Scoot Air TR457 dari Kuala Lumpur ke Singapura (KUL-SIN)

SCOOT AIR….maskapai Low Cost Carrier (LCC) milik Negeri Singa yang kepemilikan sahamnya dikuasai oleh Singapore Airlines.

Lintasan terbang Scoot Air TR457. Sumber dari https://flightaware.com

Scoot sendiri masuk list ke-22 dari seluruh maskapai yang pernah kunaiki. Melalui nomor penerbangan TR457 dengan rute regular Kuala Lumpur (KUL) ke Singapura (SIN), Aku pertama kali menggunakan jasa Scoot Air  tertanggal 31 Maret 2018. Kali ini Aku menaiki pesawat berjenis Airbus A320 dengan kapasitas 168 penumpang.

Walaupun sebenarnya Aku pernah menggunakan Maskapai  Tiger Mandala pada 26 November 2013 saat menuju ke Bangkok dan Tiger Air pada 11 Januari 2015 saat kembali dari Vietnam. Kini kedua maskapai tersebut sudah merger ke dalam Maskapai Scoot Air.

Tuh kan sudah merger, masih ada identitas Tiger Air di badan pesawat Scoot Air TR457

Ketidakjelasan terminal asal keberangkatan (apakah dari KLIA terminal 1 atau KLIA terminal 2) membuatku sedikit gelisah karena biasanya Departure List baru keluar 2 jam sebelum penerbangan. Dan tentu perlu waktu untuk berpindah dari KLIA2 ke KLIA.

Untuk penerbangan internasional, Aku selalu memulai perjalanan menuju bandara 4 jam sebelum waktu penerbangan. Jadi Aku meninggalkan Westree Hotel pada pukul 05:30 dan bergegas menuju ke Skybus/Aerobus Shelter yang terletak di KL Sentral. Karena jaraknya cuma 40 m, Aku hanya perlu berjalan kaki selama 3 menit menuju shelter.

Security hotel keturunan India tajam memerhatikanku di pintu lobby bagian dalam….Lha iya, Aku berdiri lama ditengah pintu….clingak-clinguk kiri kanan kaya ayam mau nyebrang….Saking sepinya, Aku harus memastikan tak ada yang mencurigakan di sepanjang jalan yang akan kulewati menuju KL Sentral.

Yesss….Sepi, ndak ada orang….Kabuuurrrrrr. Bak atlit jalan cepat, Aku mulai menjauhi hostel. Aku tiba saat bus siap berangkat.

Dengan 12 Ringgit aku tiba di KLIA2 pada pukul 6:30. Setiba di KLIA2, Aku segera menuju information centre untuk menanyakan dimana terminal TR457 akan lepas landas. Pagi-pagi Aku sudah ngrepotin Si mbak India petugas information centre, karena Departure Board belum menampilkan informasi tentang TR457 maka Dia harus menarik keyboard dan mencarikan info untukku….Hadeuhhh, sudah manis….baik pulak si teteh….eh, si mbak.

Buseeettt….mataku melotot sambil mengunyah nasi lemak telur ceplok di pojokan NZ Curry House….kek kambing yang sedang memamah biak. Pertanda Aku tak bisa membohongi otak bahwa perutku belum siap bersarapan.

Ya memang tak ada pilihan lain, lebih baik sarapan di kedai makan India dengan harga paling murah sebelum menuju ke lantai 3 untuk proses check-in, proses imigrasi dan keberangkatan.

Departure Board di Departure Hall
Information Centre di Departure Hall
Departure Hall Area
Konter check-in Z2-Z3 untuk Scoot Air TR457
Setelah melewati konter imigrasi, Aku menuju ke ruang tunggu di gate L3.

Aku memasuki ruang tunggu pada pukul 08:05. Dalam kejenuhan menunggu, datang kepadaku wajah Vietnamese dan bertanya:

Vietnamese: “Hi, Can you explain to me about my cigarette (sambil menunjukkan sebungkus rokok yang sudah terhisap dua puntung). Can me bring it when entering Singapore?”

Aku : “Do you bring another one  or just this opened pack?. If you just bring it, you can savely entering Singapore.”

Vietnamese: “No, I just bring it. So it’s savely. Thanks you.”

Aku: “You are welcome”.

Ruang Tunggu di depan Gate L3
Setelah menunggu selama 20 menit, akhirnya boarding process dimulai.
Mana 14D….manaaaaa?

Scoot Air identik dengan warna kuning. Pesona pramugari-pramugara muda keturunan Tiongkok semakin segar ketika penampilan mereka terlihat berbalut t-shirt dan syall serba kuning.

Terbang diatas selat Malaka
Langit sungguh cerah, nikmat banget terbang tanpa turbulensi.

