Mohammed Bin Jassim House: Merancang Kota Masa Depan

Sisi samping kiri Mohammed Bin Jassim House.

Staff Museum   :     “Hello, how many part of museums which you have visited, Sir?

AKu                       :     “Just two….Company House and Bin Jelmood House, Ms”.

Staff Museum   :     “Oh, you on right step. Now you are in Mohammed Bin Jassim House. It will tell you about old Msheireb and the modern one”.

Aku                        :     “Sounds pretty good”.

Staff Museum   :     “Is that your own camera? Are you professional?

Aku                        :     “Yes, my camera. I’m a travel blogger. Is it okay to bring inside?

Staff Museum   :     “Oh sure. Enjoy your visitation, Sir”.

—-****—-

Galeri ini didedikasikan untuk warga asli Msheireb. Koleksi di dalamnya menggambarkan kehidupan sehari-hari di Msheireb yang bisa dikenang oleh generasi muda Qatar dan juga para pekerja asing yang bekerja di negeri kaya minyak itu.

Tanah liat sebagai bahan konstruksi bangunan tempoe doeloe.

Pada masa awal peradaban Qatar, penduduk menggunakan gurun untuk beternak, tetapi lama kelamaan mereka membuat area khusus untuk perumahan. Sejarah dimulaiketika penduduk asal Al-Jassra mendirikan pemukiman di Msheireb. Konstruksi rumah mereka pada awalnya menggunakan batu dan tanah liat sebelum mengenal gypsum dan batu bata.

Sesi “Religious Events and Celebrations

Peralatan rumah makan masa lalu.

Pada masa awal Msheireb, penduduk sering merayakan hari raya keagamaan, seperti Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri. Festival diselenggarakan untuk memeriahkannya, restoran akan dibuka hingga lewat tengah malam dan rumah-rumah akan membuka pintunya.

Penduduk menggunakan drum untuk membangunkan masyarakat menjalankan sahur di pagi hari dan menggunakannya untuk bernyanyi musik religi di malam hari. Lalu, Idul Fitri ditetapkan dengan bulan sabit yang terlihat di Saudi Arabia. Saat itu Saudi Arabia belum memiliki siaran radio dan televeisi. Berita akan didapat warga Qatar dari Bahrain.

Saat Idul Fitri , warga akan menari Tanbora, Laywa, Fajery, dan Haban. Banyak sekali tarian tradisional kala itu.

Sesi  “Electricity

Papan nama jalan dan beberapa peralatan listrik pertengahan 1950-an.

Generator listrik pertama Doha di pasang di Company House pada akhir 1930-an. Lalu pada pertengahan 1950-an, pembangkit listrik dibangun di kota dan kabel listrik bawah tanah mulai dipasang. Jalur yang di lewati oleh kabel bawah tanah ini kemudian diberi nama Al-Kahraba Street (“Al-Kahraba” sendiri berarti “kelistrikan”). Kemudian Al-Kahraba Street ini ramai dengan pertokoan yang menjual alat-alat listrik.

Dikisahkan warga Doha rapi duduk di kursi ketika Emir mereka Sheikh Salman melakukan pemotongan pipa untuk meresmikan pembangkit listrik pertama mereka.

Al-Kahraba Street menjadi nadi kehidupan Qatar. Sepanjang siang dan malam selama bulan Ramadhan  jalan itu menjadi juaranya cahaya. Dan orang-orang dari Al-Rayyan sengaja datang hanya untuk melihat jalanan itu.

Dikisahkan oleh seorang warga bernama Hassan Rasheed bahwa televisi pertama yang dia beli berasal dari jalan Al-Kahraba bermerk “Andrea”, bentuknya seperti almari kecil, almari itu harus dibuka dahulu untuk melihat layarnya.

Sesi “Shopping and Eating

Papan nama toko dan usaha jasa lainnya, termasuk peralatan yang digunakan.

Antara tahun 1950-1990, Distrik Msheireb berkembang dan penuh sesak dengan bangunan komersial. Banyak usaha-usaha baru dan pertama kali muncul disana seperti hotel pertama, bank pertama, apotik pertama, kedai kopi pertama dan tempat menikmati minuman dingin pertama. Warga dapat membeli perlengkapan dan peralatan, televisi, kain sari dan sepatu di sini. Penjahit, tukang pangkas rambut, ahli optik, tukang daging, dokter, dokter gigi, kedai penjual ayam dan cafe-cafe sangat berkontribusi meramaikan Msheireb.

Salah satu warga mengatakan bahwa jalanan Msheireb sangat meriah, ada Al-Nasr Fountain, apotik milik Hussain Al-Kazim, toko-toko dan restoran-restoran Lebanon, perpusatakaan dan toko buku  Al-Tilmeethe yang dimiliki Abdullah Naima. Di pojok jalan ada penjahit khusus jas. Bank pertama di Doha adalah The Ottoman Bank dan landmark utama kala itu adalah The Bismillah Hotel.

Warga bernama Abdullatif Al-Nadaf berkata: “Jika kamu memerlukan sesuatu yang tidak ada di Doha maka kamu akan menemukannya di Al-Kahraba Street”.

