Memasak Menu ala Backpacker di Qatar

Selain mengunjungi tempat-tempat wisata gratisan, memasak adalah hal lazim yang dilakukan para backpacker untuk mengerem pengeluaran di hari-hari perjalanannya. Karena mereka juga harus pandai menciptakan dana cadangan untuk mengantisipasi jika terjadi biaya tak terduga. Begitu pula dengan hari-hariku di Qatar, memasak sudah menjadi rutinitas setiap pagi dan malam mengingat biaya hidup di Qatar tidaklah murah.

Sore itu, bermula pada perjalanan pulang dari Katara Cultural Village menggunakan Doha Metro. Aku menuju Stasiun Souq Waqif dan bertolak dari Stasiun Katara melalui kombinasi Red Line dan bersambung dengan Gold Line di Stasiun Msheireb. Ini adalah perjalanan keduaku menggunakan Doha Metro.

Platform di Stasiun Katara.
Ini tanda toilet, musholla dan child care room…Lucu ya.
Doha Metro Red Line.

Dari Stasiun Souq Waqif aku menyambung perjalanan dengan Karwa Bus No. 12 dari Al Ghanim Bus Station untuk menuju Casper Hotel, tempatku menginap selama di Qatar. Ini adalah perjalananku ke-9 menggunakan Karwa Bus. Perjalanan pulang sore itu membutuhkan waktu dua jam hingga tiba di penginapan. Sebelum tiba, aku sempat berbelanja terlebih dahulu di Abdulla Ali Bumatar minimarket yang terletak di dekat hotel untuk membeli kebutuhan logistik hingga hari terakhirku di Qatar nanti.

Bukan hotel, lebih tepatnya ini adalah penginapan.

Setelah selesai membersihkan diri, aku segera menunaikan shalat maghrib berjama’ah di musholla dekat penginapan. Memasuki waktu bersantai, aku bergegas menuju pantry untuk melakukan kegiatan rutin malam hari….Yes, memasak.

Yuk masuk pantry!

Bahan pangan utama yang mejadi santapanku setiap hari adalah roti Paratha khas Kerala buatan GRANDMA Bakery and Sweets, cukup murah, tiga lembar parata kubeli dengan harga Rp. 8.000. Tiga lembar parata sudah lebih dari cukup untuk membuatku merasa kenyang.

Sedangkan untuk lauknya aku memilih membeli sarden kemasan termurah yang dipajang di minimarket. Kuberikan Rp. 12.000 untuk mendapatkan satu kaleng kemasan berisi tiga potongan sedang ikan sarden. Karena ini sarden termurah, tentu akan berpengaruh pada rasa, rasanya plain, kawan….Hmmhh. Itu tampak seperti ikan sarden yang dituang ke dalam minyak sawit saja…..Hahahaha.

Roti Paratha.
Memanaskan sarden kemasan.

Ketika berpergian, kemewahan makanan bukanlah menjadi concernku sejauh ini. Yang terpenting adalah bagaimana tetap mengupayakan makan tiga kali sehari dengan harga terjangkau tetapi layak nutrisi. Jadi bisa dipastikan aku akan jarang sekali bersantap di restoran kecuali jika yang kujalani adalah business trip…..Ya, iya lah, business trip kan dibayarin kantor. Hahahaha.

Lalu, bagaimana dengan menuku di keesokan harinya, sebelum memulai eksplorasi hari keempat di Qatar. Mau tahu?…..

Ini dia:

Sarapan yang sangat sederhana, kan?
Bonuss…..

Nah itulah satu dari sekian banyak caraku untuk berhemat selama menjelajah Qatar. Jangan ditiru….Itu sangat menyiksa….Hahaha.

Yuk lah, kita jalan lageee…..

