Menyantap Mangut di Kampung Pelangi

Kampung Pelangi Kalisari berada tiga kilometer di selatan Sleep & Sleep Capsule yang menjadi tempat menginap pada masa extendku di Semarang. Jam sepuluh pagi, aku sudah merangsek melalui Jalan Imam Bonjol lalu bersambung ke Jalan Pemuda, menaiki ojek online, aku ingin menuntaskan rasa penasaran mengenai keindahan kampung wisata itu. Dengan mengunjungi Kampung Pelangi Kalisari ini, aku tak perlu bersikeras menuju Malang untuk menikmati keindahan yang sama di Kampung Jodipan dan Kampung Tridi, Kali Code di Yogyakarta atau Kampung Teluk Seribu di Balikpapan.

Semalam aku juga sudah menghubungi teman lama yang tinggal di Semarang, namanya Titan. Kebetulan dia meluangkan waktu untuk bertemu. Kita sepakat untuk bertemu di Kampung Pelangi saja. Dia akan mengajakku berkeliling Semarang menggunakan motornya. Lihat saja dalam tulisan selanjutnya, kemana aku akan diajak olehnya.

Tiba di tujuan, aku menyempatkan diri mencari sarapan di kompleks kios yang terletak memanjang mengikuti kontur Sungai Semarang yang memisahkan Jalan Dr. Sutomo dengan rumah-rumah di Kampung Pelangi. Aku menyantap Nasi Mangut (olahan ikan pari asap khas Pati) dengan sangat lahap.

Deretan kios di gerbang depan Kampung Pelangi Kalisari.
Masakan “Mangut” khas Pati.

Aku mulai memasuki Kampung Pelangi melewati sebuah jembatan kecil bermotif lengkung. Di Jembatan ini eksitensi Pasar Bunga dan Taman Kasmaran sudah diinformasikan kepada para wisatawan melalui sebuah papan penunjuk arah. Sedangkan Sungai Semarang tampak rapi dengan keberadaan turap bercat warna-warni, lengkap dengan trotoar tepat di sisi permukaan air sungai.

Aku mulai memasuki Kampung Wonosari (nama asli Kampung Pelangi) ini melalui sebuah gang landai beralaskan pavling block bercat warna-warni, berhiaskan payung penuh warna  yang menjadi peneduh dari terpaan sinar matahari, deretan pot-pot bunga membuat setiap gang menjadi asri serta papan informasi diletakkan pada jarak yang konsisten. Di beberapa titik tanjakan disediakan titik jeda berupa tempat duduk terbuat dari beton, memungkinkan beberapa penanjak yang kelelahan bisa beristirahat sementara.

Tangga sebelum memasuki Kampung Pelangi.
Sungai Semarang.
Jalur pejalan kaki.
Papan informasi beserta peta lokasi.

Ketika mencapai perbukitan paling atas, tepat di bawah papan nama raksasa “Kampung Pelangi”, terdapat kompleks pemakaman bernama “Taman Bahagia Wirawati Catur Panca”. Pemakaman umum inilah yang menjadi sejarah asal-usul Kampung Pelangi. Dikisahkan, awalnya area Kampung Pelangi ini diperuntukkan sebagi area pemakaman umum. Namun kemudian beberapa warga datang dan mendirikan pemukiman di sekitar pemakaman ini hingga menjadi ramai hingga saat ini.

Entah darimana ujung jalannya, tampak beberapa wisatawan turun dari kendaraannya di sebuah area parkir. Sementara beberapa warga yang sedang berbincang ringan di sebuah warung kopi, menunjukkan kepadaku letak titik pandang terbaik untuk melihat kota dari ketinggian. Tunjukan tangan para penikmat kopi itu berujung pada sebuah loteng terbuka milik warga yang ketika kunaiki membuat tatapanku dilenakan oleh pemandangan kota tanpa penghalang sama sekali.

Pemakaman “Taman Bahagia”.
Papan nama raksasa “Kampung Pelangi”.

Ketika sedang menikmati pemandangan kota yang apik tanpa sengatan sinar matahari, datanglah di loteng yang sama Pak Asep asal Bogor. Sama, beliau juga sedang extend di Semarang pasca tugas luar kotanya sebagai seorang Pegawai Negeri Sipil. Mendadak aku mendapatkan teman traveling dan percakapan hangat menjadi tak terelakkan. Aku mengaguminya sebagai orang yang berjiwa muda, memiliki kebiasaan yang sama denganku ternyata, hobby jalan-jalan dengan memanfaatkan setiap momen tugas ke luar kota.

Titan akhirnya memanggilku menggunakan smartphonenya. Dia menunggu di gerbang depan, tempat awalku memasuki Kampung Pelangi satu jam yang lalu. Segera, aku undur diri percakapan yang sedang seru-serunya itu. Tak kusangka, pak Asep lebih memilih turun bersamaku dan melanjutkan obrolan sembari kami berdua menuruni Kampung Pelangi.

Menuju sebuah loteng tertinggi di Kampung Pelangi.
Pemandangan manakjubkan dari atas Kampung Pelangi.
Sini mas Donny saya fotokan, buat kenang-kenangan!”, pak Asep menawarkan diri.

Aku sudah berada di bagian terbawah Kampung Pelangi. Berpamitan dengan Pak Asep, pandanganku mulai menyapu setiap sisi untuk menemukan Titan. “Sebelah sini, Don”, Titan memanggilku. Oh itu dia sedang duduk mengopi di sebuah warung. Pertemuan dengan teman lama kedua di Semarang setelah malam tadi aku juga bertemu dengan Ezra.

Kutinggalkan Kampung Pelangi di jok belakang motor si Titan. Aku bersiap menuju destinasi berikutnya.

Eksplorasi Tertahan di Air Mancur Jalan Pahlawan

<—-Kisah Sebelumnya

Selepas makan malam di warung makan Ayam Pak Supar Semarang, Ezra berpamitan untuk undur diri. Dia berujar membutuhkan waktu tiga puluh menit untuk sampai di rumahnya. Sementara malam sudah menunjukkan pukul 22:30. Bahan percakapan kami juga sudah habis. Dia menawari untuk mengantarku balik ke Sleep & Sleep Capsule. Berfikir merepotkan, aku menolaknya halus. Akhirnya aku hanya meminta diturunkan di sebuah tempat yang masih ramai di arah pulangnya, dengan begitu aku tak akan merepotkannya.

Dengan cepat aku dibonceng dengan sepeda motor manual warna birunya. Beberapa saat kemudian, sepeda motor mulai melambat dan dia menurunkanku di sisi trotoar yang cukup lebar, penuh dengan muda-mudi yang duduk berkumpul di beberapa titik, diselingi para penjual kopi keliling di sepanjang trotoar.

Di sini nih Don, tempat teramai di arah pulangku. Gimana, mau turun di sini saja?”, ujar Ezra setelah menghentikan sepeda motornya.

