Pohon Kelapa dari Kochi Metro

<—-Kisah Sebelumnya

Menunggang ulang ferry menuju daratan utama Fort Kochi, tatap mata berkali-kali tertuju pada penunjuk waktu digital di gawai….maklum aku tak lagi mengenakan jam tangan dalam beberapa kurun waktu terakhir.

Lepas dari antrian yang mengular, aku mendapatkan tiket untuk berlayar jarak pendek menuju dermaga di seberang perairan yang berjarak tak lebih dari satu kilometer.

Selepas ferry berlabuh di dermaga, alih-alih segera menuju ke Kochi Airport Bus Terminal, aku malah berbelok berlawanan arah menuju timur, menapaki Calvathy Road untuk melongok sejenak dermaga lainnya yang dimiliki Fort Kochi. Aku masih saja oportunis untuk menuju ke pulau lain….Aku ingin ke Wellington Island.  

Aku menyisir jalanan di belakang rombongan pelancong lokal yang kesemuanya adalah gadis belia India, dengan pakaian sari yang khas India, kesemuanya berambut panjang terkepang dan terkuncir serta berkulit gelap tapi tetap saja manis. Sesekali mereka menengok ke arahku, merasa sadar sedang kukuntit dari belakang. Aku merasa cuek saja, sengaja aku berbuat demikian untuk menghindari scam yang mungkin saja muncul. Setidaknya berjalan di belakang rombongan gadis India itu mampu membuatku merasa tak berjalan seorang diri.

Dalam jarak delapan ratus meter, tiba juga diriku di dermaga yang dimaksud. Tak seperti dermaga yang menuju Vypeen Island, dermaga menuju Wellington Island tampak lebih tertata rapi. Ada bangunan dermaga yang menjadi pusat aktivitas para penumpang.

Aku kembali melihat waktu yang tetampil di gawai pintar, hanya ada waktu tersisa empat puluh lima menit jika ingin berangkat menuju Wellington Island.

Aku terduduk membisu di salah satu bangku pelabuhan, berfikir keras berkali-kali. Tetapi tetap saja, realita mengatakan bahwa waktuku tak akan pernah cukup. Artinya, tak ada yang bisa diperbuat lagi, aku harus bergegas pulang ke penginapan dan menutup eksplorasi.

Alhasil, melangkahlah aku menuju Kochi Airport Bus Terminal. Dalam lima belas menit, aku pun tiba. Dan tak terduga, aku bertemu kembali dengan sopir dan kondektur yang sama seperti saat aku berangkat menuju Fort Kochi dari bandara pagi tadi.

Sontak kondektur perempuan setengah baya itu tersenyum dan menunjukkan jari ke arahku ketika aku melompat naik dari pintu depan, rupanya dia masih mengenali raut mukaku. Aku membalas senyumnya dan sebelum duduk aku bertitip pesan penting kepadanya, “Drop me off at Vyttila Station, Mam !”.

Oooooh…Vyttila Station….Oke, don’t worry”, dia menjawab dengan aksen dan gaya khas….Menggeleng-gelengkan kepalanya.

Usai memastikan kondektur perempuan itu memahami pesanku, aku segera mengambil tempat duduk dan lagi-lagi waktuku harus terbuang karena menunggu bus dipenuhi oleh penumpang.

Usai semua bangku terisi oleh penumpang, maka bus mulai bertolak menuju Aerotropolis Nedumbassery.

—-****—-

Aku diturunkan di sebuah perempatan besar dengan kesibukan proyek flyover di atasnya. Perjalanan sejauh dua puluh kilometer kubayar dengan ongkos sebesar 40 Rupee.

Berdiri di perempatan, aku mengawasi sekitar, feeling telah mengarahkanku untuk melangkah ke barat demi menemukan Stasiun Vittyla. Maka dengan penuh kepercayaan diri kulangkahkan kaki menujunya.

Menyisir trotoar panjang di tepian Sahodaran Ayyappan Road nan ramai kendaraan, aku terus mengawasi sekitar. Tetapi….Semakin jauh melangkah, aku tak kunjung melihat keberadaa stasiun MRT yang kucari.

Dan pada akhirnya, kuputuskan bertanya saja kepada seorang penjahit yang sedang khusyu’ bekerja di kiosnya.

Dia mengernyitkan dahi begitu faham aku tersasar. Menghentikan pekerjaannya, dia keluar dari kios dan berjalan menuju trotoar sambil memintaku mengikutinya. Dia menunjuk arah timur dan dengan jelas memintaku untuk menyeberangi perempatan di bawah proyek flyover dan melangkah lurus setelah menyeberangi perempatan tersebut.

