Supadio International Airport: Pertama dan Kesembilan

<—-Kisah Sebelumnya

ARRIVAL HALL

Menjadi bandar udara pertama yang akan kukunjungi di Pulau Kalimantan, Supadio International Airport tentu akan segera mengantarkanku ke beragam destinasi wisata Kalimantan Barat yang menarik untuk ditelusuri.

Pukul sepuluh lebih sekian menit, Lion Air JT 712 berhasil merapat di apron. Alhamdulillah penerbangan berlangsung dengan sangat lancar tanpa kurang satu apapun.

Aku pun bergegas menarik backpack 45L dari bagasi begitu lampu tanda sabuk pengaman dipadamkan. Aku bersemangat untuk segera meninggalkan kabin dan menghirup udara Borneo.

Tak menunggu lama, pintu kabin bagian depan pun dibuka dan aku yang berada di kursi buncit tetap saja harus keluar paling akhir walau menjadi yang pertama bersiap keluar.

Seperti biasa….

Aku menghentikan langkah di pertengahan aerobridge, menepi di salah satu sisinya dan melakukan pengamatan di sekitar apron. Melihat proses unloading di sisi kanan dan melihat muka bandar udara di sisi kirinya.

Berarti ini yang kesembilan…Emmhhh….Yups benar sembilan”, aku kembali mengingat dan kemudian mantab menyebutkan nomor itu dalam batin….Yupz, ini bandara di tanah air kesembilan yang pernah aku singgahi.

Walaupun berfungsi sebagai akses utama menuju Pontianak, sesungguhnya bandar udara ini berlokasi di Kab. Kubu Raya.
Ternyata sudah menjalani renovasi empat tahun lalu.

Selepas aerobridge, aku mulai menyusuri koridor kedatangan. Tampak nyata bahwa bandara itu baru saja mendapatkan sentuhan renovasi. Segenap interiornya tersemat sentuhan-sentuhan modern.

Nuwun semu, Mas…., suara itu datang dari sebelah kiri. Membuatku tersadar bahwa aku telah menghalangi koridor.

Oh, ngapunten, Mas….”, aku refleks menjawab. “Loh, Mase nJawine pundi?….Katah nggeh tiyang nJawi wonten mriki?”, aku meneruskannya dengan pertanyaan lain sembari menyejajari langkahnya.

“Kulo saking Malang….Njih lumayan katah, Mas….Nopo Mase nembe jalan-jalan tho?”, dia mengimbangi percakapan.

“Njih, Mas….Namung backpackeran niki”, aku menjawab sekenanya. “Mase, mesti anak kuliahan niki”, aku melihat penampilannya yang seperti seorang pelajar.

“Njih, Mas…Leres. Mase bade tindak pundi tho?”,dia terus berjalan , menggendong backpack dan menenteng tas di setiap tangannya.

“Singkawang, Mas”, aku menjelaskan sembari mengotak-atik settingan Canon EOSku.

“Oalah…Kota Amoy….Mantab….Ngatos-atos nggih mas”, dia tampak mulai terburu waktu.

“Njih, Mas”, aku melambaikan tangan kepadanya.

Percakapan itu berakhir tepat di pertengahan escalator menuju arrival hall. Melompat di ujung escalator, aku kembali merasa ngeri. Begitu penuhnya balai kedatangan dengan para penumpang yang sedang mengantri menulis sesuatu pada lembaran.

“Itu apa, Bang?”, tanyaku pada salah satu dari mereka yang sudah selesai mengisi.

“Ini manual eHAC, Bang”

“Oh, Okay”, aku sudah mengisi eHAC (electronic-Health Alert Card) semalam di Aplikasi PeduliLindungi sehingga hanya memerlukan sedikit arahan dari petugas.

Setelah menemui seorang aviation security, dia menjelaskan bahwa aku hanya perlu men-scan barcode eHAC ku di ujung antrian tanpa perlu mengisi form manual.

Arrival hall.
Tempat pengambilan bagasi.
Sisi luar bandara yang namanya diambil dari nama seorang pilot yang gugur pada kecelakaan pesawat terbang di Bandung.

Benar saja, aku melewati tahap akhir pemeriksaan dengan mudah. Setelahnya, aku hanya melintas saja di area coveyor belt karena memang tak memiliki bagasi yang harus diambil. Aku hanya membawa backpack yang sebetulnya over muatan. Bobot tas seberat hampir sepuluh kilogram bisa lolos masuk ke kabin dari pemeriksaan di konter check-in di Soekarno Hatta International Airport. Tapi toh tetap tak masalah apabila itu ketahuan karena Lion Air JT 712 menyediakan kuota bagasi seberat dua puluh kilo untuk setiap penumpangnya.

“Aku harus segera bertolak ke Singkawang”, aku mulai berfikir. “Aku harus berburu pemberangkatan DAMRI terdekat”.

Menghindari kebingungan, aku bertanya kepada seorang aviation security perihal keberadaan bus DAMRI menuju ke Singkawang. Tetapi jawaban petugas itu membuatku hilang harapan. Bagaimana tidak, bus DAMRI ke Singkawang saat itu hanya berangkat sekali saja pada pukul tujuh pagi dan akan kembali dari Singkawang menuju Pontianak pada pukul lima sorenya. Hal itu disebabkan karena kebijakan PPKM beberapa minggu sebelumnya sehingga Pontianak mengalami sepi pengunjung.

Artinya aku harus mencari transportasi lain menuju ke Singkawang….

Dan aku sudah cukup faham, bahwa tak ada pilihan lain, aku harus menunggang taksi menuju ke Singkawang jika tak ingin kemalaman.

—-****—-

DEPARTURE HALL

Aku hanya memiliki masa lima hari untuk melanglang Kalimantan Barat. Jadi aku memutuskan untuk memfokuskan eksplorasi di dua kota saja, yaitu Singkawang dan Pontianak. Karena keberangkatanku menuju Pontianak jatuh di hari Kamis maka pada hari Seninnya aku harus kembali ke ibu kota.

Perjalananku menuju ibu kota dimulai dari G-Hotel yang terletak di pusat kota. Kali ini aku tak perlu memesan ojek online, karena Bang Hendra akan menjemputku di lobby hotel dan mengantarkanku ke bandara.

Bang Hendra sendiri adalah kakak kandung dari teman karibku di kantor yang asli Pontianak. Aku baru berkenalan dengan Bang Hendra sehari sebelum kepulanganku. Kemarin aku dijemputnya di Masjid Raya Mujahidin untuk diantarkan ke Pondok Pengkang di daerah Siantan. Begitu beruntungnya aku memiliki banyak teman yang baik hati.

Sebelum jam satu siang, Bang Hendra telah menurunkanku di drop-off zone Supadio International Airport. Kali ini aku akan turut serta dalam penerbangan Lion Air JT 715 yang berencana take-off pada pukul tiga sore.

