Jhelum Express dari New Delhi ke Agra

Saatnya mengeksekusi tiket.

Nomor 11078 yang merupakan nomor keberangkatanku hanya muncul sekali saja di display board. Setelahnya lama tak muncul kembali, aku terduduk di platform dan terus mengamati display board itu….Hilang sudah!

Penantian tak ada akhir di platfom 4.

Aku: “Sir, can you give me some information?. My train number 11078 is never appear again in that display board. Even though my train will depart on 10:15 am.”.

Si Tampan: “If your train number disappears from the screen. That means your train is getting delay. “Haze storms” which routinely occur every year indeed often make many trains delay for hours.”

Aku kembali menuju konter dan menanyakan tentang masalah ini. Mereka hanya meminta maaf dan membenarkan bahwa kereta delay. Dia memperkirakan kereta akan berangkat jam 16:00….Busyeettt.

Untuk mengusir kejenuhan yang tak berujung, aku bertolak menuju Khan Market. Daripada bengong lebih baik aku mengoleksi satu destinasi wisata di New Delhi untuk kubagikan bersama kalian tentangnya….Nanti ya, pasti akan kutulis.

Salah satu sudut Khan Market, New Delhi.

—-****—-

Pukul 14:00….Memastikan kembali setiap ikatan dan kuncian di backpack, aku segera menuju New Delhi Railway Station untuk menaiki Jhelum Express yang akan segera datang menjemputku.

Penasaran yang luar biasa untuk segera berbaur dengan masyarakat India dalam satu gerbong kelas ekonomi, membuatku menjadi orang paling tidak sabar di dunia sore itu.

Potret kesenjangan di Ibukota India.

Lokomotif merah kusam itu berteriak melengking mendekatiku seraya meringis menggigit rel untuk berhenti tepat di platform 4

Belum juga lokomotif itu menghentikan setiap gerbongnya dengan sempurna, para penumpang berlari….berjejal memasuki gerbong. Aku hanya tersenyum dan terpana dengan keunikan warga India. Sementara mereka berdesakan masuk, aku masih sibuk memahami penomoran gerbong karena ada gerbong bernomor 10 dan 10A. Dasar iseng nih orang yang punya ide menomori demikian. Setelah bolak-balik ke depan dan ke belakang, akhirnya aku menemukan gerbongnya….Yups, gerbong S3 kursi no 41 Low Berth (bangku bawah).

Benar adanya, keruwetan yang kubayangkan sejak awal membeli tiket terjadi. Gerbong itu sangat berjubel dan membuatnya terasa sempit.

Bangku teralokasi tiga penumpang saling berhadapan ditambah satu bangku lipat panjang diatas kepalaku yang digunakan sebagai sleeper seat (Upper Berth)….Ah, aku semakin mencintai kondisi ini. Kejadian yang menakjubkan.

Hello Sir, Excuse me”, seorang laki-laki muda melewat didepanku sambil menggandeng istrinya lalu duduk berhadapan denganku. Senyum tanpa dosanya membuat bibirku pun melakukan hal yang sama. Bagaimana tidak, di depanku sekarang telah duduk 4 penumpang dengan kursi yang hanya bertuliskan tiga nomor saja….Hahaha.

Sembari kereta berjalan, aku mendengar sayup-sayup gertakan yang entah itu marah atau memang begitu adanya. Kondektur tambun berkumis melintir itu mengecek satu persatu tiket tamunya. Satu penumpang di seberang kursiku dimarahinya habis-habisan gegara tak mampu menunjukkan tiket, si penumpang lalu menunjukkan sebuah kartu terlaminating dari dalam dompetnya. Dan entah itu apa, mampu mengusir kondektur tambun itu dengan efektif dari hadapannya….Damn.

Bapak pekerja kantoran di kiri depanku mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Bak film-film India, adat itu masih dijunjungnya. Rantang panjang bertumpuk empat berbahan stainless beraroma kari diangkatnya tinggi-tinggi. Andai dia tahu muka hatiku, pasti dia tersenyum melihatnya terbahak….Omaigat, ini mah India yang orisinil. Seolah menjadi menjadi pemicu ledakan, penumpang lain dikiri kananku pun melakukan hal yang sama.