Setelah mengudara selama 1 jam 15 menit, Aku mendarat di Terminal 2 Changi International Airport. Berusaha secepat mungkin meninggalkan Changi untuk menuju ke Greendili Backpackers Hostel di bilangan Race Course Road dan selanjutnya siap mengeksplorasi Singapore untuk ke-7 kalinya.

Cari peta MRT sebelum masuk konter imigrasi Changi International Airport.
Catch the MRT ! Menuju pusat kota

Makan siang dulu yuk ke Mustafa Centre sebelum walking-walking.

Sebagai alternatif, tiket pesawat, kereta dan bus dari Kuala Lumpur ke Singapura bisa dipesan melaui e-commerce perjalanan 12go Asia

Berhemat 5,6 Ringgit dengan GOKL City Bus, Malaysia

Sebagai seorang backpacker, Gw selalu berusaha untuk meminimalkan budget di setiap perjalanan. Untuk urusan transportasi misalnya, Gw akan lebih banyak jalan kaki atau menggunkan moda transportasi termurah atau kalau memungkinkan menggunakan transportasi umum gratis.

Seperti di Kaohsiung, Taiwan, Gw pernah menggunakan trem gratisan atau…..di Kuala Lumpur terdapat bus gratis yang bisa Gw manfaatkan untuk berkeliling kota. Namanya GOKL City Bus.

Nah yang mau Gw ceritakan disini adalah GOKL City Bus, gaes….

GOKL City Bus memiliki rute sebagai berikut:

gokl_may2014002_e1

Terdiri dari 4 Line yaitu GO Relax (Merah), GO Work (Biru), GO Sightsee (Ungu), dan GO Shopping (Hijau)

Sumber: http://www.spad.gov.my/transport-operators/buses/route-map-gokl-city-bus

GOKL City Bus sendiri di luncurkan oleh SPAD (Suruhanjaya Pengangkutan Awam Darat) pada tanggal 31 Agustus 2012 sebagai bagian dari Malaysia’s Government Transportation Programme untuk mengurangi kemacetan di Central Business District (CBD) Kuala Lumpur dengan menyasar para pengguna mobil pribadi, pengguna angkutan umum dan turis.

Jam operasional GOKL City Bus adalah jam 6am-11pm untuk working day dan jam 7am-11pm untuk weekend dan hari libur. Untuk working day, bus ini akan beroperasi pada saat peak hours (7am-10am dan 4pm-8pm) setiap 5 menit. Nah untuk hari lain akan beroperasi setiap 10 menit.

Perjalanan menggunakan GOKL City Bus pernah Gw coba pada tahun 2014 ketika pertama kalinya mengunjungi Kuala Lumpur. Sedangkan perjalanan yang sama Gw ulangi di Maret 2018.

Petronas Twin Tower – Pavillion Bukit Bintang

Setelah puas mengambil beberapa foto di gedung kembar, Gw segera beranjak menuju shelter GOKL City Bus tepat didepan agak ke kanan dari Petronas Twin Tower. Ya…..bus ini akan mengantarkan Gw ke Bukit Bintang – pusat perbelanjaan terkenal di Kuala Lumpur-.

GOKL 3

Kiri: GOKL City Bus (GO Shooping/Green Line) sedang menunggu penumpang di Shelter 

Kanan Atas: Interior GOKL City Bus

Kanan Bawah: Shelter Petrosains, GOKL akan menunggu penumpang di sebelah shelter ini.

Bus menunggu sekitar 10 menit hingga penumpang penuh sebelum berangkat. Perlu waktu 15 menit hingga bus mencapai Pavillion, Bukit Bintang. Gw mencoba mengingat-ingat landmark di Pavillion supaya tidak kelewat ketika menaiki bus. Gw masing inget parkir gate Pavillion sehingga Gw segera turun dari bus.

Pavillion Bukit Bintang – Pasar Seni

Gw hanya 20 menit berada di Pavillion dan segera bermaksud menuju Petaling Street di Pasar Seni. Sebetulnya Gw akan menggunakan Monorail dikombinasi LRT menuju Pasar Seni. Tetapi ketika duduk istirahat di depan Pavillion dari kejauhan terlihat bus GOKL dengan papan tujuan Pasar Seni. Langsung aja Gw lari mendekat ke bus itu yang terlihat sedang menaikkan penumpang. Tepat sekali, Gw berhasil naik dan seketika bus berjalan menuju Pasar Seni.

