26 Destinasi Wisata di Doha, Qatar

Mungkin sosok yang berjasa membawaku ke Qatar adalah Valentino Rossi. Ya….Legenda hidup balapan kuda besi premium itu telah sekian lama memaksaku menyambangi Losail International Circuit melalui layar televisi. Selama bertahun-tahun menonton MotoGP itu pula, niat untuk mengunjungi Qatar mulai mengganggu tidur malamku.

Mimpi itu telah menjadi sebuah kenyataan indah ketika selama lima hari aku bisa menjelajah Qatar di awal tahun 2020. Kini saatnya bagiku untuk menceritakan kepada kalian tentang keelokannya. Berikut sedikit banyak kenangan yang kudapatkan di negeri kaya “emas hitam” itu:

1. Hamad International Airport

Bisa ditasbihkan bahwa Hamad International Airport (HIA) adalah penyempurna gerbang pariwisata Qatar. Sejak heksa warsa lalu, HIA sukses menggantikan peran Doha International Airport.  Perlu kamu ketahui bahwa penamaan bandara ini di catut dari nama Emir Qatar, Hamad bin Khalifa Al Thani.

Pagi yang cerah kala itu, aku mengamini kemegahan bandara yang terletak di tepian Teluk Persia ini. Inilah bandara yang menyimpan aset “Beruang Kuning” senilai 91 milyar Rupiah….Wowww.

2. Karwa Bus

Sebagai seorang yang taat dengan kode etik kaum backpacker, aku hanya dihadapkan pada dua pilihan untuk menuju pusat kota…..Kereta atau bus?. Kali ini bus menjadi pilihan pertamaku.

Belum juga melihat dan menaikinya, sudah terbayang bahwa aku akan menaiki bus kota berpenampilan modern ketika nanti meninggalkan bandara.

Bus kota Doha dikenal dengan nama Karwa Bus dan dibutuhkan KARWA Smart Card untuk mengunggangnya. Seluruh bus kota Doha dioperasikan oleh perusahaan transportasi negara yaitu Mowasalat. Rerata tarif sekali jalan juga sangat terjangkau yaitu sekitar Rp. 10.000.

3. Al Ghanim Bus Station

Setelah check-in di Casper Hotel dan menaruh semua perlengkapan, aku mulai mengeksplorasi kota Doha. Tempat pertama yang kujejak adalah Al Ghanim Bus Station sebagai tujuan akhir Karwa Bus bernomor 12 yang mengangkutku dari sebelah hotel.

Terletak di Municipality Ad Dawhah, Al Ghanim Bus Station adalah landmark penting. Terminal bus ini tentu mengcover sebagian besar rute Karwa Bus di Qatar. Al Ghanim Bus Station mengambil peran sebagai terminal sentral di Qatar sekaligus menjadi kantor pusat Mowasalat. Jika kamu berniat menjelajah wisata Qatar menggunakan bus, pasti kamu akan sering menyambangi terminal ini.

4. Abdul Aziz Nasser Theater

Inilah ruang pertunjukan untuk multidisiplin seni yang mensupport seniman lokal dan internasional. Terletak di pusat kota Doha dengan kapasitas hampir seribu tempat duduk. Bahkan untuk mempermudah pelaksanaan event-event besar, teater ini dikoneksikan secara langsung dengan Al Mirqab Hotel yang terletak tepat di sisi baratnya.

5. Al Fanar Mosque

Aku mengunjungi masjid ini setelah mengeksplore Al Ghanim Bus Station. Lokasinya hanya berjarak satu kilometer di utara terminal. Al Fanar adalah Pusat Kebudayaan Islam Qatar yang lebih dikenal dengan nama Al Sheikh Abdullah Bin Zaid Al-Mahmood Islamic Cultural Center. Selain mengenalkan budaya Qatar melalui Islam, Fanar Cultural Center ini juga  menyelenggarakan kegiatan sosial dan pendidikan.

6. Souq Faleh

Souq Faleh dan Al Fanar Masque hanya dipisahkan oleh Al Tarbiya Street. Merupakan salah satu dari sekian banyak pasar-pasar tua di Doha. Jika kamu penggemar Abaya, maka pasar ini menjadi tempat yang tepat untuk memburunya, karena harga yang ditawarkan tergolong lebih murah dari pasar-pasar yang lain.

7. Domes Mosque

Sedang asyik berkunjung ke Souq Faleh, tiba-tiba suara adzan Dzhuhur memanggil. Tampaknya aku harus segera mengakhiri eksplorasiku sejenak dan menuju ke sebuah masjid tua di tenggara. Masjid dengan banyak kubah dan tiang ini masih berdiri gagah di tengah modernnya kota. Shalat Dzuhur siang itu dipenuhi jama’ah yang datang dari segenap penjuru. Dan itu adalah shalat berjama’ahku pertama kali di Doha.

8. City Souq

Bersebelahan dengan Al Fanar Mosque di sebelah timur, tepat di salah satu sudut perempatan Al Tarbiya Street dan Al Bareed Street terdapatlah shopping mall modern dengan julangan tujuh lantai yang kemudian tampak mengkerdilkan bangunan Central Municipal Center di seberangnya. Aku memasukinya hanya untuk sekedar berburu fridge magnet lalu mencuri foto suasana di dalam.

Dikenal dengan nama City Souq, mall ini menyediakan pakaian, garmen, sepatu, parfum, mainan anak-anak, stationery, selimut dan abaya. Berlatihlah menawar sebelum berbelanja di tempat ini.

9. Souq Waqif

Berusia lebih dari dua abad, tak membuat Souq Waqif merubah bentuk arsitekturnya. Menjadi satu-satunya pasar tradisional kuno di seluruh Qatar.

Waqif berarti berdiri. Karena pada masa perintisan pasar, tidak ada satupun kios yang dibangun. Hal ini disebabkan karena meluapnya air laut dari pantai Doha yang menggenangi pasar. Bahkan diawal berdirinya, para pembeli akan datang menggunakan perahu atau menaiki onta untuk mensiasati genangan tersebut dan penjual akan berdiri sepanjang hari untuk menawarkan dagangannya.

10. The Pearl Monument

Meninggalkan sejenak Souq Waqif untuk kemudian kutengok ulang esok hari, aku menyasar The Pearl Monument di seberang Al Corniche Street yang menyediakan fasilitas penyeberangan bawah tanah di kolongnya. Kurasa tak hanya traveler, bahkan seluruh warga negara Qatar hendaknya wajib mengunjungi monumen berwujud kerang mutiara menganga ini. Melalui monumen ini, semua khalayak harus tahu bahwa sebelum tahun 1939 yaitu era sebelum ditemukannya minyak di perut bumi mereka, Qatar adalah negara miskin yang pendapatannya bergantung pada hasil tangkap kerang mutiara di Teluk Persia.

11. Corniche Promenade

Mengunjungi The Pearl Monument membuatku bahagia tak terkira, selain mendalami sejarah Qatar, mata dimanjakan dengan indahnya pemandangan Doha Corniche. Promenade sepanjang tujuh kilometer ini menampakkan lengkungan Teluk Doha yang dijejali gedung pencakar langit di ujungnya. Sementara sebaran traditional dhow boat yang diam terjangkar di sepanjang teluk menjadi interior alam yang mengelokkan suasana.

