Bersepeda Motor ke Taman Nasional Way Kambas….Amankah?

WAY KAMBAS….Diambil dari nama sungai yang mengalir di dalam area Taman Nasional itu sendiri. Taman Nasional seluas 125 ribu hektar ini merupakan rumah bagi program konservasi beberapa hewan langka seperti gajah, badak dan harimau sumatera

Hanya saja ketika Aku bertanya kepada salah satu petugas di Pusat Pelatihan Gajah (PLG) Way Kambas, Pusat Konservasi Badak dan Harimau Sumatera belumlah dibuka untuk umum.

Beberapa jam sebelum kedatanganku di TNWK………………….??????

Hari itu adalah hari keduaku dalam eksplorasi Lampung. Pada malam hari sebelumnya, Aku sibuk mencari informasi tentang keamanan menggunakan sepeda motor menuju Way Kambas dengan bertanya kepada empat temanku yang asli Lampung. Dari keempatnya, tiga diantara temanku meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja sedangkan seorang lagi lebih ragu jika aku bermotor ke Way Kambas karena Aku bukan asli orang Lampung…..takut begal lah intinya….seakan otakku sudah tercemar media yang sering mengabarkan hal itu…..”tentang Lampung dan tentang begal motor”.

Simple saja akhirnya….karena pendapat mereka tiga berbanding satu, Aku putuskan untuk berangkat ke Way Kambas keesokan harinya menggunakan sepeda motor sewaan.

Perjalanan dimulai,

Berangkat dari Redoorz @ Jalan Pangeran Diponegoro di daerah Teluk Betung, Bandar Lampung tepat pukul 07:25. Menyusuri jalanan kota Bandar Lampung selama 35 menit akhirnya Aku benar-benar meninggalkan Kota melalui gerbang akhirnya:

Gerbang “Selamat  Jalan Bandar Lampung” di Jalan Lintas Barat Sumatera.

Aku mulai menyusuri jalanan yang banyak dilewati bus antar kota dan truk-truk bermuatan logistik. Jalur cepat ini mengharuskanku menarik gas sepeda motorku supaya tidak diklakson terus-menerus dari belakang.

Pada menit ke-40, Aku tiba di keramaian warga lokal. Aku mencari papan alamat disekitar, baru Kutahu bahwa ini adalah pasar Natar.

Pasar Natar….nadi ekonomi diantara Bandar Lampung dan Metro.

Melanjutkan perjalananku kembali, di menit ke-55, Aku sampai di depan Bandara Internasional Radin Inten.

Bandara ini tepat sekali berada di pinggiran Jalan Lintas Barat Sumatera.

Tertegun sejenak dan duduk diatas sepeda motor yang kumatikan, Aku mengamati sebentar aktivitas di sekitar Bandara. Sengaja kuluangkan waktu, karena Aku belum pernah mencicipi sama sekali Bandara ini. Sayang kedatanganku ke propinsi paling selatan Sumatera ini menggunakan jalur darat yang dikombinasikan dengan jalur laut Merak-Bakauheni.

Perjalananku di sepanjang Jalan Lintas Barat Sumatera ini berkejaran dengan bus ukuran tiga perempat.

ayolah bang sopir, Kita balapan.

Sebetulnya Aku bisa saja naik bus ini menuju Metro lalu berganti lagi dengan bus lain menuju Way Jepara (daerah terdekat dari Way Kambas yang terakses dengan angkutan umum). Dari Way Jepara bisa berlanjut dengan ojek menuju Way Kambas.

Atau bisa juga menggunakan Bus DAMRI, yang menurut info terkini yang kudapat, hanya berangkat sekali setiap hari dari Terminal Rajabasa di Bandar Lampung pada pukul 8 pagi dan berhenti tepat di Pusat Latihan Gajah, Way Kambas.

Tapi Aku lebih memilih menggunakan motor sewaan seharga Rp. 150.000/hari karena sepulang dari Way Kambas, Aku bisa leluasa mengeksplore kota Metro. Selain itu, Aku lebih bisa mendeteksi secara akurat jalur yang akan Kulewati menuju Way Kambas.

Menit ke-65, Aku tiba di sebuah pertigaan besar yang  kedua percabangannya sama-sama menuju ke Metro.

Tugu Punduk (sebutan untuk keris asli Lampung)….Pilih lurus atau ke kanan?

Aku lebih memilih memakai jalur alternatif ke kanan. Menurut google maps, jalur ini lebih cepat dan tidak macet.

Benar bro…kagak macet….swear

tapi sepi minta ampun…..Jalan Raya Kota Metro memacu detak jantungku….mulai sedikit jiper.

