• <—-Kisah Sebelumnya

    Islam Karimov Tashkent International Airport Terminal 2.

    Konsisten menjaga ketenangan, aku menghadap petugas Aviation Security yang menjaga kotak pemindai di screening gate dekat pintu keluar bangunan bandara.

    Can I go to Arrival Hall inside? I have a problem with a SIM Card I bought at that counter”, aku menunjuk ke Tourist Information Center setelah berhadapan dengan petugas Aviation Security yang bepostur tinggi besar.

    Sure….Just go there”, dia tersenyum mempersilahkan.

    Thanks, Sir” aku masuk ke kembali dan lansung menuju ke tempat penjualan SIM Card yang kumaksud.

    Aku tiba di konter…..

    This SIM Card didn’t activate yet, Sir”, aku langsung bercakap kepada penjaga konter karena kebetulan dia sedang tidak melayani pembeli.

    Are you sure?….Let me check”, dia meminta smartphoneku.

    Yeaaa….I hope you can solve it”, aku sungguh berharap permasalahanku bisa selesai dengan cepat.

    Penjaga konter belia itu mengambil kembali SIM Card dari smartphone yang kuberikan, meletakkannya pada sebuah alat kecil dengan nyala cahaya berwarna merah, kembali melakukan aktivitas yang tak kupahami, memasukkan kembali SIM Card dalam smartphoneku, mengutak-atik settingan di smartphone untuk beberapa saat.

    Hingga kemudian,

    Please check again, Sir….I think this SIM Card had activated and is ready to use”, dia menyerahkan smartphoneku.

    Sejenak aku membuka aplikasi berbasis peta, mencari lokasi halte Bus Kota No. 67- bus yang akan kutunggangi dalam beberapa waktu ke depan. Kabar baiknya bahwa aplikasi itu menunjukkan tempat dimana halte berada.

    Yeaaa….It work…..Thanks you, Sir”.

    Karena telah kehilangan banyak waktu, maka aku kembali menuju exit gate.

    Aku melangkah dengan setengah berlari untuk keluar dari bangunan Terminal 1, hingga seruan tegas menegurku,

    Hei, you…Screening your backpack again!”, seorang petugas aviation security yang lain meneriakiku ketika aku berusaha melewati screening area dengan terburu-buru. Aku masih menganggap bahwa backpackku telah steril dan sudah lolos pemeriksaan beberapa menit sebelumnya di alat pemindai yang sama.

    Tetapi karena perintah itu, akhirnya aku kembali memindai backpack untuk kemudian dinyatakan bersih dan aku diizinkan menuju ke exit gate.

    Aku berhenti sejenak, menatap layar smartphone, melihat posisi halte bus kota No. 67. Aku memahami denahnya, halte itu dua ratus meter jauhnya di sebelah kiri pintu keluar, tepat di depan area parkir Terminal 2 bandara.

    Maka dengan yakin aku melangkah keluar.

    Tiba di luar bangunan terminal, aku berdiri sejenak, terdiam

    Suasana di luar sana telah sempurna gelap, malam memang sudah hadir. Udara sarat dengan kabut, sejenak aku teringat malam-malam beku di Agra awal 2018 silam. Jarak pandang menjadi tak begitu jauh, sedangkan suhu jatuh pada skala -2o Celcius.

    Aku menemukan tantangan baru.

    Harus berhasil menemukan penginapan yang telah kupesan. Jaraknya 10 kilometer di utara, menaiki bus umum dan harus menembus malam yang beku.

    Inilah satu kondosi yang kupikirkan dengan keras sedari berangkat dari rumah.

    “Aku akan memenangkannya”, aku mengepalkan tangan mengumpulkan keberanian.

    Kisah Selanjutnya—->

  • <—-Kisah Sebelumnya

    Aku masih mengatur napas panjang, mencoba tenang di meja konter penjualan SIM Card. Mencoba untuk tidak panik.

    I have failed to set up a SIM card with this quota five times. Or maybe, Do you want to try another type of data quota? Maybe better.” Dia menjelaskan.

    No, I don’t want”, aku menukas tegas.

    Oh, Okay….Just wait”, dia menaruh packaging SIM Card yang sudah tersobek di sudut meja.

    Pria muda itu untuk sesaat berpindah melayani pelanggan yang lain.

    Sedangkan aku terus menatap jam digital pada layar FIDS di tengah ruangan bangunan bandara. Untuk kemudian terdengar suara tertuju kepadaku,

    I have a same problem with you”, seorang pelancong wanita berparas cantik bicara dari sisi belakangku.

    Aku menoleh, tidak langsung menjawab tapi sejenak terpesona dengan hijau retinanya lalu memperhatikan gerakan tangan kirinya yang memegang sebuah paspor.

    Itu paspor Russia”, aku membatin, aku sungguh mengenali paspor berwarna merah tersebut.

    Are you sure?…. What did you do to fix it?”, aku memulai percakapan dengannya.

    I buy the more bigger data”, tukasnya singkat sembari mengernyitkan dahi.

    “How much did you buy?”, aku terus menatap matanya dengan percaya diri.

    90.000 Som for 50 GB”, dia menjelaskan dengan sedikit jengkel sepertinya karena telah mengeluarkan budget berlebih.

    I think that’s the best solution so you can go to downtown soon”, aku berusaha meleramkan kejengkelannya.

    Yes, I will immediately go to downtown because the night is getting darker”, dia tersenyum, membereskan perlengkapannya dan mulai menarik trolley bagnya. “Bye”, dia melambaikan tangan.

    Bye, I’ll try my best”, aku tersenyum dan berpura-pura tenang.

    Tetiba terdengar suara dari meja konter penjualan SIM Card.

    Hello, Sir….Your smartphone, please!”, seorang pria muda lain berbicara kepadaku

    Aku membalikkan badan. “Oh sure, this is”, aku menyerahkan smartphoneku

    Just wait, Sir”, dia menelungkupkan sembari menurun-naikan telapak tangannya sebagai usaha untuk menenangkanku.

