Hukum Syariah di Balik Rumah Singgah Tuan Kadi

<—-Kisah Sebelumnya

Aku mulai meninggalkan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Tunjuk Ajar Integritas dengan berjalan kaki. Menyusuri Jalan Wakaf, aku perlahan mendekati seorang polisi lalu lintas yang sedang mengatur sebuah perempatan. Tak canggung, aku memanggilnya ketika dia masih membunyikan peluit mengikuti kedipan lampu hijau yang otomatis menggerakkan puluhan kendaraan untuk melintas perempatan itu.

Tak yakin menjawab pertanyaanku, dia berteriak kepada koleganya di pos. Setelah temannya merentangkan tangan sejajar jalan dan diikuti oleh telapak tangan yang membelok ke kanan maka polisi muda ini sangat yakin memberitahu arah terdekat menuju Sungai Siak kepadaku.

Hotel Mutiara Merdeka di Jalan Jembatan Siak I.

Menikmati satu bagian dari Sungai Siak saja, mampu membuatku kagum, hal ini tak lepas dari fakta sejarah dibalik aliran airnya. Siak adalah nama kesultanan yang pernah berdiri di badan sungai ini. Andai aku bisa merekonstruksi sejarah perjalanan Kesultanan Siak Sri Indrapura yang pernah berjaya itu, tentu akan menyempurnakan petualanganku di Pekanbaru.

Berlama-lama di atas Jembatan Siak I, sejauh tangkapan mata memandang, terlihat jelas Jembatan Siak III tepat di depanku dan membayang di belakangnya adalah Jembatan Siak IV (lebih dikenal dengan nama Jembatan Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah) yang belum selesai konstruksinya. Sementara dari posisi berdiri, aku memunggungi Jembatan Siak II.

Sungai Siak yang dahulu dikenal dengan nama Sungai Jantan.

Warna air cokelat cerah dan lebar sungai yang merepresentasikan kegagahan Sungai Siak disempurnakan dengan hijaunya badan sungai yang menyejukkan siapa saja yang berada di tepian. Secara geografis, sungai ini melewati Kabupaten Rokan Hulu, Bengkalis, Siak dan Kota Pekanbaru.

Selanjutnya, aku terus menyusuri jalan kecil di pinggiran sungai hingga sampai pada sebuah taman terbuka tepat di bawah jembatan Siak III yang lebih dikenal dengan nama Jembatan Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah. Para encik dan puan tampak riang bercengkerama dengan teman atau pasangannya menikmati damainya suasana sekitar sungai. Di sisi seberang, jelas terlihat kesibukan Kantor Kepolisian Air Polda Riau. Terlihat dua kapal patroli cepat bersandar di tepinya.

Riverside park di bawah Jembatan Siak III.

Sementara bersebelahan dengan riverside park tampak sebuah rumah panggung dengan warna dominan kuning muda. Dengan pelataran rumput bergradasi hijau dan keramik berpola bujur sangkar hitam-oranye yang di ujungnya dibatasi musholla dan area pantau sungai. Pelataran ini dikenal dengan nama Taman Tuan Qadhi.

Rumah Singgah Tuan Kadi.
Taman Tuan Qadhi.

Tuan Kadi/Qadhi adalah gelar yang ditabalkan Sultan kepada seseorang yang ditunjuk sebagai penasehat dalam hukum syariah Islam (Nasyih) serta berperan sebagai hakim munaka’ah dalam urusan pernikahan dan pembagian tarakah pusaka di wilayah Kesultanan Siak.

Setelah pendudukan Kolonial Belanda, gelar tuan Kadi/Qadhi disematkan kepada Ketua Kerapatan Syariah Kesultanan Siak. Rumah ini sendiri adalah milik Tuan Qadhi Haji Zakaria bin Haji Abdul Muthalib yang pernah memegang jabatan itu. Dan pada masanya, rumah ini pernah menjadi tempat singgah Sultan Syarif Kasim II, raja Siak ke-12.

Hhmmhh….Sudah lewat tengah hari, mari kita Shalat Dzuhur……Ikut ke Masjid peninggalan Kesultanan Siak, yuk!

Kisah Selanjutnya—->

Sepasang Bono di Taman Tunjuk Ajar Integritas

<—-Kisah Sebelumnya

Gagal check-in lebih cepat, kuputuskan tiga hingga empat jam ke depan untuk menjelajah area Senapelan, area dimana Kesultanan Siak Sri Indrapura pernah menggapai masa keemasannya. Aku mencoba menapak tilas sejarah kesultanan dengan melawat ke beberapa peninggalannya yang abadi hingga kini.

Atas alasan itu, berangkatlah aku menuju Sungai Siak yang kesohorannya melegenda di Nusantara. Betapa tidak, Sungai Siak pernah menjadi sungai terdalam di Indonesia.

Kawasan Pecinan di Jalan Dr. Leimena masih sepi pagi itu, hanya satu dua mobil melintas. Aku berbelok ke kiri ketika mulai memotong Jalan Ir. H. Juanda dan menemukan area hijau yang tampak mengakuisisi junction area yang dibatasi Jalan Riau dan Jalan Ahmad Yani. Tak jauh, kuperkirakan sekitar setengah kilometer di utara hotel.

