Janjang Ampek Puluah, Perwujudan Integrasi Zaman Kolonial

Beranjak dari Taman Monumen Proklamator Bung Hatta, Aku bergerak turun menyusuri Jalan Istana, melintas Plaza Bukittinggi, menyapa Jam Gadang, menapak di Jalan Minangkabau kemudian masuk ke Jalan Cindua Mato.

Selangkah kemudian, aku memasuki Pasar Atas. Sebagian besar kios masih tertutup karena aku terlalu pagi menyambanginya. Tak ada yang bisa kuperbuat, hanya beberapa kios yang sedang bersiap membuka diri, ditandai dengan si empunya yang sibuk menata barang dagangan.

Senyap.

Kini aku sudah berada di gerbang dengan pemandangan leretan curam anak tangga, dua ekor harimau mengawal gerbang di kiri-kanannya, sementara di ujung bawah sudah terlihat sekelumit keramaian perniagaan, mungkin itulah yang disebut dengan Pasar Banto.

Aku menuruninya perlahan sambil mulut berkomat kamit menghitung bilangan….Benar ternyata,  empat puluh anak tangga. Leretan anak tangga inilah yang dikenal dengan nama Janjang Ampek Puluah. Konon empat puluh melambangkan jumlah anggota Niniak Mamak.

Tangga penghubung legendaris.

Sungguh cemerlang Louis Constant Westenenk, Si Asisten Residen Agam (Controleur Agam) yang berkolaborasi dengan Niniak Mamak (Lembaga Adat Minangkabau) dalam mencetuskan integrasi Pasar Atas-Pasar Bawah-Pasar Banto pada awal Abad XX. Kala itu Janjang menjadi fasilitas populer dalam konektivitas pasar. Daya fikir pemimpin pada masa itu, benar-benar diperas untuk menata kota Bukittinggi yang memiliki topografi berbukit dan tidak rata.

Aku tiba di gerbang bawah empat tiang bergaya Eropa dengan signboard besar “Janjang Ampek Puluah”. Toh, akhirya kuketahui bahwa gerbang bawah ini adalah bangunan baru, melengkapi gerbang bagian atas yang sudah lebih dahulu ada.

Gerbang bawah bergaya kolonial.
Gerbang Bawah tampak dari pertigaan Jalan Pemuda, Jalan Perintis Kemerdekaan dan Jalan Soekarno Hatta.

Sementara di bagian samping dalam gerbang, terdapat prasasti yang berisi sejarah ringkas keberadaan janjang legendaris setinggi 5 meter dan lebar 4,6 meter yang dibangun pada masa lampau itu.  

Aku masih saja memandangi keanggunan fasilitas integrasi era kolonial ini, sementara warga tampak mulai berlalu lalang menaik turuni Janjang. Aku memang tak mau lekas meninggalkan area itu, tertegun memikirkan bagaimana perwujudan area ini ketika Janjang belum direalisasikan, mungkin tempatku berdiri itu masih berwujud perbukitan curam yang memisahkan ketiga aktivitas pasar.

Janjang Ampek Puluah hanyalah satu dari seian banyak Janjang di Bukittinggi. Rupaya Pemerintah Kolonial cukup serius dalam mengintegrsikan semua titik ekonomi kota kala itu. Perlu kamu ketahui bahwa masih ada Janjang Saribu, Janjang Koto Gadang dan Janjang Pasanggrahan di kota bernama lama Fort de Kock itu.

Di sisi luar gerbang, lalu lalang angkutan kota mulai mendenyutkan nadi kota. Penampakan angkuh Banto Trade Centre semakin menunjukkan bahwa daerah di sekitarnya dapat diandalkan sebagai mesin penggerak ekonomi kota.

Okay lanjut yuk….Kalau berjalan lurus kedepan, ada apa lagi ya?

Ponytail at Shanti Stupa

 “Preparing your leg to climb Anadu Hill!“, Said Mr. Tirtha while clenching his right fist forward.

Yes I knew. At the end of that time, I had to conquer hundreds of steps to enjoying the beauty of 47 years old pagoda, one of eighty pagodas of peace which scattered all over earth.

Riding northwest, the tiny taxi engine grunted nearly 20 minutes to complete 3.5km journey. Arriving at parking area, Mr. Tirtha showed me where to started climbing.

It took a long time to conquer all stairs. Gasping….I leaned against a railing for a moment on the way. Slowly drinking my remaining mineral water, I took a break while enjoying the beautiful faces of Nepalese girls who kept passing by. Nepalese girls were slender who love to have long black hair, brown skin and a face which is typical of South Asia. It would be lucky if you find the slanted eyes….beautifully authentic….Ouch.

Like lightning, I stuttered when a Nipon girl passed me and smiled while saying a short “Hi“. Automatically my lips smile at her while watching her closely. I was still stunned as she climbed further and further away. “Who and Why?“, I kept asking myself.

Oh, my gosh…..That ponytail beauty with the surname Kawaguchi who sat on my left on Thai Airways flight TG 319“, my memory snapped my reverie. She had disappeared around the corner. I was determined to look upstairs later.

Description: D:BC ReportsFoto and VideoGo Abroad15. NepalIMG_20180101_175219546.jpg
The statue made on November 5, 2001.

Starting to enter a large courtyard and were greeted by a statue of Mr. Meen Bahadur Gurung, Deputy Minister of Defense of Nepal who was instrumental in developing the stupa.Path to stupa.

The path to stupa.

World Peace Pagoda is known by another name as Shanti Stupa. Shanti is Sanskrit which means peace. So basically this is a peace monument which builts in the form of a stupa. This stupa was built by a Buddhist order from Japan who named as Nipponzan-Myohoji.

Description: D:BC ReportsFoto and VideoGo Abroad15. NepalIMG_20180101_175609084.jpg
Standing at an altitude of 1110 m above sea level.
The room behind the stupa.

The front court was silent, there was only one kind of hum sounded by a monk in a room. Silent and sacred. Meanwhile, on the far side was the southern edge of Phewa Lake and Himalayan indentation, which was extraordinarily attractive.

Description: D:BC ReportsFoto and VideoGo Abroad15. NepalIMG_20180101_174802127.jpg
Pokhara from the top of hill.
Description: D:BC ReportsFoto and VideoGo Abroad15. NepalIMG_20180101_174751420.jpg
Phewa Lake and the Himalayas…. Pokhara assets.

My heart stopped when a red helicopter suddenly took a sharp dive into the lake. This was the first time I saw a helicopter fall and sharply hit it.

My breath suddenly stopped, but finally able to quickly suck the air back when helicopter was able to align its muzzle with lake surface. Damn…. It was just a paid adrenaline game, of course visitors around me were ignoring it….Oh, Donny.

The liar helicopter.

My eyes searched all directions looking for Kawaguchi’s whereabouts. Pounding hope to find her. 15 minutes already….. I haven’t even seen her.. Maybe she had rushed back, I was lost the opportunity to apologize because I didn’t remember it well….

Description: D:BC ReportsFoto and VideoGo Abroad15. NepalIMG_20180101_174943517.jpg
A fake smile behind my disappointment.

It was late afternoon, time to go back to hotel.

L See the situation of Shanti Stupa here: https://youtu.be/wSOfTsqJjX8

Taman Monumen Proklamator Bung Hatta dan Kisahnya yang Bersahaja

Satu jam sudah aku mengupas kisah heroik di Tugu Pahlawan Tak Dikenal. Kini aku akan belajar sejarah lainnya di taman yang berbeda. Letaknya tepat di seberang timur tugu hitam berbentuk naga itu. Hanya perlu menyeberang sejenak Jalan Istana.

Dari etalase signboard di gerbang depan taman, rupanya Sumatera Barat sedang bersiap diri untuk menggelar seri balap milik Union Cycliste International (Persatuan Balap Sepeda Internasional) seminggu kedepan.

Tour de Singkarak ke-9, balap sepeda ranking lima dunia.

Menaiki dua puluh dua anak tangga berwarna gelap, aku mencapai pelataran taman. Dinamakan Taman Monumen Proklamator Bung Hatta, taman ini menampilkan patung utuh Mohammad Hatta berbaju safari empat saku yang dengan kharismanya melambaikan tangan kanan ke arah pertigaan Jalan Istana, Jalan H. Agus Salim dan Jalan Sudirman.

Gerbang depan taman.

Jika tadi aku berada di bawah permukaan jalan ketika berada di Tugu Pahlawan Tak Dikenal, kini aku berada tinggi di atas permukaan jalanan ketika menyambangi Taman Monumen Proklamator Bung Hatta. Dua hari mengeksplorasi kota, mulai tersadar bahwa aku terkadang sebentar di bawah, lalu tiba-tiba berada di ketinggian. Bukan Bukittinggi namanya jika tidak demikian.

Bertatap muka dengan Bung Hatta.

Tampak di belakang patung terdapat tiga halaman dinding yang mengisahkan perjuangan tokoh yang memiliki nama asli Mohammad Ibn ‘Atta ini.

Dihalaman pertama, tampak kehidupan Bung Hatta di rumah sederhananya, kisah saat Hatta mengaji di Batuampar hingga melanjutkan sekolah di MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs).

Di halaman dinding kedua, diceritakan suatu masa ketika Hatta memimpin Perhimpunan Indonesia di negeri Belanda saat beliau bersekolah.

Halaman pertama dan kedua di sisi kanan patung Mohammad Hatta.

