Gondolania milik Villaggio Mall

Sudah pukul 14:00, masih ada sedikit waktu sebelum angin sore pembawa hawa dingin hadir. Aku sengaja menaruh destinasi ini sebagai penutup wisata hari ketiga di Qatar. Tampak luar, tak ada yang mencolok, tak ada yang istimewa, itu hanya bangunan biasa yang dibuka untuk umum sejak 2006 silam. Hanya saja, nameboard besar bertajuk Gondolania Theme Park di gerbangnya mampu menilaskan gambaran di kepala tentang konsep wisata apa yang ditawarkan di dalamnya.

Aku kembali memutar pita rekaman perjalanan, mulai kubongkar memori tiga tahun silam, kala dimana untuk pertama kalinya, aku terpesona pada wujud gondola yang terlihat dengan mata telanjang di The Venetian, shopping mall sekaligus kasino kenamaan di kawasan Asia Timur, Macau tepatnya.

Yupss….Kunjungan di Doha Sports City sore itu memang kuakhiri dengan mengunjungi Villaggio Mall. Mall di pinggiran Al Waab Street (terletak antara Hyatt Plaza dan Sports City ) ini dikembangkan oleh Gondolania Entertainment, oleh karenanya, konsep wisata gondola di kota Venice diadopsi di pusat perbelanjaan terkenal ini.

Didesain di dalamnya canal indoor sepanjang 150 meter lengkap dengan gondolanya. Retailer utama di Villaggio Mall adalah Carrefour, akan tetapi pusat perbelanjaan ini juga mengakomodasi 200 toko yang menjual brand-brand ternama asal Amerika, Inggris, Italia dan Jerman.

Yuk, yang hobby belanja, silahkan mampir di mari !

Aku memulainya dari gate 4.

Rupanya kata “I LOVE  (LOVE dilambangkan dengan hati)” yang tersohor dalam promosi pariwisata setiap bangsa menjangkit juga di Qatar. Nameboard itu menyapaku di sebuah hall tepat di sebelah pintu masuk. Merah putih, begitulah dominasi warnanya, serasi dengan warna bendera Qatar. Merah bergerigi putih, atau putih bergeriri merah, entahlah?

Sana kalau mau foto!….Tak fotoin sinih!.
Hall utama tepat dibawah kubah.

Meningglkan kemewahan hall utama, aku mulai menyusuri koridor mall berfantasikan langit biru artifisial di bagian atap, sedangkan tiang hitam berujungkan tiga lampu klasik diletakkan dalam jarak yang konsisten. Cafe dan toko berjajar rapi di kiri dan kanan…..Mc Donalds, KFC, Pinkberry, Ocean Basket, Doughnuts & Coffee, Dunias, PF. Clarks, Applebees dan Ognam adalah beberapa gerai kuliner yang bisa cepat kutemukan ketika melangkah.

Koridor Villaggio Mall.
Koridor Villaggio Mall.

Kuikuti saja alur yang didesain pengelola mall, hingga akhirnya kupergoki ruangan bertajuk GONDOLANIA, sebuah Funfair Theme Park andalan pusat perbelanjaan itu. Kamu bisa bermain Bungee Trampoline, Ferris Wheel, Viking, Catterpillar, Drop Tower, Roller Coaster, Chipmunks Rides, Carousel, Arcade Games, Ping Pong Toss, Ride on Robot, Dino Land, Toy Crain, Deal or No Deal Dance Reco, Basketball Games, Bump Car, Dragon Punch King of Hammer, Lazy River, juga bisa berbelanja mainan di Toys4me serta bisa bergila ria di Gondolania Ice Rink.

Gondolania Theme Park.

Meninggalkan theme park , aku masih terus dibuat penasaran untuk menemukan apa yang kucari sedari tadi…..Akhirnya, Gondola ala Venice tampak terdayung di pandangan jauh. Kanal panjang bercabang membelah ruang raksasa shopping mall itu. Beberapa turis tampak mengantri untuk menaiki gondola dengan pendayung berkebangsaan Philippines.

Kanal untuk wisata gondola.
Aku dan gondola.

Menjenguk sejenak Villaggio Mall, telah membunuh rasa penasaranku untuk melihat duplikasi wisata Gondola Venice untuk kedua kalinya.  Tak perlu lama, hanya tiga puluh menit saja untuk menjelajah.

Hmmhh, aduh….Aku teringat pada janjiku memenuhi undangan para staff hotel tempatku menginap. Aku bergegas pulang, sore itu aku akan memasak makanan khas Pakistan bersama mereka. Kufikir agenda itu  akan membuatku merasa lebih relax setelah tujuh belas hari berkelana meninggalkan rumah.

Area parkir Villaggio Mall.

Langkah cepat menuju Stasiun Al Aziziyah dihadang oleh seorang pemuda yang lebih pendek dariku. Aku tersentak kaget….Ada apa ini:

Said: “Hello, do you want go with metro?

Aku: “Yes, Brother”.

Said:”Use this ticket, I will go back with bus, So you can use it”.

Aku: “Oh, thank you”.

Bodoh jika aku menolaknya. Sebelum dia pergi, aku sempat bertanya untuk mendapatkan informasi tentang tempat asalnya….Algeria, Afrika Utara….”My name is Said”, ujarnya setelah aku menyebutkan nama kepadanya.

Kugenggam tiket darinya….”Oh ini, One Day Pass. Dia seharian naik MRT rupanya. Pintar si Said, daripada dibuang percuma, dia hibahkan kepadaku….Hehehe” batinku memahami alasan Said memberikan tiketnya padaku. Pertemuan tak terduga yang melimpahkan rezeqi. Kini aku akan pulang tanpa biaya.

Stasiun Al Aziziyah.

