Dua Puluh Menit di Petronas Twin Tower

<—-Kisah Sebelumnya

Setengah dua belas….

Aku berdiri di tepian Jalan Bukit Bintang demi menunggu kehadiran Go KL City Bus Green Line. Kali ini aku berniat mengunjungi kembali Petronas Twin Tower. Ini akan menjadi kunjungan yang kelima di menara kembar kenamaan tersebut.

Ga bosan apa, Donny?”, pertanyaan yang mungkin saja muncul.

Bukan perkara bosan atau tidak, aku harus memenuhi sebuah pesan sponsor di spot terkenal itu”, mungkin itulah yang akan menjadi jawabanku.

Go KL City Bus secara fisik memiliki warna yang sama di setiap jalurnya. Oleh karenanya aku selalu waspada jika bus tersebut mulai tampak lamat di kejauhan. Aku harus segera menangkap informasi jalur yang tertera pada layar LCD yang dipasang tepat di kaca depan bagian atas. Sudah dua kali Go KL City Bus yang datang berasal dari jalur lain, maklum halte bus Pavilion adalah pemberhentian yang dilewati oleh tiga jalur Go KL City Bus, yaitu Purple Line, Blue Line dan Green Line.

Setelah sepuluh menit menunggu, tampak jelas di ujung jalan sana, satu unit Go KL City Bus yang berusaha mendekati halte dengan menembus kemacetan. Aku hanya berharap itu adalah bus jalur hijau. Semakin mendekat, tulisan di layar LCD jelas terlihat, itu memang Go KL City Bus Green Line. Maka bersiaplah diriku untuk menaikinya.

Aku menaikinya dari pintu depan begitu bus selesai menurunkan sebagian penumpang. Banyaknya penumpang yang masuk, membuatku tak kebagian tempat duduk dan harus berdiri di bagian tengah.

Dari kawasan Bukit Bimtang, bus bergerak menuju Kawasan Kuala Lumpur City Centre (KLCC). Tetapi sebelum sampai di tujuan, bus memutar dahulu dari sisi selatan untuk kemudian berbelok arah melewati sisi utara. Aku tiba tepat di halte bus KLCC yang berada di tepian Jalan Ampang.

Aku turun dari pintu tengah….

Pemandangan yang langsung tertampak adalah keberadaan kaki-kaki raksasa Petronas Twin Tower yang terasa begitu dekat. Tak berlama-lama, aku bergegas melangkah ke pelataran gedung kembar raksasa itu.

Tibalah diriku di halte bus KLCC.
Jalur pejalan kaki yang rindang di depan Petronas Twin Tower.
Petronas Twin Tower dari sisi lain.

Teriknya matahari telah memaksaku untuk mencari tempat yang terlindung oleh pepohonan. Aku menemukan tempat itu di jalur pejalan kaki sisi kanan menara. Dari sisi itu pula aku mulai menuntaskan pesan-pesan sponsor, yaitu sponsor yang setidaknya ikut membantu biaya perjalananku kali ini.

Mengunjungi gedung kembar 88 lantai itu selalu saja mengundang decak kagum, bagaimana tidak, enam tahun lamanya gedung kembar ini pernah menasbihkan diri sebagai bangunan tertinggi di dunia. Setidaknya hal tersebut telah membanggakan Negeri Jiran dalam percaturan ekonomi dunia.

Menara kembar yang dimiliki oleh perusahaan property raksasa, yaitu KLCC Property Holdings tampak kehijauan jika diamati dengan seksama. Ciri khas lain yang mudah diingat adalah keberadaan sky bridge yang menghubungkan kedua menara di lantai 41 dan 42.

Kali ini, singgah di menara kembar ini berlangsung dengan cepat, tak lebih dari dua puluh menit. Oleh karenanya aku berusaha menikmatinya dengan memperhatikan pemandangan di sekitar area menara. Yuk kita lihat, ada spot apa saja di sekitar Petronas Twin Tower. Ini dia:

Public Bank tepat berseberangan di depan Petronas Twin Tower.
Dari kanan ke kiri: Gedung Bank Simpanan Nasional (BSN), Menara TA One (perkantoran 37 lantai) dan Menara Prestige (perkantoran 40 lantai).
Tropicana The Residences (apartemen dengan harga sewa 2.500 Ringgit per bulan).
Entrance gate milik Suria KLCC.

Sekiranya petualanganku di Petronas Twin Tower telah usai dengan tersampaikannya pesan sponsor. Aku tak akan duduk lebih lama di pelataran menara kembar tersebut.

Kini aku melangkah menuju hamparan Ruang Terbuka Hijau yang berlokasi tepat di tengah hiruk pikuk aktivitas bisnis yang berlangsung di Kuala Lumpur City Centre.

Yukkkzzz…..

Kisah Selanjutnya—->

Terjebak Barongsai di Bukit Bintang

<—-Kisah Sebelumnya

Lewat seperempat dari pukul sepuluh….

Kuputuskan meninggalkan pelataran KL Tower. Kakiku melangkah mengikuti kontur jalanan yang meliak-liuk menuruni bukit. Seperempat jam kemudian aku sudah berada di pangkal selatan Jalan Puncak, tepat berpotongan dengan Jalan P. Ramlee.

