfast that morning by sipping a cup of warm tea which was able to expel the wind in my body after a night of cold sleep in the main corridor of transit hall and continued at prayer room.

Then I headed to gate C10 to wait for Thai Airways TG 319. This time I only needed to step one more floor via escalator to reach the gate.

Corrido into gate.
Those were gates at Suvarnabhumi International Airport.

While waiting for boarding time, it was better to charge my smartphone as the only documentation tool which I carried….As usual, I was the amateur backpacker. I also tried to reread an itinerary which I was ready to use for my exploration in Kathmandu and Pokhara.

Interesting spot in departure hall area.

My boredom in seeing planes in Suvarnabhumi International Airport runway was broken by presence of Thai Airways, BOEING 777-200 type. Paid close attention to loading process so that I didn’t feel boarding time arrived on time.

Thai Airways TG 319 was preparing to immediately fly for 3 hours 33 minutes.

Entering aircraft cabin and in a blink my eyes became fresh. Apart from the beauty of flight attendants, also because airplane seats have colorful seat covers. Plane cabin looked like colorful candy.

TG 0319 cabin.

I sat at right side of cabin and flanked by two young girls. On the right, a Chinese girl who I didn’t know what her name was and a Japanese girl on the left whose her surnamed was Kawaguchi….Very beautiful with her ponytail.

I sat down while feeling a little sorry for being unable to quickly choose an airplane seat after online ordering ticket. This caused my opportunity loss to sit in a ideal position for photographers, i.e window seat. Because this flight would be very close to some of peaks of Himalayas which would show off their snow blankets.

When that moment happened, almost half of passengers stood up and faced to right window. It was the position where I sit. I couldn’t take pictures very well and prefered to still sit and recorded brief flight sessions right over Himalayas in my brain memory. It was still beautiful memorized, until this article was published….Amazing flight.

Started to filling out an immigration form which was given by a cabin crew.

The landing process was equally attractive. The view presented residential building of Kathmandu residents which were dominated by brownish square shape. Now I was ready to set foot in Tribhuvan International Airport which had become a gateway to Nepal for the last few decades.

Aviation security: “Hi, Sir. Please, directly stepping to airport building!”, He said, forbidding me to take a selfie image under Thai Airways.

Me: “OK, Sir….I’m sorry“, I answered with a little annoyed….Hmmh.

The arrival hall which wasn’t too luxurious and was only equipped with an old screening gate, made me smile because I felt like on Indonesia’s 80s era.

Then I submitted a Visa on Arrival application at visa issuing machine and then paid for USD 25 at a counter which was guarded by elderly female staff, I finally entered Nepal.

Let’s following my adventure in Nepal!

Are you looking for a flight ticket from Bangkok to Kathmandu? You can buy it through 12go Asia. This is the link:  https://12go.asia/?z=3283832

Next Story—->

12 Hours Staying at Suvarnabhumi International Airport

<—-Previous Story

Through aerogbridge, I immediately headed to transit hall to waiting for next Thai Airways connecting flight. The time was 23:15 hours. I tried to find an information center location to ask about the most comfortable place to rest at Suvarnabhumi International Airport.


Me: “Hi, Ms. Where is a better place for rest and getting food ?, Transit hall or departure hall?

Staff: “I think you will be better staying in transit hall. Departure hall is very crowded than you think. There is food court in transit hall, so don’t worry ”.


Me: “Oh, okay Ms. Thank you”.

Finally, her suggestion led me to immediately enter the transit hall. Smoothly passing a ticket and passport checking counter, then I quickly ended it through a x-ray screening.

Entering transit hall.

I would spend a night for 12 hours until Thai Airways flight TG 0319 went to Kathmandu. Arriving at transit hall, I immediately looked for the best spot to closing my eyes. The situation was still busy, it wasn’t possible for me to find a row of empty chairs to stretch out my legs.

Finally, it took about 1.5 hours to explore the entire transit hall.

Midnight began to pass, slowly the airport began to lose its visitors. The long row of blue benches seemed to be empty. Some cleaning services were seen starting to wipe that benches with perfume and sterilizer. They seemed to know my signs to immediately use that benches which looked like a springbeds in my eyes.

Finally I found an empty seat.

Really soundly asleep with backpack as pillow until dawn. Slowly, sound of passengers in their morning flight started to interrupt my “Nepal dream”. I woke up but still feeling sleepy, I decided to look for a prayer room and hoped to continue my dream.