Usai mengambil beberapa potret bandara  dari beberapa posisi terbaik, aku memutuskan segera masuk ke departure hall dengan memperlihatkan e-ticket dan identitas diri kepada petugas aviation security yang berjaga di pintu masuk.

Sama ketika berangkat dari Soekarno Hatta International Airport, kali ini aku tak perlu mengantri di meja verifikasi layak terbang. Oleh petugas aviation security, aku diminta lansung menuju konter check-in karena telah memiliki hasil PCR di aplikasi PeduliLindungi.

Tetapi sayang, konter check-in masih dalam tahap persiapan sehingga aku harus menunggu seperempat jam lamanya hingga konter tersebut benar-benar dibuka. Dan entah kenapa, departure hall dipenuhi oleh banyak tentara yang akan melakukan penerbangan.

Kak, semalam saya gagal check-in online. Apakah saya bisa diberikan window seat di bagian belakang kabin”, pintaku pada ground staff wanita yang bertugas setelah konter dibuka.

Dia hanya tersenyum mengangguk sebagai pengganti jawaban lisan. Atas kebaikannya, aku diberikan bangku bernomor 33F, selisih satu bangku dengan bangku saat aku berangkat dari Jakarta lima hari lalu.

Mendapatkan boarding pass jauh dari boarding time tentu membuatku lega. Aku menyempatkan Dzuhur di sebuah mushola di lantai pertama bandara. Kali ini aku ditunjuk sebagai imam oleh beberapa petugas aviation security yang akan menunaikan Dzuhur juga di saat yang sama.

Bangunan bandara dengan tiga identitas etnis, yaitu Dayak, Melayu dan Tionghoa.
Drop-off zone.
Bagian luar departure hall.
Check-in desk.
Mushola lantai satu.

Usai shalat, aku segera menaiki escalator demi menuju lantai 2. Setibanya di atas, salah satu sisi selasar dimanfaatkan untuk memajang foto-foto sejarah masa lalu yang terkait dengan Bandar Udara Supadio. Dari deretan foto itu aku tahu bahwa Bandar Udara Supadio memiliki nama lama Airport Sungai Durian. Tertampil pula potret Soekarno yang sedang mengunjungi bandara tersebut di suatu masa.

Sisi lain lantai dua juga dipenuhi oleh executive lounge, souvenir outlet, coffee shop, minimarket dan restoran.

Kini aku tiba di hamparan bangku tunggu yang langsung berhadapan dengan gate. Mataku menyapu sekitar demi mencari keberadaan minimarket untuk mencari sesuatu sebagai pengganti makan siang. Maklum, aku hanya bersarapan dengan dua potong Pengkang yang kubawa dari Siantan tadi malam. Pantas saja, siang itu aku cepat sekali merasakan lapar.

Demi menjaga protokol kesehatan dengan menghindari makan di tempat umum, akhirnya aku memutuskan untuk menyantap roti dan beberapa keping biskuit saja. Aku membelinya di sebuah minimarket dan menyantapnya di kursi tunggu yang lengang sembari menunggu boarding time tiba.

Foto-foto sejarah.
Commercial zone lantai 2.
Ruang tunggu sebelum gate.

Hingga akhirnya, tepat pukul setengah tiga sore, panggilan untuk boarding tiba. Kini saatnya bersiap diri untuk mengikuti penerbangan menuju Jakarta.

Terminal 2D Soetta: Mengembalikan Insting yang Lama Pudar

Semenjak terakhir pulang dari Qatar di permulaan 2020, boleh dikata, aku tak pernah lagi berpetualang dalam jarak yang jauh. Terhitung selama hampir dua tahun, aku hanya mengunjungi destinasi yang lokasinya berdekatan dengan ibukota, sebut saja Ujung Genteng, Gunung Pancar, Curug Leuwi Hejo, Dataran Tinggi Dieng, Anyer dan Puncak.

Tapi kini hati tetiba berujung galau ketika cuti lima hari disetujui oleh pimpinan tempatku bekerja. Ditambah dua hari weekend menjadikan liburanku genap satu pekan.

Ketika esok hari hitungan cuti bermula, pikiranku pergi membayang ke segala tempat. Adalah Bali, Lombok dan Labuan Bajo yang ada di pikiran pagi itu.

Tapi aku harus segera melakukan sesuatu sebelum berpikir lebih jauh.

Di hari pertama cuti, aku memutuskan untuk berangkat menuju sebuah rumah sakit kenamaan di bilangan Cibubur yang terkoneksi dengan Program PeduliLindungi untuk melakukan PCR dengan hasil keluar sameday. Aku telah menetapkan niat, apabila hasil PCR negatif maka aku akan memberanikan diri untuk terbang.

Ya, kemanapun….Yang penting naik pesawat”, niat di hati terdalam.

Aku telah merindukan sebuah petualangan panjang. Tentu petualangan yang jauh dari rumah. Aku sudah bersiap diri melakukan perjalanan dengan protokol pandemi.

Aku bersemangat datang ke rumah sakit dan tiba pada pukul setengah sembilan. Menunggang Beat Pop hitam kesayangan, aku tiba di depan para perawat yang bersiap mengambil sample PCR (Polymerase Chain Reaction) dengan mekanisme drive thru.

Sehari sebelumnya, aku telah melakukan pendaftaran online senilai Rp. 275.000. Inilah pertama kalinya aku menjalankan tes PCR. Tes yang membuatku bersin-bersin hebat bukan kepalang.

Selepas tes, aku pulang dan berdebar menunggu hasil. Dan pada akhirnya, hati diselimuti rasa bahagia ketika aku mendapatkan kabar lewat WhatsApp pada pukul lima sore bahwa PCRku menunjukkan hasil negatif dan hasil itu juga tercantum otomatis di aplikasi PeduliLindungi.

Sempurnanya hasil PCR mengantarkanku menuju tahap berikutnya yaitu berburu tiket.

Aku terjun berselancar di aplikasi e-commerce perjalanan terkenal di Indonesia. Akan tetapi, hasil perselancaran itu akhirnya mengubur dalam-dalam niatku yang sangat berhasrat melawat ke Labuan Bajo ataupun Lombok. Harga tiket pesawat yang terlalu melangitlah yang membuatnya demikian. Alternatif lain menuju Bali pun akhirnya berpotensi menjadi perjalanan tanggung karena sesungguhnya aku pernah menginjakkan kaki di Pulau Dewata.

—-****—-

Malam itu juga, aku mulai mempacking segenap perlengkapan hingga larut malam. Tak lupa, aku mempersiapkan obat-obatan beserta vitamin dengan lebih serius. Bahkan aku memutuskan membawa tablet antivirus sebagai antisipasi jika terjadi hal-hal diluar perkiraan di daerah tujuan.

