Super Air Jet IU 872 dari Jakarta (CGK) ke Palembang (PLM)

<—-Kisah Sebelumnya

Jalur penerbangan Super Air Jet IU 872 (Sumber: flightware)

Tepat pukul setengah delapan aku tiba di depan X ray screening gate pertama Soekarno Hatta International Airport di Terminal 2D.

“Sudah lengkap semua syaratnya, Pak?”, seorang Aviation Security menanyaiku sebelum aku memasukkan backpack ke X-ray Scanner.

“Oh….Sudah Pak….Ini, Pak”, aku menunjukkan foto validasi kelayakan terbang kepadanya

Dia pun mengangguk dan mempersilahkan aku untuk melanjukan pemeriksaan.

Dengan mudah aku melalui X-ray screening gate tersebut dan segera melanjutkan langkah ke check-in desk. Sebetulnya aku sudah melakukan online check-in pada 24 jam sebelum keberangkatan. Seharusnya aku tidak perlu menuju check-in desk untuk meminta boarding pass. Aku hanya perlu menunjukkan e-boarding pass kepada petugas aviation security di X-ray screening gate kedua.

Tetapi karena kebiasaanku yang tidak puas kalau tak mendapakan printed boarding pass, aku pun bersikukuh untuk tetap menuju check-in desk walaupun harus melewati beberapa antrian.

Aku akhirnya memilih mengantri di Desk No. 31. Bersyukur hanya perlu untuk mengantri selama lima belas menit, aku mendapatkan printed boarding pass.

Maka dalam jarak satu jam dari boarding time, aku bergegas menuju Gate D7. Aku pun tiba di ruang tunggu Gate D7 lima belas kemudian. Berada setengah jam sebelum boarding time membuatku hatiku merasa lebih tenang.

—-****—-

Boarding time tiba tepat waktu….

Pukul setengah sembilan, pengumuman memenuhi langit-langit bandara. Gate D7 untuk penerbangan Super Air Jet IU 872 telah dibuka. Aku bergegas menuju aerobridge untuk masuk ke kabin pesawat.

Pesawat yang kunaiki berjenis Airbus A320. Pagi itu menjadi waktu yang sangat berkesan bagiku oleh karena IU 872 menjadi penerbangan pertamaku bersama Super Air Jet, sebuah maskapai penerbangan baru yang sejatinya masih menjadi bagian dari Lion Group yang merupakan perusahaan induk maskapai penerbangan berbiaya murah di Indonesia.

Aku memang sudah sejak lama memendam rasa untuk mencicipi maskapai yang didirikan untuk kaum milenial tersebut. Maskapai yang mengandalkan warna khaki sebagai warna utama maskapai. Warna itu menjadikan penampilan pesawat begitu elegan. Tentu warna dasar itu juga tersemat sebagai warna seragam air crew yang lebih memilih menggunakan jenis seragam taktikal casual.

Penerbangan ketigaku selama pandemi.
Air crewnya keren seragamnya.
Meninggalkan Cengkareng.
Cantiknya langit selama penerbangan.
Mendekati Palembang.

Memasuki kabin pesawat, aku bergegas mencari bangku bernomor 29F, posisi window seat yang memungkinkan bagiku untuk leluasa mengambil gambar selama penerbangan. Begitulah keuntungan utama ketika kita memesan tiket penerbangan di seluruh maskapai yang tergabung dengan Lion Group, dimana para calon penumpang bisa memilih kursi ketika melakukan online check-in tanpa biaya tambahan.

Penerbangan Super Air Jet IU 872 sendiri adalah penerbangan dari Jakarta menuju Palembang dengan waktu tempuh sekitar 44 menit dan rentang jelajah 420 kilometer. Adapun ketinggian terbangnya adalah 28.000 feet dan kecepatan maksmial 820 km/jam.

Penerbanganku ke Palembang kali berjalan dengan mulus dan minim turbulensi sehingga memberikan kesan yang cukup baik terhadap penerbangan pertamaku bersama Super Air Jet.

Aku sudah tak sabar untuk segera mendarat di Sultan Mahmud Badaruddin II International Airport demi mengeksplorasi Kota Palembang….

Sebagai alternatif, tiket pesawat dari Jakarta ke Palembang bisa dicari di 12Go atau link berikut: https://12go.asia/?z=3283832

Menuju Terminal 2D Soetta

Sehari sebelum keberangkatan….

Matahari mulai lengser dari titik tertingginya, aku sedang berada di daerah Bintaro untuk bertemu salah seorang klien perusahaan. Pada saat itulah, aku mampir sejenak mengunjungi sebuah perusahaan farmasi ternama untuk melakukan tes antigen. Was-was berharap, akhirnya aku mendapatkan hasilnya setengah jam kemudian melalui pesan whatsapp sembari menyeruput arabica di sebuah kedai kopi.

“Yes….Negatif”, hatiku berseru, kedua tanganku mengepal pertanda sebuah keberhasilan. “Welcome, Palembang”, aku pun segera menyeruput habis kopiku.

—-****—-

Keesokan paginya….

Aku terbangun oleh dering alarm tepat pukul empat pagi, untuk kemudian berbasuh, lalu berlanjut dengan memasak telur mata sapi untuk menjadi menu sarapanku. Aku bisa sedikit bersantai karena telah melakukan packing pada malam hari sebelum terlelap.

Akhirnya hantaran ojek online membuatku tiba di Shelter Bus DAMRI Kampung Rambutan tepat waktu.

Tepat setengah jam sebelum keberangkatan bus di pukul enam pagi, aku segera beranjak ke dalam kabin bus, mengambil tempat duduk di bagian tengah, lalu berfokus untuk mencari penginapan melalui sebuah aplikasi e-commerce penginapan langgananku. Setelah menelusuri secara online beberapa penginapan di Palembang, akhirnya aku memilih untuk menginap di daerah Siring Agung. Bersyukur aku mendapatkan penginapan dengan harga sangat terjangkau, cukup membayar dengan kartu kredit sebesar Rp. 105.000/malam saja untuk petualangan 3D2N ku di “Bumi Sriwijaya”.

Pening karena menatap smartphone selama hampir setengah jam di dalam bus yang sedang melaju di jalan bebas hambatan, maka aku memaksa diri untuk memejamkan mata. Sementara bus DAMRI yang kunaiki secara konsisten melahap Tol Lingkar Luar Barat menuju bandara.

Dan mataku kembali terbuka ketika bus berhenti di depan Hotel Ibis Budget Jakarta Airport. Seperti biasa, seorang checker dan timer menaiki bus dan menghitung jumlah penumpangnya. Selesai dengan urusan pengecekan, bus pun berlanjut bergerak demi menuju Terminal 3 Ultimate untuk menurunkan penumpang.