Singkat kisah, kunaiki Doha Metro Gold Line, berhenti di Stasiun Souq Waqif lalu bersambung dengan Karwa Bus No. 12 menuju penginapan.

Saatnya memasak……

26 Destinasi Wisata di Doha, Qatar

Mungkin sosok yang berjasa membawaku ke Qatar adalah Valentino Rossi. Ya….Legenda hidup balapan kuda besi premium itu telah sekian lama memaksaku menyambangi Losail International Circuit melalui layar televisi. Selama bertahun-tahun menonton MotoGP itu pula, niat untuk mengunjungi Qatar mulai mengganggu tidur malamku.

Mimpi itu telah menjadi sebuah kenyataan indah ketika selama lima hari aku bisa menjelajah Qatar di awal tahun 2020. Kini saatnya bagiku untuk menceritakan kepada kalian tentang keelokannya. Berikut sedikit banyak kenangan yang kudapatkan di negeri kaya “emas hitam” itu:

1. Hamad International Airport

Bisa ditasbihkan bahwa Hamad International Airport (HIA) adalah penyempurna gerbang pariwisata Qatar. Sejak heksa warsa lalu, HIA sukses menggantikan peran Doha International Airport.  Perlu kamu ketahui bahwa penamaan bandara ini di catut dari nama Emir Qatar, Hamad bin Khalifa Al Thani.

Pagi yang cerah kala itu, aku mengamini kemegahan bandara yang terletak di tepian Teluk Persia ini. Inilah bandara yang menyimpan aset “Beruang Kuning” senilai 91 milyar Rupiah….Wowww.

2. Karwa Bus

Sebagai seorang yang taat dengan kode etik kaum backpacker, aku hanya dihadapkan pada dua pilihan untuk menuju pusat kota…..Kereta atau bus?. Kali ini bus menjadi pilihan pertamaku.

Belum juga melihat dan menaikinya, sudah terbayang bahwa aku akan menaiki bus kota berpenampilan modern ketika nanti meninggalkan bandara.

Bus kota Doha dikenal dengan nama Karwa Bus dan dibutuhkan KARWA Smart Card untuk mengunggangnya. Seluruh bus kota Doha dioperasikan oleh perusahaan transportasi negara yaitu Mowasalat. Rerata tarif sekali jalan juga sangat terjangkau yaitu sekitar Rp. 10.000.

3. Al Ghanim Bus Station

Setelah check-in di Casper Hotel dan menaruh semua perlengkapan, aku mulai mengeksplorasi kota Doha. Tempat pertama yang kujejak adalah Al Ghanim Bus Station sebagai tujuan akhir Karwa Bus bernomor 12 yang mengangkutku dari sebelah hotel.

Terletak di Municipality Ad Dawhah, Al Ghanim Bus Station adalah landmark penting. Terminal bus ini tentu mengcover sebagian besar rute Karwa Bus di Qatar. Al Ghanim Bus Station mengambil peran sebagai terminal sentral di Qatar sekaligus menjadi kantor pusat Mowasalat. Jika kamu berniat menjelajah wisata Qatar menggunakan bus, pasti kamu akan sering menyambangi terminal ini.

4. Abdul Aziz Nasser Theater

Inilah ruang pertunjukan untuk multidisiplin seni yang mensupport seniman lokal dan internasional. Terletak di pusat kota Doha dengan kapasitas hampir seribu tempat duduk. Bahkan untuk mempermudah pelaksanaan event-event besar, teater ini dikoneksikan secara langsung dengan Al Mirqab Hotel yang terletak tepat di sisi baratnya.

5. Al Fanar Mosque

Aku mengunjungi masjid ini setelah mengeksplore Al Ghanim Bus Station. Lokasinya hanya berjarak satu kilometer di utara terminal. Al Fanar adalah Pusat Kebudayaan Islam Qatar yang lebih dikenal dengan nama Al Sheikh Abdullah Bin Zaid Al-Mahmood Islamic Cultural Center. Selain mengenalkan budaya Qatar melalui Islam, Fanar Cultural Center ini juga  menyelenggarakan kegiatan sosial dan pendidikan.

6. Souq Faleh

Souq Faleh dan Al Fanar Masque hanya dipisahkan oleh Al Tarbiya Street. Merupakan salah satu dari sekian banyak pasar-pasar tua di Doha. Jika kamu penggemar Abaya, maka pasar ini menjadi tempat yang tepat untuk memburunya, karena harga yang ditawarkan tergolong lebih murah dari pasar-pasar yang lain.

7. Domes Mosque

Sedang asyik berkunjung ke Souq Faleh, tiba-tiba suara adzan Dzhuhur memanggil. Tampaknya aku harus segera mengakhiri eksplorasiku sejenak dan menuju ke sebuah masjid tua di tenggara. Masjid dengan banyak kubah dan tiang ini masih berdiri gagah di tengah modernnya kota. Shalat Dzuhur siang itu dipenuhi jama’ah yang datang dari segenap penjuru. Dan itu adalah shalat berjama’ahku pertama kali di Doha.

8. City Souq

Bersebelahan dengan Al Fanar Mosque di sebelah timur, tepat di salah satu sudut perempatan Al Tarbiya Street dan Al Bareed Street terdapatlah shopping mall modern dengan julangan tujuh lantai yang kemudian tampak mengkerdilkan bangunan Central Municipal Center di seberangnya. Aku memasukinya hanya untuk sekedar berburu fridge magnet lalu mencuri foto suasana di dalam.

Dikenal dengan nama City Souq, mall ini menyediakan pakaian, garmen, sepatu, parfum, mainan anak-anak, stationery, selimut dan abaya. Berlatihlah menawar sebelum berbelanja di tempat ini.

