Dibalik Penerbangan Air Asia QZ 206 Jakarta-Kuala Lumpur

Baru juga pulang dari ekspedisi ke Garut-Tasikmalaya-Sumedang , lelahnya berkelana seminggu di tiga kabupaten itu tak lantas membuat tubuh lelah. Boro-boro istirahat, Aku lebih memilih menuntaskan misiku menyelesaikan eksplorasi Asia Selatan dengan mengunjungi tiga negara tersisa….Bangladesh, Sri Lanka dan Maldives.

Tiket Air Asia yang kubeli seharga Rp 349.000 sejak 7 April 2018 mampu menjaga asaku dan dompetku untuk terus berkeliling dunia. Yes, Aku harus menjemput Malindo Air rute Kuala Lumpur-Dhaka di KLIA.

Sepanjang masa tunggu keberangkatan, banyak pertanyaan muncul dari teman-teman sekantor atau teman-teman lain diluar pekerjaan.

“Yeeee, jalan-jalan kok ke Bangladesh. Ga elit bingit”

“Lo mau liat apa sih Don di Bangladesh?”

“Tar lo pulang sakit loh, Don”

“Kurang kerjaan….mending ke Ancol guwe daripada ke Bangladesh”.

“Kenapa sih Don harus ke Bangladesh?”

Jawabku: “Ya suka-suka guwelah….duit-duit guwe…kaki juga kaki guwe”.

Eh gak gitu dink….kasar beud.

Hahaha….”Ya gimana pren, duitnya hanya mampu buat jalan dimari”….wkwkwk….Itu jawaban guwe ke mereka yeee.

Kan orang lain ga tau sih isi kepala guwe about traveling…..makin gila makin aseeeekkk…..makan aneh makin nagih…..hihihi.

—-****—-

Biasaaa….Nyegat DAMRI di Terminal Kampung Rambutan aja yang murah. Selain murah juga deket rumah bingit. Kupersiapkan Rp. 40.000 untuk membayar tarifnya dengan jam keberangkatan pukul 15:00. Perjalanan 1 jam 15 menit itu mengantarkanku tepat di Terminal 2F.

Melalui gate 5, Aku mulai memasuki pemeriksaan X-ray tahap pertama. Tak begitu mulus, backpack yang menjadi temanku satu-satunya terlihat dibolak-balik petugas AVSEC, dioles-oles menggunakan tissue basah lalu mengamatinya dengan seksama. Tak perlu khawatir….yang penting tak ada narkoba didadalamnya….hahaha. Kalaupun di tolak masuk, tenang brur….ini masih di kota sendiri. Tinggal balik lagi naik DAMRI….ya toh.

“Mbak, window seat donk !”, seruan memelasku kepada petugas check-in di konter Air Asia. Aduh, udah cantik baik pula, murah senyum…..eh emang tugasnye begonoh dink. “Ini mas”, sahutnya…..2D, yes gagal…..hahaha.

Yuk ngecap passport….geblek, padahal itu kan e-passport, tapi kebiasaannku mengecap passport menjadi tak peduli dengan adanya konter autogate.

Petugas Imigrasi  :  “Kemana?”

Aku                           : Sebutin aja detail satu-satu, supaya ga curiga kek waktu itu, “Penang, Dhaka, Colombo, Maldives pak. Transit Mumbai dan Singapore”. Njir perjalanan macam apa ituh….gile

Petugas Imigrasi  : “Backpacker?”

Aku                           : “Yoi pak”….eh salah, bukan begitu….”Betul pak”.

Petugas Imigrasi  : Lihat muka guwe, bolak-balik passport baru dan bekas guwe. Then….cekrek “hati-hati mas sendirian”.

Aku                           : “makasih pak….tentu saya akan hati-hati”.

Petugas                  : “Hebat nih si Mas”.

Cieeee….Guwe dipuji laki-laki….Alhamdulillah…..hahahaha. Pasti mikir guwe yang engga-engga….GUWE NORMAL KOK.

Kusempatkan shalat di ujung koridor sebelum masuk ke gate. Setelahnya, Aku memasuki pemeriksaan X-ray tahap kedua di depan gate D5….yesss, mulus.

Sedang asyik-asyiknya duduk membaca di sebelah charging station, datang sepasang perawakan Korea. Mengoprak-oprek lubang stop kontak yang sepertinya rusak.

Aku     :  “Hi, Sir. That’s broken. I had tried many times and failed”.

Dia       : “Oh yea….Why put it here if broken” pura-pura menendang pelan charging station sembari tersenyum.

Aku     : “Do you want go to South Korea?”.

Dia       : “Oh, Nup….I’m from California and will fly from KL”.

Aku     :  “Oh Nice”.

Dia       : “What are you doing here? “.

Aku     :  “My profession, your mean?”.

Dia       :  “yeaaa”

Aku     :  “Sales”.

Dia       :  “Good money?”

Aku     :  “If not good, I willn’t here to fly with you”.

Dia       :  “yea…yea…yea”, manggut-manggut sambil tersenyum menatapku.

Sepertinya pacarnya seorang travel vlogger. Ngoceh melulu dengan pedenya….hebat. Aku mana bisa kayak gitu. Lebih baik menulis daripada ngoceh terus macam Dia.

QZ 206 akhirnya merapat ke gate. Beuh….petualangan segera dimulai. Kehabisan air membuatku lari keluar untuk membeli mineral water. Dan sedikit mendapat peringatan dari petugas untuk segera kembali ke gate. Ok dah pak, daripada beli didalam pesawat, kan mahal.

Airbus A320-200 berkapasitas 186 penumpang.

Tepat jam 19:17, Aku mulai boarding.

Dibelakang cewek korean-american itu.

Penerbangan malam yang penuh turbulensi mengingat saat itu akhir Desember. Terlihat bapak setengah baya di sebelahku begitu tegang dan berpegangan erat pada armrest chair sepanjang perjalanan sementara Aku dan seorang perempuan muda yang mengapitnya hanya tersenyum kecut sambil menyembunyikan rasa was-was.

Kabin.

Karena pengetahuan terkiniku mengenai Ipoh dan Penang begitu minim, kuputuskan untuk menjelajah inflight magazine Travel360. Berharap menemukan informasi berharga mengenai pariwisata Ipoh dan Penang. Dan….yesss….Aku sungguh mendapatkannya.

Ipoh di inflight magazine Travel360.
Informasi mendasar tentang Penang.

QZ 206 bersiap mendarat. Tak bisa tidur selama perjalanan karena keasyikan membaca inflight magazine untuk mencari informasi. Kali ini petualangan transitku selama 5 hari di Malaysia bak bonek. Ngelayap tanpa bekal informasi yang cukup.

Bersiap-siap mendarat.

Itu bagasi buat apa ya? Perlengkapan keselamatan pernerbangan kali ya.

Begitu tiba di KLIA2 tentu fikiran yang langsung terbesit di benakku adalah cari free water station, makan malam, sembahyang, tiket bus ke Penang dan kemudian molorrrrrr.

Kamu harus menuju ke Transportation Hub di lantai 1 untuk mencari tempat makan murah. Oh ya…konter penjualan tiket bus juga ada disana

Yuks….siap-siap menuju Penang esok hari.

