Malaysia Airlines MH 1326 dari Kuala Lumpur (KUL) ke Kuala Terengganu (TGG)

<—-Kisah Sebelumnya

Jalur penerbangan Malaysia Airlines MH 1326 (sumber: flightaware.com)
Tidur di ruang tunggu di gate A5.

Tak nyenyak….

Sepanjang tidur, sesekali mataku menyipit waspada menatap jam digital di layar biru Flight Information Display System. Pesawat menuju Kuala Terengganu akan diterbangkan pada pukul 07:25 pagi lah yang  membuat tidurku tak berlangsung sempurna.

Dua jam sebelum masuk waktu Subuh, demi menghentikan rasa was-was itu, aku memutuskan bangkit. Sembari merapikan muka yang kucel dan kusut, aku telah memutuskan untuk menuju gate A5. “Saatnya menuju titik tujuan”, aku bergumam dalam hati.

Setengah gontai aku menuruni escalator meninggalkan International Concourse di lantai 4, lalu mengikuti segenap markah untuk mencapai gate. Karena pada malam sebelumnya aku turun dari penerbangan international maka kali ini aku harus berhasil menembus konter imigrasi dan membawa arrival stamp dalam paspor untuk bisa menuju ke Kuala Terengganu.

Tak menemukan satupun penumpang lain, aku kini seorang diri harus menghadap ke petugas imigrasi Kuala Lumpur International Airport. Konter imigrasi dihadapan dijaga oleh staff wanita bertubuh tambun yang dengan wajah dingin menatap kehadiranku.

Selamat pagi ”, seperti biasa aku memberanikan diri untuk menyapa. Tapi seperti yang kuprediksi, sapaan itu tak berbalas.

Aku menggeser paspor dan tiketku ke hadapannya dan dia mulai memeriksa dengan seksama sambil mengernyitkan dahi.

Untuk apè pergi ke Terengganu?”, pertanyaan pertama darinya dengan suara bernada rendah nan berat.

Melawat”, sejenak suasana hening…….”lancong”, aku menegaskan ulang.

Berapa hari?”, pertanyaan kedua darinya menyusul.

Tiga hari, Cik”, aku menjawab dengan percaya diri.

Bermalam dimanè?

“Dekat Bandaraya”

Hotel?

“Oh, sebentar, saya tidak hafal namanya, Cik”, aku sedikit gugup mencari file di smartphone. Setelah beberapa saat mencari akhirnya aku menemukannya, “The Space Inn”.

OK

Menyelesaikan proses pengambilan sidik jari dan foto wajah dengan lancar, membuatku melangkah dengan sumringah menuju gate di depan sana.

Kini aku sudah di gate A5 tepat 2 jam sebelum boarding time. Sunyi masih menghinggapi ruang tunggu yang dingin, tak tampak siapapun di dalamnya….Oleh karenanya, aku memutuskan masuk dan melanjutkan tidur. Mungkin aku baru bisa menunaikan Subuh di dalam pesawat.

Zzzzzzzzz……..

Beberapa waktu kemudian,

Geretan-geretan trolley bag para penumpang membangunkanku yang sebetulnya bisa tidur lebih lelap dbandingkan tidur di lantai atas semalam. Kini aku terjaga, menunggu boarding time yang akan tiba dalam waktu tak sampai setengah jam lagi.

Tepat waktu….

Panggilan boarding akhirnya terdengar. Sedikitnya jumlah penumpang membuatku tak terlalu lama memverifikasi data paspor dan boarding pass sebelum diizinkan masuk ke dalam pesawat melalui aerobridge.

Aku terduduk di window seat bernomor 24F dan tak ada seorang penumpang pun yang duduk di dua kolom bangku terdekatku, membuatku merasa lebih lega dan nyaman. Aku pun segera bertayamum dan menjalankan ibadah shalat Subuh ketika awak kabin sedang sibuk menyiapkan penerbangan.

Pesawat yang sudah menunggu di apron.
Kabin MH 1326 yang sepi penumpang.
Take-off di runway Kuala Lumpur International Airport.
Indahnya Putrajaya dari atas.

Beberapa saat kemudian semua telah siap. Cuaca sangat cerah berawan ketika pesawat beranjak terbang meninggalkan main hubnya, yaitu Kuala Lumpur International Airport pada jam tujuh pagi.

Malaysian Airlines MH 1326 sendiri merupakan penerbangan dengan jarak udara 333 km dengan waktu tempuh 57 menit dari Ibu Kota Kuala Lumpur menuju Kuala Terengganu di sebelah utara. Penerbangan ini ditempuh menggunakan pesawat Boeing 737-800 twin jet dengan rerata kecepatan 363 km per jam dan di tengah penerbangan bisa mencapai kecepatan maksimal 764 km per jam.

Aku pun bersiap menjelajah ke ketinggian 25.000 kaki atau sekitar 7.620 meter.

Penerbangan yang sebetulnya biasa-biasa saja tetapi serasa sangat istimewa, mengingat ini adalah penerbangan menuju ke tempat baru, tempat yang belum pernah kukunjungi sama sekali, tempat yang selama  tiga tahun terakhir hanya menghuni alam impianku….Tapi kini mimpi telah menjadi nyata, MH 1326 sedang mengantarkanku ke sana. Terimakasih ya Allah……

Kunjungan istimewa yang dihantarkan oleh flag carrier berusia 49 tahun kebanggan Negeri Jiran itu membuat momen itu masih membekas hingga kini.

Walaupun kali ini aku menaiki penerbangan premium tetapi karena jaraknya yang pendek maka maskapai tidak menyediakan inflight meal. Tapi tak apa, aku masih punya sepotong burger pemberian Tuan Younes semalam. Aku pun santai menyantapnya selama penerbangan karena aku sangat terpukau pada pemandangan langit pagi yang sungguh mempesona. Sesekali inflight magazine “Going Places” berhasil menginterupsi mata yang asyik dengan pemandangan istimewa itu.

Di bawah awan sesaat sebelum cruising.
Cruising di atas awan menuju Kuala Terengganu.

Yup, tak terasa, hampir satu jam sudah aku mengudara…..

Kini pesawat mulai menurunkan ketinggian, awak kabin dengan sigap memeriksa kesiapan penumpang untuk mendarat, perlahan penampakan kota Kuala Terengganu tampak dari ketinggian….Wouuuwww, hatiku berdebar segera ingin menjejaknya. “Sabar Donny, sebentar lagi”, batinku menenangkan.

Kini, pesawat telah menurunkan flap untuk menahan lajunya dan kemudian mendarat mulus di atas runway Lapangan Terbang Sultan Mahmud, bandara mungil yang menjadi gerbang pariwisata Kuala Terengganu.

Kuala Terengganu dari atas.
Kecil-kecil cabe rawit nih bandara.

Selamat Datang Kuala Terengganu.

Untuk mendapatkan tiket penerbangan dari Kuala Lumpur ke Kuala Terengganu, Anda bisa mencarinya di 12go Asia dengan link sebagai berikut:  https://12go.asia/?z=3283832

Aroma Timur Tengah di Terminal 3 Ultimate Soekarno Hatta International Airport

Bus DAMRI Terminal Kampung Rambutan – Soekarno Hatta International Airport

Sabtu sore itu sangat cerah. Ketidaksabaran yang menyelimuti hati sedari pagi runtuh sudah. Semburat tipis senyuman terus menggantung di ujung bibir usai aku turun dari angkutan kota dan menapaki shelter DAMRI yang merupakan moda transportasi bagian dari JA Connexion.

Menjelang pukul 15:30, usai memastikan armada di hadapan adalah bus yang akan berangkat tercepat ke Soekarno Hatta International Airport, aku melompat masuk ke dalamnya melalui pintu depan dan duduk di belakang pengemudi sisi kiri.

Setelah semua penumpang masuk, seorang petugas Terminal Kampung Rambutan masuk dan menarik uang retribusi sebesar seribu rupiah kepada para penumpang. “Kok retribusi ngga dimasukkan ke dalam harga tiket saja”, aku bertanya dalam hati.

Tak lama kemudian, bus pun berangkat….Perlahan melaju keluar dari terminal, sebentar saja melalui sisi tol dan kemudian memasuki gerbang tol beberapa meter di depan.

Di permulaan perjalanan dalam tol, kepadatan mulai terasa, tetapi aku tak begitu mengkhawatirkan keadaan karena aku berangkat 4 jam 20 menit sebelum penerbangan. Aku pun menikmati perjalanan sejauh 50 km itu dengan sangat nyaman.

Satu jam lebih beberapa menit, aku tiba drop off zone Terminal 3 Ultimate Soekarno Hatta International Airport. Melaui Departure Hall Gate 3, aku mulai mencari status penerbangan Malaysia Airline MH 724.

Nomor penerbangan yang belum tertera di Flight Information Display System (FIDS), membuatku berani bertanya kepada seorang petugas wanita di information centre desk dan akhirnya aku mendapatkan informasi bahwa check-in desk C akan digunakan untuk mengurus administrasi penerbangan Malaysia Airlines MH 724.

Kursi tunggu di Departure Hall Terminal 3 Ultimate

Mengetahui informasi itu, maka kuputuskan untuk menunggu di bangku terdekat dengan check-in desk C. Selama menunggu check-in desk dibuka, aku tertegun pada kesibukan sepasang tour guide yang sibuk mengatur rombongannya yang entah akan menuju kemana?. Mereka berdua mengumpulkan rombongan dan dengan lantang melakukan briefing sehingga suara mereka bisa didengar oleh siapapun di sekitar pojok tunggu Terminal  3 Ultimate.

