Kebobolan Kartu Kredit dari Departure Hall Cochin International Airport

<—-Kisah Sebelumnya

Masih saja gelap ketika aku meninggalkan kedai makanan dan menyeberangi Airport Road demi menggapai Terminal 3 Cochin International Airport.

Pagi itu pesawatku akan terbang meninggalkan Kochi menuju Colombo. Penerbangan yang kuambil adalah connecting flight Srilankan Airlines menuju destinasi akhir, yaitu Dubai.

Menelusuri beberapa jalur mobil di halaman bandara nan luas, aku merasa aman saja karena keberadaan para polisi bandara yang berkeliling mengamankan situasi.

Dalam dua puluh menit aku tiba tepat di halaman depan Terminal 3.

Menyeberangi drop-off zone, maka secara otomatis aku berada di departure hall bagian luar. Aku berusaha mencari keberadaan Flight Information Display System (FIDS) di selasar keberangkatan. Dengan mudah aku menemukannya dan kemudian mulai memperhatikan larik-larik informasi yang terpampang di layar tersebut.

Tetapi beberapa menit menunggui fragmen demi fragmen tampilan, nomor penerbanganku tak kunjung muncul. Sementara kursi-kursi di selasar keberangkatan perlahan mulai dipenuhi oleh para calon penumpang yang datang.

Apa oleh buat, aku yang penuh inisiatif, bergegas mendekati pintu masuk menuju departure hall bagian dalam.

Please, show your ticket and passport, Sir !”, seorang serdadu bersenjata laras panjang menahanku di pintu hall.

Oh okay……This is, Sir”, aku memberikan passport dan e-ticket cetak.

Dalam beberapa waktu kami berdua terdiam. Aku menunggu sang serdadu memeriksa dokumen yang kuberikan, sedangkan dia dengan khusyu’ membolak-balik halaman passportku serta mengamati lekat-lekat e-ticket cetak yang kuberikan.

This flight isn’t ready yet to check-in, Sir. Please wait for thirty minutes outside”, dia mengembalikan segenap dokumen yang tadi kuberikan sembari menunjuk deret bangku yang sebetulnya telah penuh oleh calon penumpang lain yang menunggu penerbangan mereka masing-masing.

Aku segera meninggalkan serdadu itu karena antrian memasuki departure gate mulai mengular. Bersyukur tersisa satu bangku kosong yang baru saja ditinggalkan oleh seorang calon penumpang dan membuatku nyaman menunggu hingga proses check-in penerbanganku dibuka.

Selama menunggu aku tertegun dalam mengamati aktivitas para penumpang India yang sibuk mempersiapkan bagasinya di luggage wrapping service. Timbul pertanyaan dalam hati: “apakah penanganan bagasi di India bermasalah?”.

Di percobaan yang kedua, serdadu itu mengizinkanku untuk memasuki departure hall karena check-in counter untuk penerbanganku telah berstatus OPEN. Melewati penjagaan para serdadu, selanjutnya aku pun diperiksa dengan sangat ketat di screening gate. Di India memang selalu begitu, bahkan setiap memasuki stasiun MRT di New Delhi, aku harus menjalani pemeriksaan ketat di screening gate stasiun. Mungkin aksi-aksi radikal masih menjadi perhatian penting di sana.

Aku tiba di check-in counter…..

Setelah menunggu beberapa proses check-in penumpang yang mengantri di depanku selesai, maka kemudian menjadi giliranku untuk menghadap ke check-in desk. Seperti biasa, aku bergegas menyerahkan passport, e-ticket dan hotel booking confirmation.

“Where is your destination?”, petugas wanita nan manis melontarkan pertanyaan standar.

“Dubai, Ms”.

“Do you have Unitd Arab Emirates Visa”, dia kembali menanyakan satu dokumen penting tersisa.

“Sure. Ms”, aku memberikan eVisa kepadanya.

Setelah beberapa waktu mengamati eVisa yang kuberikan, dia memanggil temannya. Kini petugas check-in desk laki-laki datang menghampiri meja. Mereka berdua tampak berdiskusi sambil menunjuk-nunjuk eVisa yang kuberikan. Hal ini tentu membuatku tegang, aku berfikir cepat: “Mungkin ada yang salah dengan dokumenku”.

Selepas berdiskusi, tampak petugas pria bersiap diri berbicara padaku dengan mimik serius.

“What do you go to Dubai for?”, dia melontarkan pertanyaan pertama

“Just tourism, Sir”

“Is this your first time go to Dubai?”, pertanyaan kedua terlontarkan.

“Yes, Sir”

“Why don’t you use direct flight from Jakarta to Dubai”, pertanyaan ketiga terucap.

“So expensive Sir if I take a direct flight from Jakarta. Outside of that, I went to Malaysia and India before arrive in Dubai because I’m a travel blogger and I need to take some content”, aku menjawab jelas dan jujur.

“Can I see you vlog?”

Not vlog, Sir…but it’s blog”, aku menegaskan

“Yeaa…whatever of that”

“This is, Sir. I had exkplored some region like South East Asia, East Asia, South Asia”

“Oh, nice…So it’s your time to explore Middle East area?”

“Exactly, Sir….for that I’m here now”

“Okay…I”ll give you two tickets for this connecting flight ?”

“Thank you very much, Sir”

“….Welcome….”

Beberapa waktu kemudian dia memberikan dua lembar tiket Srilankan Airlines. Satu tiket untuk penerbangan Kochi-Colombo dan satu lagi untuk penerbangan Colombo-Dubai.

“Oh yeeaa, don’t forget to take picture with nice spot behind this counter ! …There are many elephant sculpture there….And don’t forget to write it in your blog, Okay….hahahah ! ”, untuk pertama kalinya dia menampakan senyum dan berkelakar akrab di depanku.

“Oh Okay, with my pleasure, Sir….I love this airport”, aku mencoba menjawab seakrab mungkin dan dia hanya tersenyum menggeleng-gelengkan kepalanya saja.

Sebenarnya, aku sudah mengetahui keberadaan ikon bandara itu, hanya saja aku hampir terlupa untuk menyambanginya karena interogasi beberapa waktu lalu yang membuatkan sejenak berkurang ingatan. Beruntung check-in desk staff laki-laki itu memberitahuku sehingga aku tidak kehilangan momen mengabadikan ikon itu.

Menuju departure gate.
Drop-off zone.
Check-in zone.
Patung-patung gajah yang menjadi ikon Cochin International Airport.

Selepas keluar dari check-in area, aku segera mengurus departure stamp di konter imigrasi. Tahapan keluar dari sebuah negara selalu saja berproses cepat, aku berhasil melaluinya dengan mudah untuk kemudian mengikuti petunjuk di sepanjang koridor untuk tiba di waiting room di sepanjang gate pemberangkatan.