12. Museum of Islamic Art

Tepat di ujung timur Doha Corniche terdapat bangunan yang didirikan layaknya mengambang di tepian laut. Adalah Museum of Islamic Art yang didalamnya dipamerkan kekayaan budaya Islam dari tiga benua yang telah berusia lebih dari 1.400 tahun lamanya. Inilah museum andalan Qatar yang didirikan oleh saudara perempuan dari Emir mereka yaitu H. E Sheikha Al Mayassa binti Hamad bin Khalifa Al Thani. Keberadaan museum ini telah mentasbihkan Qatar sebagai ibu kota budaya kawasan Timur Tengah.

13. MIA Park

MIA dalam nama taman ini adalah singkatan dari Museum of Islamic Art. Sesuai namanya, sebelum mendatanginya, semua orang sudah bisa dipastikan faham bahwa taman ini terletak tepat di depan Museum of Islamic Art. Taman yang sering menjadi venue resmi negara pada perayaan hari libur nasional, selain itu taman ini sering dipakai sebagai tempat berlangsungnya pertunjukan musik, kegiatan bazaar ataupun konser-konser regular lainnya. Sedangkan khusus di hari Selasa dan dimulai pada pukul 17:00, taman ini menjadi area publik khusus kaum Hawa yang biasanya dipimpin oleh personal trainer dalam latihan kardio dan senam kebugaran.

14. Doha Hop On Hop Off Bus

Buat kamu yang tidak mau repot menjelajah Doha. Pariwisata Qatar menyediakan Hop On-Hop Off Sightseeing Tour. Jadi kamu cukup duduk manis dari atas bus dan akan diantarkan ke beberapa destinasi wisata di Doha. Bus ini berentang waktu tiga puluh menit dalam pengoperasiannya. Melewati destinasi wisata utama Qatar yaitu Souq Waqif, Katara Cultural Village, The Pearl Qatar dan Museum of Islamic Art. Untuk memanjakan para traveler, bus ini juga berhenti di Hotel Marriott, Sharq Village and Spa, Sheraton dan Hilton Hotel.

15. West Bay

Hari Kedua….Udara sangat berangin dan dingin tentunya. Menaiki Karwa Bus bernomor 12 dan bersambung dengan nomor 64, aku menuju West Bay. Kompleks bangunan pencakar langit itu seakan melambai-lambaikan tangannya kepadaku ketika kupandangi dari sisi lain Doha Corniche sore kemarin.

Kini aku tepat berada di tengah area bisnis di pantai timur Doha ini. Sebuah area yang mengcover tiga distrik sekaligus, yaitu Al Qassar, Al Dafna dan West Bay Lagoon. Akhirnya dari dekat, aku bisa menikmati Burj Doha, bangunan paling ikonik di Qatar itu.

16. City Center Doha

Menelusuri setiap inchi jalanan di West Bay, aku sampai juga di salah satu shopping mall tertua di Qatar. City Center Doha yang diletakkan di pusat bisnis tetapi ditargetkan melayani para pelanggan dari kelas ekonomi menengah. Tepat berloksi di tengah area West Bay, shopping mall ini terkoneksi secara langsung dengan tiga hotel mewah yaitu Shangri La Hotel, Rotana Hotel dan Merweb Hotel.

17. Doha Metro

Untuk pertama kalinya aku menaiki Doha Metro. Sistem tranportasi masal teranyar milik Qatar yang dioperasikan sejak setahun lalu. MRT tiga jalur (Red Line, Green Line dan Gold Line) yang dimiliki oleh Hamad Group ini ditasbihkan sebagai kereta tanpa pengemudi tercepat di dunia dengan kecepatan jelajah mencapai 100 km/jam.

Kali ini aku menikmati fasilitas mewahnya dari Stasiun DECC (Doha Exhibition & Convention Center) di Wet Bay menuju Stasiun Katara yang merupakan akses mengunjungi Katara Cultural Village.

18. Katara Cultural Village

Doha Metro menurunkanku di stasiun Katara. Hanya perlu berjalan kaki sejauh setengah kilometer untuk sampai di Katara Cultural Village, sebuah pusat budaya di Qatar. Terletak di pantai timur antara West Bay dan The Pearl, perkampungan budaya ini telah berdiri sejak sepuluh tahun lalu.

Katara sendiri adalah nama untuk Qatar sebelum Abad ke-18. Kata “Catara” pada seratus tahun pertama Masehi disematkan untuk menamai Semenanjung Qatar yang terletak di selatan Teluk Persia.

19. Aspire Park

Eksplorasi hari ketigaku di Qatar kumulai sedikit siang. Menunggu matahari meninggi, karena aku akan bermain di area terbuka, yaitu Aspire Park. Nama taman yang diambil dari nama sebuah area, yaitu Aspire Zone yang merupakan nama beken dari Doha Sports City di Distrik Baaya.

Karwa Bus bernomor 301 menurunkanku di Villaggio Shelter Bus tepat jam 11:44. Aku berjalan kaki menuju taman yang terletak di barat Qatar itu. Aspire Park adalah taman indah nan luas yang melengkapi diri dengan playground, air mancur, beberapa coffee shop bahkan menciptakan satu-satunya danau di Qatar.

20. The Torch Doha

Masih di Aspire Zone Complex, melangkah sedikit ke timur, aku tepat berada di bawah sebuah hotel setinggi 300 meter. Sering disebut dengan panggilan Aspire Tower, walaupun nama resminya adalah The Torch Doha.

Adalah buah karya konsultan arsitektur dari Perancis, inilah bangunan yang saat ini masih menjadi yang tertinggi di Doha. Hotel 36 lantai ini telah menyumbang jasanya untuk Qatar sebagai focal point (titik fokus) pada perhelatan Asian Games ke-15.

21. Khalifa International Stadium

Khalifa International Stadium disandingkan tepat di sebelah The Torch Doha. Sering dipanggil dengan nama National Stadium. Seperti bandara megah mereka, gelanggang sepakbola ini juga mencatut nama Emir Qatar Hamad bin Khalifa Al Thani. Inilah kandang resmi tim nasional sepakbola Qatar dengan empat puluh ribu kapasitas tempat duduk.

Di empui oleh Qatar Football Association, stadion ini adalah saksi dimana Australia dijungkalkan oleh pasukan samurai biru dengan gol tunggal Tadanari Lee pada perhelatan final AFC Asian Cup 2011.

22. Villaggio Mall

Kunjungan di Doha Sports City, kuakhiri dengan memasuki Villaggio Mall. Mall di pinggiran Al Waab Street ini dikembangkan oleh Gondolania Entertainment, oleh karenanya konsep wisata gondola di kota Venice di adopsi di pusat perbelanjaan satu lantai ini.

Didesain di dalamnya canal indoor sepanjang 150 meter lengkap dengan perahu gondola, mengingatkanku ketika mengunjungi The Venetian di Macau 3 tahun silam.

Retailer utama di Villaggio Mall adalah Carrefour, akan tetapi pusat perbelanjaan ini juga mengakomodasi 200 toko yang menjual brand-brand ternama asal Amerika, Inggris, Italia dan Jerman. Yuk, yang hobby belanja, silahkan mampir ke sini !

23. Al Koot Fort

Hari keempat, aku berniat menelusuri area MDD (Mshreib Downtown Doha) yaitu sebuah kota pengganti Distrik Mushayrib yang pengembangannya direncanakan dengan detail.

Tetapi sebelum memasuki area MDD, aku sempatkan mampir di Al Koot Fort yang telah berusia 93 tahun. Adalah jasa dari Emir keempat Qatar, Sheikh Abdullah bin Jassim Al Thani yang membangun benteng ini dengan tujuan melindungi  Souq Waqif dari kelompok pencuri terkenal pada waktu itu.