Sekitar 12 menit , GOKL City Bus sampai di terminal Pasar Seni. Terminal pasar seni terlihat sangat berbeda ketika Gw datang pada tahun 2014, karena terlihat sudah ada stasiun MRT Pasar Seni disana. Setahu Gw pada tahun 2014, MRT ini masih dalam tahap pembangunan.GOKL Pasar Seni

GOKL City Bus di Pasar Seni

Dengan menggunkan GOKL City Bus untuk berpindah ke 2 tempat wisata ini Gw bisa berhemat 5,6 Ringgit. Uang segitu memang ga seberapa tapi buat Gw bisa buat sekali makan malam……hahaha

 

Rute Baru Menuju Batu Caves, Malaysia

Artikel ini telah diupdate kembali pada 18 Agustus 2019….Silahkan membaca kembali….Salam backpacker.

Pada tahun 2014, Aku pernah mengunjungi Batu Caves. Saat itu Aku bertolak dari KL Sentral menuju Batu Caves menggunakan kereta komuter Laluan Seremban dengan tarif masih 2 Ringgit.

30 Maret 2018, Aku kembali mengunjungi Kuala Lumpur dan maksud hati hendak berkunjung ke Batu Caves kembali. Tetapi ketika ingin membeli tiket di konter tiket komuter KL Sentral ternyata kereta komuter ke Batu Caves saat itu tidak dapat melayani penumpang dari KL Sentral. Aku tahu info ini karena Aku merhatiin bule yang bicara sama petugas konter. Akhirnya kuputuskan keluar dari antrian sebelum benar-benar sampai di depan petugas konter tiket.

Aku akhirnya menuju konter informasi KL Sentral untuk menanyakan cara menuju ke Batu Caves. Menurut petugas informasi, untuk menuju Batu Caves, Aku harus menggunakan Free Bus KTM 1 dari KL Sentral ke Stasiun Sentul. Nah dari Stasiun Sentul baru dilanjutkan menggunakan kereta komuter menuju Batu Caves. Aku bertanya dimanakah letak free bus itu berada, ternyata bus itu berada sejajar dengan Shelter Airport Coach/Aerobus/Sky Bus di KL Sentral.

Papan Petunjuk yang terletak di depan shelter Skybus KL Sentral yang mengarahkan turis menuju bus KTM 1 menuju Stasiun Sentul
Petunjuk di lantai menuju Bus KTM 1
Bus KTM 1 sedang parkir di Stasiun Sentul.

Free bus KTM ini akan jalan jika penumpang sudah penuh, Aku sih ga perlu nunggu untuk dapat tempat duduk. Begitu masih muat maka Aku segera naik. Perjalanan dari KL Sentral menuju Stasiun Sentul menempuh waktu kurang lebih 25 menit di jalanan yang tergolong lancar.

Begitu tiba di Stasiun Sentul, Aku segera menuju ke dalam stasiun untuk membeli tiket kereta komuter. Aku langsung beli tiket pulang-pergi karena lebih murah 1 Ringgit daripada belinya one-way. Begitu menyerahkan uang 5 Ringgit maka Aku mendapatkan pass card untuk masuk ke jalur kereta. Kartu ini lah yang akan membawaku kembali ke Stasiun Sentul lagi ketika pulang.

Bagian dalam Stasiun Sentul
Konter tiket Stasiun Sentul
Pass card (Stasiun Sentul-Batu Caves pp)
Kereta Komuter yang mengangkut penumpang dari Stasiun Sentul ke Batu Caves

Begitu masuk ke jalur kereta ternyata kereta komuter sudah menunggu. Kereta buatan Tiongkok ini berhenti cukup lama untuk menunggu penumpang dan membiarkan semua kursi terisi penuh.

Terlihat  jelas pada route board diatas pintu kereta masih ada KL Sentral point, ini menunjukkan bahwa pada awalnya kereta ini melewati KL Sentral untuk menuju ke batu Caves, tetapi jalur itu sudah dirubah dan diperpendek menjadi Stasiun Sentul-Batu Caves.

Yang kuperhatikan arus penumpang naik dan turun sepanjang perjalanan menuju Batu Caves sangatlah sepi, hal ini terlihat pula dari beberapa bangunan stasiun yang dilewati seperti kurang terawat kebersihannya sehingga bangunan nampak kusam dan beberapa escalator tidak berfungsi. Jalur ini boleh dibilang sepi.

Setelah berjalan selama 20 menit akhirnya Aku tiba di Batu Caves.

Berikut beberapa view menarik di Batu Caves yang kudapatkan:

Koridor yang dimanfaatkan berjualan souvenir setelah keluar dari Stasiun Batu Caves
Patung Murugan yang menjadi icon dari wisata Batu Caves
Melepas sepatu sebelum masuk ke Venkatachalapathi temple
Warung makan di sekitar Batu Caves.

Dan sebelum berpindah destinasi ke Petronas Twin Tower, Kuputuskan untuk lunch di warung makan sekitar Batu Caves. Warung makan yang tersedia kebanyakan dikelola oleh warga Malaysia keturunan India karena memang Batu Caves adalah tempat peribadatan mereka kebanyakan.

