Bukit Sikunir: “Aku Arang-Arang Adus”

Perlahan mataku membuka, tetapi dinginnya udara dini hari mampu menutup paksanya kembali. Sementara itu tubuhku masih meringkuk kedinginan di sebalik selimut hotel yang tak begitu tebal, padahal aku sudah melapis tubuhku dengan dua t-shirt, salah satunya berlengan panjang….Hebat nian tusukan hawa dingin Dieng di awal pagi itu.

Secara bersamaan dering alarm yang terlontar dari gawai pintar membalik keheningan kamar menjadi kebisingan. Mungkin suara keras itu telah sampai di kamar sebelah.

“Sekarang atau tidak sama sekali”, bentakku kepada diri sendiri yang hampir ditaklukkan kemalasan.

Aku akhirnya bangkit, terduduk menggigil di tepi ranjang, untuk kemudian membasahi terlapak tangan di kamar mandi dan menyekakannya ke wajah.

Mengenakan winter jacket yang tergantung di pintu kamar dan memakai sepatu kets maka aku bersiap keluar kamar. Tetapi belum juga memegang gagang pintu, gawaiku berdering.

“Mas Donny nggih?….Aku nang ngarep hotel yo, mas?”, seru seorang lelaki dari panggilan telepon itu.

“Oh, dia tukang ojeknya”, aku paham dengan cepat.

Maka aku pun menuju lobby dan resepsionis setengah baya yang tertidur di sofa pun bergegas bangkit melihat kedatanganku.

“Sampun siap, Mas Donny?”, dia melempar sapaan di pagi yang beku sambal menyembunyikan badannya di balik sarung..

“Nggih pak….Adem banget nggih”, aku menjawab dengan gemeretak gigi yang kutahan.

Usai membuka pintu hotel maka aku pun langsung disambut dengan lambaian tangan seorang tukang ojek di gerbang halaman.

Suasana di luar tampaknya sangat bising karena ada sekelompok pemuda yang sedang berbicara serius dengan staff hotel. Sekelompok pemuda itu mengaku sudah membayar uang muka hotel kepada seorang tour guide. Tetapi pihak hotel merasa tak menerima uang muka dari siapapun. “Wah, bakal kedinginan sampai pagi tuh anak-anak muda”, aku berusaha berempati dengan masalah mereka.

“Monggo, Mas Donny”, tukang ojek itu mengingatkanku

Aku pun meluncur pergi meninggalkan sekelompok pemuda tersebut. Menyusuri Jalan Dieng dan menikung ke selatan melalui Jalan Telaga Warna. Bersyukur terpaan angin sepanjang perjalanan di hadang oleh Pak Bian yang mengemudi motor di depan.

Usai menempuh dua kilometer maka aku berpindah di Jalan Sikunir yang gelap lagi sepi. Hanya percakapanku di atas motor dengan Pak Bian yang membuat suasana sedikit hangat. “Aku arang-arang adus, Mas Donny….Hahahah”, kelakar pak Bian ketika aku menanya bagaimana kebiasaan mandi warga Dieng dengan cuaca dingin seperti itu.

Setelah menyelesaikan perjalanan di Jalan Sembungan, aku pun tiba di Bukit Sikunir setelah total menempuh jarak sejauh tujuh kilometer selama setengah jam.

Usai membayar tiket sebesar Rp. 15.000 dan melihat jalan sempit menuju kaki Bukit Sikunir, aku baru mendapat hikmah dari terhimpitnya mobilku di parkiran dalam hotel. Ternyata jalan menuju parkiran Bukit Sikunir macet total dengan antiran mobil mengular panjang. “Wah ini pasti akan banyak wisatawan yang tak bakal bisa menemui fajar di atas bukit”, aku membatin kecut.

Sementara itu, Pak Bian terus merangsek lincah menyalip antrian mobil untuk tiba di kaki Bukit Sikunir.