Sudah pernah coba beli tiket di 12Go ndak?. Sekali-kali boleh kamu coba deh. Berikut linknya: https://12go.asia/?z=3283832

Mengenal Penang Sentral

Semakin banyaknya direct flight dari Jakarta menuju Penang, membuat para traveler lebih memilih untuk turun di Penang International Airport daripada harus bersusah payah melintasi daratan negeri jiran selama 6-8 jam dari ibukotanya.

Padahal jika Kamu mau saja bersabar untuk melakukan perjalanan darat tersebut maka memorimu akan terisi dengan pengalaman yang menarik dan disertai dengan pemandangan yang mempesona di sepanjang negara bagian Selangor dan Perak.

Lalu….Buat Kamu yang melakukan perjalanan darat menggunakan bus maka mayoritas bus akan berhenti di Penang Sentral yang merupakan gerbang darat wisata Pulau Penang.

Oleh karenanya….supaya Kamu tidak bingung dan bisa mendapatkan gambaran mengenai bentuk dan seluk beluk Penang Sentral, maka Kuhadirkan tulisan ini untuk Kalian.

Yessss….itulah penampakan Penang Sentral.

PENANG SENTRAL….Dibangun pada tahun 2018 sebagai main transportation hub milik Negara Bagian Penang. Penang Sentral secara strategis menggantikan peran Butterworth Bus Terminal dengan sistem integrasi yang luar biasa. Bisa Kamu bayangkan, bangunan besar itu mengintegrasikan terminal bus, stasiun kereta dan pelabuhan ferry dalam satu lokasi. Bangunan terintegrasi ketiga yang kukagumi di Malaysia setelah KL Sentral dan Terminal Bersepadu Selatan (TBS).

Butterworth Bus Terminal sebelum Penang Sentral selesai dibangun.
Sumber: Travel-Penang-Malaysia.com
Pulau Penang dilihat dari Penang Sentral.

—–****—–

Inilah kisahku membedah Penang Sentral….

Jam 13:54, Aku sampai di Penang Sentral….ya iyalah, tentunya diturunkan di Drop Bay lantai 1.

Dan demi menghadirkan tulisan ini, Aku relakan diri menunda sejenak menuju ferry terminal yang bisa melabuhkanku di George Town si ibukota Negara Bagian Penang.

Selama 1 jam 20 menit, Aku akan mengeksplore Penang Sentral.

LANTAI 1

Bermula dari hall ini:

Kamu akan diturunkan di Drop Bay Area ketika tiba di Penang Sentral.

Secara umum lantai 1 ini digunakan untuk menurunkan dan menaikkan penumpang.

Ini adalah platform intercity/express bus area saat Aku meninggalkan Penang Sentral.

LANTAI 2

Yuk, Kita naik ke lantai 2. Ada apakah gerangan?

Begitu naik escalator, Kamu akan melihat sekilas luasnya lantai 2.

So….Apa yang kamu cari?

  1. Bus Ticketing Counter.

Konter penjualan tiket bus berada tepat dihadapanku setelah selesai menaiki escalator. Yang kulakukan saat itu adalah langsung membeli tiket bus untuk meninggalkan Penang dengan jadwal dua hari setelah kedatanganku di Penang. Keberadaan Self Ticketing KiosK yang menempel di salah satu pilar membuatku mengurungkan diri untuk bergegas ke konter. Lebih baik aku mengeksplore harga tiket bus termurah via mesin itu, karena banyak armada dengan tarif bervariasi menyediakan rute menuju Ipoh.

Akhirnya kugenggam lembaran tiket bus Perak Transit setelah memasukkan uang senilai Rp 70.000….Tiket bus di tangan, hati pun tenang.

Itu Departure Board Penang Sentral…. Self Ticketing Kiosk ada di pilar itu. Lihat ga?

2. Information Centre

Standar pertama ketika tiba di tempat asing adalah mengunjungi Information Centre untuk mendapatkan informasi sebanyak-banyaknya sebelum mengeksplorenya lebih dalam. Begitu pun Aku, menanyakan perihal pariwisata Penang, meminta brosur, mencari cara bagaimana meninggalkan kota dengan cara terbaik dan banyak hal lain yang kutanyakan ke petugas information centre.

Mudah kok menemukannya….tepat di depan Bus Ticketing Counter.

3. Ferry Terminal.

Berjalanlah membelakangi Bus Ticketing Counter maka setelah beberapa saat  Kamu akan menemukan linkway menuju Ferry Terminal. Terletak di sebelah kiri arah jalanmu maka akan terlihat dengan jelas direction sign menuju ke Ferry Terminal.

Linkway menuju Ferry Terminal.

Berjalanlah lurus maka dalam belasan langkah maka kamu akan menemukan Customer Service Centre yang menjual tiket ferry menuju George Town. Nama ferry terminalnya adalah Pangkalan Sultan Abdul Halim.

Murah kok….harga tiketnya Cuma Rp. 4.000. Satu tiket untuk pulang pergi

4. Shopping Counter.

Sebetulnya Shopping Counter lebih banyak berada di lantai 3. Aku tak sempat mengunjunginya karena sudah kesorean dan jika tak segera meninggalkan Penang Sentral maka eksplorasiku di Pulau Penang pasti akan terganggu.

Shopping Counter yang kutunjukkan ini hanya yang berada di lantai 2.

5. Eatery

Kedai penjual makanan ada di dekat linkway menuju Ferry Terminal. Sudah pasti dijamin kehalalannya dan harganya yang tergolong murah.

Iqbal’s Restaurant menjadi tempat makanku saat masuk dan keluar Penang
Cobain cuminya deh….maknyus

6. Stasiun Butterworth.

Satu moda transportasi lagi yang terintegrasi di Penang Sentral adalah kereta. Nah, stasiun keretanya bernama Stasiun Butterworth. Hanya saja bangunannya terletak terpisah dari bangunan utama Penang Sentral.

Untuk menemukan stasiun ini. Berjalanlah lurus melewati Bus Ticketing Counter di lantai 2, maka Kamu akan menemukan lift di ujung lantai. Kemudian turunlah ke lantai 1 melalui lift itu.

Lift diujung ruangan lantai 2.

Tak terlalu jauh setelah keluar dari lift di lantai 1 maka Kamu akan menemukan sebuah lorong dengan tanda KTM (Keretapi Tanah Melayu) sebagai petunjuk menuju Stasiun Butterworth.

Penampakan depan lorong.

Setelah beberapa puluh meter menyusuri lorong maka Kamu akan menemukan bangunan berwarna putih yang tak lain adalah Stasiun Butterworth.

Maksud hati berburu tiket ETS (Electric Train Service) tapi ternyata sold out….ealah.

OKE…Cukup sekian ya. Aku sudah menjelaskan semua hasil eksplorasiku di Penang Sentral.

Jadi, akhirnya Kamu mau ke Penang lewat darat atau lewat udara nih?…….

Bus dari Singapura ke Johor Bahru

Sepandai-pandai tupai melompat akhirnya jatuh juga….Dasar Donny si tupai.

Yesss….malam itu guwe di usir dari terminal 2 Changi International Airport….Aseeeeekkkkkkkk….pasport ditandai….yuhuuuu.

