Menuju KLIA2 dari KL Sentral

<—-Kisah Sebelumnya

Akan sedikit lebih lama menempuh jalur gratis menuju penginapan dibandingkan menunggangi LRT Laluan Kelana Jaya. Tetapi demi menebus ketiadaan Ringgit, aku memutuskan untuk mengeteng saja dan memanfaatkan jasa Go KL City Bus.

Bergegas meninggalkan KLCC Park, aku melangkah menuju halte bus KLCC yang terletak tepat di depan Suria KLCC. Tiba di bawah naungan halte, deretan armada “Perkhidmatan Bas Percuma*1)” jalur hijau  telah menunggu para penumpangnya.

Aku menunggangnya untuk menggapai titik pertukaran antar jalur, yaitu halte bus Pavilion. Dari situlah aku akan menangkap Go KL City Bus jalur ungu demi menggapai Pasar Seni Bus Hub, halte bus terdekat dari penginapanku, yaitu The Bed Station.

—-****—-

Mengendap-endap curang, aku menaiki tangga The Bed Station dengan penuh harap tak terpergok resepsionis ketika melintas di depan pintunya. Itu karena aku sudah men-check out masa inapku tadi pagi, tetapi kali ini, aku memaksakan diri untuk mandi di kamar mandi bersama lantai 3.

Aku sukses melewati ruang resepsionis di lantai 2, sekelebat kulihat staff resepsionis itu sedang sibuk melayani tamu-tamu penginapan yang tampak berdatangan, memang aku tiba ketika masa-masa check-in telah dibuka.

Bergerak cepat, aku segera mandi untuk meluruhkan segenap keringat setelah sedari pagi tadi berkeliling kota.

Begitu selesai berbasuh, aku segera turun ke meja reception untuk mengambil backpack yang telah kuititipkan sedari pagi.

Penuhnya antrian di meja resepsionis membuatku tak terlihat ketika baru turun dari lantai atas yang sebetulnya sudah bukan menjadi hak bagiku untuk menaikinya lagi, apalagi untuk beraktivitas apapun di lantai itu….Dasar, Donny.

—-****—-

Berhasil mendapatkan backpack, aku bergegas melangkah menuju Stasiun LRT Pasar Seni yang berjarak hanya 200 meter dari penginapan.

Begitu tiba, aku bergegas menuju automatic vending machine untuk bertukar 1,3 Ringgit dengan token bulat berwarna biru. Token itulah yang akan menggaransiku untuk bisa berpindah menuju KL Sentral.

LRT Laluan Kelana Jaya bergerbong empat tiba menjemputku di platform lantai dua, untuk kemudian aku larut dalam putaran roda kereta menuju KL Sentral yang jaraknya tak berselang satu stasiun pun.

Dalam 15 menit,  aku tiba di KL Sentral….

Menuruni escalator aku tiba di lantai satu dan tanpa berfikir panjang segera bergegas menuju basement level. Aku punya satu keuntungan bahwa segenap denah KL Sentral telah kuhafal di luar kepala, setidaknya sudah tujuh kali aku menyambangi transportation hub kenamaan Negeri Jiran tersebut. Hal itulah yang membuatku dengan mudah menggapai konter penjualan tiket Aerobus.

Aerobus adalah transportasi dari KL Sentral ke Kuala Lumpur International Airport Terminal 2 (KLIA2) yang menawarkan perjalan murah jika dibandingkan menggunakan taksi, kereta KLIA Transit ataupun KLIA Ekspres.

Aku menyerahkan 12 Ringgit untuk mendapatkan selembar tiket menuju bandara.

—-****—-

Seperempat jam lewat dari pukul empat sore….

Setelah menempuh perjalanan 45 menit, aku tiba di lantai 1 Kuala Lumpur International Airport Terminal 2. Aku diturunkan di salah satu platform di transportation hub di Gateway@klia2..

Walaupun penerbanganku akan berlangsung pukul sembilan malam, hal itu tak menyurutkan langkahku untuk segera menuju lantai 3 untuk melihat informasi penerbangan lebih detail. Seperti biasa, aku selalu detail dan strict perihal jadwal terbang, setidaknya sore itu aku harus mengetahui di check-in desk nomor berapa aku akan menukar e-ticket dengan boarding pass serta di gate berapa pesawatku akan di lepas.

Senyum tipis tak bisa kusembunyikan dari bibir ketika aku berhasil mendapatkan informasi itu di LCD raksasa lantai 3.

Jam 17:20, ternyata….”, aku membatin ketika mengetahui kapan check-in desk akan dibuka.

Aku memutuskan untuk melakukan shalat jamak takhir di surau lantai 2 dan tentu berencana mencari makan malam setelahnya.

Tak seperti biasanya ketika aku mencari makan di KLIA2. Sore itu restoran langganan yang menyajikan makanan murah khas India sedang tutup. Adalah NZ Curry House yang lokasinya tertutp oleh papan-papan renovasi..

Tapi aku tak ambil pusing….

Pada 2015, aku pernah makan di sebuah food court yang berlokasi di lantai 2M. Aku sedikit lupa posisi food court itu. Tapi aku berniat mencarinya hingga ketemu. Ada restoran ala padang yang menawarkan makanan murah di food court tersebut.

Itu dia….”, aku bersorak dalam hati ketika melihat food court itu dari kejauhan.

Quizinn by RASA….”, aku melafal nama medan selera*2) tersebut.

Restoran Padang Kota Group….”, yupzzz aku melihat restoran yang kucari.

Kiranya tak bisa berlama-lama, aku menuju restoran ala padang itu kemudian mencari menu sesuai dengan kondisi dompet. Inilah saat dimana Ringgitku akan habis.

Lima belas menit sebelum check-in akhirnya aku bisa menikmati seporsi nasi seharga 5,9 Ringgit. Inilah nasi yang kumakan setelah terakhir aku memakannya kemarin siang.

Lantai 2 Gateway@klia2.
Pemandangan dari Gateway@klia2 Lantai 2M.
Beberapa restoran di Gateway@klia2.
Nah, itu dia Quizinn by RASA food court.
Menuku malam itu: Nasi putih, telur rebus kandar dan sayuran.

Mengambil sebuah tempat duduk, aku menikmati makan malam itu dengan khusyu’ untuk kemudian bersiap diri melakukan penerbangan lagi.

Apakah aku akan pulang?….

Tidak….Justru petualangan sesungguhnya baru akan dimulai.

Aku akan terbang menuju sebuah kota di selatan India….KOCHI.

Kisah Selanjutnya—->

Keterangan kata:

Perkhidmatan Bas Percuma*1 = Layanan Bus Gratis

Medan Selera*1) = food court.

KLCC Park: Terwujud di Akhir

<—-Kisah Sebelumnya

Matahari berada pada puncak kekuasaannya ketika aku memutuskan undur diri dari pelataran Petronas Twin Tower. Aku sendiri tak bisa menyembunyikan senyum kecut di ujung bibir dan merasa menjadi pejalan yang tak faham prioritas hanya karena membesuk Menara Kembar tepat di tengah hari.