Satu jam menunggu, akhirnya check-in desk dibuka dan aku segera mengantri  di kolom antrian C24 untuk mendapatkan boarding pass menuju Kuala Lumpur. Kali ini Kuala Lumpur hanya akan menjadi persinggahan, karena aku akan mengeksplore Kuala Terengganu, sebuah kota yang terletak 450 km di utara Kuala Lumpur.

Check-in desk C Terminal 3 Ultimate

Kuala Terengganu akan menjadi kota di Malaysia kelima yang akan kunikmati setelah Kuala Lumpur, Johor Bahru, Ipoh dan Penang…..Ahhhh, sore itu aku tak sabar ingin segera tiba di Kuala Terengganu.

Melawat ke Kuala Terengganu adalah niatan yang muncul usai aku bertemu dengan Mariya, seorang solo-traveler asal Malaysia di Seoul. Pesona Kuala Terengganu yang diceritakan oleh Mariya telah menghipnotis alam bawah sadarku untuk mengunjunginya. Butuh waktu tiga tahun untuk mewujudkan mimpi itu.

Tapi sekali lagi, Kuala Terengganu juga bukan menjadi satu-satunya tujuan dalam perjalananku kali ini, karena titik sasarku tentu berada di tempat-tempat yang lebih jauh, yaitu negara-negara di kawasan Timur Tengah.

Kembali ke Terminal 3 Ultimate…..

Kini aku menuju ke konter imigrasi untuk berburu departure stamp. Di depan area imigrasi, aku berusaha  menyelesaikan proses pemeriksaan imigrasi melalui autogate immigration tetapi ada seorang petugas yang menahan langkah dan melarangku melewati jalur itu. Aku diarahkan menuju ke konter imigrasi dengan petugas yang siap memeriksa. Menghadap seorang petugas imigrasi, aku menyerahkan passport dan boarding pass.

Staff imigrasi: “Tiket pulang, Mas?

Aku: “Ini, Pak”, aku menyerahkan print out tiket penerbangan Philippine Airlines dengan rute Doha-Jakarta dan transit di Manila

Staff imigrasi: “Sendirian, mas?. Dalam rangka apa?

Aku: “Solo-Backpacking, Pak

Staff imigrasi itu akhirnya sibuk meneliti dengan detail halaman demi halaman pada pasporku.

Staff imigrasi: “Mampir kemana saja, Mas?

Aku: “Kuala Terengganu-Kochi-Dubai-Oman-Bahrain-Qatar, Pak

Staff imigrasi: “Boleh lihat visanya, Mas?”, wajahnya masih saja dingin dan serius.

Aku: “Sebentar, Pak”, aku membuka zipper bag dan mengeluarkan Visa India, Visa Uni Emirat Arab, Visa Oman dan Visa Bahrain, “Ini, Pak

Staff imigrasi itu memeriksa satu persatu visa yang kuberikan.

Staff imigrasi: “Ok. Hati-hati, Mas”.

Tiket akyuuu….Yuhuuuuu.

Aku keluar dari konter imigrasi dengan nafas lega dan segera memasukkan segenap file ke zipper bag kembali. Kini aku akan menuju ke Terminal 3 Existing untuk mempersiapkan diri terbang bersama Malaysia Airlines.

Kisah Selanjutnya—->

Menembus Rinai: Suria KLCC, Petronas Twin Tower dan Petrosains

<—-Kisah Sebelumnya

Usai menurunkan backpack di kamar, aku menuruni anak tangga Agosto Inn untuk melanjutkan eksplorasi.

Hi, Sir. Where are you going this afternoon?”, tanya resepsionis sekaligus si empunya penginapan.

Petronas Twin Tower, Sir

Oh, you better take LRT to get there. Don’t take bus because Kuala Lumpur is surely to get stuck this afternoon”, nasehatnya cukup membantuku.

Di luar fakta itu, sedari tadi aku telah memutuskan akan menggunakan Light Rail Transit. Karena sejatinya aku belum mengetahui bahwa ada layanan gratis Go KL City Bus yang jalurnya terintegrasi menuju kesana. Maklum, itulah kali pertama aku menjejak ibu kota Malaysia.

Aku menyusuri jalanan Tun H S Lee ke arah selatan kemudian berbelok ke kanan di perempatan berlanjut ke Jalan Sultan menuju Stasiun Pasar Seni. Jalanan masih basah dan menyisakan beberapa genangan tipis disana-sini. Memaksaku sedikit berhati-hati demi menghindari cipratan air dari hempasan laju kendaraan yang berlalu-lalang. Sore itu adalah jam pulang kantor, menjadikan jalanan semakin padat saja.

Agosto Inn termasuk penginapan yang murah nan strategis, jaraknya tak lebih dari dua ratus meter dari Stasiun Pasar Seni, hanya diperlukan lima menit berjalan kaki menujunya. Setiba di stasiun, aku membeli token seharga 1,5 Ringgit di ticketing vending machine untuk kemudian bergegas menuju platform di lantai atas. Stasiun Pasar Seni adalah jenis stasiun layang dan berselang tiga stasiun dengan Stasiun KLCC (Kuala Lumpur City Centre) dimana Petronas Twin Tower berdiri.

tren tiba dalam 3 minit’….‘tren 3 koc’…‘koc ke Gombak’….begitulah tulisan yang terpampang bergantian di layar LCD pada platformku berdiri. Aku begitu antusias, mengingat Jakarta belumlah memiliki MRT dan LRT kala itu.

LRT Laluan Kelana Jaya berwarna putih dengan kelir biru-merah tiba. Aku memasuki gerbong tengah, berdiri berdesakan dengan para pekerja kantoran yang hendak menuju rumah masing-masing. Desingan laju LRT memamerkan bentangan bangunan beton, taman-taman kota dan jalanan di bawah dengan beberapa pelita jalan yang mulai menyala otomatis. Menjadikan panorama sore terlihat elok.

Lima belas menit kemudian, aku tiba di Stasiun KLCC. Stasiun KLCC sendiri adalah stasiun LRT yang terintegrasi dengan pusat perbelanjaan terbaik di Kuala Lumpur, yaitu Suria KLCC. Jadi untuk menuju Petronas Twin Tower, penumpang akan diarahkan melalui bagian dalam pusat perbelanjaan. Strategi yang jamak diterapkan untuk menaikkan pendapatan kawasan.

Aku terus melangkah ke lantai atas melalui escalator demi menemukan pintu keluar menuju Petronas Twin Tower. Sepemahamanku, aku harus keluar di pintu mall di sisi Jalan Ampang. Jadi sepanjang pusat perbelanjaan, aku hanya menengara kata “Petronas Twin Tower”atau “Ampang”. Alhasil, kutemukan sebuah papan petunjuk menuju Jalan Ampang….Yes, aku berhasil keluar dari mall di jalur yang tepat.

Dari Jalan Ampang, keperkasanaan menara kembar mulai terpamerkan, menjulang setengah badan ke puncak. Aku terus mendekatinya, menyeberang Jalan Ampang dan tiba di pelataran utama Suria KLCC. Kusegerakan melangkah menuju sisi depan menara. Tepat di depannya, hiasan memanjang air mancur memperindah suasana.

This was my first time there….Petronas Twin Tower.

Mengunjungi sesuatu yang fenomenal untuk kali pertama memang mendatangkan impresi. Girang, syukur, takjub memenuhi isi hati sore itu. Hingga rinai lembut tak mampu mengusirku, untuk beberapa saat, hanya aku dan sedikit turis yang mau bertahan. Sebagian besar diantaranya telah angkat kaki.

Beberapa lama kemudian rinai berganti hujan, ketika aku tertegun pada fotografer profesional yang terus membidik menara tertinggi kesebelas sejagat itu menggunakan kamera berlensa panjang dengan plastic protector. Kini hujan memaksaku segera beranjak, pelataran menara kembar menyisakan lengang.

Memasuki kembali Suria KLCC melalui pintu berbeda, aku berniat menuju lantai empat, mencari keberadaan Petrosains, si peraga teknologi industi perminyakan Malaysia. Tak sulit menemukannya, begitu tiba di lantai empat, logo Petrosains menyambut dan mengarahkanku ke ruang utama. Hanya saja sore itu sudah hampir pukul enam, Petrosains telah tutup sejak dua jam lalu. Aku hanya memandangi seisi Petrosains dari bagian luar dinding kaca, kemudian bergegas pergi meninggalkannya untuk kembali menuju hotel.

Pintu utama Suria KLCC.
Jam operasional dan harga tiket masuk Petrosains.

Dari Stasiun KLCC, aku menumpang kembali LRT Laluan Kelana Jaya menuju Stasiun Pasar Seni. Dari sana, aku berniat mengakhiri petualangan hari pertama di Kuala Lumpur dengan menikmati makan malam. Aku menemukan kedai kecil penjaja makanan India di pinggiran Jalan Tun H S Lee.

Kerja di sini?, sapa si empunya kedai sembari menyiapkan makanan

Tidak, Pak. Saya hanya melawat”,

Dari mana kamu datang?