Penerbangan Malaysia Airlines MH 0726 dari Jakarta ke Kuala Lumpur, Malaysia

30 Maret 2018- Ini adalah penerbangan pagi Malaysia Airlines dari Soekarno Hatta International Airport (SHIA), Jakarta ke Kuala Lumpur International Airport (KLIA), Malaysia menggunakan pesawat jenis Boeing 737-800 berkapasitas 166 penumpang. Penerbangan 2 jam ini berlangsung dari jam 04:25 waktu Jakarta hingga jam 07:25 waktu Kuala Lumpur.

Pemesanan tiket Gw lakukan pada 7 Oktober 2017 atau 5,5 bulan sebelum keberangkatan dengan harga Rp. 605.000 tanpa pesan kursi. Add-on pemilihan kursi sendiri akan kena seat fee sebesar 11 Ringgit atau Rp. 40.052 (ya….Gw pilih kursi pada 3 minggu sebelum keberangkatan).

tiket dan seat fee

Kiri: e-ticket didapat saat issued  : Kanan: seat fee

Jam 00:30 Gw menuju Soekarno Hatta International Airport menggunakan jasa Grab Car dengan biaya Rp. 136.000 dan turun di Terminal 2D. Saat tiba di airport, Gw ga bisa langsung masuk ke konter check-in karena harus nunggu screening gate dibuka. Screening gate sendiri baru dibuka jam 02:00. Ada beberapa WNA yang keliatan bete karena proses menunggu ini. Gw juga ga tahu kenapa ga open 24 jam.

Screening backpack berjalan mulus dan masuklah Gw ke konter check-in. Ternyata masih harus ngantri dan nunggu 10 menit hingga konter dibuka. Sebetulnya Gw sudah punya boarding pass lewat proses web check-in yang Gw lakukan secara mandiri, namun ketika Gw nanya ke petugas konter apakah bisa langsung menuju konter imigrasi, dia bilang lebih baik boarding pass Gw diprint ulang menggunakan kertas dari konter check-in. Ya akhirnya Gw harus antri.

boarding pass

Kiri: boarding pass hasil web check-in

Kanan atas: boarding pass dari konter check-in Malaysia Airlines

Kanan bawah: cabin baggage tag

Selesai check-in Gw kembali tertahan 30 menit untuk masuk ke konter imigrasi, petugas imigrasi Gw lihat belum standby di posnya masing-masing.

Sekitar jam 03:00 akhirnya Gw masuk juga ke konter imigrasi. Alhamdulillah lancar tanpa kendala berarti.

 

part in SHIA

Kiri atas: Departure gate 2 Terminal 2D SHIA

Kanan atas: Konter check-in 

Kiri bawah: konter imigrasi

Kanan bawah: boarding gate D4 Terminal 2D SHIA

Menuju ke gate D4, Gw langsung bisa masuk tepat 15 menit sebelum boarding time.

Jam 03:55 akhirnya Gw boarding,

Boarding

Sejak 2013 Malaysia Airlines bergabung dalam Oneworld yaitu aliansi maskapai penerbangan yang bertujuan menjadikan anggota aliansi menjadi pilihan pertama para wisatawan dunia

Interior Plane

Kiri atas : Business Class seats

Kanan atas : Economy class seats

Kiri bawah : In-flight entertainment

Kanan bawah : Left plane winglets 

Untuk urusan menu, selama penerbangan Gw mendapatkan segelas apple juice dan Low Fat Meal sesuai request Gw saat issued ticket.

MH Meal

Air mineral, kerupuk, kacang masin dan low fat meal (kentang, wortel, telur bulat, brokoli semua direbus)

Pramugara sempat nanya Gw “Anda mau makan sekarang atau nanti?” Karena Gw jawab nanti, maka dia keluarkan plastik jinjing berlogo Malaysia Airlines untuk membawa makanan ketika sampai di KLIA.

Setelah 2 jam perjalanan Gw landing dengan mulus di KLIA.

Gw sempat mengabadikan markas Malaysia Airlines ini

MH Base

Base Malaysia Airlines di KLIA

Untuk mendapatkan tiket penerbangan dari Jakarta ke Kuala Lumpur, Kamu bisa mencarinya di 12go Asia dengan link sebagai berikut:  https://12go.asia/?z=3283832

Bus dari KL Sentral ke KLIA (Kuala Lumpur International Airport) Terminal 1, Malaysia

Artikel ini sudah diupdate pada 17 Agustus 2019. Selamat membaca !….MERDEKA….Hahaha

Untuk penerbangan Internasional, Saya selalu berusaha datang ke airport 4 jam sebelum penerbangan. Karena penerbangan KLM Kuala Lumpur – Jakarta adalah 16:30 maka Saya akan berusaha sampai KLIA (Kuala Lumpur Internatinal Airport Terminal 1) jam 12:30.

