Wat Chedi Luang (2): Ladyboy Super Anggun

<—-Kisah Sebelumnya

Detak jantungku melambat, perasaanku menjadi tenang….Itu terjadi ketika aku berlama-lama memperhatikan warga lokal yang beribadat dengan menangkupkan dupa di kedua telapak tangannya serta mengucapkan do’a di pelataran dekat Phaya Yakkharat.

Pastinya, aku siap melanjutkan eksplorasi di luasnya Wat Chedi Luang. Maka melangkahlah aku ke sisi barat, melewati pelataran hijau di sebelah San Lak Mueang. Area rerumputan itu dibelah dengan batuan andesit yang disusun teratur sebagai pijakan kaki pengunjung demi menjaga keasrian rerumputan.

Aku meniti pelan batuan andesit itu hingga tiba di sebuah kuil kecil. Lalu memperhatikan sejenak dari luar, untuk kemudian perlahan menaiki anak tangga demi mendekati sebuah patung. Maka berdirilah aku sejenak di depan patung itu dan memperhatikan sekitar demi mencari informasi.

Adalah Phra Indra (Dewa Indra), patung tegap dari batu berwarna hitam, memegang trisula di tangan kirinya dan menunggangi seekor gajah putih berkepala tiga.

Ternyata ada juga Dewa Indra dalam agama Buddha di Thailand”, aku manggut-manggut sendirian.

Mengunjungi sejenak saja Phra Indra, aku kembali menelusuri jalan semula menuju pelataran depan San Lak Mueang.

Kini saatnya menuju ke bagian utama”, aku membatin penuh rasa penasaran.

Phra Indra.
San Lak Mueang.
Area donasi kuil.

Aku bergerak menuju pusat area kuil. Menyusuri jalur lebar dengan tenda di sisi kirinya. Satu rombongan turis tampak khusyu’ mendengarkan penjelasan dari pemandu lokal. Aku yang tak paham Bahasa Tiongkok, mencoba memahami maksud dengan mengamati gestur si pemandu.

Nantinya aku akan paham bahwa pemandu itu mengajak turis yang dibawanya untuk berdonasi kepada kuil dengan cara membeli daun emas yang bisa ditempelkan ke patung-patung Buddha yang disediakan di tenda tersebut.

Cara berdonasi lain juga bisa dilakukan dengan membeli sebuah kertas untuk kemudian si pembeli bisa menuliskan nama dan memasukkannya ke dalam peti.

Aku berdiri cukup lama melihat prosesi donasi para rombongan itu.

Begitu rombongan itu selesai melakukan donasi, maka pemandu mengajaknya menuju ke kuil utama. Aku pun menguntitnya dari belakang dan bersama rombongan turis itu aku memasuki kawasan utama kuil.

Maka berdirilah dengan megah, gagah, artistik dan relijius sebuah bangunan setinggi 82 meter. Aku telah benar-benar berhadapan dengan Wat Chedi Luang sore itu. Adalah bangunan berwarna merah bata dari abad ke-14 yang pembangunannya diperuntukkan sebagai tempat penyemayaman abu jenazah dari ayahanda Raja Saen Muang Ma.

Aku mengamati sejenak, tampak bagian tertinggi Chedi dihubungkan dengan lantai terbawahnya dengan undakan anak tangga yang pada pangkalnya dijaga oleh dua naga hitam berkepala lima.

Aku mengayunkan langkah ke utara, hingga langkah itu tetiba melambat ketika aku melihat keberadaan seorang perempuan cantik yang tampak mesra berbicara dengan seorang pria bule di sebuah bangku besi tepat di bawah pohon berketinggian rendah.

Aku mengeram langkah beberapa detik kemudian, berhenti penasaran…..Kurasa ada yang aneh.

Ada yang tak biasa dengan cara tertawa perempuan cantik itu. Aku berdiri sejenak meliriknya, dari tampilan detail yang kulihat dengan akurat, aku yakin dia adalah seorang ladyboy dengan paras menawan, anggun dan benar-benar mirip perempuan sejati…Luar biasa.

Hilang rasa penasaran itu, aku pun mulai mengindahkan keberadaan mereka berdua dan memilih untuk melanjutkan eksplorasi.

Wat Chedi Luang tampak dari timur.
Wat Chedi Luang tampak dari utara.
Buddhist Manuscript Library and Museum.
Buddha tidur di salah satu bagunan kuil.
Wihan Luangpu Mun Bhuridatto.

Maka sampailah aku di sudut utara, dihadapkan pada bangunan Khas Kerajaan Lan Na. Adapun nama bangunannya adalah Buddhist Manuscript Library and Museum, sebuah tempat penampung sejarah yang memiliki banyak koleksi fragmen potongan arca dan peninggalan lainnya terkait Buddhisme yang telah membumi di Thailand sejak beberapa abad silam.