Kemurahan hati itu terpancar seiring dengan tutur mereka menawarkan diri untuk makan bersama sebagai satu keluarga di dalam kereta. Kuterima? Tidak….Aku juga mengeluarkan setangkup burger lokal seharga Rp. 10.000 yang terbeli di platform stasiun sore tadi. Mari kita makan bersama….

Si Bapak dipinggir jendela menjadi orang tersibuk sepanjang perjalanan karena harus terus menutup jendela kayu yang kait penguncinya sudah usang. Setiap sekian menit jandela itu akan tertarik ke atas dan memasukkan udara super dingin ke dalam gerbong.

Mungkin kondisi itulah yang dimanfaatkan oleh penjual chai untuk berfokus di gerbongku demi menghabiskan dagangannya. “Chai”, nama lain dari teh tarik yang melegenda di Dhaka, terfavorit di India dan menyebar ke Malaysia. Girang hatinya, tumpukan gelas kertas yang digenggamnya semakin memendek. Dia akan pulang dengan keuntungan berlipat kali ini.

Kelucuan penjual mainan anak-anak membuat seisi kereta tak henti-hentinya terbahak. Dia melempar spiderman karetnya kesana kemari sesuka hati. Hebatnya, si spiderman itu bisa menempel dengan sempurna….Hahaha. Hiburan untuk melupakan masalah kehidupan seharian yang sudah mereka hadapi.

Guys….Kapan terakhir kali kereta kita masih ada penjual segala macam di dalam gerbong?….Hahaha….Aku saja sudah lupa saking lamanya aturan itu diketatkan.

Kereta yang berhenti….Menurunkan….Menaikkan penumpang….Lalu melaju kembali dan terus mengulangnya di setiap stasiun baru membuatku sadar bahwa tak pernah ada pengumuman kereta berhenti di stasiun mana?.

Aku: “How long will the train run to its last destination?”

Dia: “Jhelum Express will stop in Pune on 6 am tomorrow morning

Aku: “Thanks Sir”, Aku tersenyum pahit penuh kekhawatiran.

Kini musuhku satu….Informasi, ketiadaan paket data di gawaiku semakin memperkuat musuh bebuyutanku malam itu. Aku harus banyak bertanya untuk mengalahkannya.

Aku: “Where will you stop, Sir?”

Dia: “At Mathura Junction Station

Aku: “Do you know Agra Cantt Station?

Dia: “Sure, 2 stops after my station

Aku: “Oh, nice”, Aku lega….Begitu dia turun, aku tinggal hitung 2x berhenti. Itu Agra Cantt

Dia: “Are you from China?

Aku: “No, I’m Indonesian”. Mana ada tampang China gelap kayak gue.

Dia: “What for do you go to Agra?”

Aku: “Taj Mahal, Sir

Dia: “Oh, very happy to hear Indonesian goes to Taj Mahal

Aku: “Taj Mahal….My dream to visiting it

Dia: “Nice”. Menyalamiku dengan kebahagiaan tak tersembunyikan.

Itulah percakapan 10 menit sebelum dia turun di Mathura Junction Station. Setelahnya aku akan menyusul turun di dua perhentian berikutnya yaitu Agra Cantt Station.

Salah satu sisi Agra Cantt Station.

Aku akhirnya tiba di kota Agra pada pukul 20:30.

Saatnya menuju hotel…..Makan malam tyuss bobok.

SCAM….Sesuatu yang Nyata di India

Staff Hotel: “Go to New Delhi Railway Station platform 1 floor 1!”, jawaban singkat tertutur dari bibir si cantiq yang masih terlihat sibuk menerima para penginap dari berbagai bangsa.

Aku: “Thank you, honey Ms”.

Oh ya, mencari dormitory terdekat dari stasiun MRT (Mass Rapid Transit) memang kebiasaan yang telah bersifat di diriku.

Aku mulai membuka pintu goStops Delhi Hostel dan melintas beberapa warga yang kurang beruntung. Terenyuh ketika sinar surya satu-satunya yang bisa membantu menghangatkan mereka yang masih pulas meringkuk diatas kasur busa bekas yang entah mereka dapat dari mana.

