Pakistani White Pulao dan Al Kort Fort

Aku meninggalkan Doha Sports City menjelang maghrib. Keluar dari Villaggio Mall, menuju Stasiun Al Aziziyah yang hanya berjarak 100 meter dari pintu nomor empat shopping mall kenamaan itu.

Di pintu masuk stasiun…..terjadilah insiden tipis antar pengelana….

Hello, do you want go with metro?”, ucap pemuda ikal, berkulit putih dan berwajah khas Arab tetapi lebih pendek sedikit dariku.

Yes, brother”, ucapku singkat.

Use this ticket!, I will go back with bus, You can use it”, dia menyodorkan tiketnya kepadaku.

Oh, No, thanks. I will buy a single journey ticket at downstair”, kutolak halus karena salah duga, kukira dia menjual tiket kepadaku. Aku tahu itu Standard Day Pass ticket seharga Rp. 16.000

Brother, just take it. I don’t need more because I will use bus”, Dia tampak bergegas dan menyelipkan tiket itu ke tangan kananku.

Ya ampun….Ternyata dia memberikan dengan cuma-cuma. “Thank you very much, brother”, ucapku singkat.

I’m Donny from Indonesia, what is your name, brother?”, tanyaku sebelum berpisah.

Said from Algeria….”, senyumnya sembari membenarkan tas punggung hijaunya lalu bergegas meninggalkanku.

Thank you, Said”, aku mulai menuruni escalator menuju platform Doha Metro.

Mengejar MRT yang sudah mengambil ancang-ancang, diperintahkanlah aku oleh petugas berkebangsaan Philippines untuk memasuki metro melalui gerbong kelas Goldclub yang mewah lalu berpindah ke gerbong kelas Standard di belakangnya. Wahhhh…..gerbang Goldclub itu menawarkan tempat duduk tunggal mewah bak business seat pesawat terbang, kursi bersandaran lengan yang terpisah satu sama lain dalam baris memanjang berhadapan. Terduduk di gerbong standard, aku dibawa menyusuri jalur Gold Line menuju Stasiun Souq Waqif yang lokasinya cukup berdekatan dengan Al Ghanim Bus Station. Aku akan menaiki Karwa Bus langganan bernomor 12 menuju penginapan.

Aku masih mengingat pesan salah satu staff hotel asal Islamabad bahwa malam ini mereka mengajakku memasak bersama dan menyantap masakan khas negeri mereka yaitu Pakistani White Pulao-hidangan nasi yang dicampur dengan cacahan wortel, sayur dan kacang-kacangan-.

Seusai mandi, benar adanya, mereka ke kamar membajakku dan digelandang e dapur untuk bergabung bersama para chef dadakan Casper Hotel.

Pakistani White Pulao…..Nyammm.

—-****—-

Fajar ke empat yang kurasakan di Qatar. Aku sedikit bermalas-malasan karena kelelahan dan kejenuhan menjadi musuh baru. Menjelang pukul sepuluh pagi, aku mulai berangkat menuju Al Ghanim Bus Station. Awalnya berencana menuju ke Museum Islamic of Art. Eh, tetapi….Begitu tiba di terminal, aku berfikir ulang. Dompetku mengkhianati niat, dituntunnya aku mencari destinasi gratisan untuk menghemat amunisi yang mulai menipis.

Mencoba berselancar maya dengan duduk santai di terminal, akhirnya aku tahu harus melangkah kemana. Msheireb….Ya, Msheireb!

Ada Msheireb Museum yang dibuka gratis untuk wisatawan disana. Aku berfikir lanjut….Setelah mengunjungi museum itu, aku bisa berkeliling di area Msheireb Downtown Doha untuk melihat konsep kota terencana itu.

Perlu kamu tahu….MDD (Msheireb Downtown Doha) adalah sebuah kota pengganti Distrik Mushayrib yang pengembangannya direncanakan sangat detail.

Aku menjelajah sepanjang Ali Bin Abdullah Street, melewati Gold Souq -bangunan sepuluh jendela kaca lengkung sentra jual beli emas-, melintas kantor kas Qatar National Bank (QNB) Souq Waqif kemudian belok kanan di sebuah perempatan.

Gold Souq.

Sebelum benar-benar tiba di Msheireb Museum, langkahku tertahan di bawah sebuah bangunan ikonik, yang dari bentuknya aku sendiri faham bahwa itu adalah bangunan pertahanan atau benteng. Sewaktu kemudian, aku mengenalnya sebagai Al Kort Fort.

Dikenal juga sebagai Doha Fort, bangunan berusia 140 tahun ini dibangun pada masa Kesultanan Utsmaniyah sebagai kantor kepolisian. Tiga puluh lima tahun dihitung dari masa berdirinya, benteng ini berubah fungsi menjadi penjara di masa akhir kekuasaan Kesultanan Utsmaniyah. 

Lalu sejarah kembali berubah ketika Sheikh Abdullah bin Jassim Al Thani, Emir ketiga Qatar, membangun kembali benteng ini seiring melonjaknya angka kejahatan di sekitar Souq Waqif. Konon, muncul sekelompok pencuri terkenal yang merajalela di area pasar. Nah benteng inilah menjadi pusat keamanan Souq Waqif pada masa rawan itu.

Sesuai ciri khas benteng gurun pasir, bangunan ini berbentuk persegi dengan satu menara persegi panjang di salah satu sudut dan tiga menara bundar di ketiga sudut lainnya.

Sayang , benteng ini masih dalam proses renovasi sehingga aku tidak bisa masuk ke dalamnya. Tapi tnetu tak mengapa, karena aku bisa lekas berkunjung ke Msheireb Museum.

Mau tau ga Msheireb Museum kayak apa?….Panjang lho kisah yang tersampaikan di dalamnya….Siap-siap membaca penuh kesabaran ya!.

Gondolania milik Villaggio Mall

Sudah pukul 14:00, masih ada sedikit waktu sebelum angin sore pembawa hawa dingin hadir. Aku sengaja menaruh destinasi ini sebagai penutup wisata hari ketiga di Qatar. Tampak luar, tak ada yang mencolok, tak ada yang istimewa, itu hanya bangunan biasa yang dibuka untuk umum sejak 2006 silam. Hanya saja, nameboard besar bertajuk Gondolania Theme Park di gerbangnya mampu menilaskan gambaran di kepala tentang konsep wisata apa yang ditawarkan di dalamnya.

