Kehilangan Dompet di Stasiun Nakano

Beberapa Meshiya di sekitaran Yadoya Guesthouse….Sisa berburu dinner semalam.

Kasur di bunk bed milik Yadoya Guesthouse pun serasa balok es, bahkan ketika dini hari sudah undur diri. Pagi itu aku sengaja melambatkan bangun, aku mirip seorang pengecut yang bersembunyi di balik tebalnya selimut dormitory. Aku membalaskan dendam mata, setelah hampir empat puluh jam tak begitu sempurna terpejam. Terakhir terlelap adalah malam kemarin lusa, di Taiwan tepatnya.

Pukul sepuluh pagi aku baru benar-benar bangun, akibat suara bisik-bisik dua sejoli di balik selimut pada sebuah bunk bed yang berhasil membuatku risih.  Begitu mesranya mereka tidur berpelukan tak mempedulikan sekitar. Untung aku punya guling dari semalam….Wadidaw. Kuputuskan menyiram tubuh di bawah shower. Kali ini aku berhasil menemukan tombol pemanasnya sehingga tak perlu mandi air es lagi seperti semalam.

Setelahnya, kukemas dengan rapi semua barang ke dalam backpack 45L dan aku bersiap check-out. Sore nanti aku akan terbang ke Osaka bersama Peach Aviation. Sementara sisa waktu, akan kuhabiskan mengunjungi sebuah kuil di tengah kota.

Aku turun di lobby dan menuang air putih hangat dari dispenser. Rupanya Janessa sudah bersiap dari tadi pagi.

Good morning, Donny. How were  your days in Tokyo?

I’m frozen in this town, Janessa. But all are well”.

Are you going to Osaka tonight?. You visited Tokyo very quickly

My holidays aren’t much, Janessa

I hope you will enjoy Osaka, Donny

Thanks Janessa. Nice to meet you”.

Aku berpamitan pada Janessa dan balik badan meninggalkan Yadoya Guesthouse. Langkahku otomatis tertuju ke sebuah FamilyMart di utara dormitory. Aku harus sarapan dahulu sebelum menuju kuil.

Sampai jumpa lagi Yadoya Guesthouse.
Masih saja mampu menelan onigiri. Sarapan seharga 298 Yen (Rp. 40.000).
Pelataran utara Stasiun Nakano.

Kubawa onigiri itu disebuah bangku melingkar di dekat gerbang utara Stasiun Nakano. Tak sendiri, banyak warga lokal yang sarapan bersamaku di bangku itu. Beberapa pemuda berdiri di pelataran menikmati kopi panas. Aku terduduk di bawah hangatnya siraman matahari pagi dan ditemani sekumpulan merpati yang sibuk bersarapan juga.

Sarapan usai, saatnya berangkat…..

Hari ini aku tak akan membeli Tokunai Pass lagi karena aku hanya akan menghabiskan waktu di Meiji Jingū saja. Setelahnya, aku akan menuju ke Narita International Airport.

Aku sedikit kerepotan mengantri di Ticketing Vending Machine, dengan backpack di punggung, selembar peta dan sebuah kompas di tangan kiri, gloves kuapit di ketiak, lalu kukeluarkan dompet dengan tangan kanan. Sambil terus merangsek maju ke antrian depan.

Hingga giliranku memencet berbagai tombol di Ticketing Vending Machine. Tak begitu sulit, karena aku telah menaklukkan kerumitan mesin itu kemarin siang di Stasiun Tokyo. Aku menukar 170 Yen (Rp. 23.000) untuk sekali jalan menuju Stasiun Harajuku yang terletak di Distrik Shibuya.

Begitu mendapatkan tiket, aku mundur dari antrian dan berbenah, memasukkan peta dan kompas pada tempatnya, memakai kembali gloves lalu pergi menuju platform. Aku terus merangsek memasuki automatic fare collection gates dan mengikuti petunjuk menuju kereta Chūō Line menuju Stasiun Harajuku.

Begitu selesai menaiki anak tangga teratas….

Helloooo….Hellooooo”….

Aku menoleh ke belakang. Seorang lelaki paruh baya berumur 50-an melambaikan tangan dan memintaku menunggunya. Begitu sampai diatas….

This…..”, beliau tersenyum menyerahkan sebuah dompet kepadaku.

Astaga, kenapa dompet itu bisa jatuh.

Arigatou Gozaimasu….”, kuucapkan berkali kali sambil membungkukkan separuh badan kepadanya. Dan lelaki baik itu tersenyum.

Ohayōgozaimasu….Itterasshai“, beliau membungkuk lalu beranjak pergi kembali menuruni anak tangga.

Kulihat isi dompet sejenak setelah beliau pergi, tak ada satupun yang berkurang. Oh, Tuhan….Engkau terus saja mengirimkan orang baik kepadaku.

Tak bisa kubayangkan jika dompet itu benar-benar raib. Aku pasti akan berjalan kaki menuju Kedutaan dan meminta dipulangkan ke tanah air.

Terimakasih untuk Bapak paruh baya yang baik hati dan Terimakasih Tuhan, petualanganku masih terus berlanjut.

Bus Umum dari Stasiun LRT EDSA ke NAIA

Jika kamu mengindahkan keberadaan taksi, maka meninggalkan Ninoy Aquino International Airport (NAIA) menuju ke pusat kota bukan perkara yang mudah. Sebaliknya, kembali ke NAIA dari pusat kota ternyata pun demikian. Akan begitu seterusnya jika airport train di NAIA tak segera dibangun.

Aku bertanya kepada pemuda si sebuah gerai 7-Eleven, tak ada bus dan Jeepney menuju NAIA, “Will be better if you use taxi to airport, Sir”, begitu solusi singkat darinya. Begitupun para timer bus, “No…No…No”, jawabnya singkat tanpa melihat mukaku sama sekali, mungkin mereka tak mengerti bahasa Inggris atau aku yang tak tahu diri karena tak faham Tagalog.

Kulihat dua opsir polisi berseragam biru, sedang mengatur lalu lintas di sebuah kolong jalur LRT, tak jauh dari Stasiun LRT EDSA. Aku tergopoh menyeberangi Epifano de los Santos Avenue untuk menghadap ke mereka berdua.

Can you help me, Sir?. I want go to airport. Which bus should I take?”, pertanyaan kulempar sesopan mungkin, aku tak mau membuat masalah di ujung perjalanan balik rumah.

