The Little One.…Busan Gimhae Light Rail Transit

Yes….Okay….

Yes….Okay…..

Only that 2 kinds of word which came out of my mouth, I didn’t really listen flight attendant explained security procedures at emergency exit. I exactly fascinated to her Korean beauty face. I still stunned to enjoy her beauty until he ended her explanation with a smile … Certainly, I gave her my smile as sweet as possible … hahaha.

1 hour 30 minutes flight became a thrilling journey because I had bad feeling for Busan immigration checking later.

And it finally true.… I was interrogated by immigration officer for 1 hour.

Scary interrogation at immigration counter made my tongue feel bitter when tasting piece by piece a pie which I got from Busan Air flight.

Later, this story would make me change 180 degrees when I prepared my documents for traveling. I became a very perfectionist person in preparation.

I got out from Gimhae International Airport with a disheveled face but that happiness was unable to deeply hidden. This was my first time in visiting South Korea.

2 degree Celcius weather made me rush to look for existence of LRT station. I quickly found it on right side of airport exit gate.

I touched all buttons in automatic machine to get Busan Gimhae Light Rail Transit token.

Waiting for LRT arrival with big curiosity about what will happen next in every second of my adventure in Busan.

Shortly waiting, LRT arrived.

Surely, My first destination was dormitory where I stayed in Busan. I would go to Kimchee Busan Guesthouse on Hwangnyeong-daero Street.

Stopped at Sasang station as LRT last station, I switched to using Humetro(the name for Busan Subway) green line.

In this Humetro. I saw a Indonesian face. Occasionally he saw me, so did I. Sometime he smiled, so did I.

I decided to approache him.

Conversation was unavoidable. It’s true, he is an Indonesian professionalis who working in Busan. From him, I got information that citizens of Busan isn’t open as Seoul. So I would understand what will occur with my interaction with local people in Busan.

Conversation stopped when I had to get off at Seomyeon Station for change to Humetro orange lane. It only took one station in distance then I got down at Beomnaegol station – station where my guesthouse located -.

It wasn’t easy to find this guesthouse location, I had strayed more than half an hour in midst of very cold temperature and it almost made me panic before finally I found it after ask to GS25 minimarket staff.

Finally I check-ed in to Kimchee Busan Guesthouse.

Berwisata ke Kampung Ayer, Bandar Seri Begawan.

Rasa penasaran terbayar tepat saat langkah pertamaku menuruni bus di salah satu platform terminal bus Bandar Seri Begawan. Tak kuduga, petualanganku berkeliling Asia Tenggara mengantarkanku ke negeri Hassanal Bolkiah.

Unik….Terminal berada di lantai bawah Bumiputera Multi Storey Complex and Carpark.

Selangkah kemudian, Aku sudah berada di dalam Warung Makan Afmal di sisi terminal untuk menikmati seporsi bakso. Butuh sesuatu yang segar di mulut untuk menghilangkan kekusutan pasca bermalam tanpa mandi pagi di Kuala Lumpur International Airport Terminal 2 (KLIA2). Kesegaran bakso yang kupesan semakin bermakna ketika terjadi obrolan ringan dengan si empunya warung makan yang asli Purworejo, Jawa Tengah….Wah tetangga sendiri ternyata.

Selepas kenyang, Aku bergegas untuk keluar dari area terminal melalui  Lorong Bebatik menuju sebuah jalan besar (Jalan Mc Arthur). Tepat disisi lain Jalan Mc Arthur, Kamu akan menemukan Brunei River yang sangat bersih. Dan tepat di tengah Brunei River, berdiri sebuah perkampungan terkenal di seantero Brunei. Namanya Kampung Ayer.

Setiap petunjuk jalan selalu dilengkapi aksara Arab.
Tepat di tepi Brunei River

Aku terus mengamati lalu lalang perahu bermesin yang membelah lebarnya Brunei River. Tidak ada cara lain memang untuk menuju Kampung Ayer, Aku harus menaiki perahu-perahu kecil itu.

Bergegas menuju pinggiran Brunei River, Aku menantikan kedatangan sebuah perahu yang menuju ke tepi. Begitu bersandar, bersamaku perahu itu langsung terisi dengan 2 turis lainnya. Perahu ini sangat cepat bergerak dan tak pernah menunggu lama di tepian sungai.

Yang perlu kamu tahu bahwa setiap dolar Singapura bisa digunakan sebagai alat bayar di Brunei Darussalam dengan nilai yang sama dengan Dolar Brunei. Jadi 1 Dolar Brunei nilainya sama dengan 1 Dolar Singapura. Hanya terkadang di beberapa transaksi, warga Brunei hanya menerima pembayaran dalam bentuk uang kertas dan menolak menggunakan koin Dolar Singapura. Tetapi ada juga di beberapa transaksi, koin ini bisa berfungsi.

Dengan koin 1 Dolar Singapura, Aku akhirnya tiba di Kampung Ayer Cultural And Tourism Gallery. Galeri ini terletak di bagian paling depan perkampungan. Free entrance membuatku begitu sumringah ketika mengisi buku tamu di bagian reception. Sapaan hangat sepasang resepsionis berbahasa Melayu membuatku seakan berada di kampung sendiri….Kampung Rambutan….eeaaaa.

Itu dia Kampung Ayer Cultural And Tourism Gallery.
Mendapatkan Free Tourism Guiding Book.

Kampung Ayer sendiri pernah menjadi pusat pemerintahan Brunei hingga akhir abad ke-19. Oleh karenanya, para sultan Brunei mendirikan istananya di sini. Peran lain sebagai pelabuhan penting di Brunei menjadikan Kampung Ayer sebagai pusat administrasi atas aktivitas komersial di Brunei. Setiap penandatanganan perjanjian penting pemerintah dengan  pihak lain dilakukan disini.

Daya tarik Kampung Ayer sebagai pusat pemerintahan menjadikan 50% warga Brunei tinggal didalamnya pada tahun 1900-an.