Aku mencoba berdamai dengan diri sendiri dan berniat menebus kesalahan itu dengan menghadirkan sebuah destinasi anyar dalam sejarah petualangan. Bukan tempat yang prestisius, tetapi bisa saja menjadi penebus kesalahan prioritas itu. Di sisi lain, tempat ini bisa menjadi spot yang tepat untuk meredam angkuhnya surya.

Kulangkahkan kaki menuju timur. Sembari mencoba sekuat hati demi menolak godaan megahnya gerbang Suria KLCC, si surga belanja di pusat kota Kuala Lumpur. Bagaimana tidak, deret panjang kendaraan roda empat berkelas rela mengantri di depannya sedangkan arus pengunjung tak henti-hentinya mengalir keluar-masuk di pusat perbelanjaan kelas atas tersebut.

Setibanya di jalan dua ruas tepat pada sisi timur Suria KLCC, aku melanjutkan langkah menuju selatan. Aku tetap berusaha menyembunyikan diri dari sengatan surya di bawah pohon-pohon palem yang berjajar rapi di tengah trotoar….yupzz, trotoar tunggal yang membelah sempurna jalan menjadi dua jalur.

Perlahan, di ujung jalan sana mulai tampak rimbunnya pokok-pokok besar yang menghampar memberikan suasana kontras kota. Seakan aku menuju ke sebuah oasis di tengah rimba beton kota.

Dari jauh pun aku sudah mampu merasakan segarnya udara yang terhembus dari area hijau itu. Otomatis sukses membuat diriku mempercepat langkah menujunya. Usai melintas di atas pangkal underpass, aku menemukan gerbang area hijau tersebut.

Inilah Kuala Lumpur City Centre Park….Khalayak mengenalnya singkat sebagai KLCC Park.

Aku memasuki taman dari jalur masuk yang berada pada sisi kiri bangunan Pejabat Taman KLCC (KLCC Park Office). Memasuki kawasan taman, aku mengambil tempat duduk di kawasan rehat yang berbentuk gazebo tepat di sisi timur Simfoni Lake. Bangku-bangku kayu berkaki beton tampak tersebar di seluruh penjuru taman, diletakkan di bawah naungan pokok-pokok besar yang identitasnya tertampil dalam barcode pada kertas berwarna kuning dan tertempel di setiap batangnya.

Mungkin disinilah bagian taman terfavorit karena para pengunjung bisa menatap intens air mancur bepola dengan latar belakang Petronas Twin Tower yang dipangkali oleh bangunan rendah memanjang Suria KLCC. Seolah aku tak sudi untuk meninggalkan posisi duduk cepat-cepat.

Taman kota dengan sentuhan arsitektur ala Brasil mulai tertelusur lebih dalam ketika aku mulai bangkit dari tempat duduk. Melangkah menulusuri jogging track, aku memutuskan tidak mengambil jalur jembatan yang menghubungkan Tasik Simfoni dan Kolam Kanak-Kanak.

Aku lebih memilih jogging track sisi utara demi mendekatkan diri ke KLCC Park Children’s Pool. Keramaian dan kesejukan yang tertampil pada Kolam Kanak-Kanak itu menahan kuasaku untuk berpaling. Alih-alih pergi, aku pun tak sadar telah bersandar di salah satu bangku tepian kolam.

Aktor utama pada kolam berkedalaman sedikit di atas mata kaki tersebut adalah sculpture paus putih melompat yang terdramatisasi dengan bantuan air mancur di bagian ekor. Sedangkan sculpture dua ekor lumba-lumba ikut melompat di sisinya. Ditambah dinding-dinding kolam yang terhias dengan air terjun buatan sangat mengundang minat anak-anak untuk membasahkan diri di bawahnya.

Sebuah konsep sempurna, ketika Kolam Kanak-Kanak itu disandingkan dengan Taman Permainan Kanak-Kanak di timurnya. Hal ini memungkinkan anak-anak bisa memilih salah satunya atau bahkan bermain di keduanya secara bergantian. Seperti Taman Permainan Kanak-Kanak pada umumnya, bagian ini dipenuhi dengan ayunan, jungkat-jungkit dan wahana up-down stairs dengan lantai taman permainan berlapiskan Ethylene Prophylene Diene Konomer yang menciptakan sensasi ubin lembut dan  aman bagi anak-anak.

Untuk akhirnya….

Petualanganku di taman itu berakhir pada sebuah hamparan rumput yang dilingkari sempurna oleh jogging track.

Sudah lewat tengah hari…

Aku harus makan siang sebelum pulang ke penginapan dan pada akhirnya nanti akan berlabuh di bandara demi menentukan langkah selanjutnya.

Dari kemarin sore, Ringgitku habis dan hanya cukup untuk anggaran naik bus ke bandara dan makan malam di dalamnya nanti…..Jadi kuputuskan makan dari bekal seadanya, apalagi kalau bukan menu yang sama dengan dinner semalam dan sarapan tadi pagi….Yaitu serbuk oat yang hanya perlu disiram dengan air mineral. Lingkaran jogging track dengan hamparan rumput di tengahnya menjadi latar makan siangku hari itu.

KLCC Park Tasik Simfoni (Lake Symphony Fountain) di sisi barat.
Jogging track dan jembatan penghubung Tasik Simfoni dan Kolam Kanak-Kanak.
Suasana taman yang sejuk dan dingin.
KLCC Park Children’s Pool tepat di tengah taman.
KLCC Children Playground.
KLCC Children Playground.
Spot yang kutemukan untuk makan siang.

KLCC Park, taman kota seluas satu hektar….

Adalah sebuah tempat sederhana yang ingin kusasar sejak 2014, tetapi berkali-kali megunjungi ataupun sekedar singgah di Negeri Jiran, berkali-kali pula aku gagal mengunjunginya, tentu kendala besarnya adalah waktu yang susah sekali tersedia saat setiap kali berkunjung ke Kuala Lumpur.

Inilah penebusan terbaikku dengan keberhasilan menyinggahinya siang itu. Sengajanya aku merangsek membelah kemacetan menuju Kuala Lumpur City Centre ternyata tidak kuletakkan pada Si Menara Kembar, tetapi pada tujuan utamaku hari itu….KLCC Park.

Aku keluar dari taman dengan perasaan bahagia…Saatnya pulang ke penginapan, beberes dan pergi ke bandara.

Kisah Selanjutnya—->

Menembus Rinai: Suria KLCC, Petronas Twin Tower dan Petrosains

<—-Kisah Sebelumnya

Usai menurunkan backpack di kamar, aku menuruni anak tangga Agosto Inn untuk melanjutkan eksplorasi.

Hi, Sir. Where are you going this afternoon?”, tanya resepsionis sekaligus si empunya penginapan.

