Sleep & Sleep Capsule: Penginapan Murah di Semarang

<—-Kisah Sebelumnya

Selamat pagi….Fajar terakhir di The Azana Hotel Airport.

Sesuai jadwal business trip ini, aku seharusnya pulang ke ibukota sore nanti. Sudah barang tentu, jam 12 siang ini, aku harus melakukan check-out dari The Azana Hotel Airport. Karena pelatihan baru akan selesai pukul 14:00, maka sebelum aku berangkat ke kawasan Bukit Semarang Baru untuk mengawal jalannya pelatihan, aku segera menyerahkan kunci hotel sembari menitipkan semua barang-barang di reception desk.

Pelatihan hari kedua ini berjalan sangat lancar dan selesai tepat waktu. Semua peserta pelatihan pun satu persatu undur diri untuk kembali ke kotanya masing-masing. Aku pun segera kembali ke The Azana Hotel Airport, untuk mengambil barang yang tertitip.

Kamu tentu sudah tahu kelakuanku…Yups, aku sengaja memperpanjang masa kunjungku di Kota Atlas dengan biayaku sendiri. Kini aku bersiap berperilaku kembali layaknya seorang backpacker. Aku akan berpindah menuju sebuah hostel seharga Rp. 40.000 per malam. Dan karena Pak Muchlis yang masih akan kembali pada pukul 19:00 nanti, akhirnya mengikuti kemana kakiku melangkah.

Menumpang taksi online, aku menuju ke Sleep & Sleep Capsule di daerah Dadapsari. Pengemudi taksi online yang kutunggangi rupanya tahu perihal hotel kapsul murah itu, mampu membaca tujuanku tiba di Semarang, sehingga percakapanku dengannya pun otomatis menghangat di ranah backpacking.

Aku diturunkan di bilangan Jalan Imam Bonjol tepat di halaman Universitas AKI. Tak sulit menemukan Sleep & Sleep Capsule, karena tulisan namanya tertera sangat besar di tembok pembatas universitas itu. Lorong kecil berkanopi itu mengarahkanku menuju sebuah pintu seukuran gang yang langsung berhadapan dengan meja resepsionis.

Lorong masuk.
Reception desk.

Telah terbayarnya biaya hotel melalui Agoda, staff reception perempuan itu hanya meminta KTPku saja untuk mencocokkan data. Walaupun minimalis, hotel ini tampak didesain sangat rapi dan modern dengan mengambil konsep aktivitas di sebuah bandara. Interior dinding lobby itu didesain bak sisi jendela sebuah pesawat lengkap dengan kursi pesawatnya. Sedangkan alur lalu lintas tamu di area lobby dibatasi dengan desain lantai bak aspal bandara. Segenap lobby didominasi dengan warna kuning, coklat, putih dan abu-abu…..Ciamik banget.

Lobby.
Ruang bersama.
Ruang bersama.

Sedangkan setiap tamu akan mendapatkan sebuah loker yang diletakkan di ruang terpisah dengan kamar tidur. Aku perhatikan banyak tamu yang menaruh laptop dan beberapa berkas tugas sebuah institusi pendidikan di loker itu, aku kemudian menyimpulkan bahwa mereka adalah para mahasiswa yang sedang berkuliah. Entahlah, apakah mereka lebih memilih hotel jenis kapsul ini untuk tinggal atau memang mereka hanya sesekali menginap saja karena ada tugas lembur di kampus. Hal itu  mungkin saja karena memang hotel ini berlokasi bersebelahan dengan Universitas AKI.

Koridor loker.

Aku pun segera menaruh backpack di ruang kapsulku, bunk bed tingkat paling atas. Aku segera menaruh peralatan traveling di folding bag untuk kubawa ke destinasi berikutnya sore itu. Terus terang, aku baru kali ini tidur di sebuah ruangan kapsul. Biasanya aku memilih sebuah dormitory reguler.

Memang beda tipis antara kapsul dan dormitory. Kapsul berpembatas sedangkan dormitory cenderung lebih terasa lega karena tak berpembatas papan.

Karena jumlah kapsul dalam ruangan ini adalah 42 buah, tak hayal lagi ruangan kapsul ini sangat berisik ketika waktu tidur menjelang. Sudah dipastikan diantara 42 orang ini adalah para pengorok ulung yang mengganggu nyenyaknya malam. Keriuhan akan kembali terjadi di pagi hari karena disaat itulah orang saling berembut untuk mandi. Mereka tampak mengejar urusannya masing-masing sepagi mungkin. Begitu juga aku.

Kamar.
Pindah peraduan.

Sedangkan toilet berada di ujung ruangan kapsul. Wastafel, urinoir dan shower berada pada ruangan yang saling terpisah. Walaupun dipakai untuk 42 tamu dalam satu ruangan, kamar mandi itu tetap tampak bersih dan wangi. Sepertinya para tamu ini sudah berpengalaman tinggal di sini, mungkin para mahasiswa itu sudah berlangganan menginap di hotel kapsul ini.

Kamar mandi.
Kamar mandi.

Nah, Hayo siapa yang mau tinggal di hotel jenis kapsul sepertiku?……

Ikan Bakar Cianjur dan Kota Lama Semarang

<—-Kisah Sebelumnya

Kutinggalkan kerumunan anak-anak sekolahan asal Jawa Timur yang asik berwisata religi di halaman Masjid Agung Jawa Tengah. Anak belasan tahun itu terlihat sangat girang berlarian di halaman, berbaris rapi dan berfoto berlatar tempat ibadah yang mengesankan itu, bahkan beberapa berguling sesuka hati di pelataran.

Honda Jazz hitam menjemputku atas perintah aplikasi GOJEK. Setelah mengkonfirmasi tujuan dan aku mengiyakan, hatchback hitam itu meluncur menuju Tanjung Emas.

Tempat itu sekarang sudah keren lho mas, mas Donny harus keliling di sana!”, Dia menjelaskan seluk beluk dengan detail bak duta wisata Kota Atlas.

Wah, boleh juga tuh mas”, ucapku berharap membuatnya bangga.

Sudah direnovasi besar-besaran mas, habis lebih dari 150 Miliar loh mas, cocok buat nongkrong dan hunting foto mas”, dia terus mejelaskan.

Hatchback yang kutunggangi akhirnya berhenti dengan lembut di slot parkir.

Perjalanan seharga Rp. 10.000 menuju ke sini.
Bersiap makan malam bersama.

Tak terasa lama berkendara, aku tiba. Aku harus bersiap lebih dahulu, sebelum tamu-tamu datang. Malam ini aku akan mentraktir semua kolega penting perusahaan di Restoran Ikan Bakar Cianjur. Memasuki bekas gedung pengadilan zaman kolonial ini, dengan cepat para juru saji menangkap niatku dengan mengarahkan ke tempat duduk yang cukup menampung jumlah tamu yang kucacah.