Use that bus, it will stop at that pole”, dia menunjuk sebuah bus yang sedetik lalu melaju di depan kami bertiga. Kemudian menunjuk sebuah tiang di dekat 7-Eleven tempatku bersantap siang tadi.

Thank you, Sir”, ucapku girang karena baru saja menemukan cara pulang.

15 menit kemudian, bus datang dan tanpa ragu aku menaikinya setelah sang kondektur mengkonfirmasi bahwa dia bisa menurunkanku di Terminal 1 NAIA. Suatu kebetulan yang membuatku bahagia, karena aku harus mengambil backpack terlebih dahulu di Terminal 1 sebelum berangkat ke Jakarta dari Terminal 2.

Menaikinya dari pintu depan dan keluar dari pintu tengah.

Membayar ongkos Rp. 9.000 aku menuju NAIA melalui jalanan Manila. Janganlah dibayangkan seperti apa berkendara di Manila. Sudahlah, mirip saja Jakarta. Manila sang penyandang kota termacet di Asia telah membuat bus yang kunaiki saling berimpit merangsek di sepanjang jalan menuju bandara.  “Beruntungnya diriku, tak jadi berkukuh diri menuju Manila Baywalk. Tak terbayang, bisa-bisa aku tiba saat gelap di NAIA”, batinku lega.

Merayap di jalur lurus, merapat memenuhi badan jalan, tertahan di setiap persimpangan, terhenti di setiap lampu merah membuat sore itu begitu membosankan sekaligus mengasyikkan. Bosan karena terbiasa dengan hal seperti itu di Jakarta, Asyik karena apa yang sedang kualami terjadi di negeri orang.

Nempel terusss…..
Honda Click, Yamaha Aerox, Suzuki Raider….Beberapa brand sepeda motor di jalanan Manila.

Bus serba merah yang kunaiki kemudian menukar kejenuhan yang kualami sepanjang jalan dengan memarkirkan diri di sebuah terminal bus raksasa. Bertajuk PITX, berperan sebagai transportation hub untuk setiap bus, jeepney dan transportasi publik apapun yang akan menuju ke selatan Manila. Bangunan pengintegrasi transportasi ini terlihat gagah dan masih tampak baru. Maklum, baru berusia operasional dua tahun.

Paranaque Integrated Terminal Exchange (PITX).
Merapat ke NAIA….Hampir sampai.

Jam hampir menunjuk bilangan lima belas, aku tiba di Terminal 1 NAIA, kondektur menurunkanku tepat di sebuah halte kecil tempatku beranjak meninggalkan NAIA pagi tadi. Mukaku tak bisa menyembunyikan rasa senang karena Jakarta seolah sudah di pelupuk mata. Dua puluh satu hari bukan waktu yang pendek untuk meninggalkan rumah menuju tempat-tempat asing yang terpisahkan samudera.

Kita ambil backpack dan pulaaaaanggggg.

Berburu Souvenir di Metro Point, Manila

Aku masih menikmati nostalgia dengan menikmati seporsi Busog Meal Tuna Omelette di salah satu gerai 7-Eleven di sisi Epifanio de los Santos Avenue, nasi kemasan yang menjadi makanan sehari-hariku saat menjelah Manila empat tahun silam. Murah, hanya Rp. 9.000 sudah bisa menikmati makan siang di tengah hiruk pikuk Manila.

Sewaktu kemudian, aku mulai menaiki jembatan penyeberangan terdekat. Arus manusia begitu cepat melewati jembatan penyeberangan itu, sebagian besarnya tak luput memperhatikanku yang lebih memilih diam di pertengahan jembatan dan memandangi kemacetan dari salah satu pagarnya.

Siang itu aku membatalkan diri mengunjungi Manila Baywalk, aku tak berani mengambil resiko terjebak kemacetan dan tertinggal pesawat untuk kembali ke Jakarta. Sejam ke depan aku hanya akan berkutat di sekitaran Stasiun LTR EDSA saja dan segera kembali ke NAIA.

Perjalanan empat tahun lalu tak berbuah souvenir, kala itu Manila menjadi pijakan pertama sebelum menuju ke Hong Kong, Macau dan Shenzen. Dimana-mana, orang akan mencari souvenir di bagian akhir. Kali ini Manila adalah bagian akhir dari petualangan, maka kuputuskan untuk mencarinya.

Busog Meal Tuna Omelette kesayangan.
Jembatan penyeberangan menuju Stasiun LRT EDSA.
Menikmati kemacetan di Manila.
Penampakan Metro Point dari jembatan penyeberangan.

Kini pandanganku tertuju pada sebuah pusat perbelanjaan yang tepat bersebelahan dan terkoneksi langsung dengan Stasiun LRT EDSA. Aku sedikit berhenti mengamati stasiun itu, teringat ketika aku di geledah sebelum memasuki stasiun itu empat tahun silam karena aku terlalu asyik memotret setiap sisinya sehingga menimbulkan kecurigaan para security . Manila memang sedikit ketat dalam hal keamanan di setiap akses penting publiknya.

Aku hanya melewati gerbang stasiun itu dan beringsut masuk menuju melalui connector ke arah Metro Point. Pusat perbelanjaan yang tak cukup besar, tak lebih bagus dari Grha Cijantung. Yang kuingat hanya terdiri dari lima lantai. Di lantai kedua tersedia deretan toko yang lebih rapi daripada konter-konter yang berada di lantai bawah. Lantai bawah adalah lantai yang paling memungkinkan bagiku untuk mencari souvenir. Aku tak bisa mengeksplorasi lantai teratas, karena tampak terdapat gerai besar yang dijaga oleh security. Mungkin lantai ketiga digunakan untuk bisnis yang lebih privat dan menyasar kalangan tertentu.

Praktis aku hanya berkeliling di lantai bawah dan mencari beberapa souvenir, fridge magnet dan gantungan kunci yang akan kubagikan untuk teman-temanku di Jakarta.

Suasana pertokan di Metro Point.
Time Zone.
Bagian ujung lantai tampak sepi.

Tak membutuhkan waktu lama untuk menghabiskan setiap sisi lantai dasar. Perdagangan di lantai dasar ini lebih mirip dengan aktivitas yang sama di Pasar Baru, Jakarta. Berisik dan padat. Setelah menemukan beberapa souvenir yang kucari akhirnya kuputuskan untuk keluar dari pusat perbelanjaan itu dan bersiap untuk menuju NAIA kembali dan terbang ke Jakarta.