Petronas Twin Tower, Sir

Oh, you better take LRT to get there. Don’t take bus because Kuala Lumpur is surely to get stuck this afternoon”, nasehatnya cukup membantuku.

Di luar fakta itu, sedari tadi aku telah memutuskan akan menggunakan Light Rail Transit. Karena sejatinya aku belum mengetahui bahwa ada layanan gratis Go KL City Bus yang jalurnya terintegrasi menuju kesana. Maklum, itulah kali pertama aku menjejak ibu kota Malaysia.

Aku menyusuri jalanan Tun H S Lee ke arah selatan kemudian berbelok ke kanan di perempatan berlanjut ke Jalan Sultan menuju Stasiun Pasar Seni. Jalanan masih basah dan menyisakan beberapa genangan tipis disana-sini. Memaksaku sedikit berhati-hati demi menghindari cipratan air dari hempasan laju kendaraan yang berlalu-lalang. Sore itu adalah jam pulang kantor, menjadikan jalanan semakin padat saja.

Agosto Inn termasuk penginapan yang murah nan strategis, jaraknya tak lebih dari dua ratus meter dari Stasiun Pasar Seni, hanya diperlukan lima menit berjalan kaki menujunya. Setiba di stasiun, aku membeli token seharga 1,5 Ringgit di ticketing vending machine untuk kemudian bergegas menuju platform di lantai atas. Stasiun Pasar Seni adalah jenis stasiun layang dan berselang tiga stasiun dengan Stasiun KLCC (Kuala Lumpur City Centre) dimana Petronas Twin Tower berdiri.

tren tiba dalam 3 minit’….‘tren 3 koc’…‘koc ke Gombak’….begitulah tulisan yang terpampang bergantian di layar LCD pada platformku berdiri. Aku begitu antusias, mengingat Jakarta belumlah memiliki MRT dan LRT kala itu.

LRT Laluan Kelana Jaya berwarna putih dengan kelir biru-merah tiba. Aku memasuki gerbong tengah, berdiri berdesakan dengan para pekerja kantoran yang hendak menuju rumah masing-masing. Desingan laju LRT memamerkan bentangan bangunan beton, taman-taman kota dan jalanan di bawah dengan beberapa pelita jalan yang mulai menyala otomatis. Menjadikan panorama sore terlihat elok.

Lima belas menit kemudian, aku tiba di Stasiun KLCC. Stasiun KLCC sendiri adalah stasiun LRT yang terintegrasi dengan pusat perbelanjaan terbaik di Kuala Lumpur, yaitu Suria KLCC. Jadi untuk menuju Petronas Twin Tower, penumpang akan diarahkan melalui bagian dalam pusat perbelanjaan. Strategi yang jamak diterapkan untuk menaikkan pendapatan kawasan.

Aku terus melangkah ke lantai atas melalui escalator demi menemukan pintu keluar menuju Petronas Twin Tower. Sepemahamanku, aku harus keluar di pintu mall di sisi Jalan Ampang. Jadi sepanjang pusat perbelanjaan, aku hanya menengara kata “Petronas Twin Tower”atau “Ampang”. Alhasil, kutemukan sebuah papan petunjuk menuju Jalan Ampang….Yes, aku berhasil keluar dari mall di jalur yang tepat.

Dari Jalan Ampang, keperkasanaan menara kembar mulai terpamerkan, menjulang setengah badan ke puncak. Aku terus mendekatinya, menyeberang Jalan Ampang dan tiba di pelataran utama Suria KLCC. Kusegerakan melangkah menuju sisi depan menara. Tepat di depannya, hiasan memanjang air mancur memperindah suasana.

This was my first time there….Petronas Twin Tower.

Mengunjungi sesuatu yang fenomenal untuk kali pertama memang mendatangkan impresi. Girang, syukur, takjub memenuhi isi hati sore itu. Hingga rinai lembut tak mampu mengusirku, untuk beberapa saat, hanya aku dan sedikit turis yang mau bertahan. Sebagian besar diantaranya telah angkat kaki.

Beberapa lama kemudian rinai berganti hujan, ketika aku tertegun pada fotografer profesional yang terus membidik menara tertinggi kesebelas sejagat itu menggunakan kamera berlensa panjang dengan plastic protector. Kini hujan memaksaku segera beranjak, pelataran menara kembar menyisakan lengang.

Memasuki kembali Suria KLCC melalui pintu berbeda, aku berniat menuju lantai empat, mencari keberadaan Petrosains, si peraga teknologi industi perminyakan Malaysia. Tak sulit menemukannya, begitu tiba di lantai empat, logo Petrosains menyambut dan mengarahkanku ke ruang utama. Hanya saja sore itu sudah hampir pukul enam, Petrosains telah tutup sejak dua jam lalu. Aku hanya memandangi seisi Petrosains dari bagian luar dinding kaca, kemudian bergegas pergi meninggalkannya untuk kembali menuju hotel.

Pintu utama Suria KLCC.
Jam operasional dan harga tiket masuk Petrosains.

Dari Stasiun KLCC, aku menumpang kembali LRT Laluan Kelana Jaya menuju Stasiun Pasar Seni. Dari sana, aku berniat mengakhiri petualangan hari pertama di Kuala Lumpur dengan menikmati makan malam. Aku menemukan kedai kecil penjaja makanan India di pinggiran Jalan Tun H S Lee.

Kerja di sini?, sapa si empunya kedai sembari menyiapkan makanan

Tidak, Pak. Saya hanya melawat”,

Dari mana kamu datang?

Indonesia

“Oh , Indonesia….Jakarta, Surabaya, Bandung?”, sambil tersenyum menyebutkan nama-nama kota itu.

Jakarta, Pak

“Ok, sudah siap. Sila makan”, dia mulai menyodorkan seporsi Biryani dengan ayam dan dua butir telur rebus.

Mari makan!

Buseettt, seginikah porsi makan orang India”, aku membatin. Kiranya aku memakai jurus lain, aku membungkus sebagian dari menu itu untuk makan malam sesi dua nanti malam….Gile emang.

Seporsi Biryani menjadi penutup yang sempurna malam itu.

Kisah Selanjutnya—->

24 Tourist Attractions at Kuala Lumpur in 3 Days 2 Nights

A flight to Kuala Lumpur, which was barely caught due to race with time along Jakarta-Serang toll road, was added with pale faces due to the bitter interrogation of Malaysian immigration staff because of my inconclusive appearance, then making my heart and spirit go high together with my success first steps to leave the KLIA2 immigration counter.

Guys …. My journey in Kuala Lumpur for first time began. Very happy at that time. My fridge magnet will add to be three. Yes like that, number of fridge magnets in my house shows how many countries I have visited….Later when I have visited 100 countries, I will buy a refrigerator as high as my house ceiling. So I can put all fridge magnets on it….Hahaha.

