Gagal dan Berhasil: Kisah Berburu eVisa India

<—-Kisah Sebelumnya

Yang pernah aku rasakan, mengajukan permohonan eVisa itu lebih mudah dan peluang diterimanya lebih besar dibandingkan dengan pengajuan Visa Reguler. Cukup melampirkan dokumen-dokumen yang disyaratkan dan membayar di payment gate maka eVisa akan terbit menyesuaikan rencana waktu kedatangan di negara tersebut.

Setidaknya aku pernah membuat eVisa Taiwan, Sri Lanka, Uni Emirates Arab, Bahrain dan Oman. Kesemuanya berjalan dengan sangat lancar dan eVisa mudah sekali kudapatkan.

Nah, kali ini aku akan sedikit barbagi cerita ketika aku tiga kali membuat eVisa India.

eVisa India adalah eVisa kedua yang pernah kukejar setelah eVisa pertama yang pernah kuurus, yaitu eVisa Taiwan.

Kala itu….Akhir 2017….

Tantangan mental yang begitu berat seusai mendapatkan tiket penerbangan Jet Airways menuju ibukota India, membuat usahaku berburu eVisa India tak begitu bergairah. Mendapatkan eVisa India memang sangat mudah. Aku hanya perlu melengkapi data pada e-form dan melampirkan dokumen berupa foto diri dan scan lembar biodata passport  yang diminta oleh laman resmi eVisa India. Kemudian hanya perlu menunggu beberapa waktu maka eVisa akan terbit. Tetapi ketidakbergairahan mengurus eVisa itu terletak pada perasaan was-was untuk berkunjung ke Negeri Gandhi itu.

Masa berlaku eVisa untuk memasuki India yan pendek yaitu berkisar dalam empat bulan, membuatku harus mengajukan eVisa ini dekat dengan tanggal keberangkatan.

Aku sendiri mengajukan permohonan eVisa ini pada dua puluh hari sebelum keberangkatan dan eVisa disetujui sehari setelah pengajuan setelah membayar 50 dollar Amerika di payment gate.

Alamat pengajuannya adalah sebagai berikut: https://indianvisaonline.gov.in/visa/

Ini menjadi kisah pertamaku berburu eVisa India.

Email yang kudapat setelah submit data.
Keesokan harinya pengajuan eVisa sudah berstatus GRANTED.
Lihatlah!….Titik masuk mana saja di India yang bisa menggunakan eVisa ini.
Melacak status eVisa pada laman pengajuan.
Fotoku ganteng ga sih?….Wadidaw.

Pengalaman Kedua

Sedangkan pengalaman berikutnya dalam pengajuan eVisa India terjadi pada 8 November 2018.

Saat itu eVisa India telah digratiskan oleh pemerintah India pada 18 Juni 2018. Ide itu sendiri disampaikan oleh Nerendra Modi saat pertemuan Diaspora India di Jakarta.

Kemanakah tujuanku kala itu?….

Mumbai….Yups, aku berencana keluar dari Chhatrapati Shivaji International Airport menuju ke tengah kota saat transit 13 jam lebih. Kala itu Jet Airways akan membawaku dari Dhaka menuju Colombo dan transit di Mumbai.

Mungkin karena perubahan kebijakan dari eVisa berbayar menuju eVisa gratis maka ada pergantian alamat pada laman eVisa India. Pengajuan eVisa sendiri, aku submit tepat dua bulan sebelum keberangkatan.

Karena URL Web yang aku masukkan salah maka keputusan diterima atau tidaknya pengajuan eVisa tidak pernah sampai di emailku.

URL yang aku tuju kala itu adalah https://indianvisaonline.gov.in/visa/

Apakah aku kemudian berencana mengajukan ulang?

Tidak….Karena secara bersamaan terjadi perubahan penerbangan Jet Airways dari Dhaka menuju Mumbai. Perubahan jadwal penerbangan itu ternyata tak memungkinkanku untuk keluar dari bandara, apalagi menuju ke tengah kota. Karena perubahan jadwal penerbangan itu selain memperpendek masa transit jugan membuat 80% waktu transitku jatuh saat malam hari. Oleh karenanya, tak mungkin bagiku untuk mengeksplorasi Mumbai di malam hari….Terlalu riskan.

Akhirnya kuputuskan, aku tak akan meneruskan lagi kelanjutan pengajuan eVisa ini karena pada dasarnya aku tak memerlukannya lagi.

Tetapi rasa penasaranku yang berkepanjangan, akhirnya aku mencoba mencari alamat laman pengajuan eVisa India yang benar. Dan aku pun menemukannya, berikut URL yang dimaksud: https://indianvisaonline.gov.in/eVisa/

Walaupun laman ini salah, tetapi tampilan e-form ternyata sama persis dengan e-form pada laman yang benar.
Laman pengecekan status pengajuan eVisa pun juga sama.

Pengalaman Ketiga

Pengajuan ketiga eVisa India adalah ketika aku berniat melakukan eksplorasi Kawasan Timur Tengah dan memutuskan mengambil pintu masuk di Dubai dari Kochi.

Pemutusan titik melompat menuju Kawasan Timur Tengah dari Kochi ini tentu berhubungan erat dengan kondisi budget yang kumiliki. Kondisi itu diperkuat dengan tersedianya penerbangan murah Srilankan Airlines dari Kochi menuju Dubai dengan transit sementara waktu di Colombo. Tentu, aku memilih melompat dari Kochi juga didasari oleh keinginan diri yang kuat untuk kembali bernostalgia dengan budaya India yang kaya.

Kesempatan berikutnya terjadi pada akhir 2019 lalu. Aku megajukan eVisa India untuk mengeksplorasi Kochi.

Aplikasi ini kuproses dengan dua kali mengunjungi laman eVisa India.

Pada 4 Desember aku melakukan pengisian e-form  secara partial karena kesibukan pekerjaan. Pengisian e-form sebagian pada siang hari harus kulengkapai pada kesorean harinya hingga akhirnya pada jam empat sore aku berhasil menyubmit pengajuan eVisa tersebut.

Inilah keuntungan pengajuan eVisa India dimana kita bisa mengisi e-form dalam beberapa waktu (tidak sekali isi). Biasanya pada kesempatan mengisi e-form pertama kita akan diberikan No Application ID yang merupakan akses masuk ke data pengajuan kita jika kita ingin melakukan editing atau melengkapi data.

Pada kesempatan ketiga membuat eVisa India ini, aku menyubmit permohonan eVisa pada 4 Desember 2019 dan eVisa mendapatkan status GRANTED pada 8 Desember 2019.

Kiriman email bahwa pengisian pengisian partial pengajuan eVisaku tersimpan.
Pemberitahuan bahwa e-form pengajuan eVisaku berhasil dan menunggu di proses.
Wah senangnya….GRANTED.

Nah, gampang kan bikin eVisa India….

Yukz, jika pandemi usai, kita jalan-jalan ke India.

Kesempatan Kedua ke India: Air Asia AK 39 dari Kuala Lumpur (KUL) ke Kochi (COK)

<—-Kisah Sebelumnya

Jalur penerbangan Air Asia AK 39 (sumber: flightaware).

Berangkat ke India selalu saja menyematkan debar di sebuah sisi hati. Provokasi informasi tak bertanggungjawab terkadang sukses membuat gentar nyali. Hembusan kabar mulai dari faktor keamanan, kehigienisan kuliner, variasi scam, serta printilan mencekam lainnya mulai menggelayuti pikiran sore itu.