Seusainya, bus perlahan memasuki Terminal 1 dan berlanjut menuju ke Terminal 2. Maka turunlah aku di Terminal 2D, menyesuaikan penerbangan Super Air Jet IU 872 yang akan diterbangkan dari Gate D7.

Hampir pukul tujuh….

Aku tiba di depan Domestic Departures Hall 3. Mengingat penerbanganku masih berada di masa pandemi, maka aku pun bergegas menuju ke dalam bangunan bandara. Ada prosedur pemeriksaan kelayakan penerbangan yang harus kulakukan dan terkadang pemeriksaan itu harus melewati antrian super panjang. Tentu aku tak mau terlambat dalam mengejar boarding time penerbanganku yang pagi itu tinggal berjarak satu setengah jam saja.

Aku mengantri di area mesin validasi yang memiliki empat lajur antrian. Mengambil lajur antrian paling kiri, maka aku harus bersabar hingga menunggu giliranku untuk melakukan validasi tiba.

Bus DAMRI Kampung Rambutan-Soetta
Bersiap untuk berpetualang.
Tiba di Terminal 2D.
Mengantri untuk mendapatkan validasi kelayakan terbang,
yuk berburu boarding pass!

Dalam sepuluh menit, akhirnya waktu itu tiba. Aku memasukkan Nama dan Nomor NIK pada mesin validasi dan akhirnya aku mendapatkan validasi layak terbang. Aku hanya perlu memfoto validasi itu dengan smartpohone yang nantinya akan kutunjukkan kepada ground staff saat melakukan check-in.

Okay….

Saatnya menuju check-in desk…..

Kisah Selanjutnya—->

TPI Pelabuhan Ratu: Balada Layur

Keempat roda mobil terus kupaksakan membelah aliran air hujan yang mengalir menuju pantai. Aku meninggalkan Pantai Ujung Genteng lebih awal dibanding pengunjung lain yang masih berteduh menunggu usainya hujan. Tentu aku mendahului kemungkinan terbentuknya genangan-genangan air yang bisa menghambat laju kendaraan.

Dalam siraman lebat air hujan, aku mulus menerobos jalanan berair hingga ujung desa. Memasuki bagian jalanan yang sudah beraspal membuatku lebih tenang dan dalam sekejap membangkitkan ulang hasrat eksplorasi yang sebetulnya masih tak terima untuk usai lebih cepat. Keinginanku untuk pulang lindap lagi.

Mengubah haluan ke kiri, aku menuju tepian pantai lain di ujung desa. Hujan masih saja deras ketika aku menginjak pedal rem di tepi pantai. Memaksaku untuk menerima kenyataan bahwa aku harus menikmati pantai dengan cara terduduk di belakang kemudi.

Menerima saja kenyataan, maka mataku terus fokus menatap deburan ombak yang mengantri luruh di bibir pantai. Berulang-ulang, terus-menerus hingga aku mengalami kebosanan. Kebosanan yang membujukku untuk segera pulang.

Walhasil, usai menjalankan ibadah shalat  Dzuhur di sebuah masjid dekat gerbang desa, aku kembali memacu kendaraan di jalanan menjauhi pantai. Niatku telah bulat untuk pulang.

Tentu jalanan yang kulewati sudah tidak asing lagi karena aku hanya melewati jalan berangkat semula dengan cara membalik rutenya. Etape demi etape aku lewati dengan lancar. Sesekali keindahan yang tertampil di beberapa titik menginterupsi perjalanan. Pemandangan itu berhasil menarik minatku untuk mengabadikannya. Pemandangan-pemandangan eksotik itu seakan menjadi bonus perjalanan.

Beranjak keluar dari pantai.
Menikmati pantai dari balik kemudi.
Tanah longsor di salah satu ruas jalan.
Berhenti sejenak untuk menikmati PLTU Pelabuhan Ratu.
Jembatan Cimandiri.

Memasuki Desa Citarik, tetiba otakku memantikkan sebuah ide cemerlang. Sore itu adalah sore akhir tahun. Itu berarti di malam harinya, penduduk seluruh dunia akan menyambut kedatangan tahun baru Masehi.

“Ahaaa…..”, aku menjentikkan jari sembari menambah porsi injakan pada pedal gas. Melaju lebih kencang  maka aku merubah haluan menuju selatan.

Mobil kini melaju di ruas Jalan Jayanti menuju ke arah Pantai Pelabuhan Ratu. Bukan…..Aku bukan menuju ke pantainya, melainkan ke Tempat Pelelangan Ikan (TPI). Aku akan berburu ikan laut. Kupikir membakar ikan di malam tahun baru akan menjadi kegiatan menarik. Begitu semangatnya aku untuk mendapatkan jenis ikan terbaik di TPI.

Aku dengan cepat dan mudah melahap ruas jalan itu karena aku telah menghafal setiap jengkal jalanan menuju ke TPI. Bagaimana tidak, itu adalah rute field tripku ketika mengenyam pendidikan di  sebuah kampus di Kota Hujan.

Sangkala menunjukkan pukul tiga sore ketika aku memarkirkan mobil di kompleks perniagaan yang terletak berseberangan dengan Tempat Pelelangan Ikan.

Aku bergegas turun dari mobil dan melangkah menuju TPI. Akan tetapi, baru saja mulai menyeberang jalan, tetiba langkahku dihadang oleh penjual ikan layur. Ikan layur itu ditaruh pada keranjang panggulnya.

“Seratus ribu saja, Aa”, begitu  pintanya.

“Maaf, Pak. Saya sedang mencari ikan buat di bakar, ikan ini kurang cocok sepertinya, Pak”, aku menolaknya baik-baik.

Aku pun menyeberang jalan dan meninggalkannya. Memasuki pintu masuk TPI, lapak-lapak tak beratap berjajar menawarkan ikan-ikan berukuran besar. Membuatku bimbang menentukan pilihan. Hingga di tengah pelataran TPI, aku tertarik pada tampilan Ikan Kuwe yang tampak mengkilat dan berisi.  Akhirnya aku menjatuhkan pilihan pada jenis ikan itu dan membayar Rp. 150.000 untuk dua kilogram Ikan Kuwe. Usai mendapatkan buruan, aku pun tak mau terlalu lama berada di TPI yang semakin sore semakin menarik para pengunjung untuk datang.

Berburu ikan di TPI.

Aku meninggalkan TPI dan menuju mobil.

Tapi dalam setiap langkahku, aku merasa diikuti oleh seseorang. Aku mencoba untuk tak menoleh ke belakang dan bergegas menuju ke mobil. Hingga aku membuka pintu mobil, seseorang memanggilku.

“A’, tunggu a’!”, teriakan yang berasal dari belakang.

