Berburu Sewa Kereta Jaladara hingga Taman Balekambang

Menaiki kereta peninggalan Belanda adalah salah agenda penting dalam Marketing Conference pada bulan Oktober nanti. Oleh karenanya, hari pertama surveyku ke Solo menempatkan Kereta Wisata Jaladara sebagai prioritas pertama. Dan pihak yang bisa dikulik informasinya perihal penyewaan kereta wisata ini adalah Dinas Perhubungan Kota Solo.

Maka setelah menikmati sendok terakhir Es Dawet Telasih, aku meninggalkan Pasar Gede menuju Jalan Menteri Supeno. Tujuanku adalah menemui petugas yang mengurusi perizinan sewa Kereta Wisata Jaladara dan menanyakan perihal mekanisme dan biayanya.

Kantor Dinas Perhubungan Kota Solo.

Tak lama menunggu, taksi online menjemputku dan mengantarku kesana. Tak jauh, hanya berjarak empat kilometer di sebelah barat Pasar Gede, dalam 15 menit aku tiba. Saat tiba di Dinas Perhubungan Kota Solo suasana sudah sangat ramai, mungkin sejak pagi tadi, kendaraan angkut sudah mengantri untuk melakukan KIR kendaraan. Hanya itulah surat sakti kendaraan angkut untuk berburu Rupiah di tanah air.

Aku diarahkan oleh satpam yang bertugas menuju sebuah bangunan kecil yang difungsikan sebagai kantor untuk menemui Pak Sandi yang merupakan petugas Jaladara. Hanya saja Pak Sandi ternyata sedang ada rapat antar instansi dan tidak berada di tempat. Akhirnya aku hanya mendapatkan sedikit penjelasan perihal Kereta Wisata Jaladara dari petugas yang berjaga. Informasi itu diantaranya adalah harga sewanya Rp. 3.500.000 per 3 jam, jika ingin menambahkan tour guide, kesenian musik dan kuliner pasar di dalam kereta maka perlu menambah dana sekitar Rp. 2.100.000. Dan informasi terakhir adalah Dinas Perhubungan juga menawarkanku jasa Bus Tingkat Werkudara yang bisa digunakan untuk berkeliling wisata kota Solo.

Menyimpan informasi dan sembari menunggu petugas itu, aku memutuskan berkunjung ke sebuah taman kota di dekat kantor Dinas Perhubungan Kota Solo, hanya berjarak 600 meter, jadi bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Taman kota itu adalah Taman Balekambang, sebuah taman kesenian terpadu seluas 10 Ha dan terletak di daerah Manahan. Taman Balekambang merupakan salah satu venue untuk pemetasan seni di Kota Solo, selain itu taman ini juga berfungsi sebagai taman edukasi, taman botani dan taman rekreasi. Setiap bulan sering diadakan pementasan seni di kawasan ini. Sendratari dan Ketoprak adalah pertunjukan yang sering di gelar disana.

Gerbang Taman Balekambang.
Area utama Taman Balekambang.
Informasi tentang pertunjukan seni yang akan tampil.
Ruang Laktasi untuk pengunjung.

Aroma seni taman ini mulai terasa ketika memasuki gerbang, Pintu gerbang yang tinggi dengan eksterior ukiran berkonsep gunungan begitu sarat seni. Sementara beberapa papan tulis bertuliskan jadwal pementasan seni di Bale Kambang terpampang di sekitar taman. Memudahkan pengunjung untuk mendapatkan informasi.

Sementara deretan shipping container di letakkan di salah satu sisi taman dan berfungsi untuk fasilitas pengunjung seperti Ruang Laktasi dan Ruang Medis. Menjadikan taman ini begitu manusiawi untuk menjadi sebuah tempat pertunjukan seni seutuhnya.

Jika diklasifikasikan, bagian timur taman difungsikan sebagai tempat aktivitas outbond dan pembibitan tanaman.Sementara di pusat taman diletakkan gedung kesenian dan taman utama dengan open stage untuk pertunjukan di ruang terbuka. Sementara bagian barat didominasi oleh keberadaan danau dan kolam renang untuk dinikmati oleh para pengunjung.

Pagi itu, tidak banyak yang bisa kulakukan di taman itu karena memang sedang tidak ada acara kesenian sama sekali. Jadi setelah puas berkeliling maka kuputuskan untuk kembali segera ke Dinas Perhubungan untuk menemui Pak Sandi yang mungkin saja sudah kembali dari rapat.

Dawet Telasih dan Pasar Gede Hardjonagoro

<—-Kisah Sebelumnya

Pintu utara Pasar Gede Hardjonagoro.

Walau Rahadian baru tiba di Solo saat pagi buta dan sempat menumpang mandi serta sarapan, maka sesuai jadwal, aku tetap melakukan check-out dari Grand Amira Hotel by Azana. Waktu sudah menunjukkan pukul 8:30 WIB saat kami keluar ke pelataran hotel.

Aku segera memesan taksi online dan meluncur  menuju daerah Sudiroprajan untuk melakukan survey kuliner pertama. Kuliner istimewa yang kusasar adalah Es Dawet Telasih, yaitu dawet berkomposisi ketan hitam, jenang sunsum, tape ketan, biji telasih, gula cair, santan dan es batu.

Aku diturunkan di pintu utara Pasar Gede Hardjonagoro tepat di sebelah Tugu Jam Pasar Gede. Bangunan tua dari pasar peninggalan Belanda ini memang mengagumkan. Perpaduan arsitektur Jawa-Kolonial tersirat jelas dari penampakan dinding bergaya Kolonial dan atap bergaya Jawa. Berdinding tebal, langit-langit ruangan yang tinggi dan jendela memanjang ke atas.

Saat aku tiba, area pelataran sudah terasa sibuk pagi itu. Arus pengunjung yang keluar masuk pasar untuk berbelanja, para pedagang yang berbondong untuk memasukkan barang dagangan ke dalam pasar, riuh rendah teriakan tukang becak yang mencari penumpang serta kesibukan para pedagang kuliner ringan di area luar pasar membuat suasana pasar terbesar di kota Solo itu menjadi sangat hidup.