Oleh karenanya sebelum bertolak ke India, selama lima hari aku memanaskan nyali di Kuala Terengganu dan Kuala Lumpur, berharap keluar dari Negeri Jiran bisa menyandang nyali yang gagah berani. Tetapi sore itu seolah-olah aku tetap saja mulai membangun keberanian dari awal lagi.

Dalam kelanjutan petualangan ini, India akan menjadi pintu pendahuluan menuju destinasi utama, yaitu Timur Tengah. Kenapa demikian?….Alasannya hanya satu bahwa India selalu saja mengiming-imingi tiket murah menuju kota wisata utama di Jazirah Arab, yaitu Dubai. Selain tiket, India juga menyediakan variasi titik tolak untuk melompat ke kota itu.

Sedangkan bagi sejarah petualanganku, setelah New Delhi dan Agra dua tahun sebelumnya, kali ini aku memilih titik tolak lain, yaitu Kochi, sebuah destinasi wisata eksotis di barat daya India.

—-****—-

Aku menikmati sekali tekstur lembut nasi putih di Quizinn by RASA setelah 24 jam lamanya tak mencicip makanan idola itu. Nasi putih kali ini sekaligus merepresentasikan Ringgit terakhir yang kumiliki, mulai esok hari aku sudah menggunakan Rupee.

Lima menit sebelum check-in desk Air Asia Ak 39 dibuka, aku usai menyuap nasi putih dengan potongan telur kandar terakhir.

Seperti yang kuungkapkan di atas, alih-alih bersemangat, justru dadaku berdegup kencang…”Oh India, berdamailah dengan petualanganku kali ini”, aku menenangkan hati.

Bangkit dari tempat duduk di sebuah pojok food court di lantai 2M, aku memanggul backpack biru kesayangan. Melangkah ke atas menuju Departure Hall di lantai 3.

Ternyata antrian sudah panjang….”, kepercayaan diriku untuk tiba sebagai pengantri perdana runtuh.

Liuk antrian yang didominasi warga India menahanku di antrian buncit. Toh aku tetap tenang, waktu masih panjang menuju penerbangan, masih empat jam lagi. Aku mulai mengeluarkan zipper bag untuk menyiapkan dokumen, yaitu passport­, booking confirmation hotel di India, tiket menuju dan keluar India serta lembaran free e-Visa India.

Adè Visa kah?, petugas konter check-in bertanya tegas padaku.

Ini Cik”, aku menyerahkan segenap dokumen yang telah kusiapkan.

Indonesiè ke Indiè betulkèh cukup e-Visa, Pak Cik?. Petugas wanita itu  bertanya kepada kolega seniornya.

Petugas senior itu mengonfirmasi dan petugas perempuan itu akhirnya mencetak boarding pass untukku.

Tahap pertama usai, aku bergegas menuju Gerbang Pelepasan Antar Bangsa yang dijaga ketat sejumlah Aviation Security. Di antrian depan, tampak tak sedikit calon penumpang yang tertahan masuk karena terlalu berlebih membawa cabin baggage. Selain Aviation Security tampak beberapa  ground staff maskapai Air Asia mengawasi ketat para penumpang yang curang dengan membawa cabin baggage berlebih.

Untukku?…..Itu mudah saja, aku melewati gate tanpa pemeriksaan. Dengan pemeriksaan pun aku akan tetap lolos, karena keseluruhan beban backpack sudah kutimbang sebelum menuju check-in desk….Enteng, hanya 6,5 kilogram.

Kemana arah menuju gate L14?”, aku bertanya pada diriku sendiri.

Aku terus menelusuri koridor-koridor panjang hingga kemudian menuruni sebuah escalator yang di ujung bawahnya sudah menghadang beberapa kolom screening gate.

Seperti biasa, aku selalu melepas sepatu ketika melewati screening gate, itu semua karena aku akan merasa malas jika harus kembali mengulang screening process ketika sepatuku membunyikan pintu screening.

Aku lolos dengan mudah….

Kini aku hanya perlu meneruskan langkah melalui koridor tersisa demi mencapai gate L14.

Yuks berburu boarding pass.
Alhamdulillah….
Salah satu koridor di International Departure Hall KLIA2.
Itu dia petunjuk menuju gate pelepasan Air Asia AK 39.

Sedikit lewat dari jam tujuh malam, aku tiba di gate yang dimaksud.

Hhmmmhhhh….Satu setengah jam lagi menuju boarding”, aku menduduki sebuah kursi di luar waiting room yang masih tertutup rapat.

Aku memutuskan untuk melakukan shalat jamak qashar dan memenuhi botol minuman di free water station. Selebihnya aku hanya duduk menunggu hingga pintu waiting room dibuka satu jam sebelum penerbangan.

Beruntung selama menunggu, kebosananku redam oleh tingkah lucu seorang balita cilik India yang tingkahnya sangat menggemaskan.

—-****—-

Menunggu di ruang tunggu, aku kembali tertegun dengan sebuah rombongan besar jama’ah Hindu. Dari seragam serba hitam yang dipakai, aku bisa mengidentifikasi jama’ah itu berasal dari Kuil Sabarimala Ayyappa yang terletak di Negara Bagian Kerala, India.

Kekhasan dari jama’ah Hindu India tersebut adalah tidak menggunakan alas kaki. Beberapa pemeluk Hindu di India memang percaya bahwa tidak menggunakan alas kaki adalah bentuk penghormatan kepada para Dewa.

Berbaju dan ber-Lungi*1) hitam juga menjadi penampilan religius rombongan tersebut. Mau tak mau aku harus duduk berbaur di ruang tunggu bersama rombongan itu.

Sementara pemandangan di jendela kaca adalah terparkir sempurnanya pesawat Airbus A320 Twin Jet dominan putih dengan kelir kombinasi biru-merah dan bertuliskan jargon promosi pariwisata “Sarawak More to Discover”.

Menunggu dengan penuh kesabaran usai sudah….

Panggilan boarding untuk penerbangan Air Asia AK 39 memenuhi langit-langit bandara.

Aku segera bangkit serta mempersiapkan passport dan boarding pass demi melewati pemeriksaan akhir calon penumpang sebelum memasuki kabin. Ahhh….Aku sudah tak sabar.

Jam setengah sembilan aku mulai boarding…..

Di dalam waiting room Gate L14.
Itu dia AK 39.
Menelusuri aerobridge menuju kabin pesawat.
Maskapai langganan dan idaman.
Suasana kabin saat berburu kursi.
Lihatlah warga-warga India itu…..Kamu pengen ga sih ke India?

Memasuki kabin pesawat berbadan kecil itu, aku mencari bangku bernomor 11E. Dalam penerbangan selama 3 jam 40 menit ke depan, aku akan duduk di kolom tengah, membuatku tak leluasa untuk menangkap potret indah bumi.

Ketika proses boarding usai,  di barisku hanya ada aku dan salah seorang dari rombongan jama’ah Hindu itu. Oleh karenanya, aku memutuskan pindah ke aisle seat untuk mendapatkan kelegaan dalam perjalanan udara sejauh 3.000 km tersebut.

—-****—-

Begitu terkejutnya aku, ketika membuka lembaran Travel 360 inflight magazine, aku menemukan potret diri sosok travel influencer yang rasanya tak asing di mataku. Aku sangat familiar dengan nama marganya….Groves.

Sudah kupastikan itu adalah saudara bule cantik asal Aussie yang kukenal  setahun sebelumya di Samosir, Eloise Groves. Dia pernah bercerita di bawah air terjun Naisogop bahwa dirinya memiliki saudara laki-laki bernama Jackson Groves yang merupakan seorang travel influencer. Melihat kesamaan raut muka atas sosok yang ada di dalam inflight magazine yang sedang kubaca dengan sosok yang sering muncul di dalam laman Facebook milik Eloise, aku yakin 100% itu adalah saudaranya.