OK, di sini saja. Saya ngopi dulu aja sebelum balik ke hotel, Zra”, aku meyakinkannya supaya dia bisa segera pulang. Lalu duduklah aku di sebuah beton pembatas taman, lalu memesan segelas kopi instan. Bagaimana rasanya, jika seorang penikmat kopi original, harus nongkrong dengan meminum kopi instan….Hahaha. tak apalah, yang penting aku bisa menikmati malam.

Kantor Telkomsel Semarang di daerah Mugassari.
Sebuah sisi Jalan Pahlawan.

Belum juga menghabiskan kopi dalam gelas dan sedang asyik-asyiknya menikmati aktivitas muda-mudi di depan Kantor Telkomsel Semarang, satu dua tetes air mulai jatuh dari langit. Pertanda bahwa kota akan segera tertumpah hujan.

Aku memandang sekitar untuk mencari tempat berteduh jika hujan benar-benar turun. Aku melihat di utara ada sebuah panggung yang beberapa orang tampak ramai berkumpul di dekatnya. Tanpa pikir panjang aku segera bergegas kesana.

Benar adanya, tetesan air langit telah naik tingkat menjadi gerimis lembut. Butuh waktu untuk memesan taksi online, sebelum basah kuyup lebih baik aku berteduh. Dengan cepat aku menaiki panggung itu untuk menyelamatkan diri dari hujan deras.

Ternyata panggung ini akan digunakan untuk menyambut Gubernur Jawa Tengah dalam acara Jalan Sehat dalam rangka memperingati HUT KORPRI ke-47. Akhirnya, hujan tertumpah sangat deras, walaupun berada di panggung beratap, tetap saja sebagian tubuhku basah karena air hujan itu disapu oleh angin kencang ke segala arah.

Genap 45 menit aku menunggu hujan tanpa bisa menunaikan niat awal untuk melakukan ekplorasi di sepanjang jalan protokol itu. Jalan utama di Semarang yang sangat terkenal dengan agenda Car Free Day kota itu. Aku hanya mendapatkan bonus menikmati pertunjukan warna pada sebuah air mancur di perempatan antara Jalan Pahlawan dan Jalan Imam Bardjo SH.

Panggung perayaan.
Bundaran di Jalan Pahlawan.
Air mancur di Jalan Pahlawan.
Air mancur di Jalan Pahlawan.

Menjelang tengah malam, Jalan Pahlawan sudah tak berdaya di hajar hujan. Segenap sisi menjadi sepi. Akhirnya aku memutuskan untuk segera balik ke hotel untuk merehatkan diri. Inilah malam terakhirku di Semarang sebelum besok sore kembali ke Jakarta. Tetapi aku masih ada waktu eksplorasi hingga tengah hari di esok hari.

Dua backpacker Lawang Sewu

<—-Kisah Sebelumnya

Lawang Sewu berarti seribu pintu.

Konon keangkeran bangunan berumur 116 tahun ini tersohor di Asia setelah Sekolah Tat Tak di Hong Kong. Sunyi, bertembok tebal dan sempat tak terurus. Tapi itu dulu, kini bangunan 429 pintu ini bertransformasi menjadi ikon pariwisata unggulan kota Semarang dengan segenap nilai artistik dan historisnya.

—-****—-

Malam ketiga di Semarang menjadi sebuah ajang reuni backpacker yang keduanya saling bertemu di Brunei Darussalam pada April 2015, kedua backpacker itu adalah aku dan Ezra. Aku sengaja mengirimkan pesan singkat kepadanya sehari sebelum keberangkatan ke Semarang. Aku mengajaknya bertemu di hometownnya untuk berbagi cerita petualangan masing-masing selama lima tahun terakhir.

Salah satu koridor di dalam Lawang Sewu.
Salah satu koridor di bagian teras Lawang Sewu.

Sepulang dari Pantai Marina, aku segera berpisah dengan Pak Muchlis. Beliau harus pulang lebih dahulu ke Gresik menggunakan kereta api Argo Bromo Anggrek. Aku menuju  ke Masjid Raya Baiturrahman di Simpang Lima sebagai meeting point dengan Ezra. Dengan cepat aku tiba di sana pada pukul 19:30. Beberapa saat menunggu, Ezra pun tiba dan kami berdua menunaikan ibadah shalat Isya bersama.

Dia bercerita banyak mengenai pekerjaannya yang seorang dosen dan membuatnya bisa mengikuti konferensi ke Amerika Serikat dan kemudian naluri backpackernya mengantarnya melipir ke Kanada. Dia juga sudah mengunjungi Israel dan Russia. Wah gilaaaa, aku bahkan jauh tertinggal dari segenap pengalamannya. Sedangkan aku, di malam itu mengisahkan bahwa di akhir tahun setelah pertemuan dengannya, akan berangkat menuju Penang, Ipoh, Dhaka, Mumbai, Colombo, dan Maldives.

Tangga menuju lantai atas Lawang Sewu.
Menonton video sejarah Lawang Sewu bersama warga lokal.
Foto-foto kegiatan renovasi Lawang Sewu.

Menaiki sepeda motor warna biru, aku diboncengnya menuju Lawang Sewu di Jalan Pemuda. Dalam perjalanan menuju ke sana, Ezra sedikit menceritakan bahwa gedung yang sedang kita tuju ini adalah bekas kantor Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) pada masa kolonial Belanda. Ketika Belanda menyerah kepada Jepang pada tahun 1942, maka gedung ini menjadi penjara paling kejam pada masa pendudukan Jepang. Setelah Indonesia mendapatkan kemerdekaan, gedung ini menjadi kantor Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia (DKARI) atau sekarang dikenal sebagai PT Kereta Api Indonesia.

Setelah tiba di tempat tujuan, Ezra dengan cekatan menuju loket penjualan tiket untuk membeli tiket masuk. Kali ini dia membayari semua biaya tiket untuk memasuki Lawang Sewu. Karena tempat wisata ini akan tutup jam 21:00, maka aku hanya memiliki waktu tiga puluh menit saja untuk menjelajah tempat wisata ini.

Halaman di dalam bangunan Lawang Sewu.
Sisi lain halaman dalam.
Keanggunan arsitektur Eropa dalam siraman lampu malam.

Tapi waktu yang sebentar itu tak membuatku terburu-buru, aku lebih mementingkan berdiskusi dan bercerita pengalaman masing-masing. Seakan Lawang Sewu hanya menjadi background pembicaraan kami berdua malam itu. Kuhabiskan sebagian besar waktu untuk duduk di teras dalam bangunan.  Terus berbincang dan menjelaskan setiap rencana masing-masing. Aku juga berharap, kami berdua bisa backpackeran bersama lain waktu ke luar negeri.

Tepat pukul 21:00, aku dan Ezra terpaksan harus meninggalkan Lawang Sewu karena jam operasionalnya sudah berakhir. Kami berpindah ke keramaian lain tepat di seberang Lawang Sewu. Yups, area Tugu Muda yang masih penuh pengunjung. Bahkan beberapa komunitas seperti pecinta reptil yang datang kesini untuk memamerkan koleksi seperti ular, Cuvier’s Dwarf Caiman (buaya mini), iguana dan beberapa jenis reptil lain pada kerumunan masyarakat. beberpa badut juga memeriahkan suasanan. Malam itu menjadi malam penuh kesan tentang Semarang.