“Jenengan tak tunggu nang kene yo, Mas. Aku tak ngopi wae”, Pak Bian dengan mantab memarkirkan motornya dan bergegas  mencari kopi setelah aku meninggalkannya untuk mulai menanjaki Bukit Sikunir.

Jalur awal untuk menanjak.

Membeli sebotol air mineral di ujung deretan warung, aku mencegah diri untuk berhenti sedetikpun demi mencapai puncak bukit tepat waktu.

Sepertinya bejubelnya wisatawan akan menggugurkan protokol pandemi COVID-19. Bahkan tak sedikit wisatawan yang melepas masker dan bercakap dengan kencang sepanjang perjalanan.

Aku terus fokus meniti jalan tangga berbatu buatan warga yang bergantian dengan jalan setapak asli di sepanjang pendakian. Sesekali menyalip banyak rombongan yang kepayahan dalam mendaki.

Aku menghela napas panjang setiba di puncak bukit dan mengambil posisi pada sebuah gundukan untuk bersiap menyambut fajar. Kusempatkan untuk melakukan Shalat Subuh dengan posisi duduk pada sebuah batu besar setelah bertayamum dengan embun yang menempel di semak-semak sekitar.

Beberapa saat kemudian terdengarlah suara yang keluar dari toa seorang pemandu wisata dengan jelas kudengar, yaitu manawarkan kepada rombongannya untuk mendaki kembali ke puncak pandang tertinggi.

“Loh aku belum di puncak bukit ya?”, aku bertanya kepada diriku sendiri.

Tanpa pikir panjang, aku segera mencari keberadaan jalur pendakian lanjutan. Menemukannya dengan mudah maka aku mendaki kembali menuju puncak tertinggi Bukit Sikunir.

Setibanya di atas, aku lebih memilih untuk memisahkan diri dari kerumunan, oleh karenanya aku tak berdiri di gundukan yang dipenuhi pelancong. Aku berdiri di pinggiran tebing yang aman. Dan sejenak meneguk air mineral yang kubeli sebelumnya lalu berdiri fokus memunggu kedatangan fajar.

Cuaca di atas Dataran Tinggi Dieng pagi itu sangat membuatku khawatir, karena tak jarang kondisi langit membuat semburat-semburat tipis berwarna oranye tertutup oleh rombongan awan yang terus bergerak konsiten, Aku hanya berharap saat matahari menampakkan batang hidungnya, awan-awan itu sudah berpindah dan menghilang.

Rupanya do’aku didengar oleh Sang Kuasa, aku akhirnya bisa meilhat dengan jernih saat fajar memuncak dan menandakan awal terbitnya matahari.

Tak mau kehilangan momen indah yang akan tampil sekejap saja, maka aku fokus mengarahkan kamera ke pertunjukan alam itu tanpa henti. Kutangkap indahnya panorama itu berkali-kali.

Pertunjukan alam yang sangat indah.
Lihat bunga-bunga es itu !.
Pemandangan dari puncak Bukit Sikunir ketika pagi.
Pemandangan lainnya.

Tetapi di tengah konsentrasiku, dua perempuan muda datang mendekat dan meminta tolong untuk menyettingkan kameranya supaya bisa mendapatkan gambar yang jernih. Beruntung aku bisa dengan cepat membantunya sehingga waktuku tak terinterupsi terlalu banyak untuk menikmati sunrise yang semakin lama semakin memudar.

Berlangsung selama lima belas menit, akhirnya pertunjukan sunrise di Bukit Sikunir rampung. Aku hanya menghabiskan waktu beberapa saat untuk mengelilingi setiap sisi Bukit Sikunir untuk menikmati pemandangan lahan pertanian terasering Dieng yang memesona mata.

Dalam penyisiran itu, aku memperhatikan lima pemuda yang mendirikan tenda disalah satu titik di puncak bukit dan sisa-sisa mereka memasak masih cukup terlihat jelas. Mungkin mereka belum sempat membersihkan sampah di bekas perapian tersebut.

