Mimpi Serbia dari Sultan Mahmud Badaruddin II International Airport

<—-Kisah Sebelumnya

Hampir jam sepuluh pagi, Super Air Jet IU 872 sempurna merapat di salah satu apron milik Sultan Mahmud Badaruddin II International Airport yang tampak basah usai di guyur hujan beberapa saat sebelum ketibaanku.

Titik-titik air hujan rapat menempel di jendela pesawat tempatku duduk. Untuk sesaat segenap penumpang menunggu aktivitas ground staff mempersiapkan aerobridge sebagai penghubung penumpang untuk berpindah dari kabin pesawat menuju bangunan terminal bandara.

Aku sendiri cukup kagum dengan fasilitas milik Sultan Mahmud Badaruddin II International Airport yang tampak lengkap layaknya bandara professional. Beberapa saat kemudian, akhirnya aku memasuki bangunan terminal bandara dengan menyusuri arrival  corridor.

Tidak seperti ketika aku berkunjung ke banyak pelabuhan udara, biasanya aku akan lurus melangkah menuju ke arrival hall tanpa memperhatikan sekitar. Tetapi kali ini berbeda, aku seakan terpesona dengan keotentikan sepanjang koridor. Di depan pandangan terhampar pola-pola batik khas Palembang yang memenuhi segenap dinding. Motif batik songket dan motif batik kembang teh ada diantaranya.

Di beberapa spot arrival corridor juga terdapat beberapa almari yang di dalamnya tersimpan tanjak khas Palembang. Bersama asesoris busana khas Palembang lainnya menjadikan area sepanjang arrival corridor sebagai etalase budaya khas Propinsi Sumatera Selatan.

Tiba di ujung arrival corridor, maka aku menuruni sebuah escalator menuju ke Lantai 1. Sudah pasti, karena ini adalah Kedatangan Domestik maka pemandangan pertama yang terlihat adalah jajaran baggage conveyor belt yang sudah dikerumuni penumpang Super Air Jet IU 872. Mereka sedari beberapa waktu sebelumnya telah bergegas mengambil bagasi dibandingkan diriku yang terlarut dengan waktu karena menikmati suasana bandara.

Tak ada satupun bagasi yang kutunggu, maka aku memilih untuk memandangi beberapa spot photo yang berada di lantai 1. Beberapa penumpang tampak mengantri di spot tersebut untuk mengabadikan dirinya.

Usai sesaat menikmati suasana di lantai 1 maka aku memutuskan menuju pintu keluar dan tibalah aku di beranda Kedatangan Domestik.

Seperti bandar udara pada umumnya, maka begitu tiba di luar bangunan terminal, aku diserbu oleh beberapa sopir taksi yang menawarkan jasa antar ke pusat kota. Sudah menjadi kebiasaan bagiku untuk menghindari penggunaan taksi dan memilih menggunakan transportasi umum yang memiliki tarif lebih terjangkau.

Sultan Mahmud Badaruddin II adalah Pahlawan Nasional yang memimpin Kesultanan Palembang Darussalam dalam melawan VOC pada Abad ke-19.
Bandar udara yang berlokasi di Kecamatan Sukarame.
Motif batik khas Palembang.
Tanjak khas Palembang.
Asesoris busana adat Palembang.
Jejak penyambutan Natal 2021.
Baggage conveyor belt.
Serambi Kedatangan Domestik.
Bandar Udara Sultan Mahmud Badaruddin II.
Jalur menuju lintasan LRT Sumatera Selatan.

Maka aku berjibaku untuk terus menghindari para sopir taksi dengan cara menjauh dari bangunan terminal. Aku hanya terus menyampaikan kepada mereka bahwa aku akan menuju pusat kota menggunakan LRT (Lintas Rel Terpadu) Sumatera Selatan.

Aku hanya berdiri di salah satu titik untuk mengambil photo Sultan Mahmud Badaruddin II International Airport dengan sudut pandang terbaik.

Tetiba muncul notifikasi di DM Instagramku , lantas aku membaca pesan masuk itu:

Mbak Ra     :     “Naik pesawat baru?”

Aku              :     “Iya mbak Ra…Penasaran…Wkwkwk?”

Mbak Ra     :     “Beneran ga terlalu berisik kah?….Udah terbang lagi aja”.

Aku              :     “Ndak kok….Pesawatnya Ok banget….Halus mengudara pagi ini, mbak…Walau banyak awan”

Mbak Ra     :     “Hahaha…Selamat menikmati perjalanannya mas. Semoga tahun depan bisa melakukan perjalanan seperti sebelum pandemi”

Aku              :     “Amin…Terimakasih, Mbak Ra”.

Dialah Mbak Ra yang beberapa tahun terakhir menjadi teman bloggerku, tentu aku banyak belajar dari caranya menulis.

Percakapan singkat lewat dunia maya itu menjadi penutup eksplorasi Sultan Mahmud Badaruddin II International Airport pagi itu.

Kenapa aku mengutip percakapan dengan Mbak Ra ini?

Sungguh epik,

Hari itu tertanggal 31 Desember 2021,

Do’a dari Mbak Ra yang kuamini benar-benar kejadian. Tepat setahun semenjak perjalanan ke Palembang itu aku diizinkan Tuhan untuk melakukan perjalanan layaknya perjalanan sebelum masa pandemi.

Aku berhasil menginjakkan kaki di tanah Uzbekistan, Kazakhstan, Turki dan Serbia. Perjalanan yang sungguh indah dan berhasil membuatku meneteskan air mata.

Kisah Selanjutnya—->

Qal’at Al Bahrain: Sejarah Awal Terbentuknya Bahrain

<—-Kisah Sebelumnya

Tepat pukul setengah dua belas, aku tiba kembali di halte bus Budaiya Market. Kawasan Budaiya Market tampak sepi daripada suasana beberapa jam sebelumnya, yaitu saat aku transit ketika melakukan perjalanan menuju Royal Camel Farm.

