Mohammed Bin Jassim House: Merancang Kota Masa Depan

Sisi samping kiri Mohammed Bin Jassim House.

Staff Museum   :     “Hello, how many part of museums which you have visited, Sir?

AKu                       :     “Just two….Company House and Bin Jelmood House, Ms”.

Staff Museum   :     “Oh, you on right step. Now you are in Mohammed Bin Jassim House. It will tell you about old Msheireb and the modern one”.

Aku                        :     “Sounds pretty good”.

Staff Museum   :     “Is that your own camera? Are you professional?

Aku                        :     “Yes, my camera. I’m a travel blogger. Is it okay to bring inside?

Staff Museum   :     “Oh sure. Enjoy your visitation, Sir”.

—-****—-

Galeri ini didedikasikan untuk warga asli Msheireb. Koleksi di dalamnya menggambarkan kehidupan sehari-hari di Msheireb yang bisa dikenang oleh generasi muda Qatar dan juga para pekerja asing yang bekerja di negeri kaya minyak itu.

Tanah liat sebagai bahan konstruksi bangunan tempoe doeloe.

Pada masa awal peradaban Qatar, penduduk menggunakan gurun untuk beternak, tetapi lama kelamaan mereka membuat area khusus untuk perumahan. Sejarah dimulaiketika penduduk asal Al-Jassra mendirikan pemukiman di Msheireb. Konstruksi rumah mereka pada awalnya menggunakan batu dan tanah liat sebelum mengenal gypsum dan batu bata.

Sesi “Religious Events and Celebrations

Peralatan rumah makan masa lalu.

Pada masa awal Msheireb, penduduk sering merayakan hari raya keagamaan, seperti Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri. Festival diselenggarakan untuk memeriahkannya, restoran akan dibuka hingga lewat tengah malam dan rumah-rumah akan membuka pintunya.

Penduduk menggunakan drum untuk membangunkan masyarakat menjalankan sahur di pagi hari dan menggunakannya untuk bernyanyi musik religi di malam hari. Lalu, Idul Fitri ditetapkan dengan bulan sabit yang terlihat di Saudi Arabia. Saat itu Saudi Arabia belum memiliki siaran radio dan televeisi. Berita akan didapat warga Qatar dari Bahrain.

Saat Idul Fitri , warga akan menari Tanbora, Laywa, Fajery, dan Haban. Banyak sekali tarian tradisional kala itu.

Sesi  “Electricity

Papan nama jalan dan beberapa peralatan listrik pertengahan 1950-an.

Generator listrik pertama Doha di pasang di Company House pada akhir 1930-an. Lalu pada pertengahan 1950-an, pembangkit listrik dibangun di kota dan kabel listrik bawah tanah mulai dipasang. Jalur yang di lewati oleh kabel bawah tanah ini kemudian diberi nama Al-Kahraba Street (“Al-Kahraba” sendiri berarti “kelistrikan”). Kemudian Al-Kahraba Street ini ramai dengan pertokoan yang menjual alat-alat listrik.

Dikisahkan warga Doha rapi duduk di kursi ketika Emir mereka Sheikh Salman melakukan pemotongan pipa untuk meresmikan pembangkit listrik pertama mereka.

Al-Kahraba Street menjadi nadi kehidupan Qatar. Sepanjang siang dan malam selama bulan Ramadhan  jalan itu menjadi juaranya cahaya. Dan orang-orang dari Al-Rayyan sengaja datang hanya untuk melihat jalanan itu.

Dikisahkan oleh seorang warga bernama Hassan Rasheed bahwa televisi pertama yang dia beli berasal dari jalan Al-Kahraba bermerk “Andrea”, bentuknya seperti almari kecil, almari itu harus dibuka dahulu untuk melihat layarnya.

Sesi “Shopping and Eating

Papan nama toko dan usaha jasa lainnya, termasuk peralatan yang digunakan.

Antara tahun 1950-1990, Distrik Msheireb berkembang dan penuh sesak dengan bangunan komersial. Banyak usaha-usaha baru dan pertama kali muncul disana seperti hotel pertama, bank pertama, apotik pertama, kedai kopi pertama dan tempat menikmati minuman dingin pertama. Warga dapat membeli perlengkapan dan peralatan, televisi, kain sari dan sepatu di sini. Penjahit, tukang pangkas rambut, ahli optik, tukang daging, dokter, dokter gigi, kedai penjual ayam dan cafe-cafe sangat berkontribusi meramaikan Msheireb.

