Menyesap Bubuk Oat di The Bed Station

<—-Kisah Sebelumnya

Aku lapar sekali sore itu….

Aku bergegas menuruni escalator demi escalator untuk menuju lantai 3 Terminal Bersepadu Selatan dan langsung memutuskan keluar melalui jembatan penghubung menuju Stasiun Bandar Tasik Selatan.

Setiba di depan deretan ticketing vending machine, aku segera mencari tiket menuju Stasiun Pasar Seni yang akan kutempuh menggunakan dua laluan kereta yang terintegrasi, yaitu LRT Laluan Seremban dan LRT Laluan Kelana Jaya. Aku memasukkan 3,5 Ringgit ke dalam mesin untuk mendapatkan sebuah token biru menuju Pasar Seni yang letaknya berjarak sepuluh kilometer di utara.

Tak perlu lama menunggu, LRT Laluan Seremban tiba dan aku memasuki gerbong tengah. Sore itu kereta penuh, aku harus berdiri hingga kereta tiba di KL Sentral.

Perlu kamu ketahui bahwa Pasar Seni adalah sebuah area yang letaknya hanya dua kilometer di utara KL Sentral. Dari KL Sentral, aku bergegas turun dan menuju platform LRT Laluan Kelana Jaya untuk mencapai Stasiun Pasar Seni.

Hampir jam tujuh aku tiba di Pasar Seni…..

Area Pasar Seni terlihat dari stasiun.
Automatic fare collection gates Stasiun Pasar Seni.

Aku sejenak menepi di pojok platform stasiun untuk mengamati keramaian area Pasar Seni dari atas. Sudah tiga kali aku menjelajah area itu semenjak 2014, berarti ini kali keempat aku tiba di tempat yang sama. Bosan?….Tentu saja tidak, selalu ada hal-hal baru dan menarik yang bisa kutemukan di tempat yang sama sekalipun.

Menjelang gelap, aku mulai menuruni tangga Stasiun Pasar Seni dan mulai menelusuri Jalan Hang Kasturi untuk menggapai penginapan, yaitu The Bed Station. Penginapan yang kupilih cukup dekat jaraknya dari Stasiun Pasar Seni, hanya perlu berjalan kaki sejauh 200 meter saja.

Menemukan lokasi penginapan, aku bergegas masuk pada pintu yang tak berpenjaga dan tak terkunci, hanya lorong berupa tangga menuju ke atas, yang menghubungkan ke beberapa lantai.

Meja resepsionis yang kucari ternyata terletak di lantai kedua. Aku memasuki ruangan itu yang suasananya masih kosong dan senyap. Untuk kemudian memutuskan mengambil satu tempat duduk di depan meja resepsionis demi menunggu staff hotel tiba.

Akhirnya lima belas menit kemudian, staff pria itu tiba.

Hallooo….”, dia menyapa ramah.

Hi….I want to check-in”, aku beranjak dari tempat duduk dan merapat ke meja resepsionis lalu menyerahkan lembar konfirmasi pemesanan online beserta paspor.

Let me see!….Your name is in our system. Ok, 22 Ringgit for room and 20 Ringgit fo deposit”, dia mulai menutup transaksi.

Why don’t several hotels in some cities require a deposit?”, aku sedikit tergelitik

I don’t know about that. I’m originally from Egypt, so I don’t know more…”, dia menjelaskan tetap dengan senyumnya.

Just take a bunk bed in your room….All the choices are up to you”, dia menyerahkan kunci locker kepadaku.

Usai menyelesaikan transaksi, aku menuju ke lantai 3 melalui tangga untuk memasuki kamar. Kamar itu penuh, 20 bunk bed di ruangan hanya menyisakan satu bunk bed di dekat pintu.

Oh, ini tempat tidurku”, aku tersenyum mengernyitkan dahi.

Ruangan itu kosong, para penginapnya mungkin sedang berpetualang di tengah kota. Nanti malam, menjelang tidur, aku baru tahu bahwa tamu itu seluruhnya adalah sekumpulan rombongan dari kota lain di Malaysia, karena mereka saling bercakap menggunakan bahasa Melayu. Aku menebaknya sebagai sekelompok siswa yang sedang melakukan study tour karena salah satu dari mereka dipanggil dengan sebutan Cikgu.

Aku berkeliling lantai 3 untuk mencari shared-kitchen tetapi tidak pernah menemukannya. Hanya ada kamar mandi bersama di salah satu sisi tangga dan lobby bersama yang berupa deretan kursi dengan meja gantung memanjang yang biasa digunakan penginap untuk bekerja menggunakan laptop. Hanya tersedia satu sofa panjang di shared lobby ini.

Waduh, berarti aku harus makan di luar”, aku segera memutuskan pergi dari lantai 3.

Pintu masuk The Bed Station.
Tangga tunggal penghubung antar lantai penginapan.
Meja resepsionis yang sepi.
Shared lobby.
Dormitory di The Bed Station.

Sudah pukul delapan malam….

Malam itu aku hanya akan mengeksplorasi secara lengkap segenap isi Central Market. Walau sudah tiga kali mengunjunginya, tapi belum sekalipun aku menjelajahnya secara detail. Jadi malam itu aku akan menuntaskan niat itu.

Aku kembali turun ke Jalan Hang Kasturi menuju utara. Hingga tiba di sebuah pertigaan besar.

Aku harus makan malam segera, sebelum melangkah lebih jauh”, aku memutuskan duduk di salah satu bangku beton di tepi Jalan Tun Sambanthan.

Aku dengan percaya diri membuka kemasan serbuk oat, menuangkannya di foldable lunchbox, mengguyurnya dengan air mineral, lalu memulai makan malam yang sangat sederhana itu dengan lahapnya. Aku sengaja duduk di tepi jalan itu karena di sisi atas, LRT Laluan Kelana Jaya hilir mudik melintasi jalanan dengan indahnya.

LRT Laluan Kelana Jaya melintas di atas Jalan Tun Sambanthan.
Makan malan dulu lah…..

Tak usah terburu waktu, Donny!

Nikmati makan malammu!.

Kisah Selanjutnya—->

Menembus Rinai: Suria KLCC, Petronas Twin Tower dan Petrosains

<—-Kisah Sebelumnya

Usai menurunkan backpack di kamar, aku menuruni anak tangga Agosto Inn untuk melanjutkan eksplorasi.

Hi, Sir. Where are you going this afternoon?”, tanya resepsionis sekaligus si empunya penginapan.

Petronas Twin Tower, Sir

Oh, you better take LRT to get there. Don’t take bus because Kuala Lumpur is surely to get stuck this afternoon”, nasehatnya cukup membantuku.

Di luar fakta itu, sedari tadi aku telah memutuskan akan menggunakan Light Rail Transit. Karena sejatinya aku belum mengetahui bahwa ada layanan gratis Go KL City Bus yang jalurnya terintegrasi menuju kesana. Maklum, itulah kali pertama aku menjejak ibu kota Malaysia.