Indonesia

“Oh , Indonesia….Jakarta, Surabaya, Bandung?”, sambil tersenyum menyebutkan nama-nama kota itu.

Jakarta, Pak

“Ok, sudah siap. Sila makan”, dia mulai menyodorkan seporsi Biryani dengan ayam dan dua butir telur rebus.

Mari makan!

Buseettt, seginikah porsi makan orang India”, aku membatin. Kiranya aku memakai jurus lain, aku membungkus sebagian dari menu itu untuk makan malam sesi dua nanti malam….Gile emang.

Seporsi Biryani menjadi penutup yang sempurna malam itu.

Kisah Selanjutnya—->

Agosto Inn: Mencari Penginapan Dadakan

<—-Kisah Sebelumnya

Sebentar lagi pukul dua siang, kondisi awan semakin tebal di atas sana, aku pun telah merangsek turun dari kuil utama Batu Caves, menuruni 272 anak tangga dan kemudian bergegas menuju Stasiun Batu Caves.

Sesampai di stasiun aku langsung membeli tiket Kereta Komuter KTM Laluan Seremban seharga 2 Ringgit (Rp. 6.800) demi menuju KL Sentral. Sepanjang perjalanan pulang-pergi, aku tak tahu kenapa jalur ini selalu sunyi. Gerbong kereta yang masih tampak bersih dan baru, stasiun-stasiun yang dilewati pun masih terlihat bagus.  

Menempuh jalur kereta sejauh 16 kilometer, aku tiba di Lantai 1 KL Sentral’s Transit Concourse hanya dalam waktu setengah jam. Aku segera menaiki escalator menuju KL Sentral’s Main Concourse untuk berburu token menuju Stasiun Pasar Seni, kali ini aku harus menaiki LRT Laluan Kelana Jaya. Perlu mengeluarkan ongkos sebesar 1,3 Ringgit (Rp. 4.500) untuk mendapatkan akses menaiki LRT itu. Inilah pertama kalinya bagiku menggunakan ticket vending machine di Negeri Jiran itu. Tetapi kali ini tak butuh banyak waktu untuk memahaminya.

Geblek….Sandal….

Mendapatkan tiket berwujud token berwarna biru, aku segera melewati automatic fare collection gate menuju lantai dua untuk menaiki LRT Kelana Jaya. Hanya perlu menunggu tiga menit hingga kereta itu tiba lalu aku segera melompat ke dalam gerbongnya.

Tak berjeda satu stasiun pun untuk menuju Stasiun Pasar Seni. Aku tiba dalam sepuluh menit sejak memasuki LRT empat gerbong itu. Stasiun Pasar Seni yang berwujud stasiun layang itu menampilkan pemandangan kawasan Central Market beserta  aliran Sungai Kelang yang mengalir deras karena hujan. Rupanya sungai-sungai di Kuala Lumpur juga belum sepenuhnya lepas dari masalah sampah, terlihat beberapa sampah hanyut dibawa arus sungai itu.

Hujan lebat membuatku harus berdiam beberapa saat di platform Stasiun Pasar Seni. Tak ada pilihan karena aku tak memiliki payung ataupun jas hujan. Aku baru tiba di Kuala Lumpur pagi tadi sebelum memutuskan mengeksplorasi Batu Caves terlebih dahulu sebelum memasuki pusat kota. Kini aku memiliki satu tujuan ketika memasuki daerah Pasar Seni….Yups, mencari penginapan.

Kala itu aku masihlah backpacker amatiran yang tak berhasil menyiapkan satu penginapan sebelum berangkat. Beruntung aku tak ditanya perihal hotel oleh petugas imigrasi, mengingat inilah pertama kalinya aku mengunjungi Kuala Lumpur. Tadi pagi, petugas imigrasi KLIA2 hanya menanyakan tiket kepulangan yang tentu sudah kusiapkan jauh hari.

Menunggu beberapa saat, hujan tak kundung reda, masih menyisakan gerimis lembut. Kiranya aku tak boleh kehilangan banyak waktu hanya untuk menunggu hujan reda. Kupaksakan diri menembus gerimis, menyusuri Jalan Sultan, melewati lokasi proyek pembuatan jalur MRT di sisi kanan dan berbelok ke kiri untuk menyisir Jalan Tun HS Lee untuk mencari penginapan. Setelah beberapa waktu mencari, aku tertarik pada logo Trip Advisor yang terpajang di sebuah pintu kaca penginapan kecil. Agosto Inn namanya. Maka, aku tak ragu memasukinya.

Halo, Pak. Apakah Anda masih memiliki satu kamar untuk dua malam?”, aku bertanya dalam Bahasa Indonesia yang seharusnya dia faham.

Can you speak English, Please?”, resepsionis sekaligus pemilik penginapan itu ternyata tak bisa berbahasa Melayu.

Oh, sorry. Do you still have a room for two nights?”, aku menjelaskan pertanyaan yang sama.

Oh, of course. But I don’t have a bed in the dorm. Would you like to use a single room?”.

Can I see the room?”.

Oh, sure….Follow me, Sir!”, dia beranjak dari meja resepsionis dan memimpin langkah menuju lantai atas.

Aku mengikutinya menuju ke ujung koridor untuk melihat kamar terakhir yang dimaksud. Kemudian bersambung menunjukkan kamar mandi bersama di ujung yang berlawanan.

Hallo, Sir”, seorang staff yang sedang membersihkan kamar mandi bersama menyapaku. Nanti aku akan mengenalnya sebagai sosok asal Bangladesh yang ramah.

Hi…”, aku membalas senyumnya.

Aku tak akan berfikir panjang dan memutuskan mengambil kamar itu. Hari sudah sore, tak ada waktu lagi untuk mencari penginapan. Aku harus segera menuju KLCC untuk mengunjungi menara kembar kenamaan Negeri Jiran.

Yes, Sir….I’ll take your last room….How much?”, aku mengambil keputusan.

Sixty Ringgit, Sir (Rp. 208.000) for two nights….Come on follow me, I’ll give you the room key”.

Kamar single milik Agosto Inn.

Transaksi itu selesai di meja resepsionis. Aku bernafas lega, karena telah menemukan penginapan untuk dua malam ke depan.

Saatnya berburu destinasi.

Masjid Negara….Simbol Kemerdekaan Malaysia

Hop On Hop Off berkelir biru sedikit berdecit saat mengerem ketika memasuki tikungan yang menggiring kendaraan wisata ini merapat ke sebuah bangunan peribadatan yang penuh kharisma. “Nash(ә)n(ә)l mäsk”….Mulutku mengeja marmer hitam bernama emas itu.

Berfikir cepat….Turun atau tidak sama sekali.

Tuan-tuan dan puan-puan, yang hendak melawat masjid, sila turun disini. Selamat melawat”, tour guide cantik itu tersenyum sembari memegang microphonenya sejak tadi.

Tak tercantum dalam itineraryku, tak membuatku berpaling dan aku memilihnya menjadi destinasi bonus di hari terakhir sebelum pulang ke Jakarta.

Perdana Menteri pertamalah yang memberikannya nama Masjid Negara.

Tunku Abdul Rahman Putra Al-Haj adalah bangsawan yang berperan penting dalam pembangunan hingga penamaan masjid ini. Penggagas dibangunnya Masjid Negara sebagai perwujudan rasa syukur atas kemerdekaan Malaysia dari kolonialisme Inggris tanpa harus bertumpah darah.

Perlahan aku memasuki bangunan utama setelah berwudhu untuk menunaikan kewajiban Ashar. Sebuah ruangan dibawah naungan kubah agung dan beralaskan karpet lembut berkualitas tinggi. Hampir saja aku tak sudi beranjak dari kenyamanan yang memerangkap diri.

Kubah memiliki 18 ornamen berbentuk bintang.

Delapan belas ornamen yang bergantian lafal Allah dan Muhammad itu melambangkan 13 negara bagian dalam pemerintahan monarki konstitusional Malaysia dan 5 rukun islam sebagai pondasi agama islam yang dianut lebih dari 60% warga Malaysia.

Luasnya bangunan….Memang tak bisa diragukan jika beberapa statement menyatakan bahwa Masjid Negara manpu menampung hingga 15.000 jama’ah dalam satu waktu. Luar biasa, itu kan setengah dari kapasitas Stadion Patriot Bekasi.

Dibagian pintu depan sebelum ruang peribadatan utama, kamu akan menemukan menara putih yang berdiri di salah satu sudut kolam air yang membuat masjid ini semakin gagah.

Menara Masjid Negara setinggi 73 meter.

Perhatikan juga ketika kamu memasuki masjid, maka di ujung sebelah kiri terdapat bangunan yang hanya terpisahkan koridor pendek dari bangunan utama masjid. Atap putihnya berbentuk bintang tujuh dan dibawahnya bersemayam beberapa pahlawan besar negara. Salah satu pahlawan terkenal yang dimakamkan disini adalah Tun Abdul Razak. Keturunan Bugis yang berperan penting dibalik kemerdekaan Malaysia.

Berikut wujud makan pahlawan-pahlawan pemimpin muslim Malaysia.

Masjid Negara sendiri diresmikan dan dibuka untuk umum sekitar 8 tahun setelah tanggal kemerdekaannya. Kamu tahu kan, kapan Malaysia merdeka?….Yup, 1957.

Diresmikan bertepatan dengan tahun dimana Malaysia dan Singapura berpisah secara konstitusi.