Waktu menunjukkan jam 11:15 di stasiun LRT Bandaraya. Sebetulnya membatalkan perjalanan ke Batu Caves karena perubahan jalur transportasi terasa berat di hati walaupun Saya bisa mewujudkannya dua minggu berikutnya dalam perjalanan berbeda.

Lihat perubahan jalur tersebut di artikel ini:

https://travelingpersecond.com/2018/05/17/rute-baru-menuju-batu-caves-malaysia/

Untuk mencapai KLIA , Saya akan menggunakan moda transportasi termurah yaitu Airport Coach. Nah, untuk menaikinya, Saya harus menuju ke KL Sentral terlebih dahulu karena Airport Coach Shelter ada disana.

Dari stasiun LRT Bandaraya, Saya menuju stasiun LRT Masjid Jamek (kedua stasiun itu berada di Laluan Sri Petaling). Dari stasiun LRT Masjid Jamek, Saya melanjutkan menggunakan LRT Laluan Kelana Jaya dan turun di KL Sentral. Cukup bayar ongkos 1,8 Ringgit untuk semua perjalanan ini. Beli token di stasiun LRT Bandaraya dan dikembalikan di KL Sentral.

Stasiun LRT Masjid Jamek

Sebelum naik ke Bus……Begitu sampai di KL Sentral, Saya putuskan untuk shalat jamak dahulu dan berlanjut dengan lunch.

Kedai Panettone….Pemiliknya keturunan India.
Mienya yahuut….layak dicoba.
Penampakan menu Penang White Curry Bowl.
Penampakan asli Penang White Curry Bowl.

Saking menikmatinya menu siang itu, tak terasa waktu sudah masuk jam 13:00. Padahal target Saya masuk KLIA adalah jam 13:30, sudah dipastikan Saya bakal molor dari target sekitar 30-45 menit tergantung waktu tunggu Airport Coach di KL Sentral.

Commuter line (KTM) di KL Sentral….Pemandangan dari kedai Panettone.

Sebelum turun ke lantai bawah, Saya sempatkan beli softdrink seharga 1 Ringgit di vending machine dekat escalator menuju konter tiket Aiport Coach….supaya tak terlalu jenuh selama perjalanan menuju KLIA. Maklum Airport Coach ini tak berfasilitas TV atau musik. Membeli minuman kaleng di vending machine sangatlah murah dibandingkan membelinya di minimarket sekitar KL Sentral.

Ntuh….si “biru” Airport Coach.
Harga dewasa 12 Ringgit….Harga anak-anak 7 Ringgit.

Perjalanan menempuh jarak 60 km dalam waktu 1 jam.

Selama perjalanan melalui jalan tol, Saya perhatikan perumahan masyarakat sangat tertata dengan rapi dan terpola. Hal ini yang membuat Kuala Lumpur terkesan baik dalam hal tata ruang.

Jalan tol menuju KLIA selama Saya berkunjung empat kali kesana tidak pernah macet. OK lah penataan transportasi mereka. Buat Saya sih ga perlu malu mengakui keunggulan mereka dalam hal tata ruang dan transportasi karena tujuan Saya traveling adalah belajar dari negeri orang, membuka wawasan dan menghargai perbedaan.

Akhirnya tidak telat sampai di KLIA

thanks ya sudah membaca artikel pendek ini.

Cari tiket KL Sentral-KLIA?, Kamu juga bisa mencoba cara mudah mendapatkan tiketnya via online di 12go Asia di link berikut: https://12go.asia/?z=3283832

Bus dari Melaka ke Kuala Lumpur, Malaysia

Artikel ini diupdate kembali pada 18 Agustus 2019.

Karena artikel ini sudah dibaca sebanyak 12.206 kali, maka kuputuskan untuk diupdate kembali supaya lebih bermanfaat bagi kalian yang memerlukannya. Selamat mambaca ya, teman-teman backpacker….

Setelah 5 jam berkeliling di Melaka, Aku bermaksud menginap di Kuala Lumpur saja karena keberangkatan pesawatku esok hari ke Jakarta melalui KLIA (Kuala Lumpur International Airport Terminal 1). Selain untuk mendapatkan waktu yang lebih leluasa dalam menjelajah tempat lain di negeri jiran itu, Aku juga akan merasa tenang karena lebih dekat dengan KLIA.

Aku pun sudah memesan Hotel Pudu 88 via online di dekat terminal bus Puduraya.

Langkah pertama, tentunya Aku harus kembali ke Melaka Sentral untuk mendapatkan bus menuju Kuala Lumpur. Untuk kembali ke Melaka Sentral, Aku memakai cara termudah….yaitu kembali ke titik awal dimana tadi pagi Aku di drop bus panorama di Bangunan Merah, Melaka. Cukup lama menunggu bus datang….30 menit kemudian bus baru benar-benar datang.