Apartemen Burung di Katara Cultural Village

Sekitar jam 14:00, di teriknya cuaca Qatar aku mulai melangkah keluar dari Stasiun Katara. Sepertinya ini akan menjadi penghujung destinasi di hari keduaku di negeri yang pernah berjuluk “Catara” sebelum Abad XVIII. Ini akan menjadi eksplorasi panjang karena aku akan mengelilingi area pusat budaya di Doha yang memiliki luas tak kurang dari 35 hektar ini. Area ini adalah hasil kreasi dari Ministry of Culture, Arts and Heritage, Qatar.

Menuju ke arah timur selepas keluar dari stasiun, satu bangunan ikonik yang kujumpai adalah sebuah kado merah raksasa dipadu dengan ruangan berbentuk hijau bulat layaknya pipa raksana dalam permainan anak-anak. Itulah Katara Cultural Village Children’s Mall yang terletak tepat di halaman awal Katara Plaza.

Bangunan berbentuk kado ini adalah icon dari Katara Cultural Village Children’s Mall.

Kini, aku bersiap memasuki area utama plaza dengan hamparan halaman luas beralas andesit dan dikelilingi oleh bangunan-bangunan klasik mirip arsitektur abad pertengahan. Di beberapa titik plaza diletakkan area coffee shop, persisnya tepat di depan Katara Hall. Beberapa stand tampak dimiliki oleh Craves, Talabat, Vulcan, EXIT55 dan Scary Burger.

Katara Plaza.
Katara Plaza.

Katara Cultural Village memiliki area berbentuk segitiga yang menghadap ke pantai. Terletak di pantai Timur Qatar, dibatasi oleh Shakespeare Street di utara, Al Moasses Street di Selatan, Lusail Expressway di sebelah Barat dan Katara Beach di sebelah Timur. Sementara pusat area ini terletak pada sebuah amphiheater terbuka menghadap ke Al Yazwa Public Beach atau khalayak lebih mengenalnya dengan nama Katara Beach.

Amphitheater sebagai Katara Multi Purpose Hall.
Al Yazwa Public Beach.

Sebelum menuju ke pusat area itu, aku menyusuri bagian selatan dari amphitheater. Lalu memasuki sebuah blok bertajuk Virtual Art Center yang bagian atas halamannya terlindung oleh delapan bentang kain yang efektif meredam panasnya udara kota. Tampak juga seni kotemporer di pajang di beberapa spot di blok ini.

Halaman Visual Art Center.
Karya seni kontemporer.
Replika kaftan yang biasa dikenakan oleh Sultan Suleyman Kanuni dari Kekaisaran Ottoman.
Setiap karya seni yang dipajang disediakan penjelasan mengenainya.

Di halaman ini disedikan Katara Club Car (boogie car) yang merupakan free service untuk para pengunjung di Katara Cultural Village. Karena aku ingin benar-benar menikmati suasana maka kuputuskan untuk tetap berjalan kaki saja.

Kini aku tiba di bangunan paling selatan dari area budaya ini, yaitu Katara Mosque, khalayak memanggilnya dengan Friday Mosque. Sebuah masjid indah dominan biru dengan satu menara di salah satu sisi. Kusempatkan untuk beribadah Ashar di masjid ini sebelum aku lebih jauh melangkah melakukan eksplorasi. Tampak beberapa turis non-muslim diizinkan masuk tetapi tetap diwajibkan menggunakan celana panjang untuk laki-laki dan kerudung untuk perempuan.

Katara Mosque.
Interior Katara Mosque.

Sementara disebelah masjid terdapat sepasang menara yang difungsikan sebagai tempat tinggal para merpati di area itu. Ini adalah spot paling ikonik yang sering diburu oleh para turis karena setiap mencari laman Katara yang muncul selalu gambar bangunan itu. Hebat…..Merpati aja dibikinin apartemen…..Bayar kagak tuh?…..Hahaha.

Me in Bird Towers.