Sempat menjadi masjid terbesar di Malaysia sebelum predikat itu direbut oleh Masjid Biru di daerah Shah Alam.

Masjid Negara secara arsitektur terkoneksi dengan bangunan Old Railway Station melalui lorong bawah tanah. Stasiun kereta ini sendiri terletak berdekatan dengan Malayan Railway Administration Building yang saat ini digunakan sebagai kantor pusat KTM (Keretapi Tanah Melayu).

Bangunan dibelakang itu adalah Malayan Railway Administration Building.

Ke KL….ya mampir lah ke Masjid Negara !

Batu Caves….Jejak India di Utara Kuala Lumpur

<—-Kisah Sebelumnya

A. Rute KLIA2 ke Batu Caves

Step 01. KLIA2-KL Sentral

Menuju lantai 1 yang merupakan letak dari Transportation Hub KLIA2, aku bergegas menuju konter penjualan Skybus. Tarif sebesar Rp. 35.000 cukup untuk memindahkanku dari KLIA2 ke KL Sentral yang terletak di tengah kota Kuala Lumpur. Perjalan selama 50 menit kuhabiskan dengan melihat suasana jalanan negara bagaian Selangor.

Step 02. KL Sentral-Batu Caves

Perjalanan Tahun 2014

Dari KL Sentral, aku menuju konter tiket KTM Komuter Laluan Seremban untuk mencapai Batu Caves. Saat itu tiket komuter tidak bisa didapatkan di automatic fare machine seperti layaknya tiket LRT di Kuala Lumpur. Jadi Aku harus menuju ke loket untuk membelinya secara manual. Harganya cukup murah, hanya Rp. 7.000 untuk one-way. Jarak tempuh KL Sentral ke Batu Caves adalah 13 km dan waktu tempuhnya 45 menit.

Perjalanan Tahun 2018

Lihat perjalanan kedua dan terbaruku ke Batu Caves di link ini: Rute Baru Menuju Batu Caves, Malaysia

B. Batu Caves Selayang Pandang

Koridor antara stasiun komuter ke wisata Batu Caves.

Melangkah ringan melalui exit gate di Stasiun Batu Caves dan mengumpulkan rasa penasaran yang semakin naik kadarnya begitu berpindah di koridor pejalan kaki berpelindung. Koridor yang ujungnya adalah pintu masuk sebelah kanan dari wisata Batu Caves.

Kecil gue….dikangkangin.

Memasuki dari sisi kanan, patung Dewa Hanoman setinggi 15 meter menyambut. Hijau tubuhnya menambah kesakralan Sang Raja Wanara. Tak bisa disangkal karena memang para monyet berekor panjang hadir di sekitar kuil yang letaknya berdampingan dengan si patung.

Si cigak yang mengincar kameraku….
Kuil yang cukup ramai dengan pengunjung.
Dupa yang dibakar di depan kuil.

Ramayana Cave Suyambu Lingam di sisi kiri kuil berwarna hijau itu dengan khusyu’ menyajikan epik Ramayana melalui beberapa patung sang tokoh yang menyiratkan alur cerita. Sisihkanlah Rp. 17.500 untuk sekedar menikmati keagungannya.

Gerbang Ramayana Cave.

Sengatan Sang Surya tak menghalangi antusias dan semangatku untuk hadir di depan Venkatachalapathi Temple yang beralaskan 19 anak tangga. Tempat memuji jelmaan Wisnu yang sedang menjalankan tugasnya sebagai “penghancur dosa”. Kenalkah kamu dengan Dewa Wisnu yang berkendara raja para burung “Garuda” dan bersenjatakan cakra?

Lepaskan sepatumu sebelum menaiki tangganya !.

Untuk memastikan wisatawan tak melewatkan satu bagian pun dalam wisata Batu Caves, pengelola wisata mempersiapkan penunjuk arah yang mengarah ke 17  bagian bagian berbeda.

Ini dia….

Memahami sejarah Hindu melalui keindahan seni, itulah yang ingin dipamerkan Cave Villa. Rp. 52.500 adalah nilai yang cukup mahal untuk menjelajah gua ini.

Beli tiket di situ ya.

Dewa Siwa yang diilustrasikan sebagai Nataraja Sang Penguasa Tandavam (nama tarian religi dalam Hindu) dan Dewa Murugan yang pada hakikatnya dilahirkan sebagai 6 bayi yang pada akhirnya keenamnya menjelma menjadi satu sosok Dewa Murugan yang perkasa adalah hal yang ingin dijelaskan dalam gua ini.

Menjejak bagian utama Batu Caves, pelataran luas penuh dengan merpati yang selalu gemas memohon makanan dari wisatawan.

Begitulah merpati….Jinak menipu.
Bangunan peribadatan di pelataran Batu Caves sedang direnovasi.

Membesuk patung Dewa Hindu tertinggi di dunia, Ber-ibu Dewi Parwati dengan ayah Dewa Siwa. Dewa Murugan namanya….Bersenjata tongkat suci dan keagungannya direpresentasikan menjulang setinggi 43 meter.

Warna emas yang menjadikannya sangat menonjol di pelupuk mata siapapun.

Persiapkan betismu untuk menapakai 272 anak tangga menuju kuil utama yang bersembunyi di atas bukit kapur berusia 400 juta tahun.

Berpakaian sopan ya…Usahakan jangan bercelana pendek.

Udara lembab dan suhu sedingin almari es menjadikan gua ini menjadi tempat yang khusyu’ di tengah menyengatnya area di sekitar perbukitan.

Perpaduan pencahayaan dan tata letak patung para Dewa menjadikannya sakral.

Sebelum meninggalkan wisata ini, kamu bisa mengunjungi Gheeta’s Souvenir Shop di kiri depan pelataran.

Toko souvenir.
Parking lot.

Kalau kamu tidak mau beli souvenir, bisa juga membawa oleh-oleh jajanan khas India yang banyak di jual di kanan depan pelataran.

Jajanan India dengan aroma khas India.

Tak bisa membeli oleh-oleh atau souvenir karena tak punya bagasi pesawat sepertiku?….Nikmati saja makan siang atau minum air kelapa muda di kantin sekitaran Batu Caves.

Dua kali berkunjung….Dua kali pula lunch disini.
Nasi lemak versi India….Hahaha.
Es kelapa muda diminum diteriknya matahari….Beuh.

Tentu kamu tahu Batu Caves ini, karena kepopulerannya….Tapi coba dalami tentang nilai yang bisa didapatkan dari wisata ini.

So….Batu Caves….Ayo meluncur kesana!.

Kisah Selanjutnya—->

24 Wisata Kuala Lumpur Dalam 3 Hari 2 Malam.

Penerbangan ke Kuala Lumpur yang hampir tak tertangkap karena beradu cepat dengan waktu di sepanjang tol Jakarta-Serang, dibumbui dengan pucat pasinya wajah akibat interogasi staff imigrasi yang judes karena penampilanku yang tak meyakinkan, membuat hati dan asaku malambung tinggi bersamaan dengan langkah pertamu meninggalkan konter imigrasi KLIA2.

Gaes….Perjalananku di Kuala Lumpur untuk pertama kalinya dimulai. Seneeenggg banget waktu itu. Magnet kulkas ku akan bertambah menjadi tiga. Begitulah adanya, jumlah magnet kulkas di rumahku menunjukkan berapa banyak negara yang sudah kukunjungi…..Nanti kalau sudah mengunjungi 100 negara, aku akan beli kulkas setinggi langit-langit rumah. Biar muat nempelin magnet-magnet itu….Hahaha.

—-****—-

Perjalanan yang sudah direncanakan sejak 9 bulan sebelum keberangkatan ini akhirnya terwujud. Masih tak percaya ketika diriku benar-benar memasuki negeri jiran itu. Rencana perjalanan yang kutuangkan secara detail di tiga lembar itinerary telah mengantarku menuju 24 destinasi berikut:

1. KL Sentral

KL Sentral adalah persinggahan pertama yang sering digunakan para petualang sebelum menjelajah Kuala Lumpur. Ya iyalah, kebanyakan transportasi umum dari KLIA akan berujung di sini.

KL Sentral memang dibangun pemerintah Malaysia sebagai bangunan transportasi berorientasi transit. Tak khayal, pusat transportasi ini tak pernah sepi pengunjung.

Awas mas….Resleting.

Untuk pertama kalinya, tiba disini di hari pertama kelayapanku, tepat pukul 11:23. Aku menyempatkan diri untuk sejenak mengeksplorasi Nu Sentral yang merupakan shopping mall yang terintegrasi dengan bangunan modern ini.

2. Batu Caves

Waktu yang terlalu siang untuk memulai perjalanan ke Genting Highlands membuatku memilih kuil umat Hindu ini sebagai persinggahanku berikutnya. Berlokasi di daerah Gombak yang berjarak 15 km di utara KL Sentral dengan jarak tempuh 40 menit menjadikan patung kuning “Dewa Murugan” menjadi ikon terfavorit di Kuala Lumpur setelah Petronas Twin Tower.

Makanya, kalau ga bisa main tripod….Minta orang lain fotoin aja….Huh.

90 menit menjadi waktu yang lebih dari cukup untuk menghilangkan rasa penasaranku akan gua yang terletak di sebuah perbukitan kapur  berusia 400 juta tahun itu.