Tentunya bus ini akan membawaku keliling Melaka terlebih dahulu, sebelum kembali ke Melaka Sentral. Inilah yang bisa dimanfaatkan layaknya bus tour untuk melihat hiruk pikuk Melaka.

Bus panorama model baru….saat berangkat, Aku naik yang model lama.

Dengan membayar 2 Ringgit saja, Aku dibawa cukup lama berkeliling Melaka. Dan 45 menit kemudian baru sampai di Melaka Sentral.

Begitu sampai di Melaka Sentral, Aku langsung menuju ke bagian Terminal Bus Antar Kota (dalam bahasa Malaysia: Terminal Bas Antara Negeri).

Aku hanya mengikuti tanda ini untuk menemukan bus ke Kuala Lumpur.

Tidak perlu lama mencari, akhirnya Aku menemukan beberapa konter bus ini:

Ga usah khawatir….banyak pilihan bus dan harga….tinggal pilih….keberangkatan rata-rata tiap 30 menit. Mau lebih mudah dan tepat waktu?….beli online saja!.

Aku sempat keluar ruangan menuju platform bus untuk melihat beberapa bus yang bagus untuk dipilih. Ternyata semua bus mirip dan kufikir sama saja. Jadi kuputuskan untuk ambil bus yang berangkat tercepat saja.

Akhirnya terbelilah tiket bus Mayangsari yang akan berangkat jam 15:15. Saat beli tiket, sangat diburu-buru oleh si bus timer karena bus akan berangkat 2 menit lagi. Kasian bapak tua yang antri di belakangku karena tak mendapat bangku dan musti menunggu setengah jam lagi.

Aku berlari menuju bus dan akhirnya mendapatkan bangku paling belakang, tidak sesuai dengan nomor kursi di tiket. Sempat nanyain mbak cantik yang duduk di bangkuku, eh….Seorang Bapak di belakangnya menganjurkanku untuk duduk dimana saja….bebas. Oh ternyata begitu aturannya. Karena tinggal bangku yang dibelakang, ya itulah yang menjadi tempat tidurku….eh bangkuku….hahaha.

Bagian dalam bus Mayangsari rute Melaka Sentral-Kuala Lumpur.
Penampakan bus Mayangsari ketika tiba di Terminal Bersepadu Selatan (TBS), Kuala Lumpur.
Murah kan….cuma 10 ringgit bisa berpindah dari Melaka ke Kuala Lumpur.

Aku ga tahu bus ini melewati tol apa dan dimana….yang pasti 2 jam kemudian Aku tiba di Terminal Bersepadu Selatan (TBS).

Kesan pertama melihat TBS ini sangatlah kagum, baru kai ini lihat terminal bus yang besar dan bersih serta papan LED informasinya sangat besar untuk ukuran terminal bus.

Berikut beberapa sisi Terminal Bersepadu Selatan (TBS):

Arrival Hall.
Konter tiket.
Papan informasi kedatangan dan keberangkatan.
Papan petunjuk menuju jaringan LRT dan kereta KLIA Express.

Karena ini adalah terminal bus yang terintegrasi dengan jalur kereta ke tengah kota Kuala Lumpur, maka mataku dengan cermat menyapu papan informasi untuk mendapatkan arah menuju stasiun Bandar Tasik Selatan yang terintegrasi dengan Terminal Bersepadu Selatan.

Terminal Bersepadu Selatan dan Stasiun Bandar Tasik Selatan dihubungkan dengan sebuah lorong jembatan diatas jalan raya.

Terminal Bersepadu Selatan (TBS).
Stasiun Bandar Tasik Selatan.
Jembatan penghubung stasiun Bandar Tasik Selatan dan Terminal Bersepadu Selatan.
Tanda di lorong jembatan penghubung menuju Stasiun Bandar Tasik Selatan.

Setelah berada di Stasiun Bandar Tasik Selatan, Aku membeli token di mesin tiket otomatis seharga 3 ringgit untuk menuju ke stasiun Plaza Rakyat karena Hotel Pudu 88 tempatku menginap ada di dekat stasiun ini. LRT yang kunaiki adalah jalur LRT Sri Petaling.

Turun di stasiun Plaza Rakyat, Aku harus memutar mengelilingi UTC (Urban Transformation Centre) Pudu Sentral melalui sebuah lorong panjang.

Stasiun LRT Plaza Rakyat.
Lorong panjang keluar stasiun Plaza Rakyat menuju Jalan Pudu.
UTC Pudu Sentral adalah bangunan tempat berkantornya beberapa institusi pemerintahan seperti Royal Malaysian Police (PDRM), Jabatan Imigresen Malaysia dll.