Dan benar, nantinya aku akan mendapat konfirmasi dari Eloise bahwa itu benar saudara kandungnya setelah mengirimkan pesan singkat melau aplikasi facebook messenger ketika aku tiba di India.

Mencoba memejamkan mata usai membolak-balik Travel 360, aku berusaha tidur. Tetapi sesungguhnya aku tak benar-benar terpejam. Begitulah aku, tak pernah sempurna terlelap setiap duduk di selongsong terbang.

Itu dia si Jackson Groves di inflight magazine milik Air Asia.
Tiba di Terminal 3 Cochin International Airport.
Jelajah bandara yukkk !

Akhirnya waktu yang ditunggu tiba juga….

Pukul satu dini hari, Air Asia AK 39 mendarat di Cochin International Airport, sebuah bandara megah di Negara Bagian Kerala di sebelah barat daya India.

Alhamdulillah….

Kini aku semakin jauh saja dari rumah.

Kochi yang berjarak darat hampir 9.000 km dari Jakarta.

Yuk kita eksplore….Ada apa saja di Kochi?

Untuk mendapatkan tiket penerbangan dari Kuala Lumpur ke Kochi, Anda bisa mencarinya di 12go Asia dengan link sebagai berikut:  https://12go.asia/?z=3283832

Keterangan kata:

Lungi*1) = Sepotong kain panjang yang dililitkan di pinggang dan merupakan pakaian khas India

Kisah Selanjutnya—->

Intipan Hypothermia di Taj Express Menuju New Delhi

Buseet….Dikejar pengemis cilik yang tak terima karena cuma kukasih sebungkus beng-beng coklat yang kubawa dari Jakarta sejak seminggu lalu. “No….I need money”, katanya sembari terus mengintili aku dari belakang. Bahkan ketika aku membongkar isi backpack untuk mengontrol apakah ada benda-benda mencurigakan masuk setelah seharian kutaruh tas itu di bagasi taxi, si bocah tetap berdiri sembari mengoceh tak henti-henti di depanku yang sedang berjongkok di pojok stasiun untuk merapikan kembali backpack yang sudah acak-acakan. “Hi Boy….I don’t have much money….Sorry”, Aku menjarakkan mukaku hanya sejengkal dari mukanya. Dia hanya meliuk-liukkan leher sambil memperlihatakan gigi kelincinya.

Tepat jam 17:00, aku melewati metal detector stasiun Agra Cantt dengan mulus walau polisi berkumis melintir itu terus memandangku aneh. Selangkah kemudian aku menuju platform dan mencari informasi keberangkatan Taj Express 12279 di LCD board sederhana. Tertera suhu di angka 12 derajat….”Mulai mendingin”, batinku….”Delay”, otakku merekam informasi. Padahal seharusnya aku sudah meninggalkan kota Agra pada jam 18:40.

Tiket kelas CC (Chair Car) yang harga tiketnya hanya Rp. 51.000 tentu tak berakses menuju station lounge yang menawarkan udara hangat dan makanan enak didalamnya. Menyedihkan, aku tercecer bersama penumpang kasta bawah di sepanjang platform yang semakin dingin mengikuti putaran jarum jam stasiun Agra Cantt.

Lalu lalang kereta yang terus menjajikan harapan….Tak kunjung tiba.

Semakin lama berdiam duduk maka jari-jari tanganku mulai kebas. Sial….Aku salah perbekalan, jaketku kurang tebal. Terkadang toilet menjadi tempat hinggap sementara untuk menolak beku. Tapi itu tak bisa lama, toilet berbayar itu menebar bau pesing kemana-mana.

Suhu sudah dibawah 10 derajat memasuki jam 10 malam….Siaga

Aku tak mampu menyembunyikan panik ketika suhu menyentuh 7 derajat. Kaos kakiku tembus dan perlahan membasah membuatku seperti merendam kaki di air es. Sedangkan t-shirt rangkap 3 dibawah jaket tak mampu menangkap panas tubuh….Aku mulai merinding ringan di tengah malam.

Lihatlah pemuda India itu!….Ingin rasanya merampas paksa selimutnya.

Perlawanan menggunakan secangkir kecil chai (teh tarik) dan setangkup burger asongan tak bertahan lama. Akhirnya aku hanya terus bergerak untuk mengatasi dingin.

Taj Express baru merapat sekitar pukul 1:30 dinihari. Gembira bukan kepalang aku memasuki gerbong, tapi harapanku sirna ketika tak merasakan perubahan suhu ketika 5 menit duduk di bangkunya. Pantesan….Ternyata ada celah kecil di semua jendela gerbong yang memasukkan udara dingin kedalam. Walah….alamat.

Bahkan bangku sekotor itu tak membuatku jijik karena fokusku hanya melawan dingin.

Lebih menjengkelkan lagi, kereta ini benar-benar tak bergerak hampir 40 menit setelah tiba. Kini kondisi di dalam gerbong menjadi tak ada bedanya dengan kondisi di platform. Sementara penumpang lokal sudah tertidur bertutup rapat selimut, sementara aku masih sibuk melawan udara yang semakin mengancam. Aku mulai kefikiran tentang hypothermia. Benih kepanikan mulai tumbuh di otakku.

Gerbong yang tak bisa menyelamatkanku dari kedinginan.

Aku sudah tak peduli lagi walau kereta terus melaju mendekati New Delhi secara perlahan. Aku benar-benar terduduk meringkuk terengah-engah. Kukunyah burger tersisa untuk membantu menghasilkan panas tubuh sehingga memperpanjang asaku menaklukkan dingin.

Semakin masinis menaikkan kecepatan kereta maka aku semakin tak bisa bergerak. Aku seperti tak punya harapan, meringkuk kaku memeluk backpack sepanjang perjalanan. Hanya do’a senjata terakhir yang kumiliki. Di suhu 3 derajat Celcius dan entah telapak kaki bisa basah, telapak tangan  mengkerut pucat dan bibir menggeretak, aku seperti susah sekali menghirup nafas.

3 jam 10 menit aku benar-benar bak patung hingga akhirnya sekonyong-konyong aku sanggup melompat dari bangku dan memastikan apa yang kulihat di seberang jendela. Ya….Itu kereta  Metro Delhi….Aku sampai. Oh, Belum….masih setengah jam lagi baru benar-benar tiba. Setengah jam terakhir yang membuatku bisa tersenyum tipis untuk segera memasuki stasiun Hazrat Nizamuddin di kota New Delhi.

Selamat tinggal Agra dan selamat datang New Delhi

Terimakasih Tuhan.

Cari tiket kereta dari Agra ke New Delhi melalui 12go Asia. Berikutnya linknya:  https://12go.asia/?z=3283832

Kharisma Merah Bata Agra Fort

Get off here and walk straight there. I will wait here for maximum 2 hours”, ucap pengemudi taxi sewa harian setelah meludahkan kunyahan sirih keluar jendela. Bekas ludahan sirih terlihat merata di area parkir kendaraan memang….Menyedihkan.

Loker penjualan tiket
Lumayan juga harganya….Rp. 98.000.

Tak menyiakan waktu, Aku segera menyelinap ke antrian pengunjung untuk membeli tiket masuk. Tak lama….Tak lebih dari 10 menit, tiket sudah digenggaman.

