Atmosfer Milenial Vasco da Gama Square

<—-Kisah Sebelumnya

Menjelang pukul dua siang, aku meninggalkan Santa Cruz Cathedral Basilica. Masifnya pamflet yang mengabarkan perihal pentas kesenian tari tradisional, membuatku penasaran untuk mencari keberadaan Kerala Kathakali Centre yang merupakan pusat pertunjukan seni tari tersebut.

Pencarian itu harus dilakukan karena aku tak akan memiliki kesempatan yang cukup untuk menyaksikan pertunjukannya secara langsung. Akan sedikit terbayarkan rasa penasaran itu apabila aku bisa menyambangi secara langsung tempat pertunjukan tersebut, jika beruntung aku bisa melihat persiapan yang dilakukan oleh para pelaku pertunjukan ataupun kesibukan para crew yang akan terlibat di dalamnya.

Rasa penasaran itu menghantarkanku untuk kembali turun ke jalanan dan mulai mencari keberadaan tempat pertunjukan seni tari itu. Memilih menulusuri Fosse Road, aku melangkahkan kaki menuju barat, tetap saja ini adalah jalan yang berbeda dari rute yang kutempuh sebelumnya. Sehingga sudah sekian banyak jalan di Fort Kochi yang kutapaki hingga siang menjelang sore itu.

Fosse Road yang kali ini kulewati ternyata hanya memiliki dua blok dan di akhir ruasnya, tepatnya di Kunnumpuram Junction, aku memutuskan melangkah ke utara memasuk TM Muhammad Road.

Pencarian itu menjadi semakin sulit rupanya….

Lelah mencari dan tak kunjung menemukannya, aku memberanikan diri untuk bertanya kepada seorang pemilik toko di ruas jalan itu. Tetapi jawabannya sungguh membuat heran karena dia bahkan hanya menggeleng-gelengkan kepala dan tidak mengetahui tempat itu. Sudah kupastikan juga bahwa dia mengerti Bahasa Inggris dan kami berdua bercakap saling memahami….”Walah, alamat ini mah”, aku membatin kecut.

Memang begitu biasanya, “semut di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak”. Kondisi ini pernah menjadi cerminan diri sendiri dahulu kala. Sebelum menggeluti dunia traveling, ketika diminta menunjukkan arah ke Taman Ismail Marzuki oleh seorang bule, aku menggeleng tak tahu, padahal aku sedang berjarak tak lebih dari setengah kilometer dari destinasi itu….Parah kamu, Donny!

Alhasil, kecapean karena terus melangkah ditambah dengan akan segera hadirnya senja, aku memutuskan untuk membatalkan pencarian itu. “Lebih baik fokus ke destinasi berikutnya saja”, aku membatin dalam peluh yang semakin mengucur deras.

Menghabiskan ruas jalan tersisa, tibalah aku di jalan melintang terdekat dengan pantai. Adalah Bellar Road yang sekarang kutapaki.

Kini aku menuruti langkah kaki menuju timur. Maksud hati yang mendominasi adalah keinginan untuk menikmati pantai utama yang menjadi tempat favorit bagi warga Fort Kochi dalam menutup senja.

Aku sungguh menikmati kerindangan  Bellar Road sebelum tiba di pertigaan yang menjadi pertemuan Bellar Road itu sendiri dengan KB Jacob Road.

Kini aku kembali ke titik awal….

Aku benar-benar sudah membuat jalur melingkar melintasi Fort Kochi sedari tiba.

Gerung mesin airport bus terdengar langsam di pojok jalan sembari menanti penumpangnya. Tapi aku belum mau pulang….Aku belum mau usai mengeksplorasi.

Terus saja melangkah ke timur, aku kembali mengulangi ruas River Road yang semakin ramai saja dibandingkan kondisi siangnya tadi. Kedai-kedai souvenir sisi selatan Nehru Park for Children tampak diserbu wisatawan lokal ataupun mancanegara.

Lalu langkahku terhenti pada area lapang berdasar pavling block dan dikelilingi pepohonan besar. Area ini sepertinya menjadi tempat idola kaum muda Fort Kochi, tempat ini sepertinya menjadi lokasi meeting point, nongkrong ataupun tempat untuk sekedar melakukan killing time. Tampak para milenial duduk bercengkerama dengan sesama di tempat duduk beton yang dibuat melingkari sebuah pohon besar.