Electric Information Board.
The prayer room was empty and tempting.

Fajr time in Bangkok was on 05:20 hours. While waiting for it to arrived, I swiftly took a sleeping spot at the back end of mosque. But this time, I had to curl up due to the coldness of room due to prayer room’s large AC.


A few hours later, congregation’s footsteps began to often be heard entering the room. Fajr time was approaching. It couldn’t sleeping anymore, get ready to do Fajr in congregation.

I was happy to be able to pray with Suvarnabhumi’s moslem workers in Bangkok. I mingled with security, immigration staffs until airport polices. After praying, I had a little conversation with one of immigration staff. A thing that I caught was that Bangkok’s moslems account for about 10% of total population of the capital. That percentage was ranges from 800-900 thousand people.


As dawn has passed, it was time to clean myself in toilet then got some snacks for breakfast before TG 0319 taked off on 10:30 hours to the capital of Nepal.

Let’s had breakfast…!

Next Story—->

Thai Airways TG 436 from Jakarta (CGK) to Bangkok (BKK)

Thai Airways TG 436 flight route.

Finally, I repeated my journey to “White Elephant” Country after my last exploration in 2013. For four years, I waited for that opportunity. If in 2013, I flew with Air Asia to Don Mueang International Airport so this time I was very lucky because I was able to catch a cheap promo which was issued by Thai Airways in April 2017.


Waiting for 8 months before actually flying was something that was very unpleasant. Not because of Bangkok, but only because of my desire to taste premium wide-body aircraft. A year before, I had boarded in same type of plane belonging to Air Asia when I returned from Incheon.


—- **** —-

After Friday, I perfected my packing for 11 days trip which would certainly make you were curious. At exactly 15:00 hours, I hurriedly carried my backpack on “angkot” (a small public trasportation in Jakarta) which went to Kampung Rambutan Terminal. That angkot which took so long to arrive, punished me by taking a DAMRI bus in next- a departure schedule.


On 16:00 hours, DAMRI launched but not long after, toll road became stuck. DAMRI didn’t moved in a long time. There have been road repairing in a tunnel combined with an incident which a truck rolled over 400 meters in front. Even though, my flight was scheduled for 19:05 hours. That means, I have to be ready at 17:55 hours before actually boarding….Too tight time.
Luckily, a Highway Patrol sirens began to sound in its way heading forward. Significantly, 15 minutes later DAMRI smoothly drove to Terminal 2-Soekarno Hatta International Airport.

Thai Airways finally became the 18th airline which I rode.
Started to boarding.

Luckily, Soekarno Hatta International Airport was very quiet and only needed 5 minutes for check-in process, and then I got a purple and white boarding pass. I passed all x-ray checkpoints very quickly as only a 45 litre backpack which needed to be screened.


I entered tAirbus A330-300 via its right-side cabin lane to find a seat numbered 52K. This time, it would be very relieved that I sat alone in three column seat. I was a plebeian….Just this time, I got on a plane with an LCD screen in front of my eyes….I pushed all button as I liked.

Jakarta-Bangkok is 3,000 km away and can be approached in 3 hours and 35 minutes with an average speed of 475 knots (880 km/hour). You can imagine how fast it is.

The moslem meal was served after giving a brown rice cracker and apple juice.

During flight, beautiful Thai-faced flight attendants were indeed captivating as far as my eye could see. Unfortunately, I was just a backpacker….If I was a top class businessman….. I would definitely propose to her….Hihihi.

Landing in the first time at Suvarnabhumi International Airport.

Arrival at 22:35 hours left me with no other option. It was impossible to leave the airport and heading for the city. If there was time, I might as well be reluctant. Because Bangkok wasn’t my destination….But, NEPAL.


Yess… .Nepal would be the 11th country which I visited.

Do you want to know about my next story to “The Land of a Thousand Temples”?
Just follow my story when I explored it.

Search for flights from Jakarta to Bangkok via 12go Asia. This is the link:  https://12go.asia/?z=3283832

Next Story—->

Kehilangan Dompet di Stasiun Nakano

<—-Kisah Sebelumnya

Beberapa Meshiya di sekitaran Yadoya Guesthouse….Sisa berburu dinner semalam.

