Souq Faleh….Salah Satu yang Tertua di Qatar

Matahari sedang giat menanjaki puncaknya, udara mulai menghangat, mengikis rasa dingin pelan-pelan dari telapak tangan dan guratan muka.

Aku meninggalkan Al Ghanim Bus Station…..

Hello, Filippino”, tiga Qataris petugas Mowasalat menyapaku di gerbang luar terminal.

Hi, Sir”, jawabku singkat sambil membatin “Alhamdulillah aku dikaruniai muka ajaib yang cocok dengan muka berbagai bangsa Asia”. Membuatku seperti bunglon yang pandai menyesuaikan diri.

Al Ashat Street tak lagi menyemburkan debu, kini kumpulan partikel halus itu menyerpihi setiap sudut jalanan. Berdebunya jalanan Qatar, tak bisa dijustifikasi “kotor”, justru itulah yang menjadi identitas negara-negara teluk yang bisa dinikmati para wisatawan.

Setiap bangunan bertingkat di sisi kiri kanan jalan seragam berwarna coklat pasir, sama seperti Kuwait, yang beberapa hari sebelumnya kulihat dari udara.

Kini aku sudah di tepi Banks Street, jalan utama tiga jalur di setiap sisi arahnya dan dipisahkan dengan pagar kawat stainless dengan berbagai bunga hidroponik aneka warna di dasar pagar. Jalan utama ini lancar mengalir tanpa kemacetan.

Aku sedikit was-was menyeberang di Ali Bin Abdullah Street karena arus kendaraan begitu cepat dan tentu bukan datang dari arah kanan seperti layaknya arus di Indonesia. Aku tak pernah menyeberang sebelum genap menoleh ke kedua sisi, trauma pada kisah masa lalu yang hanya sekian inchi saja hampir tersambar kuda besi di Phnom Penh dan Bandar Seri Begawan.

Di ujung blok kedua, tepatnya di jalur kecil Al Tarbiya Street aku menikung ke kanan untuk menemukan Al Fanar Mosque, bangunan ibadah yang terintegrasi dengan Abdullah Bin Zaid Al Mahmood Islamic Cultural Center.

Al Fanar Mosque….Bangunan ikonik berminaret spiral dan berjendela biru langit.

Bukan itu yang menjadi topik bahasan kali ini. Tapi pada bangunan persegi dua lantai yang penuh dengan signboard di lantai dasarnya. Inilah salah satu pusat perbelanjaan tertua di Qatar. Tersohor di era 1970-an, Souq Faleh masih menjadi minat tersendiri bagi warga Qatar untuk berbelanja. Mungkin Souq Faleh memiliki masa jaya yang bersamaan dengan Sarinah Thamrin Plaza di Jakarta.

Souq Faleh dari kejauhan.

Inilah perpaduan pasar tradisional dan mall modern. Bentuknya yang mungil dan eksisnya kegiatan tawar-menawar adalah ciri khas tradisional sedangkan bangunan besar mall adalah sisi modernnya.

Secara umum, pusat perbelanjaan ini menyediakan kios-kios penjual Abaya (pakaian wanita khas Timur Tengah), parfum berkualitas baik, telepon genggam, arloji, perhiasan emas dan perak, alat tulis kantor dan mainan anak-anak.

Yuk kita intip beberapa spot di Souq Faleh:

Kios sprei dan kaftan asal Pakistan.
Kios penjual mainan anak-anak dan tas.
Kios penjual kain-kain bermotif tradisional khas Timur Tengah.

Secara konektivitas, Souq Faleh bisa dicapai siapapun dengan mudah, karena terletak di dekat Al Ghanim Bus Station dan Stasiun MRT Souq Waqif.  Taka da salahnya untuk mampir disini karena letak strategisnya yang diapit oleh Souq Waqif dan Doha Corniche.

Kunjungan yang tak lama di Souq Faleh ini tertutup sempurna oleh lantunan suara adzan yang bersumber dari Domes Mosque. Masjid tua yang berjarak 100 meter di timur Souq Faleh.

Yuk Shalat Dzuhur dulu !

Doha Old Mosque….Orang memanggilnya Domes Mosque.

