Dibalik Penerbangan Air Asia QZ 206 Jakarta-Kuala Lumpur

Baru juga pulang dari ekspedisi ke Garut-Tasikmalaya-Sumedang , lelahnya berkelana seminggu di tiga kabupaten itu tak lantas membuat tubuh lelah. Boro-boro istirahat, Aku lebih memilih menuntaskan misiku menyelesaikan eksplorasi Asia Selatan dengan mengunjungi tiga negara tersisa….Bangladesh, Sri Lanka dan Maldives.

Tiket Air Asia yang kubeli seharga Rp 349.000 sejak 7 April 2018 mampu menjaga asaku dan dompetku untuk terus berkeliling dunia. Yes, Aku harus menjemput Malindo Air rute Kuala Lumpur-Dhaka di KLIA.

Sepanjang masa tunggu keberangkatan, banyak pertanyaan muncul dari teman-teman sekantor atau teman-teman lain diluar pekerjaan.

“Yeeee, jalan-jalan kok ke Bangladesh. Ga elit bingit”

“Lo mau liat apa sih Don di Bangladesh?”

“Tar lo pulang sakit loh, Don”

“Kurang kerjaan….mending ke Ancol guwe daripada ke Bangladesh”.

“Kenapa sih Don harus ke Bangladesh?”

Jawabku: “Ya suka-suka guwelah….duit-duit guwe…kaki juga kaki guwe”.

Eh gak gitu dink….kasar beud.

Hahaha….”Ya gimana pren, duitnya hanya mampu buat jalan dimari”….wkwkwk….Itu jawaban guwe ke mereka yeee.

Kan orang lain ga tau sih isi kepala guwe about traveling…..makin gila makin aseeeekkk…..makan aneh makin nagih…..hihihi.

—-****—-

Biasaaa….Nyegat DAMRI di Terminal Kampung Rambutan aja yang murah. Selain murah juga deket rumah bingit. Kupersiapkan Rp. 40.000 untuk membayar tarifnya dengan jam keberangkatan pukul 15:00. Perjalanan 1 jam 15 menit itu mengantarkanku tepat di Terminal 2F.

Melalui gate 5, Aku mulai memasuki pemeriksaan X-ray tahap pertama. Tak begitu mulus, backpack yang menjadi temanku satu-satunya terlihat dibolak-balik petugas AVSEC, dioles-oles menggunakan tissue basah lalu mengamatinya dengan seksama. Tak perlu khawatir….yang penting tak ada narkoba didadalamnya….hahaha. Kalaupun di tolak masuk, tenang brur….ini masih di kota sendiri. Tinggal balik lagi naik DAMRI….ya toh.

“Mbak, window seat donk !”, seruan memelasku kepada petugas check-in di konter Air Asia. Aduh, udah cantik baik pula, murah senyum…..eh emang tugasnye begonoh dink. “Ini mas”, sahutnya…..2D, yes gagal…..hahaha.

Yuk ngecap passport….geblek, padahal itu kan e-passport, tapi kebiasaannku mengecap passport menjadi tak peduli dengan adanya konter autogate.

Petugas Imigrasi  :  “Kemana?”

Aku                           : Sebutin aja detail satu-satu, supaya ga curiga kek waktu itu, “Penang, Dhaka, Colombo, Maldives pak. Transit Mumbai dan Singapore”. Njir perjalanan macam apa ituh….gile

Petugas Imigrasi  : “Backpacker?”

Aku                           : “Yoi pak”….eh salah, bukan begitu….”Betul pak”.

Petugas Imigrasi  : Lihat muka guwe, bolak-balik passport baru dan bekas guwe. Then….cekrek “hati-hati mas sendirian”.

Aku                           : “makasih pak….tentu saya akan hati-hati”.

Petugas                  : “Hebat nih si Mas”.

Cieeee….Guwe dipuji laki-laki….Alhamdulillah…..hahahaha. Pasti mikir guwe yang engga-engga….GUWE NORMAL KOK.

Kusempatkan shalat di ujung koridor sebelum masuk ke gate. Setelahnya, Aku memasuki pemeriksaan X-ray tahap kedua di depan gate D5….yesss, mulus.

Sedang asyik-asyiknya duduk membaca di sebelah charging station, datang sepasang perawakan Korea. Mengoprak-oprek lubang stop kontak yang sepertinya rusak.

Aku     :  “Hi, Sir. That’s broken. I had tried many times and failed”.

Dia       : “Oh yea….Why put it here if broken” pura-pura menendang pelan charging station sembari tersenyum.

Aku     : “Do you want go to South Korea?”.

Dia       : “Oh, Nup….I’m from California and will fly from KL”.

