Mohammed Bin Jassim House: Merancang Kota Masa Depan

Sisi samping kiri Mohammed Bin Jassim House.

Staff Museum   :     “Hello, how many part of museums which you have visited, Sir?

AKu                       :     “Just two….Company House and Bin Jelmood House, Ms”.

Staff Museum   :     “Oh, you on right step. Now you are in Mohammed Bin Jassim House. It will tell you about old Msheireb and the modern one”.

Aku                        :     “Sounds pretty good”.

Staff Museum   :     “Is that your own camera? Are you professional?

Aku                        :     “Yes, my camera. I’m a travel blogger. Is it okay to bring inside?

Staff Museum   :     “Oh sure. Enjoy your visitation, Sir”.

—-****—-

Galeri ini didedikasikan untuk warga asli Msheireb. Koleksi di dalamnya menggambarkan kehidupan sehari-hari di Msheireb yang bisa dikenang oleh generasi muda Qatar dan juga para pekerja asing yang bekerja di negeri kaya minyak itu.

Tanah liat sebagai bahan konstruksi bangunan tempoe doeloe.

Pada masa awal peradaban Qatar, penduduk menggunakan gurun untuk beternak, tetapi lama kelamaan mereka membuat area khusus untuk perumahan. Sejarah dimulaiketika penduduk asal Al-Jassra mendirikan pemukiman di Msheireb. Konstruksi rumah mereka pada awalnya menggunakan batu dan tanah liat sebelum mengenal gypsum dan batu bata.

Sesi “Religious Events and Celebrations

Peralatan rumah makan masa lalu.

Pada masa awal Msheireb, penduduk sering merayakan hari raya keagamaan, seperti Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri. Festival diselenggarakan untuk memeriahkannya, restoran akan dibuka hingga lewat tengah malam dan rumah-rumah akan membuka pintunya.

Penduduk menggunakan drum untuk membangunkan masyarakat menjalankan sahur di pagi hari dan menggunakannya untuk bernyanyi musik religi di malam hari. Lalu, Idul Fitri ditetapkan dengan bulan sabit yang terlihat di Saudi Arabia. Saat itu Saudi Arabia belum memiliki siaran radio dan televeisi. Berita akan didapat warga Qatar dari Bahrain.

Saat Idul Fitri , warga akan menari Tanbora, Laywa, Fajery, dan Haban. Banyak sekali tarian tradisional kala itu.

Sesi  “Electricity

Papan nama jalan dan beberapa peralatan listrik pertengahan 1950-an.

Generator listrik pertama Doha di pasang di Company House pada akhir 1930-an. Lalu pada pertengahan 1950-an, pembangkit listrik dibangun di kota dan kabel listrik bawah tanah mulai dipasang. Jalur yang di lewati oleh kabel bawah tanah ini kemudian diberi nama Al-Kahraba Street (“Al-Kahraba” sendiri berarti “kelistrikan”). Kemudian Al-Kahraba Street ini ramai dengan pertokoan yang menjual alat-alat listrik.

Dikisahkan warga Doha rapi duduk di kursi ketika Emir mereka Sheikh Salman melakukan pemotongan pipa untuk meresmikan pembangkit listrik pertama mereka.

Al-Kahraba Street menjadi nadi kehidupan Qatar. Sepanjang siang dan malam selama bulan Ramadhan  jalan itu menjadi juaranya cahaya. Dan orang-orang dari Al-Rayyan sengaja datang hanya untuk melihat jalanan itu.

Dikisahkan oleh seorang warga bernama Hassan Rasheed bahwa televisi pertama yang dia beli berasal dari jalan Al-Kahraba bermerk “Andrea”, bentuknya seperti almari kecil, almari itu harus dibuka dahulu untuk melihat layarnya.

Sesi “Shopping and Eating

Papan nama toko dan usaha jasa lainnya, termasuk peralatan yang digunakan.

Antara tahun 1950-1990, Distrik Msheireb berkembang dan penuh sesak dengan bangunan komersial. Banyak usaha-usaha baru dan pertama kali muncul disana seperti hotel pertama, bank pertama, apotik pertama, kedai kopi pertama dan tempat menikmati minuman dingin pertama. Warga dapat membeli perlengkapan dan peralatan, televisi, kain sari dan sepatu di sini. Penjahit, tukang pangkas rambut, ahli optik, tukang daging, dokter, dokter gigi, kedai penjual ayam dan cafe-cafe sangat berkontribusi meramaikan Msheireb.

Salah satu warga mengatakan bahwa jalanan Msheireb sangat meriah, ada Al-Nasr Fountain, apotik milik Hussain Al-Kazim, toko-toko dan restoran-restoran Lebanon, perpusatakaan dan toko buku  Al-Tilmeethe yang dimiliki Abdullah Naima. Di pojok jalan ada penjahit khusus jas. Bank pertama di Doha adalah The Ottoman Bank dan landmark utama kala itu adalah The Bismillah Hotel.