Tak membutuhkan waktu lama di museum itu, hingga akhirnya aku memutuskan bergerak ke sisi barat. Di sisi itu terdapat sebuah wihara bernama Wihan Luangpu Mun Bhuridatto, sebuah bangunan keagamaan yang dibangun dengan arsitektur Kerajaan Lan Na dan dianggap meniru bentuk bangunan Wat Ton Kwen yang terletak di Royal Park Rajapruek.  Wihara ini dibangun pada abad ke-19 pada masa pemerintahan Raja Phra Chao Kawirorotsuriyawong, Raja ke-6 Chiang Mai, dan digunakan sebagai tempat penyimpanan kursi singgasana kerajaan. Bahkan wihara ini juga digunakan untuk menyimpan gigi geraham dan patung dari biksu Luangpu Mun, seorang biksu terkenal Thailand berdarah Laos yang berjasa mendirikan Tradisi Hutan Thai yang merupakan salah satu garis keturunan Buddha Theravada.

Dan akhirnya, dengan menyelesaikan kunjunganku di Wihan Luangpu Mun Bhuridatto, berarti aku telah menyelesaikan kunjungan di keseluruhan spot Wat Chedi Luang.

Sebuah keberuntungan bagiku bisa mengunjungi kuil agung itu dan seutuhnya aku bisa mengatakan dalam hati bahwa kunjungan di Wat Chedi Luang adalah hal yang sangat berkesan ketika aku berada di kota Chiang Mai.

Wat Chedi Luang (1): Lelah di Tempat Pembakaran Dupa

<—-Kisah Sebelumnya

Langkahku sedikit melambat ketika meninggalkan Wat Muen Tum, itu karena letak destinasiku tak jauh lagi, hanya berjarak tiga ratus meter lagi.

Tetapi belum juga sampai di tujuan, langkahku dihadang oleh keberadaan kuil lain. Wat Chang Taem namanya. Kuil ini adalah vihara tempat disimpannya Buddha Fon Saen Ha yang berusia lebih dari seribu tahun. Fon Saen Ha sendiri memiliki makna sepuluh ribu tetes hujan, maka khalayak sering memanggil Wat Chang Taem sebagai “Kuil Sepuluh Ribu Tetes Hujan”.

Namun, aku harus merelakan destinasi itu karena waktu yang sangat terbatas. Aku memilih untuk melanjutkan langkah menuju tujuan utama.

Namun sejenak aku menghentikan langkah, sebuah pesan Whatsapp datang dari pimpinan di perusahaan tempatku bekerja. Aku diminta membeli beberapa perlengkapan untuk dibawa di acara konferensi di Phuket.

Beruntung, aku melihat keberadaan sebuah gerai 7-Eleven di ujung blok. Tanpa pikir panjang, aku melangkah menujunya dan berbelanja kebutuhan konferensi di gerai itu.

Aku memang harus standby kapan pun perihal pekerjaani, karena tujuanku datang ke Thailand adalah menghadiri sales conference di Phuket yang akan berlangsung tiga hari semenjak ketibaanku di Chiang Mai.

Lepas menyelesaikan urusan belanja kantor, aku segera melanjutkan eksplorasi. Beruntung tujuan utama destinasi hari itu ada di seberang gerai 7-Eleven.

Adalah Wat Chedi Luang, sebuah kuil yang berasal dari abad ke-14 yang sore itu telah berada di hadapan. Aku memang tak bisa melihat bagian dalamnya, kerena setiap sisi pelataran kuil ditutup oleh tembok.

Aku yang diselimuti rasa penasaran, segera memasuki gerbang, mengambil antrian di loket penjualan tiket. Antrian yang tak terlalu panjang, membuatku lebih cepat dalam medapatkan tiket, setelah aku menyerahkan uang sebesar 50 Baht kepada seorang penjaga loket wanita berusia muda.

Kompleks Wat Chedi Luang tampak depan.
Loket penjualan tiket Wat Chedi Luang.

Bagian pertama dari Wat Chedi Luang yang kusambangi adalah San Lak Mueang. “Lak Mueang” berarti “Pilar Kota”, hal ini merujuk pada adat isitiadat di Thailand yang selalu membuat pilar tunggal pertama sebelum membangun sebuah kota. Pilar ini biasanya dibuat dari batang pohon Akasia dan ditaruh di sebuah kuil kota.

Di San Lak Mueang, aku tak bisa melihat keberadaan “Pilar Kota” yang dimaksud karena pilar itu telah diabadikan di dalam tanah.

Selain patung King Kawila (Raja Chiang Mai yang memerintah pada abad ke-18) yang kutemukan di bagian depan San Lak Mueang, aku juga menemukan papan yang menjelaskan aturan berkunjung dimana wanita yang sedang mengalami menstruasi dilarang berkunjung karena dianggap akan mempermalukan dan merusak kesucian “Pilar Kota”.