Ruang restoran yang mengikuti fungsi awal bangunan, penuh ruang, setiap ruang dipenuhi deretan meja makan berbahan jati atau meja kaca berangka jati. Sementara kursi-kursi khas betawi berderet rapi, sementara jendela-jendela persegi menjulang ke langit-langit dengan tralis berkerangka susunan bujur sangkar mini. Tampak hiasan ruangan berupa almari-almari souvenir berbahan kayu jati dan berpendingin beberapa kipas angina besar.

Memesan bangku terlebih dahulu.
Tak cukup sederet, tapi dua deret bangku yang dipesan.

Walhasil, dinner itu selesai bersamaan dengan gesekan credit card senilai hampir dua juta.Ringan kugesekkan kartu hutang itu karena semuanya akan direimburs ke kantor.

Berpamitan, para kolega undur diri untuk beristirahat dan melanjutkan training esok hari. Sementara, aku masih punya waktu untuk melangkah lebih jauh di sekitaran Kota Lama. Tak akan seluruhnya terjelajah, karena 31 Ha butuh waktu seharian untuk mengeksplornya.

Terimakasih Tumenggung Trunojoyo….

Berkat pemberontakanmu ke Mataram, Kota Semarang menjadi kota pesisir pengekspor gula dan rempah ke Eropa pada Abad ke-19. Dibawanya arsitektur Renaisans ke Semarang, vintage, kaca-kaca berwarna, bentuk atap unik, ruang bawah tanah, jendela besar dan juga pintunya. Dan menjejakkan kaki di dalamnya….Kini aku sedang menikmati kompleks Kota Lama di bawah temaram pelita bulan.

Aku mulai memasuki Jalan Letjen Suprapto. Penampakan gereja tua bermenara kembar dengan jam dinding besar di setiap menara lalu beratapkan kubah besar berwarna merah bata, menjadikan arsitektur bangunan ini seperti perpaduan dua jenis tempat ibadah yaitu masjid dan gereja. Gereja berumur lebih dari 250 tahun kini bernama Gereja Protestan Indonesia Barat Immanuel. Nama asli dari gereja itu sendiri adalah  Nederlandsch Indische Kerk.

Gereja Blenduk, Lanskap Kota Lama Semarang.
Gereja Blenduk, Lanskap Kota Lama Semarang.

Sementara berseberangan jalan dengan Gereja Blenduk, terletaklah gedung Jiwasraya, berbentuk Letter-L, berusia 104 tahun, dan disiram dengan spektrum cahaya merah-hijau-biru secara bergantian. Adalah ex-Nederlandsch Indische Level Sverzeking De Lifrente Maatschaapij (NILLMI), boleh dibilang sebagai bisnis asuransi utama Belanda tempoe doeloe. Pernah juga berfungsi sebgai Balaikota pada zaman Kolonialisme Belanda.

Bangunan 3 lantai dengan kubah di sikunya.

Sementara di sebelah timur gereja Blenduk, tepat di sebuah perempatan, terletaklah sebuah Bar dan Bistro berjuluk Spiegel. Bangunan persegi panjang dua lantai dengan pintu di salah satu sudutnya. Gedung klasik ini berasal dari akhir Abad ke-19 ini (125 tahun). Begaya Spanish Colonial, gedung bekas perusahaan Winkel Maatschappij H Spiegel ini menunjukkan sebuah perjuangan bisnis Tuan H. Spiegel yang awalnya hanya bekerja sebagai seorang manajer perusahaan, kemudian menjadi pemilik perusahaan yang dipimpinnya itu.

Perusahaan ini sendiri didirikan oleh Tuan Addler.

Bagian terakhir yang kukunjungi adalah Taman Srigunting. Taman dengan empat pohon besar di setiap ujung taman dan bergelantungan lampu hias di sepanjang rantingnya. Membuat suasana begitu romantis bagi para pasangan muda yang sedang kasmaran, atau para keluarga kecil dengan putra-putri mungilnya atau juga buat para kaum jomblo yang ingin mencari jodohnya.

Tempat yang baik untuk menghabiskan weekend.

Saatnya pulang ke hotel dan beristirahat untuk persiapan pelatihan hari kedua esok hari……

Zzzzzzzz……….

Kisah Selanjutnya—->

Aura Romawi di Masjid Agung Jawa Tengah

<—-Kisah Sebelumnya

Membelakangi Klenteng Sam Poo Kong, pandanganku mengobrak-abrik area kantin. Berusaha menemukan Pak Muchlis sesegera mungkin. Aku harus menyeretnya ke Masjid Agung Jawa Tengah, bukan hanya untuk melakukan shalat jamak, tapi juga menggenapkan wisata religi sore itu setelah baru saja selesai mengitari klenteng.

Kutemukan dia di sebuah pojok, dia terlihat nikmat menghisap asap tembakau. Klepas-klepus tanpa dosa sembari bergilir mengguyur kerongkongannya dengan jus mangga….Hahaha.

Ayo pak, ikut aku lagi!”, seruku kencang dari kejauhan.

Loh, nyang endi?”, serunya sambil mematikan api tembakaunya

Shalat”, kataku singkat sambil melangkah membelakanginya menuju pintu keluar klenteng.

Taksi pangkalan merangkap taksi online datang menjemput. Kini aku dihadapkan pada seorang pengemudi setengah tua yang terlanjur bangga dengan kekhilafan-kekhilafan manusiawinya. Katanya, dia pernah meminta ongkos lebih pada sepasang bule Belanda hanya karena punya alasan bahwa Belanda pernah menjajah bangsanya. Lantas kedua bule itu tak terima, dihentikannya taksi di depan sebuah kepolisian sektor, si sopir menjelaskan alasannya meminta ongkos lebih. Lantas polisi itu menjelaskan ke bule dengan cara yang lebih elegan, si bule pun entah kenapa mau membayarnya lebih…..Lucu, aneh bin ajaib.

Pernah juga dia tak mau menerima kembalian ongkos dari seorang Tionghoa, katanya dia punya harga diri untuk tak dikasihani….Cerita ini lebih ajaib lagi, pengen aku koprol salto saat mendengarnya.

Sudahlah….Aku lagi malas berdebat….Aku bertelepati dengan sedan putih itu untuk segera berlari lebih kencang dan segera sampai….Sedan antar jemput online itu tiba tepat di pelataran tujuan.

Yup….Masjid Agung Jawa Tengah…Sebut aja MAJT.

Pelataran itu lengang, parkir mobil tetapi penuh parkir motor, bercahaya syahdu dipadu gemericik air mancur di sepanjang kolam di tengah jalur trotoar. Di akhir pelataran, tersaji gerbang berpilar dua puluh lima, bergaya romawi, dengan kaligrafi khas Timur Tengah melingkar di lis atasnya…Selera Romawi tersemat jelas di halaman itu.

Aura Romawi di awal kunjungan.
Gimana?….Keren kan?.

Sisi kanan masjid didominasi Al Husna Tower setinggi 99 meter, diejawantahkan dalam 19 lantai. Kalau kamu mau, naiklah sesukamu, diatas menanti teropong pandang (lantai 19) yang mengiming-imingi kecantikan Kota Atlas versi ketinggian, lalu nikmatilah secangkir kopi di sebuah kafe lantai 18 (Kafe Muslim) yang bisa berputar satu lingkaran penuh….Wahhh.