Aku menyusuri jalanan Tun H S Lee ke arah selatan kemudian berbelok ke kanan di perempatan berlanjut ke Jalan Sultan menuju Stasiun Pasar Seni. Jalanan masih basah dan menyisakan beberapa genangan tipis disana-sini. Memaksaku sedikit berhati-hati demi menghindari cipratan air dari hempasan laju kendaraan yang berlalu-lalang. Sore itu adalah jam pulang kantor, menjadikan jalanan semakin padat saja.

Agosto Inn termasuk penginapan yang murah nan strategis, jaraknya tak lebih dari dua ratus meter dari Stasiun Pasar Seni, hanya diperlukan lima menit berjalan kaki menujunya. Setiba di stasiun, aku membeli token seharga 1,5 Ringgit di ticketing vending machine untuk kemudian bergegas menuju platform di lantai atas. Stasiun Pasar Seni adalah jenis stasiun layang dan berselang tiga stasiun dengan Stasiun KLCC (Kuala Lumpur City Centre) dimana Petronas Twin Tower berdiri.

tren tiba dalam 3 minit’….‘tren 3 koc’…‘koc ke Gombak’….begitulah tulisan yang terpampang bergantian di layar LCD pada platformku berdiri. Aku begitu antusias, mengingat Jakarta belumlah memiliki MRT dan LRT kala itu.

LRT Laluan Kelana Jaya berwarna putih dengan kelir biru-merah tiba. Aku memasuki gerbong tengah, berdiri berdesakan dengan para pekerja kantoran yang hendak menuju rumah masing-masing. Desingan laju LRT memamerkan bentangan bangunan beton, taman-taman kota dan jalanan di bawah dengan beberapa pelita jalan yang mulai menyala otomatis. Menjadikan panorama sore terlihat elok.

Lima belas menit kemudian, aku tiba di Stasiun KLCC. Stasiun KLCC sendiri adalah stasiun LRT yang terintegrasi dengan pusat perbelanjaan terbaik di Kuala Lumpur, yaitu Suria KLCC. Jadi untuk menuju Petronas Twin Tower, penumpang akan diarahkan melalui bagian dalam pusat perbelanjaan. Strategi yang jamak diterapkan untuk menaikkan pendapatan kawasan.

Aku terus melangkah ke lantai atas melalui escalator demi menemukan pintu keluar menuju Petronas Twin Tower. Sepemahamanku, aku harus keluar di pintu mall di sisi Jalan Ampang. Jadi sepanjang pusat perbelanjaan, aku hanya menengara kata “Petronas Twin Tower”atau “Ampang”. Alhasil, kutemukan sebuah papan petunjuk menuju Jalan Ampang….Yes, aku berhasil keluar dari mall di jalur yang tepat.

Dari Jalan Ampang, keperkasanaan menara kembar mulai terpamerkan, menjulang setengah badan ke puncak. Aku terus mendekatinya, menyeberang Jalan Ampang dan tiba di pelataran utama Suria KLCC. Kusegerakan melangkah menuju sisi depan menara. Tepat di depannya, hiasan memanjang air mancur memperindah suasana.

This was my first time there….Petronas Twin Tower.

Mengunjungi sesuatu yang fenomenal untuk kali pertama memang mendatangkan impresi. Girang, syukur, takjub memenuhi isi hati sore itu. Hingga rinai lembut tak mampu mengusirku, untuk beberapa saat, hanya aku dan sedikit turis yang mau bertahan. Sebagian besar diantaranya telah angkat kaki.

Beberapa lama kemudian rinai berganti hujan, ketika aku tertegun pada fotografer profesional yang terus membidik menara tertinggi kesebelas sejagat itu menggunakan kamera berlensa panjang dengan plastic protector. Kini hujan memaksaku segera beranjak, pelataran menara kembar menyisakan lengang.

Memasuki kembali Suria KLCC melalui pintu berbeda, aku berniat menuju lantai empat, mencari keberadaan Petrosains, si peraga teknologi industi perminyakan Malaysia. Tak sulit menemukannya, begitu tiba di lantai empat, logo Petrosains menyambut dan mengarahkanku ke ruang utama. Hanya saja sore itu sudah hampir pukul enam, Petrosains telah tutup sejak dua jam lalu. Aku hanya memandangi seisi Petrosains dari bagian luar dinding kaca, kemudian bergegas pergi meninggalkannya untuk kembali menuju hotel.

Pintu utama Suria KLCC.
Jam operasional dan harga tiket masuk Petrosains.

Dari Stasiun KLCC, aku menumpang kembali LRT Laluan Kelana Jaya menuju Stasiun Pasar Seni. Dari sana, aku berniat mengakhiri petualangan hari pertama di Kuala Lumpur dengan menikmati makan malam. Aku menemukan kedai kecil penjaja makanan India di pinggiran Jalan Tun H S Lee.

Kerja di sini?, sapa si empunya kedai sembari menyiapkan makanan

Tidak, Pak. Saya hanya melawat”,

Dari mana kamu datang?

Indonesia

“Oh , Indonesia….Jakarta, Surabaya, Bandung?”, sambil tersenyum menyebutkan nama-nama kota itu.

Jakarta, Pak

“Ok, sudah siap. Sila makan”, dia mulai menyodorkan seporsi Biryani dengan ayam dan dua butir telur rebus.

Mari makan!

Buseettt, seginikah porsi makan orang India”, aku membatin. Kiranya aku memakai jurus lain, aku membungkus sebagian dari menu itu untuk makan malam sesi dua nanti malam….Gile emang.

Seporsi Biryani menjadi penutup yang sempurna malam itu.

Kisah Selanjutnya—->

Agosto Inn: Mencari Penginapan Dadakan

<—-Kisah Sebelumnya

Sebentar lagi pukul dua siang, kondisi awan semakin tebal di atas sana, aku pun telah merangsek turun dari kuil utama Batu Caves, menuruni 272 anak tangga dan kemudian bergegas menuju Stasiun Batu Caves.

Sesampai di stasiun aku langsung membeli tiket Kereta Komuter KTM Laluan Seremban seharga 2 Ringgit (Rp. 6.800) demi menuju KL Sentral. Sepanjang perjalanan pulang-pergi, aku tak tahu kenapa jalur ini selalu sunyi. Gerbong kereta yang masih tampak bersih dan baru, stasiun-stasiun yang dilewati pun masih terlihat bagus.  

Menempuh jalur kereta sejauh 16 kilometer, aku tiba di Lantai 1 KL Sentral’s Transit Concourse hanya dalam waktu setengah jam. Aku segera menaiki escalator menuju KL Sentral’s Main Concourse untuk berburu token menuju Stasiun Pasar Seni, kali ini aku harus menaiki LRT Laluan Kelana Jaya. Perlu mengeluarkan ongkos sebesar 1,3 Ringgit (Rp. 4.500) untuk mendapatkan akses menaiki LRT itu. Inilah pertama kalinya bagiku menggunakan ticket vending machine di Negeri Jiran itu. Tetapi kali ini tak butuh banyak waktu untuk memahaminya.

Geblek….Sandal….

Mendapatkan tiket berwujud token berwarna biru, aku segera melewati automatic fare collection gate menuju lantai dua untuk menaiki LRT Kelana Jaya. Hanya perlu menunggu tiga menit hingga kereta itu tiba lalu aku segera melompat ke dalam gerbongnya.

