Menuju KLIA2 dari KL Sentral

<—-Kisah Sebelumnya

Akan sedikit lebih lama menempuh jalur gratis menuju penginapan dibandingkan menunggangi LRT Laluan Kelana Jaya. Tetapi demi menebus ketiadaan Ringgit, aku memutuskan untuk mengeteng saja dan memanfaatkan jasa Go KL City Bus.

Bergegas meninggalkan KLCC Park, aku melangkah menuju halte bus KLCC yang terletak tepat di depan Suria KLCC. Tiba di bawah naungan halte, deretan armada “Perkhidmatan Bas Percuma*1)” jalur hijau  telah menunggu para penumpangnya.

Aku menunggangnya untuk menggapai titik pertukaran antar jalur, yaitu halte bus Pavilion. Dari situlah aku akan menangkap Go KL City Bus jalur ungu demi menggapai Pasar Seni Bus Hub, halte bus terdekat dari penginapanku, yaitu The Bed Station.

—-****—-

Mengendap-endap curang, aku menaiki tangga The Bed Station dengan penuh harap tak terpergok resepsionis ketika melintas di depan pintunya. Itu karena aku sudah men-check out masa inapku tadi pagi, tetapi kali ini, aku memaksakan diri untuk mandi di kamar mandi bersama lantai 3.

Aku sukses melewati ruang resepsionis di lantai 2, sekelebat kulihat staff resepsionis itu sedang sibuk melayani tamu-tamu penginapan yang tampak berdatangan, memang aku tiba ketika masa-masa check-in telah dibuka.

Bergerak cepat, aku segera mandi untuk meluruhkan segenap keringat setelah sedari pagi tadi berkeliling kota.

Begitu selesai berbasuh, aku segera turun ke meja reception untuk mengambil backpack yang telah kuititipkan sedari pagi.

Penuhnya antrian di meja resepsionis membuatku tak terlihat ketika baru turun dari lantai atas yang sebetulnya sudah bukan menjadi hak bagiku untuk menaikinya lagi, apalagi untuk beraktivitas apapun di lantai itu….Dasar, Donny.

—-****—-

Berhasil mendapatkan backpack, aku bergegas melangkah menuju Stasiun LRT Pasar Seni yang berjarak hanya 200 meter dari penginapan.

Begitu tiba, aku bergegas menuju automatic vending machine untuk bertukar 1,3 Ringgit dengan token bulat berwarna biru. Token itulah yang akan menggaransiku untuk bisa berpindah menuju KL Sentral.

LRT Laluan Kelana Jaya bergerbong empat tiba menjemputku di platform lantai dua, untuk kemudian aku larut dalam putaran roda kereta menuju KL Sentral yang jaraknya tak berselang satu stasiun pun.

Dalam 15 menit,  aku tiba di KL Sentral….

Menuruni escalator aku tiba di lantai satu dan tanpa berfikir panjang segera bergegas menuju basement level. Aku punya satu keuntungan bahwa segenap denah KL Sentral telah kuhafal di luar kepala, setidaknya sudah tujuh kali aku menyambangi transportation hub kenamaan Negeri Jiran tersebut. Hal itulah yang membuatku dengan mudah menggapai konter penjualan tiket Aerobus.

Aerobus adalah transportasi dari KL Sentral ke Kuala Lumpur International Airport Terminal 2 (KLIA2) yang menawarkan perjalan murah jika dibandingkan menggunakan taksi, kereta KLIA Transit ataupun KLIA Ekspres.

Aku menyerahkan 12 Ringgit untuk mendapatkan selembar tiket menuju bandara.

—-****—-

Seperempat jam lewat dari pukul empat sore….

Setelah menempuh perjalanan 45 menit, aku tiba di lantai 1 Kuala Lumpur International Airport Terminal 2. Aku diturunkan di salah satu platform di transportation hub di Gateway@klia2..

Walaupun penerbanganku akan berlangsung pukul sembilan malam, hal itu tak menyurutkan langkahku untuk segera menuju lantai 3 untuk melihat informasi penerbangan lebih detail. Seperti biasa, aku selalu detail dan strict perihal jadwal terbang, setidaknya sore itu aku harus mengetahui di check-in desk nomor berapa aku akan menukar e-ticket dengan boarding pass serta di gate berapa pesawatku akan di lepas.

Senyum tipis tak bisa kusembunyikan dari bibir ketika aku berhasil mendapatkan informasi itu di LCD raksasa lantai 3.

Jam 17:20, ternyata….”, aku membatin ketika mengetahui kapan check-in desk akan dibuka.

Aku memutuskan untuk melakukan shalat jamak takhir di surau lantai 2 dan tentu berencana mencari makan malam setelahnya.

Tak seperti biasanya ketika aku mencari makan di KLIA2. Sore itu restoran langganan yang menyajikan makanan murah khas India sedang tutup. Adalah NZ Curry House yang lokasinya tertutp oleh papan-papan renovasi..

Tapi aku tak ambil pusing….

Pada 2015, aku pernah makan di sebuah food court yang berlokasi di lantai 2M. Aku sedikit lupa posisi food court itu. Tapi aku berniat mencarinya hingga ketemu. Ada restoran ala padang yang menawarkan makanan murah di food court tersebut.

Itu dia….”, aku bersorak dalam hati ketika melihat food court itu dari kejauhan.

Quizinn by RASA….”, aku melafal nama medan selera*2) tersebut.

Restoran Padang Kota Group….”, yupzzz aku melihat restoran yang kucari.

Kiranya tak bisa berlama-lama, aku menuju restoran ala padang itu kemudian mencari menu sesuai dengan kondisi dompet. Inilah saat dimana Ringgitku akan habis.

Lima belas menit sebelum check-in akhirnya aku bisa menikmati seporsi nasi seharga 5,9 Ringgit. Inilah nasi yang kumakan setelah terakhir aku memakannya kemarin siang.

Lantai 2 Gateway@klia2.
Pemandangan dari Gateway@klia2 Lantai 2M.
Beberapa restoran di Gateway@klia2.
Nah, itu dia Quizinn by RASA food court.
Menuku malam itu: Nasi putih, telur rebus kandar dan sayuran.

Mengambil sebuah tempat duduk, aku menikmati makan malam itu dengan khusyu’ untuk kemudian bersiap diri melakukan penerbangan lagi.

Apakah aku akan pulang?….

Tidak….Justru petualangan sesungguhnya baru akan dimulai.

Aku akan terbang menuju sebuah kota di selatan India….KOCHI.

Kisah Selanjutnya—->

Keterangan kata:

Perkhidmatan Bas Percuma*1 = Layanan Bus Gratis

Medan Selera*1) = food court.

KL Tower: NKRI Harga Mati

<—-Kisah Sebelumnya

Sarapan di emperan toko….yeeeileh.

Selasa….Usai Subuh….

Mata masih kuyu…Badan serasa lemas.

Semalaman tidurku terinterupsi oleh dengkuran seorang penginap yang terlelap pulas di sebelah kanan ranjang. Tak hanya diriku, aku pun bisa merasakan protes dari seorang penginap yang tidur persis dibawah bunk bed. Berkali-kali aku bisa merasakan, dia menghantam dasar bunk bed yang kutiduri. Mungkin dia merasakan hal yang sama. Kesal….Karena tak bisa tidur dengan nyenyak.

Merasa tak enak badan, kuputuskan saja untuk mengguyur tubuh di bawah shower air hangat di kamar mandi bersama. Guyuran air hangat setidaknya bisa merelaksasi setiap inchi tubuh yang pagi itu sedang tak seratus persen segar.

Pagi itu juga, aku harus mengepack kembali semua perlengkapan ke dalam backpack untuk kemudian harus menitipkannya ke meja resepsionis. Waktu menginapku purna tengah hari nanti dan saat itu pula, aku memastikan diri masih berada di pusat kota.

Usai mandi dan merapikan backpack, menujulah aku ke resepsionis untuk check-out, mengembalikan kunci locker dan mengambil uang deposit. Beruntung, staff resepsionis dari Mesir itu sudah berada di meja kerjanya sehingga memudahkanku untuk menyegerakan proses karena aku harus mengejar pemberangkatan Go KL City Bus sepagi mungkin.

Backpack telah tersimpan rapi dan aku bergegas menuruni anak tangga untuk keluar dari penginapan. Sesampai di luar, aku segera mencari tempat duduk di teras pertokoan yang masih tutup untuk bersarapan. Sarapan kali ini masih saja sama dengan menu dinner semalam….Yups, serbuk oat masih bisa diandalkan. Jujur saja, aku sudah kehabisan Ringgit pagi itu, hanya ada Ringgit tersisa untuk menaiki airport bus sore nanti dan makan malam sekedarnya di KLIA2.

Dari sini bisa diambil kesimpulan bahwa aku akan berkeliling kota tanpa keluar biaya sedikitpun bahkan seringgit sekalipun….Ya, tak akan pernah kukeluarkan.

Beruntung sekali, jalanan masih sepi. Keadaan itu tentu mengurangi beban malu ketika harus menyesap sendok demi sendok bubuk oat yang basah oleh guyuran air mineral.

Alhamdulillah sarapan usai….Petualanganpun dimulai.

Aku melangkah menuju ke Pasar Seni Bus Hub untuk mencari keberadaan Go KL City Bus Purple Line. Bus gratis jalur ungu itulah yang akan mengantarkan ke kompleks KL Tower.

KL Tower adalah menara pemancar telekomunikasi , menara penyiaran, wisata kuliner ketinggian dan wisata sudut pandang kota dari atas.

Dari kejauhan, aku melihat jelas bahwa bus itu sudah berada di posisi. Jadi begitu tiba di platform, aku langsung saja menaikinya dari pintu depan. Baru sedikit penumpang yang sudah menduduki bangku. Hal inilah yang membuatku harus menunggu sekitar sepuluh menit….Setidaknya untuk mengisi bangku-bangku kosong dengan penumpang yang perlahan berdatangan.

Pukul delapan pagi, Go KL City Bus Purple Line akhirnya berangkat jua….

Dalam duduk aku berfikiran bahwa KL Tower adalah bangunan yang tinggi, jadi aku merasa santai saja. Tentunya aku hanya perlu berhenti di halte manapun di dekat banguan KL Tower yang akan tampak dari kejauhan saking tingginya.