3. Suria KLCC

Sekembali dari Batu Caves dan seusai berburu hotel di daerah Pasar Seni yang berakhir dengan hinggapnya langkah di Agosto Inn, dalam gerimis ringan aku bergegas menuju Kuala Lumpur City Centre (KLCC). KLCC adalah pusat kota Kuala Lumpur yang menawarkan shopping mall modern yaitu Suria KLCC, deretan hotel bintang lima, pemandangan ikonik Petronas Twin Tower dan taman kota yang luas (KLCC Park).

Walau tak gemar berbelanja, aku hanya penasaran ingin melihat langsung mall yang memiliki 350 tenant ini. Arsitektur Suria KLCC konon berbentuk bintang sabit jika dilihat dari atas….Keren ya. Dan perlu kamu tahu bahwa pembangunan Suria KLCC adalah proyek terintegrasi dengan Petronas Twin Tower.

4. Petrosains

Sebelum keluar dari Suria KLCC, aku sempatkan untuk mengunjungi Petrosains di lantai 4. Petrosains adalah tempat edukasi perminyakan milik Petronas, raksasa minyak milik Malaysia. Cukup menyisihkan Rp. 35.000 untuk belajar di dalam Petrosains.

Ngapain siiih….

5. Petronas Twin Tower

Tepat di sebelah kiri pintu keluar Suria KLCC, aku akhirnya menemukan bangunan kembar fenomenal itu. Gerimis lembut yang menemaniku menikmati Petronas Twin Tower tak mampu mengusirku segera dari halaman depan gedung kembar tertinggi di dunia itu.

Security: “Turuuuuuuunnnn…..”

Petronas  Twin Tower adalah destinasi terakhir di hari pertama kelayapan. Lebih cepat beristirahat di Agosto Inn untuk mempersiapkan diri menuju Genting Highland di keesokan harinya.

6. Genting Skyway

Jam 6:30, Melihat kehadiranku di meja makan membuat staff hotel itu terkesan tergesa-gesa menyiapkan sarapan pagi yang hanya berupa oatmeal, jeruk sunkist dan toast serta minuman hangat yang bisa kuambil sepuasnya dari tea and coffee pots.

Pagi yang masih sangat sepi kulalui menuju KL Sentral untuk menangkap bus pertama menuju Genting Highlands yang akan berangkat pukul 08:00. Dengan membayar tiket pulang pergi dari KL Sentral ke Genting sebesar Rp. 73.000 (harga pada tahun 2014, tahun 2019 harga sudah naik menjadi Rp. 85.000) aku tiba di Genting Highlands 1 jam 15 menit kemudian.

Pertama kalinya naik cable car….Clingak-clinguk, ndeso!

Harga segitu sudah termasuk naik Genting Skyway. Sementara harga sekali jalan untuk moda transportasi ini adalah Rp. 28.000 (Tahun 2019). Lower station gondola ini berada di Gohtong Jaya dan Upper Stationnya berada di Maxims Hotel, Genting Highlands.

7. Genting Highlands

Dua puluh menit kemudian, aku tiba di Genting Highlands setelah bergelantungan di dalam gondola berpenumpang delapan orang itu

Tujuan utama hari kedua yang harus merelakan waktu sehariku dirampas begitu saja. Perampasan yang membuatku girang bukan kepalang. Berharap ada repetisi seperti ini di lain waktu.

Awas, bang jangan di tengah jalan !….Kasian orang lain mau lewat.

Dua jam aku menapaki resort di pucuk gunung Titiwangsa sebelah timur laut Kuala Lumpur. Kalau kamu punya uang berlebih bisalah bermalam di Genting. Tapi melewati setiap mall tanpa berbelanja, restoran tanpa menyempatkan makan siang dan casino tanpa berjudi, pastinya itu adalah aku yang tak pernah memiliki uang cukup untuk berhura suka macam itu.

8. Bukit Bintang

Tinggal membalik cara berangkat maka aku bisa pulang kembali ke KL Sentral.

15:30….”Wuih, masih bisa ngelayap”, batinku bersorak. Bus, sudah….LRT, sudah….Komuter, sudah….MRT, belum jadi bang, mereka masih terlihat mengeruk tanah di sebelah Pasar Seni. Naik apa lagi dong?…..

Kuputuskan mencoba satu-satunya jalur monorail di Kuala Lumpur. Kapan lagi aku bisa menaikinya. Ini juga menjadi yang pertama kali aku menaiki monorail yang tiga tahun kemudian aku menaiki moda yang sama secara gratisan di Sentosa Island, Singapura….Yup, itu Sentosa Express.

Jangan lama-lama, belakang nungguin mau foto juga tuh.

Tujuan terkenal di Laluan Monorel KL adalah Kawasan Bukit Bintang. Menyandang predikat sebagai tempat perbelanjaan dan hiburan paling terkenal di Kuala Lumpur menjadikan Bukit Bintang sebagai pusat retail terpopuler yang selalu diburu para penggemar belanja, dari ibu rumah tangga, pegawai kantoran hingga pemudi pemuda bahkan para wisatawan.

Bukannya kamu wisatawan, Donny?….Bukan, bang. Aku cuma tukang kelayapan yang beruntung diberi kesempatan keliling dunia hingga 20 negara…..Geplaaakk-Geplaaakk-Geplaaakk.

9. Taman Tasik Titiwangsa

Killing time di sebuah taman kota di utara pusat kota adalah penutup petualangku di hari kedua. Didirikan di bekas pertambangan timah semasa kolonialisme Inggris menjadikannya maklum dengan keberadaan danau besar bekas galian pertambangan itu.

Maap pemirsa….Aku kehabisan batre pas ditaman….Itu aja ya.

Pukul empat sore, aku sudah hadir di taman itu dalam keramaian aktivitas warga yang luar biasa. Sampai-sampai adzan maghrib mengingatkanku bahwa aku sedang tidak berada di “Taman Bluntas”(nama taman terlayak yang dekat dengan tempat tinggalku). Artinya, waktu mulai mengusirku untuk segera meninggalkan Taman Tasik Titiwangsa dan lebih baik menyambut rasa aman di hotel tempatku menginap saja.

10. Hop On Hop Off Bus

Waktu memang tak bersahabat ketika dihadapkan dengan rasa penasaran. Mendadak aku di dorongnya memasuki hari terakhir petualangan. Waktu yang tak sedikit berhasil berkompromi dengan urat betis dalam mempengaruhi otak. Lalu otak berbisik, “Santai saja menghabiskan hari terakhir di Kuala Lumpur, Don”.

Rp. 157.500 terpaksa kuserahkan kepada pemandu wisata bus tingkat macam Routemaster milik negeri ratu Elizabeth itu. Bukan Routemaster ….Itu namanya HOHO….Atau kerennya Hop On Hop Off.

Buruan naik….Keburu soreeee.

HOHO Bus Stop No. 09 yang terletak di Central Market memudahkanku untuk menangkapnya….Tak sampai 5 menit untuk mencapainya dari Agosto Inn. Tak terima merugi, aku bersikeras mengunjungi beberapa destinasi wisata sepanjang jalur bus HOHO.

11. Istana Negara

Cukup 15 menit saje, setelahnya tuan-tuan dan puan-puan bise kembali ke bus atau ikut bus berikutnye”, suara itu semakin jelas dengan keberadaan mic di bawah bibir sang pemandu. Duh cantiknya wajah melayu berhijab itu. Membuatku luluh.

Awas jangan nempel-nempel….Bikin kotor tembok.

Aku bergegas melarikan diri secepat mungkin mendekat gerbang istana. Berfoto dengan penjaga istana yang berdiri bak patung dan kuda istana yang sangat jinak walau berpuluh-puluh wajah berbeda silih berganti berfoto dengannya.

12. Dataran Merdeka

Lapangan luas dihiasi gedung ikonik bergaya Mughal-Moor menjadi persinggahan berikutnya. Sultan Abdul Samad adalah nama bangunan itu. Sultan Abdul Samad sendiri adalah pemimpin negara Selangor yang terkenal karena memindahkan ibu kota Selangor dari Klang ke Kuala Lumpur.

Ya….Mayan lah posenya.

Dataran itu dikenal sebagai Dataran Merdeka, tempat dimana kemerdekaan Malaysia dari pemerintah kolonial Britania Raya di deklarasikan.

13. KL Tower

HOHO yang tak begitu lama berhenti di menara komunikasi itu, lantas tak membuatku menyerah. Aku melompat dengan gesit keluar dari bus dan sedetik kemudian HOHO meninggalkanku di pelataran KL Tower.

Sonoh naeekkk….Jangan lama-lama.

Aku akan mengeksplorasi KL Tower sebelum menuju Muzium Negara.

Kalau kamu punya nyali, masuklah ke Sky Box, kalau mau makan siang dengan cara elegan maka cobalah revolving restaurant lalu pergilah ke observation deck untuk menangkap pemandangan kota Kuala Lumpur lebih dekat di pelupuk mata.

Aku?….Dua bagian pertama kulewatkan. Dompet hanya sanggup memasukkanku ke bagian terakhir….Lumayan lah daripada tidak sama sekali.

14. Muzium Negara

Mau mengenal budaya suatu bangsa dengan cepat?….Datanglah ke museum nasionalnya.