Pertemuanku bersama Ezra malam itu, ditutup dengan makan malam bersama di sebuah restoran bermenu ayam….Ayam Pak Supar Semarang. Malam penuh kesan yang mempertemukan dua sahabat lama dengan passion yang sama.

Aku dan Ezra di Tugu Muda.

Kisah Selanjutnya—->

Pertunjukan Langit di Pantai Marina Semarang

<—-Kisah Sebelumnya

Sore, hari ketiga di Semarang, akhirnya aku mengkreasi peluang untuk menyaksikan pertunjukan bumi yang sering dicari oleh penggila warna langit….Yups, Sunset.

Aku meluncur cepat dari Sleep & Sleep Capsule di daerah Dadapsari pasca menaruh semua peralatan dan backpack. Menggunakan taksi online berjenis Calya warna orange maroon, aku dan Pak Muchlis menuju Pantai Marina di daerah Tawangsari. Pengemudi muda itu terus memamerkan spion tengahnya yang dimodifikasi fungsi menjadi kamera mundur dan kamera rekam jalan….Padahal itu hanyalah kamera buatan China harga 400 ribuan….Hahaha.

Menempuh jarak enam kilometer dalam lima belas menit, aku tiba di gerbang Pantai Marina. Melewati sebuah pos dan membayar tiket masuk sebesar lima ribu Rupiah, aku diturunkan tepat di area parkir pantai. Satu yang akan menjadi kendala adalah tidak tersangkutnya signal handphone di area pantai. “Wah, alamat, saat pulang nanti, aku mesti berjalan lumayan jauh ke luar area pantai untuk memesan ojek online”, batinku.

Arah asal masuk ke pantai.
Area parkir pantai.

Waktu sudah menunjukkan pukul 17:30, tetapi pantai masih saja menyengat. Matahari masih menunjukkan keperkasaannya di area terbuka itu. Untuk mengurangi hawa panas, aku duduk di sebuah bangku di bawah pohon sambil menikmati es kelapa muda dari batok kelapanya langsung. Biarlah surya kecapaean bersinar dan aku akan mulai menikmatinya saat dia mulai langsir.

Masih menyengat.

Matahari yang sudah mulai turun, membuatku segera beranjak dan menapaki area tanggul beton sekaligus pedestrian yang masih diperkuat dengan keberadaan batu-batu raksasa pengurug bibir pantai. Menjadikan pantai ini tak bisa lagi menampakkan keindahan naturalnya.

Tampak muda-mudi duduk diatas batu-batu raksasa itu, berpacaran, berselfie ria, atau merenung meratapi nasib di tengah khasnya riak ombak. Sedangkan anak-anak kecil berlarian di sepanjang pedestrian beton.

Bebatuan besar penahan ombak.

Pemandangan lain adalah tertancap kokohnya bagan-bagan penangkap ikan di sepanjang pantai, sedangkan di arah lepas pantai, sebuah daratan mirip pulau berhiaskan kapal-kapal cepat yang terparkir rapi, area West Marina Beach.

Untuk menyaksikan sunset dengan sudut pandang sempurna maka aku merapat ke bagian pantai yang menghadap ke arah barat. Tampak deretan pemburu yang tetap fokus dengan mata pancingnya di sepanjang pedestrian hasil reklamasi yang pada sisi ini dilapisi dengan paving block yang membuat penampakan bibir pantai lebuh berseni. Sementara para pedagang minuman dan makanan tampak sibuk melayani pelanggannya yang menempati deretan bangku dan bersiap menikmati pertunjukan alam. Di bagian selatan sana, Marina Convention Center tampak gagah membiru, menyematkan kesan bahwa Pantai Marina telah terpapar teknologi dan modernisasi.

Disinilah spot terbaik menikmasi senja.

Aku mulai mengambil tripod, memangarahkan smartphoneku ke arah surya yang mulai membulat jelas dan perlahan berubah berwarna orange. Muda-mudi dari pantai sebelah utara mulai berpindah mengambil posisi maasing-masing di pantai barat. Sementra Pak Muchlis terlihat lebih santai, duduk menikmati seporsi lontong. Sedangkan aku duduk bersila saja tepat di bibir pantai, bersebelahan dengan kamera smartphoneku yang sedang bekerja mengabadikan momen special itu.

Pertunjukan yang luar biasa.
Dia mulai bersembunyi.
Selamat datang malam…..

Kisah Selanjutnya—->

Sleep & Sleep Capsule: Penginapan Murah di Semarang

<—-Kisah Sebelumnya

Selamat pagi….Fajar terakhir di The Azana Hotel Airport.

Sesuai jadwal business trip ini, aku seharusnya pulang ke ibukota sore nanti. Sudah barang tentu, jam 12 siang ini, aku harus melakukan check-out dari The Azana Hotel Airport. Karena pelatihan baru akan selesai pukul 14:00, maka sebelum aku berangkat ke kawasan Bukit Semarang Baru untuk mengawal jalannya pelatihan, aku segera menyerahkan kunci hotel sembari menitipkan semua barang-barang di reception desk.

Pelatihan hari kedua ini berjalan sangat lancar dan selesai tepat waktu. Semua peserta pelatihan pun satu persatu undur diri untuk kembali ke kotanya masing-masing. Aku pun segera kembali ke The Azana Hotel Airport, untuk mengambil barang yang tertitip.

Kamu tentu sudah tahu kelakuanku…Yups, aku sengaja memperpanjang masa kunjungku di Kota Atlas dengan biayaku sendiri. Kini aku bersiap berperilaku kembali layaknya seorang backpacker. Aku akan berpindah menuju sebuah hostel seharga Rp. 40.000 per malam. Dan karena Pak Muchlis yang masih akan kembali pada pukul 19:00 nanti, akhirnya mengikuti kemana kakiku melangkah.

Menumpang taksi online, aku menuju ke Sleep & Sleep Capsule di daerah Dadapsari. Pengemudi taksi online yang kutunggangi rupanya tahu perihal hotel kapsul murah itu, mampu membaca tujuanku tiba di Semarang, sehingga percakapanku dengannya pun otomatis menghangat di ranah backpacking.

Aku diturunkan di bilangan Jalan Imam Bonjol tepat di halaman Universitas AKI. Tak sulit menemukan Sleep & Sleep Capsule, karena tulisan namanya tertera sangat besar di tembok pembatas universitas itu. Lorong kecil berkanopi itu mengarahkanku menuju sebuah pintu seukuran gang yang langsung berhadapan dengan meja resepsionis.

Lorong masuk.
Reception desk.