Kasur di bunk bed milik Yadoya Guesthouse pun serasa balok es, bahkan ketika dini hari sudah undur diri. Pagi itu aku sengaja melambatkan bangun, aku mirip seorang pengecut yang bersembunyi di balik tebalnya selimut dormitory. Aku membalaskan dendam mata, setelah hampir empat puluh jam tak begitu sempurna terpejam. Terakhir terlelap adalah malam kemarin lusa, di Taiwan tepatnya.

Pukul sepuluh pagi aku baru benar-benar bangun, akibat suara bisik-bisik dua sejoli di balik selimut pada sebuah bunk bed yang berhasil membuatku risih.  Begitu mesranya mereka tidur berpelukan tak mempedulikan sekitar. Untung aku punya guling dari semalam….Wadidaw. Kuputuskan menyiram tubuh di bawah shower. Kali ini aku berhasil menemukan tombol pemanasnya sehingga tak perlu mandi air es lagi seperti semalam.

Setelahnya, kukemas dengan rapi semua barang ke dalam backpack 45L dan aku bersiap check-out. Sore nanti aku akan terbang ke Osaka bersama Peach Aviation. Sementara sisa waktu, akan kuhabiskan mengunjungi sebuah kuil di tengah kota.

Aku turun di lobby dan menuang air putih hangat dari dispenser. Rupanya Janessa sudah bersiap dari tadi pagi.

Good morning, Donny. How were  your days in Tokyo?

I’m frozen in this town, Janessa. But all are well”.

Are you going to Osaka tonight?. You visited Tokyo very quickly

My holidays aren’t much, Janessa

I hope you will enjoy Osaka, Donny

Thanks Janessa. Nice to meet you”.

Aku berpamitan pada Janessa dan balik badan meninggalkan Yadoya Guesthouse. Langkahku otomatis tertuju ke sebuah FamilyMart di utara dormitory. Aku harus sarapan dahulu sebelum menuju kuil.

Sampai jumpa lagi Yadoya Guesthouse.
Masih saja mampu menelan onigiri. Sarapan seharga 298 Yen (Rp. 40.000).
Pelataran utara Stasiun Nakano.

Kubawa onigiri itu disebuah bangku melingkar di dekat gerbang utara Stasiun Nakano. Tak sendiri, banyak warga lokal yang sarapan bersamaku di bangku itu. Beberapa pemuda berdiri di pelataran menikmati kopi panas. Aku terduduk di bawah hangatnya siraman matahari pagi dan ditemani sekumpulan merpati yang sibuk bersarapan juga.

Sarapan usai, saatnya berangkat…..

Hari ini aku tak akan membeli Tokunai Pass lagi karena aku hanya akan menghabiskan waktu di Meiji Jingū saja. Setelahnya, aku akan menuju ke Narita International Airport.

Aku sedikit kerepotan mengantri di Ticketing Vending Machine, dengan backpack di punggung, selembar peta dan sebuah kompas di tangan kiri, gloves kuapit di ketiak, lalu kukeluarkan dompet dengan tangan kanan. Sambil terus merangsek maju ke antrian depan.

Hingga giliranku memencet berbagai tombol di Ticketing Vending Machine. Tak begitu sulit, karena aku telah menaklukkan kerumitan mesin itu kemarin siang di Stasiun Tokyo. Aku menukar 170 Yen (Rp. 23.000) untuk sekali jalan menuju Stasiun Harajuku yang terletak di Distrik Shibuya.

Begitu mendapatkan tiket, aku mundur dari antrian dan berbenah, memasukkan peta dan kompas pada tempatnya, memakai kembali gloves lalu pergi menuju platform. Aku terus merangsek memasuki automatic fare collection gates dan mengikuti petunjuk menuju kereta Chūō Line menuju Stasiun Harajuku.

Begitu selesai menaiki anak tangga teratas….

Helloooo….Hellooooo”….

Aku menoleh ke belakang. Seorang lelaki paruh baya berumur 50-an melambaikan tangan dan memintaku menunggunya. Begitu sampai diatas….

This…..”, beliau tersenyum menyerahkan sebuah dompet kepadaku.

Astaga, kenapa dompet itu bisa jatuh.

Arigatou Gozaimasu….”, kuucapkan berkali kali sambil membungkukkan separuh badan kepadanya. Dan lelaki baik itu tersenyum.

Ohayōgozaimasu….Itterasshai“, beliau membungkuk lalu beranjak pergi kembali menuruni anak tangga.