Ruang tunggu Cochin International Airport memang terlihat unik, antar ruangan gate di desain tidak bersekat sehingga menjadikan ruang tunggu dengan sembilan gate itu tampak lega. Kursi-kursi tunggal berukuran lebar dengan dudukan busa pun disediakan di sepanjang gate.

Kuputuskan untuk mengambil salah satu bangku untuk duduk menunggu boarding time yang masih dua jam lagi. Kemudian aku berusaha untuk mengakses WiFi bandara untuk mencari beberapa informasi penting mengenai pariwisata Dubai.

Baru saja berhasil mengakses WiFi, aku menerima sebuah notifikasi dari WordPress untuk segera memperpanjang penggunaan domain blog perjalanan yang saya miliki karena beberapa hari ke depan masa berlakunya akan habis.

Aku berfikir, daripada mengambil resiko kehilangan domain di saat sedang melakukan perjalanan, maka aku memutuskan memperpanjang domain tersebut saat itu juga.

Ternyata menghilangkan resiko kehilangan domain tersebut, membuatku mendapatkan resiko lain tanpa kusadari. Kesalahan utama yang kulakukan dengan melakukan pembayaran menggunakan kartu kredit menggunakan akses WiFi bandara ternyata memunculkan resiko baru, yaitu kemungkinan pembajakan data oleh para hacker atas kartu kreditku.

Dan benar apa adanya nanti bahwa beberapa bulan setelah aku pulang dari petualangan menjelajah kawasan Timur Tengah, kartu kreditku kebobolan. Beruntung eksekusi pembayaran yang dilakukan si hacker dinyatakan gagal sehingga proses tagihan ke salah satu bank swasta kenamaan di Jakarta otomatis dibatalkan….Hmmh, ada-ada saja.

Waktu menunggu yang terlalu lama, membuatku gatal untuk kembali melakukan eksplorasi. Kuputuskan untuk kembali berkeliling ke seluruh departure gate hingga naik ke lantai dua yang secara mayoritas digunakan sebagai duty free zone.

Gate.
Duty free zone.
Food court area.
Saatnya terbang menuju Colombo.

Di tengah waktu berkeliling hall, aku sejenak merapat ke salah satu pojok dimana Fligt Information Display System (FDIS) dan beberapa Advertisement LCD diinstalasi. Aku sejenak tertegun membaca informasi pada salah satu layar LCD. Aku membaca informasi itu dalam hati:

“Cochin International Airport…The recipients of United Nation’s Highest Environmental Honor, The Champion of the earth-2018”

Wahhhh….Keren ya bandara ini.

Hanya karena departure gates yang tak terlalu luas membuatku tak membutuhkan banyak waktu untuk mengeksplorasinya. AKhirnya kuputuskan untuk kembali menunggu saja hingga boarding timeku tiba.

Kisah Selanjutnya—->

Malam Terakhir di Kochi

<—-Kisah Sebelumnya

Aku bergegas menuruni anak tangga di Stasiun Aluva demi mengejar airport bus yang akan melewati Service Road yang berada di bawah stasiun. Karena Stasiun Aluva adalah stasiun layang yang berada di atas jalan itu.

Menepi di salah satu sisi, aku melihat kedatangan bus berwarna oranye dari sisi kanan. Aksara India yang berada di kaca depan berhasil memunculkan ragu. Untuk memastikan bahwa bus itu menuju bandara, aku memberanikan diri bertanya kepada wanita muda yang kebetulan akan melintas di trotoar dimana aku menunggu. Dilihat dari penampilannya, aku menebak bahwa wanita muda penuh gaya itu pastinya seorang karyawati kantoran. Dilihat dari blazer hitamnya yang rapi dan sepatu kerjanya yang mengkilat.

Yes, Sir. That bus goes to airport”, dia menjawab pertanyaanku sembari melemparkan senyum.

Mengucapkan terimakasih kepadanya, aku segera menaiki bus itu yang beberapa saat sebelumnya berhenti di depan halte.

Bus itu tampak penuh, tetapi si kondektur laki-laki bertubuh kurus itu menunjukkan satu kursi paling belakang yang masih kosong. Aku mengangguk dan bergegas mengakuisisi bangku itu.

Satu kejadian yang membekas hingga saat ini adalah ketika si kondektur itu menagih ongkos 42 Rupee kepadaku. Karena tak ada uang bernominal kecil, menjadikanku tak bisa membayar tarif tersebut. Bersyukur seorang pria muda yang duduk di sebelah kiri berbaik hati menukar uangku dengan pecahan kecil sehingga aku bisa membayar ongkos bus tersebut.

Thank you, Sir for your kindness

Welcome…”, dia menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum menjawabnya.

Semakin mendekati bandara, tatapanku tertuju dengan pemandangan di sisi kanan jendela bus. Mencoba mengamati dengan seksama, aku baru tersadar bahwa yang kulihat adalah ladang panel surya yang teramat luas. Aku masih belum faham untuk apa panel surya diinstalasi di ladang seluas itu.

Pertanyaan itu akhirnya terjawab ketika aku iseng melakukan browsing di sebuah penginapan di Dubai. Maklum selama di India aku tidak berhasil mendapatkan jaringan internet untuk melakukan browsing.

Halte bus dekat Stasiun Aluva.
Airport bus yang kunaiki.
Ladang panel surya dekat bandara.

Jawabannya adalah Cochin International Airport ternyata menggunakan energi listrik tenaga surya untuk pengoperasiannya.

Mengikuti rute airport bus yang kunaiki, mau tak mau, aku harus turun di dalam area bandara. Tetapi setelahnya, untuk menuju penginapan tentu tak susah karena Hotel Royal Wings yang kuinapi hanya berjarak  satu setengah kilometer dari bandara.

Dalam dua puluh menit melangkah akhirnya aku tiba….

Di meja resepsionis, aku segera mengambil backpack yang sedari pagi kutitipkan, setelahnya seorang staff hotel tanpa seragam mengantarkanku menuju lantai dua.

Memasuki kamar, aku segera membongkar semua isi backpack dan menumpahkannya di atas kasur. Sudah menjadi kebiasaanku untuk mengecek ulang keberadaan perlengkapan-perlengkapan penting dalam perjalanan. Usai memastikan semuanya lengkap, aku segera memutuskan untuk mencari makan malam.

Tetapi baru saja melangkah keluar kamar, staff hotel yang tadi mengantarkanku datang kembali.

You are in the wrong room, I’m sorry, can I switch to other room, Sir?” dia menyampaikan informasi.