Untuk itulah aku hadir di Muzium Negara Malaysia. Perjalanan bangsa Malaysia dari waktu ke waktu terpampang jelas di museum ini. Mulai dari kehidupan prasejarah….Kehidupan berkerajaan….Bahkan cerita tentang Majapahit pun ada disini.

Kayak ga pernah liat kreta aja….Huh.

Nuansa kerajaan Kuala Terengganu nampak kuat terasa mempengaruhi arsitektur museum ini yang tampak begitu megah.

Sesi perjuangan bangsa Malaysia dari kolonialisme Britania Raya pun menutup sesi belajar sejarah di bangunan yang terletak di Jalan Damansara itu.

15. Taman Tasik Perdana

Perlahan Hop On Hop Off memasuki kawasan hijau Kuala Lumpur….Warbiasah, ini Taman Tasik Perdana yang tersohor itu.

Terkenal dengan sebutan Lake Garden, taman ini adalah solusi terbaikku untuk menjauhi hiruk pikuk kota Kuala Lumpur yang lama-kelamaan membuat bising telinga.

Nempel….Denda.

Kulihat betapa bahagia warga Kuala Lumpur berpiknik sekeluarga, mengayun kaki di sepanjang jogging track, mendayung perahu di danau nan cantik dan aku pun larut bersama langkahku menikmati hijaunya pepohonan yang mendinginkan udara sekitar.

16. Taman Orkid Kuala Lumpur

Warna-warni bunga itu bagai magnet yang menarikku mendekat. Riang tak berkira ketika papan nama itu membisikkan informasi bahwa aku tak perlu membayar satu sen pun untuk memasukinya.

Dilarang menginjak rumput!….Wah, ngajak berantem.

Seorang ibu dengan caping lebar menyapaku dengan senyum karena bahagia. Karyanya menata taman itu akhirnya dikunjungi seorang pengelana berkantong tipis….Tanpa malu pula si pengelana berpose di depan kamera yang dipegang Sang Ibu….Udah masuk gratisan, nyuruh-nyuruh pulak….Beuh, plaaaaaakkkk.

17. Taman Rusa dan Kancil

Bu….Ada sesuatu yang tak memerlukan tiket masuk untuk berwisata di Taman Tasik Perdana?”, pertanyaanku yang tak berkemaluan.

Ada, Dik….Ada kancil di seberang. Di hujung jalan tu belok kanan”, ucapnya bercampur senyum.

Beuh, kalau gratisan jangan ditanya….Donny jagonya cari dan paling cepat hadir. Secepat kilat, aku sudah berada di dalam Taman Rusa dan Kancil.

Mirip….

Para pengunjung yang semuanya begitu cepat memasuki taman itu lalu dengan cepat pula meninggalkannya. Berbeda denganku yang begitu menikmati tingkah para kancil yang saudara-saudaranya suka mencuri timun di Indonesia.

Beuh….Bau kotoran kancil itu mengalahkan kebiasaan burukku….Pemburu wisata gratisan.

18. Taman Burung Kuala Lumpur

Sarang burung terbesar di dunia katanya. Rumah bagi tiga ribu ekor burung. Kali ini tak ada ampun buat dompetku. Rp. 138.000 melayang hanya untuk sekedar melihat para burung bebas terbang berkeliaran di dalam taman ini.

Jangan pegang-pegang plang….Awas rubuh….Huh

Kalau kamu kesana coba kau cari  bebek mandarin yang baru pertama kali juga aku melihatnya. Jangan lupa ikuti juga acara pemberian makan bagi para penghuni KL Bird Park.

19. National Mosque

Keluar Taman Tasik Perdana, HOHO mengantarkanku untuk menjalankan ibadah shalat Ashar di National Mosque.

Sok sopan…..

Masjid Negara yang mampu menampung 15.000 jama’ah ini, didirikan untuk mensyukuri kemerdekaan negara dari pemerintah kolonial tanpa pertumpahan darah.

Rasakan kesejukan ruangan utama dengan karpet lembut saat beribadah di masjid ini. Dijamin damai dan bikin ngantuk.

20. Kuala Lumpur City Gallery

Perlahan aku menjauh dari kawasan Taman Tasik Perdana untuk kembali ke pusat kota. Rupanya aku sudah mengitari kota 360 derajat, karena aku sudah mendarat kembali di Dataran Merdeka. Kali ini aku menyasar Kuala Lumpur City Gallery.

Kek orang kampung….

Pengen tahu rencana pengembangan kota Kuala Lumpur?

Pengen tahu juga berapa pendapatan Malaysia dari pariwisata?….Fantastis.

Pengen tahu juga, mereka mau bikin gedung apa lagi untuk mengalahkan Petronas Twin Tower yang sebetulnya juga sudah menjadi satu yang terhebat di seantero jagad?

Bayar aja deh Rp. 17.500 dan masuk ke dalamnya….Kagak rugi, kujamin.

21. Muzium Tekstil Negara

Yup, masih ada waktu sedikit lageeeee…..

Menyeberangi jalan di Dataran Merdeka, aku tertelisik dengan keberadaan Muzium Tekstil Negara. Tak perlu merogoh kocek untuk mengunjunginya.

Diliatin Satpam dari dalem…..

Muzium yang ditaruh di dalam bangunan berusia  lebih dari se-dekade ini menawarkan perjalanan sejarah dan budaya melaui sederetan kain khas Melayu yang dipajang didalamnya. Juga beberapa peninggalan beberapa benda kerajaan Kuala Terengganu yang artistik dan pasti menjadi barang mewah di zamannya

22. Petaling Street

Selamat tinggal Hop On Hop Off, terimakasih sudah mengantarkanku mengenal Kuala Lumpur.

Aku segera menuju ke hotel untuk mengambil backpack yang sudah kutitipkan sejak pagi karena memang masa inapku sudah selesai jam 12 siang.

Tapi ya kembali ke sifat dasar….Tak mau merugi melawan waktu yang terus bergulir, aku merangsek menuju Petaling Street yang dekat dengan hotel.

Sok mau belanja….Emang punya duit, Don?

Petaling Street adalah pusat pecinan di Kuala Lumpur. Cukup ramai ketika aku memasuki dan menelusuri setiap selasar yang menawarkan berbagai souvenir dan makanan.

Kamu harus cobain kenari atau chestnut bean yang di sangrai dalam pasir panas….Beuh itu enak, sumpah!

23. Pasar Seni (Central Market)

Semakin gelap….Tak perlu khawatir, penerbanganku masih esok hari. Yang membatasiku hanyalah jam operasional terakhir LRT, yaitu pukul 23:00.

Aku hanya perlu waktu beberapa menit untuk berpindah dari Petaling Street menuju Pasar Seni. Duduk menikmati kuliner di Petaling tak menyadarkanku bahwa gelap mulai mengakuisisi hari. Mungkin juga karena kelelahanku yang sudah bersekongkol  dengan gelap untuk membuatku khilaf.

Minjam gambar orang yak (gambar tahun 2019).

Bu, uang segini dapat apa saja ya?….Bungkusin aja sedapatnya, Bu. Souvenir aja ya, Bu….Jangan bungkus makanan. Saya mau pulang ke Jakarta”, perkataan yang menandakan aku lelah dan tak bisa berfikir lagi untuk memilih oleh-oleh.

24. Kuala Lumpur International Airport Terminal 2 (KLIA2)

Hanya beberapa menit sebelum jam 21:00, aku menutup tirai petualangaku di Kuala lumpur. Sudah saatnya menuju ke bandara yang akan menjadi tempat tidurku di malam terakhir. Kombinasi perjalanan menggunakan LRT Laluan Kelana Jaya dan Skybus membuatku tiba di KLIA2 jam sepuluh lebih sedikit.

Tuh yang punya gambar Central Market….Itu kan guwe dari masa depan….Wah!

Hi, man….bandara bukanlah destinasi wisata….Yakss, buatmu mungkin bukan….Buatku iya, karena aku sering menginvestasikan waktu untuk menjelajah bandara-bandara yang baru pertama kali kukunjungi.

Buatku KLIA2 adalah tempat eksotik bak hotel bintang tujuh yang berjasa mengantarkanku berkeliling dunia.

Udah yeee….Tiga hari guwe bikin tulisan ini. Tulisan terpanjang yang pernah kutulis. Ma’ap, kuketik. 2.333 kata, mamen. Njirrrr.

Coba lo itung sendiri dah….

Bus dari KLIA2 ke KL Sentral

<—-Kisah Sebelumnya

KLIA2 adalah terminal paling populer bagi para traveler untuk menyinggahi Malaysia. Jadi, jika kamu satu di antara mereka maka peluangmu untuk mendarat di KLIA2 (Terminal 2) akan lebih tinggi dari pada mendarat di KLIA (Terminal 1). Hal ini dikarenakan pesawat LCC (Low Cost Carrier) semacam Air Asia dan Scoot Air akan mendarat di KLIA2.

Tentu kamu akan menuju ke pusat kota Kuala Lumpur setelah mendarat. Ada tiga pilihan moda transportasi yang bisa digunakan, yaitu taxi, KLIA Express train dan airport bus. Nah kembali lagi ke peluang, maka peluang terbanyak yang akan dipakai para traveler adalah menggunakan bus karena tarif paling murah tentu menggunakan moda transportasi ini. Berikut perbandingannya:

KLIA2 ke KL Sentral.