Halaman dinding ketiga adalah masa masa indah ketika Hatta berhasil memprokalamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia bersama Ir. Soekarno pada 17 Agustus 1945 hingga perjuangan dari meja perundingan satu ke meja perundingan yang lain demi pengakuan dunia atas kemerdekaan yang diproklamasikannya.

Dan layaknya sebuah skenario normal, halaman dinding keempat adalah masa pensiun Hatta dari dunia politik hingga masa dimana beliau mendapat penghargaan dari Presiden Soeharto.

Halaman ketiga dan keempat.

Jalanan telah tampak ramai dengan aktivitas, satu per satu warga yang sedang berolahraga tampak mengunjungi taman ini untuk sekedar melakukan pendinginan pasca berjogging, duduk bersantai di bangku taman dan berfoto dengan sosok Bung Hatta yang menjadi tokoh primadona kota mungil Bukittinggi.

Taman masih tampak basah sisa hujan deras semalaman.

Cukup tiga puluh menit bagiku untuk mengunjungi taman ini. Aku akan melanjutkan kembali eksplorasi Bukittinggi dengan mengunjungi Janjang Ampek Puluah, sebuah tangga penghubung antar pasar yang cukup tersohor dalam pariwisata kota ini.

Suasana Jalan Sudirman yang mulai sesak dengan kendaraan.

Yuk….Lanjut jalan kaki lagi…..

Menjadi Marketer Efektif bersama GoWork

Lobby GoWork-Arkadia Green Park (sumber: dokumen pribadi).

Senin pagi pukul delapan, sudah rusuh saja di lantai bawah rumah….

Sedang butuh sekali fokus untuk rapat daring bersama bos dan tim….Ehhh, berkali-kali ada tamu datang dan mengetuk pintu depan. Kejadian itu membuat saya berkali-kali harus membuka pintu dan melayani obrolan untuk urusan remeh temeh. Jahatnya, gaya ngobrol saya terkesan mengusir setiap tamu itu secara halus….Wah, saya merasa bersalah.

Donny, tadi saya perhatikan kamu sering hilang di rapat. Kemana sih?”, bos saya bertanya dengan mood yang kurang enak

Ada tamu bos

Kamu tahu gak sih? itu membuat rapat menjadi tidak efektif. Mendingan kamu cari tempat kerja yang bebas gangguan deh dekat rumah!”, biasalah kalau bos kasih perintah. Harus dituruti.

Ada sih cafe dekat sini, bos. Saya kesana deh”.

Kampungan kamu, Donny…..Masa ke cafe sih. Lebih baik kamu cari coworking space saja. Nanti kamu reimburse biayanya ke kantor. Kita ketemu di rapat lain 2 jam lagi, segera berangkat!”, tahu saja si bos kalau dompet saya sedang tipis-tipisnya.

Gegara kejadian itu, saya segera berburu lokasi di dunia maya. Perburuan itu berakhir pada tampilan coworking space milik GoWork di bilangan Jakarta Selatan. Menginstal aplikasi GoWork dan melakukan pemesanan, akhirnya saya mendapatkan sebuah hot daily desk seharga Rp. 125.000 untuk bekerja hingga pukul empat sore.

Berlokasi di Arkadia Green Park Tower G Lantai 8. GoWork-coworking space ini hanya berjarak lima kilometer dari rumah dan bisa saya tempuh dalam waktu 15 menit saja menggunakan sepeda motor. Sepintas saya juga melihat bahwa lokasi ini juga dilintasi bus Trans-Jakarta koridor 6 (rute Stasiun Dukuh Atas 2-Ragunan). Lokasi ini juga sangat dekat dengan Stasiun KRL Commuter Line Tanjung Barat….Wah, dekat banget kan.

Setiba di GoWork, saya disambut ramah oleh dua resepsionis. Setelah menunjukkan Booking Confirmation, saya diarahkan untuk melakukan check-in dengan mengisi online form yang salah satu kolom isiannya berguna untuk memastikan bahwa prosedur kesehatan terlaksana dengan baik. Kemudian saya diberikan WiFi password dan ditunjukkan beberapa spot penting yaitu meja kerja (hot desk), pantry beserta utensil, free mineral water & coffee, toilet. Sebelum benar-benar duduk , saya juga diingatkan perihal jam tutup GoWork.

Free coffee di GoWork-Arkadia Green Park dan beberapa amenities GoWork(sumber foto: dokumen pribadi).

Nah atas kejadian itu, dimulailah pengalaman saya mencicipi fasilitas GoWok untuk pertama kalinya.

Mau tahu rasanya seperti apa?….Habis saya ceritakan, pasti Anda akan kepincut untuk mencobanya.

Yuk lah, ikuti pengalaman kerja saya bersama GoWork!

Kesan Pertama

Impresi pertama yang terekam di ingatan saya tentang GoWork coworking space adalah keramahan, ketenangan,kenyamanan, fokus, elegan, design interior yang ciamik, profesional, mengedepankan teknologi, kelengkapan fasilitas dan staff yang tulus membantu…..Ssstt, akses kecepatan internet mobilenya 15 Mbps, bro. Diatas rerata kecepatan internet mobile Indonesia yang hanya 9,82 Mbps. Gimana, keren kan?

Nah, begitu mengambil tempak duduk dengan posisi sesuai pilihan saya, ada satu kalimat yang secara otomatis terbesit dalam hati,  “Guwe sering kerja di luar kantor, kenapa ga dari kemarin-kemarin ya, guwe kerjanya dimari…Hhmmhh, emang dasar guwe kudet”.

Enaknya lagi, saya bisa sepuasnya mengambil kopi gratis di pantry dan membeli beberapa snack untuk ngemil selama kerja. Saat jam makan siang, saya dengan leluasa menikmati bekal dengan memanfaatkan utensil yang sudah disediakan. Tetapi beberapa pelanggan GoWork lebih suka mencari makan di luar karena GoWork coworking space ini terintegrasi dengan restoran, minimarket, pusat perbelanjaan dan ruang perkantoran.

Oh iya, GoWork juga memfasilitasi coworking spacenya dengan share lounge area yang bisa digunakan pelanggan untuk menerima tamu atau menonton TV. Bahkan saya sempat menerima seorang tamu di lounge tersebut.

Dengan gambaran pengalaman seperti itu, tentu Anda bisa membayangkan bagaimana keefektifan dan keefisienan bekerja di GoWork coworking space?

Dari sini saja sebetulnya cerita saya sudah bisa dianggap usai.

Saya, Profesi Marketing dan Coworking Space

Setelah pulang dari GoWork coworking space, saya akhirnya berfikir lagi. Sebetulnya akan banyak manfaatnya apabila ke depannya, saya lebih sering memanfaatkan GoWork coworking space untuk bekerja. Itu semua terkait dengan pekerjaan saya….Yupz, marketing.

Kenapa saya yang berprofesi sebagai marketing membutuhkan GoWork coworking space untuk bekerja?

Saya kasih pendahuluan dulu ya…yeeileeeehhh, makin lama nih.

Sebagai marketer, profesi yang saya geluti bisa jadi dianggap sebagai pekerjaan yang menyenangkan bagi beberapa kalangan, khususnya yang tertarik dengan ide dan  jaringan. Saking dinamisnya, profesi inipun telah mengalami perubahan cukup pesat dalam beberapa dekade terakhir. Perubahan itu diantaranya adalah perkembangan konsep, strategi yang diterapkan , proses yang dilalui, hingga lokasi kerja yang ideal untuk mendesain rencana. Mekanisme dalam bekerja telah mengalami revolusi bagi marketer yang progresif dan independent, tempat menemukan inspirasi juga tak identik lagi dengan wujud kantor yang sesungguhnya, kantor bisa ditempatkan dimana saja asal dapat memenuhi fungsi untuk menuntaskan tugas.

Lain marketer lain customer. Customer pun telah berkembang secara mindset. Saat ini banyak customer cerdas yang tidak lagi memposisikan marketer dalam batas sempit sebagai perpanjangan supplier, tetapi mereka menganggap marketer sebagai rekan berkolaborasi menuju muara yang sama. Untuk itulah, kedua belah pihak lebih berorientasi pada kenyamanan pertemuan dalam membahas ide besar.

Ditelaah dari dua sudut pandang berbeda tetapi dilihat dengan dasar kepentingan yang sama, interaksi keduanya dapat difasilitasi dalam satu tempat diskusi untuk mempertemukan ide keduanya. Tempat diskusi ini adalah coworking space.

Tuh kan, akhirnya Anda tahu kenapa saya membutuhkan GoWork.

Mengapa Harus GoWork?

Diantara banyak coworking space, Mengapa harus GoWork?

Mengambil makna secara luas, GoWork selalu mengusung prinsip bahwa ruang kerja bukanlah sekedar tempat menaruh laptop dan mendapatkan koneksi internet berkecepatan tinggi, lebih dari itu, ruang kerja yang baik adalah ruang kerja yang membuat penggunanya bisa merasakan sebuah ekosistem bekerja bersama pribadi lain yang semuanya akan bermuara pada terbentuknya sebuah jaringan. GoWork berkomitmen tinggi dalam menyediakan ruang kerja premium sebagai tempat lahirnya inspirasi. Coworking space milik GoWork juga dilengkapi dengan fasilitas terbaik untuk menjamin semua penggunanya terus berkembang.  