Kulihat isi dompet sejenak setelah beliau pergi, tak ada satupun yang berkurang. Oh, Tuhan….Engkau terus saja mengirimkan orang baik kepadaku.

Tak bisa kubayangkan jika dompet itu benar-benar raib. Aku pasti akan berjalan kaki menuju Kedutaan dan meminta dipulangkan ke tanah air.

Terimakasih untuk Bapak paruh baya yang baik hati dan Terimakasih Tuhan, petualanganku masih terus berlanjut.

Kisah Selanjutnya—->

Bus Umum dari Stasiun LRT EDSA ke NAIA

Jika kamu mengindahkan keberadaan taksi, maka meninggalkan Ninoy Aquino International Airport (NAIA) menuju ke pusat kota bukan perkara yang mudah. Sebaliknya, kembali ke NAIA dari pusat kota ternyata pun demikian. Akan begitu seterusnya jika airport train di NAIA tak segera dibangun.

Aku bertanya kepada pemuda si sebuah gerai 7-Eleven, tak ada bus dan Jeepney menuju NAIA, “Will be better if you use taxi to airport, Sir”, begitu solusi singkat darinya. Begitupun para timer bus, “No…No…No”, jawabnya singkat tanpa melihat mukaku sama sekali, mungkin mereka tak mengerti bahasa Inggris atau aku yang tak tahu diri karena tak faham Tagalog.

Kulihat dua opsir polisi berseragam biru, sedang mengatur lalu lintas di sebuah kolong jalur LRT, tak jauh dari Stasiun LRT EDSA. Aku tergopoh menyeberangi Epifano de los Santos Avenue untuk menghadap ke mereka berdua.

Can you help me, Sir?. I want go to airport. Which bus should I take?”, pertanyaan kulempar sesopan mungkin, aku tak mau membuat masalah di ujung perjalanan balik rumah.

Use that bus, it will stop at that pole”, dia menunjuk sebuah bus yang sedetik lalu melaju di depan kami bertiga. Kemudian menunjuk sebuah tiang di dekat 7-Eleven tempatku bersantap siang tadi.

Thank you, Sir”, ucapku girang karena baru saja menemukan cara pulang.

15 menit kemudian, bus datang dan tanpa ragu aku menaikinya setelah sang kondektur mengkonfirmasi bahwa dia bisa menurunkanku di Terminal 1 NAIA. Suatu kebetulan yang membuatku bahagia, karena aku harus mengambil backpack terlebih dahulu di Terminal 1 sebelum berangkat ke Jakarta dari Terminal 2.

Menaikinya dari pintu depan dan keluar dari pintu tengah.

Membayar ongkos Rp. 9.000 aku menuju NAIA melalui jalanan Manila. Janganlah dibayangkan seperti apa berkendara di Manila. Sudahlah, mirip saja Jakarta. Manila sang penyandang kota termacet di Asia telah membuat bus yang kunaiki saling berimpit merangsek di sepanjang jalan menuju bandara.  “Beruntungnya diriku, tak jadi berkukuh diri menuju Manila Baywalk. Tak terbayang, bisa-bisa aku tiba saat gelap di NAIA”, batinku lega.

Merayap di jalur lurus, merapat memenuhi badan jalan, tertahan di setiap persimpangan, terhenti di setiap lampu merah membuat sore itu begitu membosankan sekaligus mengasyikkan. Bosan karena terbiasa dengan hal seperti itu di Jakarta, Asyik karena apa yang sedang kualami terjadi di negeri orang.

Nempel terusss…..
Honda Click, Yamaha Aerox, Suzuki Raider….Beberapa brand sepeda motor di jalanan Manila.

Bus serba merah yang kunaiki kemudian menukar kejenuhan yang kualami sepanjang jalan dengan memarkirkan diri di sebuah terminal bus raksasa. Bertajuk PITX, berperan sebagai transportation hub untuk setiap bus, jeepney dan transportasi publik apapun yang akan menuju ke selatan Manila. Bangunan pengintegrasi transportasi ini terlihat gagah dan masih tampak baru. Maklum, baru berusia operasional dua tahun.

Paranaque Integrated Terminal Exchange (PITX).
Merapat ke NAIA….Hampir sampai.