Online check-in penerbangan pun baru kuselesaikan lewat tengah malam. Mendapatkan posisi duduk di window seat membuatku bersemangat dalam mengisi eHAC (electronic-Health Alert Card). Kuberharap suksesnya online check-in dan terbitnya eHAC akan membuat proses menuju boarding menjadi lebih cepat di keesokan harinya.

Usai memastikan segenap tahap persiapan tuntas, aku memutuskan tidur.

Akan tetapi, aku hanya bisa tertidur ayam tanpa kenyenyakan hingga setengah empat pagi….Seperti biasa, kekhawatiran tertinggal penerbangan menjadi penyebabnya.

Kuputuskan bangun lebih cepat dan melakukan shalat tahajud demi  memohon kepada Sang Kuasa atas keselamatan selama berpetualang. Seusainya, aku segera berbasuh dengan air hangat, bersarapan sekedarnya dan bergegas berburu ojek online untuk mengantarkanku menuju shelter DAMRI Terminal Kampung Rambutan.

Lewat sedikit dari setengah lima pagi, aku tiba di sana. Setelah menyiapkan sebotol air mineral dari sebuah kedai, aku bergegas naik. Bus berangkat tepat pukul lima dan setiap sisi deret bangku hanya boleh diisi oleh satu penumpang. Inilah yang membuat tarifnya melonjak dua kali lipat….Menjadi Rp. 85.000.

Akhirnya naik DAMRI bandara lagi.
Tiba di Terminal 2D Domestik.

Bus melaju cepat membelah jalanan kosong di jalan bebas hambatan. Satu jam kemudian, aku terbangun ketika bus perlahan merapat di Terminal 3-Ultimate. Dengan cekatan aku merogoh lembaran e-ticket dari backpack untuk memastikan terminal tujuan.

Terminal 2D Domestik…”, aku yakin membatin.

Akhirnya aku tiba….

Melompat turun di drop-off zone. Kini aku melangkah ke dalam bangunan bandara. Tentu aku merasakan atmosfer yang berbeda ketika memasukinya. Kondisi bandara sudah tak seperti dulu lagi ketika masa bepergian masih menjadi hal yang tidak berbahaya serta tanpa prosedur kesehatan yang ketat.

Begitu memasuki departure hall, Aku langsung dihadapkan pada antrian panjang calon penumpang yang berburu konfirmasi layak terbang pada sebuah layar LCD. Melihat panjangnya antrian, aku memberanikan diri untuk bertanya pada seorang petugas yang berjaga.

Pak, saya sudah memiliki hasil PCR negatif di dalam aplikasi….Apakah saya bisa mengindahkan antrian itu?”, aku menunjukkan barcode di aplikasi PeduliLindungi.

Terbang jam berapa, pak?”, dia mengangguk-angguk melihat barcode yang kutunjukkan.

Jam delapan, pak

Oh, silahkan bapak langsung saja menuju konter check-in, nanti tunjukkan hasil tes dalam aplikasi ya, pak!

“Baik, pak”

Aku melangkah mantap menuju screening gate pertama dan bisa melewatinya dengan mudah.

Kini aku bergegas menuju konter check-in. Begitu tiba di area konter, aku tetiba merinding karena keramaian calon penumpang yang rapat tak berjarak.

Aku berhenti sejenak dan mengamati dari kejauhan. Aku mencoba mengembalikan insting backpacker yang sudah lama tak terasah. Sepuluh menit aku hanya berdiri menatap ruangan penuh manusia itu. Aku terus mencoba berfikir.

“Seingatku, selalu ada antrian pendek yang disitu berjajar calon penumpang tanpa bagasi”, aku terus berfikir keras.

Pak, ada antrian konter tanpa bagasi?”, aku memberanikan diri bertanya pada seorang ground staff yang kebetulan melintas.

Oh, di ujung sana pak, konter nomor 46”, dia mengarahkan telunjuknya ke sebuah arah.

Terimakasih pak

Aku bergegas menujunya dan benar saja, aku hanya menemukan antrian lima calon penumpang di depan konter itu. Akhirnya, aku tak perlu mengantri lama dan berhasil menjauhi kerumunan.

Usai mengantongi boarding pass. Aku menuju ke Gate D1 dengan melewati screening gate kedua yang tentunya pemeriksaan berjalan lebih ketat. Aku berhasil melewatinya dengan mudah dan akhirnya bisa duduk di waiting room Gate D1 tepat satu jam sebelum boarding.

Lihat antrian panjang nan rapat itu!
Konter check-in tanpa bagasi. Lebih pendek dan cepat.
Menuju gate.
Gate areas setelah screening gate.
Di depan sana adalah waiting room Gate D1.
Pemandangan apron dari Gate D1.

Kini aku bersiap terbang menuju provinsi ke-12 di dalam petualanganku menaklukkan tanah air.

PONTIANAK….Ya aku bersiap mendarat di Kota Khatulistiwa tersebut.

Kisah Selanjutnya—->

Lion Air JT 257 dari Padang (PDG) ke Jakarta (CGK)

Ini bukan pertama kali bagiku menaiki Lion Air, pernah kunaiki maskapai ini pada rute Solo-Jakarta, Jakarta-Surabaya, Jakarta-Singapura, atau sebaliknya. Hanya saja, ini adalah kali pertama pengalamanku menjajal Boeing 737 MAX 8, jenis pesawat fenomenal, yang sedang “grounded “ semenjak kecelakaan ganda, satu di Indonesia dan kedua di Ethiopia, dengan penyebab yang sama.

Aku akhirnya berhasil mengeksplore Minangkabau International Airport dalam gerimis, tapi nanti saja kusampaikan. Aku masih menyimpan sebuah petualangan repetisi ke Padang pada sebuah business trip di awal tahun 2020. Jadi harap bersabar jika ingin mengintip keotentikan Minangkabau International Airport dari blog ala kadar ini.

Drop Zone di Departure Hall Minangkabau International Airport.

Aku diturunkan tepat di depan lobby keberangkatan oleh DAMRI berukuran tiga perempat, tetapi setelahnya, aku tak segera memasuki check-in area. Aku lebih memilih mengambil beberapa gambar ketika hujan sedang merubah fasenya menjadi gerimis lembut. Kulakukan hingga beberapa gambar menjejal di kartu memori Canon EOS M10ku.

Mari segera masuk area check-in!

Penerbangan lokal yang hanya mensyaratkan tampilan booking confirmation di layar telepon pintar serta kartu identitas biru langit bernama sama, memudahkan penumpang memasuki check-in area.