Keris Brunei dengan 9 lekukan sebagai simbol kekuasaan

Di pintu keluar, Aku mulai tertelisik dengan rapinya jajaran rumah di perkampungan. Aku pun tak menyia-nyiakan waktu dengan memasuki bagian dalam perkampungan. Bersua dengan para penghuni membuatku enggan untuk cepat-cepat meninggalkan Kampung Ayer.

Yuk….Masuk ke dalam kampung itu !
Lucunya anak-anak sekolah itu dengan seragam Melayu.
Airnya bisa jernih begitu ya?

Tapi Aku segera tersadar bahwa Aku harus segera mencari penginapan untuk bermalam nanti. Pencarian penginapan secara online yang kulakukan tak pernah membuahkan hasil. Ini terjadi mungkin karena pariwisata Brunei Darussalam yang belum tersohor di kawasan Asia Tenggara.

Kuputuskan untuk menepi dengan menunggu perahu di boat shelter. Tak menunggu waktu lama sebuah perahu menjemputku. Bersama seorang Bapak dan anaknya yang merupakan warga Kampung Ayer, Aku menuju ke tepi. Sepertinya sang Bapak mempunyai agenda penting, terlihat dari caranya berpakaian khas Melayu yang sangat rapi dan klimis.

Dia: “Asal mana, Adek?”, Dia menyapaku pertama kali dengan senyum.

Aku: “Saya dari Indonesia, Pak”. Kubalas senyum dan kuajak berjabat tangan.

Dia: “Indonesia bagian mana?”

Aku: “Jakarta, pak”.

Dia: “Kerja apa disini?”

Aku: “Oh, Saya melawat (berwisata) Pak di Brunei”.

Dia: “Brunei kan sepi, Adek. Kok melawatnya ke Brunei?”

Aku: “Oh, Brunei religius ya Pak. Saya sengaja ke Brunei Pak karena berniat keliling Asia Tenggara. Senang bisa ke negeri Bapak”.

Dia: “Wah, bagus ya keliling Asia Tenggara. Adek, ga usah bayar ya perahunya. Ini sudah Saya bayar”, Dia memberikan 3 lembar Dolar Brunei ke pengemudi perahu.

Aku: “Terimakasih ya Pak, Senang bertemu dengan Bapak”, sambil pura-pura tersipu malu padahal senang banget naik perahu gratisan.

Sekelumit percakapan dengan warga lokal sebelum akhirnya Aku bersandar di tepi.

Boat shelter dekat Pasar Tamu Kianggeh

Yuk….Cari dormitory !.

Visiting Siak River, Pekanbaru

Conversation in Javanese language (with taxibike driver) at that time gave me a fact that Most Pekanbaru resident are Minang descent. It is strengthens my mindset that Minang descent has a very strong migratory culture.

It only took 10 minutes for taxibike driver to explain everything about Pekanbaru until we both stop precisely in front of Sri Indrayani Hotel lobby.

Putting my backpack and eating 4 slices of toast made me ready in first minute inside Pekanbaru exploration.

“Hi Donny, you have to walk to north if you want to enjoy Siak river”, I murmured.

When I hear a word….”Pekanbaru”….my mind is always think about Siak river. How come? This river ever known as the deepest river in Indonesia, which in its heyday is usually traversed by tankers and container ships.

Hot weather in Pekanbaru burned my skin and crowded streets in downtown accompanied my steps to get closer to Siak river. And finally, I asked to a policeman to show me the fastest road towards Siak bridge 1.

Based on information which I got, Siak river has 4 bridges which become Pekanbaru’s landmarks. After sweating a lot, I finally arrived at side of Siak river. Precisely under Siak bridge 1.

Well-known as Leighton bridge which was built by PT Chevron Pacific Indonesia

Can’t wait to see river stretch with beautiful architecture of entire bridge which built above this legendary river, I immediately rushed to top of Siak bridge 1.

I was in middle of pedestrian path on Siak bridge 1, which was 42 years old

Once on bridge, I could enjoy river width more freely … Yes, I believe that tanker ships could sail on it in the past.

Looking far ahead, another bridge stretchs were looked also. Yellow arches that become a characteristic of Siak bridge 3 and construction of Siak bridge 4 which at that time hadn’t yet been finished but had already appeared its design. (Based on information in newspaper, this bridge had been opened in February 2019).

That is Siak bridge 3 and in the distance is Siak bridge 4

Didn’t want to leave Siak river immediately, I tried to see residents activities around it. I slowly walked to Siak bridge 3. Passing one side of river, and I found culinary stalls which hadn’t been partially opened.

Culinary stalls along Siak river.

Then I sat in a park to take shelter from hot sun while seeing Pekanbaru residents activities. I noticed a young couple who was busy playing in the park with their first child. I also diligently saw some residents catch fish under Siak bridge 1. Sometimes, Riau Water Police Patrol boat back and forth distracted my attention when I was looking at those activities.

Park on banks of river, near the Siak bridge 1

15 minutes later, I walked along river bank until I arrived precisely under the Siak Bridge 3. The yellow bridge which looked more artistic.

Area below the bridge is very well maintained by existence of a wider park. And under the other side of bridge is a tourist destination also i.e “Rumah Tuan Kadi”.

Riverside park precisely under Siak bridge 3
Rumah Tuan Kadi

And across river is clearly visible the water police headquarters with activity inside a patrol boat that was so busy.

Riau Police Water Headquarter

After feeling satisfied enough to visited Siak river and I saw my watch on 11:15, I finally left this river to find another tourist attraction in Pekanbaru.

Menembus Pagi Mejemput Fajar di Sarangkot, Nepal

SARANGKOT….adalah nama sebuah desa berketinggian 1.400 mdpl di Distrik Kaski, Zona Gandaki. Terletak tepat di kota Phokara yang merupakan pusat turisme di Nepal menjadikan Sarangkot sebagai salah satu destinasi favorit. Kenapa demikian?….Karena Sarangkot adalah viewpoint terbaik untuk mengamati Pegunungan Himalaya.

Delapan puncak Himalaya yang bisa dilihat dari desa ini mendorongku menaruh nama desa ini dalam itineraryku.

Hari pertama tahun 2018….Happy New Year, Donny!