Aku pun mulai menuruni kembali Bukit Sikunir setelah merasa puas menikmati pemandangan di puncaknya dari berbagai sisi. Kini aku kembali menyelenip di antara arus pelancong yang berjubel menuruni bukit.

Dalam setengah jam, aku kembali tiba di kaki bukit. Begitu terpesonanya mata akan keramaian yang tertampil di bawah bukit. Kusaksikan terdapat panggung menyanyi dan spot-spot bagi seniman lokal untuk menghibur para pengunjung. Sementara kedai-kedai kuliner yang tampak masih bersiap diri untuk memasak ketika aku mulai menanjak, kini telah menampilkan beragam makanan yang menggoda. Namun kedai itu tampak ramai pengunjung yang mulai kelaparan setelah menaik turuni bukit yang sangat membakar kalori mereka.

Yuk turun….!
Kentang Semut, jajanan khas Dieng.
Mau beli gorengan hangat juga ada.

Tetap saja aku tak membeli apapaun di sepanjang deretan kedai-kedai kuliner itu. Aku masih khawatir dengan resiko penularan COVID-19. Aku melanjutkan langkah untuk menyudahi kunjungan dengan segera.

Tiba di area parkir yang luas, maka dengan mudah aku menemukan Pak Bian yang tentu sedang menunggu kedatanganku juga. Aku menyapa pak Bian yang sedang asyik menghisap sigaret bersama teman seprofesinya.

“Ayo pak, balik ke hotel !”. Aku meminta pak Bian untuk segera bergegas.

Panorama Indah dari Tuk Bimalukar

Usai meninggalkan area luar Kompleks Candi Arjuna, niatku semula yang ingin segera meluruskan kaki di ranjang hotel ternyata kembali urung.

Menjelang jam lima sore, akhirnya aku menginjak pedal mobil menuju ke timur sejauh dua kilometer. Menelusuri Jalan Arjuna Barat dan kemudian melintas di depan hotel tempatku menginap yang berposisi di salah satu titik Jalan Dieng.

Setelah berjalan dengan rute melingkar, aku memutus rute di Jalan Wanayasa-Dieng, ruas jalan dimana Tuk Bimalukar berada.

Inilah salah satu dari sekian banyak sumber mata air di Dataran Tinggi Dieng yang disakralkan oleh masyarakat setempat.

Bima Lukar merujuk pada sebuah kisah perlombaan membuat sungai antara Pandawa dan Kurawa. Pihak Pandawa yang diwakilkan Bima, dikisahkan memenangkan perlombaan ini setelah menuruti sebuah wangsit untuk membuat sungai tanpa berbusana (lukar).

Begitu tiba, aku dihadapkan pada sebuah kompleks situs sakral dengan titik pandang yang menjulang tinggi di sisi jalan dengan konstruksi yang terbuat dari batu andesit.

Karena rasa penasaran yang kuat akan panorama indah Dusun Kalilembu dengan hamparan lahan pertanian teraseringnya maka aku bergegas menaiki titik padang Tuk Bimalukar. Aku pun mulai menaiki puluhan anak tangga menuju ke tingkatan teratas.

Tiba diatas, dengan nafas tersengal aku menuju ke sepasang gazebo untuk berstirahat terlebih dahulu, untuk kemudian aku mulai menaiki tangga besi menara pandang untuk mencapai titik tertinggi pada situs ini.

Tampak dengan jelas hamparan pertanian kentang yang menghijau di sekitar Tuk Bimalukar. Untuk beberapa saat lamanya aku menghabiskan waktu di titik pandang ini demi menghabiskan waktu yang sebentar lagi akan berganti gelap.