—-****—-

The trip that had been planned since 9 months before departure was finally realized. Still couldn’t believe when I really entered this neighbor country. The itinerary which I detailed in three sheets had taken me to the following 24 destinations:

1. KL Sentral

KL Sentral is the first stopover which is often used by travelers before exploring Kuala Lumpur. Yes, most public transportations from KLIA will end here.

KL Sentral was indeed built by Malaysian government as a transit-oriented transportation building. No wonder, this transportation center is never empty of visitors.

Beware, Donny…Your zippers.

For the first time, arriving here on the first day of my journey, at exactly 11:23 hours. I took time to explore Nu Sentral which is a shopping mall which is integrated with this modern building.

2. Batu Caves

The time that was too late to begin my trip to Genting Highlands made me choose this Hindu temple as my next stop. Located in Gombak area which is 15 km north of KL Sentral with a distance of 40 minutes travel time making the yellow statue of “Dewa Murugan” as the favorite icon in Kuala Lumpur after Petronas Twin Tower.

So, if you can’t use a tripod….Ask someone else to just take a your photo, Donny!….Huh.

90 minutes is more than enough time to dispel my curiosity about the cave which is located in a 400 million-year-old limestone hill.

3. Suria KLCC

After returning from Batu Caves and after hunting for hotels in Pasar Seni area which ended with staying at Agosto Inn, in a light drizzle I hurried to Kuala Lumpur City Center (KLCC). KLCC is center of Kuala Lumpur which offers a modern shopping mall i.e Suria KLCC, a row of five-star hotels, iconic view of Petronas Twin Tower and a large urban park (KLCC Park).

Even though I don’t like shopping, I’m just curious to see this mall which has 350 tenants. The Suria KLCC architecture is in crescent shape when viewed from above….Cool, huh. And you need to know that Suria KLCC construction is an integrated project with Petronas Twin Tower.

4. Petrosains

Before leaving Suria KLCC, I made time to visit Petrosains in 4th floor. Petrosains is Petronas’s petroleum education site, a Malaysian oil giant. Simply set aside Rp. 35,000 to study in Petrosains.

What are you doing….?

5. Petronas Twin Tower

Right to the left of Suria KLCC exit, I finally found the phenomenal twin building. Soft drizzle which accompanied me to enjoy Petronas Twin Tower was unable to drive me out of front yard of the tallest twin building in the world.

Security: “Get Downnnnnnn…..!”

Petronas Twin Tower is the last destination on the first day of journey. Rest faster at Agosto Inn to prepare myself for Genting Highland tomorrow.

6. Genting Skyway

On 6:30 hours, seeing my presence at dining table made hotel staff seem rushed to prepare breakfast which was only oatmeal, orange sunkist, toast and warm drinks which I could take as much as I could from tea and coffee pots.

A morning that was still very quiet I passed to KL Sentral to catch the first bus to Genting Highlands which will depart at 08:00. By paying for a round trip ticket from KL Sentral to Genting, USD 5.5 (price in 2014, in 2019 price have gone up to USD 6.3) I arrived at Genting Highlands 1 hour 15 minutes later.

First time riding a cable car….

That price includes Genting Skyway ride. While the one-way price for this transportation mode is USD 2. The gondola’s lower station is in Gohtong Jaya and its Upper Station is in Maxims Hotel, Genting Highlands.

7. Genting Highlands

Twenty minutes later, I arrived at Genting Highlands after hanging in the eight-persons seat gondola

The main purpose of second day journey, which had to give up my all time in second day was taken away. Deprivation which absurdly excites me . Hope, there was a repetition like this at another time.

Watch out, Donny! Don’t be in the middle of way!….Many people want to pass.

Two hours I explored the resort at top of Mount Titiwangsa in northeast of Kuala Lumpur. If you have much money, you can spend the night in Genting. But passing every mall without shopping, restaurants without taking lunch and casino without gambling, surely that’s me who has never had enough money to do all that.

8. Bukit Bintang

I just needed to reverse my departure way so I could go back to KL Sentral.

15: 30 hours….”Wow, I can still explore,” My thought cheering. Bus, done!….LRT, done!….Commuter, done!….MRT, not yet Donny!, they werw still seen dredging the ground next to Pasar Seni. So what will you ride next?

I decided to try the only monorail route in Kuala Lumpur. When else can I ride it if not now?. This is also my first time riding a monorail which three years later I rode the same mode for free at Sentosa Island, Singapore….Yup, that was Sentosa Express.

Don’t be too long, Donny!. Many people in your back, wait for took photos too.

The famous destination on KL Monorail Route is Bukit Bintang. Bearing a title as the most famous shopping and entertainment venue in Kuala Lumpur makes Bukit Bintang as the most popular retail center which is always hunted by shopping enthusiasts, from housewives, office workers to young women and even tourists.

Aren’t you a tourist, Donny? … No, sir. I’m just a fortunate wanderer who was given a chance to travel around 25 countries….Plakkkk Plakkkk Plakkkk…I hit you, Donny!

9. Taman Tasik Titiwangsa (Titiwangsa Park)

Killing time in a city park at north of city center was my journey’s closing on second day. Founded in former of tin mining during British colonialism made it reasonable by existence of a large lake as former of mining activities.

Sorry viewers….I ran out of battery when in the park….That was better picture.

At four o’clock in afternoon, I was present in the park in a crowd of extraordinary citizens’ activities. Until maghrib pray call reminded me that I wasn’t in “Bluntas Park” (the park name which is closest my home in Jakarta….Hahaha). The mean was, time began to expel me to immediately leave Taman Tasik Titiwangsa (Titiwangsa Park) and better spend my evening near hotel where I stay overnight.

10. Hop On Hop Off Bus

Time is indeed unfriendly when confronted with curiosity. Suddenly I was pushed into last day of journey. Long exploration time is successful in compromising with my tired calf veins in affecting my brain. Then my brain whispered, “Just relax in spending last day in Kuala Lumpur, Donny!“.

USD 11.6, I was forced to give it to double decker bus tour guide…. It’s called HOHO bus….Or, Hop On Hop Off bus.

Hurry up!….Don’t trap in the evening.

HOHO Bus Stop No. 09, located in Central Market, made it easy for me to catch it….It took less than 5 minutes to reach it from Agosto Inn. Not accepting loss, I insisted on visiting several tourist destinations along HOHO bus line.

11. Istana Negara

Only 15 minutes. After that, every ladies and gentlemen can go back to bus or join to next bus“, her voice became clearer with presence of a mic under guide’s lips. Her face was beautiful within hijab (girl moslem wear ). She Made me melt.

Beware don’t cling to wall !….You could make the wall dirty, Donny….Huh

I rushed away as fast as I could to approaching palace gate. Took a picture with palace guard who stands like a statue and a very tame palace horse even though dozens of different faces took turn taking pictures with it.

12. Dataran Merdeka

A large square adorned with an iconic Mughal-Moor building becomes my next stop. Sultan Abdul Samad is name of the building. Sultan Abdul Samad himself was the leader of Selangor state which was famous for moving capital city of Selangor from Klang to Kuala Lumpur.

