Scoot Air TR457 dari Kuala Lumpur ke Singapura (KUL-SIN)

SCOOT AIR….maskapai Low Cost Carrier (LCC) milik Negeri Singa yang kepemilikan sahamnya dikuasai oleh Singapore Airlines.

Lintasan terbang Scoot Air TR457. Sumber dari https://flightaware.com

Scoot sendiri masuk list ke-22 dari seluruh maskapai yang pernah kunaiki. Melalui nomor penerbangan TR457 dengan rute regular Kuala Lumpur (KUL) ke Singapura (SIN), Aku pertama kali menggunakan jasa Scoot Air  tertanggal 31 Maret 2018. Kali ini Aku menaiki pesawat berjenis Airbus A320 dengan kapasitas 168 penumpang.

Walaupun sebenarnya Aku pernah menggunakan Maskapai  Tiger Mandala pada 26 November 2013 saat menuju ke Bangkok dan Tiger Air pada 11 Januari 2015 saat kembali dari Vietnam. Kini kedua maskapai tersebut sudah merger ke dalam Maskapai Scoot Air.

Tuh kan sudah merger, masih ada identitas Tiger Air di badan pesawat Scoot Air TR457

Ketidakjelasan terminal asal keberangkatan (apakah dari KLIA terminal 1 atau KLIA terminal 2) membuatku sedikit gelisah karena biasanya Departure List baru keluar 2 jam sebelum penerbangan. Dan tentu perlu waktu untuk berpindah dari KLIA2 ke KLIA.

Untuk penerbangan internasional, Aku selalu memulai perjalanan menuju bandara 4 jam sebelum waktu penerbangan. Jadi Aku meninggalkan Westree Hotel pada pukul 05:30 dan bergegas menuju ke Skybus/Aerobus Shelter yang terletak di KL Sentral. Karena jaraknya cuma 40 m, Aku hanya perlu berjalan kaki selama 3 menit menuju shelter.

Security hotel keturunan India tajam memerhatikanku di pintu lobby bagian dalam….Lha iya, Aku berdiri lama ditengah pintu….clingak-clinguk kiri kanan kaya ayam mau nyebrang….Saking sepinya, Aku harus memastikan tak ada yang mencurigakan di sepanjang jalan yang akan kulewati menuju KL Sentral.

Yesss….Sepi, ndak ada orang….Kabuuurrrrrr. Bak atlit jalan cepat, Aku mulai menjauhi hostel. Aku tiba saat bus siap berangkat.

Dengan 12 Ringgit aku tiba di KLIA2 pada pukul 6:30. Setiba di KLIA2, Aku segera menuju information centre untuk menanyakan dimana terminal TR457 akan lepas landas. Pagi-pagi Aku sudah ngrepotin Si mbak India petugas information centre, karena Departure Board belum menampilkan informasi tentang TR457 maka Dia harus menarik keyboard dan mencarikan info untukku….Hadeuhhh, sudah manis….baik pulak si teteh….eh, si mbak.

Buseeettt….mataku melotot sambil mengunyah nasi lemak telur ceplok di pojokan NZ Curry House….kek kambing yang sedang memamah biak. Pertanda Aku tak bisa membohongi otak bahwa perutku belum siap bersarapan.

Ya memang tak ada pilihan lain, lebih baik sarapan di kedai makan India dengan harga paling murah sebelum menuju ke lantai 3 untuk proses check-in, proses imigrasi dan keberangkatan.

Departure Board di Departure Hall
Information Centre di Departure Hall
Departure Hall Area
Konter check-in Z2-Z3 untuk Scoot Air TR457
Setelah melewati konter imigrasi, Aku menuju ke ruang tunggu di gate L3.

Aku memasuki ruang tunggu pada pukul 08:05. Dalam kejenuhan menunggu, datang kepadaku wajah Vietnamese dan bertanya:

Vietnamese: “Hi, Can you explain to me about my cigarette (sambil menunjukkan sebungkus rokok yang sudah terhisap dua puntung). Can me bring it when entering Singapore?”

Aku : “Do you bring another one  or just this opened pack?. If you just bring it, you can savely entering Singapore.”

Vietnamese: “No, I just bring it. So it’s savely. Thanks you.”

Aku: “You are welcome”.

Ruang Tunggu di depan Gate L3
Setelah menunggu selama 20 menit, akhirnya boarding process dimulai.
Mana 14D….manaaaaa?

Scoot Air identik dengan warna kuning. Pesona pramugari-pramugara muda keturunan Tiongkok semakin segar ketika penampilan mereka terlihat berbalut t-shirt dan syall serba kuning.

Terbang diatas selat Malaka
Langit sungguh cerah, nikmat banget terbang tanpa turbulensi.

Setelah mengudara selama 1 jam 15 menit, Aku mendarat di Terminal 2 Changi International Airport. Berusaha secepat mungkin meninggalkan Changi untuk menuju ke Greendili Backpackers Hostel di bilangan Race Course Road dan selanjutnya siap mengeksplorasi Singapore untuk ke-7 kalinya.

Cari peta MRT sebelum masuk konter imigrasi Changi International Airport.
Catch the MRT ! Menuju pusat kota

Makan siang dulu yuk ke Mustafa Centre sebelum walking-walking.

Sebagai alternatif, tiket pesawat, kereta dan bus dari Kuala Lumpur ke Singapura bisa dipesan melaui e-commerce perjalanan 12go Asia

Bus dari Terminal Amanjaya ke Terminal Medan Kidd, Ipoh, Malaysia

Mencari informasi tentang destinasi wisata di kota Ipoh melalui dunia maya sangatlah banyak dan mudah.

Tetapi via googling, Aku tak pernah menemukan cara pasti untuk memasuki kota Ipoh dari gerbang darat utama mereka yaitu Terminal Bus Amanjaya….itu intinya. Itu kenapa Aku merasa perlu menulis artikel ini dan mudah-mudahan para backpacker sepertiku diluar sana bisa menemukan tulisan ini kelak di google.

Tapi yang jelas hotel tempatku menginap terletak 1 km di sebelah timur sebuah terminal bus kecil bernama Terminal Bus Medan Kidd lalu Aku bisa berjalan dari terminal bus ini ke Abby by the River Hotel selama 15 menit.