Sejak 2014, selalu kucing-kucingan dengan polisi bandara Singapura. Kini si kucing ketangkep basah sedang tidur di balik sebuah kursi tunggu di terminal 2 Changi International Airport….Memalukan.

4 jam sebelum kejadian….

Maskapai “abu-abu bintang orange” dengan nomor penerbangan 3K206 mengantarkanku ke Terminal 1 Changi International Airport pada 00:30.

Karena stasiun MRT Changi Airport berada di Terminal 2 dan baru akan beroperasi pada jam 5:30, maka kuputuskan untuk berpindah ke Terminal 2.

Akhirnya bersembahyang dan sekaligus beristirahat di dalam prayer room hingga pukul 02:00. Tapi dinginnya AC memaksaku berpindah ke deretan kursi di depan ruang tunggu penumpang. Asumsiku bahwa polisi sudah selesai menyisir area itu ternyata salah besar.

Ditengah mimpi, airport security berpengawal dua polisi belia bersenjata laras panjang membangunkanku. Ahhhh….guwe faham….Njiirrr, ketangkep juga setelah 4 tahun kucing-kucingan perihal beginian .

Airport security: “Helo Sir, Can me see your passport and ticket?”

Guwe: (sambil menyerahkan passport)  “Good night Sir, I’m sorry before. I am waiting for first train to downtown. I just arrived 3 hours ago.”

Airport security: “Sorry, How long do you will stay in Singapore?”.

Guwe: “3 Days 2 Night, Sir”.

Airport security: “This hall is only for transit passengers. You can’t wait the train here. Let me take you to immigration counter”….(Cekrek….Syem, passportku difoto. Dikirim pula ke boss nya via wa….Hmmh, Aku sudah ditandai di Changi….ketengkep sekali lagi pasti masalah….hahaha).

Karena diantar tentara, petugas imigrasi wanita keturunan India itu pun menjadi judes dan marah-marah kepadaku ketika mengecap passport….semakin marah wajahnya makin seksi kek Kajol….hihihi.

2 jam ga bisa merem….lah iya, lantai setelah konter imigrasi kan tak berkarpet. Mana mungkin tidur sambil duduk di bangku keras kek gitu.

Di tengah kantuk yang sangat (itu karena siang hari sebelum berangkat, Aku kerja full di Bandung dan sorenya langsung ke Soekarno Hatta International Airport….gile ye, rumah di Jakarta, siang kerja di Bandung besoknya sudah ngelayap aja di Singapura….hahaha), kuputuskan untuk menyantap mie bersertifikat halal di kedai ini:

Terletak tepat di exit gate setelah konter imigrasi terminal 2.
Murah….Cuma Rp. 47.500.

Halah….malah nulis ga keruan.

—-****—-

Yuk ah fokus ke tema….

Tujuan akhir kedatanganku yang ke-7 di Singapura kali ini adalah Johor Bahru, Malaysia. Kenapa lewat “Negeri Singa”?….ya tentu akan lebih murah costnya.

Selepas menyantap mie pagi itu, Aku bergegas menuju platform MRT di Changi Station. Dengan membeli tiket seharga Rp. 26.000 di mesin otomatis, Aku menuju Stasiun Jurong East dengan waktu tempuh 70 menit.

Kenapa Stasiun Jurong East?….Karena disinilah letak shelter bus CW3/CW4 tujuan Johor Bahru via Tuas Checkpoint yang merupakan perbatasan darat di selatan Singapura dan Malaysia.

Terpaksa menahan pipis karena bau pesing toilet dibalik keramaian Stasiun Jurong East. Maklum stasiun ini terintegrasi dengan terminal bus menuju berbagai daerah di Singapura dan bahkan keluar Singapura.

Setelah membeli tiket bus di konter, Aku segera memasuki jalur antrian dan menunggu kedatangan bus. Dan akhirnya Aku kebagian bus CW3 yang datang 5 menit kemudian.

Tiket bus CW3 seharga Rp. 26.000.
Tertib mengantri sesuai jalur.

Aku memilih bangku paling belakang supaya leluasa mengambil foto selama perjalanan.

AC busnya mantab.

Bus terus bergerak menuju Tuas Checkpoint melalui AYE Toll Road. Lancarnya jalanan Singapura,  membuat bus tiba di Tuas Checkpoint hanya dalam waktu 30 menit.

Aku sengaja memilih jalur antrian yang dijaga petugas wanita keturunan Melayu untuk memudahkan pemeriksaan imigrasi. Alhasil proses perpindahan antar negara di perbatasan menjadi lancar.

Ngantri di Tuas Checkpoint.

Setelah melewati konter imigrasi, Aku segera menuju ke tempat menunggu bus yang akan mengantarkanku ke CIQ (Customs Immigration Quarantine) Sultan Abu Bakar Tanjung Kupang yang merupakan bangunan imigrasi milik Malaysia.

Aku tak perlu mencari bus yang kutumpangi sebelumnya karena selama tiket masih tersimpan, Aku bisa meneruskan perjalanan dengan bus CW yang lain dengan tujuan yang sama.

Pemandangan laut sepanjang Second Link Expressway yang merupakan penghubung Singapura dan Johor Bahru, Malaysia.

Perjalanan selanjutnya pun dimulai. Kondisi Second Link Expressway dari arah Johor Bahru menuju Tuas Checkpoint macet parah di jam berangkat kerja kala itu. Sebaliknya, jalanan yang meninggalkan Tuas Checkpoint menuju CIQ Sultan Abu Bakar Tanjung Kupang kosong melompong.

Kosong di jalurku vs penuh di jalur sebelah.

Dan hanya dalam 15 menit, Aku tiba di CIQ Sultan Abu Bakar Tanjung Kupang. Tak ada pemeriksaan serius selama proses imigrasi dan akhirnya Aku bisa dengan cepat melewatinya.

Selepas mengecap passport, berarti  perjalanan lanjutan menggunakan bus CW3 sudah selesai.

Stempel masuk Malaysia via Imigrasi CIQ Sultan Abu Bakar Tanjung Kupang dan stempel keluar Malaysia via Imigrasi Bangunan Sultan Iskandar.

Aku pun perlu mencari bus dari CIQ Sultan Abu Bakar Tanjung Kupang menuju Legoland. Beruntung banyak pengendara bus keturunan India yang menanyakan tujuanku. Sehingga Aku ditunjukkan bus CW7 yang melewati Legoland dalam rute resminya.

Main lego di Legoland????……kek guweh.

Sampai Legoland juga akhirnya.

Mudah mendapatkan tiket bus dari Singapura ke Johor Bahru atau sebaliknya?. Cobain aja pesan via e-commerce perjalanan 12Go atau https://12go.asia/?z=3283832

Bus dari KLIA2 ke Penang

Tiket ketengan menuju ke Dhaka, Bangladesh mengharuskanku transit ke Kuala Lumpur. Plisssss deh….yang bener aja, Aku harus menginjakkan kaki di Kuala Lumpur untuk ke 12 kali.

Hebat euy si Donny….

Hebat apaan, Guwe bosennnnn….

Aku harus cepat memutar otak untuk menjadikan perjalanan kali ini berkesan.