Warga bernama Abdullatif Al-Nadaf berkata: “Jika kamu memerlukan sesuatu yang tidak ada di Doha maka kamu akan menemukannya di Al-Kahraba Street”.

Sesi “Schools, Healthcare and Security

Perlengkapan pembelajaran di sekolah dan peralatan medis.

Untuk memastikan anak-anak Qatar dapat berkontribusi dalam pengembangan industri perminyakan Qatar dan pertumbuhan ekonomi bangsa, pada September 1947 didirikan sekolah modern pertama bernama Al Islah Al Mohamadia. Sedangkan Bin Jelmood House dimanfaatkan sebagai kantor kepolisian Qatar pada tahun 1950an. Rumah sakit legendaris di Qatar adalah Rumaillah Hospotal yang dioperasikan sejak 1956, dibuka dengan 200 tempat tidur dengan layanan ambulan dan fasilitas rawat jalan.

Sesi “Msheireb Downtown Doha

Desain modern di MDD.

Selanjutnya dijelaskan sebuah sesi mengenai Msheireb Downtown Doha (MDD) sebagai Proyek Regenerasi Kota Berkelanjutan  di Kawasan Msheireb.

Dibawah kepemimpinan Yang Mulia Sheikha Moza binti Nasser, Msheireb Properties yang merupakan anak perusahaan Qatar Foundation membangun distrik perkotaan dimana para warga negara Qatar dan ekspatriat akan tinggal, bekerja, dan bermasyarakat.

Di dalam sesi MDD inilah kita akan belajar bagaimana patron, perencana, arsitek dan insinyur secara hati-hati menginterpretasikan lagi arsitektur asli Msheireb, konstruksi yang berkesinambungan dengan tradisi masyarakat, komersialisasi dan inovasi untuk menciptakan kawasan modern tetapi tetap berakar kuat pada sejarah dan menciptakan sense of place.

Old Msheireb sangat popular dengan aktivitas bisnis. Toko-toko dan restoran dibangun di sepanjang jalan utama.  Membuat distrik ini populer untuk tinggal dan untuk dikunjungi siapa saja. Sejak pertokoan dibuka pertama kali pada awal 1950-an, Doha memainkan peran penting,  tidak hanya untuk pertumbuhan ekonomi Qatar tetapi bahkan untuk ekonomi global. Doha saat ini menjadi tujuan bisnis yang menjanjikan dan destinasi wisata bagi para pelancong di seluruh dunia.  Dan Msheireb Downtown Doha akan memainkan peranan penting dalam mempertahankan keunggulan komersial kota.

Di ujung selatan Al-Kahraba Street telah menjadi distrik bisnis baru  dengan perkantoran, bank, restoran dan cafe.  Dan di dalam distrik bisnis ini, Doha Metro akan mengambil penumpang menuju West Bay dan Hamad International Airport.

Diperkirakan jika proyek pembangunan Msheireb Downtown Doha selesai, lebih dari 2.000 warga akan menempati wilayah seluas 31 Ha. Warga akan berbaur dengan ribuan pekerja, konsumen komersial dan para wisatawan.

Meskipun skala MDD sangat luas, MDD akan membangkitkan keintiman Old Msheireb. Jalur pejalan kaki akan terkoneksi langsung dengan Souq Waqif. Keseluruhan MDD akan terhubung dengan jaringan jalan bawah tanah dan parkir bawah tanah yang akan membuat area jalanan sangar ramah buat para pejalan kaki.

Tradisi inovasi MDD juga memberikan solusi dari tiga tantangan Old Msheireb yaitu kemacetan lalu lintas, pengelolaan sampah dan konservasi air. MDD akan memiliki 12.000 slot parkir bawah tanah yang akan menghapus kemacetan dan menciptakan lingkungan yang ramah untuk para pejalan kaki. Sistem pembuangan sampah yang canggih akan mendaur ulang sampah dari sumbernya dan akan dibuang melalui pipa bawah tanah. Sekitar enam juta liter air daur ulang akan digunakan sehari-hari untuk menyiram toilet, mengairi tanaman, dan akan menjadi pendingin bangunan-bangunan di MDD.

Koridor di Mohammed Bin Jassim House.

Inovasi yang sama akan memproduksi air panas dan listrik melalui ribuan sel tenaga surya yang dipasang di setiap atap bangunan.