Tak berjeda satu stasiun pun untuk menuju Stasiun Pasar Seni. Aku tiba dalam sepuluh menit sejak memasuki LRT empat gerbong itu. Stasiun Pasar Seni yang berwujud stasiun layang itu menampilkan pemandangan kawasan Central Market beserta  aliran Sungai Kelang yang mengalir deras karena hujan. Rupanya sungai-sungai di Kuala Lumpur juga belum sepenuhnya lepas dari masalah sampah, terlihat beberapa sampah hanyut dibawa arus sungai itu.

Hujan lebat membuatku harus berdiam beberapa saat di platform Stasiun Pasar Seni. Tak ada pilihan karena aku tak memiliki payung ataupun jas hujan. Aku baru tiba di Kuala Lumpur pagi tadi sebelum memutuskan mengeksplorasi Batu Caves terlebih dahulu sebelum memasuki pusat kota. Kini aku memiliki satu tujuan ketika memasuki daerah Pasar Seni….Yups, mencari penginapan.

Kala itu aku masihlah backpacker amatiran yang tak berhasil menyiapkan satu penginapan sebelum berangkat. Beruntung aku tak ditanya perihal hotel oleh petugas imigrasi, mengingat inilah pertama kalinya aku mengunjungi Kuala Lumpur. Tadi pagi, petugas imigrasi KLIA2 hanya menanyakan tiket kepulangan yang tentu sudah kusiapkan jauh hari.

Menunggu beberapa saat, hujan tak kundung reda, masih menyisakan gerimis lembut. Kiranya aku tak boleh kehilangan banyak waktu hanya untuk menunggu hujan reda. Kupaksakan diri menembus gerimis, menyusuri Jalan Sultan, melewati lokasi proyek pembuatan jalur MRT di sisi kanan dan berbelok ke kiri untuk menyisir Jalan Tun HS Lee untuk mencari penginapan. Setelah beberapa waktu mencari, aku tertarik pada logo Trip Advisor yang terpajang di sebuah pintu kaca penginapan kecil. Agosto Inn namanya. Maka, aku tak ragu memasukinya.

Halo, Pak. Apakah Anda masih memiliki satu kamar untuk dua malam?”, aku bertanya dalam Bahasa Indonesia yang seharusnya dia faham.

Can you speak English, Please?”, resepsionis sekaligus pemilik penginapan itu ternyata tak bisa berbahasa Melayu.

Oh, sorry. Do you still have a room for two nights?”, aku menjelaskan pertanyaan yang sama.

Oh, of course. But I don’t have a bed in the dorm. Would you like to use a single room?”.

Can I see the room?”.

Oh, sure….Follow me, Sir!”, dia beranjak dari meja resepsionis dan memimpin langkah menuju lantai atas.

Aku mengikutinya menuju ke ujung koridor untuk melihat kamar terakhir yang dimaksud. Kemudian bersambung menunjukkan kamar mandi bersama di ujung yang berlawanan.

Hallo, Sir”, seorang staff yang sedang membersihkan kamar mandi bersama menyapaku. Nanti aku akan mengenalnya sebagai sosok asal Bangladesh yang ramah.

Hi…”, aku membalas senyumnya.

Aku tak akan berfikir panjang dan memutuskan mengambil kamar itu. Hari sudah sore, tak ada waktu lagi untuk mencari penginapan. Aku harus segera menuju KLCC untuk mengunjungi menara kembar kenamaan Negeri Jiran.

Yes, Sir….I’ll take your last room….How much?”, aku mengambil keputusan.

Sixty Ringgit, Sir (Rp. 208.000) for two nights….Come on follow me, I’ll give you the room key”.

Kamar single milik Agosto Inn.

Transaksi itu selesai di meja resepsionis. Aku bernafas lega, karena telah menemukan penginapan untuk dua malam ke depan.

Saatnya berburu destinasi.

KL Sentral….Awesome Transit Oriented Building

I don’t know how many times I’ve said KL Sentral as far as publishing this 221 traveling articles. I remember, I have five times traced this phenomenal building. Five years also, various sides and interesting moments which I stole from Kl Sentral languishing in external hard disk which neatly wrapped in a desk drawer in my bedroom….Room which continually give me many inspiration in conquering beauty of the earth.

It’s not fair, if its greatness isn’t shared with you. Because I’m sure that you will visit it someday….Or maybe, you have visited it but you don’t understand yet its details.

Operating 18 years ago, KL Sentral has played an important role in Malaysian tourism. KL Sentral meritorious in being the link between Malaysia’s first gate (i.e Kuala Lumpur International Airport) and important tourism spots in city center…. Fast, effective and efficient. Maybe that’s what will be pursued by Manggarai Central Station in 2021 (It’s a station central in Jakarta).

Gives you a basic view of KL Sentral. Here’s my best photo at KL Sentral level 1:

KL Sentral level 1 which seen from Nu Sentral mall on level 2.
KL Sentral level 1 was seen from Kelana Jaya Line platform on level 2.

KL Sentral Bus Station

Before exploring level 1, I will invite you to look at KL Sentral basement level. Why?….Because 100% of my arrivals to KL Sentral use the cheapest transportation mode….Yups, Skybus, Aerobus and Airport Coach which its tickets are only worth USD 3.1.

After passing through Stesen Sentral Street, bus will enter basement level and stop at shelter which sells Aerobus/Skybus/Airport Coach/Resort World Genting Bus tickets. While, behind escalator (is used to go up to level 1), you will find Rapid KL Free Bus shelter which is used by tourists towards Batu Caves.

Left is Airport Coach ticket counter to KLIA and right is Skybus/Aerobus ticket counter towards KLIA2
Airport Coach towards KLIA (Terminal 1)
Skybus towards KLIA2 (Terminal 2)
Bus towards Genting Highlands.
Direction sign to Rapid KL Free Bus to Batu Caves.

Twice, I went down to KL Sentral basement level and immediately left KL Sentral towards Westree Hotel (2018) and M&M Hotel (2019) through this corridor:

The corridor at Basement level leads to Tun Sambanthan Street.
This is appearance of Tun Sambanthan Street.

Nu Sentral Mall

If you want to continue your trip using KTM ETS (Kereta Tanah Melayu-Electric Train Service), Kelana Jaya Line LRT, Seremban Line commuter KTM, Monorail, airport train (KLIA Ekspres and KLIA Transit) you have to go up to level 1 KL Sentral using escalator near Skybus/Aerobus ticket counter.

Or….you can also go up to level 1 as access to go to Nu Sentral mall on level 2….Let’s look at Nu Sentral mall.

Connector escalator between several train gates on 1st floor to Nu Sentral mall which is on level2
Nu Sentral mall situation.
Nu Sentral mall situation.

Finished shopping at Nu Sentral mall, then look for pedestrian bridge to Tun Sambanthan Street. The pedestrian bridge is directly connected to Nu Sentral mall.

Direction sign towards Tun Sambanthan Street.
This is the pedestrian bridge which I mean.

Transportation Area

Before going back down to level 1, you should see where the monorail station is. The floor plan shows that KL Sentral monorail station is a separate building from KL Sentral itself. But not to worry because there is a connection bridge from KL Sentral to monorail station.

