Doha Metro Red Line dari Doha ke Hamad International Airport

Penerbanganku masih sore nanti. Jam 19:00 tepatnya. Jadi aku akan bersantai dahulu hingga masa inapku di Casper Hotel habis tepat di tengah hari. Sedari Shalat Subuh, aku kembali menggulung badan dengan selimut dormitory, nyaman sekali memejamkan mata dalam hangat selimut di tengah bekunya pagi. Hingga alarm iri dan meneriakiku….Sudah pukul sembilan. Aku harus bangun, sarapan dan bersiap diri.

Selepas mandi kulipat jemuran yang masih lembab, sudah pasti akan kutempatkan di kantong plastik tersendiri di backpackku nanti. Kupisahkan dengan baik setiap peralatan yang sudah terbongkar sejak lima hari lalu. Toiletries, t-shirt, kamera, tripod, snack dan celana panjang kupacking pada kantong plastik masing-masing.

Berlanjut kemudian dengan mengunyah paratha buatan GRANDMA Bakery and Sweets beserta dua lembar telur mata sapi karya tanganku sendiri.

Tepat 12:30, aku undur diri…..

Aku berpelukan dan berjabat tangan dengan tiga sahabat sekaligus keluarga baruku asal Pakistan yang bekerja mengurusi penginapan itu. Seusai mengucap salam, aku pulang.

Terimakasih kawan.

Seperti biasa aku berdiri di shelter bus tepat di sebelah kiri gerbang penginapan.

“Saatnya mencoba Free Doha Metrolink Shuttle Services, kebetulan Karwa Smart Cardku memang sudah menipis saldonya”, batinku beride. Tapi bus Metrolink itu tak pernah berhenti ketika aku stop. Saat menyetop bus ketiga, sopir Metrolink itu menunjuk sebuah tiang di ujung sana. Dia menunjuk dirinya lalu menunjukku lalu menunjuk tiang itu. Aku cepat memaknai isyarat itu: “Larilah kesana, aku menunggumu!”. Aku spontan berlari, ketika bus mendahuliku dan berhenti di tiang itu.

Good morning, friend. You must stop this Metrolink in its shelter, Okay!. Tommorow if you want to use it, you must wait at this pole”, ucapnya sembari menginjak Metrolink itu cepat-cepat.

Oh Okay, Sir”, ucapku memahami, dia tak tahu rupanya bahwa aku akan pulang dan esok hari sudah tak berada lagi di Doha.

Where will this metrolink stop?”, tanyaku pada pengemudi berkebangsaan Nigeria itu.

It will stop in Oqba Ibn Nafie Station, It’s free, if you want back to home just wait this bus in Oqba Ibn Nafie Station again, okay!”, jawabnya detail, rupanya dia tahu aku pengelana pencari gratisan….Hahaha.

Sepuluh menit kemudian, aku tiba di Stasiun Oqba Ibn Nafie…..

Aku sudah tak punya receh dan aku juga tahu bahwa ticketing vending machine itu tak menerima pecahan besar. Aku langsung menuju customer service yang diduduki oleh para staf berkebangsaan Philippines. Aku bermaksud menukarkan uang, beruntung mereka menyediakan uang pecahan kecil. Aku rela menukarkan Riyal menjadi pecahan kecil yang tentu akan berpengaruh terhadap nilai tukarnya ke Dolar Amerika di bandara nanti, semakin kecil pecahan tentu harganya akan semakin murah. Tapi tak apalah, tak ada opsi lain.

Aku mulai menaiki Doha Metro Red Line menuju Stasiun Hamad International Airport T1. Menempuh jarak 10 Km, tak berselang dengan satu stasiun pun, aku tiba dalam dua puluh menit.

Tiba di platform Stasiun Hamad International Airport T1.
Lihat interiornya….Keren kan?
Artistik banget.

Stasiun Hamad International Aiport T1 adalah sebuah shelter transportasi yang terhubung dengan Hamad International Airport oleh sebuah jembatan penyeberangan mewah. Jembatan penyeberangan bernaung atap dan berpendingin ini berdindingkan kaca dan berfasilitaskan travelator. Mengangkangi jalur-jalur utama kendaraan di sekitaran Hamad International Airport. Juga melewati venue ikonik sepeti HIA Mosque dengan minaretnya yang aduhai.

Jalur kendaraan yang dilewati oleh jembatan penyeberangan.
HIA Mosque minaret.