Sarangkot seakan dekat di pelupuk mata. Taxi sewa harian seharga 1.100 Rupee sudah kupesan di Phokara Lodge Hotel tempatku menginap. Kabar baiknya Aku akan membayarnya secara patungan dengan 3 turis lain.

Haripun masih gelap ketika Mr. Raj si pengurus hotel membangunkanku, “driver sudah siap di bawah”, sahutnya. Hanya bersikat gigi dan membasuh muka, Aku segera menuruni tangga hotel untuk bertemu sang driver.

Keramahannya tersirat dari setiap senyum yang terlempar di hadapanku. Aksen Inggrisnya yang menakjubkan menunjukkan bahwa Dia juga seorang pemandu yang baik untuk setiap tamunya. Menurutnya, kemampuan berbahasa Inggris menjadi sebuah kewajiban mengingat pariwisata adalah jantung perekonomian Nepal.

Pagi-pagi buta Aku memulai lawatan ke Sarangkot. Perjalanan sejauh 12 km ini porsi besar jalurnya akan melewati jalan Phokara-Baglung.

Aku menjadi orang yang beruntung, karena sejak malam langit terlihat cerah. Artinya Aku akan melihat indahnya Himalaya tanpa halangan awan.

Memasuki  gerbang Sarangkot, kendaraan diberhentikan dan Aku harus mengeluarkan 50 rupee untuk ditukar dengan entrance ticket. Total hanya perlu 30 menit untuk tiba tepat di pelataran parkir Sarangkot.

Entrance ticket

Menaiki puluhan anak tangga, tersadar bahwa Aku berada di ketinggian. Tetapi gulitanya pagi, membuatku susah melihat pemandangan di bawah.

Sekejap kemudian, Aku tiba di luasnya pelataran. Sepertinya ini adalah titik pandang Himalaya yang dimaksud. Sudah lumayan banyak turis yang duduk di bibir bukit menunggu datangnya fajar. Beberapa photographer professional terlihat sibuk mempersiapkan kamera dan peralatan lainnya.

Suhu 4o Celcius  terkalahkan dengan bayangan pesona Himalaya yang memenuhi  alam imajinasiku.

Waktu seolah berjalan lama ketika Kita menantikan sesuatu yang dicinta….begitupun Surya di Sarangkot….seakan menggodaku dengan menunda-nunda kemunculannya untuk menghangatkan Himalaya.

Pucuk di cinta ulam pun tiba

Dia mulai menunjukkan batang hidungnya  

Tinggal pilih aja…hidung matahari atau hidung si charming itu….
Penduduk desa itu pasti bahagia, setiap hari melihat indahnya Himalaya.
Lihatlah puncak Machhapuchhare yang lancip itu….

Ketika sinar surya menerpa lapisan es di puncak Himalaya, maka warna keemasan akan memancar dan itu membuat mataku susah berkedip. Takut kemewahan itu sirna begitu saja…….Hadeuh….Bahasamu Don.

Pagi yang sudah tersibak, Aku baru bisa melihat bentuk pelataran sesungguhnya. Ini dia:

Pelataran untuk menikmati indahnya Himalaya
Yang ga puas dan kurang tinggi….boleh naik ke atap di kiri pelataran
Atau atap di kanan pelataran.

Segeralah berpindah ke sisi pelataran lain. Kamu akan melihat pemandangan penutup, yaitu Phewa Lake yang secara geografis terletak  di sebelah selatan desa Sarangkot.

Jangan liat orangnya…liat aja danaunya…fokus!…fokus!.

Setelah berdiam diatas selama 2,5 jam. Kuputuskan untuk turun kembali. Pemandangan desa yang tak tampak ketika Aku berangkat, akhirnya terlihat dengan jelas dan indah ketika Aku perlahan meninggalkan puncak Sarangkot.

Perumahan warga dari atas.
Menuruni puluhan anak tangga

Sebetulnya jika tak mau repot berangkat pagi-pagi dari kota Phokara, Kamu bisa menginap di sekitar Sarangkot dan datang sehari sebelumnya. Di Sarangkot terdapat beberapa penginapan yang menyediakan kamar untuk turis yang akan menikmati Himalaya.

Salah satu penginapan disana.
Restoran pun banyak

Menuruni punggung bukit selama 15 menit, akhirnya Aku tiba kembali di pelataran parkir.

Mobil pengunjung di tempat parkir.

Menemui driver taxi yang menemaniku, kemudian Aku di ajaknya menuju Purana Bazaar untuk melihat aktivitas perniagaan di pasar yang terkenal di Phokara.

Visiting Dragon-Tiger Pagodas, Kaohsiung.

My trip when going back from Fo Guang Shan ended at Kaohsiung Main Station and was greeted by little drizzle which began to fall.

My time began to be counted down during 2 hours from that time because the next destination would close precisely at 5 pm.

I took my KPP Taiwan Pass out. I got it at Kaohsiung International Airport MRT Station a day before. I immediately moved towards Ecological District Station.

KPP Pass is a cloud-based pass card which used in three regions i.e Kaohsiung, Pingtung, Penghu (three major cities in southern Taiwan)

Finding a bus shelter and waiting for bus no. R35A to get access towards Lotus Lake would be my next step. I waved my hand when bus was fastly running at Bo’ai 3rd Road towards me. Maybe the driver thought that there wasn’t passenger at bus shelter. Nimbly stepping aside, finally bus stopped in front of me.

Apparently the driver was a woman, asking me about where is my destination in Taiwan language made me speechless.

I: “Dragon-Tiger Pagodas, Mam”

Driver: shake her head, her eyes were closed and raised her hand as surrender sign that she didn’t understand my words.

I: “Hahahaha …….”

Driver: looked like a little annoyed when I laugh.

I: “Wait … wait”. I took my smartphone out, I looked for the pagoda image which I meant and I showed it to her.

Driver: “A little shouted excitedly….yeah….yeah….while thumbing up.

After paying USD 0,5 by entering my coin into the fare box, I stood behind.

It took 10 minutes only to arrive at Lotus Lake and finally the twin pagodas were clearly visible.