Crowdednya kios di lantai dasar.
Lantai dasar.

Kufikir waktuku di Manila kali ini telah menjadi transit nostalgia walau hanya berlangsung selama tiga  jam saja di tengah kesibukan kota itu.

Transportasi Umum dari NAIA ke Pusat Kota Manila

Seperti pada kunjungan pertamaku di Manila pada 2016 silam, kali ini kunjungan transitku akan menuju tempat pertama yang sama, Stasiun LRT EDSA.

Entah kenapa, Stasiun LRT EDSA selalu menjadi tempat pertama yang kutunjuk ketika memperhatikan peta transportasi kota itu. Seakan tempat itulah yang paling mudah dicapai dari Ninoy Aquino International Airport (NAIA). Kemudian dari stasiun tersebut, aku bisa menuju kemanapun sesuka hati menjelajah Manila.

EDSA adalah singkatan dari Epifanio de los Santos Avenue, nama jalan yang melintas di bawah stasiun LRT itu. Sedangkan Epifano de los Santos adalah nama sejarawan dan jurnalis terkenal Filipina.

Baiklah…Mari menuju Stasiun LRT EDSA dan mengenalnya lebih dekat.

Di luar bangunan terminal, security berseragam putih dengan high-powered firearms (senjata api bertenaga tinggi) memanggilku. Mereka rupanya memperhatikan aku yang sedang ragu memilih arah. Seingatku untuk menunggang Jeepney ke pusat kota, aku harus berbelok ke kiri dari exit gate terminal seperti saat kunjunganku ke Manila 2016 silam. Atau mungkin dulu turun di terminal yang berbeda kali ya?.

Security      :     “Hello Sir, come here, please!”, ucapnya dengan mimik tegas dan galak.

Aku              :     “Yes Sir”, perlahan aku mendekat, daripada menimbulkan masalah yang lebih besar.

Security      :     “Show your passport to me!”, dia menatapku tajam.

Aku              :     “This”, kuserahkan dengan tegas dan berani juga.

Security      :     “Where do you going in Manila?”, jawabnya sambil menyerahkan paspotku

Aku              :     “Can you show me, Where should I stop a bus or a  jeepney to Manila Baywalk?”.

Security      :     “It will better if you go to EDSA station, then you can go to Manila Baywalk from there”, dia menujuk ke sebuah jalan di kanan bangunan terminal.

Aku              :     “Thanks Sir

Security      :     “In Manila, if you don’t know Tagalog language, It will be better if you ask to the bus driver about their destination

Aku                    :  “Oh Okay I see”.

Aku keluar dari bangunan Terminal 1 NAIA.
Di halte kecil inilah aku menunggu bus kota menuju Stasiun LRT EDSA.

Aku terus memperhatikan setiap bus kota yang lewat, aku terus mencari tulisan EDSA di setiap kaca depan bus. Lima belas menit tak kunjung menemukannya, kuberanikan diri mulai bertanya pada setiap bus yang berhenti mengambil penumpang.

Aku                 :     “EDSA Station,Sir?”.

Kondektur    :     “No No No”,

Tanya jawab yang terulang-ulang terus hingga beberapa bus kota tak mempedulikanku karena aku bukanlah penumpangnya. Hingga akhirnya, merapatlah bus berwarnna krem kombinasi biru bertuliskan papan nama tujuan Boni, Ortigas, Cubao dan terakhir EDSA yang digantung berjajar ke bawah di kaca depannya. Tampaknya itu nama-nama stasiun LRT/MRT yang dilewati oleh bus itu.

Aku                 :     “EDSA ?”

Kondektur    :     “Come in!”

Aku memasuki bus itu dan duduk di bangku tengah sisi kanan. Di dashboard atas tertulis jelas Jayross Lucky Seven, nama perusahaan otobus itu. Bus kota yang lumayan nyaman, ber-AC dan LCD TV di bagian depan. Tak lama setelah duduk, seperti bus-bus umumnya di Indonesia, kondektur itu menghampiriku dan menarik ongkos perjalanan sebesar Rp. 9.000.

Akhirnya ketemu juga bus menuju Stasiun LRT EDSA.
Duduk dan bersiap menikmati jalanan kota Manila.

Ah, aku akan melewatkan untuk naik Jeepney kali ini. “Tak apalah, aku kan naik Jeepney ke NAIA saat pulang nanti”, batin memenangkanku. Tapi entah kenapa, tiba-tiba aku beranjak dari bangku ketika kondektur itu berteriak “EDSA….EDSA….EDSA”. Aku menangkap informasi bahwa aku telah sampai dan aku harus turun, kondektur itu tentu tak hafal satu per satu tujuan penumpangnya, sehingga membiarkanku melenggang turun dari pintu depan.

Bus itu pergi meninggalkanku. Tak tampak pertanda keberadaan jalur LRT yang terhafal jelas bentuknya di memori kepalaku dari kunjungan pertamaku dulu. “Ini belum sampai”, batinku tersenyum kecut, hingga sebuah Jeepney datang mendekat. “EDSA?” teriakku pada sopirnya. “Come on!”, jawabnya singkat. Aku naik dari pintu belakang. Entah aku masih di bilangan ke berapa dari Epifanio de los Santos Avenue. Akhirnya kesampaian lagi menaiki moda transportasi terpopuler di kalangan rakyat Filipina itu. Kini aku membayar lebih murah karena memang jaraknya sudah dekat dengan tujuan, hanya Rp. 3.000. Lima menit kemudian aku tiba di Stasiun LRT EDSA.

Naik Jeepney lagi.
Interior Jeepney, mirip angkot kan?.
Tempat Jeepney berhenti dan berangkat.

Aku hanya takjub dengan kesibukan aktivitas masyarakat Manila siang itu. Mirip jalanan di sekitaran Pasar Senen, Jakarta. Lama aku berdiri di sebuah lapak terbuka penjual buah-buahan segar. Memperhatikan kemacetan, lalu lalang Jeepney yang diperebutkan masyarakat kelas menengah ke bawah serta hilir mudik LRT Line 1 di atas kepalaku.

Ah waktu transit indah dan singkat yang kumiliki dan kunikmati……

Ini dia Stasiun LRT EDSA….Gimana bentuknya? Elok atau biasakah?

Salah Tanggal di Ninoy Aquino International Airport

Melayani 47 juta penumpang setiap tahun.