Go KL City Bus perlahan menyisir Jalan Sultan demi meninggalkan daerah Pasar Seni. Begitu tiba di sepanjang Jalan Raja Chulan, KL Tower sudah terlihat jelas dari kaca bus. Hanya saja aku perlu memastikan kapan harus turun di halte terdekat. Beberapa kali Go KL City Bus berhenti di halte pemberhentiannya, tetapi aku tetap saja bebal tak kunjung turun. Aku masih berharap bahwa bus akan berhenti di halte yang lebih dekat dari KL Tower.

Itu dia bus dengan layanan percuma*1)
Interiornya bagus dan bersih tentunya.

Terjadilah pengecualian, bukannya tambah mendekat, Go KL City Bus semakin lama semakin menjauhi KL Tower. “Ahhhh, sial….aku sudah kebablasan dan bus bukannya melambat tetapi semakin kencang”, aku bersandar lemas di kaca bus. Akibat kebodohan itu, aku hanya pasrah mengikuti kemana Go KL City Bus pergi. Aku memutuskan kembali ke Pasar Seni dan mengulang lagi perjalanan dari nol….Parah.

Dalam perjalanan 40 menit, akhirnya Go KL City Bus tiba kembali di Pasar Seni.

Konyol….”, aku mengutuk diriku sendiri.

Kini aku turun dari Go KL City Bus dan berpindah ke bus terdepan yang sudah siap berangkat. Beruntungnya diriku,  Go KL City Bus langsung berangkat ketika beberapa detik sebelumnya aku melangkah masuk.

Kini aku memasang sikap waspada ketika duduk di salah satu bangku. Aku akan memutuskan untuk langsung turun saja ketika melihat KL Tower bisa dijangkau dengan berjalan kaki.

Pucuk dicinta ulam pun tiba….

Bus berhenti di sebuah halte dan aku pun melompat turun dari pintu tengah.

THE WELD….”, aku membaca signboard pada  sebuah gedung pencakar langit yang berdiri tepat dibelakang halte tempatku turun.

Kini aku berada di Jalan Raja Chulan dan THE WELD sendiri adalah kompleks perkantoran 26 lantai yang berada 800 meter di timur KL Tower.

Dari THE WELD, aku memotong Jalan P. Ramlee untuk kemudian dalam lima puluh langkah masuk ke sebuah jalan yang lebih kecil, bernama Jalan Puncak. Inilah jalan utama untuk menuju KL Tower yang dibangun di tempat yang lebih tinggi.

Terengah-engah selama seperempat jam, akhirnya tiba juga di pelataran KL Tower. Sebetulnya pada tahun 2014 silam, aku berkesempatan melintas di menara ini ketika menjajal KL Hop On Hop Off untuk berkeliling kota. Hanya saja, kala itu aku hanya turun kurang dari lima menit untuk melihatnya. Ini semua karena KL Hop On Hop Off terburu-buru untuk menjelajah kota.

THE WELD….Selain perkantoran, ada pasar swalayan modernnya juga loh.
Meniti Jalan Puncak.

Kali ini aku akan sedikit lebih lama dalam menikmati pesona menara komunikasi yang berusia tak kurang dari seperempat abad itu. Bagaimana tidak bahagia, ketika akhirnya aku berkesempatan menikmati keindahan menara yang ketinggiannya masuk ke dalam jajaran sepuluh menara tertinggi di dunia.

Keunikan yang pertama kali bisa dilihat adalah atap bangunan dasar yang menggunakan deretan pola meruncing, pikiranku lalu merujuk pada runcingan-runcingan atap Sydney Opera House. Sedangkan pada bagian ujung atas antara tiang dan antena terdapat bangunan membulat yang merupakan pusat dari kegiatan broadcasting, telekomunikasi,  restoran, observation deck dan sky deck.

Sepengetahuanku untuk menikmati observation deck, pengunjung harus mengeluarkan biaya sebesar 49 Ringgit….Sedangkan harga wisata sky deck mencapai 99 Ringgit….Woouuooww.

Aku melangkah menuju entrance gate KL Tower untuk melihat aktivitas di sana dari dekat. Tentu aku tak akan naik ke atas untuk berwisata, terlalu mahal untuk pengunjung sepertiku yang hanya sekedar singgah saja di Kuala Lumpur.

Tak begitu ramai, sedari tadi hanya beberapa turis Eropa yang memutuskan untuk membeli tiket dan naik ke atas menara, sementara aku hanya mengamati sisa-sisa kegiatan kompetisi pemrograman yang diselenggarakan kemarin lusa. Kompetisi itu bertajuk HR Hackathon.

Bergeser ke kanan menara, ada atraksi lain ternyata. Di sisi itu berdirilah konter penjualan tiket untuk berkunjung ke KL Tower Mini Zoo (KLTMZ). Papan informasi yang ada mengatakan bahwa KLTMZ menyimpan tak kurang dari lima puluh spesies asli dan eksotis. Dan untuk melihat spesies-spesies unik itu maka pengunjung perlu merogoh kocek hingga 30 Ringgit.

Berpindah lagi menuju arah depan menara. Tersedia KL Tower F1 Zone yang menyediakan simulator Formula One untuk umum. Pengunjung bisa merasakan sensai mengendarai jet darat itu dengan membayar sebesar 20 Ringgit untuk enam menit mengemudi di simulator. Dinding KL Tower F1 Zone ini berwarna merah menyala, menyeleraskan diri dengan warna salah satu tim balap terkemuka di ajang balapan premier Formula One. Hanya saja, saat aku mengunjungi KL Tower, KL Tower F1 Zone itu masih tutup. Mungkin aku tiba terlalu pagi.

Oh ya, KL Tower F1 Zone ini juga dilengkapi dengan Formula One Cafe & Mart loh….

Tetapi baru sejenak melihat seisi cafe & minimarket dari luar ruangan, aku melihat kedatangan KL Hop On Hop Off warna putih dengan deck atas sebagian yang terbuka. Sontak aku berlari menujunya, sudah enam tahun lamanya aku tak pernah bersua dari dekat dengan bus wisata itu. Ternyata di pelataran menara terdapat shelter KL Hop On Hop Off. Pantas saja bus wisata itu berhenti untuk menurunkan para wisatawan.

Entrance gate KL Tower.
Ticketing Counter KL Tower Mini Zoo.
KL Tower F1 Zone.
Di spot inilah rombongan Surabayan itu aku foto.
Wisatawan asing sering meyebutnya dengan KL Forest Eco Park.

Tak lama berhenti, hanya menurunkan  5 wisatawan, bus itu tancap gas kembali. Tetapi tak lama kemudian, ada sebuah logat yang tak asing di telinga ketika kelima wisatawan wanita itu saling bercakap usai menuruni bus. “Itu logat Surabaya….”, aku menyimpulkan. Aku memutuskan diri untuk menyapa dan bercakap sejenak. Sudah empat hari lamanya aku tak bersua dengan orang Indonesia, tak ada salahnya untuk berbincang sejenak. Atas peristiwa itu, aku tahu bahwa kelimanya adalah Tenaga Kerja Wanita yang sedang berwisata ke Kuala Lumpur. Dari percakapan kami pula, aku tahu bahwa mereka sedang bekerja di Penang.

Seperti biasa, orang Indonesia selalu memiliki ciri yang khas. Mereka akhirnya memintaku untuk mengambil foto dengan latar KL Tower.

Aku? ….Ya tentulah aku meminta juga untuk dipotret….Kan aku orang asli Indonesia….NKRI harga mati.

Aku sendiri sudah berada di ujung kunjungan ke KL Tower. Untuk menutup kunjungan singkat ini, aku memasuki setengah area depan dari Taman Eko Rimba KL. Dahulu taman ini dikenal dengan sebutan Hutan Simpan Bukit Nanas, yang merupakan salah satu cagar hutan permanen tertua di Malaysia. Untuk memasuki cagar hutan ini pengunjung harus rela merogoh kocek sebesar 40 Ringgit.

Usai sudah petualanganku di KL Tower.

Saatnya pergi meninggalkannya.

Kisah Selanjutnya—->

Keterangan kata:

percuma*1) = =Gratis.

Burger Hangat di Kuala Lumpur International Airport

<—-Kisah Sebelumnya

Tiba di International Concourse.

Penanda waktu menunjukkan setengah sebelas malam ketika Malaysia Airlines MH 724 merapat di Kuala Lumpur International Airport. Aku menghela nafas panjang ketika pesawat telah terparkir sempurna di apron, itu karena connecting flight Malaysia Airlines MH 1326 baru akan mengudara menuju Kuala Terengganu pada pukul 07:25 esok hari. Artinya, selama sembilan jam ke depan aku harus bermalam di KLIA.

Bermalam di KLIA2….Pernah kah?….Yes, dua belas kali sudah, aku mencicipi “kasur keras” KLIA Terminal 2

Bermalam di KLIA?….Pernah juga kah?….Nup, kali ini pertama kalinya aku menginap di KLIA Terminal 1.

Sembari berjalan di arrival hall, aku mengambil boarding pass yang sudah kudapat dari check-in desk Soetta. Setelah kuamati, boarding pass yang kupegang belum mencantumkan nomor gate. Oleh karenanya, aku berusaha mencari informasi status penerbangan di Flight Information Display System (FIDS) yang terletak di arrival hall….Akhirnya, aku mendapatkan nomor gate….Yupz,A5.

Nah itu….Sudah ada status gatenya.

Supaya esok pagi aku tak keteteran mencari gate, aku pun berniat melakukan rehearsel untuk mencari jalan menuju gate yang dimaksud. Dari International Concourse di level 4, aku turun satu level menuju Domestic Concourse.Perlu diketahui bahwa domestic flight di KLIA diterbangkan dari gate A dan gate B, sedangkan international flight diterbangkan dari gate C, gate G dan gate H.

RehearseI yang kulakukan pun terpaksa usai di depan gerbang konter imigrasi, tetapi setidaknya aku telah memahami bagaimana aku harus melangkah menuju gate esok pagi.

Suasana Domestic Concourse.

Dari depan konter imigrasi, aku terpaksa naik kembali ke International Concourse untuk mencari tempat demi memejamkan mata.

Sementara itu, beberapa menit lagi memasuki tengah malam, aku duduk di salah satu bangku International Concourse ketika sepasang turis setengah umur mendekat dan menduduki kursi kosong di sebelah kiriku.

Helloo, Sir, where are you come from?”, aku memberanikan menyapa.

Hi, I’m from Algeria”.

Oh I know, it’s a country in north of Afrika”, aku mencoba membuat percakapan lebih hangat.

Ohhhh….yeaaa….yeaaaa, you know that. I will go home tomorrow and will transit in Doha”, dia mulai bercerita tentang rencana perjalanannya.