Setelah mampir di Al Koot Fort atau Doha Fort ini, barulah aku melangkah memasuki area MDD. Yuk lihat ada apa saja di MDD ?

24. Msheireb Museum

Tempat wisata utama yang kukunjungi di Mshreib Downtown Doha adalah Msheireb Museum yang dikembangkan oleh Msheireb Properties (Pengembang Real Estate Nasional Qatar).  Aku dengan tekunnya menelusuri empat rumah warisan bersejarah yang menjadi bagian utama dari Msheireb Museum. Yaitu Bin Jelmood House yang mengungkap sejarah perdagangan budak di negeri itu, Company House yang mengungkap kisah para pioneer pekerja industri minyak Qatar, Mohammed Bin Jassim House yang merupakan rumah yang dibangun oleh putra pendiri Qatar, Sheikh Mohammed bin Jassim Al Thani serta Radwani House yang merupakan duplikasi model rumah asli Qatar.

Kalau kalian ke Qatar, wajib datang ke sini ya….Free ticket kok, santuy….

25. Msheireb Tram

Menaiki Msheireb Tram adalah cara mudah untuk menikmati keindahan MDD. Transportasi massal ini diluncurkan oleh Msheireb Properties dengan loop track sepanjang dua kilometer dan mampu menghubungkan setiap spot di MDD dalam waktu delapan belas menit saja.

Kamu harus merasakan nyamannya tram listrik buatan Amerika yang menggunakan filtering glass panel yang katanya mampu mencegah masuknya sinar matahari ke dalam ruangan tram hingga 90%.

26. Doha Free Metrolink

Sebelum meninggalkan Qatar, di hari  terakhir aku mencoba menjajal Doha Metrolink yang merupkan jaringan feeder bus untuk mengkoneksi  siapapun dengan Doha Metro Station dalam radius dua hingga lima kilometer.

Tidak dipungut biaya dalam memanfaatkan jasa feeder bus ini. Pemerintah Qatar menyediakan empat puluh dua jalur Doha Free Metrolink yang beroperasi dari jam enam pagi hingga jam sebelas malam.

Jika kalian mau berwisata hemat di Qatar, carilah hotel yang dilalui oleh rute bus ini. Apalagi kalau hotelnya agak jauh dari pusat kota, pasti akan lebih menghemat kantongmu….Hihihi.

Semoga pandemi COVID-19 ini segera berakhi dan kamu bisa segera melancong ke Qatar….Amin.

The Venetian….Kuliner, Piknik dan Judi.

Judi dan Casino adalah dua hal yang sangat identik dengan Macau. Jadi kalau kamu ke Macau dan tidak melihat casinonya maka itu tidak syah.

Gampang kok….

Mau judi beneran?….Monggo. Siapa tahu kamu pulang dari Macau menjadi kaya raya.

Atau….

Hanya mau lihat-lihat orang main judi di casino?….Silahkan, ga ada yang ngelarang.

Satu hal ketika kamu jalan-jalan ke Macau….Segera putuskan !. Casino manakah yang akan kamu kunjungi. Hal ini dikarenakan sangat melimpahnya jumlah casino di sana.

Kalau aku, karena hanya penasaran dengan wujud casino yang sesungguhnya maka kuputuskan untuk berkunjung ke The Venetian.

Kenapa The Venetian?

Yes, aku akan menutup eksplorasiku dengan makan malam disana, lalu melihat gondola untuk merasakan sensasi wisata Venice, Italia dan terakhir akan kututup eksplorasiku dengan melihat orang berjudi di casino….The Venetian bisa memenuhi ketiganya. Jadi kupilihlah dia.

Suasana Natal di The Venetian.

—-****—-

Kali ini aku mendapatkan busnya dengan mudah, cukup berbelok ke kiri dari pelataran Macao Tower maka aku mendapatkan sebuah halte bus (Halte Torre/Tunel Rodoviarios) dan aku menunggu bus kota bernomor MT4. 

Dengan membayar ongkos bus sebesar Rp. 7.000, aku berhasil mencapai The Venetian dalam 15 menit waktu tempuh.

Aku melihat bus berwarna biru lalu lalang di depan lobby The Venetian. Aku pun faham bahwa aku akan menaikinya nanti selesai mengeksplore The Venetian. Ya, itu bus gratis milik The Venetian untuk mengambil wisatawan dari Outer Harbour Ferry Terminal.

Mengagumi gaya klasik bagunan The Venetian ketika aku mulai menapak masuk di bangunan itu. Kelaparan yang menyerangku sejak meninggalkan Macao Tower membuatku langsung bergerak ke lantai 5 ketika memasuki The Venetian.

Mengelilingi food court, aku berusaha mencari menu termurah untuk dinner ku kali ini. Memastikan dengan berkelilling dua kali sebelum aku melepas Rp. 93.000 untuk seporsi nasi goring dan Rp. 20.000 untuk setengah liter air mineral….Mahal ampuuuuuunnnn.

Tak sampai habis melahapnya karena porsinya yang begitu besar, kemudian aku mencari keberadaan gondola ala kota Venice untuk membunuh rasa penasaranku yang muncul sejak menonton wahana tersebut di sebuah acara televisi beberapa bulan sebelum keberangkatanku ke Macau.

Inilah sungai buatan di The Venetian untuk wisata gondola.

Kamu hanya perlu merogoh kocek sebesar Rp. 225.000 untuk menikmati wisata ini.

Aku begitu larut menikmati keindahan The Venetian, berkeliling di setiap koridor pertokan yang menyediakan produk-produk ber merk.

Pertokoan di The Venetian.
Pertokoan juga.

Selangkah kemudian aku tepat berada di depan pintu masuk casino. Target destinasi utama yang akhirnya ku kunjungi pada sesi penutup wisataku di Macau.

Memasuku casino di The Venetian cukuplah mudah, hanya perlu menunjukkan passport kepada petugas keamanan di pintu depan maka kamu akan melenggang masuk dengan mudahnya.

Bak berada di film-film Hong Kong zaman dahulu, aku menelusuri setiap sisi casino untuk melihat bagaimana cara orang berjudi di casino. Di setiap meja selalu satu bandar yang selalau menawariku untuk bermain judi. Tentu aku tak akan pernah melakukannya. Aku hanya tersenyum simpul setiap menanggapi permintaan mereka untuk berjudi.

Penutup yang sangat istimewa. Akhirnya aku bisa melihat secara langsung casino di Macau. Semakin gelapnya hari mengharuskanku untuk meninggalkan The Venetian.

Seperti yang kuungkapkan diatas, Aku tak akan melewatkan satu sesi lagi yaitu menaiki shuttle bus gratis yang disediakan oleh hotel-hotel besar di Macau. Kali ini aku menaiki free shuttle bus berwarna biru milik The Venetian. Aku menuju Outer Harbour Ferry Terminal menggunakan shuttle bus ini.

Dari Outer Harbour Ferry Terminal aku melanjutkan perjalanan pulang ke hotel menggunkan bus no 10A seperti yang kulakukan ketika pertama kali tiba di Macau. Dengan tariff Rp. 5.500, aku tiba kembali di Villa Ka Meng Hotel untuk beristirahat dan melanjutkan perjalanan esok hari ke Shenzen menggunakan ferry cepat.

Bye The Venetian….Bye Macao.

Macao Tower….Tak Sekedar Bungee Jumping.