Aku tenggelam dalam keangkuhan julangan Benteng Merah. Benteng kota itu sungguh tinggi seakan mengawasi setiap gerik langkah orang yang mendekatinya. Kota Mughal seolah menjadi kota teraman di dunia dengan ketebalan dinding yang melingkarnya

Yuk mulai masuk….
Amar Singh Gate dihadapan.
Dinding benteng di sekitar main entrance

Layaknya benteng pertahanan, aku harus menyeberang kanal melalui sebuah jembatan yang menghubungkan jalanan utama kota Agra dan gerbang benteng itu sendiri. Memasukinya, setiap jalur kota di sisi dalam benteng harus dilalui dalam hapitan dinding yang perlahan berubah dari menyeramkan menjadi menyamankan.

Gerbang kedua dengan dinding 21 meter menjulang menjadikanku bak kurcaci.
Eksterior sekitar gerbang

UNESCO World Heritage Site yang berusia 4,5 abad ini adalah tempat tinggal seluruh anggota keluarga kerajaan Mughal. Benteng Merah otomatis berhenti berfungsi ketika ibukota kerajaan Mughal berpindah ke Delhi. Agra Fort sendiri terprakarsa dibangun karena terjadinya beberapa kali peperangan antar beberapa kerajaan yang ada di sekitar Hindustan hingga daerah Afghan.

Lalu….Kelicikanku mulai menguasai diri ketika intuisi “gratisan” menuntunku untuk mengekori langkah seorang tour guide yang sedang membawa turis-turis asal Tiongkok. Setiap penjelasan yang keluar dari bibirnya coba kucermati dan pahami. Beberapa turis mengernyitkan dahi ketika aku ketahuan sedang menguping, mereka sadar bahwa aku adalah penyusup dalam kelompoknya.

Yuk mari….Dengarkan dengan teliti!….

Satu hiburan yang menarik adalah ketika aku disodori sejumput bubuk kuning oleh seorang bapak tua. Aku bingung kenapa?. Ternyata beberapa detik kemudian tupai-tupai kecil naik ke tanganku dan memakan bubuk itu. Baru kulihat ada tupai super jinak seperti itu.

Tupai jinak di sekitaran benteng mendekat ke pengunjung.
Mengintip kondisi sekitar dari atas benteng
Taj Mahal samar terpantau dari Agra Fort.

Kemudian langkah mengantarku memasuki bangunan putih berjuluk Khas Mahal yang merupakan istana pribadi sang raja. Bangunan ini terbuat dari marmer dengan lukisan-lukisan indah di dalamnya.

Interior Khas Mahal
Air mancur di depan Khas Mahal

Tak jauh dari Khas Mahal, terlihat bangunan dua lantai berwarna putih dengan taman luas di depan pekarangannya. Bagian ini diberi nama Anguri Bagh.

Anguri Baghh berarti “The Grape Garden” yang merupakan taman pribadi milik anggota kerajaan perempuan.

Anguri Bagh
Golden Pavilion di sekitar Anguri Bagh
Bangunan di sekitar Anguri Bagh yang sedang di renovasi

Dan bagian terakhir yang kukunjungi adalah Jahangiri Mahal (sering disebut juga Jahangiri Palace). Inilah jantungnya Agra Fort. Istana megah yang diperuntukkan sebagai tempat tinggal istri raja.

Duh….Cakepnya….Siapa sih itu?

Singkat kata dan singkat langkah kemudian….Aku buru-buru ke stasiun Agra Cantt. Ditunggu kereta menuju New Delhi.

Merunut Shah Jahan, Menikmati Taj Mahal di Mehtab Bagh

Selepas penat mengurus pemerintahan Mughal, aku terbiasa menuju Taj Mahal untuk memantau progress pembangunannya. Kala sore menjelang, kuajak beberapa buruh Taj Mahal untuk menyeberangi sungai Yamuna dan kusambung dengan berteduh di sebuah tanah lapang untuk menikmati Taj Mahal yang berdiri megah tersiram oleh sinar senja merah jingga….Begitu indah, aku membayangkan itu. Membayangkan?….Ya, karena aku bukan Shah Jahan. Hanya dialah yang bisa melakukan aktivitas itu di masa lampau. Siapalah aku….Hahaha.

Taj Mahal tertangkap dari Mehtab Bagh

Aku tiba setelah 10 menit sebelumnya masih mengeksplore Itimad ud Daulah di Barat Laut Mehtab Bagh. Taman indah nan luas itu belum juga mencuri perhatianku, karena aku lebih tertarik dengan aksi seorang bapak setengah tua membolak-balik gorengannya sehingga menebarkan aroma harum penggugah selera. Pantaslah banyak orang bersedia mengantri untuk mencicipinya. Kurelakan Rp. 10.000 untuk menebus dan melahapnya, french fries panas beraroma samar kari menjadi menu cemilanku sebelum mamasuki Mehtab Bagh.

Beli tiket dulu lah sebelum masuk.

Aku segera menuju gerbang disertai membeli tiket seharga Rp. 40.000. Sontak terkagum dengan kondisi taman. Jalur yang tertata rapi itu diperindah dengan kolom bunga yang memanjang di tengahnya. Difasilitasi pula oleh bangku di beberapa spot. Bangku yang hampir semua terduduki oleh pasangan muda-mudi India yang sedang terjangkit asmara. Aku tak bisa menampiknya, karena memang taman itu sangatlah romantic, sesuai namanya. Kamu tahu kan arti kata Mehtab Bagh?….Mehtab Bagh memiliki makna yang sama dengan Moonlight Garden. Beuh….Gimana ga indehoy tuh.

Rapi banget kan?…

Ketika muda-mudi itu saling berpandang dalam ketertarikan masing-masing maku aku lebih tertarik menuju ke sebelah kanan taman karena dari kejauhan penampakan Taj Mahal itu begitu mempesona mata. Kini aku baru tahu, kenapa Shah Jahan sering meluangkan waktu sorenya untuk sekedar bersimpuh memandangi karyanya disini. Bahkan dia pernah berniat membuat Taj Mahal kembar berwarna hitam di Mehtab Bagh. Namun niat itu urung karena dia keburu menjadi tahanan rumah di Agra Fort pasca dikudeta anak laki-lakinya sendiri. Si anak khawatir terhadap keuangan kerajaan yang rawan dihabiskan ayahnya untuk merealisasikan niatnya itu.

Lihatlah fondasi itu!….Cikal Bakal Black Taj Mahal yang gagal.

Semua pengunjung pasti merasa aman ketika berada di taman, karena dua serdadu muda bersenjata lengkap berkeliling taman untuk mengamankan situasi.

Serdadu: “Where are you come from?”, seloroh beriring senyum.

Aku: “Indonesia, Sir”, timpal membalas senyum.

Serdadu: “How about Taj Mahal?. It’s good. Are you happy?”

Aku: “Yes, Sir. It’s beautiful. I Love it”, imbuhku.

Serdadu: “Enjoy

Aku: “Thanks Sir”.

Pepohonan nan rindang di taman.
Sisi lain taman.