Oh, Doha will be last destination in my traveling this time”, aku mulai mengaitkan perjalananku dengan perjalanannya supaya terjadi percakapan yang lebih intens.

Oh, good. What is your traveling for?….Business?

Oh, no. it’s just for tourism. I’m Donny from Indonesia and Oh yeaaa, what is your name, Sir?

Oh, I’m Younes and she is my wife

Hi, Donny, nice to meet you”, istri pak Younes turut menyapaku

Hi, mam. Nice to meet you too

Donny, let’s we dinner together!”, pak Younes mengeluarkan empat potong burger dari kantong kertas yang sedari tadi dibawa istrinya.

Thank you, Sir. I had have dinner since from Jakarta”, aku menolak lembut

No No No…. It’s different, It’s for accompany us while talk about our traveling”, dia memaksaku untuk menerima sodoran sepotong burger yang masih hangat.

Alhasil kami bertiga pun saling berbincang sambil menikmati burger bersama. Dan ketika kita usai menyantap hidangan sederhana itu, mereka pun berpamitan untuk menuju ke gate.

Tapiiii…..Sebelum mereka berdua meninggalkan kursi, tetiba istri pak Younes menyodorkan satu potong burger terakhir kepadaku.

It’s for you, Donny. Just take it, we are moslems, we are family

It’s really, I think you more need it in your journey, mam”, aku menolak halus.

No, Donny, It’s for you”, dia semakin dekat menjulurkan burger itu di depanku

Thank you, mam. Allah is always with you”, akhirnya aku tak kuasa menolaknya.

Amiin, Good night, Donny, Assalamu’alaikum”.

Wa’alaikumsalam

Pertemuan yang sangat menyenangkan di dini hari. Aku memasukkan burger hangat itu di dalam backpack. Lebih baik aku menyimpannya untuk sarapan esok hari.

Usai pertemuan itu, aku memutuskan berpindah tempat untuk mencari deret bangku kosong untuk tidur sembari meluruskan badan sehingga aku bisa memejamkan mata dengan nyaman.

Yukz….Cari tempat untuk tidur.

Kisah Selanjutnya—->

Sembilan Jam Singgah di Kuala Lumpur International Airport Terminal 2

<—-Kisah Sebelumnya

Mendarat di KLIA2.

Bagi sebagian besar pengelana, Kuala Lumpur International Airport menjadi titik paling aduhai untuk melompat ke negara asia lainnya. Tentu keberadaan maskapai Low Cost Carrier (LCC) Air Asia yang membuatnya demikian. Sejak 2001, Air Asia telah memberikan akses murah bagi para pejalan untuk berkeliling Asia. Berkat Air Asia pula sudah 21 kali aku menyinggahi KLIA selama menjelajah Asia.

Tapi dalam kisah ini adalah delapan….Yups, ini kali kedelapan aku menjejakkan langkah di Kuala Lumpur International Airport.

Lewat jam sepuluh malam, roda raksasa Air Asia D7 505 berdebam lembut menyentuh KLIA2. Perjalanan 5 jam 50 menit dari Seoul pun usai sudah. Kesan pertamaku mencicipi pesawat berbadan lebar Airbus A330 sungguh menyenangkan. Terbang melintasi Laut Kuning dan Laut China Timur berlangsung dengan turbulensi yang bisa dianggap tiada, tenang dan mulus tanpa hambatan. Itu mungkin salah satu keuntungan menunggang pesawat berbadan besar ketika menjelajah angkasa.

Usai taxiing beberapa menit, Air Asia D7 505 pun merapat di apron dan sesaat setelah pintu pesawat terbuka, aku pun memasuki bangunan KLIA2 melalui aerobridge. Aku kembali menjejak KLIA2 setelah sepuluh hari sebelumnya menyinggahinya untuk melompat ke Kaohsiung, Taiwan. Sungguh perasaan yang membahagiakan malam itu karena aku sudah berada dekat dengan rumah, hanya 2 jam 15 menit jauhnya lewat udara.

Dan bagiku singgah di KLIA2 akan lebih afdol jika keluar dari konter imigrasi, karena aku bisa menemukan banyak sajian kuliner di Gateway@klia2 mall daripada hanya berdiam diri di transfer hall.

Transit Pak Cik, ingin cari makan malam”, sapa ringanku pada seorang petugas imigrasi di hadapan.

Dari mane mau kemane?”, tanyanya sambil memeriksa paspor hijauku.

Dari Seoul, mau pulang ke Jakarta, Pak Cik

Oh…”, jawabnya singkat lalu mempersilahkanku untuk menghadap kamera dan melakukan sidik jari.

Menjelang tengah malam itu, sebetulnya lambungku sudah lebih dahulu dipenuhi oleh angin karena jadwal makan malam sudah lama lewat.Tetapi untuk melengkapi jadwal itu, aku memilih untuk menyegerakan langkah menuju tempat makan langganan. Adalah NZ Curry House yang merupakan restoran India yang terletak di Transportation Hub level 1 Gateway@klia2 mall.

Restoran langganan.

(pada kunjungan terakhirku di KLIA2 di akhir 2019 saat akan terbang ke Kochi-India, area restoran ini sedang mengalami renovasi, entah tutup atau sekedar diperbaiki).

Menu andalan yang sering kupesan ketika singgah di restoran ini adalah adalah nasi lemak dengan telur rebus serta secangkir teh O panas. Untuk menu tersebut biasanaya aku hanya mengeluarkan uang sebesar 6,5 Ringgit.

Sembari mengecap suap demi suap nasi lemak itu, aku faham bahwa setelahnya aku hanya akan menghabiskan malam di lantai 1 sambil menunggu esok tiba. Oleh karenanya, aku tak terburu-buru dalam menyantap hidangan sederhana itu.

Usai makan, aku menyempatkan berganti t-shirt di toilet dekat restoran dan kemudian naik sebentar ke level 2 untuk mencari oleh-oleh di Jaya Grocer. Bagiku, KLIA2 juga menjadi tempat favorit untuk mencari oleh-oleh jika tak sempat menyinggahi kota, kehalalan produk Malaysia yang 61% berpenduduk muslim menjadi jaminan tersendiri. Target utama belanjaku adalah kemasan Teh Tarik Aik Cheong untuk bisa kunikmati pada hari-hari bekerjaku di Ibu Kota nanti. Satu kemasan Teh Tarik Aik Cheong berisi 15 sachet kutebus dengan 13 Ringgit malam itu.

Setelah oleh-oleh kudapatkan, aku segera mencari spot untuk merebahkan diri di lantai 1 karena waktu telah menyentuh dini hari dan mata juga telah memerah seakan memintaku untuk segera memejamkannya.

Tak lama memilih, terlihat deret bangku kosong di Lantai 1 di sebuah pojok hall. Usai mengakuisisi, aku tertidur setengah lelap diatasnya hingga subuh nanti tiba.

Bagaimanapun itu, aku pantas berterimakasih pada keberadaan KLIA2 dalam sejarah panjang perjalananku berkeliling Asia.

Kisah Selanjutnya—->

Air Asia D7 505 dari Seoul ke Kuala Lumpur

<—-Kisah Sebelumnya

Jalur penerbangan D7 505 (sumber: flightaware.com)

Aku terduduk di salah satu bangku dekat gate 112 milik Satellite Concourse Building Incheon International Airport setelah beberapa menit lalu dipindahkan oleh shuttle train dari Terminal 1. Waktu boarding yang tinggal setengah jam lagi, membuatku tak bisa mengambil resiko untuk mengeksplorasi seisi bangunan terminal bandara itu.

Aku lebih memilih mengamati lalu lalang pesawat terbang. Sebagian dari mereka tampak fokus mendaratkan roda di runway bandara dan sebagian yang lain tampak mengantri hingga mendapatkan izin dari Air Traffic Controller (ATC) untuk mengudara. Kebiasaan seperti itu memang sering aku lakukan karena ketertarikan diriku akan pesawat dan industri penerbangan. Dari kebiasaan melakukan pengamatan tersebut, tak jarang aku menemukan nama-nama maskapai baru yang dikemudian hari aku biasa menyasarnya demi menikmati jasanya dalam berkeliling dunia.

Bagiku, hari itu terasa sangat spesial dalam sejarah perjalananku, karena Air Asia D7 505 akan menjadi perjalanan pertamaku menggunakan pesawat berbadan besar. Jika pada penerbangan-penerbangan sebelumnya aku selalu menunggangi pesawat berbadan kecil, sejenis Airbus A320 ataupun Boeing 737, tetapi kini aku akan menunggangi Airbus A330 dengan 9 kolom bangku….Sore itu begitu benar-benar menciptakan rasa penasaran dan ketidaksabaran.

Setengah jam kemudian, gate benar-benar dibuka. Aku mulai mengambil posisi di kolom antrian kanan.

Belanjaan duty free kasih ke mama saja, biar mama yang pegang”, seorang penumpang pria berseru pada putranya yang menenteng dua botol besar minuman berlakohol. Mendengar bahasa bangsa saat berada di negeri orang memang menjadi kado istimewa yang bisa membantu menaikkan mood untuk selalu merasa dekat dengan rumah. Kini di sebelah kiriku ada seorang WNI keturunan Tiongoa yang tampaknya juga sedang dalam perjalanan pulang.

Dari kota mana, pak?”, aku memberanikan diri bertanya.

Loh, masnya dari Indonesia juga? Saya dari Bekasi, mas.

“Oh, saya dari Jakarta Timur, Pak”.

“Oh, deket ya kita. Ngerjain bisnis apa, mas di Jakarta?”

“Saya kerja aja kok, Pak di Jakarta. Ndak ada bisnis”.

“Oh gitu ya, sendirian ya mas?”

“Iya Pak”

“Wah keren….keren…”

Percakapan kami tak berlangsung lama karena pertemuan itu harus berakhir ketika ground staff memerikasa tiket dan paspor kami. Setelahnya kami terpisah di lorong panjang aerobridge.

Di ujung aerobridge, aku disambut oleh pramugari berwajah Melayu di pintu pesawat lalu aku diarahkan untuk berbelok ke arah kabin depan. Sesuai dengan boarding pass aku mencari kursi bernomor 14K yang ternyata berposisi di window seat sisi kanan. Itulah tempat duduk yang harus kunikmati selama penerbangan panjang nanti.

Oh ya, nomor penerbanganku kali ini adalah D7 505. Mau tau makna kodenya?….