Ada tujuh langkah yang membuat bangunan-bangunan di MDD menjadi khas:

  1. Berkesinambungannya masa lalu, masa sekarang dan masa depan melalui motif desain kota yang abadi.
  2. Kehamonisan dan keberagaman melalui bahasa arsitektur yang diterima semua kalangan.
  3. Pengaturan bangunan informal yang mencerminkan pemandangan kota Msheireb yang orisinil
  4. Lingkungan tempat tinggal yang menyediakan privasi, keamanan, area indoor dan outdoor, semangat kekeluargaan dan kepedulian masyarakat.
  5. Membuat kehidupan jalanan yang bersemangat dan mampu membuat nyaman pejalan kaki dan menyediakan menyediakan ruang-ruang teduh.
  6. Kenyamanan maksimum dengan konsumsi energi minimum melalui teknologi tradisional dan modern dengan memanfaatkan energi dan melestarikan sumber daya alam.
  7. Kelestarian desain Qatar melalui bahasa arsitektur baru yang terhubung dengan desain masa lalu.

Desain dan layout bangunan-bangunan lama Msheireb sangat menghargai lingkungan dengan meminimalisir efek matahari, memaksimalkan ventilasi dan menggunakan material lokal. Praktek-praktek tradisional ini tetap diimplementasikan pada pengembangan MDD. Desain dan layout MDD dibuat dengan memanfaatkan naungan matahari  dan tiupan angin pantai. Material konstruksi diambil dari sumber-sumber lokal. Energi terbarukan memanfaatkan panel-panel surya di atap bangunan. Air bersih akan terselamatkan dengan penggunaan yang efisien di setiap keran dan shower. Sedangkan air daur ulang akan dimanfaatkan untuk irigasi dan keperluan lainnya.

MDD akan mengurangi ketergantungan masyarakat pada kendaraan. Sebagai contoh, distrik ini akan bersahabat untuk para pejalan kaki, akan mudah, aman dan nyaman ketika berjalan dari dari satu tempat ke tempat lain dalam naungan pepohonan dan diselingi taman. Distrik akan menyediakan rute buat pesepeda dan bus. Doha Metro akan menghubungkan Msheireb dengan wilayah lain. Daur ulang sampah yang tersentralisasi  akan menghilangkan kebutuhan akan truk-truk sampah yang memasuki kota.

Company House: Awal Mula Kejayaan Ekonomi Qatar

Kompleks Msheireb Downtown Doha.

Ternyata tak hanya aku, semua turis dibuat kebingungan untuk menemukan pintu masuk. Kata itulah yang diucapkan seorang staff pria yang keluar memanggilku dan mengarahkanku memasuki museum.

Welcome to Msheireb Museum, you should know that this museum consists of four parts. They are Company House which you are currently visiting. In west of this building is Bin Jelmood House, while in east there is Radwani House. Another one, across that street (pointing at Bin Jalmood Street), is Mohammed Bin Jassim House. To make it easier for understanding all stories inside the museum, please install Msheireb Museums application. You can be guided by this application. Please write your identity in guest book, and welcome to Msheireb Museums“, hafalannya tersampaikan dengan lancar.

Yes, Sir. Thank you, Sir. Where are you come from, Sir?”, singkat aku menjawab dan bertanya.

Bangladesh”, jawabnya dengan penuh senyum.

Yes, belajar dimulai…..

Jika kamu ingin mengetahui perihal….

Bagaimana ekonomi Qatar bangkit dari keterpurukan……dan bagaimana perjuangan mereka menemukan minyak bumi……

Disinilah tempatnya.

—-****—-

Jadi di episode akhir petualanganku di Qatar, isi tulisan ini akan sangat serius. Tak ada majas….Tak ada sastra….Tak ada puisi….yuk, balik ke bangku sekolahan.

The history is begin……

Pertama kali, di pintu masuk museum terdapat logo perusahaan minyak terkenal yang menunjukkan bahwa pendirian dan pembiayaan museum ini disponsori oleh Qatar Shell.

Setelah melewati reception desk dijelaskan dalam sebuah tulisan bahwa bangunan ini adalah rumah dari Hussain Al-Naama, manager Doha Port, dibangun pada tahun 1920, lalu di sewa oleh Anglo-Persian Oil Company (Perusahaan Inggris pemegang kontrak eksklusif untuk eksplorasi minyak di Qatar) pada tahun 1935 dan digunakan sebagai kantor pusatnya selama  dua dekade. Alkisah, pencarian dan eksplorasi minyak Qatar dimulai dari rumah ini.

Inilah truk yang digunakan untuk mengangkut pekerja ke ladang minyak di sebelah barat Qatar.

Diceritakan para pekerja ini akan pulang dalam satu bulan untuk mengambil gaji, lalu diizinkan pulang ke rumah mereka dalam sehari saja untuk bertemu keluarga, setelah itu mereka harus kembali ke ladang minyak kembali untuk bekerja. Museum ini didedikasikan untuk para pioneer tersebut yang memaknai endurance, pengorbanan dan komitmen untuk membangun Qatar….#airmatamulaimeleleh

Perjalanan industri minyak Qatar disusun dengan bekas pipa-pipa minyak.