Salah satu warga mengatakan bahwa jalanan Msheireb sangat meriah, ada Al-Nasr Fountain, apotik milik Hussain Al-Kazim, toko-toko dan restoran-restoran Lebanon, perpusatakaan dan toko buku  Al-Tilmeethe yang dimiliki Abdullah Naima. Di pojok jalan ada penjahit khusus jas. Bank pertama di Doha adalah The Ottoman Bank dan landmark utama kala itu adalah The Bismillah Hotel.

Warga bernama Abdullatif Al-Nadaf berkata: “Jika kamu memerlukan sesuatu yang tidak ada di Doha maka kamu akan menemukannya di Al-Kahraba Street”.

Sesi “Schools, Healthcare and Security

Perlengkapan pembelajaran di sekolah dan peralatan medis.

Untuk memastikan anak-anak Qatar dapat berkontribusi dalam pengembangan industri perminyakan Qatar dan pertumbuhan ekonomi bangsa, pada September 1947 didirikan sekolah modern pertama bernama Al Islah Al Mohamadia. Sedangkan Bin Jelmood House dimanfaatkan sebagai kantor kepolisian Qatar pada tahun 1950an. Rumah sakit legendaris di Qatar adalah Rumaillah Hospotal yang dioperasikan sejak 1956, dibuka dengan 200 tempat tidur dengan layanan ambulan dan fasilitas rawat jalan.

Sesi “Msheireb Downtown Doha

Desain modern di MDD.

Selanjutnya dijelaskan sebuah sesi mengenai Msheireb Downtown Doha (MDD) sebagai Proyek Regenerasi Kota Berkelanjutan  di Kawasan Msheireb.

Dibawah kepemimpinan Yang Mulia Sheikha Moza binti Nasser, Msheireb Properties yang merupakan anak perusahaan Qatar Foundation membangun distrik perkotaan dimana para warga negara Qatar dan ekspatriat akan tinggal, bekerja, dan bermasyarakat.

Di dalam sesi MDD inilah kita akan belajar bagaimana patron, perencana, arsitek dan insinyur secara hati-hati menginterpretasikan lagi arsitektur asli Msheireb, konstruksi yang berkesinambungan dengan tradisi masyarakat, komersialisasi dan inovasi untuk menciptakan kawasan modern tetapi tetap berakar kuat pada sejarah dan menciptakan sense of place.

Old Msheireb sangat popular dengan aktivitas bisnis. Toko-toko dan restoran dibangun di sepanjang jalan utama.  Membuat distrik ini populer untuk tinggal dan untuk dikunjungi siapa saja. Sejak pertokoan dibuka pertama kali pada awal 1950-an, Doha memainkan peran penting,  tidak hanya untuk pertumbuhan ekonomi Qatar tetapi bahkan untuk ekonomi global. Doha saat ini menjadi tujuan bisnis yang menjanjikan dan destinasi wisata bagi para pelancong di seluruh dunia.  Dan Msheireb Downtown Doha akan memainkan peranan penting dalam mempertahankan keunggulan komersial kota.

Di ujung selatan Al-Kahraba Street telah menjadi distrik bisnis baru  dengan perkantoran, bank, restoran dan cafe.  Dan di dalam distrik bisnis ini, Doha Metro akan mengambil penumpang menuju West Bay dan Hamad International Airport.

Diperkirakan jika proyek pembangunan Msheireb Downtown Doha selesai, lebih dari 2.000 warga akan menempati wilayah seluas 31 Ha. Warga akan berbaur dengan ribuan pekerja, konsumen komersial dan para wisatawan.

Meskipun skala MDD sangat luas, MDD akan membangkitkan keintiman Old Msheireb. Jalur pejalan kaki akan terkoneksi langsung dengan Souq Waqif. Keseluruhan MDD akan terhubung dengan jaringan jalan bawah tanah dan parkir bawah tanah yang akan membuat area jalanan sangar ramah buat para pejalan kaki.