Suasana di luar Pasar Gede Hardjonagoro.
Suasana di luar Pasar Gede Hardjonagoro.
Tugu Jam Pasar Gede.
Suasana dalam Pasar Gede Hardjonagoro.
Suasana dalam Pasar Gede Hardjonagoro.
Suasana dalam Pasar Gede Hardjonagoro.

Aku bergegas memasuki area dalam pasar untuk mencari keberadaan Kedai Es Dawet Telasih Bu Dermi yang konon sangat terkenal di seantero Solo. Bagaimana tidak, konon racikan resep Es Dawet Telasih Bu Dermi sudah berusia 90 tahun dan tidak berubah sama sekali sejak pertama dibuat. Bahkan Es Dawet Telasih ini telah menjadi langganan Bapak Joko Widodo (Presiden Republik Indonesia) saat pulang ke Solo.

Menyibak gang-gang sempit di tengah pasar membuatku hanyut dalam rasa perniagaan masyarakat Solo. Dan akhirnya keadaan kurang menguntungkan menimpaku. Ketika tiba di depan Kedai Es Dawet Telasih Bu Dermi, kedai itu masih tutup dan lengang. Aku mencoba bertanya kepada beberapa pedagang di dalam pasar perihal kapan kedai itu akan dibuka.

Mengke jam sedoso, mas”, begitu mereka menjawab.

Oalah, aku terlalu pagi melakukan survey dawet ini.

Dugi jam kalih biasanipun sampun telas, Mas”, mereka menambahkan informasi ketika aku terduduk di salah satu bangku kedai kosong itu.

Bagaimanapun caranya, aku harus menemukan dan merasakan Es Dawet Telasih untuk menguji rasanya, karena para peserta Marketing Conference nantinya akan diarahkan ke Pasar Gede Hardjonagoro untuk mencicipi kuliner itu.

Aku mencoba menelusuri gang-gang lain dalam pasar, hingga menemukan Kedai Es Dawet Telasih Ibu Hj. Sipon. Tanpa fikir panjang aku segera memesan seporsi dengan harga Rp. 8.000. Begitu pelan kunikmati, memang Es Dawet Telasih ini sangat spesial rasanya, perpaduan gurih, manis, tekstur lembut dan sejuk menjadi satu kesatuan yang menggugah selera. Akhirnya kuputuskan, Es Dawet Telasih menjadi destinasi kuliner pertama untuk Marketing Conference nanti.

Salah satu kedai Es Dawet Telasih.
Ibu Hj. Sipon.
Es Dawet Telasih.

Setelah menikmati Es Dawet Telasih, aku dan Rahadian bergegas menuju ke Dinas Perhubungan Kota Solo untuk mencarter Kereta Wisata Jaladara.

Survey Solo Bermula dari Grand Amira Hotel by Azana

<—-Kisah Sebelumnya

Hampir tengah malam….

Percakapan berbumbu secangkir latte tambahan dengan Pak Arman di lobby Solo Paragon Hotel & Residences masih saja hangat. Sedangkan Rihsan, anak keduanya yang berumur delapan tahun sudah terlelap di salah satu sisi sofa. Aku yakin jika tak menyudahi, pasti kongkow ini akan berakhir saat fajar. Maka akulah yang bertanggung jawab menutup percakapan ini.

Baiklah Pak Arman, sudah saatnya saya undur diri dan beristirahat di hotel”, kuucapkan sesopan mungkin setelah meneguk sisa latteku.

Oh, udah hampir tengah malam ya?. Oh iya, Pak Donny menginap dimana?”.

Di Grand Amira Hotel, Pak Arman”.

Oh, baiklah. Hati-hati pak di jalan. Sampai jumpa lagi kapan-kapan”.

Jalanan sudah sepi. Untuk mengurangi resiko keamanan, kuputuskan untuk memesan taksi online saja. Tak lama aku dijemputnya. Lalu, taksi melaju melalui Jalan Honggowongso menuju ke daerah Pasar Kliwon. Dalam perjalanan, aku mencoba melacak keberadaan Rahadian dalam perjalanannya dari Bandung menuju Solo. Tapi panggilanku tak berjawab, pesanku tak berbalas,mungkin dia pulas di kereta.

Solo aman ngga pak, kalau malam-malam gini naik ojek motor?” tanyaku kepada sopir untuk membuka pembicaraan.

Aman, Insyaallah mas. Disini ojek online jalan 24 jam. Ga usah khawatir”.

Wah berarti besok malam saya bisa begadang di kota nih pak….Hahahaha

Kulineran malam saja mas Donny. Solo jagonya kuliner. Di sini kuliner ada waktunya masing-masing. Ada kuliner pagi, ada juga yang buka siang, nah malam begini juga ada yang mulai buka mas”, jelasnya singkat.

Wah unik ya Solo. Pedagang kuliner seperti punya slot waktu jualan masing-masing. Kaya kesepakatan saja….hahaha” aku mulai mengagumi keunikan kota ini.

Sang sopir taksi memang tak pernah tahu bahwa tujuanku ke Solo ini untuk melakukan survey kuliner terbaik yang akan dijadikan destinasi pada acara Marketing Conference perusahaanku. Besok pagi aku akan mulai mecicipi setiap hidangan kuliner ternama Kota Batik bersama Rahadian.

Dalam 15 menit, aku tiba di pelataran Grand Amira Hotel by Azana. Hotel modern minimalis yang telah dipesan oleh kantorku. Bagiku hotel seharga 335.000 per malam ini menjadi hotel mewah karena aku terbiasa memanfaatkan dormitory ketika melakukan backpacking. Langkahku di lobby disambut dengan senyum manis resepsionis yang tampak bergegas berdiri ketika melihat kedatanganku.

Datangnya malam sekali, Bapak Donny”, sapanya singkat.

Oh iya mbak. Saya harus ketemu teman lama dahulu di daerah Mangkubumen. Keasyikan ngobrol mbak”, sambil kuserahkan booking confirmation letter dan KTP kepadanya.

Oh begitu, tapi Bapak ga perlu khawatir, resepsionis kita melayani 24 jam, Bapak”. Senyumnya terlihat aduhai sembari memberikan kunci kamar dan kwitansi bayar.

Setelahnya aku bergegas menaiki kamar dengan lift di sebelah kanan belakang meja resepsionis.

—-****—-

Tok…Tok….Tok”, bunyi itu sepertinya sudah berlangsung dari beberapa menit yang lalu.