Aku kembali memutar pita rekaman perjalanan, mulai kubongkar memori tiga tahun silam, kala dimana untuk pertama kalinya, aku terpesona pada wujud gondola yang terlihat dengan mata telanjang di The Venetian, shopping mall sekaligus kasino kenamaan di kawasan Asia Timur, Macau tepatnya.

Yupss….Kunjungan di Doha Sports City sore itu memang kuakhiri dengan mengunjungi Villaggio Mall. Mall di pinggiran Al Waab Street (terletak antara Hyatt Plaza dan Sports City ) ini dikembangkan oleh Gondolania Entertainment, oleh karenanya, konsep wisata gondola di kota Venice diadopsi di pusat perbelanjaan terkenal ini.

Didesain di dalamnya canal indoor sepanjang 150 meter lengkap dengan gondolanya. Retailer utama di Villaggio Mall adalah Carrefour, akan tetapi pusat perbelanjaan ini juga mengakomodasi 200 toko yang menjual brand-brand ternama asal Amerika, Inggris, Italia dan Jerman.

Yuk, yang hobby belanja, silahkan mampir di mari !

Aku memulainya dari gate 4.

Rupanya kata “I LOVE  (LOVE dilambangkan dengan hati)” yang tersohor dalam promosi pariwisata setiap bangsa menjangkit juga di Qatar. Nameboard itu menyapaku di sebuah hall tepat di sebelah pintu masuk. Merah putih, begitulah dominasi warnanya, serasi dengan warna bendera Qatar. Merah bergerigi putih, atau putih bergeriri merah, entahlah?

Sana kalau mau foto!….Tak fotoin sinih!.
Hall utama tepat dibawah kubah.

Meningglkan kemewahan hall utama, aku mulai menyusuri koridor mall berfantasikan langit biru artifisial di bagian atap, sedangkan tiang hitam berujungkan tiga lampu klasik diletakkan dalam jarak yang konsisten. Cafe dan toko berjajar rapi di kiri dan kanan…..Mc Donalds, KFC, Pinkberry, Ocean Basket, Doughnuts & Coffee, Dunias, PF. Clarks, Applebees dan Ognam adalah beberapa gerai kuliner yang bisa cepat kutemukan ketika melangkah.

Koridor Villaggio Mall.
Koridor Villaggio Mall.

Kuikuti saja alur yang didesain pengelola mall, hingga akhirnya kupergoki ruangan bertajuk GONDOLANIA, sebuah Funfair Theme Park andalan pusat perbelanjaan itu. Kamu bisa bermain Bungee Trampoline, Ferris Wheel, Viking, Catterpillar, Drop Tower, Roller Coaster, Chipmunks Rides, Carousel, Arcade Games, Ping Pong Toss, Ride on Robot, Dino Land, Toy Crain, Deal or No Deal Dance Reco, Basketball Games, Bump Car, Dragon Punch King of Hammer, Lazy River, juga bisa berbelanja mainan di Toys4me serta bisa bergila ria di Gondolania Ice Rink.

Gondolania Theme Park.

Meninggalkan theme park , aku masih terus dibuat penasaran untuk menemukan apa yang kucari sedari tadi…..Akhirnya, Gondola ala Venice tampak terdayung di pandangan jauh. Kanal panjang bercabang membelah ruang raksasa shopping mall itu. Beberapa turis tampak mengantri untuk menaiki gondola dengan pendayung berkebangsaan Philippines.

Kanal untuk wisata gondola.
Aku dan gondola.

Menjenguk sejenak Villaggio Mall, telah membunuh rasa penasaranku untuk melihat duplikasi wisata Gondola Venice untuk kedua kalinya.  Tak perlu lama, hanya tiga puluh menit saja untuk menjelajah.

Hmmhh, aduh….Aku teringat pada janjiku memenuhi undangan para staff hotel tempatku menginap. Aku bergegas pulang, sore itu aku akan memasak makanan khas Pakistan bersama mereka. Kufikir agenda itu  akan membuatku merasa lebih relax setelah tujuh belas hari berkelana meninggalkan rumah.

Area parkir Villaggio Mall.

Langkah cepat menuju Stasiun Al Aziziyah dihadang oleh seorang pemuda yang lebih pendek dariku. Aku tersentak kaget….Ada apa ini:

Said: “Hello, do you want go with metro?

Aku: “Yes, Brother”.

Said:”Use this ticket, I will go back with bus, So you can use it”.

Aku: “Oh, thank you”.

Bodoh jika aku menolaknya. Sebelum dia pergi, aku sempat bertanya untuk mendapatkan informasi tentang tempat asalnya….Algeria, Afrika Utara….”My name is Said”, ujarnya setelah aku menyebutkan nama kepadanya.

Kugenggam tiket darinya….”Oh ini, One Day Pass. Dia seharian naik MRT rupanya. Pintar si Said, daripada dibuang percuma, dia hibahkan kepadaku….Hehehe” batinku memahami alasan Said memberikan tiketnya padaku. Pertemuan tak terduga yang melimpahkan rezeqi. Kini aku akan pulang tanpa biaya.

Stasiun Al Aziziyah.

Singkat kisah, kunaiki Doha Metro Gold Line, berhenti di Stasiun Souq Waqif lalu bersambung dengan Karwa Bus No. 12 menuju penginapan.

Saatnya memasak……

Berlatih Tendangan Pinalti di Aspire Park

Indomie seharga Rp. 6.000 yang kubeli di Abdulla Ali Bumatar minimarket semalam, akhirnya menemani santap pagiku di pantry Casper Hotel. Aku masih enggan keluar hotel, walau jarum jam telah jatuh di angka delapan, tak lain karena udara dingin yang berhasil mematahkan semangatku.

Tepat pukul sepuluh pagi, aku mulai memaksakan langkah dan kemudian menunggu Karwa Bus bernomor 12 menuju Qubaa Street, untuk kemudian bersambung dengan Karwa Bus bernomor 301 menuju Doha Sports City yang memiliki luas tak kurang dari 250 hektar. Area ini lebih dikenal dengan sebutan Aspire Zone.

Karwa Bus No 301.

Satu jam perjalanan, mengantarkanku sampai di tujuan. Aku diturunkan di sebuah halte bus di Al Furousiya Street. Tak akan lama lagi, aku akan merasakan kesejukan Aspire Park yang menjadi bagian dari Aspire Zone.