Philippine Airlines bernomor terbang PR 685 mendarat dengan mulus di salah satu runway Ninoy Aquino International Airport (NAIA). Pesawat berbadan besar itu dengan gagahnya melakukan taxiing menuju apron di Terminal 1. Seharusnya pesawat ini mendarat di Terminal 2, karena sedang proses renovasi maka terminal pun dialihkan. Terminal 1 sendiri adalah mainhub dari maskapai Cebu Pacific, sedangkan mainhub Philippine Airlines berada di Terminal 2.

Ini bukan pendaratan pertamaku di Philippines karena aku telah menjajah negeri itu empat tahun silam. Kini aku kembali mendarat di NAIA, bukan untuk berkunjung tetapi hanya untuk transit saja sebelum benar-benar tiba di Jakarta. Bukan Donny namanya kalau transit hanya digunakan untuk berdiam diri di bandara….Yes, aku akan menuju pusat kota dalam rentang waktu 7 jam masa transit.

Pemberian nama Ninoy Aquino International Airport sendiri didedikasikan untul Almarhum Ninoy Aquino Jr yang terbunuh di Terminal 1 selepas pulang dari pengasingannya di Amerika Serikat pada tahun 1983.

Aroma perayaan natal masih terasa @conveyor belt.
Tourist Information Center.
Arrival Hall.

PR 685 perlahan melewati hanggar milik Lufthansa Technik Philippines, Inc. yang merupakan perusahaan jasa maintenance pesawat di bandara itu, berpapasan dengan deretan maskapai kuning “Cebu Pacific” yang merupakan Low Cost Carrier (LCC) kebanggaan Negeri Duterte, melalui Terminal 2 Domestic Departure dan akhirnya berhenti di Terminal 1.

Staff cantik Philippine Airlines membawa papan kecil bertulis “transfer” dan berdiri di tengah koridor untuk mengumpulkan para penumpang yang akan meneruskan penerbangan ke destinasi berikutnya. Mereka akan dibawa oleh Airport Shuttle Transfer Service menuju ke Terminal 2. Aku yang menyatakan hendak menuju ke pusat kota semasa transit diberikan secarik kertas yang harus diisi dan akan dilampirkan bersama tiket menuju Jakarta untuk diserahkan ke konter imigrasi.

Staff Imigrasi : “Where will you go in transit time?”.

Aku : “Manila Baywalk, Sir

Staff Imigrasi : “What for?

Aku : “Just sightseeing, Sir”.

Percakapan singkat di konter imigrasi yang meloloskanku dengan stempel imigrasi Philippines di paspor hijauku. Aku harus bertanya kepada petugas Aviation Security demi menemukan lokasi penitipan bagasi untuk menaruh backpack supaya membuat langkahku menjadi lebih ringan menuju pusat kota. Aku menyerahkan Rp. 60.000 kepada petugas Baggage Assistance Counter dan dia menaruh backpackku pada sebuah rak.

Berburu Peso di money changer.
Baggage Assistance Counter.
Rak-rak penyimpanan bagasi milik Orbit Air Systems (Perusahaan ground handling di NAIA).

Melewari exit gate, aku menuju ke sebuah konter milik PLTD Enterprise yang menawarkan free SIM Card dengan brand “Smart 5G” untuk para traveler. Paket data yang mereka tawarkan kutolak dengan halus karena aku hanya membutuhkan layanan GPS saja dari prepaid SIM Card itu.

Departure

Setelah selesai dalam jelajah singkat kota, aku diturunkan sopir bus kota di Terminal 1. Menghemat waktu, aku menuju ke tempat penitipan bagasi dan mengambil backpack. Lalu menuju ruang tunggu Airport Shuttle Transfer Service untuk berpindah ke Terminal 2, terminal dimana aku akan terbang menuju Jakarta.

Terminal 2 sendiri selesai dibangun pada tahun 1998 dan dijuluki Terminal Centennial karena penyelesaiannya bertepatan dengan peringatan seratus tahun deklarasi kemerdekaan Philippines dari penjajahan Spanyol. Terminal ini awalnya dirancang oleh Aéroports de Paris.

Di depan Terminal 2, aku diturunkan. Banyak titik lokasi tertutup oleh papan proyek, menunjukkan bahwa terminal ini sedang direnovasi. Peso tersisa yang gagal tertukar di money changer Terminal 1 dengan alasan uang yang kutukar adalah adalah pecahan kecil, akhirnya bisa kutukarkan di sebuah money changer di luar bangunan Terminal 2. Kini Peso sudah berubah menjadi Dolar Amerika.

Sedikit insiden terjadi di konter imigrasi, seorang petugas imigrasi keturunan Spanyol sedikit bingung dan bertanya kepada staf imigrasi lainnya. Ternyata tanggal yang yang terstempel di pasporku saat memasuki Manila tadi pagi adalah masih tanggal esok hari.

Arah ke Airport Shuttle Transfer Service Terminal 1.
Airport Shuttle Transfer Service @Terminal 1.
Drop off zone Terminal 2.

Staff Imigrasi     :     “When do you entering Manila? “.

Aku                        :     “Last morning, Sir”.

Staff Imigrasi     :     “Why don’t you check  the date?

Aku                        :     “What’s wrong, Sir”.

Staff Imigrasi     :     “The date in your free visa is tomorrow”.

Aku                        :     “Oh I’m sorry, I don’t aware about it

Staff Imigrasi     :     “Can you show you arrival and departure boarding pass?

Aku                        :     “These are, Sir

Staff Imigrasi     :     “Okay, It’s no problem. You can go”.

Akhirnya aku diizinkan keluar Manila dan bersiap pulang ke tanah air. Aku merasa sangat tenang, karena telah tiba tiga jam sebelum boarding time. Tapi berjam-jam duduk di ruang tunggu, aku tak segera menenukan nomor penerbanganku PR 535 di layar informasi LCD. Aku memberanikan diri memasuki Mabuhay Lounge untuk menanyakan jadwal resmi penerbanganganku kepada staf Philippine Airlines yang bertugas di lounge reception. Dia mengatakan bahwa penerbangan mengalamai delay yang belum bisa diinformasikan hingga kapan, tetapi aku ditunjukkan nomor gate dimana aku harus menunggu yaitu Gate 11.