Orang yang raut mukanya sudah familiar itu pun mendekat, “ A’, udahlah bayar semau Aa aja ikannya, saya lagi perlu banget”, katanya dengan nada rendah

Dia adalah pedagang ikan layur yang sebelumnya menghadang langkahku ketika hendak menyeberang jalan menuju TPI.

Aku sejenak menatap lekat mukanya. “Sepertinya orang ini jujur”, aku membatin.

“Memang dijual berapa, Pak”, aku bertanya.

“Seratus ribu, a’ ”, dia menegaskan

“Ya sudah saya ambil ya”, aku menjawab sembari mengambil dompet dari saku belakang. Kuserahkan uang Rp. 100.000 dan kemudian ikan itu berpindah ke tanganku.

Aku mengepak rapat segenap ikan yang kubeli dan selanjutnya pergi meninggalkan TPI.

Aku harus segera menggapai Jakarta sebelum malam tiba.

Mau tahu nasib ikan layur itu?

Ikan layur itu kubagikan ke tetangga….Wkwkwk.

Pantai Ujung Genteng: Fortuner atau Pajero Sport?

Suara debur ombak mulai mengintimidasi ketika roda mobil semakin memangkas jarak menuju bibir pantai. Mungkin tampang sumringahlah yang mendominasi saat itu jikalau aku bisa melihat wajahku sendiri. Bagaimana tidak, hampir genap sebelas bulan, kedua kaki harus dibelenggu di rumah karena suasana luar yang chaos diserang virus mematikan.

Tetapi tentu ada sedikit rasa takut di ruang hati karena ini akan menjadi pertama kalinya aku akan sangat dekat dengan kerumunan. Apalagi kuperhatikan di sepanjang perjalanan, semakin dekat dengan pantai, masker-masker pun mulai menghilang dari jalanan. Mungkin saja virusnya yang takut sama asinnya air laut….Hihihi.

Gerbang pantai lamat terlihat dari ujung desa. Jalan desa yang mulus memungkinkanku membuang fokus pandangan dari jalanan untuk lebih menikmati suasana perkampungan. Beberapa bapak—bapak tampak tekun menjahit sobekan-sobekan pada jaring ikan yang mereka bentangkan di antara tiang-tiang rumah.

Hingga aku tak sadar sudah mendekati gerbang pantai. Di depan sana seorang petugas parkir tampak melambaikan tangan untuk menyambut kedatanganku dan tampak pandangannya menyapu segenap luasan lahan parkir tepi pantai untuk mencarikanku slot parkir tersisa.

Tapi kali ini aku memerankan sikap antagonis, karena dengan cepat membanting stir mobil ke kanan haluan dan menolak lambaian tangan itu. Aku memutuskan untuk terlebih dahulu menyusuri jalanan tepi laut untuk menikmati keindahan yang terbentang di sepanjang garis pantai….#isengbangetsich.

Untuk beberapa saat aku bisa menikmati aktivitas nelayan dan warga lainnya di sepanjang pantai hingga akhirnya karma itu datang. Di depanku, genangan air menghadang laju mobil. Aku yang penasaran, segera membuka pintu dan turun. Kuambil batang kayu dan kujajaki genangan air itu. “Jauh di atas mata kaki”, aku membatin sambil menggaruk-mengaruk kepala.

“Tat tet tot….Tat tet tot”, tanpa sadar dua unit mobil tertahan di belakang mobilku yang terhenti karena genangan air.

Menyusur pinggir pantai.
Pantai yang jauh dari kerumunan.

Tanpa ragu aku memberikan aba-aba ke kedua mobil itu untuk memberikanku ruang untuk mundur. Aku mengurungkan niat untuk menyisir tepian pantai lebih jauh. Seusai meminggirkan mobil yang sejajar beberapa sentimeter dari sebuah pagar tembok maka kedua mobil itu dengan santainya menerabas genangan air yang ada di depan mata. “Andaikan aku bisa membeli Fortuner dan Pajero Sport seperti itu”, batinku sembari berpangku tangan di atas kemudi mobil yang mesinnya sudah kumatikan sedari tadi.

Hmmmhhhh…….

Menyalakan mesin kembali, aku kembali ke arah semula. Tetapi aku memutuskan untuk segera turun ke bibir pantai karena tak tahan lagi dengan godaan keindahan pantai yang berada di depan mata.

Aku memutuskan berhenti di salah satu sisi pantai yang sebetulnya sudah tak jauh lagi dari area utama pantai. Kesunyian lah yang membuatku memutuskan untuk turun ke bibir pantai.

Atap pantai tak begitu cerah siang itu. Membuat panas surya tak berhasil menembus permukaan pantai dengan sempurna. Hal ini bisa membuatku leluasa berlama-lama menikmati jajaran perahu bercadik yang mengangguk-angguk diterpa gelombang di garis jangkarnya. Sementara di tempatku berdiri terasa kelembutan pasir putih dengan serakan potongan-potongan cangkang dan karang.

Menurut informasi yang kudapat dari lokasi wisata, terdapat semenanjung yang menjorok ke selatan. Semenanjung ini sejatinya dibentuk oleh pertumbuhan karang, Nah pecahan karang ini akhirnya sampai pada pasir yang berada di hadapanku.

Khusyu’ menikmati suasana, untuk kemudian titik air yang jatuh dari langit menyadarkanku bahwa sebentar lagi akan turun hujan.

Oleh karenanya, aku bergegas meninggalkan bibir pantai untuk memasuki mobil dan bergegas menuju area utama pantai untuk menikmati keindahan terakhir Ujung Genteng.

Tiba di area parkir, tanpa ba bi bu aku segera turun kembali menuju pantai. Kali ini kepadatan pantai tampak nyata. Membuatku sedikit tak percaya diri untuk turun sepenuhnya.

Ketaatan terhadap protokol, membuatku sedikit tersingkir dari kerumunan. Aku mulai menikmati saja keindahan yang berada di depan. Kali ini kelengkapan wahana begitu menjadi daya tarik para pengunjung.

Beberapa titik instagramable tampak memiliki antrian muda-mudi yang cukup panjang untuk mengabadikan diri.

Gerbang utama pantai.
Kapal bercadik khas Ujung Genteng.

By the way…..

Eh, sebetulnya kalian penasaran ga sih dengan asal usul nama Ujung Genteng?

Gaes…Ujung Genteng berasal dari nama Ujung Gunting. Hal ini dikarenakan posisi Ujung Genteng yang berada di ujung pulau Jawa bagian barat yang bentuknya mirip sebuah gunting. Area berbentuk gunting bagian bawah dinamakan Ujung Genteng, sedang area berbentuk gunting bagian atas dinamakan Ujung Kulon.

Begitulah kira-kira informasi yang kudapatkan.

Setelah beberapa lama menikmati pantai. Tetiba…….Byuuurrrr……..