Jika QZ adalah kode penerbangan yang dioperasikan oleh Indonesia Air Asia dan AK adalah kode penerbangan untuk Air Asia Malaysia maka D7 adalah kode penerbangan milik Air Asia X khusus untuk penerbangan jarak jauh.

D7 505 sendiri adalah penerbangan berjarak 5.000 Kilometer dengan waktu tempuh 5 jam 50 menit. Penerbangan bermula dari Incheon International Airport, Korea Selatan dan akan berakhir di Kuala Lumpur International Airport 2, Malaysia.

Hmmhh…..Selama penerbangan….

Ternyata, window seat yang kutempati terasa tak nyaman karena lengkungan kabin pesawat membatasi kenyamananku selama penerbangan. Selama terbang di kelas ekonomi itu, aku hanya bisa mengisi waktu dengan membolak-balik majalah Travel 360 yang merupakan inflight magazine milik Air Asia. Ketika tatapku mulai lelah dalam membaca,  maka aku berlanjut  menghabiskan waktu dengan memejamkan mata. Beruntung almond kemasan yang kubeli di Namdaemun Market kemarin hari membuat penerbanganku sedikit tak membosankan.

Separuh penerbangan yang dalam kondisi terang  membuatku leluasa menikmati pemandangan Laut Kuning dan Laut China Timur, sedangkan selebihnya penerbangan berlanjut dalam gulita yang membuatku tak bisa berbuat banyak. Hingga akhirnya pesawat tiba di Kuala Lumpur sekitar pukul sepuluh malam.

Seusai penerbangan itu, aku masih harus melewati babak terakhir pejalananku menjelajah Asia Timur dengan bermalam selama 9 jam di Kuala Lumpur International Airport 2 sebelum esok hari kembali ke tanah air menggunakan connecting flight Air Asia AK 382.

Untuk mendapatkan tiket penerbangan dari Seoul ke Kuala Lumpur, Anda bisa mencarinya di 12go Asia dengan link berikut:  https://12go.asia/?z=3283832

Kisah Selanjutnya—->

Batu Caves….India Trace in North of Kuala Lumpur

A. KLIA2 to Batu Caves Route

Step 01. KLIA2-KL Sentral

Heading to 1st floor which is location of KLIA2 Transportation Hub, I rushed to Skybus sales counter. Rates of USD 2.6 was enough to move me from KLIA2 to KL Sentral which is located in center of Kuala Lumpur city. I spent 50 minutes traveling to see situation of Selangor state’s streets.

Step 02. KL Sentral-Batu Caves

Trip in year 2014

From KL Sentral, I headed to KTM Komuter Laluan Seremban ticket counter to reach Batu Caves. At that time, commuter tickets couldn’t be obtained at automatic fare machines like LRT tickets in Kuala Lumpur. So I had to go to ticket counter to manually buy it. Its price is quite cheap, only USD 0.5 for one way. Distance from KL Sentral to Batu Caves is 13 km with 45 minutes travel time.

Trip in year 2018

Check out my second and most recent trip to Batu Caves at this link: New Route to Batu Caves, Malaysia

B. About Batu Caves

Corridor between commuter station to Batu Caves.

Taking a light step through exit gate at Batu Caves Station and gathering curiosity which is increasingly rising when I moved in a roofed pedestrian corridor. The corridor which its end is right entrance of Batu Caves.

I looked small under it.

Entering from right side, the 15 meter high statue of Lord Hanuman welcomed. Its green body added sacredness of “Wanara” King. It was undeniable because indeed many long-tailed monkeys present around temple which is located next to statue.

A monkey which is eyeing my camera….
Temple was quite crowded with visitors.
Incense were burned in front of temple.

Ramayana Cave Suyambu Lingam on left side of green temple solemnity presents Ramayana epic through several character statues which imply a storyline. Set aside USD 1.3 to just enjoy its majesty.

Ramayana Cave gate.

The sun sting didn’t deter my enthusiasm and spirit for being present in front of Venkatachalapathi Temple which was built above 19 stairs. This temple praises Lord Vishnu incarnation who is carrying out his duties as a “destroyer of sin”. Do you know Lord Vishnu who rides Garuda (the king of all birds) and armed with chakra?

Take your shoes off before climbing stairs!

To ensure tourists don’t miss any part of Batu Caves, they prepares a sign with 17 different directions.

That is….

Understanding Hindu history through beauty of art is what Cave Villa wants to show. USD 3.9 is a pretty expensive value to explore this cave.

Buy ticket there.

Lord Shiva who be illustrated as Nataraja “the Lord of Tandavam” (the name of a religious dance in Hinduism) and Lord Murugan who were essentially born as 6 babies, were eventually transformed into a single powerful figure of Lord Murugan, are two stories which is explained in this cave.

Standing on Batu Caves main part i.e a large courtyard which is full of pigeons which always loves to beg for food from tourists.

That are pigeon…. benign but in fact are not.
The worship building on Batu Caves courtyard was being renovated.

Visiting statue of the highest Hindu God in the world, His mother is Parwati Lord and his father is Lord Shiva. Lord Murugan is his name …. Armed with a sacred scepter and his majesty is represented on his soaring as high as 43 meters.

Gold color makes it very prominent in anyone’s eyelids.

Prepare your calves to steps on 272 stairs to main temple which hides on a 400 million-year-old limestone hill.

Dress modestly…Try not to wear shorts.

Humid air and cold temperature like a fridge make this cave as a special place in the middle of stinging area around hill.

Combination of lighting and layout of God statues makes it sacred.

Before leaving this site, you can visit Gheeta’s Souvenir Shop on left front of courtyard.

Souvenir shop.
Parking lot.

If you don’t want to buy souvenirs, you can buy indian foods and snacks which are sold in front right of courtyard.

Indian snacks with Indian aroma.

Couldn’t buy souvenirs because I didn’t have plane luggage….Then I just enjoy lunch or drink coconut water in canteens around Batu Caves.

Twice visited….Twice also lunch here.
Nasi lemak in Indian taste….Hahaha.
Coconut water with ice was drank in middle of sun sting.….Beuh.

Of course, you know Batu Caves, because of its popularity … But try to explore about values which can be obtained from this site.

So….Batu Caves….Let’s go there!.

24 Tourist Attractions at Kuala Lumpur in 3 Days 2 Nights

A flight to Kuala Lumpur, which was barely caught due to race with time along Jakarta-Serang toll road, was added with pale faces due to the bitter interrogation of Malaysian immigration staff because of my inconclusive appearance, then making my heart and spirit go high together with my success first steps to leave the KLIA2 immigration counter.

Guys …. My journey in Kuala Lumpur for first time began. Very happy at that time. My fridge magnet will add to be three. Yes like that, number of fridge magnets in my house shows how many countries I have visited….Later when I have visited 100 countries, I will buy a refrigerator as high as my house ceiling. So I can put all fridge magnets on it….Hahaha.

—-****—-

The trip that had been planned since 9 months before departure was finally realized. Still couldn’t believe when I really entered this neighbor country. The itinerary which I detailed in three sheets had taken me to the following 24 destinations:

1. KL Sentral

KL Sentral is the first stopover which is often used by travelers before exploring Kuala Lumpur. Yes, most public transportations from KLIA will end here.

KL Sentral was indeed built by Malaysian government as a transit-oriented transportation building. No wonder, this transportation center is never empty of visitors.

Beware, Donny…Your zippers.

For the first time, arriving here on the first day of my journey, at exactly 11:23 hours. I took time to explore Nu Sentral which is a shopping mall which is integrated with this modern building.

2. Batu Caves

The time that was too late to begin my trip to Genting Highlands made me choose this Hindu temple as my next stop. Located in Gombak area which is 15 km north of KL Sentral with a distance of 40 minutes travel time making the yellow statue of “Dewa Murugan” as the favorite icon in Kuala Lumpur after Petronas Twin Tower.

So, if you can’t use a tripod….Ask someone else to just take a your photo, Donny!….Huh.

90 minutes is more than enough time to dispel my curiosity about the cave which is located in a 400 million-year-old limestone hill.

3. Suria KLCC

After returning from Batu Caves and after hunting for hotels in Pasar Seni area which ended with staying at Agosto Inn, in a light drizzle I hurried to Kuala Lumpur City Center (KLCC). KLCC is center of Kuala Lumpur which offers a modern shopping mall i.e Suria KLCC, a row of five-star hotels, iconic view of Petronas Twin Tower and a large urban park (KLCC Park).

Even though I don’t like shopping, I’m just curious to see this mall which has 350 tenants. The Suria KLCC architecture is in crescent shape when viewed from above….Cool, huh. And you need to know that Suria KLCC construction is an integrated project with Petronas Twin Tower.

4. Petrosains

Before leaving Suria KLCC, I made time to visit Petrosains in 4th floor. Petrosains is Petronas’s petroleum education site, a Malaysian oil giant. Simply set aside Rp. 35,000 to study in Petrosains.

What are you doing….?

5. Petronas Twin Tower

Right to the left of Suria KLCC exit, I finally found the phenomenal twin building. Soft drizzle which accompanied me to enjoy Petronas Twin Tower was unable to drive me out of front yard of the tallest twin building in the world.

Security: “Get Downnnnnnn…..!”

Petronas Twin Tower is the last destination on the first day of journey. Rest faster at Agosto Inn to prepare myself for Genting Highland tomorrow.

6. Genting Skyway

On 6:30 hours, seeing my presence at dining table made hotel staff seem rushed to prepare breakfast which was only oatmeal, orange sunkist, toast and warm drinks which I could take as much as I could from tea and coffee pots.

A morning that was still very quiet I passed to KL Sentral to catch the first bus to Genting Highlands which will depart at 08:00. By paying for a round trip ticket from KL Sentral to Genting, USD 5.5 (price in 2014, in 2019 price have gone up to USD 6.3) I arrived at Genting Highlands 1 hour 15 minutes later.

First time riding a cable car….

That price includes Genting Skyway ride. While the one-way price for this transportation mode is USD 2. The gondola’s lower station is in Gohtong Jaya and its Upper Station is in Maxims Hotel, Genting Highlands.

7. Genting Highlands

Twenty minutes later, I arrived at Genting Highlands after hanging in the eight-persons seat gondola

The main purpose of second day journey, which had to give up my all time in second day was taken away. Deprivation which absurdly excites me . Hope, there was a repetition like this at another time.

Watch out, Donny! Don’t be in the middle of way!….Many people want to pass.

Two hours I explored the resort at top of Mount Titiwangsa in northeast of Kuala Lumpur. If you have much money, you can spend the night in Genting. But passing every mall without shopping, restaurants without taking lunch and casino without gambling, surely that’s me who has never had enough money to do all that.