Kembali ke tahun 1920-an, saat itu Qatar adalah negara yang bergantung pada perdagangan, perikanan dan hasil tangkap mutiara. Dan negara ini sudah diambang kehancuran ekonomi karena Perang Dunia Pertama, Great Depression 1929 dan semenjak mutiara bisa dibudidayakan di Jepang.

Original banget ya pipanya….Aku terpesona.

Perlu kamu ketahui bahwa penangkapan mutiara adalah pekerjaan penuh resiko. Pada tahun 1929, pernah terjadi badai yang menenggelamkan 80% kapal di Kuwait, Bahrain, Saudi Arabia, Oman dan Qatar. Badai ini menewaskan lima ribu jiwa.

Masuk ke tahun 1940-an, terjadi Perang Dunia Kedua, usaha eksplorasi minyak Qatar sempat terhenti. Hal ini membuat seluruh warga Qatar kembali tidak memiliki harapan, karenanya mereka telah berfikir untuk kembali melaut mencari mutiara.

Beruntung pada tahun 1946, setahun setelah selesainya Perang Dunia Kedua, Inggris kembali ke Qatar untuk melanjutkan eksplorasi. Saat mereka tiba, kapan tanker tidak bisa  berlabuh di Perairan Zikrit karena dangkal. Maka dibuatlah terminal ekspor baru di Umm Said, selatan Doha. Lalu berlanjut dengan dibangunnya pipa-pipa minyak dari Umm Said ke Dukhan. Usaha yang tak kenal menyerah, pada akhirnya membuat Qatar berhasil melakukan ekspor minyak bumi pertamanya pada 31 Desember 1949. Dalam perkembangan selanjutnya, produksi minyak di Qatar meningkat tajam dari yang semula dibawah 50.000 Barrel/hari pada tahun 1949 menjadi lebih dari 2.000.000 Barrel/hari pada tahun 2010….Wah keren yaaaa.

Babak penting berikutnya, Qatar mendapatkan kemerdekaan dari Inggris pada 3 September 1971. Tiga tahun setelahnya dibentuklah Qatar General Petroleum Company. Dan pada tahun 1977, Qatar General Petroleum Company dan Shell Qatar Ltd. dinasionalisasi menjadi Qatar Petroleum, sehingga sejak saat itu minyak dan gas bumi di kuasai negara seutuhnya.

Qatar memang negara yang beruntung. Tak lama setelah kemerdekaan, ditemukan ladang Liquid Natural Gass (LNG) di utara wilayahnya. Untuk mengeksplorenya, didirikanlah Perusahaan Gas Qatar pada tahun 1984 dan ekspor LNG pertama mereka terjadi pada tahun 1996 ke Jepang.

Video room….Melihat pengabdian para pionerr dalam membangun minyak negara hingga Qatar mengalami kemajuan ekonomi yang pesat.
Generator listrik Biston dari Inggris….Inilah generator listrik pertama di Qatar.

Di ruangan belakang Company House, disediakan sebuah ruangan bartajuk “Open Storage” yang menampilkan beberapa peralatan para pekerja perusahaan minyak di awal-awal beroperasinya. Tampak raket tenis, stick hoki, bola rugby, radio, velg kendaraan, rantang makanan, mesin ketik, buah nanas kemasan dengan merk “Marvel” dan sofdrink bermerk “Namlite”.

Mesin ketik klasik merk “ROYAL”.
Buah nanas kemasan dengan merk “Marvel

Di ruang paling belakang didesain ruang bertajuk “The Courtyard: Life as a Worker”, di dalamnya dibangun beberapa sculpture putih yang memvisualisasikan para Qataris sedang bekerja di perusahaan minyak Inggris.

Ilustrasi para pekerja minyak kala itu.

Berjalan ke arah pintu keluar, tertampil sebuah ruang “Interview” dimana tim Msheireb Museum mewawancara para pioneer asli Qatar untuk mengumpulkan informasi yang berguna sebagai referensi, bahan penelitian dan bahan pameran di museum ini.

Sofa di ruangan wawancara.
Nah ini, referensi full dalam bahasa Arab….Hahaha.

Terdapat juga juga booth “Share Your Story” yang menampilkan testimoni para anggota keluarga pioneer perihal kerja keras dan kehidupan mereka semasa menjadi karyawan perusahaan minyak itu.

Dalam ruangan yang sama terdapat juga booth “Contemporary Voices”. Layar tiga sisi ini mendeskripsikan kisah-kisah para pioneer dalam sebuah film dokumenter.

Duduk dan dengarkan kisah yang terucap dari keluarga para pioneer….Mengharukan.
Atau tontonlah film dokumenter para pioneer itu sendiri….Merinding menontonnya.