300 meter kemudian aku tiba Delhi Gate Metro Station. Melewati X-ray gate setiap memasuki stasiun MRT di New Delhi menjadikanku merasa aman selama melaju di jalurnya.

Yuk kita lihat dalaman ttasiun subway di New Delhi…Ini adalah Indira Gandhi Airport Metro Station saat pertama kali aku tiba di India

Menyusuri Delhi Metro Violet Line dan kemudian bertransfer ke Yellow Line di Kashmere Gate Metro Station, maka di stasiun ketiga aku tiba di New Delhi Metro Station.

Tiba di tujuan akhir, aku harus berpindah antar dua moda kereta yang tak terintegrasi. Meninggalkan New Delhi Metro Station yang begitu bersih terawat menuju New Delhi Railway Station yang lebih dari sekedar kotor. Jaraknya antar keduanya hanya sekitar 450 meter.

Berjalan 6 menit, aku tiba di depan New Delhi Railway Station

Dari tangga penghubung antar platform, kuperhatikan petugas Indian Railways itu menyemprotkan air di atas jalur kereta. Kupikir mereka begitu disiplin mengurangi laju debu di udara, ternyata beberapa waktu kemudian aku tahu bahwa mereka sedang membersihkan jalur kereta api dari kotoran manusia….#unique.

Upss….Kejadian itu tiba:

Scammer: “Where will you go, Sir?”

Aku: “Agra.

Scammer: “Let me help you to get the ticket.”

Aku: “Oh thanks. Based information from my hotel that ticket counter is on platform 1 floor 1.”

Scammer: “Oh, yes. But It’s Friday. So, the counter is closed. You can get the ticket at left side of this station.

Aku: “Oh, OK.

Entah “Bego” atau “Dungu”, aku mengikuti semua petunjuknya. Pemuda tampan itu tak menyertai langkahku, sehingga tak ada kecurigaan sedikitpun di otakku. Hebatnya, ada seorang di gerbang stasiun yang kesannya menunjukkan dimana lokasi konter penjualan tiket tersebut. Jelas sekali mengarahkanku ke sebuah kantor di ujung jalan sebelah kiri.

Oh, ini kantor agen travel, bukan kantor Indian Railways”, batinku. Aku batal menaiki anak tangga berikutnya dan berbalik meninggalkan kantor mereka. Walau salah satu dari mereka terus mengejarku, aku bersikukuh halus dengan menyampaikan akan menunda keberangkatan ke Agra hingga esok hari saja, sehingga mampu meredam emosinya yang terlihat mulai meninggi.

Huftt….Selamett. Scam kedua yang menimpaku setelah terakhir menghampiriku di Bangkok di akhir 2013.

—-****—-

Kelegaan yang terasa berlipat karena selain mampu menemukan kantor penjualan tiket milik International Tourist Bureau di platform 1 lantai 1, Aku juga mendapat bonus berlindung dalam kantor itu dari dinginnya terpaan udara New Delhi yang membuatku serasa beku.

Kantor yang sederhana itu dipercantik dengan layanan konsultasi petugas penjualan tiket kepada setiap turis dengan sangat baiknya. Jadi kamu harus bersabar menunggu nomor antrianmu dipanggil petugas karena satu pembeli bisa berkonsultasi 10-15 menit, beberapa bahkan lebih. Tak menjadi masalah bagiku, semakin lama semakin baik karena aku tak perlu kedinginan diluar sana.

Tiket Jhelum Express seharga Rp. 40.000 sudah di tangan.

Yuk ke Agra….Bersih-bersih Taj Mahal….Yuhuuu.

Lima Destinasi Wisata Agra dalam 10 Jam.

PARAHHHHH…..

Badai kabut di utara India telah merampas waktuku lebih dari 6 jam.  Tetapi kejengkelan telak terkalahkan dengan keripuhanku sendiri melawan super dinginnya udara Negeri Nehru itu.

Petaka kabut di India

Jhelum Express menepi di Agra pada 20:30. Pengen denger ceritaku menjajal kereta ekonomi mereka….nanti saja lah….MENGERIKAN !!!.