Astagaaaa……

Aku tertidur pulas dan kesiangan.

Tok…Tok…Tok, Pak Donny buka, Pak. Ini Rahadian”, suara itu lirih terdengar dari luar.

Pasti sejak pagi gelap tadi, Rahadian sudah tiba di hotel. Dugaanku, dia pasti menuggu lama di lobby. Kulihat di gawai pintarku banyak sekali panggilan tak terjawab darinya. Pesan whatsapp pun tak terbaca. 

Kubuka pintu itu dan muka Rahadian tampak bercanda seolah menggerutu. “Gimana sih pak, kalau guwe  kagak naik ke kamar, pasti lo bangunnya tengah hari nih. Parah Pak Donny”.

Sorry, Rahadian. Semalam aku ketemu teman lama di Solo Paragon. Jadi kemalaman pulang….Hahaha. Sana kamu mandi duluan, kita segera sarapan dan melakukan survey”, selorohku sambil mengucek-ucek mata dan melompat kembali ke tempat tidur.

Pagi ini aku akan check-out dan berpindah ke Amaris Hotel di daerah Sriwedari. Aku dan Rahadian sengaja membawa backpack kecil dan ringan, sehingga setelah check-out kami bisa leluasa bergerak tanpa harus menaruh sesuatu di Amaris Hotel terlebih dahulu.

Mau ikut survey kulinerku? ….hahaha.

Yukksss….

Latte Solo Paragon: DAMRI Adi Soemarmo International Airport

<—-Kisah Sebelumnya

“Pak Donny, lama kita tidak bertemu. Sebelum Bapak menuju hotel, mampir sebentar ya ke Solo Paragon. Kita berbincang dan minum kopi bersama!”, pesan singkat pak Arman ketika aku masih berada di waiting room Halim Perdanakusuma International Airport, Jakarta.

Pak Arman….Dia adalah suami dari klien saya, seorang Bangladesh yang menjadi WNI beberapa tahun silam.

Bapak bersama siapa di Solo Paragon?”, aku membalas singkat pesannya.

“Saya berdua dengan anak saya kedua, pak. Saya tunggu kedatangan Bapak ya!”, pintanya sedikit memaksa.

“Baik pak Arman”.

Pukul 17:30, akhirnya Citilink QG 126 mendarat sempurna di Adi Soemarmo International Airport, Solo. Pada akhirnya, aku memang mengurungkan niat untuk langsung menuju Grand Amira Hotel by Azana di daerah Pasar Kliwon. Kuputuskan memenuhi undangan minum kopi Pak Arman.

Konter penjualan tiket taksi dan bus DAMRI.
Koridor menuju area parkir dan shelter bus DAMRI.
Bus DAMRI menungguku.

Oh ya….

Beberapa tahun lalu, sebelum aktif menulis di blog ini, aku pernah mendarat di bandara yang sama. Hanya saja, kala itu aku dijemput seorang teman dekat menuju pusat kota. Tapi kali ini, aku akan mencoba moda transportasi umum menuju pusat kota.

Lamat kuperhatikan di sebelah timur bangunan terminal bandara, terdapat sebuah proyek pengerjaan stasiun kereta bandara yang masih setengah jadi. “Akhirnya Solo akan memiliki kereta bandara juga”, gumamku. Salut dengan perkembangan Kota Batik itu.

Gelap cepat mengakuisisi waktu, aku membatalkan eksplorasi bandara. Aku lebih memilih untuk segera mencari konter yang menjual tiket bus DAMRI. Konter itu kutemukan di selasar arrival hall sebelah timur, bersebelahan dengan konter penjualan tiket taksi.

Bersiap menuju pusat kota.
Tiket.
Sampai nanti Adi Soemarmo International Airport.

Sore itu konter terasa sepi, bahkan aku hanya berselang satu antrian dengan seorang ibu. Dibelakangku sudah tak ada penumpang yang mengantri lagi. Berdasar informasi dari staff penjaga loket, bus DAMRI akan berhenti di tujuan akhir Terminal Tirtonadi. Menuju Solo Paragon di daerah Mangkubumen, aku dianjurkan untuk berhenti di Solo Square, pusat perbelanjaan di daerah Laweyan. Membayar Rp. 25.000 aku mendapatkan selembar tiket menuju pusat kota. “Bus sudah menunggu di shelter ya, pak”, selorohnya memberitahuku.

Dengan cepat aku menyusuri koridor menuju ke area parkir bandara. Terlihat di ujung koridor telah menunggu bus warna biru berukuran sedang. Kulihat ibu yang mengantri di depanku tadi sudah masuk melalui pintu tengahnya. Sementara sang sopir tampak melambaikan tangan kepadaku untuk segera bergegas karena bus akan segera berangkat. Walaupun kursi belum penuh, bus itu lebih mengutamakan ketepatan waktu untuk segera beranjak menuju ke kota yang berjarak sekitar 15 Km.

Sopir itu memeriksa tiketku sebelum aku masuk. Aku terduduk di bangku tengah dan tak lama kemudian bus perlahan meninggalkan bandara. Menyusuri jalan Adi Sumarmo, berlanjut di Jalan Adi Sucipto dan masuk ke Jalan Slamet Riyadi. Melewati beberapa bangunan ternama seperti De Tjolomadoe, Javenir dan Stasiun Purwosari.

Dalam waktu 20 menit, bus mulai merapat di Pusat perbelanjaan Solo Square dan aku pun turun di tepian Jalan Slamet Riyadi yang menjadi jalan protokol kota. Kufikir akan lebih baik melakukan santap malam sebelum minum kopi bersama Pak Arman. Akhirnya aku berhenti di kuliner jalanan, Aku duduk meleseh di sebuah “angkringan” dan menyantap beberapa nasi kucing dan sejumlah sate telur, sate kulit dan kerupuk. Menikmati wedang jahe di “angkringan” adalah sesuatu yang lama sekali tak kulakukan lagi. Kebiasaan ini bukan masalah murahnya harga, tetapi lebih kepada cita rasa dan cara menghabiskan malam Kota Batik.

Angkringan dan nasi kucing.
Tiba di Solo Paragon Hotel & Residences.

Pak Donny, sudah mendarat?”, Pak Arman kembali mengirimkan pesan singkat.

