Handerson Wave Bridge, Singapura

2015, Aku gagal mengunjungi “penghubung fenomenal” ini. Waktu transit yang terlalu singkat ketika menuju Kamboja membuatku harus menunggu waktu lebih lama lagi untuk menyambanginya.

2017, kebetulan Aku menyambangi Johor Bahru, Malaysia. Itulah saat yang tepat untuk mengunjungi Si Fenomenal ini karena jaraknya hanya “selemperan batu” dari Johor Bahru. Dan benar, niat itu terwujud apa adanya.

Setelah setengah hari berjalan kaki membedah Sentosa Island dan mendapat free bonus Sentosa Express Monorail, dengan rasa penasaran Aku segera menuju shuttle bus di depan Vivo City Mall.

Naik bus di Singapura itu hanya perlu tenang dan tidak perlu tanya ribut sana-sini karena papan rute dan tarif di setiap shelter bus Singapura bisa dipelajari dengan cepat. Kita hanya perlu mencari tujuan, jika sudah ketemu lalu lihat nomor busnya, perhatikan berapa kode jarak tujuan kita dan kemudian cocokkan kode jarak dengan tarif bus di papan informasi tarif. Hitunglah berapa shelter yang akan terlewati!.

Setelah bus datang naiklah dari pintu depan, bayar tunai atau tempelkan pass card, jangan meleng untuk menghitung shelter bus yang dilewati karena  jika bus tidak menurunkan atau mengambil penumpang beberapa shelter akan dilewati, pencet tombol di tiang untuk turun di shelter depan, kemudian turunlah dari pintu belakang dan tempelkan kembali pass card sebelum turun.

Bus No 145 tiba setelah 10 menit menunggu, bebekal two day pass seharga SGD 16 Aku naik.

IMG_20170708_140714

Tapi ini bukan bus yang kunaiki ya….

Padahal Aku sudah jelaskan cara naik bus dengan detail, tapi Aku gagal kala itu…hahaha. Aku turun lebih cepat satu shelter yang akhirnya harus berjalan kaki menuju shelter berikutnya sejauh 400m.

Beberapa meter sebelum sampai shelter, Handerson Wave Bridge setinggi 36 meter terpampang gagah melintang sepanjang 274 meter diatasku. WOOWW, AKu berhenti sejenak untuk menikmati keindahan arsitektur Inggris ini.

IMG_20170708_143820

tinggi kan….

Yang kutahu, Handerson Wave Bridge adalah pedestrian tertinggi di Singapura yang dibangun untuk menghubungkan Mount Faber Hill dan Telok Blangah Hill.

Memiliki 7 lengkungan naik turun disalah satu sisi deck membuat jembatan ini terlihat artisitik. Setiap lengkungan keatas akan membentuk kanopi yang ruang dibawahnya bisa dibuat untuk sekedar duduk, berpose atau kegiatan membaca buku seperti yang dilakukan kebanyakan anak muda disana.

IMG_20170708_144604

tuh aktivitas diatas jembatan

Hanya saja ada beberapa peringatan di jembatan ini. Diantaranya jangan melintas diatas jembatan ketika hujan atau kita akan tersambar petir, jika naik sepeda harap turun dan dorong dan tidak boleh bermain skateboard.

handerson wvae sign

awas petiiiirrrr !!!

Ketika berada diatas bagi yang takut ketingggian akan diuji nyalinya karena badan jembatan akan sedikit bergoyang-goyang diterpa angin.

Sebetulnya jembatan ini akan cantik terlihat di malam hari mulai jam 19:00 karena cahaya lampu warna-warni akan menghiasinya.

So jangan lupa mampir kesini ya gaes kalau ke Singapura.

Tuas Checkpoint Vs Woodlands Checkpoint, Singapura

Tak dipungkiri hatiku mulai berdebar ketika “Wanita Melayu” itu menutup pasporku. “Follow our staff to Office”, yup random checking. Kebiasaanku ketika memasuki imigrasi Singapura adalah selalu memilih jalur antrian yang dihandle oleh petugas keturunan Melayu. Aku merasa nyaman saja. Tetapi kali ini faktanya berbeda….hehehe

Memasuki jalur khusus, Aku diarahkan ke lantai 2 Imigrasi Woodlands. Aku harus berdiri di luar ruangan karena penuhnya pemeriksaan hingga lelaki keturunan India itu memberikan isyarat untuk masuk kedalam tapi tetap berdiri.

Waktu itu Aku sengaja memasuki Johor Bahru melalui Imigrasi Tuas dan meninggalkannya melalui Imigrasi Woodlands. Dengan begitu Aku bisa merasakan perbedaan kedua pos imigrasi itu.

Peta Tuas dan Woodlands

Sebetulnya Aku tidak setakut yang dibayangkan karena Aku pernah mengalami hal yang lebih parah di Imigrasi Busan (Lihat tulisanku: Ketatnya Imigrasi Busan). Opsir perempuan hanya menanyaiku : tiket pesawat pulang, menginap dimana, kerja dimana, jalan sama siapa, dan kerja dimana (untuk hal ini aku sengaja siapkan business card dan KTP). Setelah itu Aku diminta menunggu dan dipanggil kembali oleh opsir lain yang lebih muda, Dia hanya menanyakan bawa uang berapa. Karena uang yang kubawa difikirnya cukup barulah aku dipanggil ke opsir lain untuk pengambilan sidik jari dan stempel paspor.

Paspor kemudian diletakkan di rak paspor kecil, ternyata 5 menit kemudian ada polisi muda datang dan hanya mengambil 10 paspor saja dari rak itu lalu menyebut nama-nama pemilik paspor, Aku salah satunya. Dibawalah Aku bersama 9 turis lain menuju lift. Ternyata lift memang hanya cukup untuk 10 orang, aku baru ngeh kenapa polisi muda itu Cuma panggil 10 nama.

Selepas turun dari lift Aku segera menunggu bus Causeway link 2 (CW2) untuk memasuki Singapura. Bus CW2 yang membawaku masuk Woodlands Immigration dari Johor Baru tentu sudah ngacir duluan karena ga mungkin menunggu Aku diperiksa. Tapi Aku tak perlu khawatir karena bebas naik CW2 manapun untuk menuju tujuan akhir di Queen Street, Bugis.

IMG_20170708_081815
“Si Zanky” sumringah memasuki Singapura

Melihat kedua perbatasan, terlihat bahwa perbatasan Tuas sedikit lebih longgar dan tidak crowded. Ketika Aku melintas keluar menuju Johor Bahru sehari sebelumnya terlihat jelas banyak orang memasuki Singapore dengan cepat tanpa antrian. Pun menurut driver bus JPO2 (jurusan Mall of Medini-Johor Premium Outlet), kalau mau mudah dan cepat memasuki Singapore disarankan melalui Tuas Checkpoint.

suasana tuas checkpoint

Suasana Tuas Checkpoint

Buat Kamu yang berniat mencoba kedua checkpoint itu maka bersiaplah memperkaya pengalaman traveling Kamu dan nikmati saja setiap proses yang akan terjadi. Apabila mendapat random checking maka hadapi dengan tenang dan tentu Kamu akan semakin mahir menghadapi setiap masalah ketika berada di negeri orang.