Setelah melewati hamparan kebun karet itu, Aku selalu mengikuti lekukan jalanan dan kanal disisi kanannya.

kanal disisi kanan jalan Raya Kota Metro.

Senangnya hati berhasil melewati kesepian itu ketika menembus gerbang awal Kota Metro

Menit ke-90, Selamat Datang Kota Metro.

Kembali menemukan keramaian, kuputuskan untuk memenuhi tangki bahan bakarku sebelum Aku terjebak dalam kesepian kembali.

Tugu Pos Polisi ini adalah landmark pertama yang kulewati ketika memasuki pusat Kota Metro.

Menit ke-115….bye-bye keramaian…

Aku meninggalkan Kota Metro di Jalan AH Nasution
Gerbang “Selamat Datang Kabupaten Lampung Timur “bersebelahan dengan Gerbang “Selamat Jalan Kota Metro”.

Terjebak dalam kemacetan panjang, Aku penasaran, ada apakah gerangan?. Mecoba merangsek ke depan dengan Honda Beat sewaanku menerobos jalan tanah di pinggiran aspal jalan raya, akhirnya kutemukan jawabnya….Bus penumpang besar mogor di tengah jalan karena kehabisan bahan bakar, mencoba didorong banyak penumpang dengan pengawasan para polisi lalu lintas.

Menit 120. Welcome Pasar Pekalongan !….pasti disini banyak orang keturunan Jawa….namanya aja begituh.

Pasar Pekalongan di jalan AH Nasution

Menit ke-130, Aku kembali dihadapkan pada dua pilihan….dirimu atau dirinya?

Aku lebih memilih Dia…..#apaansih.

Ambil belokan ke kanan menuju Jalan Raya Batanghari Nuban
Taman Maskot tepat di tengah pertigaan itu.
Beginilah suasana Jalan Raya Batanghari Nuban

Halusnya aspal Jalan raya ini akan berlanjut hingga Jalan Raya Sukadana….tapi ya begitu, Akulah si pemilik jalan raya….sepi brur.

Pada menit ke-150, tibalah diperempatan ini:

Perempatan Jalan Soekarno-Hatta dan Jalan Lintas Timur Sumatra

Muara jalan ini sebetulnya sama:

Ke Kanan ke Way Jepara dan Kamu akan menelusuri Jalan Lintas Timur Sumatera.

Atau bisa juga lurus, Ke Way Jepara juga sih….tapi Kamu akan melewati perkampungan warga dan akan tembus kembali ke Jalan Lintas Timur Sumatera.

Tentu kupilih yang lurus, supaya aku bisa melihat aktivitas para warga Sukadana.

Mencapai Pusat Perbelanjaan Sukadana di menit ke-160

Tak berselang lama, Kamu akan melewati landmark ini:

Tugu Kota Sukadana sebagai kecamatan yang menjadi ibu kota Kabupaten Lampung Timur.

Tugu kota Sukadana ini menampilkan sosok pejuang kemerdekaan dari Kecamatan Sukadana yaitu Kolonel Arifin.

Dari tugu ini luruslah hingga bertemu perempatan di dekat Kantor Kecamatan Sukadana, lalu segeralah berbelok kekiri

Menuju Jalan Minak Rio Ujung setelah belok kiri

Pada menit ke-170, Aku memasuki Jalan Lintas Timur Sumatera setelah melewati landmark ini:

Taman Banding menampilkan patung pahlawan Nasional Kiai Haji Ahmad Hanafiah

Boleh kubilang aspal jalanan Lintas Timur Sumatera di Lampung Timur ini sangat mulus.

Jalan Lintas Timur Sumatera kayak aspal sirkuit motogp ya….
Tugu Selamat Jalan Kecamatan Sukadana kulewati di menit ke-175

Aku berganti memasuki Kecamatan Way Jepara. Dan yang kutunggu tiba……ya, Aku ingin melihat bagaimana aktivitas pasar Tridatu. Pasar yang terkenal di dunia maya karena sering disebut para traveler ketika menuju ke Way Kambas.

Pasar Tridatu di menit ke-180.

Aku tak akan berbelok kekiri dari pasar ini untuk menuju ke Way Kambas. Aku lebih memilih lurus untuk menambah kembali referensiku dan kubagikan ke kalian.

Ya….Aku lebih memilih menuju Pasar Gunung Terang (sayang Aku lupa membuatkan fotonya untuk kalian) yang berjarak 5 menit berkendara motor lalu baru berbelok ke kiri.