Kemudian kulewati beberapa spot seperti Youth Hobbies Center, Katara Art Studios hingga aku mencapai sisi pantai setelah melewati Saffron Lounge Indian Restaurant dengan exterior berupa kunci hitam besar yang diletakkan di halaman tepat di tengah kursi dan meja makan restoran tersebut.

Saffron Lounge.

Di akhir kunjunganku, aku menyempatkan duduk di amphitheatre yang sedang dilakukan rehearsel untuk acara The 4th Cultural Diversity Festival yang menurut informasi akan dihadiri oleh 14 negara peserta.

Sisi luar amphitheatre.

Itulah kilas balik kunjunganku di Katara Cultural Village. Saatnya pulang ke hotel dan beristirahat untuk eksplorasi hari ketiga di keesokan hari.

Istirahat dulu, gaesssss…….

Menjajal Doha Metro Red Line dari DECC ke Katara

Menjajal Mass Rapid Transport (MRT) di negara yang memilikinya telah menjadi tradisi dalam setiap perjalananku, walaupun transportasi pilihan pertamaku adalah bus kota. Sebelum mencoba Doha Metro, aku sendiri sudah pernah mencicipi MRT di Singapura, Thailand, Malaysia, Philippines, Hong Kong, Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, India, Uni Emirates Arab dan tentu MRT Jakarta sebagai moda transportasi massal kebanggaan Jakarta.

Keluar dari pusat perbelanjaan modern City Center Doha di area West Bay, aku kembali menelusuri jalur keberangkatan ketika menuju shopping mall tersebut, kembali mengukur jalanan Omar Street menuju Stasiun DECC. DECC boleh dikata sebagai Jakarta Convention Centernya Qatar. Karena terletak persis di sebelah gedung DECC inilah maka pemberhentian Doha Metro ini bernama serupa dengan venue itu.

Eksterior bangunan stasiun DECC sendiri lebih tampak seperti pintu masjid daripada bangunan stasiun. Masih mengandalkan lengkungan ala Persia dengan bukaan yang lebar dengan warna otentik, coklat padang pasir.

Bangunan Stasiun DECC.

Inilah rapid transit system kebanggan Qatar yang salah satu tujuannya adalah untuk menyambut gelaran Piala Dunia 2022. Jalur Doha Metro yang pertama kali dioperasikan pada tahun 2019 adalah jalur merah yang sedang kusasar ini.

Memasuki bangunan stasiun, semuanya mengkilap, bersih dan nampak baru. Aku memilih jalur tangga untuk turun ke bawah tanah dan mencari keberadaan automatic ticketing vending machine, walaupun pengelola Doha Metro menyediakan lift untuk mempermudah akses.

Kita cobain jalur tangganya dahulu.
Saatnya berburu tiket.
Automatic ticketing vending machine.

Doha Metro sendiri  memiliki tiga jalur yaitu red line, green line dan gold line dengan rataan panjang 76 Km dan keseluruhan memiliki 37 stasiun. Harga tiket sebetulnya hampir setara dengan harga tiket Karwa Bus yaitu berkisar Rp. 8.000 untuk sekali perjalanan tunggal (single journey) dan Rp. 16.000 untuk satu hari penuh perjalanan (day pass). Satu kelebihan dalam sistem Doha Metro adalah keberadaan free feeder bus yang mengkoneksikan stasiun dengan hotel tempat kita menginap atau tempat lain yang tak terjangkau oleh jalur Doha Metro. Bus pengumpan ini dikenal dengan nama Free Doha Metrolink Shuttle Services.

Ini dia peta jalurnya.
Standard single journey, tiket jenis ini bisa dipakai untuk dua moda transportasi yaitu Doha Metro dan Mshreib Tram.

Begitu tiba di platform, beberapa petugas Doha Metro berkebangsaan Philippines berusaha dengan ramah menanyakan tujuan akhirku dan mengarahkan untuk menunggu di platform yang tepat, walaupun sebetulnya aku sudah terbiasa mencari sendiri keberadaan platform berdasarkan petunjuk yang ada.