Sesi “Schools, Healthcare and Security

Perlengkapan pembelajaran di sekolah dan peralatan medis.

Untuk memastikan anak-anak Qatar dapat berkontribusi dalam pengembangan industri perminyakan Qatar dan pertumbuhan ekonomi bangsa, pada September 1947 didirikan sekolah modern pertama bernama Al Islah Al Mohamadia. Sedangkan Bin Jelmood House dimanfaatkan sebagai kantor kepolisian Qatar pada tahun 1950an. Rumah sakit legendaris di Qatar adalah Rumaillah Hospotal yang dioperasikan sejak 1956, dibuka dengan 200 tempat tidur dengan layanan ambulan dan fasilitas rawat jalan.

Sesi “Msheireb Downtown Doha

Desain modern di MDD.

Selanjutnya dijelaskan sebuah sesi mengenai Msheireb Downtown Doha (MDD) sebagai Proyek Regenerasi Kota Berkelanjutan  di Kawasan Msheireb.

Dibawah kepemimpinan Yang Mulia Sheikha Moza binti Nasser, Msheireb Properties yang merupakan anak perusahaan Qatar Foundation membangun distrik perkotaan dimana para warga negara Qatar dan ekspatriat akan tinggal, bekerja, dan bermasyarakat.

Di dalam sesi MDD inilah kita akan belajar bagaimana patron, perencana, arsitek dan insinyur secara hati-hati menginterpretasikan lagi arsitektur asli Msheireb, konstruksi yang berkesinambungan dengan tradisi masyarakat, komersialisasi dan inovasi untuk menciptakan kawasan modern tetapi tetap berakar kuat pada sejarah dan menciptakan sense of place.

Old Msheireb sangat popular dengan aktivitas bisnis. Toko-toko dan restoran dibangun di sepanjang jalan utama.  Membuat distrik ini populer untuk tinggal dan untuk dikunjungi siapa saja. Sejak pertokoan dibuka pertama kali pada awal 1950-an, Doha memainkan peran penting,  tidak hanya untuk pertumbuhan ekonomi Qatar tetapi bahkan untuk ekonomi global. Doha saat ini menjadi tujuan bisnis yang menjanjikan dan destinasi wisata bagi para pelancong di seluruh dunia.  Dan Msheireb Downtown Doha akan memainkan peranan penting dalam mempertahankan keunggulan komersial kota.

Di ujung selatan Al-Kahraba Street telah menjadi distrik bisnis baru  dengan perkantoran, bank, restoran dan cafe.  Dan di dalam distrik bisnis ini, Doha Metro akan mengambil penumpang menuju West Bay dan Hamad International Airport.

Diperkirakan jika proyek pembangunan Msheireb Downtown Doha selesai, lebih dari 2.000 warga akan menempati wilayah seluas 31 Ha. Warga akan berbaur dengan ribuan pekerja, konsumen komersial dan para wisatawan.

Meskipun skala MDD sangat luas, MDD akan membangkitkan keintiman Old Msheireb. Jalur pejalan kaki akan terkoneksi langsung dengan Souq Waqif. Keseluruhan MDD akan terhubung dengan jaringan jalan bawah tanah dan parkir bawah tanah yang akan membuat area jalanan sangar ramah buat para pejalan kaki.

Tradisi inovasi MDD juga memberikan solusi dari tiga tantangan Old Msheireb yaitu kemacetan lalu lintas, pengelolaan sampah dan konservasi air. MDD akan memiliki 12.000 slot parkir bawah tanah yang akan menghapus kemacetan dan menciptakan lingkungan yang ramah untuk para pejalan kaki. Sistem pembuangan sampah yang canggih akan mendaur ulang sampah dari sumbernya dan akan dibuang melalui pipa bawah tanah. Sekitar enam juta liter air daur ulang akan digunakan sehari-hari untuk menyiram toilet, mengairi tanaman, dan akan menjadi pendingin bangunan-bangunan di MDD.

Koridor di Mohammed Bin Jassim House.

Inovasi yang sama akan memproduksi air panas dan listrik melalui ribuan sel tenaga surya yang dipasang di setiap atap bangunan.

Ada tujuh langkah yang membuat bangunan-bangunan di MDD menjadi khas:

  1. Berkesinambungannya masa lalu, masa sekarang dan masa depan melalui motif desain kota yang abadi.
  2. Kehamonisan dan keberagaman melalui bahasa arsitektur yang diterima semua kalangan.
  3. Pengaturan bangunan informal yang mencerminkan pemandangan kota Msheireb yang orisinil
  4. Lingkungan tempat tinggal yang menyediakan privasi, keamanan, area indoor dan outdoor, semangat kekeluargaan dan kepedulian masyarakat.
  5. Membuat kehidupan jalanan yang bersemangat dan mampu membuat nyaman pejalan kaki dan menyediakan menyediakan ruang-ruang teduh.
  6. Kenyamanan maksimum dengan konsumsi energi minimum melalui teknologi tradisional dan modern dengan memanfaatkan energi dan melestarikan sumber daya alam.
  7. Kelestarian desain Qatar melalui bahasa arsitektur baru yang terhubung dengan desain masa lalu.