Baru sebentar aku duduk di Gate 11, terdengarlah pengumuman bahwa penerbangan ditunda hingga pukul 23:00 dikarenakan gangguan lalu lintas penerbangan sebagai dampak meletusnya gunung Taal di daerah Tagaytay.

Check-in counter.
Departure Hall.
Laptop station.
Mabuhay Lounge.
Waiting room di depan Gate 11.

Tepat pukul 23:00, aku mulai boarding dan meninggalkan banyak kesan di Ninoy Aquino International Airport.  Terimakasih NAIA, sampai jumpa lagi.

Philippine Airlines PR 685 dari Doha (DOH) ke Manila (MNL)

Jalur penerbangan PR 685 (sumber: https://www.radarbox.com).

Jika ingin merasakan sensasi menunggang airline komersial pertama di Asia maka naiklah Philippine Airlines, maka secara otomatis kamu akan tertasbih telah menaiki maskapai tertua di Benua Asia. Dan Philippine Airlines menjadi maskapai ke-28 yang kunaiki sepanjang perjalananku menjadi seorang backpacker.

Dimulai dengan insiden kecil  yang cukup membuat malu. Sore itu area depan konter check-in tampak melompong, kontan setelah nomor pernerbangan PR 685 berstatus “open”, aku melenggang kangkung menelusuri liukan alur yang dibentuk oleh boarder tape.

Dan tiba-tiba terdengar suara lantang….

Hi, please queue, Sir!” tegur ground staff yang otomatis mengerem langkahku. Dia menunjuk antrian penumpang asal Philippines yang bermula dari sebuah tiang bangunan. Mereka semua menertawakanku dan menyungkurkan mukaku dalam rasa malu. Berusaha tersenyum tetapi tetap saja tak bisa menyembunyikan kecut muka, aku melewati para penumpang itu yang hampir sepanjang antrian tertawa memandangiku. Hingga akhirnya, aku sudah berdiri di antrian, jauh di belakang.

Check-in counter.
Tiket ke-11 dalam petualangan akhir tahunku.

Meninggalkan area check-in dan menyelesaikan urusan di konter imigrasi, langkahku tertahan sekejap.

Asal mana pak?“, sapaku pada dua lelaki paruh baya yang sedari tadi memegangi paspor hijau bergambar garuda. “Loh, ada orang Indonesia nih, cak“, tegas seorang darinya kepada teman sebelahnya. Aku hanya tersenyum untuk menghangatkan suasana.

Naik Qatar Airways juga ya mas?“, pertanyaan yang mungkin berharap kita bertiga bisa terbang sepesawat. “Saya mampir Manila dulu pak, naik Philippine Airlines, tujuan akhir saya Jakarta. Bapak berdua mau kemana? “, tanyaku singkat sebelum berpisah. Kedua lelaki itu tampak berbenah memasukkan setiap berkas imigrasi, paspor dan tiketnya ke dalam tas. “Kami dari Surabaya, mas“, senyumnya hangatnya membuatku merasa tak jauh dari rumah.

Menurut tuturnya, kedua lelaki itu sedang ada tugas dari perusahaannya di Doha. Sedangkan aku menjawab dengan percaya diri bahwa aku baru saja selesai backpackeran sendirian di Timur Tengah. “Wah hebat si mas, keliling sendirian“, ucapan penutupnya sebelum kami berpisah menuju gate masing-masing.

Kemudian aku menuruni escalator dan melewati duty free zone di sekitar maskot “Lamp Bear”. Berlanjut lagi dengan menaiki escalator untuk menaiki skytrain menuju concourse D. Menemukan gate yang kumaksud, maka terduduklah aku sembari mengunyah paratha tersisa untuk makan malam sambil menunggu Philippine Airlines tiba menjemput.

Tepat pukul 20:45, aku mulai boarding melalui aerobridge. Aku memasuki pesawat dari koridor kabin sebelah kiri. Begitu terduduk di window seat berbilangan 39K, impian kemegahan kabin yang sedari semula saat membeli tiket akhirnya sirna.  Ternyata pesawat ini tak dilengkapi LCD screen di setiap bangkunya. Terbayang sudah, penerbangan panjang sejauh 7.277 Km ini pasti akan membosankan.

Airbus 330-300.
Sayap yang memamerkan kegagahan.
Mulai mencari tempat duduk.
Nah ini dia, tempat dudukku selama 9 jam 35 menit.

Aku duduk bersebelahan dengan wanita tambun di sisi kiri sedangkan di ujung baris terduduk lelaki paruh baya berpostur sebaliknya, jangkung dan kurus. Sembilan puluh persen penumpang tentu berkebangsaan Philippines. Karena ini pesawat negara mereka.

Aku terus memperhatikan pramugari berpotongan rambut bob, berlipstik ungu dan berpostur semampai. Siapa yang meragukan kecantikan para pinay, Philippines memang penghasil para wanita cantik di dunia….Hahaha.

Setelah mendemokan prosedur keselamatan terbang, pramugari dan pramugara itu membagikan amenities berupa selimut, handuk, sikat dan pasta gigi. Aku mulai membaca beberapa prosedur keamanan pesawat Airbus ini. Membaca infight magazinenya dan bersiap untuk santap malam kedua kali setelah take-off.

Thanks 12Go.
Selamat tinggal Hamad International Airport.
Selimut untuk setiap penumpang.
Mabuhay….Inflight magazine milik Philippine Airlines.

Sir, I have ordered the menu. My menu should  a Jain Meal, not Seafood Meal, Sir”, tanyaku pada seorang pramugara. “Dinner menu must be ordered 3 hours before flight, Have you order it?”, jawabnya sedikit tegas. Daripada menimbulkan keributan yang tak mengenakkan, aku mengalah saja. Begitulah aku, selalu menghindari gesekan dan cenderung mengalah pada setiap perselisihan….Hebat ya guwe, mulia banget….Hahaha.

Menu makan malam: nasi dan ikan laut.
Ternyata Jean Meal pesananku keluar di pagi hari bersama kopi…Oalah, ndeso tenan.
Indah sekali bukan, rentangan garis-garis emas bentukan pelita bumi Doha?. Lihat perairan Teluk Persia itu!.

