Souq Waqif….Terbesar dan Tertua.

Melewari gate bernomor  empat, aku kembali keluar di jalanan pasca menjelajah dalaman City Souq. Kantor dua lantai milik badan independen Qatar menjadi bangunan pertama yang kulewati. Tampak lima bendera Qatar berukuran besar mempergagah markas Central Municipal Council.

Aku menikung ke kiri begitu berpapasan dengan Abdullah Bin Jassim Street. Dua ratus meter kemudian, aku melewati bangunan berlantai empat yang menjadi pusat pengembangan Islam di Qatar yaitu Sheikh Abdullah Bin Zaid Al Mahmood Islamic Cultural Center. Tampak sebuah sepeda ontel hitam tersandar pada tiang rambu di depannya. Klasik, macam suasana di Eropa saja.

Lalu mulai tampak pelataran luas nan panas dari kejauhan, letaknya tepat di pojok barat daya perempatan besar yang terbentuk dari persilangan Banks Street dan Abdullah Bin Jassim Street. Deretan tujuh bangku panjang tiga warna terduduki tiga pria setengah baya yang tampak menikmati suasana.

Minggu siang kala itu, Souq Waqif yang kudatangi dari gerbang timur masih tampak sepi. Aku menyusuri koridor demi koridor pasar. Berlantai andesit gelap, berdinding tak mulus dengan warna krem dan dibagian atas diletakkan kayu-kayu utuh memanjang sebagai penyangga struktur atapnya yang sengaja dibuat rata.

Pelataran sisi timur Souq Waqif.

Kulewati kios-kios dengan barang dagangan yang masih tertutup, aku sendiri tak menahu tentang jenis barang dagangan tersembunyi itu. Kusingkap sedikit ujung kain penutup dan kutemukan jawabnya….Itu rempah-rempah.

Ketika sampai di area pasar yang sedikit menjorok ke tengah, aku menemukan sebuah blok yang menjual satwa, pakan yang sudah dipacking dalam plastik besar ukuran seragam, beserta kandangnya. Area berjualan satwa ini sudah tak lagi beratap, langit nan panaslah yang tampak tepat di atas kepala.

Terimakasih “RICH” yang menjadi partner dalam perjalanan kali ini.
Blok untuk berjualan satwa seperti burung dan kelinci.

Sementara beberapa orang tua pemilik kedai sederhana tengah sibuk mempersiapkan lapaknya yang telah dilengkapi lemari-lemari pendingin dengan merk minuman ternama. Aku masih belum bisa membayangkan bagaimana rupa kedai ini ketika ramai. Aku hanya menebaknya sebagai kedai kaum menengah.

Masih sepi….Mereka bersiap diri.

Tergelincirnya matahari mengurungkan niatku untuk menelusuri seisi pasar. Eksplorasi bagian timur sudah kuselesaikan. Bagian barat?….Sudahlah, besok masih ada waktu. Aku mendadak menciptkan sebuah opsi perjalanan sendiri. Meninggalkan Souq Waqif segera dan ingin bersantai di Doha Corniche hingga sore. The Pearl Monument adalah tujuan berikutnya.

—-****—-

Inilah satu-satunya pasar tradisional kuno terbesar di seluruh Qatar. Al Souq menjadi distrik yang beruntung atas kepemilikan pasar ini. Berdiri pada akhir abad ke-18 di tepian Wadi Msheireb. Wadi sendiri merujuk pada jalur sungai kering yang hanya terisi air saat hujan lebat saja. Pengalaman menggelikan terkait Wadi adalah ketika mengunjungi negeri tetangga Qatar yaitu Bahrain. Saking keringnya, wadi di sana biasa digunakan warga untuk bermain cricket….Lucu kan.

Tiga hari berlalu, membuatku kembali merindukan Souq Waqif.

Rabu pagi, aku akhirnya tak kuasa membendung rindu itu. Aku kini memasukinya dari sisi barat yang tampak lebih elegan karena sisi ini memang berbatasan dengan Msheireb Downtown Doha (MDD), sebuah kota subtitutor Distrik Mushayrib yang pengembangannya direncanakan detail.