Oh, Okay….No problem”, aku menjawab.

Aku pun memasuki kamar kembali dan bermaksud mengepack kembali semua perlangkapan yang sudah berantakan di atas kasur.

Rupanya staff ini melongok sebentar dari pintu. Setelah mengetahui bahwa kamar yang kumasuki sudah berantakan maka dia mengurungkan niat untuk memindahkanku.

Sir, I’,m sorry, I think it will be busy if you switch your room. So better, you are still here”, dia sepertinya menyerah menungguku yang sedang melakukan packing.

Akhirnya aku pun tetap akan menginap di kamar yang sama.

Usai mendapatkan kepastian nomor kamar maka segera melakukan rutinitas lain.

Aku menuruni tangga dan duduk di lobby. Aku berfikir keras karena SIM Card yang tak kunjung berfungsi semenjak kubeli pagi sebelumnya telah memblokade diriku dari informasi apapun. Sebetulnya aku hanya ingin mengecek penerbangan esok pagi, apakah ada perubahan jadwal atau tidak. Oleh karenanya, demi memastikan, aku harus mengecek email. Karena setahuku, runway Cochin International Airport sedang direnovasi yang menyebabkan banyak penerbangan terkena delay tadi pagi.

Aku terpaksa meminta password untuk bisa mengakses WiFi penginapan kepada si pemilik yang sedang duduk di meja resepsionis.

“This is the password…Don’t use it to access video, Okay !”, dia berpesesan dengan muka serius.

“Oh Okay, Sir. I just want to check my flight information for tomorrow. Just it, no more”,

“Okay…Okay”, dia menggeleng-gelengkan kepalanya.

Hmmhhh…Baru kali ini menginap di hotel yang pemakaian WiFinya dibatasi….Aneh bin ajaib memang India.

Aku lega, karena tidak ada informasi lanjutan apapun mengenai penerbanganku esok pagi.

Maka langkah selanjutnya yang kulakukan adalah mencari money changer untuk menukarkan Rupee tersisa ke Dollar Amerika. Di beberapa money changer dekat penginapan, aku mendapatkan penolakan karena jumlah Rupee yang akan kutukarkan menurut mereka jumlahnya sangat kecil.

Aku tentu tak menyerah begitu saja. Sekecil apapun Rupee tersisa yang kupegang tentu sangat berharga dalam perjalanan berikutnya.

Bersyukur aku menemukan money changer rumahan di sekitar hotel, money changer kecil itu dengan sigap menerima sisa Rupee yang kupunya. Akhirnya aku mendapat tambahan 7 Dollar Amerika untuk perjalanan berikutnya.

Menggenapkan aktivitas di malam terakhirku di Kochi maka kuputuskan untuk segera berburu makan malam. Tak susah mencari makanan halal hingga pada akhirnya aku memilih duduk di salah satu kursi Al Madheenaa Restaurant.

Memesan seporsi butter rice dan segelas chai, aku menikmati makan malam terahirku di Kochi. Aku benar-benar menikmati menu terenakku selama di berpetualang di Kochi.

Di akhir sesi makan malam, aku membayar 120 Rupee dan bergegas meninggalkan restoran tersebut dan masih membawa sedikit Rupee tersisa yang cukup kugunakan untuk membeli sarapan esok pagi.

Restoran dekat penginapan. Dijamin halal.
Hmmhh….Alhamdulillah, menu begitu aja sudah paling nikmat.

Aku terburu langkah kembali ke penginapan….

Malam itu aku harus mencuci t-shirt dan celana panjang yang telah kukenakan seharian. Tanpa pikir panjang, setiba di kamar aku dengan cekatan mencucuinya lalu mengangin-anginkannya di bawah kipas kamar. Aku berharap esok pagi sudah bisa melipatnya dalam kondisi kering.

Saatnya untuk bersantai dan beristirahat. Hotel itu memang tampak super sederhana. Bagaimana tidak, televisi tabung model lama yang tersedia hanya menampilkan tak lebih dari lima channel sehingga rencana untuk meghibur diri menjadi gagal total.  

Oleh karenanya, aku lebih memilih untuk mengemas perlengkapan ke dalam backpack dan segera beristirahat supaya esok hari badan kembali segar.

—-****—-

Pukul lima pagi aku terbangun….

Mengguyur badan dengan air hangat, bermunajat kepada Allah dalam Shalat Subuh dan memastikan semua perlengkapan tak tertinggal maka aku memutuskan untuk segera melakukan check-out.

Aku check-out menjelang pukul enam pagi, lalu bergegas menuju kedai jajanan di dekat penginapan untuk menyantap sarapan secara sederhana saja. Tiga potong jajanan lokal kusantap dengan lahap lalu kulengkapi dengan menyeruput secangkir chai panas untuk menghangatkan badan di tengah dinginnya udara pagi kota Kochi.

Can this change be exchanged for any food?”, aku menyerahkan semua uang recehku kepada si pemilik kedai. Dengan sigap dia memasukkan beberapa potong jajanan ke dalam kantong plastik.

Dengan penuh senyum aku menerimanya lalu menyelipkannya ke dalam folding bag. Sekantong plastik jajanan itu bisa kugunakan untuk makan siang nanti ketika transit di Colombo.

Kulanjutkan langkah menuju bandara. Tetapi gundah kembali menggelayuti. Mungkin aku kekurangan literasi dalam persiapan berpetualang sehingga menjadikanku khawatir akan Dubai yang konon sangat ketat dalam aturan mambawa obat-obatan.

Menurut sumber yang aku baca, harus ada permohononan izin secara resmi yang bisa diajukan secara online kepada otoritas Uni Emirat Arab jika ingin membawa obat-obatan. Dan aku tak sempat menyiapkannya.

Oleh karena itulah, aku harus mengambil keputusan gegabah ini. Aku yang tak mau ambil pusing akhirnya membuang sekantong obat yang kubawa di sebuah tong sampah di dekat kedai. Hal bodoh yang mungkin pernah kulakukan. Semenjak detik itu pula, aku sudah melakukan perjudian besar, yaitu mengeksplorasi kawasan Timur Tengah tanpa obat-obatan sama sekali.

Oh, Donny….Si cowboy backpacker….

Kisah Selanjutnya—->

KURTC: Cochin International Airport ke Fort Kochi

<—-Kisah Sebelumnya

Usai menyantap jajanan ringan Appam, Elai Adai dan Samosa, aku menyempurnakan sarapan dengan menyeruput perlahan Chai panas yang membuat badan menjadi hangat setelah semalaman terpapar dinginnya penyejuk ruangan bandara.

