Lion Air JT 257 dari Padang (PDG) ke Jakarta (CGK)

Ini bukan pertama kali bagiku menaiki Lion Air, pernah kunaiki maskapai ini pada rute Solo-Jakarta, Jakarta-Surabaya, Jakarta-Singapura, atau sebaliknya. Hanya saja, ini adalah kali pertama pengalamanku menjajal Boeing 737 MAX 8, jenis pesawat fenomenal, yang sedang “grounded “ semenjak kecelakaan ganda, satu di Indonesia dan kedua di Ethiopia, dengan penyebab yang sama.

Aku akhirnya berhasil mengeksplore Minangkabau International Airport dalam gerimis, tapi nanti saja kusampaikan. Aku masih menyimpan sebuah petualangan repetisi ke Padang pada sebuah business trip di awal tahun 2020. Jadi harap bersabar jika ingin mengintip keotentikan Minangkabau International Airport dari blog ala kadar ini.

Drop Zone di Departure Hall Minangkabau International Airport.

Aku diturunkan tepat di depan lobby keberangkatan oleh DAMRI berukuran tiga perempat, tetapi setelahnya, aku tak segera memasuki check-in area. Aku lebih memilih mengambil beberapa gambar ketika hujan sedang merubah fasenya menjadi gerimis lembut. Kulakukan hingga beberapa gambar menjejal di kartu memori Canon EOS M10ku.

Mari segera masuk area check-in!

Penerbangan lokal yang hanya mensyaratkan tampilan booking confirmation di layar telepon pintar serta kartu identitas biru langit bernama sama, memudahkan penumpang memasuki check-in area.

Harus kusediakan kesabaran karena selepas meninggalkan konter check-in, aku akan menunggu Si “Singa Merah” datang lebih lama….Delay, gaesss!. Aku memang telah bersiap dengan kondisi itu. Bukan perkara waktu, tapi perkara terjangkaunya harga tiket maskapai ini yang menjadi prioritasku.

Setelah menaiki escalator menuju Departure Gate, aku duduk sebentar di commercial hall yang berlokasi di sebelah screening gate. Membereskan setiap perlengkapan agar sedikit rapi dan nyaman ketika memasuki kabin pesawat nanti. Sementara backpack 45L milikku memilih berdiam di lambung pesawat demi menyelamatkan payung bermotif pelangi seharga Rp. 50.000 yang kubeli di Pelabuhan Tiga Raja lima hari lalu.

Kejutan tiba, saat menuju musholla untuk menunaikan ibadah shalat maghrib, aku bersua kembali dengan Boris, Tukang Pos dari Slovakia.

Aku        :     “Hi, Boris….What happen to your flight?

Boris      :     ”Hi, Donny, It’s crazy…..Very long delay with Citilink

Aku tak lama bercakap karena Boris sudah mulai memasuki antrian menuju gate, dia terbang ke Surabaya, lalu akan melanjutkan perjalanan ke Malang begitu mendarat. Stasiun Gubeng menjadi pilihannya untuk bertolak dari Kota Pahlawan. Informasi itu kudapat ketika berbincang di jok belakang Maestro Travel lima jam silam. Yang kuamati, botol air mineral pemberianku masih utuh terselip di sebelah kiri backpacknya….Hahaha, entah bagaimana air itu lolos dari screening gate.

Setelah menunggu lama, akhirnya penerbangan JT 257 mulai memanggil penumpangnya. Aku mulai mengantri dan bersiap melakukan perjalanan menuju Soekarno Hatta International Airport dengan penerbangan seharga Rp. 563.000. Tiket ini sendiri kubeli 11 hari sebelum keberangkatan.

Melalui aerobridge, aku memasuki badan pesawat,  sebetulnya aku baru mengetahui bahwa selongsong terbang ini berjenis Boeing 737 MAX 8 setelah salah satu awak pemegang microphone menginformasikannya ketika peragaan standard keselamatan penumpang sedang dilakukan.

Selain gres, kesan pertama yang kudapat setelah duduk di salah satu window seat jenis pesawat ini adalah kelegaan dan tampilan futuristiknya. Pesawat sudah berada pada posisi terbaiknya untuk menyalakan mesin jet, pilot menunggu konfirmasi untuk segera mengudara. Beberapa menit kemudian aku benar-benar meninggalkan Padang.

Malam yang sedikit mendung membuat pesawat sedikit terguncang menubruki awan-awan rendah di langit Minang. Yang kusaksikan kemudian adalah sekuel-sekuel pertunjukan pelita bumi yang dipaksa bejeda oleh awan-awan hitam tipis sebagai bintang iklannya. Indah dan mempesonaku sebagai pengantar tidur. Detik-detik selanjutnya hanyalah

Gelap….

Geelaaap……..

Geeelaaap…………

Aku tidur berselimut rasa capek yang luar biasa setelah enam hari berkeliling tanah Sumatera. Sepertinya aku genap tidur selama 1 jam 45 menit, ekuivalen dengan waktu tempuh penerbangan itu. Terpejam sejauh 700 km lebih bersama halusnya performa pesawat milik maskapai swasta terbesar di tanah air ini.