Aku     :  “Oh Nice”.

Dia       : “What are you doing here? “.

Aku     :  “My profession, your mean?”.

Dia       :  “yeaaa”

Aku     :  “Sales”.

Dia       :  “Good money?”

Aku     :  “If not good, I willn’t here to fly with you”.

Dia       :  “yea…yea…yea”, manggut-manggut sambil tersenyum menatapku.

Sepertinya pacarnya seorang travel vlogger. Ngoceh melulu dengan pedenya….hebat. Aku mana bisa kayak gitu. Lebih baik menulis daripada ngoceh terus macam Dia.

QZ 206 akhirnya merapat ke gate. Beuh….petualangan segera dimulai. Kehabisan air membuatku lari keluar untuk membeli mineral water. Dan sedikit mendapat peringatan dari petugas untuk segera kembali ke gate. Ok dah pak, daripada beli didalam pesawat, kan mahal.

Airbus A320-200 berkapasitas 186 penumpang.

Tepat jam 19:17, Aku mulai boarding.

Dibelakang cewek korean-american itu.

Penerbangan malam yang penuh turbulensi mengingat saat itu akhir Desember. Terlihat bapak setengah baya di sebelahku begitu tegang dan berpegangan erat pada armrest chair sepanjang perjalanan sementara Aku dan seorang perempuan muda yang mengapitnya hanya tersenyum kecut sambil menyembunyikan rasa was-was.

Kabin.

Karena pengetahuan terkiniku mengenai Ipoh dan Penang begitu minim, kuputuskan untuk menjelajah inflight magazine Travel360. Berharap menemukan informasi berharga mengenai pariwisata Ipoh dan Penang. Dan….yesss….Aku sungguh mendapatkannya.

Ipoh di inflight magazine Travel360.
Informasi mendasar tentang Penang.

QZ 206 bersiap mendarat. Tak bisa tidur selama perjalanan karena keasyikan membaca inflight magazine untuk mencari informasi. Kali ini petualangan transitku selama 5 hari di Malaysia bak bonek. Ngelayap tanpa bekal informasi yang cukup.

Bersiap-siap mendarat.

Itu bagasi buat apa ya? Perlengkapan keselamatan pernerbangan kali ya.

Begitu tiba di KLIA2 tentu fikiran yang langsung terbesit di benakku adalah cari free water station, makan malam, sembahyang, tiket bus ke Penang dan kemudian molorrrrrr.

Kamu harus menuju ke Transportation Hub di lantai 1 untuk mencari tempat makan murah. Oh ya…konter penjualan tiket bus juga ada disana

Yuks….siap-siap menuju Penang esok hari.

Traveling to Kampung Ayer, Bandar Seri Begawan.

My curiosity was paid off precisely when my first step down the bus in one of Bandar Seri Begawan Bus Terminal platforms. Unexpectedly, my journey around Southeast Asia took me to Hassanal Bolkiah’s land.

Unique….Terminal is on ground floor of Bumiputera Multi Storey Complex and Carpark.

A step later, I was already in “Afmal Restaurant” near bus terminal to enjoy a portion of “bakso” (Indonesian name of meatballs). Needed something fresh in my mouth to relieve tangling after an overnight stay without bathing in Kuala Lumpur International Airport Terminal 2 (KLIA2). Freshness of “bakso” which I ordered became more meaningful when there was a little conversation with restaurant owner who come from Purworejo, Central Java, Indonesia….It means that He is from similar province with me in Indonesia.

After being full, I rushed to get out of terminal area through “Bebatik” alley to main road (the road name is Mc Arthur Street). Right on other side of Mc Arthur Street, you will find Brunei River which is very clean. And right in the middle of Brunei River, standing a famous village throughout Brunei. It’s called Kampung Ayer.

Every direction sign is always accompanied by an Arabic script.
Precisely on edge of Brunei River.

I always observed every motorboat which splitting Brunei River wide. There was no other way to get to Kampung Ayer, I had to ride that motorboats.

Rushing toward Brunei River edge, I waited a motorboat arrival which heading to small port in front of me. After leaning, that motorboat was immediately filled with 2 other tourists. This boat was very fast in moving and never waited long for get passengers in river edge.

A thing that you need to know is every Singapore Dollar can be used as payment tool in Brunei Darussalam with similar value with Brunei Dollar. So, 1 Brunei Dollar is same with 1 Singapore Dollar in value. But in many transactions, Brunei residents only accept payments in Singapore’s paper money and refusing Singapore Dollar coins. But in several transactions also, this coin can function….I hope you are lucky in using Singapore Dollar coins there….hahaha.