    Dia mulai mengutak-atik smartphoneku dan menggunakan alat elektronik yang aku tak paham fungsinya. Berkali-kali dia menaruh Beeline SIM Card yang kubeli pada alat itu lalu memasukkan ke dalam smartphone dan mengatur beberapa settingan di dalamnya.  

    Hingga beberapa waktu kemudian, dia berucap, “It’s work”, dengan senyum memberikan smartphone itu kepadaku.

    Benar saja, SIM Card itu kurasa telah aktif, aku melihat bar 4G itu telah menyala.

    Selanjutnya aku menyerahkan 65.000 Som kepadanya dan kemudian bergegas pergi menuju exit gate bangunan bandara.

    Aku melangkah menuju pintu keluar yang kumaksud melalui sebuah screening gate. Memindai backpack dengan cepat aku mudah melaluinya. Berlanjutlah langkahku yang sudah di dekat pintu keluar.

    Pikiranku hanya satu, mencari keberadaan halte city bus demi menuju penginapan.

    Dari beberapa sumber informasi yang kudapatkan, aku tahu bus kota itu bernomor 67 yang memiliku rute dari Islam Karimov Tashkent International Airport hingga ke Yunusobod.

    Yunusobod sendiri adalah nama sebuah distrik. Orang lokal menyebut distrik dengan istilah “Tumani”. Di distrik itulah dormitory yang kupesan berada. Satu dari dua belas distrik yang membentuk Ibu Kota Tashkent. Yunusobod menjadi distrik penting karena jalan protokol utama ada di sana. Distrik dengan 20% populasi Tashkent.

    Dengan percaya dirinya, aku membuka aplikasi berbasis peta. Menekan beberapa menu di dalamnya.

    Damn….Aplikasi ini tak bekerja, belum terhubung dengan internet”, aku menatap kembali ke bagian dalam bangunan bandara. “Aku harus masuk ke dalam lagi….Menemui penjual SIM Card itu”, aku berpikir menghitung situasi.

    Aku masih terperangkap di masalah yang sama.

    Kisah Selanjutnya—->

  • <—-Kisah Sebelumnya

    Menyapukan pandangan ke segenap sudut Terminal 1-Islam Karimov Tashkent International Airport.

    Sekali lagi aku menyapukan mata dengan cermat ke segenap penjuru bangunan bandara. Pelan-pelan tatapan mataku meyelidik di setiap sudutnya. Dan akhirnya aku menemukan money changer di salah satu sudut, konter penukarannya berukuran mungil serta menjadi satu-satunya money changer yang ada di Terminal 1. Aku bergegas melangkah mendekatinya, masuk ke dalam antrian dan membuka kembali lembar itineraryku.

    Aku mencantumkan budget untuk eksplorasi di setiap negara pada lembar itinerary tersebut. Dari rencana yang kususun, aku membutuhkan budget sebesar 570.000 Som.

    Jadi berapa Dollar Amerika yang harus aku tukarkan ke dalam Som Uzbekistan?

    Biasanya aku menggunakan formula 100%+20% ketika menetapkan jumlah Dollar yang harus kutukar ketika pertama kali memasuki wilayah sebuah negara. Artinya aku akan menukarkan Dollar lebih banyak 20% dari budget yang kuanggarkan demi menanggulangi terjadinya budget tak terduga.

    Oleh karena formula itulah, maka aku membutuhkan uang sebanyak 684.000 Som. Itu berarti aku cukup menukar 60 Dollar saja untuk mengeksplorasi Tashkent….Duhhh, murah bingitz kan ya?

    Tiba di depan money changer, aku menyerahkan Dollar beserta paspor kepada teller yang bertugas. Menghitung dengan cepat, teller itu akhirnya memberikan Som kepadaku.

    You must keep this receipt if you want to sell your remaining Dollars to us”, teller wanita tersebut memberi penjelasan dengan penuh senyum.

    Okay, Mam”, Aku menjawab singkat.

    Aku sibuk memasukkan Som yang baru saja kudapat ke dalam dompet. Untuk kemudian sebuah sahutan tegas memanggilku.

    Youuuu…….”, aku menoleh ke sumber suara

    Hellooo….Youuuu”, petugas imigrasi itu jelas sekali menunjukku

    Meeee…..”, aku menunjuk hidungku sendiri

    Yessss…..You…..Come!”, dia melambaikan tangan supaya aku mendekatinya.

    Jantungku berdegup kencang, “ Aduh, ada masalah apa ini…..?”, Wajahku pias.

    Aku bergegas menujunya sambil menenteng backpack dengan menggantungkan satu shoulder strapnya di lengan karena terburu-buru.

    Your Passport, please…..!”, dia menatapku lekat ketika aku tiba di hadapannya

    Astaga, aku mau diapain?”, aku membatin sambil merogoh backpack demi mengeluarkan paspor.

    This is, Sir”, aku menyerahkannya

    Oh, Indonesia….”, dia hanya melihat sekejap pasporku kemudian melemparkan senyuman ramah.

    This is for you….”, dia menyerahkan selembar uang Lima Ringgit Malaysia yang tampak tertekuk kepadaku.

    Wooow…..Ringgit….Thank you, Sir”, aku berbalas senyum dan menerima pemberian petugas imigrasi dengan riang.

    Astaga….Kirain mau diapain”, aku membatin sembari pergi menjauh dari konter imigrasi.

    Lumayan buat tambahan uang makan di Kuala Lumpur saat perjalanan pulang beberapa hari ke depan”, aku menyunggingkan senyum tipis.

    Beli SIM Card lokalnya di situ, gaes…

    Usai mendapatkan Som, maka aku bergegas menuju ke konter penjualan SIM Card lokal.

    Can I buy an 8G data plan?”, aku melemparkan tanya ke pria belia penjaga Tourist Service Center.

    We don’t have that one”, dia menjawab sekenanya karena sedang sibuk melayani seorang pelancong asal India. “You can buy the 20G one”, dia mengimbuhkan informasi.

    How much?” Aku bertanya singkat.

    65.000 Som, Sir” dia menjawab dengan aksen English yang cukup baik.

    Ok, I take it”, aku tak berpikir panjang karena sepenuhnya sadar bahwa di luar sana malam semakin berkuasa.