Tak ada yang bisa kuperbuat malam itu. Suhu yang hampir menyentuh nol derajat Celcius, bahkan udara dengan cepat mendinginkan sajian mie goreng pinggir jalan yang kubeli. Bumbu India yang terkenal menyengat itu bahkan tak mampu kurasakan karena beku mulai menghantam lidah.

Aku bak seorang pengecut yang bersembunyi di balik selimut GoStops Hostel sambil menunggu aliran listrik memenuhi segenap “teman elektronikku”.

Staff Hotel: “You must be grateful to be an Indonesian. You can easily go everywhere. Not like me, getting a passport is very difficult. Our government protect their citizen from getting difficult life at out of our country. I had waited for two years to get a passport, I hope I will get this year. I want go around the world like you

Aku: “Don’t worry, you will get it, my friend. You will go to my country also sometimes.  One thing that should made you proud with India. Your currency is more stronger than my currency…..Aaannnnddddd, Your country have great histories and cultures in the world.

Itu sedikit percakapan serius sebelum aku memasuki kamar, dan percakapan yang sedikit intelektual setelah sebelumnya aku hanya berbicara dengan penumpang kereta yang duduk di depanku dan sopir taxi yang mentransferku dari Stasiun Agra Cantt ke hotel.

—-****—-

OKAY….Kukuruyukkkkk….#perasaanganemuayam.

Automatically, Aku hanya memiliki 10 jam berharga untuk mengeksplorasi Agra dimulai dari jam 7 pagi. Kali ini aku tak akan membenarkan diriku untuk menggunakan transportasi umum….Terlalu mepet….Beruntungnya, aku melakukan sharing cost bersama teman-teman backpacker sekamar untuk jasa taxi yang bersedia di carter hingga sore hari. Karena sore hari, aku akan menuju New Delhi. Aku hanya perlu mengeluarkan Rp. 60.000 untuk biaya transportasiku seharian.

1. Taj Mahal

Tak berani menyentuh air untuk membasuh badan, aku tergopoh memasuki taxi yang sudah siap di depan hostel. Pagi itu….Kabut sangat tebal bahkan matahari pagi tak mampu menyibaknya.

Yes, akhirnya….Aku menuju destinasi idaman turis seluruh dunia….Taj Mahal

Taxi bergerak ke utara menyusuri Agra-Bah Road. Tak jauh, hanya 3.5 km yang tertempuh dalam 15 menit. Taxi berhenti di tepi jalanan, aku hanya ingat dengan papan nama “Malik Tour & Travel” sebagai penanda.

Jasa bajaj seharga Rp. 40.000 menjadi penghubung berikutnya menuju Taj Mahal West Gate Ticket Office. Kulepas Rp. 98.000 untuk mendapatkan tiket masuknya.

Setiap jengkal di Taj Mahal selalu menggoreskan kesan, satu-satunya benda yang sangat mengganggu para wisatawan adalah kabut yang membuat mereka seakan kesal tak bisa mengabadikan dirinya bersama bangunan sangat bersejarah itu.

Taj Mahal tertangkap dari Mehtab Bagh.

Wisata andalan Negara Bagian Uttar Pradesh itu memang sungguh mengesankan. Makam yang didedikasikan untuk Mumtaz Mahal (istri dari kaisar Shah Jahan) sanggup menarik 8 juta wisatawan dari seluruh dunia setiap tahunnya. Salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO yang harus kamu kunjungi jika memasuki tanah Mahabharata itu.       

2. Itimad ud Daulah Tomb

Dua jam meresapi dan menikmati keindahan Taj Mahal yang hampir keseluruhannya berbalut marmer putih mematri doktrin di otakku bahwa dunia itu sungguh indah.

Yuk, balik ke hostel untuk berbasuh dan menyantap sajian free-breakfast sederhana yang disajikan hostel. Aku sendiri langsung berkemas check-out dan menaruh backpack di bagasi taxi. Selepas menengok Agra Fort nanti, aku akan langsung bertolak ke New Delhi.