With a 1 coin of Singapore Dollar, I finally arrived in Kampung Ayer Cultural And Tourism Gallery. This gallery is located in front of village. Free entrance made me so happy when filling a guest book in reception desk. Warm greeting from a Malay-speaking receptionist made me feel like I was in my home.

That is Kampung Ayer Cultural And Tourism Gallery.
I got a Free Tourism Guiding Book.

Kampung Ayer itself was the center of Brunei’s government until end of 19th century. Therefore, The Brunei Sultan established his palace here. Another role as an important port in Brunei makes Kampung Ayer as the administrative center for commercial activities in Brunei. Every signing of important government agreements with other parties is done here.

The appeal of Kampung Ayer as government centre made 50% of Brunei’s residents live there in the 1900s.

Brunei “Keris” with 9 curves as a symbol of power.

At exit door, I began to be stunned with neat ranks of houses in Kampung Ayer. I didn’t waste my time then visiting the village. Residents friendliness made me reluctant to quickly leave Kampung Ayer.

Come on !….Go into that village !
Very kindly and funny student, they were in Malay school uniforms.
How can the water very clean like that?

But soonly, I realized that I should immediately look for lodging to stay that night. Online searching for lodging that I did was never got a result. It maybe happen because Brunei Darussalam tourism isn’t been famous in Southeast Asia region.

I decided to pull over by waiting for a motorboat in boat shelter. Didn’t wait a long time until a motorboat was picked me up. Together with a man and his son who are Kampung Ayer residents, I headed to edge of river. Looked like that man had an important agenda, it could be seen from his way in a very neat and smooth dressing.

He: “Where are you come from?” He firstly greeted me with a smile.

Me: “I’m from Indonesia, sir”. I gave a smile and I shook his hand.

He: “Which part of Indonesia?”

Me : “Jakarta, Sir”.

He: “What profession are you doing here?”

Me: “Oh I don’t work in Brunei, sir. I am just traveling now”.

He: “Brunei is very quiet. Why do you visit Brunei? “

Me: “Oh, Brunei is very religious, sir. I deliberately go to Brunei because I intend to travel around Southeast Asia. Glad to be in your country “.

He: “Wow, it’s good to go around Southeast Asia. You don’t need to pay the boat. I paid for you”, He gave 3 Brunei Dollars to motorboat driver.

Me: “Thank you, sir, nice to meet you,” I felt shy, even though I was very happy to ride a free boat.

A little conversation with a local before I finally leaned in river edge.

Boat shelter near Pasar Tamu Kianggeh.

Let’s….Looking for dormitory!

Bus dari KLIA2 ke Penang

Tiket ketengan menuju ke Dhaka, Bangladesh mengharuskanku transit ke Kuala Lumpur. Plisssss deh….yang bener aja, Aku harus menginjakkan kaki di Kuala Lumpur untuk ke 12 kali.

Hebat euy si Donny….

Hebat apaan, Guwe bosennnnn….

Aku harus cepat memutar otak untuk menjadikan perjalanan kali ini berkesan.

Fine….Akhirnya Kuputuskan meninggalkan Kuala Lumpur dan memilih mengunjungi Penang dengan cara  memperpanjang waktu transitku.

Hingga 2017, Aku tak pernah kesampaian mengunjungi Penang. Sementara jadwal klayapanku sudah jauh meninggalkan Asia Tenggara. Jadi kupaksakan diri untuk mampir ke Penang sebelum menghabisi Asia Selatan.

Lalu….Bagaimana mencapai Penang dari KLIA2 (Kuala Lumpur International Airport Terminal 2)?

Kukasih pilihan deh,

Alternatif 1. Naik ETS (Electric Train Service)

Biaya yang akan dikeluarkan jika naik ETS:

  1. Aerobus KLIA2-KL Sentral = Rp. 40.000
  2. ETS Stasiun KL Sentral-Stasiun Butterworth = Rp. 286.000
  3. Ferry dari Pangkalan Sultan Abdul Halim Ferry Terminal di Penang Sentral menuju Pangkalan Raja Tun Uda Ferry Terminal di Pulau Penang = Rp. 4.000

Tarif keseluruhan = Rp. 330.000

Alternatif 2. Naik Bus

Biaya yang akan dikeluarkan jika naik bus:

  1. Direct bus dari KLIA2-Penang Sentral = Rp. 190.000
  2. Ferry dari Pangkalan Sultan Abdul Halim Ferry Terminal di Penang Sentral menuju Pangkalan Raja Tun Uda Ferry Terminal di Pulau Penang = Rp. 4.000

Tarif keseluruhan = Rp. 194.000

Sudah tahu kan Aku memilih naik apa?….