Telah terbayarnya biaya hotel melalui Agoda, staff reception perempuan itu hanya meminta KTPku saja untuk mencocokkan data. Walaupun minimalis, hotel ini tampak didesain sangat rapi dan modern dengan mengambil konsep aktivitas di sebuah bandara. Interior dinding lobby itu didesain bak sisi jendela sebuah pesawat lengkap dengan kursi pesawatnya. Sedangkan alur lalu lintas tamu di area lobby dibatasi dengan desain lantai bak aspal bandara. Segenap lobby didominasi dengan warna kuning, coklat, putih dan abu-abu…..Ciamik banget.

Lobby.
Ruang bersama.
Ruang bersama.

Sedangkan setiap tamu akan mendapatkan sebuah loker yang diletakkan di ruang terpisah dengan kamar tidur. Aku perhatikan banyak tamu yang menaruh laptop dan beberapa berkas tugas sebuah institusi pendidikan di loker itu, aku kemudian menyimpulkan bahwa mereka adalah para mahasiswa yang sedang berkuliah. Entahlah, apakah mereka lebih memilih hotel jenis kapsul ini untuk tinggal atau memang mereka hanya sesekali menginap saja karena ada tugas lembur di kampus. Hal itu  mungkin saja karena memang hotel ini berlokasi bersebelahan dengan Universitas AKI.

Koridor loker.

Aku pun segera menaruh backpack di ruang kapsulku, bunk bed tingkat paling atas. Aku segera menaruh peralatan traveling di folding bag untuk kubawa ke destinasi berikutnya sore itu. Terus terang, aku baru kali ini tidur di sebuah ruangan kapsul. Biasanya aku memilih sebuah dormitory reguler.

Memang beda tipis antara kapsul dan dormitory. Kapsul berpembatas sedangkan dormitory cenderung lebih terasa lega karena tak berpembatas papan.

Karena jumlah kapsul dalam ruangan ini adalah 42 buah, tak hayal lagi ruangan kapsul ini sangat berisik ketika waktu tidur menjelang. Sudah dipastikan diantara 42 orang ini adalah para pengorok ulung yang mengganggu nyenyaknya malam. Keriuhan akan kembali terjadi di pagi hari karena disaat itulah orang saling berembut untuk mandi. Mereka tampak mengejar urusannya masing-masing sepagi mungkin. Begitu juga aku.

Kamar.
Pindah peraduan.

Sedangkan toilet berada di ujung ruangan kapsul. Wastafel, urinoir dan shower berada pada ruangan yang saling terpisah. Walaupun dipakai untuk 42 tamu dalam satu ruangan, kamar mandi itu tetap tampak bersih dan wangi. Sepertinya para tamu ini sudah berpengalaman tinggal di sini, mungkin para mahasiswa itu sudah berlangganan menginap di hotel kapsul ini.

Kamar mandi.
Kamar mandi.

Nah, Hayo siapa yang mau tinggal di hotel jenis kapsul sepertiku?……

Kisah Selanjutnya—->

Ikan Bakar Cianjur dan Kota Lama Semarang

<—-Kisah Sebelumnya

Kutinggalkan kerumunan anak-anak sekolahan asal Jawa Timur yang asik berwisata religi di halaman Masjid Agung Jawa Tengah. Anak belasan tahun itu terlihat sangat girang berlarian di halaman, berbaris rapi dan berfoto berlatar tempat ibadah yang mengesankan itu, bahkan beberapa berguling sesuka hati di pelataran.

Honda Jazz hitam menjemputku atas perintah aplikasi GOJEK. Setelah mengkonfirmasi tujuan dan aku mengiyakan, hatchback hitam itu meluncur menuju Tanjung Emas.

Tempat itu sekarang sudah keren lho mas, mas Donny harus keliling di sana!”, Dia menjelaskan seluk beluk dengan detail bak duta wisata Kota Atlas.

Wah, boleh juga tuh mas”, ucapku berharap membuatnya bangga.

Sudah direnovasi besar-besaran mas, habis lebih dari 150 Miliar loh mas, cocok buat nongkrong dan hunting foto mas”, dia terus mejelaskan.

Hatchback yang kutunggangi akhirnya berhenti dengan lembut di slot parkir.

Perjalanan seharga Rp. 10.000 menuju ke sini.
Bersiap makan malam bersama.

Tak terasa lama berkendara, aku tiba. Aku harus bersiap lebih dahulu, sebelum tamu-tamu datang. Malam ini aku akan mentraktir semua kolega penting perusahaan di Restoran Ikan Bakar Cianjur. Memasuki bekas gedung pengadilan zaman kolonial ini, dengan cepat para juru saji menangkap niatku dengan mengarahkan ke tempat duduk yang cukup menampung jumlah tamu yang kucacah.

Ruang restoran yang mengikuti fungsi awal bangunan, penuh ruang, setiap ruang dipenuhi deretan meja makan berbahan jati atau meja kaca berangka jati. Sementara kursi-kursi khas betawi berderet rapi, sementara jendela-jendela persegi menjulang ke langit-langit dengan tralis berkerangka susunan bujur sangkar mini. Tampak hiasan ruangan berupa almari-almari souvenir berbahan kayu jati dan berpendingin beberapa kipas angina besar.

Memesan bangku terlebih dahulu.
Tak cukup sederet, tapi dua deret bangku yang dipesan.

Walhasil, dinner itu selesai bersamaan dengan gesekan credit card senilai hampir dua juta.Ringan kugesekkan kartu hutang itu karena semuanya akan direimburs ke kantor.

Berpamitan, para kolega undur diri untuk beristirahat dan melanjutkan training esok hari. Sementara, aku masih punya waktu untuk melangkah lebih jauh di sekitaran Kota Lama. Tak akan seluruhnya terjelajah, karena 31 Ha butuh waktu seharian untuk mengeksplornya.

Terimakasih Tumenggung Trunojoyo….

Berkat pemberontakanmu ke Mataram, Kota Semarang menjadi kota pesisir pengekspor gula dan rempah ke Eropa pada Abad ke-19. Dibawanya arsitektur Renaisans ke Semarang, vintage, kaca-kaca berwarna, bentuk atap unik, ruang bawah tanah, jendela besar dan juga pintunya. Dan menjejakkan kaki di dalamnya….Kini aku sedang menikmati kompleks Kota Lama di bawah temaram pelita bulan.

Aku mulai memasuki Jalan Letjen Suprapto. Penampakan gereja tua bermenara kembar dengan jam dinding besar di setiap menara lalu beratapkan kubah besar berwarna merah bata, menjadikan arsitektur bangunan ini seperti perpaduan dua jenis tempat ibadah yaitu masjid dan gereja. Gereja berumur lebih dari 250 tahun kini bernama Gereja Protestan Indonesia Barat Immanuel. Nama asli dari gereja itu sendiri adalah  Nederlandsch Indische Kerk.

Gereja Blenduk, Lanskap Kota Lama Semarang.
Gereja Blenduk, Lanskap Kota Lama Semarang.