8. Bukit Bintang

I just needed to reverse my departure way so I could go back to KL Sentral.

15: 30 hours….”Wow, I can still explore,” My thought cheering. Bus, done!….LRT, done!….Commuter, done!….MRT, not yet Donny!, they werw still seen dredging the ground next to Pasar Seni. So what will you ride next?

I decided to try the only monorail route in Kuala Lumpur. When else can I ride it if not now?. This is also my first time riding a monorail which three years later I rode the same mode for free at Sentosa Island, Singapore….Yup, that was Sentosa Express.

Don’t be too long, Donny!. Many people in your back, wait for took photos too.

The famous destination on KL Monorail Route is Bukit Bintang. Bearing a title as the most famous shopping and entertainment venue in Kuala Lumpur makes Bukit Bintang as the most popular retail center which is always hunted by shopping enthusiasts, from housewives, office workers to young women and even tourists.

Aren’t you a tourist, Donny? … No, sir. I’m just a fortunate wanderer who was given a chance to travel around 25 countries….Plakkkk Plakkkk Plakkkk…I hit you, Donny!

9. Taman Tasik Titiwangsa (Titiwangsa Park)

Killing time in a city park at north of city center was my journey’s closing on second day. Founded in former of tin mining during British colonialism made it reasonable by existence of a large lake as former of mining activities.

Sorry viewers….I ran out of battery when in the park….That was better picture.

At four o’clock in afternoon, I was present in the park in a crowd of extraordinary citizens’ activities. Until maghrib pray call reminded me that I wasn’t in “Bluntas Park” (the park name which is closest my home in Jakarta….Hahaha). The mean was, time began to expel me to immediately leave Taman Tasik Titiwangsa (Titiwangsa Park) and better spend my evening near hotel where I stay overnight.

10. Hop On Hop Off Bus

Time is indeed unfriendly when confronted with curiosity. Suddenly I was pushed into last day of journey. Long exploration time is successful in compromising with my tired calf veins in affecting my brain. Then my brain whispered, “Just relax in spending last day in Kuala Lumpur, Donny!“.

USD 11.6, I was forced to give it to double decker bus tour guide…. It’s called HOHO bus….Or, Hop On Hop Off bus.

Hurry up!….Don’t trap in the evening.

HOHO Bus Stop No. 09, located in Central Market, made it easy for me to catch it….It took less than 5 minutes to reach it from Agosto Inn. Not accepting loss, I insisted on visiting several tourist destinations along HOHO bus line.

11. Istana Negara

Only 15 minutes. After that, every ladies and gentlemen can go back to bus or join to next bus“, her voice became clearer with presence of a mic under guide’s lips. Her face was beautiful within hijab (girl moslem wear ). She Made me melt.

Beware don’t cling to wall !….You could make the wall dirty, Donny….Huh

I rushed away as fast as I could to approaching palace gate. Took a picture with palace guard who stands like a statue and a very tame palace horse even though dozens of different faces took turn taking pictures with it.

12. Dataran Merdeka

A large square adorned with an iconic Mughal-Moor building becomes my next stop. Sultan Abdul Samad is name of the building. Sultan Abdul Samad himself was the leader of Selangor state which was famous for moving capital city of Selangor from Klang to Kuala Lumpur.

Yes….Not bad pose.

The plain is known as Dataran Merdeka, the place where Malaysia independence from British colonial government was declared.

13. KL Tower

HOHO bus which didn’t stop for long time at that communication tower, didn’t make me give up. I nimbly jumped out of bus and a second later HOHO bus left me in KL Tower yard.

Hurry up got in bus!…. Don’t be long time.

I would explore KL Tower before heading to Muzium Negara (State Museum).

If you have more guts, go to Sky Box!, if you want to lunch in an elegant way then try revolving restaurant! ,then go to observation deck to catch beautiful view of Kuala Lumpur city closer to your eyelids!.

Me?….I missed the first two parts. My wallet was only able to put me in the last part….It was better than nothing.

14. National Museum of Malaysia

Want to quickly know about culture of a nation?….Come to its national museum!.

For this reason I was present at Muzium Negara (National Museum of Malaysia). The journey of Malaysians from time to time is clearly displayed in this museum. Starting from prehistoric life….Kingdom life….Even the story of Majapahit Kingdom (Biggest Kingdom in Indonesia) is here.

Like I’ve never seen train before….Huh.

The nuances of Kuala Terengganu kingdom seem to strongly influence this museum architecture which looks so magnificent.

The Malaysian struggle session from British colonialism closed the history learning session at this building which is located on Jalan Damansara.

15. Taman Tasik Perdana (Perdana Botanical Garden)

Hop On Hop Off slowly entered into Kuala Lumpur green area….Amazing, this was the famous Taman Tasik Perdana (Perdana Botanical Garden).

Known as Lake Garden, this park was my best solution to stay away from hustle and bustle of Kuala Lumpur city which gradually made my ears noisy.

Hi, don’t stick!….Hahaha.

I saw how happy Kuala Lumpur people picnic as a family, swinging their feet along jogging track, rowing a boat on a beautiful lake and I was dissolved with my steps to enjoy green trees which cooling surrounding air.

16. Kuala Lumpur Orchid Park

The colors of flowers were like a magnet which pulled me closer. I was cheerful when a park signboard whispered information that I didn’t need to pay a cent to enter it.

Hi, don’t step on the grass!….Wew, ask for a fight.

A woman with wide hat greeted me with a happy smile. Her duty in arranging the park was finally visited by a thin-pocketed traveler. Without embarrassment, the traveler also posed in front of camera which held by the woman….Already entered, free of charge, also gave an order to catching a picture…. Beuh, plaaaaaakkkk #hitmyface.

17. Kuala Lumpur Deer Park

Ma’am….Is there something where doesn’t require an entrance ticket in Perdana Botanical Garden?“, I asked without shame

There, Sir….There is deers across. At the end of this road then turn right “, She said mixed with a smile.

Beuh, if it’s free, don’t ask….Donny is the best searcher and Donny will be the fastest to visiting. As fast as lightning, I was already inside Kuala Lumpur Deer Park.

Hahaha….Similar

All visitors who all quickly entered the park and also quickly left it. In contrast to me who really enjoy behavior of those deers whose its brothers like to steal cucumbers in Indonesia (Indonesia have famous story about a deer that love to steal farmer’s cucumber).

Beuh….Those deers dung beat my bad habit….Free attraction hunter.

18. Kuala Lumpur Bird Park

The biggest bird’s nest in the world. Home for three thousand birds. This time there was no mercy for my wallet. USD 10.2 flew just to see birds freely roam in the park.

Don’t touch the sign, Donny!….It can collapse….Huh

If you go there, you will find a mandarin duck which for the first time I saw it. Don’t forget to also take part in feeding program for KL Bird Park “residents“!.

19. National Mosque

Exiting Perdana Botanical Garden, HOHO bus drove me to perform Asr prayer at National Mosque.

Be polite!….

National Mosque, which is capable of accommodating 15,000 worshipers, was established to give thanks to God for country’s independence from colonial government without bloodshed.

Feel coolness of main room with soft carpet while worshiping in this mosque. Guaranteed peace and make sleepy.

20. Kuala Lumpur City Gallery

I slowly moved away from Perdana Botanical Garden area to return to city center. Apparently, I had circled the city 360 degrees, because I had arrived again at Dataran Merdeka. This time I was visiting Kuala Lumpur City Gallery.

Like a villager.….Hahaha

Do you want to know about Kuala Lumpur city development plan?

Want to know also how much Malaysia’s income from tourism?….Fantastic.

Want to know too, what building which they want to build to defeat Petronas Twin Tower which actually has also become the tallest one in entire world?

Just pay USD 1.2 and enter into it….It’s great, I guarantee.

21. National Textile Museum

Yup, there was still a little more time…..

Crossing road in Dataran Merdeka, I was shocked by existence of National Textile Museum. No need to spend money to visit it.

Be saw by security guard from inside…..

The museum, which is placed inside a building which is more than a decade old, offers historical and cultural journeys through a series of typical Malay fabrics which are displayed therein. Also some of relics of Kuala Terengganu’s artistic objects which must have been luxury items in its era

22. Petaling Street

Goodbye Hop On Hop Off bus, thank you for taking me to know Kuala Lumpur.

I immediately headed to hotel to pick up a backpack which I had left in receptionist since morning because my stay finished at 12:00 hours.

But yes, back to the habit….Not wanting to lose against time which kept rolling, I pushed toward Petaling Street which is close to hotel.

You want to shop….Do you have money, Don?

Petaling Street is center of Chinatown in Kuala Lumpur. Quite crowded when I enter it and explore each stalls which offer a variety of souvenirs and food.

You have to eat roasted chestnuts….It’s delicious, oath!

23. Pasar Seni (Central Market)

It was getting darker….No need to worry, my flight was still tomorrow. A thing which limited me was LRT’s last operating hour, which was 23:00 hours.

I only needed a few minutes to move from Petaling Street to Central Market. Sitting and enjoying culinary time in Petaling didn’t make me realize that the dark had begun to acquire the day. Maybe it was also because of my tiredness which had conspired with the dark to make me forget

Borrowing pictures from someone (year 2019).

Ma’am, what can i get with this amount of money?….Just packing as avail as possible, ma’am. Just a souvenir, Ma’am….Don’t pack foods. I want to go back to Jakarta” words which indicate that I was tired and couldn’t think anymore to choose souvenirs.

24. Kuala Lumpur International Airport Terminal 2 (KLIA2)

Only a few minutes before 21:00 hours, I closed curtain of my journey in Kuala lumpur. It was time to head to airport which will be my bed on the last night. Combination of traveling using LRT Kelana Jaya and Skybus made me arrive at KLIA2 at a little over 22:00 hours.

He who had a Central Market picture above….He came from future….Wow!

Hi, man….Airport is not a tourist destination….Yakss, for you maybe not….For me is yes, because I often invest time in exploring airport which for the first time I visited.

For me, KLIA2 is an exotic place like a seven star hotel which has contributed to taking me around the world.

Already finish….Need three days to write this article. The longest article which I’ve ever written. This article have 2,679 words, Wow.

Try to count by yourself….!