1. Naik taxi = Rp. 308.000

2. Naik KLIA Express train = Rp. 193.000

3. Naik airport bus = Rp. 42.000 (tarif termurah)

Oleh karena itu, aku perlu menuliskan kisah perjalananku menggunakan airport bus dari KLIA2 menuju ke tengah kota Kuala Lumpur yang pada umumnya penumpang akan diturunkan di KL Sentral.

Jauh sebelumnya, aku juga pernah menulis tentang perjalanan menggunakan Airport Coach dari KLIA ke KL Sentral. Kamu bisa melihatnya di link berikut:

Bus dari KLIA ke KL Sentral, Malaysia

Nah sekarang saatnya kutulis perjalanan dari KLIA2 ke KL Sentral. Berikut ceritanya:

Tepat pukul 09:15, aku melewati konter imigrasi KLIA2. Penerbangan pagi hari yang tak memberikan kesempatan walau hanya sekedar menyantap omlet seperti hari biasaku di rumah. Hal ini membuat perut langsung keroncongan begitu tiba di KLIA2.

Sejurus kemudian aku hinggap di HomeTown Hainan Coffee di lantai 2 Gateway @KLIA2 mall. Menyantap 2 butir telur setengah matang seharga Rp. 21.000 sedikit menenangkan perut yang terus memberontak.

Nama kerennya Omega Half Boiled Eggs….Hahaha.

Tiga pelayan resto pun memperhatikan lekat-lekat ketika aku mengeluarkan segepok lembaran 1 Ringgit Malaysia. Ya, aku meminta 50 lembar MYR 1 ke money changer DolarAsia Jalan Melawai, Jakarta Selatan saat menukar uang. Hahaha….Sumpah, aku ndeso banget ya lima tahun lalu.

Menuju lantai 1 yang merupakan letak dari Transportation Hub KLIA2. Kemudian aku bergegas menuju konter penjualan tiket Aerobus.

Pakai lift itu ya !
Itu adalah konter penjualan tiket taxi dan bus di KLIA2.

Tarif Aerobus kala itu (tahun 2014) adalah sebesar Rp. 17.5000. Tetapi terakhir aku ke KLIA 2 lagi pada April 2019 tarif bus ini sudah di angka Rp. 35.000.

Tarif sudah naik 2 kali lipat setelah 5 tahun.

Aku menunggu Aerobus Express di platform A05 pada 15 menit sebelum waktu keberangkatan. Keunggulan bus ini adalah ketepatan waktunya. Selain Aerobus Express, perusahaan bus lain yang beroperasi untuk rute ini adalah Aerosky Ventures atau lebih dikenal dengan nama Skybus.

Aerobus yang datang di platform A05.

Hanya perlu menunjukkan tiket yang sudah kubeli kemudian petugas merobek bagian driver copy dari tiket itu. Setiap naik bus di Malaysia, entah kenapa aku sangat suka mengambil bangku paling belakang. Duduk di belakang mungkin lebih leluasa untuk mengamati sekitar.

Memasuki aerobus….Paling belakang.

Aerobus akan berjalan menuju KL Sentral melalui MEX (Maju Expressway) Toll Road. Perjalanan selama 50 menit kuhabiskan dengan melihat suasana jalanan negara bagian Selangor.

Mendekati akhir perjalanan, perlahan bus merangsek ke jalan Stesen Sentral untuk merapat ke KL Sentral.

Kamu tahu kan KL Sentral?. Kepanjangannya adalah Kuala Lumpur Sentral yang merupakan stasiun kereta api utama di Kuala Lumpur dan merupakan stasiun kereta api terbesar di Asia Tenggara.  Terletak di daerah Brickfields dan terintegrasi dengan pusat perbelanjaan, hotel, perkantoran dan kondominium.

Shelter bus dengan jurusan KL Sentral ke KLIA/KLIA2 ini terletak di Basement KL Sentral. Ini dia shelternya:

Shelter Aerobus/Skybus di KL Sentral.
Aerobus dan Skybus yang sedang mengambil penumpang di KL Sentral.

Dari Basement, aku hanya perlu naik melalui escalator ke lantai 1 untuk mencapai gate menuju ke platform kereta komuter dan LRT.

Aku sudah berada di platform dan bersiap menuju Batu Caves.

Untuk beberapa moda transportasi dari KLIA2 ke KL Sentral, kamu bisa mendapatkan tiketnya di 12Go Asia atau di link: https://12go.asia/?z=3283832

Kisah Selanjutnya—->

Anyer, Arrival Hall KLIA 2 dan Imigrasi Malaysia

Hi Gaesss…..Ini adalah kisah klasik tempoe doele ketika aku memulai karir sebagai seorang backpacker.

Bermula dari artikel ini, selanjutnya aku akan menuangkan petualangan lawasku dalam membedah negeri jiran….Yesss, Malaysia.

Malaysia adalah negara terdekat yang sering dijadikan tempat latihan termudah dan terhemat untuk mengawali karir sebagai backpacker. Selain menawarkan biaya hidup yang murah dan dekat dengan tanah air, Malaysia juga terkenal ramah dengan sistem transportasinya. Jadi, Malaysia bisa melatihmu menjadi backpacker level beginner.

Malaysia sendiri menjadi negara ketiga yang kukunjungi setelah Singapura dan Thailand pada masa-masa awal perjalananku menjadi seorang backpacker.

—-****—-

Outing kantor di Anyer baru beranjak di malam pertama. Kegelisahanku semakin menjadi-jadi ketika acara penghargaan karyawan tak kunjung selesai. Pukul 23:00 hampir terlewat, sebagai karyawan baru, aku terlihat tak tahu diri ketika memberanikan diri untuk meminta izin pulang ke Jakarta lebih awal…..Guwe kan belum packing, gaes.

Izin pun akhirnya disetujui dengan alur yang tak mudah. Tak berfikir panjang, aku bergegas menginjak gas Avanzaku dalam-dalam. Aku membelah panjangnya tol Jakarta-Serang di dini hari yang mulai berembun.

—-****—-

Memarkirkan “Si Silver” dengan tak sempurna di garasi, aku bergegas dan melompat ke kamar untuk mengepak semua perbekalanku ke dalam backpack berukuran 25 liter.

Waktu yang tak cukup lagi untuk berburu DAMRI Kampung Rambutan-SHIA, membuatku kembali menginjak gas “Si Silver” menuju Soekarno-Hatta International Airport (SHIA). Hal ini membuatku harus mengeluarkan Rp. 255.000 untuk membayar parkir inap di bandara itu selama 4 hari 3 malam.

—-****—-

Tiket pp Jakarta-Kuala Lumpur seharga Rp. 606.000 yang kudapat melalui program promo Air Asia pada 8 bulan sebelum keberangkatan akhirnya terselamatkan dari ancaman keterlambatan yang menghantuiku semenjak menit pertama kepulangan dari Anyer.

Aku tak sabar untuk segera terbang menuju Tanah Melayu itu begitu maskapai merah terlihat landing di runway Terminal 3 Soekarno-Hatta International Airport..

Terminal 3 yang lama (saat terminal 3 Ultimate belum dibangun).

Tak menunggu lama, aku dan penumpang lainnya dijemput oleh Air Asia airport coach menuju lokasi pesawat parkir.

QZ 202 yang akan mengudara pada pukul 06:25 dengan waktu tempuh 1 jam 50 menit.

Kala itu merupakan penerbangan kali keduaku bersama Air Asia (tahun 2014). Sedangkan penerbangan pertamaku bersama Air Asia mengambil rute reguler Jakarta-Bangkok pada 2013.

—-****—-

Yuhuuuu….Pendaratan perdana di negeri Mahathir Muhammad.

Pendaratanku di runway KLIA2 (Kuala Lumpur International Airport Terminal 2) disambut dengan suara pramugari berbahasa Melayu. Pertama kalinya aku mendengar Bahasa Melayu secara langsung. Terkesima dan takjub.

Hati berdetak kencang karena ini pertama kalinya aku ber-solo traveling. “Aduh, bagaimana ini?….Gile, guwe sendirian di negara orang….Ntar kalau ada apa-apa gimana ya?”. Gumamku ketika menginjakkan kaki di aerobridge.

KLIA2 yang beroperasi pada tahun 2014 menggantikan fungsi LCCT (Low Cost Carrier Terminal).
Kondisi bangunan yang masih baru.

Belajar menjadi backpacker pemula menjadikanku membawa kesana kemari botol minuman untuk selalu diisi ulang….Jadoel banget diriku waktu itu.

Water station yang membuatku girang bukan main….Ndesoooo.
Toilet wanita, nursing room dan disabled toilet di arrival hall.
Informasi Departure Flight di KLIA2 pun tersedia di koridor awal arrival hall.

Sebetulnya aku merasa belum siap untuk menuju konter imigrasi karena ketakutan yang luar biasa. Selalu terngiang cerita tentang ketatnya para petugas imigrasi Malaysia bagi para pendatang perdana. Dan kabar buruknya….Ini pertama kalinya aku masuk Malaysia.

Yuk lah….Masuk konter imigrasi….Apa yang terjadi ya terjadilah.

Berada di belakang garis kuning antrian imigrasi membuat jantungku berdetak kencang…Karena sesaat lagi aku akan memasuki satu slot di konter imigrasi. Penampilan yang tak mendukung….Jaket yang sudah sedikit memudar warnanya karena sering kupakai berkeliling Jakarta sebagai salesman, sandal gunung jepit KW yang tak begitu bonafit dan tas punggung kecil yang tak meyakinkan.