Al Husna Tower.

Sedangkan sisi kiri masjid terakuisisi oleh bedug hijau raksasa berumahkan paviliun 3 lapis atap. Persembahan segenap santri dari Pesantren Al Falah Banyumas untuk MAJT.

Bedug raksasa itu bunyinya gimana ya?.

Sementara, pelataran masjid dihiasi oleh enam payung hidrolik raksaka yang layaknya paying yang sama di Masjid Nabawi, Madinah. Masjid agung ini tampak lega tak berujung, konon luasnya mencapai 10 hektar. Menjadikan masjid ini sebagai kebanggaan masyarakat Sambirejo. Masjid cantik yang kubahnya bergaris tengah 20 meter yang memuncaki atap limas khas arsitektur Jawa.

Lihat bentuk utuhnya…..Beuhh.

Tak begitu memperdulikan keramaian di halaman, aku bergegas turun ke lantai bawah, bersuci, lalu melakukan shalat jamak di lantai atas.  Shalat dengan iringan khutbah seorang ustadz kepada jama’ah pengajian.

Interior masjid.
Lampu gantung di tengah ruangan masjid.

Aku sedikit berlama waktu dengan mengikuti siraman ruhani ini. Sebuah kebiasaan yang selalu kuulang-ulang ketika mengunjungi masjid-masjid ternama. Tak perlu khawatir karena waktuku mentraktir para kolega masih nanti. Bisa kukejar dengan taksi online dalam 15 menit saja.

Al Qur’an raksasa karya H. Hayatuddin, penulis kaligrafi dari Universitas Sains dan Ilmu Al-Qur’an, Wonosobo.

Selesai khutbah, aku mulai meninggalkan bangunan berusia 14 tahun itu, mengucap selamat tinggal pada pusat syiar islam itu setelah berwisata religi di dalamnya, serta mendoakan semoga MAJT menjadi pusat pendidikan agama yang makmur.

Perlu kamu ketahui bahwa masjid ini memiliki fungsi lain yaitu sebagai perpustakaan, auditorium, penginapan, ruang akad nikah dan museum perkembangan Islam.

Kisah Selanjutnya—->

Jasa Juru Mudi di Klenteng Sam Poo Kong

<—-Kisah Sebelumnya

Semarang pantas berterimakasih pada nahkoda Ong Keng Hong karena mengalami sakit keras. Sebab sakitnyalah, dia harus berlabuh dan memilih untuk ditinggalkan rombongan ekspedisi di Bukit Simongan. Laksamana Zheng He masih bermurah hati dengan mengutus beberapa prajurit untuk menemani dan merawat nahkodanya di Semarang. Kemudian di suatu masa, di sekitar Abad XV, Ong Keng Hong inilah yang mensyi’arkan Islam dan mendirikan Goa Gedung Batu yang merupakan cikal bakal berdirinya Klenteng Sam Poo Kong di era modern….Oh ya, konon Ong Keng Hong ini menahkodai kapal raksasa sepanjang 130 m dan lebar 55 m dengan 9 tiang layar. Beriringan bersama 299 kapal lainnya dalam sebuah ekspedisi agung.

Sore itu, jarum jam menunjukkan pukul 15:30, pertanda bahwa tugasku mengawal pelatihan sudah rampung. Setelah mengepak setiap peralatan penting untuk digunakan kembali pada pelatihan hari kedua esok hari, aku tak menuju hotel, melainkan berniat mengeksplorasi di daerah Bongsari.

Momen penutupan pelatihan….Tak sabar untuk segera bereksplosi.

Karena nanti malam aku harus menjamu kolega-kolega penting untuk makan malam bersama maka sang tuan rumah berbaik hati mengantarkan aku dan Pak Muchlis menuju destinasi yang kumaksud. Tak lama kemudian aku tiba di Klenteng Sam Poo Kong. Duduk sejenak di pelataran parkir di gerbang utara klenteng, hatiku terus tertelisik, ada sejarah apakah di dalam sana?.

Menebus tiket sebesar Rp. 27.000, aku mulai memasukinya.

Gerbang kuil.

Sepertinya klenteng ini memang sangat siap menjadi sebuah obyek wisata, berbagai papan petunjuk arah sangat lengkap di letakkan di beberapa posisi strategis, beberapa titik terbaik untuk pengambilan photo juga sudah di tandai dengan detailnya.

Mas Donny, aku duduk sini ae lah, mau minum es sama udut, kesel aku mas. Sampeyan keliling dhewe wae yo!”, ujar Pak Muchlis meringis sambil memijit-mijit betisnya. Dia lebih tertarik sama jus jeruk dan duduk di rest area.

Rest Area.

Aku menyisir dari sisi utara, melewati sebuah pendopo joglo yang sebagian ruangnya dimanfaatkan pedagang untuk berniaga souvenir, sedangkan tepat di depannya terdapat sebuah posko kesehatan dengan dasar dinding berwarna kuning. Sementara di pelataran klenteng yang sangat luas berdiri dua patung singa emas pembawa bola dunia dan anak singa serta dua patung putih penjaga Yin dan Yang.

Pendopo Joglo.
Posko Kesehatan.
Patung penjaga dan pemegang tanda Yin (bulan) dan Yang (matahari).

Mulai kulangkahkan kaki memasuki bagian klenteng satu per satu. Aku memasuki klenteng dengan tiga puluh enam tiang penyangga dan beratap dua susun. Di bagian depannya dijaga oleh dua singa berwarna emas dan delapan Dewa-Dewi. Inilah klenteng pemujaan Thao Tee Kong (Dewa Bumi) untuk memohon berkah dan keselamatan hidup.

Klenteng Dewa Bumi.

Bersebelahan di sisi selatan, terletaklah  Klenteng Juru Mudi. Klenteng ini tentu didedikasikan untuk mendiang Ong Keng Hong, Sang nahkoda yang melakukan syi’ar di Semarang. Berukuran lebih kecil, klenteng ini didirikan dengan enam belas tiang penyangga yang dua diantaranya berwarna coklat, berukir naga dan terletak tepat di pintu masuk. Dijaga oleh patung singa berwarna hijau dan dua Dewa di pelatarannya.

Klenteng Juru Mudi.

Tibalah aku di bangunan utama dalam kompleks peribadatan teruntuk pemeluk Tridharma (Taoisme, Buddhisme, dan Konfusianisme). Adalah Klenteng Sam Poo Kong yang berdiri kokoh dengan sembilan puluh tiang dan beratap tiga susun.

Aku berhasil memasuki klenteng ini. Tapi melakukan kesalahan besar dengan memotret lokasi peribadatan yang terlarang. Aku dimarahi sejadi-jadinya oleh petugas klenteng. Maafkan aku pak, aku tak melihat ada gambar kamera tercoret garis merah di dekat tiang tengah.

Di belakang klenteng utama ini terdapat sepuluh relief yang mengisahkan kejadian-kejadian penting dalam pelayaran Laksamana Zheng He, atau kita lebih akrab memanggilnya Laksamana Cheng Ho. Beberapa orang memanggilnya San Poo Tay Djien.