Batu Caves….Jejak India di Utara Kuala Lumpur

<—-Kisah Sebelumnya

A. Rute KLIA2 ke Batu Caves

Step 01. KLIA2-KL Sentral

Menuju lantai 1 yang merupakan letak dari Transportation Hub KLIA2, aku bergegas menuju konter penjualan Skybus. Tarif sebesar Rp. 35.000 cukup untuk memindahkanku dari KLIA2 ke KL Sentral yang terletak di tengah kota Kuala Lumpur. Perjalan selama 50 menit kuhabiskan dengan melihat suasana jalanan negara bagaian Selangor.

Step 02. KL Sentral-Batu Caves

Perjalanan Tahun 2014

Dari KL Sentral, aku menuju konter tiket KTM Komuter Laluan Seremban untuk mencapai Batu Caves. Saat itu tiket komuter tidak bisa didapatkan di automatic fare machine seperti layaknya tiket LRT di Kuala Lumpur. Jadi Aku harus menuju ke loket untuk membelinya secara manual. Harganya cukup murah, hanya Rp. 7.000 untuk one-way. Jarak tempuh KL Sentral ke Batu Caves adalah 13 km dan waktu tempuhnya 45 menit.

Perjalanan Tahun 2018

Lihat perjalanan kedua dan terbaruku ke Batu Caves di link ini: Rute Baru Menuju Batu Caves, Malaysia

B. Batu Caves Selayang Pandang

Koridor antara stasiun komuter ke wisata Batu Caves.

Melangkah ringan melalui exit gate di Stasiun Batu Caves dan mengumpulkan rasa penasaran yang semakin naik kadarnya begitu berpindah di koridor pejalan kaki berpelindung. Koridor yang ujungnya adalah pintu masuk sebelah kanan dari wisata Batu Caves.

Kecil gue….dikangkangin.

Memasuki dari sisi kanan, patung Dewa Hanoman setinggi 15 meter menyambut. Hijau tubuhnya menambah kesakralan Sang Raja Wanara. Tak bisa disangkal karena memang para monyet berekor panjang hadir di sekitar kuil yang letaknya berdampingan dengan si patung.

Si cigak yang mengincar kameraku….
Kuil yang cukup ramai dengan pengunjung.
Dupa yang dibakar di depan kuil.

Ramayana Cave Suyambu Lingam di sisi kiri kuil berwarna hijau itu dengan khusyu’ menyajikan epik Ramayana melalui beberapa patung sang tokoh yang menyiratkan alur cerita. Sisihkanlah Rp. 17.500 untuk sekedar menikmati keagungannya.

Gerbang Ramayana Cave.

Sengatan Sang Surya tak menghalangi antusias dan semangatku untuk hadir di depan Venkatachalapathi Temple yang beralaskan 19 anak tangga. Tempat memuji jelmaan Wisnu yang sedang menjalankan tugasnya sebagai “penghancur dosa”. Kenalkah kamu dengan Dewa Wisnu yang berkendara raja para burung “Garuda” dan bersenjatakan cakra?

Lepaskan sepatumu sebelum menaiki tangganya !.

Untuk memastikan wisatawan tak melewatkan satu bagian pun dalam wisata Batu Caves, pengelola wisata mempersiapkan penunjuk arah yang mengarah ke 17  bagian bagian berbeda.

Ini dia….

Memahami sejarah Hindu melalui keindahan seni, itulah yang ingin dipamerkan Cave Villa. Rp. 52.500 adalah nilai yang cukup mahal untuk menjelajah gua ini.

Beli tiket di situ ya.

Dewa Siwa yang diilustrasikan sebagai Nataraja Sang Penguasa Tandavam (nama tarian religi dalam Hindu) dan Dewa Murugan yang pada hakikatnya dilahirkan sebagai 6 bayi yang pada akhirnya keenamnya menjelma menjadi satu sosok Dewa Murugan yang perkasa adalah hal yang ingin dijelaskan dalam gua ini.

Menjejak bagian utama Batu Caves, pelataran luas penuh dengan merpati yang selalu gemas memohon makanan dari wisatawan.

Begitulah merpati….Jinak menipu.
Bangunan peribadatan di pelataran Batu Caves sedang direnovasi.

Membesuk patung Dewa Hindu tertinggi di dunia, Ber-ibu Dewi Parwati dengan ayah Dewa Siwa. Dewa Murugan namanya….Bersenjata tongkat suci dan keagungannya direpresentasikan menjulang setinggi 43 meter.

Warna emas yang menjadikannya sangat menonjol di pelupuk mata siapapun.

Persiapkan betismu untuk menapakai 272 anak tangga menuju kuil utama yang bersembunyi di atas bukit kapur berusia 400 juta tahun.

Berpakaian sopan ya…Usahakan jangan bercelana pendek.

Udara lembab dan suhu sedingin almari es menjadikan gua ini menjadi tempat yang khusyu’ di tengah menyengatnya area di sekitar perbukitan.

Perpaduan pencahayaan dan tata letak patung para Dewa menjadikannya sakral.

Sebelum meninggalkan wisata ini, kamu bisa mengunjungi Gheeta’s Souvenir Shop di kiri depan pelataran.

Toko souvenir.
Parking lot.

Kalau kamu tidak mau beli souvenir, bisa juga membawa oleh-oleh jajanan khas India yang banyak di jual di kanan depan pelataran.

Jajanan India dengan aroma khas India.

Tak bisa membeli oleh-oleh atau souvenir karena tak punya bagasi pesawat sepertiku?….Nikmati saja makan siang atau minum air kelapa muda di kantin sekitaran Batu Caves.

Dua kali berkunjung….Dua kali pula lunch disini.
Nasi lemak versi India….Hahaha.
Es kelapa muda diminum diteriknya matahari….Beuh.

Tentu kamu tahu Batu Caves ini, karena kepopulerannya….Tapi coba dalami tentang nilai yang bisa didapatkan dari wisata ini.

So….Batu Caves….Ayo meluncur kesana!.

Kisah Selanjutnya—->

24 Wisata Kuala Lumpur Dalam 3 Hari 2 Malam.

Penerbangan ke Kuala Lumpur yang hampir tak tertangkap karena beradu cepat dengan waktu di sepanjang tol Jakarta-Serang, dibumbui dengan pucat pasinya wajah akibat interogasi staff imigrasi yang judes karena penampilanku yang tak meyakinkan, membuat hati dan asaku malambung tinggi bersamaan dengan langkah pertamu meninggalkan konter imigrasi KLIA2.

Gaes….Perjalananku di Kuala Lumpur untuk pertama kalinya dimulai. Seneeenggg banget waktu itu. Magnet kulkas ku akan bertambah menjadi tiga. Begitulah adanya, jumlah magnet kulkas di rumahku menunjukkan berapa banyak negara yang sudah kukunjungi…..Nanti kalau sudah mengunjungi 100 negara, aku akan beli kulkas setinggi langit-langit rumah. Biar muat nempelin magnet-magnet itu….Hahaha.

—-****—-

Perjalanan yang sudah direncanakan sejak 9 bulan sebelum keberangkatan ini akhirnya terwujud. Masih tak percaya ketika diriku benar-benar memasuki negeri jiran itu. Rencana perjalanan yang kutuangkan secara detail di tiga lembar itinerary telah mengantarku menuju 24 destinasi berikut:

1. KL Sentral

KL Sentral adalah persinggahan pertama yang sering digunakan para petualang sebelum menjelajah Kuala Lumpur. Ya iyalah, kebanyakan transportasi umum dari KLIA akan berujung di sini.

KL Sentral memang dibangun pemerintah Malaysia sebagai bangunan transportasi berorientasi transit. Tak khayal, pusat transportasi ini tak pernah sepi pengunjung.

Awas mas….Resleting.

Untuk pertama kalinya, tiba disini di hari pertama kelayapanku, tepat pukul 11:23. Aku menyempatkan diri untuk sejenak mengeksplorasi Nu Sentral yang merupakan shopping mall yang terintegrasi dengan bangunan modern ini.

2. Batu Caves

Waktu yang terlalu siang untuk memulai perjalanan ke Genting Highlands membuatku memilih kuil umat Hindu ini sebagai persinggahanku berikutnya. Berlokasi di daerah Gombak yang berjarak 15 km di utara KL Sentral dengan jarak tempuh 40 menit menjadikan patung kuning “Dewa Murugan” menjadi ikon terfavorit di Kuala Lumpur setelah Petronas Twin Tower.

Makanya, kalau ga bisa main tripod….Minta orang lain fotoin aja….Huh.

90 menit menjadi waktu yang lebih dari cukup untuk menghilangkan rasa penasaranku akan gua yang terletak di sebuah perbukitan kapur  berusia 400 juta tahun itu.

3. Suria KLCC

Sekembali dari Batu Caves dan seusai berburu hotel di daerah Pasar Seni yang berakhir dengan hinggapnya langkah di Agosto Inn, dalam gerimis ringan aku bergegas menuju Kuala Lumpur City Centre (KLCC). KLCC adalah pusat kota Kuala Lumpur yang menawarkan shopping mall modern yaitu Suria KLCC, deretan hotel bintang lima, pemandangan ikonik Petronas Twin Tower dan taman kota yang luas (KLCC Park).

Walau tak gemar berbelanja, aku hanya penasaran ingin melihat langsung mall yang memiliki 350 tenant ini. Arsitektur Suria KLCC konon berbentuk bintang sabit jika dilihat dari atas….Keren ya. Dan perlu kamu tahu bahwa pembangunan Suria KLCC adalah proyek terintegrasi dengan Petronas Twin Tower.

4. Petrosains

Sebelum keluar dari Suria KLCC, aku sempatkan untuk mengunjungi Petrosains di lantai 4. Petrosains adalah tempat edukasi perminyakan milik Petronas, raksasa minyak milik Malaysia. Cukup menyisihkan Rp. 35.000 untuk belajar di dalam Petrosains.

Ngapain siiih….

5. Petronas Twin Tower

Tepat di sebelah kiri pintu keluar Suria KLCC, aku akhirnya menemukan bangunan kembar fenomenal itu. Gerimis lembut yang menemaniku menikmati Petronas Twin Tower tak mampu mengusirku segera dari halaman depan gedung kembar tertinggi di dunia itu.

Security: “Turuuuuuuunnnn…..”

Petronas  Twin Tower adalah destinasi terakhir di hari pertama kelayapan. Lebih cepat beristirahat di Agosto Inn untuk mempersiapkan diri menuju Genting Highland di keesokan harinya.

6. Genting Skyway

Jam 6:30, Melihat kehadiranku di meja makan membuat staff hotel itu terkesan tergesa-gesa menyiapkan sarapan pagi yang hanya berupa oatmeal, jeruk sunkist dan toast serta minuman hangat yang bisa kuambil sepuasnya dari tea and coffee pots.