Kaohsiung bear doll like its image in my KPP Taiwan Pass

Panda is an iconic animal in Taiwan, so you will often meet its profile in public places. I found it at this pagoda also.

If you want buy souvenirs, enter that building!

Visitor Souvenir Center

Entering pagodas area, clearly seen the Dragon statue and the Tiger one:

According to the myth, I must enter from dragon mouth and come out from tiger mouth….And I would luck.

This seven-story pagodas with yellow floors and red pillars emit a solemn aura in the middle of Lotus Lake.

Lotus Lake as far as eye can see.

Opposite in front of Pagodas stand the magnificent Tzu Chi Palace

I left Lotus Lake on 16:45 to looking for dinner at Kaisyuan Night Market.

My confusion was started here, I didn’t know which bus number must I take and where I must go. At that time, I just used map and compass when traveling there, I didn’t use Google Maps just for save my budget because I didn’t need to buy internet quota. So as long as I don’t get WiFi, then my presence in a country willn’t be detected … It’s cool, I am like CIA agent….Hahaha

If I am confused, I will randomly take a city bus….wherever. Then I will stop near famous spots which I’ve learned before visiting that country. Finally, I randomly took a bus that afternoon. And in confusion, I finally saw Kaohsiung Arena (the biggest soccer stadium in Kaohsiung). I stopped at its nearest bus stop. Either it was free or driver didn’t know, I never tap my KPP pass on automatic fare machine.

There is Kaohsiung Arena MRT Station near it.

From this station, I finally managed to find Kaisyuan Night Market.

It was a little crazy adventure, bro …

Menginapi Ketinggian….Pesona Baiyoke Sky Hotel, Bangkok

Kalau ditanya, berapa kali pernah ngelayap ke Negerinya Bhumibol Adulyadej?….udeh 3x, bang…..Pertanyaan mudah level pertama.

Lalu kalau ditanya, Apa yang paling berkesan ketika mengunjungi Negeri Gajah itu?…...tom yam atau ladyboynya, bang….jawaban mudah pertanyaan level kedua.

OKAY….sebelum masuk question berikutnya

Kamu semua tahu lah, apa enaknya “ngelayap edan” ke negeri orang versi travelingpersecond.com….kacamata biasa aja menjawabnya ”nothing fine“.

Tapi, kali ini Aku sedikit sombong. Karena Aku ternyata menyimpan satu kisah perjalanan borju ke Negeri yang ladyboy nya sangat aduhai itu.

Begini….Apa yang akan Kamu lakukan jika dikasih uang 10 juta dan Kamu diminta menghabiskan uang sejumlah itu selama 3 hari 2 malam di negerinya si super cantik Baifern Pimchanok?…Nah ini nih pertanyaan level ketiga.

Gile lu Don….Uang segitu aja banyak. Pan banyak orang bawa uang segitu buat jalan-jalan disono. Wadaw….Aku norak banget sih. Tapi swearrrrr….segitu buat Aku sangatlah buanyakkkkk.

Uang segitu akan menjadi berkesan tentunya, jika bisa digunakan untuk menginap di hotel mahal di Bangkok.

Yes, Aku nginep di Baiyoke Sky Hotel.

Baiyoke Sky Hotel memiliki tingggi 309 meter dan menjadi hotel tertinggi ke-7 di dunia. Tak hayal jika Kamu perlu mengeluarkan kocek sebesar 1,5 juta per malam apabila mau bermalam dimari.

Hotel yang terletak di Khet Ratchathewi (Khet artinya distrik), Propinsi Bangkok. Ratchathewi sendiri berasal dari nama seorang permaisuri yaitu Phra Nangchao Sukumalmarsri Phra Ratchathewi.

Nah Selain memiliki Victory Monument sebagai landmark, Ratchathewi juga memiliki landmark terkenal yaitu Baiyoke Sky Hotel yang kali ini sedang Kubahas.

Hotel ini terletak di area terkenal….namanya, Pratu Nam. Di sana juga ada destinasi terkenal lainnya yaitu Pratu Nam Market. Kamu harus mengunjungi pasar tersebut jika ke Bangkok.

Hotel ini sendiri memiliki 2 tower utama. Tower I memiliki tinggi 151 meter dan digunakan untuk Baiyoke Suite Hotel. Sedangkan Tower II bertinggi 309 meter, digunakan untuk Baiyoke Sky Hotel

Aku membayar Rp 125.000 (THB 250) ke pengemudi airport taxi setelah Dia mentransferku dari Don Mueang International Airport ke Baiyoke Sky Hotel.

Sebelum memasuki pintu hotel, Kuperhatikan kesibukan aktivitas perdagangan di commercial shops yang terletak di lantai terbawah Baiyoke Sky Hotel.

Mulai memasuki pintu bawah hotel, antrian begitu panjang di depan lift. Aku pun berdiri di ekor antrian.

Oh Donny……Dasar ndeso. Doorman itu menghampiriku, rupanya Dia tahu aku baru saja mengambil  antrian di belakang.

Dia: “Excuse me, Sir….Do you want to stay in or just go to observation deck?”

Aku: “I want to stay sir

Dia:”Oh Okay, Sir….This queue is for observation deck only. You can use that lift to go to lobby”

Aku: “Oh thank you sir”. Baca petunjuk dong Don….Ndeso (Hatiku bergumam). Aku pun mulai berpindah ke lift sebelah yang sepi antrian.

Lift itu pun mengantarkanku ke Lobby.

Reception hall yang bernuansa klasik

Selesai proses check-in dan mendapatkan access card. Aku segera menuju keatas untuk rehat sejenak. Ada tiga koridor lift di lantai tempat resepsionis berada. Koridor pertama digunakan untuk menuju pintu keluar hotel di lantai terbawah. Koridor kedua dan ketiga digunakan khusus untuk tamu menuju kamarnya dan menuju  beberapa tempat menarik di hotel, seperti  Baiyoke Floating Market, Bangkok Sky, Observation Deck, Stella Palace, Bangkok Balcony, Crystal Grill dan Roof Top Bar.