Setelah semua penumpang selesai dengan dinnernya masing-masing, awak kabin mulai meminta setiap penumpang yang duduk di window seat untuk menutup jendela. Ah, aku tak mendengarkan perintah, malahan memperhatikan wajah ayu pramugari yang kukagumi sedari tadi. Aku baru tersadar akan perintah ketika pramugari itu tersenyum terus dan menunjuk jendelaku sembari menaik turunkan telunjuknya sebagai isyarat bagiku untuk segera menutupnya….”Iya mbak, aku ngerti kok, cuma sedang terpesona denganmu saja”, batinku menjawab senyumannya. Kejadian itu membuat penumpang di sebelahku tertawa….Kacau kan guwe?.

Malam itu penerbanganku sangat mulus tanpa turbulensi. Pilot menginformasikan bahwa aku sedang melaju di dalam selongsong terbang dengan kecepatan 800 Km per jam. Luar biasa. Malam itu aku tak tidur nyenyak, terus gelisah menunggu tiba di Manila. Entah sampai dimana, pramugari itu kembali berkeliling di koridor kabin dan meminta setiap penumpang di window seat untuk membuka kembali jendelanya.

Inilah drama alam yang baru pertama kali ku alami. Aku menutup jendela dalam gulita dan tiba-tiba membukanya dalam kondisi terang benderang. Bak permianan sulap di angkasa, matahari sepertinya lebih cepat muncul dari waktu normalnya.

Selamat pagi….Entah aku berada dimana?.
Gunung yang menyembul di kerumunan awan….Menakjubkan.

Antrian di setiap toilet begitu panjang. Dengan gagapnya, aku pun mulai mengantri. Aku harus bergosok gigi dan menyeka  muka dengan air hangat sebelum mendarat.  Inilah kegiatan sikat gigi di pesawat terbang untuk pertama kalinya dalam hidupku.

Tak lama setelah duduk kembali, pilot memberitahukan bahwa flag carrier milik Philippines ini akan segera mendarat di mainhubnya, yaitu Ninoy Aquino International Airport (NAIA). Maskapai berlogo dua layar biru dan merah yang melambangkan bendera kebesaran negara dan sunburst kuning delapan sinar ini akan mendarat di Terminal 1 sesuai rencana.

Bersiap mendarat di Manila.

Pesawat mendarat dengan mulusnya di runway dan kemudian taxiing dengan menampilkan pemandangan cepat tentang hiruk pikuknya suasana bandara. Aku pantas berterimakasih pada jasa maskapain berusia 79 tahun ini.

Rindu Cebu Pacific….Teringat menunggangnya empat tahun silam.
Thank you Philippine Airlines “The Heart of the Filipino”.

Saatnya transit dan menjelajah Manila dalam waktu singkat.

Yuksss…..Berkelana lagi!

Alternatif untuk tiket pesawat dari Doha ke Manila bisa dicari di 12Go atau link berikut: https://12go.asia/?z=3283832

7 Tourist Attractions in Pekanbaru

Entering Pekanbaru, all INTRA Bus passengers were unloaded in a non-permanent restaurant building which is made from green colour wood. Entering in back of restaurant, long row of simple bathrooms made me easy to washing my face and preparing myself to explore “Madani City“.

Entering city’s roads for the first time on an online motorcycle taxi seat, I began to save my curiosity about destinations which I could visit in the city. Until I finally arrived at Sri Indrayani Hotel lobby before check-in schedule. After charging my camera and smartphone to several cell bars in the hotel restaurant, I immediately swung my steps to nearest spots.

  1. Tunjuk Ajar Integritas Park

Not far away, half a kilometer to northwest of hotel, there is a fairly well-known park in Pekanbaru. It is Tunjuk Ajar Integritas Park which has became a favorite play ground for city residents whice its development is dedicated to corruption resistance program in local government.

Integrity Monument in the park.

Not yet midday, hot air began to feel. Forcing me to took a shelter on park edge. Visitors was still quiet, considering I didn’t visit on weekend.

2. Siak River

Continuing my steps, I went down to Wakaf Street before finally being led by a traffic policeman to turn right and passing Jembatan Siak I street then reached edge of Siak River.

Visiting Siak River and imagining the glory and prosperity of Siak Sri Indrapura Sultanate who once stood on this river edge was a thing that was interested me to made it as one of my destinations this time.

Panorama of Siak I Bridge.

3. Tuan Kadi’s Halfway House

Still wandering along the river, now I headed to Siak II Bridge. People call it as Bridge of Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah, taken from name of the 5th Sultan of Siak Sultanate.

Stunned to stare at a building under the bridge, an original house since golden era of Siak Sultanate. This tourism site is known in the name Tuan Kadi’s Halfway House. Kadi or Qadhi itself is a famous title during the sultanate. The first owner of this house is Qadhi Haji Zakaria bin Haji Abdul Muthalib who had served as Chairperson of Siak Sultanate’s Shariah Deliberative Board.

It was once be a stopover for Sultan Syarif Kasim II, the 12th Sultan.

4. Nur Alam Grand Mosque

The sun began to slip from its highest position, meaning that I was able to entering Sri Indrayani Hotel’s room. Taking southeast direction, I intended to stop by and praying Dzuhur at Nur Alam Grand Mosque before arriving at hotel.

The oldest mosque in Pekanbaru.

The relic mosque of Siak Sri Indrapura Sultanate still firmly stands with its yellow dome as a symbol of Malay greatness. It feels, Pekanbaru residents worth give a thank to Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah, the fourth Sultan who had built this magnificent mosque.

5. An-Nur Great Mosque

The heat of city began to subside, especially after I finished to bathing in hotel. Finishing lunch then I continued my exploration. After visiting the oldest mosque, now I headed to the grandest mosque in Riau Province.

Exhausted after walking almost 4 km, I chose to use an online motorcycle taxi towards An-Nur Great Mosque, two kilometers to southeast.

Indonesia’s Taj Mahal.

An-Nur Great Mosque itself has been a religious icon of Riau Province since the first year it was built, in 1963. Make sure that you don’t miss to visiting it when you are in Pekanbaru.

6. Putri Kaca Mayang Park

Next, I hurried to downtown. My next choice was Putri Kaca Mayang Park. Located on a side of Pekanbaru’s protocol street, this park looked more presentable than the first park which I visited.

The park name is taken from a princess name in a legendary tale in society.

Time that had slipped towards afternoon, one by one residents were seen coming to the park to just releasing fatigue or bringing their children to spending time by playing around the park.

7. Jenderal Sudirman Street

Like the same street name in Jakarta, Jenderal Sudirman Street in Pekanbaru also plays a role as a protocol road in the city.