Ke kanan: Jl. Ir. H. Juanda, lurus: Jalan Jend. Ahmad Yani dan ke kiri: Jl. Riau.

Taman seluas dua kali lapangan bola ini layaknya taman kota di Jakarta. Memamerkan nameboard dan menyediakan trotoar luas sebagai pembatas antara jalan dan area taman.

Ini dia nama tamannya.

Ruang Terbuka Hijau (RTH) Tunjuk Ajar Integritas merupakan spot playground terkenal di Pekanbaru dan menjadi taman terfavorit bagi warga yang tinggal di area Senapelan.

Tak pelak, di panasnya siang pun, masih ada beberapa keluarga kecil yang membawa anaknya ke taman dan beraktivitas di area bermain pasir yang dilengkapi dengan ayunan (swing seat), tangga naik turun (kids up down stairs) dan prosotan (kids slide) berketinggian rendah.

Sementara beberapa petugas kebersihan taman berkaos panjang warna hijau muda tampak sibuk mencabuti rumput liar, menyiram tanaman dan menyapu setiap sudut taman. Taman memang luas, tetapi kebersihannya tak bisa diragukan.

Menempati bekas kantor Dinas Pekerjaan Umum, dana sebesar delapan milyar rupiah yang telah diinvestasikan dalam pembuatan taman ini tercermin dari lapangnya area dan lengkapnya fasilitas yang disediakan taman.

Di empat pojok taman disediakan kanopi beton dengan atap berbentuk jamur dan sebuah kanopi tepat di tengah taman dengan atap khas Melayu berornamen selembayung.

Di sisi kiri, tampak ruang terbuka melingkar yang ditata layaknya area teater lengkap dengan podium tiga tingkat. Beberapa anak muda tampak terduduk di sebuah kanopi memegang papan skateboardnya masing-masing. Sementara pemilik rental mobil-mobilan berdaya baterai tampak mulai menata mainan sewaannya di area yang lebih rindang.

Jogging track membelah taman.
Area terbuka multifungsi.

Tunjuk Ajar” yang bermakna “Memberikan Teladan” dan “Integritas” yang mewakili sebuah “Sikap Kepemimpinan”, cukup menjelaskan bahwa taman ini adalah wahana untuk mencontohkan integritas dalam kepemimpinan masyarakat. Makna ini dipertegas dengan keberadaan sebuah tugu di salah satu ujung taman.

Tugu Integritas.

Dibangun dan dimiliki oleh Pemerintah Provinsi Riau, taman ini didedikasikan untuk program perlawanan korupsi di Pemerintahan Daerah.

Tugu Integritas menampilkan Bono Sungai Kampar dan Bono Sungai Rokan serta keris Melayu.  Bono merujuk pada ombak yang terbentuk di muara Sungai Kampar dan Sungai Rokan sebagai akibat pertemuan air tawar yang menuju ke laut dan air laut yang menuju ke darat. Sedangkan keris Melayu mendiskripsikan proses penancapan integritas di seluruh lapisan masyarakat.

Tak rugi juga, mampir di sebuah taman yang tak sengaja kutemukan sebelum mencapai tepian Sungai Siak.

Kisah Selanjutnya—->

Dari Hotel Sri Indrayani Petualangan Bermula

<—-Kisah Sebelumnya

Aku masih saja tak bergeming dengan tawaran para sopir taksi, sementara para penumpang Bus INTRA yang lain lebih memilih menggunakan jasa taksi menuju tujuan akhirnya di Pekanbaru.

Beberapa waktu kemudian, dari seberang jalan, pengemudi ojek online melambaikan tangan kepadaku. Tentu dia tahu, aku memakai jaket biru dengan backpack berwarna sama. Aku telah mengirimkan deskripsi itu kepadanya lewat pesan dalam aplikasi.

Asli sini, Bang?”, tanyaku di jok belakang,

Bukan, aku asal Padang, Bang. Mas asli Jawa ya? Suaranya medok banget”, jawabnya balik bertanya

Aku mbiyen kuliah ning Jogja, mas. Sampeyan Jowone ngendi?”, belum juga kujawab, sudah bertanya lagi.

Aku asli Solo, Bang. Orang sini baik-baik kan, Bang?”, aku mulai penasaran.

Warga Pekanbaru kebanyakan perantau Padang, Bang. Tenang, abang kemana aja aman”, ucapnya menenangkan.

Dari artikel yang kubaca setelahnya, memang benar 40% warga kota Pekanbaru adalah para perantau asli Minang. Memang hebat orang Minang ini dalam urusan merantau.

Belum juga pukul 10 pagi, aku tiba.

Hotel bintang tiga yang kupesan melalui Airy Rooms tepat sembilan hari sebelum kedatanganku di Pekanbaru ini hanya berharga Rp. 81.000 per malamnya. Murah, kan?

Aku sengaja memilih tinggal di daerah Senapelan hanya untuk menapak tilas kejayaan Kesultanan Siak Sri Indrapura. Melihat aktivitas perekonomian warga kota, mengingat nama Pekanbaru berasal dari kata Pekan Baharu yaitu sebuah pasar yang dirintis oleh Raja Muda Tengku Muhammad Ali, Sultan Siak ke-5. Boleh dikatakan bahwa daerah Senapelan adalah cikal bakal terbentuknya Kota Pekanbaru yang terlahir sebagai dampak positif berkembangnya ekonomi Kesultanan.