Dari Al Furousiya Street aku berbelok ke kanan dan memasuki Al Waab Street. Satu kilometer kemudian aku berbelok ke kiri untuk menapaki Aspire Park Road. Nah, Aspire Park ini berada di sisi kiri jalan ini. Sementara di sebelah kanan jalan terletaklah sebuah pusat perbelanjaan modern terkenal di Qatar karena terdapat wisata gondola ala Venice di dalamnya, pusat perbelanjaan ini dinamakan Villaggio Mall.

Aspire Park Road.
Yang punya anak, hayu ukur tinggi badannya disini !.

Terletak di Distrik Baaya di Selatan Qatar, Aspire Park ini memiliki running trail yang sangat panjang dan nyaman, beberapa bagian dari running trail ini bahkan menampilkan sensasi memantul ketika diinjak. Penunjuk jarak tempuh juga ditampilkan di beberapa titik di running trail.

Aspire Park running trail.
Penanda jarak.

Aku memulai eksplorasi dari bagian selatan taman yang menampilkan kontur berbukit. Tujuanku adalah melihat seisi taman dari ketinggian, tentu akan tampak lebih indah. Tepat di kaki bukit dibangun fasilitas skateboard track sedangkan di bagian puncak bukit di beri fasilitas delapan exercise bike. Dari atas tampak terlihat begitu luas dan indah suasana Aspire Park.

Skateboard track.
Aspire Park dilihat dari atas bukit.
Exercise bike di selatan taman.

Menuruni bukit kecil menuju ke arah utara, aku kembali ke dataran rendah dan memasuki area taman secara keseluruhan. Tampak pepohonan berbatang besar, naungan beratapkan payung raksasa berbahan kain juga tampak dimana-mana, memberikan opsi lain untuk berteduh selain di bawah pepohonan.

Teduh kan…..
Umbrella shade.

Sementara aktivitas warga tampak mulai ramai menjelang tengah hari. Beberapa anak tampak bermain tendangan penalti. Atmosfer sepak bola Qatar memang tak kalah kental dari sepakbola tanah air kita. Maklum Qatar adalah pemenang Piala Asia 2009 silam setelah menundukkan juara bertahan Jepang.

Pesepak bola Qatar masa depan.

Semantara para pengunjung tak perlu khawatir jika ingin sekedar bersantai, menikmati hari di taman dengan secangkir kopi atau snack lainnya. Beberapa kedai tersebar di area sand trail. Gharissa Ice cream, Ard Canaan Restaurant, Mobsto Coffee Truck dan satu kedai terkenal Coffeeshop Company siap memanjakan pengunjung.

Coffeeshop Company.

Berlatarkan Aspire Tower atau yang lebih dikenal dengan sebutan The Torch Doha setinggi 300 meter, menjadikan Aspire Park sebagai taman yang artistik. Diambil dari segala penjuru tetap saja elok, tak hayal, banyakl orang yang mengunjungi taman ini.

Aku sampai pada sebuah tampilan danau buatan dengan paduan jembatan yang melintas di tengahnya. Tampak ujung penyembur air mancur menuju ke arah jembatan dari kedua sisi, jika air mancur ini dinyalakan pasti akan menjadi tudung artistik yang melintas di atas kepala pengunjung yang melewati jembatan itu.

Aspire Lake.
Sekawanan angsa di Aspire Lake.

Sementara di sisi Aspire Lake tampak patung kuda yang tengah menarik gerobak bermuatan. Inilah karya Sarah Lucas Perceval pada tahun 2006 yang menjadi spot ikonik untuk berfoto para pengunjung.

Shire Horse by Sarah Lucas Perceval.

Kemudian di sisi barat danau terdapat area playground untuk anak-anak. Area ini cukup luas dan menyediakan beragam permainan. Membuat anak-anak betah berlama-lama di taman, juga menjadikan taman ini menjadi tempat favorit untuk tempat berkunjung bagi para keluarga untuk menghabiskan weekend atau hari libur mereka.

Aspire Park playground.

Sementara di sebuah bagian taman, sedang dibangun sebuah kolam besar dengan podium di sisinya. Saya tak tahu apa yang sedang dibuat dalam proyek ini. Tampak area ini masih tertutup dan tidak bisa dikunjungi karena kegiatan pembangunan sedang dilakukan secara masif.

Beberapa saat kemudian, di utara taman aku sudah berdiri dan bersiap mengakhiri kunjungan. Kini aku bersiap memasuku Sports Zone yang tampak di dominasi oleh keberadaan Khalifa International Stadium.

Yuk kita lihat ada apa saja di Sports Zone ini !.

Bersiap masuk ke Sports Zone.

Memasak Menu ala Backpacker di Qatar

Selain mengunjungi tempat-tempat wisata gratisan, memasak adalah hal lazim yang dilakukan para backpacker untuk mengerem pengeluaran di hari-hari perjalanannya. Karena mereka juga harus pandai menciptakan dana cadangan untuk mengantisipasi jika terjadi biaya tak terduga. Begitu pula dengan hari-hariku di Qatar, memasak sudah menjadi rutinitas setiap pagi dan malam mengingat biaya hidup di Qatar tidaklah murah.

Sore itu, bermula pada perjalanan pulang dari Katara Cultural Village menggunakan Doha Metro. Aku menuju Stasiun Souq Waqif dan bertolak dari Stasiun Katara melalui kombinasi Red Line dan bersambung dengan Gold Line di Stasiun Msheireb. Ini adalah perjalanan keduaku menggunakan Doha Metro.

Platform di Stasiun Katara.
Ini tanda toilet, musholla dan child care room…Lucu ya.
Doha Metro Red Line.

Dari Stasiun Souq Waqif aku menyambung perjalanan dengan Karwa Bus No. 12 dari Al Ghanim Bus Station untuk menuju Casper Hotel, tempatku menginap selama di Qatar. Ini adalah perjalananku ke-9 menggunakan Karwa Bus. Perjalanan pulang sore itu membutuhkan waktu dua jam hingga tiba di penginapan. Sebelum tiba, aku sempat berbelanja terlebih dahulu di Abdulla Ali Bumatar minimarket yang terletak di dekat hotel untuk membeli kebutuhan logistik hingga hari terakhirku di Qatar nanti.

Bukan hotel, lebih tepatnya ini adalah penginapan.