Menelusuri koridor mencari keberadaan kamar.

Aku mulai memasuki kamarku……

Untuk urusan makan, Aku tak perlu mengunyah sepasang toast seperti biasanya. Karena ini bukan dormitory bung….Ayeee

Makan sepuasnya lah biar buncit dah….

Selain itu, Kamu juga bisa merasakan makan dalam balutan konsep floating market. Maksudnya, tidak ada air ya gaes di lantai ke-75 dimana floating market berada. Hanya saja buffetnya berwujud perahu dan ada pedagang di setiap perahunya

Namanya juga Second-Tallest Hotel di Bangkok, akan sangat rugi jika Kamu tak menikmati pemandangan Bangkok dari 360-degree revolving viewpoint di ujung Tower II.

Pemandangan seharga Rp. 200.000 untuk umum, Kali ini Aku bisa menikmatinya secara gratis sebagai tamu penginap.

Malam pertama, Aku kemalaman dan 360-degree revolving viewpoint di lantai ke-84 Baiyoke Sky Tower sudah berhenti berputar. Aku tak bertahan lama di revolving roof deck dan kuputuskan untuk turun. Aku hanya mendapatkan ini:

heran, si Peter Parker kuat banget. Dah 3 hari kek gitu di lantai 83

Terpampang juga foto para juara tiap tahun dari Baiyoke Run Up International (lomba lari menaiki tangga menuju puncak Baiyoke Sky Tower).

Aku baru bisa mendapatkan view kota Bangkok 360o di malam kedua. Putaran 360-degree revolving viewpoint membuatku terpana melihat keindahan Bangkok di malam hari.

Berburu foto di 360-degree revolving viewpoint

Baiyoke Sky Hotel juga menyediakan museum mini untuk mendisplay beberapa arca dan artefak Buddha.

Kuliner Terdekat

Tepat diseberang hotel, Kamu akan menjumpai Indra Square Shopping Mall. Buka dari jam 10 pagi hingga jam 9 malam, seperti kebanyakan shopping mall pada umumnya, Kamu dengan mudah akan menemukan banyak pakaian, aksesoris, souvenir, sepatu dan tas yang dijual melalui proses tawar- menawar. Banyak trader keturunan India mengadu nasib disini.

Kembali ke kuliner, Kamu bisa menemukan Indra Food Square di lantai paling atas.

Mau Belanja di Jalanan?

Sepanjang jalan didepan Baiyoke Sky Hotel menghadirkan night market yang menarik para tamu hotel untuk mengunjunginya. Cobain duren Bangkok tepat disebelah kiri depan hotel deh….maknyussss.

Ternyata nginep mewah itu enak ya bro…..Ahirrr

Jet Airways 9W 256 from Mumbai to Colombo (BOM-CMB)

My third-flight and also my last flight with Jet Airways were deliberately priority to be written. Remembering every Jet Airways flights that are very important in completing my exploration in South Asia region.

Early morning flight (2:05 p.m.) which was departed from Chhatrapati Shivaji International Airport in Mumbai made me lack of sleep time since checked-in until landing (04: 35).

Entering airport, I immediately sought a pray room. Entering prayer room, I was greeted by a man who was wearing an ihram cloth (Ihram cloth is specific cloth for hajj or umrah in Mecca) among a group of umrah tour which were praying together. His hospitality smile welcomed me after ablutions.

He : “Assalamu’alaikum, hi brother, where are you come from?

Me: “Hi sir …. from Indonesia“. I threw a smile to him.

He: “I’m from Bangadesh, I think you are from Malaysia“. He smiled again.

Me: “Yeaa….Malaysian and Indonesia are looking same”. I shaked his hand

He: “Where will you go?

Me: “I will go to Colombo…Oh ya three days ago, I visit your country

He: Suddenly hugging me … ” Really, How about my country? nice?

Me: “Yeaa, exotic country….very original….I will come again next time”.

He: smile again and patted my shoulder.

I also found some Indians praying at some airport corridors.

Dinner at that night were some authentic Indian street fried foods which I got from the last rupee after exploring Mumbai”

A thing that I always do when traveling is to exchange my last local moneys into USD before leaving a country which I visited and then spending last coins which can’t be exchanged to buy a menu for next meal. In fact, sometimes I will eat it in next country.

Last 2 hours waiting time was used to charge all my electronic devices which low battery after I use it in exploring Mumbai.

Airport information calls which don’t use Indian-English accent at all make me feeling like at European airports (It’s still dream….I’ve never set foot in Europe). Yeah cool.…all information calls at this airport is accented with native english .

It was really nice to see my plane leaned on gate 85D, a sign that I would set foot in Colombo soon.

My plane just arrived and was unloading

1 hour later boarding process started.…

through aviobridge I finally caught my third flight with Jet Airways.

Online checking-in that I did 24 hours before flight made me free to choose a window seat. This position is always my choose at every flight to easy documenting every moment during flight.

boarding process before I really fell asleep.

Trying to still awake by reading “Jet Wings”, I hoped cabin crews would immediately distribute in-fligt meal.

this is Jet Airways’ inflight magazine.

Even when I fell asleep, inflight meal never came. Apparently, there wasn’t food on this flight. Or whether I missed it. Because I really fell asleep very hard. Because less sleep during Mumbai exploration.

I was awakened by flight attendants to immediately establish my seat, signaling that I would land in Colombo soon.

I deftly set up my Canon EOS M10 and turned it on. I would catch some city view when plane prepared to touch down at Bandaranaike International Airport.

I was stunned by a row of lights that were patterned straight and neat. There wasn’t doubt that it must be a beach that would ll be my destination in Colombo.

View along the famous Galle Face beach.

10 minutes later, Jet Airways actually landed in Colombo. Hmmmh… couldn’t wait to get down soon.

Bandaranaike International Airport could be seen from plane’s window.

My arrival was at 4:35 a.m., I had to wait until morning to catch first airport bus which would go to downtown.

Jet Airways was in unloading process at Bandaranaike International Airport

Subha udesenak!Pearl of the Indian Ocean“….kindly welcomed me, please….hehehe.