Al Ghanim Bus Station, Terminal Sentral Kebanggaan Qatar

Seperti yang kukisahkan di awal, jika kamu membedah seisi Qatar menggunakan Karwa Bus maka secara otomatis kamu akan berhilir mudik di sebuah terminal sentral di kota Doha yaitu Al Ghanim Bus Station.

Aku sendiri yang adalah backpacker penggila bus kota dan selama di Qatar tercatat selama tujuh kali dalam lima hari, aku menyambangi terminal bus yang menjadi kantor pusat Mowasalat (perusahaan transportasi negara Qatar).

Tak cukup besar, secara ukuran, Al Ghanim Bus Station masih kalah luas dengan Terminal Tirtonadi di Solo atau Terminal Kampung Rambutan di Jakarta Timur. Bayangkan saja, terminal ini layaknya terminal bus di kota-kota kecil pulau Jawa….Terminal Tidar di Magelang misalnya….Ya, segitulah perkiraanku.

Aku sekejap memaklumi, tak butuh terminal yang besar untuk melayani wilayah negara Qatar yang hanya dua kali luas Pulau Bali.

Menunggang Karwa Bus No. 12, perjalanan perdana menuju Al Ghanim  Bus Station.

Siang itu, panas surya beradu kuat dengan rendahnya suhu udara yang bertiup di Semenanjung Qatar. Pasir-pasir halus penuh kesumat memanfaatkan arus angin untuk menghajar mukaku tanpa ampun. Tapi kini aku telah memakai rayban yang membuatku melangkah gagah nan penuh gaya di jalanan Doha.

Bermula dari Casper Hotel, aku membelah kota di dalam kotak besi berjalan sejauh lima kilometer dan tiba dalam setengah jam di Al Ghanim Bus Station. Tak mahal, hanya Rp. 10.000 saja untuk diserahkan ke tap machine Karwa Bus.

Al Ashat Street tepat di depan terminal.
Mungil, rapi dan minim polusi.
Tak ada yang berteriak mencari penumpang….Very silent.

Fasilitas

Tiba di terminal, aku tak terburu meninggalkannya begitu saja. Kubiarkan waktuku sedikit terbuang hanya dengan berduduk manis di sebuah kursi tunggu berbahan kayu bercat putih. Mengamati wajah Qataris yang mayoritas adalah pegawai pemerintahan, wajah Filipino yang bekerja di sektor formal atau wajah Asia Selatan yang entah dari Nepal, India, Bangladesh atau Sri Lanka yang tampak bekerja di sektor non-formal. Kesemuanya berlalu lalang dengan kesibukannya masing-masing,  bergerak seirama dalam menggerakkan ekonomi Qatar.

Kursi tunggu terminal….Bagi yang kuat menahan dingin silahkan berlama-lama disini.
Yang tak kuat dingin, bolehlah membeli Karak (teh tarik) di kantin pojok itu.

Terminal ini melayani hampir seluruh rute bus, yang keluar atau menuju Doha. Setiap rute berjeda keberangkatan 20-30 menit. Terminal beroperasi dari jam 4 pagi hingga tengah malam.

Toilet ada di ujung barat depan, berstruktur container box dan harus menaiki beberapa anak tangga. Terminal juga menyiapkan ruang tertutup yang cukup efektif untuk menghangatkan badan sembari menunggu keberangkatan bus.

Ruang tunggu tertutup terminal.

Sementara beberapa Ticketing Vending Machine disediakan di sebelah ruang tunggu tertutup, sehingga setiap pengguna jasa Karwa Bus dapat leluasa mengisi ulang Karwa Smartcardnya disini.

Di beberapa tiang terminal tercantum dengan jelas setiap peta rute Karwa Bus, sehingga sangat membantu penumpang yang belum memahami keseluruhan wilayah Qatar dalam menemukan jalur bus yang tepat ke setiap tujuan yang disasarnya.

Rute Karwa Bus No. 11.

Itulah profil singkat dari Al Ghanim Bus Station yang terletak di Municipality Ad Dawhah. Tertarik berkunjung?

Rute langganan untuk pulang menuju Casper Hotel.