Mencari taxi tentu sangatlah mudah, hanya perlu sedikit bersiul maka Taxi akan menghampirimu. Karena taxi tak ada dalam kamus backpackerku maka tanpa informasi memadai aku harus mencari bus kota ini sampai dapat.

Kekhawatiran dalam diriku pasti ada saja….mulai dari khawatir terjadi scam atau khawatir tidak sampai hotel tepat waktu….tapi apa boleh buat…inilah serunya solo traveling minim informasi.

Bus Perak Transit yang berangkat dari Penang Sentral menurunkanku di lantai pertama Terminal Bus Amanjaya.

Aku langsung memasuki arrival hall bus antarkota.  Jajaran bangku tempat penumpang menunggu menjadi pemandangan pertama yang kulihat disini.

Aku sengaja mengalokasikan waktu sekitar 30 menit untuk mengeksplore seisi Terminal Amanjaya.

Tentu Aku harus mencari informasi tentang bus ke tengah kota Ipoh. Beruntung Aku menemukan pusat informasi Terminal Bus Amanjaya di lantai 1 tepatnya di lobby terminal.

Menurut petugas wanita di pusat informasi ini, Bus menuju Terminal Medan Kidd terletak di lantai 2 dan bernomor T30a.

Tak mau menunggu lama karena khawatir kesorean, Aku segera naik menggunakan escalator untuk mendapatkan waktu keberangkatan bus terdekat.

Dan akhirnya shelter bus itu ketemu juga:

Dan inilah rute bus dari Terminal Amanjaya menuju berbagai tempat tujuan di Ipoh:

Sedangkan ini adalah jadwal Bus No T30a dari Terminal Amanjaya menuju Terminal Medan Kidd:

Perjalananku menuju ke pusat kota Ipoh pun dimulai dengan menaiki MyBas T30a:

Membayar Rp. 12.250 (3,5 Ringgit) ketika memasuki pintu depan, Aku disambut dengan senyum akrab sang sopir keturunan India.

Ada yang berbeda dengan pelayanan MyBas ini. Ketika menggunakan bus di Kuala Lumpur dan Penang (Rapid KL dan Rapid Penang), jika Kita membayar  lebih besar dari tarif maka uang kelebihannya tak akan dikembalikan. Tetapi ketika naik MyBas yang dioperasikan oleh Perak Transit ini, Aku membayar dengan uang 5 ringgit dan si sopir memberikan kembalian 1,5 Ringgit kepadaku….Fair and Good.

Lantunan lagu-lagu India mengiringi perjalananku siang itu. Bus sempat berhenti sejenak untuk mengisi bahan bakar di sebelah Terminal Amanjaya.

Selama perjalanan Aku tekun memperhatikan seorang solo traveler wanita keturunan China yang terus memperhatikan google maps nya. Pasti dia juga minim informasi sepertiku….hehehe.

Beginilah beberapa pemandangan selama perjalananku menuju pusat kota

Dalam 40 menit akhirnya MyBas merapat ke Terminal Medan Kidd

Aku tak menunggu lama di terminal Medan Kidd karena Aku harus segera menuju ke Hotel untuk check in dan berkeliling kota.

Kuperhatikan lagi si solo traveler wanita itu yang terlihat bingung di terminal. Kusempatkan bertanya mau kemana dirinya, tetapi dia bilang akan ke tengah kota menggunakan taxi. Aku sempat menawarkan diri untuk berjalan kaki bersama tetapi sepertinya dia tak percaya….hahaha. Tampang gembel sepertiku memang sepertinya mencurigakan….wkwkwk. Well yang penting aku sudah berusaha menawarkan kebaikan…..#gombaladamaunyaguweh

Kuputuskan untuk segera berjalan kaki menyusuri trotoar kota Ipoh

Menyusuri jalanan ini menuju ke Abby by the River Hotel

Aku harus berhenti beberapa kali karena hujan ringan mengguyur Ipoh kala itu. Dan akhirnya dalam 30 menit Aku tiba di Abby by the River Hotel.

Check-in, bayar, taruh backpack di kamar….lalu ngelayap keliling kota sampai malam. Akhirnya Aku bisa mencoret satu destinasi dalam bucket list ku.

Destinasi Wisata di Pusat Kota Ipoh, Malaysia

Ipoh….Ibu Kota negara  bagian Pahang ini terletak 200 km di sebelah utara Kuala Lumpur. Kota berjuluk Kota Bugenvil ini memang tak seramai Penang atau bahkan Kuala Lumpur, tetapi percaya padaku bahwa kota ini akan memberikan sisi eksotisme berbeda karena letak kota ini yang dibentengi gugusan perbukitan yang cantik.

Waktu menunjukkan pukul 16:17. Jadi setelah check-in dan menyimpan backpack di dormitory milik Abby by the River Hotel, Aku memutuskan menghabiskan hari pertamaku di Ipoh dengan mengunjungi pusat kotanya.

Abby by the River Hotel tempatku menginap selama di Ipoh

Abby by the River Hotel cukup baik dalam menyediakan informasi wisata dengan adanya spot khusus di pojok lobby yang menyediakan banyak leaflet pariwisata Ipoh. Setelah 15 menit membaca informasi, Kusimpulkan bahwa hal yang menjual di pusat kota Ipoh ini adalah landmark Old Town yang tentu adalah peninggalan kolonial Inggris abad 19.

Tak berfikir lama, Aku segera keluar hotel untuk menuju pusat kota. Menyusuri Jalan Sultan Iskandar yang merupakan jalan protokol di Ipoh, sekejap suasana hiruk pikuk dalam otakku lenyap tanpa bekas. Jangan samakan dengan Jakarta, karena kota ini  berbeda dengan metropolis ibu kota. Kamu akan merasa menjadi pemilik kota ini karena ketenangannnya.


Kinta River membelah indah Jalan Sultan Iskandar

1. Hugh Low Bridge.

Jembatan ini dibangun untuk menyambungkan Jalan Sultan Iskandar yang melintasi Kinta River.