Desain dan layout bangunan-bangunan lama Msheireb sangat menghargai lingkungan dengan meminimalisir efek matahari, memaksimalkan ventilasi dan menggunakan material lokal. Praktek-praktek tradisional ini tetap diimplementasikan pada pengembangan MDD. Desain dan layout MDD dibuat dengan memanfaatkan naungan matahari  dan tiupan angin pantai. Material konstruksi diambil dari sumber-sumber lokal. Energi terbarukan memanfaatkan panel-panel surya di atap bangunan. Air bersih akan terselamatkan dengan penggunaan yang efisien di setiap keran dan shower. Sedangkan air daur ulang akan dimanfaatkan untuk irigasi dan keperluan lainnya.

MDD akan mengurangi ketergantungan masyarakat pada kendaraan. Sebagai contoh, distrik ini akan bersahabat untuk para pejalan kaki, akan mudah, aman dan nyaman ketika berjalan dari dari satu tempat ke tempat lain dalam naungan pepohonan dan diselingi taman. Distrik akan menyediakan rute buat pesepeda dan bus. Doha Metro akan menghubungkan Msheireb dengan wilayah lain. Daur ulang sampah yang tersentralisasi  akan menghilangkan kebutuhan akan truk-truk sampah yang memasuki kota.

Bin Jelmood House: Kisah Perbudakan yang Menyayat Hati

Bagian kedua dari Msheireb Museum adalah Bin Jelmood House.

Siapakah sosok Bin Jelmood?….Dia adalah pedagang budak terkenal di Doha pada masa perbudakan masih berlangsung. Dia sering dikenal dengan sebutan “The Rock”, merujuk pada pendirian dan kekerasan hatinya kala itu.

Eh, edisi ini lebih serius dari edisi Company House, ya temans….Bersiaplah membaca lebih khusyu’.

Yuk, kita mulai masuk!….Panas di luar, tauk.

Di awal penjelajahan Bin Jelmood House, aku memasuki sebuah ruang audio visual yang menceritakan masa perdagangan budak dari Afrika ke Eropa.

Bentuk rumah Doha zaman dahulu, halaman berada di tengahnya.
Dikisahkan…Eropa di Abad Pertengahan dimana perbudakan didukung oleh sistem sosial yang disebut dengan SERFDOM.

Kala itu, para budak dipakaikan aksesoris khusus berupa gelang bernama Manilla dan fakta yang telah menjadi sejarah bahwa satu diantara empat warga Athena akan menjadi budak dan dipekerjakan di ladang zaitun. Di belahan dunia lain, Syria, terdapat kontrak perbudakan antara pembeli dan penjual budak.

Sesi “The Indian Ocean World”.

Peradaban di Afrika dan Asia khususnya India, Timur Tengah, dan Sriwijaya (Indonesia) berkembang melalui Samudera Hindia.

Dalam sejarah maritim Samudera Hindia, barang dan budak diperdagangkan antara negara-negara di Afrika dan wilayah Teluk. Sementara antara India dan Asia Timur, barang dan budak diperjualbelikan melalui Jalur Sutra (jalur ini memiliki dua rute, darat dan laut). Salah satu gambar di museum memperlihatkan ekspor oxen (lembu) dari Madagaskar ke Mauritius.

Kejadian di belahan timur dunia juga digambarkan dalam foto hitam putih, yaitu tentang kegiatan Hindia Belanda pada ekspor rempah-rempah di Pelabuhan Jakarta pada tahun 1682, sementara di India, kapal-kapal dagang membawa opium dari Calcutta menuju Tiongkok

Sesi “Slavery in The Indian Ocean World

Kisah para budak yang melegenda ada di sini.

Perbudakan sangat marak dilakukan pada masa sebelum Islam, dimana budak dari Mesir, Mediterania Timur dan Afrika dijual ke Mekah dan Baghdad yang merupakan pasar utama budak di Timur Tengah. Salah satu kisahnya adalah tentang budak terkenal bernama Antarah bin Shaddad Al-Absi yang dilahirkan oleh budak Ethiopia dengan bapak seorang pemimpin Bani Abas. Kemudian kisah Abdullah Ibn Abi Quhafa (Abu Bakar Ash-Shidiq) yang menjadi figur penting dalam sejarah pembebasan budak, salah satu budak terkenal yang dibebaskan olehnya adalah Bilal bin Rabah Al-Habashi. Lalu Islam turun di Timur Tengah dan melarang adanya perbudakan antar sesama manusia.

Beberapa metode perbudakan di sekitar Samudera Hindia adalah melalui perang, hukuman atas kejahatan, invasi, penculikan, penjualan anggota keluarga dan jeratan hutang.

Sesi “Slaves’Status in The Indian Ocean World

Di kalangan kelas atas, perbudakan menunjukkan level pengaruh dan kesejahteraan sang tuan.