Belokan setelah Pasar Gunung Terang, masuk gerbang Desa Labuhan Ratu VI

Semakin dekat dengan Pusat Latihan Gajah Way Kambas, Aku memasuki desa Labuhan Ratu VI

Jalanan sepanjang Desa Labuhan Ratu VI
Rest Area Labuhan Ratu di ujung desa

Rest area ini banyak digunakan para wisatawan yang akan menuju atau bahkan telah usai dari wisata PLG Way Kambas.

Karena rest area ini tepat berada dipertigaan di pinggiran Taman Nasional Way Kambas, maka aku mengikuti petunjuk arah dengan berbelok ke kanan.

Perhatikan tanda panah….belok ke kanan menyusuri jalanan yang membelah Taman Nasional Way Kambas
Jalan sepanjang Taman Nasional Way Kambas

Disepanjang jalan TNWK, Aku sesekali menemukan mobil para wisatawan berhenti untuk sekedar memberi makan kepada sekawanan monyet liar yang sering melintas jalanan.

Akhirnya penantianku tiba….MENIT KE 205 Aku tiba di gerbang Pusat Latihan Gajah, Taman Nasional Way Kambas.

Bahagia banget sampai di Gerbang Pusat Latihan Gajah Way Kambas.

AMANKAH perjalananku?…..Boleh kusimpulkan sangat aman dan tak ada nuansa kriminalitas disini. Hanya pesan dari para temanku yang asli Lampung….Jangan pulang melebihi jam 6 sore.

Bahkan Aku meninggalkan TNWK tepat pukul 14:00

Jadi sudah pernahkan Kamu melihat gajah liar?

Atau lihat gajah mandi?….porno ih

Atau lihat gajah main bola?….atau main holahop?

Makanya dong ke Way Kambas……… >

8 Tourist Attractions in Belitung

Friend: Hi Donny, Let’s travel to Belitung!….me : It’s high season, bro….#lazymood

Friend: There is cheap ticket, Donny…. me : what’s the ticket kind?….#stillstandardmood

Friend: Donny, it’s free….me : Whaaaattt?….#turnedawayfromlaptop

Friend: “Accommodation is also free”…. me : shock and very surprised….#closelaptop

It’s crazy moment….I was packing right away.

I didn’t realize that I had reached sales target which set by my office and was rewarded with a trip to Belitung. And a few months earlier, Jokowi (Indonesia President) decided Belitung as one of 10 leading tourism destinations in Indonesia

I was lucky.…

The departure day arrived and “The Green Airline” was landing me at Tanjung Pandan.

Because of free trip, I didn’t need to be a backpacker. Enough to sweetly sat and I was picked up by a blue tourism bus. This tour is hosted by the Belitung Nusantara Tour.

Also itinerary, I didn’t need to make it because it has been made by my office.….very nice moment. This time, I wasn’t an backpacker. Right now, I was Donny the luxury tourist.

Bus directly went to Tanjung Kelayang Port which was located in 30 km north of H.A.S Hanandjoeddin Airport. Looks like, I would go straight to sea tourism through this port. Using a life jacket, I immediately sailed to the main destinations in Belitung

This is it:

1.Batu Berlayar Island

Very beautiful … Granite rocks towering above soft sand island. Combined with clearly blue sea water, making this island as perfect opening session in my trip.

It only takes 15 minutes from Tanjung Kelayang pier. Climbing the granite stone is something which I had to do to marking that I’ve been here. It’s easy to find starfish and small hermit crab which slip between large granite rocks.

Nice….

So named as Batu Berlayar because from a distance, It like a sail

2. Lengkuas Island

At the beginning of trip, I didn’t understand why bus driver bought so many biscuits before arriving at Tanjung Kelayang port. I thought it was for his snack (but still suspicious… It’s very much for snacking….maybe for lunch also….hahaha).

Apparently, I found the answer here. biscuits was bought for feeding fishes around Lengkuas island.

You have to come here, guys….snorkling like I feel….#alwayspray4u


Snorkling and feeding the fish … Wadauw.

You also have to visit the Dutch-made Lighthouse in 1882 on Lengkuas Island. The 62-meter in high and 18-floors lighthouse can be climbed by tourists (I hear now, it cann’t be climbed again because of an official regulation regarding the prohibition of climbing lighthouses by Transportation Ministry).

Taking off footwear and making sure legs are completely dry are a must before climbing lighthouse. Made from solid metals with relatively thick paint, it shows perfect maintenance of lighthouse.

The tiredness of climbing lighthouse will pay off with a beautiful ocean top view, like heaven that I rarely find with my naked eye.