Hujan jatuh ketika kau sedang asyik-asyiknya menikmati pantai. Membuatku segera menyingkir pada sebuah box non permanen yang dimanfaatkan untuk berjualan. Kebetulan deretan kedai-kedai berbentuk box itu sedang kosong sehingga memungkinkan bagiku untuk berteduh di dalamnya.

Berharap hujan segera turun, tetapi alih-alih reda malahan semakin lama semakin deras. Tampak aliran air dari jalanan mulai mengalir deras ke arah pantai. Membuatku berpikir ulang. “Ini pasti akan banyak genangan di jalanan seusai hujan deras ini. Lebih baik aku segera meninggalkan pantai saja. Toh aku sudah dua jam berada di pantai. Sudah cukup rasanya eksplorasi kali ini”, aku membatin sembari mempersiapkan diri untuk berlari ke dalam mobil di area parkir.

Saatnya pulang menuju Jakarta kembali.

Menuju Pantai Ujung Genteng: Berbagai Panorama Menanti

Hampir genap dua belas bulan semenjak perjalanan terakhir ke Kawasan Timur Tengah, passionku hampir saja membeku karena terpaan pandemi COVID-19 yang merambah ke seluruh dunia.

Praktis, aktivitasku sebagian besar kuhabiskan di dalam rumah saja. Bahkan masa lebaran pun dengan khidmat kurayakan jauh dari kampung halaman. Hingga rasa jenuh mendalam di akhir tahun berbisik ke dalam hati untuk memberanikan diri keluar rumah.

Dalam rasa setengah tertantang dan khawatir, tetiba pikiranku teringat akan sebuah destinasi yang sejak lama belum juga terkunjungi.

Sekiranya aku telah mengkhatamkan beberapa kawasan pesisir tanah Sunda bagian barat seperti deretan pantai di Pelabuhan Ratu, Pantai Sawarna, Pantai Anyer, Pantai Carita dan pantai di Tanjung Lesung. Tetapi ternyata belum dengan Pantai Ujung Genteng.

Mungkin inilah saatnya mencairkan kebekuan karena sebelas bulan masa pandemi hanya berada di dalam rumah saja. Walaupun belum tersentuh vaksinasi sama sekali, akhirnya aku memutuskan untuk berangkat menuju Pantai Ujung Genteng.

Karena jaraknya yang mencapai dua ratus kilometer dari kediamanku di Jakarta Timur, aku memutuskan untuk berangkat pada dini hari dengan harapan bisa tiba di Pantai Ujung Genteng saat pagi hari dan aku bisa kembali lagi ke Jakarta di kesorean harinya.

Menyempatkan lelap lebih awal, aku terbangun pada pukul dua pagi, untuk kemudian menginjak pedal menyusuri Jalan Tol Jagorawi.

Sedikit menyisakan rasa kantuk, aku.sesekali meyeruput kopi panas dari tumbler ukuran sedang yang kuletakkan di pintu kanan. Sebelum berangkat, aku memang menyempatkan diri menggerus biji kopi robusta untuk kemudian kuseduh di dalam tumbler.

Memenuhi isi tangki bahan bakar di Rest Area Cibubur, perjalanan kembali berlanjut di ruas tol Bocimi dengan arus yang sangat lancar. Keluar di tol gate Cigombong, aku melanjutkan perjalanan melewati jalur reguler dengan menyusuri daerah Cicurug, Parung Kuda dan berhenti sejenak di Cibadak untuk menunaikan shalat Subuh di dalam mobil.

Isi bahan bakar dahulu….

Kembali melanjutkan perjalanan maka pukul enam pagi aku sudah berhasil menggapai Desa Citarik dengan tengara utama Jembatan Cimandiri. Semenjak itu, jalanan menampilkan pedesaan yang asri, area hutan dan hamparan panorama pegunungan di satu titik dan panorama lautan di titik lain.

Pada satu titik di Desa Kertajaya aku bisa menikmari nuansa pegunungan yang membiru. Sedangkan di beberapa titik, pegunungan itu dihiasi oleh penaorama lautan yang menyelinap diantara sisi-sisi gunung.

Lepas dari perjalanan di Desa Kertajaya, pemandangan berubah menjadi perkebunan teh, Perkebunan Teh Surangga namanya. Perkebunan teh yang rapi itu menjadikan suasana jalanan menjadi lebih elok karena di sejauh mata memandang hamparan tanaman teh dengan tinggi seragam menjadikan lahan di kiri kanan jalan layaknya karpet alami yang meliak-liuk mengikuti kontur tanah sekitar.

Jembatan Cimandiri.
Pemandangan dari Desa Kertajaya.
Indah banget kan….?
Memasuki area Perkebunan Teh Surangga.

Pemandangan elok tak berhenti di situ, tepat di daerah Waluran, suasana berubah menjadi hutan berkabut yang membuat jarak pandang menjadi sangat pendek. Justru proses perjalanan yang penuh kehati-hatian itulah yang akhirmya mengekspos dengan jelas kontur hutan dikiri kanan jalan untuk dinikmati.

Lewat sedikit dari pukul delapan pagi, perjalananku memasuki segmen akhir ketika aku melintas di perkebunan di Jalan Surade-Ujung Genteng.

Kabut di daerah Waluran.
Nah udah kelihatan kan pantainya?….Tuh.

Sebentar lagi aku sampai…..

Dieng-Jakarta: Pulang

Perjalanan meninggalkan wisata Bukit Sikunir tak semacet dini hari sebelumnya. Arus jalanan tampak lancar.  Aku yang membonceng di belakang tentu mendapatkan kesempatan berharga untuk menikmati panorama di kaki Bukit Sikunir yang dini hari tadi gelap gulita ketika kulewati.

Pemandangan yang terpampang sungguh menakjubkan. Tampak sebuah danau yang tenang dan jernih menghias di sisi kiri jalan.

“Danau nopo niku, Pak Bian?”, sahutku dari jok belakang

“Oh itu….Telaga Cebong, Mas Donny”, jawab Pak Bian datar seolah pemandangan itu sudah tak istimewa baginya. Tentu karena beliau orang lokal.

Bonus ketika menuruni Bukit Sikunir….Telaga Cebong.

Menelusuri jalanan sama persis seperti saat berangkat menuju Bukit Sikunir, aku akhirnya tiba di Hotel Bukit Mas dalam tiga puluh menit.

Aku menyerahkan uang sebesar Rp. 100.000 kepada Pak Bian sebagai biaya jasa yang diberikannya untuk mengantarkanku ke Bukit Sikunir pulang-pergi.

Setelah Pak Bian berpamitan, aku memutuskan untuk tak langsung menuju kamar. Tetapi aku akan mencari sarapan karena perutku sudah terasa lapar semenjak menuruni Bukit Sikunir.