Pelataran itu terletak tepat di sudut meruncing di timur Nehru Park for Children yang secara kontur berbentuk persis segitiga sama sisi. Area ini dibatasi oleh River Road di sisi selatan dan Beach Walkway di sisi utara. Suasanan pelataran juga berasa lebih hidup karena tersematnya berbagai mural yang tergambar di batang pepohonan.

River Road menuju Vasco da Gama Square.
Semakin sore semakin ramai di sisi selatan Vasco da Gama Square.
Ini dia pelataran utama Vasco da Gama Square di tepian pantai.
Mural di pepohonannya lucu ih….
Sisi utara Vasco da Gama yang berbatasan langsung dengan pantai.
Lapak ikan di sisi utara Vasco da Gama.

Ketika area di sekitar trotoar River Road dipenuhi banyak kedai street food dan souvenir maka area di sekitar Beach Walkway dimanfaatkan oleh deretan lapak penjual ikan laut yang tampak masih segar karena baru diturunkan dari perahu-perahu nelayan atau hasil tangkapan dari chinese fishing nets yang banyak terinstalasi di bibir pantai.

Inilah Vasco da Gama Squre yang menjadi oasis berharga bagi milenial Fort Kochi untuk menikmati keindahan pesisir pantai.

Belum….Aku belum sampai di pantai utamanya……

Kisah Selanjutnya—->

Menduga Hingar Bingar Princess Street

<—-Kisah Sebelumnya

Setelah beberapa waktu duduk bersantai di Nehru Park for Children, aku keluar dari area taman tepat di gerbang pojok selatan yang tepat menghadap Jawahar Park.

Cukup sudah….Tak perlu mengunjungi taman sebelah, waktuku tak lagi cukup”, aku membatin ketika berdiri tepat di sebuah perempatan.

Berdiri tegak, mataku lekat memandang ke ruas jalan di utara, selarik jalur dengan deret bangunan berketinggian rendah dan model klasik berdiri di kedua sisinya.

“Princess Street…”, begitulah aku membaca sebuah papan nama jalan berwarna hijau yang di beberapa permukaannya telah diakuisisi karat. Sementara itu, slogan promosi pariwisata Negara Bagian Kerala tersemat pada sebuah papan putih di bawahnya. “God’s Own Country”, begitulah aku membacanya.

Aku sudah bersiap untuk menyusuri jalan legendaris itu….

Langkahku menyusuri Princess Street bermula dari sebuah toko di sisi kiri jalan yang menjual berbagai karya seni dan kerajinan tangan. Toko itu bernama Little India dan berdampingan dengan toko Royal Heritage yang menjual produk yang sama. Sedangkan di seberangnya, sebuah penginapan dengan nama The Travellers Inn tampak klasik bersebelahan dengan Chariot Beach Restaurant.

Sejauh mataku memandang, jalan selebar lima meter itu, bahunya langsung berbatasan dengan bangunan-bangunan tempoe doeloe yang didirikan mengikuti kontur jalanan di kedua sisi. Terik yang sudah tak semenyengat beberapa waktu lalu masih saja terasa sebagai konsekuensi dari tiadanya pepohonan yang menaungi jalanan, kecuali sebuah pohon yang berdiri kokoh tepat di depan Fort Kochi Hotel.

Princess Street merupakan pusat dari area Fort Kochi Heritage di selatan India. Bangunan-bangunan klasik bergaya Eropa tersebut pada masa sekarang telah dialihfungsikan sebagai homestay, toko alat kesenian, bookstore, restoran atau agen perjalanan wisata.  

Princess Street juga menjadi jalan yang dibangun pertama kali di area ini. Siang itu, aku mencium bau harum dari tempat pembuatan kue di sepanjang jalan. Dan konon, pada malam hari, turis dan penduduk lokal akan merayakan kehadiran malam dengan dinner, dansa dan pesta dibawah meriahnya siraman lampu warna-warni.

