Panorama Indah dari Tuk Bimalukar

Usai meninggalkan area luar Kompleks Candi Arjuna, niatku semula yang ingin segera meluruskan kaki di ranjang hotel ternyata kembali urung.

Menjelang jam lima sore, akhirnya aku menginjak pedal mobil menuju ke timur sejauh dua kilometer. Menelusuri Jalan Arjuna Barat dan kemudian melintas di depan hotel tempatku menginap yang berposisi di salah satu titik Jalan Dieng.

Setelah berjalan dengan rute melingkar, aku memutus rute di Jalan Wanayasa-Dieng, ruas jalan dimana Tuk Bimalukar berada.

Inilah salah satu dari sekian banyak sumber mata air di Dataran Tinggi Dieng yang disakralkan oleh masyarakat setempat.

Bima Lukar merujuk pada sebuah kisah perlombaan membuat sungai antara Pandawa dan Kurawa. Pihak Pandawa yang diwakilkan Bima, dikisahkan memenangkan perlombaan ini setelah menuruti sebuah wangsit untuk membuat sungai tanpa berbusana (lukar).

Begitu tiba, aku dihadapkan pada sebuah kompleks situs sakral dengan titik pandang yang menjulang tinggi di sisi jalan dengan konstruksi yang terbuat dari batu andesit.

Karena rasa penasaran yang kuat akan panorama indah Dusun Kalilembu dengan hamparan lahan pertanian teraseringnya maka aku bergegas menaiki titik padang Tuk Bimalukar. Aku pun mulai menaiki puluhan anak tangga menuju ke tingkatan teratas.

Tiba diatas, dengan nafas tersengal aku menuju ke sepasang gazebo untuk berstirahat terlebih dahulu, untuk kemudian aku mulai menaiki tangga besi menara pandang untuk mencapai titik tertinggi pada situs ini.

Tampak dengan jelas hamparan pertanian kentang yang menghijau di sekitar Tuk Bimalukar. Untuk beberapa saat lamanya aku menghabiskan waktu di titik pandang ini demi menghabiskan waktu yang sebentar lagi akan berganti gelap.

Puncak pandang Tuk Bimalukar.
Taklukkan puluhan anak tangga itu supaya kamu bisa ke puncak.
Gazebo dan gardu pandang menantimu di atas,
Lahan pertanian kentang di Dusun Kalilembu.
Dua pancuran yang diskralkan (sumber: ksmtour.com)
Taman di sekitar Tuk Bimalukar.

Dan di akhir kunjungan, aku memutuskan kembali turun ke bawah untuk melihat bagian utama situs Tuk Bimalukar yang berwujud dua buah pancuran air yang konon menjadi cikal bakal aliran Sungai Serayu. Walaupun menurut kepercayaan lokal, mencuci muka di pancuran ini bisa membuat awet muda, akan tetapi karena masih dalam kondisi pandemi, dengan fokus perhatian pada menjaga jarak dan kebersihan maka aku mengurungkan diri untuk mencuci muka di pancuran tersebut.

Dengan berdatangannya pengunjung lain di situs sakral tersebut maka aku memutuskan untuk pindah ke arah taman di sisi timur Tuk Bimalukar. Aku terduduk di taman ketika bulir-bulir air sesekali jatuh dari langit dan cahaya hari semakin meredup di telan waktu yang terus berputar untuk mengkudeta siang.

Kuputuskan untuk menyudahi kunjungan itu dan kembali menuju mobil yang kuparkirkan di area parkir sisi jalan.

Aku memutuskan untuk beristirahat sejenak di Hotel Gunung Mas sebelum pergi mencari makan malam di sekitar hotel.

Candi Gatotkaca, Candi Bima dan Candi Arjuna : Adopsi Nama Pandawa

Jalanan menjadi tersendat ketika aku menginjak pedal meninggalkan Batu Pandang Ratapan Angin. Dalam kemacetan itu aku masih terus mengutuk diri karena datang ke Dieng pada saat seluruh destinasi wisata di Kabupaten Banjarnegara ditutup sebagai imbas dari penerapan PPKM Level 3. Praktis semenjak pukul sebelas siang, aku hanya bisa mengunjungi dua destinasi wisata Dieng milik Kabupaten Wonosobo.

Waktu masih menunjukkan pukul empat sore dan hari sedang mempersiapkan dirinya untuk menyambut gulita. Aku sendiri masih enggan untuk menghabiskan waktu di hotel karena memang itu bukan sifatku ketika sedang berkelana.

Tetiba tercetus ide iseng untuk mengunjungi tiga candi di wilayah Kabupaten Banjarnegara sebelum beristirahat di hotel. Aku faham bahwa ketiga candi itu memang sedang menutup diri dari pengunjung karena protokol pandemi, tetapi setelah dipikir, aku masih bisa menikmati ketiganya tanpa harus memasuki area dalam candi.