San Lak Mueang dengan patung King Kawila.
Bagian dalam San Lak Mueang.

Lepas mengunjungi San Lak Mueang, aku bergeser ke sisi selatan area kuil. Terdapat satu bangunan unik dengan patung raksasa berwarna hijau. Raksasa itu bernama Phaya Yakkharat yang merupakan penjaga “Pilar Kota” di sisi selatan dan dibangun pada abad ke-18 oleh Raja Kawila.

Di area Wat Chedi Luang juga terdapat raksasa dengan fungui serupa di sisi utara kuil, namaya Wat Amonthep. Keduanya telah ditakdirkan untuk menjaga “Inthakhin” atau “Pilar Kota” Chiang Mai.

Kuil Phaya Yakkharat.
Phaya Yakkharat si penjaga setia Inthakhin.

Aku merasa Lelah lepas mengunjungi Phaya Yakkharat, oleh karenanya aku memilih istirahat sejenak dan duduk di belakang sebuah area lapang dimana para pengunjung memanjatkan do’a dengan membakar dupa.

Untuk sementara aku menikmati aktivitas religius itu sebelum melanjutkan perjalanan mengeksplorasi Wat Chedi Luang yang memiliki luas tak kurang dari enam hektar.

Kisah Selanjutnya—->

Wat Muen Tum: Tempat Dimana Raja Memulai Tahta

<—-Kisah Sebelumnya

Aku masih menyisir sisi barat Prapokkloa Road. Jalanan arteri semakin ramai saja seiring menit berjalan, mungkin karena matahari tak lagi garang.

Lagi…..Tiga menit melangkah, aku melihat keberadaan sebuah kuil di sisi timur jalan. Kali ini berbeda, tak seperti Wat Jet Lin yang senyap. Kuil yang ada di hadapan tampak lebih dinamis, ada beberara biksu muda sedang beraktivitas di dalamnya, juga para wisatawan yang hilir mudik, keluar masuk kuil.

Aktivitas itu berhasil menggagalkan niatku yang pada awalnya ingin melewatkan saja keberadaan kuil itu.

Aku pun mulai menyeberangi Prapokkloa Road. Jalan dua arah selebar tak kurang dari enam meter itu belum begitu ramai dengan kendaraan yang melintas.

Berhasil menyeberang, aku berhasil tiba tepat di depan gerbang kuil, menghadap sebuah papan nama beton.

Wat Muentoom”, aku membacanya jelas.

Bak memasuki gerbang istana Kerajaan Lan Na, aku mulai menginjakkan kaki di halaman kuil. Tampak dua biksu muda sedang sibuk mengurusi kuil. Satu biksu tampak sedang menyirami tanaman di sekitar kuil. Sedangkan seorang lagi tampak duduk di bawah tenda sedang menyiapkan perlengkapan peribadatan.

Aku sepenuhnya paham bahwa mengambil foto biksu tanpa izin adalah tindakan yang tidak terpuji, maka kuputuskan untuk langsung saja menuju ke bangunan belakang kuil.

Menyisir bangunan dari sisi selatan, aku terpesona dengan keberadaan bentuk ukir dari makhluk mitologi Buddha yang berwujud setengah manusia dan setengah burung, Kinnara nama makhluk itu. Dalam ajaran Buddha, Kinnara adalah makhluk surgawi yang pandai memainkan kecapi.

Tiba di bagian belakang kuil, aku menemukan area lapang yang menjadi tempat parkir beberapa mobil milik pemerintah yang mungkin digunakan sebagai inventaris kuil dan sebagian lagi kuduga adalah milik pengunjung kuil.

Aku berdiri lama di area parkir nan lapang demi menikmati keindahan arsitektur kuil, untuk kemudian berusah mencari informasi apapun mengenai kuil di hadapan.

Gerbang Wat Muen Tum tampak depan
Kuil utama Wat Muen Tum.
Sisi selatan Wat Muen Tum.
Bangunan bagian belakang Wat Muen Tum.
Perwujudan Chinte.

Mue Tum?……

Menilik secara historis, kata “Muen Tum” pada kuil ini merujuk pada seorang bangsawan kerajaan. Sudah bisa ditebak bahwa dialah yang membangun kuil ini.

Sedangkan secara fungsi, Wat Muen Tum akan digunakan sebagai tempat penjemputan raja baru Dinasti Mangrai yang akan naik tahta setelah dimandi sucikan di Wat Phakhao. Wat Phakhao juga dikenal sebagai White Cloth Temple (Kuil Kain Putih) karena raja yang akan dinobatkan akan dimandikan dalam pakaian serba putih di kuil ini. Wat Phakhao sendiri terletak setengah kilometer di timur Wat Muen Tum.