Inilah jalur legenda sepanjang hampir tiga ratus meter yang berpangkal dari River Road di utara dan berakhir di Peter Celli Street di selatan yang ditandai dengan keberadaan cafe kenamaan, yaitu Loafers Corner Cafe

Kupelankan langkah ketika berada tepat di pertengahan ruas….

Harusnya aku tiba di sini saat malam, pasti tempat ini akan menjadi tempat menarik untuk melepas lelah setelah berkeliling Fort Kochi seharian….Hmmhhh”, aku terus bergumam menyayangkan keadaan.

Toko seni dan kerajinan tangan.
Fort Kochi Hotel (kanan berwarna kuning).

Hampir pukul satu siang….

Genangan tipis air tampak menggenangi beberapa titik jalanan, aku rasa itu hanyalah air yang digunakan untuk menyiram jalanan demi mengurangi debu dan hawa panas tengah hari tadi. Satu dua kendaraan roda empat tampak berpapasan melintasi jalan dan beberapa unit bajaj tampak terparkir di sembarang titik di tepian jalan.

Sementara spanduk-spanduk promosi pertunjukan tarian klasik India tampak menempel di beberapa tiang listrik yang tegak berdiri di sepanjang sisi jalan. Aku sudah faham bahwa pertunjukan tari di Fort Kochi biasanya diselenggarakan saat malam tiba, di sekitaran pukul delapan.

Biasanya Fort Kochi akan menyuguhkan beberapa pertunjukan kesenian tari lokal, seperti Mohiniyattom, Kuchuppudi dan Bharathanatyam. Satu lagi, selain hiruk pikuk Princess Street, aku juga akan melewatkan pertunjukan seni itu tentunya. Malam nanti, aku pastinya akan berada di penginapan yang jaraknya lebih dari lima puluh kilometer dari Fort Kochi. Aku harus lebih mengutamakan penerbangan menuju Dubai di keesokan paginya. Setahuku, pertunjukan tarian lokal itu akan di selenggarakan di Kerala Kathakali Centre yang lokasinya berada di belakang Basilica Church.

Tak terasa perjalanan menyusuri Princess Street telah mengantarkanku untuk tiba di ujung selatan jalan. Aku kini berdiri di depan Loafers Corner Cafe yang merupakan cafe kenamaan yang tak pernah sepi pengunjung.

Ga ngafe, Don? …..”, hati kecilku berbisik.

Ya kagak, lah….Wkwkwkwk”, hati kecilku pulalah yang menjawab pertanyaannya sendiri.

Beberapa cafe dan restoran di sepanjang Princess Street).
Silahkan kalau mau cari novel !….Biar ndak kesepian.

Kini aku sudah berada di sebuah perempatan jalan dan harus memutuskan kembali, kemanakah selanjutnya kaki akan melangkah?

Kisah Selanjutnya—->

Sentuhan Portugis di Sepanjang Nehru Park for Children

<—-Kisah Sebelumnya

Yang harus kuindahkan adalah rasa hati yang sesungguhnya belum puas dalam menyaksikan kesibukan para nelayan lokal yang larut dengan kesibukannya mengurusi hasil tangkapan.

Surya sudah mulai tergelincir dari titik tertingginya, perlahan kehilangan daya sengat, tunduk oleh senja yang mulai menguasai hari.

Sedangkan aku dengan berat hati, bangkit dari tempat duduk di bawah tenda yang didirikan beberapa depa dari bibir pantai. Sewaktu kemudian aku sudah menggabungkan diri dalam arus River Road yang semakin ramai. Arus pelancong sepertinya merujuk pada persiapan atraksi alam yang tak lain adalah tenggelamnya surya di ufuk barat, itu semua akan terjadi dalam beberapa jam ke depan. Langit yang cerah tampaknya akan menyokong penuh atraksi alam itu nanti sore.

Tak hanya para pelancong, lengsernya surya dari tahta tertinggi dipadukan dengan teduhnya pesisir Fort Kochi juga membuat sekumpulan gagak hinggap di tanah dan turut serta menikmati suasana. Satwa hitam itu tampak larut dalam kegembiraan dengan menyibukkan diri mengais santapan dari sisa-sisa makanan yang terjatuh dari genggaman para pelancong, satu dua diantaranya tampak sibuk mengumpulkan guguran akar gantung yang kuduga akan digunakan untuk membuat sarang dan sebagian sisanya hanya sibuk berkicau mensyukuri sejuknya sore.