Mengucapkan terimakasih, aku melangkah ke arah semula.

Sesampai di perempatan, aku bertanya kepada seorang opsir polisi yang kebetulan sedang bertugas mengurai kemacetan. Dia menunjukkan arah dimana untuk sampai ke seberang jalan, aku harus melintasi area bawah jalan layang yang dipenuhi oleh para pekerja proyek.

Aku berhasil tiba di seberang jalan, maka selanjutnya aku kembali melangkah meneruskan jarak tersisa untuk menemukan Stasiun Vyttila.

Alhamdulillah…Aku akhirnya menemukannya….

Penuh kegirangan, aku segera memasuki bangunan stasiun dan langsung berburu tiket. Menggunakan lift, dari Ground Level aku menuju ke Concourse Level. Di lantai itulah dengan mudah aku menemukan konter penjualan tiket. Kali ini aku hanya akan membeli single journey ticket untuk menuju Stasiun Aluva.

Dengan membayar 60 Rupee aku mendapatkan tiket yang dimaksud dan segera menuju ke platform.

Menunggu MRT di Kerala menjadikanku teringat ketika menjelajah beberapa stasiun MRT di New Delhi di awal tahun 2018. Saat itu aku melihat bahwa standar keamanan di MRT New Delhi dilakukan dengan sangat ketat oleh Central Industrial Security Force (CISF) yang merupakan pasukan polisi bersenjata yang bekerja di bawah Parlemen India. Di bawah pengawasan mereka, jangan harap bisa mengambil foto dengan mudah di MRT New Delhi.

Mengingat pengalaman tersebut, aku tak memberanikan diri memotret situasi stasiun dengan terang-terangan.

MRT yang kutunggu pun tiba….Perlahan merapat di sepanjang sisi platform, tanpa ragu aku segera menaikinya dan di dalam gerbong aku memilih berdiri saja di dekat pintu. Tujuanku adalah menikmati keindahan Kerala, mengingat MRT ini melintas di jalur rel layang sehingga sepanjang perjalanan akan memamerkan pemandangan kota yang indah dari ketinggian.

Perempatan dimana aku diturunkan.
Stasiun Vyttila.
Konter penjualan tiket Kochi Metro.
Inilah Mass Rapid Transportation ke-11 dari 13 MRT di luar negeri yang pernah kunaiki.
Suasana ketika pertama kali memasuki gerbong.
Penampakan kereta-kereta reguler India.
Stasiun Aluva.

Sejauh mata memandang, banyak sekali kutemukan pohon kelapa yang bertebaran di sudut-sudut kota. Memang ….Mengapa negara bagian ini disebut dengan “Kerala”.

 Ya “Kerala” memiliki makna “Tanah Kelapa”, maka sudah tepat jika dinamakan demikian, karena aku dengan mudah menemukan pohon kelapa hingga ke tengah kota.

Di sepanjang perjalanan, tak sedikit penumpang tampak heran memperhatikanku yang terlalu sering mengambil gambar lewat jendela kereta. Mereka pastinya faham bahwa aku adalah pelancong asing yang sedang mengabadikan kota. Untuk menetralkan suasana, aku berusaha melemparkan senyum ramah kepada beberapa penumpang yang tampak sesekali memperhatikan keberadaanku.

Semakin menjauhi Stasiun Vyttila, suasana gerbong semakin penuh, tampak kebanyakan dari mereka adalah karyawan yang sedang dalam perjalanan pulang dari kantor mereka masing-masing. Sungguh waktu yang tepat bagiku untuk mencicip transportasi kebanggan warga Kerala sore itu karena aku menaikinya tepat pada jam-jam sibuk masyarakat lokal dalam menggunakan MRT.

Tak terasa, Kochi Metro semakin mendekat ke Stasiun Aluva yang merupakan stasiun paling ujung dari rute reguler Metro Kochi. Aku pun bersiap turun…. 

Aku masih berjarak lima belas kilometer dari penginapan, jadi aku masih harus melanjutkan perjalanan menuju Aerotropolis Nedumbassery menggunkan airport bus.

Begitu Kochi Metro menghentikan segenap rodanya, aku segera menuruni lantai atas stasiun untuk menuju jalan raya demi mencegat airport bus yang akan melewati Stasiun Aluva.