Berada 4.5 km di utara Taj Mahal, situs ini menawarkan ketenangan dan kenyamanan. Tak seperti Taj Mahal yang bising pengunjung. Mirip tapi tak sebesar Taj Mahal menjadikannya dikenal sebagai “Bayi Taj”.

Adalah bangunan yang mengilhami gaya arsitektur Taj Mahal.

Jika Taj Mahal didedikasikan untuk Mumtaz Mahal, maka pembangunan Itimad ud Daulah didedikasikan untuk kakek dari Mumtaz Mahal yang bernama Mirza Ghiyas Beg.

Aku ndak mau bercerita banyak….Datang sendiri aja ya….Yuhuuuuu !!!!

3. Yamuna River

Satu jam bergulir dengan cepatnya. Niatanku untuk segera bergegas menuju destinasi berikutnya kandas. Aku tertegun dengan penampakan sungai kering nan menghampar begitu luas, seakan memamerkan kegagahan kepada semua yang makhluk melihat, melintasi atau bahkan hidup daripadanya.

Terletak di sebelah barat Itimad ud Daulah……Beuh,

Man….Itu Sungai Yamuna….Seumur-umur, aku baru melihat sungai seluas itu.

Didaulat umat Hindu sebagai Dewi Yamuna.

Sungai yang bersumber dari gletser Yamunotri di  Negara Bagian Uttarakhand ini terlihat surut dan terpapar berbagai bentuk limbah seperti plastik dan limbah cair yang mudah diterka dari baunya.

4. Mehtab Bagh

Dua kilometer berikutnya di selatan…..

Menjilat, menyesap dan menelan pelan french fries jalanan berbumbu garam beraroma kari menjadi aktivitas tak pentingku berikutnya….Sisihkan beberapa Rp. 10.000-an untuk mencoba beberapa kuliner ringan jalanan di India !. Kujamin kamu akan terkesan.

Gaes, aku sudah di sisi sebuah taman nan lebar dan romantis….Mehtab Bagh namanya.

Mehtab Bagh” sendiri memiliki makna yang tak jauh dari sepasang kata dalam Bahasa Inggris “Moonlight Garden”….tuh, gimana ga romantis coba?.

Konon…. Shah Jahan akan membangun Black Taj Mahal di taman ini. Tapi tak pernah kesampaian.

Sering menjadi persinggahan sang Raja untuk menikmati keindahan Taj Mahal yang berada di seberangnya dan hanya terpisahkan oleh Sungai Yamuna.

Harga tiket masuk sebesar Rp. 40.000 tidaklah seberapa dibandingkan dengan keindahan taman yang bisa kamu nikmati dengan aman. Aman?….Ya taman ini dijaga dua tentara bersenjata lengkap yang selalu berkeliling taman.

5. Agra Fort

Masala Tea = 90 Rupee ….ini mah Rp. 17.000

Egg Fried Rice = 150 Rupee….yah sekitar Rp. 29.000.

Itulah menu makan siangku di “The Master Chef” Restaurant di bilangan Fatehabad Road sebelum menuju destinasi terakhirku di Agra….#sedih.

Terletak 2.5 km di barat laut Taj Mahal, Agra Fort juga menjadi Situs Warisan Dunia yang sangat menonjol dengan warna merahnya.

Kota berdinding ala Agra Fort….Menakjubkan.

Kamu harus membayar Rp. 98.000 untuk membayangkan secara langsung para kaisar Mughal tinggal di Agra Fort ini.

Berkeliling sepuasnya di dalam Agra Fort sebelum berpisah dengan kota Agra. Aku menelusuri satu demi satu bagian didalam banteng kota ini.

Memasuki Diwan-i-Am bak rakyat Mughal yang sedang berkeluh kesah, atau memasuki Diwan-i-Khas bak tamu penting kerajaan yang sedang dijamu sang raja.

Merasakan kemewahan Jahangiri Mahal yang merupakan istana khusus untuk istri raja, lalu terduduk merelaksasi diri di Anguri Bagh yang pada masanya digunakan oleh para wanita anggota kerajaan sebagai taman kerajaan.