3. Kepayang Island

From Lengkuas Island, trip continues to Babi Island-babi is pig in English– (another name from Kepayang Island). The island is protected with giant granite rocks. It famous for its turtle conservation activities in Belitung, Kepayang Island has an important role.

You can take a freshwater bath with a very clean public bathroom. Bathrooms managed by a restaurant. This restaurant is also be place where tourists have a lunch after snorkling on Lengkuas island.

4. Tanjung Tinggi Beach

Flanked by Tanjung Kelayang and Tanjung Pendam, making this beach very quiet. Blue sea water that doesn’t rip much, makes it very suitable to calm down. Granite expanse is more massive than three previous islands that I visited, making Tanjung Tinggi beach have a champion view.

Also known as Laskar Pelangi beach by public because it was used as one of locations for taking scenes in phenomenal film by Riri Riza.…Laskar Pelangi.

5. Kaolin Lake

Do You know Kaolin, right? … it’s mineralized clay for cosmic and toothpaste raw materials.

This Kaolin lake is a lake which is formed by accident.…Starting from Kaolin mining remains, it make large holes. And finally, after mining was inactive, holes were filled with rain water. Hence Kaolin lake is formed.

Because soil colour is white and water in the lake reflects a turquoise colour, it makes beautiful stretch of Kaolin lake.

This lake is also one of spots in Laskar Pelangi movie scene.

Cool…..

6. Kota Gantung Muhammadiyah Elementary School

Did You ever seen “Ikal” (main role of Laskar Pelangi) daily activities when studying at school?.

I visited replica of that Muhammadiyah Elementary School. Based on information that I heard, the real elementary school building has collapsed. So for filming purposes, its replica was built. And the replica still stands today.

The brilliance of elementary school buildings is indeed made intentionally to describe the real condition.

Very inspiring……

7. Andrea Hirata Word Museum

Do You know him?

The native son of Belitung who write Laskar Pelangi novel which it transformed in three sequels of film.

This museum is a literary museum and the only one in Indonesia. No need to pay to visit it. In accordance with its famous novel, room name in the museum was named according to characters names in Laskar Pelangi film i.e “Ikal” Room, “Lintang” Room and “Mahar “Room.

Come here then you will be amazed by words which was made by Andrea Hirata.

8. Kampung Ahok

For this figure (Ahok), everyone in Indonesia knows. Who doesn’t know Ahok as Jakarta’s phenomenal Governor.Spend your time to visit his house if you travel to Belitung. Even though you can’t enter into his house, at least you can imagine how Ahok’s childhood lived in his village.

If you go to Kampung Ahok, take time to stopby at the Daun Simpor Gallery. You can buy the original East Belitung batik cloth which were directly produced by gallery.


Daun Simpor Gallery

Very grateful to be able to visit Belitung. One unexpected thing, can get free trip to one of my bucket lists .

Melongok 8 Destinasi Wisata Belitung

Ngetrip ke Belitung yukks!….tar deh, high session….#masihsenewen

Tiket murah nih, Don…..tiket mana tiket?….#moodstandard

Don, gratisan nih…..Appaaahhhh?….#berpalingdarilaptop

Akomodasi juga free nih….melotot mulut nganga…..#lemparlaptop

Gile brur….Aku langsung packing.

Ga nyadar kalau hari itu Aku mencapai target penjualan yang ditetapkan kantor dan dihadiahi trip ke Belitung. Padahal pakdhe Jokowi baru beberapa bulan sebelumnya menetapkan Belitung sebagai 1 dari 10 destinasi unggulan pariwisata Indonesia

Beruntungnya Aku….

Hari yang ditentukan tiba dan maskapai hijau itu mendaratkanku di Tanjung Pandan.

Karena ini free trip, Aku ga perlu ngeteng kesana kemari. Cukup duduk manis, Aku dijemput bus pariwisata warna biru ukuran tigaperempat. Tur ini dihandle oleh Belitung Tour Nusantara.

Itinerary pun ga perlu bikin sendiri karena sudah dibuatkan oleh kantorku…..wah enak ini. Kali ini Aku bukan seorang backpacker….Kini, Aku Donny si Piknik-er.

Bus langsung menuju ke Pelabuhan Tanjung Kelayang 30 km di utara Bandara H.A.S Hanandjoeddin. Sepertinya Aku akan langsung menuju ke wisata laut melalui pelabuhan ini. Menggunakan life jacket, Aku segera berlayar menuju ke destinasi utama di Belitung.