Seruputan terakhir Chai menandakan bahwa aku harus bersiap diri menuju destinasi utama hari itu….Apalagi kalau bukan Fort Kochi, sebuah kawasan perpaduan empat budaya yaitu Belanda, Portugis, Inggris dan India.

Meninggalkan Cafe Sulaimani, aku kembali melangkah menuju bundaran di sekitar gerbang utama Cochin International Airport.  Setibanya di sana aku merasa beruntung karena ada seorang opsir polisi yang sedang bertugas.

“Sir, Where is bus shelter which can deliver me to Fort Kochi?”, aku memberanikan diri untuk bertanya.

“Just wait there, bus will come on fifteen minutes”, dia melihat jam tangannya dan menunjuk ke sebuah pojok jalan.

“Thanks, Sir”

“Welcome”

Aku segera menyeberang jalan dan menunggu tepat di tikungan. Tak ada halte apapun di sisi jalan itu. Hanya saja petunjuk opsir polisi itu sudah membuatku yakin bahwa bus bisa dihentikan di pojok jalan itu.

Lima belas menit menunggu adalah masa-masa menenangkan, bagaimana tidak, opsir polisi itu sepertinya tak lengah memperhatikanku sembari mengatur lalu lintas di sekitar. Dia sepertinya akan memastikanku terangkut oleh bus pada pemberangkatan terdekat.

Benar adanya, tepat lima belas menit, sebuah bus berwarna oranye dengan logo KURTC (Kerala Urban Road Transport Corporation) keluar dari arah bandara. Dengan cepat aku menangkap kehadirannya, begitu pula dengan opsir polisi itu. Ketika bus perlahan semakin mendekat, sang opsir menatapku dari kejauhan dan telunjuknya diarahkan ke bus tersebut sembari tersenyum. Aku mengacungkan jempol dan membalas senyumnya.

“Terimakasih pak polisi yang baik hati”, aku membatin ceria.

Aku memasuki bus dari pintu depan dan mengambil tempat duduk di sisi tengah. Keluar dari bandara, deretan bangku bus masih terlihat kosong. Tak lama duduk, seorang kondektur perempuan dengan mesin geseknya datang mendekatiku.

“Where will you go?”, dia melontarkan pertanyaan.

“Fort Kochi, Mam”, aku menjawab sembari tersenyum.

“88 Rupee”, kondektur itu menggeleng khas India.

Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sebelas ketika bus perlahan bergerak ke barat meninggalkan Aerotropolis Nedumbassery. Bus merangsek melalui Airport Road, jalanan utama berpembatas  trotoar di antara kedua ruasnya.

Perlahan tapi pasti, bus menaikkan penumpangnya satu per satu di sepanjang jalan. Ada yang dinaikkan di halte dan ada juga yang dinaikkan di luar halte.

Dalam lima belas menit, rasa penasaranku terbayarkan ketika bus melintas di sebuah stasiun MRT.

Itu pasti Stasiun Aluva”, aku membatin.

Dalam peselancaranku di dunia maya, aku menemukan bahwa Kochi adalah kota yang memiliki fasilitas MRT. Kini aku sudah menemukan jalurnya dan aku menjadi berniat untuk mencicip Kochi Metro walau hanya sekali saja. Mungkin sepulang dari Fort Kochi sore nanti.

Meninggalkan Aluva, keramaian warga lokal mulai terlihat masif ketika bus memasuki sebuah kawasan industry, daerah Kalamassery namanya. Truk-truk besar khas industri tampak memenuhi jalanan, sedangkan bus-bus kota jenis yang lain dijejali oleh warga lokal yang sibuk beraktivitas.

Kemudian keluar sedikit dari kawasan Kalamassery, gedung-gedung apartemen mulai kutemui kehadirannya. Dugaanku, para pekerja dari kawasan industri itu sebagian besar tinggal di apartemen-apartemen yang didirikan di sekitar wilayah Ernakulam.

Stasiun Aluva, salah satu stasiun dalam jaringan Kochi Metro.
Suasana HMT Road di sebuah kawasan industri Kalamassery.
TBPL GK Arcade (kanan depan) adalah gedung apartemen di distrik Ernakulam tepat di sisi Jalan Ernakulam-Thekkady.

Setelah 45 menit menit perjalanan, merapatlah bus ke sebuah terminal di daerah Vyttila. Sebagian besar penumpang naik dan turun di terminal ini. Inilah bus hub yang berukuran lumayan besar di kota Kochi. Bus-bus dari dan menuju daerah lain di Kerala tampak merapat di terminal ini.

Usai menaikkan penumpang di Vyttila Hub Bus Terminal, bus kembali merangsek ke jalanan. Semakin ke barat, sungai-sungai besar mulai mengakuisisi pemandangan. Aku faham bahwa bus yang kunaiki semakin merapat ke arah pantai barat Kerala. Sungai-sungai itu bercabang-cabang membelah daratan. Semakin banyaknya daratan yang terpisah oleh perairan menyebabkan aku mulai menemukan banyak sekali jembatan di bagian akhir perjalanan menuju Fort Kochi.

Salah satunya adalah jembatan terpanjang di Kerala yaitu Kundannoor Bridge yang menghubungkan  dua area, yaitu Maradu di timur jembatan dan Thevara di baratnya. Perairan-perairan luas itu membuat panorama sejauh mata memandang menjadi lebih sejuk dan biru.

Selepas melewati jembatan terpanjang di Kerala itu, bus memutar roda menyusuri Willingdon Island yang merupakan hamparan daratan yang dikelilingi sepenuhnya oleh perairan sehingga menjadikannya terpisah dari daratan utama Kerala. Sementara itu, area Fort Kochi sendiri  adalah bagian dari daratan utama Kerala yang terletak di bagian paling barat sehingga bus harus sekali lagi melewati sebuah jembatan untuk menuju ke sana.

Adalah Gateway of Cochin BOT Bridge yang memfasilitasi penghubungan antara pulau dan daratan utama tersebut.

Vyttila Hub Bus Terminal di tepian Sungai Kaniyampuzha.
Suasana dalam bus setelah meninggalkan daerah Vyttila.
Pemandangan dari atas Kundannoor Bridge.
Gateway of Cochin BOT Bridge yang menghubungkan Willingdon Island dengan daratan utama Kochi
Kesibukan di area Thoppumpady sekitar pukul sebelas siang.
Suasana lain wilayah Thoppumpady di sekitar AK Xavier Road.
Pemakaman di kawasan Fort Kochi.

Dan pada akhirnya, genap satu jam melakukan perjalanan, bus mulai masuk di area Fort Kochi. Kali ini keramaian sekitar lebih didominasi oleh kegiatan pariwisata. Baik wisatawan lokal maupun mancanegara berbaur di setiap penjuru Fort Kochi.