Dan sebagai seorang muslim, aku juga merasa wajib menapaki Moti Masjid didalam Agra Fort sebagai tempat peribadatan segenap anggota kerajaan.

—-****—-

Waktu singkat yang mengenalkanku pada kota kuno di utara India. Kota yang arsitekturnya mempengaruhi banyak kreasi bangunan di seluruh dunia.

Pastikan kamu mengunjunginya lebih lama dariku karena nilai sejarah kota ini begitu tinggi dan tak bisa dinikmati dalam sekejap saja.

Jet Airways 9W 256 dari Mumbai ke Colombo (BOM-CMB)

Penerbangan ke-3 sekaligus penerbangan terakhir bersama Jet Airways ini sengaja kudahulukan untuk ditulis. Mengenang setiap penerbangan Jet Airways yang sangat berjasa dalam menuntaskan penjelajahanku di kawasan Asia Selatan.

Penerbangan dini hari (jam 02:05) yang bertolak dari Chhatrapati Shivaji International Airport di Mumbai membuatku kekurangan waktu tidur dari mulai check-in hingga landing (jam 04:35).

Memasuki airport, Aku segera mencari pray room untuk bersembahyang. Memasuki mushala, Aku disapa oleh seorang Bapak yang mengenakan kain ihram bersama sekelompok rombongan yang sedang shalat bersama. Senyum keramahannya menyambutku seusai berwudhu.

Dia: “Assalamu’alaikum, hi brother, where are you come from?”

Saya: “Hi Sir….from Indonesia”. Sembari kulempar senyum.

Dia: “I’m from Bangadesh, I think you are from Malaysia”. Dia kembali tersenyum

Saya: “Yeaa….Malaysian and Indonesia are looking same”. Kujabat tangannya

Dia: “Where will you go?

Saya: “I will go to Colombo…Oh ya three days ago, I visit your country

Dia: Tiba-tiba memelukku….”Really, How about my country? nice?

Saya: “Yeaa, exotic country….very original….I will come again next time”.

Dia: Kembali senyum dan menepuk-nepuk pundakku.

Aku juga menemukan beberapa orang India bersembahyang di beberapa selasar airport.

Makan malam waktu itu bermenu “beberapa gorengan jalanan asli India yang kudapat dari recehan rupee terakhir pasca menjelajah Mumbai”

Trik yang selalu kulakukan saat traveling adalah menukar kembali kelebihan uang lokal dengan USD sebelum meninggalkan negara yang kukunjungi lalu membelanjakan uang receh yang tak bisa ditukar dengan seporsi menu untuk waktu makan selanjutnya. Bahkan terkadang makanan itu akan kumakan di negara selanjutnya….Gokil bued….Ngirit minta ampun.

2 jam waktu tunggu tersisa kumanfaatkan untuk mengisi daya semua alat elektronikku yang lowbatt setelah kugunakan dalam menjelajah Mumbai.

Panggilan informasi bandara yang tidak sama sekali berlogat Indian English membuat Aku merasa berada di bandara-bandara Eropa (Ngaco….padahal belum pernah menginjakkan kaki di Eropa). Iya keren lho….panggilan informasi di airport ini beraksen native english.

Seneng banget melihat pesawatku merapat ke gate 85D, pertanda Aku akan segera menginjakkan kaki di Colombo.

Pesawatku baru sampai dan sedang proses unloading

1 jam kemudian boarding process pun dimulai…..

melalui aviobridge akhirnya Aku menangkap penerbangan ketigaku bersama Jet Airways.

Online check-in yang kulakukan 24 jam sebelum penerbangan membuatku leluasa memilih window seat. Posisi ini yang memang selalu kuincar setiap terbang untuk bisa mendokumentasikan setiap momen selama pernerbangan berlangsung.

boarding process sebelum Aku benar-benar terlelap tidur.

Mencoba menahan mata dengan mambaca “Jet Wings” berharap para awak kabin segera membagikan in-fligt meal.

inilah infligt magazine nya Jet Airways.

Bahkan hingga Aku terlelap menu itu tak pernah datang. Ternyata memang tak ada makanan dalam penerbangan kali ini. Atau entah Aku melewatkannya. Karena Aku benar-benar terlelap sangat nyenyak. Akibat kurang tidur selama eksplorasi Mumbai.