—-****—-

Malam hari pukul 22:05, Air Asia QZ 206 mendaratkanku di KLIA2. Artinya sudah jelas kan….moloooorrrr lageeeee di bandara….hahaha.

Selepas mengecap passport di konter imigrasi, Aku segera menuju ke Transportation Hub di lantai 1 Gateway@klia2 mall. Dan selanjutnya Aku duduk manis di ujung NZ Curry House untuk menyantap nasi lemak dan teh O seharga Rp. 23.000 sebagai makan malamku….makan malam kok tengah malam….parraaahhhh.

Tengah malam makan beginian….
Menu yang sama kuulang dipagi hari kemudian sebelum berangkat ke Penang.

Dan untuk mengamankan satu tiket menuju Penang. Di tengah malam itu pula, Aku membeli tiket bus StarMart Express dengan tujuan akhir Penang Sentral seharga Rp. 190.000.

Tengah malam pun konter sangat ramai….Awas kehabisan tiket!….Coba deh beli di 12Go
Tujuan akhir masih tertera terminal Butterworth. Sebelum Penang Sentral selesai dibangun, memang bus berhenti di terminal itu.

Yessss….

Makan sudah….

Tiket sudah….

Menjadikan malam itu nyenyak beristirahat di surau (mushola) Departure Hall lantai 3 KLIA2.

—-****—-

Dan perjalanan menuju Penang pun dimulai. Pagi itu tepat pukul 06:00, Aku menaiki StarMart Express di Door1-platform A01 sesuai tiket.

StarMart Express sedang merapat di platform.
Aku duduk di seat nomor 22.

Karena ini perjalanan panjang maka kubekali diriku dengan membeli sebotol air mineral dan snack ringan seharga  Rp. 15.500.

Menyusuri jalanan North-South Expressway, Starmart Express berjalan dengan santai. Dan 3 jam 45 menit kemudian, Aku tiba di Terminal Amanjaya, Kota Ipoh. Ipoh sendiri adalah Ibu Kota Negara Bagian Perak.

Bus menurunkan dan menaikkan sejumlah penumpang di Terminal Amanjaya.
Suasana jalan ketika meninggalkan Kota Ipoh.

Pukul 11:00, Bus merangsek ke jalan Taiping dan akhirnya berhenti di Terminal Kuala Kangsar. Penumpang melakukan toilet break selama 10 menit.  

Terminal Kuala Kangsar terletak tepat di jalan Persiaran Bendahara, kota Bandar Baru, Distrik Kuala Kangsar, Negara Bagian Perak.

Pada jam 11:55, bus berhenti di kantor StarMart Express Taiping di Jalan Kampung Dew, daerah Simpang. Ini adalah tujuan akhir Bus StarMart Express dari KLIA 2. Dan untuk melanjutkan perjalanan menuju Penang,  penumpang akan dipindah ke bus StarMart Express yang lain atau bus yang bekerjasama dengan StarMart Express.

StarMart Express @Taiping Head Quarter terletak di Distrik Laut, Matang dan Selama, Negara Bagian Perak.

Dan kali ini, Aku dipindahkan ke Bus Eagle yang bekerjasama dengan StarMart Express.

Bus “Hijau” ini dimiliki oleh perusahaan Eagel Coach SDN.BHD.

Tak menjadi masalah buatku untuk dipindahkan ke bus lain yang penting sampai tujuan. Tapi tak tahu dengan penumpang yang lain, apakah mereka biasa juga atau mungkin ada yang sewot…..hahaha.

OK lanjut yaaaa….

Jam 12:30, Bus tiba di Terminal Bas Express Kamunting Raya untuk melakukan toilet break kembali selama 10 menit.

Terminal ini terletak di kota Kamunting, Distrik Laut, Matang dan Selama, Negara Bagian Perak.

10 menit kemudian bus perlahan meninggalkan Kota Kamunting dan mempertontonkan keindahan alam dengan melalui jalan yang meliak-liuk menembus perbukitan .

Cakep banget dah alam Negara Bagian Perak.

Terlelap dengan pulas karena jam tidur yang kurang pada malam sebelumnya di KLIA2 hingga akhirnya tak terasa bus mulai memasuki platform Penang Sentral pada pukul 13:54.

Rasa ingin tahu yang tinggi membuatku tak terasa capek menaiki bus selama 7 jam 54 menit untuk mencapai destinasi impian….”Penang”

Aku diturunkan di platform ini ketika tiba di Penang Sentral.

So guys,…..Siapa sih yang ga mau melihat Kota Tua George Town yang menjadi Situs Warisan Budaya UNESCO ?

Ayolah datang kemari….ngeteng aja sepertiku, dijamin murah meriah.