Pagi yang masih sangat sepi kulalui menuju KL Sentral untuk menangkap bus pertama menuju Genting Highlands yang akan berangkat pukul 08:00. Dengan membayar tiket pulang pergi dari KL Sentral ke Genting sebesar Rp. 73.000 (harga pada tahun 2014, tahun 2019 harga sudah naik menjadi Rp. 85.000) aku tiba di Genting Highlands 1 jam 15 menit kemudian.

Pertama kalinya naik cable car….Clingak-clinguk, ndeso!

Harga segitu sudah termasuk naik Genting Skyway. Sementara harga sekali jalan untuk moda transportasi ini adalah Rp. 28.000 (Tahun 2019). Lower station gondola ini berada di Gohtong Jaya dan Upper Stationnya berada di Maxims Hotel, Genting Highlands.

7. Genting Highlands

Dua puluh menit kemudian, aku tiba di Genting Highlands setelah bergelantungan di dalam gondola berpenumpang delapan orang itu

Tujuan utama hari kedua yang harus merelakan waktu sehariku dirampas begitu saja. Perampasan yang membuatku girang bukan kepalang. Berharap ada repetisi seperti ini di lain waktu.

Awas, bang jangan di tengah jalan !….Kasian orang lain mau lewat.

Dua jam aku menapaki resort di pucuk gunung Titiwangsa sebelah timur laut Kuala Lumpur. Kalau kamu punya uang berlebih bisalah bermalam di Genting. Tapi melewati setiap mall tanpa berbelanja, restoran tanpa menyempatkan makan siang dan casino tanpa berjudi, pastinya itu adalah aku yang tak pernah memiliki uang cukup untuk berhura suka macam itu.

8. Bukit Bintang

Tinggal membalik cara berangkat maka aku bisa pulang kembali ke KL Sentral.

15:30….”Wuih, masih bisa ngelayap”, batinku bersorak. Bus, sudah….LRT, sudah….Komuter, sudah….MRT, belum jadi bang, mereka masih terlihat mengeruk tanah di sebelah Pasar Seni. Naik apa lagi dong?…..

Kuputuskan mencoba satu-satunya jalur monorail di Kuala Lumpur. Kapan lagi aku bisa menaikinya. Ini juga menjadi yang pertama kali aku menaiki monorail yang tiga tahun kemudian aku menaiki moda yang sama secara gratisan di Sentosa Island, Singapura….Yup, itu Sentosa Express.

Jangan lama-lama, belakang nungguin mau foto juga tuh.

Tujuan terkenal di Laluan Monorel KL adalah Kawasan Bukit Bintang. Menyandang predikat sebagai tempat perbelanjaan dan hiburan paling terkenal di Kuala Lumpur menjadikan Bukit Bintang sebagai pusat retail terpopuler yang selalu diburu para penggemar belanja, dari ibu rumah tangga, pegawai kantoran hingga pemudi pemuda bahkan para wisatawan.

Bukannya kamu wisatawan, Donny?….Bukan, bang. Aku cuma tukang kelayapan yang beruntung diberi kesempatan keliling dunia hingga 20 negara…..Geplaaakk-Geplaaakk-Geplaaakk.

9. Taman Tasik Titiwangsa

Killing time di sebuah taman kota di utara pusat kota adalah penutup petualangku di hari kedua. Didirikan di bekas pertambangan timah semasa kolonialisme Inggris menjadikannya maklum dengan keberadaan danau besar bekas galian pertambangan itu.

Maap pemirsa….Aku kehabisan batre pas ditaman….Itu aja ya.

Pukul empat sore, aku sudah hadir di taman itu dalam keramaian aktivitas warga yang luar biasa. Sampai-sampai adzan maghrib mengingatkanku bahwa aku sedang tidak berada di “Taman Bluntas”(nama taman terlayak yang dekat dengan tempat tinggalku). Artinya, waktu mulai mengusirku untuk segera meninggalkan Taman Tasik Titiwangsa dan lebih baik menyambut rasa aman di hotel tempatku menginap saja.

10. Hop On Hop Off Bus

Waktu memang tak bersahabat ketika dihadapkan dengan rasa penasaran. Mendadak aku di dorongnya memasuki hari terakhir petualangan. Waktu yang tak sedikit berhasil berkompromi dengan urat betis dalam mempengaruhi otak. Lalu otak berbisik, “Santai saja menghabiskan hari terakhir di Kuala Lumpur, Don”.

Rp. 157.500 terpaksa kuserahkan kepada pemandu wisata bus tingkat macam Routemaster milik negeri ratu Elizabeth itu. Bukan Routemaster ….Itu namanya HOHO….Atau kerennya Hop On Hop Off.

Buruan naik….Keburu soreeee.

HOHO Bus Stop No. 09 yang terletak di Central Market memudahkanku untuk menangkapnya….Tak sampai 5 menit untuk mencapainya dari Agosto Inn. Tak terima merugi, aku bersikeras mengunjungi beberapa destinasi wisata sepanjang jalur bus HOHO.

11. Istana Negara

Cukup 15 menit saje, setelahnya tuan-tuan dan puan-puan bise kembali ke bus atau ikut bus berikutnye”, suara itu semakin jelas dengan keberadaan mic di bawah bibir sang pemandu. Duh cantiknya wajah melayu berhijab itu. Membuatku luluh.

Awas jangan nempel-nempel….Bikin kotor tembok.

Aku bergegas melarikan diri secepat mungkin mendekat gerbang istana. Berfoto dengan penjaga istana yang berdiri bak patung dan kuda istana yang sangat jinak walau berpuluh-puluh wajah berbeda silih berganti berfoto dengannya.

12. Dataran Merdeka

Lapangan luas dihiasi gedung ikonik bergaya Mughal-Moor menjadi persinggahan berikutnya. Sultan Abdul Samad adalah nama bangunan itu. Sultan Abdul Samad sendiri adalah pemimpin negara Selangor yang terkenal karena memindahkan ibu kota Selangor dari Klang ke Kuala Lumpur.

Ya….Mayan lah posenya.

Dataran itu dikenal sebagai Dataran Merdeka, tempat dimana kemerdekaan Malaysia dari pemerintah kolonial Britania Raya di deklarasikan.

13. KL Tower

HOHO yang tak begitu lama berhenti di menara komunikasi itu, lantas tak membuatku menyerah. Aku melompat dengan gesit keluar dari bus dan sedetik kemudian HOHO meninggalkanku di pelataran KL Tower.

Sonoh naeekkk….Jangan lama-lama.

Aku akan mengeksplorasi KL Tower sebelum menuju Muzium Negara.

Kalau kamu punya nyali, masuklah ke Sky Box, kalau mau makan siang dengan cara elegan maka cobalah revolving restaurant lalu pergilah ke observation deck untuk menangkap pemandangan kota Kuala Lumpur lebih dekat di pelupuk mata.

Aku?….Dua bagian pertama kulewatkan. Dompet hanya sanggup memasukkanku ke bagian terakhir….Lumayan lah daripada tidak sama sekali.

14. Muzium Negara

Mau mengenal budaya suatu bangsa dengan cepat?….Datanglah ke museum nasionalnya.

Untuk itulah aku hadir di Muzium Negara Malaysia. Perjalanan bangsa Malaysia dari waktu ke waktu terpampang jelas di museum ini. Mulai dari kehidupan prasejarah….Kehidupan berkerajaan….Bahkan cerita tentang Majapahit pun ada disini.

Kayak ga pernah liat kreta aja….Huh.

Nuansa kerajaan Kuala Terengganu nampak kuat terasa mempengaruhi arsitektur museum ini yang tampak begitu megah.

Sesi perjuangan bangsa Malaysia dari kolonialisme Britania Raya pun menutup sesi belajar sejarah di bangunan yang terletak di Jalan Damansara itu.

15. Taman Tasik Perdana

Perlahan Hop On Hop Off memasuki kawasan hijau Kuala Lumpur….Warbiasah, ini Taman Tasik Perdana yang tersohor itu.

Terkenal dengan sebutan Lake Garden, taman ini adalah solusi terbaikku untuk menjauhi hiruk pikuk kota Kuala Lumpur yang lama-kelamaan membuat bising telinga.

Nempel….Denda.

Kulihat betapa bahagia warga Kuala Lumpur berpiknik sekeluarga, mengayun kaki di sepanjang jogging track, mendayung perahu di danau nan cantik dan aku pun larut bersama langkahku menikmati hijaunya pepohonan yang mendinginkan udara sekitar.

16. Taman Orkid Kuala Lumpur

Warna-warni bunga itu bagai magnet yang menarikku mendekat. Riang tak berkira ketika papan nama itu membisikkan informasi bahwa aku tak perlu membayar satu sen pun untuk memasukinya.

Dilarang menginjak rumput!….Wah, ngajak berantem.

Seorang ibu dengan caping lebar menyapaku dengan senyum karena bahagia. Karyanya menata taman itu akhirnya dikunjungi seorang pengelana berkantong tipis….Tanpa malu pula si pengelana berpose di depan kamera yang dipegang Sang Ibu….Udah masuk gratisan, nyuruh-nyuruh pulak….Beuh, plaaaaaakkkk.

17. Taman Rusa dan Kancil

Bu….Ada sesuatu yang tak memerlukan tiket masuk untuk berwisata di Taman Tasik Perdana?”, pertanyaanku yang tak berkemaluan.

Ada, Dik….Ada kancil di seberang. Di hujung jalan tu belok kanan”, ucapnya bercampur senyum.

Beuh, kalau gratisan jangan ditanya….Donny jagonya cari dan paling cepat hadir. Secepat kilat, aku sudah berada di dalam Taman Rusa dan Kancil.

Mirip….

Para pengunjung yang semuanya begitu cepat memasuki taman itu lalu dengan cepat pula meninggalkannya. Berbeda denganku yang begitu menikmati tingkah para kancil yang saudara-saudaranya suka mencuri timun di Indonesia.

Beuh….Bau kotoran kancil itu mengalahkan kebiasaan burukku….Pemburu wisata gratisan.

18. Taman Burung Kuala Lumpur

Sarang burung terbesar di dunia katanya. Rumah bagi tiga ribu ekor burung. Kali ini tak ada ampun buat dompetku. Rp. 138.000 melayang hanya untuk sekedar melihat para burung bebas terbang berkeliaran di dalam taman ini.