Di masa Kekaisaran Abassid (Abasiyah), dibentuklah Pasukan Mamluk (Mamluk Army) yang dibentuk dari kalangan budak Balkan, Kaukasus dan Eropa. Pasukan ini sangat terkenal semasa kekuasaan Dinasti Ayyubid di Mesir pada Abad ke-12. Terdapat juga Pasukan Janissaries yang dibentuk oleh Kekaisaran Utsmaniyah di Turki yang beranggotakan pemuda dari keluarga kristiani yang dilatih dengan kaidah agama dan militer.

Pada pertengahan Abad ke-19, perkebunan cengkeh sangat berkembang di Afrika Timur. Hal ini berdampak dengan diperbudaknya 1,6 juta orang disana. Di bagian ini, museum menampilkan sebuah pedang milik budak Zanzibar pada masa itu.

Dikisahkan juga seorang Tippu Ti (Hamed bin Muhammed Al-Murjebi), pemilik tujuh perkebunan cengkeh dan 10.000 budak. Pengusaha dari Swahili-Zanzibari Ivory ini menangkap dan menjual budak atas perintah Raja Leopold dari Belgia yang merupakan pemegang otoritas di Kongo.

Cerita menyayat hati lainnya adalah tentang Raja Persia, Bahram Gur yang menginjak budak perempuan kesayangannya yang bernama Azada dari atas kuda, hanya karena dia tidak menghargai kemampuan berburunya. Pada zaman dahulu budak hanya akan terjamin hidupnya jika dia dintegrasikan menjadi bagian dari keluarga sang majikan, hal ini bisa dilakukan jika si budak mampu berkomunikasi dengan bahasa tuannya serta mau memeluk agama tuannya.

Lima Ruangan yang Mendeskripsikan Perbudakan di Qatar.

Ilustrasi aktivitas budak di Bin Jelmood House tempo dulu.

Di awal Abad ke-20, penduduk Qatar hanya berjumlah 27.000 jiwa dan faktanya adalah satu dari enam warganya adalah seorang budak. Kepemilikan budak merupakan jaminan bagi para pebisnis ekspor mutiara dan juga para importir, supaya barang mereka tetap aman dalam perjalan gurun yang keras dan pelayaran laut yang berbahaya.

Qatar masih sepi ya kala itu.

Pada tahun 1868, Sheikh Mohammed bin Thani menandatangani perjanjian perlindungan dari Pemerintah Inggris. Sementara pada tahun 1872, Kekaisaran Utsmaniyah membentuk garnisun militer di Doha hingga akhir Perang Dunia I. Setelah kepergian mereka pada tahun 1916, Inggris mulai menanamkan pengaruh di Qatar melalui pangkalan mereka di Bahrain.

Pada Abad ke-18, Qatar terdampak positif dalam perkembangan ekonomi global. Terutama karena meningkatnya permintaan dunia akan mutiara. Untuk meningkatkan hasil tangkap mutiara inilah terjadilah perbudakan pekerja pada industri tangkap mutiara di Qatar.

Di awal Abad ke-19, sebanyak 2.000-3.000 budak dikirim ke Timur Tengah khususnya Oman untuk diperdagangkan.

Sedangkan pada akhir Abad ke-19, budak yang dipekerjakan di Qatar, diambil dari Afrika Timur dan Laut Merah, ribuan lagi didatangkan dari Zanzibar, para budak itu dibawa dengan Dhow Boat menyeberangi Samudera Hindia menuju Qatar. Pada awal Abad ke-20, karena terjadi penentangan perbudakan di Afrika Timur maka budak mulai diambil dari Baluchistan.

Populasi budak di Qatar terus dijaga para tuannya dengan cara menikahkan sesama budak yang tentu akan melahirkan anak sebagai budak juga.

Efek dari peningkatan penangkapan budak di Afrika ternyata mengganggu komunitas umum di wilayah tersebut. Hal inilah yang menyebabkan peperangan tiada henti di Afrika.

Pada masa penangkapan budak, budak akan dirantai dan berjalan dari Mozambik, Kongo, Malawi dan Zambia sejauh 1.000 mil menuju pantai Kilwa di Tanzania, terkadang sebelum sampai di pantai, mereka akan terbunuh oleh para perampok, kemudian budak yang selamat maka selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan akan berlayar untuk dijual ke Timur Tengah dan Yaman.

Ilustrasi penculikan budak di Afrika.

Di pasar budak Zanzibar, budak wanita akan dikenakan pakaian bagus dan perhiasan supaya harga jualnya mahal. Pembeli biasanya akan mengecek kesehatan fisik dan kecantikan sebelum membelinya. Bahkan budak akan diberikan nama baru  seperti Faida (keuntungan), Baraka (berkat) dan Mubaroka (diberkati). Sebagai gambaran secara nominal, pada tahun 1926, seorang budak penyelam laki-laki berusia 24 tahun di Qatar bisa dibeli dengan harga 1.210 Rupee.

Budak di Doha dan Al Wakra, beberapa diantaranya hidup serumah bersama tuannya, memakan makanan yang sama dan memakai pakaian yang sama. Sebagian dari mereka tinggal terpisah di sebelah rumah yang disediakan sang majikan.