Lantas aku menyapukan pandangan ke beberapa titik. Setelah sekian menit memperhatikan sekitar, akhirnya aku menemukan sekumpulan pria dewasa yang sedang bergegas menuju ke suatu tempat.

Mereka sudah pasti sedang menuju masjid untuk melakukan shalat Jum’at”, aku menyimpulkan sendiri.

Shalat Jum’at pertama di Bahrain

Tanpa pikir panjang, aku mengikuti langkah sekelompok pria muda itu. Dan benar adanya, aku tiba juga di sebuah masjid, Mohammed bin Khalifa Mosque nama tempat ibadah tersebut.

Hatiku sangat lega karena aku tak terlambat. Aku segera bersuci dan kemudian mengambil tempat duduk di dalam ruangan masjid. Untuk sejenak aku khusyu’ melaksanakan ibadah shalat jum’at di Bahrain.

—-****—-

Aku melompat ke dalam bus kota bernomor X2. Tujuanku berikutnya berada di pantai utara Bahrain, Distrik Al Qalah tepatnya. Ada sebuah venue bersejarah di tempat itu.

Kebetulan bus yang kunaiki hanya ditempati segelintir penumpang, salah satunya adalah seorang gadis muda asal Jepang yang duduk tepat di depan bangku tempat aku duduk. Gadis itu tampak memperhatikan sebuah aplikasi berbasis peta dan aku yakin dia sedang menuju ke tempat yang sama seperti tempat yang akan aku tuju. Hal itu membuatku tenang, karena masih ada turis menuju tempat di utara kota yang tampaknya akan sepi pengunjung.

Menyerahkan diri pada laju bus, akhirnya aku tiba di tujuan dalam waktu lima puluh menit setelah menempuh jarak sejauh sepuluh kilometer. Dihadapanku telah berdiri dengan kokoh sebuah bangunan benteng masa lalu.

Aku telah tiba di Qal’at Al Bahrain”, aku tersenyum menang.

Akan tetapi aku mengindahkan bangunan modern yang berada di dekat gerbang masuk, bangunan itu adalah museum tempat menyimpan beberapa barang kuno yang ditemukan di Qal’at Al Bahrain.

Aku lebih tertarik untuk langsung saja menuju bagian utama. Bagian itu bernama Hormuzi-Portuguese Fortress, sebuah benteng berdinding kokoh di tepian pantai.

Tetapi sebelum benar-benar tiba di bangunan benteng, sebuah informasi menghadangku di salah satu titik jalan menujunya.

Dari papan informasi itu aku berusaha memahami hikayat tentang Qal’at Al Bahrain.

Diceritakan bahwa pada masa lalu Qal’at Al Bahrain ini adalah ibukota dari Negara Dilmun dan berfungsi sebagai pelabuhan. Dilmun sendiri adalah leluhur bangsa Sumeria yang berasal dari Iraq bagian selatan. Kompleks bersejarah tersebut didirikan pada 2.300 SM dan digunakan hingga Abad ke-16. Menurut informasi, banyak sekali ditemukan barang berbahan tembaga, yang menurut penelitian barang tersebut diperdagangkan hingga ke Sumer (Iraq Selatan), Oman, China, Mesopotamia, Indus Valley (Pakistan) dan negara-negara di kawasan Mediterania.

Secara umum, Qal’at Al Bahrain di masa lalu memiliki empat bagian utama, yaitu:

  1. Bukit buatan yang terbangun karena beberapa kali suksesi penaklukan Dilmun
  2. Sea Tower untuk menjaga jalur masuk ke area benteng
  3. Sea Channel yang digunakan penduduk Dilmun sebagai jalur perdagangan
  4. Area luas di sekitar benteng yang didominasi oleh kebun kurma dan lahan pertanian lokal
Site Museum.
Coastal Fortress.
Hormuzi-Portuguese Fortress.
Hormuzi-Portuguese Fortress.
Hormuzi-Portuguese Fortress.
Hormuzi-Portuguese Fortress.
Northern Rampart and Coastal Fortress Moat.

Qal’at Al Bahrain telah bertahan selama 4.500 tahun dengan perannya sebagai pelabuhan kota, tempat berakulturasinya berbagai budaya bangsa, memegan peran sebagai bangunan pertahanan dan menerapkan arsitektur yang melegenda. Kini Qal’at Al Bahrain talah menjadi UNESCO World Heritge Site.

Secara keseluruhan, Qal’at Al Bahrain memiliki luas 17,5 hektar, berdasarkan lapisan dasar dari bukit buatan ini ditemukan bukti bahwa masyarakat awal di sekitar Qal’at Bahrain menggarap pertanian oasis, berburu dan menangkap ikan.

Dan akhirnya pada pertengahan Abad ke-15, Qal’at Al Bahrain jatuh ke tangan Babilonia (sebuah bangsa yang berlokasi di sekitar Bagdad),

Menikmati sejarah di sekitar Hormuzi-Portuguese Fortress membuatku begitu khusyu’ hingga waktu tak terasa menginjak pukul empat sore.

Bertepatan dengan waktu itu pula, eksplorasiku di segenap Qal’at Al Bahrain telah usai.

Akhirnya aku pulang….

Petualanganku di Bahrain telah usai, esok hari aku akan terbang menuju Kuwait.

Kisah Selanjutnya—->

Royal Camel Farm: Pertama Kali Mengunjungi Peternakan Unta

<—-Kisah Sebelumnya

Mataku mengerjap bersamaan dengan kumandang adzan Subuh. Berlanjut melaksanakan shalat dan seusainya, aku bergegas mengguyur diri di bawah shower lalu bersarapan dengan dua potong roti tawar dengan selipan lembar keju ditengahnya.