Tak mau mencari tempat makan yang jauh dari hotel, maka aku menemukan sebuah kedai bakso dan soto. Tanpa ragu aku memasukinya dan memesan seporsi bakso dan nasi putih. Dengan lahap aku menikmati menu tersebut. Aku menyantpnya sambil menikmati lahan pertanian kentang yang membuat pikiranku sejenak menjadi segar.

Saking betahnya, lebih dari satu jam aku duduk di kedai itu sembari menyeruput teh tawar hangat yang disajikan pemilik kedai.

Kudu cepet ngunyahnya….Keburu dingin oleh hawa dingin Dieng

.Di akhir waktu, aku menyerahkan uang sebesar Rp. 20.000 untuk membayar segenap makanan yang aku santap.

Dengan begitu maka petualanganku di Dieng usai sudah.

Aku pulang…

—-****—-

Setelah urung melewati jalur yang dipilihkan oleh sebuah aplikasi android berbasis peta, maka aku memutar balik kemudi untuk mencari jalan pulang yang sama dengan jalurku berangkat kemarin pagi. Kali ini aku tak akan mengandalkan aplikasi itu. Aku lebih suka melakukan perjalanan konvensional yaitu bertanya ketika tersasar.

Tercatat dua kali aku bertanya kepada petani yang bekerja di sawah hingga akhirnya aku menemukan titik awal untuk menyusuri jalur keberangkatan semula.

Nyempetin beli Cabai Gendot khas Dieng….Buat masak nasgor enak kali yeee.
Sejenak menikmati kabut di Tol Kahyangan.
Pemandangan indah di Tol Kahyangan.

Sesuai keinginan dini hari sebelumnya bahwa aku akan mampir sejenak di Tol Kahyangan. Maka kali ini, aku memenuhi janjiku sendiri untuk menghentikan mobil dan turun sejenak ke jalanan untuk menikmati suasana Tol Kahyangan tersebut.

Tak lama berada di jalanan tersebut, aku kembali menginjak pedal. Kini perjalanan dominan menuruni perbukitan. Tak perlu khawatir lagi akan resiko mesin kepanasan, oleh karenanya aku santai saja menikmati setiap jalur yang kulahap.

Akan tetapi di tengah perjalanan mobilku dipepet oleh seorang anggota Crew Krakalan yang mengemudikan RX-King dan kemudian mengetuk pintu kaca depan.

“Mas, kampas remnya bau”, ujarnya.

“Lebih baik berhenti dulu, Mas. Istirahatkan mobil daripada nanti remnya blong”, tambahnya serius.

“Oh, Baik Pak. Terimakasih sudah mengingatkan”, aku menjawab sembari menyapukan mata ke sepanjang jalan untuk mendapatkan tempat yang lapang untuk menghentikan mobil.

Akhirnya aku merapat ke sebuah lahan dengan kedai kopi kecil di salah satu sisinya. Ku hentikan mobil dan menunggu suhu rem turun kembali.

Beberapa menit setelah aku berhenti, tampak serombongan pemuda pemudi bersepeda motor dan ikut memarkirkan motor mereka. Mungkin piranti pengereman di sepeda motor mereka juga mengalami panas berlebihan. Setelah bercakap sekejap, aku mengetahui bahwa mereka berasal dari Cirebon.

“Tadinya kami tuh hanya mau cari makan, Mas. Tapi malah kebablasan sampai ke Dieng”, mereka melemparkan candaan. Aku hanya bisa tertawa mendengar candaan mereka.

Usai intermezzo itu maka aku mulai melanjutkan perjalanan. Satu hal yang menjadi musuh dalam tahap ini adalah rasa kantuk yang berlebihan. Beberapa kali di jalur persawahan yang lengang, roda depan mobilku hampir menjurus ke saluran irigasi. Tapi toh, aku tetap keras kepala, tak mau berhenti untuk mengambil waktu beristirahat.

Berhasil memasuki jalur pantura, aku cukup girang karena bisa mentop up e-toll card di siang sehari sebelumnya di saat sebagian besar minimarket mengalami permasalahan jaringan. Kini e-toll card bersaldo menjadi penjamin bagiku untuk bisa pulang melewati Jalan Tol Trans Jawa sehingga bisa lebih cepat tiba di Jakarta.

Aku mulai memasuki tol di gerbang tol Batang/Subah/Kandeman pada pukul dua siang. Hanya sekali mengisi bahan bakar dan shalat jamak pada rest area Km 260B-Banjaratma di Brebes, maka aku melanjutkan injakan pedal hingga ibu kota.

Jalan Tol Trans Jawa.
Gelap segera datang.

Aku pun tiba di Jakarta pada pukul delapan malam.

Hmmmhhh….Perjalanan wisata yang singkat namun cukup mengesankan.

Hayoooo….Siapa yang mau piknik ke Dieng?

Bukit Sikunir: “Aku Arang-Arang Adus”

Perlahan mataku membuka, tetapi dinginnya udara dini hari mampu menutup paksanya kembali. Sementara itu tubuhku masih meringkuk kedinginan di sebalik selimut hotel yang tak begitu tebal, padahal aku sudah melapis tubuhku dengan dua t-shirt, salah satunya berlengan panjang….Hebat nian tusukan hawa dingin Dieng di awal pagi itu.

Secara bersamaan dering alarm yang terlontar dari gawai pintar membalik keheningan kamar menjadi kebisingan. Mungkin suara keras itu telah sampai di kamar sebelah.

“Sekarang atau tidak sama sekali”, bentakku kepada diri sendiri yang hampir ditaklukkan kemalasan.

Aku akhirnya bangkit, terduduk menggigil di tepi ranjang, untuk kemudian membasahi terlapak tangan di kamar mandi dan menyekakannya ke wajah.

Mengenakan winter jacket yang tergantung di pintu kamar dan memakai sepatu kets maka aku bersiap keluar kamar. Tetapi belum juga memegang gagang pintu, gawaiku berdering.

“Mas Donny nggih?….Aku nang ngarep hotel yo, mas?”, seru seorang lelaki dari panggilan telepon itu.

“Oh, dia tukang ojeknya”, aku paham dengan cepat.

Maka aku pun menuju lobby dan resepsionis setengah baya yang tertidur di sofa pun bergegas bangkit melihat kedatanganku.

“Sampun siap, Mas Donny?”, dia melempar sapaan di pagi yang beku sambal menyembunyikan badannya di balik sarung..

“Nggih pak….Adem banget nggih”, aku menjawab dengan gemeretak gigi yang kutahan.

Usai membuka pintu hotel maka aku pun langsung disambut dengan lambaian tangan seorang tukang ojek di gerbang halaman.