Sementara berseberangan jalan dengan Gereja Blenduk, terletaklah gedung Jiwasraya, berbentuk Letter-L, berusia 104 tahun, dan disiram dengan spektrum cahaya merah-hijau-biru secara bergantian. Adalah ex-Nederlandsch Indische Level Sverzeking De Lifrente Maatschaapij (NILLMI), boleh dibilang sebagai bisnis asuransi utama Belanda tempoe doeloe. Pernah juga berfungsi sebgai Balaikota pada zaman Kolonialisme Belanda.

Bangunan 3 lantai dengan kubah di sikunya.

Sementara di sebelah timur gereja Blenduk, tepat di sebuah perempatan, terletaklah sebuah Bar dan Bistro berjuluk Spiegel. Bangunan persegi panjang dua lantai dengan pintu di salah satu sudutnya. Gedung klasik ini berasal dari akhir Abad ke-19 ini (125 tahun). Begaya Spanish Colonial, gedung bekas perusahaan Winkel Maatschappij H Spiegel ini menunjukkan sebuah perjuangan bisnis Tuan H. Spiegel yang awalnya hanya bekerja sebagai seorang manajer perusahaan, kemudian menjadi pemilik perusahaan yang dipimpinnya itu.

Perusahaan ini sendiri didirikan oleh Tuan Addler.

Bagian terakhir yang kukunjungi adalah Taman Srigunting. Taman dengan empat pohon besar di setiap ujung taman dan bergelantungan lampu hias di sepanjang rantingnya. Membuat suasana begitu romantis bagi para pasangan muda yang sedang kasmaran, atau para keluarga kecil dengan putra-putri mungilnya atau juga buat para kaum jomblo yang ingin mencari jodohnya.

Tempat yang baik untuk menghabiskan weekend.

Saatnya pulang ke hotel dan beristirahat untuk persiapan pelatihan hari kedua esok hari……

Zzzzzzzz……….

Kisah Selanjutnya—->

Aura Romawi di Masjid Agung Jawa Tengah

<—-Kisah Sebelumnya

Membelakangi Klenteng Sam Poo Kong, pandanganku mengobrak-abrik area kantin. Berusaha menemukan Pak Muchlis sesegera mungkin. Aku harus menyeretnya ke Masjid Agung Jawa Tengah, bukan hanya untuk melakukan shalat jamak, tapi juga menggenapkan wisata religi sore itu setelah baru saja selesai mengitari klenteng.

Kutemukan dia di sebuah pojok, dia terlihat nikmat menghisap asap tembakau. Klepas-klepus tanpa dosa sembari bergilir mengguyur kerongkongannya dengan jus mangga….Hahaha.

Ayo pak, ikut aku lagi!”, seruku kencang dari kejauhan.

Loh, nyang endi?”, serunya sambil mematikan api tembakaunya

Shalat”, kataku singkat sambil melangkah membelakanginya menuju pintu keluar klenteng.

Taksi pangkalan merangkap taksi online datang menjemput. Kini aku dihadapkan pada seorang pengemudi setengah tua yang terlanjur bangga dengan kekhilafan-kekhilafan manusiawinya. Katanya, dia pernah meminta ongkos lebih pada sepasang bule Belanda hanya karena punya alasan bahwa Belanda pernah menjajah bangsanya. Lantas kedua bule itu tak terima, dihentikannya taksi di depan sebuah kepolisian sektor, si sopir menjelaskan alasannya meminta ongkos lebih. Lantas polisi itu menjelaskan ke bule dengan cara yang lebih elegan, si bule pun entah kenapa mau membayarnya lebih…..Lucu, aneh bin ajaib.

Pernah juga dia tak mau menerima kembalian ongkos dari seorang Tionghoa, katanya dia punya harga diri untuk tak dikasihani….Cerita ini lebih ajaib lagi, pengen aku koprol salto saat mendengarnya.

Sudahlah….Aku lagi malas berdebat….Aku bertelepati dengan sedan putih itu untuk segera berlari lebih kencang dan segera sampai….Sedan antar jemput online itu tiba tepat di pelataran tujuan.

Yup….Masjid Agung Jawa Tengah…Sebut aja MAJT.

Pelataran itu lengang, parkir mobil tetapi penuh parkir motor, bercahaya syahdu dipadu gemericik air mancur di sepanjang kolam di tengah jalur trotoar. Di akhir pelataran, tersaji gerbang berpilar dua puluh lima, bergaya romawi, dengan kaligrafi khas Timur Tengah melingkar di lis atasnya…Selera Romawi tersemat jelas di halaman itu.

Aura Romawi di awal kunjungan.
Gimana?….Keren kan?.

Sisi kanan masjid didominasi Al Husna Tower setinggi 99 meter, diejawantahkan dalam 19 lantai. Kalau kamu mau, naiklah sesukamu, diatas menanti teropong pandang (lantai 19) yang mengiming-imingi kecantikan Kota Atlas versi ketinggian, lalu nikmatilah secangkir kopi di sebuah kafe lantai 18 (Kafe Muslim) yang bisa berputar satu lingkaran penuh….Wahhh.

Al Husna Tower.

Sedangkan sisi kiri masjid terakuisisi oleh bedug hijau raksasa berumahkan paviliun 3 lapis atap. Persembahan segenap santri dari Pesantren Al Falah Banyumas untuk MAJT.

Bedug raksasa itu bunyinya gimana ya?.

Sementara, pelataran masjid dihiasi oleh enam payung hidrolik raksaka yang layaknya paying yang sama di Masjid Nabawi, Madinah. Masjid agung ini tampak lega tak berujung, konon luasnya mencapai 10 hektar. Menjadikan masjid ini sebagai kebanggaan masyarakat Sambirejo. Masjid cantik yang kubahnya bergaris tengah 20 meter yang memuncaki atap limas khas arsitektur Jawa.

Lihat bentuk utuhnya…..Beuhh.

Tak begitu memperdulikan keramaian di halaman, aku bergegas turun ke lantai bawah, bersuci, lalu melakukan shalat jamak di lantai atas.  Shalat dengan iringan khutbah seorang ustadz kepada jama’ah pengajian.

Interior masjid.
Lampu gantung di tengah ruangan masjid.

Aku sedikit berlama waktu dengan mengikuti siraman ruhani ini. Sebuah kebiasaan yang selalu kuulang-ulang ketika mengunjungi masjid-masjid ternama. Tak perlu khawatir karena waktuku mentraktir para kolega masih nanti. Bisa kukejar dengan taksi online dalam 15 menit saja.

Al Qur’an raksasa karya H. Hayatuddin, penulis kaligrafi dari Universitas Sains dan Ilmu Al-Qur’an, Wonosobo.

Selesai khutbah, aku mulai meninggalkan bangunan berusia 14 tahun itu, mengucap selamat tinggal pada pusat syiar islam itu setelah berwisata religi di dalamnya, serta mendoakan semoga MAJT menjadi pusat pendidikan agama yang makmur.