Tak semudah yang dibayangkan membaca denah transportasi umum Macau. Karena itu pulalah, aku tak kunjung menemukan bus nomor berapa dan halte di jalan mana yang bisa memindahkanku dari Ruins St. Paul menuju Macao Tower yang jarak buminya sekitar 3,5 km

Menyusuri jalanan sempit di sekitar Ruins St. Paul untuk mencari halte bus.

Setiap halte yang kutemui, aku selalu mencari keberadaan rute bus no. 9A tapi tak kunjung juga kutemukan….Guwe bukan nyasar….Hanya sedikit mengalami disorientasi.

Aku terduduk lama di sebuah halte….lupa di jalan apa?….Duduk menenangkan diri dan berusaha memahami lembaran  peta bus yang cukup lebar. Setiap orang yang datang ke halte, memperhatikan wajahku yang tentu berbeda warna dengan mereka.

Sepertinya Aku mulai memahami rute itu setelah sekian lama memeloti detail isi peta.

Dipandu oleh kompas kecilku, aku mulai melangkah ke selatan….Aku berusaha untuk tidak berbelok dari ruas jalan Largo de Santo Agostinho yang kutahu akan mengantarkanku di sebuah halte bus yang akan dilewati oleh bus no 9A.

Tak kusangka akan melewati Dom Pedro V Theatre di jalan Largo de Santo Agostinho.
Itu penampakan Grand Lisboa Hotel yang sangat terkenal di dataran Macao.

Aku harus segera menemukan dan menaiki bus itu sebelum terjebak gelap ketika pulang dari The Venetian sore nanti. Aku berbelok ke kanan untuk menyusuri jalan Avenue Da Praia Grande dan kemudian menyeberang ke jalan Avenue Dr. Stanley Ho yang kuduga menjadi letak halte bus yang kucari.

Girang bukan main, ketika aku menemukan halte yang kumaksud di jalan tersebut. Nama halte tersebut adalah Shelter Praca Jorge Alvares. 10 menit kemudian aku sudah berada di dalam bus no. 9A yang mengarah ke Macao Tower.

Memasuki bus penuh dengan keringat setelah berjalan dalam siraman sinar matahari selama 15 menit di jalanan Macau yang panas.

Dalam 7 menit aku turun di pelataran luas di depan Macao Tower.

Tower itu terlalu tinggi untuk dimasukkan ke dalam frame foto handphoneku. Berkali-kali mencoba dan tetap gagal, menara itu tak bisa masuk seutuhnya. Aku harus mengambilnya dari titik yang lain.

Teriknya surya memaksaku untuk sejenak memasuki bangunan yang berfungsi sebagai toilet di sekitar pelataran Macao Tower.

Kipas angin itu membantu mendinginkan badanku karena kapanasan.
Ruang dalam toilet
Toilet untuk kaum disabilitas.

Menuju pelataran belakang Macao Tower, aku berusaha mencari pepohonan yang rimbun untuk menikmati keindahan menara itu dengan lebih leluasa.

Menemukan pohon dan duduk santai dibawahnya.

Aku sengaja menunggu surya yang bersiap meluncur dalam senja. Dan kegembiraan pun datang. Semakin turun sang surya semakin berdatangan pula masyarakat Macau di pelataran tempatku duduk.

Dari sekian banyak warga lokal yang beraktifitas di pelataran itu, aku lebih tertegun pada seorang atlet muda nan cantik yang sedang di dampingi pelatihnya yang berkalung stopwatch. Push up, sit up dan lari sprint menjadi pelajaran si cantik yng harus dilahapnya tiap detik berjalan.

Kian lama, suhu udara semakin menurun. Aku bergegas meninggalkan tempat duduk yang berada di sebelah kolam air di pelataran belakang tower.

Foto diambil dari belakang tower.

Berpindah ke pelataran depan untuk melihat secara live aktivitas bungee jumping yang pesertanya dilempar dari atas tower itu. Perlu kamu ketahui bahwa tower setinggi 338 meter itu, selain digunakan untuk observasi dan hiburan, juga digunakan untuk telekomunikasi dan penyiaran.

Setahuku, untuk ber bungee jumping di Macao Tower memerlukan biaya hingga jutaan Rupiah.

Macau Tower tepat di pintu depannya.

Tepat pukul 15:30 aku mulai meninggalkan tower dengan menunggu kedatangan bus nomor MT4 di halte Torre/Tunel Rodoviarios di sebelah kiri pelataran depan Macao Tower.

Aku menuju destinasi terakhirku di Macau….The Venetian.

Menangkap Babi di Ruins St. Paul.

Bersiap meninggalkan Senado Square.

Belumlah puas menikmati pesona klasik Senado Square, Aku pun perlahan menjauh. Tak susah menemukan petunjuk arah menuju situs reruntuhan gereja dan college yang terletak 600 meter di utara alun-alun itu.

Petunjuk arah berwarna hijau akan membantumu menemukannya.

Langkahku berlanjut dengan menelusuri sederetan toko oleh-oleh yang mayoritas menjual makanan. Sementara dengan semakin memuncaknya matahari, perutku semakin lapar. Namun aku tak bergegas mencari makan siang, justru aku melakukan sebuah kegilaan lain.

Mau tahu?….

Perlu kamu ketahui, setiap toko tersebut menyediakan sampel makanan yang ditawarkan para pegawainya yang berdiri di depan area toko. Jika toko disana berjumlah lebih dari 30 buah, maka sudahkah kamu tahu apa maksudku?….yuk, jangan kelamaan mikir.

Lihatlah totalitas mereka menjual makanan. Kostumnya keren kan.

Ya, harusnya kamu tahu. Kegilaanku adalah mengambil dan menyicipi hampir semua jenis sampel makanan yang ditawarkan kepada para turis untuk dicoba rasanya.

30 potongan kecil kue tentu lebih dari seporsi makan siangku. So….Makan siang gratis….Itu intinya.

Dan keberuntunganku itu tiba. Di tengah keasyikanku mengunyah sejenis kue, tiba-tiba ada terselip rasa gurih yang luar biasa. Aku terus mengunyahnya hingga akhirnya mataku melotot tajam dan memaksaku berbalik kepada SPG yang menawariku kue itu.

Aku: “What is it?”.

Doi: “Cake, Sir”.

Aku: “No no no, the ingredient?”. Beef or chicken?

Doi: “No, It’s pork, Sir”.

Aku: “Oh nice taste, Ms”. Dengan gerakan secepat kilat, aku melepehkan kue itu di sebuah selokan kecil.

Doi: “Are you OK, Sir?

Aku: “Yeaaa, I’m Okay, thanks Ms….But, sorry. I can’t eat pork. I’m moslem”.

Itulah pertama kalinya Aku merasakan nikmatnya daging babi walau hanya sekedar beberapa kunyahan di rongga mulutku….Alhamdulillah, akhirnya…..eitttt….Astaghfirullah.

Reruntuhan gereja dan college yang lebih dikenal dengan Ruins St. Paul itu akhirnya tepat berada di pelupuk mata dan hanya terpisah oleh beberapa puluhan anak tangga yang siap untuk kutanjaki.

Bersiap sebelum menanjak.

Banyaknya turis membuat setiap orang susah sekali mengabadikan diri dengan gerbang Ruins St. Paul tanpa ada gangguan seseorang di belakangnya.

Oh Tuhan, Gerbang Ruins St. Paul yang selalu kulihat di prakiraan cuaca dunia di sebuah channel TV kabel akhirnya berada di depanku dan bisa kulihat dengan mata telanjang….Sepuasnya.