Puncak pandang Tuk Bimalukar.
Taklukkan puluhan anak tangga itu supaya kamu bisa ke puncak.
Gazebo dan gardu pandang menantimu di atas,
Lahan pertanian kentang di Dusun Kalilembu.
Dua pancuran yang diskralkan (sumber: ksmtour.com)
Taman di sekitar Tuk Bimalukar.

Dan di akhir kunjungan, aku memutuskan kembali turun ke bawah untuk melihat bagian utama situs Tuk Bimalukar yang berwujud dua buah pancuran air yang konon menjadi cikal bakal aliran Sungai Serayu. Walaupun menurut kepercayaan lokal, mencuci muka di pancuran ini bisa membuat awet muda, akan tetapi karena masih dalam kondisi pandemi, dengan fokus perhatian pada menjaga jarak dan kebersihan maka aku mengurungkan diri untuk mencuci muka di pancuran tersebut.

Dengan berdatangannya pengunjung lain di situs sakral tersebut maka aku memutuskan untuk pindah ke arah taman di sisi timur Tuk Bimalukar. Aku terduduk di taman ketika bulir-bulir air sesekali jatuh dari langit dan cahaya hari semakin meredup di telan waktu yang terus berputar untuk mengkudeta siang.

Kuputuskan untuk menyudahi kunjungan itu dan kembali menuju mobil yang kuparkirkan di area parkir sisi jalan.

Aku memutuskan untuk beristirahat sejenak di Hotel Gunung Mas sebelum pergi mencari makan malam di sekitar hotel.

Candi Gatotkaca, Candi Bima dan Candi Arjuna : Adopsi Nama Pandawa

Jalanan menjadi tersendat ketika aku menginjak pedal meninggalkan Batu Pandang Ratapan Angin. Dalam kemacetan itu aku masih terus mengutuk diri karena datang ke Dieng pada saat seluruh destinasi wisata di Kabupaten Banjarnegara ditutup sebagai imbas dari penerapan PPKM Level 3. Praktis semenjak pukul sebelas siang, aku hanya bisa mengunjungi dua destinasi wisata Dieng milik Kabupaten Wonosobo.

Waktu masih menunjukkan pukul empat sore dan hari sedang mempersiapkan dirinya untuk menyambut gulita. Aku sendiri masih enggan untuk menghabiskan waktu di hotel karena memang itu bukan sifatku ketika sedang berkelana.

Tetiba tercetus ide iseng untuk mengunjungi tiga candi di wilayah Kabupaten Banjarnegara sebelum beristirahat di hotel. Aku faham bahwa ketiga candi itu memang sedang menutup diri dari pengunjung karena protokol pandemi, tetapi setelah dipikir, aku masih bisa menikmati ketiganya tanpa harus memasuki area dalam candi.

Maka tujuan terdekat dari Batu Pandang Ratapan Angin menjadi milik Candi Bima. Hanya berjarak satu kilometer dan tepatnya terletak di Jalan Arjuna Selatan.

Ketika tiba, aku memarkirkan mobil di sisi jalan karena area parkir tertutup penghalang tali tambang. Tetapi penghalang itu menyisakan sedikit bukaan yang membuatku bisa memasuki jalur yang terdiri dari tiga puluh anak tangga menuju candi. Dan pada akhirnya, dengan leluasa aku bisa mendekati gerbang candi yang tertutup rapat.

Rencanaku berhasil, aku masih bisa menikmati candi itu dari luar gerbang. Bahkan aku nekat menaiki  pondasi pada tembok di sebelah kanan gerbang demi menatap Candi Bima lebih dekat. Dan ternyata bukan aku saja yang berbuat demikian, tetapi ada pelancong lain melakukan hal yang sama, berusaha mendekati Candi Bima dengan segala cara.

