Local Endemic on Jenderal Sudirman Street, Pekanbaru

Ikan Selais Tiga Sepadan Monument.

Is “Ikan Selais Tiga Sepadan” Monument, the first icon which I met on Jenderal Sudirman Street. It is caused by this monument which is the closest spot to Putri Kaca Mayang Park. Depiction of community harmony which is symbolized by harmony of three Selais fish sculptures which are endemic animal in Pekanbaru.

As should be a protocol road, then Jenderal Sudirman Street has a superior charm with architecture distribution of modern buildings. Not so hard to find some iconic buildings with typical architecture along this street. This protocol road stretches about 7.5 kilometers in distance, starting from Siak IV Bridge at north end and ending at Gurindam 3 Police Station at southern end.

Enchantment of Jenderal Sudirman Street which looks Islamic with Al Asma Ul Husna signboards.

A building which looks quite striking is regional library building which is at street number 462, known as Soeman HS Library.

Soeman HS is a national poet of “Angkatan Pujangga Baru (1933-1942 Indonesian poet era)” who is so phenomenal.

While 700 meters to north of library lies Point 0 Km Pekanbaru, which is marked by Zapin monument, which is a monument with a malay women pattern and is right in middle of T-junction roundabout. While on street west side, there is a building known as “Menara Lancang Kuning“. Owned by Riau Provincial Government, this nine-story building functions as a joint office.

Menara Lancang Kuning.

12 years old, this building has a Sky Garden on top floor. Freely opened to local residents who want to relax and enjoy beautiful views of city from various sides.

My visitation that afternoon was enlivened by spill of a religious mass organization which was protesting in front of Governor’s Office. It seems they are protesting against state’s decision to dissolve this organization.

Therefore, I couldn’t freely enjoy charm of Zapin Monument uniqueness which its surrounding area was tightly closed by demonstrators presence.

Couldn’t step farther.

While on north side of Menara Lancang Kuning, there is an iconic building with typical Malay architecture. That is office of Riau Province Governor, a three-layer front-roofed building with “Selembayung” on each top and has upturned arches on front window. While just to its left is Riau Governor Office Mosque with a net-pattern metallic brown dome.

Quite spacious office

Back to south, before closing exploration in Pekanbaru, I found Bank Indonesia building. Unlike most Bank Indonesia building in other big cities which often use former Dutch buildings, Pekanbaru Bank Indonesia Building looks more like a modern building. Maybe, this is because Pekanbaru is a city which is actively developing, so every important building which is owned by the city is always completely new.

Bank Indonesia building is hiding behind trees shade.

My step this time will be the last step in my visitation in Pekanbaru, because next day I will leave for Bukittinggi.

It was time to go back to hotel and rest.

Goodbye Pekanbaru, welcome to Bukittinggi.

Digelandang Menuju Safir Airport Hotel, Kuwait

Aku berjalan pelan untuk menikmati setiap koridor Arrival Hall di Terminal 4, Kuwait International Airport. Tak diburu waktu, karena waktu terbang berikutnya masih lima belas jam lagi.

Berpindah di Transfer Hall, ritme langkah menjadi cepat karena petugas aviation security mengaturnya demikian. Belum semenit, aku sudah di depan screening gate setelah menunjukkan tiket terusan pada staff wanita Kuwait Airways asal Philippina. Sial, proses screening akhirnya menyita mineral waterku.

Melewati duty free zone di lantai 1, insting mengarahkanku untuk mencari tempat ternyaman demi memejamkan mata. Trauma keterlambatan, membuatku terjaga di Bahrain Plaza Hotel sejak jam tiga pagi. Kini kantuk menggelayutiku.

Aku naik ke lantai 2 melalui sebuah lift dekat gate B1. Girang hati, memergoki empat belas sofa panjang berwarna hijau tak berpenghuni tepat di sebelah departure gate D5-6. “Yeaaa….Inilah tempat tidurku”, hati bergumam.

—-****—-

Polisi: “Hello, Sir?”, seorang bergamis putih membangunkanku.

Aku: “Yes, Sir”, aku terperanjat karena terbangun mendadak.

Polisi: “Can me see your ticket and passport?

Aku: “Sure, Sir”, gelagapan mencarinya yang entah terselip dimana.

Polisi: ”Ohh, long transit. What airline did you use before?”

Aku: ”Kuwait Airways, Sir”, kutunjukkan penggalan tiket itu.

Polisi: “Follow me now!”, wah masalah …..

Jantung berdegup lebih cepat ketika mengikuti langkahnya. Tiba di area screening gate semula tiba, melalui pintu khusus aku diarahkan ke meja Customer Service Kuwait Airways. Entah dia bicara apa kepada staff itu, hingga dia memanggilku untuk mendekat. “Come!”, katanya.

Staff Customer Service meminta maaf karena kurang teliti memeriksa tiketku. Walaupun dua tiketku adalah non-connecting flight, karena keduanya menggunakan Kuwait Airways, maka aku mendapatkan benefit menginap di Safir Airport Hotel. Mengingat  penerbangan berikutnya harus menunggu lebih dari delapan jam.