Maka tujuan terdekat dari Batu Pandang Ratapan Angin menjadi milik Candi Bima. Hanya berjarak satu kilometer dan tepatnya terletak di Jalan Arjuna Selatan.

Ketika tiba, aku memarkirkan mobil di sisi jalan karena area parkir tertutup penghalang tali tambang. Tetapi penghalang itu menyisakan sedikit bukaan yang membuatku bisa memasuki jalur yang terdiri dari tiga puluh anak tangga menuju candi. Dan pada akhirnya, dengan leluasa aku bisa mendekati gerbang candi yang tertutup rapat.

Rencanaku berhasil, aku masih bisa menikmati candi itu dari luar gerbang. Bahkan aku nekat menaiki  pondasi pada tembok di sebelah kanan gerbang demi menatap Candi Bima lebih dekat. Dan ternyata bukan aku saja yang berbuat demikian, tetapi ada pelancong lain melakukan hal yang sama, berusaha mendekati Candi Bima dengan segala cara.

Keindahan candi terbesar dan tertinggi di Dataran Tinggi Dieng ini tercermin pada relief-relief yang tersemat hingga ke puncak candi. Selain itu jika diperhatikan dengan seksama, candi ini berbntuk layaknya cangkir terbalik. Dalam arsitektur candi maka bentuk Candi Bima ini mengikuti bentuk Shikhara yang mengedapankan bentuk menara menjulang khas arsitektur candi di India Utara. Tanpa adanya candi perwara menjadikan Candi Bima sebagai candi tunggal diatas sebidang tanah yang berbentuk bujur sangkar.

Harus menaiki anak tangga itu untuk sampai ke Candi Bima.
Candi Bima.
Candi Gatotkaca.
Reruntuhan Candi Nakula dan Candi Sadewa.
Apakah kalian bisa melihat Candi Arjuna di balik pohon itu?

Keberadaanku untuk mengamati detail relief di Candi Bima harus kuakhiri karena semakin banyak wisatawan yang memenuhi area di depan pagar Candi Bima.

Aku kembali menuju mobil yang kuparkirkan di sisi Jalan Arjuna Selatan, kuinjak pedal menuju candi lain yang lokasinya tak jauh dari Candi Bima, yaitu Candi Gatotkaca.

Berjarak tak lebih dari satu kilometer, aku bisa mencapainya dalam lima menit dan kemudian kuparkirkan mobil di salah satu sisi Jalan Arjuna Barat.

Kali ini aku menikmati arsitektur candi dari pinggir jalan. Hal ini mungkin sekali dilakukan karena letak candi yang berada di bawah badan Jalan Arjuna Barat.

Candi yang dibangun pada masa Kerajaan Mataram Kuno ini menunjukkan jejak penyebaran Hindu di Dataran Tinggi Dieng. Berbentuk bujur sangkar, candi Gatotkaca tak menunjukkan adanya relief-relief khas seperti yang tertampil di Candi Bima. Hanya ada sedikit relief di bilik penampil yang bisa menggambarkan relief asli candi ini di masa lalu. Sedangkan di sisi selatan candi tampak batu-batu asli penyusun Candi Nakula dan Candi Sadewa yang konon pada zaman kolonialisme Belanda masih berdiri gagah.

Beberapa arca pengisi relung-relung candi ini sebetulnya masih ada, hanya saja usahaku untuk melihatnya di Museum Kailasa pupus karena tutupnya museum tersebut akbat kebijakan PPKM Level 3.

Inilah candi pemujaan Dewa Syiwa yang menjadikan penutup kunjungan wisataku di Dataran Tinggi Dieng pada hari pertama. Karena usahaku untuk mengintip keindahan Candi Arjuna gagal karena begitu luasnya kompleks Candi Arjuna sehingga pagar pembatas area candi berada pada jarak yang cukup jauh dari candi utama.

Usai gagal mengunjungi Candi Arjuna, walaupun demi menatapnya aku rela berjalan kaki menyusuri salah satu sisi lapangan rumput di  timur Jalan Arjuna Barat maka kuputuskan untuk kembali ke hotel dan beristirahat sejenak setelah semalaman aku mengemudikan mobil dari ibu kota menuju Dataran Tinggi Dieng tanpa pengemudi pengganti.

Dua Warna dari Batu Pandang Ratapan Angin

Aku menginjak pedal kembali. Kali ini aku akan mengunjungi Museum Kailasa karena museum ini menyimpan berbagai hal terkait Dieng, seperti catatan kehidupan masyarakat, kebudayaan, sistem kepercayaan, flora dan fauna serta sejarah Dieng.