Aku tiba di Cengkareng lewat tengah malam.
Maskapai yang telah genap mengudara selama 20 tahun.
Soekarno Hatta International Airport (CGK) adalah mainhub dari Lion Air.

Aku tiba dalam kantuk, lalu tergopoh menyetop kehadiran Bus DAMRI menuju Terminal Kampung Rambutan. Aku tiba di rumah dalam hantaran ojek pangkalan dan mensyukuri nikmat Allah atas kesempatan eksplorasi yang dianugerahkan yang menjadi bab kesekian dalam cerita perjalanan hidupku.

Saatnya menutup cerita perjalanan ke tanah Sumatera. Dan beralih ke perjalanan berikutnya.

Kemana ya????

Yes, SEMARANG…….

Bus DAMRI dari Kota Padang ke Minangkabau International Airport

Kusantap dengan lahap otentiknya cita rasa tambusuolahan usus sapi dengan telur, tahu dan bumbu di dalamnya– sebagai santap malam terakhir dalam seminggu petualanganku di tanah Sumatera. Sedikit insiden kuliner mengganggu di pertengahan kunyahan. Benda kenyal itu kufikir menjadi kesatuan dari menu tambusu….Oh, ternyata…..Itu karet gelang.

Pemilik restoran : “Sepertinya Uda nih orang jauh?

Aku                              :     “Dari Jakarta, Da

Pemilik restoran     :     “Kerja Da di Padang

Aku                              :     “Oh, ndak Da. Saya sedang jalan-jalan saja

Pemilik restoran     :     “Ohh…Habis darimana saja, Da?

Aku                              :     “Beberapa hari lalu saya keliling Medan, Toba, Siantar, Pekanbaru dan Bukittinggi, Da. Padang yang terakhir, ini saya mau terbang ke Jakarta

Pemilik Restoran    :     “Wah, mantab nih, Uda. Totalitas jalan-jalannya

Percakapan ringan itu terhenti dengan datangnya Calya hitam yang akan mengantarkanku ke pool Bus DAMRI di Jalan Hasanuddin. Dalam hujan lebat, akhirnya aku membasahi jok depan taksi online itu. Beruntungnya si pemilik sangat ramah dan tak menghiraukannya, walaupun kendaraannya adalah mobil baru yang masih menebar kuat aroma pabrik.

Jalan Hasanuddin.

Tak seperti yang kubayangkan, ternyata kemegahan pool bus DAMRI dalam mindsetku hanya diwujudkan oleh ruangan tenda terbuka yang tak lebih baik dari shelter bus kota pada umumnya.

Pool Bus DAMRI Bandara.

Aku menunggu kedatangan Bus DAMRI yang akan memindahkanku dari pusat kota Padang menuju ke Minangkabau International Airport yang jaraknya sekitar 25 kilometer dan memerlukan waktu tempuh sekitar 40 menit. Itu semua bisa ditebus dengan harga Rp. 23.500.

Sembari menunggu kedatangan bus DAMRI, aku terus mengamati permainan sepak bola ala kampung oleh anak-anak belasan tahun yang berhambur memenuhi lapangan Imam Bonjol Square untuk berpesta hujan sembari memainkan si kulit bundar.

Imam Bonjol Square.

Kondektur Bus DAMRI tiba-tiba memanggilku, “Da, ayo segera naik, kita akan berangkat!”. Aku bahkan tak menyadari bahwa bus DAMRI itu telah merapat sedari tadi.

Itu dia Bus DAMRI Bandara.

Kondisi koridor bus DAMRI yang basah menunjukkan bahwa Minangkabau International Airport pun tak luput dari guyuran hujan. Ini memberi sinyal bahwa aku tak akan leluasa mencari bahan untuk menulis konten tentang Minangkabau International Airport. Wah….Alamat, aku bisa terlewat satu konten penting.

Sepi penumpang.

AC bus DAMRI yang sangat dingin membuatku menggigil karena T-shirtku sendiri sudah terlalu lembab. Sedikitnya penumpang sore itu, membuatku tak malu untuk memutuskan untuk berganti t-shirt di atas bus. Duduk di bangku terbelakang dan tak ada yang memperhatikanku ketika bertelanjang dada….Hahaha.

Mungkin karena hujan deras, sehingga banyak orang yang enggan berada di jalanan dan lebih memilih menunda sementara hajat mereka masing-masing. Karenanyalah jalanan tampak lengang dan membuatku cepat tiba di Minangkabau International Airport.

Minangkabau International Airport.

Saatnya pulang ke Jakarta menunggang Boeing 737 MAX 8 milik maskapai “Singa Merah”.

Batang Arau, Jembatan Siti Nurbaya dan Boeing 737 MAX 8

Dengarkan Manusia  yang Terasah oleh Falsafah

Sesaat Katanya itu bukan Dogma

(Cukup Siti Nurbaya oleh Dewa 19, tahun 1995)

Miniatur digital kuda besi berwarna putih terus mendekat dalam aplikasi tenar. Akibatnya, payung motif pelangi harus kugerai dan sekejap kemudian kaki melangkah di trotoar. Aku bersiap memasuki Avanza putih.