Dalam keseharian, budak perempuan akan bekerja menyiapkan makanan dan mengasuh anak-anak. Sedangkan para budak laki-laki setelah musim berburu kerang mutiara usai, akan bekerja mencari kayu bakar, memecah batu, mengangkut air, dan menjadi penjaga keamanan para pejabat kota.

Kemudian terjadilah akulturasi sosial, budak yang awalnya adalah mayoritas non-muslim menerima kehadiran Islam dalam kehidupannya, lalu mereka memeluknya. Begitu pula anak-anak budak secara otomatis akan menjadi muslim karena agama orang tuanya.

Ilustrasi budak dengan pekerjaan sehari-harinya.

Tetapi budaya asal mereka tetap melekat dan tak bisa ditinggalkan begitu saja. Para budak asal Afrika Barat, Ethiopia, Sudan, Somalia, Mesir, Tunisia dan Maroko sering mengadakan Ritual Zar pada saat tuannya sudah tertidur di malam hari. Ritual Zar ini dianggap bisa memberikan ruh dan semangat untuk mendapatkan kesehatan fisik dan mental.

Seiring berjalannya waktu, ternyata permintaan budak meningkat di seantero Qatar ketika industri mutiara menjadi booming dan dibutuhkan oleh dunia.

Pada prakteknya, budak penyelam mutiara akan bekerja dari fajar hingga tenggelamnya matahari. Keranjang kecil akan dikalungkan di leher untuk menyimpan 8-10 oyster yang diambilnya dari dasar laut. Mereka akan menyelam dengan rataan waktu 90 menit dan bisa melakukan penyelaman hingga 50 kali per hari.

Budak penyelam mutiara.

Tahun berganti tahun, ketidakjelasan ekonomi Qatar menyebabkan pengurangan jumlah penduduk dari 27.000 jiwa menjadi 16.000 jiwa dan hanya 4.000 jiwa diantaranya yang masih tertarik bekerja di industri mutiara. Para budak mulai dikirim ke ladang minyak untuk bekerja dan upahnya akan dibagi bersama tuannya.

Sesi “The Richness of Diversity

Keberagaman di Qatar saat ini.

Perpindahan budak selama ratusan tahun di Qatar berkontribusi atas terbentuknya budaya Qatar dalam hal kuliner, musik dan bahasa. Masyarakat Qatar kemudian mengenal Indian Biryani, Levantine Mansaf, Spanish Paella, dan Balaleet. Budaya lain yang berkembang diantaranya adalah bermain Mancala dan menghias tubuh dengan Qatari Henna.

Qatar telah lama menjadi titik pertemuan dari perpindahan manusia yang membawa budayanya masing-masing karena terletak di persimpangan jalur perdagangan Samudera Hindia. Bahkan banyak orang yang awalnya hanya singgah akhirnya menetap di Qatar.

Sesi “Knowing Our Ancestors

Dari studi fosil dan arkeologi, diketahui bahwa nenek moyang bangsa Qatar berasal Afrika.

Diselipkan di sesi ini adalah perihal DNA dan pewarisannya, anatomi yang diajarkan oleh Avicenna, genom manusia dan pembacaan susunan DNA yang bisa membantu manusia untuk mengobati sejumlah penyakit tertentu berdasarkan informasi tersebut.

Bahwa gen juga mempengaruhi tipe darah, rambut dan warna mata. Di beberapa studi mengatakan bahwa gen akan menjadikan manusia menjadikan super taster (mengecap sesuatu lebih pahit dari orang normal) dan non-taster (tidak peka rasa).

Kembali ke masalah perbudakan…..

Di akhir Abad ke-19, Inggris mulai memprakarsai pengurangan angka perbudakan di Timur Tengah. Mereka sering meyelamatkan kapal budak dan dibawa ke wilayah teritori Inggris.`Hal ini dikarenakan, sejak akhir Abad ke-18, masyarakat Eropa Barat melalui parlemennya melemparkan opini penghapusan perbudakan.

Masa-masa awal perjuangan menghapus perbudakan.

Ada momen yang tepat ketika terjadi penandatangan kesepakatan perlindungan Qatar oleh Inggris pada 3 November 1916. Hal ini dimanfaatkan Inggris untuk meminta Sheikh Abdullah Bin Jassim Al-Thani untuk menghentikan praktek perbudakan di Qatar sebagai syarat. Tetapi warga Qatar menolak penghapusan ini.

Keberhasilan penghapusan perbudakan baru efektif diterima saat Qatar berhasil mengekspor minyaknya ke luar negeri. Dengan keuntungan penjualan minyak, pemerintah Qatar bisa membayar uang kompensasi kepada para pemilik budak untuk membebaskan budaknya masing-masing. Dan akhirnya, pada April 1952, praktek perbudakan secara resmi dilarang di seluruh Qatar.

Setelah pelarangan itu, banyak budak yang diberi kewarganegaraan Qatar oleh Sang Emir dan banyak diantara mereka diterima bekerja dengan gaji penuh di perusahaan minyak Qatar.            