Harus kusediakan kesabaran karena selepas meninggalkan konter check-in, aku akan menunggu Si “Singa Merah” datang lebih lama….Delay, gaesss!. Aku memang telah bersiap dengan kondisi itu. Bukan perkara waktu, tapi perkara terjangkaunya harga tiket maskapai ini yang menjadi prioritasku.

Setelah menaiki escalator menuju Departure Gate, aku duduk sebentar di commercial hall yang berlokasi di sebelah screening gate. Membereskan setiap perlengkapan agar sedikit rapi dan nyaman ketika memasuki kabin pesawat nanti. Sementara backpack 45L milikku memilih berdiam di lambung pesawat demi menyelamatkan payung bermotif pelangi seharga Rp. 50.000 yang kubeli di Pelabuhan Tiga Raja lima hari lalu.

Kejutan tiba, saat menuju musholla untuk menunaikan ibadah shalat maghrib, aku bersua kembali dengan Boris, Tukang Pos dari Slovakia.

Aku        :     “Hi, Boris….What happen to your flight?

Boris      :     ”Hi, Donny, It’s crazy…..Very long delay with Citilink

Aku tak lama bercakap karena Boris sudah mulai memasuki antrian menuju gate, dia terbang ke Surabaya, lalu akan melanjutkan perjalanan ke Malang begitu mendarat. Stasiun Gubeng menjadi pilihannya untuk bertolak dari Kota Pahlawan. Informasi itu kudapat ketika berbincang di jok belakang Maestro Travel lima jam silam. Yang kuamati, botol air mineral pemberianku masih utuh terselip di sebelah kiri backpacknya….Hahaha, entah bagaimana air itu lolos dari screening gate.

Setelah menunggu lama, akhirnya penerbangan JT 257 mulai memanggil penumpangnya. Aku mulai mengantri dan bersiap melakukan perjalanan menuju Soekarno Hatta International Airport dengan penerbangan seharga Rp. 563.000. Tiket ini sendiri kubeli 11 hari sebelum keberangkatan.

Melalui aerobridge, aku memasuki badan pesawat,  sebetulnya aku baru mengetahui bahwa selongsong terbang ini berjenis Boeing 737 MAX 8 setelah salah satu awak pemegang microphone menginformasikannya ketika peragaan standard keselamatan penumpang sedang dilakukan.

Selain gres, kesan pertama yang kudapat setelah duduk di salah satu window seat jenis pesawat ini adalah kelegaan dan tampilan futuristiknya. Pesawat sudah berada pada posisi terbaiknya untuk menyalakan mesin jet, pilot menunggu konfirmasi untuk segera mengudara. Beberapa menit kemudian aku benar-benar meninggalkan Padang.

Malam yang sedikit mendung membuat pesawat sedikit terguncang menubruki awan-awan rendah di langit Minang. Yang kusaksikan kemudian adalah sekuel-sekuel pertunjukan pelita bumi yang dipaksa bejeda oleh awan-awan hitam tipis sebagai bintang iklannya. Indah dan mempesonaku sebagai pengantar tidur. Detik-detik selanjutnya hanyalah

Gelap….

Geelaaap……..

Geeelaaap…………

Aku tidur berselimut rasa capek yang luar biasa setelah enam hari berkeliling tanah Sumatera. Sepertinya aku genap tidur selama 1 jam 45 menit, ekuivalen dengan waktu tempuh penerbangan itu. Terpejam sejauh 700 km lebih bersama halusnya performa pesawat milik maskapai swasta terbesar di tanah air ini.

Aku tiba di Cengkareng lewat tengah malam.
Maskapai yang telah genap mengudara selama 20 tahun.
Soekarno Hatta International Airport (CGK) adalah mainhub dari Lion Air.

Aku tiba dalam kantuk, lalu tergopoh menyetop kehadiran Bus DAMRI menuju Terminal Kampung Rambutan. Aku tiba di rumah dalam hantaran ojek pangkalan dan mensyukuri nikmat Allah atas kesempatan eksplorasi yang dianugerahkan yang menjadi bab kesekian dalam cerita perjalanan hidupku.

Saatnya menutup cerita perjalanan ke tanah Sumatera. Dan beralih ke perjalanan berikutnya.

Kemana ya????

Yes, SEMARANG…….

Aroma Timur Tengah di Terminal 3 Ultimate Soekarno Hatta International Airport

Bus DAMRI Terminal Kampung Rambutan – Soekarno Hatta International Airport

Sabtu sore itu sangat cerah. Ketidaksabaran yang menyelimuti hati sedari pagi runtuh sudah. Semburat tipis senyuman terus menggantung di ujung bibir usai aku turun dari angkutan kota dan menapaki shelter DAMRI yang merupakan moda transportasi bagian dari JA Connexion.

Menjelang pukul 15:30, usai memastikan armada di hadapan adalah bus yang akan berangkat tercepat ke Soekarno Hatta International Airport, aku melompat masuk ke dalamnya melalui pintu depan dan duduk di belakang pengemudi sisi kiri.

Setelah semua penumpang masuk, seorang petugas Terminal Kampung Rambutan masuk dan menarik uang retribusi sebesar seribu rupiah kepada para penumpang. “Kok retribusi ngga dimasukkan ke dalam harga tiket saja”, aku bertanya dalam hati.

Tak lama kemudian, bus pun berangkat….Perlahan melaju keluar dari terminal, sebentar saja melalui sisi tol dan kemudian memasuki gerbang tol beberapa meter di depan.

Di permulaan perjalanan dalam tol, kepadatan mulai terasa, tetapi aku tak begitu mengkhawatirkan keadaan karena aku berangkat 4 jam 20 menit sebelum penerbangan. Aku pun menikmati perjalanan sejauh 50 km itu dengan sangat nyaman.

Satu jam lebih beberapa menit, aku tiba drop off zone Terminal 3 Ultimate Soekarno Hatta International Airport. Melaui Departure Hall Gate 3, aku mulai mencari status penerbangan Malaysia Airline MH 724.

Nomor penerbangan yang belum tertera di Flight Information Display System (FIDS), membuatku berani bertanya kepada seorang petugas wanita di information centre desk dan akhirnya aku mendapatkan informasi bahwa check-in desk C akan digunakan untuk mengurus administrasi penerbangan Malaysia Airlines MH 724.

Kursi tunggu di Departure Hall Terminal 3 Ultimate

Mengetahui informasi itu, maka kuputuskan untuk menunggu di bangku terdekat dengan check-in desk C. Selama menunggu check-in desk dibuka, aku tertegun pada kesibukan sepasang tour guide yang sibuk mengatur rombongannya yang entah akan menuju kemana?. Mereka berdua mengumpulkan rombongan dan dengan lantang melakukan briefing sehingga suara mereka bisa didengar oleh siapapun di sekitar pojok tunggu Terminal  3 Ultimate.