Dan di bagian akhir museum ditampilkan beberapa profil pioneer pekerja minyak dalam ruang “Pioneers’ Stories”. Dikisahkan Muhammad bin Muhammad Muftah yang bekerja sebagai penerima telepon dan pengemudi, Jasim bin Qroun sebagai rigger (Juru Ikat), Bu Abbas yang bertugas mengendarai truk standard internasional untuk membawa para geologist, Thamir Muftah yang bertanggung menangani urusan listrik, Jassim bin Muhammad Jaber Al-Naameh yang bertugas menangani generator, Ibrahim bin Saleh Bu Matar Al-Muhannadi yang bertugas sebagai houseboy, dan terakhir adalah Mansour bin Khalil Al-Hajiri yang menjadi karyawan pertama di perusahaan minyak dan bertugas sebagai guide (pemandu), karena beliau orang yang sangat memahami seluruh wilayah Qatar dan mampu menemukan tempat yang dicari dalam gelap atau kabut sekalipun.

Kubaca pelan setiap kisah kepahlawanan mereka.
Mr. Mohammed bin Hamad Al-Hitmi, pemadam kebakaran di Qatar Petroleum Production Authority.

Selesai menjelajah Company House, aku keluar dari dari pintu belakang. Kusempatkan singgah di Empirecof, sebuah coffee shop mungil yang terletak di pelataran museum ini.

Yuk nge-latte dulu….

Selesai berkopi ria, aku menyempatkan diri memakan bekal makan siangku di halaman Company House. Di taman ini disediakan free water station yang bisa dimanfaatkan untuk minum secara gratis….Wah mantab Qatar.

Where is the museum gate, Sir?”, pertanyaan turis yang sering diutarakan padaku saat istirahat di taman.

Kunjunganku di Company House telah benar-benar usai, saatnya aku pergi menuju bagian Msheireb Museum yang lain.

Yukkk ikut aku lagiii……..

26 Destinasi Wisata di Doha, Qatar

Mungkin sosok yang berjasa membawaku ke Qatar adalah Valentino Rossi. Ya….Legenda hidup balapan kuda besi premium itu telah sekian lama memaksaku menyambangi Losail International Circuit melalui layar televisi. Selama bertahun-tahun menonton MotoGP itu pula, niat untuk mengunjungi Qatar mulai mengganggu tidur malamku.

Mimpi itu telah menjadi sebuah kenyataan indah ketika selama lima hari aku bisa menjelajah Qatar di awal tahun 2020. Kini saatnya bagiku untuk menceritakan kepada kalian tentang keelokannya. Berikut sedikit banyak kenangan yang kudapatkan di negeri kaya “emas hitam” itu:

1. Hamad International Airport

Bisa ditasbihkan bahwa Hamad International Airport (HIA) adalah penyempurna gerbang pariwisata Qatar. Sejak heksa warsa lalu, HIA sukses menggantikan peran Doha International Airport.  Perlu kamu ketahui bahwa penamaan bandara ini di catut dari nama Emir Qatar, Hamad bin Khalifa Al Thani.

Pagi yang cerah kala itu, aku mengamini kemegahan bandara yang terletak di tepian Teluk Persia ini. Inilah bandara yang menyimpan aset “Beruang Kuning” senilai 91 milyar Rupiah….Wowww.

2. Karwa Bus

Sebagai seorang yang taat dengan kode etik kaum backpacker, aku hanya dihadapkan pada dua pilihan untuk menuju pusat kota…..Kereta atau bus?. Kali ini bus menjadi pilihan pertamaku.

Belum juga melihat dan menaikinya, sudah terbayang bahwa aku akan menaiki bus kota berpenampilan modern ketika nanti meninggalkan bandara.

Bus kota Doha dikenal dengan nama Karwa Bus dan dibutuhkan KARWA Smart Card untuk mengunggangnya. Seluruh bus kota Doha dioperasikan oleh perusahaan transportasi negara yaitu Mowasalat. Rerata tarif sekali jalan juga sangat terjangkau yaitu sekitar Rp. 10.000.

3. Al Ghanim Bus Station

Setelah check-in di Casper Hotel dan menaruh semua perlengkapan, aku mulai mengeksplorasi kota Doha. Tempat pertama yang kujejak adalah Al Ghanim Bus Station sebagai tujuan akhir Karwa Bus bernomor 12 yang mengangkutku dari sebelah hotel.

Terletak di Municipality Ad Dawhah, Al Ghanim Bus Station adalah landmark penting. Terminal bus ini tentu mengcover sebagian besar rute Karwa Bus di Qatar. Al Ghanim Bus Station mengambil peran sebagai terminal sentral di Qatar sekaligus menjadi kantor pusat Mowasalat. Jika kamu berniat menjelajah wisata Qatar menggunakan bus, pasti kamu akan sering menyambangi terminal ini.