GoWork menerjemahkan ide pengalaman bekerja dengan baik. Pengalaman kerja yang baik akan menciptakan kebahagiaan, kreativitas dan produktivitas. Di dalam GoWork coworking space, pengalaman kerja ini diterjemahkan dalam bentuk desain ruangan kerja futuristik, tata letak yang ciamik, fasilitas terbaik, pemilihan furnitur yang keren dan penerapan teknologi yang unggul.

Bahkan untuk menjangkau kebutuhan banyak profesional di sibuknya Ibu Kota, GoWork sangat masif mengembangkan sayapnya di bidang penyediaan coworking space yang berlokasi mulai dari Grade A area di pusat bisnis hingga area prospektif lainnya seperti Pondok Indah, Senayan, Kemang dan area lainnya. Tidak cukup di Ibu Kota, GoWork juga mengembangkan bisnisnya d kota-kota besar lain di tanah air seperti Tangerang, Surabaya, Bali dan Medan. Kekuatan jaringan inilah yang menjadi alasan mengapa para profesional dan banyak perusahaan mempercayakan tempat kerjanya kepada GoWork.

Sebaran lokasi Gowork.

Kekuatan jaringan yang baik juga membuat GoWork bisa menerapkan fleksibilitas dalam pemberian fasilitas. Contoh dari fleksibilitas ini adalah ketika sebuah perusahaan menyewa kantor di GoWork maka perusahaan tersebut bisa memindahkan kantornya ke cabang lain GoWork selama masa sewa. Hal ini tentu membuat suasana kerja akan selalu segar dan menghindari karyawan dari kebosanan.

Mengikuti perkembangan bidang profesi, GoWork juga memberikan pelayanan yang luas untuk berbagai profesi. Selain menyediakan coworking space untuk start up atau komunitas, GoWork sebagai supporting space provider juga menyediakan ruangan bagi banyak profesional dari berbagai bidang pekerjaan seperti  accounting, finance & legal, business services, educational, food & beverage, health and wellness, HR services, lifestyle &  entertainment, marketing & advertising, productivity tools, travel & hospitality, shopping & retail dan masih banyak lagi.

Yuhuu…Tentu saya bisa memakai coworking space milik GoWork dong….Kan saya marketer.

Meningkatkan Efisiensi

Lalu bagaimana coworking space dipandang dari sisi strategis?

Menyinggung efisiensi, ketika bekerja di Ibu Kota , banyak pribadi yang tinggal di pinggiran kota membutuhkan waktu yang tak sebentar hanya demi menuju kantor. Seperti saya misalnya, untuk menuju kantor yang berjarak 36 km membutuhkan waktu hampir dua jam ketika menggunakan motor. Belum lagi waktu yang dibutuhkan untuk mengunjungi customer setiap harinya. Secara rata-rata, hampir 50% waktu terbuang di jalanan dan pekerjaan menjadi tidak efektif dan efisien.

Tentu keberadaan GoWork akan membantu para marketer dan profesional lain  dalam menghemat waktu. Tanpa harus menuju kantor yang sangat jauh letaknya, menyusun sebuah rencana dan strategi bisa dilakukan di GoWork coworking space, bahkan ruang kerja inipun bisa digunakan sebagai appointment point dengan beberapa customer yang berada pada satu area.

Apalagi di era sekarang yang mengedapankan kecepatan, penggunaan coworking space juga didukung dengan eksistensi hybrid working dan absensi online. Marketing dan beberapa profesi lain sudah bisa dikategorikan sebagai hybrid working. Hal ini membuat mereka tidak perlu untuk pergi ke kantor setiap hari. Contohnya adalah marketer yang kinerjanya diukur berdasarkan target penjulan, frekuensi bekerja di kantor tentu tidak menjadi ukuran. Oleh karenanya, bekerja di luar kantor sudah menjadi biasa dalam dunia marketing. Itulah kenapa marketer memerlukan kantor kedua yang mudah diakses dari rumah atau dekat dengan area customer. Dan kabar baiknya, GoWork bisa menjadi kantor kedua bagi siapa saja.

Mengusung lima nilai utama (Inclusive, Vigorous, Enterpreneurial, Noble dan Thankful), GoWork akan membantu dalam menumbuhkan profesionalitas di level personal, komunitas dan perusahaan dengan cara mengintegrasikan tiga hal penting menuju efektifitas dan efisiensi yang maksimal, yaitu ruang kerja, teknologi dan layanan terbaik.

Plans Terbaik dari GoWork

Berapa sebetulnya harga sewa ruang kerja di GoWork?

Sangat terjangkau, itulah jawaban singkatnya. Sebagai gambaran, GoWork-Arkadia Green Park yang lokasinya menjadi yang terdekat dari rumah saya membuka paket Hot Desk Daily (Rp. 125.000/hari), Hot Desk Flexible (Rp. 1.000.000/10x pakai) dan Hot Desk Monthly (Rp. 2.300.000/pax/bulan). Hot Desk adalah meja kerja yang disediakan untuk pribadi yang fleksibel yang biasa menggunakan coworking space per hari, per minggu atau per bulan. Karakter pelanggan Hot Desk adalah mereka datang ke GoWork  lalu memilih meja kerjanya  sesuai keinginan. Dan setelah selesai bekerja maka mereka akan membawa pulang semua peralatan kerjanya. Inilah salah satu tipe pelanggan GoWork yang paling dinamis dan fleksibel.

Hot Desk Daily di GoWork-Arkadia Green Park (sumber: dokumen pribadi).

Sedangkan bagi profesional yang ingin meningkatkan layanan  dengan akses 24/7 serta memiliki tempat duduk yang sama sepanjang bulan maka GoWork menyediakan Dedicated Desk Plan. Inilah layanan private personal space yang memungkinkan setiap profesional menyimpan semua peralatan kerjanya dengan aman di tempat yang mereka sewa. Selain itu, plan ini akan dilengkapi dengan fasilitas locker yang berfungsi sebagai storage dan mailing. Harganya pun sangat terjangkau, hanya Rp. 2.500.000/pax/bulan.

Lalu bagaimana untuk memenuhi kebutuhan level perusahaan?

Tenang….GoWork telah menyiapkan plan untuk perusahaan-perusahaan yang membutuhkan mobilitas dan kedinamisan yang tinggi. Sebagai contoh untuk Sewa kantor Jakarta Selatan misalnya, GoWork telah menyiapkan Private Office yang desain ruangannya bisa disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan dan keterbukaan akses 24/7 menjadikan GoWork siap untuk membantu menyiapkan ruangan yang produktif dan kolaboratif. Biaya investasinya terbilang hemat lho, hanya Rp. 2.800.000/pax/bulan. GoWork juga menyediakan private office ini bagi permanent member dengan masa sewa minimal 6 bulan.

GoWork juga menyediakan Enterprise Solutions Plan yang akan menempatkan GoWork sebagai konsultan dalam membangun kantor bagi perusahaan hingga daya tampung 500 karyawan. Berdasarkan analisa data internal GoWork bahwa member GoWork bisa menghemat biaya sewa kantor hingga 40%. Dengan menjadi member GoWork, perusahaan juga tidak perlu memikirkan lagi Operational Expenses (OP/EX) seperti tagihan listrik, air, internet dan office assistant yang tentu banyak membebani pertumbuhan perusahaan. Inilah bentuk end-to-end office management yang disolusikan oleh GoWork.

Dan sebagai plan berikutnya, GoWork menyediakan Virtual Office. Berbentuk sewa kantor non-fisik yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan legal bisnis perusahaan. Perusahaan bisa memanfaatkan fasilitas meeting room yang tersedia di GoWork dan menjadikan elegansi alamat perusahaan mengingat GoWork berlokasi di bangunan-bangunan ternama Ibu Kota.

Meeting room di GoWork-Arkadia Green Park besera Plans dan Spaces yang disediakan GoWork (sumber: https://go-work.com/).

Selain kelima plan utama tersebut, GoWork juga menyediakan ruangan untuk pelaksanaan event, baik untuk acara umum ataupun pribadi. Event spaces yang disediakan oleh GoWork bisa menjadi pilihan pintar untuk digunakan sebagai ruang acara serba guna yang dapat disesuaikan secara khusus untuk memenuhi kebutuhan pelanggan. Selain Event Space, GoWork juga menyediakan meeting room dengan harga yang sangat terjangkau. Untuk sewa ruang meeting hanya dimulai dengan harga Rp. 72.000 per 30 menit.

Alur memesan desk atau room menggunakan aplikasi GOWORK yang memudahkan pengguna untuk memesan ruangan kerja dan mengecek benefit sebagai member.

Bagaimana dengan apa yang ditawarkan GoWork, keren kan?

Maju dan Berkembang Bersama GoWork

Perlu diketahui bahwa bisnis coworking space di Asia Tenggara bertumbuh sekitar 15% pada tahun 2017, itu artinya jika dalam kondisi normal, hanya perlu empat tahun, pengguna coworking space akan menjadi dua kali lipat dari pengguna saaat ini.

Ini terbukti dengan data dari GoWork bahwa semakin berkembang dan dikenalnya GoWork telah memberikan dampak positif dengan pencapaian occupancy rate cabang-cabangnya hingga 90%, bahkan beberapa cabang  yang baru dibuka sudah memiliki occupancy rate hingga 100%. Beberapa perusahaan bahkan berani menyewa kantor di GoWork dalam jangka kontrak sewa 2 tahun.

Dengan fakta-fakta di atas, apakah Anda akan ketinggalan untuk memanfaatkan potensi pertumbuhan pribadi atas keberadaan  GoWork coworking space?. Kapan lagi, ayo kita menyewa ruangan kerja di GoWork!