Gerimis membuatku lebih sejuk menikmati sungai Kinta dari jembatan ini

Berhenti sejenak diatas jembatan, Aku mengamati aktivitas beberapa warga kota Ipoh yang asyik memancing di beberapa spot Kinta River

2. Ipoh River Front Park

Begitu menyeberangi Kinta River, Aku langsung disuguhi taman kota nan luas. Terkenal dengan nama Ipoh River Front Park.

Taman kota yang cukup luas ini memiliki kolam, air mancur dan kedai-kedai makanan didalamnya. Menjadi tempat yang nyaman untuk refreshing.

250 m menyusuri Jalan Sultan Iskandar, Aku berbelok ke kanan menyusuri pertokoan di Jalan Bijeh Timah.

Menemui sepasang turis Eropa dan sekeluarga turis Malaysia membuatku merasa tak sendiri di kota ini. Perut laparku semakin menjadi ketika berada diujung jalan ini karena jajaran tenda makanan ini:



Inilah satu dari tiga tenda street food yang kutemui sore itu

Tak mau kehilangan banyak waktu untuk sekedar nongkrong, kuputuskan untuk lebih memilih mengunyah biskuit yang kubeli di Penang Sentral siang tadi sambil terus berjalan menyusuri keindahan Ipoh.

3. Ipoh Mural Art

Nah, berbelok ke kiri di ujung jalan, Aku menemukan beberapa lukisan mural layaknya mural-mural terkenal di Penang.

Kamu harus jeli dan sabar dalam mencari lukisan mural ini karena beberapa letaknya tersembunyi. Sore itu Aku bak bermain petak umpet dengan Kota Ipoh untuk menemukan sisi keindahannya.

4. Gedung HSBC Bank

Surya dikala senja saat itu membuat setiap pemandangan yang kulihat menjadi sangat istimewa. Begitu pula dengan Gedung HSBC ini. Bangunan tahun 1931 ini adalah bagian dari Ipoh Heritage Trail

5. Padang Ipoh

Lapangan ini dalam sejarahnya digunakan sebagai tempat para pejabat kerajaan Ipoh melakukan upaca penghormatan terhadap Kerajaan Jepang pada masanya.

Disinilah akhirnya Aku bisa menemukan para warga kota Ipoh melakukan aktivitas. Dari anak-anak muda yang bermain sepak bola hingga keluarga-keluarga kecil yang membawa anaknya untuk sekedar bermain dan makan bersama di lapangan ini.

6. Ipoh Tourist Information Centre

Terletak sangat tersembunyi di sebuah ujung jalan buntu (Jalan Bandar), Aku bersikukuh mendatanginya untuk mendapatkan informasinya sebanyak mungkin untuk mengeksplore Ipoh keesokan harinya.

7. Ipoh Town Hall

Bangunan tahun 1916 ini pada awalnya adalah kantor administrasi utama kota Ipoh. Namun saat ini sudah digunakan untuk function space seperti untuk weddings dan event-event umum.

8. Cenotaph War Memorial

Digunakan untuk memperingatai mereka yang gugur dan terluka dalam perang negara dan diresmikan penggunaannya pada tahun 1927.

9. Kantor Kepolisian Negara Bagian Perak

Ini adalah Markas dari Royal Malaysia Police Daerah Perak. Aku sebetulnya tidak berani mengambil foto kantor kepolisian ini. Tapi karena kebiasaan jeprat-jepret akhirnya secepat kilat kuabadikan bangunan ini.

10. Masjid Sultan Idris Shah II

Langkah kakiku sore itu kututup dengan bersembahyang maghrib di Masjid Negeri Perak ini. Keramahan warga Ipoh sangat terasa ketika Aku menunaikan ibadah. Senyuman hangat yang mengiringi jabat tangan sesama jamaah membuatku serasa berada di negeri sendiri.

Malaysia memang telah menjadi rumah kedua bagiku karena kemiripan budayanya.

Tiba saatnya untuk meninggalkan pusat kota dan mendekat ke hotel karena suasana sudah sangat sepi.


Beranikah kamu jalan sendirian di sepinya malam kota Ipoh….asik-asik sedap lho…cobain deh

Sepinya kota membuatku sedikit struggling dalam mencari makan malam. Walau akhirnya Aku menemukan semangkuk Mee Kari seharga Rp. 14.000 di Kedai Mee Daud Mat Jasak yang terletak di Jalan Dato Onn Jaafar di daerah Kampung Jawa.

Selepas kenyang, Aku segera memutuskan kembali ke hotel untuk mandi air hangat dan beristirahat. Bersiap untuk eksplore Ipoh esok hari.


Inilah kamar seharga Rp. 70.000/malam tempatku beristirahat

Bus dari Penang ke Ipoh, Malaysia

Begitu tiba di Penang Sentral dari perjalanan darat 7 jam 32 menit dari Kuala Lumpur International Airport Terminal 2 (KLIA 2) menggunakan bus Star Mart Express, Aku bergegas menuju Stasiun Butterworth untuk berburu tiket Electric Train Service (ETS) menuju Ipoh untuk keberangkatan lusa hari setelah kedatanganku di Penang.

Hasrat hati untuk mencicipi jasa kereta listrik jenis ETS ini sirna karena tiket ternyata sudah sold out.

Fine….“Naik bus lagi”, hatiku bergumam.

Akhirnya Aku kembali ke Penang Sentral Lantai 2 untuk mencari tiket bus. Sedikit was-was, karena kalau sampai tiket bus habis maka rencanaku untuk menginjakkan kaki di Ipoh untuk pertama kalinya bisa gagal.

Jika gagal mendapatkan tiket bus ke Ipoh maka Plan B ku adalah memperpanjang waktu kunjunganku di Penang kemudian kembali lagi ke Kuala Lumpur untuk mengejar penerbangan Malindo Air ke Dhaka, Bangladesh.

Yes….Aku mendapatkan tiketnya.

Yang perlu Kamu ketahui bahwa Penang Sentral menyediakan dua cara untuk membeli tiket bus dari Penang ke Ipoh.