Aku tak bisa benar-benar menuju ke tepian sungai Yamuna karena pengelola taman membatasi taman dengan kawat besi. Kulihat seorang turis Eropa terkesan professional ketika mengeluarkan DSLR berteropong panjang dan mengambil banyak sekali gambar Taj Mahal dari berbagai sisi yang dia suka tepat di depan pagar kawat itu. Aku hanya membayangkan jika suatu saat bisa memiliki kamera seperti itu dan berkeliling dunia mengambil gambar-gambar ciamik untuk kalian lihat. Alhamdulillah, Akhirnya 3 bulan kemudian aku memiliki kamera mirrorles Canon EOS M10. Tak sebaik miliknya, tetapi cukup bagiku yang berpenghasilan pas-pasan untuk menangkap gambar lebih baik….Hahaha #curcol

Cukup rasanya meniru aksi Shah Jahan di Mehtab Bagh. Kini aku akan melihat Agra Fort, tempat Shah Jahan dipenjara….Kesian. #sedih

Gagal Total Bertamu di Taj Mahal

Gebu semangat menyongsong Taj Mahal yang tak lebih tinggi dari nyali remeh temeh dalam menaklukkan dinginnya setiap tetes air yang keluar dari shower goStops Agra telah mempermalukan diriku sendiri di sebuah Sabtu pagi.

Jarum di angka 7 persis, taxi yang kami sewa harian melalui sharing cost tiba dan si pengemudi telah menunggu di lobby hostel sembari mendekapkan erat kedua tangannya sebagai pertanda bahwa dia telah diterpa kedinginan yang menusuk di luar sana.

Mau tahu harga sewa taxi putihnya?….Boleh….Rp. 240.000 yang dibagi empat orang. So, Rp. 60.000 harus kurelakan untuk naik diatas rodanya.

Bersikat gigi tanpa mandi, aku menghampiri dan mengajaknya bercakap sembari menunggu 3 turis lain turun. “No need long time to reach Taj Mahal, brother”, tutur pertamanya sembari menggeleng-geleng kepala ala India menjadi pembuka percakapan pagi itu. “Nice”, timpalku sembari sibuk membenahi winter jacket dan shall yang melingkar di leher.

Sepuluh menit selanjutnya, asap knalpotnya mulai mengakuisisi kabut tebal di sepanjang Agra-Bah Road. Benar saja katanya, 15 menit kemudian dia meminta kami turun dan menunjuk sebuah bajaj seharga Rp. 40.000 untuk melanjutkan perjalanan menuju Taj Majal Eastern Gate. Tak menjadi masalah dengan harga karena bajaj itu akhirnya kami tunggangi berempat….Dasar turis tak beradab….Hahaha.

Jam 07:30, para turis telah mengantri berburu tiket seharga Rp. 98.000
Tiketku digenggaman

Bodoh sangat!…..Rasa ingin tahu yang membabi buta telah menutup logikaku pagi itu. Tak pernah berfikir jernih sedari berangkat meninggalkan hostel bahwa badai kabut tebal kota Agra akan menutup pelataran Taj Mahal secara sempurna….Ah, aku berdiri lama menghela nafas panjang kesal di gerbang masuk Taj Mahal. Tak mampu melihat apapun 10 meter didepan. Hanya kabut tebal yang membuatku perlahan membeku.

Tak ada pilihan, suka tak suka, aku harus mulai menjelajah Taj Mahal dengan jaminan pasti bahwa aku tak akan pernah menikmati kemolekannya secara sempurna.

Aku mulai menaiki tangga perlahan memasuki gerbang pertama situs termasyhur itu. Gerbang pertama ini bernama Jilau Khana.

Area sekitar Jilau Khana atau sering disebut forecourt. Bahasa Jawanya “halaman depan”.

Yang terjadi sungguh di luar nalar. Belum juga selesai menikmati merah batanya Jilau Khana, langkah kaki otomatisku tak terbendung mendekat ke bangunan utama. Taj Mahal bak magnet bagi siapa saja yang berkunjung.

Jalan penghubung antara Jilau Khana dan gerbang utama

Sebelum tiba di bangunan utama….Sekitar 100 meter kemudian, aku mencapai gerbang utama nan agung.

Namanya Darwaza-i-rauza atau sering disebut Great Gate

Mulai terdengar keluhan para bule itu sembari menyalahkan sang kabut.”I can’t take a picture!”, keluhnya kepada sesama temannya. Kecut tersenyum dengan sunggingan sebelah bibir, aku tak memperdulikan kekecewaan yang sama.

Lihatlah ukiran di bagian dalam Darwaza-i-rauza itu!

Lalu dimana bangunan utama Taj Mahal yang selalu diburu para traveler dunia?

Yup….350 meter di utara Darwaza-i-rauza adalah letak Taj Mahal, makam dua sejoli yang melegenda. Shah Jahan sang raja dan Mumtaz Mahal sang permaisuri keturunan Persia yang konon cantik luar biasa.

Tak berlama waktu, aku segera memasang penutup sepatu untuk kemudian bersiap memasuki Taj Mahal

shoe cover akan diberikan saat membeli tiket.

Layaknya masjid, Taj Mahal dilengkapi dengan empat minaret di setiap sisinya. Kebesaran kerajaan Mughal tercermin dari setiap jengkal Taj Mahal yang tersusun dari marmer putih yang didatangkan khusus dari Rajashtan dan batu safir yang dikirim dari Sri Lanka.

Minaret setinggi 40 meter dengan dinding silinder.

Hal menggelitik lain ketika mengunjungi Taj Mahal adalah dikala setiap pengunjung berjalan teratur mengikuti alur yang sudah dibuat petugas untuk menikmati setiap sisi ruang utama Taj Mahal dimana makam Mumtaz Mahal berada. Tiga polisi bersenjata lengkap mengawasi setiap pengunjung dengan cermat. Terkadang mereka berseloroh ke beberapa turis untuk segera melangkah karena keasyikan mengambil photo dan membuat alur jalan menjadi macet.

Dinding Taj Mahal
Jendela Taj Mahal
Indahnya seni kaligrafi  Taj Mahal
Lumayan lah….Daripada tidak sama sekali

Begitulah adanya, Taj Mahal yang berusia 372 tahun ini memang mempesona. Tak khayal, 4 juta wisatawan tertarik mengunjunginya setiap tahun.

Selesai menikmati Taj Mahal, maka aku segeran undur diri dan kembali ke eastern gate menuju taxi yang menungguku.

Aku kembali ke timur….Kamu mau kembali lewat mana?

Jhelum Express dari New Delhi ke Agra

Saatnya mengeksekusi tiket.

Nomor 11078 yang merupakan nomor keberangkatanku hanya muncul sekali saja di display board. Setelahnya lama tak muncul kembali, aku terduduk di platform dan terus mengamati display board itu….Hilang sudah!

Penantian tak ada akhir di platfom 4.

Aku: “Sir, can you give me some information?. My train number 11078 is never appear again in that display board. Even though my train will depart on 10:15 am.”.

Si Tampan: “If your train number disappears from the screen. That means your train is getting delay. “Haze storms” which routinely occur every year indeed often make many trains delay for hours.”

Aku kembali menuju konter dan menanyakan tentang masalah ini. Mereka hanya meminta maaf dan membenarkan bahwa kereta delay. Dia memperkirakan kereta akan berangkat jam 16:00….Busyeettt.

Untuk mengusir kejenuhan yang tak berujung, aku bertolak menuju Khan Market. Daripada bengong lebih baik aku mengoleksi satu destinasi wisata di New Delhi untuk kubagikan bersama kalian tentangnya….Nanti ya, pasti akan kutulis.

Salah satu sudut Khan Market, New Delhi.

—-****—-

Pukul 14:00….Memastikan kembali setiap ikatan dan kuncian di backpack, aku segera menuju New Delhi Railway Station untuk menaiki Jhelum Express yang akan segera datang menjemputku.

Penasaran yang luar biasa untuk segera berbaur dengan masyarakat India dalam satu gerbong kelas ekonomi, membuatku menjadi orang paling tidak sabar di dunia sore itu.

Potret kesenjangan di Ibukota India.