Saya dan GoWork . (keterangan: masker hanya dilepas beberapa detik untuk keperluan pengambilan gambar, selebihnya penggunaan masker selama masa pandemi adalah diharuskan ketika bekerja di GoWork)

Akhirnya, ruang kerja bersama memang harus inovatif, artistik dan inspiratif demi mendukung kesuksesan segenap penggunanya.

Together We Grow!

#kerjaLebihDekat

#GoWorkLebihDekat

#MeetingLebihDekat

#cumaDiGoWork

Backpacker dan ASUS ExpertCenter D300TA

Di rumah saya masih saja bercokol Desktop PC super lama yang kubeli pada akhir tahun 2011. Desktop PC rakitan itu saya beli di Harco Mangga Dua yang sampai sekarang pun saya sering kesana apabila membutuhkan sesuatu terkait komputer. Walaupun sudah tergolong usang, Desktop PC legendaris itu masih sayang juga untuk dikiloin. Saking sayangnya, Desktop PC itu masih sering saya bersihkan sesekali, mengingat jasanya yang besar untuk membantu meluluskan saya dari bangku kuliah.

Sesekali juga saya masih menggunakan Desktop PC itu. Meminjam istilah rutinitas untuk mobil, “cuman buat dipanasin”. Terkadang perangkat itu masih bisa digunakan untuk memutar koleksi CD film-film kesayangan atau terkadang saya memfungsikannya untuk menonton sepakbola dengan bantuan TV Tuner. Yang namanya Desktop PC tua, sering nge-freeze atau nge-lag saat sedang asyiknya bernostalgia memakainya adalah hal biasa dan membuat saya menahan tawa.

Nah, singkat cerita, saya yang hobbynya backpackeran ini sering diminta oleh para kenalan yang tersebar dalam jaringan profesi saya sebagai seorang marketer untuk menemani mereka bersama rombongannya untuk ngelayap ke negeri tetangga. Beberapa rekan bahkan sudah saya temani untuk berkunjung ke negeri jiran, akan tetapi beberapa dari mereka akhirnya menyarankan saya untuk membuat jasa open trip kecil-kecilan dahulu untuk mengajak beberapa kenalan dekat yang belum kesampaian jalan-jalan ke luar negeri.

Atas usulan itu, beberapa bulan sebelum pandemi, saya sempat membuka diri dan menawarkan jasa open trip sebatas untuk para kenalan saja. Bahkan sudah ada beberapa komunitas yang bersedia menggunakan jasa saya untuk menemani mereka walau sebatas keliling di kawasan Asia Tenggara. Tetapi karena pandemi COVID-19 melanda pada awal tahun 2020, impian itu untuk sementara tertunda. Keinginan saya untuk membeli desktop PC demi menjalankan jasa ini pun ikut tertunda.

Tetapi kini rencana vaksinasi nasional sudah semakin dekat. Bahkan beberapa negara dunia siap membuka pintu gerbangnya pasca vaksinasi. Hal itu tentu menjadi kabar membahagiakan bagi saya yang gemar dengan dunia backpacker. Saya sih optimis, seusai vaksinasi, dunia pariwisata akan kembali menggeliat. Jika pertengahan tahun 2021 nanti, vaksinasi secara nasional dilakukan tentu peluang untuk menjalankan jasa open trip ini akan kembali terbuka. Gegara asumsi ini, keinginan saya untuk memiliki Desktop PC baru pun kembali terpikirkan.

Untuk menjalankan usaha rintisan tentu tidak mungkin jika saya memanfaatkan Desktop PC tua tersebut. Tentu pekerjaan akan menjadi tidak produktif. Selain itu, Desktop PC tua akan membutuhkan biaya maintenance yang lebih. Hal ini didukung dengan sebuah fakta bahwa berdasar penelitian yang dilakukan J.Gold Associates, LLC di 16 negara, disimpulkan bahwa menggunakan PC lama akan memiliki banyak kelemahan seperti proses boot yang bisa menghabiskan waktu hingga 11 jam per tahun, mengurangi produktivitas karyawan hingga 29% dan penyerapan biaya senilai 17.000 dolar Amerika per karyawan.

Jadi intinya saja deh, saya harus membeli komputer baru dong?….Ya, iyalah tentunya.

Desktop PC ASUS ExpertCenter D300TA (sumber: https://www.asus.com/)

Nah, beberapa waktu lalu saya begitu tertarik dengan segera hadirnya Desktop PC yang dirancang khusus untuk bisnis baik untuk skala UMKM hingga skala besar yang didesain oleh ASUS. Adalah Desktop PC ASUS ExpertCenter D300TA yang merupakan PC handal, dengan konstruksi yang solid dan dikombinasikan dengan komponen dan fitur keamanan yang tinggi.

Kehandalan

Mengusung istilah “Tower” maka casing Desktop PC keluaran ASUS ini mampu menampung ukuran motherboard seperti Micro-ATX, ATX, E-ATX dan XL-ATX. Tentu hal ini sangat cocok untuk pribadi yang antusias dengan hardware komputer. Aku sih ga begitu mahir dalam upgrade Desktop PC, tetapi tidak dengan partner kerja saya yang hobby otak-atik komputer.

Untuk menambah nilai Cost To Ownership (CTO), ASUS merancang ExpertCenter D300TA agar mudah di-upgrade dan diganti setiap komponennya oleh si pemilik. Desktop PC ini memiliki slot ekspansi yang beragam sehingga dapat mengikuti kebutuhan bisnis di masa depan. Jika bisnis semakin berkembang dan membutuhkan kinerja desktop PC yang lebih tinggi maka si pemilik tinggal melakukan upgrade saja. Secara keseluruhan ExpertCenter D300TA dapat menampung tiga media penyimpanan, memiliki ruang ekstra untuk kartu grafis dan dapat dipasangi WiFi card.

Selain sifat dinamisnya yang upgradable, ExpertCenter D300TA juga ini bisa dibeli dengan harga terjangkau. Di pasaran, ASUS akan melepas ExpertCenter D300TA dengan harga Rp 8.499.000. Ya, buat saya, harga itu masih bisa dikejar dengan menabung sih….Hihihi.

Keamanan

Salah satu yang sering menjadi kegelisahan pelaku bisnis rintisan adalah lokasi kerja yang keamanannya tidak dapat diprediksi. Tak sedikit kabar yang memberitakan beberapa perkantoran skala kecil dan menengah sering kehilangan uang dan peralatan di bagian front desk. Tetapi saya sedikit antusias dengan ExpertCenter D300TA karena perangkat ini memiliki fitur keamanan yang bisa meminimalisir resiko dari tangan-tangan jahil yang tidak bertanggung jawab. ExpertCenter D300TA ini dilengkapi dengan Kensington Security Slot dan Padlock Slot Prevent.

Berencana memulai bisnis, saya tentu akan sedikit berhemat dengan barang modal. Ide yang ada dalam pikiran saya bahwa di awal bisnis nanti saya hanya memaksimalkan satu Desktop PC. Oleh karenanya, penggunaan Desktop PC secara bergantian adalah keniscayaan. Penggunaan secara bergantian tentu juga beresiko atas beberapa data penting yang penggunaannya hanya untuk keperluan pribadi dan penuh privasi.

Tapi sepertinya, saya tidak perlu khawatir secara berlebihan karena ExpertCenter D300TA  dilengkapi dengan fitur Trusted Platform Module (TPM) yang menyimpan password dan kunci enkripsi secara lebih aman. Inilah keuntungan dari Windows 10 yang dilengkapi dengan fitur Windows Hello yang memiliki spesifikasi supaya pengguna bisa menggunakan fitur Trusted Platform Module. TPM sendiri adalah perangkat dedicated chip yang berfungsi untuk menyimpan informasi kriptografi seperti password. Jadi Windows Hello ini akan menyimpan informasi login (username dan password) bukan pada disk karena hal tersebut tentu akan beresiko.

Fitur keamanan berikutnya adalah Asus Business Manager, yang memungkinkan pengguna memperbarui BIOS, membuat file cadangan dan pemulihan, mengaktifkan fungsi perlindungan hard disk, mengunci USB dan DVD-RW dan berguna untuk membaca atau mentransfer data dari media lain. Sehingga fitur ini akan membantu saya untuk menghindari pencurian data dan kejahilan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab yang bisa saja memasukkan virus berbahaya ke dalam Desktop PC kantor saya nanti.

Dan terakhir adalah ASUS Control Center yang akan membantu perusahaan untuk memenuhi tuntutan dunia IT modern. ASUS Control Center adalah software manajemen IT terpusat. Fitur ini adalah bentuk remote management terhadap software dan hardware, hingga task scheduling.

Kensington Security Slot dan Padlock Slot Prevent, Trusted Platform Module, Asus Business Manager dan ASUS Control Center adalah empat fitur keamanan milik ExpertCenter D300TA yang lebih dari cukup untuk menjaga keamanan usaha rintisan seperti bisnis yang akan saya mulai.

Ketahanan

Tingkar ketahanan ExpertCenter D300TA (sumber: https://www.asus.com/)

Yang namanya perusahaan rintisan, maka kemungkinan untuk sering berpindah kantor adalah keniscayaan. Oleh karenanya, Desktop PC yang harus saya beli ini haruslah tahan banting. Karena memanfaatkan sumberdaya perangkat yang terbatas maka Desktop PC ini tentu menjadi andalan utaman untuk kegiatan administratif kantor. Untuk menjaga keawetan maka perangkat andalan ini harus tahan benturan ketika harus berpindah-pindah ruangan. Guncangan kecil yang tak terhindarkan atau kecelakaan kerja sehari-hari yang mungkin terjadi, tentu akan membahayakan data yang sangat berharga.