Tiga Viewpoint di Phuket

Tulisan pertamaku tentang Thailand tak akan kuambil dari Bangkok yang menjadi Ibukotanya. Tapi Aku akan membuatmu penasaran dengan menghadirkan Phuket.

Membayangkan keindahan Phuket sejak 2013, Aku baru benar-benar bisa melihat keindahan itu dengan mata telanjang pada 2019. Enam tahun lamanya Aku hanya bisa melihat Phuket dari sebuah foto yang kutempel di meja kerjaku. Banyak alasan tentunya kenapa harus selama itu. Mulai dari waktu, kesibukan dan tentunya dompet….hihihi, kayaknya masalahku yang terakhir itu deh.

OK, by the way….

PHUKET….merupakan sebuah propinsi ber-area pulau di sebelah selatan Bangkok. Jika diukur, panjangnya sepanjang Jakarta-Cikampek dan lebarnya hanya sepanjang Jakarta Timur ke Jakarta Barat.

Phuket memang terkenal dengan wisata pantainya. Tapi jangan salah, 70% wilayahnya adalah perbukitan. Artinya, Kamu bisa melihat keindahan kota dan pantainya dari atas.

Atas dasar itulah, sebelum menikmati segenap pantai di Phuket, Aku melakukan satu hal yang jarang dilakukan turis lainnya….Yes, Aku mulai menanjaki perbukitan itu untuk melakukan “Phuket helicopter view”.

Siang itu, maskapai Nok Air mendaratkanku di Phuket Internatonal Airport. Disambungkan dengan airport bus, Aku benar-benar diturunkan tepat di pusat kota. Selepas check-in di Fulfill Phuket Hostel dan lunch di sekitarnya, Aku segera bergegas menggeber sepeda motor sewaan ke sebuah bukit di barat laut hotel.

1.Khao Rang Viewpoint.

Khao Rang atau Rang Hill adalah sebuah viewpoint yang terletak di utara Phuket. Menurut petugas yang kutanyai, Khao Rang biasa dikunjungi penduduk Phuket di malam hari selepas penat bekerja atau di weekend untuk merayakan libur setelah 5 hari sibuk bekerja.

Kebetulan sekali Aku hadir disini pada Minggu siang, jadi sangat mudah menemukan warga Phuket yang hilir mudik.

Hanya perlu waktu sekitar 10 menit dari Fulfill Phuket Hostel untuk benar-benar masuk ke Khao Rang melalui gerbang selatan (ada dua gerbang untuk menuju Khao Rang, satu di selatan dan satu lagi di utara).

Memarkirkan motor dengan terburu-buru karena ketidaksabaranku melihat bagaimana wajah Phuket, Aku tak memperdulikan banyak pasangan muda-mudi yang terlihat duduk bermesraan di setiap sudut Khao Rang.

Aku segera melihat sekitar untuk menentukan dari titik mana akan melihat Phuket. Yes…..itu viewpoint yang kucari:

Sebuah bangunan gaya eropa terpampang di ujung Khao Rang.

Wadaaawww…..tata kota Phuket yang dibatasi dengan garis pantai dan tersekat-sekat dengan perbukitan kecil disetiap sisi pandang membuatku tertegun lama dan mengalahkan panasnya sengatan matahari siang itu.

Ciamik ga?….Kok diem
Ciaaaaa mikkkkk gaaaaa?……Kok cuma diliat bentar doing sih…..
Ciaaaamiiikkkkkkk kaaaannnnnnnn????????……………….komen donk

Jika mau lebih lama di Khao Rang, Kamu bisa menikmati Phuket sambil menyantap kuliner khas Negara Gajah Putih di Tunk Ka Cafe. Kalau ga mau masuk cafe karena mahal, Kamu cukup menikmati jajanan ringan atau air kelapa di beberapa stand makanan diluar restoran itu.

Lalu Aku?…..Kagak beli apa-apa…..Aku lebih memilih kabur ke viewpoint berikutnya.

2. Phuket’s Big Buddha

Keluar dari area parker Khao Rang, Aku mengarahkan sepeda motorku ke arah barat daya. Aku bersama motorku akan menjelajah sejauh 20 km untuk menuju patung Big Buddha.

Melewati panasnya jalanan Phuket, Aku menyempatkan mampir di sebuah pasar tradisional di tengah perjalanan. Menyibak seisi pasar untuk melihat orang-orang lokal berniaga, perlahan Aku mendengar sayup-sayup bahasa Sunda diantara riuh rendahnya nada pasar.

“Aku harus menemukan orang ini”, batinku. Kudekati suara itu hingga menemukan dua anak muda asal Sukabumi yang sedang menjalani pertukaran pelajar yang menjadi program sebuah SMK Pariwisata di daerahnya. Dia ditugaskan di sebuah resort di Phuket dan saat itu sedang berbelanja atas perintah sang kepala koki.

Meninggalkan pasar, Aku kembali meneruskan perjalanan mendaki bukit yang meliuk-liuk menuju puncak.

Kuperhatikan para turis asal China bersukaria menaiki ATV menuju ke tempat yang sama, bahkan beberapa bule terlihat menuju puncak bukit dengan ber-jogging dan beberapa berjalan kaki….gile, itu kan jauh banget.

Boleh dikatakan ini “combo venue”. Karena selain mendapatkan viewpoint yang lebih tinggi, Kamu juga akan sekaligus menikmati keindahan dan kesakralan patung ini.

Tibalah Aku di Big Buddha

Terletak di puncak Bukit Nakkerd, patung setinggi 45 meter ini dibangun pada 2004.

Berjalanlah ke ujung plaza patung raksasa itu, inilah yang akan Kamu dapatkan:

guys…itu penampakan Ao Chalong Bay yang eksotik….seeksotik Jennifer Garner (upsss….ketauan deh idola guwe).

Big Buddha menjadi trip penutup dari segenap pendakianku pada Minggu itu.

Aku harus bersabar untuk mendaki lagi dikeesokan hari.

3. Kao Khad View Point

Hari berikutnya….