Suasana di luar tampaknya sangat bising karena ada sekelompok pemuda yang sedang berbicara serius dengan staff hotel. Sekelompok pemuda itu mengaku sudah membayar uang muka hotel kepada seorang tour guide. Tetapi pihak hotel merasa tak menerima uang muka dari siapapun. “Wah, bakal kedinginan sampai pagi tuh anak-anak muda”, aku berusaha berempati dengan masalah mereka.

“Monggo, Mas Donny”, tukang ojek itu mengingatkanku

Aku pun meluncur pergi meninggalkan sekelompok pemuda tersebut. Menyusuri Jalan Dieng dan menikung ke selatan melalui Jalan Telaga Warna. Bersyukur terpaan angin sepanjang perjalanan di hadang oleh Pak Bian yang mengemudi motor di depan.

Usai menempuh dua kilometer maka aku berpindah di Jalan Sikunir yang gelap lagi sepi. Hanya percakapanku di atas motor dengan Pak Bian yang membuat suasana sedikit hangat. “Aku arang-arang adus, Mas Donny….Hahahah”, kelakar pak Bian ketika aku menanya bagaimana kebiasaan mandi warga Dieng dengan cuaca dingin seperti itu.

Setelah menyelesaikan perjalanan di Jalan Sembungan, aku pun tiba di Bukit Sikunir setelah total menempuh jarak sejauh tujuh kilometer selama setengah jam.

Usai membayar tiket sebesar Rp. 15.000 dan melihat jalan sempit menuju kaki Bukit Sikunir, aku baru mendapat hikmah dari terhimpitnya mobilku di parkiran dalam hotel. Ternyata jalan menuju parkiran Bukit Sikunir macet total dengan antiran mobil mengular panjang. “Wah ini pasti akan banyak wisatawan yang tak bakal bisa menemui fajar di atas bukit”, aku membatin kecut.

Sementara itu, Pak Bian terus merangsek lincah menyalip antrian mobil untuk tiba di kaki Bukit Sikunir.

“Jenengan tak tunggu nang kene yo, Mas. Aku tak ngopi wae”, Pak Bian dengan mantab memarkirkan motornya dan bergegas  mencari kopi setelah aku meninggalkannya untuk mulai menanjaki Bukit Sikunir.

Jalur awal untuk menanjak.

Membeli sebotol air mineral di ujung deretan warung, aku mencegah diri untuk berhenti sedetikpun demi mencapai puncak bukit tepat waktu.

Sepertinya bejubelnya wisatawan akan menggugurkan protokol pandemi COVID-19. Bahkan tak sedikit wisatawan yang melepas masker dan bercakap dengan kencang sepanjang perjalanan.

Aku terus fokus meniti jalan tangga berbatu buatan warga yang bergantian dengan jalan setapak asli di sepanjang pendakian. Sesekali menyalip banyak rombongan yang kepayahan dalam mendaki.

Aku menghela napas panjang setiba di puncak bukit dan mengambil posisi pada sebuah gundukan untuk bersiap menyambut fajar. Kusempatkan untuk melakukan Shalat Subuh dengan posisi duduk pada sebuah batu besar setelah bertayamum dengan embun yang menempel di semak-semak sekitar.

Beberapa saat kemudian terdengarlah suara yang keluar dari toa seorang pemandu wisata dengan jelas kudengar, yaitu manawarkan kepada rombongannya untuk mendaki kembali ke puncak pandang tertinggi.

“Loh aku belum di puncak bukit ya?”, aku bertanya kepada diriku sendiri.

Tanpa pikir panjang, aku segera mencari keberadaan jalur pendakian lanjutan. Menemukannya dengan mudah maka aku mendaki kembali menuju puncak tertinggi Bukit Sikunir.

Setibanya di atas, aku lebih memilih untuk memisahkan diri dari kerumunan, oleh karenanya aku tak berdiri di gundukan yang dipenuhi pelancong. Aku berdiri di pinggiran tebing yang aman. Dan sejenak meneguk air mineral yang kubeli sebelumnya lalu berdiri fokus memunggu kedatangan fajar.

Cuaca di atas Dataran Tinggi Dieng pagi itu sangat membuatku khawatir, karena tak jarang kondisi langit membuat semburat-semburat tipis berwarna oranye tertutup oleh rombongan awan yang terus bergerak konsiten, Aku hanya berharap saat matahari menampakkan batang hidungnya, awan-awan itu sudah berpindah dan menghilang.

Rupanya do’aku didengar oleh Sang Kuasa, aku akhirnya bisa meilhat dengan jernih saat fajar memuncak dan menandakan awal terbitnya matahari.

Tak mau kehilangan momen indah yang akan tampil sekejap saja, maka aku fokus mengarahkan kamera ke pertunjukan alam itu tanpa henti. Kutangkap indahnya panorama itu berkali-kali.

Pertunjukan alam yang sangat indah.
Lihat bunga-bunga es itu !.
Pemandangan dari puncak Bukit Sikunir ketika pagi.
Pemandangan lainnya.

Tetapi di tengah konsentrasiku, dua perempuan muda datang mendekat dan meminta tolong untuk menyettingkan kameranya supaya bisa mendapatkan gambar yang jernih. Beruntung aku bisa dengan cepat membantunya sehingga waktuku tak terinterupsi terlalu banyak untuk menikmati sunrise yang semakin lama semakin memudar.

Berlangsung selama lima belas menit, akhirnya pertunjukan sunrise di Bukit Sikunir rampung. Aku hanya menghabiskan waktu beberapa saat untuk mengelilingi setiap sisi Bukit Sikunir untuk menikmati pemandangan lahan pertanian terasering Dieng yang memesona mata.

Dalam penyisiran itu, aku memperhatikan lima pemuda yang mendirikan tenda disalah satu titik di puncak bukit dan sisa-sisa mereka memasak masih cukup terlihat jelas. Mungkin mereka belum sempat membersihkan sampah di bekas perapian tersebut.

Aku pun mulai menuruni kembali Bukit Sikunir setelah merasa puas menikmati pemandangan di puncaknya dari berbagai sisi. Kini aku kembali menyelenip di antara arus pelancong yang berjubel menuruni bukit.

Dalam setengah jam, aku kembali tiba di kaki bukit. Begitu terpesonanya mata akan keramaian yang tertampil di bawah bukit. Kusaksikan terdapat panggung menyanyi dan spot-spot bagi seniman lokal untuk menghibur para pengunjung. Sementara kedai-kedai kuliner yang tampak masih bersiap diri untuk memasak ketika aku mulai menanjak, kini telah menampilkan beragam makanan yang menggoda. Namun kedai itu tampak ramai pengunjung yang mulai kelaparan setelah menaik turuni bukit yang sangat membakar kalori mereka.

Yuk turun….!
Kentang Semut, jajanan khas Dieng.
Mau beli gorengan hangat juga ada.