Nah, kabar baiknya ExpertCenter D300TA sudah diuji dan masuk dalam standar militer AS MIL-STD-810G setelah melalui serangkaian pengujian super ketat. Komputer ini tahan terhadap enam guncangan keras dengan kecepatan 150G/2.5ms, tahan getaran 5-500 Hz selama satu jam ke segala arah dan Bertahan 50°C dengan power menyala selama 20 jam.

Konektivitas

Konektivitas ASUS ExpertCenter D300TA (sumber: https://www.asus.com/)

Karena akan digunakan bersama-sama antar staff di tahun pertama perintisan bisnis maka desktop PC ini harus kaya akan konektivitas. Kabar baiknya, ExpertCenter D300TA dilengkapi dengan multi port. Selain HDMI dan USB Type-A, terdapat juga port VGA dan LAN di bagian panel belakang. ASUS menyematkan beberapa port di bagian panel depannya, yaitu USB Type-A dan dua 3.5mm audio port.

Kelengkapan Port I/O ini tentu akan membuat ExpertCenter D300TA siap terhubung dengan berbagai peripheral untuk keperluan bisnis. Desktop PC ini juga dilengkapi dengan port serial dan paralel yangsangat fleksibel pada sasis dan membuat lebih banyak ketersediaan slot PCI Express untuk peningkatan tambahan.

Performa

Dunia bisnis modern yang mengutamakan kecepatan respon harusnya ditanggapi dengan persiapan serius oleh setiap pelaku bisnis. Jika ingin bisnis rintisan bisa bertahan di tengah persaingan yang sengit, maka saya juga harus berfikir keras untuk menyiapkan perangkat administrasi yang bisa diajak berlari dengan kencang dalam menyelesaikan kegiatan administratif dan jenis kegiatan lainnya.

Soal performa, ExpertCenter D300TA telah menggunakan chipset Intel H410 yang kompatibel dengan jajaran prosesor Intel® Core™ Generasi ke-10 yang mutakhir dari i3-10100 hingga i7-10700. Prosesor dengan codename Comet Lake ini memiliki clock speed super kencang hingga 5,3GHz pada mode Thermal Velocity Boost.  Label H menandakan bahwa prosesor ini dirancang untuk performa tinggi seperti laptop yang ditujukan sebagai perangkat khusus untuk pembuatan konten.

ExpertCenter D300TA juga didukung dengan konfigurasi RAM DDR4 hingga 8GB, 2TB HDD dan 512GB SSD. Bagi yang memerlukan performa grafis ekstra untuk memenuhi tugas-tugas visual, ASUS juga bersiap diri dengan opsi kartu grafis hingga NVIDIA GeForce GTX 1650.

Berorientasi Lingkungan dan Ekonomis

Hampir semua bisnis saat ini dituntut untuk mengikuti tren pelanggan yang menghendaki setiap produsen untuk memperhatikan kelestarian lingkungan. Apabila produsen tidak bisa mengikuti tren ini, bisa dipastikan masa depan penjualan produknya akan mengalami kesulitan.

Begitu juga dengan bisnis travel yang ingin saya geluti. Saat ini telah berkembang konsep zero waste travel yang menghendaki setiap pelaku bisnis ini tidak menghasilkan sampah yang merugikan lingkungan. Dalam konteks lain, kelestarian lingkungan dalam berbagai bisnis ini bisa diwujudkan dalam efesiensi penggunaan energi.

Nah, demi masa depan berkelanjutan, ExpertCenter D300TA juga menerapkan persyaratan lingkungan yang ketat di semua tahap siklus hidup produk dan mengoptimalkan penggunaan energi untuk menurunkan biaya pengoperasian dalam jangka panjang.

Untuk memastikan efisiensi tinggi dalam konsumsi daya, ExpertCenter D300TA menggunakan kapasitor kelas atas. Catu daya ini memiliki sertifikasi 80 PLUS® Perunggu yang menunjukkan bahwa energi terbuang secara minimum, yang kemudian akan menghasilkan lebih sedikit panas dan penghematan biaya jangka panjang. Ini menunjukkan bahwa Desktop PC ini siap digunakan untuk pekerjaan apapun. Wah keren ya?

Oleh karenanya, perangkat ini merupakan perangkat yang tepat untuk bisnis yang cerdas dan membantu setiap bisnis untuk bergerak menuju kesuksesan di masa depan.

#ASUSExpert

#BuiltforBusiness

Keanekaragaman Hayati: Mengukur Ketahanan Global terhadap Pandemi

Pada akhir Februari 2020 atau tepatnya dua bulan setelah pandemi COVID-19 di deklarasikan, Pemerintah Tiongkok bergerak cepat dengan menganulir kebijakannya yang sudah berusia 20 tahun. Kini pemerintah Tiongkok melarang masyarakatnya menangkarkan satwa liar untuk keperluan bisnis atau pemenuhan kebutuhan pangan.

Pada awalnya, kebijakan memperbolehkan penangkaran satwa liar dibuat dengan tujuan mengentaskan masyarakat Tiongkok dari jerat kemiskinan. Dengan disahkannya kebijakan itu, maka rakyat Tiongkok mulai gencar menangkarkan tikus bambu, babi hutan, ular, kelelawar, musang, kucing hutan, katak dan rusa sika. Mereka menangkarkannya hingga satwa-satwa liar tersebut siap untuk dikonsumsi. Dan pada akhirnya, satwa-satwa liar itu akan memasuki rantai distribusi pangan melalui pasar-pasar hewan di seantero Tiongkok.

Bagaimana bisa masyarakat Tiongkok memilki budaya mengonsumsi satwa liar seperti itu?

Menilik jauh ke belakang bahwa sejarah deforestasi di Tiongkok memang terjadi sangat cepat. Bahkan deforestasi telah dimulai sejak era dinasti dahulu kala. Lalu proses itu berlanjut hingga era modern, deforestasi dilakukan dengan dalih memenuhi kebutuhan lahan industri, lahan pertanian dan lahan pemukiman. Dalam kasus ini, deforestasi akhirnya mengebiri fungsi hutan sebagai sumber pangan. Dan pada akhirnya, gundulnya hutan berakibat pada berkurangnya ketersediaan pangan.

Di sisi lain, pembangunan yang tidak merata di Tiongkok juga berperan dalam menciptakan kesenjangan sosial. Di tengah melajunya ekonomi negeri itu, ternyata kemiskinan masih melanda di beberapa daerah seperti Xinjiang, Gansu, Guizhou, Tibet dan Yunnan. Kehilangan sumber pangan dan masih adanya kemiskinan inilah yang kemudian menyebabkan masyarakat Tiongkok membudidayakan satwa liar dan mengonsumsinya untuk memenuhi kebutuhan pangan.

Padahal satwa liar memiliki hierarkinya masing-masing di dalam rantai makanan. Dengan mengonsumsi satwa-satwa liar tersebut berarti manusia telah mengintervensi hierarki pada rantai makanan. Intervensi tersebut adalah hal yang sangat berbahaya karena akan menciptakan ketidakseimbangan pada rantai makanan di alam. Ketidakseimbangan inilah yang kemudian mengakibatkan dampak negatif.

Salah satu bentuk intervensi pada siklus rantai makanan melalui penangkaran tikus bambu di daerah Qingyuan, Provinsi Guangdong, Tiongkok (sumber: theguardian.com).

Ekosistem yang diintervensi tentu akan memberikan reaksi dalam bentuk respon balik pada lingkungan. Salah satu respon balik tersebut adalah bencana alam seperti tanah longsor, kebakaran hutan dan banjir. Dan respon balik dalam rantai makanan yang terintervensi adalah terjadinya wabah penyakit yang bisa meluas dalam bentuk pandemi. Pandemi COVID-19 adalah salah satu contoh respon balik atas intervensi tersebut.

Sangat jelas bahwa Pandemi COVID-19 bukanlah rekayasa laboratorium. Setelah menajamkan alur logika dengan analisa sebab akibat seperti di atas, dengan mudah dapat difahami bahwa pandemi COVID-19 tidak bisa dilepaskan dari perilaku negatif manusia terhadap lingkungan.

Seperti diketahui bahwa virus SARS-CoV-2 (Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus 2) sebagai penyebab COVID-19 (Corona Virus Disease 2019) adalah virus yang secara genetis sangat identik dengan genetik pada kelelawar dan ular. Perpindahan SARS-CoV-2 ke dalam tubuh manusia bisa terjadi melalui mekanisme rantai makanan dimana manusia secara langsung mengonsumsi kedua jenis satwa liar pembawa SARS-CoV-2 tersebut.

Kembali kepada aturan dasar yang berlaku pada alur rantai makanan, maka seharusnya manusia harus kembali pada hierarki tertinggi untuk menjaga keseimbangan ekosistem. Manusia harus mencari sumber pangan baru dengan cara lain tanpa harus mengintervensi rantai makanan. Semakin panjang sebuah rantai makanan yang ada dalam ekositem maka semakin besar pula ketersediaan pangan di dalam ekosistem tersebut.