Keindahan candi terbesar dan tertinggi di Dataran Tinggi Dieng ini tercermin pada relief-relief yang tersemat hingga ke puncak candi. Selain itu jika diperhatikan dengan seksama, candi ini berbntuk layaknya cangkir terbalik. Dalam arsitektur candi maka bentuk Candi Bima ini mengikuti bentuk Shikhara yang mengedapankan bentuk menara menjulang khas arsitektur candi di India Utara. Tanpa adanya candi perwara menjadikan Candi Bima sebagai candi tunggal diatas sebidang tanah yang berbentuk bujur sangkar.

Harus menaiki anak tangga itu untuk sampai ke Candi Bima.
Candi Bima.
Candi Gatotkaca.
Reruntuhan Candi Nakula dan Candi Sadewa.
Apakah kalian bisa melihat Candi Arjuna di balik pohon itu?

Keberadaanku untuk mengamati detail relief di Candi Bima harus kuakhiri karena semakin banyak wisatawan yang memenuhi area di depan pagar Candi Bima.

Aku kembali menuju mobil yang kuparkirkan di sisi Jalan Arjuna Selatan, kuinjak pedal menuju candi lain yang lokasinya tak jauh dari Candi Bima, yaitu Candi Gatotkaca.

Berjarak tak lebih dari satu kilometer, aku bisa mencapainya dalam lima menit dan kemudian kuparkirkan mobil di salah satu sisi Jalan Arjuna Barat.

Kali ini aku menikmati arsitektur candi dari pinggir jalan. Hal ini mungkin sekali dilakukan karena letak candi yang berada di bawah badan Jalan Arjuna Barat.

Candi yang dibangun pada masa Kerajaan Mataram Kuno ini menunjukkan jejak penyebaran Hindu di Dataran Tinggi Dieng. Berbentuk bujur sangkar, candi Gatotkaca tak menunjukkan adanya relief-relief khas seperti yang tertampil di Candi Bima. Hanya ada sedikit relief di bilik penampil yang bisa menggambarkan relief asli candi ini di masa lalu. Sedangkan di sisi selatan candi tampak batu-batu asli penyusun Candi Nakula dan Candi Sadewa yang konon pada zaman kolonialisme Belanda masih berdiri gagah.

Beberapa arca pengisi relung-relung candi ini sebetulnya masih ada, hanya saja usahaku untuk melihatnya di Museum Kailasa pupus karena tutupnya museum tersebut akbat kebijakan PPKM Level 3.

Inilah candi pemujaan Dewa Syiwa yang menjadikan penutup kunjungan wisataku di Dataran Tinggi Dieng pada hari pertama. Karena usahaku untuk mengintip keindahan Candi Arjuna gagal karena begitu luasnya kompleks Candi Arjuna sehingga pagar pembatas area candi berada pada jarak yang cukup jauh dari candi utama.

Usai gagal mengunjungi Candi Arjuna, walaupun demi menatapnya aku rela berjalan kaki menyusuri salah satu sisi lapangan rumput di  timur Jalan Arjuna Barat maka kuputuskan untuk kembali ke hotel dan beristirahat sejenak setelah semalaman aku mengemudikan mobil dari ibu kota menuju Dataran Tinggi Dieng tanpa pengemudi pengganti.

Menunggu Check-in di Telaga Warna

Hotel yang hendak kuinapi berlokasi di salah satu ruas arah pertigaan yang sedang kulintasi. Hanya karena sangkala masih bertengger di bilangan sebelas pagi, maka aku memutuskan untuk langsung bertolak menuju destinasi perdana. Toh, waktu check-in baru bisa kulakukan dua jam lagi.

Maka dari ruas Jalan Dieng, aku merubah haluan ke selatan menuju Telaga Warna melalui ruas Jalan Arjuna Barat.

Pemandangan klasik mulai terekspos di sepanjang jalan tersebut. Di sebelah timurnya tampak kompleks Candi Arjuna yang terdesain dengan sangat rapi. Sementara itu tampilan gagah Candi Gatotkaca menjadi rangkaian peninggalan sejarah berikutnya dan kemudian Candi Bima menjadi tengara pamungkas di ujung Jalan Arjuna Barat sebelum aku meneruskan penelusuran di Jalan Arjuna Selatan. Tampak di pelataran Candi Bima berjejer mobil Jeep dengan gardan ganda yang pengemudinya aktif menawarkan perjalanan wisata menuju Kawah Sikidang yang merupakan kawah aktif  terbesar di Dataran Tinggi Dieng.