Menunggu sejenak hingga hari mulai terang, maka usai bersiap diri, aku segera turun ke lobby hotel dan bermaksud untuk memulai eksplorasi.

Setelah memeriksa ulang saldo GO Card, ternyata aku masih memiliki nominal untuk melakukan satu kali perjalanan menggunakan bus kota. Maka aku melangkah menuju sebuah halte bus di bilangan Palace Avenue, hanya berjarak seratus meter saja. Aku berencana menuju Manama Terminal 3 menggunakan bus kota bernomor 45.

Menaiki bus itu maka  dalam seperempat jam aku tiba,

Langkah pertama yang kulakukan di terminal itu adalah mengisi ulang saldo GO Card. Sayangnya, aku tak menemukan menu daily pass di layar mesin tiket otomatis. Maka aku memutuskan untuk mengirim pesan ke nomor operator yang tertera di dinding konter ticket vending machine. Membaca jawaban pesan dari operator, untuk kemudian aku paham bahwa dengan mentop-up GO Card senilai 600 Fils berarti secara otomatis aku akan mendapatkan daily pass di dalam kartu.

Halte Bus Palace Avenue-6
Manama Terminal 3.
Budaiya Market.

Masalah saldo GO Card usai, maka aku melanjutkan perjalanan menuju Distrik Budaiya di barat kota Manama dengan menaiki bus kota bernomor X3. Perjalanan tahap kedua ini cukup jauh, menempuh jarak lima belas kilometer dengan waktu tempuh setengah jam. Sesampainya di distrik itu maka diturunkanlah diriku di halte bus Budaiya Market.

Hanya transit sejenak, aku tak membuang waktu dengan menaiki bus bernomor U4. Tujuan akhirku berada di Distrik Janabiyah. Terdapat sebidang peternakan Unta milik Sheikh Mohammed bin Salman Al Khalifa di distrik tersebut. Sheikh Mohammed bin Salman Al Khalifa sendiri adalah paman dari Raja Bahrain. Dari informasi yang kudapatkan, peternakan ini nyatanya bukan berorientasi pada penyediaan daging unta melainkan hanya untuk sekedar menyalurkan hobby sang pemilik saja.

Aku menaiki bus bernomor U4 menuju ke selatan sejauh lima belas menit dan menempuh jarak sejauh lima kilometer. Aku tiba dengan diturunkan di halte bus Janabiya Highway-14.

Aku yang awalnya ragu untuk memasuki peternakan karena membaca signboard berbunyi “Private Property, No Entry”, tetapi akhirnya tanpa pikir panjang, justru aku memberanikan diri untuk memasuki gerbang peternakan yang terletak di sisi barat Janabiyah Highway tersebut. Aku menuju ke salah seorang penjaga peternakan yang wajahnya khas kazahkstan, tapi entah apakah memang dia berasal dari sana.

Gerbang Royal Camel Farm.
Area dalam Royal Camel Farm.
Itu dia untanya.
Anak unta sedang dalam masa menyusu ke induknya.
Besar banget ya untanya.
Unta dengan rantai di kaki.

Dengan penuh senyum, penjaga peternakan itu mengarahkan jari telunjuknya ke arah pintu masuk peternakan. Mengucapkan terimakasih, akhirnya aku melenggang masuk ke dalam area peternakan.

Satu kesan utama yang kudapat ketika memasuki kawasan peternakan adalah rasa takjub. Inilah untuk pertama kali aku melihat unta dan momen itu terjadi di daerah asal unta itu sendiri, Jazirah Arab.

Tampak beberapa unta yang berada di luar kandang, keempat kakinya dikaitkan dengan rantai besi yang diatur panjang rantainya sehingga tak mengganggu gerak si unta. Sedangkan unta yang berada di dalam kandang dibiarkan bebas.

Beberapa tumpukan rumput disediakan pengelola peternakan supaya para pengunjung mendapatkan sensasi memberi makanan ke sekawanan unta tersebut.

Aku yang awalnya hanya berada sendirian di dalam peternakan, dalam satu jam kemudian mulai banyak para pengunjung berdatangan, kebanyakan dari mereka adalah turis asing sehingga peternakan itu menjadi ramai dengan pengunjung.

Selama satu setengah jam lamanya, aku berada di Royal Camel Farm dan karena aku harus mengejar pelaksanaan ibadah shalat jum’at, maka padapukul sebelas lebih seperempat aku memutuskan untuk kembali ke Distrik Budaiya dan memutuskan untuk mencari masjid di distrik itu saja.

Kisah Selanjutnya—->

Melintas Gudaibiya Palace: Menyudahi Eksplorasi Hari Kedua

<—-Kisah Sebelumnya

Gelap mulai meyelinap, temperatur kota mulai jatuh, pelita buatan mulai menerangi jalanan. Sementara aku berdiri di bawah gerbang utama Al Fateh Grand Mosque, menatap GO Cards warna merah yang kupegang dengan tangan kanan.

Seingatku saldonya sudah habis semenjak kemarin sore”, aku bergumam pelan.

Gumamku punya makna bahwa aku harus pulang menuju penginapan dengan mengandalkan langkah kaki.

Terbesit ragu dalam hati, ada rasa tak yakin dengan jalanan yang mulai dikuasai gelap. Begitulah aku, jika pulang terlambat, selalu saja khawatir jikalau menemukan “blank spot” di jalanan yang identik dengan kriminalitas.

Sekarang atau tidak sama sekali, Donny!”, aku mulai menghardik mentalku sendiri untuk segera memutuskan sebelum malam mulai hadir sepenuhnya.

Aku memutuskan mulai melangkah menuju penginapan daripada mencari mesin otomatis penambah saldo GO Cards.