Lokomotif merah kusam itu berteriak melengking mendekatiku seraya meringis menggigit rel untuk berhenti tepat di platform 4

Belum juga lokomotif itu menghentikan setiap gerbongnya dengan sempurna, para penumpang berlari….berjejal memasuki gerbong. Aku hanya tersenyum dan terpana dengan keunikan warga India. Sementara mereka berdesakan masuk, aku masih sibuk memahami penomoran gerbong karena ada gerbong bernomor 10 dan 10A. Dasar iseng nih orang yang punya ide menomori demikian. Setelah bolak-balik ke depan dan ke belakang, akhirnya aku menemukan gerbongnya….Yups, gerbong S3 kursi no 41 Low Berth (bangku bawah).

Benar adanya, keruwetan yang kubayangkan sejak awal membeli tiket terjadi. Gerbong itu sangat berjubel dan membuatnya terasa sempit.

Bangku teralokasi tiga penumpang saling berhadapan ditambah satu bangku lipat panjang diatas kepalaku yang digunakan sebagai sleeper seat (Upper Berth)….Ah, aku semakin mencintai kondisi ini. Kejadian yang menakjubkan.

Hello Sir, Excuse me”, seorang laki-laki muda melewat didepanku sambil menggandeng istrinya lalu duduk berhadapan denganku. Senyum tanpa dosanya membuat bibirku pun melakukan hal yang sama. Bagaimana tidak, di depanku sekarang telah duduk 4 penumpang dengan kursi yang hanya bertuliskan tiga nomor saja….Hahaha.

Sembari kereta berjalan, aku mendengar sayup-sayup gertakan yang entah itu marah atau memang begitu adanya. Kondektur tambun berkumis melintir itu mengecek satu persatu tiket tamunya. Satu penumpang di seberang kursiku dimarahinya habis-habisan gegara tak mampu menunjukkan tiket, si penumpang lalu menunjukkan sebuah kartu terlaminating dari dalam dompetnya. Dan entah itu apa, mampu mengusir kondektur tambun itu dengan efektif dari hadapannya….Damn.

Bapak pekerja kantoran di kiri depanku mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Bak film-film India, adat itu masih dijunjungnya. Rantang panjang bertumpuk empat berbahan stainless beraroma kari diangkatnya tinggi-tinggi. Andai dia tahu muka hatiku, pasti dia tersenyum melihatnya terbahak….Omaigat, ini mah India yang orisinil. Seolah menjadi menjadi pemicu ledakan, penumpang lain dikiri kananku pun melakukan hal yang sama.

Kemurahan hati itu terpancar seiring dengan tutur mereka menawarkan diri untuk makan bersama sebagai satu keluarga di dalam kereta. Kuterima? Tidak….Aku juga mengeluarkan setangkup burger lokal seharga Rp. 10.000 yang terbeli di platform stasiun sore tadi. Mari kita makan bersama….

Si Bapak dipinggir jendela menjadi orang tersibuk sepanjang perjalanan karena harus terus menutup jendela kayu yang kait penguncinya sudah usang. Setiap sekian menit jandela itu akan tertarik ke atas dan memasukkan udara super dingin ke dalam gerbong.

Mungkin kondisi itulah yang dimanfaatkan oleh penjual chai untuk berfokus di gerbongku demi menghabiskan dagangannya. “Chai”, nama lain dari teh tarik yang melegenda di Dhaka, terfavorit di India dan menyebar ke Malaysia. Girang hatinya, tumpukan gelas kertas yang digenggamnya semakin memendek. Dia akan pulang dengan keuntungan berlipat kali ini.

Kelucuan penjual mainan anak-anak membuat seisi kereta tak henti-hentinya terbahak. Dia melempar spiderman karetnya kesana kemari sesuka hati. Hebatnya, si spiderman itu bisa menempel dengan sempurna….Hahaha. Hiburan untuk melupakan masalah kehidupan seharian yang sudah mereka hadapi.

Guys….Kapan terakhir kali kereta kita masih ada penjual segala macam di dalam gerbong?….Hahaha….Aku saja sudah lupa saking lamanya aturan itu diketatkan.

Kereta yang berhenti….Menurunkan….Menaikkan penumpang….Lalu melaju kembali dan terus mengulangnya di setiap stasiun baru membuatku sadar bahwa tak pernah ada pengumuman kereta berhenti di stasiun mana?.

Aku: “How long will the train run to its last destination?”

Dia: “Jhelum Express will stop in Pune on 6 am tomorrow morning

Aku: “Thanks Sir”, Aku tersenyum pahit penuh kekhawatiran.

Kini musuhku satu….Informasi, ketiadaan paket data di gawaiku semakin memperkuat musuh bebuyutanku malam itu. Aku harus banyak bertanya untuk mengalahkannya.

Aku: “Where will you stop, Sir?”

Dia: “At Mathura Junction Station

Aku: “Do you know Agra Cantt Station?

Dia: “Sure, 2 stops after my station

Aku: “Oh, nice”, Aku lega….Begitu dia turun, aku tinggal hitung 2x berhenti. Itu Agra Cantt

Dia: “Are you from China?

Aku: “No, I’m Indonesian”. Mana ada tampang China gelap kayak gue.

Dia: “What for do you go to Agra?”

Aku: “Taj Mahal, Sir

Dia: “Oh, very happy to hear Indonesian goes to Taj Mahal

Aku: “Taj Mahal….My dream to visiting it

Dia: “Nice”. Menyalamiku dengan kebahagiaan tak tersembunyikan.

Itulah percakapan 10 menit sebelum dia turun di Mathura Junction Station. Setelahnya aku akan menyusul turun di dua perhentian berikutnya yaitu Agra Cantt Station.

Salah satu sisi Agra Cantt Station.

Aku akhirnya tiba di kota Agra pada pukul 20:30.

Saatnya menuju hotel…..Makan malam tyuss bobok.

Cari tiket kereta dari New Delhi ke Agra melalui 12go Asia. Berikutnya linknya:  https://12go.asia/?z=3283832

SCAM….Sesuatu yang Nyata di India

Staff Hotel: “Go to New Delhi Railway Station platform 1 floor 1!”, jawaban singkat tertutur dari bibir si cantiq yang masih terlihat sibuk menerima para penginap dari berbagai bangsa.

Aku: “Thank you, honey Ms”.

Oh ya, mencari dormitory terdekat dari stasiun MRT (Mass Rapid Transit) memang kebiasaan yang telah bersifat di diriku.

Aku mulai membuka pintu goStops Delhi Hostel dan melintas beberapa warga yang kurang beruntung. Terenyuh ketika sinar surya satu-satunya yang bisa membantu menghangatkan mereka yang masih pulas meringkuk diatas kasur busa bekas yang entah mereka dapat dari mana.

300 meter kemudian aku tiba Delhi Gate Metro Station. Melewati X-ray gate setiap memasuki stasiun MRT di New Delhi menjadikanku merasa aman selama melaju di jalurnya.

Yuk kita lihat dalaman ttasiun subway di New Delhi…Ini adalah Indira Gandhi Airport Metro Station saat pertama kali aku tiba di India

Menyusuri Delhi Metro Violet Line dan kemudian bertransfer ke Yellow Line di Kashmere Gate Metro Station, maka di stasiun ketiga aku tiba di New Delhi Metro Station.

Tiba di tujuan akhir, aku harus berpindah antar dua moda kereta yang tak terintegrasi. Meninggalkan New Delhi Metro Station yang begitu bersih terawat menuju New Delhi Railway Station yang lebih dari sekedar kotor. Jaraknya antar keduanya hanya sekitar 450 meter.