Staff imigrasi: “Kemana hendak pergi?”, mukanya ngeri beud.

Aku: “Hanya jalan-jalan Pak di Kuala Lumpur”.

Staff Imigrasi: “Di manakah destinasi?

Aku:”Batu Caves, Petronas Twin Tower, Bukit Bintang dan Genting, Pak”.

Staff Imigrasi: “Cobe adakah anda menunjuk tiket balik?”.

Aku: Menurunkan backpack, membuka dan mencarinya, “Ini pak tiket pulang saya pakai Air Asia tanggal 18 Nov 2014 jam 09:50”.

Staff Imigrasi: “Di manakah tempahan hotel?”.

Aku: “Saya belum pesan hotel pak”, mulai tegang.

Staff Imigrasi: “Bagaimana tak ade tempahan hotel, di mana anda mahu tinggal?”, mukanya judes banget.

Aku: “Saya mendapatkan referensi hotel ini pak (sambil menunjukkan sebuah kartu nama hotel yang kudapat dari bosku yang sering rekreasi ke Kuala Lumpur)”. Tapi sebetulnya aku tak akan menginap di hotel itu.

Staff Imigrasi: “Masa depan mesti ada tempahan hotel, kali ini saya dibenarkan masuk”. Masih terlihat senewen sambil menuliskan tanggal kepulanganku di bawah stempel free visa di pasporku. Pertanda bahwa dia mencurigai aku.

Tetapi pada kunjungan-kunjunganku berikutnya, setiap petugas imigrasi yang kulewati tidak pernah menuliskan tanggal kepulanganku di passport. Aku sudah bisa melenggang bebas di seantero Malaysia hingga kini.

Lihat penampakanku, sungguh mencurigakan sebagai seorang wisatawan.

Ikuti terus kisahku tentang Malaysia di artikel-artikel berikutnya.

Kisah Selanjutnya—->

Dibalik Penerbangan Air Asia QZ 206 Jakarta-Kuala Lumpur

Baru juga pulang dari ekspedisi ke Garut-Tasikmalaya-Sumedang , lelahnya berkelana seminggu di tiga kabupaten itu tak lantas membuat tubuh lelah. Boro-boro istirahat, Aku lebih memilih menuntaskan misiku menyelesaikan eksplorasi Asia Selatan dengan mengunjungi tiga negara tersisa….Bangladesh, Sri Lanka dan Maldives.

Tiket Air Asia yang kubeli seharga Rp 349.000 sejak 7 April 2018 mampu menjaga asaku dan dompetku untuk terus berkeliling dunia. Yes, Aku harus menjemput Malindo Air rute Kuala Lumpur-Dhaka di KLIA.

Sepanjang masa tunggu keberangkatan, banyak pertanyaan muncul dari teman-teman sekantor atau teman-teman lain diluar pekerjaan.

“Yeeee, jalan-jalan kok ke Bangladesh. Ga elit bingit”

“Lo mau liat apa sih Don di Bangladesh?”

“Tar lo pulang sakit loh, Don”

“Kurang kerjaan….mending ke Ancol guwe daripada ke Bangladesh”.

“Kenapa sih Don harus ke Bangladesh?”

Jawabku: “Ya suka-suka guwelah….duit-duit guwe…kaki juga kaki guwe”.

Eh gak gitu dink….kasar beud.

Hahaha….”Ya gimana pren, duitnya hanya mampu buat jalan dimari”….wkwkwk….Itu jawaban guwe ke mereka yeee.

Kan orang lain ga tau sih isi kepala guwe about traveling…..makin gila makin aseeeekkk…..makan aneh makin nagih…..hihihi.

—-****—-

Biasaaa….Nyegat DAMRI di Terminal Kampung Rambutan aja yang murah. Selain murah juga deket rumah bingit. Kupersiapkan Rp. 40.000 untuk membayar tarifnya dengan jam keberangkatan pukul 15:00. Perjalanan 1 jam 15 menit itu mengantarkanku tepat di Terminal 2F.

Melalui gate 5, Aku mulai memasuki pemeriksaan X-ray tahap pertama. Tak begitu mulus, backpack yang menjadi temanku satu-satunya terlihat dibolak-balik petugas AVSEC, dioles-oles menggunakan tissue basah lalu mengamatinya dengan seksama. Tak perlu khawatir….yang penting tak ada narkoba didadalamnya….hahaha. Kalaupun di tolak masuk, tenang brur….ini masih di kota sendiri. Tinggal balik lagi naik DAMRI….ya toh.

“Mbak, window seat donk !”, seruan memelasku kepada petugas check-in di konter Air Asia. Aduh, udah cantik baik pula, murah senyum…..eh emang tugasnye begonoh dink. “Ini mas”, sahutnya…..2D, yes gagal…..hahaha.

Yuk ngecap passport….geblek, padahal itu kan e-passport, tapi kebiasaannku mengecap passport menjadi tak peduli dengan adanya konter autogate.

Petugas Imigrasi  :  “Kemana?”

Aku                           : Sebutin aja detail satu-satu, supaya ga curiga kek waktu itu, “Penang, Dhaka, Colombo, Maldives pak. Transit Mumbai dan Singapore”. Njir perjalanan macam apa ituh….gile

Petugas Imigrasi  : “Backpacker?”

Aku                           : “Yoi pak”….eh salah, bukan begitu….”Betul pak”.

Petugas Imigrasi  : Lihat muka guwe, bolak-balik passport baru dan bekas guwe. Then….cekrek “hati-hati mas sendirian”.

Aku                           : “makasih pak….tentu saya akan hati-hati”.

Petugas                  : “Hebat nih si Mas”.

Cieeee….Guwe dipuji laki-laki….Alhamdulillah…..hahahaha. Pasti mikir guwe yang engga-engga….GUWE NORMAL KOK.

Kusempatkan shalat di ujung koridor sebelum masuk ke gate. Setelahnya, Aku memasuki pemeriksaan X-ray tahap kedua di depan gate D5….yesss, mulus.

Sedang asyik-asyiknya duduk membaca di sebelah charging station, datang sepasang perawakan Korea. Mengoprak-oprek lubang stop kontak yang sepertinya rusak.

Aku     :  “Hi, Sir. That’s broken. I had tried many times and failed”.

Dia       : “Oh yea….Why put it here if broken” pura-pura menendang pelan charging station sembari tersenyum.

Aku     : “Do you want go to South Korea?”.

Dia       : “Oh, Nup….I’m from California and will fly from KL”.

Aku     :  “Oh Nice”.

Dia       : “What are you doing here? “.

Aku     :  “My profession, your mean?”.

Dia       :  “yeaaa”

Aku     :  “Sales”.

Dia       :  “Good money?”

Aku     :  “If not good, I willn’t here to fly with you”.

Dia       :  “yea…yea…yea”, manggut-manggut sambil tersenyum menatapku.

Sepertinya pacarnya seorang travel vlogger. Ngoceh melulu dengan pedenya….hebat. Aku mana bisa kayak gitu. Lebih baik menulis daripada ngoceh terus macam Dia.

QZ 206 akhirnya merapat ke gate. Beuh….petualangan segera dimulai. Kehabisan air membuatku lari keluar untuk membeli mineral water. Dan sedikit mendapat peringatan dari petugas untuk segera kembali ke gate. Ok dah pak, daripada beli didalam pesawat, kan mahal.

Airbus A320-200 berkapasitas 186 penumpang.

Tepat jam 19:17, Aku mulai boarding.

Dibelakang cewek korean-american itu.

Penerbangan malam yang penuh turbulensi mengingat saat itu akhir Desember. Terlihat bapak setengah baya di sebelahku begitu tegang dan berpegangan erat pada armrest chair sepanjang perjalanan sementara Aku dan seorang perempuan muda yang mengapitnya hanya tersenyum kecut sambil menyembunyikan rasa was-was.

Kabin.

Karena pengetahuan terkiniku mengenai Ipoh dan Penang begitu minim, kuputuskan untuk menjelajah inflight magazine Travel360. Berharap menemukan informasi berharga mengenai pariwisata Ipoh dan Penang. Dan….yesss….Aku sungguh mendapatkannya.

Ipoh di inflight magazine Travel360.
Informasi mendasar tentang Penang.

QZ 206 bersiap mendarat. Tak bisa tidur selama perjalanan karena keasyikan membaca inflight magazine untuk mencari informasi. Kali ini petualangan transitku selama 5 hari di Malaysia bak bonek. Ngelayap tanpa bekal informasi yang cukup.

Bersiap-siap mendarat.

Itu bagasi buat apa ya? Perlengkapan keselamatan pernerbangan kali ya.

Begitu tiba di KLIA2 tentu fikiran yang langsung terbesit di benakku adalah cari free water station, makan malam, sembahyang, tiket bus ke Penang dan kemudian molorrrrrr.

Kamu harus menuju ke Transportation Hub di lantai 1 untuk mencari tempat makan murah. Oh ya…konter penjualan tiket bus juga ada disana

Yuks….siap-siap menuju Penang esok hari.

Sudah pernah coba beli tiket di 12Go ndak?. Sekali-kali boleh kamu coba deh. Berikut linknya: https://12go.asia/?z=3283832