Ini dia:

1.Pulau Batu Berlayar

Indah banget…..Batuan granit menjulang tinggi di atas pulau pasir yang lembut. Dipadukan dengan biru jernihnya air laut, menjadikan pulau ini menjadi pembuka trip yang boleh kubilang sangat perfect.

Hanya perlu waktu 15 menit dari dermaga Tanjung Kelayang. Menaiki batu granitnya menjadi hal yang harus kulakukan untuk menandai bahwa Aku pernah kesini. Sangat mudah menemukan bintang laut dan kepompong laut kecil yang menyelinap diantara bebatuan granit besar.

Nice….


Dinamakan demikian karena dari kejauhan mirip layar perahu

2. Pulau Lengkuas

Di awal perjalanan, Aku tak mengerti kenapa sopir bus itu membeli begitu banyak kue kering sebelum sampai di pelabuhan Tanjung Kelayang. Aku berfikirnya itu buat cemilan si sopir (tapi masih curiga….kok banyak banget….apa sekalian buat makan siang….hahaha)

Ternyata disini kutemukan jawabnya. Roti kering itu digunakan untuk wisata memberi makan ikan laut di sekitar pulau Lengkuas.

Kamu harus kesini juga guys……merasakan snorkling seperti yang kurasakan….#kudo’aindeh


Snorkling dan memberi makan ikan…….wadauw.

Kamu juga harus mengunjungi Mercusuar buatan Belanda tahun 1882 di Pulau Lengkuas. Mercusuar 18 lantai setinggi 62 meter ini boleh dinaiki wisatawan (dengar kabar sekarang tak boleh dinaiki karena edaran resmi perihal larangan naik mercusuar oleh Kementrian Perhubungan).

Melepas alas kaki dan memastikan kaki benar-benar kering menjadi keharusan sebelum menaiki mercusuar. Berbahan besi-besi yang kokoh dengan cat yang relatif tebal menunjukkan perawatan yang sempurna dari mercusuar.

Rasa capek menaiki mercusuar akan terbayar dengan top view lautan yang indah, bak syurga yang jarang kutemukan dengan mata telanjang.


3. Pulau Kepayang

Dari Pulau Lengkuas, trip berlanjut ke Pulau Babi (panggilan lain dari pulau Kepayang). Pulau yang dilindungi dengan batu-batu granit raksasa. Terkenal dengan kegiatan konservasi penyu-nya di Belitung menjadikan pulau Kepayang memiliki peran penting.

Kamu bisa mandi air tawar dengan kamar mandi umum yang sangat bersih. Kamar mandi yang dikelola oleh sebuah rumah makan. Rumah makan ini pula yang menjadi tempat para wisatawan menyantap makan siangnya sehabis snorling di pulau Lengkuas.

4. Pantai Tanjung Tinggi

Diapit oleh tanjung Kelayang dan Tanjung Pendam  menjadikan pantai ini sangat tenang. Air laut nan biru yang tak banyak beriak, menjadikannya sangat cocok untuk menenangkan diri. Hamparan batu granit yang lebih masif dari dua tiga pulau sebelumya yang kukunjungi, menjadikan pantai Tanjung Tinggi memiliki pemandangan juara.

Dikenal juga dengan pantai Laskar Pelangi oleh khalayak umum karena pernah digunakan sebagai salah satu lokasi pengambilan adegan dalam film fenomenal karya Riri Riza….Laskar Pelangi.

5. Danau Kaolin

Kamu tahu Kaolin kan?….itu tuh tanah liat bermineral untuk bahan baku kosmestik dan pasta gigi.

Danau Kaolin yang ini adalah danau yang dibentuk tanpa sengaja guys…..Bermula dari sisa penambangan Kaolin yang meninggalkan lubang-lubang besar. Dan akhirnya setelah tidak aktif, lubang-lubang tersebut terisi oleh air hujan. Makanya terbentuk danau Kaolin.

Karena warna tanahnya putih dan air dalam danau memantulkan warna biru kehijauan menjadikan hamparan danau Kaolin menjadi indah.

Danau ini juga menjadi salah satu spot dalam adegan film Laskar Pelangi.

Keren ya…..

6. SD Muhammadiyah Kota Gantung

Pernah melihat keseharian “Ikal” (Peran utama Laskar Pelangi) belajar di sekolah.

Aku mengunjungi replika SD Muhammadiyah itu. Berdasar informasi yang kudengar bahwa bangunan SD yang sesungguhnya sudahlah runtuh. Maka untuk keperluan syuting, dibangunlah replika SD tersebut. Dan replikanya masih berdiri hingga saat ini.

Kereyotan bangunan SD ini memang dibuat dengan sengaja untuk menggambarkan kondisi yang sesungguhnya.