Kembali ke pelataran belakang Wat Muen Tum. Di bagian ini aku juga menemukan bangunan dengan arsitektur khas Kerajaan Lan Na, yaitu memiliki atap bertingkat dengan kemiringan tinggi. Listplank di sepanjang tingkatan atap mengadopsi bentuk tubuh naga dengan kepalanya di setiap ujung atapnya.

Sedangkan di setiap sisi pintu kuil dijaga oleh sepasang Chinte, yaitu perwujudan singa yan menjadi ikon religi di Thailand.

Sejenak untuk terakhir kali, aku kembali berdiri di pelataran belakang, menikmati keindahan Wat Muen Tum yang dalam waktu beberapa menit ke depan, akan kutinggalkan.

Lima menit menjadi waktu yang sangat cepat untuk menikmati keindahan Wat Muen Tum. Tetapi memang aku harus terpaksa pergi karena waktu hampir menginjak pukul setengah lima sore.

Kuputuskan untuk melanjutkan perjalanan. Aku menuju ke bagian depan kuil melalui sisi utaranya. Dan begitu tiba di Prappokkloa Road, aku kembali melanjutkan langkah menuju utara.

Kisah Selanjutnya—->

Wat Jet Lin: Sisi Artistik di Prapokkloa Road

<—-Kisah Sebelumnya

Jarum jam merangkak pasti menuju angka empat ketika aku terperanjat dan terbangun.

Usai makan siang, untuk beberapa saat aku tertidur pulas di bunk bed tingkat atas milik Le Light House & Hostel. Mungkin tidur yang tak nyenyak di Changi International Airport pada malam sebelum kedatanganku di Chiang Mai yang membuatnya demikian.

Aku merengkuh folding bag di sisi ranjang dan menuruni bunk bed dengan pelan. Tentu aku tak mau mengganggu pelancong lain yang sedang tidur siang. Beruntung sesaat sebelum terlelap, aku telah menyiapkan semua perlengkapan eksplorasi dalam folding bag kecil dan sudah menyimpan travel bag pada sebuah loker yang disediakan hostel.

Dengan langkah sedikit berjinjit, aku menyapa dua staff hostel wanita yang duduk di samping salah satu bunk bed yang telah selesai dibersihkannya. Satu diantaranya tampak sedang meratakan sprei yang baru saja dipasangnya.

Sawadikap”, aku menyapanya sangat pelan.

Keduanya pun menjawab dengan kata yang sama sembari menangkupkan kedua telapak tangannya di dada.

Keluar dari pintu kaca geser, aku menuruni tangga dan mulai mengenakan sepatu, demikian adanya, sepatu memang yang harus dilepas di lantai bawah sesuai aturan hostel.

Akhirnya aku meninggalkan hostel dengan menyusuri Bumrung Buri Alley 4, sebuah jalanan kampung yang bisa menembuskanku menuju Prapokkloa Road dimana destinasi yang akan kutuju berada.

Sepinya jalan kampung itu berhasil menyiutkan nyali sore itu. Aku hanya terus melangkah secepat mungkin demi segera menemukan jalan arteri. Aku berfokus untuk segera menemukan keramaian. Beruntung dalam enam menit aku tiba di jalan utama.

Aku pun menurunkan tempo, melangkah lebih pelan dan menikmati pemandangan di sisi kiri dan kanan Prapokkloa Road.

Prapokkloa Road Soi 4

Tampak beberapa pedagang kaki lama, mulai menyiapkan lapak demi menyambut keramaian malam yang dalam beberapa menit kemudian akan hadir. Penggorengan dan panggangan mulai dipanasi, bahan-bahan makanan mulai dikeluarkan dari freezer box, dan lampu penerangan pun mulai dinyalakan.

Aku terus melangkah di bawah siraman mentari sore yang masih sedikit menyengat. Beberapa turis asing pun sama, berseliweran di setiap titik di ruas Prapokkloa Road demi menggapai destinasinya masing-masing.

Aku cukup menyadari bahwa Chiang Mai dikenal sebagai kota terbesar kedua di Thailand yang memiliki tujuh puluh kuil di dalamnya. Jadi sudah pasti, aku akan mudah menemukan kuil di sepanjang jalan-jalan arteri di Chiang Mai.

Benar saja, delapan menit sejak pertama kali melangkah meninggalkan hostel, aku menjumpai sebuah kuil. Adalah Wat Jet Lin yang menjadi kuil pertama yang kutemui di Chiang Mai.

Wat Jet Lin atau orang lokal menyebutnya Wat Chedlin berdiri artistik dengan warna dominan putih dan berpagar batu bata merah di sekelilingnya. Ketika aku tiba, Wat Jet Lin tampak sepi dan tiada satu orang pun di dalamnya. Oleh karenanya aku memutuskan untuk tidak menyinggahinya. Itu juga karena tujuan utama sore itu bukanlah Wat Jet Lin.