Tradisi inovasi MDD juga memberikan solusi dari tiga tantangan Old Msheireb yaitu kemacetan lalu lintas, pengelolaan sampah dan konservasi air. MDD akan memiliki 12.000 slot parkir bawah tanah yang akan menghapus kemacetan dan menciptakan lingkungan yang ramah untuk para pejalan kaki. Sistem pembuangan sampah yang canggih akan mendaur ulang sampah dari sumbernya dan akan dibuang melalui pipa bawah tanah. Sekitar enam juta liter air daur ulang akan digunakan sehari-hari untuk menyiram toilet, mengairi tanaman, dan akan menjadi pendingin bangunan-bangunan di MDD.

Koridor di Mohammed Bin Jassim House.

Inovasi yang sama akan memproduksi air panas dan listrik melalui ribuan sel tenaga surya yang dipasang di setiap atap bangunan.

Ada tujuh langkah yang membuat bangunan-bangunan di MDD menjadi khas:

  1. Berkesinambungannya masa lalu, masa sekarang dan masa depan melalui motif desain kota yang abadi.
  2. Kehamonisan dan keberagaman melalui bahasa arsitektur yang diterima semua kalangan.
  3. Pengaturan bangunan informal yang mencerminkan pemandangan kota Msheireb yang orisinil
  4. Lingkungan tempat tinggal yang menyediakan privasi, keamanan, area indoor dan outdoor, semangat kekeluargaan dan kepedulian masyarakat.
  5. Membuat kehidupan jalanan yang bersemangat dan mampu membuat nyaman pejalan kaki dan menyediakan menyediakan ruang-ruang teduh.
  6. Kenyamanan maksimum dengan konsumsi energi minimum melalui teknologi tradisional dan modern dengan memanfaatkan energi dan melestarikan sumber daya alam.
  7. Kelestarian desain Qatar melalui bahasa arsitektur baru yang terhubung dengan desain masa lalu.

Desain dan layout bangunan-bangunan lama Msheireb sangat menghargai lingkungan dengan meminimalisir efek matahari, memaksimalkan ventilasi dan menggunakan material lokal. Praktek-praktek tradisional ini tetap diimplementasikan pada pengembangan MDD. Desain dan layout MDD dibuat dengan memanfaatkan naungan matahari  dan tiupan angin pantai. Material konstruksi diambil dari sumber-sumber lokal. Energi terbarukan memanfaatkan panel-panel surya di atap bangunan. Air bersih akan terselamatkan dengan penggunaan yang efisien di setiap keran dan shower. Sedangkan air daur ulang akan dimanfaatkan untuk irigasi dan keperluan lainnya.

MDD akan mengurangi ketergantungan masyarakat pada kendaraan. Sebagai contoh, distrik ini akan bersahabat untuk para pejalan kaki, akan mudah, aman dan nyaman ketika berjalan dari dari satu tempat ke tempat lain dalam naungan pepohonan dan diselingi taman. Distrik akan menyediakan rute buat pesepeda dan bus. Doha Metro akan menghubungkan Msheireb dengan wilayah lain. Daur ulang sampah yang tersentralisasi  akan menghilangkan kebutuhan akan truk-truk sampah yang memasuki kota.

Company House: Awal Mula Kejayaan Ekonomi Qatar

Kompleks Msheireb Downtown Doha.

Ternyata tak hanya aku, semua turis dibuat kebingungan untuk menemukan pintu masuk. Kata itulah yang diucapkan seorang staff pria yang keluar memanggilku dan mengarahkanku memasuki museum.

Welcome to Msheireb Museum, you should know that this museum consists of four parts. They are Company House which you are currently visiting. In west of this building is Bin Jelmood House, while in east there is Radwani House. Another one, across that street (pointing at Bin Jalmood Street), is Mohammed Bin Jassim House. To make it easier for understanding all stories inside the museum, please install Msheireb Museums application. You can be guided by this application. Please write your identity in guest book, and welcome to Msheireb Museums“, hafalannya tersampaikan dengan lancar.

Yes, Sir. Thank you, Sir. Where are you come from, Sir?”, singkat aku menjawab dan bertanya.