Untuk kemudian aku tertegun pada sebuah prasasti di sebuah sisi jalan. Aku mengangguk-angguk membaca goresan demi goresan yang tertoreh di sebidang prasasti tersebut. Sementara pelancong lain turut merapat mengikuti tindak tandukku. Tentu mereka pun ingin memahami informasi penting yang tertera di prasasti. Anggap saja, pada akhirnya aku dan para pelancong memahaminya dengan cukup baik

Kamu sendiri faham ga dengan prasasti seperti ini?…..Hahaha.

Mari kita secara paksa menyimpulkan bahwa prasasti tersebut adalah tanda pengesahan sebidang taman yang ada di depanku. Di dalam sana, warga lokal tampak menikmati sejuknya taman dengan bersandar di bangku-bangku yang tersedia, sebagian yang lain tampak duduk di bangku-bangku beton yang tersebar di beberapa titik..

Taman kota……Kenapa aku suka menghadirkan diri di landskap jenis itu?.

Gaes…..Untuk mengetahui atmosfer kehidupan kelas menengah ke bawah, maka menilik taman kota di wilayah yang bersangkutan bisa menjadi langkah terefektif selain mengunjungi pasar tradisionalnya. Oleh karenanya, taman kota adalah jenis destinasi yang tak bisa lepas dari sasaran singgahku dimanapun aku melakukan eksplorasi.

Masuk ke dalamnya, di segenap titik, sculpture ikan tampak mendominasi arsitektur taman yang menurut pengamatanku memiliki luasan tak kurang dari dua hektar.

Ikan?…..

Tentu bisa ditarik kesimpulan…..Ikan menjadi perlambang mata pencaharian utama masyarakat Fort Kochi yang menghuni di sepanjang garis Pantai Malabar.

Tuanya pepohonan yang menaungi seluruh taman dari sengatan surya mungkin bisa menggambarkan seberapa tua usia taman. Dan entah bagaimana meriahnya taman di gelap malam karena keberadaan tiang-tiang lampu di segenap penjuru.

Sesuai konsepnya yang diperuntukkan bagi anak-anak, sudah barang tentu wahana permainan anak-anak diinstalasi masif di sepanjang luasan taman. Prosotan, kursi putar dan ayunan menjadi wahana standar yang disediakan .

Gerbang taman sisi utara.
Patung ikan begituan banyak banget….Itu si anak pipis sembarangan kok ga di denda ya?….Wkwkwk.
Lihat warga lokal itu !
Anak-anak belum pada hadir….Mungkin sebentar lagi.
Nah, main kursi putar.
Posko Green Cochin Mission.
Bangunan khas Portugis yang ada sejak tahun 1800-an.
Duh pengen bingitz gua naikin tuh sepeda….Capek tahu jalan kaki muluk.

Mengambil duduk di salah satu bangku, aku dengan santainya menikmati keotentikan deretan bangunan bersejarah khas Portugis di seberang selatan. Bangunan-bangunan klasik itu berdiri anggun di sepanjang Tower Road meskipun telah beralih fungsi menjadi penginapan-penginapan bintang empat. Gaya klasik bangunan-bangunan Portugis itu seakan membawaku memasuki masa di abad ke-19. Sebut saja Koder House  yang dominan merah dan Old Harbour Hotel dominan putih yang merepresentasikan  sentuhan Eropa di pesisir Fort Kochi.

Sementara di sisi barat bagian dalam tampak keberadaan sebuah posko berwujud tenda besar dengan tajuk Green Cochin Mission. Inilah program yang digalakkan pemerintah kota sebagai gerakan utama untuk membebaskan Kochi dari bencana sampah kota. Ternyata tak hanya di tanah air, di India sama saja, sampah menjadi sebuah permasalahan pelik yang tak pernah tuntas terselesaikan.

Sementara di sisi utara, River Road tampak lebih ramai dengan kedai-kedai souvenir dan jajanan lokal. Lalu di timur taman adalah permulaan dari ruas jalan yang melegenda….Princess Street.

Yuk, kita telusuri Princess Street….Ada apakah gerangan?

Kisah Selanjutnya—->