Dan akhirnya menjadi sebuah tantangan global, karena ekosistem hanya akan sanggup menyediakan pangan secara alami apabila keanekaragaman hayati kembali dimurnikan seperti sediakala. Oleh karenanya, ketika manusia menghancurkan keanekaragaman hayati dengan menebang hutan dan membangun lebih banyak infrastruktur, maka saat itulah risiko terjadinya wabah penyakit akan selalu mengancam kehidupan manusia.

Zoonosis dan Kerusakan Alam

Semua kalangan tentu faham bahwa deforestasi selain merusak keanekaragaman hayati, juga akan menaikkan suhu bumi. Kemudian peningkatan suhu tersebut akan berimbas pada terbentuknya iklim yang lebih kering bahkan ekstrim.

Contoh nyatanya, fakta menunjukkan bahwa pembukaan hutan di Asia Tenggara yang kemudian digantikan dengan perkebunan kelapa sawit telah menghasilkan 0,8%  dari total emisi gas rumah kaca di seluruh dunia. Dampak alamiah dari konversi lahan seperti itu adalah kematian pohon dan mudah terbakarnya hutan karena kondisi iklim menjadi lebih panas. Fenomena inilah yang kemudian kita sebut dengan istilah pengurangan berkelanjutan.

Pembukaan hutan untuk perkebunan kelapa sawit di Kalimantan (sumber: saveourborneo.org).

Apakah cukup sampai disitu kita akan merasakan dampaknya?

Kabar kurang baiknya bahwa dengan kenaikan suhu bumi dan tergerusnya kualitas alam secara berkesinambungan membuat manusia akan terus terancam oleh bencana alam yang kedatangannya bersifat sporadis dan tidak dapat diprediksi. Ancaman berikutnya adalah munculnya potensi penyakit zoonosis yang berpeluang menciptakan pandemi dalam skala global.

Penyakit zoonosis adalah penyakit yang disebabkan oleh kuman yang menyebar antara hewan dan manusia dan kuman ini dapat disebarkan melalui rantai makanan. Penyakit zoonosis bisa muncul dalam bentuk serangan bakteri, virus, jamur, parasit, dan patogen nonkonvensional lain. Ada lebih dari 250 organisme zoonosis. Secara distribusi, 40 jenis organisme zoonosis ini ditularkan oleh anjing dan kucing,  sedangkan organisme zoonosis lainnya ditularkan oleh burung, reptil, hewan ternak dan satwa liar.

Pada akhirnya, untuk menjaga supaya keanekaragaman hayati tetap lestari, tentu saja diperlukan edukasi yang setara dan merata kepada seluruh masyarakat dunia. Karena menjaga bumi harus menjadi norma bersama demi terhindarnya manusia dari berbagi dampak negatif yang merugikan.

Resistensi Global terhadap Pandemi

Menurut laporan yang diterbitkan oleh Intergovernmental Platform on Biodiversity and Ecosystem Services (IPBES) pada akhir Oktober 2020, bisa diketahui bahwa dua pertiga penyakit pandemi adalah penyakit zoonosis. Dan menurut studi ilmiah, mencegah penyebaran penyakit dari satwa liar biayanya 100 kali lebih murah daripada mencoba meresponnya setelah kejadian.

Beberapa penyakit zoonosis yang muncul pada interaksi hewan dan manusia. Jalur penularannya melalui kontak langsung dalam perdagangan satwa liar dan hewan peliharaan serta mengonsumsi daging hewan tersebut (sumber: frontiersin.org).

Secara internasional, rencana dan aksi untuk mencegah serta memerangi pandemi telah menjadi perhatian bersama. Pencegahan pandemi memang harus serempak dikerjakan oleh semua negara. Pencegahan pandemi tidak bisa dilakukan oleh negara maju saja karena sekali saja sebuah negara mengalami pandemi maka pandemi tersebut akan cepat menyebar secara cepat karena mobilitas dunia yang sangat tinggi sebagai dampak positif dari perkembangan ekonomi dan teknologi.

Sayangnya terdapat sebuah kesenjangan dalam penanganan pandemi. Negara maju bisa saja membuat berbagai macam pencegahan pandemi karena mereka memiliki kecukupan dana. Negara maju seakan mempunyai banyak pilhan.

Lalu bagaimana dengan negara dunia ketiga yang kekurangan dana?.

Sebetulnya negara miskin atau negara berkembang masih bisa turut berpartisipasi dalam pencegahan pandemi dengan cara yang sangat sederhana, yaitu melalui penjagaan kelestarian alam di negaranya. Alam selalu terkait dengan bioma, apabila bioma di dalam alam terjaga maka keseimbangan lingkungan akan tercipta. Dengan lingkungan yang seimbang maka peluang terjadinya bencana alam dan pandemi akan semakin kecil.

Jadi, sebetulnya apa kata kuncinya?

Bahkan dari semua pemaparan diatas, seharusnya kita sudah bisa menarik benang merah antara deforestasi, rantai makanan, bencana alam dan pandemi. Satu kesimpulan yang bisa menghubungkan keempatnya adalah keanekaragaman hayati atau biodiversitas.

Keanekaragaman hayati adalah tameng pertama dan utama bagi kita untuk mengendalikan bencana dan pandemi.

Keanekaragaman Hayati dan Generasi Penerus

Dalam Earth Summit Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun 1992, ditetapkan bahwa keanekaragaman hayati memiliki makna sebagai variabilitas makhluk hidup, baik yang hidup darat maupun laut, serta variabilitas makhluk hidup di dalam spesies, antar spesies, dan ekosistem.

Keanekaragam hayati di Indonesia (sumber: antaranews.com).

Secara umum, keanekaragaman hayati memiliki manfaat lingkungan, sosial, dan ekonomi yang dibutuhkan oleh kita semua. Secara lingkungan maka keanekaragaman hayati bermanfaat untuk menjaga keseimbangan ekosistem dan mengurangi polusi. Secara sosial, keanekaragaman hayati akan bermanfaat dalam membantu dunia penelitian dan menyajikan nilai budaya. Sedangkan secara ekonomi, keanekaragaman hayati bermanfaat untuk menjamin ketahanan pangan dan kesejahteraan. Dengan alasan tersebut, sudah sepantasnya jika kita harus segera menyusun rencana-rencana besar dalam pelestarian lingkungan.

Jika kita memberikan intervensi positif bagi keanekaragaman hayati maka ekosistem yang merupakan wujud dari keanekaragaman hayati juga akan memberikan respon balik yang positif. Ekosistem yang baik akan memberikan kesejahteraan serta keberlangsungan mata pencaharian serta ekonomi yang kita jalankan.

Bisnis juga memiliki hubungan erat dengan kestabilan ekosistem. Seperti kita ketahui, hutan menyediakan kayu melalui cara pemanenan yang benar, tanah beserta mikroorganisme di dalamnya membantu menyimpan dan memurnikan air, hutan dan lautan adalah penyerap gas rumah kaca yang membantu mengurangi perubahan iklim secara drastis. Jika kestabilan ekosistem tersebut terkondisikan dengan baik, pada akhirnya akan berimbas pada kelangsungan semua bisnis yang ada di bumi. Manusia dengan bisnisnya sangat membutuhkan kestabilan ekonomi yang bisa dihadirkan dengan penciptaan keanekaragaman hayati yang baik.

Dimanapun kita hidup, baik di negara berkembang ataupun negara maju, di kota ataupun di desa, sangat bergantung pada alam dengan keunikan keanekaragaman hayatinya. Dengan menjaga dan merawat keanekaragaman hayati berarti kita akan membuat perbaikan untuk masa depan. Karena bumi ini akan diwariskan untuk generasi mendatang dalam keadaan yang lebih baik supaya mereka memiliki kualitas hidup yang lebih baik dan sejahtera.  Dengan berfikir begitu maka kita akan tersadar untuk melakukan gerakan serentak demi masa depan yang berkelanjutan.

Melindungi Diri Sebaik Melindungi Alam.

Kembali pada ketidakpastian, bahwa kejadian luar biasa seperti pandemi COVID-19 yang saat ini terjadi, akan bisa terulang dengan pandemi jenis lain yang tentunya selalu menjadi ancaman tersendiri bagi kita di masa depan. Belum lagi bencana yang susah diprediksi datangnya juga sering mengakibatkan kerugian fisik dalam masyarakat.

Jika berbagai bangsa gencar melakukan pencegahan pandemi dan bencana secara baik dan terencana, maka kita sebagai satuan terkecil atas semua perencanaan itu, juga memerlukan penjagaan diri yang maksmal. Karena sesungguhnya, kitalah yang akan menjalankan semua rencana tersebut.

Untuk melindungi  diri maka salah satu caranya adalah dengan melengkapai diri menggunakan asuransi. Bagaimana kita akan menjaga bangsa jika diri kita sendiri tidak dijaga.

Pertanyaan pentingnya adalah penyedia asuransi umum (Asuransi Umum adalah Asuransi yang memberikan ganti rugi kepada Tertanggung atas kerusakan atau kerugian harta benda) manakah yang paling cocok  setelah kita membahas semua konsep di atas?

Adalah Asuransi Umum MSIG (Mitsui Sumitomo Insurance Group) yang sudah berpengalaman dalam menjaga masa depan masyarakat atas segala ketidakpastian yang selalu ada dalam kehidupan. MSIG telah menjadi entitas asuransi terkemuka yang mapan dengan perspektif jangka panjang serta telah menyediakan solusi asuransi selama lebih dari 100 tahun. MSIG bertujuan untuk menawarkan solusi asuransi yang efektif , efisien dan mudah dipahami serta disampaikan dengan layanan tulus dan aktif.