Platform Doha Metro.

Kereta milik Doha Metro ini adalah kereta termodern yang memiliki kecepatan jelajah sekitar 100 Km/jam dan dinobatkan menjadi  kereta tanpa pengemudi tercepat di dunia. Secara kepemilikan, 51% saham Doha Metro dimiliki oleh Hamad Group, 49 % saham dimiliki oleh perusahaan transportasi umum milik negara Perancis

Lihat route boardnya!
Sepi….Sumpah….

Dalam 15 menit aku dihantarkan sejauh 5 Km oleh kereta ini hingga Stasiun Katara. Sepinya penumpang Doha Metro membuat perjalananku nyaris tanpa interaksi, aku tak bisa merasakan hiruk pikuk warga Qatar dalam keseharian mereka.

Turun di platform Stasiun Katara.

Turun dari Doha Metro, kini aku akan menuju ke permukaan tanah dengan menggunakan lift yang disediakan.

Nah, sekarang baru cobain lifnya.

Mirip seperti kondisi bangunan stasiun DECC, Stasiun Katara juga tampak gres. Sepinya lalu lintas warga kota yang menggunakan jasa Doha Metro menjadikan bangunan stasiun tampak kosong dan memamerkan kelegaannya kepadaku. Sementara para pegawai Doha Metro berwajah Asia Tenggara itu menghias di setiap stasiun.

Itu dia automatic fare collection gatesnya.
Keluar dari bangunan Stasiun Katara.

Aku sudah tiba di Katara Cultural Village dan siap untuk melakukan eksplorasi. Yuk kita lihat seperti apa pusat budaya Qatar ini !.

Eksterior Stasiun Katara.

26 Destinasi Wisata di Doha, Qatar

Mungkin sosok yang berjasa membawaku ke Qatar adalah Valentino Rossi. Ya….Legenda hidup balapan kuda besi premium itu telah sekian lama memaksaku menyambangi Losail International Circuit melalui layar televisi. Selama bertahun-tahun menonton MotoGP itu pula, niat untuk mengunjungi Qatar mulai mengganggu tidur malamku.

Mimpi itu telah menjadi sebuah kenyataan indah ketika selama lima hari aku bisa menjelajah Qatar di awal tahun 2020. Kini saatnya bagiku untuk menceritakan kepada kalian tentang keelokannya. Berikut sedikit banyak kenangan yang kudapatkan di negeri kaya “emas hitam” itu:

1. Hamad International Airport

Bisa ditasbihkan bahwa Hamad International Airport (HIA) adalah penyempurna gerbang pariwisata Qatar. Sejak heksa warsa lalu, HIA sukses menggantikan peran Doha International Airport.  Perlu kamu ketahui bahwa penamaan bandara ini di catut dari nama Emir Qatar, Hamad bin Khalifa Al Thani.

Pagi yang cerah kala itu, aku mengamini kemegahan bandara yang terletak di tepian Teluk Persia ini. Inilah bandara yang menyimpan aset “Beruang Kuning” senilai 91 milyar Rupiah….Wowww.

2. Karwa Bus

Sebagai seorang yang taat dengan kode etik kaum backpacker, aku hanya dihadapkan pada dua pilihan untuk menuju pusat kota…..Kereta atau bus?. Kali ini bus menjadi pilihan pertamaku.

Belum juga melihat dan menaikinya, sudah terbayang bahwa aku akan menaiki bus kota berpenampilan modern ketika nanti meninggalkan bandara.

Bus kota Doha dikenal dengan nama Karwa Bus dan dibutuhkan KARWA Smart Card untuk mengunggangnya. Seluruh bus kota Doha dioperasikan oleh perusahaan transportasi negara yaitu Mowasalat. Rerata tarif sekali jalan juga sangat terjangkau yaitu sekitar Rp. 10.000.