    Usai melayani pelancong India, pria belia itu meminta smartphoneku, mengeluarkan SIM Card, menggantinya dengan Beeline SIM Card, kemudian mulai mengotak-atik settingan untuk melakukan aktivasi.

    Dia tampak serius dan fokus. Tetapi aku justru semakin was-was karena berkali-kali dia gagal mengaktifkan Beeline SIM Card itu di smartphoneku.

    Berkali-kali gagal melakukan, tampaknya membuat dia menyerah.

    Your phone is in problem, Sir. I can’t activate it”, dia menyerahkan smartphoneku dan berpindah melayani pelancong lain.

    Aku menelan ludah…..

    Bagaimana aku bisa tiba di penginapan jika tak memiliki kuota data?”, aku menundukkan kepala di konter itu…..Berpikir keras mencari solusi, semetara waktu hampir menyentuh pukul tujuh malam.

    Come on….God, help me”, aku menukas pelan.

    Kisah Selanjutnya—->

  • <—-Kisah Sebelumnya

    Suasanan Arrival Hall setelah konter imigrasi.

    Aku menarik shoulder strap kuat-kuat untuk menegakkan backpack di punggung. Maklum aku baru menginjak hari pertama petualangan, muatan backpackku masih sempurna penuh, enam koma delapan kilogram beratnya, tidak kurang, tidak pula lebih.

    Menatap sejenak dinding kaca bangunan terminal hingga ke setiap sudut, selanjutnya aku menaiki tangga di depan entrance gate Terminal 1 – Islam Karimov Tashkent International Airport. Dan tuntas melintasi daun pintu kacanya, maka secara bersamaan aku telah berdiri di salah satu antrian konter imigrasi.

    Aku memandang lekat-lekat deretan konter imigrasi itu, bentuknya menyerupai box telepon umum. Hanya ada microphone dan lubang kecil di bagian bawah untuk berkomunikasi antara pelancong dan petugas imigrasi. Berbeda dengan konter imigrasi umumnya yang biasanya berbentuk konter setengah badan sehingga pengunjung bisa bercakap dengan petugas secara langsung tanpa penghalang apapun.

    Aku segera menurunkan backpack, mengeduk isinya demi menemukan satu zipper file folder berwarna kuning dimana segenap dokumen perjalananku tersimpan di dalamnya. Satu paspor aktif, dua paspor non-aktif, lembaran-lembaran itinerary, sepuluh e-ticket penerbangan berbeda serta empat hostel confirmation booking tersimpan rapi di dalam folder itu.

    Usai menemukannya, aku memegangnya erat, memanggul backpack kembali dan melanjutkan antrian. Antrian di jalurku tampak didominasi oleh warga Asia Tengah seperti Kazakhstan, Tajikistan, Kirgistan dan Turkmenistan. Selebihnya adalah pelancong asal Eropa dan Russia. Hanya diriku sendiri yang menjadi satu-satunya turis asal Asia Tenggara….Keren ga sich?……Hmmh #sombong.

    Satu hal yang perlu kuceritakan perihal rasa diri ketika berada di antrian imigrasi negara asing adalah was-was. Seorang solo traveler biasanya akan melihat di sepanjang antrian untuk mencari solo traveler lain. Sangat mudah untuk ditemukan, mana diantara antrian itu, seorang solo traveler atau group traveler. Biasanya dua solo traveler akan saling tatap, tersenyum lalu mengernyitkan dahi….Pertanda kita merasakaan ketegangan yang sama sebelum menghadap meja imigrasi….Hahaha.

    Tetapi sore itu, selama mengantri, terlihat tak ada sesuatu yang dipersulit oleh petugas imigrasi di antrianku. Aku berharap hal itu akan terus berlangsung hingga proses keimigrasianku tuntas.

    Next……”, teriakan yang lazim kudengar di antrian imigrasi.

    Ini giliranku…..Whatever happens, happens”, aku mantap melangkah.

    Aku tiba di depan konter imigrasi, menyerahkan paspor. Atas inisiatifku sendiri, kuselipkan lembar pemesanan hostel tempatku menginap, tiket penerbangan Uzbekistan Airways menuju Kazakhstan sebagai jaminan bahwa aku akan meninggalkan Tashkent. Demikianlah keunggulanku, selalu detail mempersiapkan sesuatu. Ketika pelancong lain hanya menyerahkan paspor maka sudah menjadi kebiasaan bahwa aku akan menyerahkan dokumen tiga kali lebih lengkap dari pelancong lain.

    Sejenak petugas imigrasi itu terdiam, memeriksa segenap dokumen yang kuberikan. Membaca lembar demi lembar. Hanya saja, aku mulai khawatir ketika dia terhenti pada salah satu halaman paspor. Dia mengambil sebuah alat semacam pemancar sinar ultraviolet. Berkali-kali  petugas itu meletakkan pasporku di bawahnya. Aku tah dia sedang mendeteksi security ink di dalam pasporku, tinta itulah yang menjadi satu komponen penting dalam setiap paspor yang bisa digunakan untuk mengecek keabsahan sebuah paspor.

    Aku begitu tegang menunggunya….Aku terus menatap wajah serius petugas imigrasi itu.

    Tapi kabar baik masih berpihak padaku. Usai mengecek pasporku berkali-kali, petugas imigrasi itu akhirnya membubuhkan stempel free visa di halaman akhir paspor yang kemudian membuatku susah mencari keberadaan stempel itu.

    Aku diperbolehkan memasuki wilayah yuridis Uzbekistan melalui sebuah jalur sempit di samping konter imigrasi.

    Aku menarik napas panjang…..Aku berhasil memasuki Uzbekistan.

    Yiaaaayyyy……Uzbekistan sendiri akhirnya menjadi negara ke-29 di dunia yang pernah aku kunjungi.

    Sesenang-senangnya diriku, aku tetap waspada bahwa sejatinya aku sedang berkejaran dengan gelap. Aku sadar bahwa semakin lama berada di bangunan terminal bandara, resiko keamanan menuju ke penginapan di saat gelap juga semakin meningkat.