MSIG beserta program asuransinya.

Selain menjaga kesehatan dengan disiplin tinggi, kita juga harus membekali proteksi terhadap tempat tinggal kita dengan baik. Jangan sampai tempat tinggal kita yang menjadi titik awal untuk berkarya dan berkontribusi dalam masyarakat dan lingkungan lenyap dalam sekejap karena bencana yang tak pernah terduga kedatangannya.

Oleh karena itu, kita perlu melengkapi tempat tinggal kita dengan perlindungan asuransi untuk mengantisipasi kerugian fisik yang bisa terjadi kapan saja. Dengan begitu kita tidak perlu mengulangi perjuangan hidup dari titik nol kembali saat ancaman kerugian itu datang.

Nah, untuk memperoleh perlindungan tempat tinggal dari kemungkinan bencana. MSIG telah meluncurkan sebuah program perlindungan unggulan yang bisa menjadi solusi terbaik. Adalah MSIG Home Shield Insurance (MSHS) yang memberikan perlindungan menyeluruh untuk rumah dan anggota keluarga.

Jaminan perlindungan dari MSIG Home Shield Insurance (MSHS)

Mengapa Kita Harus Memilih Asuransi MSIG?

Inilah kabar yang sangat membahagiakan buat kita,

Dengan menggunakan asuransi MSIG berarti kita akan membantu menyelamatkan keanekaragaman hayati. MSIG mengajak kita melihat arti lebih dalam segala hal karena MSIG Indonesia bekerjasama dengan Conversation International Asia-Pacific (CIAP) untuk memperbaiki keanekaragaman hayati di beberapa negara seperti Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam dan Hong Kong.

Dengan mempercayakan asuransi kepada MSIG berarti kita ikut berkontribusi pada program konservasi keanekaragaman hayati pada 9.500 hektar hutan dan 72.000 hektar lautan yang dapat mengurangi emisi karbon hingga 4,7 juta ton.

Rehabilitasi Hutan Suaka Margasatwa Paliyan, Yogyakarta oleh MSIG

MSIG bersama kita akan berkontribusi pada restorasi hutan melalui Green Wall Project di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango yang akan memastikan ketersediaan air tawar bagi 30 juta orang yang tinggal di kota-kota sekitarnya, termasuk Jakarta. Serta perlindungan The Bird’s Head Seascape (BHS) sebagai episentrum global keanekaragaman hayati laut dan berperan penting bagi lebih dari 350.000 orang di Papua.

Dana dari kita ketika menggunakan asuransi MSIG juga akan digunakan untuk mendukung program perlindungan berang-berang liar dan ekosistem bakau di Malaysia, konservasi lingkungan pesisir laut di Singapura, restorasi hutan dan penelitian botani untuk mendukung konservasi keanekaragaman hayati di Hong Kong, membantu mengurangi perburuan ilegal dengan memantau kawasan lindung dan satwa liar di Thailand serta penyelamatan, penangkaran, rehabilitasi, pelepasan spesies terancam dan memerangi ancaman terhadap populasi satwa liar yang disebabkan oleh hilangnya habitat, perburuan yang tidak berkelanjutan, dan perdagangan satwa liar ilegal di Vietnam.

Dari penjelasan itu semua, menjaga diri menggunakan asuransi MSIG ternyata secara tidak langsung akan membuat kita turut berkontribusi dalam gerakan aktif menjaga keanekaragaman hayati di seantero Asia Pasifik. Ayo utamakan perlindungan keluargamu dengan asuransi MSIG. Mari kita bersama-sama menjaga diri, keluarga, lingkungan dan dunia.

Keanekaragaman hayati adalah asuransi alam untuk keselamatan bumi dan segala aktivitas yang berjalan di dalamnya.

Kalau bukan kita yang peduli akan nasib lingkungan, lalu siapa lagi?

Sumber penulisan:

  1. https://www.msig.co.id/
  2. http://www.dialektika.net
  3. https://insanpelajar.com/
  4. https://www.kompas.id/
  5. https://www.merdeka.com/
  6. https://www.theguardian.com/
  7. https://theconversation.com/
  8. https://iopscience.iop.org/
  9. https://www.frontiersin.org/
  10. https://www.antaranews.com/
  11. https://id.wikipedia.org/
  12. https://www.foodsafetynews.com/
  13. https://www.petmd.com/
  14. https://chinaenv.colgate.edu/
  15. https://jagad.id/
  16. https://unicef.cn/
  17. https://saveourborneo.org/

Menentang Pajak Kolonial Versi Tugu Pahlawan Tak Dikenal

Hanya ada Noah yang mendengkur tergelepar karena efek residual dari mabuk semalam di De Kock Cafe lantai 1. Aku berusaha tetap senyap untuk berguyur di shower ujung kamar. Bahkan hingga aku telah siap berkelana pun, dengkurnya tak berubah nada sama sekali.

Cafe bawah tetap terbuka lebar tanpa penjaga saat aku meninggalkan penginapan dengan kondisi setengah gelap, sepi dan dingin yang masih menusuk.

Menyusuri jalanan yang sama ketika petang kemarin berburu pesona Jam Gadang, hanya saja, kali ini hanya aku seorang diri yang terlihat sangat tergesa dalam sunyinya pagi.

Bank Nagari dan Novotel kembali kusalip begitu saja tanpa ekspresi, aku sudah melihatnya sore kemarin. Begitupun, kulewati Jam Gadang tanpa impresi. Sama, mungkin karena aku telah merenggut pesonanya sehari lalu. Aku hanya berfikir untuk segera mendaratkan langkah di sebuah taman kota.

Bank Nagari Cabang Bukittinggi.

Namun, sebelum memasuki taman, aku sedikit tertarik dengan pesona bangunan besar berwarna kuning emas. Adalah Balai Sidang Bung Hatta yang menjadi Convention Center andalan di Kota Bukittinggi.

Balai Sidang Bung Hatta.

Pukul 07:10, aku mulai memasuki taman itu, berada menjorok di bawah permukaan Jalan Istana yang ada di baratnya. Sedangkan gedung tinggi abu-abu milik Bank BNI Bukittinggi membatasi pandangan mata di timurnya.

Foto diambil dari sisi selatan.

Focal point dari taman terletak pada tugu hitam artistik di lingkaran tengahnya. Itulah Tugu Pahlawan Tak Dikenal yang didesain oleh seniman pahat asal Kota Padang Panjang, Hoerijah Adam. Nama Hoerijah Adam sendiri kemudian diabadikan menjadi nama Bengkel Bari di Taman Ismail Marzuki paska kecelakaan pesawat Merpati Nusantara jenis Vickers Viscount yang ditungganginya di Samudra Hindia.

Tugu ini dibangun untuk mengenang perlawanan para pahlawan yang tak bisa dikenali secara pasti dalam menentang Kolonialisme Belanda pada tanggal 5 Juni 1905. Perlawanan itu sendiri terjadi karena penolakan penerapan pajak pendapatan sebesar 2% untuk kaum pribumi atas segala bentuk usaha perdagangan yang dilakukan.

Tugu berbentuk lingkar ular naga.

Peletakan batu pertama dilakukan oleh Jenderal Abdul Haris Nasution pada 15 Juni 1963 yang kala itu menjabat sebagai Kepala Staff ABRI. Dan dua tahun kemudian tugu ini diresmikan.

Pada satu sisi monumen, diletakkan kutipan lantang seorang sastrawan terkenal yang juga merupakan Pahlawan Nasional Indonesia, tak lain adalah Muhammad Yamin:

Mati Luhur Tak Berkubur

Memutuskan Jiwa Meninggalkan Nama

Menjadi Awan Di Angkasa

Menjadi Buih Di Lautan

Semerbak Harumnya Di Udara

Ternyata, Bukittinggi menyimpan banyak sejarah perjuangan bangsa yang baru kuketahui setelah mengunjunginya.

Asyik ya….Jalan-jalan sembari mengenal sejarah bangsa.

Exploring along The Clearness of Citumang River

<—-Previous Story

After paying an entrance ticket of IDR 19,000 and a car park fee of IDR. 10,000, I started heading upstream of Citumang River without hiring the services of personal life guard. I would independently go down the river. Of course, it would feel more comfortable and relaxed.

Renting a life jacket was certainly the best alternative to keep myself safe when exploring the river alone. Life jacket was also the best anticipation for newcomer who of course didn’t really understand the variations in river depth.

At upstream of the river, I approached a young man who seemed to be in charge of caring for life jacket rental. I handed over IDR 20,000 to rent a life jacket and then got ready to go down into river.

Just on the edge, I was already amazed by the clarity of its water. The river body was still very green with large plants, the spread of giant river stones at several points along river flow gave an impression that Citumang River was like a river of the past. Meanwhile, in upstream of the river, there was a cave which echoed the gurgling flow of water flow which calmed the situation.

The clarity of its water made this river reflected beautiful gradations of moss green and sky blue. A gradation painted by nature to perfection. Combined with the cool air and quiet situation, it made my heart felt peaceful. Only natural sounds could be heard at the location. Make anyone forget for a moment the hustle and bustle of a big city.

On the other side, a children’s pool appeared to be built to facilitate family tourism. And it appeared in several places written prohibitions on using soap to preventing river pollution.