Berjalan 6 menit, aku tiba di depan New Delhi Railway Station

Dari tangga penghubung antar platform, kuperhatikan petugas Indian Railways itu menyemprotkan air di atas jalur kereta. Kupikir mereka begitu disiplin mengurangi laju debu di udara, ternyata beberapa waktu kemudian aku tahu bahwa mereka sedang membersihkan jalur kereta api dari kotoran manusia….#unique.

Upss….Kejadian itu tiba:

Scammer: “Where will you go, Sir?”

Aku: “Agra.

Scammer: “Let me help you to get the ticket.”

Aku: “Oh thanks. Based information from my hotel that ticket counter is on platform 1 floor 1.”

Scammer: “Oh, yes. But It’s Friday. So, the counter is closed. You can get the ticket at left side of this station.

Aku: “Oh, OK.

Entah “Bego” atau “Dungu”, aku mengikuti semua petunjuknya. Pemuda tampan itu tak menyertai langkahku, sehingga tak ada kecurigaan sedikitpun di otakku. Hebatnya, ada seorang di gerbang stasiun yang kesannya menunjukkan dimana lokasi konter penjualan tiket tersebut. Jelas sekali mengarahkanku ke sebuah kantor di ujung jalan sebelah kiri.

Oh, ini kantor agen travel, bukan kantor Indian Railways”, batinku. Aku batal menaiki anak tangga berikutnya dan berbalik meninggalkan kantor mereka. Walau salah satu dari mereka terus mengejarku, aku bersikukuh halus dengan menyampaikan akan menunda keberangkatan ke Agra hingga esok hari saja, sehingga mampu meredam emosinya yang terlihat mulai meninggi.

Huftt….Selamett. Scam kedua yang menimpaku setelah terakhir menghampiriku di Bangkok di akhir 2013.

—-****—-

Kelegaan yang terasa berlipat karena selain mampu menemukan kantor penjualan tiket milik International Tourist Bureau di platform 1 lantai 1, Aku juga mendapat bonus berlindung dalam kantor itu dari dinginnya terpaan udara New Delhi yang membuatku serasa beku.

Kantor yang sederhana itu dipercantik dengan layanan konsultasi petugas penjualan tiket kepada setiap turis dengan sangat baiknya. Jadi kamu harus bersabar menunggu nomor antrianmu dipanggil petugas karena satu pembeli bisa berkonsultasi 10-15 menit, beberapa bahkan lebih. Tak menjadi masalah bagiku, semakin lama semakin baik karena aku tak perlu kedinginan diluar sana.

Tiket Jhelum Express seharga Rp. 40.000 sudah di tangan.

Yuk ke Agra….Bersih-bersih Taj Mahal….Yuhuuu.

Lima Destinasi Wisata Agra dalam 10 Jam.

PARAHHHHH…..

Badai kabut di utara India telah merampas waktuku lebih dari 6 jam.  Tetapi kejengkelan telak terkalahkan dengan keripuhanku sendiri melawan super dinginnya udara Negeri Nehru itu.

Petaka kabut di India

Jhelum Express menepi di Agra pada 20:30. Pengen denger ceritaku menjajal kereta ekonomi mereka….nanti saja lah….MENGERIKAN !!!.

Tak ada yang bisa kuperbuat malam itu. Suhu yang hampir menyentuh nol derajat Celcius, bahkan udara dengan cepat mendinginkan sajian mie goreng pinggir jalan yang kubeli. Bumbu India yang terkenal menyengat itu bahkan tak mampu kurasakan karena beku mulai menghantam lidah.

Aku bak seorang pengecut yang bersembunyi di balik selimut GoStops Hostel sambil menunggu aliran listrik memenuhi segenap “teman elektronikku”.

Staff Hotel: “You must be grateful to be an Indonesian. You can easily go everywhere. Not like me, getting a passport is very difficult. Our government protect their citizen from getting difficult life at out of our country. I had waited for two years to get a passport, I hope I will get this year. I want go around the world like you

Aku: “Don’t worry, you will get it, my friend. You will go to my country also sometimes.  One thing that should made you proud with India. Your currency is more stronger than my currency…..Aaannnnddddd, Your country have great histories and cultures in the world.

Itu sedikit percakapan serius sebelum aku memasuki kamar, dan percakapan yang sedikit intelektual setelah sebelumnya aku hanya berbicara dengan penumpang kereta yang duduk di depanku dan sopir taxi yang mentransferku dari Stasiun Agra Cantt ke hotel.

—-****—-

OKAY….Kukuruyukkkkk….#perasaanganemuayam.

Automatically, Aku hanya memiliki 10 jam berharga untuk mengeksplorasi Agra dimulai dari jam 7 pagi. Kali ini aku tak akan membenarkan diriku untuk menggunakan transportasi umum….Terlalu mepet….Beruntungnya, aku melakukan sharing cost bersama teman-teman backpacker sekamar untuk jasa taxi yang bersedia di carter hingga sore hari. Karena sore hari, aku akan menuju New Delhi. Aku hanya perlu mengeluarkan Rp. 60.000 untuk biaya transportasiku seharian.

1. Taj Mahal

Tak berani menyentuh air untuk membasuh badan, aku tergopoh memasuki taxi yang sudah siap di depan hostel. Pagi itu….Kabut sangat tebal bahkan matahari pagi tak mampu menyibaknya.

Yes, akhirnya….Aku menuju destinasi idaman turis seluruh dunia….Taj Mahal

Taxi bergerak ke utara menyusuri Agra-Bah Road. Tak jauh, hanya 3.5 km yang tertempuh dalam 15 menit. Taxi berhenti di tepi jalanan, aku hanya ingat dengan papan nama “Malik Tour & Travel” sebagai penanda.

Jasa bajaj seharga Rp. 40.000 menjadi penghubung berikutnya menuju Taj Mahal West Gate Ticket Office. Kulepas Rp. 98.000 untuk mendapatkan tiket masuknya.

Setiap jengkal di Taj Mahal selalu menggoreskan kesan, satu-satunya benda yang sangat mengganggu para wisatawan adalah kabut yang membuat mereka seakan kesal tak bisa mengabadikan dirinya bersama bangunan sangat bersejarah itu.

Taj Mahal tertangkap dari Mehtab Bagh.

Wisata andalan Negara Bagian Uttar Pradesh itu memang sungguh mengesankan. Makam yang didedikasikan untuk Mumtaz Mahal (istri dari kaisar Shah Jahan) sanggup menarik 8 juta wisatawan dari seluruh dunia setiap tahunnya. Salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO yang harus kamu kunjungi jika memasuki tanah Mahabharata itu.       

2. Itimad ud Daulah Tomb

Dua jam meresapi dan menikmati keindahan Taj Mahal yang hampir keseluruhannya berbalut marmer putih mematri doktrin di otakku bahwa dunia itu sungguh indah.

Yuk, balik ke hostel untuk berbasuh dan menyantap sajian free-breakfast sederhana yang disajikan hostel. Aku sendiri langsung berkemas check-out dan menaruh backpack di bagasi taxi. Selepas menengok Agra Fort nanti, aku akan langsung bertolak ke New Delhi.

Berada 4.5 km di utara Taj Mahal, situs ini menawarkan ketenangan dan kenyamanan. Tak seperti Taj Mahal yang bising pengunjung. Mirip tapi tak sebesar Taj Mahal menjadikannya dikenal sebagai “Bayi Taj”.

Adalah bangunan yang mengilhami gaya arsitektur Taj Mahal.