Halaman depan hotel yang berada di tepian Jalan Sam Ratulangi.

Merasa datang terlalu pagi, aku mencoba peruntungan di depan meja resepsionis. Barangkali mereka bisa memasukkanku lebih cepat untuk beristirahat di kamar.

Kamar belum siap, Bang. Abang tunggu aja ya di lobby sampai jam 1”, ungkap pemuda berseragam rapi yang bertugas.

Oh baik, bang. Saya titip backpack saja ya. Saya lebih baik keliling kota dulu, nanti balik lagi pas sudah bisa check-in”, ujarku membalas.

“Oh, boleh bang. Taruh sini saja”, Dia meminta backpack untuk ditaruhnya dibelakang meja.

Bang, ada colokan listrik buat ngecharge HP?”, permintaanku kepadanya

Oh colokan ada di restoran di sebelah kanan lobby. Masuk aja, Bang!”, telunjukknya mengarah pada sebuah pintu.

Meluruskan pinggang sebentar di lobby, aku masih saja menatap bentuk ruang resepsionis yang autentik, kuning emas mendominasi. Tiga atap dengan tiga selembayung di ujungnya. berbentuk tangan menengadah perlambang hubungan erat antara makhluk hidup dan Sang Pencipta.

Selain selembayung, motif layaknya songket khas melayu sangat mempercantik ruangan.

Selepas daya kameraku terisi maka untuk memanfaatkan waktu sembari menunggu waktu check-in, aku mulai menelusuri beberapa jejak Kesultanan Siak yang terepresentasi jelas di sepanjang Sungai Siak, Rumah Singgah Tuan Kadi dan Masjid Raya Nur Alam.

Memasuki twin bed room pada pukul 2 siang.
Kamar hotel yang murah namun mewah bagiku.

Hotel Sri Indrayani awalnya adalah mess yang disewa oleh sebuah maskapai penerbangan untuk para air crewnya sejak 1971. Seiring berkembangnya Pekanbaru, wisma ini menyempurnakan diri dengan bertransformasi menjadi hotel syariah terkemuka di Pekanbaru pada masa perkembangan kota. Letaknya yang berseberangan jalan dengan Kawasan Pecinan juga membuat perkembangan hotel ini berlangsung sangat cepat pada masanya.

Akhirnya menemukan air hangat setelah 38 jam tak mandi.
Taman di belakang hotel berbatasan dengan Jalan Bangka.

Dari hotel Sri Indrayani inilah petualangan mengeksplore Pekanbaru bermula. Saatnya berkeliling kota mengenal Ibukota Provinsi Riau ini.

Kisah Selanjutnya—->

7 Destinasi Wisata Pekanbaru

<—-Kisah Sebelumnya

Memasuki Pekanbaru, semua penumpang Bus INTRA diturunkan di sebuah bangunan warung non-permanen berbahan kayu warna hijau. Memasuki bagian belakang warung makan, deretan panjang kamar mandi sederhana memudahkanku untuk berbasuh muka dan besiap diri untuk mengeksplorasi “Kota Madani”.

Memasuki jalanan kota untuk pertama kalinya diatas jok ojek online, aku mulai menyimpan rasa penasaran tentang apa saja yang bisa kukunjungi di kota. Hingga akhirnya aku tiba di lobby Hotel Sri Indrayani lebih cepat dari jadwal check-in. Setelah mengisi daya kamera dan smartphone hingga beberapa cell bar di restoran hotel, aku segera mengayun langkah ke beberapa spot terdekat.

  1. RTH Tunjuk Ajar Integritas

Tak jauh, setengah kilometer di barat laut hotel ada sebuah taman yang cukup terkenal di Pekanbaru. Adalah Ruang Terbuka Hijau Tunjuk Ajar Integritas yang menjadi play ground favorit bagi warga kota yang pembangunannya didedikasikan untuk program perlawanan korupsi dalam pemerintahan daerah.

Tugu Integritas dalam taman.

Belum juga tengah hari, udara panas mulai terasa. Memaksaku untuk berteduh di tepian taman. Masih sepi pengunjung, mengingat aku tak berkunjung saat weekend.

2. Sungai Siak

Melanjutkan langkah, aku turun ke Jalan Wakaf sebelum akhirnya dituntun oleh seorang polantas untuk berbelok ke kanan melewati Jalan Jembatan Siak I dan mencapai tepian Sungai Siak.

Mengunjungi Sungai Siak dan membayangkan kejayaan serta kemakmuran Kesultanan Siak Sri Indrapura yang pernah berdiri di tepian sungai adalah hal yang menarik minatku untuk menjadikannya sebagai salah satu destinasi kali ini

Panorama dari Jembatan Siak I

3. Rumah Singgah Tuan Kadi

Masih berkelana di sepanjang sungai, kini aku menuju ke Jembatan Siak II. Khalayak menyebutnya sebagai Jembatan Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah, diambil dari nama Sultan ke-5 Kesultanan Siak.