Bangladesh”, jawabnya dengan penuh senyum.

Yes, belajar dimulai…..

Jika kamu ingin mengetahui perihal….

Bagaimana ekonomi Qatar bangkit dari keterpurukan……dan bagaimana perjuangan mereka menemukan minyak bumi……

Disinilah tempatnya.

—-****—-

Jadi di episode akhir petualanganku di Qatar, isi tulisan ini akan sangat serius. Tak ada majas….Tak ada sastra….Tak ada puisi….yuk, balik ke bangku sekolahan.

The history is begin……

Pertama kali, di pintu masuk museum terdapat logo perusahaan minyak terkenal yang menunjukkan bahwa pendirian dan pembiayaan museum ini disponsori oleh Qatar Shell.

Setelah melewati reception desk dijelaskan dalam sebuah tulisan bahwa bangunan ini adalah rumah dari Hussain Al-Naama, manager Doha Port, dibangun pada tahun 1920, lalu di sewa oleh Anglo-Persian Oil Company (Perusahaan Inggris pemegang kontrak eksklusif untuk eksplorasi minyak di Qatar) pada tahun 1935 dan digunakan sebagai kantor pusatnya selama  dua dekade. Alkisah, pencarian dan eksplorasi minyak Qatar dimulai dari rumah ini.

Inilah truk yang digunakan untuk mengangkut pekerja ke ladang minyak di sebelah barat Qatar.

Diceritakan para pekerja ini akan pulang dalam satu bulan untuk mengambil gaji, lalu diizinkan pulang ke rumah mereka dalam sehari saja untuk bertemu keluarga, setelah itu mereka harus kembali ke ladang minyak kembali untuk bekerja. Museum ini didedikasikan untuk para pioneer tersebut yang memaknai endurance, pengorbanan dan komitmen untuk membangun Qatar….#airmatamulaimeleleh

Perjalanan industri minyak Qatar disusun dengan bekas pipa-pipa minyak.

Kembali ke tahun 1920-an, saat itu Qatar adalah negara yang bergantung pada perdagangan, perikanan dan hasil tangkap mutiara. Dan negara ini sudah diambang kehancuran ekonomi karena Perang Dunia Pertama, Great Depression 1929 dan semenjak mutiara bisa dibudidayakan di Jepang.

Original banget ya pipanya….Aku terpesona.

Perlu kamu ketahui bahwa penangkapan mutiara adalah pekerjaan penuh resiko. Pada tahun 1929, pernah terjadi badai yang menenggelamkan 80% kapal di Kuwait, Bahrain, Saudi Arabia, Oman dan Qatar. Badai ini menewaskan lima ribu jiwa.

Masuk ke tahun 1940-an, terjadi Perang Dunia Kedua, usaha eksplorasi minyak Qatar sempat terhenti. Hal ini membuat seluruh warga Qatar kembali tidak memiliki harapan, karenanya mereka telah berfikir untuk kembali melaut mencari mutiara.

Beruntung pada tahun 1946, setahun setelah selesainya Perang Dunia Kedua, Inggris kembali ke Qatar untuk melanjutkan eksplorasi. Saat mereka tiba, kapan tanker tidak bisa  berlabuh di Perairan Zikrit karena dangkal. Maka dibuatlah terminal ekspor baru di Umm Said, selatan Doha. Lalu berlanjut dengan dibangunnya pipa-pipa minyak dari Umm Said ke Dukhan. Usaha yang tak kenal menyerah, pada akhirnya membuat Qatar berhasil melakukan ekspor minyak bumi pertamanya pada 31 Desember 1949. Dalam perkembangan selanjutnya, produksi minyak di Qatar meningkat tajam dari yang semula dibawah 50.000 Barrel/hari pada tahun 1949 menjadi lebih dari 2.000.000 Barrel/hari pada tahun 2010….Wah keren yaaaa.

Babak penting berikutnya, Qatar mendapatkan kemerdekaan dari Inggris pada 3 September 1971. Tiga tahun setelahnya dibentuklah Qatar General Petroleum Company. Dan pada tahun 1977, Qatar General Petroleum Company dan Shell Qatar Ltd. dinasionalisasi menjadi Qatar Petroleum, sehingga sejak saat itu minyak dan gas bumi di kuasai negara seutuhnya.