Tapi…Temans,

Ini kan situs reruntuhan sebuah gereja dan college….

Sebagai penjelajah yang baik, seharusnya kamu tidak boleh berpuas diri hanya dengan mengambil foto bagian depan saja. Kamu musti masuk ke bagian belakang gerbang untuk membayangkan bagaimana besarnya gereja dan college ini di masa jaya berdirinya.

Yuks, Kita masuk!….

Memasuki gerbang, maka kamu akan melihat bahwa dinding di belakang gerbang disangga oleh plat besi yang sangat besar dan tebal. Ya, tentu ini untuk menanggulangi robohnya gerbang Ruins St. Paul.

Gerbang bagian belakang dijaga oleh security.

Berikutnya kamu akan menemukan lubang-lubang yang ditutup oleh lapisan kaca tebal. Jadi aku hanya bisa mengintipnya. Lalu itu lubang apa?

Diperkirakan sebagai bekas tiang utama (kolom) dari Church of St. Paul.

Bisa kamu bayangkan seberapa besar tiang asli Church of St. Paul?.
Lihatlah lebih dekat.
Bentuk asli Church of St. Paul berbentuk salib ya. Keren.

Selain lubang-lubang persegi tersebut, kamu juga akan menemukan subuah ruangan tersisa yang sudah dikonservasi. Ini adalah ruangan Museum of Sacred Art and Crypt.

Ini ruangannya.
Bagian ruangan yang lain.

So…itulah gaes, wujud dari Ruins St. Paul.

5 Destinasi Wisata Macau dalam 24 jam

Macau adalah negara ke-10 yang kukunjungi. Berawal dari tersangkutnya hasrat pada tiket promo senilai Rp. 512.000 milik Cebu Pacific yang mengantarkanku secara tak sengaja di Manila. Dan daripada membeli tiket balik dari Manila yang sangat mahal maka lebih baik pulang dari Shenzen saja karena Tiger Air menawarkan tiket kelewat murah.

Dalam perjalanan Manila menuju Shenzen itulah, aku terdampar di Hong Kong dan Macau. Untungnya tak lama….Hanya 48 jam di Hong Kong dan 24 Jam di Macau.

Setelah menulis kisah 48 jam selama di Hong Kong maka kali ini Aku akan bercerita tentang apa saja yang kukunjungi selama 24 jam di Macau.

1. Outer Harbour Ferry Terminal

Momen itu tiba seiring pilihanku menggunakan TurboJet Ferry ketika meninggalkan Hong Kong. Tepat pukul 08:55 dengan jarak sekitar 70 km dari Hong Kong, aku tiba di terminal ferry  yang terletak di bagian timur pulau Macau itu.

Dibagian luar bangunan, pelabuhan ini berpapan nama dalam bahasa Portugis yaitu Terminal Maritimo de Passageiros do Porto Exterior. Tulisan berbahasa Portugis sangat biasa terlihat di seluruh Macau. Hal ini dikarenakan selama 4 abad, China menyewakan Macau kepada Portugis untuk digunakan sebagai pelabuhan perdagangan.

Jika di google maps ada istilah Macau Maritime Ferry Terminal, Macau Ferry Terminal atau Hong Kong Macau Ferry Pier maka itu adalah nama yang berbeda untuk satu tempat yang sama yaitu Outer Harbour Ferry Terminal.

Jadi jika kamu berlabuh di terminal ferry ini maka nikmati sajalah keberadaannya.

2. Senado Square

Aku sengaja memilih dormitory di dekat kompleks Ruins St. Paul. Karena di kompleks ini ada dua destinasi wisata terkemuka yaitu Ruins St. Paul itu sendiri dan Senado Square. Sehingga Aku bisa leluasa menjelajah keduanya dengan berjalan kaki.

Segera menitipkan backpack ke Villa Ka Meng Hotel begitu menuruni bus di jalanan Avenue de Almeida Ribeiro dekat dengan  Ponte Cais No 16. Dan setalah menikmati sarapan pagi di rumah makan Loulan Islam, aku bergegas menuju Senado Square

Senado Square sendiri merupakan alun-alun yang dibangun sejak 1918. Adalah shopping tourism untuk para pemburu barang ber merk hingga penikmat jajanan kaki lima. Menjadi salah satu warisan UNESCO, Senado Square menawarkan pemandangan bangunan-bangunan klasik perpaduan budaya Tiongkok dan Portugis si sepanjang sisinya.

3. Ruins St. Paul

Meninggalkan Senado Square maka destinasi terdekat yang kukunjungi berikutnya merupakan reruntuhan sebuah katedral yang bernama Ruins st Paul. Kalau Kamu ke Macau dan belum berfoto didepan Ruin St Paul, maka perjalananmu serasa tidak syah. Karenanya tempat ini menjadi tempat teramai yang dikunjungi turis selama kunjunganku ke Macau

Ruis St. Paul awalnya adalah katedral Portugis yang dibangun pada abd ke-16. Juga menjadi warisan sejarah dunia UNESCO setelah menjadi cagar sejarah pasca kebakaran hebat pada tahun 1959. Bagian ikonik yang sering dijadikan obyek foto para turis adalah bagian pintu depan katedral yang tersisa.

4. Macau Tower

Ruis St. Paul menuju Macau Tower adalah rute yang membuatku tersangkut selama beberapa waktu di jalanan Avenue Da Praia Grande. Mensiasati rute bus Macau yang begitu rumit dan masif, akhirnya aku berhasil menemukan halte bus yang disinggahi oleh bus kota no 9A menuju Macau Tower.

Menara setinggi 338 meter ini menawarkan wisata observation deck, restoran, teater, mall dan kegiatan bungee jumping. Sementara dibagian taman tersedia plaza dan kolam untuk kegiatan olahraga atau hanya sekedar menghabiskan waktu di sore hari bagi para warga Macau.

5. Venetian

Bayangan kemegahan Venetian membuat keberadaanku di Macau Tower tak begitu khusyuk. Aku seakan-akan terburu-buru untuk segera menikmati Venetian. Rasa penasaran untuk memasuki ruangan casino terbesar di Macau bahkan salah satu terbesar di dunia, membuatku ingin segera menuju kesana. Selain casino, satu hal yang selalu kuingat tentang Venetian adalah Gondola Rides yang akan membawa kita ke nuansa pariwisata Venice, Italia.

Merupakan integrasi dua fungsi yaitu hotel mewah dan casino. Bangunan 39 lantai ini terletak di pulau reklamasi Cotai dan berafiliasi dengan The Venetian Las Vegas.

Dannnnn….Kelima destinasi itu hanya kuselesaikan dalam 14 jam eksplorasi di Macau. Selebihnya waktu kugunakan untuk tidur di hotel untuk memulihkan kondisi tubuh pasca beberapa hari sebelumnya mengekplorasi Manila dan Hong Kong.

It is very crazy….

Hai, Macau!….Selamat Datang di Outer Harbour Ferry Terminal!

Akhirnya aku menginjakkan kaki juga di “Kota Dosa Asia”….Ya, dikenal demikian memang. Mengingat Macau adalah surganya judi di Asia. Casino berteberan dimana-mana bahkan untuk memudahkan aksesnya, casino-casino ini diintegrasikan dengan pusat perbelanjaan dan hotel….Penasaran kan?.

Pagi itu, 08:55, TurboJet ferry yang kutumpangi melambatkan lajunya ketika melintas dibawah jembatan raksasa yang merupakan akses antar pulau di Macau, yaitu Macau-Taipa Bridge.