9. Souq Waqif

Berusia lebih dari dua abad, tak membuat Souq Waqif merubah bentuk arsitekturnya. Menjadi satu-satunya pasar tradisional kuno di seluruh Qatar.

Waqif berarti berdiri. Karena pada masa perintisan pasar, tidak ada satupun kios yang dibangun. Hal ini disebabkan karena meluapnya air laut dari pantai Doha yang menggenangi pasar. Bahkan diawal berdirinya, para pembeli akan datang menggunakan perahu atau menaiki onta untuk mensiasati genangan tersebut dan penjual akan berdiri sepanjang hari untuk menawarkan dagangannya.

10. The Pearl Monument

Meninggalkan sejenak Souq Waqif untuk kemudian kutengok ulang esok hari, aku menyasar The Pearl Monument di seberang Al Corniche Street yang menyediakan fasilitas penyeberangan bawah tanah di kolongnya. Kurasa tak hanya traveler, bahkan seluruh warga negara Qatar hendaknya wajib mengunjungi monumen berwujud kerang mutiara menganga ini. Melalui monumen ini, semua khalayak harus tahu bahwa sebelum tahun 1939 yaitu era sebelum ditemukannya minyak di perut bumi mereka, Qatar adalah negara miskin yang pendapatannya bergantung pada hasil tangkap kerang mutiara di Teluk Persia.

11. Corniche Promenade

Mengunjungi The Pearl Monument membuatku bahagia tak terkira, selain mendalami sejarah Qatar, mata dimanjakan dengan indahnya pemandangan Doha Corniche. Promenade sepanjang tujuh kilometer ini menampakkan lengkungan Teluk Doha yang dijejali gedung pencakar langit di ujungnya. Sementara sebaran traditional dhow boat yang diam terjangkar di sepanjang teluk menjadi interior alam yang mengelokkan suasana.

12. Museum of Islamic Art

Tepat di ujung timur Doha Corniche terdapat bangunan yang didirikan layaknya mengambang di tepian laut. Adalah Museum of Islamic Art yang didalamnya dipamerkan kekayaan budaya Islam dari tiga benua yang telah berusia lebih dari 1.400 tahun lamanya. Inilah museum andalan Qatar yang didirikan oleh saudara perempuan dari Emir mereka yaitu H. E Sheikha Al Mayassa binti Hamad bin Khalifa Al Thani. Keberadaan museum ini telah mentasbihkan Qatar sebagai ibu kota budaya kawasan Timur Tengah.

13. MIA Park

MIA dalam nama taman ini adalah singkatan dari Museum of Islamic Art. Sesuai namanya, sebelum mendatanginya, semua orang sudah bisa dipastikan faham bahwa taman ini terletak tepat di depan Museum of Islamic Art. Taman yang sering menjadi venue resmi negara pada perayaan hari libur nasional, selain itu taman ini sering dipakai sebagai tempat berlangsungnya pertunjukan musik, kegiatan bazaar ataupun konser-konser regular lainnya. Sedangkan khusus di hari Selasa dan dimulai pada pukul 17:00, taman ini menjadi area publik khusus kaum Hawa yang biasanya dipimpin oleh personal trainer dalam latihan kardio dan senam kebugaran.

14. Doha Hop On Hop Off Bus

Buat kamu yang tidak mau repot menjelajah Doha. Pariwisata Qatar menyediakan Hop On-Hop Off Sightseeing Tour. Jadi kamu cukup duduk manis dari atas bus dan akan diantarkan ke beberapa destinasi wisata di Doha. Bus ini berentang waktu tiga puluh menit dalam pengoperasiannya. Melewati destinasi wisata utama Qatar yaitu Souq Waqif, Katara Cultural Village, The Pearl Qatar dan Museum of Islamic Art. Untuk memanjakan para traveler, bus ini juga berhenti di Hotel Marriott, Sharq Village and Spa, Sheraton dan Hilton Hotel.

15. West Bay

Hari Kedua….Udara sangat berangin dan dingin tentunya. Menaiki Karwa Bus bernomor 12 dan bersambung dengan nomor 64, aku menuju West Bay. Kompleks bangunan pencakar langit itu seakan melambai-lambaikan tangannya kepadaku ketika kupandangi dari sisi lain Doha Corniche sore kemarin.

Kini aku tepat berada di tengah area bisnis di pantai timur Doha ini. Sebuah area yang mengcover tiga distrik sekaligus, yaitu Al Qassar, Al Dafna dan West Bay Lagoon. Akhirnya dari dekat, aku bisa menikmati Burj Doha, bangunan paling ikonik di Qatar itu.

16. City Center Doha

Menelusuri setiap inchi jalanan di West Bay, aku sampai juga di salah satu shopping mall tertua di Qatar. City Center Doha yang diletakkan di pusat bisnis tetapi ditargetkan melayani para pelanggan dari kelas ekonomi menengah. Tepat berloksi di tengah area West Bay, shopping mall ini terkoneksi secara langsung dengan tiga hotel mewah yaitu Shangri La Hotel, Rotana Hotel dan Merweb Hotel.

17. Doha Metro

Untuk pertama kalinya aku menaiki Doha Metro. Sistem tranportasi masal teranyar milik Qatar yang dioperasikan sejak setahun lalu. MRT tiga jalur (Red Line, Green Line dan Gold Line) yang dimiliki oleh Hamad Group ini ditasbihkan sebagai kereta tanpa pengemudi tercepat di dunia dengan kecepatan jelajah mencapai 100 km/jam.

Kali ini aku menikmati fasilitas mewahnya dari Stasiun DECC (Doha Exhibition & Convention Center) di Wet Bay menuju Stasiun Katara yang merupakan akses mengunjungi Katara Cultural Village.

