Dibalik Penerbangan Air Asia QZ 206 Jakarta-Kuala Lumpur

Baru juga pulang dari ekspedisi ke Garut-Tasikmalaya-Sumedang , lelahnya berkelana seminggu di tiga kabupaten itu tak lantas membuat tubuh lelah. Boro-boro istirahat, Aku lebih memilih menuntaskan misiku menyelesaikan eksplorasi Asia Selatan dengan mengunjungi tiga negara tersisa….Bangladesh, Sri Lanka dan Maldives.

Tiket Air Asia yang kubeli seharga Rp 349.000 sejak 7 April 2018 mampu menjaga asaku dan dompetku untuk terus berkeliling dunia. Yes, Aku harus menjemput Malindo Air rute Kuala Lumpur-Dhaka di KLIA.

Sepanjang masa tunggu keberangkatan, banyak pertanyaan muncul dari teman-teman sekantor atau teman-teman lain diluar pekerjaan.

“Yeeee, jalan-jalan kok ke Bangladesh. Ga elit bingit”

“Lo mau liat apa sih Don di Bangladesh?”

“Tar lo pulang sakit loh, Don”

“Kurang kerjaan….mending ke Ancol guwe daripada ke Bangladesh”.

“Kenapa sih Don harus ke Bangladesh?”

Jawabku: “Ya suka-suka guwelah….duit-duit guwe…kaki juga kaki guwe”.

Eh gak gitu dink….kasar beud.

Hahaha….”Ya gimana pren, duitnya hanya mampu buat jalan dimari”….wkwkwk….Itu jawaban guwe ke mereka yeee.

Kan orang lain ga tau sih isi kepala guwe about traveling…..makin gila makin aseeeekkk…..makan aneh makin nagih…..hihihi.

—-****—-

Biasaaa….Nyegat DAMRI di Terminal Kampung Rambutan aja yang murah. Selain murah juga deket rumah bingit. Kupersiapkan Rp. 40.000 untuk membayar tarifnya dengan jam keberangkatan pukul 15:00. Perjalanan 1 jam 15 menit itu mengantarkanku tepat di Terminal 2F.

Melalui gate 5, Aku mulai memasuki pemeriksaan X-ray tahap pertama. Tak begitu mulus, backpack yang menjadi temanku satu-satunya terlihat dibolak-balik petugas AVSEC, dioles-oles menggunakan tissue basah lalu mengamatinya dengan seksama. Tak perlu khawatir….yang penting tak ada narkoba didadalamnya….hahaha. Kalaupun di tolak masuk, tenang brur….ini masih di kota sendiri. Tinggal balik lagi naik DAMRI….ya toh.

“Mbak, window seat donk !”, seruan memelasku kepada petugas check-in di konter Air Asia. Aduh, udah cantik baik pula, murah senyum…..eh emang tugasnye begonoh dink. “Ini mas”, sahutnya…..2D, yes gagal…..hahaha.

Yuk ngecap passport….geblek, padahal itu kan e-passport, tapi kebiasaannku mengecap passport menjadi tak peduli dengan adanya konter autogate.

Petugas Imigrasi  :  “Kemana?”

Aku                           : Sebutin aja detail satu-satu, supaya ga curiga kek waktu itu, “Penang, Dhaka, Colombo, Maldives pak. Transit Mumbai dan Singapore”. Njir perjalanan macam apa ituh….gile

Petugas Imigrasi  : “Backpacker?”

Aku                           : “Yoi pak”….eh salah, bukan begitu….”Betul pak”.

Petugas Imigrasi  : Lihat muka guwe, bolak-balik passport baru dan bekas guwe. Then….cekrek “hati-hati mas sendirian”.

Aku                           : “makasih pak….tentu saya akan hati-hati”.

Petugas                  : “Hebat nih si Mas”.

Cieeee….Guwe dipuji laki-laki….Alhamdulillah…..hahahaha. Pasti mikir guwe yang engga-engga….GUWE NORMAL KOK.

Kusempatkan shalat di ujung koridor sebelum masuk ke gate. Setelahnya, Aku memasuki pemeriksaan X-ray tahap kedua di depan gate D5….yesss, mulus.

Sedang asyik-asyiknya duduk membaca di sebelah charging station, datang sepasang perawakan Korea. Mengoprak-oprek lubang stop kontak yang sepertinya rusak.

Aku     :  “Hi, Sir. That’s broken. I had tried many times and failed”.

Dia       : “Oh yea….Why put it here if broken” pura-pura menendang pelan charging station sembari tersenyum.

Aku     : “Do you want go to South Korea?”.

Dia       : “Oh, Nup….I’m from California and will fly from KL”.

Aku     :  “Oh Nice”.

Dia       : “What are you doing here? “.

Aku     :  “My profession, your mean?”.