Jam hampir menunjuk bilangan lima belas, aku tiba di Terminal 1 NAIA, kondektur menurunkanku tepat di sebuah halte kecil tempatku beranjak meninggalkan NAIA pagi tadi. Mukaku tak bisa menyembunyikan rasa senang karena Jakarta seolah sudah di pelupuk mata. Dua puluh satu hari bukan waktu yang pendek untuk meninggalkan rumah menuju tempat-tempat asing yang terpisahkan samudera.

Kita ambil backpack dan pulaaaaanggggg.

Berburu Souvenir di Metro Point, Manila

Aku masih menikmati nostalgia dengan menikmati seporsi Busog Meal Tuna Omelette di salah satu gerai 7-Eleven di sisi Epifanio de los Santos Avenue, nasi kemasan yang menjadi makanan sehari-hariku saat menjelah Manila empat tahun silam. Murah, hanya Rp. 9.000 sudah bisa menikmati makan siang di tengah hiruk pikuk Manila.

Sewaktu kemudian, aku mulai menaiki jembatan penyeberangan terdekat. Arus manusia begitu cepat melewati jembatan penyeberangan itu, sebagian besarnya tak luput memperhatikanku yang lebih memilih diam di pertengahan jembatan dan memandangi kemacetan dari salah satu pagarnya.

Siang itu aku membatalkan diri mengunjungi Manila Baywalk, aku tak berani mengambil resiko terjebak kemacetan dan tertinggal pesawat untuk kembali ke Jakarta. Sejam ke depan aku hanya akan berkutat di sekitaran Stasiun LTR EDSA saja dan segera kembali ke NAIA.

Perjalanan empat tahun lalu tak berbuah souvenir, kala itu Manila menjadi pijakan pertama sebelum menuju ke Hong Kong, Macau dan Shenzen. Dimana-mana, orang akan mencari souvenir di bagian akhir. Kali ini Manila adalah bagian akhir dari petualangan, maka kuputuskan untuk mencarinya.

Busog Meal Tuna Omelette kesayangan.
Jembatan penyeberangan menuju Stasiun LRT EDSA.
Menikmati kemacetan di Manila.
Penampakan Metro Point dari jembatan penyeberangan.

Kini pandanganku tertuju pada sebuah pusat perbelanjaan yang tepat bersebelahan dan terkoneksi langsung dengan Stasiun LRT EDSA. Aku sedikit berhenti mengamati stasiun itu, teringat ketika aku di geledah sebelum memasuki stasiun itu empat tahun silam karena aku terlalu asyik memotret setiap sisinya sehingga menimbulkan kecurigaan para security . Manila memang sedikit ketat dalam hal keamanan di setiap akses penting publiknya.

Aku hanya melewati gerbang stasiun itu dan beringsut masuk menuju melalui connector ke arah Metro Point. Pusat perbelanjaan yang tak cukup besar, tak lebih bagus dari Grha Cijantung. Yang kuingat hanya terdiri dari lima lantai. Di lantai kedua tersedia deretan toko yang lebih rapi daripada konter-konter yang berada di lantai bawah. Lantai bawah adalah lantai yang paling memungkinkan bagiku untuk mencari souvenir. Aku tak bisa mengeksplorasi lantai teratas, karena tampak terdapat gerai besar yang dijaga oleh security. Mungkin lantai ketiga digunakan untuk bisnis yang lebih privat dan menyasar kalangan tertentu.

Praktis aku hanya berkeliling di lantai bawah dan mencari beberapa souvenir, fridge magnet dan gantungan kunci yang akan kubagikan untuk teman-temanku di Jakarta.

Suasana pertokan di Metro Point.
Time Zone.
Bagian ujung lantai tampak sepi.

Tak membutuhkan waktu lama untuk menghabiskan setiap sisi lantai dasar. Perdagangan di lantai dasar ini lebih mirip dengan aktivitas yang sama di Pasar Baru, Jakarta. Berisik dan padat. Setelah menemukan beberapa souvenir yang kucari akhirnya kuputuskan untuk keluar dari pusat perbelanjaan itu dan bersiap untuk menuju NAIA kembali dan terbang ke Jakarta.

Crowdednya kios di lantai dasar.
Lantai dasar.

Kufikir waktuku di Manila kali ini telah menjadi transit nostalgia walau hanya berlangsung selama tiga  jam saja di tengah kesibukan kota itu.