Satu jam menunggu, akhirnya check-in desk dibuka dan aku segera mengantri  di kolom antrian C24 untuk mendapatkan boarding pass menuju Kuala Lumpur. Kali ini Kuala Lumpur hanya akan menjadi persinggahan, karena aku akan mengeksplore Kuala Terengganu, sebuah kota yang terletak 450 km di utara Kuala Lumpur.

Check-in desk C Terminal 3 Ultimate

Kuala Terengganu akan menjadi kota di Malaysia kelima yang akan kunikmati setelah Kuala Lumpur, Johor Bahru, Ipoh dan Penang…..Ahhhh, sore itu aku tak sabar ingin segera tiba di Kuala Terengganu.

Melawat ke Kuala Terengganu adalah niatan yang muncul usai aku bertemu dengan Mariya, seorang solo-traveler asal Malaysia di Seoul. Pesona Kuala Terengganu yang diceritakan oleh Mariya telah menghipnotis alam bawah sadarku untuk mengunjunginya. Butuh waktu tiga tahun untuk mewujudkan mimpi itu.

Tapi sekali lagi, Kuala Terengganu juga bukan menjadi satu-satunya tujuan dalam perjalananku kali ini, karena titik sasarku tentu berada di tempat-tempat yang lebih jauh, yaitu negara-negara di kawasan Timur Tengah.

Kembali ke Terminal 3 Ultimate…..

Kini aku menuju ke konter imigrasi untuk berburu departure stamp. Di depan area imigrasi, aku berusaha  menyelesaikan proses pemeriksaan imigrasi melalui autogate immigration tetapi ada seorang petugas yang menahan langkah dan melarangku melewati jalur itu. Aku diarahkan menuju ke konter imigrasi dengan petugas yang siap memeriksa. Menghadap seorang petugas imigrasi, aku menyerahkan passport dan boarding pass.

Staff imigrasi: “Tiket pulang, Mas?

Aku: “Ini, Pak”, aku menyerahkan print out tiket penerbangan Philippine Airlines dengan rute Doha-Jakarta dan transit di Manila

Staff imigrasi: “Sendirian, mas?. Dalam rangka apa?

Aku: “Solo-Backpacking, Pak

Staff imigrasi itu akhirnya sibuk meneliti dengan detail halaman demi halaman pada pasporku.

Staff imigrasi: “Mampir kemana saja, Mas?

Aku: “Kuala Terengganu-Kochi-Dubai-Oman-Bahrain-Qatar, Pak

Staff imigrasi: “Boleh lihat visanya, Mas?”, wajahnya masih saja dingin dan serius.

Aku: “Sebentar, Pak”, aku membuka zipper bag dan mengeluarkan Visa India, Visa Uni Emirat Arab, Visa Oman dan Visa Bahrain, “Ini, Pak

Staff imigrasi itu memeriksa satu persatu visa yang kuberikan.

Staff imigrasi: “Ok. Hati-hati, Mas”.

Tiket akyuuu….Yuhuuuuu.

Aku keluar dari konter imigrasi dengan nafas lega dan segera memasukkan segenap file ke zipper bag kembali. Kini aku akan menuju ke Terminal 3 Existing untuk mempersiapkan diri terbang bersama Malaysia Airlines.

Kisah Selanjutnya—->

Air Asia AK 382 dari Kuala Lumpur ke Jakarta

<—-Kisah Sebelumnya

Flight Information Display System (FIDS) di depan tempatku tidur.

Memasuki Jum’at, sekitar jam setengah lima, waktu subuh Malaysia tiba, aku terduduk mengumpulkan nyawa di salah satu deret bangku di Tranportation Hub yang berlokasi di Gateway@klia2 mall level 1. Aku masih mengucek mata ketika beberapa pejalan lain masih saja mendengkur di sekitar.

Aku memaksakan kaki untuk melangkah ke surau lantai 1 yang terletak di luar bangunan terminal demi menunaikan kewajiban pada Sang Pencipta yang telah menganugerahkan waktu dan dana buat berpetualang menembus Asia Timur….Terimakasih ya Allah.

Waktu penerbangan yang dijadwakan pukul tujuh pagi membuatku tak berani menganggarkan waktu bersarapan. Aku hanya membeli dua roti cokelat kemasan di sebuah minimarket yang terletak di sebelah NZ Curry House sebagai bekal di pesawat nanti.

Pukul lima, aku sudah menuju check-in desk di lantai 3 Main Terminal Building untuk mendapatkan boarding pass menuju Soekarno Hatta International Airport. Tak lama kemudian, aku menuju konter imigrasi untuk mendapatkan izin keluar dari Malaysia. Sesuai prediksi, semua berlangsung dengan mudah dan cepat.

Setengah jam sebelum boarding pun aku tiba di gate dan memergoki Air Asia AK 382 terparkir manis di depannya.Tak lama dari kedatanganku, gate pun benar-benar dibuka. Aku mulai memasuki ruang tunggu setelah melaporkan boarding pass dan paspor pada ground staff yang memeriksa setiap penumpang.

Beberapa menit selanjutnya….Pilot, co-pilot dan beberapa pramugari-pramugara memasuki pesawat untuk bersiap. Kesibukan loading di lambung pesawat, pengisian avtur dan inflight meal loading menjadi pemandangan yang menarik perhatianku dalam setiap tahapnya hingga semuanya usai dengan baik.

Pengumuman boarding pun memenuhi langit-langit bandara, aku segera mengantri, lalu memasuki kabin melalui aerobridge penuh rasa sumringah karena tak lama lagi petualanganku akan usai. Aku menemukan tempat duduk persis berada di ekor pesawat. Maklum, ini tiket murah meriah yang terbeli sejak sembilan bulan sebelum penerbangan.

Semenjak proses boarding, peragaan prosedur keselamatan penerbangan, taxiing, take-off, airborne hingga cruising, aku tak sekalipun menyentuh majalah Travel 360 yang merupakan inflight magazinenya Air Asia. Tentu saja bosan, aku telah berkali kali membacanya semenjak penerbangan QZ 200 (Jakarta-Kuala Lumpur), AK 170 (Kuala Lumpur-Kaohsiung) dan D7 505 (Seoul-Kuala Lumpur).  Dua belas jam lebih selama ketiga penerbangan itu aku sudah khatam membaca inflight magazine itu.

Usai menikmati roti coklat kemasan, aku terlelap dengan cepatnya. Tidur yang tak lelap semalam membuat mataku tak lagi berdaya untuk terjaga selama di udara. Aku tidur….dan mudah-mudahan tak mendengkur……????

Aku benar-benar lelap hingga pengumuman pesawat yang akan segera mendarat di Soekarno Hatta International Airport membangunkan mata. Meninggalkan sedikit pening dan mengambil sedikit waktu untuk menjernihkan mata, terlihat garis-garis bergerak cepat di luar sana dan terpantau dari jendela. Pesawat sedang landing…..