Perlu waktu setengah jam lamanya bagi bus untuk merangsek membelah padatnya jalanan Fort Kochi hingga tiba di shelter terakhir KURTC bus yang lokasinya tak begitu jauh dari pantai barat Kerala.

Okay….Saatnya mengeksplorasi Kochi selama beberapa jam ke depan.

Kisah Selanjutnya—->

Hotel Royal Wings: Mencicip Appam, Elai Adai dan Samosa

<—-Kisah Sebelumnya

Gelap masih menaungi langit Kochi ketika penanda waktu menunjuk angka enam. Membuat nyali ciut demi melangkah menuju penginapan yang sesungguhnya hanya berjarak satu setengah kilometer. Aku memutuskan untuk tetap duduk di ruang tunggu arrival hall Cochin International Airport Terminal 3.

Tapi ternyata….

Saking kantuknya, aku malah duduk terlelap memeluk backpack….

Sedikit melebihi pukul delapan, aku tersentak bangun. Cahaya terang telah menembus dinding kaca bandara. Aku melangkah pergi melewati seorang tentara bersenjata laras panjang yang dari dini hari tadi setia menjaga exit door bandara.

Aku berjalan memotong drop-off zone, melewati tepian car parking zone, melintasi kesibukan di Chili Restaurant lalu tiba di gerbang utama Cochin International Airport yang cantik berhiaskan surya yang membulat di ufuk timur.

Selepas melewati gerbang eksotik itu, aku berdiri di sebuah bundaran jalan yang sangat sibuk oleh kendaraan yang keluar masuk dari dan ke bandar udara utama di Negara Bagian Kerala tersebut. Berdiri di salah satu sisinya, aku sanggup menatap jelas keberadaan deret bangunan modern di sebuah sisi jalan.

Tak salah lagi, penginapanku pastinya ada di sana”, aku membatin.

Dekat sekali ternyata”, aku tersenyum senang.

Kini, aku sudah berada tepat di sisi selatan jalur lurus dan bersiap menyeberang menuju kompleks bangunan modern itu. Ramainya kendaraan pagi itu membuatku susah menyeberang. Berada di jalanan negara orang memang selalu menjadi hal yang selalu kuperhatikan, aku tak mau berbuat kekonyolan dan membahayakan diri, karena alur perjalananku setengahnya pun belum usai.

Susah payah aku menyeberangi Airport Road untuk tiba di sisi utara jalan dan kemudian mulai mencari keberadaan penginapan yang telah kupesan melalui e-commerce perjalanan terkemuka dengan harga 800 Rupee.

Yiiaaiiyy, aku menemukannya….

Aku sudah keluar dari gerbang utama Cochin International Airport.
Bundaran di sisi barat gerbang utama Cochin International Airport.
Deret bangunan modern di sisi utara Airport Road.
Ini dia Hotel Royal Wings, tempatku menginap malam nanti.

Kembali lagi di jauh hari sebelum keberangkatan, begitu sulit menimbang-nimbang lokasi penginapan yang akan kupilih. Hasratku begitu kuat untuk menginap di sekitar pantai yang tentu akan memberikan banyak peluang untuk menikmati eksotiknya pesisir barat Kerala lebih lama.

Hanya saja, penerbangan pagiku di esok hari menuju Dubai menjadi sebuah batasan untuk jangan terlalu jauh dari bandara ketika memilih penginapan. Akhirnya aku memutuskan menginap di Hotel Royal Wings dan memutuskan untuk seharian ini saja menikmati suasana di kawasan Fort Kochi.

Hello, Sir, Can I put my backpack here?”….Aku bertanya pada seorang petugas resepsionis laki-laki.

I have booked a room in this hotel. This is the e-confirmation”, aku menambahkan informasi.

Menerima selembar surat konfirmasi itu, dia mulai berselancar di desktopnya dan menggecek keberadaan order penginapan tersebut.

Ok, Sir. I have checked your order. You can put your backpack here and you can check-in on 1pm…Come!”, dia mulai mengarahkanku ke sebuah ruangan kecil di belakang meja resepsionis. Rupanya ruangan itu memang digunakan khusus untuk menyimpan barang-barang para penginap.

Separuh beban punggungku sudah tertitip di penginapan, kini aku akan melangkah pergi untuk memulai eksplorasi.

Tetapi sebelum melangkah lebih jauh, aku memutuskan untuk mencari sarapan di sekitar hotel.

Mencium bau harum dari sebuah cafe, aku tergelitik untuk mendekatinya, melihat menu sarapan ala India yang menggoda, aku memutuskan untuk masuk dan mengambil tempat duduk.

Cafe Sulaimani…”, aku membaca nama cafe itu di sebuah dinding.

Aku memutuskan membeli sarapan sederhana seperti yang dilakukan oleh para warga lokal di dalam cafe itu. Ini dia menu sarapanku pagi itu.

Appam, Elai Adai, dan Samosa dan segelas Chai seharga 55 Rupee….Hhmmhhh, lezat juga rupanya.

Selepas sarapan, aku bergegas menuju bundaran di dekat gerbang utama Cochin International Airport untuk berburu bus menuju Fort Kochi….Nanti akan kuceritakan bagaimana aku menuju kesana.

Masih mengenai Hotel Royal Wings….

Aku sendiri baru bisa memasuki hotel selepas mengeksplorasi Fort Kochi.

Aku tiba kembali di hotel dengan menumpang airport bus dari Stasiun Aluva. Menjelang pukul enam sore, aku langsung saja meminta kunci kepada si empunya hotel yang sedang berada di meja resepsionis.

Seusai mendapatkan kunci, aku diantar oleh seorang room boy, aku menenteng backpack menuju kamar di lantai atas untuk segera membersihkan badan. Alamak, aku terakhir kali mandi adalah 30 jam yang lalu.

Mau tahu kan bagaimana hotel yang kuinapi, ini dia:

Reception desk.
Lobby.
Double bed.
Bathroom.
Lihat TV jadoelnya….Hahaha.

Aksesibiltas

Mengingat lokasi Hotel Royal Wings yang dekat dengan airport, tentu hotel ini sangat dekat dengan berbagai fasilitas umum yang memudahkan para penginapnya.

Setidaknya aku bisa berangkat dengan mudah menuju Fort Kochi menggunakan KURTC bus yang berangkat dari bandara. Selain itu aku juga mudah mendapatkan restoran halal, tempat penukaran uang dan minimarket di sekitar hotel.