Sedangkan di ujung Jalan Arjuna Selatan tampak riuh rendah para pedagang jajanan khas Dieng seperti Carica, Terong Belanda, Kopi Purwaceng, Teh Tambi dan Keripik Tempe Kemul. Walaupun jajaran oleh-oleh itu disusun begitu menarik, aku tetap memutuskan untuk tak membeli apapun terlebih dahulu karena waktuku di Dieng masih sampai esok hari.

Melanjutkan perjalanan di ruas Jalan Telaga Warna, aku akhirnya tiba di destinasi pertama, Telaga Warna & Telaga Pengilon.

Mataku seketika awas, melihat keberadaan area parkir wisata ini yang berada sisi timur jalan sedangkan kedua telaga itu ada di sisi baratnya.

Usai memarkirkan kendaraan di area parkir yang tampak sangat padat, aku menghiraukan godaan warung-warung kuliner yang berjajar rapi di sepanjang salah satu sisi area parkir.

Tiba di pintu gerbang destinasi itu, aku menebus tiket masuk seharga Rp. 21.000 dan dengan mudahnya aku melewati hadangan thermogun dan screening barcode aplikasi PeduliLindungi. Dari papan informasi tarif, aku dengan jelas membacanya bahwa tarif masuk untuk wisatawan asing adalah Rp. 163.500….Hmmhhh, delapan kali lipat dari tarif wisatawan Nusantara.

Saatnya menikmati keindahan Telaga Warna….

Area parkir pengunjung Telaga Warna & Telaga Pengilon.
Gerbang masuk Telaga Warna & Telaga Pengilon.
Telaga Warna yang menghijau di tepiannya.
Tampak surut.
Melihat lebih dekat.
Tetap saja cantik.
Ngopi atau menikmati gorengan hangat.
Tempat duduk beton di sisi telaga.

Aku mulai menapaki jalur pengunjung menuju telaga. Pengelola tempat wisata tampak dengan baik mengelola destinasi ini sehingga setiap pengunjung dipermudah untuk menemukan denah wisata, spot kuliner, dan fasilitas umum lainnya. Jalur wisatawan pun tampak diberikan pemisah permanen untuk memudahkan wisatawan yang akan masuk ataupun keluar dari lokasi wisata.

Siang itu Telaga Warna tampak surut dan memendarkan warna hijau di pelupuk mata. Konon warna air di telaga ini sering berubah warna ketika diterpa sinar surya tergantung dari kadar belerang yang berada di dasar telaga.

Dengan keringnya telaga tentu pesona itu menjadi enggan menampakkan diri. Memang aku datang ke Dataran Tinggi Dieng pada masa akhir musim kemarau. Tentu pada akhirnya, aroma menyengat belerang menjadi perasa dominan dalam wisata alam kali ini.

Berlama-lama di sisi telaga memang tetap saja membuat hati ceria. Apalagi tak mudahnya bagi diriku untuk menemukan suasana seperti ini di perkotaan. Apalagi kedai-kedai gorengan dan kopi banyak berada di sisi telaga. Kedai-kedai itu tampak penuh dikunjungi wisatawan yang tentu tak ingin cepat merasakan atmosfer alam yang berada di hadapan pandangannya.

Jika tak ingin mengeluarkan budget apapun, kam juga bisa menikmati pemandangan dari bangku-bangku kayu di pinggir telaga atau tempat duduk beton beratap yang tersedia di beberapa bagian sembari menikmati beberapa spot taman edukasi di sekitarnya.