Yuhuuu….It was in front of monorail station gate.
Here it is, the monorail….On its way towards Titiwangsa Park.

Come on!….We explore 1st floor. This floor is allocated as access to various modes of train transportation.

Starting from commuter train. There are two commuter train lines in KL Sentral namely KTM Laluan Seremban and KTM Laluan Pelabuhan Klang.

Preparing to take KTM Komuter Laluan Seremban to Batu Caves.
That’s KTM Commuter platform in basement.

Besides KTM Commuter, the most popular transportation mode to city center in Kuala Lumpur is LRT (Light Rail Transit). LRT Laluan Kelana Jaya was the one which was lucky because it was the only chosen LRT which visited KL Sentral.

Let’s rides LRT to city center!
Ticketing vending machines….Where to buy LRT tokens (tickets).
Automatic gates menuju platform LRT Kelana Jaya di level 2.
Finally caught a picture of LRT Laluan Kelana Jaya at Pasar Seni Station.

Besides Skybus/Aerobus and Airport Coach, Malaysia tourism also presents KLIA Transit and KLIA Express which are premium trains to Kuala Lumpur International Airport. Premium is certainly synonymous with expensive prices but certainly guarantees a comfort.

KLIA Transit ticket counter and its automatic gate
See, KLIA Transit!…Cool right?.
Of course….Super comfortable.

Eatery

Regarding food….As the biggest transit hub in Malaysia, KL Sentral certainly provides many eateries.

At level, there are several food and beverage shops such as La Cucur Express, Panettone (vegetarian food), Meals Station, I Love Yoo !, Chatime, Swiss Oven, Secret Recipe, Starbucks, Burger King, Ayam Penyet Express and many more.

Eat “Penang White Curry Bowl” at Panettone (2018).

Outside KL Sentral (around Tun Sambanthan Street), there are also some reasonably-priced food stalls with topnotch taste. I visited it because I often stayed around KL Sentral.

ABC Bistro Cafe….My hangout place around KL Sentral.

Nearest Cheap Hotels

Tun Sambanthan Street is an important road in Brickfields area. This area provides restaurants, shops and residences. Brickfields also provides many hotels from five-star hotels to budget-friendly hotels.

Westree Hotel during my Malaysia-Singapore trip on 2018
Hotel M&M while visiting an international event on 2019

So….Visit KL Sentral well and just enjoy its facilities.

Genting Highlands….Permata Wisata di Puncak Gunung Titiwangsa.

Tak berpengalaman tidur di kamar berperangkat AC Sentral membuatku tak benar-benar terlelap karena kedinginan. Keuntungan yang kudapat adalah terjaganya diri menyambut fajar yang perlahan hadir. Jam 5:30 aku mulai membasuh badan di kamar mandi bersama.

Siapa tuh lagi mandi?…

Itu semua karenaku. Staff Agosto Inn terhenyak dan tergopoh pontang-panting menyiapkan menu sarapan yang sebetulnya cukup sederhana di meja makan. Maafkan aku jika membuatmu grogi begitu ya, mbak….Hahaha.

Menuang tea pot, memanggang roti tawar, mengaduk oatmeal dan mengiris jeruk Sunkist kulakukan dengan santai sebelum para Srilankan itu merapat ke meja yang sama.

Aku: “Hai….Hello….Are you from India?”. Pertanyaan yang sok tahu.

Srilankan: “No, We are from Colombo”.

Aku: “Oh, Srilanka”.

Srilankan: “Yeaa….Great, you know that”. Tersenyum lebar dan mengajak berjabat tangan.

Aku: “I hope I can go to your exotic country

Srilankan: “Yes….You must go there

Kamu tahu, perlu berapa tahun aku bisa mewujudkan harapan itu?….Yup, 5 tahun kemudian aku hadir di Colombo. Mimpi yang Sempurna….#peterpan.

45 menit kemudian, aku sudah meluncur bersama LRT Laluan Kelana Jaya menuju KL Sentral. Aku akan menangkap pemberangkatan pertama Go Genting Express Bus pada jam 08:00.

Kegagalan mendapatkan tiket pada hari pertamaku di Kuala Lumpur tak terulang setelah tiket tergenggam sebelum jam pertama keberangkatan.

Tiket yang sudah termasuk tarif Genting Skyway.

Girang sedikit ndeso ketika deru “Si Merah Maroon” mulai terdengar di tikungan merangsek memasuki KL Sentral Bus Station yang terletak di lantai basement.

15 menit sebelum keberangkatan. Go Genting Express Bus bersiap di platform.

Bangku yang tak tersisa membuat driver segera bekerja di kursinya dengan menginjak pedal gas dan meninggalkan KL Sentral dalam hitungan menit.

Damn….Pemandangan pertama adalah seorang anak berketurunan Tionghoa yang harus pipis di depan mataku. Air seninya masuk dengan sempurna ke dalam botol air mineral yang dipegang oleh mamanya yang lumayan….Hhmmhh….Canteeekkk. Disimpannya botol itu di bagasi kecil di depan kursinya….Moga ndak ketuker saat minum ya, Mam.

Sejauh 42 km, mata yang menyusuri pemandangan Karak Expressway beriring laju Go Genting Express. Satu jam kemudian, bus perlahan menepi di Lower Genting Skyway Station tepatnya di Basement Level 4 (B4). Aku segera berpindah ke level T1 Genting Skyway Complex untuk menaiki cable car.

30 menit bergelantungan menuju Genting Highlands Station.
Jam 9:20, tiba di Genting Highlands Station yang terintegrasi dengan First World Plaza. Letaknya di level 4.

Sebetulnya ekspektasiku berkunjung di Genting Highlands hanya sekedar ingin tahu saja, tidak ada niatan menginap disana sama sekali karena keterbatasan waktu ngelayap. Alhasil, aku hanya mengalokasikan waktu selama 2 jam untuk mengeksplore First World Plaza.

Karena tiba di First World Plaza lantai 4, berarti aku melakukan eksplorasi terbalik. Dimulai dari lantai 4 dan diakhiri di lantai 1. Perlu kamu ketahui bahwa yang kupijak saat ini adalah bangunan mall modern 4 lantai.

Gokil….Hal pertama yang kulakukan adalah mampir di toko retail makanan dan minuman lokal yang sangat terkenal di Malaysia yaitu Heng Heng Local Delights di lantai 4. Padahal tak tahu bagaimana cara membawanya pulang nanti karena kecilnya backpack dan anti membeli bagasi pesawat.

Jalan-jalan jadoel….Masih kepikiran beli oleh-oleh….Wekawekaweka #geli

Setelah berbelanja, berkelilinglah diriku di Ripley’s Believe It or Not! Adventureland dan mengunjungi Jurassic Research Centre dan menyempatkan bermain di PlayTime! Video Games Park yang merupakan bagian dari Ripley’s Believe It or Not! Odditorium

Setelah mengunjungi First World Indoor Theme Park di lantai 4, aku kembali turun di lantai 2 untuk mengunjungi Snow World.