Fine….Akhirnya Kuputuskan meninggalkan Kuala Lumpur dan memilih mengunjungi Penang dengan cara  memperpanjang waktu transitku.

Hingga 2017, Aku tak pernah kesampaian mengunjungi Penang. Sementara jadwal klayapanku sudah jauh meninggalkan Asia Tenggara. Jadi kupaksakan diri untuk mampir ke Penang sebelum menghabisi Asia Selatan.

Lalu….Bagaimana mencapai Penang dari KLIA2 (Kuala Lumpur International Airport Terminal 2)?

Kukasih pilihan deh,

Alternatif 1. Naik ETS (Electric Train Service)

Biaya yang akan dikeluarkan jika naik ETS:

  1. Aerobus KLIA2-KL Sentral = Rp. 40.000
  2. ETS Stasiun KL Sentral-Stasiun Butterworth = Rp. 286.000
  3. Ferry dari Pangkalan Sultan Abdul Halim Ferry Terminal di Penang Sentral menuju Pangkalan Raja Tun Uda Ferry Terminal di Pulau Penang = Rp. 4.000

Tarif keseluruhan = Rp. 330.000

Alternatif 2. Naik Bus

Biaya yang akan dikeluarkan jika naik bus:

  1. Direct bus dari KLIA2-Penang Sentral = Rp. 190.000
  2. Ferry dari Pangkalan Sultan Abdul Halim Ferry Terminal di Penang Sentral menuju Pangkalan Raja Tun Uda Ferry Terminal di Pulau Penang = Rp. 4.000

Tarif keseluruhan = Rp. 194.000

Sudah tahu kan Aku memilih naik apa?….

—-****—-

Malam hari pukul 22:05, Air Asia QZ 206 mendaratkanku di KLIA2. Artinya sudah jelas kan….moloooorrrr lageeeee di bandara….hahaha.

Selepas mengecap passport di konter imigrasi, Aku segera menuju ke Transportation Hub di lantai 1 Gateway@klia2 mall. Dan selanjutnya Aku duduk manis di ujung NZ Curry House untuk menyantap nasi lemak dan teh O seharga Rp. 23.000 sebagai makan malamku….makan malam kok tengah malam….parraaahhhh.

Tengah malam makan beginian….
Menu yang sama kuulang dipagi hari kemudian sebelum berangkat ke Penang.

Dan untuk mengamankan satu tiket menuju Penang. Di tengah malam itu pula, Aku membeli tiket bus StarMart Express dengan tujuan akhir Penang Sentral seharga Rp. 190.000.

Tengah malam pun konter sangat ramai….Awas kehabisan tiket!….Coba deh beli di 12Go
Tujuan akhir masih tertera terminal Butterworth. Sebelum Penang Sentral selesai dibangun, memang bus berhenti di terminal itu.

Yessss….

Makan sudah….

Tiket sudah….

Menjadikan malam itu nyenyak beristirahat di surau (mushola) Departure Hall lantai 3 KLIA2.

—-****—-

Dan perjalanan menuju Penang pun dimulai. Pagi itu tepat pukul 06:00, Aku menaiki StarMart Express di Door1-platform A01 sesuai tiket.

StarMart Express sedang merapat di platform.
Aku duduk di seat nomor 22.

Karena ini perjalanan panjang maka kubekali diriku dengan membeli sebotol air mineral dan snack ringan seharga  Rp. 15.500.

Menyusuri jalanan North-South Expressway, Starmart Express berjalan dengan santai. Dan 3 jam 45 menit kemudian, Aku tiba di Terminal Amanjaya, Kota Ipoh. Ipoh sendiri adalah Ibu Kota Negara Bagian Perak.

Bus menurunkan dan menaikkan sejumlah penumpang di Terminal Amanjaya.
Suasana jalan ketika meninggalkan Kota Ipoh.

Pukul 11:00, Bus merangsek ke jalan Taiping dan akhirnya berhenti di Terminal Kuala Kangsar. Penumpang melakukan toilet break selama 10 menit.  

Terminal Kuala Kangsar terletak tepat di jalan Persiaran Bendahara, kota Bandar Baru, Distrik Kuala Kangsar, Negara Bagian Perak.

Pada jam 11:55, bus berhenti di kantor StarMart Express Taiping di Jalan Kampung Dew, daerah Simpang. Ini adalah tujuan akhir Bus StarMart Express dari KLIA 2. Dan untuk melanjutkan perjalanan menuju Penang,  penumpang akan dipindah ke bus StarMart Express yang lain atau bus yang bekerjasama dengan StarMart Express.

StarMart Express @Taiping Head Quarter terletak di Distrik Laut, Matang dan Selama, Negara Bagian Perak.

Dan kali ini, Aku dipindahkan ke Bus Eagle yang bekerjasama dengan StarMart Express.

Bus “Hijau” ini dimiliki oleh perusahaan Eagel Coach SDN.BHD.

Tak menjadi masalah buatku untuk dipindahkan ke bus lain yang penting sampai tujuan. Tapi tak tahu dengan penumpang yang lain, apakah mereka biasa juga atau mungkin ada yang sewot…..hahaha.

OK lanjut yaaaa….

Jam 12:30, Bus tiba di Terminal Bas Express Kamunting Raya untuk melakukan toilet break kembali selama 10 menit.

Terminal ini terletak di kota Kamunting, Distrik Laut, Matang dan Selama, Negara Bagian Perak.

10 menit kemudian bus perlahan meninggalkan Kota Kamunting dan mempertontonkan keindahan alam dengan melalui jalan yang meliak-liuk menembus perbukitan .

Cakep banget dah alam Negara Bagian Perak.

Terlelap dengan pulas karena jam tidur yang kurang pada malam sebelumnya di KLIA2 hingga akhirnya tak terasa bus mulai memasuki platform Penang Sentral pada pukul 13:54.

Rasa ingin tahu yang tinggi membuatku tak terasa capek menaiki bus selama 7 jam 54 menit untuk mencapai destinasi impian….”Penang”

Aku diturunkan di platform ini ketika tiba di Penang Sentral.

So guys,…..Siapa sih yang ga mau melihat Kota Tua George Town yang menjadi Situs Warisan Budaya UNESCO ?

Ayolah datang kemari….ngeteng aja sepertiku, dijamin murah meriah.

Tiket bus KLIA2-Penang bias Kamu dapatkan juga di e-commerce perjalanan 12Go

Scoot Air TR457 dari Kuala Lumpur ke Singapura (KUL-SIN)

SCOOT AIR….maskapai Low Cost Carrier (LCC) milik Negeri Singa yang kepemilikan sahamnya dikuasai oleh Singapore Airlines.

Lintasan terbang Scoot Air TR457. Sumber dari https://flightaware.com

Scoot sendiri masuk list ke-22 dari seluruh maskapai yang pernah kunaiki. Melalui nomor penerbangan TR457 dengan rute regular Kuala Lumpur (KUL) ke Singapura (SIN), Aku pertama kali menggunakan jasa Scoot Air  tertanggal 31 Maret 2018. Kali ini Aku menaiki pesawat berjenis Airbus A320 dengan kapasitas 168 penumpang.