Di akhir kunjungan, aku keluar melalui pintu sisi utara dan berniat menuju Hotel Gunung Mas di daerah Batur.

Nostalgia Lama Mengemudi ke Dieng: Gegara e-Toll

Usai sukses menunaikan perjalanan singkat dalam satu hari ke Pantai Ujung Genteng pada akhir tahun perdana pandemi, aku mulai berani melakukan perjalanan lebih jauh pasca menerima dosis vaksin Sinovac kedua.

Kali ini tujuanku adalah Negeri di Atas Awan….yakz, Dieng.

Dieng mulai menyelinap ke dalam bucket list ketika aku banyak menguping dari cerita para pecandu tari yang berkumpul di lereng Gunung Merapi, tepatnya di Desa Tutup Ngisor pada perhelatan Festival Lima Gunung ke-18 di Kabupaten Magelang.

Dan perjalanan menuju Dieng terwujud dalam rentang waktu lebih dari dua tahun setelah festival itu rampung.

Masih mengikuti tema utama, yaitu Pandemi COVID-19 maka untuk menghindari paparan virus ganas itu selama perjalanan, maka aku memilih berpetualang bermodakan mobil.

Walaupun di hari Seninnya menjadi hari kejepit nasional karena tersematnya perayaan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW di lembar kalender nasional, toh aku tetap tak memanfaatkan hari itu untuk meng-extend libur. Aku memilih berlibur kilat saja….Cukup Sabtu dan Minggu saja aku akan mengeksekusinya.

Karena singkatnya waktu, tentu aku memulai perjalanan pada Sabtu dini hari dengan harapan tiba di Dieng pada kepagin harinya.

Memulai perjalanan dari Kawasan timur ibu kota, aku memilih ruas tol lingkar luar barat dengan sasaran keluar di gerbang tol Batang/Subah/Kandeman.

Perjalanan berlangsung lancar hingga aku tiba di atas jalan Tol MBZ Sheikh Mohammed Bin Zayed. Tetapi aku kemudian tersadar bahwa jarum indikator bahan bakar telah merapat di garis merah dan aku sepenuhnya faham bahwa aku belum mengisi e-toll untuk perjalanan ini.

Oleh karenanya aku memutuskan berhenti di Km 57 untuk menyelesaikan problema ini. Perasaan tetiba berubah resah karena padatnya kendaraan yang memasuki rest area. “Sepertinya memang banyak khalayak yang memanfaatkan libur panjang ini untuk keluar ibu kota”, aku mengambil kesimpulan.

Lepas dengan kepayahan memarkirkan mobil, aku pun mulai mencari minimarket untuk mengisi e-toll. Perasaan menjadi tak enak ketika beberapa minimarket yang kumasuki mengalami masalah jaringan dalam proses top-up e-toll. Dan benar adanya, aku tak mendapatkan kesempatan sama sekali untuk mengisi ulang e-toll yang kupunya.

Melaju di ruas tol MBZ Sheikh Mohammed Bin Zayed.
Kemacetan sebelum rest area 57.

“Apa boleh buat aku harus lewat jalur pantura”, aku memutuskan cepat daripada eksplorasi menemui kegagalan. Karena memutuskan hendak menyusuri jalur pantura maka kuputuskan untuk mengisi bahan bakar di luar tol saja.

Well guys, perjalanan Panjang melalui jalur reguler pun dimulai….

Dengan cepat aku berhasil mendapatkan bahan bakar di daerah Cikampek. Setelah selesai berurusan dengan bahan bakar maka aku berfokus untuk melahap tahap-demi tahap jalanan pantura. Tentu perjalanan di pantura tak sepadat seperti dahulu ketika tol trans jawa belum tuntas dibangun.

Bernostalgia melewati jalur pantura seperti dahulu di saat melakukan ritual mudik menjadi bumbu perjalanan malam itu.