Tertegun memandangi bangunan di bawah jembatan, rumah asli sejak era keemasan Kesultanan Siak.  Situs pariwisata ini dikenal dengan nama Rumah Singgah Tuan Kadi. Kadi atau Qadhi sendiri adalah gelar tersohor pada masa kesultanan. Pemilik awal rumah ini adalah Qadhi Haji Zakaria bin Haji Abdul Muthalib yang pernah menjabat sebagai Ketua Kerapatan Syariah Kesultanan Siak.

Pernah menjadi tempat singgah Sultan Syarif Kasim II, Sultan Siak ke-12.

4. Masjid Raya Nur Alam

Matahari mulai tergelincir dari posisi tertingginya, artinya aku sudah bisa memasuki kamar Hotel Sri Indrayani. Mengambil arah tenggara, aku berniat mampir untuk bershalat Dzuhur di Masjid Raya Nur Alam sebelum tiba di penginapan.

Masjid tertua di Pekanbaru.

Masjid peninggalan Kesultanan Siak Sri Indrapura ini masih berdiri kokoh dengan kubah kuningnya sebagai simbol kebesaran Melayu. Rasa-rasanya, rakyat Pekanbaru pantas berterimakasih kepada Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah, Sultan Siak keempat yang mendirikan masjid megah ini.

5. Masjid Agung An-Nur

Panas kota mulai mereda apalagi aku sudah selesai berbasuh badan di hotel. Selesai menyantap makan siang maka aku melanjutkan eksplorasi. Setelah mengunjungi masjid tertua, kini aku menuju ke masjid termegah di Provinsi Riau.

Kelelahan telah berjalan hampir 4 km, aku memilih menggunakan ojek online saja menuju Masjid Agung An-Nur, dua kilomoter ke tenggara.

Taj Mahalnya Indonesia.

Masjid Agung An-Nur sendiri telah menjadi icon religi Provinsi Riau sejak tahun pertama dibangun, yaitu tahun 1963. Pastikan kamu tak terlewat mengunjunginya jika berada di Pekanbaru.

6. RTH Putri Kaca Mayang

Berikutnya, aku bergegas menuju ke pusat kota. Pilihanku berikutnya adalah Ruang Terbuka Hijau (RTH) Putri Kaca Mayang. Terletak di sebuah sisi jalan protokol kota Pekanbaru, taman ini terlihat lebih rapi dari taman pertama yang ku kunjungi.

Nama taman diambil dari nama seorang putri dalam dongeng yang melegenda di masyarakat.

Waktu yang sudah menggelincir ke arah sore, satu persatu warga terlihat mendatangi taman untuk sekedar melepas penat atau mengajak anak-anak untuk menghabiskan waktu dengan bermain di sekitar taman.

7. Jalan Jenderal Sudirman.

Seperti nama jalan yang sama di Jakarta, Jalan Jenderal Sudirman di Pekanbaru juga memainkan peran sebagai jalan protokol di kota Pekanbaru.

Sebagai jalan utama tentu banyak hal yang bisa dinikmati di sepanjangnya. lebarnya ruas jalan dengan sibuknya lalu lalang kendaraan dihiasi oleh arsitektur bangunan-bangunan mentereng di kedua sisinya menjadikan Jalan Jenderal Sudirman menjadi spot fotografi yang layak dikunjungi.

Perpustakaan Soeman HS, Menara Lancang Kuning, Kantor Gubernur Riau dan Menara Dang Merdu adalah arsitektur yang tampak mencolok dan berbeda dari bangunan-bangunan lain di sepanjang Jalan Jenderal Sudirman.

Jalan berhiaskan asmaul husna di sepanjang tepinya.

Yuk, berlibur ke Pekanbaru.

Kisah Selanjutnya—->

7 Destinasi Kilat Pematang Siantar

<—-Kisah Selanjutnya

Duduk di ruang tunggu, tatapku terus tertuju pada jam tangan dan halaman kantor bus INTRA….Tak pernah melihat kapan dia tiba, dari ujung halaman sebelah kanan dia berteriak memanggilku. Senangnya hati, bertemu teman lama.

Kebaikan dan kesederhanaannya masih sama seperti Bang Erwin yang kukenal di Kuala Lumpur 2013 silam. Kembali teringat ketika dia menyodorkan sekotak kue berwarna merah di atas Hop on Hop off Kuala Lumpur. Dan kini dia menghadiahkan waktunya selama empat jam kepadaku untuk menikmati Pematang Siantar.

Ayo bang, naik!”, katanya sambil memutar tas punggungnya ke arah depan. Sekejap aku meluncur di atas motor bebek Jepang keluaran era 90-an menuju kediamannya. Dia harus mengganti seragam dinas pengajar yang dipakainya sebelum berkeliling kota.

1. Warung Miso Pematang

Makan siang dulu yuk, bang! Ada yang spesial buat, abang. Yukkss!”, senyumnya menghiraukan penolakanku karena dia hanya ingin menjadi tuan rumah yang baik. Menelusuri jalan tikus yang aku tak pernah tahu lokasi persisnya, kurasakan ban belakang yang sedikit oleng. Membuatku yakin bahwa Bang Erwin ini orang yang tulus nan sederhana.