Wat Jet Lin tampak depan.
Wat Jet Lin tampak samping.

Aku harus segera mencapai tujuan sebelum gelap mengakuisisi hari”, gumamku dalam hati.

Kisah Selanjutnya—->

Golden Soup Malatang: Sesaat Tertidur Pulas

<—-Kisah Sebelumnya

Aku meninggalkan Le Light House & Hostel sejenak menuju ke timur. Menurut aplikasi berbasis peta di telepon pintarku, tempat makan itu hanya berjarak tak lebih dari seratus meter saja.

Menyusuri Bumrungburi Road untuk berburu makan siang.

Beberapa menit melangkah pun akhirnya aku tiba di tempat makan itu. Aku yang kelaparan bergegas memasuki kedai dan disambut oleh tiga pelayan wanita berusia sangat muda. Mereka mempersilahkan kepadaku untuk mengambil beberapa menu yang tersaji di etalase.

Tanpa pikir panjang, aku pun mengambil beberapa pokcoy, sawi, satu keping mie warna ungu, wortel, beberapa potong cumi, jamur, bakso, dua potongan kecil tuna dan udang. Aku menyerahkan menu itu kepada salah satu dari mereka.

Dengan gesit dia memencet-mencet tombol di mesin kasir.

One mineral water. Ms”, aku memintanya memasukkanya dalam tagihan.

128 Baht, Sir”, kasir wanita itu menyebut angka tagihan.

Aku pun membayarnya dan setelahnya dia memintaku untuk menunggu di salah satu bangku.

Dala lima menit, hidangan tiba. Karena terlanda kelaparan akut, aku menyantap dengan lahap semua menu dalam kuah sup hangat dan gurih itu.

Selama tiga puluh menit lamanya aku menikmati menu pertamaku di Chiang Mai itu itu untuk kemudian selepas menghabisinya, aku mengambil sebotol mineral water dari sebuah freezer.

Ini dia Malatang Soup.

Menenggaknya separuh, maka aku memutuskan untuk menyudahi waktuku bermakan siang.

Rasa penasaran yang tinggi membuatku melangkah ke salah satu pelayan.

What’s the name of this dish, Ms?”, aku yang penasaran memberanikan bertanya

Malatang Soup, Sir”,

Oh, thank you for the information

With pleasure, Sir”, dia menjawab singkat

Melangkah keluar kedai, aku mengambil telepon pintar di saku kanan. Mengetikkan nama “Malatang Soup” ke mesin pencari.

Dengan cepat aku menemukannya. Lepas membaca satu paragraf tentangnya, langkahku pun terhenti. Aku menggeleng-gelengkan kepala di sisi jalan.

Mesin pintar mengatakan bahwa walau beberapa versi Malatang adalah halal namun pada dasarnya kuah pedas itu ada kemungkinan besar direbus menggunakan tulang babi.

Aku terkekeh membacanya tetapi kemudian berusaha tenang dan memohon ampun kepada Tuhan jika kuah Malatang yang kusantap beberapa menit sebelumnya benar-benar direbus menggunakan tulang babi.

Aku melanjutkan langkah menuju hotel karena waktu menunjukkan hampir pukul dua siang…Waktu check-in hampir tiba.

Aku tiba di Le light House & Hostel untuk kemudian duduk kembali di salah satu bangku cafenya. Namun baru beberapa menut duduk, seorang pria yang menggantikan resepsionis wanita sebelumnya tetiba memanggilku.

Le Light House & Hostel tampak depan.

Hello….Are you Mr. Donny?”, dia memanggilku dari arah belakang

Yes, sir…That’s right”, aku menoleh lalu menjawab pertannyaannya

Sir, you can check-in now….Come here!”, dia memanggilku

Aku memberikan paspor dilanjutkan dengan dia mengcopynya, untuk kemudian dia menyerahkan pasporku kembai padaku bersamaan dengan kunci kamar.

Setelah mendengarkan penjelasan singkat tentang prosedur hotel dari resepsionis pria itu, aku berjalan menuju pintu belakang bangunan, menaiki tangga di sisi kirinya untuk kemudian melepas sepatu dan pergi menuju kamar melalui tangga tersebut.

Sesampai kamar. Aku membongkar travel bag, mengambil folding bag lalu mengambil perlengkapan penting seperti dompet, lembar itinerary, power bank, air mineral, obat-obatan, dan kamera mirrorless Canon EOS M10, lalu menaruh beberapa pakaian ganti di salah satu loker.

Aku yang mengantuk berat, memutuskan untuk naik ke kasur di ranjang tingkat atas, dan tanpa sadar untuk beberapa waktu kemudian tertidur pulas di atas kasur……

Lalu bagaimana eksplorasiku siang menjelang sore itu.