Polisi: “Enjoy your trip”, ucapnya tanpa senyum.

Aku: ”thank you very much, Sir”.

Polisi: ”Welcome”, dia berlalu begitu saja.

Bagiku di bukan polisi bandara melainkan malaikat yang mendadak datang menghampiriku.

Transit card sebagai akses menuju hotel.

Melewati kembali screening gate, aku menuju ke gate B1 seperti yang diperintahkan. Dua ground staff berkebangsaan Philippina mempersilahkan duduk untuk menunggu airline van penjemput. Kemudian, satu diantaranya terlihat sibuk dengan handy talkie memanggil van yang dimaksud.

Dijemput bersama dua penumpang wanita asal Qatar.

Area Lobby

Airline van mengajakku berkeliling bandara dengan leluasa. Kesibukan di area kargo dengan latar pesawat kargo berbadan besar membuatku terpana.

Sepuluh menit kemudian, aku diturunkan tepat di depan lobby. Seorang polisi mendadak berdiri dari duduk santainya di screening gate. Dia begitu serius mengamati backpack tunggalku di dalam Luggage Screening Device. “OK, clear”, sahutnya mengakhiri proses.

Pintu lobby.
Area bersofa.
Area lesehan.
Departure fight information.

Area Kamar

Aku menyusuri koridor menuju ke kamar 113. Senangnya hati bisa mencicipi hotel berharga Rp. 2.500.000 per malam itu. Hanya sayang, aku tak bisa menikmati seluruh fasilitas mewahnya karena serangan flu berat bawaan dari Bahrain. Seluruh tisu kamar dan toilet kuhabiskan untuk melawan ingus bening yang terus mengalir tak terkendali dari hidung.

Koridor menuju ke kamar.
Mendapat twin bed room.
Kamar mandi.
idur yang tak nyenyak.

Pemandangan

Sebentar-bentar terbangun karena penasaran dengan pemandangan di jendela. Tampak pesawat dinas Kerajaan Kuwait yang terparkir tanpa kawalan, setengah jam kemudian mendaratlah pesawat angkut militer Boeing C-17 Globemaster III, jenis pesawat yang dihancurkan Donatello dalam film Teenage Mutant Ninja Turtles: Out of the Shadows….Keren.

Bahkan aku sempat menikmati deretan jet tempur di salah satu sisi. Memang Kuwait International Airport pada dasarnya adalah pengembangan dari Abdullah Al-Mubarak Air Base milik Angkatan Udara Kuwait. Wah, beruntungnya diriku.

Pesawat Dinas Kerajaan Kuwait.
Boeing C-17 Globemaster III.

Restoran

Telepon dari resepsionis membangunkanku, “Sir, please come down!”. Kujawab singkat “Wait for 10 minutes, Sir”. Aku mengepak perlengkapanku ke dalam backpack. Kemudian bergegas turun. “Why do you bring your backpack and check-out, I just want to give you an information that it’s dinner time”, ungkapnya sambil tertawa. Sontak, aku kembali ke kamar dengan malunya. Kemudian turun lagi untuk bersantap malam.

Al-Dawarza Restaurant.
Teras restoran

Hmmh….Kenangan tak terlupakan.

Heroic Story behind Putri Kaca Mayang Park

Bambu Runcing Monument.

A roundabout in southeast of An-Nur Great Mosque is decorated with a yellow pointed bamboo monument with background of University of Riau right behind it. I continued to direct my Canon EOS M10 towards the monument until an online motorcycle taxi driver came to call me.

Looked like I would spend the afternoon with local residents to enjoy city atmosphere in a Green Open Space on edge of the protocol road. From An-Nur Great Mosque, I headed south for 4 kilometers with a 15-minute motor driving.

Ten minutes to four I arrived. Dozens of people have drifted into quiet atmosphere of park even though roar of vehicle exhausts adorned sound color around it.

A park with background of The Premiere Hotel.

Unique, this park is divided by a shortcut which connects Jenderal Sudirman Street in east of park and Sumatera Street in its west. It is pinned a name as RTH Kaca Mayang Steet, it is short splitting along a hundred meter.

Three-legged concrete seating, three categories of modern trash can, mushroom shaped concrete canopy with green roof, a pair of sand playful area with up-down stairs which flank a theater area, small diameter trees as a sign that they are recently embedded, jogging track with continuous pattern of two halves of park and two small bridges over a fairly clean water flow are types of facility which are seated in this one hectare park. That is a brief description of Putri Kaca Mayang park that I can catch.

Putri Kacang Mayang park is one of eight Green Open Spaces in Pekanbaru which is known as the most child-friendly park. Regional government has to spend USD 45,000 to build this park.