Spoiler di sayap pesawat tampak berdiri membantu menahan laju angin untuk menghentikan badan pesawat yang melaju kencang di landasan. Tak lama kemudian pesawat mulai melakukan taxiing dan merapat di apron.

Ahhh…usai sudah.

Dengan senyum tipis, aku meninggalkan badan pesawat melalui aerobridge dan memasuki bangunan bandara. Aku segera menuju konter imigrasi untuk mengesahkan paspor dengan arrival stamp.

Setelahnya aku segera menuju konter Bus DAMRI demi menuju Terminal Kampung Rambutan dan pulaaangggg…..

Untuk mendapatkan tiket penerbangan dari Kuala Lumpur ke Jakarta, Anda bisa mencarinya di 12go Asia dengan link berikut:  https://12go.asia/?z=3283832

TAMAT

Thai Airways TG 319 from Bangkok (BKK) to Kathmandu (KTM): White Blanket of Himalaya

<—-Previous Story

Thai Airways TG 0319 flight route: Bangkok-Kathmandu.

After Fajr, I rushed to find flight information board to make sure my connecting flight would be on time or maybe it would be delayed. I found it in main transit hall corridor.

My flights was on schedule….Nice.
The boarding pass which I’ve held since leaving Soekarno Hatta International Airport.

As a follower of eating on time, by 06:00 hours, I was busy to looking for halal food. Now only halal which would be the my requirement….Because I couldn’t choose a menu with street food price, of course. Exploring 3rd floor of Suvarnabhumi, I finally stopped at Silom Village.

Couldn’t find a “Halal” logo….Finally, I stopped at a “Non-Pork” restaurant.
My menu: fried rice chicken served with salted egg for THB 220 (USD 7.34)

I closed breakfast that morning by sipping a cup of warm tea which was able to expel the wind in my body after a night of cold sleep in the main corridor of transit hall and continued at prayer room.

Then I headed to gate C10 to wait for Thai Airways TG 319. This time I only needed to step one more floor via escalator to reach the gate.

Corrido into gate.
Those were gates at Suvarnabhumi International Airport.

While waiting for boarding time, it was better to charge my smartphone as the only documentation tool which I carried….As usual, I was the amateur backpacker. I also tried to reread an itinerary which I was ready to use for my exploration in Kathmandu and Pokhara.

Interesting spot in departure hall area.

My boredom in seeing planes in Suvarnabhumi International Airport runway was broken by presence of Thai Airways, BOEING 777-200 type. Paid close attention to loading process so that I didn’t feel boarding time arrived on time.

Thai Airways TG 319 was preparing to immediately fly for 3 hours 33 minutes.

Entering aircraft cabin and in a blink my eyes became fresh. Apart from the beauty of flight attendants, also because airplane seats have colorful seat covers. Plane cabin looked like colorful candy.

TG 0319 cabin.

I sat at right side of cabin and flanked by two young girls. On the right, a Chinese girl who I didn’t know what her name was and a Japanese girl on the left whose her surnamed was Kawaguchi….Very beautiful with her ponytail.

I sat down while feeling a little sorry for being unable to quickly choose an airplane seat after online ordering ticket. This caused my opportunity loss to sit in a ideal position for photographers, i.e window seat. Because this flight would be very close to some of peaks of Himalayas which would show off their snow blankets.

When that moment happened, almost half of passengers stood up and faced to right window. It was the position where I sit. I couldn’t take pictures very well and prefered to still sit and recorded brief flight sessions right over Himalayas in my brain memory. It was still beautiful memorized, until this article was published….Amazing flight.

Started to filling out an immigration form which was given by a cabin crew.

The landing process was equally attractive. The view presented residential building of Kathmandu residents which were dominated by brownish square shape. Now I was ready to set foot in Tribhuvan International Airport which had become a gateway to Nepal for the last few decades.

Aviation security: “Hi, Sir. Please, directly stepping to airport building!”, He said, forbidding me to take a selfie image under Thai Airways.

Me: “OK, Sir….I’m sorry“, I answered with a little annoyed….Hmmh.

The arrival hall which wasn’t too luxurious and was only equipped with an old screening gate, made me smile because I felt like on Indonesia’s 80s era.

Then I submitted a Visa on Arrival application at visa issuing machine and then paid for USD 25 at a counter which was guarded by elderly female staff, I finally entered Nepal.

Let’s following my adventure in Nepal!

Are you looking for a flight ticket from Bangkok to Kathmandu? You can buy it through 12go Asia. This is the link:  https://12go.asia/?z=3283832

Next Story—->

Thai Airways TG 436 from Jakarta (CGK) to Bangkok (BKK)

Thai Airways TG 436 flight route.

Finally, I repeated my journey to “White Elephant” Country after my last exploration in 2013. For four years, I waited for that opportunity. If in 2013, I flew with Air Asia to Don Mueang International Airport so this time I was very lucky because I was able to catch a cheap promo which was issued by Thai Airways in April 2017.


Waiting for 8 months before actually flying was something that was very unpleasant. Not because of Bangkok, but only because of my desire to taste premium wide-body aircraft. A year before, I had boarded in same type of plane belonging to Air Asia when I returned from Incheon.


—- **** —-

After Friday, I perfected my packing for 11 days trip which would certainly make you were curious. At exactly 15:00 hours, I hurriedly carried my backpack on “angkot” (a small public trasportation in Jakarta) which went to Kampung Rambutan Terminal. That angkot which took so long to arrive, punished me by taking a DAMRI bus in next- a departure schedule.


On 16:00 hours, DAMRI launched but not long after, toll road became stuck. DAMRI didn’t moved in a long time. There have been road repairing in a tunnel combined with an incident which a truck rolled over 400 meters in front. Even though, my flight was scheduled for 19:05 hours. That means, I have to be ready at 17:55 hours before actually boarding….Too tight time.
Luckily, a Highway Patrol sirens began to sound in its way heading forward. Significantly, 15 minutes later DAMRI smoothly drove to Terminal 2-Soekarno Hatta International Airport.

Thai Airways finally became the 18th airline which I rode.
Started to boarding.

Luckily, Soekarno Hatta International Airport was very quiet and only needed 5 minutes for check-in process, and then I got a purple and white boarding pass. I passed all x-ray checkpoints very quickly as only a 45 litre backpack which needed to be screened.


I entered tAirbus A330-300 via its right-side cabin lane to find a seat numbered 52K. This time, it would be very relieved that I sat alone in three column seat. I was a plebeian….Just this time, I got on a plane with an LCD screen in front of my eyes….I pushed all button as I liked.

Jakarta-Bangkok is 3,000 km away and can be approached in 3 hours and 35 minutes with an average speed of 475 knots (880 km/hour). You can imagine how fast it is.