Tetap saja aku tak membeli apapaun di sepanjang deretan kedai-kedai kuliner itu. Aku masih khawatir dengan resiko penularan COVID-19. Aku melanjutkan langkah untuk menyudahi kunjungan dengan segera.

Tiba di area parkir yang luas, maka dengan mudah aku menemukan Pak Bian yang tentu sedang menunggu kedatanganku juga. Aku menyapa pak Bian yang sedang asyik menghisap sigaret bersama teman seprofesinya.

“Ayo pak, balik ke hotel !”. Aku meminta pak Bian untuk segera bergegas.

Mie Ongklok Artha Pringgodani

Aku tiba di Hotel Gunung Mas setelah melakukan sambangan wisata terakhir di hari pertama, yaitu di situs sakral Tuk Bimalukar.

Kuparkirkan mobil di area parkir hotel bagian dalam, tepat di sudutnya. Aku menuju kamar dan mulai mengalirkan air panas di bak mandi. Menunggunya beberapa saat, aku meluruskan badan di ranjang.  Merasakan pegal tarikan otot kaki dan pinggang usai berkendara dari ibu kota sejak dini hari.

Rupanya ranjang sederhana itu membuatku terlelap. Lelapan itu tentu didukung oleh jaket dan kaos kaki yang masih kukenakan karena mampu meredam hawa dingin Dieng selama aku terlelap.

Beruntung aku terbangun sebelum waktu bergulir dalam satu putaran jam. Aku tersentak dan bergegas menuju kamar mandi. Selama terlelap, aku tanpa sengaja telah membuang air melaui kran yang terus mengucur….Astaghfirullah.

Aku segera menutup kran dan memasukkan tangan ke dalam bak….Hmmhhh, air masih saja dingin. Entah air panasnya yang sudah habis kualirkan atau memang suhu Dieng yang dengan cepat telah mengalahkan air panas yang keluar dari kran. Tapi sudahlah……Aku tak berani mandi dengan air sedingin itu, akhirnya aku keluar dari kamar mandi setelah menyeka badan seperlunya dengan kain yang kubasahi.

Menjelang pukul tujuh malam….

Aku mulai keluar dari kamar dan meninggalkan hotel dengan berjalan kaki di sepanjang Jalan Dieng. Aku awas dengan menyapukan pandangan ke sekitar. Dalam setiap Langkah, aku sangat berniat untuk menikmati Mie Ongklok malam itu. Karena rasa lapar yang sudah tak tertahan, maka ketika aku menemukan kedai makanan yang menjual Mie Ongklok maka aku akan menyambanginya.

Pucuk dicinta ulam tiba, belum lama melangkah aku menemukan sebuah resto yang menampilkan  kuliner buruanku di papan menunya. Artha Pringgodani, nama resto itu. Tampaknya resto tersebut juga menyediakan penginapan di lantai atasnya.

Untuk mengantisipasi penularan COVID-19 maka aku mengambil duduk di bangku resto sisi luar karena begitu padatnya pengunjung di sisi dalam. Setelah seorang pelayan resto menghampiri maka dengan cepat aku memesan seporsi Mie Ongklok dan susu jahe panas.

Menunggu untuk beberapa lama, pelayan itu datang kembali dengan membawa semangkuk mie berkuahkan loh (kuah kental berbahan kanji) dengan taburan daun kucai, kol dan tiga tusuk sate ayam.

Hotel & Resto Artha Pringgodani.
Itu tuh menunya….
Ngambil duduk di luar aja kali ya.
Nyam….Nyam.

Dinamakan Mie Ongklok karena dalam proses mematangkan mie digunakan alat yang dinamakan Ongklok yang berupa keranjang mini berbahan anyaman bambu dengan tiang kayu panjang sebagai pegangan.

Ternyata untuk menikmati semangkuk Mie Ongklok tidak diperlukan budget yang mahal. Aku hanya membayarnya sebesar Rp. 15.000 saja….Murah kan?

Keluar dari resto Artha Pringgodani, aku tak langsung pulang menuju hotel. Melainkan melanjutkan langkah kaki menuju ke Jalan Dieng sisi timur. Aku hanya ingin menyaksikan aktivitas warga lokal dan para wisatawan di pusat keramaian wisata Dieng.

Aku terus melangkah hingga tiba di depan Terminal Dieng yang berseberangan dengan signboard “Welcome to Dieng”. Setelah membeli beberapa makanan ringan di sebuah minimarket kenamaan terdekat maka aku memutuskan untuk kembalin ke hotel untuk beristirahat.

Banyak kali orang photo di situh….

Yuk bobo dulu, masih ada hari esok.

Panorama Indah dari Tuk Bimalukar

Usai meninggalkan area luar Kompleks Candi Arjuna, niatku semula yang ingin segera meluruskan kaki di ranjang hotel ternyata kembali urung.

Menjelang jam lima sore, akhirnya aku menginjak pedal mobil menuju ke timur sejauh dua kilometer. Menelusuri Jalan Arjuna Barat dan kemudian melintas di depan hotel tempatku menginap yang berposisi di salah satu titik Jalan Dieng.

Setelah berjalan dengan rute melingkar, aku memutus rute di Jalan Wanayasa-Dieng, ruas jalan dimana Tuk Bimalukar berada.

Inilah salah satu dari sekian banyak sumber mata air di Dataran Tinggi Dieng yang disakralkan oleh masyarakat setempat.

Bima Lukar merujuk pada sebuah kisah perlombaan membuat sungai antara Pandawa dan Kurawa. Pihak Pandawa yang diwakilkan Bima, dikisahkan memenangkan perlombaan ini setelah menuruti sebuah wangsit untuk membuat sungai tanpa berbusana (lukar).

Begitu tiba, aku dihadapkan pada sebuah kompleks situs sakral dengan titik pandang yang menjulang tinggi di sisi jalan dengan konstruksi yang terbuat dari batu andesit.

Karena rasa penasaran yang kuat akan panorama indah Dusun Kalilembu dengan hamparan lahan pertanian teraseringnya maka aku bergegas menaiki titik padang Tuk Bimalukar. Aku pun mulai menaiki puluhan anak tangga menuju ke tingkatan teratas.

Tiba diatas, dengan nafas tersengal aku menuju ke sepasang gazebo untuk berstirahat terlebih dahulu, untuk kemudian aku mulai menaiki tangga besi menara pandang untuk mencapai titik tertinggi pada situs ini.

Tampak dengan jelas hamparan pertanian kentang yang menghijau di sekitar Tuk Bimalukar. Untuk beberapa saat lamanya aku menghabiskan waktu di titik pandang ini demi menghabiskan waktu yang sebentar lagi akan berganti gelap.