Jaraknya yang bisa ditempuh dalam lima belas menit dari dan ke bandara, memudahkanku untuk mengejar penerbangan esok pagi dengan tepat waktu daripada ketika aku harus memilih penginapan di sekitar Fort Kochi.

Restoran dengan harga terjangkau di sekitar hotel.
Kerala Urban Road Transport Corporation (KURTC) bus menuju Fort Kochi yang melewati Airport Road di depan hotel.

Pada akhirnya, berkunjung ke India selalu saja menyenangkan karena negara ini memiliki fasilitas hotel dan kekayaan kuliner dengan harga yang sangat terjangkau bagi seorang backpacker.

Oleh karenanya, jangan pernah ragu untuk melancong ke Negara Anak Benua itu.

Yuk, berkunjung ke India.

Kisah Selanjutnya—->

Melawan Gelisah di Cochin International Airport

<—-Kisah Sebelumnya

Sebuah kekhawatiran hadir seiring dengan kesigapan cabin crew Air Asia AK 39 yang sibuk memeriksa segenap penumpang sebagai pertanda bahwa selongsong terbang merah akan segera merapat di runway Cochin International Airport.

Enam roda Air Asia genap menyentuh landasan menjelang pukul satu dini hari, sementara isi kepalaku masih dijejali banyak tanya.

“Apakah di dalam bandara nanti ada ruang tunggu penumpang setelah konter imigrasi?”

Jika tak ada fasilitas itu, apakah benar aku harus menunggu di luar bangunan bandara hingga matahari bangun menerangi Kerala?

Ataukah aku harus menjalankan Plan B dimana aku akan tidur sembari duduk di sebuah restoran di luar bangunan terminal bandara?”….Ya, itu rencana terakhirku apabila tak ada ruang tunggu di dalam bandara pasca menyelesaikan urusan imigrasi.

Sudahlah, aku sudah bersiap diri atas semua kemungkinan….

Pramugari berparas cantik khas India itu tersenyum sembari memberi tanda bahwa penumpang sudah aman untuk meninggalkan kabin. Aku pun melangkah di sepanjang lorong kabin dengan penuh percaya diri.

Melongok Arrival Hall

Menyusuri aerobridge berbahan non-kaca membuatku tak bisa menikmati suasana di sekitar apron. Karena biasanya aku akan berdiri di salah satu sisi aerobridge dan mengambil beberapa gambar aktivitas unloading di sekitar pesawat. Tetapi aku toh masih beruntung karana diarahkan melalui koridor arrival hall berdinding kaca, kufikir kaca-kaca itu cukup lebar dan membuatku bisa menikmati penampakan bandara yang menghadap ke arah landas pacu.

Koridor awal Cochin International Airport Terminal 3.
Area Duty Free sebelum konter imigrasi.
Area baggage conveyor belt.
Yuk, intip toiletnya….Bersih loh…

Aku menatap arrival card delapan isian yang diberikan pramugari beberapa saat sebelum mendarat sembari terus bergegas menyusuri lantai tanpa karpet hingga tiba di konter imigrasi.

Bodoh….”, aku menyumpahi diri sendiri yang ternyata telah kehilangan pena satu-satunya untuk mengisi kartu kedatangan tersebut. Di meja-meja tempat penumpang asing mengisi lembaran itu pun tak terlihat satu pun pena yang bisa digunakan.

Alhasil, aku harus kesana kemari meminjam pena ke penumpang yang telah selesai mengisi arrival card. Tak segan, beberapa penumpang tampak mengacuhkanku dan memilih menolak dengan alasan karena terburu-buru.

Tetapi sebuah kejadian tak disangka pun hadir….Penumpang pria yang duduk di sebelahku pada sepanjang penerbangan tadi datang menghampiri….

For you….Just keep it”, dengan aksen India dia tersenyum sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.

Thank you, Sir…”, aku berujar….Dan entah, kepalaku pun ikut fasih menggeleng-geleng khas gelengen India.

Happy traveling….”, dia tersenyum dan melangkah pergi meninggalkanku untuk segera bergabung dengan rombongan jama’ah dari Kuil Sabarimala Ayyappa yang tampak mulai merangsek menuju meja imigrasi.

Meja?

Yups, inilah konter imigrasi terunik yang pernah kudapati.

Di Cochin International Airport, konter imigrasi bukanlah berbentuk konter-konter berdiri, melainkan konter yang secara setting mirip sekali dengan meja wawancara. Setiap pendatang asing akan didudukkan di depan opsir imigrasi dan diinterogasi dengan beberapa pertanyaan. Menegangkan tetapi bagiku lebih menonjol sisi keseruannya.

Aku mengeluarkan passport, eVisa dan Hotel eBooking Confirmation ketika menunggu seorang perempuan Eropa diinterogasi di meja imigrasi. Seusainya, maka aku dipersilahkan untuk duduk dan mulai diinterogasi oleh petugas.

Dua petugas bersiap menanyaiku di konter, satu duduk menghadap laptop dan satu lagi berdiri.

Begitu menyerahkan dokumen, seorang petugas yang duduk menghadap laptop segera berseluncur mencari informasi mengenaiku di database imigrasi mereka.

Petugas imigrasi: “Mr. Donny Suryanto?. If yes, you’ve visited India once, haven’t you?

Aku: “Yes, Sir. New Delhi and Agra. Beautiful cities in your country”.

Petugas Imigrasi: “How long will you visit Kochi?

Aku: “Two days”.

Petugas imigrasi: “Oh, just two days. Why?

Aku: “This is just transit trip to get a cheap flight to Dubai, Sir. Cause I’m a backpacker, Sir

Petugas imigrasi: “Clever…No matter for a very short vacation. Happy traveling, Mr Donny

Aku: “Thank you, Sir”.

Aku sangat cepat dan mudah melewati tahapan interogasi di konter imigrasi Cochin International Airport tersebut. Kini aku bergegas dan melenggang melewati pemeriksaan customs dan dengan mudah tiba di exit door.

Begitu riang hati ketika di hadapan sana terlihat satu blok kecil tempat duduk.

Yeaaa….Aku akan menunggu pagi di deretan kursi itu”, kekhawatiranku sirna sudah.

Ini dia kursi tunggunya.
Di sisi kanan itulah tempatku menukar Dollar.

Tetapi sebelum benar-benar duduk, aku mulai berburu mata uang Rupee untuk keperluan selama mengeksplorasi Kochi. Aku merapat ke konter penukaran mata uang asing milik Thomas Cook Change Currency.

Aku: “What is the minimum Dollar which can be exchanged here, Sir?