Dia       :  “yeaaa”

Aku     :  “Sales”.

Dia       :  “Good money?”

Aku     :  “If not good, I willn’t here to fly with you”.

Dia       :  “yea…yea…yea”, manggut-manggut sambil tersenyum menatapku.

Sepertinya pacarnya seorang travel vlogger. Ngoceh melulu dengan pedenya….hebat. Aku mana bisa kayak gitu. Lebih baik menulis daripada ngoceh terus macam Dia.

QZ 206 akhirnya merapat ke gate. Beuh….petualangan segera dimulai. Kehabisan air membuatku lari keluar untuk membeli mineral water. Dan sedikit mendapat peringatan dari petugas untuk segera kembali ke gate. Ok dah pak, daripada beli didalam pesawat, kan mahal.

Airbus A320-200 berkapasitas 186 penumpang.

Tepat jam 19:17, Aku mulai boarding.

Dibelakang cewek korean-american itu.

Penerbangan malam yang penuh turbulensi mengingat saat itu akhir Desember. Terlihat bapak setengah baya di sebelahku begitu tegang dan berpegangan erat pada armrest chair sepanjang perjalanan sementara Aku dan seorang perempuan muda yang mengapitnya hanya tersenyum kecut sambil menyembunyikan rasa was-was.

Kabin.

Karena pengetahuan terkiniku mengenai Ipoh dan Penang begitu minim, kuputuskan untuk menjelajah inflight magazine Travel360. Berharap menemukan informasi berharga mengenai pariwisata Ipoh dan Penang. Dan….yesss….Aku sungguh mendapatkannya.

Ipoh di inflight magazine Travel360.
Informasi mendasar tentang Penang.

QZ 206 bersiap mendarat. Tak bisa tidur selama perjalanan karena keasyikan membaca inflight magazine untuk mencari informasi. Kali ini petualangan transitku selama 5 hari di Malaysia bak bonek. Ngelayap tanpa bekal informasi yang cukup.

Bersiap-siap mendarat.

Itu bagasi buat apa ya? Perlengkapan keselamatan pernerbangan kali ya.

Begitu tiba di KLIA2 tentu fikiran yang langsung terbesit di benakku adalah cari free water station, makan malam, sembahyang, tiket bus ke Penang dan kemudian molorrrrrr.

Kamu harus menuju ke Transportation Hub di lantai 1 untuk mencari tempat makan murah. Oh ya…konter penjualan tiket bus juga ada disana

Yuks….siap-siap menuju Penang esok hari.

Bus dari Singapura ke Johor Bahru

Sepandai-pandai tupai melompat akhirnya jatuh juga….Dasar Donny si tupai.

Yesss….malam itu guwe di usir dari terminal 2 Changi International Airport….Aseeeeekkkkkkkk….pasport ditandai….yuhuuuu.

Sejak 2014, selalu kucing-kucingan dengan polisi bandara Singapura. Kini si kucing ketangkep basah sedang tidur di balik sebuah kursi tunggu di terminal 2 Changi International Airport….Memalukan.

4 jam sebelum kejadian….

Maskapai “abu-abu bintang orange” dengan nomor penerbangan 3K206 mengantarkanku ke Terminal 1 Changi International Airport pada 00:30.

Karena stasiun MRT Changi Airport berada di Terminal 2 dan baru akan beroperasi pada jam 5:30, maka kuputuskan untuk berpindah ke Terminal 2.

Akhirnya bersembahyang dan sekaligus beristirahat di dalam prayer room hingga pukul 02:00. Tapi dinginnya AC memaksaku berpindah ke deretan kursi di depan ruang tunggu penumpang. Asumsiku bahwa polisi sudah selesai menyisir area itu ternyata salah besar.

Ditengah mimpi, airport security berpengawal dua polisi belia bersenjata laras panjang membangunkanku. Ahhhh….guwe faham….Njiirrr, ketangkep juga setelah 4 tahun kucing-kucingan perihal beginian .

Airport security: “Helo Sir, Can me see your passport and ticket?”

Guwe: (sambil menyerahkan passport)  “Good night Sir, I’m sorry before. I am waiting for first train to downtown. I just arrived 3 hours ago.”

Airport security: “Sorry, How long do you will stay in Singapore?”.

Guwe: “3 Days 2 Night, Sir”.

Airport security: “This hall is only for transit passengers. You can’t wait the train here. Let me take you to immigration counter”….(Cekrek….Syem, passportku difoto. Dikirim pula ke boss nya via wa….Hmmh, Aku sudah ditandai di Changi….ketengkep sekali lagi pasti masalah….hahaha).

Karena diantar tentara, petugas imigrasi wanita keturunan India itu pun menjadi judes dan marah-marah kepadaku ketika mengecap passport….semakin marah wajahnya makin seksi kek Kajol….hihihi.