Terimakasih Kochi Metro yang sudah memberikan pengalaman berharga dalam perjalananku di Kerala…

Kisah Selanjutmya—->

Sejenak Mengintip Vypeen Island

<—-Kisah Sebelumnya

Seturunnya dari ferry, aku mengibarkan bendera putih ketika bernegosiasi dengan perut….Aku memutuskan berburu porsi tambahan untuk meredam protesnya.

Menyibak antrian penumpang di sepanjang jalan menikung keluar dari Vypeen Ferry Port, aku dipertemukan dengan sebuah shopping complex. Aku bergegas menyambanginya demi mencari apapun yang bisa dimakan dalam waktu cepat.

Di kios paling ujung, terdekat dengan sisi pelabuhan, aku melihat keberadaan sebuah kios kecil yang mendisplay kue-kuean khas India. Tanpa ragu aku mendekatinya dan sesampai di depan etalase aku mulai memilih jenis kue yang sekiranya cocok dengan lidah.

Tak lama….Seorang anak, sepertinya masih bersekolah dasar, datang dari ruang belakang. Dia berdiri tersenyum melihat dan menungguku memilih kue yang hendak kubeli.

Setelah membalas senyum dan menatap wajah lucunya, aku mulai meluruskan jari telunjuk, “this…this…this…this…this”, aku menunjuk lima buah kue berbeda berukuran tak terlalu besar.

Alamak…..Ya, Allah…..Ya, Rabbi…..

Anak itu dengan ringannnya, mengambil kantong plastik, lalu dengan tangan telanjang menyomoti kue itu satu persatu dan memasukkannya ke dalamnya.

Aku tersenyum kecut memperhatikan aksinya, “Mudah-mudahan dari ruang belakang tadi, nih bocah tidak dari toilet”, harapan terakhir kulontarkan sembari melihat wajahnya yang ramah tanpa dosa itu.

Twenty four Rupee, Sir”, dia mengangkat lurus tangannya menyerahkan kantong kue itu dengan tersenyum lebar dan memperlihatkan gigi kelincinya.

Oh, Okay….This…”, aku menyerahkan uang sembari melihat wajahnya dan melemparkan senyum selebar-lebarnya, “Aku memaafkanmu, nak”, batinku menambahkan.

Keluar dari kios, mataku menyapu sekitar, mencari tempat duduk yang bisa kugunakan untuk menyantap kue basah itu. Tetapi aku tak mampu menemukannya. Kuputuskan saja menuju ke area rindang di bawah pohon.

Membuka ikatan plastik berisi lima potong kue, kemudian aku menyantap tiga diantaranya sembari berdiri….Sungguh tak sholeh, jangan ditiru ya gaya makan seperti itu !.

Berhasil meredam lapar, aku memutuskan meyimpan kue tersisa ke dalam folding bag.

Kini aku sudah kehilangan banyak waktu. Secara keseluruhan untuk tiba kembali di Kochi Airport Bus Terminal hanya tersisa waktu sekitar satu setengah jam dihitung mundur.

Di depan sana, antrian panjang kendaran yang akan mengantri menaiki ferry menuju Fort Kochi sungguh membuat bising suasana. Kegemaran warga India membunyikan klakson lah yang menyebabkannya demikian.

Aku memutuskan melangkahkan kaki menuju jalanan utama Vypeen Island yang membelah memanjang dari utara hingga ke selatan pulau itu tepat di tengahnya….Vypeen-Munapam Road, namanya.

Hello, brother….Welcome to Vypeen”, seorang pemuda tanggung dengan kacamata raybannya menyapaku dengan mengeluarkan kepala dari mobil sedannya yang terjebak dalam antrian menuju ferry.

Hello, brooo….Nice place”, aku menjawabnya balik dan kebetulan juga mengenakan kecamata rayban. Aku tak mau kalah ganteng darinya tentunya….Yuhuuu.

Terkadang memang kita harus menampilkan kepercayaan diri untuk menunjukkan bahwa kita tak takut menjelajahi tempat asing. Tentunya tetap saja bahwa penjelajahan itu harus dilakukan dengan perhitungan yang tepat dan aman.

Saatnya meninggalkan dermaga dan menuju ke pusat Vypeen Island.
Yukz….Cari kue dulu !
Antrian panjang menuju Vypeen Ferry Port.
Salah satu gereja di Vypeen Island.
Kamu berani ga jalan sendirian di tempat sepi kek gitu?
Rumah salah satu warga yang tampaknya sangat religius.