Pertama, Kamu bisa langsung membelinya di Bus Ticketing Counter di lantai 2. Berikut ini adalah suasana konternya:

Kedua, kalau Kamu mengaku sebagai generasi milenial maka seharusnya Kamu akan membeli tiket bus di Self Ticketing KiosK. Terletak di lantai 2 juga, berikut ini guys mesinnya:

Aku memilih Bus Perak Transit sebagai armada pengantarku ke kota Ipoh. Tarif bus seharga Rp. 70.000 cukup membantu membuatku berhemat di awal perjalanan panjangku.

Lusa hari berikutnya, setelah merasa cukup menjelajah Penang selama dua hari, akhirnya perjalananku ke Ipoh dimulai.  Satu jam sebelum jadwal keberangkatan, penumpang baru boleh masuk ke Terminal Bus Penang Sentral yang terletak di lantai 1. Aku langsung menuju Gate 3 sesuai dengan yang tertera di tiket untuk menunggu bus datang.

Setelah menunggu selama 16 menit, akhirnya Bus Perak Transit tiba dan standby di platform B09

Bus berangkat tepat waktu pada 14:00.

Perjalanan ke Ipoh sejauh 140 km ini ditempuh dalam waktu 1 jam 49 menit.  Melewati pemandangan yang cukup mengesankan.

Aku mengulang pemandangan ini dua kali, karena dalam perjalananku dari KLIA 2 ke Penang dua hari sebelumnya juga melewati jalanan yang sama.

Bus menyempatkan sekali toilet break dalam perjalanan ini pada suatu tempat yang aku tak sempat mendeteksi dimana letaknya.

Pada pukul 15:49 akhirnya bus merapat ke Terminal Bus Amanjaya. Inilah terminal bus antar kota di Ipoh.

Memasuki Terminal Amanjaya, Aku sangat tidak sabar untuk segera menuju ke Terminal Bus Medan Kidd yang terletak di tengah kota Ipoh. Terminal Bus Medan Kidd adalah salah satu akses untuk masuk ke kota Ipoh.    

Ipoh yang selama ini hanya kudengar lewat cerita para backpacker dan tulisan di dunia maya, akhirnya aku diizinkan menginjakkan kaki di kota itu setelah berkelana selama delapan tahun menjadi seorang backpacker.

Keseruan apa yang kudapatkan selama singgah di Ipoh?

Sabar menunggu tulisanku berikutnya ya guys….

Oh ya. Berikut alternatif lain untuk membeli tiket online dari Penang ke Ipoh, yaitu melalui 12go Asia di link berikut: https://12go.asia/?z=3283832

Berhemat 5,6 Ringgit dengan GOKL City Bus, Malaysia

Sebagai seorang backpacker, Gw selalu berusaha untuk meminimalkan budget di setiap perjalanan. Untuk urusan transportasi misalnya, Gw akan lebih banyak jalan kaki atau menggunkan moda transportasi termurah atau kalau memungkinkan menggunakan transportasi umum gratis.

Seperti di Kaohsiung, Taiwan, Gw pernah menggunakan trem gratisan atau…..di Kuala Lumpur terdapat bus gratis yang bisa Gw manfaatkan untuk berkeliling kota. Namanya GOKL City Bus.

Nah yang mau Gw ceritakan disini adalah GOKL City Bus, gaes….

GOKL City Bus memiliki rute sebagai berikut:

gokl_may2014002_e1

Terdiri dari 4 Line yaitu GO Relax (Merah), GO Work (Biru), GO Sightsee (Ungu), dan GO Shopping (Hijau)

Sumber: http://www.spad.gov.my/transport-operators/buses/route-map-gokl-city-bus

GOKL City Bus sendiri di luncurkan oleh SPAD (Suruhanjaya Pengangkutan Awam Darat) pada tanggal 31 Agustus 2012 sebagai bagian dari Malaysia’s Government Transportation Programme untuk mengurangi kemacetan di Central Business District (CBD) Kuala Lumpur dengan menyasar para pengguna mobil pribadi, pengguna angkutan umum dan turis.

Jam operasional GOKL City Bus adalah jam 6am-11pm untuk working day dan jam 7am-11pm untuk weekend dan hari libur. Untuk working day, bus ini akan beroperasi pada saat peak hours (7am-10am dan 4pm-8pm) setiap 5 menit. Nah untuk hari lain akan beroperasi setiap 10 menit.

Perjalanan menggunakan GOKL City Bus pernah Gw coba pada tahun 2014 ketika pertama kalinya mengunjungi Kuala Lumpur. Sedangkan perjalanan yang sama Gw ulangi di Maret 2018.

Petronas Twin Tower – Pavillion Bukit Bintang

Setelah puas mengambil beberapa foto di gedung kembar, Gw segera beranjak menuju shelter GOKL City Bus tepat didepan agak ke kanan dari Petronas Twin Tower. Ya…..bus ini akan mengantarkan Gw ke Bukit Bintang – pusat perbelanjaan terkenal di Kuala Lumpur-.

GOKL 3

Kiri: GOKL City Bus (GO Shooping/Green Line) sedang menunggu penumpang di Shelter 

Kanan Atas: Interior GOKL City Bus

Kanan Bawah: Shelter Petrosains, GOKL akan menunggu penumpang di sebelah shelter ini.

Bus menunggu sekitar 10 menit hingga penumpang penuh sebelum berangkat. Perlu waktu 15 menit hingga bus mencapai Pavillion, Bukit Bintang. Gw mencoba mengingat-ingat landmark di Pavillion supaya tidak kelewat ketika menaiki bus. Gw masing inget parkir gate Pavillion sehingga Gw segera turun dari bus.

Pavillion Bukit Bintang – Pasar Seni

Gw hanya 20 menit berada di Pavillion dan segera bermaksud menuju Petaling Street di Pasar Seni. Sebetulnya Gw akan menggunakan Monorail dikombinasi LRT menuju Pasar Seni. Tetapi ketika duduk istirahat di depan Pavillion dari kejauhan terlihat bus GOKL dengan papan tujuan Pasar Seni. Langsung aja Gw lari mendekat ke bus itu yang terlihat sedang menaikkan penumpang. Tepat sekali, Gw berhasil naik dan seketika bus berjalan menuju Pasar Seni.