    Oleh karenanya, aku harus segera membereskan segenap keperluan. Aku menyapukan pandangan ke segenap penjuru bangunan Terminal 1. Terminal itu tidak terlalu besar. Aku mudah sekali melihat setiap ujung ruangannya. Ya…..Aku mencari keberadaan money changer.

    Melihat ke segala penjuru, tapi tak kunjung menemukannya. Aku khawatir karena bagaimana bisa membeli SIM card beserta paket datanya apabila tak bisa menukar Dollar yang kumiliki ke mata uang lokal.

    Aku menarik napas dalam-dalam….Berusaha tenang.

    Kisah Selanjutnya—->

  • <—-Kisah Sebelumnya

    Touchdown Tashkent.

    Satu budaya baru dari Kawasan Asia Tengah yang kudapatkan dalam penerbangan Uzbekistan Airways HY 554 adalah cara pegungkapan respek dan rasa terimakasih segenap penumpang kepada air crew. Seluruh penumpang asal Uzbekistan tampak bertepuk tangan meriah ketika roda pesawat berhasil menyentuh landas pacu untuk pertama kalinya.

    Aku mengira kejadian itu hanyalah hal insidentil yang terjadi dalam penerbangan itu. Tetapi ternyata tidak. Budaya itu terus kutemui dalam penerbangan di Kawasan Asia Tengah. Aku menemukan kebiasaan yang sama ketika terbang bersama Air Astana dalam menjelajah beberapa wilayah Kazakhstan.

    Di sebelah bangku, Dasha menunjukkan wajah sumringah. “Mungkin liburannya telah banyak meninggalkan kesan”, aku menduga-duga ketika akhirnya dia menoleh kepadaku.

    Posadka*1)….Donny”, sembari mengacungkan kedua jempolnya di hadapanku.

    Nice landing, Dasha….We arrive”, aku pun tak bisa lagi menyumputkan senyum.

    Dasha mengeluarkan jaket tebal dari tas yang dia taruh di bawah kakinya, mengenakannya, dia tampak anggun dengan jaket bulunya yang berwarna biru langit itu.

    Kurtka*2)….Donny”, dia menunjuk-nunjuk diriku,

    Holodno*3)….”, dia menunjuk ke luar jendela pesawat.

    Aku hanya menebak-nebak apa yang dituturkannya,

    Pakai jaketmu, Donny. Di luar sana dingin”, aku terkekeh dalam hati.

    Okay, Dasha”, aku berucap kepadanya antusias. Lalu menurunkan backpack dari bagasi kabin, mengeduk isinya, mengeluarkan jaket musim dingin bekas yang kubeli di Pasar Baru beberapa hari sebelum keberangkatan, lalu mengenakannya dengan cepat.

    Ty Krasivyy*4), Donny”, Dasha kembali mengacungkan jempolnya. Sementara itu, aku hanya menengadahkan kedua tangan demi merespon ungkapannya sembari tersenyum. “Not bad”, batinku berucap.

    Keluar dari kursi, Dasha mengucapkan salam perpisahan.

    Do Svidaniya*5), Donny” dia melambaikan tangan dan bergabung dengan teman-teman satu perusahaannya.

    Come on, kembali ke mode awal, Donny….Solo Traveling….Kamu akan bertemu orang-orang baik lagi di luar sana, Donny….Percayalah!”, aku menguatkan diri.

    Aku menengok ke jendela, tidak ada aerobridge yang menempel di pintu pesawat. Itu artinya akan ada apron shuttle bus yang menunggu segenap penumpang di kaki pesawat. Aku melangkah ke pintu belakang yang sudah di jaga oleh satu pramugari dengan seragam blazzer berwarna hijau. Merangsek di antrian dan akhirnya aku benar-benar tiba di bibir pintu.

    Oh God, Tashkent…..”, Aku tak sengaja telah melamparkan senyum menatap hamparan luas Islam Karimov International Airport.

    Islam Karimov International Airport tampak dari pintu pesawat.
    Uzbekistan Airways HY 554 Kuala Lumpur-Tashkent.

    Izvinite*6)….Izvinite”, seorang penumpang berkata di belakangku. Itu karena aku mendadak terhenti di bibir pintu karena terkesima dengan pemandangan di bawah sana.

    Hamparan luas apron dengan sebaran pesawat berbagai ukuran milik maskapai penerbangan Uzbekistan Airways. Puluhan light tower telah dinyalakan sebagai pertanda bahwa hari tengah menyambut datangnya malam. Sementara itu kabut tipis menjadi latar utama bandara terbesar di seantero Uzbekistan tersebut. Di sisi lain, satu unit apron shuttle bus berwarna biru terparkir dengan mesin menyala langsam siap menjemput segenap penumpang.

    Aku menuruni mobile stairs, udara segar bersuhu -2o Celcius menerpa mukaku yang tak berpelindung, tanganku juga merasakan dingin yang sama. Tapi aku tak mau berlari, aku berjalan pelan menikmati suasana sebelum benar-benar memasuki shuttle bus.

    Aku sudah di dalam shuttle bus beberapa waktu kemudian. Menanti penumpang lain datang memenuhi bus. Setelah terisi sepenuhnya, maka shuttle bus mulai membelah luasnya apron bandara demi mengantarkan penumpangnya menuju bangunan Terminal 1.

    Untuk sesaat aku terlarut dalam perjalanan singkat di sepanjang apron, masih tak percaya aku berada di Tashkent. Sebuah kota yang hampir satu dekade terakhir bahkan tak pernah masuk dalam rencana untuk kusinggahi. Tapi takdir mengatakan lain, aku dimasukkan ke dalam pesona Tashkent yang di keesokan hari sudah bisa kujelajahi.

    Apron shuttle bus itu berhenti. Aku telah tiba di bangunan Terminal 1. Mataku awas mengamati sekitar. Tepat turun dari pintu shuttle bus, Sebidang luasan pintu kaca menyambutku. Sementara di dalam sana terlihat jelas konter-konter imigrasi sedan sibuk melayani para penumpang untuk masuk ke wilayah yuridis Uzbekistan.