Setelah selesai membersihkan diri, aku segera menunaikan shalat maghrib berjama’ah di musholla dekat penginapan. Memasuki waktu bersantai, aku bergegas menuju pantry untuk melakukan kegiatan rutin malam hari….Yes, memasak.

Yuk masuk pantry!

Bahan pangan utama yang mejadi santapanku setiap hari adalah roti Paratha khas Kerala buatan GRANDMA Bakery and Sweets, cukup murah, tiga lembar parata kubeli dengan harga Rp. 8.000. Tiga lembar parata sudah lebih dari cukup untuk membuatku merasa kenyang.

Sedangkan untuk lauknya aku memilih membeli sarden kemasan termurah yang dipajang di minimarket. Kuberikan Rp. 12.000 untuk mendapatkan satu kaleng kemasan berisi tiga potongan sedang ikan sarden. Karena ini sarden termurah, tentu akan berpengaruh pada rasa, rasanya plain, kawan….Hmmhh. Itu tampak seperti ikan sarden yang dituang ke dalam minyak sawit saja…..Hahahaha.

Roti Paratha.
Memanaskan sarden kemasan.

Ketika berpergian, kemewahan makanan bukanlah menjadi concernku sejauh ini. Yang terpenting adalah bagaimana tetap mengupayakan makan tiga kali sehari dengan harga terjangkau tetapi layak nutrisi. Jadi bisa dipastikan aku akan jarang sekali bersantap di restoran kecuali jika yang kujalani adalah business trip…..Ya, iya lah, business trip kan dibayarin kantor. Hahahaha.

Lalu, bagaimana dengan menuku di keesokan harinya, sebelum memulai eksplorasi hari keempat di Qatar. Mau tahu?…..

Ini dia:

Sarapan yang sangat sederhana, kan?
Bonuss…..

Nah itulah satu dari sekian banyak caraku untuk berhemat selama menjelajah Qatar. Jangan ditiru….Itu sangat menyiksa….Hahaha.

Yuk lah, kita jalan lageee…..

West Bay, Asal Burj Doha Memukau Dunia

Kesayangan kepergok nongkrong di Abdulla Ali Bumatar minimarket.

Makan malam….Akhirnya kucicipi ramen kesayangan itu setelah genap dua minggu berpetualang meninggalkan kampung halaman. Membuat mood perjalananku kembali ke puncak….Hahaha.

Di keesokan harinya, menjelang siang tetapi masih saja dingin menusuk, pukul sepuluh pagi, aku memulai petualangan hari kedua di Qatar. Menaiki Karwa Bus langganan bernomor 12, kutuju Al Ghanim Bus Station. Untuk ketigakalinya, aku akan menaiki Karwa Bus dengan nomor berbeda.

Ini dia….Karwa Bus No. 76 menuju West Bay.

Sepuluh menit kemudian, aku meluncur menuju West Bay melalui Al Corniche Street. Karena ini adalah circular service, aku membiarkan diri mengalir mengikuti alur Karwa Bus itu. Aku tak turun ketika bus mulai memasuki area West Bay, bus berbelok di Al Fundug Street, berlanjut di Omar Al Mukhtar Street, beralih ke Conference Center Street, lalu menutup rute melingkarnya di Al Corniche Street untuk kembali menuju ke Al Ghanim Bus Station.

Aku turun tepat di permulaan area West Bay yaitu di dekat bangunan pencakar langit paling tersohor di Qatar yaitu Burj Doha. Bangunan berbentuk peluru yang pernah menjadi Best Tall Building Worldwide delapan tahun silam.

Tiga bangunan fenomenal dari kiri ke kanan: Al Bidda Tower, Qatar Petroleum Headquarter dan Burj Doha (putih).
Burj Doha lebih dekat.

Aku memilih berjalan di sisi corniche untuk merasakan sensasi berjalan di bawah perkasanya gedung pencakar langit di sisi kiri dan birunya Teluk Persia di sisi kanan. Pemandangan yang sungguh luar biasa tak terkira dan masih terekam di ingatanku hingga kini.

Menyempatkan diri untuk makan siang.

Aku mulai masuk lebih dalam  ke area West Bay, kini aku melewati jalanan di sebelah kiri Burj Doha dan aku benar-benar tenggelam dalam julangan jajaran pencakar langit kota Doha.

Tornado Tower milik QIPCO Holding yang bergerak di bidang investasi dan saham.

Aku sampai di Al Funduq Street, jalanan begitu padat. Mobil berjalan sangat pelan karena bahu jalan digunakan sebagai tempat parkir kendaraan. Sepertinya parkir masih menjadi masalah di area West Bay…..Mirip Jakarta ya….Hahaha.

Dari kiri ke kanan: Ministry of Justice Building (putih), Al Fardan Twin Building (workspace provider), Woqod Tower untuk perkantoran (berujung lancip).
Navigation Tower (Bangunan untuk perkantoran berarsitektur sempal sebelah).

Sebentar kemudian, aku sudah berada di jantung area West Bay. Berada di ujung Al Funduq Street yang kemudian arus kendaraan dialirkan oleh jalur protokol negara itu, yaitu Majlis Al Ta’awon Street dan Omar Al Mukhtar Street.

Tikungan di kiri itulah akhir dari Al Funduq Street.
Aku berlatar Palm Tower (perkantoran).
Penampakan Omar Mukhtar Street menuju DECC.

Matahari berada di titik tertinggi ketika aku memasuki pusat West Bay. Aktivitas di area itu juga mulai ramai. Jalan protokol dengan lima jalur di setiap ruas mulai padat dengan kendaraan. Perlahan aku mendekati DECC (Doha Exhibition & Convention Center) yang merupakan main event venue di kota Doha.

Perlu kamu ketahui, selain karwa Bus bernomor 76,  West Bay adalah distrik bisnis yang bisa diakses dengan Doha Metro Red Line. Setidaknya terdapat dua stasiun MRT di area ini yaitu West Bay QIC Station dan DECC Station.

Pintu masuk Stasiun MRT DECC berlatar DECC Building bagian barat.

Sebelum meninggalkan area West Bay, aku akan mengunjungi sejenak salah satu pusat perbelanjaan di area itu yang menyediakan fasilitas ice rink.

Yukss….Lihat bentar.