Kisah Selanjutnya—->

Taksi dari Chiang Mai International Airport Menuju Pusat Kota

<—-Kisah Sebelumnya

Logo AOT tersebar di sekian banyak property bandara ketika tatapan mataku awas mencari keberadaan konter penyedia jasa taksi. AOT sendiri merujuk pada Airports of Thailand PCL, pengelola resmi Chiang Mai International Airport.

Beruntung aku dengan cepat menemukan konter taksi resmi “Chiang Mai Airport Taxi” yang berlokasi di dekat Door 11. Konter itu dijaga oleh staff wanita berusia paruh baya.

Hello Mam, How much is the taxi fare to Mueang Chiang Mai District?” aku bertanya lugas

150 Baht, Sir”, dia menjawab penuh senyum

OK, I take the taxi”, aku mengajukan permohonan sembari menyerahkan ongkos yang dimaksud.

Just wait here for about ten minutes, and show this receipt to the taxi driver when he picks you up from Gate 11!”, dia menunjuk pintu keluar.

Konter penyedia jasa taksi di Chiang Mai International Airport.

Mengikuti instruksinya, aku pun duduk di salah satu deret bangku bandara demi menunggu kedatangan pengemudi taksi yang dimaksud. Hingga pada akhirnya, beberapa menit kemudian,  seorang pria muda mendatangiku.

Taxi is ready, Sir”, dia menyapa dari sisi kiri tempatku duduk

Aku menoleh, memandang sebentar, lalu bangkit, “Oh, okay….I’m ready, Sir….Come On!

Aku mengikuti langkahnya menuju drop off zone di depan bangunan terminal. Tampak dari kejauhan, sebuah mobil listrik berwarna putih besutan Morris Garage (MG) telah menunggu dengan mesin menyala langsam.

Lepas memasukkan semua barang bawaan ke bagasi, aku menaiki mobil listrik itu dari pintu depan sisi kiri. Aku menghempaskan badan di kursi empuknya hingga akhirnya taksi merayap menuruni drop off zone menuju jalan utama kota.

Drop -off Zone Chiang Mai International Airport.

Chiang Mai is very hot, Sir”, aku menyela ketika dia berkonsentrasi di kemudi.

Yes, Sir….It’s been scorching these past few days”, dia menyeka dahinya yang berkeringat.

Tanpa suara, taksi itu meluncur cepat hingga akhirnya menjangkau jalur arteri menuju Le Light House & Hostel. Taksi terus meluncur cepat menuju timur, membelah kesibukan Mahidol Road.

Selanjutnya, aku tak banyak bercakap dengan pengemudi taksi, melainkan lebih memilih untuk menikmati suasana kota saja di sepanjang perjalanan menuju penginapan.

Perjalanan itu sendiri berlangsung sangat cepat, pengemudi muda itu melahap jarak lima kilometer hanya dalam waktu dua belas menit saja.

Tibalah aku di penginapan…..

Can I take a photo of the receipt?”, aku menunjuk nota pembayaran taksi di pintu sisi pengemudi.

Just take it. This is for you”, pengemudi itu sungguh baik, dia malahan memberikan nota pembayaran itu. Aku memang harus melakukan hal itu supaya nota pembayaran bisa aku reimburs ke kantor.

Ini dia penampakan taksi bandara yang kutunggangi.

Lepas turun dari taksi, aku langsung menuju ke lobby penginapan yang sebagian besar ruangannya didominasi oleh keberadaan Le Light Cafe. Pagi itu cafe sedang dikunjungi beberapa pengunjung yang kesemuanya tampak santai sembari menikmati hidangannya masing-masing.

Aku menggeret travel bag menuju resepsionis demi mengkonfirmasi kamar yang telah kupesan melalui sebuah aplikasi e-commerce perjalanan ternama.

Hi Ms….I’m Donny from Indonesia…I’ve booked a bed in your hostel….Can I check in now?”, aku menanyakan sesuatu yang sebetulnya sudah sadar bahwa permintaan check-in itu tak akan dikabulkan oleh si empunya penginapan.

Sir, you are on our list but check-in will only open at 2 pm”, wanita muda itu ramah menjawab.

Meja resepsionis Le Light House & Hostel.

Sadar diri belum bisa memasuki kamar, maka aku mundur dari meja resepsionis dan memilih untuk duduk di salah satu pojok cafe. Aku hanya duduk tanpa membeli apapun, hanya perlu menunggu hingga waktu hingga check-in tiba.

Tapi aku kalah, satu jam lamanya menunggu, akhirnya kelaparan melanda. Aku bangkit dan melangkah ke meja kasir untuk melihat menu makanan yang tersedia. Namun sayang, aku hanya menemukan berbagai jenis kue dan hidangan ringan saja di setiap lembaran menu yang kubaca.