    Baru kali ini aku melihat, konter imigrasi diletakkan tepat di depan pintu kedatangan penumpang….Amazing”, aku bisa tertawa kecil ketika menatapnya.

    Aku mulai menggila, beberapa penumpang menatapku kerena aku tertawa ringan sendirian.

    Note:

    *1). Posadka = Pendaratan

    *2). Kurtka = Jaket

    *3). Holodno = Dingin

    *4). Ty Krasivyy = Kamu terlihat tampan

    *5). Do Svidaniya = Sampai jumpa

    *6). Izvinite = Permisi atau maaf

    Kisah Selanjutnya—->

  • <—-Kisah Sebelumnya

    Pegunungan Revoljucii di Tajikistan

    Aku duduk menatap ke jendela sisi kanan. Hamparan putih salju di pegunungan Revoljucii menjadi pemandangan utama di sejauh mata memandang. Keindahannya telah menyirap segenap penumpang untuk berebut menontonnya.

    Ketika penumpang di kolom tengah berdiri dan berseru-seru melihat keindahan alam itu, justru aku hanya duduk termangu menatap hal yang sama. “Ini sama tatkala aku menikmati indahnya Pegunungan Himalaya ketika terbang bersama Thai Airways di atas teritorial Nepal enam tahun silam.”, aku membatin.

    Tatapanku sejenak berpindah ke layar LCD di depan. Jari telunjukku lincah memainkan tampilan menu di dalamnya. Aku mencari informasi berapa waktu tersisa bagi Uzbekistan Airways HY 554 untuk tiba di tujuan.

    24 menit lagi aku akan  tiba”, aku mematung sejenak.

    Jantungku berdegup lebih kencang. Aku mengaku pada diriku sendiri bahwa nervous telah menguasai diri. Setidaknya ada tiga hal yang membuat demikian. Tiga hal yang memenuhi segenap ruang di otakku.

    Pertama….Suhu.

    Terakhir kali mengunjungi negara empat musim adalah tahun 2016 silam. Taiwan-Jepang-Korea Selatan kala itu. Aku sepertinya telah kehilangan insting menjelajah negara yang sedang memasuki musim dingin. Selalu saja ada yang membuatku was-was dengan cuaca dingin. Dan kabar menegangkannya adalah Uzbekiztan termasuk negara yang Sebagian besar wilayahnya berada di iklim sedang dengan garis lintang yang lebih tinggi dar Korea Selatan. Aku akan memasuki suhu minimal -2o Celcius dalam waktu beberapa menit ke depan.

    Kedua….Malam.

    Tiba di saat malam adalah sesuatu hal yang selalu saja menyelipkan sebuah ketegangan. Menjelajah malam di kota lain di negeri sendiri saja membuat otak berpikir lebih keras, apalagi ini sebuah kota yang jaraknya 7.000 kilometer dari rumah. Aku terus me-rehearsel setiap tahapan langkahku menuju ke penginapan setiba di Tashkent beberapa saat lagi.

    Ketiga….Imigrasi.

    Menghadap ke meja imigrasi sebuah negara selalu saja menjadi tahapan yang sungguh mendebarkan. Oleh karenanya, aku selalu berdo’a setiap memasuki area imigrasi, memohon pertolongan Tuhan untuk mempertemukanku dengan opsir imigrasi yang baik hati dan mempermudah setiap langkahku untuk memasuki sebuah negara baru. Aku sendiri pernah mengalami hal kurang mengenakkan di imigrasi Busan dan imigrasi Kuala Lumpur. Dan siapa sangka aku akan menemukan masalah yang sama ketika menghadap imigrasi Maldives pada saat perjalanan pulang dari perjalanan panjang yang sedang kujalani tersebut.

    Kembali ke kursi pesawat….

    Pilot telah memberikan perintah kepada setiap awak kabin untuk mempersiapkan diri melakukan pedaratan. Lantas, para awak kabin melakukan pemeriksaan kepada setiap sabuk pengaman yang dikenakan penumpang, memastikan setiap kursi tegak sandarannya dan memastikan keadaan di luar bisa dilihat dari setiap jendela.

    Maka, terjadilah percakapan antara pilot di kokpit dan menara pengawas, aku paham bahwa sang pilot sedang meminta izin untuk mendarat.

    Pesawat perlahan menurunkan ketinggian, menembus beberapa gumpalan awan di lapisan bawah atmosfer, membuat goncangan lembut di pesawat berbadan lebar tersebut. Pemandangan kota Tashkent mulai tampak dari ketinggian.

    Roda pesawat yang dikeluarkan dari lambung terdengar dari dalam kabin. Runway sudah semakin dekat. Pemandangan di luar berubah menjai garis-garis cepat yang bergerak berlawanan arah dengan laju pesawat.

    Hentakan lembut yang kuharapkan terjadi. Roda pesawat sudah berputar di landas pacu.

    Aku mendarat….

    Aku tiba…..

    Aku tak sabar lagi menginjakkan kaki di Islam Karimov Tashkent International Airport, bandara ke-37 di luar negeri yang pernah aku kunjungi.

    Kisah Selanjutnya—>

  • <—-Kisah Sebelumnya

    Tepat satu setengah jam kemudian, para pramugari mulai sibuk berhilir mudik mempersiapkan inflight meal. Mereka sudah berganti pakaian, paduan baju lengan pendek dengan corak merah dan syal warna hijau menjadikan mereka tampak anggun bak model di sepanjang aisle. Mereka gesit membagikan makanan dan minuman kepada penumpang.

    Aku sendiri menerima satu set inflight meal berisi enam item makanan, terdiri dari rice with chicken curry, bread, salad, buah jeruk, kue pie dan peanut snack. Saking banyaknya, aku tak mampu menghabiskannya, aku pun berinisiatif untuk menyimpan beberapa diantaranya untuk makan malam ketika tiba di Tashkent beberapa waktu ke depan.

    Segenap penumpang tampak sibuk menyantap hidangan mereka masing-masing, begitu pula dengan diriku.

    Dan usai menandaskan makanan yang diberikan, maka para pramugari mengambil nampan-nampan makanan tersebut.