Not waiting for long, I started to go down. Along Citumang River which its bottom was paved with mossy stones. The cold water made my body fresh. Daring myself to swam in a deep part, I finally reached cave mouth. The dark situation in the cave made me only dare to enter it not far from its mouth. A little worried about the unexpected in there, considering that I was alone in the river.

A thirty minutes later, other visitors started arriving and river situation was a little busier. To avoid excessive crowds, I immediately did body rafting down the river downstream. It flew with river current which cut through giant boulders along the river.

At a distance of 300 meters from starting point, I began to stop exploration. Chose to step aside and got ready to ending my adventure in Citumang River.

If I wanted to go downstream, I would actually be rewarded with a view of a waterfall which looked like a furnace. The furnace form was often called Tumang by local people. Therefore this river was named as Citumang River.

It was nine o’clock  in the morning. I began to hurry to clean myself and get ready to leave Citumang River. I was ready to go to next destination in Pangandaran, namely Batu Hiu Beach.

Bukchon Hanok Village: Destinasi Pertama di Seoul

<—-Kisah Sebelumnya

Kamsahanida……”, ujarku keras terlontar teruntuk petugas kasir perempuan CU Minimarket di pojok sana. Aku telah rampung menyantap nasi putih kemasan dan cup noodle yang membuat bibirku terasa membara saking pedasnya.

Cheonmanneyo….”, kasir cantik putih itu melempar senyum sembari melambai tangan ketika aku sudah berada di depan pintu kaca hendak menjangkau handlenya.

Keluar dari minimarket, aku melangkah cepat menuju gerbang Stasiun Hongik University yang tak jauh lagi, tepat di sebelah kiri tikungan di depan sana.

Menuruni escalator super panjang menukik menuju bawah tanah, aku mulai membuka denah cetakanku sendiri, lalu menunjuk sebuah titik tujuan. “Aku harus menuju Stasiun Anguk”, batinku berseru sembari melipat denah dan memasukkan ke saku belakang.

Kini aku berada di batas platform. Menjelang siang, suasana stasiun bawah tanah lengang. Tetiba, pertunjukan romansa jalanan di ujung platform sana memudarkan rasa antusiasku dalam menunggu kedatangan Seoul Metro. Sepasang sejoli tampak berpeluk pinggang sembari bertatap mesra. Sesekali sang pria cuek menyosor gadis di depannya….”Buseeet….”, seloroh iriku keluar juga. Pertunjukan seperti itu memang tak membuatku heran karena sudah kerap kujumpai di moda transportasi yang sama milik Negeri Singa atau Kota Shenzen. “Anggap saja sebagai bonus perjalanan…”, batinku tersenyum kecut.

Pelukan mesra mereka terlepas beberapa saat setelah derap suara Seoul Metro terdengar dari lorong kanan. Seoul Metro mendecit lembut dan berhenti di hadapan, mereka mengakhiri romansa dan penonton tunggalnya pun ikut menaiki kereta.  

Seoul Metro Line 2 merangsek meninggalkan Distrik Seodaemun menuju timur. aku akan berwisata ke Distrik Jongno yang berjarak delapan stasiun dan harus berpindah ke Seoul Metro Line 3 di Stasiun Euljiro 3(sam)-ga serta membutuhkan waktu tempuh sekitar 30 menit.

Sesuai perkiraan waktu, kini aku sudah berdiri di depan pintu Seoul Metro ketika announcer sound mengatkan bahwa kereta akan segera merapat ke Stasiun Anguk. Setelah berhenti sempurna, aku melompat meninggalkan gerbong yang sedari menaikinya, tak ada kejadian berkesan lain setelah romansa setengah jam lalu.

Keluar dari Stasiun Anguk, aku dihadapkan pada Yulgok-ro Avenue. Percaya diri mengambil langkah ke kiri mengantarkanku pada sebuah simpang lima yang ramai dengan gerai fashion, kuliner dan kosmestik. Sepertinya aku salah jalan.

Aku berdiri terpaku di sebelah tugu Enso yang berlokasi tepat di salah satu sisi simpang lima tersebut. Enso sendiri adalah kuas kaligrafi tradisional asli Korea Selatan. Mengamati perilaku masyarakat lokal yang sibuk berbelanja. Sementara beberapa kelompok turis asal Eropa tampak sedang bercakap-cakap di gerai Tourist Information yang terletak di samping tugu. Sepertinya aku harus ke gerai itu dan menanyakan arah destinasi yang kutuju. Akhirnya aku melangkah menujunya.

Aku: “Hello, Ms. Can me know which way thet I need to choose toward Bukchon Hanok Village?

Dia: “Hi, Sir. You can go straight there and then turn left in crossroad. You will arrive in Bukchon Hanok Village with walking about 600 meter”.

Aku: “Very clear, thank you, Ms

Dia: “You are welcome. And this tourism map is for you”, dia tersenyum  sembari menyerahkan selembar denah pariwisata Seoul untukku.

Aku pun segera melangkah menuju utara. Sedikit santai sembari menikmati keramaian jalanan Bukchon-ro, akhirnya aku tiba di Bukchon Hanok Village dalam 20 menit. Perkampungan budaya ini berlokasi di sebelah barat jalan utama.

Notre Dame Education Center di Bukchon Hanok Village.

Diluar dugaa, ini berbeda dengan Gamcheon Culture Village di Busan yang kukunjungi beberapa hari lalu. Bukchon Hanok Village menampilkan deretan Hanok (rumah tradisional Korea Selatan) yang tersusun rapi memanjang mengikuti kontur jalan setapak. Kayu-kayu yang menjadi bagian dari bangunan Hanok tampak terawat mengkilap, Gang-gang yang hanya bisa dilalui dengan berjalan kaki nampak rapih dan bersih. Inilah perumahan bangsawan era Dinasti Joseon yang berusia lebih dari enam abad dan menjadi kebanggaan Distrik Jongno.

Sesuai dengan julukannya sebagai “Kampung Utara”, maka desa ini memang terletak di sebelah utara dari dua ikon utama kota Seoul yaitu Sungai Cheonggye dan Distrik Jongno.

Selain berfungsi sebagai pelestarian Hanok, desa ini juga berfungsu sebagai pusat kebudayaan, penginapan tradisional, restoran dan tempat minum teh bersama.

Menyusuri bagian dalam perkampungan, beberapa turis perempuan tampak anggun mengenakan Hanbok (baju khas Korea Selatan) demi menyusuri perkampungan budaya ini dengan lebih khusyu’.

Sebuah keindahan yang tersimpan di daerah Gahoe ini akhirnya berhasil kudatangi juga. Sebuah kesan klasik, ketenangan, kesunyian, sarat makna dan keagungan budaya sangat kental kurasakan dalam kunjungan ini.

Peeking a Devi’s Fall at Gupteshwor Mahadev Cave

<—-Previous Story

Horn sound made me see to left when I just walked out of a noodle food stall in Tashiling. Yes, that shrill sound came from Mr. Tirtha’s taxi which I never knew since when it had been parked under a tree right out of Tashiling area.

I think we don’t need to go to Devi’s Fall because its water discharge is low now. So you can see the beauty of Devi’s Fall from a cave”, said Mr. Tirtha while turning steering wheel to left and entered Shital Path Street. I just agreed with that information.

Devi’s Fall often had been nicknamed as David’s Fall since decades ago when a Swiss drowned in current at this waterfall.

OK …. We are arriving“, joked Mr. Tirtha while snapping her fingers when he had just turned right following Siddhartha Rajmag’s Street flow.

I started to enter the gate of Gupteshwor Mahadev Cave, which at its top stood the dashing Lord Shiva holding his trident in cross-legged position. Through it, then walking in tarpaulin-covered entrance route with a row of souvenir stalls on either side. Then I was greeted by the presence of Lord Vishnu statue which sleeping next to the main building.

Description: D:BC ReportsFoto and VideoGo Abroad15. NepalIMG_20180101_165707863_HDR.jpg
Main balcony.

It was time to head to a concrete balcony to bought a ticket for 100 Rupee. Before descending the stairs to cave mouth, for a moment I paid attention to details of staircase walls which were regularly spaced displaying Gods carvings which might implicitly feature a certain stories.

Stairs to cave mouth.

Temperature difference had begun to be felt on first foothold at cave mouth. Now I was ready to explore the longest cave in Nepal.

Cow Shed“, I was stunned to see a cow shed with blue iron fence. I asked a local person who was talking in front of it. He briefly said that this cow protected Lord Shiva. I nodded as if I understood.

Going down the stairs through right side of cage I felt my breath getting heavier. The damp dark cramped space made it so. Then I saw a bright light again at a temple which dedicated to glorifying Lord Shiva.

It was said that this cave was found in 16th century with cave mouth closed by grass. Local people named this cave as Bhalu Dulo. When found, there were already carvings of several Hindu Gods such as Mahadev, Parvati, Nageshwor and Saraswati.

Now stairs to cave bottom were getting sharper and slippery. Water continued to drip from stalactites which were spread evenly on cave roof. The lack of lighting made my downward journey very slow.

Be careful, ok…..

Finally, the appearance of cave bottom was amazing. A very large room was in basement. Then on a side appeared a natural gap which was the only hole to enjoy the beauty of Devi’s Fall.

Description: D:BC ReportsFoto and VideoGo Abroad15. NepalIMG_20180101_170803449_HDR.jpg
That was Devi’s Fall…. Wasn’t that cool ?.

Check out the situation of Gupteshwor Mahadev Cave here:

https://www.youtube.com/watch?v=7p0Yjhocidg

God’s extraordinary work of nature….