Jangan pegang-pegang plang….Awas rubuh….Huh

Kalau kamu kesana coba kau cari  bebek mandarin yang baru pertama kali juga aku melihatnya. Jangan lupa ikuti juga acara pemberian makan bagi para penghuni KL Bird Park.

19. National Mosque

Keluar Taman Tasik Perdana, HOHO mengantarkanku untuk menjalankan ibadah shalat Ashar di National Mosque.

Sok sopan…..

Masjid Negara yang mampu menampung 15.000 jama’ah ini, didirikan untuk mensyukuri kemerdekaan negara dari pemerintah kolonial tanpa pertumpahan darah.

Rasakan kesejukan ruangan utama dengan karpet lembut saat beribadah di masjid ini. Dijamin damai dan bikin ngantuk.

20. Kuala Lumpur City Gallery

Perlahan aku menjauh dari kawasan Taman Tasik Perdana untuk kembali ke pusat kota. Rupanya aku sudah mengitari kota 360 derajat, karena aku sudah mendarat kembali di Dataran Merdeka. Kali ini aku menyasar Kuala Lumpur City Gallery.

Kek orang kampung….

Pengen tahu rencana pengembangan kota Kuala Lumpur?

Pengen tahu juga berapa pendapatan Malaysia dari pariwisata?….Fantastis.

Pengen tahu juga, mereka mau bikin gedung apa lagi untuk mengalahkan Petronas Twin Tower yang sebetulnya juga sudah menjadi satu yang terhebat di seantero jagad?

Bayar aja deh Rp. 17.500 dan masuk ke dalamnya….Kagak rugi, kujamin.

21. Muzium Tekstil Negara

Yup, masih ada waktu sedikit lageeeee…..

Menyeberangi jalan di Dataran Merdeka, aku tertelisik dengan keberadaan Muzium Tekstil Negara. Tak perlu merogoh kocek untuk mengunjunginya.

Diliatin Satpam dari dalem…..

Muzium yang ditaruh di dalam bangunan berusia  lebih dari se-dekade ini menawarkan perjalanan sejarah dan budaya melaui sederetan kain khas Melayu yang dipajang didalamnya. Juga beberapa peninggalan beberapa benda kerajaan Kuala Terengganu yang artistik dan pasti menjadi barang mewah di zamannya

22. Petaling Street

Selamat tinggal Hop On Hop Off, terimakasih sudah mengantarkanku mengenal Kuala Lumpur.

Aku segera menuju ke hotel untuk mengambil backpack yang sudah kutitipkan sejak pagi karena memang masa inapku sudah selesai jam 12 siang.

Tapi ya kembali ke sifat dasar….Tak mau merugi melawan waktu yang terus bergulir, aku merangsek menuju Petaling Street yang dekat dengan hotel.

Sok mau belanja….Emang punya duit, Don?

Petaling Street adalah pusat pecinan di Kuala Lumpur. Cukup ramai ketika aku memasuki dan menelusuri setiap selasar yang menawarkan berbagai souvenir dan makanan.

Kamu harus cobain kenari atau chestnut bean yang di sangrai dalam pasir panas….Beuh itu enak, sumpah!

23. Pasar Seni (Central Market)

Semakin gelap….Tak perlu khawatir, penerbanganku masih esok hari. Yang membatasiku hanyalah jam operasional terakhir LRT, yaitu pukul 23:00.

Aku hanya perlu waktu beberapa menit untuk berpindah dari Petaling Street menuju Pasar Seni. Duduk menikmati kuliner di Petaling tak menyadarkanku bahwa gelap mulai mengakuisisi hari. Mungkin juga karena kelelahanku yang sudah bersekongkol  dengan gelap untuk membuatku khilaf.

Minjam gambar orang yak (gambar tahun 2019).

Bu, uang segini dapat apa saja ya?….Bungkusin aja sedapatnya, Bu. Souvenir aja ya, Bu….Jangan bungkus makanan. Saya mau pulang ke Jakarta”, perkataan yang menandakan aku lelah dan tak bisa berfikir lagi untuk memilih oleh-oleh.

24. Kuala Lumpur International Airport Terminal 2 (KLIA2)

Hanya beberapa menit sebelum jam 21:00, aku menutup tirai petualangaku di Kuala lumpur. Sudah saatnya menuju ke bandara yang akan menjadi tempat tidurku di malam terakhir. Kombinasi perjalanan menggunakan LRT Laluan Kelana Jaya dan Skybus membuatku tiba di KLIA2 jam sepuluh lebih sedikit.

Tuh yang punya gambar Central Market….Itu kan guwe dari masa depan….Wah!

Hi, man….bandara bukanlah destinasi wisata….Yakss, buatmu mungkin bukan….Buatku iya, karena aku sering menginvestasikan waktu untuk menjelajah bandara-bandara yang baru pertama kali kukunjungi.

Buatku KLIA2 adalah tempat eksotik bak hotel bintang tujuh yang berjasa mengantarkanku berkeliling dunia.

Udah yeee….Tiga hari guwe bikin tulisan ini. Tulisan terpanjang yang pernah kutulis. Ma’ap, kuketik. 2.333 kata, mamen. Njirrrr.

Coba lo itung sendiri dah….

Behind of Air Asia QZ 206 Flight from Jakarta to Kuala Lumpur

Just after returning from expedition to Garut-Tasikmalaya-Sumedang, my fatigue after a week traveling in that three districts didn’t make me tired. Didn’t take a break, I prefer to complete my mission for complete South Asia exploration by visiting the remaining three countries.…Bangladesh, Sri Lanka and Maldives.

Air Asia ticket which I bought for USD 25,8 since April 7, 2018 was able to keep my mission and my wallet to continue to travel the world. Yes, I had to caught Malindo Air on Kuala Lumpur-Dhaka route in KLIA.

During waiting period of my departure, many questions arise from work colleagues or other friends outside of work.

“Yeeee, why are you traveling to Bangladesh?. It’s not elite”

“Donny, what do you want to see in Bangladesh?”

“You will go home and sick, Donny”

“Wasting time….Better you go to Ancol (a beach in Jakarta) than go to Bangladesh”.

“Donny, Why does have to go to Bangladesh?”

I answered: “Yes, up to me … it’s my money … It’s my steps“.

Ups, I didn’t answer like that….That’s impolite.

Hahaha …. “Yes, guys, my money is only enough to travel there“….Hahaha….That’s my answer to them.

Other people don’t know about my mind about traveling….more crazy, more better….more weird, more amazing…Hahaha.

—-****—-

As usual…Using DAMRI bus at Kampung Rambutan Terminal. Besides being cheap, it is also close from my home. I prepared USD 2,9 to pay the fare with departure time on 15:00 hours. 1 hour and 15 minutes trip drove me in Terminal 2F, Soekarno Hatta International Airport.

Through gate 5, I started entering first X-ray screening. Not so smooth, my backpack which became my only friend was seen flipped by AVSEC (Aviation Security) officer, smeared with wet tissue and then watched closely. No need to worry…. the important thing is no drugs in it….Hahaha. Even if denied entry, it’s calm…. this is still in my city. Just go back to home with DAMRI again….If I denied to boarding.

Hi Ms, can me get window seat, please!“, My seduction to check-in staff at Air Asia counter. God, She is very pretty and kind, always smile …Hahaha, It’s be her duty to smile to everyone. “Hello, It’s your boarding pass“, She said….I got seat 2D, yes I failed….Hahaha.

Let’s stamped a passport! …. Even though it’s an e-passport, but my habit of stamping a passport make me didn’t care about existace of autogate counter.

Immigration Officer: “Where do you go?

Me : Just mention in detail one by one of my destination, so he wasn’t be suspicious, “Penang, Dhaka, Colombo, Maldives, sir. Transit in Mumbai and Singapore“. What kind of trip trip is it? … crazy.

Immigration Officer : “Backpacker?”

Me                           : “Yes sir”

Immigration Officer : He saw my face, checking my new passport and old one. Then….He stamped it, “be careful, sir“.

Me                            : “thank you, sir….surely I will be careful”.

Immigration Officer : “You are great“.

Yuhuuu…..I’m great like he said

Then I prayed at end of corridor before entering gate. After that, I entered second X-ray screening in front gate D5….Yess, very smooth.

While I was sitting reading near charging station, came a couple of Korean. They tried very hard to use it too.

Me      :  “Hi, Sir. That’s broken. I had tried many times and failed”.

He       : “Oh yea….Why put it here if broken” ostensibly kicking charging station while smiling.

Me      : “Do you want go to South Korea?”.

He        : “Oh, Nup….I’m from California and will fly from KL”.

Me     :  “Oh Nice”.

He       : “What are you doing here? “.

Me     :  “My profession, your mean?”.

He       :  “yeaaa”

Me     :  “Sales”.

He       :  “Good money?”

Me      :  “If not good, I willn’t here to fly with you”.

He       :  “yea…yea…yea”, nodding while smiling at me.

Looked like his girlfriend was a travel vlogger. Always speak with her confidence….Great. I thought I could not be like that? It’s better to write than to talk like her.

QZ 206 finally leaned to gate. Yup ….my adventure started immediately. Thirsty made me out from gate to buy mineral water. And a little warning from gate officer to immediately back to gate. Ok, sir, instead of buying it on the plane, it’s expensive.

Airbus A320-200 with a capacity about 186 passengers.

Exactly on 19:17 hours, I started boarding.

Behind korean-american girl.

Turbulence night flights on end of December. Seen middle-aged man next to me was so tense and held tight to the armrest chair throughout flight while me and a young woman who flanked him only wryly smiled while hiding misgivings.

Cabin.

Because my latest knowledge about Ipoh and Penang was so minimal, I decided to explore Travel360 inflight magazine. Hoping to find valuable information about Ipoh and Penang tourism. And …. thanks …. I really got it.

Ipoh in Travel360 inflight magazine.
Basic information about Penang.

QZ 206 was preparing to landing. Could not sleep during the trip because focus in reading inflight magazine to find information. This time, my 5 days transit adventure in Malaysia was foolish. Traveling without enough information.

Getting ready to landing.
What is the baggage for? It maybe a flight safety equipment.

Once arrived at KLIA2, a thoughts which immediately occurred to me were looking for a free water station, dinner, prayer, bought bus ticket to Penang and then sleeping.

You have to go to Transportation Hub on 1st floor to find cheap food. Oh yeah….Bus ticket sales counter is also there.

Come on…Got ready to go to Penang tomorrow.

For several transportation mode from Jakarta to Kuala Lumpur, you can get the ticket in 12Go Asia or in link: https://12go.asia/?z=