3. Al Ghanim Bus Station

Setelah check-in di Casper Hotel dan menaruh semua perlengkapan, aku mulai mengeksplorasi kota Doha. Tempat pertama yang kujejak adalah Al Ghanim Bus Station sebagai tujuan akhir Karwa Bus bernomor 12 yang mengangkutku dari sebelah hotel.

Terletak di Municipality Ad Dawhah, Al Ghanim Bus Station adalah landmark penting. Terminal bus ini tentu mengcover sebagian besar rute Karwa Bus di Qatar. Al Ghanim Bus Station mengambil peran sebagai terminal sentral di Qatar sekaligus menjadi kantor pusat Mowasalat. Jika kamu berniat menjelajah wisata Qatar menggunakan bus, pasti kamu akan sering menyambangi terminal ini.

4. Abdul Aziz Nasser Theater

Inilah ruang pertunjukan untuk multidisiplin seni yang mensupport seniman lokal dan internasional. Terletak di pusat kota Doha dengan kapasitas hampir seribu tempat duduk. Bahkan untuk mempermudah pelaksanaan event-event besar, teater ini dikoneksikan secara langsung dengan Al Mirqab Hotel yang terletak tepat di sisi baratnya.

5. Al Fanar Mosque

Aku mengunjungi masjid ini setelah mengeksplore Al Ghanim Bus Station. Lokasinya hanya berjarak satu kilometer di utara terminal. Al Fanar adalah Pusat Kebudayaan Islam Qatar yang lebih dikenal dengan nama Al Sheikh Abdullah Bin Zaid Al-Mahmood Islamic Cultural Center. Selain mengenalkan budaya Qatar melalui Islam, Fanar Cultural Center ini juga  menyelenggarakan kegiatan sosial dan pendidikan.

6. Souq Faleh

Souq Faleh dan Al Fanar Masque hanya dipisahkan oleh Al Tarbiya Street. Merupakan salah satu dari sekian banyak pasar-pasar tua di Doha. Jika kamu penggemar Abaya, maka pasar ini menjadi tempat yang tepat untuk memburunya, karena harga yang ditawarkan tergolong lebih murah dari pasar-pasar yang lain.

7. Domes Mosque

Sedang asyik berkunjung ke Souq Faleh, tiba-tiba suara adzan Dzhuhur memanggil. Tampaknya aku harus segera mengakhiri eksplorasiku sejenak dan menuju ke sebuah masjid tua di tenggara. Masjid dengan banyak kubah dan tiang ini masih berdiri gagah di tengah modernnya kota. Shalat Dzuhur siang itu dipenuhi jama’ah yang datang dari segenap penjuru. Dan itu adalah shalat berjama’ahku pertama kali di Doha.

8. City Souq

Bersebelahan dengan Al Fanar Mosque di sebelah timur, tepat di salah satu sudut perempatan Al Tarbiya Street dan Al Bareed Street terdapatlah shopping mall modern dengan julangan tujuh lantai yang kemudian tampak mengkerdilkan bangunan Central Municipal Center di seberangnya. Aku memasukinya hanya untuk sekedar berburu fridge magnet lalu mencuri foto suasana di dalam.

Dikenal dengan nama City Souq, mall ini menyediakan pakaian, garmen, sepatu, parfum, mainan anak-anak, stationery, selimut dan abaya. Berlatihlah menawar sebelum berbelanja di tempat ini.

9. Souq Waqif

Berusia lebih dari dua abad, tak membuat Souq Waqif merubah bentuk arsitekturnya. Menjadi satu-satunya pasar tradisional kuno di seluruh Qatar.

Waqif berarti berdiri. Karena pada masa perintisan pasar, tidak ada satupun kios yang dibangun. Hal ini disebabkan karena meluapnya air laut dari pantai Doha yang menggenangi pasar. Bahkan diawal berdirinya, para pembeli akan datang menggunakan perahu atau menaiki onta untuk mensiasati genangan tersebut dan penjual akan berdiri sepanjang hari untuk menawarkan dagangannya.