Aku kini sudah semakin jauh dari dermaga dan semakin menuju ke tengah pulau, suasana jalanan semakin sepi. Sejujurnya aku sendiri mulai sedikit khawatir dengan kondisi itu. Tetapi waktu untuk mengenal Vypeen Island hanya kali ini saja, aku menguatkan diri untuk tak akan melewatkanya hanya karena rasa takut.

Aku melanjutkan langkah, menikmati suasana pulau dengan sesekali berhenti  untuk mengambil gambar ketika menemukan bangunan-bangunan unik. Gereja dan kuil Hindu mudah sekali kutemukan di sepanjang jalan.

“Hello Sir, do you know, where is the Kottenkerril Devaki Krishna Temple?” , aku bertanya kepada seorang lelaki setengah baya berperut buncit dan kumis melingkar yang gagah khas India.

“No temple here, Sir….Maybe church?” , dia menjelaskan sembari membuka tangan dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Oh, thank you, Sir” , aku cepat mengakhiri percakapan. Tentu akan susah berbicara dengan orang yang memang benar-benar tak tahu lokasi. Lebih baik aku melanjutkan perjalanan kembali. Aku memutuskan untuk tak harus menuju ke kuil itu.

Kali ini aku hanya bergerak menuruti langkah kaki. Semampu mengayun langkah dan menikmati suasana sepanjang perjalanan. Tak ada tempat khusus yang akan kutuju. Aku hanya akan menghabiskan waktu tersisa menelusuri jalanan utama Vypeen Island.

Aku menulusuri jalanan sejauh tiga kilometer, langkah demi langkah kuayunkan demi melihat atmosfer sekitar. Sembari terus berusaha melawan kekhawatiran di tengah lengangnya jalanan.

Tetapi perjalanan tetaplah perjalanan, selalu ada cerita lucu, menakutkan ataupun menyenangkan. Kini aku menemukan satu insiden yang sedikit tak mengenakkan ketika seorang bule beradu mulut dengan sopir bajaj di sebuah sisi jalan.

Dugaanku adalah si turis merasa dikerjai oleh si tukang bajaj dan si turis meminta haknya untuk diantarkan ke tujuan yang dimaksud.

Maka di akir perkelahian mulut itu, si pengemudi bajaj tampak mengalah dan menuruti keinginan si penumpangnya.

Aku hanya menyunggingkan senyum atas peristiwa itu.

TIba di pertengahan area Vypeen Island, akhirnya aku segera memutuskan untuk kembali lagi menuju dermaga demi mengakhiri petualangan mengeksplorasi Vypeen Island. Aku harus segera menangkap keberangkatan airport bus terdekat sebelum aku kehilangan kesempatan untuk kembali ke penginapan yang jaraknya empat puluh kilometer di utara.

Kisah Selanjutnya—->

Ferry Menuju Vypeen

<—-Kisah Sebelumnya

Lepas pukul tiga sore, aku mulai meninggalkan bibir pantai. Melangkah cepat menuyusuri River Road

Tetapi gundah menggelayuti diri. Aku terganggu dengan opsi. Balik ke penginapan yang jauhnya empat puluh kilometer di utara atau melanjutkan eksplorasi hingga limit waktu?. Dua pilihan yang membimbangkan.

Aku menunduk….Melangkah pelan….Memikirkan benar-benar opsi sulit itu hingga tak terasa semakin dekat dengan Kochi Airport Bus Terminal.

Sayang untuk pulang terlalu dini….Aku ingin melihat Vypeen”, keputusan telah di ambil, kegalauan terpaksa lindap.

Menengok sekejap airport bus yang sebentar lagi angkat kaki meninggalkan Fort Kochi, aku mengabaikannya, lalu kembali mantap menatap lurus ke depan.

Berwisata di kota pesisir tak kan lengkap tanpa mencoba armada perairannya”, aku meyakinkan diri setelah mengambil keputusan berani untuk berjudi dengan waktu.

Kuncinya, aku harus kembali ke titik awal dalam tiga setengah jam. Jika tak sanggup kulakukan, maka kehilangan kesempatan menangkap bus terakhir menjadi ganjaran setimpalnya. Untuk itu, setidaknya aku akan aman mengambil waktu dua jam saja untuk mengintip sejenak atmosfer Vypeen.

Kembali menyusur Bellar Road, aku bergegas menuju dermaga. Beruntung, letaknya tak terlalu jauh, hanya berjarak tak lebih dari seratus meter dari Kochi Airport Bus Terminal.