Perlu kamu ketahui bahwa masjid ini memiliki fungsi lain yaitu sebagai perpustakaan, auditorium, penginapan, ruang akad nikah dan museum perkembangan Islam.

Kisah Selanjutnya—->

Jasa Juru Mudi di Klenteng Sam Poo Kong

<—-Kisah Sebelumnya

Semarang pantas berterimakasih pada nahkoda Ong Keng Hong karena mengalami sakit keras. Sebab sakitnyalah, dia harus berlabuh dan memilih untuk ditinggalkan rombongan ekspedisi di Bukit Simongan. Laksamana Zheng He masih bermurah hati dengan mengutus beberapa prajurit untuk menemani dan merawat nahkodanya di Semarang. Kemudian di suatu masa, di sekitar Abad XV, Ong Keng Hong inilah yang mensyi’arkan Islam dan mendirikan Goa Gedung Batu yang merupakan cikal bakal berdirinya Klenteng Sam Poo Kong di era modern….Oh ya, konon Ong Keng Hong ini menahkodai kapal raksasa sepanjang 130 m dan lebar 55 m dengan 9 tiang layar. Beriringan bersama 299 kapal lainnya dalam sebuah ekspedisi agung.

Sore itu, jarum jam menunjukkan pukul 15:30, pertanda bahwa tugasku mengawal pelatihan sudah rampung. Setelah mengepak setiap peralatan penting untuk digunakan kembali pada pelatihan hari kedua esok hari, aku tak menuju hotel, melainkan berniat mengeksplorasi di daerah Bongsari.

Momen penutupan pelatihan….Tak sabar untuk segera bereksplosi.

Karena nanti malam aku harus menjamu kolega-kolega penting untuk makan malam bersama maka sang tuan rumah berbaik hati mengantarkan aku dan Pak Muchlis menuju destinasi yang kumaksud. Tak lama kemudian aku tiba di Klenteng Sam Poo Kong. Duduk sejenak di pelataran parkir di gerbang utara klenteng, hatiku terus tertelisik, ada sejarah apakah di dalam sana?.

Menebus tiket sebesar Rp. 27.000, aku mulai memasukinya.

Gerbang kuil.

Sepertinya klenteng ini memang sangat siap menjadi sebuah obyek wisata, berbagai papan petunjuk arah sangat lengkap di letakkan di beberapa posisi strategis, beberapa titik terbaik untuk pengambilan photo juga sudah di tandai dengan detailnya.

Mas Donny, aku duduk sini ae lah, mau minum es sama udut, kesel aku mas. Sampeyan keliling dhewe wae yo!”, ujar Pak Muchlis meringis sambil memijit-mijit betisnya. Dia lebih tertarik sama jus jeruk dan duduk di rest area.

Rest Area.

Aku menyisir dari sisi utara, melewati sebuah pendopo joglo yang sebagian ruangnya dimanfaatkan pedagang untuk berniaga souvenir, sedangkan tepat di depannya terdapat sebuah posko kesehatan dengan dasar dinding berwarna kuning. Sementara di pelataran klenteng yang sangat luas berdiri dua patung singa emas pembawa bola dunia dan anak singa serta dua patung putih penjaga Yin dan Yang.

Pendopo Joglo.
Posko Kesehatan.
Patung penjaga dan pemegang tanda Yin (bulan) dan Yang (matahari).

Mulai kulangkahkan kaki memasuki bagian klenteng satu per satu. Aku memasuki klenteng dengan tiga puluh enam tiang penyangga dan beratap dua susun. Di bagian depannya dijaga oleh dua singa berwarna emas dan delapan Dewa-Dewi. Inilah klenteng pemujaan Thao Tee Kong (Dewa Bumi) untuk memohon berkah dan keselamatan hidup.

Klenteng Dewa Bumi.

Bersebelahan di sisi selatan, terletaklah  Klenteng Juru Mudi. Klenteng ini tentu didedikasikan untuk mendiang Ong Keng Hong, Sang nahkoda yang melakukan syi’ar di Semarang. Berukuran lebih kecil, klenteng ini didirikan dengan enam belas tiang penyangga yang dua diantaranya berwarna coklat, berukir naga dan terletak tepat di pintu masuk. Dijaga oleh patung singa berwarna hijau dan dua Dewa di pelatarannya.

Klenteng Juru Mudi.

Tibalah aku di bangunan utama dalam kompleks peribadatan teruntuk pemeluk Tridharma (Taoisme, Buddhisme, dan Konfusianisme). Adalah Klenteng Sam Poo Kong yang berdiri kokoh dengan sembilan puluh tiang dan beratap tiga susun.

Aku berhasil memasuki klenteng ini. Tapi melakukan kesalahan besar dengan memotret lokasi peribadatan yang terlarang. Aku dimarahi sejadi-jadinya oleh petugas klenteng. Maafkan aku pak, aku tak melihat ada gambar kamera tercoret garis merah di dekat tiang tengah.

Di belakang klenteng utama ini terdapat sepuluh relief yang mengisahkan kejadian-kejadian penting dalam pelayaran Laksamana Zheng He, atau kita lebih akrab memanggilnya Laksamana Cheng Ho. Beberapa orang memanggilnya San Poo Tay Djien.

Diantara kisahnya adalah dihadiahinya Laksamana Zheng He beberapa ekor jerapah oleh Raja Hulumosi dari Iran, menumpas pemberontakan Iskandar di kerajaan Samudra Pasai, seratus tujuh puluh prajuritnya gugur dalam mengatasi perang saudara antara Wikramawardhana (Raja Barat Jawa) dan Wirabumi (Raja Timur Jawa), menumpas lima ribu bajak laut pimpinan Chen Zhu Yi di Palembang, mengatasi konflik antara Malaka (Malaysia) dan Siam (Thailand), kisah awal keberangkatan ekspedisi yang dipimpinnya dari Liu Jia Gang, mengawal putri Han Li Bao untuk dipersunting raja Malaysia (Sultan Mansyur Syah), hingga menyelamtkan Duta Besar China yang hilang di Indonesia….Wah, keren ya kisah Laksamana yang satu ini.

Relief di belakang klenteng utama. Cerita disampaikan dalam tiga bahasa yaitu Inggris, Indonesia dan China.
Patung perunggu Laksamana Zheng He setinggi 12 meter dan Klenteng Sam Poo Kong.
Pintu Gerbang Selatan di belakang patung Laksamana Zheng He.

Hari semakin gelap, lampu warna-warni mulai dinyalakan. Aku telah tiba di ujung eksplorasi klenteng ini. Aku menyempatkan duduk di sebuah bangunan yang berfungsi sebagai tempat pertunjukan yang di deret anak tangganya berdiri patung-patung prajurit yang dibawa Laksamana Zheng He.

Panggung untuk tempat pertunjukan.
Patung-patung prajurit Laksamana Cheng  Ho.

Untuk para pengunjung yang ingin berfoto menggunakan kostum semasa Laksamana Zheng He, mereka bisa menyewanya di tempat persewaan di foto kostum.