Dibangunkan oleh pramugari untuk segera menegakkan tempat duduk, menandakan Aku akan segera mendarat di Colombo.

Dengan cekatan Aku segera men-setting Canon EOS M10 ku dan menyalakannya. Aku akan menangkap beberapa view kota disaat pesawat bersiap touch down di Bandaranaike International Airport.

Aku tertegun dengan deretan cahaya lampu yang terpola lurus dan rapi. Tak salah lagi itu pasti pantai yang akan menjadi destinasiku di Colombo.

View sepanjang pantai Galle Face yang sangat terkenal itu.

10 menit kemudian Jet Airways benar-benar mendarat di Colombo. Aduh…ga sabar untuk segera turun.

Bandaranaike International Airport terlihat dari jendela pesawat.

Kedatanganku pada pukul 04:35 dini hari, membuatku harus menunggu hingga pagi untuk menangkap airport bus pertama yang akan menuju pusat kota Colombo.

Jet Airways sedang unloading process di Bandaranaike International Airport

Subha udesenak!Pearl of the Indian Ocean“….sambutlah diriku dengan ramah ya….hehehe.

Jet Airways 9W275 from Dhaka to Mumbai (DAC-BOM)

Jet Airways is the 19th airline that I have used during my backpacker journey. This yellow-blue airline is India’s second largest airline and part of its holdings are held by Etihad Airways from United Arab Emirates (UAE). And this Jet Airways’ flight was my second flight with it. My first flight with Jet Airways occurred when I was flying from Kathmandu to New Delhi on January 4, 2018.

This Jet Airways 9W275 was a regular flight on Wednesday, January 2, 2019. I issued my ticket 7 months before flight, precisely on May 26, 2018.

MUMBAI has attractiveness that anesthetized me to be willing to stop by before heading to Colombo, Sri Lanka. I have never believed in the “negative” news about India ….For me, this Mahabharata land has exotic views which I can’t forgotten. Exoticism that can be carved in my heart and contaminates my brain when I leave this country.

Back to Jet Airways flight….

After I finished my process in Shahjalal International Airport immigration counter, I just needed to pass a small hall where passengers waited before entering the gate.

towards gate 11

Before entering airport waiting room, I passed X-ray checking in front of gate :

long queue

This is the uniqueness about Jet Airways, after passing x-ray checking, every passenger’s cabin baggage have to be opened and checked again. It felt very strict. Reminded me when my cabin baggage checked in front of Jet Airways door. It happened when I left Kathmandu for New Delhi in January 2018… very funny.

That is inspection table of cabin baggage

after passing the cabin baggage inspection, all passengers could sat in waiting room of gate 11:

I think India and Bangladesh passanger have uniqueness

After 20 minutes of waiting, I finally started boarding.

Peek a front of plane…become my ritual before flying.

Boarding through aviobridge and looking for my seat number 37F … It was window seat.

This is interior appearance of Boeing 737-900 ER from Jet Airways

Wanted to see my face that hasn’t been bathed since 24 hours before flying.

This flight duration was 3 hours 25 minutes. During the flight, I was treated to a Non Vegetarian Meal. I was offered vegetarian or non vegetarian meal by a flight attendant on the plane because I forgot to choose food when I issued the ticket. After I opened, the contents was rice with Indian curry chicken.

The beautiful and handsome Indian flight attendants became a view that spiced up my flight.

are they beautiful?

At the beginning of my flight when leaving Dhaka, the outside view from plane’s window seemed ordinary. I chose to read JetWings, which is Jet Airways’ inflight magazine.

But starting into the 2.5 flight hours, I was presented with beautiful scenery that captivated my eyes

rocky mountains.…very close….scary but beautiful.

I don’t know, what river is that?….it is very long and beautiful

An hour later, the plane was above Mumbai city.

Mumbai city from above

Resident houses are very crowded

Finally after 3.5 hours, I landed at Chhatrapati Shivaji International Airport, Mumbai. Oh yess.…This airport is the main hub of Jet Airways, guys.…

Finally I set foot in India .…Do you want to see Mumbai, guys?….