Sesi “Qatar, a Pioneer in Personalized Healthcare

Pencapaian bidang kesehatan di Qatar

Qatar adalah negara yang berkomitmen terhadap penelitian genetik dan menjadi negara pioneer dalam personalized medicine, yaitu suatu manajemen penanganan pasien di dunia kedokteran berdasarkan informasi genotype pasien, sehingga bisa dilakukan evaluasi untuk mengetahui penanganan yang cocok untuk jenis penyakit yang diidap.

Qatar membuat kemajuan dengan mendirikan Qatar Biobank yaitu tempat menyimpan informasi kesehatan dan sampel biologis dari warga negaranya. Biobank ini sangat membantu dalam Qatar Genome Programme yang diluncurkan oleh pemerintah. Program ini didanai oleh Qatar Foudation melalui Qatar National Research Fund dan juga didanai oleh Menteri Kesehatan.

Qatar juga menjadi tempat didirikannya pusat-pusat penelitian seperti Qatar Biomedical Research Institute di Hamad bin Khalifa University, Qatar University Biomedical Researc Center dan Weill Cornell Medicine.

Qatar juga memiliki National Diabetes Center, National Premarital Screening and Counselling Programme, serta Qatar Newborn Screening Programme.

Sesi “Modern Slavery

Contoh Modern Slavery.

Perlu kamu ketahui bahwa sekitar 27 juta manusia telah menjadi korban perbudakan modern di seluruh dunia. Perbudakan jenis ini diakibatkan oleh maraknya human trafficking.

Beberapa fakta mengejutkan diantaranya adalah:

  1. 2,5 juta orang adalah tenaga kerja paksa, termasuk eksploitasi sexual.
  2. Human trafficking adalah kejahatan internasional paling banyak memberi keuntungan uang, bersama narkoba dan arms trafficking (perdagangan senjata).
  3. Keuntungan dari human trafficking per tahun mencapai 31,6 milyar Dolar Amerika.
  4. Mayoritas korban human trafficking berusia 18-24 tahun.
  5. 1,2 juta anak-anak diperdagangkan tiap tahun.
  6. Dari 190 negara di dunia, 161 negara memiliki peran dalam perdagangan manusia ini. Baik sebagai sumber, tujuan atau sebagai negara transit.

Krisis politik dan kemanusiaan sering menempatkan golongan rentan (wanita dan anak-anak) dari wilayah-wilayah kurang berkembang pada resiko human trafficking (perdagangan manusia).

Banyak anak-anak pada era 1990-an dipekerjakan di pabrik-pabrik, kapal-kapal ikan, pertambangan, lahan pertanian dan wanita-wanita di bawah umur dipekerjakan di industri sexual. Mereka bekerja melebihi waktu normal, terkadang tanpa upah, hanya hidup dengan makanan seadanya dan tempat tinggal seadanya.

Sesi “Organizations

Perjuangan Qatar menghapus perbudakan di era modern.

Kemudian banyak bermunculan organisasi di dunia yang bergerak untuk mengakhiri human trafficking, mereka melakukan pertemuan dengan pemerintah di negara-negara yang masih terdapat praktik perbudakan modern, mereka bertemu para agensi tenaga kerja di seluruh dunia untuk bersama-sama melawan praktek perbudakan modern.

Qatari House for Lodging and Human Care adalah salah satu dari sekian banyak organisasi yang melindungi para korban human trafficking. Organisasi ini memberikan pelayanan kesehatan, konsultasi psikiater, bantuan hukum, rehabilitasi, serta kursus memasak dan menjahit.

Qatar adalah pendana pertama dan terbesar untuk UN Global Action Plan to Combat Human Trafficking. Qatar juga mendanai The Arab Initiative for Capacity Building in Combating Human Trafficking  yang merupakan kolaborasi antara UNODC dan Arab League.

Akhirnya….

Tak terasa aku sudah berada di akhir sesi di Bin Jelmood House ini. Aku menyempatkan diri memasuki toilet, mengambil gambar selasar dan halaman, kemudian mengucapkan terimakasih kepada segenap staff di reception desk ketika hendak meninggalkan museum.

Selasar di Bin Jelmood House.
Halaman Bin Jelmood House.

Hmmhh…..Museum yang hebat.

Souq Waqif….Terbesar dan Tertua.

Melewari gate bernomor  empat, aku kembali keluar di jalanan pasca menjelajah dalaman City Souq. Kantor dua lantai milik badan independen Qatar menjadi bangunan pertama yang kulewati. Tampak lima bendera Qatar berukuran besar mempergagah markas Central Municipal Council.

Aku menikung ke kiri begitu berpapasan dengan Abdullah Bin Jassim Street. Dua ratus meter kemudian, aku melewati bangunan berlantai empat yang menjadi pusat pengembangan Islam di Qatar yaitu Sheikh Abdullah Bin Zaid Al Mahmood Islamic Cultural Center. Tampak sebuah sepeda ontel hitam tersandar pada tiang rambu di depannya. Klasik, macam suasana di Eropa saja.