Foto Kostum.

Itulah kisah kunjunganku di Klenteng Sam Poo Kong, klenteng penuh sejarah dan penutur kisah perjuangan segenap awak kapal yang dikomandani oleh Laksamana Zheng He.

Kisah Selanjutnya—->

Kampung Batik Kampung Laut

<—-Kisah Sebelumnya

Tak lama setelah memasuki kamar bernomor 523 di The Azana Hotel Airport, aku bergegas memasuki kamar mandi, kemudian keluar dengan pakaian santai. Dari raut muka, aku tahu pak Muchlis sudah dilanda kelaparan. Karenanya sedari tadi, dia terus mengemil kacang tanah kemasan yang dibawanya dari tempat rehearsal.

Ayo pak, kita jalan, cari makan!”, sahutku sembari mempersiapkan Canon EOS M10.

Makan kemana kita, mas Donny?”, dia pun nampak belum punya pilihan.

Mau gak pak ke Kampung Laut? Makan seafood yuk!”, ajakku kepadanya. Diam-diam, aku sudah menemukan restoran ini melalui browsing semenjak meninggalkan bandara tadi sore.

Jauh ga, mas Donny?”, tanyanya. Mungkin dia enggan karena setahuku passion dia tak jauh-jauh dari naik gunung, melakukan eksplorasi kota membuatnya tersambar malas duluan.

Engga pak, cuma enam kilometer kok, paling seperempat jam, pak yuk kita cabut! Keburu kemalaman.“, sahutku.

Aku manut ae lah, Mas Donny. Aku sing pesen Grab, yo!”, ayuk lah berangkat.

Tak lama, Honda Jazz hitam menjemput di lobby, kami pun meluncur ke daerah Tawangsari. Yang kufahami, ini adalah jalur yang sama persis ketika aku meninggalkan Ahmad Yani International Airport menuju The Azana Hotel Airport. Kami melewati Jalan Yos Sudarso lalu berbelok ke kiri mengikuti Jalan Puri Anjasmoro ke arah bandara. Hanya saja kami akan berhenti sekitar dua kilometer sebelum benar-benar tiba di bandara.

Sampailah kami di Restoran Kampung Laut.

Bersama Pak Muchlis di Kampung Laut.

Begitu sampai di tujuan, aku menjadi lupa lapar. Pemandangan seisi restoran membuat hasrat eksplorasiku kambuh. Aku minta Pak Muchlis untuk mencari bangku, kulihat sejenak menu di sebuah meja, kemudian aku minta dipesankan nasi putih, cumi asam manis dan es kelapa muda.

Aku keliling bentar ya pak, nanti kabari aku duduk dimananya ya!”, pintaku sedikit bergegas.

Aku duduk di tengah situ aja ya mas, tak tunggu!”, dia menunjuk meja kecil di ruang terbuka di sisi barat saung utama.

Baik pak”, aku menutup percakapan cepat kami.

Aku meninggalkannya untuk menelusuri beberapa spot di restoran yang didesain mengapung diatas danau buatan itu. Aku mulai memasuki bagian pertamanya yang berwujud delapan saung utama, empat di sisi kiri dan sisanya di sisi kanan. Meja-meja memanjang dengan puluhan kursi nampak disusun di bawah saung-saung itu, sebagai tanda bahwa saung tersebut digunakan untuk melayani pengunjung dalam jumlah banyak. Tampaknya pak Muchlis sudah tepat memilih bangku kecil di pelataran luar.

Jajaran saung dengan kolam di hadapannya.
Meja makan panjang di dalam saung….Cocok untuk makan bersama sekantor.

Sementara di bagian ujung barat, tampak anjungan panjang menuju ke sebuah nameboard “Kampung Laut” yang sengaja didesain untuk tempat berfoto para pengunjung seusai makan. Konsep yang menarik anak-anak muda untuk berkunjung ke sini.

Spot foto terbaik di Kampung Laut.

Tak lama kemudian, aku segera bergabung dengan Pak Muchlis untuk bersantap malam setelah dia mengirimkan pesan singkat “Makanan sudah siap, mas Donny. Ayo kesini!”.

Yuk mari, makan duyuuu….

Meja makan outdoor.
Menu kami: Kangkung, cumi, ikan, es kelapa muda dan jus alpukat….Standard….Hahahaha.

Seusai makan, aku berbincang perihal rehearsal siang tadi yang dilakukan Pak Muchlis tanpa bantuanku. Apakah ada yang kurang, apa yang bisa dipersiapkan lagi sebelum pelatihan esok hari. “Wes beres kabeh mas Donny, ndak perlu khawatir. Yang penting besok kita datang setengah jam sebelum acara yo!”, ucapnya singakat dan meyakinkan.

Sebelum menutup makan malam di Restoran Kampung Laut, kami berdiri di depan stage mungil dan menikmati beberapa lagu yang dibawakan oleh seorang biduan cantik. Wah kalau ada waktu banyak, pasti aku ikut nyayi tuh bersamanya, sayang dia sedang menyanyikan beberapa lagu request dari pengunjung restoran.

Lagu apa ya enaknya kalau duet sama si mbak…..”Yellow” atau “Tiwas Tresno”.

Tepat pukul 21:30, kami undur diri dan segera menuju ke hotel untuk beristirahat. Dengan sigap Pak Muchlis mendatangkan taksi online berwujud Wuling Confero berwarna putih. Inilah pertama kalinya aku merasakan sensasi menunggang kuda besi buatan Tiongkok itu. Hmmhhh….Cukup lega. “Ini pakai mesin Chevrolet lho mas”, ungkap si pengemudi membanggakan mobilnya. Woow…..Kalau mendengar kata “Chevrolet”, bayangan pertama yang muncul di pikirankau adalah si kuning “Bumblebee”.

Eittt  lupa, sebelum benar-benar meninggalkan restoran, buat kamu yang ingin berbelanja batik, disediakan gerai “Kampung Batik” yang menjual batik khas Semarang.

Buat penggemar batik….Silahkan mampir.

Saatnya tidur dan mimpi indah, kawan…….

Mengenal Ahmad Yani International Airport

<—-Kisah Sebelumnya

Free business trip kali ini kumulai dengan sangat mendadak dan berbekal ala kadarnya. Yang terpenting barang kesayangan tak tertinggal….Tak lain adalah Canon EOS M10 warna hitam. Selain perbekalan, itinerary juga tak pernah tersusun sebelum berangkat. Empat hari ke depan aku akan menjadi “Si Bolang” yang bermain sesuka hati.

Ketika Citilink mulai take-off meninggalkan Halim Perdanakusuma International Airport, aku pun tak pernah memikirkan apapun perihal Ahmad Yani International Airport. Memoriku masih sama tentangnya. Sederhana, tak besar, ruang tunggu yang langsung bertatap muka dengan moncong pesawat ketika parkir. Begitulah lembaran ingatan yang tersusun rapi dalam cabinet otakku. Bagaimanapun, beberapa tahun lalu, Ahmad Yani International Airport berperan besar dalam melepas landaskan penerbangan pertama kalinya dalam sejarah hidupku.

