Menuju KLIA2 dari KL Sentral

<—-Kisah Sebelumnya

Akan sedikit lebih lama menempuh jalur gratis menuju penginapan dibandingkan menunggangi LRT Laluan Kelana Jaya. Tetapi demi menebus ketiadaan Ringgit, aku memutuskan untuk mengeteng saja dan memanfaatkan jasa Go KL City Bus.

Bergegas meninggalkan KLCC Park, aku melangkah menuju halte bus KLCC yang terletak tepat di depan Suria KLCC. Tiba di bawah naungan halte, deretan armada “Perkhidmatan Bas Percuma*1)” jalur hijau  telah menunggu para penumpangnya.

Aku menunggangnya untuk menggapai titik pertukaran antar jalur, yaitu halte bus Pavilion. Dari situlah aku akan menangkap Go KL City Bus jalur ungu demi menggapai Pasar Seni Bus Hub, halte bus terdekat dari penginapanku, yaitu The Bed Station.

—-****—-

Mengendap-endap curang, aku menaiki tangga The Bed Station dengan penuh harap tak terpergok resepsionis ketika melintas di depan pintunya. Itu karena aku sudah men-check out masa inapku tadi pagi, tetapi kali ini, aku memaksakan diri untuk mandi di kamar mandi bersama lantai 3.

Aku sukses melewati ruang resepsionis di lantai 2, sekelebat kulihat staff resepsionis itu sedang sibuk melayani tamu-tamu penginapan yang tampak berdatangan, memang aku tiba ketika masa-masa check-in telah dibuka.

Bergerak cepat, aku segera mandi untuk meluruhkan segenap keringat setelah sedari pagi tadi berkeliling kota.

Begitu selesai berbasuh, aku segera turun ke meja reception untuk mengambil backpack yang telah kuititipkan sedari pagi.

Penuhnya antrian di meja resepsionis membuatku tak terlihat ketika baru turun dari lantai atas yang sebetulnya sudah bukan menjadi hak bagiku untuk menaikinya lagi, apalagi untuk beraktivitas apapun di lantai itu….Dasar, Donny.

—-****—-

Berhasil mendapatkan backpack, aku bergegas melangkah menuju Stasiun LRT Pasar Seni yang berjarak hanya 200 meter dari penginapan.

Begitu tiba, aku bergegas menuju automatic vending machine untuk bertukar 1,3 Ringgit dengan token bulat berwarna biru. Token itulah yang akan menggaransiku untuk bisa berpindah menuju KL Sentral.

LRT Laluan Kelana Jaya bergerbong empat tiba menjemputku di platform lantai dua, untuk kemudian aku larut dalam putaran roda kereta menuju KL Sentral yang jaraknya tak berselang satu stasiun pun.

Dalam 15 menit,  aku tiba di KL Sentral….

Menuruni escalator aku tiba di lantai satu dan tanpa berfikir panjang segera bergegas menuju basement level. Aku punya satu keuntungan bahwa segenap denah KL Sentral telah kuhafal di luar kepala, setidaknya sudah tujuh kali aku menyambangi transportation hub kenamaan Negeri Jiran tersebut. Hal itulah yang membuatku dengan mudah menggapai konter penjualan tiket Aerobus.

Aerobus adalah transportasi dari KL Sentral ke Kuala Lumpur International Airport Terminal 2 (KLIA2) yang menawarkan perjalan murah jika dibandingkan menggunakan taksi, kereta KLIA Transit ataupun KLIA Ekspres.

Aku menyerahkan 12 Ringgit untuk mendapatkan selembar tiket menuju bandara.

—-****—-

Seperempat jam lewat dari pukul empat sore….

Setelah menempuh perjalanan 45 menit, aku tiba di lantai 1 Kuala Lumpur International Airport Terminal 2. Aku diturunkan di salah satu platform di transportation hub di Gateway@klia2..