Mau maen salju?….#gile

Aku juga menyempatkan diri melihat Genting Casino yang sungguh tamak karena menempati 2 lantai sekaligus di First World Plaza. Level 1 dan Level 2 dipakainya untuk bisnis judi itu….#gile

Beda tipis: tampang kalah judi atau gak mampu judi?….#geli

Selesai menjelajah keseluruhan lantai di First World Plaza, kuputuskan untuk kembali ke KL Sentral untuk melakukan eksplorasi Bukit Bintang yang juga merupakan pusat retail dan mode di Kuala Lumpur.

Bersiap pulang kembali ke pusat kota Kuala Lumpur.

Pembangunan besar-besaran oleh 21st Century Fox telah mengubah Genting Highlands menjadi permata wisata Asia bahkan dunia.

Yang belum berkunjung dimari….Monggo silahkan melipir sebentar kesana.

KL Sentral….Bangunan Berorientasi Transit yang Mengagumkan

<—-Kisah Sebelumnya

Entah berapa kali kusebut kata KL Sentral sejauh membidani 201 artikel kelayapan ini. Yang kuingat, aku telah lima kali menjejak bangunan fenomenal itu. Lima tahun pula, berbagai sisi dan momen menarik yang tercuri dari Kl Sentral mendekam dalam External Hard Disk terbungkus rapi dalam laci meja kerja di peraduanku….Kamar yang terus memberiku ilham dalam menaklukkan indahnya bumi.

Tak adil rasanya, jika kehebatannya tak terbagi kepada kalian. Karena aku yakin kalian akan menjejaknya jua suatu saat….Atau mungkin, kalian yang sudah menyambanginya tapi belum memahami detailnya.

Beroperasi 18 tahun lalu, KL Sentral memberikan peran penting dalam pariwisata Malaysia. KL Sentral berjasa menjadi penghubung antara gerbang pertama Malaysia (yaitu Kuala Lumpur International Airport) dan spot-spot penting pariwisata di tengah kota….Cepat, efektif dan efisien. Mungkin itulah yang akan dikejar oleh Stasiun Sentral Manggarai 2021.

Memberimu gambaran mendasar tentang KL Sentral. Inilah foto terbaikku di level 1 KL Sentral:

KL Sentral level 1 dilihat dari Nu Sentral mall di level 2.
KL Sentral level 1 dilihat dari platform LRT laluan Kelana Jaya di level 2.

KL Sentral Bus Station

Sebelum membedah level 1, aku akan mengajakmu menengok KL Sentral basement level. Kenapa?….Karena 100% kedatanganku ke KL Sentral menggunakan moda transportasi termurah….Yups, Skybus, Aerobus dan Airport Coach yang tiketnya hanya berharga Rp. 42.000.

Setelah melalui jalan Stesen Sentral, bus akan memasuki level Basement dan berhenti di shelter yang menjual tiket Aerobus/Skybus/Airport Coach/Resort World Genting Bus. Sementara dibelakang escalator (digunakan untuk naik ke level 1), kamu akan menemukan shelter Rapid KL Free Bus yang digunakan turis menuju wisata Batu Caves.

Kiri adalah konter tiket Airport Coach menuju KLIA dan kanan merupakan konter tiket Skybus/Aerobus menuju KLIA2
Airport Coach menuju KLIA (Terminal 1)
Skybus menuju KLIA2 (Terminal 2)
Bus menuju wisata Genting Highlands.
Petunjuk arah menuju Rapid KL Free Bus ke wisata Batu Caves.

Dua kali, aku turun di level basement KL Sentral dan langsung meninggalkan KL Sentral untuk menuju ke Westree Hotel (tahun 2018) dan Hotel M & M (tahun 2019) melalui koridor ini:

Koridor di level Basement menuju Jalan Tun Sambanthan.
Ini loh penampakan Jalan Tun Sambanthan.

Nu Sentral Mall

Jika kamu ingin meneruskan perjalanan menggunakan KTM ETS (Kereta Tanah Melayu- Electric Train Service), LRT laluan Kelana Jaya, KTM komuter Laluan Seremban, Monorail, kereta bandara (KLIA Ekspres dan KLIA Transit) kamu harus naik ke level 1 KL Sentral menggunakan escalator di dekat konter tiket Skybus/Aerobus.

Atau….kamu juga bisa naik ke level 1 sebagai akses untuk menuju Nu Sentral mall yang ada di level 2….Yuk lihat Nu Sentral mall.

Escalator penghubung beberapa train gate di lantai 1 menuju Nu Sentral mall yang berada di level2
Suasana Nu Sentral mall.
Suasana Nu Sentral mall.

Selesai berbelanja di Nu Sentral mall, maka carilah jembatan penyeberangan menuju jalan Tun Sambanthan. Jembatan penyeberangan orang (JPO) ini terhubung secara langsung dengan Nu Sentral mall.

Petunjuk arah menuju jalan Tun Sambanthan.
Inilah jembatan penyeberangan orang (JPO) yang kumaksud.

Transportation Area

Sebelum turun kembali ke level 1, kamu harus melihat dimana letak stasiun monorail. Floor plan menunjukkan bahwa stasiun monorail KL Sentral adalah bangunan terpisah dari KL Sentral itu sendiri. Tapi tidak perlu khawatir karena tersedia connection bridge dari KL Sentral menuju stasiun monorail.

Yuhuuu….Sudah di depan gate stasiun monorail.
Tuh dia, monorailnya…..Saat menuju Taman Tasik Titiwangsa.

Yukkkk….Kita bedah lantai 1. Lantai ini dialokasikan sebagai akses menuju berbagai moda transportasi kereta.

Dimulai dari kereta komuter. Ada dua line kereta komuter di KL Sentral yaitu KTM Laluan Seremban dan KTM Laluan Pelabuhan Klang.

Bersiap naik KTM Komuter Laluan Seremban menuju Batu Caves.
Itu dia platform KTM Komuter di basement.

Selain KTM Komuter, moda transportasi menuju ke pusat kota yang paling populer di Kuala Lumpur adalah LRT (Light Rail Transit). LRT Laluan Kelana Jaya lah yang beruntung karena menjadi satu-satunya LRT terpilih yang menyinggahi KL Sentral.

Yuks naik LRT ke pusat kota.
Ticketing vending machines….Tempat membeli token (tiket) LRT.
Automatic gates menuju platform LRT Kelana Jaya di level 2.
Tertangkap juga wujud LRT Laluan Kelana Jaya di Stasiun Pasar Seni.

Selain Skybus/Aerobus dan Airport Coach, Pariwisata Malaysia juga menghadirkan KLIA Transit dan KLIA Express yang merupakan kereta premium menuju Kuala Lumpur International Airport. Premium tentu identik dengan harga mahal tetapi pastinya menjamin sebuah kenyamanan.

Konter tiket KLIA Transit beserta automatic gatenya.
Tuh, KLIA Transit….Keren kan.
Sudah barang tentu…Super nyaman.

Eatery

Perihal makanan,….Sebagai transit hub terbesar di Malaysia, pastinya KL Sentral menyediakan banyak eatery.

Di level 1 terdapat beberapai food and beverage shop seperti La Cucur Express, Panettone (vegetarian food), Meals Station, I Love Yoo!, Chatime, Swiss Oven, Secret Recipe, Starbucks, Burger King, Ayam Penyet Express dan masih banyak lagi.