10. The Pearl Monument

Meninggalkan sejenak Souq Waqif untuk kemudian kutengok ulang esok hari, aku menyasar The Pearl Monument di seberang Al Corniche Street yang menyediakan fasilitas penyeberangan bawah tanah di kolongnya. Kurasa tak hanya traveler, bahkan seluruh warga negara Qatar hendaknya wajib mengunjungi monumen berwujud kerang mutiara menganga ini. Melalui monumen ini, semua khalayak harus tahu bahwa sebelum tahun 1939 yaitu era sebelum ditemukannya minyak di perut bumi mereka, Qatar adalah negara miskin yang pendapatannya bergantung pada hasil tangkap kerang mutiara di Teluk Persia.

11. Corniche Promenade

Mengunjungi The Pearl Monument membuatku bahagia tak terkira, selain mendalami sejarah Qatar, mata dimanjakan dengan indahnya pemandangan Doha Corniche. Promenade sepanjang tujuh kilometer ini menampakkan lengkungan Teluk Doha yang dijejali gedung pencakar langit di ujungnya. Sementara sebaran traditional dhow boat yang diam terjangkar di sepanjang teluk menjadi interior alam yang mengelokkan suasana.

12. Museum of Islamic Art

Tepat di ujung timur Doha Corniche terdapat bangunan yang didirikan layaknya mengambang di tepian laut. Adalah Museum of Islamic Art yang didalamnya dipamerkan kekayaan budaya Islam dari tiga benua yang telah berusia lebih dari 1.400 tahun lamanya. Inilah museum andalan Qatar yang didirikan oleh saudara perempuan dari Emir mereka yaitu H. E Sheikha Al Mayassa binti Hamad bin Khalifa Al Thani. Keberadaan museum ini telah mentasbihkan Qatar sebagai ibu kota budaya kawasan Timur Tengah.

13. MIA Park

MIA dalam nama taman ini adalah singkatan dari Museum of Islamic Art. Sesuai namanya, sebelum mendatanginya, semua orang sudah bisa dipastikan faham bahwa taman ini terletak tepat di depan Museum of Islamic Art. Taman yang sering menjadi venue resmi negara pada perayaan hari libur nasional, selain itu taman ini sering dipakai sebagai tempat berlangsungnya pertunjukan musik, kegiatan bazaar ataupun konser-konser regular lainnya. Sedangkan khusus di hari Selasa dan dimulai pada pukul 17:00, taman ini menjadi area publik khusus kaum Hawa yang biasanya dipimpin oleh personal trainer dalam latihan kardio dan senam kebugaran.

14. Doha Hop On Hop Off Bus

Buat kamu yang tidak mau repot menjelajah Doha. Pariwisata Qatar menyediakan Hop On-Hop Off Sightseeing Tour. Jadi kamu cukup duduk manis dari atas bus dan akan diantarkan ke beberapa destinasi wisata di Doha. Bus ini berentang waktu tiga puluh menit dalam pengoperasiannya. Melewati destinasi wisata utama Qatar yaitu Souq Waqif, Katara Cultural Village, The Pearl Qatar dan Museum of Islamic Art. Untuk memanjakan para traveler, bus ini juga berhenti di Hotel Marriott, Sharq Village and Spa, Sheraton dan Hilton Hotel.

15. West Bay

Hari Kedua….Udara sangat berangin dan dingin tentunya. Menaiki Karwa Bus bernomor 12 dan bersambung dengan nomor 64, aku menuju West Bay. Kompleks bangunan pencakar langit itu seakan melambai-lambaikan tangannya kepadaku ketika kupandangi dari sisi lain Doha Corniche sore kemarin.