Tiket bus KLIA2-Penang bias Kamu dapatkan juga di e-commerce perjalanan 12Go

Scoot Air TR457 dari Kuala Lumpur ke Singapura (KUL-SIN)

SCOOT AIR….maskapai Low Cost Carrier (LCC) milik Negeri Singa yang kepemilikan sahamnya dikuasai oleh Singapore Airlines.

Lintasan terbang Scoot Air TR457. Sumber dari https://flightaware.com

Scoot sendiri masuk list ke-22 dari seluruh maskapai yang pernah kunaiki. Melalui nomor penerbangan TR457 dengan rute regular Kuala Lumpur (KUL) ke Singapura (SIN), Aku pertama kali menggunakan jasa Scoot Air  tertanggal 31 Maret 2018. Kali ini Aku menaiki pesawat berjenis Airbus A320 dengan kapasitas 168 penumpang.

Walaupun sebenarnya Aku pernah menggunakan Maskapai  Tiger Mandala pada 26 November 2013 saat menuju ke Bangkok dan Tiger Air pada 11 Januari 2015 saat kembali dari Vietnam. Kini kedua maskapai tersebut sudah merger ke dalam Maskapai Scoot Air.

Tuh kan sudah merger, masih ada identitas Tiger Air di badan pesawat Scoot Air TR457

Ketidakjelasan terminal asal keberangkatan (apakah dari KLIA terminal 1 atau KLIA terminal 2) membuatku sedikit gelisah karena biasanya Departure List baru keluar 2 jam sebelum penerbangan. Dan tentu perlu waktu untuk berpindah dari KLIA2 ke KLIA.

Untuk penerbangan internasional, Aku selalu memulai perjalanan menuju bandara 4 jam sebelum waktu penerbangan. Jadi Aku meninggalkan Westree Hotel pada pukul 05:30 dan bergegas menuju ke Skybus/Aerobus Shelter yang terletak di KL Sentral. Karena jaraknya cuma 40 m, Aku hanya perlu berjalan kaki selama 3 menit menuju shelter.

Security hotel keturunan India tajam memerhatikanku di pintu lobby bagian dalam….Lha iya, Aku berdiri lama ditengah pintu….clingak-clinguk kiri kanan kaya ayam mau nyebrang….Saking sepinya, Aku harus memastikan tak ada yang mencurigakan di sepanjang jalan yang akan kulewati menuju KL Sentral.

Yesss….Sepi, ndak ada orang….Kabuuurrrrrr. Bak atlit jalan cepat, Aku mulai menjauhi hostel. Aku tiba saat bus siap berangkat.

Dengan 12 Ringgit aku tiba di KLIA2 pada pukul 6:30. Setiba di KLIA2, Aku segera menuju information centre untuk menanyakan dimana terminal TR457 akan lepas landas. Pagi-pagi Aku sudah ngrepotin Si mbak India petugas information centre, karena Departure Board belum menampilkan informasi tentang TR457 maka Dia harus menarik keyboard dan mencarikan info untukku….Hadeuhhh, sudah manis….baik pulak si teteh….eh, si mbak.

Buseeettt….mataku melotot sambil mengunyah nasi lemak telur ceplok di pojokan NZ Curry House….kek kambing yang sedang memamah biak. Pertanda Aku tak bisa membohongi otak bahwa perutku belum siap bersarapan.

Ya memang tak ada pilihan lain, lebih baik sarapan di kedai makan India dengan harga paling murah sebelum menuju ke lantai 3 untuk proses check-in, proses imigrasi dan keberangkatan.

Departure Board di Departure Hall
Information Centre di Departure Hall
Departure Hall Area
Konter check-in Z2-Z3 untuk Scoot Air TR457
Setelah melewati konter imigrasi, Aku menuju ke ruang tunggu di gate L3.

Aku memasuki ruang tunggu pada pukul 08:05. Dalam kejenuhan menunggu, datang kepadaku wajah Vietnamese dan bertanya:

Vietnamese: “Hi, Can you explain to me about my cigarette (sambil menunjukkan sebungkus rokok yang sudah terhisap dua puntung). Can me bring it when entering Singapore?”

Aku : “Do you bring another one  or just this opened pack?. If you just bring it, you can savely entering Singapore.”

Vietnamese: “No, I just bring it. So it’s savely. Thanks you.”

Aku: “You are welcome”.

Ruang Tunggu di depan Gate L3
Setelah menunggu selama 20 menit, akhirnya boarding process dimulai.
Mana 14D….manaaaaa?

Scoot Air identik dengan warna kuning. Pesona pramugari-pramugara muda keturunan Tiongkok semakin segar ketika penampilan mereka terlihat berbalut t-shirt dan syall serba kuning.