Walaupun sebenarnya Aku pernah menggunakan Maskapai  Tiger Mandala pada 26 November 2013 saat menuju ke Bangkok dan Tiger Air pada 11 Januari 2015 saat kembali dari Vietnam. Kini kedua maskapai tersebut sudah merger ke dalam Maskapai Scoot Air.

Tuh kan sudah merger, masih ada identitas Tiger Air di badan pesawat Scoot Air TR457

Ketidakjelasan terminal asal keberangkatan (apakah dari KLIA terminal 1 atau KLIA terminal 2) membuatku sedikit gelisah karena biasanya Departure List baru keluar 2 jam sebelum penerbangan. Dan tentu perlu waktu untuk berpindah dari KLIA2 ke KLIA.

Untuk penerbangan internasional, Aku selalu memulai perjalanan menuju bandara 4 jam sebelum waktu penerbangan. Jadi Aku meninggalkan Westree Hotel pada pukul 05:30 dan bergegas menuju ke Skybus/Aerobus Shelter yang terletak di KL Sentral. Karena jaraknya cuma 40 m, Aku hanya perlu berjalan kaki selama 3 menit menuju shelter.

Security hotel keturunan India tajam memerhatikanku di pintu lobby bagian dalam….Lha iya, Aku berdiri lama ditengah pintu….clingak-clinguk kiri kanan kaya ayam mau nyebrang….Saking sepinya, Aku harus memastikan tak ada yang mencurigakan di sepanjang jalan yang akan kulewati menuju KL Sentral.

Yesss….Sepi, ndak ada orang….Kabuuurrrrrr. Bak atlit jalan cepat, Aku mulai menjauhi hostel. Aku tiba saat bus siap berangkat.

Dengan 12 Ringgit aku tiba di KLIA2 pada pukul 6:30. Setiba di KLIA2, Aku segera menuju information centre untuk menanyakan dimana terminal TR457 akan lepas landas. Pagi-pagi Aku sudah ngrepotin Si mbak India petugas information centre, karena Departure Board belum menampilkan informasi tentang TR457 maka Dia harus menarik keyboard dan mencarikan info untukku….Hadeuhhh, sudah manis….baik pulak si teteh….eh, si mbak.

Buseeettt….mataku melotot sambil mengunyah nasi lemak telur ceplok di pojokan NZ Curry House….kek kambing yang sedang memamah biak. Pertanda Aku tak bisa membohongi otak bahwa perutku belum siap bersarapan.

Ya memang tak ada pilihan lain, lebih baik sarapan di kedai makan India dengan harga paling murah sebelum menuju ke lantai 3 untuk proses check-in, proses imigrasi dan keberangkatan.

Departure Board di Departure Hall
Information Centre di Departure Hall
Departure Hall Area
Konter check-in Z2-Z3 untuk Scoot Air TR457
Setelah melewati konter imigrasi, Aku menuju ke ruang tunggu di gate L3.

Aku memasuki ruang tunggu pada pukul 08:05. Dalam kejenuhan menunggu, datang kepadaku wajah Vietnamese dan bertanya:

Vietnamese: “Hi, Can you explain to me about my cigarette (sambil menunjukkan sebungkus rokok yang sudah terhisap dua puntung). Can me bring it when entering Singapore?”

Aku : “Do you bring another one  or just this opened pack?. If you just bring it, you can savely entering Singapore.”

Vietnamese: “No, I just bring it. So it’s savely. Thanks you.”

Aku: “You are welcome”.

Ruang Tunggu di depan Gate L3
Setelah menunggu selama 20 menit, akhirnya boarding process dimulai.
Mana 14D….manaaaaa?

Scoot Air identik dengan warna kuning. Pesona pramugari-pramugara muda keturunan Tiongkok semakin segar ketika penampilan mereka terlihat berbalut t-shirt dan syall serba kuning.

Terbang diatas selat Malaka
Langit sungguh cerah, nikmat banget terbang tanpa turbulensi.

Setelah mengudara selama 1 jam 15 menit, Aku mendarat di Terminal 2 Changi International Airport. Berusaha secepat mungkin meninggalkan Changi untuk menuju ke Greendili Backpackers Hostel di bilangan Race Course Road dan selanjutnya siap mengeksplorasi Singapore untuk ke-7 kalinya.

Cari peta MRT sebelum masuk konter imigrasi Changi International Airport.
Catch the MRT ! Menuju pusat kota

Makan siang dulu yuk ke Mustafa Centre sebelum walking-walking.

Sebagai alternatif, tiket pesawat, kereta dan bus dari Kuala Lumpur ke Singapura bisa dipesan melaui e-commerce perjalanan 12go Asia

Bus dari Terminal Amanjaya ke Terminal Medan Kidd, Ipoh, Malaysia

Mencari informasi tentang destinasi wisata di kota Ipoh melalui dunia maya sangatlah banyak dan mudah.

Tetapi via googling, Aku tak pernah menemukan cara pasti untuk memasuki kota Ipoh dari gerbang darat utama mereka yaitu Terminal Bus Amanjaya….itu intinya. Itu kenapa Aku merasa perlu menulis artikel ini dan mudah-mudahan para backpacker sepertiku diluar sana bisa menemukan tulisan ini kelak di google.

Tapi yang jelas hotel tempatku menginap terletak 1 km di sebelah timur sebuah terminal bus kecil bernama Terminal Bus Medan Kidd lalu Aku bisa berjalan dari terminal bus ini ke Abby by the River Hotel selama 15 menit.

Mencari taxi tentu sangatlah mudah, hanya perlu sedikit bersiul maka Taxi akan menghampirimu. Karena taxi tak ada dalam kamus backpackerku maka tanpa informasi memadai aku harus mencari bus kota ini sampai dapat.

Kekhawatiran dalam diriku pasti ada saja….mulai dari khawatir terjadi scam atau khawatir tidak sampai hotel tepat waktu….tapi apa boleh buat…inilah serunya solo traveling minim informasi.

Bus Perak Transit yang berangkat dari Penang Sentral menurunkanku di lantai pertama Terminal Bus Amanjaya.

Aku langsung memasuki arrival hall bus antarkota.  Jajaran bangku tempat penumpang menunggu menjadi pemandangan pertama yang kulihat disini.

Aku sengaja mengalokasikan waktu sekitar 30 menit untuk mengeksplore seisi Terminal Amanjaya.

Tentu Aku harus mencari informasi tentang bus ke tengah kota Ipoh. Beruntung Aku menemukan pusat informasi Terminal Bus Amanjaya di lantai 1 tepatnya di lobby terminal.

Menurut petugas wanita di pusat informasi ini, Bus menuju Terminal Medan Kidd terletak di lantai 2 dan bernomor T30a.

Tak mau menunggu lama karena khawatir kesorean, Aku segera naik menggunakan escalator untuk mendapatkan waktu keberangkatan bus terdekat.

Dan akhirnya shelter bus itu ketemu juga:

Dan inilah rute bus dari Terminal Amanjaya menuju berbagai tempat tujuan di Ipoh:

Sedangkan ini adalah jadwal Bus No T30a dari Terminal Amanjaya menuju Terminal Medan Kidd:

Perjalananku menuju ke pusat kota Ipoh pun dimulai dengan menaiki MyBas T30a:

Membayar Rp. 12.250 (3,5 Ringgit) ketika memasuki pintu depan, Aku disambut dengan senyum akrab sang sopir keturunan India.