Pelataran sisi barat.

Aku mengamini….Terutama ketika mendengar sebuah jargon bahwa Souq Waqid adalah rumah bagi banyak restoran dan shisha lounges. Siang itu, aku memasuki sisi barat dengan sambutan deretan restoran bergaya Eropa di sepanjang koridor terbuka.

Restoran.

Sisi inilah yang menjadi tempat bagi warga Qatar dan para turis untuk sekedar nongkrong, menikmati kopi dan menghisap sisha. Konon akan ramai di Kamis malam. Seperti kebiasaan di kawasan Timur Tengah, yang menjadikan malam Jum’at sebagai permulaan weekend mereka untuk menyambut libur di keesokan hari.

Souq Waqif tak pernah merubah bentuk  arsitektur khas Qatarnya.

Waqif berarti berdiri. Karena pada masa perintisan pasar, tidak ada satupun kios yang dibangun. Hal ini disebabkan karena meluapnya air laut dari pantai Doha yang menggenangi pasar. Bahkan diawal berdirinya, masyarakat Arab Badui yang nomaden dan penduduk setempat bertemu dan bertransaksi di tempat ini. Para pembeli akan datang menggunakan perahu atau menaiki onta untuk mensiasati genangan tersebut dan penjual akan berdiri sepanjang hari untuk menawarkan dagangannya.

Duh cantiknya Souq Waqif.

Semakin memasuki area tengah, atmosfer pasar menjadi sangat ramai. Kini aku menemukan area penjual souvenir. Jam tangan, fridge magnet, gantungan kunci, dompet serta souvenir jenis lain ramai dipasarkan di area ini.

Koridor souvenir.

Kemudian keluar pasar melalui sisi selatan, aku menemukan area berjualan dallah, tabung shisha beragam bentuk dan ukuran seta berbagai jenis handicrafts

Area handicrafts.

Perkembangan ekonomi negara Qatar yang sangat melejit semenjak menemukan minyak bumi berimbas positif pada kondisi pasar ini. Pada tahun 2006. Emir Qatar, Sheikh Hamad bin Khalifa Al Thani merenovasi besar-besaran Souq Waqif sebagai pusat ekonomi dan pariwisata dunia. Konon sang Emir mendatangkan  kayu dan bambu yang diimpor dari beberapa negara Asia untuk kegiatan renovasi besar ini.

Nah, tunggu apa lagi….Yuk ke Qatar….Hihihi.

Souq Faleh….Salah Satu yang Tertua di Qatar

Matahari sedang giat menanjaki puncaknya, udara mulai menghangat, mengikis rasa dingin pelan-pelan dari telapak tangan dan guratan muka.

Aku meninggalkan Al Ghanim Bus Station…..

Hello, Filippino”, tiga Qataris petugas Mowasalat menyapaku di gerbang luar terminal.

Hi, Sir”, jawabku singkat sambil membatin “Alhamdulillah aku dikaruniai muka ajaib yang cocok dengan muka berbagai bangsa Asia”. Membuatku seperti bunglon yang pandai menyesuaikan diri.

Al Ashat Street tak lagi menyemburkan debu, kini kumpulan partikel halus itu menyerpihi setiap sudut jalanan. Berdebunya jalanan Qatar, tak bisa dijustifikasi “kotor”, justru itulah yang menjadi identitas negara-negara teluk yang bisa dinikmati para wisatawan.

Setiap bangunan bertingkat di sisi kiri kanan jalan seragam berwarna coklat pasir, sama seperti Kuwait, yang beberapa hari sebelumnya kulihat dari udara.

Kini aku sudah di tepi Banks Street, jalan utama tiga jalur di setiap sisi arahnya dan dipisahkan dengan pagar kawat stainless dengan berbagai bunga hidroponik aneka warna di dasar pagar. Jalan utama ini lancar mengalir tanpa kemacetan.