Walaupun penerbanganku akan berlangsung pukul sembilan malam, hal itu tak menyurutkan langkahku untuk segera menuju lantai 3 untuk melihat informasi penerbangan lebih detail. Seperti biasa, aku selalu detail dan strict perihal jadwal terbang, setidaknya sore itu aku harus mengetahui di check-in desk nomor berapa aku akan menukar e-ticket dengan boarding pass serta di gate berapa pesawatku akan di lepas.

Senyum tipis tak bisa kusembunyikan dari bibir ketika aku berhasil mendapatkan informasi itu di LCD raksasa lantai 3.

Jam 17:20, ternyata….”, aku membatin ketika mengetahui kapan check-in desk akan dibuka.

Aku memutuskan untuk melakukan shalat jamak takhir di surau lantai 2 dan tentu berencana mencari makan malam setelahnya.

Tak seperti biasanya ketika aku mencari makan di KLIA2. Sore itu restoran langganan yang menyajikan makanan murah khas India sedang tutup. Adalah NZ Curry House yang lokasinya tertutp oleh papan-papan renovasi..

Tapi aku tak ambil pusing….

Pada 2015, aku pernah makan di sebuah food court yang berlokasi di lantai 2M. Aku sedikit lupa posisi food court itu. Tapi aku berniat mencarinya hingga ketemu. Ada restoran ala padang yang menawarkan makanan murah di food court tersebut.

Itu dia….”, aku bersorak dalam hati ketika melihat food court itu dari kejauhan.

Quizinn by RASA….”, aku melafal nama medan selera*2) tersebut.

Restoran Padang Kota Group….”, yupzzz aku melihat restoran yang kucari.

Kiranya tak bisa berlama-lama, aku menuju restoran ala padang itu kemudian mencari menu sesuai dengan kondisi dompet. Inilah saat dimana Ringgitku akan habis.

Lima belas menit sebelum check-in akhirnya aku bisa menikmati seporsi nasi seharga 5,9 Ringgit. Inilah nasi yang kumakan setelah terakhir aku memakannya kemarin siang.

Lantai 2 Gateway@klia2.
Pemandangan dari Gateway@klia2 Lantai 2M.
Beberapa restoran di Gateway@klia2.
Nah, itu dia Quizinn by RASA food court.
Menuku malam itu: Nasi putih, telur rebus kandar dan sayuran.

Mengambil sebuah tempat duduk, aku menikmati makan malam itu dengan khusyu’ untuk kemudian bersiap diri melakukan penerbangan lagi.

Apakah aku akan pulang?….

Tidak….Justru petualangan sesungguhnya baru akan dimulai.

Aku akan terbang menuju sebuah kota di selatan India….KOCHI.

Kisah Selanjutnya—->

Keterangan kata:

Perkhidmatan Bas Percuma*1 = Layanan Bus Gratis

Medan Selera*1) = food court.

Dua Puluh Menit di Petronas Twin Tower

<—-Kisah Sebelumnya

Setengah dua belas….

Aku berdiri di tepian Jalan Bukit Bintang demi menunggu kehadiran Go KL City Bus Green Line. Kali ini aku berniat mengunjungi kembali Petronas Twin Tower. Ini akan menjadi kunjungan yang kelima di menara kembar kenamaan tersebut.

Ga bosan apa, Donny?”, pertanyaan yang mungkin saja muncul.

Bukan perkara bosan atau tidak, aku harus memenuhi sebuah pesan sponsor di spot terkenal itu”, mungkin itulah yang akan menjadi jawabanku.

Go KL City Bus secara fisik memiliki warna yang sama di setiap jalurnya. Oleh karenanya aku selalu waspada jika bus tersebut mulai tampak lamat di kejauhan. Aku harus segera menangkap informasi jalur yang tertera pada layar LCD yang dipasang tepat di kaca depan bagian atas. Sudah dua kali Go KL City Bus yang datang berasal dari jalur lain, maklum halte bus Pavilion adalah pemberhentian yang dilewati oleh tiga jalur Go KL City Bus, yaitu Purple Line, Blue Line dan Green Line.