Warung Miso Pematang. Oh, inikah hidangan spesial yang dimaksud?”, gumamku. Bang Erwin bergegas memasuki resto yang berpintu depan di belakang. Sedangkan aku masih saja di pelataran, sibuk menangkap gambar. Enak luar biasa semangkuk Miso itu, campuran mie kuning-putih yang terguyur kuah sop bercampur tahu goreng, hati-ampela dan jamur seharga Rp. 17.000.

Hidangan ditutup dengan es jeruk segar….Hmmmh.
Makanan khas Siantar pertama yang  kucicipi.

2. Pedicab Monument BSA (Birmingham Small Army).

Yuk, kutunjukkan icon Siantar!”, selorohnya sambil menggenjot engkol starter motornya. Kuacungkan jempol sebagai pengganti kata setuju. Menyusuri Jalan Sudirman hingga akhirnya tiba di sebuah tugu bermahkota becak bermotor. Konon kota ini memiliki hampir 1.000 motor perang jenis ini. Oleh karenanya kamu harus mengantri untuk bisa berfoto di depan tugu.

Tokoh utama kali ini.

3. Perpustakaan Umum Sintong Bingei

Tepat di belakang tugu adalah perpustakaan umum milik pemerintah kota sedangkan di seberang kanan adalah Balai Kota Pematang Siantar dimana Sang Wali Kota berkantor.

Perpustakaan Umum Sintong Bingei. Sintong Bingei adalah ayah dari Raja Rokok Sumatera Utara Edwin Bingei Purbo Siboro.

4. Balai Kota

Balai Kota Pematang Siantar adalah bangunan Belanda berusia persis seabad.

Ornamen cicak di sebagian besar gedung-gedung besar di Siantar membuatku mengajukan pertanyaan tentangnya. Bang Erwin menjelaskan singkat bahwa cicak adalah simbol kebijaksanaan dan kekayaan bagi Suku Batak. Orang lokal menyebutnya sebagai Gorga Boraspati.

5. Hangout Area dekat Pedicab Monument

Sementara di sisi kanan tugu adalah deretan kedai kopi yang sepertinya hanya menunggu waktu untuk dipenuhi oleh para kaum millennial kota untuk ber hangout di malam hari.

Sayang aku tak sempat menyeruput kopinya.

6. Taman Bunga Kota Pematang Siantar

Sementara tepat di belakangnya adalah Taman Bunga Pematang Siantar. Sebagai Ruang Terbuka Publik Ramah Anak (RTPRA) menjadikan taman ini menjadi tempat favorit untuk menghabiskan waktu bersama keluarga selepas penat bekerja.

Tempat tepat untuk merayakan weekend para warga kota.

7. Toko Roti Ganda

Bang, sudah sore, ayo kembali ke kantor INTRA!”, Bang Erwin mengingatkanku. Aku melompat ke motor dan bergegas  menuju kantor bus INTRA. Upss….”Kenapa Toko Roti?”, aku curiga.

Jangn Ge eR, aku ga beliin roti buat abang, tapi beli buat keluargaku  di rumah”, dia tersenyum tipis. Aku tertawa terbahak melihat polahnya. Kusempatkan sejenak menikmati etalase dengan aroma harum roti yang menggoda.

Toko Roti Ganda yang legendaris sejak 1979.

Sepuluh menit kemudian, aku sudah berdiri di luar dan menunggunya menuntaskan pembayaran di kasir. Dannnn…..Ditentengnya dua bungkus roti di kedua tangannya.

Nih, buat sarapan besok di perjalanan”, ujarnya sambil menyodorkan sebungkus roti tawar dengan selai srikaya yang katanya terkenal enak. Dilarang menolaknya maka kuterima saja dengan banyak berterimakasih.

Yuk, sekarang beneran ke kantor Bus INTRA dan ga mampir-mampir lagi!”, katanya sambil tertawa. Itulah akhir petualangan kilatku di Pematang Siantar.

Thank You Bang Erwin. See you later.

Kisah Selanjutnya—->

Taksi Hitam dari Toba ke Pematang Siantar

<—-Kisah Sebelumnya

Aku memasuki kamar Eloise untuk mengambil backpack  yang kutitip sejak pagi. Aku check out di pagi hari dan berlanjut mengeksplorasi Samosir seharian bersamanya. Aku berpamitan padanya dan bersiap menuju Pematang Siantar, sedangkan dia masih semalam lagi di Samosir.

Staff Bagus Bay Homestay mengarahkanku untuk menunggu ferry di pelabuhan terdekat. Berbelok ke kiri setelah keluar hotel, beberapa puluh meter kemudian, aku memasuki gang di kiri jalan. Tetap melangkah hingga tiba di sebuah warung, tepat di sisi pelabuhan.

Tigaraja Bang?, tunggu setengah jam ya!”, ucap seorang timer padaku. Setengah jam yang lebih dari cukup untuk menyantap semangkuk mie instan bertopping telur mata sapi seharga Rp. 15.000 di pojok warung.

Ferry terlihat merapat dan sang timer diam menunjuk mukaku, lalu telunjuknya bergeser menunjuk ke arah ferry. Aku faham maksudnya.