Aku sedikit was-was menyeberang di Ali Bin Abdullah Street karena arus kendaraan begitu cepat dan tentu bukan datang dari arah kanan seperti layaknya arus di Indonesia. Aku tak pernah menyeberang sebelum genap menoleh ke kedua sisi, trauma pada kisah masa lalu yang hanya sekian inchi saja hampir tersambar kuda besi di Phnom Penh dan Bandar Seri Begawan.

Di ujung blok kedua, tepatnya di jalur kecil Al Tarbiya Street aku menikung ke kanan untuk menemukan Al Fanar Mosque, bangunan ibadah yang terintegrasi dengan Abdullah Bin Zaid Al Mahmood Islamic Cultural Center.

Al Fanar Mosque….Bangunan ikonik berminaret spiral dan berjendela biru langit.

Bukan itu yang menjadi topik bahasan kali ini. Tapi pada bangunan persegi dua lantai yang penuh dengan signboard di lantai dasarnya. Inilah salah satu pusat perbelanjaan tertua di Qatar. Tersohor di era 1970-an, Souq Faleh masih menjadi minat tersendiri bagi warga Qatar untuk berbelanja. Mungkin Souq Faleh memiliki masa jaya yang bersamaan dengan Sarinah Thamrin Plaza di Jakarta.

Souq Faleh dari kejauhan.

Inilah perpaduan pasar tradisional dan mall modern. Bentuknya yang mungil dan eksisnya kegiatan tawar-menawar adalah ciri khas tradisional sedangkan bangunan besar mall adalah sisi modernnya.

Secara umum, pusat perbelanjaan ini menyediakan kios-kios penjual Abaya (pakaian wanita khas Timur Tengah), parfum berkualitas baik, telepon genggam, arloji, perhiasan emas dan perak, alat tulis kantor dan mainan anak-anak.

Yuk kita intip beberapa spot di Souq Faleh:

Kios sprei dan kaftan asal Pakistan.
Kios penjual mainan anak-anak dan tas.
Kios penjual kain-kain bermotif tradisional khas Timur Tengah.

Secara konektivitas, Souq Faleh bisa dicapai siapapun dengan mudah, karena terletak di dekat Al Ghanim Bus Station dan Stasiun MRT Souq Waqif.  Taka da salahnya untuk mampir disini karena letak strategisnya yang diapit oleh Souq Waqif dan Doha Corniche.

Kunjungan yang tak lama di Souq Faleh ini tertutup sempurna oleh lantunan suara adzan yang bersumber dari Domes Mosque. Masjid tua yang berjarak 100 meter di timur Souq Faleh.

Yuk Shalat Dzuhur dulu !

Doha Old Mosque….Orang memanggilnya Domes Mosque.

26 Destinasi Wisata di Doha, Qatar

Mungkin sosok yang berjasa membawaku ke Qatar adalah Valentino Rossi. Ya….Legenda hidup balapan kuda besi premium itu telah sekian lama memaksaku menyambangi Losail International Circuit melalui layar televisi. Selama bertahun-tahun menonton MotoGP itu pula, niat untuk mengunjungi Qatar mulai mengganggu tidur malamku.

Mimpi itu telah menjadi sebuah kenyataan indah ketika selama lima hari aku bisa menjelajah Qatar di awal tahun 2020. Kini saatnya bagiku untuk menceritakan kepada kalian tentang keelokannya. Berikut sedikit banyak kenangan yang kudapatkan di negeri kaya “emas hitam” itu:

1. Hamad International Airport

Bisa ditasbihkan bahwa Hamad International Airport (HIA) adalah penyempurna gerbang pariwisata Qatar. Sejak heksa warsa lalu, HIA sukses menggantikan peran Doha International Airport.  Perlu kamu ketahui bahwa penamaan bandara ini di catut dari nama Emir Qatar, Hamad bin Khalifa Al Thani.

Pagi yang cerah kala itu, aku mengamini kemegahan bandara yang terletak di tepian Teluk Persia ini. Inilah bandara yang menyimpan aset “Beruang Kuning” senilai 91 milyar Rupiah….Wowww.