Kini aku tepat berada di tengah area bisnis di pantai timur Doha ini. Sebuah area yang mengcover tiga distrik sekaligus, yaitu Al Qassar, Al Dafna dan West Bay Lagoon. Akhirnya dari dekat, aku bisa menikmati Burj Doha, bangunan paling ikonik di Qatar itu.

16. City Center Doha

Menelusuri setiap inchi jalanan di West Bay, aku sampai juga di salah satu shopping mall tertua di Qatar. City Center Doha yang diletakkan di pusat bisnis tetapi ditargetkan melayani para pelanggan dari kelas ekonomi menengah. Tepat berloksi di tengah area West Bay, shopping mall ini terkoneksi secara langsung dengan tiga hotel mewah yaitu Shangri La Hotel, Rotana Hotel dan Merweb Hotel.

17. Doha Metro

Untuk pertama kalinya aku menaiki Doha Metro. Sistem tranportasi masal teranyar milik Qatar yang dioperasikan sejak setahun lalu. MRT tiga jalur (Red Line, Green Line dan Gold Line) yang dimiliki oleh Hamad Group ini ditasbihkan sebagai kereta tanpa pengemudi tercepat di dunia dengan kecepatan jelajah mencapai 100 km/jam.

Kali ini aku menikmati fasilitas mewahnya dari Stasiun DECC (Doha Exhibition & Convention Center) di Wet Bay menuju Stasiun Katara yang merupakan akses mengunjungi Katara Cultural Village.

18. Katara Cultural Village

Doha Metro menurunkanku di stasiun Katara. Hanya perlu berjalan kaki sejauh setengah kilometer untuk sampai di Katara Cultural Village, sebuah pusat budaya di Qatar. Terletak di pantai timur antara West Bay dan The Pearl, perkampungan budaya ini telah berdiri sejak sepuluh tahun lalu.

Katara sendiri adalah nama untuk Qatar sebelum Abad ke-18. Kata “Catara” pada seratus tahun pertama Masehi disematkan untuk menamai Semenanjung Qatar yang terletak di selatan Teluk Persia.

19. Aspire Park

Eksplorasi hari ketigaku di Qatar kumulai sedikit siang. Menunggu matahari meninggi, karena aku akan bermain di area terbuka, yaitu Aspire Park. Nama taman yang diambil dari nama sebuah area, yaitu Aspire Zone yang merupakan nama beken dari Doha Sports City di Distrik Baaya.

Karwa Bus bernomor 301 menurunkanku di Villaggio Shelter Bus tepat jam 11:44. Aku berjalan kaki menuju taman yang terletak di barat Qatar itu. Aspire Park adalah taman indah nan luas yang melengkapi diri dengan playground, air mancur, beberapa coffee shop bahkan menciptakan satu-satunya danau di Qatar.

20. The Torch Doha

Masih di Aspire Zone Complex, melangkah sedikit ke timur, aku tepat berada di bawah sebuah hotel setinggi 300 meter. Sering disebut dengan panggilan Aspire Tower, walaupun nama resminya adalah The Torch Doha.

Adalah buah karya konsultan arsitektur dari Perancis, inilah bangunan yang saat ini masih menjadi yang tertinggi di Doha. Hotel 36 lantai ini telah menyumbang jasanya untuk Qatar sebagai focal point (titik fokus) pada perhelatan Asian Games ke-15.

21. Khalifa International Stadium

Khalifa International Stadium disandingkan tepat di sebelah The Torch Doha. Sering dipanggil dengan nama National Stadium. Seperti bandara megah mereka, gelanggang sepakbola ini juga mencatut nama Emir Qatar Hamad bin Khalifa Al Thani. Inilah kandang resmi tim nasional sepakbola Qatar dengan empat puluh ribu kapasitas tempat duduk.

Di empui oleh Qatar Football Association, stadion ini adalah saksi dimana Australia dijungkalkan oleh pasukan samurai biru dengan gol tunggal Tadanari Lee pada perhelatan final AFC Asian Cup 2011.