Tak lama kemudian, tibalah aku di dermaga. Suasana sangat ramai. Mungkin inilah tempat teramai yang kutemukan di Fort Kochi. Kesibukan penumpang nampak jelas, fragmen-fragmen adegan berlangsung begitu cepat. Setiap penumpang tampak fokus pada ihwal masing-masing. Mungkin hanya aku yang tak memiliki kesibukan berarti sore itu.

Aku mulai berburu tiket untuk menaiki ferry menuju Vypeen Island. Menemukan konter penjualan tiket. Maka tak seperti yang kuduga. Konter itu berpenampilan sangat sederhana, hanya berbentuk posko kecil yang didalamnya hanya muat untuk berdiri bagi dua petugas yang melayani penjualan tiket. Oleh karenanya, antrian pun mengular hingga ke ujung jalan, membuatku harus bersabar untuk bisa menaiki ferry yang mulai memasukkan muatannya.

Aku akan tertinggal….”, aku dengan cepat memvonis diri mengingat jarak antrian berdiri yang masih jauh dari konter.

Benar saja, ferry itu telah berlayar dan hanya meninggalkan jejak gelombang saja ketika aku baru saja mendapatkan tiket. Tak ada yang bisa kuperbuat. Aku mengambil tempat berdiri di salah satu sisi dermaga demi menunggu kedatangan ferry berikutnya.

Beruntung tak lama, dalam lima belas menit menunggu, ferry datang. Begitu ferry merapat dan membuka lambung maka dengan cepat kendaraan roda empat, roda dua, bajaj dan tentu para penumpang mulai merangsek ke dalamnya.

Ferry itu tak besar, sehingga dalam hitungan menit, seluruh geladak telah penuh oleh muatan. Tak ada kabin, semua muatan tertumpah di geladak tunggal. Sementara segenap penumpang duduk di sepanjang bangku di sisi kiri-kanan geladak, yang tak kebagian bangku terpaksa harus berdiri. Sedangkan geladak bagian tengah dipenuhi oleh kendaraan yang para penumpangnya tampak enggan untuk turun. Sebuah bajaj yang terparkir di geladak pun tampak dijejali oleh para pelancong.

Mendengar peluit yang tetiba berbunyi kencang, maka ferry menanggapinya dengan mengeluarkan bunyi klakson yang memekakkan telinga. Pintu geladak mulai ditutup dan gerung mesin mulai terdengar lebih kencang.

Aku memilih berdiri di ujug geladak.
Tuh kan…..Pada malas untuk turun.
Pelayaran pendek seharga 3 Rupee.
Sudah tiba….Ferry sedang unloading.
Penampakan utuh ferry dari sisi dermaga.

Ferry mulai berlayar di perairan Fort Kochi. Membelah perairan yang di beberapa titik tampak diserpihi oleh guguran sampah organik. Jarak antara Fort Kochi ke Vypeen Island tidaklah jauh, hanya berkisar setengah kilometer saja. Sehingga tak membutuhkan waktu lama untuk tiba.

Begitu ferry merapat di Vypeen Ferry Port, aku segera beranjak, mengikuti arus penumpang dan kendaraan yang mengantri keluar dari geladak.

Kini aku telah tiba di Vypeen Island…..

Tapi….

Perutku lapar lagi…..

Sepotong jagung dan es krim yang kulahap beberapa jam lalu ternyata tak mampu menggantikan porsi makan siangku…..

Kisah Selanjutnya—->

Keindahan Arsitektur Gotik di Santa Cruz Cathedral Basilica

<—-Kisah Sebelumnya

Menghindari jalanan yang sama saat menuju Saint Francis Church, aku merubah haluan. Kupilih menapaki Ridsdale Road yang di sepanjang kanannya tertampil Parade Ground yang memainkan peran sebagai bumi perkemahan bagi warga Fort Kochi, sangat lapang dengan rumput nan menghijau.

Hanya dalam dua blok, aku mengikuti arus di tikungan untuk bergabung dengan pejalan kaki lain di Quiros Street yang di ujung selatannya dibatasi oleh taman bermain dengan dua pohon besar nan rindang saling berdampingan. Kedua pohon tua itu seakan membentuk sebuah gerbang besar sebagai pintu masuk taman. Taman tersebut berjuluk Santa Cruz Ground….Mirip dengan nama destinasi yang akan menjadi tujuan langkahku berikutnya.