Belum juga merapat sempurna, aku melompat ke ferry. Segenap penumpang di deck kiri berteriak. “Awasssss, Banngg!”. Aku melambaikan tangan bak artis. Ternyata kemampuanku bermain perahu motor di Waduk Jatiluhur saat menjadi sales ikan budidaya karamba masihlah mumpuni.

Zoe’s Paradise Hotel (putih) dan Dumasari Hotel (merah) menatapku pergi meninggalkan Samosir.
Menuju Pelabuhan Tigaraja dalam 50 menit.

Pria berjaket jeans biru pudar menatap lekat dari kejauhan ketika aku menuruni ferry. Tak ada jalan lain untuk menghindarinya. Seperti ditunggu seorang preman yang siap menerjangku.

Siantar, Bang. Empat puluh ribu?”, ujarnya sembari membayangi langkahku. “Oh, jasa taksi”, ujarku. Mengejar Bus INTRA yang akan berangkat jam tujuh malam, aku mengiyakan saja. Dan aku dibawa ke kantor Bagus Taxi.

Kebelet pipis tapi tak kebagian toilet, ada yang kelamaan mandi….Asem.
Sopir dan penumpang pun bermusuhan lewat adu bidak kayu.

Sepertinya akulah pengisi terakhir di manifest taksi. Begitu cepat, aku sudah duduk saja di sisi kanan bangku tengah.

Tepat di kiriku, seorang bapak yang gemar merokok sepanjang perjalanan.

Avanza hitam berputar-putar mengukur jalanan untuk menjemput penumpangnya satu persatu. Penjemputan diakhiri dengan satu insiden ketika seorang ibu ketinggalan dompet di kilometer kelima perjalanan kami. Hal menjengkelkan tetapi mampu membuatku tertawa kecil. Tak ada pilihan, taksi berputar balik untuk mengambil dompet si ibu.

Meninggalkan Toba, kebutan taksi memaksaku membuka pejaman mata. Aku diajaknya meliuk-liuk menikmati indahnya pemandangan alam Simalungun. Kebun sawit, hamparan ladang, perbukitan dan lembahnya dilewati satu-persatu. Sesekali si sopir menciptakan humor, salah satunya ketika panik memasang sabuk pengaman yang tak dikenakannya bebarengan dengan penumpang di sebelah, pontang-panting memasangnya, bahkan tak berhasil hingga melewati area operasi polisi….Beruntung tak ditangkap.

Dalam satu jam 20 menit, taksi mulai memasuki tepian kota,kemudian menuju pusat kota melalui Jalan Gereja dan Jalan Merdeka dengan dua tugu sebagai landmark kota.

Tugu Adipura. Siantar pernah 4 kali menyabet penghargaan lingkungan ini.
Monumen Wahana Tata Nugraha era Soeharto, penghargaan atas apiknya tata kelola transportasi.

Bang, begitu sampai Parluasan langsung ke pool aja, hati-hati ya!”, kata Bang Erwin (teman backpacker yang tak sengaja bertemu di diatas Bus HoHo KL 2013 silam). Mungkin dia mengkhawatirkanku memasuki Parluasan yang terkenal dengan premannya. Tapi aku menanggapinya dengan santai karena aku tahu akan diturunkan tepat di depan pool bus INTRA.

Sampai…..

Mari menunggu Bang Erwin menjemputku untuk berkeliling Pematang Siantar sejenak.

Kisah Selanjutnya—->

Lion Air JT 257 from Padang (PDG) to Jakarta (CGK)

Flight route JT 257 (source: https://www.radarbox.com/)

This wasn’t the first time for me to ride Lion Air, I have ridden this airline on its route: Solo-Jakarta, Jakarta-Surabaya, Jakarta-Singapore, or vice versa. However, this was the first time that I have experienced to ride a Boeing 737 MAX 8, a phenomenal type of aircraft, which had been “grounded” since double accidents, the first one was in Indonesia and the second one was in Ethiopia, with the same cause.

I finally managed to explore Minangkabau International Airport in a drizzle, but I’ll tell you later. I still have a repetition adventure to Padang on a business trip in early 2020. So please be patient if you want to peek at the authenticity of Minangkabau International Airport from this travel blog.

Drop Zone in Departure Hall of Minangkabau International Airport.

I was dropped off right in front of departure lobby by DAMRI airport bus, but after that, I didn’t immediately enter to check-in area. I prefered to take some pictures when the rain was changing its phase to be soft drizzles. I did it until several pictures were catched into my Canon EOS M10 memory card.

Let’s entered to check-in area!

Local flights, which only require a flight booking confirmation display on a smartphone screen and a national ID Card with a same name, made it easier for passengers to entering check-in area.

I had to provide patience because after leaving a check-in counter, I would wait for the “Red Lion” to come longer….Delayed, guys !. I had indeed been prepared with that condition. It wasn’t a matter about time, but about affordability of airline tickets which be my priority.

Cabin.

After taking the escalator to Departure Gate, I sat for a while in commercial hall which is located next to screening gate. Tidying up every equipments, so that it were a little tidy and comfortable when entering aircraft cabin later. Meanwhile, my 45L backpack chose to stay in plane hull for keeping my rainbow-patterned umbrella which its price is USD 3,7 which I bought at Tiga Raja Harbor five days ago.

Air conditioner.