Diantara kisahnya adalah dihadiahinya Laksamana Zheng He beberapa ekor jerapah oleh Raja Hulumosi dari Iran, menumpas pemberontakan Iskandar di kerajaan Samudra Pasai, seratus tujuh puluh prajuritnya gugur dalam mengatasi perang saudara antara Wikramawardhana (Raja Barat Jawa) dan Wirabumi (Raja Timur Jawa), menumpas lima ribu bajak laut pimpinan Chen Zhu Yi di Palembang, mengatasi konflik antara Malaka (Malaysia) dan Siam (Thailand), kisah awal keberangkatan ekspedisi yang dipimpinnya dari Liu Jia Gang, mengawal putri Han Li Bao untuk dipersunting raja Malaysia (Sultan Mansyur Syah), hingga menyelamtkan Duta Besar China yang hilang di Indonesia….Wah, keren ya kisah Laksamana yang satu ini.

Relief di belakang klenteng utama. Cerita disampaikan dalam tiga bahasa yaitu Inggris, Indonesia dan China.
Patung perunggu Laksamana Zheng He setinggi 12 meter dan Klenteng Sam Poo Kong.
Pintu Gerbang Selatan di belakang patung Laksamana Zheng He.

Hari semakin gelap, lampu warna-warni mulai dinyalakan. Aku telah tiba di ujung eksplorasi klenteng ini. Aku menyempatkan duduk di sebuah bangunan yang berfungsi sebagai tempat pertunjukan yang di deret anak tangganya berdiri patung-patung prajurit yang dibawa Laksamana Zheng He.

Panggung untuk tempat pertunjukan.
Patung-patung prajurit Laksamana Cheng  Ho.

Untuk para pengunjung yang ingin berfoto menggunakan kostum semasa Laksamana Zheng He, mereka bisa menyewanya di tempat persewaan di foto kostum.

Foto Kostum.

Itulah kisah kunjunganku di Klenteng Sam Poo Kong, klenteng penuh sejarah dan penutur kisah perjuangan segenap awak kapal yang dikomandani oleh Laksamana Zheng He.

Kisah Selanjutnya—->

Kampung Batik Kampung Laut

<—-Kisah Sebelumnya

Tak lama setelah memasuki kamar bernomor 523 di The Azana Hotel Airport, aku bergegas memasuki kamar mandi, kemudian keluar dengan pakaian santai. Dari raut muka, aku tahu pak Muchlis sudah dilanda kelaparan. Karenanya sedari tadi, dia terus mengemil kacang tanah kemasan yang dibawanya dari tempat rehearsal.

Ayo pak, kita jalan, cari makan!”, sahutku sembari mempersiapkan Canon EOS M10.

Makan kemana kita, mas Donny?”, dia pun nampak belum punya pilihan.

Mau gak pak ke Kampung Laut? Makan seafood yuk!”, ajakku kepadanya. Diam-diam, aku sudah menemukan restoran ini melalui browsing semenjak meninggalkan bandara tadi sore.

Jauh ga, mas Donny?”, tanyanya. Mungkin dia enggan karena setahuku passion dia tak jauh-jauh dari naik gunung, melakukan eksplorasi kota membuatnya tersambar malas duluan.

Engga pak, cuma enam kilometer kok, paling seperempat jam, pak yuk kita cabut! Keburu kemalaman.“, sahutku.

Aku manut ae lah, Mas Donny. Aku sing pesen Grab, yo!”, ayuk lah berangkat.

Tak lama, Honda Jazz hitam menjemput di lobby, kami pun meluncur ke daerah Tawangsari. Yang kufahami, ini adalah jalur yang sama persis ketika aku meninggalkan Ahmad Yani International Airport menuju The Azana Hotel Airport. Kami melewati Jalan Yos Sudarso lalu berbelok ke kiri mengikuti Jalan Puri Anjasmoro ke arah bandara. Hanya saja kami akan berhenti sekitar dua kilometer sebelum benar-benar tiba di bandara.

Sampailah kami di Restoran Kampung Laut.

Bersama Pak Muchlis di Kampung Laut.

Begitu sampai di tujuan, aku menjadi lupa lapar. Pemandangan seisi restoran membuat hasrat eksplorasiku kambuh. Aku minta Pak Muchlis untuk mencari bangku, kulihat sejenak menu di sebuah meja, kemudian aku minta dipesankan nasi putih, cumi asam manis dan es kelapa muda.

Aku keliling bentar ya pak, nanti kabari aku duduk dimananya ya!”, pintaku sedikit bergegas.

Aku duduk di tengah situ aja ya mas, tak tunggu!”, dia menunjuk meja kecil di ruang terbuka di sisi barat saung utama.

Baik pak”, aku menutup percakapan cepat kami.

Aku meninggalkannya untuk menelusuri beberapa spot di restoran yang didesain mengapung diatas danau buatan itu. Aku mulai memasuki bagian pertamanya yang berwujud delapan saung utama, empat di sisi kiri dan sisanya di sisi kanan. Meja-meja memanjang dengan puluhan kursi nampak disusun di bawah saung-saung itu, sebagai tanda bahwa saung tersebut digunakan untuk melayani pengunjung dalam jumlah banyak. Tampaknya pak Muchlis sudah tepat memilih bangku kecil di pelataran luar.

Jajaran saung dengan kolam di hadapannya.
Meja makan panjang di dalam saung….Cocok untuk makan bersama sekantor.

Sementara di bagian ujung barat, tampak anjungan panjang menuju ke sebuah nameboard “Kampung Laut” yang sengaja didesain untuk tempat berfoto para pengunjung seusai makan. Konsep yang menarik anak-anak muda untuk berkunjung ke sini.

Spot foto terbaik di Kampung Laut.

Tak lama kemudian, aku segera bergabung dengan Pak Muchlis untuk bersantap malam setelah dia mengirimkan pesan singkat “Makanan sudah siap, mas Donny. Ayo kesini!”.

Yuk mari, makan duyuuu….

Meja makan outdoor.
Menu kami: Kangkung, cumi, ikan, es kelapa muda dan jus alpukat….Standard….Hahahaha.

Seusai makan, aku berbincang perihal rehearsal siang tadi yang dilakukan Pak Muchlis tanpa bantuanku. Apakah ada yang kurang, apa yang bisa dipersiapkan lagi sebelum pelatihan esok hari. “Wes beres kabeh mas Donny, ndak perlu khawatir. Yang penting besok kita datang setengah jam sebelum acara yo!”, ucapnya singakat dan meyakinkan.

Sebelum menutup makan malam di Restoran Kampung Laut, kami berdiri di depan stage mungil dan menikmati beberapa lagu yang dibawakan oleh seorang biduan cantik. Wah kalau ada waktu banyak, pasti aku ikut nyayi tuh bersamanya, sayang dia sedang menyanyikan beberapa lagu request dari pengunjung restoran.