Transportasi Umum dari NAIA ke Pusat Kota Manila

Seperti pada kunjungan pertamaku di Manila pada 2016 silam, kali ini kunjungan transitku akan menuju tempat pertama yang sama, Stasiun LRT EDSA.

Entah kenapa, Stasiun LRT EDSA selalu menjadi tempat pertama yang kutunjuk ketika memperhatikan peta transportasi kota itu. Seakan tempat itulah yang paling mudah dicapai dari Ninoy Aquino International Airport (NAIA). Kemudian dari stasiun tersebut, aku bisa menuju kemanapun sesuka hati menjelajah Manila.

EDSA adalah singkatan dari Epifanio de los Santos Avenue, nama jalan yang melintas di bawah stasiun LRT itu. Sedangkan Epifano de los Santos adalah nama sejarawan dan jurnalis terkenal Filipina.

Baiklah…Mari menuju Stasiun LRT EDSA dan mengenalnya lebih dekat.

Di luar bangunan terminal, security berseragam putih dengan high-powered firearms (senjata api bertenaga tinggi) memanggilku. Mereka rupanya memperhatikan aku yang sedang ragu memilih arah. Seingatku untuk menunggang Jeepney ke pusat kota, aku harus berbelok ke kiri dari exit gate terminal seperti saat kunjunganku ke Manila 2016 silam. Atau mungkin dulu turun di terminal yang berbeda kali ya?.

Security      :     “Hello Sir, come here, please!”, ucapnya dengan mimik tegas dan galak.

Aku              :     “Yes Sir”, perlahan aku mendekat, daripada menimbulkan masalah yang lebih besar.

Security      :     “Show your passport to me!”, dia menatapku tajam.

Aku              :     “This”, kuserahkan dengan tegas dan berani juga.

Security      :     “Where do you going in Manila?”, jawabnya sambil menyerahkan paspotku

Aku              :     “Can you show me, Where should I stop a bus or a  jeepney to Manila Baywalk?”.

Security      :     “It will better if you go to EDSA station, then you can go to Manila Baywalk from there”, dia menujuk ke sebuah jalan di kanan bangunan terminal.

Aku              :     “Thanks Sir

Security      :     “In Manila, if you don’t know Tagalog language, It will be better if you ask to the bus driver about their destination

Aku                    :  “Oh Okay I see”.

Aku keluar dari bangunan Terminal 1 NAIA.
Di halte kecil inilah aku menunggu bus kota menuju Stasiun LRT EDSA.

Aku terus memperhatikan setiap bus kota yang lewat, aku terus mencari tulisan EDSA di setiap kaca depan bus. Lima belas menit tak kunjung menemukannya, kuberanikan diri mulai bertanya pada setiap bus yang berhenti mengambil penumpang.

Aku                 :     “EDSA Station,Sir?”.

Kondektur    :     “No No No”,

Tanya jawab yang terulang-ulang terus hingga beberapa bus kota tak mempedulikanku karena aku bukanlah penumpangnya. Hingga akhirnya, merapatlah bus berwarnna krem kombinasi biru bertuliskan papan nama tujuan Boni, Ortigas, Cubao dan terakhir EDSA yang digantung berjajar ke bawah di kaca depannya. Tampaknya itu nama-nama stasiun LRT/MRT yang dilewati oleh bus itu.

Aku                 :     “EDSA ?”

Kondektur    :     “Come in!”

Aku memasuki bus itu dan duduk di bangku tengah sisi kanan. Di dashboard atas tertulis jelas Jayross Lucky Seven, nama perusahaan otobus itu. Bus kota yang lumayan nyaman, ber-AC dan LCD TV di bagian depan. Tak lama setelah duduk, seperti bus-bus umumnya di Indonesia, kondektur itu menghampiriku dan menarik ongkos perjalanan sebesar Rp. 9.000.

Akhirnya ketemu juga bus menuju Stasiun LRT EDSA.
Duduk dan bersiap menikmati jalanan kota Manila.

Ah, aku akan melewatkan untuk naik Jeepney kali ini. “Tak apalah, aku kan naik Jeepney ke NAIA saat pulang nanti”, batin memenangkanku. Tapi entah kenapa, tiba-tiba aku beranjak dari bangku ketika kondektur itu berteriak “EDSA….EDSA….EDSA”. Aku menangkap informasi bahwa aku telah sampai dan aku harus turun, kondektur itu tentu tak hafal satu per satu tujuan penumpangnya, sehingga membiarkanku melenggang turun dari pintu depan.