Makan Penang White Curry Bowl di Panettone (2018).

Di luar KL Sentral (sekitar jalan Tun Sambanthan) juga terdapat beberapa kedai makanan yang cukup murah dengan cita rasa jempolan. Aku mengunjunginya karena sering menginap di sekitaran KL Sentral.

ABC Bistro Cafe….Tempat nongkrongku di sekitaran KL Sentral.

Hotel Murah Terdekat

Jalan Tun Sambanthan adalah jalur penting di daerah Brickfields. Daerah ini menyediakan restoran, pertokoan dan tempat tinggal. Brickfields juga menyediakan banyak hotel dari bintang lima hingga hotel dengan budget bersahabat.

Hotel Westree saat trip Malaysia-Singapura 2018
Hotel M&M saat mengunjungi sebuah event internasional 2019

So….Kunjungi KL Sentral dengan baik dan nikmati saja fasilitasnya.

Kisah Selanjutnya—->

24 Wisata Kuala Lumpur Dalam 3 Hari 2 Malam.

Penerbangan ke Kuala Lumpur yang hampir tak tertangkap karena beradu cepat dengan waktu di sepanjang tol Jakarta-Serang, dibumbui dengan pucat pasinya wajah akibat interogasi staff imigrasi yang judes karena penampilanku yang tak meyakinkan, membuat hati dan asaku malambung tinggi bersamaan dengan langkah pertamu meninggalkan konter imigrasi KLIA2.

Gaes….Perjalananku di Kuala Lumpur untuk pertama kalinya dimulai. Seneeenggg banget waktu itu. Magnet kulkas ku akan bertambah menjadi tiga. Begitulah adanya, jumlah magnet kulkas di rumahku menunjukkan berapa banyak negara yang sudah kukunjungi…..Nanti kalau sudah mengunjungi 100 negara, aku akan beli kulkas setinggi langit-langit rumah. Biar muat nempelin magnet-magnet itu….Hahaha.

—-****—-

Perjalanan yang sudah direncanakan sejak 9 bulan sebelum keberangkatan ini akhirnya terwujud. Masih tak percaya ketika diriku benar-benar memasuki negeri jiran itu. Rencana perjalanan yang kutuangkan secara detail di tiga lembar itinerary telah mengantarku menuju 24 destinasi berikut:

1. KL Sentral

KL Sentral adalah persinggahan pertama yang sering digunakan para petualang sebelum menjelajah Kuala Lumpur. Ya iyalah, kebanyakan transportasi umum dari KLIA akan berujung di sini.

KL Sentral memang dibangun pemerintah Malaysia sebagai bangunan transportasi berorientasi transit. Tak khayal, pusat transportasi ini tak pernah sepi pengunjung.

Awas mas….Resleting.

Untuk pertama kalinya, tiba disini di hari pertama kelayapanku, tepat pukul 11:23. Aku menyempatkan diri untuk sejenak mengeksplorasi Nu Sentral yang merupakan shopping mall yang terintegrasi dengan bangunan modern ini.

2. Batu Caves

Waktu yang terlalu siang untuk memulai perjalanan ke Genting Highlands membuatku memilih kuil umat Hindu ini sebagai persinggahanku berikutnya. Berlokasi di daerah Gombak yang berjarak 15 km di utara KL Sentral dengan jarak tempuh 40 menit menjadikan patung kuning “Dewa Murugan” menjadi ikon terfavorit di Kuala Lumpur setelah Petronas Twin Tower.

Makanya, kalau ga bisa main tripod….Minta orang lain fotoin aja….Huh.

90 menit menjadi waktu yang lebih dari cukup untuk menghilangkan rasa penasaranku akan gua yang terletak di sebuah perbukitan kapur  berusia 400 juta tahun itu.

3. Suria KLCC

Sekembali dari Batu Caves dan seusai berburu hotel di daerah Pasar Seni yang berakhir dengan hinggapnya langkah di Agosto Inn, dalam gerimis ringan aku bergegas menuju Kuala Lumpur City Centre (KLCC). KLCC adalah pusat kota Kuala Lumpur yang menawarkan shopping mall modern yaitu Suria KLCC, deretan hotel bintang lima, pemandangan ikonik Petronas Twin Tower dan taman kota yang luas (KLCC Park).

Walau tak gemar berbelanja, aku hanya penasaran ingin melihat langsung mall yang memiliki 350 tenant ini. Arsitektur Suria KLCC konon berbentuk bintang sabit jika dilihat dari atas….Keren ya. Dan perlu kamu tahu bahwa pembangunan Suria KLCC adalah proyek terintegrasi dengan Petronas Twin Tower.

4. Petrosains

Sebelum keluar dari Suria KLCC, aku sempatkan untuk mengunjungi Petrosains di lantai 4. Petrosains adalah tempat edukasi perminyakan milik Petronas, raksasa minyak milik Malaysia. Cukup menyisihkan Rp. 35.000 untuk belajar di dalam Petrosains.

Ngapain siiih….

5. Petronas Twin Tower

Tepat di sebelah kiri pintu keluar Suria KLCC, aku akhirnya menemukan bangunan kembar fenomenal itu. Gerimis lembut yang menemaniku menikmati Petronas Twin Tower tak mampu mengusirku segera dari halaman depan gedung kembar tertinggi di dunia itu.

Security: “Turuuuuuuunnnn…..”

Petronas  Twin Tower adalah destinasi terakhir di hari pertama kelayapan. Lebih cepat beristirahat di Agosto Inn untuk mempersiapkan diri menuju Genting Highland di keesokan harinya.

6. Genting Skyway

Jam 6:30, Melihat kehadiranku di meja makan membuat staff hotel itu terkesan tergesa-gesa menyiapkan sarapan pagi yang hanya berupa oatmeal, jeruk sunkist dan toast serta minuman hangat yang bisa kuambil sepuasnya dari tea and coffee pots.

Pagi yang masih sangat sepi kulalui menuju KL Sentral untuk menangkap bus pertama menuju Genting Highlands yang akan berangkat pukul 08:00. Dengan membayar tiket pulang pergi dari KL Sentral ke Genting sebesar Rp. 73.000 (harga pada tahun 2014, tahun 2019 harga sudah naik menjadi Rp. 85.000) aku tiba di Genting Highlands 1 jam 15 menit kemudian.

Pertama kalinya naik cable car….Clingak-clinguk, ndeso!

Harga segitu sudah termasuk naik Genting Skyway. Sementara harga sekali jalan untuk moda transportasi ini adalah Rp. 28.000 (Tahun 2019). Lower station gondola ini berada di Gohtong Jaya dan Upper Stationnya berada di Maxims Hotel, Genting Highlands.

7. Genting Highlands

Dua puluh menit kemudian, aku tiba di Genting Highlands setelah bergelantungan di dalam gondola berpenumpang delapan orang itu

Tujuan utama hari kedua yang harus merelakan waktu sehariku dirampas begitu saja. Perampasan yang membuatku girang bukan kepalang. Berharap ada repetisi seperti ini di lain waktu.

Awas, bang jangan di tengah jalan !….Kasian orang lain mau lewat.