Sudah pak, saya hanya berjarak 4 Km dari tempat Bapak. Sebentar lagi saya kesitu pak. Tunggu ya!”, balasku singkat.

Aku segera membayar menuku dan memesan ojek online menuju Solo Paragon Hotel & Residences. Dalam waktu 10 menit, aku tiba dan langsung menuju ke lobby.

Memasuki lobby, tampak Pak Arman dan Rishan menunggu di depan pintu. Kujabat tangannya dan berpeluk ringan kemudian kami menghabiskan waktu hingga tengah malam untuk sekedar berbincang, berbagi kabar dan menikmati latte.

Thank you Mr Arman.

Thank you Solo.

Kisah Selanjutnya—->

Citilink QG 126 dari Jakarta (HLP) ke Solo (SOC)

Rute penerbangan QG 126 (sumber: https://flightaware.com/).

Menjadi seorang Ketua Kepanitiaan semasa kuliah….Sudah biasa.

Lalu berlanjut menjadi Ketua Kepanitiaan untuk acara kantor….Juga sudah biasa.

Dua-duanya sama-sama pusing dan melelahkan.

Nah, ini beda….

Kalau kamu disuruh jadi Ketua Kepanitiaan di kantor, tapi isi acaranya adalah jalan-jalan dan makan-makan. Apakah kamu pernah?…..Hahaha.

Yiiyyyy, inilah kisahku…..Aku mengalaminya….Sungguh nyata dan meyenangkan. Ini kisahku kala bersepak terjang menjadi Ketua Kepanitiaan Marketing Conference di kantor. So….Mari jalan-jalan, mari senang-senang!.

Sebagai Ketua Panitia, maka aku berkewajiban melakukan survey lapangan sebelum acara sesungguhnya digelar. Aku melakukannya tiga bulan sebelum acara itu dimulai. Kini, aku akan melakukan survey bersama Wakil Ketua Panitia menuju kota  tujuan acara….Solo.

Minggu sore, hanya dengan menenteng ransel kecil, sekitar pukul 13:30,  aku menggunakan jasa taksi online menuju Halim Perdanakusuma International Airport untuk mengejar “maskapai hijau”. Pesawatku akan terbang pukul 16:00, jadi aku sudah memiliki jeda waktu yang cukup, berkisar dua jam sebelum boarding.

Sore itu adalah awal dari hari kejepit nasional, Minggu sore adalah keberangkatanku, senin masihlah hari kerja tetapi aku diizinkan untuk tak masuk kantor dan lusa adalah hari libur nasional. Tiga hari ke depan tak akan kusia-siakan waktu untuk melakukan survey demi keperluan acara, sekaligus melakukan eksplorasi kota.

Tiba di Halim Perdanakusuma International Airport.
Boarding pass menuju Solo telah siap.
Duduk manis sambil membaca inflight magazine “Linkers”.

Tugasku mudah sekali kali ini. Tak akan jauh-jauh dari:  survey ruangan dan food test di Swiss-Belinn Saripetojo Solo, survey kereta wisata Jaladara, bertemu Artcoustic Band, surey beberapa tempat bersejarah, menentukan tempat berburu oleh-oleh terbaik dan tentu saja mencari dan mencicipi kuliner terbaik “Kota Batik” untuk ditetapkan sebagai tujuan wisata kuliner….Widih, keren.

Tak terbayangkan sudah sungguh nikmatnya trip ini, karena aku tak perlu keluar uang sepeserpun, semua biaya akan ditanggung oleh kantorku bekerja. Hanya saja kali ini sang Wakil Ketua yang orang Bandung, bernama Rahadian, adalah seorang aerophobia, sehingga dia bersikeras memilih menggunakan kereta api dari Bandung menuju Solo. Jadi, skenerionya adalah, aku akan tiba di Solo di sore ini, sedangkan Rahadian akan menyusulku esok hari ke hotel.

Aku sendiri tiba di Halim Perdanakusuma International Airport pukul  dua siang lebih lima belas menit, menyempatkan diri berkeliling untuk mengenal bandara itu. Aku baru melakukan check-in setengah jam kemudian.

Berjalan di apron Halim Perdanakusuma International Airport selalu menjadi hal yang mengesankan bagiku. Aku bisa menikmati dengan begitu dekatnya pesawat yang akan kunaiki tepat dari sepasang kaki besi raksasanya. Tak jarang, pesawat berbadan besar lain melintas tepat di sebelah ekor pesawat dengan begitu elegan tapi tetap saja meninggalkan aroma bising yang dihasilkan oleh kedua mesin jetnya.

Tepat pukul 16:00, aku terduduk di window seat bernomor 18F. Momen duduk di window seat, bagiku adalah aktivitas terencana yang kupersiapkan sebelum terbang. Sehingga bangku itu pasti akan kukuasai. Pemandangan indah di angkasa adalah alasannya.

Penerbangan sore itu  berlangsung dengan baik, tak ada turbulensi berarti. Saking jernihnya langit, dua muka gunung berapi di tanah jawa terlihat dengan sangat jelas. Sementara Alto Cumulus banyak ditemui sepanjang rute penerbangan ini.

Indahnya gunung itu.
Bak kapas di angkasa.
Apakah itu gunung Merapi?
Touchdown Solo.
Merapat di apron milik Adi Sumarmo International Airport.

Airbus A320 twin jet itu melaju dengan kecepatan 305 mph menempuh jarak 371 mil hanya dalam waktu 55 menit. Penerbangan cepat yang cukup indah.

Pukul 17:12 roda “Si Hijau”menyentuh run-off Adi Sumarmo International Airport dengan sangat mulus.

Terimakasih Citilink. Saatnya mengeksplorasi Solo.

Alternatif untuk tiket pesawat dari Jakarta ke Solo bisa dicari di 12Go atau link berikut: https://12go.asia/?z=3283832

Kisah Selanjutnya—->

Citilink QG 145 dari Semarang (SMG) ke Jakarta (HLP)

<—-Kisah Sebelumnya

Rute penerbangan Citilink QG 145. Sumber: https://flightaware.com/

Titan mentraktirku makan siang sebelum tiba di hotel. Seporsi nasi pecel di dekat SMAN 1 Semarang. Kemudian dia juga membekaliku Bandeng Presto khas Semarang untuk dibawa pulang ke Jakarta. Wah, baik sekali teman saya yang satu ini.