Qatar memang negara yang beruntung. Tak lama setelah kemerdekaan, ditemukan ladang Liquid Natural Gass (LNG) di utara wilayahnya. Untuk mengeksplorenya, didirikanlah Perusahaan Gas Qatar pada tahun 1984 dan ekspor LNG pertama mereka terjadi pada tahun 1996 ke Jepang.

Video room….Melihat pengabdian para pionerr dalam membangun minyak negara hingga Qatar mengalami kemajuan ekonomi yang pesat.
Generator listrik Biston dari Inggris….Inilah generator listrik pertama di Qatar.

Di ruangan belakang Company House, disediakan sebuah ruangan bartajuk “Open Storage” yang menampilkan beberapa peralatan para pekerja perusahaan minyak di awal-awal beroperasinya. Tampak raket tenis, stick hoki, bola rugby, radio, velg kendaraan, rantang makanan, mesin ketik, buah nanas kemasan dengan merk “Marvel” dan sofdrink bermerk “Namlite”.

Mesin ketik klasik merk “ROYAL”.
Buah nanas kemasan dengan merk “Marvel

Di ruang paling belakang didesain ruang bertajuk “The Courtyard: Life as a Worker”, di dalamnya dibangun beberapa sculpture putih yang memvisualisasikan para Qataris sedang bekerja di perusahaan minyak Inggris.

Ilustrasi para pekerja minyak kala itu.

Berjalan ke arah pintu keluar, tertampil sebuah ruang “Interview” dimana tim Msheireb Museum mewawancara para pioneer asli Qatar untuk mengumpulkan informasi yang berguna sebagai referensi, bahan penelitian dan bahan pameran di museum ini.

Sofa di ruangan wawancara.
Nah ini, referensi full dalam bahasa Arab….Hahaha.

Terdapat juga juga booth “Share Your Story” yang menampilkan testimoni para anggota keluarga pioneer perihal kerja keras dan kehidupan mereka semasa menjadi karyawan perusahaan minyak itu.

Dalam ruangan yang sama terdapat juga booth “Contemporary Voices”. Layar tiga sisi ini mendeskripsikan kisah-kisah para pioneer dalam sebuah film dokumenter.

Duduk dan dengarkan kisah yang terucap dari keluarga para pioneer….Mengharukan.
Atau tontonlah film dokumenter para pioneer itu sendiri….Merinding menontonnya.

Dan di bagian akhir museum ditampilkan beberapa profil pioneer pekerja minyak dalam ruang “Pioneers’ Stories”. Dikisahkan Muhammad bin Muhammad Muftah yang bekerja sebagai penerima telepon dan pengemudi, Jasim bin Qroun sebagai rigger (Juru Ikat), Bu Abbas yang bertugas mengendarai truk standard internasional untuk membawa para geologist, Thamir Muftah yang bertanggung menangani urusan listrik, Jassim bin Muhammad Jaber Al-Naameh yang bertugas menangani generator, Ibrahim bin Saleh Bu Matar Al-Muhannadi yang bertugas sebagai houseboy, dan terakhir adalah Mansour bin Khalil Al-Hajiri yang menjadi karyawan pertama di perusahaan minyak dan bertugas sebagai guide (pemandu), karena beliau orang yang sangat memahami seluruh wilayah Qatar dan mampu menemukan tempat yang dicari dalam gelap atau kabut sekalipun.

Kubaca pelan setiap kisah kepahlawanan mereka.
Mr. Mohammed bin Hamad Al-Hitmi, pemadam kebakaran di Qatar Petroleum Production Authority.

Selesai menjelajah Company House, aku keluar dari dari pintu belakang. Kusempatkan singgah di Empirecof, sebuah coffee shop mungil yang terletak di pelataran museum ini.

Yuk nge-latte dulu….

Selesai berkopi ria, aku menyempatkan diri memakan bekal makan siangku di halaman Company House. Di taman ini disediakan free water station yang bisa dimanfaatkan untuk minum secara gratis….Wah mantab Qatar.

Where is the museum gate, Sir?”, pertanyaan turis yang sering diutarakan padaku saat istirahat di taman.