Sekitar 12 menit , GOKL City Bus sampai di terminal Pasar Seni. Terminal pasar seni terlihat sangat berbeda ketika Gw datang pada tahun 2014, karena terlihat sudah ada stasiun MRT Pasar Seni disana. Setahu Gw pada tahun 2014, MRT ini masih dalam tahap pembangunan.GOKL Pasar Seni

GOKL City Bus di Pasar Seni

Dengan menggunkan GOKL City Bus untuk berpindah ke 2 tempat wisata ini Gw bisa berhemat 5,6 Ringgit. Uang segitu memang ga seberapa tapi buat Gw bisa buat sekali makan malam……hahaha

 

Rute Baru Menuju Batu Caves, Malaysia

Artikel ini telah diupdate kembali pada 18 Agustus 2019….Silahkan membaca kembali….Salam backpacker.

Pada tahun 2014, Aku pernah mengunjungi Batu Caves. Saat itu Aku bertolak dari KL Sentral menuju Batu Caves menggunakan kereta komuter Laluan Seremban dengan tarif masih 2 Ringgit.

30 Maret 2018, Aku kembali mengunjungi Kuala Lumpur dan maksud hati hendak berkunjung ke Batu Caves kembali. Tetapi ketika ingin membeli tiket di konter tiket komuter KL Sentral ternyata kereta komuter ke Batu Caves saat itu tidak dapat melayani penumpang dari KL Sentral. Aku tahu info ini karena Aku merhatiin bule yang bicara sama petugas konter. Akhirnya kuputuskan keluar dari antrian sebelum benar-benar sampai di depan petugas konter tiket.

Aku akhirnya menuju konter informasi KL Sentral untuk menanyakan cara menuju ke Batu Caves. Menurut petugas informasi, untuk menuju Batu Caves, Aku harus menggunakan Free Bus KTM 1 dari KL Sentral ke Stasiun Sentul. Nah dari Stasiun Sentul baru dilanjutkan menggunakan kereta komuter menuju Batu Caves. Aku bertanya dimanakah letak free bus itu berada, ternyata bus itu berada sejajar dengan Shelter Airport Coach/Aerobus/Sky Bus di KL Sentral.

Papan Petunjuk yang terletak di depan shelter Skybus KL Sentral yang mengarahkan turis menuju bus KTM 1 menuju Stasiun Sentul
Petunjuk di lantai menuju Bus KTM 1
Bus KTM 1 sedang parkir di Stasiun Sentul.

Free bus KTM ini akan jalan jika penumpang sudah penuh, Aku sih ga perlu nunggu untuk dapat tempat duduk. Begitu masih muat maka Aku segera naik. Perjalanan dari KL Sentral menuju Stasiun Sentul menempuh waktu kurang lebih 25 menit di jalanan yang tergolong lancar.

Begitu tiba di Stasiun Sentul, Aku segera menuju ke dalam stasiun untuk membeli tiket kereta komuter. Aku langsung beli tiket pulang-pergi karena lebih murah 1 Ringgit daripada belinya one-way. Begitu menyerahkan uang 5 Ringgit maka Aku mendapatkan pass card untuk masuk ke jalur kereta. Kartu ini lah yang akan membawaku kembali ke Stasiun Sentul lagi ketika pulang.

Bagian dalam Stasiun Sentul
Konter tiket Stasiun Sentul
Pass card (Stasiun Sentul-Batu Caves pp)
Kereta Komuter yang mengangkut penumpang dari Stasiun Sentul ke Batu Caves

Begitu masuk ke jalur kereta ternyata kereta komuter sudah menunggu. Kereta buatan Tiongkok ini berhenti cukup lama untuk menunggu penumpang dan membiarkan semua kursi terisi penuh.

Terlihat  jelas pada route board diatas pintu kereta masih ada KL Sentral point, ini menunjukkan bahwa pada awalnya kereta ini melewati KL Sentral untuk menuju ke batu Caves, tetapi jalur itu sudah dirubah dan diperpendek menjadi Stasiun Sentul-Batu Caves.

Yang kuperhatikan arus penumpang naik dan turun sepanjang perjalanan menuju Batu Caves sangatlah sepi, hal ini terlihat pula dari beberapa bangunan stasiun yang dilewati seperti kurang terawat kebersihannya sehingga bangunan nampak kusam dan beberapa escalator tidak berfungsi. Jalur ini boleh dibilang sepi.

Setelah berjalan selama 20 menit akhirnya Aku tiba di Batu Caves.

Berikut beberapa view menarik di Batu Caves yang kudapatkan:

Koridor yang dimanfaatkan berjualan souvenir setelah keluar dari Stasiun Batu Caves
Patung Murugan yang menjadi icon dari wisata Batu Caves
Melepas sepatu sebelum masuk ke Venkatachalapathi temple
Warung makan di sekitar Batu Caves.

Dan sebelum berpindah destinasi ke Petronas Twin Tower, Kuputuskan untuk lunch di warung makan sekitar Batu Caves. Warung makan yang tersedia kebanyakan dikelola oleh warga Malaysia keturunan India karena memang Batu Caves adalah tempat peribadatan mereka kebanyakan.

Penerbangan Malaysia Airlines MH 0726 dari Jakarta ke Kuala Lumpur, Malaysia

30 Maret 2018- Ini adalah penerbangan pagi Malaysia Airlines dari Soekarno Hatta International Airport (SHIA), Jakarta ke Kuala Lumpur International Airport (KLIA), Malaysia menggunakan pesawat jenis Boeing 737-800 berkapasitas 166 penumpang. Penerbangan 2 jam ini berlangsung dari jam 04:25 waktu Jakarta hingga jam 07:25 waktu Kuala Lumpur.