T-shirt yang sudah keburu lembab, beberapa bagian backpack yang sudah terlanjur kuyup, dipadu dengan semburan hawa dingin AC taksi online membuat kondisi dudukku tak nyaman sama sekali. Semua akibat sifat maruk, ingin menghabiskan sisa waktu enam puluh menit untuk menambah koleksi destinasi. Walau sebenarnya, jika kufikir lebih dalam, itu tak terlalu penting sama sekali….Hahaha.

Driver    :     “Hujan deras gini nekad ke jembatan, Da?

Aku        :     “Iya da, penasaran doang

Driver    :     “Tapi memang, tempat itu banyak yang ngunjungin kok, Da. Pemandangan Sungai Batang Araunya rancak bana, Da

Aku :     “Nah makanya itu, Da

Sungai Batang Arau berlatar Gunung Padang di ujungnya.

Entahlah, kenapa sore itu, peristiwa gempa padang pada tahun 2009 terus menjejal kapasitas otakku. Driver terus kukorek perihal kisah dibalik tragedi itu. Apa yang terjadi setelah guncangan? Serupa apakah kepanikan sesudahnya?. Dia menjelaskan bahwa air laut telah surut kala itu, “Pertanda kami siap dihajar tsunami, Da”, ucapnya tersendat. Masyarakat telah pasrah dalam do’a, setiap orang sudah siap menghadapi akhir takdir. Beruntung bencana itu tak sungguh terjadi.

Jembatan berusia 18 tahun.

Dalam dua puluh menit, taksi online telah selesai melintas jembatan yang kutuju. Tak berhenti, tapi memilih menghabiskan putaran kecil di ujungnya dan baru kemudian menurunkanku tepat di tengah jembatan itu.

Meminjam nama wanita yang melegenda di tanah Minang, wujud jembatan ini sangat mudah terekam memori kepala. Tiang-tiang hitam kuning dengan lampu bulat warna putih susu di ujungnya, gagah mengangkangi Sungai Batang Arau yang memiliki lebar sekitaran 160 meter, berlatar perbukitan nan hijau serta berornamen perahu-perahu tradisional yang tertambat di sepanjang sungai….Sungguh molek aduhai.

Para peniaga jagung bakar tampak bersiap  diri dengan lapak mininya. Andai aku bisa bertahan hingga gelap tiba, mungkin akan kunikmati pesta kuliner jalanan di atas jembatan Siti Nurbaya itu. Sayang waktuku tak lama.

Rencana selanjutnya adalah aku akan mempercepat waktu santap malam sebelum tiba di pelabuhan udara, demi berhemat tentunya. Kupilih Warung Nasi Kapau Bandar Damar untuk mengeksekusi rencana itu. Setelahnya aku segera menuju Minangkabau International Airport, menjemput Lion Air JT 257 yang berjadwal terbang pukul 21:20.

Nanti akan kuceritakan bagaimana penerbangan pertamaku bersama Boeing 737 MAX 8, kesempatan terindah merasakan sensasi terbang bersamanya sebelum pesawat jenis ini dipensiunkan setelah kecelakaan Lion Air JT 610 yang mengharu biru di perairan Tanjung Pakis, Karawang yang disusul dengan kecelakaan serupa pada Ethiopian Airlines ET 302 di lahan pertanian kota Bishoftu,

Itulah kisah inspeksi kilatku di Jembatan Siti Nurbaya.

Kalau ke Padang, jangan lupa mengunjunginya ya !

Pantai Padang atau Taplau Padang?

Namanya Asep. Sudah pasti bukanlah nama lokal, juga bukan penduduk asli….Asal Bandung beristrikan seorang Padang, menjadikan Uda Asep….Eh, Aa Asep menetap di Padang dan kini dia sedang mengantarkanku ke Pantai Padang menggunakan motor ojek onlinenya.

Jalanan menyepi gegara mendung hitam tebal yang telah mengakuisi langit Padang. Angin ikut memberi tanda dengan menghantarkan hawa bersuhu rendah….Sebentar lagi hujan akan ditumpahkan dari langit. Aku hanya berharap bisa menikmati sekejap Pantai Padang tanpa guyuran hujan untuk sekedar menghilangkan rasa penasaran.

Aku mulai berkeinginan datang ke pantai ini semenjak  wujudnya menghiasi layar televisi selama berhari-hari ketika terjadi gempa besar pada tahun 2009 yang pusatnya berada di lepas pantai. Oleh karenanya, aku memaksa diri menyisipkan waktu walau hanya sekedar empat jam saja untuk singgah di Padang

Girangnya hati ketika kang Asep menurunkanku tepat di bawah Tugu IORA. IORA adalah singkatan dari Indian Ocean Rim Association yaitu asosiasi negara-negara yang terletak di Kawasan Samudra Hindia.