Kunjunganku di Company House telah benar-benar usai, saatnya aku pergi menuju bagian Msheireb Museum yang lain.

Yukkk ikut aku lagiii……..

Pakistani White Pulao dan Al Kort Fort

Aku meninggalkan Doha Sports City menjelang maghrib. Keluar dari Villaggio Mall, menuju Stasiun Al Aziziyah yang hanya berjarak 100 meter dari pintu nomor empat shopping mall kenamaan itu.

Di pintu masuk stasiun…..terjadilah insiden tipis antar pengelana….

Hello, do you want go with metro?”, ucap pemuda ikal, berkulit putih dan berwajah khas Arab tetapi lebih pendek sedikit dariku.

Yes, brother”, ucapku singkat.

Use this ticket!, I will go back with bus, You can use it”, dia menyodorkan tiketnya kepadaku.

Oh, No, thanks. I will buy a single journey ticket at downstair”, kutolak halus karena salah duga, kukira dia menjual tiket kepadaku. Aku tahu itu Standard Day Pass ticket seharga Rp. 16.000

Brother, just take it. I don’t need more because I will use bus”, Dia tampak bergegas dan menyelipkan tiket itu ke tangan kananku.

Ya ampun….Ternyata dia memberikan dengan cuma-cuma. “Thank you very much, brother”, ucapku singkat.

I’m Donny from Indonesia, what is your name, brother?”, tanyaku sebelum berpisah.

Said from Algeria….”, senyumnya sembari membenarkan tas punggung hijaunya lalu bergegas meninggalkanku.

Thank you, Said”, aku mulai menuruni escalator menuju platform Doha Metro.

Mengejar MRT yang sudah mengambil ancang-ancang, diperintahkanlah aku oleh petugas berkebangsaan Philippines untuk memasuki metro melalui gerbong kelas Goldclub yang mewah lalu berpindah ke gerbong kelas Standard di belakangnya. Wahhhh…..gerbang Goldclub itu menawarkan tempat duduk tunggal mewah bak business seat pesawat terbang, kursi bersandaran lengan yang terpisah satu sama lain dalam baris memanjang berhadapan. Terduduk di gerbong standard, aku dibawa menyusuri jalur Gold Line menuju Stasiun Souq Waqif yang lokasinya cukup berdekatan dengan Al Ghanim Bus Station. Aku akan menaiki Karwa Bus langganan bernomor 12 menuju penginapan.

Aku masih mengingat pesan salah satu staff hotel asal Islamabad bahwa malam ini mereka mengajakku memasak bersama dan menyantap masakan khas negeri mereka yaitu Pakistani White Pulao-hidangan nasi yang dicampur dengan cacahan wortel, sayur dan kacang-kacangan-.

Seusai mandi, benar adanya, mereka ke kamar membajakku dan digelandang e dapur untuk bergabung bersama para chef dadakan Casper Hotel.

Pakistani White Pulao…..Nyammm.

—-****—-

Fajar ke empat yang kurasakan di Qatar. Aku sedikit bermalas-malasan karena kelelahan dan kejenuhan menjadi musuh baru. Menjelang pukul sepuluh pagi, aku mulai berangkat menuju Al Ghanim Bus Station. Awalnya berencana menuju ke Museum Islamic of Art. Eh, tetapi….Begitu tiba di terminal, aku berfikir ulang. Dompetku mengkhianati niat, dituntunnya aku mencari destinasi gratisan untuk menghemat amunisi yang mulai menipis.

Mencoba berselancar maya dengan duduk santai di terminal, akhirnya aku tahu harus melangkah kemana. Msheireb….Ya, Msheireb!

Ada Msheireb Museum yang dibuka gratis untuk wisatawan disana. Aku berfikir lanjut….Setelah mengunjungi museum itu, aku bisa berkeliling di area Msheireb Downtown Doha untuk melihat konsep kota terencana itu.

Perlu kamu tahu….MDD (Msheireb Downtown Doha) adalah sebuah kota pengganti Distrik Mushayrib yang pengembangannya direncanakan sangat detail.