Setelah sepuluh menit menunggu, tampak jelas di ujung jalan sana, satu unit Go KL City Bus yang berusaha mendekati halte dengan menembus kemacetan. Aku hanya berharap itu adalah bus jalur hijau. Semakin mendekat, tulisan di layar LCD jelas terlihat, itu memang Go KL City Bus Green Line. Maka bersiaplah diriku untuk menaikinya.

Aku menaikinya dari pintu depan begitu bus selesai menurunkan sebagian penumpang. Banyaknya penumpang yang masuk, membuatku tak kebagian tempat duduk dan harus berdiri di bagian tengah.

Dari kawasan Bukit Bimtang, bus bergerak menuju Kawasan Kuala Lumpur City Centre (KLCC). Tetapi sebelum sampai di tujuan, bus memutar dahulu dari sisi selatan untuk kemudian berbelok arah melewati sisi utara. Aku tiba tepat di halte bus KLCC yang berada di tepian Jalan Ampang.

Aku turun dari pintu tengah….

Pemandangan yang langsung tertampak adalah keberadaan kaki-kaki raksasa Petronas Twin Tower yang terasa begitu dekat. Tak berlama-lama, aku bergegas melangkah ke pelataran gedung kembar raksasa itu.

Tibalah diriku di halte bus KLCC.
Jalur pejalan kaki yang rindang di depan Petronas Twin Tower.
Petronas Twin Tower dari sisi lain.

Teriknya matahari telah memaksaku untuk mencari tempat yang terlindung oleh pepohonan. Aku menemukan tempat itu di jalur pejalan kaki sisi kanan menara. Dari sisi itu pula aku mulai menuntaskan pesan-pesan sponsor, yaitu sponsor yang setidaknya ikut membantu biaya perjalananku kali ini.

Mengunjungi gedung kembar 88 lantai itu selalu saja mengundang decak kagum, bagaimana tidak, enam tahun lamanya gedung kembar ini pernah menasbihkan diri sebagai bangunan tertinggi di dunia. Setidaknya hal tersebut telah membanggakan Negeri Jiran dalam percaturan ekonomi dunia.

Menara kembar yang dimiliki oleh perusahaan property raksasa, yaitu KLCC Property Holdings tampak kehijauan jika diamati dengan seksama. Ciri khas lain yang mudah diingat adalah keberadaan sky bridge yang menghubungkan kedua menara di lantai 41 dan 42.

Kali ini, singgah di menara kembar ini berlangsung dengan cepat, tak lebih dari dua puluh menit. Oleh karenanya aku berusaha menikmatinya dengan memperhatikan pemandangan di sekitar area menara. Yuk kita lihat, ada spot apa saja di sekitar Petronas Twin Tower. Ini dia:

Public Bank tepat berseberangan di depan Petronas Twin Tower.
Dari kanan ke kiri: Gedung Bank Simpanan Nasional (BSN), Menara TA One (perkantoran 37 lantai) dan Menara Prestige (perkantoran 40 lantai).
Tropicana The Residences (apartemen dengan harga sewa 2.500 Ringgit per bulan).
Entrance gate milik Suria KLCC.

Sekiranya petualanganku di Petronas Twin Tower telah usai dengan tersampaikannya pesan sponsor. Aku tak akan duduk lebih lama di pelataran menara kembar tersebut.

Kini aku melangkah menuju hamparan Ruang Terbuka Hijau yang berlokasi tepat di tengah hiruk pikuk aktivitas bisnis yang berlangsung di Kuala Lumpur City Centre.

Yukkkzzz…..

Kisah Selanjutnya—->

KL Tower: NKRI Harga Mati

<—-Kisah Sebelumnya

Sarapan di emperan toko….yeeeileh.

Selasa….Usai Subuh….

Mata masih kuyu…Badan serasa lemas.