Ada yang berbeda dengan pelayanan MyBas ini. Ketika menggunakan bus di Kuala Lumpur dan Penang (Rapid KL dan Rapid Penang), jika Kita membayar  lebih besar dari tarif maka uang kelebihannya tak akan dikembalikan. Tetapi ketika naik MyBas yang dioperasikan oleh Perak Transit ini, Aku membayar dengan uang 5 ringgit dan si sopir memberikan kembalian 1,5 Ringgit kepadaku….Fair and Good.

Lantunan lagu-lagu India mengiringi perjalananku siang itu. Bus sempat berhenti sejenak untuk mengisi bahan bakar di sebelah Terminal Amanjaya.

Selama perjalanan Aku tekun memperhatikan seorang solo traveler wanita keturunan China yang terus memperhatikan google maps nya. Pasti dia juga minim informasi sepertiku….hehehe.

Beginilah beberapa pemandangan selama perjalananku menuju pusat kota

Dalam 40 menit akhirnya MyBas merapat ke Terminal Medan Kidd

Aku tak menunggu lama di terminal Medan Kidd karena Aku harus segera menuju ke Hotel untuk check in dan berkeliling kota.

Kuperhatikan lagi si solo traveler wanita itu yang terlihat bingung di terminal. Kusempatkan bertanya mau kemana dirinya, tetapi dia bilang akan ke tengah kota menggunakan taxi. Aku sempat menawarkan diri untuk berjalan kaki bersama tetapi sepertinya dia tak percaya….hahaha. Tampang gembel sepertiku memang sepertinya mencurigakan….wkwkwk. Well yang penting aku sudah berusaha menawarkan kebaikan…..#gombaladamaunyaguweh

Kuputuskan untuk segera berjalan kaki menyusuri trotoar kota Ipoh

Menyusuri jalanan ini menuju ke Abby by the River Hotel

Aku harus berhenti beberapa kali karena hujan ringan mengguyur Ipoh kala itu. Dan akhirnya dalam 30 menit Aku tiba di Abby by the River Hotel.

Check-in, bayar, taruh backpack di kamar….lalu ngelayap keliling kota sampai malam. Akhirnya Aku bisa mencoret satu destinasi dalam bucket list ku.

Destinasi Wisata di Pusat Kota Ipoh, Malaysia

Ipoh….Ibu Kota negara  bagian Pahang ini terletak 200 km di sebelah utara Kuala Lumpur. Kota berjuluk Kota Bugenvil ini memang tak seramai Penang atau bahkan Kuala Lumpur, tetapi percaya padaku bahwa kota ini akan memberikan sisi eksotisme berbeda karena letak kota ini yang dibentengi gugusan perbukitan yang cantik.

Waktu menunjukkan pukul 16:17. Jadi setelah check-in dan menyimpan backpack di dormitory milik Abby by the River Hotel, Aku memutuskan menghabiskan hari pertamaku di Ipoh dengan mengunjungi pusat kotanya.

Abby by the River Hotel tempatku menginap selama di Ipoh

Abby by the River Hotel cukup baik dalam menyediakan informasi wisata dengan adanya spot khusus di pojok lobby yang menyediakan banyak leaflet pariwisata Ipoh. Setelah 15 menit membaca informasi, Kusimpulkan bahwa hal yang menjual di pusat kota Ipoh ini adalah landmark Old Town yang tentu adalah peninggalan kolonial Inggris abad 19.

Tak berfikir lama, Aku segera keluar hotel untuk menuju pusat kota. Menyusuri Jalan Sultan Iskandar yang merupakan jalan protokol di Ipoh, sekejap suasana hiruk pikuk dalam otakku lenyap tanpa bekas. Jangan samakan dengan Jakarta, karena kota ini  berbeda dengan metropolis ibu kota. Kamu akan merasa menjadi pemilik kota ini karena ketenangannnya.


Kinta River membelah indah Jalan Sultan Iskandar

1. Hugh Low Bridge.

Jembatan ini dibangun untuk menyambungkan Jalan Sultan Iskandar yang melintasi Kinta River.

Gerimis membuatku lebih sejuk menikmati sungai Kinta dari jembatan ini

Berhenti sejenak diatas jembatan, Aku mengamati aktivitas beberapa warga kota Ipoh yang asyik memancing di beberapa spot Kinta River

2. Ipoh River Front Park

Begitu menyeberangi Kinta River, Aku langsung disuguhi taman kota nan luas. Terkenal dengan nama Ipoh River Front Park.

Taman kota yang cukup luas ini memiliki kolam, air mancur dan kedai-kedai makanan didalamnya. Menjadi tempat yang nyaman untuk refreshing.

250 m menyusuri Jalan Sultan Iskandar, Aku berbelok ke kanan menyusuri pertokoan di Jalan Bijeh Timah.

Menemui sepasang turis Eropa dan sekeluarga turis Malaysia membuatku merasa tak sendiri di kota ini. Perut laparku semakin menjadi ketika berada diujung jalan ini karena jajaran tenda makanan ini:



Inilah satu dari tiga tenda street food yang kutemui sore itu

Tak mau kehilangan banyak waktu untuk sekedar nongkrong, kuputuskan untuk lebih memilih mengunyah biskuit yang kubeli di Penang Sentral siang tadi sambil terus berjalan menyusuri keindahan Ipoh.

3. Ipoh Mural Art

Nah, berbelok ke kiri di ujung jalan, Aku menemukan beberapa lukisan mural layaknya mural-mural terkenal di Penang.

Kamu harus jeli dan sabar dalam mencari lukisan mural ini karena beberapa letaknya tersembunyi. Sore itu Aku bak bermain petak umpet dengan Kota Ipoh untuk menemukan sisi keindahannya.

4. Gedung HSBC Bank

Surya dikala senja saat itu membuat setiap pemandangan yang kulihat menjadi sangat istimewa. Begitu pula dengan Gedung HSBC ini. Bangunan tahun 1931 ini adalah bagian dari Ipoh Heritage Trail

5. Padang Ipoh

Lapangan ini dalam sejarahnya digunakan sebagai tempat para pejabat kerajaan Ipoh melakukan upaca penghormatan terhadap Kerajaan Jepang pada masanya.

Disinilah akhirnya Aku bisa menemukan para warga kota Ipoh melakukan aktivitas. Dari anak-anak muda yang bermain sepak bola hingga keluarga-keluarga kecil yang membawa anaknya untuk sekedar bermain dan makan bersama di lapangan ini.

6. Ipoh Tourist Information Centre

Terletak sangat tersembunyi di sebuah ujung jalan buntu (Jalan Bandar), Aku bersikukuh mendatanginya untuk mendapatkan informasinya sebanyak mungkin untuk mengeksplore Ipoh keesokan harinya.

7. Ipoh Town Hall

Bangunan tahun 1916 ini pada awalnya adalah kantor administrasi utama kota Ipoh. Namun saat ini sudah digunakan untuk function space seperti untuk weddings dan event-event umum.