Aku menjelajah sepanjang Ali Bin Abdullah Street, melewati Gold Souq -bangunan sepuluh jendela kaca lengkung sentra jual beli emas-, melintas kantor kas Qatar National Bank (QNB) Souq Waqif kemudian belok kanan di sebuah perempatan.

Gold Souq.

Sebelum benar-benar tiba di Msheireb Museum, langkahku tertahan di bawah sebuah bangunan ikonik, yang dari bentuknya aku sendiri faham bahwa itu adalah bangunan pertahanan atau benteng. Sewaktu kemudian, aku mengenalnya sebagai Al Kort Fort.

Dikenal juga sebagai Doha Fort, bangunan berusia 140 tahun ini dibangun pada masa Kesultanan Utsmaniyah sebagai kantor kepolisian. Tiga puluh lima tahun dihitung dari masa berdirinya, benteng ini berubah fungsi menjadi penjara di masa akhir kekuasaan Kesultanan Utsmaniyah. 

Lalu sejarah kembali berubah ketika Sheikh Abdullah bin Jassim Al Thani, Emir ketiga Qatar, membangun kembali benteng ini seiring melonjaknya angka kejahatan di sekitar Souq Waqif. Konon, muncul sekelompok pencuri terkenal yang merajalela di area pasar. Nah benteng inilah menjadi pusat keamanan Souq Waqif pada masa rawan itu.

Sesuai ciri khas benteng gurun pasir, bangunan ini berbentuk persegi dengan satu menara persegi panjang di salah satu sudut dan tiga menara bundar di ketiga sudut lainnya.

Sayang , benteng ini masih dalam proses renovasi sehingga aku tidak bisa masuk ke dalamnya. Tapi tnetu tak mengapa, karena aku bisa lekas berkunjung ke Msheireb Museum.

Mau tau ga Msheireb Museum kayak apa?….Panjang lho kisah yang tersampaikan di dalamnya….Siap-siap membaca penuh kesabaran ya!.

Souq Waqif….Terbesar dan Tertua.

Melewari gate bernomor  empat, aku kembali keluar di jalanan pasca menjelajah dalaman City Souq. Kantor dua lantai milik badan independen Qatar menjadi bangunan pertama yang kulewati. Tampak lima bendera Qatar berukuran besar mempergagah markas Central Municipal Council.

Aku menikung ke kiri begitu berpapasan dengan Abdullah Bin Jassim Street. Dua ratus meter kemudian, aku melewati bangunan berlantai empat yang menjadi pusat pengembangan Islam di Qatar yaitu Sheikh Abdullah Bin Zaid Al Mahmood Islamic Cultural Center. Tampak sebuah sepeda ontel hitam tersandar pada tiang rambu di depannya. Klasik, macam suasana di Eropa saja.

Lalu mulai tampak pelataran luas nan panas dari kejauhan, letaknya tepat di pojok barat daya perempatan besar yang terbentuk dari persilangan Banks Street dan Abdullah Bin Jassim Street. Deretan tujuh bangku panjang tiga warna terduduki tiga pria setengah baya yang tampak menikmati suasana.

Minggu siang kala itu, Souq Waqif yang kudatangi dari gerbang timur masih tampak sepi. Aku menyusuri koridor demi koridor pasar. Berlantai andesit gelap, berdinding tak mulus dengan warna krem dan dibagian atas diletakkan kayu-kayu utuh memanjang sebagai penyangga struktur atapnya yang sengaja dibuat rata.

Pelataran sisi timur Souq Waqif.

Kulewati kios-kios dengan barang dagangan yang masih tertutup, aku sendiri tak menahu tentang jenis barang dagangan tersembunyi itu. Kusingkap sedikit ujung kain penutup dan kutemukan jawabnya….Itu rempah-rempah.

Ketika sampai di area pasar yang sedikit menjorok ke tengah, aku menemukan sebuah blok yang menjual satwa, pakan yang sudah dipacking dalam plastik besar ukuran seragam, beserta kandangnya. Area berjualan satwa ini sudah tak lagi beratap, langit nan panaslah yang tampak tepat di atas kepala.

Terimakasih “RICH” yang menjadi partner dalam perjalanan kali ini.
Blok untuk berjualan satwa seperti burung dan kelinci.