Aku yang sangat menginginkan makanan hangat berkuah memutuskan untuk mencari tempat makan di luar penginapan.

Can I put my backpack in your locker?”, aku memohon pertolongan kepada resepsionis wanita itu.

Surely, Sir”, dia tersenyum ramah…..”Put there!”, dia menunjuk ke pojok lobby.

Thank you, Ms… I’ll just have a quick lunch”, aku menjelaskan.

Sejenak aku berburu tempat makan pada aplikasi berbasis peta dan kemudian menemukannya dalam waktu singkat.

Membuka pintu depan cafe, aku turun ke Bumrung Buri Road menuju tempat makan yang tertera di peta digital.

Aku melangkah cepat berkejaran dengan lapar…..Alamak

Kisah Selanjutnya—->

Chiang Mai International Airport: Tertahan di Conveyor Belt

<—-Kisah Sebelumnya

Hampir pukul sebelas pagi….

Aku merangsek di sepanjang cabin aisle demi menuruni Scoot Air TR 676. Ucapan “Thank You” saut menyaut terdengar di pintu keluar kabin. Begitulah standar pelayanan pesawat yang dilakukan para air crew maskapai manapun.

Melaui aerobridge, aku melangkah pelan, demikianlah kebiasaanku setiap tiba di airport yang baru pertama kukunjungi. Aku berdiri di salah satu sisi aerobridge demi memperhatikan kesibukan yang terpampang di apron. Aktivitas membongkar bagasi, mengisi ulang bahan bakar dan pengecekan performa mesin pesawat dilakukan dengan gesit oleh para ground staff yang berdedikasi terhadap profesinya.

Lepas menikmati suasana itu, aku melanjutkan langkah dengan berbelok ke kanan di ujung aerobridge. Aku menelusuri koridor kedatangan demi menemukan immigration zone. Bandara yang tak terlalu besar dengan ruangan-ruangan yang tak begitu banyak, membuat langkahku cepat tiba di deretan konter imigrasi.

Antrian lumayan panjang terlihat pagi itu. Beruntung banyak konter yang dibuka sehingga antrian bisa tertangani dengan baik. Aku juga memperhatikan bahwa para petugas imigrasi begitu cepat meloloskan semua pelancong untuk memasuki wiayah yuridis Thailand.

Begitupun diriku yang diproses oleh seorang petugas imigrasi pria paruh baya dengan rambut penuh uban. Tanpa bertanya apapun, dia memintaku untuk mencetak sidik jari dan berfoto di depan sebuah kamera kecil, setelahnya dia dengan cepat membubuhi stempel kedatangan di passport.

Aku yang memegang nomor bagasi, segera mencari keberadaan conveyor belt demi mengambil kardus yang isinya akan digunakan untuk acara konferensi yang akan berlangsung tiga hari setelah kedatanganku di Chiang Mai. Acara konferensi itu sendiri akan dilaksanakan di Provinsi Phuket dan aku sengaja memanfaatkan waktu untuk berkunjung terlebih dahulu ke Chiang Mai sebelum mengikuti konferensi.

Aku yang lama menunggu di sebuah conveyor belt mulai kebingungan karena deretan bagasi belum juga memasuki ruangan baggage claim. Hingga sepuluh menit kemudian, seorang ground staff menghampiri dan mengatakan bahwa area pengambilan bagasi untuk penerbangan Scoot Air TR 676 berubah ke conveyor belt paling ujung.

Begitu dia menunjukkan conveyor belt yang dimaksud, aku segera menujunya. Untuk beberapa saat menunggu akhirnya aku mendapatkan bagasi yang kucari.

Aku melangkah pergi dengan menyaut sebuah gelas kertas dan mengisinya dengan air minum di free water station demi menghilangkan rasa haus yang telah kurasakan sejak beberapa menit sebelum mendarat.

Segar lepas meneguk sedikit air minum, aku pun segera menuju exit gate untuk menggapai Arrival Hall.

Arrival Hall sangat ramai ketika aku tiba. Penuh insting, aku tak terlalu larut dalam keramaian itu, melainkan segera mencari konter penjualan SIM card. Dengan mudah aku menemukan konter telekomunikasi dominan merah, bertajuk “true 5G” dengan taglineNo. 1 Network in Asia Pacific”. Konter itu dijaga dua staff wanita muda. Aku sejenak membaca brosur berisikan harga paket data ketika mereka sedang melayani turis lain yang sedang membeli SIM card.

Konter true 5G.
Yuk, keliling di Arrival Hall.
Lucu kan ada meja begituan di airport.
Check-in Zone di Lantai 1.
Boarding Pass Machine.

Walau ada konter lain, demi menghemat waktu, aku memutuskan untuk membeli SIM card di konter itu saja. Membayar dengan 690 Baht, kemudian aku mendapatkan paket data unlimited untuk jangka waktu tiga puluh hari.