Sempat keluar sejenak dari connector itu, aku dilewatkan pada lahan parkir bandara yang cukup luas, kemudian aku dimasukkan lagi ke dalam sebuah connector menuju bangunan utama terminal.

Parking slot bandara.
Travelator di jembatan penghubung.

Berjalan selama sepuluh menit akhirnya aku tiba di Departure Gate. Masih jam 14:05, aku masih perlu menunggu sekitar dua setengah jam hingga konter check-in dibuka. Aku langsung menuju check-in area untuk mencari tempat tunggu yang nyaman dan sekaligus beristirahat.

Di depan Departure Hall.
Check-in area.
Menunggu PR 685 menuju Manila.

Tau kan Philippine Airlines?……

Memasak Menu ala Backpacker di Qatar

Selain mengunjungi tempat-tempat wisata gratisan, memasak adalah hal lazim yang dilakukan para backpacker untuk mengerem pengeluaran di hari-hari perjalanannya. Karena mereka juga harus pandai menciptakan dana cadangan untuk mengantisipasi jika terjadi biaya tak terduga. Begitu pula dengan hari-hariku di Qatar, memasak sudah menjadi rutinitas setiap pagi dan malam mengingat biaya hidup di Qatar tidaklah murah.

Sore itu, bermula pada perjalanan pulang dari Katara Cultural Village menggunakan Doha Metro. Aku menuju Stasiun Souq Waqif dan bertolak dari Stasiun Katara melalui kombinasi Red Line dan bersambung dengan Gold Line di Stasiun Msheireb. Ini adalah perjalanan keduaku menggunakan Doha Metro.

Platform di Stasiun Katara.
Ini tanda toilet, musholla dan child care room…Lucu ya.
Doha Metro Red Line.

Dari Stasiun Souq Waqif aku menyambung perjalanan dengan Karwa Bus No. 12 dari Al Ghanim Bus Station untuk menuju Casper Hotel, tempatku menginap selama di Qatar. Ini adalah perjalananku ke-9 menggunakan Karwa Bus. Perjalanan pulang sore itu membutuhkan waktu dua jam hingga tiba di penginapan. Sebelum tiba, aku sempat berbelanja terlebih dahulu di Abdulla Ali Bumatar minimarket yang terletak di dekat hotel untuk membeli kebutuhan logistik hingga hari terakhirku di Qatar nanti.

Bukan hotel, lebih tepatnya ini adalah penginapan.

Setelah selesai membersihkan diri, aku segera menunaikan shalat maghrib berjama’ah di musholla dekat penginapan. Memasuki waktu bersantai, aku bergegas menuju pantry untuk melakukan kegiatan rutin malam hari….Yes, memasak.

Yuk masuk pantry!

Bahan pangan utama yang mejadi santapanku setiap hari adalah roti Paratha khas Kerala buatan GRANDMA Bakery and Sweets, cukup murah, tiga lembar parata kubeli dengan harga Rp. 8.000. Tiga lembar parata sudah lebih dari cukup untuk membuatku merasa kenyang.

Sedangkan untuk lauknya aku memilih membeli sarden kemasan termurah yang dipajang di minimarket. Kuberikan Rp. 12.000 untuk mendapatkan satu kaleng kemasan berisi tiga potongan sedang ikan sarden. Karena ini sarden termurah, tentu akan berpengaruh pada rasa, rasanya plain, kawan….Hmmhh. Itu tampak seperti ikan sarden yang dituang ke dalam minyak sawit saja…..Hahahaha.

Roti Paratha.
Memanaskan sarden kemasan.

Ketika berpergian, kemewahan makanan bukanlah menjadi concernku sejauh ini. Yang terpenting adalah bagaimana tetap mengupayakan makan tiga kali sehari dengan harga terjangkau tetapi layak nutrisi. Jadi bisa dipastikan aku akan jarang sekali bersantap di restoran kecuali jika yang kujalani adalah business trip…..Ya, iya lah, business trip kan dibayarin kantor. Hahahaha.

Lalu, bagaimana dengan menuku di keesokan harinya, sebelum memulai eksplorasi hari keempat di Qatar. Mau tahu?…..

Ini dia:

Sarapan yang sangat sederhana, kan?
Bonuss…..

Nah itulah satu dari sekian banyak caraku untuk berhemat selama menjelajah Qatar. Jangan ditiru….Itu sangat menyiksa….Hahaha.

Yuk lah, kita jalan lageee…..