Mengambil arah kiri dari gerbang Al Fateh Grand Mosque, aku mengayun langkah cepat dengan fokus tinggi demi mengumpulkan keberanian. Tiba di sebuah perempatan besar, aku memilih memindahkan langkah di ruas baru, Bani Otbah Avenue.

Oh ya, siapa sebenarya Bani Otbah hingga bisa menjadi nama jalan utama di Manama?

Bani Otbah adalah perkumpulan dari beberapa suku Arab yang asalnya mendiami sebuah dataran tinggi di wilayah tengah negara Saudi Arabia, yang dikemudian hari, suku ini menyebar hingga ke Kuwait dan Bahrain dan menjadi penguasa di kedua negara itu.

Langkahku tiba di sebuah pertigaan, adalah Osama bin Zaid Avenue yang membentuk pertigaan itu. Kini langkahku berbelok menuju utara, masih mempertahankan ruas yang sama. Tengara dari pertigaan itu adalah penginapan bintang empat bertajuk Ramada, sebuah penginapan yang berafiliasi dengan hotel kelas dunia berbintang lima, Wyndham Hotel namanya.

Ramada Hotel @ Bani Otbah Avenue.
Gerbang Gudaibiya Palace.
Jalanan di dekat Andalus Garden.

Bani Otbah Avenue mulai padat, sepertinya para pekerja sedang dalam perjalanan ke rumah masing-masing. Kemacetan tampak tak terhindarkan. Tetiba dari sebuah mobil jeep warna hitam, seorang perempuan meneriakiku sambil menunjuk kabin belakang. Aku paham bahwa dia sedang menawariku tumpangan.  Beberapa saat setelahnya, seorang laki-laki dari balik kemudi menampakkan wajahnya dan melambaikan tangan untuk memintaku masuk sambil tersenyum.

Aku yang merasa aneh dengan kejadian itu, lantas berinsting untuk mengambil opsi aman. Tentu aku tak akan mengambil tawaran itu. Aku berusaha memberikan kode dengan merapatkan kedua telapak tangan sebagai penanda bahwa tempat yang kutuju sudahlah dekat dan akan lebih baik jika ditempuh dengan berjalan kaki. Beruntung, mereka berdua memahami dan memberikan acungan jempol sebagai penanda bahwa mereka mengerti maksudku.

Kenapa bisa terjadi demikian,

Karena di sepanjang trotoar hanya aku seorang diri yang berjalan, dan itu terkesan aneh. Mungkin sebagian besar warga Manama selalu menggunakan mobil kemana mereka pergi.

Semenjak tawaran itu tiba, aku telah berdiri bersisian dengan Gudaibiya Palace, sebuah istana utama yang digunakan sebagai venue beberapa event politik dan ekonomi penting di negara Bahrain, bahkan istana ini digunakan untuk pengukuhan raja-raja baru Bahrain.

Hanya mampu melintas dan menikmati keindahan Gudaibiya Palace dari sisi trotoar, membuat langkahku tiba di Andalus Garden, taman kota yang pernah kusambangi pada malam pertamaku di Manama.

Dengan tiba di taman itu, berarti aku sudah sangat dekat dengan penginapan. Tak terasa aku telah melangkah sejauh hampir dua setengah kilometer. Aku mulai menurunkan deru napas seiring dengan mulai tenangnya hati.

Menu seharga 700 Fils.

Kuputuskan untuk transit sejenak di kedai makan khas India yang telah menjadi langgananku semenjak pertama kali tiba di Manama. Aku menikmati beberapa lembar paratha dan chicken fry sebagai menu makan malam di akhir petualangan hari keduaku.

Saatnya beristirahat sebagai persiapan  petualangan di keesokan harinya.

Kisah Selanjutnya—->

Al Fateh Grand Mosque: Panduan dari Laki-Laki Berjubah Putih

<—-Kisah Sebelumnya

Meninggalkan Three Musketeers kocak sama artinya dengan aku meninggalkan Marina Beach Garden Park. Aku sudah puas menikmati segenap panorama senja di taman tepi laut tersebut.

Sementara itu rona gelap mulai mengintimidasi langkah kaki, hari sudah merayap ke pukul lima petang. Sementara itu, aku masih percaya pada langkah kaki yang menapaki jalanan kota di sepanjang pinggiran timur Manama.

Aku mempercepat langkah kaki, semakin ke selatan dan masih mengikuti arus Al Fatih Highway.

Aku akan melakukan kunjungan penutup sore itu. Aku mengayun kaki menuju Al Fateh Grand Mosque.

Menyusur sisi timur Al Fatih Highway sejauh hampir dua kilometer, akhirnya aku tiba di tujuan.

Lantas di depanku berdiri megah menjulang bangunan ruhani berusia lebih dari tiga dekade. Menjadi salah satu masjid terbesar di dunia dengan kapasitas tujuh ribu jama’ah.

Selain sebagai bentuk harfiah sebuah masjid, tempat ibadah itu ternyata juga berfungsi sebagai Ahmed Al Fateh Islamic Centre.

Sebetulnya siapa sih Ahmed Al Fateh, sehingga namanya bisa diabadikan di masjid itu?

Ahmed Al Fateh mewarisi darah Kuwait dan bisa dikatakan beliau adalah leluhur dari keluarga Al Khalifa yang saat ini berkuasa di Bahrain. Nama aslinya adalah Ahmed ibn Muhammad ibn Khalifa. Berjuluk “Ahmed Sang Penakluk” semenjak beliau berhasil menaklukkan Bahrain dari penguasa Persia hampir dua setengah abad silam.

Kembali ke perjalananku ya…….

Dari pintu halaman masjid, aku pun melangkah masuk.

Hi, Sir, can you take our photo?”, tiga gadis Russia tetiba menghentikan langkahku untuk mendekati masjid.