Park naming itself is taken from a local fairytale which is believed to be the origin of Pekanbaru city. Putri Kaca Mayang is said to be described as a beautiful princess who was later kidnapped by a king from Atjeh who was hurt because his marriage proposal was rejected.

Commander Gimpam who is the strongest figure in Gisab Kingdom feels his pride was trampled by princess kidnapping, because King from Atjeh with a help from a traitor had managed to fool him who was preparing to wait for battle at city borderline, while his enemy managed to enter the kingdom through another very path secret.

Without long thinking, King Atjeh was chased alone by him. With his power, Commander Gimpam destroyed the entire enemy kingdom alone and finally princess was returned to him. But unfortunately, Princess didn’t survive returning to Gisab Kingdom because of falling ill on the way.

That is a story piece of Putri Kaca Mayang Park naming. Apparently, there is a classic story behind beauty of this city park.

Kuwait Airways KU 614 dari Bahrain Ke Kuwait

Rute penerbangan KU 614 (sumber: https://www.radarbox.com/)

Tepat jam lima pagi aku mulai mengguyur badan di kamar mandi Bahrain Plaza Hotel. Hari itu juga, aku akan meninggalkan Bahrain dan menuju ke Kuwait. Setelah memastikan segenap perlengkapan tak tertinggal, aku turun ke lantai satu untuk menyerahkan kunci dan menuju ke shelter bus terdekat. Tak jauh, cuma tiga ratus meter di selatan hotel, tepat di depan Manama Cemetery.

Sepuluh menit kemudian Bus asal pabrikan MAN bernomor A1 tiba. Masuk dari pintu depan dan men-tap Go Card untuk membayar tarif senilai Rp 12.000, aku meluncur menuju Bahrain International Airport selama satu jam ke depan.

Tiba di airport pada jam 07:45, aku langsung menuju ke lantai 1. Area check-in yang tak lebih elok dari konter yang sama milik Halim Perdanakusuma Airport. Nomor penerbangan yang tak kunjung muncul di LCD Departure Hall, membuatku memiliki waktu untuk menukar Bahraini Dinar (BHD) tersisa. Rupanya money changer di lantai 1 tak mau menerima Dinar dalam jumlah kecil, beruntung Bahrain Financing Company (BFC) di lantai 0 masih mau menerimanya.

Jam 9:30, konter check-in untuk penerbangan Kuwait Airways KU 614 mulai dibuka. Kujelaskan singkat bahwa aku akan menuju Qatar dengan dua non-connecting flight dan akan transit di Kuwait. Staff pria muda itu hanya sekali bertanya kepadaku perihal Visa Qatar. “Qatar visa is free for Indonesian, Sir”, jawabku mengakhiri percakapan dan dia memberikan dua tiket berlogo burung biru sekaligus. Tiker sendiri aku pesan 9 bulan sebelum keberangkatan.

Kuwait Airways adalah maskapai ke-27 yang kunaiki.

Melewati konter imigrasi dengan mulus, aku segera menuju ke Gate 15 yang berlokasi di pojok ruangan dengan selasar sempit yang terhubung ke jalur aerobridge. Menunggu waktu boarding, aku terus mengamati lalu-lalang Gulf Air, maskapai kenamaan milik Kerajaan Bahrain.

Ruang tunggu keberangkatan.

Sedikit terlambat, aku mulai boarding pada jam 11:51. Rasa tak sabar menggelayuti hati untuk merasakan pertama kalinya penerbangan Kuwait Airways, maskapai milik Kerajaan Kuwait.

Satu jam terlambat.
Business Class.
Economy Class.

Segera mengambil tempat duduk sesuai yang tertera di boarding pass dan mempersiapkan diri untuk penerbangan pendek sejauh 420 km yang akan ditempuh dalam waktu  1 jam 10 menit.

Bangku nomor 17A yang kududuki.
Terima kasih 12Go sudah menjadi Affiliate Parner untuk travelingpersecond.com.
Alburaq inflight magazine.

Tampak bahwa beberapa aircrew maskapai ini berkebangsaan Philippines dan beberapa dari kawasan Afrika. Selama penerbangan, kuperhatikan botol-botol minuman beralkohol tak nampak pada food trolley, sepertinya penerbangan Kuwait Airways adalah penerbangan bebas alkohol….. Keren.

Menonton “The Martian”.
Menu Low Fat Meal (LFML) yang kupesan bebarengan dengan pemesanan tiket.

Siang itu udara di tepian barat daya Teluk Persia tampak cerah. Hal ini menjadikan penerbanganku terasa sangat mulus, tanpa turbulensi sama sekali. Penerbangan yang menyenangkan.

Cuaca cerah di awal Januari.
Berasa gimana gitu, terbang bersama warga Timur Tengah.

Di seperempat terakhir mengudara, pesawat mulai merendah dan menampakkan daratan Kuwait yang tampak gersang dan panas. Aku sendiri tak sabar ingin segera mengenal Kuwait International Airport yang menjadi mainhub Kuwait Airways.