Lagu apa ya enaknya kalau duet sama si mbak…..”Yellow” atau “Tiwas Tresno”.

Tepat pukul 21:30, kami undur diri dan segera menuju ke hotel untuk beristirahat. Dengan sigap Pak Muchlis mendatangkan taksi online berwujud Wuling Confero berwarna putih. Inilah pertama kalinya aku merasakan sensasi menunggang kuda besi buatan Tiongkok itu. Hmmhhh….Cukup lega. “Ini pakai mesin Chevrolet lho mas”, ungkap si pengemudi membanggakan mobilnya. Woow…..Kalau mendengar kata “Chevrolet”, bayangan pertama yang muncul di pikirankau adalah si kuning “Bumblebee”.

Eittt  lupa, sebelum benar-benar meninggalkan restoran, buat kamu yang ingin berbelanja batik, disediakan gerai “Kampung Batik” yang menjual batik khas Semarang.

Buat penggemar batik….Silahkan mampir.

Saatnya tidur dan mimpi indah, kawan…….

Mengenal Ahmad Yani International Airport

<—-Kisah Sebelumnya

Free business trip kali ini kumulai dengan sangat mendadak dan berbekal ala kadarnya. Yang terpenting barang kesayangan tak tertinggal….Tak lain adalah Canon EOS M10 warna hitam. Selain perbekalan, itinerary juga tak pernah tersusun sebelum berangkat. Empat hari ke depan aku akan menjadi “Si Bolang” yang bermain sesuka hati.

Ketika Citilink mulai take-off meninggalkan Halim Perdanakusuma International Airport, aku pun tak pernah memikirkan apapun perihal Ahmad Yani International Airport. Memoriku masih sama tentangnya. Sederhana, tak besar, ruang tunggu yang langsung bertatap muka dengan moncong pesawat ketika parkir. Begitulah lembaran ingatan yang tersusun rapi dalam cabinet otakku. Bagaimanapun, beberapa tahun lalu, Ahmad Yani International Airport berperan besar dalam melepas landaskan penerbangan pertama kalinya dalam sejarah hidupku.

Oh ternyata…..

Ini berbeda, sungguh menakjubkan”, gumamku ketika mengintipnya melalui jendela saat QG 144 sedang taxiing menuju apron.

Benar adanya, Ahmad Yani International Airport yang berkode IATA “SRG” ini sudah mentransformasi dirinya menjadi super elegan. Aku diturunkan bersebelahan parkir dengan “Maskapai Singa Merah”. Melangkah dibawah sayap raksasa, tampak bangunan utama terminal menampilkan hamparan jendela kaca yang memamerkan pilar-pilar besar di dalamnya. Cahaya surya tampak menembus sempurna seisi ruangan dalam bangunan berkaca itu.

Mari memasuki bangunan terminal.

Aspal pada jalur kendaraan bandara pun masih terlihat sangat hitam dan halus, pertanda lintasan ini belum lama digunakan. Rambu-rambu yang menempel di aspal masih putih sempurna. Tembok terminal masih berwarna krem menyala.

A. Arrival

Aku memasuki koridor arrival hall menuju ke area baggage claim. Lantai yang masih mengkilat memantulkan cahaya lampu dalam pola yang teratur, ruangan kaca disebelah kiri masih berstatus underconstruction sedangkan sisi kanan koridor sudah beroperasi beberapa toilet, lift, dan musholla. Beberapa rak berisi pot-pot bunga sepatu memperindah sudut-sudut ruangan.

Koridor menuju baggage claim area.
Baggage claim area.

Beberapa konter baggage service milik beberapa maskapai masih tampak tutup, mungkin maskapai yang bersangkutan belum beroperasi di terminal ini.

Setelah melalui baggage claim area, deretan konter penyedia informasi telah dipersiapkan seperti Tourist Information Center, BP3TKI, money changer dan perusahaan persewaan mobil TRAC. Sementara antara bangunan utama dan ruas jalan untuk keluar-masuk bandara dipisahkan oleh hamparan air. Ya, aku kini sedang berada di terminal terapung seluas 7 hektar yang didirikan diatas rawa.

Area pintu keluar diletakkan di bawah sebuah koridor berkanopi dan berangka balok baja  bercat putih. Koridor ini menghubungkan arrival hall dan commercial zone bandara. Keberadaan kolam, umbrella shade dengan kursi-kursi dibawahnya dan taman tertanam pohon bertinggi sedang dengan sebaran berpola menjadikan penampakan area pintu keluar menjadi sangat apik. Di sinilah para penjemput menunggu kedatangan tamu atau sanak saudara mereka yang baru saja mendarat.

Pintu keluar.
Area taman.

Begitu melewati pintu keluar terdapatlah photospot area dengan background presiden Joko Widodo yang sedang mengontel sepeda kebo. Dilanjutkan dengan keberadaan toilet, nursery room, money changer, musholla dan ATM area.

Musholla setelah pintu keluar.
Koridor dengan sederet ATM beberapa bank.

Layar airpot digital clock sudah menunjukkan pukul 17:09, ketika aku memasuki commercial zone. Tampak dua meja customer service dominan hijau diletakkan sejajar dengan exit gate. Sedangkan bangku bangku tunggu berselang-seling warna hitam merah melingkari setiap pilar-pilar utama bangunan terminal serta berjajar di beberapa sisi dinding yang kosong. Beberapa spot foto berada di pojok bangunan, sedangkan departure and arrival flight information LCD menguasai zona tengah sehingga mudah diakses oleh semua penumpang dan pengunjung bandara.

Konter customer service.

Area commercial zone sudah ditempati beberapa brand ternama seperti X-Side Eat, A&W, Kukomart, Bank BNI, Eaten Kopi Tiam dan brand lainnya.

Keluar dari commerzial zone building, aku disambut oleh koridor ganda yang dipisahkan oleh jalur kendaraan roda empat. Ini zona taksi dan drop and pickup zone. Koridor ini tampak rapi dengan tiang tiang bulat dan beratapkan spandek.Sementara di bawah naungan, disusunlah kursi tunggu di sepanjang koridor. Aku sendiri memilih moda transportasi taksi menuju pusat kota, mengingat ini adalah business trip yang semua biayanya ditanggung oleh kantor tempatku bekerja.

B. Departure

Tiga hari berselang, aku menyambangi kembali bandara ini untuk pulang ke ibukota. Taksi online menurunkanku di tempat yang sama ketika aku meninggalkan bandara saat tiba di hari pertama. Aku menginjakkan kaki di drop and pickup zone lalu bergegas mencari check-in area di dalam bangunan terminal.

Tiba di drop and pickup zone.

Memasuki commercial zone, aku terus melaluinya saja, banyak calon penumpang yang nampak bersantai di area ini, baik di area umum atau menyantap makanan di  beberapa coffee shop. Begitu keluar dari commercial zone aku memasuki area beratap transparan bertiang baja dengan dua layar check-in information LCD, sementara di sisi kanan tersaji geladak kayu dengan sejumlah pot palem diatasnya sedangkan bagian lainnya berupa kolam air yang merendam tiang-tiang pancang pondasi terminal sehingga memberikan kesan bahwa ini adalah terimal penumpang terapung….Keren sekali.