Inspiratif banget ya……

7. Museum Kata Andrea Hirata.

Tahu kan siapa dia?

Putra asli Belitung yang melahirkan novel Laskar Pelangi yang kemudian bertransformasi dalam tiga sekuel di layar televisi.

Museum ini menjadi museum sastra dan satu-satunya di Indonesia. Tak perlu merogoh kocek untuk mengunjunginya. Sesuai dengan novelnya yang terkenal, nama ruangan dalam museum pun dinamakan sesuai dengan nama-nama tokoh dalam film Laskar Pelangi yaitu Ruang Ikal, Ruang Lintang dan Ruang Mahar.

Datanglah kesini maka Kamu akan terkesima dengan kata-kata yang dilahirkan oleh Andrea Hirata.

8. Kampung Ahok

Kalau figur ini, semua orang se-Indonesia pasti tahu. Siapa yang ga kenal AHOK sang Gubernur Fenomenal itu. Sempatkan mengunjungi rumahnya jika berwisata ke Belitung. Walau tidak bisa memasuki rumahnya setidaknya Kamu bisa membayangkan bagaimana masa kecil Ahok tinggal di kampungnya.

Jika ke Kampung Ahok sempatkan juga mampir di Galeri Daun Simpor. Kamu bisa membeli kain batik khas Belitung Timur yang diproduksi langsung oleh galeri tersebut.


Galeri Daun Simpor

Bersyukur sekali bisa mengunjungi Belitung. Satu hal yang tak terduga, bisa ngetrip gratis ke salah satu bucket list ku ini.

Bagus Bay Homestay, Toba Lake

I jumped into homestay room through the window after a receptionist was unable to opened the door. I successfully entered into room and just by “one-clicked”, the door opened.

Choosing a hotel is about style. But for me, a dormitory is still as first priority. Keeping the budget for continuing a dream…. is traveling… #bigdreamer

After stayed in a same dormitory in Medan, I met Eloise again in Toba Lake. I showed my dance with Si Gale-Gale doll to her. She laughed when saw my dance as amateur. She told a lot about her trip to Toba Lake from Medan, He felt uncomfortable when seeing many men smoked on the bus while there were children in it.

Fatigue made me fell asleep until 8pm. Luckily, the homestay had hot water in the shared bathroom. Towards the lobby & restaurant, I enjoyed the night by seeing a live accoustic and drank a bottle of coca cola.

I looked at Eloise in the corner and talked to the staff while pointing at the map. I thought she was preparing for her trip tomorrow. I saw a long-haired American who always added his beer bottle. I never thought he would be my room mate at a dormitory in Bukittinggi 2 days later. In Bukittinggi, I knew him well as Noah, a Californian mining engineer.

Knowing my presence, Eloise approached and sat in front of me, asking for my plan tomorrow and how to executed it. I explained in as much detail as possible and it seemed like She was interested and at the end of the conversation he decided to joined with me to rented a motorbike and explored Samosir Island together.

A vegan and doesn’t consume an alcohol. Naturally he slept faster that night.

The homestay staff suggestion drove me to a house that located at opposite the homestay to rented a motorbike for USD 4 for my trip tomorrow. I was served with hot tea and talked with the owner for several minutes after she knew that my house location in Jakarta was very near with her daughter house. Evidently her daughter lived in Jakarta too.

Morning Samosir……                                                                                               

All guests haven’t woken up, I’ve been sight seeing the morning busyness in Toba Lake. Students joked on their trip to school, many people jogged in the morning, some residents feed their pets and young people cleaned up the bars after last night parties.

I found the highest street in Tuk Tuk area to seeing the sunrise freely. Majority edges of lake which had became hotel areas required me to enjoyed the sunrise in my own way.

I also took the time to using the homestay facilities. circling the volleyball field and sat in the garden.

Just ate dried onde-onde (Indonesian originl food) that I bought yesterday made a free breakfast that morning.

Precisely at 7 o’clock, I took a rented motorbike. The new motorbike without license plate made me a little worried if met police there. Motorbike owner assured me, “if you were checked by police, just said that the motorbike belonged to your homestay, the police would know that you was a tourist, and moreover you was riding a motorcycle together with Australian girl” …. So I didn’t need worry.

Let’s go explored Samosir.