As a main road, of course there are many things which can be enjoyed along the way. Road width with busy passing of vehicles is decorated by classy buildings architecture on both sides made Jenderal Sudirman street as a photography spot which worth to visiting.

The Soeman HS Library, Lancang Kuning Tower, Riau Governor’s Office and Dang Merdu Tower are architectures which look striking and different from other buildings along Jenderal Sudirman Street.

The road is decorated with Asmaul Husna along its edge.

Come on, vacation to Pekanbaru!

Goyang Bollywood di Jalanan Thamel

Aku ditempatkan di kamar lantai pertama dibalik sebelah kanan meja resepsionis Shangrila Boutiqe Hotel. Menaruh backpack 45 liter dan melepas ikat sepatu boots maka selang beberapa waktu, kubiarkan air hangat lama menyiram tubuh lelahku pasca hampir setengah hari berjibaku pada perjalanan darat meninggalkan Pokhara.

Tak ingin terjebak kejenuhan di dalam kamar, aku mulai menaiki tangga berkarpet merah menuju atap hotel. Di atas, seorang pemuda berdiri di meja kasir menyapa ringan dan menawarkan menu spesial restoran. Tak ada menu spesial yang kupesan, aku hanya akan menghabiskan senja dengan secangkir teh hangat dan menikmati pesona Thamel dari atas.

Restoran Shangrila Boutique Hotel.

Hingga kemudian hasrat petualanganku menggoda. Rasanya akan merugi jika tak merapat ke jalan dan menikmati suasana secara langsung. Thamel sungguh istimewa. Betapa tidak, jalanannya tiap malam dipersembahkan khusus untuk para tamu negara itu. Setiap ujung jalan dijaga oleh polisi yang tak akan membiarkan satu pun kendaraan bermotor lolos melintas masuk. Thamel selalu ramai ditumpahi para pelancong untuk menghabiskan malam Kathmandu.

Aku mulai ke jalanan.
Suasana sore menjelang gelap.

Tetap berdebu….Aku menelusuri jalanan yang dibatasi dengan kios-kios pashmina, souvenir, restoran, money changer, hotel ataupun kantor agen pariwisata di kiri-kanannya. Tips buat kamu…Jika tak berminat membeli pashmina, maka jangan berusaha menawarnya, penjual akan mengajakmu bertransaksi di dalam kios dan mereka adalah para negosiator ulung dan kupastikan kamu akan keluar dengan menenteng salah satu dari dagangan mereka.

Kios-kios penggoda kantong.
Khas bendera warna-warni seperti pada kuil mereka.

Sedikit kesulitan mencarinya karena sengaja menghindari menu restoran. Aku berjibaku mencari sebuah kedai untuk bersantap malam. Keluar masuk gang hingga akhirnya menemukannya, benar-benar jauh masuk ke dalam gang. Beruntung kedai kecil itu menyediakan momo.  Menyempurnakannya, aku memesan segelas kecil honey lemon tercampur potongan memanjang ginger yang membuatku terasa hangat.

Momo khas Nepal.

Kembali ke jalanan setelah hampir satu jam duduk di kedai itu. Menelusuri  jalanan yang berbeda, aku terhenti seketika di sebuah perempatan dan menoleh ke kanan. Sebuah kerumunan dengan musik menghentak-hentak di bilangan Chaksibari Marg. Setelah mendekatinya , ternyata sekelompok dancer sedang berlatih tarian Bollywood. Asik juga melihat secara langsung tarian itu secara langsung. Untuk tak ada pohon, bisa-bisa aku ikut menari mengelilinginya.

Mereka berlatih untuk sebuah film.

Semakin dingin, aku meninggalkan kerumunan  dan segera menuju ke hotel. Tapi yang namanya daerah wisata, para penggoda kembali menghentikan langkah. Kali ini seorang pemuda memanggil dan menawariku untuk menghabiskan malam dengan hangat di sebuah bar. “You can enjoy our band performance”, ungkapnya. Aku yang seumur hidup tak pernah memasuki bar kini mulai tergoda, “Oke lah, tak ada salahnya”, batinku.

Alhasil, aku mulai menaiki tangga Sisha Bar & Restaurant. Benar adanya, sebuah band lokal beranggota 4 pemuda millennial dengan 1 vokalis perempuan sedang melantunkan pop lokal yang membuatku bersemangat untuk segera duduk dan menikmati pertunjukan itu. Hingga aku menghabiskan dua porsi besar hot lemon with honey saking khusu’nya.

Malam yang indah dan tak terlupakan di Thamel

Selimut Putih Himalaya dari TG 319

Jalur terbang Thai Airways TG 0319 Bangkok-Kathmandu.

Selepas Subuhan, aku bergegas mencari keberadaan flight information board untuk memastikan apakah connecting flightku akan tepat waktu atau mungkin delay. Aku menemukannya di koridor utama transit hall.

Penerbangan sesuai jadwal….Nice.
Boarding pass yang telah kupegang sejak meninggalkan Soetta.

Sebagai penganut paham makan tepat waktu maka menjelang jam 6 pagi, aku sibuk berjibaku mencari makanan halal. Kini hanya halal yang akan menjadi syaratnya….Karena aku tak bisa memilih makanan harga kaki lima tentunya. Menjelajah lantai 3 Suvarnabhumi akhirnya aku hinggap di Silom Village.

Tak bisa menemukan logo “Halal”….Aku singgah di “Non-Pork” resto.
Menuku: fried rice chicken served with salted egg seharga Rp. 99.000

Sarapan pagi itu kututup dengan menyeruput secangkir teh hangat yang mampu mengusir angin dalam  tubuh setelah semalaman tidur kedinginan di koridor utama transit hall dan bersambung di mushola.

Lantas menujulah aku ke gate C10 untuk menunggu Thai Airways TG 319. Kali ini hanya perlu menaiki satu lantai lagi melalui escalator untuk mencapai gate.

Koridor menuju gate.
Itu dia barisan gate di Suvarnabhumi International Airport.

Sembari menunggu boarding time, lebih baik mengecharge handphone sebagai satu-satunya alat dokumentasi yang kubawa….Biasa, amatiran. Aku juga berusaha membaca kembali itinerary yang telah siap kugunakan untuk eksplorasi Kathmandu dan Pokhara.

Spot menarik di area departure hall.