Berdiri di sebuah trotoar, aku masih berfikir, “Apakah baiknya menuju ke halte bus THE WELD untuk menuju Bukit Bintang?”.

Tetapi baru saja kaki melangkah, sebuah Go KL City Bus Blue Line melintas cepat di depanku untuk kemudian berhenti seratus meter di utara demi menaik turunkan penumpang. Aku cepat memutuskan, “Tak ada salahnya berkeliling kota menggunakan jalur biru, dengan begitu aku bisa menjelajah sisi utara kota sebelum tiba di Bukit Bintang

Melangkahlah kakiku menuju halte bus itu dan dalam lima menit aku sampai. Inilah halte bus Menara Hap Seng, salah satu halte yang menjadi pemberhentian Go KL City Bus Blue Line. Sedangkan Menara Hap Seng sendiri adalah sebuah gedung perkantoran 22 lantai yang terletak persis di seberang halte.

Halte bus Menara Hap Seng dengan sponsor MSIG (brand asuransi kenamaan asal Jepang).
Interior Go KL City Bus Blue Line.

Tak lama kemudian, bus tiba dan aku menaikinya dari pintu depan. Aku sudah bersiap menjelajah utara kota menggunakan bus gratisan ini. Atas jasa bus tersebut, akhirnya aku berkesempatan menjelajah jalanan di daerah Bukit Nanas dan Dang Wangi untuk kemudian tiba di Terminal Transit Antar Bandar (IUTT) Terminal Jalan Tun Razak.

Ini adalah Terminal Hub untuk Go KL City Bus Blue Line yang terletak di daerah Titiwangsa. Bus yang kunaiki rupanya harus beristirahat sejenak dan aku diarahkan pengemudi untuk berpindah ke bus depan yang sudah siap berangkat untuk menyusuri rute Blue Line.

Aku pun turun dan berpindah ke Go KL City Bus Blue Line terdepan yang sudah standby dengan melangsamkan mesin dan memenuhi setiap bangku dengan penumpang. Beruntung masih tersedia bangku untukku. Tak lama setelah aku naik, bus pun perlahan berjalan meninggalkan IUTT Terminal Jalan Tun Razak.

Kini bus menuju selatan menyusuri jalanan di daerah Kampung Baru dan setelahnya bus mulai memasuki daerah yang kutuju, yaitu kawasan Bukit Bintang. Aku sudah familiar dengan jalanan di kawasan ini karena ini adalah kali keempat aku berada di pusat perbelanjaan dan hiburan terkenal di Kuala Lumpur tersebut.

Sesuai dugaan, bus perlahan mulai tersendat di kemacetan. Sementara aku mulai bergeser ke bangku dekat pintu. Aku akan turun di halte bus Pavilion. Pavilion sendiri adalah pusat perbelanjaan yang terintegrasi dengan gedung perkantoran, apartemen dan hotel. Konsisten merangsek di kemacetan, Go KL City Bus pun akhirnya tiba di tempat yang kutuju.

Aku menuruninya dan bergegas menyeberangi Jalan Bukit Bintang untuk kemudian tiba di pelataran Pavilion.

Ada sesuatu yang sangat berbeda, jika biasanya pelataran ini diramaikan oleh lalu lalang para pengunjung mall, kini keramaian itu berubah menjadi sebuah panggung pertunjukan barongsai. Rupanya saat itu sedang berlangsung event World Dragon & Lion Dance Extravaganza. Tak tanggung-tanggung, acara itu ternyata dihadiri oleh YB Tuan Haji Khalid Bin Abdul Samad, Sang Minister of Federal Territories Negeri Jiran….Rupanya pertunjukan itu adalah acara besar dan aku bersyukur secara tak sengaja bisa menikmati pertunjukan tersebut.

Hari itu, pelataran Pavilion dimerahkan dengan warna khas etnis Tionghoa yang juga menjadi warna khas dari barongsai. Banyak anggota kelompok pertunjukan sibuk di sekitar Pavilion demi mempersiapkan diri untuk tampil di panggung.

Anak itu kuat sekali berdiri berlama-lama pada sebuah tiang.
Kemeriahan penonton yang berbaur dengan para penampil.
Para penampil cilik.
Melihat pertunjukan lewat lensa kamera.

Sementara itu irama tabuhan gendang yang sedang dimainkan salah satu kelompok membuat adrenalin siapapun akan naik jika mendengarnya. Aku yang sedari tadi merasa penasaran, tak kunjung bisa merangsek ke bagian depan. Area depan sudah dipenuhi para penonton yang pastinya sudah tiba sedari awal.

Aku yang tak bisa menyaksikan pertunjukan dengan mata kepala secara langsung hanya bisa mengangkat kamera tinggi-tinggi dan merekam pertunjukan itu, sehingga nantinya aku bisa menikmati ulang pertunjukan tersebut dari layar kamera.

Lewat setengah jam aku berusaha menikmati pertunjukan. Sementara udara semakin menaikkan suhunya, waktu merambat pelan menuju pukul dua belas.

Tak tahan dengan sengatan matahari, aku pun memutuskan undur diri dan kembali melangkah menuju halte bus Pavilion.

Aku pergi……

Kisah Selanjutnya—->