Jet Airways 9W275 dari Dhaka ke Mumbai (DAC-BOM)

Jet Airways adalah airlines ke-19 yang pernah kunaiki selama menjadi backpacker. Maskapai biru kuning ini adalah maskapai terbesar kedua India dan sebagian kepemilikannya dipegang oleh Etihad Airways dari Uni Emirates Arab (UEA). Dan penerbangan Jet Airways ini adalah kali kedua Aku menggunakannya. Penerbangan perdanaku bersama Jet Airways adalah saat terbang dari Kathmandu, Nepal ke New Delhi, India pada 4 Januari 2018.

Jet Airways 9W275 ini adalah penerbangan terjadwal Rabu, 2 Januari 2019. Ticket Kuissued 7 bulan sebelumnya, tepatnya pada 26 Mei 2018. 

MUMBAI….adalah daya tarik yang membiusku untuk rela menyinggahinya sebelum menuju Colombo, Sri Lanka. Aku selama ini tak pernah percaya akan berita “miring” tentang India….Buatku, tanah Mahabharata ini memiliki sisi eksotisme tersendiri yang selalu tak terlupa. Eksotisme yang bisa diukir di hati dan mencemar otak ketika meninggalkan negeri ini.

Kembali ke penerbangan Jet Airways,

Setelah melewati konter imigrasi Shahjalal International Airport, Dhaka-Bangladesh, Aku hanya perlu melewati sebuah hall kecil tempat para penumpang menunggu sebelum masuk ke Gate.

menuju gate 11

Sebelum masuk ruang tunggu, Aku dihadang oleh X-ray checking di depan gate:

mengular

Nah ini uniknya Jet Airways, setelah melewati x-ray checking, cabin baggage penumpang masih harus dibuka dan diperiksa kembali. Terasa sangat ketat. Mengingatkanku akan pemeriksaan cabin baggage di depan pintu pesawat Jet Airways saat meninggalkan Kathmandu menuju New Delhi pada Januari 2018 silam…..lucu ajah….hihihi

ituh tuh….meja pemeriksaan cabin baggage

setelah lolos pemeriksaan cabin baggage maka penumpang baru bisa duduk manis di ruang tunggu gate 11:


Unik banget kelakuan para penumpang India dan Bangladesh…

Setelah 20 menit menunggu, akhirnya Aku mulai boarding.

Ngintip bagian depan pesawat….menjadi ritualku sebelum terbang.

Boarding melalui aviobridge dan mencari tempat dudukku di bangku nomor 37F….mayan deket jendela.

inilah penampakan interior Jet Airways Boeing 737-900 ER

Mau lihat penampakanku yang tak mandi sejak 24 jam sebelum terbang. Nih…hahahaha bau:

Penerbangan ini berlangsung selama 3 jam 25 menit. Selama penerbangan, Aku disuguhi Non Vegetarian Meal. Aku ditawari pramugara veg or non veg di pesawat karena lupa memilih makanan saat issued tiket.  Setelah kubuka isinya nasi beserta ayam kari khas India….maknyus.

Paras pramugari pramugara muda nan elok khas India menjadi pemandangan yang membumbui penerbanganku kali ini.

cantik ga?

Di awal penerbangan meninggalkan Dhaka, pemandangan diluar jendela pesawat terkesan biasa.  Aku hanya khusyu’ membaca JetWings yang merupakan inflight magazinenya Jet Airways.

Tetapi memulai masuk ke 2,5 jam penerbangan, Aku disuguhkan pemandangan indah nan memikat mata

pegunungan berbatu …dekeeet bingit….seram tapi indah.

         entah itu sungai apa….mengular dan mengkilat indah

Satu jam kemudian pesawat sudah berada di atas kota Mumbai.

Kota Mumbai dari atas

rumah penduduk yang berjubel

Ahirnya setelah 3,5 jam Aku mendarat di Chhatrapati Shivaji International Airport, Mumbai. Oh iya…Bandara ini adalah main hubnya Jet Airways gaes….

Akhirnya Aku menginjakkan kaki di India…..Mau lihat Mumbai ga gaes?….

Bus “SEJAHTERA” from Medan to Toba Lake, North Sumatra

I would tell my journey by Bus “SEJAHTERA” from Medan City to Toba Lake. The distance was 170 km and bus fare was IDR 40,000 (USD 2,85). The special thing wasn’t on got into the bus but in curiosity along the trip to immediately met the largest volcanic lake in the world.

dhazong

Yes that is the Dazhong Backpacker’s Hostel lobby….Bored.… became a first guest who woke up on early morning, but my plan failed to catched the first departure Bus “SEJAHTERA” on 6 am. One hour pacing, I made noisy sound with a hope that hostel owner would get up. Starting by pushed bell many times at reception desk or got in and out the door so the “WELCOME” sound sensor rang. Crazy activity aimed to got back my deposit money in hostel.