Sebelum benar-benar check-out, Titan yang penasaran tentang bagaimana caraku memilih penginapan murah, ikut bersamaku ke ruangan dormitory. Diperhatikannya lekat-lekat ruangan dormitory beserta kapsul-kapsul tidurnya. “Hebat kamu Don, bisa tidur di kapsul seperti ini”, ungkapnya sambil tersenyum. “Di luar negeri aku juga melakukan hal yang sama, Titan. Itu mengapa aku bisa traveling dengan biaya yang murah”, jawabku sambil berbisik.

Toyota Calya berwarna orange metallic, menjemputku di Sleep & Sleep Capsule. Serentak aku berpamitan dengan Titan untuk meninggalkan Semarang. Terimakasih Titan.

Pukul 15:25 aku sudah tiba di bandara. Tanpa basa-basi dan eksplorasi, aku bergegas menuju ke konter check-in. Aku hanya berjarak empat puluh lima menit dari boarding time. Konter yang tak terlalu ramai membuatku bisa menyelesaikan proses check-in hanya dalam lima belas menit dan akhirnya boarding pass sudah digenggaman….Aman.

Aku terus fokus menuju ke waiting room dengan cepat. Kini aku hanya berjarak tiga puluh menit menuju penerbangan pulang. Dan tepat lima belas menit sebelum boarding, aku sudah mencapai waiting room dan duduk terengah. Tak lama menikmati keelokan ruangan tunggu itu, panggilan dari ground staff untuk bersiap terbang pun menggema. Aku kini bersiap di Gate 3A untuk memasuki kabin pesawat.

Tiket menuju Jakarta.
Interior kabin Citilink QG 145. Terduduk di bangku bernomor 10A.

Kini aku sudah duduk di bangku yang sesuai dengan nomornya di boarding pass. Aku bersiap menuju Halim Perdanakusuma International Airport yang berjarak 394 Km dari Ahmad Yani International Airport. Aku akan mengudara bersama selongsong terbang Airbus A320 dengan ketinggian maksimal 26.000 kaki, dengan kecepatan 520 mph dan waktu tempuh 53 menit.

Selama proses boarding, aku terus menikmati keindahan terminal penumpang baru milik Ahmad Yani International Airport dari jendela pesawat. Tampak pesawat hilir mudik datang dan pergi di sisi kiri pesawat yang kunaiki. Langit tampak mendung, pertanda aku harus siap mengalami sedikit guncangan sesaat setelah take-off nanti.

Waktu yang dinanti tiba, pesawat sudah bersiap di landas pacu dan menunggu izin untuk menggeber mesin jetnya menuju udara. Aku hanya sibuk membaca inflight magazine Linkers milik maskapai Citilink. Perlahan pesawat mulai melaju dan menampilan keseluruhan bentuk bandara dari ujung ke ujung. Cantik nian Ahmad Yani International Airport.

Pesawat ATR milik Wings Air.
Air Asia tujuan manakah itu?.
Bangunan terminal beserta ATC Ahmad Yani International Airport saat take-off.

Sebelum menembus gumpalan awan tebal diatas, penerbangan ini sempat secara cepat menampilkan keindahan pantai utara Semarang. Perpaduan awan gelap dengan sinar matahari berwarna oranye yang menembus sela-sela awan dipadu dengan birunya laut dengan rayapan-rayapan kapal di sekitar pelabuhan…Hmmhh, Semarang yang sangat otentik.

Getaran mulai terasa ketika pesawat ingin menstabilkan ketinggian terbangnya. Tetapi setelahnya langit kembali bersih dan menampakkan keindahan dari ketinggian. Sore itu aku tak mau memejamkan mata dan melewatkan pertunjukan langit yang menakjubkan itu.

Pesisir utara Semarang….Wouww aduhai.
Matahari versi langit dan Matahari versi laut….Indah bukan?.
Pilot sangat mahir menghindari kumpulan awan….Penerbangan yang mulus.

Penerbangan yang benar-benar terasa sangat singkat. Citilink mulai merendahkan diri diatas langit ibukota. Mempertontokan daratan Bekasi yang sangat padat. Beberapa ikon kota tampak jelas terlihat dari atas. Stadion Patriot Candrabhaga yang pernah kusambangi saat pertandingan Piala Presiden antara Bali United dan Semen Padang FC hanya demi melihat sosok Irfan Bachdim lebih dekat.

Sedangkan pemandangan lain adalah jalur LRT yang sedang dibangun di sepanjang ruas tol Cikampek, terlihat sangat elok. Itulah jalur yang kulewati hampir setiap hari sepanjang profesiku menjadi tenaga penjual di Ibukota.

Stadion Patriot Chandrabhaga tampak dari ketinggian.
Konstruksi jalur LRT yang sedang dalam proses pengerjaan.

Citilink QG 145 mendarat di Halim Perdanakusuma International Airport dengan sangat mulus. Seperti biasa penumpang akan turun dan berjalan kali di area apron menuju ke bangunan utama terminal. Aku bergegas menuju conveyor belt untuk mengambil bagasi dan kemudian pulang menggunakan ojek onlie menuju rumah.

Menuruni pesawat di area apron.
Beberapa pemunpang menunggu kehadiran Apron Free Shuttle Bus. Aku lebih memilih berjalan kaki saja.

Pernerbangan indah kesekian kali bersama Citilink. Terimakasih Citilink.

Alternatif untuk tiket pesawat dari Semarang ke Jakarta bisa dicari di 12Go atau link berikut: https://12go.asia/?z=3283832

TAMAT

Kisah Wafatnya Buddha di Pagoda Watugong

<—-Kisah Sebelumnya

Motor bebek itu digeber sekuat tenaga oleh Titan menuju ke selatan kota. 15 kilometer jauhnya, 30 menit lamanya. Katanya aku akan diajak menuju pagoda tertinggi di Indonesia, di daerah Pudakpayung. Hampir jam 12:00, aku dan Titan tiba disana, tepat di tepian Jalan Perintis Kemerdekaan. Memasuki gerbang, baru kusadari bahwa tempat itu adalah sebuah vihara atau kompleks peribadatan umat Buddha, bernama Vihara Buddhagaya Watugong.