Taman dan kolam disisi kanan departure hall.

Di ujung taman dan kolam, aku memasuki sebuah gedung yang berfungsi sebagai check-in area. Seperti pada taman di luarnya, check-in area ini tampak tinggi dan luas. Jajaran konter check-in memanjang hingga bilangan tiga puluh di salah satu sisi hall. Sementara konter ‘Total Baggage Solution” berwarna oranye siap membantu setiap penumpang me-wrapping bagasinya untuk mengamankannya selama proses loading & unloading bagasi ke lambung pesawat.

Check-in area.

Aku bergegas menuju ke waiting room setelah mendapatkan boarding pass, melewati sebuah koridor sempit dengan sisi kiri jendela kaca menghadap taman dan sisi kanan tertutup oleh triplek proyek pengerjaan ruang fungsional. Di ujung koridor, tepat berhadapan dengan iPORT shop, aku dibelokkan ke kiri menuju commercial zone. Beberapa toko pakaian seperti POLO atau coffee shop macam Starbucks ada di area ini.

Commercal zone di departure hall.

Aku mulai memasuki waiting room, berkursi tunggu hijau, berkarpet pola abu-abu, dilengkapi dengan musholla, executive lounge, smoking area, toilet, charging area, LCD TV dan free internet counter. Di beberapa spot disediakan photospot.

Waiting room.
Salah satu spot foto di waiting room.

Dan akhirnya, sore itu aku meninggalkan Ahmad Yani International Airport melalui  gate 2A.  Itulah cerita singkat eksplorasiku mengenai bandara kebanggaan warga Semarang.

Silahkan berkunjung ke Kota Atlas dan nikmati keindahannya.

Kisah Selanjutnya—->

Spot Menarik di The Azana Hotel Airport

<—-Kisah Sebelumnya

Hampir Isya’…..

Aku memasuki gerbang The Azana Hotel Airport yang berlokasi di tepian Jalan Jenderal Sudirman tepat di bawah jembatan layang Kalibanteng. Hotel yang tiga hari sebelumnya dianggarkan oleh kantor tempatku bekerja seharga Rp. 445.000/malam.

The Azana Hotel Airport.

Yang kutahu, rekan kerjaku, Pak Muchlis yang berasal dari Gresik sudah membuka kamar itu sejak siang. Dia memang mendahuluiku, karena lebih dahulu berangkat menggunakan Argo Bromo Anggrek dari Surabaya pagi tadi. Bahkan dialah yang menyelesaikan semua jenis rehearsal untuk pelatihan dua hari ke depan. Memudahkanku, karena aku cukup menerima konsep matangnya saja setiba di Semarang….Terimakasih Pak Muchlis.

Reception desk.
Mini bar di lobby.

Aku mendapat info bahwa pesanan kamar atas nama kantor bernomor 523, jadi kuputuskan untuk naik langsung ke atas saja untuk segera jeda dan membersihkan diri, aku merasa sangat kusut setelah setengah hari terpapar debu jalanan ibu kota.

Aku memiliki rencana untuk berburu seafood bersama Pak Muchlis setelah mandi, biasa memang, kalau ada tugas kantor begini aku selalu memanfaatkannya untuk perbaikan gizi….Foya-foya….Hahahaha. Tapi aku belum tahu kemana tujuannya, nanti sajalah aku berembug dengannya.

Koridor kamar.
Guest room.
Bathroom.

Senang juga bertemu kawan satu perusahaan yang berasal dari cabang berbeda. Aku bekerja di kantor pusat dan Pak Muchlis di cabang Surabaya. Biasa kita bertemu setahun sekali saja saat Year End Party, momen dimana penghargaan diberikan kepada beberapa karyawan berprestasi.

Malam itu, kami memutuskan berangkat ke Kampung Laut di daerah Tawangsari. Selama satu setengah jam, kami menikmati sajian kuliner laut di atas danau. Nikmat rasanya, duduk bersantai, menikmati jus buah, menyantap sea food sambil diiringi band lokal di tengah siraman lampu-lampu syahdu. Melepaskan lelah setelah melakukan perjalanan jauh.

Setelah puas dan kenyang, sekitar pukul 21:30, kami meninggalkan Restoran Kampung Laut, menaiki taksi online berjenis Wuling Confero, kami menuju kembali ke hotel.

Dan bukan seorang Donny rasanya jika berhenti melakukan eksplorasi….Sesampai di hotel, aku tak langsung menuju kamar untuk beristirahat. Menurut informasi dari staff resepsionis, di lantai tujuh atau lantai teratas, aku bisa menikmati keindahan kota Semarang dari ketinggian. Segeralah aku menuju ke Sky Lounge itu. Berikut gambar-gambar terbaik yang kudapatkan:

Sky Lounge. Kamu bisa pesan kopi panas lho disini….Keren kan?.
Jalan Layang Kalibanteng kaya warna.
Pemandangan ke arah pantai dan bandara.

Tak sampai disitu, aku juga keluar menuju jalanan di depan hotel. Meriahnya warna-warni cahaya di Jalan Bunderan Kalibanteng ternyata menarik beberapa muda mudi untuk menghabiskan malam di bundaran. Sementara di pertemuan Jalan Yos Sudarso dan Jalan Jenderal Sudirman, terdapat patung Ir. Soekarno yang sedang membaca naskah proklamasi.

Adalah patung Ir. Soekarno yang ketiga di Kota Atlas.

Nah di hari kedua di Semarang, aku kembali naik ke atas untuk mendapatkan sesuatu, ini dia:

Coba tebak!….fajar atau senja?

Oh ya, secara harfiah, Azana memiliki arti “Yang Termewah”. Mungkin itu mencerminkan visi dari hotel ini. Lalu secara umum, The Azana Hotel Airport menyediakan ruangan kamar di lantai tiga, lima dan enam. Sedangkan restoran dan meeting room ditempatkan di lantai dua. Tempat karaoke dan lobby berada di lantai Ground. Barulah kolam renang diletakkan di lantai Basement.

Yuk makan pagi di restoran hotel. Setelahnya mari bekerja dan lanjut melakukan eksplorasi Kota Semarang di sore hari!

Kisah Selanjutnya—->

Taksi dari Ahmad Yani International Airport ke Pusat Kota

<—-Kisah Sebelumnya

Perdebatan pilihan itu selesai dengan cepat oleh otoritasku sendiri. “Tak usah taat dalam seni backpacker, Donny. Ini tugas kantor, manfaatkan saja fasilitasnya, naiklah taksi!”, batinku tegas mengalahkan beberapa opsi bodoh yang kadang sporadis muncul dalam sikap dan pilihan.

Dasar, si anak pengiritan”, candaan para kolega kepadaku, begitulah brand yang tersemat. Bagaimana tidak, setiap keluar bandara aku selalu berfikir otomatis bahwa biaya naik bus itu cuma seperempat biaya naik taksi. Jadi aku selalu rela berlama-lama menunggu kedatangan kotak raksasa beroda empat atau enam itu.