Bus itu pergi meninggalkanku. Tak tampak pertanda keberadaan jalur LRT yang terhafal jelas bentuknya di memori kepalaku dari kunjungan pertamaku dulu. “Ini belum sampai”, batinku tersenyum kecut, hingga sebuah Jeepney datang mendekat. “EDSA?” teriakku pada sopirnya. “Come on!”, jawabnya singkat. Aku naik dari pintu belakang. Entah aku masih di bilangan ke berapa dari Epifanio de los Santos Avenue. Akhirnya kesampaian lagi menaiki moda transportasi terpopuler di kalangan rakyat Filipina itu. Kini aku membayar lebih murah karena memang jaraknya sudah dekat dengan tujuan, hanya Rp. 3.000. Lima menit kemudian aku tiba di Stasiun LRT EDSA.

Naik Jeepney lagi.
Interior Jeepney, mirip angkot kan?.
Tempat Jeepney berhenti dan berangkat.

Aku hanya takjub dengan kesibukan aktivitas masyarakat Manila siang itu. Mirip jalanan di sekitaran Pasar Senen, Jakarta. Lama aku berdiri di sebuah lapak terbuka penjual buah-buahan segar. Memperhatikan kemacetan, lalu lalang Jeepney yang diperebutkan masyarakat kelas menengah ke bawah serta hilir mudik LRT Line 1 di atas kepalaku.

Ah waktu transit indah dan singkat yang kumiliki dan kunikmati……

Ini dia Stasiun LRT EDSA….Gimana bentuknya? Elok atau biasakah?

Salah Tanggal di Ninoy Aquino International Airport

Melayani 47 juta penumpang setiap tahun.

Philippine Airlines bernomor terbang PR 685 mendarat dengan mulus di salah satu runway Ninoy Aquino International Airport (NAIA). Pesawat berbadan besar itu dengan gagahnya melakukan taxiing menuju apron di Terminal 1. Seharusnya pesawat ini mendarat di Terminal 2, karena sedang proses renovasi maka terminal pun dialihkan. Terminal 1 sendiri adalah mainhub dari maskapai Cebu Pacific, sedangkan mainhub Philippine Airlines berada di Terminal 2.

Ini bukan pendaratan pertamaku di Philippines karena aku telah menjajah negeri itu empat tahun silam. Kini aku kembali mendarat di NAIA, bukan untuk berkunjung tetapi hanya untuk transit saja sebelum benar-benar tiba di Jakarta. Bukan Donny namanya kalau transit hanya digunakan untuk berdiam diri di bandara….Yes, aku akan menuju pusat kota dalam rentang waktu 7 jam masa transit.

Pemberian nama Ninoy Aquino International Airport sendiri didedikasikan untul Almarhum Ninoy Aquino Jr yang terbunuh di Terminal 1 selepas pulang dari pengasingannya di Amerika Serikat pada tahun 1983.

Aroma perayaan natal masih terasa @conveyor belt.
Tourist Information Center.
Arrival Hall.

PR 685 perlahan melewati hanggar milik Lufthansa Technik Philippines, Inc. yang merupakan perusahaan jasa maintenance pesawat di bandara itu, berpapasan dengan deretan maskapai kuning “Cebu Pacific” yang merupakan Low Cost Carrier (LCC) kebanggaan Negeri Duterte, melalui Terminal 2 Domestic Departure dan akhirnya berhenti di Terminal 1.

Staff cantik Philippine Airlines membawa papan kecil bertulis “transfer” dan berdiri di tengah koridor untuk mengumpulkan para penumpang yang akan meneruskan penerbangan ke destinasi berikutnya. Mereka akan dibawa oleh Airport Shuttle Transfer Service menuju ke Terminal 2. Aku yang menyatakan hendak menuju ke pusat kota semasa transit diberikan secarik kertas yang harus diisi dan akan dilampirkan bersama tiket menuju Jakarta untuk diserahkan ke konter imigrasi.

Staff Imigrasi : “Where will you go in transit time?”.

Aku : “Manila Baywalk, Sir

Staff Imigrasi : “What for?

Aku : “Just sightseeing, Sir”.