18. Katara Cultural Village

Doha Metro menurunkanku di stasiun Katara. Hanya perlu berjalan kaki sejauh setengah kilometer untuk sampai di Katara Cultural Village, sebuah pusat budaya di Qatar. Terletak di pantai timur antara West Bay dan The Pearl, perkampungan budaya ini telah berdiri sejak sepuluh tahun lalu.

Katara sendiri adalah nama untuk Qatar sebelum Abad ke-18. Kata “Catara” pada seratus tahun pertama Masehi disematkan untuk menamai Semenanjung Qatar yang terletak di selatan Teluk Persia.

19. Aspire Park

Eksplorasi hari ketigaku di Qatar kumulai sedikit siang. Menunggu matahari meninggi, karena aku akan bermain di area terbuka, yaitu Aspire Park. Nama taman yang diambil dari nama sebuah area, yaitu Aspire Zone yang merupakan nama beken dari Doha Sports City di Distrik Baaya.

Karwa Bus bernomor 301 menurunkanku di Villaggio Shelter Bus tepat jam 11:44. Aku berjalan kaki menuju taman yang terletak di barat Qatar itu. Aspire Park adalah taman indah nan luas yang melengkapi diri dengan playground, air mancur, beberapa coffee shop bahkan menciptakan satu-satunya danau di Qatar.

20. The Torch Doha

Masih di Aspire Zone Complex, melangkah sedikit ke timur, aku tepat berada di bawah sebuah hotel setinggi 300 meter. Sering disebut dengan panggilan Aspire Tower, walaupun nama resminya adalah The Torch Doha.

Adalah buah karya konsultan arsitektur dari Perancis, inilah bangunan yang saat ini masih menjadi yang tertinggi di Doha. Hotel 36 lantai ini telah menyumbang jasanya untuk Qatar sebagai focal point (titik fokus) pada perhelatan Asian Games ke-15.

21. Khalifa International Stadium

Khalifa International Stadium disandingkan tepat di sebelah The Torch Doha. Sering dipanggil dengan nama National Stadium. Seperti bandara megah mereka, gelanggang sepakbola ini juga mencatut nama Emir Qatar Hamad bin Khalifa Al Thani. Inilah kandang resmi tim nasional sepakbola Qatar dengan empat puluh ribu kapasitas tempat duduk.

Di empui oleh Qatar Football Association, stadion ini adalah saksi dimana Australia dijungkalkan oleh pasukan samurai biru dengan gol tunggal Tadanari Lee pada perhelatan final AFC Asian Cup 2011.

22. Villaggio Mall

Kunjungan di Doha Sports City, kuakhiri dengan memasuki Villaggio Mall. Mall di pinggiran Al Waab Street ini dikembangkan oleh Gondolania Entertainment, oleh karenanya konsep wisata gondola di kota Venice di adopsi di pusat perbelanjaan satu lantai ini.

Didesain di dalamnya canal indoor sepanjang 150 meter lengkap dengan perahu gondola, mengingatkanku ketika mengunjungi The Venetian di Macau 3 tahun silam.

Retailer utama di Villaggio Mall adalah Carrefour, akan tetapi pusat perbelanjaan ini juga mengakomodasi 200 toko yang menjual brand-brand ternama asal Amerika, Inggris, Italia dan Jerman. Yuk, yang hobby belanja, silahkan mampir ke sini !

23. Al Koot Fort

Hari keempat, aku berniat menelusuri area MDD (Mshreib Downtown Doha) yaitu sebuah kota pengganti Distrik Mushayrib yang pengembangannya direncanakan dengan detail.

Tetapi sebelum memasuki area MDD, aku sempatkan mampir di Al Koot Fort yang telah berusia 93 tahun. Adalah jasa dari Emir keempat Qatar, Sheikh Abdullah bin Jassim Al Thani yang membangun benteng ini dengan tujuan melindungi  Souq Waqif dari kelompok pencuri terkenal pada waktu itu.

Setelah mampir di Al Koot Fort atau Doha Fort ini, barulah aku melangkah memasuki area MDD. Yuk lihat ada apa saja di MDD ?

24. Msheireb Museum

Tempat wisata utama yang kukunjungi di Mshreib Downtown Doha adalah Msheireb Museum yang dikembangkan oleh Msheireb Properties (Pengembang Real Estate Nasional Qatar).  Aku dengan tekunnya menelusuri empat rumah warisan bersejarah yang menjadi bagian utama dari Msheireb Museum. Yaitu Bin Jelmood House yang mengungkap sejarah perdagangan budak di negeri itu, Company House yang mengungkap kisah para pioneer pekerja industri minyak Qatar, Mohammed Bin Jassim House yang merupakan rumah yang dibangun oleh putra pendiri Qatar, Sheikh Mohammed bin Jassim Al Thani serta Radwani House yang merupakan duplikasi model rumah asli Qatar.

Kalau kalian ke Qatar, wajib datang ke sini ya….Free ticket kok, santuy….

25. Msheireb Tram

Menaiki Msheireb Tram adalah cara mudah untuk menikmati keindahan MDD. Transportasi massal ini diluncurkan oleh Msheireb Properties dengan loop track sepanjang dua kilometer dan mampu menghubungkan setiap spot di MDD dalam waktu delapan belas menit saja.

Kamu harus merasakan nyamannya tram listrik buatan Amerika yang menggunakan filtering glass panel yang katanya mampu mencegah masuknya sinar matahari ke dalam ruangan tram hingga 90%.

26. Doha Free Metrolink

Sebelum meninggalkan Qatar, di hari  terakhir aku mencoba menjajal Doha Metrolink yang merupkan jaringan feeder bus untuk mengkoneksi  siapapun dengan Doha Metro Station dalam radius dua hingga lima kilometer.