Semalaman tidurku terinterupsi oleh dengkuran seorang penginap yang terlelap pulas di sebelah kanan ranjang. Tak hanya diriku, aku pun bisa merasakan protes dari seorang penginap yang tidur persis dibawah bunk bed. Berkali-kali aku bisa merasakan, dia menghantam dasar bunk bed yang kutiduri. Mungkin dia merasakan hal yang sama. Kesal….Karena tak bisa tidur dengan nyenyak.

Merasa tak enak badan, kuputuskan saja untuk mengguyur tubuh di bawah shower air hangat di kamar mandi bersama. Guyuran air hangat setidaknya bisa merelaksasi setiap inchi tubuh yang pagi itu sedang tak seratus persen segar.

Pagi itu juga, aku harus mengepack kembali semua perlengkapan ke dalam backpack untuk kemudian harus menitipkannya ke meja resepsionis. Waktu menginapku purna tengah hari nanti dan saat itu pula, aku memastikan diri masih berada di pusat kota.

Usai mandi dan merapikan backpack, menujulah aku ke resepsionis untuk check-out, mengembalikan kunci locker dan mengambil uang deposit. Beruntung, staff resepsionis dari Mesir itu sudah berada di meja kerjanya sehingga memudahkanku untuk menyegerakan proses karena aku harus mengejar pemberangkatan Go KL City Bus sepagi mungkin.

Backpack telah tersimpan rapi dan aku bergegas menuruni anak tangga untuk keluar dari penginapan. Sesampai di luar, aku segera mencari tempat duduk di teras pertokoan yang masih tutup untuk bersarapan. Sarapan kali ini masih saja sama dengan menu dinner semalam….Yups, serbuk oat masih bisa diandalkan. Jujur saja, aku sudah kehabisan Ringgit pagi itu, hanya ada Ringgit tersisa untuk menaiki airport bus sore nanti dan makan malam sekedarnya di KLIA2.

Dari sini bisa diambil kesimpulan bahwa aku akan berkeliling kota tanpa keluar biaya sedikitpun bahkan seringgit sekalipun….Ya, tak akan pernah kukeluarkan.

Beruntung sekali, jalanan masih sepi. Keadaan itu tentu mengurangi beban malu ketika harus menyesap sendok demi sendok bubuk oat yang basah oleh guyuran air mineral.

Alhamdulillah sarapan usai….Petualanganpun dimulai.

Aku melangkah menuju ke Pasar Seni Bus Hub untuk mencari keberadaan Go KL City Bus Purple Line. Bus gratis jalur ungu itulah yang akan mengantarkan ke kompleks KL Tower.

KL Tower adalah menara pemancar telekomunikasi , menara penyiaran, wisata kuliner ketinggian dan wisata sudut pandang kota dari atas.

Dari kejauhan, aku melihat jelas bahwa bus itu sudah berada di posisi. Jadi begitu tiba di platform, aku langsung saja menaikinya dari pintu depan. Baru sedikit penumpang yang sudah menduduki bangku. Hal inilah yang membuatku harus menunggu sekitar sepuluh menit….Setidaknya untuk mengisi bangku-bangku kosong dengan penumpang yang perlahan berdatangan.

Pukul delapan pagi, Go KL City Bus Purple Line akhirnya berangkat jua….

Dalam duduk aku berfikiran bahwa KL Tower adalah bangunan yang tinggi, jadi aku merasa santai saja. Tentunya aku hanya perlu berhenti di halte manapun di dekat banguan KL Tower yang akan tampak dari kejauhan saking tingginya.

Go KL City Bus perlahan menyisir Jalan Sultan demi meninggalkan daerah Pasar Seni. Begitu tiba di sepanjang Jalan Raja Chulan, KL Tower sudah terlihat jelas dari kaca bus. Hanya saja aku perlu memastikan kapan harus turun di halte terdekat. Beberapa kali Go KL City Bus berhenti di halte pemberhentiannya, tetapi aku tetap saja bebal tak kunjung turun. Aku masih berharap bahwa bus akan berhenti di halte yang lebih dekat dari KL Tower.