Daratan Timur tengah yang khas coklat berpasir.
Kesibukan di Terminal 2 Expansion Project.
Penampakan kota Kuwait.

Waktu menunjukkan jam 13:35. Selepas pesawat berhenti sempurna, aku segera meninggalkan badan pesawat menuju ke Transit Hall Kuwait International Airport. Aku akan bersabar menunggu hingga pukul empat pagi di keesokan harinya untuk menuju Qatar.

Airbus generasi Neo A320-251N

Heading to An-Nur Great Mosque from Chinatown

I took a moment to close my eyes after I finished check-in process at Sri Indrayani Hotel. An uneasy night on a middle bench of INTRA Bus, continued for four hours on foot to explore Senapelan area had made my calf muscles exhausted and my eyes felt heavy.

My smartphone which was still charging, shouted to wake me up, exactly one hour before Asr Prayer. Prayer times was indeed an option as a starting marker for continuation of my journey in Pekanbaru. That was because I chose to visit the grandest mosque in the whole of Riau Province or it could be said as one of the grandest in the country.

No longer postpone for late lunch, I went through Chinatown along Dr. Leimena Street which isn’t far from my hotel gate, until I found a small restaurant which exposed fragrant spices and looked very crowded. Its entire seat in downstairs was almost full and without long thinking, I immediately occupied one seat in between.

Noodles with bean sprouts mixed with lontong (Indonesian compressed rice), shrimps, eggs and fragrant with a sprinkling of fried onions….Hmmh, delicious.

Slowly drinking a sweet-sour of cold-orange juice made my body felt cool for a moment in the middle of city heat. And right at a last sip, an online motorcycle taxi came to pick me up.

Heading southeast for three kilometers and arrive at the gate exactly twenty minutes before Asr Prayer arrived. So many police officers in mosque courtyard, it seemed to be securing an important agenda that afternoon. Every vehicle which entered mosque area didn’t escape from strict inspection.

Where are you going, Sir?” a young policeman which armed with long barrel gun said at entrance gate. “Asr prayer, Sir“, a password was so effective for passing the inspection.

It’s like the Taj Mahal, right?
Domes like an upside down “spinning top” and that palm trees….Hmmmhh, nice.

I hadn’t entered yet the mosque room. Busy in courtyard to enjoy the beauty of architecture which was presented in front of my eyes. A greeny dominant mosque which is a half of century old with large area which I estimate to be more than ten hectares….Really, very vast.

Just look at how spacious a parking lot side is?

The Mughals are still be dominant architectural style in it, its distinctive arches resembling arches of Mumtaz Mahal’s tomb in Agra. While nuances around the mosque was slightly adopted Al-Masjidil Al-Haram atmosphere in Mecca and Al-Masjid An-Nabawi in Medina.

The Malay style is embedded to green color of main building, red color on tower ornaments and yellow gold color on interior ornament and calligraphy. Then the Malay custom is depicted on two levels of floor with veranda below. It adopts a concept of Malay’s houses on stilts.

Five pillars of Islam are symbolized by five domes and leadership of Prophet’s Caliph is represented on four towers.

Now I was preparing to Asr Prayer, purified myself on lower floor and then climbed stair by stair leading to main worship room on second floor. The atmosphere inside was so solemn, it made me feel grateful because I was still given an opportunity to visit this magnificent God house.

Six giant pillars with green color in base layer and white on top layer.

I made my sitting time so long in the back to enjoy this iconic religious tourism of Riau Province which is said able to accommodate almost five thousand worshipers.

Dome arch from inside.

This famous architectural creation in Pekanbaru can’t be separated from Kaharuddin Nasution cold hands, the second Riau Province Governor who moved Provincial Capital from Tanjung Pinang on Bintan Island to Pekanbaru in the 1960s. Certainly, this displacement had consequences for him to facilitate religious activities of residents majority who in fact embraced Islam. That is why the Governor felt it was important to present An-Nur Great Mosque.

Cool……

Reschedule Kuwait Airways Setelah Visa Turis Kuwait Gagal

Tepat tiga puluh hari sebelum keberangkatan backpacking ke Timur Tengah, aku mulai sibuk mengurus segenap visa yang dibutuhkan yaitu visa turis untuk mengunjugi Kochi, Dubai, Oman, Bahrain, Kuwait dan Qatar.

Diantara keenam visa itu, aku menyimpan pengalaman pahit ketika akhirnya tidak berhasil mendapatkan Visa Turis Kuwait. Hal inilah yang menyebabkan diriku harus puas untuk sekedar menikmati Kuwait dengan cara transit, tapi tentu lebih baik daripada tidak sama sekali.

Akhir November, semua informasi perihal Visa Turis Kuwait yang kudapat melalui internet (google, youtube dan facebook) kucatat dengan detail. Hingga kuhubungi satu persatu kontak  tersebut. Informasi terbaik yang kudapatkan adalah aku bisa memasuki Kuwait melalui Visa on Arrival (VoA).