Jet Airways 9W275 dari Dhaka ke Mumbai (DAC-BOM)

Jet Airways adalah airlines ke-19 yang pernah kunaiki selama menjadi backpacker. Maskapai biru kuning ini adalah maskapai terbesar kedua India dan sebagian kepemilikannya dipegang oleh Etihad Airways dari Uni Emirates Arab (UEA). Dan penerbangan Jet Airways ini adalah kali kedua Aku menggunakannya. Penerbangan perdanaku bersama Jet Airways adalah saat terbang dari Kathmandu, Nepal ke New Delhi, India pada 4 Januari 2018.

Jet Airways 9W275 ini adalah penerbangan terjadwal Rabu, 2 Januari 2019. Ticket Kuissued 7 bulan sebelumnya, tepatnya pada 26 Mei 2018. 

MUMBAI….adalah daya tarik yang membiusku untuk rela menyinggahinya sebelum menuju Colombo, Sri Lanka. Aku selama ini tak pernah percaya akan berita “miring” tentang India….Buatku, tanah Mahabharata ini memiliki sisi eksotisme tersendiri yang selalu tak terlupa. Eksotisme yang bisa diukir di hati dan mencemar otak ketika meninggalkan negeri ini.

Kembali ke penerbangan Jet Airways,

Setelah melewati konter imigrasi Shahjalal International Airport, Dhaka-Bangladesh, Aku hanya perlu melewati sebuah hall kecil tempat para penumpang menunggu sebelum masuk ke Gate.

menuju gate 11

Sebelum masuk ruang tunggu, Aku dihadang oleh X-ray checking di depan gate:

mengular

Nah ini uniknya Jet Airways, setelah melewati x-ray checking, cabin baggage penumpang masih harus dibuka dan diperiksa kembali. Terasa sangat ketat. Mengingatkanku akan pemeriksaan cabin baggage di depan pintu pesawat Jet Airways saat meninggalkan Kathmandu menuju New Delhi pada Januari 2018 silam…..lucu ajah….hihihi

ituh tuh….meja pemeriksaan cabin baggage

setelah lolos pemeriksaan cabin baggage maka penumpang baru bisa duduk manis di ruang tunggu gate 11:


Unik banget kelakuan para penumpang India dan Bangladesh…

Setelah 20 menit menunggu, akhirnya Aku mulai boarding.

Ngintip bagian depan pesawat….menjadi ritualku sebelum terbang.

Boarding melalui aviobridge dan mencari tempat dudukku di bangku nomor 37F….mayan deket jendela.

inilah penampakan interior Jet Airways Boeing 737-900 ER

Mau lihat penampakanku yang tak mandi sejak 24 jam sebelum terbang. Nih…hahahaha bau:

Penerbangan ini berlangsung selama 3 jam 25 menit. Selama penerbangan, Aku disuguhi Non Vegetarian Meal. Aku ditawari pramugara veg or non veg di pesawat karena lupa memilih makanan saat issued tiket.  Setelah kubuka isinya nasi beserta ayam kari khas India….maknyus.

Paras pramugari pramugara muda nan elok khas India menjadi pemandangan yang membumbui penerbanganku kali ini.

cantik ga?

Di awal penerbangan meninggalkan Dhaka, pemandangan diluar jendela pesawat terkesan biasa.  Aku hanya khusyu’ membaca JetWings yang merupakan inflight magazinenya Jet Airways.

Tetapi memulai masuk ke 2,5 jam penerbangan, Aku disuguhkan pemandangan indah nan memikat mata

pegunungan berbatu …dekeeet bingit….seram tapi indah.

         entah itu sungai apa….mengular dan mengkilat indah

Satu jam kemudian pesawat sudah berada di atas kota Mumbai.

Kota Mumbai dari atas

rumah penduduk yang berjubel

Ahirnya setelah 3,5 jam Aku mendarat di Chhatrapati Shivaji International Airport, Mumbai. Oh iya…Bandara ini adalah main hubnya Jet Airways gaes….

Akhirnya Aku menginjakkan kaki di India…..Mau lihat Mumbai ga gaes?….