Sementara beberapa orang tua pemilik kedai sederhana tengah sibuk mempersiapkan lapaknya yang telah dilengkapi lemari-lemari pendingin dengan merk minuman ternama. Aku masih belum bisa membayangkan bagaimana rupa kedai ini ketika ramai. Aku hanya menebaknya sebagai kedai kaum menengah.

Masih sepi….Mereka bersiap diri.

Tergelincirnya matahari mengurungkan niatku untuk menelusuri seisi pasar. Eksplorasi bagian timur sudah kuselesaikan. Bagian barat?….Sudahlah, besok masih ada waktu. Aku mendadak menciptkan sebuah opsi perjalanan sendiri. Meninggalkan Souq Waqif segera dan ingin bersantai di Doha Corniche hingga sore. The Pearl Monument adalah tujuan berikutnya.

—-****—-

Inilah satu-satunya pasar tradisional kuno terbesar di seluruh Qatar. Al Souq menjadi distrik yang beruntung atas kepemilikan pasar ini. Berdiri pada akhir abad ke-18 di tepian Wadi Msheireb. Wadi sendiri merujuk pada jalur sungai kering yang hanya terisi air saat hujan lebat saja. Pengalaman menggelikan terkait Wadi adalah ketika mengunjungi negeri tetangga Qatar yaitu Bahrain. Saking keringnya, wadi di sana biasa digunakan warga untuk bermain cricket….Lucu kan.

Tiga hari berlalu, membuatku kembali merindukan Souq Waqif.

Rabu pagi, aku akhirnya tak kuasa membendung rindu itu. Aku kini memasukinya dari sisi barat yang tampak lebih elegan karena sisi ini memang berbatasan dengan Msheireb Downtown Doha (MDD), sebuah kota subtitutor Distrik Mushayrib yang pengembangannya direncanakan detail.

Pelataran sisi barat.

Aku mengamini….Terutama ketika mendengar sebuah jargon bahwa Souq Waqid adalah rumah bagi banyak restoran dan shisha lounges. Siang itu, aku memasuki sisi barat dengan sambutan deretan restoran bergaya Eropa di sepanjang koridor terbuka.

Restoran.

Sisi inilah yang menjadi tempat bagi warga Qatar dan para turis untuk sekedar nongkrong, menikmati kopi dan menghisap sisha. Konon akan ramai di Kamis malam. Seperti kebiasaan di kawasan Timur Tengah, yang menjadikan malam Jum’at sebagai permulaan weekend mereka untuk menyambut libur di keesokan hari.

Souq Waqif tak pernah merubah bentuk  arsitektur khas Qatarnya.

Waqif berarti berdiri. Karena pada masa perintisan pasar, tidak ada satupun kios yang dibangun. Hal ini disebabkan karena meluapnya air laut dari pantai Doha yang menggenangi pasar. Bahkan diawal berdirinya, masyarakat Arab Badui yang nomaden dan penduduk setempat bertemu dan bertransaksi di tempat ini. Para pembeli akan datang menggunakan perahu atau menaiki onta untuk mensiasati genangan tersebut dan penjual akan berdiri sepanjang hari untuk menawarkan dagangannya.

Duh cantiknya Souq Waqif.

Semakin memasuki area tengah, atmosfer pasar menjadi sangat ramai. Kini aku menemukan area penjual souvenir. Jam tangan, fridge magnet, gantungan kunci, dompet serta souvenir jenis lain ramai dipasarkan di area ini.

Koridor souvenir.

Kemudian keluar pasar melalui sisi selatan, aku menemukan area berjualan dallah, tabung shisha beragam bentuk dan ukuran seta berbagai jenis handicrafts

Area handicrafts.

Perkembangan ekonomi negara Qatar yang sangat melejit semenjak menemukan minyak bumi berimbas positif pada kondisi pasar ini. Pada tahun 2006. Emir Qatar, Sheikh Hamad bin Khalifa Al Thani merenovasi besar-besaran Souq Waqif sebagai pusat ekonomi dan pariwisata dunia. Konon sang Emir mendatangkan  kayu dan bambu yang diimpor dari beberapa negara Asia untuk kegiatan renovasi besar ini.

Nah, tunggu apa lagi….Yuk ke Qatar….Hihihi.