Terbang diatas selat Malaka
Langit sungguh cerah, nikmat banget terbang tanpa turbulensi.

Setelah mengudara selama 1 jam 15 menit, Aku mendarat di Terminal 2 Changi International Airport. Berusaha secepat mungkin meninggalkan Changi untuk menuju ke Greendili Backpackers Hostel di bilangan Race Course Road dan selanjutnya siap mengeksplorasi Singapore untuk ke-7 kalinya.

Cari peta MRT sebelum masuk konter imigrasi Changi International Airport.
Catch the MRT ! Menuju pusat kota

Makan siang dulu yuk ke Mustafa Centre sebelum walking-walking.

Sebagai alternatif, tiket pesawat, kereta dan bus dari Kuala Lumpur ke Singapura bisa dipesan melaui e-commerce perjalanan 12go Asia

Berwisata ke Kampung Ayer, Bandar Seri Begawan.

Rasa penasaran terbayar tepat saat langkah pertamaku menuruni bus di salah satu platform terminal bus Bandar Seri Begawan. Tak kuduga, petualanganku berkeliling Asia Tenggara mengantarkanku ke negeri Hassanal Bolkiah.

Unik….Terminal berada di lantai bawah Bumiputera Multi Storey Complex and Carpark.

Selangkah kemudian, Aku sudah berada di dalam Warung Makan Afmal di sisi terminal untuk menikmati seporsi bakso. Butuh sesuatu yang segar di mulut untuk menghilangkan kekusutan pasca bermalam tanpa mandi pagi di Kuala Lumpur International Airport Terminal 2 (KLIA2). Kesegaran bakso yang kupesan semakin bermakna ketika terjadi obrolan ringan dengan si empunya warung makan yang asli Purworejo, Jawa Tengah….Wah tetangga sendiri ternyata.

Selepas kenyang, Aku bergegas untuk keluar dari area terminal melalui  Lorong Bebatik menuju sebuah jalan besar (Jalan Mc Arthur). Tepat disisi lain Jalan Mc Arthur, Kamu akan menemukan Brunei River yang sangat bersih. Dan tepat di tengah Brunei River, berdiri sebuah perkampungan terkenal di seantero Brunei. Namanya Kampung Ayer.

Setiap petunjuk jalan selalu dilengkapi aksara Arab.
Tepat di tepi Brunei River

Aku terus mengamati lalu lalang perahu bermesin yang membelah lebarnya Brunei River. Tidak ada cara lain memang untuk menuju Kampung Ayer, Aku harus menaiki perahu-perahu kecil itu.

Bergegas menuju pinggiran Brunei River, Aku menantikan kedatangan sebuah perahu yang menuju ke tepi. Begitu bersandar, bersamaku perahu itu langsung terisi dengan 2 turis lainnya. Perahu ini sangat cepat bergerak dan tak pernah menunggu lama di tepian sungai.

Yang perlu kamu tahu bahwa setiap dolar Singapura bisa digunakan sebagai alat bayar di Brunei Darussalam dengan nilai yang sama dengan Dolar Brunei. Jadi 1 Dolar Brunei nilainya sama dengan 1 Dolar Singapura. Hanya terkadang di beberapa transaksi, warga Brunei hanya menerima pembayaran dalam bentuk uang kertas dan menolak menggunakan koin Dolar Singapura. Tetapi ada juga di beberapa transaksi, koin ini bisa berfungsi.

Dengan koin 1 Dolar Singapura, Aku akhirnya tiba di Kampung Ayer Cultural And Tourism Gallery. Galeri ini terletak di bagian paling depan perkampungan. Free entrance membuatku begitu sumringah ketika mengisi buku tamu di bagian reception. Sapaan hangat sepasang resepsionis berbahasa Melayu membuatku seakan berada di kampung sendiri….Kampung Rambutan….eeaaaa.

Itu dia Kampung Ayer Cultural And Tourism Gallery.
Mendapatkan Free Tourism Guiding Book.

Kampung Ayer sendiri pernah menjadi pusat pemerintahan Brunei hingga akhir abad ke-19. Oleh karenanya, para sultan Brunei mendirikan istananya di sini. Peran lain sebagai pelabuhan penting di Brunei menjadikan Kampung Ayer sebagai pusat administrasi atas aktivitas komersial di Brunei. Setiap penandatanganan perjanjian penting pemerintah dengan  pihak lain dilakukan disini.

Daya tarik Kampung Ayer sebagai pusat pemerintahan menjadikan 50% warga Brunei tinggal didalamnya pada tahun 1900-an.