The moslem meal was served after giving a brown rice cracker and apple juice.

During flight, beautiful Thai-faced flight attendants were indeed captivating as far as my eye could see. Unfortunately, I was just a backpacker….If I was a top class businessman….. I would definitely propose to her….Hihihi.

Landing in the first time at Suvarnabhumi International Airport.

Arrival at 22:35 hours left me with no other option. It was impossible to leave the airport and heading for the city. If there was time, I might as well be reluctant. Because Bangkok wasn’t my destination….But, NEPAL.


Yess… .Nepal would be the 11th country which I visited.

Do you want to know about my next story to “The Land of a Thousand Temples”?
Just follow my story when I explored it.

Search for flights from Jakarta to Bangkok via 12go Asia. This is the link:  https://12go.asia/?z=3283832

Next Story—->

Lion Air JT 257 from Padang (PDG) to Jakarta (CGK)

Flight route JT 257 (source: https://www.radarbox.com/)

This wasn’t the first time for me to ride Lion Air, I have ridden this airline on its route: Solo-Jakarta, Jakarta-Surabaya, Jakarta-Singapore, or vice versa. However, this was the first time that I have experienced to ride a Boeing 737 MAX 8, a phenomenal type of aircraft, which had been “grounded” since double accidents, the first one was in Indonesia and the second one was in Ethiopia, with the same cause.

I finally managed to explore Minangkabau International Airport in a drizzle, but I’ll tell you later. I still have a repetition adventure to Padang on a business trip in early 2020. So please be patient if you want to peek at the authenticity of Minangkabau International Airport from this travel blog.

Drop Zone in Departure Hall of Minangkabau International Airport.

I was dropped off right in front of departure lobby by DAMRI airport bus, but after that, I didn’t immediately enter to check-in area. I prefered to take some pictures when the rain was changing its phase to be soft drizzles. I did it until several pictures were catched into my Canon EOS M10 memory card.

Let’s entered to check-in area!

Local flights, which only require a flight booking confirmation display on a smartphone screen and a national ID Card with a same name, made it easier for passengers to entering check-in area.

I had to provide patience because after leaving a check-in counter, I would wait for the “Red Lion” to come longer….Delayed, guys !. I had indeed been prepared with that condition. It wasn’t a matter about time, but about affordability of airline tickets which be my priority.

Cabin.

After taking the escalator to Departure Gate, I sat for a while in commercial hall which is located next to screening gate. Tidying up every equipments, so that it were a little tidy and comfortable when entering aircraft cabin later. Meanwhile, my 45L backpack chose to stay in plane hull for keeping my rainbow-patterned umbrella which its price is USD 3,7 which I bought at Tiga Raja Harbor five days ago.

Air conditioner.

The surprise arrived, when I headed to the prayer room for Maghrib prayer, I met Boris, a postman from Slovakia.

Me         :     “Hi, Boris….What happen to your flight?

Boris      :     ”Hi, Donny, It’s crazy…..Very long delay with Citilink

I didn’t talk for long because Boris had started to enter a queue towards the gate, he flew to Surabaya, then he would continue his journey to Malang as soon as he landed. Gubeng Station was his choice to depart from “City of Heroes“. I got this information while talking in the back seat of Maestro Travel five hours ago. What I observed, mineral water bottles which I gave was still intact tucked into left of his backpack….Hahaha, how can, that water could be escaped from airport screening gate.

After waiting for a long time, finally JT 257 flight started to calling its passengers. I started to queuing up and getting ready for trip towards Soekarno Hatta International Airport with flight price for USD 41.7. I bought this ticket about 11 days before departure.

Through the aerobridge, I entered cabin, actually I just found out that this plane is a Boeing 737 MAX 8 type after one of its crew who holding the microphone informed it when demonstrated passenger safety standards.

Besides new, the first impression that I got after sitting in a window seats were its relief and futuristic appearance. Then, plane was in the best position to start its jet engine, the pilot was waiting for a confirmation to fly. A few minutes later I actually left Padang.

The slightly cloudy night made the plane slightly shaken and penetrated into low clouds in “Minang” sky. What I saw later were sequels to earth lamps show between thin black clouds. Beautiful and enchanting as a bedtime. And then….

Dark….

Dark……..

Dark…………

I slept under the cover of extreme fatigue after six days traveling around Sumatra. It looked like I slept for 1 hour 45 minutes, which was equivalent to flight time. Sleeping for more than 700 km along with the smooth performance of aircraft which was owned by the largest private airline in my country.

Landing.
I arrived at Cengkareng on past midnight.
An airline that has been in the air for 20 years.
Soekarno Hatta International Airport (CGK) is the mainhub of Lion Air.

I arrived in sleepy condition, then hurriedly stopped DAMRI airport bus which was heading to Kampung Rambutan Terminal. Then I arrived at home by a motorbike taxi and thanked to Allah for giving me an exploration opportunity which was be an umpteenth chapter in the story of my life’s journey.

It is time to close story of my journey to Sumatra Land. And move on to the next trip.

Where am I going to ????

Yes, SEMARANG…….

Breaking a Record with SJ 010

Yessss….Finally I flew to Medan via that route.

Was SJ 010, Sriwijaya Air’s morning flight using BOEING 737-900ER which took me to “Kota Melayu Deli” (other name of Medan). Amazing journey which was actually unplanned. It is different from my habits when traveling abroad with making detail itinerary since a year before the trip is executed.

At 3:58 am, I have arrived Terminal 2 Soetta.

Starting from a taunting every morning in my beloved office, who is always me as victim. “Achh….you don’t love our country and always go abroad. Our country is beautiful, why do you have to go abroad?“. Even though they who spoke it also rarely went on picnics everywhere….Hahaha.

Upon arrival at airport, I went straight to check-in counter.

This trip was also obsessed because of another tickling event. Starting from planning to go with marketing friends to Toba Lake, which is always planned at the end of every year. Even three years have passed or arguably until I have explored more than ten nations, it was never realized.

Install your own cabin baggage tag, Donny!

Yes, such it, sometimes friends have passion just on their lips. So if I don’t do the action by myself, I will never go to outside of Jakarta.

Preparing to passed x-ray security screening at gate F.

The end of October is time when I get an additional 5 days leave. This is a benefit which I got since I was become a supervisor in my office. Somehow, the discussion about Toba Lake at Thursday morning briefing made me curious to open a ticket search site.

05:46 am….Let’s boarding!

Following my fingers which kept dancing on keypad, I was anesthetized because I suddenly had ended the payment gate session on website and then bringing a Cengkareng-Kualanamu e-ticket for USD 40.8. Damn, travel maniac….I had to get ready for next 18 days to explore Sumatra island.