Tidak dipungut biaya dalam memanfaatkan jasa feeder bus ini. Pemerintah Qatar menyediakan empat puluh dua jalur Doha Free Metrolink yang beroperasi dari jam enam pagi hingga jam sebelas malam.

Jika kalian mau berwisata hemat di Qatar, carilah hotel yang dilalui oleh rute bus ini. Apalagi kalau hotelnya agak jauh dari pusat kota, pasti akan lebih menghemat kantongmu….Hihihi.

Semoga pandemi COVID-19 ini segera berakhi dan kamu bisa segera melancong ke Qatar….Amin.

The Venetian….Culinary, Picnic and Gambling.

Gambling and Casino are two things which are very identical with Macao. So if you go to Macao and don’t see their casino, it won’t leave an impression..

It’s easy.…

Do you want to gamble? Who knows, you will return from Macao then become wealthy.

Or….

Just want to see how is gambling at casino?…Yup, no one forbids.

One thing when you travel to Macao….Decide immediately! Which casino will you visit. Because there are many casinos there.

For me, because I was just curious about real casino, I decided to visit The Venetian.

Why does The Venetian?

Yes, I will close my exploration by having dinner there, then see gondola to feel Venice sensation and finally I will close my exploration by seeing gambling at casino….The Venetian can fulfill all three. So I chose it.

Christmas atmosphere at The Venetian.

—-****—-

This time I easily got bus, just turned left from Macao Tower front yard then I got a bus stop (Torre Stop / Tunel Rodoviarios) and I waited for city bus no. MT4.

By paying bus fare for about USD 0.5, I arrived at The Venetian in 15 minutes.

I saw a blue bus passing by in front of The Venetian’s lobby. I understood that I would ride it later after exploring The Venetian. Yes, it’s The Venetian’s free bus to take tourists from Outer Harbor Ferry Terminal.

Admiring classic style of The Venetian’s building when I started stepping into building. Hunger which had attacked since leaving Macao Tower made me immediately move to 5th floor when I entered The Venetian.

Surrounding food court, I tried to find the cheapest menu for my dinner. Made sure with surrounding twice before I spent USD 6.8 for a portion of fried rice and USD 1.5 for a half liter of mineral water….So expensive.

Not finished eating it because a portion is so large, then I looked for existence of gondolas in Venice’s gondolas style to ending my curiosity which appeared since watching them on a television show several months before my departure to Macao.

This is an artificial river at The Venetian for gondola tours.

You only need to spend USD 16.6 to enjoy this tour.

I was so absorbed in enjoying beauty of The Venetian, passing around every corridor which provided branded products.

Shops at The Venetian.
Shops too.

A step later I was right in front of casino entrance. My main target destination that I finally visited in my tour closing session in Macao.

Entering casino at The Venetian is quite easy, just need to show your passport to security officer at front gate so you will easily enter.

Like being in an old Hong Kong movie, I searched every side of casino to see how did people gamble at casino. At each table, there was always a dealer who always offered me to gamble. Of course, I would never do it. I just smiled to respond their request to gamble.

Very special ending. Finally I could directly see casino in Macao. The darkening of day was required me to leave The Venetian.

As I stated above, I wouldn’t miss another session i.e riding free shuttle bus which was provided by major hotels in Macao. This time I boarded The Venetian’s free blue shuttle bus. I headed to Outer Harbor Ferry Terminal using this shuttle bus.

From Outer Harbor Ferry Terminal, I continued on my way back to hotel using bus no 10A like I did when I first arrived in Macao. With a tariff of USD 0.4, I arrived back at Villa Ka Meng Hotel to rest and continued my trip tomorrow to Shenzhen using fast ferry.

Bye The Venetian….Bye Macao.

Macao Tower….Not Just Bungee Jumping.

It isn’t easy to reading Macao public transportation map. Because of that reason, I never found what was bus number and where was bus stop which could move me from Ruins St. Paul to Macao Tower, Its distance was around 3.5 km

Walked through narrow streets around Ruins of St. Paul to looked for a bus stop.

Every bus stop which I met, I always looked for existence of bus 9A route but I never found….I didn’t lose….Just a little disoriented.

I sat for a long time at a bus stop….what is the road name?, I forget…. Sitting down and trying to understand my wide bus map. Everyone who came to bus stop noticed my face, which was different in skin color from them.

Looked like I began to understand its route after long time detaily learning the map.

Guided by my little compass, I began to head to south….I didn’t try to turn from Largo de Santo Agostinho road which I knew that It would direct me to a bus stop which bus no 9A would pass it.

I accidentally passed Dom Pedro V Theater at Largo de Santo Agostinho street.
It was appearance of Grand Lisboa Hotel which very famous in Macao.

I had to find and immediately get on bus no 9A before I was caught in the dark when returning from The Venetian on afternoon. I turned right to go through Avenue Da Praia Grande road and then crossed to Avenue Dr. Stanley Ho which I assumed as location of bus stop which I was looking for.

I was very glad, when I find bus stop which I mean at that road. That bus stop name is Praca Jorge Alvares bus stop. 10 minutes later, I was in bus no. 9A which leads to Macao Tower.

Entering bus with full of sweat after walking under sunlight for 15 minutes in Macoa’s hot streets.

In 7 minutes, I got off in a large courtyard in front of Macao Tower.

That tower was too high to fit in my handphone photo frame. Many times trying and still failing, the tower couldn’t completely captured. I had to capture it from another point.

Heat of the sun forced me to momentarily enter a building which have function as a toilet around Macao Tower courtyard.

That fan helped to cooling my body from hot weather.
Toilet
Toilet for people with disabilities.

Towards Macao Tower backyard, I tried to find lush trees to more freely enjoy beauty of tower.