Tetapi pada laman General Department of Residency, kubaca bahwa Indonesia tak termasuk dalam daftar negara yang warganya bisa mendapat VoA.

Percakapan melalui Whatsapp dengan agen pembuat Visa Kuwait.

Menghubungi nomor telepon yang kudapatkan di internet,  setiap dering yang kukirimkan tak kunjung terespon. Maka untuk memastikan segera, aku merangsek  ke daerah Kuningan di awal Desember untuk bertanya langsung ke Kedutaan Kuwait.

Cukup sulit mencari lokasinya, karena alamat yang ditampilkan google tak pernah tepat. Aku harus tersasar di sebuah kantor kedutaan tanpa nama di Jalan Patra Kuningan I . Gedung luas dengan penjagaan sekelompok pria berhelm militer dan bersenjata laras panjang. Decitan Beat Pop tepat di depan pintu masuk sontak membuat mereka mendadak waspada dan menaikkan senjata mereka ke dada.

Aku : “Pak, ini bukan Keduataan Kuwait ya?”

Penjaga: “Bukan mas, Ini Kedutaan Australia”.

Aku: “Kok google maps mengarahkan saya ke sini ya pak?”.

Penjaga: “Itu salah mas, banyak orang pada nyasar ke sini”.

Aku: “Bapak tahu lokasinya dimana?”.

Penjaga: “Wah saya kurang ngerti mas”.

Akhirnya mereka merendahkan posisi senjata setelah mengetahui tujuanku. Emang dasar akunya saja yang kurang sopan, bertanya di atas motor tepat di depan pintu gerbang….Hahahaha.

Alamat dari sumber  lain juga membuatku tersasar di Jalan Denpasar Raya. Entah kantor apakah itu, beruntung penjaganya bisa memberikanku arah yang jelas menuju Kedutaan Kuwait. Hingga akhirnya aku tiba di kantor Kedutaan Kuwait di Jalan Mega Kuningan Barat III.

Kantor Kedutaan Besar Kuwait yang cukup sederhana.

Sepi pengunjung dan hanya dijaga oleh dua orang Satpam. Mereka mempersilahkanku duduk di sebuah teras kecil di pojok kiri Kedutaan. Hingga mereka memanggilkanku staff yang mengurusi masalah Visa.

Akhirnya harapanku mengeksplore Kuwait pupus setelah staff cantik kedutaan itu memberi penjelasan melalui sebuah celah sempit sambil menunduk.

Untuk warga negara Indonesia, Kuwait tidak mengeluarkan Visa Turis, mas. Kami hanya mengurus Visa Kerja dan Visa Diplomatik saja. Untuk bisa berwisata, mas harus mendapatkan Calling Visa dari teman atau keluarga di Kuwait”, Ujarnya.

Mengetahui niatanku pupus maka tak ada cara lain. Aku harus mempercepat tiket keberangkatan Kuwait-Doha yang sudah kumiliki sejak pertengahan April. Setelah berhitung, mereschedule lebih hemat daripada membeli tiket direct filght Bahrain-Doha.

Jadi dari Bahrain, aku akan menuju Doha dengan bertransit di Kuwait.

Tiket awal Kuwait-Doha.

Aku segera menghubungi Kuwait Airways melalui Whatssapp di akhir pekan pertama Desember.

Percakapan dengan Customer Service Kuwait Airways.    
Setelah fixed mengatur ulang jadwal terbang, mereka memberiku sebuah link pembayaran via email.
Link berumur 2 jam. Aku harus cepat melakukan pembayaran melalui kartu Kredit.

Selain mereschedule penerbangan, tentu pemesanan hotel di Booking.com juga harus kubatalkan.

Vera House & Hotel seharga Rp. 670.000 per malam.

Ini berarti, ditengah perjalananku nanti, aku akan lebih lama mengunjugi Doha. Dari rencana semul 3 hari menjadi 5 hari. Dan eksplorasiku ke Kuwait hanya sebatas transit. Tapi justru masa transit ini telah memberikan pengalaman yang tak terlupa.

Pengalaman apa itu?….Hahaha, baca saja sebentar lagi!

Warlords in Nur Alam Grand Mosque

A assumption which never materialized was to entering Tuan Kadi Halfway House. I wanted to sit relax in it and enjoyed history strands in its small cubicles. Simultaneously, sweat which had continued to melt in my temples, slowly but surely shed every assumption in my head. House doors were tightly closed as if it said to me “Just go, enough for you to just see my beauty“.

I went…..

Footsteps which I was unconscious began to little bit drag, indicating that I needed a lot of rest after four days before in exploring Medan, Samosir Island and Pematang Siantar. Alas!, my desire to know about Pekanbaru had beated feet tiredness which had actually screamed to stop.

I began to enter Kota Baru Street. Giant bolts, rolls of thick wires, large pipe casings seemed scattered in shop house rows which were transformed into mechanical workshops. Every swing of my steps seemed to recharge my enthusiasm to immediately arrive at Kampung Bukit area where Pekanbaru City was established.