2 jam ga bisa merem….lah iya, lantai setelah konter imigrasi kan tak berkarpet. Mana mungkin tidur sambil duduk di bangku keras kek gitu.

Di tengah kantuk yang sangat (itu karena siang hari sebelum berangkat, Aku kerja full di Bandung dan sorenya langsung ke Soekarno Hatta International Airport….gile ye, rumah di Jakarta, siang kerja di Bandung besoknya sudah ngelayap aja di Singapura….hahaha), kuputuskan untuk menyantap mie bersertifikat halal di kedai ini:

Terletak tepat di exit gate setelah konter imigrasi terminal 2.
Murah….Cuma Rp. 47.500.

Halah….malah nulis ga keruan.

—-****—-

Yuk ah fokus ke tema….

Tujuan akhir kedatanganku yang ke-7 di Singapura kali ini adalah Johor Bahru, Malaysia. Kenapa lewat “Negeri Singa”?….ya tentu akan lebih murah costnya.

Selepas menyantap mie pagi itu, Aku bergegas menuju platform MRT di Changi Station. Dengan membeli tiket seharga Rp. 26.000 di mesin otomatis, Aku menuju Stasiun Jurong East dengan waktu tempuh 70 menit.

Kenapa Stasiun Jurong East?….Karena disinilah letak shelter bus CW3/CW4 tujuan Johor Bahru via Tuas Checkpoint yang merupakan perbatasan darat di selatan Singapura dan Malaysia.

Terpaksa menahan pipis karena bau pesing toilet dibalik keramaian Stasiun Jurong East. Maklum stasiun ini terintegrasi dengan terminal bus menuju berbagai daerah di Singapura dan bahkan keluar Singapura.

Setelah membeli tiket bus di konter, Aku segera memasuki jalur antrian dan menunggu kedatangan bus. Dan akhirnya Aku kebagian bus CW3 yang datang 5 menit kemudian.

Tiket bus CW3 seharga Rp. 26.000.
Tertib mengantri sesuai jalur.

Aku memilih bangku paling belakang supaya leluasa mengambil foto selama perjalanan.

AC busnya mantab.

Bus terus bergerak menuju Tuas Checkpoint melalui AYE Toll Road. Lancarnya jalanan Singapura,  membuat bus tiba di Tuas Checkpoint hanya dalam waktu 30 menit.

Aku sengaja memilih jalur antrian yang dijaga petugas wanita keturunan Melayu untuk memudahkan pemeriksaan imigrasi. Alhasil proses perpindahan antar negara di perbatasan menjadi lancar.

Ngantri di Tuas Checkpoint.

Setelah melewati konter imigrasi, Aku segera menuju ke tempat menunggu bus yang akan mengantarkanku ke CIQ (Customs Immigration Quarantine) Sultan Abu Bakar Tanjung Kupang yang merupakan bangunan imigrasi milik Malaysia.

Aku tak perlu mencari bus yang kutumpangi sebelumnya karena selama tiket masih tersimpan, Aku bisa meneruskan perjalanan dengan bus CW yang lain dengan tujuan yang sama.

Pemandangan laut sepanjang Second Link Expressway yang merupakan penghubung Singapura dan Johor Bahru, Malaysia.

Perjalanan selanjutnya pun dimulai. Kondisi Second Link Expressway dari arah Johor Bahru menuju Tuas Checkpoint macet parah di jam berangkat kerja kala itu. Sebaliknya, jalanan yang meninggalkan Tuas Checkpoint menuju CIQ Sultan Abu Bakar Tanjung Kupang kosong melompong.

Kosong di jalurku vs penuh di jalur sebelah.

Dan hanya dalam 15 menit, Aku tiba di CIQ Sultan Abu Bakar Tanjung Kupang. Tak ada pemeriksaan serius selama proses imigrasi dan akhirnya Aku bisa dengan cepat melewatinya.

Selepas mengecap passport, berarti  perjalanan lanjutan menggunakan bus CW3 sudah selesai.

Stempel masuk Malaysia via Imigrasi CIQ Sultan Abu Bakar Tanjung Kupang dan stempel keluar Malaysia via Imigrasi Bangunan Sultan Iskandar.

Aku pun perlu mencari bus dari CIQ Sultan Abu Bakar Tanjung Kupang menuju Legoland. Beruntung banyak pengendara bus keturunan India yang menanyakan tujuanku. Sehingga Aku ditunjukkan bus CW7 yang melewati Legoland dalam rute resminya.

Main lego di Legoland????……kek guweh.

Sampai Legoland juga akhirnya.

Mudah mendapatkan tiket bus dari Singapura ke Johor Bahru atau sebaliknya?. Cobain aja pesan via e-commerce perjalanan 12Go atau https://12go.asia/?z=3283832