Al Ghanim Bus Station, Terminal Sentral Kebanggaan Qatar

Seperti yang kukisahkan di awal, jika kamu membedah seisi Qatar menggunakan Karwa Bus maka secara otomatis kamu akan berhilir mudik di sebuah terminal sentral di kota Doha yaitu Al Ghanim Bus Station.

Aku sendiri yang adalah backpacker penggila bus kota dan selama di Qatar tercatat selama tujuh kali dalam lima hari, aku menyambangi terminal bus yang menjadi kantor pusat Mowasalat (perusahaan transportasi negara Qatar).

Tak cukup besar, secara ukuran, Al Ghanim Bus Station masih kalah luas dengan Terminal Tirtonadi di Solo atau Terminal Kampung Rambutan di Jakarta Timur. Bayangkan saja, terminal ini layaknya terminal bus di kota-kota kecil pulau Jawa….Terminal Tidar di Magelang misalnya….Ya, segitulah perkiraanku.

Aku sekejap memaklumi, tak butuh terminal yang besar untuk melayani wilayah negara Qatar yang hanya dua kali luas Pulau Bali.

Menunggang Karwa Bus No. 12, perjalanan perdana menuju Al Ghanim  Bus Station.

Siang itu, panas surya beradu kuat dengan rendahnya suhu udara yang bertiup di Semenanjung Qatar. Pasir-pasir halus penuh kesumat memanfaatkan arus angin untuk menghajar mukaku tanpa ampun. Tapi kini aku telah memakai rayban yang membuatku melangkah gagah nan penuh gaya di jalanan Doha.

Bermula dari Casper Hotel, aku membelah kota di dalam kotak besi berjalan sejauh lima kilometer dan tiba dalam setengah jam di Al Ghanim Bus Station. Tak mahal, hanya Rp. 10.000 saja untuk diserahkan ke tap machine Karwa Bus.

Al Ashat Street tepat di depan terminal.
Mungil, rapi dan minim polusi.
Tak ada yang berteriak mencari penumpang….Very silent.

Fasilitas

Tiba di terminal, aku tak terburu meninggalkannya begitu saja. Kubiarkan waktuku sedikit terbuang hanya dengan berduduk manis di sebuah kursi tunggu berbahan kayu bercat putih. Mengamati wajah Qataris yang mayoritas adalah pegawai pemerintahan, wajah Filipino yang bekerja di sektor formal atau wajah Asia Selatan yang entah dari Nepal, India, Bangladesh atau Sri Lanka yang tampak bekerja di sektor non-formal. Kesemuanya berlalu lalang dengan kesibukannya masing-masing,  bergerak seirama dalam menggerakkan ekonomi Qatar.

Kursi tunggu terminal….Bagi yang kuat menahan dingin silahkan berlama-lama disini.
Yang tak kuat dingin, bolehlah membeli Karak (teh tarik) di kantin pojok itu.

Terminal ini melayani hampir seluruh rute bus, yang keluar atau menuju Doha. Setiap rute berjeda keberangkatan 20-30 menit. Terminal beroperasi dari jam 4 pagi hingga tengah malam.

Toilet ada di ujung barat depan, berstruktur container box dan harus menaiki beberapa anak tangga. Terminal juga menyiapkan ruang tertutup yang cukup efektif untuk menghangatkan badan sembari menunggu keberangkatan bus.

Ruang tunggu tertutup terminal.

Sementara beberapa Ticketing Vending Machine disediakan di sebelah ruang tunggu tertutup, sehingga setiap pengguna jasa Karwa Bus dapat leluasa mengisi ulang Karwa Smartcardnya disini.

Di beberapa tiang terminal tercantum dengan jelas setiap peta rute Karwa Bus, sehingga sangat membantu penumpang yang belum memahami keseluruhan wilayah Qatar dalam menemukan jalur bus yang tepat ke setiap tujuan yang disasarnya.

Rute Karwa Bus No. 11.

Itulah profil singkat dari Al Ghanim Bus Station yang terletak di Municipality Ad Dawhah. Tertarik berkunjung?

Rute langganan untuk pulang menuju Casper Hotel.

Berhemat di Casper Hotel, Qatar

Semakin ke barat, nyatanya biaya backpackeran semakin tinggi. Harga hotel dan tiket pesawat tak bisa tertolak kemahalannya. Perlu kejelian dalam berburu tiket dan hotel murah.

Hal inilah yang kemudian membuatku mengalah untuk tinggal di penginapan yang jauh dari pusat kota, demi mendapatkan harga yang sesuai dengan budget. Tentu walaupun tinggal di penginapan pinggiran, perihal konektivitas tetap harus diperhatikan.

Nah, untuk eksplorasiku di Qatar kali ini, aku memilih Casper Hotel untuk menjadi basecamp selama empat malam. Aku memesannya dua bulan sebelum keberangkatan melalui Booking.com dengan harga Rp. 199.500 per malam. Boleh dibilang, inilah hotel termurah dengan akses transportasi yang cukup baik dari sekian banyak penginapan yang telah kujelajahi di berbagai e-commerce penyedia penginapan.

Gerbang depan Casper Hotel yang merupakan sebuah perumahan.

Kesamaan bentuk rumah dalam cluster ini membuatku tersasar ke Q Hotel. Petugas resepsionis agak sedikit judes ketika menunjukkanku letak Casper Hotel yang berdampingan dengan hotel mereka. Mungkin karena aku lebih memilih kompetitornya.

Hotel tanpa papan nama.

Aku diterima oleh resepsionis jangkung asal Islamabad dan diminta menunggu sekitar setengah jam hingga kamar siap.

Meja respsionis sederhana.
Lobby.
Dorm yang kutempati (tengah).

Aku ditempatkan sekamar dengan professional Pakistan yang bekerja di perusahaan penghancuran kapal, turis India dan pemuda Dubai yang sedang bersemangat mencari pekerjaan di Amerika Latin.

Aku sengaja memilih hotel ini karena mereka menyediakan pantry bersama. Biaya hidup di Qatar terkenal mahal, opsi terbaikku adalah membeli bahan makanan lalu memasaknya mandiri.

Tempatku memasak.
Staff pengelola hotel (dua berdiri) dan teman sekamar (duduk).

Konektivitas

Walaupun jauh dari kota, hotel ini memiliki akses transportasi yang baik. Hal ini tentu membantuku untuk berhemat. Casper Hotel memiliki akses Free Doha Metrolink Shuttle Service menuju stasiun Oqba Ibn Nafie. Selain itu, Karwa Bus No. 12 memiliki shelter dekat gerbang hotel menuju Al Ghanim Bus Station.