    Seusainya, awak kabin mulai mengondisikan keadaan supaya penumpang bisa beristirahat mengingat penerbangan itu adalah perjalanan panjang. Hal ini tentu didukung dengan kondisi di luar pesawat yang mulai tampak gelap. Oleh karenanya, tak sedikit dari penumpang mulai terlelap dengan keadaan.

    Aku yang tak bisa tertidur, memilih menghabiskan waktu untuk menonton film. Sesekali penumpang dari bangku belakang mendatangi penumpang wanita yang duduk di sebelahku. Mereka sering kali melakukan tos gelas yang berisi jus jeruk. Tampaknya mereka sedang merayakan sebuah keberhasilan.

    Aku yang penasaran, mencoba menyapa penumpang di sebelah kananku.

    Looks like, you’re celebrating a success?”, aku memulai percakapan

    Success…..Da…..Da”, dia terbata-bata menjawab. Aku paham bahwa dia tidak mahir berbahasa Inggris. Dan sepenuhnya aku paham bahwa “Da” adalah Bahasa Rusia untuk kata “Ya”.

    Are you working in TIENS?”, aku menyelidik.

    TIENS….Da…Da….You Know”, dia tersenyum menunjuk-nunjuk kepadaku

    Dari situ, dia membuka smartphonenya lalu menunjukkan beberapa foto-foto perjalanannya mengikuti tour yang diselenggarakan oleh TIENS, dan aku paham salah satu fotonya berada di Jalan Sudirman, Jakarta.

    I’m from Jakarta”, aku menengadahkan kedua telapak tanganku di depannya.

    Ohhhh…..Jakarta”, dia menunjukku lagi.

    Yeaa…..”, aku tersenyum.

    Haaaa….Jakarta good….Good”, dia tersenyum ringan.

    Ja….Dasha”, dia mengajakku bersalaman.

    Me….Donny”, aku menjabat tangannya.

    Dasha….Teman bercakap-cakap yang ramah.

    Sore itu, di udara, kami berdua bercakap akrab dengan berbagai cara. Menjadikan perjalanan tak lagi membosankan.

    Pada beberapa momen ketika kami lelah bercakap, Dasha meminta izin beristirahat sejenak. Maka ketika dia tidur, aku melanjutkan perjalanan tetap tanpa terlelap, melainkan memilih menonton beberapa film.

    Sesekali melihat ke kursi sekitar. Sebagian besar penumpang telah lelap tertidur…..Tetap, aku tak bisa memejamkan mata. Aku masih memaksakan mataku untuk menyelesaikan film “In Our Prime” yang sedang kuputar.

    Aku begitu tertegun melihat Kim Dong Hwi yang memerankan tokoh Ji Woo, seorang siswa yang berjuang untuk menaklukkan matematika dengan cara belajar kepada seorang petugas keamanan sekolah yang ternyata adalah seorang genius. Penjaga keamanan sekolah itu bernama Hak Sung yang diperankan oleh Choi Min Sik.

    Itu film yang sangat keren menurutku. (Kamu harus menontonnya, ya!)

    Beberapa saat usai menyelesaikan dalam menonton film, tetiba jendela kabin sebelah kiriku mendadak berubah dari gelap ke terang.

    Astaga, ternyata di luar sana masih siang. Aku mencoba memainkan logika.

    Jika dari Kuala Lumpur saja berangkat pukul sebelas siang, dan pesawat terbang ke arah barat, maka pesawat senantiasa mengejar matahari yang bergerak untuk tenggelam di ufuk. Itu artinya, pesawat akan selalu mendapatkan cahaya. Oleh karenanya, situasi di luar tetap masih terang”, Aku berpikir.

    Lalu kenapa jendela pesawat itu beberapa jam lalu tampak gelap.

    Itulah kebodohanku yang tak pernah kusadari. Adalah teknologi manipulasi bernama “Elektrokromik”. Teknologi yang mengalirkan listrik pada sebuah gel elektronik di antara dua lapisan kaca jendela pesawat sehingga menyebabkan kaca berubah menjadi gelap. Sehingga, seakan-akan kondisi di luar sana telah gelap dan menstimulasi penumpang untuk beristirahat.

    Dan kenapa tetiba kaca jendela itu berubah terang….Ternyata beberapa penumpang sedang memantau sesuatu. Di bawah sana tertampil puncak-puncak gunung es yang tampak terlihat indah. Itulah puncak Revoljucii yang terletak di Tajikistan.

    Tajikistan….Hmmhhh, sebentar lagi aku akan tiba di Tashkent.

    Kisah Selanjutnya—->

  • <—-Kisah Sebelumnya

    Menjelang pukul dua belas siang, aku memasuki kabin Uzbekistan Airways HY 554. Melalu aisle sisi kanan, aku merangsek ke kabin kelas ekonomi. Bangku bernomor 32-J adalah tujuanku.

    Melewati kabin business class aku cukup mengagumi kemewahan Boeing 787-8 yang akan kutumpangi itu. Kuris kelas business hanya di set dengan dua tempat duduk di setiap kolomnya. Total ada tiga kolom bangku dalam pesawat yang kutumpangi.

    Aku akhirnya menemukan kursiku, dan kursi itu adalah aisle seat. Aku duduk bersebelahan dengan wanita paruh baya asal Uzbekistan yang mengakuisisi window seat, sedangkan kursi di bagian tengah dibiarkan kosong. Hal ini membuat tempat dudukku menjadi cukup lega selama perjalanan di dalam pesawat double aisle itu.

    Business Class.
    Economy Class.
    Boarding sebentar lagi usai….
    Kursi nomor 32-J….It’s mine.

    Genap melakukan boarding, maka setiap penumpang sudah bersiap di tempat duduknya masing-masing. Dan usai awak kabin memastikan keamanan setiap penumpang maka peragaan prosedur keselamatan penerbangan diberikan melalui tayangan video yang tertampil pada setiap layar LCD di kursi penumpang.

    Ada yang unik dengan video peragaan prosedur keselamatan penerbangan tersebut dimana para aktor peraganya mengenakan jubah dan pakaian perang zaman Timurid Empire. Peragaan yang unik dan kreatif. Mampu membuatku tertawa ringan di balik kursi penumpang.