Pemesanan tiket Gw lakukan pada 7 Oktober 2017 atau 5,5 bulan sebelum keberangkatan dengan harga Rp. 605.000 tanpa pesan kursi. Add-on pemilihan kursi sendiri akan kena seat fee sebesar 11 Ringgit atau Rp. 40.052 (ya….Gw pilih kursi pada 3 minggu sebelum keberangkatan).

tiket dan seat fee

Kiri: e-ticket didapat saat issued  : Kanan: seat fee

Jam 00:30 Gw menuju Soekarno Hatta International Airport menggunakan jasa Grab Car dengan biaya Rp. 136.000 dan turun di Terminal 2D. Saat tiba di airport, Gw ga bisa langsung masuk ke konter check-in karena harus nunggu screening gate dibuka. Screening gate sendiri baru dibuka jam 02:00. Ada beberapa WNA yang keliatan bete karena proses menunggu ini. Gw juga ga tahu kenapa ga open 24 jam.

Screening backpack berjalan mulus dan masuklah Gw ke konter check-in. Ternyata masih harus ngantri dan nunggu 10 menit hingga konter dibuka. Sebetulnya Gw sudah punya boarding pass lewat proses web check-in yang Gw lakukan secara mandiri, namun ketika Gw nanya ke petugas konter apakah bisa langsung menuju konter imigrasi, dia bilang lebih baik boarding pass Gw diprint ulang menggunakan kertas dari konter check-in. Ya akhirnya Gw harus antri.

boarding pass

Kiri: boarding pass hasil web check-in

Kanan atas: boarding pass dari konter check-in Malaysia Airlines

Kanan bawah: cabin baggage tag

Selesai check-in Gw kembali tertahan 30 menit untuk masuk ke konter imigrasi, petugas imigrasi Gw lihat belum standby di posnya masing-masing.

Sekitar jam 03:00 akhirnya Gw masuk juga ke konter imigrasi. Alhamdulillah lancar tanpa kendala berarti.

 

part in SHIA

Kiri atas: Departure gate 2 Terminal 2D SHIA

Kanan atas: Konter check-in 

Kiri bawah: konter imigrasi

Kanan bawah: boarding gate D4 Terminal 2D SHIA

Menuju ke gate D4, Gw langsung bisa masuk tepat 15 menit sebelum boarding time.

Jam 03:55 akhirnya Gw boarding,

Boarding

Sejak 2013 Malaysia Airlines bergabung dalam Oneworld yaitu aliansi maskapai penerbangan yang bertujuan menjadikan anggota aliansi menjadi pilihan pertama para wisatawan dunia

Interior Plane

Kiri atas : Business Class seats

Kanan atas : Economy class seats

Kiri bawah : In-flight entertainment

Kanan bawah : Left plane winglets 

Untuk urusan menu, selama penerbangan Gw mendapatkan segelas apple juice dan Low Fat Meal sesuai request Gw saat issued ticket.

MH Meal

Air mineral, kerupuk, kacang masin dan low fat meal (kentang, wortel, telur bulat, brokoli semua direbus)

Pramugara sempat nanya Gw “Anda mau makan sekarang atau nanti?” Karena Gw jawab nanti, maka dia keluarkan plastik jinjing berlogo Malaysia Airlines untuk membawa makanan ketika sampai di KLIA.

Setelah 2 jam perjalanan Gw landing dengan mulus di KLIA.

Gw sempat mengabadikan markas Malaysia Airlines ini

MH Base

Base Malaysia Airlines di KLIA

Untuk mendapatkan tiket penerbangan dari Jakarta ke Kuala Lumpur, Kamu bisa mencarinya di 12go Asia dengan link sebagai berikut:  https://12go.asia/?z=3283832

Penerbangan KLM-KL 0809 dari Kuala Lumpur ke Jakarta

18 Maret 2018-Penerbangan kali ini adalah pertama kalinya menggunakan jasa KLM Royal Dutch Airlines. Dan KLM menjadi maskapai ke-19 yang pernah Gw naiki selama traveling. Maklum setiap traveling Gw selalu berusaha mencari maskapai berbeda untuk merasakan perbedaan pelayanan saja, tetapi tetap ya prioritas pertama adalah cari yang termurah.

Gw issued tiket ini pada 18 September 2017, tepat 6 bulan sebelum penerbangan.

Harga KLM

Dengan harga 224,10 Ringgit atau Rp. 768.748 sangat affordable untuk maskapai Eropa

Airport Coach mengantarkan Gw ke KLIA tepat jam 14:00. Gw langsung menuju ke konter check-in.

KLM

Kayaknya Gw penumpang yang pertama check-in….sepi belum ada siapa-siapa

Berdasar tiket, Gw  harus menuju ke gate C3. Suasana KLIA saat perpindahan dari dari konter check in ke Gate C3 ga Gw ceritain disini ya gaes. Nanti akan Gw ceritain pas Gw naik Malaysia Airlines saja -trip setelah trip ini-.

Oh iya, kali ini pertama kalinya juga Gw menginjakkan kaki ke Kuala Lumpur International Airport Terminal 1 (KLIA), karena bolak-balik ke negeri jiran ini selalu turun di KLIA 2 -base nya Air Asia-. Melihat bangunannya memang KLIA terlihat layaknya bangunan tipe lama….ya mirip-mirip Soekarno Hatta International Airport Terminal 1 dan 2 lah kira-kira.

C3 room

Gate C1 adalah boarding gatenya Saudia Airlines

view gate 3

View gate 3 adalah bangunan untuk POS Aviation -ground servicenya Malaysia-.

Menunggu 1,5 jam akhirnya pesawat datang juga.

KLM Plane

(Kiri) : Pesawat Saudia Airlines bersebelahan dengan (Kanan) :  Pesawat Gw lah….

Penerbangan KLM dari KLIA ke Soetta International Airport ini dioperasikan oleh Air France. Beberapa penerbangan KLM dari KLIA-Soetta bahkan dioperasikan oleh Garuda Indonesia. Sebetulnya penerbangan ini adalah transfer flight dari Amsterdam ke Jakarta yang transit di KLIA. Oh ya sambil nungguin pesawatnya loading, ada bonus nih gaes:

Liliana Natsir

Disaat akhir mau boarding….muncul Liliyana Natsir….Juara bulu tangkis ganda campuran kita gaes.