Kebosananku akan lalu-lalang pesawat di runway Suvarnabhumi International Airport dipatahkan dengan kehadiran Thai Airways berjenis BOEING 777-200. Memperhatikan proses loading dengan seksama hingg tak terasa waktu boarding pun tiba tepat waktu.

Thai Airways TG 319 sedang mempersiapkan diri untuk segera terbang selama 3 jam 33 menit.

Memasuki kabin pesawat sekejap mata menjadi segar. Selain karena kecantikan para pramugari juga karena bangku pesawat yang memiliki seat cover penuh warna. Kabin pesawat terlihat bak permen warna-warni.

Kabin TG 0319.

Aku duduk disisi kanan kabin dan diapit 2 perempuan muda. Sebelah kanan berkebangsaan Tiongkok yang entah siapa namanya dan seorang gadis Jepang di sisi kiri yang kutahu namanya bermarga Kawaguchi….Sangat cantik dengan kuncir kudanya.

Duduk sembari sedikit menyesal karena kalah cepat memilih bangku pesawat pasca pemesanan tiket secara online. Hal ini mengakibatkan hilangnya kesempatan duduk di posisi istimewa bagi para photographer yaitu window seat. Karena penerbangan ini akan sangat dekat sekali dengan beberapa puncak pegunungan Himalaya yang akan memamerkan selimut saljunya.

Saat momen itu terjadi, hampir sebagian penumpang berdiri dan menoleh ke jendela sebelah kanan. Itu adalah posisi dimana aku duduk. Aku tak bisa mengambil gambar dengan baik dan lebih memilih untuk duduk tenang dan merekam sesi singkat penerbangan tepat di atas Himalaya itu dalam memori otakku. Masih terbanyang indah hingga tulisan ini terbit….Amazing flight.

Mulai mengisi immigration form yang diberikan oleh awak kabin.

Proses landing juga tak kalah memikat.  Pemandangan yang tersaji adalah deretan bangunan tempat tinggal penduduk Kathmandu yang didominasi bentuk kotak kecoklatan. Kini aku bersiap menginjakkan kaki di Tribhuvan International Airport yang telah menjadi gerbang wisata Nepal dalam beberapa dekade terakhir.

Avseq: “Hi, Sir. Please, directly stepping to airport building!”, Ujarnya melarangku mengambil foto selfie tepat di kaki Thai Airways.

Aku: “OK, Sir….I’m sorry”, menjawab dengan sedikit kesal….Hmmh.

Arrival hall yang tak terlalu mewah dan hanya dilengkapi dengan screening gate uzur membuatku tersenyum karena aku seakan berada di Indonesia era 80-an.

Mengajukan aplikasi Visa on Arrival dalam mesin penerbitan visa dan kemudian membayar Rp. 337.500 di sebuah konter yang dijaga oleh staff perempuan tua, akhirnya aku shah memasuki Nepal.

Ikuti petualanganku di Nepal yuk!

Cari tiket penerbangan dari Bangkok ke Kathmandu? Bisa beli kok melalui 12go Asia. Berikutnya linknya:  https://12go.asia/?z=3283832

12 Jam Menginap di Suvarnabhumi International Airport.

Melalui aerogbridge, aku segera menuju transit hall untuk menunggu connecting flight Thai Airways berikutnya. Waktu menunjukkan pukul 23:15. Aku berusaha menemukan lokasi information centre untuk menanyakan tempat ternyaman beristirahat di Suvarnabhumi International Airport.

Aku: “Hi, Ms. Where is better place for rest and getting food?, Transit hall or departure hall?”

Staff: “I think you will be better staying in transit hall. Departure hall is very crowded than you think. Many food stall are in transit hall, so don’t worry”.

Aku: “Oh, okay Ms. Thank you”.

Akhirnya, sarannya menuntunku untuk segera memasuki transit hall. Melewati konter pemeriksaan tiket dan passport dengan lancar, kemudian aku mengakhirinya melalui x-ray screening dengan cepat.

Memasuki transit hall.

Aku akan bermalam selama  12 jam hingga pernerbangan Thai Airways TG 0319 menuju Kathmandu. Setiba di transit hall, aku segera mencari spot terbaik untuk memejamkan mata. Situasi yang masih ramai, tak memungkinkan bagiku menemukan deretan bangku kosong untuk selonjoran.

Akhirnya, menghabiskan waktu sekitar 1,5 jam untuk mengeksplore seluruh transit hall.

Tengah malam mulai berlalu, perlahan airport mulai kehilangan para pengunjungnya. Deretan bangku-bangku biru memanjang itupun nampak mulai kosong. Beberapa cleaning service terlihat mulai menyeka bangku-bangku itu dengan pewangi dan sterilizer. Mereka sepertinya tahu gelagatku untuk segera meniduri bangku-bangku yang tampak seperti springbed dalam penglihatanku.

Akhirnya menenukan bangku kosong.

Sungguh terlelap berbantal backpack hingga menjelang fajar. Perlahan suara geretan koper para penumpang penerbangan pagi mulai menginterupsi “mimpi Nepal”ku. Aku terbangun tetapi masih tak kuasa menahan kantuk. Kuputuskan untuk mencari mushola dan berharap bisa melanjutkan mimpi.

Electric Information Board
Ruangan mushola yang kosong dan menggoda.

Waktu subuh di Bangkok adalah jam 05:20. Sembari menunggunya tiba, dengan sigap aku mengambil spot tidur di ujung belakang mushola. Tetapi kali ini, aku harus meringkuk disebabkan dinginnya ruangan karena AC besar mushola.

Beberapa jam setelahnya, derap langkah para jama’ah  mulai sering terdengar memasuki ruangan. Waktu Subuh kian menjelang. Sudah tak lelap lagi, bersiaplah diriku mengerjakan Subuh berjama’ah.

Bahagia rasanya, bisa shalat bersama kaum muslim Bangkok pekerja Suvarnabhumi. Aku berbaur dengan security, staff imigrasi hingga para polisi bandara. Sehabis shalat aku sedikit bercakap dengan salah satu staff imigrasi. Satu yang kutangkap adalah kaum muslim Bangkok berjumlah sekitar 10% dari total penduduk Ibukota. Persentase itu berkisar di angka 800-900 ribu.

Subuh telah berlalu,  saatnya bersih-bersih di toilet lalu mencari sedikit kudapan untuk sarapan sebelum TG 0319 take off pada pukul 10:30 menuju ibukota Nepal.

Sarapan yukkkk…!