Pagi hari, hampir pukul lima, aku menyentuh pinggiran timur Cirebon dan berinisiatif melakukan break untuk menuaikan Shalat Subuh di sebuah stasiun pengisian bahan bakar. Aku juga memutuskan berburu sarapan di sekitarnya.

Tak lupa memenuhi kembali tangki bahan bakar maka perjalan kembali kutempuh secara non-stop hingga aku tiba di sebuah pertigaan kecil di Desa Tulis, Kabupaten Batang. Hampir pukul sebelas siang maka perjalanan berganti suasana. Aku mulai menginjak pedal gas di sepanjang Jalan Sendang-Tulis di etape terakhir sebelum mencapai Dataran Tinggi Dieng.

Kali ini keberuntungan memihak kepadaku. Di Jalan Raya Sampar, aku menemukan sebuah minimarket untuk mengisi ulang e-toll sehingga membuka harapan bagiku untuk pulang melalui tol trans jawa di keesokan harinya.

Beberapa kali menemukan jalanan sempit, aku berhasil bergantian jalan dengan beberapa mobil dari lawan arah. “Hmmhh, ini mah jalur buat satu mobil”, aku membatin kecut.

Keadaan berikutnya menjadi sedikit mengkhawatirkan karena mesin mobil terasa lebih panas. Dan pada sebuah tikungan terdapat sebuah papan petunjuk yang memberi setiap pengendara sebuah nasehat untuk berhenti sejenak sebelum menaklukkan tanjakan tercuram nan berbahaya. Maka demi keselamatan, aku pun menuruti petunjuk itu dan berhenti selama lebih dari setengah jam di tepi jalan….”Oh, ini toh tanjakan Krakalan yang dimaksud”, aku menatap tajam ke arah atas tanjakan.

Hingga suhu mesin menurun, aku pun mulai menanjak dan berhasil melewati tanjakan setelah dibantu dengan aba-aba oleh Crew Krakalan di tanjakan itu. Pada saat memadamkan mesin mobil di bawah tanjakan, dua orang Crew Krakalan menghampiri dan menawari jasa pengawalan menuju Dieng. Sudah pasti aku menolaknya, tentu menjadi kurang menantang jika perjalanan ini harus dikawal.

Aku cukup lega bisa menaklukkan tanjakan terhebat Desa Deles itu dengan selamat.

Terus memacu kendaraan tanpa henti, akhirnya aku tiba di area dengan pemandangan paling menakjubkan, Adalah Tol Kahyangan di Desa Pranten yang menyuguhkan hamparan pertanian kentang di lereng perbukitan yang indah berselimut kabut.

Memasuki Kabupaten Batang.
Jalan Sendang-Tulis.
Memasuki jalan perkampungan.
Jalan Bawang.
Ngademin mesin dulu, guys.
Mulai memasuki Tol Kahyangan.
Welcome Dieng.
Pipa gas panas bumi menjadi pemandangan normal di Dieng.

Beberapa kendaraan wisatawan tampak berhenti demi menikmati suasana dan berfoto ria. Tetapi aku memutuskan untuk terus melanjutkan perjalanan saja karena tak mau kehilangan waktu lebih banyak. Aku masih ada waktu untuk singgah di Tol Kahyangan saat pulang nanti saja

Tak lama kemudian aku memasuki kawasan Dataran Tinggi Dieng. Tentu aku takjub dengan pemandangan pegununungan yang dihiasi kabut. Tampak kepulan asap dari gas panas bumi muncul di beberapa titik. Pipa-pipa gas yang mengalirkan gas dari panas bumi tampak dominan di beberapa titik. Sedangkan lahan pertanian kentang dan sayuran juga menjadikan pemandangan menjadi lebih hijau nan indah.

Pukul setengah satu siang akhirnya aku benar-benar tiba di tujuan. Aih-alih langsung menuju penginapan, aku memilih opsi lain untuk langsung menuju ke destinasi pertama di Dataran Tinggi Dieng….Yupz, Telaga Warna.