Dua jam aku menapaki resort di pucuk gunung Titiwangsa sebelah timur laut Kuala Lumpur. Kalau kamu punya uang berlebih bisalah bermalam di Genting. Tapi melewati setiap mall tanpa berbelanja, restoran tanpa menyempatkan makan siang dan casino tanpa berjudi, pastinya itu adalah aku yang tak pernah memiliki uang cukup untuk berhura suka macam itu.

8. Bukit Bintang

Tinggal membalik cara berangkat maka aku bisa pulang kembali ke KL Sentral.

15:30….”Wuih, masih bisa ngelayap”, batinku bersorak. Bus, sudah….LRT, sudah….Komuter, sudah….MRT, belum jadi bang, mereka masih terlihat mengeruk tanah di sebelah Pasar Seni. Naik apa lagi dong?…..

Kuputuskan mencoba satu-satunya jalur monorail di Kuala Lumpur. Kapan lagi aku bisa menaikinya. Ini juga menjadi yang pertama kali aku menaiki monorail yang tiga tahun kemudian aku menaiki moda yang sama secara gratisan di Sentosa Island, Singapura….Yup, itu Sentosa Express.

Jangan lama-lama, belakang nungguin mau foto juga tuh.

Tujuan terkenal di Laluan Monorel KL adalah Kawasan Bukit Bintang. Menyandang predikat sebagai tempat perbelanjaan dan hiburan paling terkenal di Kuala Lumpur menjadikan Bukit Bintang sebagai pusat retail terpopuler yang selalu diburu para penggemar belanja, dari ibu rumah tangga, pegawai kantoran hingga pemudi pemuda bahkan para wisatawan.

Bukannya kamu wisatawan, Donny?….Bukan, bang. Aku cuma tukang kelayapan yang beruntung diberi kesempatan keliling dunia hingga 20 negara…..Geplaaakk-Geplaaakk-Geplaaakk.

9. Taman Tasik Titiwangsa

Killing time di sebuah taman kota di utara pusat kota adalah penutup petualangku di hari kedua. Didirikan di bekas pertambangan timah semasa kolonialisme Inggris menjadikannya maklum dengan keberadaan danau besar bekas galian pertambangan itu.

Maap pemirsa….Aku kehabisan batre pas ditaman….Itu aja ya.

Pukul empat sore, aku sudah hadir di taman itu dalam keramaian aktivitas warga yang luar biasa. Sampai-sampai adzan maghrib mengingatkanku bahwa aku sedang tidak berada di “Taman Bluntas”(nama taman terlayak yang dekat dengan tempat tinggalku). Artinya, waktu mulai mengusirku untuk segera meninggalkan Taman Tasik Titiwangsa dan lebih baik menyambut rasa aman di hotel tempatku menginap saja.

10. Hop On Hop Off Bus

Waktu memang tak bersahabat ketika dihadapkan dengan rasa penasaran. Mendadak aku di dorongnya memasuki hari terakhir petualangan. Waktu yang tak sedikit berhasil berkompromi dengan urat betis dalam mempengaruhi otak. Lalu otak berbisik, “Santai saja menghabiskan hari terakhir di Kuala Lumpur, Don”.

Rp. 157.500 terpaksa kuserahkan kepada pemandu wisata bus tingkat macam Routemaster milik negeri ratu Elizabeth itu. Bukan Routemaster ….Itu namanya HOHO….Atau kerennya Hop On Hop Off.

Buruan naik….Keburu soreeee.

HOHO Bus Stop No. 09 yang terletak di Central Market memudahkanku untuk menangkapnya….Tak sampai 5 menit untuk mencapainya dari Agosto Inn. Tak terima merugi, aku bersikeras mengunjungi beberapa destinasi wisata sepanjang jalur bus HOHO.

11. Istana Negara

Cukup 15 menit saje, setelahnya tuan-tuan dan puan-puan bise kembali ke bus atau ikut bus berikutnye”, suara itu semakin jelas dengan keberadaan mic di bawah bibir sang pemandu. Duh cantiknya wajah melayu berhijab itu. Membuatku luluh.

Awas jangan nempel-nempel….Bikin kotor tembok.

Aku bergegas melarikan diri secepat mungkin mendekat gerbang istana. Berfoto dengan penjaga istana yang berdiri bak patung dan kuda istana yang sangat jinak walau berpuluh-puluh wajah berbeda silih berganti berfoto dengannya.

12. Dataran Merdeka

Lapangan luas dihiasi gedung ikonik bergaya Mughal-Moor menjadi persinggahan berikutnya. Sultan Abdul Samad adalah nama bangunan itu. Sultan Abdul Samad sendiri adalah pemimpin negara Selangor yang terkenal karena memindahkan ibu kota Selangor dari Klang ke Kuala Lumpur.

Ya….Mayan lah posenya.

Dataran itu dikenal sebagai Dataran Merdeka, tempat dimana kemerdekaan Malaysia dari pemerintah kolonial Britania Raya di deklarasikan.

13. KL Tower

HOHO yang tak begitu lama berhenti di menara komunikasi itu, lantas tak membuatku menyerah. Aku melompat dengan gesit keluar dari bus dan sedetik kemudian HOHO meninggalkanku di pelataran KL Tower.

Sonoh naeekkk….Jangan lama-lama.

Aku akan mengeksplorasi KL Tower sebelum menuju Muzium Negara.

Kalau kamu punya nyali, masuklah ke Sky Box, kalau mau makan siang dengan cara elegan maka cobalah revolving restaurant lalu pergilah ke observation deck untuk menangkap pemandangan kota Kuala Lumpur lebih dekat di pelupuk mata.

Aku?….Dua bagian pertama kulewatkan. Dompet hanya sanggup memasukkanku ke bagian terakhir….Lumayan lah daripada tidak sama sekali.

14. Muzium Negara

Mau mengenal budaya suatu bangsa dengan cepat?….Datanglah ke museum nasionalnya.

Untuk itulah aku hadir di Muzium Negara Malaysia. Perjalanan bangsa Malaysia dari waktu ke waktu terpampang jelas di museum ini. Mulai dari kehidupan prasejarah….Kehidupan berkerajaan….Bahkan cerita tentang Majapahit pun ada disini.

Kayak ga pernah liat kreta aja….Huh.

Nuansa kerajaan Kuala Terengganu nampak kuat terasa mempengaruhi arsitektur museum ini yang tampak begitu megah.

Sesi perjuangan bangsa Malaysia dari kolonialisme Britania Raya pun menutup sesi belajar sejarah di bangunan yang terletak di Jalan Damansara itu.

15. Taman Tasik Perdana

Perlahan Hop On Hop Off memasuki kawasan hijau Kuala Lumpur….Warbiasah, ini Taman Tasik Perdana yang tersohor itu.

Terkenal dengan sebutan Lake Garden, taman ini adalah solusi terbaikku untuk menjauhi hiruk pikuk kota Kuala Lumpur yang lama-kelamaan membuat bising telinga.

Nempel….Denda.

Kulihat betapa bahagia warga Kuala Lumpur berpiknik sekeluarga, mengayun kaki di sepanjang jogging track, mendayung perahu di danau nan cantik dan aku pun larut bersama langkahku menikmati hijaunya pepohonan yang mendinginkan udara sekitar.