Shelter bus di Al Nadi Street, selalu kugunakan saat pulang menuju hotel.
Karwa Bus No. 12, suatu sore menuju ke hotel dari Al Ghanim Bus Station.

Shopping Area.

Tiga ratus meter di selatan hotel terdapat Zone Center Nuija AL Hilal yaitu kompleks pertokoan yang menyediakan minimarket (Abdulla Ali Bumatar minimarket), coffee shop dan shopping centre. Tempat inilah yang menjadi tempatku berbelanja kebutuhan pokok selama tinggal di Qatar.

Tea Center tempatku meminum Karak (teh tarik).

Tempat Ibadah.

Seratus meter di timur Zone Center Nuija AL Hilal terdapat sebuah musholla mungil yang menjadi tempat ibadah bagi warga sekitar kompleks. Musholla ini menjadi tempat ibadah lima waktuku selama di Doha.

Shalat Maghrib.

Sport Center.

Buat kamu yang ingin berolahraga rutin selama berwisata ke Doha, hotel ini sangat dekat dengan Hamad bin Khalifa Stadium yang bisa dikunjungi untuk menonton Al Ahli SC  di Qatar Stars League atau hanya sekedar berbaur dengan aktivitas warga yang berolahraga di dalamnya.

Berbagi kandang dengan Al Sailiya SC.

Yuk, kita menuju ke pusat kota Doha!.

26 Destinasi Wisata di Doha, Qatar

Mungkin sosok yang berjasa membawaku ke Qatar adalah Valentino Rossi. Ya….Legenda hidup balapan kuda besi premium itu telah sekian lama memaksaku menyambangi Losail International Circuit melalui layar televisi. Selama bertahun-tahun menonton MotoGP itu pula, niat untuk mengunjungi Qatar mulai mengganggu tidur malamku.

Mimpi itu telah menjadi sebuah kenyataan indah ketika selama lima hari aku bisa menjelajah Qatar di awal tahun 2020. Kini saatnya bagiku untuk menceritakan kepada kalian tentang keelokannya. Berikut sedikit banyak kenangan yang kudapatkan di negeri kaya “emas hitam” itu:

1. Hamad International Airport

Bisa ditasbihkan bahwa Hamad International Airport (HIA) adalah penyempurna gerbang pariwisata Qatar. Sejak heksa warsa lalu, HIA sukses menggantikan peran Doha International Airport.  Perlu kamu ketahui bahwa penamaan bandara ini di catut dari nama Emir Qatar, Hamad bin Khalifa Al Thani.

Pagi yang cerah kala itu, aku mengamini kemegahan bandara yang terletak di tepian Teluk Persia ini. Inilah bandara yang menyimpan aset “Beruang Kuning” senilai 91 milyar Rupiah….Wowww.

2. Karwa Bus

Sebagai seorang yang taat dengan kode etik kaum backpacker, aku hanya dihadapkan pada dua pilihan untuk menuju pusat kota…..Kereta atau bus?. Kali ini bus menjadi pilihan pertamaku.

Belum juga melihat dan menaikinya, sudah terbayang bahwa aku akan menaiki bus kota berpenampilan modern ketika nanti meninggalkan bandara.

Bus kota Doha dikenal dengan nama Karwa Bus dan dibutuhkan KARWA Smart Card untuk mengunggangnya. Seluruh bus kota Doha dioperasikan oleh perusahaan transportasi negara yaitu Mowasalat. Rerata tarif sekali jalan juga sangat terjangkau yaitu sekitar Rp. 10.000.

3. Al Ghanim Bus Station

Setelah check-in di Casper Hotel dan menaruh semua perlengkapan, aku mulai mengeksplorasi kota Doha. Tempat pertama yang kujejak adalah Al Ghanim Bus Station sebagai tujuan akhir Karwa Bus bernomor 12 yang mengangkutku dari sebelah hotel.

Terletak di Municipality Ad Dawhah, Al Ghanim Bus Station adalah landmark penting. Terminal bus ini tentu mengcover sebagian besar rute Karwa Bus di Qatar. Al Ghanim Bus Station mengambil peran sebagai terminal sentral di Qatar sekaligus menjadi kantor pusat Mowasalat. Jika kamu berniat menjelajah wisata Qatar menggunakan bus, pasti kamu akan sering menyambangi terminal ini.

4. Abdul Aziz Nasser Theater

Inilah ruang pertunjukan untuk multidisiplin seni yang mensupport seniman lokal dan internasional. Terletak di pusat kota Doha dengan kapasitas hampir seribu tempat duduk. Bahkan untuk mempermudah pelaksanaan event-event besar, teater ini dikoneksikan secara langsung dengan Al Mirqab Hotel yang terletak tepat di sisi baratnya.

5. Al Fanar Mosque

Aku mengunjungi masjid ini setelah mengeksplore Al Ghanim Bus Station. Lokasinya hanya berjarak satu kilometer di utara terminal. Al Fanar adalah Pusat Kebudayaan Islam Qatar yang lebih dikenal dengan nama Al Sheikh Abdullah Bin Zaid Al-Mahmood Islamic Cultural Center. Selain mengenalkan budaya Qatar melalui Islam, Fanar Cultural Center ini juga  menyelenggarakan kegiatan sosial dan pendidikan.

6. Souq Faleh

Souq Faleh dan Al Fanar Masque hanya dipisahkan oleh Al Tarbiya Street. Merupakan salah satu dari sekian banyak pasar-pasar tua di Doha. Jika kamu penggemar Abaya, maka pasar ini menjadi tempat yang tepat untuk memburunya, karena harga yang ditawarkan tergolong lebih murah dari pasar-pasar yang lain.

7. Domes Mosque

Sedang asyik berkunjung ke Souq Faleh, tiba-tiba suara adzan Dzhuhur memanggil. Tampaknya aku harus segera mengakhiri eksplorasiku sejenak dan menuju ke sebuah masjid tua di tenggara. Masjid dengan banyak kubah dan tiang ini masih berdiri gagah di tengah modernnya kota. Shalat Dzuhur siang itu dipenuhi jama’ah yang datang dari segenap penjuru. Dan itu adalah shalat berjama’ahku pertama kali di Doha.