Yes….Not bad pose.

The plain is known as Dataran Merdeka, the place where Malaysia independence from British colonial government was declared.

13. KL Tower

HOHO bus which didn’t stop for long time at that communication tower, didn’t make me give up. I nimbly jumped out of bus and a second later HOHO bus left me in KL Tower yard.

Hurry up got in bus!…. Don’t be long time.

I would explore KL Tower before heading to Muzium Negara (State Museum).

If you have more guts, go to Sky Box!, if you want to lunch in an elegant way then try revolving restaurant! ,then go to observation deck to catch beautiful view of Kuala Lumpur city closer to your eyelids!.

Me?….I missed the first two parts. My wallet was only able to put me in the last part….It was better than nothing.

14. National Museum of Malaysia

Want to quickly know about culture of a nation?….Come to its national museum!.

For this reason I was present at Muzium Negara (National Museum of Malaysia). The journey of Malaysians from time to time is clearly displayed in this museum. Starting from prehistoric life….Kingdom life….Even the story of Majapahit Kingdom (Biggest Kingdom in Indonesia) is here.

Like I’ve never seen train before….Huh.

The nuances of Kuala Terengganu kingdom seem to strongly influence this museum architecture which looks so magnificent.

The Malaysian struggle session from British colonialism closed the history learning session at this building which is located on Jalan Damansara.

15. Taman Tasik Perdana (Perdana Botanical Garden)

Hop On Hop Off slowly entered into Kuala Lumpur green area….Amazing, this was the famous Taman Tasik Perdana (Perdana Botanical Garden).

Known as Lake Garden, this park was my best solution to stay away from hustle and bustle of Kuala Lumpur city which gradually made my ears noisy.

Hi, don’t stick!….Hahaha.

I saw how happy Kuala Lumpur people picnic as a family, swinging their feet along jogging track, rowing a boat on a beautiful lake and I was dissolved with my steps to enjoy green trees which cooling surrounding air.

16. Kuala Lumpur Orchid Park

The colors of flowers were like a magnet which pulled me closer. I was cheerful when a park signboard whispered information that I didn’t need to pay a cent to enter it.

Hi, don’t step on the grass!….Wew, ask for a fight.

A woman with wide hat greeted me with a happy smile. Her duty in arranging the park was finally visited by a thin-pocketed traveler. Without embarrassment, the traveler also posed in front of camera which held by the woman….Already entered, free of charge, also gave an order to catching a picture…. Beuh, plaaaaaakkkk #hitmyface.

17. Kuala Lumpur Deer Park

Ma’am….Is there something where doesn’t require an entrance ticket in Perdana Botanical Garden?“, I asked without shame

There, Sir….There is deers across. At the end of this road then turn right “, She said mixed with a smile.

Beuh, if it’s free, don’t ask….Donny is the best searcher and Donny will be the fastest to visiting. As fast as lightning, I was already inside Kuala Lumpur Deer Park.

Hahaha….Similar

All visitors who all quickly entered the park and also quickly left it. In contrast to me who really enjoy behavior of those deers whose its brothers like to steal cucumbers in Indonesia (Indonesia have famous story about a deer that love to steal farmer’s cucumber).

Beuh….Those deers dung beat my bad habit….Free attraction hunter.

18. Kuala Lumpur Bird Park

The biggest bird’s nest in the world. Home for three thousand birds. This time there was no mercy for my wallet. USD 10.2 flew just to see birds freely roam in the park.

Don’t touch the sign, Donny!….It can collapse….Huh

If you go there, you will find a mandarin duck which for the first time I saw it. Don’t forget to also take part in feeding program for KL Bird Park “residents“!.

19. National Mosque

Exiting Perdana Botanical Garden, HOHO bus drove me to perform Asr prayer at National Mosque.

Be polite!….

National Mosque, which is capable of accommodating 15,000 worshipers, was established to give thanks to God for country’s independence from colonial government without bloodshed.

Feel coolness of main room with soft carpet while worshiping in this mosque. Guaranteed peace and make sleepy.

20. Kuala Lumpur City Gallery

I slowly moved away from Perdana Botanical Garden area to return to city center. Apparently, I had circled the city 360 degrees, because I had arrived again at Dataran Merdeka. This time I was visiting Kuala Lumpur City Gallery.

Like a villager.….Hahaha

Do you want to know about Kuala Lumpur city development plan?

Want to know also how much Malaysia’s income from tourism?….Fantastic.

Want to know too, what building which they want to build to defeat Petronas Twin Tower which actually has also become the tallest one in entire world?

Just pay USD 1.2 and enter into it….It’s great, I guarantee.

21. National Textile Museum

Yup, there was still a little more time…..

Crossing road in Dataran Merdeka, I was shocked by existence of National Textile Museum. No need to spend money to visit it.

Be saw by security guard from inside…..

The museum, which is placed inside a building which is more than a decade old, offers historical and cultural journeys through a series of typical Malay fabrics which are displayed therein. Also some of relics of Kuala Terengganu’s artistic objects which must have been luxury items in its era

22. Petaling Street

Goodbye Hop On Hop Off bus, thank you for taking me to know Kuala Lumpur.

I immediately headed to hotel to pick up a backpack which I had left in receptionist since morning because my stay finished at 12:00 hours.

But yes, back to the habit….Not wanting to lose against time which kept rolling, I pushed toward Petaling Street which is close to hotel.

You want to shop….Do you have money, Don?

Petaling Street is center of Chinatown in Kuala Lumpur. Quite crowded when I enter it and explore each stalls which offer a variety of souvenirs and food.

You have to eat roasted chestnuts….It’s delicious, oath!

23. Pasar Seni (Central Market)

It was getting darker….No need to worry, my flight was still tomorrow. A thing which limited me was LRT’s last operating hour, which was 23:00 hours.

I only needed a few minutes to move from Petaling Street to Central Market. Sitting and enjoying culinary time in Petaling didn’t make me realize that the dark had begun to acquire the day. Maybe it was also because of my tiredness which had conspired with the dark to make me forget

Borrowing pictures from someone (year 2019).

Ma’am, what can i get with this amount of money?….Just packing as avail as possible, ma’am. Just a souvenir, Ma’am….Don’t pack foods. I want to go back to Jakarta” words which indicate that I was tired and couldn’t think anymore to choose souvenirs.

24. Kuala Lumpur International Airport Terminal 2 (KLIA2)

Only a few minutes before 21:00 hours, I closed curtain of my journey in Kuala lumpur. It was time to head to airport which will be my bed on the last night. Combination of traveling using LRT Kelana Jaya and Skybus made me arrive at KLIA2 at a little over 22:00 hours.

He who had a Central Market picture above….He came from future….Wow!

Hi, man….Airport is not a tourist destination….Yakss, for you maybe not….For me is yes, because I often invest time in exploring airport which for the first time I visited.