2. Karwa Bus

Sebagai seorang yang taat dengan kode etik kaum backpacker, aku hanya dihadapkan pada dua pilihan untuk menuju pusat kota…..Kereta atau bus?. Kali ini bus menjadi pilihan pertamaku.

Belum juga melihat dan menaikinya, sudah terbayang bahwa aku akan menaiki bus kota berpenampilan modern ketika nanti meninggalkan bandara.

Bus kota Doha dikenal dengan nama Karwa Bus dan dibutuhkan KARWA Smart Card untuk mengunggangnya. Seluruh bus kota Doha dioperasikan oleh perusahaan transportasi negara yaitu Mowasalat. Rerata tarif sekali jalan juga sangat terjangkau yaitu sekitar Rp. 10.000.

3. Al Ghanim Bus Station

Setelah check-in di Casper Hotel dan menaruh semua perlengkapan, aku mulai mengeksplorasi kota Doha. Tempat pertama yang kujejak adalah Al Ghanim Bus Station sebagai tujuan akhir Karwa Bus bernomor 12 yang mengangkutku dari sebelah hotel.

Terletak di Municipality Ad Dawhah, Al Ghanim Bus Station adalah landmark penting. Terminal bus ini tentu mengcover sebagian besar rute Karwa Bus di Qatar. Al Ghanim Bus Station mengambil peran sebagai terminal sentral di Qatar sekaligus menjadi kantor pusat Mowasalat. Jika kamu berniat menjelajah wisata Qatar menggunakan bus, pasti kamu akan sering menyambangi terminal ini.

4. Abdul Aziz Nasser Theater

Inilah ruang pertunjukan untuk multidisiplin seni yang mensupport seniman lokal dan internasional. Terletak di pusat kota Doha dengan kapasitas hampir seribu tempat duduk. Bahkan untuk mempermudah pelaksanaan event-event besar, teater ini dikoneksikan secara langsung dengan Al Mirqab Hotel yang terletak tepat di sisi baratnya.

5. Al Fanar Mosque

Aku mengunjungi masjid ini setelah mengeksplore Al Ghanim Bus Station. Lokasinya hanya berjarak satu kilometer di utara terminal. Al Fanar adalah Pusat Kebudayaan Islam Qatar yang lebih dikenal dengan nama Al Sheikh Abdullah Bin Zaid Al-Mahmood Islamic Cultural Center. Selain mengenalkan budaya Qatar melalui Islam, Fanar Cultural Center ini juga  menyelenggarakan kegiatan sosial dan pendidikan.

6. Souq Faleh

Souq Faleh dan Al Fanar Masque hanya dipisahkan oleh Al Tarbiya Street. Merupakan salah satu dari sekian banyak pasar-pasar tua di Doha. Jika kamu penggemar Abaya, maka pasar ini menjadi tempat yang tepat untuk memburunya, karena harga yang ditawarkan tergolong lebih murah dari pasar-pasar yang lain.

7. Domes Mosque

Sedang asyik berkunjung ke Souq Faleh, tiba-tiba suara adzan Dzhuhur memanggil. Tampaknya aku harus segera mengakhiri eksplorasiku sejenak dan menuju ke sebuah masjid tua di tenggara. Masjid dengan banyak kubah dan tiang ini masih berdiri gagah di tengah modernnya kota. Shalat Dzuhur siang itu dipenuhi jama’ah yang datang dari segenap penjuru. Dan itu adalah shalat berjama’ahku pertama kali di Doha.

8. City Souq

Bersebelahan dengan Al Fanar Mosque di sebelah timur, tepat di salah satu sudut perempatan Al Tarbiya Street dan Al Bareed Street terdapatlah shopping mall modern dengan julangan tujuh lantai yang kemudian tampak mengkerdilkan bangunan Central Municipal Center di seberangnya. Aku memasukinya hanya untuk sekedar berburu fridge magnet lalu mencuri foto suasana di dalam.

Dikenal dengan nama City Souq, mall ini menyediakan pakaian, garmen, sepatu, parfum, mainan anak-anak, stationery, selimut dan abaya. Berlatihlah menawar sebelum berbelanja di tempat ini.