Jika Taj Mahal didedikasikan untuk Mumtaz Mahal, maka pembangunan Itimad ud Daulah didedikasikan untuk kakek dari Mumtaz Mahal yang bernama Mirza Ghiyas Beg.

Aku ndak mau bercerita banyak….Datang sendiri aja ya….Yuhuuuuu !!!!

3. Yamuna River

Satu jam bergulir dengan cepatnya. Niatanku untuk segera bergegas menuju destinasi berikutnya kandas. Aku tertegun dengan penampakan sungai kering nan menghampar begitu luas, seakan memamerkan kegagahan kepada semua yang makhluk melihat, melintasi atau bahkan hidup daripadanya.

Terletak di sebelah barat Itimad ud Daulah……Beuh,

Man….Itu Sungai Yamuna….Seumur-umur, aku baru melihat sungai seluas itu.

Didaulat umat Hindu sebagai Dewi Yamuna.

Sungai yang bersumber dari gletser Yamunotri di  Negara Bagian Uttarakhand ini terlihat surut dan terpapar berbagai bentuk limbah seperti plastik dan limbah cair yang mudah diterka dari baunya.

4. Mehtab Bagh

Dua kilometer berikutnya di selatan…..

Menjilat, menyesap dan menelan pelan french fries jalanan berbumbu garam beraroma kari menjadi aktivitas tak pentingku berikutnya….Sisihkan beberapa Rp. 10.000-an untuk mencoba beberapa kuliner ringan jalanan di India !. Kujamin kamu akan terkesan.

Gaes, aku sudah di sisi sebuah taman nan lebar dan romantis….Mehtab Bagh namanya.

Mehtab Bagh” sendiri memiliki makna yang tak jauh dari sepasang kata dalam Bahasa Inggris “Moonlight Garden”….tuh, gimana ga romantis coba?.

Konon…. Shah Jahan akan membangun Black Taj Mahal di taman ini. Tapi tak pernah kesampaian.

Sering menjadi persinggahan sang Raja untuk menikmati keindahan Taj Mahal yang berada di seberangnya dan hanya terpisahkan oleh Sungai Yamuna.

Harga tiket masuk sebesar Rp. 40.000 tidaklah seberapa dibandingkan dengan keindahan taman yang bisa kamu nikmati dengan aman. Aman?….Ya taman ini dijaga dua tentara bersenjata lengkap yang selalu berkeliling taman.

5. Agra Fort

Masala Tea = 90 Rupee ….ini mah Rp. 17.000

Egg Fried Rice = 150 Rupee….yah sekitar Rp. 29.000.

Itulah menu makan siangku di “The Master Chef” Restaurant di bilangan Fatehabad Road sebelum menuju destinasi terakhirku di Agra….#sedih.

Terletak 2.5 km di barat laut Taj Mahal, Agra Fort juga menjadi Situs Warisan Dunia yang sangat menonjol dengan warna merahnya.

Kota berdinding ala Agra Fort….Menakjubkan.

Kamu harus membayar Rp. 98.000 untuk membayangkan secara langsung para kaisar Mughal tinggal di Agra Fort ini.

Berkeliling sepuasnya di dalam Agra Fort sebelum berpisah dengan kota Agra. Aku menelusuri satu demi satu bagian didalam banteng kota ini.

Memasuki Diwan-i-Am bak rakyat Mughal yang sedang berkeluh kesah, atau memasuki Diwan-i-Khas bak tamu penting kerajaan yang sedang dijamu sang raja.

Merasakan kemewahan Jahangiri Mahal yang merupakan istana khusus untuk istri raja, lalu terduduk merelaksasi diri di Anguri Bagh yang pada masanya digunakan oleh para wanita anggota kerajaan sebagai taman kerajaan.

Dan sebagai seorang muslim, aku juga merasa wajib menapaki Moti Masjid didalam Agra Fort sebagai tempat peribadatan segenap anggota kerajaan.

—-****—-

Waktu singkat yang mengenalkanku pada kota kuno di utara India. Kota yang arsitekturnya mempengaruhi banyak kreasi bangunan di seluruh dunia.

Pastikan kamu mengunjunginya lebih lama dariku karena nilai sejarah kota ini begitu tinggi dan tak bisa dinikmati dalam sekejap saja.

Jet Airways 9W 256 from Mumbai to Colombo (BOM-CMB)

My third-flight and also my last flight with Jet Airways were deliberately priority to be written. Remembering every Jet Airways flights that are very important in completing my exploration in South Asia region.

Early morning flight (2:05 p.m.) which was departed from Chhatrapati Shivaji International Airport in Mumbai made me lack of sleep time since checked-in until landing (04: 35).

Entering airport, I immediately sought a pray room. Entering prayer room, I was greeted by a man who was wearing an ihram cloth (Ihram cloth is specific cloth for hajj or umrah in Mecca) among a group of umrah tour which were praying together. His hospitality smile welcomed me after ablutions.

He : “Assalamu’alaikum, hi brother, where are you come from?

Me: “Hi sir …. from Indonesia“. I threw a smile to him.

He: “I’m from Bangadesh, I think you are from Malaysia“. He smiled again.

Me: “Yeaa….Malaysian and Indonesia are looking same”. I shaked his hand

He: “Where will you go?

Me: “I will go to Colombo…Oh ya three days ago, I visit your country

He: Suddenly hugging me … ” Really, How about my country? nice?

Me: “Yeaa, exotic country….very original….I will come again next time”.

He: smile again and patted my shoulder.

I also found some Indians praying at some airport corridors.

Dinner at that night were some authentic Indian street fried foods which I got from the last rupee after exploring Mumbai”

A thing that I always do when traveling is to exchange my last local moneys into USD before leaving a country which I visited and then spending last coins which can’t be exchanged to buy a menu for next meal. In fact, sometimes I will eat it in next country.

Last 2 hours waiting time was used to charge all my electronic devices which low battery after I use it in exploring Mumbai.

Airport information calls which don’t use Indian-English accent at all make me feeling like at European airports (It’s still dream….I’ve never set foot in Europe). Yeah cool.…all information calls at this airport is accented with native english .

It was really nice to see my plane leaned on gate 85D, a sign that I would set foot in Colombo soon.

My plane just arrived and was unloading

1 hour later boarding process started.…

through aviobridge I finally caught my third flight with Jet Airways.

Online checking-in that I did 24 hours before flight made me free to choose a window seat. This position is always my choose at every flight to easy documenting every moment during flight.

boarding process before I really fell asleep.

Trying to still awake by reading “Jet Wings”, I hoped cabin crews would immediately distribute in-fligt meal.

this is Jet Airways’ inflight magazine.

Even when I fell asleep, inflight meal never came. Apparently, there wasn’t food on this flight. Or whether I missed it. Because I really fell asleep very hard. Because less sleep during Mumbai exploration.

I was awakened by flight attendants to immediately establish my seat, signaling that I would land in Colombo soon.

I deftly set up my Canon EOS M10 and turned it on. I would catch some city view when plane prepared to touch down at Bandaranaike International Airport.

I was stunned by a row of lights that were patterned straight and neat. There wasn’t doubt that it must be a beach that would ll be my destination in Colombo.

View along the famous Galle Face beach.

10 minutes later, Jet Airways actually landed in Colombo. Hmmmh… couldn’t wait to get down soon.

Bandaranaike International Airport could be seen from plane’s window.

My arrival was at 4:35 a.m., I had to wait until morning to catch first airport bus which would go to downtown.

Jet Airways was in unloading process at Bandaranaike International Airport

Subha udesenak!Pearl of the Indian Ocean“….kindly welcomed me, please….hehehe.