Okay….tak menunggu lama, akhirnya boarding ke pesawat kelas Eropa ini terjadi.

interior klm

Interiornya sih biasa ya gaes….hanya perasaan aja seneng banget naik pesawat milik Air France.

Sepanjang perjalanan Gw mendapatkan sebuah tisu basah hangat untuk pembasuh muka, vegetarian pie yang seporsinya cukup untuk menggantikan dinner Gw (lumayan kan hemat budget) dan segelas apple juice.

Dan sepanjang perjalanan Gw melihat film Dunkirk….Ga tau ya kenapa Gw suka film ini. Gw sampai nonton sampai 4x. Bahkan pada perjalanan sebelumnya, Gw juga nonton film ini di kabin Thai Airways ketika terbang ke Kathmandu, Nepal.

view flight

Ini view terkeren sepanjang penerbangan waktu itu.

Ok cukup sekian penerbangan kali ini. Akan Gw ceritakan penerbangan lain di artikel yang berbeda.

By the way, Kamu boleh mencoba mencari tiket penerbangan dari Kuala Lumpur ke Jakarta melalui 12go Asia. Coba cari rutenya disini:  https://12go.asia/?z=3283832

Bus dari KL Sentral ke KLIA (Kuala Lumpur International Airport) Terminal 1, Malaysia

Artikel ini sudah diupdate pada 17 Agustus 2019. Selamat membaca !….MERDEKA….Hahaha

Untuk penerbangan Internasional, Saya selalu berusaha datang ke airport 4 jam sebelum penerbangan. Karena penerbangan KLM Kuala Lumpur – Jakarta adalah 16:30 maka Saya akan berusaha sampai KLIA (Kuala Lumpur Internatinal Airport Terminal 1) jam 12:30.

Waktu menunjukkan jam 11:15 di stasiun LRT Bandaraya. Sebetulnya membatalkan perjalanan ke Batu Caves karena perubahan jalur transportasi terasa berat di hati walaupun Saya bisa mewujudkannya dua minggu berikutnya dalam perjalanan berbeda.

Lihat perubahan jalur tersebut di artikel ini:

https://travelingpersecond.com/2018/05/17/rute-baru-menuju-batu-caves-malaysia/

Untuk mencapai KLIA , Saya akan menggunakan moda transportasi termurah yaitu Airport Coach. Nah, untuk menaikinya, Saya harus menuju ke KL Sentral terlebih dahulu karena Airport Coach Shelter ada disana.

Dari stasiun LRT Bandaraya, Saya menuju stasiun LRT Masjid Jamek (kedua stasiun itu berada di Laluan Sri Petaling). Dari stasiun LRT Masjid Jamek, Saya melanjutkan menggunakan LRT Laluan Kelana Jaya dan turun di KL Sentral. Cukup bayar ongkos 1,8 Ringgit untuk semua perjalanan ini. Beli token di stasiun LRT Bandaraya dan dikembalikan di KL Sentral.

Stasiun LRT Masjid Jamek

Sebelum naik ke Bus……Begitu sampai di KL Sentral, Saya putuskan untuk shalat jamak dahulu dan berlanjut dengan lunch.

Kedai Panettone….Pemiliknya keturunan India.
Mienya yahuut….layak dicoba.
Penampakan menu Penang White Curry Bowl.
Penampakan asli Penang White Curry Bowl.

Saking menikmatinya menu siang itu, tak terasa waktu sudah masuk jam 13:00. Padahal target Saya masuk KLIA adalah jam 13:30, sudah dipastikan Saya bakal molor dari target sekitar 30-45 menit tergantung waktu tunggu Airport Coach di KL Sentral.

Commuter line (KTM) di KL Sentral….Pemandangan dari kedai Panettone.

Sebelum turun ke lantai bawah, Saya sempatkan beli softdrink seharga 1 Ringgit di vending machine dekat escalator menuju konter tiket Aiport Coach….supaya tak terlalu jenuh selama perjalanan menuju KLIA. Maklum Airport Coach ini tak berfasilitas TV atau musik. Membeli minuman kaleng di vending machine sangatlah murah dibandingkan membelinya di minimarket sekitar KL Sentral.

Ntuh….si “biru” Airport Coach.
Harga dewasa 12 Ringgit….Harga anak-anak 7 Ringgit.

Perjalanan menempuh jarak 60 km dalam waktu 1 jam.

Selama perjalanan melalui jalan tol, Saya perhatikan perumahan masyarakat sangat tertata dengan rapi dan terpola. Hal ini yang membuat Kuala Lumpur terkesan baik dalam hal tata ruang.

Jalan tol menuju KLIA selama Saya berkunjung empat kali kesana tidak pernah macet. OK lah penataan transportasi mereka. Buat Saya sih ga perlu malu mengakui keunggulan mereka dalam hal tata ruang dan transportasi karena tujuan Saya traveling adalah belajar dari negeri orang, membuka wawasan dan menghargai perbedaan.

Akhirnya tidak telat sampai di KLIA

thanks ya sudah membaca artikel pendek ini.

Cari tiket KL Sentral-KLIA?, Kamu juga bisa mencoba cara mudah mendapatkan tiketnya via online di 12go Asia di link berikut: https://12go.asia/?z=3283832

Menghabiskan Malam dan Pagi Tersisa Di Kuala Lumpur

Setelah total 3 jam perjalanan dari Melaka Sentral ke Hotel Pudu 88, akhirnya Gw bisa rehat sejenak di kamar hotel sambal mengatur kemana tujuan selanjutnya untuk malam ini dan besok pagi yang paling memungkinkan, karena besok jam 12:30 adalah batas akhir petualangan Gw sebelum kembali ke KLIA.

Setelah selesai check-in dan mandi, jam 19:30 Gw makan di jajanan kaki lima di jalan Pudu. Dengan 9 Ringgit Gw dapat nasi putih, sayur kacang panjang dan ikan kembung plus segelas es teh tarik.

Setelah makan dengan santai sambil mengamati lalu lalang orang lokal dan kendaraan hampir satu jam, Gw memutuskan untuk menghabiskan malam di Petronas Twin Tower saja. Memang tahun 2014 dan 2016 Gw sudah pernah mampir ke sana tapi kala itu di siang hari. Nah kali ini Gw akan melihat Petronas Twin Tower di malam hari. Penasaran saja.