4. Abdul Aziz Nasser Theater

Inilah ruang pertunjukan untuk multidisiplin seni yang mensupport seniman lokal dan internasional. Terletak di pusat kota Doha dengan kapasitas hampir seribu tempat duduk. Bahkan untuk mempermudah pelaksanaan event-event besar, teater ini dikoneksikan secara langsung dengan Al Mirqab Hotel yang terletak tepat di sisi baratnya.

5. Al Fanar Mosque

Aku mengunjungi masjid ini setelah mengeksplore Al Ghanim Bus Station. Lokasinya hanya berjarak satu kilometer di utara terminal. Al Fanar adalah Pusat Kebudayaan Islam Qatar yang lebih dikenal dengan nama Al Sheikh Abdullah Bin Zaid Al-Mahmood Islamic Cultural Center. Selain mengenalkan budaya Qatar melalui Islam, Fanar Cultural Center ini juga  menyelenggarakan kegiatan sosial dan pendidikan.

6. Souq Faleh

Souq Faleh dan Al Fanar Masque hanya dipisahkan oleh Al Tarbiya Street. Merupakan salah satu dari sekian banyak pasar-pasar tua di Doha. Jika kamu penggemar Abaya, maka pasar ini menjadi tempat yang tepat untuk memburunya, karena harga yang ditawarkan tergolong lebih murah dari pasar-pasar yang lain.

7. Domes Mosque

Sedang asyik berkunjung ke Souq Faleh, tiba-tiba suara adzan Dzhuhur memanggil. Tampaknya aku harus segera mengakhiri eksplorasiku sejenak dan menuju ke sebuah masjid tua di tenggara. Masjid dengan banyak kubah dan tiang ini masih berdiri gagah di tengah modernnya kota. Shalat Dzuhur siang itu dipenuhi jama’ah yang datang dari segenap penjuru. Dan itu adalah shalat berjama’ahku pertama kali di Doha.

8. City Souq

Bersebelahan dengan Al Fanar Mosque di sebelah timur, tepat di salah satu sudut perempatan Al Tarbiya Street dan Al Bareed Street terdapatlah shopping mall modern dengan julangan tujuh lantai yang kemudian tampak mengkerdilkan bangunan Central Municipal Center di seberangnya. Aku memasukinya hanya untuk sekedar berburu fridge magnet lalu mencuri foto suasana di dalam.

Dikenal dengan nama City Souq, mall ini menyediakan pakaian, garmen, sepatu, parfum, mainan anak-anak, stationery, selimut dan abaya. Berlatihlah menawar sebelum berbelanja di tempat ini.

9. Souq Waqif

Berusia lebih dari dua abad, tak membuat Souq Waqif merubah bentuk arsitekturnya. Menjadi satu-satunya pasar tradisional kuno di seluruh Qatar.

Waqif berarti berdiri. Karena pada masa perintisan pasar, tidak ada satupun kios yang dibangun. Hal ini disebabkan karena meluapnya air laut dari pantai Doha yang menggenangi pasar. Bahkan diawal berdirinya, para pembeli akan datang menggunakan perahu atau menaiki onta untuk mensiasati genangan tersebut dan penjual akan berdiri sepanjang hari untuk menawarkan dagangannya.

10. The Pearl Monument

Meninggalkan sejenak Souq Waqif untuk kemudian kutengok ulang esok hari, aku menyasar The Pearl Monument di seberang Al Corniche Street yang menyediakan fasilitas penyeberangan bawah tanah di kolongnya. Kurasa tak hanya traveler, bahkan seluruh warga negara Qatar hendaknya wajib mengunjungi monumen berwujud kerang mutiara menganga ini. Melalui monumen ini, semua khalayak harus tahu bahwa sebelum tahun 1939 yaitu era sebelum ditemukannya minyak di perut bumi mereka, Qatar adalah negara miskin yang pendapatannya bergantung pada hasil tangkap kerang mutiara di Teluk Persia.

11. Corniche Promenade

Mengunjungi The Pearl Monument membuatku bahagia tak terkira, selain mendalami sejarah Qatar, mata dimanjakan dengan indahnya pemandangan Doha Corniche. Promenade sepanjang tujuh kilometer ini menampakkan lengkungan Teluk Doha yang dijejali gedung pencakar langit di ujungnya. Sementara sebaran traditional dhow boat yang diam terjangkar di sepanjang teluk menjadi interior alam yang mengelokkan suasana.

12. Museum of Islamic Art

Tepat di ujung timur Doha Corniche terdapat bangunan yang didirikan layaknya mengambang di tepian laut. Adalah Museum of Islamic Art yang didalamnya dipamerkan kekayaan budaya Islam dari tiga benua yang telah berusia lebih dari 1.400 tahun lamanya. Inilah museum andalan Qatar yang didirikan oleh saudara perempuan dari Emir mereka yaitu H. E Sheikha Al Mayassa binti Hamad bin Khalifa Al Thani. Keberadaan museum ini telah mentasbihkan Qatar sebagai ibu kota budaya kawasan Timur Tengah.