Lalu mulai tampak pelataran luas nan panas dari kejauhan, letaknya tepat di pojok barat daya perempatan besar yang terbentuk dari persilangan Banks Street dan Abdullah Bin Jassim Street. Deretan tujuh bangku panjang tiga warna terduduki tiga pria setengah baya yang tampak menikmati suasana.

Minggu siang kala itu, Souq Waqif yang kudatangi dari gerbang timur masih tampak sepi. Aku menyusuri koridor demi koridor pasar. Berlantai andesit gelap, berdinding tak mulus dengan warna krem dan dibagian atas diletakkan kayu-kayu utuh memanjang sebagai penyangga struktur atapnya yang sengaja dibuat rata.

Pelataran sisi timur Souq Waqif.

Kulewati kios-kios dengan barang dagangan yang masih tertutup, aku sendiri tak menahu tentang jenis barang dagangan tersembunyi itu. Kusingkap sedikit ujung kain penutup dan kutemukan jawabnya….Itu rempah-rempah.

Ketika sampai di area pasar yang sedikit menjorok ke tengah, aku menemukan sebuah blok yang menjual satwa, pakan yang sudah dipacking dalam plastik besar ukuran seragam, beserta kandangnya. Area berjualan satwa ini sudah tak lagi beratap, langit nan panaslah yang tampak tepat di atas kepala.

Terimakasih “RICH” yang menjadi partner dalam perjalanan kali ini.
Blok untuk berjualan satwa seperti burung dan kelinci.

Sementara beberapa orang tua pemilik kedai sederhana tengah sibuk mempersiapkan lapaknya yang telah dilengkapi lemari-lemari pendingin dengan merk minuman ternama. Aku masih belum bisa membayangkan bagaimana rupa kedai ini ketika ramai. Aku hanya menebaknya sebagai kedai kaum menengah.

Masih sepi….Mereka bersiap diri.

Tergelincirnya matahari mengurungkan niatku untuk menelusuri seisi pasar. Eksplorasi bagian timur sudah kuselesaikan. Bagian barat?….Sudahlah, besok masih ada waktu. Aku mendadak menciptkan sebuah opsi perjalanan sendiri. Meninggalkan Souq Waqif segera dan ingin bersantai di Doha Corniche hingga sore. The Pearl Monument adalah tujuan berikutnya.

—-****—-

Inilah satu-satunya pasar tradisional kuno terbesar di seluruh Qatar. Al Souq menjadi distrik yang beruntung atas kepemilikan pasar ini. Berdiri pada akhir abad ke-18 di tepian Wadi Msheireb. Wadi sendiri merujuk pada jalur sungai kering yang hanya terisi air saat hujan lebat saja. Pengalaman menggelikan terkait Wadi adalah ketika mengunjungi negeri tetangga Qatar yaitu Bahrain. Saking keringnya, wadi di sana biasa digunakan warga untuk bermain cricket….Lucu kan.

Tiga hari berlalu, membuatku kembali merindukan Souq Waqif.

Rabu pagi, aku akhirnya tak kuasa membendung rindu itu. Aku kini memasukinya dari sisi barat yang tampak lebih elegan karena sisi ini memang berbatasan dengan Msheireb Downtown Doha (MDD), sebuah kota subtitutor Distrik Mushayrib yang pengembangannya direncanakan detail.

Pelataran sisi barat.

Aku mengamini….Terutama ketika mendengar sebuah jargon bahwa Souq Waqid adalah rumah bagi banyak restoran dan shisha lounges. Siang itu, aku memasuki sisi barat dengan sambutan deretan restoran bergaya Eropa di sepanjang koridor terbuka.

Restoran.

Sisi inilah yang menjadi tempat bagi warga Qatar dan para turis untuk sekedar nongkrong, menikmati kopi dan menghisap sisha. Konon akan ramai di Kamis malam. Seperti kebiasaan di kawasan Timur Tengah, yang menjadikan malam Jum’at sebagai permulaan weekend mereka untuk menyambut libur di keesokan hari.

Souq Waqif tak pernah merubah bentuk  arsitektur khas Qatarnya.

Waqif berarti berdiri. Karena pada masa perintisan pasar, tidak ada satupun kios yang dibangun. Hal ini disebabkan karena meluapnya air laut dari pantai Doha yang menggenangi pasar. Bahkan diawal berdirinya, masyarakat Arab Badui yang nomaden dan penduduk setempat bertemu dan bertransaksi di tempat ini. Para pembeli akan datang menggunakan perahu atau menaiki onta untuk mensiasati genangan tersebut dan penjual akan berdiri sepanjang hari untuk menawarkan dagangannya.

Duh cantiknya Souq Waqif.

Semakin memasuki area tengah, atmosfer pasar menjadi sangat ramai. Kini aku menemukan area penjual souvenir. Jam tangan, fridge magnet, gantungan kunci, dompet serta souvenir jenis lain ramai dipasarkan di area ini.

Koridor souvenir.

Kemudian keluar pasar melalui sisi selatan, aku menemukan area berjualan dallah, tabung shisha beragam bentuk dan ukuran seta berbagai jenis handicrafts

Area handicrafts.