    Aku menahan senyum ketika pesawat berbadan besar itu mulai didorong ke belakang dengan pushback tractor menuju taxiway.

    Satu sisi aku sangat antusias dengan kesempatan menikmati penerbangan Uzbekistan Airways untuk pertama kalinya, di sisi lain aku tak bisa menyembunyikan rasa bahagia karena sebentar lagi aku akan jauh melanglang buana. Aku seakan menemukan passion yang telah lama hilang terenggut pandemi.

    Mesin jet mulai menderu nyaring demi mendorong besarnya badan pesawat di sepanjang landas pacu, untuk beberapa saat pesawat meluncur di runway, pemandangan di luar jendela mulai berubah menjadi garis-garis cepat yang tertarik ke belakang. Akhirnya di ujung landas pacu, pesawat dengan lembut memasuki fase airborne. Dan pasti, para pengunjung bandara akan melihat roda-roda raksasa pesawat yang kutunggangi mulai terlipat ke dalam lambungnya.

    Sejenak pemandangan ciamik Kuala Lumpur International Airport tertampil di ketinggian, untuk kemudian sang pilot merubah haluan pesawat ke arah barat. Maka moncong fuselage telah mengarah ke tujuan akhir….Kota Tashkent.

    Satu hal yang kulakukan ketika pesawat sudah memasuki cruising phase adalah mengambil inflight magazine dari bagasi tempat duduk dan mulai berselancar mencari informasi perihal Uzbekistan di setiap artikelnya. Itulah kebiasaan yang kulakukan sebelum mendarat di tujuan. Membaca inflight magazine adalah cara terbaik untuk mencari informasi terkini tentang tempat yang sedang kita tuju.

    Let’s fly !Airlines ke-30 sepanjang bersolo-traveling.
    Explore Tashkent lewat majalah yuk!

    Aku yang penasaran dengan rute penerbangan kemudian mencari tahu rute penerbangan dari layar LCD. Dari situ aku baru mengerti bahwa rute penerbangan Uzbekistan Airways HY 554 akan melewati Laut Andaman, Teluk Benggala, Negara Bagian Bihar di India, sebagian wilayah Nepal, Tibet, Pakistan, Afganistan, Tajikistan dan Kirgistan….Wah, keren juga ya perjalananku.

    Untuk sejenak aku bisa menikmati awal penerbangan itu.

    Kisah Selanjutnya—->

  • <—-Kisah Sebelumnya

    Tibalah aku di depan konter imigrasi….Aku tenang.

    Hi, Donny, tenanglah!.….Ini akan mudah”, aku membatin.

    Maka ketika sedang mengantri di salah satu line konter imigrasi, tetiba datang serombongan jama’ah umrah yang bercakap dalam Bahasa Indonesia dengan aksen Melayu. Salah satunya, yang kutebak sebagai pemimpin rombongan tampak sibuk mencari angka yang dicocokkan dengan angka di boarding passnya.

    Kita cari konter 22 ya sesuai tiket”, ucapnya kepada setiap anggota rombongan. Semua anggota rombongan tampak patuh mengikutinya.

    Aku yang seketika paham dengan pernyataan itu, bergegas mendekatinya untuk membantu.

    Nomor yang tertera di boarding pass itu nomor gate, Pak. Kalau di konter imigrasi ini, bapak bisa pakai jalur mana saja, jadi silahkan mengantri saja di antrian yang menurut bapak nyaman”, aku menjelaskan.

    Oh begitu ya, Mas”, terimakasih ya.

    Kita mengantri di sini saja, Bapak-Ibu”, dia mengarahkan jama’ahnya.

    Maka setelah percakapan itu, aku menjadi akrab dengannya. Berdasarkan informasi dari pembimbing umrah itu, mereka berasal dari Pekanbaru dan pembina umrah itu baru kali itu membawa jama’ah ke tanah suci.

    Wujud Aerotrain KLIA.
    Semoga umrahnya mabrurah ya, Ibu-ibu. Amin.

    Karena banyak pertanyaan yang dilemparkan pembimbing umrah tersebut kepadaku, akhirnya aku bercerita perihal passion bersolo-traveling sekaligus menjadi travel blogger yang sedang ku jalani. Ketertarikannya itu, membuatnya meminta alamat blogku. Dia merasa penasaran dan ingin mengikuti setiap kisah perjalananku.

    Pertemuan singkat yang menyenangkan. Akhirnya aku berpisah dengan rombongan umrah itu di salah satu aerotrain platform. Aku mengucapkan salam perpisahan sebelum kami menuju ke gate masing-masing.

    Maka bergegaslah aku menuju Gate C-26. Untuk menggapai gate tersebut maka aku harus menuju East Zone – KLIA. Aku terus begerak mencari zona itu, melewati sebuah area luas dimana Information Centre Desk ditempatkan dan jam-jam klasik dengan brand OMEGA menjadi penghias di area sekitarnya.

    Mengikuti signboard dengan teliti, akhirnya pada pukul setengah sebelas aku tiba di Gate C-26. Aku mengambil salah satu bangku demi menunggu boarding time yang akan berlangsung satu jam ke depan.

    Terduduk di salah satu pojok selasar, aku terus menyaksikan kedatangan penumpang asal Uzbekistan setiap menitnya. Beberapa diantara mereka memakai t-shirt dengan sebuah logo brand yang aku mengenalinya. Itu adalah logo perusahaan Multilevel Marketing kenamaan asal Tiongkok, yaitu TIENS. Tampaknya mereka sedang mengadakan acara tour bersama, mungkin itu adalah bonus trip dari perusahaan mereka.

    Terus menikmati situasi……

    Beberapa saat kemudian rombongan pramugari, pramugara, pilot dan co-pilot Uzbekistan Airways HY 554 tiba. Mereka langsung menjalani pemeriksaan di screening gate untuk kemudian memasuki pesawat untuk mempersiapkan penerbangan.

    Perjalanan menuju Gate C-26.
    Akhirnya aku menemukan Gate C-26.
    Ini dia waiting room Gate C-26. Keren kan?.
    Aku bersiap terbang menuju Tashkent.