Sesekali tetesan gerimis mulai jatuh, tapi tak apa, aku masih bisa berdiri di tanggul bebatuan yang dibangun menjorok ke arah pantai. Waktu yang sebentar itu benar-benar kunikmati untuk merasakan keindahan Padang. Sementara beberapa pengunjung mulai meninggalkan bangku-bangku plastik yang disediakan para pedagang pensi dan kelapa muda.

Aku masih merasa pilu saja, bagaimana rasa panik masyarakat Padang kala menghadapi rongrongan tsunami kala gempa terjadi walaupun tsunami itu sendiri tak pernah terjadi.

Pantai yang terletak di sepanjang Jalan Samudera ini telah sekian lama menjadi destinasi wisata utama kota Padang. Selain menawarkan wisata berbiaya murah, pantai ini juga menjadi tempat yang mudah dijangkau oleh siapapun karena telah menjadi bagian dari pusat kota dan hanya berjarak tiga puluh menit dari gerbang wisata kota Padang yaitu Minangkabau International Airport.

Tugu IORA.

Penduduk setempat sering memanggil Pantai Padang dengan sebutan Taplau Padang. Taplau sendiri adalah singkatan dari Tapi Lauik atau tepi laut.

Byurrrrr….Aku berlari dan kemudian berteduh di teras Velocity Burger & Coffee yang terletak di tepian jalan raya. Hujan yang begitu lebat membuat tampias air perlahan membasahi baju dan tas punggungku. Sementara aku masih sibuk mengeksplorasi gadget untuk menentukan destinasi wisata berikutnya yang masih memungkinkan dikunjungi. Sepertinya aku tak akan sedetik saja membuang waktuku percuma di Padang.

Hari mulai sore, kebanyakan museum dan beberapa tempat wisata resmi telah ditutup. Tapi aku sudah menentukan tempat berikutnya yang akan kutuju. Aku berfikir cepat, aku diuntungkan karena masih memiliki payung yang kubeli saat berkunjung di Danau Toba beberapa hari lalu. Hujan tak menyurutkan langkahku untuk terus berseksplorasi. Aku memesan taksi online untuk menujun kesana.

Melangkah kemanakah aku gerangan?

Cerita Hajar Aswad di Balik Arsitektur Masjid Raya Sumatera Barat

Perjalananku sejenak terlempar dari jalur waktu. Aku, pejalan tunggal yang harus mengalah dengan kepentingan segenap penumpang Maestro Travel yang tergesa mengejar penerbangannya masing-masing. Kunikmati saja penghamburan waktu satu jam untuk berdiam diri di dalam travel demi menghantar mereka ke Minangkabau International Airport dan setelahnya baru menuju ke tengah kota Padang.

Pengemudi: “Mau di drop dimana, Uda?”.

Aku: “Turunkan saya di Masjid Raya Sumatera Barat saja, Da!

Aku lebih memilih turun di destinasi yang kutuju daripada harus mengikuti alur mereka yang akan mengambil penumpang di kantornya. Hemat dan efektif tentunya.

Diturunkan di Jalan Khatib Sulaiman, tepat di halte Masjid Raya Sumbar , aku dihadapkan langsung ke arah masjid termegah di Sumatera Barat itu. Dengan cepat aku memasuki areanya melalui Taman Melayu Sumatera Barat yang juga merupakan bagian dari pelataran “Masjid Seribu Pintu Angin” itu.

Sedang dalam renovasi, tak memungkinkan untuk masuk….Sedih.

Di taman, aku hanya berdua saja dengan seorang laki-laki berumur asal Makassar yang juga sengaja mampir demi melongok masjid tanpa kubah tersebut. Jarak berdiri yang terlalu dekat membuatnya susah memasukkan seluruh wujud masjid ke dalam kotak selfienya. Melihatku yang sedang sibuk mengabadikan gambar, dia tampak memberanikan diri mendekat. Sudah tertebak, aku pasti diminta mengambil gambar dirinya bersama sang masjid….Hahaha.

Aku berhasil memerintahnya sesuka hati untuk mendapatkan gambar terbaik….Terakhir kita berselfie berdua di tab lebarnya itu. Sampai jumpa Opa Upe, semoga perjalanan pulangmu ke Makassar menyenangkan.

Adalah arsitek brilian yang berhasil menggandakan makna atap pengganti kubah. Secara fisik terlihat, itu adalah atap gonjong yang terdiri dari empat puncuk yang diletakkan di setiap sisi. Tetapi sesungguhnya bentuk itu menyimpan makna sejarah. Itulah bentuk bentangan kain yang digunakan pemimpin empat kabilah suku Quraisy untuk memindahkan batu Hajar Aswad  di Ka’bah.

Jalur menuju lantai atas secara langsung.

Jujur, aku sendiri tak pernah mengira bentuk masjidnya semegah dan seunik itu. Aku tak pernah melihat bentuknya melalui selancar internet atau mencari tahu terlebih dahulu sebelum mengunjunginya. Jadi bisa kamu bayangkan bagaimana terpananya diriku ketika berdiri tepat di hadapan bangunan religi ikonik itu.

Sanggung menampung dua puluh ribu jama’ah.