Untuk menuju kesana dari Jl. Pudu adalah naik LRT Laluan Sri Petaling dari stasiun Plaza Rakyat dan turun di stasiun Masjid Jamek. Dari stasiun ini Gw hanya perlu berpindah ke laluan LRT Kelana Jaya untuk menuju stasiun KLCC. Harga tiketnya hanya 2,2 Ringgit.Jl Ampang

Turun di Stasiun LRT KLCC, Gw menuju ke exit KLLC Mall di Jalan Ampang yang indah dengan hiasan lampu

Dari jalan Ampang, sudah terlihat sisi kiri Petronas Twin Tower, jadi Gw tinggal mendekat dan menyebrang jalan ke arahnya.

petronas twin towerMemang benar kata orang-orang, Menyala indah di saat malam.

Taman Twin TowerAir mancur di pelataran depan Petronas Twin Tower juga ikut menyala indah.

20 menit Gw berbaur dengan keramaian para turis lain menikmati keindahan Petronas Twin Tower, akhirnya Gw harus kembali segera ke hotel sebelum jam operasional LRT berakhir yaitu jam 23:00.

Kembali melalui jalur berangkat tadi. Gw tiba di Hotel Pudu 88 sekitar jam 22:15. Waktu yang tepat untuk segera istirahat untuk persiapan menghabiskan pagi tersisa keesokan harinya.

Keesokan harinya, Gw baru keluar hotel jam 9:30 sekalian check out. Yah, Gw rada kecapean sebetulnya karena sehari sebelumnya Gw menjelajah Melaka hingga sore.

Pagi ini tujuan Gw hanya ke Batu Caves setelah itu baru bertolak ke KLIA.

Menuju Batu Caves, Gw bertolak kembali dari stasiun LRT Plaza Rakyat menuju Stasiun LRT Bandaraya menggunakan laluan Sri Petaling dengan tarif 1,3 Ringgit. Turun di stasiun LRT Bandaraya, Gw menuju gate keluar untuk berpindah ke Laluan Komuter Seremban, tepatnya di stasiun Bank Negara.

Walah….malah nyasar, Gw ga merhatiin ada lorong jembatan di sebelah kanan jalan setelah keluar pintu stasiun LRT Bandaraya. Gw sudah nanya orang lokal yang sedang nungguin bus, malahan mereka ga tahu jalur kereta komuter dimana. Nanya juga sama orang keturunan India, ternyata dia juga turis….hahaha.

Jalan Raja LautKebablasan berjalan sepanjang Jl. Raja Laut ke arah Dataran Merdeka

Sudah di ujung Jalan Raja Laut, Gw harus berhemat energi karena backpack sudah menempel di punggung , Gw putuskan tidak balik lagi ke arah stasiun Bandaraya tapi Gw akan menjadikan daerah ujung Jalan Raja Laut menjadi venue wisata.

Panggung Bandaraya

Terletak di Merdeka Square, tempat pertunjukan teater seni ini kokoh berdiri sejak 1904

Gw gak tahu kenapa jalanan di depan Panggung Bandaraya menuju Dataran Merdeka ditutup. Gw sendiri tidak menuju Dataran Merdeka yang sudah terlihat di depan karena Gw pernah mengunjunginya pada tahun 2014.

Jadi tujuan Gw selanjutnya adalah jalan kaki menuju Masjid Jamek tepat di bawah stasiun LRT Masjid Jamek. Gw ke masjid ini dengan maksud akan bertolak dari Stasiun Masjid Jamek mengulang menuju Batu Caves kembali.

Masjid Jamek

Kiri atas : Stasiun LRT Masjid Jamek

Kiri bawah : Majjid Jamek dilihat dari pintu masuk (free entrance yaa….)

Kanan atas : Pakaian yang harus dipakai masuk ke Masjid Jamek apabila pengunjung tidak memakai pakaian muslim

Kanan bawah : Masjid Jamek dilihat dari halaman dalam.

Setelah selesai mengunjungi Masjid Jamek, Gw segera naik ke dalam stasiun LRT Masjid Jamek. Gw akan bertolak ke stasiun Bandaraya (kembali mengulang untuk menemukan stasiun komuter Bank Negara untuk menuju Batu Caves).

Ketika menunggu LRT ada orang lokal yang tanya ke Gw kemana arah stasiun PWTC, katanya dia mau mengunjungi travel fare untuk cari tiket ke Bali. Lucu juga ya orang lokal nanya arah tujuan ke Gw….hahahaha (Malaysia sudah kaya Negara sendiri aja).

Gw naik begitu kereta datang dan turun di stasiun Bandaraya. Nah, kali ini Gw ga mau kesasar 2x. Begitu keluar stasiun Bandaraya gw segera mencari jembatan penghubung menuju stasiun komuter Bank Negara. Akhirnya ketemu juga.

Jembatan Bandaraya bank negaraBelok kanan pintu keluar stasiun LRT Bandaraya, dalam jarak 100m kemudian belok kanan maka akan ketemu jembatan penghubung ke stasiun komuter Bank Negara

Hunting tiket di mesin tiket otomatis stasiun komuter Bank Negara kok tidak ada tujuan Batu Caves, Gw nanya ke ibu petugas kebersihan stasiun, katanya rute komuter dari KL Sentral ke Batu Caves sudah tidak beroperasi. Kereta komuter menuju Batu Caves saat ini bertolak dari stasiun komuter Sentul. Jadi Gw harus menuju stasiun itu jika mau ke Batu Caves. (Jika Gw bertolak dari KL Sentral sebetulnya ada free bus dari KL Sentral ke stasiun komuter Sentul baru kemudian di sambung dengan kereta komuter dari stasiun Sentul ke stasiun Batu Caves…..sesi ini akan Gw ceritakan di tulisan berikutnya).

Karena sudah jam 11:30 dan penerbangan Gw ke Jakarta jam 16:30, maka Gw putuskan untuk membatalkan trip ke Batu Caves. Gw segera ke KL Sentral untuk menuju KLIA.