Found a tree and casually sat underneath.

I deliberately waited for the sun which prepare to glide at dusk. And excitement came. More the sun sank, so more Macao resident came in courtyard where I sat in it.

From many local people who were active in backyard, I was more stunned by a beautiful young athlete who was accompanied by her trainer who was wearing a stopwatch. Push-ups, sit-ups and sprints are her lessons which must be devoured every second.

Finally, temperature had decreased. I hurriedly left my seat which located next to water pool in tower’s backyard.

Photo taken from behind of tower.

Move to frontyard and directly saw bungee jumping activity, which participants were thrown from top of tower. You need to know that this 338 meter high tower, besides being used for observation and entertainment, is also used for telecommunications and broadcasting.

As far as I know, bungee jumping at Macao Tower costs tens of USD.

Front gate of Macao Tower.

At exactly 15:30, I began to leave the tower and waiting for arrival of bus no MT4 at Torre/Tunel Rodoviarios bus stop at left side of Macao Tower front yard.

I headed for my last destination in Macao….The Venetian.

5 Macao’s Tourist Attractions in 24 hours

Macao is 10th country that I visited. Starting from getting for Cebu Pacific Airlines’ promo ticket worth USD 38 which accidentally drove me to Manila. And instead of buying return ticket from Manila which was very expensive, it was better to go home from Shenzhen (China) because Tiger Air offered cheaper return ticket.

In Manila to Shenzhen trip, I was stranded in Hong Kong and Macau. Fortunately didn’t for long time….Only 48 hours in Hong Kong and 24 hours in Macau.

After writing 48 hours story in Hong Kong. So now, I will tell about what did I visited for 24 hours in Macao.

1. Outer Harbour Ferry Terminal

That moment arrived when I chose to use TurboJet Ferry to leaving Hong Kong. On exactly 8:55 hours and in distance about 70 km from Hong Kong, I arrived at ferry terminal located in east of Macao island.

At outside building, this port has a name in Portuguese, namely Terminal Maritimo de Passageiros do Porto Exterior. Portuguese scripts are very commonly seen throughout Macao. This was happen because for 4 centuries, China rented Macao to Portuguese to be used as a trading port.

If on Google maps, there are terms i.e Macao Maritime Ferry Terminal, Macao Ferry Terminal or Hong Kong Macao Ferry Pier then thar are different names for a same place, i.e Outer Harbor Ferry Terminal.

So if you are docked at this ferry terminal then just enjoy being there.

2. Senado Square

I deliberately chose a dormitory near Ruins of St. Paul complex. Because in this complex, there are two leading tourist destinations namely Ruins of St. Paul and Senado Square. So that, I could freely explore both of them by walking.

Immediately putting my backpack in Villa Ka Meng Hotel after getting down bus on Avenue de Almeida Ribeiro street closed to Ponte Cais No. 16. And after enjoying breakfast at Loulan Islam restaurant, I rushed to Senado Square

Senado Square itself is a square which was built since 1918. It is shopping tourism for branded goods hunters to street food ones. Being one of UNESCO’s heritage, Senado Square offers great views of classic buildings which were built from Chinese and Portuguese culture aculturation along its sides.

3. Ruins St. Paul

Leaving Senado Square, the next closest destination which I visited was ruins of a cathedral called Ruins of St Paul. If you go to Macao and haven’t take a picture in front of Ruins St. Paul, then your trip would feel like it isn’t “legal”. Therefore this place was the busiest destination which visited by tourists during my journey to Macao.

Ruis St. Paul was originally a Portuguese cathedral which built in 16th century. It is also a UNESCO’s world heritage site when it became a historical conservation after a great fire in 1959. The iconic part which is often be a photo object by tourists is remaining front gate of cathedral.

4. Macao Tower

Ruis St. Paul to Macao Tower was a route which made me stucked for some time in Avenue Da Praia Grande street. Focus and fast understanding of complex and massive Macao bus route, I finally found a bus stop which passed by city bus no. 9A towards Macao Tower.

“A 338 meters in high” tower offers observation deck tours, restaurants, theaters, malls and bungee jumping activities. While in tower park, there is a plaza and a pool for sport activities or just for spending time in afternoon for Macao residents.

5. The Venetian

Perception of The Venetian’s grandeur made my visitation in Macao Tower wasn’t focus. I seemed to be in a hurry to immediately enjoy The Venetian. Curiosity to entering the biggest casino in Macao and even one of the biggest in the world, made me to want to immediately go there. Besides casino, one thing which I always remembered about The Venetian is gondola rides which would take us to the tourism nuances in Venice, Italy.

It is an integration of two functions, namely luxury hotel and casino. This 39-storey building is located on reclaimed island of Cotai and is affiliated with The Venetian Las Vegas.

And then….I completely visited those five destinations within 14 hours of exploration in Macao. I spent remaining time to took a rest and sleeping in a hotel to recover my body condition after a few days before exploring Manila and Hong Kong.

It is very crazy….

Ferry from Hong Kong to Macao

My 48 hours adventure in Hong Kong must end.

Early morning, I packed my things. After filling my drinking bottle in hotel’s water dispenser, I had to fight with fully effort to wake the receptionist up who was snoring behind room curtain. Don’t you imagine how luxury of its reception desk….Because a hotel reception is only a small room with a hole interaction between guests and hotel receptionist with 1 square meter in size.

And his snoring was swallowed when he woke up because of the bell disturbance from me. I didn’t know if he was angrily muttering or maybe he was just shocked because of his Chinese idiom which I didn’t understand. While muttering, he tried to find an envelope filled with money in desk drawer to returning a room deposit money to me. Not bad, 100 Hong Kong Dollars.