Konter Taxi Service di Ahmad Yani International Airport.

Sudah lewat Maghrib….

Telepon terus berdering dari kolegaku yang sedang melakukan sesi rehearsel training di kawasan Bukit Semarang Baru (BSB). Tanpa ragu aku mengangkat smartphone, ternyata dia hanya ingin mengabarkan bahwa aku lebih baik langsung menuju penginapan saja, karena rehearsel akan paripurna dalam lima belas menit lagi.

Lima menit mengantri untuk mendapatkan tiket taxi service seharga Rp. 50.000, aku segera di arahkan menuju sebuah taksi. Seorang pengemudi paruh baya nan sederhana berlari kecil menjemputku. “Assalamu’alaikum, mas. Mandap pundi?”, tanyanya penuh senyum sembari membantu mengangkat kardus di pundak kiri dan dua buah roll up banner ditentengnya di tangan kanan.

Jasa taksi bandara ini dikelola oleh Primkopad (Primer Koperasi Taksi Angkatan Darat) S-16.

Seperti biasa, backpack kesayanganku tetap tak pernah lepas dariku, bersamaku masuk dari pintu depan. Kubaca papan ID Card yang tertempel di dashboard.

Pak Ari, asli mriki pak?”, aku membuka pembicaraan sembari memasang safety belt untuk kemudian meluncur bersama ke hotel.

Wah mboten mas, aku asli pekalongan. Njenengan saking pundi niki wau?”, jawabnya sembari pelan menginjak pedal gas keluar dari area bandara.

Saking Ibu kota pak. Sampun dangu nyambut damel wonten Semarang pak, pripun rame nggih? “, dialog mengalir lancar menghangatkan suasana.

Nembe tigang tahun mas Donny. Sakderengipun, wonten Jakarta, gandeng anak sampun sami mentas, nggih pun, pindah nyambut damel mriki mawon. Caket ngomah”, ucapnya sambil terus ceria mengendalikan taksi putih meninggalkan daerah Tambakharjo.

Tugas kantor nopo pripun niki mas Donny? “, tanyanya menyidik.

Nggih pak, manawi mboten tugas kantor biasanipun pados bus pak. Bandara niki wonten bus ten pusat kuto pak? “, tanyaku mencari referensi.

Oh wonten mas Donny. Wonten BRT (Bus Rapid Transit) Trans Semarang. Mirah kok mas, namung Rp. 3.500, mas”, ungkapnya menjelaskan.

Aku dan Pak Ari.
Jalan Puri Anjasmoro pukul 17:24 WIB.

Lama sekali aku tak merasakan nikmatnya menggunakan jasa taksi bandara. Sehingga waktu 20 menit itu kumanfaatkan sungguh untuk menikmati business trip kali ini….Terimakasih ya kantorku tercinta atas kesempatan ini.

Perlahan taksi berbelok ke kanan, mulai merapat ke Jalan Arteri Yos Sudarso, menuju ke selatan. Aku berpindah dari jalan berpembatas beton yang Nampak masih baru , menuju ke jalan dua jalur di masing-masing ruas, berpembatas setinggi trotoar dan pepohonan rindang di setiap sisi kiri ruasnya.

Dalam dua puluh menit, dengan jarak tempuh enam kilometer aku tiba di The Azana Hotel Airport. Selembar alat tukar bergambar Soekarno dan Hatta kuserahkan kepada pak Ari. Sengaja kulebihkan ongkos perjalanan dan berbagi rezeqi kepadananya….Sadar diri, kalau sedang backpackeran, aku jarang melebihkan ongkos….Hahahaha.

Aku akan menginap dua malam di hotel ini.

Mari kita lihat dalam empat hari kedepan, Semarang punya apa saja….

Kisah Selanjutnya—->

Citilink QG 144 dari Jakarta (HLP) ke Semarang (SRG)

Rute penerbangan QG 144 (sumber: https://flightaware.com/).

Yeaaaa….Aku mendapatkan business trip akhir pekan. Seperti biasa, aku selalu mensiasati tugas kantor untuk tetap bisa menyalurkan hobby andalan….Yes, eksplorasi. Tugas pelatihan Jum’at dan Sabtu, akan kusambung dengan extend hingga Ahad dalam perjalanan gratisan ini.

SEMARANG….

Itulah kota tujuanku kali ini. Halim Perdanakusuma International Airport menjadi titik tolak dan Ahmad Yani International Airport menjadi titik mendaratku.

Bos : “Don, saya belum dapat orang untuk menghandle training di Semarang. Kamu bisa ga ya, kalau akhir pekan ini pergi ke Semarang?. Mendadak sih Don, sorry sebelumnya”.

Aku: “Hhmmhh (pura-pura mikir), boleh lah pak (sok jual mahal, padahal mau bingiiitttzzzz)

Bos: “Kamu berangkat Kamis sore, pulang Sabtu sore, nanti biar tiket diurus orang Marketing Support”.

Aku: “Siap, Pak”.

Setelah pembicaraan selesai, secepat kilat kutelpon staff Marketing Support yang dimaksud.  Aku minta kepulanganku di extend hingga Ahad sore. “Biar akomodasi hari Ahad aku yang tanggung, tapi tiket pulang tetap kantor yang bayar”, seruku padanya yang disusul dengan konfirmasi “OK, Pak Donny”.

Wah senangnya hatiku….Jalan-jalan lageeeeee.

Pagi itu, aku masih bekerja seperti biasa hingga tengah hari. Setelah menaruh beat pop hitam kesayangan di rumah, aku berangkat menuju Halim. Tak jauh, hanya 25 menit dari landmark tempat tinggalku, Terminal Bus Kampung Rambutan.

Aku tiba di bandara sangat mepet dengan boarding time, membuatku berfokus pada memotong panjangnya antrian di konter check-in. Entah mengapa, para calon penumpang yang mengantri di depanku selalu memanggil teman-temannya ketika sudah berada di depan konter, membuat jengkel karena banyak penumpang yang mengantri dibelakangku bisa otomatis menyodok antrian….Parah.

Aku mendapatkan tiket tepat sepuluh menit sebelum boarding time. Itulah….Aku tak lagi berfikir mendokumentasikan setiap sesi di Halim Perdanakusuma

Alhamdulillah, selamat dari keterlambatan.

Aku memasuki gate 6 dengan nafas cepat karena khawatir tertinggal penerbangan. Tak sempat mendinginkan keringat, panggilan penerbangan itu tiba. Tanpa sempat duduk, aku segera bersiap diri menuju Semarang sore itu.

Waiting room Halim Perdanakusuma International Airport.
Mengantri boarding di gate 6.

Citilink menjadi daftar maskapai ke-12 dari 28 maskapai yang pernah kunaiki. Bangga bisa menikmati penerbangan maskapai berwarna korporat hijau itu. Warna yang melambangkan tiga makna yaitu young-fun-dynamic. Inilah anak dari maskapai kenamaan Garuda Indonesia. Dan yang lebih membanggakan adalah terpilihnya Citilink dalam daftar The 20 Best Budget Airline for 2019 versi Skytrax.