For me, KLIA2 is an exotic place like a seven star hotel which has contributed to taking me around the world.

Already finish….Need three days to write this article. The longest article which I’ve ever written. This article have 2,679 words, Wow.

Try to count by yourself….!

24 Wisata Kuala Lumpur Dalam 3 Hari 2 Malam.

Penerbangan ke Kuala Lumpur yang hampir tak tertangkap karena beradu cepat dengan waktu di sepanjang tol Jakarta-Serang, dibumbui dengan pucat pasinya wajah akibat interogasi staff imigrasi yang judes karena penampilanku yang tak meyakinkan, membuat hati dan asaku malambung tinggi bersamaan dengan langkah pertamu meninggalkan konter imigrasi KLIA2.

Gaes….Perjalananku di Kuala Lumpur untuk pertama kalinya dimulai. Seneeenggg banget waktu itu. Magnet kulkas ku akan bertambah menjadi tiga. Begitulah adanya, jumlah magnet kulkas di rumahku menunjukkan berapa banyak negara yang sudah kukunjungi…..Nanti kalau sudah mengunjungi 100 negara, aku akan beli kulkas setinggi langit-langit rumah. Biar muat nempelin magnet-magnet itu….Hahaha.

—-****—-

Perjalanan yang sudah direncanakan sejak 9 bulan sebelum keberangkatan ini akhirnya terwujud. Masih tak percaya ketika diriku benar-benar memasuki negeri jiran itu. Rencana perjalanan yang kutuangkan secara detail di tiga lembar itinerary telah mengantarku menuju 24 destinasi berikut:

1. KL Sentral

KL Sentral adalah persinggahan pertama yang sering digunakan para petualang sebelum menjelajah Kuala Lumpur. Ya iyalah, kebanyakan transportasi umum dari KLIA akan berujung di sini.

KL Sentral memang dibangun pemerintah Malaysia sebagai bangunan transportasi berorientasi transit. Tak khayal, pusat transportasi ini tak pernah sepi pengunjung.

Awas mas….Resleting.

Untuk pertama kalinya, tiba disini di hari pertama kelayapanku, tepat pukul 11:23. Aku menyempatkan diri untuk sejenak mengeksplorasi Nu Sentral yang merupakan shopping mall yang terintegrasi dengan bangunan modern ini.

2. Batu Caves

Waktu yang terlalu siang untuk memulai perjalanan ke Genting Highlands membuatku memilih kuil umat Hindu ini sebagai persinggahanku berikutnya. Berlokasi di daerah Gombak yang berjarak 15 km di utara KL Sentral dengan jarak tempuh 40 menit menjadikan patung kuning “Dewa Murugan” menjadi ikon terfavorit di Kuala Lumpur setelah Petronas Twin Tower.

Makanya, kalau ga bisa main tripod….Minta orang lain fotoin aja….Huh.

90 menit menjadi waktu yang lebih dari cukup untuk menghilangkan rasa penasaranku akan gua yang terletak di sebuah perbukitan kapur  berusia 400 juta tahun itu.

3. Suria KLCC

Sekembali dari Batu Caves dan seusai berburu hotel di daerah Pasar Seni yang berakhir dengan hinggapnya langkah di Agosto Inn, dalam gerimis ringan aku bergegas menuju Kuala Lumpur City Centre (KLCC). KLCC adalah pusat kota Kuala Lumpur yang menawarkan shopping mall modern yaitu Suria KLCC, deretan hotel bintang lima, pemandangan ikonik Petronas Twin Tower dan taman kota yang luas (KLCC Park).

Walau tak gemar berbelanja, aku hanya penasaran ingin melihat langsung mall yang memiliki 350 tenant ini. Arsitektur Suria KLCC konon berbentuk bintang sabit jika dilihat dari atas….Keren ya. Dan perlu kamu tahu bahwa pembangunan Suria KLCC adalah proyek terintegrasi dengan Petronas Twin Tower.

4. Petrosains

Sebelum keluar dari Suria KLCC, aku sempatkan untuk mengunjungi Petrosains di lantai 4. Petrosains adalah tempat edukasi perminyakan milik Petronas, raksasa minyak milik Malaysia. Cukup menyisihkan Rp. 35.000 untuk belajar di dalam Petrosains.

Ngapain siiih….

5. Petronas Twin Tower

Tepat di sebelah kiri pintu keluar Suria KLCC, aku akhirnya menemukan bangunan kembar fenomenal itu. Gerimis lembut yang menemaniku menikmati Petronas Twin Tower tak mampu mengusirku segera dari halaman depan gedung kembar tertinggi di dunia itu.

Security: “Turuuuuuuunnnn…..”

Petronas  Twin Tower adalah destinasi terakhir di hari pertama kelayapan. Lebih cepat beristirahat di Agosto Inn untuk mempersiapkan diri menuju Genting Highland di keesokan harinya.

6. Genting Skyway

Jam 6:30, Melihat kehadiranku di meja makan membuat staff hotel itu terkesan tergesa-gesa menyiapkan sarapan pagi yang hanya berupa oatmeal, jeruk sunkist dan toast serta minuman hangat yang bisa kuambil sepuasnya dari tea and coffee pots.

Pagi yang masih sangat sepi kulalui menuju KL Sentral untuk menangkap bus pertama menuju Genting Highlands yang akan berangkat pukul 08:00. Dengan membayar tiket pulang pergi dari KL Sentral ke Genting sebesar Rp. 73.000 (harga pada tahun 2014, tahun 2019 harga sudah naik menjadi Rp. 85.000) aku tiba di Genting Highlands 1 jam 15 menit kemudian.

Pertama kalinya naik cable car….Clingak-clinguk, ndeso!

Harga segitu sudah termasuk naik Genting Skyway. Sementara harga sekali jalan untuk moda transportasi ini adalah Rp. 28.000 (Tahun 2019). Lower station gondola ini berada di Gohtong Jaya dan Upper Stationnya berada di Maxims Hotel, Genting Highlands.

7. Genting Highlands

Dua puluh menit kemudian, aku tiba di Genting Highlands setelah bergelantungan di dalam gondola berpenumpang delapan orang itu

Tujuan utama hari kedua yang harus merelakan waktu sehariku dirampas begitu saja. Perampasan yang membuatku girang bukan kepalang. Berharap ada repetisi seperti ini di lain waktu.

Awas, bang jangan di tengah jalan !….Kasian orang lain mau lewat.

Dua jam aku menapaki resort di pucuk gunung Titiwangsa sebelah timur laut Kuala Lumpur. Kalau kamu punya uang berlebih bisalah bermalam di Genting. Tapi melewati setiap mall tanpa berbelanja, restoran tanpa menyempatkan makan siang dan casino tanpa berjudi, pastinya itu adalah aku yang tak pernah memiliki uang cukup untuk berhura suka macam itu.

8. Bukit Bintang

Tinggal membalik cara berangkat maka aku bisa pulang kembali ke KL Sentral.