Kuperhatikan lekat-lekat deretan kendaraan yang melewati Macau-Taipa Bridge itu.

Dalam hitungan menit, ferry cepat berwarna merah itu pun berlabuh. Tak sabar menginjakkan kaki di Macau, aku sedikit bergegas keluar dari ferry itu untuk segera menuju konter imigrasi.

Baru tahu bagian bawah ferry itu berongga.

Mendekat konter imigrasi, aku mengamati dengan seksama para petugas imigrasi yang mayoritas menggunakan sarung tangan berwarna putih. Sama ketika masuk ke Hong Kong, sangat cepat dan mudah. Mereka hanya memberiku selembar kertas imigrasi untuk memasuki Macau. Jadi aku tak pernah mendapatkan koleksi stempel imigrasi dari Wilayah Administrasi Khusus Macau.

Dinginnya kabin ferry yang kunaiki selama 55 menit membuat kemih tak bisa kompromi. Sedikit menahan rasa pipis hingga toilet menjadi satu-satunya yang ada dalam pikiranku begitu lolos dari konter imigrasi.

Urinoir di Outer Harbour Ferry Terminal.
Ketangkap merokok didenda 1 juta.
Baby changing station produk asli California.

Menenteng passport “hijau” membuatku mudah diamati oleh para pemburu turis…yess, gue diincar oleh seorang penyedia jasa transportasi untuk turis.

Dia : “Mas dari Indonesia ya?”. Beuh bisa Bahasa Indonesia….Doi terus menempelku disisi kiri.

Aku: (pertanyaan skala biasa buat PDKT), “Iya pak”.

Dia: “Loh suaranya medok….Jawane ngendi mas?

Aku: (Wah keren nih Macau, ada Bahasa Jawa disonoh, njirrr), “Sragen, mas”.

Dia: “Oh Jawa Tengah yo mas. Meh nang endi, mas?….Opo makai mobilku ae?”.

Aku: (Geblek, Gua bisa senyum nyengir terus nih saking denger bahasa Jawa di Macau), “Walah pak, iki bekpekeran eee….Pas-pasan duitku….Meh numpak bis ae lah pak….Sepurane ae yo pak.

Dia: “Oooo…..Hotelmu nang endi mas?

Aku: “Villa Ka Meng Hotel, pak. Numpak bis nomer piro yo mas? Mudun ngendi?”.

Dia: “Tenanan ki ra nyilih mobilku ae mas?”.

Aku: “Sumprit ora pak”.

Dia: “Yowes mas….numpak bis no 10A ae yo….mudun Ponte Cais No. 16”. (Ponte 16 adalah casino di jalan Rua do Visconde Paco D’Arcos)

Aku: “Oh matur suwun yo pak. Pernah urip ning Jowo to pak?”.

Dia: “Ora pernah ee mas….cuman kancaku wong Jowo akeh”.

Dia pun mencari calon customernya yang lain karena tak berhasil menangkapku.

Untuk memudahkan menjelajah maka seperti biasa, aku berburu brosur dan informasi pariwisata Macau lainnya.

Berburu informasi pariwisata via digital platform di ferry terminal.
Paling mudah dan menyenangkan adalah menghampiri tourist information yang biasanya ditunggu wajah-wajah cantik.

Tergenggam sudah peta bus kota Macau. Membuatku semakin percaya diri meninggalkan pelabuhan.

Beberapa langkah ketika meninggalkan bangunan utama Outer Harbour Ferry Terminal.
Bagian lain dari Outer Harbour Ferry Terminal.

Macau memang memanjakan para pengunjungnya. Hal itu terlihat dari keberadaan minibus-minibus gratis penjemput yang disediakan oleh beberapa hotel terkemuka di dataran Macau.

Ini dia platform bus gratis itu.

Para tampang backpacker tak perlu risau karena bus itu bisa juga mengangkutmu walau kamu tidak menginap di hotel asal bus tersebut. Kamu hanya perlu berani bilang ke sopirnya bahwa kamu akan bermain judi di hotel asal bus. Pasti kamu akan diberikan bangku di bus tersebut. Sampai hotel, kamu tinggal memasuki casino sebentar lalu keluar lagi dan carilah dormitory yang kamu inapi. Makanya kalau ke Macau cari dormitory di dekat hotel-hotel ternama ya….hahaha.

Tapi gue ga naik bus ini ya gaes….

Gue lebih baik menggunakan bus kota biasa dengan membayar Rp. 5.500 karena hotelku berada di dekat Senado Square yang lumayan jauh dari hotel-hotel pemilik bus gratis itu.

Kesan pertama ketika tiba di Macau….Hebat lah Macau.

Ferry dari Hong Kong Ke Macau.

Petualanganku selama 48 jam di Hong Kong harus berakhir.

Pagi sekali, Aku sudah mengepak barang-barangku. Setelah mengisi botol minumku di water dispenser milik hotel, Aku harus berjuang sekuat tenaga untuk membangunkan sang resepsionis yang mendengkur di balik tirai ruangan. Jangan kaubayangkan mewahnya reception desk ya….Karena reception hotel hanya berupa ruangan bersekat kecil dengan lubang interaksi tamu dan empunya hotel seukuran 1 meter persegi.

Dan dengkuran itu pun tertelan ketika dia terbangun karena gangguan bel dariku. Entahlah dia bergumam marah atau mungkin hanya terkejut karena selorohan bahasa Chinanya yang tak kumengerti. Sambil terus bergumam, dia berusaha mencari amplop berisi uang di laci meja untuk mengembalikan uang deposit kamar kepadaku. Lumayan kan 100 Dolar Hong Kong.

Keluar Chungking Mansions dalam kondisi jalanan yang masih cukup gelap, Aku berjalan cukup cepat untuk sesegera mungkin memasuki stasiun bawah tanah Tsim Sha Tsui yang terletak 100 meter dari pintu keluar Chungking Mansions.

Dengan MRT Tsuen Wan Line, Aku menuju Central Station lalu berlanjut dengan MRT Island Line dan berhenti di Sheung Wan Station yang terintegrasi dengan Hong Kong-Macau Ferry Terminal.

Hong Kong-Macau Ferry Terminal adalah pelabuhan ferry reguler dengan rute Hong Kong-Macau Ferry Terminal yang berada di Hong Kong dan Outer Harbor Ferry Terminal yang berada di Macau.

Dalam 16 menit dan tariff Rp. 10.500, Aku tiba di Sheung Wan Station. Aku segera menuju ke konter tiket untuk mencairkan deposit Octopus Cardku sebesar 50 Dolar Hong Kong yang tersimpan didalamnya. Tugas Si Octopus untuk menemaniku sudah selesai seiring keberadaanku yang berada tepat di gerbang ferry untuk meninggalkan Hong Kong.

Jadwal keberangkatan ferry.
Pertama kali naik kapal cepat.

Setelah membeli tiket Ferry menuju Macao dengan harga Rp. 288.000, Aku segera menghampiri money changer untuk menukar Hong Kong Dollar menjadi Macau Dollar.

Tiketnya.

Tak menungg lama, tepat pukul 08:00, Aku mulai boarding ke kapal cepat berwarna merah itu. Dan sekejap kemudian kapal merangsek menuju Macau.

Interior ferry.
Canteeeexxxxx kannnn….

Berlayar di tengah gerimis ringan dan terus berayun membelah ombak membuatku kagum mengamati perairan Laut China Selatan. Tak ada compliment makanan apapun dalam pelayaran singkat selama 55 menit ini. Aku hanya terus menghadap jendela untuk melihat pemandangan menakjubkan di luar kapal.