Pemandangan keren, ya. Hanya perlu berjalan kaki dari gate 6 menuju ke pesawat.
Wooow….tepat di kaki pesawat.
Lihat ACnya, hingga berkabut begitu….Dingiiiiin.

Seharusnya aku duduk di bangku 23A, persis di window seat.

Seorang Ibu: “Mas, bangkunya tuker ya. Saya pusing kalau tidak dekat jendela”.

Aku: “ Oh silahkan Ibu, tidak apa-apa”, hmmmh perlahan kumasukkan Canon EOS M10 ku, tak ada gunanya kupegang, aku tak bakalan bisa meng-capture indahnya bumi dari bangku bernomor 23C.

Duduk di aisle seat.
Linkers….Inflight magazine milik Citilink.

Perjalanan menempuh jarak 400 km ini ditempuh dalam waktu 50 menit. Jadi ini adalah penerbangan singkat yang sangat tanggung untuk dibuat tidur. Lebih baik, aku menyusun itinerary dadakan dari beberapa referensi yang kudapat serta menyusun anggaran perjalanan.

Sore itu perjalanan sungguh berat karena sepanjang pantai utara Jawa penuh dengan awan yang membuat penerbangan penuh turbulensi. Kufikir semua penumpang terdiam karena memikirkan hal yang sama….Hahaha. Sementara seorang pramugara terus berpegangan pada bagasi kabin untuk menahannya terlempar karena turbulensi. Senang tapi menegangkan. Aku sendiri selalu berserah diri kepada Yang Maha Kuasa ketika melakukan penerbangan.

Begitu leganya, ketika suara lembut pramugari mengarahkan segenap penumpang untuk bersiap mendarat. Memasuki kota Semarang, cuaca berubah cerah dan pesawat mulai langsir dengan lembut dan akhirnya….Touchdown Semarang.

Oh itu, bentuk bangunan baru Ahmad Yani International Airport.
Terimakasih Citilink.

Pelatihan yang ditugaskan oleh kantor masih berlangsung esok hari dan rehearsel pelatihan sudah diwakilkan oleh rekanku yang datang dari kantor cabang Surabaya sejak pagi tadi. Dia memilih menggunakan kereta dari Surabaya menuju Semarang. Jadi, aku tak perlu terburu waktu menuju ke hotel setelah mendarat.

Seperti biasa, aku akan mengeksplore gerbang wisata Kota Semarang ini…..Yes, Ahmad Yani International Airport.

Kuy lah….

Kisah Selanjutnya—->

Citilink QG 125 from Solo (SOC) to Jakarta (HLP): Back into Capital City’s Routines

<—-Previous Story

Citilink QG 125 flight path (Source: https://flightaware.com/).

It was already past one o’clock when I finished in paying for lunch menu, however, I was blown away by the taste of Nasi Gudeg Komplit and Durian Juice at Javenir restaurant where I stopped by. Lunch session finally ended my adventure in Solo

Two and a half hours before the flight….

Leaving the restaurant, I waited for an online taxi in front yard when Javenir was full of visitors, several cars were queuing up to entering parking area. Five minutes in waiting, I saw a black Toyota Avanza on a road side while turn its hazard lamps on, noticed the vehicle’s license plate, I waved at the driver who looked confused. Knowing my whereabouts, he turned high beam on as a sign he understood.

Airport, Sir!“, I sat next to him while confirming destination.

Ok, Sir….Oh, sorry, I was hesitant for taking Sir Donny. Usually, people who leave Javenir are carrying souvenirs. Sir Donny doesn’t seem to be carrying anything ”, he started to open a conversation.

Oh, I just went there to do a survey for my office’s event, Sir. There isn’t intention for buying souvenirs“.

No wonder. Where is Sir Donny going back? ”, he understood that I intended to leave Solo.

Jakarta, Sir“.

The conversation intently continued for next twenty minutes until taxi arrived at airport’s drop-off zone.

There wasn’t much time left….

After cashly paying taxi, I immediately rushed. Showing my e-ticket and ID card to aviation security, completing an initial screening process, I managed to enter departure hall. My gaze swept over the rows of check-in counters in search of an LCD with a Citilink QG 125 displaying in it. I found it in a corner of row and without hesitation I started queuing.

A few minutes later, I easily got my boarding pass. This time, I won’t enjoy the beauty of flight because I have to sit in column B seat…. Yups, that was the middle column. Leaving check-in counter, initially I smoothly went through second screening process. However, an aviation security officer asked me to take out all electronic devices in my backpack, put it on a tray which they had prepared. I myself am not worry, because I didn’t feel that I have done anything wrong and of course this was still in my own country. I just feel amazed by safety standard of domestic flights at Adi Soemarmo International Airport.

As expected, screening process went straightforward without any problems. I walked towards boarding gate to wait for the plane to arrived.

Half an hour from boarding time….

I took time to do Dzuhur and Asr Prayers in a time at prayer room and spent remaining time fot consolidating with Marketing Conference’s Head of Event Division in Jakarta. I conveyed some important notes regarding my survey results and added Javenir possibility for being a strong candidate for destination.

By sending report via email prior to check-out from Amaris Hotel Sriwedari this afternoon, it means that my survey trip and report were simultaneously completed….Wow, It was good, this free trip has done, the report was also finished….Yuhuuu.

To my surprise, coordination by telephone took so long untul boarding call had interrupted it. I ended the conversation and immediately headed for boarding gate. After checking my boarding pass and ID card, I rushed through aerobridge following other passengers who had previously entered the cabin.

That was Citilink QG 125 using Airbus A320.
To aerobridge.

Boarding was over a while after I sat on seat 21B. Aircraft began to move and cabin crew began to busy in demonstrating flight safety procedures. After being in a perfect position at the end of runaway, plane really took off and left the beauty of Solo City.

Not wanting to be busy reading Linkers, Citilink’s inflight magazine because I had read it during Jakarta-Solo flight a day before yesterday, I chose to sleep and wait until the plane arrived in Jakarta for about 50 minutes later.

The twin-jet Airbus flied 500 km with a cruising altitude of 26,000 feet and a speed of more than 800 km/h. Without turbulence, I fell asleep and felt comfortable in riding Citilink QG 125. For some reason, my heart feels safety when using Citilink’s services. Is it because a suggestion that Citilink is a subsidiary of Garuda Indonesia Airways, the best airline in this country?….Ah, I don’t know….

“Flight attendants, please prepare for landing!”….

The announcement from flight captain made me wake up and prepared for landing at Halim Perdanakusuma International Airport.

Landing at the capital’s second airport is the most enjoyable thing, because we would go down using manual stairs and felt a sensation when under the giant feet of iron bird. It was rare to be able to get a special moment like that.

Smoothly landing @ Halim Perdanakusuma International Airport.

Welcome to Jakarta….

Time to get back into capital’s busy work routine with no end.

Alternative for flight tickets from Solo to Jakarta can be searched on 12Go or the following link: https://12go.asia/?z=3283832