Museum itu hanya berjarak satu kilometer dari Hotel Gunung Mas, oleh karenanya tak perlu waktu lama bagiku untuk tiba. Hanya saja, begitu tiba, museum tampak senyap, tak satupun pintu yang nampak terbuka. Tempat parkir pun sengaja dihalangi oleh palang-palang bambu yang meyebabkanku tak bisa memarkirkan mobil.

Menghentikan mobil di salah satu sisi Jalan Arjuna Barat, aku turun dan berusaha bertanya kepada siapapun di sekitar museum itu.

“Oh, karena saat ini masih PPKM Level 3 jadi seluruh tempat wisata di Kabupaten Banjarnegara ditutup, Mas. Hanya tempat wisata yang terletak di Kabupaten Wonosobo saja yang buka”, begitu informasi yang kuterima dari seorang lelaki muda di area parkir museum.

Sore itu juga, aku baru faham bahwa sebagian tempat wisata Dieng masih ditutup, tentu aku masih bisa mendapatkan tempat wisata Dieng untuk dikunjungi, yaitu tempat wisata Dieng yang dimiliki oleh Kabupaten Banjarnegara.

Informasi itu membuatku terbengong sesaat, bertolak pinggang menatap ke arah ujung Jalan Arjuna Barat….Damn.

Aku kembali ke balik kemudi. Tanganku lincah di layar telepon pintar demi menyortir kembali destinasi wisata yang bisa kusambangi. Dan demi menghindari kehilangan banyak waktu maka aku segera mengarahkan kemudi menuju Batu Pandang Ratapan Angin.

Destinasi itu ada di tenggara, dua kilometer jauhnya.  Maka aku mempercepat laju mobil untuk segera sampai di sana.

Menjelang setengah empat sore aku pun tiba di area parkir destinasi itu. Tanpa pikir panjang, aku segera memasuki area wisata. Menebus tiket dengan uang sepuluh ribu rupiah, aku mulai menanjaki lereng bukit menuju ke puncaknya.

Aku terus menapaki tangga-tangga berbatu yang tampak disusun dengan rapi, melintasi lahan yang ditanami kentang di sepanjang jalur penanjakan. Menanjak ke atas tentu harus berbagi tangga dengan beberapa pengunjung yang turun.

Dalam dua puluh menit aku mencapai puncak pandang. Perlu waktu lama untuk tiba di puncak karena aku tak mau terburu-buru menikmati suasana dan pemandangan yang tertampil dengan sangat indah ketika menaiki bukit.

Tiba di bagian atas, titik pandang yang jalurnya dibuat dari panggung yang ditopang besi-besi kokoh diantara dua julangan bukit batu, aku begitu leluasa menikmati keindahan Telaga Warna dan Telaga Pengilon dari ketinggian. Paduan warna alami yang sangat sempurna tertampil di depan pandangan. Telaga Warna memendarkan warna hijau lumut sedangkan Telaga Pengilon menampilkan kejernihannya kepada segenap pengunjung Batu Pandang Ratapan Angin.

Tanjakan pertama.
Hampir sampai….Hufth.
Titik pandang tertinggi.
Dua warna berbeda….
Canteekkknya….
Sekoteng penangkal hawa dingin.

Tak sedikit muda-mudi yang berlama-lama mengambil foto dengan latar belakang yang instagramable. Membuatku harus sabar menunggu dan mengantri untuk mendapatkan titik terbaik pengambilan gambar. Tentu aku pun harus berempati dengan pengunjung lain yang mengantri untuk mendapatkan sudut pandang terbaik itu. Hanya lima menit saja aku berusaha memaksimalkan diri ketika mengakuisisi posisi terbaik untuk mengambil gambar kedua telaga. Setelahnya aku memutuskan untuk turun.

Karena aku sudah tuntas menikmati pemandangan sekitar saat menaiki bukit, maka kali ini aku dengan cepat menuruni bukit.

Aku tiba di parkiran dan begitu tergoda dengan jajanan di kedai-kedai kuliner yang memanjang di depan area parkir. Maka untuk menghilangkan rasa penasaran itu, aku memutuskan untuk menikmati segelas Sekoteng panas. Aku membelinya dari sebuah kedai dan kemudian menikmatinya dari dalam mobil demi menghindari hawa dingin yang mulai menyelimuti kaki bukit.

Sudah pukul empat sore ketika aku usai menikmati Sekoteng. Kufikir, sudah tak ada lagi destinasi wisata yang buka. Lebih baik aku kembali ke hotel dan bersiap untuk berwisata kuliner nanti malam.