The dashing of Sriwijaya Air SJ 010.

Now I would be the first marketer in my office who would see beauty of Toba Lake. No need to plan a lot, didn’t need to say much….Just go whatever you want, Donny!

Not only in highway….Wanted to fly through Soetta runway also had to queue.

I hope that after returning from Sumatra expedition, my friends wouldn’t say that I don’t love my own country.

At 6:41 am I floated above Jakarta.
And having breakfast with Sriwijaya Air menu.

And you need to know, this trip started from Medan and would end in Padang. After returning home, I would be dubbed as a crazy traveler for the first time by all friends in office….Wow.

Why did Sriwijaya Air always make strange noises like rickety while flying.

I didn’t deliberately land in Silangit because my strong desire felt exploration of North Sumatra mainland to see its nature and mingled with unique local people from the various stories which I heard.

The view outside was able to forget strange noises in the cabin.
Flight with zero turbulence.
The sparkling Malacca straits is doused by dawn.
The awesome North Sumatra coastline.

My furthest exploration on Sumatra island so far only reached the edge of Martapura city, South Sumatra. But that wasn’t in traveling, but only to fulfill my duty when I was a freshwater fish sales many years ago.

I was arrived….Come on down!
That’s the main building of Kualanamu International Airport.

There was one interesting comment on my social media when I just landed in Kualanamu. “Bro Donny, He always work hard and travel harder“….Looked like I have to accept that jargon from my friend.

Waiting for apron shuttle bus.
The bus was coming.

Just like a dream, finally being able to visit North Sumatra. One thing that was never thought of before. It must be like that to explore the beauty of Indonesia. No need to think a long, just go….If lost, it won’t far from home….Hahaha.

Exploring Medan started from this door….Let’s go!

You can see its video here: https://youtu.be/3Bwjm3VULPc

By the way, you can search for flight ticket from Jakarta to Medan in 12go Asia. Try to search the route here: https://12go.asia/?z=3283832

Selimut Putih Himalaya dari TG 319

Jalur terbang Thai Airways TG 0319 Bangkok-Kathmandu.

Selepas Subuhan, aku bergegas mencari keberadaan flight information board untuk memastikan apakah connecting flightku akan tepat waktu atau mungkin delay. Aku menemukannya di koridor utama transit hall.

Penerbangan sesuai jadwal….Nice.
Boarding pass yang telah kupegang sejak meninggalkan Soetta.

Sebagai penganut paham makan tepat waktu maka menjelang jam 6 pagi, aku sibuk berjibaku mencari makanan halal. Kini hanya halal yang akan menjadi syaratnya….Karena aku tak bisa memilih makanan harga kaki lima tentunya. Menjelajah lantai 3 Suvarnabhumi akhirnya aku hinggap di Silom Village.

Tak bisa menemukan logo “Halal”….Aku singgah di “Non-Pork” resto.
Menuku: fried rice chicken served with salted egg seharga Rp. 99.000

Sarapan pagi itu kututup dengan menyeruput secangkir teh hangat yang mampu mengusir angin dalam  tubuh setelah semalaman tidur kedinginan di koridor utama transit hall dan bersambung di mushola.

Lantas menujulah aku ke gate C10 untuk menunggu Thai Airways TG 319. Kali ini hanya perlu menaiki satu lantai lagi melalui escalator untuk mencapai gate.

Koridor menuju gate.
Itu dia barisan gate di Suvarnabhumi International Airport.

Sembari menunggu boarding time, lebih baik mengecharge handphone sebagai satu-satunya alat dokumentasi yang kubawa….Biasa, amatiran. Aku juga berusaha membaca kembali itinerary yang telah siap kugunakan untuk eksplorasi Kathmandu dan Pokhara.

Spot menarik di area departure hall.

Kebosananku akan lalu-lalang pesawat di runway Suvarnabhumi International Airport dipatahkan dengan kehadiran Thai Airways berjenis BOEING 777-200. Memperhatikan proses loading dengan seksama hingg tak terasa waktu boarding pun tiba tepat waktu.

Thai Airways TG 319 sedang mempersiapkan diri untuk segera terbang selama 3 jam 33 menit.

Memasuki kabin pesawat sekejap mata menjadi segar. Selain karena kecantikan para pramugari juga karena bangku pesawat yang memiliki seat cover penuh warna. Kabin pesawat terlihat bak permen warna-warni.

Kabin TG 0319.

Aku duduk disisi kanan kabin dan diapit 2 perempuan muda. Sebelah kanan berkebangsaan Tiongkok yang entah siapa namanya dan seorang gadis Jepang di sisi kiri yang kutahu namanya bermarga Kawaguchi….Sangat cantik dengan kuncir kudanya.

Duduk sembari sedikit menyesal karena kalah cepat memilih bangku pesawat pasca pemesanan tiket secara online. Hal ini mengakibatkan hilangnya kesempatan duduk di posisi istimewa bagi para photographer yaitu window seat. Karena penerbangan ini akan sangat dekat sekali dengan beberapa puncak pegunungan Himalaya yang akan memamerkan selimut saljunya.

Saat momen itu terjadi, hampir sebagian penumpang berdiri dan menoleh ke jendela sebelah kanan. Itu adalah posisi dimana aku duduk. Aku tak bisa mengambil gambar dengan baik dan lebih memilih untuk duduk tenang dan merekam sesi singkat penerbangan tepat di atas Himalaya itu dalam memori otakku. Masih terbanyang indah hingga tulisan ini terbit….Amazing flight.

Mulai mengisi immigration form yang diberikan oleh awak kabin.

Proses landing juga tak kalah memikat.  Pemandangan yang tersaji adalah deretan bangunan tempat tinggal penduduk Kathmandu yang didominasi bentuk kotak kecoklatan. Kini aku bersiap menginjakkan kaki di Tribhuvan International Airport yang telah menjadi gerbang wisata Nepal dalam beberapa dekade terakhir.

Avseq: “Hi, Sir. Please, directly stepping to airport building!”, Ujarnya melarangku mengambil foto selfie tepat di kaki Thai Airways.

Aku: “OK, Sir….I’m sorry”, menjawab dengan sedikit kesal….Hmmh.

Arrival hall yang tak terlalu mewah dan hanya dilengkapi dengan screening gate uzur membuatku tersenyum karena aku seakan berada di Indonesia era 80-an.

Mengajukan aplikasi Visa on Arrival dalam mesin penerbitan visa dan kemudian membayar Rp. 337.500 di sebuah konter yang dijaga oleh staff perempuan tua, akhirnya aku shah memasuki Nepal.

Ikuti petualanganku di Nepal yuk!

Cari tiket penerbangan dari Bangkok ke Kathmandu? Bisa beli kok melalui 12go Asia. Berikutnya linknya:  https://12go.asia/?z=3283832