8. City Souq

Bersebelahan dengan Al Fanar Mosque di sebelah timur, tepat di salah satu sudut perempatan Al Tarbiya Street dan Al Bareed Street terdapatlah shopping mall modern dengan julangan tujuh lantai yang kemudian tampak mengkerdilkan bangunan Central Municipal Center di seberangnya. Aku memasukinya hanya untuk sekedar berburu fridge magnet lalu mencuri foto suasana di dalam.

Dikenal dengan nama City Souq, mall ini menyediakan pakaian, garmen, sepatu, parfum, mainan anak-anak, stationery, selimut dan abaya. Berlatihlah menawar sebelum berbelanja di tempat ini.

9. Souq Waqif

Berusia lebih dari dua abad, tak membuat Souq Waqif merubah bentuk arsitekturnya. Menjadi satu-satunya pasar tradisional kuno di seluruh Qatar.

Waqif berarti berdiri. Karena pada masa perintisan pasar, tidak ada satupun kios yang dibangun. Hal ini disebabkan karena meluapnya air laut dari pantai Doha yang menggenangi pasar. Bahkan diawal berdirinya, para pembeli akan datang menggunakan perahu atau menaiki onta untuk mensiasati genangan tersebut dan penjual akan berdiri sepanjang hari untuk menawarkan dagangannya.

10. The Pearl Monument

Meninggalkan sejenak Souq Waqif untuk kemudian kutengok ulang esok hari, aku menyasar The Pearl Monument di seberang Al Corniche Street yang menyediakan fasilitas penyeberangan bawah tanah di kolongnya. Kurasa tak hanya traveler, bahkan seluruh warga negara Qatar hendaknya wajib mengunjungi monumen berwujud kerang mutiara menganga ini. Melalui monumen ini, semua khalayak harus tahu bahwa sebelum tahun 1939 yaitu era sebelum ditemukannya minyak di perut bumi mereka, Qatar adalah negara miskin yang pendapatannya bergantung pada hasil tangkap kerang mutiara di Teluk Persia.

11. Corniche Promenade

Mengunjungi The Pearl Monument membuatku bahagia tak terkira, selain mendalami sejarah Qatar, mata dimanjakan dengan indahnya pemandangan Doha Corniche. Promenade sepanjang tujuh kilometer ini menampakkan lengkungan Teluk Doha yang dijejali gedung pencakar langit di ujungnya. Sementara sebaran traditional dhow boat yang diam terjangkar di sepanjang teluk menjadi interior alam yang mengelokkan suasana.

12. Museum of Islamic Art

Tepat di ujung timur Doha Corniche terdapat bangunan yang didirikan layaknya mengambang di tepian laut. Adalah Museum of Islamic Art yang didalamnya dipamerkan kekayaan budaya Islam dari tiga benua yang telah berusia lebih dari 1.400 tahun lamanya. Inilah museum andalan Qatar yang didirikan oleh saudara perempuan dari Emir mereka yaitu H. E Sheikha Al Mayassa binti Hamad bin Khalifa Al Thani. Keberadaan museum ini telah mentasbihkan Qatar sebagai ibu kota budaya kawasan Timur Tengah.

13. MIA Park

MIA dalam nama taman ini adalah singkatan dari Museum of Islamic Art. Sesuai namanya, sebelum mendatanginya, semua orang sudah bisa dipastikan faham bahwa taman ini terletak tepat di depan Museum of Islamic Art. Taman yang sering menjadi venue resmi negara pada perayaan hari libur nasional, selain itu taman ini sering dipakai sebagai tempat berlangsungnya pertunjukan musik, kegiatan bazaar ataupun konser-konser regular lainnya. Sedangkan khusus di hari Selasa dan dimulai pada pukul 17:00, taman ini menjadi area publik khusus kaum Hawa yang biasanya dipimpin oleh personal trainer dalam latihan kardio dan senam kebugaran.

14. Doha Hop On Hop Off Bus

Buat kamu yang tidak mau repot menjelajah Doha. Pariwisata Qatar menyediakan Hop On-Hop Off Sightseeing Tour. Jadi kamu cukup duduk manis dari atas bus dan akan diantarkan ke beberapa destinasi wisata di Doha. Bus ini berentang waktu tiga puluh menit dalam pengoperasiannya. Melewati destinasi wisata utama Qatar yaitu Souq Waqif, Katara Cultural Village, The Pearl Qatar dan Museum of Islamic Art. Untuk memanjakan para traveler, bus ini juga berhenti di Hotel Marriott, Sharq Village and Spa, Sheraton dan Hilton Hotel.

15. West Bay

Hari Kedua….Udara sangat berangin dan dingin tentunya. Menaiki Karwa Bus bernomor 12 dan bersambung dengan nomor 64, aku menuju West Bay. Kompleks bangunan pencakar langit itu seakan melambai-lambaikan tangannya kepadaku ketika kupandangi dari sisi lain Doha Corniche sore kemarin.

Kini aku tepat berada di tengah area bisnis di pantai timur Doha ini. Sebuah area yang mengcover tiga distrik sekaligus, yaitu Al Qassar, Al Dafna dan West Bay Lagoon. Akhirnya dari dekat, aku bisa menikmati Burj Doha, bangunan paling ikonik di Qatar itu.

16. City Center Doha

Menelusuri setiap inchi jalanan di West Bay, aku sampai juga di salah satu shopping mall tertua di Qatar. City Center Doha yang diletakkan di pusat bisnis tetapi ditargetkan melayani para pelanggan dari kelas ekonomi menengah. Tepat berloksi di tengah area West Bay, shopping mall ini terkoneksi secara langsung dengan tiga hotel mewah yaitu Shangri La Hotel, Rotana Hotel dan Merweb Hotel.

17. Doha Metro

Untuk pertama kalinya aku menaiki Doha Metro. Sistem tranportasi masal teranyar milik Qatar yang dioperasikan sejak setahun lalu. MRT tiga jalur (Red Line, Green Line dan Gold Line) yang dimiliki oleh Hamad Group ini ditasbihkan sebagai kereta tanpa pengemudi tercepat di dunia dengan kecepatan jelajah mencapai 100 km/jam.

Kali ini aku menikmati fasilitas mewahnya dari Stasiun DECC (Doha Exhibition & Convention Center) di Wet Bay menuju Stasiun Katara yang merupakan akses mengunjungi Katara Cultural Village.