15:30….”Wuih, masih bisa ngelayap”, batinku bersorak. Bus, sudah….LRT, sudah….Komuter, sudah….MRT, belum jadi bang, mereka masih terlihat mengeruk tanah di sebelah Pasar Seni. Naik apa lagi dong?…..

Kuputuskan mencoba satu-satunya jalur monorail di Kuala Lumpur. Kapan lagi aku bisa menaikinya. Ini juga menjadi yang pertama kali aku menaiki monorail yang tiga tahun kemudian aku menaiki moda yang sama secara gratisan di Sentosa Island, Singapura….Yup, itu Sentosa Express.

Jangan lama-lama, belakang nungguin mau foto juga tuh.

Tujuan terkenal di Laluan Monorel KL adalah Kawasan Bukit Bintang. Menyandang predikat sebagai tempat perbelanjaan dan hiburan paling terkenal di Kuala Lumpur menjadikan Bukit Bintang sebagai pusat retail terpopuler yang selalu diburu para penggemar belanja, dari ibu rumah tangga, pegawai kantoran hingga pemudi pemuda bahkan para wisatawan.

Bukannya kamu wisatawan, Donny?….Bukan, bang. Aku cuma tukang kelayapan yang beruntung diberi kesempatan keliling dunia hingga 20 negara…..Geplaaakk-Geplaaakk-Geplaaakk.

9. Taman Tasik Titiwangsa

Killing time di sebuah taman kota di utara pusat kota adalah penutup petualangku di hari kedua. Didirikan di bekas pertambangan timah semasa kolonialisme Inggris menjadikannya maklum dengan keberadaan danau besar bekas galian pertambangan itu.

Maap pemirsa….Aku kehabisan batre pas ditaman….Itu aja ya.

Pukul empat sore, aku sudah hadir di taman itu dalam keramaian aktivitas warga yang luar biasa. Sampai-sampai adzan maghrib mengingatkanku bahwa aku sedang tidak berada di “Taman Bluntas”(nama taman terlayak yang dekat dengan tempat tinggalku). Artinya, waktu mulai mengusirku untuk segera meninggalkan Taman Tasik Titiwangsa dan lebih baik menyambut rasa aman di hotel tempatku menginap saja.

10. Hop On Hop Off Bus

Waktu memang tak bersahabat ketika dihadapkan dengan rasa penasaran. Mendadak aku di dorongnya memasuki hari terakhir petualangan. Waktu yang tak sedikit berhasil berkompromi dengan urat betis dalam mempengaruhi otak. Lalu otak berbisik, “Santai saja menghabiskan hari terakhir di Kuala Lumpur, Don”.

Rp. 157.500 terpaksa kuserahkan kepada pemandu wisata bus tingkat macam Routemaster milik negeri ratu Elizabeth itu. Bukan Routemaster ….Itu namanya HOHO….Atau kerennya Hop On Hop Off.

Buruan naik….Keburu soreeee.

HOHO Bus Stop No. 09 yang terletak di Central Market memudahkanku untuk menangkapnya….Tak sampai 5 menit untuk mencapainya dari Agosto Inn. Tak terima merugi, aku bersikeras mengunjungi beberapa destinasi wisata sepanjang jalur bus HOHO.

11. Istana Negara

Cukup 15 menit saje, setelahnya tuan-tuan dan puan-puan bise kembali ke bus atau ikut bus berikutnye”, suara itu semakin jelas dengan keberadaan mic di bawah bibir sang pemandu. Duh cantiknya wajah melayu berhijab itu. Membuatku luluh.

Awas jangan nempel-nempel….Bikin kotor tembok.

Aku bergegas melarikan diri secepat mungkin mendekat gerbang istana. Berfoto dengan penjaga istana yang berdiri bak patung dan kuda istana yang sangat jinak walau berpuluh-puluh wajah berbeda silih berganti berfoto dengannya.

12. Dataran Merdeka

Lapangan luas dihiasi gedung ikonik bergaya Mughal-Moor menjadi persinggahan berikutnya. Sultan Abdul Samad adalah nama bangunan itu. Sultan Abdul Samad sendiri adalah pemimpin negara Selangor yang terkenal karena memindahkan ibu kota Selangor dari Klang ke Kuala Lumpur.

Ya….Mayan lah posenya.

Dataran itu dikenal sebagai Dataran Merdeka, tempat dimana kemerdekaan Malaysia dari pemerintah kolonial Britania Raya di deklarasikan.

13. KL Tower

HOHO yang tak begitu lama berhenti di menara komunikasi itu, lantas tak membuatku menyerah. Aku melompat dengan gesit keluar dari bus dan sedetik kemudian HOHO meninggalkanku di pelataran KL Tower.

Sonoh naeekkk….Jangan lama-lama.

Aku akan mengeksplorasi KL Tower sebelum menuju Muzium Negara.

Kalau kamu punya nyali, masuklah ke Sky Box, kalau mau makan siang dengan cara elegan maka cobalah revolving restaurant lalu pergilah ke observation deck untuk menangkap pemandangan kota Kuala Lumpur lebih dekat di pelupuk mata.

Aku?….Dua bagian pertama kulewatkan. Dompet hanya sanggup memasukkanku ke bagian terakhir….Lumayan lah daripada tidak sama sekali.

14. Muzium Negara

Mau mengenal budaya suatu bangsa dengan cepat?….Datanglah ke museum nasionalnya.

Untuk itulah aku hadir di Muzium Negara Malaysia. Perjalanan bangsa Malaysia dari waktu ke waktu terpampang jelas di museum ini. Mulai dari kehidupan prasejarah….Kehidupan berkerajaan….Bahkan cerita tentang Majapahit pun ada disini.

Kayak ga pernah liat kreta aja….Huh.

Nuansa kerajaan Kuala Terengganu nampak kuat terasa mempengaruhi arsitektur museum ini yang tampak begitu megah.

Sesi perjuangan bangsa Malaysia dari kolonialisme Britania Raya pun menutup sesi belajar sejarah di bangunan yang terletak di Jalan Damansara itu.

15. Taman Tasik Perdana

Perlahan Hop On Hop Off memasuki kawasan hijau Kuala Lumpur….Warbiasah, ini Taman Tasik Perdana yang tersohor itu.

Terkenal dengan sebutan Lake Garden, taman ini adalah solusi terbaikku untuk menjauhi hiruk pikuk kota Kuala Lumpur yang lama-kelamaan membuat bising telinga.

Nempel….Denda.

Kulihat betapa bahagia warga Kuala Lumpur berpiknik sekeluarga, mengayun kaki di sepanjang jogging track, mendayung perahu di danau nan cantik dan aku pun larut bersama langkahku menikmati hijaunya pepohonan yang mendinginkan udara sekitar.

16. Taman Orkid Kuala Lumpur

Warna-warni bunga itu bagai magnet yang menarikku mendekat. Riang tak berkira ketika papan nama itu membisikkan informasi bahwa aku tak perlu membayar satu sen pun untuk memasukinya.