8. Cenotaph War Memorial

Digunakan untuk memperingatai mereka yang gugur dan terluka dalam perang negara dan diresmikan penggunaannya pada tahun 1927.

9. Kantor Kepolisian Negara Bagian Perak

Ini adalah Markas dari Royal Malaysia Police Daerah Perak. Aku sebetulnya tidak berani mengambil foto kantor kepolisian ini. Tapi karena kebiasaan jeprat-jepret akhirnya secepat kilat kuabadikan bangunan ini.

10. Masjid Sultan Idris Shah II

Langkah kakiku sore itu kututup dengan bersembahyang maghrib di Masjid Negeri Perak ini. Keramahan warga Ipoh sangat terasa ketika Aku menunaikan ibadah. Senyuman hangat yang mengiringi jabat tangan sesama jamaah membuatku serasa berada di negeri sendiri.

Malaysia memang telah menjadi rumah kedua bagiku karena kemiripan budayanya.

Tiba saatnya untuk meninggalkan pusat kota dan mendekat ke hotel karena suasana sudah sangat sepi.


Beranikah kamu jalan sendirian di sepinya malam kota Ipoh….asik-asik sedap lho…cobain deh

Sepinya kota membuatku sedikit struggling dalam mencari makan malam. Walau akhirnya Aku menemukan semangkuk Mee Kari seharga Rp. 14.000 di Kedai Mee Daud Mat Jasak yang terletak di Jalan Dato Onn Jaafar di daerah Kampung Jawa.

Selepas kenyang, Aku segera memutuskan kembali ke hotel untuk mandi air hangat dan beristirahat. Bersiap untuk eksplore Ipoh esok hari.


Inilah kamar seharga Rp. 70.000/malam tempatku beristirahat

Bus dari Penang ke Ipoh, Malaysia

Begitu tiba di Penang Sentral dari perjalanan darat 7 jam 32 menit dari Kuala Lumpur International Airport Terminal 2 (KLIA 2) menggunakan bus Star Mart Express, Aku bergegas menuju Stasiun Butterworth untuk berburu tiket Electric Train Service (ETS) menuju Ipoh untuk keberangkatan lusa hari setelah kedatanganku di Penang.

Hasrat hati untuk mencicipi jasa kereta listrik jenis ETS ini sirna karena tiket ternyata sudah sold out.

Fine….“Naik bus lagi”, hatiku bergumam.

Akhirnya Aku kembali ke Penang Sentral Lantai 2 untuk mencari tiket bus. Sedikit was-was, karena kalau sampai tiket bus habis maka rencanaku untuk menginjakkan kaki di Ipoh untuk pertama kalinya bisa gagal.

Jika gagal mendapatkan tiket bus ke Ipoh maka Plan B ku adalah memperpanjang waktu kunjunganku di Penang kemudian kembali lagi ke Kuala Lumpur untuk mengejar penerbangan Malindo Air ke Dhaka, Bangladesh.

Yes….Aku mendapatkan tiketnya.

Yang perlu Kamu ketahui bahwa Penang Sentral menyediakan dua cara untuk membeli tiket bus dari Penang ke Ipoh.

Pertama, Kamu bisa langsung membelinya di Bus Ticketing Counter di lantai 2. Berikut ini adalah suasana konternya:

Kedua, kalau Kamu mengaku sebagai generasi milenial maka seharusnya Kamu akan membeli tiket bus di Self Ticketing KiosK. Terletak di lantai 2 juga, berikut ini guys mesinnya:

Aku memilih Bus Perak Transit sebagai armada pengantarku ke kota Ipoh. Tarif bus seharga Rp. 70.000 cukup membantu membuatku berhemat di awal perjalanan panjangku.

Lusa hari berikutnya, setelah merasa cukup menjelajah Penang selama dua hari, akhirnya perjalananku ke Ipoh dimulai.  Satu jam sebelum jadwal keberangkatan, penumpang baru boleh masuk ke Terminal Bus Penang Sentral yang terletak di lantai 1. Aku langsung menuju Gate 3 sesuai dengan yang tertera di tiket untuk menunggu bus datang.

Setelah menunggu selama 16 menit, akhirnya Bus Perak Transit tiba dan standby di platform B09

Bus berangkat tepat waktu pada 14:00.

Perjalanan ke Ipoh sejauh 140 km ini ditempuh dalam waktu 1 jam 49 menit.  Melewati pemandangan yang cukup mengesankan.

Aku mengulang pemandangan ini dua kali, karena dalam perjalananku dari KLIA 2 ke Penang dua hari sebelumnya juga melewati jalanan yang sama.

Bus menyempatkan sekali toilet break dalam perjalanan ini pada suatu tempat yang aku tak sempat mendeteksi dimana letaknya.

Pada pukul 15:49 akhirnya bus merapat ke Terminal Bus Amanjaya. Inilah terminal bus antar kota di Ipoh.

Memasuki Terminal Amanjaya, Aku sangat tidak sabar untuk segera menuju ke Terminal Bus Medan Kidd yang terletak di tengah kota Ipoh. Terminal Bus Medan Kidd adalah salah satu akses untuk masuk ke kota Ipoh.    

Ipoh yang selama ini hanya kudengar lewat cerita para backpacker dan tulisan di dunia maya, akhirnya aku diizinkan menginjakkan kaki di kota itu setelah berkelana selama delapan tahun menjadi seorang backpacker.

Keseruan apa yang kudapatkan selama singgah di Ipoh?

Sabar menunggu tulisanku berikutnya ya guys….

Oh ya. Berikut alternatif lain untuk membeli tiket online dari Penang ke Ipoh, yaitu melalui 12go Asia di link berikut: https://12go.asia/?z=3283832

Berhemat 5,6 Ringgit dengan GOKL City Bus, Malaysia

Sebagai seorang backpacker, Gw selalu berusaha untuk meminimalkan budget di setiap perjalanan. Untuk urusan transportasi misalnya, Gw akan lebih banyak jalan kaki atau menggunkan moda transportasi termurah atau kalau memungkinkan menggunakan transportasi umum gratis.

Seperti di Kaohsiung, Taiwan, Gw pernah menggunakan trem gratisan atau…..di Kuala Lumpur terdapat bus gratis yang bisa Gw manfaatkan untuk berkeliling kota. Namanya GOKL City Bus.

Nah yang mau Gw ceritakan disini adalah GOKL City Bus, gaes….

GOKL City Bus memiliki rute sebagai berikut:

gokl_may2014002_e1

Terdiri dari 4 Line yaitu GO Relax (Merah), GO Work (Biru), GO Sightsee (Ungu), dan GO Shopping (Hijau)

Sumber: http://www.spad.gov.my/transport-operators/buses/route-map-gokl-city-bus

GOKL City Bus sendiri di luncurkan oleh SPAD (Suruhanjaya Pengangkutan Awam Darat) pada tanggal 31 Agustus 2012 sebagai bagian dari Malaysia’s Government Transportation Programme untuk mengurangi kemacetan di Central Business District (CBD) Kuala Lumpur dengan menyasar para pengguna mobil pribadi, pengguna angkutan umum dan turis.