13. MIA Park

MIA dalam nama taman ini adalah singkatan dari Museum of Islamic Art. Sesuai namanya, sebelum mendatanginya, semua orang sudah bisa dipastikan faham bahwa taman ini terletak tepat di depan Museum of Islamic Art. Taman yang sering menjadi venue resmi negara pada perayaan hari libur nasional, selain itu taman ini sering dipakai sebagai tempat berlangsungnya pertunjukan musik, kegiatan bazaar ataupun konser-konser regular lainnya. Sedangkan khusus di hari Selasa dan dimulai pada pukul 17:00, taman ini menjadi area publik khusus kaum Hawa yang biasanya dipimpin oleh personal trainer dalam latihan kardio dan senam kebugaran.

14. Doha Hop On Hop Off Bus

Buat kamu yang tidak mau repot menjelajah Doha. Pariwisata Qatar menyediakan Hop On-Hop Off Sightseeing Tour. Jadi kamu cukup duduk manis dari atas bus dan akan diantarkan ke beberapa destinasi wisata di Doha. Bus ini berentang waktu tiga puluh menit dalam pengoperasiannya. Melewati destinasi wisata utama Qatar yaitu Souq Waqif, Katara Cultural Village, The Pearl Qatar dan Museum of Islamic Art. Untuk memanjakan para traveler, bus ini juga berhenti di Hotel Marriott, Sharq Village and Spa, Sheraton dan Hilton Hotel.

15. West Bay

Hari Kedua….Udara sangat berangin dan dingin tentunya. Menaiki Karwa Bus bernomor 12 dan bersambung dengan nomor 64, aku menuju West Bay. Kompleks bangunan pencakar langit itu seakan melambai-lambaikan tangannya kepadaku ketika kupandangi dari sisi lain Doha Corniche sore kemarin.

Kini aku tepat berada di tengah area bisnis di pantai timur Doha ini. Sebuah area yang mengcover tiga distrik sekaligus, yaitu Al Qassar, Al Dafna dan West Bay Lagoon. Akhirnya dari dekat, aku bisa menikmati Burj Doha, bangunan paling ikonik di Qatar itu.

16. City Center Doha

Menelusuri setiap inchi jalanan di West Bay, aku sampai juga di salah satu shopping mall tertua di Qatar. City Center Doha yang diletakkan di pusat bisnis tetapi ditargetkan melayani para pelanggan dari kelas ekonomi menengah. Tepat berloksi di tengah area West Bay, shopping mall ini terkoneksi secara langsung dengan tiga hotel mewah yaitu Shangri La Hotel, Rotana Hotel dan Merweb Hotel.

17. Doha Metro

Untuk pertama kalinya aku menaiki Doha Metro. Sistem tranportasi masal teranyar milik Qatar yang dioperasikan sejak setahun lalu. MRT tiga jalur (Red Line, Green Line dan Gold Line) yang dimiliki oleh Hamad Group ini ditasbihkan sebagai kereta tanpa pengemudi tercepat di dunia dengan kecepatan jelajah mencapai 100 km/jam.

Kali ini aku menikmati fasilitas mewahnya dari Stasiun DECC (Doha Exhibition & Convention Center) di Wet Bay menuju Stasiun Katara yang merupakan akses mengunjungi Katara Cultural Village.

18. Katara Cultural Village

Doha Metro menurunkanku di stasiun Katara. Hanya perlu berjalan kaki sejauh setengah kilometer untuk sampai di Katara Cultural Village, sebuah pusat budaya di Qatar. Terletak di pantai timur antara West Bay dan The Pearl, perkampungan budaya ini telah berdiri sejak sepuluh tahun lalu.

Katara sendiri adalah nama untuk Qatar sebelum Abad ke-18. Kata “Catara” pada seratus tahun pertama Masehi disematkan untuk menamai Semenanjung Qatar yang terletak di selatan Teluk Persia.

19. Aspire Park

Eksplorasi hari ketigaku di Qatar kumulai sedikit siang. Menunggu matahari meninggi, karena aku akan bermain di area terbuka, yaitu Aspire Park. Nama taman yang diambil dari nama sebuah area, yaitu Aspire Zone yang merupakan nama beken dari Doha Sports City di Distrik Baaya.

Karwa Bus bernomor 301 menurunkanku di Villaggio Shelter Bus tepat jam 11:44. Aku berjalan kaki menuju taman yang terletak di barat Qatar itu. Aspire Park adalah taman indah nan luas yang melengkapi diri dengan playground, air mancur, beberapa coffee shop bahkan menciptakan satu-satunya danau di Qatar.

20. The Torch Doha

Masih di Aspire Zone Complex, melangkah sedikit ke timur, aku tepat berada di bawah sebuah hotel setinggi 300 meter. Sering disebut dengan panggilan Aspire Tower, walaupun nama resminya adalah The Torch Doha.