18. Katara Cultural Village

Doha Metro menurunkanku di stasiun Katara. Hanya perlu berjalan kaki sejauh setengah kilometer untuk sampai di Katara Cultural Village, sebuah pusat budaya di Qatar. Terletak di pantai timur antara West Bay dan The Pearl, perkampungan budaya ini telah berdiri sejak sepuluh tahun lalu.

Katara sendiri adalah nama untuk Qatar sebelum Abad ke-18. Kata “Catara” pada seratus tahun pertama Masehi disematkan untuk menamai Semenanjung Qatar yang terletak di selatan Teluk Persia.

19. Aspire Park

Eksplorasi hari ketigaku di Qatar kumulai sedikit siang. Menunggu matahari meninggi, karena aku akan bermain di area terbuka, yaitu Aspire Park. Nama taman yang diambil dari nama sebuah area, yaitu Aspire Zone yang merupakan nama beken dari Doha Sports City di Distrik Baaya.

Karwa Bus bernomor 301 menurunkanku di Villaggio Shelter Bus tepat jam 11:44. Aku berjalan kaki menuju taman yang terletak di barat Qatar itu. Aspire Park adalah taman indah nan luas yang melengkapi diri dengan playground, air mancur, beberapa coffee shop bahkan menciptakan satu-satunya danau di Qatar.

20. The Torch Doha

Masih di Aspire Zone Complex, melangkah sedikit ke timur, aku tepat berada di bawah sebuah hotel setinggi 300 meter. Sering disebut dengan panggilan Aspire Tower, walaupun nama resminya adalah The Torch Doha.

Adalah buah karya konsultan arsitektur dari Perancis, inilah bangunan yang saat ini masih menjadi yang tertinggi di Doha. Hotel 36 lantai ini telah menyumbang jasanya untuk Qatar sebagai focal point (titik fokus) pada perhelatan Asian Games ke-15.

21. Khalifa International Stadium

Khalifa International Stadium disandingkan tepat di sebelah The Torch Doha. Sering dipanggil dengan nama National Stadium. Seperti bandara megah mereka, gelanggang sepakbola ini juga mencatut nama Emir Qatar Hamad bin Khalifa Al Thani. Inilah kandang resmi tim nasional sepakbola Qatar dengan empat puluh ribu kapasitas tempat duduk.

Di empui oleh Qatar Football Association, stadion ini adalah saksi dimana Australia dijungkalkan oleh pasukan samurai biru dengan gol tunggal Tadanari Lee pada perhelatan final AFC Asian Cup 2011.

22. Villaggio Mall

Kunjungan di Doha Sports City, kuakhiri dengan memasuki Villaggio Mall. Mall di pinggiran Al Waab Street ini dikembangkan oleh Gondolania Entertainment, oleh karenanya konsep wisata gondola di kota Venice di adopsi di pusat perbelanjaan satu lantai ini.

Didesain di dalamnya canal indoor sepanjang 150 meter lengkap dengan perahu gondola, mengingatkanku ketika mengunjungi The Venetian di Macau 3 tahun silam.

Retailer utama di Villaggio Mall adalah Carrefour, akan tetapi pusat perbelanjaan ini juga mengakomodasi 200 toko yang menjual brand-brand ternama asal Amerika, Inggris, Italia dan Jerman. Yuk, yang hobby belanja, silahkan mampir ke sini !

23. Al Koot Fort

Hari keempat, aku berniat menelusuri area MDD (Mshreib Downtown Doha) yaitu sebuah kota pengganti Distrik Mushayrib yang pengembangannya direncanakan dengan detail.

Tetapi sebelum memasuki area MDD, aku sempatkan mampir di Al Koot Fort yang telah berusia 93 tahun. Adalah jasa dari Emir keempat Qatar, Sheikh Abdullah bin Jassim Al Thani yang membangun benteng ini dengan tujuan melindungi  Souq Waqif dari kelompok pencuri terkenal pada waktu itu.

Setelah mampir di Al Koot Fort atau Doha Fort ini, barulah aku melangkah memasuki area MDD. Yuk lihat ada apa saja di MDD ?

24. Msheireb Museum

Tempat wisata utama yang kukunjungi di Mshreib Downtown Doha adalah Msheireb Museum yang dikembangkan oleh Msheireb Properties (Pengembang Real Estate Nasional Qatar).  Aku dengan tekunnya menelusuri empat rumah warisan bersejarah yang menjadi bagian utama dari Msheireb Museum. Yaitu Bin Jelmood House yang mengungkap sejarah perdagangan budak di negeri itu, Company House yang mengungkap kisah para pioneer pekerja industri minyak Qatar, Mohammed Bin Jassim House yang merupakan rumah yang dibangun oleh putra pendiri Qatar, Sheikh Mohammed bin Jassim Al Thani serta Radwani House yang merupakan duplikasi model rumah asli Qatar.

Kalau kalian ke Qatar, wajib datang ke sini ya….Free ticket kok, santuy….

25. Msheireb Tram

Menaiki Msheireb Tram adalah cara mudah untuk menikmati keindahan MDD. Transportasi massal ini diluncurkan oleh Msheireb Properties dengan loop track sepanjang dua kilometer dan mampu menghubungkan setiap spot di MDD dalam waktu delapan belas menit saja.

Kamu harus merasakan nyamannya tram listrik buatan Amerika yang menggunakan filtering glass panel yang katanya mampu mencegah masuknya sinar matahari ke dalam ruangan tram hingga 90%.

26. Doha Free Metrolink

Sebelum meninggalkan Qatar, di hari  terakhir aku mencoba menjajal Doha Metrolink yang merupkan jaringan feeder bus untuk mengkoneksi  siapapun dengan Doha Metro Station dalam radius dua hingga lima kilometer.

Tidak dipungut biaya dalam memanfaatkan jasa feeder bus ini. Pemerintah Qatar menyediakan empat puluh dua jalur Doha Free Metrolink yang beroperasi dari jam enam pagi hingga jam sebelas malam.

Jika kalian mau berwisata hemat di Qatar, carilah hotel yang dilalui oleh rute bus ini. Apalagi kalau hotelnya agak jauh dari pusat kota, pasti akan lebih menghemat kantongmu….Hihihi.

Semoga pandemi COVID-19 ini segera berakhi dan kamu bisa segera melancong ke Qatar….Amin.