Menempati area seluas empat hektar, Masjid Raya Sumatera Barat selain sebagai tempat ibadah terbesar juga telah menjadi landmark kota, destinasi wisata religi, bahkan memiliki fungsi cadangan sebagai penanggulangan bencana yaitu sebagai shelter evakuasi apabila terjadi tsunami….Maklum, Padang pernah dihantui tsunami akibat gempa besar pada tahun 2009….Beruntung tsunami itu tidak benar-benar datang.  

Impresi luar biasa pertama yang kudapatkan ketika mampir sejenak di kota Padang.

Beautiful Padang……

Maestro Travel dari Bukittinggi ke Padang.

Begitu mudahnya memesan jasa travel dan bus di Sumatera. Angkat telepon, sebut tujuan, sampaikan jam keberangkatan lalu tanyakan jam berapa mesti bersiap diri di kantor travel atau bus !….Tak perlu bayar di muka….Maka kamu akan tiba di tujuan jika tak telat datang.

Bus INTRA dari Pematang Siantar ke Pekanbaru….

Travel Annanta dari Pekanbaru ke Bukittinggi….

Kini prosedur mudah itu terulang untuk Maestro Travel dari Bukittinggi ke Padang….

—-****—-

Hari terakhir di Bukittinggi atau jika dihitung dari awal keluar rumah adalah hari keenamku di tanah Sumatera, aku mengisahkan perjalananku bersama Maestro Travel ketika mulai menelfon staff front office perempuan pada jam delapan pagi di hari keberangkatan.

Nanti duduk di bangku paling belakang dan datang setengah jam sebelum keberangkatan ya, Uda. Siapkan ongkosnya Rp. 40.000 saja !”, ucapnya singkat.

—-****—-

Aku tergopoh menuju De Kock Hotel setelah kunjungan terakhirku di Taman Panorama. Tak sempat mandi lagi, fikirku hanya satu, malam nanti aku akan tiba di Jakarta dan akan berendam air hangat di ember rumah saja….Sepuasnya….Hahaha.

Vixion hitam menjemputku di teras hotel kemudian melaju kencang menembus kepadatan Jalan Sudirman menuju kantor Maestro Travel yang berjarak tiga kilometer. Dalam lima belas menit aku tiba. Memasuki kantor, aku disambut wanita muda berjilbab, kuserahkan ongkos lalu kugenggam selembar tiket menuju ke Padang,

Masih tersisa 20 menit sebelum travel tiba. Menurut petugas front office itu, mobil masih berkeliling menjemput penumpang di rumahnya masing-masing. Kuputuskan saja untuk menyambangi sebuah warung nasi di sekitaran kantor dan memesan seporsi pecel ayam dan segelas air putih. Kali ini aku sangat cepat menyantapnya, seperti ular menelan seekor landak…ehhh.

Aku tiba kembali di kantor travel dalam kondisi mobil sudah siap dan semua penumpang tampak melihat ke arah kedatanganku. Rupanya aku ditunggu semua penumpang, semoga mereka tak kesal.

Kursi tengah dan sebelah sopir diduduki oleh sepaket keluarga kecil. Suami-istri, putrinya yang mungil dan ibu mertua sang suami. Sementara aku duduk di belakang bersama seorang bule Slowakia bernama Boris. Seorang tukang pos muda, berkepala plontos, berbadan kurus dan hobi mencari kesunyian.

Di jok belakang kami bercakap sepanjang perjalanan. Cerita dimulai dengan kesan perjalanannya di Kazakhstan dimana tak ada seorangpun yang mengganggunya ketika dia naik gunung sendirian. Kemudian berlanjut pada sifatnya yang akan merasakan pening ketika bekerja di kantoran, oleh karenanya dia memilih menjadi tukang pos saja di Slowakia.

Why is this car passing a small road like this? Can we arrive at the airport on time?”, ketusnya kepadaku.

I think that driver is trying to get through the faster road, Boris …. Hahaha”, celetukku kepadanya.

If he fails, It’s not funny….Not funny”, dia terserang panik. Memang jadwal terbangnya hanya berselisih satu jam dari waktu estimasi tiba yang dituturkan google maps dalam smartphoneku.

Kucoba mengalihkan perhatian dengan terus bercakap. Entah aku memulai dari mana hingga aku bisa membicarakan Titik 0 km Indonesia di Sabang, Kawah Ijen, Probolinggo, e-commerce Lazada hingga iPhone bekas yang menurutnya murah jika dibeli di Indonesia. Satu lagi, kami membahas perihal penerbangan langsung dari Manado ke Manila. Hingga si kepala keluarga yang duduk di sebelah sopir ikut berbincang dan menjelaskan bahwa penerbangan itu tidak ada.

Aku melewati air terjun di tepian jalan, aku tahu itu Air Terjun Lembah Anai. Artinya aku sudah berjarak empat puluh kilometer dari kota Padang. Boris memintaku untuk menghentikan sopir dan mengizinkannya untuk berbelanja air mineral, mahal katanya jika harus membelinya di bandara. Kufikir tak perlu berhenti, aku punya persediaan air mineral kemasan yang banyak. Hasil mengumpulkannya dari Hotel Sri Indrayani di Pekanbaru, Travel Annanta dan De Kock Hotel di Bukittinggi. Kuberikan dua botol kepadanya. “I really appreciate you, Donny….very much appreciate”, katanya sembari menepuk-nepuk lenganku.