In this area, a land plot of former new market (Pekan Baharu) which was pioneered by Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah stands a special heritage, the oldest mosque in Riau Province.

Again….Yellow dome symbolizes Malay greatness.

A mosque which was born as a consequence which was carried on Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah shoulders, the 4th Sultan who moved the center of Siak Sri Indrapura Sultanate from Mempura Besar to Bukit Senapelan in the mid XVIII century.

It is “Tali Berpilin Tiga” tradition which makes King’s Palace, Custom Deliberative Hall, and Mosque as requirements which must be fulfilled by the Sultan if he intends to move the sultanate. The King’s Palace symbolizes government, the Custom Deliberative Hall symbolizes ancestral custom and the Mosque as a religion symbol.

Half of dome in arch canopy reminds me to Mughal architecture at Taj Mahal.

By the Sultan, the Palace Building was named Istana Bukit, the Custom Deliberative Hall was named Balai Payung Sekaki and the Mosque was given a name as Alam Mosque which was taken from the Sultan’s youngname, King Alam.

Some people call it Pekanbaru Senapelan Mosque, also some people call it Pekanbaru Grand Mosque.

I arrived at the mosque as a Masbuq (late for prayer), didn’t want to be left behind of entire rak’ah, I rushed to ablution room and immediately followed the last two rak’ah in prayer congregation. After completing last 2 rak’ah, I began to be stunned by six large white pillars which on its top were covered with golden domes and didn’t really support the roof, like a lighthouse.

Sunlight which was penetrating permanent glass windows on top wall increasingly displayed typical Persian arches. While golden calligraphies which set in a typical Middle East green background seemed to circle around mosque as an interior.

A green-roofed golden pulpit with golden crescent moon tower.

Went out from mosque, I headed east to a cemetery gate. Named as Marhum Pekan Cemetery Complex which is cemetery complex of Pekanbaru city founders such like Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah (4th Sultan), Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah (5th Sultan) and their loyal warlords.

Gate of Marhum Pekan Cemetery Complex. Marhum Pekan itself is a term for Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah (founder of Pekanbaru city).

Nur Alam Mosque is a closing for my exploration about Siak Sri Indrapura Sultanate. Satisfied and happy to get to know more about the famous sultanate in Sumatra land.

Come on …. Back to hotel, check-in and lunch!

Inspirasi Menulis dari Tribhuvan International Airport.

Waktu begitu cepat. Sore kemarin aku masih mengeksplore area Basantapur. Tetapi kini sudah pukul empat pagi. Aku sudah saja mengguyur diri di bawah hangatnya shower Shangrila Butique Hotel. Setelah memastikan tak ada barang yang tertinggal, aku segera menuju resepsionis untuk check-out dan selangkah kemudian aku sudah turun di jalanan Thamel. Gelap, kosong dan penuh kekhawatiran.

Aku terus menyusuri jalanan dan berharap segera menemukan taksi, sementara dari arah belakang yang gelap terdengar suara derap langkah beberapa orang diiringi nyanyian Nepal yang membuat jantungku berdegup lebih kencang.  Kuberanikan diri menoleh ke belakang, lima pemuda tanggung melangkah cepat menyusulku. Sepertinya aku tak bisa lebih cepat lagi karena backpack membebaniku di punggung. Aku seakan pasrah jika terjadi sesuatu saat mereka benar-banar telah menyusulku.

Plakk”, tangan salah satu dari mereka menepuk pundak kananku kencang. “Ah, alamat”, batinku cepat merespon.

Good morning, Brother. Are you happy in Nepal?”, dia berucap sambil mengiringi langkahku yang terlanjur melambat ketakutan.

Hi….Yeaaa, nice country”, aku berkata lebih keras dari biasanya untuk menunjukkan keberanian saja.

Good….Be careful, bro”, dia melewatiku dengan cepat sementara keempat teman lainnya menatapku dengan senyum ringan dan serempak berucap “Hi”.

Oh, Tuhan terimakasih engkau masih mengirimkan orang-orang baik untuk menyapaku di gelapnya pagi.

Sampai pada sebuah perempatan, tampak deretan taksi mengantri untuk mengangkut penumpang. Taksi terdepan memancarkan lampu tembak ke arahku dan aku mengangkat tangan sebagai jawaban bahwa aku akan menggunakan jasanya.

Airport, Sir….How much?”, aku bertanya singkat.

Seven hundreds Rupee”, jawabnya sambil meraih backpackku yang menutup niatku untuk menawar.

“Ok”, tak ada jawaban lain yang bisa kulontarkan.

Taksi dengan cepat melaju kencang tanpa penghalang di Pashupati Road yang tentu masih senyap. Tak sampai 20 menit, taksi perlahan merapat ke Tribhuvan International Airport.

Pukul setengah enam pagi, airport masih tutup dan senyap.