    Dan akhirnya, tepat setengah jam sebelum boarding time seluruh penumpang diizinkan masuk ke waiting room.

    Aku yang antusias, segera memindai diri di screening gate untuk kemudian memasuki waiting room yang memiliki ruangan lebih nyaman dan berkarpet tebal. Selama masa menunggu, aku memanfaatkan waktu untuk memenuhi kembali daya telepon pintarku. Inilah kesempatan terakhir mengisi daya, karena aku akan tiba di Tashkent saat gelap dan sudah pasti aku akan berkejaran dengan waktu untuk menggapai pusat kota. Jadi aku memerlukan bantuan smartphoneku untuk melacak posisi dan pergerakanku.

    Smartphoneku tidak boleh mati setiba di Tashkent nanti”, aku mengingatkan diri sendiri.

    Akhirnya…..panggilan boarding itu benar-benar tiba…..

    Dengan hati sumringah, aku segera memasuki antrian untuk melakukan pemeriksaan terakhir boarding pass sebelum memasuki kabin pesawat melalui aerobridge.

    Tashkent, I’m coming……”, aku menyimpulkan senyum tipis ketika sudah berada di areobridge.

    Kisah Selanjutnya—->

  • <—-Kisah Sebelumnya

    Usai menandaskan sarapan, maka aku mencari stop kontak untuk mengisi daya telepon pintarku. Sejak malam sebelumnya, aku menghabiskan dayanya. Beberapa stop kontak di dinding bangunan bandara tampaknya tak berfungsi dengan baik. Hingga akhirnya, aku menemukan sebuah stop kontak di salah satu sisi selasar. Tetapi aku harus berbagi dengan dua pelancong India yang sedang melakukan hal yang sama. Aktivitas remeh temeh itu membuatku terduduk mengampar selama satu jam lamanya.

    Tepat pukul delapan ketika 75% daya telepon pintarku terisi…..

    FIDS utama di KLIA Terminal 1.
    Menunggu proses check-in.
    Sesuai prosedur, penerbangan antar bangsa tak bisa menggunakan self check-in kiosk.
    Menunggu di Blok M (eits, bukan di Jaksel ya, kak )

    Aku pun memutuskan untuk menuju ke Lantai 3 – KLIA demi bersiap diri melakukan check-in. Menaiki sebuah escalator, aku langsung menuju ke depan layar FIDS (Flight Information Display System) terbesar di Lantai 3 untuk mencari status penerbangan Uzbekistan Airways HY 554 yang merupakan kartu As ku untuk menggapai Tashkent.

    Berdasarkan informasi dari FIDS itu, aku akhirnya mengantongi informasi penting bahwa proses check-in penerbangan yang kutunggu akan berlangsung pada pukul 10 pagi. Itu berarti, aku masih harus menunggu 2 jam lamanya.

    Maka aku memutuskan untuk duduk di sebuah bangku tunggu di dekat blok check-in desk bertanda M. Aku terduduk bersama para jama’ah umrah asal Malaysia yang sedang menunggu waktu check-in pula. Mereka terdiri dari beberapa rombongan, terlihat jelas dari berbagai jenis seragam yang mereka gunakan.

    Selama masa menunggu, sesekali aku menuju ke konter check-in karena khawatir jika proses check-in berlangsung lebih cepat dari yang diagendakan. Begitulah jika aku ber-solo traveling, selalu saja lebih waspada dari para traveler lain. Aku harus memastikan diri untuk tak tertinggal di setiap penerbangan karena tidak akan ada yang bisa mengingatkan kecuali diriku sendiri.

    Dua jam lamanya menunggu….Akhirnya waktu check-in tiba juga. Aku yang sudah bersiap diri seperempat jam sebelum konter check-in dibuka langsung mengambil antrian di bagian depan. Tetapi tetap saja, badanku tenggelam di tengah antrian karena para penumpang berkebangsaan Uzbekistan itu berpostur tinggi besar. Selain posturnya, satu lagi ciri khas warga Uzbekistan adalah tak sedikit diantara mereka yang menggunakan gigi emas. Bahkan ciri khas itu sudah kuketahui semenjak kunjungan umrah ke tanah suci Makkah pada dua bulan sebelum keberangkatanku menuju kawasan Asia Tengah tersebut.

    Sabar dan perlahan merangsek ke baris depan. Akhirnya sewaktu kemudian, tibalah giliranku untuk menghadap ke konter check-in. Seorang petugas perempuan tersenyum menungguku di belakang konter. Aku tak ragu menyerahkan e-ticket kepadanya.

    “Had you prepared the visa, Sir?”, petugas itu menatapku tajam.

    Uzbekistan give free visa for Indonesian traveller, Ms”, aku meyakinkan sambil mengernyitkan dahi.

    Please wait, Sir”, petugas itu meninggalkan meja kerjanya dan menuju ke tempat lain dimana pimpinannya berada. Mereka tampak bercakap serius, kemudian terlihat bahwa pimpinan mereka serius menatap layar desk top di depannya dan memperhatikan data. Sewaktu kemudian, pimpinan itu tampak mengangguk dan menyerahkan kembali pasporku pada petugas perempuan tersebut.

    Maka kembalilah sang petugas ke meja kerjanya.

    Thank you for waiting, Sir. It’s clear, you can go, happy nice flight, Sir”, dia menyerahkan selembar boarding pass yang baru saja dicetaknya dari printer.

    Thank you, Ms”, aku menerimanya dengan senyum sumringah.

    Sebentar lagi menghadap petugas check-in desk.
    Yeaayyy…..Boarding passku akhirmya release.
    Meninggalkan check-in desk.

    Dengan rasa bahagia dan bibir penuh senyum, aku melangkah menuju konter imigrasi demi mendapatkan izin keluar dari wilayah negara Malaysia.

    Tentu…..Bagian keluar dari sebuah negara adalah hal yang paling mudah, Sudah pasti setiap petugas imigrasi akan senang jika tamu yang berkunjung ke negaranya akan pulang atau keluar dari negaranya tepat waktu.

    Kisah Selanjutnya—->