Exiting Chungking Mansions in a still dark street, I walked fast enough to immediately enter Tsim Sha Tsui underground station which is located 100 meters from Chungking Mansions exit.

With Tsuen Wan Line MTR, I headed for Central Station then continued with Island Line MTR and stopped at Sheung Wan Station which is integrated with Hong Kong-Macau Ferry Terminal.

Hong Kong-Macau Ferry Terminal is a regular ferry port with route from Hong Kong-Macao Ferry Terminal in Hong Kong to Outer Harbor Ferry Terminal in Macao.

Within 16 minutes and a fare about USD 0.75, I arrived at Sheung Wan Station. I immediately headed to ticket counter to withdraw my Octopus Card deposit for about USD 6.50 stored in it. “The Octopus” duty to accompany me was completed because I was at ferry gate to leave Hong Kong.

Ferry departure schedule.
First time to ride a fast boat.

After buying a ferry ticket to Macao, the price was about USD 21.30, I immediately approached a money changer to exchange Hong Kong Dollar for Macao Dollar.

TurboJet ticket.

Not a long waiting, on exactly 08:00 hours, I began boarding to red speed boat. And a moment later, TurboJet ferry sailed towards Macao.

Ferry interior.
She was beautiful….Hahaha.

Sailing in middle of a light drizzle and continuing to swing across waves made me amazed watching waters of South China Sea. There wasn’t compliment of any food in this short cruise for 55 minutes. I just kept facing window to see amazing view outside ferry.

I was freezing.
Cool yes….

Giant pillars which supporting Macau-Taipa Bridge are a sign that ferry is moving closer to Outer Harbor Ferry Terminal. Macao has a very famous road upper the sea. And I could enjoy its beauty from other side. Even though in the end, I would pass that street later when I went to a famous Macao hotel and casino, The Venetian.

That is the bridge….
Anchoring at Outer Harbor Ferry Terminal, Macao.

Let’s find your ferry tickets on 12Go at the following link: https://12go.asia/?z=3283832

The Venetian….Kuliner, Piknik dan Judi.

Judi dan Casino adalah dua hal yang sangat identik dengan Macau. Jadi kalau kamu ke Macau dan tidak melihat casinonya maka itu tidak syah.

Gampang kok….

Mau judi beneran?….Monggo. Siapa tahu kamu pulang dari Macau menjadi kaya raya.

Atau….

Hanya mau lihat-lihat orang main judi di casino?….Silahkan, ga ada yang ngelarang.

Satu hal ketika kamu jalan-jalan ke Macau….Segera putuskan !. Casino manakah yang akan kamu kunjungi. Hal ini dikarenakan sangat melimpahnya jumlah casino di sana.

Kalau aku, karena hanya penasaran dengan wujud casino yang sesungguhnya maka kuputuskan untuk berkunjung ke The Venetian.

Kenapa The Venetian?

Yes, aku akan menutup eksplorasiku dengan makan malam disana, lalu melihat gondola untuk merasakan sensasi wisata Venice, Italia dan terakhir akan kututup eksplorasiku dengan melihat orang berjudi di casino….The Venetian bisa memenuhi ketiganya. Jadi kupilihlah dia.

Suasana Natal di The Venetian.

—-****—-

Kali ini aku mendapatkan busnya dengan mudah, cukup berbelok ke kiri dari pelataran Macao Tower maka aku mendapatkan sebuah halte bus (Halte Torre/Tunel Rodoviarios) dan aku menunggu bus kota bernomor MT4. 

Dengan membayar ongkos bus sebesar Rp. 7.000, aku berhasil mencapai The Venetian dalam 15 menit waktu tempuh.

Aku melihat bus berwarna biru lalu lalang di depan lobby The Venetian. Aku pun faham bahwa aku akan menaikinya nanti selesai mengeksplore The Venetian. Ya, itu bus gratis milik The Venetian untuk mengambil wisatawan dari Outer Harbour Ferry Terminal.

Mengagumi gaya klasik bagunan The Venetian ketika aku mulai menapak masuk di bangunan itu. Kelaparan yang menyerangku sejak meninggalkan Macao Tower membuatku langsung bergerak ke lantai 5 ketika memasuki The Venetian.

Mengelilingi food court, aku berusaha mencari menu termurah untuk dinner ku kali ini. Memastikan dengan berkelilling dua kali sebelum aku melepas Rp. 93.000 untuk seporsi nasi goring dan Rp. 20.000 untuk setengah liter air mineral….Mahal ampuuuuuunnnn.

Tak sampai habis melahapnya karena porsinya yang begitu besar, kemudian aku mencari keberadaan gondola ala kota Venice untuk membunuh rasa penasaranku yang muncul sejak menonton wahana tersebut di sebuah acara televisi beberapa bulan sebelum keberangkatanku ke Macau.

Inilah sungai buatan di The Venetian untuk wisata gondola.

Kamu hanya perlu merogoh kocek sebesar Rp. 225.000 untuk menikmati wisata ini.

Aku begitu larut menikmati keindahan The Venetian, berkeliling di setiap koridor pertokan yang menyediakan produk-produk ber merk.

Pertokoan di The Venetian.
Pertokoan juga.

Selangkah kemudian aku tepat berada di depan pintu masuk casino. Target destinasi utama yang akhirnya ku kunjungi pada sesi penutup wisataku di Macau.

Memasuku casino di The Venetian cukuplah mudah, hanya perlu menunjukkan passport kepada petugas keamanan di pintu depan maka kamu akan melenggang masuk dengan mudahnya.

Bak berada di film-film Hong Kong zaman dahulu, aku menelusuri setiap sisi casino untuk melihat bagaimana cara orang berjudi di casino. Di setiap meja selalu satu bandar yang selalau menawariku untuk bermain judi. Tentu aku tak akan pernah melakukannya. Aku hanya tersenyum simpul setiap menanggapi permintaan mereka untuk berjudi.