Setelah berada di ujung blok, Aku memutar untuk menyusuri Jalan Pudu. Tak lama berjalan di sebelah kanan terlihatlah Terminal Bus Puduraya.

Terminal Puduraya disisi kanan jalan.

Setelah melewati terminal bus Puduraya sejauh 250 meter, akhirnya Aku menemukan Hotel Pudu 88.

Tempatku menginap.

Perjalanan sore hari itu ke Kuala Lumpur berhenti disini. Hotel yang murah dan nyaman untuk menginap.

Ingin mendapat tiket di Melaka dan Kuala Lumpur tanpa antri?. Boleh coba gunakan jasa 12go Asia

Berikut link nya:  https://12go.asia/?z=3283832

Selamat ber-backpacker ria, teman.

5 Jam Mengunjungi Melaka, Malaysia

Kesempatan 5 jam adalah waktu yang sangat berharga sekali buat Gw untuk menikmati keindahan Melaka, Malaysia.

Karena tidak mau kehilangan momen yang sebentar ini, maka Gw persiapkan itinerary baik-baik dari Jakarta .

Setelah berjibaku mendapatkan bus dari KLIA2 ke Melaka dan setelah berhasil menyapu pemandangan di sekitaran Dutch Square, maka Gw akan melanjutkan petualangan berjalan kaki mengunjungi tempat lain di pusat kota Melaka ini.

Bertolak dari titik Melaka 0 Mile, Gw sempatkan melihat Jajaran Tembok Portugis di pertigaan jalan setelah Melaka 0 Mile. Reruntuhan ini dipagari dengan baik untuk menjaga keterawatan situs. Pemerintah Malaysia memang serius menggarap pariwisata mereka yang mampu menyumbang pendapatan negara sekitar 18 miliar dollar per tahun.

Jajaran Tembok Portugis Melaka

 

Tembok kota Melaka ini adalah tembok pertahanan kota Melaka di Abad 16

Oh ya….Tujuan utama kunjungan kali ini adalah Gereja St. Paul, Benteng A Famosa, Melaka River Cruise dan Jonker Street.

Okay, Gw akan bahas satu persatu.

Menuju Gereja St. Paul

Untuk menemukan gereja ini Gw menemukan petunjuk arah yang memudahkan Gw kemana harus mengambil arah. Penunjuk arah ini ada di pertigaan sebelah selatan Melaka 0 Miles.

tanda ke bukit st paul

Berada di Melaka perlu kejelian mata untuk menemukan banyak tanda seperti ini. Ini yang memudahkan turis menjelajahi Melaka

Berjalan sejauh 100 meter, Gw menemukan Muzium Senibina Malaysia (Malaysia Architecture Museum). Muzium Senibina Malaysia

Didirikan kolonial Belanda di abad 18, bangunan ini sempat digunakan sebagai kantor Badan Air Melaka

Terus melewati museum ini sejauh 50 m, Gw akhirnya menemukan petunjuk menuju Gereja St. Paul yang mengarahkan Gw untuk belok ke kiri melalui pintu terbuka kecil tepat dipinggir Jalan Kota.

Tangga ke Bukit St Paul

Barisan anak tangga ini hanyalah salah satu dari beberapa akses masuk menuju gereja

Sejumlah anak tangga yang cukup tinggi menanti didepan mata. Ga ada cara lain selain menaiki tangga itu satu persatu…..telan aja, hahaha….Banyak turis yang kedodoran dan beristirahat di tepi tangga.

Begitu sampai di bagian jeda anak tangga bagian atas, mata Gw terkesima dengan pemandangan lautan luas dengan deretan perumahan dan pertokoan berwarna putih yang cukup rapi.

Pemandangan Laut Lepas

Jika ingin melihat keindahan Melaka dari atas…hanya perlu menaiki wahana Menara Taming Sari Melaka itu….

Akhirnya Gw sampai di bagian atas Bukit St. Paul dan mulai memasuki pekarangan luar Gereja St. Paul. Sengaja Gw ga langsung memasuki bagian dalam gereja untuk menikmati keindahan bangunan gereja ini dari luar.

Gereja St Paul Outside

Kiri : Gereja St Paul tampak depan    ;  Kanan : Gereja St Paul tampak belakang

Setelah cukup puas menikmati bagian luar bangunan, Gw mulai masuk ke bagian dalam. Berikut bagian dalam dari Gereja St. Paul.

interior st paul

Atas : Tembok bagian dalam gereja

Bawah : Gravestone yang diletakkan bersandar di dinding gereja

Setelah 20 menit menjelajah bagian dalam gereja, Gw putuskan untuk segera turun karena Gw sadar waktu Gw tidaklah banyak. Gw kembali menuruni anak tangga untuk kembali ke Jalan Kota.