Aku akan lebih lama duduk di Kao Khad, jadi kuputuskan memasuki Family Mart di seberang hotel untuk menyiapkan beberapa kacang kemasan dan soft drink untuk menikmati keindahan Phuket.

Menuju selatan, Aku kembali turun ke jalanan Phuket. Kali ini Aku akan menempuh jarak 8 km.  Melewati kemacetan di beberapa titik jalan yang sedang direnovasi hingga proyek pembuatan underpass, Aku menikmati wajah-wajah lokal yang sedang bergerak menuju ke tempat mencari nafkahnya masing-masing.

Viewpoint yang tak begitu tinggi memudahkan motorku untuk berjalan lebih kencang dan mencapai tujuan hanya dalam 12 menit.

Ini dia, Kao Khad viewpoint:

Dilihat darimanapun, seisi pulau itu sungguh memanjakan mata
Kao Khad beach….yuhuiiii

So…..setelah melihat sedikit pemandangan yang kuberikan….Maukah Kamu ke Phuket?

Bus INTRA from Pematang Siantar to Pekanbaru

I left Lake Toba by a taxi (in Jakarta, it may be called “omprengan”.…(using minibus to transport passengers) for USD 3 with 1 hour 50 minutes travel time. It finally led me to visit a new city … yes, Pematang Siantar. The city that I never think to visit it.

The taxi dropped me off in Parluasan area, an area which famous as hoodlums producer in Indonesia. Horrific, but for me this was an extraordinary mental experience.

The driver drove me right across INTRA bus office on Sisingamangaraja street. A INTRA bus parked to upload passengers makes it was easy for me to make sure that I didn’t get it wrong.

INTRA office

Hurrying up and heading to ticket sales counter then paid for my ticket which was ordered by phone call a day before. Fearing if my order didn’t recorded and I could miss Pekanbaru in next day.

Buy a ticket here !….You better order at least a day before departing

Thank to God, my name was in list and I gave USD 17,5 to exchange with a sheet of ticket to Pekanbaru … Yes, welcome Pekanbaru.

Sitting in a waiting room, my gaze was fixed on my watch and INTRA office yard … Never seen when He arrived, from right end of bus office yard He shouted for me. Happy, meet old friend.

His name is Andy Erwin, we met on Hop On Hop Off (HoHo) bus in Kuala Lumpur in 2013. Since it, we have been friend and I never thought that I could stop by to his home….an umpteenth surprise on my journey.

waiting room at INTRA bus office

Waiting for four hours wasn’t a pleasant thing, it would be nice to go around city. Incidentally, Erwin was ready to take me around by his motorbike. I won’t discuss what I got for 4 hours journey in the city, I’d better tell it in another article.

After returning from my exploration in city which famous for its “war veteran bentor” (bentor is public transportation in Pematang Siantar which using old Harley Davidson) , I went back to INTRA bus office and was ready for departing to Pekanbaru. Thanks Erwin for brought me to sightseeing Pematang Siantar.

Slowly I started to get in INTRA Bus. It is embedded in my mindset that I must ready to ride this land roller coaster all night. There is a lot of info which I have gotten in internet that this “running box” will run very fast through roads towards Riau. Indeed, drivers from Sumatra are very well known for their high adrenaline in driving cars or buses. I’ll also tell you later when I couldn’t sleep when riding ANNANTA travel from Pekanbaru to Bukittinggi which is just as crazy in its speed.

That soft seats that I will occupy for 14 hours to travel about 600 km towards Pekanbaru.

I said that this bus is very comfortable, as comfortable as Jakarta to Solo buses (Jakarta is capital city of Indonesia, Solo is my hometown in Central Java) that I often ride when going to my hometown.…Well, you just know my origin.

It will become perfect if a socket under my seat is functioning, so I can just write on laptop or just charge my camera which is low battery. Unfortunately, all socket on all seats didn’t work.

Of course, I can’t enjoy night views out there because condition was really dark. I can only enjoy speed of bus in preceding every vehicle in front of it. This driver is amazing.

On next day, I could see real views from suburb of Trans Sumatra Highway.

Gardens belonging to residents

Or economic growth was seen from appearance of these shop houses.

Only 1 or 2 traffic jams which I encountered along the way because there was a road renovation, so all vehicles had to queue with other side to get through half of road.

Entering Pekanbaru city, bus began to slow down because urban traffic would certainly be more dense.

It wasn’t a terminal like I imagined where I will be taken down. But it was only a non-permanent building which is the final destination of INTRA bus:


A restaurant with a row of clean toilets.

After cleaning my body then I was exiting the building, I was offered by motorbike and taxi drivers to head to downtown. But to avoided a high price, I prefered to use online transportation services to go to Hotel.

I put my backpack and started exploring “Madani City” (madani city is another name of Pekanbaru city)

Trip ke Pulau Pahawang, Lampung

PAHAWANG….Berasal dari kata dasar HAWANG yang merupakan nama seorang Tiongkok yang datang ke pulau ini pada Abad ke-18. HAWANG seterusnya berketurunan dan kemudian berakulturasi dengan pendatang lain dari penjuru Nusantara untuk menempati dan memakmurkan PAHAWANG.

Kedatanganku ke Lampung kali ini memang karena Pahawang. “Dia” membuat tidurku tak pernah nyenyak sebelum  Aku benar-benar menjejakkan kaki kesana.

Kaki baru juga diselonjorin untuk mengusir lelah setelah mudik lebaran dari Solo, bahkan belum genap 24 jam beristirahat….Aku langsung mengisi backpackku dan berangkat ke Lampung untuk segera membunuh rasa penasaranku akan Pahawang.

Berbagi dengan budget mudik lebaran, Aku memutuskan untuk mengunjugi Pahawang dalam One Day Trip saja. Biaya perahu dan sewa penginapan di Pulau Pahawang yang relatif mahal, mengalahkan egoku untuk bermalam di Pahawang.

Dan untuk menghemat pengeluaran, jalan terbaik adalah bergabung dalam open trip. Berhubung Aku memiliki teman kantor asal Lampung, akhirnya Aku dihubungkan dengan Aero Travelindo Utama yang merupakan salah satu dari sekian banyak penyelenggara open trip disana.