Adalah buah karya konsultan arsitektur dari Perancis, inilah bangunan yang saat ini masih menjadi yang tertinggi di Doha. Hotel 36 lantai ini telah menyumbang jasanya untuk Qatar sebagai focal point (titik fokus) pada perhelatan Asian Games ke-15.

21. Khalifa International Stadium

Khalifa International Stadium disandingkan tepat di sebelah The Torch Doha. Sering dipanggil dengan nama National Stadium. Seperti bandara megah mereka, gelanggang sepakbola ini juga mencatut nama Emir Qatar Hamad bin Khalifa Al Thani. Inilah kandang resmi tim nasional sepakbola Qatar dengan empat puluh ribu kapasitas tempat duduk.

Di empui oleh Qatar Football Association, stadion ini adalah saksi dimana Australia dijungkalkan oleh pasukan samurai biru dengan gol tunggal Tadanari Lee pada perhelatan final AFC Asian Cup 2011.

22. Villaggio Mall

Kunjungan di Doha Sports City, kuakhiri dengan memasuki Villaggio Mall. Mall di pinggiran Al Waab Street ini dikembangkan oleh Gondolania Entertainment, oleh karenanya konsep wisata gondola di kota Venice di adopsi di pusat perbelanjaan satu lantai ini.

Didesain di dalamnya canal indoor sepanjang 150 meter lengkap dengan perahu gondola, mengingatkanku ketika mengunjungi The Venetian di Macau 3 tahun silam.

Retailer utama di Villaggio Mall adalah Carrefour, akan tetapi pusat perbelanjaan ini juga mengakomodasi 200 toko yang menjual brand-brand ternama asal Amerika, Inggris, Italia dan Jerman. Yuk, yang hobby belanja, silahkan mampir ke sini !

23. Al Koot Fort

Hari keempat, aku berniat menelusuri area MDD (Mshreib Downtown Doha) yaitu sebuah kota pengganti Distrik Mushayrib yang pengembangannya direncanakan dengan detail.

Tetapi sebelum memasuki area MDD, aku sempatkan mampir di Al Koot Fort yang telah berusia 93 tahun. Adalah jasa dari Emir keempat Qatar, Sheikh Abdullah bin Jassim Al Thani yang membangun benteng ini dengan tujuan melindungi  Souq Waqif dari kelompok pencuri terkenal pada waktu itu.

Setelah mampir di Al Koot Fort atau Doha Fort ini, barulah aku melangkah memasuki area MDD. Yuk lihat ada apa saja di MDD ?

24. Msheireb Museum

Tempat wisata utama yang kukunjungi di Mshreib Downtown Doha adalah Msheireb Museum yang dikembangkan oleh Msheireb Properties (Pengembang Real Estate Nasional Qatar).  Aku dengan tekunnya menelusuri empat rumah warisan bersejarah yang menjadi bagian utama dari Msheireb Museum. Yaitu Bin Jelmood House yang mengungkap sejarah perdagangan budak di negeri itu, Company House yang mengungkap kisah para pioneer pekerja industri minyak Qatar, Mohammed Bin Jassim House yang merupakan rumah yang dibangun oleh putra pendiri Qatar, Sheikh Mohammed bin Jassim Al Thani serta Radwani House yang merupakan duplikasi model rumah asli Qatar.

Kalau kalian ke Qatar, wajib datang ke sini ya….Free ticket kok, santuy….

25. Msheireb Tram

Menaiki Msheireb Tram adalah cara mudah untuk menikmati keindahan MDD. Transportasi massal ini diluncurkan oleh Msheireb Properties dengan loop track sepanjang dua kilometer dan mampu menghubungkan setiap spot di MDD dalam waktu delapan belas menit saja.

Kamu harus merasakan nyamannya tram listrik buatan Amerika yang menggunakan filtering glass panel yang katanya mampu mencegah masuknya sinar matahari ke dalam ruangan tram hingga 90%.

26. Doha Free Metrolink

Sebelum meninggalkan Qatar, di hari  terakhir aku mencoba menjajal Doha Metrolink yang merupkan jaringan feeder bus untuk mengkoneksi  siapapun dengan Doha Metro Station dalam radius dua hingga lima kilometer.

Tidak dipungut biaya dalam memanfaatkan jasa feeder bus ini. Pemerintah Qatar menyediakan empat puluh dua jalur Doha Free Metrolink yang beroperasi dari jam enam pagi hingga jam sebelas malam.

Jika kalian mau berwisata hemat di Qatar, carilah hotel yang dilalui oleh rute bus ini. Apalagi kalau hotelnya agak jauh dari pusat kota, pasti akan lebih menghemat kantongmu….Hihihi.

Semoga pandemi COVID-19 ini segera berakhi dan kamu bisa segera melancong ke Qatar….Amin.