Tenang usai mendapatkan SIM card, aku segera mengeksplorasi seisi bandara dengan mengabadikan beberapa situasi dengan kamera. Aku menelusuri Arrival Hall dari ujung ke ujung bangunan terminal bandara.

Membutuhkan waktu sekitar dua puluh menit untuk mengeksplorasi bangunan bandara lantai 1. Sesudah merasa cukup mendapatkan foto-foto terbaik, aku memutuskan untuk mencari konter yang melayani jasa taksi menuju pusat kota.

Ya….Aku memang membeli SIM card terbaik dan menggunakan taksi. Itu karena semua biaya akan diganti oleh kantor tempatku bekerja.

Nah, enak kan jalan-jalan dibayari…..

Kisah Selanjutnya—->

Scoot Air TR 676 dari Singapura (SIN) ke Chiang Mai (CNX)

<—-Kisah Sebelumnya

Jangan salah fokus, gaes….Bahaya.

Pukul delapan pagi….

Kesibukan super cepat berlangsung di dalam kabin Scoot Air TR 676 tujuan Chiang Mai. Bunyi gesekan travel bag dengan kompartemen bagasi saut menyaut di sepanjang kabin, dipadu dengan rentetan nada “klik” yang dikeluarkan oleh karena pemasangan keledar keselamatan di pinggang masing-masing penumpang, membuat aku menikmati suasana khas penerbangan.

Aku telah duduk di aisle seat bernomor 18D, tepat di kabin sisi tengah, sembari sabar menunggu semua penumpang untuk bersiap.

Hampir setengah jam lamanya kesibukan itu berlangsung, hingga akhirnya semua penumpang telah duduk tenang di kursinya masing-masing.

Para awak kabin serentak bergerak ke sepanjang kabin untuk memperagakan prosedur keselamatan penerbangan yang pada akhirnya menyirap segenap penumpang hingga tanpa sadar pesawat sudah berdiri di ujung runway.

Pilot sesekali terdengar bercakap dengan pihak ATC (Air Traffic Controller). Hingga beberapa saat kemudian, kedua mesin jet kembarnya berdesing, lalu menghentakkan kabin panjang TR 676 ke depan, meluncur cepat di atas landas pacu menuju ujung lain runway Changi International Airport.

Pada kecepatan 140 Knot, akhirnya moncong pesawat menaik dan airborne terjadi dengan sangat cepat. Pemandangan apik kota Singapura terbentang dari atas ketika pesawat melakukan banking (bergulir) kea rah kanan. Tentu Marina Bay Sands menjadi aktor utama dalam pertunjukan singkat di atas Kota Singapura.

Pesawat terbang menuju utara. Pagi itu pesawat akan menempuh jarak sejauh lebih dari 2.000 km dengan waktu tempuh 2 jam 40 menit. Scoot Air TR 676  sendiri terbang dalam ketinggian jelajah  tiga puluh delapan ribu kaki.

Kembali ke dalam kabin. Aku duduk antusias di samping seorang wanita muda asal Singapura. Hal itu kuketahui dari passport merah yang dia selipkan di bagasi kursi. Wajahnya begitu berseri, mungkin karena dia hendak berwisata ke Chiang Mai. Sedangkan di window seat, duduk seorang perempuan paruh baya, dari raut muka dan perawakannya, wanita itu berasal dari Negeri Gajah Putih. Dia memilih untuk tidur selama penerbangan.

Perjalanan pagi itu berlangsung sangat mulus dan minim sekali turbulensi. Aku selalu saja mendapatkan kesan baik ketika terbang bersama Scoot Air. Sedangkan penerbangan terakhirku bersama Scoot Air adalah ketika pulang dari Maldives pada 6 Januari 2019.

Aku yang tak bisa memejamkan mata karena rasa excited untuk pertama kalinya hendak menginjakkan kaki di Chiang Mai, hanya terus membaca lembar demi lembar inflight magazine selama penerbangan.

Sok mau jajan aja kamu, Donny….

Hingga akhirnya rasa penasaran itu terkikis, ketika pilot menyampaikan informasi bahwa pesawat akan segera mendarat di Chiang Mai International Airport.

Terasa jelas, Scoot Air TR 676 mulai menurunkan ketinggian, sesekali aku mengintip ke jendela dari aisle seat. Daratan Chiang Mai mulai tampak jelas dari ketinggian. Hanya perlu menunggu beberapa saat hingga akhirnya pesawat menyentuh landas pacu dengan mulus.

Apron di Chiang Mai International Airport.

Rasa penasaranku semakin tak terbendung selama pesawat melakukan taxiing. Aku sudah tak sabar lagi untuk mengeksplorasi Chiang Mai, kota keempat yang pernah aku kunjungi di Thailand setelah Bangkok, Pattaya dan Phuket.

Kisah Selanjutnya—->