Menuju Benteng A Famosa

Meneruskan perjalanan sepanjang Jalan Kota yang sempat terpotong karena mampir di Gereja St. Paul. Sekitar 15 m berjalan Gw melewati Muzium Islam Melaka

Muzium Islam MelakaBangunan ini awalnya adalah kantor Dewan Islam Melaka 

Berjalan sejauh 75 m kembali Gw menemukan beberapa museum berikut

Muzium UMNO

Muzium UMNO (United Malays National Organisation), partai politik terbesar di Malaysia yang mendominasi kekuasaan sejak kemerdekaan Malaysia

muzium setem malaysiaMuseum perangkonya Malaysia

Muzium Dunia IslamMuseum ini menjelaskan tentang penyebaran Islam di dunia, tokoh-tokoh muslim penting dan beberapa bangunan penting Islam.

Tidak perlu waktu lama untuk mecapai Benteng A Famosa karena jaraknya memang hanya sekitar 300 m dari akses masuk Gereja St Paul.

Berikut keindahan Benteng A Famosa:

A Famosa 1

Benteng A Famosa tampak dari kiri depan

A Famosa 2Benteng A Famosa tampak dari depan

Memasuki bagian dalam benteng, turis di sambut dengan pengamen dengan live musicnya menyanyikan lagu-lagu western. Pertunjukan yang cukup menghibur ditengah teriknya matahari Melaka.

Gw sempat berbincang dengan pak Yusuf, dia adalah turis lokal dari Sabah yang sedang ada tugas kantor ke Melaka dan menyempatkan diri untuk berpiknik.

Bangunan benteng yang terkelupas alami di bagian dinding ini menunjukkan betapa kokohnya benteng yang sudah berusia 507 tahun ini.

Beberapa bagian informatif membuat Gw terkesima sejenak

A. Famosa 3 Ternyata benteng ini dibangun oleh Alfonso D’Alboquerque yang pada awalnya datang ke Melaka hanya untuk membebaskan tawanan.

D’Alboquerque ini sendiri sangat terkenal di Maluku, Indonesia karena pernah mengirimkan utusan untuk mencari rempah-rempah ke Maluku.

Waktu sudah menunjukkan pukul 12:10, sudah saatnya Gw meninggalkan Benteng A Famosa untuk menuju Melaka River Cruise.

Menuju Melaka River Cruise dan Jonker Street

Beranjak dari Benteng A Famosa, Gw baru sadar bahwa benteng ini berseberangan dengan mall

dataran pahlawan

Dataran Pahlawan Mall merupakan tempat popular untuk shopping di Bandar Hilir, Melaka

Berjalan menyusuri Jalan Kota yang dibangun dari susunan pavling block di tengah hari bolong mengharuskan Gw banyak minum air mineral untuk menjaga tubuh dari dehidrasi.

Berjalan sejauh 200 m, Gw menemukan Taman Kenderaan Sejarah Melaka.

taman kereta

Sepertinya ini adalah taman berbayar untuk bermain anak-anak Melaka.

Setelah berjalan selama 10 menit, Gw sampai di tepian Melaka River. Sebelum menikmati keindahan sungai Melaka, Gw menyempatkan diri mengunjungi Bastion Middleburg.

benteng dekat riverDibangun oleh kolonial Inggris, bangunan ini berfungsi sebagai pusat pengawasan perdagangan di Melaka kala itu

Dan tepat disebelah bangunan ini adalah Melaka River.

melaka riverSungai ini adalah jalur penting perdagangan pada abad ke-15

Setelah melihat lalu lalang Melaka River Cruise, perut mulai keroncongan dan saatnya cari makan siang sekaligus mengakhiri petualangan di Melaka.

Sengaja Gw akan mencari menu makan di Jonker Street. Setelah menyeberangi jembatan yang menghubungkan antar sisi Melaka river, Gw melewati titik ini

jonker street

Pada masa Belanda, Jonker Street adalah tempat tinggal para pegawai Belanda. Namun setelah Belanda tidak berkuasa, Jonker Street menjadi tempat tinggal para pedagang dan pebisnis kaya peranakan

Gw mulai fokus untuk mencari makanan halal ini. Susah menemukan makanan seperti ini di Jonker Street tapi bukan berarti tidak ada.

Setelah 2 blok baru Gw menemukan warung makan milik muslim melayu dan terpampang tulisan halal. Akhirnya Gw masuk ke dalam untuk makan dan menutup trip ini

lunch melaka

Makan siang seharga 10 Ringgit

Nah berakhir sudah 5 jam perjalanan Gw di Melaka….Sudah saatnya kembali ke Ibu Kota Kuala Lumpur untuk melanjutkan explorasi Malaysia.