Itu dia bus dengan layanan percuma*1)
Interiornya bagus dan bersih tentunya.

Terjadilah pengecualian, bukannya tambah mendekat, Go KL City Bus semakin lama semakin menjauhi KL Tower. “Ahhhh, sial….aku sudah kebablasan dan bus bukannya melambat tetapi semakin kencang”, aku bersandar lemas di kaca bus. Akibat kebodohan itu, aku hanya pasrah mengikuti kemana Go KL City Bus pergi. Aku memutuskan kembali ke Pasar Seni dan mengulang lagi perjalanan dari nol….Parah.

Dalam perjalanan 40 menit, akhirnya Go KL City Bus tiba kembali di Pasar Seni.

Konyol….”, aku mengutuk diriku sendiri.

Kini aku turun dari Go KL City Bus dan berpindah ke bus terdepan yang sudah siap berangkat. Beruntungnya diriku,  Go KL City Bus langsung berangkat ketika beberapa detik sebelumnya aku melangkah masuk.

Kini aku memasang sikap waspada ketika duduk di salah satu bangku. Aku akan memutuskan untuk langsung turun saja ketika melihat KL Tower bisa dijangkau dengan berjalan kaki.

Pucuk dicinta ulam pun tiba….

Bus berhenti di sebuah halte dan aku pun melompat turun dari pintu tengah.

THE WELD….”, aku membaca signboard pada  sebuah gedung pencakar langit yang berdiri tepat dibelakang halte tempatku turun.

Kini aku berada di Jalan Raja Chulan dan THE WELD sendiri adalah kompleks perkantoran 26 lantai yang berada 800 meter di timur KL Tower.

Dari THE WELD, aku memotong Jalan P. Ramlee untuk kemudian dalam lima puluh langkah masuk ke sebuah jalan yang lebih kecil, bernama Jalan Puncak. Inilah jalan utama untuk menuju KL Tower yang dibangun di tempat yang lebih tinggi.

Terengah-engah selama seperempat jam, akhirnya tiba juga di pelataran KL Tower. Sebetulnya pada tahun 2014 silam, aku berkesempatan melintas di menara ini ketika menjajal KL Hop On Hop Off untuk berkeliling kota. Hanya saja, kala itu aku hanya turun kurang dari lima menit untuk melihatnya. Ini semua karena KL Hop On Hop Off terburu-buru untuk menjelajah kota.

THE WELD….Selain perkantoran, ada pasar swalayan modernnya juga loh.
Meniti Jalan Puncak.

Kali ini aku akan sedikit lebih lama dalam menikmati pesona menara komunikasi yang berusia tak kurang dari seperempat abad itu. Bagaimana tidak bahagia, ketika akhirnya aku berkesempatan menikmati keindahan menara yang ketinggiannya masuk ke dalam jajaran sepuluh menara tertinggi di dunia.

Keunikan yang pertama kali bisa dilihat adalah atap bangunan dasar yang menggunakan deretan pola meruncing, pikiranku lalu merujuk pada runcingan-runcingan atap Sydney Opera House. Sedangkan pada bagian ujung atas antara tiang dan antena terdapat bangunan membulat yang merupakan pusat dari kegiatan broadcasting, telekomunikasi,  restoran, observation deck dan sky deck.

Sepengetahuanku untuk menikmati observation deck, pengunjung harus mengeluarkan biaya sebesar 49 Ringgit….Sedangkan harga wisata sky deck mencapai 99 Ringgit….Woouuooww.

Aku melangkah menuju entrance gate KL Tower untuk melihat aktivitas di sana dari dekat. Tentu aku tak akan naik ke atas untuk berwisata, terlalu mahal untuk pengunjung sepertiku yang hanya sekedar singgah saja di Kuala Lumpur.