6:10am He woke up.…but, I didn’t immediately get GORIDE (online base transportation in Indonesia) because of a weak signal, I decided to got close to center of Little India area, precisely at Shri Mariamman Temple. Around 6:34am GORIDE picked me up. Didn’t breakfast yet I immediately went up, I would definitely arrive at Amplas Terminal 5 minutes before bus departed. It was true that GORIDE hadn’t entered yet into terminal. The bus looked out from terminal, I rushed down from GORIDE and waiting for bus to approached me.

Here, I got a photo of Amplas Terminal on a day before when I arrived from Kualanamu Airport:

amplas

10 minutes into bus, drizzle turned into heavy rain. This economy bus often stopped for raising passengers before entering into highway. Rain requires all windows to be closed. It was the challenge.… how to set my breath so didn’t inhale much smoke along the way. With closed windows and many passengers smoked, when they finished one cigarette then they would smoke other ones.…crazy.

When starving, no one food hawker came into bus. I was only occasionally chatting on Facebook Massanger with “The Beauty” Eloise who kept asking how I was going to Toba Lake, She was an Australian solo traveler who met me at dormitory in Medan City. She would go to Toba Lake in the day by copying what I did. Also, She asked where I got a guesthouse in Toba Lake for IDR 60,000 (USD 4,3)… Later I would tell to you how finally we were both riding a motorcycle on exploring Samosir island.

bus sejahtera

Noisy sound of worn wipers together with Batak songs accompanied me to enjoyed view of streets, villages, and oil palm plantations.

At 11:25 my eyes were stunned on appearance of wide waters after bus descended a ridge somewhere. Yesss … it was Toba Lake … It was cool.

Driver’s change to bus return trip to Medan was did before arriving at Tigaraja Ferry Port. I almost went too far from drop point because bus conductor didn’t tell me where the bus was, I just monitored “Your Position” on Google Maps. It looked like I stayed away from Tigaraja Port. I decided to get off from bus and walked in a drizzle to port.

Didn’t want to lost the moment of photo hunting along Tigaraja Port then I bought umbrella for IDR 50,000 (USD 3,5) in the market around the port.

tigaraja

Several corners of Tigaraja Port

Toba Lake … I came!

Cilacap Main Square, Indonesia

In Indonesia, Main Square (Indonesian Language name it as “Alun-Alun”) is always identically with downtown and government offices. And will usually be a landmark for the region concerned.

Similarly with Cilacap Main Square. I will dissect what’s in this main square.

Come at night to captures the beauty of Cilacap Main Square.

1. Fisherman Monument 

This monument shows the statue of a fisherman couple who are raising wijayakusuma flower. precisely located in front of the Main Square courtyard. At night, the fountain under it will emits various colors rotately so we can enjoy the blend of its beauty from Main Square courtyard.

Air Mancur

This monument is located on the protocol street i.e Jenderal Sudirman Street and becomes the center of 3 way intersection. When saturday night arrives, the traffic flow along this monument will be closed and will become a night tourist spot for foreigners aand Cilacap townspeople.

2. Jami’ Mosque Darussalam 

The interesting thing from this jami mosque is its minaret. Like in the fountain of Fishermen Monument, the mosque minaret also emits very harmonious colors with Fisherman Monument ones.

Located to the west of Main Square and flanked by 2 main roads i.e Jenderal Sudirman Street and Masjid Street.

Masjid Jamie

The lower chamber of the minaret is a radio station i.e 107.2 Radio Da’wah Daarussalaam FM Cilacap.

3. Cilacap Regent Office

Whereever Main Square location then that is where the government office is located. Located to the north of Main Square, the Regent’s Office has large gates and yard before actually entering the main office building.

Kantor Bupati

3. Cilacap Penitentiary

Located on Mataram 1 Street, this building is a Penitentiary Class IIB  with maximum capacity of 500 prisoners.

Lapas Cilacap

At night, the Penitentiary is very quiet and strangely horrified when I lingered in front of it.

4. Cilacap Judiciary

I was overlooked to captured this object because I thought there wasn’t more buildings in Main Square after captured Penitentiary. The building itself is flanked by Jenderal Sudirman Street and Mataram 1 Street, precisely at right front of Main Square.

5. The Park Fountain

Located opposite Jenderal Sudirman Street, in front of the Main Square courtyard. This fountain is located inside a park behind the CILACAP BERCAHAYA lighting board.

Air Mancur Warna

The color change in the fountain makes the park look very beautiful.

Well …. If you go to Cilacap, visit Main Square for culinary tour and enjoy the light party around it.