Tak banyak yang bisa kulakukan, aku hanya menunggu di meja milik polisi bandara yang tampak kosong sambil terus menatap international gate dan berharap pintu itu segera dibuka karena udara sangat dingin diluar.

Perlahan penumpang berdatangan.

Orang Indonesia, mas?”, celetukan itu berasal dari arah belakang.  Aku menoleh ke kiri dan ke kanan, tak ada siapapun di sampingku. Suara itu jelas menanyakanku. Aku menoleh kebelakang dan terlihat seorang perempuan berusia 30 an tersenyum ke arahku.

Loh, kok ibu tahu saya dari Indonesia?”, sahutku membalas senyumnya.

Itu mas”, Si ibu menunjuk salah satu kantong backpack yang tak tertutup sempurna dan sedikit menyingkap bendera merah putih yang sempat kukenakan  empat hari lalu di Sarangkot.

Alhasil kami saling bercakap sembari menunggu gate dibuka. Ternyata beliau ini adalah lulusan kampus ternama di Indonesia dan pekerja senior pada perusahaan eksplorasi minyak di Bangladesh. Setelah berwisata ke Nepal, dia akan kembali ke tanah air melalui New Delhi.

Sepesawat denganku ke New Delhi, dia bersambung terbang bersama Singapore Airlines yang transit di Singapura. Sementara aku akan mengeksplorasi New Delhi dan Agra terlebih dahulu.

Gate sudah dibuka, aku segera menuju konter check-in. Sedikit agak lama berproses, aku menguping bisikan antar mereka dan terucap kata internet connection.  Pantas proses online check-in ku gagal semalam.

Pertama kali terbang bersama Jet Airways.

Kemudian di deret lain konter imigrasi, kulihat Si Ibu berbincang hangat dengan petugas imigrasi. Bahasa Inggrisnya sangat fasih. Dia sempat menjelaskan kepadaku di waiting room bahwa petugas imigrasi di Asia cenderung lebih luwes daripada petugas di Eropa dan Amerika. Tentu aku mengamini itu.

Waiting Room Tribhuvan International Airport.
Si ibu mentraktirku secangkir chiya hingga pesawat tiba.

Boleh dibilang, Si Ibu yang tak mau disebutkan namanya inilah yang menginspirasiku untuk menulis dan membagikan setiap pengalaman perjalanan yang kulakukan sehingga bisa mensupport setiap traveler dengan informasi. Si Ibu sendiri tak pernah kesampaian menulis karena kesibukannya yang teramat sangat, padahal dia memiliki kisah-kisah yang luar biasa. Salah satunya ketika dia bisa selamat dari badai gurun yang menghantamnya di Kuwait.

Jet Airways bernomor terbang 9W 0263 telah siap. Aku keluar dari waiting room menuju parking lot. Ada satu keunikan yang tak pernah kualami sebelumnya, yaitu ketika ada pemerikasaan cabin baggage setiap penumpang di area extension tepat di depan pintu pesawat. Pengalaman yang menggelikan dan menyenangkan.

OK, saatnya terbang.

Sampai jumpa lagi Nepal. Selamat datang India.

Sharia Law Behind Tuan Kadi Halfway House

I began to leave the Tunjuk Ajar Integritas Green Open Space on foot. Along Wakaf Street, I slowly approached a traffic policeman who was arranging an intersection. Not awkward, I called him when he still sounded his whistle following flashing green lights which automatically moved dozens of vehicles to cross the intersection.

Unsure of answering my question, he shouted at his colleague at a police post. After his friend stretched his arms parallel to the road and followed by his palm which turned to right, this young policeman was very sure to tell the closest direction to Siak River to me.

Mutiara Merdeka Hotel in Jembatan Siak I Street.

Enjoying one part of Siak River, was able to amaze me, this is inseparable from historical facts behind its water flow. Siak is the name of sultanate which ever stood in this river body. If I could reconstruct journey history of Siak Sri Indrapura Sultanate which had ever triumphed, it would certainly perfect my exploration in Pekanbaru.

Linger over Siak Bridge I, as far as eye could see, it was clear that Siak III Bridge was right in front of me and looming behind it was Siak IV Bridge (better known as Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah Bridge) which hadn’t yet finished its construction. While from my standing position, in my back side was Siak II Bridge.

Siak River which was formerly known as Jantan River.

Bright brown of water color and river width which represents Siak River valor is enhanced by greeny river body which soothes anyone in its banks. Geographically, the river passes through four districts i.e Rokan Hulu, Bengkalis, Siak and Pekanbaru.

Next, I continued to go through a small road on edge of the river until I came to an open park under Siak III bridge, better known as Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah Bridge. Many young people looked cheerfully chatting with their friends or their partners enjoying peaceful atmosphere around the river. At other side, it was clear that Water Police Office of Riau Regional Police was busy. Seen two fast patrol boats leaning on river edge.

Riverside park under Siak III Bridge.