Sure”, aku yang tak keberatan pun mulai mengambil beberapa photo mereka. Aku hanya mengikuti arahan mereka untuk mendapatkan angle photo yang membuat mereka bertiga terkesan langsing dan tinggi…..Ada-ada saja.

Aku pun mendapat imbalan dengan diambilnya foto diri oleh ketika gadis itu. Maka seusainya, aku mulai memasuki masjid untuk kemudian disambut oleh seorang laki-laki berjubah putih yang tampaknya sedang bertugas menerima wisatawan berbagai bangsa yang datang mengunjungi masjid itu. Pertanyaan pertamaku tentu menanyakan dimanakah ruang bersuci. Dan pantas saja aku tak kunjung menemukannya karena laki-laki berjubah putih itu mengarahkanku menuju bangunan terpisah di luar masjid untuk berwudhu.

Difoton gadis-gadis Russia.
Tempat berwudhu yang elegan.
Ruangan terbuka (courtyard) bagian dalam.
Lampu gantung yang dekat sekali dengan kepala.
Pilar-pilar yang gagah.
Bagian depan mosque library.

Usai berwudhu, aku pun menunaikan shalat tahiyatul masjid dan kemudian bergabung lagi dengan rombongan wisatawan yang sedang  berkeliling di area dalam masjid untuk mengikuti penjelasan dari laki-laki berjubah putih itu.

Dari penjelasannya aku baru memahami bahwa Syiah menjadi aliran mayoritas di Bahrain dan Al Fateh Grand Mosque adalah salah satu masjid Sunni yang berada di berada di Bahrain.

Al Fateh Grand Mosque menjadi masjid termegah di Bahrain dan menjadi pusat syi’ar Islam negera itu. Masjid berkubah fiberglass, bermarmer Italia, belampu gantung Austria dan pintu-pintu berbahankan kayu jati asal India itu menjadi landmark megah yang kutemui hari itu.

Aku begitu menikmati penjelasan-penjelasan mengenai Islam di Bahrain hingga tak terasa waktu Maghrib telah tiba.

Laki-laki berjubah putih itu akhirnya menutup tur dan aku pun bersiap diri untuk menjalankan Shalat Maghrib, sedangkan beberapa turis Eropa harus mengakhiri kunjungan dan meningalkan masjid.

Mari kita Shalat Maghrib sejenak…

Kisah Selanjutnya—->

Marina Beach Garden Park: Bertemu Three Musketeers

<—-Kisah Sebelumnya

Lantas aku meninggalkan Beit Al Qur’an dari sisi timurnya. Beruntung sekali aku menemukan jalan kecil yang menikung keluar dari ruas utama Shaikh Hamad Causeway. Jalan tembus itu terasa hidup dengan keberadaan Sail Monument yang berdiri gagah tepat di sebuah t-junction.

Maka tikungan itu mengantarkanku untuk melangkah di ruas baru, Al Fatih Highway nama ruas jalan itu.

Al Fatih Highway adalah jalan dengan enam ruas yang terbagi dalam dua arah dengan satu jalur flyover ditengahnya.

Aku menelusuri sisi barat jalan yang juga merupakan sebuah area diplomat dimana Kedutaan Besar Pakistan, Oman, Perancis, dan Irak berada. Area diplomat itu membentang hingga sejauh setengah kilometer di sebelah barat Al Fatih Highway.

Sementara waktu hampir saja menyentuh jam empat sore. Sedangkan Al Fateh Grand Mosque belum juga terlihat batang hidungnya. Di lain sisi, aku sudah merasa kepayahan melawan fatigue otot betis.

Olah karena Al Fateh Grand Mosque terletak tepat di sisi timur Al Fatih Highway, maka kuputuskan untuk segera menyeberang saja karena di hadapanku telah nampak sebuah jembatan penyeberangan yang cukup besar dan mengangkangi Al Fatih Highway yang memiliki lebar tak kurang dari tiga puluh meter.

Walau tampak sepi, aku tanpa ragu menaiki anak tangga demi anak tangga untuk melintasi jembatan penyeberangan berbahan beton itu.

Sampai di pertengahan jembatan penyeberangan, aku berhenti. Sejenak tatapan mata terarah ke selatan. Padu padan antara antrian kendaraan, deret hijau pohon palem pemisah ruas, ruang terbuka hijau di sisi timur dan penampang biru ceruk laut Khawr Al Qulay’ah yang dilatar belakangi oleh ragam desain gedung-gedung pencakar langit yang pada akhirnya mengkreasikan sebuah pemandangan elok di sore nan cerah itu.

Untuk kemudian tatap mataku tertuju pada Ruang Terbuka Hijau di sisi timur…. “Marina Beach Garden Park”, aku mengetahui julukannya dari sebuah papan nama.

Turun dari jembatan penyeberangan maka secara otomatis aku terhantar di Marina Beach Garden Park. Maka, hal pertama yang kulakukan di taman itu adalah meminum air yang disediakan di salah satu titik free water station, aku mencoba meredam rasa haus setelah berjalan hampir tujuh kilometer sedari pagi.

Melintasi jalur taman yang cukup lebar untuk dilewati kendaraan roda empat, aku mencoba mencari tempat duduk demi mengendorkan fatique otot betis. Aku pun mendapatkan bangku kosong dan segera mengakuisisinya.

Untuk beberapa saat aku terduduk cukup lama di bangku taman itu, menikmati pemandangan dimana beberapa keluarga lokal yang harmonis sedang menikmati santap siang bersama diatas lembaran alas sederhana. Atau keluarga kecil beserta putra atau putrinya yang menghabiskan waktu di kids playground area sisi barat taman. Bahkan pemandangan pantai yang bersih dan diperindah dengan panorama kota berupa juluran tinggi gedung-gedung pencakar langit menjadi penanda bahwa aku tak jauh lagi dari distrik bisnis utama di Kota Manama.  