9. Souq Waqif

Berusia lebih dari dua abad, tak membuat Souq Waqif merubah bentuk arsitekturnya. Menjadi satu-satunya pasar tradisional kuno di seluruh Qatar.

Waqif berarti berdiri. Karena pada masa perintisan pasar, tidak ada satupun kios yang dibangun. Hal ini disebabkan karena meluapnya air laut dari pantai Doha yang menggenangi pasar. Bahkan diawal berdirinya, para pembeli akan datang menggunakan perahu atau menaiki onta untuk mensiasati genangan tersebut dan penjual akan berdiri sepanjang hari untuk menawarkan dagangannya.

10. The Pearl Monument

Meninggalkan sejenak Souq Waqif untuk kemudian kutengok ulang esok hari, aku menyasar The Pearl Monument di seberang Al Corniche Street yang menyediakan fasilitas penyeberangan bawah tanah di kolongnya. Kurasa tak hanya traveler, bahkan seluruh warga negara Qatar hendaknya wajib mengunjungi monumen berwujud kerang mutiara menganga ini. Melalui monumen ini, semua khalayak harus tahu bahwa sebelum tahun 1939 yaitu era sebelum ditemukannya minyak di perut bumi mereka, Qatar adalah negara miskin yang pendapatannya bergantung pada hasil tangkap kerang mutiara di Teluk Persia.

11. Corniche Promenade

Mengunjungi The Pearl Monument membuatku bahagia tak terkira, selain mendalami sejarah Qatar, mata dimanjakan dengan indahnya pemandangan Doha Corniche. Promenade sepanjang tujuh kilometer ini menampakkan lengkungan Teluk Doha yang dijejali gedung pencakar langit di ujungnya. Sementara sebaran traditional dhow boat yang diam terjangkar di sepanjang teluk menjadi interior alam yang mengelokkan suasana.

12. Museum of Islamic Art

Tepat di ujung timur Doha Corniche terdapat bangunan yang didirikan layaknya mengambang di tepian laut. Adalah Museum of Islamic Art yang didalamnya dipamerkan kekayaan budaya Islam dari tiga benua yang telah berusia lebih dari 1.400 tahun lamanya. Inilah museum andalan Qatar yang didirikan oleh saudara perempuan dari Emir mereka yaitu H. E Sheikha Al Mayassa binti Hamad bin Khalifa Al Thani. Keberadaan museum ini telah mentasbihkan Qatar sebagai ibu kota budaya kawasan Timur Tengah.

13. MIA Park

MIA dalam nama taman ini adalah singkatan dari Museum of Islamic Art. Sesuai namanya, sebelum mendatanginya, semua orang sudah bisa dipastikan faham bahwa taman ini terletak tepat di depan Museum of Islamic Art. Taman yang sering menjadi venue resmi negara pada perayaan hari libur nasional, selain itu taman ini sering dipakai sebagai tempat berlangsungnya pertunjukan musik, kegiatan bazaar ataupun konser-konser regular lainnya. Sedangkan khusus di hari Selasa dan dimulai pada pukul 17:00, taman ini menjadi area publik khusus kaum Hawa yang biasanya dipimpin oleh personal trainer dalam latihan kardio dan senam kebugaran.

14. Doha Hop On Hop Off Bus

Buat kamu yang tidak mau repot menjelajah Doha. Pariwisata Qatar menyediakan Hop On-Hop Off Sightseeing Tour. Jadi kamu cukup duduk manis dari atas bus dan akan diantarkan ke beberapa destinasi wisata di Doha. Bus ini berentang waktu tiga puluh menit dalam pengoperasiannya. Melewati destinasi wisata utama Qatar yaitu Souq Waqif, Katara Cultural Village, The Pearl Qatar dan Museum of Islamic Art. Untuk memanjakan para traveler, bus ini juga berhenti di Hotel Marriott, Sharq Village and Spa, Sheraton dan Hilton Hotel.