Tak begitu ramai, sedari tadi hanya beberapa turis Eropa yang memutuskan untuk membeli tiket dan naik ke atas menara, sementara aku hanya mengamati sisa-sisa kegiatan kompetisi pemrograman yang diselenggarakan kemarin lusa. Kompetisi itu bertajuk HR Hackathon.

Bergeser ke kanan menara, ada atraksi lain ternyata. Di sisi itu berdirilah konter penjualan tiket untuk berkunjung ke KL Tower Mini Zoo (KLTMZ). Papan informasi yang ada mengatakan bahwa KLTMZ menyimpan tak kurang dari lima puluh spesies asli dan eksotis. Dan untuk melihat spesies-spesies unik itu maka pengunjung perlu merogoh kocek hingga 30 Ringgit.

Berpindah lagi menuju arah depan menara. Tersedia KL Tower F1 Zone yang menyediakan simulator Formula One untuk umum. Pengunjung bisa merasakan sensai mengendarai jet darat itu dengan membayar sebesar 20 Ringgit untuk enam menit mengemudi di simulator. Dinding KL Tower F1 Zone ini berwarna merah menyala, menyeleraskan diri dengan warna salah satu tim balap terkemuka di ajang balapan premier Formula One. Hanya saja, saat aku mengunjungi KL Tower, KL Tower F1 Zone itu masih tutup. Mungkin aku tiba terlalu pagi.

Oh ya, KL Tower F1 Zone ini juga dilengkapi dengan Formula One Cafe & Mart loh….

Tetapi baru sejenak melihat seisi cafe & minimarket dari luar ruangan, aku melihat kedatangan KL Hop On Hop Off warna putih dengan deck atas sebagian yang terbuka. Sontak aku berlari menujunya, sudah enam tahun lamanya aku tak pernah bersua dari dekat dengan bus wisata itu. Ternyata di pelataran menara terdapat shelter KL Hop On Hop Off. Pantas saja bus wisata itu berhenti untuk menurunkan para wisatawan.

Entrance gate KL Tower.
Ticketing Counter KL Tower Mini Zoo.
KL Tower F1 Zone.
Di spot inilah rombongan Surabayan itu aku foto.
Wisatawan asing sering meyebutnya dengan KL Forest Eco Park.

Tak lama berhenti, hanya menurunkan  5 wisatawan, bus itu tancap gas kembali. Tetapi tak lama kemudian, ada sebuah logat yang tak asing di telinga ketika kelima wisatawan wanita itu saling bercakap usai menuruni bus. “Itu logat Surabaya….”, aku menyimpulkan. Aku memutuskan diri untuk menyapa dan bercakap sejenak. Sudah empat hari lamanya aku tak bersua dengan orang Indonesia, tak ada salahnya untuk berbincang sejenak. Atas peristiwa itu, aku tahu bahwa kelimanya adalah Tenaga Kerja Wanita yang sedang berwisata ke Kuala Lumpur. Dari percakapan kami pula, aku tahu bahwa mereka sedang bekerja di Penang.

Seperti biasa, orang Indonesia selalu memiliki ciri yang khas. Mereka akhirnya memintaku untuk mengambil foto dengan latar KL Tower.

Aku? ….Ya tentulah aku meminta juga untuk dipotret….Kan aku orang asli Indonesia….NKRI harga mati.

Aku sendiri sudah berada di ujung kunjungan ke KL Tower. Untuk menutup kunjungan singkat ini, aku memasuki setengah area depan dari Taman Eko Rimba KL. Dahulu taman ini dikenal dengan sebutan Hutan Simpan Bukit Nanas, yang merupakan salah satu cagar hutan permanen tertua di Malaysia. Untuk memasuki cagar hutan ini pengunjung harus rela merogoh kocek sebesar 40 Ringgit.

Usai sudah petualanganku di KL Tower.

Saatnya pergi meninggalkannya.

Kisah Selanjutnya—->

Keterangan kata:

percuma*1) = =Gratis.