Perkembangan ekonomi negara Qatar yang sangat melejit semenjak menemukan minyak bumi berimbas positif pada kondisi pasar ini. Pada tahun 2006. Emir Qatar, Sheikh Hamad bin Khalifa Al Thani merenovasi besar-besaran Souq Waqif sebagai pusat ekonomi dan pariwisata dunia. Konon sang Emir mendatangkan  kayu dan bambu yang diimpor dari beberapa negara Asia untuk kegiatan renovasi besar ini.

Nah, tunggu apa lagi….Yuk ke Qatar….Hihihi.

Karwa Bus No. 727….Menuju Distrik Nuaija dari Hamad International Airport

Pagi itu hasratku menuju pusat kota begitu terburu. Aku sudah tak sabar untuk melihat Doha lebih dekat. Tetapi keterburuanku tertahan sejenak, aku terus menghitung dengan detail budget transportasi yang kubutuhkan selama lima hari di Qatar. Supaya aku tak begitu banyak meninggalkan sisa saldo sia-sia di Karwa Smartcard nanti.

Sarapan sejenak dengan roti tawar kupas di airport bus terminal.

Perhitunganku memutuskan untuk menyuntikkan dana sebesar Rp. 118.000 untuk seluruh perjalanan yang mayoritas akan menggunakan bus kota. Besaran itu belum termasuk harga kartu Karwa Smartcard sebesar Rp. 39.000.

Ticketing Vending Machine.
Karwa Smartcard adalah satu-satunya akses untuk menikmati jasa Karwa Bus.

Avsec: “Hi, No No No….Sir, Sorry, you can’t capture the building”, petugas berwajah Asia Selatan mendekat dan melarangku ketika mengarahkan kamera ke salah satu sisi Hamad International Airport dari platform airport bus.

Aku: “Oh, I’m sorry Sir….I don’t capture yet, I’m sorry”, aku segera memasukkan Canon EOS M10 ke folding bag.

Avsec: “Nice….Nice”, tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. “Where will you go?

Aku: “I’m waiting for bus no. 727 to Nuaija. Do you know, When it will come?

Avsec: “Oh, you better ask to Karwa Officer….Him (dia menunjuk ke petugas tambun yang sibuk dengan clip boardnya)”.

Aku beranjak menujunya dan menanyakan status Karwa Bus No 727, lalu dia memintaku untuk menunggu sekitar sepuluh menit.

Tepat waktu, bus itu tiba.

Nervous, pertama kalinya aku menaiki bus kota Qatar. Jika Dubai, Bahrain dan Oman lebih memilih warna merah untuk bus kotanya, maka Qatar memutuskan menggunakan warna hijau untuk itu.

Akulah penumpang pertama pada bus yang baru saja terparkir itu. Beberapa menit kemudian, satu persatu pekerja Hamad International Airport memasuki bus yang sama.

Bersiap menuju Distrik Nuaija.

Walau aku dilarang mengabadikan salah satu sisi bandara oleh aviation security tadi….Namun pada akhirnya, aku tetap mencuri gambarnya dari dalam bus….Dasar backpacker ngeyel….Hahaha.

Cekrek….Itulah bangunan bandara yang kuincar sejak tadi.

Selama menaikinya, Karwa Bus berjalan pelan nan santai saat membelah jalanan kota. Layaknya moda transportasi umum di kota-kota beradab lainnya yang memastikan setiap penumpang merasa aman.

Pembayaran dilakukan dengan men-tap Karwa Smartcard di tap machine sebelah sopir. Perlu kamu ketahui bahwa kemudi kendaraan di Qatar ditempatkan di sisi kiri. Sedangkan selama di sana, aku memasuki dan menuruni bus selalu dari pintu depan. Tentu sebelum menuruni bus, aku wajib mengecek saldo Karwa Smartcard yang tersisa di tap machine yang sama.

Menunggang bus selama tiga puluh menit, mataku terus lekat memandangi segala cetak arsitektur kota yang terlalui, juga dengan beragam aktivitas warga yang teramati.

Diturunkan di Nuaija intersection.

Begitu turun dari bus, angin meniup tubuhku dengan kencangnya, membawa partikel-partikel lembut pasir bersamanya. “Inikah rasa angin gurun? “, hati bergumam seketika. Mata telanjangku terpaksa terkorbankan untuk berkali-kali diterjang pasir-pasir lembut itu. Aku tak sanggup lagi mencari kacamata rayban yang entah kutaruh di sebelah mana dalam backpack. Suhu dua belas derajat celcius memaksaku untuk segera mencapai Casper Hotel, tempatku menginap.

Al Emadi Hospital yang kulewati di pinggiran D Ring Road.
Bunga segar yang tumbuh dengan teknik hidroponik.

Setelah berjalan sejauh satu setengah kilometer dan dalam waktu dua puluh menit, akhirnya aku tiba di hotel yang tampak sebagai hasil menyulap kompleks perumahan menjadi sebuah penginapan sederhana.

Casper Hotel.

Nanti kuceritakan bagaimana nyamannya dormitory sederhana itu….