Menunggu Check-in di Telaga Warna

Hotel yang hendak kuinapi berlokasi di salah satu ruas arah pertigaan yang sedang kulintasi. Hanya karena sangkala masih bertengger di bilangan sebelas pagi, maka aku memutuskan untuk langsung bertolak menuju destinasi perdana. Toh, waktu check-in baru bisa kulakukan dua jam lagi.

Maka dari ruas Jalan Dieng, aku merubah haluan ke selatan menuju Telaga Warna melalui ruas Jalan Arjuna Barat.

Pemandangan klasik mulai terekspos di sepanjang jalan tersebut. Di sebelah timurnya tampak kompleks Candi Arjuna yang terdesain dengan sangat rapi. Sementara itu tampilan gagah Candi Gatotkaca menjadi rangkaian peninggalan sejarah berikutnya dan kemudian Candi Bima menjadi tengara pamungkas di ujung Jalan Arjuna Barat sebelum aku meneruskan penelusuran di Jalan Arjuna Selatan. Tampak di pelataran Candi Bima berjejer mobil Jeep dengan gardan ganda yang pengemudinya aktif menawarkan perjalanan wisata menuju Kawah Sikidang yang merupakan kawah aktif  terbesar di Dataran Tinggi Dieng.

Sedangkan di ujung Jalan Arjuna Selatan tampak riuh rendah para pedagang jajanan khas Dieng seperti Carica, Terong Belanda, Kopi Purwaceng, Teh Tambi dan Keripik Tempe Kemul. Walaupun jajaran oleh-oleh itu disusun begitu menarik, aku tetap memutuskan untuk tak membeli apapun terlebih dahulu karena waktuku di Dieng masih sampai esok hari.

Melanjutkan perjalanan di ruas Jalan Telaga Warna, aku akhirnya tiba di destinasi pertama, Telaga Warna & Telaga Pengilon.

Mataku seketika awas, melihat keberadaan area parkir wisata ini yang berada sisi timur jalan sedangkan kedua telaga itu ada di sisi baratnya.

Usai memarkirkan kendaraan di area parkir yang tampak sangat padat, aku menghiraukan godaan warung-warung kuliner yang berjajar rapi di sepanjang salah satu sisi area parkir.

Tiba di pintu gerbang destinasi itu, aku menebus tiket masuk seharga Rp. 21.000 dan dengan mudahnya aku melewati hadangan thermogun dan screening barcode aplikasi PeduliLindungi. Dari papan informasi tarif, aku dengan jelas membacanya bahwa tarif masuk untuk wisatawan asing adalah Rp. 163.500….Hmmhhh, delapan kali lipat dari tarif wisatawan Nusantara.

Saatnya menikmati keindahan Telaga Warna….

Area parkir pengunjung Telaga Warna & Telaga Pengilon.
Gerbang masuk Telaga Warna & Telaga Pengilon.
Telaga Warna yang menghijau di tepiannya.
Tampak surut.
Melihat lebih dekat.
Tetap saja cantik.
Ngopi atau menikmati gorengan hangat.
Tempat duduk beton di sisi telaga.

Aku mulai menapaki jalur pengunjung menuju telaga. Pengelola tempat wisata tampak dengan baik mengelola destinasi ini sehingga setiap pengunjung dipermudah untuk menemukan denah wisata, spot kuliner, dan fasilitas umum lainnya. Jalur wisatawan pun tampak diberikan pemisah permanen untuk memudahkan wisatawan yang akan masuk ataupun keluar dari lokasi wisata.

Siang itu Telaga Warna tampak surut dan memendarkan warna hijau di pelupuk mata. Konon warna air di telaga ini sering berubah warna ketika diterpa sinar surya tergantung dari kadar belerang yang berada di dasar telaga.

Dengan keringnya telaga tentu pesona itu menjadi enggan menampakkan diri. Memang aku datang ke Dataran Tinggi Dieng pada masa akhir musim kemarau. Tentu pada akhirnya, aroma menyengat belerang menjadi perasa dominan dalam wisata alam kali ini.

Berlama-lama di sisi telaga memang tetap saja membuat hati ceria. Apalagi tak mudahnya bagi diriku untuk menemukan suasana seperti ini di perkotaan. Apalagi kedai-kedai gorengan dan kopi banyak berada di sisi telaga. Kedai-kedai itu tampak penuh dikunjungi wisatawan yang tentu tak ingin cepat merasakan atmosfer alam yang berada di hadapan pandangannya.

Jika tak ingin mengeluarkan budget apapun, kam juga bisa menikmati pemandangan dari bangku-bangku kayu di pinggir telaga atau tempat duduk beton beratap yang tersedia di beberapa bagian sembari menikmati beberapa spot taman edukasi di sekitarnya.

Di akhir kunjungan, aku keluar melalui pintu sisi utara dan berniat menuju Hotel Gunung Mas di daerah Batur.