Dilarang menginjak rumput!….Wah, ngajak berantem.

Seorang ibu dengan caping lebar menyapaku dengan senyum karena bahagia. Karyanya menata taman itu akhirnya dikunjungi seorang pengelana berkantong tipis….Tanpa malu pula si pengelana berpose di depan kamera yang dipegang Sang Ibu….Udah masuk gratisan, nyuruh-nyuruh pulak….Beuh, plaaaaaakkkk.

17. Taman Rusa dan Kancil

Bu….Ada sesuatu yang tak memerlukan tiket masuk untuk berwisata di Taman Tasik Perdana?”, pertanyaanku yang tak berkemaluan.

Ada, Dik….Ada kancil di seberang. Di hujung jalan tu belok kanan”, ucapnya bercampur senyum.

Beuh, kalau gratisan jangan ditanya….Donny jagonya cari dan paling cepat hadir. Secepat kilat, aku sudah berada di dalam Taman Rusa dan Kancil.

Mirip….

Para pengunjung yang semuanya begitu cepat memasuki taman itu lalu dengan cepat pula meninggalkannya. Berbeda denganku yang begitu menikmati tingkah para kancil yang saudara-saudaranya suka mencuri timun di Indonesia.

Beuh….Bau kotoran kancil itu mengalahkan kebiasaan burukku….Pemburu wisata gratisan.

18. Taman Burung Kuala Lumpur

Sarang burung terbesar di dunia katanya. Rumah bagi tiga ribu ekor burung. Kali ini tak ada ampun buat dompetku. Rp. 138.000 melayang hanya untuk sekedar melihat para burung bebas terbang berkeliaran di dalam taman ini.

Jangan pegang-pegang plang….Awas rubuh….Huh

Kalau kamu kesana coba kau cari  bebek mandarin yang baru pertama kali juga aku melihatnya. Jangan lupa ikuti juga acara pemberian makan bagi para penghuni KL Bird Park.

19. National Mosque

Keluar Taman Tasik Perdana, HOHO mengantarkanku untuk menjalankan ibadah shalat Ashar di National Mosque.

Sok sopan…..

Masjid Negara yang mampu menampung 15.000 jama’ah ini, didirikan untuk mensyukuri kemerdekaan negara dari pemerintah kolonial tanpa pertumpahan darah.

Rasakan kesejukan ruangan utama dengan karpet lembut saat beribadah di masjid ini. Dijamin damai dan bikin ngantuk.

20. Kuala Lumpur City Gallery

Perlahan aku menjauh dari kawasan Taman Tasik Perdana untuk kembali ke pusat kota. Rupanya aku sudah mengitari kota 360 derajat, karena aku sudah mendarat kembali di Dataran Merdeka. Kali ini aku menyasar Kuala Lumpur City Gallery.

Kek orang kampung….

Pengen tahu rencana pengembangan kota Kuala Lumpur?

Pengen tahu juga berapa pendapatan Malaysia dari pariwisata?….Fantastis.

Pengen tahu juga, mereka mau bikin gedung apa lagi untuk mengalahkan Petronas Twin Tower yang sebetulnya juga sudah menjadi satu yang terhebat di seantero jagad?

Bayar aja deh Rp. 17.500 dan masuk ke dalamnya….Kagak rugi, kujamin.

21. Muzium Tekstil Negara

Yup, masih ada waktu sedikit lageeeee…..

Menyeberangi jalan di Dataran Merdeka, aku tertelisik dengan keberadaan Muzium Tekstil Negara. Tak perlu merogoh kocek untuk mengunjunginya.

Diliatin Satpam dari dalem…..

Muzium yang ditaruh di dalam bangunan berusia  lebih dari se-dekade ini menawarkan perjalanan sejarah dan budaya melaui sederetan kain khas Melayu yang dipajang didalamnya. Juga beberapa peninggalan beberapa benda kerajaan Kuala Terengganu yang artistik dan pasti menjadi barang mewah di zamannya

22. Petaling Street

Selamat tinggal Hop On Hop Off, terimakasih sudah mengantarkanku mengenal Kuala Lumpur.

Aku segera menuju ke hotel untuk mengambil backpack yang sudah kutitipkan sejak pagi karena memang masa inapku sudah selesai jam 12 siang.

Tapi ya kembali ke sifat dasar….Tak mau merugi melawan waktu yang terus bergulir, aku merangsek menuju Petaling Street yang dekat dengan hotel.

Sok mau belanja….Emang punya duit, Don?

Petaling Street adalah pusat pecinan di Kuala Lumpur. Cukup ramai ketika aku memasuki dan menelusuri setiap selasar yang menawarkan berbagai souvenir dan makanan.

Kamu harus cobain kenari atau chestnut bean yang di sangrai dalam pasir panas….Beuh itu enak, sumpah!

23. Pasar Seni (Central Market)

Semakin gelap….Tak perlu khawatir, penerbanganku masih esok hari. Yang membatasiku hanyalah jam operasional terakhir LRT, yaitu pukul 23:00.

Aku hanya perlu waktu beberapa menit untuk berpindah dari Petaling Street menuju Pasar Seni. Duduk menikmati kuliner di Petaling tak menyadarkanku bahwa gelap mulai mengakuisisi hari. Mungkin juga karena kelelahanku yang sudah bersekongkol  dengan gelap untuk membuatku khilaf.

Minjam gambar orang yak (gambar tahun 2019).

Bu, uang segini dapat apa saja ya?….Bungkusin aja sedapatnya, Bu. Souvenir aja ya, Bu….Jangan bungkus makanan. Saya mau pulang ke Jakarta”, perkataan yang menandakan aku lelah dan tak bisa berfikir lagi untuk memilih oleh-oleh.

24. Kuala Lumpur International Airport Terminal 2 (KLIA2)

Hanya beberapa menit sebelum jam 21:00, aku menutup tirai petualangaku di Kuala lumpur. Sudah saatnya menuju ke bandara yang akan menjadi tempat tidurku di malam terakhir. Kombinasi perjalanan menggunakan LRT Laluan Kelana Jaya dan Skybus membuatku tiba di KLIA2 jam sepuluh lebih sedikit.

Tuh yang punya gambar Central Market….Itu kan guwe dari masa depan….Wah!

Hi, man….bandara bukanlah destinasi wisata….Yakss, buatmu mungkin bukan….Buatku iya, karena aku sering menginvestasikan waktu untuk menjelajah bandara-bandara yang baru pertama kali kukunjungi.

Buatku KLIA2 adalah tempat eksotik bak hotel bintang tujuh yang berjasa mengantarkanku berkeliling dunia.

Udah yeee….Tiga hari guwe bikin tulisan ini. Tulisan terpanjang yang pernah kutulis. Ma’ap, kuketik. 2.333 kata, mamen. Njirrrr.

Coba lo itung sendiri dah….