Aku melewati sebuah bangunan dengan bentuk atap yang mirip dengan pucuk-pucuk atap di Grand Palace, Bangkok. Jika Grand Palace beratapkan warna emas maka bangunan yang ini berwarnakan merah bata. Bangunan ini bernama Vihara Dhammasala. Aku mulai mengeksplorasinya dari lantai atas yang digunakan sebagai aula serbaguna baru kemudian memasuki ruangan di lantai bawah.

Vihara Dhammasala.
Lantai pertama Vihara Dhammasala untuk ruang peribadatan, berhiaskan patung Buddha berwarna emas.

Meninggalkan Vihara Dhammasala, aku perlahan mendekati bagian utama kedua di vihara ini. Inilah yang dimaksud oleh Titan sedari tadi. Pagoda tujuh tingkat berjuluk Pagoda Avalokitesvara. Avalokitesvara sendiri berasal dari kata dalam bahasa Sansekerta “Avalokita” yang berarti mendengar ke bawah dan “Isvara” yang bermakna suara. Sedangkan Avalokitesvara dalam bahasa Tiongkok disebut dengan dengan dua kata yaitu “Kwan Im”. Sedangkan “Kwan Im” sendiri adalah perwujudan welas asih dari Buddha.

Oleh karenanya Vihara ini juga dikenal dengan nama Pagoda Dewi Kwan Im. Beberapa khalayak menyebutnya Pagoda Metakaruna atau Pagoda Cinta Kasih karena keberadaannya untuk menghormati figur Kwan Sie Im Po Sat, Sang Dewi Cinta Kasih.

Patung Sidharta Gautama dibawah Pohon Bodhi pohon bodhi berusia 65 tahun.
Pagoda Avalokitesvara menjulang setinggi 45 meter.
Aku dan Titan.
Patung Dewi Kwan Im setinggi 5 meter terletak di dalam pagoda Avalokitesvara.

Selesai mengeliling pagoda Avalokitesvara yang dijaga oleh patung Dewa-Dewi yang diatur mengelilingi setiap sisi di lantai dasar, aku mulai mengeksplorasi bagian pelataran dan taman. Tampak gazebo kembar dengan dua lapis atap yang digunakan oleh para pengunjung untuk duduk dan beristirahat karena kelelahan mengelelingi area vihara yang sangat luas.

Sementara di sisi pelataran lain terdapat Patung Sleeping Buddha (Buddha Parinibbana), mengingatkanku ketika mengunjungi Pha That Luang di Vientiane tepat lima bulan sebelum kunjunganku ke vihara ini. Di sebelah Patung Buddha Tidur, berbaris Tugu Ariya Atthangika Magga yang melambangkan jalan utama berunsur delapan sebagai latihan untuk meraih kebahagiaan tertinggi (Nibbana).

Gazebo di sekitar pagoda.
Buddha Parinibbana yang menggambarkan wafatnya Sang Buddha di antara dua Pohon Sala.

Aku perlahan mulai meninggalkan Vihara Buddhagaya. Tampak pula kegagahan Tugu Ashoka setiinggi 7 meter. Sebuah tugu yang terbuat dari batu utuh dan diujungnya berkepala singa. Makna yang terkandung dari bentuk singa ini adalah sebuas apapun singa, ketika kita tahu karakternya maka akan mudah ditaklukkan.

Dan di bagian akhir aku melewati Gerbang Sanchi dan Monumen Watugong. Gerbang ini merupakan replika dari gapura yang berada di depan Stupa Sanchi, India. Gerbang yang dibangun sebagai simbol penghormatan saat masuk bangunan vihara.

Sedangkan Monumen Watugong dibangun untuk menunjukkan asal mula nama area “Watugong”. Nama yang diambil dari sebuah batu alam asli berbentuk gong.

Hampir selesai berkunjung.
Tugu Ashoka untuk mengenang Raja Ashoka dari India yang taat menganut ajaran Buddha.
Monumen Watugong dan Gerbang Sanchi.

Kunjunganku di Semarang telah benar-benar usai. Titan akan mengantarkanku menuju Sleep & Sleep Capsule untuk mengambil backpack dan perlengkapan. Setelahnya aku akan menuju Ahmad Yani International Airport dan kembali ke Jakarta.

Terimakasih Semarang.

Kisah Selanjutnya—->

Menyantap Mangut di Kampung Pelangi

<—-Kisah Sebelumya

Kampung Pelangi Kalisari berada tiga kilometer di selatan Sleep & Sleep Capsule yang menjadi tempat menginap pada masa extendku di Semarang. Jam sepuluh pagi, aku sudah merangsek melalui Jalan Imam Bonjol lalu bersambung ke Jalan Pemuda, menaiki ojek online, aku ingin menuntaskan rasa penasaran mengenai keindahan kampung wisata itu. Dengan mengunjungi Kampung Pelangi Kalisari ini, aku tak perlu bersikeras menuju Malang untuk menikmati keindahan yang sama di Kampung Jodipan dan Kampung Tridi, Kali Code di Yogyakarta atau Kampung Teluk Seribu di Balikpapan.

Semalam aku juga sudah menghubungi teman lama yang tinggal di Semarang, namanya Titan. Kebetulan dia meluangkan waktu untuk bertemu. Kita sepakat untuk bertemu di Kampung Pelangi saja. Dia akan mengajakku berkeliling Semarang menggunakan motornya. Lihat saja dalam tulisan selanjutnya, kemana aku akan diajak olehnya.

Tiba di tujuan, aku menyempatkan diri mencari sarapan di kompleks kios yang terletak memanjang mengikuti kontur Sungai Semarang yang memisahkan Jalan Dr. Sutomo dengan rumah-rumah di Kampung Pelangi. Aku menyantap Nasi Mangut (olahan ikan pari asap khas Pati) dengan sangat lahap.

Deretan kios di gerbang depan Kampung Pelangi Kalisari.
Masakan “Mangut” khas Pati.

Aku mulai memasuki Kampung Pelangi melewati sebuah jembatan kecil bermotif lengkung. Di Jembatan ini eksitensi Pasar Bunga dan Taman Kasmaran sudah diinformasikan kepada para wisatawan melalui sebuah papan penunjuk arah. Sedangkan Sungai Semarang tampak rapi dengan keberadaan turap bercat warna-warni, lengkap dengan trotoar tepat di sisi permukaan air sungai.