Puncak pandang Tuk Bimalukar.
Taklukkan puluhan anak tangga itu supaya kamu bisa ke puncak.
Gazebo dan gardu pandang menantimu di atas,
Lahan pertanian kentang di Dusun Kalilembu.
Dua pancuran yang diskralkan (sumber: ksmtour.com)
Taman di sekitar Tuk Bimalukar.

Dan di akhir kunjungan, aku memutuskan kembali turun ke bawah untuk melihat bagian utama situs Tuk Bimalukar yang berwujud dua buah pancuran air yang konon menjadi cikal bakal aliran Sungai Serayu. Walaupun menurut kepercayaan lokal, mencuci muka di pancuran ini bisa membuat awet muda, akan tetapi karena masih dalam kondisi pandemi, dengan fokus perhatian pada menjaga jarak dan kebersihan maka aku mengurungkan diri untuk mencuci muka di pancuran tersebut.

Dengan berdatangannya pengunjung lain di situs sakral tersebut maka aku memutuskan untuk pindah ke arah taman di sisi timur Tuk Bimalukar. Aku terduduk di taman ketika bulir-bulir air sesekali jatuh dari langit dan cahaya hari semakin meredup di telan waktu yang terus berputar untuk mengkudeta siang.

Kuputuskan untuk menyudahi kunjungan itu dan kembali menuju mobil yang kuparkirkan di area parkir sisi jalan.

Aku memutuskan untuk beristirahat sejenak di Hotel Gunung Mas sebelum pergi mencari makan malam di sekitar hotel.

Candi Gatotkaca, Candi Bima dan Candi Arjuna : Adopsi Nama Pandawa

Jalanan menjadi tersendat ketika aku menginjak pedal meninggalkan Batu Pandang Ratapan Angin. Dalam kemacetan itu aku masih terus mengutuk diri karena datang ke Dieng pada saat seluruh destinasi wisata di Kabupaten Banjarnegara ditutup sebagai imbas dari penerapan PPKM Level 3. Praktis semenjak pukul sebelas siang, aku hanya bisa mengunjungi dua destinasi wisata Dieng milik Kabupaten Wonosobo.

Waktu masih menunjukkan pukul empat sore dan hari sedang mempersiapkan dirinya untuk menyambut gulita. Aku sendiri masih enggan untuk menghabiskan waktu di hotel karena memang itu bukan sifatku ketika sedang berkelana.

Tetiba tercetus ide iseng untuk mengunjungi tiga candi di wilayah Kabupaten Banjarnegara sebelum beristirahat di hotel. Aku faham bahwa ketiga candi itu memang sedang menutup diri dari pengunjung karena protokol pandemi, tetapi setelah dipikir, aku masih bisa menikmati ketiganya tanpa harus memasuki area dalam candi.

Maka tujuan terdekat dari Batu Pandang Ratapan Angin menjadi milik Candi Bima. Hanya berjarak satu kilometer dan tepatnya terletak di Jalan Arjuna Selatan.

Ketika tiba, aku memarkirkan mobil di sisi jalan karena area parkir tertutup penghalang tali tambang. Tetapi penghalang itu menyisakan sedikit bukaan yang membuatku bisa memasuki jalur yang terdiri dari tiga puluh anak tangga menuju candi. Dan pada akhirnya, dengan leluasa aku bisa mendekati gerbang candi yang tertutup rapat.

Rencanaku berhasil, aku masih bisa menikmati candi itu dari luar gerbang. Bahkan aku nekat menaiki  pondasi pada tembok di sebelah kanan gerbang demi menatap Candi Bima lebih dekat. Dan ternyata bukan aku saja yang berbuat demikian, tetapi ada pelancong lain melakukan hal yang sama, berusaha mendekati Candi Bima dengan segala cara.

Keindahan candi terbesar dan tertinggi di Dataran Tinggi Dieng ini tercermin pada relief-relief yang tersemat hingga ke puncak candi. Selain itu jika diperhatikan dengan seksama, candi ini berbntuk layaknya cangkir terbalik. Dalam arsitektur candi maka bentuk Candi Bima ini mengikuti bentuk Shikhara yang mengedapankan bentuk menara menjulang khas arsitektur candi di India Utara. Tanpa adanya candi perwara menjadikan Candi Bima sebagai candi tunggal diatas sebidang tanah yang berbentuk bujur sangkar.

Harus menaiki anak tangga itu untuk sampai ke Candi Bima.
Candi Bima.
Candi Gatotkaca.
Reruntuhan Candi Nakula dan Candi Sadewa.
Apakah kalian bisa melihat Candi Arjuna di balik pohon itu?

Keberadaanku untuk mengamati detail relief di Candi Bima harus kuakhiri karena semakin banyak wisatawan yang memenuhi area di depan pagar Candi Bima.

Aku kembali menuju mobil yang kuparkirkan di sisi Jalan Arjuna Selatan, kuinjak pedal menuju candi lain yang lokasinya tak jauh dari Candi Bima, yaitu Candi Gatotkaca.

Berjarak tak lebih dari satu kilometer, aku bisa mencapainya dalam lima menit dan kemudian kuparkirkan mobil di salah satu sisi Jalan Arjuna Barat.

Kali ini aku menikmati arsitektur candi dari pinggir jalan. Hal ini mungkin sekali dilakukan karena letak candi yang berada di bawah badan Jalan Arjuna Barat.

Candi yang dibangun pada masa Kerajaan Mataram Kuno ini menunjukkan jejak penyebaran Hindu di Dataran Tinggi Dieng. Berbentuk bujur sangkar, candi Gatotkaca tak menunjukkan adanya relief-relief khas seperti yang tertampil di Candi Bima. Hanya ada sedikit relief di bilik penampil yang bisa menggambarkan relief asli candi ini di masa lalu. Sedangkan di sisi selatan candi tampak batu-batu asli penyusun Candi Nakula dan Candi Sadewa yang konon pada zaman kolonialisme Belanda masih berdiri gagah.

Beberapa arca pengisi relung-relung candi ini sebetulnya masih ada, hanya saja usahaku untuk melihatnya di Museum Kailasa pupus karena tutupnya museum tersebut akbat kebijakan PPKM Level 3.

Inilah candi pemujaan Dewa Syiwa yang menjadikan penutup kunjungan wisataku di Dataran Tinggi Dieng pada hari pertama. Karena usahaku untuk mengintip keindahan Candi Arjuna gagal karena begitu luasnya kompleks Candi Arjuna sehingga pagar pembatas area candi berada pada jarak yang cukup jauh dari candi utama.

Usai gagal mengunjungi Candi Arjuna, walaupun demi menatapnya aku rela berjalan kaki menyusuri salah satu sisi lapangan rumput di  timur Jalan Arjuna Barat maka kuputuskan untuk kembali ke hotel dan beristirahat sejenak setelah semalaman aku mengemudikan mobil dari ibu kota menuju Dataran Tinggi Dieng tanpa pengemudi pengganti.