Penutup yang sangat istimewa. Akhirnya aku bisa melihat secara langsung casino di Macau. Semakin gelapnya hari mengharuskanku untuk meninggalkan The Venetian.

Seperti yang kuungkapkan diatas, Aku tak akan melewatkan satu sesi lagi yaitu menaiki shuttle bus gratis yang disediakan oleh hotel-hotel besar di Macau. Kali ini aku menaiki free shuttle bus berwarna biru milik The Venetian. Aku menuju Outer Harbour Ferry Terminal menggunakan shuttle bus ini.

Dari Outer Harbour Ferry Terminal aku melanjutkan perjalanan pulang ke hotel menggunkan bus no 10A seperti yang kulakukan ketika pertama kali tiba di Macau. Dengan tariff Rp. 5.500, aku tiba kembali di Villa Ka Meng Hotel untuk beristirahat dan melanjutkan perjalanan esok hari ke Shenzen menggunakan ferry cepat.

Bye The Venetian….Bye Macao.

Macao Tower….Tak Sekedar Bungee Jumping.

Tak semudah yang dibayangkan membaca denah transportasi umum Macau. Karena itu pulalah, aku tak kunjung menemukan bus nomor berapa dan halte di jalan mana yang bisa memindahkanku dari Ruins St. Paul menuju Macao Tower yang jarak buminya sekitar 3,5 km

Menyusuri jalanan sempit di sekitar Ruins St. Paul untuk mencari halte bus.

Setiap halte yang kutemui, aku selalu mencari keberadaan rute bus no. 9A tapi tak kunjung juga kutemukan….Guwe bukan nyasar….Hanya sedikit mengalami disorientasi.

Aku terduduk lama di sebuah halte….lupa di jalan apa?….Duduk menenangkan diri dan berusaha memahami lembaran  peta bus yang cukup lebar. Setiap orang yang datang ke halte, memperhatikan wajahku yang tentu berbeda warna dengan mereka.

Sepertinya Aku mulai memahami rute itu setelah sekian lama memeloti detail isi peta.

Dipandu oleh kompas kecilku, aku mulai melangkah ke selatan….Aku berusaha untuk tidak berbelok dari ruas jalan Largo de Santo Agostinho yang kutahu akan mengantarkanku di sebuah halte bus yang akan dilewati oleh bus no 9A.

Tak kusangka akan melewati Dom Pedro V Theatre di jalan Largo de Santo Agostinho.
Itu penampakan Grand Lisboa Hotel yang sangat terkenal di dataran Macao.

Aku harus segera menemukan dan menaiki bus itu sebelum terjebak gelap ketika pulang dari The Venetian sore nanti. Aku berbelok ke kanan untuk menyusuri jalan Avenue Da Praia Grande dan kemudian menyeberang ke jalan Avenue Dr. Stanley Ho yang kuduga menjadi letak halte bus yang kucari.

Girang bukan main, ketika aku menemukan halte yang kumaksud di jalan tersebut. Nama halte tersebut adalah Shelter Praca Jorge Alvares. 10 menit kemudian aku sudah berada di dalam bus no. 9A yang mengarah ke Macao Tower.

Memasuki bus penuh dengan keringat setelah berjalan dalam siraman sinar matahari selama 15 menit di jalanan Macau yang panas.

Dalam 7 menit aku turun di pelataran luas di depan Macao Tower.

Tower itu terlalu tinggi untuk dimasukkan ke dalam frame foto handphoneku. Berkali-kali mencoba dan tetap gagal, menara itu tak bisa masuk seutuhnya. Aku harus mengambilnya dari titik yang lain.

Teriknya surya memaksaku untuk sejenak memasuki bangunan yang berfungsi sebagai toilet di sekitar pelataran Macao Tower.

Kipas angin itu membantu mendinginkan badanku karena kapanasan.
Ruang dalam toilet
Toilet untuk kaum disabilitas.

Menuju pelataran belakang Macao Tower, aku berusaha mencari pepohonan yang rimbun untuk menikmati keindahan menara itu dengan lebih leluasa.

Menemukan pohon dan duduk santai dibawahnya.

Aku sengaja menunggu surya yang bersiap meluncur dalam senja. Dan kegembiraan pun datang. Semakin turun sang surya semakin berdatangan pula masyarakat Macau di pelataran tempatku duduk.

Dari sekian banyak warga lokal yang beraktifitas di pelataran itu, aku lebih tertegun pada seorang atlet muda nan cantik yang sedang di dampingi pelatihnya yang berkalung stopwatch. Push up, sit up dan lari sprint menjadi pelajaran si cantik yng harus dilahapnya tiap detik berjalan.

Kian lama, suhu udara semakin menurun. Aku bergegas meninggalkan tempat duduk yang berada di sebelah kolam air di pelataran belakang tower.

Foto diambil dari belakang tower.

Berpindah ke pelataran depan untuk melihat secara live aktivitas bungee jumping yang pesertanya dilempar dari atas tower itu. Perlu kamu ketahui bahwa tower setinggi 338 meter itu, selain digunakan untuk observasi dan hiburan, juga digunakan untuk telekomunikasi dan penyiaran.

Setahuku, untuk ber bungee jumping di Macao Tower memerlukan biaya hingga jutaan Rupiah.

Macau Tower tepat di pintu depannya.

Tepat pukul 15:30 aku mulai meninggalkan tower dengan menunggu kedatangan bus nomor MT4 di halte Torre/Tunel Rodoviarios di sebelah kiri pelataran depan Macao Tower.

Aku menuju destinasi terakhirku di Macau….The Venetian.