Beberapa waktu kemudian….

Hello, can we sit here?”, tiga pria muda menyapa dari balik punggungku

Oh, sure”, aku menggeser duduk di ujung bangku beton.

Maka terduduklah di sebelahku tiga orang pria muda. Kami pun bercakap akrab, saling memperkenalkan diri dan kemudian membahas berbagai macam hal.

Al Fatih Highway.
Marina Beach Garden Park.
Mulai ramai oleh masyarakat lokal.
Penampakan Distrik Al Fateh di kejauhan.
Boat Berth di timur taman.
Bercanda dengan three musketeers dadakan.

Satu diantara mereka ternyata seorang anggota kepolisian Kerajaan Bahrain, seorang lagi seorang pegawai pemerintahan dan yang terakhir adalah seorang yang bekerja di sektor swasta. Mereka sepertinya tiga sahabat karib.

Mereka banyak bercerita mengenai jalannya pemerintahan yang dikendalikan oleh raja Hamad, berbicara juga mengenai kesibukan salah satu dari mereka dalam menjalankan bisnis, bahkan kami juga membahas mengenai gempa di Lombok yang pernah dirasakan oleh pria yang bekerja di pemerintahan.

Tapi ada satu topik lagi yang sangat mengherankan kenapa tetiba bisa diangkat oleh salah satu dari mereka….Topik itu adalah perihal ladyboy…..Wah parah, awalnya aku menaruh gelagat curiga, tetapi setelah mencoba tenang ternyata memang itu hanya percakapan ringan dan candaan saja….Hahaha. Ada-ada saja ya….Ngeri-ngeri sedap.

Kiranya aku telah cukup lama berbincang dengan mereka maka aku pun segera pamit undur diri demi melanjutkan perjalanan menuju Al Fateh Grand Mosque.

Kisah Selanjutnya—->

Beit Al Qur’an: Sebuah Alternatif Datang….

<—-Kisah Sebelumnya

Lewat jam dua siang….

Aku sedikit menyeret kaki ke arah selatan, tentu karena rasa capek yang mulai menggelayut. Tak terasa aku sudah mengitari kota setengah dengan arah putaran berlawanan arah jarum jam, berhasil menyisir sisi barat hingga utara.

Saatnya bergerak ke sisi timur”, aku berujar dalam hati dengan sedikit rasa was-was jikalau matahari mendahului terbenam sebelum aku tiba di penginapan.

Aku kembali menyeberangi jalan bebas hambatan King Faisal Highway untuk menggapai Palace Avenue, sebuah jalan protokol yang membelah sisi timur ibukota Manama dari arah utara ke selatan.

Tiba di sebuah perempatan besar dengan tengara Ras Rumman Mosque, aku mengubah haluan menuju timur melalui Shaikh Hammad Causeway, sebuah jalan protokol selebar tak kurang dari 25 meter yang memiliki enam ruas dengan dua arah.

Shaikh Hamad Causeway telah kutetapkan sebagai akses berjalan kaki menuju museum modern penyimpan koleksi Al Qur’an langka, kaligrafi dan berbagai artefak Islam, Beit Al Qur’an adalah nama tempat tersebut.

Hampir dua kilometer menyeret langkah, akhirnya aku tiba.

Tapi……

Sepi……

Tak ada siapapun di terasnya. Aku yang tak mudah menyerah mencoba mengintip ke dalam ruangan gedung lewat pintu kaca. Aku melihat ada dua orang bercakap di dalam.

Lama tak mendapatkan perhatian, aku memutuskan menunggu hingga mereka keluar. Kuhabiskan beberapa saat waktuku di teras museum dengan membaca beberapa warta yang terhampar di papan informasi.

Tetapi dua orang di dalam tak kunjung keluar…..

Aku memutuskan untuk mendekati pintu kaca itu kembali. Mengetuknya, sesekali melambaikan kedua tangan lebar-lebar untuk mendapatkan perhatian kedua orang itu yang sedang asyik bercakap di dalam gedung.

Akhirnya…..

Satu di antara mereka menoleh ke arahku. Aku menjadi sumringah karena dia mulai melangkah menujuku. Aku pun bersiap menemuinya.

Tiba juga di Beit Al-Qur’an.
Kok Sepi…..
Aku pun meninggalkannya.

Can I help you, Sir?”, dia bertanya penuh senyum

Sir, can I go inside the museum to have a look around?”, aku mengajukan pertanyaan.

Oh God, I’m sorry, the museum is closed today. We are closed on Friday”, dia tampak sedih melihat keberadaanku.

Where are you come from?”, dia melanjutkan bertanya.

Very very far country, Sir….Indonesia”, aku menjelaskan sembari berharap.

You can come tomorrow”, dia membesarkan hatiku

Tommorow I will visit a destination outside Manama City, Sir”, aku memastikan.

Do you want to know about the history of Islam in Bahrain?”, dia sepertinya akan memberikan sebuah alternatif.

Sure, Sir”, aku antusias.

You can go to Al Fateh Grand Mosque, where an imam stands guard and explains about the Islamic history of our country. I think it’s a worthy substitute for this museum”, di menepuk-nepuk pundak kananku.

It’s an interesting idea for sure. Alright, I’ll go there now. Thank you for your suggestion, Sir”, aku akhirnya berpamitan dan melangkah pergi.

Kisah Selanjutnya—->

The Avenues: Larangan Memotret yang Terlanggar…

<—-Kisah Sebelumnya

Usai sudah menikmati pesona Teluk Bahrain, aku pun meninggalkan The Avenues Park.

Untuk kemudian tatapan mata kulemparkan ke arah timur, ke sebuah bangunan melengkung memanjang persis di tepian Teluk Bahrain.

Aku menyusuri jalur utama The Avenues Park yang terkoneksi menuju bangunan modern itu. Jarak bangunan itu dari pusat taman berkisar setengah kilometer, cukup membuatku berkeringat untuk tiba persis di depan pintu masuknya.