Itulah kata perpisahanku dengannya, dia harus turun di Minangkabau International Airport dan menuju ke Malang. Sepaket keluarga itu akan pergi ke Bandung.  Sementara aku akan menuju pusat kota Padang untuk mengekplorasinya selama empat jam, mengingat aku akan pulang ke Jakarta pada pukul delapan malam.

Sisa Jepang di Taman Panorama

Pengemudi wanita paruh baya itu menjemputku di  Rumah Makan “Gulai Itiak Lado Mudo Ngarai”.

Aku: “Ibu, tadi sudah saya cancel karena terlalu lama, tapi saya juga belum berhasil memesan ojek yang lain sih, bu

Ibu Ojek: “Di aplikasi saya belum ter-cancel, uda. Saya terjebak kemacetan karena ada mobil mogok di tanjakan atas. Ayo, naik aja, Uda. Disini susah signal, nanti malah ga dapat ojek lagi, lho”.

Tanpa fikir panjang, aku bergegas duduk di jok belakang dan menolak menggunakan jas hujan yang disodorkan si ibu karena kuyakin gerimis lembut itu tak akan membuatku kuyup.

Melawan arah datang dan berbelok ke kanan ketika berada di puncak Jalan Binuang yang terpotong oleh sebuah perempatan, kemudian aku menelusuri nama jalan yang sama dengan nama taman kota yang sedang kutuju.

Si ibu tepat menurunkanku di depan pintu masuk taman yang sangat ramai pengunjung. Kuselipkan selembar lima ribuan di dashboard motornya sebagai uang tip walau dia menolak dengan gigihnya. Salut dengan ibu ini.

Waktu yang tak sebanyak pengunjung lain, membuatku berjalan terburu menuju konter penjualan tiket masuk yang terlindungi oleh atap dengan tiga pucuk gonjong, lalu menukarkan uang Rp. 15.000 untuk mendapatkan akses masuk.

Lobang Jepang adalah situs pertama yang kucari begitu memasuki area taman. Aku begitu penasaran dengan bentuk lubang pertahanan terpanjang di Asia itu. Tak susah menemukannya, patung dua serdadu Jepang yang berdiri berlawanan arah menjadi penanda keberadaannya.

Patung dua serdadu Jepang.

Tampak sebuah rombongan wisata menutup mulut Lobang Jepang karena khusyu’ mendengar pengarahan dari seorang pria pemandu wisata. Tampak pula sebuah denah yang menggambarkan jalur di dalam lobang pertahanan itu.

Pintu masuk Lobang Jepang.

Sementara di sebelah kanan pintu masuk tampak area utama taman yang didominasi oleh lantai keramik yang membentuk sebuah podium pertunjukan dengan salah satu sisi berupa titik pandang Ngarai Sianok dan Gunung Singgalang.

Bayar lagi ya kalau ambil foto di view point ini.

Di beberapa spot tampak disediakan kanopi taman dengan empat pucuk gonjong. Kontur topografi Bukittinggi yang berbukit lembah tampak digambarkan oleh bentuk taman ini. Satu sisi taman tampak berada lebih tinggi dari sisi yang lain, tak hayal banyak disediakan tangga untuk mempermudah pengunjung untuk mengakses setiap sisi taman

Area utama.
Podium.

Sementara di sisi kiri, tersedia ruang datar yang difungsikan untuk taman bermain anak dengan pusat sebuah pilar tunggal. Tampak pula sebuah musholla mungil berdinding kaca berada tepat di sisi area bermain anak.

Area bermain anak.
Aula dan musholla.

Inilah Taman Panorama yang menjadi penutup kunjunganku di Bukittinggi. Sekiranya aku akan datang kembali ke kota ini jika ada kesempatan. Aku akan kembali untuk menikmati nikmatnya Nasi Kapau kota ini.

Saatnya berkemas dan menuju ke Kota Padang.

Ada apa saja di Padang?….Yuk ikut aku.

Ngarai Sianok, Patahan Alam yang Sempurna

Bertaruh dengan hujan, kutinggalkan Kinantan Zoo. Kufikir akan sangat merugi untuk melepas begitu saja pesona patahan alam yang dimiliki Kota Bukittinggi itu. Undur diri melalui alur yang sama sedari memasuki Fort de Kock, Jembatan Limpapeh dan TMSBK, kini aku sudah berdiri lagi di gerbang terdepan benteng persegi itu.

Anak muda usia datang dengan senyum menghampiriku. Dialah ojek online yang kunanti untuk mengantarkanku ke tujuan berikutnya. Dalam perjalanan cepat itu, dia berujar “Uda, di bawah signal akan jelek, jika mau di jemput pulang setelah selesai berkunjung, saya siap ambil”. Karena sifatku yang tak mau diburu-buru untuk menikmati sesuatu, apalagi tentang keindahan alam maka aku menolaknya halus.