Aku menikmati rindangnya taman dengan berjalan menyejajarinya di sebelah utara melalui Santa Cruz Road. Sepertinya taman itu sering digunakan untuk bermain kriket, tampak jelas dari markah-markah yang tertera di dalam taman.

Panjang taman bermain itu tak lebih dari dua ratus meter. Berjalan beberapa waktu, akhirnya aku tiba di ujungnya yang terpotong oleh KB Jacob Road. Dan jika ditarik garis lurus ke utara, maka KB Jacob Road ini akan menemukanku dengan Kochi Airport Bus Terminal, tempatku turun beberapa jam lalu saat tiba pertama kalinya di Kochi.

Artinya apa?….

Artinya, sejak jam sebelas siang tadi aku sudah melakukan perjalanan kaki dengan jalur melingkar mengelilingi Fort Kochi.

Apakah aku merasa capek?….Tidak, justru aku semakin bersemangat.

Di depan sana, berkisar pada jarak seratus meter, destinasi berikutnya yang kutuju telah menunggu. Menyisir KB Jacob Road aku melangkah cepat menujunya.

Sewaktu kemudian, aku telah berada di gereja kedua yang kukunjungi selama di Fort Kochi. Gereja ini bernama Santa Cruz Cathedral Basilica. Setibanya, aku diam terpaku mengamati dari sebuah titik di halaman gereja ketika semua turis sibuk keluar masuk bangunan gereja tersebut.

Tak tampak yang spesial memang apabila gereja ini hanya dipandang dari luar. Oleh karenanya aku mencoba mencari tahu apakah ada yang terlihat istimewa di dalam bangunan sana. Sebelum memasuki pintu gereja aku mencoba membaca dengan seksama peraturan yang harus ditaati. Peraturan itu tertulis pada sebuah batu prasasti berukuran kecil,

Gereja ini adalah tempat peribadatan dan bukanlah sebuah museum. Waktu kunjungan adalah pukul 09:00 – 13:00 & 14:30 – 17:30 (Senin sampai Sabtu). Khusus hari Minggu karena ada aktivitas ibadah maka gereja bisa dikunjungi pada pukul 10:30 – 13:00. Pada Jum’at minggu pertama setiap bulannya akan diselenggarakan adorasi sehingga pengunjung tidak diizinkan masuk. Selama di dalam gereja dilarang menggunakan telepon genggam

Begitulah aturan yang tertera dan aku cukup maklum memahaminya. Hanya saja, aku tiba di gereja ini pada hari Kamis sekitar pukul setengah dua siang, Seharusnya gereja ini sudah ditutup untuk wisatawan, tetapi aku sungguh bersyukur karena wisatawan masih diizinkan masuk….Oh, beruntungnya kamu, Donny.

Memasuki pintu, apa yang menjadi ekspektasiku atas gereja Katedral ini sungguh menjadi kenyataan.

Gereja Katedral dengan dua menara.
Waow….Indah bukan?
Lihat patung-patung sakral itu !
Luar biasa….
St. Mary’s Canossian Convent…Sebuah biara di sisi kiri gereja.
Sebuah paviliun yang merupakan bangunan memorial di sisi kanan gerja.

Interior luhur yang mengadopsi seni Gotik khas Romawi menjadikan gereja ini tersemat nilai seni yang tinggi. Sementara di setiap tiang bangunan, terpajang patung-patung yang menggambarkan tokoh-tokoh yang ada di dalam Alkitab. Konon yang membuat interior gereja ini adalah seniman asal Italia yang bernama Fra Antonio Moscheni. Tetapi beliau meninggal tepat empat hari sebelum gereja ditasbihkan, yaitu pada tahun 1905. Inilah tahun dimana gereja katedral telah selesai dibangun ulang setelah terakhir kali runtuh oleh pasukan Inggris. Sedangkan gereja ini mendapatkan status Basilika pada tahun 1984 melalui dekrit khusus Paus Yohanes Paulus II.

Santa Cruz Cathedral Basilika adalah satu dari dua gereja yang selamat dari penghancuran seluruh gereja Katolik pada zaman kolonialisme Belanda di era 1660-an. Oleh Belanda, bangunan gereja ini dijadikan gudang senjata dan kemudian hancur oleh tentara Inggris yang merebut Kochi dari tangan Belanda.

Nah, begitulah kisah kunjunganku di Santa Cruz Cathedral Basilica.

Cukup menarik, bukan?

Kisah Selanjutnya—->