Keris Brunei dengan 9 lekukan sebagai simbol kekuasaan

Di pintu keluar, Aku mulai tertelisik dengan rapinya jajaran rumah di perkampungan. Aku pun tak menyia-nyiakan waktu dengan memasuki bagian dalam perkampungan. Bersua dengan para penghuni membuatku enggan untuk cepat-cepat meninggalkan Kampung Ayer.

Yuk….Masuk ke dalam kampung itu !
Lucunya anak-anak sekolah itu dengan seragam Melayu.
Airnya bisa jernih begitu ya?

Tapi Aku segera tersadar bahwa Aku harus segera mencari penginapan untuk bermalam nanti. Pencarian penginapan secara online yang kulakukan tak pernah membuahkan hasil. Ini terjadi mungkin karena pariwisata Brunei Darussalam yang belum tersohor di kawasan Asia Tenggara.

Kuputuskan untuk menepi dengan menunggu perahu di boat shelter. Tak menunggu waktu lama sebuah perahu menjemputku. Bersama seorang Bapak dan anaknya yang merupakan warga Kampung Ayer, Aku menuju ke tepi. Sepertinya sang Bapak mempunyai agenda penting, terlihat dari caranya berpakaian khas Melayu yang sangat rapi dan klimis.

Dia: “Asal mana, Adek?”, Dia menyapaku pertama kali dengan senyum.

Aku: “Saya dari Indonesia, Pak”. Kubalas senyum dan kuajak berjabat tangan.

Dia: “Indonesia bagian mana?”

Aku: “Jakarta, pak”.

Dia: “Kerja apa disini?”

Aku: “Oh, Saya melawat (berwisata) Pak di Brunei”.

Dia: “Brunei kan sepi, Adek. Kok melawatnya ke Brunei?”

Aku: “Oh, Brunei religius ya Pak. Saya sengaja ke Brunei Pak karena berniat keliling Asia Tenggara. Senang bisa ke negeri Bapak”.

Dia: “Wah, bagus ya keliling Asia Tenggara. Adek, ga usah bayar ya perahunya. Ini sudah Saya bayar”, Dia memberikan 3 lembar Dolar Brunei ke pengemudi perahu.

Aku: “Terimakasih ya Pak, Senang bertemu dengan Bapak”, sambil pura-pura tersipu malu padahal senang banget naik perahu gratisan.

Sekelumit percakapan dengan warga lokal sebelum akhirnya Aku bersandar di tepi.

Boat shelter dekat Pasar Tamu Kianggeh

Yuk….Cari dormitory !.

Bus from Penang to Ipoh, Malaysia

Arriving at Penang Sentral (integrated building of bus terminal, train station and ferry terminal in Penang) after a 7 hours 32 minutes journey from Kuala Lumpur International Airport Terminal 2 (KLIA 2) by “Star Mart Express” bus, I rushed towards Butterworth Train Station for buy a Electric Train Service (ETS) ticket to Ipoh for departure on 2 days after my arrival in Penang.

My desire to try ETS train service disappeared because tickets were already sold out.

Fine.…”trip by bus again”, my heart murmured.

Finally I returned to Penang Sentral Level 2 to find a bus ticket. A little worry, because if the bus tickets sold out, my plan to set foot in Ipoh for first time could fail.

If I failed to get a bus ticket to Ipoh then I would apply plan B i.e extended my visit in Penang and then returned to Kuala Lumpur to catch my Malindo Air flight to Dhaka, Bangladesh.

Yes….I got the ticket.

All you need to know that Penang Sentral provides two ways to buy bus tickets from Penang to Ipoh.

First, you can directly buy it at Bus Ticketing Counter on 2nd floor. Here is situation of counter:

Second, if you want more faster, you can buy it at Kiosk Self Ticketing. Located on 2nd floor too, this is it….the Kiosk machine:

I chose “Perak Transit” bus as my transportation towards Ipoh city. Bus fares about USD 5,20 was enough to save my budget in the beginning of my long journey.

In the day after tomorrow, after explored Penang for two days, finally my trip to Ipoh began. One hour before departure time, passengers permitted to entering Penang Sentral bus platform that located in 1st floor. I sat near Gate 3 according to the ticket and waiting for the bus to arrived.

After waiting for 16 minutes, finally “Perak Transit” bus arrived and standby on platform B09

Bus departed on time on 2 pm.

140 km trip to Ipoh needed time about 1 hour 49 minutes. Passing through pretty impressive views.

I repeated this views twice, because my trip from KLIA 2 to Penang on two days earlier also passed through same roads.

The bus took one toilet break on this trip at a place where I couldn’t detect where it was.