Jalan Dr. Abdul Rivai sudah selesai kulewati hingga ujung. Itulah nama jalan untuk mengenang seorang Bumiputera yang pernah berjuang melawan kolonialisme Belanda melalui ranah jurnalistik. Selanjutnya jalanan mulai menukik tajam ketika haluan berubah ke kanan.

Perjalanan menukik sejauh satu kilometer itu tersuguhkan pemandangan lembah yang sungguh mempesona di kiri-kanan Jalan Binuang. Janjang Koto Gadang bak miniatur Tembok Besar China tampak dalam sekelebat mata. Aku tak punya waktu lagi untuk melongoknya karena harus bertaruh dengan jadwal jasa travel menuju ke Kota Padang.

Selamat Datang di Kenagarian Sianok Anam Suku”, tertulis di bagian atas sebuah gapura tepat di tengah jembatan penghubung dua sisi lembah yang terpotong oleh Sungai Batang Sianok. Di tiang kanan memberitahu bahwa aku sedang berada di Kecamatan IV Koto, sedangkan tiang sebelah kiri memberitahu bahwa aku berada di Kabupaten Agam.

Sungai Batang Sianok yang dangkal.

Sungai selebar dua puluh meter itu sepertinya tak pernah murka meluapkan air. Perkiraanku itu sangat beralasan dengan keberadaan bangunan semi-permanen bahkan permanen di tepian sungai. Dan entah, endapan tanah berpasir di tengah sungai itu dihantarkan dari mana oleh arus sungai.

Sisi lain Sungai Batang Sianok.

Tak bisa kubayangkan bagaimana dua sisi tebing yang awalnya menyatu itu kemudian bergeser berlawanan arah membentuk patahan tegak lurus sempurna dan menciptakan lembah memanjang yang kemudian diinvasi oleh air untuk membentuk sebuah sungai alami.

Dan….Hujan lebat pun sungguh turun…..

Membuatku terbirit meninggalkan ngarai dan mencari tempat berteduh.  Teras “Rumah Makan Gulai Itiak Lado Mudo Ngarai” menjadi tempat nyaman untuk berteduh walau aku terus diawasi oleh pemiliknya lekat-lekat. Akhirnya kuberanikan diri meminta izin untuk berteduh sementara.

Benar adanya, aku benar-benar tak mendapatkan signal untuk memanggil ojek online ketika hujan mulai mereda. Aku berusaha mencari pijakan yang lebih tinggi untuk kemudian mendapat dua bar signal cell. Susah payah kupesan ojek online yang berkali-kali tertolak. Hingga akhirnya, pada panggilan kelima aku dijemput oleh seorang ibu paruh baya dengan scooter maticnya dan mengantarkan ke destinasi terakhirku di Bukittinggi.

Ngarai Sianok tertangkap dari Taman Panorama.
Pemandangan Ngarai Sianok berlatar Gunung Singgalang….Cantik bukan?

Lajur Budaya dan Edukasi di Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan

Langkah tanggungku di ujung timur Jembatan Limpapeh menjadi tak terbendung. Di bukit Cubadak Bungkuak, aku menyusuri  lajur paving block bermotif diagonal kuning dan sebagian besar berpagar hijau di kiri kanan. Untuk kemudian berbaur dengan keramaian pengunjung yang sedang menikmati display beragam satwa lucu.

Deretan aves menyambut langkah pertamaku ketika memasuki kebun binatang yang sudah berusia lebih dari seabad itu. Berirama dalam lingkar sangkar besi adalah cara para aves menghibur para pengunjung.

Burung Kuau asal Taiwan.
Dua ekor merak.

Sementara rodentia (hewan pengerat) hadir di sisi lain. Ancaman durinya terpaksa ditahan dengan tembok beton yang berkombinasi dengan pagar besi di atasnya. Berumahkan telungkup batang pohon buatan dengan lubang di beberapa sisi.

Landak lucu sedang bersiap untuk sarapan.

Membuktikan diri sebagai kebun binatang dengan koleksi terlengkap di tanah Sumatera, sekawanan primata menyambut di pertengahan area. Beberapa monyet ekor panjang tampak tak peduli dengan kedatangan para pengunjung karena kesibukannya memakan buah favorit.

Cuek ntuh…..

Sebelum memasuki titik paling mencolok, tampak seekor gajah berbelalai albino lengkap dengan dua gading panjangnya sedang berkeliling sangkar raksasa untuk menjangkau siraman sinar matahari pagi.

Tepat di sebelah kanan sangkar gajah, tampak bangunan adat Minangkabau dengan tiga puncak gonjong di kedua sisi dan disempurnakan dengan gonjong utama di serambi. Beratapkan ijuk, berdindingkan kayu ukir serta berlantai panggung. Memiliki panjang hampir lima puluh meter dan lebar sekitar dua puluh meter, Rumah Adat Baanjuang ini tampak gagah di pusat Kinantan Zoo.

Cagar budaya berusia 85 tahun.

Terus menerobos ke timur, sebuah surau bertembok putih-beratap hijau tampak menjadi penengah letak antara Rumah Adat Baanjuang dan Museum Zoologi di ujung tertimur.