The surprise arrived, when I headed to the prayer room for Maghrib prayer, I met Boris, a postman from Slovakia.

Me         :     “Hi, Boris….What happen to your flight?

Boris      :     ”Hi, Donny, It’s crazy…..Very long delay with Citilink

I didn’t talk for long because Boris had started to enter a queue towards the gate, he flew to Surabaya, then he would continue his journey to Malang as soon as he landed. Gubeng Station was his choice to depart from “City of Heroes“. I got this information while talking in the back seat of Maestro Travel five hours ago. What I observed, mineral water bottles which I gave was still intact tucked into left of his backpack….Hahaha, how can, that water could be escaped from airport screening gate.

After waiting for a long time, finally JT 257 flight started to calling its passengers. I started to queuing up and getting ready for trip towards Soekarno Hatta International Airport with flight price for USD 41.7. I bought this ticket about 11 days before departure.

Through the aerobridge, I entered cabin, actually I just found out that this plane is a Boeing 737 MAX 8 type after one of its crew who holding the microphone informed it when demonstrated passenger safety standards.

Besides new, the first impression that I got after sitting in a window seats were its relief and futuristic appearance. Then, plane was in the best position to start its jet engine, the pilot was waiting for a confirmation to fly. A few minutes later I actually left Padang.

The slightly cloudy night made the plane slightly shaken and penetrated into low clouds in “Minang” sky. What I saw later were sequels to earth lamps show between thin black clouds. Beautiful and enchanting as a bedtime. And then….

Dark….

Dark……..

Dark…………

I slept under the cover of extreme fatigue after six days traveling around Sumatra. It looked like I slept for 1 hour 45 minutes, which was equivalent to flight time. Sleeping for more than 700 km along with the smooth performance of aircraft which was owned by the largest private airline in my country.

Landing.
I arrived at Cengkareng on past midnight.
An airline that has been in the air for 20 years.
Soekarno Hatta International Airport (CGK) is the mainhub of Lion Air.

I arrived in sleepy condition, then hurriedly stopped DAMRI airport bus which was heading to Kampung Rambutan Terminal. Then I arrived at home by a motorbike taxi and thanked to Allah for giving me an exploration opportunity which was be an umpteenth chapter in the story of my life’s journey.

It is time to close story of my journey to Sumatra Land. And move on to the next trip.

Where am I going to ????

Yes, SEMARANG…….

DAMRI Bus from Padang to Minangkabau International Airport

I ate its authentic taste of tambusuprocessed cow intestines with egg, tofu and spices in it – as the last dinner in a week of my adventure in Sumatra land. a culinary incident bothered me in mid-chewing. I thought that a chewy thing was a part of tambusu menu….Oh….it was a rubber band.

Restaurant owner : “Looks like Uda come from far away.”

Me                               :     “From Jakarta, Uda.

Restaurant owner     :     “Do you work in Padang, Uda?”

Me                              :     “Oh, no Uda. I’m just traveling.”

Restaurant owner     :     “Ohh….Where have you been, Uda?

Me                              :     “A few days ago I toured to Medan, Toba, Siantar, Pekanbaru and Bukittinggi, Uda. The last one is Padang….Now, I want to fly back to Jakarta.”

Restaurant owner    :     “Wow, this is great, Uda. The totality in traveling.

Light conversation was interrupted by Black Calya (Calya is Toyota brand in Indonesia) arrival who would take me to DAMRI Bus shelter in Hasanuddin Street. In pouring rain, I finally wet online taxi front seat. Luckily the owner was very friendly and ignored it, even though it was a new car which still had a strong factory scent.

Hasanuddin Street.

Unlike what I imagined, it turned out that the splendor of DAMRI bus shelter in my mindset was only realized by a open tent space which wasn’t better than a city bus shelter in general.

DAMRI Airport Bus shelter.

I was waiting for DAMRI bus arrival which would transfer me from Padang downtown to Minangkabau International Airport which was about 25 kilometers away and took about 40 minutes. All can be redeemed for USD 1.8.

While waiting for DAMRI bus to arrived, I continued to observe a soccer game which playing by teenagers who scattered to fill Imam Bonjol Square field for rain party while playing “the round leather“.

Imam Bonjol Square.

DAMRI bus conductor suddenly called me, “Uda, come on, get on, we’re going!” I didn’t even realize that DAMRI bus had arrived earlier.

That’s DAMRI Airport Bus.

Wet condition of DAMRI bus corridor showed that Minangkabau International Airport wasn’t spared from rain. This was a signal that I wouldn’t be free to search for material to writing a content about Minangkabau International Airport. Ahhh….I could miss an important content.

Only a few passengers

Air conditioner on DAMRI bus was so cold that it made me shiver because my T-shirt itself was too damp. A few passengers that afternoon made me not embarrassed in deciding to change my t-shirt on bus. Sitting at backseat and no one noticed me while shirtless….Hahaha.

Maybe because of heavy rain, so many people were reluctant to be on streets and prefered to temporarily postpone their own needs. Because of that, Streets were empty and made me quickly arrived at Minangkabau International Airport.

Minangkabau International Airport.

It was time to going back to Jakarta with Boeing 737 MAX 8 which is owned by Lion Air.