On 3:49 am finally the bus arrived at Amanjaya Bus Terminal. This is the intercity bus terminal in Ipoh.

Entering Amanjaya Terminal, I was very impatient to immediately head towards Medan Kidd Bus Terminal that located in downtown. Medan Kidd Bus Terminal is one of many accesses to entering Ipoh.

Ipoh, which I’ve only heard through backpacker stories and articles in internet, finally I was allowed to set foot in this city after travel for eight years as a backpacker.

What excitement did I get during my journey in Ipoh?

Patient and wait for my next article, guys.…

Oh, yes. Here’s another alternative to buying online ticket from Penang to Ipoh, which is in 12go Asia at following link: https://12go.asia/?z=3283832

Bus dari Penang ke Ipoh, Malaysia

Begitu tiba di Penang Sentral dari perjalanan darat 7 jam 32 menit dari Kuala Lumpur International Airport Terminal 2 (KLIA 2) menggunakan bus Star Mart Express, Aku bergegas menuju Stasiun Butterworth untuk berburu tiket Electric Train Service (ETS) menuju Ipoh untuk keberangkatan lusa hari setelah kedatanganku di Penang.

Hasrat hati untuk mencicipi jasa kereta listrik jenis ETS ini sirna karena tiket ternyata sudah sold out.

Fine….“Naik bus lagi”, hatiku bergumam.

Akhirnya Aku kembali ke Penang Sentral Lantai 2 untuk mencari tiket bus. Sedikit was-was, karena kalau sampai tiket bus habis maka rencanaku untuk menginjakkan kaki di Ipoh untuk pertama kalinya bisa gagal.

Jika gagal mendapatkan tiket bus ke Ipoh maka Plan B ku adalah memperpanjang waktu kunjunganku di Penang kemudian kembali lagi ke Kuala Lumpur untuk mengejar penerbangan Malindo Air ke Dhaka, Bangladesh.

Yes….Aku mendapatkan tiketnya.

Yang perlu Kamu ketahui bahwa Penang Sentral menyediakan dua cara untuk membeli tiket bus dari Penang ke Ipoh.

Pertama, Kamu bisa langsung membelinya di Bus Ticketing Counter di lantai 2. Berikut ini adalah suasana konternya:

Kedua, kalau Kamu mengaku sebagai generasi milenial maka seharusnya Kamu akan membeli tiket bus di Self Ticketing KiosK. Terletak di lantai 2 juga, berikut ini guys mesinnya:

Aku memilih Bus Perak Transit sebagai armada pengantarku ke kota Ipoh. Tarif bus seharga Rp. 70.000 cukup membantu membuatku berhemat di awal perjalanan panjangku.

Lusa hari berikutnya, setelah merasa cukup menjelajah Penang selama dua hari, akhirnya perjalananku ke Ipoh dimulai.  Satu jam sebelum jadwal keberangkatan, penumpang baru boleh masuk ke Terminal Bus Penang Sentral yang terletak di lantai 1. Aku langsung menuju Gate 3 sesuai dengan yang tertera di tiket untuk menunggu bus datang.

Setelah menunggu selama 16 menit, akhirnya Bus Perak Transit tiba dan standby di platform B09

Bus berangkat tepat waktu pada 14:00.

Perjalanan ke Ipoh sejauh 140 km ini ditempuh dalam waktu 1 jam 49 menit.  Melewati pemandangan yang cukup mengesankan.

Aku mengulang pemandangan ini dua kali, karena dalam perjalananku dari KLIA 2 ke Penang dua hari sebelumnya juga melewati jalanan yang sama.

Bus menyempatkan sekali toilet break dalam perjalanan ini pada suatu tempat yang aku tak sempat mendeteksi dimana letaknya.

Pada pukul 15:49 akhirnya bus merapat ke Terminal Bus Amanjaya. Inilah terminal bus antar kota di Ipoh.

Memasuki Terminal Amanjaya, Aku sangat tidak sabar untuk segera menuju ke Terminal Bus Medan Kidd yang terletak di tengah kota Ipoh. Terminal Bus Medan Kidd adalah salah satu akses untuk masuk ke kota Ipoh.    

Ipoh yang selama ini hanya kudengar lewat cerita para backpacker dan tulisan di dunia maya, akhirnya aku diizinkan menginjakkan kaki di kota itu setelah berkelana selama delapan tahun menjadi seorang backpacker.

Keseruan apa yang kudapatkan selama singgah di Ipoh?

Sabar menunggu tulisanku berikutnya ya guys….

Oh ya. Berikut alternatif lain untuk membeli tiket online dari Penang ke Ipoh, yaitu melalui 12go Asia di link berikut: https://12go.asia/?z=3283832