Petugas konter: “100 Dollar, Sir

Aku: “Oh, I’m sorry, I just need to change a few dollars into Rupees

Petugas konter: “No Problem, Sir

Aku meninggalkan konter itu untuk menuju konter lain yang bisa melayani penukaran di bawah 100 Dollar Amerika. Akhirnya aku bisa menukarkan 5 Dollar Amerika dan 5 Ringgit Malaysia untuk mendaptkan 320 Rupee di Weizmann Forex Money Exchange. Rupee sebanyak itu bahkan akan bersisa untuk dua hari petualanganku di Kochi nanti. Murah banget kannnn?…..

Sementara untuk akses komunikasi aku memutuskan menggunakan SIM card keluaran Airtel 4G. Karena aku membelinya seusai menukarkan Dollar Amerika, maka aku membeli SIM card berkuota 3GB tersebut menggunakan selembar 5 Dollar Amerika.

It need four hours to activate your card”, begitu ucap si penjual kepadaku begitu aku meninggalkan konter telekomunikasi itu.

Walau pada akhirnya, nantinya SIM card yang kubeli itu tak akan pernah bisa kuaktifkan sepanjang petualangan mengeksplorasi Kochi….Sial.

Sejumlah Rupee sudah di tangan dan akses komunikasi sudah di genggaman, kini aku bisa duduk di deretan bangku yang kosong di ujung terakhir arrival hall. India memang terkenal dengan udara dinginnya di bulan Januari, jadi aku merasa bersyukur bisa menunggu datangnya pagi di dalam ruangan bandara.

Masih setengah tiga pagi ketika aku terduduk di salah satu bangku…..

Selama lima jam lebih waktu tunggu, aku hanya bisa menyaksikan kedisiplinan seorang tentara yang menjaga entrance gate menuju area di dalam bandara. Petugas itu tak pernah lelah mengkombinasikan gerakan duduk dan berdiri berjam-jam untuk memerikasa lalu lalang staff bandara, ground staff maskapai dan petugas-petugas lainnya ketika keluar-masuk dari dan ke area dalam bangunan bandara.

Atau menyaksikan ritual khas ketika beberapa penjemput  menempelkan telapak tangan ke kaki orang yang dijemput sebagai bentuk penghormatan. Selebihnya aku tak pernah bisa sempurna memejamkan mata dalam kursi tunggu itu.

Begitu seterusnya, hingga tepat pukul delapan pagi, aku memutuskan keluar meninggalkan ruang tunggu demi menuju Hotel Royal Wings yang berlokasi 1,3 Kilometer di barat bandara.

Seperti biasa, sebelum aku benar-banar meninggalkan area bandara, kusempatkan diri untuk mengeksplorasi segenap sisi di luar bangunan bandara. Berikut beberapa spot di Cochin International Airport yang bisa kuperlihatkan kepada kalian.

Cloak Room di sebelah barat exit door Terminal 3.
Drop-off zone.
Selasar kedatangan
Jika tak ada kursi tunggu di dalam bangunan bandara, rencananya aku akan menunggu di Chili Restaurant itu yang buka 24 jam.
Car parking area.
Keanggunan Cochin International Airport yang terletak di Aerotropolis Nedumbassery..
Solar panels ground yang merupakan sumber energi utama untuk Cochin International Airport.
Cochin International Airport gate.

Mau tahu Departure Hall Cochin International Airport?….Nanti ya kuperlihatkan….Sabar.

Yuk, eksplore !….

Ada apakah di Kochi?….

Kisah Selanjutnya—->

Kesempatan Kedua ke India: Air Asia AK 39 dari Kuala Lumpur (KUL) ke Kochi (COK)

<—-Kisah Sebelumnya

Jalur penerbangan Air Asia AK 39 (sumber: flightaware).

Berangkat ke India selalu saja menyematkan debar di sebuah sisi hati. Provokasi informasi tak bertanggungjawab terkadang sukses membuat gentar nyali. Hembusan kabar mulai dari faktor keamanan, kehigienisan kuliner, variasi scam, serta printilan mencekam lainnya mulai menggelayuti pikiran sore itu.

Oleh karenanya sebelum bertolak ke India, selama lima hari aku memanaskan nyali di Kuala Terengganu dan Kuala Lumpur, berharap keluar dari Negeri Jiran bisa menyandang nyali yang gagah berani. Tetapi sore itu seolah-olah aku tetap saja mulai membangun keberanian dari awal lagi.

Dalam kelanjutan petualangan ini, India akan menjadi pintu pendahuluan menuju destinasi utama, yaitu Timur Tengah. Kenapa demikian?….Alasannya hanya satu bahwa India selalu saja mengiming-imingi tiket murah menuju kota wisata utama di Jazirah Arab, yaitu Dubai. Selain tiket, India juga menyediakan variasi titik tolak untuk melompat ke kota itu.

Sedangkan bagi sejarah petualanganku, setelah New Delhi dan Agra dua tahun sebelumnya, kali ini aku memilih titik tolak lain, yaitu Kochi, sebuah destinasi wisata eksotis di barat daya India.

—-****—-

Aku menikmati sekali tekstur lembut nasi putih di Quizinn by RASA setelah 24 jam lamanya tak mencicip makanan idola itu. Nasi putih kali ini sekaligus merepresentasikan Ringgit terakhir yang kumiliki, mulai esok hari aku sudah menggunakan Rupee.

Lima menit sebelum check-in desk Air Asia Ak 39 dibuka, aku usai menyuap nasi putih dengan potongan telur kandar terakhir.

Seperti yang kuungkapkan di atas, alih-alih bersemangat, justru dadaku berdegup kencang…”Oh India, berdamailah dengan petualanganku kali ini”, aku menenangkan hati.

Bangkit dari tempat duduk di sebuah pojok food court di lantai 2M, aku memanggul backpack biru kesayangan. Melangkah ke atas menuju Departure Hall di lantai 3.

Ternyata antrian sudah panjang….”, kepercayaan diriku untuk tiba sebagai pengantri perdana runtuh.

Liuk antrian yang didominasi warga India menahanku di antrian buncit. Toh aku tetap tenang, waktu masih panjang menuju penerbangan, masih empat jam lagi. Aku mulai mengeluarkan zipper bag untuk menyiapkan dokumen, yaitu passport­, booking confirmation hotel di India, tiket menuju dan keluar India serta lembaran free e-Visa India.

Adè Visa kah?, petugas konter check-in bertanya tegas padaku.

Ini Cik”, aku menyerahkan segenap dokumen yang telah kusiapkan.

Indonesiè ke Indiè betulkèh cukup e-Visa, Pak Cik?. Petugas wanita itu  bertanya kepada kolega seniornya.

Petugas senior itu mengonfirmasi dan petugas perempuan itu akhirnya mencetak boarding pass untukku.