Kedinginan tauk.
Keren yaa….

Tiang-tiang raksasa penyangga Macau-Taipa Bridge itu menjadi pertanda bahwa kapal segera merapat ke Outer Harbor Ferry Terminal. Macau memang memiliki jalan diatas laut yang sangat terkenal itu. Dan Aku bisa menikmati keindahannya dari sisi lain. Walaupun pada akhirnya, Aku akan melewati jalanan itu nanti ketika menuju ke hotel sekaligus casino ternama di Macau yaitu Venetian.

Ntuh jembatannya….
Barlabuh di Outer Harbor Ferry Terminal, Macau.

Yuk….cari tiket ferrymu di 12Go di link berikut: https://12go.asia/?z=3283832

Asik di Macau dan “Dongeng” di Shenzen

Kesiangaaaaaan….

“Si Boss” belum juga turun dari lantai atas , padahal janjian jam 8 pagi buat check out dan ketemu di lobby Villa Ka Meng.

Hufftt……bahkan ternyata doi belum bangun, WA ku “checklist satu”. Kumaklumi karena kemarin ku ajak muter gila jalan kaki.

Artinya…..waktu eksplorasiku di Shenzen berkurang. Okee lahh….bagaimana nanti aja.

Kebablasaaaaaan….

Harusnya aku fokus pada running text di atas dashboard. Aku ragu memencet tombol di tiang sebagai isyarat buat pak sopir memberhentikan bus di Taipa Ferry Terminal.

Kufikir berhenti di setiap halte….lah kok malah bablaaaasss. Yo wes….Aku turun di halte berikutnya lanjut jalan kaki ke terminal ferry.

Diomeliiiiiin….

Ga ada tanda sama sekali…..Maap ya Bapak-Bapak sekalian, aku menginjak trotoar baru karya kalian….ternyata belum siap diinjak.

Hadeuuuh….Pantesan kalian teriak kenceng sambil angkat sekop.

Aku hanya berusaha minta maaf dengan caraku…..setelah 100 meter meninggalkan area itu, aku diem-diem tengok ke belakang….penasaran apakah injakanku menjadi masalah. Bersyukur  mereka sepertinya membiarkan….pertanda tak ada masalah berarti.

Aku tiba di terminal ferry sekitar jam 9:10 dan begini suasanya

Macao Sekhou 1

 

Segera mengambil antrian dan mengamati aktivitas sekitar. Ternyata belum sibuk seperti yang aku bayangkan. Mengantri di belakang keluarga Korea yang “autis” dengan gadget masing-masing, akhirnya aku mendapatkan tiket ferry 19 menit setelahnya.

Macao Sekhou 3

Perlu mengantri 20 menit untuk masuk ferry melewati pintu biru itu. Petugas mengalungiku name tag yang akan diambil kembali oleh petugas lain di pintu masuk ferry.

 

Macao Sekhou 2

Selama berlayar petugas cantik itu berkeliling memberikan secangkir air mineral. Aku berusaha bersabar untuk berlabuh di Shenzen…..Kepo nih “Kayak apa sih Shenzeeeennn???

Perhatianku tertuju pada tiga perempuan muda di kiri depan. Selama berlayar terlihat asyik memoles wajahnya dengan kosmestik. Dan memang beberapa saat setelah tiba mereka bak artis yang menjadi pusat perhatian….alamaaakkkk

CIMG2189

Tiba di She Kou Ferry Terminal, aku mengisi arrival form di koridor terbuka antara tempat bersandar ferry dan konter imigrasi Tiongkok.

Udara 9 derajat kelamaan menusuk tulang….Ini gegara ferry ajrug-ajrugan dan membuatku susah mengisi form.

Helooo….Do you have a visa?” “Si Langsing” memanggilku.

Waduh….Tinggal Kita yang belum masuk ke imigrasi…konter udah kosong melompong …..daripada dikira “pekerja illegal yang sedang membuat konspirasi“…mending lari kecil ke konter dan melengkapi kolom isian di depan “Si Langsing”.

Macao Sekhou 4

Beresssss….ternyata doi baik banget….senyam-senyum ketika bertanya…kirain judes…..hihihi.

Kebelet Pipiiiiiiss….

Celingukan cari toilet di kantor Imigrasi. Yesss….Dapet.

Wee laa dalah….Sumringah berubah jadi HOROR. Aku benar-benar membuktikan “dongeng” tentang joroknya warga Tiongkok Daratan.  “Sedikit mengumpat dalam hati” ketika menemukan kotoran mereka tak disiram mengonggok di kloset….padahal apa susahnya tinggal pencet tombol.

Ga jadiiiii Pipiiiiisssss……tar simpen ajjjjjjjaaaaaa…..

Aku keluar ruangan dan mencari dimana Shenzen Metro berada. Karena bingung aku menghampiri pemuda kantoran. cas cis cus Aku ngomong English….doi malah bengong menatapku. Yess…akhirnya doi gagal paham.

Gini aja deh…..buka HP….tunjukin gambar train mereka. Nahhhh kan enak…..langsung tangannya nunjuk ke sebuah lubah bawah tanah di ujung pelataran She Kou Ferry Terminal.

Ke Hotel Kita bro……..eh Hostel dink

Apa iya kita menemukan tuh Hostel nantinya?

Kagak mas Bro….Shenzen Fomo Hostel yang ku booking udah bubarrrr….

Bagaimana kisahku mencari hostel murah dadakan?…..nanti aja ya kuceritain….hihihi

 

 

Keliling Macau dengan Bus Kota

Sepanjang pengalaman gw menjadi seorang backpacker, bus adalah moda trasnportasi termurah di setiap negara yang pernah gw kunjungi. Oleh karenanya, jika ingin berhemat dalam melanglang buana maka kamu harus bisa membaca rute bus negara setempat.

Okay, sekarang gw akan persempit pembicaraan ke Macau. Macau tahun 2016 adalah negara tanpa MRT atau LRT jadi kalau mau menjelajah macau hanya ada tiga pilihan yaitu taxi, bus atau jalan kaki. Kombinasi bus dan jalan kaki adalah cara terbaik untuk backpackeran dibawah 4 orang dalam satu grup.

Ini adalah pengalaman bagaimana seharian gw berkeliling macau pakai kombinasi ini. Sebelum memulai cerita…..kamu harus dapatkan dan faham peta ini gaes:

Macau Tourism and Bus Map1

Macau Tourism and Bus Map

Sumber: http://ontheworldmap.com/macau/macao-city-bus-map.html

Kamu bisa mendapatkan peta venue dan jalur bus ini di Tourist Information- Outer Harbour Ferry Terminal (karena gw masuk macau lewat sini).

Tourist Information2

Tourist Information di Outer Harbour Ferry Terminal, Macau

Disinilah gw mendapatkan full page map itu gaes.

OK modal utama gw keliling hemat di Macau sudah ditangan. Dan inilah cara gw mengeksekusinya:

Flashback sebentar gaes:

6 Januari 2016 – Jam 7 pagi, gw berlayar selama 55 menit dari Hong Kong ke Macau menggunakan Cotai Jet seharga HKD 170 ( Rp 298K). Gw berlabuh di Outer Harbour Ferry Terminal di daerah Macau (Oh ya, Macau ini daerah administratif khusus Republik Rakyat Tiongkok yang terdiri dari tiga pulau besar yaitu Macau, Taipa dan Coloane).

Yuk…hunting bus kota, gaes.