Grand Avenue Gate”, aku membaca sebuah signboard berwarna merah tepat di dua outlet busana kenamaan, yaitu H&M dan Vitoria’s Secret.

Tanpa ragu aku memasuki pusat perbelanjaan berjuluk “The Avenues” itu. Begitu tiba di koridor utama maka aku mulai mengarahkan Canon EOS M10 ke beberapa titik ikonik.

Cekrek….Cekrek….Cekrek……, aku dengan santai mengabadikan sudut-sudut menarik di dalam ruangan.

Halo, Sir….Excuse me”, suara itu berasal dari balik punggung dan dalam sekejap aku menoleh ke belakang.

Yes, Sir….“, aku membalas sapaan pemuda berwajah khas Arab itu.

Sir, I’m sorry, You can’t take pictures in this shopping mall”, dia menjelaskan ramah sembari menunjuk ke arah kamera mirrorless yang kupegang.

Oh, Okay….I’m sorry, Sir”, aku bergegas memasukkan kamera ke dalam folding bag.

Thank you very much, Sir for your attention”, dia berpamitan pergi.

Maka sedari itu, aku melanjutkan langkah kaki, tetap mengelilingi pusat perbelanjaan, tapi aku hanya bisa menikmati dengan mata telanjang saja.

Tetapi keisenganku berkata lain….

Posisiku sudah jauh dari tempat awal diperingatkan oleh staff pusat perbelanjaan beberapa waktu sebelumya.

Kenapa aku tidak mengambil gambar dari gawai pintar saja?”, aku tiba-tiba memiliki ide nyeleneh.

Maka tanpa berpikir panjang lagi, aku mengeluarkan gawai pintar dan tanpa ragu aku mengambil beberapa gambar sembari melangkahkan kaki ke segenap penjuru pusat perbelanjaan itu.

Aku sungguh mengagumi tata letak dan bentuk arsitekturnya. Tampak di beberapa pertemuan koridor, atap dari pusat perbelanjaan itu dibuat dari kaca transparan sehingga sinar matahari mampu menerangi bagian dalam pusat perbelanjaan dengan maksimal. Bahkan beberapa atap dibuat dengan bentuk kubah sebagai identitas budaya Islam yang dimiliki oleh negara-negara di kawasan Timur Tengah.

The Avenues tampak depan.
Koridor bagian dalam The Avenues.
Area parkir The Avenues.
Sisi luar The Avenues di tepian Teluk Bahrain.
Water taxi terpakir di dekat pintu masuk bagian dalam The Avenues.

Usai menjelajah bagian dalam ruangan, maka aku bergegas menuju pintu yang langsung terhubung dengan tepian Teluk Bahrain.

Bagian inilah yang merupakan bagian paling menarik tentunya.

Tampak jelas di hadapan, pemandangan indah Teluk Bahrain yang dipadukan dengan begitu dekatnya kompleks Bahrain Bay di bagian seberang teluk.

Tampak di tepian teluk, menjulur panjang dermaga yang menyandarkan beberapa taksi air, transportasi umum yang menghantarkan para pengunjung The Avenues dari beberapa tempat di kawasan ibukota.

The Avenues memang ditujukan Kerajaan Bahrain untuk menjadi pusat destinasi wisatawan yang mengunjungi negeri itu. Oleh karenanya pusat perbelanjaan itu tampak dibangun dengan sangat serius dan intens. Konon, bentangan pusat perbelanjaan yang memanjang sejauh 1,5 kilometer di tepian teluk itu mampu 130 outlet ternama di seluruh dunia dan hampir separuh area bangunan digunakan sebagai restoran dan cafe.

Benar-benar pusat perbelanjaan yang mengagumkan.

Kisah Selanjutnya—->

The Avenues Park: Hujan Datang Lagi….

<—-Kisah Sebelumnya

Terlalu lama aku terbengong, antusias menikmati desain unik Bahrain World Trade Center. Tingginya yang menjulang hampir 250 meter dengan 50 lantai tersusun di dalamnya.

Bangunan berusia 14 tahun yang mengandalkan perpaduan arsitektur ala British dan Denmark itu berdiri gagah bak idola di Manama Center District, area bisnis di ibukota Bahrain. Pantas keanggunannya membuatku terpaku ketika berada di kaki-kaki raksasanya.

Sementara matahari yang terselip diantara sebaran awan sudah mulai tergelincir. Menunjukkan bahwa sore mulai mengakusisi hari.

“Aku harus bergegas”, aku membatin, mengingat aku telah berniat untuk mengeksplorai pusat kota dengan berjalan kaki hingga malam tiba.

Aku menatap sekitar, menentukan tempat lain yang hendak kusinggahi. Menghadap ke utara, mencari sela pandang diantara pepohonan yang berjajar di tepian King Faisal Highway, aku melihat hamparan air laut.

Tak salah lagi….Itu Teluk Bahrain”, aku sumringah.

Mengamati hamparan lurus King Faisal Highway, mataku awas mencari tempat untuk menyeberang dengan aman. Bersyukur aku menemukan sebuah perempatan besar dengan lampu lalu lintas yang sedang menghadang laju segenap kendaraan dari laju kencangnya di King Faisal Highway.

Aku harus melewati perempatan itu untuk tiba di seberang dengan aman”, aku memutuskan

Tanpa pikir panjang, aku segera menujunya, menunggu lampu-lampu lalu lintas berukuran besar itu menghadang laju kendaraan, lalu menyeberangi kedua ruasnya yang memiliki lebar tak kurang dari 75 meter.

Berada di tepian utara King Faisal Highway, aku mencoba mencari sela untuk bisa masuk ke trotoar demi mengamankan diri dari laju kencang kendaraan.