16. Taman Orkid Kuala Lumpur

Warna-warni bunga itu bagai magnet yang menarikku mendekat. Riang tak berkira ketika papan nama itu membisikkan informasi bahwa aku tak perlu membayar satu sen pun untuk memasukinya.

Dilarang menginjak rumput!….Wah, ngajak berantem.

Seorang ibu dengan caping lebar menyapaku dengan senyum karena bahagia. Karyanya menata taman itu akhirnya dikunjungi seorang pengelana berkantong tipis….Tanpa malu pula si pengelana berpose di depan kamera yang dipegang Sang Ibu….Udah masuk gratisan, nyuruh-nyuruh pulak….Beuh, plaaaaaakkkk.

17. Taman Rusa dan Kancil

Bu….Ada sesuatu yang tak memerlukan tiket masuk untuk berwisata di Taman Tasik Perdana?”, pertanyaanku yang tak berkemaluan.

Ada, Dik….Ada kancil di seberang. Di hujung jalan tu belok kanan”, ucapnya bercampur senyum.

Beuh, kalau gratisan jangan ditanya….Donny jagonya cari dan paling cepat hadir. Secepat kilat, aku sudah berada di dalam Taman Rusa dan Kancil.

Mirip….

Para pengunjung yang semuanya begitu cepat memasuki taman itu lalu dengan cepat pula meninggalkannya. Berbeda denganku yang begitu menikmati tingkah para kancil yang saudara-saudaranya suka mencuri timun di Indonesia.

Beuh….Bau kotoran kancil itu mengalahkan kebiasaan burukku….Pemburu wisata gratisan.

18. Taman Burung Kuala Lumpur

Sarang burung terbesar di dunia katanya. Rumah bagi tiga ribu ekor burung. Kali ini tak ada ampun buat dompetku. Rp. 138.000 melayang hanya untuk sekedar melihat para burung bebas terbang berkeliaran di dalam taman ini.

Jangan pegang-pegang plang….Awas rubuh….Huh

Kalau kamu kesana coba kau cari  bebek mandarin yang baru pertama kali juga aku melihatnya. Jangan lupa ikuti juga acara pemberian makan bagi para penghuni KL Bird Park.

19. National Mosque

Keluar Taman Tasik Perdana, HOHO mengantarkanku untuk menjalankan ibadah shalat Ashar di National Mosque.

Sok sopan…..

Masjid Negara yang mampu menampung 15.000 jama’ah ini, didirikan untuk mensyukuri kemerdekaan negara dari pemerintah kolonial tanpa pertumpahan darah.

Rasakan kesejukan ruangan utama dengan karpet lembut saat beribadah di masjid ini. Dijamin damai dan bikin ngantuk.

20. Kuala Lumpur City Gallery

Perlahan aku menjauh dari kawasan Taman Tasik Perdana untuk kembali ke pusat kota. Rupanya aku sudah mengitari kota 360 derajat, karena aku sudah mendarat kembali di Dataran Merdeka. Kali ini aku menyasar Kuala Lumpur City Gallery.

Kek orang kampung….

Pengen tahu rencana pengembangan kota Kuala Lumpur?

Pengen tahu juga berapa pendapatan Malaysia dari pariwisata?….Fantastis.

Pengen tahu juga, mereka mau bikin gedung apa lagi untuk mengalahkan Petronas Twin Tower yang sebetulnya juga sudah menjadi satu yang terhebat di seantero jagad?

Bayar aja deh Rp. 17.500 dan masuk ke dalamnya….Kagak rugi, kujamin.

21. Muzium Tekstil Negara

Yup, masih ada waktu sedikit lageeeee…..

Menyeberangi jalan di Dataran Merdeka, aku tertelisik dengan keberadaan Muzium Tekstil Negara. Tak perlu merogoh kocek untuk mengunjunginya.

Diliatin Satpam dari dalem…..

Muzium yang ditaruh di dalam bangunan berusia  lebih dari se-dekade ini menawarkan perjalanan sejarah dan budaya melaui sederetan kain khas Melayu yang dipajang didalamnya. Juga beberapa peninggalan beberapa benda kerajaan Kuala Terengganu yang artistik dan pasti menjadi barang mewah di zamannya

22. Petaling Street

Selamat tinggal Hop On Hop Off, terimakasih sudah mengantarkanku mengenal Kuala Lumpur.

Aku segera menuju ke hotel untuk mengambil backpack yang sudah kutitipkan sejak pagi karena memang masa inapku sudah selesai jam 12 siang.

Tapi ya kembali ke sifat dasar….Tak mau merugi melawan waktu yang terus bergulir, aku merangsek menuju Petaling Street yang dekat dengan hotel.

Sok mau belanja….Emang punya duit, Don?

Petaling Street adalah pusat pecinan di Kuala Lumpur. Cukup ramai ketika aku memasuki dan menelusuri setiap selasar yang menawarkan berbagai souvenir dan makanan.

Kamu harus cobain kenari atau chestnut bean yang di sangrai dalam pasir panas….Beuh itu enak, sumpah!

23. Pasar Seni (Central Market)

Semakin gelap….Tak perlu khawatir, penerbanganku masih esok hari. Yang membatasiku hanyalah jam operasional terakhir LRT, yaitu pukul 23:00.

Aku hanya perlu waktu beberapa menit untuk berpindah dari Petaling Street menuju Pasar Seni. Duduk menikmati kuliner di Petaling tak menyadarkanku bahwa gelap mulai mengakuisisi hari. Mungkin juga karena kelelahanku yang sudah bersekongkol  dengan gelap untuk membuatku khilaf.

Minjam gambar orang yak (gambar tahun 2019).

Bu, uang segini dapat apa saja ya?….Bungkusin aja sedapatnya, Bu. Souvenir aja ya, Bu….Jangan bungkus makanan. Saya mau pulang ke Jakarta”, perkataan yang menandakan aku lelah dan tak bisa berfikir lagi untuk memilih oleh-oleh.

24. Kuala Lumpur International Airport Terminal 2 (KLIA2)

Hanya beberapa menit sebelum jam 21:00, aku menutup tirai petualangaku di Kuala lumpur. Sudah saatnya menuju ke bandara yang akan menjadi tempat tidurku di malam terakhir. Kombinasi perjalanan menggunakan LRT Laluan Kelana Jaya dan Skybus membuatku tiba di KLIA2 jam sepuluh lebih sedikit.

Tuh yang punya gambar Central Market….Itu kan guwe dari masa depan….Wah!

Hi, man….bandara bukanlah destinasi wisata….Yakss, buatmu mungkin bukan….Buatku iya, karena aku sering menginvestasikan waktu untuk menjelajah bandara-bandara yang baru pertama kali kukunjungi.

Buatku KLIA2 adalah tempat eksotik bak hotel bintang tujuh yang berjasa mengantarkanku berkeliling dunia.

Udah yeee….Tiga hari guwe bikin tulisan ini. Tulisan terpanjang yang pernah kutulis. Ma’ap, kuketik. 2.333 kata, mamen. Njirrrr.

Coba lo itung sendiri dah….