  1. Bus dari Outer Harbour Ferry Terminal ke Villa Ka Meng Hotel

Setelah gw browsing Booking.com dan Agoda.com beberapa bulan sebelum berangkat gw cuman mendapatkan Villa Ka Meng Hotel yang memiliki harga terendah….jadi gw pilih hostel ini.

Bagaimana gw menemukan Villa Ka Meng Hotel di negaranya?

Kebetulan gw ketemu orang Macau yang bisa berbahasa Jawa nawarin tour package di terminal ferry.  Katanya dia pernah tinggal di Jawa. Gw nolak tawaran dia dan jujur ke dia kalau gw mau naik bus kota. Dengan baiknya dia kasih tahu gw untuk turun di Ponte Cais No 16 (ini nama Hotel beserta Casino ya gaes), katanya Villa Ka Meng Hotel dekat situ.

Oh ya….biasanya hotel dan casino ternama menyediakan layanan bus gratis dari terminal ferry ke hotel tersebut .

Ini shuttle-shuttle mereka di terminal ferry gaes:

Free Shelter Bus

Bisa aja gw ambil bus gratis ini dan turun di hotel casino yang terdekat dengan Ponte Cais No 16, lalu gw lanjutin jalan kaki ke Villa Ka Meng Hotel.  Tapi gw urungkan karena pengen cobain bus kota mereka.

Okaylah….gw menuju konter bus untuk beli tiket, maksud gw itu mau cari one day pass atau apapun yang berbentuk kartu yang biasa dipakai orang-orang lokal. Karena si Ibu ga bisa english, gw tunjuk-tunjuk kartu yang dibawa orang lokal. Tapi dia cuma bilang No…No sambil nunjukin tabel tarif bus kota No 10A dan nunjuk kotak bertuliskan angka MOP 3,2.

Ya sudah….akhirnya gw naik bus 10A dan turun di Halte Kam Pex Community Centre. Dari halte gw jalan kaki ke hostel.

Shelter Bus MacauSetelah selesai check in di Villa Ka Meng Hotel, gw menemukan rumah makan halal di dekat hotel. Ini gaes:

CIMG2050

Selanjutnya gw lanjutkan jalan menuju The Ruins of St Paul dan Senado Square.

The Ruins of St Paul

Setelah puas keliling, gw putuskan menuju ke Macau Tower yang biasa dipakai turis untuk bungee jumping.

  1. Bus dari Senado Square ke Macau Tower.

Menuju Macau Tower adalah ide dadakan ketika duduk santai di Senado Square. Awalnya gw mau langsung ke Venetian dan menghabiskan waktu hingga menjelang malam disana. Nah, pas lihat-lihat peta gw baca Macau Tower, ingatan gw cuma bungee jumping. Karena penasaran akhirnya gw putuskan pergi kesana.

Kalau melihat peta yang gw dapat, berarti gw harus dapat bus no  9A, 18, 21, 23 dan 32 yang akan berhenti di Macau Tower. Dan untuk mendapatkan kelima no bus itu, cara terbaik buat orang asing yang tidak tahu seluk beluk Macau adalah menuju ke terminal bus utama Macau yang sebelum masuk Macau pun gw udah tandai letaknya…..di selatan Hotel dan Casino Lisboa.

Gw hanya perlu lihat kompas yang selalu gw bawa setiap melancong ke negara orang. Gw hanya perlu jalan ke selatan. Ga perlu khawatir, pulau Macau di utara hanya berdiameter 4 km, jadi kalaupun nyasar, kamu ga bakal jauh….hahahaha.

Ini nih bagian yang tricky……..dan gw suka

Setelah duduk dan mencermati peta…. untuk menghemat langkah, gw punya ide….yaitu mencegat bus di halte antara terminal bus utama dan Macau Tower. Tentu gw belum tahu dimana letak halte itu, tetapi pasti gw akan dapatkan kalau menyisir jalanan utama antara terminal utama dan Macau Tower.

Berikut strategi penjemputan bus ditengah gaes……

Misi Pencegatan Bus

Lalu bagaimana rutenya:

Dari Senado Square gw jalan menyusuri Avenue de Almeida Ribeiro kearah timur, lalu akan ketemu perempatan besar dan belok kanan menyusuri Avenue Da Praia Grande. Nah sepanjang jalan inilah gw mulai cermat memperhatikan halte bus yang gw lewatin karena jalan ini terletak antara terminal bus utama dan Macau Tower. Kan betul……baru juga ketemu halte pertama, ada sign bus 9A, 18 dan 23. Jadi gw tinggal tunggu bus…mana yang lebih cepat datang akan gw naikin. Akhirnya bus 9A yang duluan datang. Gw naik dan hanya perlu bayar ongkos MOP 3,2 (Rp 5.000)….murah banget kan.

Gw ga perhatikan ada berapa perhentian, tapi gw hanya inget bentuk Macau Tower aja dan begitu gw lihat tower itu maka gw akan turun di halte terdekatnya. Tapi ga perlu khawatir ada running text halte berikutnya bus berhenti….di diatas pak sopir, jadi kamu bisa perhatikan itu juga. Sangat mudah naik bus di Macau.

Bus 9A dekat macau tower

Ternyata taman di sekitar Macau Tower banyak digunakan warga untuk berolahraga dan menghabiskan senja…lumayan rame.

Setelah puas berkeliling dan lihat bungee jumping, gw harus segera menuju Venetian

  1. Bus dari Macau Tower ke Venetian.

Di Map yang gw pegang, bus yang ke Venetian bernomor MT4. Dan gw bersyukur banget karena di dekat Macau Tower ada halte bus MT4. Ini wujud halte nya:

Shelter Bus MT4Dalam rute ini….gw akan berpindah dari semenanjung Macau ke pulau Cotai melewati  jembatan legendaris yaitu Macau-Taipa Bridge (Ponte Governador Nobre de Carvalho). Cuman butuh waktu 15 menit untuk sampai ke Venetian.

Tentu tujuan pertama gw makan….karena gw udah lapar banget gaes. Akhirnya gw langsung menuju food court di lantai atas dan hasil pecarian….akhirnya gw dapat nasi goreng harga MOP 55 (Rp 93K)….itu gw udah cari harga paling murah yang bisa gw dapat di Venetian….udah kaga beli air….selalu ready dari hotel….hahaha

Baru setelah itu keliling Venetian…bukan belanja ya….tapi lihat orang belanja….hahaha….lihat gondola Venetian dan perjalanan gw diakhiri dengan melihat casino. Untuk masuk casino ini, paspor gw di cek oleh petugas casino.

Orang asing bisa main di casino kalau umurnya minimal 18 tahun ya gaes.

Gw gak lama kok di casino, cuma lihat satu meja casino yang sedang main judi kemudian keluar lagi dan bergegas menuju hotel.

  1. Venetian ke Villa Ka Meng Hotel.

Udahlah….ini rute udah diluar kepala gw……sangat gampang. Naik Free Venetian Shuttle Bus ke Ferry Terminal lalu pindah ke bus 10A seperti saat pertama kali masuk Macau tadi pagi.

Gimana gaes…..?

Mudah banget kan naik bus kota di Macau.

Hemat banget gaes, gw cuma keluarkan MOP 12,8 (Rp. 21K) untuk seharian keliling di Macau.

So, selamat mencoba…..

Oh ya, Kamu bisa sekali-kali menggunakan jasa 12go Asia untuk memesan tiket bus selama di Macau. Berikut linknya https://12go.asia/?z=3283832