Sejenak Mengintip Bandar Udara Sultan Mahmud, Kuala Terengganu

<—-Kisah Sebelumnya

Dalam pencarian di dunia maya sebelum keberangkatan ke Kuala Terengganu, aku tak pernah menemukan sematan kata International pada namanya. Aku hanya terus menduga bahwa bandara yang akan kutuju ini hanyalah bandara domestik yang hanya melayani penerbangan dalam negeri.

Ternyata aku hanyalah sedikit benar, tetapi tetap saja salah besar pada ujungnya. Karena bandara ini juga menyediakan penerbangan internasional, walaupun hanya untuk keperluan haji dan umrah, yaitu penerbangan langsung menuju King Abdulaziz International Airport di Jeddah.

Kini aku melayang di atas Distrik Kuala Nerus. Sungai Terengganu nampak lamat ketika Malaysia Airlines MH 1326 perlahan menurunkan segenap flap di kedua sayap besinya. Lembaran-lembaran besi itu perlahan mendorong pesawat ke bawah menuju landas pacu tunggal milik Sultan Mahmud Airport.

Meluncur di atas landas pacu, aku disuguhkan pemandangan bangunan mungil berwarna kekuningan berdiri anggun memamerkan corak khas. Ukiran-ukiran indah pada lisplang dan ornamen kayu di sepanjang dinding bandara seakan membawaku ke pintu gerbang era kesultanan tempoe doeloe. Sedangkan atap-atap bertingkat pada pojok-pojok bandara menambah kewibawaan dan kesan klasik.

Arrival Hall

Pesawat paripurna sudah menyelesaikan tugasnya dan berhenti lembut di atas apron beralaskan beton kokoh tak berpelapis. Juluran aerobridge menyambut dan memberikan jalan untukku dan penumpang lain untuk menikmati keindahan bagian dalam bandara.

Malaysia Airlines 1326 di apron.
Koridor menuju arrival hall.

Kuning….menjadi warna keagungan Melayu yang konsisten dipamerkan. Papan kayu setinggi pinggang yang melapisi dinding membuatku serasa tak jauh dari rumah. Sementara permainan pola ubin tiga warna membuat suasana sepanjang lorong kedatangan lebih hidup.

Melangkah menuju Dewan Ketibaan Domestik, nuansa pariwisata Malaysia tampak nyata dalam iklan-iklan dinding di seantero ruangan. Gambar-gambar yang sudah familiar dibenakku, diperlihatkan dengan indahnya, Bot Penambang legendaris yang telah berlayar selama 90 tahun, Batu Burok Beach dengan keindahan pasir putihnya serta Traditional Trishaw yang menawarkan kindahan tur kota semakin membuatku tak sabaran saja berada untuk merapat ke tengah kota.

Jargon-jargon pariwisata Malaysia pun menimbulkan euforia yang selalu menumbuhkan rinduku pada Malaysia. “Cuti-Cuti Malaysia” menjadi jargon wisata domestik, “Malaysia Truly Asia” yang menjadi marketing campaign Kementrian Pariwisata dan “Beautiful Terengganu” yang menjadi slogan pariwisata terakhir milik Negara Bagian Terengganu, tampak ramai memenuhi lorong-lorong kedatangan.

Aku tiba di Dewan Ketibaan Domestik usai menuruni escalator, di lantai bawah aku menemukan konter pariwisata tak berpenjaga yang membuatku leluasa mengambil brosur-brosur pariwisata Kuala Terengganu.

Seperti bandara pada umumnya, tentu Balai Ketibaan ini di dominasi oleh konter-konter persewaan mobil, konter tiket taksi, toko souvenir dan restoran. Di lantai ini juga disediakan Area ATM dan Ticketing Counter. Tampak konter tiket milik Malaysia Airlines, Air Asia dan Firefly berada di sana.

Sementara area tempat duduk umum memanfaatkan ruang kosong di sekeliling tiang-tiang bandara dengan keberadaan tempat duduk tanpa sandaran.

Arrival Hall.
Jalur kendaraan di depan arrival hall.
Sultan Mahmud Airport yang begitu indah.

Naitku untuk mengeksplorasi bandara yang namanya diambil dari nama Sultan Terengganu ke-16 ini membuatku tak terburu-buru untuk meninggalkannya. Kini aku telah melangkah keluar dari bangunan bandara untuk melihat keindahan muka bandara yang dibangun untuk menggantikan bangunan bandara lama tiga belas tahun silam.

Menyeberangi  jalur yang dipenuhi taksi bandara, aku mulai menelusuri koridor dengan atap khas Terengganu membelah lahan parkir yang luas. Akhirnya di ujung koridor aku bisa leluasa menikmati keindahan bandara ini.

Departure Hall

Untuk menyempurnakan kunjungan, aku melangkah menuju Departure Hall di lantai atas. Toh, esok lusa aku tak akan mengunjungi bandara ini lagi demi menuju kembali ke Kuala Lumpur. Aku lebih memilih menaiki Bus Antar Negara Bagian yang tentu menawarkan tiket lebih murah. Aku akan langsung membelinya setiba di pusat kota nanti.

Menggunakan escalator, aku tiba di lantai atas. Tentu aku hanya menemukan sederetan konter check-in dan screening-gate yang tak mungkin ditembus. Aku lebih memilih berjalan keluar dari Departure Hall dan menikmati suasana bandara dari Drop-off Zone lantai atas. Setiba di luar, aku menemukan meriam-meriam kuno yang ditata apik menjadi penghias muka Departure Hall.

Drop-off zone lantai atas inilah yang nantinya menjadi tempatku menunggu selama hampir 45 menit untuk sekedar bisa menikmati jasa bus bandara menuju pusat kota.

Lapangan parkir dilihat dari Departure Hall.
Jalur kendaraan di depan Departure Hall.

Petualangan di Bandar Udara Sultan Mahmud pun rampung.