While next to riverside park was a stilt house with a dominant light yellow color. With greeny graded lawns and black-orange square patterned tiles which at the edge was bordered by a blue mosque and river viewpoint area. This courtyard is known as Tuan Kadi Park.

Tuan Kadi Halfway House.
Tuan Kadi Park.

Tuan Kadi / Qadhi is a title which Sultan has proclaimed to someone who is appointed as an advisor in Islamic sharia law (Nasyih) and acts as a munakaah judge in marriage matters and heirlooms distribution in Siak Sultanate.

After Dutch Colonial occupation , Tuan Kadi/Qadhi title was pinned to Chairperson of Siak Sultanate’s Shariah Deliberative Board. This house itself is owned by Qadhi Haji Zakaria bin Haji Abdul Muttalib who ever held that position. And in his time, this house was ever be a stopover for Sultan Syarif Kasim II, the 12th Siak Sultan.

Hhmmhh …. Already past noon, let’s do Dhuhr prayer…..Come on, went to Siak Sultanate’s inherited mosque!

Selamat Tinggal Basantapur

Melangkah meninggalkan Kumari Ghar, aku masih berfikir. Apabila Sang Kumar nanti telah pensiun, bagaimana dia bermasyarakat setelah selama belasan tahun hanya sekali setiap tahun keluar dari tempat tinggalnya, bagaimana dia bekerja hingga lelaki mana yang beruntung memiliki Sang Kumari itu….Ah sudahlah.

Langkahku sampai pada sebuah plaza nan luas. Bangunan putih memanjang berarsitektur Eropa mengapit pelataran luas itu di kiri dan kanan, sementara ditengahnya para pedagang souvenir meletakkan lapak-lapaknya.

Basantapur Dabali adalah landmark bersejarah yang wajib dikunjungi.

Memainkan peran sebagai  jantungnya Kathmandu, Basantapur memang menjadi tempat bertemunya khalayak dari berbagai penjuru untuk berpolitik dan berdagang sejak zaman Nepal masih berbentuk kerajaan. Oleh karenanya Basantapur selalu ramai hingga kini.

Untuk kamu millennial, Basantapur menyediakan banyak cafe modern untuk sekedar berhang out. Teh khas Himalaya pun mudah ditemukan di area ini. Kamu bisa merasakan nikmatnya Chiya (teh bercampur susu) di dinginnya udara Kathmandu.

Berburu Himalayan Tea di salah satu kedai.

Freak Street menjadi jalur yang terlihat cukup sibuk dengan keberadaan plaza ikonik ini. Pesona Basantapur Dabali menghinoptis siapa saja untuk bertahan berlama-lama menikmatinya. Tapi surya sudah jauh tergelincir, sudah saatnya aku meninggalkan Basantapur untuk kembali menuju Thamel.

Sinha Swan Khala, lembaga keagamaan yang cukup ramai di Freak Street.

Menikmati Kathmandu tak bisa dilakukan dengan menunggang taksi, pastikan kamu terus melangkah dan menikmati keotentikan budaya dan arsitekur Newar yang ada di setiap sisi kota.

Kini aku sudah kembali di jalanan Layaku Marg. “Layaku” adalah kata lain untuk “Durbar Square”, sedangkan “Durbar Square” sendiri berarti “Alun-alun Istana”. Memang benar apa adanya, Layaku Marg ini membelah Basantapur dan menempatkan istana Kerajaan Malla di salah satu sisinya.

Layaku Marg menuju ke area Bishal Bazaar.

Bishal Bazaar atau Vishal Bazaar merupakan area berbelanja yang dahulu cukup terkenal di Kathmandu. Ditandai dengan keberadaan mall tua dan China Market . Bishal Bazaar mungkin menjadi tempat yang tepat bagi para penggemar pernak-pernik perhiasan.

Area Basantapur dan Bishal Bazaar dibatasi oleh Jalan Sukra Path yang berawal dari Juddha Statue, sebuah patung di bundaran perempatan untuk menghormati Raja Nepal Juddha Shamsher Jang Bahadur Rana yang berperan besar dalam membangun negerinya dari kerusakan cukup parah akibat gempa Nepal pada tahun 1934.

Juddha Statue.
Salah satu sisi Sukra Path.

Sebelum benar-benar menyelesaikan perjalanan hingga ke Thamel, aku berusaha menikmati sibuknya aktivitas penduduk lokal dengan  memasuki sebuah resto di bilangan Sukra Path

Vegetable Chow mien seharga Rp. 15.000.

Sore itu adalah petang terakhirku menikmati kota Kathmandu karena keesokan harinya aku akan terbang menggunakan Jet Airways 9W 0263 menuju ibukota India. Mungkin malam nanti aku tak akan banyak keluyuran karena harus bersiap diri untuk berangkat ke Tribhuvan International Airport di gelapnya pagi.

Aku sampai di Thamel dan segera melakukan check-in online, malam nanti aku hanya keluar sebentar untuk menikmati santap malam saja.

Duh…cantiknya perempuan dalam iklan shampoo itu.