Tahap pertama usai, aku bergegas menuju Gerbang Pelepasan Antar Bangsa yang dijaga ketat sejumlah Aviation Security. Di antrian depan, tampak tak sedikit calon penumpang yang tertahan masuk karena terlalu berlebih membawa cabin baggage. Selain Aviation Security tampak beberapa  ground staff maskapai Air Asia mengawasi ketat para penumpang yang curang dengan membawa cabin baggage berlebih.

Untukku?…..Itu mudah saja, aku melewati gate tanpa pemeriksaan. Dengan pemeriksaan pun aku akan tetap lolos, karena keseluruhan beban backpack sudah kutimbang sebelum menuju check-in desk….Enteng, hanya 6,5 kilogram.

Kemana arah menuju gate L14?”, aku bertanya pada diriku sendiri.

Aku terus menelusuri koridor-koridor panjang hingga kemudian menuruni sebuah escalator yang di ujung bawahnya sudah menghadang beberapa kolom screening gate.

Seperti biasa, aku selalu melepas sepatu ketika melewati screening gate, itu semua karena aku akan merasa malas jika harus kembali mengulang screening process ketika sepatuku membunyikan pintu screening.

Aku lolos dengan mudah….

Kini aku hanya perlu meneruskan langkah melalui koridor tersisa demi mencapai gate L14.

Yuks berburu boarding pass.
Alhamdulillah….
Salah satu koridor di International Departure Hall KLIA2.
Itu dia petunjuk menuju gate pelepasan Air Asia AK 39.

Sedikit lewat dari jam tujuh malam, aku tiba di gate yang dimaksud.

Hhmmmhhhh….Satu setengah jam lagi menuju boarding”, aku menduduki sebuah kursi di luar waiting room yang masih tertutup rapat.

Aku memutuskan untuk melakukan shalat jamak qashar dan memenuhi botol minuman di free water station. Selebihnya aku hanya duduk menunggu hingga pintu waiting room dibuka satu jam sebelum penerbangan.

Beruntung selama menunggu, kebosananku redam oleh tingkah lucu seorang balita cilik India yang tingkahnya sangat menggemaskan.

—-****—-

Menunggu di ruang tunggu, aku kembali tertegun dengan sebuah rombongan besar jama’ah Hindu. Dari seragam serba hitam yang dipakai, aku bisa mengidentifikasi jama’ah itu berasal dari Kuil Sabarimala Ayyappa yang terletak di Negara Bagian Kerala, India.

Kekhasan dari jama’ah Hindu India tersebut adalah tidak menggunakan alas kaki. Beberapa pemeluk Hindu di India memang percaya bahwa tidak menggunakan alas kaki adalah bentuk penghormatan kepada para Dewa.

Berbaju dan ber-Lungi*1) hitam juga menjadi penampilan religius rombongan tersebut. Mau tak mau aku harus duduk berbaur di ruang tunggu bersama rombongan itu.

Sementara pemandangan di jendela kaca adalah terparkir sempurnanya pesawat Airbus A320 Twin Jet dominan putih dengan kelir kombinasi biru-merah dan bertuliskan jargon promosi pariwisata “Sarawak More to Discover”.

Menunggu dengan penuh kesabaran usai sudah….

Panggilan boarding untuk penerbangan Air Asia AK 39 memenuhi langit-langit bandara.

Aku segera bangkit serta mempersiapkan passport dan boarding pass demi melewati pemeriksaan akhir calon penumpang sebelum memasuki kabin. Ahhh….Aku sudah tak sabar.

Jam setengah sembilan aku mulai boarding…..

Di dalam waiting room Gate L14.
Itu dia AK 39.
Menelusuri aerobridge menuju kabin pesawat.
Maskapai langganan dan idaman.
Suasana kabin saat berburu kursi.
Lihatlah warga-warga India itu…..Kamu pengen ga sih ke India?

Memasuki kabin pesawat berbadan kecil itu, aku mencari bangku bernomor 11E. Dalam penerbangan selama 3 jam 40 menit ke depan, aku akan duduk di kolom tengah, membuatku tak leluasa untuk menangkap potret indah bumi.

Ketika proses boarding usai,  di barisku hanya ada aku dan salah seorang dari rombongan jama’ah Hindu itu. Oleh karenanya, aku memutuskan pindah ke aisle seat untuk mendapatkan kelegaan dalam perjalanan udara sejauh 3.000 km tersebut.

—-****—-

Begitu terkejutnya aku, ketika membuka lembaran Travel 360 inflight magazine, aku menemukan potret diri sosok travel influencer yang rasanya tak asing di mataku. Aku sangat familiar dengan nama marganya….Groves.

Sudah kupastikan itu adalah saudara bule cantik asal Aussie yang kukenal  setahun sebelumya di Samosir, Eloise Groves. Dia pernah bercerita di bawah air terjun Naisogop bahwa dirinya memiliki saudara laki-laki bernama Jackson Groves yang merupakan seorang travel influencer. Melihat kesamaan raut muka atas sosok yang ada di dalam inflight magazine yang sedang kubaca dengan sosok yang sering muncul di dalam laman Facebook milik Eloise, aku yakin 100% itu adalah saudaranya.

Dan benar, nantinya aku akan mendapat konfirmasi dari Eloise bahwa itu benar saudara kandungnya setelah mengirimkan pesan singkat melau aplikasi facebook messenger ketika aku tiba di India.

Mencoba memejamkan mata usai membolak-balik Travel 360, aku berusaha tidur. Tetapi sesungguhnya aku tak benar-benar terpejam. Begitulah aku, tak pernah sempurna terlelap setiap duduk di selongsong terbang.

Itu dia si Jackson Groves di inflight magazine milik Air Asia.
Tiba di Terminal 3 Cochin International Airport.
Jelajah bandara yukkk !

Akhirnya waktu yang ditunggu tiba juga….

Pukul satu dini hari, Air Asia AK 39 mendarat di Cochin International Airport, sebuah bandara megah di Negara Bagian Kerala di sebelah barat daya India.

Alhamdulillah….

Kini aku semakin jauh saja dari rumah.

Kochi yang berjarak darat hampir 9.000 km dari Jakarta.

Yuk kita eksplore….Ada apa saja di Kochi?

Untuk mendapatkan tiket penerbangan dari Kuala Lumpur ke Kochi, Anda bisa mencarinya di 12go Asia dengan link sebagai berikut:  https://12go.asia/?z=3283832

Keterangan kata:

Lungi*1) = Sepotong kain panjang yang dililitkan di pinggang dan merupakan pakaian khas India

Kisah Selanjutnya—->