Inti dari open trip itu kan menanggung biaya trip yang mahal dengan cara patungan.

Tak perlu berfikir panjang, Aku segera mentransfer Down Payment daribiaya One Day Trip Pahawang. Oh ya, biaya keseluruhannya adalah Rp. 175.000/pax include lunch.

Memulai trip ke Pahawang, Aku menggeber sepeda motorku menuju meeting point yang ditetapkan yaitu Dermaga 4 Pelabuhan Ketapang.

Sesuai perkataan driver ojek online sehari sebelumnya, jalur yang kulewati memang sangat ramai dengan lalu lalang para anggota TNI-AL yang berkejaran dengan waktu masuk kerja mereka.

Keberadaan mereka di jalanan saat kondisi masih gelap membuatku merasa sangat nyaman. Berkendara perlahan Aku berusaha menikmati suasana Jalan Raya Way Ratay sebagai akses utama menuju Dermaga 4 Ketapang.

Perlahan Sang Surya mulai menyibak gelapnya pagi, perlahan juga sepeda motorku melaju tepat di garis pantai untuk menyuguhkan kehadiran riuhnya suara laut di sisi kiri perjalananku.

Perlahan Aku melewati setiap pintu Dermaga Ketapang dari pintu Dermaga 1, hingga akhirnya pintu Dermaga 4 berhasil kujejaki.

Memarkirkan sepeda motorku di Dermaga dengan selembar puluhan ribu, kemudian Aku hinggap di menu lontong sayur sekitar dermaga. Dengan membayar Rp. 12.000, perutku sudah merasa siap untuk segera berlayar.

Dering telfon dari penyelenggara open trip memanduku menuju ke kantor mereka di sekitar Dermaga 4 untuk melunasi pembayaran dan mengambil pelampung dan snorkel.

Tak sabar memeluk Pahawang

Tepat jam 9 perahu memulai perjalanannya, perlahan keindahan perkampungan di pesisir itu terpampang jelas ketika Aku menjauhi dermaga. Perkampungan dibawah bukit dengan siraman cahaya kuning “Sang Surya” pagi dikombinasikan dengan beberapa titik kepulan asap tipis putih hasil aktivitas warga mampu membuatku duduk terpana di ujung geladak belakang.

Punggung-punggung bukit itu menjadi pemandangan sepanjang berlayar.
Berkejaran dengan perahu cepat menuju Pahawang.

Sepanjang waktu berlayar, Aku terus diliputi penasaran.  Hal ini dikarenakan penyelenggara tak pernah memberikan briefing sebelum perjalanan dimulai. Apakah yang akan dilakukan pertama kali dalam trip ini?.

Perlu menunggu 1 jam 15 menit, Aku baru mengetahui bahwa aktivitas snorkeling lah yang menjadi pembuka trip ini. Untuk menemukan lokasi snorkeling, pengelola tempat wisata membuatkan sebuah rumah apung untuk bersandar setiap perahu yang membawa wisatawan.

Sebentar lagi bersandar

Aku lebih memilih melompat langsung dari perahu ketika para pelancong lain mengantri untuk menuju rumah apung itu. Menikmati pemandangan karang di bawah perairan itu membuatku tertegun dengan kepadatan karang dibawahnya. Perlahan kuumpankan biskuit kering ditanganku untuk mengamati lebih dekat para penghuni karang yang lucu dan imut.

Sedikit sedih juga, ketika melihat beberapa wisatawan yang tak faham bagaimana seharusnya menikmati wisata karang….seakan tak peduli, beberapa mereka menginjak karang untuk menjadikannya tumpuan berdiri….paraaaaahhhhh.

”Selamat Datang di Pahawang”dari atas rumah apung.

Aku harus sedikit lebih cepat menginterupsi keasyikanku menikmati karang, karena Aku tahu ubur-ubur menyapaku dengan sengatan pedihnya. Terpaksa Aku naik ke perahu untuk mengurangi penyebaran racun ubur-ubur itu di leherku.

Menunggu yang lain selesai…..

1,5 jam melakukan snorkeling membuatku tahu bahwa agenda berikutnya pasti makan siang….lapar ampun.

Perlahan menjauhi tempat snorkeling, Aku menuju ke Pulau Pahawang. Melewati gerbang kedatangan, Aku langsung menuju ke bawah rimbunan pohon kelapa untuk menyantap bawal laut bakar beserta sayur asem yang baru keluar dari tungku.

Tiba di pulau Pahawang.
Ludes dalam sekejap.

Aku pun tak membuang waktu percuma dengan berkeliling pulau untuk menikmati kenyamanan Pahawang.

Memaksimalkan 1,5 jam untuk eksplorasi Pahawang.

Tepat jam 13:30, Aku meninggalkan pulau Pahawang dan berlayar menuju ke Taman Nemo untuk melihat aktivitas ikan badut.

Sedikit koloni anemon laut yang menjadi tempat tinggal ikan badut terlihat di taman ini. Ikan badut yang berhabitat disini juga mayoritas masih berukuran kecil. Sepertinya taman ini sedang dikembangkan untuk menjadi habitat ikan badut di masa depan.

Di bagian akhir,….

Trip ini ditutup dengan mengunjungi Pulau Kelagian pada jam 15:30. Kebanyakan wisatawan melakukan ibadah shalat, merebahkan diri di deretan saung sewaan, bermain sepak bola di lembutnya pasir putih atau menikmati kelapa muda langsung dari batoknya di pulau ini.

Pulau Kelagian yang dikelola oleh TNI AL
Lembutnya pasir putih yang melenakan.

Tepat pukul 16:00 One Day Trip Pahawang ini benar-benar berakhir. Kembali ke Dermaga 4 untuk kemudian balik ke hotel dan mempersiapkan diri untuk merelaksasi diri di Teropong Kota Bukit Sindy yang kutetapkan sebagai destinasi wisata malamku berikutnya di Bandar Lampung.

The trip was ended.