Batang Arau, Siti Nurbaya Bridge and Boeing 737 MAX 8

Dengarkan Manusia  yang Terasah oleh Falsafah

Sesaat Katanya itu bukan Dogma

(Cukup Siti Nurbaya by Dewa 19, year 1995)

White iron horse” digital miniature continued to approaching in a popular application. As a result, I had to open my rainbow motif umbrella and in a moment my feet stepped on the sidewalk. I got ready for entering white Avanza (a brand name of Toyota in Indonesia).

T-shirts which were already getting damp, some parts of backpack which were already soaking wet, combined with AC cold bursts of online taxi made my condition was uncomfortable at all. All due to my desire that wanted to spend the remaining sixty minutes to add my destination collection. Though actually, if I thought deeper, it didn’t really matter at all….Hahaha.

Driver    :     “Heavy rain like this, why do you impose yourself to go to the bridge, Uda?

Me        :     “Yes Uda, just curious

Driver    :     “But indeed, there are a lot of people who visiting that place, Uda. The view of Batang Arau River is very beautiful

Me :     “So that’s why, Uda

Batang Arau River has Mount Padang background at its end.

I didn’t know why that afternoon, Padang earthquake in 2009 continued to fulfill my brain capacity. I continued to investigate the driver about the story behind tragedy. What happened after earthquake shocks? What did the panic look like afterward? He explained that sea water had receded at that time. “This is a sign that we are ready to be hit by a tsunami, Uda“, he said choked up. People had resigned in prayer, everyone were ready to face the end of destiny. Luckily the disaster didn’t really happen.

18 year old bridge.

Within twenty minutes, the online taxi had crossed the bridge which I was aiming for. Not stopping, but he chose to pass a small u-turn at the end and then lowered me right in the middle of bridge.

Borrowing legendary woman name in Minang land, this bridge form is very easily recorded in memory. Yellow black poles with milky white lamps at its top, straddling Batang Arau River which has a width of about 160 meters, with green hills background and traditional ornament boats moored along the river…. Really beautiful.

Roasted corn traders seemed to prepare their mini stalls. If I could stay until dark, maybe I would enjoy a street culinary party over Siti Nurbaya bridge. Unfortunately my time wasn’t long.

The next plan is, I would quicken dinner time before arriving at airport, for saving my budget, of course. I chose “Warung Nasi Kapau Bandar Damar” to execute the plan. After that I immediately went to Minangkabau International Airport, catching Lion Air JT 257 which was scheduled to fly at 21:20.

Later, I will tell you how about my first flight with Boeing 737 MAX 8, the most beautiful opportunity to feel flying sensation with it before this aircraft type was grounded after Lion Air JT 610 crash in Tanjung Pakis waters, Karawang, Indonesia which was followed by a similar accident on Ethiopian Airlines ET 302 on farm land, Bishoftu city.

That was my quick journey story in Siti Nurbaya Bridge.

If you go to Padang, don’t forget to visit it!

Padang Beach or Padang Taplau?

His name is Asep. It is certainly not a local name, nor is it a native…He is Bandung’s origin and married to a Padang woman, making Aa (designation for brother in Bandung) Asep settled in Padang and now he was taking me to Padang Beach using his online motorcycle taxi.

The road was deserted because thick black cloud which has acquired Padang sky. The wind signaled by sending low-temperature air…. Soon, rain would be fall from sky. I just hope to enjoy Padang Beach for a while without rain to just get rid of curiosity.

I began to want to come to this beach since its form adorned television screen for days when there was a big earthquake in 2009 whose center was off the coast. Therefore, I forced myself to insert time even though it was only for four hours to stopby in Padang

Excitement of my heart when Aa Asep dropped me right under IORA Monument. IORA is an abbreviation of Indian Ocean Rim Association, an association of countries which were located in Indian Ocean Region.

Once in a while drizzle began to fall, but never mind, I could still stand on rock embankment which was built jutting toward sea. I really enjoyed my short time to feel the beauty of Padang. While some visitors began to leave plastic benches which were provided by pensi (clam) and young coconut traders.

I still felt sad, how panic of Padang people when facing a tsunami threat when earthquake occurred in 2009 even though the tsunami itself never happened.

The beach which is located along Samudera Street, has long been main tourist destination in Padang City. In addition to offering low-cost tourism, this beach is also a place which is easily accessible by anyone because it has become part of downtown and only thirty minutes from Padang’s tourist gate, i.e Minangkabau International Airport.

IORA monument.

Local residents often call Padang Beach as Padang Taplau. Taplau itself is an abbreviation of Tapi Lauik or the edge of sea.

Byuuurrrr….I ran and then took shelter on Velocity Burger & Coffee terrace located on the edge of Samudera Street. The rain was so heavy, it made water splash slowly wet my clothes and backpack. While I was still busy exploring my gadget to determine next tourist destination which was still possible to visit. It seemed like I won’t waste my time in Padang even if only briefly.

In the afternoon, most museums and several official tourist attractions have been closed. But I’ve already decided where to go next. I thought quickly, I benefited because I still had an umbrella which I bought while visiting Toba Lake few days ago. The rain didn’t dampen my steps to continue exploring. I ordered a online taxi to get there.

Where did I go to?