Tiba di trotoar, aku disambut dengan kehadiran kembali gerimis yang sejatinya telah menghilang satu jam lalu. Semakin lama semakin intens dan membuatku berlari-lari kecil mencari tempat berlindung.

Aku melihat tempat berteduh, tanpa pikir panjang, aku bergegas menujunya. Sesampainya di tempat itu, aku membersihkan rambutku yang basah dari air gerimis dan menepuk-nepuk beberapa bagian t-shirtku yan basah, hingga akhirnya aku tersadar bahwa aku telah berada di sebuah taman kota….Taman pantai tepatnya.

The Avenues Park”, aku membaca sebuah papan nama tepat di tengah taman.

Taman yang menarik”, aku antusias.

Memperhatikan luasannya, taman itu memiliki luasan tak kurang dari 8 hektar, menghiasi salah satu tepian Teluk Bahrain yang menyediakan pantai utama bagi warga ibukota.

Berteduh sekedarnya.
Kids Play Area.
The Avenues Park.
Bahrain Financial Harbour di sisi barat taman.
Four Seasons Hotel Bahrain Bay

Tampak satu pojoknya ditempati oleh keberadaan Kids Play Area yang tentunya sepi karena hujan, beberapa waktu sebelumnya, terdapat seorang ibu dan anaknya yang bermain di tempat itu tetapi terburu meninggalkannya karena mencari tempat berlindung dari gerimis yang telah berubah menjadi hujan ringan.

Mudah-mudahan hujan ini tak akan lama”, aku berharap karena tak mau terjebak di tempat itu hingga sore genap tiba secara sempurna.

Tak ada yang bisa aku lakukan kecuali hanya menunggu hujan ringan itu berhenti. Aku mencoba menikmati The Avenues Park itu dari tempat berteduh, tapi tetap tak menghilangkan aura cantiknya.

Beruntung lima belas menit kemudian hujan berhenti……

Saatnya melangkah di pusat taman dan menikmati pemandangannya di arah pantai. Tampak di seberang pantai membentang area Bahrain Bay yang dihiasi oleh bangunan-bangunan pencakar langit yang ikonik.

Sungguh pemandangan indah yang kutemukan tepat ketika matahari mulai tergelincir.

Kisah Selanjutnya—->

Lambaian Tangan di Manama Center District

<—-Kisah Sebelumnya

Hujan usai, gerimis pun tak bersisa. Jalanan masih basah, tapi di beberapa ruas sudah tampak mengering karena dilewati lalu lalang kendaraan.

Aku menengok ke sekitar usai berpaling dari kokohnya Bab Al Bahrain, sebuah pintu gerbang kerajaan di masa lalu.

Ternyata sisi timur lebih menarik minat hati. Aku menatap lekat-lekat arah itu. Tinggi rendah bentukan pencakar langit menjadi latar pandang hingga di ujung sana. Namun bangunan NBB Tower dengan lengkungan hijau dan kelir emas tampak mendominasi karena tepat berada di depan mata, tak jauh dari pandangan.

Jalan itu adalah jalan protokol dengan nama Government Avenue, jalanan selebar tiga puluh meter dengan dua arah arus.

Melangkah di pangkal ruas, aku tepat berada di seberang Amakin Building, gedung bertingkat seluas setengah hektar milik Bahrain Car Parks Company. Sementara Canon EOS M10 yang menjadi teman tunggalku dalam berpetualang mengarah kesana kemari mengikuti indahnya panorama kota.

“Haloooo…..Haiiiiii…..Halooooo”, aku tetiba mendengar suara itu dari atas.

Dua pemuda tampak berada di lantai teratas gedung parkir, melambaikan tangan dengan batang rokok di selipan tangan mereka masing-masing.

Mungkin mereka para driver yang menunggu tuannya”, aku membatin

Sontak aku mengarahkan kamera ke arah mereka dan mengabadikan lambaian tangan mereka.

Hoolaaaaaa….” Aku melambaikan tanganku

Mereka tersenyum dan mengacungkan jempol.

Sebuah intermezo yang menyenangkan tentunya.

Government Avenue.
NBB Tower (kiri).
BKK Main Branch (tengah).
Persilangan Palace Avenue dan Government Avenue.

Aku melanjutkan langkah, semakin ke timur. Menyusuri Government Avenue hingga tiba di perempatan jalan yang dipotong oleh Isa Al Kabeer Avenue yang tak kalah lebar membentang dari utara ke selatan. Tampak BBK Main Branch berdiri megah di salah satu sisinya.

Tapi bukan gedung itu yang kemudian mencuri segenap perhatianku.

Gedung kembar dengan triple skybridge di tengahnya, berpadu warna biru dan hijau, bertengger megah dari kejauhan.

Aku bergegas melangkah ke utara untuk mendekatinya, Aku terpaksa harus menghabiskan ruas Isa Al Kabeer di sisi terutara hingga tiba tepat di sisi selatan King Faisal Highway, ruasan panjang jalan tol yang apabila ditelusuri terus ke barat maka akan melintasi Teluk Bahrain dan akhirnya akan tiba di Khobar, salah satu distrik di wilayah negara Saudi Arabia.

Kembali di salah satu sisi selatan King Faisal Highway dimana aku berdiri. Tampak jelas bangunan teranggun di Distrik Manama Center, apalagi kalau bukan Bahrain World Trade Center yang lancip menjulang ke arah langit….Sangat indah.

Bahrain World Trade Center.
Triple skybridge yang mengagumkan.
Anggun kan?….

Akhirnya aku terhenti di bawahnya, terpukau cukup lama dan terlarut dalam menikmati rupa indah arsitekturnya….

Untuk beberapa waktu, aku malas beranjak daripadanya….

Biarkan aku menikmati sejenak keelokannya.

Kisah Selanjutnya—->