Aku mulai memasuki Kampung Wonosari (nama asli Kampung Pelangi) ini melalui sebuah gang landai beralaskan pavling block bercat warna-warni, berhiaskan payung penuh warna  yang menjadi peneduh dari terpaan sinar matahari, deretan pot-pot bunga membuat setiap gang menjadi asri serta papan informasi diletakkan pada jarak yang konsisten. Di beberapa titik tanjakan disediakan titik jeda berupa tempat duduk terbuat dari beton, memungkinkan beberapa penanjak yang kelelahan bisa beristirahat sementara.

Tangga sebelum memasuki Kampung Pelangi.
Sungai Semarang.
Jalur pejalan kaki.
Papan informasi beserta peta lokasi.

Ketika mencapai perbukitan paling atas, tepat di bawah papan nama raksasa “Kampung Pelangi”, terdapat kompleks pemakaman bernama “Taman Bahagia Wirawati Catur Panca”. Pemakaman umum inilah yang menjadi sejarah asal-usul Kampung Pelangi. Dikisahkan, awalnya area Kampung Pelangi ini diperuntukkan sebagi area pemakaman umum. Namun kemudian beberapa warga datang dan mendirikan pemukiman di sekitar pemakaman ini hingga menjadi ramai hingga saat ini.

Entah darimana ujung jalannya, tampak beberapa wisatawan turun dari kendaraannya di sebuah area parkir. Sementara beberapa warga yang sedang berbincang ringan di sebuah warung kopi, menunjukkan kepadaku letak titik pandang terbaik untuk melihat kota dari ketinggian. Tunjukan tangan para penikmat kopi itu berujung pada sebuah loteng terbuka milik warga yang ketika kunaiki membuat tatapanku dilenakan oleh pemandangan kota tanpa penghalang sama sekali.

Pemakaman “Taman Bahagia”.
Papan nama raksasa “Kampung Pelangi”.

Ketika sedang menikmati pemandangan kota yang apik tanpa sengatan sinar matahari, datanglah di loteng yang sama Pak Asep asal Bogor. Sama, beliau juga sedang extend di Semarang pasca tugas luar kotanya sebagai seorang Pegawai Negeri Sipil. Mendadak aku mendapatkan teman traveling dan percakapan hangat menjadi tak terelakkan. Aku mengaguminya sebagai orang yang berjiwa muda, memiliki kebiasaan yang sama denganku ternyata, hobby jalan-jalan dengan memanfaatkan setiap momen tugas ke luar kota.

Titan akhirnya memanggilku menggunakan smartphonenya. Dia menunggu di gerbang depan, tempat awalku memasuki Kampung Pelangi satu jam yang lalu. Segera, aku undur diri percakapan yang sedang seru-serunya itu. Tak kusangka, pak Asep lebih memilih turun bersamaku dan melanjutkan obrolan sembari kami berdua menuruni Kampung Pelangi.

Menuju sebuah loteng tertinggi di Kampung Pelangi.
Pemandangan manakjubkan dari atas Kampung Pelangi.
Sini mas Donny saya fotokan, buat kenang-kenangan!”, pak Asep menawarkan diri.

Aku sudah berada di bagian terbawah Kampung Pelangi. Berpamitan dengan Pak Asep, pandanganku mulai menyapu setiap sisi untuk menemukan Titan. “Sebelah sini, Don”, Titan memanggilku. Oh itu dia sedang duduk mengopi di sebuah warung. Pertemuan dengan teman lama kedua di Semarang setelah malam tadi aku juga bertemu dengan Ezra.

Kutinggalkan Kampung Pelangi di jok belakang motor si Titan. Aku bersiap menuju destinasi berikutnya.

Kisah Selanjutnya—->

Eksplorasi Tertahan di Air Mancur Jalan Pahlawan

<—-Kisah Sebelumnya

Selepas makan malam di warung makan Ayam Pak Supar Semarang, Ezra berpamitan untuk undur diri. Dia berujar membutuhkan waktu tiga puluh menit untuk sampai di rumahnya. Sementara malam sudah menunjukkan pukul 22:30. Bahan percakapan kami juga sudah habis. Dia menawari untuk mengantarku balik ke Sleep & Sleep Capsule. Berfikir merepotkan, aku menolaknya halus. Akhirnya aku hanya meminta diturunkan di sebuah tempat yang masih ramai di arah pulangnya, dengan begitu aku tak akan merepotkannya.

Dengan cepat aku dibonceng dengan sepeda motor manual warna birunya. Beberapa saat kemudian, sepeda motor mulai melambat dan dia menurunkanku di sisi trotoar yang cukup lebar, penuh dengan muda-mudi yang duduk berkumpul di beberapa titik, diselingi para penjual kopi keliling di sepanjang trotoar.

Di sini nih Don, tempat teramai di arah pulangku. Gimana, mau turun di sini saja?”, ujar Ezra setelah menghentikan sepeda motornya.

OK, di sini saja. Saya ngopi dulu aja sebelum balik ke hotel, Zra”, aku meyakinkannya supaya dia bisa segera pulang. Lalu duduklah aku di sebuah beton pembatas taman, lalu memesan segelas kopi instan. Bagaimana rasanya, jika seorang penikmat kopi original, harus nongkrong dengan meminum kopi instan….Hahaha. tak apalah, yang penting aku bisa menikmati malam.

Kantor Telkomsel Semarang di daerah Mugassari.
Sebuah sisi Jalan Pahlawan.

Belum juga menghabiskan kopi dalam gelas dan sedang asyik-asyiknya menikmati aktivitas muda-mudi di depan Kantor Telkomsel Semarang, satu dua tetes air mulai jatuh dari langit. Pertanda bahwa kota akan segera tertumpah hujan.

Aku memandang sekitar untuk mencari tempat berteduh jika hujan benar-benar turun. Aku melihat di utara ada sebuah panggung yang beberapa orang tampak ramai berkumpul di dekatnya. Tanpa pikir panjang aku segera bergegas kesana.

Benar adanya, tetesan air langit telah naik tingkat menjadi gerimis lembut. Butuh waktu untuk memesan taksi online, sebelum basah kuyup lebih baik aku berteduh. Dengan cepat aku menaiki panggung itu untuk menyelamatkan diri dari hujan deras.