15. West Bay

Hari Kedua….Udara sangat berangin dan dingin tentunya. Menaiki Karwa Bus bernomor 12 dan bersambung dengan nomor 64, aku menuju West Bay. Kompleks bangunan pencakar langit itu seakan melambai-lambaikan tangannya kepadaku ketika kupandangi dari sisi lain Doha Corniche sore kemarin.

Kini aku tepat berada di tengah area bisnis di pantai timur Doha ini. Sebuah area yang mengcover tiga distrik sekaligus, yaitu Al Qassar, Al Dafna dan West Bay Lagoon. Akhirnya dari dekat, aku bisa menikmati Burj Doha, bangunan paling ikonik di Qatar itu.

16. City Center Doha

Menelusuri setiap inchi jalanan di West Bay, aku sampai juga di salah satu shopping mall tertua di Qatar. City Center Doha yang diletakkan di pusat bisnis tetapi ditargetkan melayani para pelanggan dari kelas ekonomi menengah. Tepat berloksi di tengah area West Bay, shopping mall ini terkoneksi secara langsung dengan tiga hotel mewah yaitu Shangri La Hotel, Rotana Hotel dan Merweb Hotel.

17. Doha Metro

Untuk pertama kalinya aku menaiki Doha Metro. Sistem tranportasi masal teranyar milik Qatar yang dioperasikan sejak setahun lalu. MRT tiga jalur (Red Line, Green Line dan Gold Line) yang dimiliki oleh Hamad Group ini ditasbihkan sebagai kereta tanpa pengemudi tercepat di dunia dengan kecepatan jelajah mencapai 100 km/jam.

Kali ini aku menikmati fasilitas mewahnya dari Stasiun DECC (Doha Exhibition & Convention Center) di Wet Bay menuju Stasiun Katara yang merupakan akses mengunjungi Katara Cultural Village.

18. Katara Cultural Village

Doha Metro menurunkanku di stasiun Katara. Hanya perlu berjalan kaki sejauh setengah kilometer untuk sampai di Katara Cultural Village, sebuah pusat budaya di Qatar. Terletak di pantai timur antara West Bay dan The Pearl, perkampungan budaya ini telah berdiri sejak sepuluh tahun lalu.

Katara sendiri adalah nama untuk Qatar sebelum Abad ke-18. Kata “Catara” pada seratus tahun pertama Masehi disematkan untuk menamai Semenanjung Qatar yang terletak di selatan Teluk Persia.

19. Aspire Park

Eksplorasi hari ketigaku di Qatar kumulai sedikit siang. Menunggu matahari meninggi, karena aku akan bermain di area terbuka, yaitu Aspire Park. Nama taman yang diambil dari nama sebuah area, yaitu Aspire Zone yang merupakan nama beken dari Doha Sports City di Distrik Baaya.

Karwa Bus bernomor 301 menurunkanku di Villaggio Shelter Bus tepat jam 11:44. Aku berjalan kaki menuju taman yang terletak di barat Qatar itu. Aspire Park adalah taman indah nan luas yang melengkapi diri dengan playground, air mancur, beberapa coffee shop bahkan menciptakan satu-satunya danau di Qatar.

20. The Torch Doha

Masih di Aspire Zone Complex, melangkah sedikit ke timur, aku tepat berada di bawah sebuah hotel setinggi 300 meter. Sering disebut dengan panggilan Aspire Tower, walaupun nama resminya adalah The Torch Doha.

Adalah buah karya konsultan arsitektur dari Perancis, inilah bangunan yang saat ini masih menjadi yang tertinggi di Doha. Hotel 36 lantai ini telah menyumbang jasanya untuk Qatar sebagai focal point (titik fokus) pada perhelatan Asian Games ke-15.

21. Khalifa International Stadium

Khalifa International Stadium disandingkan tepat di sebelah The Torch Doha. Sering dipanggil dengan nama National Stadium. Seperti bandara megah mereka, gelanggang sepakbola ini juga mencatut nama Emir Qatar Hamad bin Khalifa Al Thani. Inilah kandang resmi tim nasional sepakbola Qatar dengan empat puluh ribu kapasitas tempat duduk.