Percakapan singkat di konter imigrasi yang meloloskanku dengan stempel imigrasi Philippines di paspor hijauku. Aku harus bertanya kepada petugas Aviation Security demi menemukan lokasi penitipan bagasi untuk menaruh backpack supaya membuat langkahku menjadi lebih ringan menuju pusat kota. Aku menyerahkan Rp. 60.000 kepada petugas Baggage Assistance Counter dan dia menaruh backpackku pada sebuah rak.

Berburu Peso di money changer.
Baggage Assistance Counter.
Rak-rak penyimpanan bagasi milik Orbit Air Systems (Perusahaan ground handling di NAIA).

Melewari exit gate, aku menuju ke sebuah konter milik PLTD Enterprise yang menawarkan free SIM Card dengan brand “Smart 5G” untuk para traveler. Paket data yang mereka tawarkan kutolak dengan halus karena aku hanya membutuhkan layanan GPS saja dari prepaid SIM Card itu.

Departure

Setelah selesai dalam jelajah singkat kota, aku diturunkan sopir bus kota di Terminal 1. Menghemat waktu, aku menuju ke tempat penitipan bagasi dan mengambil backpack. Lalu menuju ruang tunggu Airport Shuttle Transfer Service untuk berpindah ke Terminal 2, terminal dimana aku akan terbang menuju Jakarta.

Terminal 2 sendiri selesai dibangun pada tahun 1998 dan dijuluki Terminal Centennial karena penyelesaiannya bertepatan dengan peringatan seratus tahun deklarasi kemerdekaan Philippines dari penjajahan Spanyol. Terminal ini awalnya dirancang oleh Aéroports de Paris.

Di depan Terminal 2, aku diturunkan. Banyak titik lokasi tertutup oleh papan proyek, menunjukkan bahwa terminal ini sedang direnovasi. Peso tersisa yang gagal tertukar di money changer Terminal 1 dengan alasan uang yang kutukar adalah adalah pecahan kecil, akhirnya bisa kutukarkan di sebuah money changer di luar bangunan Terminal 2. Kini Peso sudah berubah menjadi Dolar Amerika.

Sedikit insiden terjadi di konter imigrasi, seorang petugas imigrasi keturunan Spanyol sedikit bingung dan bertanya kepada staf imigrasi lainnya. Ternyata tanggal yang yang terstempel di pasporku saat memasuki Manila tadi pagi adalah masih tanggal esok hari.

Arah ke Airport Shuttle Transfer Service Terminal 1.
Airport Shuttle Transfer Service @Terminal 1.
Drop off zone Terminal 2.

Staff Imigrasi     :     “When do you entering Manila? “.

Aku                        :     “Last morning, Sir”.

Staff Imigrasi     :     “Why don’t you check  the date?

Aku                        :     “What’s wrong, Sir”.

Staff Imigrasi     :     “The date in your free visa is tomorrow”.

Aku                        :     “Oh I’m sorry, I don’t aware about it

Staff Imigrasi     :     “Can you show you arrival and departure boarding pass?

Aku                        :     “These are, Sir

Staff Imigrasi     :     “Okay, It’s no problem. You can go”.

Akhirnya aku diizinkan keluar Manila dan bersiap pulang ke tanah air. Aku merasa sangat tenang, karena telah tiba tiga jam sebelum boarding time. Tapi berjam-jam duduk di ruang tunggu, aku tak segera menenukan nomor penerbanganku PR 535 di layar informasi LCD. Aku memberanikan diri memasuki Mabuhay Lounge untuk menanyakan jadwal resmi penerbanganganku kepada staf Philippine Airlines yang bertugas di lounge reception. Dia mengatakan bahwa penerbangan mengalamai delay yang belum bisa diinformasikan hingga kapan, tetapi aku ditunjukkan nomor gate dimana aku harus menunggu yaitu Gate 11.

Baru sebentar aku duduk di Gate 11, terdengarlah pengumuman bahwa penerbangan ditunda hingga pukul 23:00 dikarenakan gangguan lalu lintas penerbangan sebagai dampak meletusnya gunung Taal di daerah Tagaytay.

Check-in counter.
Departure Hall.
Laptop station.
Mabuhay Lounge.
Waiting room di depan Gate 11.

Tepat pukul 23:00, aku mulai boarding dan meninggalkan banyak kesan di Ninoy Aquino International Airport.  Terimakasih NAIA, sampai jumpa lagi.