Ternyata panggung ini akan digunakan untuk menyambut Gubernur Jawa Tengah dalam acara Jalan Sehat dalam rangka memperingati HUT KORPRI ke-47. Akhirnya, hujan tertumpah sangat deras, walaupun berada di panggung beratap, tetap saja sebagian tubuhku basah karena air hujan itu disapu oleh angin kencang ke segala arah.

Genap 45 menit aku menunggu hujan tanpa bisa menunaikan niat awal untuk melakukan ekplorasi di sepanjang jalan protokol itu. Jalan utama di Semarang yang sangat terkenal dengan agenda Car Free Day kota itu. Aku hanya mendapatkan bonus menikmati pertunjukan warna pada sebuah air mancur di perempatan antara Jalan Pahlawan dan Jalan Imam Bardjo SH.

Panggung perayaan.
Bundaran di Jalan Pahlawan.
Air mancur di Jalan Pahlawan.
Air mancur di Jalan Pahlawan.

Menjelang tengah malam, Jalan Pahlawan sudah tak berdaya di hajar hujan. Segenap sisi menjadi sepi. Akhirnya aku memutuskan untuk segera balik ke hotel untuk merehatkan diri. Inilah malam terakhirku di Semarang sebelum besok sore kembali ke Jakarta. Tetapi aku masih ada waktu eksplorasi hingga tengah hari di esok hari.

Dua backpacker Lawang Sewu

<—-Kisah Sebelumnya

Lawang Sewu berarti seribu pintu.

Konon keangkeran bangunan berumur 116 tahun ini tersohor di Asia setelah Sekolah Tat Tak di Hong Kong. Sunyi, bertembok tebal dan sempat tak terurus. Tapi itu dulu, kini bangunan 429 pintu ini bertransformasi menjadi ikon pariwisata unggulan kota Semarang dengan segenap nilai artistik dan historisnya.

—-****—-

Malam ketiga di Semarang menjadi sebuah ajang reuni backpacker yang keduanya saling bertemu di Brunei Darussalam pada April 2015, kedua backpacker itu adalah aku dan Ezra. Aku sengaja mengirimkan pesan singkat kepadanya sehari sebelum keberangkatan ke Semarang. Aku mengajaknya bertemu di hometownnya untuk berbagi cerita petualangan masing-masing selama lima tahun terakhir.

Salah satu koridor di dalam Lawang Sewu.
Salah satu koridor di bagian teras Lawang Sewu.

Sepulang dari Pantai Marina, aku segera berpisah dengan Pak Muchlis. Beliau harus pulang lebih dahulu ke Gresik menggunakan kereta api Argo Bromo Anggrek. Aku menuju  ke Masjid Raya Baiturrahman di Simpang Lima sebagai meeting point dengan Ezra. Dengan cepat aku tiba di sana pada pukul 19:30. Beberapa saat menunggu, Ezra pun tiba dan kami berdua menunaikan ibadah shalat Isya bersama.

Dia bercerita banyak mengenai pekerjaannya yang seorang dosen dan membuatnya bisa mengikuti konferensi ke Amerika Serikat dan kemudian naluri backpackernya mengantarnya melipir ke Kanada. Dia juga sudah mengunjungi Israel dan Russia. Wah gilaaaa, aku bahkan jauh tertinggal dari segenap pengalamannya. Sedangkan aku, di malam itu mengisahkan bahwa di akhir tahun setelah pertemuan dengannya, akan berangkat menuju Penang, Ipoh, Dhaka, Mumbai, Colombo, dan Maldives.

Tangga menuju lantai atas Lawang Sewu.
Menonton video sejarah Lawang Sewu bersama warga lokal.
Foto-foto kegiatan renovasi Lawang Sewu.

Menaiki sepeda motor warna biru, aku diboncengnya menuju Lawang Sewu di Jalan Pemuda. Dalam perjalanan menuju ke sana, Ezra sedikit menceritakan bahwa gedung yang sedang kita tuju ini adalah bekas kantor Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) pada masa kolonial Belanda. Ketika Belanda menyerah kepada Jepang pada tahun 1942, maka gedung ini menjadi penjara paling kejam pada masa pendudukan Jepang. Setelah Indonesia mendapatkan kemerdekaan, gedung ini menjadi kantor Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia (DKARI) atau sekarang dikenal sebagai PT Kereta Api Indonesia.

Setelah tiba di tempat tujuan, Ezra dengan cekatan menuju loket penjualan tiket untuk membeli tiket masuk. Kali ini dia membayari semua biaya tiket untuk memasuki Lawang Sewu. Karena tempat wisata ini akan tutup jam 21:00, maka aku hanya memiliki waktu tiga puluh menit saja untuk menjelajah tempat wisata ini.

Halaman di dalam bangunan Lawang Sewu.
Sisi lain halaman dalam.
Keanggunan arsitektur Eropa dalam siraman lampu malam.

Tapi waktu yang sebentar itu tak membuatku terburu-buru, aku lebih mementingkan berdiskusi dan bercerita pengalaman masing-masing. Seakan Lawang Sewu hanya menjadi background pembicaraan kami berdua malam itu. Kuhabiskan sebagian besar waktu untuk duduk di teras dalam bangunan.  Terus berbincang dan menjelaskan setiap rencana masing-masing. Aku juga berharap, kami berdua bisa backpackeran bersama lain waktu ke luar negeri.

Tepat pukul 21:00, aku dan Ezra terpaksan harus meninggalkan Lawang Sewu karena jam operasionalnya sudah berakhir. Kami berpindah ke keramaian lain tepat di seberang Lawang Sewu. Yups, area Tugu Muda yang masih penuh pengunjung. Bahkan beberapa komunitas seperti pecinta reptil yang datang kesini untuk memamerkan koleksi seperti ular, Cuvier’s Dwarf Caiman (buaya mini), iguana dan beberapa jenis reptil lain pada kerumunan masyarakat. beberpa badut juga memeriahkan suasanan. Malam itu menjadi malam penuh kesan tentang Semarang.

Pertemuanku bersama Ezra malam itu, ditutup dengan makan malam bersama di sebuah restoran bermenu ayam….Ayam Pak Supar Semarang. Malam penuh kesan yang mempertemukan dua sahabat lama dengan passion yang sama.

Aku dan Ezra di Tugu Muda.

Kisah Selanjutnya—->