Jam operasional GOKL City Bus adalah jam 6am-11pm untuk working day dan jam 7am-11pm untuk weekend dan hari libur. Untuk working day, bus ini akan beroperasi pada saat peak hours (7am-10am dan 4pm-8pm) setiap 5 menit. Nah untuk hari lain akan beroperasi setiap 10 menit.

Perjalanan menggunakan GOKL City Bus pernah Gw coba pada tahun 2014 ketika pertama kalinya mengunjungi Kuala Lumpur. Sedangkan perjalanan yang sama Gw ulangi di Maret 2018.

Petronas Twin Tower – Pavillion Bukit Bintang

Setelah puas mengambil beberapa foto di gedung kembar, Gw segera beranjak menuju shelter GOKL City Bus tepat didepan agak ke kanan dari Petronas Twin Tower. Ya…..bus ini akan mengantarkan Gw ke Bukit Bintang – pusat perbelanjaan terkenal di Kuala Lumpur-.

GOKL 3

Kiri: GOKL City Bus (GO Shooping/Green Line) sedang menunggu penumpang di Shelter 

Kanan Atas: Interior GOKL City Bus

Kanan Bawah: Shelter Petrosains, GOKL akan menunggu penumpang di sebelah shelter ini.

Bus menunggu sekitar 10 menit hingga penumpang penuh sebelum berangkat. Perlu waktu 15 menit hingga bus mencapai Pavillion, Bukit Bintang. Gw mencoba mengingat-ingat landmark di Pavillion supaya tidak kelewat ketika menaiki bus. Gw masing inget parkir gate Pavillion sehingga Gw segera turun dari bus.

Pavillion Bukit Bintang – Pasar Seni

Gw hanya 20 menit berada di Pavillion dan segera bermaksud menuju Petaling Street di Pasar Seni. Sebetulnya Gw akan menggunakan Monorail dikombinasi LRT menuju Pasar Seni. Tetapi ketika duduk istirahat di depan Pavillion dari kejauhan terlihat bus GOKL dengan papan tujuan Pasar Seni. Langsung aja Gw lari mendekat ke bus itu yang terlihat sedang menaikkan penumpang. Tepat sekali, Gw berhasil naik dan seketika bus berjalan menuju Pasar Seni.

Sekitar 12 menit , GOKL City Bus sampai di terminal Pasar Seni. Terminal pasar seni terlihat sangat berbeda ketika Gw datang pada tahun 2014, karena terlihat sudah ada stasiun MRT Pasar Seni disana. Setahu Gw pada tahun 2014, MRT ini masih dalam tahap pembangunan.GOKL Pasar Seni

GOKL City Bus di Pasar Seni

Dengan menggunkan GOKL City Bus untuk berpindah ke 2 tempat wisata ini Gw bisa berhemat 5,6 Ringgit. Uang segitu memang ga seberapa tapi buat Gw bisa buat sekali makan malam……hahaha

 

Rute Baru Menuju Batu Caves, Malaysia

Artikel ini telah diupdate kembali pada 18 Agustus 2019….Silahkan membaca kembali….Salam backpacker.

Pada tahun 2014, Aku pernah mengunjungi Batu Caves. Saat itu Aku bertolak dari KL Sentral menuju Batu Caves menggunakan kereta komuter Laluan Seremban dengan tarif masih 2 Ringgit.

30 Maret 2018, Aku kembali mengunjungi Kuala Lumpur dan maksud hati hendak berkunjung ke Batu Caves kembali. Tetapi ketika ingin membeli tiket di konter tiket komuter KL Sentral ternyata kereta komuter ke Batu Caves saat itu tidak dapat melayani penumpang dari KL Sentral. Aku tahu info ini karena Aku merhatiin bule yang bicara sama petugas konter. Akhirnya kuputuskan keluar dari antrian sebelum benar-benar sampai di depan petugas konter tiket.

Aku akhirnya menuju konter informasi KL Sentral untuk menanyakan cara menuju ke Batu Caves. Menurut petugas informasi, untuk menuju Batu Caves, Aku harus menggunakan Free Bus KTM 1 dari KL Sentral ke Stasiun Sentul. Nah dari Stasiun Sentul baru dilanjutkan menggunakan kereta komuter menuju Batu Caves. Aku bertanya dimanakah letak free bus itu berada, ternyata bus itu berada sejajar dengan Shelter Airport Coach/Aerobus/Sky Bus di KL Sentral.

Papan Petunjuk yang terletak di depan shelter Skybus KL Sentral yang mengarahkan turis menuju bus KTM 1 menuju Stasiun Sentul
Petunjuk di lantai menuju Bus KTM 1
Bus KTM 1 sedang parkir di Stasiun Sentul.

Free bus KTM ini akan jalan jika penumpang sudah penuh, Aku sih ga perlu nunggu untuk dapat tempat duduk. Begitu masih muat maka Aku segera naik. Perjalanan dari KL Sentral menuju Stasiun Sentul menempuh waktu kurang lebih 25 menit di jalanan yang tergolong lancar.

Begitu tiba di Stasiun Sentul, Aku segera menuju ke dalam stasiun untuk membeli tiket kereta komuter. Aku langsung beli tiket pulang-pergi karena lebih murah 1 Ringgit daripada belinya one-way. Begitu menyerahkan uang 5 Ringgit maka Aku mendapatkan pass card untuk masuk ke jalur kereta. Kartu ini lah yang akan membawaku kembali ke Stasiun Sentul lagi ketika pulang.

Bagian dalam Stasiun Sentul
Konter tiket Stasiun Sentul
Pass card (Stasiun Sentul-Batu Caves pp)
Kereta Komuter yang mengangkut penumpang dari Stasiun Sentul ke Batu Caves

Begitu masuk ke jalur kereta ternyata kereta komuter sudah menunggu. Kereta buatan Tiongkok ini berhenti cukup lama untuk menunggu penumpang dan membiarkan semua kursi terisi penuh.

Terlihat  jelas pada route board diatas pintu kereta masih ada KL Sentral point, ini menunjukkan bahwa pada awalnya kereta ini melewati KL Sentral untuk menuju ke batu Caves, tetapi jalur itu sudah dirubah dan diperpendek menjadi Stasiun Sentul-Batu Caves.

Yang kuperhatikan arus penumpang naik dan turun sepanjang perjalanan menuju Batu Caves sangatlah sepi, hal ini terlihat pula dari beberapa bangunan stasiun yang dilewati seperti kurang terawat kebersihannya sehingga bangunan nampak kusam dan beberapa escalator tidak berfungsi. Jalur ini boleh dibilang sepi.

Setelah berjalan selama 20 menit akhirnya Aku tiba di Batu Caves.

Berikut beberapa view menarik di Batu Caves yang kudapatkan:

Koridor yang dimanfaatkan berjualan souvenir setelah keluar dari Stasiun Batu Caves
Patung Murugan yang menjadi icon dari wisata Batu Caves
Melepas sepatu sebelum masuk ke Venkatachalapathi temple
Warung makan di sekitar Batu Caves.

Dan sebelum berpindah destinasi ke Petronas Twin Tower, Kuputuskan untuk lunch di warung makan sekitar Batu Caves. Warung makan yang tersedia kebanyakan dikelola oleh warga Malaysia keturunan India karena memang Batu Caves adalah tempat peribadatan mereka kebanyakan.