Surau mungil.

Museum Zoologi itu sendiri berwarna hijau dengan patung harimau sumatera di atapnya. Di kanannya, bangunan berwujud ikan mas difungsikan sebagai pertunjukan aquarium.  Museum yang didirikan bersamaan dengan museum sejenis di Bogor pada 1894 ini memiliki koleksi dua ribu spesies hewan yang diawetkan dan dipamerkan.

Museum Zoologi.

Kinantan Zoo yang bernama resmi Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan (TMSBK) ini pernah memiliki beberapa nama beken seperti Strompark, Taman Puti Bungsu, Kebun Binatang Bukittinggi dan Fort de Kocksche Dieren Park. Didirikan oleh Storm Gravenande, seorang Belanda yang pernah menjabat sebagai Asisten Residen Agam.

Tak hanya satwa yang kusebutkan diatas, TMSBK memiliki beberapa satwa lain seperi rusa tutul, onta, harimau, orang utan, siamang, binturung, buaya, ular dan masih banyak lagi. Perlu waktu lebih panjang supaya kita bisa lebih detail mengunjungi keberadaan satwa di kebun binatang ini.

Silahkan berkunjung ke sini ya jika kalian berada di Bukittinggi.

Jembatan Limpapeh, Jirek dan Cubudak Bungkuak

Burung trulek menutup kunjunganku di Fort de Kock.

Masih ada waktu”….Batin terus memaksa langkah.

Tiket TMSBK digenggaman, lalu di ujung Fort de Kock aku meyaksikan keramaian di bukit sebelah. Sementara fikiran terus membayangkan eloknya Ngarai Sianok, sedangkan segantung jembatan ikonik menyambutku di depan pandangan.

Aku tak bisa mengelak pesonanya…..

Enam Atap Gonjong di pusat, empat utas baja raksasa menahan deck bridge sepanjang 90 meter. Menghubungkan gagahnya dua bukit yang cukup tenar di Bukittinggi yaitu Bukit Jirek dan Bukit Cubudak Bungkuak dengan lebar pijakan 3 meter.

Adalah Jembatan Limpapeh yang nampak perkasa mengangkangi Jalan Ahmad Yani. Telah berjasa selama 28 tahun dalam menghubungkan Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan dengan kawasan benteng Fort De Kock.

Jembatan Limpapeh sendiri adalah penyambut pertama kedatanganku di Bukittinggi sehari sebelumnya. 

Limpapeh” sendiri berarti “Tiang Tengah”. Keunikan jembatan ini adalah selain berada di tengah struktur, pier kembarnya juga membatasi kedua sisi Jalan Ahmad Yani sehingga membentuk sebuah gate penyambut tamu kota di jalan protokolnya.

Jembatan Limpapeh dengan enam gonjong dua lapis.

Sedangkan pada kunjungan keduaku di malam hari pertama, aksara “Jembatan Limpapeh” yang bersinar merah menyala terhiasi dengan siraman cahaya ungu di kedua pilar kembarnya. Benar-benar menjadi pintu kota yang sangat indah di pandang mata.

Di malam hari, Jembatan Limpapeh menjadi penyedap aktivitas kuliner di daerah yang terkenal dengan nama Kampung Cino.

Seperti Janjang yang tersebar di banyak sudut kota, penghubung cantik ini juga merupakan manifestasi integrasi fasilitas kota. Adalah wisata Fort de Kock dan wisata Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan (TMSBK) yang menjadi obyek terekspose dari alasan pembangunan jembatan ini. Memudahkan para turis untuk berwisata di kota berjuluk Parijs van Sumatra ini.

Atap gonjong dengan motif batik bunga.

Demi menjaga keamanan dan merawat usia pakai jembatan, pengelola wisata hanya memperbolehkan maksimal 200 pengunjung yang bisa secara bersamaan berada di atas jembatan ini dan setiap pengunjung hanya boleh berfoto diatas jembatan selama maksimal 3 menit saja. Hayu….Taat aturan ya kalau berwisata kesini….Hehehe.

Gunung Marapi berselimut kabut dipandang dari atas jembatan.

Akhirnya aku berkesempatan menikmati pemandangan kota mungil yang pernah menjadi ibu kota Indonesia ini dari ketinggian. Bukan gedung pencakar langit yang tampak dalam pandangan, melainkan hamparan rumah warga, kios-kios perniagaan yang memanjang mengikuti lekuk demi lekuk Jalan Ahmad Yani serta dominasi pepohonan hijau yang diandalkan sebagai area resapan kota.

Gunung Sirabungan terlihat dari jembatan.

Menjadi sensasi tersendiri ketika berada di atas jembatan dalam kondisi yang terus bergoyang sebagai ciri khas sebuah jembatan gantung. Menjadi sebuah kepuasaan tersendiri ketika menikmati pesona kota Bukittinggi dari jembatan yang menjadi ikon unggulan kota setelah keberadaan ikon pertama mereka yaitu Jam Gadang.

Jadi….Kamu harus ke sini ya jika berwisata ke Bukittinggi.