Di empui oleh Qatar Football Association, stadion ini adalah saksi dimana Australia dijungkalkan oleh pasukan samurai biru dengan gol tunggal Tadanari Lee pada perhelatan final AFC Asian Cup 2011.

22. Villaggio Mall

Kunjungan di Doha Sports City, kuakhiri dengan memasuki Villaggio Mall. Mall di pinggiran Al Waab Street ini dikembangkan oleh Gondolania Entertainment, oleh karenanya konsep wisata gondola di kota Venice di adopsi di pusat perbelanjaan satu lantai ini.

Didesain di dalamnya canal indoor sepanjang 150 meter lengkap dengan perahu gondola, mengingatkanku ketika mengunjungi The Venetian di Macau 3 tahun silam.

Retailer utama di Villaggio Mall adalah Carrefour, akan tetapi pusat perbelanjaan ini juga mengakomodasi 200 toko yang menjual brand-brand ternama asal Amerika, Inggris, Italia dan Jerman. Yuk, yang hobby belanja, silahkan mampir ke sini !

23. Al Koot Fort

Hari keempat, aku berniat menelusuri area MDD (Mshreib Downtown Doha) yaitu sebuah kota pengganti Distrik Mushayrib yang pengembangannya direncanakan dengan detail.

Tetapi sebelum memasuki area MDD, aku sempatkan mampir di Al Koot Fort yang telah berusia 93 tahun. Adalah jasa dari Emir keempat Qatar, Sheikh Abdullah bin Jassim Al Thani yang membangun benteng ini dengan tujuan melindungi  Souq Waqif dari kelompok pencuri terkenal pada waktu itu.

Setelah mampir di Al Koot Fort atau Doha Fort ini, barulah aku melangkah memasuki area MDD. Yuk lihat ada apa saja di MDD ?

24. Msheireb Museum

Tempat wisata utama yang kukunjungi di Mshreib Downtown Doha adalah Msheireb Museum yang dikembangkan oleh Msheireb Properties (Pengembang Real Estate Nasional Qatar).  Aku dengan tekunnya menelusuri empat rumah warisan bersejarah yang menjadi bagian utama dari Msheireb Museum. Yaitu Bin Jelmood House yang mengungkap sejarah perdagangan budak di negeri itu, Company House yang mengungkap kisah para pioneer pekerja industri minyak Qatar, Mohammed Bin Jassim House yang merupakan rumah yang dibangun oleh putra pendiri Qatar, Sheikh Mohammed bin Jassim Al Thani serta Radwani House yang merupakan duplikasi model rumah asli Qatar.

Kalau kalian ke Qatar, wajib datang ke sini ya….Free ticket kok, santuy….

25. Msheireb Tram

Menaiki Msheireb Tram adalah cara mudah untuk menikmati keindahan MDD. Transportasi massal ini diluncurkan oleh Msheireb Properties dengan loop track sepanjang dua kilometer dan mampu menghubungkan setiap spot di MDD dalam waktu delapan belas menit saja.

Kamu harus merasakan nyamannya tram listrik buatan Amerika yang menggunakan filtering glass panel yang katanya mampu mencegah masuknya sinar matahari ke dalam ruangan tram hingga 90%.

26. Doha Free Metrolink

Sebelum meninggalkan Qatar, di hari  terakhir aku mencoba menjajal Doha Metrolink yang merupkan jaringan feeder bus untuk mengkoneksi  siapapun dengan Doha Metro Station dalam radius dua hingga lima kilometer.

Tidak dipungut biaya dalam memanfaatkan jasa feeder bus ini. Pemerintah Qatar menyediakan empat puluh dua jalur Doha Free Metrolink yang beroperasi dari jam enam pagi hingga jam sebelas malam.

Jika kalian mau berwisata hemat di Qatar, carilah hotel yang dilalui oleh rute bus ini. Apalagi kalau hotelnya agak jauh dari pusat kota, pasti akan lebih menghemat kantongmu….Hihihi.

Semoga pandemi COVID-19 ini segera berakhi dan kamu bisa segera melancong ke Qatar….Amin.