22. Villaggio Mall

Kunjungan di Doha Sports City, kuakhiri dengan memasuki Villaggio Mall. Mall di pinggiran Al Waab Street ini dikembangkan oleh Gondolania Entertainment, oleh karenanya konsep wisata gondola di kota Venice di adopsi di pusat perbelanjaan satu lantai ini.

Didesain di dalamnya canal indoor sepanjang 150 meter lengkap dengan perahu gondola, mengingatkanku ketika mengunjungi The Venetian di Macau 3 tahun silam.

Retailer utama di Villaggio Mall adalah Carrefour, akan tetapi pusat perbelanjaan ini juga mengakomodasi 200 toko yang menjual brand-brand ternama asal Amerika, Inggris, Italia dan Jerman. Yuk, yang hobby belanja, silahkan mampir ke sini !

23. Al Koot Fort

Hari keempat, aku berniat menelusuri area MDD (Mshreib Downtown Doha) yaitu sebuah kota pengganti Distrik Mushayrib yang pengembangannya direncanakan dengan detail.

Tetapi sebelum memasuki area MDD, aku sempatkan mampir di Al Koot Fort yang telah berusia 93 tahun. Adalah jasa dari Emir keempat Qatar, Sheikh Abdullah bin Jassim Al Thani yang membangun benteng ini dengan tujuan melindungi  Souq Waqif dari kelompok pencuri terkenal pada waktu itu.

Setelah mampir di Al Koot Fort atau Doha Fort ini, barulah aku melangkah memasuki area MDD. Yuk lihat ada apa saja di MDD ?

24. Msheireb Museum

Tempat wisata utama yang kukunjungi di Mshreib Downtown Doha adalah Msheireb Museum yang dikembangkan oleh Msheireb Properties (Pengembang Real Estate Nasional Qatar).  Aku dengan tekunnya menelusuri empat rumah warisan bersejarah yang menjadi bagian utama dari Msheireb Museum. Yaitu Bin Jelmood House yang mengungkap sejarah perdagangan budak di negeri itu, Company House yang mengungkap kisah para pioneer pekerja industri minyak Qatar, Mohammed Bin Jassim House yang merupakan rumah yang dibangun oleh putra pendiri Qatar, Sheikh Mohammed bin Jassim Al Thani serta Radwani House yang merupakan duplikasi model rumah asli Qatar.

Kalau kalian ke Qatar, wajib datang ke sini ya….Free ticket kok, santuy….

25. Msheireb Tram

Menaiki Msheireb Tram adalah cara mudah untuk menikmati keindahan MDD. Transportasi massal ini diluncurkan oleh Msheireb Properties dengan loop track sepanjang dua kilometer dan mampu menghubungkan setiap spot di MDD dalam waktu delapan belas menit saja.

Kamu harus merasakan nyamannya tram listrik buatan Amerika yang menggunakan filtering glass panel yang katanya mampu mencegah masuknya sinar matahari ke dalam ruangan tram hingga 90%.

26. Doha Free Metrolink

Sebelum meninggalkan Qatar, di hari  terakhir aku mencoba menjajal Doha Metrolink yang merupkan jaringan feeder bus untuk mengkoneksi  siapapun dengan Doha Metro Station dalam radius dua hingga lima kilometer.

Tidak dipungut biaya dalam memanfaatkan jasa feeder bus ini. Pemerintah Qatar menyediakan empat puluh dua jalur Doha Free Metrolink yang beroperasi dari jam enam pagi hingga jam sebelas malam.

Jika kalian mau berwisata hemat di Qatar, carilah hotel yang dilalui oleh rute bus ini. Apalagi kalau hotelnya agak jauh dari pusat kota, pasti akan lebih menghemat kantongmu….Hihihi.

Semoga pandemi COVID-19 ini segera berakhi dan kamu bisa segera melancong ke Qatar….Amin.