Oh ternyata…..

Ini berbeda, sungguh menakjubkan”, gumamku ketika mengintipnya melalui jendela saat QG 144 sedang taxiing menuju apron.

Benar adanya, Ahmad Yani International Airport yang berkode IATA “SRG” ini sudah mentransformasi dirinya menjadi super elegan. Aku diturunkan bersebelahan parkir dengan “Maskapai Singa Merah”. Melangkah dibawah sayap raksasa, tampak bangunan utama terminal menampilkan hamparan jendela kaca yang memamerkan pilar-pilar besar di dalamnya. Cahaya surya tampak menembus sempurna seisi ruangan dalam bangunan berkaca itu.

Mari memasuki bangunan terminal.

Aspal pada jalur kendaraan bandara pun masih terlihat sangat hitam dan halus, pertanda lintasan ini belum lama digunakan. Rambu-rambu yang menempel di aspal masih putih sempurna. Tembok terminal masih berwarna krem menyala.

A. Arrival

Aku memasuki koridor arrival hall menuju ke area baggage claim. Lantai yang masih mengkilat memantulkan cahaya lampu dalam pola yang teratur, ruangan kaca disebelah kiri masih berstatus underconstruction sedangkan sisi kanan koridor sudah beroperasi beberapa toilet, lift, dan musholla. Beberapa rak berisi pot-pot bunga sepatu memperindah sudut-sudut ruangan.

Koridor menuju baggage claim area.
Baggage claim area.

Beberapa konter baggage service milik beberapa maskapai masih tampak tutup, mungkin maskapai yang bersangkutan belum beroperasi di terminal ini.

Setelah melalui baggage claim area, deretan konter penyedia informasi telah dipersiapkan seperti Tourist Information Center, BP3TKI, money changer dan perusahaan persewaan mobil TRAC. Sementara antara bangunan utama dan ruas jalan untuk keluar-masuk bandara dipisahkan oleh hamparan air. Ya, aku kini sedang berada di terminal terapung seluas 7 hektar yang didirikan diatas rawa.

Area pintu keluar diletakkan di bawah sebuah koridor berkanopi dan berangka balok baja  bercat putih. Koridor ini menghubungkan arrival hall dan commercial zone bandara. Keberadaan kolam, umbrella shade dengan kursi-kursi dibawahnya dan taman tertanam pohon bertinggi sedang dengan sebaran berpola menjadikan penampakan area pintu keluar menjadi sangat apik. Di sinilah para penjemput menunggu kedatangan tamu atau sanak saudara mereka yang baru saja mendarat.

Pintu keluar.
Area taman.

Begitu melewati pintu keluar terdapatlah photospot area dengan background presiden Joko Widodo yang sedang mengontel sepeda kebo. Dilanjutkan dengan keberadaan toilet, nursery room, money changer, musholla dan ATM area.

Musholla setelah pintu keluar.
Koridor dengan sederet ATM beberapa bank.

Layar airpot digital clock sudah menunjukkan pukul 17:09, ketika aku memasuki commercial zone. Tampak dua meja customer service dominan hijau diletakkan sejajar dengan exit gate. Sedangkan bangku bangku tunggu berselang-seling warna hitam merah melingkari setiap pilar-pilar utama bangunan terminal serta berjajar di beberapa sisi dinding yang kosong. Beberapa spot foto berada di pojok bangunan, sedangkan departure and arrival flight information LCD menguasai zona tengah sehingga mudah diakses oleh semua penumpang dan pengunjung bandara.

Konter customer service.

Area commercial zone sudah ditempati beberapa brand ternama seperti X-Side Eat, A&W, Kukomart, Bank BNI, Eaten Kopi Tiam dan brand lainnya.

Keluar dari commerzial zone building, aku disambut oleh koridor ganda yang dipisahkan oleh jalur kendaraan roda empat. Ini zona taksi dan drop and pickup zone. Koridor ini tampak rapi dengan tiang tiang bulat dan beratapkan spandek.Sementara di bawah naungan, disusunlah kursi tunggu di sepanjang koridor. Aku sendiri memilih moda transportasi taksi menuju pusat kota, mengingat ini adalah business trip yang semua biayanya ditanggung oleh kantor tempatku bekerja.

B. Departure

Tiga hari berselang, aku menyambangi kembali bandara ini untuk pulang ke ibukota. Taksi online menurunkanku di tempat yang sama ketika aku meninggalkan bandara saat tiba di hari pertama. Aku menginjakkan kaki di drop and pickup zone lalu bergegas mencari check-in area di dalam bangunan terminal.

Tiba di drop and pickup zone.

Memasuki commercial zone, aku terus melaluinya saja, banyak calon penumpang yang nampak bersantai di area ini, baik di area umum atau menyantap makanan di  beberapa coffee shop. Begitu keluar dari commercial zone aku memasuki area beratap transparan bertiang baja dengan dua layar check-in information LCD, sementara di sisi kanan tersaji geladak kayu dengan sejumlah pot palem diatasnya sedangkan bagian lainnya berupa kolam air yang merendam tiang-tiang pancang pondasi terminal sehingga memberikan kesan bahwa ini adalah terimal penumpang terapung….Keren sekali.

Taman dan kolam disisi kanan departure hall.

Di ujung taman dan kolam, aku memasuki sebuah gedung yang berfungsi sebagai check-in area. Seperti pada taman di luarnya, check-in area ini tampak tinggi dan luas. Jajaran konter check-in memanjang hingga bilangan tiga puluh di salah satu sisi hall. Sementara konter ‘Total Baggage Solution” berwarna oranye siap membantu setiap penumpang me-wrapping bagasinya untuk mengamankannya selama proses loading & unloading bagasi ke lambung pesawat.

Check-in area.

Aku bergegas menuju ke waiting room setelah mendapatkan boarding pass, melewati sebuah koridor sempit dengan sisi kiri jendela kaca menghadap taman dan sisi kanan tertutup oleh triplek proyek pengerjaan ruang fungsional. Di ujung koridor, tepat berhadapan dengan iPORT shop, aku dibelokkan ke kiri menuju commercial zone. Beberapa toko pakaian seperti POLO atau coffee shop macam Starbucks ada di area ini.

Commercal zone di departure hall.

Aku mulai memasuki waiting room, berkursi tunggu hijau, berkarpet pola abu-abu, dilengkapi dengan musholla, executive lounge, smoking area, toilet, charging area, LCD TV dan free internet counter. Di beberapa spot disediakan photospot.

Waiting room.
Salah satu spot foto di waiting room.

Dan akhirnya, sore itu aku meninggalkan Ahmad Yani International Airport melalui  gate 2A.  Itulah cerita singkat eksplorasiku mengenai bandara kebanggaan warga Semarang.

Silahkan berkunjung ke Kota Atlas dan nikmati keindahannya.

Kisah Selanjutnya—->